studi kelayakan pengembangan sistem perpustakaan digital

advertisement
PROPOSAL(6)
STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN
SISTEM PERPUSTAKAAN DIGITAL BERBASIS WEB
DI PERPUSTAKAAN SEKOLAH TINGGI PERIKANAN (STP)
JURUSAN PENYULUHAN PERIKANAN (JURLUHKAN) BOGOR
DADAN SYACHRULRAMDHANI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penggunaan teknologi komputer, informasi dan komunikasi yang lebih
dikenal dengan sebutan teknologi informasi (TI) sudah berlangsung lama dan
berkembang sangat pesat di berbagai bidang pada umumnya dan khususnya di
bidang perpustakaan. Penggunaan komputer di perpustakaan ini menjadi awal
dari
perkembangan
perpustakaan
digital.
Keinginan
manusia
untuk
mengembangkan perpustakaan digital ini dimulai oleh Vannevar Bush pada
tahun 1945 sudah menulis artikel berjudul As We May Think tentang memex
machine yaitu mesin yang memberikan stimulasi awal bagi aplikasi komputer
untuk temu kembali informasi (information retrieval) (Harter, 1996). Upaya
Vannever Bush ini kemudian ditindaklanjuti oleh Douglas Engelbart tahun 1968
yang mengembangkan hypertext dan mouse, kemudian Ted Nelson tahun 1974
melanjutkan tentang hypertext dan Xanadu Project tentang jaringan raksasa serta
Tim Berners-Lee tahun 1989 tentang jaringan global world wide web.
Sebelumnya J.C.R. Licklider pada tahun 1960-an sudah mempelajari bagaimana
teknologi komputer akan mengubah perpustakaan dengan menulis buku berjudul
Libraries of the Future pada tahun 1965 dan Kenneth Dowlin tahun 1984
menulis buku berjudul The Elekctronic Library yang menggambarkan ciri
perpustakaan elektronik (Pendit, 2007).
Di Indonesia TI baru mulai berkembang sekitar tahun 1990-an. Sudarsono
(1994) yang dikutip oleh Sastraatmadja (2003) menyatakan bahwa TI akan
sangat berperan dan akan menjadi tulang punggung karya dokumentasi maupun
jasa informasi, sehingga antisipasi perkembangan TI harus menjadi perhatian
para pengelola perpustakaan dan informasi. Pernyataan Sudarsono tersebut
mengacu pada hasil kongres ke-44 International Federation of Information and
Documentation (FID) di Helsinki pada tahun 1988, bahwa pemakaian TI pada
tahun 2010 akan memiliki kemampuan hypertext dan hypermedia. Dengan
perangkat itu pencarian, penanganan dan penggabungan informasi berupa teks,
suara dan gambar sudah dimungkinkan.
Saat ini ternyata TI sudah sangat mempengaruhi penyelenggaraan
perpustakaan. Menurut Supriadi (2009) perkembangan bidang TI sangat pesat,
yang ditandai dengan perkembangan perangkat dan sistem komputer, intranet
dan internet. Perkembangan tersebut memungkinkan aliran data dan informasi
dapat diperoleh secara lebih cepat dan mampu menampilkan lebih banyak
keragaman koleksi serta dengan tampilan yang menarik. Selanjutnya menurut
Ruldeviyani dan Sucahyo (2007) kehadiran personal computer (PC), internet dan
Word Wide Web (WWW) memungkinkan terciptanya perpustakaan digital.
Sejalan dengan perkembangan TI yang sangat pesat yang memungkinkan
aliran data dan informasi diperoleh secara lebih cepat, semakin beragam dan
menarik serta dalam format digital tersebut, berdampak nyata pada perubahan
sikap dan perilaku masyarakat pengguna informasi dalam pencarian informasi.
Hal ini merupakan tuntutan kebutuhan dan kepuasaan pengguna informasi dalam
pencarian informasi dan
ini terlihat dari intensitas pengguna informasi
melakukan penelusuran lewat komputer, baik melalui jalur online maupun
offline, sehingga pemanfaatan informasi dari sumber-sumber manual seperti
katalog tercetak, bibliografi, indeks, buku-buku cenderung semakin menurun
(Maksum dan Darmawiredja, 2007).
Sebelumnya Sweetland (2002) dalam
Harmawan (2008) sudah menyatakan bahwa mayoritas pengguna perpustakaan
lebih senang menggunakan ”electronic format” dari pada teks secara
konvensional (printed materials), khususnya untuk koleksi jurnal.
Pesatnya kemajuan TI dan tuntutan kebutuhan informasi serta kepuasan
penggunanya harus mampu diiringi dengan pesatnya kemajuan perpustakaan
sebagai salah satu penyedia dan penyimpan informasi. Kedudukan perpustakaan
menjadi sangat strategis dalam kecepatan dan ketepatan perpustakaan merespon
kecepatan perkembangan dan globalisasi informasi dan pengetahuan. Hal ini
sejalan dengan pemikiran Rufaidah (2007) sebagaimana pernyataannya bahwa
perpustakaan sebagai sebagai salah satu penyedia dan penyimpan informasi dan
pengetahuan (information provider and knowledge repository) harus dapat
mengimbangi bahkan mengantinsipasinya. Selain itu Rufaidah berpendapat, bila
sebelumnya fungsi perpustakaan lebih berfokus pada penyediaan informasi
dalam bentuk fisik, seperti dokumen tercetak, maka pada era teknologi informasi
perpustakaan dituntut untuk mampu menyediakan sumber-sumber informasi
dalam bentuk terekam yang dioperasikan secara elektronis. Sastratmaja (2003)
bahkan menyimpulkan bahwa pengadaan sarana digital library mutlak
diperlukan dalam upaya peningkatan daya saing pelayanan jasa informasi pada
perpustakaan, sehingga cakupan layanan perpustakaan dan informasi lebih luas
lagi jangkauannya.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan TI, tuntutan
masyarakat penggunanya dan dalam upaya peningkatan daya saing pelayanan
jasa informasi maka Perpustakaan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jurusan
Penyuluhan Perikanan (Jurluhkan) Bogor perlu menjawab tantangan tersebut
sebagai bentuk pertanggungjawaban lembaga dalam mendukung visi, misi
lembaga induknya. Hal ini senada dengan pernyataan Seminar (2004) dalam
Sutarsyah (2008) bahwa perpustakaan perlu menjawab tantangan global yang
bertumpu pada keunggulan manajemen dan layanan modern untuk mendukung
visi, misi dan program pembangunan.
STP Jurluhkan merupakan perguruan tinggi kedinasan yang bertujuan
menyiapkan manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai
rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan, professional, berkualitas
dan memenuhi kebutuhan tenaga ahli di bidang perikanan yang berwawasan
bisnis, dengan penguasaan teknis dan manajerial yang mampu secara mandiri
mengelola dan mengembangkan usaha perikanan secara berkelanjutan.
Perpustakaan STP Jurluhkan Bogor berdiri bersamaan dengan kelahiran
lembaga induknya yaitu pada tahun 1958. Saat ini berada dibawah lingkup
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia. Perpustakaan
tersebut
bertugas
memberikan
pelayanan
terbaik
dalam
penyediaan,
penyimpanan dan pelayanan informasi serta sebagai mitra dosen dan taruna
(mahasiswa), berkepentingan untuk dapat memberdayakan sumber pengetahuan
yang dimiliki (knowledge resources) dengan menggali potensi yang dimiliki
lembaganya.
Koleksi dokumen yang dimilikinya meliputi berbagai bidang ilmu,
diantaranya yaitu: ilmu umum, ilmu filsafat, ilmu agama, ilmu pengetahuan
sosial, ilmu pengetahuan murni, ilmu pengetahuan terapan, bahasa dan sastra,
olah raga dan kesenian, geografi dan sejarah serta dokumen-dokumen andalan
yang dimiliki Perpustakaan STP Jurluhkan Bogor yaitu Karya Ilmiah Praktek
Akhir (KIPA) yang merupakan karya akhir mahasiswa untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains Terapan Penyuluhan Perikanan (SSt.Pi). Selain itu perpustakaan
juga memiliki koleksi buku dan jurnal
perikanan lainnya
perikanan serta publikasi ilmiah
yang diterbitkan oleh instansi-instansi lingkup KKP RI.
Terbitan ini dapat dikatagorikan sebagai terbitan muatan lokal (local content).
Untuk mengimbangi dan mengantisipasi pesatnya perkembangan
informasi berbasis TI,
sistem
perubahan sikap dan perilaku masyarakat pengguna
informasi dalam pencarian informasi, perlunya meningkatkan daya saing
pelayanan jasa informasi pada perpustakaan serta dalam rangka memberdayakan
sumber daya pengetahuan yang dimiliki, perlu dilakukan studi kelayakan
pengembangan sistem perpustakaan digital berbasis web agar pengembangannya
dapat dilaksanakan secara optimal.
1.2 Perumusan Masalah
Tahap
pertama dalam
investigasi sistem.
proses pengembangan sistem
adalah tahap
Tahap investigasi sistem dalam pengembangan sistem
perpustakaan digital berbasis web membutuhkan kajian awal yang disebut studi
kelayakan (feasibility study), yaitu kegiatan awal yang akan mengkaji kelayakan
berbagai kondisi permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan sistem
perpustakaan digital berbasis web tersebut. Diantara permasalahan yang
mendasari pengembangan sistem perpustakaan digital berbasis web adalah
perlunya dukungan dari beberapa elemen dasar perpustakaan digital dengan
kondisi yang ideal.
Dari uraian di atas, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini
adalah menilai kondisi elemen dasar perpustakaan digital yang dimiliki oleh
Perpustakaan STP Jurluhkan dan membandingkannya dengan kondisi elemen
dasar ideal perpustakaan digital berbasis web yang berpedoman kepada elemen
dasar (basic elements) grand design perpustakaan digital PUSTAKA Penelitian
dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian (2006).
Dengan mengetahui kondisi yang dimiliki tersebut dan membandingkannya
dengan kondisi ideal, maka diharapkan dapat memberi gambaran seberapa besar
tingkat kelayakan Perpustakaan STP Jurluhkan dalam membangun perpustakaan
digital basis web. Dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan
rekomendasi bagi Perpustakaan STP Jurluhkan yang dapat dijadikan dasar dalam
mengembangkan sistem perpustakaan digital berbasis web.
1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan:
a.
Menilai kondisi elemen dasar perpustakan digital yang dimiliki oleh
Perpustakaan STP Jurluhkan Bogor dan membandingkannya dengan kondisi
elemen dasar perpustakaan digital yang ideal.
b.
Mengetahui seberapa besar tingkat kelayakan elemen dasar yang dimiliki
perpustakaan STP Jurluhkan Bogor.
c.
Mendefinisikan kebutuhan elemen dasar pengembangan sistem perpustakaan
digital minimal yang harus dimiliki oleh Perpustakaan STP Jurluhkan Bogor
dalam rangka pengembangan perpustakaan digital.
d.
Memformulasikan saran dan rekomendasi yang dapat disampaikan kepada
Perpustakaan STP Jurluhkan Bogor dalam rangka pengembangan sistem
perpustakaan digital di perpustakaan tersebut.
1.4 Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi mengenai kelayakan
elemen dasar yang harus dimiliki oleh Perpustakaan STP Jurluhkan Bogor dalam
rangka pengembangan sistem perpustakaan digital berbasis web di Perpustakaan
tersebut.
1.5 Ruang Lingkup
a.
Mengkaji kondisi elemen dasar sistem perpustakan digital yang dimiliki oleh
Perpustakaan STP Jurluhkan Bogor dan membandingkannya dengan kondisi
ideal perpustakaan digital.
b.
Menganalisis seberapa besar tingkat kelayakan elemen dasar yang dimiliki
perpustakaan STP Jurluhkan Bogor.
c.
Mendefinisikan kebutuhan elemen dasar pengembangan perpustakaan digital
minimal yang harus dimiliki oleh Perpustakaan STP Jurluhkan Bogor dalam
rangka pengembangan perpustakaan digital.
d.
Memformulasikan saran dan rekomendasi yang dapat disampaikan kepada
Perpustakaan
STP
Jurluhkan
Bogor
dalam
rangka
perpustakaan digital berbasis web di perpustakaan tersebut.
pengembangan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perkembangan Perpustakaan
Salah satu strategi untuk pengembangan perpustakaan adalah melalui
pengembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (ICT
base), hal ini sesuai dengan perkembangan dunia perpustakaan bahwa
perkembangan mutakhir adalah perpustakaan digital.
