pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan

advertisement
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI
TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA
(Quasi Eksperimen di SMA Darul Muttaqin Bekasi)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk memenuhi syarat
mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Oleh:
IRMA IDRISAH
NIM : 108016200002
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
LEMBAR PENGESAHAN
PENGARUH MODEL INKUIRI TERHADAP KEMAMPUAN
BERPIKIR KREATIF SISWA
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Oleh:
IRMA IDRISAH
NIM: 108016200002
Di bawah bimbingan:
Pembimbing I
Pembimbing II
Dedi Irwandi, M.Si
NIP: 19710528 200003 1 002
Burhanudin Milama, M.Pd
NIP: 19770201 200801 1 011
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
KEMENTERIAN AGAMA
UIN JAKARTA
FITK
No. Dokumen
Tgl. Terbit
No. Revisi:
Hal
FORM (FR)
Jl. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 Indonesia
:
:
:
:
FITK-FR-AKD-098
1 Maret 2010
01
1/1
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama
: IRMA IDRISAH
Tempat/Tgl Lahir
: Bekasi, 07 September 1989
NIM
: 108016200002
Jurusan/Prodi
: Pendidikan IPA/Pendidikan Kimia
Judul Skripsi
: PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI
TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
SISWA
Dosen Pembimbing
: 1. Dedi Irwandi, M.Si
2. Burhanudin Milama, M.Pd
dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri
dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat Wisuda.
Jakarta, 9 September 2014
Mahasiswa Ybs
Irma Idrisah
NIM. 108016200002
ABSTRAK
Irma Idrisah, NIM. 108016200002, “Pengaruh Model Inkuiri Terhadap
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa”. Kuasi Eksperimen di SMA Darul
Muttaqin Bekasi. S1-Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan
Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model inkuiri
terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SMA
Darul Muttaqin Bekasi pada bulan Mei 2013. Metode yang digunakan dalam
penelitian adalah kuasi eksperimen dengan desain penelitian non-equivalent
control group design. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan
purposive sampling. Sampel penelitian terdiri dari 26 murid (kelas eksperimen)
dan 26 murid (kelas kontrol). Instrumen penelitian berupa tes kemampuan berpikir
kreatif dan nontes berupa observasi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai
rata-rata posttest kelompok eksperimen sebesar 73,35 dan kelompok kontrol
sebesar 58,15. Hasil uji-t menunjukkan bahwa thitung sebesar 4,64 lebih besar dari
ttabel yaitu 1,68 dengan taraf signifikansi 5%, maka hipotesis alternatif (Ha)
diterima. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan model
inkuri terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.
Kata Kunci : Model Inkuiri, Kemampuan Berpikir Kreatif
i
ABSTRACT
Irma Idrisah, NIM. 108016200002, "Effect of Inquiry Model on Students
Creative Thinking". A Quasi-Experiment Research at Darul Muttaqin Bekasi
High School. S1-Thesis, Chemistry Education Program, Department of Natural
Science, Faculty of Tarbiyah and Teaching , Syarif Hidayatullah State Islamic
University Jakarta.
The purpose of this study was to determine the effect of the inquiry model
on creative thinking ability of students. This research was conducted at Darul
Muttaqin Bekasi High School in May 2013. The method used in the study was
quasi-experimental research design with non-equivalent control group design.
Samples were taken by purposive sampling technique. Samples were consisted of
26 students ( experimental class ) and 26 students ( control class ). The research
instruments were test of abilities to creative thinking and non-test form of
observation. The results of the data analysis showed that the average value of
posttest experimental group was 73,35 and control group was 58,15. T-test results
for 4,64 show that t is greater than t table is 1,68 with a significance level of 5%,
then the alternative hypothesis (Ha) is accepted. The results showed that there is a
significant effect of inquiry model for the creative thinking ability of students.
Keywords : Inquiry Model , Creative Thinking Ability
ii
KATA PENGANTAR
Bismillahirramanirrahim
Alhamdulillah wasyukurillah, puji dan syukur kepada-Mu ya Allah atas
segala nikmat dan kasih sayang-Mu. Salawat teriring salam senantiasa tercurah
untuk kekasih-Mu, Muhammad SAW.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat akademis
untuk menyelesaikan studi S1 program studi Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta. Skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Inkuiri Terhadap Kemampuan
Berpikir Kreatif Siswa” ini merupakan wujud tertulis dari penelitian yang penulis
lakukan di SMA Darul Muttaqin Bekasi.
Adalah termasuk orang yang tidak pandai bersyukur kepada Allah SWT.
manakala kita tidak bisa berterimakasih kepada orang lain. Penulis sadar, dalam
rangka menuntaskan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan dan partisipasi
berbagai pihak. Oleh karena itu, kupersembahkan penghargaan dan ucapan terima
kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Ibu Nurlena Rifa’I, M.A., Ph.D, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc, Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dedi Irwandi, M.Si, Ketua Program Studi Pendidikan Kimia sekaligus
dosen pembimbing I yang selalu membimbing dan mengarahkan selama
penelitian dan penulisan.
4. Bapak Burhanudin Milama, M.Pd, selaku pembimbing II yang selalu
membimbing dan mengarahkan selama penelitian dan penulisan.
5. Bapak Tonih Feronika, M.Pd, selaku dosen penasehat akademik sekaligus
dosen penguji I dan Ibu Salamah Agung, S.Si, A.Pt, M.A, selaku dosen
penguji II.
6. Bapak Asep Romli, S.Ag, kepala sekolah SMA Darul Muttaqin Cibarusah
Bekasi yang telah memberikan izin penelitian. Bapak Slamet Utomo, S.Pd dan
iii
Bapak Adi Abdul Hadi, S.Pd.I, guru mata pelajaran kimia yang telah
membantu dan menjadi konsultan terbaik selama eksperimen. Bapak Toni
Sahroni, S.Pd.I dan seluruh sivitas akademika SMA Darul muttaqin Bekasi
yang telah membantu selama eksperimen.
7. Miftahudin, M.Si, suami tercinta yang selalu setia mendampingi dan
mendukung, menjadi tempat berkeluh kesah dan sumber inspirasi serta
semangat, bagian kehidupan tak tergantikan.
8. Ayahanda tercinta H. Idris Marzuki dan Ibunda tersayang Hj. Komariah,
teriring doa, “Ya Allah limpahkanlah selalu kasih sayang-Mu kepada orang
yang telah mebimbing dan membesarkan kami dengan segala jerih payahnya.
Bahagiakanlah mereka, karena kebahagiaan terbesar kami adalah melihatnya
bahagia”.
9. Abi dan Umi mertua KH. Ahmid dan Hj. Dedeh Muti’ah yang kasih sayang
serta doanya kepada peneliti tak terhingga, semoga Allah SWT. selalu
memberi kesehatan kepada keduanya.
10. Kakanda tercinta: Pelda Aa Setiawan dan Ella, Ida Hasanah, S.Si dan H. Nasa,
Kurniawan, S.Pd. serta keponakan tersayang Satria Tarezza Pahlawan dan
Almirah Khanza Akoba yang senantiasa mendoakan dan memberi semangat.
11. Rekan-rekan sahabat mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Angkatan
2008, lebih khusus kepada Eka, Fitri, Tsem, Vivi, Okta, Lena dan member
bunga yang telah menjadi konsultan dan teman terbaik.
Kami berharap skripsi ini menjadi kontribusi serta menambah pustaka dan
referensi bagi semua pihak yang membutuhkan. Saran dan masukan dari para
pembaca untuk perbaikan ketidaksempurnaan skripsi ini sangat diharapkan.
Ciputat,
April 2014
Irma Idrisah
iv
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK .............................................................................................
i
KATA PENGANTAR ...........................................................................
iii
DAFTAR ISI ..........................................................................................
v
DAFTAR TABEL .................................................................................
viii
DAFTAR LAMPIRAN .........................................................................
xi
BAB I
PENDAHULUAN .................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah ...................................................
1
B. Identifikasi Masalah .........................................................
4
C. Pembatasan Masalah.........................................................
4
D. Perumusan Masalah ..........................................................
5
E. Tujuan Penelitian ..............................................................
5
F. Manfaat Penelitian ............................................................
5
BAB II
DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR,
DAN HIPOTESIS .................................................................
6
A. Deskripsi Teoretis .............................................................
6
1. Model Inkuiri ..............................................................
6
2. Kemampuan Berpikir Kreatif .....................................
16
3. Konsep Hidrolisis Garam ...........................................
24
B. Hasil Penelitian Yang Relevan .........................................
27
C. Kerangka Berpikir ............................................................
29
D. Perumusan Hipotesis Penelitian .......................................
29
BAB III METODOLOGI PENELITIAN..........................................
30
A. Waktu dan Tempat Penelitian...........................................
30
B. Metode dan DesainPenelitian ...........................................
30
1. Metode Penelitian .......................................................
30
2. Desain Penelitian ........................................................
30
v
C. Populasi dan Sampel Penelitian ........................................
31
1. Populasi ......................................................................
31
2. Sampel ........................................................................
31
D. Variabel Penelitian ...........................................................
32
E. Teknik Pengumpulan Data ...............................................
32
F. Instrumen Penelitian .........................................................
33
1. Tes Kemampuan Berpikir Kreatif ..............................
33
2. Observasi ....................................................................
34
G. Kalibrasi Instrumen ..........................................................
35
1. Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Kreatif .............
35
2. Lembar Observasi .......................................................
39
H. Teknik Analisis Data ........................................................
39
1. Data Tes Kemampuan Berpikir Kreatif ......................
39
2. Data Observasi ............................................................
43
I. Hipotesis Statistik .............................................................
44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................
45
A. Hasil Penelitian .................................................................
45
1. Hasil Pretest Berpikir Kreatif Siswa ..........................
45
2. Hasil Posttest Berpikir Kreatif Siswa .........................
47
3. Hasil Lembar Observasi .............................................
49
B. Hasil Pengujian Prasyarat Analisis Data Pretest ..............
50
1. Uji Normalitas ............................................................
50
2. Uji Homogenitas ........................................................
51
3. Uji Hipotesis ..............................................................
52
C. Hasil Pengujian Prasyarat Analisis Data Posttest.............
52
1. Uji Normalitas ............................................................
52
2. Uji Homogenitas ........................................................
53
3. Uji Hipotesis ..............................................................
54
D. Pembahasan ......................................................................
55
vi
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN .............................................
62
A. Kesimpulan .......................................................................
62
B. Saran .................................................................................
62
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................
63
LAMPIRAN ...........................................................................................
66
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kation dan Anion yang Terhidrasi dalam Air ......................
25
Tabel 3.1 Desain Penelitian ..................................................................
31
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Tes Kemampuan Berpikir Kreatif ........................
33
Tabel 3.3 Kriteria Taraf Kesukaran ......................................................
37
Tabel 3.4 Kriteria Daya Pembeda ........................................................
38
Tabel 3.5 Kriteria Penilaian Hasil Tes Berpikir Kreatif Siswa ............
40
Tabel 3.6 Bobot Nilai Item Observasi Berdasarkan Skala Likert ........
43
Tabel 3.7 Kriteria Penilaian Lembar Observasi ...................................
44
Tabel 4.1 Hasil Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol.............
45
Tabel 4.2 Nilai Rata-Rata Pretest Indikator Berpikir Kreatif Siswa ....
46
Tabel 4.3 Hasil Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ...........
47
Tabel 4.4 Nilai Rata-Rata Posttest Indikator Berpikir Kreatif Siswa ..
48
Tabel 4.5 Hasil Observasi Keterlaksanaan Tahapan Model Inkuiri
Terbimbing ..........................................................................
49
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Pretest ................................................
50
Tabel 4.7 Hasil Uji Homogenitas Pretest .............................................
51
Tabel 4.8 Uji Hipotesis Hasil Pretest ...................................................
52
Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas Posttest ...............................................
53
Tabel 4.10 Hasil Uji Homogenitas Posttest ...........................................
54
Tabel 4.11 Uji Hipotesis Hasil Posttest..................................................
55
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A1
: RPP Kelas Kontrol .....................................................
66
Lampiran A2
: RPP Kelas Eksperimen ..............................................
85
Lampiran A3
: Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelas Eksperimen .........
106
Lampiran B1
: Soal Tes Berpikir Kreatif (Sebelum Uji Validitas) ....
112
Lampiran B2
: Kunci Jawaban Tes Berpikir Kreatif (Sebelum Uji
Validitas) ....................................................................
Lampiran B3
117
: Rubrik Penilaian Tes Berpikir Kreatif (Sebelum Uji
Validitas) ....................................................................
129
Lampiran B4
: Soal Tes Berpikir Kreatif (Setelah Uji Validitas) ......
134
Lampiran B5
: Kunci Jawaban Tes Berpikir Kreatif (Setelah Uji
Validitas) ....................................................................
Lampiran B6
138
: Rubrik Penilaian Tes Berpikir Kreatif (Setelah Uji
Validitas) ....................................................................
146
Lampiran B7
: Lembar Observasi Siswa Kelas Eksperimen .............
149
Lampiran B8
: Rubrik Penilaian Observasi........................................
151
Lampiran C1
: Hasil Uji Validitas Tes Berpikir Kreatif (Anates) .....
155
Lampiran C2
: Hasil Tes Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol (Pretest dan Posttest) ...................
Lampiran C3
: Hasil Indikator Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen
(Pretest) ......................................................................
Lampiran C4
Lampiran C7
165
: Hasil Indikator Berpikir Kreatif Kelas Kontrol
(Pretest) ......................................................................
Lampiran C6
163
: Hasil Indikator Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen
(Posttest) ....................................................................
Lampiran C5
162
167
: Hasil Indikator Berpikir Kreatif Kelas Kontrol
(Posttest) ....................................................................
169
: Hasil Observasi Siswa Kelas Eksperimen .................
171
ix
Lampiran D1
: Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen (Pretest) ......
174
Lampiran D2
: Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen (Posttest).....
176
Lampiran D3
: Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol (Pretest).............
178
Lampiran D4
: Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol (Posttest) ...........
180
Lampiran D5
: Uji Normalitas Kelas Eksperimen (Pretest)...............
182
Lampiran D6
: Uji Normalitas Kelas Eksperimen (Posttest) .............
184
Lampiran D7
: Uji Normalitas Kelas Kontrol (Pretest) .....................
186
Lampiran D8
: Uji Normalitas Kelas Kontrol (Posttest) ....................
188
Lampiran D9
: Uji Homogenitas Pretest ............................................
190
Lampiran D10 : Uji Homogenitas Posttest...........................................
191
Lampiran D11 : Uji Hipotesis Pretest ..................................................
192
Lampiran D12 : Uji Hipotesis Posttest .................................................
194
Lampiran E
196
: Foto-Foto Dokumentasi Kegiatan Penelitian .............
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah)
dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Proses
pembelajaran
yang
hanya
berorientasi
pada
penguasaan
sejumlah
informasi/konsep belaka, menuntut siswa untuk menguasai materi pelajaran.
Penekanannya lebih pada hapalan dan mencari satu jawaban yang benar
terhadap soal-soal yang diberikan. Proses-proses pemikiran tinggi termasuk
berpikir kreatif jarang dilatih. Padahal, kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi menuntut sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki
pengetahuan saja tetapi juga harus memiliki keterampilan (life skill) dalam
menciptakan sesuatu yang kreatif.
Untuk dapat mengetahui sesuatu, siswa haruslah aktif sendiri
mengkonstruksi. Dengan kata lain, dalam belajar siswa harus aktif mengolah
bahan, mencerna, memikirkan, menganalisis, dan akhirnya yang terpenting
merangkumnya sebagai suatu pengertian yang utuh. Tanpa keaktifan siswa
dalam membangun pengetahuan mereka sendiri, mereka tidak akan mengerti
apa-apa.1 Menjadi kreatif adalah ciri manusia yang berharga, lebih-lebih
dalam era pembangunan ini sangat dituntut manusia-manusia kreatif, manusia
pembangunan.2 Dengan demikian, kemampuan berpikir kreatif siswa dalam
hal menciptakan sesuatu yang kreatif sangat penting untuk dilatih.
Kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan siswa dalam
memahami masalah dan menemukan penyelesaian dengan strategi atau
1
Paul Suparno, Metodologi Pembelajaran Fisika, (Cet. 1; Yogyakarta: Universitas
Sanata Dharma, 2007), h. 9
2
Moh. Amien, Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Dengan Menggunakan
Metode “Discovery” dan “Inquiry”, (Jakarta: P2LPTK, 1987), h. 175
1
2
metode yang bervariasi (divergen).3 Dalam berpikir kreatif, proses dasar
berpikir digunakan untuk penemuan hal-hal baru, karya seni, gagasan-gagasan
yang konstruktif yang berkaitan dengan persepsi atau konsep, yang
menekankan aspek intuisi ataupun rasional dalam berpikir.4 Pemikir kreatif
dengan sengaja melatih imajinasi mereka, sebagian dengan memandang
sesuatu dari sudut pandang yang tidak biasa.5
Menurut
Guilford
Kreativitas
atau
berpikir
kreatif,
sebagai
kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian
terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini
masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal.6 Hasil studi yang
dilakukan oleh Getzels dan Jackson, dan Torrance mengungkapkan bahwa
guru cenderung lebih suka terhadap siswa yang lebih penurut, jinak, pendiam,
dan yang dapat diramalkan dari pada terhadap siswa yang bersikap bebas aktif
dan kreatif.7 Padahal, proses pembelajaran IPA menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi
dan memahami alam sekitar secara ilmiah.8 Hasil penelitian Sarjono
menyatakan bahwa pembelajaran sains selama ini dilakukan tidak melalui
inkuiri ilmiah melainkan didominasi oleh kegiatan transfer informasi dan
bersifat hafalan, sehingga hasil belajar sains menjadi rendah dan tidak
bermakna panjang.9
Melihat kenyataan di atas jelaslah bahwa pentingnya kemampuan
berpikir kreatif dilatih pada siswa. Untuk itu sangat perlu sekali dalam
3
Tatag Yuli E. S, Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Tahun X, No. 1; Upaya
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa melalui Pengajuan Masalah, (Yogyakara :
FMIPA Unesa, 2005), h. 6
4
Wiwik Haryani & Purwandhi, Jurnal BORNEO, Vol.1 No. 1; Pengembangan
Kurikulum dan Pembelajaran Berpikir, (Bandung : FKIP Unmul, 2007), h. 12
5
Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning Menjadikan Kegiatan Belajar
Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, (Bandung : MCC, 2006), h. 218
6
Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah Petunjuk Bagi
Para Guru dan Orang Tua (Cet. 3; Jakarta: PT Grasindo, 1999), h. 45
7
Moh. Amien, op.cit., h. 170
8
Zulfiani dkk, Strategi Pembelajaran Sains, (Cet. 1; Jakarta: Lembaga Penelitian UIN
Jakarta, 2009), h. 46
9
Ramadhan Witarsa, 38 ISSN 1412-565X Edisi Khusus No. 2; Analisis Kemampuan
Inkuiri Guru Yang Sudah Tersertifikasi dan Belum Tersertifikasi Dalam Pembelajaran Sains SD,
(Agustus 2011), h. 38
3
pembelajaran di sekolah dikembangkan suatu model pembelajaran yang
mendukung peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa. Suatu model
pembelajaran yang tidak hanya mengembangkan kemampuan konsep siswa
tetapi juga dapat melatih kemampuan berpikir kreatif sehingga menghasilkan
suatu pembelajaran yang lebih bermakna. Proses pembelajaran yang
mendorong siswa belajar atas prakarsa sendiri dapat mengembangkan
kemampuan kreatif karena guru menaruh kepercayaan terhadap kemampuan
anak untuk berpikir dan berani mengemukakan gagasan baru.
Hasil penelitian menunjukan bahwa potensi kreatif tidak akan muncul
sendiri secara baik bila individu tidak menjumpai lingkungannya yang
memacu sejak awal.10 National Science Education Standards, menekankan
pemahaman konsep sains dilakukan dalam standard inkuiri.11 Model inkuiri
merupakan salah satu model pembelajaran yang dipandang sesuai untuk
digunakan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa, karena
model inkuiri memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan
penyelidikan terhadap sesuatu sendiri secara langsung. Selain itu, model
inkuiri dapat mempermudah siswa untuk mampu memperoleh pengetahuan
secara mendalam karena siswa mengkonstruk sendiri suatu konsep.
Dengan model inkuiri siswa sungguh dilibatkan untuk aktif berpikir
dan menemukan pengertian yang ingin diketahuinya.12 Model inkuiri
merupakan model pembelajaran yang menekankan pada penemuan sesuatu
melalui proses mencari dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah.13
Model inkuiri pada dasarnya merupakan salah satu usaha dari guru untuk
dapat merangsang siswa berpikir melalui berbagai bentuk pertanyaan, serta
adanya suatu proses pemecahan masalah.14
10
Moh. Amien, op. cit., h. 173
Zulfiani dkk, op. cit., h. 47
12
Paul Suparno, op. cit., h. 65
13
Yuli Nurul Fauziah, Analisis Kemampuan Guru Dalam Mengembangkan Keterampilan
Berpikir Kreatif Siswa Sekolah Dasar Kelas V Pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam,
(Bandung: UPI, 2011), h. 98
14
Kardius Richi Yosada, VOX Edukasi vol.1 No.1; Model Pembelajaran Inkuiri Sosial
Dalam Mengembangkan Berpikir kreatif Siswa pada Bidang Studi IPS Ekonomi Melalui Isu-isu
Ekonomi Kontemporer, (Maret 2010), h. 52
11
4
Karakteristik model inkuiri sesuai jika diterapkan pada konsep yang
memungkinkan keaktifan siswa menganalisis dan memecahkan persoalan
secara sistematik suatu konsep yang sedang dipelajari. Konsep yang sesuai
dengan karakteristik model inkuiri salah satunya adalah konsep hidrolisis
garam. Berdasarkan pemikiran di atas, maka penelitian mengenai penerapan
model inkuiri perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh
model inkuiri dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan sebelumnya, dapat
diamati beberapa masalah yang teridentifikasi sebagai berikut:
1. Masih rendahnya daya serap peserta didik.
2. Proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah masih bertumpu pada
hapalan terhadap suatu teori.
3. Proses-proses pemikiran tinggi termasuk berpikir kreatif jarang dilatih.
4. Peserta didik hanya mampu mengingat fakta/teori tanpa memahami
pengetahuan yang dimiliki untuk dihubungkan dengan persoalan dalam
kehidupan sehari-hari.
C. Pembatasan Masalah
Agar masalah dalam penelitian dibahas dengan jelas dan tidak meluas,
maka penulis membatasi masalah penelitian sebagai berikut:
1. Model pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan
berpikir kreatif adalah model inkuiri terbimbing.
2. Kemampuan berpikir kreatif dalam penelitian ini adalah kemampuan
berpikir kreatif menurut Guilford yang meliputi: keterampilan berpikir
lancar (fluency), keterampilan berpikir luwes (fleksibel), keterampilan
berpikir orisinal (originality), dan keterampilan merinci (elaboration).
3. Materi kimia yang menjadi objek penelitian ini dibatasi pada konsep
hidrolisis garam.
5
D. Perumusan Masalah
Peneliti merumuskan masalah yang menjadi dasar penelitian ini
dilakukan melalui pertanyaan penelitian berikut. “Apakah terdapat pengaruh
model inkuiri terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa?”.
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model inkuiri
terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1. Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam
penggunaan model pembelajaran inkuiri serta dapat dijadikan sebagai
studi banding dan dasar pemikiran bagi timbulnya gagasan-gagasan baru
dalam dunia pendidikan khususnya dalam mengembangkan model
pembelajaran yang mampu melatih kemampuan berpikir kreatif siswa.
2. Bagi siswa dapat meningkatkan aktivitas selama proses pembelajaran
dengan mengkondisikan siswa sebagai petualang dan penemu baru serta
melatih siswa untuk berpikir kreatif dengan merangsang siswa berpikir
melalui berbagai bentuk pertanyaan serta adanya suatu proses pemecahan
masalah.
3. Bagi lingkungan pendidikan dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif
model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kreatif siswa sehingga dapat dikembangkan dengan materi-materi yang
beragam.
BAB II
DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoretis
1. Model Inkuiri
a. Pengertian Model Inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa inggris inquiry yang dapat diartikan
sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan
yang diajukan.1 Carin dan Sund mengemukakan bahwa inquiry adalah the
process of investigating a problem. Adapun Piaget mengemukakan bahwa
metode inkuiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik
pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat
apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaanpertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan
penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan
yang ditemukan peserta didik lain.2 Dalam proses belajar mengajar, inkuiri
digunakan sebagai metode pengajaran yang memungkinkan ide siswa
berperan dalam suatu penyelidikan (investigasi) yang akan dilakukan oleh
pembelajar/siswa (Henrichsen dan Jarrett).3
Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dan
meliputi
kegiatan-kegiatan
mengobservasi,
merumuskan
pertanyaan yang relevan, mengevaluasi buku dan sumber-sumber
informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau
investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan
percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk
memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta
membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya. (Depdikbud,
1997).4
1
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam
Kelas, (Cet. 1; Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2010), h. 85
2
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Cet. 8; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 108
3
Zulfiani dkk, Strategi Pembelajaran Sains, (Cet. 1; Jakarta: Lembaga Penelitian UIN
Jakarta, 2009), h. 119
4
Retno Dwi Suyanti, Strategi Pembelajaran Kimia, (Cet. 1; Yogyakarta: Graha Ilmu,
2010), h. 43
6
7
Salah satu prinsip utama inkuiri yaitu siswa dapat mengkonstruk
sendiri
pemahamannya
dengan
melakukan
aktivitas
aktif
dalam
pembelajarannya.5 Welch mendefinisikan inkuiri sebagai proses dimana
manusia mencari informasi atau pengertian, maka sering disebut a way of
thought. Kindsvatter, Wilen, dan Ishler (1996) lebih menjelaskan inkuiri
sebagai model pengajaran dimana guru melibatkan kemampuan berpikir
kritis siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara
sistematik.6 Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk
memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan
atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah
terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan
kemampuan berpikir kritis dan logis dari Schmidt.7
Dari berbagai pengertian model inkuiri yang telah dikemukakan
oleh para pakar, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa model inkuiri
menitikberatkan pada aktivitas siswa. Dalam model inkuiri siswa
mengkonstruk sendiri pemahamannya dengan berproses memecahkan
masalah dari persoalan yang diajukan guru menggunakan prinsip metode
ilmiah atau saintifik. Secara umum metode ilmiah itu seperti
mengidentifikasi persoalan, membuat hipotesis, melakukan eksperimen,
mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan.
b. Tingkatan Model Inkuiri
Dalam Standard for Science Teacher Preparation terdapat 3
tingkatan inkuiri, yakni:8
1) Discovery/Structured Inquiri
5
Zulfiani dkk, loc. cit.
Paul Suparno, Metodologi Pembelajaran Fisika, (Cet. 1; Yogyakarta: Universitas
Sanata Dharma, 2007), h. 65
7
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, loc. cit.
8
Zulfiani dkk, op.cit., h. 121-122
6
8
Dalam tingkatan ini tindakan utama guru ialah mengidentifikasi
permasalahan dan proses, sementara siswa mengidentifikasi alternatif
hasil.
2) Guided Inquiry
Tahap guided inquiry mengacu pada tindakan utama guru ialah
mengajukan permasalahan, siswa menentukan proses dan penyelesaian
masalah.
3) Open Inquiry
Tindakan utama pada Open Inquiry ialah guru memaparkan konteks
penyelesaian
masalah
kemudian
siswa
mengidentifikasi
dan
menyelesaikan masalah.
c. Inkuiri Terbimbing
Pada penelitian ini, tingkatan model inkuiri yang digunakan
terbatas pada inkuiri terbimbing (guided inquiry). Inkuiri terbimbing
adalah inkuiri yang banyak dicampuri oleh guru. Guru banyak
mengarahkan dan memberikan petunjuk baik lewat prosedur yang lengkap
dan pertanyaan-pertanyaan pengarahan selama proses inkuiri.9 Inkuiri
terbimbing (guided inquiry) merupakan kegiatan inkuiri dimana masalah
dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa
bekerja untuk menemukan jawaban terhadap permasalahan tersebut
dibawah bimbingan intensif guru.10
Model pembelajaran guided inquiry digunakan apabila dalam
kegiatan pembelajaran guru menyediakan bimbingan atau petunjuk yang
cukup luas kepada siswa. Sebagian besar perencanaannya dibuat oleh
guru.11 Dalam inkuiri terbimbing kegiatan belajar harus dikelola dengan
9
Paul Suparno, op. cit., h. 68
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, op.cit., h. 89
11
Suherli Kusmana, Model Pembelajaran Siswa Aktif, (Jakarta: Sketsa Aksara Lalitya,
2010), h. 49
10
9
baik oleh guru dan output pembelajaran sudah dapat diprediksi sejak
awal.12
Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam model pembelajaran inkuiri
terbimbing (guided inquiry), guru banyak terlibat dalam hal membuat
perencanaan dan pertanyaan-pertanyaan pengarahan selama proses inkuiri
sehingga siswa tidak begitu bebas dalam hal mengembangkan gagasan dan
idenya.
Melalui penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing,
siswa yang berperan sebagai subjek pembelajaran dilatih bekerja seperti
ilmuan. Dengan begitu, penggunaan model pembelajaran inkuiri
terbimbing diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif
siswa.
d. Karakteristik Inkuiri Terbimbing
Orlich menyatakan ada beberapa karakteristik inkuiri terbimbing yang
harus diperhatikan, yaitu:13
1) Mengembangkan kemampuan berpikir siswa melalui observasi
spesifik hingga mampu membuat inferensi atau generalisasi.
2) Sasarannya adalah mempelajari proses pengamatan kejadian atau objek
dan menyusun generalisasi yang sesuai.
3) Guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran, misalnya kejadian,
data,materi dan berperan sebagai pemimpin kelas.
4) Setiap siswa berusaha membangun pola yang bermakna berdasarkan
hasil observasi di dalam kelas.
5) Kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran.
6) Biasanya sejumlah generalisasi akan diperoleh dari siswa.
7) Guru memotivasi seluruh siswa untuk mengkomunikasikan hasil dari
generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh siswa dalam
kelas.
12
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, loc.cit.
Ibid., h. 89-90
13
10
e. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inkuiri
Secara umum proses pembelajaran inkuiri dapat mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut:14
1) Orientasi
Langkah orientasi merupakan langkah membina suasana atau iklim
pembelajaran yang responsif. Guru merangsang dan mengajak siswa
untuk berpikir memecahkan masalah.
2) Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada
suatuy persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan
adalah persoalan yang menantang untuk berpikir.
3) Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang
dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya.
4) Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring infiormasi yang
dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
5) Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap
diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan
pengumpulan data sehingga guru dapat mengembangkan kemampuan
berpikir rasional siswa. Artinya, kebenaran jawaban bukan hanya
berdasarkan argumentasi tetapi didukung oleh data yang ditemukan
dan dipertanggung jawabkan.
6) Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
Kindsvatter, Wilen, dan Ishler mengemukakan bahwa model
inkuiri secara sederhana dapat dijelaskan sebagai model pengajaran yang
menggunakan proses seperti: (1) identifikasi persoalan, (2) membuat
14
Retno Dwi Suyanti, op. cit., h. 46-48
11
hipotesis, (3) mengumpulkan data, (4) menganalisis data, dan (5)
mengambil kesimpulan. Dari langkah-langkah tersebut nampak jelas
bahwa model inkuiri ini menggunakan prinsip metode ilmiah atau saintifik
dalam menemukan suatu prinsip, hukum ataupun teori. Secara umum
metode ilmiah itu punya langkah seperti: (1) merumuskan persoalan, (2)
membuat hipotesis, (3) melakukan percobaan untuk mengumpulkan data,
(4) menganalisis data yang diperoleh, dan (5) mengambil kesimpulan
apakah hipotesis diterima atau ditolak.15 Secara umum, Gulo menyatakan,
bahwa kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran
inkuiri adalah sebagai berikut.16
1) Mengajukan pertanyaan atau permasalahan
Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan
diajukan.
Untuk
meyakinkan
bahwa
pertanyaan
sudah
jelas,
pertanyaan tersebut dituliskan di papan tulis, kemudian siswa diminta
untuk merumuskan hipotesis.
2) Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi
permasalahan yang dapat diuji dengan data. Untuk memudahkan
proses ini, guru menanyakan kepada siswa gagasan mengenai hipotesis
yang mungkin. Dari semua gagasan yang ada, dipilih salah satu
hipotesis yang relevan dengan permasalahan yang diberikan.
3) Mengumpulkan data
Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Data
yang dihasilkan dapat berupa table, matrik, atau grafik.
4) Analisis data
Siswa bertanggung jawab menguji menguji hipotesis yang telah
dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh. Factor
penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran „benar‟ atau „salah‟.
15
Paul Suparno, op. cit., h. 65-66
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Cet. 1;
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), h. 137-138
16
12
Setelah memperoleh kesimpulan, dari data percobaan siswa dapat
menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
Bila ternyata hipotesis itu salah atau ditolak, siswa dapat menjelaskan
sesuai dengan proses inkuiri yang telah dilakukannya.
5) Membuat kesimpulan
Langkah penutup dari pembelajaran inkuiri adalah membuat
kesimpulan sementara berdasarkan data yang diperoleh siswa.
Hampir sama dengan langkah-langkah yang ditempuh dalam
proses belajar mengajar dengan model inkuiri yang telah diungkapkan oleh
para
pakar
diatas,
Massialas
mengemukakan
langkah-langkah
pembelajaran dengan model inkuiri sebagai berikut: (1) guru memilih
tingkah laku (tujuan), (2) guru mengajukan pertanyaan yang dapat
menumbuhkan siswa menumbuhkan pendapatnya, (3) siswa menetapkan
hipotesis/praduga jawaban untuk dikaji lebih lanjut (alternatif jawaban),
(4) secara spontan siswa menjelajahi informasi/data untuk menguji
praduga, baik secara individu maupun secara kelompok, atau siswa tidak
banyak berusaha mencari informasi untuk membuktikan praduga. Dalam
hal siswa tidak banyak berusaha mencari informasi, peran guru sebagai
pembimbing/fasilitator sangat dibutuhkan, (5) siswa mengidentifikasi
beberapa kemungkinan jawaban/siswa menarik kesimpulan.17
f. Prinsip Pembelajaran Inkuiri
Penggunaan strategi pembelajaran inkuiri memiliki beberapa
prinsip, antara lain:18
1) Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi pembelajaran inkuiri adalah pengembangan
kemampuan
berpikir
dan
berorientasi
pada
proses
belajar.
Keberhasilan pembelajaran ini terlihat pada aktivitas siswa untuk
mencari dan menemukan sesuatu yang merupakan gagasan yang pasti.
17
18
Suherli Kusmana, op. cit., h. 56-57
Retno Dwi Suyanti, op. cit., h. 45
13
2) Prinsip interaksi
Proses pembelajaran merupakan interaksi antara siswa dengan guru
dimana guru berperan sebagai pengatur lingkungan dan pengatur
interaksi belajar, guru mengarahkan siswa untuk mengembangkan
kemampuan berpikir siswa.
