Document

advertisement
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS
DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMA KELAS X IPA MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING PADA POKOK BAHASAN
FUNGSI EKSPONEN DAN LOGARITMA
ARTIKEL JURNAL PENELITIAN
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat sidang
Magister Pendidikan Matematika
Oleh :
YENNY ERMAYANTI
NPM. 148060058
MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PASUNDAN
2016
0
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS
DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMA KELAS X IPA MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING PADA POKOK BAHASAN
FUNGSI EKSPONEN DAN LOGARITMA
Oleh : Yenny Ermayanti
ABSTRAK
Yenny Ermayanti. Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
dan Kemandirian Belajar Siswa SMA kelas X IPA Melalui Model Pembelajaran
Penemuan Terbimbing Pada Pokok Bahasan Fungsi Eksponen dan Fungsi
logaritma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelaah dan mendeskripsikan
apakah pembelajaran Penemuan Terbimbing dapat meningkatkan kemampuan
berpikir kritis matematis siswa, apakah peningkatan kemampuan berpikir kritis
matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan model penemuan
Terbimbing lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran
konvensional, apakah kemandirian belajar siswa yang mendapat pembelajaran
dengan model penemuan Terbimbing lebih baik daripada siswa yang
mendapatkan pembelajaran konvensional, bagaimanakah gambaran mengenai
kemandirian belajar siswa pada pembelajaran Fungsi Eksponen dan Logaritma
yang mendapatkan model pembelajaran Penemuan Terbimbing dan pembelajaran
konvensional, dan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara kemampuan
berpikir kritis dengan kemandirian belajar siswa. Penelitian didasarkan pada
kenyataan bahwa kemandirian belajar siswa kelas eksperimen lebih baik daripada
di kelas kontrol. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran
(Mixed Metod) Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas ini
dilaksanakan di kelas X IPA4 dan X IPA5 SMA Negeri 1 Ciruas Tahun Pelajaran
2016-2017 pada pokok bahasan Fungsi Eksponen dan Logaritma. Penelitian
dilaksanakan dalam tiga siklus atau tujuh pertemuan. Instrumen-instrumen yang
digunakan dalam penelitian adalah: tes kemampuan berpikir kritis matematis yang
telah dikonsultasikan dengan dosen, Pedoman wawancara, angket kemandirian
belajar siswa dan observasi. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa: 1)
Pembelajaran Penemuan Terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kritis matematis. 2) Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis yang
mendapatkan Pembelajaran Penemuan Terbimbing tidak lebih baik dari
pembelajaran konvensional. 3) Kemandirian Belajar siswa yang mendapatkan
model pembelajaran Penemuan Terbimbing lebih baik dari pada siswa yang
memperoleh pembelajaran konvensional. 4). Salah satu gambaran mengenai
kemandirian belajar siswa pada materi Fungsi Eksponen dan Logaritma yang
memperoleh model pembelajaran Penemuan Terbimbing adalah tingkat
kepercayaan diri yang tinggi (Self concept) dibandingkan dengan siswa yang
1
memperoleh pembelajaran konvensional. 5) Tidak ada korelasi antara
kemandirian belajar dengan berpikir kritis matematis.
Kata Kunci: Pembelajaran Penemuan Terbimbing,kemampuan berpikir kritis
matematis, dan kemandirian belajar siswa.
PENDAHULUAN
Sejak tahun 2002 penulis mengajar di Sekolah Menengah Atas dengan
menggunakan model pembelajaran konvensional (teacher centered), guru
menerangkan materi, memberikan contoh, guru menulis dipapan tulis, siswa
menyalin di buku tulisnya, kadang-kadang beberapa siswa bertanya jika materi
tidak mengerti, lalu guru pun mengulangi untuk menerangkan kembali, terkadang
tanpa memberi kesempatan kepada siswa lain untuk menjelaskan pertanyaan
temannya. Tetapi sejak penulis melanjutkan kuliah program Magister Pendidikan
Matematika di Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung, penulis mulai
menyadari bahwa seorang guru profesional harus kreatif dalam mendidik
siswanya di kelas. Konsep-konsep matematika yang diajarkan kepada siswa
Sekolah Menegah Atas bertahun-tahun selalu sama, namun karakteristik siswanya
setiap tahun berbeda-beda, sehingga model pembelajaran pun harus disesuaikan.
