bab iv economic adjustment programme yunani

advertisement
73
BAB IV
ECONOMIC ADJUSTMENT PROGRAMME YUNANI-UNI
EROPA SEBAGAI SOLUSI MENGATASI SOVEREIGN DEBT
CRISIS YUNANI
4.1
Uni Eropa sebagai Economic and Monetary Union
Integrasi kawasan di Eropa, khususnya dalam hal Economic and Monetary
Union diiringi dengan kesepakatan pada tahun 1999 melalui Perjanjian Maastricht
untuk menggunakan suatu mata uang tunggal di kawasan ini, yaitu Euro, dan pada
tahun 2004, Euro resmi diberlakukan sebagai mata uang Uni Eropa. Pembentukan
Economic and Monetary Union yang diprakarsai oleh Uni Eropa menjadi salah
satu peristiwa penting dalam sejarah perekonomian Eropa bahkan berhasil
mentrasformasi tatanan perekonomian global. Economic and Monetary Union
yang dibentuk oleh Uni Eropa terbentuk melalui proses panjang dan beberapa
tahapan yang merepresentasikan bagaimana integrasi ekonomi Eropa terbentuk.
Pada tahapan pertama yang terjadi pada awal tahun 1990, Uni Eropa sepakat
untuk mewujudkan konsep pasar tunggal bagi negara-negara anggota dan
pergerakan bebas kapital. Pada tahapan kedua yang berjalan pada tahun 19941999, Uni Eropa membentuk European Monetary Institute, yang merupakan
pendahulu dari European Central Bank (ECB). Pada tahap akhir, yaitu pada tahun
74
1999, Uni Eropa sepakat memberlakukan mata uang tunggal dan menerapkan
kebijakan moneter tunggal ECB.1
Uni Eropa memiliki sistem Economic and Monetary Union yang kompleks,
terdiri atas dua lapisan. Lapisan pertama adalah European System of Central
Banks (ESCB), yang merupakan gabungan dari ECB dan 27 bank sentral nasional
dari negara-negara yang mengadopsi Euro sebagai mata uang atau pun tidak.
Lapisan kedua adalah Eurosystem, yang merupakan gabungan dari ECB dan 17
bank sentral nasional dari negara-negara yang mengadopsi Euro sebagai mata
uang. Lapisan inilah yang disebut lingkup Eurozone. Jadi, meskipun semua
negara anggota Uni Eropa adalah anggota dari Economic and Monetary Union,
tidak semua negara anggota Uni Eropa adalah anggota Eurozone. Sampai saat ini
baru ada 17 negara anggota Uni Eropa yang secara resmi mengadopsi Euro
sebagai mata uang, yaitu Belgia, Jerman, Irlandia, Spanyol, Perancis, Italia,
Luksemburg, Belanda, Austria, Portugal, Finlandia, Yunani, Slovenia, Cyprus,
Malta, Slovakia, dan Estonia.2
Dalam memberlakukan Euro sebagai suatu mata uang tunggal, Eurozone
memiliki ECB yang berfungsi sebagai bank sentral. ECB bertugas untuk menjaga
stabilitas Euro di kawasan Eurozone dengan mengambil kebijakan moneter
tunggal yang diterapkan di seluruh negara anggota Eurozone.3 Namun hal ini
tidak berarti negara-negara yang menggunakan Euro tidak memiliki bank sentral,
1
“EU Economic and Monetary Union: A Framework for Stability”, dalam Anthony Smallwood
(ed.), EU Focus, Washington, D.C: the Delegation of the European Commission to the United
States, 2009, hal. 2
2
Cristina Arellano, Juan Carlos Conesa, dan Timothy J. Kehoe, Chronic Sovereign Debt Crises in
The Eurozone 2010–2012, Minneapolis: Federal Reserve Bank of Minneapolis, 2012, hal. 2
3
European
Union,
How
Does
the
EU
Works?,
diakses
dari
http://europa.eu/abc/12lessons/lesson_4/index_en.htm pada 5 Oktober 2012
75
negara-negara ini juga memiliki bank sentral masing-masing. Maka stabilitas
moneter di negara-negara ini dijaga oleh dua bank, yaitu bank sentral nasional dan
ECB.4 Integrasi finansial menjadi kunci penting dalam European Single Market
dan ECB. Integrasi finansial memfasilitasi implementasi kebijakan moneter yang
baik dan mendorong keseimbangan transmisi dari pengaruh implementasi
kebijakan bagi seluruh negara anggota Eurozone. Selain itu, integrasi finansial
berkontribusi pada terciptanya stabilitas finansial melalui penciptaan pasar yang
lebih besar, lebih likuid, dan lebih kompetitif. Terakhir, integrasi finansial
mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan karena bermanfaat bagi
perkembangan yang lebih jauh dan efisiensi dari sistem finansial. Oleh karena itu,
ECB sangat mendorong proses integrasi finansial.5 Meskipun kebijakan moneter
negara-negara anggota Eurozone diatur oleh ECB, kebijakan fiskal, seperti
penentuan anggaran dan pemberlakuan sistem pajak, tetap diserahkan kepada
pemerintah nasional masing-masing negara anggota. Akan tetapi, kebijakan
moneter dan fiskal harus tetap saling berkoordinasi untuk mencegah instabilitas.
Selain itu, dengan adanya kebijakan moneter tunggal, maka salah satu resiko yang
dihadapi oleh negara-negara anggota adalah tidak bisa melakukan devaluasi mata
uang untuk meningkatkan daya saing. Dalam hal ini, ECB melarang beberapa
4
European Central Bank, ECB, ESCB, and the Eurosystem, diakses dari
http://www.ecb.int/ecb/orga/escb/html/index.en.html pada 5 Oktober 2012
5
European Central Bank, ECB Fears Financial Integration Slowdown, diakses dari
http://www.ecb.int/ecb/html/crisis.en.html pada 3 Oktober 2012
76
kebijakan perdagangan dan industrial, serta melarang adanya devaluasi mata uang
yang kompetitif.6
Satu dekade setelah terbentuknya Economic and Monetary Union, cukup
banyak pencapaian yang didapat oleh Uni Eropa. Kebijakan moneter tunggal yang
dikombinasikan
menciptakan
dan
stabilitas
dikoordinasikan
makroekonomi,
dengan
baik
kebijakan
itu
dalam
fiskal
hal
nasional
mendorong
perdagangan lintas batas negara maupun integrasi finansial dan investasi.7 Mata
uang tunggal, yaitu Euro, menciptakan stabilitas bagi bisnis dan perekonomian
nasional negara anggota, serta melindungi dari spekulasi yang biasa menyerang
mata uang nasional. Penggunaan Euro sebagai mata uang tunggal tentunya
memberikan keuntungan tersendiri bagi negara penggunanya. Dengan adanya
suatu mata uang tunggal, maka akan menciptakan suatu pasar tunggal yang efisien
dan akan mendorong transparansi harga, pengeliminasian biaya dan risiko dari
transaksi menggunakan valuta asing, meningkatkan perdagangan internasional
tanpa batas, dan mempersubur iklim investasi. Hal-hal tersebut tentunya akan
sangat mendorong pertumbuhan dan menciptakan stabilitas ekonomi dari negaranegara pengguna Euro. Tidak hanya secara ekonomi, ada keuntungan dari aspek
lain dengan penggunaan Euro sebagai mata uang tunggal. Secara politik,
penggunaan Euro sebagai mata uang tunggal dapat menjadi identitas bagi Uni
Eropa, khusunya Eurozone, untuk melegitimasi kekuatan sebagai organisasi
kawasan terdepan dan tentunya hal ini akan mendorong negara-negara di Eropa
6
Berdasarkan hasil wawancara dengan Stavros Mavroudeas, Associate Professor in Political
Economy, Departemen Ekonomi, University of Macedonia, Thessaloniki, Yunani pada 2
Desember 2012 7
European Union, “EU Economic and Monetary Union: A Framework for Stability”, Op.Cit., hal.
1
77
yang belum bergabung untuk tertarik segera bergabung. Secara sosial dan budaya,
penggunaan mata uang tunggal dapat mempermudah masyarakat untuk
melakukan perpindahan antar negara khususnya dalam melakukan perjalanan
wisata, mendorong pergerakan pasar tenaga kerja yang lebih bebas, dan menjadi
suatu simbol kebanggaan dan pemersatu bagi warga negara-negara anggota Uni
Eropa. Economic and Monetary Union berhasil mendorong posisi strategis
kepemimpinan Uni Eropa dalam politik dan ekonomi global.
Euro sebagai suatu mata uang tunggal dalam suatu sistem ekonomi yang
terintegrasi penuh tentunya tidak bisa secara sembarangan dipraktikkan. Negaranegara anggota Uni Eropa yang ingin mengadopsi Euro sebagai mata uang harus
memiliki bank sentral yang independen dan harus memenuhi sejumlah kriteria,
yang disebut dengan Convergence Criteria atau Maastricht Criteria.8 Convergence
Criteria merupakan peraturan dasar yang harus dipatuhi oleh negara-negara yang
ingin bergabung dengan Eurozone sebagai dasar pertimbangan bagi negara
anggota untuk mengarahkan perekonomian Uni Eropa pada konvergensi atau
kesatuan, dan meskipun sistem perekonomian negara anggota bersifat heterogen,
akan tetapi diferensiasi ekonomi tersebut tidak boleh mengacaukan sistem yang
diciptakan oleh Uni Eropa.9
Kriteria yang harus dipenuhi suatu anggota Uni Eropa untuk mengadopsi
Euro sebagai mata uang antara lain adalah harus memiliki tingkat inflasi yang
rendah dan stabil, memiliki nilai tukar mata uang dan suku bunga jangka panjang
8
Fernanda Nechio, “Long-Run Impact of the Crisis in Europe: Reforms and Austerity Measures”,
dalam Sam Zuckerman dan Anita Todd (ed.), FRBSF ECONOMIC LETTER, San Fransisco:
Federal Reserve Bank of San Francisco, 2011, hal. 1-2
9
Rolf Caesars, dkk. Governing the Eurozone: Looking Ahead After the First Decade, Germany
Institute for International and Security Affairs, 2009, hal. 125
78
yang stabil, serta memiliki kemampuan finansial pemerintah yang baik, dalam hal
ini dilihat dari rasio defisit tahunan dan hutang pemerintah terhadap Pendapatan
Domestik Bruto (PDB). Untuk tingkat inflasi, suatu negara harus memiliki
persentase inflasi yang tidak lebih 1,5 poin dari rata-rata inflasi tiga negara
anggota yang perekonomiannya dinilai paling baik. Untuk nilai tukar, suatu
negara harus mengaplikasikan Exchange Rate Mechanism10 yang diadopsi oleh
European Monetary System selama dua tahun dan tidak boleh melakukan
devaluasi terhadap mata uangnya selama periode pengaplikasian berlangsung.
Untuk suku bunga jangka panjang, nominalnya tidak melebihi 2 poin persentase
dari tiga negara anggota dengan tingkat inflasi terendah. Untuk defisit tahunan
pemerintah, rasio defisit terhadap PDB tidak boleh di atas 3%. Untuk hutang
pemerintah, rasio hutang terhadap PDB tidak boleh di atas 60%.11 Kriteria-kriteria
tersebut diciptakan untuk menjaga stabilitas nilai Euro sekaligus menjaga
stabilitas finansial kawasan Uni Eropa, khususnya dalam hal menjaga indikatorindikator penting, yaitu inflasi, suku bunga, nilai tukar, jumlah defisit, dan tingkat
hutang negara.12 Tiga kriteria pertama didesain untuk memastikan stabilitas
moneter melalui mendorong adanya nilai tukar tetap (fixed exchange rate) di
antara negara anggota, sedangkan dua kriteria terakhir diciptakan untuk menjaga
10
Exchange Rate Mechanism adalah mekanisme yang digunakan untuk menjamin fluktuasi nilai
tukar mata uang antara Euro dan mata uang lainnya di Eropa tidak mengganggu kestabilan
ekonomi dalam pasar tunggal.
11
Madhusudhanan, “Greece Crisis and Euro Currency-An Analysis”, artikel dalam 2012
International Conference on Economics and Finance Research IPEDR Vol.32, Singapore: IACSIT
Press, 2012, hal. 70
12
M.R. Anand, GL Gupta, dan Ranjan Dash, The Eurozone Crisis: Its Dimensions and
Implications, India: Department of Economic Affairs (DEA), Ministry of Finance, 2012, hal. 5-6
79
stabilitas euro sendiri, sehingga dapat melindungi Uni Eropa dari ancaman inflasi
yang dapat muncul dari tingginya defisit anggaran pemerintah negara anggota.13
4.1.1 Stability and Growth Pact sebagai Dasar Menjaga Stabilitas
Finansial
Untuk terus menjaga stabilitas finansial dalam pengadopsian Euro,
dengan menjadikan Convergence Criteria sebagai dasar, negara-negara
anggota Eurozone meratifikasi Stability and Growth Pact (SGP) sebagai
panduan dalam menjaga perekonomian. SGP diciptakan untuk menjadi
pedoman pembiayaan publik yang baik, mencegah negara anggota
menerapkan kebijakan fiskal yang tidak berkelanjutan, dan mendorong
negara anggota untuk disiplin dalam hal penganggaran. Dikarenakan Uni
Eropa tidak bisa mengintervensi negara anggota dalam hal kebijakan fiskal,
maka SGP dibuat sebagai dasar bagi negara anggota untuk disiplin dalam
hal penerapan kebijakan fiskal, sehingga kebijakan moneter yang diciptakan
oleh ECB dapat berkoordinasi dengan baik dengan kebijakan fiskal nasional
negara-negara
anggota.
Adanya
koordinasi
ini
diharapkan
dapat
mengarahkan sekaligus mengontrol keseimbangan anggaran fiskal negara
anggota.14 Stability and Growth Pact atau SGP merupakan satu-satunya
pakta yang berfungsi menjembatani antara kebijakan moneter dan kebijakan
fiskal di Eurozone. Dengan adanya SGP, dihrapkan kekhawatiran negara
anggota mengenai pertumbuhan ekonomi yang tidak maksimal setelah
13
Panos C. Afxentiou, “Convergence, The Maastricht Criteria, and Their Benefits”, dalam The
Brown Journal 250 of World Affairs Winter/Spring 2000 – Volume VII, Issue 1, 2000, hal. 249
14
Rolf Caesars, dkk, Op.Cit., hal. 128
80
bergabung dengan Eurozone dapat teratasi. Beberapa negara, termasuk
Jerman, khawatir bahwa kebijakan moneter tunggal dan tingkat bunga yang
rendah akan berdampak pada ketidakseimbangan fiskal bagi beberapa
negara.
Euro sebagai mata uang tunggal tidak secara otomatis menciptakan
stabiitas ekonomi, akan tetapi penggunaan Euro bertujuan untuk
menciptakan stabilitas. Salah satu cara untuk mencapai stabilitas adalah
negara-negara anggota harus berpedoman pada aturan-aturan yang
ditetapkan dalam SGP. Dalam hal pembiayaan publik, SGP mengatur
beberapa hal, di antaranya adalah membatasi hutang publik sebesar 60%
dari jumlah PDB negara dan membatasi jumlah defisit anggaran negara
sebesar -3% dari jumlah PDB negara.15 Aturan-aturan ini dibuat untuk
mendorong manajemen perekonomian yang baik, khususnya untuk
menciptakan stabilitas harga, mendorong tingkat inflasi dan suku bunga
yang rendah, dan melindungi perekonomian dari ancaman guncangan
ekseternal perekonomian global.
Pada tahun 2005, SGP diamandemen agar bersifat lebih fleksibel
karena pada awal penerapannya, banyak negara anggota yang melanggar
standar batas yang ditetapkan oleh SGP. Pada versi SGP yang telah
diamandemen, negara dapat memperpanjang hutangnya apabila mengalami
pengurangan defisit, berapapun tingkat penurunnnya, sedangkan pada versi
original SGP, negara boleh memperpanjang hutang atau melakukan
15
C. Fred Bergsten dan Jacob Funk Kirkegaard, “The Coming Resolution of The European
Crisis”, dalam Policy Brief Number PB 12-1 January 2012, Washington, D.C: Peterson Institute
for International Economics, 2012, hal. 4
81
pinjaman kembali hanya bila terjadi pengurangan defisit setidaknya 2%.
Selain itu, bagi negara yang dapat memanajemen hutangnya ke level aman,
dapat melakukan pinjaman dalam jumlah lebih besar.16 Fleksibilitas dari
peraturan yang telah diamandemen ini tentunya mendorong negara anggota
untuk lebih mudah melakukan pinjaman.
Akan tetapi, SGP terus berusaha beroperasi secara preventif dan
korektif. Secara preventif, SGP menciptakan panduan prosedurial untuk
menghindari defisit yang berlebih dan langkah-langkah mencapi konsolidasi
fiskal melalui perangkat anggaran jangka menengah untuk setiap negara
anggota, sehingga situasi perekonomian negara anggota dan prospeknya
dapat tetap berada di margin aman yang ditetapkan dalam SGP. Sanksi yang
berlaku bagi negara anggota yang tidak menerapkan mekanisme preventif
SGP adalah tekanan-tekanan dari negara-negara anggota lain yang
diharapkan dapat mendorong pemerintah nasional untuk disiplin dalam hal
menciptakan manajemen anggaran yang berkelanjutan. Secara korektif, SGP
menuntut negara-negara anggota untuk segera mengambil langkah korektif
apabila defisit dan rasio hutang yang dimiliki melampaui batas yang
ditetapkan oleh SGP. Akan tetapi, SGP memberikan pengecualian apabila
defisit dan hutang yang dimiliki adalah hasil dari krisis ekonomi yang parah
atau peristiwa tidak biasa yang berada di luar batas kontrol dan kemampuan
pemerintah nasional.17
16
Barry Eichengreen, “Europe, Euro, and the ECB: Monetary Success, Fiscal Failure”, daam
Journal of Policy Modelling, vol. 27, no. 4, Amsterdam: Elsevier, 2005, hal. 430
17
“EU Economic and Monetary Union: A Framework for Stability”, Op.Cit., hal. 3
82
Tabel 4.1 Lini Masa Berkembangnya Economic and Monetary Union
Uni Eropa
1970
1978
1989
1990
1991
1992
Penetapan 3 langkah pendekatan untuk mencapai terbentuknya Economic and
Monetary Union. Akan tetapi harus ditunda karena kondisi perekonomian yang
kurang baik.
Terbentuknya European Monetary System beserta Exchange Rate Mechanism
(ERM) dan European Currency Unit (ECU)
Dikeluarkannya peta langkah strategis untuk membentuk Economic and
Monetary Union (EMU)
Langkah pertama untuk mencapai EMU: lebih mengkoordinasikan kebijakan
ekonomi dan liberalisasi perpindahan kapital.
Perundingan mengenai ketentuan-ketentuan Convergence Criteria
2001
2002
Perjanjian Maastricht ditandatangani, beserta Convergence Criteria yang harus
dipenuhi oleh negara anggota yang ingin bergabung dengan EMU
Beroperasinya pasar tunggal, dengan 4 prinsip pergerakan bebas, yaitu
pergerakan bebas barang, jasa, orang, dan kapital.
Langkah pertama untuk mencapai EMU: pembentukan European Monetary
Institute (EMI).
Disepakatinya Stability and Growth Pact (SGP) dan direvisinya ERM menjadi
ERM II.
Dewan dan Parlemen Uni Eropa menyetujui 11 negara anggota memenuhi
kriteria untuk mengadopsi mata uang tunggal. European Central Bank dibentuk
dengan mandat untuk mengatur kebijakan moneter (menggantikan EMI).
Euro diadopsi sebagai mata uang tunggal EMU Uni Eropa oleh Austria,
Belanda, Belgia, Finlandia, Jerman, Irlandia, Italia, Luksemburg, Perancis,
Portugal, dan Spanyol. Dalam masa transisi selama 3 tahun, mata uang nasional
masih disirkulasikan. Euro hanya menjadi mata uang virtual
Yunani bergabung dengan Eurozone.
Uang kertas dan koin Euro mulai diperkenalkan di 12 negara anggota
2007
Slovenia bergabung dengan Eurozone.
2008
Cyprus dan Malta memasuki Eurozone.
2009
Slovakia bergabung dengan Eurozone.
2011
Estonia bergabung dengan Eurozone.
1993
1994
1997
1998
1999
Sumber: European Commission, Economic and Monetary Union – A Timeline
4.1.2 Perbandingan Kondisi Perekonomian Yunani dengan Standar
Uni Eropa
Pada tahun 1999 saat Perjanjian Maastricht diratifikasi, Yunani
dinyatakan belum memenuhi persyaratan fiskal yang diatur oleh
convergence criteria untuk bergabung dengan Eurozone. Akan tetapi, pada
tahun 2001, Yunani dinyatakan sudah memenuhi semua persyaratan untuk
bergabung dengan Eurozone dan diizinkan untuk mengadopsi Euro sebagai
83
mata uang. Euro secara resmi digunakan sebagai mata uang Yunani pada
tahun 2002 untuk menggantikan mata uang sebelumnya, yaitu drachma.18
Yunani pun menjadi negara ke-12 yang mengadopsi Euro sebagai mata
uang.
Sebelum bergabung menjadi anggota Eurozone, Yunani menjadi salah
satu negara anggota yang menunjukkan performa ekonomi yang buruk di
regional Eropa. Hal ini dapat dilihat dari inflasi tahunan Yunani merupakan
salah satu tingkat inflasi tertinggi di regional tersebut, pengeluaran
pemerintah yang tinggi, dan pertumbuhan PDB yang lambat jika
dibandingkan dengan negara-negara Eropa yang lain.19 Euforia dan
optimisme akan era baru dalam pertumbuhan ekonomi dan stabilitas
finansial melalui bergabung menjadi anggota Eurozone, justru mendorong
ketidakseimbangan yang berkelanjutan dalam perekonomian Yunani.
