Model Manajemen Konflik dalam Pengelolaan Kebun Binatang

advertisement
Kebijakan dan Manajemen Publik
ISSN 2303 - 341X
Volume 1, Nomor 1, Februari 2014
Model Manajemen Konflik dalam
Pengelolaan Kebun Binatang Surabaya
Moh. Afif1
Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga
Abstract
Nowadays, the internal conflict which occurred in Surabaya Zoo has already turned into the external conflict and has involved many
parties. Up to now, this conflict is still ongoing and it gives bad effects to the management and also the image of Surabaya Zoo itself.
However, Surabaya Zoo has been showing the better condition since it is taken over by the local government and managed by the
regional company of Wildlife park “KBS”. The result of this study is that the background of the conflict which occurs in Surabaya
Zoo is the concerns of the actor that involve in the conflict, such as the economic and political motive. Generally, that conflict gives
the dysfunctional impact. Because of that on going conflict, the permit of KBS conservation institution is revoked by the ministry of
forestry, so KBS can not implement the policies crucially yet. While for the resolution of the conflict, the parties that involve in this
conflict tend to use the competition model (win and lose solution), where self-regulation style is applied in its process, as well as the
intervention of the third-party through the courts and the legislative approaches.
Key words: Conflicts, Conflict Management, Surabaya Zoo
Pendahuluan
Keberadaan konflik dalam suatu organisasi
tidak dapat dihindarkan, dengan kata lain bahwa
konflik selalu hadir dan tidak dapat dielakkan. Istilah
konflik memiliki berbagai pengertian, setiap ahli
mengemukakan definisi yang berbeda. Akan tetapi dari
beberapa pendapat tentang konflik terdapat dua hal
yang esensial, yaitu: (1) adanya perbedaan, (2)
ketidaksesuaian.
Perbedaan-perbedaan
dan
ketidaksesuaian dapat terjadi karena adanya perbedaan
pandangan, hasrat (keinginan, persepsi, nilai, maupun
tujuan, baik antara individu dengan individu, individu
dengan kelompok, maupun kelompok dengan
kelompok. konflik dapat didefinisikan sebagai suatu
interaksi yang dimanifestasikan dalam ketidakcocokan
pendapat atau adanya perbedaan sesuatu diantara dua
kesatuan sosial yang terdiri dari individu-individu,
kelompok atau organisasi (Hanson 1991 dalam
Pasolong 2008:172).
Konflik dalam konteks kebijakan, penerapan
sebuah kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah
memiliki dimensi yang sangat kompleks. Pengalaman
menunjukan bahwa penerapan kebijakan cenderung
melibatkan berbagai aktor yang memiliki kepentingan
dengan target group atau penerima keputusan.
Karenanya tidak mudah menerapkan kebijakan yang
sarat dengan kepentingan. Ada konflik yang potensial
yang mengemuka dari serangkaian tindakan para aktor
pelaksana bila kepentingan itu tidak tercapai.
Sebaliknya kebijakan yang memiliki derajat
kepentingan yang rendah oleh masing-masing aktor
lebih mudah untuk diterapkan.
Parson
(2005:247)
mendefenisikan
pengambilan kebijakan (decision making) berada di
antara perumusan kebijakan dan implementasi, akan
tetapi kedua hal tersebut saling terkait satu sama lain.
Implementasi tahap awal akan mempengaruhi tahap
pembuatan kebijakan selanjutnya yang pada gilirannya
akan mempengaruhi implementasi berikutnya. Lebih
lanjut Parson mendefenisikan pembuatan kebijakan
sebagi proses penentuan pilihan atau pemilihan opsiopsi, maka gagasan tentang kebijakan akan
menyangkut satu poin atau serangkaian poin dalam
ruang dan waktu ketika pembuat kebijakan
mengalokasikan nilai-nilai (values). Pada akhirnya
dapat dikatakan bahwa setiap kebijakan itu bertolak
dari beberapa kemungkinan atau alternatif untuk
dipilih. Setiap alternatif membawa konsekuensikonsekuensi.
