Topik 18: Tolonglah

advertisement
Topik 18: Tolonglah!
Bismillahirrahmanirrahim
Kita masih akan lanjutkan mengenai topik Fi'il Amr (Kata Kerja Perintah). Pada topik sebelumnya telah kita
bahas 6 langkah mudah membentuk Fi'il Amr. Masih ingat kan? Gak ingat juga gak apa... Hehe... Topik kali
ini akan kita lanjutkan lagi, pendalaman 6 langkah tsb.
Kita akan beri 2 contoh: yaitu menolong - nashoro ‫ر َنص‬
َ ََ dan mempelajari/belajar - 'allama ‫مّلع‬
Contoh 1: ‫َ رص‬
Kita latih lagi 6 langkah tsb:
Langkah 1. KKL menolong --> NASHARA ‫َ رص‬
Langkah 2. KKS menolong --> YANSHURU ‫ر ننص‬
‫ُ ن‬
Langkah 3. Buang YA --> NSHURU ‫ر ننص‬
‫َ ن‬
Langkah 4. Harokat akhir matikan --> NSHUR ‫رصن‬
‫َ ن‬
Langkah 5. Harokat NUN sukun --> tambahkan alif --> Kemungkinan UNSHUR, INSHUR, atau ANSHUR
Langkah 6. Pilih UNSHUR, INSHUR, atau ANSHUR.
Kita berhenti sejenak disini. Kita dihadapkan dengan 3 pilihan. Dalam topik 18 ini, langkah ke 6 kita
pertajam sbb:
6.1 Jika KKL terdiri dari 4 huruf, huruf pertama alif fathah, maka alif tambahan (hasil langkah 5) berharokat
Fathah (lihat contoh AFSID : RUSAKLAH, pada topik 17).
6.2 Jika KKL bukan termasuk jenis 6.1, maka harokat Alif tambahan (hasil langkah 5) adalah:
- kasroh jika huruf KKS sebelum terakhir fathah atau kasrah
- dhommah jika huruf KKS sebelum terakhir dhommah
Wuih... mangkin puyeng aje nih ane... Bang... Tenang... Tenang... Kita akan beri 2 contoh untuk
memudahkan (kelihatannya saja rumit, tapi kalau dilatih dengan contoh Insya Allah gak seserem yang
dibayangkan)... Oke kembali kita ke topik NASHARO. Kita sudah sampai pada langkah ke 5, dengan
memberikan pilihan: UNSHUR, INSHUR, atau ANSHUR.
Mari kita terapkan rumus 6.1 dan 6.2
6.1 KKL dari MENOLONG adalah NASHARA ‫ َ رص‬. KKL adalah 3 huruf. Sehingga rumus 6.1 ini tidak
berlaku, karena rumus ini hanya berlaku untuk KKL 4 huruf, huruf pertama adalah alif berharokat fathah.
Kalau demikian lanjut ke 6.2
6.2 KKL bukan termasuk jenis 6.1, maka kita tinggal melihat harokat huruf sebelum akhir dari KKSnya.
Okeh... KKS dari NASHARO adalah YANSHURU, huruf terakhir dari ‫ُ رص‬adalah RO, huruf sebelum
akhir adalah SHOD. ‫رص‬
‫ُ ن‬.‫ن‬Harokat‫ن‬SHOD‫ن‬apa????‫ن‬Harokat‫ن‬SHOD‫ن‬dhommah‫) نن(ن‬. Jika dhommah, maka alif
tambahan (hasil langkah 5) juga berharikat dhommah. Sehingga menjadi ‫ أَ رص‬UNSHUR (bukan INSHUR,
atau ANSHUR).
Jadi kita ringkas:
‫ َ رص‬- NASHARO : (dia telah) menolong --> KKL
‫ ُ رص‬- YANSHURU : (dia sedang) menolong --> KKS
‫ ت رص ال‬- LA TANSHUR : (hai kamu) jangan menolong ! --> Perintah larangan
‫ أَ رص‬- UNSHUR : (hai kamu) MENOLONGLAH! --> fi'il amer (PERINTAH)
Gimana Mas, jelas kan? Hmmm... rada ribet ya... Ya, namanya belajar, musti kudu bersusah-susah dikit.
Jurus yang saya berikan ini sudah yang dipermudah loh... Bisa-bisa kalau Mas belajar dengan ustadz lain,
rumus yang diberikan lebih susah hehe... Atau malah disuruh gapalin rumus?
Okeh... kita masuk ke contoh 2: 'ALLAMA (mempelajari/belajar)
1
Kita ulangi 6 langkah diatas.
1. KKL : 'ALLAMA ‫م ّع‬
2. KKS : YU'ALLIMU ‫ُ ع ّع‬
3. Buang YA: 'ALLIMU ‫م ِّّل ننع‬
4. Harokat akhir matikan: 'ALLIM ‫مّعن‬
5. Harokat huruf awal, yaitu harokat 'AIN fathah, berarti rumus 5 tidak berlaku
6. Karena rumus 5 tidak berlaku maka rumus 6 juga tidak berlaku
Kesimpulan:
‫ مّلع‬- 'allama: (dia telah) memperlajari/belajar --> KKL
‫ ُ ع ّع‬- yu'allimu: (dia sedang) belajar --> KKS
‫ ت ع ّع ال‬- laa tu'allim: (hai kamu) jangan belajar --> Kata kerja perintah larangan
‫ مّلع‬- 'allim (berhenti sampai langkah 4 diatas) : (hai kamu) Belajarlah! --> Fi'il amr.
Demikian dua contoh telah diberikan untuk mempertajam teknik menentukan fi'il amr. Insya Allah untuk
contoh-contoh yang lain akan kita lanjutkan.
Topik 19: Al-Baqaroh 12 & Manfaat Kamus
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah kita sudah sampai pada Al-Baqaroh ayat 11. Terakhir kita "terhenti" di ayat ini kan (lihat
topik 16). Cukup panjang kita bahas ayat 11 ini sampai ke Topik 18. Kali ini kita mencoba baranjak maju ke
ayat selanjutnya, yaitu ayat 12.
Kita cuplik ayat 12 ini:
Kita coba terjemahkan:
‫ ا ال‬- alaa : ingatlah (dihafalkan saja)
‫ ان‬- inna : sesungguhnya (akan dibahas dalam bab Harf Inna)
‫ هع‬- hum : mereka (sebagai maf'ul/penderita)
‫ هع‬- hum : mereka (sebagai fa'il/pelaku)--> dibaca humu, karena setelahnya ada AL
‫ ال م ف سدون‬- al mufsiduuna : orang-orang yang berbuat kerusakan (fa'il)
‫ و‬- wa : dan (terkadang bisa berarti tetapi)
‫ ل كن‬- la kinna : akan tetapi (akan kita bahas dalam bab Harf Inna)
‫ ال‬- laa : tidak
‫ ُ ش عصون‬: mereka senantiasa (sedang) menyadari
Ingatlah, sesungguhnya mereka(lah) orang-orang yang berbuat kerusakan, akan tetapi tidak(lah) mereka
(sedang) menyadari(nya).
Kita coba bahas ya.
Ada satu kata kerja (fi'il) dalam ayat ini yaitu : ‫ ُ ش عصون‬- yas'uruuna : mereka sedang menyadari. Sisanya
adalah isim dan harf. Isim yang menarik untuk dibahas adalah ‫ ال م ف سدون‬- al mufsiduuna, dalam bentuk
ma'rifah (spesifik), jika kita buang alif-lam menjadi ‫ م ف سدون‬- mufsiduuna, dalam bentuk nakiroh (umum).
2
Oke kita bahas dua topik itu saja ya... Baiklah:
Kata ‫ُ ش عصون‬
Lihat pelajaran-pelajaran sebelumnya. Kita dihadapkan dengan kata kerja. Bagaimana tahunya dong mas?
Sebenarnya sudah diajarkan dalam topik yang lalu, tapi tidak ada salahnya diulang disini. Oke tandanya
bahwa dia itu kata kerja:
1. Dia diawali ya diakhiri waw nun.( ‫ ُ ـ‬... ‫) ون‬
2. Ingat kembali bila ada pasangan YA, WAW, NUN itu merupakan ciri yang kuat dari fi'il mudhori' (KKS)
3. Arti dari KKS yang ada YA, WAW, NUN itu : mereka sedang ... kata-kerja
4. Jika kita buang YA, WAW, NUN, maka akan lahir kata kerja aslinya.
Kita elaborasi sedikit teknik ini:
Kata ‫ ُ ش عصون‬kalau kita buang YA, WAW, NUN, maka tersisa ‫ ش عص‬- sy 'u ru . Tinggal tiga kata: SYIN,
'AIN, RA.
Beberapa waktu yang lalu ada yang email ke alamat yahoo saya, menanyakan bagaimana caranya kita tahu
harokat suatu huruf. Misal kita dikasih 3 huruf, arab gundul, ‫ ش عص‬, nah bagaimana cara membacanya?
Oke kita bisa dapatkan banyak kemungkinan:
SYA 'A RA
SYA 'A RI
SYA 'A RU
SYA 'I RA
SYA 'I RI
SYA 'I RU
dst, banyak sekali kemungkinannya. Akan tetapi yang umum adalah biasanya (mayoritas) kata kerja asli
yang terdiri dari tiga huruf itu harokatnya fathah semua, sehingga yang kita gunakan adalah:
‫ ش عص‬- sya 'a ra
untuk kepastian harokat tersebut kita perlu kamus (periksa di kamus). Di kamus akan ada entri berikut
‫ ش عص‬- ‫ ُ ش عص‬: sya'a ra (KKL) - yas 'u ru (KKS) yang bisa berarti:
1. bersyair
2. menyadari / mengetahui
Maka kita pilih yang lebih tepat arti yang no. 2.
Disini dapat kita lihat arti pentingnya kamus bahasa Arab:
Jika kita sudah dapat akar kata (3 huruf) seperti SYIN 'AIN RA diatas, maka kita bisa mencari tahu 3 hal:
1. Kita bisa tahu apa KKL (Kata Kerja Lampau / fi'il madhy)
2. Kita bisa tahu apa KKS (Kata Kerja Sedang / fi'il mudhori')
3. Kita bisa tahu harokat untuk KKL dan KKS nya
Kembali lagi ke kasus diatas, kata ‫ ُ ش عصون‬dalam Al-Baqaroh 12, jika kita pecah:
‫ ش عص‬- sya 'a ra : dia telah mengetahui
‫ ُ ش عص‬- yas 'u ru : dia sedang mengetahui
‫ ُ ش عصون‬- yas 'u ruu na : mereka sedang mengetahui
Oke mudah-mudahan jelas ya pren...
Sekarang kita masuk ke topik selanjutnya yaitu:
3
Kata al-mufsiduuna ‫ال م ف سدون‬
Kata al-mufsiduuna, ini adalah kata benda. Why? Jawabannya telah dijelaskan di topik-topik yang lalu, tapi
kita ulangi saja disini ya:
1. Adanya huruf alif dan lam, ciri kata benda
2. Jikapun alif lam dibuang maka tinggal ‫ م ف سدون‬- mufsiduuna, maka adanya MIM ... WAW NUN, maka ini
ciri kata benda orang
Oke sekarang kita coba urai lagi...
Kata ‫ م ف سدون‬- mufsiduuna, apa akar katanya?
Oke berikut kita coba teknik mencari akar kata untuk kata al-mufsiduun diatas:
Pertama-tama adanya MIM ... WAW NUN, berarti ciri dari kata benda orang, yang bisa berarti orang
yang ...kata-kerja.
Oke kalau kita buang MIM, YA, NUN maka akan tersisa huruf FA SIN DAL.
‫ ف سد‬, sekali lagi, setelah proses pembuangan sebagian huruf kita tidak bisa langsung menentukan harokat
masing-masing huruf bisa: fasada, fasadi, fasadu, fasuda, dst.
Lalu mana yang harus dipilih? Ini menjadi satu persoalan. Persoalan ke dua adalah, apakah akar kata almufsiduuna itu FASADA atau AFSADA? Loh apa lagi nih... bingung... biar gak bingung, Insya Allah
temukan jawabannya dalam topik berikut, kita akan bahas mengenai topik DSK (Dhommah, Sukun, Kasroh),
yang mana pola ini banyak sekali kita temui dalam al-Quran. Sebagai bocoran saja untuk topik depan, kata
kerja asli (yang terdiri dari tiga huruf) dalam bahasa arab mempunyai 12 bentuk turunan. Yang umum adalah
8 bentuk. Bentuk yang sangat sering muncul dalam Al-Quran adalah bentuk turunan I.