3) Prinsip bertanya
Guru juga berperan sebagai penanya karena kemampuan siswa untuk
bertanya pada dasarnya sudah merupakan bagian dari proses berpikir.
4) Prinsip belajar untuk berpikir
Belajar merupakan proses berpikir yakni proses mengembangkan
potensi seluruh otak secara maksimal.
5) Prinsip keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Untuk itu
siswa hendaknya diberikan kebebasan untuk mencoba sesuatu sesuai
dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Tugas guru
adalah menyediakan ruang untuk mengembangkan hipotesis dan secara
terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
g. Syarat Inkuiri Dapat Berjalan Baik
Model inkuiri akan efektif apabila: (1) guru mengharapkan siswa
dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan sehingga
penguasaan materi bukan tujuan utama karena ynag terpenting adalah
proses belajar, (2) bahan pelajaran yang akan diajarkan adalah berupa
kesimpulan yang perlu pembuktian, (3) proses pembelajaran berangkat
dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu, (4) siswa adalah anak yang
memiliki kemauan dan kemapuan berpikir, (5) jumlah siswa tidak terlalu
banyak agar mudah dikendalikan, dan (6) guru memiliki banyak waktu
untuk melakukan pendekatan yang berpusat pada siswa.19
19
Ibid., h. 44
14
Untuk meningkatkan teknik inkuiri dapat ditimbulkan dengan
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:20
1) Membimbing kegiatan laboratorium. Guru menyediakan petunjuk yang
cukup luas kepada siswa dan sebagian besar perencanaannya dibuat
oleh guru.
2) Modifikasi inquiry. Dalam hal ini guru hanya menyediakan masalahmasalah dan menyediakan bahan/alat yang diperlukan untuk
memecahkan masalah secara perseorangan maupun kelompok.
3) Kebebasan inquiry. Guru mengundang siswa untuk melibatkan diri
dalam kegiatan “kebebasan inquiry”, dari siswa dapat mengidentifikasi
masalah dan merumuskan macam-macam masalah yang akan
dipelajari.
4) Inquiry pendekatan peranan. Siswa dilibatkan dalam proses pemecahan
masalah, yang cara-caranya serupa dengan cara-cara yang biasanya
diikuti oleh para ilmiawan.
5) Mengundang ke dalam inquiry. Merupakan kegiatan proses belajar
yang melibatkan siswa dalam tim-tim untuk memecahkan masalah
yang masing-masing anggota diberi tugas suatu peranan yang berbedabeda seperti: koordinator tim, penasihat teknis, merekam data, proses
penilaian.
6) Teka teki bergambar. Salah satu teknik untuyk mengembangkan
motivasi dan perhatian siswa didalam diskusi kelompok. Gambar,
peragaan atau situasi yang sesungguhnya dapat digunakan untuk
meningkatkan cara berpikir kritis dan kreatif siswa.
7) Synectics lesson. Pendekatan ini untuk menstimulir bakat-bakat kreatif
siswa. Pada dasarnya “synectics” memusatkan pada keterlibatan siswa
untuk membuat berbagai macam bentuk kiasan agar supaya dapat
membuka inteligensinya dan mengembangkan daya kreativitasnya. Hal
itu dapat dilaksanakan karena kiasan dapat membantu dalam
20
77-79
Roestiyah N.K., Strategi Belajar Mengajar, (Cet. 7; Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h.
15
melepaskan ikatan struktur mental yang melekat kuat dalam
memandang suatu masalah sehingga dapat menunjang timbulnya ideide kreatif.
8) Kejelasan nilai-nilai. Perlu diadakan evaluasi lebih lanjut tentang
keuntungan-keuntungan pendekatan ini, terutama yang menyangkut
sikap, nilai-nilai dan pembentukan self-concept siswa.
Agar teknik inkuiri dapat dilaksanakan dengan baik memerlukan
kondisi-kondisi sebagai berikut:21
1) Kondisi yang fleksibel, bebas untuk berinteraksi.
2) Kondisi lingkungan yang responsif.
3) Kondisi yang memudahkan untuk memusatkan perhatian.
4) Kondisi yang bebas dari tekanan.
h. Kelebihan Model inkuiri
Teknik inkuiri memiliki keunggulan yang dapat dikemukakan
sebagai berikut:22
1) Dapat membentuk dan mengembangkan “self-consept” pada diri
siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide
lebih baik.
2) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi
proses belajar yang baru.
3) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri,
bersikap obyektif, jujur dan terbuka.
4) Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya
sendiri.
5) Memberti kepuasan yang bersifat intrinsik.
6) Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
7) Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
8) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
21
22
Ibid., h. 79
Ibid., h. 76-77
16
9) Siswa dapat menghindari siswa dari cara-cara belajar yang tradisional.
10) Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka
dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
2. Kemampuan Berpikir Kreatif
a. Pengertian Berpikir Kreatif
Edward de Bono mendefinisikan berpikir sebagai: “Proses kreatif
yang berkaitan dengan pemecahan masalah”.23 Berpikir merupakan
keterampilan operasional yang memungkinkan inteligensi bekerja atas
dasar pengalaman.24 Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kreatif
didefinisikan sebagai memiliki daya cipta; mempunyai kemampuan untuk
mencipta; bersifat mencipta; misal suatu pekerjaan yang menghendaki
selain kecerdasan juga imaginasi.25 Berpikir kreatif adalah sebuah
kebiasaan dari pikiran yang dilatih dengan memerhatikan intuisi,
menghidupkan imajinasi, mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan
baru, membuka sudut pandang yang menakjubkan, dan membangkitkan
ide-ide yang tidak terduga.26
Pemikiran kreatif adalah pemikiran yang berusaha melahirkan
sesuatu yang baru, dan disandarkan kepada prinsip-prinsip kemungkinan.27
Pemikir kreatif dengan sengaja melatih imajinasi mereka, sebagian dengan
memandang sesuatu dari sudut pandang yang tidak biasa.28 Mereka yang
menanamkan
kebiasaan
berpikir
kreatif
melihat
kemungkinan-
kemungkinan baru, bukan batasan, dan mereka berani bereksperimen
tanpa takut berbuat salah.29
23
Edward De Bono, Mengajar Berpikir, (Cet 2; Jakarta: Erlangga, 1992), h. 34
Ibid., h. 36
25
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Cet 5; Jakarta: PN Balai
Pustaka, 1976), h. 526
26
Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning Menjadikan Kegiatan Belajar
Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, (Bandung : MCC, 2006), h. 214-215
27
Amal Abdussalam Al-Khalili, Mengembangkan Kreativitas Anak, (Cet. 1; Jakarta:
Pusaka Al-Kautsar, 2005), h. 37
28
Elaine B. Johnson, op. cit., h. 218
29
Ibid., h. 222
24
17
Beberapa ahli psikologi percaya bahwa kreativitas atau berpikir
kreatif harus terbatas pada penemuan atau penciptaan suatu ide
atau konsep baru yang sebelumnya tidak pernah diketahui oleh
manusia. Para ahli lainnya mendefinisikan kraetivitas secara
inklusif, yaitu meliputi semua usaha produktif yang unik dari
individu. Pandangan ini lebih bermaksud bagi guru/dosen yang
berusaha
untuk
mengembangkan
kemampuan
kreatif
siswa/mahasiswa dan membantu mereka dalam menggali dan
mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Dengan kata
lain bahwa kreativitas atau berpikir kreatif dapat diartikan sebagai
pola berpikir atau ide yang timbul secara sepontan dan imaginatif,
yang mencirikan hasil-hasil artistik, penemuan-penemuan ilmiah,
dan penciptaan-penciptaan secara mekanik.30
Utami munandar menyimpulkan pengertian yang dikemukakan
oleh para ahli sebagai berikut:
1) Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru,
berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada.31
Biasanya, orang mengartikan kreativitas sebagai daya cipta,
sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru. Sesungguhnya apa
yang diciptakan itu tidak perlu hal-hal yang baru sama sekali, tetapi
merupakan gabungan (kombinasi) dari hal-hal
yang sudah ada
sebelumnya.32
2) Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan
menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di
mana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan
keragaman jawaban.33
Makin banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan
terhadap suatu masalah makin kreatiflah seseorang. Tentu saja jawabanjawaban itu harus sesuai dengan masalahnya. Jadi, tidak semata-mata
30
Moh. Amien, Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Dengan Menggunakan
Metode “Discovery” dan “Inquiry”, (Jakarta: P2LPTK, 1987), h. 166
31
Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah Petunjuk Bagi
Para Guru dan Orang Tua (Cet. 3; Jakarta: PT Grasindo, 1999), h. 47
32
Ibid., h. 47
33
Ibid., h. 48
18
banyaknya jawaban yang dapat diberikan yang menentukan kreativitas
seseorang, tetapi juga kualitas atau mutu dari jawabannya.34
3) Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan
yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan
orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi
(mengembangkan,
memperkaya,
memperinci)
suatu
gagasan.
(Munandar, S. C. U., 1997).35
Dari beberapa pengertian di atas jelaslah bahwa berpikir kretif
adalah suatu cara berpikir divergen, keterampilan mental yang senantiasa
memperluas pemikiran, memupuk ide-ide asli untuk menghasilkan suatu
pemikiran yang berbeda dan merupakan hal yang baru.
b. Ciri-Ciri Siswa Kreatif
Sund (1975) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif
dapat dikenal secara mudah sekali melalui pengamatan ciri-ciri berikut:36
1) Hasrat ingin mengetahui,
2) Bersikap terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru,
3) Panjang akal,
4) Keinginan untuk menemukan dan meneliti,
5) Cenderung lebih suka untuk melakukan tugas-tugas yang berat dan
sulit,
6) Mencari jawaban-jawaban yang memuaskan dan komprehensip,
7) Bergairah, aktif dan dedikasi dalam melakukan tugas-tugasnya,
8) Berfikir fleksibel,
9) Menanggapi npertanyaan-pertanyaan dan kebiasaan untuk memberikan
jawaban yang lebih banyak,
10) Kemampuan membuat analisis dan sintesis,
11) Kemampuan membuat abstraksi,
12) Memiliki semangat “inqury”, dan
34
Ibid., h. 48
Ibid., h. 50
36
Moh. Amien, op. cit., h. 170
35
19
13) Keluasan dalam latar belakang kemampuan membaca.
Tes luar negeri yang mengukur kreativitas ialah tes dari Guilford
yang mengukur kemampuan berpikir divergen, dengan membedakan aspek
kelancaran, kelenturan, orisinalitas dan kerincian berpikir.37 Dalam studistudi faktor analisis seputar ciri-ciri utama dari kreativitas, Guilford (1959)
membedakan antara aptitude dan non-aptitude traits yang berhubungan
dengan kreativitas. Ciri-ciri aptitude dari kreativitas (berpikir kretif)
meliputi kelancaran, kelenturan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam
berpikir, dan ciri-ciri ini dioperasionalisasikan dalam tes berpikir
divergen.38 Ciri-ciri aptitude ialah ciri-ciri yang berhubungan dengan
kognisi, dengan proses berpikir, sedangkan ciri-ciri nonaptitude ialah ciriciri yang lebih berkaitan dengan sikap atau perasaan.39
Ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif (aptitude) meliputi :
1) Keterampilan berpikir lancar
Keterampilan berpikir lancar adalah kemampuan mencetuskan
banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah, memberikan banyak cara
atau saran untuk melakukan banyak hal dan selalu memikirkan lebih dari
satu jawaban.40 Sebagaimana definisi Guilford, kelancaran diartikan
dengan mengeluarkan pemikiran yang dengan mudah mengalir, baik
dalam bentuk kebebasan intelektual, verbal, atau yang lainnya. Sedangkan
peneliti Helmi Al-Moligi berpendapat bahwa kelancaran yaitu pemikiran
yang mengalir secara luar biasa, sehingga akal kreatif seakan-akan
merupakan ledakan pemikiran baru yang bebas.41
Keterampilan berpikir lancar yang dimiliki siswa tercermin dalam perilaku
siswa sebagai berikut:42
a) Mengajukan banyak pertanyaan.
37
Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, (Jakarta : Rineka Cipta,
2009), h. 73
38
Ibid., h. 10
39
Utami Munandar, op.cit., h. 88
40
Ibid., h. 88
41
Amal Abdussalam Al-Khalili, op.cit., h. 176
42
Utami Munandar, loc.cit.
20
b) Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan.
c) Mempunyai banyak gagasan mengenai suatu masalah.
d) Lancar mengungkapkan gagasan-gagasannya.
e) Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak dari pada anak-anak
lain.
f) Dapat dengan cepat melihat kesalahan atau kekurangan pada suatu
obyek atau situasi.
2) Keterampilan berpikir luwes (fleksibel)
Keterampilan berpikir luwes (fleksibel) adalah kemampuan
menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi, dapat
melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari
banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda, dan mampu mengubah cara
pendekatan atau cara pemikiran.43 Maksud dari fleksibilitas adalah
memunculkan berbagai pengetahuan dengan amat mudah. 44 Guilford juga
berpendapat bahwa fleksibilitas mencerminkan kemampuan untuk cepat
menghasilkan berbagai pemikiran yang berkembang menjadi berbagai
macam pemikiran yang berbeda dan berkaitan dengan suatu sikap
tertentu.45
Keterampilan berpikir luwes yang dimiliki siswa tercermin dalam
perilaku siswa bsebagai berikut:46
a) Memberikan aneka ragam penggunaan yang tidak lazim terhadap suatu
obyek.
b) Memberikan macam-macam penafsiran (interpretasi) terhadap suatu
gambar, cerita atau masalah.
c) Menerapkan suatu konsep atau asas dengan cara yang berbeda-beda.
d) Memberi pertimbangan terhadap situasi, yang berbeda dari yang
diberikan orang lain.
43
Ibid., h. 88-89
Amal Abdussalam Al-Khalili, op.cit., h. 177
45
Ibid., h. 177
46
Utami Munandar, op.cit., h. 89
44
21
e) Dalam membahas/mendiskusikan suatu situasi selalu mempunyai
posisi yang berbeda atau bertentangan dari mayoritas kelompok.
f) Jika diberikan suatu masalah biasanya memikirkan macam-macam
cara yang berbeda-beda untuk menyelesaikannya.
g) Menggolongkan hal-hal menurut pembagian (kategori) yang berbedabeda.
h) Mampu mengubah arah berpikir secara spontan.
3) Keterampilan berpikir orisinal
Keterampilan berpikir orisinal adalah kemampuan melahirkan
ungkapan yang baru dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim untuk
mengungkapkan diri, mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak
lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.47 Maksud dari orisinalitas
sesuai dengan interpretasi yang diberikan oleh peneliti Sayyid Khairullah
adalah kemampuan untuk menghasilkan beberapa reaksi yang orisinil.
Atau diartikan dengan sedikit melakukan pengulangan secara statistikal
dalam suatu masyarakat dimana seseorang itu memiliki loyalitas
kepadanya.48
Keterampilan berpikir orisinal yang dimiliki siswa tercermin dalam
perilaku siswa bsebagai berikut:49
a) Memikirkan masalah-masalah atau hal-hal yang tidak pernah
terpikirkan oleh orang lain.
b) Mempertanyakan cara-cara yang lama dan berusaha memikirkan caracara yang baru.
c) Memilih a-simetri dalam menggambar atau membuat disain.
d) Memiliki cara berpikir yang lain dari yang lain.
e) Mencari pendekatan yang baru dari yang stereotip.
f) Setelah membaca atau mendengar gagasan-gagasan, bekerja untuk
menemukan penyelesaian yang baru.
47
Ibid., h. 89
Amal Abdussalam Al-Khalili, op.cit., h. 178
49
Utami Munandar, op.cit., h. 89-90
48
22
g) Lebih senang mensintesis daripada menganalisa situasi.
4) Keterampilan merinci (mengelaborasi)
Keterampilan merinci (mengelaborasi) adalah kemampuan untuk
memperkaya
dan
mengembangkan
suatu
gagasan
atau
produk,
menambahkan atau memperinci detil-detil dari suatu obyek, gagasan, atau
situasi sehingga menjadi lebih menarik.50 Elaborasi diartikan dengan
memodifikasi reaksi yang dilakukan dengan cara menambahkan beberapa
reaksi lainnya. Seperti mengambil suatu pemikiran yang sederhana,
kemudian dimodifikasi dan menjadikannya lebih menarik. Atau,
menambah perincian atas suatu pemikiran tertentu, dengan syarat
perincian-perincian ini sesuai dengan pemikiran utamanya.51
Keterampilan berpikir merinci (mengelaborasi) yang dimiliki siswa
tercermin dalam perilaku siswa bsebagai berikut:52
a) Mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecahan
masalah dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci.
b) Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
c) Mencoba atau menguji detil-detil untuk melihat arah yang akan
ditempuh.
d) Mempunyai rasa keindahan yang kuat sehingga tidak puas dengan
penampilan yang kosong atau sederhana.
e) Menambahkan garis-garis, warna-warna, dan detil-detil (bagianbagian) terhadap gambarnya sendiri atau orang lain.
Berpikir kreatif, yang membutuhkan ketekunan, disiplin diri, dan
perhatian penuh, meliputi aktivitas mental seperti:53
a) Mengajukan pertanyaan.
b) Mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak lazim dengan
pikiran terbuka.
50
Ibid., h. 90
Amal Abdussalam Al-Khalili, op.cit., h. 179
52
Utami Munandar, loc.cit.
53
Elaine B. Johnson, op. cit., h. 215
51
23
c) Membangun keterkaitan, khususnya di antara hal-hal yang berbeda.
d) Menghubung-hubungkan berbagai hal dengan bebas.
e) Menerapkan imajinasi pada setiap situasi untuk menghasilkan hal baru
dan berbeda.
f) Mendengarkan intuisi.
c. Kendala Penghambat Kreativitas
Di antara banyak kendala yang membungkam kretivitas, yang
berikut ini khususnya merusak:54
1) Sensor internal dari seseorang.
2) Orang-orang yang mencari kesalahan.
3) Peraturan dan persyaratan yang membatasi dan melarang.
4) Perilaku menerima dengan pasif, tanpa bertanya.
5) Pengotakngotakan.
6) Memusuhi intuisi.
7) Takut membuat kesalahan.
8) Tidak menyempatkan diri untuk merenung.
Mengembangkan kebiasaan menghubungkan berbagai hal dengan
bebas merupakan unsur penting dari berpikir kreatif.55 Dalam upaya
membantu anak merealisasikan potensinya, sering digunakan cara paksaan
agar mereka belajar. Amabile mengemukakan empat cara yang mematikan
kreativitas, yaitu:56
1) Evaluasi
Rogers (dalam Vernon,1982) menekankan salah satu syarat untuk
memupuk kreativitas
konstruktif ialah bahwa pendidik tidak
memberikan evaluasi, atau paling tidak menunda pemberian evaluasi
sewaktu anak sedang asyik berkreasi.
2) Hadiah
3) Persaingan (kompetisi)
54
Ibid., h. 221
Ibid., h. 217
56
Utami Munandar, op.cit., h. 223
55
24
4) Lingkungan yang membatasi
Albert Einstein yakin bahwa belajar dan kreativitas tidak dapat
ditingkatkan dengan paksaan.
3. Konsep Hidrolisis Garam
a. Pengertian Hidrolisis Garam
Hidrolisis berasal dari kata “hidro” yang artinya air dan “lisis”
berarti penguraian. Jadi hidrolisis adalah reaksi penguraian molekul dalam
air membentuk ion-ionnya.57 Hidrolisis garam adalah reaksi kation atau
anion dari suatu garam dengan air.58 Ion-ion garam dalam air bereaksi
sedemikian rupa dengan air sehingga menyebabkan air terurai menjadi ion
hidroksida (OH−) dan ion hydronium (H3O+).59
b. Sifat Larutan Garam
Garam yang dihasilkan suatu reaksi antara asam dan basa dapat
bersifat asam, basa, atau netral. Sifat tersebut bergantung pada jumlah
serta jenis senyawa asam basa yang direaksikan.60
1) Garam yang Tersusun dari Asam Kuat dan Basa Kuat
Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat tidak
memberikan perubahan warna lakmus, baik lakmus merah maupun
lakmus biru. Hal ini menunjukkan bahwa larutan garam bersifat
netral.61 Kebanyakan garam yang bersifat netral terbentuk oleh kation
dan anion yang dalam air hanya terhidrasi. Kation dan anion tersebut
disajikan dalam tabel 2.1 berikut:62
57
Maria Suharsini dan Dyah Saptarini, Kimia dan Kecakapan Hidup Pelajaran Kimia
untuk SMA/MA, (Cet 1; Jakarta: Ganeca Exact, 2007) h. 244
58
Sandri Justiana dan Muchtaridi, Kimia 2, (Cet 2; Yudhistira, 2009), h. 195
59
Omay Sumarna dkk, Kimia untuk SMA/MA Kelas XI, (Cet 1; Bogor: Regina, 2006), h.
251
60
Sandri Justiana dan Muchtaridi, loc. cit.
61
Ibid., h. 195
62
Omay Sumarna dkk, op. cit., h. 253
25
Tabel 2.1 Kation dan Anion yang Terhidrasi dalam Air
Kation
Anion
K+
Na+
Rb+
Cs+
Mg+2
Ca2+
Sr2+
Ba2+
Cl−
Br−
I−
ClO3− ClO4− BrO3−
SO42−
NO3−
2) Garam yang Tersusun dari Asam Kuat dan Basa Lemah
Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah mengubah
lakmus biru menjadi merah dan tidak mengubah warna lakmus merah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa larutan garam bersifat asam.63
3) Garam yang Tersusun dari Asam Lemah dan Basa Kuat
Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat mengubah
lakmus merah menjadi biru dan tidak mengubah warna lakmus biru.
Hal tersebut menunjukkan bahwa larutan garam bersifat basa.64
4) Garam yang Tersusun dari Asam Lemah dan Basa Lemah
Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lemah dapat
bersifat asam, basa, atau netral.65 Garam dari asam lemah dan basa
lemah sifatnya bergantung pada harga tetapan ionisasi asam dan
basanya. Ka < Kb: bersifat basa, Kb < Ka: bersifat asam, Ka = Kb:
bersifat netral.66
c. pH Larutan Garam
Untuk menghitung pH simak uraian berikut ini:67
1) pH Garam yang Tersusun dari Asam Kuat dan Basa Kuat
Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat bersifat
netral dan mempunyai pH = 7.
2) pH Garam yang Tersusun dari Asam Kuat dan Basa Lemah
63
Sandri Justiana dan Muchtaridi, loc. cit.
Ibid., h. 196
65
Ibid., h. 196
66
Omay Sumarna, op. cit., h. 252
67
Sandri Justiana dan Muchtaridi, op. cit., h. 197-199
64
26
Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah
mempunyai pH <7. Rumus untuk menghitung pH larutan garam
sebagai berikut:
3) pH Garam yang Tersusun dari Asam Lemah dan Basa Kuat
4) pH Garam yang Tersusun dari Asam Lemah dan Basa Lemah
d. Aplikasi Hidrolisis Garam
Berikut beberapa contoh aplikasi hidrolisis garam dalam kehidupan
sehari-hari, antara lain:68
1) Pelarutan Sabun
Salah satu peristiwa hidrolisis yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari dapat kita perhatikan pada sabun cuci. Perhatikan pada
garam natrium stearat, C17H35COONa (sabun cuci). Garam tersebut
akan mengalami hidrolisis jika dilarutkan dalam air, menghasilkan
asam stearat dan basanya, yaitu natrium hidroksida.
Reaksinya: C17H35COONa + H2O ↔ C17H35COOH + NaOH
68
Omay Sumarna, op. cit., h. 267
27
Oleh karena itu, jika garam tersebut digunakan untuk mencuci,
airnya harus bersih dan tidak mengandung garam Ca2+ atau Mg2+.
Garam Ca2+ dan Mg2+ banyak terdapat dalam air sadah. Jika air yang
digunakan mengandung garam Ca2+, terjadi reaksi dengan asam
stearat.
Reaksinya: 2(C17H35COOH) + Ca2+ → (C17H35COO)2Ca + 2H+
Sehingga buih yang dihasilkan sangat sedikit. Akibatnya,
cucian tidak bersih karena fungsi buih untuk memperluas permukaan
kotoran agar mudah larut dalam air.
2) Penjernihan Air
Penjernihan air minum oleh PAM berdasarkan prinsip
hidrolisis,
yaitu
senyawa
aluminium
fosfat
(Al2(PO4)3) yang
mengalami hidrolisis total.
B. Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penelitian-penelitian yang telah
dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Berikut ini beberapa penelitian
yang relevan dengan penelitian yang dilakukan:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ida Bagus Putu Arnyana yang berjudul
“pengaruh
penerapan strategi pembelajarn inovatif pada pembelajaran
biologi terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa SMA”, menunjukan
bahwa kelompok siswa yang belajar dedngan strategi kooperatif GI, PBL
dan Inkuiri memiliki kemampuan berpikir kreatif lebih baik dibandingkan
dengan kelompok siswa yang diajarkan dengan model DI.69
2. Penelitian yang dilakukan oleh Hartanto yang berjudul “mengembangkan
kreaivitas siswa melalui pembelajaran matematika dengan pendekatan
inkuiri” menunjukan bahwa melalui inkuiri siswa dapat memperaktekkan
dan menerapkan konsep-konsep yang telah dipelajari untuk memecahkan
69
Ida Bagus Putu Arnyana, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP No. 3 Th, XXXIX,
ISSN 0215-8250; Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajarn Inovatif Pada Pembelajaran
Biologi Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa SMA, (Singaraja: fakultas pendidikan
MIPA, 2006)
28
masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan cara berpikir sistematis,
kritis, logis, dan kreatif.70
3. Penelitian yang dilakukan oleh Tatag Yuli Eko Siswono yang berjudul
“upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa melalui
pengajuan masalah”, menunjukkan bahwa tidak semua aspek kemampuan
berpikir meningkat terutama fleksibilitas dalam memecahkan masalah.
Tetapi untuk aspek pemahaman terhadap informasi masalah, kebaruan dan
kefasihan dalam menjawabsoal mengalami peningkatan. Hasil lain
menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah dan mengajukan
masalah mengalami kemajuan/peningkatan.71
4. Penelitian yang dilakukan oleh Awaludin yang berjudul “Meningkatkan
kemampuan berpikir kreatif matematis pada siswa dengan kemampuan
matematis rendah melalui pembelajaran open ended dengan pemberian
tugas tambahan”, menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir
kreatif matematis siswa dengan kemampuan matematis rendah yang
mendapat pembelajaran open ended dengan perlakuan pemberian tugas
tambahan labih baik daripada peningkatan kemampuan berpikir kreatif
siswa yang mendapat pembelajaran open ended tanpa perlakuan
pemberian tugas tambahan.72
70
Hartanto, Jurnal Kependidikan Triadik vol. 14, no. 1; Mengembangkan Kreaivitas
Siswa Melalui Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Inkuiri, (Bengkulu: FKIP
Universitas Bengkulu, 2011)
71
Tatag Yuli E. S, Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Tahun X, No. 1; Upaya
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa melalui Pengajuan Masalah, (Yogyakara :
FMIPA Unesa, 2005)
72
Awaludin, Dosen tetap di FKIP Unhalu. Ringkasan Penelitian. Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis pada Siswa dengan Kemampuan Matematis Rendah
Melalui Pembelajaran Open-Ended dengan Pemberian Tugas Tambahan, dapat diakses di
http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=10330, 24/04/2014. 17:19 WIB.
29
C. Kerangka Berpikir
Model Inkuiri
Mengajukan pertanyaan
atau permasalahan
Keterampilan
Berpikir Lancar
Merumuskan hipotesis
Mengumpulkan data
Keterampilan
Berpikir Luwes
Analisis data
Keterampilan
Berpikir Merinci
Membuat kesimpulan
Keterampilan
Berpikir Orisinal
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berfikir
D. Perumusan Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka konseptual yang didukung oleh landasan teori,
maka hipotesis penelitian ini adalah terdapat pengaruh positif dan signifikan
penggunaan model inkuiri dengan alat peraga sederhana terhadap kemampuan
berpikir kreatif siswa. Hipotesis yang dibuat dalam perbandingan adalah :
H0 : Tidak terdapat pengaruh penggunaan model inkuiri terhadap kemampuan
berpikir kreatif siswa.
Ha : Terdapat pengaruh penggunaan model inkuiri terhadap kemampuan
berpikir kreatif siswa.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan bulan Mei 2013 pada semester 2 tahun
ajaran 2012/2013 dikelas XI-A dan XI-B yang bertempat di SMA Darul
Muttaqin yang berlokasi di Desa Wibawa Mulya Kecamatan Cibarusah
Kabupaten Bekasi.
B. Metode dan Desain Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode quasi eksperimen (eksperimen semu). Metode kuasi eksperimen
berbeda
dengan
penelitian
eksperimen
karena
tidak
memenuhi
karakteristik atau syarat dari suatu penelitian eksperimen, yaitu
manipulasi, kontrol, dan randominasi. Dalam penelitian kuasi eksperimen
tidak dilakukan randominasi untuk memasukan subjek ke dalam kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol, melainkan menggunakan kelompok
subjek yang sudah ada sebelumnya. Dalam metode kuasi eksperimen
kontrol atau pengendalian variabel tidak bisa dilakukan secara ketat, atau
secara penuh.1
2. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa
nonequivalent control group design (desain pretest-posttest kelompok
kontrol tanpa acak).2 Dalam desain ini subjek kelompok tidak dilakukan
secara acak, misalnya kelas eksperimen di suatu kelas tertentu dengan
1
Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Cet. 5; Bandung:
Sinar Baru Algensindo, 2009), h. 44
2
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,
(Cet ke-15; Bandung: Alfabeta, 2012), h. 116
30
31
siswa yang telah ada atau sebagaimana adanya.3 Di mana dalam desain ini
dilakukan tes sebanyak dua kali yaitu sebelum eksperimen/tes awal (Y1),
disebut pretest, dan sesudah eksperimen/tes akhir (Y2), disebut posttest.
Perbedaan antara Y1 dan Y2 diasumsikan merupakan dari treatment
(eksperimen). Desain penelitian dapat dilihat pada tabel 3.1 di bawah ini.4
Tabel 3.1 Desain Penelitian
Kelompok
Pretest
Perlakuan
Posttest
Eksperimen (R)
Y1
X
Y2
Kontrol (R)
Y1
-
Y2
Keterangan:
R
: kelas eksperimen dan kelas kontrol
Y1
: sebelum dilakukan treatment (eksperimen)/pretest
Y2
: sesudah dilakukan treatment (eksperimen)/posttest
X
: tindakan untuk kelas eksperimen yaitu model inkuiri
C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil
pengukuran yang menjadi objek penelitian.5 Dalam penelitian ini populasinya
adalah seluruh siswa SMA Darul Muttaqin, sedangkan populasi terjangkaunya
adalah seluruh siswa kelas XI SMA Darul Muttaqin.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi terjangkau yang memiliki sifat
yang sama dengan populasi.6 Sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas
3
Nana Sudjana dan Ibrahim, loc. cit.
Ibid., h. 44
5
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan danPeneliti Pemula (Cet.
VI; Bandung: ALFABETA,2009), h. 54
6
Nana Sudjana dan Ibrahim, op.cit., h. 85
4
32
dari kelas XI SMA Darul Muttaqin yaitu kelas XI-A sebagai kelas kontrol dan
kelas XI-B sebagai kelas eksperimen. Dalam penelitian ini, sampel penelitian
diambil menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling dikenal
juga dengan sampling pertimbangan ialah teknik sampling yang digunakan
peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu didalam
pengambilan sampelnya atau penentuan sampel untuk tujuan tertentu.7 Sampel
dalam penelitian ini berjumlah 26 orang siswa kelas XI-A dan 26 orang siswa
kelas XI-B.
D. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan
variabel terikat.
1. Variabel bebas atau variabel prediktor (independent variable) sering diberi
notasi X adalah variabel penyebab atau yang diduga memberikan suatu
pengaruh atau efek terhadap peristiwa lain.8 Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah model inkuiri.
2. Variabel terikat atau variabel respons (dependent variable) sering diberi
notasi Y adalah variabel yang ditimbulkan atau efek dari variabel bebas. 9
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan berpikir kreatif
siswa.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam melakukan penelitian, suatu data dibutuhkan untuk menguji
hipotesis atau menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan, karena data yang
diperoleh akan dijadikan landasan dalam
mengambil kesimpulan.10 Data
dikumpulkan oleh peneliti menggunakan cara atau teknik, sehingga dikenal
dengan teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang peneliti
7
Riduwan, op.cit., h. 63
Nana Sudjana dan Ibrahim, op.cit., h. 12
9
Ibid., h. 12
10
Riduwan, op.cit., h. 70
8
33
gunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes berupa tes kemampuan berpikir
kreatif siswa dan teknik nontes berupa observasi.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan
digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan
tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.11 Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan berpikir kreatif dan
lembar observasi keterlaksanaan tahapan model inkuiri terbimbing.
1. Tes Kemampuan Berpikir Kreatif
Tes sebagai instrumen pengumpul data adalah serangkaian
pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan
pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok.12 Bentuk instrumen tes kemampuan berpikir
kreatif berupa soal uraian (essay) yang memenuhi seluruh indikator tes
yaitu: (1) kemampuan berpikir lancar (fluency), (2) kemampuan berpikir
luwes (flexibility), (3) kemampuan berpikir merinci (elaboration), (4)
kemampuan berpikir orisinal (originality). Adapun tes yang dibuat berupa
17 soal uraian sebelum diuji coba (soal terlampir pada halaman 111),
setelah dilakukan uji coba (uji validitas) dihasilkan 10 soal uraian yang
memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai instrumen dalam penelitian
(soal terlampir pada halaman 133). Materi tes yang diberikan kepada siswa
mencakup konsep hidrolisis garam. Berikut kisi-kisi instrumen dalam
penelitian ini:
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Tes Kemampuan Berpikir Kreatif
No.
Indikator
Sub indikator
1
Fluency
 Menghasilkan banyak gagasan,
11
12
Ibid., h. 69
Ibid., h. 76
Nomor Butir
Soal
1, 4
34
(Berpikir
jawaban
lancar)
masalah.
dan
 Memikirkan
penyelesaian
lebih
dari
satu
2, 3*
jawaban.
 Menghasilkan gagasan, jawaban
dan
Flexibility
2
(berpikir
luwes)
penafsiran
(interpretasi)
5*, 6*, 7*
yang bervariasi terhadap suatu
masalah.
 Menggolongkan hal-hal menurut
pembagian
(kategori)
8*, 9, 10
yang
berbeda-beda.
 Mencari
arti
yang
lebih
11, 12*, 13*
mendalam terhadap jawaban atau
3
Elaboration
pemecahan
masalah
(Berpikir
melakukan
merinci)
yang terperinci.
dengan
langkah-langkah
 Mengembangkan,
menambah,
14*, 15*
memperkaya suatu gagasan.