Apabila
memperhatikan
konsekuensikonsekuensi yang muncul sebagai akibat dari suatu
kebijakan, hampir dapat dikatakan bahwa tidak akan
ada satu pun kebijakan yang akan menyenangkan
setiap orang. Satu kebijakan hanya bisa memuaskan
sekelompok atau sebagian besar orang. Selalu ada saja
kelompok atau pihak yang merasa dirugikan dengan
kebijakan itu, sehingga ini akan menimbulkan konflik
dalam implementasinya. Ini berarti sejumlah alternatif
itu berbeda satu dengan yang lain mengingat perbedaan
dari
konsekuensi-konsekuensi
yang
akan
ditimbulkannya. Pilihan yang dijatuhkan pada alternatif
itu harus dapat memberikan kepuasan karena kepuasan
merupakan salah satu aspek paling penting dalam
kebijakan.
Terjadinya konflik dalam organisasi atau
birokrasi tidak terjadi secara otomatis, tetapi
disebabkan oleh berbagai jenis kondisi yang terdapat
dalam organisasi sebagai sumber konflik. Kondisikondisi ini merupakan suatu kondisi yang didalamnya
berisi rangkaian kemungkinan yang menjadi kondisi
1
Kebijakan dan Manajemen Publik
ISSN 2303 - 341X
Volume 1, Nomor 1, Februari 2014
pemula (antecedent conditions) terjadinya konflik.
Berbagai
kemungkinan
tersebut
yaitu:
(1)
ketidakpuasan, (2) adanya tujuan dan berbagai sistem
nilai yang berbeda-beda, (3) berbagai hambatan
komunikasi, (4) manusia dan perilakunya, (5) struktur
organisasi dan tugas pokok dan fungsi. Sumber-sumber
konflik organisasi akan sangat bervariasi, hal ini sangat
tergantung dari karakteristik internal dan eksternal
organisasi (Wahjosumidjo 1987 dalam Pasolong
2008:173).
Tindakan penanganan yang cepat dan tepat
oleh pemimpin sangat dibutuhkan mengingat
keberadaan dan pengaruh konflik dalam organisasi,
agar tidak mengganggu atau berpengaruh lebih jauh
terhadap kinerja yang dimiliki pegawai. Tindakan yang
mengarah pada tindakan-tindakan efektif dan efisien
yang perlu diambil oleh seorang pimpinan untuk
menyelesaikan konflik sebelum mempengaruhi
produktivitas organisasi. Pengambilan tindakan ini
disebut manajemen konflik.
Di Indonesia masalah manajemen konflik
umum terjadi di organisasi publik maupun organisasi
privat. Hal tersebut tentunya akan berpengaruh
terhadap kelancaran pengelolaan organisasi, sehingga
produktivitas organisasipun akan menurun jika tidak
di tangani dengan benar. Salah satu masalah
manajemen konflik yang akan dicermati peneliti, yaitu
di Kebun Binatang Surabaya.
Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota
Surabaya Nomor 19 Tahun 2012 menyatakan bahwa
Kebun Binatang Surabaya yang berdiri sejak tahun
1916 merupakan wahana konservasi tumbuhan maupun
satwa, sarana pendidikan, penelitian dan rekreasi serta
sebagai salah satu icon Kota Surabaya, sehingga
keberadaan Kebun Binatang Surabaya perlu
dipertahankan dan dijaga kelestariannya serta dikelola
secara profesional. Untuk itu, agar pengelolaan Kebun
Binatang Surabaya dapat dilakukan secara profesional,
maka sesuai Peraturan Menteri Kehutanan Nomor
P.53/Menhut-II/2006 tentang Lembaga Konservasi
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Kehutanan Nomor P.01/Menhut-II/2007, perlu
dibentuk Badan Usaha Milik Daerah yang khusus
mengelolanya.
Beberapa hal yang diharapkan dari Perda
tersebut, yaitu Badan Usaha yang mengelola Kebun
Binatang Surabaya (KBS), dapat menjalankan fungsi
utama KBS yaitu sebagai wahana konservasi tumbuhan
maupun satwa, dan sebagai taman satwa yang meliputi
sarana pendidikan, penelitian dan rekreasi. Di mana
dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 19
Tahun 2012 Pasal 1 ayat 5-7, menyatakan bahwa:
1. Taman Satwa adalah Kebun Binatang yang
melakukan
upaya
perawatan
dan
pengembangbiakan terhadap jenis satwa yang
dipelihara berdasarkan etika dan kaidah
kesejahteraan
satwa
sebagai
sarana
perlindungn dan pelestarian jenis dan
dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan,
penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan
2
dan teknologi, serta sarana rekreasi yang
sehat.