Hasil Survey yang dilakukan penulis tiga tahun terakhir di suatu Sekolah
Menengah Atas kelas X IPA, siswa mengalami kesulitan menggambar sketsa
grafik Fungsi Eksponen dan Fungsi Logaritma. Ada siswa yang mengalami
kesulitan memetakan (x,y) pada diagram cartesius, belum mengetahui sumbu
vertikal dan sumbu horizontal, masih bingung
menggambar grafik Fungsi
Eksponen dan grafik Fungsi Logaritma ketika soal yang dibuat diulangan berbeda
dengan yang dijelaskan di contoh soal. Bagi siswa kelas X SMA ini adalah materi
baru bagi mereka. Mengingat pokok bahasan Fungsi Eksponen dan Logaritma
membutuhkan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi. Hal ini ditunjukkan
dengan
nilai rata-rata ulangan harian pokok bahasan Fungsi Eksponen dan
Logaritma yang masih dibawah KKM. Hasil rekapitulasi nilai ulangan harian bab
Fungsi Eksponen dan Logaritma sebagai berikut:
2
Tabel 1
Nilai rata-rata Ulangan Harian
No.
Tahun
Jumlah
siswa
KKM
Rata-rata
Jumlah
Persentase
siswa
Ketuntasan
Tuntas
(%)
1
2013/2014
150
70
62,5
40
27
2
2014/2015
204
75
67,8
42
20
3
2015/2016
245
75
64,8
56
23
Berdasarkan fakta dilapangan, ketika penulis mewawancarai 3 orang guru
pada saat Ujian Tengah Semester semester genap bulan maret tahun 2016, dapat
disimpulkan bahwa mereka
masih mengajar dengan model pembelajaran
konvensional. Model pembelajaran konvensional ini, dimana proses pembelajaran
berpusat pada guru, hanya satu arah, guru hanya memberi materi kepada siswa
tanpa melibatkan siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran
cenderung membosankan, siswa mendengarkan materi dari guru, pembelajaran
terpusat pada guru (teacher centered), pasif, akan menciptakan kesan bahwa
belajar matematika adalah hal yang membosankan, padahal guru diharapkan
dapat membuat siswa menjadi senang dengan pelajaran matematika.
Menyikapi keadaan tersebut, sangat dibutuhkan suatu model pembelajaran
yang dapat membantu siswa lulus KKM. Guru harus mempunyai ide-ide kreatif
agar siswa dapat memahami dan menerapkan konsep Fungsi Eksponen dan Fungsi
Logaritma dengan benar, sehingga siswa dapat memahami dan menerapkan
konsep tersebut dan menyelesaikan masalah berkaitan dengan sketsa grafik
Fungsi Eksponen dan Fungsi Logaritma. Siswa harus mulai dibiasakan dapat
belajar mandiri dan kreatif, sehingga dapat menyelesaikan permasalahan
matematika baik disekolah maupun tugas di rumah (PR).
Hal ini sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana telah
dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 adalah untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
3
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Arus globalisasi yang bergerak sangat cepat membawa
perubahan
kehidupan sosial politik keseluruh penjuru dunia, termasuk dunia pendidikan.
Diakui atau tidak, pendidikan telah menjadi alat politik rezim yang berkuasa.
Dengan munculnya era reformasi, semuanya berubah. Begitu pula dengan
kurikulum, perubahan dari kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013.
Hal ini juga tidak bertentangan dengan visi pendidikan tahun 2025 yaitu
menciptakan insan Indonesia yang kompetitif. Cerdas yang dimaksud adalah
cerdas komprehensif yaitu cerdas secara spiritual dan cerdas sosial atau emosional
dalam ranah sikap, cerdas intelektual dalam ranah pengetahuan, serta cerdas
kinestetis dalam ranah keterampilan. Sehingga guru diharapkan dapat melakukan
pembelajaran yang aktif dan kreatif, berpusat pada siswa (Student centered) bukan
berpusat pada guru, dimana guru hanya sebagai fasilitator agar proses
pembelajaran berjalan menyenangkan. Oleh karena itu penulis sangat tertarik
untuk melakukan penelitian dengan menerapakan model pembelajaran Penemuan
Terbimbing (Guided Discovery) di tingkat Sekolah Menengah Atas.
