Modul Pendidikan Agama Islam [TM12]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Pendidikan Agama Islam
Islam Dan Wawasan Lingkungan
Fakultas
Program Studi
Teknik Mesin
Teknik Elektro
Tatap Muka
12
Kode MK
Disusun Oleh
MK12000
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Abstract
Kompetensi
Tuhan menyuruh manusia memperhatikan siklus
hidrologi supaya bisa mengerti dan mampu
mengelola tata air sesuai dengan sunnatullah
sehingga mendatangkan manfaat sebanyakbanyaknya bagi manusia dan unsure alam
semesta lainnya. Sementara itu kita juga
diingatkan bahwa tanah adalah bahan asal
kejadian manusia QS al-haj ayat 5, dan tanah
adalah media alam yang menampung berbagai
zat dan bahan kebutuhan manusia. Oleh karena
itu harus dilestarikan, tidak boleh diobrak-abrik
berlebihan, sebagaimana diindikasikan oleh
petunjuk tuhan dalam QS, Ar-Ruum 9.
Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan
mampu:
1. Merespon
lingkungannya
dan
memperbaikinya.
2. Muatan Ekologi sudah saatnya bergaung
di sekolah-sekolah kita. harapan sikap
cinta lingkungan nanti menjadi rentak
hidup setiap penghuni bumi, dan generasi
kita
tetap
diingat,
bukan
karena
kerakusannya pada alam, tetapi karena
telah menabur benih mempersiapkan
manusia masa depan yang bijak.
Islam Dan Wawasan Lingkungan (Sebuah
Wacana Tentang Lingkungan Lestari Dalam
Perspektif Islam)
Pendahuluan
Masalah lingkungan adalah persoalan-persoalan yang timbul sebagai akibat dari
gejala alam. Dengan pengertian demikian, maka masalah lingkungan adalah sesuatu yang
melekat pada lingkungan itu sendiri dan sudah ada sejak alam ini pertama kali diciptakan.
Judul artikel ini mengutip Daoed Joesoef dalam artikel “Spesies yang Terancam”
(Kompas,
26/09/2007). Daoed mengatakan, salah satu penyebab bencana ekologis
adalah karena ketiadaan etika masa depan.
Kita yang lahir sekitar tujuh puluh hingga dua puluh tahun lalu adalah generasi beruntung.
Kita pernah merasakan segarnya udara setiap membuka jendela di pagi hari. Udara itu
kita hirup dengan helaan panjang, tanpa ragu, menjangkau dasar paru-paru. Nyanyian
merdu berbagai jenis burung bagaikan simfoni penggetar kalbu, berdenyut seirama
bioritme tubuh. Bila hendak mencari buah rambutan China, misalnya, cukup berjalan kaki
sekitar setengah jam, sampailah kita ke hutan lebat.
Tetapi, anak-anak yang lahir sepuluh tahun belakangan menemukan dunia yang sama
sekali berbeda dengan yang kita temukan dulu. Bagi mereka, kicauan burung lebih mudah
ditemukan di kebun binatang, atau di sangkar-sangkar yang tergantung di sebagian rumah
tetatangga. Memang bisa saja mereka mendengar langusng di hutan alam, tapi sungguh
jauh. Apalagi udara segar, anak-anak kini, di mana saja, lebih akrab dengan udara berbau
minyak pelumas.
Lalu, bumi seperti apa yang dijumpai generasi yang lahir duapuluh tahun ke depan?
Kemungkinan jawabannya yaitu bumi yang panas. Kenaikan suhu bumi (global warming)
telah menjadi perhatian dunia sejak satu dekade belakangan. Penipisan lapisan ozon akibat
pemakaian gas-gas beracun dan kebakaran hutan secara masif dituding sebagai penyebab
global warming. Salah satu akibatnya ialah mencairnya es di kutub yang berakibat naiknya
permukaan laut, yang pada gilirannya menyebabkan abrasi kawasan pantai. El-Nino, Badai
Katrina dan Badai Rita yang menggulung Amerika baru-baru ini diduga sebagai akibat lain
global warming. Yang paling mudah dideteksi ialah kita mulai merasakan udara semakin
panas.
