It`s time to pay back....

advertisement
”Dua hal apabila dimiliki seorang dia dicatat Allah sebagai
orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama
(Ilmu dan Ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu
meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat
kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah
bahwa dia masih diberikan kelebihan”. (HR. Attirmidzi)
It’s time to pay back.......
Persembahan untuk istri, Arma,
anak-anak, Didi dan Nadia
Yang telah lebih dari 10 tahun
di nomor duakan
i
ii
Prolog
Prolog
D
alam menyusun buku “Refleksi dan Gagasan
Kebijakan Fiskal” yang sedang Anda baca ini,
Penulis telah membuka kembali catatan sejarah
pengabdian yang telah diukir selama lebih dari
10 tahun di Departemen (sekarang Kementerian) Keuangan
Republik Indonesia. Berbagai peristiwa, kejadian, tragedi,
krisis dan keberhasilan telah terukir yang menurut hemat
Penulis terlalu sayang untuk tidak didokumentasikan.
Kejadian-kejadian tersebut merupakan hal kontemporer pada
masanya, yang merupakan isu nasional dan sangat mungkin,
seperti kata sejarah, terulang lagi. Mulai dari masalah makro,
pajak, utang, BBM, tarif dasar listrik, APBN, inflasi, ASEAN,
IMF, G20, krisis keuangan, bank century, perdagangan bebas,
DPR, birokrasi hingga pemberantasan korupsi. Di dalam
buku ini pulalah pembaca yang budiman dapat menemukan
refleksi, pandangan dan gagasan, perhatian, kekhawatiran,
hingga harapan yang dapat dijadikan bahan evaluasi, koreksi,
perubahan dan perbaikan kedepan.
iii
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Sudut pandang yang digunakan Penulis dalam tulisan
ini terbagi menjadi dua sisi, meskipun tidak secara eksplisit
dituliskan. Pertama, adalah sudut pandang penulis ketika
masih berada di dalam lingkaran dalam Kementerian
Keuangan. Tentu ini memberikan semacam ‘kewajiban
moril’ bagi Penulis untuk menjelaskan dan mempertahankan
kebijakan-kebijakan yang akan atau telah diambil oleh
Pemerintah. Kedua, adalah sudut pandang Penulis sebagai
pengajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, juga
sebagai pengamat dan direktur Penelitian Ekonomika dan
Bisnis (P2EB) FEB-UGM yang bersifat lebih analitis dan kritis
atas kebijakan-kebijakan Pemerintah. Dalam halnya menulis
demikian, sesungguhnya Penulis tidak ingin memberikan
reaksi negatif yang berlebihan kepada Pemerintah, namun
Penulis hanya ingin memberikan masukan-masukan dan
gagasan positif yang isinya tentu diharapkan dapat membantu
kinerja Pemerintahan, khususnya dalam bidang kebijakan
fiskal.
Buku yang sedang Anda baca ini adalah kumpulan tulisan
mengenai ekonomi khususnya di bidang ekonomi, keuangan
dan kebijakan fiskal. Tulisan yang ada di sini hampir
seluruhnya telah dimuat di media massa, namun kemudian
diolah kembali. Buku ini terbagi menjadi enam bagian, dengan
topik yang meliputi : reformasi birokrasi dan ekonomi politik,
masalah risiko fiskal, dukungan perpajakan pada sektor
riil, anggaran dan pemberantasan korupsi, sektor keuangan
beserta privatisasi dan utang, dan terakhir ekonomi global
dan integrasi keuangan. Semua topik tersebut bermuara pada
kebijakan fiskal untuk mendorong perbaikan perekonomian
nasional. Pada bagian akhir atau epilog, penulis menampilkan
dua tulisan “fresh” yakni catatan-catatan pendek sejarah
penulis selama 10 tahun berkarier di Kementerian Keuangan
iv
Prolog
dan tulisan refleksi oleh saudara Wisnu Nugroho atau akrab
dipanggil Inu.
Pada kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terima
kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu terbitnya
buku ini hingga ke tangan pembaca sekalian. Pertama-tama
Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada penerbit
PT. Gramedia, saudara Rano Ilyas, dan direksi PT. Telkom,
khususnya saudara Arief Yahya yang atas dukungannya
membantu terbitnya buku ini. Redaktur ekonomi harian
Kompas, Republika, Jakarta Post, Bisnis Indonesia, Jawa
Pos, Koran Sindo dan mingguan Tempo yang memberikan
kesempatan menulis di harian/mingguan tersebut secara
kontinyu dan menjadi sumber tulisan buku ini. Kedua,
Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Mas Wisnu
Nugroho, penulis tetralogi “Pak Beye” yang menuliskan
kata epilog pada buku ini. Ucapan terima kasih juga Penulis
ucapkan kepada mantan pimpinan dan rekan-rekan kerja di
kementerian keuangan yang telah membangun persaudaraan
dan harmonisasi kerja yang baik waktu itu. Beberapa kami
sebutkan, Bapak Boediono, Bapak Bambang Sudibyo, Bapak
Prijadi (alm), Bapak Jusuf Anwar, Ibu Sri Mulyani Indrawati,
Bapak Darmin Nasution, Bapak Anwar Supriyadi, Bapak
Hadi Poernomo, Bapak Eddy Abdurachman, Bapak Agus
Haryanto, Bapak JB Kristiadi, Bapak Herwidayatmo, Bapak
Agus Muhamad, Bapak Mardiasmo, Bapak Fuad Rachmany
dan Bapak Rachmat Waluyanto. Rekan-rekan di Badan
Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan waktu itu,
Bapak Winarto, Bapak Rio Silaban, Bapak Joko Wiyono,
Bapak Andie Megantara, Bapak Askolani, Bapak Freddy
Saragih, Bapak Irfa Amphri dan Bapak Andin Hadiyanto
serta rekan-rekan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu
persatu. Rekan-rekan pengajar di Fakultas Ekonomika
v
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dan Bisnis, bapak Dekan dan para Wakil dekan FEB-UGM,
pengelolan P2EB FEB-UGM, teman-teman peneliti dan
asisten peneliti di P2EB FEB UGM (Farza Faremi Adirama,
Rhendy Ersuyansah, Bayu Permana Jati, Amelia Sarinastiti;
yang membantu mengkompilasi tulisan Penulis), serta
pihak-pihak lain yang ikut serta membantu terciptanya buku
ini, baik secara langsung maupun tidak lagsung. Bapak Ary
Ginanjar Agustian dan para pengelola serta alumni dari ESQ
leadership center yang merupakan salah satu sumber ilmu
dan peningkatan akhlak dari Penulis. Yang terakhir kepada
mereka yang memberi dorongan semangat yang luar biasa
dalam waktu-waktu keseharian Penulis, istri Edharmayati
Latief dan anak-anak tercinta, Mahditya Putra Mahardika
dan Nadia Rachma Pratiwi. Mudah-mudahan gagasan ini
bermanfaat untuk menambah wawasan dan menjadi inspirasi
bagi banyak orang.