2. Konservasi
adalah
upaya
pelestarian
lingkungan, dengan tetap memperhatikan
manfaat yang dapat di peroleh pada saat itu
tetapi tetap mempertahankan keberadaan
setiap
komponen
lingkungan
untuk
pemanfaatan masa depan.
3. Lembaga Konservasi adalah lembaga yang
bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan
atau satwa liar di luar habitatnya (ex-situ)
yang berfungsi untuk pengembangbiakan
dan/atau penyelamatan tumbuhan dan/atau
satwa dengan tetap menjaga kemurnian jenis
guna menjamin kelestarian keberadaan dan
pemanfatannya.
Akan tetapi, konflik kepengurusan yang di
alami KBS menyebabkan KBS dianggap banyak pihak
tidak mampu lagi berjalan sesuai dengan fungsinya.
Hal itu dikarenakan banyaknya kasus hewan yang mati,
kandang satwa yang tidak terawat, menurunnya jumlah
pengunjung, hingga kasus kepegawaian yaitu
pemecatan karyawan.
Konflik di Kebun Binatang Surabaya(KBS)
telah berkembang dari konflik internal antar pengurus
yayasan KBS yaitu kubu Stany Soebakir dan kubu
Basuki Rekso Wibowo, yang akhirnya menimbulkan
perpecahan antara dua kubu menjadi konflik terbuka
diruang publik ketika masyarakat Surabaya mulai
bereaksi atas ketidakberesan di dalam KBS, serta
adanya intervensi pemerintah pusat melalui
Kementrian Kehutanan dan BKSDA yang mencabut
ijin konservasi KBS karena konflik yang tidak kunjung
selesai, dan keinginan dari Pemkot Surabaya sendiri
untuk mengelola KBS serta menjadikannya bentuk
BUMD.
Akibat dari konflik–konflik yang tak kunjung
selesai, kemungkinan dampak yang ditimbulkan yaitu
citra yang kemudian timbul di masyarakat ialah bahwa
KBS sudah tidak bagus lagi dan tidak terurus. Mulai
dari kepengurusan yang tidak jelas hingga hewanhewan yang mati, maupun kondisi kandang satwa yang
kurang layak huni. Sehingga hal tersebut di
khawatirkan akan menurunkan minat masyarakat untuk
mengunjungi KBS. Untuk dapat menganalisis tingkat
minat masayarakat terhadap wisata KBS, bisa dilihat
dari jumlah pengunjung di KBS. Berikut ini peneliti
memberikan sajian data pengunjung tahunan, dari
tahun 2008-2012.
Kebijakan dan Manajemen Publik
ISSN 2303 - 341X
Volume 1, Nomor 1, Februari 2014
Tabel I
Jumlah Pengunjung di Kebun Binatang Surabaya tahun
2008 - 2012
Jumlah
Persentase
Tahun
naik/turun jumlah
Pengunjung
pengunjung per
tahun.
2008
1.322.614
-
2009
1.586.483
+ 19,95%
2010
1.282.694
- 19,15%
2011
1.105.223
- 13,84%
2012
924.595
- 16,34%
Sumber : Kebun Binatang Surabaya 2013
Dilihat dari tabel I. pada tahun 2008
pengunjung KBS sekitar 1.322.614 mengalami
kenaikan pada tahun 2009 sebesar 19,95%. Akan tetapi
pada kurun waktu 3 tahun terakhir (tahun 2010-2012),
pengunjung KBS terus menurun dimana pada tahun
2010 yang mengalami penurunan pengunjung tertinggi
di antara 5 tahun tersebut yaitu turun mencapai 19,15%
dari total pengunjung tahun 2009 sebesar 1.586.483
menjadi 1.282.694 pengunjung ditahun 2010, dimana
antara tahun 2009-2010 merupakan puncak konflik
KBS, hingga akhirnya KBS mulai dikelola Tim
Manajemen Sementara yang mulai diserahi wewenang
secara resmi oleh kemenhut pada tanggal 20 Agustus
2010.
Permasalahan yang diajukan dalam penelitian
ini adalah tentang sumber konflik dan bagaimana
dampak konflik terhadap pengelolaan Kebun Binatang
Surabaya, serta bagaimana manajemen konflik yang
digunakan pihak-pihak yang terlibat konflik. Tujuan
penelitian ini adalah mendeskripsikan sumber dan
dampak konflik serta resolusi dari konflik tersebut.
