LEMBAGA PERIKANAN INTERNASIONAL DAN

advertisement
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XVII, Nomor 3 : 111-121
ISSN 0216 -1877
LEMBAGA PERIKANAN INTERNASIONAL DAN PERMASALAHANNYA
oleh
O.H. Arinardi *)
ABSTRACT
INTERNATIONAL FISHERIES COMMISSIONS AND THEIR PROBLEMS.
Several international fisheries commissions have been established to cooperate in
research and to overcome conflicts that may occur among members. However, problems still exist due to various conflicting interests of the countries. This paper describes the history and the problems faced by the commissions.
tingkat international. Pada abad 20 ini
usaha perikanan tetap pada tingkat pengelolaan yang primitif yaitu sebagian besar
masih berupa penangkapan ikan dan persediaan (stock) di alam. Sedang ikan-ikan itu
selalu bergerak tergantung pada musim dan
kondisi perairannya, sehingga tidak mungkin
dikurung pada perairan tertentu atau ditandai sebagai milik individu atau milik negara
tertentu, Oleh karena itu sumberdaya
perikanan dianggap sebagai milik bersama
dan dapat dieksploitasi oleh pribadi-pribadi
atau satuan-satuan ekonomi. Namun karena
motivasinya memperoleh keuntungan yang
sebesar-besarnya maka manusia saling berkompetisi untuk menangkap sebanyak-banyaknya. Akibatnya penangkapan ikan di
satu perairan sering mempengaruhi kelimpahan ikan di perairan lainnya dan penangkapan satu species akan mempengaruhi
persediaan ikan lainnya (KASAHARA 1972)
PENDAHULUAN
Dengan makin majunya teknologi dan
makin bertambahnya kebutuhan dalam segala bidang menyebabkan setiap negara memberi perhatian lebih besar ke laut, Tampaknya laut mengandung potensi sumberdaya
yangbelum sepenuhnya diekspoitasi (kecuali
sumberdaya perikanan) seperti mineral, minyak dan sumberdaya lainnya yang terkandung di bawah permukaan laut. Dalam pertahanan negara, setiap bangsa juga memanfaatkan laut untuk keperluan militer. Semua
itu menyebabkan timbulnya persoalan international dan mendorong negara-negara yang
berkepentingan untuk mencari penyelesaian
melalui berbagai cara.
Dalam pengelolaan perikanan banyak
faktor yang sering menyebabkan terjadinya
pertentangan baik tingkat nasional maupun
*) Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi
LIPI, Jakarta.
111
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Industri perikanan juga tidak selalu
mempunyai fasilitas penangkapan ikan yang
seragam. Di negara dengan teknologi maju
masih banyak nelayan yang menangkap
ikan dengan metoda tidak berbeda dari
beberapa ratus tahun lalu. Sedangkan perusahaan-perusahaan besar dengan armada perikanannya dapat menangkap ikan ke perairan yang cukup jauh atau bahkan menangkap ikan ke perairan yang dikhususkan
untuk nelayan artisanal sehingga terjadi
bentrokan fisik.
Makalah ini memaparkan sejarah didirikan serta peran beberapa lembaga perikanan international dalam menanggulangi
pertentangan negara-negara anggotanya.
hasil tangkapan herring oleh nelayan Belanda
dapat mencapai 2,0 juta poundsteiiing
(LEORNARD 1944 dalam KASAHARA
1972). Perselisihan ini berlangsung cukup
lama yaitu dimulai pada pertengahan abad
ke 17 sampai dengan permulaan abad ke 18.
Akhirnya Belanda terpaksa mengalah karena
ketika itu daratan Eropah dilanda peperangan.
Contoh lain mengenai pertentangan
hak penangkapan ikan di perairan pantai
adalah antara Jepang dan Rusia. Sesudah
perang Jepang — Rusia usai dengan kemenangan di pihak Jepang, sebagai hasil dari
salah satu perundingan, Rusia mengakui
hak Jepang untuk menangkap ikan di perairan teritorial Rusia yaitu di Laut Jepang,
Laut Okhotsk dan Laut Berring (TREATY
1907) termasuk seluruh pantai Kamchatka
(penghasil utama ikan salmon di Asia).
