tugas individu teori organisasi dan manajemen pengetahuan

advertisement
DOSEN
: Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc.
Hari/Tanggal
: Senin / 22 Maret 2011
TUGAS INDIVIDU
TEORI ORGANISASI DAN MANAJEMEN PENGETAHUAN
“KNOWLEDGE MANAGEMENT”
(KASUS: DINAS SOSIAL PROVINSI DKI JAKARTA)
GHITA YASANINGTHIAS
P056101151.45
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN DAN BISNIS
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
DKI Jakarta merupakan kota besar yang dijadikan sebagai pusat kegiatan
bisnis dan organisasi. Organisasi yang terdapat di kota besar ini salah satunya
adalah Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta. Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta
adalah perangkat Pemerintah Daerah yang memiliki peranan yaitu melaksanakan
penanganan, pembinaan dan rehabilitasi sosial kepada Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Provinsi DKI Jakarta. Dinas Sosial Provinsi DKI
Jakarta sebagai organisasi yang memiliki jaringan kerja yang sangat luas dengan
jumlah staf yang besar untuk meningkatkan produktivitas, efektivitas dan
keunggulan sebuah organisasi maka dibutuhkan sebuah strategi. Strategi tersebut
adalah sebuah mekanisme yang sistematis untuk memetakan, mengumpulkan dan
mendokumentasikan dalam bentuk standar agar dokumen dan aset pengetahuan
yang tersedia dapat diakses dengan mudah untuk kepentingan sejumlah orang di
organisasi tersebut. Strategi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat untuk
kemajuan dalam pengembangan program pelayanan pembinaan dan rehabilitasi
sosial kepada PMKS di Provinsi DKI Jakarta.
Ilmu pengetahuan merupakan aset intangible yang dapat dijadikan strategi
untuk memberikan perubahan pada diri seseorang. Perubahan positif pada diri
seseorang akan menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan
kemajuan di tubuh sebuah organisasi.
Manajemen Pengetahuan (Knowledge
Management) merupakan suatu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan
manajemen bagi organisasi. Knowledge management sangat penting untuk
meningkatkan daya saing. Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta menggunakan
Knowledge Management System (KMS) di dalam menciptakan Manajemen
Pengetahuan (Lampiran 2).
Knowledge Management System (KMS) adalah sarana dalam membagi
ilmu pengetahuan (share knowledge). Manfaat KMS yaitu menciptakan,
mendokumentasikan, menggolongkan dan menyebarkan knowledge dalam
organisasi. KMS mengelola seluruh elemen sistem berupa dokumen, basis data,
kebijakan, prosedur, informasi tentang pengalaman dan keahlian individu. Dinas
Sosial Pemprov DKI menggunakan
Software MOODLE sebagai Knowledge
Sharing. Software MOODLE memiliki fitur yang lengkap sehingga dapat
digunakan untuk proses pembelajaran individu maupun organisasi.
KMS dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk membangun
budaya knowledge sharing antar pegawai Dinas Sosial, meningkatkan kinerja dan
meningkatkan keunggulan Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta. Hal ini dikarenakan
pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu di Dinas Sosial masih bersifat
tertutup dan belum adanya komunikasi untuk saling berbagi, sehingga kompetensi
masing masing individu tidak dapat berkembang dan bersifat statis. Penyimpanan
pengetahuan berupa data-data atau informasi penting di Dinas Sosial belum
tersedia. Peran serta individu, organisasi dan teknologi informasi yaitu KMS
tentunya sangat dibutuhkan untuk memberikan kemajuan dan keunggulan di
Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta.
Knowledge Sharing atau berbagi pengetahuan merupakan salah satu cara
pengelolaan pengetahuan dengan berbagi pengetahuan tacit kepada orang lain.
Keberhasilan organisasi di dalam Knowledge sharing yaitu faktor individu dan
organisasi. Individu dan organisasi harus saling merasa terkait, terikat dan mampu
menciptakan komunikasi yang baik. Knowledge sharing dapat dilakukan dengan
server internet yaitu web.
