Modul Marcomm Management [TM2]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
MARKETINGG
COMMUNICATION
MANAGEMENT
Modul
Standar
untuk
digunakan dalam Perkuliahan
di Universitas Mercu Buana
Fakultas
Fakultas
Komunikasi
2012
1
Program Studi
Ilmu
Advertising
dan
Marketing
Communication
Tatap Muka
02
Kode MK
Disusun Oleh
MK 43036
Berliani Ardha, SE, M.Si
Abstract
Kompetensi
Pemahaman mengenai perkembangan
Setelah
industri periklanan, advertising agency
diharapkan
dan marketing communication
perkembangan indsutri periklanan.
Marketing
Commmunication
Management
Berliani Ardha, SE, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
mempelajari
mahasiswa
modul
ini,
mengetahui
ISI
Perkembangan periklanan di dunia, asia pacific dan Indonesia. Adex
dunia dan Indonesia
SEJARAH PERIKLANAN
Sejarah periklanan telah dimulai ribuan tahun lalu, ketika bangsa-bangsa di dunia
mulai melakukan pertukaran barang. Wright (dalam Liliweri, 1992) mencatat bahwa kira-kira
3000 tahun sebelum Masehi, bangsa Mesopotamia dan Babilonia telah meletakkan dasardasar periklanan seperti yang terlihat sekarang ini. Pada jaman itu, pedagang-pedagang
menyewa perahu-perahu dan menyuruh pedagang keliling mengantarkan hasil produksi ke
konsumen yang tinggal di pedalaman dengan menggunakan teknik pemasaran door to
door.
Pada jaman Yunani dan Romawi, teknik beriklan mengalami perkembangan . Pada
jaman ini telah dikenal perdagangan antarkota dimana iklan pada terekota dan perkamen
sudah mulai digunakan untuk kepentingan Lost & Found (Kasali, 1995). Pada masa inilah
mulai disadari pentingnya menggunakan medium untuk menyampaikan informasi. Para
pemilik usaha menggunakan pahatan di dinding-dinding kota untuk memberitahu orang
banyak bahwa mereka mempunyai dagangan tertentu. Pada zaman Caesar, banyak toko di
kota-kota besar yang telah mulai memakai tanda dan symbol atau papan nama sebagai
media utama dalam beriklan.
Periklanan memasuki babak sejarah yang sangat penting ketika kertas ditemukan
pada tahun 1215 di Cina dan mesin cetak diciptakan Johann Gutenberg pada tahun 1450.
Sejak itu medium-medium kuno ditinggalkan. Orang beralih ke pamphlet atau selebaranselebaran untuk menginformasikan atau menjual sesuatu. Selebaran dan pamflet inilah yang
menjadi cikal bakal munculnya surat kabar, sebuah medium klasik yang sampai sekarang
tetap menjadi pilihan pengiklan sebagai medium utama. Pada waktu itu – abad 17 – di
Inggris produk yang paling banyak diiklankan pada masa itu adalah buku dan obat-obatan.
Surat kabar yang pertama di Inggris, The Weekly News, terbit pada tahun 1622, diikuti The
Tatler yang terbit pada tahun 1709 dan The Spectator pada 1711, adalah media cetak yang
membawa lembaran iklan secara piggyback. Pada masa dinasti Edo d Jepang, pada awal
abad ke 19, selebaran yang didistribusikan bersama surat kabar juga banyak membawa
pesan-pesan komersial – khususnya tentang obat-obatan.
Periklanan mengalami perkembangan yang luar biasa cepat seiring dengan
tumbuhnya era industri. Populasi penduduk dunia meningkat, industriindustri baru tumbuh
dan iklan menempati posisi yang penting untuk mendorong penjualan. Sampai abad 19,
2012
2
Marketing
Commmunication
Management
Berliani Ardha, SE, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
belum ada perusahaan periklanan (advertising agency) baik di Eropa maupun di Amerika.
Jadi, siapapun yang ingin mengiklankan sesuatu harus berhubungan dengan surat kabar. Ini
memicu hadirnya iklan di surat kabar. Di Amerika Serikat, beberapa surat kabar mulai
memuat pesan-pesan singkat tentang produk, tampil dengan huruf-huruf kecil di dalam
kotak, diantara berita dan tulisan lain. Iklan yang dimasa kini dikenal sebagai bentuk
classified advertisement itu mempromosikan berbagai jenis barang dan jasa.
