BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Lipid atau lemak merupakan suatu zat yang kaya akan energi dan berfungsi sebagai sumber energi utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak yang beredar di dalam tubuh diperoleh dari dua sumber yaitu dari makanan dan hasil produksi organ hati yang bisa disimpan di dalam sel-sel lemak sebagai cadangan energi. Fungsi lemak adalah sebagai sumber energi, pelindung organ tubuh, pembentuk sel, sumber asam lemak esensial, alat angkut vitamin larut lemak, menghemat protein, memberi rasa kenyang dan kelezatan, sebagai pelumas dan memelihara suhu tubuh. Menurut ilmu gizi, lemak dapat diklasifikasikan menjadi: lipid sederhana, lipid majemuk dan lipid turunan (Poedjiadi 1994; Mayes, 2003). Lemak adalah zat yang kaya energi, yang berfungsi sebagai sumber energi utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak diperoleh dari makanan atau dibentuk di dalam tubuh, terutama di hati dan bisa disimpan di dalam sel-sel lemak untuk digunakan di kemudian hari. Sel-sel lemak juga melindungi tubuh dari dingin dan membantu melindungi tubuh terhadap cedera. Lemak merupakan komponen penting dari selaput sel, selubung saraf yang membungkus sel-sel saraf serta empedu. Dua lemak utama dalam darah adalah kolesterol dan trigliserida. Lemak mengikat dirinya pada protein tertentu sehingga bisa larut dalam darah; gabungan antara lemak dan protein ini disebut lipoprotein Lipoprotein yang utama adalah : Kilomikron VLDL (Very Low Density Lipoproteins) LDL (Low Density Lipoproteins) HDL (High Density Lipoproteins) Kolesterol adalah suatu jenis lemak yang ada dalam tubuh dan dibagi menjadi LDL, HDL, Total kolesterol dan Trigliserida dari hati, kolesterol di angkut oleh lipoprotein yang bernama LDL( Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukan, termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. HDL (High Density Lippoprotein) adalah bentuk Lipoprotein yang memlliki komponen kolesterol paling sedikit. Dibentuk di usus dan hati, HDL ini akan menyerap kolesterol bebas dari pembuluh darah, atau bagian tubuh lain seperti sel makrofag, kemudian membawanya ke hati. VLDL (Very Low Density Lipoprotein) adalah Lipoprotein yang dibentuk di hati yang kemudian akan diubah di pembuluh darah menjadi LDL (Low Density Lipoprotein). Bentuk Lipoprotein ini memiliki kolesterol paling banyak dan akan membawa kolesterol tersebut ke jaringan seperti dinding pembuluh darah. Kelebihan kolesterol akan diangkat kembali oleh lipoprotein yang disebut HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kantung empedu sebagai asam (cairan) empedu. LDL mengandung lebih banyak lemak dari pada HDL sehingga ia akan mengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B (Apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak yang “jahat” karena dapat menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah. Sebaliknya, HDL disebut sebagai lemak yang “baik” karena dalam operasinya ia membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. Protein utama yang membentuk HDL Apo-a (Apolipoprotein-A). HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi sehingga lebih berat. Konsentrasi kolesterol pada HDL dan LDL atau VLDL lipoprotein adalah prediktor kuat untuk penyakit jantung koroner. HDL fungsional menawarkan perlindungan dengan cara memindahkan kolesterol dari sel dan atheroma. Konsentrasi tinggi dari LDL dan konsentrasi rendah dari HDL fungsional sangat terkait dengan penyakit kardiovaskuler karena beresiko tinggi terkena ateroklerosis. Keseimbangan antara HDL dan LDL semata-mata ditentukan secara genetikal, tetapi dapat diubah dengan pengobatan, pemilihan makanan dan faktor lainnya. BAB II ISI II. I MEKANISME KOLESTEROL Kolesterol merupakan prekursor semua senyawa steroid lainnya di dalam tubuh, misal kortikosteroid, asam empedu dan vitamin D. Kolesterol disintetis di dalam tubuh dari asetilKoA membentuk