Perlindungan HAM dalam Negara Hukum Indonesia - AIFIS

advertisement
Perlindungan HAM dalam Negara Hukum Indonesia:
Studi Ratifikasi Konvensi Hak-hak Disabilitas
(Convention on The Rights of Persons with Disabilities)
Oleh: Udiyo Basuki 
Abstract
The main characteristic of a State of Law (Rechtsstaat/ Rule of Law) is the
rule of law that can protect human rights. As stated in Article 1 (3) UUD 1945
(Indonesian Constitution), Indonesia is a state of law which means that the state is run
on the basis of rule of law. Law as the supreme commander should not overlook the
basic value of law, i.e. justice and the protection of human rights, including justice,
equality, and human rights protection for disable people. In Indonesia, the protection of
the rights of disable people is state in Law No. 19 of 2011. This Act states that
discrimination against any person of disability is a violation of human rights. People
with disabilities have the rights and freedoms of the same protection, fairness, respect,
and dignity as human beings in general. But in Indonesia, disable people are still
treated in discrimination and injustice. Therefore, the Indonesian government is obliged
to protect the rights of the disable people. Disability rights have become a global issue,
which can no longer be neglected by a country to exist in international society.
Key words: human rights, rule of law, ratification, disability, justice.
Abstrak
Ciri dari Negara Hukum (Rechtsstaat/Rule of Law) adalah adanya
supremasi hukum yang melindungi Hak Asasi Manusia (HAM). Seperti tertuang
dalam Pasal 1 (3) UUD 1945 Indonesia adalah negara hukum, yaitu negara yang
penyelenggaraan kekuasaan pemerintahannya didasarkan atas hukum. Hukum
sebagai panglima tertinggi (commander) tidak boleh mengabaikan nilai dasar hukum
yaitu keadilan serta perlindungan terhadap HAM, termasuk keadilan, kesetaraan
serta perlindungan HAM bagi penyandang disabilitas. Di Indonesia, perlindungan
terhadap hak-hak penyandang disabilitas tertuang dalam UU Nomor 19 Tahun
2011. Dalam UU ini disebutkan bahwa diskriminasi atas setiap orang berdasarkan
disabilitas merupakan pelanggaran HAM. Penyandang disabilitas memiliki hak-hak
serta kebebasan yang sama yaitu diperlukan perlindungan, adil dan setara dengan
hormat dan martabat yang sama sebagai manusia pada umumnya. Namun di
Indonesia, penyandang disabilitas masih mendapatkan perlakuan diskriminatif dan
ketidakadilan. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia berkewajiban untuk
melindungi HAM kaum disabilitas. HAM disabilitas telah menjadi isu global, yang

Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan
Kalijaga Yogyakarta. E-mail: [email protected].
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
18
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
tidak lagi dapat dikesampingkan oleh suatu negara jika ingin tetap eksis dalam
pergaulan Internasional.
Kata kunci: hak asasi manusia, negara hukum, ratifikasi, disabilitas,
keadilan.
A. Pendahuluan
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan
Resolusi Nomor A/61/106 tentang Convention on the Rights of Persons with
Disabilities. Resolusi tersebut memuat hak-hak penyandang disabilitas dan
mengatur langkah-langkah untuk menjamin pelaksanaan konvensi
tersebut. Mengingat pentingnya menghormatan, perlindungan,
pemenuhan, dan memajukan HAM penyandang disabilitas, pemerintah
Indonesia pun menandatangani Resolusi pada tanggal 30 Maret 2007 di
New York. Komitmen Indonesia selanjutnya dibuktikan dengan
meratifikasi Konvensi tersebut yang kemudian dituangkan dalam UU
Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on The Rights of
Persons with Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-hak Penyandang
Disabilitas) dan telah disahkan pada hari Selasa 18 Oktober 2011.1
The Convention on The Rights of Persons with Disabilities (CRPD) 2 ini
merupakan instrumen Hak Asasi Manusia (HAM) pertama yang secara
komprehensif membicarakan dan memberikan perhatian pada kebutuhan
orang-orang dengan segala jenis kecacatan (disabilitas). Konvensi ini
1 Indonesia secara resmi telah menyampaikan instrumen ratifikasi Konvensi Hakhak Penyandang Disabilitas kepada PBB pada 30 November 2011. Penyampaian itu
dilakukan setelah DPR RI dalam Rapat Paripurna pada 18 Oktober 2011 yang menyetujui
secara aklamasi RUU tentang Pengesahan Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas
menjadi Undang-Undang. Dengan disahkannya Undang-Undang tersebut, maka
Indonesia menjadi negara ke-107 yang meratifikasi Konvensi Hak-hak Penyandang
Disabilitas. Indonesia sebagai Negara Pihak dari Konvensi akan memiliki kewajiban
untuk memenuhi ketentuan-ketentuan yang ada di dalam Konvensi, yaitu melakukan
berbagai penyesuaian dalam penanganan kelompok masyarakat disabilitas di berbagai
bidang kehidupan. Hal ini mencakup antara lain penyediaan aksesibilitas dan perubahan
pola pikir pada tingkat pembuat kebijakan serta masyarakat umum guna mewujudkan
lingkungan yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Lihat: http://www.kemlu
(kementerian luar negeri).go.id/Pages/News. 06/06/12
2 Terbentuknya CRPD oleh PBB banyak dipengaruhi oleh beberapa instrumen
internasional yang telah berlaku sebelumnya, antara lain: Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia Tahun 1948, Peraturan Standar PBB tentang Persamaan Kesempatan bagi Para
Penyandang Cacat Tahun 1993, UNESCO Tahun 1960-Konvensi Menentang
Diskriminasi dalam Dunia Pendidikan, Konvensi Hak Anak Tahun 1989, Deklarasi
Dunia tentang Pendidikan untuk Semua Tahun 1990 serta Stavanger Tahun 2004. Lihat
www.kumham.jogja.info. Dipublikasikan oleh: Serafina Shinta Dewi (Perancang
Peraturan Perundang-undangan Kanwil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
DIY.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
19
terbentuk berdasarkan pada pertimbangan prinsip-prinsip Piagam PBB
yang mengakui, memajukan, serta melindungi harkat-martabat yang
melekat dan hak-hak yang setara yang tidak dapat dicabut dari semua
anggota umat manusia sebagai dasar dari kebebasan, keadilan dan
perdamaian di dunia.
