20 BAB II PEMBELAJARAN AL-QUR`AN A. Pembelajaran 1

advertisement
BAB II
PEMBELAJARAN AL-QUR’AN
A. Pembelajaran
1. Pengertian Belajar
Setiap
proses
membangun
makna/pemahaman
terhadap
pengalaman dan informasi yang disaring dengan persepsi, pikiran perasaan
disebut belajar. Belajar berarti juga suatu perubahan yang timbul karena
reaksi terhadap situasi. Seseorang dikatakan telah belajar apabila dalam
dirinya terdapat perubahan dari hasil reaksinya terhadap situasi tertentu.
Slameto dalam bukunya yang berjudul “Belajar dan Faktor-faktor
yang Mempengaruhinya” mengemukakan bahwa belajar adalah suatu
proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. 1
Menurut Dalyono, Belajar adalah usaha membentuk hubungan
antara perangsang dan reaksi, masalah itu merupakan perangsang atau
stimulus terhadap individu itu mengadakan reaksi terhadap rangsang, dan
bila reaksi itu berhasil, maka terjadilah hubungan perangsang dan reaksi,
terjadi pula peristiwa belajar.
Belajar juga bisa diartikan suatu proses aktif, yang dimaksud aktif
di sini ialah bukan hanya aktifitas yang tampak seperti gerakan-gerakan
1
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta,
2003), hlm. 2.
20
21
badan, akan tetapi juga aktifitas-aktifitas mental, seperti proses berfikir,
mengingat, dan sebagainya.2
Sebagai landasan penguraian mengenai apa yang dimaksud dengan
belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definisi belajar dari
para ahli, yaitu:
a. Hilgard dan Bower (Theories of Learning) dalam bukunya Ngalim
Purwanto mengemukakan “Belajar berhubungan dengan perubahan
tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang
disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu,
dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar
kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan
sesaat
seseorang
(misalnya
kelelahan,
pengaruh
obat,
dan
sebagainya)”.
b. Gagne (The Conditions of Learning) dalam bukunya Ngalim Purwanto
menyatakan bahwa: “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus
bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa
sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami
situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.3
c. Morgan (Introduction to Psychologis) dalam bukunya Ngalim
Purwanto mengemukakan: “Belajar adalah setiap perubahan yang
2
3
85.
Dalyono, Psikologi Pendidikan, cet. 1 (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 208.
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, cet. 1 (Bandung: Remadja karya, 1988), hlm.
22
relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari
latihan atau pengalaman”.4
d. Menurut Ernest R. Hilgart dalam bukunya Dalyono: “Belajar adalah
suatu proses yang menghasilkan suatu aktifitas atau yang mengubah
suatu aktifitas dengan perantaraan tanggapan kepada satu situasi”.
e. Menurut Charles E. Skinner dalam bukunya Dalyono: “Belajar adalah
proses penyesuaian tingkah laku ke arah yang lebih maju”.5
Dengan demikian pengertian pembelajaran dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran yaitu suatu proses yang menghasilkan suatu aktifitas dengan
perantara tanggapan kepada satu situasi yang tampak oleh perubahan
tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman.
2. Komponen-komponen dalam Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu sistem, artinya suatu keseluruhan yang
terdiri dari komponen-komponen yang berinterelasi dan berinteraksi antara
satu dan yang lainnyamdan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai
tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Adapun komponen-komponen dalam pembelajaran meliputi:
a.
Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran harus memiliki kriteria sebagai berikut:
1) Memiliki suatu aspek tertentu yang ingin dicapai.6
4
5
6
hlm.90.
Ibid.,
Dalyono, op. cit., hlm. 212.
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, cet. 15 (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013),
23
2) Harus sedetail mungkin agar jelas apa yang ingin dicapai dan agar
lebih mudah untuk mencapainya.
3) Dirumuskan secara sederhana, singkat dan jelas agar lebih mudah
untuk dipahami.
4) Dapat dicapai dalam waktu singkat, artinya setelah selesai jam
pembelajaran.
5) Perumusan tujuan jangan disatukan dengan kegiatan mencapai
tujuan.
b. Peserta Didik
Berikut adalah beberapa jenis kebutuhan siswa, menurut
beberapa ahli yang terdapat dalam bukunya Oemar Hamalik yang
berjudul “Proses Belajar Mengajar”:
1) Prescott
Menurut Prescott beberapa kebutuhan siswa, diantaranya yaitu:
a) Kebutuhan fisiologis, meliputi: bahan-bahan dan keadaan
esensial, kegiatan dan istirahat, serta kegiatan seksual.
b) Kebutuhan sosial, meliputi: menerima dan diterima, dan
menyukai orang lain.
c) Kebutuhan
ego,
meliputi:
kontak
dengan
kenyataan,
simbolisasi progresif, menambah kematangan diri sendiri,
keseimbangan antara
berhasil
individualitasnya sendiri.7
7
Ibid., hlm. 96
dan gagal, menemukan
24
2) Maslow
Menurut Prescott beberapa kebutuhan siswa, diantaranya yaitu
a) Kebutuhan akan keselamatan (safety need)
b) Kebutuhan memiliki dan mencintai (belongingness and love
need).
c) Kebutuhan akan penghargaan (esteem need), ialah keinginan
seseorang untuk dinilai baik oleh orang lain, ingin dihormati,
merasa mampu dan percaya atas kemampuannya menghadapi
dunia ini.
d) Kebutuhan untuk menonjolkan diri (self actualizing need),
adalah kebutuhan yang tertinggi, ingin dianggap orang yang
terbaik, ingin menjadi orang yang ideal, dan lain-lain.
c.
