Kualitas Belanja, Kinerja, dan Daya Saing Indonesia

advertisement
Kualitas Belanja, Kinerja, dan Daya Saing Indonesia
Oleh Joko Tri Haryanto, pegawai Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan*
Berdasarkan Global Competitiveness Report 2014-2015 yang disampaikan oleh World
Economic Forum (WEF), daya saing Indonesia berada di peringkat 34 dari 144 negara atau
mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2013 di posisi 38. Kondisi ini tentu menjadi
modalitas yang positif bagi pemerintahan yang baru, khususnya menghadapi tantangan
ekonomi global yang kian kompetitif. Dilihat dari sejarahnya, posisi Indonesia pada tahun 2009
masih tercatat di peringkat 54 dari 133 negara, meningkat ke posisi 44 dari 139 negara di tahun
2010. Sayangnya, posisi tersebut sedikit mengalami kemerosotan di tahun 2011 menjadi posisi
46 serta 50 di tahun 2012. Dengan beberapa perbaikan yang gencar dilakukan pemerintah,
tahun 2013 posisi Indonesia kembali melesat ke peringkat 38.
Dicapainya posisi tersebut tak pelak menjadikan Indonesia kembali diperhitungkan dalam
percaturan ekonomi dunia, sebagaimana yang telah dipidatokan mantan Presiden SBY dalam
pidato Nota Keuangan 2015, dimana secara tegas Bank Dunia sudah memasukkan Indonesia
dalam 10 besar ekonomi dunia berdasarkan metode perhitungan Purchasing Power Parity
(PPP). Dengan laju pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,8% dalam periode 10 tahun terakhir,
pengelolaan ekonomi makro yang makin prudent, ditambah kualitas pertumbuhan yang inklusif
dan berkelanjutan, pencapaian tersebut memang sudah selayaknya. Namun demikian
pemerintah tetap wajib memperhatikan beberapa aspek yang masih menjadi catatan,
khususnya terkait dengan persoalan kesenjangan dan ketimpangan beberapa faktor dan
indikator daya saing tersebut.
Secara umum, penilaian terhadap indikator infrastruktur dan konektivitas mengalami perbaikan
di posisi 56, lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Indikator lainnya yang menunjukkan
kriteria positif adalah indikator kualitas hubungan antara pemerintah dan swasta, melompat
hingga 14 peringkat di posisi 53, begitupula indikator efisiensi pemerintahan yang berada di
ranking 36. Sayangnya, untuk beberapa indikator lainnya, justru memperlihatkan fakta yang
berkebalikan.
Tingkat
korupsi
di
Indonesia
dinyatakan
masih
dalam
kondisi
yang
membahayakan, berada di peringkat 87. Meskipun pemerintah sudah mengupayakan
pemberantasan korupsi di berbagai tingkatan, dampak yang ditimbulkan ternyata masih sangat
minim khususnya bagi upaya mendongkrak daya saing.
Persoalan defisit anggaran juga masih membebani indikator makro ekonomi. Sebagai sebuah
indikator, kemampuan mengelola defisit anggaran ini memang sering dijadikan tolak ukur
kinerja utama pemerintah. Defisit yang terkendali, tentu memberikan ruang gerak yang cukup
besar bagi pemerintah. Sebaliknya defisit yang bergejolak, selain membahayakan kondisi
stabilitas fiskal, juga menimbulkan potensi penarikan pembiayaan hutang luar negeri. Mengutip
data pemerintah, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir kemampuan mengendalikan defisit
anggaran sebetulnya relatif memuaskan. Tahun 2007 misalnya, defisit anggaran dapat dijaga di
level 1,3% PDB atau senilai Rp50,1 triliun, sementara tahun 2009 stabil di level 1,6% PDB atau
Rp88,6 triliun. APBN-P 2011 pun mencatat realisasi defisit anggaran 2,1% PDB, sementara
tahun 2013 sebesar 2,38% dan 2014 sebesar 1,69% PDB.
Problem besar lainnya terkait persoalan ketenagakerjaan, dimana indikator pasar tenaga kerja
Indonesia turun sampai 7 peringkat di posisi 110, dengan tingkat partisipasi pekerja wanita
menempati peringkat 112. Sektor lain yang juga mendapat perhatian serius adalah masalah
kesehatan publik. Mudahnya penyebaran wabah penyakit, ditambah infant mortality yang masih
tinggi, menjadikan Indonesia berada di level yang sama dengan kawasan Sub–Sahara Afrika, di
ranking 99. Indikator kesiapan teknologi juga tergolong rendah, menempati peringkat 77, aspek
penggunaan teknologi informasi di posisi 94.
Jika disimpulkan, rekomendasi WEF menyebutkan bahwa indikator daya saing global Indonesia
belum memperlihatkan hasil yang merata. Sejumlah indikator menunjukkan perbaikan yang
cukup mengesankan, sejumlah indikator lain justru mengkhawatirkan. Beberapa indikator justru
memperlihatkan kesan berkebalikan, misalnya indikator efisiensi pemerintah dengan indikator
korupsi. Korupsi juga tercatat sebagai hambatan tertinggi dalam berbisnis di Indonesia,
bersama dengan instabilitas kebijakan, persoalan hukum serta rendahnya kualitas sumber daya
manusia (SDM).