Ada tiga model Pembelajaran di kurikulum 2013 yaitu Discovery
Learning, Problem Based Learning, dan Inquiry Learning. Guided Discovery
merupakan bagian dari Discovery learning. Kurikulum menurut Parker harus
dimulai dari apa yang pernah dialami siswa seperti pengalaman dalam keluarga,
lingkungan fisik dan lingkungan sosial mereka serta hal-hal yang ada disekeliling
mereka. Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam mengantar anak didik
sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan. Sekolah berfungsi untuk
mempersiapkan siswa dapat membiasakan diri berpikir kritis terhadap suatu
permasalahan matematika agar mereka dapat berperan aktif di masyarakat. Oleh
karna itu, kurikulum sebagai alat dan pedoman dalam proses pendidikan disekolah
harus relevan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Dengan demikian kurikulum 2013 telah dirancang dengan tujuan untuk
mempersiapkan insan Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi
4
dan warganegara beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu
berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan
peradaban dunia. Namun hasil yang ada dilapangan,
ternyata nilai rata-rata
Ulangan Harian siswa untuk pelajaran matematika di salah satu SMA masih
dibawah standar KKM. Begitu pula berdasarkan hasil wawancara dengan teman
sejawat, ternyata penulis melihat fenomena masih banyak siswa yang belum bisa
diajak berpikir kritis dan siswa belum nampak kemandirian belajar (Self
Regulated Learning). Bahkan penulis mengamati jika siswa diberi pekerjaan
rumah masih banyak yang menyalin dari temannya, ini artinya siswa belum
memiliki kesadaran untuk menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri. Padahal
tujuan pembelajaran matematika di sekolah menurut Permendiknas no. 22 tahun
2006 adalah agar peserta didik memiliki kemampuan berikut:
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep
dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat
efisien dan tepat dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau
menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan
solusi yang diperoleh
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media
lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
Dari tujuan pembelajaran matematika tersebut, kedudukan matematika
sangat penting dalam kehidupan. Siswa adalah manusia yang sangat unik. Seorang
guru harus menciptakan kondisi pembelajaran yang membuat siswa berpikir kritis,
logis, sistematis dalam memecahkan masalah dengan menyenangkan. Oleh karena
itu, perlunya suatu penerapan yang tepat dalam memilih metode pembelajaran
agar keterampilan berpikir kritis dapat diterapkan dalam pelajaran matematika
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan tadi, penulis sangat
tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Upaya Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa dan Self Regulated Learning Siswa
5
SMA kelas X IPA melalui Model Pembelajaran Guided Discovery pada pokok
bahasan Fungsi Eksponen dan logaritma”
METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini merupakan
Mix Methods Research
Yaniawati, 2014).
dengan Penelitian Tidakan Kelas (Indrawan dan
Penelitian terdiri dari dua kelompok siswa yaitu kelas
eksperimen diberi perlakuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan
menggunakan model pembelajaran Guided Discovery dan kelompok kelas kontrol
dengan model pembelajaran Konvemsional. Pada kelas eksperimen yang diberi
perlakuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari 3 siklus dengan enam kali
pertemuan.
B. Desain Penelitian
Desain Penelitian ini digambarkan sebagai berikut:
Kelas eksperimen
:
O
Kelas kontrol
:
O
X
O
O
Keterangan:
O = Pretes dan Postes tes kemampuan berpikir kritis matematis
X = Perlakuan dengan model pembelajaran Guided Discovery
Desain Penelitian tersebut sesuai dengan tujuan penelitian, dalam pelaksanaanya
untuk kelas eksperimen , penulis menggunakan model pembelajaran penemuan
terbimbing,
sedangkan
untuk
kelas
kontrol
mnggunakan
pembelajaran
konvensional.
HASIL PENELITIAN
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data nilai tes
kemampuan berpikir kritis matematis dan data hasil skala sikap kemandirian
6
belajar siswa. Selanjutnya, peneliti mengolah data tersebut sesuai dengan
langkah-langkah yang telah dilakukan pada BAB III.
