BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Sumber Daya Manusia

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Manajemen Sumber Daya Manusia
2.1.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia pada hakikatnya adalah penerapan
manajemen tersebut khusus untuk sumber daya manusia, sehingga dapat
didefinisikan: manajemen sumber daya manusia adalah seni untuk merencanakan,
mengorganisasikan, mengarahkan, mengawasi kegiatan-kegiatan sumber daya
manusia atau karyawan, dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Batasan yang
lebih terinci dan operasional dikemukakan
oleh Flippo (dalam buku
Pengembangan Sumber daya Manusia:2004) sebagai berikut :
“Manajemen sumber daya manusia (personalia) adalah perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan kegiatan-kegiatan
pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian,
pemeliharaan, dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai
berbagai tujuan individu, organisasi, dan masyarakat”.
Batasan lain yang dikemukakan oleh French: “Manajemen sumber daya
manusia adalah sebagai penarikan, seleksi, pengembangan, penggunaan, dan
pemeliharaan sumber daya manusia oleh organisasi”. Berdasarkan dua definisi
tersebut, kita akan menggunakan definisi berikut ini:
Manajemen sumber daya manusia adalah penarikan (rekrutmen), seleksi,
pengembangan, pemeliharaan, dan penggunaan sumber daya manusia untuk
mencapai tujuan-tujuan individu maupun organisasi. Manajemen sumber daya
manusia diperlukan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna sumber daya
manusia dalam organisasi, dengan tujuan untuk
memberikan kepada organisasi
suatu satuan kerja yang efektif.
2.1.2 Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia
Tujuan utama dari manajemen sumber daya manusia adalah untuk
meningkatkan kontribusi sumber daya manusia (karyawan) terhadap organisasi
dalam rangka mencapai produktivitas organisasi yang bersangkutan. Hal ini dapat
dipahami bahwa semua kegiatan organisasi dalam mencapai misi dan tujuannya
adalah sangat tergantung kepada manusia yang mengelola organisasi itu. Oleh
sebab itu sumber daya manusia (karyawan) tersebut harus dikelola sedemikian
rupa sehingga berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai misi dan tujuan
organisasi.
2.1.3 Fungsi Manajemen Sumber Daya manusia
Berikut ini adalah fungsi manajemen:
a. Perencanaan (Planning)
Untuk manajer sumber daya manusia, perencanaan berarti penentuan program
karyawan (sumber daya manusia) dalam rangka membantu tercapainya sasaran
atau tujuan organisasi itu.
b. Pengorganisasian (Organizing)
Organisasi sebagai alat untuk mencapai tujuan secara efektif, oleh sebab itu
dalam fungsi organisasi harus terlihat pembagian tugas dan tanggung jawab
orang-orang atau karyawan yang akan melakukan kegiatan masing-masing.
c. Pengarahan (Directing)
Untuk melakukan kegiatan yang telah direncanakan, agar kegiatan tersebut
dapat berjalan dengan efektif diperlukan arahan (directing) dari manajer.
d. Pengendalian (Controlling)
Fungsi pengendalian adalah untuk mengatur kegiatan, agar kegiatan-kegiatan
organisasi itu dapat berjalan dengan lancar.
2.2 Seleksi
2.2.1 Pengertian Seleksi
Seleksi adalah proses pemilihan calon pegawai yang telah menyerahkan
surat lamaran pekerjaan pada suatu perusahaan untuk menduduki jabatan yang
diperlukan.
Menurut Prof. DR. Soekidjo Notoatmodjo (2003:134) dalam bukunya
mengenai Pengembangan Sumber Daya Manusia:
“Seleksi adalah kegiatan yang digunakan untuk memutuskan apakah
pelamar diterima atau tidak.”
Sedangkan menurut Drs. Husein Umar, SE, M.M., M.si (2005:8) dalam
bukunya mengenai Riset Sumber Daya Manusia:
“Seleksi ialah usaha yang sistematis yang dilakukan guna lebih menjamin
bahwa mereka yang diterima adalah yang dianggap paling tepat, baik
dengan kriteria yang telah ditetapkan ataupun jumlah yang dibutuhkan.”
