BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Biologi Kepiting Bakau 2.1.1

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Biologi Kepiting Bakau
2.1.1 Klasifikasi
Kepiting bakau mempunyai beberapa spesies antara lain Scylla serrata,
Scylla transquebarica, dan Scylla oceanica (Kanna 2002). Menurut Kasry (1991)
kepiting bakau diklasifikasikan sebagai berikut.
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Crustacea
Ordo
: Decapoda
Subordo
: Branchyura
Famili
: Portunidae
Sub Famili
: Lipulinae
Genus
: Scylla
Spesies
: Scylla serrata
Gambar 1. Kepiting Bakau
Kepiting bakau tergolong kelas Krustasea dan ordo Dekapoda, dengan
ditandai oleh adanya 5 pasang kaki. Pasangan kaki pertama disebut capit yang
berperan sebagai alat pemegang/penangkap makanan, pasangan kaki kelima
berbentuk seperti kipas (pipih) dan berfungsi sebagai kaki renang, dan pasangan
kaki lainnya berfungsi sebagai kaki jalan (Kordi 2012). Kemudian menurut
Lembaga Oceanologi Nasional (1973) kepiting bakau merupakan salah satu jenis
dari sub ordo Branchyura, yang memiliki bentuk melebar melintang, serta bagian
6
7
perutnya tidak terlihat karena melipat ke dadanya, tidak ada duri ekor dan daun
ekor, adapun kepiting jantan memiliki bentuk perut sempit dan meruncing ke
depan sedang betina melebar dan setengah lonjong, banyak ditemukan di tambak
ikan dekat pantai, hidup dalam lubang-lubang atau terdapat pada pantai-pantai
yang ditumbuhi pohon mangrove, dan memiliki warna hijau kotor.
Genus Scylla ditandai oleh bentuk karapas yang oval dengan bagian depan
yang memiliki 9 duri pada pada sisi kanan dan kiri, serta 6 duri di antara kedua
matanya (Kordi 2012). Kedua matanya menempel di tepi bagian depan karapas
yang juga dilengkapi dengan tangkai, sehingga kedua matanya dapat digerakgerakkan lebih leluasa. Jika ada gangguan dari luar, sebagai perlindungan
matanya ditempelkan rapat-rapat ke kelopaknya, serta di antara kedua matanya ini
terletak mulutnya (Soim 1994). Panjang karapasnya kurang lebih dua pertiga dari
lebarnya, permukaan karapasnya hampir semuanya licin kecuali pada beberapa
lekuk berbintik kasar (Kordi 2012).
Kepiting bakau jantan dewasa memiliki ukuran capit yang lebih besar
daripada betina untuk umur dan ukuran tubuh yang sama (Kordi 2012). Namun,
pada kepiting betina atau kepiting jantan muda capitnya lebih pendek
(Soim 1994). Jika dalam keadaan normal capit kanan lebih besar dari capit kiri
dengan warna kemerahan pada masing-masing ujung capit (Kasry 1991).
Kepiting bakau jantan memiliki abdomen yang berbentuk agak lancip
menyerupai segitiga sama kaki, sedangkan kepiting bakau betina dewasa memiliki
abdomen yang agak membundar dan melebar (Kordi 2012). Membedakan jenis
kelamin juga dapat dilakukan dengan membandingkan pertumbuhan berat capit
terhadap berat tubuh. Kepiting jantan dan betina yang lebar karapasnya 3-10 cm
berat capitnya sekitar 22% dari berat tubuh, setelah ukuran karapasnya mencapai
10-15 cm, capit kepiting jantan menjadi lebih berat yakni 30-35% dari berat
tubuh, sementara capit betina tetap sama 22% (Soim 1994). Berikut Morfologi
kepiting bakau (Gambar 2).
