Proposal Disertasi : REKSADANA SYARIAH

advertisement
BAB I
( Word to PDF Converter - Unregistered )
Penerapan:
Al-Qur’an
akad
Prinsip-prinsip:
Operasional;
kontrak
Tauhid,
wakālah,
Al-Hadis
mud{ārabah
Nilai-Nilai
Istikhlaf,
Investor
Keadilan,
Ilahiah
Manajer
Reksa
Dana
Syari’ah
http://www.Word-to-PDF-Converter.netBAB
I
pendapatan
Undang-undang
halal
Khuluqiyah
Mas{lahah,
investasi
dan Penerapannya&No.
di 8
t{ayib,
TahunInsaniah
1995
transparan,
tentang Pasar
Nilai
Kesejahteraan.
Bank
Kustodian
Indonesia
PENDAHULUAN
jujur, profesional
Modal dan
keseimbangan.
Fatwa DSN MUI No.
A. Latar Belakang Masalah
Motivasi usaha manusia yang terpenting dalam kehidupan perekonomian
adalah keinginan untuk memperoleh keuntungan sebanyak mungkin dengan biaya
atau modal sedikit. Sistem ekonomi konvensional memandang secara berbeda
mengenai keberadaan modal dalam kegiatan produksi. Dalam sistem kapitalis,
modal dapat dimiliki oleh individu-individu dan dapat juga menjadi milik umum,
sementara dalam sistem sosialis dan komunis, modal merupakan hak milik umum.
Struktur modal yang dijadikan sebagai biaya usaha menghasilkan
keuntungan disebut sebagai modal. Ilmu ekonomi kapital yang dipelopori oleh
Adam Smith (kapitalisme) membedakan modal dalam dua aspek. Pertama; modal
yang menghasilkan barang-barang atau menambah manfaat barang-barang sehingga
dapat langsung dikonsumsi atau dipakai dalam produksi, disebut sebagai modal
produktif. Kedua; modal yang memberi penghasilan kepada pemiliknya setelah
modal itu dipergunakan oleh orang lain dengan menarik keuntungan, disebut
sebagai modal individu atau modal pemberi keuntungan.
Dalam ekonomi Islam, harta kekayaan (modal invetasi) sebagai hak milik
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Motivasi usaha manusia yang terpenting dalam kehidupan perekonomian
adalah keinginan untuk memperoleh keuntungan sebanyak mungkin dengan biaya
atau modal sedikit. Sistem ekonomi konvensional memandang secara berbeda
mengenai keberadaan modal dalam kegiatan produksi. Dalam sistem kapitalis,
modal dapat dimiliki oleh individu-individu dan dapat juga menjadi milik umum,
sementara dalam sistem sosialis dan komunis, modal merupakan hak milik umum.
Struktur modal yang dijadikan sebagai biaya usaha menghasilkan
keuntungan disebut sebagai modal. Ilmu ekonomi kapital yang dipelopori oleh
Adam Smith (kapitalisme) membedakan modal dalam dua aspek. Pertama; modal
yang menghasilkan barang-barang atau menambah manfaat barang-barang sehingga
dapat langsung dikonsumsi atau dipakai dalam produksi, disebut sebagai modal
produktif. Kedua; modal yang memberi penghasilan kepada pemiliknya setelah
modal itu dipergunakan oleh orang lain dengan menarik keuntungan, disebut
sebagai modal individu atau modal pemberi keuntungan.
Dalam ekonomi Islam, harta kekayaan (modal invetasi) sebagai hak milik
mutlah Allah dan kepada manusia diberi amanah yang wajib dikelola secara baik.
Modal sebagai faktor produksi dalam ekonomi Islam harus dijalankan dengan
berpatokan kepada kriteria syariah antara lain;
1. Islam mengharamkan penimbunan harta (modal tidak produktif) dan
menyuruh membelanjakannya, harta yang tidak produktif akan termakan
oleh zakat, maka harta harus diinvestasikan ke sektor usaha produktif,
2. Tidak dibenarkan akumulasi hak milik atas modal pada kelompok tertentu,
maka anjuran untuk melakukan kerja sama baik dalam bentuk penyertaan
modal kerja maupun persekutuan modal usaha adalah metode pemerataan
ekonomi dalam Islam,
3. Islam mengharamkan bentuk pinjaman modal dengan menarik bunga
pinjaman sebagai model keuntungan modal, dan menganjurkan usaha
produktif seperti, jual beli, pemberian modal usaha/modal kerja, wasiat,
hibah dan waris, dan
4. Mewajibkan zakat atas harta simpanan (tidak produktif) serta zakat
produktif yang telah memenuhi standar wajib zakat (cukup nisab dan
mencapai haul).
Dengan demikian ekonomi Islam menegaskan prinsip pembentukan modal
yang berorientasi kepada investasi yang didasari moral dan etika agama
sehingga hasil produksi selain memberi manfaat kepada konsumen, juga
mendapat berkah dari Allah sebagai pemilik mutlak atas modal.
Kajian terhadap masalah modal investasi menempati bagian terbesar dari
ruang dan jiwa manusia secara individu dan sosial menurut tingkat dan taraf hidup
masing-masing
komunitas, wilyah, daerah atau negara. Sebab hal ini terkait
dengan tingkat pendapatan dan peningkatan taraf hidup masyarakat yang akan
mempengaruhi kemuliaan hidup, sistem dan proses kehidupan, dan dari sisi ini
konsep investasi dalam suatu negara selalu terkait dengan kebijakan politik suatu
bangsa.
Usaha untuk meningkat fungsi modal dalam investasi diperlukan peranan
lembaga keuangan dalam memobilisasi lalulintas pembiayaan guna mendorong
dinamika perekonomian, oleh karena itu lembaga keuangan bank akan senantiasa
menciptakan iklim investasi yang sehat untuk meningkatkan fungsi dan efisiensi
modal di dalam melayani masyarakat membiayai usaha-uasaha produktif.
Sehubungan dengan penggunaan modal investasi diperlukan kebijakan monoter
berupa tindakan deregulasi dan debirokrasi di bidang perbankan untuk mendorong
usaha-usaha produktif sehingga mampu bersaing di pasar bebas.
Di Indonesia, deregulasi perbankan nasional yang dimulai sejak tahun
1998 telah membuka peluang usaha melalui prinsip bagi hasil sehingga memberi
iklim investasi yang sehat dan menggairahkan. Deregulasi perbankan yang
kemudian
mempertegas
berlakunya
perbankan
Islam
ditandai
dengan
penandatanganan akta pendirian Bank Muamalat Indonesia tanggal 1 Mei 1992.
Beroperasinya bank Islam yang menerapkan prinsip syariah dalam semua produk
telah mendorong sejumlah bank konvesnional untuk ikut membuka unit usaha
syariah sekaligus menandai berkembangnya perbankan syariah, maka pada tanggal
16 Juli 2008 lahirlah Undang-Undang Nomor 21 Tentang Bank Syariah sebagai
lembaga keuangan Islam yang secara resmi beroperasi sejajar dengan perbankan
nsioanal lainnya di Indonesia.
Peranan perbankan pada negara-negara berkembang termasuk di Indonesia
umumnya mendominasi ke seluruh sektor perekonomian baik dilihat dari segi
kepemilikan asset, pengumpulan dana maupun penyaluran dana dalam dinamika
perekonomian. Kegiatan ekonomi sektor perbankan pada
umumnya masih
mempunyai orientasi utama pada pembiayaan, kegiatan perdagangan dan jasa
dengan dominasi pelayanannya kepada masyarakat di daerah perkotaan untuk
pemberian kredit dan kegiatan investasi lainnya.
Dengan sendirinya eksistensi
perbankan masih mengandalkan
sistem finansial yang didominasi oleh
dana yang dihimpun dan disalurkan untuk
pembangunan, khususnya di sektor swasta yang sebagian besar masih berasal dari
perbankan itu sendiri. Hal itu antara lain disebabkan oleh masih kurang
berperannya Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dalam kegiatan pengerahan
sumber dana dari dalam dan dari luar negeri serta penyalurannya kepada sektor
kegiatan yang produktif. Di lain pihak, pasar modal sebagai salah satu sumber
permodalan terpenting bagi kegiatan investasi dan pembangunan belum
menunjukkan perkembangan yang berarti, padahal usaha untuk meningkatkan
peranan sektor swasta dalam investasi dan pembangunan menuntut semakin
meningkatnya kegiatan pasar modal sebagai salah satu sumber pembiayaan.
Sementara itu, kaidah umum tentang investasi yang luas dan dinamis sangat
ditentukan oleh besar kecilnya modal sebagai penggerak berbagai jenis usaha
yang dikembangkan. Dalam lapangan perniagaan, modal telah mengambil peran
strategis untuk kegiatan transaksi yang memperlancar arus barang dan jasa dari
dan ke berbagai lapisan masyarakat.
Dewasa ini dengan meningkatnya hubungan perniagaan yang mengglobal
telah mendorong investor melakukan berbagai transaksi secara praktis dan efisien
mengikuti irama kemajuan tehnologi informasi yang mengambil peran di semua
sektor kegiatan. Sejalan dengan perkembangan dalam perniagaan dan penggunaan
pembiayaan sebagai salah satu media transaksi, telah mendorong
pula
perkembangan yang sama pesatnya di dalam bisnis lembaga permodalan.
Gagasan untuk menghimpun sumber daya keuangan (dana) yang dimiliki
individu-individu di bawah arahan Manajer investasi profesional yang selanjutnya
melakukan diverivikasi secara luas yang pada gilirannya menguntungkan pemilik
modal justru merupakan ide fenomenal di abad ini.
Kehadiran lembaga permodalan di bawah kewenangan Manajer investasi
profesional memberi harapan baru bagi para individu yang memiliki modal kecil
namum berobsesi untuk berinvestasi secara luas sejajar dengan pemilik pemodal
kelas menengah ke atas.
Ekspansi yang cepat di bidang industri, perdagangan, jasa, dan kegiatan
ekonomi lain telah mempercepat tumbuh dan lahirnya berbagai jenis lembaga
permodalan yang mula-mula bersifat umum, dan kemudian mengarah spesialisasi.
Tugas pokok lembaga permodalan adalah berupaya menghimpun dana dari
masyarakat
dan
menyalurkannya
kembali
kepada
masyarakat
yang
memerlukannya. Karena sebagian besar lembaga permodalan masih mengandalkan
sumber pendapatan utamanya dari operasi pembiayaan, sehingga untuk
mendapatkan margin yang baik diperlukan pengelolaan pembiayaan secara efektif
dan efisien.
Bagi kebanyakan masyarakat, modal (dana) yang dimiliki mungkin belum
tersedia saat ini untuk memenuhi keinginan atas sejumlah kebutuhan yang
diharapkan sehingga harus menunda keinginannya tersebut kemudian berusaha
memikirkan
bagaiman
caranya
mengakumulasi
dana
untuk
membiayai
kebutuhannya sekarang dan yang akan datang. Sementara sebagian masyarakat
mungkin telah memiliki dana atau aset untuk dapat memenuhi kebutuhannya, baik
yang saat ini maupun yang akan datang, namun bukan berarti mereka tidak lagi
melakukan investasi.