Originality
4
(Berpikir
orisinal)
 Memiliki cara berpikir yang lain
16
dari yang lain.
 Mampu melahirkan ungkapan
17*
yang baru.
Keterangan : * = Butir soal yang valid
2. Observasi
Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek
penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. 13 Observasi
adalah mengamati situasi yang ada, situasi yang terjadi secara spontan,
tidak dibuat-buat, yang disebut juga dengan situasi yang sesuai dengan
13
Ibid., h. 76
35
kehendak alam (alamiah). Dan hasil pengamatan dicatat dengan teliti
untuk diambil kesimpulan-kesimpulan umum dan khusus.14 Dalam
penelitian ini, observasi dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan
tahapan
model
inkuiri
terbimbing.
Adapun
lembar
observasi
keterlaksanaan tahapan model inkuiri terbimbing terlampir pada halaman
148.
G. Kalibrasi Instrumen
1. Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Kreatif
Suatu instrumen dikatakan mempunyai kualitas yang baik apabila
memiliki atau memenuhi dua hal, yakni ketepatannya atau validitasnya
dan ketepatan atau keajegannya atau reliabilitasnya.15 Sebelum diberikan
kepada sampel, instrumen tes terlebih dahulu diuji cobakan di kelas yang
telah mendapatkan materi hidrolisis garam untuk mengukur validitas dan
reliabilitas soal. Langkah selanjutnya dilakukan analisis butir soal untuk
mengetahui tingkat kesukaran (difficulty level) dan daya pembeda
sehingga didapatkan soal yang memenuhi syarat.
a. Validitas Instrumen
Didalam buku Encyclopedia of Educational Evaluation yang
ditulis oleh Scarvia B. Anderson dan kawan-kawan disebutkan: a test is
valid if it measures what it purpose to measure. Jika diartikan lebih kurang
demikian: sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa
yang hendak diukur.16
Validitas soal di uji dengan rumus korelasi product moment.17
3-1
14
Zikri Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri Dan Lingkungan, (Cet.2;
Jakarta: Kizi Brother’s, 2008), h. 36
15
Nana sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Cet 14; Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2009), h. 12
16
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Cet 10; Jakarta: Bumi Aksara,
2009), h. 64-65
17
Ibid, h. 72
36
Di mana:
rxy : koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang
dikorelasikan.
Dalam penelitian ini, untuk perhitungan validitas instrumen
peneliti menggunakan program Anates uraian versi 4.0.4. Dari hasil
perhitungan dengan menggunakan program Anates terdapat 10 butir soal
yang valid dari 17 butir soal uraian. Adapun hasil perhitungan
selengkapnya terlampir pada halaman 154.
b. Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas alat penilaian adalah ketepatan atau keajegan alat
tersebut dalam menilai apa yang dinilainya. Artinya, kapan pun alat
penilaian tersebut digunakan akan memberikan hasil yang relatif sama.18
Pengujian reliabilitas soal dalam bentuk uraian (essay) di uji
dengan menggunakan rumus Alpha sebagai berikut:19
3-2
Keterangan:
r11
: Reliabilitas yang dicari
: Jumlah varians skor tiap-tiap item
: Varians total
Dalam penelitian ini, untuk perhitungan reliabilitas instrumen
peneliti menggunakan program Anates uraian versi 4.0.4. Dari hasil
perhitungan dengan menggunakan program Anates menghasilkan nilai
reliabilitas tes sebesar 0,81. Adapun hasil perhitungan selengkapnya
terlampir pada halaman 154.
c. Uji Tingkat Kesukaran (Difficulty Index)
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak
terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk
mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar
akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai
18
19
Nana sudjana, op. cit., h. 16
Suharsimi Arikunto, op.cit., h. 109
37
semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. 20 Dengan kata
lain, soal yang baik berada pada tingkat kesukaran sedang.
Persamaan
yang
digunakan
untuk
menentukan
tingkat
kesukaran/proportion correct (p) adalah:21
3-3
Keterangan:
p
: tingkat kesukaran
: jumlah peserta didik yang menjawab benar
N
: jumlah peserta didik
Untuk menafsirkan tingkat kesukaran tersebut, dapat digunakan
kriteria dalam tabel 3.3 sebagai berikut:22
Tabel 3.3 Kriteria Taraf Kesukaran
Nilai (P)
Kategori
p > 0,70
Mudah
0,30 ≤ p ≤ 0,70
Sedang
p < 0,30
Sukar
Dalam penelitian ini, untuk perhitungan taraf kesukaran instrumen
peneliti menggunakan program Anates uraian versi 4.0.4. Hasil
perhitungan dengan menggunakan program Anates dari 10 butir soal yang
valid diperoleh 6 soal berkategori sedang dan 4 soal berkategori sukar.
Adapun hasil perhitungan selengkapnya terlampir pada halaman 154.
d. Daya Pembeda (Discriminating Power)
Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk
membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan
siswa yang bodoh (berkemampuan rendah).23
20
Ibid., h. 207
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Cet 3; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2011), h. 272
22
Ibid., h. 272
21
38
Untuk menghitung daya pembeda setiap butir soal dapat digunakan
rumus sebagai berikut:24
3-4
Di mana:
DP
= daya pembeda
WL
= jumlah peserta didik yang gagal dari kelompok bawah
WH
= jumlah peserta didik yang gagal dari kelompok atas
n
= 27% x N (jumlah peserta didik)
Untuk menginterpretasikan koefisien daya pembeda tersebut dapat
digunakan kriteria yang dikembangkan oleh Ebel pada tabel 3.4 sebagai
berikut:25
Tabel 3.4 Kriteria Daya Pembeda
Nilai (DP)
Kategori
0,40 and up
Very good items
0,30 – 0,39
Reasonably good
0,20 – 0,29
Marginal items
Below – 0,19
Poor item
Dalam penelitian ini, untuk perhitungan daya pembeda instrumen
peneliti menggunakan program Anates uraian versi 4.0.4. Hasil
perhitungan dengan menggunakan program Anates dari 10 butir soal yang
valid diperoleh 4 soal berkategori jelek, 4 soal berkategori cukup, 1 soal
berkategori baik dan 1 soal berkategori baik sekali. Adapun hasil
perhitungan selengkapnya terlampir pada halaman 154.
23
Suharsimi Arikunto, op.cit., h. 211
Zainal Arifin, op.cit., h. 273
25
Ibid., h. 274
24
39
2. Lembar Observasi
Untuk mengetahui validitas instrumen observasi dalam penelitian
ini digunakan validitas logis. Validitas logis untuk sebuah instrumen
evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrumen yang memenuhi
persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut
dipandang terpenuhi karena instrumen yang bersangkutan sudah dirancang
secara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada.26
Dari pengkajian konstruksi teoritik pengaruh model inkuiri
terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa, tersusunlah lembar observasi
untuk mengukur keterlaksanaan tahapan model inkuiri terbimbing.
Adapun lembar observasi keterlaksanaan tahapan model inkuiri terbimbing
terlampir pada halaman 148.
H. Teknik Analisis Data
1. Data Tes Kemampuan Berpikir Kreatif
Data yang didapat kemudian dihitung dan dinilai dengan
memberikan skor. Setelah seluruh butir soal jawaban siswa diberi skor,
maka langkah selanjutnya adalah menghitung persentase skor jawaban dari
tiap item atau butir soal dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
3-5
Setelah menghitung persentase skor jawaban dari tiap butir soal,
selanjutnya menghitung persentase skor jawaban berdasarkan indikator
masing-masing soal tes berpikir kreatif yaitu kemampuan berpikir lancar
(fluency), kemampuan berpikir luwes (flexibility), kemampuan berpikir
merinci (elaboration), dan kemampuan berpikir orisinal (originality).
Masing-masing skor ideal dalam persentase diberi bobot 100 dan skor
minimal diberi bobot 0, yang selanjutnya berdasarkan selisih (range)
persentase maksimal (ideal) dan minimal dengan jumlah kelas sebanyak 5,
26
Suharsimi Arikunto, op. cit., h. 65
40
maka kriteria masing-masing variabel dikelompokkan seperti pada tabel
3.6 berikut:
Tabel 3.5 Kriteria Penilaian Hasil Tes Berpikir Kreatif Siswa
Persentase Jawaban
Kriteria Penilaian
81 – 100
Sangat Kreatif
61 – 80
Kreatif
41 – 60
Cukup Kreatif
21 – 40
Kurang Kreatif
00 – 20
Tidak Kreatif
Data tes berpikir kreatif selanjutnya dianalisis untuk menguji
hipotesis yang diajukan. Pengujian hipotesis dapat dilakukan jika prasyarat
analisis telah terpenuhi.
a. Pengujian Persyaratan Analisis Data
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t,
terlebih dahulu diadakan pengujian persyaratan analisis, yaitu :
1) Uji Normalitas Data
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah sampel
yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan
secara nonparametrik yaitu menggunakan Uji Liliefors, dengan rumus:27
Lo = │F (Zi) – S (Zi) │
Keterangan :
Lo
= Harga mutlak terbesar
F (Zi) = Peluang angka baku
S (Zi) = Proporsi angka baku
Adapun langkah-lagkah pengujiannya sebagai berikut:
a) Kolom X
Data diurutkan dari yang terkecil sampai terbesar
b) Kolom Zi
27
Sudjana, Metode Statistika, (Bandung: Tarsito, 2005), h. 466-467
3-6
41
3-7
Ketetangan:
= Skor baku
= Skor ke i
= Nilai rata-rata
SD = Standar Deviasi
c) Kolom F(Zi)
Nilai Zi dikonsultasikan pada daftar tabel (tabel Z)
d) Kolom S(Zi)
Kolom ini dicantumkan nilai yang diperoleh dari perhitungan sebagai
berikut:
S (Zi) =
3-8
e) Kolom │F (Zi) – S (Zi) │
Merupakan harga mutlak dari selisih F (Zi) dan S (Zi)
f) Tentukan nilai L0 dengan harga terbesar dari harga mutlak selisih dan
dibandingkan dengan Ltabel dari tabel Liliefors. Dengan kriteria:
Terima H0 jika L0(hitung) < Ltabel artinya data berdistribusi normal
Tolak Ho jika L0(hitung) > Ltabel artinya data berdistribusi tidak normal
Ltabel atau nilai kritis untuk uji liliefors dengan n > 30 dan taraf nyata
(α) 0,05 adalah Ltabel =
g) Untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang
berdistribusi normal, maka nilai L0 dikonsultasikan kendalam tabel
nilai kritis L dengan taraf signifikan α = 0,05. Kriteria pengujian
populasi ini dianggap berdistribusi normal jika L0 lebih kecil dari Ltabel
(angka kritis).
2) Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan antara dua
keadaan atau populasi. Uji homogenitas dilakukan dengan melihat keadaan
42
ke homogenan populasi. Uji homogenitas yang dilakukan adalah uji
Fisher, dengan langkah-langkah sebagai berikut:28
a) Mencari nilai varians terbesar dan varians terkecil dengan rumus
S2 =
3-9
b) Menentukan Fhitung dengan rumus
3-10
c) Menentukan nilai Ftabel dengan rumus:
dk pembilang
= n-1 (untuk varians terbesar)
dk penyebut
= n-1 (untuk varians terkecil)
dengan taraf signifikan (α) = 0,05, maka dicari pada tabel F.
d) Membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel, dengan kriteria pengujian
berikut:
(1) Jika Fhitung ≥ Ftabel maka Ho ditolak, yang berarti varians kedua
populasi tidak homogen.
(2) Jika Fhitung  Ftabel maka Ho diterima, yang berarti varians kedua
populasi homogen
b. Pengujian Hipotesis
Setelah uji normalitas dan uji homogenitas dilakukan, maka
selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis dalam
penelitian ini menggunakan uji-t pada taraf signifikasi (α) = 0,05, berikut
ini adalah langkah-langkah perhitungannya:29
1) Mencari deviasi standar gabungan (dsg)
3-11
Keterangan:
28
29
173.
n1
: banyaknya data kelas eksperimen
n2
: banyaknya data kelas kontrol
V1
: varians data kelas eksperimen
V2
: varians data kelas kontrol
Riduwan, op.cit., h. 120
Subana, dkk., Statistik Pendidikan (Cet. 10; Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), h. 171-
43
2) Menentukan t hitung
3-12
Keterangan:
: Rata-rata hasil tes kemampuan berpikir kreatif kelas eksperimen
: Rata-rata hasil tes kemampuan berpikir kreatif kelas kontrol
dsg : Nilai deviasi standar gabungan
3) Menentukan derajat kebebasan (db)
Rumusnya: db = n1 + n2 – 2
3-13
4) Menentukan ttabel
5) Pengujian hipotesis, dengan kriteria sebagai berikut:
H0 diterima jika thitung < ttabel.
H0 ditolak jika thitung > ttabel.
2. Data Observasi
Untuk mengukur sejauh mana keterlaksanaan tahapan model
inkuiri terbimbing melalui observasi, maka kriteria yang digunakan pada
lembar observasi tersebut adalah skala likert dengan lima pilihan, yaitu:
sangat baik – baik – sedang – buruk – buruk sekali. Dengan menggunakan
skala likert, maka bobot nilai pada tiap item observasi yang diberikan
dapat dilihat pada tabel 3.5 sebagai berikut:30
Tabel 3.6 Bobot Nilai Item Observasi Berdasarkan Skala Likert
30
Pilihan Jawaban
Skor Item
Sangat Baik
5
Baik
4
Sedang
3
Riduwan, op. cit., h. 88
44
Buruk
2
Buruk Sekali
1
Setelah seluruh butir soal jawaban siswa diberi skor, maka langkah
selanjutnya adalah menghitung persentase skor jawaban dari tiap item atau
butir soal dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
3-14
Selanjutnya persentase skor yang didapat dibandingkan pada
kriteria interpretasi skor pada tabel 3.6 berikut:31
Tabel 3.7 Kriteria Penilaian Lembar Observasi
Persentase Jawaban
I.
Kriteria Penilaian
81% – 100%
Sangat Baik
61% – 80%
Baik
41% – 60%
Sedang
21% – 40%
Buruk
0% – 20%
Buruk Sekali
Hipotesis Statistik
Hipotesis statistiknya yaitu :
H0 : μ1 = μ2
Ha : μ1 > μ2
H0 dan Ha dalam bentuk kalimat:
H0 : Terdapat perbedaan rata-rata skor yang signifikan antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol.
Ha : Tidak terdapat perbedaan rata-rata skor yang sigifikan antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol.
31
Ibid., h. 89
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data kuantitatif dan
kualitatif. Data kuantitatif berupa tes kemampuan berpikir kreatif siswa
diperoleh dari hasil pretest dan posttest yang dilakukan di kelas eksperimen
dan kelas kontrol. Tes berpikir kreatif siswa berupa 10 butir soal uraian
(essay) yang telah diuji validitasnya di kelas XII IPA yang bertempat di SMAI
Yaspia Kabupaten Bekasi sehingga instrumen ini layak digunakan dalam
penelitian ini. Sementara itu, data kualitatif diperoleh dari hasil observasi
siswa yang dilakukan di kelas eksperimen.
1. Hasil Pretest Berpikir Kreatif Siswa
Data pretest yang terkumpul dari hasil tes berpikir kreatif siswa
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol selanjutnya dianalisis dan
dilakukan perhitungan. Hasil perhitungan data pretest tersebut disajikan
dalam tabel 4.1 berikut ini:
Tabel 4.1 Hasil Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Statistik
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
Jumlah Sampel
26
26
Nilai Minimum
22
25
Nilai Maksimum
41
42
Mean
30,54
32,50
Modus
27,50
26,40
Median
29,50
31,70
Varians
30,98
31,38
Standar Deviasi
5,57
5,60
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa dengan jumlah sampel yang
sama antara kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu 26 menghasilkan
45
46
nilai rata-rata kelas kontrol lebih tinggi dari kelas eksperimen dalam hasil
pretest berpikir kreatif siswa. Hal ini dapat diamati dari nilai rata-rata
kelas kontrol sebesar (32,50) dengan varians (30,98) lebih tinggi dari pada
nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar (30,54) dengan varians (31,38).
Hasil pretest kedua kelas penelitian selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran halaman 162.
Selanjutnya data pretest dari kedua kelas tersebut dihitung
berdasarkan indikator masing-masing soal tes berpikir kreatif yang
diberikan. Penyajian data berdasarkan indikator berpikir kreatif dapat
dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini :
Tabel 4.2 Nilai Rata-Rata Pretest Indikator Berpikir Kreatif Siswa
Nilai Rata-Rata
No.
1
2
3
4
Indikator
Kelas
Kriteria
Eksperimen
Fluency
Kurang
27,90
(Berpikir Lancar)
Kreatif
Flexibility
Cukup
44,13
(Berpikir Luwes)
Kreatif
Elaboration
Tidak
14,93
(Berpikir Merinci)
Kreatif
Originality
Cukup
42,10
(berpikir orisinal)
Kreatif
Kelas
Kontrol
32,70
43,20
15,80
46,60
Kriteria
Kurang
Kreatif
Cukup
Kreatif
Tidak
Kreatif
Cukup
Kreatif
Dari tabel indikator hasil tes berpikir kreatif di atas, dapat diamati
bahwa nilai rata-rata indikator berpikir kreatif kelas eksperimen tertinggi
ada pada indikator flexibility (berpikir luwes) yaitu sebesar 44,13 dengan
kriteria cukup kreatif dan terendah ada pada indikator elaboration
(berpikir merinci) yaitu sebesar 14,93 dengan kriteria tidak kreatif.
Sedangkan nilai rata-rata indikator berpikir kreatif kelas kontrol tertinggi
ada pada indikator originality (berpikir orisinal) yaitu sebesar 46,60
dengan kriteria cukup kreatif dan terendah ada pada indikator elaboration
(berpikir merinci) yaitu sebesar 15,80 dengan kriteria tidak kreatif. Secara
47
keseluruhan hasil pretest berpikir kreatif siswa kelas eksperimen dan kelas
kontrol menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda yaitu dibawah kriteria
kreatif.
2. Hasil Posttest Berpikir Kreatif Siswa
Setelah dilakukan perlakuan yeng berbeda pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol, yaitu kelas eksperimen diberi perlakuan dengan model
inkuiri sedangkan kelas kontrol diberi perlakuan dengan model
pembelajaran konvensional, selanjutnya dilakukan pengumpulan data
posttest. Data posttest yang terkumpul dari hasil tes berpikir kreatif siswa
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol selanjutnya dianalisis dan
dilakukan perhitungan. Hasil perhitungan data posttest tersebut disajikan
dalam tabel 4.3 berikut ini:
Tabel 4.3 Hasil Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Statistik
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
Jumlah Sampel
26
26
Nilai Minimum
55
40
Nilai Maksimum
90
81
Mean
73,35
58,15
Modus
75,50
50,00
Median
74,00
56,30
Varians
111,60
167,42
Standar Deviasi
10,56
12,94
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa dengan jumlah sampel yang
sama antara kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu 26 menghasilkan
nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol dalam hasil
posttest berpikir kreatif siswa. Hal ini dapat diamati dari nilai rata-rata
kelas eksperimen sebesar (73,35) dengan varians (111,60) lebih tinggi dari
pada nilai rata-rata kelas kontrol sebesar (58,15) dengan varians (167,42).
48
Hasil posttest kedua kelas penelitian selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran halaman 162.
Selanjutnya data posttest dari kedua kelas tersebut dihitung
berdasarkan indikator masing-masing soal tes berpikir kreatif yang
diberikan.
Penyajian data berdasarkan indikator berpikir kreatif dapat
dilihat pada tabel 4.4 di bawah ini :
Tabel 4.4 Nilai Rata-Rata Posttest Indikator Berpikir Kreatif Siswa
Nilai Rata-Rata
No.
Indikator
Kelas
Eksperimen
Kriteria
Kelas
Kontrol
Kriteria
1
Fluency
(Berpikir Lancar)
97,10
Sangat
Kreatif
59,60
Cukup
Kreatif
2
Flexibility
(Berpikir Luwes)
72,85
Kreatif
46,18
Cukup
Kreatif
3
Elaboration
(Berpikir Merinci)
74,80
Kreatif
66,15
Kreatif
4
Originality
(Berpikir Orisinal)
88,50
Sangat
Kreatif
66,60
Kreatif
Dari tabel indikator hasil tes berpikir kreatif di atas, dapat diamati
bahwa nilai rata-rata indikator berpikir kreatif kelas eksperimen tertinggi
ada pada indikator fluency (berpikir lancar) yaitu sebesar 97,10 dengan
kriteria sangat kreatif dan terendah ada pada indikator flexibility (berpikir
luwes) yaitu sebesar 72,85 dengan kriteria kreatif. Sedangkan nilai ratarata indikator berpikir kreatif kelas kontrol tertinggi ada pada indikator
originality (berpikir orisinal) yaitu sebesar 66,60 dengan kriteria kreatif
dan terendah ada pada indikator flexibility (berpikir luwes) yaitu sebesar
46,18 dengan kriteria cukup kreatif. Menunjukkan hasil posttest yang
cukup jauh berbeda antara kelas eksperimen dan kelas kontrol terhadap
kemampuan berpikir kreatif. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan
49
model inkuri dalam proses pembelajaran menghasilkan pengaruh yang
positif terhadap perkembangan kemampuan berpikir kreatif siswa.
3. Hasil Lembar Observasi
Pengamatan keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran inkuiri terbimbing pada konsep hidrolisis garam
menggunakan lembar observasi. Lembar observasi dibuat berdasarkan
tahapan model inkuiri terbimbing yang ada, yaitu merumuskan masalah,
merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan membuat
kesimpulan. Hasil lembar observasi diperoleh dengan melakukan
pengamatan terhadap siswa kelas eksperimen yang dilakukan oleh 2 orang
pengamat (observer) pada setiap pertemuannya. 2 orang pengamat
(observer) terkait dalam penelitian ini adalah seseorang yang ahli/tahu
dibidang kimia yaitu guru kimia di SMA Darul Muttaqin Kabupaten
Bekasi.
Dari hasil pengamatan aktivitas siswa terhadap keterlaksanaan
tahapan model inkuiri terbimbing yang dilakukan oleh observer, maka
didapat hasil yang disajikan dalam bentuk tabel 4.5 dibawah ini.
(perhitungan selengkapnya pada lampiran halaman 171).
Tabel 4.5 Hasil Observasi Keterlaksanaan Tahapan Model Inkuiri
Terbimbing
1
Tahapan Model Inkuiri
Terbimbing
Merumuskan Masalah
79
Kriteria
Penilaian
Baik
2
Merumuskan Hipotesis
75
Baik
3
Mengumpulkan Data
86
Sangat Baik
4
Analisis Data
79
Baik
5
Membuat Kesimpulan
87
Sangat Baik
81,2
Sangat Baik
No.
Rata-Rata Keseluruhan
Persentase (%)
50
Dari tabel di atas terlihat bahwa persentase keseluruhan hasil
observasi keterlaksanaan tahapan model inkuiri terbimbing adalah sebesar
81,2 dengan kriteria penilaian sangat baik. Hal itu menunjukkan bahwa
penerapan model inkuiri terbimbing yang dilakukan pada kelas
eksperimen terlaksana dengan sangat baik.
B. Hasil Pengujian Prasyarat Analisis Data Pretest
1. Uji Normalitas
Dalam penelitian ini, uji normalitas didapat dengan menggunakan
uji Liliefors. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data
berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa data berdistribusi
normal bila memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel sedangkan jika Lhitung > Ltabel
maka data tidak berdistribusi normal diukur pada taraf signifikasi (α)
tertentu. Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan dengan taraf signifikan
(α) = 0,05, maka untuk n = 26 didapatkan harga Ltabel = 0,173.
Hasil uji normalitas pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol
dapat dilihat seperti pada tabel 4.6 di bawah ini, sedangkan perhitungan
lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman 182 dan 186.
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Pretest
Statistik
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
Lhitung
0,121
0,157
Ltabel
0,173
0,173
Kesimpulan
Berdistribusi Normal
Berdistribusi Normal
Dari tabel di atas teramati bahwa hasil uji normalitas pretest pada
kelas eksperimen didapatkan Lhitung (0,121) < Ltabel (0,173) menunjukkan
data berdistribusi normal. Sedangkan pada
kelas kontrol didapatkan
Lhitung (0,157) < Ltabel (0,173) menunjukkan data berdistribusi normal.
51
Maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelas sampel penelitian pada data
pretest berdistribusi normal karena memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel.
2. Uji Homogenitas
Setelah kedua kelas sampel penelitian dinyatakan berdistribusi
normal, selanjutnya dicari nilai homogenitasnya untuk mengetahui
kesamaan antara dua populasi. Dalam penelitian ini, nilai homogenitas
didapat dengan menggunakan uji homogenitas dua varians atau uji Fisher
dimana varians terbesar dibanding varians terkecil. Kriteria pengujian
yang digunakan yaitu jika Fhitung ≤ Ftabel maka H0 diterima, yang berarti
varians dua populasi homogen. Sedangkan jika Fhitung ≥ Ftabel maka H0
ditolak, yang berarti varians dua populasi tidak homogen.
Hasil uji homogenitas pretest kedua kelas sampel penelitian dapat
dilihat seperti pada tabel 4.7 di bawah ini, sedangkan perhitungan lengkap
dapat dilihat pada lampiran halaman 190.
Tabel 4.7 Hasil Uji Homogenitas Pretest
Statistik
Hasil
Varians Terbesar
31,38
Varians Terkecil
30,98
Fhitung
1,01
Ftabel
1,94
Kesimpulan
Homogen
Pengujian dilakukan pada taraf signifikan (α) = 0,05 dengan derajat
kebebasan (dk) penyebut 25 dan derajat kebebasan (dk) pembilang 25,
maka didapat harga Ftabel = 1,96. Dari tabel di atas, teramati bahwa pada
hasil uji homogenitas pretest Fhitung (1,01) < Ftabel (1,94), maka dapat
disimpulkan bahwa hasil uji homogenitas pretest kelas sampel penelitian
menunjukkan varians dua populasi homogen karena memenuhi kriteria
pengujian Fhitung ≤ Ftabel.
52
3. Uji Hipotesis
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat
perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor pretest kelas eksperimen
dengan rata-rata skor pretest kelas kontrol. Hasil perhitungan uji hipotesis
hasil pretest disajikan pada tabel 4.8 di bawah ini. Adapun penghitungan
uji hipotesis hasil pretest selengkapnya dapat dilihat pada lampiran
halaman 192.
Tabel 4.8 Uji Hipotesis Hasil Pretest
Keterangan
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
Jumlah Sampel
26
26
Nilai Rata-Rata
30,54
32,50
Sg
5,58
thitung
−1,27
ttabel
1,68
Kesimpulan
Tidak Berbeda
Dari tabel di atas diperoleh nilai thitung sebesar −1,27 dan ttabel 1,68
pada taraf signifikan (α) = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 50. Hasil
pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa thitung (−1,27) < ttabel (1,68),
maka H0 diterima dengan demikian hipotesis alternatif (Ha) ditolak. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ratarata skor pretest kelas eksperimen dengan rata-rata skor pretest kelas
kontrol. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan berpikir kreatif
siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak berbeda ketika kedua kelas
sampel penelitian belum diberikan perlakuan dalam proses pembelajaran.
C. Hasil Pengujian Prasyarat Analisis Data Posttest
1. Uji Normalitas
Dalam penelitian ini, uji normalitas didapat dengan menggunakan
uji Liliefors. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data
53
berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa data berdistribusi
normal bila memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel sedangkan jika Lhitung > Ltabel
maka data tidak berdistribusi normal diukur pada taraf signifikasi (α)
tertentu. Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan dengan taraf signifikan
(α) = 0,05, maka untuk n = 26 didapatkan harga Ltabel = 0,173.
Hasil uji normalitas posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol
dapat dilihat seperti pada tabel 4.9 di bawah ini, sedangkan perhitungan
lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman 184 dan 188.
Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas Posttest
Statistik
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
Lhitung
0,110
0,151
Ltabel
0,173
0,173
Kesimpulan
Berdistribusi Normal
Berdistribusi Normal
Dari tabel di atas teramati bahwa hasil uji normalitas posttest pada
kelas eksperimen didapatkan Lhitung (0,110) < Ltabel (0,173) menunjukkan
data berdistribusi normal. Sedangkan pada
kelas kontrol didapatkan
Lhitung (0,151) < Ltabel (0,173) menunjukkan data berdistribusi normal.
Maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelas sampel penelitian pada data
posttest berdistribusi normal karena memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel.
2. Uji Homogenitas
Setelah kedua kelas sampel penelitian dinyatakan berdistribusi
normal, selanjutnya dicari nilai homogenitasnya untuk mengetahui
kesamaan antara dua populasi. Dalam penelitian ini, nilai homogenitas
didapat dengan menggunakan uji homogenitas dua varians atau uji Fisher
dimana varians terbesar dibanding varians terkecil. Kriteria pengujian
yang digunakan yaitu jika Fhitung ≤ Ftabel maka H0 diterima, yang berarti
varians dua populasi homogen. Sedangkan jika Fhitung ≥ Ftabel maka H0
ditolak, yang berarti varians dua populasi tidak homogen.
54
Hasil uji homogenitas posttest kedua kelas sampel penelitian dapat
dilihat seperti pada tabel 4.10 di bawah ini, sedangkan perhitungan
lengkap dapat dilihat pada lampiran halaman 191.
Tabel 4.10 Hasil Uji Homogenitas Posttest
Statistik
Hasil
Varians Terbesar
167,42
Varians Terkecil
111,60
Fhitung
1,50
Ftabel
1,94
Kesimpulan
Homogen
Pengujian dilakukan pada taraf signifikan (α) = 0,05 dengan derajat
kebebasan (dk) penyebut 25 dan derajat kebebasan (dk) pembilang 25,
maka didapat harga Ftabel = 1,96. Dari tabel di atas, teramati bahwa pada
hasil uji homogenitas posttest Fhitung (1,50) < Ftabel (1,94). Maka dapat
disimpulkan bahwa hasil uji homogenitas posttest kelas sampel penelitian
menunjukkan varians dua populasi homogen karena memenuhi kriteria
pengujian Fhitung ≤ Ftabel.
3. Uji Hipotesis
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat
perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor posttest kelas eksperimen
dengan rata-rata skor posttest kelas kontrol. Hasil perhitungan uji hipotesis
hasil posttest disajikan pada tabel 4.11 di bawah ini. Adapun penghitungan
uji hipotesis hasil posttest selengkapnya dapat dilihat pada lampiran
halaman 194.
55
Tabel 4.11 Uji Hipotesis Hasil Posttest
Keterangan
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
Jumlah Sampel
26
26
Nilai Rata-Rata
73,35
58,15
Sg
11,81
thitung
4,64
ttabel
1,68
Kesimpulan
Berbeda
Dari tabel di atas diperoleh nilai thitung sebesar 4,64 dan ttabel 1,68
pada taraf signifikan (α) = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 50. Hasil
pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa thitung (4,64) > ttabel (1,68),
maka H0 ditolak dengan demikian hipotesis alternatif (Ha) diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata
skor posttest kelas eksperimen dengan rata-rata skor posttest kelas kontrol.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
penggunaan model inkuiri terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.
D. Pembahasan
Berdasarkan hasil perhitungan pretest, nilai rata-rata kemampuan
berpikir kreatif siswa kelas eksperimen lebih rendah dari pada nilai rata-rata
kemampuan berpikir kreatif siswa kelas kontrol. Namun, setelah kedua kelas
tersebut diberi perlakuan dengan model pembelajaran yang berbeda, hasil ratarata posttest berpikir kreatif siswa kelas eksperimen menjadi lebih tinggi dari
pada kelas kontrol. Hal ini karena model inkuiri yang diterapkan pada kelas
eksperimen membantu mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa.
Hal tersebut semakin jelas adanya setelah dilakukan pengujian
hipotesis dengan uji-t pada data pretest dan posttest. Uji perbedaan dua ratarata hasil pretest dengan rata-rata kelas eksperimen sebesar 30,54 dan rata-rata
kelas kontrol sebesar 32,50 menghasilkan thitung sebesar −1,27. Sedangkan ttabel
56
yang dihasilkan dari 26 sampel kelas eksperimen dan 26 sampel kelas kontrol
dengan taraf signifikan (α) = 0,05 sebesar 1,68. Nilai rata-rata yang tidak jauh
berbeda sehingga menghasilkan uji perbedaan dua rata-rata (uji-t) hasil pretest
yang diperoleh menunjukkan bahwa thitung (−1,27) < ttabel (1,68), sehingga
memenuhi kriteria dimana H0 diterima dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak
dengan kata lain tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor
pretest kelas eksperimen dengan rata-rata skor pretest kelas kontrol.
Sedangkan pada uji perbedaan dua rata-rata hasil posttest dengan rata-rata
kelas eksperimen sebesar 73,35 dan rata-rata kelas kontrol sebesar 58,15
menghasilkan thitung sebesar 4,64. Dari 26 sampel kelas eksperimen dan 26
sampel kelas kontrol dengan taraf signifikan (α) = 0,05 dihasilkan ttabel sebesar
1,68. Menunjukkan hasil yang berbeda dengan hasil uji perbedaan dua ratarata pada hasil pretest, hasil uji perbedaan dua rata-rata (uji-t) hasil posttest
yang diperoleh menunjukkan bahwa
thitung (4,64) > ttabel (1,68), sehingga
memenuhi kriteria dimana H0 ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima.
Dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata
skor posttest kelas eksperimen dengan rata-rata skor posttest kelas kontrol
dimana model inkuiri yang diterapkan menunjukkan peningkatan yang
signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada kelas eksperimen.
Dengan kata lain, terdapat pengaruh yang signifikan penerapan model inkuiri
terhadap perkembangan kemampuan berpikir kreatif siswa pada konsep
hidrolisis garam.
Dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri siswa terlibat
langsung dalam setiap tahap pembelajarannya. Menurut Eggen dan Kauchack
tahapan model inkuiri adalah merumuskan pertanyaan atau permasalahan,
merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis/analisis data
dan membuat kesimpulan.1 Melalui keterlibatan siswa secara langsung dalam
setiap tahap pembelajaran membantu melatih kemampuan berpikir kreatif
siswa karena siswa belajar mandiri dalam menemukan pembuktian kebenaran
1
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam
Kelas, (Cet. 1; Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2010), h. 95
57
suatu konsep. Jadi siswa tidak hanya sekedar mendengarkan dan menerima
informasi begitu saja tapi mentelaah dan mengembangkan informasi yang
didapatnya sehingga kemampuan berpikir kreatifnya dapat dikembangkan
secara lebih maksimal. Keterlaksanaan tahapan model inkuiri terbimbing yang
dilakukan siswa selama proses pembelajaran teramati dari hasil observasi
sebesar 81,2 dengan kriteria penilaian sangat baik. Hal ini menunjukkan
bahwa penerapan model inkuiri terbimbing yang dilakukan pada kelas
eksperimen terlaksana dengan sangat baik.