Yogyakarta, 24 Mei 2011
Penulis
vi
Daftar Isi
Daftar Isi
Prolog........................................................................ iii
daftar isi.................................................................. vii
I. Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi
dan Ekonomi Politik Anggaran................... 1
1. Kemerdekaan Ekonomi RI Ada di Tangan Kita. 3
2.Sampai dimana Reformasi Birokrasi?................ 8
3.Bekerjasama Dengan DPR.................................. 15
4.UU APBN dan Dinamika DPR............................ 21
5.Politik Anggaran dana DAPIL............................. 26
II. Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital
Inflow, Subsidi BBM dan Listrik................ 31
1. Pemantauan Dini, Early Warning dan Hedging. 33
2.Pengungkapan Risiko Fiskal............................... 39
3.Ancaman Inflasi................................................... 48
4.Fenomena Capital Inflow.................................... 54
5.Ketidakpastian Harga Minyak Dunia................. 61
6.Kelangkaan BBM................................................. 69
7.Pengaturan BBM Bukan Sekedar Memilih Opsi. 73
8.Listrik Untuk Siapa?............................................ 80
9.Konsistensi Kebijakan TDL................................. 85
III. Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan... 91
1. Tantangan Pajak.................................................. 93
2.Wajib Pajak (Belum) Patuh................................. 98
3.Menyoal Kembali Zakat sebagai Pengurang
Pajak....................................................................107
4.Pajak untuk mendorong perfilman nasional...... 113
5.APBN, Pajak, dan Utang..................................... 119
6.Tidak Perlu Renegosiasi ACFTA.........................125
vii
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
IV.Anggaran dan Pemberantasan Korupsi.. 133
1. RAPBN yang Realistis.........................................135
2.Format Anggaran Terpadu Menghilangkan
Tumpang Tindih .................................................146
3.Bisakah Ekonomi Bebas Korupsi?......................154
4.Kerjasama Pembiayaan infrastruktur.................159
V.Sektor Keuangan, Privatisasi dan
Utang...................................................................165
1. Delapan Pertanyaan Keseuksesan Penerbitan
Obligasi Global RI...............................................167
2.Kewajaran IPO KS...............................................176
3.(Tidak Ada) Kontroversi IPO KS.........................182
4.Kasus Bank Century, Dampak Sistemik dan
OJK......................................................................190
5.“Exit Strategy” dari IMF dan Kepercayaan P
asar.......................................................................196
6.Belajar Dari Korea dan Thailand Keluar Dari
IMF......................................................................200
VI.Ekonomi Global dan Integrasi
Keuangan...........................................................207
1. Gagasan Indonesia dalam G-20..........................209
2.Kontribusi Pertemuan G-20 Bagi Pemulihan
Ekonomi...............................................................215
3.Pembentukan Fiscal Safety di G-20....................221
4.Manfaat dan Risiko Integrasi Keuangan
Global...................................................................227
5.Perlu (Segera) UU JPSK......................................235
6.Risiko Ekonomi Global dan Upaya Mitigasi.......241
7.Pesan Davos Merespons Ketidakseimbangan....246
8.Dilema dan Relevansi AMRO..............................252
Epilog.........................................................................259
1. 10 Tahun Bersama 6 Menkeu dan 2,5 Periode
DPR......................................................................261
2.Hilangnya Kehangatan di Jakarta.......................267
viii
Bagian I
Masa Depan Ekonomi,
Reformasi Birokrasi dan
Ekonomi Politik Anggaran
1
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
2
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
Kemerdekaan Ekonomi RI
Ada di Tangan Kita
Pengantar :
“Perencanaan ekonomi, saat ini telah dibuat oleh
bangsa Indonesia dan diinisiasi oleh Pemerintah pusat dan
daerah. Selain itu semua pinjaman kepada pihak IMF dan
juga pembubaran CGI (Consultative Group on Indonesia)
juga telah dilunasi. Hal ini dapat menggambarkan bahwa
tidak ada lagi campur tangan IMF ataupun lembaga
multilateral dan bilateral dalam mengurus sektor ekonomi.
