satuan acara perkuliahan

advertisement
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
87
BAB VII
JASA-JASA PERBANKAN DALAM NEGERI
A. Rumusan Capaian Pembelajaran Jasa-Jasa Perbankan dalam Negeri
1. Sikap
Sikap utama dan pertama yang harus ditanamkan pada diri mahasiswa maupun pengampu Mata
Kuliah Pengantar Manajemen Keuangan dan perlu dituangkan dalam bab ini membahas tentang
Jasa-jasa perbankan yang ada di dalam negeri, pembahasan ini dianjurkan kepada semua
mahasiswa dan pengampu Mata Kuliah harus:
a.
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
b.
menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama,moral,
dan etika;
c.
berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
bernegara, dan kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
d.
berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasi onalisme serta rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
e.
menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat
atau temuan orisinal orang lain;
f.
bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
g.
taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
h.
menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
i.
menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara
andiri;menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan bewirau sahaan
2. Ketrampilan Umum Pengantar Manajemen Keuangan
Keterampina umum yang harus ditanamkan pada diri mahasiswa maupun pengampu Mata
Kuliah Manajemen Perbankan, yang dituangkan dalam bab ini adalah Jasa-jasa perbankan yang
ada di dalam negeri dan mahasiswa harus:
a. mampu menerapkan pemikian logis, kritis, inovatif, bermutu, dan terukur dalam melakukan
pekerjaan yang spesifik di bidang keahliannya serta sesuai dengan standar kompetensi kerja
bidang yang bersangkutan;
b. mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu dan terukur;
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
89
c. mampu mengkaji kasus penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memperhatikan dan
menerapkan nilai humaniora sesuai dengan bidang keahliannya dalam rangka menghasilkan
prototype, prosedur baku, desain atau karya seni, menyusun hasil kajiannya dalam bentuk
kertas kerja, spesifikasi desain, atau esai seni, dan mengunggahnya dalam laman perguruan
tinggi
d. mampu menyusun hasil kajian tersebut di atas dalam bentuk kertas kerja, spesifikasi desain,
atau esai seni, dan mengunggahnya dalam laman perguruan tinggi;.
e. mampu mengambil keputusan secara tepat berdasarkan prosedur baku, spesifikasi desain,
persyaratan keselamatan dan keamanan kerja dalam melakukan supervisi dan evaluasi pada
pekerjaannya;
f. mampu memelihara dan mengembangkan jaringan kerja sama dan hasil kerja sama didalam
maupun di luar lembaganya;
g. mampu bertanggungjawab atas pencapaian hasil kerja kelompok dan melakukan supervisi
dan evaluasi terhadap penyelesaian pekerjaan yang ditugaskan kepada pekerja yang berada
di bawah tanggungjawabnya;
h. mampu melakukan proses evaluasi diri terhadap kelompok kerja yang berada dibawah
tanggung jawabnya, dan mampu mengelola pembelajaran secara mandiri;
i. mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengamankan, dan menemukan kembali data
untuk menjamin kesahihan dan mencegah plagiasi.
B. Pengantar
Selain menciptakan alat-alat pembayaran uang giral, seperti cek, biliyet giro (BG),
dan wesel, bank umum juga dalam kegiatan aktivitasnya sehari-hari. Selain itu, juga dapat
memberikan jasa-jasa yang dapat dipergunakan masyarakat untuk mempermudah pembayaran atas transaksinya. Jasa yang diberikan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan pembayaran atas transaksi yang dilakukan nasabah di dalam negeri maupun di luar
negeri. Oleh karena itu, jasa perbankan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu:
jasa perbankan dalam negeri (dalam satuan nilai rupiah), dan jasa perbankan lu ar negeri
(dalam valuta asing). Untuk memperjelas jasa-jasa yang diberikan perbakan kepada
nasabahnya adalah sebagai berikut.
1. Transfer (Pengiriman uang)
Transfer (Pengiriman uang) merupakan jasa pengiriman uang yang diberikan kepada
nasabah, baik yang dilakukan disatu bank ke kantor cabang bank sama maupun cabang
bank-bank lainnya.Pengiriman uang melalui bank, disebut dengan bank transfer atau
remitance terjadi karena pembayaran-pembayaran dimana si-pembayar dan sipenerima
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
90
tidak saling bertemu. Jasa transfer tersebut bisa terjadi karena berbagai hal transaksi,
misalnya transaksi atas pembelian barang maupun jasa, yang dilakukan secara kredit sehingga terjadi utang piutang satu sama lainnya.
2. Jasa Transfer Berdasarkan Wilayah Mata Uang
a. Tranfer dalam negeri (Rupiah) pada umumnya dilakukan oleh bank-bank yang berada
dalam satu wilayah atau satu negara, dan negara tersebut hanya dapat melakukan pertukaran uang rupaih seperti di Indonesia.
b. Transfer luar negeri (Valuta Asing), transfer seperti ini hanya dapat dilakukan pada
mata asing dan para pihak yang melakukan kegiatan tersebut hanya kepada pihak
yang berada dalam dua negara yang berbeda.
3. Jasa Transfer Berdasarkan Pelaksanaan
Hal ini dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu (a) transfer keluar/outgoing
transfer, dan (b) transfer masuk (incoming transfer). Kedua jenis transfer tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Dikatakan transfer keluar/outgoing transfer, apabila melakukan pengiriman uang ke
bank lain baik atas permintaan nasabahnya atau permintaan atas kepentingan bank
sendiri.
b. Dikatakan transfer masuk (incoming transfer) apabila suatu bank menerima kiriman
uang dari bank lain baik untuk kepentingan bank sendiri maupun untuk kepentingan
nasabahnya, kondosi demikian yang disebut dengan transfer masuk.
