halaman judul - Lumbung Pustaka UNY

advertisement
PENGARUH PENAMBAHAN SENYAWA HDTMS PADA
KAIN SPANDEX TERDEPOSIT NANOPARTIKEL PERAK
TERHADAP SUDUT KONTAK DAN AKTIVITAS
ANTIBAKTERI
HALAMAN JUDUL
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Yogakarta Untuk Memenuhi
Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Sains Kimia
Oleh:
YOGA PRIHATNA
NIM: 12307141022
PROGRAM STUDI KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
i
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Penambahan Senyawa HDTMS Pada Kain
Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak Terhadap Sudut Kontak Dan Aktivitas
Antibakteri” yang disusun oleh Yoga Prihatna NIM 12307141022 ini telah
disetujui oleh pembimbing untuk diujikan.
Yogyakarta,
Januari 2017
Mengetahui,
Ketua Program Studi Kimia
Dosen Pembimbing
Jaslin Ikhsan, Ph.D
Dr. Eli Rohaeti
NIP. 19680629 199303 1 001
NIP. 19691229 199903 2 001
ii
HA HALAMAN PERNYATAAN
Yang bertandatangan di bawah ini saya:
Nama
:
Yoga Prihatna
NIM
:
12307141022
Program Studi
:
Kimia
Fakultas
:
MIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Judul Penelitian
:
Pengaruh Penambahan Senyawa HDTMS Pada Kain
Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak Terhadap Sudut
Kontak Dan Aktivitas Antibakteri
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri.
Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau
diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata
penulisan karya ilmiah yang telah lazim.
Tanda tangan dosen penguji yang tertera dalam halaman pengesahan adalah asli.
Jika tidak asli, saya siap menerima sanksi ditunda yudisium pada periode
berikutnya.
Yogyakarta, Januari 2017
Yang menyatakan,
Yoga Prihatna
NIM 12307141022
iii
LAMAN PENGESAHAN
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Penambahan Senyawa HDTMS Pada Kain
Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak Terhadap Sudut Kontak Dan Aktivitas
Antibakteri” yang disusun oleh Yoga Prihatna, NIM 12307141022 ini telah
dipertahankan di depan Dewan penguji pada tanggal 30 Januari 2017 dan
dinyatakan lulus.
DEWAN PENGUJI
Nama
Jabatan
Tanda Tangan
Tanggal
Dr. Eli Rohaeti
NIP. 19691229 199903 2 001
Ketua Penguji
.........................
...............
Heru Pratomo AL, M.Si.
NIP. 19600604 198403 1 002
Penguji I (Utama)
.........................
...............
Dr. Isana Supiah YL, M.Si
NIP. 19610923 198812 2 001
Penguji II (Pendamping) .........................
...............
Yogyakarta, ...............................2017
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Dekan,
Dr. Hartono
NIP. 19620329 198702 1 002
iv
HALAMAN MOTTO
“Fabi-Ayyi Ala-I Rabbikuma Tukazziban”
(Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Q.S. ArRahman:55)
“Man Jadda Wa Jada”
(Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan)
“Man Sobaro dzhofiro”
(Barang siapa yang bersabar, maka ia akan beruntung)
“Jangan sesali apa yang telah terjadi kemarin, tapi jika kamu
tak mampu menjadi lebih baik hari ini, kamu patut menyesali”
“Ajining raga saka busana, ajining dhiri saka lati”
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Bismillahirrahmanirrahim,
Dengan mengucap syukur alhamdulillah, karya kecil ini saya persembahkan
kepada:
Kedua orang tuaku, Bapak Sugianto dan Ibu Sholikhatun, terimakasih telah
merawat, mendidik, dan memberikan semangat serta kasih sayang padaku,
sehingga aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Sungguh aku takkan bisa
membalas semua kasih sayang yang telah bapak dan ibu berikan. Aku hanya
mampu berdoa, semoga bapak dan ibu selalu dilimpahkan kesehatan dan umur
panjang, sehingga dapat terus menemani anakmu ini dalam meraih kesuksesan
dan membuat kalian bangga. Amin.
Masku Ade Ameriantoro dan adikku Tri Atmaja Pamungkas, yang selalu
memeberikan semangat dan bantuan padaku hingga saya bisa menyelesaikan
kuliah ini. Semoga kalian selalu sehat dan dilancarkan rezekinya.
Faza Laili Husna, terimakasih setia menemani, selalu memberi semangat, selalu
mendengarkan keluh kesahku walaupun dirimu jauh di sana. Terimakasih atas
semangat dan bantuannya sehingga skripsi ini dapat selesai. Sekarang giliranmu,
semoga kuliahmu juga dilancarkan dan segera lulus.
Tim Sahabat Pena, Ryan, Rika, Hamida, Eti, Leni, Rahma, Ellen, dan Winarni.
Terimakasih atas dukungan dan semangat dari kalian, akhirnya aku lulus juga.
Walaupun kita sudah lulus, jangan sampai saling melupakan. Semoga kita semua
dapat meraih kesuksesan. Amin.
Teman-teman kelas Kimia Subsidi 2012 yang telah menemani perjalananku
selama kuliah ini.
Penghuni Kos Karangmalang Blok D3, yang telah menjadi keluarga selama saya
di Jogja.
Dan semua pihak yang telah membantu selama saya kuliah dan tinggal di Jogja
yang tidak bisa saya sebutkan semuanya. Semoga Allah membalas semua
kebaikan kalian.
vi
PENGARUH PENAMBAHAN SENYAWA HDTMS PADA
KAIN SPANDEX TERDEPOSIT NANOPARTIKEL PERAK
TERHADAP SUDUT KONTAK DAN AKTIVITAS
ANTIBAKTERI
Oleh :
Yoga Prihatna
12307141022
Pembimbing
: Dr. Eli Rohaeti
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nanopartikel perak
hasil preparasi menggunakan metode reduksi kimia, perubahan gugus fungsi kain
spandex sebelum dan sesudah modifikasi, perbedaan sudut kontak kain spandex
sebelum dan sesudah modifikasi, sifat antibakteri kain spandex sebelum dan
sesudah modifikasi terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Eschericia
coli, dan perbedaan aktivitas bakteri sampel kain spandex terhadap jenis bakteri
yang berbeda yaitu Staphylococcus aureus dan Eschericia coli.
Nanopartikel perak dipreparasi menggunakan metode reduksi kimia
terhadap larutan AgNO3 dengan adanya Na3C6H5O7, dan PVA sebagai penstabil.
Nanopartikel perak yang dihasikan kemudian dikarakterisasi menggunakan
spektroskopi UV-VIS. Nanopartikel perak kemudian didepositkan pada sampel
kain spandex. Senyawa kimia yang digunakan sebagai agen hidrofob adalah larutan
HDTMS 4% dalam etanol. Larutan HDTMS dilapiskan pada sampel kain spandex.
Sampel kain spandex dikarakterisasi menggunakan ATR-FTIR untuk mengetahui
gugus fungsi, uji sudut kontak, dan aktivitas antibakteri.
Karakterisasi UV-VIS menunjukkan nanopartikel perak yang terbentuk
menghasilkan absorbansi pada panjang gelombang 429 nm. Penambahan HDTMS
menyebabkan munculnya gugus fungsi –CH3 dan memunculkan sifat hidrofob pada
kain spandex. Nanopartikel perak dapat meningkatkan aktivitas antibakteri kain
spandex secara signifikan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri
Escherricia coli. Kain spandex terdeposit nanopartikel perak memiliki aktivitas
antibakteri yang lebih besar terhadap bakteri Staphylococcus aureus dibandingkan
terhadap bakteri Eschericia coli.
Kata kunci: HDTMS, nanopartikel perak, spandex, sudut kontak
vii
THE EFFECT OF ADDING HDTMS ON SILVER
NANOPARTICLES-COATED SPANDEX FABRIC ON THE
CONTACT ANGLE AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY
By:
Yoga Prihatna
1230714022
Supervisor
: Dr. Eli Rohaeti
ABSTRACT
This research aimed to known the characteristic of silver nanoparticles, the
change of functional groups of spandex before and after modification, the contact
angle of spandex before and after modification, the antibacterial activities of
spandex whit and without modification against Staphylococcus aureus and
Eschericia coli, and the difference of antibacterial activities of the sample against
both of bacteries.
Silver nanoparticles was prepared with chemical reduction method towards
AgNO3 solution with the Na3C6H5O7, and PVA as stabilizer. The silver
nanoparticles was characterized using UV-VIS spectroscopy. Then silver
nanoparticles deposited on spandex fabric. The compound as hydrophobic agent is
HDTMS 4% in ethanol. HDTMS was coated on the spandex. Spandex was
characterized using ATR-FTIR to know the functional groups, contact angle test,
and antibacterial test.
The results of this research showed that absorbance of silver nanoparticles
was appeared at a wavelength of 429 nm. Characterization of functional groups
showed that the addition of HDTMS cause the formation of –CH3. The addition of
HDTMS also cause hydrophobic properties to the spandex fabric. Silver
nanoparticles significantly increase the antibacterial activities of the spandex
against Staphylococcus aureus and Eschericia coli. Silver nanoparticles-coated
spandex have a higher antibacterial activities against Staphylococcus aureus than
the Eschericia coli.
Keywords: contact angle, HDTMS, silver nanoparticles, spandex
viii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga Tugas Akhir Skripsi dengan judul “Pengaruh
Penambahan Senyawa HDTMS Pada Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak
Terhadap Sudut Kontak Dan Aktivitas Antibakteri” ini dapat diselesaikan walaupun
tidak luputdari segala kekurangan.
Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian tugas akhir skripsi ini tidak
dapat lepas dari bimbingan, bantuan serta doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Bapak Dr. Hartono, selaku Dekan FMIPA UNY yang telah memberikan ijin
dan fasilitas dalam penelitian ini.
2. Bapak Jaslin Ikhsan, Ph.D, selaku Kajurdik dan Kaprodi Kimia FMIPA
UNY.
3. Bapak Erfan Priyambodo, M.Si, Selaku Sekjurdik Kimia FMIPA UNY dan
Pembimbing Akademik.
4. Ibu Dr. Eli Rohaeti, selaku pembimbing atas waktu, masukan, kritikan,
saran dan kesabarannya dalam membimbing penulis.
5. Bapak Heru Pratomo Al, M.Si, selaku penguji skripsi
yang telah
memberikan saran, kritik dan masukan sehingga skripsi ini menjadi lebih
baik.
6. Ibu Dr. Isana Supiah YL, M.Si, selaku penguji skripsi
yang telah
memberikan saran, kritik dan masukan sehingga skripsi ini menjadi lebih
baik.
7. Segenap dosen dan staf karyawan Jurusan Pendidikan Kimia yang telah
memberikan banyak ilmu pengetahuan selama menjalani studi di Jurusan
Pendidikan Kimia.
8. Serta semua pihak yang telah membantu baik moril maupun materiil, baik
langsung maupun tidak langsung kepada penulis dalam penulisan skripsi
ini.
ix
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
kata sempurna, sehingga perlu kritik dan masukan yang bersifat membangun guna
perbaikan selanjutnya.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Yogayakarta, Januari 2017
Penulis
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................. ii
HALAMAN PERNYATAAN .............................................................................. iii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iv
HALAMAN MOTTO ........................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... vi
ABSTRAK ........................................................................................................... vii
ABSTRACT ......................................................................................................... viii
KATA PENGANTAR ..........................................................................................ix
DAFTAR ISI ......................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiv
DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A.
Latar Belakang ............................................................................................ 1
B.
Identifikasi Masalah .................................................................................... 4
C.
Pembatasan Masalah ................................................................................... 5
D.
Perumusan Masalah ..................................................................................... 5
E.
Tujuan Penelitian......................................................................................... 6
F.
Manfaat Penelitian....................................................................................... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................ 8
A.
Deskripsi Teori ............................................................................................ 8
1. Kain Spandex ....................................................................................... 8
2. Nanopartikel Perak ............................................................................... 9
3. Antibakteri .......................................................................................... 10
4. Sifat Antikotor atau Hidrofob ............................................................ 11
5. Senyawa HDTMS .............................................................................. 12
6. Bakteri ................................................................................................ 13
7. Escherichia coli .................................................................................. 14
xi
8. Staphylococcus aureus ....................................................................... 15
9. Karakterisasi ....................................................................................... 16
B.
Kerangka Berfikir ...................................................................................... 20
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 22
A.
Subjek dan Objek Penelitian ..................................................................... 22
1. Subjek Penelitian ................................................................................ 22
2. Objek Penelitian ................................................................................. 22
B.
Variabel Penelitian .................................................................................... 22
1. Variabel Bebas ................................................................................... 22
2. Variabel Terikat.................................................................................. 22
3. Variabel Terkontrol ............................................................................ 23
C.
Instrumen Penelitian .................................................................................. 23
1. Alat ..................................................................................................... 23
2. Bahan-Bahan ...................................................................................... 23
D.
Tahapan Penelitian .................................................................................... 24
1.
Preparasi Nanopartikel Perak dengan Metode Reduksi Larutan
AgNO3 ................................................................................................ 24
2. Deposit Nanopartikel Perak pada Kain Spandex ............................... 25
3. Pelapisan Permukaan Kain Spandex dengan Senyawa HDTMS ....... 25
4. Uji Sudut Kontak................................................................................ 25
5. Uji Aktivitas Antibakteri .................................................................... 26
E.
Teknik Analisis Data ................................................................................. 28
1. Analisis Spektrofotometri Ultraviolet-tampak (UV-Vis) ................... 28
2. Uji Aktivitas Antibakteri .................................................................... 28
3. Uji Sudut Kontak Air ......................................................................... 28
4. Analisis Fourier Transform InfraRed (FTIR) .................................... 29
F.
Diagram Alir Penelitian ............................................................................ 29
1. Preparasi Nanopartikel Perak ............................................................. 29
2. Deposit Nanopartikel Perak pada Spandex ........................................ 30
3. Pelapisan Spandex dengan Senyawa HDTMS ................................... 30
xii
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................... 31
A.
Hasil Penelitian ......................................................................................... 31
1. Spektrum UV-VIS AgNO3 dan Nanopartikel Perak .......................... 31
2. Spektrum FTIR ................................................................................... 32
3. Uji Sudut Kontak................................................................................ 34
4. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri................................................ 35
B.
PEMBAHASAN ....................................................................................... 37
1. Preparasi Nanopartikel Perak ............................................................. 37
2. Deposit Nanopartikel Perak pada Sampel Kain Spandex .................. 39
3. Modifikasi Sampel Kain Spandex dengan Pelapisan Menggunakan
HDTMS .............................................................................................. 40
4. Analisis FTIR ..................................................................................... 42
5. Uji Sudut Kontak................................................................................ 46
6. Uji Aktivitas Antibakteri .................................................................... 49
BAB V SIMPULAN ............................................................................................ 57
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 58
xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Struktur Molekul Spandex .................................................................... 9
Gambar 2. Struktur Molekul Senyawa HDTMS ................................................... 13
Gambar 3. Overlap Spektrum UV-VIS Larutan AgNO3 dan Koloid
Nanopartikel Perak ........................................................................... 311
Gambar 4. Spektrum FTIR Kain Spandex (S.0) ................................................... 32
Gambar 5. Spektrum FTIR Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel
Perak (S.1) .......................................................................................... 32
Gambar 6. Spektrum FTIR Kain Spandex Terlapis HDTMS (S.2) ...................... 33
Gambar 7. Spektrum FTIR Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak dan
Terlapis HDTMS (S.3) ....................................................................... 33
Gambar 8. Grafik Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Kain Spandex terhadap
Bakteri E. coli ..................................................................................... 36
Gambar 9. Grafik Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Kain Spandex terhadap
Bakteri S. aureus ................................................................................ 37
Gambar 10. (a) Spandex Murni, (b) Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak ..... 39
Gambar 11. Struktur Hidrofob Permukaan Serat yang Terlapisi Senyawa
Silan.................................................................................................... 41
Gambar 12. (a) Kain Spandex Murni, (b) Kain Spandex Terlapisi HDTMS ....... 42
Gambar 13. (a) Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak, (b) Kain
Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak dan Terlapisi HDTMS ....... 42
Gambar 14. Mekanisme Reaksi Hidrofobisasi Permukaan Kain Spandex
Oleh Senyawa HDTMS ...................................................................... 49
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Pengaruh Konsentrasi Larutan Koloid Nanopartikel Perak terhadap
Koloni Bakteri Gram Negatif (E. coli) ................................................... 11
Tabel 2. Data Puncak Serapan FTIR Poliuretan ................................................... 17
Tabel 3. Panjang Gelombang dan Ukuran Partikel Perak pada Spektrum
UV-VIS ................................................................................................... 18
Tabel 4. Aktivitas Antibakteri Poliuretan Terdeposit Nanopartikel Perak
terhadap Bakteri E. coli........................................................................... 19
Tabel 5. Spektrum UV-VIS Larutan AgNO3 dan Nanopartikel Perak ................. 32
Tabel 6. Interpretasi Spektrum FTIR Sampel Kain Spandex ................................ 34
Tabel 7. Hasil Pengukuran Sudut Kontak Sampel Kain Spandex ........................ 34
Tabel 8. Hasil Pengamatan Diameter Zona Jernih Sampel Kain terhadap
Bakteri E. coli ......................................................................................... 35
Tabel 9. Hasil Pengamatan Diameter Zona Jernih Sampel Kain terhadap
Bakteri S. aureus ..................................................................................... 36
Tabel 10. Rataan Diameter Zona Jernih Sampel Kain Spandex terhadap
Bakteri Staphylococcus aureus ............................................................... 50
Tabel 11. Rataan Diameter Zona Jernih Sampel Kain Spandex terhadap
Bakteri Escherichia coli .......................................................................... 50
Tabel 12. Interpretasi Hasil Uji Lanjut LSD Antara Masing-masing Jenis
Sampel terhadap Aktivitas Antibakteri Eschericia coli .......................... 51
Tabel 13. Interpretasi Hasil Uji Lanjut LSD Antara Masing-masing Jenis
Sampel terhadap Aktivitas Antibakteri Staphylococcus aureus ............. 51
Tabel 14. Interpretasi Hasil Uji t-Independent Sampel terhadap Bakteri
Eschericia coli dan Staphylococcus aureus ............................................ 54
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Spektrum UV-VIS Larutan AgNO3 .................................................. 61
Lampiran 2. Spektrum UV-VIS Nanopartikel Perak ............................................ 62
Lampiran 3. Spektrum UV-VIS Larutan AgNO3 vs Nanopartikel Perak ............. 63
Lampiran 4. Spektrum FTIR Kain Spandex (S.0)................................................. 64
Lampiran 5. Spektrum FTIR Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel
Perak (S.1) ....................................................................................... 65
Lampiran 6. Spektrum FTIR Kain Spandex Terlapisi HDTMS (S.2) .................. 66
Lampiran 7. Spektrum FTIR Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak
dan Terlapisi HDTMS (S.3)............................................................. 67
Lampiran 8. Hasil Uji Sudut Kontak..................................................................... 68
Lampiran 9. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Kontrol Positif (+)
terhadap Bakteri E. coli ................................................................... 70
Lampiran 10. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex (S.0)
terhadap Bakteri E. coli ................................................................. 713
Lampiran 11. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terdeposit
Nanopartikel Perak (S.1) terhadap Bakteri E. coli........................... 76
Lampiran 12. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terlapisi
HDTMS (S.2) terhadap Bakteri E. coli............................................ 79
Lampiran 13. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terdeposit
Nanopartikel Perak dan Terlapisi HDTMS (S.3) terhadap
Bakteri E. coli .................................................................................. 82
Lampiran 14. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Kontrol Positif (+)
terhadap Bakteri S. aureus ............................................................... 85
Lampiran 15. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex (S.0)
terhadap Bakteri S. aureus ............................................................... 88
Lampiran 16. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terdeposit
Nanopartikel Perak (S.1) terhadap Bakteri S. aureus ...................... 91
xvi
Lampiran 17. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terlapisi
HDTMS (S.2) terhadap Bakteri S. aureus ....................................... 94
Lampiran 18. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terdeposit
Nanopartikel Perak dan Terlapisi HDTMS (S.3) terhadap
Bakteri S. aureus .............................................................................. 97
Lampiran 19. Tabel Uji ANOVA Dua Faktor terhadap Bakteri E. coli ............. 100
Lampiran 20. Uji ANOVA Dua Faktor terhadap Bakteri S. aureus ................... 106
Lampiran 21. Uji t-Independent Kontrol Positf terhadap Bakteri E. coli dan
S. aureus......................................................................................... 112
Lampiran 22. Uji t-Independent Spandex (S.0) terhadap Bakteri E. coli dan
S. aureus......................................................................................... 113
Lampiran 23. Uji t-Independent Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak (S.1)
terhadap Bakteri E. coli dan S. aureus ........................................... 114
Lampiran 24. Uji t-Independent Spandex Terlapisi HDTMS (S.2) terhadap
Bakteri E. coli dan S. aureus.......................................................... 115
Lampiran 25. Uji t-Independent Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak dan
Terlapisi HDTMS terhadap Bakteri E. coli dan S. aureus............. 116
Lampiran 26. Dokumentasi Penelitian ................................................................ 117
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang secara geografis terletak di antara dua
samudera yaitu samudera Hindia dan samudera Pasifik, serta terletak di antara
dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia. Secara astronomis Indonesia
terletak pada 6oLU-11oLS dan 95oBT-141oBT (Ridwan Lasabuda, 2013). Letak
wilayah Indonesia yang berada di daerah beriklim tropis menyebabkan
Indonesia memiliki temperatur udara yang cukup tinggi, sehingga orang yang
tinggal di Indonesia akan mudah berkeringat. Keringat akan terserap oleh
pakaian menyebabkan pakaian mudah lembab. Pakaian yang lembab akan
memicu tumbuhnya bakteri pada serat pakaian. Pertumbuhan mikroba pada
bahan tekstil dianggap sebagai penyebab utama kerusakan pada tekstil (Agus
Haryono dan Sri Budi Harmami, 2010).
Tekstil yang sering digunakan sebagai bahan untuk membuat pakaian
terbuat dari serat sintetis dan katun. Kementerian Perindustrian melalui laman
websitenya menyatakan bahwa kebutuhan serat sintetis dalam negeri pada
tahun 2012 mencapai lebih dari 600.000 ton. Atas dasar jumlah tersebut,
500.000 ton dipasok dari industri dalam negeri dan sisanya merupakan impor.
Nilai impor Indonesia akan tekstil dan produk tekstil (TPT) berdasarkan data
dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2011 mencapai US$ 8,43 miliar.
Besarnya kebutuhan bahan tekstil di Indonesia mendorong untuk terus
dilakukan pengembangan terhadap kualitas maupun jenis bahan tekstil. Salah
satunya bahan tekstil yang memiliki sifat antibakteri.
Seperti yang telah disampaikan oleh Agus Haryono dan Sri Budi
Harmami dalam penelitiannya pada tahun 2010 bahwa pertumbuhan mikroba
pada bahan tekstil merupakan penyebab utama kerusakan kain. Dengan
demikian diperlukan pengembangan teknologi yang bertujuan sebagai bahan
1
antimikroba pada tekstil. Senyawa yang digunakan sebagai agen antimikroba
harus terbukti efektif, aman, tidak beracun, serta bersifat biodegradable.