Penulis juga menambahkan, bahwa adanya kemandirian
ini, merupakan sebuah ilustrasi bahwa Indonesia saat ini
telah merdeka secara ekonomi. “
S
etelah 65 tahun merdeka (dihitung berdasarkan
tahun 2010), masih banyak orang meragukan bahwa
ekonomi Indonesia telah merdeka. Kemerdekaan atau
kemandirian ekonomi Indonesia dikatakan sudah
sirna dan bahkan telah tergadaikan. Pengelolaan ekonomi
Indonesia dikatakan masih dijajah oleh negara, sekelompok,
atau ideologi lain. Banyak bagian dari ekonomi Indonesia juga
telah dikuasai asing dan perusahaan multinasional, sehingga
3
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
kita tidak berdaya mengaturnya. Pasar modal dikuasai
oleh investor asing yang pada umumnya mementingkan
keuntungan jangka pendek semata. Perbankan telah dikuasai
asing, sehingga banyak dana dalam negeri mengalir keluar.
Harga produk ekspor Indonesia diatur oleh pembeli di
luar negeri dan menguntungkan importer di luar negeri.
Indonesia telah kebanjiran buah-buahan, elektronik dan
pakaian jadi impor. Banyak produk asli Indonesia yang sudah
dipatenkan di luar negeri,
dan masih banyak lagi fakta ”Siapapun Pemerintah
lain seputar penguasaan
yang menjabat pada
ekonomi Indonesia.
masa pascaprogram IMF
Kemerdekaan ekonomi harus menelan pil pahit
akibatnya dan tetap
atau kemandirian ekonomi
harus melanjutkannya
dapat
diartikan
bahwa
hingga
tuntas, suka atau
pengelolaan
ekonomi
tidak suka terhadap
atau unit usaha betulprogram tersebut.
betul diserahkan kepada
Kesan ini juga telah
kemampuan
sendiri,
tidak diintervensi apalagi memberikan kesimpulan
diserahkan pada pihak lain.
akan tidak adanya
Jika hal itu merupakan
kemandirian ekonomi
sebuah definisi yang tepat,
Indonesia saat ini”
maka sejatinya penulis masih
yakin bahwa Indonesia telah
merdeka secara ekonomi. Hal ini didasari oleh tiga alasan
sebagai berikut:
Pertama, perencanaan ekonomi kita saat ini telah dibuat
oleh bangsa Indonesia yang diinisiasi oleh Pemerintah
Pusat dan Daerah. Pengelolaan ekonomi telah dirancang,
disahkan, dilaksanakan dan diawasi sendiri, melalui sistem
pemerintahan yang modern dan demokratis. Pengaturan
4
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
kepemilikan atas aset-aset dan cabang produksi strategis
telah banyak yang diatur dengan mengedepankan aspek
nasional. Harga-harga kebutuhan pokok tetap diatur
oleh negara sehingga tidak merugikan rakyat. Kontrakkontrak baru dengan investor asing, khususnya kontrak
pertambangan yang dulunya melalui kontrak privat, sekarang
sudah menggunakan dasar UU yang disahkan oleh DPR-RI
dan tunduk pada aturan dalam negeri.
Kedua, memang pada tahun 1999-2004, pengelolaan
ekonomi Indonesia berada dalam kendali IMF. Namun,
sejak dilunasinya semua pinjaman kepada pihak IMF dan
juga pembubaran CGI (Consultative Group on Indonesia),
maka tidak ada lagi campur tangan IMF ataupun lembaga
multilateral dan bilateral dalam urusan ekonomi kita. Meski
demikian, pengaruh dari program IMF pada pengelolaan
ekonomi Indonesia, misalnya dampak dari program
rekapitalisasi perbankan dan BLBI pada menggelembungnya
utang Indonesia, telah berakibat jangka panjang. Oleh karena
itu, mau tak mau hingga saat ini pun ekonomi Indonesia
dipengaruhi oleh program yang didisain oleh IMF. Siapapun
Pemerintah yang menjabat pada masa pascaprogram
IMF harus menelan pil pahit akibatnya dan tetap harus
melanjutkannya hingga tuntas, suka atau tidak suka
terhadap program tersebut. Kesan ini juga telah memberikan
kesimpulan akan tidak adanya kemandirian ekonomi
Indonesia saat ini.
Ketiga, dalam era dimana kerjasama ekonomi antar
negara secara bilateral, regional dan global yang dilakukan
untuk mengatasi masalah bersama, maka sebagian
pengelolaan ekonomi memang harus dirancang bersama.
Tujuannya adalah agar kerjasama tersebut menguntungkan
kedua belah pihak, baik secara regional dan maupun global.
5
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Indonesia melakukan kerjasama kemitraan dengan Jepang
(EPA), dan negara-negara ASEAN telah bersepakat untuk
melakukan kerjasama regional 2015, namun hal ini belum
tentu memberikan keuntungan maksimal bagi Indonesia.
Dampak kesepakatan perdagangan ASEAN dengan China
(ACFTA) dan ASEAN dengan Korea (AKFTA) adalah adanya
pihak yang dirugikan dan yang diuntungkan, namun secara
nasional telah terjadi posisi yang sama-sama menguntungkan.
Indonesia juga melakukan kerjasama bersama dengan ASEAN
dan mitranya plus tiga (China, Jepang dan Korea) dalam
pencegahan krisis. Kerjasama tersebut dalam beberapa hal
mengurangi derajat kemandirian kita, tetapi hal ini tetap
diperlukan karena ukuran potensi krisis dapat terjadi diluar
kemampuan satu negara saja untuk mengatasinya. Negaranegara G20, dimana Indonesia menjadi anggota aktif,
menyepakati beberapa langkah global untuk melakukan
pemulihan dan stabilisasi perekonomian global. Hal ini juga
menunjukkan bahwa tidak ada satu negara pun, termasuk
AS, Uni Eropa, China dan Jepang, yang mampu mengelola
ekonominya sendiri.