Berinvestasi pada prinsipnya bukan hanya keinginan sekelompok orang,
melainkan harapan dan cita-cita setiap orang terhadap kepentingan dan kebutuhan
masa depan. Secara ekonomis setiap orang selalu berupaya mengalokasikan
penghasilannya tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan jangka pendek, akan
tetapi diharapkan untuk persiapan masa akan datang. Menyadari akan adanya
kebutuhan masa depan, maka sebagian besar masyarakat secara sadar membatasi
konsumsinya terhadap barang dan jasa yang dikuasai dan menyisihkan sebagain
penghasilan yang diperoleh hari ini untuk disimpan (ditabung) sebagai cadangan
kebutuhan masa yang akan datang, lebih dari itu diharapkan penghasilan yang tidak
dikonsumsi tersebut dapat dikembangkan untuk menambah nilai asset atau
melindungi nilai asset yang sudah dimiliki.
Pilihan untuk berinvestasi itu sendiri memerlukan beberapa proses berupa
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan penyesuaian di mana secara sederhana
langkah-langkah tersebut dikategorikan sebagai suatu proses sistimatis, dinamis,
dan berkelanjutan. Proses inilah yang membedakan persepsi tentang menabung
yang dikategorikan sebagai bentuk investasi paling sederhana. Dalam menabung,
orang hanya mengetahui satu cara dari investasi yaitu tabungan atau deposito di
bank. Sementara dalam berinvestasi memerlukan perencanaan untuk kebutuhan
apa dana yang akan investasikan, berapa lama waktu yang dibutuhkan, instrument
investasi apa yang akan dipilih, bentuk pengalokasian dana kepada masing-masing
instrument, bentuk kegiatan dalam melaksanakan atau melakukan implementasi,
serta metode evaluasi atas hasil yang dicapai. Dari sini, persepsi tentang
berinvestasi tidak semata-mata ditentukan oleh modal yang tersedia, melainkan
juga harus dikelola oleh pelaku usaha yang memiliki keahlian dan kemampuan
secara manajerial yang disebut sebagai Manajer Investasi yaitu suatu bentuk
perusahaan yang kegiatan usahanya mengelola portofolio efek. Kendatipun
berinvestasi merupakan kehendak semua orang, akan tetapi tidak selamanya setiap
orang, terutama para pemilik modal memiliki kemampuan dan keahlian dalam
mengoperasikan dananya ke arah pengembangan maupun penambahan nilai asset,
maka untuk tujuan investasi setiap orang baik secara individu maupun kelompok
dapat memilih menempatkan modalnya kepada lembaga atau para pihak yang
diakui kemampuan manajerialnya dalam pengelolaan modal investasi.
Investasi dalam kajian ekonomi keuangan dibedakan menjadi dua jenis:
pertama; investasi aktif di mana seseorang atau lebih menempatkan modalnya
dalam suatu proyek, mengatur dan mengelola proyek tersebut secara
bersama-sama dan menikmati hasil dari tenaga kerja dan modal mereka sendiri.
Kedua; investasi pasif di mana investor menyediakan modal dan menerima return
(penghasilan) dari proyek
akan tetapi tidak terjun secara langsung dalam
pengelolaan proyek. Investasi pasif mempunyai tiga opsi: pertama, investor
mendepositokan modalnya (uang) pada bank untuk mendapatkan bunga; kedua,
membeli sekuritas dan obligasi dan menerima bunga; ketiga, investor
memberikannya kepada saham dalam sebuah perusahaan dan menerima dividen.
Dalam pandangan ekonomi Islam, konsep tentang investasi aktif adalah
suatu keharusan berdasarkan landasan filosofis Islam tentang perintah
mengerjakan amal shaleh bagi setiap muslim. Oleh karena itu setiap muslim baik
secara individu maupun berkelompok menempatkan modal dalam suatu usaha
(proyek) yang ditekuni, maka mereka berhak untuk menikmati hasil-hasilnya.
Sedangkan konsep tentang investasi pasif, maka dua opsi dari investasi pasif di
mana investor mendepositokan modal (uang) pada bank untuk mendapatkan
return (bunga) dan membeli sekuritas serta membeli obligasi untuk mengambil
bunga digolongkan sebagai investasi ribawai dan dilarang dalam Islam. Opsi ketiga
dari investasi pasif yaitu investor menempatkan saham pada sebuah perusahaan
yang menjalankan kegiatan investasi, maka investor berhak memperoleh hasilnya
tanpa keterlibatannya pada proyek atau usaha yang dijalankan dan opsi terakhir ini
dibenarkan dalam pandangan ekonomi Islam.
Reksa dana dapat dikategorikan sebagai bentuk investasi opsi ketiga, di
mana para pemilik modal ketika mengalami kesulitan untuk melakukan investasi
dapat menempatkan modalnya melalui wadah atau lembaga yang kegitannya
menghimpun dana dari masyarakat untuk diinvestasikan dalam portofolio efek
oleh Manajer investasi. Sebagai suatu model investasi yang belakangan ini banyak
diminati masyarakat, maka perlu dikaji pola penerapanannya berdasarkan prinsip
syariah terutama yang berkembang di Indonesia.
Praktek reksa dana dalam ekonomi syariah diyakini akan labih mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional sebagaimana Bank Syariah yang telah lama hadir
dan perjalanannya telah memperlihatkan sukses besar ketika ia terbebas dari
krisis moneter, tidak memerlukan dana rekapitalisasi, dan bahkan mampu
membukukan keuntungan atau laba yang berlipat, sementara ekonomi
konvensional saat itu justru mengalami kondisi yang sebaliknya dan bahkan hingga
saat ini masih kesulitan untuk kembali pulih seperti sebelum terjadi krisis.
Dengan demikian, ini merupakan bukti bahwa kehadiran ekonomi syariah sebagai
lembaga keuangan yang terbebas dari bunga ternyata lebih tangguh.
Dominasi ekonomi konvensional dewasa ini membuat tingkat bunga
masih menjadi referensi (bench-mark) bagi para nasabah ekonomi. Tetapi tidak
bagi sebagian kalangan yang enggan berhubungan dengan ekonomi konvensional,
karena alasan bahwa pada ekonomi konvensional terdapat unsur riba. Keyakinan
ini didasarkan pada beberapa hadis Rasulullah Muhammad saw, misalnya yang
diriwayatkan Imam Muslim sebagai berikut:
‫ىَّلَص ِهَّللا ُلوُسَر َنَعَل َلاَق ِهَّللا ِدْبَع ْنَع‬
‫َلاَق ُهَلِكْؤُمَو اَبِّرلا َلِكآ َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا‬
‫ُثِّدَحُن اَمَّنِإ َلاَق ِهْيَدِهاَشَو ُهَبِتاَكَو ُتْلُق‬
‫)ملسم هاور( اَنْعِمَس اَمِب‬
Artinya :
Dari Abdullāh r.a. berkata, Rasulullah saw. melaknat orang yang memakan
(mengambil) dan memberikan riba. Rawi berkata : “saya bertanya: (apakah
Rasulullah s.a.w. melaknat juga) orang yang menuliskan dan dua orang
yang menjadi saksinya ?” Ia (Abdullah) menjawab: “kami hanya
menceritakan apa yang kami dengar” (HR. Muslim).
Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Nasā’i bahwa,
‫ىَّلَص ِهَّللا ُلوُسَر َلاَق َلاَق َةَرْيَرُه يِبَأ ْنَع‬
‫ِساَّنلا ىَلَع يِتْأَي َلاَق َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا‬
‫ُهْلُكْأَي ْمَل ْنَمَف اَبِّرلا َنوُلُكْأَي ٌناَمَز‬
‫ِهِراَبُغ ْنِم ُهَباَصَأ‬
Artinya :
Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah s.a.w bersabda: akan datang
kepada umat manusia suatu masa di mana mereka (terbiasa) memakan riba.
Barang siapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya”. (HR.
al-Nasā’i).
Dalam kondisi perekonomian yang mengalami krisis, yang ditunjukkan
oleh pertumbuhan sektor ril yang kecil, berarti bagi hasil yang diperoleh ekonomi
syariah pun akan kecil, jauh lebih kecil dari tingkat bunga. Akibatnya berinvestasi
di reksa dana syariah dianggap tidak menarik bagi masyarakat yang masih
memiliki sikap bermotif keuntungan ekonomi.
Salah satu prinsip ekonomi dalam al-Qur’ān dan hadis adalah mencari
keuntungan, namun harus dengan cara yang halal, dan terhindar dari mal praktik
seperti riba, garar dan semacamnya seperti yang telah disebutkan. Perolehan
keuntungan tersebut berdasar pada kata tijārah dalam al-Qur’ān yang berakar dari
kata ajrun berarti upah dan bisa juga berarti pahala. Ajrun yang berarti upah
merupakan keuntungan materiil, dan ajrun yang berarti pahala merupakan
keuntungan spiritual. Dengan adanya petunjuk al-Qur’ān seperti itu, praktis
melahirkan pemikiran bahwa aktivitas ekonomi manusia bertujuan mencari
keuntungan.
R. Lukman Fauroni menyatakan, ajaran Islam memberikan tuntunan
bagaimana keuntungan yang baik. Tuntunan ini, merupakan visi ekonomi Islam
yang jelas, yaitu visi masa depan yang bukan semata-mata mencari keuntungan
sesaat tetapi merugikan, melainkan mencari keuntungan yang secara hakikat baik
dan berakibat baik pula bagi kesudahannya dan pengaruhnya.
M. Quraish Shihab menyatakan bahwa masalah ekonomi telah menjadi
perhatian utama ajaran Islam, karena memang masalah tersebut sesuatu yang
penting dalam kehidupan, bahkan dapat mengakibatkan runtuh dan tegaknya
kemanusiaan karena kegiatan ekonomi merupakan salah satu aspek dari hubungan
antar manusia. Demikian besarnya perhatian Islam terhadap masalah tersebut,
maka ditemukan dalam ayat terpanjang redaksinya dalam al-Qur’ān yang khusus
membahas masalah ekonomi, yakni QS. al-Baqarah (2): 282.
Kajian tentang materi ekonomi itu sendiri secara umum dimulai dari
problema kebutuhan. Ketika kebutuhan manusia masih bisa terpenuhi oleh sumber
daya (barang dan jasa) yang tersedia maka tidak akan terjadi persoalan bahkan juga
tidak akan terjadi persaingan dalam hidup. Namun kebutuhan manusia apabila
sudah melebihi kapasitas barang dan jasa yang tersedia maka akan terjadi
persoalan yang kemudian disebut sebagai
”kelangkaan”. Pada kondisi yang
demikian manusia akan menentukan pilihan untuk mengalokasikan sumber daya
yang dikuasai agar kebutuhannya dapat tercapai secara optimal sehingga para
digma tentang problem ekonomi terletak pada terbatasnya sumber daya
kebutuhan.