Indonesia meratifikasi CRPD berdasar pada kewajiban negara
pihak dalam menjamin perlindungan Hak Asasi Manusia dan kebebasan
mendasar semua orang cacat tanpa diskriminasi. Seperti diketahui, salah
satu unsur negara hukum adalah adanya jaminan terhadap HAM,
khususnya jaminan terhadap hak-hak kaum disabilitas.3
Yang
dimaksudkan dengan negara hukum adalah negara yang penyelenggaraan
kekuasaan pemerintahannya didasarkan pada hukum. Sifat negara hukum
yang khas adalah adanya jaminan perlindungan HAM, yang menjadi dasar
kekuasaan kenegaraan dan diletakkan kepada hukum sehingga pelaksanaan
kekuasaan ini ditempatkan di bawah kekuasaan hukum.4
Tindakan pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi ini
merupakan cerminan tanggung jawab Indonesia sebagai bagian dari
masyarakat dunia dalam memajukan dan melindungi hak asasi manusia
untuk semua, termasuk para penyandang disabilitas. Sebagian ketentuan
Konvensi yang terkait dengan hak-hak sipil penyandang disabilitas harus
segera direalisasikan. Namun demikian, hak-hak ekonomi, sosial dan
budaya penyandang disabilitas, termasuk penyediaan akses di berbagai
bidang, dapat direalisasikan secara bertahap sesuai dengan ketersediaan
sumber daya nasional.5
Komitmen pemerintah Indonesia terhadap perlindungan HAM
khususnya penyandang disabilitas yang tertuang dalam regulasi hukum UU
No. 19 Tahun 2011 tersebut, tentu menjadi harapan besar bagi
penyandang disabilitas untuk mendapatkan pengakuan hukum, pelayanan
publik, keadilan, kesetaraan serta terbebas dari perlakuan diskriminasi.
Dalam Konvensi dikatakan bahwa penyandang disabilitas adalah orangorang yang memiliki disabillitas fisik, disabilitas intelektual, mengalami
kesalahan kejiwaan, disabilitas sensorik, seperti tuna rungu wicara, dan
tuna netra.6
3 Donal A. Rumokoy, dkk, Dimensi-dimensi Pemikiran Hukum Administrasi Negara,
(Yogyakarta: UII Press, 2001), p. 7.
4 Abdul Latief, “Perlindungan HAM dalam Negara Hukum” dalam Mengurai
Kompleksitas Hak Asasi Manusia: Kajian Multi Perspektif, Eko Riyadi dan Supriyanto (ed.),
(Yogyakarta: PUSHAM UII), p. 132.
5Konvensi PBB tentang Hak-hak Penyandang Disabilitas ini merupakan perjanjian
HAM pertama yang paling lengkap dan progresif di abad ke-21 dan konvensi HAM
pertama yang terbuka untuk organisasi regional. Konvensi ini diadopsi pada tanggal 13
Desember 2006 di Markas Besar PBB di New York.
6 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Convention on The
Rights of Persons with Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas)
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
20
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
Tujuan dari Konvensi ini adalah untuk memajukan, melindungi, dan
menjamin penikmatan semua hak asasi manusia dan kebebasan mendasar
secara penuh dan setara oleh semua orang penyandang cacat, dan untuk
memajukan penghormatan atas martabat yang melekat pada diri mereka.
Orang-orang penyandang cacat termasuk mereka yang memiliki kerusakan
fisik, mental, intelektual, atau sensorik jangka panjang yang dalam
interaksinya dengan berbagai hambatan dapat merintangi partisipasi
mereka dalam masyarakat secara penuh dan efektif berdasarkan pada asas
kesetaraan.7
Ada beberapa hal penting terkait ratifikasi Konvensi tersebut.
Pertama, pengakuan bahwa diskriminasi atas setiap orang berdasarkan
disabilitas merupakan pelanggaran terhadap martabat dan nilai yang
melekat pada setiap orang. Kedua, penyandang disabilitas harus memiliki
kesempatan untuk secara aktif terlibat dalam proses pengambilan
keputusan mengenai kebijakan dan program, termasuk yang terkait
langsung dengan mereka. Ketiga, pentingnya aksesibilitas kepada
lingkungan fisik, sosial, ekonomi dan kebudayaan, kesehatan dan
pendidikan, serta informasi dan komunikasi, yang memungkinkan
penyandang disabilitas menikmati sepenuhnya semua hak asasi manusia
dan kebebasan fundamental.
Meskipun pemerintah Indonesia telah meratifikasi, yang kemudian
terwujud dalam UU No 19 Tahun 2011, serta diperkuat dengan UU No.
39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, penyandang disabilitas di
Indonesia masih mengalami perlakuan diskriminatif, ketidaksetaraan dan
ketidakadilan. Bentuk ketidakadilan bagi kaum disabilitas tercermin pada
tidak diberikannya kesempatan yang sama bagi mereka untuk beraktivitas
secara bebas. Para penyandang disabilitas sangat sulit untuk mendapatkan
akses fasilitas publik, peran politik, akses ketenagakerjaan, perlindungan
hukum, akses pendidikan, akses informasi dan komunikasi serta pelayanan
kesehatan.
Selain itu, fasilitas jalan dan alat transportasi umum di Indonesia
tidak mudah diakses oleh penyandang disabilitas. Diskriminasi juga terjadi
pada pelayanan perbankan. Tunanetra tidak dapat secara mandiri
melakukan transaksi, misalnya dalam transaksi perbankan, karena dianggap
tidak cakap hukum. Sehingga harus menguasakannya kepada orang lain
(yang bukan tunanetra) dan memberikan kuasa tersebut harus disahkan
oleh notaris.8
Ketidakadilan serta perlakuan diskriminatif yang disandang oleh
kaum disabilitas menjadi keprihatinan yang cukup mendalam. Dengan
masih adanya diskriminasi terhadap penyandang cacat, masyarakat atau
Ibid., Pasal 1
Muladi (ed.), Hak Asasi Manusia: Hakikat, Konsep dan Implikasinya dalam Persepektif
Hukum dan Masyarakat, (Bandung: PT Rafika Aditama, 2009), p. 260-261.
7
8
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
21
negara Indonesia dianggap telah merampas hak-hak hidup mereka.