4. Jasa Transfer Berdasarkan Media Pngiriman
Jasa transfer berdasarkan media pengiriman yang sering digunakan adalah (a) mail
trensfer, dan (b) wesel/cek bank. Kedua jenis jasa tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a) mail transfer merupakan pengiriman uang dengan surat atau by mail. Mekanismenya
adalah dengan cara bank mengirim uang atas permintaan nasabah mengirimkan
perintah membayar (payment order) kepada bank pembayar di kota tujuan dan
menguangkan melalui jasa kantor pos/kurir (courir service). Misalnya titipan kilat,
elteha.
b) Wesel/cek bank. Mekanisme uang dengan wesel/cek bank, yaitu bank pengirim
mengeluarkan wesel atau cek yang ditarik atas bank pembayar. Wesel atau cek ini
diserahkan kepada si-pengirim. Atas penyerahan cek atau wesel tersebut si-pengirim
dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:
(i) pergi sendiri ke kota tujuan dan menuangkan wesel atau cek tersebut pada bank
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
91
pembayar;
(ii) mengirimkan wesel atau cek tersebut kepada si-penerima, yang selanjutnya sipenerima yang akan menguangkan pada bank pembayar.
c) Lalu lintas Giral (LLG) merupakan transfer yang terjadi diantara dua bank yang
berbeda, dan berada dalam satu wilayah kliring yang sama. Transfer kliring yang
demikian dapat melibatkan Bank Indonesia sebagai penyelenggara kliring.
d) Telegraphic Transfer (TT) merupakan transfer yang dilakukan oleh bank pengirim
dengan mengirimkan perintah bayar melalui telex atau kawat kepada bank pembayaran. Biaya yang timbul atas transaksi ini dibebankan kepada nasabah yang bersangkutan.
e) Pengiriman uang melalui telepon merupakan merupakan pengiriman uang dengan
menggunakan pesawat telepon, jika dalam kondisi tertentu, misalnya karena pesawat
telexrusak atau terganggu aliran listrik sehingga untuk mempercepat proses dilakukan dengan telepon..
f) Electronic Transfer. Pengiriman transfer ini dilakukan secara elektronik melalui
komputer. Jumlah yang akan ditransfer di input ke dalam komputer dan sebelum
dikirim dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu oleh pimpanan yang berwenang
menyetujui transaksi transfer tersebut.
Pengiriman uang dengan telex, telpon, dan elektronik jauh lebih cepat sampai dari
pada dengan surat (mail). Hal itu dikarenakan berita pengiriman uang selain dengan
surat dapat diterima pada waktu yang sama. Sedangkan jika dengan surat berita baru
akan diterima kemudian, apalagi jika kedua bank berada di kota atau negara yang berlainan. Untuk transaksi transfer ini bank membebankan biaya kepada nasabah pengirim
dalam bentuk provisi (upah) transfer dan biaya telex atau telpon.
C. Para Pihak yang Terlibat dalam Transaksi Transfer
Para pihak yang terlibat dalam transaksi transfer adalah sebagai berikut.
a.
Pengirim Transfer (Remitter)
Nasabah yang meminta bantuan bank untuk mengirim uang. nasabah ini
mungkin juga sebuah bank.
b.
Bank Pengirim (Remitting Bank)
Bank yang melakukan pengiriman uang, baik atas permintaan nasabah atau untuk
keperluan bank itu sendiri.
c.
Bank Pembayar (Paying Bank)
Bank yang melakukan pembayaran kepada penerima transfer (beneficiary).
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
92
d.
Penerima Transfer (Beneficiary)
Nasabah yang berhak menerima kiriman uang. nasabah ini mungkin juga sebuah
bank.
e.
Bank Pemberi Ganti (Reimbursing Bank)
Bank yang atas permintaan Remitting Bank menyediakan dana bagi paying
Bank supaya paying bank bisa melaksanakan pembayaran transfer tersebut.
1. lnkaso (penagihan Warkat)
lnkaso adalah jasa perbankan untuk rnerakukan penagihan atas warkat-warkat berharga
kepada pihak ketiga (tertagih) atas permintaan nasabahnya [penagih). Adapun warkatwarkat berharga yang ditagih antara lain cek, weser, prornes, kwitansi, kupon dividen,
traveilers dan sebagainya' nilai uang yang terdapat daram warkat yang ditagih tersebut
bisa dalam uang rupiah maupun valuta asing dan warkat tersebut bisa herasar dari bank
di daram negeri maupun bank di
luar negeri. Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka jasa transfer clapat
dikelompokan menjadi:
2. Jasa Transfer Berdasarkan Wilayah (Mata uang)
Pengelompokan jasa transfer berdasarkan wilayah atau mata uang terdiri dari.
a. Transfer Dalam Negeri (Rupiah)
Inkaso dalam negeri terjadi apabila warkat yang diinkasokan berasal dari
bank di dalam negeri dan dalam mata uang rupiah.
b. Inkaso Luar Negeri (Valuta Asing) atau Collection
Apabila warkat yang diinkasokan berasal dari bank luar negeri dan dalam mata
uang valuta asing maka disebut dengan inkaso valuta asing (collection)
3. Jasa Inkaso Bersadarkan Pelaksanaannya
Pengelompokan jasa inkaso berdasarkan pelaksanaannya dapat dibagi menjadi.
a. Inkaso Keluar (outward collection)
Apabila suatu bank melakukan penagihan warkat ke bank lain atas perintah
nasabahnya.
b. Inkaso Masuk (inction)
Apabila suatu bank menerima warkat banknya sendiri yang ditagih oleh bank
lain.
