BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Saat ini telah

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Saat ini telah banyak bermunculan tayangan televisi yang bersifat
dokumentasi untuk mengisi dan menambah jenis tayangan acara di
televisi. Tayangan bersifat dokumentasi adalah sebuah tayangan yang
dikemas melalui video rekaman yang telah ada sebelumnya. Tayangan ini
telah banyak ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi swasta Indonesia,
antara lain Trans7, Global TV, RCTI, dan ANTV. Tayangan seperti ini
telah memberikan banyak informasi, edukasi dan hiburan bagi khalayak
sesuai dengan fungsi komunikasi massa itu sendiri.
Salah satu tayangan acara yang bersifat dokumentasi yang
banyak disenangi oleh khalayak dan menjadi trendsetter adalah On The
Spot yang ditayangkan oleh Trans7. On The Spot adalah program
informatif yang menayangkan berbagai hal unik yang terkadang tidak
terpikirkan oleh kita sebelumnya dengan disertai penjelasan ringan
(www.trans7.com).
On The Spot sebenarnya bukan tayangan televisi baru, tetapi
merupakan tayangan televisi yang berubah konsep. On The Spot tadinya
merupakan tayangan televisi yang menayangkan video klip musik, tetapi
On The Spot kemudian bertransformasi menjadi program documenter
1
2
(menurut rating Nielsen, masuk kategori Information: Documentary) yang
mengambil
potongan
klip
video
dari
situs
youtube
(www.tabloidbintang.com).
On The Spot dengan konsep information: documentary dikemas
dengan menampilkan fenomena, peristiwa, kejadian, dan sebagainya di
setiap episodenya dengan satu tema, dan di dalam satu tema tersebut akan
ditampilkan 7 contoh fenomena, peristiwa, kejadian dan sebagainya seperti
7 fenomena alam teraneh, 7 hewan terunik di dunia berwarna ungu, 7
hewan terpintar di dunia, dan lain-lain. Angka 7 tersebut melambangkan
bahwa tayangan ini di bawah naungan stasiun televisi swasta Trans7.
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa tayangan On
The Spot memiliki fungsi komunikasi massa. Fungsi dari komunikasi
massa itu sendiri seperti dikemukakan oleh Effendy (2004;54) yaitu untuk
menyiarkan informasi (to inform), untuk mendidik (to educate), dan untuk
menghibur (to entertain). Adapun fungsi lain terhadap fungsi komunikasi
massa seperti mempengaruhi (to influence), membimbing (to guide),
mengeritik (to criticize), dan lain-lain, hanya merupakan tambahan saja
terhadap ketiga fungsi sebelumnya.
Fungsi komunikasi massa ini sendiri dapat diperoleh dari
teknologi yang sedang berkembang melalui media baik itu media
elektronik maupun cetak, seperti televisi, radio, surat kabar, computer,
majalah, handphone, dan sebagainya. Media tersebut merupakan media
komunikasi massa yang sering dipakai oleh manusia sebagai pemenuhan
3
kebutuhannya, sehingga media tersebut mulai dianggap menjadi bagian
dari kebutuhan primer.
Televisi adalah salah satu bentuk teknologi saat ini yang banyak
digunakan oleh manusia. Televisi juga merupakan salah satu media
komunikasi massa. Semua media massa umumnya mempunyai fungsi
komunikasi massa yang sama.
Televisi bukanlah barang mewah lagi karena sudah merupakan
kebutuhan setiap orang. Rata-rata orang di dunia ini telah mempunyai
televisi di rumahnya karena televisi dianggap dapat memuaskan kebutuhan
penggunanya dalam menyampaikan informasi, edukasi dan hiburan karena
memiliki audio dan visual yang dipadu-padankan. Orang-orang tidak puas
dengan hanya mendengar suara saja, tetapi dengan kehadiran televisi
orang-orang akan merasa lebih puas karena adanya suara dan gambar yang
ditampilkan.
Sebagai salah satu media elektronik, televisi mempunyai sifatsifat khas yang dapat dijadikan sebagai kekuatan yang dimilikinya dalam
menyampaikan pesan atau informasi kepada masyarakat. Banyaknya
televisi dengan berbagai macam harga dan tampilan yang semakin menarik
disertai dengan beraneka ragam jenis tayangan membuat khalayak pada
umumnya memiliki perangkat elektronik ini.
Melalui televisi, tayangan On The Spot yang ditayangkan oleh
salah satu stasiun televisi swasta nasional Indonesia yakni Trans7 mampu
meraih kesuksesan di tahun 2011 dan kehadirannya cukup berpengaruh di
4
jam primetime. Tayangan On The Spot telah mampu bersaing dan
mengalahkan tayangan televisi lainnya dengan perubahan konsep menjadi
Information: Documentary.
Dalam rating Senin (5/9/2011), On The Spot bahkan ada di posisi
2 dengan TVR 4,3 dan share 17,3. On The Spot mampu bersaing ketat
dengan program sinetron, animasi dan lawak yang mendominasi top 10
rating.
Tayangan On The Spot merupakan tayangan yang mempunyai
sisi positif karena cukup bermanfaat dalam memberikan informasi kepada
khalayak yang berada di Indonesia. Dengan menduduki rating kedua,
tayangan On The Spot memang patut untuk diacungi jempol dan hal ini
memperlihatkan bahwa informasi yang disajikan oleh tayangan On The
Spot dapat menarik perhatian dari masyarakat luas di Indonesia.
Namun selain mempunyai sisi positif, On The Spot juga
mempunyai sisi negatif dalam penayangan episodenya. Tayangan On The
Spot mendapatkan teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI
terkait episode yang menayangkan hewan penyu.
Tayangan ini mendapat sanksi administratif teguran tertulis pada
28 Desember 2011. KPI menjelaskan, "Pada tanggal 23 November 2011
pukul 19.52 WIB menayangkan informasi tentang pembantaian penyu
hijau yang dalam program disebutkan konon digunakan untuk upacara
keagamaan bagi masyarakat Hindu Bali. Bersamaan dengan penyampaian
informasi tersebut, ditayangkan adegan masyarakat Hindu Bali yang
5
sedang menjalankan Ibadah. KPI Pusat menganggap program tidak hatihati dalam penayangan informasi yang validitasnya tidak diverifikasi
kembali dengan umat Hindu Bali. Penayangan hal terebut telah melanggar
P3 KPI 2009 Pasal 6 dan 7 serta SPS KPI 2009 Pasal 7 ayat (1) dan ayat
(2) huruf a" (www.kpi.go.id).
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, tayangan On The
Spot yang disiarkan oleh Trans7 merupakan tayangan yang menjadi
trendsetter bagi stasiun televisi swasta lainnya di Indonesia. Terdapat
beberapa tayangan yang mengikuti konsep On The Spot dengan
information: documentary, seperti Top 5 di RCTI, Hot Spot di Global TV,
Top Banget di Global TV, Woow…! dan Fenomania di ANTV, dan
Spotlite yang berada di bawah naungan yang sama oleh On The Spot yakni
Trans7.
Menurut Kikie Randini, Associate Director Communications and
Marketing The Nielsen Company Indonesia periode 11-17 September
2011, di antara lima tayangan televisi seperti On The Spot (rata-rata
jumlah penonton: 1.980 dan rating: 3,8 %), Spotlite (rata-rata jumlah
penonton: 628 dan rating: 1,2 %), Top 5 (rata-rata jumlah penonton: 601
dan rating: 1,2 %) , Hot Spot (rata-rata jumlah penonton: 407 dan rating:
0,8 %), dan Woow…! (rata-rata jumlah penonton: 272 dan rating: 0,5 %)
yang menggunakan gambar dari Youtube, khusus On The Spot mulai
masuk deretan tayangan yang banyak ditonton sejak bulan April 2011
(http://kontan.realviewusa.com).
6
Dengan demikian, tayangan On The Spot merupakan tayangan
yang banyak digemari oleh khalayak dalam menonton program televisi
dan menjadi trendsetter bagi stasiun televisi swasta lainnya untuk
menyiarkan program tayangan yang konsepnya mirip dengan On The Spot
di Trans7.
Peranan media terutama televisi sangat besar, media sebagai alat
komunikasi massa dituntut untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan
mahasiswa dalam memperoleh pengetahuan dan wawasan, terutama
mahasiswa Universitas Hasanuddin. Universitas Hasanuddin merupakan
salah satu universitas terbesar di Indoenesia khususnya di kawasan
Indoensia Timur. Oleh karena itu, mahasiswa Universitas Hasanuddin
dianggap layak untuk memberikan tanggapan (respon) terhadap tayangan
On The Spot karena telah banyak memberikan kontribusi baik secara
ilmiah ataupun non-ilmiah. Selain itu, mahasiswa dianggap sebagai salah
satu khalayak yang aktif dalam pemilihan tayangan di televisi.
Mahasiswa cenderung akan mencari informasi yang dapat
menambah wawasan dan pengetahuannya. Tayangan On The Spot
merupakan salah satu tayangan televisi yang bermanfaat dan dapat
dijadikan alternatif untuk menambah pengetahuan dan wawasan
mahasiswa.
Berdasarkan apa yang dipaparkan di atas, penulis mencoba untuk
mengkaji lebih jauh ke dalam bentuk penelitian skripsi komunikasi dengan
judul :
7
“Tanggapan Mahasiswa Universitas Hasanuddin Terhadap Tayangan
‘On The Spot’ di Trans7”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana tanggapan mahasiswa Universitas Hasanuddin terhadap
tayangan On The Spot di Trans7 ?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tanggapan mahasiswa
Universitas Hasanuddin terhadap tayangan ‘On The Spot’ di Trans7 ?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tanggapan mahasiswa Universitas Hasanuddin
terhadap tayangan On The Spot di Trans7.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tanggapan
mahasiswa Universitas Hasanuddin terhadap tayangan ‘On The Spot’
di Trans7.
8
Kegunaan Penelitian
Kegunaan Teoritis :
-
Sebagai bahan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan,
khususnya dibidang ilmu komunikasi dan diharapakan dapat menjadi
referensi dalam pembelajaran Ilmu Komunikasi khususnya yang
berkaitan dengan media massa.
Kegunaan Praktis :
1. Diharapkan penelitian ini sebagai bahan masukan bagi stasiun televisi
Trans7 dalam tayangan On The Spot untuk lebih banyak memberikan
informasi dan pengetahuan yang baru, up to date, dan unik agar
khalayak lebih tertarik dalam menonton tayangan tersebut.
2. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana pada
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin.
D. Kerangka Konseptual
Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa
modern. Media massa yang dimaksud adalah televisi, radio, surat kabar,
dan film. Hal ini perlu dijelaskan, sebab ada sementara ahli komunikasi
diantaranya Everett M. Rogers (dalam Effendy 2004;50) yang berpendapat
bahwa selain media massa modern, ada juga media massa tradisional yang
meliputi teater rakyat, juru dongeng keliling, juru pantun, dan lain-lain.
9
Tidak bisa dipungkiri, manusia di dunia ini tidak bisa lepas oleh
kehadiran media massa. Media massa sangat berperan penting dalam
kehidupan manusia dalam mengakses informasi, baik itu melalui media
cetak maupun media elektronik.
Media dan khalayak senantiasa memiliki hubungan, baik dalam
bentuk penggunaan media oleh khalayak untuk memenuhi kebutuhannya
ataupun media terhadap khalayak secara tidak langsung.
Umumnya kita lebih tertarik bukan kepada apa yang kita lakukan
pada media, tetapi kepada apa yang dilakukan media pada kita. Misalnya,
kita ingin tahu bukan untuk apa kita membaca surat kabar atau menonton
televisi,
tetapi
bagaimana
surat
kabar
atau
televisi
menambah
pengetahuan, mengubah sikap, atau menggerakkan perilaku kita. Inilah
yang disebut sebagai efek dari komunikasi massa yang dilakukan oleh
media massa.
Dalam proses penyiaran televisi, komunikasi yang terjadi
mempunyai tujuan yang utama adalah menimbulkan efek terhadap
khalayak. Adapun efek-efek tersebut berupa:
a. Efek Kognitif (cognitive effect) terjadi bila ada perubahan pada
apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek
ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan,
kepercayaan, atau informasi.
10
b. Efek Afektif (affective effect) timbul bila ada perubahan pada
apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci khalayak. Efek ini
ada hubungannya dengan emosi, sikap, atau nilai.
c. Efek Behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat
diamati meliputi tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku
yang dilakukan setelah terjadinya efek kognitif dan efek afektif
terhadap khalayak.
Sehubungan dengan hal di atas, faktor yang menentukan
khalayak (individu) yang mempunyai peran dalam proses mendengar dan
melihat terhadap apa yang ditonton melalui televisi. Tingkat kognitif dan
afektif selalu ingin mencoba memahami sebab-sebab yang terjadi pada
peristiwa
yang
dihadapinya.
Selanjutnya,
kemampuan
komponen
behavioral pada sasaran yang dikehendaki (Fitriyani, 2011).
Media memang berpengaruh kepada individu, tetapi pengaruh ini
tidak hanya diterima begitu saja melainkan individu dapat menyaring
berbagai informasi yang diterimanya. Hal ini berkenan dengan teori Uses
and Gratification yang dimana teori ini tidak tertarik pada apa yang
dilakukan oleh media pada diri orang, tetapi ia tertarik pada apa yang
dilakukan orang terhadap media. Khalayak dianggap secara aktif
menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya (Rakhmat, 2007: 65).
Oleh karena khalayak dianggap aktif dalam menggunakan media, maka
respon yang diperlihatkan oleh setiap individu juga berbeda.
11
Reaksi berupa respon media massa terhadap khalayak dapat
diidentifikasi melalui tanggapan. Tanggapan atau respon yang muncul dari
setiap individu akan berbeda dari yang satu dengan yang lainnya.
Tanggapan ini dapat berupa lisan maupun tulisan dimana tanggapan
merupakan umpan balik yang mulanya hanya merupakan sikap saja, tetapi
kemudian diekspresikan kepada orang lain.
