konsep ketuhanan dalam hindu

advertisement
KONSEP KETUHANAN DALAM HINDU
Oleh : Ni Kadek Putri Noviasih, S.Sos.H
Percaya terhadap Tuhan, mempunyai pengertian yakin dan iman terhadap Tuhan itu
sendiri. Yakin dan iman ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya
Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa,
yang disebut juga Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini.
Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Ia sebagai pencipta, sebagai pemelihara dan
pelebur alam semesta dengan segala isinya. Tuhan adalah sumber dan awal serta akhir dan
pertengahan dari segala yang ada. Tuhan itu bersifat rohani, bukan jasmani atau materi. Di
dalam kitab suci Hindu diandaikan Tuhan seperti listrik yang menghidupkan dan
menggerakkan semua alat-alat elektronik.
Kata “Brahman” berasal dari akar kata “brh” berarti yang memberi hidup,
menumbuhkan, menjadikan hidup, menjadikan berkembang. Jadi kata “Brahman” berarti
suatu pertumbuhan yang tidak henti-hentinya atau dengan kata lain berarti yang memimpin
segalanya atau Tuhan Yang Maha Esa yang memerintah seluruh alam semesta dan segala
isinya.
Dalam Kitab Atharwa Weda IV.16 disebutkan : “Siapapun berdiri, berjalan atau
bergerak dengan sembunyi-sembunyi, siapapun yang membaringkan diri atau bangun,
apapun yang dua orang duduk bersama bisikan satu dengan yang lain, semuanya itu
diketahui oleh Tuhan (Sang Raja Alam Semesta), ia adalah yang ketiga hadir di sana.
Di dalam Weda juga disebutkan bahwa Tuhan tidak berbentuk (nirupam), tidak
bertangan dan berkaki (nirkaram nirpadam), tidak berpanca-indra (nirindryam), tetapi Tuhan
dapat mengetahui segala yang ada pada mahluk. Lagi pula Tuhan tidak pernah lahir dan tidak
pernah tua, tidak pernah berkurang tidak juga bertambah, namun Beliau Maha Ada dan Maha
Mengetahui segala yang ada di alam semesta ini. Tuhan berkuasa atas semua dan Tunggal
atau Esa adanya.
Tuhan memiliki dua sifat utama yakni impersonal (transenden) dan personal (imanen).
Impersonal God (Nirguna Brahman) atau Tuhan yang transenden adalah Tuhan yang tanpa
sifat yang tak dapat dipikirkan (Acintya). Ia adalah realitas yang absolut. Suatu realitas yang
tak dapat ditentang kehadiranNya, walau tak diketahui bentuk-Nya yang nyata, karena tak
mungkin kita mengungkapkan-Nya secara harafiah seperti apa Tuhan itu sebenarnya. Suatu
hal yang pasti adalah bahwa Ia itu Ada dan Hadir. Brahman yang Personal God (Saguna)
1
atau imanen adalah Tuhan dengan segala atributnya yang dapat didekati dan dikenal oleh
manusia. Karena kemampuan manusia mengenalnya dengan tingkat serta kapasitas yang
berbeda beda, serta atribut Tuhan yang tak terbatas maka Tuhan yang imanen dikenal dengan
tingkat keragaman yang tinggi. Sebagaimana halnya dengan kemampuan pengenalan manusia
yang satu, berbeda dengan manusia lainnya.
Tuhan yang Transenden (Nirguna Brahman) dan Imanen (Saguna Brahman) adalah
satu (Advaita). Tuhan yang Imanen, oleh orang-orang bijaksana menyebut-Nya dengan
banyak nama, “Ekam Sat Wipra Bahuda Wadanti” (Rg. Weda. III.164.46). Sekaligus dalam
hal ini terkandung konsep tentang Ista Dewata, yaitu pemahaman dan penghayatan tentang
Tuhan dan manifestasi-Nya, yang memungkinkan manusia untuk memiliki konsep tentang
Tuhan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan kebebasan pada setiap manusia
untuk untuk memuliakan Ista Dewatanya masing-masing dengan perbedaan-perbedaan yang
ada, tanpa harus dipertentangkan satu dengan yang lainnya.