Dekade ini pengembangan bahan tekstil lebih terfokus pada produk
nanoteknologi. Nanoteknologi secara umum berhubungan dengan struktur dan
partikel material berdimensi kecil dalam skala nanometer atau biasa disebut
dengan nanopartikel. Pembuatan nanopartikel dapat dilakukan baik melalui
pendekatan top-down maupun bottom-up. Top-down artinya bahwa pembuatan
partikel nano dimulai dari material bentuk bulk kemudian dilakukan
penghancuran hingga dihasilkan partikel tersebut dalam dimensi nanometer.
Adapun bottom-up diartikan bahwa partikel nano terbentuk dari hasil
penyusunan atom demi atom sehingga terbentuk struktur berukuran nanometer
sebagaimana yang dikehendaki. Salah satu contoh nanopartikel adalah
nanopartikel perak (Wahyudi dan Rismayani , 2008).
Material dalam ukuran nano memiliki sifat kimia dan sifat fisik yang jauh
berbeda dari material dalam ukuran yang lebih besar. Begitu pula dengan
perak, dalam skala nano, partikel perak memiliki sifat fisik, kimia, dan sifat
biologis yang khas. Selain itu, nanopartikel perak juga menunjukkan aktivitas
antibakteri dan memiliki toksisitas yang rendah terhadap sel mamalia (Agus
Haryono dan Sri Budi Harmami, 2010).
Air merupakan tempat yang baik untuk perkembangan berbagai bakteri
patogen. Adanya bakteri menjadi indikasi utama pada kontaminasi air (Jain dan
Pradeep, 2005). Air merupakan salah satu penyebab berkembangnya bakteri,
maka selain menambahkan sifat antibakteri, bahan tekstil juga harus dibuat
agar memiliki sifat antikotor. Seperti dikatakan oleh Wahyudi dan Rismayani
dalam penelitiannya pada tahun 2008, bahwa perkembangan nanoteknonolgi
di bidang tekstil yang cukup pesat telah memunculkan berbagai produk tekstil
yang tidak hanya fashionable tetapi juga memiliki fungsi tertentu seperti
pakaian tahan panas ekstrim (high insulation thermal protective clothing),
tekstil dengan sifat permukaan yang antikotor (self cleaning textile), tekstil
antimikroba yang dapat digunakan dalam dunia medis, dan lain-lain.
2
Sifat antikotor suatu permukaan bahan berkaitan erat dengan sifat
hidrofob dari bahan tersebut. Permukaan suatu bahan dikatakan memiliki sifat
hidrofob jika permukaan tersebut ditetesi air, maka air tersebut tidak terserap
oleh bahan melainkan akan membentuk bulatan-bulatan air pada permukaan
tersebut dan jika permukaan tersebut sedikit dimiringkan maka bulatan air
tersebut akan bergulir dan jatuh. Hal ini terjadi karena adanya efek kombinasi
antara kekasaran permukaan suatu bahan dengan komposisi kimia bahan
tersebut yang menghasilkan efek penghalang yang tidak biasa terhadap
molekul air, sehingga air yang mengenai bahan tersebut hanya akan
membentuk bulatan-bulatan dan akhirnya akan jatuh (Latthe et al., 2012).
Sifat hidrofob suatu bahan dapat diidentifikasi dengan menentukan sudut
kontak. Sudut kontak merupakan sudut yang terbentuk antara bulatan air
dengan bahan pada saat terjadi kontak antara air dengan bahan. Besarnya sudut
kontak yang terbentuk menunjukkan sifat hidrofobisitas dari bahan. Jika sudut
kontak <90o maka permukaan bahan bersifat non-hidrofob atau hidrofil, jika
sudut kontak yang terbentuk 90o-150o maka permukaan bahan memiliki sifat
hidrofob, dan jika sudut kontak yang terbentuk <150o maka permukaan bahan
memiliki sifat hidrofob. Sifat hidrofob dapat diperoleh melalui pelapisan suatu
permukaan dengan senyawa yang memiliki sifat hidrofob seperti senyawa silan
dan turunannya (de Ferri et al, 2013).
Spandex merupakan salah satu jenis serat sintetis berbasis poliuretan
yang sering digunakan dalam pembuatan pakaian antara lain kaos olahraga,
jersey, dan pakaian renang, karena memiliki sifat elastis yang cukup tinggi dan
mudah menyerap keringat. Atas dasar tersebut, maka penggunaan jenis kain
spandex berisiko lebih besar terkena keringat dan air, sehingga menjadi media
yang baik untuk tumbuhnya bakteri. Selain masalah tersebut, masih tingginya
nilai impor Indonesia dan mahalnya harga kain yang memiliki sifat antibakteri
dan antikotor mendorong untuk dilakukan penelitian ini. Penelitian ini
berfokus pada modifikasi dan penyempurnaan kain spandex agar memiliki sifat
antibakteri dan antikotor. Sifat antibakteri diperoleh melalui deposit
3
nanopartikel perak pada serat kain. Adapun sifat antikotor diperoleh dengan
menambahkan senyawa heksadesiltrimetoksisilan (HDTMS).
Penelitian tentang modifikasi bahan tekstil seperti ini memang telah
banyak dilakukan. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Agus Haryono
dan Sri Budi Harmami pada tahun 2010 yang memodifikasi kain katun dengan
mendepositkan nanopartikel perak pada kain untuk memperoleh sifat
antibakteri. Atas dasar itulah maka dilakukan penelitian untuk memodifikasi
kain spandex agar memiliki sifat antibakteri dan antikotor yang baik.
Karakterisasi terhadap kain spandex yang telah dimodifikasi meliputi
analisis gugus fungsi, analisis sudut kontak, dan sifat antibakteri. Analisis
gugus fungsi ditentukan dengan alat spektrofotometer Fourier Transform Infra
Red (FTIR). Analisis sudut kontak ditentukan dengan metode sessile drop atau
tetesan air pada permukaan datar. Adapun untuk analisis sifat antibakteri
ditentukan dengan metode paper disk dengan menggunakan bakteri
Staphylococcus aureus sebagai bakteri gram positif dan Eschericia coli sebagai
bakteri gram negatif.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat
diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Kebutuhan bahan tekstil yang cukup tinggi di Indonesia belum sepenuhnya
tercukupi oleh industri tekstil dalam negeri.
2. Upaya pengembangan teknologi antimikroba pada kain di Indonesia masih
terbatas.
3. Ada berbagai macam pemanfaatan produk nanoteknologi dalam upaya
pengembangan bahan tekstil antimikroba.
4. Pengembangan self cleaning textile dalam pasar bahan tekstil yang semakin
pesat dan kompetitif.
5. Pemanfaatan senyawa yang dapat memberikan efek antikotor dalam bahan
tekstil masih terbatas.
6. Kain spandex lebih berisiko mejadi media pertumbuhan bakteri
4
7. Pengembangan bahan kain spandex yang bersifat antimikroba dan antikotor
di Indonesia masih sedikit.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diperoleh, pembatasan masalah
untuk penelitian ini adalah:
1. Jenis kain yang digunakan adalah kain spandex yang masih murni belum
mendapatkan perlakuan apapun.
2. Upaya meningkatkan sifat antibakteri dan anti kotor pada kain dilakukan
dengan menambahkan nanopartikel perak dan senyawa HDTMS.
3. Teknik sintesis nanopartikel perak yang digunakan adalah reduksi dengan
reduktor trisodium sitrat 10%.
4. Karakterisasi nanopartikel perak dalam penelitian ini menggunakan analisis
UV-VIS.
5. Karakterisasi serat kain yang terdeposit nanopartikel perak adalah
mengetahui gugus fungsi, mengukur sudut kontak dan aktivitas antibakteri.
6. Mikroorgananisme prokariot yang digunakan pada analisis aktivitas
antibakteri adalah Staphylococcus aureus sebagai bakteri gram positif dan
Eschericia coli sebagai bakteri gram negatif.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, permasalahan dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik nanopartikel perak yang dihasilkan dari preparasi
menggunakan metode reduksi kimia?
2. Bagaimana perubahan gugus fungsi pada kain spandex sebelum dan sesudah
modifikasi?
3. Bagaimana perbedaan sudut kontak pada kain spandex tanpa dimodifikasi,
kain spandex dengan penambahan HDTMS, kain spandex dengan
penambahan nanopartikel perak, dan kain spandex dengan penambahan
nanopartikel perak dan HDTMS?
5
4. Apakah ada perbedaan yang signifikan dalam hal aktivitas antibakteri dari
kain spandex tanpa dimodifikasi, kain spandex dengan penambahan
HDTMS, kain spandex dengan penambahan nanopartikel perak, dan kain
spandex dengan penambahan nanopartikel perak dan HDTMS terhadap
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus?
5. Apakah ada perbedaan yang signifikan dalam hal aktivitas antibakteri dari
kain spandex tanpa dimodifikasi, kain spandex dengan penambahan
HDTMS, kain spandex dengan penambahan nanopartikel perak, dan kain
spandex dengan penambahan nanopartikel perak dan HDTMS terhadap
pertumbuhan bakteri Eschericia coli?
6. Apakah ada perbedaan yang signifikan dalam hal aktivitas antibakteri
sampel kain spandex terhadap jenis bakteri yang berbeda yaitu bakteri
Staphylococcus aureus dan Eschericia coli?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui
karakteristik
nanopartikel
perak
dari
hasil
preparasi
menggunakan metode reduksi kimia.
2. Mengetahui perubahan gugus fungsi kain spandex sebelum dan sesudah
modifikasi.
3. Mengetahui perbedaan sudut kontak pada kain spandex tanpa dimodifikasi,
kain spandex dengan penambahan HDTMS, kain spandex dengan
penambahan nanopartikel perak, dan kain spandex dengan penambahan
nanopartikel perak dan HDTMS.
4. Mengetahui sifat antibakteri pada kain spandex tanpa dimodifikasi, kain
spandex dengan penambahan HDTMS, kain spandex dengan penambahan
nanopartikel perak, dan kain spandex dengan penambahan nanopartikel
perak dan HDTMS terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
5. Mengetahui sifat antibakteri pada kain spandex tanpa dimodifikasi, kain
spandex dengan penambahan HDTMS, kain spandex dengan penambahan
nanopartikel perak, dan kain spandex dengan penambahan nanopartikel
perak dan HDTMS Eschericia coli.
6
6. Mengetahui perbedaan yang signifikan dalam hal aktivitas antibakteri
sampel kain spandex terhadap jenis bakteri yang berbeda yaitu bakteri
Staphylococcus aureus dan Eschericia coli.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan harapan dapat memberi nilai guna antara
lain:
1.
Memberikan informasi tentang karakteristik nanopartikel perak hasil
preparasi menggunakan metode reduksi kimia.
2.
Memberikan informasi tentang perubahan gugus fungsi pada kain spandex
sebelum dan sesudah modifikasi.
3.
Memberikan informasi tentang perbedaan sudut kontak antara spandex
murni, spandex terdeposit nanopartikel perak, spandex dengan tambahan
HDTMS, dan spandex terdeposit nanopartikel perak dan HDTMS.
4.
Memberikan informasi tentang aktivitas antibakteri spandex yang
terdeposit
nanopartikel
perak
terhadap
Staphylococcus aureus dan Eschericia coli.
7
pertumbuhan
bakteri
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori
1. Kain Spandex
Spandex (Lycra) merupakan serat sintetis yang telah banyak dikenal
di masyarakat dan digunakan sebagai bahan dalam pembuatan pakaian
terutama pakaian olahraga. Spandex pertama kali diperkenalkan oleh
peneliti DuPont Company bernama Joseph C. Shivers pada tahun 1959
dengan nama dagang Lycra setelah hampir satu dekade melakukan
penelitian (Singha, 2012). Spandex diciptakan karena adanya kebutuhan
bahan tekstil yang elastis seperti karet namun tetap nyaman saat dipakai.
Elastisitas spandex menyebabkan bahan kain ini dapat ditarik hingga
mencapai 500% dari panjang mula-mula. Sifat spandex yang elastis
diperoleh dari hasil pencampuran antara poliuretan sebagai komposisi
utama yang jumlahnya sekitar ±80% dengan serat yang lain baik itu serat
alami (katun, wol, dan sutera) maupun serat sintetis (poliester, nylon, dan
lain-lain) (Mourad et al, 2012).
Spandex ditinjau dari struktur molekulnya, terdiri dari dua bagian
utama. Bagian pertama adalah bagian yang bersifat rubbery (elastis) yaitu
makro-glikol yang merupakan polimer rantai panjang dan berasal dari
monomer dengan gugus hidroksil di kedua ujungnya seperti poliester,
polieter, polikarbonat atau kombinasi dari polimer tersebut. Adapun bagian
yang kedua adalah bagian yang bersifat rigid yaitu polimer di-isosianat yang
merupakan polimer rantai pendek dan memiliki gugus isosianat (-NCO) di
kedua ujungnya dan secara umum bahan yang digunakan adalah poliuretan
(Singha, 2012). Struktur molekul dari spandex secara umum dapat dilihat
pada Gambar 1.
8
Rigid Segment
O
*
O
CH2
CH2
O
C
O
N
N
CH2
H
H
C
O
N
N
H
H
C
O
N
CH2
H
N
C
O
*
H
Rubbery Segment
Gambar 1. Struktur Molekul Spandex
2. Nanopartikel Perak
Perkembangan teknologi nano tidak terlepas dari riset mengenai
material nano. Dalam pengembangannya, material nano diklasifikasikan
menjadi tiga kategori, yaitu: material nano berdimensi nol (nano particle),
material nano berdimensi satu (nanowire), dan material nano berdimensi
dua (thin films). Pengembangan metode sintesis nanopartikel merupakan
salah satu bidang yang menarik minat banyak peneliti. Nanopartikel dapat
terjadi secara alamiah ataupun melalui proses sintesis oleh manusia. Sintesis
nanopartikel bermakna pembuatan nanopartikel dengan ukuran yang kurang
dari 100 nm dan sekaligus mengubah sifat atau fungsinya.
Secara garis besar sintesis nanopartikel dapat dilakukan dengan
metode top down (fisika) dan metode bottom up (kimia). Metode fisika yaitu
dengan cara memecah padatan logam menjadi partikel-partikel kecil
berukuran nano sedangkan metode kimia dilakukan dengan cara
membentuk partikel-partikel nano dari prekursor molekular atau ionik.
Pembentukan nanopartikel dapat dilakukan dengan beberapa teknik yaitu
antara lain dengan cara reduksi kimia, fotokimia, dan sonokimia.
Pembentukan nanopartikel dengan keteraturan yang tinggi dapat
menghasilkan pola yang lebih seragam dan ukuran yang yang seragam pula.
Kebanyakan penelitian telah mampu menghasilkan nanopartikel yang lebih
bagus dengan menggunakan metode-metode yang umum digunakan,
seperti: kopresipitasi dan sol-gel.
Salah satu nanopartikel yang banyak dipelajari adalah nanopartikel
perak. Partikel perak, pada skala nano memiliki sifat fisik, kimia , maupun
biologis yang khas dan berbeda dengan partikel dalam bentuk bulk. Sifat
khas nanopartikel perak yang banyak menjadi fokus perhatian adalah
9
aktivitas antibakteri. Kemampuan antibakteri ini sering digunakan untuk
memodifikasi suatu bahan agar memiliki sifat antibakteri, salah satunya
adalah pada modifikasi serat tekstil (Agus Haryono dan Sri Budi Harmami
2010).
Pembuatan nanopartikel perak dapat dilakukan melalui beberapa
metode, salah satunya adalah dengan metode kimia melalui proses reduksi
menurut Yang Lee dan Meisel yang telah dilakukan oleh Agus Haryono dan
Sri Budi Harmami (2010). Metode ini dilakukan dengan cara mereduksi
larutan perak nitrat dengan adanya trinatrium sitrat. Nanopartikel perak
mempunyai karakteristik yang mudah beraglomerasi antar sesamanya dan
teroksidasi sehingga pada umumnya pada proses pembentukan nanopartikel
perak disertakan juga senyawa lain sebagai penstabil (Ristian et al, 2014).
Beberapa penstabil menurut Agus Haryono dan Sri Budi Harmami (2010)
adalah bahan polimer seperti polivinil pirolidon (PVP), polietilen glikol
(PEG), dan beberapa surfaktan. Reaksi yang terjadi pada proses reduksi
kimia perak nitrat adalah sebagai berikut:
4Ag+(aq) + Na3C6H5O7 (aq) + 2H2O(l)  4Ag (s)+ C6H5O7H3(aq) +
3Na+(aq) + H+(aq) + O2(g)
3. Antibakteri
Antibakteri adalah suatu zat yang mampu menghambat pertumbuhan
bakteri. Berdasarkan cara kerjanya, antibakteri dapat dibedakan menjadi
bakteriostatik dan bakterisida. Antibakteri bakteriostatik bekerja dengan
menghambat pertumbuhan populasi bakteri tanpa mematikannya. Adapun
antibakteri bakterisida bekerja dengan cara membunuh bakteri secara
langsung. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai zat antibakteri
adalah nanopartikel perak (Anshari et al, 2011).
Penggunaan nanopartikel perak sebagai zat antibakteri telah banyak
dilakukan, salah satunya sebagai bahan untuk memodifikasi tekstil agar
memiliki sifat antibakteri seperti yang telah dilakukan oleh Agus Haryono
dan Sri Budi Harmami (2010) dan Anshari et al (2011).
10
Menurut Prabhu dan Pouluse (2012) nanopartikel perak dapat
memiliki aktivitas antibakteri karena nanopartikel memiliki luas permukaan
yang besar. Saat nanopartikel perak berinteraksi dengan sel bakteri, partikel
perak akan berubah menjadi ion perak yang dapat menghentikan beberapa
fungsi utama dalam sel dan merusak sel itu sendiri. Perak pada dasarnya
bersifat asam lemah, sedangkan DNA bakteri sebagian besar terbentuk dari
sulfur dan fosfor yang merupakan basa lemah. Dengan demikian perak akan
bereaksi dengan DNA bakteri yang dapat menyebabkan terganggunya
fungsi dari DNA tersebut, salah satunya adalah fungsi replikasi bakteri.
Menurut Hilman Anshari (2011), bahwa semakin besar ukuran
partikel perak maka aktivitas antibakteri menjadi semakin menurun.
Selanjutnya menurut Mulongo et al. (2011) bahwa semakin besar jumlah
nanopartikel yang terdeposit maka semakin besar pula aktivitas antibakteri
seperti ditunjukkan Tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh Konsentrasi Koloid Nanopartikel Perak terhadap Koloni
Bakteri Gram Negatif (E. coli)
Mi (CFU/mL)
η (%)
Sampel
15 menit
5 jam
24 jam
2,25 × 105
2,29 × 107
2,31 × 109
10 ppm
2,90 × 104
6,20 × 102
0
20 ppm
4,65 × 103
0
50 ppm
0
0
Sampel
kontrol
15
5 jam
24 jam
87,11
99,99
100
0
87,93
100
100
0
100
100
100
menit
4. Sifat Antikotor atau Hidrofob
Permukaan suatu bahan yang bersifat hidrofob adalah suatu
permukaan yang apabila ditetesi dengan air, maka tetesan air tersebut akan
membentuk bulatan yang hampir sempurna di atas permukaan bahan
tersebut. Jika permukaan tersebut sedikit dimiringkan maka bulatan air akan
bergulir jatuh. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu efek penghalang yang
11
tidak biasa terhadap molekul air. Efek penghalang ini muncul karena adanya
kombinasi antara kekerasan permukaan suatu bahan dengan komposisi
kimia bahan tersebut. Sifat hidrofob terinspirasi dari kemampuan biologis
beberapa makhluk hidup seperti daun lotus, kaki cicak, dan makhluk hidup
lain yang secara alami memiliki kemampuan hidrofob (Latthe et al, 2012).
Terdapat banyak metode yang digunakan untuk membuat suatu
permukaan bahan agar meiliki sifat hidrofob. Salah satu metode yang sering
digunakan yaitu metode coating. Metode ini dilakukan dengan melakukan
pelapisan terhadap suatu permukaan bahan dengan menggunakan bahan
yang memiliki sifat hidrofob seperti silika yaitu senyawa-senyawa silan dan
turunannya (Setyawan et al, 2012). Senyawa silan dan turunannya dapat
digunakan sebagai pelapis sebab senyawa silan memiliki gugus alkoksida
dan rantai alkil yang panjang. Semakin panjang rantai alkil suatu senyawa
silan maka semakin baik sifat hidrofob yang diperoleh (de Ferri et al, 2013).
Sifat hidrofob suatu bahan dapat diidentifikasi dengan menggunakan
pengujian sudut kontak air. Sudut kontak air adalah sudut yang terbentuk
antara bulatan air dengan permukaan bahan. Permukaan bahan dikatakan
bersifat hidrofob jika sudut kontak yang terbentuk lebih dari 90o. Jika sudut
yang terbentuk kurang dari 90o maka permukaan tersebut memiliki sifat
non-hidrofob atau hidrofilik (de Ferri et al, 2013).
5. Senyawa HDTMS
Terdapat banyak senyawa yang dapat digunakan sebagai bahan
pelapis untuk membuat sifat hidrofob. Salah satu senyawa yang sering
digunakan adalah senyawa silan dan turunannya. Heksadesil trimetoksisilan
(HDTMS) merupakan senyawa silan yang dapat memberikan sifat hidrofob
yang baik. Hal ini disebabkan karena HDTMS memiliki gugus alkil yang
panjang. Seperti dikatakan de Ferri et al (2013) bahwa senyawa silan yang
memberikan sifat hidrofob paling baik adalah senyawa silan yang memiliki
gugus alkoksida dan gugus alkil yang panjang. Struktur molekul dari
senyawa HDTMS dapat dilihat pada Gambar 2.
12
OCH3
CH3(CH2)14CH2
Si
OCH3
OCH3
Gambar 2. Struktur Molekul Senyawa HDTMS
6. Bakteri
Istilah bakteri berasal dari bahasa Yunani “bakterion” yang berarti
tongkat atau batang. Bakteri sebagai sel hidup memiliki informasi DNA,
namun DNA tersebut tidak berada pada satu lokasi khusus (nukleus). DNA
pada bakteri disebut sebagai nukleoid yang memiliki bentuk sirkuler dan
panjang, tidak memiliki intron (daerah sambungan DNA) dan hanya
memiliki ekson (nukleotida yang tetap) (Adams dan Moss, 1995).
Menurut Adams dan Moss (1995), terdapat beberapa jenis dan
ukuran bakteri, antara lain yaitu:
a. Basil (basillus), yang memiliki bentuk seperti tongkat pendek sedikit
silindris, dan meliputi sebagian besar jenis bakteri. Bakteri jenis ini
biasanya memiliki ukuran lebar 0,3-1,0 μm dan panjang 1,5-8 μm.
b. Coccus (bulat), yang memiliki bentuk seperti bola-bola kecil. Bakteri
bentuk coccus biasanya ditemui secara berkelompok. Bakteri bentuk
coccus yang mengelompok berempat disebut tetracoccus, bergerombol
seperti anggur disebut staphylococcus dan yang berkelompok seperti
kubus disebut sarcina. Ukuran tengah bakteri coccus pada umunya
sekitar 1 μm.
c. Spiril (Spiral), yang memiliki bentuk panjang berkelok-kelok. Lebar
bakteri spiril antara 0,5-1 μm dengan panjang 2-5 μm dan ada yang
mencapai panjang 10 μm. Variasi dari bentuk spiril adalah:
1) Bentuk vibrio (koma), berbentuk seperti batang bengkok atau
tanda koma. Ukuran bakteri vibrio adalah lebar 0,5 μm dan
panjang mencapai 3 μm.