Contoh kata kerja berikut:
nazala: turun
anzala: menurunkan (bentuk turunan I)
Nah bentuk turunan I ini yang Insya Allah kita akan pelajari. Kita akan mencari tahu apakah kata yang
dipakai dalam Al-Baqarah 12 ini (dalam mufsiduun) itu:
fasada
afsada (bentuk turunan I).
4
Topik 20: FASADA atau AFSADA? NAZALA atau ANZALA?
Bismillahirrahmaanirrahiim
Baiklah... topik yang lalu pertanyaan ini sudah dimunculkan. Kita bahas dalam topik ini ya... Insya Allah.
Sebagaimana telah disinggung sedikit, hampir semua kata kerja dalam bahasa Arab terdiri dari 3 huruf. Beda
dong ya sama bahasa Indonesia. Kata kerja "mempersatukan" dalam bahasa kita asal katanya (root)
adalah "satu" (4 huruf). Kata "satu" ini mendapat awalan mem-per dan akhiran an. Banyak sekali orang asing
yang sangat kesulitan dengan aturan imbuhan (awalan + akhiran) dalam bahasa Indonesia ini. Misalkan
dalam tata bahasa Indonesia disebutkan:
me-xx-kan : membuat sesuatu menjadi xx
memper-xx-kan : membuat sesuatu menjadi saling ber-xx
maka,
me-satu-kan atau menyatukan (asimilasi) : membuat sesuatu menjadi satu
memper-satu-kan : membuat sesuatu saling bersatu
Nah, dalam bahasa Arab kata kerja juga mendapat imbuhan yang merubah arti. Dalam bahasa Arab proses
penambahan imbuhan ini baik berupa awalan, sisipan, atau akhiran akan membentuk kata kerja baru yang
disebut Kata Kerja Turunan (KKT).
Ada 12 jenis kata kerja turunan dalam bahasa Arab, akan tetapi yang paling sering digunakan hanya ada 8.
Insya Allah kita akan bahas satu persatu nanti.
Oke biar gak bertele-tele kita akan kasih satu contoh. Kata kerja NAZALA ‫ َ زل‬adalah kata kerja dasar
(kadang disebut juga kata kerja asal, atau root word). NAZALA ‫ َ زل‬artinya turun. Harap diingat lagi
pelajaran-pelajaran sebelumnya yaitu kata kerja asal selalu bentuknya past tense dengan pelaku Dia lakilaki.Kita sudah jelaskan mengenai hal tersebut pada topik KKL (kata kerja lampau). Silahkan baca-baca lagi
topik 1 s/d 5. Dengan aturan ini maka NAZALA ‫ َ زل‬arti harfiahnya Dia turun.
Oh ya sebelum lupa, salah satu keunikan bahasa Arab adalah bahwa pada suatu kata kerja, pasti melekat
siapa pelakunya. Contoh NAZALA artinya turun. Siapa pelakunya? Karena ini kata kerja asal (root) maka
pelakunya adalah Dia laki-laki. Bagaimana kalau pelakunya saya, misalkan dalam kalimat:
"saya turun". Bahasa arabnya NAZALTU ‫َزللنن‬
Perhatikan: saya turun (2 kata) dalam bahasa arab hanya menjadi satu kata NAZALTU (inilah salah satu
alasan mengapa terjemahan buku bahasa arab ke bahasa Indonesia menjadi lebih tebal dari buku aslinya).
Baiklah, kembali ke topik utama.
Kalau saya mau katakan "dia turun", maka kata turun disini tidak memerlukan objek. Beda kasusnya kalau
saya sebut "dia makan", maka kata makan disini butuh objek (penderita). Saya bisa mengatakan "dia makan
nasi". Kata nasi disini adalah objeknya.
Kalau begitu kata kerja dapat kita bagi menjadi kata kerja yang perlu objek dan kata kerja yang tidak perlu
objek.
Sekarang kalau saya bertanya,bagaimana teknik mengubah kata kerja yang tidak perlu objek menjadi kata
kerja yang perlu objek?
Proses pengubahan ini dalam bahasa arab disebut proses membentuk Kata Kerja Turunan Pertama atau KKT
I
KKT I
Kata turun atau NAZALA, kalau saya ubah kata turun menjadi menurunkan, maka inilah yang disebut KKT
5
I. Kenapa? Karena kata "turun" adalah kata kerja tidak perlu objek, dan kata "menurunkan" adalah kata kerja
yang perlu objek.
Contohnya:
Dia turun : NAZALA ‫َ زل‬
Dia menurunkan buku: ‫الكاتك أَ زل‬
‫َن‬
Kata turun dalam kalimat pertama tidak perlu objek. Tapi kata kerja pada kalimat kedua memerlukan objek.
Bagaimana prosesnya membentuk KKT I? Ternyata cukup sederhana. Kita hanya perlu menambahkan alif
didepan kata kerja asal yang 3huruf. Huruf pertama sukunkan, huruh kedua dan ketiga fathahkan.
Sehingga:
nazala : dia turun ‫َ زل‬
anzala :dia menurunkan (sesuatu) ‫أَ زل‬
Allah menurunkan Quran : Allahu anzala al-quraana ‫ق صأنال أَ زل هللا‬
Sama juga halnya dengan:
karuma : dia mulia ‫ك صم‬
akrama : dia memuliakan (seseorang) ‫أك صم‬
Dia memuliakan ustadznya : akrama ustaazahu ‫أ س اتذه م أك ص‬
Atau contoh lain:
fasada: dia rusak ‫ف سد‬
afsada: dia merusakkan (sesuatu) ‫أف سد‬
Dia merusakkan bumi : afsada al-ardha ‫األر ض أف سد‬
Demikianlah telah kita bahas KKT I. Sebagai info tambahan bentuk kata kerja turunan tipe I (KKT I) ini
cukup banyak ditemukan dalam Al-Quran. Untuk lebih mendalami KKT I ini insya Allah dua topik didepan
akan mengkaji lebih dalam bentuk KKT I ini.
Topik 21: MUSLIM dan Pola DSK
Bismillahirrahmanirrahim
Banyak sekali kita bertemu dengan pola-pola DSK di Al-Quran. Sebut contoh: muslim (orang yang tunduk),
mu'min (orang yang beriman), mufsid (orang yang merusak), mundzir (orang yang memberi peringatan). Itu
semua yang didepannya diawali oleh huruf Mim, yang merupakan ciri-ciri kata-benda orang (kata benda
pelaku
Belum lagi kata kerja sedang (KKS) yang berpola DSK, seperti: yuslim (sedang tunduk), yu'min (sedang
beriman), yufsid (sedang merusak), yundzir (sedang memberi peringatan).
Perhatikan surat Al-Baqaroh ayat 1 - 12. Semua kata-kata itu Anda temukan, bukan?
Semuanya berpola DSK. Apa itu pola DSK?
Pola DSK adalah pola yang harokat huruf pertama Dhommah, huruf kedua Sukun, huruf ketiga Kasroh. Ya,
Dhommah, Sukun, Kasroh (DSK).
Mari kita ambil contoh:
6
Disitu terlihat apa yang saya maksud DSK. Lihat, lingkaran-lingkaran kecil warna merah. Lingkaran pertama
untuk D (dhommah), lingkaran kedua untuk S (Sukun) lingkaran ketiga untuk K (Kasroh).
Apa pentingnya DSK? Ini saya kasih bocorannya ya... hihi...
Pertama-tama bahwa jika Anda ketemu DSK, misalkan kata: yuslim -Kata Kerja Sedang KKS(dia tunduk),
atau muslim ISIM-kata benda (orang yang tunduk), maka jika ketemu DSK seperti ini ingat-ingatlah pesan
"guru":
"Hai anak-ku jika kamu menemui pola DSK, maka sebenarnya akar katanya sudah mendapat tambahan Alif"
Nah Anda sebagai anak yang baik, membaca-baca lagi buku, apa sih maksud "guru". Setelah Anda baca-baca
buku pelajaran bahasa Arab, Anda jadi mengerti. Maksud Pak Guru sbb:
Ambil contoh: kata muslim. Terdiri dari 4 huruf kan: mim, sin, lam, mim
Akar katanya adalah: sin lam mim (sa-li-ma) ‫س ّع‬
Di kamus, kata salima itu artinya: selamat, sentosa
Lalu Anda buru-buru mengambil kesimpulan, ooh kalau begitu kata muslim (ada tambahan mim), artinya
orang yang selamat, atau orang yang sentosa (bahagia). Nah ini kesimpulan anda terlalu terburu-buru.
Yang betul itu, seperti ini.
Anda dapatkan kata:
‫نمس ِّّ ُنع‬
Muslim. Lihat harokatnya: DSK kan?
Lalu cari akar katanya: - buang mim di depan, menjadi: sin lam mim.
Cari di kamus, kata sin-lam-mim. Di kamus anda akan ketemu kata SALIMA artinya selamat, sentosa.
Nah, karena muslim itu DSK, maka Anda harus mencari di kata ALIF SIN LAM MIM
‫أ س ّع‬
itulah pentingnya pola DSK. Artinya apa? Artinya, untuk tahu arti kata muslim, anda cari di kata
‫ أ س ّع‬aslama
Di kamus anda ketemu kata tsb:
7
‫ أ س ّع‬aslama, artinya: menyerah, atau tunduk
Dengan demikian orang yang menyerah, atau orang yang tunduk disebut:
‫ م س ّع‬muslim
Kira-kira Anda mengerti gak? Saya ulangi. Kalau ketemu di Al-Quran, suatu kata baik dia kata benda, atau
kata kerja yang punya pola DSK, maka jangan Anda kira, maksud kata tsb adalah akar kata 3 huruf nya, tapi
akar kata 3 huruf plus Alif.
Coba bandingkan:
‫ س ّع‬- salima: dia selamat, atau dia sentosa
‫ أ س ّع‬- aslama: dia tunduk
Beda kan... antara selamat, dengan tunduk... Maka kata bentukan dari ‫ مأ سل‬- aslama, itu juga merujuk kepada
makna : tunduk.
Contoh:
Aku telah tunduk: ‫ أ س ّمل‬- aslamtu
Aku selalu tunduk: ‫ أ س ّع‬- uslimu
Dia telah tunduk: ‫ أ س ّع‬- aslama
Dia selalu tunduk: ‫ ُ س ّع‬- yuslimu
dst...
Demikian telah kita jelaskan pola DSK, dimana pola ini bermanfaat mana kala Anda, ingin mencari tahu arti
kata di kamus. Sebagai penutup, kita beri contoh: kata mufsiduun. Perhatikan kata ini akar katanya: fasada.
Tetapi karena kata bentukannya mufsiduun, berpola DSK, maka Anda harus mencari di kamus arti mata
mufsiduun itu pada kata ‫ أف سد‬- afsada, bukan di kata ‫ ف سد‬. Artinya, kalau ingin tahu apa arti kata
mufsiduun, carilah di entri kata afsada.
Insya Allah akan kita lanjutkan pada topik berikutnya...
Topik 22: KKT I, dan KKT II
Bismillahirrahmanirrahim
Kita telah menyelesaikan bentuk KKT I. Dan dampak dari KKT I itu yaitu lahirnya pola DSK. Kita review
sedikit ya.
KKT I, yaitu bentuk Kata Kerja Turunan I. Bentuk ini didapat dengan menambahkah Alif didepan. Contoh
yang sering kita bawa adalah:
KKD (Kata Kerja Dasar): nazala, artinya turun. KKT I nya adalah anzala, artinya menurunkan. Perhatikan:
KKD ‫ َ زل‬- nazala: turun
KKT I ‫ أَ زل‬- anzala: menurunkan
Fungsi dari KKT I ini adalah membuat kata yang tidak perlu objek menjadi perlu objek. Ingat kembali, kata
"turun" adalah kata kerja tidak perlu objek. "Saya turun". Tapi kata "menurunkan" perlu objek. "Saya
menurunkan buku, dari rak dilantai 2". Kata "buku" adalah objek dari kata "menurunkan".
Kita flash-back lagi, bentuk KKT I ini dalam bentuk kata kerja lampau (KKL), sedangkan bentuk kata kerja
8
sedang (KKS) nya berpola DSK.
Contohnya:
KKT I, bentuk KKL: ‫ أَ زل‬- anzala: dia (telah) menurunkan
KKT I, bentuk KKS: ‫ ُ زل‬- yunzilu : dia (sedang) menurunkan --> Pola DSK
Sekarang fokus kita adalah KKT II, yaitu bentuk Kata Kerja Turunan jenis ke dua.
KKT II
Bentuk ini adalah bentuk yang secara fungsi hampir sama dengan KKT I, yaitu menjadikan kata kerja yang
tidak perlu objek menjadi objek. Contohnya di Al-Quran surat 2 ayat 97, yaitu kata nazzala, yang artinya
sama dengan anzala yaitu menurunkan.
