KELIMPAHAN KEPITING BAKAU (Scylla sp) DI

advertisement
AKUATIK.
Jurnal Sumberdaya
AKUATIKKelimpahan
KepitingPerairan
Bakau (Scylla sp) Di Perairan Muara Tebo Nelayan Satu Sungailiat
ISSN 1978 - 1652
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
KELIMPAHAN KEPITING BAKAU (Scylla sp) DI PERAIRAN MUARA TEBO
SUNGAILIAT
Oleh:
Rizaldi1), Dwi Rosalina2), Eva Utami2)
1)
Mahasiswa Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FPPB Universitas Bangka Belitung
[email protected]
2)
Staff Pengajar Jurusan Mnajemen Sumberdaya Perairan FPPB Universitas Bangka Belitung
Abstract
Mud crab (Scylla sp) belonging commodity that has a very high sale value and an export commodity. A
high value of mud crabs could lead to the rise in fishing activities in nature without any attempt to
preserve it. This study aimed to quantify the abundance of mud crabs and knowing the diversity,
uniformity and dominance mud crab. This study was conducted in February 2015 in the Waters Tebo
Estuary Nelayan Satu Sungailiat. Retrieving data using purposive sampling method to determine the
station by selecting the area that represents the location of research and share three stations. Results
showed that the abundance of mud crab (Scylla sp) ranging between 0-11 (ind / 400m2). Diversity of
mangrove crab 0, uniformity 1, and dominance 1. mangrove crab abundance is low, this is due in
February is not the season of mud crab.
Keywords: Abundance, Mud crab, Tebo Estuary, Scylla sp
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kabupaten Bangka merupakan salah
satu kabupaten yang ada di Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung. Salah satu
wilayah yang ada di Kabupaten Bangka adalah
Lingkungan Nelayan Satu Sungailiat yang
secara geografis berbatasan langsung dengan
muara. Sebagian mata pencaharian masyarakat
setempat masih bergantung pada komoditas
perikanan yang ada pada perairan tersebut,
salah satunya adalah kepiting bakau.
Komoditas kepiting bakau memiliki peluang
pasar yang cukup besar dengan harga tinggi
menyebabkan bisnis kepiting menjadi penting,
juga karena rasa daging kepiting yang gurih
dan gizi yang tinggi.
Setiap 100 gram daging kepiting
mengandung protein sebesar 13,6 gram, lemak
3,8 gram dan air sebanyak 68,1 gram (Kordi,
2000). Oleh karena itu permintaan akan
kepiting bakau terus meningkat baik untuk
konsumsi dalam negeri maupun untuk
keperluan ekspor. Muara Sungai Nelayan Satu
Sungailiat atau yang lebih sering dikenal
sebagai Muara Tebo ini menyimpan
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
sumberdaya kepiting bakau yang sangat
besar.Selain itu Muara Sungai Nelayan Satu
juga memiliki ekosistem mangrove yang
masih terjaga kelestariannya. Hal ini
mendorong sebagian masyarakat untuk
melakukan penangkapan kepiting bakau.
Masyarakat di Lingkungan Nelayan Satu
sampai saat ini masih belum mengetahui
potensi kepiting bakau yang ada di perairan
tersebut.
Kepiting bakau di Pulau Bangka pada
umumnya sangat digemari masyarakat,
kepiting tersebut dijadikan sebagai konsumsi
masyarakat dan tidak jarang dijadikan sebagai
menu makanan warung makan yang ada di
Pulau Bangka. Pentingnya komoditas Kepiting
Bakau membuat masyarakat diLingkungan
Nelayan Satu Sungailiat melakukan pencarian.
Hingga saat ini belum adanya pengkajian
terhadap
pentingnya
keberadaan
dan
kehidupan jenis kepiting tersebut. Dengan
belum adanya pengkajian maka perlu
dilakukan penelitian tentang ‘’Kelimpahan
Kepiting Bakau di Perairan Muara Tebo
Nelayan Satu Sungailiat ’’.
HALAMAN- 14
AKUATIK- Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla sp) Di Perairan Muara Tebo Nelayan Satu Sungailiat
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini yaitu:
1. Menghitung kelimpahan Kepiting Bakau
di perairan Muara Tebo Nelayan Satu
Sungailiat.