4. Para Pihak yang Terlibat dalam Jasa Inkaso
a. Principal: pihak yang mempercayakan penanganan collection pada banknya.
b. Remitting bank: yaitu pihak yang diberi kepercayaan oleh principal untuk
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
93
menangani collection.
c. Collecting bank: adalah pihak bank mana saja selain remitting bank, yang terlibat
dalam pemrosesan perintah collection.
d. Presenting bank: adalah pihak collecting bank yang menyampaikan tagihan kepada Drawee.
e. Drawee: atau tertarik adalah pihak yang akan menerima tagihan seperti
tertera pada (sesuai dengan) perintah collection.
D. Jasa-Jasa Perbankan Dalam Negeri
Jasa perbankan yang diberikan kepada masyarakat dan pelaku ekonomi untuk
menyelesaikan transaksinya di dalam negeri umumnya diselesaikan dalam mata
uang rupiah. Beberapa layanan yang banyak ditawarkan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat dan pelaku ekonomi adalah jasa transfer, kliring, inkaso dan Surat Kredit Berdokumen
Dalam Negeri (SKBDN), Berikut akan diuraikan satu persatu jasa -jasa perbankan
dimaksud.
1. Transfer Dalam Negeri
Transfer dalam negeri adalah jasa pengiriman uang yang diberikan bank kepada
nasabah dimana mata uang yang dipergunakan dalam rupiah dan Para pihak yang
terlibat di dalamnya pada umumnya berada di dalam negeri. Mekanisme transfer dalam
negeri, jika dilakukan antara satu cabang bank dengan cabang lainnya yang memiliki
nama yang sama, misalnya antara Bank Syariah Mandiri cabang Kuningan Jakarta dengan
Bank Syariah Mandiri cabang Bogor, berarti akan menimbulkan transaksi Rekening Antar
Kantor (RAK). Gambar 3.1 berikut menjelaskan mekanisme transfer melalui Rekening
Antar Kantor (RAK).
2. Kliring
Salah satu fungsi Bank Umum adalah menciptakan dan memberikajasa-jasa dalam
lalu lintas pembayaran. Jasa yang diberikan Bank Umurr tersebut bertujuan untuk memperlancar berbagai macam transaks. perdagangan maupun keuangan yang dilakukan
masyarakat. Salah sati. jasa yang diciptakan bank umum dan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperlancar kegiatan bisnisnya adalah jasa kliring.
Landasan operasional penyelenggaran kliring diatur berdasarkan peraturan BI
No.2/4/PBI/2000 untuk Bank Umum dan Fatwa Dewan Syariah Nasional No.10/DSNMUI/IV/2000, prinsip Al-Wakalah untuk Bank Umum dengan Prinsip Syariah.
Pengertian Kliring sesuai PBI No.1/3/PBI/1999 adalah Pertukaran warkat atau
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
94
Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas n a m a p e s e r t a
m a u p u n a t a s n a m a n a s a b a h p e s e r t a ya n g m e m p e r hitungannya diselesaikan pada
waktu tertentu.
3. Warkat Kliring
Warkat Kliring transaksi yang dapat diproses melalui sistem kliring meliputi
transfer dan transfer kredit yang disertai dengan pertukaran fisik warkat (baik
warkat debet maupun warkat kredit). Sesuai PBI No.1/3/PBI/ 1999, yang dimaksud
warkat kliring alat lalu lintas pembayaran giral dalam mata uang rupiah yang
Perhitungkan dalam proses kliring yaitu: Cek, Bilyet Giro, Traveller Cek (TC), Nota
Debet, Nota Kredit dan wesel bank untuk transfer LWBUT). Dalam pelaksanaannya,
warkat yang paling banyak dikliring atau dipertukarkan antar bank peserta kliring
adalah cek dan bilyet giro. Dalam hal transfer kredit, nilai transaksi yang bisa
diperoses melalui kliring dibatasi di bawah Rp100.000.000,00 sedangkan untuk
nilai transaksi Rp100.000.000,00 ke atas harus dilakukan melalui Sistem Bank
Indonesia Real Time Gross Settlement (Sistem BI -RTGS).
Seluruh Warkat yang akan diserahkan ke penyelenggara kliring harus disertai
dengan dokumen kliring sebagai media kontrol yang berfungsi sebagai alat bantu
dalam proses perhitungan kliring. Dokumen kliring ini terdiri dari:
a. bukti penyerahan warkat debit-kliing penyerahan (BPWD);
b. bukti penyerahan warkat kredit-kliring penyerahan (BPWK);
c. kartu batch warkat debit;
d. kartu batch warkat kredit;
e. lembar substitusi.
Setiap warkat kliring otomatis harus memenuhi syarat sebagai berikut: seragam
(baku), dicetak oleh security printing dan di "encode" dengan tinta magnet yang disebut
Magnetic Ink Character Recognition (MICR). Tinta MICR yang dibubuhkan ke warkat
kliring yang akan terbaca oleh mesin reader sorter pada saat dilakukan pemilahan warkat
oleh penyelenggara kliring yang bersangktan. Berikut adalah pengertian Cek dan Bilyet
Giro.
4. Cek
Cek adalah surat perintah membayar sebagaimana diatur dalam KUHD, yang
memuat kata cek, diterbitkan pada tanggal dan tempat tertentu, yang mana penerbit memerintahkan tanpa syarat kepada bank untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada
pemegang atau pembawa (PBI 1/3/1999 dan SEBI 3/27/DASP).
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
95
5. Biliyet Giri (BG)
Biliyet giro merupakan suratrintah dari nasabah kepada bank penyimpan dana
untuk memindahkan sejumlah uang dari rekening yang bersangkutan kepada rekening
pemegang yang disebut namanya (PBI) No.1/3/1999 dan SEBI 3/27/DASP).