Namun sesudah tahun 1941 ketika pecah
Perang ,Dunia II, persetujuan penangkapan
salmon tersebut dikurangi secara drastis
dan berakhir pada tahun 1944, ketika
Jepang menyerah kepada pihak Sekutu
(KASAHARA 1972).
SEJARAH TERJADINYA PERSETUJUAN
PERIKANAN
Pertentangan internasional dalam didang perikanan mempunyai sejarah yang
panjang. Umumnya orang menganggap bahwa persetujuan perikanan (fishery agreements) di masa lalu hanya berkaitan dengan
persoalan konservasi. Namun dari sejarah
perikanan tentang persetujuan itu menunjukkan bahwa beberapa di antaranya pada
mulanya berlandaskan politik dan ekonomi.
Persetujuan perikanan dalam tahun-tahun
terakhir baru berlandaskan konservasi (KASAHARA1972).
Sebagian besar perselisihan mengenai
perikanan dimulai pada abad ke 17. Salah
satu perselisihan yang tertua adalah ketika
Inggris secara sepihak membatasi penangkapan herring oleh para nelayan Belanda di
sepanjang pantai Scotland dan England.
Hal ini dilakukan Inggris karena hasil seluruh
ekspor komoditinya hanya 2,5 juta poundsterling sedangkan nilai kotor (gross value)
Dari contoh di atas jelas bahwa persetujuan tersebut sama sekali tidak terkait
dengan persoalan konservasi. Persoalan itu
hanya berdasarkan bangsa suatu negara melakukan kegiatan penangkapan ikan di
perairan negara lain dengan motivasi ekonomi dan politik.
Persoalan penangkapan ikan di luar
laut teritorial suatu negara juga bukan merupakan hal baru. Seperti misalnya pertentangan yang timbul pada awal abad ke 19
antara nelayan Inggris dan nelayan Perancis
di Selat Inggris (English Channel) sehingga
dibuat konvensi dalam tahun 1839. Persetujuan tersebut mengakui batas wilayah
3 mil laut sebagai hak eksklusif suatu bangsa.
112
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
national Commission for the Scientific
Exploration of the Mediterranean Sea
(ICSEM).
2.
Lembaga perikanan yang berfungsi
merumuskan cara konservasi berdasarkan
penelitian ilmiah tetapi penelitian itu tidak
dilakukan oleh staf lembaga terse but, misalnya International North Pacific Fisheries
Commission (INPFC), Joint Commission for
the Black Sea Fisheries dan North-east
Atlantic Fisheries Commission (NEAFC).
3.
Lembaga perikanan
dengan tugas
memformulasikan cara-cara konservasi ber
dasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan
oleh stafnya sendiri. Sebagai contoh adalah
Inter-American Tropical Tuna Commission
(IATTC), International Pacific Salmon Fi
sheries Commission (IPSFC) dan Internatio
nal Pacific Halibut Commission (IPHC).
Pada umumnya cara konservasi yang
direkomendasikan oleh lembaga perikanan
internasional itu lebih ditekankan pada
larangan dan pembatasan dengan diadakannya musim penangkapan atau perairan terbuka dan tertutup untuk eksploitasi;ukuran
minimum mata jaring; dan batas ukuran
ikan yang boleh ditangkap. Ada pula cara
konservasi yang dinyatakan dalam batas
maksimum penangkapan seperti International Commission for the North-west Atlantic Fisheries dan International Whaling
Commission. Rekomendasi lainnya adalah
Peristiwa ini dianggap sebagai perintis dalam
pengakuan kedaulatan teritorial secara moderen di bidang perikanan dalam dunia
internasional (LEONARD 1944 dalam KASAHARA1972).
Persetujuan internasional pertama dengan penekanan pada masalah konservasi
ialah ketika dalam 1900-an, populasi anjing
laut sangat menu run. Atas prakarsa Amerika
Serikat lalu diadakan konperensi yang dihadiri oleh wakil-wakil dari Amerika Serikat,
Inggris, Rusia dan Jepang di Amerika (Washington D.C.). Pada tahun 1911 dihasilkan
peraturan dengan tujuan melindungi anjing
laut dari bahaya kepunahan (KASAHARA
1972).
