Uploaded by vagvezha

Laporan Pendahuluan down sindrom

advertisement
Laporan Pendahuluan
Down Sindrom
I. DEFINISI
Down
Sindrom
(Down
syndrome)
adalah
suatu
kondisi
keterbelakangan
perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan
kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling
memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Down syndrome adalah abnormalitas kromosom
yang ditandai dengan
berbagai derajat retardasi mental dan efek fisik
yang
berhubungan;dikenal juga sebagai trisomi21 (Donna L. Wong;654).
Sindroma Down (Trisomi 21, Mongolisme) adalah suatu kelainan kromosom yang
menyebabkan keterbelakangan mental (retardasi mental) dan kelainan fisik (medicastore)
(Rezki, 2010).
Sindrom Down adalah suatu kumpulan gejala akibat dari abnormalitas kromosom,
biasanya kromosom 21, yang tidak berhasil memisahkan diri selama meiosis sehingga
terjadi individu dengan 47 kromosom (Cahyono, 2009).
Syndrom Down adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental
anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini
terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi
pembelahan (Saharso, 2008).
IQ anak down syndrome biasanya dibawah 50, sifat-sifat atau ciri-ciri fisiknya adalah
berbeda, ciri-ciri jasmaniahnya sangat mencolok, salah satunya yang paling sering diamati
adalah matanya yang serong ke atas.
Sedangkan, dari segi sitologi, down syndrome dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu:
a. Syndroma Down Triplo-21 atau Trisomi 21, sehingga penderita memiliki 47 kromosom.
Penderita laki-laki= 47,xy,+21, sedangkan perempuan= 47,xx,+21. Kira-kira 92,5% dari
semua kasus syndrome down tergolong dalam tipe ini.
b. Syndrome Down Translokasi, yaitu peristiwa terjadinya perubahan struktur kromosom
disebabkan karena suatu potongan kromosom bersambungan dengan potongan kromosom
lainnya yang bukan homolog-nya.
II. ETIOLOGI
2.2.1 Non disjungtion (pembentukan gametosit)
a. Genetik
Diperkirakan terdapat predisposisi terhadap “Non disjunctional”. Bukti yang mendukung
teori ini adalah berdasarkan atas hasil penelitian epidemiologi yang menyebabkan adanya
peningkatan risiko berulang bila dalam keluarga terdapatanak dengan sindrom down.
b. Radiasi
Radiasi dikatakan merupakan salah satu penyebab utama terjadinya “Nondisjunctional”
pada Sindrom Down. Uchida 1981 membicarakan bahwa sekitar 30% ibu melahirkan anak
dengan Sindrom Down, pernah mengalami radiasi didaerah perut sebelum terjadinya
konsepsi. Sedangkan penelitian lain tidak menetapkan adanya hubungan antara
radiasi dengan penyimpangan kromosom.
c. Infeksi
Infeksi juga dikatakan kerupakan salah satu penyebab terjadinya Sindrom Down.Sampai
saat ini belum ada peneliti yang mampu memastikan bahwa virus dapat mengakibatkan
terjadinya “Non disjunctional”.
d. Autoimun
Terutama autoimun tiroid atau penyakit yang nerkaitan dengan tiroid. PenelitianFialkaw
1966, secara konsisten mendapatkan perbedaan autoantibodi tiroid padaibu yang
melahirkan anak dengan Sindrom Down dengan ibu kontrol yangumurnya sama.
e. Umur ibu
Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat
menyebabkan “non dijunction” pada kromosom. Perubahan endokrin sepertikonsentrasi
reseptor hormon dan peningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tibasebelum dan selama
menopause. Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh.
f. Umur ayah
Penelitian sutogenik pada orang tua dengan Sindrom Down mendapatkan bahwa 20 –
30% kasus ekstra kromosom 21 bersumber dari ayahnya. Tetapi korelasinyatidak
setinggi dengan umur ibu.
2.2.2 Gangguan intragametik yaitu gangguan pada gamet, kemungkinan terjadi translokasi
kromosom 21 dan 15.
2.2.3 Organisasi nukleus yaitu sintesis protein yang abnormal sehingga menyebabkan
kesalahan DNA menuju ke RNA.
2.2.4 Bahan kimia juga dapat menyebabkan mutasi gen janin pada saat dalam kandungan.
2.2.5 Frekuensi koitus akan merangsang kontraksi uterus, sehingga dapat berdampak pada janin.
III. MANIFESTASI KLINIS
Berat pada bayi yang baru lahir dengan penyakit sindrom down pada umumnya kurang
dari normal, diperkirakan 20% kasus dengan sindrom down ini lahir dengan berat badan
kurang dari 2500 gram. Anak-anak yang menderita sindroma down memiliki penampilan
yang khas:
1. Bentuk tulang tengkoraknya asimetris atau ganjil dengan bagian belakang kepalanya
mendatar (sutura sagitalis terpisah).