8
Sumber: Balai Uji Standar Karantina Ikan (2011)
Gambar 2. Morfologi Kepiting Bakau
2.1.2 Siklus Hidup dan Habitat
Kepiting bakau dalam menjalani kehidupannya beruaya dari perairan
pantai ke laut, kemudian induk berusaha ke perairan pantai, muara sungai, atau
perairan berhutan bakau untuk berlindung, mencari makan, atau membesarkan diri
(Kanna 2002). Kepiting bakau yang telah siap melakukan perkawinan akan
memasuki perairan bakau atau tambak, setelah perkawinan berlangsung, secara
perlahan-lahan kepiting betina yang telah melakukan perkawinan ini akan beruaya
dari perairan bakau atau tambak ke tepi pantai dan selanjutnya ke tengah laut
untuk melakukan pemijahan (Kasry 1991).
Menurut Ditjen Perikanan (1994) proses perkawinan kepiting tidak seperti
pada udang yang hanya terjadi pada malam hari (kondisi gelap). Hasil
pengamatan di lapangan, ternyata kepiting bakau juga melakukan perkawinan
pada siang hari. Perkawinan biasanya terjadi pada saat suhu air naik. Menjelang
perkawinannya, kepiting betina akan mengeluarkan cairan kimia perangsang,
yaitu pheromone ke dalam air yang akan menarik perhatian kepiting kepiting
jantan. Selanjutnya kepiting jantan yang berhasil menemukan sumber pheromone
tersebut akan naik ke atas karapas kepiting betina yang sedang berada dalam
kondisi pralepas cangkang dan membantu kepiting betina untuk berganti kulit atau
molting. Selama kepiting betina mengalami proses ganti kulit, kepiting jantan
9
akan melindunginya selama kurang lebih 2-4 hari sampai cangkang terlepas dari
tubuh kepiting betina. Setelah cangkang terlepas dari tubuh kepiting betina, maka
kepiting jantan akan membalikkan tubuh kepiting betina untuk melakukan
kopulasi. Proses kopulasi biasanya berlangsung selama 7-12 jam dan hanya dapat
berlangsung bila karapas kepiting betina dalam kondisi lunak. Spermatofor
kepiting jantan akan disimpan di dalam spermateka kepiting betina sampai telur
siap dibuahi. Jumlah telur yang dihasilkan dalam sekali perkawinan berkisar 2-8
juta butir telur, bergantung dari ukuran dan umur kepiting (Kordi 2012). Menurut
Nuansa (2010) sekali melakukan pemijahan kepiting betina mampu menyimpan
sperma jantan dan dapat melakukan pemijahan hingga tiga kali tanpa perkawinan
lagi. Namun, di alam bebas, jumlah larva yang mampu menjadi kepiting muda
sangat kecil karena faktor lingkungan yang tidak mendukung dan banyaknya
musuh alami. Kepiting bakau dapat bertahan hidup hingga mencapai umur 3-4
tahun, bila kondisi ekologi mendukung (Kordi 2012).
Kepiting jantan yang telah melakukan perkawinan atau telah dewasa
berada di perairan bakau, di tambak atau di sela-sela bakau, atau paling jauh di
sekitar perairan pantai yaitu pada bagian-bagian perairan yang berlumpur yang
organisme makanannya berlimpah. Kepiting betina yang telah beruaya ke perairan
laut akan berusaha mencari perairan yang kondisinya cocok untuk tempat
melakukan pemijahan, khususnya terhadap suhu dan salinitas air laut
(Kasry 1991). Setelah telur menetas, maka muncul larva tingkat I (zoea I) yang
terus menerus berganti kulit sebanyak lima kali sambil terbawa arus ke perairan
pantai sampai (zoea V). Kemudian kepiting tersebut berganti kulit lagi menjadi
megalopa yang bentuk tubuhnya sudah mirip dengan kepiting dewasa, tetapi
masih memiliki bagian ekor yang panjang. Pada tingkat megalopa ini, kepiting
mulai beruaya pada dasar perairan lumpur menuju perairan pantai. Kemudian,
pada saat dewasa kepiting beruaya ke perairan berhutan bakau untuk kembali
melangsungkan perkawinan (Kanna 2002).