Apalagi melihat jumlah penyandang disabilitas di Indonesia semakin
meningkat secara signifikan. Jumlah penyandang disabilitas menurut
Organisasi Kesehatan Dunia dalam Laporan Dunia tentang kecacatan
adalah sekitar 15 % dari total penduduk di negara-negara dunia. Sehingga
jumlah penyandang disabilitas di Indonesia diperkirakan sejumlah
36.150.000 orang atau 15% dari jumlah penduduk Indonesia tahun 2011
yang mencapai 241 juta jiwa.9
Dari latar belakang di atas, maka upaya perlindungan terhadap hakhak disabilitas merupakan sebuah keniscayaan. Untuk itu, segala bentuk
diskriminasi, harus dihapuskan. Asumsi, persepsi, dan cara pandang
terhadap penyandang cacat harus diubah.10 Hal ini tentu menjadi
kewajiban pemerintah Indonesia untuk secara penuh menghormati,
melindungi serta memenuhi hak-hak kaum disabilitas di Indonesia.
Berangkat dari konsep negara hukum, tulisan ini hendak mengurai
bagaimana bentuk konsep Hak Asasi Manusia dalam negara hukum
Indonesia, khususnya terkait perlindungan terhadap penyandang
disabilitas.
B. Konsep Hak Asasi Manusia dan Negara Hukum di Indonesia
Secara etimologis, Hak Asasi Manusia (HAM)11 merupakan
terjemahan langsung dari human rights dalam bahasa Inggris, “droits de
l’home” dalam bahasa Perancis, dan menselijke rechten dalam bahasa Belanda.
Namun ada juga yang menggunakan istilah HAM sebaga terjemahan dari
basic raights dan fundamental rights dalam bahasa Inggris, serta grondrechten dan
fundamental rechten dalam bahasa Belanda.12 Kemudian secara terminologis,
HAM lazimnya diartikan sebagai hak-hak dasar atau hak-hak pokok yang
dibawa manusia sejak lahir, sebagai anugerah atau karunia dari Allah Yang
Maha Kuasa.13 Hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia
semata-mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena
Tim Roda Untuk Kemanusiaan Indonesia Yogyakarta, “Konvensi PBB tentang
Hak-hak Penyandang Disabilitas” makalah disampaikan dalam Seminar Nasional di UCP
Roda Untuk Kemanusiaan Indonesia, Yogyakarta.
10 Kompas: http://www.kaskus.co.id/showthread.php. 07/06/12.
11Asal-usul gagasan mengenai hak asasi manusia bersumber dari teori hak kodrati
(natural rights theory). Dalam bukunya, Locke menjelaskan bahwa semua individu
dikaruniai oleh alam berupa hak yang melekat atas hidup, kebebasan dan kepemilikan,
yang merupakan milik mereka sendiri dan tidak dapat dicabut oleh negara. Lihat: John
Locke, Two Treatises of Civil Government, (ed. J.W. Gough, Blackwell), (New York: Oxford,
1964), P 28.
12 Marbangun Hardjowirogo, HAM dalam Mekanisme-mekanisme Perintis Nasional,
Regional dan Internasional, (Bandung: Patma, 1977), p. 10.
13 Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Masyarakat Indonesia, (Surabaya: PT
Bina Ilmu, 1987), p. 39.
9
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
22
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
diberikan kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif,
melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia.14
Dalam arti ini, maka meskipun setiap orang terlahir dengan warna
kulit, jenis kelamin, bahasa, budaya dan kewarganegaraan yang berbedabeda, ia tetap mempunyai hak-hak tersebut. Inilah sifat universal dari hakhak tersebut. Selain bersifat universal, hak-hak itu juga tidak dapat dicabut
(inalienable). Artinya seburuk apapun perlakuan yang telah dialami oleh
seseorang atau betapapun bengisnya perlakuan seseorang, ia tidak akan
berhenti menjadi manusia dan karena itu tetap memiliki hak-hak tersebut.
Dengan kata lain, hak-hak itu melekat pada dirinya sebagai makhluk
insani.15 Dari pengertian di atas kemudan lahirlah paham persamaan
kedudukan dan hak antara umat manusia berdasarkan prinsip keadilan,
persamaan, yang memberikan pengakuan bahwa manusia mempunyai hak
dan kewajiban yang sama tanpa membedakan jenis kelamin,
ketidaksempurnaan fisik, ras suku, agama dan status sosial.16
Sejarah pemikiran HAM di Indonesia berawal di titik awal
kemerdekaan yang sebelumnya terjadi perdebatan dalam sidang BPUPKI
antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta
dan Mohammad Yamin pada pihak lain. Perdebatan pemikiran HAM yang
terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan
kedudukan di muka hukum, hak atas pekerjaan dan penghidupan yang
layak, hak untuk memeluk agama dan kepercayaan, hak berserikat, hak
untuk berkumpul, hak untuk mengeluarkan pikiran dengan tulisan dan
lisan. 17
Sesungguhnya pendapat yang menyatakan bahwa HAM lahir dari
paham individualisme dan iberalisme, jika ditelusuri sejarah HAM itu
sendiri, tidak sepenuhnya benar.18 Sebelum manusia memasuki dunia
modern, jika dilihat dari sejarah agama-agama, usaha penegakan dan
14 Jack Donnely, Universal Human Rights in Theory and Practice, Cornell University
Press, Ithaca and London, 2003, p. 7-21. Juga Maurice Cranston, What are Human Rights?
(New York: Taplinger, 1973), p. 70.
15 Knut D. Asplund dan Rhona K. M. Smith, Hukum dan Hak Asasi Manusia,
dalam Suparman Marzuki, Eko Riyadi (ed.), (Yogyakarta: PUSHAM UII, 2008), p. 8.
16 Udiyo Basuki, “Perlindungan Hak Asasi Manusia di Indonesia (Ulasan terhadap
Beberapa Ketentuan UUD 1945)” dalam Jurnal Asy-Syir’ah Vol. 8 Tahun 2001, p. 96.