Menurut Drs. Marihot Tua Efendi Hariandja, M.si (2007:125) dalam
bukunya
mengenai
Pengadaan,
Pengembangan,
Pengkompensasian,
dan
Peningkatan Produktivitas Manajemen Sumber Daya Manusia:
“Seleksi ialah proses untuk memutuskan pegawai yang tepat dari
sekumpulan calon pegawai yang didapat melalui proses perekrutan.”
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa seleksi adalah suatu
kegiatan yang digunakan untuk memutuskan apakah pelamar diterima atau tidak,
melalui usaha yang sistematis dan paling tepat dari sekumpulan calon pegawai
yang didapat melalui proses perekrutan.
2.2.2 Dasar kebijaksanaan dan tujuan seleksi
Cara seleksi yang paling efektif dapat diperoleh dengan mengadakan
percobaan-percobaan atau dengan mempelajari cara seleksi yang terbaik yang
sudah umum dipergunakan oleh badan-badan usaha lain. Dengan demikian
dapatlah dinyatakan bahwa dasar kebijaksanaan dalam mengadakan seleksi
pegawai
adalah
dengan
menggunakan
biaya
serendah-rendahnya
untuk
mendapatkan tenaga kerja yang sebaik-baiknya.
Tujuan seleksi ialah untuk mendapatkan tenaga kerja yang paling tepat
untuk memangku suatu jabatan tertentu. Ini diartikan bahwa tenaga kerja tersebut
harus dapat bekerja sama dengan teman-temannya dan memberikan prestasinya
yang tertuju kepada realisasi tujuan perusahaan.
2.2.3 Kualifikasi-kualifikasi yang menjadi dasar dalam seleksi
Menurut Drs. Marihot AMH Manullang, M.M., M.Sc., (2006:101) pada
umumnya kualifikasi-kualifikasi yang menjadi dasar dalam seleksi pegawai
adalah:
a. Keahlian
Keahlian merupakan salah satu kualifikasi yang utama menjadi dasar
dalam proses seleksi. Keahlian dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu:
1. Technical Skill, merupakan jenis keahlian yang utama yang harus dimiliki
oleh para pegawai pelaksana.
2. Human Skill, merupakan keahlian yang harus dimiliki oleh mereka yang
akan memimpin beberapa orang bawahan.
3. Conceptual Skill, merupakan keahlian yang dapat mengkoordinir segala
aktivitas dari berbagai badan usaha untuk tertuju kepada realisasi tujuan
perusahaan.
b. Pengalaman
Pengalaman penting artinya dalam proses seleksi pegawai. Pengalaman
dapat menunjukan apa yang dapat dikerjakan oleh calon pegawai pada saat dia
melamar. Umumnya perusahaan-perusahaan lebih condong memilih tenaga kerja
yang berpengalaman. Pegawai yang mempunyai pengalaman lima tahun misalnya,
belum tentu akan lebih pandai menyelesaikan tugasnya dari seseorang yang belum
mempunyai pengalaman tetapi mempunyai intelijensia yang baik. Pengalaman
saja tidak dapat digunakan menentukan kemampuan seseorang pelamar dalam
menyelesaikan tugas dengan baik.
c. Umur
Kualifikasi umur dalam proses seleksi pegawai banyak pula mendapatkan
perhatian. Umumnya perusahaan-perusahaan tidak begitu saja menerima calon
yang berusia muda maupun mereka yng mempunyai usia lanjut. Mereka yang
mempunyai usia lanjut mempunyai tenaga fisik relatif kecil dan terbatas,
meskipun mereka ini pada umumnya sudah mempunyai pengalaman. Pengalaman
ini mempunyai hubungan yang erat dengan umur.
