Banjir

advertisement
http://beyouk12.wordpress.com/
Banjir adalah dimana suatu daerah dalam keadaan tergenang oleh air
dalam jumlah yang begitu besar. Sedangkan banjir bandang adalah banjir
yang datang secara tiba-tiba yang disebabkan oleh karena tersumbatnya
sungai maupun karena pengundulan hutan disepanjang sungai sehingga
merusak rumah-rumah penduduk maupun menimbulkan korban jiwa.
Bencana banjir hampir setiap musim penghujan melanda Indonesia.
Berdasarkan nilai kerugian dan frekuensi kejadian bencana banjir terlihat
adanya peningkatan yang cukup berarti. Kejadian bencana banjir tersebut
sangat dipengaruhi oleh faktor alam berupa curah hujan yang diatas
normal dan adanya pasang naik air laut. Disamping itu faktor ulah
manusia juga berperan penting seperti penggunaan lahan yang tidak
tepat (pemukiman di daerah bantaran sungai, di daerah resapan,
penggundulan hutan, dan sebagainya), pembuangan sampah ke dalam
sungai, pembangunan pemukiman di daerah dataran banjir dan
sebagainya.
Kenali Penyebab Banjir
*
Curah hujan tinggi
*
Permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut.
*
Terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan
pengaliran air keiuar sempit.
*
Banyak pemukiman yang dibangun pada dataran sepanjang sungai.
*
Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah serta bangunan di
pinggir sungai.
*
Kurangnya tutupan lahan di daerah hulu sungai.
Tindakan Untuk Mengurangi Dampak Banjir
*
Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan.
*
Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai
yang sering menimbulkan banjir.
*
Tidak membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai serta
daerah banjir.
*
Tidak membuang sampah ke dalam sungai. Mengadakan Program
Pengerukan sungai.
*
Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.
*
Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan serta
mengurangi aktifitas di bagian sungai rawan banjir.
http://baary44.blogspot.com/2010/10/banjir.html
Banjir
Banjir adalah peristiwa dimana suatu daerah dalam keadaan tergenang oleh
air dalam jumlah yang begitu besar. Sedangkan banjir bandang adalah banjir
yang datang secara tiba-tiba yang disebabkan oleh karena tersumbatnya
sungai maupun karena pengundulan hutan disepanjang sungai sehingga
merusak rumah-rumah penduduk maupun menimbulkan korban jiwa.
Penyebab Terjadinya Banjir
Secara umum, penyebab terjadinya banjir adalah sebagai berikut.

Penebangan hutan secara liar tanpa disertai reboisasi,

Pendangkalan sungai,

Pembuangan sampah yang sembarangan, baik ke aliran sungai
mapupun gotong royong,

Pembuatan saluran air yang tidak memenuhi syarat,

Pembuatan tanggul yang kurang baik,

Air laut, sungai, atau danau yang meluap dan menggenangi daratan.
Dampak Dari Banjir
Banjir dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup berupa:

Rusaknya area pemukiman penduduk,

Sulitnya mendapatkan air bersih, dan

Rusaknya sarana dan prasarana penduduk.

Rusaknya areal pertanian

Timbulnya penyakit-penyakit

Menghambat transportasi darat
Tindakan Untuk Mengurangi Dampak Banjir

lahan.
Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi

Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian
sungai yang sering menimbulkan banjir.

Tidak membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai serta
daerah banjir.

Tidak membuang sampah ke dalam sungai. Mengadakan Program
Pengerukan sungai.

Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan
laut.

Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan
serta mengurangi aktifitas di bagian sungai rawan banjir.
http://dwielestari.wordpress.com/2011/06/18/banjir-di-jakarta/
Banjir di Jakarta
Posted on 18 Juni 2011 by dwielestari
Banjir Jakarta 2007
adalah bencana banjir yang menghantam Jakarta dan
sekitarnya sejak1 Februari 2007 malam hari. Selain
sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujanlebat
yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga
keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya
volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal
dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang,
mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam
banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di
beberapa titik lokasi banjir.
Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan
Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang
terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata
235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung
mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai
235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun
dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.
Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban
manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada
tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas
selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau
sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis
mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah.
Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7
Februari 2007.
Sebab
Akibat utama banjir ini adalah curah hujan yang tinggi,
dan musim hujan di Indonesia mulai bulan Desember dan
berakhir bulan Maret. Pada tahun 2007, intensitas hujan
mencapai puncaknya pada bulan Februari, dengan intensitas
terbesar pada akhir bulan.
Antisipasi
Sistem Pengendali Banjir Jakarta
Untuk menangani banjir, Provinsi DKI Jakarta telah
membangun serangkaian Sistem Pengendali Banjir Jakarta.
Berikut adalah Sistem Kawasan Pengendali Banjir dan
Drainase Jakarta sampai 2010
Jakarta Utara