Menurut Afrianto dan Liviawati (1992) untuk menjadi kepiting dewasa,
zoea membutuhkan waktu pergantian kulit kurang lebih sebanyak 20 kali. Proses
pergantian kulit pada zoea berlangsung relatif cepat, yaitu sekitar 3-4 hari
10
tergantung pada kemampuan tubuhnya. Pada fase megalops, proses pergantian
kulit berlangsung relatif lama, yaitu setiap 15 hari. Kemudian menurut
Kasry (1991) pada saat pertama kali kepiting ditetaskan suhu air laut umumnya
berkisar 25-27 0C dan salinitas 29-33 %0, dan secara gradual salinitas dan suhu air
kearah pantai akan semakin rendah. Kepiting muda yang yang baru berganti kulit
dari megalopa yang memasuki muara sungai akan dapat mentolerir salinitas air
yang rendah 10-24 %0 dan suhu di atas 10 0C
Kepiting bakau merupakan hewan khas hutan bakau atau ekosistem
mangrove. Kepiting bakau dan seluruh suku Portunidae adalah hewan yang selalu
berada di habitat berair karena alat pernapasannya berupa insang. Walaupun
demikian, kepiting tidak selalu terendam dalam air karena sering juga ditemukan
berada di tempat yang kering, namun lembab (Kordi 2012). Selain itu, ada
beberapa jenis kepiting yang menyukai hidup di lingkungan berbatu, namun ada
pula
lebih
senang
hidup
diantara
akar
tumbuh-tumbuhan
air
(Afrianto dan Liviawaty 1992). Kemudian ada juga kepiting yang hidup di laut,
umumnya di zona littoral dan sebagian kecil hidup di laut dalam (Kasry 1991).
2.1.3 Kebiasaan Makan
Juvenil kepiting muda jarang terlihat di daerah bakau, karena lebih suka
membenamkan diri ke dalam lumpur, sedangkan kepiting bakau dewasa biasanya
keluar dari persembunyiannya beberapa saat setelah matahari terbenam dan
bergerak sepanjang malam terutama untuk mencari makan. Kepiting bakau dalam
semalam mampu mencapai jarak 219-910 m untuk aktivitasnya mencari makan.
Kepiting bakau kembali membenamkan diri ketika matahari akan terbit, sehingga
kepiting bakau digolongkan hewan malam (Soim 1994).
Kepiting adalah hewan yang hidup di dasar perairan dan merupakan
karnivor (Kordi 2012). Kepiting yang masih berbentuk larva menyukai pakan
berupa plankton atau kutu air yang berukuran kecil, sesuai dengan ukuran mulut
kepiting yang juga relatif kecil. Jika telah mencapai fase megalops, kepiting
menyukai organisme yang berukuran relatif lebih besar. Kepiting yang telah
dewasa lebih senang memakan daging, bahkan bangkai juga disukainya
11
(Afrianto dan Liviawaty 1992). Menurut Kasry (1991) bahwa kepiting yang akan
makan dengan cara menyerang musuhnya dengan menangkap menggunakan capit,
selanjutnya merobek-robek makanannya. Makanan tersebut akan dibawa ke mulut
dengan bantuan kedua capitnya, didalam mulut makanan tidak langsung masuk ke
dalam perut tetapi disaring dahulu dan hanya bahannya yang dapat dimakan yang
terus masuk ke dalam perut (Afrianto dan Liviawati 1992).