Sekitar tahun 1800-an, kerumitan dan kesulitan diantara pengiklan dan surat kabar
mulai berkembang. Para pengiklan merasakan kebutuhan untuk menjangkau khalayak yang
lebih luas, bukan hanya masyarakat yang tinggal satu kota dengannya saja – sebagaimana
distribusi surat kabar pada masa itu. Perkembangan itulah yang melahirkan kebutuhan
perlunya penghubung antara surat kabar dengan pengiklan. Hower mencatat dua nama
pertama yang bertindak sebagai advertising agent, yaitu Volney B. Palmer di Philadelphia
dan John Hooper di New York. Oleh orang-orang sesudah mereka, bisnis tersebut
dikembangkan ke dalam sebuah institusi yang disebut advertising agency.
Volney secara efektif menancapkan namanya dalam sejarah periklanan sebagai
pendiri perusahaan periklanan pertama di dunia. Biro yang didirikannya itu sebenarnya tidak
menyediakan jasa periklanan secara lengkap (full service advertising agency) karena hanya
melayani keagenan untuk memasang iklan klasika di surat kabar.
Benyamin Franklin yang dianggap sebagai founding father Amerika Serikat pun
merupakan tokoh yang dielukan sebagai bapak periklanan. Pada tahun 1729, ia mendirikan
surat kabar iklan Pennsylvania Gazette. Amerika waktu itu masih menjadi wilayah jajahan
Inggris dan surat kabar itu berhasil mencapai tiras tertinggi serta pendapatan iklan terbesar
pada masanya. Sebagai penerbit dan redaktur surat kabar, Benyamin yang menguasai lima
bahasa itu juga dikenal sebagai penulis naskah iklan (copywriter) yang handal.
Sears Catalog menjadi inspirasi bagi lahirnya iklan display di media cetak. Sears
adalah pelopor rantai toko di Amerika Serikat yang kemudian berkembang menjadi
department stores. Sears menerbitkan catalog tentang semua barang yang dijual dan para
pelanggan dapat memesan melalui pos (mail order). Setiap barang yang ditawarkan
ditampilkan secara menarik dengan fotofoto dan gambar-gambar yang atraktif. Begitu
populernya Sears Catalog di masa lalu, sampai-sampai ia disebut sebagai Injil Petani.
Tampilan dan peragaan produk seperti di Sears Catalog itulah yang kemudian dijumpai di
berbagai surat kabar dan majalah di Amerika Serikat, serta kemudian menyebar ke seluruh
dunia. Di masa kini, penampilan seperti itu sering disebut sebagai display advertising atau
iklan komersial.
Karena memiliki tanggung jawab moral dan interaksi yang cukup banyak dengan
beragam segmen, para praktisi periklanan di sekitar abad 19 mulai meletakkan standarstandar periklanan yang lebih baik. Sebagai contoh, FW Ayer
2012
3
Marketing
Commmunication
Management
Berliani Ardha, SE, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
& Son yang didirikan di
Philadelphia menjadi advertising agency tertua yang memberi tatanan modern pada bisnis
periklanan. Agency yang didirikan Francis Wayland Ayer ini memperbaiki teknik-teknik
periklanan dan memajukan standar layanan sebuah agency, termasuk mengembangkan
prinsip-prinsip etika bagi sebuah bisnis yang sukses.
Beberapa standar penting yang berlaku saat ini merupakan ‘peninggalan’ para
praktisi periklanan di abad 19 maupun awal-awal abad 20, seperti besarnya persentase
komisi bagi agency sebesar 15% yang berlaku pada tahun 1917 maupun pembagian
aktifitas perusahaan periklanan ke dalam 3 bidang dasar yaitu account, creative dan media.
1729 Iklan pertama di surat kabar Pennsylvania Gazette yang terbit di Amerika Serikat
1843 Perusahaan periklanan pertama didirikan di Philadelphia AS
Oleh Volney Palmer
1922 Iklan pertama di radio WEAF, New York 1941 Iklan televise hitam/putih pertama di
New York, AS
Mengiklankan arloji Bulova
ditayangkan mengiklankan
1954
Iklan televise berwarna pertama
Castro Decorators, New York
Pertumbuhan Industri Periklanan Indonesia
Pertumbuhan industri periklanan di Indonesia dimulai pada zaman pendudukan
Belanda, di saat Gubernur Jan Pieterz Coen (1619-1625) berkuasa. Pada saat itu sudah
diterbitkan lembaran informasi yang ditulis indah (silografi). Dilihat dari fungsi dan
bentuknya, lembaran tersebut bersifat informasi pemerintah yang komersial.