Sehubungan dengan hal di atas, maka model yang dapat
menjelaskan hubungan tersebut yaitu S-O-R, yang menyatakan bahwa
pengaruh yang terjadi pada pihak penerima, pada dasarnya merupakan
suatu reaksi tertentu dari stimulus (rangsangan) tertentu. Dengan demikian
besar kecilnya pengaruh, tergantung pada isi dan penyajian stimulus.
Menurut K. Bertens (dalam Fitriyani, 2011) dalam bukunya yang
berjudul Metode Belajar untuk mahasiswa, mahasiswa adalah kalangan
intelektual yang penuh bakat dan potensi yang sedang belajar di perguruan
tinggi, mahasiswa tidak hanya mempunyai status tetapi ia juga berjuang
keras untuk menyelesaikan studinya.
Mahasiswa adalah kalangan muda yang umurnya berkisar antara
18-25 tahun yang mengalami masa dari remaja menuju dewasa.
Mahasiswa juga dianggap sebagai sosok yang mempunyai pengetahuan
dan wawasan yang cukup luas.
Mahasiswa juga merupakan salah satu khalayak yang banyak
menggunakan media. Media yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan
12
akan pengetahuan dan wawasannya sebagai seorang mahasiswa. Apalagi
sekarang ini, akses untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan jauh
lebih cepat. Disini, seorang mahasiswa dapat dianggap sebagai suatu
khalayak yang aktif dalam penggunaan media, baik itu media elektronik
maupun media cetak.
Maka dapat dikatakan bahwa media massa, dalam hal ini televisi
mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk menambah pengetahuan
dan wawasan bagi seorang mahasiswa. Tayangan On The Spot merupakan
suatu tayangan yang diharapkan dapat memberikan wawasannya terhadap
mahasiswa yang selalu ingin menambah pengetahuan dan wawasannya.
Model S-O-R menjadi landasan teoritis dalam penelitian ini
dengan tayangan On The Spot sebagai stimulus, Mahasiswa Unhas sebagai
organism, dan tanggapan Mahasiswa Unhas sebagai respons.
Adapun kerangka teori pada penelitian ini dapat dilihat sebagai
berikut:
13
Gambar 1.1
Kerangka Konseptual
Stimulus
Tayangan On The Spot di Trans7
-
Jadwal Penayangan
Tema
Narasi Tema
Daya Tarik
Organisme
Mahasiswa Unhas
-
Perhatian
Penerimaan
Pengertian
Respons
Tanggapan Mahasiswa Unhas
14
E. Defenisi Operasional
a. On The Spot
Adalah program informatif yang menayangkan berbagai hal unik yang
terkadang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya dengan disertai
penjelasan ringan, ditayangkan oleh Trans7 dari Senin – Jum’at pkl
19.15 WIB.
b. Trans7
Adalah sebuah stasiun televisi swasta Indonesia yang sebelumnya
bernama TV7. TV7 kemudian berubah nama menjadi Trans7 setelah
sahamnya dibeli oleh PT Trans Corpora, dan pada tanggal 15
Desember 2006 ditetapkan sebagai hari lahirnya Trans7. Sekarang,
Trans7 berada di bawah naungan Trans Corp bersama Trans TV.
c. Tayangan
Adalah sesuatu yang ditayangkan (dipertunjukkan) oleh Trans7 yakni
On The Spot.
d. Mahasiswa
Adalah seseorang atau pelajar yang menempuh pendidikan di
Perguruan Tinggi/Universitas. Mahasiswa yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah mahasiswa S1 Universitas Hasanuddin Makassar.
e. Universitas Hasanuddin
Adalah universitas terbesar di kawasan Indonesia timur yang terletak
di Jln. Perintis Kemerdekaan KM.10 Makassar.
15
f. Tanggapan
Dalam
penelitian
ini,
tanggapan
adalah
pernyataan
subjektif
mahasiswa Unhas dalam menonton tayangan On The Spot di Trans7.
g. Jadwal Penayangan
Dalam penelitian ini, maksud dari jadwal penayangan adalah waktu,
hari, dan durasi tayangan On The Spot yang di tayangkan oleh Trans7.
h. Tema
Dalam penelitian ini, maksud dari tema adalah ide atau gagasan dalam
tayangan On The Spot yang disampaikan kepada khalayak.
i. Narasi Tema
Narasi tema yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah sebuah
penjelasan singkat yang disampaikan terhadap suatu fenomena,
peristiwa, kejadian, dan sebagainya dalam setiap episode On The Spot
kepada khalayak.
j. Daya Tarik
Dalam penelitian ini, daya tarik yang dimaksud adalah hal-hal yang
membuat mahasiswa Universitas Hasanuddin tertarik dalam menonton
tayangan On The Spot di Trans7.
F. Metode Penelitian
1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Lokasi dari penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu
Universitas Hasanuddin. Adapun waktu penelitian yang akan
16
dilakukan peneliti selama 2 bulan mulai dari bulan Maret 2012 sampai
bulan Mei 2012.
2. Tipe Penelitian
Tipe penelitian adalah kuantitatif, dengan teknik survei yang
selanjutnya akan dikemukakan secara deskriptif yaitu menggambarkan
dan memberikan informasi berupa angka-angka yang telah diuji
melalui pengolahan data.
3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas
Hasanuddin program strata satu (S1) yang terdiri dari 4 fakultas yakni
fakultas Isipol, fakultas Sastra, fakultas Pertanian, dan fakultas MIPA
yang berjumlah 6.359 orang dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1.1
Fakultas
Populasi
Isipol
1630
Sastra
1826
Pertanian
1526
MIPA
1377
Total
6.359
Sumber : Rekapitulasi Mahasiswa Unhas 2011/2012
Pada penentuan sampel, peneliti memakai metode pengambilan
sampel secara probability sampling, kemudian teknik penarikan
17
sampelnya berupa sampel berstrata proporsional. Adapun besaran
sampel dengan menggunakan tabel Isaac dan Michael dalam buku
Sugiyono (penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu dengan
syarat kesalahan 1%, 5%, dan 10%).
Dengan menggunakan tabel Isaac dan Michael (dalam
Sugiyono 2010; 87) dalam penentuan besaran sampel, maka diperoleh
sampel sebesar 332 orang dengan memakai syarat kesalahan 5% dari
populasi 6.359 orang.
Dari sampel sebesar 332 orang, maka akan ditentukan sampel dari
empat fakultas di Universitas Hasanuddin dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Gambar 1.2
Rumus Alokasi Proporsional
nI =
𝑁𝐼 𝑥 𝑛
𝑁
Dimana :
nI = Banyaknya sampel
NI = Jumlah anggota populasi per fakultas
n = jumlah anggota populasi
N = sampel yang diperoleh dari tabel Isaac dan Michael
18
Maka diperoleh sampel per fakultas sebagai berikut :
1. Faskultas Isipol
: 1630/6359 x 332 = 85
2. Fakultas Sastra
: 1826/6359 x 332 = 95
3. Fakultas Pertanian
: 1526/6359 x 332 = 80
4. Fakultas MIPA
: 1377/6359 x 332 = 72
4. Teknik Pengumpulan data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dilakukan dengan
observasi dan menyebarkan kuesioner kepada sampel yang terlebih
dahulu sudah ditentukan oleh peneliti.
Selain itu, peneliti juga melakukan kajian pustaka seperti buku,
majalah, artikel, literatur, situs internet dan sebagainya yang dapat
menjadi bahan referensi bagi peneliti.
5. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah kuantitatif.
Data yang diperoleh dari kuesioner yang telah terkumpul akan
dianalisis dengan menggunakan tabel frekuensi yang kemudian
dijabarkan secara deskriptif. Penelitian ini memanfaatkan software
SPSS versi 17.0 dalam pengolahan data.
19
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Komunikasi Massa
Berbicara mengenai komunikasi massa tentu media massa tidak
akan luput untuk diperbincangkan. Komunikasi massa merupakan
komunikasi yang terjadi dengan menggunakan media massa.
Media massa yang dimaksudkan disini adalah media massa
modern yakni surat kabar, majalah, radio, televisi atau film. Hal ini perlu
dijelaskan sebab ada sementara ahli komunikasi massa antara lain Everett
M. Rogers yang mengatakan bahwa selain media massa modern terdapat
media massa tradisional diantaranya teater rakyat, juru dongeng keliling,
dan juru pantun.
Untuk
memperoleh
pengertian
yang
lebih
luas
tentang
komunikasi massa, kita tinjau beberapa definisi lain (dalam Darwanto,
2007: 28-29) :
Definisi yang paling sederhana tentang komunikasi massa
dirumuskan Bittner (1980: 10) dalam bukunya Mass Communication: An
Introduction menyatakan :
“Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui
media massa pada sejumlah besar orang (Mass communication is
messages communicated through a mass medium to a large
number of people)”
19
20
Dari pendapat ini, terlihat bahwa Bittner lebih menekankan
kepada pesan komunikasinya, belum memberikan pengertian tentang
komunikasi massa itu sendiri.
Tentang komunikasi massa, Edwin Emery, Phillip H. Ault,
Warren K. Agee (1964: 4) berpendapat sebagai berikut :
“Komunikasi massa ini menyampaikan informasi, ide, dan sikap
kepada berbagai komunikan yang jumlahnya cukup banyak
dengan menggunakan media massa (This is mass
communication-delivering information, ideas and attitudest a
sizable and diversified audience through use og the media
developed for that purpose)”
Pendapat Emery tersebut, menunjukkan perbedaan penjelasan
tentang arti komunikasi massa dalam hubungannya dengan penggunaan
media massa. Lain lagi pendapat dari Werner I. Severin dan James W.
Tankard, Jr. yang lebih memerinci tentang berlangsungnya komunikasi
massa seperti dinyatakan dalam bukunya Communication Theories,
Origins, Methods, Uses sebagai berikut :
“……….Komunikasi massa adalah sebagian keterampilan,
sebagian seni, dan sebagian ilmu………. (…… mass
communication is part skill, part art, and part science……)”
Menurut Joseph A. Devito dalam bukunya Communicology: An
Introduction to the Study of Communication menampilkan definisinya
mengenai komunikasi massa (Effendy, 2009: 21) :
“Komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada
massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya (Mass
communication is communication addressed to the masses, to an
extremely large audiens)”
21
Dari definisi-definisi diatas tentang komunikasi massa, maka
Rakhmat merangkum definisi-definisi tersebut, yaitu :
“Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang
ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen,
dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan
yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat”.
Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas, maka peneliti
dapat menarik kesimpulan bahwa komunikasi massa merupakan
komunikasi yang terjadi melalui media massa dan ditujukan kepada
khalayak luas.
B. Televisi
Media massa yang digunakan saat ini untuk menyampaikan
kepada khalayak luas yang dianggap paling efektif adalah televisi. Televisi
dianggap
sebuah
teknologi
modern
yang
paling
efektif
untuk
menyampaikan informasi atau berita kepada khalayak. Televisi dianggap
bukan barang mewah lagi sehingga semua orang disetiap rumahnya telah
memiliki teknologi yang satu ini. Fasilitas audio dan visual yang dimiliki
oleh perangkat teknologi ini membuat masyarakat senang memilikinya
sehingga dapat dijumpai dimana saja. Selain itu, karena jangkauannya
yang luas dalam menyampaikan suatu informasi atau berita maka
teknologi ini dipilih karena fungsinya yang tidak terbatas oleh ruang dan
waktu. Zaman dahulu sebelum ditemukannya televisi, kita akan
mendapatkan kabar dari daerah atau Negara lain akan sangat lama,
sekarang dengan adanya televisi kita dapat dengan cepat mendapatkan
22
kabar dari manapun dengan melihat kejadian tersebut melalui media yang
satu ini. Fasilitas yang dimiliki oleh televisi seperti audio dan visual
membuat teknologi ini sangat disenangi oleh masyarakat, apalagi sekarang
bentuk televisi sudah semakin ekonomis dan layarnya pun sudah bisa
menghadirkan yang berwarna dan berdimensi tidak sama dengan halnya
dulu yaitu hitam putih.
Oleh karena kedekatan media yang satu ini dengan masyarakat,
maka setiap stasiun televisi berlomba-lomba untuk menampilkan
tayangan-tayangan yang semenarik mungkin untuk menarik perhatian dari
masyarakat. Dengan adanya televisi, seseorang bisa duduk berjam-jam
menyaksikan tayangan yang digemarinya menghabiskan waktunya
dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk kumpul bersama
keluarga atau pasangannya, bekerja, belajar, ataupun melakukan rutinitas
lainnya. Media televisi memang memiliki posisi istimewa dalam
masyarakat. Keistimewaan itu dapat dilihat dari karakteristiknya yang
memberikan kemudahan maksimal kepada khalayaknya. Hal ini dapat
dipahami mengingat untuk memperoleh informasi atau berita khalayak
tidak perlu keluar rumah, bersifat gratis, tidak memerlukan kemampuan
baca yang tinggi, dan mencapai khalayak yang heterogen sekaligus.
Singkatnya, televisi lebih mampu untuk mempengaruhi kehidupan kita
lebih dari hal lain (Morissan 2010: 1 dalam Fitriyani).
23
1. Televisi sebagai media massa
Televisi merupakan perkembangan medium berikutnya setelah
radio yang diketemukan dengan karakternya yang spesifik yaitu audio
visual. Peletak dasar utama teknologi pertelevisian tersebut adalah Paul
Nipkow dari Jerman yang dilakukannya pada tahun 1884. Ia
menemukan sebuah alat yang kemudian disebut sebagai Jantra Nipkow
atau Nipkow Sheibe. Penemuannya tersebut melahirkan electrische
teleskop atau televisi praktis.
Perkembangan
teknologi
pertelevisian
saat
ini
sudah
sedemikian pesat sehingga dampak siarannya menyebabkan seolaholah tidak ada lagi batas antara satu Negara dengan Negara lainnya
(Deddy, 2005: 4).