E. ParaPihak yang Terlibat dalam Kliring
Para pihak yang terlibat dalam jasa kliring terdiri atas : (a) Bank Indonesia sebagai
penyelenggara kliring, dan (b) seluruh banuk yang berada dalam satu wilayah kliring se bagai peserta kliring. Jika dalam satu wilayah tidak terdapat kantor cabang Bank Inng
tersebut.
Adapun peraturang yang harus diikuti oleh bank peserta kliring adalah sebagai be
donesia, maka BI akan menunjuk salah satu cabang umum yang berada ikut:
a. wajib memiliki rekening giro di Bank Indonesia dan menyediakan dana yang cukup di
rekening tersebut untuk menampung perhitungan kliring tersebut;
b. datang tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan. Adapun jadwal kliring
terdiri dari:
a) Kliring Penyerahan, yaitu waktu yang disediakan BI untuk menyerahkan seluruh
warkat kliring, baik yang berupa warkat debet maupun warkat kredit yang akan
diserahkan ke baik lain.
b) Kliring Penerimaan, yaitu waktu yang disediakan BI untuk menerima seluruh
warkat debet maupun kredit yang berasal dari bank lain.
c) Kliring Pengembalian (retur kliring), yaitu waktu dimana peserta kliring
dapat mengembalikan warkat kliring yang ditolak. Dalam hal ini terdiri dari: (a)
tolakan keluar, apabila suatu bank menolak warkat yang dikirim oleh bank lain,
baik berupa warkat debet maupun warkat kredit., (b) tolakan masuk, apabila
suatu bank menerima warkat yang ditolak oleh bank lain, baik berupa warkat
debet maupun warkat kredit.
F. Perkembangan Mekanisme Kliring
Penyelenggaraan kliring diJakarta pada awalnya dilaksanakan secara manual.
Namun, dalam perkembangannya dan sejalan dengan meningkatnya transaksi
perekonomian nasional, penyelenggaraan kliring secara manual dirasakan tidak
efektif dan efisien lagi. Berdasarkan kondisi tersebut, Bank Indonesia melalui SKBI
No.21/9/KEP/DIR tanggal 23 Mei 1988 menetapkan untuk mengubah sistem penyelenggaraan kliring lokal Jakarta dari sistem manual menjadi sistem otomasi kliring.
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
96
Dalam prakteknya sistem otomasi kliring tersebut baru diimplementasikan pada
tanggal 4 Juni 1990 untuk proses kliring penyerahan, sedangkan proses kliring
pengembalian tetap dilakukan secara manual. Sistem ini dikenal dengan sistem semi
otomasi. Pada tahun 1994 sistem semi otomasi diganti dengan sistem otomasi yang di berlakukan dibeberapa kota selain Jakarta, yaitu Bandung, Surabaya dan Medan. Kemudian pada tahun 1999 di Jakarta mulai diberlakukan Sistem Kliring Elektronik Jakarta
(SKEJ). Sejak 27 Januari 2003.
1. Sistem Kliring Manual
Sistem manual kliring merupakan sistem penyelenggaraan kliring lokal yang
dalam peleksanaan pemilihan warkat, perhitungan dan pembuatan biliyet sal do kliring
dilakukan secara manual oleh setiap peserta kliring.
2.Sistem Kliring Semi Otomasim
Kliring Semi Otomasi merupakan sistem penyelenggaraan kliring lokal yang dalam
pelaksanaan perhitungan warkat dan pembuatan bilyet saldo kliring dilakukan secara
otomasi sedangkan pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta.
Sistem ini dikenal dengan Semi Otomasi Kliring Lokal (SOKL). Proses kliring sama dengan
sistem kliring manual, kecuali rekapitulasi warkat dibuat di kantor bank peserta dan
dimasukan ke dalam disket. Pada saat pertemuan di lembaga kliring para peserta
hanya menyerahkan disket kepada penyelenggara kliring untuk diproses lebih lanjut
oleh penyelenggara kliring, sedangkan warkat kliring tetap dipertukarkan secara manual
diantara para peserta kliring.
Sistem ini masih dilaksanakan di 33 wilayah kliring yang diselenggarakan
oleh BI dan di 37 wilayah kliring lainnya yang diselenggarakan oleh pihak lain yang
ditunjuk oleh BI.
3. Sistem Kliring Otomasi
Kliring Otomasi adalah sistem penyelenggaraan kliring lokal dimana pemilahan
warkat, perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring dilakukan secara otomatis.
Melalui sistem ini proses kliring dilakukan dengan mesin-mesin otomasi, seperti mesin
baca pilah (reader sorter) yang secara otomatis memilah dan melakukan perhitungan
warkat. Peserta kliring datang ke penyelenggara kliring untuk menyerahkan warkat
dan m engambil hasil perhitungan kli ring. Sistem ini dil aksanakan di Bandung,
Suraba ya, dan Medan.
4.Sistem Kliring Elektronik
Kliring Elektronik adalah sistem penyelenggaraan kliring yang dalam pelaksanaan
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
97
pemilahan warkat, perhitungan dan pembuatan bilyet salso kliring dilakukan secara
elektronik disertai dengan penyampaian warkat peserta kliring kepada penyelenggara
kliring untuk dipilah secara otomasi. Warkat yang dipilah secara otomasi adalah berupa warkat debet (cek dan BG bank lain), sedangkan yang dikirim secara elektronik
adalah data keuangan atas transaksi transfer (khusus untuk nominal besar). Sistem ini
dilaksanakan di Jakarta.
5. Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI)
Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) merupakan sistem kliring Bank
Indonesia yang meliputi kliring debit dan kliring kredit, yang penyelesaian akhirnya
dilakukan secara nasional. SKNBI pada akhirnya akan menggantikan sistem kliring yang
saat ini digunakan di 105 penyelenggara kliring di Indonesia. Dengan pelaksanaan secara
bertahap maka tahap awal diterapkan di Jakarta, sejak tanggal 29 Juli 2005.
a. Tujuan BI Menerapkan SKBNI
Tujaun BI menerapkan SKBNI adalah untuk meningkatkan efisiensi pembayaran
ritel serta bertujuan untuk meningkatkan risiko dalam penyelenggaraan kliring.
b. Manfaat Penerapan SKBNI
Adapun manfaat penerapan SKBNI dilihat dari Bank Indonesia adalah (a) untuk
efisiensi waktu, biaya dalam hal kegiatan operasional, (b) jangkauan transfer antar
bank melalui kliring akan menjadi laus, (c) untuk meminimalisir timbulnya risiko
dalam penyelenggaraan kliring.
c. Sedangkan manfaat bagi Bank peserta kliring adalah: (a) efisiensi dalam hal cetak dan
proses administras warkat kredit, (b) memperluas jangkauan layanan kepada nasaba.
c. Penyelenggara SKNBI
Penerapan sistem SKNBI pelaksanaannya diselenggarakan oleh (a) Penyelenggara
Kliring Nasional (PKN), yaitu unit kerja di Kantor Pusat Bank Indonesia yang bertugas
mengelola dan menyelenggarakan SKNBI secara nasional, (b) penyelenggara Kliring
Lokal (PKL), yaitu unit kerja di Bank Indonesia dan Bank yang memperoleh
persetujuan Bank Indonesia untuk mengelola dan menyelenggarakan SKNBI di suatu
wilayah kliring tertentu. Sedangkan yang dapat menjadi peserta dalam SKNBI adalah
setiap bank di suatu wilayah kliring dengan persyara tan tertentu yang telah
ditetapkan oleh BI.
d. Subsistem dalam Penyelenggaraan SKNBI
Pelaksanaan penyelenggaraan SKNBI terdiri dari 2 subsistem yaitu:
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
98
d.1. Kliring Debet
a) Meliputi kegiatan kliring penyerahan dan kliring pengembalian, digunakan untuk
transfer debet antarbank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet,
seperti cek, bilyet giro, nota debet dan lain-lain.
b) Penyelenggaraan kliring debet dilakukan secara lokal di setiap wilayah kliring oleh
PKL.
c) PKL akan melakukan perhitungan kliring debet berdasarkan Data Keuangan
Elektronik (DKE) debet yang dikirim oleh bank peserta.
d) Hasil perhitungan kliring debet secara lokal tersebut selanjutnya dikirim ke Sistem
Sentral Kliring (SSK) untuk diperhitungkan secara nasional oleh PKN.
d.2. Kliring Kredit
Digunakan untuk transfer kredit antar bank tanpa disertai penyampaian fisik
warkat (paperless) sebagai berikut.
1. Penyelenggaraan kliring kredit dilakukan secara nasional oleh PKN
2. Perhitungan kliring kredit dilakukan oleh PKN atas dasar DKE kredit yang di kirim
bank peserta.
3. Transfer kredit antarbank yang dapat dikliringkan dalam kliring kredit adalah di
bawah Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
4. Nilai nominal warkat debit tidak dapat dibatasi kecuali untuk warkat debit, yang
berupa nota debit, yaitu setinggi tingginya Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupi ah).
G. Garis Besar Proses Kliring
Jasa kliring yang diberikan kepada nasabah berasal dari dua aktivitas keuangan
nasabah, yaitu melakukan pengiriman atau penerimaan dana (transfer), dan penyetoran
atau tagihan warkat (Cek/BG). Berdasarkan aktivitas tersebut maka pro ses kliring tersebut dapat dikelompokkan menjadi:
1. Transfer Keluarr (Outgoing Credit), yaitu aktivitas pengiriman dana ke bank lain yang
dilakukan baik untuk kepentingan nasabah ataun kepentingan bank.
2. Transfer Masuk (Incoming Credit), yaitu kiriman uang yang diterima oleh suatu bank
sendiri. Cek/BG Kosong dan Daftar Hitam (Black List) BI Cek atau BG yang
ditunjukkan oleh pemegang balk melalui kliring ataupun loket bank dan ditolak pembayarannya oleh bank tertarik dengan alasan saldo tidak cukup akan menyebabkan
dicantumkannya nama nasabah penarik Cek atau BG dalam daftar hitam (Black List) BI,
apabila:
1) Menarik Cek/BG kosong 3 lembar atau lebih dalam jangka waktu 6 bulan.
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
99
2) Menarik Cek/BG kosong 1 lembar dengan nilai nominal Rp 1 Milyar.
Daftar hitam BI adalah suatu daftar yang berisi nama-nama penarik Cek/BG
kosong yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dan berlaku selama 1 (satu) tahun sejak
tanggal penerbitan. Adapun proses penutupan rekening dan pencantuman nasabah dalam
Daftar Hitam (Black List) BI sebagai berikut:
1. Menerbitkan Surat Peringatan I (SP-I) untuk penolakan Cek/BC kosong pertama.
2. Menerbitkan Surat Peringatan II (SP-II) untuk penolakan Cek/BC kosong kedua.
3. Menerbitkan Surat Pemberitahuan Penutupan Rekening (SPPR untuk Cek/BG
ketiga. SPPR berisi pemberitahuan telah dilakuka: penutupan terhadap rekening penarik, perintah untuk mengembalikan sisa buku Cek/BG yang belum terpakai, pencantuman nan -2 penarik dalam daftar hitam (black list) BI dan hubungan Rekening
Koran penarik dengan bank.
