2. komunikasi non verbal - Universitas Mercu Buana

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Etik UMB
KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
Fakultas
Program Studi
Ekonomi Bisnis
Manajemen
Tatap Muka
05
Kode MK
Disusun Oleh
Kode MK
Ari Sulistyanto
Abstract
Kompetensi
Komunikasi efektif, komunikasi ruang
Mampu menjelaskan proses dan unsurunsur komunikasi dan mampu
menjalankan komunikasi yang efektif.
Pembahasan
A. Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari perkataan Latin “communicatio” yang berarti
pemberitahuan atau pertukaran pikiran(Cangara:2013:77). . Istilah communicatio tersebut
bersumber dari kata “communis” yang berarti sama, yang dimaksud dengan sama di sini
ialah sama makna atau pendapat. Dalam perkembangan selanjutnya komunikasi diartikan
sebagai sebagai proses mentransfer fakta, data atau informasi yang dikemas sebagai pesan
dari satu pihak, yang biasa disebut pengirim, kepada pihak lain sebagai penerima. Dengan
diterimanya pesan tersebut diharapkan oleh pengirim, agar penerima dapat memahami,
dapat menerima atau menyetujui pesan yang ditransfer dan terjadi persamaan pendapat
antara “pengirim” dan “penerima”.
Murphy mengatakan: komunikasi adalah seluruh proses yang diperlukan untuk
mencapai pikiran-pikiran yang dimaksud oleh orang lain( 1957: 5). Sedangkan
Stoner,
Freeman, dan Gilbert (dalam Sule & Trisnawati 1995: 295) mendefinisikan “komunikasi
sebagai the process by which people attempt to share meaning via the transmission of
symbolic messages”. (Komunikasi adalah proses dimana seseorang berusaha untuk
memberikan pengertian atau pesan kepada orang lain melalui pesan simbolis. Komunikasi
bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, dengan menggunakan berbagai
media komunikasi yang tersedia)
Hovland, Janis dan Kolley seperti dikutip Forsdale (1981) Komunikasi adalah proses
individu mengirim stimulus yang biasanya dalam bentuk verbal untuk mengubah tingkah
laku orang lain. Pendapat ini memandang komunikasi sebagai suatu proses.
Proses komunikasi terdiri dari tujuh unsur utama, yaitu:
1. Pengirim
Pengirim adalah orang yang memiliki informasi dan kehendak untuk menyampaikannya
kepada orang lain. Pengirim atau komunikator dalam organisasi bisa karyawan dan bisa
juga pimpinan
2. Penyandian (encording)
Penyandian merupakan proses mengubah informasi ke dalam isyarat-isyarat atau
symbol-simbol tertentu untuk ditransmisikan. Proses penyandian ini dilakukan oleh
pengirim
3. Pesan
2015
2
Etik UMB
Ari Sulistyanto, S.Sos. M.i Kom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Pesan adalah informasi yang hendak disampaikan pengirim kepada penerima. Sebagian
besar pesan dalam bentuk kata, baik berupa ucapan maupun tulisan. Akan tetapi
beraneka ragam perilaku non-verbal dapat juga digunakan untuk menyampaikan pesan,
seperti gerakan tubuh, raut muka dan lain sebagainya
4. Saluran
Saluran atau sering juga disebut dengan media adalah alat dengan mana pesan
berpindah dari pengirim ke penerima. Saluran merupakan jalan yang dilalui informasi
secara fisik.
5. Penerima
Penerima adalah orang yang menerima informasi dari pengirim. Penerima melakukan
proses penafsiran atas informasi yang diterima dari pengirim
6. Penafsiran
Penafsiran (decording) adalah proses menerjemahkan menguraikan sandi-sandi) pesan
dari pengirim. Sebagian besar proses decording dilakukan dalam bentuk menafsirkan isi
pesan oleh penerima
7. Umpan balik
Umpan balik (feedback) pada dasarnya merupakan tanggapan penerima atas informasi
yang disampaikan pengirim. Umpan balik hanya terjadi pada komunikasi dua arah.