Tacit knowledge dapat dieksplisitkan oleh setiap untuk disebarluaskan
melalui KMS kepada staf lainnya. Sikap yang harus ditumbuhkembangkan dan
dibudayakan dalam pembentukan sistem ini diantaranya dorongan kuat untuk
menciptakan,
menangkap,
menjaring,
menyimpan,
mengolah
dan
menyebarluaskan knowledge yang dimiliki kepada pegawai lain. Internet atau web
ini dapat menjadi sarana atau fasilitator bagi antar staf, staf terhadap organisasi
maupun organisasi terhadap staf. Organisasi harus mampu membawa semua pihak
di dalam organisasi untuk memiliki pengetahuan tacit yang baik. Pengetahuan
individu yang di sharing menjadi pengetahuan kelompok hingga organisasi akan
memberikan manfaat berbagai pihak. Kreativitas individu yang terbentuk
hendaknya di dukung oleh organisasi. Individual mulai berpikir kreatif mengenai
hal positif apa yang dapat dikontribusikan pada organisasi. Apresiasi satu dengan
yang lainnya dalam berpartisipasi aktif untuk saling mendukung dapat
membangun budaya kreatif, dan inovatif.
1.2 TUJUAN
1. Mempelajari proses penerapan knowledge management di Dinas Sosial Provinsi
DKI Jakarta
2. Mengidentifikasi peranan knowledge management di Dinas Sosial Provinsi DKI
Jakarta
3. Mengidentifikasi manfaat knowledge management di Dinas Sosial Provinsi
DKI Jakarta
1I. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)
2.1.1 Definisi Manajemen Pengetahuan
Knowledge Management atau manajemen pengetahuan adalah suatu
disiplin yang menggunakan modal intelektual sebagai aset sehingga sangat terkait
dengan bentuk pengetahuan yang akan dikelola (Davenport 2000). Manajemen
pengetahuan melibatkan sumberdaya manusia, informasi dan teknologi. Faktorfaktor penting yang harus diperhatikan di dalam sumberdaya manusia antara lain
(1) mengetahui dengan pasti apa yang membuat komunitas tertarik, (2)
mengidentifikasi pengetahuan penting bagi sumberdaya manusia dan (3)
menggunakan manajemen kinerja untuk menghadapi perubahan budaya.
Intelektual yang tinggi dapat menciptakan kemakmuran sebuah organisasi
atau
perusahaan.
Kemakmuran
dapat
diciptakan
jika
organisasi
dapat
menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan sebuah proses yang lebih efektif
dan efisien. Selain itu juga, perusahaan mampu menggunakan pengetahuan untuk
menciptakan nilai atau manfaat bagi konsumen dengan mendorong inovasi
pengembangan produk yang unik (Djohar 2000).
Menurut Nonaka (1991) manajemen pengetahuan adalah perilaku atau
usaha
mengumpulkan,
mengorganisasi,
menciptakan
pengetahuan
baru,
menyebarkannya ke organisasi dan memanfaatkan pengetahuan tersebut dalam
teknologi dan produk yang baru. Manajemen pengetahuan merupakan proses yang
terus menerus harus dilakukan oleh perusahaan sehingga proses tersebut dapat
menjadi satu budaya organisasi yang akan membentuk organisasi yang berbasis
pengetahuan. Pengetahuan organisasi merupakan perpaduan pengetahuan individu
dan kelompok yang dikelola menjadi keunggulan organisasi. Ketidakmampuan
organisasi dalam mengelola pengetahuan dapat mengakibatkan gagalnya
organisasi melakukan inovasi berkelanjutan.
2.1.2 Siklus dari Manajemen Pengetahuan
Turban
(2002)
mengungkapkan
Pengetahuan yang terdiri dari:
adanya
siklus
dari
Manajemen
a) Create knowledge
Pengetahuan diciptakan sebagaimana manusia menentukan cara baru
dari melakukan sesuatu atau mengembangkan cara tindak (know how).
b) Capture knowledge
Pengetahuan baru harus diidentifikasi sesuai dengan nilainya dan
disajikan dalam suatu cara yang layak.
c) Refine knowledge
Pengetahuan baru harus diletakkan secara kontekstual sehingga dapat
ditindaklanjuti.
d) Store knowledge
Pengetahuan yang berharga harus disimpan dalam format yang layak
pada knowledge repositories sehingga anggota organisasi lainnya
dapat mengakses.
e) Manage knowledge
Pengetahuan harus dikelola dan dimutakhirkan seperti perpustakaan.
f)
Disseminate knowledge
Pengetahuan harus dibuat dan tersedia dalam format yang dapat
berguna bagi semua anggota organisasi yang membutuhkan, kapanpun
dan dimanapun.