Sementara itu, ekonomi syariah menggunakan konsep bahwa kebutuhan
manusia terbatas, dan harus disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas jasmani
manusia. Setiap orang tidak dapat mengkonsumsi sesuatu melebihi kemampuan
jasmaninya, misalnya makan dan minum bila sudah merasa kekenyangan maka ia
tidak mungkin untuk makan dan minum lagi. Demikian pula jika kebutuhan akan
papan bila telah menempati suatu rumah, tidak mungkin ia menempati lagi rumah
yang lain dalam waktu yang bersamaan walaupun yang bersangkutan memiliki
lebih dari satu rumah. Ini menggambarkan bahwa kebutuhan terhadap sesuatu
memiliki batas. Yang tidak terbatas sebetulnya adalah hanyalah keinginan yang
membuat seseorang selalu cenderung menambah dan menambah lagi dari apa yang
telah dimilikinya.
Jika ekonomi konvensional ditelusuri dalam aspek cara-cara produksi,
maka sistem ini menggunakan etika eksploitasi, sebab pada prinsipnya adalah
manusia tidak memiliki hak batas untuk mengesploitirnya, sementara dalam
perspektif syariah hak milik ada batasnya. Menurut M. Nasir Hamzah bahwa
mengenai hak milik adalah Allah, manusia adalah petugas. Dia harus melaksanakan
hukum-hukum dan perintah Allah dalam mengeksploitir alam dan sebagai khalifah
dan wakil Allah dalam pemakmuran ini. Ringkasnya, Islam tidak mengurangi
naluri dan fitrah dari seseorang maupun orang banyak untuk memiliki, hanya saja
Islam membatasi pemilik dalam penggunaan-penggunaan hak miliknya.
Selanjutnya Mustaq Ahmad menyatakan bahwa, konsep pemilikan dalam
Islam didasarkan pada tiga pandangan:
a. Pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada di bumi adalah Allah swt.
Kepemilikan manusia adalah relatif.
b. Manusia hanyalah menjalankan amanah dari Allah swt untuk memanfaatkan
harta sebaik-baiknya dan untuk kemaslahatan manusia.
c. Harta
dipandang
sebagai
perhiasan
hidup
dan
menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan.
manusia
disuruh
d. Harta benda harus diperoleh manusia dengan jalan yang halal.
e. Di samping memiliki fungsi pribadi, harta dalam Islam juga memiliki
fungsi sosial.
Dengan mencermati penjelasan di atas, dipahami bahwa konsep ekonomi
syariah tidak mengandung dikotomi dalam sistemnya sendiri baik antara
kebutuhan material, spiritual, duniawi-ukhrawi, maupun kepentingan individu dan
sosial.
M. Arfin Hamid menyatakan bahwa dengan berkembang ekonominya
institusi syariah atau ekonomi Islam, maka institusi konvensional merasakan
ketinggalannya jika mengakomodasi sistem ekonomi Islam, atau ekonomi syariah
secara berbarengan, khususnya di bidang perekonomian. Demikian pula pada
sejumlah bidang ekonomi lainnya, seperti asuransi konvensional yang tidak
lengkap jika tidak membuka sistem asuransi syariah di sampingnya. Tidak
ketinggalan pula di bidang pasar modal, koperasi, pegadaian, bahkan multilevel
marketing juga menggandeng modal syariah di sisinya. Di samping yang telah
dikemukakan, adalagi institusi atau lembaga ekonomi yang disebut reksa dana,
yang kian marak digandrungi atau digemari masyarakat.
Secara umum relevansi ekonomi syariah dengan al-maslahah begitu
signifikan adanya, dengan melihat
perkembagan konsep
dan bentuk-bentuk
ekonomi sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
maka sudah dapat dipastikan
bahwa
mutakhir yang dipraktekkan saat ini
konsep dan model-model ekonomi
belum pernah
terjadi
sepadannya di
masa-masa awal perkembangan Islam. Misalnya institusi keuangan modern,
bentuk-bentuk transaksi modern, sistem peminjaman
dan penanggungan, dan
sebagainya, termasuk reksa dana. Kesemuanya ini belum mendapatkan landasan
hukum yang definitif dalam fikih Islam, namun secara substantif dan ruhnya
sudah ada
dalam sumber-sumber hukum Islam
secara normatif. Misalnya
kebijakan pemungutan pajak, penyitaan barang-barang ilegal untuk kepentingan
umum, dan lainnya.
Dalam kondisi yang demikian, teori wakalah dan mud{ārabah ini akan
menerapkan fungsinya untuk memberikan landasan teori dalam pembentukan
kaedah hukum ekonomi syariah di atas pertimbangan demi kepentingan umum
dan kemaslahatan, karena tidak mungkin umat Islam
perkembangan mutakhir itu,
melepaskan diri
dari
juga secara filosofis dan hakikat belum tentu
seluruhnya bertentangan dengan syariat Islam.
Oleh karena itu al-maslahah al-mursalah itu mengandung pengertian
dan ruang lingkupnya yang tidak terbatas, maka Imam Malik menentukan bahwa
selain sebagai sumber hukum Islam, juga diberikan kreteria penerapannya
kedalam tiga syarat; yaitu pertama,
berkenaan dengan
kepentingan umum bukan hal-hal
yang
ibadah (dalam makna khusus). Kedua, kepentingan atau
kemaslahatan umum itu harus selaras
bertentangan
dengan salah satu
dengan jiwa syariah dan tidak boleh
sumber-sumber hukum Islam. Ketiga,
kepentingan atau kemaslahatan umum itu harus merupakan sesuatu yang esensial
(diperlukan bukan hal-hal yang bersifat kemewahan.
Reksa dana di luar negeri dikenal dengan sebutan unit trust (di Inggris)
yang berarti unit (saham) kepercayaan atau mutual fund (di Amerika) yang berarti
dana bersama atau investment fund (di Jepang) yang berarti pengelolaan dana
untuk investasi berdasarkan kepercayaan. Reksa dana ini dikenal sebagai sebuah
institusi yang oleh masyarakat digunakan untuk menginvestasikan dananya dan
oleh pengurusnya yang disebut manajer investasi menginvesatsikan ke dalam
bentuk portofolio efek, Yang berarti adalah kumpulan (kombinasi) sekuritas,
surat berharga atau efek, atau instrumen yang dikelola. Dengan demikian, sebuah
reksa dana merupakan hubungan trilateral karena melibatkan beberapa pihak yang
terikat sebuah kontrak atau trust deed secara legal. Mereka adalah pemilik modal,
manajer investasi, dan lembaga seperti ekonomi.
Bagi pengamat investasi, ide untuk mengumpulkan sumber daya keuangan
(dana) yang dimiliki individu-individu di bawah arahan manajer invesatsi
profesional yang selanjutnya melakukan diversifikasi secara luas, sehingga akan
mendatangkan keuntungan bagi individu-individu yang bersangkutan, dianggap
sebagai salah satu ide paling fenomenal di era sekarang.
A. Djazuli dan Yadi Janwari menyatakan bahwa prinsip syariah dalam
reksa dana syariah digunakan dalam bentuk akad mud{ārabah, yakni kontrak
kemitraan berdasarkan prinisp pembagian hasil antara pemilik modal (rab al-mal)
dengan manajer investasi ('amil), pemilihan dan pelaksanaan transaksi investasi,
dan dalam penentuan serta pembagian hasil investasi. Dengan prinsip seperti ini,
maka konsep ajaran Islam seperti ta'awun (tolong menolong), tasawa (rasa
kebersamaan), tamlik (kepemilikan bersama), akan tercipta dan terjalin dengan
baik, serta menghindarkan seseorang dari sikap ambivalensi dalam meningkatkan
perekonomian umat. Meskipun mud{ārabah menjadi bentuk perdagangan yang
telah mengakar pada masyarakat Arab, tetapi telah tercatat
bahwa lembaga
seperti syirkah bukanlah hasil penemuan atau buatan fikih.
Mud{ārabah telah diketahui dan digunakan di Timur Tengah sejak
pemerintahan Babylonia, dan dipastikan
sebagai bentuk perkumpulan bisnis
digunakan oleh pedagang Mekkah pada periode menjelang kenabian Muhammad
saw. Kerjasama (syirkah) dan mud{ārabah diterima dengan baik oleh
lembaga-lembaga pedagang resmi yang berlaku di dunia muslim
pada abad
pertengahan; karena tidak adanya bukti yang bertentangan, maka kita yakin bahwa
kedua bentuk perjanjian itu
dijalankan secara luas dalam perniagaan. Hal ini
yang menjadi patokan lahirnya reksa dana syariah.
B. Rumusan dan Batasan Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi masalah yang telah disebutkan di atas,
melahirkan masalah pokok yang menjadi kajian utama dalam disertasi ini, yakni
bagaimana reksa dana syariah dan penerapannya di Indonesia ?
Agar kajian disertasi ini menjadi terarah dan sistematis, maka masalah
pokok tersebut dikembangkan dalam beberapa sub masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep reksa dana syariah sebagai bentuk investasi alternatif?
2.
Bagaimana landasan teori pelaksanaan reksa dana syariah di Indonesia?
3.
Bagaimana Penerapan Prinsip-prinsip dan nilai-nilai syariah pada reksa
dana syariah di Indonesia ?
C. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian
Untuk memperoleh pemahaman yang jelas terhadap fokus pembahasan
dalam penelitian disertasi ini, serta menghindari kesalahpahaman (mis
undertanding) terhadap ruang lingkup penelitian yang dilakukan, maka yang perlu
dikemukakan batasan pengertian terhadap beberapa variabel yang tercakup dalam
judul disertasi. Untuk itu, sangat penting dikemukakan apa yang dimaksud reksa
dana syariah dan penerapannya di Indonesia.
Reksa dana secara bahasa tersusun dari dua variabel, yakni reksa yang
berarti jaga atau pelihara, dan selanjutnya dana berarti himpunan uang. Dengan
demikian reksa dana adalah kumpulan uang yang akan dipelihara. Selanjutnya
batasan reksa dana secara istilah sebagaimana yang dikemukakan Eko Priyo
Pratomo dan Ubaidillah Nugraha yaitu dipergunakan untuk menghimpun dana dari
masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh
manajer investasi yang telah mendapat izin dari Bapepam. Kelihatannya, definisi
ini merujuk pada Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995.
Reksa dana ditinjau dari asal kata, reksa dana berasal dari kosa kata
‘reksa’ yang artinya jaga atau pelihara dan dana yang berarti uang atau kumpulan
uang. Jadi, reksa dana bisa diartikan sebagai ‘kumpulan uang yang dipelihara
bersama untuk suatu kepentingan’. Mengacu pada Undang-undang RI Nomor 8
tahun 1995, reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari
masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh
Manajer Investasi. Dalam penelitian ini, reksa dana yang dimaksud adalah, dana
infestasi yang pengelolaannya berdasarkan syariah, atau sebagaimana pada judul
disertasi disebutkan dalam penerapannya berdasarkan prinsip syariah, yakni
berdasarkan tinjauan dan konsep ekonomi Islam.
Istilah tentang penerapan dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai kajian
terhadap mekanisme dan cara-cara pengelolaan reksa dana yang didasarkan kepada
prinsip-prinsip syariah yaitu bentuk usaha yang dimulai dari niat suci mencari
kerid{aan Allah melalui penentuan objek usaha yang tidak dilarang syara’, metode
berusaha yang dibenarkan sampai kepada cara pemanfaatan hasil usaha sesuai
dengan anjuran syara’.