LEMBAGA PERIKANAN
INTERNASIONAL DAN PERANNYA
Umumnya Iembaga4embaga perikanan
internasional dibentuk dari hasil konvensi
sesudah Perang Dunia ke II, lima di antaranya disposori oleh FAO seperti Indo-Pacific
Fisheries Counsil (IPFC), General Fisheries
Counsil for the Mediterranean (GFCM),
Regional Fisheries Commission for Western
Africa (RFCWA) dan Regional Fisheries
Advisory Commission for the South-West
Atlantic. Sebagian besar lembaga itu menangani masalah perikanan laut (GULLAND
andCARROZ 1968).
Pada dasarnya lembaga perikanan internasional dapat dibedakan sesuai dengan
fungsinya dalam menangani tersedianya ikan
di laut yaitu :
pembatasan usaha tangkapan (limitation of
effort), pembiakan secara artifisial (artificial propagation) dan memindahkan biota
muda ke tempat lain (transplantation).
Walaupun lembaga perikanan internasional
sudah terbentuk tetapi lembaga itu
menghadapi banyak hambatan sehingga
tidak berfungsi sebagai yang dinarapkan.
Hambatan yang menonjol antara lain (KaSAHARA1972):
1. Lembaga perikanan yang berfungsi
untuk membantu meningkatkan dan mengkoordinasi penelitian para negara anggota
dan lalu merekomendasi konservasi. Contohnya adalah International Counsil for the
Exploration of the Sea (ICES) dan Inter-
113
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
a.
Wewenang lembaga perikanan internasional sangat terbatas. Sebagian besar komisi
perikanan hanya dapat memberikan rekomendasi kepada negara anggota mengenai
cara konservasi. Namun rekomendasi yang
berdasarkan fakta flmiah itu tidak dijamin
harus ditaati. Selain itu badan-badan internasional itu juga kurang mampu menyelesaikan masalah secara cepat.
b.
Lembaga perikanan internasional tidak
dapat mencegah negara bukan anggotanya
memasuki perairan tertentu sehingga menyulitkan kesepakatan yang ada. Beberapa
komisi terbuka untuk menerima anggota
baru sedang lainnya tidak. Bagi komisi yang
dapat menerima anggota baru maka kuota
tangkapanpun harus dibagi-bagi di suatu
perairan yang sudah ditentukan. Hal ini
jelas mengurangi jatah tangkapan anggota
terdahulu.
c.
Untuk perikanan di laut teritorial,
peraturan internasional yang sudah ada
tidak mencukupi. Oleh karena peraturan
itu umumnya hanya bertujuan memaksimisasi hasil secara fisik dan stok atau per
airan tertentu.
d. Pada umumnya jumlah staf peneliti lem
baga perikanan internasional sangat terbatas.
Kekurangan peneliti ini disebabkan sebagian
besar negara anggotanya kurang berminat
untuk membantu mengkaryakan penelitinya
dalam Iembaga4embaga itu dan juga persoalan dana yang terbatas.
e. Banyak negara anggota yang tidak
melaksanakan peraturan perikanan internasional apabila pelanggar itu dilakukan oleh
kapal dengan bendera negaranya.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa
hukum laut tidak pernah cukup untuk menanggulangi problema perikanan internasional yang rumit. Sedang lembaga perikanan
internasional tidak mampu memaksakan peraturan-peraturan yang ada.
PERIKANAN LAUT DI INDONESIA
1.
Sejarah perikanan di Indonesia dapat
dibagi ke dalam dua fase yaitu perkembangan sebelum tahun 1968 dan sesudahnya
(ZACHMAN 1973). Kegiatan sebelum 1968
adalah perikanan artisanal. Pada waktu itu
keadaan politik dan ekonomi nasional
tidak stabil serta problema perikanan artisanal cukup rumit sehingga peranan perikanan dalam pembangunan ekonomi nasional
dapat dikatakan tidak ada. Komoditi perikanan .sebagian besar merupakan hasil pengolahan secara tradisional seperti dikeringkan,
diasin dan cara-cara lainnya. Kualitas hasil
pengolahan juga jauh di bawah baku internasional. Selain itu ikan yang diolah dengan
cara tradisional juga tidak membutuhkan
kualitas tinggi dan ini tidak merangsang
produsen (nelayan tradisional) untuk meningkatkan metode penangkapan dan pengolahannya. Akibatnya rata-rata pendapatan
para nelayan tetap rendah.