2.1.4 Sistem Budidaya
Pemilihan lokasi merupakan salah satu unsur penting dalam usaha budi
daya kepiting. Lokasi yang sesuai merupakan salah satu penentu keberhasilan
usaha budi daya kepiting. Hal ini tidak hanya memberikan produksi yang
maksimal, tetapi juga memudahkan dalam pengelolaannya. Faktor utama yang
perlu diperhatikan dalam memilih lokasi budi daya kepiting yaitu tersedianya
sumber air yang terpenuhi syarat mutu dan jumlahnya, tipe dan tekstur tanah yang
baik, tersedianya pakan yang cukup, dekat dengan sarana dan prasarana produksi,
pasar yang baik, dan tersedianya tenaga lapangan yang terampil (Soim 1994).
Budidaya kepiting bakau selain pemilihan lokasi tambak juga, tambak
harus dilengkapi dengan pagar pengaman yang dibuat dari bambu atau seng.
Pagar pengaman dimaksudkan untuk mencegah kepiting memanjat atau keluar
tambak. Kebiasaan lain kepiting adalah menggali tanah. Karena itu, jika tanah
pematang merupakan tanah yang mudah tergerus oleh air atau mudah digali
kepiting, sebaiknya pemagaran dilakukan hingga ke dasar pematang, dengan
demikian kebocoran tambak akibat digali kepiting dapat dicegah (Kordi 2012)
Budidaya kepiting bakau di tambak dapat diterapkan untuk pembesaran,
penggemukan, maupun produksi kepiting soka atau kepiting bertubuh lunak
(Kordi 2012). Tambak kepiting diusahakan mempunyai kedalaman ± 1 meter
dengan salinitas air antara 15-30 %0, pH 6,5-8,5. Bebas dari pencemaran dan
pengaruh banjir, dapat terjangkau pasang surut dan dekat dengan saluran air untuk
memudahkan dalam pergantian air. Kemudian tekstur tanah lumpur liat berpasir
dengan kandungan pasir kurang dari 20% atau tanah liat berlumpur dan tidak
bocor (Kanna 2002).
12
Kepiting bakau telah berhasil dibenihkan di bak-bak terkontrol, walaupun
tingkat kematian larva dan benih relatif masih tinggi. Calon induk kepiting bakau
dapat diperoleh dari hasil penangkapan di alam atau dari hasil pembesaran.
Kepiting bakau sudah dapat dipijahkan pada umur 12-14 bulan atau mencapai
ukuran lebar karapas 150-200 mm dan berat 180-200 g. Kepiting bakau yang
dipilih untuk calon induk harus sehat, nafsu makannya tinggi, dan tidak cacat
(Kordi 2012).
Tambak diisi air sampai ketinggian mencapai 40 cm, penebaran benih
sudah dapat dilakukan. Benih kepiting bakau berukuran rata-rata 20-40 g/ekor
atau dengan panjang karapas 2-3 cm ditebar dengan kepadatan 3-5 ekor/m2 atau
30.000-50.000 ekor/ha. Jika ukuran benih yang ditebar lebih besar, misalnya
80-100 g/ekor, padat penebaran diturunkan menjadi 2-3 ekor/m2. Padat penebaran
dapat ditingkatkan hingga 8-9 ekor/m2 untuk benih berukuran 20-40 g/ekor, jika
tambak dikelola secara intensif dengan pergantian air 20-30% setiap hari
(Kordi 2012). Tambak tradisional agar dapat menunjang pertumbuhan kepiting
maka air kolam juga perlu diganti, ketika air laut sedang pasang maka air
dimasukkan ke kolam dan bila air laut surut air kolam dikeluarkan (Soim 1994)
2.2 Pakan Buatan dan Kebutuhan Nutrien
Pakan dalam usaha budidaya kepiting bakau dapat berupa pakan alami dan
pakan buatan. Ikan rucah merupakan pakan alami atau pakan segar yang
umumnya digunakan sebagai pakan utama dalam usaha budidaya kepiting bakau,
karena dianggap dapat menghasilkan pertumbuhan lebih baik dibandingkan
dengan pakan buatan. Permasalahan dalam penyediaan ikan rucah, yaitu pengaruh
musim dan masa simpan yang pendek diduga dapat membantu penyebaran
penyakit. Keunggulan pakan buatan dibandingkan dengan ikan rucah atau pakan
alami, diantaranya adalah mutu pakan yang stabil, kandungan gizi yang lengkap
dan
seimbang,
serta
kemudahan
dalam
penyimpanan
dan
distribusi
(Aditya et al. 2012).