Selanjutnya dapat kita amati kemampuan berpikir kreatif yang
berkembang dari hasil pretest dan posttest kedua sampel kelas penelitian
dengan lebih terperinci pada tiap indikator berpikir kreatif. Perhitungan tiap
indikator berpikir kreatif hasil pretest kedua sampel kelas penelitian
menunjukkan hasil yang sama. Indikator terendah berada pada kriteria tidak
kreatif sedangkan indikator tertinggi berada pada kriteria cukup kreatif. Hal
ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa sangat minim yaitu
dibawah kriteria kreatif.
Sedangkan pada hasil
posttest,
kelas eksperimen mengalami
peningkatan yang maksimal disetiap indikator berpikir kreatif dari pada kelas
kontrol. Indikator berpikir lancar (fluency) kelas eksperimen berada pada
kriteria sangat kreatif sedangkan kelas kontrol hanya berada pada kriteria
cukup kreatif. Hal ini berarti bahwa pada kelas eksperimen siswa lebih mampu
mencetuskan banyak gagasan yang relevan. Indikator berpikir luwes
(flexibility) kelas eksperimen berada pada kriteria kreatif sedangkan kelas
kontrol hanya berada pada kriteria cukup kreatif. Hal ini berarti bahwa pada
kelas eksperimen siswa lebih mampu menghasilkan gagasan, jawaban, atau
pertanyaan yang bervariasi sehingga siswa dapat melihat masalah dari sudut
pandang yang berbeda serta mencari banyak alternatif atau arah yang berbedabeda. Indikator berpikir merinci (elaboration) kelas eksperimen dan kelas
kontrol berada pada kriteria yang sama yaitu kreatif. Hal ini berarti bahwa
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol siswa mampu mengembangkan dan
memperkaya atau memperluas suatu gagasan atau ide sehingga menjadi lebih
58
menarik. Indikator berpikir orisinal (originality) kelas eksperimen berada pada
kriteria sangat kreatif sedangkan kelas kontrol hanya berada pada kriteria
kreatif. Hal ini berarti bahwa pada kelas eksperimen siswa lebih mampu
melahirkan ungkapan yang baru dan unik.
Ketercapaian yang maksimal kelas eksperimen pada setiap indikator
berpikir kreatif disebabkan karena penggunaan model inkuiri dalam proses
pembelajaran. Melalui model inkuiri siswa dilatih menggunakan segala
potensinya (kognitif, afektif dan psikomotor), terutama proses mentalnya
untuk menemukan sendiri konsep-konsep atau prinsip-prinsip IPA layaknya
seorang ilmuan sehingga siswa dapat menemukan “konsep diri”, kritis dan
kreatif.2 Sedangkan penggunaan model pembelajaran konvensional dapat
dijadikan salah satu penyebab rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa.
Karena proses pembelajarannya hanya berorientasi pada penguasaan sejumlah
informasi/konsep
belaka,
penekanannya
lebih
pada
hapalan
tanpa
dikembangkan dan ditelaah secara terperinci oleh siswa tersebut sehingga
kemampuan kreatif siswa tidak dilatih karena siswa sekedar menerima
instruksi tanpa diberi kesempatan menemukan sendiri suatu konsep.
Akibatnya potensi kreatif siswa tak dapat dikembangkan. Hal ini senada
dengan yang dikemukakan oleh Parnes, bahwa siswa menerima begitu banyak
instruksi bagaimana melakukan sesuatu di sekolah, di rumah, dan di dalam
pekerjaan sehingga kebanyakan dari siswa kehilangan hampir setiap
kesempatan untuk kreatif.3
Pada kelas eksperimen, perhitungan tiap indikator berpikir kreatif hasil
posttest menunjukkan peningkatan. Pada hasil pretest indikator nilai terendah
berada pada kriteria tidak kreatif meningkat hingga kriteria kreatif pada hasil
posttest. Sedangkan, hasil pretest indikator nilai tertinggi berada pada kriteria
cukup kreatif meningkat hingga kriteria sangat kreatif dengan presentase
97,10% pada hasil posttest, peningkatan yang sangat signifikan/maksimal
2
Moh. Amin, Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Dengan Menggunakan
Metode “Discovery” dan “Inquiry”, (Jakarta:P2LPTK, 1987), h. vii
3
Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat (Jakarta : Rineka Cipta,
2009), h. 11
59
dengan presentase hampir mencapai 100%. Peningkatan yang maksimal
tersebut disebabkan karena penerapan model inkuri terbimbing dalam proses
pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa terlibat langsung
dalam setiap tahap pembelajarannya. Akibatnya, potensi kreatif siswa dapat
dikembangkan tanpa terbatasi oleh peraturan dan persyaratan yang membatasi.
Pada hasil posttest indikator nilai tertinggi berada pada indikator berpikir
lancar dengan kriteria sangat kreatif. Hal ini berarti bahwa melalui penerapan
model inkuiri terbimbing siswa lebih mampu menghasilkan banyak gagasan,
jawaban dan penyelesaian masalah serta memikirkan lebih dari satu jawaban
dengan sangat kreatif.
Sedangkan pada kelas kontrol, perhitungan hasil pretest indikator nilai
terendah berada pada kriteria tidak kreatif meningkat hanya pada kriteria
cukup kreatif pada hasil posttest dengan presentase jawaban kurang dari 50%.
Sedangkan, hasil pretest indikator nilai tertinggi berada pada kriteria cukup
kreatif meningkat hingga kriteria kreatif pada hasil posttest dengan presentase
jawaban kurang dari 70%. Hal ini berarti bahwa peningkatan kemampuan
berpikir kreatif siswa yang terjadi pada kelas kontrol belum secara maksimal.
Peningkatan yang tidak maksimal tersebut disebabkan karena proses
pembelajaran yang dilakukan hanya sebatas pada pemberian informasi/konsep
belaka dari seorang guru sehingga tidak memberikan kesempatan pada siswa
terlibat langsung dalam setiap tahap pembelajarannya. Akibatnya, potensi
kreatif siswa tidak dapat dikembangkan.
Dari uraian diatas, jelaslah bahwa model inkuiri terbimbing mampu
meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa secara lebih maksimal
karena model inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal
untuk mencari dan menemukan artinya siswa bertindak sebagai subjek
belajar.4 Jadi, model inkuiri terbimbing tidak hanya sebatas pada kegiatan
mendengarkan tapi juga terlibat langsung dalam kegiatan mengatakan dan
melakukan. Sedangkan model pembelajaran tidak secara inkuiri atau secara
4
Retno Dwi Suyanti, Strategi Pembelajaran Kimia, (Cet. 1; Yogyakarta: Graha Ilmu,
2010), h. 44
60
konvensional, siswa bertindak sebagai objek belajar artinya aktivitas siswa
hanya sebatas kegiatan mendengarkan dan menerima informasi yang diberikan
oleh guru tanpa dikembangkan dan ditelaah secara terperinci oleh siswa
tersebut. Jika siswa hanya melakukan kegiatan mendengar, maka siswa ingat
20% dari yang mereka dengar. Sedangkan, jika siswa melakukan kegiatan
mengatakan dan melakukan, maka siswa ingat 90% dari yang mereka katakan
dan lakukan.5
Peneliti mengamati beberapa perbedaan dan perubahan sikap pada
kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan penggunan model pembelajaran
yang berbeda di kedua kelas tersebut. Pada kelas eksperimen yang
menggunakan model inkuiri ketika mempelajari konsep hidrolisis garam siswa
lebih antusias mengikuti setiap langkah pembelajaran yang dilakukan dari
pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
Salah satu ciri antusiasme siswa pada kelas eksperimen adalah dimana siswa
lebih aktif bertanya dan antusias melakukan eksperimen dari pada siswa kelas
kontrol yang cenderung pasif. Inkuiri menyediakan siswa beraneka ragam
pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang mendorong dan memberikan
ruang dan peluang kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam
mengembang keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan
penelitian sehingga memungkinkan mereka pebelajar sepanjang hayat. 6 Pada
proses pembelajaran secara konvensional tampak keterlibatan siswa sangat
minimal. Guru banyak berperan aktif menjelaskan materi, sedangkan siswa
cenderung pasif dan lebih banyak menunggu penjelasan materi dari guru
daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan serta
sikap yang mereka butuhkan. Hal ini menyebabkan kemampuan berpikir
kreatif siswa tidak terlatih dengan baik.
Dalam proses penelitian, terungkap beberapa faktor yang menjadi
dasar
sebab efektifnya penggunaan model inkuiri terbimbing dalam
meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Pertama, pada kelas
5
Masnur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual (Cet
6;Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009), h. 75
6
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, op. cit., h. 94
61
eksperimen yang menggunakan model inkuiri terbimbing pembelajaran
diarahkan pada suatu proses belajar dalam hal mencari dan menemukan
pembuktian terhadap kesimpulan dari konsep hidrolisis garam. Kedua,
pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan
serangkaian tahapan pembelajaran secara mandiri melalui LKS yang telah
disusun agar mampu mengungkap kemampuan berpikir kreatif siswa. Ketiga,
pembelajaran memberikan kepercayaan kapada siswa untuk mengungkapkan
gagasannya sendiri. Kepercayaan terhadap gagasan sendiri ini membuat
banyak variasi gagasan yang dihasilkan siswa serta meningkatkan orisinalitas
dalam tiap gagasan siswa tersebut.
Retno menjelaskan bahwasanya model inkuiri akan efektif apabila: (1)
guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu
permasalahan sehingga penguasaan materi bukan tujuan utama karena ynag
terpenting adalah proses belajar, (2) bahan pelajaran yang akan diajarkan
adalah berupa kesimpulan yang perlu pembuktian, (3) proses pembelajaran
berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu, (4) siswa adalah anak
yang memiliki kemauan dan kemapuan berpikir, (5) jumlah siswa tidak terlalu
banyak agar mudah dikendalikan, dan (6) guru memiliki banyak waktu untuk
melakukan pendekatan yang berpusat pada siswa.7
7
Retno Dwi Suyanti, loc. cit.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, menghasilkan rata-rata
posttest kelas eksperimen sebesar 73,35 dan rata-rata posttest kelas kontrol
sebesar 58,15 sehingga diperoleh thitung (4,64) > ttabel (1,68). Maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model
pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.
B. Saran
Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti
memberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi guru, model inkuiri perlu mendapat perhatian dan tanggapan,
dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran dikelas, karena
terbukti dalam penelitian ini model inkuiri dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kreatif siswa.
2. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini dilanjutkan pada
tingkatan model inkuiri berikutnya seperti inkuiri bebas (open inquiry).
Karena pada tingkat open inqury, siswa dituntut labih mandiri selama
proses inkuiri, artinya siswa lebih diberi kebebasan dalam hal
mengembangkan gagasan dan idenya sehingga dapat lebih menggali
kemampuan berpikir kreatif siswa.
3. Model inkuiri dapat diterapkan pada konsep lain selain konsep hidrolisis
garam, salah satu konsepnya adalah konsep laju reaksi. Karena pada
konsep laju reaksi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya yang
kebenarannya perlu dibuktikan. Pengujian kebenaran suatu teori tersebut
yang mengharuskan model inkuri diterapkan pada konsep tersebut, dimana
siswa melakukan eksperimen sendiri untuk menguji kebenaran sebuah
teori. Dalam konsep laju reaksi, kemampuan berpikir kreatif siswa dapat
terlatih melalui model inkuiri.
62
63
DAFTAR PUSTAKA
Al-Khalili, Amal Abdussalam. 2005. Mengembangkan Kreativitas Anak. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar.
Amien, Moh. 1987. Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan
Menggunakan Metode Discovery atau Inquiry. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.
Amri, Sofan & IIF Khoiru Ahmadi. 2010. Proses Pembelajaran Kreatif dan
Inovatif dalam Kelas. Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya.
Arifin, Zainal. 2011. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Awaludin, Dosen tetap di FKIP Unhalu. Ringkasan Penelitian. Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis pada Siswa dengan Kemampuan
Matematis Rendah Melalui Pembelajaran Open-Ended dengan Pemberian
Tugas
Tambahan,
diakses
24/04/2014.
17:19
WIB
dari
http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=10330.
Bono, Edward De. 2007. Revolusi Berpikir. Bandung: Kaifa.
Hartanto, Jurnal Kependidikan Triadik vol. 14, no. 1. 2011. Mengembangkan
Kreaivitas Siswa Melalui Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan
Inkuiri. Bengkulu: FKIP Universitas Bengkulu.
Ida Bagus Putu Arnyana, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP No. 3 Th,
XXXIX, ISSN 0215-8250. 2006. Pengaruh
Penerapan Strategi
Pembelajarn Inovatif Pada Pembelajaran Biologi Terhadap Kemampuan
Berpikir Kreatif Siswa SMA. Singaraja: fakultas pendidikan MIPA.
Iska, Zikri Neni. 2008. Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan.
Jakarta: Kizi Brother’s.
Johnson, Elaine B. 2006. Contextual Teaching and Learning Menjadikan
Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung:
MCC.
Justiana, Sandri dan Muchtaridi. 2009. Kimia 2. Yudhistira.
Kardius Richi Yosada, VOX Edukasi vol.1 No.1. 2010. Model Pembelajaran
Inkuiri Sosial Dalam Mengembangkan Berpikir kreatif Siswa pada Bidang
Studi IPS Ekonomi Melalui Isu-isu Ekonomi Kontemporer.
64
Kusmana, Suherli. 2010. Model Pembelajaran Siswa Aktif. Jakarta: Sketsa Aksara
Lalitya.
Mulyasa, E. 2009. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif
dan Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Munandar, Utami. 1999. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah
Penuntun Bagi Guru dan Orang Tua. Jakarta: PT Grasindo.
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta:
Rineka Cipta.
Muslich, Masnur. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan
Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
N. K., Roestiyah. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Poerwadarminta, W.J.S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai
Pustaka.
Ramadhan Witarsa, 38 ISSN 1412-565X Edisi Khusus No. 2. 2011. Analisis
Kemampuan Inkuiri Guru Yang Sudah Tersertifikasi dan Belum
Tersertifikasi Dalam Pembelajaran Sains SD.
Riduwan. 2009. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti
Pemula. Bandung: Alfabeta.
Subana. Dkk. 2000. Statisik Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Sudjana, Nana dan Ibrahim. 2009. Penelitian dan Penilaian Pendidikan.
Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suharsini, Maria dan Dyah Saptarini. 2007. Kimia dan Kecakapan Hidup
Pelajaran Kimia untuk SMA/MA. Jakarta: Ganeca Exact.
Sumarna, Omay. Dkk. 2006. Kimia untuk SMA/MA Kelas XI. Bogor: Regina.
Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktif
Menyenangkan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
&
65
Suyanti, Retno Dwi. 2010. Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Tatag Yuli E. S., Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains, FMIPA Universitas
Negeri Yogyakarta. Tahun X, No. 1, juni 2005. Upaya Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa melalui Pengajuan Masalah.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Wiwik Hardani, Jurnal BORNEO,Vol.1 No. 1 Juli 2007. Pengembangan
Kurikulum dan Pembelajaran Berpikir.
Yuli Nurul Fauziah. 2011. Analisis Kemampuan Guru Dalam Mengembangkan
Keterampilan Merpikir Kreatif Siswa Sekolah Dasar Kelas V Pada
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Bandung: UPI.
Zulfiani. Dkk. 2009. Strategi Pembelajaran Sains. Jakarta: Lembaga Penelitian
UIN Jakarta.
LAMPIRAN
66
Lampiran A1 : RPP Kelas Kontrol
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama sekolah
: SMA Darul Muttaqin
Mata pelajaran
: Kimia
Kelas / Semester
: XI / 2
Alokasi waktu
: 2 x 2 jam pelajaran
Pertemuan
: ke-1 dan ke-2
Standar kompetensi:
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya.
Kompetensi dasar:
4.4. Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan
garam tersebut.
Indikator:
Pertemuan ke-1
4.4.1. Menentukan ciri-ciri beberapa jenis garam yang dapat terhidrolisis dalam
air.
4.4.2. Menentukan sifat garam yang terhidrolisis dari persamaan reaksi ionisasi.
Pertemuan ke-2
4.4.3. Menghitung pH larutan garam yang terhidrolisis.
A. Tujuan Pembelajaran
Pertemuan ke-1
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa dapat :
1. Menjelaskan pengertian konsep hidrolisis.
2. Mengidentifikasi sifat garam yang dapat terhidrolisis dalam air
berdasarkan kekuatan asam dan basa pembentuknya.
3. Menjelaskan sifat garam yang terhidrolisis dari persamaan reaksi ionisasi.
67
Pertemuan ke-2
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa dapat :
1. Menghitung pH larutan garam menurut jenis garam yang terhidrolisis.
Karakter siswa yang diharapkan :
~ Rasa Ingin Tahu, Berani, Komunikatif, Tanggung Jawab, Berpikir Kritis.
B. Materi Ajar
Pertemuan ke-1
1. Pengertian Hidrolisis Garam
Hidrolisis berasal dari kata hydro yang berarti air dan lysis yang
berarti penguraian. Jadi hidrolisis adalah reaksi penguraian molekul dalam
air membentuk ion-ionnya. Ion-ion garam dalam air bereaksi sedemikian
rupa dengan air sehingga menyebabkan air terurai menjadi ion hidroksida
(OH−) dan ion hydronium (H3O+).
2. Sifat Larutan Garam
a) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat
Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat tidak
memberikan perubahan warna lakmus, baik lakmus merah maupun
lakmus biru. Hal ini menunjukkan bahwa larutan garam bersifat netral.
b) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah
Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah mengubah
lakmus biru menjadi merah dan tidak mengubah warna lakmus merah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa larutan garam bersifat asam.
c) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat
Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat mengubah
lakmus merah menjadi biru dan tidak mengubah warna lakmus biru.
Hal tersebut menunjukkan bahwa larutan garam bersifat basa.
d) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lemah
68
Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lemah
mengalami hidrolisis total (sempurna) mengubah lakmus merah
menjadi biru dan mengubah lakmus biru menjadi merah. Sifat larutan
tergantung pada kekuatan relatif asam dan basanya (tergantung pada
nilai Ka dan Kb). Jika Ka < Kb larutan akan bersifat basa. Jika Kb <
Ka larutan akan bersifat asam. Jika Ka = Kb larutan akan bersifat
netral.
3. Reaksi Ionisasi
a) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat
Contohnya, garam natrium klorida tersusun atas HCl (asam
kuat) dan NaOH (basa kuat).
NaCl(aq) → Na+(aq) + Cl−(aq)
Na+(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
Cl−(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
Ion Na+ berasal dari basa kuat dan ion Cl− berasal dari asam
kuat, sehingga tidak akan terhidrolisis akan tetapi mengalami hidrasi
(dikelilingi oleh molekul-molekul H2O). oleh karena itu, larutan NaCl
bersifat netral karena [H+] = [OH−].
b) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah
Contohnya garam ammonium klorida yang tersusun dari HCl
(asam kuat) dan NH4OH (basa lemah).
NH4Cl(aq) → NH4+(aq) + Cl−(aq)
NH4+(aq) + H2O(l)
NH3(aq) +H3O+(aq)
Cl−(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
NH4+ akan terhidrolisis, sedangkan Cl− tidak terhidrolisis
sehingga garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah
mengalami hidrolisis sebagian (parsial) dan larutannya bersifat asam.
c) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat
Contohnya adalah garam natrium asetat yang tersusun dari
CH3COOH (asam lemah) dan NaOH (basa kuat).
CH3COONa(aq) → CH3COO−(aq) + Na+(aq)
69
CH3COO−(aq) + H2O(l)
CH3COOH(aq) + OH−(aq)
Na+(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
CH3COO− akan terhidrolisis, sedangkan Na+ tidak terhidrolisis
sehingga garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah
mengalami hidrolisis sebagian (parsial) dan larutannya bersifat basa.
d) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lemah
Contoh garam ammonium asetat yang tersusun dari CH3COOH
(asam lemah) dan NH4OH (basa lemah). CH3COONH4 akan terionisasi
menjadi CH3COO− dan NH4+, kedua ion tersebut dapat terhidrolisis
dengan reaksi sebagai berikut:
CH3COONH4(aq) → CH3COO−(aq) + NH4+(aq)
CH3COO−(aq) + H2O(l)
NH4+(aq) + H2O(l)
CH3COOH(aq) + OH−(aq)
NH3(aq) + H3O+(aq)
CH3COO− dan NH4+ akan terhidrolisis sehingga garam yang
terbentuk dari asam lemah dan basa lemah akan mengalami hidrolisis
total (sempurna).
Kebanyakan garam yang bersifat netral terbentuk oleh kation dan anion
yang dalam air hanya terhidrasi. Berikut merupakan kation dan anion yang
terhidrasi dalam air.
Kation : Na+, K+, Rb+, Cs+, Mg+2, Ca2+, Sr2+, Ba2+
Anion : Cl−, Br−, I−, SO42−, ClO3−, ClO4−, BrO3−, NO3−
Pertemuan ke-2
1. PH Larutan Garam
a) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat (pH = 7)
Garam yang terbentuk tidak mengalami hidrolisis sehingga bersifat
netral dengan nilai pH = 7.
b) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah (pH < 7)
70
c) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat (pH > 7)
d) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lema (pH tergantung
Ka atau Kb)
C. Metode Pembelajaran
Pendekatan
: problem solving
Metode
: ceramah
D. Alat dan Sumber Belajar
Buku Kimia untuk SMA Kelas XI
E. Penilaian
Nilai diperoleh dari hasil uji kemampuan (pretest) dan hasil evaluasi (posttest)
masing-masing siswa setelah pembelajaran.
Mengetahui,
Guru Mata Pelajaran Kimia
Slamet Utomo, S.Pd
NIP.
Jakarta, 17 Mei 2013
Peneliti
Irma Idrisah
NIM. 108016200002
D. Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan ke-1
Kegiatan
Kegiatan Guru
Pembelajaran
Kegiatan
Awal
Kegiatan Siswa
Karakter Yang
Alokasi
Diharapkan
Waktu
 Guru memberikan apersepsi dengan  Siswa memberikan respon sesuai  Membangkitmemberikan beberapa aplikasi hidrolisis
garam.
pengetahuan awal.
10 menit
kan rasa ingin
tahu
Kalau kita makan, karbohidrat akan
terhidrolisis dengan bantuan berbagai
enzim menjadi glukosa.
Banyak obat yang dibuat dalam bentuk
garamnya agar mudah larut. Obat batuk
dibuat dengan melarutkan garam asam
lemah kedalam larutannya. Oleh karena
itu
kita
sering menemukan
aturan
“kocok dahulu” pada label botol obat.
Bagaimana dengan garam dapur, apakah
mengalami hidrolisis?
Untuk mengetahui hal ini, sekarang kita
71
akan mempelajari tentang hidrolisis
garam.
Kegiatan
Inti
 Guru
secara
menjelaskan
aktif
hidrolisis
dengan
garam  Siswa menjawab pertanyaan yang  Berpikir kritis
memberikan
75 menit
diberikan guru sesuai pengetahuan
pertanyaan.
awal
dengan
1. Apa yang dimaksud dengan hidrolisis
referensi yang ada.
memperhatikan
garam?
2. Apa
saja
sifat
berdasarkan
larutan
garam
dan
basa
persamaan
reaksi
asam
pembentuknya?
3. Bagaimanakah
ionisasinya?
 Guru melengkapi jawaban siswa dengan  Siswa memperhatikan penjelasan  Rasa ingin tahu
menjelaskan jawaban dari pertanyaan
guru
tersebut dengan disertai contoh.
Hidrolisis berasal dari kata hydro yang
berarti
air dan
lysis
yang berarti
penguraian. Jadi hidrolisis adalah reaksi
penguraian
molekul
dalam
air
72
membentuk ion-ionnya. Ion-ion garam
dalam air bereaksi sedemikian rupa
dengan air sehingga menyebabkan air
terurai menjadi ion hidroksida (OH−)
dan ion hydronium (H3O+).
a) Garam yang tersusun dari asam kuat
dan basa kuat
Contohnya,
garam
natrium
klorida
tersusun atas HCl (asam kuat) dan
NaOH (basa kuat). Reaksi ionisasinya:
NaCl(aq) → Na+(aq) + Cl−(aq)
Na+(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
Cl−(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
Ion Na+ berasal dari basa kuat dan ion
Cl− berasal dari asam kuat, sehingga
tidak akan terhidrolisis akan tetapi
mengalami
hidrasi
(dikelilingi
oleh
molekul-molekul H2O). oleh karena itu,
larutan NaCl bersifat netral karena [H+]
73
= [OH−].
b) Garam yang tersusun dari asam kuat
dan basa lemah
Contohnya garam ammonium klorida
yang tersusun dari HCl (asam kuat) dan
NH4OH
(basa
lemah).
Reaksi
ionisasinya:
NH4Cl(aq) → NH4+(aq) + Cl−(aq)
NH4+(aq) +H2O(l)
NH3(aq) + H3O+(aq)
Cl−(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
NH4+ akan terhidrolisis, sedangkan Cl−
tidak terhidrolisis sehingga garam yang
terbentuk dari asam kuat dan basa lemah
mengalami hidrolisis sebagian (parsial)
dan larutannya bersifat asam.
c) Garam yang tersusun dari asam
lemah dan basa kuat
Contohnya adalah garam natrium asetat
yang tersusun dari CH3COOH (asam
74
lemah) dan NaOH (basa kuat).
CH3COONa(aq) →CH3COO−(aq) + Na+(aq)
CH3COO−(aq)
+
H2O(l)
CH3COOH(aq) + OH−(aq)
Na+(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
CH3COO− akan terhidrolisis, sedangkan
Na+ tidak terhidrolisis sehingga garam
yang terbentuk dari asam kuat dan basa
lemah mengalami hidrolisis sebagian
(parsial) dan larutannya bersifat basa.
d) Garam yang tersusun dari asam
lemah dan basa lemah
Contoh garam ammonium asetat yang
tersusun dari CH3COOH (asam lemah)
dan NH4OH (basa lemah). CH3COONH4
akan terionisasi menjadi CH3COO− dan
NH4+,
kedua
terhidrolisis
ion
dengan
tersebut
reaksi
dapat
sebagai
berikut:
75
→ CH3COO−(aq) +
CH3COONH4(aq)
NH4+(aq)
CH3COO−(aq)
+
H2O(l)
CH3COOH(aq) + OH−(aq)
NH4+(aq) + H2O(l)
NH3(aq) +
H3O+(aq)
CH3COO− dan NH4+ akan terhidrolisis
sehingga garam yang terbentuk dari
asam lemah dan basa lemah akan
mengalami hidrolisis total (sempurna).
 Siswa diberikan kesempatan bertanya  Siswa bertanya apabila ada yang
bila ada yang tidak dimengerti.
 Guru
memberikan
soal
belum dimengerti.
untuk  Siswa
mengerjakan
soal
yang  Berani,
mengetahui tingkat pemahaman siswa.
diberikan oleh guru.
komunikatif
Ramalkan sifat (asam, basa atau netral)
Jawaban yang diharapkan:
Tanggung
larutan
a. K2SO4 (garam netral)
jawab
garam
berikut
ini
dengan
menuliskan reaksi ionisasinya!
K2SO4 → K+ + SO42−
a. K2SO4
K+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
b. NH4Cl
SO42− + H2O → (Tidak ada
76
c. NaHCO3
d. Ca(CH3COO)2
e. NH4NO3
 Guru memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengerjakan soal didepan.
reaksi)
b. NH4Cl (garam asam)
NH4Cl → NH4+ + Cl−
NH4+ + H2O
NH3 +H3O+
(terhidrolisis)
Cl− + H2O → (Tidak ada reaksi)
c. NaHCO3 (garam basa)
NaHCO3 → Na+ + HCO3−
Na+
+ H2O → (Tidak ada
reaksi)
HCO3− + H2O
H2CO3 +
OH− (terhidrolisis)
d. Ca(CH3COO)2 (garam basa)
Ca(CH3COO)2
→
Ca2+
+
CH3COO−
Ca2+
+ H2O → (Tidak ada
reaksi)
CH3COO−
CH3COOH
+
H2O
+
OH−
77
(terhidrolisis)
e. NH4NO3 (garam asam)
NH4NO3 → NH4+ + NO3−
NH4+ + H2O
NH3 +H3O+
(terhidrolisis)
NO3− + H2O → (Tidak ada
reaksi)
 Guru
bersama-sama
dengan
siswa  Siswa memperhatikan penjelasan
mengkoreksi jawaban dari soal tersebut.
guru.
 Siswa diberikan kesempatan bertanya  Siswa bertanya apabila ada yang
bila ada yang tidak dimengerti.
Kegiatan
Penutup

belum dimengerti.
 Guru membuat kesimpulan bersama-  Siswa
sama dengan siswa.
membuat
kesimpulan  Komunikatif
5 menit
bersama-sama dengan guru.
Pertemuan ke-2
Kegiatan
Kegiatan Guru
Pembelajaran
Kegiatan
 Guru
mereview
materi
Karakter Yang
Alokasi
Diharapkan
Waktu
sebelumnya  Siswa menjawab pertanyaan yang  Membangkit-
5 menit
Kegiatan Siswa
78
Awal
tentang sifat larutan garam dengan
pertanyaan:
Bagaimana
diberikan oleh guru.
kan rasa ingin
a. Garam yang tersusun dari asam
sifat
berdasarkan
asam
larutan
dan
garam
tahu
kuat dan basa kuat bersifat netral
basa b. Garam yang tersusun dari asam
pembentuknya?
kuat dan basa lemah bersifat
asam
c. Garam yang tersusun dari asam
lemah dan basa kuat bersifat basa
d. Garam yang tersusun dari asam
lemah dan basa lemah sifat
larutan tergantung pada kekuatan
relatif
asam
dan
basanya
(tergantung pada nilai Ka dan
Kb). Jika Ka < Kb larutan akan
bersifat basa. Jika Kb < Ka
larutan akan bersifat asam. Jika
Ka = Kb larutan bersifat netral.
 Dari sifat larutan tersebut berapakah
79
nilai pH nya?
Untuk mengetahui hal ini, sekarang kita
akan mempelajari tentang pH garam.
Kegiatan
Inti
 Guru menjelaskan pH garam secara aktif  Siswa memperhatikan penjelasan  Berpikir kritis
dengan disertai contoh soal.
75 menit
guru.
a. Garam yang tersusun dari asam kuat
dan basa kuat (pH = 7)
Garam
yang
mengalami
terbentuk
hidrolisis
tidak
sehingga
bersifat netral dengan nilai pH = 7.
b. Garam yang tersusun dari asam kuat
dan basa lemah (pH < 7)
c. Garam yang tersusun dari asam
lemah dan basa kuat (pH > 7)
d. Garam yang tersusun dari asam
lemah dan basa lema (pH tergantung
80
Ka atau Kb)
Contoh soal:
Tentukan pH dan sifat larutan yang
terbentuk dari garam CH3COONa 0,1 M
jika Ka = 10-5 !
Penyelesaian:
CH3COONa → CH3COO− + Na+
CH3COO− + H2O
CH3COOH +
−
OH (terhidrolisis)
Na+ + H2O → (tidak terhidrolisis)
81
Garam yang terbentuk dari asam lemah
dan basa kuat bersifat basa dengan nilai
pH = 9.
 Siswa diberikan kesempatan bertanya  Siswa bertanya apabila ada yang  Berani,
bila ada yang tidak dimengerti.
 Guru
memberikan
soal
belum dimengerti
untuk  Siswa
mengerjakan
komunikatif
soal
mengetahui tingkat pemahaman siswa.
diberikan guru.
Garam NH4Cl mempunyai nilai pH = 8.
Jawaban yang diharapkan:
Hitunglah molaritasnya jika Kh=10−5!
NH4Cl → NH4+ + Cl−
 Guru memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengerjakan soal didepan.
NH4+ + H2O
yang
NH3 + H3O+
(terhidrolisis)
Cl− + H2O → (tidak terhidrolisis)
82
pH = 8
[H+] = 10−8
 Guru
bersama-sama
dengan
siswa
mengkoreksi jawaban dari soal tersebut.
 Siswa diberikan kesempatan bertanya  Siswa bertanya apabila ada yang
bila ada yang tidak dimengerti
Kegiatan
Penutup
 Guru
bersama-sama
membuat kesimpulan.
dengan
belum dimengerti
siswa  Siswa bersama-sama dengan guru  Komunikatif
10 menit
membuat kesimpulan.
83
100
Lampiran A2 : RPP Kelas Eksperimen
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama sekolah
: SMA Darul Muttaqin
Mata pelajaran
: Kimia
Kelas / Semester
: XI / 2
Alokasi waktu
: 2 x 2 jam pelajaran
Pertemuan
: ke-1 dan ke-2
Standar kompetensi:
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya.
Kompetensi dasar:
4.4. Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan
garam tersebut.
Indikator:
Pertemuan ke-1
4.4.1. Menentukan ciri-ciri beberapa jenis garam yang dapat terhidrolisis dalam
air melalui percobaan.
Pertemuan ke-2
4.4.2. Menentukan sifat garam yang terhidrolisis dari persamaan reaksi ionisasi.
4.4.3. Menghitung pH larutan garam yang terhidrolisis.
A. Tujuan Pembelajaran
Pertemuan ke-1
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa dapat :
1. Menjelaskan pengertian konsep hidrolisis.
2. Mengidentifikasi sifat garam yang dapat terhidrolisis dalam air
berdasarkan kekuatan asam dan basa pembentuknya.
101
Pertemuan ke-2
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa dapat :
1. Menjelaskan sifat garam yang terhidrolisis dari persamaan reaksi ionisasi.
2. Menghitung pH larutan garam menurut jenis garam yang terhidrolisis.
Karakter siswa yang diharapkan :
~ Jujur, Kerja Keras, Teliti, Rasa Ingin Tahu, Berani, Komunikatif,
Menghargai Orang Lain, Tanggung Jawab, Berpikir Kritis dan Kreatif.
B. Materi Ajar
Pertemuan ke-1
1. Pengertian Hidrolisis Garam
Hidrolisis berasal dari kata hydro yang berarti air dan lysis yang
berarti penguraian. Jadi hidrolisis adalah reaksi penguraian molekul dalam
air membentuk ion-ionnya. Ion-ion garam dalam air bereaksi sedemikian
rupa dengan air sehingga menyebabkan air terurai menjadi ion hidroksida
(OH−) dan ion hydronium (H3O+).
2. Sifat Larutan Garam
a) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat
Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat tidak
memberikan perubahan warna lakmus, baik lakmus merah maupun
lakmus biru. Hal ini menunjukkan bahwa larutan garam bersifat netral.
b) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah
Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah mengubah
lakmus biru menjadi merah dan tidak mengubah warna lakmus merah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa larutan garam bersifat asam.
c) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat
Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat mengubah
lakmus merah menjadi biru dan tidak mengubah warna lakmus biru.
Hal tersebut menunjukkan bahwa larutan garam bersifat basa.