Studi terdahulu telah dilakukan oleh Haryo
Arditya Ambarala pada tahun 2012 dengan judul
“Dinamika Konflik Kepengurusan Kebun Binatang
Surabaya Di Kota Surabaya (Studi Konflik Simon
Fisher Pada Kasus Konflik Kepengurusan Kebun
Binatang Surabaya)”. Peneliti menggambarkan
dinamika konflik yang ada, mulai dari peta konflik
(conflict maping), akar penyebab dan pemicu konflik,
serta resolusi dinamika konflik berdasarkan studi
konflik
Simon
Fisher.
Hasil
penelitiannya
menunjukkan jika konflik horizontal bisa saja muncul
karena gagalnya bentuk negosiasi antar individu atau
kelompok yang berkonflik. Dinamika Konflik yang
muncul dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa
penanganan konflik horizontal harus diupayakan
melalui strategi khusus. Yang artinya didalam
menyelesaikan konflik, haruslah terdapat sebuah
resolusi konflik yang diarahkan melalui pendekatan
kemanusiaan dan kekeluargaan, sehingga konflik yang
muncul dapat diredam dan diakhiri melalui jalan
damai.
Untuk menjawab permasalahan tersebut,
peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif
dengan tipe penelitian deskriptif. Penentuan informan
dilakukan secara purposive sampling dan selanjutnya
berkembang dengan menggunakan teknik snowball.
Data diperoleh melalui proses observasi dan
wawancara mendalam, serta memanfaatkan sumber
data dokumen dan penelusuran online. Keabsahan data
diuji melalui triangulasi sumber data, sehingga data
yang disajikan merupakan data yang absah. Analisis
dan interpretasi data dilakukan dengan menelaah
seluruh data yang tersedia baik yang diperoleh melalui
wawancara mendalam maupun pemanfaatan sumber
data
dokumen,
kemudian
dipilah-pilah,
dikombinasikan dan dikelompokkan serta menetapkan
keterkaitan data tersebut.
Manajemen Konflik Organisasi
Istilah konflik memiliki berbagai pengertian,
setiap ahli mengemukakan definisi yang berbeda. Akan
tetapi, dari beberapa pendapat tentang konflik terdapat
dua hal yang esensial, yaitu (1) adanya perbedaan, dan
(2)
adanya
ketidaksesuaian.
Konflik
dapat
didefinisikan
sebagai
suatu
interaksi
yang
dimanifestasikan dalam ketidakcocokan pendapat atau
adanya perbedaan sesuatu diantara dua kesatuan sosial
yang terdiri dari individu-individu, kelompok atau
organisasi (Hanson 1991 dalam Pasolong 2008:172).
Terjadinya konflik dalam organisasi atau
birokrasi tidak terjadi secara otomatis, tetapi
disebabkan oleh berbagai jenis kondisi yang terdapat
dalam organisasi sebagai sumber konflik. Kondisikondisi ini merupakan suatu kondisi yang didalamnya
berisi rangkaian kemungkinan yang menjadi kondisi
pemula (antecedent conditions) terjadinya konflik.
Berbagai
kemungkinan
tersebut
yaitu:
(1)
ketidakpuasan, (2) adanya tujuan dan berbagai sistem
nilai yang berbeda-beda, (3) berbagai hambatan
komunikasi, (4) manusia dan perilakunya, (5) struktur
organisasi dan tugas pokok dan fungsi. Sumber-sumber
konflik organisasi akan sangat bervariasi, hal ini sangat
tergantung dari karakteristik internal dan eksternal
organisasi(Wahjosumidjo 1987 dalam Pasolong
2008:173).
Penyebab konflik secara khusus dikarenakan
adanya tindakan yang bertentangan dengan hati
nuraninya, ketidakpastian mengenai kebutuhan yang
harus dipenuhi, konflik perasaan, konflik kepribadian,
dan konflik tugas diluar kemampuannya. Berikut
beberapa sumber konflik dan penyebabnya (Husaini
Usman 2010:467):
(1) Konflik diri sendiri dengan seseorang dapat
terjadi karena perbedaan peranan (atasan
dengan bawahan), kepribadian dan kebutuhan
(konflik vertikal).
(2) Konflik diri sendiri dengan kelompok dapat
terjadi karena individu tersebut mendapat
3
Kebijakan dan Manajemen Publik
ISSN 2303 - 341X
Volume 1, Nomor 1, Februari 2014
tekanan dari kelompoknya atau individu
bersangkutan telah melanggar norma-norma
kelompok sehingga dimusuhi atau dikucilkan
oleh kelompoknya. Berubahnya visi, misi,
tujuan, sasaran, policy, strategi dan aksi
organisasi.