2. Lesi pada iris mata (bintik Brushfield), matanya sipit ke atas dan kelopak mata berlipatlipat (lipatanepikantus) serta jarak pupil yang lebar.
3. Kepalanya lebih kecil daripada normal (mikrosefalus) dan bentuknya abnormal serta leher
pendek dan besar.
4. Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Failure (kelainan jantung
bawaan), kelainan ini yang biasanya berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan
cepat.
5. Hidungnya datar (Hidung kemek/Hipoplastik), lidahnya menonjol, tebal dan kerap
terjulur serta mulut yang selalu terbuka.
6. Tangannya pendek dan lebar dengan jari-jari tangan yang pendek dan seringkali hanya
memiliki satu garis tangan pada telapak tangannya.
7. Jarak ibu jari kaki dengan jari kedua lebar.
8. Jari kelingking hanya terdiri dari dua buku dan melengkung ke dalam (Plantar Crease).
9. Telinganya kecil dan terletak lebih rendah
10. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan (hampir semua penderita Sindrom Down
tidak pernah mencapai tinggi rata-rata orang dewasa)
11. Keterbelakangan mental.
12. Hiper fleksibilitas
13. Bentuk palatum yang tidak normal
14. Kelemahan otot
IV. KOMPLIKASI
1. Penyakit Alzheimer’s (penyakit kemunduran susunan syaraf pusat)
2. Leukimia (penyakit dimana sel darah putih melipat ganda tanpa terkendalikan)
V. PENATALAKSAAAN
Penatalaksanaan sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling
efektif untuk mengatasi kelainan ini. Pada tahap perkembangannya penderita syndrome
down juga dapat mengalami kemunduran dari sistim tubuhnya. Dengan demikian penderita
harus mendapatkan support maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam
menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran
perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Hal yang dapat dilakukan antara lain :
1. Penanganan Secara Medis
a. Pembedahan
Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk mengoreksi adanya defek
pada jantung, mengingat sebagian besar penderita lebih cepat meninggal dunia
akibat adanya kelainan pada jantung tersebut.
b. Pemeriksaan Dini
 Pendengaran
Biasanya terdapat gangguan pada pendengaran sejak awal kelahiran, sehingga
dilakukan pemeriksaan secara dini sejak awal kehidupannya.
 Penglihatan
Sering terjadi gangguan mata, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan secara rutin
oleh dokter ahli mata
c. Pemeriksaan Nutrisi
Pada perkembangannya anak dengan sindrom down akan mengalami gangguan
pertumbuhan baik itu kekurangan gizi pada masa bayi dan prasekolah ataupun
kegemukan pada masa sekolah dan dewasa, sehingga perlu adanya kerjasama
dengan ahli gizi.
d. Pemeriksaan Radiologis
Diperlukan pemeriksaan radiologis untuk memeriksa keadaan tulang yan dianggap
sangat mengganggu atau mengancam jiwa (spina servikalis)
2. Pendidikan
a. Pendidikan khusus
Program khus untuk menangani anak dengan sindrom down adalah membuat desain
bangunan dengan menerapkan konsep rangsangan untuk tempat pendidikan anakanak down's syndrome. Ada tiga jenis rangsangan, yakni fisik, akademis dan
sosial.Ketiga rangsangan itu harus disediakan di dalam ruangan maupun di luar
ruangan. Hal ini diharapkan anak akan mampu melihat dunia sebagai sesuatu yang
menarik untuk mengembangkan diri dan bekerja.
b. Taman bermain atau taman kanak – kanak
Rangsangan secara motorik diberikan melalui pengadaan ruang berkumpul dan
bermain bersama (outdoor) seperti :
 Cooperative Plaza untuk mengikis perilaku pemalu dan penyendiri.
 Mini Zoo dan Gardening Plaza adalah tempat bagi anak untuk bermain bersama
hewan dan tanaman
c. Intervensi dini.
Pada akhir – akhir ini terdapat sejumlah program intervensi dini yang dipakai
sebagai pedoman bagi orang tua untuk memberikan lingkungan bagi anak dengan
sindrom down.Akan mendapatkan manfaat dari stimulasi sensori dini, latihan khusus
untuk motorik halus dan kasar dan petunjuk agar anak mau berbahasa. Dengan
demikian diharapkan anak akan mampu menolong diri sendiri, seperti belajar makan,
pola eliminasi, mandi dan yang lainnya yang dapat membentuk perkembangan fisik
dan mental.