13
2) Bentuk spirocheta (spirochet), berbentuk seperti batang
berbelit-belit panjang dan banyak lilitannya. Bakteri spirocheta
memiliki lebar 0,2-0,7 μm dan panjang 5-10 μm.
Kain merupakan salah satu substrat yang baik sebagai media
pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri apabila berada pada kondisi
yang sesuai (kelembaban, nutrien, dan temperatur). Koloni bakteri pada kain
dapat menyebabkan timbulnya bau tak sedap akibat dari penguraian substrat
kain oleh bakteri. Penguraian kain oleh bakteri menyebabkan kualitas kain
menurun dan menjadi mudah rusak. Selain itu, adanya bakteri pada kain
dapat menyebabkan terjadinya infeksi apabila terjadi kontak antara kulit
dengan kain yang mengandung bakteri (Isabel C. Gouveia, 2010).
7. Escherichia coli
Escherichia coli merupakan bakteri yang diberi nama sesuai
penemunya yaitu Theodor Escherich. Escherichia coli juga memiliki nama
lain Bacterium coli commune sesuai pemberian Massini pada tahun 1907
(Melliawati, 2009).
Klasifikasi bakteri Escherichia coli adalah:
Kingdom
: Bacteria
Phylum
: Proteobacteria
Class
: Gamma proteobacteria
Order
: Enterobacteriales
Family
: Enterobacteri aceae
Genus
: Escherichia
Spesies
: Escherichia coli
Bakteri Escherichia coli berbentuk bulat cenderung ke batang
panjang dengan ukuran 0,5 x 1-3μm, memiliki volume sekitar 0,6-0,7 μm3,
bergerak menggunakan flagella peritrik, dan tidak membentuk spora
(Melliawati, 2009). Bakteri ini merupakan bakteri gram negatif, berupa flora
normal yang terdapat di dalam saluran pencernan namun juga dapat
menyebabkan penyakit pada manusia. Bakteri ini dapat tumbuh pada suhu
optimum 30-370C (Anshari et al, 2011).
14
Escherichia coli dapat menjadi indikator alami pada analisis air yang
tercemar tinja. Namun hal ini tidak dapat dijadikan sebagai acuan karena
pemindahan bakteri ini tidak selalu melalui air. Penyebaran pasif dapat
terjadi melalui makanan dan minuman. Peranan Escherichia coli dalam
kehidupan antara lain sebagai bakteri yang menghuni usus besar,
menghasilkan kolisin untuk melindungi pencernaan dari bakteri patogenik.
Jika bakteri Escherichia coli berpindah habitat dari normal ke bagian lain
dalam inang maka dapat berubah menjadi patogen, inilah yang
menyebabkan penyakit. Misalnya jika bakteri Escherichia coli masuk ke
dalam saluran kandung kemih kelamin dapat menyebabkan sistitis atau
peradangan selaput lendir (Melliawati, 2009).
8. Staphylococcus aureus
Bakteri Staphylococcus aureus merupakan penyebab utama
penyakit kulit pada manusia. Bakteri ini merupakan bakteri gram positif
yang paling banyak ditemukan. Klasifikasi Bakteri Staphylococcus aureus
adalah sebagai berikut:
Domain
: Bacteria
Kingdom
: Eubacteria
Phylum
: Firmicutes
Class
: Bacili
Order
: Bacillales
Family
: Staphylococcaceae
Genus
: Staphylococcus
Spesies
: Staphylococcus aureus
Bakteri Staphylococcus aureus dapat tumbuh optimum pada suhu
yang sama seperti bakteri E. Coli yaitu 30-370C, pada pH 7,0-7,5 dan dalam
NaCl 15% (Anshari et al, 2011). Bakteri tersebut memiliki bentuk seperti
bola dengan diameter sekitar 1 μm yang tersusun membentuk seperti rantai
(3-4 sel), berpasangan, tersusun empat-empat atau dalam bentuk tidak
teratur seperti buah anggur. Koloni dari Staphylococcus aureus berwarna
15
abu-abu sampai kuning emas tua, membentuk pigmen lipochrom yang
menjadikan koloni berwarna kuning. Staphylococcus aureus mengandung
substansi penting di dalam struktur dinding sel yaitu polisakarida dan
protein yang bersifat antigenik (Dewi, 2013).
Membran plasma sel Staphylococcus aureus dikelilingi dinding sel
tebal yang disebut peptidoglikan dengan persentase 90% dan sisanya berupa
asam teikhoat. Nanopartikel perak lebih mudah melakukan difusi dengan
bakteri jenis ini karena sebagian besar tersusun oleh plasma tunggal
sehingga hambatan lebih kecil (Anshari et al, 2011). Bakteri Staphylococcus
aureus bersifat anaerob fakultatif sehingga dapat hidup di udara yang hanya
mengandung hidrogen. Bakteri penyebab pernanahan ini mampu bertahan
pada fenol 1% selama 15 menit dan pada suhu 600C selama 30 menit . Selain
dapat menyebabkan infeksi pada manusia, bakteri Staphylococcus aureus
juga menjadi penyebab utama mastitis pada sapi perah dan kambing.
Staphylococcus aureus yang terdapat dalam susu segar dan produk pangan
menyebabkan toxic shock syndrome sebagai akibat dari keracunan pangan
(Purnomo et al, 2006).
9. Karakterisasi
a.
ATR-FTIR
Fourier Transform Infrared (FTIR) merupakan teknik analisis
yang digunakan untuk karakterisasi gugus fungsi yang terdapat dalam
suatu sampel (Li et al,. 2010). Kelebihan FTIR adalah ukuran sampel
yang digunakan lebih kecil, perkembangan spektrum yang cukup cepat
karena instrumen memiliki kemampuan untuk menyimpan dan
memanipulasi spektrum (Stevens, 2007).
Gugus fungsi dapat terdeteksi oleh FTIR dengan memunculkan
peak-peak pada frekuensi tertentu dalam spektra inframerah. Daerah
spektra infra merah dapat dibagi menjadi 2 (Kusumastuti, 2011), yaitu
1) Daerah frekuensi gugus fungsional
16
Terletak pada daerah radiasi 4000–1400 cm-1. Pita-pita
absorpsi pada daerah ini utamanya disebabkan oleh vibrasi dua
atom, sedangkan frekuensinya karakteristik terhadap massa atom
yang berikatan dan konstanta gaya ikatan.
2) Daerah sidik jari (fingerprint)
Yaitu daerah yang terletak pada 1400–400 cm-1. Pita-pita
absorpsi pada daerah ini berhubungan dengan vibrasi molekul
secara keseluruhan. Setiap atom dalam molekul akan saling
mempengaruhi sehingga dihasilkan pita-pita absorpsi yang khas
untuk setiap molekul.
FTIR dangat bermanfaat dalam meneliti paduan-paduan
polimer (Stevens, 2001). Hasil karakterisasi terhadap poliuretan
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rohaeti et al (2003), dapat
dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Data Puncak Serapan FTIR Poliuretan
b.
Bilangan Gelombang (cm-1)
Jenis Gugus Fungsi
3330
Ulur N-H
~1730
Gugus Uretan
1720
Ulur C=O bebas
1700
Ulur C=O berikatan hidrogen
1541
Deformasi N-H
1400
Ulur C-N-C
~1110
Ulur C-O
Spektrum UV-Vis
Spektroskopi serapan sinar UV-Vis dipakai untuk pengukuran
kuantitatif kromfor-kromofor yang mengalami transisi (Stevens. 2007).
Hasil sintesis nanopartikel perak dapat menghasilkan koloid dengan
warna yang berbeda-beda. Nanopartikel dapat berwarna kuning,
orange, violet dan abu-abu. Perbedaan warna ini disebabkan oleh
17
ukuran partikel perak yang terbentuk. Dengan demikian tiap-tiap warna
koloid perak akan memberikan serapan pada panjang gelombang yang
berbeda-beda pula (Solomon, 2007). Panjang gelombang yang
dihasilkan pada spektrum UV-VIS berdasarkan ukuran partikel perak
dtunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Panjang Gelombang dan Ukuran Partikel Perak pada
Spektrum UV-VIS
Panjang Gelombang
Ukuran Partikel
10-14 nm
395-405 nm
c.
35-50 nm
420 nm
60-80 nm
438 nm
Aktivitas Antibakteri
Pada prinsipnya, terdapat tiga metode yang dapat dilakukan
ntuk melakukan uji aktvitas antibakteri yaitu Tube dilution test, Agar
plate dilution test, dan Disc diffusion. Uji aktivitas antibakteri pada kain
spandex yang telah terdeposit nanopartikel perak dan HDTMS dilakukan
dengan menggunakan metode Disc Diffusion dengan bakteri Escherichia
coli ATCC 25922 sebagai gram negatif dan Staphylococcus aureus
ATCC 25923 sebagai gram positif. Metode Disc diffusion dilakukan
dengan cara mengukur zona jernih (clear zone) yang terbentuk. Diameter
zona
bening
diukur
sebagai
indikator
adanya
penghambatan
pertumbukan bakteri oleh nanopartikel perak sebagai bahan antibakteri
(Sondi dan Sondi, 2004).
Aktivitas antibakteri pada poliuretan terdeposit nanopartikel
perak terhadap koloni bakteri E. coli ditunjukkan pada Tabel 4.
18
Tabel 4. Aktivitas Antibakteri Poliuretan Terdeposit Nanopartikel
Perak terhadap Bakteri E. coli
Jumlah koloni
Sampel
(CFU/mL) bakteri E.
Sterilisasi (%)
coli
Kontrol
195.000
0
1 kali pengenceran
17.000
91
100 kali pengenceran
66.000
66,7
76.500
60,7
10.000 kali
pengenceran
d.
Sudut Kontak
Pengukuran sudut kontak dilakukan dengan metode sessile drop
dengan perangkat video perekam sudut kontak. Sudut kontak ini
ditentukan secara langsung menggunakan perangkat yang dinamakan
goniometer. Metode ini juga dapat memberikan informasi tentang
tegangan permukaan dari polimer. Tiap-tiap pengukuran sampel
dilakukan dengan meneteskan sejumlah tertentu air ke permukaan
spandex yang telah terdeposit nanopartikel perak dan dilapisi HDTMS
dan juga spandex murni sebagai pembanding. Pengukuran ini dilakukan
secara berulang. Sifat anti air akan terlihat bila suatu material memiliki
tegangan permukaan kritisnya lebih kecil dibandingkan tegangan
permukaan kritis air sebesar 72 dyne/cm (Wahyudi dan Rismayani,
2008).
Tetesan zat cair pada suatu permukaan akan menghasilkan gaya
adhesi antara zat cair dengan permukaan dan juga gaya kohesi pada zat
cair itu sendiri. Kesetimbangan antara kedua gaya itulah yang akan
menghasilkan sudut kontak. Kesetimbangan ini dijabarkan dalam
persamaan Young yang merupakan hubungan antara sudut kontak
dengan energi bebas permukaan dalam suatu sistem yang mengandung
zat padat (S), zat cair (L), dan gas (V).
19
γSV – γSL = γLV cos θ
γSV merupakan energi bebas permukaan zat padat, γSL
merupakan energi bebas permukaan zat cair (tegangan permukaan), dan
γLV adalah energi antarpermukaan antara zat padat dan zat cair. Apabila
energi bebas permukaan zat padat jauh lebih besar daripada tegangan
permukaan zat cair, maka gaya adhesi antara kedua zat juga sangat besar
dan tetesan air akan sepenuhnya membasahi permukaan yang berarti
sudut kontak θ akan bernilai 0o. Apabila energi permukaan zat padat
cukup besar namun energi antar permukaannya sedikit lebih rendah
daripada tegangan permukaan zat cair, maka tetesan air akan sedikit
membasahi permukaan yang berarti sudut kontak θ akan bernilai 0o < θ
< 90o. Apabila energi permukaan dari zat padat kecil, maka tetesan zat
cair tidak terlalu membasahi permukaan dan akan menghasilkan sudut
kontak yang besar yaitu >90o (Lamour dan Hamraoui, 2010).
B. Kerangka Berpikir
Sandang merupakan salah satu kebutuhan utama masyarakat. Di
Indonesia sendiri kebutuhan akan sandang semakin meningkat setiap tahunnya.
Berbagai bahan tekstil telah banyak digunakan sebagai bahan pembuat
sandang. Salah satunya adalah bahan tekstil yang berbasis poliuretan atau
dalam dunia fashion biasa disebut kain spandex atau lycra. Indonesia yang
merupakan negara tropis, memiliki suhu udara yang cukup tinggi. Hal ini
mengakibatkan masyarakat Indonesia mudah berkeringat. Dengan adanya
keringat, pakaian akan mudah menjadi bau yang diakibatkan oleh adanya
bakteri. Dengan demikian diperlukan pengembangan untuk membuat bahan
tekstil yang memiliki sifat antibakteri.
Nanopartikel perak sejak lama telah diketahui memiliki aktivitas
antibakteri yang efektif. Dalam skala nano, partikel perak memiliki sifat fisika,
kimia, dan biologi yang khas, berbeda dengan perak dalam ukuran yang lebih
besar. Nanopartikel perak dapat diaplikasikan untuk memodifikasi bahan
spandex dengan sifat antibakteri dan antikotor.
20
Penelitian ini diawali dengan membuat koloid nanopartikel perak
dengan metode reduksi menggunakan larutan perak nitrat sebagai prekursor,
trinatrium sitrat, dan polivinil alkohol sebagai stabilisator nanopartikel perak.
Koloid nanoprtikel perak kemudian dikarakterisasi dengan menggunakan UVVIS untuk mengetahui keberhasilan terbentuknya nanopartikel perak. Koloid
nanopartikel perak kemudian didepositkan pada bahan spandex.
Selain sifat antibakteri, dilakukan juga modifikasi bahan tekstil agar
memiliki sifat antikotor (hidrofob). Bahan tekstil yang bersifat hidrofob dibuat
dengan menambahkan senyawa HDTMS. Bahan tekstil yang telah dideposit
dengan nanopartikel perak selanjutnya dilapisi dengan senyawa HDTMS.
Bahan tekstil yang telah dideposit dengan nanopartikel perak dan HDTMS
kemudian dikarakterisasi yang meliputi gugus fungsi, uji sudut kontak, dan uji
aktivitas antibakteri dengan menggunakan bakteri E. coli dan S. aureus.
21
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah bahan spandex yang dideposit
dengan nanopartikel perak dan dilapisi dengan heksadesiltrimetoksisilan
(HDTMS)
2. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah karakteristik nanopartikel perak,
aktivitas antibakteri dan antikotor dari bahan spandex tanpa deposit
nanopartikel perak, bahan tekstil spandex terdeposit nanopartikel perak,
bahan tekstil spandex terdeposit nanopartikel perak yang dilanjutkan dengan
penambahan HDTMS, serta bahan spandex dengan penambahan HDTMS.
B. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas
Variabel bebas yang digunakan pada penelitian ini jenis kain dan
jenis bakteri. Jenis kain yang digunakan adalah kain spandex tanpa
modifikasi (selanjutnya disebut S.0), kain spandex terdeposit nanopartikel
perak (selanjutnya disebut S.1), kain spandex dengan penambahan HDTMS
(selanjutnya disebut S.2), kain spandex terdeposit nanopartikel perak
dengan
penambahan
HDTMS
(selanjutnya
disebut
S.3).
Jenis
mikroorganisme yang digunakan meliputi bakteri Eschericia coli (gram
negatif) dan Staphylococcus aureus (gram positif).
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah aktivitas antibakteri dan
sudut kontak dari keempat jenis kain.
22
3. Variabel Terkontrol
Variabel terkontrol pada penelitian ini adalah temperatur dan pH
inkubasi, temperatur reduksi AgNO3, konsentrasi AgNO3 yang digunakan,
bahan pereduksi AgNO3, konsentrasi senyawa HDTMS yang digunakan,
dan media pertumbuhan bakteri.
C. Instrumen Penelitian
1. Alat
a. ATR-FTIR Perkin Elmer
k. Pembakar spiritus
Spectrum Version 10.4.00
l. Termometer
b. Spektrofotometer UV-Vis
m. Kondensor
Shimadzu UV-2400 PC
n. Labu leher tiga
Series
o. Erlenmeyer
c. Oven
p. Tabung reaksi
d. Shaker
q. Labu ukur
e. Hot plate-Magnetic stirrer
r. Pipet ukur
f.
s. Cawan petri
Neraca analitik
g. Neraca analitik
t. Batang pegaduk
h. Regulator gas nitrogen
i.
Jangka sorong
j.
Jarum ose
2. Bahan-Bahan
a. Kain Spandex
b. Perak nitrat padatan (AgNO3)
c. Natrium sitrat (Na3C6H5O7)
d. Gas nitrogen
e. Aquadest
f. Heksadesiltrimetoksisilan (HDTMS) 4% dalam etanol
g. Spiritus
h. Polivinil alkohol (PVA)
23
i. Nutrien Agar (NA)
j. Nutrient Broth (NB)
k. Alkohol 70%
l. Bakteri Escherisia coli ATCC 35218
m. Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923
D. Tahapan Penelitian
1. Preparasi Nanopartikel Perak dengan Metode Reduksi Larutan
AgNO3
a. Proses Pembuatan Larutan PVA 0,5%
Larutan PVA 0,5% dibuat dengan cara melarutkan 0,5 gram padatan
PVA dalam 100 mL aquades pada suhu ±700C dalam Erlenmeyer.
Campuran diaduk hingga semua PVA larut semua.
b. Proses Pembuatan Larutan Natrium Sitrat (Na3C6H5O7) 10%
Larutan Na3C6H5O7 10% dibuat dengan cara melarutkan
sejumlah 10 gram Na3C6H5O7 pada labu ukur 100 mL. Campuran
digojok hingga semua padatan larut sempurna.
c. Proses Pembuatan Larutan AgNO3 10-3M
Larutan AgNO3 10-3M dibuat dengan cara melarutkan padatan
AgNO3 sebanyak 0,0425 gram dalam 250 mL aquades dengan
menggunakan labu ukur. Campuran kemudian digojok hingga semua
padatan AgNO3 larut.
d. Proses Pembuatan Nanopartikel Perak
Proses diawali dengan mencampurkan 250 mL larutan AgNO3
10-3 M dengan 100 mL PVA 0,5% ke dalam labu leher tiga dan
memanaskan hingga mendidih atau pada suhu ±90oC. Mengaduk
larutan dengan kuat yang kemudian diikuti dengan menambahkan 20
mL larutan natrium sitrat 10% tetes demi tetes. Kemudian mengalirkan
gas nitrogen sambil pemanasan dan pengadukan terus dilakukan hingga
terjadi perubahan warna. Setelah terjadi perubahan warna, pemanasan,
dan aliran gas nitrogen dihentikan. Pengadukan terus dilakukan hingga
24
suhu
kamar.
Nanopartikel
perak
yang
diperoleh
kemudian
dikarakterisasi dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
2. Deposit Nanopartikel Perak pada Kain Spandex
Kain Spandex yang akan dideposit nanopartikel perak dicuci,
disterilisasi menggunakan etanol kemudian dikeringkan sebelum dipakai.
Sampel kain spandex yang digunakan berukuran 10 cm x 10 cm. Proses
deposit nanopartikel perak pada kain spandex dilakukan dengan metode
pencelupan. Merendam sampel dalam koloid nanopartikel perak pada
Erlenmeyer 50 mL. Campuran tersebut kemudian di-shake dengan
kecepatan 150 rpm selama 24 jam. Sampel selanjutnya dikeringkan pada
suhu kamar.
3. Pelapisan Permukaan Kain Spandex dengan Senyawa HDTMS
a. Proses Pembuatan Larutan Etanol-HDTMS 4%
Larutan etanol-HDTMS 4% dibuat dengan mencampurkan 40
mL senyawa HDTMS ke dalam 960 mL etanol. Campuran kemudian
diaduk hingga tercampur sempurna.
b. Proses Pelapisan Kain Spandex dengan Senyawa HDTMS
Pelapisan kain spandex dengan senyawa HDTMS dilakukan
dengan cara merendam kain dalam larutan etanol-HDTMS 4%. Adapun
kain spandex yang dilapisi yaitu kain spandex tanpa deposit
nanopartikel perak dan kain spandex dengan deposit nanopartikel
perak. Kain direndam di dalam Erlenmeyer hingga semua bagian kain
terendam dan di-shake dengan kecepatan 150 rpm selama 2 jam. Kain
spandex yang telah dilapisi HDTMS, kemudian dikeringkan pada suhu
ruang selama 24 jam.
4. Uji Sudut Kontak
Sifat antikotor (hidrofob) dari sampel diukur menggunakan
pengukuran besar sudut kontak (θ) antara cairan dan permukaan sampel.
Sampel kain spandex yang telah terlapisi oeh HDTMS ditempatkan di atas
permukaan meja atau papan yang datar. Kemudian air diteteskan dengan
25
menggunakan pipet tetes dari ketinggian 1 cm dari sampel dengan volume
sebanyak satu tetes. Setelah beberapa saat air diteteskan, dilakukan
pemotretan pada bulatan air yang terbentuk di permukaan kain spandex.
Hasil foto diolah menggunakan aplikasi Corel Draw untuk menentukan
besar sudut kontak antara cairan dengan permukaan sampel.
5. Uji Aktivitas Antibakteri
a. Pembuatan Media Padat dan Media Cair
Media padat yang digunakan pada penelitian ini adalah nutrien
agar (NA) instan. NA dipreparasi dengan menimbang sebanyak 14
gram dan memasukkannya ke dalam gelas beker 1000 mL.
Menambahkan aquades sebanyak 500 mL. Campuran kemudian
dipanaskan di atas Hot Plate-Magnetic Stirrer sambil diaduk
menggunakan magnetic stirrer. Setelah larutan mendidih, kemudian
larutan dituang ke dalam Erlenmeyer 500 mL dan disumbat dengan
kapas berbalut kasa agar tetap steril.
Media cair yang digunakan pada penelitian ini adalah Nutrient
Broth (NB) instan. Preparasi NB dilakukan dengan memasukkan
sebanyak 2,6 gram NB ke dalam gelas beker berisi 200 mL aquades.
Larutan kemudian dipanaskan sambil terus diaduk hingga mendidih.
Setelah mendidih, larutan kemudian dituangkan ke dalam botol dan
disumbat dengan menggunakan kapas berbalut kasa agar tetap steril.
NA dan NB kemudian di-autoklaf agar lebih steril.
b. Inokulasi Bakteri
Sebelum bakteri digunakan untuk menguji sampel, bakteri harus
dibiakkan terlebih dahulu agar apabila terjadi kontaminasi pada media,
masih ada media bakteri yang dapat digunakan. Bakteri dibiakkan pada
media agar miring berupa tabung reaksi berisi nutrien agar (NA).
Bakteri dari media lama diambil dengan menggunakan jarum ose steril
dan disayatkan pada media agar miring dari bawah ke atas secara zigzag. Media agar miring kemudian disumbat dengan menggunakan
26
kapas dan ditutup lagi dengan plastik wrap agar lebih rapat. Inokula
tersebut kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC.