Problematika
Berbagai uraian di atas tentu membutuhkan perhatian yang serius. Dan secara tidak langsung,
ada hal yang cukup menarik ketika menyimak pidato kerakyatan Presiden tepilih Joko Widodo.
Selain himbauan untuk saling bekerjasama dan sapaan untuk seluruh profesi, jargon kerja,
kerja dan kerja sekiranya menjadi solusi yang ampuh bagi upaya memperbaiki berbagai
indikator daya saing Indonesia yang masih memprihatinkan. Ditambah dengan kecepatan dan
ketegasan Presiden, ke depannya daya saing Indonesia akan meningkat. Persoalannya,
Presiden seorang tentu tidak mampu mewujudkan semua impian tersebut. Dibutuhkan
kerjasama yang seimbang dari seluruh Menteri dan jajaran pembantu Presiden serta
masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Dalam jangka pendek, APBN 2015 dapat dijadikan dukungan yang utama. Pemerintah harus
dapat menjadikan APBN sebagai enginee of growth melalui berbagai belanja yang berkualitas.
Sayangnya, beberapa pihak justru mempertanyakan hal ini. Berdasarkan data pemerintah,
hingga 29 Agustus 2014, realisasi belanja negara mencapai 55,9% atau sekitar Rp1.049 triliun
dari pagu 1.876,9 triliun APBN-P 2014. Dari besaran tersebut, realisasi belanja pemerintah
pusat mencapai 53,4% atau Rp683,9 triliun sementara transfer ke daerah 61,2% atau sekitar
Rp365,3 triliun. Di dalam komponen belanja pemerintah pusat, realisasi pembayaran kewajiban
utang mencapai 63,6% atau Rp86,2 triliun dari pagu Rp135,5 triliun. Disusul realisasi belanja
subsidi 61,7% atau Rp248,5 triliun, belanja pegawai sebesar Rp164,8 triliun atau 63,8%,
belanja bantuan sosial 53,1% atau Rp51,4 triliun dan belanja barang Rp82,6 triliun atau 42,3%.
Fakta realisasi belanja modal yang baru mencapai 30,2% atau Rp48,6 triliun, mungkin patut
menjadi keprihatinan bersama.
Jika dibandingkan tahun sebelumnya, realisasi tersebut relatif hampir sama. Hingga 30 Agustus
2013, realisasi belanja negara mencapai 54,8% atau sekitar Rp945,8 triliun dari pagu
Rp1.726,2 triliun dalam APBN-P 2013. Realisasi belanja pemerintah pusat sendiri mencapai
Rp615,6 triliun atau 51,4% sementara transfer ke daerah mencapai Rp330,1 triliun atau 62,4%.
Dalam komponen belanja pemerintah pusat, realisasi pembayaran kewajiban utang mencapai
64,8% atau Rp72,9 triliun, disusul belanja subsidi 61,1% atau Rp212,8 triliun, belanja pegawai
Rp152,6 triliun atau 65,5%, belanja bantuan sosial Rp45,7 triliun atau 55,4% serta belanja
barang Rp70,0 triliun atau 33,9%. Realisasi belanja modal kembali yang paling rendah sekitar
Rp60,6 triliun atau 31,4%.
Jika ditarik data 5 tahun ke belakang pun, sepertinya pola realisasi belanja negara masih akan
tetap sama. Pembayaran kewajiban utang, belanja subsidi, belanja pegawai, belanja bantuan
sosial, belanja barang selalu mendominasi, sementara belanja modal selalu tertinggal. Fakta ini
tentu menyiratkan adanya persoalan serius serta wajib dicermati oleh pemerintahan baru,
mengingat secara teori, di beberapa negara berkembang, peran dari belanja modal pemerintah
masih menjadi penggerak utama. Hal ini jelas berkaitan dengan minimnya peran swasta serta
lembaga perbankan yang seharusnya menjadi penggerak utama laju modernisasi di negara
tersebut.
Rendahnya realisasi penyerapan anggaran pemerintah tentu bukan menjadi bentuk dukungan
yang memadai bagi upaya mendongkrak posisi daya saing bangsa. Begitupula kinerja aparat
pemerintah yang masih melestarikan budaya birokrasi dan administrasi yang ”serba sulit”.
Inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Presiden di kantor Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM) hanyalah satu dari serangkaian niat tulus pemerintah untuk terus memperbaiki
iklim usaha yang pro investasi demi mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan
berkelanjutan.
Kementerian/Lembaga (K/L) yang belum maksimal dalam menjalankan tugasnya, juga harus
terus dievaluasi, khususnya yang terkait dengan misi pendidikan, kesehatan dan infrastruktur
dasar. Reformasi juga perlu dilakukan di dalam sistem penganggaran, dimana asumsi
”anggaran yang besar akan mendorong kinerja yang lebih baik" adalah tidak 100% tepat. Untuk
K/L yang sudah mendapatkan alokasi anggaran besar, tapi ternyata kinerjanya masih jalan di
tempat, Pemerintah harus berani untuk memberikan hukuman meski harus berhadapan dengan
regulasi hukum demi tercapainya asas keadilan dan pemerataan. Ingat kegagalan dalam
menciptakan kinerja pelayanan publik yang handal, dapat dianggap sebagai bentuk
ketidakberhasilan pemerintah mengemban amanat masyarakat.
*) Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana
penulis bekerja
Download