Modul Etika dan Filsafat Komunikasi

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
ETIKA DAN
FILSAFAT
KOMUNIKASI
Etika
Komunikasi
Dalam
Konteks
Komunikasi Interpersonal dan Komunikasi
kelompok
Fakultas
Program Studi
Ilmu Komunikasi
Broadcasting
Tatap Muka
13
Kode MK
Disusun Oleh
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Abstract
Kompetensi
Mata kuliah ini memperkenalkan
pemahaman
dan
kompetensi
tentang filsafat keilmuan khususnya
dalam bidang komunikasi yang kali
ini akan menjelaskan tentang etika
komunikasi pada ranah komunikasi
interpersonal
dan
komunikasi
kelompok.
Dengan memperoleh materi ini,
mahasiswa diharapkan mengerti
dan memahami mengenai etika
komunikasi pada ranah komunikasi
interpersonal
dan
komunikasi
kelompok.
Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak akan pernah lepas dari komunikasi.
Dari mulai kita bangun tidur sampai kemudian tertidur kembali, komunikasi selalu
menjadi kegiatan utama kita entah itu komunikasi verbal atau non verbal, entah itu
komunikasi antar pribadi atau komunikasi organisasi.
Hal seperti ini memang telah menjadi kodrat kita sebagai seorang manusia yang
memang tidak dapat hidup sendiri. Kita selalu membutuhkan orang lain disekitar kita,
walaupun hanya untuk sekedar melakukan obrolan basa-basi karena manusia
adalah makhluk sosial dan dari dalam interaksi itulah manusia lambat laun
menciptakan nilai-nilai bersama yang kemudian disebut sebagai kebudayaan.
Dalam nilai-nilai yang terbentuk tersebut terdapat beberapa kaidah yang
bertujuan mengatur tata cara kita berkomunikasi antar sesama tanpa menyakiti hati
dan menjunjung tinggi etika sebagai sebuah tanda penghargaan pada lawan bicara
kita. Namun terkadang pemakaian sesuatu yang kita anggap sebuah etika dapat
berakibat
pada
sesuatu
yang
tidak
menyenangkan
dan
menimbulkan
kesalahpahaman antar sesama. Padahal tujuan kita menggunakan etika adalah
untuk mencoba menghargai khalayak.
Pemakaian etika dalam konteks komunikasi antar pribadi memiliki paradoks
tersendiri. Di lain pihak, hal ini dapat menjadi hal yang positif namun terkadang
sesuatu yang negatif dan cenderung merusak dan memperburuk keadaan juga
dapat terjadi. Berbagai hal dinilai bertanggung jawab atas hal ini. Dari mulai cara kita
berkomunikasi antar sesama sampai pada saat kita menggunakan etika dalam
berinteraksi.
2016
2
Etika dan Filsafat Komunikasi
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Etika dalam Komunikasi Antar Pribadi
(Interpersonal)
Menyandang predikat sebagai mahkluk sosial, manusia selalu terlibat dan
berinteraksi dengan orang lain baik secara kelompok maupun secara personal.
Dalam keterlibatannya dalam interaksi antar pribadi, manusia melakukan pertukaran
pesan melalui berbagai macam simbol yang disepakati bersama dimana
penggunaan pancaindra yang dimiliki dapat secara maksimal dan saling
memberikan umpan balik. Komunikasi yang memang terjadi di dalam lingkup kecil
(hanya antara 2-3 orang) ini memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan
psikologis dan mutu hubungan kita dengan orang lain.
Banyak orang beranggapan bahwa dalam sebuah pembicaraan, kita harus
menggunakan etika untuk menghargai dan menghormati lawan bicara. Ada sebuah
teori yang mendefinisikan etika sebagai, “sebuah cabang ilmu filsafat yang berbicara
mengenai nilai dan norma, moral yang menentukan perilaku manusia dalam
hidupnya”. Dalam teori ini, etika memiliki 3 tujuan, yaitu:
a) Membantu
manusia
untuk
bertindak
secara
bebas
dan
dapat
dipertanggung jawabkan
b) Membantu manusia mengambil sikap dan tindakan secara tepat dalam
hidup ini
c) Tujuan akhir untuk menciptakan kebahagiaan.