2.1.3
Hambatan dan Manfaat Manajemen Pengetahuan
Pengetahuan dapat diciptakan dari pengalaman dan keterampilan yang
diperoleh. Manajemen pengetahuan berisi isu-isu kritis agar organisasi atau
perusahaan dapat beradaptasi dengan lingkungan dan dapat mendorong inovasi
atau kreatif sebuah organisasi.
Pengetahuan bukan hanya data ataupun informasi tetapi juga pengalaman
dan pendapat para ahli. Data merupakan kumpulan fakta tentang kejadian yang
bersifat objektif dan diskret. Sekumpulan data yang memiliki makna dapat
dijadikan informasi untuk mengambil keputusan. Informasi merupakan data yang
telah dikumpulkan dan diolah serta dilengkapi dengan relevansi dan tujuan. Data
berubah menjadi informasi apabila memiliki arti atau makna. Jika informasi telah
mendapatkan tempat dalam kerangka acuan pengguna sehingga pengguna
menghubungkan tindakannya dengan kerangka acuan tersebut maka informasi
tersebut telah menjadi pengetahuan (Natarajan dan Shekhar 2001).
Manusia dengan menggunakan pemikirannya dapat menjadikan struktur
arti dan pengetahuan sehingga berwujud sebagai bahasa verbal maupun
kontekstual. Menurut Pendit (2001) pengetahuan dalam bentuk tulisan di sebuah
dokumen akan disimpan di dalam sebuah memori digital maka diperlukan
representative dari masing-masing artian yang terkandung dalam dokumen
tersebut. Dokumen dan informasi yang terkandung di dalamnya harus dipecahpecah menjadi butiran-butiran yang tidak punya arti dalam kesendiriannya. Pada
tahap ini, manusia menciptakan data.
Organisasi harus memiliki tangible assets dan intangible assets untuk
menghadapi persaingan. Intangible assets adalah aset tidak berwujud (intelektual)
yang harus dikenali dan dipahami oleh organisasi mengenai peranannya.
Perusahaan perlu mengenali aset-aset intelektual yang tersedia di dalamnya dan
mendayagunakan
aset
tersebut
untuk
kepentingan
organisasi
kemudian
membangun struktur capital agar perusahaan dapat memanfaatkan pengetahuan,
pengalaman yang dimilikinya oleh individu-individu dalam perusahaan untuk
meningkatkan kinerja organisasi.
Manfaat yang dapat diperoleh oleh sebuah organisasi dari penerapan
Manajemen Pengetahuan (Skyrme dan Amidon 1997) diantaranya:
1.
Mengetahui dan menyadari nilai dari aset-aset yang sulit dinilai
(intangible asset).
2.
Memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai tambah pada proses
bisnis utama.
3.
Menyebarluaskan praktek yang benar dengan berbagi pengetahuan
dari pengetahuan individual dan bagian dari organisasi.
4.
Mengembangkan
pengetahuan
mengenai
konsumen
sehingga
mampu mengantisipasi keinginan konsumen. Hal tersebut dilakukan
dengan melakukan interaksi yang intensif dengan konsumen ataupun
distributor.
5.
Meningkatkan efisiensi dalam organisasi. Informasi yang sistematik
dapat menyediakan kebutuhan eksternal, disisi lain, pengetahuan
internal telah diketahui sehingga dapat mengidentifikasi kesenjangan
pengetahuan yang ada.
6.
Membangun kompetensi untuk mengantisipasi kebutuhan yang tidak
terduga.
7.
Menjadikan organisasi yang inovatif.
8.
Mempercepat proses aliran pengetahuan. Infrastruktur teknologi
yang efektif membantu menghubungkan pengetahuan karyawan
sehingga pengetahuan lebih mudah diakses dan mengalir lebih cepat
dari
seseorang
yang
mengetahui
kepada
seseorang
yang
membutuhkan.
Menurut Gupta dan Govindarajan dalam Pendit (2001) hambatan dalam
Manajemen Pengetahuan diantaranya:
1.
Penciptaan pengetahuan
Catatan-catatan keberhasilan masa lampau dapat menyebabkan
organisasi merasa bahwa organisasi telah tahu apa yang terbaik,
pegawai tidak diberi kesempatan mengambil keputusan, tidak ada
‘pasar internal’ bagi ide-ide baru (atasan yang kurang mendukung
akan mematikan inisiatif).
2.
Akuisisi pengetahuan
Bagaimana mengintegrasikan dan mendayagunakan pengetahuan
eksternal.
3.
Mempertahankan pengetahuan
Pegawai keluar dari organisasi membawa pengetahuan bersamanya.