d. Jenis kelamin
Jenis kelamin sering pula diperhatikan sebagai dasar dalam mengadakan
seleksi, terlebih-lebih untuk jabatan tertentu. Dewasa ini terbuka lowongan untuk
kaum wanita bukan saja untuk menjabat sekretaris, tetapi pula untuk menjadi
manajer, supervisor, mandor dan ada pula menjadi buruh. Perundang-undangan
sosial
melarang
setiap
perusahaan
untuk
memperkerjakan
wanita
di
pertambangan, demikian juga wanita tidak boleh bekerja pada malam hari. Yang
disebut terakhir ini dikecualikan pada jabatan yang karena sifatnya harus wanita
yang melakukan misalnya perawatan.
e. Pendidikan
Pendidikan sering digandengkan dengan latihan, umumnya dianggap dapat
menunjukan kesanggupan dari pelamar. Dengan demikian misalnya di negaranegara yang sudah maju, pendidikan universitas sering merupakan salah satu
kualifikasi dari seorang calon yang akan memangku jabatan manajer, terlebihlebih jabatan manajer tingkat menengah dan tingkat tinggi. Jadi tanpa adanya
pendidikan tersebut si calon tidak akan mendapatkan perhatian lebih lanjut lagi
dalam proses pemilihan.
f. Keadaan fisik
Untuk jabatan-jabatan tertentu, keadaan fisik calon harus mendapatkan
perhatian. Jabatan yang memerlukan tenaga yang kuat sudah barang tentu tidak
boleh mengabaikan keadaan fisik pelamar yang akan memegang jabatan tersebut,
seharusnya badannya kokoh dan kuat. Tidak hal ini dapat diartikan bahwa mereka
yang berbadan lemah atau mempunyai cacat tertentu tidak diperkenankan untuk
menjabat sesuatu jabatan tertentu.
g. Tampang
Dalam jabatan-jabatan tertentu, tampang itu juga merupakan salah satu
kualifikasi yang menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam melaksanakan
tugasnya. Dalam proses seleksi, kualifikasi tampang ini tidaklah boleh diartikan
sebagai suatu kualifikasi satu-satunya. Pada umumnya kualifikasi tampang itu
hanya sebagai kualifikasi tambahan.
h. Bakat
Bakat salah satu kualifikasi yang menetukan dalam proses pemilihan calon
pekerja. Bakat ada dua macam, ada bakat tersembunyi dan bakat yang nyata.
Dalam proses seleksi yang lebih ditonjolkan pada umumnya adalah bakat yang
nyata. Bakat yang tersembunyi perlu mendapat perhatian, sebab hal ini kelak
dapat diperkembangkan dengan jalan pendidikan.
i. Temperamen
Temperamen merupakan sifat yang mempunyai dasar yang bersumber
pada faktor-faktor dalam jasmani bagian dalam, ia ditimbulkan oleh proses-proses
bio-kimia. Ada orang yang mempunyai temperamen periang, tenang dan tenteram,
bersemangat dan pemarah, dan ada pula orang yang mempunyai temperamen
pemurung atau pesimis. Dalam proses seleksi temperamen ini sering juga diambil
sebagai dasar yang perlu dimiliki oleh calon pegawai.
j. Karakter
Karakter juga merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan
dalam proses pemilihan pegawai. Karakter dapat diperbaiki dengan jalan
pendidikan, sedang temperamen tidak dapat diubah. Namun tidak seluruhnya
kualifikasi tersebut merupakan kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang calon
pegawai.
2.2.4 Proses Seleksi
Untuk memperoleh hasil seleksi yang tepat perlu mempertimbangkan tiga
masukan penting, yakni analisis jabatan, rencana sumber daya manusia dan
penarikan.
Secara skematis proses ini dapat digambarkan menurut Prof. DR. Soekidjo
Notoatmodjo sebagai berikut :
Gambar 2.1
Proses Seleksi
Penerimaan
pendahuluan
pelamar
Wawancara
seleksi
Tes
kesehatan
Keputusan
penerimaan
Tes-tes
penerimaan
Pemeriksaan
referensi
Wawancara
akhir
Sumber : Notoatmodjo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, 2004.