Umpan balik yang diterima komunikator dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam
menentukan apakah pesan telah diterima dan menghasilkan tanggapan sesuai dengan
yang diinginkan atau apakah meaning pesan yang diinterpretasi oleh komunikan sesuai
dengan meaning pesan yang dimaksudkan oleh komunikator.
Dalam proses komunikasi telah diutarakan bahwa pengiriman suatu pesan
disampaikan melalui saluran media komunikasi. Media komunikasi merupakan sarana yang
dipergunakan dalam proses pengiriman pesan. Media komunikasi sebagai sarana untuk
menyampaikan atau menyalurkan pesan itu dapat berupa:
1. Media Tulisan; Berupa surat, telegram, papan pengumuman, majalah, surat kabar dan
lain-lain.
2. Media Visual; berbentuk gambar, grafik, foto dan lain-lain
3. Media Audio; berupa suara seperti telepon, radio dan lain-lain
4. Media Audio Visual; berupa kombinasi gambar dan suara, contohnya televisi dan film.
2015
3
Etik UMB
Ari Sulistyanto, S.Sos. M.i Kom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
B. STRATEGI KOMUNIKASI EFEKTIF
Ada empat tujuan dalam strategi komunikasi sebagai berikut (dalam Effendy ,
2005:33)
(1) To Secure Understanding yaitu untuk memastikan bahwa terjadi suatu pengertian
dalam berkomunikasi.
(2)
To Establish Acceptance, yaitu bagaimana cara penerimaan itu terus dibina
dengan baik.
(3) To Motivate Action yaitu penggiatan untuk memotivasinya, dan
(4) To Goals Which Communicator Sought To Achieve yaitu bagaimana mencapai
tujuan yang hendak dicapai oleh pihak komunikator dari proses komunikasi
tersebut.
Strategi juga memiliki fungsi ganda sebagaimana dijelaskan oleh Effendy
(2005:32) yaitu:
1. Menyebarluaskan pesan komunikasi yang bersifat informatif, persuasif, dan instruktif
secara sistematik kepada sasaran untuk memperoleh hasil yang optimal.
2. Menjembatani ”cultural gap”, yaitu kondisi yang terjadi akibat kemudahan
diperolehnya dan kemudahan dioperasionalkannya media yang begitu ampuh, yang
jika dibiarkan akan merusak nilai-nilai yang dibangun.
C. KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL DALAM BISNIS
Ada dua bentuk komunikasi yang lazim digunakan, yakni komunikasi verbal dan
komunikais non verbal. Komunikasi verbal ( verbal communication ) adalah bentuk
komunikasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan dengan cara tertulis
(written) atau lisan (oral). Sepasang kekasih ber sms- an tiap hari, seorang presenter
membawakan acara musik di stasion televisi, seorang wartawan menulis berita atau
opininya di surat kabar, atau seorang ayah menelpon anaknya, itu merupakan sebagian
kecil contoh komunikasi verbal.
1. Komunikasi Verbal
Dalam
dunia
bisnis,
komunikasi
verbal
menempati
porsi
besar.
Karena
kenyataannya, ide-ide, pemikiran atau keputusan, lebih mudah disampaikan secara
verbal ketimbang non verbal. Dengan harapan, komunikan (baik pendengar maun
pembaca ) bisa lebih mudah memahami pesan-pesan yang disampaikan.
2015
4
Etik UMB
Ari Sulistyanto, S.Sos. M.i Kom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Prakteknya, komunikais verbal bisa dilakukan dengan cara : Berbicara dan menulis.
Umumnya untuk menyampaikan bussines message,orang cenderung lebih menyukai
speaking (berbicara) ketimbang (writing ). Selain karena alasan praktis, speaking
dianggap lebih mudah “menyentuh” sasaran karena langsung didengar komunikan.
Namun bukan berarti pesan tertulis tidak penting. Untuk menyampaikan pesan bisnis
yang panjang dan memerlukan pemahaman dan pengkajian matang, diperlukan pula
penyampaian writing. Semisal penyampaian bussines report. Sangat tidak mungkin jika
hanya disampaikan dengan berbicara.