‘15
2
MK. Pendidikan Agama Islam
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kenaikan suhu bumi dibicarakan pada Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit)
di Rio de Janerio, 1992. Saat itu terjadi aksi saling tuding di antara negara-negara peserta.
Negara-negara berkembang mengeluhkan emisi karbon dioksida pabrik-pabrik dan
kendaraan bermotor di negara-negara maju. Sebaliknya, negara-negara maju menuduh
negara berkembang tidak menjaga kelestarian hutannya sebagai paru-paru dunia. Tudingan
negara maju sebenarnya sangat beralasan.
Menurut Grant Rosoman, juru kampanye hutan Greenpeace, secara keseluruhan
hanya delapan hutan alam di dunia terjaga dengan baik. Hutan yang mengalami kerusakan
paling cepat saat ini berada di kawasan Asia dan Pasifik. Tingkat kepunahan spesies
tumbuhan dan hewan saat ini kira-kira seribu kali lebih cepat dibandingkan zaman sebelum
bumi dihuni manusia. Laju kehancuran diperkirakan akan mencapai sepuluh ribu kali lebih
cepat tahun 2050. Hutan surgawi (paradise forest) Asia-Pasifik membentang dari Asia
Tenggara melintasi kepulauan Indonesia hingga Papua Niugini (PNG) dan kepulauan
Solomon kini justru mengalami kerusakan tercepat di dunia, sekitar tujuh puluh dua persen
terjadi di Indonesia (Kompas, 29 Maret 2006).
Jika kita persempit sudut pandang ke Propinsi Riau, menurut data Jikalahari, tahun
1994 Riau memiliki luas kawasan hutan sekitar 6 juta hektar. Tetapi tahun 2005 tersisa
hanya sekitar 3 juta hektar, dan 1,7 juta hektar telah berada di bawah kekuasaan industri
untuk dieksploitasi. Sampai di sini, kisah ini mulai melukiskan sebuah tragedi, padahal kita
belum bicara mengenai tingkat polusi air, tanah dan udara yang tidak kurang
mengerikannya. Kembali ke pertanyaan awal, bumi seperti apa yang akan kita tinggalkan
untuk anak-cucu kelak? Jawabannya tergantung dari apa yang kita lakukan kini untuk
menyelamatkan bumi.
Upaya penyelamatan lingkungan telah banyak dilakukan terutama oleh kalangan LSM.
Sudah terlalu banyak tinta tertuang sejak seperempat abad ini, mengatakan alam di sini
terancam, di tempat lain musnah, dan betapa kehidupan adalah segalanya. Walaupun telah
bertungkus-lumus, namun langkah mereka nampak terseok-seok dibandingkan tingkat
kerusakan yang terus meluas secara sporadis.
Di Perancis, gerakan-gerakan didorong kesadaran lingkungan dimulai tahun 60-an. Di
Indonesia dan dunia ketiga lainnya hal ini baru saja terjadi. Kesadaran itu mendorong
dilakukannya suatu tindakan mempersoalkan kembali evolusi mental masyarakat dalam
menghadapi lingkungan hidup alamiah. Masalah ini dianggap penting sehingga pemerintah
merasa perlu membentuk suatu kementerian khusus mengurus aspek ini. Penanaman
pepohonan, proyek kebersihan, penghargaan lingkungan, lomba kebersihan perkotaan,
semuanya memperlihatkan kepedulian membentuk warga yang peduli lingkungan hidupnya.
‘15
3
MK. Pendidikan Agama Islam
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Sikap peduli lingkungan sudah dibuktikan oleh generasi sebelum kita. Ribuan tahun
manusia bermukim di bumi ini, tetapi campur tangannya amat terbatas, hanya menimbulkan
akibat tak berarti. Dulu, alam dan manusia hidup secara harmonis, tapi kini homo
industrialus ini telah mengambil posisi berhadapan langsung secara diametral dengan alam,
menjadi musuh tak tertaklukkan. Kepentingan ekonomi mendorong pengusaha perkayuan
menebang
hutan
secara
membabi-buta,
juga
meringankan
tangan
pemerintah
mengeluarkan izin-izin bagi eksploitasi hutan-hutan alam. Dan, setiap upaya hukum bagi
para perusak lingkungan ini selalu saja berputar-putar di tempat yang sama. Padahal bumi
sudah sakit.
