Carlos, A., C.Suarez, JE Conde. 2002. Local distribution and

advertisement
PENANGKAPAN DAN PENGOLAHAN KEPITING
RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI SULAWESI SELATAN
Liestiaty Fachrudin dan Musbir
Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas Hasanuddin, Makassar.
ABSTRACT
The blue swimmer crab, Portunus pelagicus, is an emerging a commercial fishing species
throughout the Indo-Pacific region. In addition, the species forms an important fisheries industry
and is currently a targeted species in South Sulawesi. The current study was performed to
determine catching, production, production value, processing of swimming crab. The crab was
caught with bottom gill net with mesh size 2-4 inch and caught also with bottom trap.
Production of the crab was fluctuating annually. The lowest was 2,522 ton with value Rp Rp
27.006000,-. in 2006, but the highest was 4.066 ton with value Rp 70.862.000,- in 2007.
Production came from Makasar Strait, Flores Sea and Bone Bay. The result of crab porcessing
consist of body meat (lump), femur meat (jumbo), special meat and claw meat that consist of
solid claw, merrous claw, claw meat.
Key Word: blue swimmer crab, catching, production, processing.
ABSTRAK
Kepiting rajungan telah menjadi salah satu spesies komersial di seluruh wilayah Indo Pasifik.
Bahkan spesies ini telah menjadi komoditas penting pada industri perikanan dan menjadi
spesies target di Sulawesi Selatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeterminasi
penangkapan, produksi, nilai produksi, dan pengolahan kepiting rajungan di Sulawesi Selatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepiting rajungan ditangkap dengan jaring insang dasar
dengan ukuran mata jaring 2-4 inci serta juga ditangkap dengan bubu dasar. Produksi kepiting
rajungan di Sulawesi Selatan berfluktuasi setiap tahun dimana terendah 2.522 ton dengan nilai
Rp 27.006000,-. tahun 2006 dan tertinggi 4.066 ton dengan nilai Rp 70.862.000,- tahun 2007.
Distribusi produksi berasal dari perairan Selat Makassar, Laut Flores, dan Teluk Bone. Hasil
pengolahan daging kepiting rajungan terdiri atas daging badan (lump), dan daging paha
(jumbo), daging spesial atau serpihan badan dan paha (lump) serta daging capit yang terdiri
atas pangkal capit (solid claw), daging tengah capit (merrous claw ), daging ujung capit biasa
(claw meat).
Kata Kunci: kepiting rajungan, penangkapan, produksi, nilai produksi, pengolahan.
==================================================================
Contact Person: Musbir
Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin
Mobile Phone : 081 355 065 465
e-mail
: [email protected]
PENDAHULUAN
Kepiting rajungan adalah dan merupakan komoditas ekspor Indonesia. Kepiting
rajungan (Portunus pelagicus) adalah salah satu hasil laut yang bernilai eknomis
penting, merupakan makanan populer dan makanan lezat yang banyak digemari oleh
masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan, yang juga merupakan komoditas
ekspor Indonesia. Menurut data Departemen Kelautan dan Perikanan 2007, bahwa
pemintaan rajungan dari pengusaha restoran seafood Amerika Serikat mencapai 450
ton per bulan. Jepang sekitar 500 ton setiap bulan.
Rajungan juga diekspor ke
berbagai negara dalam bentuk segar yaitu ke Singapura dan Jepang, sedangkan dalam
bentuk olahan kaleng diekspor ke Belanda. Disamping itu, beberapa negara lain yang
membutuhkan kepiting rajungan adalah Malasyia, Hong Kong, Korea Selatan, China,
Taiwan, dan negara-negara Eropa (Anonim, 2008).
Hewan ini adalah merupakan kepiting perenang yang mendiami dasar Laut yang
berlumur, pasir, pasir campur lumpur dan di pulau berakarang. Kepiting ini menempati
habitat yang bermacam-macam seperti pantai berpasir, pantai pasir berlumpur, sekitar
bakau. Kepiting ini didapatkan hampir seluruh periran laut Indonesia bahkan juga
didapatkan di daerah sub-tropis.