102
d) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lemah
Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lemah
mengalami hidrolisis total (sempurna) mengubah lakmus merah
menjadi biru dan mengubah lakmus biru menjadi merah. Sifat larutan
tergantung pada kekuatan relatif asam dan basanya (tergantung pada
nilai Ka dan Kb). Jika Ka < Kb larutan akan bersifat basa. Jika Kb <
Ka larutan akan bersifat asam. Jika Ka = Kb larutan akan bersifat
netral.
Pertemuan ke-2
1. Reaksi Ionisasi
a) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat
Contohnya, garam natrium klorida tersusun atas HCl (asam
kuat) dan NaOH (basa kuat).
NaCl(aq) → Na+(aq) + Cl−(aq)
Na+(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
Cl−(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
Ion Na+ berasal dari basa kuat dan ion Cl− berasal dari asam
kuat, sehingga tidak akan terhidrolisis akan tetapi mengalami hidrasi
(dikelilingi oleh molekul-molekul H2O). oleh karena itu, larutan NaCl
bersifat netral karena [H+] = [OH−].
b) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah
Contohnya garam ammonium klorida yang tersusun dari HCl
(asam kuat) dan NH4OH (basa lemah).
NH4Cl(aq) → NH4+(aq) + Cl−(aq)
NH4+(aq) + H2O(l)
NH3(aq) +H3O+(aq)
Cl−(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
NH4+ akan terhidrolisis, sedangkan Cl− tidak terhidrolisis
sehingga garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah
mengalami hidrolisis sebagian (parsial) dan larutannya bersifat asam.
c) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat
103
Contohnya adalah garam natrium asetat yang tersusun dari
CH3COOH (asam lemah) dan NaOH (basa kuat).
CH3COONa(aq) → CH3COO−(aq) + Na+(aq)
CH3COO−(aq) + H2O(l)
CH3COOH(aq) + OH−(aq)
Na+(aq) + H2O(l) → (Tidak ada reaksi)
CH3COO− akan terhidrolisis, sedangkan Na+ tidak terhidrolisis
sehingga garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah
mengalami hidrolisis sebagian (parsial) dan larutannya bersifat basa.
d) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lemah
Contoh garam ammonium asetat yang tersusun dari CH3COOH
(asam lemah) dan NH4OH (basa lemah). CH3COONH4 akan terionisasi
menjadi CH3COO− dan NH4+, kedua ion tersebut dapat terhidrolisis
dengan reaksi sebagai berikut:
CH3COONH4(aq) → CH3COO−(aq) + NH4+(aq)
CH3COO−(aq) + H2O(l)
NH4+(aq) + H2O(l)
CH3COOH(aq) + OH−(aq)
NH3(aq) + H3O+(aq)
CH3COO− dan NH4+ akan terhidrolisis sehingga garam yang
terbentuk dari asam lemah dan basa lemah akan mengalami hidrolisis
total (sempurna).
Kebanyakan garam yang bersifat netral terbentuk oleh kation dan anion
yang dalam air hanya terhidrasi. Berikut merupakan kation dan anion yang
terhidrasi dalam air.
Kation : Na+, K+, Rb+, Cs+, Mg+2, Ca2+, Sr2+, Ba2+
Anion : Cl−, Br−, I−, SO42−, ClO3−, ClO4−, BrO3−, NO3−
2. PH Larutan Garam
a) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat (pH = 7)
Garam yang terbentuk tidak mengalami hidrolisis sehingga bersifat
netral dengan nilai pH = 7.
b) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah (pH < 7)
104
c) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat (pH > 7)
d) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lema (pH tergantung
Ka atau Kb)
C. Model, Pendekatan dan Metode Pembelajaran
D.
Model
: Inkuiri terbimbing
Pendekatan
: Kontekstual
Metode
: Eksperimen
105
E. Alat dan Sumber Belajar

Buku Kimia untuk SMA Kelas XI

Lembar Kerja Siswa (LKS)

Alat dan Bahan yang dibutuhkan dalam percobaan
F. Penilaian
Nilai diperoleh dari hasil uji kemampuan (pre test), mengerjakan LKS, dan
hasil evaluasi (post test) masing-masing siswa setelah pembelajaran.
Mengetahui,
Jakarta,17 Mei 2013
Guru Mata Pelajaran Kimia
Peneliti
Slamet Utomo, S. Pd
Irma Idrisah
NIP.
NIM. 108016200002
D. Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan ke-1
Kegiatan
Tahap Model
Kegiatan Guru
Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Kegiatan
Awal
Kegiatan Siswa
Karakter Yang Alokasi
Diharapkan
Waktu
 Guru memberikan apersepsi dengan  Siswa memberikan respon sesuai  Membangkit- 5 menit
memberikan
beberapa
aplikasi
hidrolisis garam.
pengetahuan awal.
kan
rasa
ingin tahu
Kalau kita makan, karbohidrat akan
terhidrolisis
dengan
bantuan
berbagai enzim menjadi glukosa.
Banyak obat yang dibuat dalam
bentuk garamnya agar mudah larut.
Obat
batuk
melarutkan
dibuat
garam
dengan
asam
lemah
kedalam larutannya. Oleh karena itu
kita
sering
menemukan
aturan
“kocok dahulu” pada label obat.
Bagaimana dengan garam dapur,
apakah mengalami hidrolisis?
90
Untuk mengetahui hal ini, sekarang
kita akan mempelajari tentang sifat
garam yang terhidrolisis.
Kegiatan
Inti
 Guru meminta siswa untuk duduk  Siswa
sesuai dengan kelompok yang ada.
berdasarkan  Kerjasama
kelompoknya
 Guru membagikan LKS kepada  Siswa
setiap siswa
duduk
menerima
dan
LKS
yang
dibagikan guru
 Guru menjelaskan ketentuan dalam  Siswa
pembelajaran
75
menit
menghargai
orang lain
memperhatikan penjelasan
guru
1. Bekerjasama dengan kelompok
dalam memahami LKS
2. Bekerjasama dalam melakukan
percobaan
3. Menjawab
pertanyaan
yang
terdapat dalam LKS
4. Laporan eksperimen dikumpulkan
secara individu setelah kegiatan
eksperimen selesai.
91
 Siswa
diberikan
kesempatan  Siswa bertanya apabila ada yang
bila
yang
bertanya
ada
tidak
belum dimengerti
dimengerti.
 Siswa diberikan fenomena untuk  Siswa
merumuskan permasalahan yang
Eksplorasi
Merumuskan
Masalah
membaca
LKS
sambil
memperhatikan penjelasan guru.
terkait dengan materi yang akan
dipelajari
 Guru
meminta
memahami
LKS
fenomena
sambil
siswa
untuk
pada
bagian
menjelaskan
kepada siswa.
”pada
LKS
terdapat
bagian
fenomena, perhatikan dan pahami
fenomena tersebut”
Fenomena:
Seorang siswa akan mengidentifikasi
jenis garam yang terdapat pada
beberapa bahan-bahan hasil industri.
Beberapa bahan-bahan hasil industri
92
yang akan diuji adalah sabun cuci,
tawas, garam, pemutih pakaian, urea,
detergen, dan soda kue.
Pada tahap pertama siswa tersebut
melarutkan bahan-bahan yang akan
diuji dengan air didalam gelas kimia
(kecuali yang sudah dalam wujud
cair), aduk homogen. Selanjutnya
larutan tersebut diuji jenis garamnya
dengan kertas lakmus merah dan
lakmus biru, ternyata kedua lakmus
tersebut
mengalami
perubahan
warna.
 Berdasarkan
diberikan
ditugaskan
fenomena
oleh
untuk
guru,
yang  Siswa membuat rumusan masalah  Berpikir
siswa
berdasarkan fenomena yang telah
merumuskan
dijelaskan oleh guru dalam bentuk
masalah dalam bentuk pertanyaan
kritis
pertanyaan.
dengan dibimbing oleh guru.
Rumusan masalah yang diharapkan:
93
1. Bagaimana
perubahan
warna
kertas lakmus merah dan lakmus
biru pada masing-masing larutan
garam?
2. Apa ciri-ciri dari larutan asam dan
basa
berdasarkan
perubahan
warna pada kertas lakmus merah
dan lakmus biru
 Untuk membuat hipotesis, siswa
 Berani,
diberikan pertanyaan oleh guru
Membuat
terkait
Hipotesis
masalah
jawaban
dengan
dari
komunikatif
rumusan
memperhatikan
LKS bagian terminologi.
- Ada berapa jenis larutan garam - Ada 7 jenis larutan garam.
yang akan di uji?
- Bagaimana cara mengidentifikasi - Dengan
sifat garam dari larutan tersebut?
- Bagaimana
perubahan
menggunakan
kertas
lakmus merah dan lakmus biru.
warna - Lakmus merah berubah warna
kertas lakmus merah dan lakmus
menjadi biru dalam larutan basa
94
biru dalam larutan garam asam,
sedangkan dalam larutan asam dan
basa dan netral?
netral
warna.
tidak
terjadi
Lakmus
perubahan
biru
berubah
warna menjadi warna merah dalam
larutan asam sedangkan dalam
larutan basa dan netral tidak terjadi
perubahan warna.
 Guru
meminta
siswa
membuat  Siswa
hipotesis  Berpikir
membuat
hipotesis berdasarkan jawaban dari
berdasarkan
jawaban
dari
pertanyaan yang telah dijelaskan.
pertanyaan yang diberikan oleh
kritis
dan
kreatif
guru.
 Guru membimbing siswa dalam  Masing-masing
merancang kegiatan percobaan.
Mengumpulkan
Data
merancang
membuktikan
kelompok  Berpikir
percobaan
untuk
hipotesis
mereka
Kreatif
sesuai dengan arahan percobaan
yang terdapat dalam LKS.
 Siswa melakukan percobaan sesuai  Tanggung
dengan rancangan percobaan yang
jawab
telah dibuat.
95
 Siswa
mencatat
percobaan
data
berdasarkan
hasil  Teliti,
tabel
pengamatan pada LKS.
 Guru
meminta
siswa
LKS.
Analisis Data
Penutup
Membuat
Kesimpulan
kritis
 Siswa
Elaborasi
Konfirmasi
keras, Jujur.
untuk  Siswa menjawab pertanyaan dalam  Berpikir
mengerjakan soal pada LKS.
Kegiatan
Bekerja
menyimpulkan
dan
hasil kreatif.
percobaan.
 Guru membuat kesimpulan dengan  Siswa menjawab:
memberikan
pertanyaan
kepada
siswa.
1. Bagaimana
Larutan
perubahan
kertas
 Berani,
Perubahan warna
Lakmus Lakmus
merah
biru
biru
biru
merah
merah
merah
biru
biru
biru
merah
merah
biru
biru
biru
biru
sabun cuci
lakmus dari masing-masing tawas
garam
larutan garam?
pemutih pakaian
2. Jelaskan sifat dari masing- urea
detergen
masing larutan garam tersebut!
Soda kue
2. Garam bersifat netral karena tidak
komunikatif,
10
menit
berpikir kritis
dan kreatif
mengubah warna lakmus merah
dan lakmus biru. Tawas dan urea
bersifat asam karena mengubah
96
warna lakmus biru menjadi merah
sedangkan lakmus merah tidak
berubah.
Sabun cuci,
pemutih
pakaian, detergen dan soda kue
bersifat basa karena mengubah
warna lakmus merah menjadi biru
sedangkan
lakmus
biru
tidak
berubah warna.
 Guru
memberikan
kesempatan  Siswa bertanya bila ada yang belum
kepada siswa untuk bertanya bila
dimengerti.
ada yang belum dimengerti.

Pertemuan ke-2
Kegiatan
Tahap Model
Kegiatan Guru
Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Kegiatan
Awal
Kegiatan Siswa
Karakter Yang Alokasi
Diharapkan
Waktu
 Guru memberikan apersepsi dengan  Siswa menjawab pertanyaan yang  Membangkit- 5 menit
memberikan
pertanyaan
kepada
diberikan oleh guru.
siswa.
“Pada
kan
rasa
ingin tahu
percobaan
yang
kalian Diuji dengan menggunakan kertas
97
lakukan
pada
sebelumnya,
mengidentifikasi
pertemuan lakmus merah dan lakmus biru.
bagaimana
larutan
cara Lakmus
merah
berubah
warna
garam menjadi biru dalam larutan basa
asam, larutan garam basa dan sedangkan dalam larutan asam dan
larutan garam netral? Bagaimana netral tidak terjadi perubahan warna.
perubahan kertas lakmus merah dan Lakmus biru berubah warna menjadi
lakmus biru pada larutan garam warna merah dalam larutan asam
asam, larutan garam basa dan sedangkan dalam larutan basa dan
larutan garam netral?”
netral tidak terjadi perubahan warna.
 Tidak hanya melalui uji kertas
lakmus, sifat larutan garam juga
dapat diidentifikasi melalui nilai
pH.
“Bagaimana cara menentukan nilai
pH dari larutan garam asam, garam
basa dan garam netral?”
Untuk mengetahui hal ini, sekarang
kita akan mempelajari tentang pH
larutan garam yang terhidrolisis.
98
Kegiatan
Inti
 Guru meminta siswa untuk duduk  Siswa
sesuai
dengan
kelompok
pada
duduk
berdasarkan  Kerjasama
kelompoknya
dan
praktikum sebelumnya.
75
menit
menghargai
 Guru membagikan LKS kepada  Siswa
setiap siswa
menerima
LKS
yang
orang lain
dibagikan guru
 Guru menjelaskan ketentuan dalam  Siswa
pembelajaran
memperhatikan penjelasan
guru
1. Bekerjasama dengan kelompok
dalam memahami LKS
2. Bekerjasama dalam melakukan
percobaan
3. Menjawab
pertanyaan
yang
terdapat dalam LKS
4. Laporan
dikumpulkan
eksperimen
setelah
eksperimen
kegiatan
selesai
dan
dikumpulkan secara individu.
 Siswa
diberikan
kesempatan  Siswa bertanya apabila ada yang
99
bertanya
bila
ada
yang
tidak
belum dimengerti
dimengerti.
Eksplorasi
 Siswa diberikan fenomena untuk
Merumuskan
merumuskan permasalahan yang
Masalah
terkait dengan materi yang akan
dipelajari
 Guru
meminta
siswa
memahami
LKS
fenomena
sambil
pada
untuk  Siswa
bagian
membaca
LKS
sambil
memperhatikan penjelasan guru.
menjelaskan
kepada siswa.
”pada
LKS
terdapat
bagian
fenomena, perhatikan dan pahami
fenomena tersebut”
Fenomena:
Seorang siswa mengidentifikasi sifat
garam yang terdapat pada beberapa
bahan-bahan hasil industri melalui
nilai pH dan persamaan reaksi
ionisasi. Beberapa bahan-bahan hasil
100
industri yang akan diuji adalah sabun
cuci, tawas, garam, pemutih pakaian,
urea, detergen, dan soda kue. Untuk
uji nilai pH dari larutan garam
tersebut
dapat
menggunakan
indikator
universal.
Indicator
universal yang digunakan siswa
tersebut adalah indicator kertas. Pada
tahap
pertama
sehelai
kertas
indikator dicelupkan kedalam larutan
garam yang akan diukur pH nya
kemudian dibandingkan dengan peta
warna
yang
tersedia.
masing-masing
tersebut
Ternyata
larutan
mengalami
garam
perubahan
warna yang menghasilkan nilai pH
yang relatif berbeda.
 Berdasarkan
diberikan
fenomena
oleh
guru,
yang  Siswa membuat rumusan masalah  Berpikir
siswa
berdasarkan fenomena yang telah
kritis
101
ditugaskan
untuk
merumuskan
masalah dalam bentuk pertanyaan
dijelaskan oleh guru dalam bentuk
pertanyaan.
dengan dibimbing oleh guru.
Rumusan masalah yang diharapkan:
1. Apa ciri-ciri dari larutan garam
asam dan basa berdasarkan nilai
pH?
2. Berapa nilai pH pada larutan
garam tesebut?
Membuat
 Untuk membuat hipotesis, siswa
Hipotesis
diberikan pertanyaan oleh guru
terkait
masalah
jawaban
dengan
dari
 Berani,
komunikatif
rumusan
memperhatikan
LKS bagian terminologi.
- Ada berapa jenis larutan yang akan - Ada 7 jenis larutan
di uji?
- Bagaimana cara mengukur pH dari - Dengan menggunakan indikator
suatu larutan?
universal.
- Bagaimana ciri-ciri dari larutan - Larutan garam asam mempunyai
102
garam asam, basa dan netral
nilai pH <7. Larutan garam basa
berdasarkan nilai pH?
mempunyai
nilai
pH
>7.
Sedangkan larutan garam netral
mempunyai nilai pH = 7.
 Guru
meminta
siswa
membuat  Siswa
membuat
hipotesis
hipotesis berdasarkan jawaban dari
berdasarkan
jawaban
dari
pertanyaan yang telah dijelaskan.
pertanyaan yang diberikan oleh
guru.
kelompok  Kreatif
Mengumpulkan  Guru membimbing siswa dalam  Masing-masing
Data
merancang kegiatan percobaan.
merancang
membuktikan
percobaan
untuk
hipotesis
mereka
sesuai dengan arahan percobaan
yang terdapat dalam LKS.
 Siswa melakukan percobaan sesuai  Tanggung
dengan rancangan percobaan yang
jawab,
telah dibuat.
bekerja keras
 Siswa
mencatat
percobaan
data
berdasarkan
hasil  Teliti, jujur
tabel
103
Elaborasi
Analisis Data
 Guru
meminta
siswa
untuk
 Berpikir
pengamatan pada LKS.
 Siswa menjawab pertanyaan dalam
mengerjakan soal pada LKS.
LKS
dan
menyimpulkan
hasil
kritis
dan
kreatif
percobaan.
Kegiatan
Konfirmasi
Penutup
Membuat
Kesimpulan
 Guru membuat kesimpulan dengan  Siswa menjawab:
memberikan
pertanyaan
 Berani,
kepada
1. Berapa harga pH masing-masing sabun cuci lemah
2. Jelaskan
sifat
dari
asam,
basa
lemah
garam
pemutih
pakaian
urea
kuat
kuat
7
netral
lemah
kuat
>7
basa
kuat
lemah
detergen
lemah
kuat
>7
basa
basa) Soda kue
lemah
kuat
>7
basa
masing-
3. Adakah hubungan antara sifat
(netral,
>7
kuat
masing larutan garam tersebut!
garam
kuat
tawas
larutan garam?
menit
komunikatif,
Asam
Basa
Sifat
Larutan
pH
pembentuk pembentuk
larutan
siswa.
10
berpikir kritis
dan kreatif
<7 asam
<7 asam
dengan sifat komponen asam dan
basa pembentuknya?
kesempatan  Siswa bertanya bila ada yang belum
kepada siswa untuk bertanya bila dimengerti.
 Guru
memberikan
ada yang belum dimengerti.
104
106
Lampiran A3 : Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelas Eksperimen
Nama
:
Kelas
:
Kelompok
:
Pertemuan
: ke-1
A. TERMINOLOGI
Hidrolisis garam adalah penguraian suatu senyawa dalam air menjadi
garamnya. Konsep hidrolisis garam begitu aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini terbukti dengan banyak ditemukan bahan-bahan hasil industri yang
digunakan dalam kebutuhan sehari-hari dibuat dalam bentuk garamnya. Larutan
garam ada yang bersifat asam, basa dan netral.
Untuk mengidentifikasi sifat larutan garam dapat menggunakan kertas
lakmus. Lakmus merah berubah warna menjadi biru dalam larutan basa
sedangkan dalam larutan asam dan netral tidak terjadi perubahan warna. Lakmus
biru berubah warna menjadi warna merah dalam larutan asam sedangkan dalam
larutan basa dan netral tidak terjadi perubahan warna.
B. FENOMENA
Seorang siswa akan mengidentifikasi jenis garam yang terdapat pada
beberapa bahan-bahan hasil industri dan menentukan pH dari larutan tersebut
menggunakan indikator universal. Beberapa bahan hasil industri yang akan diuji
adalah sabun cuci, tawas, garam, pemutih pakaian, urea, detergen, dan soda kue.
Pada tahap pertama siswa tersebut melarutkan bahan-bahan yang akan
diuji dengan air didalam gelas kimia (kecuali yang sudah dalam wujud cair), aduk
homogen. Selanjutnya larutan tersebut diuji jenis garamnya dengan kertas lakmus
merah dan lakmus biru, ternyata kedua lakmus tersebut mengalami perubahan
warna.
107
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan fenomena diatas, rumuskan masalah apa saja yang dihadapi oleh
siswa tersebut? Nyatakan dalam bentuk pertanyaan.
D. HIPOTESIS
Buatlah hipotesis (jawaban sementara) berdasarkan permasalahan diatas!
E. ARAHAN PERCOBAAN
Untuk menguji kebenaran hipotesis yang kamu buat, lakukan percobaan
berdasarkan pertanyaan-pertanyaan berikut.
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
1. Bahan yang akan digunakan adalah larutan garam dari bahan-bahan hasil
industri. Bagaimana penampilan fisik dari bahan-bahan tersebut?
2. Jika ingin mengetahui sifat dari masing-masing larutan garam tersebut, apa
yang harus dilakukan?
108
3. Alat apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan percobaan tersebut?
4. Berdasarkan bahan dan alat yang tersedia, rancang langkah kerja untuk
mengidentifikasi sifat larutan garam!
5. Tuliskan data hasil pengamatan kedalam tabel yang telah disediakan!
Larutan
Perubahan Warna
Lakmus
Lakmus
Merah
Biru
Sifat
Larutan
sabun cuci
tawas
garam
pemutih pakaian
urea
detergen
soda kue
F. ANALISIS DATA
1. Bagaimana perubahan kertas lakmus merah dan lakmus biru pada masingmasing larutan garam?
2. Larutan mana saja yang termasuk dalam larutan garam asam, basa dan netral?
3. Mengapa suatu larutan garam ada yang bersifat asam, basa atau netral?
4. Kesimpulan apa yang kalian dapat ambil tentang sifat hidrolisis garam dari
percobaan tersebut?
109
Nama
:
Kelas
:
Kelompok
:
Pertemuan
: ke-2
B. TERMINOLOGI
Indikator universal adalah indikator yang terdiri atas berbagai macam
indikator yang memiliki warna berbeda untuk setiap nilai pH 1-14. Indikator
universal ada yang berupa larutan ada juga yang berupa kertas. Paket indikator
universal tersebut selalu dilengkapi dengan warna standar untuk pH 1-14.
Dengan mengetahui nilai pH maka dapat ditentukan apakah larutan
tersebut bersifat asam, basa atau netral. Larutan garam asam mempunyai nilai pH
<7. Larutan garam basa mempunyai nilai pH >7. Sedangkan larutan garam netral
mempunyai nilai pH = 7.
B. FENOMENA
Seorang siswa mengidentifikasi sifat garam yang terdapat pada beberapa
bahan-bahan hasil industri melalui nilai pH dan persamaan reaksi ionisasi.
Beberapa bahan-bahan hasil industri yang akan diuji adalah sabun cuci, tawas,
garam, pemutih pakaian, urea, detergen, dan soda kue. Untuk uji nilai pH dari
larutan garam tersebut dapat menggunakan indikator universal. Indikator
universal yang digunakan siswa tersebut adalah indikator kertas.
Pada tahap pertama sehelai kertas indikator dicelupkan kedalam larutan
garam yang akan diukur pH nya kemudian dibandingkan dengan warna standar
yang tersedia. Ternyata masing-masing larutan garam tersebut mengalami
perubahan warna yang menghasilkan nilai pH yang relatif berbeda.
110
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan fenomena diatas, rumuskan masalah apa saja yang dihadapi oleh
siswa tersebut? Nyatakan dalam bentuk pertanyaan.
D. HIPOTESIS
Buatlah hipotesis (jawaban sementara) berdasarkan permasalahan diatas!
E. ARAHAN PERCOBAAN
Untuk menguji kebenaran hipotesis yang kamu buat, lakukan percobaan
berdasarkan pertanyaan-pertanyaan berikut.
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
1. Bahan yang akan digunakan adalah larutan garam dari bahan-bahan hasil
industri. Bagaimana reaksi ionisasi dari larutan garam tersebut?
2. Jika ingin mengetahui nilai pH dari larutan garam, apa yang harus dilakukan?
3. Alat apa saja yang dibutuhkan dalam melakukan percobaan tersebut?
111
4. Berdasarkan bahan dan alat yang tersedia, rancang langkah kerja untuk
mengidentifikasi sifat larutan garam!
5. Tuliskan data hasil pengamatan kedalam tabel yang telah disediakan!
Larutan
Asam Pembentuk Basa Pembentuk
pH
Sifat Larutan
sabun cuci
tawas
garam
pemutih pakaian
urea
detergen
Soda kue
F. ANALISIS DATA
1. Berapa perkiraan harga pH dari masing-masing larutan garam?
2. Adakah hubungan antara sifat garam (netral, asam, basa) dengan sifat
komponen asam dan basa pembentuknya?
3. Tuliskan persamaan reaksi ionisasi dari masing-masing larutan garam!
4. Hitung pH jika diketahui konsentrasi dari masing-masing larutan garam
adalah 0,1 M, (Ka = 10-5; Kb = 10-5)!
5. Kesimpulan apa yang kalian dapat ambil tentang hidrolisis garam dari
percobaan tersebut?
Lampiran B1 : Soal Tes Berpikir Kreatif (Sebelum Uji Validitas)
SOAL TES KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
Indikator Indikator keterampilanSub indikator keterampilan
konsep
berpikir kreatif
berpikir kreatif
fluency
 Menjelaskan
 Menghasilkan
banyak
(Berpikir lancar)
pengertian
gagasan, jawaban dan
hidrolisis
penyelesaian
garam
(soal no.1 dan 4)
 Menjelaskan
 Memikirkan
Butir soal
masalah.
lebih
Pernahkah kamu merasakan nyeri seperti sakit kepala dan sakit gigi?
dari Untuk mengatasi rasa nyeri biasanya dokter memberikan obat yang
aplikasi
satu jawaban. (soal no.2 mengandung asam asetil salisilat yang dikenal dengan nama aspirin.
hidrolisis
dan 3)
garam
Aspirin sebenarnya merupakan garam dari asam lemah asetil salisilat.
Aspirin akan larut dalam darah dan menekan rasa sakit yang sedang
kamu rasakan. Proses melarutnya aspirin tersebut merupakan salah satu
contoh aplikasi dari konsep hidrolisis.
1. Apa yang kamu ketahui tentang pengertian hidrolisis garam?
2. Mengapa aspirin dikatakan sebagai contoh aplikasi dari konsep
hidrolisis garam?
3. Selain aspirin, sebutkan aplikasi hidrolisis garam yang lain dalam
kehidupan sehari-hari!
4. Jika suatu tanah diberi pupuk NH4NO3, apakah tanah tersebut
cenderung bersifat asam atau basa? Jelaskan!
112
 Mengidentifikasi
sifat
Flexibility
(berpikir luwes)
 Menghasilkan
gagasan, Amati tabel hasil pengamatan berikut!
jawaban dan penafsiran
larutan
(interpretasi)
garam
bervariasi terhadap suatu
 Menuliskan
persamaan
yang
masalah. (soal no. 5, 6, 7)
 Menggolongkan
hal-hal
Perubahan Warna
Basa
Asam
Sifat
pH
Lakmus
Lakmus
Pembentuk Pembentuk
Larutan
Merah
Biru
NaCl
Kuat
Kuat
Merah
Biru
Netral
7
Al2(SO4)3
Lemah
Kuat
Merah
Merah
Asam
<7
NaOCl
Kuat
Lemah
Biru
Biru
Basa
>7
reaksi
menurut
ionisasi
Lemah
Merah
Biru
Basa
>7
(kategori) yang berbeda- CH3COONH4 Lemah
beda. (soal no. 8, 9 dan 5. Mengapa suatu larutan garam ada yang bersifat asam, basa atau
10)
pembagian
Larutan
netral?
6. Bagaimana cara mengetahui suatu larutan garam ada yang bersifat
asam, basa atau netral?
7. Adakah hubungan antara sifat garam (netral, asam, basa) dengan
sifat komponen asam dan basa pembentuknya?
8. Mana sajakah larutan garam yang mengalami hidrolisis parsial dan
hidrolisis total? Tuliskan persamaan reaksi ionisasinya!
9. Didalam laboratorium terdapat banyak sekali zat kimia. Zat yang
tersedia adalah NH4Cl, NaOH, Al2(SO4)3, HOCl, HCl, H2SO4,
NaOCl, Al(OH)3, NH4OH. Bantulah laboran tersebut dengan
113
membuat tabel hidrolisis garam yang berisi asam pembentuk, basa
pembentuk dengan garamnya!
10. Na+, CN−, CO32−, Al3+, S2−, SO42−. Dari ion-ion tersebut, manakah
yang mengalami hidrolisis dengan air? Jelaskan!
 Menghitung
(Berpikir merinci)
pH
 Menentukan
sifat
Elaboration
garam
yang
terhidrolisis
dari
persamaan
reaksi
ionisasi
 Mencari arti yang lebih 11. Jika diketahui:
a. 50 mL HCl 0,1 M
mendalam
terhadap
b. 50 mL CH3COOH 0,1 M
jawaban atau pemecahan
c. 50 mL NaOH 0,1 M
masalah
dengan
d. 50 mL NH4OH 0,1 M
melakukan
langkahTentukan pH dan sifat larutan yang terbentuk jika Ka = 5x10-6 dan
langkah yang terperinci.
Kb = 5x10-6!
(soal no. 11, 12, dan 13)
a) HCl + NaOH
b) HCl + NH4OH
 Mengembangkan,
c) CH3COOH + NaOH
menambah, memperkaya
d) CH3COOH + NH4OH
suatu gagasan. (soal no.
12. Manakah campuran larutan berikut yang menghasilkan garam
14 dan 15)
terhidrolisis? Jelaskan!
a. 100 mL HCl 0,1 M + 100 mL NaOH 0,1 M
b. 100 mL CH3COOH 0,1 M+ 50 mL NaOH 0,1 M
c. 50 mL HCl 0,1 M + 50 mL NH4OH 0,1 M
114
13. Ramalkan sifat (asam, basa atau netral) larutan garam berikut ini.
Jelaskan!
a. K2SO4
b. NH4Cl
c. NaHCO3
d. Ca(CH3COO)2
e. NH4NO3
14. Anita adalah seorang siswi yang mempunyai rasa ingin tahu yang
tinggi. Ia selalu ingin mencoba eksperimen baru, saat ini ia ingin
membuat larutan garam yang mempunyai pH = 9. Anita
menyediakan 2 liter larutan natrium asetat (Ka = 10-5). Tetapi Anita
bingung, berapa massa natrium asetat yang terdapat dalam larutan
tersebut? (Ar H = 1, C = 12, O = 16, Na = 23)
15. Misalkan anda ingin membuat larutan dengan pH = 8 dengan cara
melarutkan suatu garam dalam air. Diantara garam berikut,
manakah yang akan anda gunakan jika Kh=10−5? Tentukan pula
molaritasnya!
a. NH4Cl
b. KNO2
c. NaNO3
115
 Menentukan
sifat larutan
garam
Originality
(Berpikir orisinal)
 Memiliki
cara
berpikir 16. Sarah ingin melakukan percobaan pada sejumlah larutan garam
yang lain dari yang lain.
yang belum diketahui sifatnya. Biasanya dia menguji sifat larutan
(soal no. 16)
garam dengan menggunakan kertas lakmus. Tetapi Sarah merasa
 Menjelaskan
bingung karena kertas lakmus yang biasa digunakan untuk menguji
kurva titrasi
sifat larutan garam tidak tersedia dilaboratorium. Menurut kalian,
tindakan apakah yang seharusnya diambil oleh Sarah? Jelaskan!
 Mampu
melahirkan 17.
ungkapan yang baru. (soal
a.
c.
no.17)
b.
d.
Informasi apakah yang dapat kamu peroleh dari kurva titrasi diatas?
116
117
Lampiran B2 : Kunci Jawaban Tes Berpikir Kreatif (Sebelum Uji Validitas)
KUNCI JAWABAN
1. Pengertian hidrolisis garam adalah:
-
Hidrolisis berasal dari kata hydro yang berarti air dan lysis yang berarti
penguraian.
-
Hidrolisis adalah reaksi penguraian molekul dalam air membentuk ionionnya.
-
Hidrolisis garam adalah reaksi kation atau anion suatu garam dengan air.
-
Ion-ion garam dalam air bereaksi sedemikian rupa dengan air sehingga air
terurai menjadi ion hidroksida (OH−) dan ion hidronium (H3O+).
Skor Maksimal: 4
2. - Karena aspirin merupakan garam dari asam lemah asetil salisilat.
-
Karena aspirin mudah larut dalam darah.
Skor Maksimal: 2
3. Aplikasi hidrolisis garam dalam kehidupan sehari-hari adalah:
-
Sabun Cuci
Garam natrium stearat (C17H35COONa) akan mengalami hidrolisis dalam
air menghasilkan asam asam stearat dan basanya yaitu natrium hidroksida.
-
Urea
Agar mudah larut pupuk dibuat dalam bentuk pellet (garamnya) untuk
menurunkan pH tanah. Misalnya pupuk (NH4)2SO4. garam (NH4)2SO4
bersifat asam, inon NH4+ akan terhidrolisis dalam tanah membentuk NH3
dan H+ yang bersifat asam.
-
Pemutih Pakaian
Pemutih pakaian mengandung garam NaClO yang sangat reaktif sehingga
mampu menghilangkan noda pakaian. Garam NaClO terbentuk dari asam
lemah HOCl dengan basa kuat NaOH. Ion OCl− terhidrolisis menjadi
HOCl dan OH−sehingga garam NaClO bersifat basa.
-
Pengawet Makanan
118
Natrium benzoat salah satu jenis pengawet makanan yang dibuat dari asam
benzoat (asam lemah) kemudian dijadikan garam natrium benzoat (bentuk
garamnya) karena kelarutannya lebih besar.
-
Pembersih Porselen
Pembersih Porselen biasanya ditambahkan garam NaHSO4 agar daya
bersihnya lebih maksimal.
-
Detergen
Tripoli Sodium Fosfat (TSP) merupakan salah satu contoh polifosfat yang
sering digunakan sebagai zat pembangun dalam pembuatan deterjen.
Polifosfat bersifat basa, berfungsi melunakkan air sadah.
-
Tawas
Al2(SO4)3 digunakan pada penjernihan air PAM. Tingginya muatan kation
Al3+ akan membentuk sistem koloid Al(OH)3 yang mampu mengadsorpsi
dan mengendapkan kotoran air.
Skor Maksimal: 4
4. - Tanah akan cenderung bersifat asam.
-
Garam NH4NO3 dapat menurunkan pH.
-
Garam NH4NO3 akan terionisasi menjadi ion NH4+ dan NO3−.
-
Ion NH4+ akan terhidrolisis dalam tanah membentuk NO3 dan H+ yang
bersifat asam.