Dengan demikian, secara operasional, definisi tentang penerapan reksa
dana syariah dimaksudkan sebagai mekanisme dan cara pengelolaan usaha yang
dijalankan oleh suatu badan usaha resmi dengan berdasarkan kepada niat yang suci
mencari kerid{aan Allah melalui penentuan objek usaha, metode berusaha, dan
cara pemanfaatan hasil usaha sesuai dengan anjuran syariat Islam.
Definisi operasional tersebut merupakan aktualisasi dari konsep Islam
tentang istilah ekonomi yang disebut al-qas{d atau iqtis{ād. Kata ini secara
etimologis berakar dari kata qas{ada yang berarti mendatangi sesuatu,
melakukan kesengajaan, menghimpun sesuatu. Menurut penelitian Abd. Muin
Salim bahwa, arti dasar Iqtis{ād adalah keseimbangan ekonomi dan tidak
memihak ke salah satu pihak. Dengan berdasar pada pengertian ini maka ekonomi
Islam menganut konsep pemerataan dan kesamaan, kesetaraan manusia dalam
melakukan aktivitas meliputi produksi, distribusi, dan konsumen. Jadi prinsip
ekonomi Islam adalah memproduksi atau mendistribusikan barang dan jasa, serta
mencari profit atau keuntungan untuk memuaskan keinginan konsumen
berdasarkan ajaran Islam. Prinsip seperti ini terimpelentasi dalam reksa dana yang
dijalankan berdasarkan konsep ekonomi syariah.
Berkaitan dengan pengertian di atas, maka yang menjadi batasan
operasional penelitian ini adalah pada penerapan reksa dana syariah, atau dalam
istilah disebut Islamics Investmen funds Application, suatu wadah pengumpulan
dana yang pengelolaannya berdasar pada prinsip syariat Islam, baik dari segi akad,
pelaksanaan investasi, maupun dari segi pembagian keuntungan.
Dalam membahas reksa dana syariah dalam penelitian ini, maka ada
empat unsur pokok yang saling terkait di dalamnya, masyarakat sebagai pemilik
modal (rab al-mal), modal yang disetor oleh masyarakat (mal), manajer investasi
sebagai pengelola modal (amil), dan investasi yang dilakukan oleh manajer
investasi (amal). Unsur-unsur ini sekaligus menjadi ruang lingkup penelitian ini
secara khusus dengan merelevansikannya dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam.
Dengan demikian secara tehnik operasional, sasaran penelitian ini diarahkan
untuk menjelaskan bentuk
penerapan reksa dana syariah di Indonesia, suatu
bentuk usaha yang bertujuan memperoleh hasil yang memiliki kriteria suci, halal
t{ayyibah, dan beberapa nilai syariah lainnya.
D. Kajian Pustaka
Dalam penelusuran penulis terhadap karya-karya ilmiah yang mendekati
pembahasan judul penelitian penulis di atas, maka penulis menemukan dua karya
tulis ilmiah berupa skripsi dan disertasi. Karya tulis imiah ini dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Penelitian yang dilakukan oleh Kanny Hidayat yang berjudul Analisis
Investabilitas Saham-saham Syariah pada Daftar Efek Syariah (DES)
BAPEPAM LK. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam proses
penyelesaian saham secara syariah dalam DES Bapepam LK menyebabkan
beberapa saham unggulan dengan kapitalisasi pasar besar berhasil masuk sebagai
saham syariah. Saham-saham seperti Astra Internasional (ASII), Perusahaan GAS
Negara (PGAS), Indofood (INDF) dan Medco Energi (MDCO) tidak masuk ke
dalam DES Bapepam LK. Hal ini dikarenakan saham-saham tersebut memiliki
tingkat rasio hutang dibandingkan dengan modal (debt to equity ratio) lebih besar
dari 82% dan/atau memiliki pendapatan haram dibandingkan dengan total
pendapatan lebih besar dari 10%.
Selanjutnya dalam penelitian ini dapat dibuktikan bahwa saham-saham
dalam DES Bapepam LK tidak terdiversifikasi dengan baik dibandingkan dengan
saham-saham dalam DSH. Hal ini disebabkan oleh jumlah saham-saham unggulan
dalam portofolio DES yang terbatas sehingga bobot saham akan terkonsentrasi
(overweighted) pada sebagian kecil saham-saham dalam DES Bapepam LK yang
memiliki nilai kapitalisasi pasar yang besar. Saham-Saham dalam DES Bapepam
LK umumnya juga merupakan saham-saham dengan tingkat kapitalisasi pasar yang
rendah.
Penelitian yang dilakukan oleh Mukhlisina Dian Palupi, yang berjudul
Efektivitas Skim Akad Mud{arabah Muqayyadah pada Kinerja Reksa Dana
Syariah Campuran, dalam hasil penelitian ini menemukan bahwa:
1. RD Z dapat menunjukkan bahwa performance yang baik sebagai reksa dana
syariah pertama yang mengalokasikan dana investasinya pada instrument
deposito berjangka bank syariah dengan skim akad baru yaitu mud{ārabah
muqayyadah. Penilaian ini diperoleh dari tingkat CV rendah (resiko
perimbal hasil yang diperoleh kecil) selama priode penelitian sehingga
mengidentifikasikan bahwa RD Z mampu menghasilkan kinerja yang lebih
optimal dengan mempertimbangkan resiko yang dihadapi.
2. Return atau imbal hasil tertinggi mampu dihasilkan RD Y baik pada
format imbal hasil tahunan maupun kinerja perpriode penelitian, hal ini
juga berbanding lurus dengan tingkat resiko yang dihadapi.
Adapun literatur atau buku yang terkait dengan pembahasan penelitian
ilmiah yang penulis akan telusuri antara lain adalah: buku yang ditulis oleh Eko
Priyo Pratomo dan Ubaidillah Nugraha dengan judul Reksa Dana; Solusi
Perencanaan Investasi di Era Modern, yang menguraikan secara luas tentang
cara perekonomian investasi melalui reksa dana, cara pemanfaatannya, dan kinerja
wadah reksa dana itu sendiri, dan keunggulannya, namun sangat sempit membahas
tentang sistem operasional reksa dana, apalagi kajiannya merujuk pada konsep
reksa dana konvensional dengan berbagai keunggulannya. Sementara itu, penulis
dalam disertasi ini menguraikan secara khusus reksa dana syariah secara
sistematis mulai dari cara investasi, cara pemanfaatannya, sistem operasional
berdasarkan syariah, dan berbagai keunggulannya ditinjau dari segi ekonomi
Islam.
Lain halnya dengan buku yang berjudul Investasi Halal di Reksa Dana
Syariah yang disusun oleh sebuah tim diketuai oleh Muhammad Firdaus NH. Di
dalamnya mengurai lebih lengkap tentang hubungan investor dan manajer
perusahaan dalam sebuah reksa dana yang berdasarkan syariah dengan berbagai
keunggulannya. Namun demikian, buku ini tidak memaparkan secara jelas tentang
konsep reksa dana syariah terutama ditinjau dari segi kelemahannya sebagaimana
yang akan diuraikan dalam disertasi ini, lengkap dengan upaya mengatasi
kelemahan tersebut dan strategi pengekonomian reksa dana syariah berdasarkan
konsep ekonomi Islam.
Buku lain yang ditemukan adalah karya Syed Haider Naqvi dengan judul
Islam; Economic and Society yang di dalamnya ditemukan penjelasan tentang
kaidah prilaku ekonomi dalam ekonomi Islam yang sedikit menyinggung
bagaimana prilaku umat dalam menginvestasikan modalnya melalui reksa dana.
Selanjutnya, Erol dan el-Bourd melalui studi empiriknya, menemukan
bahwa motif di dalam memilih ekonomi Islam sebagai lembaga investasi bukanlah
motif agama, melainkan karena motif keuntungan.
Selain itu peer group mempengaruhi dalam memilih ekonomi Islam dan
kesadaran dari nasabah ekonomi terhadap keuntungan yang diperoleh dengan
melakukan investasi berdasarkan profit loss sharing serta peran pendistribusian
pendapatan dari sistem perekonomian Islam. Selanjutnya pada tahun 1990, studi
untuk memilih ekonomi syariah atau ekonomi konvensional, juga telah dilakukan
oleh Erol et. al. Studi ini memberi kesimpulan dalam laporannya bahwa, nasabah
yang memilih ekonomi syariah karena pertimbangan perekonomian “pelayanaan
cepat dan efesien, reputasi dan kesan serta kerahasiaan ekonomi” dijamin adanya.
Kesimpulan akhir yang diperoleh dari studi tersebut adalah “adanya dorongan
motif keuntungan” atau faktor ekonomis dalam memilih ekonomi syariah.
Dalam pandangan Gerrad dan Cunningham melalui studi empiriknya
menunjukkan bahwa, sikap Muslim dan non-Muslim dalam memilih ekonomi
syariah secara signifikan tidak berbeda, di mana mereka memilih ekonomi syariah
karena pelayanan secara cepat dan efesien, kerahasiaan ekonomi, reputasi dan
imej ekonomi, ringannya biaya cek, dan tersedianya tempat parkir. Berdasarkan
hasil penelitian ini di simpulkan bahwa masyarakat memilih ekonomi syariah
adalah juga karena faktor ekonomis (keuntungan).
Sementara itu, studi untuk menganalisis potensi, dan prilaku masyarakat
terhadap ekonomi syariah di Wilayah Jawa Barat telah dilakukan oleh Ekonomi
Indonesia (BI) kerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2000.
Hasil penelitian diarahkan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
masyarakat dalam menggunakan jasa ekonomi syariah, faktor-faktor yang
mempengaruhi masyarakat untuk terus mengadopsi ekonomi syariah dan
faktor-faktor yang mempengaruhi potensi masyarakat mengadopsi ekonomi
syariah.
Nurul Huda Muhammad Heykal, bukunya berjudul Lembaga Keuangan
Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis. Buku ini mengenalkan berbagai lembaga
keuangan syariah khususnya yang terdapat di Indonesia berikut sejarah, landasan
hukum,
dan perbedaannya dengan lembaga sejenis dalam sistem keuangan
konvensional. Di antara lembaga yang menjadi pusat pembahasan dalam buku ini
adalah: Bank, Asuransi, pasar modal, pegadaian syariah, lembaga zakat dan wakaf,
dana pensiun, BMT, leasing, dan modal ventura Islam.
Zamir Iqbal dan Abbas Mirakhor, judul bukunya, Pengantar Keuangan
Islam Teori dan Praktik. Inti pembahasan dalam buku ini adalah menawarkan
sebuah kajian mendalam sistem keuangan syariah, mulai dari sejarah
perkembangan keuangan Islam hingga produk yang ditawarkan dan dikembangkan.
Dan lebih dari itu buku ini di dilengkapi
dengan analisis kritis terhadap
perkembangan dan sejumlah produk keuangan serta investasi syariah yang ada.
Muhammad Nafik HR, bukunya, Bursa Efek Investasi Syariah, buku ini
berupaya memberikan panduan kepada masyarakat agar berinvestasi dan
bertransaksi di pasar modal sesuai dengan syariah dan tidak terjerumus ke dalam
transaksi yang batil. Bukan saja langka, kini ia satu-satunya buku yang mencoba
memberikan penjelasan ekonomi atas fatwa Dewan Syariah Nasional tentang
hal-hal yang dilarang dalam melakukan transaksi di pasar modal.