Televisi sebagai media massa modern, berbeda dengan media
massa tradisional dimana media massa tradisional komunikatornya
bertatap muka dengan komunikannya (face to face communication).
Dari beberapa media massa yang ada, televisi merupakan media massa
elektronik yang paling akhir kehadirannya. Meskipun demikian,
televisi dinilai sebagai media massa yang paling efektif saat ini, dan
banyak
menarik
simpati
kalangan
masyarakat
luas
karena
perkembangan teknologinya begitu cepat. Hal ini disebabkan sifat
audio visualnya yang tidak dimiliki media massa lainnya, sedang
penayangannya mempunyai jangkauan yang relatif tidak terbatas.
24
Dengan modal audio visual yang dimiliki, siaran televisi sangat
komunikatif dalam memberikan pesan-pesannya. Karena itu, tidak
mengherankan kalau mampu memaksa penontonnya duduk berjamjam di depan pesawat televisi. Karena itulah televisi sangat bermanfaat
sebagai upaya pembentukan sikap perilaku dan sekaligus perubahan
pola berpikir.
2. Fungsi media massa
Fungsi media massa termasuk televisi tentunya, menurut
seorang ahli komunikasi Harold D. Laswell melihat fungsi utama
media massa sebagai berikut :
a. The surveillance of the environment. Artinya, media massa
mempunyai fungsi sebagai pengamat lingkungan atau dalam
bahasa sederhana sebagai pemberi informasi tentang hal-hal yang
berada di luar jangkauan penglihatan kepada masyarakat luas.
b. The correlation of the parts of society in responding to the
environment. Artinya, media massa berfungsi untuk melakukan
seleksi, evaluasi, dan interpretasi dari informasi. Dalam hal ini
peranan media massa adalah melakukan seleksi mengenai apa yang
perlu dan pantas untuk disiarkan. Pemilihan dilakukan oleh editor,
reporter, redaktur yang mengelola media massa.
c. The transmission of the social heritage from one generation to the
next. Artinya, media massa sebagai sarana untuk menyampaikan
25
nilai dan warisan sosial budaya dari satu generasi ke generasi yang
lain.
Umumnya
secara
sederhana
fungsi
media
massa
ini
dimaksudkan sebagai fungsi pendidikan (educational function of mass
media) (Harold D. Laswell, 1948: 38).
Di samping ketiga fungsi utama seperti yang dikemukakan oleh
Laswell
tersebut,
Charles
R.
Wright
dalam
bukunya
Mass
Communication A Sociological Perspective (1959: 38) menambahkan
fungsi keempat yaitu fungsi hiburan. Justru karena fungsi hiburan
inilah orang membaca surat kabar, mendengarkan radio dan menonton
televisi.
Demikian pula Wilbur Schramm (1975: 34) melihat fungsi
media massa sebagai sarana promosi/iklan “To sell goods for us”
(dalam Darwanto 2007: 33).
3. Tayangan On The Spot
On The Spot adalah program informatif yang menayangkan
berbagai hal unik yang terkadang tidak terpikirkan oleh kita
sebelumnya dengan disertai penjelasan ringan (www.trans7.com).
On The Spot sebenarnya bukan tayangan televisi baru, tetapi
merupakan tayangan televisi yang berubah konsep. On The Spot
tadinya merupakan tayangan televisi yang menayangkan video klip
musik, tetapi On The Spot kemudian bertransformasi menjadi program
26
dokumenter (menurut rating Nielsen, masuk kategori Information:
Documentary) yang mengambil potongan klip video dari situs youtube
(www.tabloidbintang.com).
On The Spot dengan konsep information: documentary
dikemas dengan menampilkan fenomena, peristiwa, kejadian, dan
sebagainya di setiap episodenya dengan satu tema, dan di dalam satu
tema tersebut akan ditampilkan 7 contoh fenomena, peristiwa, kejadian
dan sebagainya seperti 7 fenomena alam teraneh, 7 hewan terunik di
dunia berwarna ungu, 7 hewan terpintar di dunia, dan lain-lain. Angka
7 tersebut melambangkan bahwa tayangan ini di bawah naungan
stasiun televisi swasta Trans7.
4. Efek media massa
Umumnya kita lebih tertarik bukan kepada apa yang kita
lakukan pada media, tetapi kepada apa yang dilakukan media pada
kita. Kita ingin tahu bukan untuk apa kita membaca surat kabar atau
menonton televisi, tetapi bagaimana surat kabar atau televisi
menambah pengetahuan, mengubah sikap, atau menggerakkan perilaku
kita. Misalnya, kita pernah terkejut mendengar beberapa orang remaja
yang memperkosa anak kecil setelah menonton film porno di suatu
tempat di Indonesia. Perbedaan pandangan tidak saja disebabkan
karena perbedaan latar belakang teoritis atau latar belakang historis
tetapi juga karena perbedaan mengartikan ‘efek’.
27
Seperti dinyatakan Donald K. Robert (Schramm dan Roberts,
1977: 359) (dalam Rakhmat, 2005: 218) ada yang beranggapan bahwa
efek hanyalah perubahan perilaku manusia setelah diterpa pesan media
massa. Karena fokusnya pesan, maka efek haruslah berkaitan dengan
pesan yang disampaikan media massa.
Tentu saja, membatasi efek hanya selama berkaitan dengan
pesan media akan mengesampingkan banyak sekali pengaruh media
massa. Kita cenderung melihat efek media massa, baik yang berkaitan
dengan pesan maupun media itu sendiri. Menurut Steven M. Chaffee
(dalam Wilhoit dan Harold de Bock, 1980: 78) ini adalah pendekatan
pertama dalam melihat efek media massa. Pendekatan kedua adalah
melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi
massa yakni :
1. Efek Kognitif (cognitive effect) terjadi bila ada perubahan pada
apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek
ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan,
kepercayaan, atau informasi.
2. Efek Afektif (affective effect) timbul bila ada perubahan pada
apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci khalayak. Efek ini
ada hubungannya dengan emosi, sikap, atau nilai.
3. Efek Behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat
diamati meliputi tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku
28
yang dilakukan setelah terjadinya efek kognitif dan efek afektif
terhadap khalayak.
Steven H. Chaffee menyebut lima hal efek media massa yaitu :
1. Efek Ekonomis
Kita mengakui bahwa kehadiran media massa menggerakkan
berbagai usaha – produksi, distribusi, dan konsumsi ‘jasa’
media massa. Kehadiran televisi disamping menyedot energy
listrik dapat member nafkah para juru kamera, juru rias,
pengarah acara, dan belasan profesi lainnya.
2.
Efek Sosial
Berkenaan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial
akibat kehadiran media massa. Sudah diketahui bahwa
kehadiran televisi menigkatkan status sosial pemiliknya.
3.
Efek pada Penjadwalan Kegiatan
Efek ini berkenaan dengan perubahan kegiatan sehari-hari
akibat kehadiran media massa.
4.
Efek pada Penyaluran/Penghilangan Perasaan Tertentu
Sering terjadi orang menggunakan media untuk menghilangkan
perasaan tidak enak, misalnya kesepian, marah, kecewa, dan
sebagainya. Media digunakan tanpa mempersoalkan isi pesan
yang disampaikannya, misalnya seorang pemuda yang kecewa
menonton televisi kadang-kadang tanpa menaruh perhatian
pada acara yang disajikan.
29
5.
Efek pada Perasaan Orang Terhadap Media
Kita memiliki perasaan positif atau negatif pada media tertentu.
Tumbuhnya perasaan senang atau percaya apda media massa
tertentu mungkin erat kaitannya dengan pengalaman individu
bersama media massa tersebut, boleh jadi faktor isi pesan mulamula amat berpengaruh tetapi kemudian jenis media itu yang
diperhatikan apa pun yang disiarkannya.
C. Tanggapan Mahasiswa Universitas Hasanuddin
1. Pengertian Tanggapan
Tanggapan
adalah
suatu
kemampuan
individu
untuk
memberikan makna atau interpretasi berdasarkan stimuli yang diterima
oleh panca indera sehingga melahirkan refleksi dari dalam diri
seseorang untuk merealisasikan stimulant yang diterimanya. Tapi
ternyata manusia mempunyai kemampuan yang lain disamping
kemampuan untuk mengadakan pengamatan yaitu membayangkan atau
menanggapi atau tidak yang diamatinya itu. Dengan adanya
kemampuan ini sekaligus bahwa gambaran yang terjadi pada waktu
pengamatan tidak hilang begitu saja tetapi tersimpan dalam jiwa
individu itu apabila tanggapan tersebut ada di bawah sadar atau tidak
disadari, maka tanggapan ini disebut ‘latent’ (tersembunyi, belum
terungkap), sedangkan tanggapan tersebut aktual apabila tanggapan
30
tersebut kita sadari dan pesan atau gambar pengamatan itu lebih jelas,
lebih jernih, dan lebih lengkap.
Pengertian
tanggapan
oleh
beberapa
ahli
akan
lebih
memperjelas dalam proses komunikasi di antaranya sebagai berikut :
Kartono Kartini (1990: 30) mendefinisikan tanggapan sebagai berikut:
“Tanggapan adalah kesan-kesan yang dialami dan perangsangperangsang sudah tidak ada. Jika proses pengamatan sudah
berhenti dan hanya tinggal kesan-kesannya saja, ini disebut
sebagai tanggapan”
Dennis Mc. Quail
“Suatu proses dimana individu berubah atau menolak
perubahan sehingga tanggapan terhadap pesan yang dirancang
untuk mempengaruhi sikap, pengetahuan, dan perilaku”
Dari definisi-definisi diatas maka peneliti dapat menyimpulkan
bahwa tanggapan mahasiswa Universitas Hasanuddin merupakan
reaksi atau respon yang diterima mahasiswa Universitas Hasanuddin
untuk menginterpretasi sesuatu yang telah diamatinya sehingga dapat
mempengaruhi kognitif, afektif, dan behavioral.
2. Proses Terjadinya Tanggapan
Dalam komunikasi, proses penerimaan pesan itu merupakan
suatu stimuli (rangsangan) kemudian terjadi proses persepsi pesan
menerima tanggapan-tanggapan yang merupakan suatu umpan balik
kepada sumber. Jadi sebelum terjadinya tanggapan, maka terlebih
dahulu harus ada rangsangan atau stimulus, kemudian rangsangan
yang diterima dipersepsikan. Sedangkan perasaan adalah konotasi
emosional yang dihasilkan oleh diri sendiri maupun bersama-sama
31
dengan rangsangan lain pada tingkat kognitif atau konseptual untuk
selanjutnya dapat melahirkan tanggapan. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada skema berikut:
Gambar 2.1
Skema Terjadinya Proses Tanggapan
penalaran
rangsangan
persepsi
pengenalan
tanggapan
perasaan
Bagan diatas menggambarkan bahwa terjadinya tanggapan
terlebih dahulu harus ada rangsangan. Kemudian rangsangan yang di
terima kita persepsi. Persepsi dapat di definisikan sebagai cara manusia
menangkap rangsangan, kemudian pengenalan rangsangan. Pengenalan
adalah
cara
manusia
memberikan
arti
terhadap
rangsangan.
Selanjutnya adalah penalaran dan perasaan. Penalaran adalah proses
dengan nama rangsangan yang dihubungkan dengan rangsangan
lainnya, pada tingkat pembentukan kegiatan psikologi. Sedangkan
perasaan adalah konotasi emosional yang dihasilkan oleh diri sendiri
maupun bersama-sama dengan rangsangan lain pada tingkat kognitif
atau konseptual. Untuk selanjutnya dapat melahirkan tanggapan.
32
3. Faktor Yang Mempengaruhi Tanggapan
Schramm (1971) (dalam Wiryanto, 2006: 41) menyebutkan
empat faktor yang mempengaruhi tanggapan yaitu pesan, situasi ketika
pesan itu diterima dan ditanggapi, kepribadian komunikan, dan
konteks kelompok ketika komunikan menjadi anggotanya.
Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi tanggapan, yaitu :
1. Adanya perhatian yaitu proses mental ketika stimulus atau
rangkaian stimulus menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat
stimulus lainnya melemah
2. Kesukaan adalah sesuatu yang disebut komunikasi praktis. Dengan
kata lain minat seseorang dapat tercipta karena adanya rasa suka
terhadap sesuatu
3. Keinginan hati terjadi apabila dalam diri seseorang ada rasa ingin
tahu terhadap sesuatu. Dalam komunikasi, hal ini termasuk efektif
untuk menunjukkan bahwa minat seseorang dapat muncul karena
adanya keinginan atau kemauan
4. Niat yaitu keinginan yang dikehendaki oleh seseorang untuk
melakukan sesuatu, tanpa niat seseorang mustahil melakukan
sesuatu.
5. Ingin tahu yaitu adanya perasaan ingin tahu atau pertanyaan yang
muncul di dalam benak sesorang untuk diketahui atau perasaanperasaan terhadap sesuatu sehingga seorang berminat.
33
D. Deskripsi Teori
1. Teori S – O – R
Teori ini pada dasarnya mengatakan bahwa efek merupakan
reaksi terhadap situasi tertentu. Dengan demikian seseorang dapat
mengharapkan sesuatu atau memperkirakan sesuatu dengan sejumlah
pesan yang disampaikan melalui penyiaran. Teori ini memiliki tiga
elemen yakni pesan (stimulus), penerima (organism), dan efek
(respons). Teori stimulus respons juga memandang bahwa pesan
dipersepsikan dan didistribusikan secara sistemik dan dalam skala
yang luas. Pesan, karenanya tidak ditujukan kepada orang dalam
kapasitasnya sebagai individu tapi sebagai bagian dari masyarakat.
Untuk mendistribusikan pesan sebanyak mungkin penggunaan
teknologi merupakan keharusan.
Model S – O – R berasal dari model stimuli-respons menurut
pendekatan psikologi dimodifikasi oleh De Fleur dengan memasukkan
unsur organisme.