Kedua konsep tersebut di atas ditemukan dalam Bhagavadgita dengan sebutan :
1) Paranaamam; Tuhan Maha Tinggi dan abstrak, kekal abadi tidak berpribadi
impersonal, nirkara (tak berwujud), nirguna (tanpa sifat guna). Tuhan dalam bentuk
yang abstrak di Bali disebut Sang Hyang Suung, Sang Hyang Embang, Sang Hyang
Sunya. Karena tidak berbentuk, sulit dibayangkan dan dipikirkan (Acintya).
2) Vyuhanaama; Tuhan berbaring pada ular di lautan susu. Gambaran Tuhan seperti ini
hanya bisa dilihat oleh para dewa. Di Bali penjelasan seperti itu disebut Hana Tan
Hana (ada tidak ada), artinya Tuhan itu diyakini ada, namun tidak bisa dilihat.
3) Vibhawanaama; Tuhan dalam bentuk ini disebut Avatara. Tuhan juga biasa disebut
Saguna atau Sakara Brahman (Personal God).
4) Antaraatmanama; Tuhan meresapi segalanya dalam bentuk atma atau zat ketuhanan.
5) Archananaama; Tuhan yang terwujudkan dalam bentuk archa atau pratima (replika
mini) seperti patung dalam berbagai bahan dan wujud.
Hindu memuja banyak dewa sehingga sering disebut politheisme, padahal sangat perlu
dipahami bahwa pada sejumlah sloka dan mantra secara jelas disebutkan bahwa Tuhan hanya
satu tidak ada duanya, Tuhan disebut Indra, Mitra, Baruna, dan banyak lagi sebutan lainnya
yang diberikan oleh orang bijaksana. Jadi bukan Tuhannya yang banyak tetapi
sebutan/gelarnya yang beragam. Nah, Tuhan dalam paham Hindu adalah maha ada, maha tak
terbatas. Artinya Dia ada di mana-mana, keberadaan manusia, pohon-pohon, batu-batuan dan
lain-lain, tidak dapat membatasi atas menghalangi keberadaan Tuhan.
2
Paham ketuhanan Hindu ini dalam istilah filsafat Barat disebut Pantheisme. Pan artinya
semuanya, Theis artinya Tuhan. Jadi Pantheisme artinya Tuhan yang satu itu adalah
semuanya. Satu menjadi banyak. Dalam Chandogya Upanisad dinyatakan “Sarwam khalv
idam brahma…”,artinya semua yang ada sesungguhnya adalah Brahman. Brahman adalah
berada di luar juga di dalam alam semesta dan pada semua mahluk. Pantheisme adalah
kepercayaan bahwa Tuhan itu satu tapi tidak dapat digambarkan bentuknya. Dan dia meliputi
seluruh ciptaannya. Seperti satu sendok garam dalam segelas air. Garam tidak kelihatan
karena larut dalam air. Tapi seluruh air dalam gelas itu akan terasa garam. Di dalam Hindu
hal ini berhubungan dengan filsafat Wyapi Wyapaka Niwikara, Tat Twam Asi, atau pun Aham
Brahman Asmi.
Selain Tuhan (Brahman) dalam Hindu juga dikenal manifestasi Tuhan seperti
Dewa/Dewi, Bhatara, dan Pitara. Kata Dewa itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta Div
yang artinya sinar. Sesuai dengan artinya, fungsi Dewa adalah untuk menyinari, menerangi
alam semesta agar selalu terang dan terlindungi. Arti lainnya adalah “yang memberi”. Orang
terpelajar yang memberikan ilmu pengetahuan kepada sesama manusia adalah Dewa
(Vidvamso hi devah). Matahari, bulan dan bintang-bintang di langit adalah para Dewa karena
mereka memberi cahaya kepada semua ciptaan. Ayah dan ibu dan pembimbing spiritual
adalah juga para Dewa. Bahkan seorang tamu juga adalah Dewa. Jika diandaikan matahari
adalah Tuhan sinarnya yang tak terhitung jumlahnya itu adalah para Dewa. Jadi para Dewa
itu sebenarnya adalah nama-nama Tuhan di dalam fungsinya yang terbatas. Misalnya Brahma
adalah nama Tuhan dalam fungsinya sebagai pencipta. Wisnu adalah nama Tuhan dalam
fungsinya sebagai pemelihara. Dan Siwa adalah nama Tuhan dalam fungsinya sebaga
pemralina. Dapat dikatakan bahwa Dewa adalah manifestasi yang mengemban misimisi/tugas tertentu.