Pakan buatan adalah pakan yang sengaja disiapkan dan dibuat, pakan ini
terdiri dari ramuan beberapa bahan baku yang kemudian diproses lebih lanjut
13
sehingga bentuknya berubah dari bentuk aslinya (Mudjiman 2008). Selanjutnya
dikatakan bahwa dengan meramu berbagai macam bahan makanan maka nilai gizi
pakan dapat diatur, demikian pula terhadap selera makan. Pakan buatan untuk
hewan uji berasal dari satu atau berbagai macam bahan baik berupa nabati,
hewani, maupun hasil sampingan industri pengolahan hasil-hasil pertanian
(Dwinhoven 2012). Bahan-bahan tersebut harus memenuhi beberapa syarat seperti
mempunyai nilai gizi tinggi, mudah diperoleh, mudah diolah, tidak mengandung
racun, harganya relatif murah, dan tidak merupakan makanan pokok manusia,
sehingga tidak merupakan saingan (Mudjiman 2008).
Kepiting bakau membutuhkan energi untuk pertumbuhan. Kebutuhan
nutrien kepiting meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air.
Kisaran komposisi nutrien dalam pakan kepiting adalah protein 34-54%, lemak
4,8-10,8%,
serat
2,1-4,3%,
BETN
18,7-42,5%,
dan
abu
0,6-22,0%
(Anderson et al. 2004). Kadar air untuk pakan kepiting yang baik adalah kadar air
kurang dari 10 % (Dwinhoven 2012). Protein merupakan bahan struktural (bahan
pembangun) utama pada hewan, atau senyawa organik yang bermolekul besar,
juga protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan terkadang
mengandung belerang. Mutu protein dipengaruhi oleh sumber asalnya serta oleh
kandungan asam aminonya (Mudjiman 1989). Kebutuhan kepiting akan protein
dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya ukuran, temperatur air, jumlah
pemberian pakan, kandungan energi dalam pakan yang dapat dicerna dan kualitas
protein. Formula pakan kepiting bakau harus mencukupi kebutuhan gizi kepiting
yang dibudidayakan, seperti: protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral
serta bahan perekat perlu diperhatikan kandungan energinya. Mutu pakan akan
tergantung pada tingkatan dari bahan gizi yang dibutuhkan oleh kepiting
(Dwinhoven 2012).
2.3 Cangkang Kepiting
Kepiting merupakan salah satu komoditas perikanan yang dihasilkan dari
usaha penangkapan di alam maupun dari hasil budidaya. Pemanfaatan sumber
daya udang windu dan kepiting bakau menghasilkan limbah yang berupa kulit,
14
kepala, ekor, dan karapas (Supriyantini 2007). Menurut Wahyuni (2003) kepiting
hanya dikonsumsi dagingnya saja yang rata-rata 20% dari beratnya, sehingga 80%
berupa limbah. Hasil samping ini, di Indonesia belum banyak digunakan sehingga
hanya menjadi limbah yang mengganggu lingkungan, terutama pengaruh pada bau
yang tidak sedap dan pencemaran air yang disebabkan kandungan BOD, COD dan
TSS perairan disekitar pabrik cukup tinggi (Harianingsih 2010).