Sebagaimana manusia membutuhkan dokter karena suatu penyakit, bumi juga
membutuhkan “dokter” untuk alasan yang sama. Idealnya, dokter yang baik ialah dokter
yang membantu pasien mencegah penyakit. Tapi kini lupakan itu. Dokter yang diperlukan
lingkungan kita adalah spesialis penyakit kronis stadium tertinggi. Selama ini sering kali
tindakan perlindungan lingkungan dilakukan atas dasar kepentingan. Misalnya, jika
pencemaran sungai tidak mempengaruhi kehidupan maupun situasi ekonomi penduduk
sekitar, biasanya tidak ada alasan kuat mengerahkan orang membersihakan sungai itu.
Sebaliknya, bila pencemaran itu merugikan secara estetik maupun ekonomi, misalnya, yang
berkepentingan akan mengerahkan diri secara spontan.
Dalam banyak kasus, pengerahan diri didorong kepentingan pribadi. Ada juga yang
berinisiatif, tetapi jumlahnya tidak banyak. Sikap mementingkan diri sebenarnya normal
dilakukan suatu generasi yang tidak pernah dipupuk kepekaannya terhadap lingkungan
hidup di sepanjang masa mudanya, “karena empat puluh tahun lalu kita tidak mengenal kata
polusi,” kata Philippe Vaquette dalam bukunya Le Guide De L’Educateur Nature.
Singkatnya, sangat sulit berharap dari generasi kini untuk menyelamatkan bumi,
karena mereka dibesarkan dalam konteks berbeda. Satu-satunya tumpuan harapan ialah
anak-anak yang kini bermain di taman kanak-kanak, atau bayi-bayi yang belajar merangkak,
bahkan janin-janin di dalam perut ibunya. Dengan terpaksa (dan tega), ke pundak-pundak
kecil dan masih lemah inilah akan kita timpakan beban berat itu. Mereka mesti dibujuk untuk
tidak berharap mewarisi bumi yang hijau dari generasi kita. Mudah-mudahan bila tiba
saatnya, mereka kuat. Tetapi mereka harus memutus mata rantai dari masa lalu, kemudian
mulai membangun masa depannya sendiri. Walaupun terlambat, waktu memulainya adalah
kini, semakin ditunda, kita akan melakukan lebih banyak intervensi dibandingkan dengan
tindakan perlindungan terhadap alam.
Diyakini bahwa masa depan “pengobatan” lingkungan hidup ialah pendidikan.
Pendidikan ekologi yang ditanamkan ke sistem berfikir generasi mendatang akan
‘15
4
MK. Pendidikan Agama Islam
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
membentuk kesadaran moral memberi suatu dimensi dan peranan penting sebagai “dokter
bumi”. Pendidikan lingkungan bukanlah persoalan sederhana sehingga cukup puas bila
melatih anak-anak membuang sampah pada tempatnya. Pendidikan lingkungan ialah
penetrasi mental tentang paradigma baru secara holistik berbuah kesadaran lingkungan.
Kesadaran ini hadir dalam pola pikir dan wujud dalam setiap gerak inderawi. “Anak-anak
mesti mulai diajak ke semak-semak, sebab alam tak mendatangi kita. Karena kita bukan
pusat dunia, kitalah yang semestinya berjalan menujunya,” demikian ungkap Philippe
Vaquette.
Akhirnya, tanpa bermaksud memperberat kurikulum pendidikan, muatan Ekologi sudah
saatnya bergaung di sekolah-sekolah kita. Termaktub harapan, sikap cinta lingkungan nanti
menjadi rentak hidup setiap penghuni bumi, dan generasi kita tetap diingat, bukan karena
kerakusannya pada alam, tetapi karena telah menabur benih mempersiapkan manusia
masa depan yang bijak.