Fase sesudah 1968 adalah berupa kebijaksanaan dan strategi baru untuk persiapan
PELITA I (1969 - 1974). Karakteristika
utama fase ini adalah pendekatan ekonomi
dan pemasaran karena produksi perikanan
tidak terlepas dari aspek pemasaran dan
merupakan aktivitas perdagangan. Strategi
perkembangan didasarkan untuk menciptakan iklim yang baik untuk mengeksploitasi
sumberdaya perikanan sehingga memenuhi
sasaran perkembangan ekonomi nasional
seperti penambahan devisa, peningkatan
GNP dan penyediaan protein hewani. Dalam
rangka investasi modal ini peranan pemerintah sangat menentukan seperti penelitian,
survei, penataran untuk mendapatkan tenaga
yang terampil dan pengembangan sarana dan
prasarana perikanan.
114
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
Sejarah perikanan laut di Indonesia.
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
2.
ploitasi udang dan tuna. Kerjasama ini terpaksa dilaksanakan karena Indonesia sangat
membutuhkan modal untuk dana pembangunan sehingga segala material capital
sedapat mungkin dijadikan liquid capital
(ANWAR 1979). Sementara usaha perikanan
rakyat pada umumnya masih merupakan
usaha kecil4cecilan dan bersifat
usaha rumah tangga dengan kemampuan
operasi relatif terbatas. Dengan adanya
pelbagai macam investasi seperti PMA dan
PMDN dan usaha-usaha nasional lainnya
dimaksudkan untuk meningkatkan laju pembangunan perikanan (DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN 1976).
Usaha bersama itu sebenarnya merupakan cara paling efisien, cepat dan efektif
untuk memajukan industri perikanan di
negara berkembang seperti persediaan modal, perlengkapan, keterampilan dan kesempatan kerja bagi penduduk setempat serta
memberikan devisa (HONDA 1973).Namun
oleh karena usaha bersama itu selalu didasarkan pada usaha perdagangan dengan
tujuan utama keuntungan maka perselisihanpun tidak dapat dihindarkan.
Masalah perikanan dan usaha bersama
Pengelolaan perikanan di Indonesia cukup sulit karena seperti juga perairan tropika
lainnya, ikan-ikan di perairan Indonesia
terdiri dari macam-macam jenis tetapi masing-masing jenis mempunyai jumlah individu yang tidak terlampau banyak. Oleh karenanya pengelolaan secara konvensional seperti dilakukan di negara beriklim sedang
agak kurang tepat (MARR 1976). Untuk
memaksimisasi hasil tangkapan yang lestari
dari suatu jenis hampir tidak mungkin karena ikan yang tertangkap merupakan campuran dari berbagai jenis. Seperti misalnya untuk menangkap udang, mata jaring harus
diperkecil tetapi ternyata ikan jenis lain juga
akan tertangkap dalam jumlah relatif besar.
Dari ikan yang tertangkap itu mungkin akan
lebih menguntungkan kalau ditangkap dalam
ukuran lebih besar atau berumur lebih dewasa.
Kesulitan lain adalah kurangnya pengetahuan tentang sumberdaya perikanan seperti
distribusinya, misalnya ada jenis ikan yang
tersebar dari Indonesia sampai ke Taiwan.
Apakah sebaran itu disebabkan oleh migrasi?
Jika benar, maka apa yang terjadi dengan
perikanan di Taiwan (seperti overfishing)
sudah tentu akan mempengaruhi perikanan
di Indonesia dan sebaliknya. Dalam keadaan
demikian, pengelolaannya harus dilaksanakan secara baik antara kedua negara dan
negara yang dilalui oleh ikan tersebut.
Kesulitan ini menjadi makin terasa karena
seperti juga negara lain di dunia, di Indonesia tenaga ahli yang terampil dan cakap dalam pengelolaan sumberdaya perikanan sangat kurang.
