penerapan model pembelajaran quantum teaching

advertisement
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING
PADA MATERI HIMPUNAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR SISWA KELAS VII
DI SMP NEGERI 1 BANAWA TENGAH
Nurfadila
E-mail: [email protected]
I Nyoman Murdiana
E-mail: [email protected]
Idrus Puluhulawa
E-mail: [email protected]
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran
Quantum Teaching pada materi himpunan yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII di
SMP Negeri 1 Banawa Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang mengacu
pada desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart, yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan,
3) observasi dan 4) refleksi. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Quantum Teaching pada materi himpunan
dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Banawa Tengah melalui
fase-fase model pembelajaran Quantum Teaching, yaitu : 1) tumbuhkan, memberikan motivasi
dengan bahan tayang, 2) alami, menampilkan slide power point yang berkaitan dengan LKS
dan memutar musik saat mengerjakan LKS terstruktur, 3) namai, mengarahkan pengetahuan
siswa dalam diskusi kelas, 4) pendemonstrasian, memberikan latihan soal yang berhubungan
dengan materi kepada siswa yang dilanjutkan dengan siswa mempresentasikanhasil
pekerjaannya di depan kelas, 5) ulangi, mengarahkan siswa untuk mengulangi kembali materi
yang telah dipelajari melalui penyampaian pengetahuan yang telah diperolehnya serta pemberian
pekerjaan rumah sebagai latihan lanjutan, dan 6) rayakan, memberikan penghargaan kelompok.
Kata kunci: quantum teaching, hasil belajar, himpunan.
Abstract: The aim of this research was describe the implementation of Quantum Teaching
learning model can increase students study result of class VII on the set at SMPN 1 Banawa
Tengah. The research is class action research refers to Kemmis and Mc. Taggart research
design, that were. 1) planning, 2) acting, 3) observation, and 4) reflection. This research was
conducted in two cycles. The result of this research shows that the implementation of Quantum
Teaching learning model can increase students study result of class VII on the set at SMPN 1
Banawa Tengah through the phases of Quantum Teaching learning model, they are. 1) grow
up, giving motivation with visual presentation, 2) experience, showing power point slide about
structured task and playing music when doing structured task, 3) named, directing students’s
knowledge in class discussion, 4) demonstration, giving exercise followed by student’s
presentation activity , 5) repeat, directing students to repeat the material which has been
studied by telling it and giving home work as advanced exercise, and 6) celebrate, giving
reward for student’s team.
Keywords: quantum teaching, result study, set.
Matematika merupakan sarana untuk membekali peserta didik dengan kemampuan
berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerjasama.
Kemampuan tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan
memperoleh, mengelolah dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan
yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif (Depdiknas, 2006). Oleh karena itu
matematika merupakan satu dari beberapa mata pelajaran yang wajib diberikan kepada
semua peserta didik mulai dari sekolah dasar sampai ke jenjang perguruan tinggi. Asnidar
(2014) mengatakan matematika masih saja dianggap sebagai suatu bidang studi yang sulit
oleh siswa, dan masih banyak siswa yang memperoleh hasil belajar yang kurang
Nurfadila, I Nyoman Murdiana, dan Idrus Puluhulawa, Penerapan Model … 283
memuaskan karena lemahnya pemahaman siswa terhadap konsep-konsep atau prinsipprinsip dalam matematika. Hal ini diperkuat oleh informasi yang diperoleh peneliti melalui
dialog yang dilakukan dengan guru matematika SMP Negeri 1 Banawa Tengah. Guru
matematika mengatakan bahwa hasil belajar siswa kelas VII hingga kelas IX di SMP
Negeri 1 Banawa Tengah pada materi matematika masih rendah. Hal ini disebabkan karena
sebagian besar siswa sulit memahami konsep materi matematika yang diajarkan oleh guru.
Peneliti juga memperoleh informasi bahwa pokok bahasan yang dianggap sulit untuk
dipahami siswa ialah himpunan. Meskipun materi himpunan cukup mudah untuk dipahami,
namun menurut guru matematika masih banyak siswa yang melakukan kesalahan pada saat
mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan materi himpunan. Siswa belum mampu
membedakan himpunan dan bukan himpunan, menyatakan keanggotaan suatu himpunan,
membedakan himpunan berhingga dan himpunan tak berhingga, menentukan himpunan
kosong, himpunan semesta, dan himpunan bagian.
Informasi yang diperoleh dari hasil dialog ditindaklanjuti dengan memberikan tes
kemampuan kepada 26 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Banawa Tengah untuk
mengidentifikasi pengetahuan siswa tentang himpunan. Satu diantara soal yang diberikan
yaitu: tulislah 3 contoh kumpulan yang merupakan himpunan dan 3 contoh kumpulan yang
bukan merupakan himpunan, serta tuliskan alasan untuk masing-masing contoh himpunan
dan bukan himpunan untuk mendukung jawabanmu! Berikut satu diantara jawaban siswa
PS ditunjukkan pada Gambar 1.
PS103
PS101
PS102
Gambar 1(a). Jawaban siswa PS terhadap soal tes kemampuan
PS104
PS105
PS106
Gambar 1(b). Jawaban siswa PS terhadap soal tes kemampuan
Gambar 1(a) menunjukkan bahwa siswa menuliskan contoh himpunan yang keliru
dan hanya 1 contoh saja (PS101), padahal perintah soal menyatakan untuk menuliskan 3
contoh himpunan. Siswa PS juga menuliskan 3 alasan untuk 1 contoh himpunan yang keliru
(PS102), padahal perintah soal menyatakan untuk menuliskan 1 alasan untuk 1 contoh
himpunan. Gambar 1(b) menunjukkan bahwa siswa menuliskan contoh bukan himpunan
yang keliru dan hanya 1 contoh saja (PS104), padahal perintah soal menyatakan untuk
284 AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 5, No. 3, Desember 2016
Disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika ke-4 Universitas Tadulako, 4 Desember 2016
menuliskan 3 contoh bukan himpunan. Siswa PS juga menuliskan 3 alasan untuk 1 contoh
bukan himpunan yang keliru (PS105), padahal perintah soal menyatakan untuk menuliskan
1 alasan untuk 1 contoh bukan himpunan. Pada Gambar 1(a) dan Gambar 1(b) juga
menunjukkan bahwa siswa melakukan kesalahan dengan menuliskan notasi keanggotaan
himpunan (PS103 dan PS106).