Skor Maksimal: 5
5. Suatu larutan garam ada yang bersifat asam, basa atau netral karena:
-
Pada uji kertas lakmus menghasilkan perubahan warna yang berbeda.
Lakmus merah berubah warna menjadi biru dalam larutan basa sedangkan
dalam larutan asam dan netral tidak terjadi perubahan warna. Lakmus biru
berubah warna menjadi warna merah dalam larutan asam sedangkan dalam
larutan basa dan netral tidak terjadi perubahan warna.
-
Pada uji nilai pH dengan indikator universal menghasilkan nilai pH yang
beragam.
119
-
Hasil perhitungan nilai pH. Jika nilai pH <7 larutan bersifat asam. Jika
nilai pH >7 laruan bersifat basa. Sedangkan jika nilai pH = 7 larutan
bersifat netral.
-
Berasal dari asam dan basa pembentuk yang berbeda sehingga dalam
persamaan reaksi ionisasi terdapat ion yang terhidrolisis dan atau ion yang
terhidrasi.
Skor Maksimal: 4
6. Cara mengetahui sifat larutan garam yaitu:
-
Uji kertas lakmus
-
Uji nilai pH dengan indikator universal
-
Mengetahui komponen asam dan basa pembentuknya melalui persamaan
reaksi ionisasi
-
Menghitung nilai pH
Skor Maksimal: 4
7. Ada hubungan antara sifat garam dengan komponen asam dan basa
pembentuknya, yaitu:
 Garam dari asam kuat dan basa kuat larutannya bersifat netral.
 Garam dari asam kuat dan basa lemah larutannya bersifat asam.
 Garam dari asam lemah dan basa kuat larutannya bersifat basa.
 Garam dari asam lemah dan basa lemah sifat larutan bergantung pada Ka
dan Kb.
-
Jika Ka = Kb larutan bersifat netral
-
Jika Ka > Kb larutan bersifat asam
-
Jika Ka < Kb larutan bersifat basa
Skor Maksimal: 5
8. - NaCl (tidak mengalami hidrolisis)
NaCl + H2O → NaOH + HCl
NaCl → Na+ + Cl−
120
Na+ + H2O → (tidak ada reaksi)
Cl− + H2O → (tidak ada reaksi)
Ion Na+ berasal dari basa kuat dan ion Cl−
berasal dari asam kuat,
sehingga tidak akan terhidrolisis akan tetapi mengalami hidrasi.
-
Al2(SO4)3 (mengalami hidrolisis parsial)
Al2(SO4)3 + 6 H2O → 2Al(OH)3 +H2SO4
Al2(SO4)3 → Al3+ + SO42−
Al3+ + H2O
Al(OH)3 + H+ (terhidrolisis)
SO42− + H2O → (tidak ada reaksi)
Ion Al3+ berasal dari basa lemah sehingga akan terhidrolisis, sedangkan
ion SO42− berasal dari asam kuat sehingga tidak akan terhidrolisis. Maka
dari itu, garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah mengalami
hidrolisis sebagian (parsial).
-
NaOCl (mengalami hidrolisis parsial)
NaOCl + H2O → HOCl + NaOH
NaOCl → Na+ + OCl−
Na+ + H2O → (tidak ada reaksi)
OCl− + H2O
Ion Na+
HOCl + OH− (terhidrolisis)
berasal dari basa kuat sehingga tidak akan terhidrolisis,
sedangkan ion OCl−berasal dari asam lemah sehingga akan terhidrolisis.
Maka dari itu, garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat
mengalami hidrolisis sebagian (parsial).
-
CH3COONH4 (mengalami hidrolisis total)
CH3COONH4+ H2O → CH3COOH + NH4OH
CH3COONH4 → CH3COO− + NH4+
CH3COO− + H2O
NH4+ + H2O
CH3COOH + OH−
NH3 + H3O+
Ion CH3COO− berasal dari asam lemah dan ion NH4+ berasal dari basa
lemah sehingga akan terhidrolisis. Maka, garam yang terbentuk dari asam
lemah dan basa lemah akan mengalami hidrolisis total (sempurna).
Skor Maksimal: 6
121
9. Tabel hidrolisis garam.
Asam pembentuk
Basa pembentuk
Garam
HCl
NH4OH
NH4Cl
H2SO4
Al(OH)3
Al2(SO4)3
HOCl
NaOH
NaOCl
Skor Maksimal: 3
10. - Na+ + H2O → (tidak terhidrolisis) karena ion Na+ berasal dari basa kuat.
-
CN− + H2O
HCN + OH− (terhidrolisis) karena ion CN− berasal dari
asam lemah.
-
H2CO3 + OH− (terhidrolisis) karena ion CO32−
CO32− + H2O
berasal dari asam lemah.
-
Al3+ + H2O
Al(OH)3 + H+ (terhidrolisis) karena ion Al3+ berasal
dari basa lemah.
-
S2− + H2O
H2S + OH− (terhidrolisis) karena ion S2− berasal dari
asam lemah.
-
SO42− + H2O → (tidak terhidrolisis) karena ion SO42− berasal dari asam
kuat.
Skor Maksimal: 6
11. a) HCl + NaOH
HCl
+ NaOH
→
NaCl
Awal
: 5 mmol
5 mmol
Bereaksi
: −5 mmol
−5 mmol
+5 mmol
Setimbang
:
−
5 mmol
−
+ H2O
Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat bersifat netral dengan
nilai pH = 7.
b) HCl + NH4OH
HCl
+ NH4OH → NH4Cl
Awal
: 5 mmol
5 mmol
Bereaksi
: −5 mmol
−5 mmol
+5 mmol
+ H2O
122
Setimbang
:
−
−
5 mmol
−
+
NH4Cl → NH4 + Cl
NH4+ + H2O
NH3 + H3O+ (terhidrolisis)
Cl− + H2O → (tidak ada reaksi)
Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah bersifat asam
dengan nilai pH = 5.
c) CH3COOH + NaOH
CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O
Awal
: 5 mmol
5 mmol
Bereaksi
: −5 mmol
−5 mmol
+5 mmol
Setimbang
:
−
5 mmol
−
CH3COONa → CH3COO− + Na+
CH3COO− + H2O
CH3COOH + OH− (terhidrolisis)
Na+ + H2O → (tidak ada reaksi)
123
Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat bersifat basa dengan
nilai pH = 9.
d) CH3COOH + NH4OH
CH3COOH + NH4OH → CH3COONH4 + H2O
Awal
: 5 mmol
5 mmol
Bereaksi
: −5 mmol
−5 mmol
Setimbang
:
−
−
+5 mmol
5 mmol
CH3COONH4 → CH3COO− + NH4+
CH3COO− + H2O
NH4+ + H2O
CH3COOH + OH− (terhidrolisis)
NH3 + H3O+ (terhidrolisis)
124
Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah mengalami
hidrolisis total (sempurna). Sifat larutan tergantung pada kekuatan relatif
asam dan basanya (tergantung pada nilai Ka dan Kb). Nilai Ka = Kb maka
garam bersifat netral dengan nilai pH = 7.
Skor Maksimal: 22
12. Campuran larutan yang menghasilkan garam terhidrolisis adalah:
a. 100 mL HCl 0,1 M + 100 mL NaOH 0,1 M
NaOH
+
HCl
→
NaCl
+ H2O
Awal
: 10 mmol
10 mmol
Bereaksi
: −10 mmol
−10 mmol
+10 mmol
Setimbang
:
−
10 mmol
−
Tidak menghasilkan garam terhidrolisis karena terbentuk dari asam kuat
dan basa kuat.
b. 100 mL CH3COOH 0,1 M+ 50 mL NaOH 0,1 M
CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O
Awal
: 10 mmol
5 mmol
Bereaksi
: −5 mmol
−5 mmol
+5 mmol
Setimbang
: 5 mmol
−
5 mmol
Bukan merupakan hidrolisis garam karena menyisakan asam dan
garamnya yang merupakan larutan penyangga (buffer).
c. 50 mL NH4OH 0,1 M + 50 mL HCl 0,1 M
NH4OH + HCl
→
NH4Cl
Awal
: 5 mmol
5 mmol
Bereaksi
: −5 mmol
−5 mmol
+5 mmol
Setimbang
:
−
5 mmol
−
+ H2O
Menghasilkan garam terhidrolisis karena terbentuk dari asam kuat dan
basa lemah. Dalam reaksi merupakan hidrolisis garam karena menyisakan
garamnya.
Skor Maksimal: 12
125
13. a. K2SO4 (garam netral)
K2SO4 → K+ + SO42−
K+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
SO42− + H2O → (Tidak ada reaksi)
b. NH4Cl (garam asam)
NH4Cl → NH4+ + Cl−
NH4+ + H2O
NH3 +H3O+ (terhidrolisis)
Cl− + H2O → (Tidak ada reaksi)
c. NaHCO3 (garam basa)
NaHCO3 → Na+ + HCO3−
Na+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
HCO3− + H2O
H2CO3 + OH− (terhidrolisis)
d. Ca(CH3COO)2 (garam basa)
Ca(CH3COO)2 → Ca2+ + CH3COO−
Ca2+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
CH3COO− + H2O
CH3COOH + OH− (terhidrolisis)
e. NH4NO3 (garam asam)
NH4NO3 → NH4+ + NO3−
NH4+ + H2O
NH3 +H3O+ (terhidrolisis)
NO3− + H2O → (Tidak ada reaksi)
Skor Maksimal: 20
14. CH3COONa → Na+ + CH3COO−
Na+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
CH3COO− + H2O
pH = 9
POH = 14 – 9
=5
[OH−] = 10−5
CH3COOH + OH− (garam basa)
126
Skor Maksimal: 8
15. a. NH4Cl (garam asam)
NH4Cl → NH4+ + Cl−
NH4+ + H2O
NH3 +H3O+ (terhidrolisis)
Cl− + H2O → (Tidak ada reaksi)
pH = 8
[H+] = 10−8
127
b. KNO2 (garam basa)
KNO2 → K+ + NO2−
K+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
NO2− + H2O
HNO2 +OH− (terhidrolisis)
pH = 8
POH = 14 – 8 = 6
[OH−] = 10−6
c. NaNO3
NaNO3 → Na+ + NO3−
Na+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
NO3− + H2O → (Tidak ada reaksi)
Garam NaNO3 tidak bisa digunakan untuk membuat pH = 8 karena
bersifat netral dengan pH = 7.
Skor Maksimal: 4
16. Sarah mencari alternatif lain untuk mengidentifikasi sifat larutan garam.
Misalnya:
-
Jika tersedia, uji nilai pH dengan indikator universal.
-
Menghitung nilai pH jika diketahui tetapan ionisasi asam (Ka) atau tetapan
ionisasi basa (Kb) dan konsentrasi (M) garam.
128
-
Mengetahui komponen asam dan basa pembentuknya melalui persamaan
reaksi ionisasi.
Skor Maksimal: 3
17. Informasi yang dapat diperoleh dari kurva titrasi tersebut adalah:
a. - Merupakan kurva titrasi asam kuat dan basa kuat.
-
Basa kuat yang ditambahkan ke asam kuat.
-
Kurva dimulai pada pH rendah (±1) yang menunjukan asam kuat dan
berakhir pada pH tinggi (±13) yang menunjukan basa kuat.
-
Titik ekuivalen ditunjukan dengan pH=7.
-
Merupakan garam netral.
b. - Merupakan kurva titrasi asam kuat dan basa lemah
-
Basa lemah yang ditambahkan ke asam kuat.
-
Kurva dimulai pada pH rendah (±1) yang menunjukan asam kuat dan
berakhir pada pH ±10 yang menunjukan basa lemah.
-
Titik ekuivalen ditunjukan dengan pH<7
-
Merupakan garam asam.
c. - Merupakan kurva titrasi asam lemah dan basa kuat
-
Basa kuat yang ditambahkan ke asam lemah.
-
Kurva dimulai pada pH ±3 yang menunjukan asam lemah dan berakhir
pada pH ±13 yang menunjukan basa kuat.
-
Titik ekuivalen ditunjukan dengan pH>7.
-
Merupakan garam basa.
d. - Merupakan kurva titrasi basa lemah dan asam lemah
-
Asam lemah yang ditambahkan ke basa lemah.
-
Kurva dimulai pada pH ±10 yang menunjukan basa lemah dan
berakhir pada pH ±3 yang menunjukan asam lemah.
-
Titik ekuivalen ditunjukan dengan pH~7 karena sulit diamati, akibat
tidak terdapat kenaikan pH yang tajam.
Skor Maksimal: 16
129
Lampiran B3 : Rubrik Penilain Tes Berpikir Kreatif (Sebelum Uji Validitas)
RUBRIK PENILAIN TES KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
1. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menjawab sebanyak ≥ 4 gagasan tepat
- Skor 3 jika menjawab sebanyak 3 gagasan tepat
- Skor 2 jika menjawab sebanyak 2 gagasan tepat
- Skor 1 jika menjawab sebanyak 1 gagasan tepat
- Skor 0 jika tidak menjawab sama sekali/jawaban salah
2. Skor Maksimal = 2
- Skor 2 jika menjawab sebanyak ≥ 2 gagasan
- Skor 1 jika menjawab sebanyak 1 gagasan
- Skor 0 jika tidak menjawab sama sekali/jawaban salah
3. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menjawab sebanyak ≥ 7 aplikasi
- Skor 3 jika menjawab sebanyak 5 – 6 aplikasi
- Skor 2 jika menjawab sebanyak 3 – 4 aplikasi
- Skor 1 jika menjawab sebanyak 1 – 2 aplikasi
- Skor 0 jika tidak menjawab sama sekali/jawaban salah
4. Skor Maksimal = 5
- Skor 5 jika penjelasan benar dengan persamaan reaksi yang tepat
- Skor 4 jika penjelasan benar tetapi persamaan reaksi kurang tepat
- Skor 3 jika penjelasan kurang benar tetapi persamaan reaksi tepat
- Skor 2 jika penjelasan kurang benar dan persamaan reaksi kurang tepat
- Skor 1 jika penjelasan benar tetapi tidak dituliskan dengan persamaan reaksi
- Skor 0 jika penjelasan salah dan tidak ada persamaan reaksinya
5. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menjawab sebanyak ≥ 4 alasan tepat
- Skor 3 jika menjawab sebanyak 3 alasan tepat
- Skor 2 jika menjawab sebanyak 2 alasan tepat
- Skor 1 jika menjawab sebanyak 1 alasan tepat
- Skor 0 jika tidak menjawab sama sekali/jawaban salah
6. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menjawab sebanyak 3 – 4 gagasan
- Skor 2 jika menjawab sebanyak 1 – 2 gagasan
- Skor 0 jika tidak menjawab sama sekali/jawaban salah
7. Skor Maksimal = 5
- Skor 5 jika terdapat hubungan serta penjelasan tepat
- Skor 3 jika terdapat hubungan tetapi penjelasan kurang tepat
- Skor 1 jika terdapat hubungan tetapi tidak ada penjelasan
8. Skor Maksimal = 6
- Skor 6 jika pengelompokkan benar dengan persamaan reaksi tepat
130
-
Skor 5 jika pengelompokkan kurang benar tetapi persamaan reaksi tepat
Skor 4 jika pengelompokkan benar tetapi persamaan reaksi kurang tepat
Skor 3 jika pengelompokkankurang benar dan persamaan reaksi kurang tepat
Skor 2 jika pengelompokkan benar tetapi tidak ada persamaan reaksi
Skor 1 jika pengelompokkankurang benar tetapi tidak ada persamaan reaksi
Skor 0 jika penjelasan salah dan tidak ada persamaan reaksinya
9. Skor Maksimal = 3
- Skor 3 jika menjawab 3 pasangan asam, basa dan garamnya dengan tepat
- Skor 2 jika menjawab 2 pasangan asam, basa dan garamnya dengan tepat
- Skor 1 jika menjawab 1 pasangan asam, basa dan garamnya dengan tepat
10. Skor Maksimal = 6
- Skor 6 jika semua ion penjelasan benar dan persamaan reaksi tepat
- Skor 5 jika 5 ion penjelasan benar dan persamaan reaksi tepat
- Skor 4 jika 4 ion penjelasan benar dan persamaan reaksi tepat
- Skor 3 jika 3 ion penjelasan benar dan persamaan reaksi tepat
- Skor 2 jika 2 ion penjelasan benar dan persamaan reaksi tepat
- Skor 1 jika 1 ion penjelasan benar dan persamaan reaksi tepat
- Skor 0 jika tidak memberikan jawaban/jawaban salah
11. Skor Maksimal =22
a. Skor Maksimal = 4
- Skor 1 untuk menuliskan reaksi kesetimbangan
- Skor 1 untuk menuliskan persamaan reaksi ionisasi
- Skor 1 untuk nilai pH tepat
- Skor 1 untuk sifat larutan tepat
b. Skor Maksimal =6
- Skor 1 untuk menuliskan reaksi kesetimbangan
- Skor 1 untuk menuliskan persamaan reaksi ionisasi
- Skor 2 untuk perhitungan pH dengan teratur
- Skor 1 untuk hasil akhir tepat
Skor 1 untuk sifat larutan tepat
c. Skor Maksimal = 6
- Skor 1 untuk menuliskan reaksi kesetimbangan
- Skor 1 untuk menuliskan persamaan reaksi ionisasi
- Skor 2 untuk perhitungan pH dengan teratur
- Skor 1 untuk hasil akhir tepat
Skor 1 untuk sifat larutan tepat
d. Skor Maksimal = 6
- Skor 1 untuk menuliskan reaksi kesetimbangan
- Skor 1 untuk menuliskan persamaan reaksi ionisasi
- Skor 2 untuk perhitungan pH dengan teratur
- Skor 1 untuk hasil akhir tepat
Skor 1 untuk sifat larutan tepat
12. Skor Maksimal = 12
a. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan benar
131
-
Skor 3 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan kurang
benar
- Skor 2 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan
benar
- Skor 1 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan
kurang benar
b. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan benar
- Skor 3jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan kurang
benar
- Skor 2 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan
benar
- Skor 1 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan
kurang benar
c. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan benar
- Skor 3 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan kurang
benar
- Skor 2 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan
benar
- Skor 1 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan
kurang benar
13. Skor Maksimal = 20
a. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan benar
- Skor 3 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan salah
- Skor 2 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat
larutan benar
- Skor 1 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat
larutan salah
- Skor 1 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan benar
- Skor 0 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan salah
b. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan benar
- Skor 3 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan salah
- Skor 2 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat
larutan benar
- Skor 1 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat
larutan salah
- Skor 1 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan benar
- Skor 0 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan salah
c. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan benar
- Skor 3 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan salah
- Skor 2 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat
larutan benar
132
-
Skor 1 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat
larutan salah
- Skor 1 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan benar
- Skor 0 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan salah
d. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan benar
- Skor 3 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan salah
- Skor 2 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat
larutan benar
- Skor 1 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat
larutan salah
- Skor 1 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan benar
- Skor 0 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan salah
e. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan benar
- Skor 3 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan salah
- Skor 2 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat
larutan benar
- Skor 1 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat
larutan salah
- Skor 1 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan benar
- Skor 0 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan salah
14. Skor Maksimal = 8
- Skor 1 untuk menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat
- Skor 2 untuk perhitungan pH dengan teratur
- Skor 1 untuk nilai konsentrasi benar
- Skor 1 untuk perhitungan mencari mol
- Skor 1 untuk nilai mol benar
- Skor 1 untuk perhitungan mencari massa
- Skor 1 untuk nilai massa benar
15. Skor Maksimal = 4
- Skor 1 untuk penjelasan benar
- Skor 1 untuk menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat
- Skor 2 untuk perhitungan pH dengan teratur
- Skor 1 untuk nilai konsentrasi benar
16. Skor Maksimal = 3
- Skor 3 jika memberikan ≥3 alternatif lain untuk mengidentifikasi sifat larutan
garam
- Skor 2 jika memberikan 2 alternatif lain untuk mengidentifikasi sifat larutan
garam
- Skor 1 jika memberikan 1 alternatif lain untuk mengidentifikasi sifat larutan
garam
- Skor 0 jika tidak memberikan alternatif lain untuk mengidentifikasi sifat
larutan garam
133
17. Skor Maksimal = 16
a. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika memberikan ≥3 informasi dan tepat
- Skor 3 jika memberikan ≥3 informasi dan kurang tepat
- Skor 2 jika memberikan <3 informasi dan tepat
- Skor 1 jika memberikan <3 informasi dan kurang tepat
- Skor 0 jika memberikan informasi salah
b. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika memberikan ≥3 informasi dan tepat
- Skor 3 jika memberikan ≥3 informasi dan kurang tepat
- Skor 2 jika memberikan <3 informasi dan tepat
- Skor 1 jika memberikan <3 informasi dan kurang tepat
- Skor 0 jika memberikan informasi salah
c. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika memberikan ≥3 informasi dan tepat
- Skor 3 jika memberikan ≥3 informasi dan kurang tepat
- Skor 2 jika memberikan <3 informasi dan tepat
- Skor 1 jika memberikan <3 informasi dan kurang tepat
- Skor 0 jika memberikan informasi salah
d. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika memberikan ≥3 informasi dan tepat
- Skor 3 jika memberikan ≥3 informasi dan kurang tepat
- Skor 2 jika memberikan <3informasi dan tepat
- Skor 1 jika memberikan <3 informasi dan kurang tepat
- Skor 0 jika memberikan informasi salah
Lampiran B4 : Soal Tes Berpikir Kreatif (Setelah Uji Validitas)
SOAL TES KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
Indikator
Indikator keterampilan Sub indikator keterampilan
konsep
berpikir kreatif
berpikir kreatif
 Menjelaskan
Fluency
 Memikirkan lebih dari satu
aplikasi
(Berpikir lancar)
Butir soal
jawaban. (soal no.1)
hidrolisis
garam
Pernahkah kamu merasakan nyeri seperti sakit kepala dan sakit gigi?
Untuk mengatasi rasa nyeri biasanya dokter memberikan obat yang
mengandung asam asetil salisilat yang dikenal dengan nama aspirin.
Aspirin sebenarnya merupakan garam dari asam lemah asetil
salisilat. Aspirin akan larut dalam darah dan menekan rasa sakit
yang sedang kamu rasakan. Proses melarutnya aspirin tersebut
merupakan salah satu contoh aplikasi dari konsep hidrolisis.
1. Selain aspirin, sebutkan aplikasi hidrolisis garam yang lain
dalam kehidupan sehari-hari!
134
 Mengidentifikasi
sifat
Flexibility
(berpikir luwes)
larutan garam
 Menghasilkan
jawaban
dan
gagasan, Amati tabel hasil pengamatan berikut!
penafsiran
(interpretasi)
 Menuliskan
yang
Larutan
bervariasi terhadap suatu
masalah. (soal no. 2, 3, 4)
persamaan
 Menggolongkan
reaksi
ionisasi
menurut
hal-hal
pembagian
(kategori) yang berbedabeda. (soal no. 5)
NaCl
Perubahan Warna
Basa
Asam
Sifat
pH
Lakmus Lakmus
Pembentuk Pembentuk
Larutan
Merah
Biru
Kuat
Kuat
Merah
Biru
Netral 7
Al2(SO4)3
Lemah
Kuat
Merah
Merah
Asam
<7
NaOCl
Kuat
Lemah
Biru
Biru
Basa
>7
CH3COONH4
Lemah
Lemah
Merah
Biru
Basa
>7
2. Mengapa suatu larutan garam ada yang bersifat asam, basa atau
netral?
3. Bagaimana cara mengetahui suatu larutan garam ada yang
bersifat asam, basa atau netral?
4. Adakah hubungan antara sifat garam (netral, asam, basa) dengan
sifat komponen asam dan basa pembentuknya?
5. Mana sajakah larutan garam yang mengalami hidrolisis parsial
dan hidrolisis total? Tuliskan persamaan reaksi ionisasinya!
 Menghitung
pH
 Menentukan
Elaboration
(Berpikir merinci)
 Mencari arti yang lebih 6. Manakah campuran larutan berikut yang menghasilkan garam
mendalam
terhadap
jawaban atau pemecahan
terhidrolisis? Jelaskan!
a. 100 mL HCl 0,1 M + 100 mL NaOH 0,1 M
135
sifat
garam
masalah dengan melakukan
b. 100 mL CH3COOH 0,1 M+ 50 mL NaOH 0,1 M
yang
langkah-langkah
c. 50 mL HCl 0,1 M + 50 mL NH4OH 0,1 M
terhidrolisis
terperinci. (soal no. 6 dan 7. Ramalkan sifat (asam, basa atau netral) larutan garam berikut ini.
dari
7)
persamaan
yang
Jelaskan!
 Mengembangkan,
a. K2SO4
reaksi
menambah,
ionisasi
suatu gagasan. (soal no. 8
c. NaHCO3
dan 9)
d. Ca(CH3COO)2
memperkaya
b. NH4Cl
e. NH4NO3
8. Anita adalah seorang siswi yang mempunyai rasa ingin tahu
yang tinggi. Ia selalu ingin mencoba eksperimen baru, saat ini ia
ingin membuat larutan garam yang mempunyai pH = 9. Anita
menyediakan 2 liter larutan natrium asetat (Ka = 10-5). Tetapi
Anita bingung, berapa massa natrium asetat yang terdapat dalam
larutan tersebut? (Ar H = 1, C = 12, O = 16, Na = 23)
9. Misalkan anda ingin membuat larutan dengan pH = 8 dengan
cara melarutkan suatu garam dalam air. Diantara garam berikut,
manakah yang akan anda gunakan jika Kh=10−5? Tentukan pula
molaritasnya!
136
a. NH4Cl
b. KNO2
c. NaNO3
 Menentukan
sifat
larutan
garam
Originality
(Berpikir orisinal)
 Mampu
melahirkan 10.
ungkapan yang baru. (soal
a.
c.
no.17)
 Menjelaskan
kurva titrasi
b.
d.
Informasi apakah yang dapat kamu peroleh dari kurva titrasi
diatas?
137
138
Lampiran B5 : Kunci Jawaban Tes Berpikir Kreatif (Setelah Uji Validitas)
KUNCI JAWABAN
1. Aplikasi hidrolisis garam dalam kehidupan sehari-hari adalah:
-
Sabun Cuci
Garam natrium stearat (C17H35COONa) akan mengalami hidrolisis dalam
air menghasilkan asam asam stearat dan basanya yaitu natrium hidroksida.
-
Urea
Agar mudah larut pupuk dibuat dalam bentuk pellet (garamnya) untuk
menurunkan pH tanah. Misalnya pupuk (NH4)2SO4. garam (NH4)2SO4
bersifat asam, inon NH4+ akan terhidrolisis dalam tanah membentuk NH3
dan H+ yang bersifat asam.
-
Pemutih Pakaian
Pemutih pakaian mengandung garam NaClO yang sangat reaktif sehingga
mampu menghilangkan noda pakaian. Garam NaClO terbentuk dari asam
lemah HOCl dengan basa kuat NaOH. Ion OCl− terhidrolisis menjadi
HOCl dan OH−sehingga garam NaClO bersifat basa.
-
Pengawet Makanan
Natrium benzoat salah satu jenis pengawet makanan yang dibuat dari asam
benzoat (asam lemah) kemudian dijadikan garam natrium benzoat (bentuk
garamnya) karena kelarutannya lebih besar.
-
Pembersih Porselen
Pembersih Porselen biasanya ditambahkan garam NaHSO4 agar daya
bersihnya lebih maksimal.
-
Detergen
Tripoli Sodium Fosfat (TSP) merupakan salah satu contoh polifosfat yang
sering digunakan sebagai zat pembangun dalam pembuatan deterjen.
Polifosfat bersifat basa, berfungsi melunakkan air sadah.
-
Tawas
Al2(SO4)3 digunakan pada penjernihan air PAM. Tingginya muatan kation
Al3+ akan membentuk sistem koloid Al(OH)3 yang mampu mengadsorpsi
dan mengendapkan kotoran air.
139
Skor Maksimal: 4
2. Suatu larutan garam ada yang bersifat asam, basa atau netral karena:
-
Pada uji kertas lakmus menghasilkan perubahan warna yang berbeda.
Lakmus merah berubah warna menjadi biru dalam larutan basa sedangkan
dalam larutan asam dan netral tidak terjadi perubahan warna. Lakmus biru
berubah warna menjadi warna merah dalam larutan asam sedangkan dalam
larutan basa dan netral tidak terjadi perubahan warna.
-
Pada uji nilai pH dengan indikator universal menghasilkan nilai pH yang
beragam.
-
Hasil perhitungan nilai pH. Jika nilai pH <7 larutan bersifat asam. Jika
nilai pH >7 laruan bersifat basa. Sedangkan jika nilai pH = 7 larutan
bersifat netral.
-
Berasal dari asam dan basa pembentuk yang berbeda sehingga dalam
persamaan reaksi ionisasi terdapat ion yang terhidrolisis dan atau ion yang
terhidrasi.
Skor Maksimal: 4
3. Cara mengetahui sifat larutan garam yaitu:
-
Uji kertas lakmus
-
Uji nilai pH dengan indikator universal
-
Mengetahui komponen asam dan basa pembentuknya melalui persamaan
reaksi ionisasi
-
Menghitung nilai pH
Skor Maksimal: 4
4. Ada hubungan antara sifat garam dengan komponen asam dan basa
pembentuknya, yaitu:
 Garam dari asam kuat dan basa kuat larutannya bersifat netral.
 Garam dari asam kuat dan basa lemah larutannya bersifat asam.
 Garam dari asam lemah dan basa kuat larutannya bersifat basa.
140
 Garam dari asam lemah dan basa lemah sifat larutan bergantung pada Ka
dan Kb.
-
Jika Ka = Kb larutan bersifat netral
-
Jika Ka > Kb larutan bersifat asam
-
Jika Ka < Kb larutan bersifat basa
Skor Maksimal: 5
5. - NaCl (tidak mengalami hidrolisis)
NaCl + H2O → NaOH + HCl
NaCl → Na+ + Cl−
Na+ + H2O → (tidak ada reaksi)
Cl− + H2O → (tidak ada reaksi)
Ion Na+ berasal dari basa kuat dan ion Cl−
berasal dari asam kuat,
sehingga tidak akan terhidrolisis akan tetapi mengalami hidrasi (dikelilingi
oleh molekul-molekul H2O).
-
Al2(SO4)3 (mengalami hidrolisis parsial)
Al2(SO4)3 + 6 H2O → 2Al(OH)3 +H2SO4
Al2(SO4)3 → Al3+ + SO42−
Al3+ + H2O
Al(OH)3 + H+ (terhidrolisis)
SO42− + H2O → (tidak ada reaksi)
Ion Al3+ berasal dari basa lemah sehingga akan terhidrolisis, sedangkan
ion SO42− berasal dari asam kuat sehingga tidak akan terhidrolisis. Maka
dari itu, garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah mengalami
hidrolisis sebagian (parsial).
-
NaOCl (mengalami hidrolisis parsial)
NaOCl + H2O → HOCl + NaOH
NaOCl → Na+ + OCl−
Na+ + H2O → (tidak ada reaksi)
OCl− + H2O
Ion Na+
HOCl + OH− (terhidrolisis)
berasal dari basa kuat sehingga tidak akan terhidrolisis,
sedangkan ion OCl−berasal dari asam lemah sehingga akan terhidrolisis.
141
Maka dari itu, garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat
mengalami hidrolisis sebagian (parsial).
-
CH3COONH4 (mengalami hidrolisis total)
CH3COONH4+ H2O → CH3COOH + NH4OH
CH3COONH4 → CH3COO− + NH4+
CH3COO− + H2O
NH4+ + H2O
CH3COOH + OH−
NH3 + H3O+
Ion CH3COO− berasal dari asam lemah dan ion NH4+ berasal dari basa
lemah sehingga akan terhidrolisis. Maka dari itu, garam yang terbentuk
dari asam lemah dan basa lemah akan mengalami hidrolisis total
(sempurna).
Skor Maksimal: 6
6. Campuran larutan yang menghasilkan garam terhidrolisis adalah:
a. 100 mL HCl 0,1 M + 100 mL NaOH 0,1 M
NaOH
+
HCl
→
NaCl
+ H2O
Awal
: 10 mmol
10 mmol
Bereaksi
: −10 mmol
−10 mmol
+10 mmol
Setimbang
:
−
10 mmol
−
Tidak menghasilkan garam terhidrolisis karena terbentuk dari asam kuat
dan basa kuat.
b. 100 mL CH3COOH 0,1 M+ 50 mL NaOH 0,1 M
CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O
Awal
: 10 mmol
5 mmol
Bereaksi
: −5 mmol
−5 mmol
+5 mmol
Setimbang
: 5 mmol
−
5 mmol
Bukan merupakan hidrolisis garam karena menyisakan asam dan
garamnya yang merupakan larutan penyangga (buffer).
c. 50 mL NH4OH 0,1 M + 50 mL HCl 0,1 M
NH4OH + HCl
Awal
: 5 mmol
5 mmol
→
NH4Cl
+ H2O
142
Bereaksi
: −5 mmol
Setimbang
:
−5 mmol
+5 mmol
−
5 mmol
−
Menghasilkan garam terhidrolisis karena terbentuk dari asam kuat dan
basa lemah. Dalam reaksi merupakan hidrolisis garam karena menyisakan
garamnya.
Skor Maksimal: 12
7. a. K2SO4 (garam netral)
K2SO4 → K+ + SO42−
K+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
SO42− + H2O → (Tidak ada reaksi)
b. NH4Cl (garam asam)
NH4Cl → NH4+ + Cl−
NH4+ + H2O
NH3 +H3O+ (terhidrolisis)
Cl− + H2O → (Tidak ada reaksi)
c. NaHCO3 (garam basa)
NaHCO3 → Na+ + HCO3−
Na+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
HCO3− + H2O
H2CO3 + OH− (terhidrolisis)
d. Ca(CH3COO)2 (garam basa)
Ca(CH3COO)2 → Ca2+ + CH3COO−
Ca2+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
CH3COO− + H2O
CH3COOH + OH− (terhidrolisis)
e. NH4NO3 (garam asam)
NH4NO3 → NH4+ + NO3−
NH4+ + H2O
NH3 +H3O+ (terhidrolisis)
NO3− + H2O → (Tidak ada reaksi)
Skor Maksimal: 20
8. CH3COONa → Na+ + CH3COO−
Na+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
143
CH3COO− + H2O
CH3COOH + OH− (garam basa)
pH = 9
POH = 14 – 9
=5
[OH−] = 10−5
Skor Maksimal: 8
9. a. NH4Cl (garam asam)
NH4Cl → NH4+ + Cl−
NH4+ + H2O
NH3 +H3O+ (terhidrolisis)
Cl− + H2O → (Tidak ada reaksi)
pH = 8
[H+] = 10−8
144
b. KNO2 (garam basa)
KNO2 → K+ + NO2−
K+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
NO2− + H2O
HNO2 +OH− (terhidrolisis)
pH = 8
POH = 14 – 8
=6
[OH−] = 10−6
c. NaNO3
NaNO3 → Na+ + NO3−
Na+ + H2O → (Tidak ada reaksi)
145
NO3− + H2O → (Tidak ada reaksi)
Garam NaNO3 tidak bisa digunakan untuk membuat pH = 8 karena
bersifat netral dengan pH = 7.