(3) Kelompok dengan kelompok dalam sebuah
organisasi dapat terjadi karena ambisi salah
satu atau kedua kelompok untuk lebih
berkuasa. Ada kelompok yang menindas, ada
kelompok-kelompok yang melanggar normanorma
budaya
kelompok
lainnya,
ketidakadilan
kelompok
lainnya,
dan
keserakahan kelompok lainnya (konflik
primordial).
(4) Konflik antarorganisasi dapat terjadi karena
perebuatan kekuasaan, baik ekonomi maupun
politik (konflik horizontal dan konflik elite
politik).
Dilihat dari dampaknya konflik dibagi
menjadi dua, yaitu:
a. Konflik Fungsional
Sebuah konflik fungsional (functional
conflict) adalah konfrontasi antarkelompok
yang dapat meningkatkan dan menguntungkan
kinerja organisasi.
b. Konflik Disfungsional
Sebuah konflik disfungsional (dysfunctional
conflict) adalah setiap konfrontasi atau
interaksi antar kelompok yang membahayakan
organisasi atau menghambat organisasi dalam
mencapai tujuan-tujuannya.
Resolusi konflik (conflict resolution) adalah
proses untuk mencapai keluaran konflik dengan
menggunakan metode resolusi konflik. Metode resolusi
konflik adalah proses manajemen konflik yang
digunakan untuk menghasilkan keluaran konflik.
Metode resolusi konflik bisa dikelompokkan menjadi
pengaturan sendiri oleh pihak-pihak yang terlibat
konflik (self regulation) atau melalui intervensi pihak
ketiga (third party intervention). Resolusi konflik
melalui pengaturan sendiri terjadi jika para pihak yang
terlibat konflik berupaya menyelesaiakan sendiri
konflik mereka. Intervensi pihak ketiga terdiri atas (1)
resolusi konflik melalui pengadilan, (2) proses
administratif, dan (3) resolusi perselisihan alternatif
(alternative dispute resolution).(Wirawan 2009:140).
Dalam model pengaturan sendiri, manajemen
konflik berdasarkan dua dimensi (Thomas & Kilmann
1974 dalam Wirawan 2009:140-142) yaitu :
a. Kerja sama (cooperativeness) pada sumbu
horizontal.
b.
Keasertifan (assertiveness) pada sumbu
vertikal
Berdasarkan dua dimensi ini, Thomas dan
Kilmann mengemukakan lima jenis strategi dalam
manajemen konflik. Kompetisi (competing), gaya ini
merupakan gaya yang berorientasi pada kekuasaan,
dimana seseorang akan menggunakan kekuasaan yang
dimilikinya untuk memenangkan konflik terhadap
4
lawannya. Kolaborasi (collaborating), gaya ini
melakukan upaya bernegoisasi untuk menciptakan
solusi yang sepenuhnya memuaskan pihak-pihak yang
terlibat konflik. Kompromi (compromising), gaya
manajemen konflik ini berada ditengah antara gaya
kolaborasi dan kompromi. Dalam keadaan tertentu,
kompromi dapat berarti membagi perbedaan diantara
dua posisi dan memberikan konsesi untuk mencari titik
tengah. Menghindar (Avoiding), bentuk menghindar
tersebut bisa berupa menjauhkan diri dari pokok
masalah, menunda pokok masalah hingga waktu yang
tepat, atau menarik diri dari konflik yang mengancam
dan merugikan. Mengakomodasi (accommodating),
gaya ini mengabaikan kepentingan dirinya sendiri dan
berupaya memuaskan kepentingan lawan konfliknya.
sedangkan model Intervensi pihak ketiga
dibagi menjadi empat antara lain:
a. Resolusi konflik melalui proses pengadilan
Dalam resolusi konflik melalui peradilan
perdata, salah satu pihak atau kedua belah pihak yang
terlibat konflik menyerahkan solusi konfliknya pada
pengadian perdata di pengadilan negeri melalui
gugatan kepada tergugat. Pihak lainnya yang memiliki
hubungan dengan obyek sengketa, bisa juga
mengintervensi proses pengadilan. Proses pengadilan
umumnya didahului dengan permintaan hakim agar
kedua belah pihak berdamai terlebih dahulu. Jika
perdamaian tidak tercapai, hakim akan memeriksa
kasusnya dan mengambil keputusan. Keputusan hakim
bisa berupa win & lose solution, dimana salah satu
pihak dikalahkan, atau win & win solution, dimana
solusi kolaborasi atau kompromi terjadi.
b.