17 Pada saat sidang BPUPKI telah terjadi
polemik antara pendukung HAM
komunal dengan HAM individual. Soekarno dan Soepomo menolak dimasukkannya
paham HAM individual di dalam UUD karena negara Indonesia akan didirikan di atas
paham kekeluargaan. Paham HAM individual dianggap sebagai paham yang berasal dari
barat dan tidak sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia. Namun pada pihak lain,
Hatta dan Yamin mengusulkan dimasukkannya HAM dalam UUD sebagai jaminan untuk
menjaga eksistensi negara agar tidak menjadi negara kekuasaan (machtsstaat). Moh.
Mahfud MD, dkk, Pendidikan Kewarganegaraan dan HAM, (Yogyakarta: UII Press, 2003), p.
60.
18 Udiyo Basuki, Perlindungan Hak Asasi Manusia…, p. 102.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
23
perlindungan HAM telah dimulai dari para Nabi dan Rasul yang diutus
oleh Tuhan ke dunia. Kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an misalnya telah
memuat materi HAM. Jika dicermati materi HAM terdapat dalam Piagam
Madinah dan pidato Rasulullah saw saat melaksanakan haji wada’, maka
jelas sekali ia memuat rumusan HAM yang universal.19 Hal ini jelas bahwa
muatan HAM tentu bukan lahir dari paham liberalisme dan
individualisme. Doktrin dan kesatuan universal umat manusia di dalam
Islam misalnya, adalah sumber ajaran agama ini mengenai HAM.20
Lepas dari kontroversi sejarah peradaban dalam BPUPKI, yang
dapat direkam adalah bahwa proses legalisasi HAM dalam konstitusi
Indonesia memang terdapat tarik-menarik pandangan dan mengalami
pasang surut yang tidak bisa dibantah. Dalam konteks UUD yang pernah
berlaku di Indonesia, pencantuman secara eksplisit seputar HAM muncul
atas kesadaran dan keragaman konsensus. Dalam kurun berlakunya UUD
di Indonesia, yakni UUD 1945, Konstitusi RIS 1949, UUDS 1950, UUD
1945, dan Amandemen Keempat UUD 1945 tahun 2002 pencantuman
HAM mengalami pasang surut. Dalam Amandemen Keempat UUD 1945
penuangan pasal-pasal HAM sebagai wujud jaminan atas perlindungannya
dituangkan dalan bab tersendiri, yaitu pada Bab XA dengan judul “Hak
Asasi Manusia”, yang di dalamnya terdapat 10 (sepuluh) pasal tentang
HAM ditambah 1 pasal (Pasal 28) dari bab sebelumnya (Bab X) tentang
“Warga Negara dan Penduduk”, sehingga ada 11(sebelas ) pasal tentang
HAM, mulai dari Pasal 28, 28A sampai dengan Pasal 28J. Namun dari
penjelasan ini dapat dikatakan bahwa seluruh konstitusi yang pernah
berlaku di Indonesia mengakui kedudukan HAM itu sangat penting. 21
Perlindungan HAM dalam UUD yang pernah berlaku di Indonesia
membuktikan bahwa salah satu syarat bagi suatu negara hukum adalah
adanya jaminan atas hak-hak asasi manusia. Penegasan Indonesia adalah
negara hukum yang selama ini diatur dalam Penjelasan UUD 1945, dalam
Amandemen UUD 1945 telah diangkat ke dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat
(3), “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”. Kalimat tersebut menunjukan
Faisal Saleh (Penyunting), HAM Ala Rasulullah, (Jakarta: PT Arista
Brahmatyasa, 1994), p. 26. Piagam Madinah sebagai konstitusi negara Islam yang disusun
dan dipraktikkan oleh Nabi untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara
di tengah masyarakat plural dengan aliran politik dan ideologi yang heterogen tercapai
secara harmonis. Baca Mohammad Shoelhi (ed.), Demokrasi Madinah: Model Demokrasi
Cara Rasulullah, (Jakarta: Republika, 2003), p.108. Tentang demokrasi dan HAM yang
terkandung dalam Piagam Madinah dapat dibaca dalam Muhammad Alim, Demokrasi dan
Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Madinah dan UUD 1945, (Yogyakarta: UII Press,
2001), p. 52-67.
20 Yusril Ihza Mahendra. Dinamika Tata Negara Indonesia: Kompilasi Aktual Masalah
Konstitusi, Dewan Perwakilan dan Sistem Kepartaian, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), p. 95.
21 Majda El-Muhtaj, “HAM, DUHAM, RANHAM, Indonesia” dalam Eko
Riyadi dan Supriyanto (ed.), Mengurai Kompleksitas Hak Asasi Manusia: Kajian Multi
Perspektif, (Yogyakarta: PUSHAM UII, 2007), p. 281.
19
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
24
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
bahwa negara Indonesia merdeka akan dijalankan berdasarkan hukum,
dalam hal ini adalah UUD sebagai aturan hukum tertinggi. Konsep negara
hukum tersebut untuk membentuk pemerintahan negara yang bertujuan,
baik untuk melindungi HAM secara undividual dan kolektif yang
tercermin dalam kalimat: “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejateraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan social…”.22 Konsekuensi dari
ketentuan ini adalah bahwa setiap sikap, kebijakan dan perilaku alat negara
dan penduduk harus berdasar dan sesuai dengan hukum. Lebih jauh,
ketentuan ini untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan dan
arogansi kekuasaan baik yang dilakukan oleh alat negara maupun
penduduk.
Negara hukum ialah negara yang berdiri di atas hukum yang
menjamin keadilan kepada warga negaranya. Pengertian negara hukum
merupakan terjemahan dari rechsstaat dan the rule of law.23 Pada paham
rechsstaat dan the rule of law, terdapat sedikit perbedaan, meskipun dalam
perkembangannya dewasa ini tidak dipermasalahkan lagi perbedaan antara
keduanya, karena pada dasarnya kedua konsep itu mengarahkan dirinya
pada suatu sasaran yang utama, yaitu pengakuan terhadap hak asasi
manusia (HAM).24 Konsep rechsstaat lahir dari suatu perjuangan menentang
absolutisme sehingga sifatnya revolusioner, sebaliknya the rule of law
berkembang secara evolusioner. Konsep rechsstaat bertumpu atas sistem
hukum kontinental yang disebut civil law, sedang konsep the rule of law
bertumpu pada sistem hukum anglo saxon yang disebut common law. Ciriciri negara hukum menurut konsep rechsstaat adalah:25
1. adanya Undang-Undang Dasar atau konstitusi yang memuat ketentuan
tertulis tentang hubungan antara penguasa dan rakyat
2. adanya pembagian kekuasaan negara
3. diakui dan dilindunginya hak-hak kebebasan rakyat.