Limbah kulit udang dan kepiting mengandung konstituen utama yang terdiri
dari
protein,
kalsium
karbonat,
kitin,
pigmen,
abu,
dan
lain-lain
(Supriyantini 2007). Menurut Aslamyah dan Fujaya (2010), kandungan protein
cangkang kepiting 19,00%, lemak 7,00%, BETN 55,97%, serat kasar 11,50%,
abu 6,53%, dan air 7,04%. Kemudian menurut Darmawan et al. (2007) kulit
kepiting mengandung protein (15,60-23,90%), kalsium karbonat (53,70-78,40%),
dan kitin (18,70-32,20%) hal ini tergantung pada jenis kepiting dan tempat
hidupnya. Hasil penelitian Lesbani et al. (2011), kadar abu cangkang kepiting
70,493%, air 8,725%, magnesium 1,136 mg/g, kalsium 0,260 mg/g, seng 0,669
mg/g, tembaga 0,004 mg/g, natrium 17,672 mg/g, silika oksida 0,018 mg/g.
Berikut ini cangkang kepiting yang di gunakan dalam penelitian (Gambar 3).
Gambar 3. Cangkang Kepiting
2.4 Ikan Rucah
Beberapa jenis pakan alami yang bisa diberikan pada kepiting antara lain
kerang, ikan rucah, bekicot dan keong sawah (Nurdin dan Armando 2010). Pakan
ikan rucah segar mudah tenggelam sehingga peluang dimakan kepiting lebih besar
karena kepiting lebih suka mencari makan di dasar tambak (Soim 1994). Ikan
15
rucah bisa diperoleh di tempat pendaratan dan pelelangan ikan. Ikan-ikan tersebut
biasanya secara ekonomis nilainya jauh lebih rendah dibandingkan ikan
pokoknya. Pakan alami yang diandalkan dalam budidaya sidat, kepiting bakau,
dan rajungan adalah ikan rucah seperti ikan teri (Stolephorus heterolobus, S.
baganensis, S. indicus), tembang (Sardinella fimbriata), selar (Selaroides
leptolepsis), petek/tatameri (Secutor ruconius, Gazza minuta, Leiognathus
splendens), lamuru (Sardinella sirm), dan lain-lain (Kordi 2012). Namun, dalam
penelitian ini ikan rucah yang digunakan untuk pakan pada budidaya kepiting
yaitu ikan petek. Morfologi ikan petek yaitu bentuk badan ikan agak lebar, pipih,
mulut lurus, bila ditarik ke depan membentuk corong serong ke bawah.
Kandungan nutrisi ikan petek cukup tinggi, diantaranya: kadar air (9,22%), kadar
abu (24,73%), kadar protein (54,98%), dan kadar lemak (4,51%) (Adityana 2007).
Berikut ikan rucah yang digunakan dalam penelitian (Gambar 4)
Gambar 4. Ikan Petek
2.5 Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan
Effendi
(1997)
menyatakan
pertumbuhan
didefinisikan
sebagai
penambahan ukuran, panjang atau bobot ikan dalam kurun waktu yang
dipengaruhi pakan tersedia, jumlah ikan yang mengkonsumsi pakan, suhu, umur,
dan ukuran ikan. Pertumbuhan merupakan salah satu kriteria yang paling penting
untuk pengukuran respon ikan terhadap pakan, meskipun dapat diteliti dan mudah
diukur, pertumbuhan merupakan salah satu aspek kehidupan yang rumit dari suatu
organisme (Subakti 2008).
Pertumbuhan merupakan hasil bersih dari rangkaian proses pencernaan
dan tingkah laku ikan yang dimulai dengan intake pakan (konsumsi) dan diakhiri
oleh deposit jaringan tubuh, dimana sistem sekresi mempengaruhi hasil akhir dari
16
pertumbuhan tersebut. Pertumbuhan terjadi apabila ada kelebihan input energi dan
protein yang berasal dari makanan. Pada hewan krustasea tingkat pertumbuhan
dapat diukur dengan menghitung pertambahan berat atau panjang karapas
per periode waktu tertentu (Subakti 2008).
Pertumbuhan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu internal dan eksternal.