H. Masa Berlaku dan Wilayah Daftar Hitam
Daftar hitam diterbitkan oleh BI yang berada dalam suatu wilayah kliring dan
berlaku selama 1 (satu) tahun sejak tanggal penerbitan daftar hitung di wilayah kliring
lokal setempat.
Bank di suatu wilayah kliring dapat memanfaatkan mengenai daftar hitam di
wilayah kliring lainnya dengan mengajukan permohonan tertulis kepada BI yang terdapat
di wilayah lokal tersebut.
1. Inkaso Dalam Negeri dan Intercity Clearing
Bank Indonesia (KBI) atau cabang bank lain (bank umum dan bank pembangunan) yang disetujui BI. Dalam kliring lokal hanya meng: -nadir transaksi
cek/BG yang diterbitkan bank peserta kliring wiayah lokal, sedangkan untuk
warkat non lokal, bank mengembang-mekanisme sendiri sendiri yang dikenal dengan
istilah inkaso.
Pengertian dan Mekanisme Inkaso, adalah penagihan surat berharga (warkat inkaso)
yang diterima nasabah untuk ditagihkan kepada bank lain diluar wilayah kliring
penagihan warkat inkaso yang diterima dari bank lain untuk dicaikan kepada
cabang tertarik. Warkat yang dapat diterima sebagai
inkaso, antara lain cek dan BG.
a.
Nasabah menyerahkan warkat inkaso (Cek/BG) yang berasal dari luar kota
kepada Bank (di dalam kota) untuk ditagihkan.
b.
Bank menerima warkat (Cek/BG) dari nasabah dan mengirimkan warkat tersebut
ke cabangnya di luar kota sesuai darimana warkat itu berasal.
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
100
c.
Cabang Bank Penagih warkat (di luar kota) melakukan kliring lokal dengan Bank
Penerbit warkat (di luar kota).
d.
Jika dana nasabah penarik warkat (Cek/,BG) mencukupi maka akan terjadi perpindahan dana dari Bank Penerbit warkat kepada Cabang Bank Penagih warkat.
e.
Dana tersebut akan dipindahkan lagi oleh Cabang Penagih warkat (di luar
kota) kepada Bank Penagih warkat melalui mekanisme Rekening Antar Kantor
(RAK).
f.
Bank Penagih warkat akan mengkreditkan dana hasil tagihan kepada rekening nasabah penyetor warkat, jika nasabah tersebut memiliki rekening di
Bank Penagih warkat. Tetapi jika tidak memiliki rekening, Bank akan
menyerahkan dana hasil tagihan tersebut kepada penyetor warkat.
g.
Jasa inkaso ini sudah semakin berkurang peranannya sejalan dengan telah
diterapkannya mekanisme intercity clearing oleh beberapa bank.
2. Pengertian Intercity Clearing
Intercity Clearing adalah penyelenggaraan kliring lokal atas cek dan Bilyet Giro
yang diterbitkan oleh kantor bank yang bukan peserta di wilayah kliring lokal tersebut
(SEBI 4/16/DASP). Sistem ini meniadakan secara bertahap kegiatan inkaso yang selama
ini berjalan.
a. Prinsip-prinsip Umum Intercity Clearing
Berikut ini adalah hal-hal yang dapat dijadikan prinsip dalam pelaksanaan jasa
bank intercity clearing. Warkat Luar Kota (Cek/BG) dapat dikliringkan dimanapun sepanjang: warkat tersebut diterbitkan oleh Bank yang sudah terdaftar seba gai Peserta
Kliring Warkat Luar Wilayah (intercity clearing); dan
1. Pada wilayah kliring lokal tersebut terdapat kantor cabang dari bank pen erbit.
2. Bank menerima warkat (Cek/BG) dari nasabah dan menagihkan warkat tersebut
melalui mekanisme kliring lokal ke cabang bank penerbit warkat di wilayah kliring
lokal.
3. Cabang Bank Penerbit warkat melakukan konfirmasi melalui SVS atau fax kepada
Bank Penerbit warkat di luar kota, tanpa harus mengirimkan warkat tersebut ke luar
kota.
4. Jika dana nasabah penarik warkat (Cek/BG) mencukupi maka akan terjadi per-
pindahan dana dari Bank Penerbit warkat kepada cabangnya melalui mekanisme
RAK.
5. Dana tersebut akan dipindahkan lagi oleh Cabang Penerbit warkat kepada Bank
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
101
Penagih warkat melalui mekanisme kliring.
6. Bank Penagih warkat akan mengkreditkan dana basil tagihan kepada rekening
nasabah penyetor warkat, jika nasabah tersebut memiliki rekening di Bank Penagih
warkat. Tetapi jika tidak memiliki rekening, Bank akan menyerahkan dana hasil
tagihan tersebut kepada penyetor warkat.
b. Surat Kedit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN)
Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau lazim dikenal sebagai "Letter
of Credit" (L/C) dalam Negeri adalah setiap janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis
Pemohon (Applicant) yang mengikat Bank Pembuka (Issuing Bank) untuk:
a) melakukan pembayaran kepada penerima atau ordernya, atau mengaksep dan
membayar wesel yang ditarik oleh Penerima,
b) memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada Pene rima
atau ordernya, atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima,
atau
c) memberi kuasa kepada bank lain untuk menegosiasi wesel yang ditarik oleh Penerima, atas penyerahan dokumen sepanjang persyaratan dan kondisi SKBDN dipenuhi.