Resolusi konflik melalui proses atau
pendekatan legislasi
Resolusi konflik melelui pendekatan legislatif
adalah penyelesaian konflik melalui perundangundangan yang dikeluarkan oleh lembaga legislatif.
Konflik yang diselesaikan dengan cara ini adalah
konflik yang besar dan meliputi populasi yang besar,
tetapi mempunyai pengaruh terhadap individu anggota
populasi. Penyelesaian konflik melalui pendekatan
legislatif memerlukan waktu terutama di Indonesia.
Proses legislasi memerlukan penyusunan naskah
akademik, penyusunan draf undang-undang, dan
pembahasan undang-undang di Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR). Setelah pembuatan undang-undang,
peraturan
pemerintah
diperlukan
untuk
melaksanakannya.
c.
Resolusi konflik melalui proses administrasi
Resolusi konflik melalui proses administrasi
adalah resolusi konflik melalui pihak ketiga yang
dilakukan oleh lembaga negara (bukan lembaga
yudikatif), yang menurut undang-undang atau
peraturan pemerintah diberi hak untuk menyelesaikan
perselsihan atau konflik dalam bidang tertentu.
Kebijakan dan Manajemen Publik
ISSN 2303 - 341X
Volume 1, Nomor 1, Februari 2014
d.
Resolusi perselisihan alternatif
Resolusi perselisihan alternatif (alternative
dispute resolution-ADR), adalah resolusi konflik
melalui pihak ketiga yang bukan pengadilan dan proses
administrasi yang diselenggarakan oleh lembaga
yudikatif dan eksekutif. ADR terdiri atas arbitrasi dan
mediasi.
1.
2.
Arbitrasi
Merupakan prosedur di mana pihak
ketiga mendengarkan kedua belah pihak
yang berselisih, pihak ketiga bertindak
sebagai hakim dan penengah dalam
menentukan penyelesaian konflik melalui
suatu perjanjian yang mengikat.
Mediasi
Mediasi dipergunakan oleh Mediator
untuk menyelesaikan konflik tidak seperti
yang diselesaikan oleh abriator, karena
seorang mediator tidak mempunyai
wewenang secara langsung terhadap
pihak-pihak
yang
bertikai
dan
rekomendasi yang diberikan tidak
mengikat.
Model Manajemen Konflik yang Digunakan PihakPihak yang Terlibat Konflik Kebun Binatang
Surabaya
Berdasarkan data yang diperoleh oleh peneliti,
dilihat dari kronologi serta aktor-aktor yang terlibat
konflik. Konflik yang terjadi di Kebun Binatang
Surabaya dapat di rangkum dalam empat proses, antara
lain:
1. Konflik antara Pihak Stany Soebakir
dengan Pihak Basuki Rekso Wibowo
2. Konflik antara Pihak Stany Soebakir
dengan
Kementerian
Kehutanan,
BBKSDA, dan Tim Pengelola Sementara
(TPS) KBS
3. Proses
masuknya
Tim
Pengelola
Sementara (TPS) KBS.
4. Proses masuknya Pemerintah Kota
Surabaya ke KBS dengan membentuk
PDTS
Di lihat dari kronologi dan aktor-aktor yang
terlibat dalam konflik. Konflik Kebun Binatang
Surabaya tergolong dalam jenis Konflik interpersonal
dimana bentuknya adalah Konflik antara organisasi
dan pihak luar organisasi atau menurut Fred Luthans
adalah bentuk konflik antarkelompok. Dimana sumber
konfliknya, adalah dilatarbelakangi oleh kepentingan
masing-masing pihak (Conflict of interest) untuk dapat
menguasai dan mengelola KBS secara mandiri. Hal itu
disebabkan oleh adanya perbedaan dan ketidaksesuaian
nilai-nilai serta tujuan masing-masing pihak, serta
ketidakpuasan satu pihak dengan keputusan pihak
lainnya yang berdampak pada semakin meluasnya
konflik.