Tenaga Pengajar (Guru)
Syarat untuk menjadi seorang pengajar yaitu sebagai berikut:
1) Memiliki bakat dan keahlian sebagai guru,
2) Memiliki kepribadian yang baik dan terintegrasi,
3) Memiliki mental yang sehat,
4) Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas,
5) Berjiwa pancasila, dan
6) Warga negara yang baik.8
8
Ibid., hlm. 118
25
Sedangkan untuk peran seorang guru adalah sebagai pengajar,
pembimbing, pemimpin, ilmuwan, pribadi yang baik, penghubung,
pembaharu dan sebagai pembangunan. 9
d. Kurikulum (Perencanaan Pembelajaran)
Pengajaran adalah suatu usaha yang bersifat kompleks, oleh
sebab itu banyak nilai-nilai dan faktor-faktor manusia yang turut
terlibat di dalamnya. Dikatakan sangat penting, sebab pengajaran
adalah usaha membentuk manusia yang baik.
Guru yang baik akan berusahan sedapat mungkin agar
pengajarannya berhasil. Salah satu faktor yang bisa membawa
keberhasilan tersebut adalah guru senantiasa selalu membuat
perencanaan pengajaran.
Ada beberapa bentuk perencanaan, yaitu sebagai berikut:
1) Perencanaan Tahunan
Perencanaan tahunan disusun berdasarkan kurikulum course of
studies yang memberikan bahan-bahan tentang pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan oleh siswa di setiap tingkatnya. 10
2) Perencanaan Jangka Panjang
Yaitu suatu perencanaan dalam rangka melaksanakan rencana
permualaan yang bersifat umum. Rencana umum tersebut pada
hakikatnya berisi saran-saran tentang kegiatan dan sumber acuan.
Melaksanakan rencana permulaan maksudanya yaitu guru harus
9
Ibid., hlm. 123.
Ibid., hlm. 137.
10
26
memperhatikan minat dan kebutuhan siswa dan kemampuan
siswa.
3) Perencanaan Mingguan
Yaitu suatu perencanaan mengajar yang disusun untuk selama satu
minggu, dimana di dalamnya berisikan rencana harian untuk setiap
mata pelajarannya.
4) Perencanaan Harian
Dalam perencanaan harian berisikan resitasi dan directed
study. Untuk membuat rencana harian, ada beberapa hal yang
perlu dipertimbangkan oleh guru yaitu:
a) Lingkungan fisik harus serasi untuk belajar.
b) Ada bahan-bahan yang dipelajari.
c) Cara memotivasi siswa
d) Diagnosa kesulitan-kesulitan belajar.
e) Prosedur membimbing siswa
f)
Metode mengatasi kesulitan.
g) Cara mengecek efisiensi belajar siswa.11
e.
Media Pembelajaran
Dalam hal pembelajaran media pembelajaran sangat penting
untuk menunjang pembelajaran. Dengan media yang sesuai, maka
akan menuai hasil yang baik.
Bebrapa kriteria dalam pemilihan media pembelajaran:
11
Ibid., hlm. 142.
27
1) Harus sesuai dengan materi,
2) Bisa memotivasi siswa,
3) Memiliki nilai pendidikan.
f.
Evaluasi Pembelajaran.
Evaluasi pembelajaran merupakan suatu komponen dalam
sistem pembelajaran, sedangkan sistem pengajaran merupakan
implementasi kurikulum sebagai upaya untuk menciptakan belajar di
kelas.
Fungsi dari evaluasi yaitu:
1) Untuk mengetahui apakah peserta didik telah menguasai
pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan yang telah diberikan oleh
seorang guru.
2) Untuk mengetahui aspek-aspek kelemahan peserta didik dalam
melakukan kegiatan belajar.
3) Untuk mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan
belajar.
4) Sebagai sarana umpan balik bagi seorang guru yang bersumber
dari siswa.
5) Sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.
6) Sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada orang tua
siswa.12
12
Ibid., hlm. 145.
28
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama
yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri
siswa atau faktor lingkungan.
Adapun faktor-faktor yang di maksud adalah sebagai berikut:
a. Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor Internal adalah faktor yang ada
di dalam diri anak atau siswa. Karena itu pada garis besarnya meliputi
faktor fisik (jasmaniah) dan faktor psikis (rohaniah).
1) Faktor Fisik (jasmaniah)
Faktor ini berkaitan dengan kesehatan badan dan kesempurnaanya,
yaitu tidak mengalami cacat atau kekurangan yang dapat menjadi
hambatan dalam meraih sukses.
a) Faktor kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta
bagian-bagiannya/ bebas dari penyakit. Kesehatan adalah
keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh
terhadap belajarnya.13
b) Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik
atau kurang sempurna mengenai tubuh/ badan. Cacat itu dapat
13
hlm.131.
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, cet. 2 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999),
29
berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, dan
patah tangan, lumpuh dan lain-lain.14
2) Faktor Psikis (rohaniah)
Faktor psikis dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:
a) Intelegensi
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan
psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri
dengan lingkungan dengan cara yang tepat.
b) Sikap
Sikap
adalah
gejala
yang
berdimensi
afektif
berupa
kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response
tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang,
barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.
c) Bakat
Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial
yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada
masa yang akan datang.15
d) Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap
sesuatu.
14
15
Ibid., hlm. 132.
Ibid., hlm. 133 -135.
30
e) Motivasi
Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organisme
baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk
berbuat sesuatu.16
b. Faktor Eksternal
Yang di maksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang ada
atau berasal dari luar diri anak atau siswa, secara keseluruhan faktor
eksternal adalah sebagai berikut:
1) Faktor keluarga
Keluarga adalah ayah, ibu, dan anak-anak serta famili yang
menjadi penghuni rumah. Faktor orang tua sangat besar
pengaruhnya terhadap keberhasilan anak dalam belajar. Tinggi
rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan,
cukup atau kurang perhatian dan bimbingan orang tua, rukun
atau tidaknya kedua orang tua, akrab atau tidaknya hubungan
orangtua dengan anak-anak, tenang atau tidaknya situasi dalam
rumah, semuanya itu turut mempengarui pencapaian hasil belajar
anak.