‫ ل‬- nazzala: menurunkan, dalam
Jadi kata ‫ أَ زل‬- anzala: menurunkan, dalam bentuk KKT I, bisa juga ‫َزل‬
bentuk KKT II.
Artinya sama, sama-sama menurunkan (sesuatu).
Demikianlah telah kita bahas sepintas bentuk KKT II. Ingat KKT II ini dibentuk dengan cukup mudah, yaitu,
kata kerja dasar (KKD) 3 huruf, maka huruf kedua di tasydid.
Insya Allah akan kita lanjutkan topik ini...
Topik 23: Latihan Al-Fatihah ayat 1 & 2
Bismillahirrahmanirrahim
Sepertinya, kita perlu memperbanyak latihan dan saat ini mengurangi tempo untuk teori. Dan menurut
sebagian orang, lebih baik latihannya dari surat-surat pendek yang biasa dibaca dalam sholat. Agar hafalan
kita nambah dus, pengertian kita terhadap surat tsb menjadi lebih baik (karena bisa menerjemahkan).
Oke baiklah... Insya Allah kita mulai dengan surat Al-Fatihah.
‫ ب سع‬bismi
bi ‫ ك‬: dengan. Ini adalah huruf jar (kata depan). Ingat di topik-topik awal, kata setelah huruf jar adalah kata
benda.
smi ‫ سع‬: asal katanya dari samaa ‫( سمت‬memberi nama), dan kata bendanya ismun ‫ إ سع‬yang artinya nama.
Mestinya ‫ ك‬dengan ‫ إ سع‬menjadi ‫ ب إ سع‬bi-ismi, tapi karena huruf jar ‫ ك‬maka hamzahnya lebur, sehingga
menjadi ‫ ب سع‬bismi.
Apa arti bismi? Bi = dengan, smi = nama, dengan demikian bismi = dengan nama.
Oh ya ingat lagi sifat huruf jar, yaitu dia menasab-kan (istilah me-nasabkan ini sering dipakai dalam
tatabahasa arab, yang artinya membuat harokat huruf akhir menjadi kasroh (baris bawah)). Dengan
demikian, yang benar membacanya:
bismi,
bukan bismu, atau bisma.
Kata selanjutnya: ‫ هللا‬. Sehingga ‫ هللا ب سع‬artinya dengan nama Allah.
Oh ya perlu dilihat disini harokat terakhir dari Allah, adalah kasroh. Dengan demikian dibaca:
Bismillahi,
9
bukan bismillahu, atau bismillaha.
Perlu ingat lagi (sudah dibahas ditopik kata majemuk), bahwa kalau 2 kata benda bertemu dan kata benda
kedua berharokat kasroh, maka 2 kata itu adalah kata majemuk (dalam bahasa Arab disebut Mudhof).
Oke, jadi bismillahi, artinya dengan nama Allah.
Kalau kita urutkan dari asal-asal katanya:
‫ هللا إ سع ك‬bi ismi Allahi, dibaca: bismillahi
Bagaimana kalau kita baca bismillahu? Dalam bahasa arab jika kata benda berharokat dhommah, maka dia
menjadi pelaku. Sehingga kalau kita baca: Allahu, dalam bismillahu, maka artinya akan berobah, dimana
Allah menjadi subject dan bismi menjadi prediket. Dengan demikian arti dari bismillahu, adalah Allah untuk
nama, atau Allah dengan nama. Inilah fungsi i'rob dalam tatabahasa Arab, karena salah i'rob (harokat akhir)
akan merubah arti.
‫ال صح يع ال صحمن‬
Arrohman, lihat ada alif lam, tandanya ini kata benda. Arrohiim, juga ada alif lam, tandanya ini kata benda.
Hal kedua adalah, i'rob (harokat akhir) arrahmaan dan arrohiem adalah kasroh, sehingga ditulis arrahmaani,
bukan arrohmaanu, atau arrohmaana. Dan arrahiemi, bukan arrahiemu, atau arrahiema. Apa artinya ini?
Perhatikan sebelum arrohman ada kata Allah, yang juga kasroh. Ini berarti kata - kata ini adalah kata kata
majemuk (mudhof)
Dalam tatabahasa arab :
‫ال صح يع ال صحمن هللا إ سع ك‬
Kalimat diatas hanya terdiri dari 2 pola:
Huruf jar ‫ ك‬+ Mudhof ‫ال صح يع ال صحمن هللا إ سع‬
Arrohmaan berasal dari kata ‫ رحع‬rohima: mengasihi
Arrohiem berasal dari kata yang sama dengan arrohmaan, yaitu ‫ رحع‬: mengasihi, atau memberi ampunan.
Akan tetapi karena ada tambahan alif dan nun pada Arrohmaan, maka artinya berubah, menjadi sifat yang
maha, artinya ‫ ال صحمتن‬artinya Maha Pengasih. Dan kata Arrohiem, karena ada tambahan ‫ ي‬maka artinya
berubah menjadi sifat yang extensif dan terus menerus, yang sering diartikan Maha Penyayang.
Demikianlah kita telah selesaikan latihan menerjemah Surat Al-Fatihah ayat 1.
Sekarang kita masuk ke ayat 2:
‫ال عتل م ين رك هلل ال حمد‬
Kata ‫ ال حمد‬alhamdu. Asal katanya adalah ‫ حمد‬hamida yang artinya memuji. Ada alif-lam berarti dia adalah
kata benda. Kata ‫ حمد‬ini mempunyai masdar (kita belum pelajari ini) hamdun, yang artinya pujian.
Kata lillahi, ‫ هلل‬, ini terdiri dari 2 kata, yaitu ‫ ل‬li (yang artinya untuk atau kepunyaan/milik) dan ‫ هللا‬Allah.
Seharusnya tertulis ‫ هللا ل‬tetapi karena alif lebur ke li, maka menjadi ‫ هلل ل‬dan karena li lebur kepada lam
pada kata Allah, maka menjadi ‫ هلل‬lillahi.
Perhatikan bahwa ‫ ل‬li adalah huruf jar. Sesudah huruf jar, adalah kata benda. Sehingga lillahi artinya untuk
Allah, atau kepunyaan Allah. Sehingga:
‫ هلل ال حمد‬alhamdu lillahi artinya segala puji milik Allah, atau segala puji untuk Allah.
Mengapa ada kata (segala)? Al-hamdu sendiri artinya pujian atau puji. Tetapi karena ini dilekatkan kepada
Allah, maka maknanya meliputi semua hal pujian. Oleh karena itu Alhamdulillah biasa diterjemahkan segala
puji milik Allah.
10
‫ ال عتل م ين رك‬rabbul 'aalamien.
‫ رك‬rabbu artinya Tuhan. ‫ ال عتل م ين‬berasal dari ‫ متل ع‬yang artinya alam (karena ada tambahan ‫ ُ ن‬maka artinya
sesuatu yang banyak, atau sangat luas atau sering disebut semesta alam).
Perhatikan bahwa rabbu al-'aalamien ini juga kata majemuk (mudhof).
Dengan demikian pola kalimat
‫ ال عتل م ين رك هلل ال حمد‬menggunakan pola
Subject (‫ )ال حمد‬+ keterangan (‫ ) هلل‬+ keterangan (‫)ال عتل م ين رك‬
Apa tanda-tanda subject? Berulang kita katakan bahwa tanda Subject adalah adanya i'rob Dhommah. Lihat
Alhamdu, bukan al-hamda, atau al-hamdi. Tandanya Al-Hamdu ini adalah Subject.
Sehingga ayat ke 2 ini: Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam.
Insya Allah kita akan lanjutkan ayat berikut dan diteruskan dengan latihan surat-surat pendek lain.
Topik 24: Latihan Al-Fatihah ayat 4
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, ditengah kesibukan saya, saya teruskan untuk membahas ayat 4. Alhamdulillah juga ada akhi
dari Jawa Timur, yang mengatakan mengikuti dari topik 1 sampai 23. Senang rasanya, tulisan saya ada yang
membaca. Saya teringat hadist Riwayat Muslim: Rasulullah SAW bersabda, siapa yang berbuat kebaikan, dia
akan dapat pahala. Dan jika kebaikan itu dicontoh/dikerjakan orang, dia akan mendapat pahala dari orang
itu, tanpa mengurangi pahala buat orang itu. Subhanallah...
Oke kita lanjutkan ke pelajaran berikutnya ayat 4.
Eitt kok ayat 3 dilewati Mas? Oh iya, sengaja, karena ayat 3 itu bagian dari ayat 1. Arrahmaan Arrahiem. Jadi
pembahasannya sama dengan ayat 1.
‫ُِّن َُم ِّنم َمـتلِّـِّن‬
‫ الدل ِّن‬- maaliki yaumi ad-dien
Insya Allah kita bahas satu-satu ya... Oke..
Kata ‫ متل ـ‬: yang memiliki. Asal katanya ‫ م ّـ‬- malaka artinya memiliki. Hmmm... Kata ini sepertinya diserap
ke bahasa Indonesia ya... Coba lihat kata ‫ م ّـ‬- malaka, ini adalah kata past tense (KKL), sedangkan KKSnya
‫ ُ م ّـ‬- yamliku, kalau ya kita buang maka menjadi mlik, di bahasa Indonesia disebut milik.
Oke ‫ م ّـ‬-malaka, ini adalah kata kerja yang artinya memiliki. Nah, kita disini akan mempelajari membentuk
kata-benda pelaku dari sebuah kata kerja. Dalam bahasa Arab ini disebut isim fa'il. Gimana caranya Mas?
Insya Allah guampaaang....
Oke caranya:
1. Jika kata kerjanya 3 huruf, maka
2. Tambahkan alif setelah huruf pertama
dah... gampang kan... Contoh kata: ‫ َ رص‬- nashoro (artinya menolong). Orang yang menolong? Guampang...
tambahkan saja alif setelah nun, menjadi ‫ َ ت صص‬- naashirun, atau naashir (orang Indonesia sering menyebut
nasir)... eh jadi ingat teman saya waktu SMA, namanya Nasir. Dulu saya suka manggil dia: Nasir, Nasir,
darimana aja elo [pakai bahasa minang tentunya...] (sekarang setelah belajar bahasa Arab, jadi ingat dia...
Pantesan ya si Nasir itu dulu suka menolong saya). Kalau yang menolong naashir, kalau orang yang ditolong
apa dong? Insya Allah guampang juga. Tinggal tambahin mim didepan nun pada ‫ َ رص‬dan tambahkan waw
sebelum ro. Jadinya ‫ م رمر‬- manshuurun (orang yang ditolong). Nah kalau ingat Mansur ini ingat penyanyi
11
zaman saya SMP dulu. Sekarang kita jadi tahu ya... bahwa nasir sama mansur itu 2 orang dalam satu
kejadian. Satu penolong (nasir), satu yang ditolong (mansur).
Oke deh, kembali ke MALIK... kalo gitu kata kerja ‫ م ّـ‬-malaka, artinya memiliki. Kalau saya buat seseorang
yang memiliki berarti saya tinggal tambah alif setelah ‫ م‬yang menjadi ‫ متل ـ‬- maa li kun (orang/sesuatu yang
memiliki). Oh gitu... hmmm... tapi Mas kok bacanya maalikun? Kok gak maalakin, maalukun, maalikan, dll?
Hmm ini sebenarnya ada topik yang membahasnya, sebutlah topik tinggat Advance gitu deh.... Tapi biar gak
pusing, gini saya saya kasih ciri-cirinya:
1. Kata kerja 3 huruf, setelah ditambah alif, maka harokatnya adalah:
2. Huruf kedua (setelah alif) adalah kasroh.
Jadi, yang betul maalikun, bukan maalakun.
Oke. Lalu kenapa maalikun, bukan maaliku? Nah ini ingat lagi pelajaran awal-awal mengenai isim (kata
benda). Aslinya kata benda itu, akhirannya dhommahtain (akhiran un). Sedangkan jika dia mendapatkan
tambahan alif lam ‫ ال متل ـ‬, maka akhirannya dhommah, sehingga dibaca al-maaliku.
Oke, balik lagi ke ayat:
‫ُِّن َُم ِّنم َمـتلِّـِّن‬
‫الدل ِّن‬
Ada 3 kata disini. Ke 3 nya kata benda (isim). Yaitu: maaliki yaumi addien.
Kata maaliki artinya yang memiliki. Lho, katanya yang betul maalikun. Kok sekarang jadi maaliki. Nah, ada 2
sebab kenapa maalikum menjadi maaliki:
1. Perhatikan, karena huruf kaf berharokat kasroh (mali- ki), maka kita mencurigai ada huruf jar di
depannya. Artinya ayat ini merupakan lanjutan ayat sebelumnya yang ada huruf jarnya. Kalau dilihat ayat
sebelumnya ada huruf jar Li pada Lillahi rabbil 'aalamin. Inilah yang menyebabkan kata maalikun menjadi
maalikin.