Wahono (2006)
berpendapat bahwa perkembangan dunia perpustakaan dimulai dari perpustakaan
tradisional yang hanya terdiri dari kumpulan koleksi buku tanpa katalog,
kemudian perpustakaan semi modern yang menggunakan katalog. Perkembangan
mutakhir adalah perpustakaan digital (digital library) yang memiliki keunggulan
dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media
jaringan komputer (internet). Sementara itu Pendit (2007) berpendapat mengenai
perkembangan perpustakaan berdasarkan keragaman sumberdaya informasinya
sebagaimana tabel berikut:
Tabel 1 : Perkembangan Perpustakaan Menurut Keragaman Sumberdaya Informasi
Perpustakaan
Perpustakaan
Multiple Media
Perpustakaan
Hybrida
Koleksinya sematamata bahan tercetak,
berupa buku, jurnal,
surat kabar, peta dan
sebagainya.
Koleksinya sama
dengan perpustakaan
biasa, ditambah
media analog dan
elektronik.
Koleksinya sama
dengan perpustakaan
multiple media,
ditambah bahan digital
yang interaktif
Teknologi cetak
Analog
Biasa
Elektronik Analog
Digital
Perpustakaan
Multimedia
Digital
Koleksinya semua
digital, bersifat
interaktif, dan dapat
merupakan
perpustakaantampa
lokasi fisik (virtual)
Multimedia Digital
Sedangkan istilah perpustakaan digital itu sendiri pertama kali digunakan
pada September 1995 sebagaimana diuraikan dalam sejarah perpustakaan digital,
sebagai berikut:
a. Sebelum tahun 1960: dikenal sebagai perpustakaan tradisional.
b. Pertengahan tahun 1960-1988 : perkembangan teknologi informasi dan
jaringan yang dapat mengolah dokumen menjadi lebih mudah dan efisien
dengan menggunakan perangkat lunak pengolah kata. Perpustakaan masih
berkembang semi modern dengan menggunakan katalog indeks.
c. Tahun 1990 : berkembang teknologi internet yang mampu mengakses
informasi dengan cepat. Katalog mengalami metamorfosis menjadi katalog
elektronik yang lebih mudah dan lebih cepat dalam pencarian kembali
koleksi yang disimpan di perpustakaan.
d. Tahun 1991 : Proyek TULIP (The University Licensing Project), kerjasama
beberapa universitas di Amerika dengan perusahaan Elsevier Science,
meneliti tentang sistem pengumpulan dan penyimpanan data serta teknik
pengaksesan perpustakaan digital.
e. September 1995 : Proyek NSF/ARPA/NASA merupakan lanjutan penelitian
Proyek TULIP. Istilah perpustakaan digital digunakan untuk pertama kali
dalam bidang pendigitalan dokumen dan pembangunan
sistem
untuk
dokumen digital.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Perpustakaan_digital#Arsitektur_Perpustakaan
Digital)
2.2 Pengertian Perpustakaan Digital
Ada beberapa pengertian yang perlu diketahui dalam pemahaman konsep
perpustakaan digital
antara lain:
sistem perpustakaan digital,
definisi
perpustakaan digital, tujuan perpustakaan digital dan kelebihan perpustakaan
digital adalah sebagai berikut:
a.
Sistem Perpustakaan Digital
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), sistem adalah
perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk
suatu totalitas, susunan yang teratur dari pandangan, teori, asas, metode, dan
sebagainya. Sedangkan pengertian sistem menurut Wikipedia Indonesia
adalah berasal dari bahasa Latin (systema) dan bahasa Yunani (sustema)
adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang
dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi,
materi atau
energi.
Pengertian lainnya sistem adalah jaringan kerja dari prosedur-prosedur
yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu
kegiatan atau menyelasikan suatu sasaran tertentu. Esensinya sistem terdiri
dari
komponen-komponen dalam sistem dan fungsi-fungsi teknologi di
dalamnya. Komponen-komponen tersebut mencakup: perangkat keras,
perangkat lunak, prosedur-prosedur, perangkat manusia dan
sedangkan
informasi,
fungsi-fungsi teknologi di dalamnya adalah: input, process,
output, storage, communication.
Adapun Subrata (2009) menyatakan sistem perpustakaan digital adalah
penerapan
teknologi
informasi
sebagai
sarana
untuk
menyimpan,
mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam
format digital, atau secara sederhana dapat dianalogikan sebagai tempat
menyimpan koleksi perpustakaan yang sudah dalam bentuk digital.
b.
Definisi Perpustakaan Digital
Ada banyak definisi perpustakaan digital berdasarkan pendapat para
ahli, organisasi maupun lembaga, berikut beberapa definisi yang dirumuskan
oleh para ahli, organisasi maupun lembaga tersebut:
Surachman (2008) berpendapat bahwa: “Perpustakaan digital adalah
organisasi yang melakukan kegiatan memilih, mengumpulkan, mengolah,
dan menyimpan koleksi digital dengan tujuan untuk melestarikan, menjaga,
dan terutama mendistribusikan kepada pengguna sehingga pengguna secara
mudah, tepat dan luas dapat mengakses ke dalam data dan sumber informasi
digital tersebut sehingga mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan. Selain
itu organisasi juga membuat dan merancang jaringan dan kerjasama dengan
memanfaatkan infrastruktur yang mendukung sehingga terjadi proses
knowledge-sharing
yang
lebih
baik,
cepat,
tepat,
dan
luas”
http://arifs.blog.ugm.ac.id/2008/08/05/beberapa-definisi-perpustakaan-digital
Santoso (2003) dalam Sutarsyah (2008) berpendapat perpustakaan
digital adalah perpustakaan yang memiliki sejumlah sumber informasi dalam
format digital yang dapat diakses melalui jaringan. Dengan kata lain bahwa
sebuah perpustakaan menjadi perpustakaan digital
ketika mayoritas
sumberdayanya ada dalam bentuk elektronik. Berdasarkan konsep teknologi
informasi, maka konsep perpustakaan digital mengarah ke kumpulan jasa
(collection of services) yang bersifat digital.
Menurut Wahono (1998) perpustakan digital adalah suatu perpustakaan
yang menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk
elektronik
dan
mendistribusikannya
dengan
menggunakan
protokol
elektronik melalui jaringan komputer. Istillah perpustakaan digital atau
digital library sendiri mengandung pengertian sama dengan electronic
library dan virtual library.
Sedangkan Witten (2003) berpendapat bahwa perpustakaan digital
,
adalah suatu kumpulan informasi yang terorganisir, koleksi yang berfokus
pada objek digital, termasuk teks, video, dan audio, bersama dengan metode
untuk akses dan temu kembali informasi, dan metode untuk seleksi,
organisasi, dan pemeliharaan koleksi.
Digital Library Federation (DLF) di Amerika Serikat menyatakan
bahwa perpustakaan digital merupakan suatu organisasi yang menyediakan
sumber-sumber informasi, termasuk staf-staf ahli, untuk memilih, menyusun,
menawarkan
akses
intelektual,
menterjemahkan,
mendistribusikan,
memelihara integritas koleksi-koleksi dari pekerjaan-pekerjaan digital
sehingga
mereka
tersedia
secara
cepat
dan
ekonomis
untuk
digunakan/dimanfaatkan oleh komunitas tertentu atau kumpulan komunitas.
http://www.diglib.org/about/dldefinition.htm.
International Conference of Digital Library 2004, menyatakan bahwa
konsep Perpustakaan digital adalah sebagai perpustakaan elektronik yang
informasinya didapat, disimpan, dan diperoleh kembali melalui format
digital. Perpustakaan digital merupakan kelompok workstations yang saling
berkaitan dan terhubung dengan jaringan (networks) berkecepatan tinggi.
Pustakawan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mendapat,
menyimpan, memformat, menelusur atau mendapatkan kembali, dan
mereproduksi informasi nonteks. Sistem informasi modern kini dapat
menyajikan informasi secara elektronik dan memanipulasi secara otomatis
dalam kecepatan tinggi.
http:// www. lib.itb. ac.id/~mahmudin/makalah/materi-depag07/pelatihan
unpad/ Digita l%20library.doc
The Association of Research Libraries (ARL) ( 1995), mendefinisikan
perpustakaan digital sebagai berikut:
a) Perpustakaan digital bukanlah kesatuan tunggal.
b) Perpustakaan
digital
memerlukan
teknologi
untuk
dapat
menghubungkan ke berbagai sumberdaya.
c) Hubungan antara berbagai perpustakaan digital dan layanan informasi
bagi pemakai bersifat transparan.
d) Akses universal terhadap perpustakaan digital dan layanan informasi
merupakan suatu tujuan.
e) Koleksi-koleksi perpustakaan digital tidak terbatas pada wakil dokumen;
koleksi meluas sampai artefak digital yang tidak dapat diwakili atau
didistribusikan dalam format tercetak.
Dari definisi-definisi di atas perpustakaan digital dapat dipahami dari
berbagai perspektif, yaitu:
a) Perspektif koleksi adalah perpustakaan yang lebih menekankan adanya
koleksi digital yang dapat diakses selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam
seminggu di dalam perpustakaan maupun jarak jauh tampa harus datang
ke perpustakan secara fisik.
b) Perspektif komunikasi adalah media atau pesan atau informasi yang
dihimpun dan dikelola untuk kepentingan pengguna.
c) Perspektif lembaga adalah organisasi atau lingkungan yang mengelola
koleksi informasi berupa tulisan, gambar, dan suara dalam bentuk
elektronik dan memberikan pelayanan kepada pengguna melalui
jaringan internet.
d) Perspektif jaringan bahwa perpustakaan digital merupakan perpustakaan
jaringan, bukan sebuah perpustakaan yang memiliki situs web dan
berdiri sendiri, tetapi adalah jaringan perpustakan yang dilayankan
secara online dan dapat diakses selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam
seminggu.
c.
Tujuan Perpustakaan Digital
Tujuan
utama
pengembangan
perpustakaan
digital
PUSTAKA
Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2003), pembangunan sistem
perpustakaan digital bertujuan untuk:
a) Mempermudah dan mempercepat proses temu balik informasi.
b) Mempermudah
proses
pertukaran
dan
pengiriman
informasi
(information exchange) antar instansi yang membutuhkan informasi
tersebut.
c) Dapat mengakses jurnal elektronis (ProQuest, Science Direct, dll).
d) Terkelolanya sistem informasi perpustakaan terutama data hasil
penelitian melalui pemanfaatan database offline.
e) Meningkatnya infomation sharing dengan lembaga dunia (FAO, FFTC,
AGLINET, dsb).
f)
Terkelolanya informasi di Pustaka Data Center.
g) Terbangunnya database INDONESIANA dan information sharing
lingkup litbang.
Adapun menurut Perpustakaan Nasional (2010), tujuan pembangunan
Perpustakaan Digital Nasional adalah:
a) Meningkatkan akses ke sumberdaya informasi tersedia dan layanan
perpustakaan yang diselenggarakan oleh seluru perpustakaan yang
tergabung dalam jaringan (resource sharing).
b) Mempromosikan pemahaman dan kesadaran antar budaya dalam
lingkup nasional, menyediakan sumber belajar, mendorong ketersediaan
bahan pustaka dan informasi yang mengandung nilai budaya setempat
(local content)
c) Melestarikan sumber informasi tentang Indonesia;
d) Mendukung penelitian ilmiah melalui pemanfaatan akses Internet.
http://arsipweb.pnri.go.id/about.jsp
Sedangkan tujuan perpustakaan digital menurut Association of Research
Libraries (ARL), (1995), adalah sebagai berikut:
a) Untuk melancarkan pengembangan yang sistematis tentang: cara
mengumpulkan, menyimpan, dan mengorganisasi informasi dan
pengetahuan dalam format digital.
b) Untuk mengembangkan pengiriman informasi yang hemat dan efisien di
semua sektor.
c) Untuk mendorong upaya kerjasama yang sangat mempengaruhi
investasi pada sumber-sumber penelitian dan jaringan komunikasi.
d) Untuk memperkuat komunikasi dan kerjasama dalam penelitian,
perdagangan, pemerintah, dan lingkungan pendidikan.
e) Untuk mengadakan peran kepemimpinan internasional pada generasi
berikutnya dan penyebaran pengetahuan ke dalam wilayah strategis
yang penting.
f)
d.
Untuk memperbesar kesempatan belajar sepanjang hayat.
Kelebihan Perpustakaan Digital
Perpustakaan digital mempunyai banyak kelebihan dibandingkan
dengan perpustakan konvensional sebagaimana diuaraikan Subrata(2009)
keunggulan perpustakaan digital diantaranya adalah sebagai berikut: long
distance service, artinya dengan perpustakaan digital, pengguna bisa
menikmati layanan sepuasnya, kapanpun dan dimanapun. Kedua, akses yang
mudah karena pengguna tidak perlu mencari di katalog dengan waktu yang
lama. Ketiga, murah (cost efective), mendigitalkan koleksi perpustakaan
lebih murah dibandingkan membeli buku. Keempat, mencegah plagiat dan
duplikasi. Perpustakaan digital lebih aman dengan penyimpanan koleksi
perpustakaan dalam format PDF. Kelima, publikasi karya secara global.