Ciri-ciri di atas menunjukkan bahwa ide sentral rechsstaat adalah
pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM) yang
bertumpu atas prinsip kebebasan, keadilan dan non diskriminasi. Adanya
Undang-undang akan memberikan jaminan perlindungan terhadap asas
kebebasan dan keadilan serta persamaan. Adanya pembagian kekuasaan
untuk menghindari penumpukan kekuasaan dalam satu tangan yang sangat
Mahfud MD, Negara Hukum Indonesia: Gagasan dan Realita di Era Reformasi,
makalah disampaikan dalam Seminar Nasional “Dinamika Implementasi Negara Hukum
Indonesia dan Tantangannya di Era Reformasi”, yang diselenggarakan Fakultas Hukum
Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Sabtu 8 September 2012 di Yogyakarta, p. 5.
23 Padmo Wahjono, Ilmu Negara Suatu Sistematika dan Penjelasan 14 Teori Ilmu
Negara, (Jakarta: Melati Studi Grup, 1977), p. 30.
24 Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum…, p. 72.
25 Ibid., p. 72.
22
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
25
cenderung pada penyalahgunaan kekuasaan yang berarti pemerkosaan
terhadap kebebasan, keadilan dan persamaan.
Adapun ciri-ciri konsep the rule of law adalah: 26
1. supremasi absolut atau predominasi dari regular law untuk menentang
pengaruh dari arbitrary power dan meniadakan kesewenang-wenangan,
prerogratif atau discretionary yang luas dari pemerintah.
2. persamaan di depan hukum atau penundukan yang sama dari semua
golongan kepada ordinary law of the land yang dilaksanakan oleh ordinary
court, ini berarti bahwa tidak ada orang yang berada di atas hukum
3. konstitusi adalah hasil dari the ordinary law of the land, bahwa hukum
administrasi bukanlah sumber, tetapi merupakan konsekuensi dari hakhak individu yang dirumuskan dan ditegaskan oleh peradilan.
Jika dilihat dari segi politik, ciri negara hukum adalah: a).
kekuasaan dijalankan sesuai dengan hukum positif yang berlaku, b).
kegiatan negara berada di bawah kontrol kekuasaan kehakiman yang
efektif, c). berdasarkan sebuah Undang-Undang Dasar yang menjamin
hak-asasi manusia, dan d). menurut pembagian kekuasaan.27 Secara
lengkap, Kusnardi dan Harmaily Ibrahim menambahkan unsur-unsur yang
harus ada dalam suatu negara hukum, adalah: a). perlindungan terhadap
hak asasi manusia (HAM), b). pemisahan kekuasaan, c). setiap tindakan
pemerintah harus didasarkan oleh peraturan perundang-undangan dan d).
adanya peradilan administrasi yang berdiri sendiri.28
Paham negara hukum tidak dapat dipisahkan dari paham kerakyatan
sebab pada akhirnya, hukum yang mengatur dan yang membatasi
kekuasaan negara atau pemerintah diartikan sebagai hukum yang dibuat
atas dasar kekuasaan atau kedaulatan rakyat. Begitu eratnya hubungan
antara paham atau konsep negara hukum yang demokratis atau democratisce
rechtsstaat. 29 Scheltema memandang kedaulatan rakyat (democratie beginsel)
sebagai salah satu dari empat asas negara hukum, selain rechtszekerheid
beginsel, gelijkheid beginsel dan het beginsel van de dienendeoverhied. Dalam
kaitannya dengan negara hukum, kedaulatan rakyat merupakan unsur
material negara hukum, selain masalah kesejahteraan rakyat. Selain itu,
26
Ni’matul Huda, Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2006),
p. 73-75.
Frans Magnis Suseno, Etika Politik Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern,
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), p. 295-298.
28 Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia,
(Jakarta: Pusat Studi HTN UI Jakarta, 1981), p. 19.
29 D.J Elzinga, “De Democratische Rechtsstaat Als Ontwikkeling Perspektif”,
dalam Scheltema (ed.) De Rechtsstaat Herdacht, W.E.J. Tjeenk Willink, Zwole, 1989, p. 43.
Dikutip kembali dalam Bagir Manan, Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD
1945, (Jakarta: Sinar Harapan, 1994), p. 167.
27
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
26
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
tujuan dari negara hukum adalah untuk memelihara ketertiban hukum dan
sebaliknya pula hukum dijalankan dan ditegakkan melalui otoritas negara.30
C. Upaya Memerangi Diskriminasi HAM di Indonesia
Tujuan nasional yang tercantum dalam pembukaan UUD
1945 adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut serta melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian,
abadi dan keadilan sosial. Dalam tujuan tersebut terkandung visi
bangsa Indonesia di bidang HAM yang hendak mewujudkan
masyarakat Indonesia yang adil dan sejahtera dengan menegakkan
hak asasinya. Untuk mewujudkan visi tersebut, dilaksanakan misi
pembangunan di segala bidang, termasuk pembangunan manusia
Indonesia yang mengarah kepada perlindungan HAM.
Dalam memerangi diskriminasi HAM, pemerintah Indonesia
telah mewujudkan komitmennya dengan pembentukan berbagai
lembaga dan pembuatan peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan HAM. Dalam hal kelembagaan, telah dibentuk
Komisi Nasional HAM (Komnas HAM) dengan Keputusan
Presiden No. 50 Tahun 1993 yang kemudian dikukuhkan dengan
UU. No. 39 Tahun 1999. Pembentukan legislasi Anti Kekerasan
terhadap Perempuan dengan Keputusan Presiden No. 181 Tahun
1998, Pembentukan Kantor Menteri Negara HAM pada tahun
1999 yang kemudian digabungkan dengan Departemen Hukum
dan Perundang-undangan (Depkumdang), yang berubah menjadi
Departemen Kehakiman dan HAM (Depkumham), dan terakhir
berubah
lagi
menjadi
Kementerian
Hukum
dan
HAM
(Kemenkumham). Selain pembentukan kelembagaan, pemerintah
Indonesia juga telah banyak merumuskan kebijakan perundangundangan yang berkaitan dengan HAM.