mevalonat melalui sebuah jalur yang kompleks (Murray, 2003). Lipid di dalam tubuh diperoleh melalui dua cara yaitu melalui jalureksogen (lipid dari asupan makanan) dan melalui jalur endogen (lipid berasal darisintesis kolesterol oleh hati). Jalur eksogen dimulai dari trigliserida atau asamlemak dan kolesterol yang berasal dari makanan masuk ke dalam saluran pencernaan. Selanjutnya trigliserida dan kolesterol dalam usus dikemas dalambentuk partikel besar lipoprotein yang disebut kilomikron. Kilomikron akan membawa trigliserida dan kolesterol ke dalam aliran darah. Kemudian trigliserida dalam kilomikron mengalami penguraian oleh enzim lipoprotein lipase sehingga terbentuk asam lemak bebas dan sisa-sisa kilomikron. Asam lemak bebas akan menembus jaringan lemak atau sel otot untuk diubah menjadi trigliserida kembali sebagai cadangan energi. Sisa-sisa kilomikron akan dimetabolisme dalam hati sehingga menghasilkan kolesterol bebas. Kolesterol atau trigliserida yang dihasilkan oleh hati akan diangkut ke jaringan adiposa melalui jalur endogen. Lipoprotein yang berperan dalam jalur ini adalah VLDL yang selanjutnya terhidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase menjadi IDL. Sebagian IDL masuk ke hati dan separuh lainnya diubah menjadi LDL. Partikel LDL yang banyak mengandung kolesteril ester akan diserap oleh sel-sel jaringan selain hati melalui reseptor LDL yang terdapat di permukaan sel. Sebagian besar kolesterol dalam partikel LDL akan dikonversi menjadi HDL oleh enzim lesitin kolesterol asil transferase (LCAT) untuk diangkut ke hati dan disirkulasikan kembali. LCAT menyebabkan teresterifikasinya kolesterol bebas pada partikel LDL dan memberikan efek kebalikan pada transpor kolesterol dengan melibatkan lipid transfer protein (LTP) (Fusegawa et al., 1993). Kolesterol yang berlebihan diekskresi dari hati ke dalam empedu sebagai kolesterol atau garam empedu. Garam empedu akan disekresikan ke dalam usus, berfungsi sebagai detergen dan membantu proses penyerapan lemak dari makanan. Sebagian kolesterol lainnya dikeluarkan melalui saluran empedu tanpa dimetabolisme menjadi asam empedu. Pada akhirnya, kilomikron yang tersisa (lemaknya telah diambil) dibuang dari aliran darah oleh hati. Sepertiga dari seluruh kolesterol dalam tubuh diserap dari makanan melalui sistem pencernaan, namun sebagian besar kolesterol disintesis dalam tubuh, terutama di hati dan usus selain di dalam selsel permukaan dan jaringan (Mayes, 2003). Kolesterol diproduksi di hati lewat sintesis kolesterol pada sitosol dan disempurnakan pada retikulum endoplasma. Seluruh kolesterol disintesis dari asetil-KoA yang membentuk mevalonat melewati reaksi penting yang membatasi laju lintasan tersebut dan dikatalisis oleh enzim HMG-KoA (3-hidroksi-3- metilglutaril koenzim A) reduktase. Unit isoprenoid lima-karbon terbentuk dari mevalonat. Enam unit isoprenoid mengadakan kondensasi untuk membentuk skualen. Skualen mengalami kondensasi untuk membentuk senyawa induk steroid ianosterol yang setelah mengalami kehilangan tiga gugus metilnya membentuk kolesterol. 2 OBAT ANTIKOLESTEROL Hipolipidemik adalah obat yang digunakan untuk menurunkan kadar lipid plasma (Syarif et al 2003). Tindakan menurunkan lipid plasma merupakan salah satu tindakan yang ditujukan untuk menurunkan risiko aterosklerosis. Obat-obatan penurun kolesterol yang dijual secara komersial sudah banyak jenisnya di pasaran. Obat penurun kolesterol tersebut dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu : a) resin pengikat empedu yang bekerja dengan cara mengikat asam empedu di usus dan meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah, contoh obat ini adalah kolesteramin dan kolestipal, b) penghambat sintesis lipoprotein yang bekerja dengan cara mengurangi kecepatan pembentukan VLDL dan meningkatkan HDL, contoh obat ini adalah niasin, c) penghambat HMG-KoA reduktase atau golongan statin yang bekerja dengan cara