Dengan adanya perpustakaan digital, karya-karya dapat dipublikasikan
secara global ke seluruh dunia dengan bantuan internet.
Menurut Saleh (2010), kelebihan perpustakaan digital dibandingkan
dengan perpustakaan konvensional antara lain: menghemat ruangan, akses
ganda (multiple acces), tidak dibatasi ruang dan waktu, koleksi dapat
berbentuk multimedia dan biaya murah.
2.3 Pengembangan Perpustakaan Digital
Pengembangan perpustakaan digital secara sederhana identik dengan proses
digitalisasi, yaitu proses pengalihan sumber-sumber informasi dalam bentuk
analog ke dalam bentuk digital. Beberapa pedoman yang harus dipahami dalam
pengembangan perpustakaan
diantaranya dasar pengembangan perpustakaan
digital, komponen utama pengembangan perpustakaan digital, metode utama
pengembangan
perpustakaan
perpustakaan digital.
digital
dan
elemen-elemen
pengembangan
a.
Dasar Pengembangan Perpustakaan Digital
Disamping
didasari oleh pesatnya perkembangan sistem informasi
berbasis TI, sikap dan perilaku masyarakat pengguna informasi dan dalam
upaya peningkatan daya saing pelayanan jasa informasi pada perpustakaan
serta dalam rangka pemberdayaan sumber daya pengetahuan yang dimiliki,
ada beberapa motif lainnya yang mendasari pengembangan perpustakaan
digital yaitu:
a) Pada perpustakaan konvensional, akses terhadap dokumen terbatas pada
kedekatan fisik. Pengguna harus datang untuk mendapat dokumen yang
diinginkan, atau melalui jasa pos. Untuk mengatasi keterbatasan ini
perpustakaan digital diharap mampu untuk menyediakan akses cepat
terhadap katalog dan bibliografi serta isi buku, jurnal, dan koleksi
perpustakan lainnya secara lengkap.
b) Melalui komponen manajemen database, penyimpanan teks, sistem
telusur, dan tampilan dokumen elektronik, sistem perpustakaan digital
diharap mampu mencari database koleksi yang mengandung karakter
tertentu, baik sebagai kata maupun sebagai bagian kata. Di perpustakaan
konvensional penelusuran seperti ini tidak mungkin dilakukan.
c) Untuk menyederhanakan perawatan dan kontrol harian atas koleksi
perpustakaan.
d) Untuk mengurangi bahkan menghilangkan tugas-tugas staf tertentu,
misalnya menaruh terbitan baru di rak, mengembalikan buku yang
selesai dipinjam ke rak, dan lain-lain.
e) Untuk mengurangi penggunaan ruangan yang semakin terbatas dan
mahal.
http://www.lib.itb.ac.id/~mahmudin/makalah/materidepag07/pelatihanunpad/Digital%20library.doc
b. Komponen Utama Pengembangan Perpustakaan digital
NISO (National Information Standards Organization) dalam karyanya
berjudul: A Framework of Guidance for Building Good Digital Collections
menguraikan
komponen-komponen
utama
yang
diperlukan
dalam
pengembangan perpustakaan digital. Ada empat jenis kriteria/aspek yang
harus menjadi perhatian, yaitu:
a) Koleksi (kelompok obyek terorganisasi), dengan prinsip-prinsip
pengembangannya sebagai berikut:
(a)
Diwujudkan berdasarkan pada kebijakan koleksi yang jelas.
(b)
Koleksi sebaiknya dideskripsikan.
(c)
Dipelihara sepanjang waktu.
(d)
Tersedia secara luas.
(e)
Menghormati hak atas kekayaan intelektual.
(f)
Memiliki mekanisme.
(g)
Koleksi interoperable.
(h)
Terintregasi dengan alur kerja yang ada dalam institusi.
(i)
Berkelanjutan sepanjang waktu.
b) Obyek (bahan digital) prinsip-prinsip yang dapat dipedomani:
(a)
Eksis dalam format yang mendukung penggunaan yang
diinginkan.
(b)
Bisa dipelihara dimana obyek tidak akan menimbulkan rintangan
dan dapat diakses setiap saat.
(c)
Bermakna dan berguna di
luar konteks
lokal, mudah
dipindahkan, bisa di gunakan kembali, dan dapat dipertukarkan.
(d)
Ditandai dengan identifier yang tetap dan bersifat unik
(e)
Dapat diautentifikasi
(f)
Memiliki metadata berkaitan.
c) Metadata (informasi tentang obyek dan koleksi, Prinsip-prinsip yang
dapat digunakan:
(a)
Metadata sesuai dengan standar komunitas.
(b)
Mendukung interoperability.
(c)
Menggunakan authority control dan standar konten
(d)
Mencakup tentang pernyataan tentang syarat- syarat penggunaan
obyek digital.
(e)
Mendukung pemeliharaan dan preservasi jangka panjang
terhadap obyek dalam koleksi.
d) Prakarsa atau inisiatif (program atau proyek untuk menciptakan dan
mengelola koleksi), prinsip-prinsip yang dapat diterapkan:
(a)
Memiliki desain dasar dan komponen perencanaan yang
(b)
Memiliki staf yang sesuai dengan keahlian yang diperlukan
untuk mencapai sasaran. Adakalanya beberapa peran bisa
dilakukan
oleh
orang
yang
sama,
dan
peran
lainnya
membutuhkan lebih dari satu orang.
(c)
Mengikuti best practices untuk manajemen proyek.
(d)
Memiliki komponen evaluasi untuk melakukan asesmen.
(e)
Memasarkan dan menyebarluaskan informasi tentang proses dan
hasil proyek kepada pemangku kepentingan.
c.
Metode Utama Pengembangan Perpustakaan digital
Cleveland (1998) dalam Occasional Paper 8 berjudul Digital
Libraries: Definitions, Issues and Challenges yang diterbitkan IFLA
(International Federation of Library of Associations and Institutions)
menyatakan bahwa membangun koleksi digital dapat dilakukan dengan tiga
metoda utama yakni:
a.
Digitization, merupakan proses konversi koleksi
berbentuk cetak,
analog atau media lain seperti buku, artikel jurnal, foto, lukisan, bentuk
mikro ke dalam bentuk elektronik atau digital.
b.
Acquisition of original digital works, maksudnya adalah mengadakan
baik melalui metode membeli atau berlangganan karya digital asli dari
penerbit atau peneliti dalam bentuk misalnya jurnal elektronik (ejournal), buku elektronik (e-book) dan data base online seperti Ebsco,
Proquest, Science Direct, dll.
c.
Acces to external materials, maksudnya adalah perpustakaan harus
mempunyai semacam jaringan ke sumber lain yang tidak tersedia
secara local yang disediakan melalui website, koleksi perpustakaan
lain atau server-server milik penerbit-pennerbit.
Lebih jauh Cleveland (1998) menyatakan beberapa hal yang dapat
menjadi pertimbangan bagi perpustakaan untuk melakukan digitasi
koleksinya adalah:
a) Kekuatan koleksi
Kekuatan koleksi sebuah perpustakaan menjadi pertimbangan bagi
perpustakaan itu sendiri untuk melakukan ekspansi ke dalam format
digital.
b) Keunikan koleksi
Apabila perpustakaan hanya mempunyai satu salinan koleksi atau
koleksi langka, maka perlu dipikirkan untuk melakukan digitasi
terhadap koleksi tersebut. Biasanya koleksi-koleksi yang bernilai
sejarah, kuno, langka dan tidak dapat ditemukan di tempat lain menjadi
pertimbangan bagi perpustakaan untuk melakukan digitasi.
c) Prioritas bagi komunitas penggguna
Kebutuhan
komunitas
juga
menjadi
prioritas
tersendiri
bagi
perpustakaan untuk melakukan digitasi koleksinya. Misal adanya
kebutuhan kurikulum dari universitas yang mewajibkan adanya
sumber-sumber informasi digital yang diakses oleh mahasiswa melalui
perpustakan.
d) Kemampuan staff
Perpustakaan juga harus dapat mempertimbangkan bagaimana
kemampuan staff dalam melakukan manajemen koleksi digital, mulai
dari penguasaan terhadap teknologi informasi, bagaimana teknis dan
prosedur digitasi, hingga bagaimana melakukan pengelolaan dan
perawatan koleksi digital hasil digitasi. Hal ini perlu sebagai jaminan
kesinambungan pengelolaan dan perancangan koleksi digital di
perpustakaan tersebut.
d. Elemen Utama Perpustakaan Digital
Dalam Executive Summary Grand Design Perpustakaan Digital Pusat
Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) Badan
Litbang Pertanian Departemen Pertanian (2006)
proses pelaksanaan
pengembangan perpustakaan digital mencakup beberapa elemen utama
yang membentuk perpustakaan digital
yang harus menjadi perhatian.
Elemen-elemen tersebut sangat menentukan keberhasilan pengembangan
perpustakan digital. Elemen tersebut terdiri atas a) elemen dasar, b) sarana
media, c) fungsi/jenis layanan dan d) sistem pendukung. Hubungan antar
elemen pembentuk perpustakaan digital dapat dilihat
Penelitian
akan
dibatasi
pada
elemen
dasar
pada gambar 1.
(basic
elements)
pengembangan perpustakaan digital.
2.4 Elemen Dasar (basic elements) Perpustakaan digital
Sebagai salah satu elemen utama perpustakaan digital, elemen dasar berarti
bagian dasar, sebagaimana di dalam kamus besar bahasa Indonesia (1988)
disebutkan bahwa elemen dasar mengandung pengertian bagian yang penting
atau yang dibutuhkan dari keseluruhan yang lebih besar.
Elemen dasar perpustakaan digital berarti bagian terpenting yang paling
dibutuhkan dalam pengembangan perpustakaan digital. Menurut perpustakaan
model yang dikembangkan oleh PUSTAKA elemen dasar digital terdiri atas:
a.
SDM
b.
Koleksi
c.
Infrastruktur
d.
SOP
e.
Manajemen
f.
Anggaran
Gambar 1. Diagram model perpustkaan digital (Sumber: Execitve Summary Grand Design
Perpustakaan Digital PUSTAKA Litbang Deptan, 2006)
a.
Sumber Daya Manusia (SDM)
Komponen pertama elemen dasar perpustakaan digital adalah SDM.
Menurut Nawawi (2001) dalam Sudayat (2009) ada tiga pengertian SDM
yaitu:
a)
SDM adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu organisasi
(disebut juga personil, tenaga kerja, pekerja atau karyawan).
b)
SDM adalah potansi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam
mewujudkan eksistensinya.
c)
SDM adalah potensi yang merupakan aset dan berfungsi sebagai
modal (non material/non finansial) di dalam organisasi bisnis, yang
dapat mewujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non
fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi.
Dalam rangka mengoptimalkan pengembangan perpustakaan digital
dibutuhkan SDM perpustakaan digital yang professional, yaitu SDM yang
memiliki kompetensi dan keterampilan mengelola perpustakaan digital.
Menurut Maksum dan Darmawiredja (2007) pengelolaan Perpustakaan
MODEL memerlukan SDM yang memiliki keahlian di bidang manajemen
informasi dan dalam pengelolaam TIK. Jumlah tenaga perpustakaan yang
dibutuhkan untuk satu perpustakaan model minimum empat orang, yang
akan bertugas sebagai kepala, pelaksanan teknis dan pelaksanan layanan
perpustakaan.
Pendidikan
formal
yang
diperlukan
adalah
bidang
perpustakaan minimum D3 dan untuk tingkat keahlian S1. Melalui program
pelatihan SDM perpustakaan model harus memiliki kemampuan:
a)
Membangun metadata dan pangkalan data
b)
Mendigitasi dokumen
c)
Mengelola jaringan
d)
Memahami instalasi dan konfigurasi perangkat lunak
e)
Memahami sistem perangkat lunak
f)
Memahami perawatan perangkat keras
g)
Membangun dan mengelola Web
h)
Memahami multimedia
Sedangkan
menurut
Achmad
(2006)
disamping
kompetensi
manajerial, untuk membangun perpustakaan digital dibutuhkan kompetensi
TI, yaitu:
a)
Kemampuan dalam penggunaan komputer (computer literacy)
b)
Kemampuan dalam menguasai basis data (database management)
c)
Kemampuan dalam penguasaan peralatan TI (tools and technology
skills)
d)
Kemampuan dalam penguasaan jaringan (computer network)
Menurut Sulistyo-Basuki (2006) ada tiga kompetensi yang diperlukan
pengembangan perpustakaan digital, salah satunya adalah kompetensi
teknologi informasi dan komunikasi (TIK), yaitu :
a)
Kompetensi Dasar TIK
b)
Kompetensi Olah Kata (word processing)
c)
Kompetensi Surat Elektronik (e-mail)
d)
Kompetensi Internet dan Intranet
e)
Kompetensi Grafik
f)
Kompetensi Penyajian
g)
Kompetensi Penerbitan
h)
Kompetensi Manajemen Proyek dan Lembar Elektronik (spreadsheet)
i)
Kompetensi Pangkalan Data
j)
Kompetensi Pemeliharaa Sistem (system maintenance)
k) Kompetensi Desain Dan Pengembangan Aplikasi Dalam Lingkungan
WEB
l)
Kompetensi Analisis Sistem dan pemrograman.