3. Penyuluhan terhadap orang tua
Diharapkan penjelasan pertama kepada orang tua singkat, karena kita memandang
bahwa perasaan orang tua sangat beragam dan kerena kebanyakan orang tua tidak
menerima diagnosa itu sementara waktu, hal ini perlu disadari bahwa orang tua sedang
mengalami kekecewaan. Setelah orang tua merasa bahwa dirinya siap menerima
keadaan anaknya, maka penyuluhan yang diberikan selanjutnya adalah bahwa anak
dengan sindrom down itu juga memiliki hak yang sama dengan anak normal lainnya
yaitu kasih sayang dan pengasuhan.
Pada pertemuan selanjutnya penyuluhan yang diberikan antra lain : Apa itu sindrom
down, karakteristik fisik dan antisipasi masalah tumbuh kembang anak. Orang tua juga
harus diberi tahu tentang fungsi motorik, perkembangan mental dan bahasa.Demikian
juga penjelasan tentang kromosom dengan istilah yang sederhana, informasi tentang
resiko kehamilan berikutnya.
VI.
PATOFISIOLOGI
Down Syndrome disebabkan adanya kelainan pada perkembangan kromosom.
Kromosom merupakan serat khusus yang terdapat pada setiap sel tubuh manusia dan
mengandung bahan genetik yang menentukan sifat-sifat seseorang. Pada bayi normal
terdapat 46 kromosom (23 pasang) dimana kromosom nomor 21 berjumlah 2 buah
(sepasang). Bayi dengan penyakit down syndrome memiliki 47 kromosom karena
kromosom nomor 21 berjumlah 3 buah. Kelebihan 1 kromosom (nomor 21) atau dalam
bahasa medisnya disebut trisomi-21 ini terjadi akibat kegagalan sepasang kromosom 21
untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
Trisomi21 menyebabkan fisik penderita down syndrome tampak berbeda dengan o
rang-orang umumnya. Selain ciri khas pada wajah, mereka juga mempunyai tangan yang
lebih kecil, jari-jari pendek dan kelingking bengkok. Keistimewaan lain yang dimiliki oleh
penderita down syndrome adalah adanya garis melintang yang unik di telapak tangan
mereka. Garis yang disebut simiancrease ini juga terdapat di kaki mereka, yaitu antara
telunjuk dan ibu jari mereka yang berjauhan (sandal foot).
PATHWAY
VII. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a) Biodata (pasien, penanggungjawab)
b) Riwayat kesehatan (sekarang, dahulu, imunisasi, persalinan)
c) Lakukan pengkajian fisik
d) Lakukan pengkajian perkembangan
e) Dapatkan riwayat keluarga, terutama yang berkaitan dengan usia ibu atau anak lain
mengalami keadaan serupa
f) Observasi adanya manifestasi Sindrom Down:
1) Karakeristik Fisik (Paling sering terlihat)
a. Tengkorak bulat kecil dengan oksiput datar
b. Lipatan epikantus bagian dalam dan fisura palpebra serong (mata miring ke
atas dan keluar)
c. Hidung kecil dengan batang hidung tertekan kebawah (hidung sadel)
d. Lidah menjulur kadang berfisura
e. Mandibula hipoplastik (membuat lidah tampak besar)
f. Palatum berlengkung tinggi
g. Leher pendek tebal
h. Muskulatur Hipotonik (perut buncit, hernia umbilikus)
i. Sendi hiperfleksibel dan lemas
j. Tangan dan kaki lebar, pandek tumpul.
k. Garis simian (puncak transversal pada sisi telapak tangan
2) Intelegensia / pemikiran
a. Bervariasi dan retardasi hebat sampai intelegensia normal rendah
b. Umumnya dalam rentang ringan sampai sedang
c. Kelambatan bahasa lebih berat daripada kelambatan kognitif
3) Anomaly congenital (peningkatan insiden)
a. Penyakit jantung congenital (paling umum)
b. Defek lain meliputi: agenesis renal, atresia duodenum, penyakit hiscprung,
fistula esophagus, subluksasi pinggul. Ketidakstabilan vertebra servikal
pertama dan kedua (ketidakstabilan atlantoaksial)
4) Masalah Sensori (seringkali berhubungan)
a. Kehilangan pendengaran konduktif (sangat umum)
b. Strabismus
c. Myopia
d. Nistagmus
e. Katarak
f. Konjungtivitis
5) Pertumbuhan dan perkembangan seksual
a. Pertumbuhan tinggi badan dan BB menurun, umumnya obesitas
b. Perkembangan seksual terhambat, tidak lengkap atau keduanya
c. Infertile pada pria, wanita dapat fertile
d. Penuaan premature umum terjadi, harapan hidup rendah
2. Masalah Keperawatan
a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b. Resiko cedera
c. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
d. Defisiensi pengetahuan
3. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d kesulitan pemberian makanan
karena lidah yang menjulur dan mulut terbuka
2. Risiko tinggi cedera b.d kelemahan otot
3. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan b.d pembentukan organ yang kurang
sempurna
4. Defisiensi pengetahuan orang tua b.d perawatan pada anak dengan down syndrome
4. Intervensi dan Implementasi Keperawatan
a. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan b.d kesulitan pemberian makanan karena
lidah yang menjulur dan palatum yang tinggi.