1. Analisis Peningkatan berpikir kritis matematis di Kelas Penemuan
Terbimbing dan Kelas Konvensional
Hasil tes kemampuan berpikir kritis matematis terdiri dari skor
pretes dan postes. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir
kritis matematis dilihat dari skor gain. Rekapitulasi data skor tes yang
berkaitan dengan peningkatan dari kemampuan berpikir kritis matematis
dapat dilihat:
Tabel 4.9
Indeks Gain Kemampuan berpikir kritis matematis
Data Statistik
Berpikir Kritis Matematis
Kelas Penemuan
Kelas
Terbimbing
Konvensional
Rata-Rata Indeks Gain
22,18
23,13
Standar Deviasi
7,718
5,247
Nilai Minimum Indeks Gain
4
8
Nilai Maksimum Indeks Gain
32
31
0,61
0,65
Sedang
Sedang
Gain
Berdasarkan Tabel 4.9 hasil indeks gain kemampuan berpikir
kritis matematis dari kedua kelompok mempunyai rata-rata yang berbeda,
tercatat bahwa untuk kelas Penemuan Terbimbing rata-rata indeks gain
nilai sebesar 22,18 dengan standar deviasi 7,718 nilai minimum indeks
gain 4, nilai maksimum indeks gain 32 dan gain 0,61 dengan kategori
7
sedang. Sedangkan hasil gain berpikir kritis matematis untuk kelas
konvensional tercatat bahwa rata-rata indeks gain nilai sebesar 23,13
dengan standar deviasi 5,247 nilai minimum indeks gain 8, nilai
maksimum indeks gain 31 dan gain 0,65 dengan kategori sedang.
a. Uji Normalitas Kemampuan Berpikir kritis matematis
Menguji normalitas antara kelas Penemuan Terbimbing dan
kelas konvensional. Uji normalitas terhadap dua kelas tersebut
dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk dengan software IBM SPSS
statistics 21 dengan taraf signifikansi 0,05. Setelah dilakukan
pengolahan data, tampilan output dapat dilihat pada Tabel 4.10
Tabel 4.10
Uji Normalitas Data Gain Berpikir Kritis Matematis
Kelas
Penemuan Terbimbing
Konvensional
Statistic
0,926
0,950
Shapiro-Wilk
df
39
39
Sig.
0,014
0,080
Berdasarkan Tabel 4.10 di atas, gain berpikir kritis matematis di kelas
Penemuan Terbimbing 0,014 < 0,05 dan kelas konvensional 0,080 >
0,05. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa gain kemampuan
berpikir kritis matematis di kelas Penemuan Terbimbing dan kelas
konvensional tersebut tidak berdistribusi normal (Priyatno, 2010: 40).
Pengujian normalitas dapat dilihat dari Grafik Q-Q Plots di bawah ini:
8
Grafik 4.5
Grafik 4.6
Normalitas Q-Q Plots
Normalitas Q-Q Plots
Gain Kemampuan Berpikir Kritis
Gain Kemampuan Berpikir Kritis
Matematis kelas Penemuan
Matematis Kelas Konvensional
Terbimbing
Dari grafik dapat diartikan bahwa hasil gain siswa kelas
Penemuan Terbimbing dan kelas konvensional berada “Jika sampel
data berasal dari suatu populasi yang berdistribusi normal, maka titik
nilai data akan terletak kurang lebih dalam suatu garis lurus (Uyanto,
2009:41).” Dari grafik 4.5 dan 4.6 dapat disimpulkan bahwa data kelas
Penemuan Terbimbing dan kelas konvensional berasal dari data indeks
gain yang tidak berdistribusi normal. “jika kedua kelas atau salah satu
kelas tidak berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji nonparametrik (Russefendi, 2006: 271).” Uji non-parametrik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah uji Mann-Whitney. “Uji MannWhitney merupakan parametrik dari uji-t dua sampel independen
(Uyanto, 2009:321).”