Stimulus = rangsangan = dorongan
Organisme = manusia = komunikan
Respons = respon = reaksi = tanggapan = jawaban = pengaruh = efek =
akibat
Selanjutnya, teori ini juga menekankan perubahan sikap dengan
stimulus yang datang dan berkonsentrasi terhadap bagaimana
berubahnya sebuah sikap. Hovland, Jennis dan Kelly menyatakan
34
bahwa dalam menelaah perubahan sikap, ada tiga variabel penting
yaitu perhatian, pengertian, dan penerimaan (Effendy, 2003: 254-255).
Gambar 2.2
The Stymulus Organism Respons Theory
Organism
Stimulus
-
Perhatian
Pengertian
Penerimaan
Respons
(perubahan sikap)
Unsur-unsur dalam model ini adalah :
1. Pesan
2. Komunikan (organism)
3. Efek (respons)
2. Teori Uses and Gratification
Model ini digambarkan sebagai a dramatic break with effects
traditions of the past (Swanson, 1979 dalam Rakhmat), suatu loncatan
dramatis dari model jarum hipodermik. Model ini tidak tertarik pada
35
apa yang dilakukan media pada diri orang, tetapi ia tertarik pada apa
yang dilakukan orang terhadap media. Khalayak dianggap secara aktif
menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Dari sini
muncullah teori uses and gratification yaitu penggunaan dan
pemenuhan kebutuhan.
Konsep dasar teori ini diringkas oleh para pendirinya (Katz,
Blumler, dan Gurevitch, 1974: 20 dalam Rakhmat). Dengan teori ini
yang diteliti adalah (1) sumber sosial dan psikologis dari (2) kebutuhan
yang melahirkan (3) harapan-harapan dari (4) media massa atau
sumber-sumebr yang lain yang menyebabkan (5) perbedaan pola
terpaan media atau keterlibatan dalam kegiatan lain, dan menghasilkan
(6) pemenuhan kebutuhan dan (7) akibat-akibat lain bahkan seringkali
akibat-akibat yang tidak dikehendaki.
Penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan
dalam berbagai media, jenis isi media yang dikonsumsi, dan berbagai
hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang
dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan (Rosengren, 1974:
277 dalam Rakhmat). Efek media dapat dioperasionalkan sebagai
evaluasi kemampuan media untuk memberikan kepuasan, misalnya
sampai sejauh mana televisi membantu responden untuk memperjelas
suatu masalah; sebagai dependensi media, misalnya kepada media
mana atau isi yang bagaimana responden amat bergantung untuk
36
tujuan informasi; dan sebagai pengetahuan, misalnya apa yang
diketahui responden terhadap suatu hal tertentu.
37
BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Singkat Universitas Hasanuddin
Mengawali berdirinya Universitas Hasanuddin secara resmi pada
tahun 1956, di kota Makassar pada tahun 1947 telah berdiri Fakultas
Ekonomi yang merupakan cabang Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia (UI) Jakarta berdasarkan keputusan Letnan Jenderal Gubernur
Pemerintah Hindia Belanda Nomor 127 tanggal 23 Juli 1947. Karena
ketidakpastian yang berlarut-larut dan kekacauan di Makassar dan
sekitarnya maka fakultas yang dipimpin oleh Drs. L.A. Enthoven
(Direktur) ini dibekukan dan baru dibuka kembali sebagai cabang Fakultas
Ekonomi UI pada 7 Oktober 1953 di bawah pimpinan Prof. Drs. G.H.M.
Riekerk. Fakultas Ekonomi benar-benar hidup sebagi cikal bakal
Universitas Hasanuddin setelah dipimpin oleh ketua Prof. Drs. Wolhoff
dan sekretarisnya Drs. Muhammad Baga pada tanggal 1 September 1956
sampai diresmikannya Universitas Hasanuddin pada tanggal 10 September
1956.
Di saat terjadinya stagnasi Fakultas Ekonomi di akhir tahun
1950, Nuruddin Sahadat, Prof. Drs. G.J. Wolhoff, Mr. Tjia Kok Tjiang,
J.E. Tatengkeng dan kawan-kawan mempersiapkan pendirian Fakultas
Hukum swasta. Jerih payah mereka melahirkan Balai Perguruan Tinggi
37
38
Sawerigading yang dibawah ketuanya Prof. Drs. G.J. Wolhoff tetap
berusaha mewujudkan universitas negeri sampai terbentuknya Panitia
Pejuang Universitas Negeri di bulan Maret 1950. Jalan yang ditempuh
untuk mewujudkan universitas didahului dengan membuka Fakultas
Hukum dan Pengetahuan Masyarakat cabang Fakultas Hukum Universitas
Indonesia (UI) yang resmi didirikan tanggal 3 Maret 1952 dengan Dekan
pertama Prof. Mr. Djokosoetono yang juga sebagai Dekan Fakultas
Hukum Universitas Indonesia (UI). Dilandasi semangat kerja yang tinggi,
kemandirian dan pengabdian, Fakultas Hukum yang dipimpin Prof. Dr.
Mr. C. de Heern dan dilanjutkan Prof. Drs. G.H.M. Riekerk, dalam kurun
waktu empat tahun mampu memisahkan diri dari Universitas Indonesia
dengan keluarnya PP no. 23 tahun 1956 tertanggal 10 September 1956.
Langkah usaha Yayasan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading
untuk membentuk Fakultas Kedokteran terwujud dengan tercapainya
kesepakatan antara pihak Yayasan dengan Kementerian PP dan K yang
ditetapkan dalam rapat Dewan Menteri tanggal 22 Oktober 1953.
Berdasarkan ketetapan tersebut dibentuklah Panitia Persiapan Fakultas
Kedokteran di Makassar yang diketuai Syamsuddin Daeng Mangawing
dengan Muhammad Rasyid Daeng Sirua sebagai sekretaris dan anggotaanggotanya yaitu J.E. Tatengkeng, Andi Patiwiri dan Sampara Daeng Lili.
Pada tanggal 28 Januari 1956, Menteri P dan K Prof. Mr. R. Soewandi
meresmikan Fakultas Kedokteran Makassar yang kelak berubah menjadi
39
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Hasanuddin
seiring
dengan
diresmikannya Universitas Hasanuddin pada tanggal 10 September 1956.
Perjuangan dan tekad masyarakat Sulawesi Selatan untuk
melahirkan
putra
bangsa
yang
berpengalaman
teknik
mencapai
keberhasilannya ketika menteri P dan K RI mengeluarkan SK No. 88130/S
tertanggal 8 September 1960 perihal peresmian Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin yang diketuai Ir. J. Pongrekun dan sekretarisnya
Ir. Ramli Cambari Saka dengan tiga departemen Sipil, Mesin dan
Perkapalan. Pada tahun 1963 menyusul terbentuk Departemen Elektronika
dan Arsitektur dan lengkaplah Fakultas Teknik sebagai fakultas yang ke-4.
Mendahului SK Menteri PP dan K tanggal 3 Desember 1960 No.
102248/UU/1960 perihal Pembentukan Fakultas Sastra Universitas
Hasanuddin, telah terjadi “peleburan” beberapa unit Program Kursus B.1
dari Yayasan Perguruan Tinggi Makassar ke Universitas Hasanuddin.
Yayasan yang diketuai oleh Syamsuddin Dg Mangawing beranggotakan
antara lain Prof. G.J. Wolhoff ini adalah pecahan Universitas
Sawerigading
yang
dipimpin
oleh
Nuruddin
Sahadat.
Peristiwa
“peleburan” Program Kursus B.1 Paedagogik, Sastra Timur dan Sastra
Barat ke Unhas pada tanggal 2 Nopember 1959 tersebut menjadi cikal
bakal Fakultas Sastra yang secara resmi terbentuk sesuai SK menteri PP
dan K tanggal 3 Nopember 1960.
Menyusul “kelahiran” Fakultas Sastra, lahirlah Fakultas yang ke6 yakni Fakultas Sosial Politik sesuai dengan SK Menteri P & K tertanggal
40
30 Januari 1961 No. A. 4692/U.U.41961, berlaku mulai 1 Februari 1961.
Pada awalnya fakultas ini merupakan Perguruan Tinggi Swasta yang
bernama Fakultas Tata Praja Universitas 17 Agustus 1945 yang didirikan
oleh Mr. Tjia Kok Tjiang yang kelak setelah penegeriannya menjadi
pimpinan fakultas didampingi Mr. Sukamto sebagai sekretaris. Pada
tanggal 15 Nopember 1962 Mr. Sukamto diangkat sebagai Dekan dan
Abdullah Amu menjadi Sekretaris.
Di masa kepemimpinan Rektor A. Amiruddin berdasarkan SK
Menteri Pendidikandan Kebudayaan No. 0266/Q/1977 tanggal 16 Juli
1977 Fakultas Sastra diintegrasikan ke dalam Fakultas Ilmu Sosial Budaya
bersama Fakultas Ilmu Sosial Politik dan Fakultas Ekonomi. Hal yang
sama juga terjadi atas Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA yang
diintegrasikan menjadi Fakultas Sains dan Teknologi terkecuali Fakultas
Hukum yang tidak “rela” berintegrasi dengan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial
Budaya. Berselang enam tahun kemudian yakni pada tahun 1983
pengintegrasian ini dicabut dengan keluarnya PP No. 5 Tahun 1980 yang
disusul dengan SK Presiden RI No. 68 Tahun 1982.
Melalui kerjasama dengan IPB Bogor dan atas permintaan
Rektor Prof. Arnold Mononutu terbentuklah Panitia Persiapan Pendirian
Fakultas Pertanian yang beranggotakan Prof. Dr. A. Azis Ressang, dosen
Fakultas Kedokteran Hewan IPB dan Ir. Fachruddin, asisten Akhli
Fakultas Pertanian IPB. Kerjasama Prof. Ressang dan kawan-kawan
dengan Fakultas Pertanian Universitas Indonesia dan IPB membuahkan
41
SK Menteri PTIP RI Prof. Dr. Ir. Toyib Hadiwijaya tertanggal 17 Agustus
1962 dan secara resmi Fakultas Pertanian menjadi fakultas yang ke-7
dalam lingkungan Universitas Hasanuddin.
Gubernur Andi Pangerang Petta Rani dalam rapat tanggal 11
Maret 1963 menunjuk Ir. Aminuddin Ressang sebagai ketua sub-panitia
kerja Pembentukan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) resmi
terbentuk berdasar surat kawat Menteri PTIP tanggal 8 Agustus 1963 No.
59 1 BM/PTIP/63 disusul SK Menteri No. 102 Tahun 1963 berlaku
tanggal 17 Agustus 1963.
Pada tahun 1963, dibentuk Panitia Pendiri Fakultas Kedokteran
Hewan dan Peternakan di Makassar yang diketuai Syamsuddin Dg
Mangawing dengan anggota Andi Pangerang Petta Rani, Drh. A. Dahlan
dan Andi Patiwiri. Pada tanggal 10 Oktober 1963 berdiri Fakultas
Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) yang berstatus swasta di
dekani oleh Drh. Achmad Dahlan dengan Pembantu Dekan I, II masingmasing Drh. Muh. Gaus Siregar dan Andi Baso Ronda, B. Agr.Sc.
Terhitung mulai tanggal 1 Mei 1964 fakultas swasta tersebut dinegerikan
menjadi Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin melalui SK Menteri
PTIP No. 3711964 tanggal 4 Mei 1964.
Pendidikan Dokter Gigi berdiri pada tanggal 23 Januari 1969
sebagai hasil kerjasama antara Universitas dengan TNI-AL sebagai hasil
rintisan Laksamana Mursalim Dg Mamanggun, S.H., Rektor Unhas
Let.Kolonel Dr. M. Natsir Said, S.H. serta Drg. Halima Dg Sikati dan
42
diberi nama Institut Kedokteran Gigi Yos Sudarso. Pada tahun 1970,
institut ini resmi menjadi Jurusan Kedokteran Gigi Universitas
Hasanuddin dan selanjutnya menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Unhas
pada tahun 1983.
Fakultas kesehatan Masyarakat (FKM) didirikan pada tanggal 5
Nopember 1982 yang pada awalnya menerima mahasiswa tamatan
Diploma Tiga Kesehatan dan nanti pada tahun 1987 FKM Unhas
menerima tamatan SMA. FKM merupakan fakultas yang ke-11 dalam
lingkungan Unhas.
Sebagai realisasi dari pengembangan Pola Ilmiah Pokok (PIP)
yang menjadi rujukan orientasi lembaga pendidikan tinggi di Indonesia,
maka pada tahun 1988 Unhas secara resmi membuka program Studi Ilmu
Kelautan dengan SK Dirjen Dikti No.19/Dikti/Kep/1988, tanggal 16 Juni
1988. Pada awalnya karena belum ada wadah yang tepat program tersebut
berstatus lintas fakultas dan langsung dibawahi rector. Mengingat sifatnya
yang berorientasi kelautan, program ini pada akhirnya dibentuk menjadi
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan dengan menggabungkan Jurusan
Perikanan ke dalamnya berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No.036/0/1996, tanggal 29 Januari 1996.
Pada Dies Natalis yang ke-25, 17 September 1981 Presiden RI
Soeharto meresmikan Kampus Tamalanrea yang pada awalnya dirancang
oleh Paddock Inc., Massachustts, AS dan dibangun oleh OD 205, Belanda
43
yang bekerjasama dengan PT. Sangkuriang Bandung di atas tanah seluas
220 Ha.
Sejak dikeluarkannya SK Menteri PP dan K No. 3369/S tanggal
11 Juni 1956 terhitung mulai 1 September 1956 dan dengan PP No. 23
tanggal 8 September 1956, Lembaran Negara No. 39 tahun 1956 yang
secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden RI Drs. Moh. Hatta pada tanggal
10 September 1956, Unhas pernah dipimpin oleh sejumlah Rektor yaitu :
1. Prof. Mr. A. G. Pringgodigdo
1956 – 1957
2. Prof. Mr. K.R. M. T. Djokomarsaid
1957 – 1960
3. Prof. Arnold Mononutu
1960 – 1965
4. Let. Kol. Dr. M. Natsir Said, S. H.
1965 – 1969
5. Prof. Dr. A. Hafid
1969 – 1973
6. Prof. Dr. Ahmad Amiruddin
1973 – 1982
7. Prof. Dr. A. Hasan Walinono
1982 – 1984
8. Prof. Dr. Fachrudin
1984 – 1989
9. Prof. Dr. Basri Hasanuddin, M.A.
1989 – 1997
10. Prof. Dr. Ir. Radi A. Gany
1997 – 2006
11. Prof. Dr. dr. Idrus A. Paturusi
2006 – sekarang
44
B. Visi, Misi dan Tujuan
Visi
Melalui rapat kerja Unhas yang dilaksanakan di Tana Toraja
pada tanggal 17 – 20 Desember 2009, Unhas telah menetapkan visi jangka
panjang sebagai berikut:
Pusat unggulan dalam pengembangan insani, ilmu pengetahuan,
teknologi, seni dan budaya berbasis Benua Maritim Indonesia.