Mendengarkan dan membaca. Kenyataan menunjukkan, pelaku bisnis lebih sering
mendapatkan informasi ketimbang menyampaikan informasi. Dan aktivitas penerimaan
informasi.pesan bisnis ini dilakukan lewat proses (listening) mendengarkan dan membaca
(reading). Sayangnya, kenyataan juga menunjukkan, masih banyak di antara kalangan
bisnis yang tidak memiliki kemampuan dan kemauan memadai untuk melakukan proses
reading dan listening ini. Sehingga pesan penting sering hanya berlalu begitu saja, dan
hanya sebagian kecil yang tercerna dengan baik.
2. KOMUNIKASI NON VERBAL
Meski jarang disadari diyakini manfaatnya, Komunikais non verbal ( non verbal
communicarion) menempati porsi penting. Banyak komunikasi verbal tidak efektif hanya
karena komunikatornya tidak menggunakan komunikasi non verbal dengan baik dalam
waktu bersamaan.Melalui komunikasi non verbal, orang bisa mengambil suatu
kesimpulan mengenainsuatu kesimpulan tentang berbagai macam persaan orang, baik
rasa senang, benci, cinta, kangen dan berbagai macam perasaan lainnya. Kaitannya
dengan dunia bisnis, komunikasi non verbal bisa membantu komunikator untuk lebih
memperkuat pesan yang disampaikan sekaligus memahami reaksi komunikan saat
menerima pesan.
Bentuk komunikasi non verbal sendiri di antaranya adalah, bahasa isyarat, ekspresi
wajah, sandi, symbol-simbol, pakaian sergam, warna dan intonasi suara.
Tujuan komunikais non verbal ;
- Menyediakan/memberikan informasi
- Mengatur alur suatu percakapan
- Mengekspresikan suatu emosi
- Memberi sifat, melengkapi, menentang atau mengembangkankan pesan-pesan verbal.
- Mengendalikan atau mempersuasi orang lain
- Mempermudah tugas-tugas khusus, misalnya dalam mengajar seseorang untuk
melakukan serve badminton, belajar golf dan sejenisnya.
2015
5
Etik UMB
Ari Sulistyanto, S.Sos. M.i Kom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Lebih jauh, relevansi komunikasi non verbal dalam dunia bisnis, komunikasi non verbal
yang disampaikan dengan baik akan mampu membantu seseorang meningkatkan
kredibilitas dan potensi leadeship, selain tentunya akan mempermudah proses
penyampaian pesan inti kepada komunikan.
D. KOMUNIKASI RUANG
Komunikasi ruang sering di namai prosemik (prosemic) sebuah istilah yang di
perkenalkan oleh Edward T. Hall, membagi dalam bentuk ruang:
a. Jarak Intim
Dalam jarak intim mulai dari fase dekat (bersentuhan sampai ke fase jauh sekitar 15
sampai 45 cm, kehadiran seseorang sangat jelas. Masing-masing pihak dapat
mendengar, mencium, dan merasakan napas yang lain. Kita menggunakan fasa dekat
bila sedang bercumbu dan bergulat, untuk menenangkan dan melindungi. Dalam fasa
dekat otot-otot dan kulit berkomunikasi, sedangkan verbalisasi aktual hanya sedikit saja
perannya. Dalam fasa dekat ini bahkan suara bisikan mempunyai efek memperbesarjarak
psikologis antara kedua orang yang terlibat.
Fasa jauh memungkinkan kita untuk saling menyentuh dengan mengulurkan
tangan. Jarak ini masih terlalu dekat sehingga dipandang tidak patut di muka umum.
Karena perasaan ketidak-patutan dan ketidak-nyamanan (setidak-tidaknya bagi orang
Amerika), mata jarang sekali saling menatap. Mata terpaku pada obyek lain yang berjarak
cukup jauh.
b. Jarak Pribadi (Personal Distance).
Kita semua memiliki daerah yang kita sebuJt jarak pribadi Daerah ini melindungi kita dari
sentuhan orang lain. Dalamfasa dekat jarak pribadi ini (antara 45 sampai 75 cm.), kita
masih dapat saling menyentuh atau memegang tetapi hanya dengan
mengulurkan
tangan kita. Kemudian kita dapat melindungi orang-orang tertentu - misalnya, kekasih.