Berdasarkan gambar di atas, proses seleksi tenaga kerja melalui tahaptahap sebagai berikut :
a. Penerimaan pendahuluan
Proses seleksi ini merupakan jalur dua arah, di mana pelamar memilih
organisasi tempat bekerja, dan organisasi memilih orang atau calon karyawan
yang tepat.
b. Tes-tes Penerimaan
Tes-tes ini dilaksanakan untuk mendapatkan informasi yang relatif objektif
tentang pelamar, diharapkan akan memperoleh calon yang lebih baik bila
dibandingkan dengan pelamar lainnya atau dengan karyawan yang sudah ada.
c. Wawancara seleksi
Wawancara ini dilaksanakan untuk memperoleh informasi-informasi
tentang pelamar yang tidak dapat diperoleh melalui tes-tes tertulis. Wawancara ini
merupakan teknik yang paling umum dan luas digunakan, dengan alasan hasilnya
lebih dapat dipercaya. Di samping itu, wawancara mempunyai tingkat fleksibilitas
yang tinggi, karena dapat diterapkan baik terhadap para calon karyawan
manajerial atau operasional, berketerampilan tinggi atau rendah, maupun staf.
Teknik ini juga menjamin adanya komunikasi dua arah, antara pewawancara
sebagai pihak organisasi dan pelamar sebagai calon karyawan.
Kesalahan-kesalahan yang sering timbul dari wawancara, sehingga
menyebabkan pengambilan keputusan penerimaan yang kurang tepat, antara lain
sebagai berikut:
1) Pertanyaan yang sudah mengarah (leading), di manapertanyaan itu sudah
mengarahkan jawaban pelamar.
2) Personel bias, adalah merupakan hasil prasangka pribadi pewawancara
terhadap pelamar.
3) Dominasi pewawancara, di mana pewawancara yang lebih mendominasi
wawancara tersebut sehingga informasi-informasi dari pelamar tidak
lengkap.
4) Hallo effect, terjadi bila pewawancara menggunakan informasi yang
terbatas tentang pelamar untuk berprasangka dalam evaluasi terhadap
karakteristik atau penampilan pelamar.
d. Pemeriksaaan referensi
Referensi personel yang biasanya diberikan oleh keluarga atau teman
terdekat dari pelamar adalah sangat penting untuk mengetahui karakter pelamar.
Dari referensi-referensi ini akan dapat diketahui tipe pelamar, apakah pelamar itu
pekerja yang jujur, dapat dipercaya, sifat-sifat kepribadian pelamar, dan
sebagainya.
e. Tes kesehatan
Tes kesehatan atau evaluasi medis bagi calon karyawan adalah penting,
baik bagi calon itu sendiri maupun bagi organisasi yang bersangkutan. Bagi
karyawan, mereka akan mengetahui status kesehatan yang berkaitan dengan
pekerjaan yang akan dilaksanakan. Sedangkan bagi organisasi atau perusahaan
akan dapat menekan biaya pemeliharaan kesehatan bagi karyawan.
f. Wawancara final
Wawancara tahap akhir (final) ini biasanya dilakukan oleh atasan
langsung, yaitu kepala bagian atau kepala departemen (divisi) di mana calon
karyawan tersebut akan ditempatkan. Tujuan wawancara ini adalah untuk
mencocokan kemampuan yang dipunyai calon karyawan dengan deskripsi tugas
yang akan dijalankan. Oleh sebab itu kepala atau pewawancara ini adalah
merupakan orang yang paling bertanggumg jawab terhadap diterima atau tidak
diterimanya calon karyawan yang bersangkutan.
g. Keputusan penerimaan
Langkah terakhir dari proses ini adalah tahap yang paling mendebarkan
bagi calon pegawai. Disinilah mereka menerima nasib, “diterima” yang berarti
akan bekerja di organisasi itu, “ditolak” berarti harus mencari pekerjaan di lain
organisasi.
h. Umpan balik hasil seleksi
Karyawan atau tenaga baru adalah merupakan hasil akhir dari proses
seleksi. Untuk mengevaluasi karyawan baru maupun proses seleksi diperlukan
umpan balik (feed back). Umpan balik dapat diperoleh dari kinerja (performance)
karyawan yang bersangkutan. Indikator-indikator lain yang dapat dijadikan umpan
balik hasil dan proses seleksi antara lain: kepuasan kerja karyawan, absensi,
prestasi kerja, kegiatan, organisasi kerja, sikap para pemimpin bagian atau
departemen, dan sebagainya.