Pada
akhirnya,
kemerdekaan
ekonomi
harus
diterjemahkan lebih luas dari sekedar kepentingan keterlibatan
unsur nasional dalam pengelolaan ekonomi. Pengelolaan
ekonomi dapat dikatakan merdeka apabila disusun sendiri
dengan mengingat konstelasi global dan bertujuan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat sendiri. Penulis
yakin bahwa SDM kita mampu untuk berikhtiar tetap
memerdekakan ekonomi, dan kita belum terlambat untuk
mengemban amanat rakyat demi kepentingan nasional
yang mandiri di atas kepentingan atau invensi pihak luar.
Kemerdekaan ekonomi berada di tangan kita sebagai bangsa,
pemerintah, DPR, LSM, media, akademisi, dan diharapkan
6
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
melalui tangan kita, dapat ditentukan arah perkembangan
ekonomi yang maju dan mandiri, bebas dari intervensi.
Merdeka!
Pernah dimuat di Seputar Indonesia, 17 Agustus 2010
***
7
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Sampai dimana Reformasi Birokrasi?
Pengantar :
“Selama ini banyak pihak yang berharap bahwa
aparat keamanan dan penegakan hukum seperti
Kepolisian, Kejaksanaan dan Kementrian Hukum dan
HAM akan menuntaskan reformasi birokrasi di tahun
2010 dan mengikuti jejak Kemenkeu dan BPK, namun
pada kenyatannya terdapat indikasi keterlambatan
dalam pelaksanaan program reformasi birokrasi di tubuh
eksekutif di Indonesia, dan penulis memiliki kekhawatiran
keterlambatan ini nantinya akan dapat menjadi faktor
penghambat utama minat investasi di Indonesia. “
M
enteri Keuangan pada Kabinet Indonesia
Bersatu periode II, Agus Martowardojo,
mengatakan bahwa anggaran Reformasi
Birokrasi (RB) tahun anggaran 2010 sebesar Rp
14 triliun belum terserap sama sekali hingga bulan November
2010. Anggaran tersebut berpotensi untuk tidak digunakan
dan menjadi sisa lebih pembiayaan anggaran (SILPA) hingga
akhir tahun 2010.
8
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
“Reformasi birokrasi, ada cadangan yang cukup besar
namun progresnya ternyata belum bisa mencapai. Bisa-bisa
tidak terpakai di mana reformasi birokrasi itu ada sekitar Rp
14 triliun,” ujar Menkeu Agus di Gedung DPR-RI, Senayan,
Kamis (DetikFinance, 14/10/2010).
Apa yang disampaikan Agus tersebut memberikan indikasi
terjadinya keterlambatan dalam pelaksanaan program
reformasi birokrasi di tubuh eksekutif. Selama ini banyak
yang berharap bahwa aparat keamaanan dan penegakan
hukum seperti Kepolisian, Kejaksanaan dan Kementrian
Hukum dan HAM akan menuntaskan reformasi birokrasi di
tahun 2010 dan mengikuti jejak Kemenkeu dan BPK. Investor
telah menempatkan lemahnya pelayanan birokrasi beberapa
tahun sebelum 2010, khususnya di jajaran penegak hukum
dan keamanan sebagai salah satu faktor penghambat utama
minat investasi di Indonesia. Sungguh sangat disayangkan,
dalam satu tahun pemerintahan KIB II, pemerintah telah
kehilangan momentum untuk melaksanakan perbaikan
ekonomi dengan anggaran dan sumber daya lain yang telah
tersedia.
Dari mana mulai RB?
Pada tahun 2007, pemerintah telah memulai langkah
pencanangan Reformasi Pejabat Negara yang berujung pada
standar renumerasi, yang rencananya dimulai secara serentak
pada pejabat negara dilingkungan Eksekutif, Legislatif dan
Yudikatif. Dimulai dari pimpinan kepala negara (Presiden)
dan pimpinan lembaga-lembaga tinggi (MPR, DPR, DPD,
BPK, MA, dan KPK). Namun, reformasi pejabat negara tidak
kunjung mendapatkan titik temu dan kandas ditengah jalan.
9
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Akibatnya, reformasi birokrasi lanjutan di tingkat
operasional pemerintahan menjadi terhambat dan belum
harmonis, serasi dan terkoordinir. Terkadang, di masingmasing organisasi dan lembaga pemerintahan menggunakan
basis UU sektor mereka sebagai dalih untuk melakukan RB,
namun tidak direncanakan penganggarannya dalam RKP
(Rencana Kerja Pemerintah) dan Anggaran (APBN). Proses
penganggaran yang disiplin melalui mekanisme siklus APBN
tidak diperuntukan bagi kebutuhan anggaran yang beragam
dan mendadak. Belum lagi pembentukan berbagai komite dan
badan sebagai konsekuensi dari UU atau peraturan lainnya
sering tidak mempertimbangkan konsekeunsi anggaran,
efektivitas dan berpotensi tumpang tindih mengacaukan peta
jalan reformasi birokrasi.
RB di Eksekutif
Pada umumnya di suatu negara, reformasi birokrasi
pemerintah dipimpin langsung oleh Presiden Indonesia
periode tahun 2009-2014, Susilo Bambang Yudoyono, dengan
program, kinerja, target, dan penganggaran yang jelas serta
berdurasi jangka menengah (minimal 5 tahun). Reformasi
Birokrasi tersebut juga harus diikuti dengan reformasi di
bidang penganggaran untuk menghilangkan overlap dan
mengelola beban anggaran multi years maupun beban masa
depan (pensiun) dan benefit lainnya.