2) Faktor Sekolah
Keadaan sekolah tempat belajar turut mempengaruhi
tingkat keberhasilan belajar. Kualitas guru, metode mengajarnya,
kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan fasilitas/
16
146.
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, cet. 1 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.
31
perlengkapan di sekolah, keadaan ruangan, jumlah murid per kelas,
pelaksanaan tata tertib sekolah, dan sebagainya, semua ini turut
mempengaruhi keberhasilan belajar anak.17
3) Faktor masyarakat
Keadaan masyarakat juga menentukan prestasi belajar. Bila
di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakatnya terdiri dari orangorang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata
bersekolah tinggi dan moralnya baik, hal ini akan mendorong anak
lebih giat belajar. Tetapi sebaliknya, apabila tinggal di lingkungan
banyak anak-anak yang nakal, tidak bersekolah dan pengangguran,
hal ini akan mengurangi semangat belajar atau dapat dikatakan
tidak menunjang sehingga motivasi belajar kurang.
4) Faktor lingkungan sekitar
Keadaan lingkungan tempat tinggal, juga sangat penting
dalam mempengaruhi prestasi belajar. Keadaan lingkungan,
bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim dan
sebagainya.18
17
18
Ibid., hlm. 147.
Dalyono, op. Cit., hlm. 59.
32
B. Pembelajaran Al-Qur’an
1. Pengertian al-Qur’an
a. Menurut Bahasa
Dalam menjelaskan tentang pengertian al-Qur’an, para Ulama
berbeda pendapat. Diantaranya yaitu: asy-Syafi’i, al-Farra, al-Asy’ari,
az-Zajjaj, dan al-Lihyani.
Menurut asy-Syafi’i, al-Quran bukan berasal dari kata
“Qoro’a” yang artinya membaca. Karena jika demikian, maka semua
yang dibaca disebut al-Qur’an. Menurut beliau al-Qur’an adalah nama
sebuah kitab suci seperti Taurat dan Injil.
Al-Asy’ari dan para pengikutnya, mendifinisikan al-Qur’an
berasal dari kata “Qorona” yang mempunyai arti menggabungkan.
Karena ayat dan surat saling bergabung satu sama lain.
Menurut al-Farra, berpendapat bahwa kata al-Qur’an adalah
jamak dari Qorinah yaitu “Qoro’in” yang berarti menyerupai. Karena
ayat-ayat al-Qur’an menyerupai satu sama lain.
Menurut az-Zajjaj, al-Qur’an berasal dari kata “Qor’i” yang
berarti mengumpulkan. Karena ia mengumpulkan inti sari kitab-kitab
terdahulu.
Al-Lihyani berpendapat, al-Qur’an berasal dari kata “Qoro’a”
yang berarti membaca.
Dari beberapa pendapat di atas pendapat yang terakhirlah yang
lebih kuat. Bahwa al-Qur’an adalah sinonim dari kata “Al-Qiro’ah”.
33
Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat al-Qiyamah ayat 1718:19
)١٨( ‫) َع ِٕا َع ا َعْيَعْٔاْرَع اُها َع اَّنِا ُها ُهْي ْرٓاَعاُه‬١٧( ‫ِا َّننا َع َعْرْيَع اا َعْر َع ُها َع ُهْي ْرٓاَعاُه‬
“Sesungguhnya mengumpulkan al-Qur’an (di dalam dadamu) dan
(menetapkan) membacanya (pada lidahmu) itu adalah tangguhan kami.
(Karena itu) jika Kami telah membacanya, hendaknya kamu ikut
bacaanya”. (al-Qiyamah ayat 17-18).20
Dalam ar-Rahman ayat 1-2 juga disebutkan:
(٢(‫)ا َعَّن َعماْر ُهلق ْرٓا َعنا‬١(‫ْح ُهنا‬
ٰ ‫لَّن ْر‬
“(Tuhan) yang maha pemurah. Yang telah mengajarkan al-Qur’an”.
(QS. ar-Rahman ayat 1-2).21
Menurut sebagian ahli tafsir, kata al-Qur’an maksudnya adalah
al-Qiro’ah atau bacaan.
b. Menurut Istilah
Menurut istilah al-Qur’an yaitu:
‫ِا ِا‬
‫ِا‬
‫َّنباصَّنىاهللاا َع َعْر ِاا سَّنما لْرم ْركتُهْيو ِا‬
‫ب ِااِفا‬
‫َعك َعَل ُهماهللاا لْر ُهم ْر ج ِازا لْر ُهمْر ِازلا َع َعىا ل ِا ِاي َع ُه‬
‫َع َع َع َع ْر‬
‫ِا ِا‬
‫ِا‬
‫َّنو اُهِا ا لْر ُهمتَعْي َعيِا ُه ا ِاتِا َعَل َع اِاِاا‬
‫لْر َعم َع ا ا لْر َعمْرْي ُهق ْرو ُهلا لتْي َع‬
“Al-Qur’an adalah firman Allah yang bersifat mukjizat yang
diturunkan kepada Nabi saw., yang tertulis di dalam mushaf, dinukil
19
Sudaryo El Kamali, Pengantar Studi Alquran (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press,
2006), hlm. 1-2.
20
Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemahan, (Jakarta: J-art,
2014), hlm. 998.
21
Ibid., hlm. 875.