2.2.5 Tantangan-tantangan dalam proses seleksi
Jumlah pelamar suatu lowongan pekerjaan dalam suatu organisasi
merupakan indikator tersedianya tenaga kerja yang dibutuhkan dalam bidang
pekerjaan tertentu di pasaran kerja. Apabila jumlah pelamar banyak maka tenaga
kerja di pasaran kerja sedang sepi.
Makin besar jumlah pelamar, akan memudahkan untuk memilih calon
tenaga kerja yang berkualitas tinggi. Tetapi pada kenyataannya tidak demikian,
meskipun pelamar banyak, tetapi sulit untuk memperoleh karyawan yang
mempunyai kemampuan yang cocok dengan yang diperlukan. Keterbatasan suplai
(secara kualitas) ini menyebabkan organisasi tidak leluasa untuk memilih
karyawan yang terbaik. Keterbatasan penyediaaan sumber daya manusia (tenaga
kerja) ini dapat diukur dengan rasio seleksi. Rasio seleksi dapat dihitung dari
jumlah pelamar yang diterima dibandingkan dengan total pelamar. Bila rasio
seleksi kecil, misalnya 1:3, berarti hanya sedikit pelamar yang dapat dipilih
(diterima). Rasio seleksi yang kecil menunjukkan kualitas penarikan (rekrutmen)
rendah.
Tantangan-tantangan lain dalam proses seleksi calon karyawan ini adalah
masalah “etik”. Tantangan ini yang paling besar dan berat karena hampir terjadi di
mana-mana. Tantangan-tantangan etis ini mencakup “sistem keluarga” atau
“titipan” dari para pejabat, adanya komisi, suap, dan sebagainya. Hal ini berarti
bahwa diterimanya seseorang bukan karena lulus seleksi yang berrdsarkan
kemampuan, melainkan faktor-faktor tersebut karena keluarga/kawan, titipan
orang penting, suap, dan sebagainya. Proses seleksi semacam ini dapat dikatakan
melanggar etik, atau tidak etis.
2.3 Prestasi Kerja
2.3.1 Pengertian prestasi kerja
Menurut beberapa ahli mengenai penilaian prestasi kerja antara lain
sebagai berikut:
Menurut Dr. Mutiara S. Panggabean, M.E (2005:72) dalam bukunya
mengenai Manajemen Sumber Daya Manusia :
“Penilaian prestasi kerja adalah suatu proses yang bertujuan untuk
mengetahui atau memahami tingkat kinerja karyawan dibandingkan
dengan tingkat kinerja karyawan lainnya atau dibandingkan dengan
standar yang telah ditetapkan”.
Menurut Prof. DR. H. Abdurrahmat Fathoni, M.si (2006:124) dalam
bukunya mengenai Manajemen Sumber Daya Manusia :
“Penilaian prestasi kerja merupakan upaya membandingkan prestasi
aktual pegawai dengan prestasi kerja yang diharapkan darinya”.
2.3.2 Pentingnya dan manfaat penilaian prestasi kerja
Penilaian
prestasi
kerja
(performance
appraisal)
dalam
rangka
pengembangan sumber daya manusia adalah sangat penting artinya. Hal ini
mengingat bahwa dalam kehidupan organisasi ingin mendapatkan penghargaan
dan perlakuan yang adil dari pemimpin organisasi yang bersangkutan.
Dalam kehidupan suatu organisasi ada beberapa asumsi tentang perilaku
manusia sebagai sumber daya manusia, yang mendasari pentingnya penilaian
prestasi kerja. Asumsi-asumsi tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Setiap orang ingin memiliki peluang untuk mengembangkan kemampuan
kerjanya sampai tingkat yang maksimal.
b. Setiap orang ingin mendapat penghargaan apabila ia dinilai melaksanakan
tugas dengan baik.
c. Setiap orang ingin mengetahui secara pasti tangga karier yang dinaikinya
apabila dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
d. Setiap orang ingin mendapat perlakuan yang objektif dan penilaian dasar
prestasi kerjanya.
e. Setiap orang bersedia menerima tanggung jawab yang lebih besar.
f. Setiap orang pada umumnya tidak hanya melakukan kegiatan yang
sifatnya rutin tanpa informasi.