Agama & Kerusakan Lingkungan
Kembali mengutip Daoed, di bumi Indonesia terdapat banyak spesies yang terancam
punah, bahkan ada yang sudah punah. Jika perusakan lingkungan tidak segera dihentikan,
maka mungkin ada satu spesies lagi yang punah, yaitu spesies manusia.
Namun jika kita katakan bahwa kerusakan lingkungan yang nampak dipermukaan
bumi akibat ulah perbuatan manusia sebagaimana firman Allah SWT. dalam (QS. Ar-Ruum
[30]: 41)
Berbagai kerusakan lingkungan telah terjadi di bumi kita. Dapat kita sebut
diantaranya menipisnya lapisan ozon, pemanasan global (global warming), pencemaran air,
pencemaran udara, hujan asam, asap karena kebakaran hutan, pengikisan pantai,
menipisnya keanekaragaman hayati (biodiversity) dan sebagainya. Berbagai kerusakan itu
tidak hanya menyebabkan bumi yang kita huni ini tidak terasa nyaman tetapi juga
menimbulkan kerugian ekonomis seperti kerusakan tambak, menurunnya produk pertanian,
tercemarnya sumur penduduk, menipisnya sumber-sumber daya alam. Pada titik yang
ekstrim kerusakan lingkungan itu akan menyebabkan terancamnya keberlanjutan aktivitas
manusia yang pada gilirannya menyebabkan terancamnya eksistensi manusia itu sendiri.
Berbagai kerusakan itu muncul akibat aktivitas manusia seperti pembangunan
industry, perumahan, jalan, pelabuhan dan berbagai pembangunan fisik lainnya. Dapat
dikatakan bahwa kegiatan itu pada suatu sisi menguntungkan sebagian orang (pemrakarsa
kegiatan atau beberapa orang lainnya) tetapi pada sisi yang lain merugikan banyak orang
terutama mereka yang terkena dampak.
‘15
5
MK. Pendidikan Agama Islam
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Lingkungan atau alam tempat kita berpijak, tempat kita mengais kehidupan di dunia
sangat urgen bagi pendidikan dan pembentukan karakter anak. Mengapa hal ini terjadi?
Karena pendidikan dan pembentukan karakter anak dimulai dari keluarga, sedangkan ruh
dan ethos keluarga dipengaruhi oleh pengetahuan dan kondusifitas lingkungan atau alam.
Semakin baik nilai keilmuan dan lingkungan yang kondusif atau alam semakin positif pula
karakter anak, dan sebaliknya, semakin kurang nilai keilmuan dan kondusifitas lingkungan
atau alam, semakin negatif karakter anak yang diperoleh. Jadi, faktor keluarga dan
lingkungan saling bersinergi dan saling memberikan pengaruh.
Sebagai contoh, dalam dunia pendidikan misalnya, bermain di alam dapat
mengembangkan potensi anak dan menumbuhkan kecerdasan naturalis (intelegensi yang
dibutuhkan manusia agar memiliki rasa kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan), di mana
anak lebih mudah belajar karena melihat dan mengalami secara langsung. Lebih melekat
dan belajar secara efektif. Mampu memancing keingintahuan anak dan melakukan
eksplorasi untuk mencari informasi melalui buku, serta membangun minat anak untuk
mempelajari lebih mendalam dan menjadi ahli di bidangnya.
Berbeda halnya dengan menjadikan sebuah materi hanya sebatas materi pelajaran
yang langsung jadi, yang harus dihafalkan oleh anak didik. Akibatnya, anak didik seringkali
menjadikan pelajaran-pelajaran tersebut sebagai momok yang membebani pemikiran
mereka.