Dalam fasa jauh (dari 75 sampai 120 cm.), dua orang dapat saling menyentuh hanya jika
merekakeduarrya mengulurkan tangan Fasa jauh ini menggambarkan sejauh mana kita
dapat secara fisik menjangkaukan tangan kita untuk
meraih sesuatu. Jadi, fasa ini
menentukan, dalam artian tertentu, batas kendali fisik kita atas orang lain.
Dalam jarak ini kita masih dapat melihat banyak detil dari seseorang - rambut yang
beruban, gigi yang kuning, pakaian yang kusut, dan sebagainya. Tetapi, kita tidak lagi
dapat mendeteksi hangat tubuh. Kadang-kadang kitamasih dapat mencium bau napas,
tetapi pada jarak ini etiket mengharuskan kita untuk mengarahkan napas ke bagian netral
2015
6
Etik UMB
Ari Sulistyanto, S.Sos. M.i Kom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sehingga tidak mengganggu lawan bicara (seperti yang sering kita lihat dalam iklan
televisi).
Bila ruang pribadi diganggu, kita sering merasa tidak nyaman dan tegang. Bila orang
berdiri terlalu dekat, pembicaraan kita dapat terganggu, tidak mantap, terguncang, dan
terputus-putus. Kita mungkin sukar memelihara kontak mata dan mungkin sering
menghindari tatapan langsung. Ketidak-nyamanan ini mungkin juga terungkap dalam
bentuk gerakan tubuh yang berlebihan. Pada saat yang lain kita tidak berkeberatan
dengan invasi ke dalam ruang pribadi. Sebagai contoh, bila orang lain memasuki daerah
pribadi dalam pesta yang ramai, tidak ada perasaan tegang atau tidak nyaman. Begitu
pula, bila orang yang kita sukai memasuki daerah pribadi kita. Kita tidak akan merasakan
ketidak-nyamanan.
c. Jarak Sosial.
Dalam jarak social kita kehilangan detil visual yang kitaperoleh dalam jarak pribadi. Fasa
dekat (dari 120 sampai 210 cm) adalah jarak yang kita gunakan bila melakukan
pertemuan bisnis dan interaksi pada pertemuan-pertemuanyang bersifat sosial. Fasa jauh
(dari 2 l0 sampai 360 cm) adalah jarak yang kita pelihara bila seseorang berkata,
"Menjauhlah agar saya dapat memandangmu." Pada jarak ini transaksi bisnis
mempunyai nada yang lebih resmi. Di kantor pejabat- pejabat tinggi meja-meja
ditempatkan sedemikian hingga sipejabat memastikan jarak ini bila sedang berunding
dengan klien. Tidak seperti jarak intim, di mana kontak mata terasa janggal, fasa jauh dari
jarak sosial membuat kontak mata sangat penting; jika tidak, komunikasi akan hilang.
Suara pada umumnya lebih keras dari biasa pada jarak ini. Tetapi berteriak atau
menaikkan suara, akan mempunyai efek mengurangi jarak sosial ini ke arah pribadi.
d. Jarak Publik.
Pada fasa dekat dari jarak publik (dari 360 sampai 450 cm.) orang terlindung oleh jarak.
Pada jarak ini seseorang dapat mengambil tindakan defensif bila terancam. Dalam bis
kota atau kereta, misalnya, kita mungkin mengambil jarak ini dari orang yang sedang
mabuk. Walaupun pada jarak ini kita tidak dapat mengamati secara detil wajah dan
mata orang itu, kita masih cukup dekat untuk melihat apa yang sedang berlangsung.
Pada fasa (lebih dari 750 cm.), kita melihat orang-orang tidak sebagai individu yang
terpisah, melainkan sebagai bagian dari suatu kesatuan yang lengkap. Kita secara
otomatis mengambil jarak sekitar 9 meter dari seorang tokoh penting. Dan, tampaknya
kita melakukan ini terlepas dari apakah tokoh itu. Fasa jauh atau tidak. Fasa jauh ini
merupakan jarak yang diambil seorang aktor untuk beraksi di panggung. Pada jarak ini,
gerak-gerik maupun suara harus sedikit berlebihan agar tertangkap secara detil.