Secara rinci manfaat penilaian prestasi kerja dalam suatu organisasi antara
lain sebagai berikut:
a. Peningkatan prestasi kerja :
Dengan adanya penilaian, baik manajer maupun karyawan memperoleh
umpan balik, dan mereka dapat memperbaiki pekerjaan mereka.
b. Kesempatan kerja yang adil :
Dengan adanya penilaian kerja yang akurat akan menjamin setiap
karyawan akan memperoleh kesempatan menempati posisi pekerjaan
sesuai dengan kebutuhannnya.
c. Kebutuhan-kebutuhan pelatihan pengembangan :
Melalui penilaian prestasi kerja akan dideteksi karyawan-karyawan yang
kemampuannya rendah, dan kemudian memungkinkan adanya program
pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka.
d. Penyesuaian kompensasi :
Penilaian prestasi kerja dapat membantu para manajer untuk mengambil
keputusan dalam menentukan perbaikan pemberian kompensasi, gaji,
bonus, dan sebagainya.
e. Keputusan-keputusan promosi dan demosi :
Hasil penilaian prestasi kerja terhadap karyawan dapat digunakan untuk
mengambil keputusan untuk mempromosikan karyawan yang berprestasi
baik, dan demosi untuk karyawan yang berprestasi jelek.
f. Kesalahan-kesalahan desain pekerjaan :
Hasil penilaian prestasi kerja dapat digunakan untuk menilai desain kerja.
Artinya hasil penilaian prestasi kerja ini dapat membantu mendiagnosis
kesalahan-kesalahan desain kerja.
g. Penyimpangan-penyimpangan proses rekrutmen dan seleksi :
Penilaian prestasi kerja dapat digunakan untuk menilai proses rekrutmen
dan seleksi karyawan yang telah lalu. Prestasi kerja yang sangat rendah
bagi karyawan baru adalah mencerminkan adanya penyimpanganpenyimpangan proses rekrutmen dan seleksi.
2.3.3
Ukuran-ukuran prestasi kerja
Penilaian yang baik harus dapat memberikan gambaran yang akurat
tentang yang diukur. Artinya penilaian tersebut benar-benar menilai prestasi
pekerjaan karyawan yang dinilai. Agar penilaian mencapai tujuan ini maka ada 3
hal yang perlu diperhatikan, yakni :
a. Penilaian harus mempunyai hubungan dengan pekerjaan (job related).
Artinya sistem penilaian itu benar-benar menilai perilaku atau kerja yang
mendukung kegiatan organisasi di mana karyawan itu bekerja.
b. Adanya standar pelaksanaan kerja (performance appraisal): Standar
pelaksanaan adalah ukuran yang dipakai untuk menilaiprestasi kerja
tersebut.
c. Praktis
Cara penilaian prestasi kerja dapat dilakukan melalui pengamatanpengamatan, baik pengamatan langsung maupun tidak langsung. Observasi
langsung dilakukan apabila para penilai secara nyata melihat pelaksanaan kerja
yang dinilai (karyawan). Sedangkan penilaian tidak langsung terjadi kalau
penilaian dilakukan terhadap pelaksanaan kerja melalui simulasi atau tiruan.
2.3.4 Metode-Metode Penilaian
Metode penilaian prestasi kerja menurut Prof. DR. Soekidjo Notoatmodjo
dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu :
a. Metode Penilaian Prestasi Kerja Berorientasi Waktu Lalu
Artinya penilaian prestasi kerja seseorang karyawan yang berdasarkan
hasil yang telah dicapai oleh klaryawan selama ini. Metode yang
berorientasi masa lalu ini mempunyai kelebihan dalam hal perlakukan
terhadap kerja yang telah terjadi dan sampai derajat tertentu dapat diukur.