Namun, yang sangat disayangkan, kerusakan fungsi alam dan melemahnya daya
lingkungan akhir-akhir ini semakin parah. Sebenarnya, di negara kita ini memiliki kekayaan
sumberdaya alam dan daya dukung lingkungan hidup yang luar biasa. Namun perilaku
masyarakat yang salah dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan daya dukung lingkungan
membuat masyarakat sengsara dan tidak sejahtera. Perilaku masyarakat yang salah telah
menyebabkan luas hutan makin menyusut, kawasan tangkapan air makin berkurang,
cadangan air tanah makin langka, sementara itu di musim hujan air sungai meluap
menimbulkan banjir, tanah longsor dan banyak kerugian lainnya yang diderita masyarakat.
Tentunya, sedikit banyak, hal ini berpengaruh terhadap pendidikan dan pembentukan
karakter anak.
Masalah Lingkungan Sebagai Titik Tolak
Bumi merupakan kesatuan lingkungan hidup yang amat luas. Permukaannya
diperkirakan seluas 510 juta hektar, tapi dengan permukaan tanah hanya 153 juta km
persegi atau 15.300 juta Ha. Oleh karena itu suatu desa tempat tinggal kita hanya
merupakan luasan lingkungan hidup yang amat kecil jika dibandingkan dengan bumi
‘15
6
MK. Pendidikan Agama Islam
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sebagai suatu tatanan lingkungan hidup yang besar. Namun begitu, suatu perbuatan
negative ataupun positif oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap lingkungan
hidupnya dalam batasan luasan yang kecil sekalipun, akan membawa pengaruh kepada
tatanan lingkungan hidup orang lain yang dekat maupun jauh. Cepat atau lambat secara
akumulatif akan berpengaruh pula kepada bumi sebagai suatu kesatuan lingkungan hidup
umat manusia serta makhluk Allah SWT. selain manusia.
Rasulullah saw pada suatu ketika pernah bersabda “Janganlah kencing di bawah
pohon”. Isi hadits ini sekilas seperti berlawanan dengan kaidah ilmu kesuburan tanah yakni
kencing yang banyak mengandung unsure nitrogen mestinya malah menambah unsure hara
tanah dan pada gilirannya akan menyuburkan pohon. Salahkah Nabi? Tentu saja
jawabannya tidak! Justru sebatang pohon adalah bagian dari lingkungan hidup, tanpa air
seni seseorang, pohon akan tetap rindang dan fungsi rindangnya akan menguntungkan
pohon maupun burung yang hinggap dan juga orang-orang yang suatu ketika ingin berteduh
dan berbaring di bawahnya untuk memanfaatkan kerindangannya. Totalitas fungsi dan
kualitas lingkungan hidup itulah yang diajarkan nabi supaya terpelihara dan setiap waktu
dapat dipetikan dari setiap unsure lingkungan manusia.
Suatu ketika Nabi Muhammad saw bersabda bahwa ukuran bersihnya air akan
tampak dari tiga dimensi, yaitu bersih, bau, rupa dan rasa. Kurang ilmiahkah pernyataan
nabi itu? Menakjubkan sekali, ternyata pernyataan itu amat tinggi bobot ilmiahnya. Air pasti
berbau kurang sedap ketika air itu mengandung bahan organic yang mengalami
pembusukan dan proses pembusukan itu terukur secara ilmiah dengan kadar bio-chemical
oxygen demand (BOD) tinggi. Air pun kiranya tidak akan jernih dan akan berwarna tanah
kecoklatan karena erosai tanah atau terlalu hijau karena penuh ganggang, sehingga tidak
tembus sinar matahari dan tidak mampu menyerap dan memantulkan warna biru langit. Air
demikian jelas telah tercemar oleh berbagai bahan yang tercecer atau tererosi atau
tersuspensi. Ciri ini bisa terukur tingkat keparahannya dari ukuran kadar TTS yang tinggi
mengidentifikasikan perlunya penjernihan jika air akan digunakan untuk minuman yang
sehat. Demikian pula rasa yang sepat dan asam, pasti kurang menguntungkan bagi
kahidupan ikan atau udang. Air seperti itu kadar oksigennya rendah dan ukuran PH-nya
rendah, sekitar angka 3,5 untuk kasus keasaman dan sekitar 8-9 untuk kesadahan.
Ummat juga mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw menyenangi warna hijau,
karena menurutnya warna itu menyegarkan mata dan dapat memperkuat pandangan.