Koloni bakteri yang telah tumbuh pada media agar miring,
kemudian dipindahkan ke dalam media cair yang berupa Nutrient Broth
(NB). Pemindahan dilakukan dengan mengambil bakteri dari agar
miring menggunakan jarum ose steril dan memasukkannya ke dalam
media cair. Media cair tersebut kemudian disumbat dengan
menggunakan kapas dan ditutup lagi menggunakan plastik wrap. Media
cair kemudian diinkubasi lagi selama 24 jam pada suhu 37oC. Hal yang
perlu diperhatikan dalam melakukan inokulasi bakteri yaitu semua alat
yang digunakan harus steril dan dikerjakan di tempat khusus yaitu
Laminar air Flow agar tidak terjadi kontaminasi.
c. Uji Aktivitas Antibakteri pada Kain Spandex
Pengujian aktivitas antibakteri pada kain spandex dilakukan
dengan metode disc diffusion. Sampel kain dipotong berbentuk
lingkaran dengan diameter 0,5 cm. Kemudian mengambil bakteri dari
media cair menggunakan pipet dan dituangkan ke dalam cawan petri
yang telah berisi media padat NA. Media cair tersebut kemudian
diratakan. Sampel kain kemudian diletakkan di atas cawan petri
tersebut. Cawan petri kemudian ditutup dan disegel menggunakan
plastik wrap untuk menghindari kontaminasi. Cawan petri tersebut
kemudian diinkubasi selama 24 jam.
Setelah 24 jam, kemudian dilakukan pengukuran terhadap zona
jernih yang terbentuk. Pengukuran dilakukan pada waktu 24 jam, 28
jam, 31 jam, 49 jam, 52 jam, 55 jam, 61 jam, 70 jam, 72 jam.
Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui perubahan diameter zona
jernih yang terjadi.
27
E. Teknik Analisis Data
1. Analisis Spektrofotometri Ultraviolet-tampak (UV-Vis)
Hasil pengukuran UV-VIS dengan menggunakan spektrofotometer
UV-Vis adalah spektrum. Berdasarkan spektrum tersebut dapat diketahui
panjang gelombang maksimum dari serapan nanopartikel perak. Spektrum
serapan UV-Vis dari nanopartikel perak berada pada panjang gelombang
antara 400-500 nm. Panjang gelombang yang semain besar menunjukkan
bahwa nanopartikel perak yang terbentuk semakin besar ukurannya.
2. Uji Aktivitas Antibakteri
Hasil uji aktivitas bakteri diperoleh data berupa diameter zona
jernih. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui perubahan diameter zona
jernih tiap satuan waktu. Diameter zona jernih menunjukkan adanya
penghambatan pertumbuhan bakteri oleh sampel kain. Besarnya diameter
zona jernih berbanding lurus dengan aktivitas antibakteri pada sampel,
artinya semakin besar diameter zona jernih yang terukur maka semakin
besar aktivitas antibakteri yang terjadi pada sampel. Berdasarkan hasil uji
aktivitas antibakteri sampel
spandex murni (S.0), spandex terdeposit
nanopartikel perak (S.1), spandex terlapisi HDTMS (S.2), dan spandex
terdeposit nanopartikel perak dan terlapisi HDTMS (S.3) dapat diketahui
sampel kain spandex yang memiliki aktivitas antibakteri optimum.
3. Uji Sudut Kontak Air
Pengujian sudut kontak air terhadap sampel akan menghasilkan data
berupa besarnya sudut yang terbentuk antara bulatan atau tetesan air dengan
permukaan sampel. Apabila sudut yang terbentuk semakin besar maka sifat
permukaan sampel semakin hidrofob. Namun jika sudut yang terbentuk
semakin kecil maka sifat permukaan sampel akan semakin hidrofilik atau
non-hidrofob. Permukaan sampel dikatakan bersifat hidrofob apabila sudut
kontak air yang terbentuk >90o.
28
4. Analisis Fourier Transform InfraRed (FTIR)
Analisis menggunakan alat Spektrofotometer IR ini bertujuan untuk
menganalisis gugus-gugus fungsi dari serat kain spandex murni (S.0),
spandex terdeposit nanopartikel perak (S.1), spandex terlapisi HDTMS
(S.2), dan spandex terdeposit nanopartikel perak dan terlapisi HDTMS
(S.3). Hasil analisis berupa spektrum yang menunjukkan pita dari tiap-tiap
gugus fungsi dari sampel. Hasil analisis ini dapat diketahui gugus-gugus
fungsi yang dimiliki oleh sampel secara kualitatif.
F. Diagram Alir Penelitian
1. Preparasi Nanopartikel Perak
200 mL larutan AgNO3 10-3 M direfluks
 Ditambah larutan PVA 0,5%
 Dipanaskan hingga suhu ±90oC
 Diaduk dengan magnetic stirrer
Campuran AgNO3 dan PVA
 Gas nitrogen dialirkan
 Ditambahkan 20 mL trisodium sitrat 10%
tetes demi tetes
Larutan berubah warna
 Pemanasan dihentikan
 Pengadukan dilanjutkan hingga suhu
kamar
Koloid nanopartikel perak
 Karakterisasi
UV-Vis
29
2. Deposit Nanopartikel Perak pada Spandex
Sampel spandex dicuci, disterilisasi, dan dikeringkan
Sampel spandex dipotong dengan ukuran 10x10 cm
Sampel spandex direndam dalam koloid nanopartikel
perak (Erlenmeyer 50 mL)
 Di-shake pada 150 rpm selama 24 jam
 Dikeringkan pada pada suhu ruang
Karakterisasi dengan FTIR, Sudut kontak, dan aktivitas
antibakteri
3. Pelapisan Spandex dengan Senyawa HDTMS
Larutan etanol-HDTMS 4% dalam Erlenmeyer
Sampel spandex dimasukkan hingga terendam
Di-shake pada 150 rpm selama 2 jam pada suhu ruang
Pengeringan sampel pada suhu ruang selama 24 jam
Karakterisasi dengan FTIR, sudut kontak, dan aktivitas
antibakteri
30
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Spektrum UV-VIS AgNO3 dan Nanopartikel Perak
Spektrum UV-VIS larutan AgNO3 dan koloid nanopartikel perak
dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4.
Gambar 3. Overlap Spektrum UV-VIS Larutan AgNO3 dan Koloid
Nanopartikel Perak
Interpretasi Spektrum UV-VIS Larutan AgNO3 dan Koloid
Nanopartikel Perak ditunjukkan oleh Tabel 5.
31
Tabel 5. Spektrum UV-VIS Larutan AgNO3 dan Nanopartikel Perak
Serapan Zat
Panjang gelombang (nm)
AgNO3
218,50
Nanopartikel perak
429,00
2. Spektrum FTIR
Spektrum FTIR kain spandex dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Spektrum FTIR Kain Spandex (S.0)
Spektrum FTIR kain spandex terdeposit nanopartikel perak dapat
dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Spektrum FTIR Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel
Perak (S.1)
Spektrum FTIR kain spandex yang telah dilapisi HDTMS dapat
dilihat pada Gambar 6.
32
Gambar 6. Spektrum FTIR Kain Spandex Terlapis HDTMS (S.2)
Spektrum FTIR kain spandex terdeposit nanopartikel perak yang
telah dilapisi HDTMS dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Spektrum FTIR Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel
Perak dan Terlapis HDTMS (S.3)
Interpretasi masing-masing spektrum FTIR kain spandex dapat
dilihat pada Tabel 6.
33
Tabel 6. Interpretasi Spektrum FTIR Sampel Kain Spandex
Bilangan Gelombang (cm-1)
Gugus Fungsi
-CHBengkokan C-H
keluar bidang
S.0
S.1
S.2
S.3
518,30-
502,96-
518,39-
526,17-
534,21
523,71
543,04
575,63
720,26
720,19
720,38
720,32
870,33
870,51
870,27
970,56
970,52
1016,66-
1017,67-
1017,43-
1093,65
1091,71
1091,40
1242,25
1244,86
1244,21
1339,70-
1340,32-
1340,16-
1407,37
1407,74
1407,77
1465,40
1465,87
1710,92
1711,23
2922,30
2964,23
Bengkokan C-H ke
dalam bidang
Vibrasi C-C
C-O Ester/Uretan
1088,91
C-N
1239,48
Vibrasi C-H
-CH2C=O Uretan
1711,75
1711,49
-CH3
3. Uji Sudut Kontak
Hasil pengujian sudut kontak kain spandex (S.0), spandex
terdeposit nanopartikel perak (S.1), spandex terlapis HDTMS (S.2), dan
spandex terdeposit nanopartikel perak yang telah dilapisi HDTMS (S.3)
dapat dilihat pada Lampiran. Berdasarkan gambar tersebut maka diperoleh
hasil pengukuran sudut kontak yang disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil Pengukuran Sudut Kontak Sampel Kain Spandex
Sampel
S.0
S.1
S.2
S.3
Sudut Kontak θo
Kiri
128,71
0,00
135,00
127,69
Kanan
116,13
0,00
120,74
133,36
34
Rata-rata
122,42
0,00
127,87
130,52
4. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri
a. Pengujian terhadap Bakteri E. coli
Pengujian aktivitas antibateri pada kain spandex (S.0), spandex
terdeposit nanopartikel perak (S.1), spandex terlapisi HDTMS (S.2), dan
spandex terdeposit nanopartikel perak serta terlapisi HDTMS (S.3) dengan
menggunakan bakteri E. coli dilakukan dengan mengukur zona jernih yang
dihasilkan. Data hasil pengamatan zona jernih pada sampel S.0 S.1; S.2;
S.3; dan kontrol positif dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Hasil Pengamatan Diameter Zona Jernih Sampel Kain
terhadap Bakteri E. coli
Waktu
(jam)
0
24
28
31
49
52
55
61
70
72
(+)
0,0000
0,2467
0,2733
0,2800
0,2600
0,2533
0,2800
0,2700
0,2633
0,2633
Diameter Zona Jernih (cm)
S.0
S.1
S.2
S.3
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0567
0,1550
0,0967
0,2733
0,0600
0,1367
0,0867
0,2500
0,0700
0,1417
0,0867
0,2133
0,0467
0,0883
0,1133
0,2133
0,0633
0,1750
0,1100
0,2567
0,0633
0,1550
0,1067
0,2600
0,0500
0,1650
0,1100
0,2467
0,0400
0,1683
0,1117
0,2333
0,0433
0,1750
0,1083
0,2433
Berdasarkan hasil pengamatan pada Tabel 8, maka dapat dibuat
grafik hubungan antara waktu pengamatan terhadap besarnya diameter
zona jernih yang terbentuk pada sampel kain. Grafik perbandingan zona
jernih antara sampel S.0; S.1; S.2; dan S.3 dengan menggunakan bakteri
E. coli dapat dilihat pada Gambar 8.
35
DIameter Zona Jernih (cm)
0,3
Grafik Hasil Uji Antibakteri Kain Spandeks dengan
Bakteri E. coli
0,25
(+)
0,2
S.0
0,15
S.1
0,1
S.2
S.3
0,05
0
0
10
20
30
40
50
60
70
80
Waktu (jam)
Gambar 8. Grafik Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Kain Spandex
terhadap Bakteri E. coli
b. Pengujian terhadap Bakteri S. Aureus
Pengujian aktivitas antibateri pada kain spandex (S.0), spandex
terdeposit nanopartikel perak (S.1), spandex terlapisi HDTMS (S.2), dan
spandex terdeposit nanopartikel perak serta terlapisi HDTMS (S.3) dengan
menggunakan bakteri S. aureus dilakukan dengan mengukur zona jernih
yang dihasilkan. Data hasil pengamatan zona jernih pada sampel S.0 S.1;
S.2; S.3; dan kontrol positif dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Hasil Pengamatan Diameter Zona Jernih Sampel Kain terhadap
Bakteri S. aureus
Diameter Zona Jernih (cm)
Waktu
(jam) (+)
S.0
S.1
S.2
S.3
0
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
24
0,1600
0,0672
0,1333
0,2817
0,3700
28
0,1567
0,0983
0,1483
0,3233
0,3767
31
0,2167
0,0833
0,1667
0,2933
0,3867
49
0,4100
0,1156
0,1633
0,3000
0,4500
52
0,4600
0,1022
0,1900
0,2967
0,4333
55
0,4667
0,0711
0,2167
0,2550
0,4350
61
0,4900
0,0867
0,2133
0,2450
0,4383
70
0,5000
0,0822
0,2033
0,2517
0,4333
72
0,4967
0,0833
0,2017
0,2517
0,4350
36
Berdasarkan hasil pengamatan pada Tabel 9, maka dapat dibuat
grafik hubungan antara waktu pengamatan terhadap besarnya diameter
zona jernih yang terbentuk pada sampel kain. Grafik perbandingan zona
jernih antara sampel S.0; S.1; S.2; dan S.3 dengan menggunakan bakteri
S. aureus dapat dilihat pada Gambar 9.
0,6
Diameter Zona Jernih (cm)
0,5
0,4
(+)
S.0
0,3
S.1
S.2
0,2
S.3
0,1
0
0
10
20
30
40
50
60
70
80
Waktu (jam)
Gambar 9.
Grafik Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Kain Spandex
terhadap Bakteri S. aureus
B. PEMBAHASAN
1. Preparasi Nanopartikel Perak
Pada penelitian ini, sintesis nanopartikel perak dilakukan dengan
metode bottom up yaitu dengan cara reduksi kima dari larutan perak nitrat
(AgNO3) dengan menggunakan trisodium sitrat sebagai reduktor
sebagaimana yang telah dilakukan oleh Agus Haryono dan Sri Budi
Harmami (2010). Nanopartikel perak mempunyai karakterisitik yang mudah
beraglomerasi antar sesamanya dan teroksidasi sehingga pada proses
pembentukan nanopartikel perak disertakan senyawa lain sebagai stabilizer
(Ristian et al, 2014). Stabilizer yang digunakan yaitu polivinil alkohol
(PVA). PVA diketahui dapat digunakan sebagai penstabil dan pencegah
agregasi pada nanopartikel perak. Stabilisasi nanopartikel perak secara
umum dapat dilakukan dengan dua cara yaitu stabilisasi elektrostatik dan
37
stabilisasi sterik. PVA merupakan polimer yang mampu menstabilkan
nanopartikel perak melalui stabilisasi sterik yaitu dengan adanya pelapisan
(coating) yang terjadi berdasarkan adsorpsi pada permukaan nanopartikel
perak oleh PVA (Pimpang dan Chopuun, 2011).
Koloid
nanopartikel
perak
yang
terbentuk
selanjutya
dikarakterisasi menggunakan UV-VIS untuk mengetahui bahwa telah
terbentuk nanopartikel perak. Karakterisasi nanopartikel perak dengan
menggunakan UV-VIS, akan memberikan absorbansi di sekitar panjang
gelombang 420 nm (Chitte et al, 2012). Pada penelitian ini, nanopartikel
perak yang terbentuk memberikan absorbansi pada panjang gelombang 429
nm sebagaimana ditunjukkan oleh spektrum UV-VIS nanopartikel perak
pada Gambar 4. Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui perbedaan
antara larutan AgNO3 sebelum dan sesudah tereduksi sebagaimana terlihat
pada Gambar 3.
Berdasarkan Gambar 3, dapat diketahui perbedaan spektrum antara
larutan AgNO3 sebelum dan sesudah direduksi. Spektrum AgNO3 yang
belum direduksi memberikan absorbansi pada 218,50 nm, sedangkan pada
spektrum koloid nanopartikel perak menunjukkan absorbansi pada 429 nm
yang merupakan absorbansi dari nanopartikel perak. Munculnya absorbansi
pada 429 nm selain menunjukkan adanya nanopartikel perak yang terbentuk
juga dapat digunakan sebagai dasar memperkirakan ukuran nanopartikel
perak yang terbentuk. Menurut Solomon (2007), absorbansi nanopartikel
perak pada 429 nm memiliki ukuran partikel antara 30-80 nm.
Apabila ditinjau dari nilai absorbansi yang diperoleh, diketahui
bahwa nilai absorbansi dari nanopartikel perak cukup rendah. Hal tersebut
menunjukkan bahwa konsentrasi nanopartikel perak yang terbentuk tidak
terlalu besar. Tidak terlalu besarnya konsentrasi nanopartikel perak yang
terbentuk dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain yaitu reaksi
yang tidak sempurna sehingga tidak semua ion perak berubah menjadi
nanopartikel perak, juga dapat disebabkan nanopartikel perak yang
terbentuk kemudian beraglomerasi membentuk endapan perak. Hal tersebut
38
dapat dilihat dari adanya endapan hitam yang muncul setelah koloid
nanopartikel perak didiamkan dalam waktu yang cukup lama.
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dapat diketahui bahwa
reduksi larutan AgNO3 dengan adanya trisodium sitrat dapat menghasilkan
nanopartikel perak sebagaimana ditunjukkan dari hasil karakterisasi
menggunakan UV-VIS.
2. Deposit Nanopartikel Perak pada Sampel Kain Spandex
Sampel kain spandex yang telah terdeposit nanopartikel perak
berwarna sedikit kecoklatan, berbeda dengan kain spandex yang tidak diberi
perlakuan apapun yang berwarna putih. Warna tersebut sama dengan warna
dari koloid nanopartikel perak yang berwarna kecoklatan. Hal ini
menunjukkan bahwa nanopartikel perak telah terdeposit pada kain spandex.
Perbedaan antara kain spandex murni dan kain spandex yang telah
terdeposit nanopartikel perak dapat dilihat pada Gambar 10.
(b)
(a)
Gambar 10. (a) Spandex
(b) Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak
Secara fisik, perbedaan antara kain spandex dan spandex terdeposit
nanopartikel perak hanya berupa perbedaan warna. Penambahan
nanopartikel perak tidak mempengaruhi elastisitas kain spandex. Hal ini
disebabkan nanopartikel perak hanya menempel pada permukaan kain, tidak
bereaksi dengan kain spandex. Sehingga tidak penambahan nanopartikel
perak tidak menyebabkan perubahan sifat kain spandex.
39
3. Modifikasi Sampel Kain Spandex dengan Pelapisan Menggunakan
HDTMS
Pada penelitian ini, senyawa silan yang digunakan untuk
memperoleh sifat hidrofob adalah senyawa heksadesiltrimetoksisilan atau
HDTMS. HDTMS dipilih sebab memiliki gugus alkoksida dan rantai alkil
yang panjang sebagaimana terlihat pada Gambar 2 tentang struktur senyawa
HDTMS.
Sifat hidrofob atau antikotor merupakan sifat suatu permukaan
apabila ditetesi air, maka akan terbentuk bulatan-bulatan air pada
permukaannya dan bulatan air tersebut akan bergulir jatuh apabila
permukaan bahan dimiringkan. Secara alamiah, sifat hidrofob dapat
dijumpai pada beberapa makhluk hidup seperti daun lotus dan kaki cicak.
Berdasarkan inspirasi tersebut, beberapa metode dikembangkan
untuk menciptakan suatu permukaan yang bersifat hidrofob. Salah satu
metode yang sering digunakan yaitu metode coating dengan menggunakan
suatu bahan yang bersifat hidrofob, seperti yang telah dilakukan oleh de
Ferri et al (2013). Metode coating dapat dilakukan dengan melapiskan suatu
bahan hidrofob ke permukaan suatu bahan. Bahan yang bersifat hidrofob
yang dapat digunakan antara lain yaitu senyawa silan dan turunannya.
Senyawa silan dapat digunakan sebagai bahan pelapis sebab senyawa silan
memiliki senyawa alkoksida dan rantai alkil yang panjang, dan semakin
panjang rantai alkil yang dimiliki, maka semakin baik sifat hidrofob yang
akan diperoleh (de Feri et al, 2013). Senyawa silan saat dilapiskan pada
suatu permukaan misalnya serat, akan membentuk semacam papila-papila
berukuran nano pada permukaan tersebut yang dapat berfungsi sebagai
penghalang terhadap molekul-molekul air. Struktur papila tersebut dapat
dilihat pada Gambar 11.
40
Ikatan Hidrogen
Permukaan Hidrofobik
H3C
CH3 H3C
Si
O
O
H3C
CH3
Si
O
CH3 H3C
Si
O
Si
H3C
CH3
O
Si
CH3 H3C
O
Si
CH3
O
Permukaan Serat
Gambar 11. Struktur Hidrofob Permukaan Serat yang Terlapisi
Senyawa Silan
Preparasi sampel kain spandex yang dilapisi dengan senyawa
HDTMS diawali dengan membuat larutan HDTMS-etanol 4%. Larutan
etanol-HDTMS 4% dibuat dengan cara mencampurkan 40 mL larutan stok
senyawa HDTMS dengan 960 mL etanol. Larutan diaduk hingga tercampur
sempurna. Tujuan pembuatan larutan ini adalah agar larutan HDTMS yang
digunakan tidak terlalu pekat sehingga penggunaan senyawa HDTM
menjadi lebih efisien.
Proses pelapisan kain spandex dilakukan dengan metode coating,
yaitu dengan cara mencelupkan kain sampel pada larutan etanol-HDTMS
4%. Sampel kain spandex yang digunakan yaitu kain spandex murni dan
kain spandex terdeposit nanopartikel perak. Sampel kain spandex
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer berisi larutan etanol-HDTMS 4%.
Volume larutan yang digunakan yaitu sekitar 50-100 mL atau sampai semua
sampel kain spandex terendam sempurna, kemudian di-shaker dengan
kecepatan 150 rpm selama ±2 jam. Sampel kemudian dikeringkan pada suhu
ruang.
Sampel kain spandex yang telah terlapisi oleh senyawa HDTMS,
secara kasat mata tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan dengan
sampel kain yang belum terlapisi oleh senyawa HDTMS, sebagaimana
dapat diamati pada Gambar 12 dan 13.
41
(b)
(a)
Gambar 12.
(a) Kain Spandex Murni
(b) Kain Spandex Terlapisi HDTMS
(a)
(b)
Gambar 13. (a) Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak
(b) Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak dan
Terlapisi HDTMS
Kain spandex sebelum dan sesudah dilapisi dengan senyawa
HDTMS dapat dibedakan berdasarkan sifat hidrofobiknya. Oleh karena itu,
kemudian dilakukan pengujian dan analisis sudut kontak untuk
mengidentifikasi sifat hidrofobik sampel kain spandex sebelum dan sesudah
dilapisi dengan senyawa HDTMS.
4. Analisis FTIR
a. Spektrum Spandex Murni (S.0)
Spektrum FTIR kain spandex murni (S.0) ditunjukkan pada
Gambar 5. Pada daerah 1711,75 cm-1 menunjukkan adanya gugus C=O
uretan yang diperkuat dengan adanya serapan C-O uretan pada 1088,91
cm-1 yang menjadi ciri utama pada kain spandex karena komposisi utama
42
kain spandex merupakan poliuretan. Adanya serapan C-N pada 1239,48
cm-1 juga memperkuat keberadaan gugus uretan pada kain spandex.
Serapan pada 720,26 cm-1 menunjukkan bengkokan C-H aromatis keluar
bidang. Serapan tersebut menunjukkan adanya cincin aromatis yang
merupakan bagian dari struktur MDI (Metilen-4,4’-difenildiisosianat)
atau TDI (Toluen diisosianat) yang terkandung dalam kain spandex.