Akan tetapi iklan dalam arti sesungguhnya –menghubungkan kepentingan produsen
dan konsumen dengan membayar ruang iklan- baru terlihat di suratkabar Bataviaashe
Nouvells terbitan Agustus 1744. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa keberadaan industri
periklanan berkaitan erat dengan keberadaan industri media. Sebagian besar isi beritanya
adalah iklan tentang perdagangan, pelelangan dan pengumuman resmi pemerintah Hindia
Belanda
Tahun 1825, surat kabar pada masa itu sudah dimanfaatkan sebagai alat pemasaran
yang efektif. Surat kabar yang pertama kali memuat iklan-iklan produk adalah surat kabar
Tjahaja Siang yang terbit di Minahasa, yang mengiklankan produk obat-obatan tradisional.
Bentuk iklannya hanya berupa iklan baris, karena memang baru seperti itulah model iklan
yang ada pada masa itu. Surat kabar lainnya seperti Advertentie Blad dan Bintang Timoer
juga melakukan hal yang sama.
Dalam buku Iklan Surat Kabar, Bejo Riyanto mencatat bahwa pada tahun 1870-an
kreativitas dalam penanganan visual dalam pesan periklanan terlihat semakin baik. Hal ini
disebabkan oleh factor internal dan eksternal industri pers maupun periklanan itu sendiri.
Pertama, terbentuknya peluang investasi modal swasta secara langsung dalam bidang
2012
4
Marketing
Commmunication
Management
Berliani Ardha, SE, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
industri periklanan dan perdagangan di Jawa. Kedua, pertumbuhan perekonomian
masyarakat pribumi dan industrialisasi melahirkan sejumlah produk yang memerlukan
kegiatan pemasaran. Pertumbuhan perekonomian memungkinkan terbentuknya suatu
masyarakat konsumen yang potensial untuk pemasaran produk industri dan jasa modern di
pulau Jawa.
Secara internal, industri pers mulai berkembang dan mampu mendistribusikan surat
kabar secara luas hingga ke luar pulau Jawa. Selain itu teknologi percetakan-pun semakin
baik dan industri pers berkembang di kotakota besar di Nusantara. Bahasa pengantar yang
digunakan-pun disesuaikan dengan khalayak sasaran penerbitan, yaitu bahasa Cina,
Melayu, Jawa dan Sunda. Untuk menjaga kelangsungan hidup, penerbitan pers butuh
dukungan dari iklan. Sebaliknya, hal ini menimbulkan peluang bisnis tersendiri, yaitu
munculnya industri jasa periklanan yang dikelola dengan lebih baik.
Setelah kemerdekaan, istilah iklan belum dikenal. Kata yang digunakan adalah reklame.
Pada masa itu sudah banyak perusahaan periklanan yang dimiliki oleh orang Belanda dan
Indonesia. Perusahaan Periklanan yang ada pada masa pascakemerdekaan antara lain
Aneta, Pikat, Reka dan Indonesia Reclame and Advertentie Bureau (IRAB). Sedangkan di
Bandung ada Balai Iklan yang sampai sekarang tetap bertahan.
Tahun 1949, atas prakarsa beberapa perusahaan periklanan yang berdomisili di
Jakarta dan Bandung, dibentuk suatu asosiasi bagi perusahaan- perusahaan periklanan
dengan nama Van Reclame Bureau in Indonesia –dalam bahasa Indonesia berarti
Perserikatan Biro Reklame Indonesia (PBRI). Ada sebelas perusahaan yang menjadi
anggota PBRI diantaranya adalah Contact, De Unie, F Bodmer dan Frank Klein. Namun
demikian, PBRI ternyata kurang mampu menampung aspirasi perusahaan periklanan milik
orang Indonesia dikarenakan dominasi perusahaan periklanan milik orang Belanda. Situasi
tersebut memicu berdirinya asosiasi perusahaan periklanan lainnya, yakni Serikat Biro
Reklame Nasional (SBRN) pada tahun 1953.