Sunter Timur I

Sunter Timur
II

Kelapa Gading

Sunter Barat

Sunter Selatan

Pademangan

Jembatan V

Teluk Gong

Angka Bawah
Jakarta Barat

Jelambar

Grogol

Pinangsia

Jati Pulo

Kali Sekretaris

S.P.Barat
Jakarta Pusat

Sawah Besar

Sumur Batu

Cideng Bawah
Jakarta Selatan

Kali Grogol
Atas

Duren Tiga

Pondok Karya

Sangrila
Jakarta Timur

Duren Sawit

Cipinang
Sistem Saluran
Makro (13 sungai)
1.
Kali
Mookevart
2.
Kali Angke
3.
Kali
Pesanggrahan
4.
Kali Grogol
5.
Kali Krukut
6.
Kali
Baru (Pasar
Minggu)
7.
Kali Ciliwung
8.
Kali Baru
Timur
9.
Kali Cipinang
10.
Kali Sunter
11.
Kali Buara
12.
Kali Jati
Kramat
13.
Kali Cakung
Banjir Kanal
1.
Banjir Kanal
Barat
2.
Banjir Kanal
Timur
Lokasi-lokasi banjir
DKI Jakarta Sutiyoso menyatakan, sebagian wilayah Jakarta
Barat di sekitar Kali Angkeberstatus siaga satu karena tinggi
air 3,75 meter dari ambang batas 3 meter. Wilayah lain
berstatus siaga dua dan tiga.Kemacetan akibat banjir juga
terjadi di daerah Cipinang, Jakarta Timur. Di Jalan DI
Panjaitan, sepeda motor yang tidak dapat melewati jalan itu
berbalik arah dan naik ke jalan tol yang lebih tinggi.
Hujan deras juga menyebabkan tanggul jebol di Banjir Kanal
Barat (BKB) persis di aliranKali Sunter. Air meluber langsung
ke perkantoran dan perumahan warga. Tanggul BKB jebol
Jumat dini hari, sementara Kali Sunter baru Jumat siang.
Akibat tanggul jebol, kawasan Jatibaru-Tanah Abang dan
Petamburan tergenang air hingga setinggi 2 meter. Evakuasi
warga di Petamburan mengalami kesulitan karena banyak
permukiman terletak di antara gang sempit, bahkan tidak
muat untuk dilewati perahu karet.
Jalan Kampung Melayu Besar di Jakarta Timur tidak bisa
dilewati kendaraan, tetapi warga menyewakan gerobak untuk
mengangkut pengendara dan kendaraan roda dua. Sebagian
besar Jakarta Utara, mulai dari Marunda, Rorotan, Koja,
Kelapa Gading, hingga ke barat, yakni Sunter, Tanjung Priok,
Pademangan, Angke, Pluit, dan Kapuk pun terendam banjir.
Tinggi genangan bervariasi, 30 sentimeter hingga 1 meter.
Jl Raya Kembangan, Jakarta Barat Digenangi air setinggi lutut
orang dewasa hingga lalu lintas yang setiap hari macet dan
ramai pada saat itu menjadi sepi dan gelap gulita di malam
hari. Hanya kendaraan dengan roda besar, gerobak dan
delman yang mampu melewati wilayah itu. Listrik padam
selama 3 hari. Air Baru surut pada hari ke empat (Selasa).
Korban
Hingga tanggal 8 Februari 2007, menurut data Polda Metro
Jaya jumlah korban meninggal akibat banjir di Jakarta,
Depok, Tangerang, dan Bekasi mencapai 48 orang; dan di
Bogor sebanyak 7 orang. Pada tanggal 9
Februari 2007 meningkat menjadi 66 orang, sebagaimana
dicatat Kantor Berita Antara: Badan Koordinasi Nasional
Penanganan Bencana (Bakornas PB) menyatakan sebanyak
66 orang meninggal akibat bencana banjir yang terjadi di
tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Pada tanggal 10 Februari jumlah korban meningkat menjadi
80 orang. Jumlah ini mencakup korban di tiga provinsi
dengan perincian DKI Jakarta 48 orang, Jawa Barat 19 orang,
dan Banten 13 orang.
Dampak dan kerugian
Seluruh aktivitas di kawasan yang tergenang lumpuh.
Jaringan telepon dan Internetterganggu. Listrik di sejumlah