Serapan yang muncul pada 518,30 cm-1 dan 534,21 cm-1 merupakan
daerah ulur ikatan –CH-.
Berdasarkan hasil analisis spektroskopi FTIR sampel kain
spandex murni (S.0), dapat diketahui bahwa pada sampel kain spandex
(S.0) terdapat gugus uretan dan cincin aromatis dari struktur MDI/TDI
yang merupakan bagian utama dari struktur molekul kain spandex.
b. Spektrum Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak (S.1)
Spektrum hasil analisis sampel kain spandex terdeposit
nanopartikel perak dengan teknik spektroskopi FTIR ditunjukkan pada
Gambar 6. Serapan pada 1711,49 cm-1 menunjukkan adanya gugus C=O
uretan yang diperkuat oleh adanya serapan C-O pada 1016,66 cm-1 dan
1093,65 cm-1. Serapan C-N ditunjukkan pada 1242,25 cm-1. Munculnya
serapan tersebut jelas menunjukkan adanya gugus uretan yang menjadi
gugus utama pada struktur molekul kain spandex. Serapan pada 502,96
cm-1 dan 523,71 cm-1 menunjukkan daerah ulur ikatan –CH-. Kemudian
bengkokan C-H aromatik keluar bidang ditunukkan pada 720,26 cm-1 dan
bengkokan C-H aromatik ke dalam bidang ditunjukkan pada 870,33 cm1
. Adanya serapan tersebut menunjukkan adanya cincin aromatis yang
merupakan bagian dari struktur MDI/TDI pada struktur molekul kain
spandex. Serapan pada 1339,70 cm-1 dan 1407,37 cm-1 menunjukkan
adanya vibrasi ikatan C-H. Vibrasi ini tidak terlihat pada spektrum
sampel kain spandex murni (S.0). Hal ini disebabkan adanya interaksi
antara ikatan C-H dengan nanopartikel perak yang terdeposit, sehingga
dapat menghasilkan vibrasi pada ikatan C-H.
43
Berdasarkan
hasil
analisis
dengan
menggunakan
teknik
spektroskopi FTIR terhadap sampel kain spandex terdeposit nanopartikel
perak (S.1) menunjukkan adanya gugus uretan yang merupakan gugus
utama pada struktur moekul kain spandex. Adanya nanopartikel perak
yang terdeposit pada kain spandex, tidak bereaksi dan mengubah struktur
molekul dari kain spandex. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya
serapan yang menunjukkan adanya gugus fungsi baru akibat adanya
nanopartikel perak. Nanopartikel perak yang terdeposit pada kain
spandex hanya mempengaruhi gerakan molekul.
c. Spektrum Spandex Terlapisi HDTMS (S.2)
Spektrum hasil analisis menggunakan teknik FTIR terhadap
sampel kain spandex yang terlapisi senyawa HDTMS ditunjukkan pada
Gambar 7. Berdasarkan spektrum tersebut, dapat dilihat adanya serapan
C=O uretan pada 1710,92 cm-1 yang diperkuat oleh adanya serapan C-O
pada 1017,67 cm-1 dan 1091,71 cm-1. Serapan pada 1244,86 cm-1
menunjukkan adanya serapan dari C-N. Adanya serapan tersebut secara
tegas menunjukkan adanya gugus uretan pada sampel kain spandex
terlapisi senyawa HDTMS. Serapan pada 518,39 cm-1 dan 543,04 cm-1
menunjukkan serapan dari ulur ikatan –CH-. Bengkokan C-H aromatik
ke luar bidang ditunjukkan oleh serapan pada 720,38 cm-1 dan bengkokan
C-H aromatik ke dalam bidang ditunjukkan oleh serapan pada 870,51 cm1
. Munculnya serapan tersebut menunjukkan adanya cincin aromatik
yeng menjadi bagian dari struktur MDI/TDI dalam struktur molekul kain
spandex. Serapan pada 1340,32 cm-1 dan 1407,74 cm-1 menunjukkan
vibrasi dari ikatan C-H. Serapan pada 1465,40 cm-1 menujukkan adanya
ikatan C-H alkana. Serapan tersebut tidak muncul pada sampel kain S.0
dan S.1 sehingga kemungkinan serapan tersebut muncul akibat adanya
rantai alkil pada senyawa HDTMS.
Hal tersebut diperkuat dengan adanya vibrasi ikatan C-C pada
970,56 cm-1 dan munculnya serapan dari vibrasi ulur C-H dari gugus CH3 pada 2922,30 cm-1. Serapan ini menunjukkan adanya senyawa
44
HDTMS yang terdapat pada sampel kain spandex terlapisi senyawa
HDTMS (S.2). Berdasarkan analisis spektrum FTIR sampel kain
spandex terlapisi senyawa HDTMS (S.2) menunjukkan adanya gugus
uretan yang merupakan ciri utama dari struktur molekul kain spandex.
Kemudian adanya senyawa HDTMS yang melapisi kain spandex dapat
diketahui berdasarkan adanya serapan gugus metoksi pada spektrum
tersebut. Atas dasar hal tersebut dapat diketahui bahwa proses pelapisan
senyawa HDTMS pada kain spandex telah berhasil sebagaimana
ditunjukkan oeh hasil spektrum FTIR terhadap sampel kain spandex
terlapisi senyawa HDTMS (S.2).
d. Spektrum Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak dan Terlapisi
HDTMS (S.3)
Spektrum hasil analisis menggunakan teknik spektroskopi FTIR
terhadap sampel kain spandex terdeposit nanopartikel perak dan terlapisi
senyawa HDTMS (S.3) ditunjukkan ada Gambar 8. Berdasarkan
spektrum tersebut, diketahui adana serapan pada 1711,23 cm-1 yang
menunjukkan serapan dari C=O uretan yang diperkuat oleh adanya
serapan C-O pada 1017,43 cm-1 dan 1091,40 cm-1, serta adanya serapan
dari gugus C-N pada 1244,21 cm-1. Adanya serapan tersebut
menunjukkan adanya gugus uretan pada sampel kain spandex terdeposit
nanopartikel perak dan terlapisi senyawa HDTMS (S.3). Serapan pada
526,17 cm-1 dan 575,63 cm-1 menunjukkan serapan dari ikatan –CH-.
Bengkokan C-H aromatik keluar bidang ditunjukkan oleh serapan pada
720,32 cm-1, sedangkan bengkokan C-H aromatik ke dalam bidang
ditunjukkan oleh adanya serapan pada 870,27 cm-1. Adanya serapan
tersebut menujukkan adanya cincin aromatik yang merupakan bagian
dari dstruktur MDI pada struktur molekul kain spandex. Serapan pada
1340,16 cm-1 dan 1407,77 cm-1 menunjukkan adanya vibrasi ikatan CH. Adanya serapan pada 1465,87 cm-1 menunjukkan adanya ikatan C-H
alkana yang merujuk pada rantai alkil senyawa HDTMS. Hal tersebut
diperkut dengan adanya vibrasi dari ikatan C-C pada 970,52 cm-1 dan
45
munculnya serapan dari vibrasi ulur C-H dari gugus -CH3 pada 2964,23
cm-1.
Berdasarkan hasil analisis spektrum FTIR dari sampel kain
spandex terdeposit nanopartikel perak dan terlapisi senyawa HDTMS
(S.3) dapat diketahui adanya gugus uretan yang merupakan gugus utama
pembentuk struktur molekul kain spandex. Lapisan HDTMS pada kain
spandex terdeposit nanopartikel perak dapat diketahui berdasarkan
adanya serapan dari gugus metoksi. Atas dasar hal tersebut maka dapat
diketahui bahwa proses pelapisan senyawa HDTMS terhadap kain
spandex
terdeposit
nanopartikel
perak
telah
berhasil
dengan
menghasilkan lapisan HDTMS pada permuakaan kain spandex terdeposit
nanopartikel perak.
5. Uji Sudut Kontak
Berdasarkan hasil pengujian yang telah diperoleh, sampel kain
spandex murni (S.0) menghasilkan nilai sudut kontak sebesar 122,42o.
Sudut kontak yang lebih besar dari 90o tersebut menunjukkan bahwa sampel
kain spandex murni (S.0) telah memiliki sifat hidrofob. Kain spandex murni
(S.0) memiliki sifat hidrofob karena permukaan kain spandex terdapat
serabut halus yang merupakan ujung serat spandex yang tidak terpintal.
Adanya serabut tersebut mirip seperti mekanisme hidrofobisasi oleh
senyawa HDTMS. Namun karena serabut tersebut berukuran lebih besar
dari rantai alkil pada senyawa HDTMS, dan juga sifat dari serabut tersebut
tidak hidrofob, maka sifat hidrofob yang dimiliki kain hanya bersifat
sementara. Artinya saat pertama kali permukaan kain spandex ditetesi air,
air tersebut akan membentuk bulatan namun lama-kelamaan akan terserap
oleh kain spandex tersebut.
Sampel kain spandex terdeposit nanopartikel perak (S.1) ketika
diuji sudut kontak air, memberikan hasil sudut kontak sebesar 0o. Berbeda
dengan kain spandex murni yang cenderung bersifat hidrofobik, kain
spandex terdeposit nanopartikel perak sama sekali tidak bersifat hidrofob,
46
bahkan dapat dikatakan bahwa sampel kain spandex terdeposit nanopartikel
perak cenderung bersifat hidrofilik atau menyerap air. Hal ini karena adanya
nanopartikel perak yang berinteraksi dengan permukaan kain spandex,
menyebabkan kenaikan energi permukaan secara signifikan pada kain
spandex.
Kenaikan
energi
permukaan
yang
secara
signifikan
ini
menyebabkan gaya adhesi antara permukaan kain spandex dengan air
menjadi jauh lebih tinggi dibanding gaya kohesi pada air. Sebagaimana
dikatakan oleh Lamour dan Hamraoui (2010), bahwa apabila energi
permukaan zat padat jauh lebih besar daripada tegangan permukaan zat cair,
maka zat cair akan sepenuhnya membasahi permukaan zat padat tersebut.
Begitu pula yang terjadi pada sampel kain spandex terdeposit nanopartikel
perak (S.1). Air yang diteteskan pada permukaan sampel, sepenuhnya
langsung membasahi permukaan kain, yang artinya sudut kontak yang
dihasilkan adalah sama dengan nol. Dengan demikian kain spandex
terdeposit nanopartikel perak (S.1) tidak bersifat hidrofob sebab sudut
kontaknya bernilai 0o.
Sampel kain spandex terlapisi HDTMS (S.2) ketika diuji sudut
kontak memberikan nilai sudut kontak θ sebesar 127,87o. Sebagaimana
diungkapkan oleh de Ferri et al (2013) bahwa suatu permukaan memiliki
sifat hidrofob apabila memiliki sudut kontak lebih besar dari 90o, maka
berdasarkan pernyataan tersebut sampel kain spandex terlapisi HDTMS
besifat hidrofob karena memiliki sudut kontak lebih dari 90o. Sifat hidrofob
ini diperoleh karena adanya lapisan HDTMS yang membentuk suatu
penghalang bagi molekul H2O. Senyawa HDTMS dapat memberikan sifat
hidrofob karena memiliki gugus alkoksida dan rantai alkil yang panjang (de
Ferri et al, 2013). Apabila ditinjau dari besarnya sudut kontak yang
dihasilkan, maka sampel kain spandex terlapisi HDTMS (S.2) tidak berbeda
jauh dengan sampel kain spandex murni (S.0). Namun terdapat perbedaan
antara keduanya yaitu pada sampel kain spandex terlapisi HDTMS (S.1),
bulatan air yang terbentuk tetap bertahan hingga waktu yang lama. Hal ini
47
menunjukkan bahwa sifat hidrofob yang dimiliki lebih permanen
dibandingkan pada sampel kain spandex murni (S.0). Berdasarkan hal
tersebut maka dapat diketahui bahwa pelapisan senyawa HDTMS dapat
memberikan sifat hidrofob yang cukup baik pada kain spandex.
Sampel kain spandex terdeposit nanopartikel perak dan terlapisi
HDTMS (S.3) pada saat diuji sudut kontak memberikan hasil sudut kontak
sebesar 130,52o. Berdasarkan hasil tersebut, jelas bahwa sampel kain
spandex terdeposit nanopartikel perak dan terlapisi HDTMS bersifat
hidrofob karena memiliki sudut kontak lebih besar dari 90o. Hasil tersebut
jelas berbeda dengan sampel kain spandex terdeposit nanopartikel perak
(S.1) yang bersifat hidrofilik sedangkan sampel kain spandex terdeposit
nanopartikel perak dan terlapisi HDTMS (S.3) bersifat hidrofob.
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa senyawa HDTMS
sangat berperan pada pembentukan sifat hidrofob pada kain spandex
terdeposit nanopartikel perak (S.3), sebab HDTMS memiliki gugus
alkoksida dan rantai alkil yang panjang sehingga dapat menjadi penghalang
yang baik terhadap molekul H2O dan memberikan sifat hidrofob yang baik.
Sifat hidrofob pada permukaan kain spandex diperoleh melalui
hidrofobisasi permukaan kain spandex oleh senyawa HDTMS. Senyawa
HDTMS akan terhidrolisis dan kemudian gugus R-Si(OH)- dari HDTMS
akan berikatan dengan gugus –NH-COO- pada permukaan kain spandex
membentuk ikatan Si-N. Akibat dari pembentukan ikatan ini, bagian ekor
atau rantai alkil dari senyawa HDTMS yang bersifat hidrofobik akan
membentuk semacam serabut pada permukaan kain spandex. Mekanisme
hidrofobisasi permukaan kain spandex oleh senyawa HDTMS dapat dilihat
pada Gambar 14.
48
NH NH
NH
NH
O C O C O C O C
O
O
O
O
Si
O
CH3O
Hidrolisis
Si
OCH3
HO
H3CO
SiH
OH
Si
Si
O
O
Si
O
O
NH NH NH
NH
O C O C O C O C
O
O
O
O
OH
HDTMS
Gambar 14. Mekanisme reaksi hidrofobisasi permukaan kain spandex
oleh senyawa HDTMS
Sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 16, setelah terjadi proses
hidrofobisasi antara senyawa HDTMS dengan permukaan kain spandex,
rantai alkil pada senyawa HDTMS menjuntai bebas dan membentuk
semacam serabut pada permukaan kain spandex. Sebagaimana telah
diketahui, bahwa rantai alkil yang panjang memiliki sifat non-polar atau
hidrofobik. Dengan demikian, rantai alkil tersebut menjadi penghalang bagi
molekul air sehingga tidak dapat membasahi kain spandex.
6. Uji Aktivitas Antibakteri
Data hasil pengukuran zona jernih sampel kain spandex
ditunjukkan pada Tabel 7 dan 8. Data tersebut kemudian dianalisis secara
kuantitatif menggunakan hitungan statistik ANOVA (2 faktor), uji lanjut
49
menggunakan Least Significant Different (LSD), dan uji t-Independent
menggunakan software IBM SPSS Statistic 23. Hasil analisis statistik dapat
dilihat dalam Lampiran 19, 20, 21, 22, 23, 24 dan 25.
Interpretasi hasil analisis kuantitatif hasil pengujian aktivitas
antibakteri dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 10. Rataan Diameter Zona Jernih Sampel Kain Spandex terhadap
Bakteri Staphylococcus aureus Selama 72 Jam Pengamatan
No.
Sampel
Rataan ± SD (cm)
1.
Kontrol Positif (+)
0,3741 ± 0,149
2.
Kain Spandex (S.0)
0,0871 ± 0,015
3.
Kain Spandex + Nanopartikel Perak
(S.1)
0,1811 ± 0,030
4.
Kain Spandex + HDTMS (S.2)
0,3111 ± 0,014
5..
Kain Spandex + Nanopartikel Perak +
HDTMS (S.3)
0,3922 ± 0,078
Tabel 11. Rataan Diameter Zona Jernih Sampel Kain Spandex terhadap
Bakteri Escherichia coli Selama 72 Jam Pengamatan
No.
Sampel
Rataan ± SD (cm)
1.
Kontrol Positif (+)
0,2530 ± 0,041
2.
Kain Spandex (S.0)
0,0666 ± 0,011
3.
Kain Spandex + Nanopartikel Perak
(S.1)
0,1533 ± 0,028
4.
Kain Spandex + HDTMS (S.2)
0,1195 ± 0,012
5..
Kain Spandex + Nanopartikel Perak +
HDTMS (S.3)
0,2422 ± 0,022
50
Tabel 12. Interpretasi Hasil Uji Lanjut LSD Antara Masing-masing Jenis
Sampel terhadap Aktivitas Antibakteri Eschericia coli
Jenis Sampel
Kesimpulan
S.0 – S.1
Signifikan
S.0 – S.2
Tidak Signifikan
S.0 – S.3
Signifikan
S.1 – S.2
Signifikan
S.1 – S.3
Tidak Signifikan
S.2 – S.3
Signifikan
Tabel 13. Interpretasi Hasil Uji Lanjut LSD Antara Masing-masing Jenis
Sampel terhadap Aktivitas Antibakteri Staphylococcus aureus
Jenis Sampel
Kesimpulan
S.0 – S.1
Signifikan
S.0 – S.2
Signifikan
S.0 – S.3
Signifikan
S.1 – S.2
Tidak Signifikan
S.1 – S.3
Tidak Signifikan
S.2 – S.3
Tidak Signifikan
Berdasarkan hasil uji lanjut LSD untuk aktivitas antibakteri
terhadap bakteri E. coli diketahui perbedaan antar masing-masing sampel.
Terdapat perbedaan yang signifikan antara sampel kain spandex murni (S.0)
yang memiliki rerata diameter zona jernih sebesar 0,0666 cm dengan sampel
kain spandex terdeposit nanopartikel perak (S.1) yang memiliki diameter
zona jernih sebesar 0,1533 cm. Perbedaan yang signifikan juga terjadi pada
sampel kain spandex murni (S.0) jika dibandingkan terhadap sampel kain
spandex terdeposit nanopartikel perak dan terlapisi HDTMS (S.3) yang
memiliki diameter zona jernih 0,2422 cm.
Sampel kain spandex terdeposit nanopartikel perak (S.1) juga
memberikan perbedaan aktivitas antibakteri yang signifikan terhadap
sampel kain spandex terlapisi HDTMS (S.2) yang memiliki diameter zona
51
jernih sebesar 0,1195 cm. Selain itu, perbedaan yang signifikan juga terjadi
antara sampel kain spandex terlapisi HDTMS (S.2) dan sampel kain
spandex terdeposit nanopartikel perak terlapisi HDTMS (S.3). Perbedaan
yang signifikan tersebut menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari
nanopartikel perak sebagai agen antibakteri. Hal tersebut sesuai dengan teori
yang telah banyak diungkapkan dalam penelitian-penelitian yang telah ada.
Sebagaimana diungkapkan oleh Sondi dan Sondi (2004), bahwa
nanopartikel perak menyebabkan pertumbuhan bakteri menjadi terhambat
dan semakin meningkatnya
konsentrasi
nanopartikel
perak akan
memperbesar daya hambat tersebut.
Apabila sampel kain spandex murni (S.0) dibandingan dengan
sampel kain spandex terlapisi HDTMS (S.2), tidak terlihat perbedaan yang
signifikan. Begitu pula jika sampel kain spandex terdeposit nanopartikel
perak (S.1) dibandingkan dengan sampel kain spandex terdeposit
nanopartikel perak dan terlapisi HDTMS, tidak menunjukkan perbedaan
yang signifikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa senyawa HDTMS tidak
memberikan pengaruh signifikan terhadap aktivitas antibakteri E. coli.
Sebagaimana penelitian yang telah ada, disebutkan bahwa pelapisan
senyawa HDTMS tidak mengurangi aktivitas antibakteri pada kain
terdeposit nanopartikel perak (Shateri-Khalilabad et al, 2013).
Selanjutnya hasil uji lanjut LSD untuk aktivitas antibakteri
terhadap bakteri S. aureus. Berdasarkan yang diperoleh, diketahui bahwa
sampel kain spandex murni (S.0) yang memiliki diameter zona jernih
sebesar 0,087 cm apabila dibandingkan dengan sampel kain spandex
terdeposit nanopartikel perak (S.1) yang memiliki diameter zona jernih
0,1811 cm menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Demikian juga
apabila sampel kain spandex murni (S.0) dibandingkan dengan sampel kain
spandex terlapisi HDTMS (S.2) yang memiliki diameter zona jernih sebesar
0,3111 cm. Keduanya menunjukkan perbedaan yang signifikan. Perbedaan
yang signifikan juga terjadi antara sampel kain spandex murni (S.0) dan
52
sampel kain spandex terdeposit nanopartike perak terlapisi HDTMS (S.3)
yang memiliki diameter zona jernih sebesar 0,3922 cm.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa penambahan
nanopartikel perak dan penambahan HDTMS memberikan efek antibakteri
yang signifikan terhadap bakteri S. aureus pada sampel kain spandex.
Aktivitas antibakteri antara nanopartikel perak dan senyawa HDTMS pun
tidak terlalu jauh berbeda, hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hasil uji
lanjut LSD bahwa perbandingan diameter zona jernih antara sampel kain
spandeks terdeposit nanopartikel perak (S.1), sampel kain spandex terlapisi
HDTMS (S.2) dan sampel kain spandex terdeposit nanopartikel perak
terlapisi HDTMS (S.3) tidak menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan.
Pengaruh nanopartikel perak terhadap aktivitas antibakteri S.
aureus tersebut telah sesuai dengan teori yang ada sebagaimana seperti yang
diungkapkan oleh Sondi dan Sondi (2004) dan Shateri-Khalilabad et al
(2013). Kemudian pengaruh pelapisan senyawa HDTMS pada kain spandex
terhadap aktivitas antibakteri S. aureus sebagaimana yang telah diketahui
bahwa penambahan senyawa HDTMS tidak mempengaruhi aktivitas
antibakteri S. aureus secara signifikan. Namun hal tersebut masih perlu
dikaji lebih lanjut (Shateri-Khalilabad et al, 2013). Berdasarkan pernyataan
tersebut, diketahui bahwa senyawa HDTMS bukanlah senyawa yang
mempengaruhi sifat antibakteri pada kain spandex. Hal tersebut karena pada
dasarnya senyawa HDTMS bukanlah agen antibakteri, melainkan
merupakan senyawa yang memiliki sifat hidrofob (de Ferri et al, 2013).
Namun tidak menutup kemungkinan bahwa senyawa HDTMS dapat
digunakan sebagai senyawa antibakteri, khususnya terhadap bakteri S.
aureus.
Pengujian selanjutnya adalah uji t-Independent yang digunakan
untuk membandingkan aktivitas antibakteri terhadap dua jenis bakteri yang
berbeda yaitu bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. Data hasil
53
uji T-Independent dapat dilihat dalam Lampiran. Interpretasi hasil uji tIndependent dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Interpretasi Hasil Uji t-Independent Sampel terhadap
Bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus
Uji t-Independent bakteri
Sampel
E. coli dan S. aureus
S.0
Ada Perbedaan
S.1
Tidak Ada Perbedaan
S.2
Ada Perbedaan
S.3
Ada Perbedaan
Berdasarkan hasil uji t-Independent sampel kain spandex terhadap
bakteri E. coli dan bakteri S. aureus dapat diketahui perbedaan aktivitas
antibakteri sampel terhadap dua bakteri yang berbeda. Hasil uji tIndependent sampel kain spandex murni (S.0) terhadap bakteri E. coli dan
S. aureus menunjukkan adanya perbedaan. Perbedaan ini ditunjukkan oleh
nilai diameter zona jernih sampel. Diameter zona jernih sampel kain
spandex murni (S.0) terhadap bakteri E. coli adalah 0,0666 ± 0,041 cm,
sedangkan terhadap bakteri S. aureus adalah 0,0871 ± 0,015 cm.