b. Uji Kesamaan Dua Rerata Indeks Gain Kemampuan Berpikir
Kritis Matematis (Uji –t)
9
Untuk menguji hipotesis penelitian maka dilakukan uji dua
rata-rata yaitu uji kesamaan dua rerata indeks gain melalui uji non
parametrik program software IBM SPSS statistics 21 menggunakan uji
Mann-Whitney dengan taraf signifikasi 0,05. Hipotesis tersebut
dirumuskan dalam bentuk hipotesis parametrik (uji dua pihak) sebagai
berikut :

Ho:µ1 =
µ2 (Peningkatan rata-rata skor gain kelas Penemuan
Terbimbing tidak lebih baik dari pada kelas konvensional)

Ha:µ1 >
µ2 (Peningkatan rata-rata skor gain kelas Penemuan
Terbimbing lebih baik daripada kelas konvensional).
Karena skor gain berasal dari populasi yang berdistrusi tidak
normal maka dilakukan uji parametrik, yaitu uji Mann-Whitney
dengan taraf signifikan 5%. Untuk kriteria pengujiannya yaitu: Ho
ditolak jika nilai sig. (2-tailed) < 0,05 dan Ho diterima jika nilai sig.
(2-tailed) ≥ 0,05. Hasil Uji Mann-Whitney pada skor gain disajikan
pada tabel 4.11 berikut:
Tabel 4.11
Uji Mann-Whitney U Data Gain Kemampuan Berpikir
Kritis Matematis
Gain Berpikir Kritis Matematis
Mann-Whitney U
753,500
Wilcoxon W
1533,500
-0,70
Z
10
0,944
Asymp.Sig. (2-tailed)
Berdasarkan Tabel 4.11 Kemampuan Peningkatan Berpikir kritis
lebih besar dari 0,05 yang berarti Ha ditolak. Dengan kata lain
Peningkatan rata-rata skor gain kelas Penemuan Terbimbing tidak
lebih baik daripada kelas konvensional.
2. Analisis korelasi antara Berpikir kritis matematis dengan Kemandiirian
belajar
Untuk melihat ada tidaknya korelasi antara berpikir kritis
matematis dengan kemandirian belajar siswa digunakan Correlate Bivariate
dengan hasil pengujian sebagai berikut:
Tabel 4.13
Korelasi antara Berpikir Kritis Matematis dengan
Kemandirian Belajar Siswa Kelas Penemuan Terbimbing
Berpikir
Kritis
Matematis
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
Berpikir Kritis
Matematis
1
39
N
Kemandirian Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
Belajar
Siswa
N
0,29
0,860
39
Kemandirian
Belajar Siswa
0,29
0,860
39
1
39
Berdasarkan Tabel 4.13 korelasi antara berpikir kritis matematis
dengan kemandirian belajar siswa di kelas Penemuan Terbimbing dengan
11
nilai sigfikansi 0,860 > 0,05 maka Ho diterima, yang artinya tidak ada
korelasi antara berpikir kritis matematis dengan kemandirian belajar siswa
di kelas Penemuan Terbimbing
Tabel 4.14
Korelasi antara Berpikir Kritis Matematis dengan
Kemandirian Belajar Siswa
Kelas Konvensional
Berpikir Kritis
Matematis
Berpikir Kritis
Matematis
Kemandirian
Belajar Siswa
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Kemandirian
Belajar Siswa
1
0,061
39
0,061
0,711
39
1
0,711
39
39
Berdasarkan Tabel 4.14 korelasi antara berpikir kritis matematis
dengan kemandirian belajar siswa di kelas konvensional dengan nilai
sigfikansi 0,711 > 0,05 maka Ho diterima, yang artinya tidak ada korelasi
antara berpikir kritis matematis dengan kemandirian belajar siswa di kelas
Konvensional.