Ismail, bukunya Keuangan dan Investasi Syariah, buku ini membahas
bagaimana transaksi keuangan modern terus berkembang dengan dinamis di
belahan dunia dimana hal itu didasari oleh kapitalistis paradigma. Bagaimana
mewujudkan keadilan dalam ekonomi secara universal dan bagaimana investasi
dan keuangan berdasarkan mud{ārabah.
E. Kerangka Teoritis Penelitian
Reksa dana syariah sebagai lembaga keuangan non bank adalah merupakan
bagian dari kelembagaan ekonomi syariah yang berkembang di Indonesia. Sebagai
bagian dari sistem perekonomian syariah, maka reksa dana syariah yang
berkembang di Indonesia diatur berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2006 Tentang Peradilan Agama yang dalam salah satu pasalnya menerangkan
tetang makna ekonomi syariah, pasal 49 huruf h dijelaskan bahwa sistem
perekonomian Islam yang lazimnya disebut ekonomi syariah adalah perbuatan
atau kegiatan usaha dilaksanakan di negara ini menurut prinsip-prinsip syariah
yang antara lain meliputi reksa dana syariah.
Berdasarkan pedoman undang-undang tersebut, maka kerangka teori yang
dijelaskan dalam penelitian ini adalah beberapa teori yang dianggap relevan
dengan tujuan penelitian yaitu teori-teori yang secara umum merupakan bagian
dari prinsip ekonomi syariah dan secara khusus sebagai teori untuk menjelaskan
bentuk penerapan reksa dana syariah di Indonesia. Kerangka teori yang dimaksud
antara lain;
1.
Teori Maslahah
Jumhur ulama sepakat bahwa syari’ tidak menetapkan hukum, kecuali untuk
mewujudkan kemaslahatan manusia. Kemaslahatan atau istislah merupakan
sumber utama dan prinsip fundamental dalam penentuan hukum. Meskipun ada
sebagian ulama seperti asy-Syafi'i yang menolak istislah sebagai dalil syara'.
Sikap ulama terhadap maslahah di atas perlu dikaji lebih jauh lagi ketika ingin
mengetahui bangunan pemikiran hukum Islam seorang tokoh. Dalam disertasi ini
penyusun mengajukan dua tokoh ulama yang saling berseberangan dalam
pemikirannya khususnya dalam membahas maslahah. Menurut asy-Syatībi semua
hukum syara' yang didukung oleh nas{. Pasti mengandung kemaslahatan manusia.
Namun ternyata ada sebagian hukum yang tidak mengandung kemaslahatan atau
kemaslahatan itu berseberangan dengan nas{. Konsekwensinya, maka bagi
asy-Syatībi hukum itu harus ditolak atau keberadaan hukum itu adalah batil.
Namun kenyataannya bagi asy-Syatībi bukan berarti hukum itu harus ditolak, akan
tetapi hukum itu di-mauquf-kan dengan mengembalikan bahwa semua hukum yang
diturunkan tetap mengandung kemaslahatan baik itu bisa diketahui secara langsung
bahkan sama sekali
tidak bisa diketahui
oleh akal
manusia dengan
keterbatasannya. Sementara at-Tufi yang terkesan menggunakan metodologi
liberalistik, yakni usul al-fiqh yang menonjolkan karakter pemikiran liberal dan
radikal. Kaitannya dengan pembahasan ini, at-Tufi dalam salah satu teorinya
menyatakan bahwa apabila terjadi ta'arud antara nas, ijma' dengan maslahah, maka
maslahah harus didahulukan. Karena bagi at-Tufi maslahah merupakan tujuan atau
esensi pokok, sementara nas{, ijma' hanyalah sarana. Artinya, ketika esensi
bertentangan dengan sarana, esensilah yang harus didahulukan.
Arfin Hamid Menjelaskan bahwa maslahah dalam pengertian umum ialah
dengan menempatkan pertimbangan kepentingan
umum sebagai dasar
teori
dalam pembentukan hukum. Khususnya terhadap masalah yang belum terdapat
dalil hukumnya yang tegas, seperti dalam urusan muamalah termasuk didalamnya
kegiatan ekonomi.
Dalam prosfek hukum, keberadaan mas{lahah ini sangat menentukan.
Selain mengusung nilai, manfaat, dan kegunaan manusia dalam kehidupannya, juga
bermakna akan menghindarkan manusia dari segala bentuk kemud{aratan,
kesesatan dan kebekuan. Upaya untuk menghindarkan manusia dari hal-hal yang
mudarat itulah makna posisi mas{lahah.
Pada dasarnya ahli us{ul menamakan mas{lahah sebagai tujuan Tuhan
selaku pembuat syariat (qas{d al-Syari’). Dengan demikian secara teologis, ahli
us{ul menerima faham yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai tujuan dalam
setiap tujuan dalam setiap perbuatannya. Dalam konteks nilai Ilahiyah dalam
sistem ekonomi Islam Arfin Hamid Pakar Hukum Ekonomi Syariah Universitas
Hasanuddin (UNHAS) Makassar menjelaskan secara detail dan eksklusif berikut
ini:
Nilai ini berangkat dari filosofi dasar yang bersumber dari Allah, tujuannya
pun untuk mencari keridaan allah (limard{otillah), sementara dalam prosesnya
juga senantiasa dalam kerangka syariah-Nya. Kegiatan ekonomi yang meliputi
permodalan, proses produksi, distribusi, konsumsi, dan penukaran harus
senantiasa dikaitkan
dengan nilai-nilai Ilahiyah. Dan selaras dengan tujuan
Ilahiyah pula.
Prinsip yang terkandung dalam kegiatan ekonomi tidak terlepas dari nilai
ibadah dalam makna yang luas. Seseorang yang menjalankan usaha sebagai
implementasi perintah Tuhan untuk memanfaatkan dan memakmurkan dunia
adalah manisfestasi khalifah dan tidak terlepas dari nilai ibadah. Dikarenakan
sasaran akhirnya ialah menunaikan perintah dan mengejar keridoan-Nya.
Penyembahan (liya’budun) yang mencakup pengertian khusus, seperti s{alat,
puasa, haji, sedekah , dan seterusnya, serta segala aktivitas positif dalam
kehidupan, juaga akan bernilai ibadah, seperti hal itu diniatkan atau semata-mata
diperuntukkan kepada Allah swt. Sebaliknya apabila diperuntukkan selain kepada
Allah, maka perbuatan tersebut menjadi sia-sia. Lebih lanjut dikemukakan Arfin
Hamid bahwa Nilai Ilahiyah selanjutnya mengejawantah menjadi asas/prinsip
dalam wujud sistem akidah (keyakinan)
Islam. Sistem keyakinan ini
diabstraksikan dalam aktivitas kehidupan, yaitu sebagai berikut.
a. Beriman kepada Allah yang maha tinggi yang menciptakan, menyempurnakan,
memberi hidayah, dan memberi rahmat.
b. Manusia tidak hanya dimaknakan secara biologis yang tersusun dari
tulang-belulang yang dibalut dengan daging, urat, dan darah. Akan tetapi ia akan
dilengkapi dengan sistem ruhiyah (kerohanian) yang bernilai tinggi sehingga
akan menyandang ststus khaifah di dunia.
c. Manusia hanya diharuskan mengabdi kepada Allah swt.
d. Allah memberikan perhatian khusus
membiarkannya dalam
kesia-siaan,
kepada manusia dengan tidak
kebingungan,
dan tanpa hidayah.
Melainkan, Allah mengutus rasul sebagai pembawa keterangan dan hidayah,
penuntun ke jalan yang benar, dan pembawa keselamatan.
e. Orientasi kehidupan tidak hanya terarah kepada kesenangan dan pemuasan
nafsu belaka, melainkan hidup diarahkan kepada pengabdian dan penyembahan
kepada Allah swt.
f. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan hanya sebagai sebagai
proses perpindahan alam menuju tahapan baru yang lebih hakiki.
Nilai Ilahiyah ini adalah merupakan profil ekonomi Islam yang
digambarkan oleh Arfin Hamid
dalam bentuk bangunan piramida (segitiga
lancip). Pada posisi puncak terletak nilai tertinggi, yaitu nilai Ilahiyah, komudian
posisi di bawahnya lebih lebar ditempati posisi asas-asas/prinsip ssebagai derivasi
nilai tertinggi itu, kemudian posisi di bawahnya ditempati kaidah/norma sebagai
derivasi asas/prinsip dan nilai. Kemudian pada posisi terbawah paling lebar di
tempat aplikasi/institusi ekononomi syariah didalamnya terdapat akad-akad
syariah (dalam bank, asuransi, dan lain-lain.).
Bangunan ini merupakan merupakan kajian langsung dari ajaran Islam
yang terdiri dari akidah, syariah, dan akhlak. Ekonomi syariah lahir dari pilar
syariah yang merupakan bagian dari muamalah yaitu muamalah iqtis{adiyyah
(ekonomi). Profil ini tampak lebih orisinil keislaman yang berasal dari agama
samawi, karena itu pola bangunannya bersifat top down/samawi (dari atas ke
bawah), hal ini relevan dengan karakteristik Islam sebagai agama langit. Tidak
terbentuk secara buttom up baik secara evolusi ataupun revolusioner.
Selanjutnya beliau menegaskan bahwa, secara realistis, nilai Ilahiyah
merupakan yang terpenting dan semua Nabi dan Rasul mengusungnya sejak nabi
Adam hingga nabi terakhir Muhammad saw. yang lazim dikenal dengan ajaran
Islam (dinul Islam). Bersumber dari nilai itulah diimplementasikan ke dalam
sejumlah asas atau prinsip dasar yang lebih konkret dalam institusi-institusi
ekonomi syariah.
Konsep rancang bangun ekonomi Islam (syariah) di atas yang
digambarkan oleh kedua pakar ekonomi syariah dan pakar hukum ekonomi syariah
tersebut di atas yang masing-masing memberikan gambar rancangan bangunan
ekonomi Islam yang berbeda, yakni Adiwarman Karim menggambarkan sistem
ekonomi syariah dalam bentuk bangunan rumah sedangkan Arfin Hamid memberi
gambar dalam bentuk piramida (segitiga lancip). Penulis melihat bahwa gambar
bangunan sistem ekonomi syariah yang dibangun oleh Adiwarman Karim masih
bernuansa konvensional karena dalam gambar itu Adiwarman Karim meletakkan
akhlak pada posisi teratas padahal Akhlak adalah merupakan perilaku manusia
yang diatur oleh Allah sebagai al-Khaliq (pencipta) dan Tauhid (Ilahiyah)
diposisikan pada posisi paling bawah yang disejajarkan dengan al-Adl, Nubuwwah,
Khilafah dan Ma’ad. Dari sini menunjukkan bahwa rancang bangun ekonomi yang
dibangun oleh Adiwarman Karim adalah bersifat buttom up yakni dari bawah ke
atas. Sedangkan rancang bangun ekonomi Arfin Hamid dalam bentuk piramida
(segitiga lancip) yang memposisikan nilai (Ilahiyah) pada puncak teratas dan
posisi kedua menempati asas-asas/prinsip dan posisi ketiga adalah norma/kaidah
dan pada posisi terakhir adalah aplikasi/institusi/akad. Rancang bangun ekonomi
ini menunjukkan bawa bangunan system ekonomi syariah bersifat top down (dari
atas ke bawah). Dengan rancang bangun ekonomi tersebut di atas yang
digambarkan oleh kedua pakar yang berbeda disiplin ilmu, satu dari pakar
ekonomi Islam, dan satu lagi dari pakar hukum ekonomi Islam. Dari kedua
pandangan yang berbeda tersebut, penulis lebih cenderung pada pendapat yang
kedua dengan alasan bawa bangunan ekonomi yang kedua itu lebih bersubstansi
pada konsep-konsep ajaran Islam dalam interaksi pada muamalah, yang
tertuangkan dalam al-Qur’ān dan Sunnah Rasul.