2015
7
Etik UMB
Ari Sulistyanto, S.Sos. M.i Kom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI RUANG
Beberapa factor mempunyai pengaruh atas cara kita memanfaatkan ruang dalam
komunikasi. Beberapa generalisasi khususnya penting bagi komunikasi.
a. Status.
Orang dengan status yang setara menjaga jarak yang lebih dekat di antara mereka
ketimbang orang dengan status yang berbeda. Bila status tidak sama, orang dengan
status yang lebih tinggi mungkin mendekati
orang yang berstatus lebih rendah Iebih
rapat ketimbang orang dengan status lebih rendah mendekati orang yang berstatus lebih
tinggi.
b. Kultur .
Orang Amerika berdiri cukup jauh bila sedang bercakap- cakap, setidak-tidaknya jika di
bandingkan
dengan orang Eropa tertentu dan orang Timur Tengah. Orang Arab,
Misalnya, berdiri cukup dekat satu sama lain ketimbang orang Amerika. Orang Italia dan
Spanyol mengambil jarak yang relative berdekatan bila berinteraksi ketimbang banyak
orang Eropa Utara.
c. Konteks
Umumnya, makin besar ruang fisik tempat kita berada, makin kecil jarak antar pribadi.
Misalnya , jarak antara dua orang yang berbincang-bincang di jalan akan lebih kecil
ketimbang di rumah . Jarak ini akan lebih kecil di ruangan yang besar ketimbang di
ruangan yang kecil. Makin besar ruangan, kelihatannya kita makin merasa perlu saling
mendekatkan diri untuk membuat konteks komunikasi terkendali.
d. Masalah Yang Di Bahas
Jika kita membicarakan masalah pribadi atau sedang berbagi rahasia, kita mengambil
jarak yang dekat. Bila kita membicarakan hal-hal umum yang tidak pribadi, jarak yang kita
ambil
biasanya lebih besar. Secara psikologis, tampaknya kita berusaha mencegah
orang lain ikut mendengarkan meskipun secara fisik tidak seorang pun yang berada
dalam jarak pendengaran. Kita ingin menjaga jangan sampai pujian itu jatuh ke orang
lain jarak yang lebih dekat jika sedang dipuji ketimbang jika sedang ditegur - barangkali
kita ingin menjaga jangan sampai pujian itu jatuh ke orang lain. Dan barangkali kita
mencoba menjauhkan diri (secaa fisik) dari teguran.
e. Usia Dan Jenis Kelamin
Wanita berdiri lebih berdekatan satu sama lain ketimbang pria. Pasangan dari jenis
kelamin yang berbeda berdiri berjauhan. Demikian pula, kultur Amerika lebih
memungkinkan kaum wanita saling menyentuh satu sama lain ketimbang kaum pria dan
2015
8
Etik UMB
Ari Sulistyanto, S.Sos. M.i Kom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
pasangan pembicara-pendengar yang berlainan
jenis. Anak-anak berdiri lebih
berdekatan satu sama lain ketimbang kaum dewasa. Ini menunjukan bahwa menjaga
jarak merupakan perilaku yang dipelajari.
F. Penilaian Tentang Efektivitas Komunikasi
Efektivitas komunikasi dapat di nilai dari :(Joseph A. DeVito, Komunikasi Antar
Manusia:223:2005)
a. Daya Persuasi dan Kredibilitas.
Riset yang diselenggarakan untuk meneliti kecepatan menunjukkan bahwa pada
komunikasi satu arah (bila satu orang memguasai pembicaraan dan orang lain hanya
mendengarkan), mereka yang berbicara cepat lebih persuasive dan di nilai lebih
tinggi daari pada mereka yang berbicara dengan kecepatan normal aiau di bawah
normal. Temuan ini benar terrlepas dari apakah pembicaraan itu memang cepat atau
dipercepat secara elektronika.
Dalam sebuah eksperimen, misalnya, para responden (subyek) mendengarkan
pesan rekaman dan kemudian memperlihatkan tingkat kesependapatan mereka
dengan pesan itu serta opini mereka tentang kecerdasan dan obyektivitas pembicara.