34
dari padanya secara mutawwatir dan dipandang beribadah dengan
membacanya”.22
Jadi, al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad saw. serta menjadi mukjizatnya beliau yang
diturunkan secara mutawwatir dalam bentuk mushaf (lembaranlembaran) yang telah terhimpun yang diawali oleh surat al-Fatihah dan
diakhiri surat an-Naas, dan jika membacanya mendapatkan pahala.
2. Metode Pembelajaran al-Qur’an
Menurut Sukarno bahwa “Metode adalah cara untuk melakukan
sesuatu atau cara untuk mencapai suatu tujuan”. Sedangkan menurut Knox
seperti yang dikutip Sukarno “Metode dalam pendidikan adalah kumpulan
prinsip yang terkoordinir untuk melaksanakan pembelajaran”.23
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode merupakan
suatu syarat untuk melangkah maju dengan terencana dan teratur untuk
mencapai suatu tujuan tetentu yang dengan sadar mempergunakan
pengetahuan-pengetahuan
sistematis
untuk
keadaan-keadaan
yang
berbeda-beda.
Secara literal metode berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari 2
kosa kata, yaitu “meta” yang berarti melalui dan “hados” yang berarti
jalan”.24 Dalam Bahasa arab metode disebut : “Thariqat”, dalam kamus
22
Sudaryo El kamali, op. Cit. hlm. 2-3
Sukarno, Dasar-dasar Pendidikan Islam (Jakarta: Bhratara Karya, 1981), hlm. 39.
24
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis dan Praktis, cet. 1
(Jakarta : Ciputat Pers, 2002), hlm. 65.
23
35
besar bahasa Indonesia “metode” adalah : “cara yang teratur dan berfikir
baik-baik untuk mencapai maksud”.25
Metode Pembelajaran al-Qur’an
a. Metode Iqro’
Metode Iqro’ adalah suatu metode membaca al-Qur’an yang
menekankan langsung pada latihan membaca.26 Untuk dapat membaca
al-Qur’an dengan baik, seseorang memang diharuskan mempelajarinya
dari seorang ahli dalam bidang tersebut.27
Adapun buku panduan Iqro’ terdiri dari 6 jilid, dimulai dari
tingkat yang sederhana, tahap demi tahap sampai pada tingkatan yang
sempurna. Dari keenam jilid tersebut ditambah 1 jilid lagi yang berisi
tentang
do’a-do’a.
Dalam
setiap
jilid
terdapat
petunjuk
pembelajarannya dengan maksud memudahkan setiap orang yang
belajar maupun yang mengajar al-Qur’an.
Metode Iqro’ ini dalam prakteknya tidak membutuhkan alat
yang bermacam-macam, karena ditekankan pada bacaannya (membaca
huruf al-Qur’an dengan fasih). Bacaan langsung tanpa dieja, dan lebih
bersifat individual.28
Metode Iqro’ memiliki kelebihan dan kelemahan. Diantara
kelebihannya sebagai berikut:
25
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, cet. 1 (Jakarta :
Ciputat Pers, 2002), hlm. 40.
26
Qash-tha al-Hikmah, "Macam-macam Metode Pembelajaran Al-Qur’an" dalam
http://darussalam-community.blogspot.com/, (diakses pada 1 Juli 2015), hlm. 1.
27
Muhammad Ahmad Abdullah, Metode Cepat dan Efektif Menghafal Al-Qur’an AlKarim, terjemahan Rahem Seksa, cet. 1 (Yogyakarta: Gara Ilmu, 2009), hlm. 32.
28
Qash-tha al-Hikmah, loc. cit., hlm. 1.
36
1) Menggunakan metode CBSA, jadi bukan guru yang aktif
melainkan siswa yang dituntut aktif.
2) Dalam penerapannya menggunakan pendekatan pembelajaran
klasikal (membaca secara bersama), privat, maupun dengan cara
santri yang lebih tinggi jilidnya dapat menyimak bacaan temannya
yang berjilid rendah.
3) Komunikatif, artinya jika santri / siswa mampu membaca dengan
baik dan benar, guru dapat memberikan sanjungan, perhatian dan
penghargaan.
4) Bila ada santri / siswa yang sama tingkat pelajarannya, boleh
dengan sistem tadarus, secara bergilir membaca sekitar dua baris
sedang lainnya menyimak.
5) Bukunya mudah didapat di toko-toko.
Sedangkan kelemahan metode Iqro’ diantaranya :
1) Bermacam-macam tajwid tidak dikenalkan sejak dini.
2) Tidak ada media belajar.
3) Tidak dianjurkan menggunakan irama murottal.29
b. Metode Al-Baghdady
Metode Al-Baghdady adalah metode tersusun (tarkibiyah),
yaitu suatu metode yang tersusun secara berurutan dan merupakan
sebuah proses ulang atau lebih kita kenal dengan sebutan metode alif,
29
Ibid., hlm. 2.
37
ba’, ta’. Metode ini adalah metode yang paling lama muncul dan
metode yang pertama berkembang di Indonesia.30
Metode
Al-Baghdady
dalam
prakteknya
menggunakan
beberapa cara, diantaranya :
a) Hafalan, yaitu dengan menghafal huruf-huruf hijaiyah.
b) Eja, yaitu mengeja kata perkata pada suatu kalimat al-Qur’an atau
jilid.
c) Modul, belajar dengan modul atau jilid, siswa yang sudah selesai 1
jilid, boleh melanjutkan ke jilid berikutnya.
d) Tidak variatif, pembelajaran hanya berpedoman pada modul atau
jilid saja.31
Metode Al-Baghdady mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Diantara kelebihan metode Al-Baghdady:
a) Santri atau siswa akan mudah dalam belajar, karena sebelum
diberikan materi, santri sudah hafal huruf-huruf hijaiyah.
b) Santri atau siswa yang lancar akan cepat melanjutkan pada materi
selanjutnya karena tidak menunggu orang lain.