Selanjutnya menurut Ruldeviyani dan Sucahyo (2007) sumber daya
manusia yang dibutuhkan dalam pengelolaan perpustakaan digital adalah:
a) Database Administrator, yaitu penanggungjawab kelancaran basis
data.
b)
Network
Administrator,
yaitu
penanggungjawab
kelancaran
operasional jaringan computer.
c)
System Administrator, yaitu penanggungjawab siapa saja yang berhak
mengakses sistem
d)
Web Master, yaitu penjaga agar website beserta seluruh halaman ada
di dalamnya tetap beroperasi sehingga bisa diakses oleh pengguna.
e)
Web Designer, yaitu penanggungjawab rancangan tampilan website
sekaligus mengatus isi website.
Adapun minimal secara teknis perpustakaan digital memerlukan
sumberdaya manusia yang dapat melaksanakan kegiatan pemindaian
(scanning), penyuntingan (editing) dan uploading sebagaimana pendapat
Suryandari (2007) sumber daya manusia yang diperlukan untuk proses
pemindaian cukup seorang lulusan SMP atau SMA yang dilatih mengenai
cara menggunakan mesin scanner. Kegiatan editing dan uploading harus
dilakukan oleh pustakawan yang mampu menentukan Tajuk Subjek
(Subject Heading), nama pengarang, tahun terbit, tempat terbit dan lainlain, selain itu, seorang editor harus memiliki kompetensi di bidang
komputer, terutama mengenai Adobe Acrobat, software untuk proses OCR
(Optical Character Recognation), yaitu Omnipage dan software digital
library itu sendiri. Dengan demikian editor akan mampu memberikan
proteksi di dalam berkas digital berupa password, watermark, footnote dan
lain-lain.
b.
Koleksi
Elemen dasar kedua perpustakaan digital adalah koleksi digital, Surachman
(tanpa tahun) menyatakan bahwa koleksi digital dapat difahami sebagai koleksi
informasi dalam bentuk elektronik atau digital yang mungkin terdapat juga
dalam koleksi cetak, yang dapat diakses secara luas menggunakan media
komputer dan sejenisnya. Koleksi digital tersebut dapat berupa buku elektronik,
jurnal elektronik, database online, statistik elektronik dan lain sebagainya.
Maksum dan Darmawiredja menyatakan koleksi perpustakaan diutamakan
dalam format digital baik offline maupun online, sedangkan koleksi tercetak
lebih diutamakan buku-buku tentang formula (standar) dan rujukan. Sedangkan
Pendit (2007) menyatakan secara garis besar ada empat sumberdaya informasi
digital yaitu:
a)
Bahan dan sumber full text, termasuk di sini e-journal, koleksi digital yang
bersifat terbuka (open acces), e-books, e-newpapers, dan tesis serta
disertasi digital.
b) Sumberdaya metadata, termasuk perangkat lunak digital berbentuk katalog,
indeks dan abstrak, atau sumberdaya yang menyediakan informasi tentang
informasi lainnya.
c)
Bahan-bahan multimedia digital.
d) Aneka situs di internet
Sementara itu menurut Hartinah (2009) obyek digital yang
mengisi
perpustakaan digital sangat bervareasi meliputi teks, grafik, gambar, audiovideo, program-program komputer dll. Sedangkan Makarim dan Prastyo (2007)
menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sumber daya digital (digital
resources) adalah koleksi-koleksi digital yang dimiliki, antara lain; lagu-lagu
berformat MP3, Film yang diputar dengan VCD/DVD player, ringtone pada
handphone, foto digital, e-mail dan dokumen softcopy suatu tulisan.
c.
Infrastruktur
Sebagai elemen dasar ke tiga infrastruktur mempunyai beberapa
pengertian, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) infrastruktur
disebut prasarana, yaitu: segala yang merupakan penunjang terselenggaranya
suatu proses. Pengertian infrastruktur sebenarnya mencakup sarana-sarana
teknologis yang berwujud fisik seperti: jaringan kabel, perangkat keras, dan
bangunan-bangunan. Infrastruktur non fisik seperti struktur sosial budaya, cara
kerja
dan
aspirasi
masyarakat
tempat
infrastruktur
itu
berada
(http://perpuspedia.digilib.pnri.go.id/index.php/Infrastruktur_Digital).
Ruldeviyani
dan
Sucahyo
(2007)
berpendapat
bahwa
dalam
pengembangan perpustakaan digital perangkat keras, perangkat lunak dan
jaringan komputer adalah sebagai elemen penting infrastruktur sebuah
perpustakaan digital (lihat gb.3). Selain dari itu kehadiran komputer personal
(PC), Internet dan Word Wide Web (WWW) memungkinkan terciptanya
perpustakaan digital.
Gambar 3 : Infrastruktur Perpustakaan Digital (Sumber:Modifikasi Infrstruktur
Perpustakaan, Ruldeviyani dan Sucahyo, 2007)
a) Perangkat Keras (Hardware)
Perangkat keras dalam sistem komputer adalah semua elemen fisik
dalam komputer, seperti rangkaian terpadu (integrated circuit) kabel dan
terminal (Downing dan Covington 1990). Menurut maksum dan
Darmawiredja komponen perangkat keras berbasis TI (computer based
information system) yang diperlukan adalah:
(a) Komponen input, yaitu perangkat keras yang digunakan untuk data
entri informasi ( keyboard, mouse, scanner).
(b) Komponen output, adalah perangkat keras yang diperlukan untuk
menampilkan data informasi melalui intranet dan internet (monitor,
printer).
(c) Komponen pengolah untuk melakukan pengolahan dan eksekusi
intruksi (processoer, motherboth).
(d) Komponen memori untuk menyimpan data dan intruksi dalam bentuk
elektronik digital (harddisk, RAM).
Perangkat keras lainnya yang diperlukan adalah perangkat untuk
membangun jaringan intranet dan internet, yaitu perangkat untuk akses
katalog, akses online serta server. Lebih rinci Maksum (2009) mengatakan
hardware minimal yang diperlukan untuk mengembangkan perpustakaan
digital adalah: 4 unit PC Pentium III, 1 unit server, 1 unit hub, 1 unit
router, 1 unit printer, 1 unit UPS, kabel konektor, instalasi listrik, instalasi
jaringan, 1 unit kamera digital.
Dalam standar pengelolaan informasi digital yang dihasilkan oleh
instansi-instansi lingkup Departemen Pertanian hardware yang dibutuhkan
adalah komputer dengan spesifikasi RAM 256 Mb atau lebih, Prosesor
Pentium III atau lebih, Harddisk 40 GB atau lebih, Monitor SVGA atau
lebih.
Demikian pula menurut Pudjiona dibutuhkan komputer dengan
processor pentium 4 dengan harddisk sebesar 40 GB, memory 256
megabytes adalah spesifikasi komputer minimal, selain itu saluran telepon
dan modem (Pardosi, 2001), scanner (Suryandari,2007) dan komputer
server.
Sebagaimana pendapat Ruldeviyani dan Sucahyo (2007) untuk
pencapaian kinerja yang maksimum, sebuah perpustakaan digital bisa saja
mempunyai beberapa server yang masing-masing mempunyai tugas pokok
dan fungsi yang khusus sebagai berikut:
(a) Web server, yaitu server yang akan melayani permintaan-permintaan
layanan web page dari para pengguna internet.
(b) Database server, yaitu jantung sebuah perpustakaan digital karena di
sinilah keseluruhan koleksi disimpan;
(c) FTP server, yaitu untuk melakukan kirim/terima berkas melalui
jaringan komputer;
(d) Mail server, yaitu server yang melayani segala sesuatu yang
berhubungan dengan surat elektronik (e-mail);
(e) Printer
server,
yaitu
untuk
menerima
permintaan-permintaan
pencetakan, mengatur antriannya, dan memprosesnya;
(f) Proxy server, yaitu untuk pengaturan keamanan penggunaan internet
dari pemakai-pemakai yang tidak berhak dan juga dapat digunakan
untuk membatasi ke situs-situs yang tidak diperkenankan.
b) Perangkat Lunak (Software)
Perangkat lunak dalam sistem komputer adalah merupakan kumpulan
program yang akan memberitahu komputer, apa yang harus dilakukan.
Perangkat keras yang membentuk sistem komputer tidak berarti, tanpa
adanya instruksi yang memberitahukan apa yang harus dilakukannya
(Downing dan Covington 1990). Demikian pula pendapat Maksum dan
Darmawiredja (2007) Software mencakup sekumpulan aturan atau panduan
untuk kelangsungan aktivitas sistem informasi, program aplikasi komputer,
program pengembangan dan program sistem operasi (operating system).
Menurut Ruldeviyani dan Sucahyo (2007) sebuah perpustakaan digital
paling tidak memerlukan dua perangkat lunak utama yaitu perangkat lunak
untuk penyimpanan koleksi dan perangkat lunak untuk pencarian koleksi.
Untuk penyimpanan koleksi, dibutuhkan sebuah sistem manajemen basis
data yang bisa mendukung proses penambahan, pengubahan, penghapusan
termasuk juga pencarian koleksi secara cepat. Oracle, Microsoft SQL
server, dan IBM DB2 adalah basis data yang bersifat proprietary dan
MySQL dan postgreSQL adalah basis data yang bersifat open source.
Manajemen basis data tersebut dalam sebuah perpustakaan digital
dapat menggunakan sistem operasi windows yaitu sistem operasi komputer
yang bersifat proprietary atau sistem operasi
unix/linux yaitu
sistem
operasi komputer yang bersifat open source ataupun berbagai vareasinya
atau sistem operasi lainnya
Untuk pencarian koleksi umumnya menggunakan interaksi web, y1aitu
menggunakan web browser melalui
aplikasi
interface. Web browser
adalah software yang digunakan untuk menampilkan halaman-halaman
website yang ada di internet. Web browser yang popular adalah internet
explore, netscape navigator dan mozilla firefox. Sedangkan aplikasi
interface yang popular antara lain senayan, GDL, Igloo, Mysipisis, dll.
Sementara itu diantara bahasa pemrograman yang dapat digunakan untuk
membangunnya mulai dari Java, Perl, python, ASP ataupun PHP.
Perangkat lunak berikutnya adalah untuk web server, yaitu software
yang memberikan
layanan data yang berfungsi menerima permintaan
HTTP dari klien yang dikenal dengan browser web dan mengirimkan
kembali hasilnya dalam bentuk halaman-halaman web yang umumnya
berbentuk dokumen HTML (www.worldfriend.web.id/pengertian-webserver)
Salah satu web server yang paling banyak digunakan adalah web
server Apache. Web server ini dapat diperoleh dengan menginstal
perangkat lunak XAMPP yaitu tool yang menyediakan paket perangkat
lunak ke dalam satu buah paket. Dengan menginstall XAMPP maka tidak
perlu lagi malakukan instalasi dan konfigurasi web server Apache, MySQL
dan
PHP
secara
manual.
mengkonfigurasikannya
XAMPP
secara
akan
mengistalasi
otomatis
dan
(http://php-mysql-
solution.blogspot.com).
Fungsi masing-masing adalah:
(a) Apache, merupakan aplikasi web server. Tugas utamanya adalah
menghasilkan halaman web yang benar kepada user.
(b) MySQL, merupakan database server. MySQL dapat digunakan untuk
membuat
dan
mengelola
database
beserta
isinya,
termasuk
menambahkan, mengubah dan menghapus data yang berada dalam
database.
(c) PHP,
merupakan
bahasa
pemrograman
web
yaitu
bahasa
pemrograman untuk membuat web yang bersifat server-side scripting
yang memungkinkan membuat halaman web yang bersifat dinamis
(http://id.wikipwdia.org/Wiki/XAMMP).
c)
Jaringan Komputer (computer netware)
Adalah sebuah sistem yang merupakan gabungan beberapa komputer
terpisah dan software serta perangkat lainnya yang saling berhubungan
melalui media komunikasi, terutama untuk melakukan pembagian data
digital (data sharing) antar komputer dan
tujuan-tujuan lainnya,
sebagaimana pendapat Somad bahwa jaringan komputer adalah sebuah
sistem yang terdiri atas komputer dan perangkat jaringan lainya yang
bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang sama.
Menurut Sopandi (2008) jaringan komputer merupakan
gabungan
antara teknologi kumputer dan teknologi telekomunikasi. Gabungan
teknologi ini melahirkan pengolahan data yang dapat didistribusikan,
mencakup pemakaian database, software aplikasi dan peralatan hardware
secara bersamaan.
