DALIL SOSIOLOGI PENGETAHUAN DALAM TEORI

advertisement
3
DALIL SOSIOLOGI PENGETAHUAN
DALAM TEORI POLITIK
Pengantar.
Untuk membahas masalah sosiologi pengetahuan ini, akan diawali dengan
sebuah cerita. Di sebuah negara totaliter, seorang pejabat negara datang menemui
seorang petani miskin. Dia ingin menguji kadar patriotisme warganya ini. Mulailah
dia dengan pertanyaan:
"Saudara, apakah anda rela mengorbankan tanah anda untuk negara?"
"Slap," jawab si petani.
"Bagaimana dengan rumah anda?"
"Slap!"
"Tentunya anda juga rela mengorbankan ayam dan itik anda untuk
kepentingan negara?"
"Tidak!"
Si pejabat terperanjat. Dengan penuh keheranan, dia lalu bertanya:
"Lho, mengapa tidak?"
Si petani miskin dengan tenang menjawab;
"Karena saya memiliki ayam dan itik.
Kisah diatas menunjukkan bahwa pemikiran seseorang tidak bisa dilepaskan
dari eksistensi kehidupannya. Pemikiran seseorang tidak terlepas dari apa yang dia miliki
di dunia ini, dari apa yang dia cintai, dari apa yang menjadi kepentingannya. Pemikiran
seseorang
menentukan
pengetahuannya.
Antara
pengetahuan
seseorang
dan
eksistensinya sebagai manusia terdapat hubungan yang erat. Kenyataan inilah yang
menjadi pusat perhatian dari sebuah cabang sosiologi modern yang dinamakan sebagai
Sosiologi Pengetahuan.
Universitas Gadjah Mada
Dahl Sosiologi Pengetahuan.
Sosiologi Pegnetahuan merupakan sebuah ilmu yang antara lain dirintis oleh
Karl Nabbheim. Dalam bukunya menjadi klasik, Ideology and Utopia. An Introduction to
the Sociology of Knowledge yang terjemahannya sedang anda baca. Mannheim
mengatakan:
"Sosiologi Pengetahuan adalah salah satu dari cabang-cabang ini berusasha
menganalisis kaitan antara pengetahuan dan eksistensi; sebagai riset sosiologishistoris, cabang ini berusaha menelusuri bentuk-bentuk yang diambil oleh kaitan itu
dalam perkembangan intelektual manusia".
Sudah sangat lama terdapat anggaran bahwa pengetahuan yang benar adalah
pengetahuan di mana tidak terdapat hubungan antara subyek yang mengetahui dan
obyek yang diketahui. Dengan demikian, masalah pengetahuan manusia adalah
bagaimana cara menangkap fakta obyektif, yang menunggu di luar subyektivitas
manusia, tanpa dicampuri unsur subyektivitas ini. Katanya, hal ini bisa dicapai kalau
kita menggunakan cara berfikir yang logis dan ilmiah. Kalau aturan-aturan cara berfikir
logis dan ilmiah ini diikuti dengan ketat pengetahuan yang obyektif bisa diperoleh.
Dengan demikian, perdebatan ilmu pengetahuan berkisar pada apakah
pengetahuan yang ada pada manusia merupakan pengetahuan yang obyektif atau
tidak, dan bagaimana mencapai pengetahuan yang obyektif ini memalui metodologi
berfikir yang benar. Hanya pengetahuan yang obyektiflah yang bisa bersifat absolut
dan universal, artinya benar untuk segala zaman dan segala tempat.
Tapi,
kalau
pengetahuan
manusia
sudah
dicampuri
oleh
perasaan,
kepentingan, dan faktor-faktor subyektif lainya dari individu sipemikir, pengetahuannya
sudah tidak bisa bersifat absolut dan universal, karena sifatnya yang subyektif.
Pengetahuan yang memang dipakai (sadar atau tidak) untuk menipu orang demi
kepentingan si pembuat atau penganut ideologi tersebut. Ideologi adalah pengetahuan
yang subyektif, dan karena itu, salah.
Bagi Sosiologi Pengetahuan, persoalannya tidaklah sederhana ini. Pertanyaan
yang diajukan: Dapatkah pengetahuan manusia dilepaskan dari unsur subyektivitasnya:
Sosiologi Pengetahuan menjawabnya dengan jawaban yang
Universitas Gadjah Mada
negatif. Pengetahuan manusia tidak bisa lepas dari subyektivitas individu yang
mengetahuinya. Pengetahuan dan eksistensi merupakan dua hal yang tidak bisa
dipisahkan. Semua manusia akan menangkap realitas berdasarkan perspektif dirinya.
Latar belakang sosial dan psikologi individu yang mengetahui tidak bisa ditepaskan
dalam proses terjadinya pengetahuan. Kata Mannheim: "Ringkasnya: pendekatan
pada suatu masalah, pada tahap abtraksi dan tahap kekonkretan yang diharapkan
orang untuk mencapai, semuanya dan dengan cara yang sama terkait dengan
kehidupan sosial".