2. Mengetahui
keanekaragaman,
keseragaman dan dominansi Kepiting
Bakau di perairan Muara Tebo Nelayan
Satu Sungailiat.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada
Bulan Februari 2015. Pengambilan data
dilakukan di Perairan Muara Tebo Nelayan
Satu Sungailiat Kabupaten Bangka.
Alat dan Bahan Penelitian
Alat
Alat yang digunakan pada penelitian
ini adalah alat tangkap berupa bubu lipat yang
berfungsi untuk menangkap kepiting bakau.
Bubu yang digunakan dalam penelitian ini
berjumlah sebanyak 16 unit bubu diperoleh
dari perhitungan menggunakan rumus
rancangan percobaan.
Secara umum
konstruksi bubu lipat kotak terdiri atas badan
bubu, mulut bubu, tempat umpan, tali utama,
tali cabang, pemberat, pelampung, dan rangka
bubu. Badan bubu lipat kotak mempunyai
dimensi p x l x t = 75 x 50 x 35 cm. Bahan
pembentuk badan bubu adalah jaring PE
multifilament berwarna hijau dan berukuran
mata jaring 2,5 cm. Konstruksi badan bubu
berbentuk bangun ruang balok dengan rangka
dari besi masif atau behel.
Bahan
Bahan yang digunakan yaitu umpan
berupa Ikan Tamban Basah yang dibungkus
dan dimasukkan ke dalam bubu. Ikan tamban
basah dipilih oleh peneliti dikarenakan ikan
tamban memiliki struktur kulit tubuh yang
mengkilap sehingga akan mempermudah
kepiting bakau unutuk melihat dan masuk ke
dalam bubu.
Metode Pengambilan data
Penentuan
stasiun
penelitian
dilakukan dengan menggunakan metode
purposive
sampling.
Metode
tersebut
menentukan stasiun dengan memilih daerah
yang mewakili lokasi penelitian dan membagi
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
tiga stasiun, yang bisa mewakili daerah
tersebut. Pembagian stasiun tersebut adalah :
1. Stasiun 1 terletak di perairan muara
yang berdekatan dengan alur masuk air
laut dengan titik koordinat S 1050’21.99
E 10607’30.82’’.
2. Stasiun 2 berada pada perairan muara
yang terletak di tengah muara dan
bersebrangan dengan tempat bersandar
kapal
dengan
titik
koordinat
S1050’31.15’’E 1060 7’21.67’’
3. Stasiun 3 terletak di kawasan perairan
yang berdekatan dengan pemukiman
penduduk dengan titik koordinat S
1050’40.70’’ E 1060 7’17.04’’.
Analisa Data.
Kelimpahan (ind/m²)
Kelimpahan adalah jumlah individu
persatuan luas yang dapat dihitung dengan
rumus (Kreb, 1978 dalam Mamesah dan
Latuihamallo, 2007).
Luas pengamatan diukur berdasarkan luas
stasiun tempat pengambilan data kepiting
bakau.
Indeks Keanekaragaman
Indeks
keanekaragaman
adalah
parameter biota yang sangat berguna untuk
membandingkan berbagai komunitas biota
perairan terutama untuk mempelajari pengaruh
gangguan faktor-faktor lingkungan atau
abiotik terhadap ekosistem karena dalam suatu
ekosistem pada umumnya terdapat berbagai
jenis biota (Fachrul, 2008). Dalam penelitian
ini indeks keanekaragaman yang dihitung
hanya untuk kepiting bakau yang masuk
kedalam alat tangkap. Jenis kepiting bakau
yang ada di Indonesia berjumlah 4 jenis yaitu
Scylla serrata, Scylla olivacea, Scylla
paramamosain,
Scylla
tranqubarica
Estampador (1949) dalam Mulya (2000).
Indeks keanekaragaman kepiting bakau
selanjutnya
akan
ditentukan
dengan
menggunakan indeks Shannon-Wiener.
H’= - {∑pi ln pi}
pi =
HALAMAN- 15
AKUATIK- Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla sp) Di Perairan Muara Tebo Nelayan Satu Sungailiat
Dimana :
H’
= Indeks Shannon-Wiener
ni
= Jumlah Individu jenis ke (i)
N
= Total Jumlah Individu
Indeks Keseragaman.