Sedangkan Maksum dan Darmawiredja (2007)
berpendapat bahwa jaringan (netware) merupakan unit telekomunikasi
yang terdiri atas media, aliran data (data flow), topologi dan aturan,
keamanan serta zona telekomunikasi yang diperlukan untuk mengakses
informasi yang tersimpan dalam server untuk mempermudah dan
mempercepat para pengguna memperoleh informasi.
Untuk mengoptimalkan tujuan tersebut suatu perpustakaan digital
memerlukan
jaringan komputer (lihat gb. 4), baik jaringan lokal
(LAN/intranet/ektranet), maupun jaringan global (internet) sebagaimana
pendapat Pudjiono, setelah memiliki koleksi digital, PC dan software maka
diperlukan jaringan
intranet minimal 100 Mbps dan internet (layanan
global) minimal 128 Kbps.
Gambar 4 : Diagram Model Jaringan Komputer
(a)
LAN
Jaringan wilayah lokal (bahasa Inggris: local area network biasa
disingkat LAN) adalah jaringan komputer yang jaringannya hanya
mencakup wilayah kecil; seperti jaringan komputer kampus, gedung,
kantor, dalam rumah, sekolah atau yang lebih kecil. Saat ini,
kebanyakan LAN berbasis pada teknologi IEEE 802.3 Ethernet
menggunakan perangkat switch, yang mempunyai kecepatan transfer
data 10, 100, atau 1000 Mbit/s. Selain teknologi Ethernet, saat ini
teknologi 802.11b (atau biasa disebut Wi-fi) juga sering digunakan
untuk membentuk LAN. Tempat-tempat yang menyediakan koneksi
LAN dengan teknologi Wi-fi biasa disebut hotspot. (http://www.psbpsma.org/forum/jaringan-dan-internet/jaringan-intranet/carapemasangan-jaringan-intranet).
(b)
Intranet dan Ekstranet
Intranet adalah sebuah jaringan koputer berbasis protokol
TCP/IP seperti internet, hanya saja digunakan dalam
internal
perpustakaan. Antar Intranet dapat saling berkomunikasi dengan yang
lainnya melalui sambungan internet yang memberikan tulang
punggung komunikasi jarak jauh.
Jika sebuah perpustakaan mengekspose sebagian dari internal
jaringannya
ke komunitas di luar, hal ini disebut ekstranet.
Perpustakaan dapat melakukan pemblokiran akses ke intranet melalui
router dan pengaturan akses ke intranet dengan meletakan firewall
(Purbo, 2000).
(c)
Internet
Interconected network atau lebih dikenal dengan sebutan internet
adalah sebuah sistem komunikasi global yang menghubungkan
komputer-komputer dan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia
(oleh alat pengatur lalulintas data, yang dinamakan routers)
meskipun beda sistem operasi dan mesin. Setiap komputer dan
jaringan terhubung secara langsug maupun tidak langsung ke
beberapa jalur utama yang disebut internet backbone (mekanisme
hirarki dari jaringan komputer) dan dibedakan satu dengan yang lain
menggunakan unique name yang bisa disebut alamat IP (Internet
Protocol) 32 bit. Contoh 202.133.81
(http://kangbudhi.wordpress.com/2007/09/12/teknologi-jaringanintranet-ekstranet-dan-internet-di-perpustakaan/).
Menurut Ruldeviyani dan Sucahyo (2007) sesuai dengan
kepanjangannya, Internet terdiri dari sekumpulan jaringan komputer
milik perusahaan, institusi, lembaga pemerintah, ataupun penyedia
jasa
masing-masing jaringan komputer yang terhubung dikelola
secara independen. Dengan adanya internet memungkinkan data
digital di satu tempat bisa diakses dengan mudah dan cepat dari
tempat lain.
(d)
World Wide Web (WWW)
WWW (World Wide Web), merupakan kumpulan web dari
seluruh dunia yang berfungsi menyediakan data dan informasi untuk
dapat digunakan bersama. Melalui WWW atau biasa disebut web,
dapat mengakses informasi-informasi yang tidak hanya berupa teks
tetapi bisa juga berupa gambar, suara, video dan animasi.
WWW sebenarnya merupakan kumpulan dokumen-dokumen
yang sangat banyak yang berada pada komputer server (web server),
di mana server-server ini tersebar di lima benua termasuk Indonesia,
dan terhubung menjadi satu melalui jaringan Internet. Dokumendokumen informasi ini disimpan atau dibuat dengan format HTML
(Hypertext Markup Language). Suatu halaman dokumen informasi
dapat terdiri atas teks yang saling terkait dengan teks lainnya atau
bahkan dengan dokumen lain. Keterkaitan halaman lewat teks ini
disebut hypertext. Dokumen infomasi ini tidak hanya terdiri dari teks
tetapi dapat juga berupa gambar, mengandung suara bahkan klip
video. Kaitan antar-dokumen yang seperti itu biasa disebut
hypermedia (http://id.wikipedia.org/wiki/WWW).
Jadi dapat disimpulkan bahwa WWW adalah sekelompok
dokumen multimedia yang saling terkoneksi menggunakan hyperteks
link. Dengan mengklik hyperlink, maka bisa berpindah dari satu
dokumen ke dokumen lainnya.
d.
Standard Operation Procedure (SOP)
Elemen dasar ke empat adalah SOP, yang diperlukan diberbagai bidang
kegiatan termasuk kegiatan pengembangan perpustakan digital. SOP diperlukan
agar proses operasional kegiatan berlangsung secara teratur. Proses yang sudah
berlangsung teratur dapat tetap berjalan walaupun orang yang bertanggung
jawab pada proses tersebut tidak hadir, karena perannya dapat digantikan orang
lain.
SOP
merupakan
mendokumentasikan
suatu
kegiatan atau
rangkaian
instruksi
tertulis
yang
proses rutin yang terdapat pada suatu
bidang kegiatan. Menurut Mustafa dan Yulia (2005) SOP atau dalam bahasa
Indonesia dikenal dengan istilah prosedur baku mutu adalah suatu panduan
tertulis dalam
menjalankan kegiatan sehari-hari di suatu lembaga untuk
menjamin standar mutu hasil pekerjaan. Sedangkan Aries dan Saleh, (2004)
mendefinisikan SOP sebagai dokumen tertulis yang memuat prosedur kerja
secara rinci, tahap demi tahap dan sistematis. Dengan adanya SOP,
maka
standar mutu layanan yang akan dihasilkan oleh suatu pekerjaan dapat diukur
sebelumnya. Demikian juga mutu layanan yang diharapkan diberikan kepada
pengguna
dapat
ditentukan.
Selanjutnya
dengan
SOP
akan
mudah
melaksanakan pekerjaan, karena ada pedoman yang diikuti dan kontrol terhadap
pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah.
Perpustakaan digital yang koleksinya berformat digital tersimpan dalam
suatu komputer server harus dapat diakses dengan komputer secara cepat dan
mudah melalui jaringan komputer.
Oleh karena itu
maka SOP sangat
diperlukan untuk menjalankan operasional sebuah perpustakaan digital agar
memberikan manfaat lebih bagi pengguna dan yang menjalankan tugas-tugas
sebagai pustakawan.
Dalam grand design perpustakaan
digital Pustaka
Litbangtan, pembuatan SOP terdiri dari:
a) SOP untuk konversi dokumen
b) SOP untuk upload ke web
c) SOP untuk pengolahan dokumen digital
d) SOP untuk system layanan perpustakaan digital
e) SOP untuk pemeliharaan jaringan
f)
SOP untuk pemeliharaan web
Biasanya SOP disusun berbentuk modul-modul, setiap kegiatan dibuat
SOP-nya yang berdiri sendiri atau ada keterkaitan dengan modul lainnya.
Modul kegiatan perpustakaan terdiri dari nomor kode modul, judul modul,
cakupan, tujuan, standar yang digunakan, tahapan kegiatan, alur kerja dalam
bentuk diagram, serta formulir-formulir yang mungkin digunakan dan biaya
atau keterangan lain yang diperlukan terkait langsung dengan isi modul tersebut
(Mustafa dan Yulia, 2005). SOP minimal yang paling diperlukan dalan
pengembangan perpustakaan digital adalah SOP digitalisasi bahan perpustakaan
(lihat lampiran 1 s.d 4).
e.
Manajemen
Elemen dasar kelima adalah manajemen yang secara umum adalah
merupakan
proses
perencanaan,
pengorganisasian,
pengarahan,
dan
pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya
organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan
(Stoner dalam Daryono, 2008). Oleh karena itu, apabila proses dan sistem
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan tidak baik, maka
proses manajemen secara keseluruhan tidak lancar, dan proses pencapaian
tujuan akan terganggu dan mengalami kegagalan.
Adapun manajemen perpustakaan digital menurut Arif (2003) adalah
Penerapan teknologi informasi (TI) sebagai sarana untuk menyimpan,
mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format
digital. Bentuk penerapan TI seperti ini dikenal sebagai Perpustakaan Digital.
Sedangkan menurut Suryandari (2007) manajemen perpustakaan di era digital
salahsatunya dibatasi pada proses digitalisasi.
Menurut Cleveland (1998) sebagaimana diuraikan diatas, selain proses
digitization membangun koleksi digital dapat dilakukan dengan metoda lainnya
yakni:
a.
Acquisition of original digital works, maksudnya adalah mengadakan baik
melalui metode membeli atau berlangganan karya digital asli dari penerbit
atau peneliti dalam bentuk misalnya jurnal elektronik (e-journal), buku
elektronik (e-book) dan data base online seperti Ebsco, Proquest, Science
Direct, dll.
b.
Acces to external materials, maksudnya adalah perpustakaan harus
mempunyai semacam jaringan ke sumber lain yang tidak tersedia secara
local yang disediakan melalui website, koleksi perpustakaan
lain
atau
server-server milik penerbit-pennerbit.
Proses digitalisasi adalah proses yang mengubah dokumen tercetak menjadi
dokumen digital. Proses tersebut (lihat Gb.2) dibedakan menjadi tiga kegiatan
utama (Suryandari, 2007), yaitu:
a)
Scanning, yaitu proses memindai (men-scan) dokumen dalam bentuk cetak
dan mengubahnya ke dalam bentuk berkas digital. Berkas yang dihasilkan
adalah berkas PDF. Salah satu alat yang dapat digunakan adalah canon
IR2200.
b)
Editing, adalah proses mengolah berkas PDF di dalam komputer dengan
cara memberikan password, watermark, catatan kaki, daftar isi, hyperlink,
dan sebagainya, dengan software adobe acrobat, termasuk proses OCR
(Optical Character Recognition). Proses OCR adalah sebuah proses yang
mengubah gambar menjadi teks.
c)
Uploading, adalah proses pengisian (input) metadata dan meng-upload
berkas dokumen tersebut ke digital library. Berkas yang di-upload adalah
berkas PDF yang berisi full text karya akhir dari mulai halaman judul
hingga lampiran, yang telah melalui proses editing.
Dibagian akhir diagram di atas ada dua server, yaitu : sebuah server yang
berhubungan dengan intranet, berisi seluruh metadata dan full text karya akhir
yang dapat diakses oleh seluruh pengguna di dalam Local Area Network (LAN).
Sedangkan server yang terakhir adalah yang terhubung ke internet, berisi
metadata dan abstrak karya akhir tersebut.
Proses lainnya adalah
konversi dilakukan jika dokumen sudah dalam
bentuk softcopy untuk menyamakan format dan mengatur penamaan file,
pembuatan
metadata
untuk
keperluan
penelusuran
berbasis
web
(Rufaidah,2007). Kemudian proses penyimpanan dokumen adalah proses
penyimpanan dimana termasuk di dalamnya adalah pemasukan data (data
entry), editing, pembuatan indeks dan klasifikasi berdasarkan subjek dari
dokumen dan proses pengaksesan dan pencarian kembali dokumen adalah
proses bagaimana melakukan pencarian kembali dokumen-dokumen yang telah
disimpan (Wahono, 2006) Terakhir proses pendistribusian dokumen adalah
proses penyebarluasan hasil penyimpanan dokumen ke masyarakat pengguna
sesuai bentuk penyimpanannya (Saleh, 2010).
Gambar 2: Alur Kerja Digitalisasi (Sumber: Modifikasi Alur Kerja Digitalisasi
Suryandari,2007)
f.
Anggaran
Elemen dasar keenam adalah anggaran, yaitu rencana penjatahan sumber
daya yang dinyatakan dengan angka, biasanya dalam satuan uang (Moeliono,
1988). Secara garis besar anggaran yang diperlukan terbagi dua yaitu anggaran
untuk investasi awal dan operasional. Besarnya anggaran yang diperlukan
tergantung faktor-faktor pendukung perpustakaan digital yang tersedia dalam
sebuah perpustakaan.