Usaha lain yang dilakukan peneliti untuk memperkuat informasi yaitu melakukan
wawancara terhadap beberapa siswa kelas VII dan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran
yang berlangsung di kelas VII. Hasil wawancara dengan beberapa siswa mengungkapkan
bahwa penyajian materi matematika kurang menarik sehingga minat siswa untuk belajar
matematika rendah, siswa menganggap matematika merupakan matapelajaran yang sulit
dipahami, dan membosankan. Peneliti juga memperoleh informasi bahwa pada umumnya
siswa di sekolah tersebut, khususnya siswa kelas VII cenderung lebih menyukai kesenian,
seperti musik, drama, tari, melukis dan menggambar dari pada pelajaran eksak khususnya
matematika. Selanjutnya, dari pengamatan yang dilakukan oleh peneliti diperoleh informasi
bahwa siswa menerima pengetahuan yang sepenuhnya bersumber dari guru dan siswa jarang
mengajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan dari guru. Berdasarkan permasalahan
tersebut, maka perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang menumbuhkan minat siswa
untuk belajar, mengajak siswa mengkontruksi pengetahuan baru secara mandiri dengan
suasana kelas yang menyenangkan serta pembelajaran berkesan dan bermakna.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut ialah dengan
menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching. Peneliti memilih model pembelajaran
Quantum Teaching karena menurut DePorter (2010) terdapat enam fase dari model
pembelajaran Quantum Teaching sebagai berikut: 1) tumbuhkan, pada fase ini peneliti
menumbuhkan minat siswa untuk belajar dengan menyampaikan manfaat himpunan melalui
tayangan dan hal-hal yang siswa senangi, yaitu kesenian seperti menyajikan gambar contohcontoh himpunan, 2) alami, pada fase ini peneliti memberi kesempatan bagi siswa untuk
mengalami langsung masalah himpunan yang disajikan dengan mengaitkannya ke dalam
kehidupan sehari-hari, 3) namai, pada fase ini siswa dapat mengkonstruksi pengertian
himpunan dan dapat menggunakan pengetahuan tersebut pada sub materi himpunan maupun
dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan himpunan, 4)
pendemonstrasian, pada fase ini peneliti memberikan kesempatan bagi siswa untuk
mengerjakan latihan soal dan mempresentasikan hasil kerjanya terkait dengan materi
himpunan untuk menunjukkan bahwa mereka tahu, 5) ulangi, pada fase ini peneliti bersama
siswa menyimpulkan materi himpunan, 6) rayakan, fase yang terakhir ini siswa diberikan
penghargaan berupa pujian, tepuk tangan, dan kado berdasarkan hasil pekerjaanya. Hal ini
dapat membuat siswa merasa bahwa hasil pekerjaannya dihargai dan diharapkan keinginan
siswa untuk belajar lebih meningkat sehingga hal ini dapat memberikan konstribusi yang
besar terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana penerapan model
pembelajaran Quantum Teaching yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII
pada materi himpunan di SMP Negeri 1 Banawa Tengah?
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini ialah penelitian tindakan kelas yang mengacu pada alur desain
penelitian yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc.Taggart (2013), yang terdiri atas empat
komponen yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi dan 4) refleksi.
Nurfadila, I Nyoman Murdiana, dan Idrus Puluhulawa, Penerapan Model … 285
Subjek penelitian yakni siswa kelas VII SMP Negeri 1 Banawa Tengah sebanyak 25 siswa
yang terdaftar pada tahun ajaran 2015/2016. Selanjutnya, dari subjek penelitian dipilih 3
siswa sebagai informan berdasarkan hasil analisis tes awal dan konsultasi dengan guru
matematika dengan karakteristik informan yaitu siswa AIS berkemampuan rendah, siswa
PMS berkemampuan sedang, dan siswa AI berkemampuan tinggi.
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi: observasi, tes, wawancara,
dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan dengan mengacu pada analisis data kualitatif
model Miles dan Huberman (1992) meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan. Keberhasilan tindakan dapat diketahui dari aktivitas guru dalam mengelola
pembelajaran di kelas dan aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dengan menerapkan
model pembelajaran Quantum Teaching minimal berkategori baik untuk setiap aspek pada
lembar observasi dan meningkatnya hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa dikatakan
meningkat apabila telah memenuhi indikator keberhasilan tindakan pada siklus I yaitu siswa
dapat mengkonstruksi konsep himpunan, menyatakan masalah sehari-hari dalam bentuk
himpunan dan mendata anggotanya, menyebutkan anggota dan bukan anggota himpunan, dan
mengenal himpunan berhingga dan tak berhingga. Indikator keberhasilan siklus II yaitu siswa
dapat mengenal himpunan kosong dan nol serta notasinya, mengenal pengertian himpunan
semesta serta dapat menyebutkan anggotanya, menentukan himpunan bagian dan banyak
himpunan bagian suatu himpunan. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes akhir tindakan.
HASIL PENELITIAN
Peneliti memberikan tes awal kepada siswa yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan
awal siswa mengenai materi prasyarat yaitu bilangan dan operasinya. Soal tes awal yang
diberikan sebanyak 5 nomor dan diikuti oleh 22 siswa kelas VII. Hasil analisis tes
menunjukkan bahwa siswa dapat menentukan anggota-anggota dari jenis-jenis bilangan, dan
melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan. Namun sebagian besar siswa
salah dalam melakukan operasi hitung campuran, siswa mendahulukan operasi penjumlahan
dari operasi perkalian, siswa juga salah dalam mengurutkan bilangan. Hal ini menunjukkan
bahwa pemahaman siswa mengenai materi prasyarat yang diberikan rendah. Oleh karena itu,
peneliti membahas kembali soal-soal pada tes awal pada kegiatan pendahuluan. Hasil analisis
tes awal juga digunakan dalam menentukan informan dan sebagai pedoman dalam
membentuk kelompok belajar yang heterogen berdasarkan kemampuan akademik dan jenis
kelamin. Kelompok belajar tersebut terdiri dari 5 siswa dalam setiap kelompok.
Penelitian yang dilakukan terdiri atas dua siklus. Setiap siklus dilakukan dalam dua
kali pertemuan. Pertemuan pertama siklus I dan Siklus II dilaksanakan dalam tiga tahap
pembelajaran, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup dengan
mengikuti fase-fase model pembelajaran Quantum Teaching yaitu: 1) tumbuhkan, 2) alami,
3) namai, 4) pendemonstrasian, 5) ulangi, dan 6) rayakan. Sedangkan pada pertemuan
kedua di setiap siklus peneliti membahas pekerjaan rumah dan memberikan tes akhir
tindakan kepada siswa.