Dengan bergabung dengan Eurozone, banyak manfaat yang didapatkan oleh
Yunani. Salah satunya adalah memiliki akses untuk masuk ke pasar kapital
Eropa, yang artinya Yunani dapat melakukan pinjaman dalam jumlah besar
namun dengan suku bunga rendah layaknya negara-negara besar anggota
Uni Eropa, seperti Jerman dan Perancis. Tujuan sebenarnya dari pemberian
akses pinjaman yang mudah dan murah ini adalah untuk mendorong negaranegara
anggota
Eurozone
untuk
lebih
kompetitif,
yaitu
dengan
18
Roger
Cohen,
Ther
Great
Greek
Illusion,
diakses
dari
http://www.nytimes.com/2011/06/21/opinion/21iht-edcohen21.html pada 5 Oktober 2012
19
Bennett Stancil, “Why Greece Has To Restructure Its Debt”, dalam Paradigm Lost: The Euro In
Crisis, Washington, D.C.: Carnegie Endowment for International Peace, 2010, hal. 25-26
84
menggunakan pinjaman untuk mereformasi pasar tenaga kerja, membuka
dan merestrukturisasi perekonomiannya, serta mendorong ekspor.20
Grafik 4.1 Rata-Rata Nilai Obligasi, Inflasi, dan Pertumbuhan PDB
Negara Anggota Eurozone Sebelum Mengadopsi Euro (1990-1995)
Sumber: Bennett Stancil, Ireland: From Bubble To Broke
Akan tetapi, berdasarkan rasio ekonomi pemerintah Yunani dan aturan
dari Uni Eropa, lebih murah bagi Yunani untuk melakukan impor komoditas
dengan menggunakan pinjaman dari Eurozone untuk memenuhi kebutuhan
nasionalnya dibanding melakukan produksi dengan mengandalkan sektor
industri dalam negeri Yunani.21 Akhirnya, sejak bergabung dengan
Eurozone, jumlah ketidakseimbangan dalam neraca perdagangan Yunani
terus meningkat, serta jumlah rasio hutang Yunani pun terus meningkat. Hal
ini juga mendorong perekonomian Yunani menjadi tidak kompetitif.22
20
Georgia Kaplanoglou dan Vassilis T. Rapanos, “The Greek Fiscal Crisis and The Role of Fiscal
Governance”, dalam GreeSE Paper No. 48 Hellenic Observatory Papers on Greece and Southeast
Europe, London: Hellenic Observartory European Institute, London School of Economics and
Political Science, 2011, hal. 30-32
21
Berdasarkan hasil wawancara dengan Michael Rousakis, Staf peneliti dan pengajar di
Departemen Ekonomi University of Warwick dan European University Institute, Italia pada 13
November 2012
22
Nikolaos Karagiannis dan Alexander G. Kondeas, “The Greek Financial Crisis and A
Developmental Path to Recovery: Lessons and Options”, dalam Real-world Economics Review,
Issue no. 60, 2012, hal. 60
85
Setelah menjadi tuan rumah Olympics 2004, hutang Yunani semakin
membengkak akibat pembangunan infrastruktur yang memerlukan dana
yang besar untuk mempersiapkan Olympics. Akhirnya pemerintah Yunani
mengaku bahwa telah memanipulasi data, terkait kondisi perekonomian
nasional, agar bisa bergabung dengan Eurozone.23
Sejak tahun 2004-2006, Komisi Uni Eropa telah menetapkan Yunani
di bawah pengawasan dikarenakan defisit anggaran Yunani telah melanggar
standar yang ditetapkan SGP, yaitu sebesar 3%. Di bawah pengawasan Uni
Eropa, pemerintah Yunani berhasil menurunkan defisit anggaran dari 7,5%
pada tahun 2004 menjadi 2,6% pada tahun 2006. Akan tetapi, setelah
dilakukan revisi data, ternyata defisit pada tahun 2006 tidak terlalu berbeda
jauh dari tahun 2004, yaitu sebesar 5,7%. Lemahnya struktur ekonomi
Yunani, mendorong defisit anggaran Yunani mencapai 15,6% pada akhir
tahun 2009 yang juga merupakan sebagai dampak terjadinya krisis finansial
global.24 Artinya, sejak bergabung dengan Eurozone, Yunani tidak pernah
memenuhi persyaratan yang ditetapkan convergence criteria maupun SGP.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Eurostat, badan Uni Eropa yang
berfungsi mengolah data statistika dari negara-negara anggota Uni Eropa,
sejak tahun 2001, yaitu tahun bergabungnya Yunani dengan Eurozone,
persentase rasio hutang pemerintah Yunani terhadap jumlah PDB selalu
berada di atas 60% dan persentase defisit selalu di atas 3%.
23
Graeme
Waerden,
Greece
Debt
Crisis:
Timeline,
diakses
dari
http://www.guardian.co.uk/business/2010/may/05/greece-debt-crisis-timeline pada 5 Oktober 2012
24
Nikolaos Karagiannis dan Alexander G. Kondeas, Loc.Cit., hal. 61
86
Grafik 4.2 Selisih Inflasi Yunani dengan Eurozone Tahun 1999-2007
Sumber: Theodore Pelagidis, The Greek Paradox of Falling Competitiveness and Weak
Institutions in a High GDP Growth Rate Context (1995-2008)
Tabel 4.2 Perbandingan Antara Persentase Rasio Defisit Pemerintah
Yunani Terhadap PDB dengan Standar SGP Eurozone
Standar
SGP
(%PDB)
Yunani
(%PDB)
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
-3
-3
-3
-3
-3
-3
-3
-3
-3
-4,5
-4,8
-5,6
-7.5
-5,2
-5,7
-6,5
-9,8
-15,6
Sumber: Eurostat, Eurozone Deficit
Grafik 4.3 Fluktuasi Anggaran Fiskal, Pengeluaran, dan Pendapatan
Pemerintah Yunani Tahun 2001-2009
Sumber: European Commission, Excessive Debt Procedure Notification
87
Tabel 4.3 Perbandingan Antara Persentase Rasio Hutang Pemerintah
Yunani Terhadap PDB dengan Standar SGP Eurozone Tahun 20012009
Standar
SGP
(%PDB)
Yunani
(%PDB)
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
60
60
60
60
60
60
60
60
60
103,7
101,7
97,4
98,6
100
106,1
107,4
113
129,4
Sumber: Eurostat, General Government Gross Debt
4.2
Terjadinya Sovereign Debt Crisis Yunani dan Dinamikanya Tahun
2009-2010
Permasalahan fiskal yang terjadi di Yunani mulai menjadi perhatian dunia
internasional setelah pemilihan legislatif pada Oktober 2009. Beberapa minggu
setelah
terpilih
sebagai
Perdana
Menteri
Yunani,
George
Papandreou
mengumumkan bahwa persentase defisit Yunani sebenarnya mencapai 12,7% dari
jumlah PDB. Jumlah ini tentunya memiliki selisih yang jauh dari total defisit yang
diumumkan oleh pemerintahan sebelumnya yang dipimpin Costas Caramanlis,
yaitu sebesar 6%. Lalu, Eurostat merevisi anggaran defisit Yunani dan
mengumumkan bahwa persentase defisit Yunani mencapai 15,6% dari jumlah
PDB.25 D
efisit fiskal Yunani semakin memburuk secara signifikan seiring dengan
memburuknya dampak krisis finansial global 2008 yang melanda tidak hanya
negara di Eropa, melainkan hampir seluruh negara di dunia. Setelah mengalami
25
Georgios P. Kouretas dan Prodromos Vlamis, The Greek Crisis: Causes and Implications,
Beograd: Economists’ Association of Vojvodina, 2010, hal. 394
88
dinamika perekonomian yang fluktuatif, akhirnya pada tahun 2009 Yunani
memasuki resesi yang berkepanjangan. Defisit fiskal yang Yunani yang
terakumulasi dari hutang yang membengkak memicu terjadinya sovereign debt
crisis. Balance of payment Yunani sendiri selalu menunjukkan angka defisit yang
konsisten jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya khususnya di
Eropa.
Tabel 4.4 Current Account Balance Negara-Negara Maju Tahun 2001-2010
(EUR 1000 million)
Sumber: Eurostat
Selain mengalami sovereign debt crisis, Yunani juga mengalami krisis
kepercayaan pasar yang tentunya semakin memperburuk sovereign debt crisis
yang tengah terjadi. Yunani mendapat kritik keras dari media internasional,
89
organisasi internasional, agensi rating, dan dari Uni Eropa sendiri. Pemalsuan data
fiskal yang dilakukan oleh rezim pemerintahan sebelumnya berhasil membuat
tingkat kepercayaan pasar terhadap obligasi Yunani berkurang dan rating obligasi
Yunani turun secara signifikan. Selain itu, melihat tingginya hutang publik
Yunani membuat nilai obligasi Yunani semakin tidak menarik. Spekulasispekulasi pasar terhadap kebijakan fiskal yang akan diambil pemerintah yang
berkuasa juga semakin menyudutkan Yunani.26
4.2.1 Penyebab Terjadinya Sovereign Debt Crisis Yunani
Penyebab utama terjadinya sovereign debt crisis adalah akumulasi
hutang yang menumpuk, sehingga menyebabkan pemerintah Yunani
mengalami defisit dalam jumlah yang besar bahkan tidak sanggup melunasi
hutangnya yang akan jatuh tempo beserta bunganya. Perekonomian Yunani
sangat rentan karena beberapa faktor yang akhirnya menyebabkan
pertumbuhan
ekonomi
tidak
berkelanjutan.
Pertama,
karena
ketidakseimbangan fiskal. Rasio hutang dan defisit terhadap jumlah PDB
Yunani tertinggi jika dibandingkan dengan negara anggota Eurozone yang
lain. Kedua, dikarenakan besarnya anggaran belanja pemerintah. Anggaran
belanja pemerintah Yunani tertinggi jika dibandingkan dengan negara
anggota Eurozone yang lain. Ketiga, perekonomian yang tidak kompetitif
berimplikasi pada performa ekonomi Yunani. Keempat, rendahnya
26
George Alogoskoufis, “Greece’s Sovereign Debt Crisis: Retrospect and Prospect”, dalam
GreeSE Paper No.54 Hellenic Observatory Papers on Greece and Southeast Europe, London:
Hellenic Obsevatory European Institute, London School of Economics and Political Science, 2012,
hal. 28
90
manajemen fiskal rezim-rezim pemerintah yang pernah berkuasa di
Yunani.27 Ketidakmampuan kebijakan fiskal pemerintah Yunani untuk
menyeimbangi kebijakan moneter ECB menjadi salah satu faktor semakin
memburuknya
krisis.28
Untuk
menganalisa
faktor-faktor
penyebab
terjadinya sovereign debt crisis Yunani, maka dapat diklasifisikan ke dalam
dua kategori, yaitu faktor internal yang berasal dari sistem, pemerintah, dan
masyarakat Yunani dan faktor eksternal yang berasal dari sistem
internasional. Kedua kategori faktor dapat dilihat dari berbagai perspektif,
baik ekonomi, sosial, maupun politik.
a.
Penyebab Internal
Secara ekonomi, sebelum bergabung dengan Eurozone pemerintah
Yunani sudah boros dalam hal anggaran. Setelah mengadopsi Euro sebagai
mata uang, pengeluaran publik justru semakin meningkat. Selain itu, Yunani
lebih banyak melakukan impor daripada melakukan ekspor. Pengeluaran
pemerintah Yunani merupakan salah satu pengeluaran terbesar jika
dibandingkan dengan negara anggota Eurozone yang lain. Akan tetapi,
pengeluaran dalam jumlah yang besar tidak diiringi dengan pemasukan yang
besar.
Akibatnya,
neraca
anggaran
Yunani
selalu
mengalami
ketidakseimbangan.
27
Pernyataan Lucas Papademos, “The Greek Financial Crisis”, disampaikan dalam pidato untuk
Conference on Household Finance, Athena, 23 September 2010
28
Diego Valiante, “The Eurozone Debt Crisis: from Its Origins to A Way Forward”, dalam The
Original Sin of The Eurozone Debt Crisis: What Lies Ahead, Brussels: Centre for European Policy
Studies, 2011, hal. 2
91
Grafik 4.4 Rata-Rata Peningkatan Grafik 4.5 Rata-Rata Neraca
Pengeluaran Pemerintah 10 Negara Anggaran 10 Negara Anggota
Anggota Eurozone Tahun 1997- Eurozone Tahun 1997-2007 2007 Sumber: Uri Dadush dan Bennett Stancil, Why Greece
Has To Restructure Its Debt
Ada
Sumber: Uri Dadush dan Bennett Stancil, Why Greece
Has To Restructure Its Debt
beberapa faktor yang menyebabkan pemerintah Yunani memiliki
pengeluaran yang besar. Salah satunya adalah dikarenakan lemahnya
kerangka anggaran Yunani, yang disebabkan oleh kurangnya transparansi
dan akuntabilitas, kurangnya kerangka anggaran yang bersifat jangka
menengah, tidak adanya anggaran program yang mendetail, dan kurangnya
koordinasi antar lembaga publik Yunani dalam hal anggaran.29 Di sektor
perbankan, bank negara banyak memberikan subsidi untuk bisnis yang
kurang menghasilkan profit. Pemerintah Yunani juga banyak menghabiskan
anggaran untuk melakukan pembangunan infrastruktur yang tidak
menciptakan produktivitas berkelanjutan, contohnya adalah pembangunan
infrastruktur untuk Olimpiade 2004. Pemerintah juga menghabiskan banyak
anggaran untuk militer. Pada tahun 1970an, anggaran tahunan pemerintah
29
Georgia Kaplanoglou dan Vassilis T. Rapanos, “The Greek Fiscal Crisis and The Role of Fiscal
Governance”, dalam GreeSE Paper No. 48 Hellenic Observatory Papers on Greece and Southeast
Europe, London: Hellenic Observartory European Institute, London School of Economics and
Political Science, 2011, hal. 22-24
92
Yunani untuk militer berkisar 5,8% dari total PDB, 6,2% pada tahun
1980an, 4,6% pada tahun 1990an, dan 3,1% sepanjang tahun 2000-2008.30
Yunani adalah negara yang mengeluarkan biaya pertahanan terbesar kedua
di NATO, setelah Amerika Serikat, dan tertinggi di Uni Eropa.31
Selain itu, sektor publik Yunani tumbuh dengan ketidakefisiensian,
karena memperkerjakan terlalu banyak orang. Setiap tahunnya upah dan
dana pensiun pegawai sektor publik dinaikkan. Jumlah alokasi dana untuk
gaji pemerintah naik hampir 100% sepanjang tahun 2000-2008, yaitu
menjadi 27 juta Euro atau 11,4% dari total PDB. Padahal di periode yang
sama, nominal PDB hanya bertumbuh 74%. Di tahun 2009, gaji pegawai
pemerintah naik lagi sebesar 7,5% menjadi 29 juta Euro atau sekitar 12,4%
total PDB.32 Dana pensiun Yunani adalah 95,7% dari total pendapatan
sepanjang hidup pegawai. Dana pensiun Yunani merupakan yang tertinggi
di wilayah Eurozone. Sebagai perbandingan, dana pensiun di Jerman adalah
60,8% dari total pendapatan sepanjang hidup. Selain itu, batas usia pensiun
pegawai sektor publik Yunani adalah 58 tahun. Jika dibandingkan dengan
negara Eropa lainnya, standar ini rendah. Batas usia pensiun di Jerman
berkisar 65-67 tahun.
30
Maria Karamessini, “Sovereign Debt Crisis: An Opportunity to Complete The Neoliberal
Project and Dismantle The Greek Employment Model”, dalam Steffen Lehndorff (ed.), A Triumph
of Failed Ideas – European Models of Capitalism in The Crisis, Brussels: European Trade Union
Institute, hal. 165
31
Harris Mlyonas, “Is Greece A Failing Developed State? Causes And Socio-Economic
Consequences Of The Financial Crisis”, Dalam K.E. Botsiou dan A. Klapsis (Eds.), The
Konstantinos Karamanlis Institute For Democracy Yearbook 2011, Athena: The Konstantinos
Karamanlis Institute For Democracy, 2011, hal. 79
32
European Commission, Occasional Paper 61, Brussels: European Commission, 2010, hal. 16
93
Grafik 4.6 Divergensi Biaya Tenaga Kerja Negara Anggota Eurozone
Sumber: OECD, Divergence in European Labour Costs
Tabel 4.5 Perbandingan Upah Minimum Per Bulan yang Ditetapkan
Negara Periferi Eurozone Tahun 2000-2008 (dalam Euro)
Yunani
Spanyol
Portugal
Estonia
Slovakia
Slovenia
Malta
2001
548
433
390
102
102
396
532
2002
552
516
406
118
114
431
552
2003
605
526
416
138
138
451
534
2004
631
537
426
159
143
471
541
2005
668
599
437
172
167
490
557
2006
668
631
450
192
182
512
580
2007
658
666
470
230
217
522
584
2008
794
700
497
278
242
539
612
2009
840
728
525
278
296
589
635
Sumber: Eurostat, Minimum Wages in January 2009
Pegawai sektor publik juga memiliki tingkat job security yang lebih
rendah daripada pegawai sektor privat, bahkan dapat dikatakan bahwa
sangat mustahil untuk memecat pegawai sektor publik.33 Akibatnya, banyak
masyarakat Yunani yang lebih memilih untuk bekerja di sektor publik.
Sektor publik mempekerjakan lebih dari 45% dari total populasi tenaga
kerja.34 Praktik kolusi yang membudaya di sektor publik Yunani juga
33
Ibid., hal. 164
Corinne Deloy dan Stellina Galitopoulou, “Great Uncertainty Just One Month Before The Next
Greek General Elections”, dalam European Elections Monitor: GENERAL ELECTIONS IN
GREECE 6th May 2012, Paris: The Robert Schuman Foundation, 2012, hal. 4
34
94
menyadi penyebab bengkaknya jumlah pegawai di sektor publik. Partai
yang memenangi pemilihan umum akan merekrut lebih banyak anggota
partainya untuk menempati posisi-posisi strategis di sektor pemerintahan.35
Sayangnya, banyaknya jumlah pegawai di sektor publik berbanding terbalik
dengan tingkat produktivitas kerja.
Diagram 4.1. Persebaran Pegawai Sektor Publik Yunani
Sumber: European Commission, Occasional Paper 68
Rendahnya jumlah tenaga kerja di sektor privat menyebabkan sektor
privat Yunani tidak kompetitif dan produktif. Sektor privat Yunani hanya
terdiri dari perusahaan-perusahaan kecil. Perusahaan besar hanya bergerak
di bidang persenjataan militer maritim. Rendahnya daya saing Yunani juga
dapat dilihat dari sangat rendahnya aktivitas ekspor produk dan jasa Yunani.
Bahkan semenjk bergabung dengan Eurozone, jumlah ekspor Yunani
semakin berkurang.36 Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Yunani
bukan berdasarkan pada ekspor, sehingga struktur perekonomiannya lemah
karena hanya mengandalkan sumber daya dari Uni Eropa.
35
Christos Lyrintzis, Greek Politics in the Era of Economic Crisis: Reassessing Causes and
Effects, London: Hellenic Observartory European Institute, London School of Economics and
Political Science, 2011, hal. 3-4
36
Pantelis Sklias dan George Galatsidas, The Political Economy of the Greek Crisis: Roots,
Causes and Perspectives for Sustainable Development, dalam EuroJournals Publishing, Inc, 2010,
hal. 169
95
Grafik 4.7 Perubahan Tahunan Rasio Tingkat Ekspor Yunani
Terhadap PDB
Sumber: OECD Economic Outlook 88, Export Market Share Growth Pre And Post Euro
Grafik 4.8 Perbandingan Nilai Ekspor Yunani dengan Jerman dan
Rata-Rata 16 Negara Anggota Eurozone
Sumber: Nikolaos Karagiannis dan Alexander G. Kondeas, The Greek Financial Crisis and
A Developmental Path to Recovery: Lessons and Options
Bisnis juga tidak terlalu tumbuh subur di Yunani juga disebabkan
karena sulitnya membuka bisnis di Yunani. Salah satunya adalah rumitnya
birokrasi Yunani, yang akhirnya menyebabkan panjangnya proses
administrasi untuk melakukan bisnis. Untuk mendirikan suatu perusahaan,
96
pelaku bisnis harus melalui 15 prosedur yang kira-kira memakan waktu 38
hari. Padahal rata-rata negara di Eropa memiliki 6 prosedur yang kira-kira
memakan waktu 25 hari. Selain banyaknya prosedur yang harus dilalui,
apabila ingin membuka bisnis, pihak yang bersangkutan harus secara
mandiri mengumpulkan dokumen-dokumen yang diperlukan dengan cara
data ke kantor administrasi Yunani. Padahal di negara-negara Eropa lain
sudah memberlakukan pengiriman dokumen administrasi melalui surat
elektronik.37 Pada tahun 2009, Yunani berada di urutan ke-109 pada survey
yang dilakukan World Bank mengenai tingkat kemudahan melakukan bisnis
di suatu negara. Peringkat Yunani berada di bawah negara-negara Afrika
seperti Uganda, Yemen, dan Ethiopia.38
Tabel 4.6 Peringkat Dimensi Lingkungan Bisnis Yunani
Sumber: World Bank, Doing Business 2009
37
Steven Panageotou, A Critical Literature Review of the Greek Financial Crisis, 2011, hal. 7
Anne Sibert, The Greek Sovereign Debt Crisis and The Eurosystem, Brussels: Policy
Department Economic and Scientific Policies, European Parliament, 2010, hal. 5
38
97
Grafik 4.9 Peringkat Negara Anggota Eurozone dalam Kemudahan
Melakukan Bisnis
120 109 100 78 80 60 40 20 5 7 16 28 30 31 22 24 25 40 42 48 53 62 64 Yunani
Spanyol
Luksemb
urg
Italia
Slovenia
Portugal
Slovakia
Cyprus
Perancis
Belanda
Austria
Jerman
Estonia
Irlandia
Finlandi
a
Belgia
Inggris
0 Sumber: World Bank, Doing Business 2009
Manajemen pemungutan pajak yang buruk menjadi penyebab
rendahnya pemasukan pemerintah Yunani. Menghindari pajak menjadi
suatu hal yang lazim dilakukan di Yunani, baik itu oleh perusahaan besar,
pemerintah, perbankan, bahkan masyarakat sipil.39 Sistem pajak Yunani
juga sangat buruk. Pajak hanya dikenakan kepada masyarakat golongan
atas, yang notabene populasinya sangat kecil di Yunani. Masyarakat yang
memiliki pendapatan di bawah 12.000 Euro per tahun tidak dikenakan
pajak.40 Banyak masyarakat Yunani yang melakukan kecurangan dengan
memalsukan data pendapatan untuk menghindari pajak.
Secara politik, faktor yang menyebabkan sovereign debt crisis di
Yunani adalah budaya korupsi yang mengakar. Yunani dikenal sebagai
39
Maria Karamessini, Loc.Cit., hal. 165
Georgia Kaplanoglou dan Vassilis T. Rapanos, The Greek Fiscal Crisis and The Role of Fiscal
Governance, London: Hellenic Observartory European Institute, London School of Economics and
Political Science, 2011, hal. 30-32
40
98
tempat lahirnya demokrasi modern. Akan tetapi, praktik korupsi yang marak
terjadi sama sekali tidak mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi. Korupsi
terstrukturisasi dan terinstitusionalisasi di seluruh ranah Yunani. Akibat
praktik korupsi, setiap tahunnya pemerintah Yunani diestimasikan merugi
sebesar 8% dari jumlah PDB.41 Yunani adalah negara terkorup di Eropa,
khususnya di Eurozone.
Tabel 4.7 Peringkat Tingkat Korupsi Negara Anggota Eurozone Tahun
2009
Peringkat
Negara
6
7
13
14
15
16
21
23
27
28
Finlandia
Belanda
Luksemburg
Jerman
Irlandia
Austria
Belgia
Perancis
Cyprus
Estonia
Skor
CPI
8,9
8,9
8,2
8
8
7,9
7,1
6,9
6,6
6,6
Peringkat
Negara
Skor CPI
27
28
29
33
35
45
60
63
Cyprus
Estonia
Slovenia
Spanyol
Portugal
Malta
Slovakia
Italia
6,6
6,6
6,6
6,1
5,8
5,2
4,5
4,3
73
Yunani
3,8
Sumber: Transparency International, Corruption Perceptions Index 2009
Sayangnya, struktur dari sistem politik Yunani sendiri membuat
pemberantasan korupsi sulit dilakukan. Pada bab 3 pasal 62 konstitusi
Yunani yang mengatur tentang hak dan kewajiban anggota parlemen
Yunani, konstitusi memberikan hak imunitas kepada anggota parlemen,
sehingga politisi tidak bisa ditangkap, dipenjara, atau diproses secara hukum
tanpa melalui persetujuan parlemen. Padahal parlemen adalah sarang
koruptor.
41
Steven Panageotou, Op.Cit., hal. 5
99
“During the parliamentary term the Members of Parliament shall not be
prosecuted, arrested, imprisoned or otherwise confined without prior leave
granted by Parliament. Likewise, a member of a dissolved Parliament shall
not be prosecuted for political crimes during the period between the
dissolution of Parliament and the declaration of the election of the members
of the new Parliament.”
b.