Rumusan visi ini mengandung makna adanya kebersamaan tekad
seluruh sivitas akademika untuk menempatkan Unhas sebagai entitas
akademik yang tidak sebatas memfasilitasi, tetapi menstimulasi lahirnya
segenap potensi, proses, dan karya terbaik dalam pengembangan insani,
ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya berbasis benua maritim
Indonesia.
Dalam konsep benua maritim Indonesia, seluruh program studi
memiliki kebebasan dan peluang yang sama untuk berkontribusi dalam
pengembangan IPTEKSBUD. Hal ini sejalan dengan konsep benua
maritim yang memiliki makna sebagai satu kesatuan alamiah antara
darat, laut, dan dirgantara di atasnya, tertata secara unik yang
menampilkan ciri-ciri benua dengan karakteristik yang khas dari sudut
pandang iklim dan cuaca (klimatologi dan meteorologi), keadaan airnya
(oseanografi), tatanan kerak bumi (geologi), keragaman biota (biologi),
serta tatanan sosial budayanya (antropologi), yang menjadi wilayah
yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
45
Misi
1. Menyediakan
lingkungan
belajar
yang
berkualitas
untuk
mengembangkan kapasitas pembelajar yang inovatif dan proaktif.
Makna yang terkandung dalam rumusan masalah ini adalah bahwa
didalam menyelenggarakan dharma pendidikan Unhas sepenuhnya
menggunakan pendekatan learning sehingga peran Unhas semestinya
adalah menyediakan lingkungan belajar yang berkualitas dan kondusif
bagi sivitas akademika Unhas guna mengembangkan kapasitasnya.
Misi ini juga mengandung makna bahwa di dalam menyelenggarakan
kegiatan pembelajaran, kontennya dikembangkan berdasarkan hasil
kegiatan penelitian (dharma 2), serta memelihara relevansi isinya
dengan kebutuhan masyarakat berdasarkan hasil kegiatan pengabdian
kepada masyarakat (dharma 3).
2. Melestarikan (to preserve), mengembangkan, menemukan, dan
menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya. Makna
rumusan misi yang kedua menekankan perlunya Unhas untuk
melestarikan IPTEKS baik dalam bentuk pembelajaran kepada peserta
didik (pembelajaran berbasis riset) maupun publikasi (buku dan jurnal)
kepada masyarakat luas. Misi ini juga mengandung makna bahwa
didalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk
memajukan ipteks senantiasa di diseminasikan melalui kegiatan
pembelajaran (dharma 1), dan dimanfaatkan bagi peningkatan
46
kesejahteraan
masyarakat
melalui
bidang
pengabdian
kepada
masyarakat (dharma 2).
3. Menerapkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni
dan budaya bagi kemasalahatan benua maritim Indonesia. Makna yang
terkandung dalam rumusan ini adalah bahwa di dalam melakukan
kegiatan pengabdian kepada masyarakat juga ditujukan untuk
memelihara
relevansi
materi
pembelajaran
(dharma
1),
dan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penerapan dan
pemanfaatan ipteks beserta penemuan dan pengembangannya yang
dihasilkan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan (dharma 2).
Nilai
Di dalam melaksanakan kegiatan tri dharma, seluruh sivitas
akademika Unhas perlu dilandasi dan dijiwai oleh sistem tata nilai yang
disepakati bersama yang merupakan pencerminan dari jati diri Unhas.
Oleh karena itu, rumusan nilai-nilai Unhas mengacu kepada 2 (dua)
tatanan nilai yaitu (1) nilai akademik yang merupakan sumber budaya
akademik pada setiap perguruan tinggi pada umumnya, dan (2) tatanan
nilai yang berkembang dalam wilayah benua maritim Indonesia pada
umumnya dan masyarakat Sulawesi Selatan pada khususnya. Atas dasar
kedua acuan tersebut, maka tatanan nilai Unhas dirumuskan sebagai
berikut;
47
a) Integritas, yang mewakili sifat jujur, berani, bertanggung jawab,
dan teguh dalam pendirian.
b) Inovatif, yang merupakan kombinasi dari kreatif orientasi mutu,
mandiri dan kepeloporan.
c) Katalitik, yang mewakili sifat berani, keteguhan hati, dedikatif dan
kompetitif.
d) Arif, yang mewakili kepatutan, adil dan beradab, holistik dan
asimilatif.
C. Struktur Organisasi dan Manajemen
Struktur Organisasi
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
No. 0206/0/1995, struktur organisasi Universitas Hasanuddin terdiri atas
komponen-komponen berikut ini:
1. Rektor dan Wakil Rektor
2. Senat
3. Dewan Penyantun
4. Biro Administrasi
5. Program Pascasarjana
6. Fakultas-fakultas
7. Lembaga-lembaga
8. Unit-unit Pelaksana Tugas
48
Gambar 3.1
Struktur Organisasi Universitas Hasanuddin
Rektor
Senat
Wakil Rektor
Dewan Penyantun
Biro Administrasi
Program Pasca
Sarjana
Fakultasfakultas
Program Studi
Jurusan
LP
LPM
LKPP
UPT
Pusat Penggajian
Pusat Pengembangan
Program Studi
Pusat Penelitian
Laboratorium
1) Rektor dan Wakil Rektor
Rektor adalah pimpinan tertinggi universitas. Rektor dipilih oleh
senat untuk masa bakti lima tahun. Setelah masa bakti lima tahun pertama,
rektor dapat dipilh kembali untuk masa bakti lima tahun kedua. Masa bakti
maksimum untuk rektor adalah dua kali lima tahun. Untuk pelaksanaan
program universitas, rektor dibantu oleh wakil-wakil Rektor, yaitu :
49
1. Wakil Rektor I Bidang Akademik
2. Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum dan
Kesejahteraan
3. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan
4. Wakil Rektor IV Bidang Hubungan Eksternal, Perencanaan
dan Pengendalian
2) Senat
Senat adalah Lembaga Perwakilan para dosen yang anggotanya
terdiri atas dosen-dosen yang bergelar profesor penuh dan dosen-dosen
lainnya yang ditunjuk untuk mewakili fakultasnya masing-masing. Tugas
senat di antaranya adalah memilih rektor dan memformulasikan kebijkankebijakan universitas. Untuk menjalankan program-programnya, para
anggota senat dibagi ke dalam empat komisi :
1. Komisi Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian
pada Masyarakat
2. Komisi Bidang Organisasi dan Kepegawaian
3. Komisi Bidang Kemahasiswaan dan Kesejahteraan
4. Komisi
Bidang
Perencanaan
dan
Pengembangan
Universitas
5. Komisi Bidang Keuangan dan Aset
3) Dewan Penyantun
Dewan penyantun berfungsi sebagai dewan konsultasi yang akan
memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada rector. Anggota-anggota
50
dewan penyantun terdiri atas para pejabat pemerintahan, pejabat militer,
pemuka agama dan mantan-mantan rektor.
4) Biro Administrasi
Di bawah rektor dan wakil rektor terdapat lima biro yang berfungsi
untuk mengimplementasikan administrasi universitas. Biro-biro ini adalah
sebagai berikut:
1. Biro Administrasi Akademik
2. Biro Administrasi Umum
3. Biro Administrasi Keuangan
4. Biro Administrasi Kemahasiswaan dan Alumni
5. Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi
5) Fakultas-fakultas
Fakultas berfungsi untuk mengorganisasi dan menjalankan proses
pendidikan dan melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat menurut bidangnya masing-masing. Setiap fakultas dipimpin
oleh seorang Dekan yang dipilih dan diangkat oleh Senat Fakultas untuk
masa bakti emapt tahun. Sama halnya dengan rektor, dekan dapat dipilih
kembali pada masa kedua setelah masa bakti pertama selesai.
Saat ini Universitas Hasanuddin memiliki 14 fakultas, yaitu :
1. Fakultas Ekonomi
2. Fakultas Hukum
3. Fakultas Kedokteran
4. Fakultas Teknik
51
5. Fakultas Ilmu Budaya (Sastra)
6. Fakultas Ilmu Politik dan Sosial
7. Fakultas Pertanian
8. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam
9. Fakultas Peternakan
10. Fakultas Kedokteran Gigi
11. Fakultas Kesehatan Masyarakat
12. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
13. Fakultas Kehutanan
14. Fakultas Farmasi
Setiap fakultas terdiri atas beberapa Jurusan atau Bagian dan
Program Studi. Jurusan atau bagian dipimpin oleh seorang Ketua dan
Sekretaris yang dipilih oleh dosen-dosen pada jurusan atau bagian tersebut
untuk masa bakti empat tahun dan dapat dipilih kembali untuk masa bakti
empat tahun berikutnya. Dari keempat belas Fakultas dan Program Pasca
Sarjana; terdapat 57 program studi S1, 5 profesi, 48 S2, 18 Sp-1, dan 8 S3.
Untuk pelaksanaan proses pembelajaran dan penelitian, jurusan
atau
bagian
dilengkapi
dengan
laboratorium-laboratorium.
Setiap
laboratorium dikepalai oleh seorang staf akademik yang ditunjuk oleh
ketua jurusan.
6) Program Pasca Sarjana
Universitas Hasanuddinmerupakan salah satu universitas di luar
Jawa yang diberikan kewenangan untuk membuka Program Magister dan
52
Doktor secara independen. Saat ini di Universitas Hasanuddin terdapat 30
program studi untuk program magister dan 8 program studi untuk program
doctor serta 18 Sp-1.
7) Lembaga-lembaga
Untuk melaksanakan program-program pendidikan, penelitian dan
pengabdian masyarakat, Universitas Hasanuddin memiliki tiga lembaga
yaitu :
1. Lembaga Kajian dan Pengembangan Pendidikan (LKPP)
2. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)
3. Lembaga Penerbitas Unhas (LEPHAS)
8) Unit Pelaksana Tugas – Teknis
Untuk menunjang pelaksanaan program pendidikan, sivitas
akademika Universitas Hasanuddin dilengkapi dengan lima Unit
Pelaksana Tugas. Empat di antara unit ini didesain untuk memfasilitasi
pelaksanaan proses pembelajaran, penelitian dan pengabdian pada
masyarakat. Satu unit lainnya dimaksudkan untuk membantu pemeliharaan
kampus. Kelima unit ini adalah sebagai berikut:
1. Pusat Teknologi Informatika dan Komunikasi (PTIK)
2. Pusat Bahasa
3. Perpustakaan
4. Workshop
5. UPT Mata Kuliah Umum (MKU)
53
D. Lambang UNHAS
ARTI LAMBANG UNHAS
1. Ayam jantan, tegak di atas benteng kekukuhan tempat berpijak, membawa
serta pada dirinya simbol-simbol kemauan keras, kebebasan berfikir, berjiwa
besar untuk mencapai keseluruhan ilmu pengetahuan, kebahagian dan
kesentosaan hidup dalam mengabdi kepada kejayaan nusa dan bangsa.
2. Unsur-unsur Lambang
Ayam jantan melambangkan sifat dan pribadi Sultan Hasanuddin yang
mencerminkan sikap intelek, berjiwa besar dan militan dalam bergerak ke
arah kemajuan.
Pohon Lontar, lambang ilmu pengetahuan tentang keserbagunaan manfaat
yang diberikannya kepada umat manusia untuk kesejahteraan lahir batin.
Benteng, mengingatkan kejayaan bahari tempat UNHAS berdiri. Bentengbenteng Somba Opu, Ujungpandang, dan Tallo melindungi kota Makassar,
mendorong tekad patriotik dan dinamik untuk berjasa kepada tanah air.
54
Buah Padi dan Daun Kelapa, menggugah semangat untuk hidup makin
berisi kian merunduk, dan keunggulan berdiri tegak menghadang badai dan
taufan, seperti pohon kelapa yang menghiasi persada tanah air.
3. Unsur-unsur warna
Kuning, melambangkan kedewasaan, kemuliaan, dan kesatriaan.
Hijau, melambangkan kesuburan dan harapan.
Putih, melambangkan garis-garis kesucian, ketulusan, dan keapikan.
Merah, melambangkan semangat dan cinta kepada tanah air.
Hitam, melambangkan kedalaman ilmu pengetahuan dan kebulatan tekad
untuk mencapai pribadi yang utuh.
4. Konstruksi
Harpa atau kecapi, terukir ragam hias Indonesia, mewakili kehidupan
artistik Nusantara, untuk pembinaan seni budaya dan keluhuran bangsa dan
tanah air Indonesia.
55
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya dan sesuai
dengan judulnya, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana
tanggapan mahasiswa terhadap tayangan On The Spot di Trans7 dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penulis memilih mahasiswa
Universitas Hasanuddin sebagai objek pengukuran tanggapan berdasarkan
pengkategorisasian seperti yang telah dibahas pada Bab I.