Selanjutnya, Bhatara berasal dari kata bhatr berarti kekuatan Sang Hyang Widhi yang
berfungsi sebagai pelindung umat manusia dan dunia dengan segala isinya. Dalam Agama
Hindu dikenal ada banyak Bhatara, antara lain:
 Bhatara Bayu yang memiliki kemampuan untuk menggerakkan udara atau angin.
 Bhatara Indra yang mempunyai kekuatan untuk mengadakan hujan.
 Bhatara Agni yang mempunyai kekuatan untuk menjadikan api yang panas.
Pitara (Dewa Hyang) adalah atman leluhur yang telah mencapai alam Swah Loka.
Karena Sang Hyang Atma yang sudah mencapai tingkatan Dewa Pitara diyakini hamper
setara dengan Dewa sehingga umat Hindu wajib melakukan penghormatan kepada Pitara.
3
Tuhan dan segala manifestasi-Nya (Dewa/Dewi) sering diwujudkan dalam bentuk
patung, gambar, atau simbol-simbol lainnya. Para bijak mengatakan bahwa pikiran manusia
itu terbatas sedangkan Tuhan itu tidak terbatas. Nah, untuk memahami yang tak terbatas
maka Tuhan diberikan batasan. Misalnya diberi nama, diwujudkan dalam patung, diwujudkan
dalam bentuk huruf atau simbol lainnya. Hal itu tidaklah salah. Kecintaan terhadap Tuhan
akan membuat para pemujaNya selalu ingin dekat dengan Tuhan. Hal itu kemudian berusaha
diungkapkan dan diekspresikan dengan membuat simbol-simbol personifikasi Tuhan. Proses
meng-orang-kan atau mem-benda-kan Tuhan itu kemudian menghasilkan suatu bentukbentuk penggambaran kebesaran-kebesaran Tuhan dengan berbagai manifestasi. Mulai dari
bangunan batu yang megah (candi), patung dewi yang cantik, dewa yang gagah, hingga
patung kombinasi berbagai macam hewan, dan sebagainya.
Inilah yang akhirnya membuat umat Hindu sering terlihat seolah-olah memuja batu atau
pun patung. Yang sebenarnya ini hanyalah simbol-simbol yang membuat mereka merasa
lebih dekat dan merasa lebih fokus untuk memuja Tuhan. Jika dianalogikan secara sederhana,
hal ini sama seperti ketika kita seseorang berpacaran jarak jauh. Ketidakmampuan kita untuk
menggapainya, membuat kita melepas rasa rindu dengan melihat fotonya, melukis wajahnya,
atau memeluk boneka pemberiannya. Apakah ini berarti kita mencintai fotonya? Atau
mencintai lukisannya? Atau memuja bonekanya? Tentu tidak. Foto, lukisan, atau pun boneka,
itu hanya perantara dan simbol yang membuat kita merasa lebih dekat dengannya.
Dalam agama Hindu, arca/patung/pratima adalah sama dengan Murti, yang merujuk
kepada citra yang menggambarkan Roh atau Jiwa Ketuhanan. Murti adalah perwujudan aspek
ketuhanan (dewa-dewi), biasanya terbuat dari batu, kayu, atau logam, yang berfungsi sebagai
sarana dan sasaran konsentrasi kepada Tuhan dalam pemujaan atau persembahyangan yang
sebenarnya ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya.
Mengenal Tuhan tidak lengkap jika tanpa memahami sifat-sifat kemahakuasaan beliau.
Adapun sifat-sifat Brahman antara lain :
1) Sat; sebagai Maha Ada satu-satunya, tidak ada keberadaan yang lain di luar beliau.