2. Perubahan dari maalikin menjadi maaliki, karena kata ini merupakan kata majemuk (mudhof). Ingat
rumus mudhof sbb:
KB1 (tidak pakai tanwin) + KB2 (alif-lam+kasroh)
Contoh: Rasul (milik) Allah = Rasulu Allahi atau dibaca Rasulullah.
‫هللا ر سمل‬
Bukan dibaca Rasulun Allahi, atau Rasuulun Allaha, dsb
Oke kembali lagi ke ayat:
‫ُِّن َُم ِّنم َمـتلِّـِّن‬
‫ الدل ِّن‬:
Maaliki = yang memiliki
yaumi, berasal dari yaumun artinya hari. Menjadi yaumi, karena dia mudhof-ilah (bagian dari kata
majemuk).
Ad-dieen, berasal dari daa-na yang berarti tunduk, sedangkan kata bendanya ad-dien, artinya agama.
Perhatikan harokat terakhir juga kasroh, karena dia ini mudhof-ilaih (bagian dari kata majemuk).
Sehingga ayat ke 4 ini jika diterjemahkan:
(2&3:segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam, yang Rahman, yang Rahim), yang memiliki hari agama.
Hari-agama ini menurut ahli tafsir, artinya hari pembalasan. Hari dimana waktu itu manusia akan dibalas
semua amal-amalnya. Hari pembalasan ini juga disebut, yaumul-qiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dsb.
Masya Allah, bagaimana ya nasib kita nanti dihari ad-dien ini?
Allahu a'lam. Insya Allah kita lanjutkan nanti.
12
Topik 26: Surga Tidak Berlari
Bismillahirrahmanirrahim
Sebelum kita lanjutkan dengan topik latihan Surat Al-Fatihan, ada baiknya kita selingi dengan topik kiriman
dari rekan Noor Ihsan sbb:
Dalam Al-Quran, kata surga yang dalam bahasa arabnya 'jannah', disebut sebanyak 65 kali. Dengan kata
yang lain, 'jannaat', bentuk plural dari jannah disebut sebanyak
61 kali. Total 126 kali Allah sebut surga di berbagai surat. 32 kali kata surga diikuti kata mengalir sungai di
bawahnya.
Hanya sekali dalam Yunus : 9, Allah menyebut kata mengalir sungai di bawahnya sebelum kata surga.
Jangan sampai kita salah membacanya, maksud saya, usahakan jangan berhenti saat kata tajri, misal
'...yudkhilhu jannaatin tajri. min tahtihal anharu khalidiina...'
Artinya akan berubah menjadi '...Dia akan memasukannya ke dalam surga yang berjalan, di bawahnya ada
sungai, mereka kekal di dalamnya....'
Dalam bahasa Arab, suatu kata yang berasal dari akar yang sama akan memiliki arti dan makna yang dekat.
Kata islam berasal dari 3 huruf, sin lam dan mim yang memiliki makna asli keselamatan, penyerahan diri.
Bentukan kata dari 3 huruf ini akan memiliki arti yang
mirip. Misal, salamah atau keselamatan. Rasul bersabda, Muslim itu adalah orang yang mana muslim lain
selamat dari keburukan lisan dan tangannya.
Atau kata mar'ah (wanita) yang berasal dari ra hamzah alif yang memiliki makna asli melihat. Mar'ah adalah
tempat jatuhnya pandangan.
Atau kata An-nas (manusia) yang berasal dari kata nun sin alif yang memiliki makna asli lupa. Rasul
bersabda manusia tempatnya salah dan lupa.
Begitu juga kata jannah, berasal dari 3 huruf, jim nun nun yang memiliki makna asli tertutupi atau
tersembunyi. Bentukan kata darinya seperti junun (gila), janin, junnah (pelindung), dan jin memiliki arti
yang dekat yaitu tertutupi.
Orang gila tertutupi akalnya, janin tertutupi oleh perut, jin tertutup dari pandangan kasat mata manusia.
Surga pun tertutupi dari manusia, dari matanya, dari akalnya, dari pendengarannya, dari perasaannya.
Sabda Rasul dalam hadis qudsi dari abi hurairah riwayat Bukhari
: Aku siapkan untuk hambaKu yang shalih apa yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar
telinga, dan tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya.
Maha benar Allah dengan firmanNya
'Falaa ta'lamu nafsun ma ukhfiya lahum min qurrati a'yun'
As-sajdah : 17
Wallahu a'lam
13
Topik 27: Latihan Al-Fatihah ayat 5
Bismillahirrahmanirrahim
Pada topik 24, kita telah membahas surat Al-Fatihah ayat 4. Dimana pada topik 24 tersebut kita pelajari cara
membentuk isim fa'il (kata benda pelaku), dari sebuah kata kerja (fi'il). Baiklah kita lanjutkan dengan ayat 5.
‫ََساَعِّيننن وإُِّاتيَن ََعبن ندن إُِّاتيَن‬
Kalimat diatas terdiri dari 4 bagian: yaitu
iyyaka = kepada Engkau (saja)
na'budu = kami senantiasa menyembah
wa iyyaka = kepada Engkau (saja)
nasta'iin = kami minta tolong
Baiklah kita analisis satu persatu.
Kata ‫ إُ تي‬- iyya ka, terdiri dari dua kata yaitu: iyya dan ka. Iyya adalah kata tugas (harf), dan ka adalah kata
ganti orang kedua tunggal laki-laki. Kedua kata ini secara bersama-sama, dalam tatabahasa sering digunakan
untuk menjelaskan dhomir munfashil nashob. Munfashil artinya kata ganti (dalam hal ini ka - kamu) yang
terpisah kedudukannya sebagai nashob, atau sebagai sesuatu yang dituju. Oh ya sebelum lupa, saya kasih
contoh pembagian jenis kata ganti (saya, dia, kamu, dsb) dalam bahasa Arab, ada 3 macam:
1. Dhomir munfashil rafa' (kedudukannya sebagai subject). Contoh:
Dia membaca - huwa yaqra' ‫( ُ قصأ هم‬kata huwa-dia, berkedudukan sebagai subjek)
2. Dhomir munfashil nashob (kedudukannya sebagai object). Contoh:
Umar memukul Amir. Jika Amir, kita pakai kata ganti, menjadi:
Umar memukul dia- 'umar dhoraba hu ‫( ضصب ه ممص‬kata hu-dia, berkedudukan sebagai objek)
3. Dhomir muttashil (kedudukannya sebagai milik). Contoh:
Itu rumah Amir. Jika Amir, kita pakai kata ganti, menjadi:
Itu rumah dia - dzalika baituhu ‫( ب ي اه ذل ـ‬kata hu-dia, berkedudukan sebagai milik, artinya milik Amir)
Kembali ke kata iyyaka, maka kata iyya ini dalam bahasa kita sering diterjemahkan kepada ... saja. Jadi kalau
iyyaka = kepada engkau saja. Kalau iyyanaa ‫ =إُ ت‬kepada kami saja, iyyaya ‫ =إُ ي‬kepada aku saja, iyaahu ‫=إُ ه‬
kepada dia saja, dst.
na'budu ‫ = َ ع بد‬kami menyembah. Kata ini adalah kata kerja sedang (KKS), dengan kata-ganti pelaku ‫َ حن‬
nahnu = kami. Perhatikan ada huruf nun sebelum ‫م بد‬. Asal katanya adalah 'a ba da ‫( م بد‬KKL). Sebagai
pengingat, kita ulang-ulang lagi tashrif dari ‫ م بد‬- ‫ ُ ع بد‬sbb:
‫ ُ ع بد‬- ya'budu = dia (seorang pria) menyembah
‫ أم بد‬- a'budu = saya menyembah
‫ َ ع بد‬- na'budu = kami menyembah
Karena na'budu ini bentuk KKS, maka lebih bagus kita tambahkan kata senantiasa
‫ َ ع بد‬- na'budu = kami senantiasa menyembah
wa iyyaka = dan kepada Engkau saja
nasta'iin = kami senantiasa minta tolong (dibahas pada topik setelah ini, topik 28)
Sehingga ayat ke 5 ini selengkapknya berarti:
kepada Engkau saja kami senantiasa menyembah, dan kepada Engkau saja kami senantiasa minta tolong.
Demikianlah ayat 5 ini telah kita bahas. Sedikit untuk bahan renungan, kita:
Perhatikan dhomir yang dipakai pada ayat 1 s/d 4, kepada Allah, menggunakan dhomir HU (dia). Tetapi
pada ayat ke 5 ini, saat kita minta tolong, dhomir untuk Allah, adakah KA (Engkau). Mungkin terdapat
rahasia disini, bahwa dalam menyembah Allah dan dalam minta pertolongan kepada Allah kita dianjurkan
(bahkan diharuskan) langsung, atau tanpa perantara.
14
Rahasia kedua yang mungkin terdapat dalam ayat 5 ini kemungkinan adalah: perhatikan bahwa pada saat
menyembah (dalam sholat) dan minta pertolongan kepada Allah, kata ganti yang dipakan adalah KAMI.
Kepada Engkau saja KAMI menyembah, dan kepada Engkau saja KAMI minta tolong. Ini mungkin
rahasianya, bahwa kalau bisa sholat dilakukan bersama-sama (berjamaah), demikian juga dalam
implementasi ibadah dan permohonan tolong itu, terdapat rahasia hendaklah kaum muslimin ini saling
bekerja sama dalam urusan-urusan agama, tidak mengasingkan diri dan bekerja sendiri-sendiri. Allahu
a'lam.
Sebagai catatan terakhir: kata nasta'ien karena ini ada pengenalan bentuk KKT (Kata Kerja Turunan) bentuk
8, maka kita akan bahas di bab khusus setelah ini. Insya Allah.
Topik 28: Latihan Al-Fatihah ayat 5 & KKT 8
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. Atas ijin Allah SWT kita dapat melajutkan
topik Surat Al-Fatihah ini. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada baginda Rasulullah,
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Baiklah para pembaca yang dirahmati Allah. Topik 27 kita telah mengakhiri dengan pembahasan ayat 5. Tapi
ada bagian yang kita tunda pembahasannya, yaitu membahas wa iyyaka nasta'iin. Insya Allah kita akan
membahas kata nasta'iin, pada topik ini.
KKT (Kata Kerja Turunan) bentuk ke 8 (KKT 8)
Ingat-ingat lagi kita sudah pernah membahas KKT 1 dan KKT 2. Nah, Insya Allah sekarang kita membahas
KKT 8. Lho lho... Mas Mas... KKT 3 s/d KKT 7 nya kemana? Kok gak dibahas? Nah oke, saya jelaskan.
KK - Kata Kerja Asli (KK yang terdiri dari 3 huruf), sebagaimana telah saya jelaskan, dalam bahasa Arab
dapat mengalami perubahan. Perubahan ini menyebabkan terbentuk kata kerja baru yang disebut KKT (Kata
Kerja Turunan). Yang umum ada 8 bentuk KKT (bentuk KKT sendiri sebenarnya lebih dari 8, ada buku-buku
yang menyebutkan sampai 12 macam atau lebih, tapi yang umum 8). Nah kita sudah bahas KKT 1 dan KKT
2. Dari bentuk KKT itu yang sering muncul hanya separonya salah satunya KKT 8. Maka karena dalam surat
Al-Fatihah ini kita temukan bentuk KKT 8, maka dari itu dalam topik ini kita loncat saja membahas KKT 8
tsb.
OK, singkat cerita, KKT 8 itu dibentuk dengan menambahkan ALIF SIN TA kepada KK. Contoh:
‫ غ فص‬- ghofaro : artinya menutupi, atau mengampuni
Jika kita tambahkan ALIF SIN TA, maka artinya menjadi minta sesuatu. Dengan demikian:
‫ إ س ا غ فص‬- istaghfaro (KKL) artinya: minta ampun. Bagaimana bentuk KKSnya?
Bentuk KKSnya adalah:
‫ ُ س ا غ فص‬- yastaghfiru (KKS) artinya: (dia seorang pria) sedang minta ampun.
Bagaimana bentuk perintahnya? Kalau kita menasehati orang: "Hai kamu minta ampunlah!", maka ini sudah
kita bahas dulu di topik membentuk fi'il amr 6 langkah mudah (silahkan dilihat-lihat lagi).