kawasan yang terendam juga padam.Puluhan ribu warga di
Jakarta dan daerah sekitarnya terpaksa mengungsi di poskoposko terdekat. Sebagian lainnya hingga Jumat malam masih
terjebak di dalam rumah yang sekelilingnya digenangi air
hingga 2-3 meter. Mereka tidak bisa keluar untuk
menyelamatkan diri karena perahu tim penolong tidak
kunjung datang.
Di dalam kota, kemacetan terjadi di banyak lokasi, termasuk
di Jalan Tol Dalam Kota. Genangan-genangan air di jalan
hingga semeter lebih juga menyebabkan sejumlah akses dari
daerah sekitar pun terganggu.Arus banjir menggerus jalanjalan di Jakarta dan menyebabkan berbagai kerusakan yang
memperparah kemacetan. Diperkirakan sebanyak 82.150
meter persegi jalan di seluruh Jakarta rusak ringan sampai
berat.
Kerusakan beragam, mulai dari lubang kecil dan
pengelupasan aspal sampai lubang-lubang yang cukup dalam.
Kerusakan yang paling parah terjadi di Jakarta Barat, tempat
jalan rusak mencapai 22.650 m², disusul Jakarta
Utara (22.520 m²), Jakarta Pusat (16.670 m²), Jakarta
Timur (11.090 m²). Kerusakan jalan paling ringan
dialami Jakarta Timur, yang hanya menderita jalan rusak
seluas 9.220 m². Untuk merehabilitasi jalan diperkirakan
diperlukan dana sebesar Rp. 12 miliar.
Banjir juga membuat sebagian jalur kereta api lumpuh.
Lintasan kereta api yang menujuStasiun Tanah Abang tidak
berfungsi karena jalur rel di sekitar stasiun itu digenangi air
luapan Sungai Ciliwung sekitar 50 sentimeter.
Sekitar 1.500 rumah di Jakarta Timur hanyut dan rusak akibat
banjir. Kerusakan terparah terdapat di
Kecamatan Jatinegara dan Cakung. Rumah-rumah yang
hanyut terdapat di Kampung Melayu (72 rumah), Bidaracina
(5), Bale Kambang (15), Cawang (14), dan Cililitan (5). Adapun
rumah yang rusak terdapat di Pasar Rebo (14), Makasar (49),
Kampung Melayu (681), Bidaracina (16), Cipinang Besar
Selatan (50), Cipinang Besar Utara (3), Bale Kambang (42),
Cawang (51), Cililitan (10), dan Cakung (485).
Kerugian di Kabupaten Bekasi diperkirakan bernilai sekitar
Rp 551 miliar. Kerugian terbesar adalah kerusakan bangunan,
baik rumah penduduk maupun kantor-kantor pemerintah.
Selain itu jalan kabupaten sepanjang 98 kilometer turut rusak.
Sedikitnya 7.400 hektar sawah terancam puso.
Penyakit
Setelah banjir penyakit infeksi saluran pernafasan, diare, dan
penyakit kulit menjangkiti warga Jakarta, terutama yang
berada di pengungsian. Ini disebabkan keadaan sanitasi dan
cuaca yang buruk Ditemui pula beberapa kasus demam
berdarah dan leptospirosis Sebagai akibat genangan air
setelah banjir.
Pasca bencana
Hingga hampir sepekan pascabanjir, 14 Februari 2007, 20
lampu lalu lintas di seluruh DKI Jakarta masih tidak
berfungsi. Matinya lampu lalu lintas menyebabkan arus
kendaraan di beberapa kawasan terganggu dan menimbulkan
kemacetan. Di Jakarta Pusat lalu lintas di beberapa
perempatan tidak dipandu lampu lalu lintas. Di kawasan
Roxy, misalnya, lampu lalu lintas tidak berfungsi. Akibatnya,
kemacetan terjadi sepanjang pagi hingga menjelang sore.
Situasi serupa tampak di kawasan Kramat Bunder.
Penanganan sampah
Setelah banjir surut volume sampah yang harus ditangani
meningkat. Sampah-sampah yang terbawa sungai pada