Sehubungan
dengan hal tersebut,
sebenarnya
Pemerintah KIB I sudah mencanangkan program 3 tahun
reformasi birokrasi, mulai dari bidang keuangan (2009-2010)
Kemenkeu, BPK, MA, Sekneg, Menko; bidang keamanan dan
penengakan hukum (2010) meliputi Polri, TNI, Kejaksaan,
Kemenhuk, PAN-RB dan bidang lainnya (2011-2012).
Pelaksanaannya ternyata mengalami barbagai hambatan.
10
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
Reformasi kedudukan Pemerintah sebagai pemegang
saham di BUMN ataupun di BLU (Badan Layanan Umum)
belum diatur secara jelas. Banyak aparat birokrasi struktural
yang menjabat sebagai Komisaris di BUMN dan BLU
sehingga menimbulkan potensi benturan kepentingan dan
keterbatasan waktu kedinasan serta kecemburuan.
Pengaturan hubungan antara eksekutif, legislatif (DPR)
dan yudikatif (termasuk aparat pengawas) belum diatur secara
tegas sehingga sering menimbulkan masalah ‘tata kelola’
dan juga benturan kepentingan serta ketidakseimbangan
hubungan kerja.
Reformasi dan penataan organisasi, dan SDM sangat
tergantung pada kepemimpinan
operasional Menteri
Pemdayagunaan Aparatur Negara dan RB. Misalnya dalam
rekrutmen, penghentian, whistle blower, kepangkatan, hak
dan kewajiban dan lain sebagainya. Presiden, Wapres dan
Anggota Kabinet yang tidak begitu jelas kedudukannya dalam
skema reformasi birokrasi, telah menimbulkan rasa sungkan
dikalangan birokrat eselon I kebawah.
Champion RB di Kemenkeu
Reformasi Birokrasi di Departemen Keuangan telah
dimulai sejak tahun 2003 pada masa kepemimpinan Menteri
Keuangan Prof. Boediono. RB di Departemen Keuangan
pada waktu itu, terkonsentrasi pada reformasi keuangan
negara. Sayangnya, RB di Depkeu waktu itu tidak dibangun
dari bawah dengan kajian komprehensif. RB dilanjutkan
oleh Menkeu Jusuf Anwar dengan penataan organisasi di
Bapepam dan ditempat lain secara sporadis.
Tahun 2006-2009, reformasi birokrasi bergulir secara
agresif dan tepat serta tegas. Kepemimpinan Menkeu Sri
11
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Mulyani (SMI) adalah kunci dalam membangun RB dari
bawah. Sedangkan konsultan hanyalah berperan sebagai
fasilitator. SMI memulai kepemimpinannya dari reformasi
struktural di tubuh Pajak (DJP) dan Bea Cukai (DJBC)
serta instansi pelayanan lainnya seperti perbendaharaan
(DJPb) dan kekayaan Negara (DJKN). Dibarengi dengan
pembentukan BKF (Badan Kebijakan Fiskal) sebagai unit
yang memformulasikan kebijakan, pembentukan unit
pengelola utang, DJPU dan perimbangan keuangan, DJPK.
Telah disusun peta jalan (blue print) RB oleh tim khusus RB
dengan gagasan cemerlang seperti penyusunan indikator
kinerja utama, IKU, rekrutmen pegawai dan lowongan
pejabat
dengan
tender
“Waktu itu, eselon I
terbuka (open bid), serta
struktural dilarang
penyusunan
renumerasi
merangkap jabatan
dengan job grading. Evaluasi
termasuk
pada jabatan
pelaksanaan RB dilakukan
komisaris BUMN.
secara obyektif langsung
oleh
Menkeu
dibantu
Bermain Golf dengan
oleh tim RB. Waktu itu,
mitra dilarang.”
eselon I struktural dilarang
merangkap jabatan termasuk pada jabatan komisaris BUMN.
Bermain Golf dengan mitra dilarang. Kontrak kinerja di
tandatangani dan diumumkan ke publik secara luas melalui
media masa.
BKF merupakan instansi yang sangat agresif dalam
melakukan RB. Mulai dari program studi bagi PNS baru ke
luar negeri, terbanyak dalam open-bid, pelarangan rangkap
jabatan. Pembuatan pemantauan dini dan lain sebagainya.
Menkeu Agus Marto mulai memfokuskan pada RB di
Kemenkeu pada saat itu. Seperti Menkeu SMI, dia tetap
memfokuskan pada kinerja DJP dan DJBC. Dia melihat bahwa
12
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
fungsi kebijakan, regulasi dengan implementasi perpajakan
harus dipisahkan, maka kemenkeu melakukan RB pemisahan
DJP, DJBC dengan BKF secara tegas-tegas. Sayangnya hal
tersebut sebenarnya bukan prioritas pembenahan masalah
perpajakan. Anwar Supriyadi, ketua komite pengawas
perpajakan pada saat itu juga tidak setuju adanya pemisahan
kebijakan perpajakan. Yang lebih mendesak sebenarnya
adalah masalah perbaikan prosedur keberatan, banding,
percepatan restitusi dan reformasi di pengadilan pajak.
RB adalah Perubahan Pola Pikir
Refromasi Birokrasi pada hakekatnya merupakan
perubahan pola berpikir dalam bekerja di lingkungan
birokrasi. Tugas birokrat adalah memberikan pelayanan
prima kepada stakeholder, dan tidak mementingkan diri
sendiri. Tidak ada pejabat yang menjadi penentu sendiri
tanpa kerjasama dengan pihak lain. Anggapan terhadap
sebuah instansi, masih sebagai institusi penentu kebijakan
dan penganggaran, menandakan perubahan pola pikir
yang belum terjadi. Banyak keputusan operasional dibuat
untuk melindungi kepentingan organisasi dan melestarikan
ketergantungan pada seseorang atau instansi tertentu berarti
mengkhianati reformasi birokrasi.