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas
Hasanuddin yang terdiri dari empat fakultas yakni fakultas Isipol, Sastra,
Pertanian dan MIPA. Jumlah responden yang menjadi sampel setelah
menggunakan tabel Isaac dan Michael berjumlah 332 responden. Untuk
lebih jelasnya maka hasil penelitian ini dapat kita lihat pada tabel-tabel
dibawah ini:
1. Identitas Responden
1.1 Fakultas
Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Fakultas
N = 332
Fakultas
Isipol
Sastra
Pertanian
Frekuensi
85
95
80
55
Persentase
25,6
28,6
24,1
56
MIPA
Total
72
332
21,7
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa persentase responden
terbesar adalah mahasiswa fakultas Sastra sebanyak 95 responden
(28,6%), diurutan kedua adalah mahasiswa fakultas Isipol sebanyak
85 responden (25,6%), diurutan ketiga adalah mahasiswa fakultas
Pertanian sebanyak 80 responden (24,1%), dan yang terakhir adalah
mahasiswa fakultas MIPA sebanyak 72 responden (21,7%).
1.2 Jenis Kelamin
Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
N = 332
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total
Frekuensi
143
189
332
Persentase
43,1
56,9
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.2 diatas menunjukkan bahwa responden perempuan
berada pada persentase tertinggi yaitu sebanyak 189 responden
(56,9%), kemudian responden laki-laki sebanyak 143 responden
(43,1%).
1.3 Usia
Tabel 4.3
Distribusi Responden Berdasarkan Usia
N = 332
Usia
≤ 20 tahun
20-21 tahun
22-23 tahun
≥ 23 tahun
Frekuensi
168
84
61
19
Persentase
50,6
25,3
18,4
5,7
57
Total
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa persentase terbesar
adalah responden usia ≤ 20 tahun sebanyak 168 responden (50,6%),
disusul responden usia 20-21 tahun sebanyak 84 responden (25,3%),
disusul responden usia 22-23 tahun sebanyak 61 responden (18,4%),
kemudian responden usia ≥ 23 tahun sebanyak 19 responden (5,7%).
2. Tanggapan Mahasiswa Universitas Hasanuddin Terhadap “On
The Spot”
2.1 Kepemilikan Media
Tabel 4.4
Distribusi Responden Berdasarkan Kepemilikan Media
N = 332
Kepemilikan Media
Frekuensi
Persentase
Surat Kabar
2
0,6
Televisi
68
20.5
Radio
3
0,9
Internet
17
5,1
Lainnya
6
1,8
Surat Kabar, Televisi
2
0,6
Surat Kabar, Internet
10
3
Surat Kabar, Lainnya
1
0,3
Surat Kabar, Televisi, Radio
9
2,7
Surat Kabar, Televisi, Internet
20
6
Surat Kabar, Televisi, Radio,
2
0,6
Lainnya
Surat Kabar, Televisi, Internet,
2
0,6
Lainnya
Televisi, Radio
13
3,9
Televisi, Internet
64
19,3
Televisi, Lainnya
4
1,2
Televisi, Radio, Internet
38
11,4
Televisi, Internet, Lainnya
1
0.3
Televisi, Radio, Internet, Lainnya
1
0,3
Radio, Internet
3
0,9
Internet, Lainnya
1
0,3
58
Semua
Semua, Lainnya
Total
59
6
332
17,8
1,8
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa persentase terbesar
adalah responden dengan kepemilikan media Televisi sebanyak 68
responden (20,5%), disusul responden dengan kepemilikan media
Televisi dan Internet sebanyak 64 responden (19,3%), kemudian
reponden dengan kepemilikan media Semua (surat kabar, televisi,
radio,
internet)
sebanyak
59
responden
(17,8%).
Sedangkan
kepemilikan media yang lainnya yang responden miliki antara lain
handphone, majalah, dan laptop.
2.2 Waktu Menonton
Tabel 4.5
Distribusi Responden Berdasarkan Waktu Menonton
N = 332
Waktu Menonton
1 kali
2 kali
3 kali
4 kali
Setiap hari dari seninjumat
Total
Frekuensi
53
85
111
34
Persentase
16
25,6
33,4
10,2
49
14,8
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.5 diatas menunjukkan bahwa distribusi responden
berdasarkan waktu menonton On The Spot sebanyak 3 kali dalam lima
hari berada pada persentase tertinggi yaitu sebanyak 111 responden
(33,4%), berikutnya diurutan kedua responden yang menonton On The
Spot sebanyak 2 kali dalam lima hari yaitu sebanyak 85 responden
59
(25,6%), dan di urutan ketiga adalah sebanyak 1 kali dalam lima hari
yaitu sebanyak 53 responden (16%). Sedangkan persentase terendah
yaitu 4 kali dalam lima hari sebanyak 34 responden (10,2%).
2.3 Awal Mendapat Informasi Tayangan
Tabel 4.6
Distribusi Responden Berdasarkan Awal Mendapat Informasi
Tayangan
N = 332
Awal Mendapat Informasi
Frekuensi
Persentase
Tayangan
Teman
39
11,7
Keluarga
20
6
Media
273
82,2
Total
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa persentase terbesar
responden awal mendapatkan informasi tayangan On The Spot, yaitu
dari media sebanyak 273 responden (82,2%). Disusul dari teman
sebanyak 39 responden (11,7%), dan persentase terendah responden
awal mendapatkan informasi tayangan On The Spot dari keluarga
sebanyak 20 responden (6%).
a. Jadwal Penayangan
2.4 Waktu Penayangan
Tabel 4.7
Distribusi Responden Berdasarkan Waktu Penayangan
N = 332
Waktu Penayangan
Sangat Sesuai
Sesuai
Tidak Sesuai
Sangat Tidak Sesuai
Frekuensi
42
246
38
6
Persentase
12,7
74,1
11,4
1,8
60
Total
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa persentase terbesar
responden yang menyatakan waktu penayangan On The Spot sudah
sesuai sebanyak 246 responden (74,1%), lalu sebanyak 38 responden
(11,4%) menyatakan waktu penayangan tidak sesuai, dan sebanyak 42
responden (12,7%) menyatakan waktu penayangan sangat sesuai.
2.5 Hari Penayangan
Tabel 4.8
Distribusi Responden Berdasarkan Hari Penayangan
N = 332
Waktu Penayangan
Sangat Sesuai
Sesuai
Tidak Sesuai
Sangat Tidak Sesuai
Total
Frekuensi
47
250
31
4
332
Persentase
14,2
75,3
9,3
1,2
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa persentase terbesar
responden yang menyatakan hari penayangan On The Spot sudah
sesuai sebanyak 250 responden (75,3%), lalu sebanyak 31 responden
(9,3%) menyatakan hari penayangan tidak sesuai, dan sebanyak 47
responden (14,2%) menyatakan hari penayangan sangat sesuai.
2.6 Durasi Penayangan
Tabel 4.9
Distribusi Responden Berdasarkan Durasi Penayangan
N = 332
Waktu Penayangan
Sangat Sesuai
Sesuai
Tidak Sesuai
Frekuensi
44
236
44
Persentase
13,3
71,1
13,3
61
Sangat Tidak Sesuai
Total
8
332
2,4
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.9 diatas menunjukkan bahwa persentase terbesar
responden yang menyatakan durasi penayangan On The Spot sudah
sesuai sebanyak 236 responden (71,1%), lalu sebanyak 44 responden
(13,3%) menyatakan hari penayangan tidak sesuai, dan sebanyak 44
responden (13,3%) menyatakan hari penayangan sangat sesuai.
b. Tema Tayangan
2.7 Penilaian Tema Tayangan
Tabel 4.10
Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Tema Tayangan
N = 332
Tema Tayangan
Frekuensi
Persentase
Sangat Tidak Bagus
6
1,8
Tidak Bagus
4
1,2
Bagus
254
76,5
Sangat Bagus
68
20,5
Total
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.10 diatas menunjukkan bahwa persentase tertinggi
adalah responden yang menyatakan bahwa tema yang ditampilkan oleh
On The Spot sangat bagus yaitu sebanyak 254 responden dengan
persentase 76,5%, dan selebihnya sebanyak 68 responden dengan
persentase 20,5% menyatakan sangat bagus tema yang ditampilkan
oleh On The Spot.
62
2.8 Tema Yang Paling Diminati
Tabel 4.11
Distribusi Responden Berdasarkan Tema Yang Paling Diminati
N = 332
Tema Yang Paling Diminati
Frekuensi Persentase
Fenomena Alam
70
21,1
Peristiwa Terunik
50
15,1
Peristiwa Teraneh
24
7,2
Budaya
30
9
Lainnya
3
9
Fenomena Alam, Peristiwa Terunik
12
3,6
Fenomena Alam, Peristiwa Teraneh
6
1,8
Fenomena Alam, Budaya
7
2,1
2
0,6
Fenomena Alam, Lainnya
Fenomena Alam, Peristiwa Terunik,
16
4,8
Peristiwa Teraneh
10
3
Fenomena Alam, Peristiwa Terunik, Budaya
2
0,6
Fenomena Alam, Peristiwa Terunik, Lainnya
2
0,6
Fenomena alam, Peristiwa Teraneh, Budaya
Fenomena Alam, Peristiwa Teraneh,
Lainnya
Fenomena Alam, Budaya, Lainnya
Fenomena Alam, Peristiwa Terunik,
Peristiwa Teraneh, Lainnya
Fenomena Alam, Peristiwa Teraneh,
Budaya, Lainnya
Peristiwa Terunik, Peristiwa Teraneh
Peristiwa Terunik, Budaya
Peristiwa Terunik, Peristiwa Teraneh,
Budaya
Peristiwa Terunik, Peristiwa Teraneh,
Lainnya
Peristiwa Teraneh, Lainnya
Budaya, Lainnya
Semua
Semua, Lainnya
Lainnya
Total
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
2
0,6
2
0,6
2
0,6
1
0,3
7
9
2,1
2,7
2
0,6
1
0,3
3
2
54
9
4
332
0,9
0,6
16,3
2,7
1,2
100
63
Tabel 4.11 diatas menunjukkan bahwa distribusi tema
tayangan On The Spot yang paling diminati adalah fenomena alam
sebanyak 70 responden (21,1%), diurutan kedua tema tayangan On
The Spot yang diminati adalah semua (fenomena alam, peristiwa
terunik, peristiwa teraneh, budaya) sebanyak 54 responden (16,3%),
dan diurutan ketiga tema tayangan On The Spot yang diminati adalah
peristiwa terunik sebanyak 50 responden (15,1%).
2.9 Penilaian Pembahasan Tema
Tabel 4.12
Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Terhadap Pembahasan
Tema
N = 332
Pembahasan Tema
Frekuensi
Persentase
Sangat Tidak Bermanfaat
4
1,2
Tidak Bermanfaat
3
0,9
Bermanfaat
231
69,6
Sangat Bermanfaat
94
28,3
Total
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.12 diatas menunjukkan bahwa persentase responden
terbanyak adalah yang menyatakan pembahasan tema pada tayangan
On The Spot
bermanfaat sebanyak 231 responden (69,6%), dan
selebihnya sebanyak 94 responden (28,3%) menyatakan pembahasan
tema pada tayangan On The Spot sangat bermanfaat.
c. Narasi Tema
2.10 Kejelasan (Narasi) Tema
Tabel 4.13
Distribusi Responden Berdasarkan Kejelasan (Narasi) Tema On The
Spot
64
N = 332
Kejelasan (Narasi) Tema
Sangat Tidak Jelas
Tidak Jelas
Jelas
Sangat Jelas
Total
Frekuensi
2
16
272
42
332
Persentase
0,6
4,8
81,9
12,7
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.13 diatas menunjukkan bahwa persentase tertinggi
yaitu responden yang menyatakan bahwa kejelasan (narasi) tema pada
tayangan On The Spot jelas sebanyak 272 responden (81,9%), dan
selebihnya responden yang menyatakan kejelasan (narasi) tema pada
tayangan On The Spot sangat jelas sebanyak 42 responden (12,7%).
2.11 Apakah Penjelasan (Narasi) Per Tema Tepat ?
Tabel 4.14
Distribusi Responden Berdasarkan Apakah Penjelasan (Narasi) On
The Spot Per Tema Tepat
N = 332
Kejelasan (Narasi) Tema
Frekuensi
Persentase
Sangat Tidak Tepat
2
0,6
Tidak Tepat
11
3,3
Tepat
303
91,3
Sangat Tepat
16
4,8
Total
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.14 diatas menunjukkan bahwa persentase tertinggi
yaitu responden yang menyatakan bahwa penjelasan (narasi) per tema
pada tayangan On The Spot tepat sebanyak 303 responden (91,3%),
dan selebihnya responden yang menyatakan penjelasan (narasi) per
tema pada tayangan On The Spot sangat tepat sebanyak 16 responden
(4,8%).
65
2.12 Bahasa Narasi Tema
Tabel 4.15
Distribusi Responden Berdasarkan Bahasa dari Narasi Tema On The
Spot
N = 332
Kejelasan (Narasi) Tema
Frekuensi
Persentase
Sangat Tidak Baku
5
1,5
Tidak Baku
38
11,4
Baku
263
79,2
Sangat Baku
26
7,8
Total
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.15 diatas menunjukkan bahwa persentase tertinggi
yaitu responden yang menyatakan bahwa bahasa dari narasi tema pada
tayangan On The Spot baku sebanyak 263 responden (79,2%),
responden yang menyatakan bahasa dari narasi tema pada tayangan On
The Spot tidak baku sebanyak 38 responden (11,4%), dan responden
yang menyatakan bahasa dari narasi tema pada tayangan On The Spot
sangat baku sebanyak 26 responden (7,8%).
d. Daya Tarik
2.13 Daya Tarik Menonton
Tabel 4.16
Distribusi Responden Berdasarkan Daya Tarik Menonton Tayangan
On The Spot
N = 332
Daya Tarik Menonton
Frekuensi
Persentase
Sangat Tertarik
43
13
Tertarik
283
85,2
Tidak Tertarik
4
1,2
Sangat Tidak Tertarik
2
0,6
Total
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
66
Tabel 4.16 diatas menunjukkan dari 332 responden
menyatakan bahwa sebanyak 283 responden (85,2%) menyatakan
tertarik untuk menonton tayangan On The Spot di Trans7, lalu
sebanyak 43 responden (13%) menyatakan sangat tertarik untuk
menonton tayangan On The Spot di Trans7. Sedangkan 4 responden
(1,2%) menyatakan tidak tertarik dengan On The Spot dan 2 responden
(0,6%) menyatakan sangat tidak tertarik untuk menonton tayangan On
The Spot di Trans7.