sampai tanggal 8 Februari berlipat ganda dari 300 m³
menjadi 600 m³ per hari. Sampah-sampah tersebut berupa
antara lain berupa puing bangunan, kayu dan perabotan
hanyut. Selain itu banyaknya sampah yang dikirim ke tempat
penampungan akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi, juga
bertambah. Sampai 15 Februari kiriman sampah sisa banjir ini
diperkirakan mencapai 1.500 ton per hari.
Banjir susulan
Hujan deras sejak Selasa pagi, 13 Februari, di Depok dan
sebagian wilayah Jakarta Selatanmenyebabkan air kembali
menggenangi sebagian rumah-rumah warga yang baru saja
kering dari terpaan banjir pekan sebelumnya. Hujan tersebut
menyebabkan Kali Krukut yang melintasi kawasan Kemang
dan Petogogan, Jakarta Selatan meluap.
Luapan itu meluas dan menggenangi rumah-rumah warga di
perkampungan tersebut hingga sebatas lutut orang dewasa.
Kontur tanah perkampungan yang menjorok rendah ke arah
sungai menyebabkan wilayah itu mudah sekali terbanjiri
luapan air dari sungai. Di kawasan Kemang, tepatnya di
Kelurahan Bangka, air menggenangi sekitar seratusan rumah
petak di belakang deretan kafe-kafe elit di Jalan Kemang
Raya. Semakin mendekati Kali Krukut, air sudah memasuki
bagian dalam rumah hingga sebetis. Banjir besar pekan lalu
telah menerpa kampung tersebut hingga ketinggian dua
meter.
Banjir serupa juga kembali menimpa warga Perumahan
Pondok Payung Mas, Kelurahan Cipayung, Kecamatan
Ciputat, Tangerang, Banten.Hujan yang turun pada hari
Sabtu 17 Februari menyebabkan sebanyak 2.761 warga Jakarta
dari 612 kepala keluarga (KK), terpaksa mengungsi kembali
karena rumah mereka tergenang air. Genangan ini terjadi di
beberapa pemukiman di Pancoran, Kebayoran Baru,
Jatinegara, dan Kramat Jati. Ketinggian genangan berkisar
antara 40-120 cm.
Komentar pihak berwenang
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menanggapi kritikan dengan
mengatakan bahwa banjir ini adalah fenomena alam, , dan
merupakan banjir lima tahunan. Sutiyoso menganggap
pemerintah sudah berusaha maksimal menangani banjir.
Banjir besar sebelumnya terjadi di tahun 1996 dan 2002 yang
berarti interval pertamanya adalah enam tahun.
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal
Bakrie berkomentar bahwa para korban banjir “masih dapat
tertawa” dan peristiwa banjir ini hanya dibesar-besarkan
media “seolah-olah dunia mau kiamat” sehingga ia dikritik
para korban dan anggota DPR. Padahal kenyataan di lapangan
memperlihatkan bahwa banyak korban banjir yang bahkan
tidak mampu berkomentar akibat dari tekanan stress serta
buruknya kondisi hidup di tempat-tempat pengungsian.
Pertanyaan :
1.
Setujukah kalian dengan permasalahan tersebut!
Jawab : tidak setuju
1.
Berikan alasannya mengapa kalian setuju/tidak setuju!
Jawab : karena banjir menggenangi jalan maka dapat
mengganggu aktivitas warga. Banjir juga dapat merusak
fasilitas-fasilitas yang ada. Banjir juga
dapat menyebabkan jalan-jalan di ibukota menjadi macet.
2. Berikan solusinya!
Jawab :

Jangan membuang sampah sembarangan
Buanglah sampah pada tempatnya

Selalu jaga kebersihan lingkungan

Banyak menanam tanaman hijau
Nama Kelompok : Edvika Magdalena

Cantika Desty Yundariani
Bambang Dwi Jaya
Download