Berdasarkan diameter zona jernih diketahui bahwa perbedaan yang ada
tidak signifikan. Selain itu juga diketahui bahwa diameter zona jernih
sampel kain spandex murni (S.0) terhadap bakteri S. aureus lebih besar
daripada terhadap bakteri E. coli. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas
antibakteri sampel kain spandex murni (S.0) terhadap bakteri S. aureus lebih
baik dibandingkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri E. coli.
Adanya perbedaan tersebut, kemungkinan dapat disebabkan oleh
ketidaksempurnaan dalam metode pengukuran. Hal tersebut dapat dilihat
dari nilai standar deviasi masing-masing sampel. Berdasarkan nilai standar
deviasi yang diperoleh, dapat diketahui bahwa kedua sampel tersebut masih
didalam rentang standar deviasi tersebut, sehingga boleh dikatakan bahwa
keduanya tidak ada perbedaan yang signifikan.
54
Hasil
uji
t-Independent
sampel
kain
spandex
terdeposit
nanopartikel perak (S.1) terhadap bakteri E. coli dan bakteri S. aureus
menunjukkan tidak ada perbedaan aktivitas antibakteri. Hal tersebut terlihat
dari rerata diameter zona jernih sampel kain spandex terdeposit nanopartikel
perak (S.1) yang hampir sama terhadap dua jenis yaitu bakteri E. coli dan S.
aureus yang masing-masing memiliki diameter 0,1533 cm dan 0,1811 cm.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa sampel kain spandex
terdeposit nanopartikel perak menunjukkan aktivitas antibakteri yang sama
besarnya terhadap dua jenis bakteri yaitu E. coli dan S. aureus. Dengan
demikian nanopartikel perak dapat memberikan aktivitas antibakteri yang
sama besarnya terhadap dua jenis bakteri yang berbeda yaitu E. coli dan S.
aureus.
Menurut Shateri-Khalilabad et al (2013), nanopartikel perak
menghasilkan diameter zona hambat yang lebih besar terhadap bakteri S.
aureus, yang berarti daya hambat nanopartikel perak terhadap pertumbuhan
bakteri S. aureus lebih besar daripada terhadap bakteri E. coli. Namun
perbedaan tersebut hanya terjadi pada konsentrasi tertentu dari koloid
nanopartikel perak yang digunakan. Hal ini sebagaimana data dari
Chandrakanth et al (2014) yang menunjukkan bahwa pada konsentrasi kecil
dari nanopartikel perak memberikan daya hambat yang lebih besar terhadap
bakteri E. coli, namun sebaliknya semakin besar konsetrasi nanopartikel
perak, maka daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus akan
semakain besar dari pada terhadap bakteri E. coli.
Berdasarkan hasil uji t-Independent sampel kain spandex terlapisi
HDTMS (S.2) terhadap bakteri E. coli dan S. aureus, diketahui bahwa
terdapat perbedaan aktivitas antibakteri. Perbedaan ini juga dapat dilihat
berdasarkan rerata diameter zona jernih sampel kain spandex terlapisi
HDTMS (S.2) terhadap dua jenis bakteri yaitu E. coli dan S. aureus yang
masing-masing memiliki rerata diameter 0,1195 cm dan 0,3111 cm.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sampel kain spandex terlapisi
55
HDTMS memberikan aktivitas antibakteri yang berbeda terhadap jenis
bakteri yang berbeda pula.
Apabila dilihat dari diameter zona jernih, sampel kain spandex
terlapisi HDTMS memberikan aktivitas antibakteri yang lebih besar
terhadap bakteri S. aureus karena menghasilkan diameter zona jernih yang
lebih besar. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori yang menyebutkan
bahwa penambahan senyawa HDTMS tidak mengurangi atau menambah
aktivitas antibakteri, khususnya bakteri S. aureus. Namun hal ini juga masih
perlu dikaji lebih jauh untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari senyawa
HDTMS (Shateri-Khalilabad et al, 2013).
Perbedaan juga terjadi pada hasil uji t-Independent sampel kain
spandex terdeposit nanopartikel perak dan terlapisi HDTMS (S.3) terhadap
bakteri E. coli dan S. aureus. Hasil tersebut juga dapat dilihat berdasarkan
rerata diameter zona jernih sampel kain spandex terdeposit nanopartikel
perak dan terlapisi HDTMS (S.3) terhadap dua jenis bakteri berbeda yaitu
E. coli dan S. aureus yang msing-masing memiliki rerata diameter 0,2422
cm dan 0,3922 cm.
Berdasarkan rerata diameter zona jernih tersebut, diketahui bahwa
sampel kain spandex terdeposit nanopartikel perak dan terlapisi HDTMS
menunjukkan aktivitas antibakteri yang lebih baik terhadap bakteri S.
aureus. Hal ini sebagaimana telah diketahui bahwa nanopartikel pera
memberikan daya hambat yang lebih besar terhadap pertumbuhan bakteri S.
aureus dibandingkan bakteri E. coli
(Shateri-Khalilabad et al, 2013).
Pengaruh penambahan HDTMS terhadap aktivitas antibakteri perlu dikaji
lebih lanjut, sebab belum ada penelitian yang dapat dijadikan sebagai dasar
teori yang relevan, sedangkan dalam penelitian ini senyawa HDTMS
digunakan sebagai agen hidrofob, bukan sebagai agen antibakteri.
Sebagaimana telah diketahui bahwa senyawa HDTMS bukan merupakan
agen antibakteri, melainkan senyawa yang dapat memberikan sifat hidrofob
(de Ferri et al, 2013).
56
BAB V
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Nanopartikel perak yang dihasilkan memberikan absorbansi pada 429 nm serta
memiliki ukuran partikel antara 30-80 nm.
2. Kain spandex memiliki gugus fungsi khas yaitu gugus uretan (-NH-COO-).
Penambahan nanopartikel perak tidak memberikan perubahan gugus fungsi
yang terdapat pada kain spandex, namun hanya menyebabkan munculnya
vibrasi pada gugus C-H. Sedangkan penambahan senyawa HDTMS
menyebabkan munculnya gugus alkil yang merupakan bagian dari senyawa
HDTMS yang bereaksi dengan permukaan kain spandex.
3. Kain spandex (S.0), spandex terlapisi HDTMS (S.2), dan spandex terdeposit
nanopartikel perak dan terlapisi HDTMS (S.3) menghasilkan sudut kontak
yang lebih besar dibandingkan spandex terdeposit nanopartikel perak (S.1).
Sehingga S.0; S.2; S.3 bersifat hidrofob, dan S.1 bersifat non-hidrofob.
4. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal aktivitas antibakteri terhadap
bakteri Staphylococcus aureus antara sampel kain spandex (S.0) terhadap
sampel kain spandex terdeposit nanopartikel perak (S.1), sampel kain spandex
terlapisi HDTMS (S.2) dan kain spandex terdeposit nanopartikel perak terlapisi
HDTMS (S.3).
5. Terdapat perbedaan signifikan dalam hal aktivitas antibakteri terhadap bakteri
Eschericia coli antara sampel kain spandex (S.0) dan kain spandex terlapisi
HDTMS (S.2) terhadap spandex terdeposit nanopartikel perak (S.1) dan kain
spandex terdeposit nanopartikel perak terlapisi HDTMS (S.3).
6. Tidak ada perbedaan dalam hal aktivitas antibakteri pada sampel kain sapndex
terdeposit nanopartikel perak (S.1) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan
bakteri Eschericia coli. Terdapat perbedaan dalam hal aktivitas antibakteri
pada sampel kain spandex (S.0), kain spandex terlaipisi HDTMS (S.2), dan
kain spandex terdeposit nanopartikel perak dan terlapisi HDTMS (S.3)
terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Eschericia coli.
57
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M., & Khairurrijal. (2009). Review: Karakterisasi Nanomaterial. Jurnal
Nanosains dan Teknologi, 2(1): 1-9.
Adams, M., & Moss, M. (1995). Food Microbiology. New delhi: New Age
International Publishers.
Agus Haryono, & Sri Budi Harmami. (2010). Aplikasi Nanopartikel Perak pada
Serat Katun sebagai Produk jadi Tekstil Antimikroba. Jurnal Kimia
Indonesia, Vol. 5(1): 1-6.
Agus Haryono, Dewi Sondari, & Sri Budi Harmami. (2008). The Synthesis of
Silver Nanoparticles Produced by Chemical Reduction of Silver Salt
Solution. Indonesian Journal of Materials Science, 1(1): 233-236.
Anshari, M.H., Saputra, A., Haryono, A., & Laksmono, J. (2011). Preparasi Koloid
Nanosilver Dengan Berbagai Jenis Reduktor Sebagai Bahan Anti Bakteri.
Jurnal Sains Materi Indonesia, 12(3): 202-208.
Chandrakanth, R.K., Ashajyothi, C., Oli A.K., & Prabhurajeshwari, C. (2014).
Potential Bactericidal Effect of Silver Nanoparticles Synthesised from
Enterococcus Species. Oriental Journal of Chemistry, 30(3): 1253-1262.
Chitte, H. K., Bhat, N. V., Kamakar, N. S., Kothari, D. C., & Shinde, G. N. (2012).
Synthesis and Characterization of Polymeric Composites Embeded with
Silver Nanoparticles. World Journal of Nano Science and Engineering, 2
(1): 19-24.
de Ferri, L., Lottici, P., Lorenzi, A., Montenero, A., & Vezzalini, G. (2013). Hybrid
sol-gel protective coatings for historical window glasses. Journal of sol-gel
science and technology, 66(2): 253-263.
Dewi, A. K. (2013). Isolasi, Identifikasi dan Uji Sensitivitas Staphylococcus aureus
Terhadap Amoxicillin dari Sampel Susu Kambing Peranakan Ettawa (PE)
Penderita Mastitis Di Wilayah Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta. Jurnal
Sain Veteriner, 31(2): 138-150.
Isabel C. Gouveia. (2010). Nanobiotechnology: A new strategy to develop nontoxic antimicrobial textiles. Current Research, Technology and Education
Topics in Applied Microbiology and Microbial Biotechnology. Formatex,
407-414.
Jain, P., & Pradeep, T. (2005). Potential of Silver Nanoparticle-Coated
Polyurethane Foam As an Antibacterial Water Filter. Biotechnology and
Bioengineering, 90(1): 59-63.
58
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. (2014). Permintaan Serat Sintetis
Stagnan.
http://www.kemenperin.go.id/artikel/5926/Permintaan-SeratSintetis-Stagnan. Diakses pada 14 Mei 2016.
Kusumastuti, A. (2011). Pengenalan Pola Gelombang Khas Dengan Interpolasi.
Jurnal Cauchy, 2(1): 7–12.
Lamour, G., & Hamraoui, A. (2010). Contact Angle Measurements Using a
Simplified. Journal of Chemical Education, 87(12): 1403-1407.
Latthe, S. S., Gurav, A. B., Maruti, C. S., & Vhatkar, R. S. (2012). Recent Progress
in Preparation of Superhydrophobic Surface: A Review. Journal of Surfae
Engineered Materials and Advanced Technology, 2(2): 76-94.
Li, D., Jin, Z., Zhou, Q., Chen, J., Lei, Y., & Sun, S. (2010). Discrimination of Five
Species of Fritillaria and Its Extract by FT-IR and 2D-IR. Journal of
Molecular Structure, 974(1-3): 68-72.
Melliawati, R. (2009). E. coli dalam Kehidupan Manusia. Bio Trends, 4(1): 11-14.
Mourad, M., Elshakankery, M. H., & Almetwally, A. A. (2012). Physical and
Strecth Properties of Woven Cotton Fabrics Containing Different Rates of
Spandex. Journal of American Science, 8(4), 567-572.
Mulongo, G., Mbabazi, J., Namuyomba, P., & Hak-Chol, S. (2011). Water
Bactericidal Properties of Nanosilver-Polyurethane omposites. Nanoscience
and Nanotechnology, 1(2): 40-42.
Pimpang, P., & Chopuun, S. (2011). Monodispersity and Stability of Gold
Nanoparticles Stabilized by Using Polyvinyl Alkohol. Chiang mai of
journal science, 38 (1): 31-38.
Prabhu, S., & Pouluse, K. (2012). Silver Nanoparticles: Mechanism of
antimicrobial action, synthesis, Medical Applications, and toxicity effects.
International Nano Letters, 2(32): 1-10.
Purnomo, A., Hartatik, Khusnan, Salasia, S., & Soegiyono. (2006). Isolasi dan
Karakterisasi Staphylococcus aureus Asal Susu Kambing Peranakan
Ettawa. Media kedokteran Hewan, 22(3): 142-147.
Ridwan Lasabuda. (2013). Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam
Perspektif Negara Kepulauan Republik Indonesia. Jurnal Ilmiah Platax.
I(2): 92-101.
Ristian, I., Wahyuni, S., Supardi, K.I. (2014). Kajian Pengaruh Konsentrasi Perak
Nitrat Terhadap Ukuran Nanopartikel Perak. Indonesian Journal of
Chemical Science, 3(1): 7-11.
59
Rohaeti, E., Surdia, N., Radiman, C. L., & Ratnaningsih, E. (2003). Pengaruh Jenis
Poliol terhadap Pembentukan Poliuretan dari Monomer PEG-400 dan MDI.
Journal of Mathematical and Fundamental Sciences, 35(2): 97-109.
Setyawan, H., Affandi, S., Hamidah, N., & Rizkiana, M. F. (2012). Pelapisan
Hidrofobik pada Kaca Melalui Metode Sol-Gel dengan Precursor
Waterglass. Jurnal Teknik Pomits, 1(1): 1-4.
Shateri-Khalilabad, M., Yazdanshenas, M.E., & Etemadifar, Ali. (2013).
Fabricating Multifunctional Silver Nanoparticles-coated Cotton Fabric.
Arabian
Journal
of
Chemistry,
http://dx.doi.org/10.1016j.arabjc.2013.08.013.
Singha, K. (2012). Analysis of Spandex/Cotton Elastomeric Properties: Spinning
and Aplications. International Journal of Composite Materials, 2(2): 11-16.
Solomon, S. D. (2007). Synthesis and Study of Silver Nanoparticles. Journal of
Chemical Education, 84(2): 322.
Sondi, I., & Sondi, B. (2004). Silver Nanoparticle as Antimicrobacterial Agent: a
case Study on E. coli as a Model for Gram-Negative Bacteria . J. Colloid
Interface, 275(1): 177-182.
Song, J., & Rojas, O.J. (2013). Approaching super-hydrophobicity from cellulosic
materials: A Review. Nordic Pulp & Paper Research Journal, 28(2): 216238.
Song, L., & Baney, R. H. (2010). Antibacterial evaluation of cotton textile treated
by trialkoxysilane compounds with antimicrobial moiety. Textile Research
Journal, 81(5): 504-511.
Stevens, M. (2007). Kimia Polimer. Cetakan 2. (Alih bahasa: L. Sopyan, Pradnya
Pranita). Jakarta: xxi.
Syakur, A., Karnoto, & Wijayanti, R. W. (2012). Pengaruh Kontaminan terhadap
Sudut Kontak. Jurnal Rekayasa Elektrika, 10(1): 52-56.
Teguh, P., & Joko, P. S. (2000). CHITOSAN SEBAGAI BAHAN KOAGULAN
LIMBAH CAIR INDUSTRI TEKSTIL. Jurnal Teknologi lingkungan, 1(2):
121-125.
Wahyudi, T., & Rismayani, S. (2008). Aplikasi Nanoteknologi pada BidangTekstil.
Arena Tekstil, 23(2): 52-109.
60
Lampiran 1. Spektrum UV-VIS Larutan AgNO3
61
Lampiran 2. Spektrum UV-VIS Nanopartikel Perak
62
Lampiran 3. Spektrum UV-VIS Larutan AgNO3 vs Nanopartikel Perak
63
Lampiran 4. Spektrum FTIR Kain Spandex (S.0)
64
Lampiran 5. Spektrum FTIR Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak (S.1)
65
Lampiran 6. Spektrum FTIR Kain Spandex Terlapisi HDTMS (S.2)
66
Lampiran 7. Spektrum FTIR Kain Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak dan
Terlapisi HDTMS (S.3)
67
Lampiran 8. Hasil Uji Sudut Kontak
a. Spandex (S.0)
b. Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak (S.1)
68
c. Spandex Terlapisi HDTMS (S.2)
d. Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak dan Terlapisi HDTMS (S.3)
69
Lampiran 9. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Kontrol Positif (+)
Terhadap Bakteri E. coli
70
Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri
Kontrol Positif (E. coli)
Waktu
(jam)
Sampel
1
24
2
3
1
28
2
3
1
31
2
3
1
49
2
3
1
52
2
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
1,12
1,03
1,13
0,86
0,93
0,9
0,8
0,82
0,82
1,07
1,02
1,08
0,91
0,94
0,92
0,85
0,855
0,845
1,05
0,95
1,09
0,93
0,96
0,9
0,83
0,84
0,87
1,08
0,99
1,07
0,9
0,91
0,92
0,91
0,83
0,88
1,02
1,05
1,11
0,88
0,93
71
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,47
0,38
0,48
0,21
0,28
0,25
0,15
0,17
0,17
0,42
0,37
0,43
0,26
0,29
0,27
0,2
0,205
0,195
0,4
0,3
0,44
0,28
0,31
0,25
0,18
0,19
0,22
0,43
0,34
0,42
0,25
0,26
0,27
0,26
0,18
0,23
0,37
0,4
0,46
0,23
0,28
Ratarata
0,44333
0,24667
0,16333
0,40667
0,27333
0,2
0,38
0,28
0,19667
0,39667
0,26
0,22333
0,41
0,25333
Waktu
(jam)
Sampel
3
1
55
2
3
1
61
2
3
1
70
2
3
1
72
2
3
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,9
0,84
0,84
0,85
1,1
1
1,01
0,93
0,91
0,95
0,95
0,91
0,9
1,03
1,01
1
0,94
0,9
0,92
0,91
0,95
0,91
1,02
1,02
1,01
0,9
0,93
0,91
0,91
0,94
0,93
1,04
1,06
1,01
0,91
0,91
0,92
0,94
0,91
0,9
72
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,25
0,19
0,19
0,2
0,45
0,35
0,36
0,28
0,26
0,3
0,3
0,26
0,25
0,38
0,36
0,35
0,29
0,25
0,27
0,26
0,3
0,26
0,37
0,37
0,36
0,25
0,28
0,26
0,26
0,29
0,28
0,39
0,41
0,36
0,26
0,26
0,27
0,29
0,26
0,25
Ratarata
0,19333
0,38667
0,28
0,27
0,36333
0,27
0,27333
0,36667
0,26333
0,27667
0,38667
0,26333
0,26667
Lampiran 10. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex (S.0) Terhadap
Bakteri E. coli
73
Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri
Spandeks (E. coli)
Waktu
Sampel
(jam)
1
24
2
3
1
28
2
3
1
31
2
3
1
49
2
3
1
52
2
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,62
0,62
0,62
0,6
0,6
0,6
0,56
0,56
0,56
0,62
0,62
0,62
0,6
0,6
0,6
0,56
0,56
0,56
0,62
0,62
0,62
0,6
0,6
0,6
0,56
0,56
0,56
0,62
0,62
0,62
0,6
0,6
0,6
0,56
0,56
0,56
0,62
0,62
0,62
0,6
0,6
0,67
0,75
0,63
0,7
0,72
0,64
0,59
0,62
0,64
0,65
0,66
0,63
0,7
0,73
0,74
0,6
0,62
0,64
0,66
0,635
0,63
0,72
0,71
0,67
0,66
0,62
0,61
0,63
0,625
0,635
0,69
0,72
0,69
0,6
0,6
0,62
0,65
0,64
0,64
0,78
0,74
0,05
0,13
0,01
0,1
0,12
0,04
0,03
0,06
0,08
0,03
0,04
0,01
0,1
0,13
0,14
0,04
0,06
0,08
0,04
0,015
0,01
0,12
0,11
0,07
0,1
0,06
0,05
0,01
0,005
0,015
0,09
0,12
0,09
0,04
0,04
0,06
0,03
0,02
0,02
0,18
0,14
74
Ratarata
0,06333
0,08667
0,05667
0,02667
0,12333
0,06
0,02167
0,1
0,07
0,01
0,1
0,04667
0,02333
0,14667
Waktu
Sampel
(jam)
3
1
55
2
3
1
61
2
3
1
70
2
3
1
72
2
3
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,6
0,56
0,56
0,56
0,62
0,62
0,62
0,6
0,6
0,6
0,56
0,56
0,56
0,62
0,62
0,62
0,6
0,6
0,6
0,56
0,56
0,56
0,62
0,62
0,62
0,6
0,6
0,6
0,56
0,56
0,56
0,62
0,62
0,62
0,6
0,6
0,6
0,56
0,56
0,56
0,72
0,61
0,62
0,64
0,69
0,63
0,63
0,77
0,8
0,72
0,61
0,64
0,62
0,63
0,64
0,63
0,72
0,76
0,69
0,6
0,62
0,61
0,64
0,625
0,63
0,79
0,72
0,71
0,6
0,59
0,61
0,63
0,635
0,64
0,78
0,71
0,72
0,61
0,6
0,6
0,12
0,05
0,06
0,08
0,07
0,01
0,01
0,17
0,2
0,12
0,05
0,08
0,06
0,01
0,02
0,01
0,12
0,16
0,09
0,04
0,06
0,05
0,02
0,005
0,01
0,19
0,12
0,11
0,04
0,03
0,05
0,01
0,015
0,02
0,18
0,11
0,12
0,05
0,04
0,04
75
Ratarata