Penyebab Eksternal
Selain disebabkan oleh faktor-faktor internal yang ada di Yunani,
sovereign debt crisis yang terjadi juga disebabkan oleh beberapa faktorfaktor eksternal. Salah satunya adalah kondisi perekonomian global. Krisis
finansial global yang terjadi pada tahun 2008 memengaruhi seluruh
perekonomian negara di dunia, tidak terkecuali Yunani. Dampak yang dapat
dirasakan dari krisis finansial global adalah rendahnya tingkat aliran
investasi akibat berkurangnya jumlah simpanan dan kurangnya kepercayaan
investor.42 Yunani sudah memiliki akumulasi hutang yang banyak sejak
beberapa tahun silam. Akan tetapi, akumulasi hutang yang dimiliki berubah
menjadi krisis hutang pada tahun 2009 karena didorong krisis finansial
global tahun 2008, yang menyebabkan defisit Yunani bertambah besar
karena nilai pinjaman Yunani bertambah, sehingga Yunani semakin tidak
sanggup untuk membayar hutang. Tidak hanya Yunani yang mengalami
penurunan kondisi perekonomian, hampir seluruh negara di dunia, termasuk
negara-negara besar di Eropa mengalami penurunan kondisi perekonomian.
Karena sistem perekonomian Uni Eropa, khususnya Eurozone saling terkait
42
Impact of Greece Crisis, Bangalore: Capitalvia, 2010, hal. 7-9
100
satu sama lain, maka ketika suatu economic shock melanda sistem tersebut,
maka tidak mengherankan apabila negara-negara di dalamnya juga ikut
terkena pengaruhnya.
Grafik 4.10 Peningkatan Persentase Hutang Negara Akibat Krisis
Finansial Global
Sumber: McKinsey Germany, The Future of The Euro: An Economic Perspective on
Eurozone Crisis
Faktor eksternal lainnya yang memacu sovereign debt crisis Yunani
adalah spekulasi pasar. Akibat spekulasi bahwa Yunani tidak sanggup
membayar pinjaman, timbul kepanikan di pasar kapital. Para investor segera
menarik investasi mereka dari Yunani. Padahal dalam kondisi defisit dan
untuk mendorong pertumbuhan, investasi sangat dibutuhkan oleh suatu
negara. Sepanjang tahun 2009, rating nilai obligasi dan aset bank Yunani
terus turun. Pemberian rating pada nilai obligasi dan aset perbankan Yunani
oleh badan-badan rating adalah salah satu faktor yang memunculkan
spekulasi.
101
Sovereign debt crisis yang terjadi di Yunani juga menyiratkan betapa
jahatnya sistem internasional bagi negara-negara dengan struktur ekonomi
lemah seperti Yunani. Setelah bergabung dengan Eurozone, jumlah hutang
Yunani justru semakin membengkak. Hal ini disebabkan adanya kemudahan
dalam melakukan pinjaman bagi negara-negara anggota Eurozone.43
Banyaknya likuiditas yang beredar di pasar keuangan sebagai implikasi dari
ECB membuat permintaan terhadap likuiditas terus meningkat. Permintaan
ini yang kemudian menghasilkan tingginya keinginan untuk melakukan
kredit. Yang menjadi masalah adalah, kecenderungan akan berhutang ini
tidak diikuti dengan kemampuan Yunani membayar hutang. Selain itu, di
samping mendorong keinginan untuk melakukan pinjaman, tingkat suku
bunga yang rendah, bahkan negatif,
juga menjadikan keinginan untuk
berinvestasi rendah. Hal ini lah yang menciptakan ketidakseimbangan yang
berkepanjangan dari anggaran Yunani.44
Selain itu, Eurozone memberi akses yang sama bagi negara anggota
untuk mengakses pasar modal untuk melakukan pinjaman, namun tidak
memberi akses yang sama bagi negara anggota untuk menjual sekuritas.
Pada awal terjadinya krisis finansial global tahun 2007, ECB, sebagai bank
sentral Eurozone, mengambil kebijakan perpanjangan fasilitas kredit dan
likuiditas. Kebijakan likuiditas yang dilakukan ECB ini berhasil membantu
merevitalisasi bank-bank swasta, namun berdampak pada sulitnya
43
Georgia Kaplanoglou dan Vassilis T. Rapanos, The Greek Fiscal Crisis and The Role of Fiscal
Governance, London: Hellenic Observartory European Institute, London School of Economics and
Political Science, 2011, hal. 30-32
44
Ersi Athanassiou, Fiscal Policy and the Recession: The Case of Greece, Athena: Centre or
Planning and Economic Research, 2009, hal. 11
102
pemerintah untuk menerbitkan obligasi, sehingga permintaan pasar terhadap
sekuritas negara pun berkurang.45 Pasar pun lebih memilih untuk membeli
sekuritas dari negara yang lebih murah dan aman. Hal ini lah yang menimpa
Yunani ketika berusaha memasuki pasar modal untuk menjual obligasi agar
bisa menutup hutang, kepercayaan pasar terhadap obligasi Yunani sudah
berkurang, namun harus ditambah bersaing dengan sekuritas negara anggota
Eurozone yang lain yang lebih murah dan lebih aman, seperti Jerman.
Akhirnya obligasi Yunani tidak laku di pasar modal. Kebijakan moneter
yang diberlakukan di Eurozone terkadang hanya menguntungkan bagi
negara-negara anggota dengan perekonomian besar, namun merugikan bagi
negara periferi, seperti Yunani.46 Kebijakan moneter yang diambil ECB
sering disetir agar menguntungkan perekonomian negara besar seperti
Jerman. Misalnya adalah kebijakan key interest rate yang dilakukan ECB
pada tahun 2004-2005, dimana suku bunga dinaikkan hanya sebesar 0,25%.
Hal ini sangat berbeda dengan kenaikan-kenaikan selanjutnya yang cukup
ekstrim. Rendahnya tingkat suku bunga ini ternyata ditujukan untuk
memulihkan perekonomian Jerman. Pemulihan ekonomi Jerman melalui
tingkat suku bunga yang cenderung rendah ini berdampak negatif bagi
negara-negara yang sedang meningkatkan pertumbuhan ekonominya, seperti
Yunani dan negara periferi lainnya.47 Negara-negara tersebut membutuhkan
45
Barry Eichengreen, Op.Cit., hal
Stergios Skaperdas, “Policymaking in the Eurozone and The Core vs Peripheral Problem”,
dalam CESifo Forum Vol.2/2011, 2011, hal. 3
47
Tengku Iari Vehuliza, Kegagalan Kebijakan Moneter ECB dalam Menjaga Stabilitas Kawasan
Eurozone, Depok: Universitas Indonesia, 2011, hal. 89-90
46
103
tingkat suku bunga yang tinggi untuk merangsang investasi dan mengontrol
inflasi.
Uni Eropa telah menciptakan sistem ekonomi yang salah bagi negaranegara anggotanya, dimana sistem ini lebih banyak memberikan keuntungan
bagi Jerman sebagai pemain utama di Uni Eropa. Yunani dahulu pernah
menjadi negara yang kaya, namun karena sistem ekonomi yang salah yang
telah diciptakan oleh Uni Eropa, Yunani terpaksa mengikuti aturan dari Uni
Eropa. Pasar ekspor Uni Eropa banyak didominasi oleh Jerman, sedangkan
negara-negara anggota lain hanya menjadi klien untuk menguntungkan
ekonomi Jerman, yang direpresentasikan melalui kepentingan Uni Eropa.
Yunani sebenarnya kaya akan hasil produk agrikultur, seperti lemon,
kentang, dan bawang, yang seharusnya bisa diekspor untuk menambah
devisa. Namun, Uni Eropa justru mematikan bisnis domestik negara anggota
yang dianggap tidak bersifat produk dengan keunggulan kompetitif bagi Uni
Eropa, sehingga negara periferi seperti Yunani menjadi tidak produktif dan
hanya menjadi importir. Yunani mengimpor lemon dari Argentina, kentang
dari Mesir, dan bawang dari China.48 Inilah yang disebut sebagai dampak
trade diversion dari terbentuknya custom union. Dimana Yunani yang
tadinya efisien pada produk-produk tertentu terpaksa menjadi mengalami
kerugian.
Kelemahan Uni Eropa yang lain yang memicu terjadinya sovereign
debt crisis Yunani adalah Uni Eropa kurang tegas dalam mengontrol jumlah
48
Berdasarkan hasil wawancara dengan Mr. Panayiotes Dimopulas, Attase Kedutaan Besar
Yunani di Jakarta, pada 19 November 2012
104
pinjaman yang dimiliki oleh negara anggotanya, khususnya negara anggota
Eurozone yang melewati batas standar yang ditetapkan oleh SGP. ECB
sebagai pemegang otoritas pembuat kebijakan moneter tidak diberi otoritas
untuk mengontrol dan kebijakan fiskal dan perbankan negara anggota.49
Yunani telah melanggar standar yang telah ditetapkan oleh SGP dari sejak
Yunani bergabung dengan Eurozone. Sebenarnya negara anggota Eurozone
yang melanggar standar SGP bukan hanya Yunani. Negara yang pertama
kali melanggar SGP juga adalah Jerman, lalu diikuti oleh Perancis. Namun,
ketika negara ini melanggar SGP, tidak dikenakan sanksi.50 Oleh karena itu,
tidak heran apabila negara periferi, termasuk Yunani, mencontoh tindakan
dari negara-negara besar ini, karena melihat ketidakadaan sanksi dan pada
akhirnya SGP hanya bersifat normatif.
Grafik 4.11 Fluktuasi Neraca Anggaran Negara Anggota Eurozone
Tahun 1999-2009
Sumber: IMK, Reforming the European Stability and Growth Pact: Public Debt is Not the
Only Factor, Private Debt Counts as Wel
49
Stergios Skaperdas, Loc.Cit., hal. 3
Berdasarkan hasil wawancara dengan Thanasis Stengos, staf peneliti dan pengajar di
Departemen Ekonomi, University of Guelph, Ontario, Kanada dan visiting professor di European
University Institute, Italia pada 13 November 2012 50
105
Grafik 4.12 Fluktuasi Hutang Publik Negara Anggota Eurozone Tahun
1999-2009
Sumber: IMK, Reforming the European Stability and Growth Pact: Public Debt is Not the
Only Factor, Private Debt Counts as Well
Tabel 4.8 Faktor Penyebab Terjadinya Sovereign Debt Crisis Yunani
Faktor Internal
Membengkaknya pengeluaran sektor publik
- Manajemen kerangka anggaran yang
lemah
- Jumlah pegawai sektor publik berlebih
- Tingginya upah dan dana pensiun
- Pembangunan yang tidak menciptakan
produktivitas berkelanjutan
- Bank negara memberi terlalu banyak
subsidi
untuk
bisnis
yang
tidak
menguntungkan
- Tingginya konsumsi melalui impor
Rendahnya produktivitas dan daya saing sektor
industri dan perdagangan Yunani
- Rendahnya produktivitas tenaga kerja
- Sulitnya melakukan bisnis di Yunani
Rendahnya anggaran pendapatan
- Manajemen sistem pajak yang buruk
- Banyaknya praktik penghindaran pajak
- Rendahnya ekspor
Budaya korupsi yang mengakar
Ketidakmampuan rezim pemerintah yang berkuasa
untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan
mengumpulkan dana dari pasar kapital
Sumber: Penulis (analisa dari berbagai sumber)
Faktor Eksternal
Krisis finansial global
Pemberian rating yang rendah bagi
nilai obligasi dan aset bank Yunani
Spekulasi pasar
Akses pinjaman yang mudah dari
Uni Eropa sehingga mendorong
Yunani terus melakukan pinjaman
Kebijakan ekonomi Uni Eropa,
khususnya kebijakan moneter ECB
yang lebih menguntungkan negaranegara besar, khususnya Jerman
dibanding negara periferi
Kurang tegasnya kontrol dari Uni
Eropa
kepada
negara
yang
melanggar standar SGP
106
Grafik 4.13 Hasil Survey Pandangan Masyarakat Yunani Tentang
Penyebab Krisis
Sumber: Sara F. Taylor, Financial Crisis in the European Union: The Cases of Greece and
Ireland
4.2.2 Memburuknya Situasi Perekonomian Yunani Pada Tahun 2010
Sejak tahun 2009, pertumbuhan ekonomi Yunani stagnan. Setelah
hasil revisi defisit Yunani pada tahun 2009 sebesar 12,7% diumumkan dan
telihat selisih yang sangat jauh dari defisit anggaran yang diumumkan oleh
pemerintah Yunani yaitu sebesar 3,6%, muncul spekulasi bahwa Yunani
akan dikeluarkan dari Eurozone.51 Defisit anggaran yang dimiliki Yunani
empat kali lebih tinggi dari standar yang ditetapkan dalam SGP. Pemerintah
Yunani benar-benar dalam kondisi kepanikan. Krisis kepercayaan pasar
skala besar menyerang Yunani. Strategi fiskal yang diambil rezim
pemerintah baru gagal mengembalikan kepercayaan pasar. Pengumuman
dari
Eurogroup
tentang
kesiapan
membantu
Yunani
juga
gagal
menyakinkan pasar obligasi. Nilai obligasi dan aset bank Yunani terus
51
Greece Timeline, diakses dari http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/country_profiles/1014812.stm
pada 5 Oktober 2012
107
mengalami penurunan rating, dari A menjadi A- di awal tahun 2009,
menjadi BBB+ di akhir tahun 2009, dan menjadi B di tahun 2010.52 Hal ini
membuat Yunani mengalami kesulitan untuk melakukan pinjaman baru dan
mengumpulkan kapital dari pasar modal untuk membayar pinjaman yang
akan segera jatuh tempo. Dalam praktiknya, rating digunakan sebagai opsi
kedua untuk menilai resiko kredit negara. Artinya semakin rendah
ratingnya,
semakin
rendah
kredibilitas
negara
untuk
membayar
pinjamannya. Selain itu, rating kredit juga digunakan dalam pendirian bank,
sebagai persyaratan kapital dan dapat memengaruhi portfolio suatu bank.
Hanya bank yang memiliki aset dengan rating tinggi lah yang dapat
memperoleh kredit dari bank sentral. Oleh karena itu, penurunan dalam
portfolio dapat secara signifikan memengaruhi nilai obligasi. Perubahan
rating suatu negara juga dapat secara signifikan memengaruhi penurunan
rating negara lain.53 Krisis Yunani yang semakin memburuk ditakuti akan
menyebar dan memengaruhi perekonomian negara anggota Eurozone yang
lain, khususnya negara-negara periferi dengan kondisi perekonomian yang
sedang tidak baik, seperti Irlandia, Portugal, dan Spanyol.
52
James Hertiling, Greek Crisis Timeline from Maastricht Treaty to ECB Bond Buying, diakses
dari
http://www.bloomberg.com/news/2012-09-05/greek-crisis-timeline-from-maastricht-treatyto-ecb-bond-buying.html pada 5 Oktober 2012
53
Roberto A. De Santis, The Euro Area Sovereign Debt Crisis: Safe Haven, Credit Rating
Agencies And The Spread of The Fever from Greece, Ireland and Portugal, Frankfurt:
Macroprudential Research Network, 2012, hal. 7-8
108
Grafik 4.14 Kebutuhan Finansial Pemerintah Yunani Tahun 2010
Sumber: Nizar Atrissi dan François Mezher, Sovereign Debt Crisis and Credit Default
Swaps: The Case of Greece and Other PIIGS
Untuk menutup defisit, pemerintah mengumumkan kebijakan
penghematan darurat, yang mencakup pemangkasan biaya sektor publik,
kenaikan bahan bakar minyak, dan kenaikan pajak.54 Pemerintah Yunani
mengingatkan masyarakat Yunani untuk bersiap menerima upah yang lebih
rendah dan membayar pajak lebih tinggi atau resikonya negara akan
bangkrut. Kebijakan yang diambil pemerintah lantas membuat masyarakat
marah, terjadi demonstrasi dan kerusuhan di sepanjang awal tahun 2010.
Pemerintah Yunani yakin kebijakan penghematan dan usaha untuk menarik
kapital dari pasar modal akan berhasil. Saat itu, pemerintah Yunani masih
menyatakan tidak memerlukan bantuan bailout dari Uni Eropa atau pun
IMF.
54
Greek
Debt
Crisis:
Timeline,
diakses
dari
http://www.guardian.co.uk/business/2012/mar/09/greek-debt-crisis-timeline pada 5 Oktober 2012
109
Nilai Euro terhadap dolar pun terus turun seiring dengan
memburuknya kondisi perekonomian Yunani dan beberapa negara periferi
Eurozone lain. Setelah dilakukan revisi lagi, ternyata defisit anggaran
Yunani berubah dari 12,7% menjadi 13,6%.55 Memasuki April 2010, rating
bank dan obligasi Yunani turun kembali mencapai level terendah, yaitu junk
status.56 Pada 11 April 2010, Menteri Keuangan Eurozone menyetujui
pemberian paket bantuan sebesar 30 milyar Euro, akan tetapi pemerintah
Yunani menolak untuk menggunakannya. Akan tetapi, pada 23 April 2010,
akhirnya pemerintah Yunani secara resmi meminta bantuan dari Uni Eropa
dan IMF untuk menyelesaikan krisis yang terjadi karena menyadari semakin
tidak sanggup untuk membayar hutang-hutangnya. Akhirnya pada Mei
2010, Uni Eropa dan IMF sepakat untuk memberikan bailout sebesar 110
milyar Euro kepada Yunani untuk jangka waktu tiga tahun. Sebagai timbal
balik atas bantuan dana yang diberikan oleh Uni Eropa dan IMF, pemerintah
Yunani harus menerapkan kebijakan penghematan yang lebih ketat lagi
melalui Economic Adjustment Programme di bawah pengawasan Uni Eropa
dan IMF yang tertuang dalam Memorandum of Economic and Financial
Policies.
55
Timeline: The Unfolding Eurozone Crisis, diakses dari http://www.bbc.co.uk/news/business13856580 pada 5 Oktober 2012
56
Fitch
Downgrades
Greek
Debt
to
BBB
Minus,
diakses
dari
http://www.independent.co.uk/news/business/news/fitch-downgrades-greek-debt--to-bbbminus1940587.html pada 5 Oktober 2012
110
Tabel 4.9 Lini Masa Dinamika Sovereign Debt Crisis Yunani
Waktu
14 Januari 2009
4 Oktober 2009
18 Oktober 2009
20 Oktober 2009
5 November 2009
8 Desember 2009
23 Desember 2009
15 Januari 2010
11 Februari 2010
Februari-Maret
2010
3 Maret 2010
11 April 2010
22 April 2010
23 April 2010
2 Mei 2010
Peristiwa
Rating nilai obligasi dan aset bank Yunani turun dari A menjadi Akarena melemahnya perekonomian Yunani akibat kondisi
perekonomian global yang kurang baik.
George Papandreou memenangkan pemilihan umum dan menjadi
Perdana Menteri baru Yunani menggantikan Konstantine
Karamanlis.
George Papandreou menemukan kejanggalan pada anggaran
pemerintahan Yunani yang sebelumnya.
Menteri Perekonomian Yunani yang baru, Papaconstantinou,
mengumumkan bahwa rasio defisit anggaran Yunani melebihi 12%
Papandreou mengumumkan rencana anggaran untuk memotong
jumlah defisit untuk 2010.
Rating nilai obligasi dan aset bank Yunani turun dari A- menjadi
BBB+
Yunani memasuki tahap pertama kebijakan penghematan
Yunani memasuki tahap kedua kebijakan penghematan, melalui
pemangkasan pengeluaran sekotr publik dan menaikkan harga
bahan bakar minyak dan pajak.
Uni Eropa untuk pertama kalinya mengadakan pertemuan darurat
membahas kondisi kritis perekonomian Yunani dan menyatakan
siap berkoordinasi membantu Yunani.
Demonstrasi dan kerusuhan besar-besaran terjadi sebagai bentuk
protes atas kebijakan penghematan yang dilakukan oleh pemerintah
Yunani memasuki tahap ketiga kebijakan penghematan, dengan
target memotong anggaran sebesar 6,5 milyar dolar, melalui
peningkatan pajak nilai tambah dan pajak untuk rokok dan alkohol.
Dana pensiun juga dibekukan.
Menteri Ekonomi Uni Eropa menyetujui pemberian dana bantuan
sebesar 30 milyar Euro dan tambahan 15 milyar Euro dari IMF
untuk membantu Yunani.
Defisit anggaran Yunani tahun 2009 direvisi dan mencapai 13,6%
Papandreou secara resmi meminta bantuan ke Uni Eropa dan IMF.
Uni Eropa dan IMF sepakat memberikan bantuan bailout sebesar
110 milyar Euro
Sumber: BBC, Al Jazeera, Reuters, Guardian, Bloomberg, Telegraph, dan Independent
Bagan 4.1 Dinamika Terjadinya Sovereign Debt Crisis Yunani
Hutang Luar Negeri
Membengkak
Defisit Anggaran
Sovereign Debt
Crisis
Gagal Mengumpulkan
Kapital
Krisis Kepercayaan
Pasar
Rating Obligasi dan
Bank Terus Turun
Kebijakan
Penghematan
GAGAL
Bantuan Bailout
111
Sumber: Penulis
4.3
Munculnya Interaksi antara Pemerintah Yunani dan Uni Eropa dalam
Penyelesaian Sovereign Debt Crisis Yunani Pada Tahun 2010
Sejak kesalahan data fiskal mengenai jumlah defisit dan sovereign debt
crisis Yunani muncul ke permukaan di akhir tahun 2009, pemerintah Yunani
mengalami kesulitan untuk menjual obligasinya ke sektor privat, sehingga gagal
untuk mengumpulkan kapital untuk membayar hutang, khususnya hutang yang
akan jatuh tempo. Perdana Menteri Yunani yang terpilih pada Oktober 2009,
George Papandreou menerapkan kebijakan penghematan untuk menutup pinjaman
dan membayar bunganya, seperti menurunkan pengeluaran sektor publik dan
menaikkan pajak. Sampai Maret 2010, pemerintah Yunani masih menyatakan
tidak membutuhkan bantuan dana, baik dari Uni Eropa maupun pihak lain untuk
mengatasi krisis yang tengah terjadi. Akan tetapi, karena hutang dan defisit
Yunani sudah membengkak, akhirnya pemerintah Yunani menyerah dan pada
April 2010 secara resmi meminta bantuan kepada Uni Eropa. Pada 2 Mei 2010,
Uni Eropa, dalam hal ini European Commission dan European Central Bank
sepakat untuk memberikan bailout sebesar 80 milyar Euro, ditambah pinjaman
dari IMF sebesar 30 milyar euro untuk mengatasi sovereign debt crisis Total
bailout yang diterima Yunani dari Troika57 adalah sebesar 110 milyar Euro. Akan
tetapi, pemerintah Yunani harus berjanji untuk memangkas anggaran untuk
57
Troika adalah istilah yang dipakai untuk merujuk gabungan antara European Commission,
European Central Bank, dan IMF sebagai pemberi pinjaman
112
mengurangi jumlah defisit publik Yunani.58 Ini adalah awal mula terjadinya
interaksi berkelanjutan antara pemerintah Yunani dan Uni Eropa untuk mengatasi
sovereign debt crisis.