Dengan demikian, daripada kita terlibat pada perdebatan yang mana di antara
dua pendapat yang merupakan pendapat yang benar (yang obyektif), lebih baik kita
menjelaskan hubungan antara pengetahuan tersebut perspektif psikologi dan sosial dari
manusia yang memproduksi pengetahuan tersebut. Pengertian kita akan jauh bertambah
tentang permasalahannya bila kita mengetahui hubungan - hubungan yang ada antara
pengetahuan manusia dan eksistensinya.
Tapi, apakah kita tidak akan terjebak kepada relativisme kebenaran pengetahuan?
Relativisme kebenaran pengetahuan terjadi, kalau kita mempunyai asumsi bahwa ada
kebenaran absolut. "Pernyataan itu menjadi relativisme hanya bila terkait dengan citacita statis kuno tentang kebenaran-kebenaran abadi yang tidak memiliki perspektif yang
indenpenden dari pengalaman subyektif pengamat, dan bila nilai dengan cita-cita
kebenaran absolut yang asing ini".
Tapi,
kalau
kita
hanya
mau
melukiskan kesaling-terhubungan antara
pengetahuan dan perspektif si pengamat, yang terjadi bukanlah relativisme, melainkan
relasionisme. Pengertian kita tentang relasi atau kesaling-hubungan antara perspektif
si pengamat dan pengetahuannya merupakan sebuah pengetahuan yang sangat
berguna. Seperti yang dinyatakan oleh Mannheim:
Dalam kasus pikiran yang dikondisikan secara situasional, obyektivitas bisa
berarti sesuatu yang sangat baru dan berbeda:
1. Pertama-tama ada fakta bahwa sejauh pengamat-pengamat yang berbedabeda
tenggelam di dalam sistem yang sama, atas dasar identitas peralatan konseptual dan
kategorial mereka dan memalui semesta pembicaraan bersama yang dengan cara
itu diciptakan, akan sampai pada hasil-hasil yang sama, dan
Universitas Gadjah Mada
akan berada dalam suatu posisi untuk menghapus segala sesuatu yang
menyimpang dari: kesepakatan ini sebagai suatu kesalahan:
2. dan akhir-akhir ini ada suatu pengakuan atas fakta bahwa bila para pengamat
mempunyai perspektif yang berbeda-beda, "obyektivitas" dapat dicapai hanya
dalam suatu cara yang tidak langsung. Dalam kasus ini, apa yang sudah diketahui
secara betul tapi berbeda-beda oleh kedua perspektif itu harus dimengerti dalam
terang perbedaan-perbedaan dalam struktur bentuk-bentuk persepsi yang
berbeda-beda ini. Haruslah dibuat suatu usaha untuk menemukan sebuah
rumusan untuk menerjemahkan hasil-hasil yang satu ke dalam hasil-hasil
perspektif yang lain dan untuk menemukan suatu nama yang sama untuk tilikantilikan perspektivistis yang berbeda-beda ini. Sekali suatu nama bersama seperti
itu ditemukan, mungkinlah memisahkan perbedaanperbedaan yang mencolok dari
kedua pandangan dari unsur-unsur yang diketahui dan disalahartikan semaumaunya yang di sini pun harus dianggap sebagai kesalahan-kesalahan.
Justru, demikian Mannheim, dengan menyadari perspektif yang berbeda
dari masing-masing pengamat pengetahuan, kita bisa sampai kepada suatu
persetujuan, tanpa menyatakan pengetahuan siapa yang secara obyektif dan absolut
lebih benar. Inilah yang merupakan sumbangan besar dari ilmu sosial muda yang
disebut sebagai Sosiologi Pengetahuan.
Dalil Sosiologi Pengetahuan dan Teori Politik.
Proses munculnya suatu pengetahuan atau pemikiran, menurut dalil Sosiologi
Pengetahuan
sangat
berkaitan
dengan
latar
belakang
sosial
dari
individu,
psikologi/pengalaman hidup individu, dan peristiwa besar yang terjadi pada
kehidupannya. Prinsip ini sangat relevan untuk menjelaskan substansi sebuah teori
dan pemikiran politik.
Teori-teori dan pemikiran John Locke banyak yang terbangun melalui prinsip
dalil Sosiologi Pengetahuan ini.