0,06333
0,03
0,16333
0,06333
0,01333
0,12333
0,05
0,01167
0,14
0,04
0,015
0,13667
0,04333
Lampiran 11. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terdeposit
Nanopartikel Perak (S.1) Terhadap Bakteri E. coli
76
Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri
Spandeks + Nanoperak (E. coli)
Waktu
Sampel
(jam)
1
24
2
3
1
28
2
3
1
31
2
3
1
49
2
3
1
52
2
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,7
0,7
0,7
0,645
0,645
0,645
0,6
0,6
0,6
0,7
0,7
0,7
0,645
0,645
0,645
0,6
0,6
0,6
0,7
0,7
0,7
0,645
0,645
0,645
0,6
0,6
0,6
0,7
0,7
0,7
0,645
0,645
0,645
0,6
0,6
0,6
0,7
0,7
0,7
0,645
0,645
1,36
1,145
1,32
0,8
0,8
0,8
0,75
0,76
0,8
1,16
1,22
1,31
0,76
0,79
0,795
0,75
0,76
0,75
1,36
1,19
1,22
0,79
0,8
0,77
0,81
0,89
0,79
1,12
1,3
1,25
0,72
0,78
0,7
0,82
0,86
0,88
1,25
1,33
1,24
0,82
0,83
0,66
0,445
0,62
0,155
0,155
0,155
0,15
0,16
0,2
0,46
0,52
0,61
0,115
0,145
0,15
0,15
0,16
0,15
0,66
0,49
0,52
0,145
0,155
0,125
0,21
0,29
0,19
0,42
0,6
0,55
0,075
0,135
0,055
0,22
0,26
0,28
0,55
0,63
0,54
0,175
0,185
77
Ratarata
0,575
0,155
0,17
0,53
0,13667
0,15333
0,55667
0,14167
0,23
0,52333
0,08833
0,25333
0,57333
0,175
Waktu
Sampel
(jam)
3
1
55
2
3
1
61
2
3
1
70
2
3
1
72
2
3
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,645
0,6
0,6
0,6
0,7
0,7
0,7
0,645
0,645
0,645
0,6
0,6
0,6
0,7
0,7
0,7
0,645
0,645
0,645
0,6
0,6
0,6
0,7
0,7
0,7
0,645
0,645
0,645
0,6
0,6
0,6
0,7
0,7
0,7
0,645
0,645
0,645
0,6
0,6
0,6
0,81
0,89
0,89
0,88
1,14
1,29
1,11
0,76
0,83
0,81
0,89
0,79
0,91
1,24
1,17
1,31
0,81
0,83
0,79
0,86
0,82
0,8
1,31
1,22
1,18
0,79
0,84
0,81
0,85
0,79
0,88
1,3
1,19
1,23
0,8
0,84
0,82
0,81
0,86
0,83
0,165
0,29
0,29
0,28
0,44
0,59
0,41
0,115
0,185
0,165
0,29
0,19
0,31
0,54
0,47
0,61
0,165
0,185
0,145
0,26
0,22
0,2
0,61
0,52
0,48
0,145
0,195
0,165
0,25
0,19
0,28
0,6
0,49
0,53
0,155
0,195
0,175
0,21
0,26
0,23
78
Ratarata
0,28667
0,48
0,155
0,26333
0,54
0,165
0,22667
0,53667
0,16833
0,24
0,54
0,175
0,23333
Lampiran 12. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terlapisi
HDTMS (S.2) Terhadap Bakteri E. coli
79
Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri
Spandeks + HDTMS (E. coli)
Waktu
Sampel
(jam)
1
24
2
3
1
28
2
3
1
31
2
3
1
49
2
3
1
52
2
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,53
0,53
0,53
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,53
0,53
0,53
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,53
0,53
0,53
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,53
0,53
0,53
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,76
0,745
0,79
0,75
0,78
0,8
0,63
0,61
0,64
0,84
0,69
0,78
0,77
0,76
0,79
0,61
0,62
0,62
0,74
0,71
0,72
0,78
0,72
0,77
0,61
0,63
0,61
0,66
0,67
0,69
0,77
0,71
0,77
0,63
0,66
0,64
0,7
0,68
0,67
0,77
0,75
0,16
0,145
0,19
0,13
0,16
0,18
0,1
0,08
0,11
0,24
0,09
0,18
0,15
0,14
0,17
0,08
0,09
0,09
0,14
0,11
0,12
0,16
0,1
0,15
0,08
0,1
0,08
0,06
0,07
0,09
0,15
0,09
0,15
0,1
0,13
0,11
0,1
0,08
0,07
0,15
0,13
80
Ratarata
0,165
0,15667
0,09667
0,17
0,15333
0,08667
0,12333
0,13667
0,08667
0,07333
0,13
0,11333
0,08333
0,15
Waktu
Sampel
(jam)
3
1
55
2
3
1
61
2
3
1
70
2
3
1
72
2
3
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,62
0,53
0,53
0,53
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,53
0,53
0,53
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,53
0,53
0,53
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,53
0,53
0,53
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,53
0,53
0,53
0,79
0,66
0,65
0,61
0,69
0,68
0,68
0,78
0,75
0,77
0,64
0,62
0,65
0,68
0,7
0,67
0,79
0,74
0,76
0,61
0,66
0,65
0,69
0,67
0,69
0,75
0,79
0,77
0,67
0,625
0,63
0,68
0,701
0,695
0,745
0,76
0,79
0,64
0,665
0,61
0,17
0,13
0,12
0,08
0,09
0,08
0,08
0,16
0,13
0,15
0,11
0,09
0,12
0,08
0,1
0,07
0,17
0,12
0,14
0,08
0,13
0,12
0,09
0,07
0,09
0,13
0,17
0,15
0,14
0,095
0,1
0,08
0,101
0,095
0,125
0,14
0,17
0,11
0,135
0,08
81
Ratarata
0,11
0,08333
0,14667
0,10667
0,08333
0,14333
0,11
0,08333
0,15
0,11167
0,092
0,145
0,10833
Lampiran 13. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terdeposit
Nanopartikel Perak dan Terlapisi HDTMS (S.3) Terhadap Bakteri
E. coli
82
Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri
Spandeks + Nanoperak + HDTMS (E. coli)
Waktu
Sampel
(jam)
1
24
2
3
1
28
2
3
1
31
2
3
1
49
2
3
1
52
2
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,71
0,66
0,65
0,9
0,78
0,94
1
0,88
1,01
0,67
0,66
0,65
0,91
0,85
0,79
0,86
1
0,97
0,7
0,68
0,63
0,92
0,73
0,79
1,06
0,88
1,03
0,65
0,68
0,64
0,75
0,91
0,78
1,07
0,88
0,92
0,82
0,82
0,75
0,91
0,81
0,11
0,06
0,05
0,3
0,18
0,34
0,4
0,28
0,41
0,07
0,06
0,05
0,31
0,25
0,19
0,26
0,4
0,37
0,1
0,08
0,03
0,32
0,13
0,19
0,46
0,28
0,43
0,05
0,08
0,04
0,15
0,31
0,18
0,47
0,28
0,32
0,22
0,22
0,15
0,31
0,21
83
Ratarata
0,07333
0,27333
0,36333
0,06
0,25
0,34333
0,07
0,21333
0,39
0,05667
0,21333
0,35667
0,19667
0,25667
Waktu
Sampel
(jam)
3
1
55
2
3
1
61
2
3
1
70
2
3
1
72
2
3
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,85
1,01
1,05
1,02
0,8
0,76
0,79
0,82
0,89
0,87
1
1,02
1
0,76
0,81
0,73
0,8
0,91
0,83
1,01
0,99
1,04
0,8
0,74
0,77
0,82
0,89
0,79
0,995
1,01
1,04
0,795
0,81
0,74
0,81
0,91
0,81
1
1,035
1,02
0,25
0,41
0,45
0,42
0,2
0,16
0,19
0,22
0,29
0,27
0,4
0,42
0,4
0,16
0,21
0,13
0,2
0,31
0,23
0,41
0,39
0,44
0,2
0,14
0,17
0,22
0,29
0,19
0,395
0,41
0,44
0,195
0,21
0,14
0,21
0,31
0,21
0,4
0,435
0,42
84
Ratarata
0,42667
0,18333
0,26
0,40667
0,16667
0,24667
0,41333
0,17
0,23333
0,415
0,18167
0,24333
0,41833
Lampiran 14. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Kontrol Positif (+)
Terhadap Bakteri S. aureus
85
Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri
Kontrol Positif (S. aureus)
Waktu
Sampel
(jam)
1
24
2
3
1
28
2
3
1
31
2
3
1
49
2
3
1
52
2
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,85
0,83
0,82
1,1
1,2
1,16
0,79
0,83
0,81
0,84
0,835
0,81
1,025
1,14
1,11
0,8
0,83
0,79
0,84
0,8
0,86
1,12
1,16
1,15
0,83
0,88
0,89
0,81
0,86
0,82
1,31
1,16
1,21
1,1
1,01
1,07
0,89
0,88
0,85
1,26
1,22
0,2
0,18
0,17
0,45
0,55
0,51
0,14
0,18
0,16
0,19
0,185
0,16
0,375
0,49
0,46
0,15
0,18
0,14
0,19
0,15
0,21
0,47
0,51
0,5
0,18
0,23
0,24
0,16
0,21
0,17
0,66
0,51
0,56
0,45
0,36
0,42
0,24
0,23
0,2
0,61
0,57
86
Ratarata
0,18333
0,50333
0,16
0,17833
0,44167
0,15667
0,18333
0,49333
0,21667
0,18
0,57667
0,41
0,22333
0,6
Waktu
Sampel
(jam)
3
1
55
2
3
1
61
2
3
1
70
2
3
1
72
2
3
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
0,65
1,27
1,13
1,19
1,01
0,88
0,89
0,84
1,31
1,39
1,19
1,14
1,16
1,05
0,87
0,89
0,88
1,31
1,37
1,21
1,14
1,18
1,1
0,88
0,88
0,89
1,32
1,36
1,19
1,16
1,12
1,17
0,895
0,875
0,8
1,34
1,29
1,2
1,14
1,13
1,17
0,62
0,48
0,54
0,36
0,23
0,24
0,19
0,66
0,74
0,54
0,49
0,51
0,4
0,22
0,24
0,23
0,66
0,72
0,56
0,49
0,53
0,45
0,23
0,23
0,24
0,67
0,71
0,54
0,51
0,47
0,52
0,245
0,225
0,15
0,69
0,64
0,55
0,49
0,48
0,52
87
Ratarata
0,46
0,22
0,64667
0,46667
0,23
0,64667
0,49
0,23333
0,64
0,5
0,20667
0,62667
0,49667
Lampiran 15. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex (S.0) Terhadap
Bakteri S. aureus
88
Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri
Spandeks (S. aureus)
Waktu
Sampel
(jam)
1
24
2
3
1
28
2
3
1
31
2
3
1
49
2
3
1
52
2
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,59
0,59
0,59
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,59
0,59
0,59
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,59
0,59
0,59
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,59
0,59
0,59
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,83
0,79
0,84
0,61
0,62
0,61
0,6
0,605
0,59
0,85
0,89
0,9
0,6
0,62
0,615
0,63
0,62
0,65
0,9
0,84
0,77
0,61
0,6
0,62
0,65
0,63
0,62
0,92
0,82
0,88
0,62
0,64
0,6
0,66
0,69
0,7
0,81
0,9
0,87
0,66
0,65
0,19
0,15
0,2
0,01
0,02
0,01
0,01
0,015
0
0,21
0,25
0,26
0
0,02
0,015
0,04
0,03
0,06
0,26
0,2
0,13
0,01
0
0,02
0,06
0,04
0,03
0,28
0,18
0,24
0,02
0,04
0
0,07
0,1
0,11
0,17
0,26
0,23
0,06
0,05
89
Ratarata
0,18
0,01333
0,00833
0,24
0,01167
0,04333
0,19667
0,01
0,04333
0,23333
0,02
0,09333
0,22
0,04
Waktu
Sampel
(jam)
3
1
55
2
3
1
61
2
3
1
70
2
3
1
72
2
3
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,6
0,59
0,59
0,59
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,59
0,59
0,59
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,59
0,59
0,59
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,59
0,59
0,59
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,59
0,59
0,59
0,61
0,62
0,68
0,61
0,71
0,76
0,73
0,69
0,73
0,62
0,63
0,64
0,62
0,78
0,8
0,82
0,67
0,69
0,63
0,62
0,63
0,63
0,79
0,81
0,8
0,64
0,67
0,65
0,64
0,61
0,62
0,8
0,82
0,82
0,63
0,68
0,64
0,61
0,63
0,61
0,01
0,03
0,09
0,02
0,07
0,12
0,09
0,09
0,13
0,02
0,04
0,05
0,03
0,14
0,16
0,18
0,07
0,09
0,03
0,03
0,04
0,04
0,15
0,17
0,16
0,04
0,07
0,05
0,05
0,02
0,03
0,16
0,18
0,18
0,03
0,08
0,04
0,02
0,04
0,02
90
Ratarata
0,04667
0,09333
0,08
0,04
0,16
0,06333
0,03667
0,16
0,05333
0,03333
0,17333
0,05
0,02667
Lampiran 16. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terdeposit
Nanopartikel Perak (S.1) Terhadap Bakteri S. aureus
91
Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri
Spandeks + Nanoperak (S. aureus)
Waktu
Sampel
(jam)
1
24
2
3
1
28
2
3
1
31
2
3
1
49
2
3
1
52
2
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,87
0,92
0,95
0,81
0,8
0,83
0,77
0,75
0,71
0,81
0,97
0,82
0,82
0,855
0,81
0,88
0,82
0,8
0,96
0,89
0,97
0,92
0,79
0,83
1,1
1,04
0,95
0,91
0,89
0,92
0,83
0,86
0,84
1,15
1,01
1,1
1,02
0,87
0,99
0,89
0,84
0,29
0,34
0,37
0,13
0,12
0,15
0,12
0,1
0,06
0,23
0,39
0,24
0,14
0,175
0,13
0,23
0,17
0,15
0,38
0,31
0,39
0,24
0,11
0,15
0,45
0,39
0,3
0,33
0,31
0,34
0,15
0,18
0,16
0,5
0,36
0,45
0,44
0,29
0,41
0,21
0,16
0,58
0,58
0,58
0,68
0,68
0,68
0,65
0,65
0,65
0,58
0,58
0,58
0,68
0,68
0,68
0,65
0,65
0,65
0,58
0,58
0,58
0,68
0,68
0,68
0,65
0,65
0,65
0,58
0,58
0,58
0,68
0,68
0,68
0,65
0,65
0,65
0,58
0,58
0,58
0,68
0,68
92
Ratarata
0,33333
0,13333
0,09333
0,28667
0,14833
0,18333
0,36
0,16667
0,38
0,32667
0,16333
0,43667
0,38
0,19
Waktu
Sampel
(jam)
3
1
55
2
3
1
61
2
3
1
70
2
3
1
72
2
3
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,88
1,21
1,07
0,97
0,94
1,04
0,92
0,94
0,89
0,86
1,15
1,05
0,96
1,03
0,96
0,93
0,88
0,95
0,85
1,22
1,01
0,97
0,98
1,01
0,93
0,87
0,94
0,84
0,98
1,17
1,02
1
0,99
0,925
0,95
0,835
0,86
1,17
1
0,995
0,2
0,56
0,42
0,32
0,36
0,46
0,34
0,26
0,21
0,18
0,5
0,4
0,31
0,45
0,38
0,35
0,2
0,27
0,17
0,57
0,36
0,32
0,4
0,43
0,35
0,19
0,26
0,16
0,33
0,52
0,37
0,42
0,41
0,345
0,27
0,155
0,18
0,52
0,35
0,345
0,68
0,65
0,65
0,65
0,58
0,58
0,58
0,68
0,68
0,68
0,65
0,65
0,65
0,58
0,58
0,58
0,68
0,68
0,68
0,65
0,65
0,65
0,58
0,58
0,58
0,68
0,68
0,68
0,65
0,65
0,65
0,58
0,58
0,58
0,68
0,68
0,68
0,65
0,65
0,65
93
Ratarata
0,43333
0,38667
0,21667
0,40333
0,39333
0,21333
0,41667
0,39333
0,20333
0,40667
0,39167
0,20167
0,405
Lampiran 17. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terlapisi
HDTMS (S.2) Terhadap Bakteri S. aureus
94
Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri
Spandeks + HDTMS (S. aureus)
Waktu
Sampel
(jam)
1
24
2
3
1
28
2
3
1
31
2
3
1
49
2
3
1
52
2
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona Jernih
Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,61
0,61
0,61
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,61
0,61
0,61
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,61
0,61
0,61
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,61
0,61
0,61
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,995
0,875
0,835
0,86
0,89
0,95
0,94
1
0,97
1,02
0,91
0,9
0,97
0,92
0,93
1
0,98
0,99
0,91
0,95
0,88
0,83
0,86
0,89
0,99
1,02
1,01
0,92
0,92
0,92
0,84
0,91
0,92
1,005
1,06
1,03
1,04
0,85
0,86
0,89
0,84
0,375
0,255
0,215
0,24
0,27
0,33
0,33
0,39
0,36
0,4
0,29
0,28
0,35
0,3
0,31
0,39
0,37
0,38
0,29
0,33
0,26
0,21
0,24
0,27
0,38
0,41
0,4
0,3
0,3
0,3
0,22
0,29
0,3
0,395
0,45
0,42
0,42
0,23
0,24
0,27
0,22
95
Ratarata
0,28167
0,28
0,36
0,32333
0,32
0,38
0,29333
0,24
0,39667
0,3
0,27
0,42167
0,29667
0,25667
Waktu
Sampel
(jam)
3
1
55
2
3
1
61
2
3
1
70
2
3
1
72
2
3
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona Jernih
Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,62
0,61
0,61
0,61
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,61
0,61
0,61
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,61
0,61
0,61
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,61
0,61
0,61
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,62
0,61
0,61
0,61
0,9
1,03
0,96
1
0,885
0,86
0,88
0,91
0,85
0,865
1,04
1,01
0,98
0,9
0,85
0,845
0,905
0,88
0,85
1
1,02
1,005
0,84
0,88
0,895
0,91
0,855
0,86
1,03
1,01
0,995
0,87
0,88
0,865
0,905
0,86
0,86
1
1,01
1,03
0,28
0,42
0,35
0,39
0,265
0,24
0,26
0,29
0,23
0,245
0,43
0,4
0,37
0,28
0,23
0,225
0,285
0,26
0,23
0,39
0,41
0,395
0,22
0,26
0,275
0,29
0,235
0,24
0,42
0,4
0,385
0,25
0,26
0,245
0,285
0,24
0,24
0,39
0,4
0,42
96
Ratarata
0,38667
0,255
0,255
0,4
0,245
0,25833
0,39833
0,25167
0,255
0,40167
0,25167
0,255
0,40333
Lampiran 18. Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri Spandex Terdeposit
Nanopartikel Perak dan Terlapisi HDTMS (S.3) Terhadap Bakteri
S. aureus
97
Data Pengamatan Uji Aktivitas Antibakteri
Spandeks + Nanoperak + HDTMS (S. aureus)
Waktu
Sampel
(jam)
1
24
2
3
1
28
2
3
1
31
2
3
1
49
2
3
1
52
2
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,62
0,62
0,62
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,64
0,64
0,92
0,85
0,86
0,95
0,81
0,9
0,94
1,02
0,95
0,93
0,9
0,88
1,01
0,89
0,92
1,08
0,97
0,88
0,91
0,87
0,96
1
0,88
0,91
1,05
0,96
0,95
0,9
0,79
0,89
0,95
0,85
0,86
1,04
1,06
1,05
0,92
0,93
0,85
0,91
0,83
0,3
0,23
0,24
0,31
0,17
0,26
0,34
0,42
0,35
0,31
0,28
0,26
0,37
0,25
0,28
0,48
0,37
0,28
0,29
0,25
0,34
0,36
0,24
0,27
0,45
0,36
0,35
0,28
0,17
0,27
0,31
0,21
0,22
0,44
0,46
0,45
0,3
0,31
0,23
0,27
0,19
98
Ratarata
0,25667
0,24667
0,37
0,28333
0,3
0,37667
0,29333
0,29
0,38667
0,24
0,24667
0,45
0,28
0,24667
Waktu
Sampel
(jam)
3
1
55
2
3
1
61
2
3
1
70
2
3
1
72
2
3
Diameter
Sampel (cm)
Diameter Zona
Jernih Terukur (cm)
Diameter Zona
Jernih (cm)
0,64
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,62
0,62
0,62
0,64
0,64
0,64
0,6
0,6
0,6
0,92
1,04
0,97
1,09
0,86
0,92
0,935
0,9
0,93
0,82
1,03
1
1,075
0,87
0,91
0,93
0,915
0,845
0,895
0,995
1,04
1,08
0,9
0,88
0,91
0,92
0,83
0,9
1,03
1,08
0,99
0,86
0,9
0,91
0,91
0,905
0,84
1
1,025
1,08
0,28
0,44
0,37
0,49
0,24
0,3
0,315
0,26
0,29
0,18
0,43
0,4
0,475
0,25
0,29
0,31
0,275
0,205
0,255
0,395
0,44
0,48
0,28
0,26
0,29
0,28
0,19
0,26
0,43
0,48
0,39
0,24
0,28
0,29
0,27
0,265
0,2
0,4
0,425
0,48
99
Ratarata
0,43333
0,285
0,24333
0,435
0,28333
0,245
0,43833
0,27667
0,24333
0,43333
0,27
0,245
0,435
Lampiran 19. Tabel Uji ANOVA Dua Faktor terhadap Bakteri E. coli
Between-Subjects Factors
Value Label
Waktu_jam
Sampel
N
1.00
24
15
2.00
28
15
3.00
31
15
4.00
49
15
5.00
52
15
6.00
55
15
7.00
61
15
8.00
70
15
9.00
72
15
1.00
+
27
2.00
S.0
27
3.00
S.1
27
4.00
S.2
27
5.00
S.3
27
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: Diameter
Type III Sum of
Source
Squares
df
Mean Square
F
Sig.
.663a
44
.015
9.596
.000
5.031
1
5.031
3204.925
.000
Sampel
.589
4
.147
93.745
.000
Waktu_jam
.023
8
.003
1.854
.077
Sampel * Waktu_jam
.051
32
.002
1.013
.464
Error
.141
90
.002
Total
5.835
135
.804
134
Corrected Model
Corrected Total
a. R Squared = .824 (Adjusted R Squared = .738)
Ada 3 perbedaan mean yang diajukan:
1. Uji interaksi
Apakah mean yang ada merupakan pengaruh interaksi antara waktu
inkubasi dan jenis sampel terhadap aktivitas antibakteri?
Pengambilan keputusan antara lain:
100
a. Hipotesis
H0 : Tidak ada interaksi antara waktu inkubasi dan jenis sampel
H1 : Ada interaksi antara waktu inkubasi dan jenis sampel
b. Pengambilan Keputusan
Jika probabilita > 0,05 ; maka H0 diterima
Jika probabilita < 0,05 ; maka H0 ditolak
c. Keputusan
Terlihat dari F signifikansi adalah 0,464 atau > 0,05; maka H0 diterima.
Jadi tidak ada pengaruh interaksi antara waktu inkubasi dan jenis sampel
terhadap aktivitas antibakteri.
2. Uji Efek Faktor Waktu Inkubasi
Apakah mean yang ada merupakan pengaruh waktu inkubasi terhadap
aktivitas antibakteri?
Pengambilan keputusan antara lain:
a. Hipotesis
H0 : Tidak ada pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas antibakteri
H1 : Ada pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas antibakteri
b. Pengambilan Keputusan
Jika probabilita > 0,05 ; maka H0 diterima
Jika probabilita < 0,05 ; maka H0 ditolak
c. Keputusan
Terlihat dari F signifikansi adalah 0,077 atau > 0,05; maka H0 diterima.
Jadi tidak ada pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas antibakteri.
3. Uji Efek Faktor Jenis Sampel
Apakah mean yang ada merupakan pengaruh jenis sampel yang digunakan
terhadap aktivitas antibakteri?
Pengambilan keputusan antara lain:
a. Hipotesis
H0 : Tidak ada pengaruh jenis sampel terhadap aktivitas antibakteri
H1 : Ada pengaruh jenis sampel terhadap aktivitas antibakteri
b. Pengambilan Keputusan
Jika probabilita > 0,05 ; maka H0 diterima
101
Jika probabilita < 0,05 ; maka H0 ditolak
c. Keputusan
Terlihat dari F signifikansi adalah 0,000 atau < 0,05; maka H0 ditolak. Jadi
ada pengaruh jenis sampel yang digunakan terhadap aktivitas antibakteri.