Siregar (1999) menyatakan bahwa penyediaan layanan digital memerlukan
pendanaan baik untuk investasi awal maupun operasionalnya. Dana investasi
digunakan untuk perangkat keras dan lunak, dana operasional antara lain
digunakan untuk proses digitalisasi.
Besarnya biaya yang diperlukan
tergantung pada berbagai faktor diantaranya infrastruktur dan prasarana yang
tersedia, jumlah terminal layanan akses yang akan disediakan, jenis server
yang akan diguanakan dan tenaga pengembang yang tersedia.
Sementara itu Suryandari (2009) membedakan struktur pembiayaan proses
digitalisasi berdasarkan pada jumlah anggaran yang tersedia menjadi
perpustakaan besar, menengah dan kecil, dengan rincian sebagai berikut:
a)
Perpustakaan besar memiliki dana sekitar Rp 57.000.000 (lima puluh tujuh
juta rupiah) untuk investasi awal, yaitu biaya peralatan dan jasa yang
sifatnya tidak rutin dan Rp 4.500.000 (empat juta lima ratus ribu rupiah)
per bulan untuk biaya operasional proses digitalisasi.
b)
Perpustakaan menengah memiliki dana sekitar Rp 30.000.000 (tiga puluh
juta rupiah) untuk investasi awal, yaitu biaya peralatan dan jasa yang
sifatnya tidak rutin dan Rp 3.000.000 (tiga juta lima ratus ribu rupiah) per
bulan untuk biaya operasional proses digitalisasi.
c)
Perpustakaa kecil memiliki dana sekitar Rp 11.000.000 (sebelas juta
rupiah) untuk investasi awal, yaitu biaya peralatan dan jasa yang sifatnya
tidak rutin dan Rp 400.000 (empat ratus ribu rupiah) per bulan untuk biaya
operasional proses digitalisasi.
Struktur pembiayaan tersebut dibedakan menjadi dua, yaitu biaya rutin
(bulanan) dan biaya investasi (tidak rutin, dikeluarkan hanya satu kali pada
saat proyek akan dimulai) (lihat lampiran 5 s.d 13)
2.5 Studi Kelayakan
Dalam systems development life cycle-nya O’brain (1999) berpendapat
bahwa langkah pertama dalam proses pengembangan sistem adalah tahap
investigasi sistem yang membutuhkan sebuah kajian awal yang disebut studi
kelayakan (lihat gb. 2). Studi kelayakan tersebut merupakan kajian awal yang
menyelidiki kebutuhan informasi dari perspektif pengguna dan menentukan
kebutuhan sumber daya, biaya, manfaat dan kelayakan proyek yang diajukan.
Selanjutnya Lucas (2000) menyatakan
bahwa studi kelayakan menyajikan
beberapa alternatif potensial dan mengevaluasinya secara teknis, ekonomi, dan
ukuran-ukuran operasional. Sedangkan Laudon dan Laudon (1996) berpendapat
bahwa studi kelayakan dilakukan untuk menentukan solusi apakah yang
mungkin atau terjangkau, memberi batasan dan sumber daya organisasi.
Kamus Bahasa Indonesia (1988) menjelaskan bahwa kata studi berarti penelitian
atau penyelidikan
ilmiah sedangkan
kelayakan berarti perihal yang dapat
(pantas, patut) dilaksanakan. Sedangkan Ensiklopedi Nasional Indonesia (2004)
menjelaskan frasa studi kelayakan adalah analisis untuk mengambil keputusan
tentang kelayakan suatu rencana investasi. Selanjutnya Kamus Komputer dan
Teknologi Informasi (2007) menjelaskan frasa studi kelayakan tersebut
merupakan studi yang digunakan apakah proyek yang direncanakan layak untuk
diteruskan atau tidak.
SDLC
Investigation/Planning
Feasibility
study
Analysis
Functional
Requirement
Design
System
Specification
Implementation
System
Operational
Maintenance
Improved
System
ACTIVITIES
PRODUCT
Gb. 2. System Development Life Cycle O’brain (1999)
Oleh karena
itu informasi dibutuhkan
untuk menilai kondisi faktual
elemen-elemen dasar tersebut sehingga dapat dibuat rekomendasi elemen dasar
perrpustakaan digital yang paling
ideal. Ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk mengumpulkan informasi dalam tahap pengembangan sistem
tersebut sebagaimana disebutkan oleh O’brain (1999) antara lain:
a.
Wawancara dengan pekerja, pelanggan dan manajer.
b.
Kuisioner kepada pengguna akhir (end users) dalam organisasi.
c.
Pengamatan pribadi, videotaping atau
melibatkan diri dalam aktivitas
pengguna akhir.
d.
Menguji dokumen, laporan panduan prosedur dan dokumentasi lain.
e.
Pengembangan, simulasi dan pengamatan model dalam suatu aktivitas.
Dalam studi kelayakan pengembangan sistem perpustakan digital berbasis
web di Perpustakaan STP Jurluhkan Bogor, akan dilakukan terhadap salah satu
elemen yang membentuk perpustakaan digital, yaitu elemen dasar (basic
element) yang mengacu pada Grand Design Perpustakaan Digital Pusat
Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) Badan Litbang
Pertanian Departemen Pertanian (2006) sebagaimana telah diuraikan di atas,
yang akan mengkaji:
a. Kelayakan sumber daya manusia (SDM)
b. Kelayakan koleksi digital
c. Kelayakan infrastuktur
d. Kelayakan Standard Operational System (SOP)
e. Kelayakan manajemen
f. Kelayakan anggaran
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Kerangka Pemikiran
Saat ini teknologi informasi sudah sangat mempengaruhi penyelenggaraan
perpustakaan sehingga salah satu strategi untuk pengembangannya adalah
melalui pengembangan perpustakaan berbasis TI, antara lain pengembangan
sistem perpustakaan digital. Hal ini sesuai dengan perkembangan dunia
perpustakaan bahwa perkembangan mutakhir adalah perpustakaan digital
(digital library) yang memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan
karena berorientasi ke data digital dan media jaringan komputer.
Oleh karena itu pengembangan sistem informasi perpustakaan berbasis TI
dalam format digital tersebut menjadi hal yang penting. Permasalahannya
adalah bahwa pengembangan perpustakaan digital tersebut perlu didukung oleh
kondisi ideal elemen-elemen dasar perpustakaan digital sebagaimana diuraikan
dalam perumusan masalah.
Untuk itu salah satu langkah awal yang perlu dilakukan dalam upaya
pengembangannya adalah melakukan studi kelayakan pengembangan sistem
perpustakaan digital terhadap kelayakan elemen-elemen dasar (basic elements)
perpustakaan digital. Elemen-elemen dasar tersebut berpedoman kepada Grand
Design Perpustakaan Digital Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi
Pertanian (PUSTAKA) Badan Litbang Pertanian Departemen Pertanian (2006),
yaitu: kelayakan SDM, kelakan koleksi, kelayan infrastruktur, kelayakan SOP,
kelayakan manajemen dan kelayakan anggaran. Kelayakan elemen-elemen
dasar tersebut sangat menentukan keberhasilan pengembangan perpustakan
digital.
Dari studi kelayakan tersebut
diharapkan dapat mengetahui tingkat
kelayakan elemen dasar perpustakaan digital, mendefinisikan kebutuhan elemen
dasar pengembangan sistem perpustakaan digital minimal dan dapat
memformulasikan saran serta menghasilkan rekomendasi mengenai kelayakan
elemen
dasar yang harus dimiliki, dalam rangka pengembangan sistem
perpustakaan digital berbasis web di Perpustakaan STP Jurluhkan Bogor
3.2
Metode Penelitian
Metode adalah cara atau teknis yang dilakukan dalam proses penelitian.
Sedangkan penelitian
diartikan sebagai upaya yang dijalankan untuk
memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan
sistematis untuk mewujudkan kebenaran (Mardalis, 2009).
Metode dan Rancangan Penelitian yang akan dilaksanakan selengkapnya
adalah sebagai berikut:
a.
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode
penelitian studi kasus (case
study) dengan melakukan studi kelayakan, yaitu studi kasus yang bersifat
evaluatif yang ditujukan pada layak tidaknya suatu tindakan atau usaha
dilakukan. Studi kelayakan merupakan penelitian terapan (Applied
Research.
(http:xa.yim.com/kg/groups/33216553/479676807/name/METODE+METODE+PENELI
TIAN.ppt)
Studi kasus adalah salah satu bentuk rancangan penelitian deskriptif
kualitatif, yaitu penelitian yang dimaksudkan hanya membuat deskripsi
atau uraian suatu fenomena semata-mata, tidak untuk mencari hubungan
variable, menguji hipotesis atau membuat ramalan (Aditya S.,2009)
Komponen yang akan dianalisis dalam studi kelayakan ini adalah
elemen dasar perpustakaan digital, yaitu: kelayakan sumber daya manusia,
kelayakan koleksi digital, kelayakan infrastruktur, kelayakan standard
operational procedure (SOP), kelayakan manajemen dan kelayakan
anggaran.
b. Teknik Pengumpulan Data
Untuk pengumpulan data, teknik yang digunakan adalah observasi
langsung dengan melihat kondisi yang ada, wawancara dengan pimpinan
dan pengelola perpustakaan, serta pengamatan dengan sistem yang sudah
ada. Pengumpulan data dilakukan juga melalui studi kepustakaan dan
browsing internet.
c.
Instrumen Penelitian
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara,
pelaksanaan wawancara harus menggunakan instrumen. Instrumen tersebut
berupa rambu-rambu pertanyaan yang akan ditanyakan sebagai pedoman
wawancara.
Untuk memperoleh data dari setiap variabel yang terdapat pada model
penelitian, maka instrumen tersebut dibagi terhadap 6 (enam) bagian
elemen dasar perpustakaan digital, yaitu:
a) Instrumen untuk data SDM
b) Instrumen untuk data Koleksi
c) Instrumen untuk data Infrastruktur
d) Instrumen untuk data SOP
e) Instrumen untuk data Manajemen
f)
Instrumen untuk data Anggaran
d. Teknik Analisis Data
Analisis deskriptif kualitatif dilakukan untuk menggambarkan
penjelasan masalah dan upaya pemecahan masalah yang dapat dilakukan
(untuk meningkatkan kondisi perpustakaan digital). Data dari hasil
observasi dan wawancara dianalisis dan beri makna berupa deskripsi atas
dasar data yang didapat.
e.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian akan dilakukan mulai bulan Juli 2011 s.d Agustus 2011,
berlokasi di Sekolah Tinggi Perikanan Jurusan Penyuluhan Perikanan
Bogor. Pengolahan dan analisis data dilakukan di Laboraturium Pasca
Sarjana Ilmu Komputer-FMIPA, Barangansiang Bogor.
3.3
Tahapan Studi Kelayakan
Tahapan
Kegiatan
Persiapan
Pengumpulan bahan dan materi
Pengumpulan data awal
Sumber
Studi pustaka
online & off line
Mendeskipsikan kondisi ideal elemen dasar perpustakaan
digital
Pembuatan instrument wawancara
Penyusunan proposal
Pelaksanaan
Studi Kelayakan:
Observasi /Survey Lokasi
Studi pustaka,
observasi,
wawancara
Melakukan Wawancara/Interview
Mendeskripsikan kondisi obyektif elemen dasar perpust
digital
Pengolahan dan
Analisa data
Pengolahan dan Analisis data
Finalisasi
Penyusunan laporan
Memformulasikan & Merekomendasikan kondisi ideal
elemen dasar perpustakaan digital
Dokumentasi
Gambar 8. : Flow Chart Proses Studi Kelayakan:
PERSIAPAN
-
Studi Literatur
Pengumpulan data awal
Pembuatan Instrumen Wawancara
Mendeskripsikan kondisi ideal elemen dasar perpust digital
Penyusunan Proposal
DITOLAK
Proposal
disetujui ?
Studi pustaka,
hasil observasi,
hasil wawancara
YA
Studi Kelayakan:
- Observasi/Survey lokasi
- Melakukan wawancara/Interview
- Mendeskripsikan kondisi obyektif elemen dasar perpust digital
Analisa data:
- Mengolah dan menganalisis data
- Memformulasikan & Merekomendasikan kondisi ideal elemen
dasar perpustakaan digital
PENYELESAIAN
- Penyusunan laporan
- Dokumentasi
-dokumentasi
SELESAI
3.4
Jadwal Penelitian
Daftar 1. Jadwal Kegiatan Penelitian
No.
Uraian Kegiatan
1.
Draft Proposal
2.
Sidang Komisi 1
3.
Perbaikan Proposal
4.
Kolokium
5.
Perbaikan Proposal
April 2010
1 2 3
Juni 2011
4 1 2 3 4
Juli 2011
Agts 2011
Sept. 2011
Okt. 2011
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
3 4
6.