Salah satu wilayah yang memiliki potensi perikanan kepiting rajungan yang
cukup penting adalah perairan laut Sulawesi Selatan. Sehubungan dengan hal
tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk menanalisi penangkapan, produksi, nilai
produksi, dan pengolahan kepiting rajungan di Sulawesi Selatan. Hasil dari penetian ini
diharapkan dapt dijadikan rujukan bagi pengelolaan rajungan di alam tetap dapat
dieksploitasi dan terjamin kelestarian populasinya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dari bulan April 2010 sampai dengan September 2010 pada
wilayah perairan Laut Sulawesi Selatan yang terbentang dari Selat Makassar, Laut
Flores dan Teluk Bone. Data yang dikumpulkan teridiri atas data primer dan data
sekunder. Data primer terdiri atas data tentang penangkapan kepiting rajungan yang
diperoleh dengan mengukur langsung di lapangan, data pengolahan rajungandiperoleh
dengan wawancara dengan pengolah kepiting rajungan. Data sekunder terdiri atas
produksi dan nilai produksi yang diperoleh dari buku laporan statistik perikanan
tangkap Sulawesi Selatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penangkapan Kepiting Rajungan
Kegiatan penangkapan kepiting rajungan yang dilakukan oleh nelayan di
Sulawesi Selatan umumnya mengunakan alat penangkapan gill net dan bubu. Gill net
yang dioperasikan oleh nelayan di di Sulawesi Selatan terbuat dari monofilament,
dengan ukuran mata jarring (mesh size) antara 2–4 inchi. Pengoperasiannya dilakukan
dengan cara membentangkan lembaran gill net tersebut pada dasar perairan yang
diperkirakan merupakan habitat rajungan. Setting dilakukan pada pagi hari dan hauling
dilakukan pada siang atau sore hari. Kepiting rajungan tergolong sebagai jenis
perenang
cepat “Swimming crab“ sehingga ia akan terjerat dengan jaring karena
kakinya terbelit-belit pada jaring dan sukar untuk melepaskan diri kembali pada saat
tertangkap.
Bentuk bubu yang digunakan nelayan untuk menangkap kepiting rajungan di Sulawesi
Selatan adalah berbentuk sangkar. Bahan yang digunakan dari jaring.
Bubu besifat
perangkap, yaitu dengan bantuan umpan yang ada dalam bubu menyebabkan kepiting
rajungan tertarik masuk ke dalam bubu dan tidak dapat keluar lagi dan akhirnya
tertangkap. Jenis umpan yang digunakan antara lain perut ayam atau ikan mujair.
Produksi Kepiting Rajungan
Dengan tingginya permintaan kepiting rajungan dari luar negeri maka nelayan di
Sulawesi Selatan menangkap biota laut tesebut denga intensif. Akan tetapi produksinya tidak
memperlihatkan kenaikan setiap tahun tetapi mengalami fluktuasi. Produksi kepiting rajungan
di Sulawesi Selatan disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Produksi Kepiting Rajungan
(Portunus pelagicus) di Sulawesi Selatan
(Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sulawesi Selatan).
Pada Gambar 1 terlihat bahwa total produksi kepiting rajungan di Sulawesi
Selatan pada tahun 2003 adalah sebesar 2886 ton dan mengalami peningkatan pada
tahun 2004 dan tahun 2005 yang mencapai 3.622 ton. Kemudian mengalami
penurunan sampai 2.522 ton pada tahun 2006. Kemudian meningkat lagi menjadi 4.066
ton pada tahun 2007.
Distribusi Daerah Produksi Kepiting Rajungan
Daerah penyebaran rajungan itu diseluruh perairan Indonesia, dengan
kecenderungan kepadatan dan potensi yang tinggi pada daerah sekitar pantai.
Rajungan menyenangi perairan dangkal, dengan suhu perairan rata-rata 35 o C dan
salinitas antara 4–37 ppt. Rajungan dapat hidup di berbagai ragam habitat mulai dari
tambak, perairan pantai (in-shore) hingga perairan lepas pantai (off-shore) dengan
kedalaman mencapai 60 meter (Moosa dan Juwana (1996).
Distribusi daerah produksi kepiting rajungan di Sulawesi Selatan ditampilkan
pada Gambar 3.
Gambar 3. Distribusi Daerah Produksi Kepiting Rajungan Tahun 2007 Setiap Kabupaten di
Sulawesi Selatan (Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sulawesi
Selatan).
Pada Gambar 3 terlihat bahwa produksi kepiting rajungan (Portunus pelagicus) di
Sulawesi Selatan ditangkap oleh nelayan di perairan Selat Makassar, Laut Flores, dan Teluk
Bone. Kepiting rajungan hasil tangkapan nelayan di Selat Makassar didaratkan di daerah
Pangkep, Maros, Pinrang, Makassar. Hasil tangkapan dari Laut Flores didaratkan di daerah
Jeneponto.Bantaeng, Sinjai, Selayar. Sebaliknya Hasil tangkapan dari Teluk Bone didaratkan
di daerah Wajo, Bone, Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur, Luwu.
Penyebaran rajungan sangat luas dan dapat hidup di berbagai habitat mulai dari
tambak, peraian pantai (in-shore) hingga perairan lepas pantai (off-shore) dengan
kedalaman mencapai 60 meter (Kangas (2000; Khokiattiwong et al., 2000; Carlos et al.,
2002; Dittel & Epifanio 2002). Daerah penangkapan kepiting rajungan di Indonesia
yang terbesar berada di Selat Makassar, Laut Flores, Laut Banda dan Laut Sulawesi.