Tujuan : kesulitan pemberian makan pada masa bayi menjadi minimal Intervensi :
1) Hisap hidung setiap kali sebelum pemberian makan, bila perlu
Rasional : Untuk menghilangkan mucus
2) Jadwalkan pemberian makan sedikit tapi sering: biarkan anak untuk beristirahat
selama pemberian makan
Rasional : Karena menghisap dan makan sulit dilakukan dengan pernapasan
mulut
3) Berikan makanan padat dengan mendorongnya ke mulut bagian belakang dan
samping
Rasional : Karena refleks menelan pada anak dengan sindrom down kurang baik
4) Hitung kebutuhan kalori untuk memenuhi energy berdasarkan tinggi dan berat
badan
Rasional : Memberikan kalori kepada anak sesuai dengan kebutuhan
5) Pantau tinggi dan BB dengan interval yang teratur
Rasional : Untuk mengealuasi asupan nutrisi
6) Rujuk ke spesialis untuk menentukan masalah makanan yang spesifik
Rasional : Mengetahui diit yang tepat
b. Risiko tinggi cedera b.d kelemahan otot
Tujuan : Mengurangi risiko terjadinya cedera pada pasien dengan sindrom down
Intervensi:
1) Anjurkan aktivitas bermain dan olahraga yang sesuai dengan maturasi fisik anak,
ukuran, koordinasi dan ketahanan
Rasional : Untuk menhindari cedera
2) Anjurkan anak untuk dapat berpartisipasi dalam olahraga yang dapat melibatkan
tekanan pada kepala dan leher
Rasional : Menjauhkan anak dari factor resiko cedera
3) Ajari keluarga dan pemberi perawatan lain (mis: guru, pelatih) gejala instabilitas
atlatoaksial
Rasional : Memberikan perawatan yang tepat
4) Laporkan dengan segera adanya tanda-tanda kompresi medulla spinalis (nyeri leher
menetap, hilangnya ketrampilanmotorik stabil dan control kandung kemih/usus,
perubahan sensasi)
Rasional : Untuk mencegah keterlambatan pengobatan
C. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan b.d pembentukan organ yang kurang
sempurna
Tujuan: pasien mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal
Intervensi:
1) Kaji faktor penyebab gangguan pertumbuhan perkembangan anak
Rasional : mengetahui faktor penyebab gangguan tumbuh kembang anak
2) Identifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi perkembangan
anak yang optimal.
Rasional : sumber pendidikan yang tepat dapat mengoptimalkan tumbuh
kembang anak
3) Berikan perawatan yang konsisten
Rasional : untuk mencapai tumbuh kembang anak yang optimal
4) Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil
Rasional : untuk membuat anak down syndrome aktif
5) Berikan intruksi berulang dan sederhana
Rasional : untuk membuat anak down syndrome memahami intruksi yang
diberikan
6) Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
Rasional : untuk membuat anak merasa dihargai
7) Dorong anak melakukan perawatan sendiri
Rasional : untuk menunjang tumbuh kembang anak
8) Manajemen perilaku anak yang sulit
Rasional : untuk mengatasi perilaku anak yang sulit
9) Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
Rasional : untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak
10) Ciptakan lingkungan yang aman
Rasional : lingkungan aman dapat meningkatkan tumbuh kembang anak
D. Defisiensi pengetahuan orang tua b.d perawatan pada anak dengan down syndrome
Tujuan : keluarga dapat mengetahui cara merawat anak dengan down syndrome
Intervensi :
1) Jelaskan patofisiologi, tanda gejala, dan penyebab dari down syndrome
Rasional : keluarga dapat memberikan perawatan yang tepat
2) Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang
tepat
Rasional : keluarga dapat mengetahui tingkat kesehatan pasien
3) Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi dan proses pengontrolan penyakit
Rasional : menghindari timbulnya komplikasi
4) Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
Rasional : penanganan yang tepat dapat meningkatkan status kesehatan pasien
Download