Penelitian
7.
Sidang Komisi 2
8.
Perbaikan Hasil
9.
Seminar Hasil
10.
Perbaikan Hasil
11.
Ujian Sidang
DAFTAR PUSTAKA
Aji, RFdan Kurniawan, Heri , 2007. Rdf Dalam Pertukaran Data Perpustakaan Digital
http://www.google.com/search?hl=&q=RDF+Resource+Description+Framewor
k+Rizal++Fathoni&sourceid=navclientff&rlz=1B3WZPB_enID351ID353&ie=
UTF-8 (3/6/2010)
Anonim.
2002.
African
Digital
Library
Glossary.
Tersedia
di
http://www.africandl.org.za/glossary.htm
Arif, Ikhwan. 2003. Konsep dan Perencanaan dalam Automai Perpustakaan. Makalah
Seminar dan Workshop Sehari “Membangun Jaringan Perpustakaan Digital dan
Otomasi Perpustakaan menuju Masyarakat Berbasis Pengetahuan”, Universitas
Muhamadiyah Malang 4 Oktober 2003
Banurea, Amran. 2008. Prototipe Perpustakaan Digital Dengan GDL Pada
Perpustakaan The Habibie Center. Bogor: Insititut Pertanian Bogor, hal 16
Buckland, Maka. 1991. Information as Thing. Journal of the American Society for
Information Science. Vol 42. P.351-360
Daryono. 2008. Manajemen Perpustakaan
http://daryono.staff.uns.ac.id/2008/09/24/manajemen-perpustakaan/ (14/5/2010)
Departemen Pertanian. 2006. Executive Summary Grand Design Perpustakaan
Digitaln Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian Badan
Litbang Pertanian. Bogor.
Dewyana, Himma, 2004. Perpustakaan dalam konteks Knowledge Management,
Study Kasus Perpustakaan Universitas Indonesia. Depok: Universitas Indonesia.
P. 23
Downing, D. dan Covington M. 1990. Kamus Istilah Komputer. Jakarta, Penerbit
Erlangga.
Ensiklopedi Nasional Indonesia (2004) studi kelayakan
Handoyo, Reko, 2009. Study Kelayakan Bisnis
http://konsultan-manajemen.com/2009/03/konsultan-feasibility-studykonsultan-study-kelayakan-berpengalaman-di-indonesia/ (11/5/2010)
Hariningsih, S.P. ,2005. Teknologi Informasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Harmawan. 2008. Membangun Perpustakaan Digital: Suatu Tinjauan Aspek
Manajemen.
http://pustaka.uns.ac.id/include/inc_print.php?nid=37(7/5/2010)
Hartinah, Sri. 2009. Pemanfaatan Alih Media Untuk Pengembangan Perpustakaan
Digital. Visi Pustaka Majalah Perpustakaan Vol. 11 No. 3 Desember 2009 hal.
13-18
Hendra, 2006. Definisi Infrastruktur.
http://www.hdn.or.id/index.php/research/2006/definisi_infrastruktur_ti
Kamus Bahasa Indonesia (1988)
Kamus Komputer dan Teknologi Informasi, 2007. Studi Kelayakan
http://www.total.or.id/info.php?kk= Feasibility%20study [ 20/4/ 2010]).
Kamus Komputer dan Teknologi Informasi, Istilah Proses
http://www.total.or.id/info.php?kk=proses [03-November-2010]
Kusmayadi, Eka dan Andriaty, Etty. 2006. Kajian Online Public Acces Catalogue
(OPAC) dalam Pelayanan Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian.
Jurnal Perpustakaan Pertanian. Vol. 15. No. 2, 2006 hal. 51-58
Maksum dan Darmawiredja MR, 2007. Perpustakaan Model UK/UPT Departemen
Pertanian: Suatu Pendekatan Manajemen dan Organisasi. Jurnal Perpustakaan
Pertanian. Vol. 16, Nomor2, 2007 hal. 35-42
Laudon KC and Laudon JP, 1996. Management Information System: Organitation
and Technology. 4th ed. By Prentice-Hall, Inc. P. 412
Lucas HC. 2000. Information Technology for Management.7th ed. Irwin McGrawHill. P.416
Nawawi, H. dan Hadari, M., 1995. Instrumen Penelitian Bidang Sosisal. Gajah Mada
University Press, Yogyakarta.
O’Brien, J.A. 2002. Management Information System: Managing Information
Technol ogy In E-Bussines Enterprise. 4th ed. NY:McGraw-Hill Inc.
Pendit PL. 2007. Perpustakaan Digital Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi
Indonesia. Jakarta. CV Sagung Seto.ungan dan Dinamika. Jakarta: Cipta Karya
Mandiri.
Pendit PL. 2009. Perpustakaan Digital Kesinamb. CV Sagung Seto.
Rufaidah VW. 2007. Knowledge Commerce: Peluang Implementasinya di Pusat
Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. Jurnal Perpustakaan
Pertanian. Vol. 16. No. 2, 2007 hal. 44-50
Santoso, Joko., 2004. Sumber Daya Pengelolaan Perpustakan Digital. Jakarta: PNRI
Sastraatmadja, Tintin, 2003. Konsep Peningkatan Daya Saing Pada Pelayanan Jasa
Informasi, di Perpustakaan.
http://www.google.com/search?hl=&q=Pengukuhan+pustakawan+utama+Tintin
+S.+&sourceid=navclient-ff&rlz=1B3WZPB_enID351ID353&ie=UTF-8
Seminar KB. 2004. Kebijakan Pengembangan Perpustakaan Institut Pertanian Bogor.
Bogor: IPB
Subrata, Gatot, 2009. Perpustakaan Digital.
http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/kargto/Perpustakaan
Sudarsono, B., 1994. Peran Pustakawan dalam Pembangunan Nasional Indonesia,
Majalah Ikatan Pustakawan Indonesia, Vol.6, No. 1-2.
Sugiyono. 2005. Statistika untuk Penelitian, Bandug: CV Alfa Beta
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpuskaan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Sulistyo-Basuki. 2006. Pengembangan Sumber Daya Manusia Pustaka Dalam
Rangka Pembentukan Perpustakaan Digital; Makalah Seminar Nasional Grand
Design Perpustakaan Digital. Bogor: Pusat Perpustakaan dan Penyebaran
Teknologi Pertanian.
Supriadi, Eri. 2009. Pengembangan Perpustakaan Sebagai Sarana Pusat Sumber
Informasi Masa Depan.
http://erisupriadi.blog.unej.ac.id/2009/02023/pengembangan-perpustakaan
sebagai-sarana-pusat-sumber-informasi-masa-depan. (12/3/2010)
Surachman, Arif. 2008. Membangun Koleksi Digital
http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=35
Wahono SW. 2006. Teknologi Informasi untuk Perpustakaan: Perpustakaan Digital
dan Sistem Otomasi Perpustakaan.
http://www.scribd.com/doc/3020850/Perpustakaan-Digital-dan-Sistem-Otomasi
-Perpustakaan(12/3/2010)
Witten, Ian H. and Bainbridge, David. 2003. How To Built a Digital Library. San
Francisco: Morgan Kaufmann Publisher.
Kajian DL
http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=pengertian+elemen+dasar+perp
ustakaan+digital&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai=&fp=644a00694a09cee0
Lampiran 1. SOP Digitalisasi (sumber perpustakaan IPB):
PERPUSTAKAAN
…………………..
STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL
Hal
:
Revisi ke :
Tgl. Efektif :
Modul : Digitalisasi Bahan Perpustakaan
Kode
:
Tujuan :
Mengalihbentukkan/dengan cara memindai bahan tercetak ke dalam bentuk
elektronik sehingga tersedia sebagai koleksi digital melalui situs web yang
ditujukan bagi pengguna perpustakaan digital.
Ruang Lingkup :
Prosedur operasi standar (SOP) ini mencakup pekerjaan; menyeleksi,
memindai, mengatur berkas, menyediakan akses, mendesiminasikan,
memelihara berkas, dan memastikan keutuhan karya-karya digital.
Standar:
Untuk menjamin kelancaran operasional proses digitalisasi bahan
perpustakaan diperlukan kebijakan atau aturan sbb:
1. Setiap ketua departemen atau program studi memberikan pernyataan
dukungan terhadap inisiatif digitalisasi karya sivitas akademika;
2. Bahan perpustakaan yang akan didigitalisasi termasuk semua disertasi,
tesis, skripsi, dan karya lainnya dari sivitas akademika IPB merupakan
teks lengkap, mulai dari halaman judul hingga lampiran;
3. Pimpinan perguruan tinggi menerbitkan surat keputusan yang
mewajibkan seluruh sivitas akademika untuk menyerahkan berkas
elektronik (soft file) karya yang mereka hasilkan, dengan bantuan atau
fasilitas dan persetujuan perguruan tinggi kepada perpustakaan.
4. Perpustakaan menyediakan formulir pernyataan ”Pengalihan Hak
Cipta Non-eksklusif” yang kemudian ditanda-tangani oleh mahasiswa
atau dosen pada saat penyerahan karya tersebut. Pernyataan tersebut
memberikan hak kepada perpustakaan untuk menyimpan, mengalihbentukkan, dan menyebar-luaskan karya tersebut untuk tujuan
peningkatan kualitas pendidikan dan bersifat non-komersial. Penulis
karya tetap memiliki hak eksklusif terhadap hasil karyanya, termasuk
hak untuk menerbitkannya dalam bentuk buku atau artikel.
5. Dalam kasus tertentu dimana penulis berkeberatan seluruh isi karyanya
disebar-luaskan, maka mereka akan diberikan pilihan seperti: publikasi
terbatas yaitu hanya beberapa bab saja yang digitalisasi (ada beberapa
bab yang tidak di”upload” ke server); Publikasi setelah periode
tertentu, misalnya setelah satu tahun karya diterima perpustakaan, dsb.;
6. Jika penulis karya berkeberatan untuk menada-tangani surat pernyataan
”Pengalihan Hak Cipta Non-eksklusif”, mereka dapat mengajukan
surat permohonan kepada ketua departemen atau program studi.
Contoh Pernyataan Hak Cipta Non-eksklusif ada pada lampiran
7. Ketua departemen atau program studi akan mengeluarkan suatu
peraturan yang mewajibkan mahasiswa untuk menanda-tangani surat
pernyataan ”keaslian” karya akhirnya pada halaman pertama karya.
Jika kemudian hari terbukti bahwa karya tersebut adalah hasil bajakan,
maka institusi berhak mencabut gelar akademik yang dimilikinya.
8. Untuk melindungi karya tersebut, dipilih format PDF (Portable
Document Format) sebagai jenis berkas digital karya. Melalui format
ini, berkas tersebut bisa diatur ”hanya baca” atau read only dan
diberikan password sebagai pengamannya. Menentukan jenis proteksi
yang akan diterapkan pada koleksi digital ini, apakah boleh dicetak
atau tidak, apakah perlu diberi password atau tidak, apakah bisa diedit
atau tidak, dan lain-lain.
9. Menetapkan mekanisme layanan koleksi digital, misalnya apakah
koleksi digital tersebut dapat diunduh, atau dikirim secara offline, dan
sebagainya.
Prosedur :
1. Seleksi dan pengumpulan bahan yang akan dibuat koleksi digital.
Bahan-bahan yang akan dialih-bentukkan dari tercetak menjadi
digital perlu diseleksi untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan
tujuan digitalisasi koleksi perpustakaan. Sesuai dengan tujuan dan
target program digitalisasi maka bahan-bahan yang akan digitalisasi
adalah bahan-bahan yang mengandung informasi spesifik dimana
perpustakaan lain mungkin tidak memilikinya, misalnya skripsi, tesis
dan disertasi serta laporan penelitian bagi perpustakaan perguruan
tinggi dan lain-lain.
2. Pembongkaran jilid koleksi agar bisa dibaca alat pemindai (scanner)
Proses ini perlu dilakukan untuk memudahkan operator pemindai
melakukan proses pemindaian lembar demi lembar dari bahan
tersebut. Untuk penggunaan mesin pemindai atau scanner yang
mempunyai fasilitas ADF (Automatic Document Feeder), maka
pembongkaran dokumen tercetak dari jilidannya menjadi suatu
keharusan.
3. Pembacaan halaman demi halaman dokumen menggunakan alat
pemindai yang kemudian disimpan dalam format file PDF. Jika
menggunakan alat pemindai yang memiliki fasilitas ADF (Automatic
Document Feeder) maka pembacaan dengan alat pemindai ini bisa
dilakukan secara otomatis oleh mesin. Operator tinggal memasukkan
sejumlah lembar (misalnya 30 atau 50 lembar atau lebih sesuai
kemampuan alat pemindai) kedalam bak kertas. Mesin pemindai
secara otomatis akan mengambil lembar-demi lembar sampai
persediaan lembaran di bak kertas habis. Hasil dari proses ini adalah
dokumen dalam bentuk elektronik atau file komputer.