Terlepas setuju atau tidaknya kita dengan teori diatas, namun ada hal yang bisa
kita sepakati bahwa etika berhubungan dengan moral,”sistem tentang bagaimana
kita harus hidup secara baik sebagai manusia.”
Persoalan etika yang potensial selalu melekat dalam setiap bentuk komunikasi
antar pribadi sehingga komunikasi dapat dinilai dalam dimensi benar-salah,
melibatkan pengaruh yang berarti terhadap manusia lain, sehingga komunikator
secara sadar memilih tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai dan cara-cara
komunikasi guna mencapai tujuan tersebut. Apakah seorang komunikator bertujuan
menyampaikan informasi, meningkatkan pemahaman seseorang, memudahkan
keputusan yang bebas pada orang lain, menawarkan nilai-nilai yang penting,
memperlihatkan eksistensi dan relevansi suatu persoalan sosial, memberikan
sebuah jawaban atau program aksi atau memicu pertikaian—persoalan etika yang
2016
3
Etika dan Filsafat Komunikasi
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
potensial terpadu dalam upaya-upaya simbolik sang komunikator. Demikianlah
keadaannya pada sebagian besar komunikasi pribadi, baik komunikasi antara 2
orang, dalam kelompok kecil, dalam retorika gerakan sosial maupun dalam
hubungan masyarakat.
Bahkan muncul ungkapan bahwa manusia adalah satu-satunya hewan” yang
secara harfiah dapat disebut memiliki nilai”. Lebih khusus lagi, barangkali esensi
tertinggi manusia adalah homo ethicus, manusia adalah pembuat penilaian etika.
Tetapi muncul pertanyaan, mengapa mempersoalkan etika dalam komunikasi antar
pribadi? Jelas, dengan menghindari pembicaraan mengenai etika dalam komunikasi,
orang akan bersandar pada berbagai macam pembenaran:
(1)
setiap orang tahu bahwa teknik komunikasi tertentu adalah tidak etis jadi
tidak perlu dibahas;
(2)
karena yang penting dalam komunikasi hanyalah masalah kesuksesan
maka masalah etika tidak relevan;
(3)
penilaian etika hanyalah masalah penilaian individu secara pribadi
sehingga tak ada jawaban pasti; dan
(4)
menilai etika orang lain itu menunjukkan keangkuhan atau bahkan tidak
sopan.
Secara potensial timbul ketegangan antara ” kenyataan” dan “keharusan”, antara
yang aktual dan yang ideal. Mungkin terdapat ketegangan antara apa yang
dilakukan setiap orang dengan apa yang menurut kita harus dilakukan oleh orang
tersebut. Mungkin terdapat konflik antara komunikasi yang kita pandang berhasil dan
penilaian teknik tersebut tidak boleh digunakan karena cacat menurut etika. Kita
mungkin terlalu menekankan pemahaman tentang sifat dan efektivitas teknik, proses
dan metode komunikasi dengan mengorbankan perhatian pada masalah etika
tentang penggunaan teknik-teknik seperti itu. Kita harus menguji bukan hanya
bagaimana, melainkan juga apakah kita secara etis harus , memakai berbagai
macam metode dan pendekatan. Masalah “apakah”, jelas bukan hanya penyesuaian
khalayak, melainkan maslah etika. Kita boleh merasa bahwa tujuan-tujuan etika itu
tidak dapat dicapai secara nyata sehingga tidak banyak manfaatnya.
Bagaimana para peserta dalam sebuah transaksi komunikasi pribadi menilai
etika dari komunikasi itu, atau bagaimana para pengamat luar menilai etikanya, akan
berbeda-beda tergantung pada standar etika yang mereka gunakan. Sebagian
diantara bahkan mungkin akan memilih untuk tidak mempertimbangkan etika.