Yang sering menganggu juga adalah adanya Budaya
sungkan dan “comfort zone” menyebabkan SDM yang berani
mengambil keputusan dan visioner harus tersingkir atau
di mutasi. Trauma masa lalu (BLBI, Krisis) dan agresivitas
pengawas, KPK, BPK dan kejaksaan mengakibatkan
kelambatan pengambilan keputusan. Menkeu SMI sampaisampai minta 4-5 paraf pejabat eselon I pendapat ahli hukum
sebelum ambil keputusan.
13
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
RB berada dibawah kepemimpinan yang jujur, tegas
dan visioner adalah sangat penting dalam merubah mindset
birokrat. Dia harus mampu memimpin tanpa kenal lelah,
menghilangkan benturan kepentingan dan mengajak birokrat
fokus pada tupoksi, menghilangkan anggaran-anggaran
(panitia dan tim-tim) yang tidak perlu pascarenumerasi
birokrasi. Menghilangkan anggaran-anggaran Teknologi
Informasi dan gedung yang tumpang tindih, dan memberikan
perlindungan hukum yang memadai bagi pengambil kebijakan.
Dia juga harus mampu membangun suasana kerja internal
yang harmonis dengan lembaga lain, khususnya dengan DPR,
aparat hukum dan pengawas eksternal, tidak melupakan tugas
jangka panjang pada SDM untuk kepemimpinan masa depan,
dan tidak mengandalkan konsultan dan advisor, khususnya
asing untuk pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri oleh staf.
Kita belum melihatnya reformasi birokrasi sejati dalam
satu tahun perjalanan KIB II. Namun, untuk kedepannya
pasti akan muncul jiwa pemimpin dan aparat birokrat yang
memiliki komitmen tinggi dalam Reformasi Birokrasi.
Reformasi Birokrasi adalah faktor penting pemberantasan
korupsi dan perbaikan iklim investasi.
Pernah dimuat di Kompas, 21 Oktober
***
14
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
Bekerjasama Dengan DPR
Pengantar :
“Pemerintah dan DPR merupakan dua institusi
pembuat dan pembentuk undang-undang. Agar dapat
mencapai tujuan bersama, maka kedua institusi tersebut
harus secara harmonis walaupun berbeda fungsi.
Walaupun pemerintah dan DPR harus membangun
hubungan yang harmonis dan professional, namun tetap
harus menjaga jarak, etika dan kesantunan. Tidak ada
larangan bagi pemerintah untuk bertemu dengan DPR
selama tidak ada maksud tersembunyi dibaliknya. Dalam
tulisan ini penulis akan membahas hubungan antara
pemerintah dan DPR serta pengalaman penulis selama
berada di dalam pemerintahan.”
P
erubahan kebijakan dapat dilakukan melalui dua
pintu masuk, yakni pemerintah dan DPR. Kedua
institusi tersebut adalah pembuat dan pembentuk
Undang-undang. Tujuan pembentukan Undangundang adalah untuk mengatur kehidupan berbangsa dan
bernegara guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
15
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Maka, kedua institusi tersebut harus berjalan secara harmonis
dan berjalan dengan satu tujuan, meskipun berbeda fungsi.
Pemerintah merencanakan kebijakan dan menganggarkan
kebijakan, DPR menyetujui atau menolak kebijakan
dan anggaran, dan jika disetujui, kemudian Pemerintah
melaksanakan kebijakan dan DPR mengawasi sesuai dengan
penetapan dalam Undang-undang. Sedangkan pengawasan
keuangan diserahkan kepada BPK. Dengan UU MPR, DPR,
DPD dan DPRD (MD3), alat kelengkapan DPR bertambah
satu lagi yakni BAKN (Badan Akuntabilitas Keuangan Negara)
yang berfungsi menindaklanjuti hasil temuan BPK.
Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada masa
jabatannya pernah menginstruksikan kepada seluruh jajaran
eselon 1 Kementrian Keuangan untuk membangun hubungan
yang harmonis dan profesional dengan mitra kerja DPR
namun tetap harus menjaga jarak, etika dan kesantunan.
Kementrian Keuangan harus bekerjasama dengan DPR
secara profesional, tidak ada tabu untuk bertemu dengan
DPR. Bahkan SMI sendiri sering memimpin pertemuan
informal dan lobi dengan anggota DPR untuk menggoalkan
satu rancangan kebijakan pemerintah.
Semasa bekerja di kementrian Keuangan, Instruksi
tersebut selalu penulis pegang dalam setiap berhubungan
dengan DPR. Sebagai perencana kebijakan dan anggaran
maka tugas penulis didalamnya termasuk harus mampu
menyampaikan ide perubahan kebijakan kepada mitra
anggota DPR untuk dapat disetujui. Maka pertemuan untuk
menyamakan persepsi dengan DPR atas hal tersebut telah
penulis dan juga rekan lainnya lakukan berulang-ulang.
Tempatnya bisa di DPR, di cofee shop ataupun di berbagai
tempat pertemuan yang netral.
16
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
Ketika pertemuan tanggal 19 Februari 2009 di meeting
room hotel Four Season di Kuningan, Jakarta dengan wakilwakil anggota badan anggaran untuk penyamaan persepsi
mengenai kebijakan stimulus fiskal menjadi salah satu
temuan dan bahan investigasi KPK, penulis tidak takut.