Faktor internal merupakan faktor yang sulit dikontrol, antara lain keturunan, jenis
kelamin, umur, ketahanan terhadap parasit dan penyakit serta kemampuan
memanfaatkan makanan. Faktor eksternal yaitu makanan, kondisi fisik dan kimia
perairan, kuantitas dan kualitas pakan serta ruang gerak (Effendi 1997). Faktor
eksternal yang sangat mempengaruhi pertumbuhan adalah ketersediaan makanan.
Makanan merupakan sumber energi yang dibutuhkan ikan untuk hidup dan
tumbuh. Menurut Zaidy (2007) pakan yang masuk ke dalam tubuh kepiting akan
digunakan sebagai sumber energi (metabolisme) untuk menggerakkan semua
fungsi tubuh dan bahan untuk pembangunan biomassa tubuh (anabolisme).
Peningkatan biomassa kepiting bergantung pada energi yang tersedia dalam tubuh
kepiting dan ke mana energi tersebut didistribusikan serta digunakan dalam tubuh.
Tingkat perkembangan pada kepiting dapat dibagi dalam tiga fase yaitu:
fase telur (embrionik), fase larva dan fase kepiting. Pada fase larva dikenal tingkat
zoea I, II, III, IV, V dan megalopa, sedangkan pada fase kepiting dikenal dengan
tingkat kepiting muda dan kepiting dewasa. Pada fase telur, tingkatan
perkembangan indung telur merujuk pada tingkat kematangan indung telur
(Kasry 1991). Berdasarkan lebar karapasnya, tingkat perkembangan kepiting
dikelompokkan menjadi kepiting juwana, kepiting muda, dan kepiting dewasa,
yang masing-masing berukuran 20-70 mm, 70-150 mm, dan 150-200 mm
(Kordi 2012).
Jumlah makanan yang dimakan oleh seekor ikan, kurang lebih hanya 10%
saja yang dapat digunakan untuk pertumbuhan atau penambahan bobot badan,
selebihnya makanan tersebut digunakan untuk pemeliharaan tubuh atau memang
tidak dapat dicerna. Jumlah bobot makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan
atau penambahan bobot badan itu disebut nilai ubah makanan atau konversi
makanan (Mudjiman 2008).
17
Jumlah makanan yang dibutuhkan untuk menghasilkan penambahan berat
daging ikan sebanyak 1 kg disebut faktor konversi. Jadi apabila untuk menambah
berat 1 kg daging itu dibutuhkan 5 kg makanan, maka berarti faktor konversi
makanan yang bersangkutan adalah 5. Tergantung pada macam makanannya,
faktor konversi pada ikan berkisar antara 1,5-8. Makanan nabati faktor
konversinya lebih besar daripada makanan hewani, ini berarti untuk menambah
berat 1 kg daging ikan dibutuhkan makanan nabati lebih banyak daripada
makanan hewani (Mudjiman 2008).
2.6 Kualitas Air untuk Pemeliharaan Kepiting Bakau
Kualitas air merupakan media yang paling penting dalam usaha budidaya
kepiting bakau. Pengelolaan kualitas air merupakan suatu usaha untuk
mengusahakan dan mempertahankan agar air tersebut tetap berkualitas dan dapat
dimanfaatkan untuk budidaya. Beberapa parameter penting yang perlu dikontrol,
yaitu: suhu, pH, salinitas, DO, dan amoniak. Kualitas air untuk pemeliharaan
kepiting bakau yaitu suhu, pH, salinitas, DO, dan amoniak disajikan dalam
Tabel 1.
Tabel 1. Kualitas Air untuk Pemeliharaan Kepiting Bakau
Parameter
Suhu
pH
Salinitas
DO
Amoniak
Sumber : Kordi (2012)1)
Kuntinyo et al. (1994)2)
Nilai yang dianjurkan
23-32°C1)
7,0-8,51)
10-30 0/001)
4-7 ppm1)
≤ 0,1 ppm2)
Download