Sedangkan kekurangan metode ini adalah :
a) Membutuhkan waktu yang lama, karena harus menghafal huruf
hijaiyah dahulu dan harus dieja.
b) Santri kurang aktif, karena harus mengikuti ustadz-ustadznya
dalam membaca.
30
31
Ibid., hlm. 2.
Ibid., hlm. 2.
38
c) Kurang variatif karena menggunakan satu jilid saja.32
c. Metode An-Nahdhiyah
Metode ini merupakan metode pengembangan dari metode AlBaghdady. Maka materi pembelajaran al-Qur’an tidak jauh berbeda
dengan metode Qira’ati dan Iqro’. Metode ini lebih ditekankan pada
kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan ketukan.33
Dalam pelaksanaan metode ini, ada dua program yang harus
diselesaikan oleh para santri, yaitu :
a) Program buku paket, yaitu program awal sebagai dasar
pembekalan untuk mengenal dan memahami serta mempraktekkan
membaca al-Qur’an. Dalam metode ini buku paketnya tidak dijual
bebas, bagi yang ingin menggunakan atau ingin menjadi guru pada
metode ini harus mengikuti penataran calon guru metode AnNahdhiyah.
b) Program sorogan al-Qur’an, yaitu program lanjutan sebagai
aplikasi praktis untuk mengantarkan santri mampu membaca AlQur’an sampai khatam. Dalam program sorogan ini santri akan
diajarkan bagaimana cara-cara membaca al-Qur’an yang sesuai
dengan sistem bacaan dalam membaca al-Qur’an. Dimana santri
langsung praktek membaca al-Qur’an besar. Disini santri akan
diperkenalkan beberapa sistem bacaan, yaitu tartil dan tahqiq.34
32
Ibid., hlm. 2.
Ibid., hlm. 3
34
Ibid., hlm. 3.
33
39
Secara istilah tartil ini dapat diartikan sebagai membaca AlQur’an
seraya
menghentikan
bacaan
di
suatu
tempat
dan
memahaminya secara tidak tergesa-gesa. Allah berfirman:
      
Artinya: "Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu
dengan perlahan-lahan". (QS. Al-Muzzammil : 4)35
Sedangkan tahqiq tidak jauh berbeda dengan tartil, hanya saja
tahqiq ini lebih banyak tenangnya. Tahqiq ini biasanya dipergunakan
dalam suasana belajar.36
d. Metode Jibril
Metode ini dilatarbelakangi pada perintah Allah SWT kepada
Nabi Muhammad SAW untuk mengikuti bacaan al-Qur’an yang telah
diwahyukan melalui Malaikat Jibril.37 Allah SWT berfirman :
        
Artinya: "Dan jika dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baikbaik dan perhatikanlah dengan tenang supaya kalian
mendapat rahmat". (QS. Al-A’raf : 204)38
Menurut KH. M. Bashroi Alwi, "Teknik dasar metode Jibril
bermula dengan membaca satu ayat atau lanjutan ayat atau waqaf, lalu
ditirukan oleh seluruh orang-orang yang mengaji". Mendengarkan saja
35
Muhammad Ahmad Abdullah, op. cit., hlm. 308
Ibid., hal. 309
37
Qash-tha al-Hikmah, loc. cit., hlm. 3
38
Abdul Ad-Daim Al-Kahiil, Cara Baru Menghafal Al-Qur’an, terjemahan Ibnu Bathal,
(Klaten: Inas Media, 2009), hlm. 93
36
40
tidak cukup, namun harus mendengarkan dan inshat (mengikuti
ucapan dan suaranya). 39 Sehingga mereka dapat menirukan bacaan
guru dengan pas.40
Metode Jibril dalam prakteknya terdapat dua tahap yaitu tahqiq
dan tartil. Tahqiq ini biasanya dipergunakan dalam suasana belajar,
karena lebih mengedepankan tenangnya.41 Sedangkan tartil adalah
membaca Al-Qur’an seraya menghentikan bacaan di suatu tempat dan
memahaminya secara tidak tergesa-gesa, sambil memisah huruf yang
satu dengan huruf sesudahnya, karena hal itu akan membantu
merenungi dan memahami maknanya. Bacaan tartil merupakan tingkat
bacaan yang pertama dan terbaik diantara bacaan-bacaan yang lain.42
Begitu pulalah yang diajarkan Rasulullah kepada para
sahabatnya. Beliau mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka secara
lisan, kemudian diperintahkan kepada mereka supaya mempraktikkan
apa yang sudah didapat untuk beliau dengar kembali. Cara itulah yang
mereka lakukan dari generasi ke generasi yang lain. 43
e. Metode Qiro’ati
Metode
ini
ialah membaca
Al-Qur’an
yang langsung
memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan kaidah
39
Ibid., hlm. 92
Qash-tha al-Hikmah, op. cit., hlm. 4.
41
Muhammad Ahmad Abdullah, loc. cit., hlm. 309
42
Ibid., hal. 308
43
Abdurrahman Abdul Khaliq, Bagaimana Menghafal Al-Qur’an, terjemahan Abdul
Rosyid Shiddiq, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2007), hlm. 22.
40
41
ilmu tajwid.44 Sesungguhnya mendengarkan bacaan Al-Qur’an adalah
metode terbaik untuk menguasai ilmu tajwid.45
Sistem pendidikan dan pengajaran metode qiro’ati ini melalui
sistem pendidikan berpusat pada murid dan kenaikan kelas atau jilid
tidak ditentukan oleh bulan atau tahun dan tidak secara klasikal, tapi
secara individual (perseorangan).