3. Analisis Data Kemandirian Belajar Siswa Kelas Penemuan Terbimbing
dan Kelas Konvensional
Hasil pengolahan data kemandirian belajar siswa dengan rentang
nilai dari 0 sampai dengan 100, dari masing-masing kelompok
dideskripsikan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 4.15
12
Deskrispsi Kemandirian Belajar Siswa
Kemandirian Belajar
Data Statistik
Kelas Penemuan
Kelas Konvensional
Terbimbing
Rata-Rata
49,23
48,80
Standar Deviasi
4,738
4,165
Nilai Minimum
41
37
Nilai Maksimum
60
58
Berdasarkan Tabel 4.15 hasil Kemandirian Belajar siswa siswa dari
dua kelompok memiliki rata-rata yang berbeda, tercatat bahwa untuk kelas
Penemuan Terbimbing rata-rata nilai sebesar 49,23 dengan standar deviasi
4,738 nilai minimum 41 dan nilai maksimum 60. Sedangkan hasil
Kemandirian Belajar siswa kelas konvensional rata-rata nilai sebesar 48,80
dengan standar deviasi 4,165 nilai minimum 37 dan nilai maksimum 58.
a. Uji normalitas kemandirian belajar siswa
Menguji normalitas data kemandirian belajar siswa di kelas
Penemuan Terbimbing dan kelas konvensional. Uji normalitas terhadap
dua kelas tersebut dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk dengan Software
IBM SPSS Statistics 21 dengan taraf signifikansi 0,05. Setelah
dilakukan pengolahan data, tampilan output dapat dilihat pada Tabel
4.16
Tabel 4.16
Uji Normalitas Data Kemandirian Siswa
Shapiro-Wilk
Kelas
Statistic
Df
Penemuan
0,966
39
Terbimbing
Konvensional
0,952
39
13
Sig.
0,278
0,093
Berasarkan Tabel 4.16 di atas, Kemandirian Belajar siswa di
kelas Penemuan Terbimbing adalah 0,966 > 0,05 dan kelas
konvensional 0,952 > 0,05. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa
Kemandirian Belajar siswa kelas Penemuan Terbimbing dan kelas
konvensional tersebut berdistribusi normal (Priyatno, 2010: 40).
Penguji normalitas dapat di lihat dari Grafik Q-Q Plots di bawah ini:
Grafik 4.7
Grafik 4.8
Normalitas Q-Q Plots
Normalitas Q-Q Plots
Kemandirian Siswa Kelas Penemuan
Kemandirian Siswa Kelas Konvensional
Terbimbing
Dari Grafik 4.7 dan Grafik 4.8 terlihat garis lurus dari kiri
bawah ke kanan atas. Tingkat penyebaran titik di suatu garis
menunjukan normal tidaknya suatu data. “Jika sampel data berasal dari
suatu populasi yang berdistribusi normal, maka titik-titik nilai data akan
terletak kurang lebih dalam suatu garis lurus (Uyanto, 2009:41).” Dari
grafik di atas terlihat bahwa data terletak di sekeliling garis lurus.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa data skor Kemandirian Belajar
14
siswa untuk siswa kelas Penemuan Terbimbing dan kelas konvensional
berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas Dua Varians
Menguji homogenitas dua varians antara kelas Penemuan
Terbimbing dan kelas konvensional dengan uji Levene’s pengolahan
data dengan menggunakan software IBM SPSS statistics 21 dengan
taraf signifikansi 0,05. Setelah dilakukan pengolahan data, tampilan
output dapat dilihat pada Tabel 4.17
Tabel 4.17
Homogenitas Dua Varians Kemandirian Belajar Siswa
Kelas Penemuan Terbimbing dan Kelas Konvensional
Levene Statistic
1,344
df1
1
df2
76
Sig.
0,250
Berdasarkan hasil Output uji Homogenitas Varians dengan menggunakan
uji Levene’s pada Tabel 4.17 nilai signifikansinya adalah 0,250. Karena
nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa
siswa kelas Guided Discovery (Penemuan Terbimbing) dan kelas
konvensional berasal dari populasi yang mempunyai varians yang sama
atau kedua kelas tersebut homogen.
c. Uji Anova.
Karena kedua kelas Penemuan Terbimbing dan Konvensional
Homogen maka dilanjutkan dengan uji Anova. Uji Anova ini
menggunakan uji software IBM SPSS statistics 21 dengan taraf
15
signifikansi 5%. Setelah dilakukan pengolahan data, tampilan output
dapat dilihat pada tabel 4.18
Tabel 4.18
UJI ANOVA
Kemandirian Belajar
Sum of Squares
Between Groups
df
Mean Square
16,615
1
16,615
Within Groups
1512,000
76
19,895
Total
1528,615
77
Berdasarkan
Tabel
4.18
dapat
F
Sig.