Meskipun banyak ketentuan hukum Internasional maupun
nasional yang menentang secara tegas adanya diskriminasi di
bidang HAM, namun dalam kenyataannya pelaksanaannya tidaklah
semudah yang diharapkan. Indonesia sebagai salah satu anggota
PBB yang mempunyai kewajiban melaksanakan ketentuanketentuan hukum internasional di bidang HAM ternyata belum
semuanya
bisa
diimplementasikan
dalam peraturan
hukum
nasionalnya.
Negara Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa
ingin melindungi HAM para warga negaranya. Bahkan pada
Sowandi, Hak-hak Dasar dalam Konstitusi Demokrasi Modern, (Jakarta: PT
Pembangunan, 1957), p 12.
30
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
27
tingkatan konstitusi sebagai sumber hukum tertinggi, amandemen
kedua UUD 1945 telah mewujudkannya.31
Dengan diaturnya HAM di dalam Pasal 28A sampai dengan
Pasal 28J UUD 1945, hal itu telah menjadi landasan konstitusional
bagi perlindungan HAM di Indonesia. Demikian juga dengan
keberadaan UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
dan kemudian disusul dengan diundangkannya UU No. 26 Tahun
2000 tentang Pengadilan HAM serta diperkuat dengan meratifikasi
Konvensi tentang Hak-hak Penyandang Disabilitas semakin
menegaskan dan membuktikan komitmen pemerintah Indonesia
terhadap arti penting perlindungan HAM, khususnya perlindungan
terhadap hak-hak kaum disabilitas.32
Hal ini juga semakin menegaskan eksistensi Indonesia
sebagai sebuah negara yang berkomitmen terhadap perlindungan
Hak Asasi Manusia. Namun upaya memerangi diskriminasi HAM
tidak selesai atau cukup hanya dengan mengaturnya dalam berbagai
instrumen hukum internasional maupun instrumen hukum
nasional. Disadari bahwa instrumen hukum menjadi tidak berarti
jika tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
D. Perlindungan Hak-hak Penyandang Disabilitas dalam Konsep
Negara Hukum di Indonesia
Perlindungan HAM erat kaitannya dengan perlindungan hukum bagi
rakyat, karena pada dasarnya perlindungan hukum merupakan suatu
langkah konkret untuk menguatkan HAM dalam hukum positif. Dengan
demikian, perlindungan HAM tidak cukup dengan instrumen normatif
namun juga harus dilengkapi dengan mekanisme kelembagaan. Maka dari
itu, selain dari hukum positif, HAM juga harus dilindungi melalui lembaga
hukum. Dalam konteks memberikan perlindungan hukum untuk
kedudukan dan hak, kewajiban dan peran para penyandang disabilitas,
Pemerintah diantaranya berkewajiban untuk melindungi dan memberikan
hak-hak aksesibilitas. Aksesibilitas bagi penyandang cacat (disabilitas)
merupakan hal yang sangat penting untuk diwujudkan, ia merupakan
bentuk kemudahan yang disediakan bagi penyandang cacat guna
31 Gregorius Sri Nurhartanto, “Membasmi Diskriminasi Hak Asasi Manusia”
dalam Eko Riyadi dan Purwanto (ed.), Mengurai Kompleksitas HAM: Kajian Multi Perspektif,
(Yogyakarta: PUSHAM UII, 2007), p. 309.
32 Selain itu, Indonesia sebagai anggota PBB juga telah meratifikasi ketentuan
internasional di bidang HAM dengan UU maupun Peraturan Pemerintah. Instrumeninstrumen yang telah diratifikasi antara lain: Konvensi Hak Politik Wanita, Konvensi Hak
Anak, Konvensi Anti Penyiksaan, Konvensi Diskriminasi Rasial, Kovenan Hak-hak Sipil
dan Politik, Kovenan Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya. Lihat Rudi M. Rizki, “Hak
Asasi Manusia” Makalah Training Hukum HAM pada Fakultas Hukum PT Negeri dan
Swasta di Indonesia, PUSHAM UII-NCHR Univ. Oslo Noray, 3-7 April 2006., p. 5.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
28
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
mewujudkan kesamaan kesempatan dalam aspek kehidupan dan
penghidupan.33
Jaminan aksesibilitas bagi disabilitas selain secara lengkap, rinci dan
khusus tercantum dalam UU No. 19 Tahun 2011, secara umum juga
diatur dalam Pasal 41, 42 dan 54 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia yang menegaskan:
a. Pasal 41:
“Setiap warga negara berhak atas jaminan sosial yang dibutuhkan untuk
hidup layak serta untuk perkembangan pribadinya secara utuh. Setiap
penyandang cacat (disabilitas), orang berusia lanjut, wanita hamil dan anakanak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus”
b.Pasal 42
“Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik atau caat mental berhak
memperoleh perawatan, pendidikan dan pelatihan, dan bantuan khusus atau
biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat
kemanusiaan”.
c. Pasal 54
“Setiap anak yang cacat fisik atau cacat mental berhak memperoleh perawatan,
pendidikan dan pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk
menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaan,
meningkat percaya diri dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan
masyarakat, berbangsa, dan bernegara”.
Selain bentuk perlindungan sebagaimana di atas, Pasal 28 H UUD
1945 menyebutkan bahwa: “setiap orang berhak mendapatkan kemudahan dan
perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna
mencapai persamaan dan keadilan”.
Selanjutnya, kemudahan bagi disabilitas juga dapat ditemukan dalam
peraturan yang mengatur masalah ketenagakerjaan, pendidikan nasional,
kesehatan, kesejahteraan sosial, lalu-lintas, pelayaran dan penerbangan.
Peraturan tersebut memberikan jaminan kesamaan kesempatan terhadap
penyandang disabilitas pada bidang-bidang yang menjadi cakupannya, dan
dalam rangka memberikan kemudahan-kemudahan (aksesibilitas) di
bidang apapun tanpa diskriminasi.34
Meskipun berbagai perlindungan hukum mengenai jaminan terhadap
hak-hak kesetaraan kaum disabilitas sudah cukup memadai, namun
pemberian akses bagi kaum disabilitas di Indonesia belum sepenuhnya
dapat terwujud. Perlakuan diskriminatif masih kerap dirasakan
penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas tidak bisa memperoleh
akses yang sama dengan masyarakat lain baik di bidang sosial, pendidikan,
politik, perlindungan hukum, akses komunikasi informasi dan transportasi,
Muladi (ed.), Hak Asasi Manusia:…, p. 254.