Selain itu, kepiting ini juga terangkap di perairan laut.
Selanjutya distribusi nilai produksi kepiting rajungan pada setiap kabupaten di
Sulawesi Seltan disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Distribusi Nilai Produksi Kepiting Rajungan (Milyar Rupiah) Tahun 2007 Setiap
Kabupaten di Sulawesi Selatan (Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi
Sulawesi Selatan).
Pada Gambar 4 terlihat bahwa nilai produksi kepiting rajungan di Sulawesi Selatan
adalah terbesar Kabupaten Wajo dengan nilai 24 milyar rupiah, disusul Bone 16 milyar rupiah,
Pangkep 12 milyar rupiah, Maros 9 milyar rupiah, dan Jeneponto sebesar 4 9 milyar rupiah.
Pengolahan Kepiting Rajungan
Daging rajungan yang dihasilkan dari pengolahan setelah melalui proses pengupasan
antara lain:
 Daging jumbo yang dihasilkan dari daging paha yaitu daging berwarna putih dua
bagian yang terbesar yang berhubungan dengan capit.
 Daging lump dihasilkan dari daging badan yaitu daging berwarna putih berukuran
besar berbentuk kembang dan berhubungan dengan kaki jalan.
 Daging spesial dihasilkan dari serpihan dari daging badan dan paha yaitu daging
sisa atau serpihan sangat kecil yang tidak utuh lagi karena kerusakan saat
pengupasan.
 Daging pangkal capit biasa disebut solid claw yaitu daging berwarna coklat
kemerahan,
 Daging tengah capit biasa disebut merrous claw yaitu daging berwarna coklat
kemerahan pada bagian capit ruas paling ujung.
 Daging ujung capit biasa disebut claw meat yaitu daging berwarna coklat
kemerahan. Claw meat juga daging dari kaki jalan dan kaki renang.
1.
2.
3.
4.
1.
2.
KESIMPULAN
Penangkapan keiting rajungan di Sulawesi Selatan dilakukan dengan gill net dasar
dan bubu jaring.
Produksi kepiting rajungan di Sulawesi Selatan berluktuasi setiap tahun dimana
terendah 2.522 ton dengan nilai Rp 27.006000,-. tahun 2006 dan tertinggi 4.066 ton
dengan nilai Rp 70.862.000,- tahun 2007.
Distribusi produksi kepiting rajungan di Sulawesi Selatan berasal dari perairan
Selat Makassar, Laut Flores, dan Teluk Bone. Kabupaten yang termasuk lima
besar produsen kepiting rajungan adalah Wajo 34 % (Teluk Bone), Bone 23,6 %
(Teluk Bone), Pangkep 17.4 % (Selat Makassar), Maros 13 % (Selat Makassar )
dan Jeneponto 5,7 % (Laut Flores) .
Hasil pengolahan kepiting rajungan di Sulawesi Selatan terdiri atas daging jumbo,
lump, spesial, Daging Capit terdiri atas Daging solid claw merrous claw claw meat
Claw meat
SARAN
Perlu dilakukan penelitian mendalam tentang keseimbangan bioekonomi kepiting
rajungan di Sulawesi Selatan.
Perlu dilakukan pengelolaan kepiting rajungan
di Sulawesi Selatan agar
menghasilkan produksi optimum yang berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008. Kepiting Rajungan. http://www.mangrove.nus.edu.sg/. Diakses 4 Agustus 2008).
Carlos, A., C.Suarez, J.E. Conde. 2002. Local distribution and abundance of
swimming crabs on a tropical arid beach - Callinectes spp. and Arenaeus cribrarius
- Statistical Data Included. Fishery Bulletin, Vol. 23: 127-138
Departemen Kelautan dan Perikanan 2007. Statistik Perikanan Tangkap Indonesia.
2006. Jakarta.
Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan. 2004-2008.
Propinsis Sulawesi Selatan.
Laporan Statistik Perikanan
Dittel, A. I., Epifanio, C. E. (2002). Seasonal abundance and vertical distribution of crab in
Delaware Bay. Estuaries 5: 197-202.
Kangas, M I. 2000. Synopsis of The Biology and Exploitation of The Blue Swimming
Crab, Portunus pelagicus Linnaeus, in Western Australia Fisheries Research
Report No.121. http://www.fish.wa.gov.au
Khokiattiwong, S.R., Mahon, W.Hunte. 2000. Seasonal abundance and reproduction
of bluecrab, Portunus pelagicus. Environmental Bilogy of Fishes, 59: 43-60.
Moosa, M.K, & S. Juwana. 1996.
Kepiting suku Portunidae dari perairan
Indonesia(Decapoda, Brachiyura).
Pusat Penelitian dan Pengembangan
Oseanologi – LIPI, Jakarta : 118 hal.
Download