Tabel Uji Lanjut LSD Waktu Inkubasi
Multiple Comparisons
Dependent Variable: Diameter
LSD
95% Confidence Interval
Mean Difference
(I) Waktu_jam
(J) Waktu_jam
24
28
-.00267
.014467
.854
-.03141
.02607
31
-.00733
.014467
.613
-.03607
.02141
49
-.01333
.014467
.359
-.04207
.01541
52
-.03600*
.014467
.015
-.06474
-.00726
55
-.04000*
.014467
.007
-.06874
-.01126
61
-.02067
.014467
.157
-.04941
.00807
70
-.02300
.014467
.115
-.05174
.00574
72
-.02233
.014467
.126
-.05107
.00641
24
.00267
.014467
.854
-.02607
.03141
31
-.00467
.014467
.748
-.03341
.02407
49
-.01067
.014467
.463
-.03941
.01807
52
-.03333*
.014467
.024
-.06207
-.00459
55
-.03733*
.014467
.011
-.06607
-.00859
61
-.01800
.014467
.217
-.04674
.01074
70
-.02033
.014467
.163
-.04907
.00841
72
-.01967
.014467
.177
-.04841
.00907
24
.00733
.014467
.613
-.02141
.03607
28
.00467
.014467
.748
-.02407
.03341
49
-.00600
.014467
.679
-.03474
.02274
52
-.02867
.014467
.051
-.05741
.00007
55
-.03267*
.014467
.026
-.06141
-.00393
61
-.01333
.014467
.359
-.04207
.01541
70
-.01567
.014467
.282
-.04441
.01307
72
-.01500
.014467
.303
-.04374
.01374
28
31
(I-J)
Std. Error
102
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
95% Confidence Interval
Mean
(I) Waktu_jam
(J) Waktu_jam
49
24
.01333
.014467
.359
-.01541
.04207
28
.01067
.014467
.463
-.01807
.03941
31
.00600
.014467
.679
-.02274
.03474
52
-.02267
.014467
.121
-.05141
.00607
55
-.02667
.014467
.069
-.05541
.00207
61
-.00733
.014467
.613
-.03607
.02141
70
-.00967
.014467
.506
-.03841
.01907
72
-.00900
.014467
.535
-.03774
.01974
24
.03600*
.014467
.015
.00726
.06474
28
.03333*
.014467
.024
.00459
.06207
31
.02867
.014467
.051
-.00007
.05741
49
.02267
.014467
.121
-.00607
.05141
55
-.00400
.014467
.783
-.03274
.02474
61
.01533
.014467
.292
-.01341
.04407
70
.01300
.014467
.371
-.01574
.04174
72
.01367
.014467
.347
-.01507
.04241
24
.04000*
.014467
.007
.01126
.06874
28
.03733*
.014467
.011
.00859
.06607
31
.03267*
.014467
.026
.00393
.06141
49
.02667
.014467
.069
-.00207
.05541
52
.00400
.014467
.783
-.02474
.03274
61
.01933
.014467
.185
-.00941
.04807
70
.01700
.014467
.243
-.01174
.04574
72
.01767
.014467
.225
-.01107
.04641
24
.02067
.014467
.157
-.00807
.04941
28
.01800
.014467
.217
-.01074
.04674
31
.01333
.014467
.359
-.01541
.04207
49
.00733
.014467
.613
-.02141
.03607
52
-.01533
.014467
.292
-.04407
.01341
55
-.01933
.014467
.185
-.04807
.00941
70
-.00233
.014467
.872
-.03107
.02641
72
-.00167
.014467
.909
-.03041
.02707
52
55
61
Difference (I-J)
Std. Error
103
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
95% Confidence Interval
Mean
(I) Waktu_jam
(J) Waktu_jam
70
24
.02300
.014467
.115
-.00574
.05174
28
.02033
.014467
.163
-.00841
.04907
31
.01567
.014467
.282
-.01307
.04441
49
.00967
.014467
.506
-.01907
.03841
52
-.01300
.014467
.371
-.04174
.01574
55
-.01700
.014467
.243
-.04574
.01174
61
.00233
.014467
.872
-.02641
.03107
72
.00067
.014467
.963
-.02807
.02941
24
.02233
.014467
.126
-.00641
.05107
28
.01967
.014467
.177
-.00907
.04841
31
.01500
.014467
.303
-.01374
.04374
49
.00900
.014467
.535
-.01974
.03774
52
-.01367
.014467
.347
-.04241
.01507
55
-.01767
.014467
.225
-.04641
.01107
61
.00167
.014467
.909
-.02707
.03041
70
-.00067
.014467
.963
-.02941
.02807
72
Difference (I-J)
Std. Error
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = .002.
*. The mean difference is significant at the ,05 level.
104
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
Tabel Uji Lanjut LSD
Multiple Comparisons
Dependent Variable: Diameter
LSD
95% Confidence Interval
Mean Difference
(I) Sampel
(J) Sampel
+
S.0
.14111*
.010783
.000
.11969
.16253
S.1
.03704*
.010783
.001
.01562
.05846
S.2
.16222*
.010783
.000
.14080
.18364
S.3
.02222*
.010783
.042
.00080
.04364
+
-.14111*
.010783
.000
-.16253
-.11969
S.1
-.10407*
.010783
.000
-.12550
-.08265
S.2
.02111
.010783
.053
-.00031
.04253
S.3
-.11889*
.010783
.000
-.14031
-.09747
+
-.03704*
.010783
.001
-.05846
-.01562
S.0
.10407*
.010783
.000
.08265
.12550
S.2
.12519*
.010783
.000
.10376
.14661
S.3
-.01481
.010783
.173
-.03624
.00661
+
-.16222*
.010783
.000
-.18364
-.14080
S.0
-.02111
.010783
.053
-.04253
.00031
S.1
-.12519*
.010783
.000
-.14661
-.10376
S.3
-.14000*
.010783
.000
-.16142
-.11858
+
-.02222*
.010783
.042
-.04364
-.00080
S.0
.11889*
.010783
.000
.09747
.14031
S.1
.01481
.010783
.173
-.00661
.03624
S.2
.14000*
.010783
.000
.11858
.16142
S.0
S.1
S.2
S.3
(I-J)
Std. Error
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = .002.
*. The mean difference is significant at the ,05 level.
105
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
Lampiran 20. Uji ANOVA Dua Faktor terhadap Bakteri S. aureus
Between-Subjects Factors
Value Label
Waktu_jam
Sampel
N
1.00
24
15
2.00
28
15
3.00
31
15
4.00
49
15
5.00
52
15
6.00
55
15
7.00
61
15
8.00
70
15
9.00
72
15
1.00
+
27
2.00
S.0
27
3.00
S.1
27
4.00
S.2
27
5.00
S.3
27
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: Diameter
Type III Sum of
Source
Squares
df
Mean Square
F
Sig.
161.881a
44
3.679
2.494
.000
1055.969
1
1055.969
715.711
.000
9.196
4
1.150
.779
.622
136.241
8
34.060
23.085
.000
16.444
32
.514
.348
.999
Error
132.787
90
1.475
Total
1350.638
135
294.669
134
Corrected Model
Waktu_jam
Sampel
Waktu_jam *
Sampel
Corrected Total
a. R Squared = .549 (Adjusted R Squared = .329)
Ada 3 perbedaan mean yang diajukan:
4. Uji Interaksi
Apakah mean yang ada merupakan pengaruh interaksi antara waktu
inkubasi dan jenis sampel terhadap aktivitas antibakteri?
106
Pengambilan keputusan antara lain:
d. Hipotesis
H0 : Tidak ada interaksi antara waktu inkubasi dan jenis sampel
H1 : Ada interaksi antara waktu inkubasi dan jenis sampel
e. Pengambilan Keputusan
Jika probabilita > 0,05 ; maka H0 diterima
Jika probabilita < 0,05 ; maka H0 ditolak
f. Keputusan
Terlihat dari F signifikansi adalah 0.999 atau > 0,05; maka H0 diterima.
Jadi tidak ada pengaruh interaksi antara waktu inkubasi dan jenis sampel
terhadap aktivitas antibakteri.
5. Uji Efek Faktor Waktu Inkubasi
Apakah mean yang ada merupakan pengaruh waktu inkubasi terhadap
aktivitas antibakteri?
Pengambilan keputusan antara lain:
d. Hipotesis
H0 : Tidak ada pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas antibakteri
H1 : Ada pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas antibakteri
e. Pengambilan Keputusan
Jika probabilita > 0,05 ; maka H0 diterima
Jika probabilita < 0,05 ; maka H0 ditolak
f. Keputusan
Terlihat dari F signifikansi adalah 0,622 atau > 0,05; maka H0 diterima.
Jadi tidak ada pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas antibakteri.
6. Uji Efek Faktor Jenis Sampel
Apakah mean yang ada merupakan pengaruh jenis sampel yang digunakan
terhadap aktivitas antibakteri?
Pengambilan keputusan antara lain:
d. Hipotesis
H0 : Tidak ada pengaruh jenis sampel terhadap aktivitas antibakteri
H1 : Ada pengaruh jenis sampel terhadap aktivitas antibakteri
e. Pengambilan Keputusan
107
Jika probabilita > 0,05 ; maka H0 diterima
Jika probabilita < 0,05 ; maka H0 ditolak
f. Keputusan
Terlihat dari F signifikansi adalah 0,000 atau < 0,05; maka H0 ditolak. Jadi
ada pengaruh jenis sampel yang digunakan terhadap aktivitas antibakteri.
Tabel Uji Lanjut LSD Waktu Inkubasi
Multiple Comparisons
Dependent Variable: Diameter
LSD
95% Confidence Interval
Mean Difference
(I) Waktu_jam
(J) Waktu_jam
24
28
-.18001
.443533
.686
-1.06116
.70115
31
-.36445
.443533
.413
-1.24561
.51670
49
-.64333
.443533
.150
-1.52448
.23783
52
-.72664
.443533
.105
-1.60780
.15452
55
-.68223
.443533
.128
-1.56339
.19892
61
-.74333
.443533
.097
-1.62449
.13782
70
-.72111
.443533
.107
-1.60227
.16004
72
-.69002
.443533
.123
-1.57118
.19114
24
.18001
.443533
.686
-.70115
1.06116
31
-.18445
.443533
.679
-1.06560
.69671
49
-.46332
.443533
.299
-1.34448
.41784
52
-.54663
.443533
.221
-1.42779
.33452
55
-.50223
.443533
.261
-1.38338
.37893
61
-.56333
.443533
.207
-1.44448
.31783
70
-.54111
.443533
.226
-1.42226
.34005
72
-.51001
.443533
.253
-1.39117
.37114
24
.36445
.443533
.413
-.51670
1.24561
28
.18445
.443533
.679
-.69671
1.06560
49
-.27887
.443533
.531
-1.16003
.60228
52
-.36219
.443533
.416
-1.24334
.51897
55
-.31778
.443533
.476
-1.19894
.56338
61
-.37888
.443533
.395
-1.26004
.50228
70
-.35666
.443533
.423
-1.23782
.52450
72
-.32557
.443533
.465
-1.20672
.55559
28
31
(I-J)
Std. Error
108
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
95% Confidence Interval
Mean Difference
(I) Waktu_jam
(J) Waktu_jam
49
24
.64333
.443533
.150
-.23783
1.52448
28
.46332
.443533
.299
-.41784
1.34448
31
.27887
.443533
.531
-.60228
1.16003
52
-.08331
.443533
.851
-.96447
.79784
55
-.03891
.443533
.930
-.92006
.84225
61
-.10001
.443533
.822
-.98116
.78115
70
-.07779
.443533
.861
-.95894
.80337
72
-.04669
.443533
.916
-.92785
.83446
24
.72664
.443533
.105
-.15452
1.60780
28
.54663
.443533
.221
-.33452
1.42779
31
.36219
.443533
.416
-.51897
1.24334
49
.08331
.443533
.851
-.79784
.96447
55
.04441
.443533
.920
-.83675
.92556
61
-.01669
.443533
.970
-.89785
.86446
70
.00553
.443533
.990
-.87563
.88668
72
.03662
.443533
.934
-.84454
.91778
24
.68223
.443533
.128
-.19892
1.56339
28
.50223
.443533
.261
-.37893
1.38338
31
.31778
.443533
.476
-.56338
1.19894
49
.03891
.443533
.930
-.84225
.92006
52
-.04441
.443533
.920
-.92556
.83675
61
-.06110
.443533
.891
-.94226
.82006
70
-.03888
.443533
.930
-.92004
.84228
72
-.00779
.443533
.986
-.88894
.87337
24
.74333
.443533
.097
-.13782
1.62449
28
.56333
.443533
.207
-.31783
1.44448
31
.37888
.443533
.395
-.50228
1.26004
49
.10001
.443533
.822
-.78115
.98116
52
.01669
.443533
.970
-.86446
.89785
55
.06110
.443533
.891
-.82006
.94226
70
.02222
.443533
.960
-.85894
.90338
72
.05331
.443533
.905
-.82784
.93447
52
55
61
(I-J)
Std. Error
109
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
95% Confidence Interval
Mean Difference
(I) Waktu_jam
(J) Waktu_jam
70
24
.72111
.443533
.107
-.16004
1.60227
28
.54111
.443533
.226
-.34005
1.42226
31
.35666
.443533
.423
-.52450
1.23782
49
.07779
.443533
.861
-.80337
.95894
52
-.00553
.443533
.990
-.88668
.87563
55
.03888
.443533
.930
-.84228
.92004
61
-.02222
.443533
.960
-.90338
.85894
72
.03109
.443533
.944
-.85006
.91225
24
.69002
.443533
.123
-.19114
1.57118
28
.51001
.443533
.253
-.37114
1.39117
31
.32557
.443533
.465
-.55559
1.20672
49
.04669
.443533
.916
-.83446
.92785
52
-.03662
.443533
.934
-.91778
.84454
55
.00779
.443533
.986
-.87337
.88894
61
-.05331
.443533
.905
-.93447
.82784
70
-.03109
.443533
.944
-.91225
.85006
72
(I-J)
Std. Error
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 1.475.
110
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
Tabel Uji Lanjut LSD
Multiple Comparisons
Dependent Variable: Diameter
LSD
95% Confidence Interval
Mean Difference
(I) Sampel
+
S.0
S.1
S.2
S.3
(J) Sampel
(I-J)
Std. Error
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
S.0
2.96297*
.330590
.000
2.30620
3.61975
S.1
.86049*
.330590
.011
.20371
1.51726
S.2
.71604*
.330590
.033
.05926
1.37281
S.3
.68025*
.330590
.043
.02348
1.33703
+
-2.96297*
.330590
.000
-3.61975
-2.30620
S.1
-2.10249*
.330590
.000
-2.75926
-1.44571
S.2
-2.24694*
.330590
.000
-2.90371
-1.59016
S.3
-2.28272*
.330590
.000
-2.93950
-1.62595
+
-.86049*
.330590
.011
-1.51726
-.20371
S.0
2.10249*
.330590
.000
1.44571
2.75926
S.2
-.14445
.330590
.663
-.80123
.51232
S.3
-.18024
.330590
.587
-.83701
.47654
+
-.71604*
.330590
.033
-1.37281
-.05926
S.0
2.24694*
.330590
.000
1.59016
2.90371
S.1
.14445
.330590
.663
-.51232
.80123
S.3
-.03579
.330590
.914
-.69256
.62099
+
-.68025*
.330590
.043
-1.33703
-.02348
S.0
2.28272*
.330590
.000
1.62595
2.93950
S.1
.18024
.330590
.587
-.47654
.83701
S.2
.03579
.330590
.914
-.62099
.69256
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 1.475.
*. The mean difference is significant at the ,05 level.
111
Lampiran 21. Uji t-Independent Kontrol Positif Terhadap Bakteri E. coli dan S.
aureus
Group Statistics
Bakteri
Diameter
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
E. coli
9
.2530
.04097
.01366
S. aureus
9
.3741
.14903
.04968
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances
t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Sig. (2-
Diameter
df
tailed)
Mean
F
Sig.
t
22.690
.000
-2.351
16
.032
-.12111
-2.351
9.202
.043
-.12111
Std. Error
Difference Difference
Difference
Lower
Upper
.05152
-.23033
-.01190
.05152
-.23727
-.00496
Equal
variances
assumed
Equal
variances not
assumed
1. Hasil pengujian F di atas menunjukkan bahwa nilai F sebesar 22,690 dengan
sig. 0,000. Oleh karena nilai sig. < 0,05 maka varians kedua kelompok
tersebut tidak homogen. Oleh karena itu uji t yang digunakan adalah t bagian
bawah (separate t test).
2. Hasil uji t ditemukan nilai t sebesar -2,351 dengan sig. (2-tailed) 0,043. Oleh
karena nilai sig. < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan
aktivitas antibakteri sampel kontrol positif terhadap bakteri E. coli dan S.
aureus. Oleh karena rata-rata diameter zona jernih kontrol positif dengan
bakteri S. aureus lebih besar dibandingkan rata-rata diameter zona jernih
kontrol positif dengan bakteri E. coli, maka dapat disimpulkan bahwa
aktivitas antibakteri kontrol positif lebih baik terhadap bakteri S. aureus
daripada terhadap bakteri E. coli.
112
Lampiran 22. Uji t-Independent Spandex (S.0) terhadap Bakteri E. coli dan S.
aureus
Group Statistics
Bakteri
Diameter
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
E. coli
9
.0666
.01098
.00366
S. aureus
9
.0871
.01517
.00506
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances
F
Diameter
Sig.
t-test for Equality of Means
t
df
Std.
95% Confidence
Mean
Error
Interval of the
Sig. (2-
Differen
Differe
Difference
tailed)
ce
nce
Lower
Upper
Equal
variances
1.319
.268
-3.275
16
.005
-.02045
.00624
-.03369
-.00721
-3.275 14.578
.005
-.02045
.00624
-.03379
-.00711
assumed
Equal
variances not
assumed
1. Hasil pengujian F di atas menunjukkan bahwa nilai F sebesar 1,319 dengan
sig. 0,268. Oleh karena nilai sig. > 0,05 maka varians kedua kelompok
tersebut homogen. Oleh karena itu uji t yang digunakan adalah t bagian atas
(pooled t test).
2. Hasil uji t ditemukan nilai t sebesar -3,275 dengan sig. (2-tailed) 0,005. Oleh
karena nilai sig. < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan
aktivitas antibakteri sampel spandex terhadap bakteri E. coli dan S. aureus.
Oleh karena rata-rata diameter zona jernih spandex dengan bakteri S. aureus
lebih besar dibandingkan rata-rata diameter zona jernih spandex dengan
bakteri E. coli, maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri spandex
lebih baik terhadap bakteri S. aureus daripada terhadap bakteri E. coli.
113
Lampiran 23. Uji t-Independent Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak (S.1)
terhadap Bakteri E. coli dan S. aureus
Group Statistics
Bakteri
Diameter
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
E. coli
9
.1533
.02828
.00943
S. aureus
9
.1811
.03018
.01006
Independent Samples Test
Levene's
Test for
Equality of
Variances
t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Diameter
F
Sig.
t
.397
.538
-2.015
df
Sig. (2-
Mean
Std. Error
tailed)
Difference
Difference
Difference
Lower
Upper
Equal
variances
16
.061
-.02778
.01379
-.05701 .00145
-2.015 15.933
.061
-.02778
.01379
-.05702 .00146
assumed
Equal
variances not
assumed
1. Hasil pengujian F di atas menunjukkan bahwa nilai F sebesar 0,397 dengan
sig. 0,538. Oleh karena nilai sig. > 0,05 maka varians kedua kelompok
tersebut homogen. Oleh karena itu uji t yang digunakan adalah t bagian atas
(pooled t test).
2. Hasil uji t ditemukan nilai t sebesar -2,015 dengan sig. (2-tailed) 0,061. Oleh
karena nilai sig. > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan
aktivitas antibakteri sampel spandex terhadap bakteri E. coli dan S. aureus.
114
Lampiran 24. Uji t-Independent Spandex Terlapisi HDTMS (S.2) terhadap Bakteri
E. coli dan S. aureus
Group Statistics
Bakteri
Diameter
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
E. coli
9
0.1195
.01236
.00412
S. aureus
9
0.3111
.01453
.00484
Independent Samples Test
Levene's
Test for
Equality of
Variances
t-test for Equality of Means
95% Confidence
Sig.
Diameter
F
Sig.
.101
.755
t
df
(2-
Mean
Std. Error
Interval of the
taile
Differenc
Differenc
Difference
d)
e
e
Lower
Upper
Equal
variances
-30.146
16 .000
-0.19165
.00636
-0.20513
-0.17818
-30.146
15.597 .000
-0.19165
.00636
-0.20516
-0.17815
assumed
Equal
variances
not
assumed
1. Hasil pengujian F di atas menunjukkan bahwa nilai F sebesar 0.101 dengan
sig. 0,755. Oleh karena nilai sig. > 0,05 maka varians kedua kelompok
tersebut homogen. Oleh karena itu uji t yang digunakan adalah t bagian atas
(pooled t test).
2. Hasil uji t ditemukan nilai t sebesar -30,146 dengan sig. (2-tailed) 0,000.
Oleh karena nilai sig. < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan
aktivitas antibakteri sampel S.2 terhadap bakteri E. coli dan S. aureus. Oleh
karena rata-rata diameter zona jernih sampel S.2 dengan bakteri S. aureus
lebih besar dibandingkan rata-rata diameter zona jernih sampel S.2 dengan
bakteri E. coli, maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri sampel
S.2 lebih baik terhadap bakteri S. aureus daripada terhadap bakteri E. coli.
115
Lampiran 25. Uji t-Independent Spandex Terdeposit Nanopartikel Perak dan
Terlapisi HDTMS (S.3) terhadap Bakteri E. coli dan S. aureus
Group Statistics
Bakteri
Diameter
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
E. coli
9
.2422
.02167
.00722
S. aureus
9
.3922
.07775
.02592
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances
t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Sig. (2-
F
Diameter
df
tailed)
Mean
Sig.
t
.099
-5.576
16
.000
-.15000
-5.576
9.235
.000
-.15000
Std. Error
Difference Difference
Difference
Lower
Upper
.02690
-.20703
-.09297
.02690
-.21062
-.08938
Equal
variances
3.070
assumed
Equal
variances not
assumed
1. Hasil pengujian F di atas menunjukkan bahwa nilai F sebesar 3,070 dengan
sig. 0,099. Oleh karena nilai sig. > 0,05 maka varians kedua kelompok
tersebut homogen. Oleh karena itu uji t yang digunakan adalah t bagian atas
(pooled t test).
2. Hasil uji t ditemukan nilai t sebesar -5,576 dengan sig. (2-tailed) 0,000. Oleh
karena nilai sig. < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan
aktivitas antibakteri sampel S.3 terhadap bakteri E. coli dan S. aureus. Oleh
karena rata-rata diameter zona jernih sampel S.3 dengan bakteri S. aureus
lebih besar dibandingkan rata-rata diameter zona jernih sampel S.3 dengan
bakteri E. coli, maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri sampel
S.3 lebih baik terhadap bakteri S. aureus daripada terhadap bakteri E. coli.
116
Lampiran 26. Dokumentasi Penelitian
117
Download