Uning Pratimarati, “Jaminan Aksesibilitas Bagi Penyandang Cacat”, dalam
Muladi (ed.), (Bandung: PT Rafika Aditama, 2009), p. 255.
33
34
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
29
karena para penyandang disabilitas masih dipandang sebelah mata oleh
pemerintah. Mungkin dalam hal kebijakan sudah cukup bagus, namun
pada tingkat implementasi masih kurang dan banyak dari oknum
pemerintah yang masih terkesan diskriminatif terhadap penyandang
disabilitas; persepsi dan paradigma mereka masih jauh dari harapan,
bahwa harus ada persamaan pemberlakuan penyandang disabilitas dengan
masyarakat pada umumnya.35
Menurut data 1,48 juta atau 6,7% jumlah penduduk Indonesia lebih
banyak di pedesaan. Untuk menjangkau permasalahan disabilitas di
pedesaan, program yang strategis adalah melalui Rehabilitasi Berbasis
Masyarakat (RBM). Jumlah penyandang disabilitas tidak seimbang dengan
fasilitas dan sarana penunjang untuk mendukung kreativitas. Data WHO,
10% dari jumlah penduduk dunia merupakan penyandang cacat. Dengan
jumlah penduduk sebesar ini, keberadaan institusi formal yang mampu
memberikan sistem pelayanan terhadap penyandang disabilitas masih
sedikit dan sulit dijangkau. Karena itu, keberadaan institusi non-formal
yang memberikan rehabilitasi sangatlah membantu para penyandang cacat
dalam mencapai kemandirian sesusai kemampuan yang masih dimilikinya.
Saat ini jumlah Penyandang Cacat di Indonesia sudah mencapai 1.544.184
jiwa, dan yang diberdayakan sudah sekitar 7000 jiwa, untuk itu dengan
adanya RBM ini bisa mengoptimalkan dan memberdayakan tenaga kerja
untuk para penyandang disabilitas secara optimal dan manusiawi tanpa
diskriminasi.36
Program Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat bagi penyandang
disabilitas adalah Program Pembinaan Wilayah dalam hal pencegahan
kecacatan, deteksi dan rehabilitasi penyandang disabilitas, yang meliputi
rehabilitasi pendidikan, kesehatan, sosial dan keterampilan. Pembinaan
berarti pemindahan pengetahuan untuk memberdayakan penyandang
disabilitas, keluarga penyandang cacat dan masyarakat di wilayah binaan
RBM. Pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di Indonesia masih
memerlukan dukungan agar bisa terwujud dalam kehidupan sehari-hari,
tidak sedikit hambatan dan tentangan untuk mencapai kondisi ideal yang
diharapkan dimana kesetaraan hidup dapat terwujud dengan baik.
Semua program-program di atas merupakan tanggung jawab dan
kewajiban pemerintah untuk menghormati, melindungi dan memenuhi
HAM dalam hal ini adalah hak-hak para penyandang disabilitas.
Kewajiban pemerintah tidak hanya berhenti kepada kebijakan formulatif
(peraturan perundang-undangan) saja, namun kebijakan aplikatif serta
35Rahmadhani:
http://www.rrimakassar.com/penyandang-disabilitas-rasakandiskriminasi-pemerintah.html: 08/06/12
36 Kementerian Sosial Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial
2011: “Aliansi Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat Bagi Disabilitas Indonesia”
dipublikasikan oleh Tira pada 23 Maret 2011: http://rehsos.depsos.go.id/modules.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
30
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
kebijakan eksekutif. Aspek hukum yang menjamin perlindungan hak-hak
disabilitas dari segi jumlah perundang-undangan di Indonesia sudah
cukup memadai. Namun perumusannya lebih banyak yang bersifat negatif.
Perumusan negatif bagi disabilitas adalah misalnya jaminan hak di bidang
kesejahteraan sosial, perkeretaapian, lalu-lintas jalan, penerbangan,
pelayaran, kesehatan dan pendidikan. Sedangkan perumusan positif, yaitu
kewajiban untuk memberikan aksesibilitas bagi penyandang cacat antara
lain ada pada ketentuan tetang perlindungan anak, bangunan gedung, dan
ketenagakerjaan; padahal pelanggaran atas kewajiban tersebut diancam
dengan sanksi baik sanksi pidana maupun sanksi administrasi.37
Banyaknya peraturan perundang-undangan yang belum dapat
dilaksanakan terjadi karena pengaruh dari aspek struktur dan budaya
hukum di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan affirmative action, untuk
mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan
penghidupan bagi penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas berhak
mendapatkan perlakuan khusus. Aksi ini mengarah kepada penyadaran
kepada publik akan pahamnya terhadap konsep HAM khususnya bagi
penyandang disabilitas dan kewajiban mereka untuk berperan aktif dalam
berinteraksi sosial sehat dan wajar.
Selain itu, pemerintah perlu mengadakan kegiatan serta sosialisasi
yang bermisi pola penyadaran kepada para penyandang disabilitas itu
sendiri. Di Indonesia hanya sedikit penyandang disabilitas yang
mempunyai kesadaran akan hak-haknya dan gigih dalam memperjuangkan
hak dan kewajibannya. Kendala yang paling utama adalah perasaan inferior
yang merupakan problem psikologis yang cenderung dimiliki oleh
kebanyakan penyandang disabilitas terutama mereka yang tinggal di
pedesaan serta pelosok-pelosok dan yang tidak mengenyam dunia
pendidikan yang lebih tinggi. Perasaan inferior karena problem atau
keterbatasan fiskal dan paradigma menerima kondisi apa adanya yang
menimpanya seakan menjadi legitimasi untuk tidak berfikir kritis, berjuang
lebih keras, tidak mudah menyerah dan bersikap wajar. Hambatanhambatan psikologis inilah yang pertama kali harus dihilangkan. Para
penyandang disabilitas perlu sadar terhadap hak-hak kesetaraan yang ada
pada dirinya.