menghambat secara kompetitif enzim HMG-KoA reduktase, contoh obat ini adalah fluvastatin, lovastatin, pravastatin, simvastatin, dan atorvastatin, d) derivat asam fibrat yang bekerja dengan cara meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase, contoh obat ini adalah siprofibrat, simfibrat, bezafibrat, klofibrat, fenofibrat, dan gemfibrosil. II.3 MEKANISME OBAT Gambar 1. Mekanisme Sederhana Statin (Raharjo, 2009). Obat golongan statin atau inhibitor HMG-KoA reduktase adalah kelompok obat penurun lipid yang digunakan untuk menurunkan level kolesterol dengan menghambat kerja enzim HMG-KoA reduktase. Gangguan pada aktivitas enzim ini akan menyebabkan penurunan jumlah asam mevalonat yang merupakan prekursor kolesterol (Dalimartha, 2000). Hambatan enzim HMG-KoA di hati akan menstimulasi LDL reseptor sehingga meningkatkan pembersihan LDL dari aliran darah dan menurunkan level kolesterol darah. Penurunan level kolesterol darah ini terlihat setelah seminggu pemakaian dan efek maksimal terlihat setelah empat sampai enam minggu penggunaan. Sesudah penyerapan, statin akan ditransport ke hati melalui sirkulasi portal. Hati adalah bagian prinsip dari aksi statin. II.4 PENGENALAN OBAT GOLONGAN STATIN Dalam golongan statin terdapat beberapa macam obat yaitu Simvastatin, Lovastatin, Atorvastin, Cerivastatin, Fluvastatin, Mevastatin, Pitavastatin, Pravastatin, Rosuvastatin. Teratogenitas dari obat golongan statin yaitu pada wanita hamil tidak dianjurkan menggunakannya karena senyawa statin dapat mengakibatkan cacat pada bayi (Tjay dan Kirana, 2007). a. Simvastatin Simvastatin merupakan nama generik obat, sedangkan nama dagangnya adalah Zocor. Simvastatin adalah obat penurun kolesterol yang bekerja dengan menghambat produksi kolesterol di hati, di usus, menurunkan kolesterol darah secara keseluruhan dan menurunkan kadar LDL-kolesterol darah. Indikasi penggunaan simvastatin adalah untuk penderita hiperkolesterolemia primer, pasien yang tidak cukup memberikan respon terhadap diet, mengurangi kejadian klinis, memperlambat progresif atherosklerosis koroner pada pasien penyakit jantung koroner dan penderita kadar kolesterol 5,5 mmol/l atau lebih. Kontra indikasi sediaan ini adalah untuk wanita hamil, menyusui, pasien dengan penyakit hati aktif atau peningkatan serum transaminase yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Dosis tunggal awal adalah 10 mg/hari. Dalam interval kurang dari empat minggu dosis dapat menyesuaikan dalam kisaran lazim 10-40 mg/hari. Penderita penyakit jantung koroner awal 20 mg/hari. Efek samping simvastatin adalah pusing, sakit kepala, konstipasi, diare, dispepsia, mual, ruam kulit, nyeri abdomen, nyeri dada, gangguan penglihatan, hepatitis dan anemia. Pemakaian simvastatin dalam jangka waktu yang lama menyebabkan gangguan fungsi kognitif seperti amnesia, transient global amnesia, aphasia dan gangguan memori jangka pendek. Simvastatin merupakan prodrug dalam bentuk lakton yang harus dihidrolisis terlebih dulu menjadi bentuk aktifnya yaitu asam β-hidroksi di hati, lebih dari 95% hasil hidrolisisnya akan berikatan dengan protein plasma. Konsentrasi obat bebas di dalam sirkulasi sistemik sangat rendah yaitu kurang dari 5%, dan memiliki waktu paruh 2 jam. Sebagian besar obat akan dieksresi melalui hati. Pemberian obat dilakukan pada malam hari (Witztum, 1996). b. Lovastatin Lovastatin merupakan salah satu obat penurun kolesterol golongan statin. Lovastatin sebagai agen hipokolesterolemik mampu menurunkan kadar serum kolesterol, LDL, trigliserol dan VLDL dalam darah (Albert, 1989). Obat golongan ini sangat efektif untuk mengobati hiperlipidemia karena merupakan inhibitor kompetitif dari 3-hidroksi-3-metilglutarilkoenzim-A (HMG-KoA) reduktase (Goodman dan Gilmans 2001 dalam Rahayu 2007). Lovastatin merupakan agen penurun kolesterol yang diisolasi dari Aspergillus terreus (Merck, 2005). Obat golongan statin ini dapat menurunkan biosintesis