,835
diketahui
bahwa
,364
nilai
signifikansi 0,364 > 0,05 maka Ho diterima, sehingga dapat diambil
kesimpulan bahwa Kemandirian Belajar siswa kelas Penemuan
Terbimbing tidak lebih baik dari pada kelas konvensional.
B. Implementasi Pembahasan
Dalam bab ini, penulis menguraikan hasil penelitian pembelajaran
matematika dengan penerapan model pembelajaran Guided Discovery
(Penemuan Terbimbing) pada pokok bahasan Fungsi Eksponen dan Logaritma
di kelas X IPA4 SMA Negeri 1 Ciruas sebagai kelas eksperimen dan kelas X
IPA5 sebagai kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional.
Metode penelitian
yang digunakan adalah Penelitian Tindakan kelas
(Classroom Action Research) dilaksanakan dalam 7 (tujuh) pertemuan yang
dibagi dalam 3 (tiga) siklus. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 13 Oktober
2016 sampai tanggal 1 Desember 2016.
16
1. Deskripsi Awal (Gambaran Umum Awal Pelaksanaan Penelitian).
Kelas yang digunakan untuk penelitian adalah kelas X IPA4 SMAN
1 Ciruas, terdiri dari 39 orang siswa, 14 orang siswa laki-laki dan 25 orang
siswa perempuan sedangkan kelas X IPA5, terdiri dari 39 orang siswa, 11
orang siswa laki-laki dan 28 orang siswa perempuan . Kondisi siswa kelas X
IPA4 dan kelas X IPA5 tingkat kemampuan kognitifnya cenderung sama.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis, maka penulis
dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Model
pembelajaran
Penemuan
Terbimbing
dapat
meningkatkan
kemampuan berpikir kritis matematis siswa.
2. Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis yang mendapatkan
Pembelajaran Penemuan Terbimbing tidak lebih baik dari pembelajaran
konvensional.
3. Kemandirian Belajar siswa yang mendapatkan model pembelajaran
Penemuan Terbimbing lebih baik daripada siswa yang mendapatkan lebih
baik dari pada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.
4. Salah satu gambaran mengenai kemandirian belajar siswa pada materi
Fungsi Eksponen dan Logaritma yang memperoleh model pembelajaran
Penemuan Terbimbing adalah tingkat kepercayaan diri yang tinggi (Self
concept) dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran
konvensional.
17
5. Tidak ada korelasi antara kemandirian belajar siswa dengan kemampuan
berpikir kritis.
Saran-Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, maka
dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Untuk di Lapangan
1) Hasil penelitian menunjukan kemampuan berpikir kritis matemtis siswa
masih berada dalam klasifikasi sedang, bagi peneliti selanjutnya
direkomendasikan untuk meneliti lebih dalam lagi faktor-faktor yang
dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matemtis siswa dengan
pembelajaran
Penemuan
Terbimbing
dengan
bantuan
media
pembelajaran yang lebih menarik lainnya.
2) Untuk siswa, agar
dibiasakan dan dilatih
mengerjakan masalah
penerapan Fungsi Eksponen dn Logaritma.
3) Hasil
penelitian
menunjukan
model
pembelajaran
Penemuan
Terbimbing memberikan suasana kelas yang kondusif dan baik
terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis. Suasana belajar yang
menyenangkan yang menuntut siswa untuk aktif dalam mengkonstruksi
sendiri pemahamannya memudahkan siswa dalam memahami materi
yang disampaikan. Berdasarkan temuan dalam penelitian, siswa
menunjukan sikap yang positif terhadap penerapan model pembelajaran
Penemuan Terbimbing dalam pembelajaran matematika, Oleh karena
itu, model pembelajaran dapat dijadikan alternatif bagi guru dalam
18
melaksanakan pembelajaran untuk menciptakan suasana belajar yang
aktif, efektif, dan menyenangkan.