Pengetahuan sebuah organisasi dapat menyebar ke para pesaing.
4.
Mengidentifikasi pengetahuan
Adanya anggapan bahwa orang yang sukses tidak perlu belajar dan
orang yang tidak sukses tidak memiliki ide.
5.
Aliran pengetahuan keluar dari pemiliknya
Adanya sindroma ‘apa keuntungannya buat saya?’
6.
Perpindahan pengetahuan
Ketidakcocokan antara struktur pengetahuan dan struktur saluran
transmisi.
7.
Aliran pengetahuan masuk ke pegawai (inflow)
Keengganan untuk mengakui superioritas teman kerja.
2.1.4 Peran Teknologi Informasi dalam Knowledge management.
Menurut Natarajan dan Shekhar (2001) terdapat dua pendekatan dalam
knowledge management yaitu independent knowledge solution model dan
information to knowledge transformation model.
Independent Knowledge Solution Model merupakan pendekatan di dalam
pengelolaan pengetahuan yang tidak menggunakan sistem informasi, seperti
teleconference antara suatu unit di lapangan dengan pakar di kantor pusat untuk
memecahkan masalah pada unit tersebut.
Information to knowledge transformation model adalah suatu model
knowledge management yang dilekatkan pada sistem informasi yang dibangun
organisasi dengan meningkatkan kualitas informasi melalui analisa para pakar
(expert analysis) sehingga ditransformasikan menjadi pengetahuan.
Selanjutnya Turban (2002) menyatakan bahwa sistem knowledge
management dikembangkan menggunakan tiga teknologi yaitu communications,
collaboration dan storage. Teknologi komunikasi memungkinkan pemakai untuk
mengakses pengetahuan yang diinginkan dan berkomunikasi dengan personil
lainnya (para ahli). Email, internet, intranet korporasi dan peralatan lainnya yang
berbasis web menghasilkan kapabilitas komunikasi.
Teknologi kolaborasi menghasilkan cara untuk menjalankan gugus kerja.
Gugus kerja dapat bekerja dengan yang lainnya menggunakan dokumen yang ada
pada waktu bersamaan atau waktu yang berbeda atau tempat yang sama bahkan
berlainan.
Teknologi penyimpanan merupakan alat untuk menggunakan sistem
manajemen basis data untuk menyimpan dan mengelola pengetahuan.
2.1.5 Arsitektur Knowledge management
KM (Knowledge management) terdiri dari 4 sumber daya utama yaitu
knowledge repository, knowledge refinery, technology infrastructure dan
organizational infrastructure.
2.1.5.1 Knowledge Repository
Knowledge repository terdiri dari dua komponen dasar pengetahuan yaitu
struktur dan isi (content). Struktur pengetahuan memberikan konteks untuk
menginterpretasikan isi secara kumulatif. Kemudahan dalam akses akan membuat
pemakai (users) berubah secara dinamis dan interaktif dan membuat lebih mudah
mengaplikasikan pengetahuan ke dalam lingkungan dan konteks yang baru.
Unit pengetahuan adalah bagian terkecil dari pengetahuan yang terdefinisi
secara formal, dapat diindeks, disimpan, diambil dan dimanipulasi. Repository
structure mengandung skema hubungan antar unit pengetahuan yang berupa
keterkaitan konsep, urutan permintaan atau hubungan sebab akibat tergantung dari
bentuk pengetahuan yang akan disimpan.
Pengetahuan yang dimiliki organisasi tersedia melalui penyediaan
lingkungan yang tepat, budaya, struktur dan proses guna memotivasi dan
mendorong sharing pengetahuan pada setiap tingkat dalam organisasi. Tema
utama dari manajemen pengetahuan adalah :

Pembelajaran

Pengembangan/sharing

Penempatan orang di tempat yang tepat dan waktu yang tepat

Pembuatan keputusan yang efektif

Kreativitas

Membuat pekerjaan jadi lebih mudah

Mendorong tumbuhnya bisnis baru dan nilai bisnis
III. PEMBAHASAN
Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta adalah perangkat Pemerintah Daerah
yang menangani masalah kesejahteraan sosial di Provinsi DKI Jakarta. Masalah
yang terjadi dapat diselesaikan secara baik apabila individu atau kelompok
tertentu memiliki intelektual atau pemikiran yang baik. Pengetahuan dan keahlian
yang beragam di Dinas Sosial menjadi aset yang sangat berharga untuk
meningkatkan keunggulan dan kualitas kinerja.