Dalam penanaman modal asing di bidang perikanan, umumnya merupakan usaha
bersama antara pengusaha Indonesia dan
Jepang dan terutama ditujukan untuk eks-
3. Indonesia dan lembaga perikanan internasional.
Lembaga perikanan internasional yang
tugasnya berkaitan dengan pengelolaan perikanan di Laut Cina Selatan umumnya dan
Asia Tenggara khususnya ada tiga yaitu :
a. Indo—Pacific Fisheries Council (IPFC).
Lembaga ini merupakan International Agreement yang dibentuk pada tahun 1948 dan
disponsori oleh FAO. Kegiatan sekretariat
dilakukan di Markas Besar FAO di Roma
dan regional office untuk Asia dan Timur
Jauh berkedudukan di Bangkok (Thailand).
Anggota IPFC ialah Amerika Serikat, Australia, Belanda, Burma, Filipina, India, Indone-
115
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
sia, Inggeris, Jepang, Khmer, Korea Selatan,
Malaysia, Pakistan, Perancis, Selandia Baru,
Srilangka, Thailand dan Vietnam. Perairan
yang dikelola adalah wilayah Indo-Pacific
dengan segala sumberdayanya. Tujuan didirikan IPFC adalah untuk memformulasikan
segala aspek masalah pengembangan dan
pemanfaatan sumberdaya; mengadakan penelitian dan pengembangan; dan mengumpulkan dan menyebarkan informasi.
Sejauh ini tampaknya IPFC kurang
berhasil dalam menanggulangi persoalan perikanan di Laut Cina Selatan karena (MARR
1976).
1) Beberapa negara anggota berada sangat
jauh dari Laut Cina Selatan sehingga
negara-negara anggota yang letaknya di
sekitar laut ini cenderung tidak rela per
soalan pengelolaan perikanannya dilimpahkankeDPFC.
2) Selama beberapa tahun, FAO kurang
memberikan tanggapan atas permohonan
IPFC yang ditujukan ke alamatnya de
ngan alasan anggaran terbatas.
3) Anggota sekretariat IPFC merupakan sebagian dari staf FAO.
c. South-east Asian Fisheries Development
Center (SEAFDEC). Anggota lembaga perikanan ini adalah Filipina, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam Selatan. Lembaga ini umumnya bergerak dalam bidang penataran seperti Fishermen's
Training Center di Thailand, Research
Training Center di Singapura dan Aquaculture Training Center di Filipina.
KESIMPULAN DAN PENUTUP.
Dari perkembangan sejarah persetujuan perikanan ternyata bahwa baik yang bilateral maupun multilateral umumnya bertitik tolak dari masalah ekonomi, politik
dan konservasi. Masalah ekonomi timbul
karena adanya persaingan antara nelayan
dari berbagai bangsa yang menangkap ikan
di perairan yang sama atau nelayan suatu
negara menangkap ikan di perairan pantai
negara lain. Untuk melindungi hasil tangkapan bagi nelayannya sendiri maka negaranegara yang berkepentingan mengadakan
persetujuan. Mengenai masalah politik adalah dengan penetapan batas perairan suatu
negara dengan tujuan melindungi kekayaan
sumberdaya hayatinya dari pengeksploitasian negara lain. Sedang masalah konservasi
biasanya berlaku pada perairan di luar laut
teritorial. Caranya dengan persetujuan bilateral atau multilateral dengan penentuan
fixed quota yang dikombinasikan dengan
sistem closed season atau dengan prinsip
keabstenan. Prinsip ini menetapkan bahwa
apabila suatu stock ikan telah dieksploitasi
secara penuh dengan landasan tangkapan
maksimum lestari maka negara yang tidak
turut dalam persetujuan dilarang memasuki
perairan itu (BAYITCH 1956 dalam WIDODO 1973).
Jelas negara-negara di sekitar Laut Cina Selatan tidak ikhlas untuk memberikan wewenang dan tanggung jawab kepada mereka
yang tidak dapat diawasi itu.
b. UND/FAO South China Sea fisheries
Development and Coordinating Programme.