2. Untuk Peneliti Selanjutnya
1) Penelitian ini diusulkan dilakukan lebih jauh dengan memperhatikan
yang berikut ini :
a. menentukan materi yang tepat dengan model pembelajaran
b. Kompetensi guru dan perencanaan untuk melaksanakn pembelajaran
Penemuan Terbimbing harus dipersiapkan dengan baik.
c. Siklus pembelajaran diperbanyak.
d. Kegiatan peserta didik diamati lebih dalam dan dianalisis.
2) Bagi
peneliti
selanjutnya
diharapkan
model
pembelajaran
Penemuan Terbimbing diterapkan pada materi lainnya karena
mengingat pada kesempatan kali ini peneliti hanya memberikan
model pembelajaran Penemuan Terbimbing kepada siswa SMA
Negeri 1 Ciruas dengan materi Fungsi Eksponen dan Logaritma .
Selain itu disarankan untuk melakukan penelitian mengenai
penerapan model pembelajaran Penemuan Terbimbing ini terhadap
kompetensi matematika yang lain atau bahkan melakukan
penelitian mengenai penerapan model pembelajaran Penemuan
Terbimbing jika dipadankan dengan pembelajaran selain model
pembelajaran
kemampuan
Penemuan
Terbimbing,
karena
mengingat
berpikir kritis matematis penting bagi siswa, dan
untuk mengetahui kemampuan-kemampuan matematika yang
lainnya.
19
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, B Syaiful. (2006) Strategi Belajar Mengajar. Jakarta Rineka Cipta
Ennis, R. H.(1996). Critical Thinking. USA: Prentice Hall,Inc
Fahinu, (2007). Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kemandirian
Belajar Matematika pada siswa melalui pembelajaran Generatif.
Disertasi pada SPs UPI Bandung : Tidak diterbitkan
Halimah, Lilim. (2015). Peningkatan kemampuan berpikir kritis dan matematis
dan analisis kemandirian belajar siswa SMP dengan model
pembelajaran berbasis masalah, Bandung:UNPAS
Indrawan, R., & Yaniawati, R.P (2014). Metodologi Penelitian Kuantitaif,
Kualitatif, dan Campuran untuk Menejemen, Pembangunan dan
Penedidikan,. Bandung:Refika Aditama.
Mulyani, Has. (2015). Penggunaan Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Dan Pengaruhnya
terhadap Self Regulated Learning Siswa Sekolah Menengah Pertama
Bandung. UNPAS Bandung : tidak dipublikasikan
Ruseffendi, E.T. (1991). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan
Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan
CBSA. Bandung: Tarsito
Sanjaya,Wina. (2007). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Bandung: Kencana Prenada Media Group
20
Slavin, E Robert. (2009). Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta : Indeks
Sugianto, (2016). Meningkatkan komunikasi Matematis dan Berpikir Kritis serta
Dampaknya Terhadap Motivasi Berprestasi Siswa Dengan Menerapkan
Model pembelajaran Problem Based Learning Di Sekolah Menengah
Atas. Tesis UNPAS Bandung: Tidak Diterbitkan
Suherman, Erman. (1990) Petunjuk Praktis untuk Melaksanakan Evaluasi
Pendidikan Matematika. Bandung: Tarsito
Sulipan. (2008). Penelitian Tindakan Kelas Classroom Action Research. Online.
http://pdf-search-engine.com/penelitian-tindakan-kelas-pdf-html,
diakses 10 Maret 2010
Sumarmo, Utari. (1987) Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematika
Siswa SMA Dikaitkan dengan Kemampuan Penalaran Logik Siswa dan
Beberapa Unsur Proses Belajar Mengajar. Disertasi S3: UPI
Sumarmo,U. (2002). Pengukuran dan Evaluasi dalam Pendidikan. Makalah.
Bandung : PPS UPI
Sumarmo,U. (2004). Kemandirian Belajar: Apa, Mengapa dan Bagaimana
Dikembangkan Pada Peserta Didik. Makalah disajikan pada Seminar
Pendidikan Matematika di jurusan Matematika FMIPA UNY, tanggal 8
Juli 2004: tidak diterbitkan.
Suryosubroto, B. (2002). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka
Cipta
Walle, De Van. (2006). Elementry nd Middle School Mathematics. Sixt Edition.
Jakarta:Erlangga
21
22
Download