Kegiatan pendahuluan pada setiap siklus dimulai dengan peneliti membuka pembelajaran
dengan mengucapkan salam, mengajak siswa untuk berdoa, mengecek kehadiran siswa dan
menyiapkan siswa untuk belajar. Kegiatan tersebut dapat menarik perhatian siswa di awal
pembelajaran. Hal ini dapat dilihat saat siswa memberikan respon balik terhadap kegiatan
yang dilakukan oleh peneliti. Siswa yang hadir pada siklus I pertemuan pertama yaitu 22 siswa
dan pertemuan kedua yaitu 24 siswa, sedangkan pertemuan pertama dan kedua pada siklus II
dihadiri oleh 24 siswa. Selanjutnya peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak
286 AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 5, No. 3, Desember 2016
Disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika ke-4 Universitas Tadulako, 4 Desember 2016
dicapai. Tujuan pembelajaran pada siklus I yaitu siswa dapat memahami pengertian
himpunan, keanggotaan himpunan, himpunan berhingga dan himpunan tak berhingga serta
dapat memberikan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan tujuan pembelajaran
pada siklus II yaitu siswa dapat memahami himpunan kosong, himpunan semesta, dan
himpunan bagian serta dapat memberikan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Pada
kegiatan ini siswa telah mengetahui tujuan pembelajaran yang hendak dicapai sehingga
siswa lebih terarah dalam mengikuti pembelajaran.
Selanjutnya peneliti melakukan apersepsi dengan mengingatkan kembali siswa mengenai
materi prasyarat. Peneliti memberikan apersepsi pada siklus I berupa materi prasyarat yakni
mengenai bilangan dan operasinya. Peneliti memberikan pertanyaan secara lisan tentang jenisjenis bilangan dan menuliskan soal di papan tulis tentang operasi bilangan. Apersepsi yang
diberikan peneliti pada siklus II yaitu mengajukan pertanyaan mengenai pengertian himpunan,
cara menyatakan keangotaan suatu himpunan, pengertian himpunan berhingga dan himpunan
tak berhingga serta contohnya. Pada kegiatan ini siswa telah mengetahui materi prasyarat
sehingga siswa lebih siap untuk menerima pengalaman baru dalam belajar.
Fase-fase model pembelajaran Quantum Teaching yang termasuk dalam kegiatan inti
yaitu: 1) tumbuhkan, 2) alami, 3) namai, 4) pendemonstrasian, dan 5) ulangi. Pada fase
tumbuhkan peneliti memotivasi siswa dengan menyampaikan manfaat mempelajari
himpunan. Peneliti menyajikan tayangan tentang manfaat himpunan dalam pengelompokkan
dan pemberian papan nama alat dan bahan di pasar sesuai jenisnya. Capaian siswa pada fase
ini yaitu siswa mengetahui manfaat mempelajari himpunan sehingga siswa lebih siap dan
termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kegiatan selanjutnya ialah pelaksanaan fase alami yang dimaksudkan untuk
memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Pada fase ini peneliti mengarahkan siswa
untuk bergabung ke dalam kelompok yang telah ditentukan sebelumnya agar siswa dapat
bekerja sama, saling membantu dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap keberhasilan
kelompoknya. Kemudian peneliti membagikaan LKS kepada setiap kelompok. Kegiatan ini
bertujuan untuk menuntun siswa dalam menemukan konsep dan kesimpulan dari materi yang
diajarkan. Pada siklus I peneliti membagikan LKS tentang langkah-langkah mengkonstruksi
pengertian himpunan dan menyatakan keanggotaan himpunan serta menampilkan slide power
point yang berisi informasi mengenai nama-nama siswa kelas VII dan pekerjaan ayahnya
yang digunakan untuk mengisi tabel pada LKS. Tabel tersebut berisi kolom nama-nama
siswa dan kolom pekerjaan ayah yang akan diisi oleh siswa sebagai langkah dalam
mengkonstruksi himpunan. Setiap kelompok menunjukkan interaksi antara sesama anggota
kelompok dalam mengerjakan LKS sehingga dapat memudahkan siswa mengkonstruksi
pengertian himpunan dan mengerjakan soal-soal pada LKS. Sedangkan pada siklus II peneliti
membagikan LKS tentang pengertian himpunan kosong, himpunan semesta, dan himpunan
bagian beserta contoh-contohnya. Peneliti mengamati dan mengarahkan siswa untuk
mendiskusikan LKS secara berkelompok agar dapat menentukan himpunan kosong dan
contohnya, himpunan semesta dan contohnya, serta himpunan bagian dari suatu himpunan.
Setiap kelompok menunjukkan interaksi antara sesama anggota kelompok dalam
mengerjakan LKS sehingga dapat memudahkan siswa menentukan himpunan kosong dan
contohnya, himpunan semesta dan contohnya, serta himpunan bagian dari suatu himpunan.
Peneliti memberikan bimbingan seperlunya kepada kelompok yang mengalami kesulitan.
Pada siklus I peneliti membimbing kelompok 4 dan 5 yang kesulitan menyatakan
keanggotaan himpunan dengan notasi pembentuk himpunan. Pada siklus II peneliti
membimbing kelompok 5 yang kesulitan menentukan himpunan bagian dari suatu himpunan.
Nurfadila, I Nyoman Murdiana, dan Idrus Puluhulawa, Penerapan Model … 287
Tujuan pemberian bimbingan oleh peneliti yaitu sebagai petunjuk agar siswa dapat bekerja
lebih terarah. Selanjutnya peneliti memutar musik klasik saat siswa mendiskusikan materi
dan mengerjakan LKS bersama teman kelompoknya. Pemutaran musik ini dimaksudkan
agar dapat meningkatkan intelegensi siswa dan ketenangan untuk berpikir.
Aktivitas yang dilakukan peneliti pada fase namai yaitu mempersilahkan siswa untuk
menyampaikan hasil diskusi kelompok dan kelompok lain menanggapi. Pada siklus I siswa AI
dari kelompok 2 dan siswa PMS dari kelompok 3 mempresentasikan tentang pengertian
himpunan dengan menuliskan jawaban di papan tulis dan membacakannya kembali. Kemudian,
jawaban kedua kelompok tersebut ditanggapi oleh siswa ANM dari kelompok 1 dan siswa SS
dari kelompok 4. Pada siklus II siswa SS dari kelompok 4 mempresentasikan tentang himpunan
kosong, siswa AS dari kelompok 3 mempresentasikan tentang himpunan semesta, dan siswa
AI dari kelompok 2 mempresentasikan tentang himpunan bagian dengan membacakan
jawabannya. Kelompok yang menanggapai jawaban dari ketiga kelompok tersebut ialah siswa
ANM dari kelompok 1 dan siswa AAS dari kelompok 5. Capaian pada fase ini ialah siswa telah
berani menyampaikan hasil diskusi kelompok dan menanggapi jawaban kelompok lain
sehingga materi yang dipelajari lebih bermakna bagi siswa.