Kecepatan bicara 111,l40 (kecepatan bicara rata-rata), dan 191 kata per menit
digunakan. Responden paling sependapat dengan yang paling cepat dan paling tidak
sependapat dengan pembicaraan yang paling lambat. Selanjutnya, mereka menilai
pembicara tercepat sebagai paling cerdas dan obyektif. Mereka menilai pembicara
paling lambat sebagai paling tidak cerdas dan paling tidak obyektif. Bahkan bila
pembicara diperlihatkan memiliki sesuatu untuk diperoleh secara pribadi dari persuasi
(seperti, misalnya, dealer mobil bekas), kecepatan bicara yang paling tinggi
merupakan yang paling persuasif.
b. Pemahaman.
Bila kita melihat p'emahainan, pembicaraan cepat menunjukkan efek yang
menarik. Responden yang mendengarkan pembicaraan dengan kecepatan berbedabeda
diukur
tingkat
pemahamannya
dengan
tes
pilihan
berganda.
Periset
menggunakan kecepatan l4l kata per menit sebagai kecepatan rata-rata dan
menetapkan pemahaman pada kdcepatan ini sebagai 100 %. Bila mereka
meningkatkan kecepatan sampai 201 kata per menit pemahaman adalah 95 %. Bila
mereka terus meningkatkan kecepatan sampai 282 kata per menit (artinya, dua kali
lipat dari kecepatan normal), pemahaman adalah 90 %. Meskipun kecepatan
ditingkatkan secara dramatis, tingkat pemahaman hanya turun sedikit. Penurunan 5
dan 10 persen ini teratasi dengan kecepatan yang lebih tinggi dan dengan demikian
2015
9
Etik UMB
Ari Sulistyanto, S.Sos. M.i Kom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
membuat kecepatan yang lebih tinggi jauh lebih efisien dalam mengkomunikasikan
informasi. Tetapi jika kecepatan ditambah sampai lebih dari dua kali lipat kecepatan
normal, pemahaman akan mulai turun secara dramatis.
c. Preferensi.
Kebanyakan pendengar lebih menyukai kecepatan yang sedikit lebih tinggi
daripada kecepatan normal. Sebagai contoh, bila responden dapat mengatur
kecepatan pesan yang mereka dengarkan, mereka menyetelnya sampai sekitar 25 %
lebih cepat daripada kecepatan normal. Begitu juga, orang merasa bahwa iklan yang
disajikan dengan kecepatan 25 % lebih cepat daripada kecepatan normal lebih
menarik ketimbang iklan yang disajikan dengan kecepatan normal. Selanjutnya,
tingkat perhatian (yang di indeks dengan jumlah aktivitas listrik yang diukur dengan
elektroda yang dipasang pada dahi responden) lebih besar untuk kecepatan tinggi.
Tetapi kita perlu hati-hati dalam menerapkan riset ini untuk komunikasi antarpribadi.
Seperti dikatakan John MacLachlan (1979), selama waktu pembicara berbicara,
pendengar memikirkan dan menyusun tanggapan. Jika pembicara berbicara terlalu
cepat, mungkin tidak cukup waktu untuk menyusun tanggapan ini. Akibatnya,
pendengar dapat menjadi marah. Apalagi, kecepatan yang bertambah mungkin terasa
begitu tidak wajar sehingga pendengar mungkin lebih terpaku pada kecepatan bicara
ketimbang pada pemikiran yang diutarakan" Tetapi, pada komunikasi satu arah,
khususnya pada komunikasi masa, jelas bahwa pertambahan kecepatan bicara akan
menjadi semakin populer.
Daftar Pustaka
Ardianto, Elvinaro &Bambang Q-Anees,( 2007) Filsafat Ilmu Komunikasi, Simbiosa
Rekatama Media, Bandung,
Berger,Peter L & Thomas Luchman, (1967)The Social Construction Of Reality, NY: A
Double Day Anchor Book,
De Vito, Joseph, (1997) Komunik,asi Antar Manusia, Profesional Book, Jakarta, a
Fiske, John, (1990) Culural And Comunication, Jalasutera, Yogyakarta,
2015
10
Etik UMB
Ari Sulistyanto, S.Sos. M.i Kom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download