Abdurrahman A Basalamah mengemukakan bahwa pijakan aqidah
(Ilahiyah) menyadarkan manusia akan kekuasaan Allah, bagi dirinya serta harta dan
kedudukan
yang
diterima
sebagai
amanah.
Sehingga
mereka
tidak
memper-Tuhankan harta dan tahta, akan tetapi konsisten diarahkan untuk mencari
kerid{aan Allah swt. (ibadah). Kemudian atas dasar pijakan syariah maka mereka
tidak akan menipu dan mengesploitir orang lain, mereka akan jujur dan bertakwa
kepada Allah swt. untuk mendapatkan janji Allah. Sehingga dengan demikian
mereka tidak akan menodai dan meruntuhkan kehormatan kehidupan, karena
mereka menjaga silaturrahmi sesama manusia maupun lingkungannya (akhlak).
Atas dasar prinsip pertama dan kedua akan melahirkan pola dan sistem
keselamatan (Islam) yang senantiasa berpijak kepada keadilan dan kebajikan,
sehingga memberikan keharmonisan, yang lebih lanjut akan terbangun kehidupan
masyarakat dan bangsa dalam perpaduan kebahagiaan dan kehormatan.
Tersedianya sumber daya alam baik dalam kapasitasnya sebagai sumber
daya konsumsi (barang dan jasa yang langsung digunakan) maupun sebagai sumber
daya modal (barang dan jasa yang tidak langsung digunakan) adalah bahan-bahan
kebutuhan hidup manusia sekaligus sarana untuk mewujudkan kesenangan hidup,
QS. An-Nur/24: 32. Tiap individu secara kodrati berhak memanfaatkan semua
sumber daya ekonomi dalam menyelenggarakan kehidupan, harta kekayaan dalam
ekonomi Islam diyakini sebagai amanah dari Alla untuk semua manusia sebab
harta dalam pendekatan rezki telah disediakan dalam skala umum.
Harta merupakan amanah Allah swt. yang diberikan kepada manusia
dengan hak pemilikan berkenaan dengan pemanfaatannya bagi kemaslahatan
kehidupannya. Atas dasar tidak bersifat mutlak, manusia dituntut untuk
menggunakan secara baik berbagai aktivitas produksi dan investasi serta konsumsi
dan tabungan yang bersih dari yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, serta
terpenuhi kewajiban zakat.
Pijakan aqidah akan memapankan rasa percaya diri sekaligus akan
membangun potensi intelektual seorang mukmin atas inayah dan hidayah Allah
swt. Dalam pendekatan objektif, dengan aqidah yang baik mereka akan rajin
tahajjud serta disiplin shalat (ibadah) misalnya bangun subuh akan mempercerah
pikiran dan semangat. Dinamika syariah pada hakikatnya akan menggerakkan
potensi manusia dalam berinteraksi atas pijakan terpadu, antara akal dan kalbunya
sehingga segala langkah serta kegiatan yang dilakukan terpuji (akhlak muliyah).
Secara sederhana yakni; Keadilan dan kebajikan– Kepuasan dan keharmonisan –
Kehormatan dan kebahagiaan.
Proses kemajuan manusia merupakan potret bagi kesejahteraan ekonomi
umat, akan tetapi itu sangat tergantung kepada kemampuan manusia untuk
memaksimalkan semua potensi dirinya isnasniah (makhluk berketuhanan),
basyariah (kemampuan fisik), khalifah (pemegang amanah), dan ubudiyah
(bermoral) sebagai kekuatan dalam merencanakan, mengatur, dan memanfaatkan
sumber daya ilahiah sebagai sarana menjamin mas{lahah dalam rangka
mewujudkan falah sebagai tujuan ideal dari kehidupan.
Keadilan dan kebajikan yang terpadu akan ikut menyingkirkan kerusakan
dan
kemungkaran
serta
permusuhan
dalam
interaktif
ekonomi
dan
kemasyarakatan. Kita bangsa Indonesia tentunya cukup banyak pengalaman dengan
beragam sistem yang terakomodasi dari sistem sosialis dan kapitalis yang telah
dijalankan.
2. Teori Bisnis Tazkiyah
Teori ini digagas oleh M. Arfin Hamid bahwa Teori Bisnis Tazkiyah
dimaksudkan sebagai konsep yang suci atau tazkiyah yang meliputi bersih atau sah
secara lahirnya dan suci secara bathiniah yang diaplikasikan dalam menyiapkan
dan melaksanakan suatu kegiatan usaha atau bisnis yang secara sistematis tidak
terdapat di dalamnya hal-hal yang kontradiktif dengan syariah Islam. Teori bisnis
tazkiyah dibangun berdasarkan ayat-ayat al-Qur’ān, antara lain, perintah memakan
makanan dari yang halal dan t{ayib (QS. 2: 168), dihalalkan jual beli dan
diharamkan riba (QS.2: 275), dihalalkan bagimu makanan yang baik-baik (QS.5:
5), dan sejumlah ayat yang terkait. Sementara Nabi Muhammad saw mengingatkan
bahwa di akhirat nanti setiap orang ditanya soal harta; dari mana kamu
memperolehnya dan bagaimana pula kamu menggunakannya.
Dengan berdasarkan kepada al-Qur’ān dan al-hadiś, para ulama kemudian
merumuskan teori fikih sebagai metode untuk menentukan kriteria hukum setiap
perbuatan mukallaf yang dikenal dengan al-ahkamul khamzah (lima hukum
pokok) yaitu halal, fard{u, sunnat, mubah, dan haram.
Setiap perbuatan mukallaf termasuk bisnis apapun dimungkinkan akan
mencakup salah satu di antara kelima hukum tersebut, maka menurut syara’
perbuatan hukum yang wajib dijauhi adalah yang dikategorikan haram sebagai
lawan dari halal (sesuatu yang patut dikerjakan). Sementara kriteria haram itu
sendiri dibedakan menjadi dua bagian; (1) al-haramu lizatihi yaitu zatnya
(obyek) yang diharamkan, (2) al-haramu lighairizatihi yaitu haram selain zatnya
berupa cara perolehan dan pemanfaatannya.
Dengan berpatokan kepada teori fikih, maka bisnis dalam pendekatan teori
tazkiyah sebagai bisnis yang betul-betul sesuai syariah harus melalui 4 (empat)
tahap penentuan;
a. Penentuan obyek usaha (barang, jasa, jenis usaha) seluruhnya harus terjamin
keabsahannya, bukan termasuk haram lizatihi.
b. Metode/proses pengelolaan dan menjalankan bisnis tidak terdapat unsur-unsur
yang diharamkan, bukan termasuk haram lighairizatihi.
c. Hasil/output-nya dipastikan terjamin kehalalannya (tazkiyah)
d. Penggunaan dan pengelolaan hasil/harta itu dalam koridor limard{atillah.
Secara singkat keempat tahap tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut;
tahap pertama penentuan obyek, sebelum penentuan obyek tentunya niat/itikad
berbisnis penting diluruskan sesuai tuntunan syariah, setelah itu obyek dan jenis
usaha dipastiakan keabsahan dan kehalalannya. Sementara jika sejak awal
obyeknya diharamkan, disubhatkan
atau dimakruhkan, maka status hukumnya
tidak akan berubah menjadi halal atau mubah sekalipun, tahap kedua, bahwa
obyek yang sudah teruji kehalalannya harus diikuti dengan metode, proses
pengelolaan yang sah pula agar tetap terjaga kehalalannya. Jika dalam metode dan
cara pengelolaannya terdapat unsur keharaman, misalnya, garar, monopoli, dan
semua tindakan yang tidak amanah lainnya, maka kehalalannya berubah menjadi
haram (ghairilizatihi), tahap ketiga; harus pula dipastikan bahwa dari obyek dan
proses yang sah/ halal itu menghasilkan sesuatu yang juga dijamin kehalalannya.
Realitas memperlihatkan, bisa saja obyek dan prosesnya sah, tetapi output-nya
diharamkan, misalnya, minuman memabukkan terbuat dari sari buah, tumbuhan,
gula, buli, air yang halal, pengelolaannyapun terjamin kehalalannya tetapi hasilnya
diharamkan. Tahap keempat, pada tahap terakhir perolehan hasil usaha mulai dari
tahap pertama sampai tahap ketiga terjamin kehalalannya dan pada tahap terakhir
tentunya diikuti pula dengan penggunaan/pemanfaatannya yang sesuai dengan
rid{a Allah, jika hasil akhir yang halal itu selain tujuan yang dirid{ai Allah swt
maka kesimpulan akhirnya harta itu adalah haram.
Berkaitan dengan uraian tersebut di atas, dipahami bahwa tinjauan teoritis
tentang reksa dana syariah sebagai lembaga keuangan syariah dijalankan dengan
berpatokan kepada keempat kriteria tersebut sehingga tujuan usaha tidak terlepas
dari nilai-nilai ajaran Islam yang terdapat dalam al-Qur’ān dan Assunnah berarti
semua aktivitas bisnis dalam bingkai ekonomi Islam hendaknya memenuhi
kriteria tazkiyah (suci) yakni dijamin kehalalannya dan kebaikannya terhadap
kemashlahatan umat.
3. Teori Wakālah
Wakālah adalah mewakilkan suatu urusan kepada orang lain, untuk
bertindak atas namanya, atau pemberian amanah dari seseorang kepada orang lain
atas sesuatu pekerjaan agar orang yang menggantikan melaksanakan pekerjaan
tersebut. Wakālah dalam pembahasan ini adalah pelimpahan kekuasaan oleh
seseorang kepada orang lain dalam hal yang diwakilkan.
Konsep wakālah sebagai suatu pemberian amanah dari seseorang kepada
orang lain dapat dicermati dari beberapa isyarat ayat al-Qur’ān di mana makna
wakālah ditemukan pada surat al-Imran ayat 173 sebagai berikut:
tûïÏ%©!$# tA$s% ãNßgs9 â¨$¨Z9$# ¨bÎ)
}¨$¨Z9$#
ô‰s%
(#qãèuKy_
öNä3s9
öNèdöqt±÷z$$sù öNèdyŠ#t“sù
$YZ»yJƒÎ)
(#qä9$s%ur $uZç6ó¡ym ª!$# zN÷èÏRur
ã@‹Å2uqø9$#
Terjemahnya:
(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka
ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada
mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka
menjawab: ”Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah
sebaik-baik pelindung.