Kegiatan inti selanjutnya ialah fase pendemonstrasian. Peneliti mengarahkan siswa
mengerjakan latihan soal, mempresentasikan hasil kerja kelompok, dan kelompok lain
menanggapi jawaban tersebut. Pada siklus I siswa ANM dari kelompok 1 mempresentasikan
tentang cara menyatakan keanggotaan himpunan, dan siswa AI dari kelompok 2
mempresentasikan tentang himpunan berhingga dan himpunan tak berhingga. Kemudian,
jawaban kedua kelompok tersebut ditanggapi oleh siswa MUZ dari kelompok 4 dan siswa
RB dari kelompok 5. Pada siklus II siswa PMS dari kelompok 3 mempresentasikan jawaban
latihan soal tentang himpunan semesta, siswa SS dari kelompok 4 jawaban latihan soal
tentang himpunan bagian, dan siswa AIS dari kelompok 5 mempresentasikan jawaban
latihan soal tentang himpunan kosong. Kelompok yang menanggapai jawaban dari ketiga
kelompok tersebut ialah siswa AI dari kelompok 1 dan siswa BD dari kelompok 2. Siswa
dapat mengerjakan latihan soal dan menyampaikan jawabannya sehingga dapat
memantapkan penguasaan bahan pelajaran bagi siswa.
Selanjutnya pelaksanaan fase ulangi. Pada fase ini peneliti bersama siswa
menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Pada siklus I terdapat 5 siswa dari 3 kelompok
yang berbeda dapat menyampaikan kesimpulan tentang pengertian himpunan dan bukan
himpunan, keanggotaan himpunan, himpunan berhingga dan himpunan berhingga beserta
contohnya. Siswa tersebut ialah siswa AI dari kelompok 2, siswa PMS dan AS dari
kelompok 3, siswa SS dan MUZ dari kelompok 4. Sedangkan pada siklus II, setiap
kelompok telah mampu menyimpulkan secara umum materi tentang himpunan kosong,
himpunan semesta, dan himpunan bagian beserta contohnya. Siswa dapat membuat
kesimpulan dari materi yang dipelajari berdasarkan tujuan pembelajaran.
Kegiatan penutup pembelajaran yaitu pelaksanaan fase rayakan. Fase rayakan pada siklus
I peneliti memberikan penghargaan berupa pujian dan tepuk tangan kepada kelompok 3 dan 4
atas kerjasama yang baik, kelompok 1 atas kecepatan dan ketepatan dalam mengerjakan soal.
Fase rayakan pada siklus II peneliti memberikan penghargaan atas hasil kerja setiap
kelompok berupa tepuk tangan, buku catatan, dan pulpen. Kelompok yang unggul dalam
kerjasama dan tanggung jawab terhadap kelompok yaitu kelompok 4. Siswa telah
menerima penghargaan atas usaha dan hasil pekerjaannya sehingga siswa mempunyai
keinginan yang lebih untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya. Kemudian, peneliti
memberikan pekerjaan rumah sebagai tugas mandiri dan latihan lanjutan sebelum
mengakhiri pembelajaran pada setiap siklus. Semua siswa menulis pekerjaan rumah yang
288 AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 5, No. 3, Desember 2016
Disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika ke-4 Universitas Tadulako, 4 Desember 2016
diberikan. Kegiatan yang dilakukan peneliti selanjutnya yaitu meminta kesediaan ketua
kelas untuk memimpin doa dan mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam.
Aspek-aspek aktivitas peneliti yang diamati selama pembelajaran berlangsung pada
siklus I dan siklus II menggunakan lembar observasi meliputi: 1) membuka pembelajaran
dengan salam dan mengajak siswa untuk berdoa, 2) mengecek kehadiran siswa dan
menyiapkan siswa untuk belajar, 3) menyampaikan informasi tentang subpokok bahasan
yang akan dipelajari dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, 4) melakukan apersepsi
dengan memberikan pertanyaan secara lisan dan tertulis, 5) memotivasi siswa dengan
menyampaikan manfaat dengan mengaitkan konsep yang akan dipelajari dengan kehidupan
sehari-hari dan materi selanjutnya, 6) mengarahkan siswa membentuk kelompok belajar
dan membagikan LKS kepada siswa, 7) menjelaskan hal-hal yang akan dilakukan dengan
bantuan LKS dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati slide power
point sesuai dengan konsep materi yang akan dipelajari, 8) membimbing siswa untuk
membuat jawaban-jawaban yang benar soal-soal pada LKS dan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk memaparkan jawabannya yang dibahas secara berkelompok, 9)
mengarahkan siswa untuk mengerjakan soal-soal latihan pada LKS yang berkaitan dengan
materi yang baru saja mereka pelajari, 10) memilih perwakilan siswa dari beberapa
kelompok untuk mempresentasikan jawabannya, 11) menyajikan jawaban berkaitan dengan
soal yang terdapat pada LKS, menjelaskannya kepada siswa, dan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk bertanya, 12) membuat kesimpulan tentang materi yang telah diajarkan
dengan melibatkan siswa, 13) memberikan penghargaan kepada siswa terhadap usaha dan
hasil kerja kelompok, 14) memberikan Pekerjaan Rumah (PR) yang berkaitan dengan
menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan materi yang telah dipelajari dan
menyampaikan hal yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya, 15) menutup
pembelajaran dengan mengucapkan salam, 16) efektivitas pengelolaan waktu, dan
17) penampilan guru dalam proses pembelajaran.
Hasil observasi pengamat terhadap aktivitas peneliti pada siklus I yaitu aspek 8, 11,
dan 17 berkategori cukup. Aspek 2, 3, 4, 5, 7, 12, 13, dan 14 berkategori baik. Aspek 1, 6,
9, 10, 15, dan 16 berkategori sangat baik. Peneliti melakukan perhitungan hasil perolehan
skor pada lembar observasi aktivitas peneliti dan memperoleh skor 75 yang artinya berada
pada taraf baik berdasarkan interval yang telah dibuat dengan mengacu pada perhitungan
desil. Kemudian hasil observasi terhadap aktivitas peneliti dijadikan bahan refleksi oleh
peneliti untuk ditingkatkan pada siklus selanjutnya. Hasil observasi pengamat terhadap
aktivitas peneliti pada siklus II yaitu aspek nomor 4, 5, 8, 9, 10, 11, 12, 16 dan 17
berkategori baik. Aspek nomor 1, 2, 3, 6, 7, 13, 14, dan 15 berkategori sangat baik. Peneliti
melakukan perhitungan hasil perolehan skor pada lembar observasi aktivitas peneliti dan
memperoleh skor 76 yang artinya berada pada taraf sangat baik berdasarkan interval yang
telah dibuat dengan mengacu pada perhitungan desil.