Secara umum Konflik Kebun Binatang
Surabaya menghasilkan dampak yang disfungsional
terhadap kinerja KBS. Hal ini dikarenakan dari konflik
yang berkepanjangan tersebut menyebabkan ijin
Lembaga Konservasi (LK) KBS dicabut. Tanpa adanya
ijin LK, KBS seolah lumpuh, karena tidak bisa
menerapkan kebijakan-kebijakan krusial untuk
kemajuan KBS. Sehingga hal tersebut berdampak juga
pada aspek kepegawaian, dimana karyawan menjadi
jenuh dan bosan karena ketidakjelasan nasib mereka.
Selain itu tingginya nuansa politis dalam konflik yang
terjadi di KBS, menyebabkan satwa seakan menjadi
korban dari kebijakan manajemen. Hal itu dibuktikan
dengan banyaknya kejanggalan dari kasus kematian
hewan. Dan yang terakhir, dengan konflik tersebut
pihak
manajemen pengelola
KBS
kesulitan
menjalankan amanat dari SK Kemenhut untuk
berkoordinasi dengan BBKSDA dan TPS. Meskipun
demikian konflik KBS juga ada dampak positifnya
seperti:
 Membawa pokok pemasalahan yang
sebelumnya terpendam ke permukaan,
seperti kasus hewan mati yang tidak
wajar, dan masalah kepegawaian.
Sehingga dapat menyelamatkan KBS
agar tidak semakin terpuruk.
 Meningkatkan upaya untuk lebih baik,
lebih kompetitif, dan lebih teliti.
Manajemen KBS berupaya membuat
kebijakan
yang
dapat
segera
mengatasi konflik, akan tetapi juga
lebih teliti dalam pengelolaan sumber
daya ( dana APBD) Karena masih
dalam tahap transisi dan belum ada
ijin Lembaga Konservasi (LK).
Sedangkan Model manajemen konflik yang
digunakan aktor-aktor yang terlibat konflik pada
Kebun Binatang Surabaya. Dapat dilihat satu-persatu,
sebagai berikut:




Konflik antara Pihak Stany Soebakir
dengan Pihak Basuki Rekso Wibowo.
Awalnya diselesaikan dengan model
kompetisi secara internal organisasi,
kemudian berlanjut ke intervensi pihak
ketiga yaitu pengadilan.
Konflik antara Pihak Stany Soebakir
dengan
Kementerian
Kehutanan,
BBKSDA,
dan
Tim
pengelola
Sementara (TPS) KBS. Diselesaikan
melalui intervensi pihak ketiga yaitu
pengadilan (MA).
Proses masuknya TPS cenderung
melalui proses atau pendekatan
legislasi
Proses masuknya Pemerintah Kota
Surabaya ke KBS dengan membentuk
PDTS
cenderung
menggunakan
pendekatan Legislasi. Dalam prosesnya
5
Kebijakan dan Manajemen Publik
ISSN 2303 - 341X
Volume 1, Nomor 1, Februari 2014
juga
menggunakan
pendekatan
kompetisi (win & lose solution).
Hasibuan, Malayu S.P. 2009, Manajemen, Dasar,
Pengertian, dan Masalah, Bumi Aksara, Jakarta.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil temuan data di lapangan
yang telah disajikan dan dianalisis sebelumnya, dapat
disimpulkan bahwa Konflik yang terjadi pada Kebun
Binatang Surabaya tersebut masih belum bisa
dikatakan usai. Seluruh pihak yang terlibat konflik
terutama yang sampai saat ini memiliki kepentingan
dalam pengelolaan KBS yaitu dari pihak Stany
Soebakir, Pihak Basuki Rekso dan Pemerintah Kota
Surabaya. Dalam proses manajemen konfliknya
cenderung menggunakan model kompetisi (win & lose
solution) untuk memenangkan sebagai pihak yang sah
pengelola KBS. Sehingga menimbulkan dampak yang
disfungsional terhadap pengelolaan KBS, terutama
sejak Ijin Lembaga Konservasi dicabut. Di mana
menyebabkan KBS belum bisa melakukan kebijakankebijakan secara krusial.
Ivanchevich, John.M. dkk. 2007, Perilaku dan
Manajemen Organisasi jilid 2, Erlangga,
Jakarta.
Daftar Pustaka
Pasolong, Harbani. 2008, Kepemimpinan Birokrasi.
Alfabeta, Bandung.
Aliyah, Himmatul. 2012, Konflik dalam Pelaksanaan
Kerjasama antara Pemerintah Kota Surabaya
dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam
Pengelolaan Terminal Purabaya, Skripsi,
Universitas Airlangga, Surabaya.