Bentuk perintahnya: Lihat KKS, buang ya, jika setelah ya dibuang harokat sukun, tambahkan alif. Harokat
alif lihat huruf sebelum terakhir, jika fathah, atau kasrah, maka harokat alif kasrah, jika harokat sebelum
terakhir dhommah, maka harokat alif dhommah (lihat lagi latihan-latihan sebelumnya membentuk fi'il amr).
Jika kita praktekkan:
- KKS : ‫ ُ س ا غ فص‬- yastaghfiru
- buang ya, menjadi ‫ س ا غ فص‬- staghfiru
- harokat sin, sukun maka tambah alif menjadi ‫ إ س ا غ فص‬- istaghfir / ustaghfir
- lihat harokat huruf sebelum terakhir, yaitu fa, adalah kasroh, maka menjadi istaghfir : minta ampunlah!
Kita sering berkata: astaghfirullah, astaghfirullah... ini adalah bentuk KKS dengan pelaku saya (ana). Lihat
15
kembali:
‫ ُ س ا غ فص‬- yastaghfiru : dia minta ampun
‫ أ س ا غ فص‬- astaghfiru : saya minta ampun
Sedangkan astaghfirullaha: ‫ هللا أ س ا غ فص‬- astaghfiru Allaha, artinya saya minta ampun (kepada) Allah.
Terlihat disini, beda bahasa Arab dengan Indonesia. Dalam bahasa Arab, posisi suatu kata benda itu sudah
ditentukan.
Contohnya:
‫ هال ل أ س ا غ فص‬- astaghfiru Allaha - maka posisi Allah sebagai Object (sehingga diterjemahkan Aku mohon
ampun kepada Allah). Kata "kepada" otomatis ditambahkan untuk memperjelas kedudukan kata Allah.
Contoh lain:
‫ أذن‬- adzina: megijinkan
ditambahkan ALIF SIN TA menjadi
‫ إ س اأذن‬- ista'dzana : meminta ijin (KKL)
‫ ُ س اأذن‬- yasta'dzinu : meminta ijin (KKS)
Kembali ke kata nasta'iin:
iyyaka na'budu, wa iyyaka nasta'iin. Kata nasta'iin ‫ َ س ا ع ين‬asal katanya adalah ‫ متن‬atau ‫ ممن‬yang artinya
menolong. Kalau kita tambahkan ALIF SIN TA menjadi ‫ إ س ا عتن‬atau ‫ ُ س ا ع ين‬- yasta'iinu (KKS) yang artinya
dia minta tolong. Sedangkan untuk kami minta tolong maka ‫ ي‬tinggal diganti ‫ ن‬sehingga menjadi:
‫ َ س ا ع ين‬- nasta'iinu : kami senantiasa minta tolong.
Demikian penjelasan mengenai KKT 8 ini. Dengan demikian ayat 5:
iyaaka na'budu : kepada Engkau saja kami senantiasa menyambah
wa iyyaka nasta'iin: kepada Engkau saja kami senantiasa minta tolong.
Insya Allah akan kita lanjutkan ke ayat berikutnya dan surat-surat pendek lain.
Topik 29: Latihan Al-Fatihah ayat 6 & Mengulang Fi'il Amr
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillah. Kita akan masuki surat Al-Fatihah Ayat 6.
َ ‫ر َصا‬
‫دن‬
‫ال نمساَق َن‬
‫ِّيع اه ِّدََــــتال ِّ ل‬
Ihdinaa ashiraata al-mustaqiema
Kalimat ini terdiri dari 4 kata:
- ihdi : tunjukilah (kata kerja perintah / fi'il amr)
- naa : kami (kata ganti objek / dhomir nashob)
- al-shiroota : jalan
- al-mustaqiema : yang lurus
Insya Allah akan kita kupas satu per satu.
Kata ‫ اهد‬- ihdi, adalah kata kerja perintah. Mas... kasih tahu dong, gimana caranya kita tahu itu suatu kata
kerja perintah atau bukan. Ada gak cara mudahnya? Hmmm cara mudah belum saya temui, tapi ada ciri-ciri
yang biasanya kita temukan, yang mengindikasikan itu kata kerja perintah atau bukan. Apa itu? Yaitu adanya
alif yang berharokat kasroh (baris bawah).
Contoh:
‫ اق صأ‬- iqroo = bacalah! (lihat harokat alif, kasroh)
‫ اج ّس‬- ijlis = duduklah! (lihat harokat alif, kasroh)
16
‫ ا س ا غ فص‬- istaghfir = minta ampunlah !
dll,
Akan tetapi, banyak juga yang tidak sesuai dengan ciri-ciri tsb, spt:
‫ اك اب‬- uktub = tuliskanlah! (harokat alif dhommah)
‫ اَ زل‬- anzil = turunkanlah! (harokat alif fathah)
‫ ر‬- ra = lihatlah ! (tidak ada alif)
Semua yang diatas tsb, uktuk, anzil, ro, dll, sebenarnya ada rumus-rumusnya. Kala nanti kita ketemu ayat spt
itu, Insya Allah rumusnya kita akan bahas.
Kembali ke ihdi naa: tunjukilah kami!
Kata ‫ اهد‬- ihdi (fi'il amr) ini berasal dari kata hudaa ‫( هدى‬KKT) yang artinya menunjuki. KKS nya yahdii ‫ ُ هدى‬.
Sekarang kita bentuk fi'il amr. Ingat lagi pelajaran yang lalu (topik 17 dan 18). Kita praktekkan.
Kita latih lagi 6 langkah tsb:
Langkah 1. KKL menunjuki --> ‫ هدى‬hudaa
Langkah 2. KKS menunjuki --> ‫ ُ هدى‬yahdii
Langkah 3. Buang YA --> ‫ هدى‬hdii
Langkah 4. Harokat akhir matikan --> karena sudah mati, huruf ya dibuang menjadi ‫ هد‬hdi
Langkah 5. Harokat HA sukun --> tambahkan alif --> ‫ اهد‬kemungkinan AHDI, IHDI, atau UHDI
Langkah 6. Karena huruf sebelum huruf terakhir (dari 3 hurufnya, yaitu huruf HA) adalah kasroh, maka
yang dipilih IHDI (lihat topik 18)
Dengan demikian jelaslah bahwa kata ‫ اهد‬- ihdi adalah kata kerja perintah dari hudaa. IHDI artinya
tunjukilah!
Sedangkan ‫ َ ت‬- naa, artinya KAMI (sebagai objek). Dalam bahasa Arab kata ganti yang berfungsi sebagai
objek ini disebut dhomir nashob.
Demikian telah kita bahas bagian dari ayat 6, yaitu Tujukilah Kami = ihdi naa. Sedangkan al-shiraat almustaqiim Insya Allah akan kita bahas pada topik selanjutnya
Topik 30: Latihan Al-Fatihah ayat 7 - KKT 8
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillah. Kita akan masuki surat Al-Fatihah Ayat 7.
َ ‫ص َصا‬
‫دن‬
ِّ ‫مَّي ِّهعن أََ َعملَن الايُِّنَن‬
َ
Shiraatha alladziina an'amta 'alayhim
‫َيصن‬
‫مَّي ِّهعن ال َمغضنم ِّن‬
َ
ِّ ‫ك غ‬
Ghoiri al-maghdhuubi 'alayhim
َ‫ال‬
‫الضاتللِّينَن َو ن‬
wa laa adh-dhoolliin
Ayat 7 diatas terdiri dari 3 potongan kalimat. Pada penutup topik 29, dikatakan kita akan menunda
pembahasan shiraath al-mustaqiim. Baiklah kita bahas pada topik ini.
Kata ‫ صصاد‬- shiirath artinya jalan. Jamaknya shuruth ‫ صصد‬. Sedangkan al-mustaqiim ‫ ال م س ا ق يع‬artinya
benar atau lurus. Akar kata al-mustaqiim itu adalah ‫ ق تم‬- qooma, yang artinya berdiri. Kemudian kata ini
mendapatkan tambahan alif sin ta, ingat bahwa tambahan alif sin ta ini menjadikan kata tsb menjadi KKT 8
(Kata Kerja Turunan bentuk ke 8).
17
Akar kata ‫ق تم‬
KKT-8 ‫ ا س ا قتم‬istaqooma, artinya berdiri atau menjadi lurus.
Ingat lagi salah satu aturan dari KKT 8, jika satu kata kerja menjadi KK 8, maka tambahan alif sin ta, dapat
diartikan "minta sesuatu".
Contoh: ‫ غ فص‬- ghafara mengampuni
KKT 8: ‫ ا س ا غ فص‬- istaghfara minta ampun
Jika kita terapkan pada kata qooma ‫ ق تم‬artinya berdiri, maka KKT-8 "bisa" kita asosiasikan dengan "minta
berdiri". Nah kok istaqooma artinya berdiri atau menjadi lurus? Bukannya minta berdiri?
Memang secara umum (dikebanyakan kasus) tambahan alif sin ta itu (KKT 8) artinya minta sesuatu. Akan
tetapi bisa juga arti KKT 8 itu sama dengan arti akar kata nya.
Tapi kalau dipikir-pikir, "minta berdiri" sangat dengan artinya dengan "berdiri" atau "menjadi lurus" kan?
[Badan orang yang berdiri tegak, biasanya lurus kan ya???]. Oh ya perlu diingat disini bahwa KKT 1 s/d 8
kadang-kadang artinya sama dengan arti Kata Kerja Dasar (KKD) nya, atau hanya berbeda sedikit saja, atau
bisa berbeda jauh. Dari mana tahunya? Ya tahunya,,, dari kamus. Kita harus rajin-rajin melihat kamus.
Kata al-mustaqiem sendiri, adalah kata bentukan dari KKT 8. Insya Allah selesai topik surat Al-fatihah ini
kita akan bahas kata bentukan dari sebuah kata kerja. Kata al-mustaqiem ini merupakan kata bentukan dari
‫ ا س ا قتم‬istaqooma, yaitu apa yang disebut isim faa'il (kata benda pelaku).
Singkat cerita: ‫ ال م س ا ق يع ال رصاد‬- ashshiraata al-mustaqiima artinya Jalan yang lurus.
Oke kita masuk ke ayat 7.
Dalam ayat ini, kata shiraat al-mustaqiim itu diberi penjelasan. Jalan yang lurus yang spt apa?
Yaitu:
َ ‫ص َصا‬
‫دن‬
ِّ ‫مَّي ِّهعن أََعَملَن الايُِّنَن‬
َ
Shiraatha (jalan) alladziina (yang) an'amta (Engkau telah beri nikmat) 'alayhim (atas mereka)
‫َيصن‬
‫مَّي ِّهعن ال َمغضنم ِّن‬
َ
ِّ ‫ك غ‬
Ghoiri (bukan) al-maghdhuubi ((jalan) orang yang dimurkai) 'alayhim (atas mereka)
َ‫ال‬
‫الضاتللِّينَن َو ن‬
wa laa (dan tidak (pula)) adh-dhoolliin ((jalan) orang-orang yang sesat)
Ada beberapa point disini yang perlu kita bahas agar semakin mengerti yaitu, kata:
‫ اَ عمل‬- an 'am ta (Engkau telah beri nikmat)
‫ غ ضمكال ع‬- al maghdhuub (orang yang dimurkai)
‫ ال ضتل ين‬- adh dhoolliin (orang yang sesat)
Untuk an'amta Insya Allah dibahas pada topik ini, sedangkan 2 terakhir Insya Allah dibahas ditopik minggu
depan.
Baiklah kita lihat kata an'amta ‫ اَ عمل‬- Engkau telah beri nikmat. Kata ini adalah kata kerja turunan 1 (KKT 1),
yaitu ‫ اَ عع‬- an'ama. Adanya kata ‫ ََن‬diakkhir kata ‫ اَ عع‬menunjukkan pelaku, yaitu Engkau. Sekaligus peletakan
ta َ diakhir tsb, menandakan ini adalah kata kerja lampau (KKL), sehingga diterjemahkan Engkau telah.
KKT 1 nya adalah ‫ اَ عع‬an'ama. Apa KKD (kata kerja dasarnya)? Gampang. Buang saja alif diawal (ingat KKT 1
dibentuk dengan menambahkan alif pada KKD). Kalau alif dibuang menjadi:
‫ َ عع‬- na'ama. Di kamus arti na'ama itu adalah senang hidupnya. Diberi contoh:
‫ ال صجل َ عع‬- na'ama ar-rajul (laki-laki itu senang hidupnya)
Dapat dilihat bahwa kata "senang" ini jika kita buat KKT1 menjadi "menyenangkan" atau "memberi
18
kesenangan". Dengan demikian kata:
‫ اَ عع‬- an'ama dapat diartikan: dia telah memberi kesenangan
‫ اَ عمل‬- an'amta dapat diartikan: Engkau telah memberi kesenangan
Sehingga kata ‫ م ّ يهع اَ عمل‬- an'amta 'alayhim dapat diartikan: (jalan yang) Engkau telah beri kesenangan
kepada mereka.