Dalam ayat di atas tampaknya terdapat dua kelompok yang masing-masing
memiliki karakteristik yang berbeda. Kelompok yang pertama adalah orang-orang
yang patuh kepada Allah dan orang yang lain adalah mereka tidak taat kepada
Allah. Kelompok yang pertama memperoleh “ancaman” berupa penyerangan
pasukan dari kelompok kedua. Allah memerintahkan kepada kelompok pertama
agar menjadikan Allah sebagai pelindung.
Fungsi Allah sebagai pelindung dalam konteks penyerahan urusan,
merupakan bagian dari sikap ketidakmampuan kelompok yang pertama tersebut
untuk menahan ancaman kelompok yang lainnya. Fungsi pelindung ini, dapat saja
dipahami ketika antara dua kelompok yang keduanya memiliki kemampuan yang
berbeda, dan kepada kelompok yang lemah diberikan solusi oleh Nya untuk
mencari pelindung.
Berkaitan dengan penggunaan kata wakîl dalam ayat di atas, perlu
dikemukakan al- Tabary bahwa kata ini dalam tradisi orang Arab mengandung arti
bahwa telah terjadi penyandaran urusan. Lebih lanjut al-Tabary, bahwa orang
mukmin telah menyandarkan urusannya kepada Allah.
Pembahasan teoritis membutuhkan tiga aspek sebagai landasan yang dapat
dijadikan sebagai kajian akademik yaitu ontologis, epistemologis dan aksiologis.
Dari aspek ontologis terdapat dua dimensi, wakālah dalam konteks ekonomi,
wakālah ditemukan dua dimensi yaitu dimensi yuridis dan dimensi ekonomi.
Dimensi yuridis dimaksudkan agar tercipta kepastian antara pemberi dan
penerima hak dari sisi hak dan kewajiban masing-masing. Pemberian hak dan
kewajiban membutuhkan dua kontrol yaitu kontrol internal dan eksternal. Kedua
alat kontrol itu untuk melihat apakah dimensi yuridis dalam wakalah dapat
menciptakan kepastian atau kejelasan hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Ketidakmampuan
kedua
alat
kontrol
tersebut
untuk
difungsikan
oleh
masing-masing pihak maka dipastikan bahwa wakālah tidak dapat memberikan
optimalisasi fungsi sebagai suatu instrumen transaksi ekonomi Islam.
Alat kontrol internal mencakup: a) para pelaku baik dari sisi kecakapan
bertanggung jawab dari sisi hukum maupun kecakapan memahami transaksi yang
terjadi antara kedua belah pihak. b) obyek transaksi harus jelas dipahami kedua
belah pihak. c) batas-batas kewenangan kedua belah pihak berupa prosedur kerja
dan pertanggungjawaban. d) batasan waktu atau tenggang waktu pemberian hak.
Sedangkan alat kontrol eksternal adalah perlunya sarana pengendali yang berada di
luar pelaku wakālah, yaitu saksi dan notaris. Tentu saja kriteria yang melekat
pada bagian-bagian dari alat kontrol internal dan eksternal di atas didasarkan pada
penerapan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Dari sisi dimensi ekonomi, berlaku ketentuan mengenai proses dan
dampak. Proses di sini meliputi niat pelaksanaan, model bisnis yang akan
dijadikan sebagai obyek penyerahan hak, kompensasi secara ekonomi yang
diterima oleh kedua belah pihak. Kompensasi yang diterima oleh penerima hak.
Sebagaimana pada dimensi yuridis, maka kriteria yang melekat padanya adalah
yang sesuai dengan ekonomi Islam.Terpenuhinya kedua dimensi tersebut maka
kedudukan transaksinya dapat dipertanggung jawabkan dari sisi pengalihan hak dan
kewajiban ekonomi, karena terpenuhinya dimensi yuridis.
Dari sisi epistomologis menyangkut bagaimana wakālah sebagai
instrumen ekonomi dapat berfungsi. Dari sisi lain menunjukkan bahwa wakālah
dapat dilakukan dengan inisiatif pemberi hak. Dan dapat pula dilakukan didasarkan
atas tawaran calon penerima hak. Pola inisiatif dalam transaksi wakālah ini, dapat
pula dilakukan secara individual maupun kelembagaan.
Berkaitan dengan implikasi dari penerapan wakālah dalam transaksi
ekonomi, maka kedua belah pihak yakni penerimaan hak dan penerima hak,
menurut ekonomi Islam dipandang terjadi hubungan kemitraan. Konsep kemitraan
mengandung arti bahwa kedua belah pihak memiliki hak dan tanggung jawab yang
berbeda namun keduanya dibangun di atas landasan amanah. Bagi pihak pemberi
hak tidak dapat memandang bahwa dia secara statuta memiliki kedudukan yang
lebih tinggi dalam konteks wakālah dibanding penerima hak. Demikianlah juga
penerima hak tidak dapat secara psikologis memiliki ketertekanan dalam
menjalankan hak dan kewajiban dalam wakālah, lantaran dia bertindak sebagai
penerima hak dari pemberi hak.
Pengembangan konsep kemitraan ini dalam wakālah didasarkan pada salah
satu prinsip ekonomi Islam yakni prinsip persaudaraan. Prinsip ini mengakui
bahwa manusia berada dalam konteks sebagai hamba dan bertujuan memakmurkan
bumi (khalifah) dan karenanya keterlibatan kedua belah pihak (penerima hak dan
pemberi hak) dalam wakālah dipandang sebagai upaya untuk mengemban tugas
khalifahan dalam bidang ekonomi.
Aspek aksiologis dari wakālah, dapat dilihat dalam perspektif ekonomi
yakni lapangan kerja, profesionalisme dan keilmuan atau pengembangan ilmu
ekonomi Islam:
a. Lapangan kerja
Pemberi hak dalam wakālah secara tidak langsung memberikan peluang
kepada penerima hak untuk bertransaksi dalam bidang ekonomi. Dilihat dari
sisi jenis lapangan kerja baru karena melibatkan penerima hak sebagai juru
kunci dan dari aktifitas ekonomi yang dijadikan obyek bisnis dalam wakālah
dipastikan akan melibatkan diverifikasi usaha dan intensifikasi usaha. Dalam
transaksi wakālah bagi penerima hak akan memperoleh konpensasi finansial
dari transaksi wakālah dan sebaliknya bagi pemberi hak, telah mengembangkan
potensi ekonomi yang dimiliki “keterbatasan” untuk mewujudkannya. Sebagai
pemberi hak tertentu saja diharapkan memperoleh hasil secara ekonomi dari
obyek usaha yang dikembangkan dalam transaksi ini.
b. Profesionalisme
Pengembangan profesionalisme dalam wakalah berkaitan dengan sumber daya
manusia yang secara langsung terkait dengan transaksi ini. Sebagai instrumen
ekonomi Islam, maka sumber daya manusia sangat urgen. Dilihat dari sisi ini
maka instrumen ini dapat mengembangkan profesi sebagai akademis, konsultan
keuangan dan manajemen serta pebisnis. Sebagai instrumen ekonomi Islam,
maka karakteristik wakālah tentu saja memiliki perbedaan dengan instrumen
ekonomi Islam lainnya, dan karenanya pengkajian secara khusus menurut
keprofesionalan.
Pendekatan manajemen terhadap analisis profesionalisme adalah sejumlah
keahlian spesifik yang dimiliki seseorang sehingga kepadanya diserahi suatu
tugas secara khusus. Tingkat kualitas suatu barang atau jasa sangat ditentukan
oleh keahlian pemegang pelaksana sehingga terhindar problem usaha yang
mengatasnamakan kesalahan atau ketidaktahuan, walaupun secara manusiawi
kekeliruan dan kekhilafan selalu menyertai setiap perilaku manusia.
Dari segi manajemen, makna wakālah dibedakan antara lain;
1) Wakālah al-mutlaqah, yaitu mewakilkan secara mutlak, tanpa batasan
waktu dan untuk segala urusan.
2) Wakālah al-muqayyadah, yaitu penunjukan wakil untuk bertindak atas
namanya dalam urusan-urusan tertentu.
3) Wakālah al-ammah, perwakilan yang lebih luas dari al-muqayyadah tetapi
lebih sederhana daripada al-mutlaqah.
Adapun ketentuan, rukun dan syara-syarat wakālah berdasarkan penjelasan
fatwa adalah;
1. Ketentuan tentang wakālah;
a. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk
menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).
b. Wakālah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh dibatalkan
secara sepihak.
2. Rukun dan Syarat Wakālah
a. Syarat-syarat muwakkil (yang mewakilkan)
- Pemilik sah yang dapat bertindak terhadap sesuatu yang diwakilkan.
- Orang mukallaf atau atau anak mumayyiz dalam batas-batas
tertentu, yakni dalam hal-hal yang bermanfaat baginya seperti
mewakilkan untuk menerima hibah, menerima sedekah dan
sebagainya.
b. Syarat-syarat wakil (yang mewakili)
- Cakap Hukum,
-
Dapat mengerjakan tugas yang diwakilkan kepadanya,
- Wakil adalah orang diberi amanat
c. Hal-hal yang diwakili
- Diketahui dengan jelas oleh orang-orang yang mewakili
- Tidak bertentangan dengan syariah Islam.
- Dapat diwakilkan menurut syariah Islam.
Dengan demikian maka bertransaksi dengan akad wakālah hendaknya
terpenuhi ketentuan rukun dan syarat-syarat wakālah baik yang ditetapkan oleh
DSN Majlis Ulama Indonesia, di mana fatwa itu sendiri sebagai suatu produk
ijtihad ulama kontemporer dalam menyahuti problem hukum yang muncul dalam
kehidupan masyarakat yang terus berkembang sejalan peradaban manusia.
Selain beberapa teori di atas, maka reksa dana syariah dalam penerapannya
menggunakan beberapa bentuk kontrak kerja dan yang dapat dijelaskan dalam
kaitannya dengan penelitian ini adalah; pertama kontrak Mud}ārabah berasal
dari kata ad}arbu fil ard}i, yaitu bepergian untuk urusan dagang. Sumber istilah
tersebut dinukilkan dari perintah Allah untuk melintasi (bertebaran) di bumi
mencari kerid{aan-Nya, disebutkan dalam Q.S. Al-Muzammil/73; 20
Mud{ārabah disebut juga qirād{ yang berasal dari kata al-qard{u yang
berarti al-qat{’u
(potongan), karena pemilik memotong sebahagian hartanya
untuk diperdagangkan dan memperoleh sebagian keuntungan. Secara teknis
mud{ārabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama;
(s{ahibul māl) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi
pengelola. Keuntungan usaha secara mud{ārabah dibagi menurut kesepakatan
yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik
modal selama kerugian itu bukan diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si
pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian
pihak pengelola, maka yang bersangkutan harus bertanggung jawab atas kerugian
tersebut.