Dengan kekuatan-Nya Brahman telah menciptakan bermacam-macam bentuk, warna,
serta sifat banyak di alam semesta ini. Planet, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan
serta benda yang disebut benda mati berasal dari Tuhan dan kembali pada Tuhan bila
saatnya Pralaya tiba. Tidak ada satupun benda-benda alam semesta ini yang tidak bisa
bersatu kembali dengan Tuhan, karena tidak ada barang atau zat lain di alam semesta
ini selain Tuhan.
4
2) Cit; sebagai Maha Tahu. Beliaulah sumber ilmu pengetahuan, bukan pengetahuan
agama, tetapi sumber segala pengetahuan. Dengan pengetahuan maka dunia ini
menjadi berkembang dan berevolusi, dari bentuk yang sederhana bergerak menuju
bentuk yang sempurna. Dari Avidya (kekurangtahuan) menuju Vidya atau maha tahu.
3) Ananda; adalah kebahagiaan abadi yang bebas dari penderitaan dan suka-duka. Pada
hakikatnya semua kegembiraan, kesukaran, dan kesenangan yang ada, yang
ditimbulkan oleh materi bersumber pula pada Ananda ini bersumber pula pada
Ananda ini.
Dalam agama hindu mengenal dengan adanya Asta Aiswarya yaitu delapan bentuk dan
sifat ke-Maha-Kuasa-an Sanghyang Widhi skala dan niskala, yang terdiri dari delapan
kekuatan, sehingga Aiswarya sering pula disebut Asta Aiswarya:
1) Anima: sangat halus
2) Laghima: sangat ringan
3) Mahima: sangat besar dan sangat luas, tak terbatas
4) Prapti: dapat mencapai segala tempat
5) Isitwa: melebihi segala-galanya
6) Prakamya: kehendak-Nya selalu tercapai
7) Wasitwa: sangat berkuasa
8) Yatrakamawasayitwa: kodrati tidak dapat diubah
Lalu bagaimana cara atau tahapan umat Hindu untuk mengetahui Tuhan? Ajaran
Ketuhanan (Theology) dalam agama Hindu disebut Brahma Widyā. Dalam Brahma
Widyā dibahas tentang Tuhan Yang Maha Esa, ciptaan-Nya, termasuk manusia dan alam
semesta. Sumber ajaran Brahma Widyā ini adalah kitab suci Veda. Sesungguhnya dalam
mengetahui Sang Hyang Widhi Wasa dalam agama Hindu itu ada tiga tahapan yaitu Agama
Pramana, Anumana Pramana, Pratyaksa Pramana. Ini merupakan tingkatan dalam
mengetahui Tuhan dengan menggunakan Filsafat atau Tattwa.
a. Agama Pramana bisa dikatakan sebagai sebuah pengetahuan yang didapatkan entah
dari para Rsi atau dari kitab suci akan tetapi mereka tidak memperdalam. Misalnya
saja umat Hindu mempercayai bahwa Sang Hyang Widhi pernah menjelma menjadi
sembilan bentuk menurut kitab suci yang mereka baca kemudian mereka langsung
percaya tidak dipahami atau diteliti lagi.
5
b. Anumana Pramana ialah cara untuk mengetahui Tuhan dengan menyakini sesuatu
berdasarkan perhitungan yang logis yang kemudian diambil sebuah kesimpulan yang
logis atau mengambil kesimpulan dari berbagai gejala-gejala yang ada di sekitar kita,
misalnya saja ketika melihat kenapa Bumi itu bisa memiliki dua waktu antara waktu
siang dan waktu malam, kenapa bumi bisa berputar dengan teratur di garis edarnya,
kenapa ada hujan, kenapa ada panas dan lain sebagainya. Ini semua pasti ada yang
mengendalikannya tidak mungkin mereka bisa ada.
c. Pratyaksa Pramana ini merupakan tahapan menemukan Tuhan dengan secara
langsung atau observasi langsung dengan apa kita bisa melakukannya yaitu dengan
melakukan Yoga atau bersemedi dan memuastkan semua pikiran kita terhadapnya,
maka kita akan merasakan kedekatan kita dengan Sang Hyang Widhi.
*dari berbagai sumber
6
Download