Di Quran terjemahan biasanya dikatakan : Engkau telah beri nikmat atas mereka.
Demikian kita akhiri dulu topik 30 ini. Insya Allah akan dilanjutkan.
Topik 31: Latihan Al-Fatihah ayat 7 - Al Maghdhub
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillah. Kita akan menyudahi pembahasan surat Al-Fatihah. Pada topik 30, ada 3 pembahasan yang
perlu dibahas, yaitu an'amta, al-maghdhuub, ad-dhoolliin. An'amta telah dibahas. Berarti topik 31 ini kita
akan bahas sisanya.
Baiklah, kita akan membahas 2 kata:
al-maghdhuub ‫ك‬
‫ ال َمغضنم ِّن‬- orang yang dimurkai
ad-dhoolliin ‫ الضاتللِّينَن‬- orang yang sesat
KATA BENTUKAN : ISIM FAA 'IL
Apa itu ISIM FAA 'IL ‫?ال فتمل ا سع‬
Isim Fa'il adalah kata benda bentukan dari sebuah kata kerja. Misalkan dalam bahasa Indonesia:
Kata Kerja: membunuh -- to kill
Pelaku: pembunuh (orang yang membunuh) -- the one who kills (the killer)
Penderita: terbunuh (orang yang dibunuh) -- the one who get killed
Dalam bahasa Arab, seperti dalam bahasa Indonesia atau Inggris, demikian juga halnya, pola ini bisa
diterapkan. Contoh: Pembunuh itu membunuh seekor kucing:
‫ل‬
‫القّقَن لقتت نلنا قَا َلن‬qatala (membunuh) al-qootilu (pembunuh) al qithtoh (seekor kucing)
Dalam kalimat diatas, terlihat salah satu cara membentuk kata benda pelaku adalah dengan menyisipkan alif
di Kata Kerja Dasarnya.
Jadi:
Kata Kerja Dasar: membunuh ‫ ق ال‬- qotala = membunuh. Pembunuh? Gampang sisipkan alif setelah huruf
pertama, sehingga menjadi ‫ ق تت ل‬- qaatilun = pembunuh.
KATA BENTUKAN: ISIM MAF 'UL
Apa itu isim maf'ul ‫?ال م ف عمل ا سع‬
Isim maf'ul adalah kata benda penderita, yaitu kata yang dibentuk dari sebuah kata kerja. Contohnya
membunuh, pelakunya disebut pembunuh, korbannya disebut yang dibunuh. Apa bahasa arabnya orang
(sesuatu) yang dibunuh?
‫ ق ال‬- qotala = membunuh
‫ ق تت ل‬- qootilun = pembunuh
‫ م ق امل‬- maqtuulun = (orang/sesuatu) yang dibunuh
Dalam contoh kalimat diatas:
Pembunuh membunuh seekor kucing
19
‫ ل‬- qotala al-qootilu al-qiththoh
‫ل قَا َلن‬
‫القّقَن القتت نن‬
Kata Kucing Bisa saya ubah menjadi "sesuatu yang dibunuh":
Pembunuh membunuh sesuatu yang dibuhuh
‫ل قَا َن‬
‫ل‬
‫ ال م ق امل القتت نن‬- qootala al-qootilu al-maqtuul
OKE,,,, kembali ke LAP TOP,,,...
Dengan memperhatikan pola diatas maka kata al-maghdhuub, adalah ISIM MAF'UL (kata benda penderita),
dari apa? Dari kata kerja ‫ غ ضب‬- ghodhoba (murka). Sehingga, didapat pola sbb:
Kata Kerja Dasar: ‫ غ ضب‬- ghodhoba = murka
ISIM FA'IL : ‫ غت ضب‬- ghoodhobun = orang yang murka
ISIM MAF'UL: ‫ م غ ضمك‬- maghdhuubun = orang yang dimurkai.
Demikian telah kita bahas tentang al-maghdhuub. Karena sudah terlalu panjang, penjelasan Ad-Dhoolin
(orang yang sesat) kita bahas pada topik berikutnya, Insya Allah.
Topik 38: Latihan Surat Al-Ikhlas, Tema: Mashdar
Bismillahirrahmanirrahim
Seperti telah dijelaskan dalam topik 37, dan topik-topik sebelumnya, dalam Al-Quran sering kita bertemu
dengan Mashdar (kata dasar). Secara tatabahasa apa itu Mashdar? Insya Allah topik ini kan menjelaskan.
Masdhar
Masdhar arti letterleg (benar gak nulis nya ya...?), adalah sumber. Sumber apa? Ya sumber dari sesuatu.
Dalam konteks kata, maka masdhar itu dapat dilihat sebagai sumber dari kata, atau ide kata atau kata dasar.
Hmm bingung ya? Oke... kita ambil perumpamaan dalam bahasa kita agar mudah memahaminya.
Kalau saya berkata sebuah kata yaitu "penulisan", apa yang terbayang dalam benak Anda? Satu kata
"penulisan" itu mengandung banyak ide didalamnya. Contoh: "Saya telah menulis buku dengan pulpen
diatas meja". Atau "Saya sedang menulis buku dengan pulpen diatas meja"
Berbicara "penulisan" dalam konteks contoh diatas ada makna (ide) lain yang bisa timbul:
1. Pekerjaan waktu lampau: telah menulis
2. Pekerjaan saat ini / akan datang: sedang menulis
3. Istilah atau nama pekerjaan: penulisan
4. Pelaku: Saya
5. Sesuatu yang ditulis: buku
6. Tempat menulis: meja
7. Alat menulis: pena
Jadi dari satu kata "penulisan" muncul di benak kita setidaknya 7 makna seputar kata "penulisan". Itulah
mengapa kita katakan kata "penulisan" itu adalah sumber dari 7 makna tsb. Dengan demikian dapat kita
katakan kata "penulisan" itu adalah Mashdar.
Perlu diketahui bahwa, satu kata dalam bahasa Arab dapat melahirkan 7 kata diatas (inilah salah satu
"kehebatan" bahasa arab, setidaknya menurut saya). Hanya dengan menghafal satu kata, kita sudah dapat
membentuk 7 kata. Contohnya:
Kata kerja (akar kata): ‫ ك اب‬- kataba (menulis)
1. Pekerjaan waktu lampau: ‫ ك اب‬- kataba : telah menulis
2. Pekerjaan saat ini / akan datang: ‫ ُ ك اب‬- yaktubu : sedang menulis
3. Istilah atau nama pekerjaan: ‫ ك ا بت‬- katban : penulisan
4. Pelaku: ‫ ك تت ب‬- kaatibun : penulis
5. Sesuatu yang ditulis: ‫ م ك امك‬- maktuub: sesuatu yang ditulis
6. Tempat menulis: ‫ م ك اب‬- maktab : meja
7. Alat menulis: ‫ م ك اب‬- miktab : alat menulis (pena)
Lalu apa kaitannya antara Masdhar (kata dasar) dengan akar kata. Nah kadang bagi orang yang baru mulai
20
belajar bahasa arab (seperti saya ini hehe), bisa bingung. Jawaban mudahnya begini. Kalau "penulisan
(writing)" adalah kata dasar (Mashdar), maka akar katanya adalah "tulis (to write)". Ya, akar kata adalah
kata kerja asli (belum mendapat imbuhan spt awalan, sisipan, atau akhiran).
Yang agak sedikit ekivalen dengan mashdar dalam bahasa Inggris, yaitu Gerund. Gerund dalam bahasa
Inggris, adalah kata kerja yang dibendakan. Contoh: menghantam (to hit), Gerundnya: hitting
(penghantaman). Contoh lain: membersihkan (to clean), Gerundnya: cleaning (pembersihan).
Jika dilihat maka Masdhar itu secara praktis dapat dikatakan sbb:
pe + kata-kerja-dasar + an.
Atau dalam bahasa Inggris, Mashdar itu secara praktis sbb:
verb I (simple present) + ing (contoh, cleaning, hitting, dancing, dsb)
Sayangnya dalam bahasa Arab, Masdhar itu cara membentuknya ada 2:
1. Yang ada polanya
2. Yang tidak ada polanya
Untuk yang 1. kalau kita tahu kata-kerjanya maka dengan mengikuti pola kita bisa membuat masdharnya.
Sedangkan untuk yang 2, karena tidak ada pola, maka satu-satunya cara adalah melihat di Kamus.
Contoh untuk 1, sudah banyak kita jelaskan pada topik sebelumnya. Saya ulangi sbb:
Kata Tauhid, Tarhib adalah Mashdar dengan pola yang sama. Kata Islam dan Ikhlas adalah Masdhar dengan
pola yang sama.
Berikut penjelasannya.
POLA KKT-2
Kata Tauhid ‫ت مح يد‬
Kata Kerjanya (KKT-2): ‫ وحد‬- wahhada (meng-Esa-kan)
Kata Mashdarnya: ‫ ت مح يد‬- tauhiid (Peng-Esa-an)
Kata Tarhib ‫ت صح يب‬
Kata Kerjanya (KKT-2): ‫ رحب‬- rahhaba (menyambut)
Kata Mashdarnya: ‫ ت صح يب‬- tarhiib (penyambutan)
Pola membentuk masdharKKT-1: Tambahkan TA, dan sisipkan YA
POLA KKT-1
Kata Islam ‫إ س الم‬
Kata Kerjanya (KKT-1): ‫أ س ّع‬- aslama (menyerahkan diri)
Kata Mashdarnya: ‫ إ س الم‬- Islaamun(penyerahan diri)
Kata Ikhlas ‫إخ الص‬
Kata Kerjanya (KKT-1): ‫أخ ّص‬- akhlasho(memurnikan)
Kata Mashdarnya: ‫ إخ الص‬- Ikhlashun(pemurnian)
Pola membentuk masdhar KKT-1: Harokat Alif awal kasroh, dan sisipkan ALIF di sebelum akhir.
Demikian telah kita jelaskan pengertian Mashdar. Insya Allah akan kita lanjutkan dengan Latihan.
21
Topik 41: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 1
Bismillahirrahmanirrahim
Topik kali ini kita Insya Allah akan masuk ke Latihan ayat 1 Surat Al-Ikhlas. Oke baiklah. Ayat 1 berbunyi:
‫اهن ه َننم قنلن‬
‫أ َ َح ندُ ان‬
Qul: Katakanlah
Huwa: Dia
Allahu: Allah
Ahadun: Ahad (Maha Esa)
Oke... Ada 2 pola bahasa yang bisa kita pelajari disini:
1. Fi'il Amar (Kata Kerja Perintah)
2. Al-Jumlah Al-Mufidah (bentuk Kalimat Sempurna)
Kata QUL: katakanlah! ini merupakan fi'il amr. Fi'il amr sudah banyak saya berikan contohnya. Saya juga
sudah memberikan 6 langkah mudah membentuk fi'il amr. Apa perlu saya ulangi? Jika ya, Insya Allah saya
akan ulangi. Jika tidak maka kita lanjut ke topik 2.
Sementara saya asumsi tidak perlu, karena Anda sudah mengerti. Maka kita masuk topik 2, yaitu bentuk
Kalimat Sempurna (jumlah mufidah).
Al-Jumlah Al-Mufidah ‫ال م ف يدة ال جم ّق‬
Jumlah Mufidah atau kalimat sempurna, dalam bahasa Arab mirip dengan definisi kalimat sempurna dalam
bahasa Indonesia. Apa itu? Yaitu minimal terdiri dari subject dan prediket. Dalam bahasa Arab, subject itu
biasa disebut al-mubtada, dan prediket itu biasa disebut al-khobar. Kalimat sempurna yaitu bila kalimat
tersebut sudah memberikan faedah (mufidah).
Jadi definisi kalimat sempurna dalam bahasa Arab adalah suatu kalimat yang terdiri dari mubtada dan
khobar, dan memberikan manfaat (artinya bisa dimengerti).
Dari definisi ini maka: kalimat Huwa Allahu Ahadun dapat dipecah menjadi kalimat sempurna:
Huwa Allahu ‫ هللا هم‬- Dia (adalah) Allah.
Ini adalah kalimat sempurna, dimana mubtada nya adalah Huwa ‫ هم‬- Dia, dan khobarnya adalah Allahu ‫ ل هال‬Allah.
‫ احد هللا‬- Allahu Ahadun : Allah (itu) Maha Esa.
Ini adalah juga kalimat sempurna, dimana mubtada nya adalah Allahu ‫ هللا‬dan khobarnya adalah Ahadun ‫احد‬
- Maha Esa.