Pada tahun 1957 diselenggarakan konggres PBRI Reklame pertama yang
menghasilkan keputusan penting yaitu merubah kata ‘perserikatan’ menjadi ‘persatuan’,
sehingga makna PBRI menjadi Persatuan Biro Reklame Indonesia. Dan pada tahun 1972,
pemerintah melalui Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika (PPG) Departemen
Penerangan Republik Indonesia, menyatakan bahwa PBRI adalah satu-satunya wadah
perusahaan periklanan di Indonesia.
Sejalan dengan perkembangan bahasa Indonesia, istilah ‘Biro Reklame’ yang
sebelumnya digunakan oleh asosiasi diganti menjadi ‘perusahaan periklanan’. Hal ini untuk
membedakan pencitraan dari biro reklame pinggir jalan. Akhirnya PBRI pun berubah nama
menjadi Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia.
2012
5
Marketing
Commmunication
Management
Berliani Ardha, SE, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Era Periklanan Modern Indonesia
Industri periklanan modern di Indonesia mulai tumbuh di awal tahun 1970-an untuk
mengantisipasi kebutuhan periklanan perusahaan-perusahaan yang sedang tumbuh akibat
dikeluarkannya UU Penanaman Modal Asing (UU PMA) di tahun 1967 dan UU Penanaman
Modal Dalam Negeri (UU PMDN) di tahun 1968. Hasilnya adalah cukup banyak perusahaan
dan
pabrik
yang
merambah
pasar
Indonesia.
Berbareng
dengan
masuknya
perusahaanperusahaan multinasional yang memanfaatkan kebijakan baru di bidang PMA,
produk-produk yang diluncurkan ke pasarpun harus dilakukan dengan kaidahkaidah
pemasaran modern.
Iklan sebagai salah satu alat pemasaran yang ampuh langsung saja berdenyut
dengan napas baru yang segar. Beberapa perusahaan periklanan muncul pada masa ini.
Demikian juga media untuk beriklan. Dan, periklanan pun menjadi marak
Pelopor periklanan modern di Indonesia diantaranya adalah Intervesta, Matari,
Fortune, Metro dan Perwanal. Intervista yang muncul pada tahun 1964 dianggap sebagai
cikal bakal perusahaan periklanan modern, karena untuk pertama kalinya perusahaan
periklanan tersebut mengenalkan teknik-teknik periklanan modern seperti menggunakan
naskah iklan bertuliskan tangan atau menata huruf diatas timah agar hasilnya baik. Akan
tetapi sejak tahun 1990-an Intervista sudah tidak beroperasi lagi. Perusahaan periklanan
lainnya yaitu Matari didirikan pada tahun 1971 untuk mengantisipasi kebutuhan periklanan
perusahaan-perusahaan yang tumbuh akibat munculnya dua Undang-undang tersebut.
Inter Vista adalah sebuah fenomena penting yang perlu dicatat secara khusus dalam
sejarah periklanan Indonesia – khussnya karena Nuradi, pendirinya dianggap sebagai
perintis periklanan modern Indonesia. Pada awalnya Nuradi hanya mengiklankan produkproduk milik ayahnya dan kenalannya (PT Masayu). Ia juga membuat iklan untuk usaha
milik Judith Waworuntu, sahabatnya yang secara timbale balik menjadi pembuat gambar
untuk iklan-iklan Inter Vista. Dalam waktu singkat Inter Vista mendapat kepercayaan dari
nama-nama besar seperti Indomilk, Anker Bir, berbagai merek rokok keluaran British
American Tobacco, Vespa dan lain-lain
Berbagai merek internasional mulai bermunculan di Indonesia . Coca cola, Toyota,
Mitsubishi, Fuji Film, American Express, Citibank adalah sebagian dari nama-nama besar
yang memulai membanjiri pasar Indonesia.
Pada saat yang sama muncul pula local brands yang dipicu oleh kemudahan
mendapatkan kredit penanaman modal dari lembaga perbankan yang bertumbuh pesat.
SAlah satunya adalah industry farmasi. Beberapa merek baru yang diluncurkan pada saat
itu antara lain Bodrex – obat sakit kepala yang popular hingga saat ini.