Ternyata pandangan nabi demikian adalah pandangan manusia modern disemua penjuru
dunia, yang sekarang ini sangat khawatir akan kehilangan hutan dan semak belukar karena
cenderung terkuras menjadi padang sahara yang panas. Bahkan kehawatiran bukan hanya
‘15
7
MK. Pendidikan Agama Islam
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sekedar itu, melainlkan sejalan dengan apa yang diterangkan dalam surah Yasin ayat 80
yang menggambarkan bahwa setiap kekayuan yang hijau sesungguhnya adalah sumber
energy atau bahan bakar yang menghasilkan tenaga dan karenanya jangan sampai sarana
kehidupan rusak percuma (ayat terjemah). Kitapun sudah semakin mengerti bahwa hanya
makhluk hidup yang hijau yang mampu menyerap sinar matahari tak pernah habis. Dan
untuk diubahnya energy sinar menjadi bentuk energy lain berupa pangan-papan, sandang.
Jika nabi mengajarkan kepada umat manusia untuk menyenangi warna hijau, sesungguhnya
pesan nabi itu mengisyaratkan perlunya kelestarian lingkungan hidup yang hijau bagi
manusia di permukaan bumi.
Al-Quran juga berbicara tentang air, udara dan tanah yang dikenal sebagai media
lingkungan. Al-Quran berulang kali mengingatkan betapa pentingnya peran air sebagai
penunjang kehidupan di muka bumi. Antara lain dalam surat Az-zumar ayat 21.
Tuhan menyuruh manusia memperhatikan siklus hidrologi supaya bisa mengerti dan
mampu mengelola tata air sesuai dengan sunnatullah sehingga mendatangkan manfaat
sebanyak-banyaknya bagi manusia dan unsure alam semesta lainnya. Sementara itu kita
juga diingatkan bahwa tanah adalah bahan asal kejadian manusia QS al-haj ayat 5, dan
tanah adalah media alam yang menampung berbagai zat dan bahan kebutuhan manusia.
Oleh karena itu harus dilestarikan, tidak boleh diobrak-abrik berlebihan, sebagaimana
diindikasikan oleh petunjuk tuhan dalam QS, Ar-Ruum 9.
Dalam hal udara, al-Qur’an melukiskannya berulang-ulang sebagai pembawa kabar
gembira, tapi juga udara sebagai angin bisa mengandung azab yang pedih, tergantung
bagaimana sikap manusia dalam memenuhi petunjuk Allah. QS. Al-Ahqaf ayat 24. Bila
mana udara merupakan pembawa kabar gembira akan turun hujan yang yang jernih QS. AlFurqan 48, tapi yang jelas udara adalah kebutuhan vital manusia, karena tanpa udara yang
bersih dalam 3 menit atau lebih akan membuat makhluk hidup mati. Oleh sebab itu hanya
orang yang lemah iman atau bahkan tak beriman yang mengabaikan petunjuk dan
ketentuan Tuhan dan karena kesesatannya itu maka dia tidak dapat menjangkau kebaikan
dunia dan kenikmatan akhirat.
Bagaimana solusinya?
Di antara solusinya adalah memperbaiki kualitas keluarga, karena keluarga
dipandang berperan besar untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap alam, lingkungan dan
satwa liar terhadap anak. Ketika keluarga sebagai agent of value mampu menanamkan nilai
tersebut maka anak juga dapat bersikap lebih menghargai terhadap alam dan satwa liar.