Namun demikian, metode ini juga mempunyai kelemahan yakni prestasi
kerja pada waktu yang lalu tidak dapat diubah.
Teknik-teknik penilaian ini adalah:
1) Rating Scale
Dalam hal ini penilai melakukan penilaian subjektif terhadap prestasi
kerja karyawan dengan skala tertentu dari yang terendah sampai dengan
yang tertinggi. Penilai memberikan tanda pada skala yang sudah ada
tersebut dengan membandingkan antara hasil pekerjaan karyawan
dengan kriteria yang telah ditentukan.
2) Checklist
Dalam metode checklist penilai hanya memilih pernyataan-pernyataan
yang sudah tersedia, yang menggambarkan prestasi kerja dan
karakteristik-karakteristik karyawan (yang dinilai). Penilaian secara
checklist ini juga dapat dikuantifikasikan, apabila pernyataanpernyataan itu sebelumnya diberi nilai yang mencerminkan bobotnya.
Metode ini mudah digunakan dan mudah mengadministrasikan, dan
sangat ekonomis.
3) Metode Peristiwa Kritis
Metode penilaian ini didasarkan kepada catatan-catatan dari pimpinan
atau penilai karyawan yang bersangkutan. Pimpinan membuat catatan
tentang pekerjaan atau tugas dari karyawan yang akan dinilai.
Kemudian berdasarkan catatan peristiwa kritis tersebut penilai atau
pimpinan membuat penilaian terhadap karyawan yang bersangkutan.
4) Metode Peninjauan Lapangan
Metode penilaian dilakukan dengan cara para penilai atau pimpinan
melakukan terjun langsung ke lapangan untuk menilai prestasi kerja
karyawan.
5) Tes Prestasi Kerja
Metode penilaian ini dilakukan dengan mengadakan tes tertulis kepada
karyawan yang akan dinilai.
b. Metode Penilaian Prestasi Kerja Berorientasi Waktu Yang Akan Datang
Adalah memusatkan prestasi kerja karyawan saat ini serta penetapan
sasaran prestasi kerja di masa yang akan datang.
Teknik penilaian ini adalah:
1) Penilaian diri (self appraisals)
Metode penilaian ini menekankan bahwa penilaian prestasi kerja
karyawan dinilai oleh karyawan itu sendiri. Tujuan penilaian ini adalah
untuk pengembangan diri karyawan dalam rangka pengembangan
organisasi.
2) Pendekatan Management by Objective (MBO)
Metode penilaian ini ditentukan bersama-sama antara penilai atau
pimpinan dengan karyawan yang akan dinilai. Mereka bersama-sama
menentukan tujuan-tujuan atau sasaran pelaksanaan kerja di waktu yang
akan datang kemudian dengan menggunakan sasaran tersebut penilaian
prestasi kerja yang dilakukan secara bersama-sama.
3) Penilaian Psikologis
Metode
penilaian
dilakukan
dengan
mengadakan
wawancara
mendalam, diskusi, atau tes psikologis terhadap karyawan yang akan
dinilai.
4) Teknik Pusat Penilaian
Pusat ini mengembangkan sistem penilaian yang baku yang digunakan
untuk menilai para karyawannya. Hasil penilaian pusat ini sangat
bermanfaat untuk mengidentifikasi kemampuan manajemen di waktu
yang akan datang.
2.4 Hubungan Seleksi Tenaga Kerja Dengan Prestasi Kerja Karyawan
Menurut
Notoatmodjo
(2003:134)
dalam
bukunya
mengenai
Pengembangan Sumber Daya Manusia:
“Seleksi adalah kegiatan yang digunakan untuk memutuskan apakah
pelamar diterima atau tidak.”
Menurut Notoatmodjo, dalam di dalam proses seleksi terdapat umpan
balik (feedback). Dalam umpan balik tersebut dapat diketahui kinerja seorang
pegawai, dimana salah satu indikator dari seleksi tenaga kerja adalah prestasi
kerja.
Jadi, seleksi tenaga kerja memiliki hubungan dengan prestasi kerja karena
prestasi kerja menjadi salah satu indikator umpan balik dari seleksi tenaga kerja.
Download