Ketika itu anggota DPR dengan inisial AHD ditangkap karena
kasus korupsi proyek dermaga yang diakuinya berasal dari
hasil pertemuan tersebut. KPK kemudian tidak menemukan
hubungan antara pertemuan tersebut dengan kasus korupsi
AHD apalagi keterlibatan penulus. Penyelidikan oleh KPK
tersebut tidak membuat jera. Penulis juga pernah ditanyakan
oleh Menkeu dan komisi XI dalam pembahasan APBN 2010
di dalam forum tertutup mengenai adanya dugaan “kickback”
dalam bentuk dana ke daerah pemilihan (dapil) di mana
anggota berasal apabila diberikan persetujuan mengenai
target pajak dalam APBN 2010 diberikan. Meskipun Menkeu
sendiri waktu itu mempertanyakan, namun tuduhan tersebut
juga tidak terbukti.
Ketua Panja UU
Penulis sudah malang melintang 10 tahun di DPR,
memimpin panitia kerja UU APBN dan UU APBN-P selama
hampir 10 tahun. Memimpin panja UU Cukai, UU Perbankan
Syariah, UU MD3 dan UU PDRD (Pajak dan Restribusi
Daerah). Disamping itu turut serta sebagai anggota Panja
Pemerintah didalam pembahasan perubahan UU BI, UU
Keuangan Negara, UU SUN (Surat Utang Negara), dan
UU Desentralisasi Fiskal. Disamping menyelesaikan tugas
penyelesaian UU tersebut bersama DPR mitra kerja, penulis
juga menelorkan gagasan-gagasan baru.
Dalam UU APBN dan APBN-P perbaikan dalam proses
pengambilan keputusan, keterwakilan posisi puncak di
17
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
pihak pemerintah atau BUMN, hubungan komisi dan Panitia
Anggaran (sekarang Banggar). Menampung beberapa
ketentuan yang bersifat lex specialist, misalnya dalam
penetapan cost-recovery, penghapusan piutang BUMN dan
hutang UMKM, penambahan modal bagi BUMN pelayanan
publik, penetapan harga BBM dan Listrik yang fleksibel,
pre-financing utang, pinjaman siaga atau kontigensi, alokasi
anggaran antisipasi krisis pangan dan energi, dan lain
sebagainya.
Gagasan-gagasan dalam berbagai UU dapat diringkas
sbb: UU SUN mengenai pasal peralihan pengakuan hutang
atau SUN yang diterbitkan pada masa krisis 1998, UU
BI mengenai pembentukan BSBI (Badan Supervisi Bank
Indonesia), dan jadwal waktu pembentukan OJK (Otoritas
Jasa Keuangan), prosedur penetapan sasaran inflasi. UU
Perbankan Syariah mengenai “spin-off” wajib bagi Unit Usaha
Syariah (UUS) menjadi Perbankan Syariah yang penuh dan
berdiri sendiri, pembatasan kepemilikan bank asing dalam
Perbankan Syariah dan lain sebagainya. UU Cukai mengenai
kenaikan tarif maksimum, roadmap kebijakan cukai yang
mengkedepankan aspek kesehatan, perluasan obyek cukai
dan perlunya konsultasi dengan pelaku. Gagasan dalam UU
MD3 sangat banyak dan menarik. UU MD3 lebih berat kepada
substansi politik dan administrasi lembaga politik seperti
MPR, DPR, DPD dan DPRD namun komponen penganggaran
dan penataan hubungan legislatif dan eksekutif dalam siklus
APBN cukup banyak. Maka ditatalah hubungan kelembagaan
tersebut, jadwal dan upaya untuk memperbaiki mekanisme
anggaran, percepatan pencairan anggaran dan pengawasan
anggaran oleh DPR.
18
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
Kompromi diperlukan dalam Koridor
Hebatnya, hubungan DPR dan Pemerintah tersebut
selalu menjadi tontotan publik dan media secara terbuka.
Tidak heran begitu banyaknya campur tangan publik
atau kelompok tertentu pada waktu pembahasan di DPR.
Kelompok kepentingan akan meminta untuk berembug
dengan otoritas bahkan sampai mendesak untuk dipenuhi
dan ditampung kepentingannya dalam UU yang sedang
dibahas. Maka tak pelak lagi akan muncul godaan untuk
berkompromi. Menkeu Sri Mulyani selalu menekankan bahwa
kompromi dengan berbagai
pihak terkait (stakeholder) “..... Hubungan DPR dan
memang diperlukan tetapi
Pemerintah tersebut
tidak boleh mengorbankan selalu menjadi tontotan
kualitas
kebijakan
dan publik dan media secara
dipilih kompromi dengan
terbuka. Tidak heran
pengorbanan
serendahbegitu banyaknya
rendahnya.
campur tangan publik
Maka agar dikurangi atau kelompok tertentu
terjadinya kompromi, disain pada waktu pembahasan
di DPR.”
kebijakan haruslah matang
dan komprehensif. Untuk
itu disain kebijakan haruslan sound dari sisi akademik dan
dapat dilaksanakan dengan tujuan memberi nilai tambah
sebesar-besarnya. Disain kebijakan harus disosialisasikan
terlebih dahulu untuk mendapat masukan sehingga diketahui
kekurangan dan keinginan dari para stakeholders.
Jika dihitung dalam jadwal tahunan, bisa jadi tugas dari
rekan-rekan eselon 1 Kementrian Keuangan 30% bahkan
lebih dicurahkan untuk bertemu dengan DPR, apakah
dalam forum kebijakan, anggaran dan pengawasan. Waktu
19
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
yang dicurahkan seringkali dilakukan di luar jam kerja
normal hingga larut dan berlangsung hingga akhir minggu.
Perdebatan dapat berlangsung ringan hingga berat bahkan
dapat berlangsung panas. Bagi DPR, reputasi individu,
publik, fraksi, komisi bahkan DPR dipertaruhkan, demikian
juga dengan penulis mempertaruhkan dan berjuang dengan
segala daya upaya dengan penuh keyakinan bahwa kebijakan
dan anggaran yang diusulkan akan memberikan manfaat bagi
rakyat. Allhamdullillah, penulis telah melalui rintangan dan
hambatan tersebut ditengah begitu banyak para eksekutif dan
legislatif yang tertangkap basah oleh Kepolisian, Kejaksaan
dan KPK. Apapun, eksekutif dan legislatif harus tetap
berteman dan menjaga jarak secara profesional dan beretika.