Kemerataan
atau
keseragaman
disebut juga sebagai keseimbangan dari
komposisi Individu tiap jenis dalam suatu
komunitas. Odum (1971) dalam Rupianti
(2011). Diversitas maksimum (Hmaks) terjadi
bila kelimpahan semua spesies disemua
stasiun merata. Rasio keanekaragaman yang
terukur dengan keanekaragaman maksimum
dapat dijadikan ukuran keseragaman (E):
D’ = 031 – 0,60 = Dominansi Sedang
D’ = 0,61 – 1,0 = Dominansi Tinggi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Kelimpahan Kepiting Bakau
Kelimpahan kepiting bakau yang
ditemukan di lokasi pengambilan data berkisar
antara 0-11 ind/400 m2. Kelimpahan tertinggi
terdapat pada minggu ke-2 dengan nilai
kepiting bakau 11 ind/400 m2, sedangkan
kelimpahan terendah terdapat pada minggu ke1 dengan nilai 0 ind/400 m2. Kelimpahan
kepiting bakau dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Tangkapan Kepiting Bakau Per
Minggu
Keterangan :
E
= Indeks keseragaman
H’
= Indeks keanekaragaman ShannonWienner
Hmaks = Keanekaragaman maksimum
S
= Jumlah spesies
Nilai indeks keseragaman berkisar
antara 0-1. Indeks yang mendekati 0
menunjukan
adanya
individu
yang
terkonsentrasi pada satu atau beberapa jenis.
Hal ini dapat diartikan ada beberapa jenis biota
yang memiliki jumlah jenis individu yang
relatif banyak, sementara beberapa jenis
lainnya memiliki jumlah individu yang relatif
sedikit. Nilai indeks keseragaman yang
mendekati 1 menunjukan bahwa jumlah
individu disetiap spesies adalah sama atau
hampir sama.
Indeks Dominansi
Mengetahui dominansi digunakan
untuk mengetahui ada tidaknya dominansi dari
jenis tertentu.
Rumus untuk menghitung dominansi Odum
(1998) dalam Sari (2014) yaitu :
D’ = ∑ {pi}2
pi =
Kriteria Indeks Dominansi Simpson dibagi
menjadi 3 kategori:
D’ = 0 – 030 = Dominansi Rendah
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
Minggu
Jumlah
Tangkapan/ 400
m2
Jenis Kepiting
1
0
2
11
Scylla serrata
3
10
Scylla serrata
4
7
Scylla serrata
Total
28
Keanekaragaman, Keseragaman, dan
Dominansi Kepiting Bakau
Keanekaragaman kepiting bakau pada
lokasi pengambilan data bernilai 0. Indeks
keseragaman pada saat pengambilan data
bernilai 1 dan nilai indeks dominansi kepiting
bakau yaitu 1, dimana artinya dominansi
kepiting bakau pada daerah pengambilan data
tinggi.
Nilai
indeks
keanekaragaman,
keseragaman dan dominansi dapat dilihat pada
Tabel 2.
Tabel 2. Nilai
Keanekaragaman
(H’),
Keseragaman (E) dan Dominansi (C) pada
Stasiun Penelitian.
Indeks
ST.1
ST.2
ST 3
Keanekaragaman
0
0
0
Keseragaman
1
1
1
Dominansi
1
1
1
Faktor Fisika Kimia Perairan.
Faktor fisika kimia perairan diukur
untuk mengetahui keadaaan lingkungan atau
HALAMAN- 16
AKUATIK- Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla sp) Di Perairan Muara Tebo Nelayan Satu Sungailiat
perairan kepiting bakau pada saat pengambilan
data. Hasil pengukuran parameter fisika kimia
perairan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Pengukuran Parameter Fisika dan
Kimia Perairan.