Aspek-aspek aktivitas siswa yang diamati meliputi: 1) menjawab salam dan berdoa,
2) menyiapkan diri untuk belajar, 3) menyimak penjelasan guru mengenai tujuan
pembelajaran yang hendak dicapai, 4) mengungkapkan pengetahuan awal secara lisan atau
tulisan, 5) menyimak penyampaian guru tentang manfaat mempelajari himpunan,
6) membentuk kelompok belajar dan menerima LKS, 7) memperhatikan penjelasan guru
tentang LKS dan mengamati video yang disajikan oleh guru, 8) melakukan kegiatan
pembelajaran untuk menemukan konsep himpunan berdasarkan LKS, 9) mempresentasikan
hasil diskusi kelompoknya bagi perwakilan kelompok yang ditunjuk dan kelompok lain
menanggapi, 10) menyimpulkan tentang konsep himpunan yang telah dipelajari dengan
Nurfadila, I Nyoman Murdiana, dan Idrus Puluhulawa, Penerapan Model … 289
bimbingan guru, 11) mengerjakan latihan soal pada LKS secara berkelompok, 12)
memperhatikan penjelasan guru dan menanyakan hal-hal yang belum dipahami, 13) membuat
kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari, 14) memperoleh penghargaan atas usaha dan
hasil kerjanya selama proses pembelajaran, 15) memberikan respon terhadap hal-hal yang
menjadi Pekerjaan Rumah (PR), dan 16) menjawab salam.
Hasil observasi pengamat terhadap aktivitas siswa pada siklus I yaitu aspek 4, 12, 13,
dan 14 berkategori cukup. Aspek 1, 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 15 dan 16 berkategori baik.
Peneliti melakukan perhitungan hasil perolehan skor pada lembar observasi aktivitas peneliti
dan memperoleh skor 60 yang artinya berada pada taraf baik berdasarkan interval yang telah
dibuat dengan mengacu pada perhitungan desil. Kemudian hasil observasi terhadap aktivitas
peneliti dijadikan bahan refleksi oleh peneliti untuk ditingkatkan pada siklus selanjutnya.
Hasil observasi pengamat terhadap aktivitas siswa pada siklus I yaitu aspek 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10,
11, 12, 13 dan 14 berkategori baik. Aspek 1, 2, 6, 15, dan 16 berkategori sangat baik.
Peneliti melakukan perhitungan hasil perolehan skor pada lembar observasi aktivitas
peneliti dan memperoleh skor 69 yang artinya berada pada taraf sangat baik berdasarkan
interval yang telah dibuat dengan mengacu pada perhitungan desil.
Pelaksanaan tes akhir tindakan siklus I diikuti oleh 24 siswa. Hasil tes akhir tindakan
siklus I yaitu terdapat 16 siswa tuntas dan 8 siswa tidak tuntas. Satu diantara soal yang
diberikan yaitu: diketahui M adalah himpunan bilangan bulat antara -3 dan 3 dan N adalah
himpunan lima bilangan ganjil pertama. Nyatakan keanggotaan M dan N dengan notasi
pembentuk himpunan! Jika dilihat dari pekerjaan siswa, umumnya siswa yang tidak tuntas
mengalami kesulitan dalam hal menyatakan keanggotaan himpunan dengan notasi pembentuk
himpunan, satu diantaranya yaitu siswa PMS. Jawaban siswa PMS ditunjukkan pada Gambar 2.
PMS3S101
PMS3S103
PMS3S102
PMS3S104
PMS3S105
PMS3S106
Gambar 2. Jawaban siswa PMS terhadap tes akhir tindakan siklus I
Gambar 2 menunjukkan bahwa siswa PMS dapat menuliskan himpunan yang
diketahui dengan benar yaitu himpunan M (PMS3S104) dan himpunan N (PMS3S101).
Siswa PMS juga dapat memisalkan anggota dari himpunan M (PMS3S105) dan anggota
dari himpunan N (PMS3S102) dengan benar, dan juga menyatakan keanggotaan N dengan
notasi pembentuk himpunan dengan benar (PMS3S103). Namun siswa PMS melakukan
kesalahan dalam menyatakan keanggotaan M dengan notasi pembentuk himpunan
(PMS3S106). Peneliti melakukan wawancara dengan PMS untuk memperoleh informasi lebih
lanjut tentang kesalahan PMS sebagaimana transkip wawancara sebagai berikut:
PMS S1 26 S : ya kakak. Saya sudah tahu salahnya, sepertinya kalau nomor 3 saya salah
notasi-notasinya. Kurang teliti saya nomor 3 itu kakak.
PMS S1 27 P : kalau begitu coba kamu selesaikan kembali soal itu dengan lebih teliti.
PMS S1 28 S : ya kakak.
PMS S1 29 P : baca baik-baik yang diketahui. Ingat kembali notasi-notasinya.
PMS S1 30 S : (mengerjakan soal sampai selesai).
290 AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 5, No. 3, Desember 2016
Disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika ke-4 Universitas Tadulako, 4 Desember 2016
PMS S1 31 P
PMS S1 32 S
PMS S1 35 P
PMS S1 36 S
PMS S1 37 P
PMS S1 38 S
PMS S1 39 P
PMS S1 40 S
PMS S1 41 P
: bagus sekali. Jadi sudah mengerti yang ini?
: ya kakak. Sudah mengerti.
: kalau nomor 3 pake cara lain kamu bisa kerja?
: yang dua cara itu kakak?
: ya. coba kamu kerjakan. Bisa?
: ya bisa kakak. (mengerjakan soal sampai selesai). Sudah benar ini kakak?
: coba kakak lihat (memeriksa jawaban). Bagus. Ya sudah benar.
: kalau yang dua cara ini lebih saya pahami kakak.
: bagus kalau kamu sudah paham. Tapi harus banyak berlatih mengerjakan
soal-soal. Supaya bisa lebih teliti lagi.
PMS S1 42 S : ya kakak.
Hasil wawancara pada siklus I memberikan informasi bahwa siswa PMS sudah
memahami cara menyatakan keanggotaan suatu himpunan (PMS S1 32 S dan PMS S1 40 S)
dan dapat menyatakan keanggotaan suatu himpunan (PMS S1 30 S dan PMS S1 38 S).
Namun, siswa mengaku kurang teliti sehingga keliru menuliskan notasi-notasi yang
digunakan dalam menyatakan anggota suatu himpunan dengan notasi pembentuk himpunan
(PMS S1 26 S).
Pelaksanaan tes akhir tindakan siklus II diikuti oleh 22 siswa. Hasil tes akhir tindakan
siklus II yaitu terdapat 18 siswa tuntas dan 4 siswa tidak tuntas. Pada umumnya siswa yang
tidak tuntas mengalami kesulitan dalam hal menentukan himpunan-himpunan bagian dari
suatu himpunan. Satu diantara soal tes akhir tindakan siklus II ditunjukkan pada Gambar 3.