Skor Maksimal: 4
10. Informasi yang dapat diperoleh dari kurva titrasi tersebut adalah:
a. - Merupakan kurva titrasi asam kuat dan basa kuat.
-
Basa kuat yang ditambahkan ke asam kuat.
-
Kurva dimulai pada pH rendah (±1) yang menunjukan asam kuat dan
berakhir pada pH tinggi (±13) yang menunjukan basa kuat.
-
Titik ekuivalen ditunjukan dengan pH=7.
-
Merupakan garam netral.
b. - Merupakan kurva titrasi asam kuat dan basa lemah
-
Basa lemah yang ditambahkan ke asam kuat.
-
Kurva dimulai pada pH rendah (±1) yang menunjukan asam kuat dan
berakhir pada pH ±10 yang menunjukan basa lemah.
-
Titik ekuivalen ditunjukan dengan pH<7
-
Merupakan garam asam.
c. - Merupakan kurva titrasi asam lemah dan basa kuat
-
Basa kuat yang ditambahkan ke asam lemah.
-
Kurva dimulai pada pH ±3 yang menunjukan asam lemah dan berakhir
pada pH ±13 yang menunjukan basa kuat.
-
Titik ekuivalen ditunjukan dengan pH>7.
-
Merupakan garam basa.
d. - Merupakan kurva titrasi basa lemah dan asam lemah
-
Asam lemah yang ditambahkan ke basa lemah.
-
Kurva dimulai pada pH ±10 yang menunjukan basa lemah dan
berakhir pada pH ±3 yang menunjukan asam lemah.
-
Titik ekuivalen ditunjukan dengan pH~7 karena sulit diamati, akibat
tidak terdapat kenaikan pH yang tajam.
Skor Maksimal: 16
146
Lampiran B6 : Rubrik Penilaian Tes Berpikir Kreatif (Setelah Uji Validitas)
RUBRIK PENILAIAN TES KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
1. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menjawab sebanyak ≥ 7 aplikasi
- Skor 3 jika menjawab sebanyak 5 – 6 aplikasi
- Skor 2 jika menjawab sebanyak 3 – 4 aplikasi
- Skor 1 jika menjawab sebanyak 1 – 2 aplikasi
- Skor 0 jika tidak menjawab sama sekali/jawaban salah
2. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menjawab sebanyak ≥ 4 alasan tepat
- Skor 3 jika menjawab sebanyak 3 alasan tepat
- Skor 2 jika menjawab sebanyak 2 alasan tepat
- Skor 1 jika menjawab sebanyak 1 alasan tepat
- Skor 0 jika tidak menjawab sama sekali/jawaban salah
3. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menjawab sebanyak 3 – 4 gagasan
- Skor 2 jika menjawab sebanyak 1 – 2 gagasan
- Skor 0 jika tidak menjawab sama sekali/jawaban salah
4. Skor Maksimal = 5
- Skor 5 jika terdapat hubungan serta penjelasan tepat
- Skor 3 jika terdapat hubungan tetapi penjelasan kurang tepat
- Skor 1 jika terdapat hubungan tetapi tidak ada penjelasan
5. Skor Maksimal = 6
- Skor 6 jika pengelompokkan benar dengan persamaan reaksi tepat
- Skor 5 jika pengelompokkan kurang benar tetapi persamaan reaksi tepat
- Skor 4 jika pengelompokkan benar tetapi persamaan reaksi kurang tepat
- Skor 3 jika pengelompokkan kurang benar dan persamaan reaksi kurang tepat
- Skor 2 jika pengelompokkan benar tetapi tidak ada persamaan reaksi
- Skor 1 jika pengelompokkan kurang benar tetapi tidak ada persamaan reaksi
- Skor 0 jika penjelasan salah dan tidak ada persamaan reaksinya
6. Skor Maksimal = 12
a. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan benar
- Skor 3 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan kurang benar
- Skor 2 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan benar
- Skor 1 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan
kurang benar
b. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan benar
- Skor 3 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan kurang benar
- Skor 2 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan benar
- Skor 1 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan
kurang benar
c. Skor Maksimal = 4
147
-
Skor 4 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan benar
Skor 3 jika menuliskan reaksi kesetimbangan tepat dan penjelasan kurang benar
Skor 2 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan benar
Skor 1 jika menuliskan reaksi kesetimbangan kurang tepat dan penjelasan
kurang benar
7. Skor Maksimal = 20
a. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan benar
- Skor 3 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan salah
- Skor 2 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat larutan
benar
- Skor 1 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat larutan
salah
- Skor 1 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan benar
- Skor 0 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan salah
b. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan benar
- Skor 3 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan salah
- Skor 2 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat larutan
benar
- Skor 1 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat larutan
salah
- Skor 1 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan benar
- Skor 0 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan salah
c. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan benar
- Skor 3 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan salah
- Skor 2 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat larutan
benar
- Skor 1 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat larutan
salah
- Skor 1 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan benar
- Skor 0 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan salah
d. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan benar
- Skor 3 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan salah
- Skor 2 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat larutan
benar
- Skor 1 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat larutan
salah
- Skor 1 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan benar
- Skor 0 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan salah
e. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan benar
- Skor 3 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat dan sifat larutan salah
- Skor 2 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat larutan
benar
148
-
Skor 1 jika menuliskan persamaan reaksi ionisasi kurang tepat dan sifat larutan
salah
Skor 1 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan benar
Skor 0 jika tidak menuliskan persamaan reaksi ionisasi dan sifat larutan salah
8. Skor Maksimal = 8
- Skor 1 untuk menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat
- Skor 2 untuk perhitungan pH dengan teratur
- Skor 1 untuk nilai konsentrasi benar
- Skor 1 untuk perhitungan mencari mol
- Skor 1 untuk nilai mol benar
- Skor 1 untuk perhitungan mencari massa
- Skor 1 untuk nilai massa benar
9. Skor Maksimal = 4
- Skor 1 untuk penjelasan benar
- Skor 1 untuk menuliskan persamaan reaksi ionisasi tepat
- Skor 2 untuk perhitungan pH dengan teratur
- Skor 1 untuk nilai konsentrasi benar
10. Skor Maksimal = 16
a. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika memberikan ≥3 informasi dan tepat
- Skor 3 jika memberikan ≥3 informasi dan kurang tepat
- Skor 2 jika memberikan <3 informasi dan tepat
- Skor 1 jika memberikan <3 informasi dan kurang tepat
- Skor 0 jika memberikan informasi salah
b. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika memberikan ≥3 informasi dan tepat
- Skor 3 jika memberikan ≥3 informasi dan kurang tepat
- Skor 2 jika memberikan <3 informasi dan tepat
- Skor 1 jika memberikan <3 informasi dan kurang tepat
- Skor 0 jika memberikan informasi salah
c. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika memberikan ≥3 informasi dan tepat
- Skor 3 jika memberikan ≥3 informasi dan kurang tepat
- Skor 2 jika memberikan <3 informasi dan tepat
- Skor 1 jika memberikan <3 informasi dan kurang tepat
- Skor 0 jika memberikan informasi salah
d. Skor Maksimal = 4
- Skor 4 jika memberikan ≥3 informasi dan tepat
- Skor 3 jika memberikan ≥3 informasi dan kurang tepat
- Skor 2 jika memberikan <3 informasi dan tepat
- Skor 1 jika memberikan <3 informasi dan kurang tepat
- Skor 0 jika memberikan informasi salah
149
Lampiran B7: Lembar Observasi Siswa Kelas Eksperimen
LEMBAR OBSERVASI
KETERLAKSANAAN TAHAPAN MODEL INKUIRI TERBIMBING
TAHAP 1
Sub Materi
: Sifat Larutan Garam
Anggota Kelompok :
1.
2.
3.
4.
5.
Petunjuk pengisian:
Berilah nilai pada kolom kode siswa sesuai dengan hasil observasi anda terhadap
keterlaksanaan tahapan model inkuiri terbimbing yang dilakukan oleh siswa.
Tahapan Model Inkuiri
Terbimbing
Membuat
rumusan
masalah
berdasarkan
fenomena
yang
dijelaskan oleh guru
Membuat
hipotesis
dengan
memperhatikan terminologi
Mengumpulkan data meliputi:
- Merancang percobaan melalui
arahan percobaan pada LKS
- Mencatat hasil percobaan dalam
sebuah tabel hasil pengamatan
Menganalisis data dengan menjawab
pertanyaan dalam LKS
Membuat kesimpulan
1
Kode Siswa
2 3 4 5
Keterangan
Keterangan skor:
5 = Sangat baik
3 = Sedang
4 = Baik
2 = Buruk
1 = Buruk Sekali
Observer
150
LEMBAR OBSERVASI
KETERLAKSANAAN TAHAPAN MODEL INKUIRI TERBIMBING
TAHAP 2
Sub Materi
: pH Larutan Garam
Anggota Kelompok :
6.
7.
8.
9.
10.
Petunjuk pengisian:
Berilah nilai pada kolom kode siswa sesuai dengan hasil observasi anda terhadap
keterlaksanaan tahapan model inkuiri terbimbing yang dilakukan oleh siswa.
Tahapan Model Inkuiri
Terbimbing
Membuat
rumusan
masalah
berdasarkan
fenomena
yang
dijelaskan oleh guru
Membuat
hipotesis
dengan
memperhatikan terminologi
Mengumpulkan data meliputi:
- Merancang percobaan melalui
arahan percobaan pada LKS
- Mencatat hasil percobaan dalam
sebuah tabel hasil pengamatan
Menganalisis data dengan menjawab
pertanyaan dalam LKS
Membuat kesimpulan
1
Kode Siswa
2 3 4 5
Keterangan
Keterangan skor:
5 = Sangat baik
3 = Sedang
4 = Baik
2 = Buruk
1 = Buruk Sekali
Observer
151
Lampiran B8 : Rubrik Penilaian Observasi
RUBRIK PENILAIAN OBSERVASI
TAHAP 1
1. Merumuskan masalah
-
Skor 5 jika siswa membuat 2 rumusan masalah dengan benar
-
Skor 4 jika siswa membuat 2 rumusan masalah dan keduanya kurang
benar
-
Skor 3 jika siswa membuat 1 rumusan masalah dengan benar
-
Skor 2 jika siswa membuat 1 rumusan masalah kurang benar
-
Skor 1 jika siswa membuat rumusan masalah salah
Skor Maksimal = 5
2. Membuat Hipotesis
-
Skor 5 jika siswa membuat 2 hipotesis dengan benar
-
Skor 4 jika siswa membuat 2 hipotesis dan keduanya kurang benar
-
Skor 3 jika siswa membuat 1 hipotesis dengan benar
-
Skor 2 jika siswa membuat 1 hipotesis kurang benar
-
Skor 1 jika siswa membuat hipotesis salah
Skor Maksimal = 5
3. Mengumpulkan Data

Merancang Percobaan
-
Skor 5 jika membuat rancangan percobaan tepat dengan menjawab
pertanyaan arahan percobaan benar
-
Skor 4 jika membuat rancangan percobaan tepat dengan menjawab
pertanyaan arahan percobaan kurang benar
-
Skor 3 jika membuat rancangan percobaan kurang tepat dengan
menjawab pertanyaan arahan percobaan benar
-
Skor 2 jika membuat rancangan percobaan kurang tepat dan menjawab
pertanyaan arahan percobaan kurang benar
-
Skor 1 jika membuat rancangan percobaan dan menjawab pertanyaan
arahan percobaan salah
Skor Maksimal = 5
152

Mencatat Hasil Percobaan
-
Skor 5 jika siswa mencatat hasil percobaan dan menentukan sifat
larutan benar sebanyak ≥ 6 larutan
-
Skor 4 jika siswa mencatat hasil percobaan dan menentukan sifat
larutan benar sebanyak 4−5 larutan
-
Skor 3 jika siswa mencatat hasil percobaan dan menentukan sifat
larutan benar sebanyak 2−3 larutan
-
Skor 2 jika siswa mencatat hasil percobaan dan menentukan sifat
larutan benar sebanyak 1 larutan
-
Skor 1 jika siswa mencatat hasil percobaan dan menentukan sifat
larutan salah
Skor Maksimal = 5
4. Analisis Data
-
Skor 5 jika siswa menjawab 3 pertanyaan dengan benar
-
Skor 4 jika siswa menjawab 2 pertanyaan dengan benar
-
Skor 3 jika siswa menjawab 1 pertanyaan dengan benar
-
Skor 2 jika siswa menjawab pertanyaan kurang benar
-
Skor 1 jika siswa menjawab pertanyaan salah
Skor Maksimal = 5
5. Membuat Kesimpulan
-
Skor 5 jika siswa membuat kesimpulan dengan penjelasan tepat
-
Skor 3 jika siswa membuat kesimpulan dengan penjelasan kurang tepat
-
Skor 1 jika siswa membuat kesimpulan dengan penjelasan salah
Skor Maksimal = 5
153
RUBRIK PENILAIAN OBSERVASI
TAHAP 2
1. Merumuskan masalah
-
Skor 5 jika siswa membuat 2 rumusan masalah dengan benar
-
Skor 4 jika siswa membuat 2 rumusan masalah dan keduanya kurang
benar
-
Skor 3 jika siswa membuat 1 rumusan masalah dengan benar
-
Skor 2 jika siswa membuat 1 rumusan masalah kurang benar
-
Skor 1 jika siswa membuat rumusan masalah salah
Skor Maksimal = 5
2. Membuat Hipotesis
-
Skor 5 jika siswa membuat 2 hipotesis dengan benar
-
Skor 4 jika siswa membuat 2 hipotesis dan keduanya kurang benar
-
Skor 3 jika siswa membuat 1 hipotesis dengan benar
-
Skor 2 jika siswa membuat 1 hipotesis kurang benar
-
Skor 1 jika siswa membuat hipotesis salah
Skor Maksimal = 5
3. Mengumpulkan Data

Merancang Percobaan
-
Skor 5 jika membuat rancangan percobaan tepat dengan menjawab
pertanyaan arahan percobaan benar
-
Skor 4 jika membuat rancangan percobaan tepat dengan menjawab
pertanyaan arahan percobaan kurang benar
-
Skor 3 jika membuat rancangan percobaan kurang tepat dengan
menjawab pertanyaan arahan percobaan benar
-
Skor 2 jika membuat rancangan percobaan kurang tepat dan menjawab
pertanyaan arahan percobaan kurang benar
-
Skor 1 jika membuat rancangan percobaan dan menjawab pertanyaan
arahan percobaan salah
Skor Maksimal = 5
154

Mencatat Hasil Percobaan
-
Skor 5 jika siswa mencatat hasil percobaan dan menentukan sifat
larutan benar sebanyak ≥ 6 larutan
-
Skor 4 jika siswa mencatat hasil percobaan dan menentukan sifat
larutan benar sebanyak 4−5 larutan
-
Skor 3 jika siswa mencatat hasil percobaan dan menentukan sifat
larutan benar sebanyak 2−3 larutan
-
Skor 2 jika siswa mencatat hasil percobaan dan menentukan sifat
larutan benar sebanyak 1 larutan
-
Skor 1 jika siswa mencatat hasil percobaan dan menentukan sifat
larutan salah
Skor Maksimal = 5
4. Analisis Data
-
Skor 5 jika siswa menjawab 4 pertanyaan dengan benar
-
Skor 4 jika siswa menjawab 3 pertanyaan dengan benar
-
Skor 3 jika siswa menjawab 2 pertanyaan dengan benar
-
Skor 2 jika siswa menjawab 1 pertanyaan dengan benar
-
Skor 1 jika siswa menjawab pertanyaan kurang benar
Skor Maksimal = 5
5. Membuat Kesimpulan
-
Skor 5 jika siswa membuat kesimpulan dengan penjelasan tepat
-
Skor 3 jika siswa membuat kesimpulan dengan penjelasan kurang tepat
-
Skor 1 jika siswa membuat kesimpulan dengan penjelasan salah
Skor Maksimal = 5
161
Lampiran. Hasil Pretest dan Posttest Siswa Kelas Eksperimen
DATA NILAI KELAS EKSPERIMEN (PRETEST DAN POSTTEST )
No.
Nama Siswa
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
Aas Nurasiah
Abdul Manan
Adzkia Fahruz Zulmi
Andri Suyanto
Eneng Solihat
Fuad Hasan
Hermansyah
Indriani
Inta Irwana
Isam Ismaya
Jamilatusyadiah
Kamaludin
Lika Sauqiah
Miftahul Hayat
Munir
Niman Ganim
Nurul Komarudin
Onya Nuryana
Rafi Mulki
Sifa Nurohmah
Siti Halimah
Siti Rohmat
Siti Sawiyah
Taufik Hidayat
Yayan Nuriah
Yayang Kurniawan
Jumlah
Kelas Eksperimen
Pretest
Posttest
30
88
35
73
28
88
27
70
28
70
30
75
41
84
23
61
41
84
28
78
33
61
36
84
29
55
29
69
22
55
31
73
37
84
28
67
33
90
23
58
41
78
25
61
25
69
31
84
25
73
35
75
794
1907
Mean
30,54
73,35
Median
29,5
74
Modus
27,5
75,5
Standar Deviasi
5,57
10,56
Varians
30,98
111,60
162
Lampiran. Nilai Pretest dan Posttest Siswa Kelas Kontrol
DATA NILAI KELAS KONTROL (PRETEST DAN POSTTEST )
No.
Nama Siswa
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
Abdul Kholik
Andri Maulana
Animan Mulyana
Devi Ratna Sari
Farida
Hendra Ardiansyah
Hoerudin
Intan Nur'aeni
Jaelani
Lindawati
Liri Saifullah
M. Ismail Sholeh
Miftah Maulana
Neng Sari
Nurmia
Omid Sahmidi
Ratu Iqrimah
Seri Mulyati
Siti Aisah
Siti Suci Nurjanah
Siti Suhaebah
Tiyas Wahyuni
Wahyudin
Wawan
Yulia Ningsih
Zulfi Hamid Fauzi
Jumlah
Kelas Kontrol
Pretest
Posttest
27
40
39
55
27
42
28
81
33
52
28
52
41
73
37
52
36
45
29
66
33
51
42
76
27
55
28
47
39
57
33
57
40
81
27
57
27
63
31
47
27
40
40
77
27
63
39
43
25
77
35
63
845
1512
Mean
32,50
58,15
Median
31,25
56,3
Modus
26,5
50
Standar Deviasi
5,60
12,94
Varians
31,38
167,42
Lampiran C3 : Hasil Indikator Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen (Pretest)
Nomor Soal
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
Responden
AE
BE
CE
DE
EE
FE
GE
HE
IE
JE
KE
LE
ME
NE
OE
PE
QE
RE
SE
TE
UE
Fluency
1
1
2
1
1
1
1
2
1
2
1
1
1
1
1
1
1
2
1
2
1
2
2
2
2
1
2
1
2
1
1
2
2
3
2
1
2
1
3
1
2
2
1
2
Flexibility
3
4
1
3
2
1
3
3
2
3
1
3
2
1
3
3
2
3
3
3
2
1
2
3
3
4
2
3
2
2
2
2
3
3
3
1
1
2
2
3
1
1
2
3
5
2
2
2
2
3
2
3
2
3
1
2
2
2
2
2
2
3
2
3
1
3
6
4
4
2
4
2
4
6
4
6
4
4
4
4
3
2
6
6
4
4
4
4
Elaboration
7
8
4
0
8
0
4
0
4
0
4
0
6
0
8
0
2
0
8
0
4
0
4
0
6
0
4
0
4
0
4
0
4
0
8
0
4
0
4
0
6
0
10
0
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Originality
10
8
8
7
4
8
7
8
4
7
8
8
8
7
8
4
4
7
7
7
4
8
Jumlah
Skor
Nilai
25
29
23
22
23
25
34
19
34
23
27
30
24
24
18
26
31
23
27
19
34
30
35
28
27
28
30
41
23
41
28
33
36
29
29
22
31
37
28
33
23
41
163
PE
WE
XE
YE
ZE
Jumlah
Skor Maksimal
Presentase (%)
22
23
24
25
26
0
0
1
0
1
29
104
27,9
1
2
2
2
1
44
104
42,3
2
1
2
2
1
52
104
50
3
3
1
1
3
62
130
47,7
2
2
2
2
3
57
156
36,5
4
2
6
4
6
107
312
34,3
2
4
4
6
6
132
520
25,4
0
0
0
0
0
0
208
0
0
0
0
0
0
0
104
0
7
7
8
4
8
175
416
42,1
21
25
21
25
26
31
21
25
29
35
658
793
2158
2600
30,54
Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Indikator Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen (Pretest)
No.
Indikator
1
Fluency
(Berpikir Lancar)
2
Flexibility
(Berpikir Luwes)
3
Elaboration
(Berpikir Merinci)
4
Originality
(Berpikir Orisinal)
Nomor Soal Total Skor (%) Rata-rata (%)
1
27,9
2
42,3
3
4
5
50,0
47,7
36,5
6
34,3
7
8
9
10
Kriteria
27,90
Kurang Kreatif
44,13
Cukup Kreatif
25,4
0
0
14,93
Tidak Kreatif
42,1
42,10
Cukup Kreatif
164
Lampiran C4 : Hasil Indikator Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen (Posttest)
Nomor Soal
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
Responden
AE
BE
CE
DE
EE
FE
GE
HE
IE
JE
KE
LE
ME
NE
OE
PE
QE
RE
SE
TE
UE
Fluency
1
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
4
4
4
4
4
2
3
3
3
3
4
4
3
3
3
4
3
3
2
2
2
3
3
2
3
3
3
Flexibility
3
4
4
4
3
3
4
4
4
3
4
3
3
5
4
3
3
3
4
4
3
5
3
3
4
5
3
3
3
3
2
3
3
4
4
3
4
3
4
4
4
3
4
5
5
5
3
5
3
3
2
6
2
5
3
4
6
1
1
2
4
5
4
6
2
4
6
11
11
11
9
6
11
11
4
11
10
4
12
4
11
4
11
12
6
12
7
11
Elaboration
7
8
18
6
10
8
18
6
10
3
8
6
10
3
17
6
6
8
15
6
10
6
4
6
19
3
5
4
6
7
6
6
10
6
15
8
8
6
18
8
6
3
10
6
9
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
Originality
10
14
12
14
15
16
16
12
14
14
16
16
11
16
16
14
13
12
15
12
12
14
Jumlah
Skor
Nilai
73
61
73
58
58
62
70
51
70
65
51
70
46
57
46
61
70
56
75
48
65
88
73
88
70
70
75
84
61
84
78
61
84
55
69
55
73
84
67
90
58
78
165
22
23
24
25
26
PE
WE
XE
YE
ZE
Jumlah
Skor Maksimal
Presentase (%)
4
4
4
4
3
101
104
97,1
4
3
2
2
2
75
104
72,1
3
3
4
3
4
91
104
87,5
3
3
5
3
3
93
130
71,5
1
4
5
4
4
94
156
60,3
8
6
11
11
9
234
312
75
4
10
18
8
10
279
520
53,7
5
6
3
6
8
149
208
71,6
4
4
4
4
4
103
104
99
15
14
14
16
15
368
416
88,5
51
61
57
69
70
84
61
73
62
75
1587
1907
2158
2600
73,35
Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Indikator Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen (Posttest)
No.
Indikator
1
Fluency
(Berpikir Lancar)
2
Flexibility
(Berpikir Luwes)
3
Elaboration
(Berpikir Merinci)
4
Originality
(Berpikir Orisinal)
Nomor Soal Total Skor (%) Rata-rata (%)
1
97,1
2
3
4
5
6
7
8
9
72,1
87,5
71,5
60,3
75,0
53,7
71,6
99,0
10
88,5
Kriteria
97,10
Sangat Kreatif
72,85
Kreatif
74,80
Kreatif
88,50
Sangat Kreatif
166
Lampiran C5 : Hasil Indikator Berpikir Kreatif Kelas Kontrol (Pretest)
Nomor Soal
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
Responden
AC
BC
CC
DC
EC
FC
GC
HC
IC
JC
KC
LC
MC
NC
OC
PC
QC
RC
SC
TC
UC
Fluency
1
1
2
1
1
1
1
2
2
1
1
2
2
1
0
2
1
2
1
1
0
2
2
1
2
1
1
3
2
2
1
2
1
2
2
1
1
2
1
2
2
2
1
2
Flexibility
3
4
2
3
2
3
2
3
1
3
2
3
2
1
3
3
3
1
3
4
2
3
2
3
3
3
1
1
2
3
2
3
1
1
1
3
2
1
2
1
2
2
1
3
5
2
3
2
3
2
1
3
3
2
2
3
3
1
2
3
3
3
2
2
2
3
6
4
4
4
2
4
4
6
6
4
4
4
6
4
4
4
6
4
4
6
3
4
Elaboration
7
8
2
0
8
0
2
0
4
0
4
0
4
0
8
0
8
0
6
0
4
0
4
0
8
0
6
0
4
0
8
0
6
0
10
0
6
0
4
0
4
0
10
0
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Originality
10
7
8
7
8
8
8
7
7
8
7
7
8
7
7
8
8
8
4
8
8
8
Jumlah
Skor
Nilai
22
32
22
23
27
23
34
31
30
24
27
35
22
23
32
27
33
22
26
22
33
27
28
33
27
28
41
37
36
29
33
42
27
28
39
33
40
27
39
31
27
40
167
22
23
24
25
26
PC
WC
XC
YC
ZC
Jumlah
Skor Maksimal
Presentase (%)
1
2
1
1
2
34
104
32,7
1
1
2
2
2
42
104
40,4
2
3
2
2
2
52
104
50
2
1
1
1
1
57
130
43,9
2
3
1
2
2
60
156
38,5
2
6
2
2
4
107
312
34,3
4
8
6
4
8
150
520
28,9
0
0
0
0
0
0
208
0
0
0
0
0
0
0
104
0
8
8
7
7
8
194
416
46,6
22
32
22
21
29
696
2158
27
39
27
25
35
845
2600
32,50
Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Indikator Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol (Pretest)
No.
Indikator
1
Fluency
(Berpikir Lancar)
2
Flexibility
(Berpikir Luwes)
3
Elaboration
(Berpikir Merinci)
4
Originality
(Berpikir Orisinal)
Nomor Soal Total Skor (%) Rata-rata (%)
1
32,7
2
3
4
5
6
7
8
9
40,4
50
43,9
38,5
34,3
28,9
0
0
10
46,6
Kriteria
32,70
Kurang Kreatif
43,20
Cukup Kreatif
15,80
Tidak Kreatif
46,60
Cukup Kreatif
168
Lampiran C6 : Hasil Indikator Berpikir Kreatif Kelas Kontrol (Posttest)
No. Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
AC
BC
CC
DC
EC
FC
GC
HC
IC
JC
KC
LC
MC
NC
OC
PC
QC
RC
SC
TC
UC
Fluency
1
1
2
1
3
3
3
2
3
2
2
1
3
3
3
2
2
3
2
2
2
3
2
1
3
1
2
1
2
3
2
2
1
3
2
1
1
2
2
2
2
2
1
3
Flexibility
3
4
2
3
1
1
2
2
1
3
2
1
2
1
2
3
3
3
2
2
1
3
2
3
2
4
2
3
2
1
1
3
3
2
1
3
1
1
1
3
1
1
1
3
Nomor Soal
Elaboration
5
6
7
8
2
4
4
3
3
10
8
6
2
4
6
3
6
9
16
8
3
6
10
6
2
9
6
6
4
11
15
6
3
9
6
3
2
9
6
3
4
9
15
6
3
9
6
3
5
11
10
8
3
11
8
4
3
6
10
3
2
10
6
6
3
6
8
6
6
11
15
8
2
11
8
6
1
9
4
6
2
4
8
4
4
11
15
8
9
4
3
2
4
4
4
4
2
2
2
4
4
2
2
3
4
4
4
2
2
4
Originality
10
9
9
12
15
7
8
11
9
7
12
8
14
9
8
12
11
14
15
9
8
12
Jumlah
Skor
Nilai
33
46
35
67
43
43
61
43
37
55
42
63
46
39
47
47
67
52
39
33
64
42
81
52
40
52
73
52
45
66
51
76
55
47
57
57
81
63
55
47
40
77
169
22
23
24
25
26
PC
WC
XC
YC
ZC
Jumlah
Skor Maksimal
Presentase (%)
3
3
3
3
2
62
104
59,6
1
2
1
5
9
15
6
4
2
2
2
2
4
4
3
2
2
2
1
1
9
8
6
3
2
2
3
5
12
15
6
4
2
2
1
2
9
6
8
4
48
45
57
80 222 238 141 83
104 104 130 156 312 520 208 104
46,2 43,3 43,9 51,3 71,2 45,8 67,8 79,8
6
12
12
12
16
277
416
66,6
52
36
47
64
52
1253
2158
63
43
57
77
63
1512
2600
58,15
Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Indikator Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol (Posttest)
No.
Indikator
1
Fluency
(Berpikir Lancar)
2
Flexibility
(Berpikir Luwes)
3
Elaboration
(Berpikir Merinci)
4
Originality
(Berpikir Orisinal)
Nomor Soal Total Skor (%) Rata-rata (%)
1
59,6
2
3
4
5
6
7
8
9
46,2
43,3
43,9
51,3
71,2
45,8
67,8
79,8
10
66,6
Kriteria
59,60
Cukup Kreatif
46,18
Cukup Kreatif
66,15
Kreatif
66,60
Kreatif
170
171
Lampiran C7 : Hasil Observasi Siswa Kelas Eksperimen
HASIL PERHITUNGAN LEMBAR OBSERVASI SISWA TAHAP 1
Kelompok
1
2
3
4
5
6
Tahapan Model
Inkuiri Terbimbing
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
1
5
4
4,5
4
5
4
3
4
4
4
4
4
5
4
5
5
4
4,5
4
5
4
4
4,5
4
5
4
3
3,5
4
5
Kode Siswa
2
3
4
4
3
3
5
3
3
4
4
4
4
4
4
5
4
4
4
3
3
3
3
3
3,5 3,5 3,5
3
3
3
4
3
3
4
3
3
4
3
3
5
4
4
4
3
3
5
4
4
5
4
4
5
3
4
4,5 4
5
5
3
4
5
4
5
3
3
3
3
3
3
3,5 3,5 4
3
3
3
3
4
3
4
4
5
3
4
4
3,5 4
5
3
4
4
4
4
5
RataRata
5
4
3,8
4
3,8
5
4,25
4
4
5
4,6
4
3,6
4
3,2
4
4
4
3,4
4
3,6
4
3,6
3
3,4
4
4,4
3
3,4
4
4,4
4
4,4
3
3,8
4,5
4,5
4
4
4
4,6
4
3,4
3
3,2
3
3,5
3
3,2
3
3,6
4
4,2
5
3,8
5
4,67
5
4
5
4,6
(%)
76
76
85
80
92
72
64
80
68
72
72
68
88
68
88
88
76
90
80
92
68
64
70
64
72
84
76
93
80
92
172
HASIL PERHITUNGAN LEMBAR OBSERVASI SISWA TAHAP 2
Kelompok
1
2
3
4
5
6
Tahapan Model
Inkuiri Terbimbing
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Merumuskan Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan Data
Analisis Data
Membuat Kesimpulan
Kode Siswa
1
2
3
4
5
5
4
5
5
5
4
4
4,5
5
5
4
4
5
5
5
5
4
4,5
4
5
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
5
5
5
5
5
4,5
4
4
4,5
5
5
4
3
4
3
4
3
3
4
4
5
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
3
3
3
4
4
4
4
4
5
4
4
5
5
5
4
4
4
4
5
4
4
4
4
4
4
4
4,5
4
4
4
4
5
4
5
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
4
4
4
4
4
4,5
5
5
4
4
4
4
4,5
4
5
5
4
5
5
5
4
4
4
4
4
4
4
5
5
5
5
5
RataRata
(%)
4,2
4,2
4,5
4,6
4,6
3,8
3,8
4
3,8
4,2
3,6
3,6
4,4
4,4
4,6
4,4
4,2
4,5
4
4
3,8
3,6
4,3
3,8
4,4
4,4
4,2
4,5
4,6
4,6
84
84
90
92
92
76
76
80
76
84
72
72
88
88
92
88
84
90
80
80
76
72
85
76
88
88
84
90
92
92
173
Rekapitulasi Hasil Perhitungan Lembar Observasi Siswa
Keterlaksanaan Tahapan Model Inkuiri Terbimbing
No.