2016
4
Etika dan Filsafat Komunikasi
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Namun demikian, masalah etika yang potensial tetap ada meskipun tidak
terpecahkan atau tidak terjawab.
Apakah seorang komunikator menginginkan penilaian etika atau tidak?
Komunikan umumnya akan menilai, secara resmi ataupun tidak resmi, upaya
komunikator berdasarkan standar etika yang relevan menurut mereka. Jika bukan
karena alasan lain, selain alasan pragmatik, yakni untuk kesempatan meningkatkan
kesuksesan, komunikator perlu mempertimbangkan kriteria etis para khalayaknya.
Pemahaman yang berbeda mengenai nilai-nilai etika yang ada membuat setiap
orang dapat memiliki penilaian yang berbeda terhadap setia etika komunikasi.
Dalam komunikasi antar pribadi penggunaan etika haruslah berhati-hati karena
bukanlah tidak mungkin bahwa pemahaman etika kita berbeda dengan komunikan.
Kurangnya pemahaman antar sesama dapat memunculkan miss komunikasi yang
akan berujung pada timbulnya berbagai macam prasangka dan salah paham.
Dalam berbagai macam perbedaan tersebut, kita harus mampu beradaptasi
dengan cepat. Nilai-nilai yang membentuk etika harus kita pahami dengan benar
karena sebenarnya tidak ada komunikasi yang tidak menggunakan nilai-nilai etika di
dalamnya, setiap bentuk komunikasi selalu menggunakan etika walaupun dalam
kadarnya masing-masing sesuai dengan konteks, tujuan dan situasi yang ada.
Etika dalam Komunikasi Kelompok
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang
berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama
lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy
Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi,
kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk
mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan
komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi
berlaku juga bagi komunikasi kelompok. Bila dibandingkan antara komunikasi antar
pribadi dengan komunikasi kelompok memiliki persamaan. Komunikasi antarpribadi
maupun komunikasi kelompok melibatkan dua atau lebih individu yang secara fisik
berdekatan dan yang menyampaikan serta menjawab pesan- pesan baik secara
verbal maupun non verbal. akan tetapi, ada yang membedakan antara komunikasi
antarpribadi dengan komunikasi kelompok. Komunikasi kelompok terjadi dalam
2016
5
Etika dan Filsafat Komunikasi
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
suasana yang lebih berstruktur di mana para pesertanya lebih cenderung melihat
dirinya sebagai kelompok serta mempunyai kesadaran tinggi tentang sasaran
bersama. Komunikasi kelompok lebih cenderung dilakukan secara sengaja
dibandingkan dengan komunikasi antarpribadi, dan umumnya para pesertanya lebih
sadar akan peranan dan tanggung jawab mereka masing-masing. dalam kelompok
tatap muka yang lebih besar dan kelompok-kelompok tersebut lebih bersifat
permanen
daripada
kelompok-kelompok
yang
terlibat
dalam
komunikasi
antarpribadi.