4.3.1 Respon Uni Eropa Terhadap Sovereign Debt Crisis Yunani
Terjadinya krisis finansial global berhasil mengancam integrasi
finansial di kawasan Uni Eropa. Beberapa negara periferi di kawasan Uni
Eropa mengalami kejatuhan ekonomi, khususnya Yunani. Setelah
terjadinya, sovereign debt crisis Yunani berhasil instabilitas finansial
semakin membayangi Uni Eropa, terutama ketika krisis yang terjadi di
Yunani memberikan efek domino kepada negara periferi Eropa yang lain,
seperti Irlandia, Italia, Portugal, dan Spanyol.
Pada 11 Februari 2010, seluruh kepala pemerintahan negara anggota
Uni Eropa untuk pertama kalinya melakukan pertemuan darurat untuk
membahas situasi perekonomian Yunani. Uni Eropa menyatakan berjanji
akan mengambil tindakan sesegera mungkin untuk menyikapi krisis yang
terjadi di Yunani dan tetap mendukung Yunani untuk melakukan
pemotongan pengeluaran. Uni Eropa juga sepakat untuk menyiapkan
strategi terkoordinasi untuk melindungi stabilitas finansial Eurozone.59 Pada
16 Februari 2010, diadakan pertemuan Economic and Financial Affairs
(ECOFIN) Uni Eropa yang menghasilkan keputusan untuk memberikan
58
Cristina Arellano, Juan Carlos Conesa, dan Timothy J. Kehoe, “Chronic Sovereign Debt Crises
in the Eurozone 2010–2012”, dalam Economic Policy Paper 12-4, Minneapolis: Federal Reserve
Bank of Minneapolis, 2012, hal. 1
59
Ibid., hal. 1
113
peringatan kepada Yunani untuk menyelesaikan masalah defisit yang
berlebihan di tahun 2012 melalui penetapan kebijakan ekonomi yang sejalan
dengan pedoman kebijakan ekonomi yang telah ditetapkan oleh Uni
Eropa.60 Pada 3 Maret 2010, pemerintah Yunani mengumumkan akan
mengambil langkah ketiga kebijakan penghematan, yaitu dengan target
memotong anggaran sebesar 6,5 milyar dolar melalui peningkatan pajak
nilai tambah dan pajak untuk rokok dan alkohol. Dana pensiun juga
dibekukan. ECB merespon dengan baik tindakan yang diambil oleh
pemerintah Yunani.61
Pada 16 Maret 2010, seluruh menteri keuangan negara anggota
Eurozone bertemu untuk membahas landasan kerja untuk menyiapkan
pinjaman darurat untuk membantu Yunani. Pada 25 Maret 2010, seluruh
kepala negara dan pemerintahan negara anggota Eurozone sepakat untuk
bekerja sama dengan IMF untuk menawarkan bantuan ke Yunani. Pada 11
April 2010, menteri-menteri keuangan negara-negara anggota Eurozone
sepakat untuk menyediakan pinjaman sampai 30 milyar Euro, ditambah
bantuan dari IMF sebesar 15 milyar Euro, untuk membantu Yunani untuk
tahun 2010. Akhirnya pada 23 April 2010, Perdana Menteri Yunani, George
Papandreou secara resmi meminta bantuan sebesar 45 milyar Euro dari Uni
Eropa untuk membayar hutang. Permintaan dari Yunani segera ditindaki
oleh Uni Eropa dan muncul pernyataan bersama dari European
60
Rodrigo Olivares-Caminal, “The EU Architecture To Avert A Sovereign Debt Crisis”, OECD
Journal: Financial Market Trends Volume 2011-Issue 2, OECD, 2011, hal. 3
61
European Central Bank, Statement by The ECB’s Governing Council on The Additional
Measures of The Greek Government, 3 Maret 2010.
114
Commission, European Central Bank, dan Eurogroup untuk penetapan
mekanisme bantuan pinjaman.62 Akhirnya pada 2 Mei 2010 Uni Eropa
menyetujui pemberian bailout kepada Yunani sebesar 80 milyar Euro,
ditambah 30 milyar Euro dari IMF. Bantuan pinjaman ini berjangka waktu
tiga tahun. Sesuai dengan kesepakatan pada 11 April, Uni Eropa siap
mengeluarkan 30 milyar Euro untuk tahun 2010. Pinjaman yang diberikan
oleh Uni Eropa ini diharapkan dapat membantu Yunani untuk membawa
kembali perekonomian Yunani di jalur yang tepat dan mengembalikan
stabilitas finansial Eurozone.
Bantuan ini diklaim oleh Uni Eropa bukan sebagai bailout langsung,
melainkan merupakan mekanisme pendanaan yang dapat menjadi pengaman
ketika kondisi perekonomian Yunani memburuk.63 Setiap negara anggota
Eurozone memberikan kontribusinya pada paket pinjaman yang diberikan
kepada Yunani berdasarkan rasio kontribusi tiap negara untuk ECB. Suku
bunga dari pinjaman yang diberikan Uni Eropa sebesar 5% lebih rendah dari
bunga yang diberikan pinjaman bank swasta.64 Program bantuan ini dapat
dikatakan sebagai bentuk dominasi atau pengaruh Uni Eropa sebagai institui
neoliberal yang mendesak Yunani untuk menerima dan memprioritaskan
bantuan yang diberikan oleh Uni Eropa, karena mengingat Yunani adalah
62
Joint statement by European Commission, European Central Bank and Presidency of the
Eurogroup on
Greece, Brussels, 23 April 2010
63
Stephen Clarke dan Claire Daley, “History of The Eurozone Crisis”, dalam The Eurozone Crisis,
London: CIVITAS Institute for the Study of Civil Society, 2010, hal. 4
64
Ibid., hal. 4
115
anggota Uni Eropa dan Uni Eropa telah berusaha memberikan kemudahan
bagi Yunani untuk menyelesaikan krisis yang tengah terjadi.
Tabel 4.10 Mekanisme Distribusi Bantuan Bailout dari Uni Eropa
untuk Yunani
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Periode
Mei 2010
September 2010
Januari 2011
Maret 2011
Juni 2011
September 2011
Desember 2011
Maret 2012
Juni 2012
September 2012
Desember 2012
Maret 2013
Juni 2013
TOTAL
Jumlah (dalam milyar Euro)
14,5
6,5
6,5
10,9
8,7
5,8
3,6
7,3
4,4
4,4
1,5
4,4
1,5
80 Milyar Euro
Sumber: European Commission, Occasional Paper 77
Tabel 4.11 Kontribusi 15 Negara Anggota Eurozone dalam Paket
Bailout Yunani
Negara
Austria
Belgia
Belanda
Cyprus
Finlandia
Irlandia
Italia
Jerman
Luksemburg
Malta
Perancis
Portugal
Slovakia
Slovenia
Spanyol
TOTAL
ECB Paid Capital Key
(% dari total EA-15)
2,86
3,58
5,88
0,20
1,85
1,64
18,42
27,92
0,26
0,09
20,97
2,58
1,02
0,48
12,24
100 %
Besar Kontribusi
(dalam milyar Euro)
2,290
2,861
4,704
0,161
1,479
1,310
14,739
22,336
0,206
0,075
16,774
2,065
0,818
0,388
9,794
80 Milyar Euro
Sumber: European Commission, Occasional Paper 68
Uni Eropa meminta Yunani untuk menyetujui Economic Adjustment
Programme yang akan ditetapkan oleh Uni Eropa sebagai timbal balik atas
116
pinjaman yang diberikan. Artinya, bagi Yunani, bantuan ini membuat
Yunani harus rela anggaran nasionalnya diawasi oleh Uni Eropa, kebijakan
penghematan yang dilakukan harus dinilai oleh Uni Eropa, dan sangat
memungkinkan bagi Uni Eropa untuk mendesak perubahan struktural pada
perekonomian Yunani. Secara tidak langsung, hal ini menyiratkan bahwa
pemerintah Yunani harus rela perekonomiannya diintervensi oleh Uni
Eropa. Pada 18 Mei 2010, pemerintah Yunani menerima pinjaman 14,5
milyar Euro sebagai mekanisme pertama dari pinjaman 110 milyar Euro
untuk membayar hutangnya yang akan jatuh tempo.65
Satu minggu setelah Uni Eropa menyetujui pemberian bailout kepada
Yunani, ECB melunucrkan Securities Market Program (SMP), yaitu
kebijakan untuk membeli surat hutang publik dan privat dari negara-negara
bermasalah, termasuk Yunani untuk mengatasi memburuknya sovereign
debt crisis. ECB membeli 74 milyar Euro obligasi, dimana 55%nya adalah
obligasi Yunani.66 Selain itu, menteri-menteri keuangan negara anggota
sepakat untuk membentuk mekanisme penyelamatan komprehensif untuk
melindungi stabilitas finansial Eropa. Akhirnya terbentuk European
Financial Stabilisation Mechanism (EFSM) dan European Financial
Stability Facility (EFSF), dengan total bantuan yang disediakan 750 milyar
65
James Hertiling, Greek Crisis Timeline from Maastricht Treaty to ECB Bond Buying, diakses
dari
http://www.bloomberg.com/news/2012-09-05/greek-crisis-timeline-from-maastricht-treatyto-ecb-bond-buying.html pada 5 Oktober 2012
66
Benedicta Marzinotto, “Assessment of The EU’s Response To The Greek Crisis And Situation
in The Euro Area”, dalam Marcin Koczor dan PaweÅ‚ Tokarski (ed.), The EU Economy: Response
To The Crisis and Prospects for The New Decade, Warsawa: The Polish Institute Of International
Affairs, 2011, hal. 40-41
117
Euro, 500 milyar dari Uni Eropa dan 250 milyar dari IMF.67 Uni Eropa juga
berencana merevisi SGP dengan pendekatan makroekonomi baru namun
dengan ketentuan fiskal yang lebih ketat lagi dan sanksi yang lebih berat
lagi.68 Dalam mekanisme bantuan yang diberikan oleh Uni Eropa untuk
Yunani ini, terlihat jelas bagaimana Uni Eropa berusaha mewujudkan
kepentingannya dalam membantu Yunani menyelesaikan krisis, dan
membuat Yunani tunduk, khususnya secara ekonomi, kepada Uni Eropa.
Bantuan yang diberikan membuat bargaining position Uni Eropa menjadi
lebih tinggi.
4.3.2 Kepentingan Uni Eropa dalam Penyelesaian Sovereign Debt Crisis
Yunani
Sovereign debt crisis yang terjadi di Yunani berhasil memunculkan
spekulasi bahwa Yunani akan keluar dari keanggotaan Eurozone. Akan
tetapi, Uni Eropa berhasil menepis spekulasi tersebut dan menyelamatkan
Yunani melalui pemberian bailout demi mempertahankan eksistensi Yunani
dalam keanggotaan Eurozone. Padahal kontribusi Yunani bagi PDB
Eurozone sebenarnya sangat kecil, yaitu hanya sebesar 2%.69 Ketika terjadi
pemilihan umum Yunani pada tahun 2010, Uni Eropa tegang menunggu
hasil, apakah partai yang pro-Uni Eropa atau partai Euro-skeptis yang
67
European Central Bank, ECB Fears Financial Integration Slowdown, diakses dari
http://www.ecb.int/ecb/html/crisis.en.html pada 3 Oktober 2012
68
Maria João Rodrigues, Mapping Future Scenarios for the Eurozone, Berlin: Friedrich-EbertStiftung, 2012, hal. 9
69
Yael Serfin, dkk, “What Next for The Eurozone? Possible Scenarios For 2012”, dalam
PricewaterhouseCoopers Economic Views December 2011, London: PricewaterhouseCoopers,
2011, hal. 10
118
memenangkan suara rakyat, karena perdana menteri Yunani yang terpilih
akan sangat menentukan masa depan Yunani dan Uni Eropa. Jadi, seberapa
pentingkah Yunani bagi Uni Eropa, sehingga Uni Eropa harus turun tangan
untuk menyelesaikan sovereign debt crisis Yunani?
Diagram 4.2 Persentase Kontribusi Negara Anggota Terhadap PDB
Eurozone
Sumber: Eurostat, Eurozone GDP Shares
Pada dasarnya, hukum Uni Eropa secara eksplisit tidak menyebutkan
adanya kewajiban untuk membantu negara anggota yang mengalami
permasalahan finansial. Beberapa perjanjian Uni Eropa, khususnya
Perjanjian Maastricht melarang pemberian bailout kepada negara anggota
Eurozone.70 Bahkan Perjanjian Lisboa mengatur klausa tentang larangan
70
Helmut Siekmann, “Life in the Eurozone With or Without Sovereign Default? —The Current
Situation—“, dalam Franklin Allen, dkk (ed.), Life in The Eurozone With or Without Sovereign
Default?, Philadelphia: FIC Press, 2011, hal. 26
119
bailout. Keputusan untuk memberikan bantuan kepada Yunani adalah
keputusan yang kontroversial. Bailout dilarang oleh Uni Eropa untuk
mencegah negara anggota secara sengaja melanggar aturan yang ditetapkan
dalam SGP dan dikhawatirkan bailout yang diberikan pada satu negara akan
mendorong negara lain untuk mengajukan bailout. Akan tetapi, ada klausa
pengecualian yaitu klausa pada pasal 122 Perjanjian Lisboa yang dapat
dijadikan dasar bagi Uni Eropa untuk memberikan bantuan finansial kepada
Yunani.71 Pasal 122 Perjanjian Lisboa mengenai fungsi Uni Eropa
menyebutkan bahwa pemberian bantuan finansial memungkinkan untuk
dilakukan tapi hanya apabila terjadi kondisi luar biasa.72 Sovereign debt
crisi Yunani dirasa dapat digolongkan sebagai kondisi luar biasa yang diatur
oleh klausa ini.
“Where a member state is in difficulties or is seriously threatened with
difficulties caused by natural disasters or exceptional occurrences beyond its
control, the Council, on a proposal from the Commission, may grant, under
certain conditions, Union financial assistance to the member state.”
Alasan utama Uni Eropa menyelamatkan Yunani adalah karena
sovereign debt crisis Yunani telah berhasil mengancam stabilitas Uni Eropa
dan menyebabkan kerentanan pada pemulihan ekonomi Eropa secara
keseluruhan setelah terjdinya krisis finansial global pada tahun 2008.73
Sepanjang terjadinya sovereign debt crisis Yunani, nilai Euro terhadap
Dolar terus mengalami depresiasi. Salah satu kepentingan dari Uni Eropa
71
Stephen Clarke dan Claire Daley, Op.Cit., hal. 4
Treaty on the Functioning of the European Union, Article 22
73
George Alogoskoufis, Op.Cit., hal.1
72
120
memberikan bantuan penyelamatan bagi Yunani adalah untuk menghindari
efek domino akibat sovereign debt crisis Yunani ke negara-negara lain
anggota Eurozone, khususnya negara-negara yang sedang berada di posisi
ekonomi yang sulit seperti Irlandia, Italia, Portugal, dan Spanyol. Injeksi
bailout yang diberikan Uni Eropa tidak hanya bertujuan untuk meringankan
beban Yunani, melainkan juga untuk menahan Irlandia, Italia, Portugal, dan
Spanyol dari kejatuhan perekonomian. Dengan memberikan bailout kepada
Yunani akan menjaga likuiditas Yunani, sehingga dapat memberikan waktu
kepada Irlandia, Italia, Portugal, dan Spanyol untuk merekapitalisasi
perbankan dan memangkas defisit.74
Di samping untuk menyelamatkan Yunani dan negara periferi lainnya
yang memiliki defisit dalam jumlah sangat besar, bantuan penyelamatan
yang diberikan Uni Eropa juga sebenarnya dirancang untuk menyelamatkan
institusi-institusi perbankan dari negara-negara kreditur, seperti Jerman dan
Perancis.75 Jerman dan Perancis adalah kreditur terbesar hutang yang
dimiliki Yunani dan merupakan negara penting yang paling berpengaruh di
Eurozone. Apabila Yunani tidak sanggup melunasi hutang-hutangnya, maka
sektor perbankan Jerman, Perancis, dan negara anggota Eurozone lain yang
menjadi kreditur Yunani akan terancam hancur.
74
Lee C. Buchheit dan Mitu Gulati, “Greek Debt: The Endgame Scenarios”, dalam Franklin Allen,
dkk (ed.), Life in The Eurozone With or Without Sovereign Default?, Philadelphia: FIC Press,
2011, hal. 83
75
Asbjorn Wahl, Austerity Policies in Europe: There is No Alternative, diakses dari
http://www.social-europe.eu/2012/03/austerity-policies-in-europe-there-is-no-alternative/ pada 7
Oktober 2012
121
Grafik 4.15 Jumlah Piutang Publik Negara Anggota Eurozone yang
Menjadi Kreditur Yunani Berdasarkan Data Terakhir Maret 2010
Sumber: European Commission, Occasional Paper 68
Tidak hanya untuk menyelamatkan negara-negara kreditur, pada
dasarnya bantuan yang diberikan kepada Yunani oleh Uni Eropa juga
bertujuan untuk menyelamatkan Economic and Monetary Union Uni Eropa
secara keseluruhan. Apabila Yunani mengalami default, maka Yunani tidak
akan mampu membayar hutangnya kepada kreditur. Hal ini akan memicu
kepanikan di pasar modal dan hilangnya kepercayaan pasar kepada negaranegara anggota Eurozone lain yang memiliki tingkat hutang yang tinggi atau
yang memiliki ekonomi lemah. Apabila investor berhenti membeli obligasi
yang diterbitkan oleh negara-negara tersebut, maka negara-negara tersebut
juga akan mengalami default dan tidak akan sanggup membayar hutangnya,
seperti yang dialami Yunani.76 Akhirnya lahir lingkaran setan finansial dan
76
-, Eurozone Crisis Explained, diakses dari http://www.bbc.co.uk/news/business-13798000 pada
6 Oktober 2012
122
dapat menyebabkan obligasi seluruh negara anggota Eurozone tidak akan
laku. Eurozone akan hancur.
Keputusan untuk memberikan bantuan penyelamatan bagi Yunani
juga digunakan sebagai simbol untuk menujukkan tingkat solidaritas Uni
Eropa. Padahal sebenarnya kebijakan bailout yang diambil oleh Uni Eropa
banyak didominasi oleh negara-negara besar, seperti Perancis dan Jerman,
sedangkan negara-negara kecil menolak.77 Misalnya, penolakan awal
Slovakia untuk berkontribusi memberikan bantuan dengan alasan “terlalu
miskin untuk membantu” membuat negara ini mendapat kritik dari Jerman
dan negara anggota Eurozone yang lain.78 Hal ini menunjukkan bahwa
dalam setiap pengambilan keputusan Uni Eropa, kepentingan politik dan
ekonomi negara-negara besar seperti Jerman dan Perancis mendominasi.
Selain itu, intervensi Uni Eropa dalam menyelamatkan perekonomian
Yunani juga didasari alasan untuk menjaga kredibilitas Uni Eropa.
Peraturan Uni Eropa tidak mengatur mekanisme bagi anggota yang ingin
atau perlu untuk keluar dari Eurozone karena telalu tingginya idealisme
untuk menciptakan integrasi finansial yang solid. Tidak ada jalur dan
ketentuan yang jelas apabila Yunani memang harus keluar dari keanggotaan
Eurozone. Selain itu, keluarnya dari Eurozone dapat menghancurkan
kebanggan Uni Eropa sebagai Economic and Monetary Union terdepan di
perekonomian dunia. Keluarnya Yunani dari Uni Eropa juga dapat memicu
77
C. Lapavitsas, A. Kaltenbrunner, dkk., “The Eurozone Between Austerity and Default”, dalam
Research on Money and Finance Occasional Report September 2010, Research on Money and
Finance, 2010, hal. 31
78
Diakses dari http://www.ft.com/cms/s/0/2de394aa-a641-11df-8767-00144feabdc0.html pada 6
Oktober 2012
123
keluarnya negara lain dari keanggotaan Eurozone. Tekanan dari dunia
internasional, misalnya dari IMF, World Bank, Amerika Serikat, dan
negara-negara G20, juga memengaruhi mengapa Uni Eropa mengambil
tindakan siaga untuk menangani sovereign debt crisis Yunani. Oleh karena
itu, tidak ada pilihan lain bagi Uni Eropa selain menyelamatkan Yunani
karena kebijakan apapun yang diambil oleh Uni Eropa akan memengaruhi
kredibilitas Uni Eropa di mata dunia internasional.
4.3.3 Kesepakatan Antara Pemerintah Yunani dan Uni Eropa dalam
Upaya Mengatasi Sovereign Debt Crisis
Pada 9 Mei 2010, pemerintah Yunani, European Commission, ECB,
dan IMF sepakat untuk melaksanakan Economic Adjustment Programme
sebagai timbal balik atas bantuan finansial yang diberikan oleh negaranegara anggota Eurozone dan IMF kepada Yunani, yaitu sebesar 110 milyar
Euro untuk jangka waktu tiga tahun.79 Pemberlakukan EAP dituang dalam
nota kesepahaman, yaitu Memorandum of Economic and Financial Policies
yang menjelaskan secara detail kebijakan-kebijakan apa saja yang harus
diterapkan oleh pemerintah Yunani. Kesepakatan antara pemerintah Yunani
dan Uni Eropa dalam rangka pengetatan anggaran ini memiliki visi untuk
mengurangi secara signifikan defisit anggaran Yunani menjadi di bawah 3%
dari jumlah PDB pada tahun 2014.80
79
80
Maria Karamessini, Op.Cit., hal. 165-166
Memorandum of Economic and Financial Policies, 3 Mei 2010
124
Yunani adalah negara pertama dalam keanggotaan Eurozone yang
meminta bantuan dan menandatangani nota kesepahaman dengan European
Commission dan ECB dalam rangka mencegah kejatuhan perekonomian
akibat krisis. Penerapan EAP akan dievaluasi secara periodikal oleh Uni
Eropa dan Uni Eropa berhak memberikan rekomendasi reformasi struktural
kepada pemerintah Yunani. European Commission dan ECB akan
bertanggungjawab
secara
penuh
untuk
mengawasi
implementasi
kesepakatan-kesepakatan yang tertuang dalam memorandum.81
4.4
Implementasi
Economic
Adjustment
Programme
Berdasarkan
Memorandum of Economic and Financial Policies
Sebagai balasan atas pemberian bantuan bailout, Uni Eropa mengharapkan
pemerintah Yunani mengambil beberapa kebijakan penghematan atau austerity
measures untuk mengurangi defisit dan menghindari kebangkrutan. Sebelum Uni
Eropa memberikan bantuan bailout kepada Yunani, pemerintah Yunani telah
mengambil beberapa kebijakan penghematan untuk mengurangi tingkat defisit
menjadi 5% melalui mengurangi pengeluaran publik sebesar 9 milyar euro dan
menambahkan pendapatan sebesar 4 milyar euro.82 Menurut Uni Eropa, kebijakan
penghematan yang dilakukan oleh pemerintah Yunani harus ditingkatkan lagi
81
Stella Ladi, “The Eurozone Crisis and Austerity Politics: A Trigger for Administrative Reform
in Greece?”, dalam GreeSE Paper No.57 Hellenic Observatory Papers on Greece and Southeast
Europe, London: Hellenic Observartory European Institute, London School of Economics and
Political Science, 2012, hal. 14
82
Nick Malkoutzis, Greece – A Year in Crisis: Examining the Social and Political Impact of an
Unprecedented Austerity Programme, Berlin: Friedrich-Ebert-Stiftung, 2011, hal. 1
125
untuk mendukung alokasi dana pinjaman yang diberikan oleh Uni Eropa untuk
pemulihan ekonomi Yunani. Secara spesifik, kebijakan austerity yang dilakukan
di tahun 2010 adalah kombinasi dari kenaikan pajak tidak langsung, pengenalan
pajak langsung yang baru, reformasi pajak pendapatan personal, pemotongan
upah pegawai sektor publik dan dana pensiun, yang kemudian di tahun-tahun
berikutnya akan diikuti dengan pembekuan fiskal yang memengaruhi bantuan
sosial dan layanan publik.83
Perangkat kebijakan penghematan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah
Yunani terintegrasi dalam Economic Adjustment Programme. Secara garis besar,
Economic Adjustment Programme yang dilakukan memiliki dua tujuan, yaitu
untuk memulihkan sustainabilitas keadaan fiskal Yunani dan meningkatkan daya
saing dari perekonomian Yunani. Program yang akan dilaksanakan dibuat secara
struktural untuk menciptakan perubahan yang drastis namun bertahap.84 Tujuan
utama dari Economic Adjustment Programme adalah untuk mengoreksi
ketidakseimbangan fiskal dan mengembalikan kepercayaan pasar. Untuk
mendorong perekonomian, dibutuhkan Economic Adjustment Programme yang
kuat dan berkelanjutan, sehingga mampu memperbaiki ketidakseimbangan fiskal,
mengurangi hutang dalam jangka waktu menengah, menjaga stabilitas sektor
perbankan, dan mengembalikan daya saing. Pertumbuhan mungkin tidak akan
muncul pada awal kebijakan diimplementasikan, namun dengan adanya kebijakan
yang kuat dan berkelanjutan ini, diharapkan perekonomian akan terbentuk lebih
83
Manos Matsaganis dan Chrysa Leventi, “The Distributional Impact of the Crisis in Greece”,
dalam Vassilis Monastiriotis (ed.), The Greek Crisis in Focus: Austerity, Recession and Paths to
Recovery, London: Hellenic Observatory European Studies, London School of Economics and
Political Science, 2011, hal. 8
84
George Alogoskoufis, Op.Cit., hal. 31
126
baik dibanding sebelumnya. Oleh karena itu, untuk mengimplementasikan
program ini dan mencapai tujuan, segala elemen kebijakan fiskal, finansial, dan
struktural akan digunakan.