Semua SKBDN yang diterbitkan oleh Bank di Indonesia harus mencantumkan
secara tegas ketentuan SKBDN sesuai Peraturan Bank Indonesia No.5/6/PBI/2003 tanggal
2 Mei 2003. Penerima (Beneficiary) adalah orang atau badan usaha yang disebut dalam
wesel SKBDN atau surat perjanjian lainnya yang terkait dengan SKBDN tersebut
sebagai pihak yang berhak menerima pembayaran.
c. Ketentuan Umum SKBDN
Penerbitan dan pengunaan SKBDN dalam suatu transaksi pembayaran harus mengacu pada beberapa ketentuan berikut ini.
a. Ketentuan Peraturan Bank Indonesia hanya berlaku bagi penerbitan SKBDN dalam hal
Bank, Pemohon dan Penerima berkedudukan di dalam negeri.
b. SKBDN hanya dilakukan untuk transaksi perdagangan barang:
a) Perpindahan barang dilakukan di dalam negeri.
b) Perpindahan barang dapat dilakukan dari dalam negeri keluar negeri sepanjang
SKBDN diterbitkan atas dasar Master L/C dan non L/C untuk tujuan ekspor.
c. SKBDN harus diterbitkan dalam mata uang rupiah, namun dapat diterbitkan dalam
valuta asing sepanjang SKBDN tersebut terkait dengan transaksi perdagangan internasional yaitu:
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
102
a) Untuk pembelian dalam negeri terkait dengan produksi untuk tujuan ekspor.
b) Untuk pembelian barang dalam negeri, mengandung komponen Impor untuk keperluan perdagangan dalam negeri maupun tujuan ekspor.
d. Hal lain yang Perlu Diperhatikan
a. Meskipun diijinkan penerbitan SKBDN dalam valuta asing, kalau bank umum ter -
sebut belum mendapat persetujuan menjadi bank Devisa dari Bank Indonesia maka
bank umum tersebut tetap tidak dapat menerbitkan SKBDN dalam valuta asing.
b. Dalam hal diterbitkan dalam valuta asing, bank pereimburse dapat berkedudukan di
luar negeri.
c. SKBDN yang diterbitkan atas dasar Master L/C dari luar negeri dalanrangka Back to Back
L/C tunduk pada Peraturan Bank Indonesia.
d. Dalam hal transaksi perdagangan terkait dengan jasa yang tidak dapat dipisahkan
maka nilai barang harus lebih besar dari nilai jasa.
SKBDN diterbitkan dalam kondisi tidak dapat dirubah dan tidak dapat ditarik
kembali atau dibatalkan tanpa persetujuan dari Bank Pembuka, Bank Pengkonfirmasi
jika ada dan Penerima.
SKBDN harus dibuat dalam bahasa Indonesia dan apabila tidak dapat dihindari
dapat dibuka dalam bahasa Inggris.Drawee dalam rangka SKBDN hanya Bank. Bank Pembuka dapat menentukan sendiri besarnya jaminan dan atau setoran tunai dengan
mempertimbangkan bonafiditas Pemohon, termasuk penerbitan SKBDN dengan syarat
Red Clause. Permohonan penerbitan SKBDN harus tertulis oleh pemohon atau kuasanya se kurang-kurangnya memuat.
1. Nama jelas dan alamat Pemohon
2. Nama jelas dan alamat Penerima
SKBDN merupakan kontrak yang terpisah dari kontrak penjualan atau kontrak
lainnya yang menjadi dasar penerbitan SKBDN. Bank hanya berurusan dengan dokumen
dan bukan dengan barang Jan atau jasa pelaksanaan lainnya. Dalam penerbitan SKBDN,
permohonan nasabah sekurang-kurangnya mencantumkan hal-hal sebagai berikut.
1. Nama jelas dan alamat pemohon
Nama jelas dan alamat beneficiary.Nilai SKBDN, Syarat pembayaran atas unjuk, akseptasi
atau negosiasi, Rincian dokumen antara lain dokumen pengangkutan atau dokumen
lain yang diperlukan, Tanggal terakhir pengajuan dokumen.
Tempat penyerahan dokumen untuk penyerahan barang secara unjuk, akseptasi atau
negosiasi, Tanggal penerbitan dan tanggal jatuh tempo SKBDN, media penerbitan
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
103
SKBDN: surat, telex, SWIFT atau sarana lainnya.
2.Tahap Pemeriksaan SKBDN dengan Sales Contract
1) Periksa copy SKBDN cocokkan dengan aplikasi anda.
2) Periksa kembali apakah benar-benar sudah sesuai sales contract.
3) Buatkan permohonan perubahan SKBDN apabila terdapat perbedaan dengan aplikasi
maupun sales contract.
4) File tertib, sambil menunggu realisasi kedatangan dokumen.
3. Tahap Penerimaan Dokumen.
Setelah diterimanya dokumen atas penerbitan SKBDN dari Bank Pembuka
lakukan hal-hal sebagai berikut:
Periksa pengantar dari Bank, kapan bank menerima dokumen tersebut dan apakah ada
catatan discrepancy/penyimpangan dari Bank. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap
dokumen, maka akan terjadi dua kondisi, seperti di bawah ini.
1. Apabila tidak ada catatan lakukan proses selanjutnya, yaitu .
a. Siapkan dana apabila dalam penerbitan SKBDN dengan setoran kurang dari 100%
b. Periksa sekali lagi apakah dokumen tersebut telah dipenuhi dan telah sesuai
dengan yang disyaratkan dalam SKBDN?
c. Bank pembuka akan segera melakukan pembayaran kepada bank penegosiasi
selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari dari tanggal penerimaan dokumen.
d. S e r a h k a n
d o k u m e n p e n g a n g k u t a n k e p e t u g a s ya n g menanganinya,
namun periksa dulu apabila dokumen dimaksud adalah B/L yang negotiable, apakah kepemilikannya sudah dialihkan/dipindahkan ke pihak Pemohon SKBDN,
dengan jalan endorsemen?
e. Proses dengan pihak Bank telah selesai.