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa
orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konferensi dan
sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005)
mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara
tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi,
menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat
mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua
definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya
komunikasi tatap muka, peserta komunikasi lebih dari dua orang, dan memiliki
susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok. Dan B. Curtis,
James J.Floyd, dan Jerril L. Winsor (2005: 149) menyatakan komunikasi kelompok
terjani ketika tiga orang atau lebih bertatap muka, biasanya di bawah pengarahan
seorang
pemimpin
untuk
mencapai
tujuan
atau
sasaran
bersama
dan
mempengaruhi satu sama lain. Lebih mendalam ketiga ilmuwan tersebut
menjabarkan sifat-sifat komunikasi kelompok sebagai berikut:
1. Kelompok berkomunikasi melalui tatap muka;
2. Kelompok memiliki sedikit partisipan;
3. Kelompok bekerja di bawah arahan seseorang pemimpin;
4. Kelompok membagi tujuan atau sasaran bersama;
5. Anggota kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain
Etika komunikasi kelompok dikaitkan dengan watak atau kesusilaan yang
menentukan benar atau tidaknya cara penyampaian pesan kepada orang lain
2016
6
Etika dan Filsafat Komunikasi
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sebagai anggota kelompok tersebut yang dapat mengubah sikap, pendapat, atau
perilaku baik secara lisan ataupun tidak langsung. Etika komunikasi kelompok
memiliki standar perangkat-perangkat kriteria etika yang secara khusus telah
disarankan guna meningkatkan komunikasi etis dalam kelompok. Maksud dari
perangkat-perangkat ini adalah kriteria etika yang biasa dan standar dalam etika
komunikasi. Cheney dan Tompskins merujuk pada Henry W. Johnstone Jr., untuk
mengingat standar-standar etika yang mereka anjurkan guna memandu komunikasi
kelompok. Empat tugas keetikaan Johnstone: Keteguhan hati, keterbukaan, kelemah
lembutan, dan keharuan, dimodifikasi oleh Cheney dan Tompkins untuk diterapkan
dalam konteks komunikasi kelompok antara lain:
1) Kehati-hatian, Komunikator dalam kelompok seharusnya menggunakan
kemampuan persuasifnya sendiri untuk menilai secara menyeluruh pesanpesan yang jelas dan yang tersembunyi dari kelompok tersebut dan harus
menghindari
penerimaan atas pandangan konvensional secara otomatis
dan tanpa berpikir.
2) Mudah untuk dicapai, Komunikator dalam organisasi harus terbuka terhadap
kemungkinan diubahnya pesan dari orang lain dari orang yang dibujuk.
Keyakinan yang kita pegang secara dogmatis atau pandangan berfokus
sempit yang membutakan kita terhadap informasi yang berguna, pandangan
yang
berbeda tentang suatu masalah, atau penyelesaian alternatif,perlu
diseimbangkan atau dikurangi.
3) Tanpa kekerasan, penipuan, terang-terangan atau pun tidak, terhadap orang
lain berdasarkan etika tidak diinginkan. Anggota juga harus menghindari
penggunaan sudut pandang persuasif yang menganjurkan suatu sikap yang
masuk akal.
4) Empati, Komunikator empatis benar-benar mendengarkan argumen, opini,
nilai dan asumsi orang lain, terbuka terhadap perbedaan pendapat,
mengesampingkan cetusan streotip berdasarkan julukan atau isyarat non
verbal, dan menghargai hak semua orang sebagai pribadi untuk memegang
pandangan yang berbeda. Dalam latar kelompok Empati melibatkan
keseimbangan kepentingan individu dan kepentingan kelompok. Gary Kreps
menganjurkan apa yang ia sebut “tiga prinsip penutup banyak hal” yang ia
anggap berguna “untuk mengevaluasi etika relative komunikasi organisasi
2016
7
Etika dan Filsafat Komunikasi
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
internal dan eksternal. Prinsip penutup ini berakar pada nilai kejujuran,
menghindari dan menyakiti, dan keadilan.
5) Anggota kelompok tidak boleh dengan sengaja menipu satu sama lain,
seperti contohnya memalsukan laporan dan menyembunyikan informasi
yang relevan dari badan-badan pengaturan pemerintah.
6) Komunikasi anggota kelompok tidak boleh dengan sengaja menyakiti
anggota kelompok lain atau anggota lingkungan organisasi yang relevan.
7) Anggota kelompok harus diperlukan secara adil. Pepatah “perlakuan yang
sama
bagi semua” mungkin tidak cocok dengan setiap situasi. Kreps
menyatakan,“keadilan,
seperti
prinsip
kejujuran
dan
menghindari
kerusakan”, merupakan prinsip etika relative yang harus dievaluasi dalam
konteks kelompok tertentu.