Satu diantara siswa yang mengalami kesulitan dalam hal menentukan himpunan-himpunan
bagian dari suatu himpunan yaitu siswa AIS. Jawaban siswa AIS ditunjukkan pada Gambar 4.
Gambar 3. Soal tes akhir tindakan
AIS3AS20
1
AIS3BS20
1
Gambar 4. Jawaban AIS soal 3 pada
tes akhir
Gambar 4 menunjukkan bahwa siswa AIS menentukan banyaknya himpunan bagian
dari himpunan N dengan benar (AIS3AS201), namun siswa AIS hanya menuliskan empat
himpunan bagian dari N (AIS3BS201), padahal masih ada duabelas himpunan bagian lagi
dari N tidak dituliskan oleh AIS. Peneliti melakukan wawancara dengan AIS untuk
memperoleh informasi lebih lanjut tentang kesalahan AIS sebagaimana transkip wawancara
sebagai berikut:
AIS S2 25 P : ya bagus. Benar sekali. Kalau yang nomor 3b kamu tahu salahnya?
AIS S2 26 S : tidak tahu kakak.
AIS S2 29 P : masih ingat soal pada LKS yang menentukan himpunan bagian dari suatu
himpunan yang mempunyai satu anggota, dua anggota, dan tiga anggota ?
AIS S2 30 S : ya kakak. Yang menggunakan panah-panah kakak ?
AIS S2 31 P : ya, yang menggunakan panah-panah. Coba kamu kerjakan soal nomor 3b ini
seperti cara pada LKS kemarin.
AIS S2 32 S : (menulis dengan bimbingan peneliti seperti pada Gambar 4a).
Nurfadila, I Nyoman Murdiana, dan Idrus Puluhulawa, Penerapan Model … 291
Gambar 4a. Jawaban siswa AIS terhadap tes akhir tindakan siklus II pada saat wawancara
AIS S2 33 P : ya sudah benar. Sekarang tuliskan dalam bentuk himpunan.
AIS S2 34 S : (menulis dengan bimbingan peneliti seperti pada Gambar 4b).
Gambar 4b. Jawaban siswa AIS
terhadap tes akhir tindakan siklus
II Pada saat wawancara
AIS S2 35 P
AIS S2 36 S
AIS S2 37 P
AIS S2 38 S
AIS S2 39 P
AIS S2 40 S
AIS S2 41 P
AIS S2 42 S
AIS S2 43 P
AIS S2 44 S
Gambar 4c. Jawaban siswa AIS
terhadap tes akhir tindakan siklus
II pada saat wawancara
: coba kamu hitung ada berapa banyak himpunan bagian dari N ?
: ada 14 saja kakak. Padahal kalau pakai rumus 2n dapat 16.
: coba ingat kembali aturan lain mengenai himpunan bagian!
: ya kakak. Saya ingat yang ada dalam kotak-kotak di LKS ?
: ya. Jadi apa jawaban ?
: berarti himpunan itu sendiri juga dengan himpunan kosong. (menulis seperti
pada Gambar 4c).
: ya benar sekali. Jadi ada berapa himpunan bagian dari N ?
: ada 16 kakak.
: bagaimana sudah paham materinya?
: ya kakak. Sudah paham, ternyata sama seperti contoh yang di LKS itu. Saya
kira beda kakak.
Hasil wawancara pada siklus II memberikan informasi bahwa siswa AIS pada
awalnya tidak memahami himpunan bagian dari suatu himpunan (AIS S2 27 S) namun
dengan bimbingan peneliti, siswa AIS telah mampu menentukan himpunan bagian dari
suatu himpunan (AIS S2 32 S, AIS S2 34 S, AIS S2 40 S) dan memahami himpunan bagian
dari suatu himpunan (AIS S2 44 S).
292 AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 5, No. 3, Desember 2016
Disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika ke-4 Universitas Tadulako, 4 Desember 2016
PEMBAHASAN
Sebelum pelaksanaan tindakan, peneliti terlebih dahulu memberikan tes awal kepada
siswa untuk mengetahui kemampuan awal siswa mengenai materi prasyarat. Hal ini sesuai
dengan pendapat Sutrisno (2012) yang menyatakan bahwa pelaksanaan tes sebelum
perlakuan dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Hasil tes awal juga
digunakan sebagai pertimbangan dalam pembentukan kelompok belajar yang heterogen dan
penentuan informan, sebagaimana pendapat Nurcholis (2013) yang menyatakan bahwa
pemberian tes awal bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan untuk
dijadikan sebagai pertimbangan dalam pembentukan kelompok yang bersifat heterogen.
Pelaksanaan pembelajaran Siklus I dan Siklus II mengikuti fase-fase pembelajaran
model pembelajaran Quantum Teaching yang dikemukakan oleh DePorter (2010) yang
terdiri dari enam fase, yaitu: 1) tumbuhkan, 2) alami, 3) namai, 4) demonstrasikan, 5)
ulangi, dan 6) rayakan.
Kegiatan pendahuluan pada setiap siklus diawali dengan peneliti membuka
pembelajaran dengan mengucapkan salam, mengajak siswa berdoa, mengecek kehadiran
siswa, dan mempersiapkan siswa. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa di awal
pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Amrullah (2014) yang menyatakan bahwa
kegiatan guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam, mengajak siswa untuk
berdoa bersama, mengecek kehadiran siswa dan menyiapkan siswa untuk belajar dapat
menarik perhatian siswa di awal pembelajaran. Selanjutnya peneliti menyampaikan tujuan
pembelajaran yang hendak dicapai. Penyampaian ini dimaksudkan agar siswa lebih terarah
dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Prawiradilaga (2009) yang
menyatakan bahwa menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dapat membuat
siswa lebih terarah dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian peneliti memberikan apersepsi
kepada siswa agar lebih siap untuk menerima pengalaman baru dalam belajar, sebagaimana
yang dikemukakan oleh Hanafiah dan Suhana (2009) bahwa apersepsi dapat menumbuhkan
perhatian siswa sehingga lebih siap untuk menerima pengalaman baru dalam belajar.
Kegiatan inti diawali dengan pelaksanaan fase tumbuhkan. Pada fase ini peneliti
memotivasi siswa dengan menyampaikan manfaat mempelajari himpunan agar siswa
menjadi siap dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini sesuai dengan
pendapat Verawati (2015) yang menyatakan bahwa dengan menyampaikan manfaat
mempelajari materi yang diajarkan akan membuat siswa lebih siap dan termotivasi untuk
mengikuti kegiatan pembelajaran.