Lembaga ini antara lain bertujuan untuk
membantu pengelolaan stock secara rasional
dan membatasi alat penangkapan yang berlebih (overcapitalization). Tidak semua negara yang berdekatan dengan Laut Cina Selatan menjadi anggotanya seperti Brunei
Darussalam, Indonesia, Laos, RRC, Taiwan
dan Vietnam Utara. Staf lembaga ini dibayar
dari anggaran UNDP/FAO dan tidak di bawah pengawasan negara-negara di sekitar
laut itu.
116
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
DAFTAR PUSTAKA
Pada umumnya lembaga perikanan
internasional itu dibentuk sesudah Perang
Dunia II dan sebagian besar menangani
perikanan laut. Sungguhpun lembaga perikanan itu sudah terbentuk tetapi dalam kenyataan kurang berfungsi seperti yang diharapkan. Hal ini disebabkan lembaga perikanan itu tidak mempunyai kekuasaan
atau tenaga ekskutif untuk melaksanakan
peraturan yang ada; adanya kecurigaan dan
persaingan antar negara; kerusakan sumberdaya perikanan tidak segera disadari karena
teijadi di bawah permukaan air; dan banyak
berdiri perusahaan perikanan baru (Me
CONNAUGHEY1978).
Untuk pengelolaan perikanan di tingkat internasional, cara yang paling sederhana adalah dengan persetujuan bilateral.
Dalam persetujuan ini, kedua negara dapat
menentukan pengelolaan sumberdaya perikanan tertentu atau sumberdaya perikanan
di perairan tertentu. Dengan demikian informasi yang diperlukan untuk mengambil
keputusan dalam pengelolaan dapat segera
diperoleh. Persetujuan bilateral ini dapat
ditingkatkan menjadi multilateral apabila
dirasakan memang bermanfaat (MARR
1976).
Betapapun baiknya segala rencana dan
peraturan yang ada, semua itu tidak akan
mencapai sasaran apabila tidak disertai
kesadaran dan itikad yang luhur. Sedang itikat itu mudah luntur kalau motivasinya
keuntungan. Jadi yang sangat penting dalam
pengelolaan sumberdaya perikanan adalah
mengelola manusia yang teriibat dalam
pengelolaan sumberdaya perikanan itu sendiri.
ANWAR, A. 1979. Ekonomi sumberdaya.
Bahan kuliah Pasca Sarjana — IPB.
CHAPMAN WJVI. 1970. Some problems
and programmes in fishery oceanography. In "Fisheries oceanography" (T.
LAEVASTU & I. HELA, eds.). New
Ocean Environmental Services. Fishing
News (books) Ltd., London : 238 p.
DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN
1976. Laut sebagai sumberdaya hayati
ditinjau dari aspek kelembagaan dan
management. Proceeding Seminar Pencemaran Laut, Buku II: 142-149.
GULLAND, J.A. and J.E. CARROZ 1968.
Management of fishery resources. Adv.
Mar. Biol 6 : 1 -71.
GULLAND, J.A. 1974. The management of
marine fisheries. Univ. Wash. Press,
Seattle : 198 p.
HONDA, K. 1973. Fishery joint ventures
in developing countries. J. Fish. Res.
Board Canada 30 (12) : 2328 - 2332.
KASAHARA, H. 1972. International fishery
dispute. In "World fisheries policy" (B.J.
ROTHSCHILD ed.). Univ. Washing.
Press : 14-34.
MARR, J.C. 1976. Fishery resource management in South-east Asia. RFF/PISKA
Paper 1 : 62 p.
WIDODO, R. 1973. Komisi-komisi perikanan internasional. Tesis Sarjana Perikanan, Fak. Perikanan - EPB : 28 hal.
ZACHMAN, N. 1973. Fisheres development and management in Indonesia.
J. Fish. Res. Board Canada 30 (12) :
2335-2340.
117
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Lampiran 1.
Lembaga perikanan internasional yang mengeloia perikanan laut menurut geografi dan fungsinya (CHAPMAN 1970 dan GULLAND 1974).
A. Samudera Atlantik
118
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
119
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
E. Samudera Pasifik
120
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
E. Samudera Pasifik (Sambungan)
F. Untuk Seluruh Samudera
121
Oseana, Volume XVII No. 3, 1992
Download