Tahapan Model
Persentase (%)
Rata-
Kategori
Inkuiri Terbimbing
Tahap 1
Tahap 2
Rata
1
Merumuskan Masalah
76
81
79
Baik
2
Merumuskan Hipotesis
71
79
75
Baik
3
Mengumpulkan Data
84
87
86
Sangat Baik
4
Analisis Data
73
84
79
Baik
5
Membuat Kesimpulan
85
88
87
Sangat Baik
81,2
Sangat Baik
Rata-Rata Keseluruhan
174
Lampiran D1 : Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen (Pretest)
DISTRIBUSI FREKUENSI KELAS EKSPERIMEN (PRETEST)
1. Urutan nilai dari yang terkecil hingga terbesar
22
23
23
25
25
25
27
28
28
28
28
29
29
30
30
31
31
33
33
35
35
36
37
41
41
41
2. Banyak Kelas
Banyak kelas (K) = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 26
= 5,67 ≈ 5 (dibulatkan ke bawah)
3. Rentang Kelas
Rentang Kelas (R) = Data terbesar – Data terkecil
= 41 – 22
= 19
4. Panjang Kelas Interval
Panjang Kelas (P) =
=
= 3,8 ≈ 4 (dibulatkan ke atas)
5. Tabel Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen (Pretest)
Interval
Batas Batas
Bawah Atas
fi
xi
xi2
fi . xi
fi . xi2
fka
fkb
Frek
Frek
Absolut Relatif
22 – 25
21,5
25,5
6
23,5
552
141
3313.5
6
26
6
23,1
26 – 29
25,5
29,5
7
27,5
756
193
5293.8
13
20
7
26,9
30 – 33
29,5
33,5
6
31,5
992
189
5953.5
19
13
6
23,1
34 – 37
33,5
37,5
4
35,5
1260
142
5041
23
7
4
15,4
38 – 41
37,5
41,5
3
39,5
1560
119
4680.8
26
3
3
11,5
6. Median
Median (Me) = Tb + P│
│
175
n
= jumlah siswa
f
= frekuensi kelas median
F = jumlah semua frekuensi diatas kelas median
= 13
letak Me
=
Kelas median
= 26 – 29
Tb (tepi bawah)
= 25,5
f
=7
F
=6
Me = Tb + P│
│
= 25,5 + 4 │
│
= 29,5
7. Modus
Modus (Mo) = Tb + p │
│
Mo = nilai yang sering muncul
b1 = frekuensi kelas modus – frekuensi terdekat diatasnya
b2 = frekuensi kelas modus – frekuensi terdekat dibawahnya
kelas modus
= 26 – 29
Tb (tepi bawah)
= 25,5
P (panjang kelas) = 4
b1
=7–6=1
b2
=7–6=1
Mo = Tb + P │
= 25,5 + 4 │
= 25,5 + 2
= 27,5
│
│
176
Lampiran D2 : Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen (Posttest)
DISTRIBUSI FREKUENSI KELAS EKSPERIMEN (POSTTEST)
1. Urutan nilai dari yang terkecil hingga terbesar
55
55
58
61
61
61
67
69
69
70
70
73
73
73
75
75
78
78
84
84
84
84
84
88
88
90
2. Banyak Kelas
Banyak kelas (K) = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 26
= 5,67 ≈ 6 (dibulatkan ke atas)
3. Rentang Kelas
Rentang Kelas (R) = Data terbesar – Data terkecil
= 90 – 55
= 35
4. Panjang Kelas Interval
Panjang Kelas (P) =
=
= 5,83 ≈ 6 (dibulatkan ke bawah)
5. Tabel Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen (Pretest)
Batas
Batas
Bawah
Atas
55 – 60
54,5
60,5
3 57,5 3306 173
9918
3
26
3
11,54
61 – 66
60,5
66,5
3 63,5 4032 191
12097
6
23
3
11,54
67 – 72
66,5
72,5
5 69,5 4830 348
24151
11
20
5
19,23
73 – 78
72,5
78,5
7 75,5 5700 529
39902
18
15
7
26,92
79 – 84
79,5
84,5
5 81,5 6642 408
33211
23
8
5
19,23
85 – 90
84,5
90,5
3 87,5 7656 263
22969
26
3
3
11,54
Interval
fi
xi
xi2
fi . xi fi . xi2 fka fkb
Frek
Frek
Absolut Relatif
177
6. Median
Median (Me) = Tb + P│
│
n = jumlah siswa
f = frekuensi kelas median
F = jumlah semua frekuensi diatas kelas median
letak Me
=
= 13
Kelas median
= 73 – 78
Tb (tepi bawah)
= 72,5
f
=7
F
= 11
Me = Tb + P│
│
= 72,5 + 6 │
│
= 74
7. Modus
Modus (Mo) = Tb + p │
│
Mo = nilai yang sering muncul
b1 = frekuensi kelas modus – frekuensi terdekat diatasnya
b2 = frekuensi kelas modus – frekuensi terdekat dibawahnya
kelas modus
= 73 – 78
Tb (tepi bawah)
= 72,5
P (Panjang Kelas) = 6
b1
=7–5=2
b2
=7–5=2
Mo = Tb + P │
= 72,5 + 6 │
= 72,5 + 3
= 75,5
│
│
178
Lampiran D3 : Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol (Pretest)
DISTRIBUSI FREKUENSI KELAS KONTROL (PRETEST)
1. Urutan nilai dari yang terkecil hingga terbesar
25
27
27
27
27
27
27
27
28
28
28
29
31
33
33
33
35
36
37
39
39
39
40
40
41
42
2. Banyak Kelas
Banyak kelas (K) = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 26
= 5,67 ≈ 6 (dibulatkan ke atas)
3. Rentang Kelas
Rentang Kelas (R) = Data terbesar – Data terkecil
= 42 – 25
= 17
4. Panjang Kelas Interval
Panjang Kelas (P) =
=
= 2,83 ≈ 3 (dibulatkan ke atas)
5. Tabel Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen (Pretest)
Batas
Batas
Bawah
Atas
25 – 27
24,5
28 – 30
Frek
xi2
27,5
8 26
676
208
5408
8
26
8
30,8
27,5
30,5
4 29
841
116
3364
12
18
4
15,4
31 – 33
30,5
33,5
4 32
1024
128
4096
16
14
4
15,4
34 – 36
33,5
36,5
2 35
1225
70
2450
18
10
2
7,7
37 – 39
36,5
37,5
4 38
1444
152
5776
22
8
4
15,4
40 – 42
39,5
42,5
4 41
1681
164
6724
26
4
4
15,4
fi
fi . xi fi . xi2 fka fkb
Frek
xi
Interval
Absolut Relatif
179
6. Median
Median (Me) = Tb + P│
n
= jumlah siswa
f
= frekuensi kelas median
│
F = jumlah semua frekuensi diatas kelas median
letak Me
=
= 13
Kelas median
= 31 – 33
Tb (tepi bawah)
= 30,5
f
=4
F
= 12
Me = Tb + P│
│
= 30,5 + 3 │
│
= 31,25
7. Modus
Modus (Mo) = Tb + p │
│
b1 = frekuensi kelas modus – frekuensi terdekat diatasnya
b2 = frekuensi kelas modus – frekuensi terdekat dibawahnya
kelas modus
= 25 – 27
Tb (tepi bawah)
= 24,5
P (panjang kelas) = 3
b1
=8–0=8
b2
=8–4=4
Mo = Tb + P │
= 24,5 + 3│
= 24,5 + 2
= 26,5
│
│
180
Lampiran D4 : Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol (Posttest)
DISTRIBUSI FREKUENSI KELAS KONTROL (POSTTEST)
1. Urutan nilai dari yang terkecil hingga terbesar
40
40
42
43
45
47
47
51
52
52
52
55
55
57
57
57
63
63
63
66
73
76
77
77
81
81
2. Banyak Kelas
Banyak kelas (K) = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 26
= 5,67 ≈ 6 (dibulatkan ke atas)
3. Rentang Kelas
Rentang Kelas (R) = Data terbesar – Data terkecil
= 81 – 40
= 41
4. Panjang Kelas Interval
Panjang Kelas (P) =
=
= 6,83 ≈ 7 (dibulatkan ke atas)
5. Tabel Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen (Pretest)
Batas
Batas
Bawah
Atas
40 – 46
39,5
47 – 53
fi . xi fi . xi2 fka fkb
Frek
Frek
fi
xi
xi2
46,5
5
43
1849
215
9245
5
26
5
19,2
46,5
53,5
6
50
2500
300
15000 11
21
6
23,1
54 – 60
53,5
60,5
5
57
3249
285
16245 16
15
5
19,2
61 – 67
60,5
67,5
4
64
4096
256
16384 20
10
4
15,4
68 – 74
67,5
74,5
1
71
5041
71
5041
21
6
1
3,9
75 – 81
74,5
81,5
5
78
6084
390
30420 26
5
5
19,2
Interval
Absolut Relatif
181
6. Median
Median (Me) = Tb + P│
│
n = jumlah siswa
f = frekuensi kelas median
F = jumlah semua frekuensi diatas kelas median
letak Me
=
= 13
Kelas median
= 54 – 60
Tb (tepi bawah)
= 53,5
f
=5
F
= 11
Me = Tb + P│
│
= 53,5+ 7 │
│
= 56,3
7. Modus
Modus (Mo) = Tb + p │
│
b1 = frekuensi kelas modus – frekuensi terdekat diatasnya
b2 = frekuensi kelas modus – frekuensi terdekat dibawahnya
kelas modus
= 47 – 53
Tb (tepi bawah)
= 46,5
P (panjang kelas) = 7
b1
=6–5=1
b2
=6–5=1
Mo = Tb + P │
= 46,5 + 7 │
= 46,5 + 3,5
= 50
│
│
182
Lampiran D5 : Uji Normalitas Kelas Eksperimen (Pretest)
Tabel Persiapan Uji Normalitas Kelas Eksperimen (Pretest)
2
22
23
25
27
28
29
30
31
33
35
36
37
41
Jumlah
1
2
3
1
4
2
2
2
2
2
1
1
3
26
484
529
625
729
784
841
900
961
1089
1225
1296
1369
1681
12513
2
22
46
75
27
112
58
60
62
66
70
36
37
123
794
1. Menentukan Mean
Mean (
=
= 30,54
2. Menentukan Varians
Si2 =
=
=
= 30,98
3. Menentukan Standar Deviasi (Simpangan Baku)
S=
484
1058
1875
729
3136
1682
1800
1922
2178
2450
1296
1369
5043
25022
183
=
= 5,57
Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen (Pretest)
Perhitungan uji normalitas menggunakan uji liliefors dengan (α) 5% (0,05).
xi
22
23
25
27
28
29
30
31
33
35
36
37
41
fi
1
2
3
1
4
2
2
2
2
2
1
1
3
zi
-1,533
-1,354
-0,995
-0,636
-0,456
-0,277
-0,097
0,083
0,442
0,801
0,98
1,16
1,878
L0(hitung)
L(tabel)
f(zi)
0,063
0,088
0,16
0,263
0,324
0,391
0,461
0,533
0,671
0,788
0,837
0,877
0,97
s(zi)
0,039
0,115
0,231
0,269
0,423
0,5
0,577
0,654
0,731
0,808
0,846
0,885
1
│f(z)-s(z)|
0,024
0,028
0,071
0,007
0,099
0,109
0,116
0,121
0,06
0,019
0,01
0,008
0,03
0,121
0,173
o Menentukan
o Berdasarkan tabel uji normalitas di dapat harga L0(hitung) = 0,121
o Menentukan Ltabel:
Dari harga kritis Uji Liliefors untuk n = 26 dan α = 0,05 di dapat harga Ltabel =
0,886
= 0,173
26
o Kriteria pengujian:
Diterima H0 jika L0(hitung) < Ltabel (0,121 < 0,173).
Maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima. Dengan demikian data pretest
kelas eksperimen berdistribusi normal.
184
Lampiran D6 : Uji Normalitas Kelas Eksperimen (Posttest)
Tabel Persiapan Uji Normalitas Kelas Eksperimen (Posttest)
2
2
55
2
3025
110
6050
58
1
3364
58
3364
61
3
3721
183
11163
67
1
4489
67
4489
69
2
4761
138
9522
70
2
4900
140
9800
73
3
5329
219
15987
75
2
5625
150
11250
78
2
6084
156
12168
84
5
7056
420
35280
88
2
7744
176
15488
90
1
8100
90
8100
Jumlah
26
64198
1907
142661
1. Menentukan Mean
Mean (
=
= 73,35
2. Menentukan Varians
Si2 =
=
=
= 111,60
3. Menentukan Standar Deviasi (Simpangan Baku)
S=
185
=
= 10,56
Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen (Posttest)
Perhitungan uji normalitas menggunakan uji liliefors dengan (α) 5% (0,05).
xi
55
58
61
67
69
70
73
75
78
84
88
90
fi
2
1
3
1
2
2
3
2
2
5
2
1
zi
-1,738
-1,454
-1,16
-0,601
-0,412
-0,317
-0,033
0,156
0,44
1,009
1,387
1,577
L0(hitung)
L(tabel)
f(zi)
0,041
0,073
0,121
0,274
0,34
0,376
0,487
0,562
0,67
0,843
0,917
0,943
s(zi)
0,077
0,115
0,231
0,269
0,346
0,423
0,538
0,615
0,692
0,885
0,962
1
│f(z)-s(z)|
0,036
0,042
0,110
0,005
0,006
0,048
0,052
0,053
0,022
0,041
0,044
0,057
0,110
0,173
o Menentukan Zi
o Berdasarkan tabel uji normalitas di dapat harga L0(hitung) = 0,110
o Menentukan Ltabel:
Dari harga kritis Uji Liliefors untuk n = 26 dan α = 0,05 di dapat harga Ltabel =
0,886
= 0,173
26
o Kriteria pengujian:
Diterima H0 jika L0(hitung) < Ltabel (0,110 < 0,173).
Maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima. Dengan demikian data posttest
kelas eksperimen berdistribusi normal.
186
Lampiran D7 : Uji Normalitas Kelas Kontrol (Pretest)
Tabel Persiapan Uji Normalitas Kelas Kontrol (Pretest)
2
25
27
28
29
31
33
35
36
37
39
40
41
42
Jumlah
1
7
3
1
1
3
1
1
1
3
2
1
1
26
625
729
784
841
961
1089
1225
1296
1369
1521
1600
1681
1764
15485
2
25
189
84
29
31
99
35
36
37
117
80
41
42
845
1. Menentukan Mean
Mean (
=
= 32,5
2. Menentukan Varians
Si2 =
=
=
= 31,38
3. Menentukan Standar Deviasi (Simpangan Baku)
S=
625
5103
2352
841
961
3267
1225
1296
1369
4563
3200
1681
1764
28247
187
=
= 5,60
Perhitungan Uji Normalitas Kelas Kontrol (Pretest)
Perhitungan uji normalitas menggunakan uji liliefors dengan (α) 5% (0,05).
xi
25
27
28
29
31
33
35
36
37
39
40
41
42
fi
1
7
1
2
2
3
1
1
1
3
2
1
1
zi
-1.339
-0.982
-0.804
-0.625
-0.268
0.089
0.446
0.625
0.804
1.161
1.339
1.518
1.696
L0(hitung)
L(tabel)
f(zi)
0.09
0.163
0.211
0.266
0.394
0.536
0.672
0.734
0.789
0.877
0.91
0.935
0.955
s(zi)
0.038
0.308
0.346
0.423
0.5
0.615
0.654
0.692
0.731
0.846
0.923
0.962
1
│f(z)-s(z)|
0.052
0.145
0.135
0.157
0.106
0.08
0.019
0.042
0.058
0.031
0.013
0.026
0.045
0,157
0,173
o Menentukan Zi
Zi =
Xi  X
S
o Berdasarkan tabel uji normalitas di dapat harga L0(hitung) = 0,157
o Menentukan Ltabel:
Dari harga kritis Uji Liliefors untuk n = 26 dan α = 0,05 di dapat harga Ltabel =
0,886
= 0,173
26
o Kriteria pengujian:
Diterima H0 jika L0(hitung) < Ltabel (0,157 < 0,173).
Maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima. Dengan demikian data pretest
kelas kontrol berdistribusi normal.
188
Lampiran D8 : Uji Normalitas Kelas Kontrol (Posttest)
Tabel Persiapan Uji Normalitas Kelas Kontrol (Posttest)
2
40
42
43
45
47
51
52
55
57
63
66
73
76
77
81
Jumlah
2
1
1
1
2
1
3
2
3
3
1
1
1
2
2
26
1600
1764
1849
2025
2209
2601
2704
3025
3249
3969
4356
5329
5776
5929
6561
52946
2
80
42
43
45
94
51
156
110
171
189
66
73
76
154
162
1512
1. Menentukan Mean
Mean (
=
= 58,15
2. Menentukan Varians
S2 =
=
=
= 167,42
3. Menentukan Standar Deviasi (Simpangan Baku)
S=
3200
1764
1849
2025
4418
2601
8112
6050
9747
11907
4356
5329
5776
11858
13122
92114
189
=
= 12,94
Perhitungan Uji Normalitas Kelas Kontrol (Posttest)
Perhitungan uji normalitas menggunakan uji liliefors dengan (α) 5% (0,05).
xi
40
42
43
45
47
51
52
55
57
63
66
73
76
77
81
fi
2
1
1
1
2
1
3
2
3
3
1
1
1
2
2
zi
-1.403
-1.248
-1.171
-1.016
-0.862
-0.553
-0.475
-0.243
-0.089
0.375
0.607
1.148
1.379
1.457
1.766
L0(hitung)
L(tabel)
f(zi)
0.08
0.106
0.121
0.155
0.194
0.29
0.317
0.404
0.465
0.646
0.728
0.874
0.916
0.927
0.961
s(zi)
0.077
0.115
0.154
0.192
0.269
0.308
0.423
0.5
0.615
0.731
0.769
0.808
0.846
0.923
1
│f(z)-s(z)|
0.003
0.009
0.033
0.038
0.075
0.017
0.106
0.096
0.151
0.085
0.041
0.067
0.07
0.004
0.039
0,151
0,173
o Menentukan Zi
Zi =
Xi  X
S
o Berdasarkan tabel uji normalitas di dapat harga L0(hitung) = 0,151
o Menentukan Ltabel:
Dari harga kritis Uji Liliefors untuk n = 26 dan α = 0,05 di dapat harga Ltabel =
0,886
= 0,173
26
o Kriteria pengujian:
Diterima H0 jika L0(hitung) < Ltabel (0,151< 0,173).
Maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima. Dengan demikian data pretest
kelas kontrol berdistribusi normal.
190
Lampiran D9 : Uji Homogenitas Pretest
UJI HOMOGENITAS PRETEST
Perhitungan uji homogenitas yang digunakan adalah uji homogenitas
dengan varians terbesar disbanding varians terkecil atau uji Fisher. Rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut:
dimana S2 =
Langkah–langkah pengujian :
1. H0 = sampel homogen
Ha = sampel tidak homogen
2. Kriteria Pengujian
-
Jika Fhitung ≤ Ftabel maka H0 diterima, yang berarti varians dua populasi
homogen
-
Jika Fhitung ≥ Ftabel maka H0 ditolak, yang berarti varians dua populasi tidak
homogen
3. Mencari varians masing-masing
-
Kelas eksperimen diperoleh varians S2 = 30,98
-
Kelas kontrol diperoleh varians S2 = 31,38
4. Tentukan F hitung
=
= 1,01
5. Tentukan dk pembilang ( varians terbesar) dan dk penyebut ( varians terkecil)
db1 = n-1 = 26 – 1 = 25
db2 = n-1 = 26 – 1 = 25
6. Harga
selanjutnya dibandingkan dengan Ftabel dengan
= 0.05.
Ftabel dengan dk pembilang 25 dan dk penyebut 25 pada taraf signifikansi 5%
adalah 1,96.
7. Kesimpulan
Harga Fhitung (1,01) < Ftabel (1,96) maka H0 diterima. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa varians kedua populasi homogen.
191
Lampiran D10 : Uji Homogenitas Posttest
UJI HOMOGENITAS POSTTEST
Perhitungan uji homogenitas yang digunakan adalah uji homogenitas
dengan varians terbesar disbanding varians terkecil atau uji Fisher. Rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut:
dimana S2 =
Langkah–langkah pengujian :
1. H0 = sampel homogen
Ha = sampel tidak homogen
2. Kriteria Pengujian
-
Jika Fhitung ≤ Ftabel maka H0 diterima, yang berarti varians dua populasi
homogen
-
Jika Fhitung ≥ Ftabel maka H0 ditolak, yang berarti varians dua populasi tidak
homogen
3. Mencari varians masing-masing
-
Kelas eksperimen diperoleh varians S2 = 111,6
-
Kelas kontrol diperoleh varians S2 = 167,42
4. Tentukan F hitung
=
= 1,50
5. Tentukan dk pembilang ( varians terbesar) dan dk penyebut ( varians terkecil)
dk1 = n – 1 = 26 – 1 = 25
dk2 = n – 1 = 26 – 1 = 25
6. Harga
selanjutnya dibandingkan dengan Ftabel dengan
= 0.05.
Ftabel dengan dk pembilang 25 dan dk penyebut 25 pada taraf signifikansi 5%
adalah 1,96.
7. Kesimpulan
Harga Fhitung (1,50) < Ftabel (1,96) maka H0 diterima. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa varians kedua populasi homogen.
192
Lampiran D11 : Uji Hipotesis Pretest
UJI HIPOTESIS PRETEST
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji-t, berikut ini
adalah langkah-langkah perhitungannya:
1.
Hipotesis penelitian
H0 = Tidak terdapat perbedaan hasil pretest antara siswa kelas eksperimen
dengan siswa kelas kontrol.
Ha = Terdapat perbedaan hasil pretest antara siswa kelas eksperimen dengan
siswa kelas kontrol.
2.
3.
Mean dan varians (S2)
-
Kelas eksperimen diperoleh mean = 30,54 dan varians (S2) = 30,98
-
Kelas kontrol diperoleh mean = 32,50 dan varians (S2) = 31,38
Menentukan harga thitung
Untuk pengujian hipotesis penelitian digunakan rumus :
thitung =
Dimana :
Sg=
Sg=
Sg=
Sg=
Sg= 5,58
Maka didapat thitung :
thitung =
193
thitung =
thitung =
thitung = −1,27
4.
Menentukan harga ttabel
Derajat kebebasan (dk) = n1 + n2 – 2 = 26 + 26 – 2 = 50
Untuk hipotesis satu ekor, pada taraf signifikan (α) = 0,05 maka diperoleh
ttabel = 1,68
5.
Kriteria pengujian
Jika thitung < ttabel maka H0 diterima
Jika thitung > ttabel maka Ha diterima
6.
Kesimpulan
Dari hasil perhitungan di atas, ternyata thitung (−1,27) ≤ ttabel (1,68) maka H0
diterima, dengan demikian hipotesis alternatif (Ha) ditolak. Dengan kata lain
tidak terdapat perbedaan terhadap hasil pretest antara siswa kelas
eksperimen dengan siswa kelas kontrol.
194
Lampiran D12 : Uji Hipotesis Posttest
UJI HIPOTESIS POSTTEST
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji-t, berikut ini
adalah langkah-langkah perhitungannya:
1. Hipotesis penelitian
H0 = Tidak terdapat perbedaan hasil pretest antara siswa kelas eksperimen
dengan siswa kelas kontrol.
Ha = Terdapat perbedaan hasil pretest antara siswa kelas eksperimen dengan
siswa kelas kontrol.
2.
3.
Mean dan varians (S2)
-
Kelas eksperimen diperoleh mean = 73,35 dan varians (S2) = 111,60
-
Kelas kontrol diperoleh mean = 58,15 dan varians (S2) = 167,42
Menentukan harga thitung
Untuk pengujian hipotesis penelitian digunakan rumus :
thitung =
Dimana :
Sg=
Sg=
Sg=
Sg=
Sg= 11,81
Maka didapat thitung :
thitung =
195
thitung =
thitung =
thitung = 4,64
4.
Menentukan harga ttabel
Derajat kebebasan (dk) = n1 + n2 – 2 = 26 + 26 – 2 = 50
Pada taraf signifikan (α) = 0,05 maka diperoleh ttabel = 1,68
5.
Kriteria pengujian
Jika thitung < ttabel maka H0 diterima
Jika thitung > ttabel maka Ha diterima
6.
Kesimpulan
Dari hasil perhitungan di atas, ternyata thitung (4,64 ) > ttabel (1,68) maka H0
ditolak, dengan demikian hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dengan kata lain
terdapat perbedaan terhadap hasil posttest antara siswa kelas eksperimen
dengan siswa kelas kontrol.
196
Lampiran E : Foto-Foto Dokumentasi Kegiatan Penelitian
Guru menjelaskan ketentuan dalam
pembelajaran
Siswa mengerjakan LKS dibawah
bimbingan guru
Observer melakukan pengamatan aktivitas siswa terhadap keterlaksanaan
tahapan model inkuiri terbimbing selama proses pembelajaran
Siswa bersama kelompoknya
mempersiapkan percobaan
Siswa bekerjasama melakukan
percobaan uji sifat larutan garam
197
Siswa bekerjasama melakukan
percobaan uji pH larutan garam
Siswa mencatat hasil percobaan
selanjutnya melakukan analisis data
Percobaan uji sifat larutan garam
dengan kertas lakmus
Percobaan uji pH larutan garam
dengan indikator universal
Siswa kelas eksperimen mengisi tes
kemampuan berpikir kreatif
Siswa kelas kontrol mengisi tes
kemampuan berpikir kreatif
UJI REFERENSI
Nama
: Irma Idrisah
NIM
: 108016200002
Prodi/Semester
: Pendidikan Kimia/XII
Judul Skripsi
: Pengaruh Model Inkuiri Terhadap Kemampuan
Berpikir Kreatif Siswa
No.
Paraf Pembimbing
Referensi
I
BAB I
1
Paul Suparno, Metodologi Pembelajaran Fisika, (Cet.
1; Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2007), h. 9
2
Moh. Amien, Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) Dengan Menggunakan Metode “Discovery” dan
“Inquiry”, (Jakarta: P2LPTK, 1987), h. 175
3
Tatag Yuli E. S, Jurnal Pendidikan Matematika dan
Sains
Tahun X, No. 1; Upaya Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Melalui Pengajuan
Masalah, (Yogyakara: FMIPA Unesa, 2005), h. 6
4
Wiwik Haryani & Purwandhi, Jurnal BORNEO, Vol. 1
No. 1; Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran
Berpikir, (Bandung: FKIP Unmul, 2007), h. 12
5
Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning
Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan
dan Bermakna, (Bandung: MCC, 2006), h. 218
6
Utami
Munandar,
Mengembangkan
Bakat
dan
Kreativitas Anak Sekolah Petunjuk Bagi Para Guru dan
Orang Tua (Cet. 3; Jakarta: PT Grasindo, 1999), h. 45
7
Moh. Amien, Mengajarkan ............... h. 170
II
8
Zulfiani dkk, Strategi Pembelajaran Sains, (Cet. 1;
Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 46
9
Ramadhan Witarsa, 38 ISSN 1412-565X Edisi Khusus
No. 2; Analisis Kemampuan Inkuiri Guru Yang Sudah
Tersertifikasi
dan
Belum
Tersertifikasi
Dalam
Pembelajaran Sains SD, (Agustus 2011), h. 38
10
Moh. Amien, Mengajarkan ............... h. 173
11
Zulfiani dkk, Strategi ............... h. 47
12
Paul Suparno, Metodologi ............... h. 65
13
Yuli Nurul Fauziah, Analisis Kemampuan Guru dalam
Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa
Sekolah Dasar Kelas V Pada Pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam, (Bandung: UPI, 2011), h. 98
14
Kardius Richi Yosada, VOX Edukasi vol.1 No.1; Model
Pembelajaran Inkuiri Sosial dalam Mengembangkan
Berpikir Kreatif Siswa pada Bidang Studi IPS Ekonomi
Melalui Isu-isu Ekonomi Kontemporer, (Maret 2010), h.
52
BAB II
1
Sofan
Amri
dan
Iif
Khoiru
Ahmadi,
Proses
Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas, (Cet.
1; Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2010), h. 85
2
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan
Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Cet. 8;
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 108
3
Zulfiani dkk, Strategi Pembelajaran Sains, (Cet. 1;
Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 119
4
Retno Dwi Suyanti, Strategi Pembelajaran Kimia, (Cet.
1; Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h. 43
5
Zulfiani dkk, Strategi ............... h. 119
6
Paul Suparno, Metodologi Pembelajaran Fisika, (Cet.
1; Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2007), h. 65
7
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, Proses.......... h. 85
8
Zulfiani dkk, Strategi ............... h. 121-122
9
Paul Suparno, Metodologi ............... h.68
10
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, Proses.......... h. 89
11
Suherli Kusmana, Model ................ h. 49
12
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, Proses .......... h. 89
13
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, Proses ..... h. 89-90
14
Retno Dwi Suyanti, Strategi ............... h. 46-48
15
Paul Suparno, Metodologi............... h. 65-66
16
Trianto,
Model-model
Pembelajaran
Inovatif
Berorientasi Konstruktivistik, (Cet. 1; Jakarta: Prestasi
Pustaka Publisher, 2007), h. 137-138
17
Suherli Kusmana, Model ................ h. 56-57
18
Retno Dwi Suyanti, Strategi ............... h. 45
19
Retno Dwi Suyanti, Strategi ............... h. 44
20
Roestiyah N.K., Strategi Belajar Mengajar, (Cet. 7;
Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 77-79
21
Roestiyah N.K., Strategi Belajar…………… h. 79
22
Roestiyah N.K., Strategi Belajar…………… h. 76-77
23
Edward De Bono, Mengajar Berpikir, (Cet 2; Jakarta:
Erlangga, 1992), h. 34
24
Edward De Bono, Mengajar Berpikir ............... h. 36
25
W.J.S.
Poerwadarminta,
Kamus
Umum
Bahasa
Indonesia, (Cet 5; Jakarta: PN Balai Pustaka, 1976), h.
526
26
Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning
Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan
dan Bermakna, (Bandung: MCC, 2006), h. 214-215
27
Amal
Abdussalam
Al-Khalili,
Mengembangkan
Kreativitas Anak, (Cet. 1; Jakarta: Pusaka Al-Kautsar,
2005), h. 37
28
Elaine B. Johnson, Contextual ............... h. 218
29
Elaine B. Johnson, Contextual ............... h. 222
30
Moh. Amien, Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) Dengan Menggunakan Metode “Discovery” dan
“Inquiry”, (Jakarta: P2LPTK, 1987), h. 166
31
Utami
Munandar,
Mengembangkan
Bakat
dan
Kreativitas Anak Sekolah Petunjuk Bagi Para Guru dan
Orang Tua (Cet. 3; Jakarta: PT Grasindo, 1999), h. 47
32
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 47
33
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 48
34
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 48
35
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 50
36
Moh. Amien, Mengajarkan ............... h. 170
37
Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak
Berbakat, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 73
38
Utami Munandar, Pengembangan ............... h. 10
39
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 88
40
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 88
41
Amal
Abdussalam
Al-Khalili,
Mengembangkan
Kreativitas ............... h. 176
42
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 88
43
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 88-89
44
Amal
Abdussalam
Al-Khalili,
Mengembangkan
Kreativitas............... h. 177
45
Amal
Abdussalam
Al-Khalili,
Mengembangkan
Kreativitas ............... h. 177
46
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 89
47
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 89
48
Amal
Abdussalam
Al-Khalili,
Mengembangkan
Kreativitas ............... h. 178
49
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 89-90
50
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 90
51
Amal
abdussalam
Al-Khalili,
Mengembangkan
Kreativitas ............... h. 179
52
Utami Munandar, Mengembangkan ............... h. 90
53
Elaine B. Johnson, Contextual ............... h. 215
54
Elaine B. Johnson, Contextual ............... h. 221
55
Elaine B. Johnson, Contextual ............... h. 217
56
Utami Munandar, Pengembangan ...............h. 223
57
Maria Suharsini dan Dyah Saptarini, Kimia dan
Kecakapan Hidup Pelajaran Kimia untuk SMA/MA,
(Cet 1; Jakarta: Ganeca Exact, 2007) h. 244
58
Sandri Justiana dan Muchtaridi, Kimia 2, (Cet 2;
Yudhistira, 2009), h. 195
59
Omay Sumarna dkk, Kimia untuk SMA/MA Kelas XI,
(Cet 1; Bogor: Regina, 2006), h. 251
60
Sandri Justiana dan Muchtaridi, Kimia 2 ………. h. 195
61
Sandri Justiana dan Muchtaridi, Kimia 2 ………. h. 195
62
Omay Sumarna dkk, Kimia untuk…………… h. 253
63
Sandri Justiana dan Muchtaridi, Kimia 2 ………. h. 195
64
Sandri Justiana dan Muchtaridi, Kimia 2 ………. h. 196
65
Sandri Justiana dan Muchtaridi, Kimia 2 ………. h. 196
66
Omay Sumarna dkk, Kimia untuk …………… h. 252
67
Sandri Justiana dan Muchtaridi, Kimia 2 ….. h. 197-199
68
Omay Sumarna dkk, Kimia untuk …………… h. 267
69
Ida Bagus Putu Arnyana, Jurnal Pendidikan dan
Pengajaran IKIP No. 3 Th, XXXIX, ISSN 0215-8250;
Pengaruh
Penerapan Strategi Pembelajarn Inovatif
Pada Pembelajaran Biologi Terhadap Kemampuan
Berpikir Kreatif Siswa SMA, (Singaraja: Fakultas
Pendidikan MIPA, 2006)
70
Hartanto, Jurnal Kependidikan Triadik vol. 14, no. 1;
Mengembangkan
Kreaivitas
Siswa
Melalui
Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Inkuiri,
(Bengkulu: FKIP Universitas Bengkulu, 2011)
71
Tatag Yuli E. S, Jurnal Pendidikan Matematika dan
Sains
Tahun X, No. 1; Upaya Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa melalui Pengajuan
Masalah, (Yogyakara: FMIPA Unesa, 2005)
72
Awaludin, Dosen tetap di FKIP Unhalu. Ringkasan
Penelitian. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif
Matematis pada Siswa dengan Kemampuan Matematis
Rendah Melalui Pembelajaran Open-Ended dengan
Pemberian
Tugas
Tambahan,
dapat
diakses
di
http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tam
pil&id=10330, 24/04/2014. 17:19 WIB.
BAB III
1
Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian
Pendidikan (Cet. 5; Bandung: Sinar Baru Algensindo,
2009), h. 44
2
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Cet ke-15; Bandung:
Alfabeta, 2012), h. 116
3
Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian ............... h. 44
4
Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian ............... h. 44
5
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk GuruKaryawan dan Peneliti Pemula (Cet. VI; Bandung:
ALFABETA, 2009), h. 54
6
Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian ............... h. 85
7
Riduwan, Belajar ............... h. 63
8
Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian ...............h. 12
9
Nana Sudjanadan Ibrahim, Penelitian ...............h. 12
10
Riduwan, Belajar............... h. 70
11
Riduwan, Belajar............... h. 69
12
Riduwan, Belajar............... h. 76
13
Riduwan, Belajar............... h. 76
14
Zikri Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri
dan Lingkungan (Cet. 2; Jakarta: Kizi Brother’s, 2008),
h. 36
15
Nana
Sudjana,
Penilaian
Hasil
Proses
Belajar
Mengajar, (Cet. 14; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2009), h. 12
16
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan
(Cet. 10; Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 64-65
17
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar............... h. 72
18
Nana Sudjana, Penilaian............... h. 16
19
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar............... h.109
20
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar............... h. 207
21
Zainal
Arifin,
Evaluasi
Pembelajaran,
(Cet.
3;
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 272
22
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran …………. h. 272
23
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar............... h. 211
24
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran …………. h. 273
25
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran …………. h. 274
26
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar ............... h. 65
27
Sudjana, Metode Statistika, (Bandung: Tarsito, 2005),
h. 466-467
28
Riduwan, Belajar ............... h. 120
29
Subana, dkk., Statistik Pendidikan (Cet. 10; Bandung:
CV Pustaka Setia, 2000), h. 171-173
30
Riduwan, Belajar ............... h. 88
31
Riduwan, Belajar ............... h. 89
BAB IV
1
Sofan
Amri
dan
Iif
Khoiru
Ahmadi,
Proses
Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas, (Cet.
1; Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2010), h. 95
2
Moh. Amin, Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) Dengan Menggunakan Metode “Discovery” dan
“Inquiry”, (Jakarta: P2LPTK, 1987), h. vii
3
Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak
Berbakat (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 11
4
Retno Dwi Suyanti, Strategi Pembelajaran Kimia, (Cet.
1; Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h. 44
5
Masnur
Muslich,
KTSP
Pembelajaran
Berbasis
Kompetensi dan Kontekstual (Cet. 6; Jakarta: PT Bumi
Aksara, 2009), h. 75
6
Sofan Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, Proses .......... h. 94
7
Retno Dwi Suyanti, Strategi ............... h. 44
Jakarta,
April 2014
Yang Mengesahkan,
Pembimbing I
Pembimbing II
Dedi Irwandi, M.Si
NIP: 19710528 200003 1 002
Burhanudin Milama, M.Pd
NIP: 19770201 200801 1 011
Download