Aktivitas pada fase alami ialah peneliti mengelompokkan siswa ke dalam 5 kelompok
belajar yang heterogen, terdiri dari 5 siswa setiap kelompok. Tujuan pembentukan
kelompok yaitu agar siswa dapat bekerja sama, saling membantu dan memiliki rasa
tanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya. Hal ini sejalan dengan pendapat
Yanto (2015) bahwa pembentukan kelompok bertujuan agar siswa dapat bekerjasama,
saling membantu, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya
masing-masing. Peneliti juga memberikan LKS terstruktur pada saat pembelajaran yang
bertujuan untuk menuntun siswa dalam menemukan konsep dan kesimpulan dari materi
yang diajarkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Yusnawan (2014) yang menyatakan bahwa
memberikan LKS kepada setiap kelompok di dalam pelaksanaan pembelajaran bertujuan
untuk menuntun siswa dalam proses penemuan sehingga dapat membuat kesimpulan dari
materi yang diajarkan. Peneliti mengamati dan mengarahkan siswa yang sedang
mengerjakan soal pada LKS dengan memberikan bimbingan seperlunya kepada siswa yang
Nurfadila, I Nyoman Murdiana, dan Idrus Puluhulawa, Penerapan Model … 293
mengalami kesulitan menggunakan teknik scaffolding. Hal ini sesuai dengan pendapat
Nusantara dan Syafi’i (2013) yang menyatakan bahwa seorang guru memiliki kewajiban
dalam mengatasi kesulitan yang dialami siswa pada proses belajarnya dengan melakukan
upaya pemberian bantuan seminimal mungkin atau yang lebih dikenal dengan istilah
scaffolding agar siswa dapat bekerja lebih terarah. Siswa diiringi musik klasik untuk
menciptakan kondisi yang membuat siswa menjadi tenang untuk berpikir. Hal ini sejalan
dengan pendapat Susanti (2011) yang menyatakan bahwa penggunaan musik klasik pada
saat belajar dapat meningkatkan intelegensi seseorang dan ketenangan untuk berpikir.
Selanjutnya pada fase namai peneliti mempersilahkan perwakilan dari beberapa
kelompok yang ingin menyampaikan hasil diskusi kelompoknya dan kelompok lain
memberikan tanggapan terhadap jawaban kelompok penyaji. Hal ini dilakukan agar siswa
terbiasa mengemukakan pendapat mengenai jawaban yang diberikan temannya sehingga
materi yang dipelajari lebih bermakna. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahmawati (2013)
yang menyatakan perlunya pembiasaan untuk memberikan tanggapan terhadap jawaban
yang diberikan oleh orang lain dalam pembelajaran matematika, agar materi yang dipelajari
siswa menjadi lebih bermakna.
Aktivitas pada fase pendemonstrasian ialah peneliti mengarahkan siswa untuk
mengerjakan latihan soal pada LKS dan menyampaikan jawabannya. Hal ini bertujuan agar
siswa dapat memantapkan penguasaan materi yang dipelajari. Hal ini sejalan dengan
pendapat Barla (2013) yang menyatakan bahwa latihan sebagai usaha untuk memantapkan
penguasaan bahan pelajaran bagi siswa. Selanjutnya, aktivitas pada fase ulangi ialah peneliti
sebagai guru bersama siswa membuat kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari sesuai
dengan tujuan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Barlian (2013) yang
menyatakan bahwa guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan pelajaran pada
akhir pembelajaran berdasarkan tujuan pembelajaran.
Selanjutnya, pada fase rayakan peneliti memberi pengakuan berupa tepuk tangan, pujian,
dan kado kepada kelompok yang usaha dan hasil pekerjaannya dianggap baik oleh peneliti. Hal
ini perlu dilakukan karena pengakuan peneliti mempengaruhi kemampuan dan keinginan
belajar siswa selanjutnya. Hal ini sejalan dengan pendapat DePorter (2010) yang menyatakan
bahwa kemampuan belajar dan keinginan siswa untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya
meningkat karena pengakuan guru.
Peneliti memberikan tes akhir tindakan kepada siswa setelah melaksanakan
pembelajaran untuk memperoleh data hasil belajar siswa. Hasil tes akhir tindakan siklus I
menunjukkan bahwa siswa yang tuntas sebanyak 16 orang siswa dari 24 siswa yang
mengikuti tes, sedangkan hasil tes akhir tindakan siklus II menunjukkan bahwa siswa yang
tuntas sebanyak 18 orang siswa dari 22 siswa yang mengikuti tes. Hasil analisis tes akhir
tindakan menunjukkan adanya peningkatan hasil tes akhir tindakan dari siklus I ke siklus II.
Selanjutnya hasil observasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas peneliti dan
aktivitas siswa dari kegiatan siklus I ke siklus II. Setiap aspek yang dinilai pada lembar
observasi aktivitas guru maupun aktivitas siswa pada siklus II berada pada kategori baik
maupun sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas guru dalam hal ini peneliti dan
aktivitas siswa memenuhi indikator keberhasilan tindakan.
Hasil dan pembahasan yang telah diuraikan menunjukkan bahwa indikator keberhasilan
tindakan telah tercapai, sehingga dapat disimpulkan bahwa bahwa penerapan model
pembelajaran Quantum Teaching pada materi himpunan dapat meningkatkan hasil belajar
siswa kelas VII SMPN 1 Banawa Tengah dengan mengikuti fase-fase yaitu: 1) tumbuhkan, 2)
alami, 3) namai, 4) demonstrasikan, 5) ulangi, dan 6) rayakan.
294 AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 5, No. 3, Desember 2016
Disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika ke-4 Universitas Tadulako, 4 Desember 2016
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa
penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa
kelas VII SMP Negeri 1 Banawa Tengah pada materi himpunan dengan mengikuti fase-fase
model pembelajaran Quantum Teaching, yaitu: 1) tumbuhkan, 2) alami, 3) namai, 4)
pendemonstrasian, 5) ulangi, dan 6) rayakan.
Kegiatan pada fase tumbuhkan ialah peneliti memotivasi siswa dengan
menyampaikan manfaat mempelajari himpunan dalam kehidupan sehari-hari dengan
menggunakan bahan tayang berupa slide power point dan video pembelajaran. Pada fase
alami peneliti mengelompokkan siswa ke dalam 5 kelompok heterogen dan membagikan
LKS kepada setiap kelompok. Siswa mengerjakan LKS diiringi musik klasik untuk
meningkatkan intelegensi dan ketenangan untuk berpikir bagi siswa. Peneliti juga
memberikan bimbingan kepada setiap kelompok dengan teknik scaffolding. Selanjutnya
pada fase namai peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan
hasil diskusi kelompoknya dan kelompok lain menanggapi jawaban kelompok penyaji.