kolesterol dengan cara menghambat secara kompetitif enzim HMG-KoA reduktase. Enzim ini merupakan enzim yang mengkatalisis konversi HMG-KoA menjadi mevalonat, suatu prekursor sterol, termasuk kolesterol. Efek tersebut dapat meningkatkan katabolisme fraksional LDL maupun ekstraksi prekursor LDL oleh hati, sehingga mengurangi simpanan LDL plasma. Oleh sebab itu, ekstraksi lintas pertama oleh hati dari obat tersebut cukup besar, maka efek utamanya terjadi di hati (Katzung, 2002). Lovastatin di metabolisme oleh hidroksilasi dan dieksresi melalui empedu, sedangkan sekitar 80% suatu dosis oral muncul dalam tinja, ini menggambarkan eksresi obat dalam empedu sebaik obat yang tidak diabsorpsi.Efek samping akut lovastatin rendah. Disfungsi hepar terlihat sekitar 2% pasien (Raharjo,2009). c. Atorvastatin Atorvastatsin merupakan molekul garam kalsium trihidrat, sebuah molekul kalsium atorvastatin yang mengikat tiga molekul air. Atorvastatin merupakan salah satu zat aktif penurun kolesterol darah golongan statin atau penghambat/inhibitor HMG-CoA reduktase, yaitu senyawa yang dapat menghambat konversi enzim HMG-CoA reduktase menjadi mevalonat sehingga menghambat pembentukan kolesterol endogen. Berbeda dengan prodrug lakton lovastatin dan simvastatin, atorvastatin memiliki 3 asam hidroksil aktif dan tidak memerlukan hidrolisis in vivo. Atorvastatin dan metabolit aktifnya yang secara struktur serupa dengan HMG-CoA berkompetisi untuk menempati sisi aktif HMG-CoA reduktase. Penurunan konsentrasi kolesterol total dan LDL dihasilkan oleh dosis biasa atorvastatin yang secara substansial menghasilkan penurunan lebih besar dibandingkan dengan monoterapi dengan antilipemik lainnya. Dalam sebuah studi terkontrol dan tak terkontrol rata-rata penurunan kolesterol total 17-46%, 25-61% LDL, dan 10-37% trigliserida pada pasien dengan hiperkolesterolemia primer yang menerima atorvastatin 2,5-80 mg/hari selama setidaknya 6 minggu. Dan HDL meningkat sekitar 3-12%. Pada pasien dengan dislipidemia disertai hipertensi yang menerima kombinasi tetap atorvastatin (10-80 mg) dan amlodipin (5-10 mg) konsentrasi LDL serum turun sebesar 33-49% setelah terapi selama 8 minggu. Atorvastatin menghasilkan penurunan konsentrasi kolesterol total LDL lebih besar bila dibandingkan dengan statin lainnya (fluvastatin, lovastatin, simvastatin dan pravastatin) (McEvoy, 2008). Kombinasi atorvastatin dengan agen antilipemik lainnya (misal: resin asam empedu, sekuestrans dan ezetimibe) secara umum menghasilkan peningkatan efek antilipemik. Penambahan sekuestran asam empedu (kolestipol 20 gram/hari) pada atorvastatin (10 mg/hari) meningkatkan pengurangan kadar LDL lebih lanjut sebesar 10%, sehingga penurunan LDL pada pasien yang menerima terapi kombinasi ini sekitar 45%. Namun, efek samping yang sering terjadi diantaranya sembelit sehingga menurunkan tingkat kepatuhan pasien. Penambahan ezetimibe (10 mg/hari) pada atorvastatin (10-80 mg/hari) lebih lanjut dapat menurunkan konsentrasi LDL sebesar 7-16%, sehingga penurunan LDL secara keseluruhan sekitar 53-61% (McEvoy, 2008). Waktu paruh atorvastatin adalah 14 jam. (Suyatna, 2007). II.4.I Produk Obat Adapun macam – macam obat antikolesterol yang beredar di Indonesia seperti actalipid, atovar, atorsan, caduet, cholespar, cholestat, cholexin, cholvastin, chrestor, decrilip, detrovel, enico, esvat, ethicol, ezetrol, felosma, fenolip, fibramed, gravastin, hypercol/hyperchol 200 M, hypofil, justin, koleskol, lapibroz, lesvastin, lifen 200 M, lifibron, lipanthyl, lypanthyl penta 145, lipinorm, lipitor, lipitrop, lipres, lokoles, lopid, lotivas, lotyn, lovatrol, mersikol, mersivas, modalim, niaspan, novales, novosta, phalol, pravinat, rechol, renabrazin, rendapid, simchol, simvastatin OGB Dexa, sintrol, stator (MIMS, 2013). II.5 SIFAT DAN EFEK SAMPING Secara umum sifat untuk statin dengan durasi kerja singkat (terutama fluvastatin, pravastatin, dan simvastatin) disarankan