2.14 Hal Yang Membuat Tertarik Menonton Tayangan
Tabel 4.17
Distribusi Responden Berdasarkan Hal yang Membuat Tertarik
Menonton Tayangan On The Spot
N = 332
Hal Yang Membuat Tertarik Menonton Tayangan Frekuensi Persentase
On The Spot
11
3,3
Up Date
Menampilkan Suatu Konsep Tayangan Televisi
5
1,5
Yang Baru
Unik
31
9,3
Sebagai Informasi
94
28,3
Tampilan Gambar Menarik Melalui Video Situs
4
1,2
Youtube
Lainnya
6
1,8
2
0,6
Up Date, Unik
17
5,1
Up Date, Sebagai Informasi
Up Date, Menampilkan Suatu Konsep Tayangan
Televisi Yg Baru, Sebagai Informasi
Up Date, Unik, Sebagai Informasi
Up Date, Sebagai Informasi, Tampilan Gambar
Menarik Melalui Video Situs Youtube
Up Date, Sebagai Informasi, Lainnya
Up Date, Menampilkan Suatu Konsep Tayangan
Televisi Yg Baru, Unik, Sebagai Informasi
Up Date, Unik, Sebagai Informasi, Tampilan
3
0,9
21
6,3
1
0,3
1
0,3
7
2,1
5
1,5
67
Gambar Menarik Melalui Video Situs Youtube
Up Date, Unik, Sebagai Informasi, Tampilan
Gambar Menarik Melalui Video Situs Youtube,
Lainnya
Menampilkan Suatu Konsep Tayangan Televisi
Yg Baru, Unik
Menampilkan Suatu Konsep Tayangan Televisi
Yg Baru, Sebagai informasi
Menampilkan Suatu Konsep Tayangan Televisi
Yg Baru, Tampilan Gambar Menarik Melalui
Video Situs Youtube
Menampilkan Suatu Konsep Tayangan Televisi
Yg Baru, Unik, Sebagai Informasi
Menampilkan Suatu Konsep Tayangan Televisi
Yg Baru, Unik, Sebagai Informasi, Tampilan
Gambar Menarik Melalui Video Situs Youtube
Menampilkan Suatu Konsep Tayangan Televisi
Yg Baru, Unik, Sebagai Informasi, Lainnya
Unik, Sebagai Informasi
Unik, Tampilan Gambar Menarik Melalui Video
Situs Youtube
Unik, Lainnya
Unik, Sebagai Informasi, Tampilan Gambar
Menarik Melalui Video Situs Youtube
Unik, Sebagai Informasi, Lainnya
Sebagai Informasi, Tampilan Gambar Menarik
Melalui Video Situs Youtube
Sebagai Informasi, Lainnya
Semua
Up Date, Unik, Tampilan Gambar Menarik
Melalui Video Situs Youtube, Lainnya
Total
3
0,9
4
1,2
6
1,8
1
0,3
10
3
5
1,5
1
0,3
48
14,5
2
0,6
2
0,6
20
6
1
0,3
1
0,3
2
17
0,6
5,1
1
0,3
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.17 menunjukkan bahwa distribusi persentase
terbesar hal yang membuat responden tertarik menonton tayangan On
The Spot adalah sebagai informasi sebanyak 94 responden (28,3%),
selanjutnya diurutan kedua hal yang membuat responden tertarik
68
menonton tayangan On The Spot adalah unik dan sebagai informasi
sebanyak 48 responden (14,5%), dan diurutan ketiga hal yang
membuat responden tertarik menonton tayangan On The Spot adalah
unik sebanyak 31 responden (9,3%).
2.15 Apakah Tayangan On The Spot Menghibur
Tabel 4.18
Distribusi Responden Berdasarkan Apakah Tayangan On The Spot
Menghibur?
N = 332
Apakah Tayangan On The Spot
Frekuensi
Persentase
Menghibur
Sangat Menghibur
124
37,3
Menghibur
202
60,8
Tidak Menghibur
4
1,2
Sangat Tidak Menghibur
2
0,6
Total
332
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.18 diatas menunjukkan bahwa responden sebanyak
202 responden (60,8%) menyatakan menghibur untuk menonton
tayangan On The Spot, dan responden sebanyak 124 responden
(37,3%) menyatakan sangat menghibur untuk menonton tayangan On
The Spot.
2.16 Tujuan Menonton Tayangan On The Spot
Tabel 4.19
Distribusi Responden Berdasarkan Tujuan Menonton Tayangan On
The Spot
N = 332
Frekuensi Persentase
Tujuan Menonton
Menambah Pengetahuan dan Wawasan
161
48,5
29
8,7
Mengisi Waktu Luang
11
3,3
Menghilangkan Rasa Bosan
2
0,6
Lainnya
29
8,7
Menambah Pengetahuan dan Wawasan,
69
Mengisi Waktu Luang
Menambah Pengetahuan dan Wawasan,
Menghilangkan Rasa Bosan
menambah pengetahuan dan wawasan,
lainnya
Menambah Pengetahuan dan Wawasan,
Menghilangkan Rasa Bosan, Lainnya
Mengisi Waktu Luang, Menghilangkan Rasa
Bosan
Semua
Semua, Lainnya
Total
28
8,4
4
1,2
1
0,3
3
0,9
61
3
332
18,4
0,9
100
Sumber : Data Primer diolah dari kuisioner, 2012
Tabel 4.18 diatas menunjukkan bahwa distribusi responden
berdasarkan tujuannya dalam menonton tayangan On The Spot dengan
persentase responden terbesar menyatakan untuk menambah wawasan
dan pengetahuan yaitu sebesar 161 responden (48,5), dan selebihnya
responden berdasarkan tujuannya dalam menonton tayangan On The
Spot menyatakan untuk menambah wawasan dan pengetahuan,
mengisi waktu luang, dan menghilangkan rasa bosan yaitu sebesar 61
responden (18,4%).
B. Pembahasan
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggapan
mahasiswa Universitas Hasanuddin terhadap tayangan On The Spot di
Trans7 dan faktor-faktor yang mempengaruhi tanggapan mahasiswa
Universitas Hasanuddin terhadap tayangan On The Spot di Trans7.
Dalam penelitian ini, tanggapan dibutuhkan untuk mengetahui
seberapa bagus dan kurang bagusnya tayangan On The Spot yang
70
diperuntukkan untuk khalayak dari berbagai kalangan khususnya
mahasiswa Universitas Hasanuddin. Universitas Hasanuddin merupakan
universitas terkemuka dan terbesar di kawasan Indonesia Timur sehingga
mahasiswa Universitas Hasanuddin dianggap sebagai mahasiswa yang
dapat memberikan tanggapan yang kritis dan penilaian yang membangun
terhadap program tayangan On The Spot di Trans7. Berikut pembahasan
mengenai tanggapan mahasiswa terhadap tayangan On The Spot di Trans7
dengan pengkategorian sebagai berikut :
A. Awal Mendapat Informasi Tayangan On The Spot
Awal responden mendapatkan informasi mengenai tayangan On The
Spot (dapat dilihat pada tabel 4.6) dari 332 responden, secara
keseluruhan responden menyatakan awal mendapatkan informasi
tentang tayangan On The Spot melalui media yaitu televisi dengan
melihat langsung tayangan tersebut. Namun, ada pula yang
menyatakan awal mendapatkan informasi tentang tayangan On The
Spot melalui teman dan keluarga mereka sehingga merasa penasaran
dan ikut untuk melihat tayangan tersebut.
B. Jadwal Penayangan
Pada variabel ini terbagi menjadi 3 kategori, yaitu :
1. Waktu Penayangan (dapat dilihat pada tabel 4.7) dari 332
responden, 38 responden diantaranya menyatakan tidak sesuai
karena waktu penayangan tayangan tersebut pada pukul 20.00 s/d
21.00 WITA yang menurut responden sudah mengantuk pada jam
71
tersebut sehingga tidak sempat menyaksikan tayangan tersebut
pada waktunya dan menyarankan agar tayangan On The Spot
tayang pada pukul 19.00 WITA ;
2. Hari Penayangan (dapat dilihat pada tabel 4.8) sebanyak 250
responden menyatakan hari penayangan tayangan On The Spot dari
Senin – Jumat sudah sesuai. Namun, 31 responden menyatakan
hari penayangan tayangan On The Spot dari Senin – Jumat tidak
sesuai dan menyarankan tayangan On The Spot dapat hadir setiap
hari (Senin – Minggu) atau 2 kali dalam seminggu yakni Sabtu –
Minggu agar tidak membosankan dan ;
3. Durasi Penayangan (dapat dilihat pada tabel 4.9) sebanyak 236
responden menyatakan durasi penayangan tayangan On The Spot
selama 60 menit sudah sesuai, sedang 44 responden menyatakan
durasi penayangan tayangan On The Spot selama 60 menit tidak
sesuai dan menyarankan tayangan On The Spot agar durasi
penayangan ditambah menjadi 90 menit atau 120 menit dan ada
pula yang menyarankan durasi penayangannya dikurangi menjadi
30 menit saja.
C. Tema Tayangan
Pada variabel ini terbagi menjadi 3 kategori, yaitu :
1. Tema yang ditampilkan (dapat dilihat pada tabel 4.10) dari 332
responden, secara keseluruhan responden menyatakan tema yang
ditampilkan bagus ;
72
2. Tema yang diminati (dapat dilihat pada tabel 4.11) kebanyakan
responden menyatakan menyukai tema tentang fenomena alam,
peristiwa terunik, dan budaya serta beberapa diantaranya juga
menyatakan menyukai tema tentang horor, sejarah, penemuanpenemuan, dan olahraga. Di antara mereka menyatakan tema yang
ditampilkan On The Spot lebih mendidik lagi dan menyajikan
informasi yang sesuai dengan kenyataannya ;
3. Pembahasan tema (dapat dilihat pada tabel 4.12) secara
keseluruhan menyatakan bahwa pembahasan tema tayangan On
The Spot bermanfaat karena dapat menambah wawasan dan
pengetahuan penonton.
D. Narasi Tema
Pada variabel ini terbagi menjadi 3 kategori, yaitu :
1. Kejelasan (narasi) tema (dapat dilihat pada tabel 4.13) dari 332
responden, 272 responden menyatakan kejelasan (narasi) tema
tayangan On The Spot jelas ;
2. Ketepatan penjelasan (narasi) per tema (dapat dilihat pada tabel
4.14) secara keseluruhan dari 332 responden, sebanyak 303
responden menyatakan penjelasan (narasi) per tema sudah tepat
dengan tema yang ditampilkan setiap episodenya ;
3. Bahasa narasi (penjelasan) tema (dapat dilihat pada tabel 4.15)
sebanyak 263 responden menyatakan bahasa narasi (penjelasan)
dari tema yang ditampilkan oleh narator sudah baku dan sebanyak
73
38 responden menyatakan bahasa narasi (penjelasan) tema oleh
narator tidak baku.
E. Daya Tarik
Pada variabel ini terbagi menjadi 3 kategori, yaitu :
1. Daya tarik menonton tayangan On The Spot (dapat dilihat pada
tabel 4.16) dari 332 responden, 283 responden menyatakan tertarik
untuk menonton tayangan On The Spot, 43 responden sangat
tertarik menonton On The Spot, 4 responden menyatakan tidak
tertarik dan 2 responden menyatakan sangat tidak tertarik untuk
menonton tayangan On The Spot karena tema yang ditampilkan
tidak Indonesia sekali dan membosankan ;
2. Hal yang membuat tertarik menonton On The Spot (dapat dilihat
pada tabel 4.17) dari 332 responden secara keseluruhan hal yang
membuat tertarik menonton On The Spot adalah unik dan sebagai
informasi ;
3. Tayangan On The Spot (dapat dilihat pada tabel 4.18) secara
keseluruhan responden menyatakan bahwa tayangan On The Spot
menghibur.
F. Tujuan Menonton
Tujuan menonton tayangan On The Spot (dapat dilihat pada tabel
4.19) dari 332 responden, secara keseluruhan menyatakan bahwa
tujuannya dalam menonton tayangan On The Spot adalah untuk
menambah wawasan dan pengetahuan serta mengisi waktu luang.
74
G. Tanggapan
Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden
dalam penelitian ini yaitu sebanyak 332 responden menyatakan bahwa
tayangan On The Spot bagus dan menarik untuk ditonton. Hal ini dapat
dilihat dari variabel penelitian yang meliputi jadwal tayang, tema,
narasi tema, dan daya tarik menonton tayangan On The Spot.
Model S–O–R menjadi pijakan teoritis dalam penelitian ini,
menjadikan program tayangan On The Spot sebagai stimulus dengan
pengkategorian penilaian seperti Jadwal Penayangan, Tema Tayangan,
Narasi Tema, dan Daya Tarik. Perhatian, Pengertian dan Penerimaan dari
responden dalam hal ini mahasiswa Universitas Hasanuddin sebagai
organism. Bentuk-bentuk pengamatan, persepsi, dan pengenalan dari
responden sebagai tanggapan untuk menghasilkan perubahan sikap.
Dalam memberikan tanggapan, tiap-tiap responden memiliki cara
masing-masing.
Sesorang
akan
mempersepsi
sesuatu
ketika
ia
memperhatikan hal tersebut. Perhatian timbul, ketika salah satu alat indera
kita menonjol dan mengesampingkan stimulus yang timbul dari alat indera
lainnya. Ada beberapa faktor eksternal yang turut mempengaruhi perhatian
seseorang, seperti :
1. Intensitas
Intensitas, hal ini dapat dilihat dari penjadwalan tayangan On The
Spot, menurut responden bagaimana acara tersebut dapat konsisten
dalam bentuk-bentuk penayangan yang informatif dan edukatif yang
75
membuat tayangan tersebut dapat terus eksis dalam kurun waktu 5
tahun terakhir ini.