Akad antara investor dengan lembaga hendaknya dilakukan dengan sistem
mud{ārabah/qirad{. Yang dimaksud dengan mud{ārabah di sini adalah:
”Seseorang memberikan
diperdagangkan dengan
hartanya kepada yang lain untuk
ketetentuan bahwa keuntungan yang
diperoleh dibagi antara kedua belah pihak, sesuai
syarat-syarat yang disepakati oleh kedua belah pihak”.
dengan
Dalam kegiatan investasi reksa dana syariah dapat dilakukan apa saja
sepanjang tidak bertentangan dengan syariah, di antara investasi yang tidak halal
yang tidak boleh dilakukan adalah dalam bidang perjudian, pelacuran, pornografi,
makanan dan minuman haram, lembaga keuangan ribawi dan lain-lain yang
ditentukan oleh dewan pengawas syariah. Akad yang dilakukan oleh reksa dana
syariah dengan emiten dapat dilakukan melalui: Mud{ārabah (qirad{)
musyarakah, reksa dana syariah yang dalam hal ini bertindak sebagai mud{ārib
dalam
kaitannya
dengan
mus{arabah
investor
dapat
melakukan
akad
(qirad{/musyarakah).
Akad mud{arabah yang dijelaskan baik dalam al-Qur’ān maupun al-Hadis
pada hakekatnya menekankan prinsip kerja sama secara suka rela dengan tetap
konsisten terhadap seluruh bentuk kesepakatan dan perjanjian. Nilai suatu kerja
sama sangat ditentukan oleh komitmen para anggota memenuhi janji, itu sebabnya
kewajiban memenuhi akad justru dialamatkan kepada orang-orang beriman,
kewajiban menuaikan akad dalam hubungan dengan kegiatan ekonomi adalah pada
kegiatan transaksi perniagaan dan pelayanan jasa, sebab dari kewajiban
menunaikan akad terkandung berkah seperti yang dijelaskan Rasulullah saw.
dijelaskan pada riwayat Tirmizi dari Amr bin Auf:
”Nabi bersabda ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak
secara tunai, muqarad{ah (mud{ārabah), dan mencampur gandung
dengan jewawut, untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.”
(HR.Ibnu Majah dan Shuahaib).
Kedua; kontrak investasi. Reilly (1994) mendefinisikan investasi sebagai
berikut: ”An investmen is the curren commitmen of time in order to derive
future payments that.” Definisi lain tentang investasi dikemukakan oleh Jones
(2004) sebagai berikut: ”The commitment of fands to one or more assets that
will be held over some future time period.” Sedangkan definisi lain di
kemukakan oleh Sunariyah (2004), yaitu investasi adalah penanaman modal dalam
satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan
harapan keuntungan dimasa-masa yang akan datang. Sedangkan Abdul Halim
(2005) secara sederhana memberikan pengertian investasi sebagai penempatan
sejumlah dana pada saat ini dengan harapan memperoleh keuntungan di masa
datang. Dengan demikian definisi investasi tersebut di atas dapat simpulkan bahwa
investasi pada prinsipnya adalah penempatan sejumlah kekayaan untuk
mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada kerangka konseptual berikut ini:
Skema I
KERANGKA PIKIR
Al-Qur’an
Al-Hadis
Undang-undang No. 8
Tahun 1995 tentang Pasar
Modal
Fatwa DSN MUI No.
Nilai-Nilai Ilahiah
Khuluqiyah
Nilai Insaniah
Penerapan: akad
wakālah, mud{ārabah
pendapatan halal &
t{ayib, transparan,
jujur, profesional dan
keseimbangan.
Prinsip-prinsip: Tauhid,
Istikhlaf, Keadilan,
Mas{lahah,
Kesejahteraan.
Reksa Dana Syari’ah
dan Penerapannya di
Indonesia
Operasional; kontrak
Investor
Manajer
investasi
Bank Kustodian
Kerangka
pikir
tersebut
di
atas
menggambarkan bahwa reksa dana syariah adalah bentuk investasi yang memiliki
nilai Ilahiah, Khulukiah, dan Insaniah dikembangkan dengan landasan ideal Islam
yaitu al-Qur’ān dan al-Sunnah dan ditranformasikan melalui fatwa MUI.
Berdasarkan landasan ideal tersbut dibangun prinsip yang berorientasi kepada
mas{lahah, tazkiyah, dan wakālah. Melalui
prinsip-prinsip itulah kemudian
dilakukan kontrak investasi antara investor, manajer investasi dan Bank Kustodian
untuk menjalankan usaha sehingga sampai kepada perolehan hasil usaha yang halal
dan thayib, transparan, jujur, profesional serta manfaat/ kebaikan untuk semua
orang.
F. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam disertasi ini adalah bersifat
deskriptif analitik kritis, dimaksudkan untuk memberikan gambaran analisa
tentang bentuk penerapan teori-teori investasi dengan dukungan fatwa keagamaan
dalamt reksa dana syariah yang dalam pembahasannya terlebih dahulu mengangkat
tentang teori investasi yang ada dalam fikih Islam untuk selanjutnya menganalisa
dan menghubungkan dengan fatwa keagamaan dari segi metodologis agar dapat
menggambarkan hubungan antara teori investasi dan fatwa keagamaan sebagai
landasan operasional berinvestasi melalui reksa dana syariah yang berkembang di
Indonesia.
Dalam pembahasannya beberapa teori investasi yang didukung fatwa
keagamaan dijadikan sebagai landasan analisis terhadap investasi dalam ekonomi
Islam. Melalui pendekatan analisis tersebut, maka secara metodologis dapat
ketahui penerapan teori investasi dengan dukungan fatwa keagamaan terhadap
reksa dana syariah sebagai salah satu bentuk investasi dalam ekonomi Islam.
Dalam rangka menghasilkan penelitian yang akurat, penulis menggunakan
beberapa metode, yaitu :
1. Pendekatan
Menelaah hasil permasalahan disertasi ini, ada beberapa pendekatan yang
digunakan, yaitu pendekatan filosofis, yuridis (hukum Islam), dan pendekatan
manajemen ketiga pendekatan ini digunakan karena obyek yang diteliti
membutuhkan bantuan jasa ilmu-ilmu tersebut dengan pertimbangan:
a.
Pendekatan filosifis bentuk pendekatan untuk mengkaji nilai-nilai ilahiah
sebagai tata nilai tertinggi yang diterapkan dalam kegiatan reksa dana syariah.
b. Pendekatan yuridis dan biasa disebut pendekatan hukum Islam, dimaksudkan
untuk mengkaji dasar hukum yang kuat dari dalil-dalil syara’ yang dijadikan
sebagai landasan operasional investasi.
c. Pendekatan manajemen, dimaksudkan untuk mengkaji mekanisme kerja secara
kelembagaan dan sistem operasional guna memastikan bentuk penerapan
investasi berdasarkan prinsip syariah.
2. Sumber dan Jenis Data
Penelitian ini pada umumnya bersandar pada sumber data tertulis, maka
jenis data yang digunakan adalah library research yaitu penelitian melalui
literatur perpustakaan yang menunjang akurat data. Untuk mendukung analisis data
dilakukan observasi yaitu mengamati metode pengembangan reksa dana syariah
dan wawancara terhadap beberapa responden terkait pemahaman maupun praktek
reksa dana yang berkembang di Indonesia.
3. Jenis Data
Berdasarkan sifat penelitiannya, maka metode yang digunakan untuk
mengungkap data yang akurat, peneliti menggunakan 2 (dua) jenis data yaitu;
a. Data primer, dalam penelitian lapangan, data primer merupakan data utama
yang diambil langsung dari para informan dan responden, dalam hal ini data
utama bersumber dari Direktur Bapepan, Konsultan Bisnis Karim, Danareksa,
PNM Amana Fun dan Mandiri Investor. Data ini berupa hasi interview
(wawancara), dan kuesioner (angket) yang dibagikan kepada para sumber
penelitian.
b. Data sekunder, adalah pengambilan data dalam bentuk dokumen-dokumen
yang bersifat ringkasan atau laporan penelitian sejenis yang telah dilakukan
sebelumnya.
4. Tehnik Pengumpulan Data
a. Mengumpulkan bahan pustaka yaitu tulisan ilmiah dan bahan tulisan lainnya
yang terkait dengan pokok pembahasan.
b. Observasi, yaitu pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan
langsung terhadap obyek yang diteliti. Ada dua jenis observasi, yaitu
observasi partisipatif dan observasi non partisipatif.
c. Interview atau wawancara, yaitu pengumpulan data melalui dialog secara
langsung dengan obyek (informan) yang dapat memberikan data-data yang
dibutuhkan.Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data yang menyangkut
deskripsi penelitian seperti relevansi reksa dana syariah dengan sistem
mud{ārabah, sistem operasional
dan implikasi reksa dana syariah
di
Indonesia
5.Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Setelah data terkumpul, maka tahapan analisis dilakukan dengan cara:
a. Data yang terkumpul, diedit dan diseleksi sesuai dengan ragam pengumpulan
data, ragam sumber, dan pendekatan yang dipergunakan. Tahap ini dilakukan
reduksi data untuk memperoleh data konkrit.
b. Hasil kerja tahap seleksi dan reduksi, maka dilakukan klasifikasi data yaitu,
kelompok data dan sub kelompok data sesuai dengan obyek dan unsur-unsur
yang terkandung dalam penelitian.
c. Data yang telah diklasifikasi kemudian disusun dan dihubungkan. Hasil
hubungan antar data tersebut divisualisasikan dalam bentuk dekripsi penelitian.
d. Melakukan penafsiran data berdasarkan metode pendekatan yang digunakan.
e. Hasil kerja tahap akhir akan diperoleh jawaban atas pertanyaan dari penelitian,
sehingga ditarik kesimpulan internal yang di dalamnya terkandung data baru
hasil penelitian, kemudian dilakukan konfirmasi dengan sumber data dan data
lainnya.
G. Alasan Memilih Judul
1. Reksa dana syariah sebagai lembaga ekonomi keuangan nonbank perlu
dikaji untuk memastikan penerapan prinsip-prinsip syariah dalam
pengelolaannya.
2. Penulis ingin mengetahui jenis kontrak apa yang digunakan dalam
operasional reksa dana syariah.
3. Penulis ingin mengetahui mekanisme kerja reksa dana syariah dalam
pengelolaan modal investor.
H. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem penerapan
reksa dana syariah di Indonesia sebagai suatu bentuk investasi dalam
ekonomi Islam. Berarti penelitian ini berupaya menggali beberapa teori
yang dijadikan landasan operasional investasi melalui reksa dana syariah.
b. Mengungkap mekanisme kerja reksa dana syariah, baik dari segi-segi
prinsipnya, ciri-ciri khasnya, sehingga ditemukan persamaan dan
perbedaan antara reksa dana syariah dan reksa dana konvensional.
c. Merumuskan analisis penerapan reksa dana syariah berikut peluang dan
tantangan yang dihadapi reksa dana, serta solusi pengembangan investasi
melalui reksa dana berdasarkan prinsip ekonomi syariah, sehingga
terwujud pemberdayaan ekonomi umat dan kesejahteraan.
2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan ilmiah, diharapkan sebagai bahan literatur untuk dicermati dan
didiskusikan lebih lanjut demi perkembangan ilmu pengetahuan pada
umumnya, dan ilmu ekonomi Islam pada khususnya.
b. Kegunaan praktis, penelitian ini akan memberikan informasi mengenai
praktek dan perkembangan reksa dana syariah di Indonesia.
Download