Knowledge Management System (KMS) dapat menjadi sarana untuk
mengembangkan budaya saling berbagi pengetahuan (share knowledge).
Share knowledge dapat menciptakan pengetahuan baru yang kompetitif,
mendukung dalam pengambilan keputusan, sarana penyampaian aspirasi dan
penyimpanan dokumen elektronik.
Berdasarkan sudut pandang pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu pengetahuan
tacit dan pengetahuan eksplisit. Menurut Pendit (2008), pengetahuan tacit (Tacit
Knowledge) adalah pengetahuan yang bersifat tak terlihat, tak bisa diraba kecuali
disampaikan (eksplisit). Jenis pengetahuan Tacit:
1.
Tacit yang ada di dalam masing-masing orang, pribadi-pribadi, bersifat unik,
tidak tertulis tetapi diketahui.
2.
Tacit yang ada di dalam sekelompok orang.
Pengetahuan yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang namun sifatnya
masih tidak terlihat dan ada di dalam pikiran kelompok itu, misalnya orang
bermain bola, mereka saling mengoper secara refleks tanpa komunikasi yang bisa
dilihat bentuknya. Ini terjadi karena diantara mereka ada pengetahuan yang
sifatnya tidak tertulis.
Pengetahuan Eksplisit (Explicit Knowledge) adalah pengetahuan yang
sifatnya tacit kemudian dikeluarkan, ditulis atau direkam maka sifatnya menjadi
eksplisit. Bentuk pengetahuan eksplisit ini berupa:
1. Bentuk eksplisit yang dimiliki secara pribadi.
Biasanya dalam bentuk catatan, buku harian, alamat teman, fotokopi dan
segala bentuk eksplisit yang disimpan perorangan secara pribadi.
2. Bentuk eksplisit yang dipakai bersama-sama oleh sekelompok orang
dalam bentuk tulisan tangan sampai internet.
Dengan kata lain pengetahuan eksplisit yang dibagi dengan tujuan agar
dapat diakses oleh banyak pihak.
Kelemahan pengetahuan tacit adalah adanya kesulitan untuk dikembangkan
dan disebarkan. Kesulitan ini mengakibatkan pengetahuan tacit tidak mudah untuk
dijadikan sumber ilmu pengetahuan yang dapat menimbulkan ide baru bernilai
dan dapat diterapkan. Solusi yang dapat dilakukan adalah berupaya untuk
menjadikan tacit knowledge menjadi ekplisit knowledge.
Proses berbagi pengetahuan (Knowledge sharing) adalah pengetahuan yang
disebarkan dari satu individu kepada individu lainnya. Proses ini merupakan
langkah penting di dalam praktek manajemen pengetahuan yaitu melakukan
proses berbagi secara cepat dan efektif diantara kelompok. Gedung Dinas Sosial
yang memiliki pusat data dan informasi terdiri dari dua buah gedung yaitu
Gedung A dan Gedung B. Gedung A dan B terdiri dari 8 lantai dan 3 lantai.
Jaringan lokal pada tiap-tiap bidang terpasang dengan media transmisi kabel
seperti pada lampiran 1. Pemanfaatan jaringan lokal masih terbatas pada sharing
file dan sharing printer. Sharing pengetahuan antar pegawai belum dilakukan
karena belum ada fasilitas yang mendukung (media pembelajaran individu dan
kebijakan pendukung).
Knowledge Management System (KMS) sebagai sistem berbasis komputer
yang mendukung penerapan KM di Dinas Sosial. Tujuannya adalah agar
pengaksesan pengetahuan lebih efektif dan efisien. Berdasarkan data yang
diperoleh terdapat prinsip utama yang mendasari pengembangan Knowledge
Management System (KMS) di Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta diantaranya:
a. Format pengetahuan digital lebih mudah disimpan (jaringan intranet) dan
proses pemeliharaannya lebih efisien (diperbaharui dan disebarkan).
b. Setiap pegawai memiliki tanggungjawab, kewajiban dan hak akses yang sama
terhadap pengetahuan yang sesuai dengan kepentingannya.
c. KMS Dinas Sosial berbasis antarmuka dinamis.
yang memungkinkan untuk terbentuknya budaya saling berbagi pengetahuan.
d. Bekerja secara kelompok (teamwork).
e. Menghilangkan atau memperkecil birokrasi untuk saling bekerja bersama
sama.