Paramet
er
Fisika
Mingg
u1
Mingg
u2
Mingg
u3
Mingg
u4
Rata
-rata
Suhu
perairan
(ºC)
25,6
29,3
28,6
30,3
28,4
Arus
(m/s)
0,07
0,06
0,07
0,07
0,06
Kecerah
an (m)
0,19
0,27
0,29
0,41
0,2
Salinitas
(ppt)
13,3
19
18,6
16
16,7
Ph
6
7,3
7,3
7,3
6,9
Oksigen
terlarut
6,76
7,2
5,8
5,7
6,3
Kimia
Karakteristik Substrat
Analisis tipe substrat merupakan
komposisi fraksi pasir, debu dan liat . Tipe
substrat pada habitat Kepiting Bakau di Muara
Tebo Nelayan Satu Sungailiat sebagian besar
terdiri dari komposisi pasir. Fraksi tipe
substrat dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Karakteristik Tipe Substrat
Stasiun
Pasir
(%)
Debu
(%)
Liat
(%)
Tipe
Substrat
I
98,87
1,13
1,13
Pasir
II
97,93
2,07
2,07
Pasir
III
100
0
0
Pasir
Pembahasan
Kelimpahan Kepiting Bakau
Kelimpahan kepiting bakau di
masing-masing stasiun pada saat pengambilan
data relatif rendah. Rendahnya kelimpahan
kepiting bakau ini dikarenakan pada bulan
Februari atau pada saat pengambilan data
bukan merupakan musim kepiting bakau.
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
Musim kepiting bakau di perairan Muara Tebo
menurut nelayan setempat yaitu pada bulan
September hingga bulan Oktober. Bulan
februari atau bulan pada saat pengambilan data
merupakan musim barat. Menurut Nontji
(1987) dalam Asmara (2005), menyatakan
bahwa pada Bulan Desember adalah awal dari
musim barat (Desember-Februari) dimana
suhu turun mencapai minimum dan bertepatan
pula dengan curah hujan yang tinggi. Hal ini
sesuai dengan pendapat Effendi (2003), bahwa
suhu dipengaruhi oleh musim.
Suhu yang rendah di perairan oleh
sebab musim penghujan dapat menyebabkan
ketersediaan makanan di perairan sedikit dan
juga dapat menyebabkan ikan jarang makan
bahkan ada yang tidak makan sama sekali.
Ketersediaan makanan di perairan sedikit saat
suhu rendah dan adanya hujan menyebabkan
keberadaan plankton yang ditemukan pada
saat hujan lebih sedikit dari pada suhu tinggi
dan musim panas. Musim penghujan memiliki
penetrasi cahaya dan suhu yang rendah,
dibanding dengan musim panas. Pada saat
penetrasi cahaya rendah ke dalam perairan
menyebabkan fitoplankton tidak maksimal
melakukan fotosintesis. Fitoplankton adalah
organisme yang dapat mengubah zat-zat
anorganik menjadi zat organik dengan bantuan
cahayamatahari melalui proses fotosintesis
yang hasilnya disebut produksi primer dan
juga sebagai pemasok oksigen. Saat penetrasi
cahaya ke perairan rendah, maka fotosintesis
akan terhambat, dan zat organik di perairan
rendah oleh sebab itu ketersediaan makanan di
perairan rendah (Safitriyani, 2015).
Menurut Asmara (2005), menyatakan
bahwa saat musim penghujan kelimpahan
fitoplankton rendah di perairan. Saat
kelimpahan fitoplankton rendah, hal ini
menandakan keberadaan zooplankton dan
biota-biota pemakan fitoplankton di perairan
juga rendah. Rendahnya zooplankton ini akan
mempengaruhi pola makan dari kepiting bakau
dimana zooplankton ini merupakan makanan
dari kepiting bakau.
Bulan Februari ini juga merupakan
dimana para indukan dari kepiting bakau
melakukan pemijaan di laut. Siahainenia
(2008) menyatakan bahwa kepiting bakau
yang bertelur akan bermigrasi dari perairan
HALAMAN- 17
AKUATIK- Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla sp) Di Perairan Muara Tebo Nelayan Satu Sungailiat
payau ke perairan laut untuk memijah. Migrasi
kepiting bakau betina matang gonad ke
perairan laut, merupakan upaya mencari
perairan yang kondisinya cocok sebagai
tempat memijah, inkubasi dan menetaskan
telur. Dengan demikian merupakan juga upaya
penjamin kelangsungan hidup embrio serta
bagi larva yang dihasilkan. Kecocokan
tersebut terutama terhadap parameter suhu dan
salinitas lingkungan. intensitas pemijahan
tertinggi atau puncak musim pemijahan
kepiting bakau terjadi pada bulan Februari
sampai April. Hal tersebut berarti puncak
musim pemijahan kepiting bakau terjadi pada
akhir musim hujan sampai menjelang awal
musim panas.