Santri atau anak didik dapat naik kelas atau jilid berikutnya
dengan syarat :
a) Sudah menguasai materi/paket pelajaran yang diberikan di kelas.
b) Lulus tes yang telah diujikan oleh sekolah (TPA). 46
Metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan
metode qiro’ati adalah :
a) Siswa walaupun belum mengenal tajwid tetapi sudah bisa
membaca Al-Qur’an secara tajwid.
b) Dalam metode ini terdapat prinsip untuk guru dan murid.
c) Pada metode ini setelah khatam meneruskan lagi bacaan ghorib.
d) Jika santri sudah lulus 6 jilid beserta ghoribnya, maka di test
bacaannya kemudian setelah itu santri mendapatkan syahadah jika
lulus tes.
Kekurangan metode ini adalah bagi yang tidak lancar, lulusnya
juga akan lama karena metode ini lulusnya tidak ditentukan oleh
bulan/tahun.47
44
Qash-tha al-Hikmah, op. cit., hlm. 4.
Abdul Ad-Daim Al-Kahiil, op. cit., hlm. 92
46
Qash-tha al-Hikmah, op. cit., hlm 4.
45
42
Dalam mengajar Al-Qur’an dikenal beberapa macam strategi,
yaitu :
a) Privat atau individual
Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar
guru yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar
kepada masing-masing individu.48
Kedudukan guru dalam pembelajaran individual bersifat
membantu.
pembelajaran
Bantuan
guru
berupa
berkenaan
perencanaan
dengan
komponen
kegiatan
belajar,
pengorganisasian kegiatan belajar, penciptaan pendekatan terbuka
antara guru dan siswa, dan fasilitas yang mempermudah belajar.49
Adapun tujuan pengajaran individual ini adalah :
(1) Pemberian kesempatan dan keleluasan siswa untuk belajar
berdasarkan kemampuan sendiri.
(2) Pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal karena
pada
dasarnya
pada
pembelajaran individul
ini
siswa
merupakan pusat layanan pengajaran.50
Jadi pada proses pembelajaran Al-Qur’an dengan strategi
privat atau individual ini adalah dengan cara "siswa secara
bergiliran membaca ataupun menghafal di hadapan guru satu
47
Ibid., hlm. 4
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, cet. 1 (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2006), hlm. 161.
49
Ibid., hlm. 163.
50
Ibid., hlm. 162.
48
43
persatu".51 Dalam hal ini guru menyimak bacaan atau hafalan
siswa, dan kemudian diberi pembenaran jika ada kekeliruan dalam
pengucapannya.
b) Klasikal
Pembelajaran klasikal adalah kegiatan mengajar guru yang
memberikan bantuan dan bimbingan belajar secara umum.52 Dalam
pembelajaran ini kemampuan guru yang utama dan sifatnya lebih
efisien.53
Jumlah siswa tiap kelas pada umumnya berkisar 10-45
orang. Dengan jumlah ini guru masih dapat mengajar siswa secara
berhasil. Dalam pembelajaran ini guru dapat mengajar seorang diri
atau bertindak sebagai tim pembelajar.54
Jadi dalam proses pembelajaran Al-Qur’an dengan strategi
klasikal ini sebagian waktu digunakan guru/ustadz untuk
menerangkan pokok pelajaran Al-Qur’an secara klasikal.55
Kemudian dilakukan tahap evaluasi dengan membentuk kelompok
kecil dalam membaca atau menghafal, dan guru menyimak.
f. Metode Hafalan
Metode merupakan cara yang telah diatur dan teruji baik-baik
untuk mencapai sesuatu maksud, dalam ilmu pengetahuan dan
51
Qash-tha al-Hikmah, loc. cit., hlm. 4.
Dimyati dan Mudjiono, op. cit., hlm. 161.
53
Ibid., hlm. 169.
54
Ibid., hlm. 170.
55
Qash-tha al-Hikmah, loc. cit., hlm. 4
52
44
sebagainya, cara belajar dan sebagainya. 56 Selain itu metode adalah
salah satu alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.57
Sedangkan menghafal dalam bahasa Arab adalah ‫ظا‬
‫ا َعا ِا َع‬,‫ظا‬
‫ا َعَع َع‬
yang berarti menjaga, mengamankan, dan memelihara. Selanjutnya
orang yang hafal dalam bahasa Arab disebut ‫ظ‬
‫ ا َعِا ِاا‬yang berarti penjaga,
pengawal, pemelihara, dan juga
‫ظا َع ْر ًاَعْر َع ْرنا َع ْر ِاَعْي ْرِا ا‬
‫ ا َعِا ُه‬yang berarti
penghafal (di luar kepala).58 Selain itu menghafal Al-Qur’an bisa
diungkapkan dengan kalimat ‫ى‬
‫ ىا‬yang diartikan hafal dengan
hafalan di luar kepala.59
Adapun menghafal menurut kamus bahasa Indonesia, bahwa
menghafal berasal dari kata dasar hafal yang artinya telah masuk
ingatan, dapat mengucapkan di luar kepala (tanpa melihat buku).60
Hafal juga merupakan sesuatu yang telah masuk dalam ingatan
(tentang pelajaran). Sehingga diucapkan dengan ingatan tidak usah
melihat catatan atau buku.61 Dan menghafal adalah berusaha
meresapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat, 62 dan mempelajari
(melatih) supaya hafal.63
56
Sutan Rajasa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Surabaya:Mitra Cendekia, 2003),
hlm. 177.
57
Annisatul Mufarokah, Strategi Belajar Mengajar, cet. 1 (Yogyakarta: Teras, 2008),
hlm. 80.