Ciri-ciri Mubtada
Salah satu ciri-ciri mubtada, adalah bahwa i'rob (harokat akhir) adalah dhommah, atau dhommatain, untuk
kata-kata yang sifatnya tidak mabni. Wah wah apa lagi nih... Mabni itu apaan lagi tuh...
Oke, gini gini... Pertama saya jelaskan dulu, bahwa ciri-cirinya dhommah. Coba lihat:
Allahu ahadun. Harokat Allah disini adalah dhommah, sehingga dibaca Allahu (bukan Allaha atau Allahi).
Sehingga kata Allahu (dalam Allahu Ahadun), dapat menjadi Mubtada'.
Sedangkan ada kata benda yang sifatnya tetap (mabni). Contoh kata Musa ‫ م سى‬ini adalah mabni. Tidak
pernah dia dibaca Musi, atau Musu. Berbeda dengan kata kitaab ‫ ك اتك‬ini bukan mabni, tapi berobah-ubah,
bisa kitaabu, kitaabi, kitaaba.
OKE... kembali ke lap top... Jadi dalam ayat 1 surat Al-Ikhlas ini kita bertemu dengan jumlah mufidah:
Huwa Allahu Ahadun
22
Mubtada: Huwa
Allahu Ahadun: Khobar Jumlah (khobar dalam bentuk kalimat)
Sedangkan Khobar Jumlah, juga sebuah kalimat sempurna dimana:
Allahu: Mubtada
Ahadun: Khobar
Gitu ma' cik... Kira-kira ngerti kan????
Insya Allah akan dilanjutkan ke topik berikutnya, mengenai definisi kedua Jumlah Mufidah. Sebagai
penutup, jumlah mufidah dalam topik ini maksudnya yaitu kalimat sempurna yang terdiri dari mubtada dan
khobar.
Dalam topik berikutnya, ada defisini ke 2 jumlah mufidah itu, yaitu suatu kalimat yang terdiri dari Kata
Kerja + Pelaku.
Allahu a'lam
Topik 42: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 1
Bismillahirrahmanirrahim
Baiklah, kita sudah bahas dalam ayat 1, tentang bentuk al-jumlah al-mufidah, yaitu satu bentuk kalimat
sempurna dalam bahasa Arab. Maksud sempurna disini adalah kalimat yang memberikan manfaat/faedah
(mufidah).
Telah dijelaskan contoh-contohnya. Disini diberikan contoh lain:
‫ م س ّع اَ ت‬- ana muslim (saya muslim)
Ini adalah kalimat sempurna, karena sudah terdiri dari Mubtada (Subject) dan Khobar (Prediket).
Kalau kita perhatikan contoh diatas, maka Mubtada dan Khobar itu sama sama kata benda. Ada lagi satu
bentuk kalimat sempurna yaitu jika terdiri dari Kata Kerja + Pelaku, atau sering disebut Fi'il + Fa'il.
Nah Fa'il dalam bahasa Arab selalu kata benda. Dengan demikian, jika kalimat itu terdiri dari Kata Kerja dan
Pelaku, maka telah dikatakan merupakan kalimat sempurna.
Contohnya begini:
‫ ُ ك اب هم‬- huwa yaktubu : dia sedang menulis
‫ ُ ك اب ال ّتل ب‬- al-tholibu yaktubu : seorang pelajar sedang menulis
Pola kalimat diatas juga disebut pola kalimat sempurna, karena terdiri dari Pelaku + Pekerjaan (Fa'il + Fi'il).
Oh ya, dalam bahasa Arab sangat sering polanya kata-kerjanya yang didahulukan, baru pelakunya. Jadi
kalimat kedua itu seringnya ditulis sbb:
‫ ال ّتل ب ُ ك اب‬- yaktubu al-tholibu : seorang pelajar sedang menulis.
Ini pola yang lebih sering dijumpai, walaupun pola pertama tidak salah secara gramatikal.
Yang tidak boleh adalah kalau Pelakunya Kata Ganti (dia, kamu, dst) diletakkan setelah kata kerja.
Jadi pola seperti ini salah:
‫ هم ُ ك اب‬- yaktubu huwa : dia sedang menulis
Pola ini salah, karena kata ganti pelaku didalam bahasa Arab tidak boleh terletak setelah kata kerja. Kenapa?
Disinilah uniknya bahasa Arab. Karena kata kerja bahasa Arab secara langsung telah menyimpan pelakunya.
Jadi kalau kita tulis:
23
‫ ُ ك اب‬- yaktubu saja, ini adalah kata kerja yang pelakunya dia (laki-laki), sehingga kalau kita tulis:
‫ ُ ك اب‬- yaktubu saja, ini sudah cukup yang artinya: dia sedang menulis.
atau misalkan:
‫ أك اب‬- aktubu : saya sedang menulis
‫ ت ك اب‬- taktubu : kamu (laki-laki) sedang menulis
‫ َ ك اب‬- naktubu : kita/kami sedang menulis
Dan seterusnya.
Sebagai resume kita telah menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, kalimat sempurna itu dikatakan memberi
manfaat jika telah terdiri dari Mubtada (Subject) dan Khobar (Prediket), atau Fi'il (Kata Kerja) dan Fa'il
(Kata Benda Pelaku).
‫اهن ه َننم قنلن‬
‫أ َ َح ندُ ان‬
Katakanlah: Allah itu Esa. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, maksud ayat ini adalah, bahwa Allah itu lah Tuhan
yang Satu, tidak ada tandingan, tidak ada yang setara dengan Nya. Kata Al-Ahad tidak dapat digunakan
untuk diatributkan ke seseorang, karena kata Al-Ahad ini hanya untuk Allah SWT (demikian Ibnu Katsir).
Insya Allah akan kita lanjutkan ke ayat-ayat selanjutnya.
Topik 43: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 2
Bismillahirrahmanirrahim
Kebetulan pagi ini saya masih menunggu tamu di salah satu Hotel di Kualalumpur (tugas luar kota). Sembari
menunggu saya sempatkan untuk membahas Topik 42 dan 43 ini, Insya Allah.
Pada ayat 2, akan digambarkan tentang bagaimana kekuasaan Allah itu Maha Lengkap (tafsir kata AlShomad menurut Abu Wa'il).
‫ر َم ندن ان‬
‫اهن‬
‫ ال ا‬- Allahu Al-Shomadu
Perhatikan bahwa struktur kalimat diatas adalah, kalimat sempurna, dimana:
Mubtada: Allahu (lihat ciri-nya yaitu dhommah, sehingga Allahu, bukan Allaha, atau Allahi), dan
Khobar: Al-shomadu (tempat bergantung).
Kata al-Shomad memiliki dua pengertian yaitu: tempat bergantung, yaitu suatu yang cukup dengan
sendirinya, dan semua bergantung ke dia. Allah Al-Shomad, artinya: Allah tempat bergantung semua
makhluk. Pengertian kedua, yaitu dari akar katanya shomada, artinya: abadi atau kekal.
Menurut Ibnu Abbas: As-Shomad artinya: Yaitu suatu Dzat yang semua makhluk bergantung kepadaNya
untuk mencukupi semua kebutuhan dan permintaannya. Dia adalah Raja yang memiliki kesempurnaan
kekuasaannya, Sangat Mulia dengan KemuliaanNya, Sangat Perkasa dengan segala keperkasaanNya, Maha
Tahu dengan segala IlmuNya.
Kata al-Shomad tidak boleh diatributkan kepada makhluk, karena sifat ini hanyalah Milik Allah (Tafsir Ibnu
Katsir).
Demikian dapat kita pelajari dalam ayat 2 ini kembali kita bertemu dengan kalimat al-jumlah al-mufidah.
Insya Allah topik berikutnya kita akan belajar, bentuk perubahan kata kerja sekarang (Present Tense)
menjadi bentuk JAZM.
24
Topik 47: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 3, JAZM
Bismillahirrahmanirrahim.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Baiklah, sekarang kita masuk kembali ke pelajaran rutin kita. Kita
tinggalkan topik-topik seputar lebaran. Mudah-mudahan puasa Syawal kita diterima di sisi Allah SWT. Amin.
Baiklah. Kita tuliskan ayat 3:
‫ُ مل د ل ع و ُ ّد ل ع‬
lam : tidak
yalid : (Dia) beranak [punya anak]
wa: dan
lam : tidak
yuulad : (Dia) diperanakkan [punya Bapak dan Ibu]
Kita bertemu dengan 3 pelajaran disini:
1. Bentuk penegatifan (menegasikan kalimat) dengan LAM ‫ل ع‬
2. Bentuk JAZM (MAJZUM) dari kata kerja sedang (KKS)
3. Bentuk pasif dari sebuah kata kerja sedang (KKS)
Nah kita akan bahas satu-satu Insya Allah.
Oke, sekarang kita bahas apa maksud LAM ‫( ل ع‬tidak)
Dalam bahasa Arab, jika kita hendak mengatakan "tidak" terhadap sebuah kata kerja kita bisa pakai ‫ ل ع‬- lam
atau ‫ ال‬- laa atau ‫ مت‬- maa. Tiga-tiganya artinya Tidak.
Gimana aturannya dan apa efeknya?
Oke, aturannya begini. LAM dan LAA ‫ ال ل ع‬hanya dipakai untuk KKS, sedangkan ‫ مت‬- maa biasanya selalu
dipakai untuk KKL. Contohnya begini:
Saya faham (mengerti) : ‫ أف هع اَ ت‬- ana afhamu
Saya tidak faham : ‫أف هع ال اَ ت‬- ana laa afhamu
atau jika saya pakai LAM
Saya faham (mengerti) : ‫ اف هع اَ ت‬- ana afhamu
Saya tidak faham: ‫ أف هع ل ع اَ ت‬- ana lam afham
Secara arti LAA dam LAM sama saja, artinya "Tidak". Walau menurut sebagian orang ada bedanya. Kalau
LAM, itu Tidak nya bersifat MUTLAK. Atau bisa dikatakan ANA LAM AFHAM artinya : saya "benar-benar"
tidak faham.
Secara kaidah grammar, KKS sesudah LAM, huruf terakhir di sukun. Sehingga penulisannya:
‫ أفهعن ل ع‬- laam afham. Tidak seperti LA, yang KKS nya huruf terakhirnya di dhommah.
‫ أفه ننع ال‬- laa afhamu.
Bagaimana dengan ‫ مت‬- maa?
Sebagaimana dijelaskan tadi, maa dipakai untuk KKL.
Saya sudah paham : ‫ فهملنن‬- fahimtu
Saya tidak sudah paham : ‫ فهملنن مت‬- maa fahimtu (catatan bahasa Indonesia "Saya tidak sudah paham" agak
membingungkan mungkin, padanan bahasa Inggrisnya: I had not understood).
Okeh... jelas ya Jack... Sekarang kembali ke topik utama.
‫ ُّدن ل ع‬- lam yalid : (DIA-ALLAH) tidak melahirkan. Lihat ciri-ciri JAZM nya bahwa huruf dal pada yalid
berharokat sukun. Sehingga ditulis lam yalid, bukan lam yalidu.
25
Sebenarnya kita bisa juga menulis spt ini:
‫ ُّ ندن ال‬- laa yalidu : (dia) tidak melahirkan. Secara bahasa mirip dengan LAM YALID. Akan tetapi penggunaan
LAM lebih bersifat peniadaan (pe-tidak-an) secara mutlak.
Demikian kita telah bahas 2 hal: makna LAM dan apa bedanya dengan LA. Dan bentuk mazjum (jazm) dari
sebuah KKS. Insya Allah topik selanjutnya kita akan bahas mengenai bentuk pasif dari KKS.
Topik 48: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 3, KKS Pasif
Bismillahirrahmanirrahim.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita telah sampai pada ayat 3 surat Al-Ikhlas, dimana dalam ayat ini
kita bertemu dengan 3 pelajaran berbahasa Arab, yaitu: pengertian LAM, bentuk MAJZUM, dan terakhir
bentuk kata kerja sedang (KKS) pasif. Pada kesempatan kali ini kita akan tuntaskan pembahasan ayat 3 ini.
Oke kita masih ada sisa topik di ayat 3 ini yaitu mengenai Kalimat Pasif. Insya Allah kita akan bahas.
Kalimat Pasif
Anda semua pasti sudah tahu apa itu kalimat pasif. Ya, tanpa perlu definisi, kita sering menggunakan pola
ini. "Saya disuruh membuat PR". Atau "Mobil dibeli pedagang", dsb.
Dalam bahasa Arab, demikian juga. Ada kalimat aktif, ada pasif.