Kelimpahan kepiting bakau di Muara
Tebo rendah selain disebabkan oleh musim
juga disebabkan oleh rendahnya arus perairan
pada saat pengambilan data. Rendahnya arus
pada saat pengambilan data ini sangat
berhubungan dengan umpan Ikan Tamban
segar yang ada di dalam bubu lipat mengingat
dalam hal ini bau dari umpan sangat berperan
aktif dalam menentukan hasil tangkapan .
Semua faktor fisika kimia yang ada di
perairan sangat mempengaruhi keberadaan
biota yang ada didalam suatu perairan.
Menurut Hairunnisa (2004) parameter fisika
kimia air merupakan faktor lingkungan yang
sangat mempengaruhi pertumbuhan kepiting
bakau. Kepiting bakau di alam menempati
habitat yang berbeda-beda berdasarkan stadia
pada daur hidupnya. Parameter fisika kimia
perlu diketahui untuk mengetahui kekhususan
habitat kepiting bakau dimana organisme ini
berada. Kelimpahan kepiting bakau yang
mempunyai nilai terendah yaitu terdapat pada
minggu ke-1 dengan nilai 0. Rendahnya
kelimpahan pada minggu ini dikarenakan
pada saat sebelum pengambilan data di lokasi
penelitian terjadi hujan sehingga menyebabkan
rendahnya suhu perairan pada minggu
pertama. Rendahnya suhu yang ada diperairan
ini menyebabkan minimnya ketersediaan
makanan diperairan yang dalam hal ini erat
kaitannya dengan keberadaan plankton
diperairan.
Perubahan
kondisi
lingkungan
tersebut menyebabkan tidak ditemukannya
kepiting bakau pada saat pengambilan data di
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
minggu pertama. Menurut Nybakken (1992)
dalam Hairunnisa (2004) pasang surut terjadi
karena interaksi antara gaya tarik (gravitasi)
matahari dan bulan terhadap bumi serta gaya
sentrifugal yang ditimbulkan oleh rotasi dan
sistem bulan. Akibat gaya-gaya ini, air
samudera tertarik ke atas, naik turunnya
permukaan laut secara periodik selama satu
interval waktu tertentu disebut pasang surut.
Pasang surut merupakan faktor lingkungan
yang paling penting yang mempengaruhi
kehidupan di zona intertidal. Larva kepiting
bakau yang berasal dari perairan laut banyak
dijumpai di sekitar daerah estuaria dan hutan
mangrove dikarenakan terbawa oleh arus pada
saat pasang. Larva-larva tersebut selanjutnya
akan menempel pada akar-akar mangrove
untuk berlindung (Mulya, 2000).
Karakteristik substrat kepiting bakau
menyukai perairan berlumpur yang umumnya
terdapat pada daerah mangrove. Tipe substrat
stasiun 1-3 diperairan Muara Tebo yang paling
mendominasi adalah tipe substrat berpasir
dengan kisaran 97,93-100 %, debu 1,13-2,07,
dan liat 1,13-2,07. Mendominasinya substrat
berpasir diperairan Muara Tebo ini
dikarenakan masih terpengaruh oleh pasir
pantai yang terbawa oleh arus pada saat terjadi
pasang air laut. Komposisi substrat berpasir
pada perairan Muara Tebo ini dikarenakan
secara geografis Muara Tebo ini sangat dekat
sekali dengan pantai sehingga memungkinkan
pasir yang terdapat pada pantai terbawa arus
pada saat perairan mengalami pasang. Kondisi
dasar muara yang memiliki tekstur substrat
berpasir ini masih cocok dengan habitat
kepiting bakau dan masih dapat ditumbuhi
oleh mangrove. Menurut Kasry (1999) dalam
Serosero (2011) menyatakan bahwa kepiting
bakau dapat hidup pada kondisi tanah liat,
pasir, lumpur atau campuran ketiganya.
Melihat kondisi substrat di Muara Tebo yang
umumnya berpasir menunjukan bahwa
perairan di Muara Tebo yang memiliki
substrat berpasir masih cocok bagi kepiting
bakau.
Secara umum kondisi ekosistem
mangrove yang terdapat di Muara Tebo sedikit
dan hanya terdapat pada pinggiran muara saja.