Knowledge management system diharapkan dapat menjadi strategi yang
tepat untuk meningkatkan efektifitas dan peluang atau kesempatan dalam
mengembangkan kemampuan. Usaha yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan
budaya berbagi pengetahuan diantaranya:
a.
Menciptakan know-how
Setiap pegawai memiliki kesempatan dan memiliki hak untuk menentukan
cara baru dalam menyelesaikan tugas dan berinovasi.
b.
Memahami dan mengidentifikasi pengetahuan yang memiliki nilai dan
diwujudkan dengan cara yang logis.
c.
Meletakkan pengetahuan yang baru dalam format yang mudah diakses oleh
seluruh pegawai dan pejabat.
d.
Mengelola pengetahuan untuk menjamin informasi terbaru.
e.
Format pengetahuan yang disediakan adalah format yang dapat diakses dan
dikembangkan oleh seluruh pegawai.
Knowledge Management System (KMS) menggunakan model pembelajaran
individu yaitu Learning Management System (LMS) atau dikenal dengan Course
Management System. Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment
(MOODLE) merupakan software dimana setiap orang dapat menggunakan dan
mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan. Moodle menyediakan barbagai
tools agar proses pembelajaran lebih efektif dan efisien. Kemudahan ini terlihat
dari penyediaan layanan untuk mempermudah upload, membagi pengetahuan,
diskusi online, chatting, survey, laporan dan sebagainya. Beberapa alasan Dinas
Sosial Provinsi DKI Jakarta menggunakan Moodle:
a. Sederhana, efisien, ringan dan kompatibel dengan banyak browser dan
operating system
b. Proses instalasinya mudah dan terdapat berbagai bahasa.
c. Tersedia pengaturan situs secara keseluruhan.
d. Tersedianya manajemen user atau pengguna.
e. Manajemen file atau dokumen: penambahan dan pengurangan file atau
dokumen atau pengubahan sumber informasi.
f. Terdapat modul – modul seperti: chatt, pooling, forum, jurnal, kuis, survey dan
workshop.
IV. KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta sebagai perangkat pemerintah untuk
meningkatkan performa dan kinerja melakukan budaya sharing knowledge.
Sharing knowledge dilakukan dengan menggunakan knowledge management
system (KMS) yaitu Moodle. Moodle diharapkan menjadi teknologi yang dapat
menciptakan dan mengembangkan kreatif serta inovasi di dalam organisasi.
Pegawai dapat mengeksplisitkan semua tacit knowledge melalui KMS kepada
pegawai lain dan organisasi. KMS dapat berjalan dengan baik apabila ada peranan
dan kerja sama dari pegawai dan organisasi.
4.2. Saran
Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta diharapkan mampu untuk memberikan
edukasi, mengajak, mempengaruhi dan menyadarkan para pegawainya untuk ikut
berperan dalam budaya sharing knowledge. Hal ini dikarenakan sharing
knowledge menggunakan knowledge management system (KMS) yaitu Moodle
memiliki manfaat untuk
organisasi.
meningkatkan intelektual individu dan kemajuan
V. DAFTAR PUSTAKA
Djohar, S. 2000. Knowledge Management. Majalah Manajemen. Juni 2000.
Natarajan, G. dan S. Shekhar. 2001. Knowledge Management. Enabling Business
Growth. Mc-Graw-Hill International Edition.
Nonaka, I. 1991. The Knowledge Creating Company. Harvard Business Review.
Vol. 69
Pendit, P.L. 2001. Manajemen Pengetahuan dan Profesional Informasi: Harapan,
Kenyataan dan Tantangan. Makalah untuk Kuliah Program Studi Ilmu
Perpustakaan, Informasi dan Kearsipan, 18 September 2001, Pusat Studi
Jepang, Universitas Indonesia.
Skyrme, D. dan D. Amidon. 1997. The Knowledge Agenda. The Journal of
Knowledge Management. Vol. 1 No. 1. September 1997.
Turban, L. dan Chung. 2002. Electronic Commerce, A Managerial Perspective.
International Edition. Prentice Hall. United State of America.
Davenport, Thomas H. and Laurence Prusak, 2000. Working Knowledge: How
Organizations Manage What They Know, Harvard Business School Press,
Boston Massachucetts.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Kondisi Jaringan Lokal Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta
Lampiran 2. Knowledge Management System (KMS) Dinas Sosial
Provinsi DKI Jakarta
Download