Selanjutnya kelompok penyaji serta kelompok lainnya membuat kesimpulan tentang
pengertian himpunan yang mereka konstruksikan dan guru meluruskan serta memberikan
penguatan tentang konsep yang telah disimpulkan oleh siswa. Kegiatan selanjutnya ialah
pelaksanaan fase pendemonstrasian. Pada fase ini peneliti mengarahkan siswa untuk
mengerjakan latihan soal dengan menggunakan konsep materi yang telah didiskusikan
bersama siswa. Selanjutnya pada fase ulangi peneliti bersama siswa menyimpulkan materi
yang telah dipelajari. Kemudian pada fase rayakan peneliti memberikan pengakuan atas
usaha dan hasil pekerjaan siswa berupa tepuk tangan, pujian dan kado.
SARAN
Berdasarkan hasil dan kesimpulan tersebut, peneliti menyarankan bahwa pembelajaran
matematika melalui penerapan model pembelajaran Quantum Teaching layak dipertimbangkan
sebagai alternatif dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi
himpunan. Bagi peneliti lain yang ingin melaksanakan penelitian matematika, diharapkan
mencoba menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching pada materi lain. Selain itu,
perlu mencari strategi alternatif yang lebih baik untuk menarik perhatian siswa di awal
proses pembelajaran agar pengalaman belajar siswa lebih berkesan.
DAFTAR PUSTAKA
Amrullah, A. L. (2014). Penerapan Pendekatan Realistic Mathematics Education untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Soal Cerita tentang Himpunan di
Kelas VII MTsN Palu Barat. Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako.
[Online]. Vol. 2 (1), 11 halaman. Tersedia: http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.
php/JEPMT/article/download/3226/2281 [26 November 2015].
Asnidar. (2014). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa pada Materi Operasi Himpunan di Kelas VII SMP Negeri 19 Palu.
Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako. [Online]. Vol. 1 (2), 10 halaman.
Tersedia: http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index. php/JEPMT/article/downloa d/3220/2275
[26 November 2015].
Nurfadila, I Nyoman Murdiana, dan Idrus Puluhulawa, Penerapan Model … 295
Barla, N. dan Hasyim, A. (2013). Pengaruh Tingkat Intensitas Pemberian Latihan Soal
terhadap Prestasi Belajar Siswa dalam Matapelajaran PKn Kelas VII SMP Negeri 21
Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013. Jurnal Kultur Demokrasi .[Online]. Vol.
1 (2), 15 halaman. Tersedia: http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/JKD/article/view/
807 [22 Juni 2016].
Barlian, I. (2013). Begitu Pentingkah Strategi Belajar Mengajar Bagi Guru?. Jurnal Forum
Sosial. [Online]. Vol. 6 (1), 6 halaman. Tersedia: http://eprints.unsri.ac.id/2268/2/isi.pdf
[17 Juni 2016].
Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 Matapelajaran
Matematika. Jakarta: Depdiknas.
DePorter, B. (1999). Quantum Teaching, Nilandari, A (penerjemah), 2010. Quantum Teaching
(Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas). Bandung: Kaifa.
Hanafiah, N. dan Suhana, C. (2009). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT. Refika
Aditama.
Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. (2013). The Action Research Planner: Doing Critical
Participatory Action Research. Singapore: Springer Sience. [Online]. Tersedia:
https://books.google.co.id/books?id=GB3IBAAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=kem
mis+and+mctaggart&hl=en&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=kemmis%20and%20
mctaggart&f=false [21 Agustus 2016].
Miles, M. B. dan Huberman, A. M. (1992). Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang
Metode-metode Baru. Terjemahan oleh Tjeptjep Rohendi Rohidi, Jakarta: UI-Press.
Nurcholis. (2013). Implementasi Metode Penemuan Terbimbing untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa pada Penarikan Kesimpulan Logika Matematika. Jurnal Elektronik
Pendidikan Matematika Tadulako. [Online]. Vol. 1 (1), 11 halaman. Tersedia:
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/in-dex.php/JEPMT/article/view/1707/ 1124. [21 Agustus
2016].
Nusantara, T. dan Safi’i, I. (2013). Diagnosis Kesalahan Siswa pada Materi Faktorisasi
Bentuk Aljabar dan Scaffoldingnya. Journal Of Mathematic’s Teacher Education.
[Online]. Vol. 1 (3), 10 halaman. Tersedia: http://jurnalonline.um.ac.id/data/artikel/
artikel29887756D901C2029476EE329D179594.pdf [17 Juni 2016].
Prawiradilaga, D. S. (2009). Prinsip Disain Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Rahmawati, F. (2013). Pengaruh Pendekatan Pendidikan Realistik Matematika dalam
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Dasar. Journal
FMIPA Unila. [Online]. Vol. 1 (1), 14 halaman. Tersedia: http://journal.fmipa.
unila.ac.id.index.php/semirata/article/view/882/701 [21 Juni 2016].
Susanti, D.V. dan Rohmah, F.A. (2011). Efektivitas Musik Klasik dalam Menurunkan
Kecemasan Matematika (Math Anxiety) pada Siswa Kelas XI. Jurnal Humanitas.
[Online].
Vol.
8
(2),
14
halaman.
Tersedia:
http://journal.
uad.ac.id/index.php/HUMANITAS/article/download/460/299 [29 Desember 2015].
Sutrisno. (2012). Efektivitas Pembelajaran dengan Metode Penemuan Terbimbing
Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika.
296 AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 5, No. 3, Desember 2016
Disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika ke-4 Universitas Tadulako, 4 Desember 2016
[Online]. Vol. 1 (4), 16 halaman. Tersedia: http://fkip.unila.ac.id/ ojs/journals/II/
JPMUVol1No4/016-Sutrisno.pdf [ 17 Juni 2016].
Verawati. (2015). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray
(TSTS) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Pertidaksamaan Linear
Satu Variabel di Kelas VII SMP Islam Terpadu Qurrota’ayun Tavanjuka. Skripsi
Sarjana pada FKIP Universitas Tadulako Palu. Palu: Tidak Diterbitkan.
Yanto. (2015). Penerapan Model Pembelajaran Numbered Heads Together dapat
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Sistem Persamaan Linier
Dua Variabel di Kelas VIII D SMPN 7 Palu. Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika
Tadulako. [Online]. Vol. 2 (4), 12 halaman. Tersedia: http://jurnal. untad.ac.id
/jurnal/index.php/JEPMT/article/view/1707/1124 [21 Juni 2016].
Yusnawan, I.P.A. (2014). Penerapan Metode Penemuan Terbimbing untuk Meningkatkan
Pemahaman Siswa pada Materi Gradien di Kelas VIII B SMP Negeri 9 Palu. Jurnal
Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako. [Online]. Vol. 1 (2), 11 halaman.
Tersedia: http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/ JEPMT/ article [21 Juni 2016]
Download