Sedikitnya ekosistem mangrove di Muara
Tebo ini dikarenakan adanya pembangunan
HALAMAN- 18
AKUATIK- Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla sp) Di Perairan Muara Tebo Nelayan Satu Sungailiat
rumah oleh masyarakat sekitar sehingga
menyebabkan banyaknya mangrove yang
hilang akibat pembangunan tersebut. Selain
disebabkan pembangunan rumah oleh
masyarakat, sedikitnya ekosistem mangrove di
Muara Tebo ini juga disebabkan oleh
pembukaan lahan untuk tempat tambat perahu
nelayan dan pembukaan lahan untuk aktifitas
tambang.
Keanekeragaman,
Keseragaman,
dan
Dominansi Kepiting Bakau
Nilai
indeks
keanekaragaman
kepiting bakau yang ada di Muara Tebo
rendah yaitu bernilai 0. Hal ini dikarenakan
kepiting bakau yang ditemukan hanya satu
jenis yaitu kepiting bakau jenis Scylla serrata.
Jenis kepiting ini memiliki ciri karapaks halus,
berwarna hijau hingga hijau zaitun, panjang
cangkang 25-28 cm. Bagian luar (capit)
bewarna hijau dengan pola bulat-bulat,
kemudian kaki renang berpola bulat-bulat baik
jantan maupun betina. Kepiting Bakau berjenis
Scylla serrata merupakan kepiting bakau yang
umum dijual dan memiliki harga yang sangat
tinggi. Permintaan akan kepiting bakau ini
juga sangat besar baik untuk kebutuhan ekspor
dalam negeri maupun luar negeri.
Ditemukannya jenis kepiting bakau
ini dikarenakan kepiting bakau jenis Scylla
serrata memiliki kemampuan untuk hidup
pada perairan luas seperti perairan muara
hingga perairan pantai. Kemampuan kepiting
bakau jenis Scylla serrata ini juga dikarenakan
memiliki toleransi yang besar terhadap
perubahan salinitas perairan. Jenis kepiting
bakau lainnya seperti Scylla tranqubarica dan,
Scylla oceania hidup pada daerah yang
memiliki rentang salinitas yang lebih sempit
dibandingkan dengan jenis Scylla serrata
sehingga menyebabkan populasi ketiga spesies
ini banyak ditemukan pada daerah hutan
mangrove dan memiliki salinitas yang lebih
rendah (Irvan, 2010). Secara geografis Muara
Tebo merupakan sebuah muara yang sangat
dekat dengan pantai sehingga membuat
kepiting bakau jenis Scylla serrata lebih
banyak hidup dan mendominasi di Muara
Tebo mengingat jenis kepiting tersebut dapat
hidup pada perairan muara hingga pantai.
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
Indeks Keseragaman yang diperoleh
dari pengambilan data selama 4 minggu yang
terdiri dari tiga stasiun memiliki nilai 1. Nilai
tersebut menunjukkan keseragaman kepiting
bakau yang ada di Muara Tebo seragam. Nilai
yang menunjukkan angka 1 tersebut
dikarenakan kepiting bakau yang ditemukan di
Muara Tebo hanya satu jenis yaitu Scylla
serrata, sehingga spesies ini memiliki nilai
keseragaman yang tinggi di perairan tersebut.
Seragamnya kepiting bakau jenis Scylla
serrata ini dikarenakan kepiting bakau
tersebut mampu hidup pada daerah muara
hingga pantai (Siahainenia, 2000).
Indeks Dominansi yang diperoleh
selama 4 minggu pengambilan data dari ketiga
stasiun memiliki nilai yang sama yaitu bernilai
1. Hal ini menunjukkan bahwa dominansi
kepiting bakau yang ada di perairan Muara
Tebo ini tinggi. Tingginya nilai dominansi di
Perairan Muara Tebo pada saat pengambilan
data dikarenakan pada saat pengambilan data
jenis kepiting yang ditemukan hanya satu
jenis. Menurut Odum (1998) dalam Rupianti
(2011) indeks dominansi dengan kisaran
kurang dari 0,5 maka tidak ada jenis yang
mendominasi, dan apabila kisaran lebih dari
0,5 maka terdapat jenis yang mendominasi.
Mendominasinya kepiting jenis Scylla serrata
dikarenakan pada perairan Muara Tebo ini
merupakan perairan yang sesuai bagi habitat
kepiting bakau jenis Scylla serrata yang dapat
hidup pada perairan muara hingga perairan
dekat pantai.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Simpulan yang dapat diambil berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan adalah :
1. Kelimpahan Kepiting Bakau di Muara
Tebo berkisar antara 0-11 ind/400m².