Tabel 4.12 Target Indikator Makroekonomi yang Ingin Dicapai Melalui
Implementasi Economic Adjustment Programme
Sumber: European Commission, Occasional Paper 61
4.4.1 Program-Program yang Dicanangkan oleh Pemerintah Yunani
a.
Program Reformasi Kebijakan Fiskal
Perspektif neoliberalisme sangat pro kepada prinsip efisiensi. Sebagai
instrumen neoliberal, untuk meningkatkan efisiensi dalam pemberlakuan
EAP, maka hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah Yunani dan Uni
Eropa adalah mereformasi kebijakan fiskal. Strategi fiskal difokuskan untuk
mengurangi defisit hingga tahun 2013 dan menjaga efisit pemerintah untuk
tetap berada di bawah 3% pada tahun 2014 dan seterusnya. Pengaturan
127
pemasukan dan jaminan sosial perlu menjadi penopang dari langkah untuk
memperbaiki fiskal dan merestorasi daya saing. Mereset ulang pemasukan
ke level sustainable diperlukan untuk membantu perbaikan fiskal,
mengurangi inflasi sehingga berada di bawah rata-rata Eurozone, dan
mendorong harga dan nilai daya saing. Program jaminan sosial perlu
diperkuat untuk menghadapi ketidakseimbangan struktural yang ada sebagai
hasil dari semakin menuanya populasi.
Program ini menargetkan naiknya pemasukan sebesar 4% dari PDB
pada tahun 2013. Pemasukan yang berasal dari lapisan masyarakat yang
memiliki pendapatan tinggi akan ditarik dari kenaikan pajak profesi, pajak
barang mewah, dan biaya tambahan pada properti bernilai tinggi dan
menguntungkan. Pemasukan lainnya akan ditarik dari kenaikan pajak nilai
tambah dan pajak-pajak lainnya yang umumnya nilainya lebih rendah di
bawah rata-rata Eurozone. Pajak untuk konsumsi alkohol dan rokok juga
akan menjadi bagian penting dari langkah-langkah menaikkan pemasukan.
Di samping mengambil kebijakan fiskal langsung, pemerintah juga
menginisiasikan seperangkat reformasi fiskal struktural. Reformasi ini
bertujuan untuk mendorong sustainabilitas melalui pengetatan kontrol atas
pemasukkan dan pengeluaran. Reformasi pertama yang dilakukan adalah
melakukan reformasi sistem pensiun. Dana-dana pensiun yang sebelumnya
terdiri atas banyak varian akhirnya digabungkan dan hanya ada tiga jenis
dana pensiun. Selain itu, batas usia pensiun dinaikkan menjadi 65 tahun.
Reformasi sistem pensiun juga tidak mengizinkan pensiun dini, sehingga
128
apabila seorang pekerja ingin mengklaim dana pensiun, pekerja tersebut
harus pensiun di usia 65 tahun. Reformasi dana pensiun ini penting
dilakukan mengingat pemborosan pengeluaran sektor publik salah satunya
dipengaruhi oleh dana pensiun.
Reformasi kedua yang dilakukan adalah reformasi sektor kesehatan.
Pada sektor kesehatan, pembukuan anggaran di rumah sakit akan lebih
dikontrol, audit pembukuan akan dipublikasikan secara reguler, dan akan
adanya perbaikan mekanisme penetapan harga dan biaya. Segala hal yang
berkaitan dengan aktivitas kesehatan akan digabungkan wewenangnya di
bawah satu kementerian. Reformasi ketiga yang akan dilakukan adalah
reformasi pajak. Selain menaikkan biaya pajak, pemerintah mengetatkan
peraturan untuk mengurangi praktik penghindaran pajak dan membuat
sistem pajak lebih efisien.
b.
Program Reformasi Kebijakan Sektor Finansial
Tantangan yang harus segera dihadapi perbankan Yunani adalah
memanajemen kondisi likuiditas ketat yang tengah terjadi dengan baik.
Sejak akhir tahun 2009, perbankan Yunani telah kehilangan akses untuk
beroperasi mendapatkan dana di pasar modal, sehingga banyak bank Yunani
yang mengandalkan kredit Eurosystem untuk tetap beroperasi. Untuk
mengantisipasi menurunnya profit bank yang dapat berdampak pada posisi
ekuitas bank, pemerintah Yunani memutuskan untuk mendirikan badan
independen Financial Stability Fund dibawah koordinasi langsung dengan
Troika. Tujuan utama didirikannya Financial Stability Fund adalah untuk
129
menjamin kesejahteraan perbankan sehingga memiliki kapasitas untuk
mendukung perekonomian Yunani melalu penyediaan ekuitas yang
dibutuhkan oleh bank.
c.
Program Reformasi Kebijakan Struktural
Ada beberapa strategi reformasi kebijakan struktural yang akan
diambil, yaitu memodernisasi administrasi publik, memperkuat pasar tenaga
kerja dan kebijakan pendapatan, memperbaiki lingkungan bisnis dan
mendorong pasar yang kompetitif, serta memanajemen ulang badan usaha
milik negara. Untuk memodernisasikan administrasi publik, pemerintah
Yunani akan mengatur kembali prosedur perekrutan tenaga kerja dan
memfinalisasi keberadaan otoritas tunggal untuk mengatur upah tenaga
kerja. Sistem pemberian upah yang telah disimplifikasi akan diciptakan
yang bertujuan untuk menghemat biaya. Sistem layanan kesehatan yang
paling banyak melakukan pemborosan pengeluaran akan direformasi, baik
dalam hal sistem manajemen, pembukuan, dan pembiayaan. Sistem
pemerintahan akan diatur ulang untuk mengurangi jumlah birokrat dan
mengurangi praktik korupsi. Untuk memperkuat pasar tenaga kerja, selain
mengurangi upah tenag kerja, pemerintah juga merevisi peraturan
perlindungan
tenaga
kerja,
seperti
meningkatan
masa
percobaan
(probation), menyesuaikan kembali peraturan yang mengatur pemecatan
masal, dan memfasilitasi fungsi dari kerja paruh waktu. Untuk memperbaiki
lingkungan bisnis, pemerintah akan mengadopsi aturan pendirian badan
yang beroperasi secara komprehensif untuk mengatur pendiran usaha baru.
130
Hal ini bertujuan untuk memangkas prosedur, biaya, dan penundaan
pendirian usaha baru. Jaringan industri akan diliberalisasi, khususnya pada
sektor transportasi dan energi. Untuk memanajemen badan usaha milik
negara, pemerintah akan mengadopsi aturan untuk memublikasikan secara
umum pernyataan finansial yang sudah diaudit dari sepuluh badan usaha
yang mengalami kerugian terbesar. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan
transparansi dan efisiensi, sehingga mengurangi kerugian lebih banyak lagi.
4.4.2 Kebijakan-Kebijakan Teknis yang Diambil Pemerintah Yunani
Kebijakan fiskal pertama yang diubah pemerintah Yunani adalah
kebijakan menaikkan pajak. Pajak nilai tambah dinaikkan dengan target
paling tidak mendapatkan 1800 juta Euro dalam jangka waktu satu tahun
dari pendapatan atas kenaikan pajak ini, pajak nilai tambah yang tadinya
19% dinaikkan menjadi 23%, yang tadinya 11% dinaikkan menjadi 13%,
dan yang tadinya 5,5% dinaikkan menjadi 6,5%. Selain itu, pajak bahan
bakar, tembakau, dan alkohol juga dinaikkan sebesar 33% dengan target
mendapatkan 1050 juta Euro dalam jangka waktu satu tahun. Perusahaan
yang memiliki keuntungan tinggi juga dikenakan pajak tambahan dengan
target mendapatkan 600 juta Euro. Pajak real estate juga dinaikkan dengan
target untuk mendapatkan 400 juta Euro. Pajak barang mewah dinaikkan
dengan target mendapatkan 100 juta Euro. Pemerintah juga memberlakukan
pajak-pajak baru, yaitu pajak profesi dengan target mendapatkan 400 juta
Euro, pajak emisi yang diberlakukan tahun 2011 dengan target mendapatkan
131
300 juta Euro, pajak lisensi game dengan target mendapatkan 500 juta Euro
dari lisensi penjualan dan 200 Euro dari royalti tahunan, serta pajak hak
guna tanah dengan target mendapatkan 500 juta Euro. Pada tahun 2011,
minuman non-alkohol juga dikenakan pajak tambahan dengan target untuk
menambah pendapatan 300 juta Euro.85
Selain menaikkan pajak, pemerintah juga mengurangi upah pegawai
negeri melalui pengurangan bonus dan tunjangan hari raya dan libur, seperti
Paskah, Natal, dan libur musim panas, dengan target menghemat 1,5 milyar
Euro dalam jangka waktu satu tahun. Selanjutnya pemerintah mengurangi
upah pegawai sektor publik dengan mereduksi kurang lebih 50% dan
mereduksi upah lember sebesar 20% untuk menargetkan penghematan upah
pegawai sektor publik sebesar 770 juta Euro untuk tahun 2011, 600 juta
Euro untuk tahun 2012, 306 juta Euro untuk tahun 2014, dan 71 juta Euro
untuk tahun 2015.86 Penghilangan bonus hari raya yang diberikan kepada
pensiunan juga dilakukan untuk menghemat 1900 juta Euro. Dana pensiun
sendiri pun dikurangi untuk menghemat 500 juta euro. Pengurangan
anggaran sosial dari cadangan yang ada ditargetkan untuk menghemat 700
juta Euro, lalu anggaran sosial untuk tunjangan solidaritas juga dikurangi
untuk menghemat 400 juta Euro.87
85
Greece: Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality, The First
Economic Adjustment Programme, 3 Mei 2010, hal. 59
86
Hellenic Republic Ministry of Finance, Hellenic Economic Policies Programme Newsletter, 19
Mei 2011, hal. 2
87
Ibid., hal. 59-60
132
Grafik 4.16 Target Pengurangan Fiskal Berdasarkan Economic
Adjustment Programme
Sumber: European Commission, Occasional Paper 61
Diagram 4.3 Distribusi Kebijakan Fiskal Per Tahun Berdasarkan
Economic Adjustment Programme
Sumber: European Commission, Occasional Paper 61
Pensiun dasar yang diberikan oleh pemerintah diubah menjadi sebesar
360 Euro per bulan dan bagi mereka yang memiliki masa bakti kerja di
133
bawah standar yang ditetapkan pemerintah, tidak berhak mengklaim dana
kontribusi pensiun. Masa bakti bekerja dinaikkan dari 35 tahun menjadi 40
tahun. Selain itu, usia pensiun diputuskan oleh pemerintah untuk dinaikkan
dari 60 menjadi 65 tahun, dan usia ini berlaku baik bagi perempuan maupun
laki-laki. Pada sistem yang lama, seseorang berhak mendapatkan dana
pensiun penuh ketika paling tidak sudah mencapai 60 tahun. Namun, sistem
yang baru ini berbeda. Apabila ada seseorang yang pensiun pada usia 60-65
tahun tapi masa kerjanya masih kurang dari standar masa bakti yang
ditetapkan, maka dana pensiunnya akan dipotong sebesar 6% sampai orang
tersebut menginjak usia 65 tahun.88
Grafik 4.17 Estimasi Hutang Yunani Dengan Reformasi Dana Pensiun
dan Tanpa Reformasi Dana Pensiun
Sumber: European Commission, Occasional Paper 61
88
Ibid., hal. 64
134
Tidak hanya itu, pemerintah juga memangkas jumlah pegawai sektor
publik. Sekitar 82.400 pekerja atau sekitar 10% dari total pegawai sektor
publik diberhentikan.89 Sistem yang diterapkan pada tahun 2010 mengatur
untuk mempekerjakan 20% dari total pegawai sektor publik yang
melakukan pensiun.90 Lalu, memasuki tahun 2011, sistem diubah lagi,
hanya satu orang yang dapat diterima untuk bekerja di sektor publik dari
lima orang yang diberhentikan. Perubahan ini menargetkan penghematan
sebesar 600 juta Euro sampai akhir tahun 2013.91
Grafik 4.18 Pemangkasan Pegawai Sektor Publik Tahun 2010
Sumber: European Commission, Occasional Paper 68
Untuk mengurangi administrasi publik di tingkat lokal dalam rangka
mengurangi biaya operasi dan upah pegawai, pemerintah mengambil
langkah untuk menggabungkan kotamadya, prefektur, dan daerah.
89
Hellenic Republic Ministry of Finance, Hellenic Economic Policies Programme Newsletter, 19
Mei 2011, hal. 1
90
Ibid., hal. 62
91
Ibid., hal. 71
135
Pendanaan pemerintah juga harus dipublikasikan secara online. Pemerintah
menargetkan penghematan 1500 juta Euro dari peningkatan efisiensi
administrasi publik, manajemen ulang pemerintah lokal, dan penghematan
konsumsi pemerintah untuk jangka waktu 2011-2013. Sekolah dan rumah
sakit negeri ditutup atau dimerger untuk mengurangi biaya operasi.
Untuk memperkuat pasar tenaga kerja, pemerintah bekerja sama
dengan sektor privat untuk mengadopsi dan mengimplementasi sistem
pemberian upah di sektor privat yang mengatur tentang pengurangan bonus
untuk lembur. Pada kuartil ketiga tahun 2011, pemerintah Yunani
mendirikan badan baru, yaitu Single Public Procurement Authority (SPPA),
yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan kebijakan public
procurement. SPPA akan menjadi instrumen untuk merencanakan,
mengimplementasikan, dan memonitor prosedur yang berkaitan dengan
procurement.92
Untuk mendorong kompetisi di pasar terbuka, pemerintah mengadopsi
hukum baru untuk menyederhanakan proses pembukaan bisnis. Pemerintah
juga mengambil kebijakan yang sejalan dengan aturan Uni Eropa untuk
memfasilitasi penanaman modal asing dan investasi dalam inovasi sektorsektor strategis, seperti industri hijau, ICT, dan lainnya.93 Birokrasi untuk
pengurusan pendirian badan usaha baru juga dikurangi untuk meningkatkan
iklim bisnis.
92
Greece: Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality, The First
Economic Adjustment Programme (fourth update), 2 Juli 2011, hal. 117
93
Ibid., hal. 61
136
Tabel 4.13 Perubahan Kebijakan Izin Pendirian Usaha Baru
Sumber: European Commission, Occasional Paper 72
Sesuai dengan prespektif neoliberalisme yang juga pro-privatisasi,
maka di tahun 2011, untuk meningkatkan pendapatan, pemerintah mulai
melakukan privatisasi aset dan badan usaha milik negara. Privatisasi ini juga
bertujuan menghilangkan ketidakefisiensian dari badan usaha milik negara
yang kurang menghasilkan profit. Dengan memprivatisasi aset milik negara,
pemerintah Yunani menargetkan mendapat dana segar dari hasil penjualan
kepemilikin aset negara kepada swasta. Pemerintah Yunani menargetkan
mendapatkan 50 milyar Euro melalui privatisasi di akhir tahun 2015.94
Untuk mendukung privatisasi, pemerintah Yunani mendirikan Hellenic
Republic Asset Development Fund (HRADF). HRADF akan menjadi wadah
untuk menampung seluruh dana hasil privatisasi yang ditransfer oleh
pemerintah. Privatisasi yang dilakukan juga tetap berusaha menghindari
94
Greece: Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality, The First
Economic Adjustment Programme (fourth update), Op.Cit., hal. 114
137
monopoli dan diskriminasi dari sektor swasta, oleh karena itu, kontrol
pemerintah masih dibutuhkan, meskipun dibatasi hanya pada infrastruktur
yang bersifat krusial.
Tabel 4.14 Aset dan Badan Usaha Milik Negara yang Sudah
Diprivatisasi
Sumber: European Commission, Occasional Paper 94
Tabel 4.15 Akumulasi Target Pemasukan Pemerintah Melalui
Privatisasi
Periode
2011
2012
2013
2014
2015
Kuartil 4
Kuartil 1
Kuartil 2
Kuartil 3
Kuartil 4
Kuartil 1
Kuartil 2
Kuartil 3
Kuartil 4
Akumulasi Target Privatisasi
(juta Euro)
1700
5000
7000
9000
11000
15000
17000
18000
20000
35000
50000
Sumber: European Commission, Occasional Paper 87
138
Tabel 4.16 Estimasi Hutang Pemerintah Dengan Privatisasi (Juta Euro)
2009
2010
2011
2012
2013
Estimate of general government debt with measures
2014
General
298,706 328,587 357,450
379,900 393,400 399,400
government debt
General
government debt
127.1%
142.8%
157.7%
166.3%
167.0%
164.4%
as % of GDP
Estimate of general government debt with measures and privatisations
General
298,706 328,587 352,436
364,886 371,436 364,503
government debt
General
government debt
127.1%
142.8%
155.5%
159.8%
157.7%
150.1%
as % of GDP
GDP
235,017 230,173 226,685
228,400 235,500 242,900
2015
401,300
159.3%
351,356
139.5%
251,900
Sumber: Hellenic Republic Ministry of Finance, Medium Term Fiscal Strategy 2012-2015
Untuk meregulasi sektor finansial dan kebijakan pengawasan, Bank
Yunani sebagai perwakilan pemerintah mendirikan badan Financial
Stability Fund independen, yaitu Hellenic Financial Stability Fund (HFSF)
untuk menghadapi permasalah potensial dalam pelunasan hutang serta
menjaga kesehatan sektor finansial dan kapasitasnya untuk mendukung
perekonomian Yunani melalui penyediaan bantuan ekuitas yang dibutuhkan
oleh bank-bank. Pemerintah Yunani juga memberikan 1 milyar Euro setiap
kuartilnya kepada HFSF untuk menjaga cash balance sebesar 1,5 milyar
Euro.95 Dalam meregulasi sektor finanial, pemerintah Yunani juga
mengimplementasikan kebijakan supervisi bank, termasuk alokasi sumber
daya manusia.96
Pada pemberlakuan Second Economic Adjustment Programme tahun
2012, pemerintah Yunani memutuskan untuk mengurangi lagi biaya
95
Ibid., hal. 125
Greece: Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality, The First
Economic Adjustment Programme, Op.Cit., hal. 64
96
139
operasional negara sebesar 200 juta Euro, melalui mengurangi biaya
pemiliha umum, mengurangi subsidi untuk warga yang bermukim di remote
area, mengurangi dana alokasi untuk Kementerian Pendidikan, termsuk
mengurangi tunjangan dosen dan guru sekolah menengah, serta mengurangi
alokasi dana untuk Kementerian Agrikultura. Pemotongan biaya ini
ditargetkan untuk menghemat pengeluaran sebsar 110 juta Euro. Pemerintah
juga memotong tunjangan keluarga dengan pendapatan tinggi dengan tujuan
menghemat biaya sebesar 43 juta Euro. Di bidang kesehatan, Pemerintah
juga memutuskan untuk menguragi pengeluaran farmasi sebesar 1,1 milyar
Euro misalnya melalui pengurangan harga obat dengan membeli obat
generik dan pengurangan jumlah ahli farmasi. Di samping itu, ada
pengurangan bonus lembur yang diberikan kepada dokter di rumah sakit
sebesar 50 juta Euro. Pemerintah juga mengurangi biaya peralatan militer
sebesar 300 juta Euro.97
Tabel 4.17 Daftar Kebijakan Reformasi Struktural yang Diambil
Pemerintah Yunani dalam Rangka Economic Adjustment Programme
Completed in 2010
1. Independence of the Hellenic Statistical Authority
2. Overhaul of the tax system
3. Fiscal Management and Responsibility Act
4. Reform of local public administration (“Kallikrates”)
5. Private and public sector pension reform
6. Labour market reform
7. Financial Stability Fund
8. Allocation of the private insurance sector supervision to the Bank of Greece
9. Restructuring of the railway sector (OSE)
10. Liberalisation of road freight transport
11. “Fast-track” important investments
12. Horizontal legislation on the Services Directive
13. Single Payment Authority for the wage bill in the public sector
97
Greece: Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality, The
Second Economic Adjustment Programme, 2012, hal. 125
140
14. Online publication of all decisions involving commitments of funds in the
general government sector
15. New investment law
Completed in 2011
1. Liberalisation of closed professions
2. Healthcare reform
3. Restructuring of the urban transport entity (OASA)
4. Simplification of the start-up of new businesses
5. Single remuneration system for public sector employees
6. Restructuring plan for Public Enterprises
7. Law on combating tax evasion and restructuring of the tax services
8. New Law for the Hellenic Competition Authority
9. Establishment of a commitment registry for the general government
10. Privatisation Plan
11. Liberalisation of the wholesale electricity market
12. Single Public Procurement Authority
Sumber: Hellenic Republic Ministry of Finance, The Economic Adjustment Programme for
Greece
4.4.3 Bantuan Teknis dan Pengawasan dari Uni Eropa
Dalam pengimplementasian Economic Adjustment Programme,
Yunani mendapat bantuan teknis dan pengawasan dari European
Commission, Negara Anggota Uni Eropa, dan sumber lainnya. Bantuan
tenis yang diberikan Uni Eropa berfokus pada beberapa area yang sangat
krusial
bagi
kesuksesan
terimplementasinya
Economic
Adjustment
Programme, sepert administrasi pajak dan usaha pemberantasan praktik
pemangkiran
pajak,
manajemen
finansial
publik,
serta
reformasi
administrasi publik, termasuk di dalam-dalamnya strategi-strategi untuk
memperbaiki iklim bisnis.98 Melalui pemberian saran yang berasal dari
praktik nyata, bantuan teknik yang diberikan Uni Eropa berkontribusi untuk
meningkatkan kapasitas pemerintah dalam mengimplementasikan Economic
98
Directorate-General for Economic and Financial Affairs, European Commission ,“The Second
Economic Adjustment Programme for Greece – March 2012”, dalam European Economy:
Occasional Paper 94, Brussels, European Union, 2012, hal. 48
141
Adjustment Programme. Selain itu, bantuan teknis yang diberikan juga
untuk mendukung Economic Adjustment Programme sendiri melalui
bertukar pikiran dan pilihan kebijakan antara pemerintah Uni Eropa dan
pemberi bantuan, yang dalam hal ini adalah Uni Eropa. Bantuan teknis yang
diberikan oleh Uni Eropa bermanfaat di beberapa area, seperti statistika,
penyerapan dana struktural, registrasi tanah, atau perpajakan. Selain itu,
bantuan teknis lain yang diberikan oleh Uni Eropa adalah penyediaan ahli
dalam bidang privatisasi, kesehatan dan jaminan sosial, reformasi badan
usaha milik negara, reformasi manajemen fiskal, dan reformasi pajak,
khususnya terkait teknik pengauditan.99
Bantuan pengawasan dilakukan untuk mengukur pemenuhan prasyarat
yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan-tujuan dari Economic Adjustment
Programme, yaitu untuk menjaga stabilitas fiskal, melindungi stabilitas
sistem finansial, dan mendorong pertumbuhan yang potensial dan daya
saing. Selain itu, bantuan pengawasan juga berfungsi sebagai fasilitas untuk
mendiskusikan tantangan yang dihadapi untuk mengimplementasikan
kebijakan dan mencari solusinya, serta terus memeperbaharui informasi
pihak pemberi bantuan,dalam hal ini Uni Eropa terkait kondisi yang
dihadapi Yunani dan target yang telah dicapai sebagai dasar persyaratan
untuk tinjauan program yang akan dilaksanakan berikutnya, sehingga
Memorandum yang disepakati kedua pihak dapat terus terbaharui. Dalam
implementasi First Economic Adjustment Programme, pengawasan pertama
99
Directorate-General for Economic and Financial Affairs, European Commission ,“The
Economic Adjustment Programme for Greece Fourth Review – Spring 2011”, dalam European
Economy: Occasional Paper 82, Brussels: European Union, 2011, hal. 46
142
dilakukan Uni Eropa pada 26 Juli-5 Agustus 2010, pengawasan ketiga
dilakukan pada 15-22 November 2010, pengawasan ketiga dilakukan pada
27 Januari-11 Februari 2011, pengawasan keempat dilakukan pada 3 Mei-2
Juni 2011 dan 21-23 Juni 2011, serta pengawasan kelima dilakukan pada 21
Agustus-2 September 2011 dan 11 Oktober 2011. Hasil pengawasan akan
dijadikan laporan berkala oleh Uni Eropa dan secara berkala pula
pemerintah Yunani akan merevisi Memorandum of Economic and Financial
Policies. Hasil laporan akan dikoordinasikan ke European Commission,
Eurogroup, dan ECB. Bantuan teknis dan pengawasan yang diberikan leh
Uni Eropa juga untuk mendukung transparansi dan efisiensi dalam
implementasi Economic Adjustment Programme.