E. Catatan Penutup
Dari apa yang telah diuraikan di atas terbaca komitmen serta
penghargaan pemerintah Indonesia terhadap Perlindungan HAM
khususnya hak-hak penyandang disabilitas dalam bingkai negara hukum,
dibuktikan dengan meratifikasi Convention on The Rights of Persons with
Disabilities yang kemudian lahir dalam UU Nomor 19 Tahun 2011 tentang
37
Uning Pratimarati, Jaminan Aksesibilitas.., p. 262.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
31
Pengesahan Convention on The Rights of Persons with Disabilities (Konvensi
Mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas).
Namun, meskipun Indonesia telah meratifikasi Konvensi dan masih
diperkuat dengan instrumen-instrumen HAM lainnya, pelanggaran
terhadap hak-hak penyandang disabilitas di Indonesia masih terus
bertambah secara signifikan.
Oleh karena itu, upaya memerangi diskriminasi HAM khususnya
hak-hak penyandang disabilitas tidak selesai hanya dengan mengaturnya
dalam berbagai instumen hukum internasional maupun hukum nasional,
perlu dilakukan program Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM). Selain
itu perlu upaya penyadaran kepada masyarakat dan pemerintah akan
penghargaan HAM khususnya bagi penyandang disabilitas dan kewajiban
mereka untuk berperan aktif dalam berinteraksi sosial sehat dan wajar
tanpa diskriminasi. Wa Allahu a’lam bi as-Sawab.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
32
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
Daftar Pustaka
Alim, Muhammad, Demokrasi dan Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi
Madinah dan UUD 1945, Yogyakarta: UII Press, 2001.
Basuki, Udiyo, “Perlindungan Hak Asasi Manusia di Indonesia (Ulasan
terhadap Beberapa Ketentuan UUD 1945)” dalam Jurnal Asy-Syir’ah
No. 8 Tahun 2001.
Cranston, Maurice, What are Human Right?, New York: Taplinger, 1973.
Donnely, Jack, Universal Human Rights in Theory and Practice, Cornell
University Press, Ithaca and London, 2003.
Elzinga, D.J., “De Democratische Rechtsstaat Als Ontwikkeling
Perspektif”, dalam Scheltema (ed.), De Rechtsstaat Herdacht, W.E.J.
Tjeenk Willink, Zwole, 1989.
Hadjon, Philipus M., Perlindungan Hukum Bagi Masyarakat Indonesia,
Surabaya: PT Bina Ilmu, 1987.
Hardjowirogo, Marbangun, HAM dalam Mekanisme-mekanisme Perintis
Nasional, Regional dan Internasional, Bandung: Patma, 1977.
http://www.kemlu
06/06/12.
(kementerian
luar
negeri).go.id/Pages/News.
Huda, Ni’matul, Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo,
2006.
Kementerian Sosial Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Rehabilitasi
Sosial 2011: “Aliansi Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat Bagi
Disabilitas Indonesia” dipublikasikan oleh Tira pada 23 March
2011: http://rehsos.depsos.go.id/modules.
Keputusan Presiden No. 181 Tahun 1998.
Keputusan Presiden No. 50 Tahun 1993.
Knut D. Asplund dan Rhona K. M. Smith, Hukum dan Hak Asasi Manusia,
dalam, Suparman Marzuki, Eko Riyadi (ed.) Yogyakarta: PUSHAM
UII, 2008.
Kompas: http://www.kaskus.co.id/showthread.php. 07/06/12.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
33
Kusnardi, Moh. dan Harmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara
Indonesia, (Jakarta: Pusat Studi HTN UI Jakarta, 1981.
Lock, John, Two Treatises of Civil Government, (ed. J.W. Gough, Blackwell),
New York: Oxford, 1964.
Mahendra, Yusril Ihza, Dinamika Tata Negara Indonesia: Kompilasi Aktual
Masalah Konstitusi Dewan Perwakilan dan Sistem Kepertania, Jakarta:
Gema Insani Press, 1996.
Mahfud MD, Moh., dkk, Pendidikan Kewarganegaraan dan HAM,
Yogyakarta: UII Press, 2003.
_____, Negara Hukum Indonesia: Gagasan dan Realita di Era Reformasi,
makalah disampaikan dalam Seminar Nasional “Dinamika
Implementasi Negara Hukum Indonesia dan Tantangannya di Era
Reformasi”, yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas
Atma Jaya Yogyakarta, Sabtu 8 September 2012 di Yogyakarta,
Manan, Bagir, Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945,
Jakarta: Sinar Harapan, 1994.
Muladi (ed.), Hak Asasi Manusia: Hakikat, Konsep dan Implikasinya dalam
Persepektif Hukum dan Masyarakat”, Bandung: PT Rafika Aditama,
2009
Rahmadhani:
http://www.rrimakassar.com/penyandang-disabilitasrasakan-diskriminasi-pemerintah.html: 08/06/12
Riyadi, Eko dan Supriyanto (ed.), Mengurai Kompleksitas Hak Asasi Manusia:
Kajian Multi Perspektif, Yogyakarta: PUSHAM UII, 2007.
Rizki, Rudi M., “Hak Asasi Manusia”, Makalah Training Hukum HAM
pada Fakultas Hukum PT Negeri dan Swasta di Indonesia,
PUSHAM UII-NCHR Univ. Oslo Noray, 3-7 April 2006.
Rumokoy, Donal A., dkk, Dimensi-dimensi Pemikiran Hukum Administrasi
Negara, Yogyakarta: UII Press, 2001
Saleh, Faisal (Penyunting), HAM Ala Raslullah, Jakarta: PT Arista
Brahmatyasa, 1994.
Shoelhi, Mohammad (ed.), Demokrasi Madinah: Model Demokrasi Cara
Rasulullah, Jakarta: Republika, 2003.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
34
Udiyo Basuki: Perlindungan HAM Dalam Negara Hukum...
Sowandi, Hak-hak Dasar dalam Konstitusi Demokrasi Modern, Jakarta: PT
Pembangunan, 1957.
Suseno, Frans Magnis, Etika Politik Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan
Modern, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.
Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Convention
on The Rights of Persons with Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-hak
Penyandang Disabilitas).
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Wahyono, Padmo, Ilmu Negara Suatu Sistematika dan Penjelasan 14 Teori Ilmu
Negara, (Jakarta: Melati Studi Grup, 1977.
www.kumham.jogja.info. Dipublikasikan oleh: Serafina Shinta Dewi
(Perancang Peraturan Perundang-undangan Kanwil Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia DIY.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 10, No.1, Februari 2012
Download