Ambarala, Haryo Arditya. 2012, Dinamika Konflik
Kepengurusan Kebun Binatang Surabaya di
Kota Surabaya (Studi Konflik Simon Fisher
pada Kasus Konflik Kepengurusan Kebun
Binatang Surabaya), Skripsi, Universitas
Airlangga, Surabaya.
Andani, Verdina Devi. 2012, Tata kelola konflik
pembebasan lahan (Studi kasus: pembebasan
lahan yang dilakukan perusahaan minyak (J) di
Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro,
Kabupaten Bojonegoro), Skripsi, Universitas
Airlangga, Surabaya.
Luthans, Fred. 2006, Perilaku Organisasi, ANDI,
Yogyakarta.
Mahrudin. 2010, Konflik Kebijakan Pertambangan
Antara Pemerintah dan Masyarakat Di
Kabupaten Buton, Jurnal Studi Pemerintahan,
vol. 1, no. 1.
Moleong, Lexy J. 2005, Metodologi Penelitian
Kualitatif, PT Remaja Rosadakarya, Bandung.
Parsons, Wayne. 2005, Public Polic: Pengantar Teori
dan Praktek Analisis Kebijakan, Kencana,
Jakarta.
Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 19 Tahun
2012, Tentang Perusahaan Daerah
Taman
Satwa Kebun Binatang Surabaya
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia
Nomor : P.31/Menhut-II/2012 Tentang Lembaga
Konservasi
Pendidikan & Litbang KBS. 2006, Buku Informasi
Kebun Binatang Surabaya, KBS, Surabaya
Pruitt, Dean G. & Jeffrey Z. Rubin. 2009, Teori Konflik
Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Rais,
Soenyoto. 1994, Pengelolaan Organisasi,
Airlangga University Press, Surabaya.
Robbins, Stephen. 2003, Perilaku Organisasi edisi
Kesembilan, PT Indeks kelompok Gramedia,
Jakarta.
Anonim. 2011, Pengertian Pengelolaan Menurut
Beberapa Ahli, diakses tanggal 22 April 2013, tersedia
di
http://www.lepank.com/2012/07/pengertianpengelolaan-menurut-beberapa.html
Siagian, Sondang P. 1999, Manajemen Sumber Daya
Manusia, Bumi Aksara, Jakarta.
Anonim. 2013, Definisi Pengelolaan, diakses tanggal
15
September
2013,
tersedia
di
http://kamusbahasaindonesia.org/pengelolaan/mi
rip
Stoner, James A.F., dkk. 1996, Manajemen (edisi
Bahasa Indonesia), PT Prenhalindo, Jakarta.
Bangun, Wilson. 2008, Intisari Manajemen, Refika
Aditama, Bandung.
Bungin, Burhan. 2010, Analisis Data Penelitian
Kualitatif, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
6
Soebakir, Stany. 2006, 90 Tahun Perjalanan Kebun
Binatang Surabaya, PTFFS, Surabaya.
Sugiyono. 2010, Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung.
Surbakti, Ramlan. 1992, Memahami Ilmu Politik,
PT.Gramedia Widiasara, Jakarta.
Kebijakan dan Manajemen Publik
ISSN 2303 - 341X
Volume 1, Nomor 1, Februari 2014
Susan, Novri. 2010, Pengantar Sosiologi Konflik dan
Isu-isu Konflik Kontemporer, Kencana Prenada
Media Group, Jakarta.
Susetiawan.2000, Konflik Sosial (Kajian Sosiologis
Hubungan Buruh, Perusahaan dan Negara di
Indonesia), Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Tampubolon,
Manahan
P.
2004,
Perilaku
Keorganisaian (Organization Behavior), Ghalia
Indonesia, Jakarta.
Usman, Husaini. 2010, Manajemen Teori, Praktik, dan
Riset Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta.
Wibawa, Samodra. 1994, Kebijakan Publik, Proses
dan Analisa, Intermedia, Jakarta.
Winardi. 2003, Teori Organisasi & Pengorganisasian,
PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Wirartha, I made. 2006, Metodologi Penelitian Sosial
Ekonomi, ANDI,Yogyakarta.
Wirawan. 2009, Konflik Dan Manajemen Konflik:Teori
,Aplikasi, dan Penelitian, Salemba humanika,
Jakarta.
7
Download