Contoh Kasus
Rapat atau sidang Dewan Perwakilan Rakyat merupakan salah satu contoh
pelaksanaan komunikasi kelompok. Berikut merupakan kasus pelanggaran standar
etika pada komunikasi kelompok yang terjadi pada sidang paripurna Dewan
Perwakilan Rakyat tanggal 28 Oktober 2014 dan Rabu, 1 Oktober 2014.
“Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Hasrul Azwar, melakukan
aksi anarkis dengan membanting meja di dalam ruang sidang paripurna DPR.
Tindakan ini dilakukan Hasrul setelah pemimpin sidang menutup sidang paripurna
dengan penetapan anggota komisi dan alat kelengkapan dewan. Kisruh tersebut
diawali ketika pemimpin sidang, Agus Hermanto, menyampaikan susunan anggota
komisi dan alat kelengkapan dewan yang diserahkan oleh ketua fraksi versi
Suryadharma Ali (SDA) dan diketok palu. Tarik ulur dan hujan interupsi pun terjadi
terkait legitimasi
penetapan anggota komisi dan alat kelengkapan dewan yang
diserahkan. Hingga akhirnya, pimpinan sidang lainnya, Fahri Hamzah, mengusulkan
karena ada masalah internal di PPP maka susunan anggota komisi dan alat
kelengkapan dewan PPP diberi tenggat waktu untuk di revisi dan sidang sedianya
ditunda hingga Rabu 29 Oktober 2014. Hasrul yang masih berada di meja pimpinan
tampak berang lantaran merasa tidak diakomodasi dan langsung turun dan ia
2016
8
Etika dan Filsafat Komunikasi
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
langsung mengobrak-abrik meja anggota sidang paripurna. Hal ini sontak menarik
perhatian dan menyarankan agar tidak perlu melakukan hal tersebut.”
“Sidang paripurna kedua anggota Dewan yang baru dilantik diwarnai kericuhan.
Sejumlah anggota Dewan memaksa maju ke meja pimpinan. Sebabnya, mereka
meyakini rapat konsultasi yang digelar sebelum paripurna belum usai. "Interupsi
pimpinan, interupsi. Konsultasi belum selesai," ujar salah satu anggota di ruang
rapat paripurna, pada Rabu, 1 Oktober 2014. Anggota lainnya yang tergabung
dalam koalisi Prabowo berteriak meminta anggota tersebut diam dan kembali ke
tempat. Bukannya kembali malah semakin banyak anggota Dewan yang maju ke
meja
pimpinan. Bahkan, Masinton Pasaribu dari PDI Perjuangan, mengepalkan
tangan
sambil berteriak-teriak ke arah Wakil Sekretaris Jenderal DPR Ahmad
Juned. Lantaran situasi tidak kondusif, pimpinan sidang, Popong Otje Djundjunan,
menskors sidang. "Dengan ini, sidang saya skors," ujar Popong. Perempuan yang
sudah lima kali menjadi anggota DPR ini langsung diamankan petugas. Situasi tidak
kondusif sebenarnya sudah terjadi sejak sidang dimulai. Beberapa kali anggota
sidang maju ke meja pimpinan untuk protes. Salah satunya saat pimpinan bertanya
apakah waktu sidang mau diperpanjang. Fraksi koalisi Prabowo sepakat sidang
dilanjutkan dengan perpanjangan waktu, sementara koalisi Jokowi menolak
perpanjangan waktu. Setelah itu, tak terhitung banyaknya anggota Dewan saling
berteriak meminta interupsi dan seruan untuk melanjutkan atau menyudahi sidang
dengan berbagai alasan.”