58
Subkhi Sholeh, Kamus Al-Asri: Kamus Kontemporer (Yogyakarta: Multi Karya
Grafika, 1999), hlm. 724.
59
Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir (Surabaya:Pustaka Progresif, 2002),
hlm. 297.
60
Sutan Rajasa, loc. cit., hlm. 177.
61
Bustami, A. Gani dan Chatibul Umam, Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Qur’an
(Jakarta: PT Pustaka Litera Antar Nusa, 1994), hlm. 145.
62
Sutan Rajasa, loc. cit., hal. 177
63
Bustami, A. Gani dan Chatibul Umam, loc. cit., hlm. 145.
45
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa arti dari
metode hafalan adalah cara yang tepat dan cepat dalam melakukan
kegiatan belajar mengajar pada bidang mata pelajaran, khususnya mata
pelajaran Al-Qur’an, dengan mengucapkan di luar kepala tanpa
melihat buku atau catatan lain dalam pembelajaran tersebut.
2. Evaluasi Pembelajaran al-Qur’an
Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa dalam memahami alQur’an maka diperlukan evaluasi. Evaluasi yaitu suatu penilaian yang
diberikan kepada siswa setelah menguasai materi tertentu.
a. Evaluasi Jilid
1) Evaluasi harian (privat)
a) Evaluasi dilaksanakan oleh ustad privat.
b) Bidang penilaian meliputi: fashohah (FH), makhorijul huruf
(MH), titian murattal (TM) dan ahkamul huruf (AH).
c) Fungsinya untuk melihat kemajuan santri pada setiap
halaman/jilid yang diajarkan.
d) Materi yang diprivatkan yaitu pembelajaran yang baru
disampaikan.
e) Penilaian
dengan
standar
prestasi
A-B-C
sebagaimana
tercantum dalam Blanko Kartu Prestasi.
Prestasi A
: Untuk yang benar semua
Prestasi B
: Untuk yang terdapat kesalahan pada salah
satu dar FH, MH, TM, dan AH
46
Prestasi C
: Untuk santri yang lebih dari dua kesalahan.64
2) Evaluasi Akhir Jilid
a) Santri telah khatam dalam setiap jilidnya terlebih dahulu
diadakan pendalaman materi dengan mengulang membaca dari
halaman pertama sampai selesai.
b) Evaluasi dilaksanakan untuk menentukan lulus dan tidaknya
santri pada setiap satu jilid untuk naik ke jilid berikutnya.
c) Pelaksanaaan evaluasi oleh ustadz dan ustadzah yang mengajar
pada TPQ tersebut.
d) Materi evaluasi (soal) dibuat sebanyak 20 soal, dan setiap soal
mempunyai bobot nilai 5.
e) Santri diuji satu per satu.
f) Kesalahan dihitung bila sudah diingatkan/mengulang tiga kali.
g) Bidang penilaian meliputi: FH, MH, TM, dan AH.
(1) Kesalahan dari segi makhroj dalam satu huruf dihitung satu
(2) Standar penilaian sebagai berikut:
Tabel 2.1
Standar Penilaian
64
Salah
Nilai
Prestasi
Keterangan
0
100
A
Lulus
1
95
A
Lulus
2
90
A
Lulus
3
85
B
Lulus
Team Mabin TPQ an-Nahdliyah Cabang Ponpes Syarif Hidayatullah, Ikhtisar Seri A &
B Taman Pendidikan an-Nahdliyah (Pekalongan: Ponpes Syarif Hidayatullah, tt), hlm. 3.
47
4
80
B
Lulus
5
75
B
Lulus
6
70
C
Lulus
7
65
C
Lulus
8
60
C
Lulus
9
< 60
D
Tidak Lulus65
3) Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) 6 Jilid
a) Santri diuji satu persatu
b) Bidang penilaian, meliputi:
(1) Makhorijul huruf dan ahkamul huruf
(2) Ahkamul madd wal-Qasr
(3) Fasohah (meliputi: titian murattal, mura’atul huruf wal
harakat, dan adab.
c) Tata cara penilaian dengan memberikan angka pengureangan
pada setiap kesalahan, kecuali pada MH untuk ini dihitung
setiap huruf yang salah.
d) Materi/soal Ebta terdiri dari:
(1) Surat al-Fatihah
(2) Surat-surat pendek
(3) Surah al-Baqarah dari ayat 1 -20
Pembagian soal berdasarkan pilihan dengan cara mengambil
latihan soal yang dibuat oleh team evaluasi
e) Standar penilaian
65
Ibid., hlm. 4
48
Tabel 2.2
Standar Penilaian
Nilai
Prestasi
Keterangan
86-100
A
Lulus
70-85
B
Lulus
60-69
C
Lulus
0-59
D
Tidak Lulus66
b. Evaluasi Program Sorogan al-Qur’an (PSQ)
1) Evaluasi harian
a) Evaluasi dilaksanakan oleh ustad privat.
b) Bidang penilaian meliputi: fakta huruf (FH), makhorijul huruf
(MH), titian murattal (TM) dan ahkamul huruf (AH).
c) Penilaian
dengan
standar
prestasi
A-B-C
sebagaimana
tercantum dalam Blanko Kartu Prestasi.