2012
6
Marketing
Commmunication
Management
Berliani Ardha, SE, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Tetapi kita tidak bisa mengabaikan Unilever sebagai perusahaan yang ikut dalam proses
perjalanan periklanan modern dengan selalu memikirkan manfaat periklanan. Keseriusan
Unilever menggarap komunikasi periklanannya terlihat dengan dibentuknya Lintas (Lever
International Advertising Services) sebagai inhouse agency. Melalui Lintas, Unilever
membangun sumberdaya yang sangat penting bagi ekuitas merek di masa depan, sehingga
memungkinkan Unilever menjadi dominant di pasar barang konsumsi saat ini. Kemudian
pada tahun 1980-an, Unilever memisahkan Lintas menjadi lebih independent. Bahkan dari
Lintas lahir sumberdaya periklanan handal yang mengembangkan perusahaan periklanan
baru seperti Cabe Rawit.
Dasawarsa 1970-an juga ditandai dengan tampilnya selebritis Indonesia sebagai
bintang iklan. Sabun Lux produksi Unilever boleh jadi merupakan trendsetter di bidang ini.
Sejak dasawarsa 1950-an Lux sudah memakai slogan ‘dipakai oleh 9 dari 10 bintangbintang film’. Lux diidentifikasikan dengan bintangbintang film rupawan berkelas dunia
antara lain Sophia Loren.
Pertumbuhan perekonomian yang terus meningkat membuat pasar Indonesia
menjadi penting bagi produk-produk yang berasal dari Amerika, Eropa maupun Jepang.
Sebagian besar produk yang diiklankan adalah produk impor atau produk joint venture
seperti Lux, Tancho, Coca Cola, Kao.
Pada saat yang sama, media Indonesia pun sedang mekar dengan bagusnya. Di
awal dasawarsa 1970-an , konteslasi media cetak Indonesia diwarnai oleh dua surat kabar
nasional di puncak piramida yaitu Kompas yang terbit sejak tahun 1965 dan harian sore
Sinar harapan yang terbit sejak tahun 1961. Selain itu muncul majalah berita mingguan yaitu
Ekspress dan kemudian Tempo. Majalah hiburan yang terbit di tahun 1970an adalah
Selecta, Varia. Dan kemudian muncul Kartini dan Femina. Sukses Femina melahirkan Gadis
dan Ayahbunda dalam group yang sama.
TVRI – satu satunya stasiun pemancar televise yang ada di Indonesia pada saat itu mulai
tahun 1970an juga telah memperkenalkan program ‘Manasuka Siaran Niaga’ sebagai ajang
beriklan.
Pertumbuhan yang pesat media Indonesia pada awal 1970an tentu saja ikut
menumbuhkan advertising billing yang lebih dikenal dengan istilah ‘kue iklan’. Sebuah
laporan di amjalah Tempo pada tahun 1975 menyebutkan bahwa pada tahun 1972 kue iklan
Indonesia mencakup 4 milyar.
Akan tetapi pada tahun 1981 pemerintah mengambil keputusan yang mengejutkan
banyak pihak , yaitu dengan menghapuskan iklan di TVRI. Pemerintah khawatir dengan
meningkatnya
belanja
iklan
akan
meningkatkan
ekspektasi
masyarakat
dalam
mengkonsumsi produk. Era tanpa iklan TV ini ternyata memberikan kesempatan bagi radio
untuk memperoleh peluang merebut pangsa iklan yang lebih besar. Di era ini pula sejumlah
2012
7
Marketing
Commmunication
Management
Berliani Ardha, SE, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
radio mulai memantapkan posisi segmentasi mereka secara lebih tajam. Hilangnya iklan TV
juga telah membuat pengelola media luar ruang kebanjiran iklan.
Perkembangan industri periklanan yang mulai pesat pada tahun 1980-an,
menimbulkan pemikiran tersendiri di kalangan pemerintah. Jika sebelumnya kegiatan
periklanan berinduk ke Departemen Perdagangan, di awal tahun 1980an industri periklanan
berinduk ke Departemen Penerangan melalui UU Pokok Pers no 21 tahun 1982, yang
menyebutkan organisasi periklanan dianggap sama dengan organisasi pers.
Pada tahun 1989 merupakan peristiwa penting bagi industri periklanan Indonesia,
yaitu dengan munculnya stasiun televisi swasta pertama, RCTI. Minat pengiklan cukup
tinggi, terutama Unilever yang memahami betul pentingnya iklan, menjadi produsen pertama
yang memasok iklan ke RCTI. Kehadiran televisi swasta lainnya mendongkrak belanja iklan
nasional.
Pesatnya pertumbuhan belanja iklan, menjadikan Indonesia pasar potensial.