2. Keanekaragaman kepiting bakau di
Muara Tebo bernilai 0, nilai keseragaman
1 dan nilai indeks dominansi bernilai 1.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, analisis data,
pembahasan, dan simpulan, maka peneliti
mengemukakan beberapa saran yang dapat
dijadikan bahan pertimbangan, diantaranya :
HALAMAN- 19
AKUATIK- Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla sp) Di Perairan Muara Tebo Nelayan Satu Sungailiat
1.
2.
Perlu dilakukan penelitian lanjutan
mengenai umpan ikan tamban kering
dalam penangkapan kepiting bakau agar
dapat meningkatkan hasil tangkapan
kepiting bakau.
Perlu dilakukan penelitian lanjutan
mengenai kelimpahan kepiting bakau di
dua lokasi yang berbeda.
Kabupaten Garut Jawa Barat. Jurnal
Ilmu Perikanan dan Sumberdaya
Perairan. 5(2) : 97-106.
Kordi, M.G, 2000. Budidaya Kepiting dan
Ikan Bandeng di Tambak Sistem
Polikultur. Penerbit Dahara Prize.
Semarang.
.
DAFTAR PUSTAKA
Asmara,
A. 2005. Hubungan Struktur
Komunitas Plankton dengan Kondisi
Fisika -Kimia Perairan Pulau
Pramuka dan Pulau Panggang,
Kepulauan Seribu.[Skripsi]. Bogor:
Departemen Manajemen Sumberdaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor. 91 hal.
Barus, T.A. 2000. Pengantar Limnologi.
Universitas Sriwijaya: Palembang..
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air.
Kanisius.Yogyakarta. 257 hal
Fujaya, Y. 2008. Kepiting komersil di dunia,
biologi,
pemanfaatan,
dan
pengelolaannya.
Citra
Emulsi.
Makassar.
Hairunnisa, R. 2004. Kelimpahan Kepiting
Bakau (Scylla sp) di Kawasan Hutan
Mangrove KPH Batu Ampar,
Kabupaten Pontianak, Kalimantan
Barat [Skripsi] Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan.IPB.
Ihsan, N. 2009. Komposisi Hasil Tangkapan
Sondong Di Kelurahan Batu Teritip
Kecamatan Sungai Sembilan Kota
Dumai Provinsi Riau. [Skripsi].
Fakultas Perikanan
dan
Ilmu
Kelautan
Universitas
Riau.
Pekanbaru. 102 hal.
Mamesah J., Latuihamallo M. 2007. Struktur
Komunitas Bivalvia Pada Komunitas
Mangrove Desa Passo Kecamatan
Teluk Ambon Baguala, Maluku. Di
dalam: Pringgenies, D., Sudrajat.,
Insan, I., Hartati, R dan Widianingsih
(eds). Prosiding Seminar Nasional
Moluska
Dalam
Penelitian,
Konservasi dan Ekonomi. Semarang
17 Juli. 2007.
Mulya, M.B. 2000. Kelimpahan dan Distribusi
Kepiting Bakau (Scylla Sp) Serta
Keterkaitannya dengan Karakteristik
Biofisik Hutan Mangrove di Suaka
Margasatwa Karang Gading dan
Langkat Timur Laut Propinsi
Sumatera Utara. .[Tesis] Program
Pasca Sarjana. IPB. 140 hal .
Siahainenia, L. 2000. Distribusi Kelimpahan
Kepiting Bakau (Scylla serrata,
Scylla
oceanica
dan
Scylla
transquebarica) dan hubungannya
dengan karakteristik habitat pada
kawasan hutan mangrove teluk pelita
jaya, Seram Barat-Maluku. [Tesis].
Program
Pascasarjana
Institut
Pertanian Bogor.
Verslycke T, Janssen C.R. 2003. Effect of
Changing Abiotic Enviroment on the
Energy Metabolism in the Mysid
Shrimp Neomysis integer (Crustacea
Mysidaceae). J Exp Mar Biol Ecol
279:61-72
Irvan. 2010. Karakteristik Habitat dan Potensi
Kepiting Bakau (Scylla serrata,
S.transquaberica, and S.olivacea) di
Hutan Mangrove, Cibako, Sancang,
Volume 9. Nomor 2. Tahun 2015
HALAMAN- 20
Download