‘15
8
MK. Pendidikan Agama Islam
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kualitas keluarga bisa ditingkatkan dengan mengikrarkan bahwa rujukan utama
dalam membina rumah tangga adalah Islam, maka di antara perwujudannya adalah
meyakini bahwa Islam adalah bak mata air yang jernih, sumber belajar akidah, akhlak, adab
bermuamalah, dan sumber petunjuk dalam segala hal sebagaimana yang telah Allah
tegaskan dalam firman-Nya,
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya, dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al
An’am: 162-163)
Menjadikan Islam sebagai rujukan utama dalam membina keluarga, berarti juga
merealisasikan seluruh ajaran-ajaran Islam, di antaranya Islam sangat menganjurkan
kaumnya untuk melestarikan alam atau lingkungan. Di antara bukti-bukti bahwa Islam
mengajarkan umatnya untuk menjaga alam sekitar dan lingkungan alam yang kondusif
adalah firman Allah,
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya
dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan
dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat
baik.” (A’raf: 56)
Asy Syaukani – rohimahulloh – menjelaskan makna ayat tersebut, “Allah melarang
manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi ini (baca lingkungan) dengan bentuk
kerusakan apapun, besar ataupun kecil. Di antara contoh kerusakan adalah membunuh,
merusak atau menghancurkan rumah-rumah tempat tinggal, menebangi pohon, merusak
saluran air, dan di antara bentuk kerusakan di bumi adalah terjatuhnya seseorang dalam
kekufuran dan kemaksiatan” (Fathul Qadir, 1/47)
Bahkan, saat kaum muslimin menaklukkan suatu negeri, mereka di larang untuk
menghancurkan rumah-rumah penduduk atau merusak pepohonan yang ada kecuali untuk
maslahat tertentu. Al Auza’i berkata, “Abu Bakar melarang pasukan kaum muslimin untuk
menghancurkan rumah-rumah penduduk suatu negeri atau menebang pepohonan yang
ada.” (Tuhfadzul Ahwadzi 5/133).
Bukti yang lain adalah para ulama menyebutkan dalam buku-buku fikih, terlebih
khusus di dalam bab berburu, disebutkan bahwa menjadikan burung hanya sebagai sasaran
untuk berlatih ketepatan membidik, hal itu dilarang. (Subulus Salam).
Beberapa hal di atas, cukup menjadi bukti bahwa Islam sangatlah menganjurkan
kaumnya untuk melestarikan alam atau lingkungan. Merusak lingkungan atau alam berarti
telah melanggar perintah Allah, sedangkan pelanggaran pasti berakibat buruk kepada
pelakunya, baik langsung maupun tidak langsung.
‘15
9
MK. Pendidikan Agama Islam
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Bagaimana melestarikan lingkungan?
Untuk melestarikan lingkungan ada lima prinsip yang harus dilakukan dan
ditanamkan kepada anak-anak kita, yaitu: Pertama: Reduce (mengurangi), yaitu mengurangi
segala sesuatu yang menyebabkan sampah, hindari penggunaan sumpit bambu,
penggunaan
kotak
makanan
Styrofoam
dan
barang
sekali
pakai
lainnya.
Kedua: Reuse (memanfaatkan kembali), yaitu menggunakan kembali barang-barang yang
masih
dapat
digunakan
untuk
fungsi
yang
sama
atau
fungsi
lainnya.
Ketiga: recycle (daur ulang), yaitu mengolah kembali sampah menjadi barang atau produk
baru yang bermanfaat. Keempat: rethink (menimbang ulang), yaitu menimbang kembali
barang-barang yang akan dibeli apakah memang merupakan kebutuhan atau keinginan?
Kelima: repair (memperbaiki), yaitu memperbaiki barang-barang yang rusak agar bisa
digunakan lagi.
_____ o0o _____
‘15
10
MK. Pendidikan Agama Islam
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
1. Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Lingkungan, (Jakarta: PT. Gramedia, 1995)
2. Muhammad Surjani dkk, Lingkungan: Sumberdaya Aalam dan Kependudukan dalam
Pembangunan, (Jakarta: UI-Press, 1987)
3. Nurcholish Madjid, Fatsoen, (Jakarta: Republika 2002)
4. M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi, Al-Quran dan Dinamika Kehidupan
Masyarakat, (Jakarta: Lentera Hati, 2006)
5. Sayyed Hossein Nasr, The Heart Of Islam: Pesan-Pesan Universal Islam untuk
Kemanusiaan, (Bandung: Mizan, 2003)
‘15
11
MK. Pendidikan Agama Islam
Ahmad Rifai, S.Ag, MA.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download