digunakan pada sore hari (menjelang senja) lalu sesuai dengan kerja hati yang juga maksimal saat itu memproduksi kolesterol. Hal ini tidak perlu dilakukan untuk statin dengan durasi kerja panjang seperti atorvastatin atau rosuvastatin (Witztum, 1996). a. Efek umum Efek samping yang ditimbulkan obat golongan statin berupa, nyeri dada, sakit kepala, rasa lelah gangguan saluran cerna, ruam dan insomnia dan nyeri otot. Terutama dari bokong dan tungkai atas, di sebabkan oleh nerkurangnya kadar koenzim Q (Tjay dan Kirana,2007). b. Efek Langka Efek samping lain yang dijumpai pada 5% pasien adalah miopati , muncul sebagai gejala nyeri pada otot dan persendian tanpa adanya perubahan kadar kreatin kinase (CK). c. Efek Fatal Miopati yang parah (statin-induced) rhabdomyolysis dialami oleh 0,2% pasien, disertai dengan peningkatan CK (10 kali batas atas kadar normal, CK normal adalah 10‐ 150 IU/L), dan dalam hal ini penggunaan statin harus segera dihentikan. Gejala efek samping pada otot ini bisanya lebih banyak terjadi pada pasien yang menggunakan kombinasi obat penurun kadar lipid (Tjay dan Kirana,2007) II.6 INTERAKSI OBAT Kombinasi obat golongan ini dengan derivat asam fibrat dan asam nikotinat perlu pemantauan yang ketat (Dalimartha, 2000). Statin berinteraksi dengan obat lain karena efek hambatannya terhadap sistem sitokrom P450. Cyclosporin A, gemfibrozil, asam nikotinat, erithromycin, dan anti jamur kelima obat ini memiliki pengaruh terhadap golongan statin, oleh karena itu perlu dipertimbangkan sebelum diberikan. kelima obat ini dapat meningkatkan potensi miopati dari simvastatin, pravastatin, atorvastatin, fluvastatin, dan cerivastatin. Selain itu pemberian mibefradil (Posicor) dengan lovastatin atau simvastatin dikontraindikasikan karena peningkatan resiko rhabdomyolisis. Akibat ini dikarenakan mibefradil menghambat enzim sitokrom P450 CYP 450 3A4 yang mengkatalisa lovastatin dan simvastatin yang tidak aktif. oleh karena itu pengaruh mibefradil dengan obat-obatan tersebut seharusnya dihindari. Tetapi tidak ada reaksi antara mibefradil dengan fluvastatin atau pravastatin. Peningkatan kecil dari prothrombin time telah ditunjukkan ketika simvastatin diberikan pada pasien yang diberi warfarin. Sebagai tambahan, simvastatin diketahui menghasilkan sedikit peningkatan kadar digoksin dalam plasma. Kelompok lain dari golongan statin menunjukkan bahwa mereka tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (Suyatna, 2007). II.9 METABOLISME OBAT Obat statin diabsorpsi hampir sempurna. Semua obat mengalami metabolisme lintas pertama di hati. Sebagian besar dieksresi oleh hati ke dalam cairan empedu dan sebagian kecil lewat ginjal. Efisiensi penyerapan statin dalam tubuh adalah 30% dan efisiensi ini akan meningkat jika diberikan bersama makanan (Suyatna, 2007). Penyerapan saluran pencernaan terhadap obat-obatan ini bervariasi dari 31% (lovastatin) sampai lebih dari 90% (fluvastatin). Obatobatan ini berikatan dengan protein plasma cukup kuat (>95%) kecuali pravastatin, dimana hanya berikatan dengan protein plasma di bawah 50%. BAB III PENUTUP III. I KESIMPULAN Kolesterol dapat di obati dengan obat golongan statin. Obat-obat dalam golongan statin yaitu Simvastatin, Lovastatin, Atorvastin, Cerivastatin, Fluvastatin, Mevastatin, Pitavastatin, Pravastatin, Rosuvastatin. Obat golongan statin ini menurunkan kolesterol dengan menghambat kerja enzim HMG-KoA reduktase. Gangguan pada aktivitas enzim ini akan menyebabkan penurunan jumlah asam mevalonat yang merupakan prekursor kolesterol. Efek samping yang ditimbulkan obat golongan statin berupa, nyeri dada, sakit kepala, rasa lelah gangguan saluran cerna, ruam dan insomnia dan nyeri otot. Resiko myopathy dan rhabdomyolyis dapat meningkat dengan pemberian bersama senyawa penurun lipid. Pada wanita hamil tidak dianjurkan menggunakan obat golongan statin karena senyawa statin dapat mengakibatkan cacat pada bayi.