2. Apabila ada discrepancy/penyimpangan harus dilakukan hal -hal sebagai berikut:
Minor Discrepacy dalam pengertian tidak mengganggu proses produksi atau perdagangan selanjutnya sehingga masih dapat dipertimbangkan untuk disetujui. Buat
persetujuan discrepancy ke Bank Pembuka untuk diteruskan ke Bank Penegosiasi. Apabila
Major Discrepancy dalam pengertian tidak dapat diproses untuk produksi atau sama sekali
tidak dapat diperdagangkan pemohon dapat menolak dengan mengembalikan semua
dokumen kepada Bank Pembuka tidak boleh melampaui 7 (tujuh) hari dari penerimaan
dokumen pada Bank Pembuka. Apabila Major Discrepancy namun Pemohon/Pembeli
masih dapat menjual dengan harga dibawah standar maka Pemohon/ Pembeli dapat minta
penurunan harga pembelian. Untuk itu sampaikan keputusannya ke Bank Pembuka untuk
La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
104
diteruskan ke Bank Penegosiasi dan persetujuan ini tidak boleh melewati 7 (tujuh hari)
dari penerimaan dokumen pada Bank Pembuka.
4 Tahap-Tahap Transaksi SKBDN Bagi Bank Umum Devisa Dalam Kapasitasnya Sebagai
Bank Pembuka (Issuing Bank)
Membuka SKBDN saat menerima aplikasi yang telah diisi nasabah dokumen lain,
dengan cara.
a.
Pindahkan aplikasi SKBDN tersebut kedalam format yang telah tersedia, baik
persurat /Mail, Teleks, atau SWIFT.
b. Periksa kembali draft SKBDN dengan aplikasi, berikan tikmark/ tanda pada butirbutir isian pada SKBDN sebagai bukti bahwa sudah dilakukan pemeriksaan antara
lain:
a) Nama jelas dan alamat Pemohon
b) Nama jelas dan alamat Penerima
c) Nilai SKBDN
d) Syarat Pembayaran (Unjuk, Akseptasi, Negosiasi)
e) Rincian Dokumen, seperti dokumen pengangkutan barang atau dokumen lainnya yang dibutuhkan
f) Tanggal terakhir pengajuan dokumen
g) Tempat penyerahan dokumen untuk pembayaran atas unjuk, akseptasi atau
negosiasi
h) Tempat penerbitan dan tanggal jatuh tempo SKBDN
i) Media penerbitan SKBDN, surat, teleks, swift atau sarana lainnya
j) Urai an Barang
k) Tanggal terakhir pengiriman barang I.Tempat tujuan pengiriman barang
a. m. Pernyataan tunduk pada syarat-syarat umum Bank untuk penerbitan
SKBDN
c. Berikan draft SKBDN dan permohonan penerbitan SKBDN dan dokumen pendukung atas nama pemohon kepada atasan Saudara untuk memperoleh persetujuan agar dapat diproses lebih lanjut.
d. Periksa Bank Penerus, apakah sesuai permintaan nasabah? Apabila ter nyata
bukan koresponden bank pembuka maka gunakan koresponden terdekat dengan
bank penerus tersebut. Bubuhkan test key bila dikirim via telex, gunakan format
SWIFT bila koresponden tersebut sudah menjadi anggota SWIFT.
a) Bank Pembuka memiliki waktu 7 (tujuh) hari kerja perbankan s et el ah t a n g La Ode Hasiara
Modul Khusus Prodi D4 Keuangan dan Perbankan
105
gal p en e ri m a an dok um e n u nt u k m el ak u ka n pemeriksaan dan menentukan pengambil alihan atau penolakan dokumen. Jika menolak harus diberitahukan secara tertulis dengan mencantumkan alasan penolakannya.
b) Apabila dokumen telah sesuai dengan syarat-syarat SKBDN, buatkan pengantar ke
Pemohon sekaligus membuat nota perhitungan apabila setoran kurang dari
100% dan membuat perintah bayar untuk keuntungan bank penegosiasi,
mintakan tanda terima dokumen dari Pemohon.
c) File tertib, dan catat apabila realisasi baru sebagian (partial shipment diperkenankan).
I. Soal Latihan Bab VII
1. Sebutkan dan jelaskan apa yang dimaksud dengan kliring otomasi dan elek tronik.
2. Sebut dan jelaskan siapa saja yang menjadi pihak-pihak yang terlibat dalam
transaksi dalam transfer.
3. Sebutkan dan jelaskan minimal dua manfaat SKBNI.
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan letter of credit (L/C).
5. Coba sebutkan tahapan-tahapan transaksi SKBDN bagi bank umum devisa sebagai bank pembuka.
DAFTAR RUJUKAN
Hasibuan, Melayu SP. 2005. Dasar-dasar Perbankan.Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Kasmir. S.E., M.M. 2008. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Kasmir. 2002. Dasar-dasar Perbankan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Triandaru, Sigit. 2006. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Penerbit Salemba
Empat.
http://dwianggraini2416.blogspot.com/2013/01/pengertian-dan-macam-macam-lembaga.html
http://ramdan-tugas.blogspot.com/2013/06/pengertian-fungsi-dan-perananlembaga.html http://j4c Obs411m.wordpres s.com/2012/06/06/peranan-perbankan-danperekonomianindonesia/
La Ode Hasiara
Download