4.5
Implikasi Implementasi Economic Adjustment Programme bagi Aspek
Sosial dan Ekonomi Yunani
4.5.1 Implikasi Positif dari Implementasi Economic Adjustment
Programme
a.
Perubahan Pada Neraca Anggaran Pemerintah Yunani
Hasil yang paling terlihat jelas dari implementasi Economic
Adjustment Programme adalah peningkatan pada pendapatan pemerintah
dan pengurangan pada pengeluaran pemerintah. Pada bulan pertama
pengimplementasian
Economic
Adustment
Programme,
peningkatan
pendapatan dan pengurangan pengeluaran sudah terlihat jika dibanding
143
dengan bulan-bulan sebelumnya di tahun 2010. Meskipun kenaikan
pendapatan dan pengurangan pengeluaran yang terjadi, masih di bawah
target
proyeksi
Economic
Adjustment
Programme
(Grafik
4.19).
Peningkatan pendapatan dan pengurangan pengeluaran pemerintah masih
tetap terjadi di periode-periode berikutnya (Grafik 4.20). Meskipun pada
implementasi EAP, PDB dari Yunani tidak bertumbuh, justru semakin
menurun. Hal ini dapat dipahami, karena PDB suatu negara sangat
dipengaruhi oleh instrumen fiskal. Dalam implementasi EAP, instrumen
fiskal sangat ditekan, sehingga wajar PDB tidak bertumbuh. Tidak
tumbuhnya PDB dipahami sebagai gejala umum dari implementasi
Structural Adjustment Programme. Akan tetapi, perlu diingat bahwa yang
menjadi target dari implementasi EAP adalah peningkatan pendapatan dan
penurunan pengeluaran. Kedua hal ini telah tercapai dalam kaitannya pada
implementasi EAP Yunani.
Grafik 4.19 Perubahan Pendapatan, Pengeluaran dan Cash Balance
Yunani Pada Kuartil Pertama tahun 2010
Diberlakukannya
Economic Adjustment
Programme
Sumber: European Commission, Occasional Paper 61
144
b.
Grafik 4.20 Perubahan Anggaran Pemerintah Yunani Setelah
Implementasi Economic Adjustment Programme Tahun 2010 (Juta
Euro)
Sumber: Hellenic Republic Ministry of Finance, The Economic Adjustment Programme for
Greece
Grafik 4.21 Perubahan Kategori Pengeluaran Pemerintah Yunani
Setelah Implementasi Economic Adjustment Programme (Juta Euro)
Sumber: Hellenic Republic Ministry of Finance, The Economic Adjustment Programme for
Greece
Meningkatnya pendapatan dan berkurangnya pengeluaran tentunya
berdampak pada berkurangnya defisit anggaran yang dimiliki pemerintah
Yunani (Grafik 4.22). Pada tahun 2009 sebelum implementasi Economic
Adjustment
Programme,
defisit
Yunani
mencapai
15,4%.
Setelah
145
pemberlakuan Economic Adjustment Programme tahun 2010, defisit
Yunani turun secara perlahan menjadi 10,5% dari total PDB di tahun 2010,
7,6% di tahun 2011, dan 6,5% di kuartil pertama tahun 2012.
Grafik 4.22 Perubahan Defisit Pemerintah Yunani
Implementasi Economic Adjustment Programme (Juta Euro)
Setelah
Sumber: European Commission, Occasional Paper 94
b.
Perbaikan Iklim Ekonomi
Di bawah tekanan pengawasan Uni Eropa dalam pengimplementasian
Economic Adjustment Programme, Yunani dituntut untuk mereformasi
sistem perekonomiannya. Reformasi yang dilakukan berhasil membuat
perekonomian Yunani semakin kompetitif untuk menarik investasi asing di
segala sektor. Permintaan akan ekspor juga mulai meningkat akibat
reformasi sektor industri dan non-industri. Permintaan akan ekspor Yunani
semakin lesu pada awal tahun 2009 akibat krisis finansial global, namun
semenjak pemerintah mengambil kebijakan untuk meningkatkan daya saing
produk ekspor melalui implementasi Economic Adjustment Programme,
146
ekspor Yunani mulai bangkit kembali meskipun mengalami fluktuasi
sepanjang tahun 2010-2011. (Grafik 4.23)
Grafik 4.23 Ekspor barang dan Permintaan Industri Non-Domestik
Sumber: European Commission, Occasional Paper 94
Selain itu, terjadi peningkatan jumlah kegiatan wirausaha yang
dilakukan
masyarakat
Yunani
sebagai
solusi
untuk
mendapatkan
penghasilan setelah terjadi pemangkasan dalam jumlah besar pada pegawai
sektor publik. Pada pertengahan tahun 2011 banyak usaha bisnis baru
berdiri, dan kebanyakan usaha bisnis tersebut dimiliki oleh orang muda.100
Hal ini bisa dikatakan sebagai refleksi dari ideologi neoliberal, dimana
peran sektor swasta akan menghilangkan peran sektor publik.
Untuk mendukung investasi dan kegiatan wiraswasta, pemerintah
Yunani membuat peraturan dalam pendirian usaha menjadi lebih efisien,
sehingga lebih mudah bagi pelaku bisnis asing dan domestik untuk memulai
bisnis. Administrasi suatu kegiatan usaha dapat dilakukan dalam waktu
lebih cepat di bawah sistem baru yang mengatur pengurangan mekanisme
100
Nick Malkoutzis, Young Greeks And The Crisis: The Danger Of Losing A Generation, Berlin:
Friedrich-Ebert-Stiftung, 2011, hal. 5
147
pemberian izin pendirian usaha. Apabila di tahun 2009 Yunani berada di
peringkat 109 untuk kategori kemudahan melakukan bisnis, pada tahun
2010, Yunani naik peringkat ke peringkat 79.101 Karena adanya Economic
Adjustment Programme, pemerintah Yunani berusaha menderegulasi pasar
supaya lebih business-friendly. Liberalisasi ekonomi Yunani melalui
implementasi EAP sangat sesuai dengan cita-cita neoliberalis yang proliberalisasi.
c.
Perbaikan Pada Sistem Perpajakan
Hasil lain yang bisa diukur secara tangible dari implementasi
Economic Adjustment Programme adalah perbaikan pada sistem pajak
untuk mengurangi praktik penghindaran pajak. Dengan hukum yang lebih
ketat mengatur tentang penghindaran pajak, pada akhir tahun 2010,
pemerintah Yunani berhasil mendapatkan 3,4 milyar Euro dari denda pajak,
meningkat 182% jika dibandingkan dengan tahun 2009, serta menyita 555
yacht dan mendapatkan 10 juta Euro dari penalti atas pelanggaran aset yang
tidak dilaporkan.102
d.
Berkurangnya Imigran
Keberadaan imigran, khususnya imigran gelap, selalu menjadi salah
satu masalah serius yang harus ditangani oleh pemerintah Yunani. Setelah
adanya Economic Adjustment Programme, diindikasikan bahwa jumlah
101
World Bank, Doing Business 2010
“From May 2010 to May 2011”, Hellenic Economic Policy Programme Newsletter, Athena:
Hellenic Republic Ministry of Finance, 2010, hal. 2
102
148
migrasi ke Yunani berkurang dan terjadi eksodus signifikan dari imigran
yang sudah ada di Yunani.103
Dalam survey yang dilakukan oleh OECD, pada kuartil keempat tahun
2010, terjadi penurunan jumlah imigran yang berada di Yunani sebanyak
4% jika dibanding tahun 2009. Jumlah imigran yang berasal dari negara
non-anggota Uni Eropa yang memiliki izin tinggal di Yunani pada akhir
tahun 2010 mencapai 567.000 jiwa, pada akhir tahun 2011 berkurang
menjadi 100.000 jiwa. Imigran yang berasal dari negara non-anggota Uni
Eropa yang ada di Yunani rata-rata berasal dari Albania, Ukraina, Georgia,
dan Pakistan, sedangkan imigran yang berasal dari negara anggota Uni
Eropa rata-rata berasal dari Romania dan Bulgaria.104 Berkurangnya jumlah
imigran di Yunani disebabkan berkurangnya jumlah lapangan kerja akibat
keadaan ekonomi yang sulit dan adanya pemangkasan sumber daya
manusia, khususnya di sektor lapangan kerja yang banyak memperkerjakan
imigran, seperti sektor konstruksi. Lapisan masyarakat yang cukup
mendominasi tingkat pengangguran di Yunani sebenarnya adalah imigran.
4.5.2 Implikasi Negatif dari Implementasi Economic Adjustment
Programme
103
Harris Mlyonas, “Is Greece A Failing Developed State? Causes And Socio-Economic
Consequences of The Financial Crisis”, dalam K.E. Botsiou dan A. Klapsis (eds.), The
Konstantinos Karamanlis Institute For Democracy Yearbook 2011, Athena: The Konstantinos
Karamanlis Institute For Democracy, 2011, hal. 84
104
“Country Notes: Recent Changes In Migration Movements And Policies”, dalam International
Migration Outlook 2012, OECD, 2012, Hal. 234
149
Yunani memasuki tahun ketiga pengimplementasian Economic
Adjustment Programme untuk mengatasi masalah fiskal, namun pemulihan
ekonomi dirasa sangat lama untuk dicapai, sementara makin banyak
masyarakat Yunani yang merasakan implikasi negatif dari implementasi
Economic Adjustment Programme. Kebijakan austerity dalam Economic
Adjustment Programme telah berhasil mengurangi jumlah layanan sosial
dan mengurangi kemampuan masyarakat Yunani untuk memenuhi
kebutuhan dasarnya, dimana upah, dana pensiun, dan manfaat lainnya
dicabut, sementara pajak terus bertambah.105 Secara garis besar, implikasi
negatif dari Economic Adjustment Programme dapat dilihat dari
pemangkasan
biaya
yang
terlalu
progresif,
meningkatnya
tingkat
pengangguran, menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.106
a.
Meningkatnya Tingkat Pengangguran
Implementasi negatif Economic Adjustment Programme yang paling
dirasakan
oleh
masyarakat
Yunani
adalah
meningkatnya
tingkat
pengangguran. Pada akhir tahun 2010, sejak diberlakukannya Economic
Adjustment Programme pada bulan Mei, lebih dari 230.000 orang
kehilangan pekerjaan. Pada tahun 2009, tingkat pengangguran Yunani
mencapai 9,5% dari total populasi tenaga kerja, pada tahun 2010 mencapai
12,5%, dan pada tahun 2011 meningkat drastis menjadi 17,7%. Setiap
105
Asteris Masouras, “Greek Financial Crisis and Anti-Austerity Protests: The Story So Far”,
dalam Bernardo Parella (ed.), Europe in Crisis, Global Voices Books, 2012, hal. 56
106
How Are Austerity Measures Affecting Society?, Iowa: University Of Iowa Center For
International Finance And Development, 2012, hal. 1
150
minggunya rata-rata 1.200 orang kehilangan pekerjaan di Yunani.107 Jumlah
tenaga kerja dikurangi berdasarkan basis satu banding lima, artinya setiap
satu orang yang diperkerjakan, akan ada lima orang yang diberhentikan.
Tabel 4.18 Pengurangan Pegawai Sektor Publik
Diberlakukannya Economic Adjustment Programme
Setelah
Sumber: Hellenic Republic Ministry of Finance, The Economic Adjustment Programme for
Greece
Tabel 4.19 Data Employment dan Unemployment Yunani Tahun 20092012
Tahun
Employed
(Ribu )
Persentase
dari Labour
Force (%)
Unemployed
(Ribu)
Persentase
dari Labour
Force (%)
2009Q4
2010Q1
2010Q2
2010Q3
2010Q4
2011Q1
2011Q2
2011Q3
2011Q4
2012Q1
4476,8
4425,6
4427
4402,9
4299
4194,4
4156,3
4079,3
3932,8
3837,9
89,7
88,3
88,2
87,6
85,8
84,1
83,7
82,3
79,3
77,4
514,4
586,8
594
621,9
712,1
792,6
810,8
878,3
1025,9
1120,1
10,3
11,7
11,8
12,4
14,2
15,9
16,3
17,7
20,7
22,6
Total
Persentase
Unemployment
dalam Satu
Tahun (%)
9,5
12,5
17,7
:
Sumber: Hellenic Statistical Authority, Monthly Statistical Bulletin
Grafik 4.24 Fluktuasi Tingkat Pengangguran di Yunani Tahun 20092012
107
Costas Lapavitsas, A. Kaltenbrunner, dkk., The Eurozone Between Austerity and Default,
Research on Money and Finance, 2010, hal. 41
151
25 Diberlakukannya
Economic
Adjustment
20 15 10.3 11.7 11.8 12.4 14.2 20.7 15.9 16.3 22.6 17.7 10 5 0 Sumber: Hellenic Statistical Authority, Monthly Statistical Bulletin
Tingginya tingkat pengangguran ini juga menyebabkan permasalahan
berkelanjutan lainnya. Mereka yang kehilangan pekerjaan banyak yang
tidak mendapatkan dana sosial, karena sistem sosial Yunani hanya
memberikan dana manfaat hanya untuk 12 bulan pertama, sehingga dari
jumlah 811.000 orang yang kehilangan pekerjaan di tahun 2011, hanya
280.000 yang mendapatkan dana manfaat dari negara. Dana manfaat yang
diterima pun hanya 500 euro per bulan.108 Akibatnya mereka yang
kehilangan pekerjaan terpuruk dalam jurang kemiskinan. Selain itu, Yunani
tidak memiliki sistem formal yang membantu orang muda untuk memasuki
bursa kerja atau membantu orang paruh baya yang telah kehilangan
pekerjaan untuk mendapatkan pekerjaan baru. Posibilitas yang muncul
adalah mereka yang kehilangan pekerjaan akan menjadi pengangguran
dalam jangka waktu yang panjang.
108
Nick Malkoutzis, Greece – A Year in Crisis: Examining the Social and Political Impact of an
Unprecedented Austerity Programme, Op.Cit., hal. 2
152
Dari tingkat pengangguran yang tinggi, yang paling terkena dampak
negatif adalah kelompok usia muda, yaitu 15-24 tahun dan 25-34 tahun.
Tingkat pengangguran untuk kelompok usia 15-24 tahun meningkat lebih
cepat dibanding tingkat agregat pengangguran nasional pada tahun-tahun
sebelumnya, dari 25,7% di tahun 2009, menjadi 40,1% di tahun 2011.
Untuk kelompok usia 25-34 tahun, tingkat pengangguran meningkat dari
11,2% di tahun 2009, menjadi 22% di tahun 2011.109 Kedua kelompok usia
ini mengalami kenaikan dalam jumlah yang sangat besar, yaitu dua kali
lipat.
b.
Menurunnya Tingkat Kesejahteraan Tenaga Kerja
Tidak hanya berdampak negatif bagi mereka yang kehilangan
lapangan pekerjaan, implementasi Economic Adjustment Programme juga
berdampak negatif pada mereka yang masih memiliki pekerjaan. Akibat
implementasi Economic Adjustment Programme, terjadi pemotongan upah
pegawai sektor publik. Upah pegawai sektor publik dipotong hingga 2030%.110 Sebelum implementasi Economic Adjustment Programme, upah
minimum pegawai sektor publik Yunani lebih tinggi dibanding rata-rata
negara anggota Eurozone. Bahkan kenaikan upah pegawai di Yunani lebih
cepat dibanding kenaikan negara anggota Eurozone lainnya (Tabel 4.4).
Setelah implementasi Economic Adjustment Programme, upah minimum
pegawai turun secara signifikan dan hampir sama dengan rata-rata Eurozone
109
Nick Malkoutzis, Young Greeks And The Crisis: The Danger Of Losing A Generation, Op.Cit.,
hal. 1
110
Nick Malkoutzis, Greece – A Year in Crisis: Examining the Social and Political Impact of an
Unprecedented Austerity Programme, Op.Cit., hal. 3
153
(Grafik 4.25). Dampak ini bisa dikatakan sebagai dampak dari
pemberlakuan instrumen neoliberalis untuk mendukung efisiensi suatu
negara. EAP berusaha mewujudukan efisiensi, sehingga salah satu cara yang
ditempuh untuk mencapai hal tersebut adalah memotong pengeluaran
publik, dan pengeluaran publik yang dapat dikatakan paling mudah untuk
dipotong adalah upah pegawai. Tak hanya upah, dana pensiun juga dipotong
per bulannya oleh pemerintah. Kebijakan-kebijakan yang diambil
pemerintah dalam rangka implementasi Economic Adjustment Programme
ini dinilai tidak hanya untuk mengurangi pengeluaran publik, namun juga
dapat mengurangi labour cost.111
Grafik 4.25 Perbandingan Pertumbuhan Upah Minimum Antara
Yunani dan Rata-Rata Eurozone (%Perubahan Tahunan)
Sumber: International Monetary Fund, Greece: Fifth Review Under the Stand-By
Arrangement
Grafik 4.26 Perbandingan Fluktuasi Labour Cost Yunani dan RataRata Eurozone
111
Costas Lapavitsas, A. Kaltenbrunner, dkk., Op.Cit., hal. 39-40
154
Sumber: Hellenic Republic Ministry of Finance, The Economic Adjustment Programme for
Greece
Dengan menurunnya labour cost, hal ini dapat menempatkan tenaga
kerja di posisi lebih lemah di pasar tenaga kerja. Reduksi upah tenaga kerja
sektor publik juga berimplikasi pada pengurangan upah dan jumlah tenaga
kerja sektor swasta (Grafik 4.27). Hal ini bisa dipahami mengingat pajak
yang dikenakan pemerintah pada sektor swasta juga ditingkatkan, sehingga
sektor swasta harus mengurangi anggarannya. Salah satu jalannya adalah
dengan mengurangi upah tenaga kerja.
Grafik 4.27 Fluktuasi Upah dan Jumlah Tenaga Kerja Sektor Swasta
Sumber: International Monetary Fund, Greece: Fifth Review Under the Stand-By
Arrangement
155
Selain menekan biaya tenaga kerja, pemerintah juga menaikkan pajak
nilai tambah dan
pajak pendapatan yang semakin memberatkan tenaga
kerja. Dana pensiun secara perlahan semakin dikurangi dan akhirnya akan
dibekukan. Usia pensiun yang dinaikkan akan mempersulit tenaga kerja
Yunani untuk mengklaim dana pensiun dari pemerintah. Selain itu,
Economic Adjustment Programme berimplikasi pada adanya pelanggaran
pada hak tenaga kerja, seperti mengurangi periode minimum untuk
melakukan pemecatan massal, perpanjangan masa probasi dari tiga bulan
menjadi satu tahun, perpanjangan kontrak durasi maksimum kontrak kerja
tetap menjadi tiga tahun, memrpermudah kondisi untuk pelanggaran
sehingga pekerja dapat lebih mudah untuk dipecat, perpanjangan durasi
maksimum penggunaan tenaga kerja outsource dari 18 menjadi 36 bulan,
perizinan untuk melakukan kerja paruh waktu di sektor publik, pengurangan
10% upah pokok bagi pekerja paruh waktu, pengurangan upah lembur
sebesar 20%, dan diperpanjanganya durasi kerja dari 37,5 jam menjadi 40
jam dalam seminggu.112 Keluarga yang anggotanya masih memiliki
pekerjaan akan berusaha mendapatkan pendapatan tambahan, misalnya
memperpanjang waktu kerja, untuk dapat menyokong anggota keluarganya
yang kehilangan atau tidak memiliki pekerjaan.113
Implementasi Economic Adjustment Programme juga memengaruhi
kesejahteraan tenaga pendidik di Yunani. Pemotongan tunjangan dan bonus
ternyata berdampak serius pada akademisi di universitas. Dosen, khususnya
112
Maria Karamessini, Op.Cit., hal. 173
Tim Callan, dkk, The Distributional Effects of Austerity Measures: A Comparison of Six EU
Countries, Brussels: EUROMOD, 2011, hal. 5
113
156
dosen tidak tetap yang sudah memiliki pendapatan setingkat guru sekolah
dasar merasakan kesulitan untuk mengadakan penelitian, dikarenakan tidak
adanya dana untuk mengadakan penelitian dan tidak adanya waktu karena
harus
melakukan
pekerjaan
kedua
demi
mendapatkan
pengasilan
tambahan.114 Padahal penelitian diperlukan untuk menunjang karier mereka.
c.