Kenyataan semacam ini tidak bisa diabaikan oleh produsen multinasional yang semakin
banyak melakukan investasi di Indonesia, sehingga membuat biro iklan multinasional harus
memberikan layanan global untuk meningkatkan pelayanan klien-klien global mereka di
Indonesia. Oleh karenanya, pada dekade 1990-an untuk meningkatkan efisiensi dan
sebagai strategi menghadapi ketatnya kompetisi, sejumlah perusahaan periklanan
menyatukan diri. Pada era tahun 1990-an sudah ada sekitar 20-an perusahaan periklanan
yang berafiliasi dengan perusahaan periklanan Indonesia. Beberapa diantaranya adalah
AdForce yang berafiliasi dengan J. Walter Thompson, Indo Ad berafiliasi dengan Ogilvy &
Mather, Kreasindo berafiliasi dengan Leo Burnett, AdWork dengan Euro-RSCG, Komunika
dengan BBDO. Namun demikian, sampai sekarang hanya Matari dan Fortune yang
bertahan sebagai perusahaan periklanan local.
DINAMIKA DUNIA PERIKLANAN
Ada istilah bahwa dunia periklanan itu memang seperti “roller coaster” naik turun dan penuh
hingar bingar. Baik hubungan antara klien dan biro iklan, bahkan dinamika proses
periklanannya dalam sebuah biro iklan, termasuk kerja sama tim.
Kreatifitas adalah hal yang dijual dalam dunia periklanan sehingga biro iklan dapat menjadi
partner yang tepat dalam membangun dan mengembangkan sebuah produk atau merek.
Kreatifitas iklan adalah bukti nyata “daya jual” sebuah periklanan.
2012
8
Marketing
Commmunication
Management
Berliani Ardha, SE, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Berbicara mengenai iklan sebagai bagian dari bauran promosi masih berperan penting
dalam membangun brand. Hanya saja, dengan semakin membajirnya iklan dan
pertumbuhan dalam dunia pemasaran & teknologi berdampak kepada dunia periklanan,dan
lebih dikenal dengan advertising war.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan “Advertising war” itu sendiri diliat dari perkembangan –
perkembangan berikut :
1. Semakin meningkatnya channels TV.
Jelas, dindonesia saja sudah semakin banyak TV lokal, di Amerika dari 11 channels
menjadi 205 .
2. Perkembangan radio dan majalah yang semakin membanjir
Sebagai contoh di Amerika , 14000 radio dan 7000 majalah, ini juga berlaku di
Indonesia.
3. Home penetration computer sampai 80%
Apalagi dengan internet masuk desa, menambah tingkat exposure informasi dan
iklan terhadap masyarakat pedesaan.
4. 81% masyarakat dunia menyatakan bahwa terlalu banyak iklan di TV
5. 61% masyarakat dunia menyatakan bahwa periklanan dan pemasaran sudah diluar
kendali
6. Ada 70 blog, meningkat 3 kali dari sebelumnya
7. Di Jepang, kita bisa download video hanya dalam waktu 16 detik.
8. Laptop dengan harga murah $100 diprojeksikan akan dipasarkan untuk anak – anak
di negera yang kurang berkembang sebanyak 50 – 100 juta per tahun.
9. Untuk Indonesia, belanja iklan Indonesia lebih tinggi dari negara – negara Singapura
dan Thailand
10. Remaja umur 18 tahun sudah terekspose 14.000 iklan/week
11. Rata – rata anak menonton TV
2012
9
Marketing
Commmunication
Management
Berliani Ardha, SE, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
Belch, George E. & Michael A. Belch, Advertising & Promotion ; An Integrated
Marketing Communication Perspectives, Fifth Edition, Irwin/Graw Hill, New York,
2001
Duncan, Tom.(2005) Advertising & IMC, 2nd Ed., McGraw-Hill
Kasali, Rhenaldi, Manajemen Periklanan ; Konsep dan Aplikasinya di Indonesia,
Jakarta : PT. Pustaka Utama Grafiti, 2007
Kasali, Rhenaldi, Membidik Pasar Indonesia ; Segmentasi, Targeting dan
Positioning, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001
Kotler,Philip & Kevin Lane Keller. 2008. Manajemen Pemasaran. Jakarta : Indeks
Shimp, Terence A, Periklanan & Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran
Terpadu, Jilid II Edisi ke 5, University of South Carolina, Erlangga, 2000
2012
10
Marketing
Commmunication
Management
Berliani Ardha, SE, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download