Prestasi A
: Untuk yang benar semua
Prestasi B
: Untuk yang terdapat kesalahan pada salah
satu dar FH, MH, TM, dan AH
Prestasi C
: Untuk santri yang lebih dari dua kesalahan.67
2) Evaluasi bulanan
a) Bidang penilaian meliputi: Makhorijul Huruf, Ahkamul Huruf
dan Fashohah.
b) Materi evaluasi bulanan yaitu sejumlah surat/juz yang telah
diajarkan dengan cara diambil sampel beberapa ayat secara
66
67
Ibid., hlm. 5
Ibid., hlm. 7
49
terpisah. Untuk memudahkan pembagian materi evaluasi
bulanan diatur sebagai berikut:
Juz 1-5
kurang lebih 8 ayat
Juz 6-10
kurang lebih 10 ayat
Juz 11-15
kurang lebih 12 ayat
Juz 16-20
kurang lebih 14 ayat
Juz 21-30
kurang lebih 15 ayat 68
3) Pra-Munaqosah
Pra-munaqosah yaitu evaluasi yang dilaksanakan sebagai
syarat mengikuti munaqsah. Materi pra-munaqosah yaitu:
a) Hafalah surat pendek
b) Hafalan ayat kursi dan akhir surat al-Baqarah
c) Praktek Shalat shubuh dan bacaannya
d) Hafalan do’a-do’a yang diajarkan
4) Munaqasah
Munaqosah
adalah
evaluasi
tahap
akhir
dalam
pembelajaran al-Qur’an. Munaqosah bertujuan untuk menentukan
lulus tidaknya santri dalam pembelajaran al-Qur’an. Materi dalam
munaqosah meliputi:
a) Membaca surat/ayat yang telah ditentukan oleh team sesuai
dengan pengambilan lot
b) Membaca materi gharaib yang disajikan team
68
Ibid., hlm. 8
50
c) Hafalan salah satu surah penting: Yasin, wqiah, al-mulk
d) Mengerjakan soal ujian tertulis
e) Teknik penilaian
Tabel 2.3
Teknik Penilaian
Materi
Tajwid
a. Ahkamul Huruf
b. Ahkamul Madd wal-Qasr
Makhroj
a. Makhorijul Huruf
b. Sifatul Huruf
Fashohah
a. al-waqfu wa ibtida’
dan adab
mura’atul huruf wal
harakat
b. tartilul qiraah
Nilai
30
30
40
c. gara’ibul qur’an
d. adabul qiraah
Tertulis
Menyesuaikan69
3. Problem-problem dalam Pembelajaran al-Qur’an
Dalam pembelajaran al-Qur’an juga terdapat problem-problem
yang menjadikan siswa kurang menguasai al-Qur’an, diantaranya yaitu:
a. Problem membaca
Belajar membaca al-Qur’an artinya belajar mengucapkan
lambang-lambang bunyi tertulis. Walaupun kegiatan ini nampaknya
sederhana, tetapi bagi siswa pemula mungkin merupakan kegiatan
yang cukup kompleks karena harus melibatkan berbagai hal yaitu
69
Ibid., hlm. 10.
51
pendengaran, penglihatan, pengucapan disamping akal pikiran. Kedua
hal terakhir ini bekerja secara mekanik dan simultan untuk melahirkan
perilaku membaca. Ditambah lagi materi yang dibaca adalah rangkaian
kata-kata arab yang berbeda sistem bunyi dan penulisannya dengan
yang mereka kenal dengan bahasa ibu dan bahasa Indonesia.
b. Problem menulis
Belajar menulis huruf latin dengan huruf arab jelas berbeda,
suku kata dan fonetiknya berbeda pula. Kesulitan yang sering dialami
adalah jika menulis latin yang diawali dari kiri sedang menulis arab
dimulai dari kanan, menggabungkan huruf yang satu dengan yang
lainnya dalam kalimat, serta dalam memberi harakat, adapun detailnya
yaitu sebagai berikut:
1) Menulis lebih sulit daripada membaca dan menghafal.
2) Menulis membutuhkan konsentrasi antara tangan, ingatan dan
penglihatan.70
c. Problem menghafal
Dalam menghafal al-Qur’an setidaknya kita harus memiliki
minat, lingkungan yang baik dan kondusif, pembagian waktu dan
metode penghafal al-Qur’an.
Problem yang dihadapi oleh para penghafal al-Qur’an secara
garis besar dapat dirangkum sebagai berikut:
1) Menghafal itu susah.
70
Fidiyatul Aeni, “Problematika Pembelajaran al-Qur’an Hadits Siswa SMP Islam
Walisongo Kedungwuni Kabupaten Pekalongan”, Skripsi (Pekalongan: Perpustakaan Stain
Pekalongan, 2014), hlm. 21.
52
2) Lupa dengan ayat yang sudah pernah dihafalkan.
3) Banyaknya ayat-ayat yang serupa.
4) Gangguan-gangguan kejiwaan.
5) Gangguan-gangguan lingkungan.
6) Banyaknya kesibukan, dan lain-lain.71
d. Problem Menerjemahkan
Dalam bahasa al-Qur’an sering dijumpai problematika tentang
perbendaharaan kata, karena dalam al-Qur’an banyak arti sehingga
sulit untuk menentukan kata yang tepat yang sesuai dengan konteks
kalimatnya, menyusun subjek, predikat dan objeknya. Hal tersebut
dikarenakan dalam al-Qur’an susunannya berbeda dengan bahasa
indonesia. Disamping itu Penerjemahan harus menguasai bahasa arab
dengan benar yaitu harus menguasai tentang grammarnya.
e. Problem Memahami
Dalam al-Qur’an untuk memahami dan memperoleh pengertian
yang jelas tentang arti dan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an
perlu memperkerjakan akal. Hal ini dikarenakan membaca al-Qur’an
hendaknya menggunakan pikiran, lalu berusaha berbuat menurut
petunjuknya sehingga mencapai tujuan. Petunjuk Illahi bagaimana cara
berfikir yang baik sehingga dapat memahami dan menafsirkan alQur’an dengan baik.72
71
Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal al-Qur’an, cet. 3 (Jakarta: PT.
Bumi Aksara, 2005), hlm. 41.
72
Fidiyatul Aeni, op. cit., hlm. 22.
Download