Kemiskinan dan Rendahnya Kesejahteraan Masyarakat
Salah satu akibat lain dari implementasi Economic Adjustment
Programme, terjadi kenaikan berbagai jenis pajak tidak langsung seperti
pajak nilai tambah naik dari 19% menjadi 23% atau pajak konsumsi untuk
bahan bakar, rokok, dan alkohol. Pajak pendapatan juga dinaikkan oleh
pemerintah.115 Pemangkasan jumlah tenaga kerja, pemotongan upah dan
dana pensiun, kenaikan pajak bagi masyarakat golongan pendapatan rendah
dan menengah, pengurangan jaminan sosial, berhasil memndorong
masyarakat Yunani jatuh ke dalam lubang kemiskinan dan termarjinalkan
secara sosial.116 Masyarakat kelas menengah yang menjadi tulang punggung
perekonomian semakin termarjinalkan. Mereka yang kehilangan pekerjaan
akhirnya tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka dan keluarga mereka.
Kelas baru masyarakat pun muncul, yaitu “bekas kelas menengah.”117
Terjadi kenaikan sebesar 25% pada jumlah tunawisma. Akan tetapi, di
situasi perekonomian seperti saat ini dimana seluruh anggaran ditekan,
organisasi-organisasi yang biasanya menyediakan bantuan yang tidak bisa
114
Harris Mlyonas, Op.Cit., hal. 82-84
Costas Lapavitsas, A. Kaltenbrunner, dkk., Op.Cit., hal. 41
116
Maria Karamessini, Loc.Cit., hal. 175
117
Harris Mlyonas, Op.Cit., hal. 82-84
115
157
diberikan oleh pemerintah terancam bubar karena kekurangan dana. Pada
memorandum yang ditandatangani parlemen Yunani pada 12 Februari 2012
menyatakan Workers Housing Organization (OEK), yaitu organisasi publik
yang menyediakan bantuan papan murah bagi masyarakat Yunani harus
ditutup untuk mengurangi pengeluaran.118 OEK adalah satu-satunya
organisasi publik di Yunani yang bergerak di sektor penyediaan perumahan
sosial yang bergerak di bawah Ministry of Labour and Social Security
Yunani. Perumahan yang didirikan oleh OEK dijual dengan harga
terjangkau kepada pegawai sektor publik dan swasta, pekerja sosial, dan
pensiunan. OEK juga menyediakan berbagai bentuk bantuan penyediaan
rumah, seperti hibah pemukiman, pinjaman untuk membayar rumah,
konstruksi, perbaikan, subsidi untuk penyewaan rumah, dan lainnya. Sekitar
1500 unit rumah disediakan oleh OEK setiap tahunnya.119
Selain itu, terjadi peningkatan jumlah “hidden homeless”, yaitu orang
muda yang memeiliki pendapatan rendah atau kehilangan pekerjaan dan
tidak sanggup memenuhi kebutuhan papannya, lalu memutuskan untuk
tinggal kembali bersama orangtua. Yang menghadapi tantangan paling besar
adalah pasangan muda. Pasangan muda yang memiliki dua anak dan hanya
satu orang tua yang bekerja mendapatkan rata-rata pendapatan bersih,
termasuk subsidi pemerintah, sebesar 17,000 euro per tahun, sedangkan
118
Alice Pittini, Impact of The Crisis and Austerity Measures on The Social Housing Sector,
Brussels: CECODHAS Housing Europe’s Observatory, 2012, hal. 6
119
Ibid., hal. 6
158
rata-rata Eurozone adalah 27.700 euro.120 Alhasil, pasangan muda banyak
mengandalkan orang tua mereka untuk membiayai akomodasi dan
perawatan anak.
Pemotongan pengeluaran publik juga berdampak pada masyarakat
golongan rentan yang memiliki keterbatasan. Pemerintah mengurangi 50%
subsidi negara bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik untuk
membeli peralatan seperti kursi roda.121 Kondisi perekonomian yang sulit
sebagai dampak implementasi Economic Adjustment Programme juga
memengaruhi kenaikan jumlah kriminalitas dan orang yang melakukan
bunuh diri.122 Bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan untuk
menunjukkan keputusasaan karena tidak sanggup memenuhi kebutuhan
hidup diri sendiri dan keluarga.
d.
Potensi Hilangnya Generasi Emas
Yunani masih memiliki potensi sumber-sumber berharga yang belum
dimanfaatkan dari kaum mudanya. Aset terbesar Yunani adalah sumber
daya manusia. Kurang lebih 1,1 juta jiwa populasi Yunani berumur di
bawah 25 tahun dan 1,5 juta jiwa populasi Yunani berumur 25-34 tahun.123
Kelompok populasi ini memiliki pendidikan dan kesadaran politik yang
baik. Akan tetapi, kesempatan bagi mereka untuk memberikan kontribusi
positif bagi negara tampaknya akan terbatas dalam beberapa tahun ke depan.
120
Nick Malkoutzis, Greece – A Year in Crisis: Examining the Social and Political Impact of an
Unprecedented Austerity Programme Op.Cit., hal. 3
121
Ibid., hal. 3
122
Asteris Masouras, Op.Cit., hal. 56
123
Nick Malkoutzis, Young Greeks And The Crisis: The Danger Of Losing A Generation, Op.Cit.,
hal. 1
159
Populasi pemuda di Yunani rata-rata memiliki tingkat pendidikan
yang lebih tinggi dibanding rata-rata di Uni Eropa. Contohnya, sebanyak
83,4% dari populasi kelompok usia 20-24 tahun di Yunani mengenyam
pendidikan menengah ke atas, sementara rata-rata di Uni Eropa hanya 79%.
Lalu, 58,3% dari populasi kelompok usia 25-34 tahun di Yunani bisa
berbicara dalam bahasa asing, sementara rata-rata di Uni Eropa sebesar
39%.124 Sayangnya, saat ini tingkat pengangguran kelompok usia di bawah
25 tahun mencapai lebih dari 40%. Satu pertiga dari tingkat pengangguran
ini adalah mereka yang telah lulus dari universitas. Tingkat pengangguran
dari pemegang gelar pascasarjana meningkat dua kali lipat dalam waktu 4
tahun.125
Dengan tingkat pengangguran kelompok muda yang tinggi dan
ketidakpastian terhadap prospek masa depan, karena mereka yang masih
memiliki pekerjaan pun menyatakan ketidaksanggupan untuk memenuhi
kebutuhan hidup, kebijakan austerity sebagai implementasi Economic
Adjustment Programme telah memunculkan gelombang emigrasi baru.126
Berbeda dengan emigrasi-emigrasi sebelumnya yang mana mereka yang
melakukan emigrasi adalah tenaga kerja tidak berketerampilan, emigrasi
yang dihadapi Yunani saat ini adalah emigrasi yang mana yang
meninggalkan Yunani tidak hanya tenaga kerja tidak berketerampilan, tapi
juga tenaga kerja yang berketrampilan dan berpendidikan baik. Banyak
orang muda Yunani, khususnya mereka yang baru menyelesaikan studinya
124
Ibid., hal. 2
Ibid., hal. 2
126
Harris Mlyonas., Op.Cit., hal. 82
125
160
dari universitas merasakan kesulitan mendapatkan pekerjaan, akhirnya
mereka memutuskan untuk meninggalkan negaranya untuk mencari peluang
yang lebih baik di luar negeri. Pada akhir tahun 2011, 9% dari sarjana dan
51% pemegang gelar PhD meninggalkan Yunani.127
e.
Berkurangnya Kepercayaan Masyarakat Pada Pemerintah
Berdasarkan respon terhadap implementasi Economic Adjustment
Programme, masyarakat Yunani dapat diklasifikasikan menjadi 4 kategori.
Kelompok pertama adalah kelompok masyarakat yang hanya bisa pesimis,
meratapi hidup, dan sinis. Kelompok kedua adalah kelompok yang
mengecam langkah-langkah yang akan diambil, baik itu yang mendukung
kebijakan austerity dan yang mendukung kembalinya Yunani ke drachma.
Kelompok ketiga adalah kelompok yang bereaksi karena krisis finansial
memengaruhi pendapatan dan prospek masa depan mereka. Kelompok
keempat adalah kelompok yang memiliki fokus pada penghukuman politisipolitisi yang dinilai harus bertanggung jawab atas kondisi saat ini.128
Keempat kelompok ini sama-sama merasakan dampak dari implementasi
kebijakan austerity dan mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah.
Dalam kondisi perekonomian dan sosial yang sulit dan tidak pasti,
protes publik adalah salah satu cara untuk menunjukkan kekecewaan
masyarakat pada pemerintah. Terjadi banyak demonstrasi dan kerusuhan
sejak diimplementasikannya Economic Adjustment Programme. Di samping
itu, muncul kelompok yang menamai diri mereka Aganaktizmenoi
127
128
Nick Malkoutzis, Loc.Cit., hal. 2
Harris Mlyonas, Op.Cit., hal. 81
161
(Indignants). Kelompok ini berhasil menggalang lebih dari 100.000 massa
setiap melakukan demonstrasi.129 Di samping melakukan demonstrasi,
kelompok ini juga menyediakan platform untuk mengadakan diskusi publik
terkait permasalahan ekonomi dan politik Yunani.
Bentuk lain dari berkurangnya kepercayaan masyarakat kepada
pemerintah juga dapat dilihat pemilihan legislatif yang terjadi di tahun 2012.
Jumlah rakyat yang menggunakan suaranya berkurang jika dibandingkan
dengan pemilihan legislatif yang diselenggarakan pada tahun 2009. Pada
pemilihan legislatif yang diselenggarakan pada tahun 2009, jumlah rakyat
yang menggunakan suaranya sebesar 70,92% dari total populasi pemilih.
Pada pemilihan legislatif yang diselenggarakan pada Mei 2012, jumlah
pemilih berkurang menjadi 65,1% dan pada pemilihan putaran kedua yang
diselenggarakan pada Juni 2010, jumlah pemilih berkurang lagi menjadi
62,47%.130 Selain itu, untuk pertama kalinya partai Nazi memenangkan
kursi di parlemen. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah berkurang
kepercayaannya pada dua partai yang dari dulu mendominasi pemerintahn
Yunani. Bagian selanjutnya akan membahas mengenai implikasi Economic
Adjustment Programme pada aspek politik Yunani.
Tabel 4.20 Daftar Demonstrasi dan Kerusuhan di Yunani dari
Pemberian Bailout oleh Uni Eropa Mei 2010 sampai Pemilihan
Legislatif Juni 2012
Tanggal
5 Mei 2010
Peristiwa
Demonstrasi selama 48 jam terjadi di Athena untuk
129
Nick Malkoutzis, Greece – A Year in Crisis: Examining the Social and Political Impact of an
Unprecedented Austerity Programme Op.Cit., hal. 3
130
Hellenic Republic Ministry of Interior, Parliamentary Elections 2012, diakses dari
http://ekloges.ypes.gr/v2012b/public/index.html pada 20 Oktober 2012
162
29 September 2010
4 Juni 2011
15 Juni 2011
28 Juni 2011
5 Oktober 2011
19-20 Oktober 2011
Februari 2012
menentang rencana kebijakan austerity pemerintah
setelah Uni Eropa dan IMF sepakat untuk
memberikan bailout kepada Yunani.
Ribuan pekerja di Yunani berdemonstrasi di jalan
sebagai bagian dari aksi terkoordinasi menentang
kebijakan austerity diberlakukan di seluruh Eropa
pada “Europe's Day of Action Against Cuts”
Terjadi demonstrasi di Athena untuk menentang
keputusan Perdana Menteri Papandreou.
Demonstrasi berujung bentrok antara polisi dan
demonstran terjadi di Athena.
Demonstrasi selama 48 jam dimulai untuk
menentang voting terkait kebijakan austerity yang
akan diambil oleh parlemen Yunani.
Protes masal dilakukan dengan menutup seluruh
tempat publik, mulai dari sekolah sampai rumah
sakit.
Demonstrasi berujung kekerasan selama 48 jam
terjadi lagi.
Kerusuhan di Athena untuk menentang pemberian
paket bailout kedua.
Sumber: Guardian, BBC, Bloomberg, Telegraph
4.6
Implikasi Implementasi Economic Adjustment Programme bagi Aspek
Politik Yunani
Interaksi yang terjadi antara Pemerintah Yunani dan Uni Eropa dalam
penanganan sovereign debt crisis ternyata tidak hanya berimplikasi pada aspek
ekonomi dan sosial Yunani, melainkan juga berimplikasi pada aspek politik
Yunani. Puncak dari implikasi yang terjadi bisa dilihat melalui menangnya New
Democracy, yang notabene partai pro-Uni Eropa, dalam pemilihan legislatif
Yunani yang dilaksanakan pada 17 Juni 2012.
4.6.1 Ketidakstabilan Politik Yunani Selama Terjadinya Krisis
Sejak Yunani dilanda krisis finansial pada tahun 2009, politik Yunani
mulai mengalami ketidakpastian. Pemerintahan di bawah Partai New
163
Democracy tidak berhasil memenuhi janji-janji kampanyenya. Tidak ada
reformasi besar yang dilakukan, pengeluaran publik terus naik, sementara
pendapatan terus menurun dan defisit semakin besar.pada tahun 2009.
Kebijakan yang diambil pemerintah untuk menghadapi krisis finansial
global tahun 2008 dianggap kebiajakan yang terlambat. Kegagalan-kegalan
ini lah yang menyebabkan pemerintah Yunanai didesak untuk mengadakan
pemilihan umum pada tahun akhir tahun 2009.131
Akhirnya pada Oktober 2009, George Papandreou, yang berasal dari
partai sosialis, Panhellenic Socialist Movement (PASOK) terpilih menjadi
perdana menteri baru Yunani. Sebenarnya pada September 2009, PASOK
mulai menyadari permasalahan fiskal Yunani, dan beberapa minggu setelah
terpilih, George Papandreou behasil membongkar fakta kepada publik
bahwa defisit Yunani kemungkinan melebihi 12% dari jumlah PDB. Akan
tetapi, pada saat itu, pemerintah yang sedang berkuasa dianggap terlalu
lambat bereaksi untuk menghindari pengambilan kebijakan drastis. Awalnya
Papandreou mengambil langkah untuk menghadapi krisis dengan hanya
bergantung pada kemampuan pemerintahan dan partainya sendiri.
Papandreou menolak bentuk kerjasama atau aliansi apapun, khususnya
aktor-aktor internal seperti partai politik lain. Ini adalah salah satu kesalahan
yang dilakukan oleh Papandreou. Di satu sisi Papandreou menyadari krisis
yang terjadi benar-benar serius dan tidak bisa ditangani sendiri, tapi di satu
sisi tidak mau membuat koalisi politik internal yang lebih besar untuk
131
Christos Lyrintzis, Greek Politics in The Era of Economic Crisis: Reassessing Causes and
Effects, London: Hellenic Observartory European Institute, London School Of Economics and
Political Science, 2011, hal. 9-10
164
menghadapi krisis.132 Krisis yang terjadi pun dituding sebagai akibat
kelalaian
dan
kemalasan
pemerintahan
George
Papandreou
yang
menyebabkan tingkat defisit menjadi semakin tinggi dan membuat
masyarakat yang harus menanggung akibat dari kebijakan penghematan
drastis yang diambil.133
Menyadari bahwa masalah yang terjadi semakin memburuk,
Papandreou justru akhirnya memutuskan untuk bergantung pada bantuan
Uni Eropa dan IMF untuk menyelamatkan perekonomian Yunani. Akhirnya
Yunani mendapat bantuan pinjaman sebesar 110 milyar untuk jangka waktu
tiga tahun dan memorandum antara pemerintah Yunani dan Troika
disetujuai oleh parlemen Eropa. Pada Mei 2010, pemerintah Yunani
terpaksa harus menyerahkan kapasitas negara untuk menentukan kebijakan
fiskal dan menuruti kebijakan-kebijakan di seluruh aspek sosial dan
ekonomi
yang
diadopsi
diberlakukan oleh Troika
dari
economic
adjustment
progam
yang
Saat itu Papandreou mendapatkan banyak
kecaman keras, khususnya dari partai-partai oposisi. New Democracy saat
itu
menolak
bailout.134
George
Papandreou
mengumumkan
akan
mengadakan refrendum untuk menentukan apakah Yunani akan menerima
bailout selanjutnya dari Troika. Akan tetapi, refrendum ini tidak pernah
terjadi.
Pada 9 November 2011, George Papandreou akhirnya dipaksa untuk
mengundurkan diri, lalu dua hari kemudian digantikan oleh Lukas
132
Ibid., hal. 13-16
Ibid., hal. 11-13
134
Ibid., hal. 11-13
133
165
Papademos yang merupakan mantan Wakil Presiden ECB dan mantan
Direktur Bank Sentral Yunani.135 Lukas Papademos menang dengan 255
dari 300 suara parlemen (38 suara menentang dan 2 menyatakan abstain).
Dua partai, yaitu Communist Party (KKE) dan Radical Left Coalition
(SYRIZA) mengatakan bahwa pemerintahan yang dipimpin Lukas
Papademos tidak sah karena melanggar konstitusional dan dua partai ini
mendesak untuk segera diselenggarakannya pemilihan umum. Sementara
itu, partai-partai pendukung Papademos juga di belakang berharap dapat
menggulingkan Papademos apabila diselenggarakan pemilihan umum.136
Papademos berhasil membentuk koalisi pemerintahan antara PASOK, New
Democracy, dan partai kanan People’s Orthodox Alarm (LAOS) untuk tetap
menjalankan kebijakan penghematan sesuai dengan kesepakatan antara
Pemerintah Yunani dan Troika.
Politik Yunani semakin tidak stabil karena banyaknya tekanan. Secara
internal,
masyarakat
Yunani
banyak
yang
menentang
kebijakan
penghematan dan ditambah banyaknya partai oposisi yang menentang tapi
partai-partai tersebut juga tidak melakukan perubahan untuk mengatasi
krisis. Secara eksternal, Yunani mendapat banyak tekanan dari aktor-aktor
internasional lain, khususnya Uni Eropa untuk segera menyelesaikan
masalah krisis finansial. Sepanjang terjadinya sovereign debt crisis dari
tahun 2009 sampai saat ini, Yunani telah berganti kepala pemerintahan
135
Corinne Deloy dan Stellina Galitopoulou, “Great Uncertainty Just One Month Before The Next
Greek General Elections”, dalam European Elections Monitor: General Elections In Greece 6th
May 2012, Paris: The Robert Schuman Foundation, 2012, hal. 2
136
Markus Kuger, “The Business Impact Of A Greek Euro-Zone Exit”, dalam A D&B Special
Report April 2012, Dun & Bradstreet Limited, 2012, hal. 4
166
sebanyak tiga kali. Padahal menurut konstitusi Yunani, yaitu pasal 53,
pemilihan legislatif dilakukan setiap empat tahun sekali.
4.6.2 Pemilihan Umum 2012 sebagai Indikator Pengaruh Uni Eropa
Sesuai
dengan
konstitusi
Yunani
yang
mengatur
bahwa
penyelenggaraan pemilihan umum paling lambat satu bulan sebelumnya,
pada April 2012, Papademos mengumumkan akan ada pemilihan umum
pada Mei 2012. Pemilihan umum ini sendiri tidak hanya penting bagi
Yunani, melainkan juga bagi Uni Eropa. Hasil pemilihan umum ini akan
menentukan masa depan Yunani di Eropa, apakah akan tetap menyepakati
pemberlakuan Economic Adjustment Programme dari Uni Eropa
atau
memilih jalannya sendiri, yaitu keluar dari Eurozone.
Pada pemilihan umum yang diselenggarakan pada 6 Mei 2012, ada 31
partai yang berpartisipasi. Untuk duduk di kursi parlemen, suatu partai harus
mendapatkan 3% dari total suara atau mendapatkan 6 kursi di parlemen.137
Dari hasil pemilihan umum 6 Mei 2012, hanya ada 7 partai yang berhasil
mendapatkan suara di atas 3%. New Democracy (ND) mendapatkan suara
sebanyak 18,5%, yang berarti mendapatkan 58 kursi di parlemen.
Berdasarkan konstitusi Yunani, partai yang memenangi suara mayoritas
mendapatkan tambahan sebanyak 50 kursi, sehingga ND berhasil
mendapatkan total 108 kursi di parlemen. Radical Left Coalition (SYRIZA)
memenangkan 16,78 suara atau sebanyak 52 kursi. Panhellenic Socialist
137
Chronicle of Parliamentary Elections Volume 41, New York: Inter-Parliamentary Union, 2007,
hal. 113
167
Movement (PASOK) mendapat suara 13,18% suara atau sebanyak 41 kursi
di parlemen. Independent Greeks (AE) mendapat 10,61% suara atau
sebanyak 33 kursi. Communist Party (KKE) mendapat 8,48% suara atau
sebanyak 26 kursi. Golden Dawn (CA) mendapat 6,97% suara atau 21 kursi.
Democratic Left (DIMAR) mendapat 6,11% suara atau 19 kursi.138
138
Hellenic Republic Ministry of Interior, Parliamentary Elections 2012, diakses dari
http://ekloges.ypes.gr/v2012b/public/index.html pada 15 Oktober 2012
168
Tabel 4.21 Hasil Pemilihan Umum Yunani Mei 2012
Partai Politik
New Democracy (ND)
Radical Left Coalition (SYRIZA)
Panhellenic Social Movement (PASOK)
Independent Greeks (AE)
Communist Party (KKE)
Golden Dawn (CA)
Democratic Left (DIMAR)
Jumlah
Suara
1.192.051
1.061.282
833.257
670.957
536.072
441.018
386.263
% Suara
18,85
16,78
13,18
10,61
8,48
6,97
6,11
Jumlah
Kursi
108
52
41
33
26
21
19
Source : Ministry of Interior Hellenic Republic, Parliamentary Elections 2012
Dalam sistem pemilihan legislatif Yunani, suatu partai harus
memenangkan myoritas 151 kursi parlemen. Apabila tidak ada partai yang
berhasil mendapatkan 151 kursi, maka partai yang menduduki posisi
pertama dengan jumlah suara terbanyak diberi kesempatan dalam waktu 3
hari untuk membentuk koalisi. Apabila partai pertama gagal, membentuk
koalisi, maka berikutnya partai kedua diberi kesempatan untuk membentuk
koalisi dalam waktu 3 hari. Apabila partai pertama gagal, membentuk
koalisi, maka berikutnya partai kedua diberi kesempatan untuk membentuk
koalisi dalam waktu 3 hari. Apabila partai pertama gagal, membentuk
koalisi, maka berikutnya partai kedua diberi kesempatan untuk membentuk
koalisi dalam waktu 3 hari. Apabila partai kedua gagal, membentuk koalisi,
maka berikutnya partai ketiga diberi kesempatan untuk membentuk koalisi
dalam waktu 3 hari. Apabila partai ketiga masih gagal membentuk koalisi,
maka presiden akan memfasilitasi langkah netral untuk membentuk koalisi
antar partai. Apabila koalisi masih gagal terbentuk, maka pemilihan umum
169
baru akan dilakukan dalam waktu paling lambat 30 hari.139 Pada pemilihan
umum Mei 2012, tidak ada partai yang memenangkan 151 kursi parlemen
dan koalisi gagal terbentuk, maka diadakan pemilihan umum baru tanggal
17 Juni 2012. Namun sebelumnya, pada tanggal 24 Mei, Uni Eropa
mengadakan pertemuan dan kembali mengingatkan kepada Yunani untuk
tetap menaati memorandum apabila Yunani ingin mendapatkan dana lagi
untuk mengatasi masalah hutang dan krisis ekonomi yang terjadi.140
Pada pemilihan umum 17 Juni 2012, ada 21 partai yang berpartisipasi,
namun tetap hanya 7 partai yang berhasil memenuhi kualifikasi
mendapatkan lebih dari 3% suara. ND tetap memimpin dengan 29,66%
suara atau sebanyak 79 kursi dan tambahan 50 kursi menjadi 129 kursi.