4. Pengeditan. Hasil pemindaian tadi walaupun sudah dalam bentuk
elektronik, namun masih perlu diedit, terutama jika ukuran kertas
yang ditentukan pada saat scanning tidak tepat benar. Oleh karena itu
perlu dilakukan editing seperti pemotongan pinggiran halaman,
pembalikan halaman dan lain-lain sehingga hasilnya menjadi lebih
5.
6.
7.
8.
enak dibaca. Selain itu perlu dilakukan penggabungan halaman dan
bookmarking agar halaman-halaman dokumen dapat diakses dengan
cepat.
Pembuatan serta pengelolaan metadata (basisdata) agar dokumen
tersebut dapat diakses dengan cepat. Pembuatan basisdata ini dapat
menggunakan perangkat lunak apa saja yang dapat dikenal dan biasa
digunakan oleh manajer sistem. Namun bila manajer sistem belum
mengenal dan terbiasa dalam menggunakan perangkat lunak
basisdata tertentu, disarankan untuk menggunakan perangkat lunak
ISIS for Window atau lebih dikenal dengan WINISIS. Selain gratis,
perangkat lunak ini memiliki cukup banyak kelebihan-kelebihan
dibandingkan dengan program lunak lain sejenis.
Melengkapi basis data dokumen dengan abstrak jika diperlukan.
Terutama untuk dokumen-dokumen yang berisi informasi ilmiah
serta monograf lainnya. Sedangkan untuk dokumen yang berisi
informasi singkat seperti teknologi tepat guna dan semacamnya,
cukup ditambahkan keterangan atau anotasi saja.
Proses selanjutnya adalah pemindahan atau menyimpan (upload) ke
server.
Penjilidan kembali dokumen yang sudah dibongkar. Jika dokumen
tersebut masih diperlukan bentuk tercetaknya, maka dokumen yang
sudah dibongkar dan sudah melalui tahapan pemindaian atau
scanning, dapat dijilid kembali. Dokumen tersebut dapat
dikembalikan ke bagian koleksi yang menyimpan bahan-bahan
tercetak.
Lampiran2. ALUR KERJA DIGITALISASI BAHAN PERPUSTAKAAN
PERPUSTAKAAN
Mulai
Dokumen S/T/D/
LP/dll dalam
bentuk tercetak
Seleksi Dokumen
Dialihmediakan?
Dikembalikan ke
koleksi
Selesai
Bongkar jilidan
Pindai dokumen
Edit hasil
pemindaian
Edit metadata
(untuk tautan ke
teks lengkap)
Cek tautan
Berfungsi?
Perbaiki tautan
Unggah ke server
Selesai
Lampiran 3. SOP Penanganan Dokumen Digital (sumber perpustakaan IPB):
PERPUSTAKAAN
…………………
STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL
Hal
Revisi ke
:
:
Tgl. Efektif :
Modul : Penanganan Dokumen Digital
Kode
:
Tujuan : Penanganan dokumen digital diantaranya untuk memudahkan
penyimpanan bahan pustaka sehingga tidak memerlukan tempat dan dapat
menghemat tempat penyimpanan
Ruang Lingkup : Digital yang ditangani berupa Cd yang terdiri dari Skripsi,
Tesis dan Disertasi hasil karya mahasiswa Institut Pertanian Bogor
Prosedur :
1. Menerima CD dari Bidang Pengembangan Bahan Pustaka
2. Memeriksa CD dan daftar pengantar CD
3. Dari bentuk pdf untuk kemudian di edit metadata
4. Dari bentuk non pdf di konversi ke bentuk pdf kemudian edit metadata
5. Pemetaam (pengelompokan berkas elektronik berdasarkan jenid
karyanya
6. Upload atau penggabungan data ke server
7. Membuat berkas cadangan
Lampiran 4.. ALUR KERJA PENANGANGAN DOKUMEN DIGITAL
Mulai
Dokumen S/T/D
digital dari
Pengolahan
Periksa kondisinya
Baik?
Tidak
Tolak dan
kembalikan ke
bidang
Pengolahan
Tidak
Konversi kedalam
format PDF
Periksa format
berkasnya
PDF?
Ya
Kelompokkan dan
simpan berkas
kedalam folder
berdasarkan jenis
karya
Edit Metadata
Unggah ke server
dan buatkan
berkas
cadangannya
Selesai
Lampiran 5: Biaya rutin (bulanan) proses digitalisasi untuk perpustakaan besar
No.
Tahapan Proses
Material dan Jasa
yang Dibutuhkan
Biaya
Rutin/Bulan
Total Biaya Rp
1.
2.
Scanning
Biaya sewa mesin
scanner canon IR2200
1 orang operator
scanner, bekerja
lembur 2 jam per hari
(2 jam x 20 hari kerja
/bulan)
Gaji 2 orang editor
Editing dan
Uploading
TOTAL BIAYA RUTIN/BULKAN RP
Rp
2.200.000
2.200.000
400.000
400.000
761.000
1.522.000
4.122.000
Lampiran 6: Biaya investasi proses digitalisasi untuk perpustakaan besar
No.
1.
2.
Tahapan
Proses
Scanning
Material dan Jasa yang
Biaya non rutin
Dibutuhkan
Rp
Biaya bongkar-pasang
8.000
bahan digital (tesis, dll)
sebesar Rp 8.000/tesis,
dengan jumlah total
sebanyak 1.600 tesis
Pelatihan cara men-scan
Satu Unit PC untuk
5.000.000
operator scanner
Editing dan
Biaya training software
5.000.000
Uploading
yang diperlukan ( in house
training ), meliputi Adobe
Acrobat, Omnipage, and
Digital library software
Pembelian software
2.500.000
Adobe Acrobat 7 # US $
250 (Academic price)
Pembelian software
1.500.000
omnipage 15 # US $ 150
Dua buah server untuk
10.000.000
INTRANET dan untuk
INTERNET
Dua buah unit computer
5.000.000
untuk 2 (dua) orang
petugas EDITOR
TOTAL BIAYAINVESTASI/TIDAK RUTIN
Total biaya
Rp
12.800.000
5.000.000
5.000.000
2.500.000
1.500.000
20.000.000
10.000.000
56.800.000
Lampiran 7: Total biaya yang dibutuhkan untuk melakukan proses
digitalisasi tesis sebanyak 1.600 tesis dalam waktu 4 bulan
untuk perpustakaan besar
No.
Jenis Biaya
Biaya Per
Jumlah Bulan
Total Biaya Rp
1.
Bulan Rp
-
Biaya Investasi
-
56.800.000
4 bulan
16.488.000
(tidak rutin)
2.
Biaya Rutin
4.122.000
(Bulanan)
TOTAL BIAYA PROYEK DIGITALISASI
73.288.000
Lampiran 8 : Biaya rutin (bulanan) proses digitalisasi untuk perpustakaan
menengah
No.
Tahapan Proses
1.
Scanning
2.
Material dan Jasa
yang Dibutuhkan
Biaya
Rutin/Bulan
Rp
2.200.000
Total Biaya Rp
-
-
800.000
1.600.000
Biaya sewa mesin
Scanner Cannon IR2200
1 orang operator
scanner, bekerja 2
jam per hari di
dalam jam kerja
(tidak perlu lembur)
Editing dan
Honor 2 orang
Uploading
petugas, sebesar Rp
4.000/tesis, masingmasing mampu
menyelesaikan tesis
sebanyak 200 dalam
satu bulan
TOTAL BIAYA RUTIN/BULAN RP
2.200.000
3.800.000
Lampiran 9: Biaya investasi proses digitalisasi untuk perpustakaan
menengah
No.
1.
2.
Tahapan
Proses
Scanning
Material dan Jasa yang Biaya non rutin
Dibutuhkan
Rp
Biaya bongkar-pasang
4.000
tesis sebesar Rp
4.000/tesis, dengan
jumlah total sebanyak
1.600 tesis
Pelatihan cara men-scan
Satu Unit PC untuk
operator scanner (tidak
perlu dibeli karena
menggunakan computer
yang ad.a
Editing
Biaya training software
5.000.000
dan
yang diperlukan ( in
Uploading house training ), meliputi
Adobe Acrobat,
Omnipage, and Digital
library software
Pembelian software
2.500.000
Adobe Acrobat 7 # US $
250 (Academic price)
Pembelian software
750.000
omnipage 14 # US $ 75
(used software
berdasarkan
Amazon.com)
Satu buah server untuk
10.000.000
INTERNET dan untuk
INTERNET
satu buah unit komputer
5.000.000
untuk 1 (satu) orang
petugas EDITOR. Satu
orang editor lainnya
menggunakan computer
server sebagai komputer
kerja.
TOTAL BIAYAINVESTASI/TIDAK RUTIN
Total biaya Rp
6.400.000
-
5.000.000
2.500.000
750.000
10.000.000
5.000.000
29.650.000
Lampiran 10 : Total biaya yang dibutuhkan untuk melakukan proses
digitalisasi tesis sebanyak 1.600 tesis dalam waktu 4 bulan
untuk perpustakaan menengah
No.
1.
Jenis Biaya
Biaya Investasi
Biaya Per
Bulan Rp
-
Jumlah Bulan
Total Biaya Rp
-
29.650.000
4 bulan
15.200.000
(tidak rutin)
2.
Biaya Rutin
3.800.000
(Bulanan)
TOTAL BIAYA PROYEK DIGITALISASI
44.850.000
Lampiran 11 : Biaya rutin (bulanan) proses digitalisasi untuk perpustakaan
kecil
No.
1.
2.
Tahapan Proses
Scanning
Material dan Jasa
yang Dibutuhkan
Biaya sewa mesin
scanner
1 orang operator
scanner, bekerja
lembur 2 jam per
hari (2 jam x 20 hari
kerja /bulan)
Gaji 2 orang editor
Biaya
Rutin/Bulan
Rp
Editing dan
Uploading
TOTAL BIAYA RUTIN/BULKAN RP
Total Biaya Rp
-
-
-
-
200.000
400.000
400.000
Lampiran 12 : Biaya investasi proses digitalisasi untuk perpustakaan kecil
No.
1.
2.
Tahapan
Proses
Scanning
Material dan Jasa yang Biaya non rutin
Dibutuhkan
Rp
Biaya
bongkar-pasang
4.000
bahan digital (tesis, dll)
sebesar Rp 8.000/tesis,
dengan
jumlah
total
sebanyak 1.600 tesis
Pelatihan cara men-scan
Satu Unit PC untuk
operator scanner
Pembelian
satu
unit
2.750.000
scanner
HP
Scanjet
C7716A US $ 275
Editing dan Biaya training software
5.000.000
Uploading
yang diperlukan ( in
house training ), meliputi
Adobe Acrobat,
Omnipage, and Digital
library software
Pembelian software
1.500.000
Adobe Acrobat 6 # US $
150 (used software
berdasarkan
Amazone.com)
Pembelian software
750.000
omnipage 14 # US $ 75
satu buah server untuk
INTERNET dan untuk
INTERNET
Satu buah unit computer
untuk 1 (satu) orang
petugas EDITOR
TOTAL BIAYAINVESTASI/TIDAK RUTIN
Total biaya Rp
800.000
2.750.000
5.000.000
1.500.000
750.000
-
-
10.800.000
Lampiran 13 : Total biaya yang dibutuhkan untuk melakukan proses
digitalisasi tesis sebanyak 1.600 tesis dalam waktu 4 bulan
untuk perpustakaan kecil
No.
1.
Jenis Biaya
Biaya Investasi (tidak
Biaya Per
Bulan Rp
-
Jumlah Bulan
Total Biaya Rp
-
10.800.000
4 bulan
1.600.000
rutin)
2.
Biaya Rutin
400.000
(Bulanan)
TOTAL BIAYA PROYEK DIGITALISASI
12.400.000
Judul Penelitian
Nama
NRP
Program Studi
: Studi Kelayakan Pengembangan
Perpustakaan Digital Berbasis Web Di Perpustakaan Sekolah
Tinggi Perikanan (Stp) Jurusan Penyuluhan Perikanan
(Jurluhkan) Bogor
: Dadan Syachrulramdhani
: G650280135
: Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan
Disetujui
Komisi pembimbing
Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc.
Ir. Meuthia Rachmaniah, M.Sc
Diketahui,
Ketua Program Studi MTP
a.n. Dekan Sekolah Pascasarjana
Azis Kustiyo,S.Si, M.Kom
Dr.Ir. Naresworo Nugroho, M.Si
Tanggal Disetujui: ........................................................................
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan hasil pengolahan dan analisis data sesuai dengan
tujuan penelitian. Untuk memudahkan pembahasan maka pemaparan hasil
pengolahan data …………………………………………………..
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai
berikut:
5.2. Saran
Download