Pada kedua kasus di atas terjadi beberapa pelanggaran etika komunikasi
kelompok , diantaranya benar atau tidaknya cara penyampaian pesan kepada orang
lain sebagai anggota kelompok tersebut yang dapat mengubah sikap, pendapat,
atau
perilaku baik secara lisan ataupun tidak langsung. Pada kasus pertama,
tindakan anarkis Hasrul Azwar membanting meja di dalam ruang sidang yang
merupakan ungkapan atau bentuk komunikasi atas perasaan tidak puas dengan
hasil sidang serta pendapatnya tidak terakomodasi, tindakan tersebut sangat
melanggar etika dalam komunikasi kelompok. Selain menyalahi etika komunikasi,
penyampaian ketidakpuasan melalui kekerasan dan aksi anarkis di dalam kelompok
juga melanggar norma sopan santun serta tata aturan sidang yang sebelumnya
telah ditetapkan sebagai aturan kelompok tersebut. Namun tindakan Agus Hermanto
2016
9
Etika dan Filsafat Komunikasi
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sebagai pimpinan sidang juga dianggap melanggar standar etika komunikasi dalam
kelompok, yaitu tidak menerapkan empati dalam pengambilan keputusan dalam
kelompok yang notabene seharusnya menemukan mufakat dari seluruh anggota
kelompok
sebelum
mengetuk
palu.
Komunikator
empatis
benar-benar
mendengarkan argumen, opini, nilai dan asumsi orang lain, terbuka terhadap
perbedaan pendapat, mengesampingkan cetusan streosip berdasarkan julukan atau
isyarat non verbal, dan menghargai hak semua orang sebagai pribadi untuk
memegang pandangan yang berbeda. Sedangkan pada kasus kedua, tindakan para
peserta rapat yang merasa kecewa akan pimpinan rapat, ricuh dan berteriak-teriak,
membuat kerusuhan di meja pimpinan sidang, bahkan melakukan aksi walk out di
tengah berjalannya sidang sangat tidak mencerminkan etika dalam komunikasi
kelompok. Tindakan anarkis tersebut selain melanggar norma sopan santun tidak
menghormati jalannya sidang, juga tidak menghormati pimpinan sidang yang
notabene adalah orang yang dituakan di kelompok tersebut (anggota DPR tertua
periode 2014-2019). Anggota kelompok seharusnya diperlukan secara adil dan
saling mendengarkan sesuai dengan kewajiban dan haknya masing-masing tanpa
memihak pada kubu tertentu dalam kelompok.
Etika komunikasi kelompok dikaitkan dengan watak atau kesusilaan yang
menentukan benar atau tidaknya cara penyampaian pesan kepada orang lain yang
dapat mengubah sikap, pendapat, atau perilaku baik secara lisan ataupun tidak
langsung pada kelompok maupun pada anggota kelompok.
Pada dasarnya etika komunikasi kelompok tidak berbeda begitu banyak dengan
etika komunikasi antarpribadi ataupun organisasi, aturan-aturan etika seperti
kejujuran dan kehati-hatian serta tidak kecurangan yang disengaja, merupakan hal
krusial dalam etika komunikasi kelompok. Hanya dalam etika komunikasi kelompok
harus diperhatikan patisipan yang disampaikan pesan. Diperlukan sikap adil dan
saling mendengarkan diantara anggota partisipan agar komunikasi yang terjadi bisa
berjalan dengan baik dan sehat
2016
10
Etika dan Filsafat Komunikasi
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
BLAKE, REED H. dan HAROLDSEN. EDWIN O. 2003. Taksonomi Konsep
Komunikasi, Penerbit Papyrus: Surabaya
CUTLIP, SCOTT M. dan CENTER, ALLEN H. 2006. Effective Public Relation,
Prenada Media Grup: Jakarta
L.JOHANSEN, RICHARD. 1996. Etika Komunikasi, Penerbit Rosda: Bandung
http://news.okezone.com/read/2014/10/28/337/1058021/politikus-ppp-ngamukbanting-meja-di-ruang-paripurna-dpr
2016
11
Etika dan Filsafat Komunikasi
Christina Arsi Lestari, M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download