SYRIZA mendapat 26,89% suara atau sebanyak 71 kursi. PASOK
mendapat 12,28% suara atau sebanyak 33 kursi. AE mendapat 7,51% suara
atau 20 kursi. CA mendapat 6,92% suara atau sebanyak 18 kursi. DIMAR
mendapat 6,26% suara atau sebanyak 17 kursi. KKE mendapat 4,5% suara
atau sebanyak 12 kursi.141 Tidak ada partai yang berhasil memenangkan 151
kursi parlemen. Akan tetapi, ND berhasil melakukan koalisi dengan PASOK
dan DIMAR dan akhirnya pada 20 Juni 2012, Antonis Samaras, ketua partai
ND diangkat sebagai perdana menteri
baru Yunani. Antonis Samaras
mengajak partai-partai politik Yunani untuk tetap menghargai memorandum
yang sudah disepakati oleh Yunani dengan Uni Eropa sambil terus berusaha
139
Christos Lyrintzis, Op.Cit., hal. 18-20
Greece Election: Pro-Bailout Party to Attempt Coalition, diakses dari
http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-18478982 pada 13 Oktober 2012
141
Hellenic Republic Ministry of Interior, Parliamentary Elections 2012, diakses dari
http://ekloges.ypes.gr/v2012b/public/index.html pada 15 Oktober 2012
140
170
melakukan negosiasi kembali terhadap beberapa persyaratan aturan yang
ada.142
Tabel 4.22 Hasil Pemilihan Umum Yunani Juni 2012
Partai Politik
New Democracy (ND)
Radical Left Coalition (SYRIZA)
Panhellenic Social Movement (PASOK)
Independent Greeks (AE)
Golden Dawn (CA)
Democratic Left (DIMAR)
Communist Party (KKE)
Jumlah
Suara
1.825.637
1.655.086
755.868
462.466
425.990
385.077
277.204
% Suara
29,66
26,89
12,28
7,51
6,92
6,26
4,50
Jumlah
Kursi
129
71
33
20
18
17
12
Source : Ministry of Interior Hellenic Republic, Parliamentary Elections 2012
ND yang memenangkan pemilihan umum adalah partai pro-bailout.
Pada awal pemerintahan George Papandreou tahun 2009, ND adalah partai
oposisi yang menentang bailout. Namun, ketika George Papandreou
mengundurkan diri, ND berubah haluan berkoalisi dengan PASOK untuk
mendukung bailout, akan tetapi ND berharap dapat melakukan negosisasi
dengan Uni Eropa terkait beberapa poin pertaturan dalam memorandum.143
Dalam
hal
pemberlakuan
Economic
Adjustment
Programme,
ND
mendukung privatisasi sebagai cara untuk meningkatkan pendapatan negara.
ND bahkan menargetkan target privatisasi di atas prediksi yang diatur dalam
memorandum, sehingga defisit bisa dikurangi tanpa perlu melakukan
pengurangan lebih jauh pada upah tenaga kerja dan dana pensiun dan
142
Greece Election: Pro-Bailout Party to Attempt Coalition, diakses dari
http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-18478982 pada 13 Oktober 2012
143
A
Guide
To
Greece’s
Political
Parties,
diakses
dari
http://www.aljazeera.com/indepth/features/2012/05/20125120322955327.html pada 13 Oktober
2012
171
akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Yunani.144 Perbaikan
pada sistem upah dan tenaga kerja merupakan hal yang paling mudah
dijadikan materi kampanye dalam kondisi pemberlakuan EAP, karena hal
ini yang paling vital dan bersentuhan secara langsung dengan rakyat.
Pemilihan umum yang terjadi di tahun 2012, baik pada bulan Mei dan
Juni menyiratkan bahwa yang menjadi pusat perhatian adalah Memorandum
of Economic and Financial Policies antara pemerintah Yunani dan Uni
Eropa. Pada pemilihan umum 2012 yang saling memperebutkan kursi
parlemen adalah partai-partai yang pro-bailout dan partai-partai yang antibailout, bukan hanya sekedar pertarungan antara partai kiri dan partai
kanan. Partai yang memenangkan pemilihan umum akan menentukan masa
depan Yunani di Eropa, apakah tetap berada di Eurozone atau keluar dari
Eurozone. Dalam pemilu 2012, posisi partai-partai politik Yunani terhadap
bailout, khususnya mengenai penerapan kebijakan penghematan, dan Uni
Eropa dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Pertama adalah partai yang
mendukung bailout dan kesepakatan dengan Uni Eropa, serta tetap
menginginkan Yunani untuk berada dalam wilayah Uni Eropa, khususnya
Eurozone. Kedua adalah partai yang menginginkan pembatalan bailout dan
memorandum antara Yunani dan Uni Eropa, namun di satu sisi menginkan
tetap berada di wilayah Eurozone. Ketiga adalah partai yang menginginkan
Yunani keluar dari Uni Eropa dan membiarkan Yunani mengalami default.
144
Maria Koutoulakou, “New Democracy And The New Pro-European Greek Government, dalam
Delkelet Europa – South-East Europe International Relations Quarterly, Vol. 3. No.2, 2012, hal. 1
172
Tabel 4.23 Profil Tujuh Partai dengan Suara Terbanyak di Pemilu
Yunani Tahun 2012
Partai
New Democracy
(ND)
Coalition of Radical Left
(SYRIZA)
Panhellenic Socialist Movement
(PASOK)
Independent Greeks
(AE)
Golden Dawn
(CA)
Democratic Left
(DIMAR)
Communist Party
(KKE)
Orientasi
Posisi
Terhadap
Bailout
Posisi
Terhadap Uni
Eropa
Tengah-Kanan
Pro-Bailout
Pro-Uni Eropa
Kiri
Anti-Bailout
Pro-Uni Eropa
Tengah-Kiri
Pro-Bailout
Pro-Uni Eropa
Kanan
Anti-Bailout
Pro-Uni Eropa
Ekstrim
Kanan
Anti-bailout
Anti-Uni Eropa
Kiri Moderat
Pro-Bailout
Pro-Uni Eropa
Ekstrim Kiri
Anti-Bailout
Anti-Uni Eropa
Sumber: Penulis (Analisa dari serbagai sumber)
Implementasi Economic Adjustment Programme menempatkan
Yunani pada posisi debitur dan Uni Eropa pada posisi kreditur. Pada kondisi
sovereign debt crisis yang seperti dialami Yunani, kreditur secara tidak
langsung mampu mengontrol debitur. Pada posisi kreditur, apabila debitur
tidak melakukan hal yang dilakukan oleh kreditur, maka kreditur bisa
memberikan ancaman kepada debitur. Uni Eropa tentunya menginginkan
Yunani tetap berada dalam Economic Adjustment Programme seperti
kesepakatan karena Uni Eropa memiliki kepentingan yang sudah dijelaskan
pada sub-bab sebelumnya. Apabila pemerintah Yunani yang baru
menentang Economic Adjustment Programme, maka Uni Eropa dapat
mengancam untuk tidak membantu perekonomian Yunani lagi dan bahkan
bisa mengeluarkan Yunani dari Eurozone karena Uni Eropa memiliki
kekuatan sebagai kreditur.
173
Berdasarkan hasil pemilihan umum Yunani pada tahun 2012, dapat
dikatakan bahwa rakyat Yunani memilih untuk tetap berada dalam
Economic Adjustment Programme Uni Eropa. Memang banyak rakyat
Yunani yang tidak menyukai adanya kebijakan penghematan dan mendesak
pemerintah untuk menghentikan kebijakan penghematan. Akan tetapi,
ketakutan rakyat Yunani untuk keluar dari Eurozone membuat rakyat
Yunani memilih partai yang pro-bailout dan pro-Uni Eropa.145 Bailout dan
kebijakan austerity dirasa sebagai suatu prasyarat bagi Yunani untuk tetap
berada dalam Eurozone.
Hasil pemilu ini menujukkan bahwa pilihan rakyat Yunani terbagi
menajadi dua, yaitu antara keinginan untuk tetap berada di Eurozone atau
kemarahan atas pemotongan gaji, dana pensiun, dan lapangan pekerjaan.146
Rakyat Yunani lebih memilih untuk tetap berada di Eurozone dengan resiko
tetap berada dalam paket kebijakan penghematan yang diberikan oleh Uni
Eropa daripada harus keluar dari Eurozone dengan resiko lebih besar yang
tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, konstituen Yunani menjadikan
“tetap berada di Eurozone” sebagai pertimbangan pertama, dan kebijakan
ekonomi sebagai pertimbangan kedua, dengan harapan adanya modifikasi
terhadap kebijakan bantuan yang dapat meringankan beban masyarakat
Yunani namun tetap dapat menciptakan pemulihan ekonomi.147
145
Gregory T. Papanikos, The Simple Arithmetics of The May 2012 Greek Elections, Athena:
Athens Institute for Education and Research, 2012, hal. 10
146
New Democracy Wins Greek Election, but Crisis Not Over, diakses dari
http://www.euractiv.com/euro-finance/new-democracy-wins-greek-electio-news-513355 pada 13
Oktober 2012
147
Markus Kuger, Op.Cit., hal. 4
174
Tabel 4.24 Jumlah Konstituen Yunani yang Memilih Partai Pro-Bailout
Pro-Bailout
Anti-Bailout
Pemilu Mei 2012 (%)
38,14
42,84
Pemilu Juni 2012 (%)
48,20
45,82
Selisih (%)
10,06
2,98
Sumber: Penulis (kalkulasi dari data hasil pemilihan umum di Ministry of Interior)
Keterangan: Pro-Bailout dihitung dari total pendapatan suara ND, PASOK, dan DIMAR.
Anti-Bailout dihitung dari total pendapatan suara SYRIZA, AE, CA, dan KKE.
Tabel 4.25 Jumlah Konstituen Yunani yang Memilih Partai Pro-Uni
Eropa
Pro-Uni Eropa
Anti-Uni Eropa
Pemilu Mei 2012 (%)
54,92
15,45
Pemilu Juni 2012 (%)
82,6
11,42
Selisih (%)
27,68
-4,03
Sumber: Penulis (kalkulasi dari data hasil pemilihan umum di Ministry of Interior)
Keterangan: Pro-Bailout dihitung dari total pendapatan suara ND, SYRIZA, PASOK, AE,
dan DIMAR. Anti-Bailout dihitung dari total pendapatan suara CA dan KKE
Diagram 4.4 Hasil Survey Pandangan Masyarakat Yunani Mengenai
Kelaurnya Yunani dari Eurozone
Sumber: Sara F. Taylor, Financial Crisis in the European Union: The Cases of Greece and
Ireland
Hasil pemilu ini tentunya membuat Uni Eropa lega, karena pemerintah
yang terpilih ada pemerintah yang mau bekerja sama dengan Uni Eropa.
Akan tetapi, seandainya SYRIZA yang terpilih pun, Uni Eropa masih dapat
memengaruhi politik Yunani. Mengingat partai ini adalah partai yang proUni Eropa dan masih menginginkan Yunani untuk bergabung dengan
Eurozone. Akan mustahil bagi Yunani untuk menghilangkan bailout namun
175
di satu sisi tetap menginginkan berada di dalam Eurozone. Sesuai dengan
teori neoliberalisme, keberadaan institusi liberal internasional dapat
memengaruhi politik suatu negara. Kebutuhan Yunani untuk tetap berada di
Eurozone, membuat politik Yunani menyesuaikan dengan kepentingan Uni
Eropa.
Hal lain yang menarik dari hasil pemilu ini adalah mengapa dalam
periode krisis ekonomi dan kebijakan penghematan, ide partai anti-bailout
yang notabene mayoritas adalah partai kiri mengenai persamaan, keadilan
sosial, dan solidaritas tidak berhasil memengaruhi konstituen. Jawaban yang
memungkinkan dari kondisi politik Yunani adalah dikarenakan agen politik
kiri tidak terlalu kompeten untuk menyakinkan masyarakat mengenai
idealisme kiri mereka, sehingga idealisme ini tidak berhasil menghadapi
dominasi ideologi liberal mengenai kebebasan pasar dan kompetisi bebas
memberikan solusi bagi seluruh masalah.148 Alasan lain yang dapat
menjelaskan kesuksesan partai pro-bailout adalah adanya tren di masyarakat
yang menujukkan kecenderungan penolakan terhadap ideologi populis yang
mengatakan adanya jalan keluar yang mudah bagi Yunani untuk keluar dari
masalah ekonomi.
4.6.3 Perubahan Konstelasi Politik Yunani Setelah Bailout
Sejak jatuhnya rezim diktator yang telah berkuasa di Yunani selama
tujuh tahun dan berdirinya pemerintahan republik Yunani pada tahun 1974,
148
Christos Lyrintzis, Op.Cit., hal. 18-20
176
politik Yunani selalu dikenal sebagai politik bipolar. Politik Yunani selalu
didominasi oleh dua partai besar, yaitu partai tengah-kiri, Panhellenic
Socialist Movement (PASOK) dan partai tengah-kanan, New Democracy
(ND).149 PASOK dan ND saling menjadi oposisi satu sama lain. Ketika
PASOK berkuasa, ND menjadi oposisi. Begitu pun sebaliknya, ketika ND
berkuasa, PASOK menjadi oposisi. Yunani memiliki sejarah yang singkat
dan tidak produktif dari koalisi pemerintahan. Pemberian bailout yang
dilakukan oleh Uni Eropa kepada Yunani berhasil merubah konstelasi
politik Yunani. Dari politik bipolar yang didominasi oleh ND dan PASOK,
menjadi partai yang pro-bailout dan anti-bailout. Bahkan antar partai politik
berhasil dituntut untuk saling berkoalisi.150
Tabel 4.26 Partai Pemenang Pemilihan Umum Tahun 1974-2009
Tahun Pemilihan
November 1974
November 1977
Oktober 1981
Juni 1985
Juni 1989
November 1989
April 1990
Oktober 1993
September 1996
Maret 2000
Maret 2014
September 2007
Oktober 2009
Juni 2012
Perdana Menteri Terpilih
Constantine Karamanlis
Constantine Karamanlis
Andreas Papandreou
Andreas Papandreou
Tzannis Tzannetakis
Xenophon Zolotas
Constantine Mitsotakis
Andreas Papandreou
Constantine Simitis
Constantine Simitis
Costas Karamanlis
Costas Karamanlis
George Papandreou
Antonis Samaras
Partai
ND
ND
PASOK
PASOK
ND
National Unity
ND
PASOK
PASOK
PASOK
ND
ND
PASOK
National Unity
Sumber: George Alogoskoufis, Greece’s Sovereign Debt Crisis: Retrospect and Prospect
149
George Alogoskoufis, Op.Cit., hal. 16
Nick Malkoutzis, The Greek Crisis And The Politics Of Uncertainty, Berlin: Friedrich-EbertStiftung, 2011, hal. 5
150
177
Pengambilan keputusan untuk meminta bantuan bailout dari Uni
Eropa dan IMF serta setuju untuk menerapkan Economic Adjustment
Programme oleh George Papandreou dinilai sebagai keputusan yang
paradoks bagi PASOK. PASOK yang notabene partai kiri justru mendukung
ideologi neoliberalis. Sementara itu, ketika bailout pertama diumumkan, ND
adalah menyatakan menentang bailout. Hal ini juga paradoks. Suatu partai
liberal menentang seperangkat kebijakan liberal, meskipun pada akhirnya
ND mendukung bailout.151 Implikasi lain dari adanya interaksi antara
pemerintah Yunani dan Uni Eropa dalam mengatasi sovereign debt crisis
adalah perubahan konstelasi politik Yunani yang cepat dan menimbulkan
ketidakpastian politik.
Di lain pihak, penerapan Economic Adjustment Programme sebagai
timbal balik bailout yang diberikan oleh Uni Eropa secara tidak langsung
memengaruhi peningkatan popularitas partai anti-bailout. Meskipun
SYRIZA tidak berhasil memenangi pemilu, partai ini berhasil mendapatkan
peningkatan suara yang drastis dibandingkan dengan pemilihan umum
sebelumnya. Sejak tahun 2010, ketidakpuasan pada ND dan PASOK dan
kekecewaan pada memorandum antara pemerintah Yunani dan Uni Eropa
menyebabkan lahirnya banyak partai-partai baru.152 Ketidakpuasan pada
memorandum bahkan membuat partai Neo-Nazi seperti Golden Dawn untuk
151
Christos Lyrintzis, Op.Cit., hal. 16-18
Greece – A Year in Crisis: Examining the Social and Political Impact of an Unprecedented
Austerity Programme, Op.Cit., hal. 2
152
178
pertama kalinya berhasil mendapatkan banyak suara dan duduk di parlemen,
padahal Yunani adalah negara demokrasi yang anti-fasisme.153
4.7
Aplikasi Teori dan Konsep Pada Analisa dan Pembahasan
Teori Hubungan Internasional yang digunakan uuntuk menunjang penelitian
ini adalah teori neoliberalisme. Seperti yang sudah dijelaskan pada bab 2, dalam
konteks internasional, neoliberalisme menekankan pada pergerakan bebas lintas
batas nasional dari barang, jasa, kapital, dan uang. Uni Eropa sebagai institusi
yang mendukung pergerakan lintas batas nasional dari barang, jasa, kapital, dan
uang dapat dikategorikan sebagai institusi neoliberal. Neoliberalisme menganut
paham bahwa peran negara dalam hal ekonomi sangat terbatas, dan lebih
menekankan peran dari institusi ekonomi liberal. Apabila pemerintah nasional
masih memainkan perannya untuk mencapai kepentingan domestik melalui
kebijakan negara, pada akhirnya kebijakan yang diambil akan menyesuaikan
dnegan kebijakan yang diambil oleh institusi liberal. Hal ini sangat terlihat jelas
pada Uni Eropa, dimana Uni Eropa, khususnya ECB, lebih memerankan banyak
peran ekonomi dibanding pemerintah negara anggota Eurozone, termasuk Yunani,
melalui berbagai instrumen kebijakan moneternya. Melalui analisa pada bab ini
juga terlihat bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Uni Eropa juga
menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya sovereign debt crisis Yunani.
153
Corinne Deloy dan Stellina Galitopoulou, Op.Cit, hal. 9
179
Dalam hal mengatasi sovereign debt crisis Yunani, Uni Eropa juga lebih
banyak mengambil peran dibanding pemerintah Yunani. Pemerintah Yunani
secara tidak langsung menjadi instrumen untuk menerapkan kebijakan yang
diambil oleh Uni Eropa, yang tertuang dalam Economic Adjustment Programme.
Ada beberapa alasan di balik kegigihan pemerintah Yunani dan Uni Eropa dalam
mengimplementasi Economic Adjustment Programme. Salah satunya adalah
konsistensi dengan agenda neoliberal yang mengatur bahwa fungsi pasar tanpa
adanya intervensi dari negara akan menjadi lebih baik.154 Economic Adjustment
Programme yang diterapkan sesuai dengan unsur-unsur yang didukung oleh
perspektif neoliberalisme, yaitu pro-liberalisasi, pro-efisiensi, dan pro-privatisasi.
Hal ini dapat terlihat dari kebijakan-kebijakan yang diambil untuk mengatasi
sovereign debt crisis.
Selain itu, menurut teori neoliberalisme, intervensi institusi liberal
internasional
dapat
memengaruhi
pengambilan
kebijakan
suatu
rezim
pemerintahan dalam hal politik. Hal ini terlihat jelas pada pengambilan
keputusan-keputusan politik yang diambil oleh pemerintah Yunani dalam
mengatasi sovereign debt crisis di bawah kontrol Uni Eropa dan bagaimana
akhirnya eksistensi Uni Eropa dapat memengaruhi pemilihan legislatif Yunani.
Bagi para penganut neoliberalis, supremasi hak-hak sektor privat dan proses
percepatan deregulasi dan privatisasi adalah tujuan utama.155 Kebijakan-kebijakan
ekonomi yang ditetapkan suatu negara dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan
154
Berdasarkan hasil wawancara dengan Euclid Tsakalotos, anggota parlemen Yunani bagian
Standing Committee on Economic Affairs and Committee on the Financial Statement and the
General Balance Sheet and on the implementation of the State Budget pada 19 November 2012
155
Jonas Sjöstedt, “The Lisbon Treaty – Centralization and Neoliberalism”, dalam Röda EU-Tema
number 10, Brussels: Gauche Unitaire Europeenne/Nordic Green Left, 2007, hal. 19
180
tersebut. Tujuan-tujuan lain di luar ekonomi tidak dianaktirikan, tapi digunakan
dan disesuaikan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.156 Hal ini juga dapat
terlihat jelas pada interaksi antara pemerintah Yunani dan Uni Eropa dalam
mengatasi sovereign debt crisis. Economic Adjustment Programme sebagai
instrumen yang digunakan oleh Uni Eropa berhasil merombak struktur
perekonomian Yunani, termasuk di dalamnya mengatur privatisasi dan perubahan
regulasi sektor privat sebagai solusi untuk mengatasi sovereign debt crisis.
Kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah Yunani sebagai
bentuk implementasi dari Economic Adjustment Programme akhirnya menjadi
instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Pada akhirnya, sesuai dengan
apa yang dianut oleh para neoliberalis bahwa hak ekonomi, sosial, dan politik
masyarakat akan tererosi sebagai dampak dari privatisasi, serta korporasi dan
kapital akan menjadi lebih dominan pun terjadi di Yunani. Upah pegawai
diturunkan yang akhirnya memengaruhi labor cost dari pekerja Yunani. Dengan
labor cost yang diturunkan maka pihak employer memiliki bargaining position
yang lebih tinggi dibanding pihak employee. Hak-hak ekonomi dan sosial
masyarakat Yunani yang tererosi telah dijabarkan pada sub-bab sebelumnya, yaitu
meningkatnya pengangguran dan menurunnya tingkat kesejahteraan akibat
pemangkasan upah, dana pensiun, dan manfaat sosial lainnya yang mendorong
peningkatan kemiskinan. Hak politik masyarakat Yunani yang tererosi pun dapat
terlihat dari hasil pemilihan legislatif Yunani, dimana masyarakat Yunani tidak
156
Timothy L. Misir, “The Struggle Against Neoliberal Austerity And The Survival Of The
European Project” dalam Working Paper No. 4 November 2011, Singapore: European Union
Centre in Singapore, 2011, hal. 5
181
memiliki pilihan lain selain memilih partai yang pro-Uni Eropa sebagai solusi
untuk segera mengakhiri sovereign debt crisis.
Ketergantungan pada institusi internasional liberal yang pro-liberalisasi,
pro-efisiensi, dan pro-privatisasi ini lah adalah hal yang ingin dicapai oleh para
neoliberalis dan hal ini terlihat jelas sekali pada implementasi Economic
Adjustment Programme sebagai bentuk interaksi antara pemerintah Yunani dan
Uni Eropa dalam mengatasi sovereign debt crisis Yunani. Ketergantungan pada
instrumen neoliberal ini lah yang membuat negara pada akhirnya hanya akan
terjebak pada lingkaran neoliberal.
Download