2. Ukuran
Ukuran, hal ini umumnya dapat dilihat dari pengemasan acara.
Sebagian besar responden menyukai inovasi-inovasi yang dilakukan
oleh tayangan On The Spot, misalnya backsound yang mengiringi tiap
tema yang ditampilkan dan sebagainya.
3. Kontras
Kontras, merupakan sesuatu yang unik dan diluar kebiasaan yang biasa
ditampilkan. Hal ini dapat dilihat dari penilaian responden mengenai
tema yang ditampilkan pada tayangan On The Spot. Tema yang
ditampilkan On The Spot merupakan tema-tema yang ditampilkan
terkadang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya mengenai suatu
persitiwa atau kejadian dan semua itu terjadi di sekitar lingkungan kita.
4. Gerakan
Sesuatu yang bergerak dapat lebih menarik daripada sesuatu yang
statis. Hal ini dapat dilihat dari interaksi yang terjadi oleh On The Spot
dengan khalayaknya melalui media sosial yang sekarang dapat lebih
mendekatkan. Lewat media sosial ini, On The Spot selalu
menginfokan tema-tema yang akan ditampilkan setiap episodenya.
5. Pengulangan
Sesuatu yang sering mengalami pengulangan akan menarik perhatian,
tetapi jika terlalu sering dapat menghasilkan kejenuhan. Hal ini dapat
76
kita lihat pada jadwal penayangan tayangan On The Spot di Trans7.
Menurut responden penelitian ini, tayangan On The Spot lebih baik
ditayangkan 2 kali dalam seminggu saja yaitu Sabtu-Minggu. Tingkat
kejenuhannya juga semakin berkurang. Namun banyak responden yang
mengeluh dengan pada waktu penayangan 20.00 WITA karena
seharusnya tayang pada pukul 19.00 WITA.
6. Keakraban
Komunikasi akan berjalan efektif ketika mungkin seorang individu
berinteraksi dengan orang lain yang sudah ia kenal dan sebagainya.
Dalam hal ini, tanggapan responden dapat dilihat pada narasi yang
dibawakan oleh narator dari tayangan On The Spot. Walaupun bahasa
yang digunakan oleh narator sudah baku namun narator berusaha untuk
mengakrabkan dirinya dengan khalayaknya dalam penyampaian
bahasanya dan intonasinya yang lebih ceria dan selalu bersemangat.
7. Novelty
Sesuatu yang baru. Sama halnya dengan gerakan, sesuatu yang baru
dan berbeda juga mampu menarik perhatian. Responden menyatakan
bahwa mereka lebih senang dan tertarik dengan tema-tema yang lagi
up date dan masih hangat diperbincangkan. Karena tanpa hal-hal baru,
stimuli dalam hal ini tayangan On The Spot di Trans7 akan menjadi
menjemukkan dan membosankan sehingga akan mudah lepas dari
perhatian.
77
Dan beberapa faktor internal yang juga mempengaruhi perhatian,
seperti :
1. Kebutuhan Psikologis
Ada hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan kebutuhan. Tiap
responden menyatakan bahwa mereka hanya akan memperhatikan
rangsangan yang sesuai dengan kebutuhan mereka saat itu.
Tayangan On The Spot dengan tema tertentu yang sekiranya
berkenaan dengan kebutuhan para responden sudah pasti dinikmati
dan tidak menutup kemungkinan mereka menunggu tayangan
tersebut dengan tema yang berkenaan dengan kebutuhan mereka
tersebut.
2. Latar Belakang, Pengalaman dan Kepribadian
Tidak menutup kemungkinan, tema-tema yang ditampilkan pada
tayangan
On
diketemui/dilihat
lingkungannya.
The
Spot
langsung
Dengan
pernah
oleh
adanya
dialami
langsung
responden
kesamaan,
di
maka
atau
sekitar
biasanya
informasi yang dibagi melalui tayangan tersebut dapat dengan
mudah tersalurkan maksud dan tujuannya.
3. Sikap, Kepercayaan Umum dan Penerimaan Diri
Responden memiliki kepercayaan tertentu terhadap suatu hal.
Punya kecenderungan memperhatikan berbagai hal kecil. Jadi,
terkadang apa yang dinilai positif oleh seorang responden belum
tentu mendapat penilaian yang sama oleh responden lain.
78
Responden yang ikhlas menerima kenyataan dirinya akan cepat
menyerap sesuatu dibanding dengan responden yang kurang ikhlas
menerima kenyataan dirinya. Karena ketika seorang responden
bersikap realistis dengan keadaannya, maka mereka dapat dengan
mudah menerima suatu informasi dan lebih terbuka dengan bentukbentuk pengetahuan baru termasuk yang disampaikan melaui
tayangan On The Spot.
Selain perhatian yang dijelaskan di atas, pengertian dan
penerimaan juga menjadi komponen dari mahasiswa Universitas Hasanuddin
sebagai organism. Pengertian ini di sini dimaksudkan sebagai sejauh
manakah mahasiswa Universitas Hasanuddin sebagai responden yang
menonton tayangan On The Spot mengerti dan memahami hal-hal yang
disampaikan oleh On The Spot melalui video-video yang dirangkum menjadi
satu sesuai tema dengan penjelasan yang disampaikan oleh narator untuk
mengetahui informasi-informasi tebaru. Untuk komponen pengertian dapat
dilihat pada penilaian pembahasan tema (tabel 4.12) yaitu bermanfaat dengan
persentase 69,6%.
Penerimaan juga menjadi salah satu komponen dari mahasiswa
Universitas Hasanuddin sebagai organism, dimana penerimaan yang
dimaksudkan disini adalah apakah responden dapat menerima adanya
tayangan tersebut dengan bersahabat serta dapat menerima informasiinformasi yang disampaikan sehingga akan memberikan sebuah respon.
Untuk komponen penerimaan dapat dilihat pada daya tarik menonton (tabel
79
4.16) yaitu tertarik dengan persentase 85,2%. Dan untuk komponen perhatian
sendiri dapat dilihat pada penilaian tema tayangan (tabel 4.10) yaitu bagus
dengan persentase 76,5%.
Selain
yang
dikemukakan
diatas,
faktor-faktor
lain
yang
mempengaruhi responden yaitu mahasiswa Universitas Hasanuddin sebagai
organism untuk menonton On The Spot adalah karena adanya motif dan
kepentingan.
Dalam hal ini, untuk daya tarik responden terhadap tayangan On
The Spot dapat juga dilihat dari pernyataan responden dengan perilaku
mereka menonton tayangan On The Spot. Pernyataan disini dimaksudkan
sebagai apakah responden tertarik atau tidak tertarik, sedang perilaku disini
dimaksudkan sebagai frekuensi responden dalam menonton tayangan On The
Spot.
Apabila responden menyatakan tertarik untuk menonton tayangan
On The Spot maka seharusnya frekuensi menonton mereka lebih dari satu
kali dari Senin – Jumat, sedang ketika responden menyatakan tidak tertarik
untuk menonton tayangan On The Spot maka seharusnya frekuensi menonton
mereka hanya satu kali saja dari Senin – Jumat atau dalam sebulan. Tetapi
ketika responden menyatakan tertarik untuk menonton tayangan On The Spot
sedang frekuensi menontonnya hanya satu kali saja dari Senin – Jumat atau
sebulan maka responden dinyatakan tidak konsisten terhadap pernyataan
dengan frekuensi menonton mereka. Dan ketika responden menyatakan tidak
tertarik untuk menonton tayangan On The Spot sedang frekuensi
80
menontonnya lebih dari satu kali (2 kali atau setiap hari dari Senin – Jumat)
maka responden dinyatakan tidak konsisten juga terhadap frekuensi
menonton mereka. Jadi, responden dinyatakan konsisten apabila pernyataan
mereka, misalnya tertarik dengan frekuensi menonton lebih dari satu kali (2
kali atau setiap hari dari Senin – Jumat), atau tidak tertarik dengan frekuensi
menonton hanya satu kali saja dari Senin – Jumat atau dalam sebulan.
Dalam
model
S-O-R
(Stimulus
Organism
Respons)
menganalogikan bahwa stimulus tertentu yang menerpa organisme akan
melahirkan respons tertentu pula. Perubahan sikap yang terjadi adalah hasil
dari respons, termasuk bagaimana dalam hal ini responden (mahasiswa ilmu
komunikasi) memberikan tanggapan positif atau negatif terhadap tayangan
On The Spot.
Secara keseluruhan data hasil penelitian yang mencakup penilaian
dari seluruh responden mengenai Jadwal Penayangan, Tema Tayangan,
Narasi Tema, dan Daya Tarik dilihat dan dihimpun dari berbagai faktor
mendapat tanggapan yang positif.
Tanggapan mahasiswa Universitas Hasanuddin mengenai jadwal
penayangan secara keseluruhan dengan menggabungkan antara waktu
penayangan (tabel 4.7), hari penayangan (tabel 4.8), dan durasi (tabel 4.9)
adalah positif dengan persentase 73,5%.
Tanggapan mahasiswa Universitas Hasanuddin mengenai tema
tayangan secara keseluruhan dengan menggabungkan antara penilaian tema
81
tayangan (tabel 4.10), tema yang paling diminati (tabel 4.11), dan
pembahasan tema (tabel 4.12) adalah positif dengan persentase 55,73%.
Tanggapan mahasiswa Universitas Hasanuddin mengenai narasi
tema secara keseluruhan dengan menggabungkan antara kejelasan tema
tayangan (tabel 4.13), ketepatan penjelasan per tema (tabel 4.14), dan bahasa
tema (tabel 4.15) adalah positif dengan persentase 84,13%.
Tanggapan mahasiswa Universitas Hasanuddin mengenai daya
tarik secara keseluruhan dengan menggabungkan antara daya tarik menonton
(tabel 4.16), hal yang membuat tertarik menonton (tabel 4.17), dan apakah
tayangan On The Spot menghibur (tabel 4.18) adalah positif dengan
persentase 62,43%.
Dilihat dari tabel 4.7 hingga tabel 4.18 secara keseluruhan
menunjukkan bahwa dari keempat komponen tayangan On The Spot yaitu
jadwal penayangan, tema tayangan, narasi tayangan, dan daya tarik yaitu
bagus dengan persentase 68,94%.
82
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian, kesimpulan ini dimaksudkan untuk menjawab
pertanyaan pada rumusan masalah, sebagai berikut :
1. Tanggapan mahasiswa Universitas Hasanuddin terhadap tayangan On
The Spot di Trans7 menunjukkan bahwa mayoritas menyatakan
tayangan On The Spot bagus dengan persentase 68,94% (dapat dilihat
pada tabel 4.7 hingga tabel 4.18). Tanggapan responden terhadap
jadwal penayangan memiliki persentase 73,5%, mengenai tema
tayangan memiliki persentase 55,73%, mengenai narasi tema memiliki
persentase 84,13%, dan mengenai daya tarik menonton memiliki
persentase 62,43%.
Selain
itu,
adapun
tanggapan
mahasiswa
Universitas
Hasanuddin terhadap tayangan On The Spot sebagai berikut :
a. Menarik, karena tayangan ini merupakan tayangan yang pertama
dan menjadi trendsetter bagi televisi lainnya untuk menampilkan
suatu program tayangan yang lain dari sebelumnya.
b. Unik, karena tayangan ini mampu memberikan informasi terhadap
khalayak melalui video dari situs youtube dengan menampilkan
berbagai informasi terhadap tema yang diangkat atau suatu
82
83
peristiwa/kejadian/fenomena yang belum diketahui dan berada di
sekitar lingkungan kita.
c. Sebagai informasi, karena melalui tayangan ini khalayak dapat
menambah wawasan dan pengetahuannya terhadap hal-hal baru
yang belum diketahui sebelumnya.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi tanggapan mahasiswa Universitas
Hasanuddin terhadap tayangan On The Spot yaitu sebagai berikut :
a. Curiosity, yaitu adanya rasa ingin tahu dari responden terhadap
tayangan tersebut untuk mendapatkan hal-hal atau informasi baru,
yang terjadi di sekitar lingkungan dan tidak pernah terpikirkan
sebelumnya
b. Informatif, yaitu menyajikan informasi-informasi yang bisa
menambah wawasan dan pengetahuan kita
c. Edukatif, yaitu menyajikan informasi-informasi yang mendidik
yang bisa menambah wawasan dan pengetahuan responden.
B. Saran-saran
Dari penelitian yang dilakukan, penulis mengemukakan beberapa
saran yaitu :
1. Kepada Trans7 sebagai stasiun televisi swasta yang menayangkan On
The Spot, diharapkan agar jangan mengulang-ulang tema yang sudah
ditayangkan sebelumnya setiap episodenya karena akan membuat
khalayak menjadi bosan.
84
2. Kepada Trans7 sebagai stasiun televisi yang menayangkan On The
Spot untuk menampilkan informasi yang lebih mendidik lagi dan
tema-tema yang ditampilkan setiap episodenya harus lebih bervariasi.
3. Kepada respoden untuk lebih selektif dalam memilih tayangan yang
akan ditonton. Dan sebaiknya mengkonsumsi tayangan-tayangan yang
mengandung unsur edukasi dan budaya.
4. Selain saran-saran di atas, penulis juga mengemukakan saran-saran
tambahan yaitu terdapat kontroversi terhadap waktu penayangan On
The Spot di Trans7 meliputi hari dan durasi penayangan. Dimana
sebagian responden menyatakan bahwa tayangan On The Spot
ditayangkan dari hari Senin – Jumat dan ada pula responden yang
menyatakan tayangan On The Spot ditayangkan hari Sabtu – Minggu.
Sebagian responden juga menyatakan bahwa durasi penayangan
ditambah menjadi 90 menit atau 120 menit dan sebagian responden
menyatakan durasi penayangan dikurangi menjadi 30 menit.
Download