Lalu bagaimana ciri-ciri kalimat Pasif? Berikut saya kasih TIPS mudahnya (mengutip dari metode Granada),
anda sekalian hafalkan rumus ini (kalau bisa... kalau gak mau juga gak apa2x... hehe):
KKL Pasif: U-I (1:dhommah 2:kasroh 3:x)
KKS Pasif: U-A (1:dhommah 2:fathah 3:x)
Contohnya:
KKL Pasif
Surat An-Nur (24) ayat 45:
‫ متء من داب ل ك ل خ ّق هللا‬: allahu khalaqa kulla daabbatin min maa-in
Allah menciptakan setiap daabbatin dari air
Lihat kata menciptakan: ‫ خ ّق‬- kha la qa
Bagaimana kalau diciptakan. Kata ‫ خ ّق‬- khalaqa (menciptakan) berubah harokat menjadi (ingat rumus... UI), sehingga menjadi khuliqo ‫( خ ّق‬diciptakan).
Contohnya dalam surat At-Thooriq (86) ayat 6
‫ اف قد متء من خ ّق‬- khuliqa min maain daafiq
Dia (manusia)diciptakan dari air yang terpancar
Lihat perubahannya:
‫ َخَّقَن‬- khalaqa (menciptakan)
‫ نخِّّقَن‬- khuliqa (diciptakan) --> Pola U-I
KKS Pasif
Sekarang kita lihat bagaimana pola KKS Pasif.
Wah... karena sudah kepanjangan... kita tunda dulu ya pembahasan rumus U-A ini. Hehe... Sampai ketemu
di topik lanjutan.
26
Topik 50: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 4
Bismillahirrahmanirrahim.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan segera masuk ke ayat 4 surat Al-Ikhlas. Di ayat ini kita
bertemu dengan sebuah kata kerja khusus yang disebut ‫ ك تن‬- kaana. Kita akan pelajari kenapa dia dsebut
khusus, dan apa fungsi kaana ini. Insya Allah.
Baiklah kita tuliskan ayat 4:
‫ أحد ك فما ل ه ُ كن ل ع و‬- wa lam yakun la hu kufuwan ahad
wa= dan
lam= tidak
yakun= adalah (Dia)
la hu = bagi Dia
kufuwan = yang setara
ahad = seseorang
Dan adalah tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.
Kita belum bahas secara tuntas dulu. Nanti kita akan wrap-up dibagian akhir. Anda tentu sudah tahu tentang
wa, lam, la hu dan ahad. Ahad artinya satu (orang), atau satu (sesuatu). Maka disini ahad saya terjemahkan
satu (orang) = seseorang.
Fokus kita adalah kata ‫ ُ كن‬- yakun. Akar katanya adalah kaana ‫ك تن‬. Kata kaana dan perubahan bentuknya
(misal menjadi yakun) ini adalah spesial. Bahkan dalam buku-buku pelajaran tata-bahasa arab, pembahasan
tentang kaana ini dibahas dalam satu sub-bab, atau bab tersendiri.
Mengapa dia spesial? Oke, mari saya bawakan sebuah perbandingan antara bahasa Inggriss dengan bahasa
Arab.
Misalkan saya mengatakan: Umar seorang siswa. Dalam bahasa Arab saya mengatakan:
‫ دتل ب ممص‬- umar thoolibun
Kalimat diatas adalah kalimat sempurna (artinya memberi faidah). Umar adalah seorang siswa. Masalahnya
kita bisa bertanya lagi. "Jadi siswanya, dulu, atau sekarang". Nah disini mulai ada masalah. Informasi dari
‫ دتل ب ممص‬tidak memberikan indikasi waktu. Kenapa? Karena dalam bahasa Arab, sebuah kata benda tidak
membawa indikasi waktu didalamnya. Perhatikan bahwa kata "Umar" adalah kata benda (isim), dan kata
"thoolibun" juga kata benda.
Bagaimana dalam bahasa Inggris? Kita punya dua pilihan:
Umar was a student (Umar -dulu adalah seorang pelajar)
Umar is a student (Umar -sekarang adalah seorang pelajar)
Nah disini fungsi kaana muncul. Saya bisa mengatakan begini:
‫ دتلبنت ا ممص ك تن‬- kaana Umar thooliban = Umar was a student
‫ دتل ب ممص ُ كمن‬- yakuunu Umar thooliban = Umar is a student
Ternyata dalam bahasa Arab salah satu cara memberikan indikasi waktu kepada sebuah kalimat berita
adalah dengan menambahkan kaana atau yakuunu.
Ambil contoh dalam Al-Quran: doa Nabi Yunus sewaktu didalam perut ikan:
Laa ilaaha illa Anta: tidak ada Tuhan selain Engkau
Inni kuntu mina al-zholimiin:
‫ ال ظتل م ين من ك لنن إَ ى‬- Indeed I was part of the wrongdoers = sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang
yang zalim.
Lihat bahwa kuntu adalah kaana tapi untuk orang ke 1 laki-laki tunggal (Aku).
Insya Allah di topik 51 kita akan bahas salah satu fungsi kaana ini, yaitu me-rafa'kan mubtada menashab-kan
khobar.
27
28
Topik 51: Makna Kaana
Bismillahirrahmanirrahim.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT, kita masih membahas tentang Kaana. Kaana ini karena agak unik,
maka kita perlu membahasnya, agak sedikit panjang ya... Gpp kan? Hehe...
Oke... Ingat kaana, tentu Anda ingat dengan "Kun Fayakun". Ya saya ingat sekali waktu kecil sering dikasih
tahu orang-orang tua: "Apa yang tidak mungkin bagi Allah. Jika Dia ingin berbuat sesuatu, Dia tinggal
berkata: Kun ‫ ك ن‬- jadilah, Fayakun ‫ ف ي كن‬- maka jadilah ia".
Nah, kun ‫ ك ن‬itu adalah bentuk kata kerja perintah (fi'il amr) dari ‫ ك تن‬sedangkan fayakun itu asalnya adalah fa
yakuunu ‫ ف‬+ ‫ ُ كمن‬. Kenapa waw nya hilang, menjadi fayakun ‫ ف ي كن‬saja? Ini nanti akan dibahas pada Topik :
Kalimat Syarat dan Jawab.
Oke kita tinggalkan dulu kun fayakun... Kalau ada waktu kita akan singgung lagi.
Sekarang kita masuk membahas, apa saja makna kaana ‫ك تن‬. Oke kita akan lihat, dan bahas di topik ini.
Sedangkan tugas kaana, akan kita bahas di topik 52.
Makna Kaana
Kana itu ada 3 macam maknanya, tergantung konteks. Apa saja itu?
1. Kaana berarti adalah/atau tidak terjemahkan (is atau was dalam bahasa Inggriss)
2. Kanaa bisa berarti menjadi (to become)
3. Kanaa bisa berarti selalu
Baiklah kita bahas satu-satu...
1. Kaana bermakna adalah. Contohnya begini.
Zaid was handsome (Zaid --adalah-- ganteng). Ada 2 alternatif:
‫ جم يل زُ د‬- Zaidun Jamiilun
‫ جميالان زُ د ك تن‬- kaana Zaidun Jamiilan
Dua-duanya bisa dipakai. Kalimat pertama menjelaskan bahwa Zaid itu ganteng. Sedangkan kalimat kedua
menjelaskan bahwa (dulu) Zaid itu ganteng (sekarang mungkin ganteng mungkin kurang ganteng).
Oh ya, kadang adalah itu tidak enak secara bahasa Indonesia, makanya kalau kaana dalam arti adalah ini,
biasanya tidak diterjemahkan.
2. Kaana bermakna menjadi
Contohnya:
ُ‫ معّ ُنع محم ند‬- muhammadun mu'allimun : Muhammad seorang guru
‫ معّمنت ا محم ندُ ك تن‬- kaana muhammadun mu'alliman : Muhammad telah menjadi seorang guru
‫ معّمنت ا محمد ُ كمن‬- yakuunu muhammadun mu'alliman: Muhammad (sedang) menjadi seorang guru
3. Kaana bermakna senantiasa/selalu
Contohnya:
‫ حكيمنت ا مّيمنت ا هللا اني‬- kaana Allahu 'aliiman hakiiman : Adalah (senantiasa) Allah (bersifat) Maha Mengetahui
Maha Adil
Secara umum kaana itu berarti adalah. Tinggal dilihat apakah konteksnya KKL kaana, atau KKS yakuunu.
Topik 52: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 4, Fungsi Kaana
Bismillahirrahmanirrahim.
Para pembaca yang dirahmati Allah. Kita akan menyelesaikan, latihan ayat 4 ini. Tapi sebelumnya saya kasih
pertanyaan sedikit. Di topik 50, kita sudah terjemahkan ayat 4, yaitu:
29
‫ أحد ك فما ل ه ُ كن ل ع و‬- wa lam yakun la hu kufuwan ahad wa= dan
lam= tidak
yakun= adalah (Dia)
la hu = bagi Dia
kufuwan = yang setara
ahad = seseorang
Nah lalu saya nerjemahin begini:
Dan adalah tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.
Atau jika hendak diperhalus, kata adalah bisa dibuang (baca penjelasannya di topik 51), sehingga bisa
menjadi:
Dan tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.
Loh mas bukannya kalau mau urut mestinya terjemahannya:
Dan tidak adalah bagi Dia yang setara seorang(pun).
Saya tidak terjemahkan demikian. Kenapa? Karena kita akan melihat tugas kaana. Bagaimana tugas kaana
itu? Nih saya kasih istilah yang mungkin agak teknis dikit ya... Ok... Siap...?
Tugas Kaana
Kaana bertugas:
- Me-rafa'kan mubtada
- Me-nashab-kan khobar
Weh... weh... kalau mubtada dan khobar rasanya kite-kite sudah pernah dengar deh di topik-topik yang lalu.
Oke... saya lagi baik hati. Saya ulangi sedikit ya. Kalau ambil contoh: Zaid ganteng ُ‫ل زُ ند‬
‫ جمي ُن‬- zaiduun jamiilun.
Perhatikan Zaidun adalah mubtada (subjek), dan Jamiilun adalah khobar (prediket). Perhatikan dalam
kondisi normal maka Zaid adalah rofa' (yaitu harokat akhir dhommah), sehingga dibaca Zaidun, bukan
Zaidan, atau Zaidin. Dan dalam kondisi normal khobar juga rofa', maka dibaca Jamiilun.
Jadi ingat saja, rofa' atau marfu' itu = dhommah atau dhommatain. ‫ نن‬atau ‫ ُن‬.
Nah sekarang kalau kita lihat tugas nya kaana itu menashabkan khobar.
Ingat, nahsab = fathah atau fathatain. ‫ َن‬atau ‫ ان‬.
Sehingga kalau kita terapkan:
ُ‫ل زُ ند‬
‫ جمي ُن‬- zaiduun jamiilun : Zaid ganteng
Jika kita tambahkan kaana didepannya menjadi:
‫الا زُ ندُ ك تن‬
‫ جمي ن‬- kaana zaidun jamiilan : (adalah) Zaid ganteng.
Oh ya, kalau suatu kata benda (isim), jika bersifat nakiroh (tidak ada al), maka ada tambahan alif, sehingga
ditulis:
‫الا‬
‫ جمي ن‬bukan ‫ل‬
‫ جمي ان‬.
Nah kira-kira kita sekarang bisa membayangkan, bahwa kalaupun setelah kaana ada kata beda (isim) yang
terbalik, maka metode penerjemahannya sama. Artinya dari kondisi apakah dia nashab atau rafa' kita bisa
tahu mana subjek dan prediketnya.
Anggaplah saya (agak) salah, tertukar menuliskan:
‫ زُ ندُ جميالان ك تن‬- kaana jamiilan zaidun
Karena kita tahu bahwa yang jadi mubtada (subject) adalah zaidun, maka kita menerjemahkannya:
(adalah) Zaid ganteng,
30
bukan
(adalah) Ganteng zaid.
Demikian juga dalam ayat 4 surat Al-Ikhlas ini, kita bisa lihat bahwa yang menjadi mubtada adalah ُ‫ اح ند‬ahadun : seorang(pun). Dan yang menjadi khobarnya adalah ‫كفما‬
‫ ا‬- kufuwan (karena harokatnya fathatain
setelah kaana).
Oleh karena itu ayat ini kita terjemahkan:
‫ أحد ك فما ل ه ُ كن ل ع و‬- wa lam yakun la hu kufuwan ahad
Dan tidak (adalah) [mubtada=ahadun] [khobar=kufuwan] [pelengkap=lahu].
Dan tidak (adalah) [seseorang(pun)] [yang serupa] [bagi Dia].
Semoga menjadi jelas ya. Insya Allah.... Alhamdulillah, akhirnya selesai kita bahas latihan surat Al-Ikhlas ini.
Kita akan ketemau lagi minggu depan.
31
Download