Untuk memahami pemikiran Locke kita perlu memahami latar belakang kehidupan dan
zamannya. Locke dilahirkan 29 Agustus 1632 di Wringron, sebuah desa di Somerset
Utara, Inggris Barat. Ayahnya pengacara yang tidak begitu kaya. Masa-
Universitas Gadjah Mada
masa kecil Locke di Inggris, seperti juga yang dialami Hobbes, adalah masa tragis dan
ironis, Inggris sebagaimana banyak negara Eropa abad XVII dilanda perang saudara
dan perang agama antara kaum Protestan dan Katolisme. Misalnya, ketika ia berumur
10 tahun, terjadi perang antara kaum Puritan dengan Raja Charles I. Ayah Locke
berpihak pada kaum Puritan. Manusia sating membantai dan membunuh sesamanya,
tak peduli yang dibunuh itu saudaranya atau bukan. Tragedi itu membuat Locke
terguncang jiwanya sebab
Sebagaimana ia merasakan langsung akibat-akibat perang itu. Dan tragedi masa kecil
itu memberikan banyak pelajaran berharga bagi Locke. la mulai memahami betapa
pentingnya penghargaan terhadap kebebasan, demokrasi, pembatasan kekuasaan
dan toleransi agama.
Ketika tinggal di Wescminster, Locke dididik oleh guru-guru yang berhaluan
politik Royalis, musuh kaum Puritan. Raja Charles digulingkan oleh kaum Puritan. la
kemudian dieksekusi. Eksekusi itu membangkitkan simpati banyak kalangan muda
termasuk Locke, terhadap kaum Royalis. Sosialisasi Locke dalam keluarga Calvinis
(Puritan) dan pengaruh pendidikan Royalis membuat Locke beruntung mampu
mengambil manfaat dari keduanya. Ketika berusia 20 tahun Locke memasuki Universitas
Oxford
dan
mulai
berkenalan
dengan
Edward
Baghshave
yang
aktif
mempropagandakan toleransi agama, kebebasan politik, dan hak-hak alamiah, suatu
gagasan yang kemudian dilekatkan pada Locke.
Locke menyerang gagasan-gagasan liberalisme Baghshave melalui tulisantulisanya di tahun 1661, Locke, yang ketika itu masih berfikir konservatif, menilai bahwa
penguasa sipil memiliki hak untuk memaksakan konformitas demi terbentuknya suatu
tatanan keagamaan dalam masyarakat. Keduanya berdebat dan berpolemik panjang.
Baghshave gagal mempertahankan pandangan liberalismenya. la kemudian diusir dari
tempat tinggal di Chrirst christ dan meninggal dunia tak lama setelah itu. Setelah
koleganya itu meninggal dunia, terjadi transformasi intelektual pada Locke. Perlahan tapi
pasti, ia mulai menyetujui gagasan-gagasan 3aghshave.
Tokoh lain yang mempengaruhi Locke adalah Anthony Ashley Cooper yang
dijumpainya di musim panas 1666. Cooper, yang kemudian menjadi The First Earl
Shofresbury, adalah liberal terkemuka dan pembela gigih toleransi agama dan
Universitas Gadjah Mada
kebebasan individual. Persahabatan Locke dengannya demikian akrab terbukti
kemudian ia tinggal di rumah sahabatnya itu di London. Di masa inilah Locke menjadi
tutor di Christ Church mengajar filsafat tradisional Aristoteles yang dianggapnya hanya
membuang-buang waktu. Di masa ini pula Shafresbury memperkenalkan Locke
dengan
studi
ekonomi
dan
melibatkannya
mengelola
pemerinatahn
serta
menumbuhkan minat Locke pada kajian teori-teori politik. Wawasan intelektual Locke
pun semakin Was.
Locke berhenti mengajar filsafat Aristoteles dan mulai mempetajari filsafat
Descarres dan metode Cartesian yang amat berbeda dengan aliran pemikiran yang
diketahui sebelumnya.
Ia mendiskusikan berbagai
persoalan filsafat
dengan
Shafresbury dan koleganya yang lain. Dari diskusi-diskusi ini mulai ia terdorong untuk
menulisnya
gagasan-gagasannya.
Karyanya,
An
Essay
Concerning
Human
Understanding yang diselesaikannya 1687 dan dipublikasikan pada tahun 1690
merupakan produk awal dari diskusi-diskusi dengan Shafresbury dan kolegakoleganya.
Sejak itu ia mulai tertibat dalam kegiatan politik Inggris.
Shafresbury dan Locke dituduh terlibat aksi pemberontakan menumbangkan
kekuasaan raja Inggris dan penghujatan terhadap agama. Tuduhan itu membuat
keduanya harus mengungsi ke negeri Belanda, 1683. Keharusan untuk mengungsi tidak
membuat Locke berhenti berfikir, berdiskusi dengan sahabat-sahabatnya, dan menulis. Ia
terus menulis gagasan-gagasannya. Maka tidak mengejutkan bila masa-masa
pengungsian itulah (1687-1689) lahir katya-karya besarnya seperti Two Treatises of
Government (1690), A Letter on Toleration (1689), dan Some Thoughts Concerning
Education (1693).
Universitas Gadjah Mada
Download