***
20
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
UU APBN dan Dinamika DPR
Pengantar :
“Pembahasan APBN di DPR selalu menarik untuk
diikuti. Pembahasan ini sedikit berbeda dengan
pembahasan yang melibatkan DPR dan Pemerintah seperti
halnya dalam pembahasan RUU. Dalam pembahasan
APBN yang lebih ditekankan adalah isi dari APBN
tersebut, yaitu kemana anggaran negara dibelanjakan
dan darimana sumber pembiayaannya. Pembahasan
mengenai kalimat per kalimat seperti dalam pembahasan
RUU tidak menjadi begitu penting, mengingat banyaknya
sektor yang perlu segera mendapat pembiayaan dan asas
proporsionalitas dalam pembagian dana APBN. Namun,
dalam RAPBN 2011 yang diajukan oleh Pemerintah kepada
DPR terdapat isu ganjil yang mencuat ke permukaan, yaitu
isu dimasukannya ‘pasal siluman’ oleh Pemerintah. Tentu
hal ini menarik untuk dilihat dari sudut pandang Penulis
sebagai akademisi.”
21
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
D
alam rapat paripurna DPR Rabu 27 Oktober
2010, telah disahkan UU APBN 2011, namun
sidang diwarnai dengan pembatalan pasal
8 ayat 2b. DPR khususnya anggota komisi
VII yang membidangi energi menyampaikan protes atas
adanya “penyelundupan” pasal 8 ayat 2b tersebut, bahkan
disebut sebagai pasal “siluman”. Menteri Keuangan Agus
Martowardoyo dalam pendapat akhir terhadap RAPBN 2011
menyatakan setuju dengan penghapusan ayat tersebut. “Kami
setuju dihapuskannya pasal itu dan itu sudah disetujui dalam
rapat pemerintah dengan DPR sebelumnya” (Republika,
Rabu 27 Oktober 2010). Namun Menkeu tidak menjelaskan
kenapa pasal tersebut diusulkan oleh Pemerintah melalui
Nota Keuangan yang disampaikan Presiden. Ketua Badan
Anggaran juga tidak menjelaskan kenapa dalam rapat pleno
Badan Anggaran tanggal 26 Oktober 2010 menyetujui
keseluruhan draf RUU yang diajukan pemerintah, termasuk
pasal 8 ayat 2b tersebut.
Pasal 8 ayat 2b Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN
2011 tersebut berbunyi “Penerapan tarif dasar listrik (TDL)
sesuai harga keekonomian secara otomatis untuk pemakaian
energi di atas 50% (lima puluh persen) konsumsi rata-rata
nasional tahun 2010 bagi pelanggan rumah tangga (R), bisnis
(B), dan publik (P) dengan daya mulai 6.600 VA ke atas.”
Substansi ayat tersebut sebenarnya tidak ada yang salah.
Kalaupun terjadi kenaikan TDL namun rasanya sedikit
elemen masyarakat yang menolak apabila dikenakakan
pada pelanggan dengan daya 6600 KvA. Dengan ketentuan
tersebut berarti pelanggan 6600 KvA ke atas dikenakan tarif
keekonomian dan tidak mendapatkan subsidi dari APBN.
Pelanggan dengan daya 6600 KvA ke atas adalah termasuk
rumah tangga/pebisnis kaya, jadi sudah sepantasnya mereka
22
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
tidak mendapatkan subsidi. Jumlah mereka juga tidak
lebih dari 5% dari seluruh pelanggan listrik di Indonesia.
Apalagi dalam ayat tersebut masih ada embel-embel dengan
pemakaian energi di atas 50% konsumsi rata-rata tahun
sebelumnya. Sungguh dalam ayat tersebut terkandung suatu
kebijakan yang adil.
Bukan Pasal ‘Siluman’
Dalam UU APBN 2009, 2010 dan APBN-P 2010, pasal
tersebut sudah ada, jadi bukan pasal siluman. Dan waktu
itu sudah disetujui oleh DPR. Hanya berbeda adalah dalam
penetapan presentase konsumsi rata-rata nasional. Penulis
sungguh yakin tidak ada intensi dari pejabat dan staf
Kemenkeu untuk menyeludupkan pasal tersebut karena hal
tersebut bukan kebijakan dan pasal baru yang muncul tibatiba. Seingat Penulis justru Panitia Anggaran (sekarang Badan
Anggaran) waktu itu bahkan minta tidak perlu ada batasan
konsumsi.
Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa APBN diajukan oleh
Pemerintah, dan disahkan oleh DPR, setelah dibahas oleh
DPR bersama dengan Pemerintah. Jadi pengajuan pasal 8
ayat 2b dalam RUU APBN 2011 oleh Pemerintah adalah sah
dan sesuai kaedah mekanisme dalam konstitusi. DPR dalam
posisi membahas dan dapat menyetujui atau menolak pasal
tersebut. Rapat paripurna adalah rapat dimana keputusan
terhadap suatu undang-undang dilakukan. Rapat paripurna
pengambilan keputusan akhir mengenai RUU setelah melalui
proses kesepakatan di panitia kerja dan pleno. Meskipun
rapat Paripurna biasanya mengamini, dalam hal-hal tertentu
bisa menganulir hasil rapat-rapat sebelumnya.
23
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Tidak seperti RUU lainnya, RUU APBN adalah satusatunya RUU yang hanya boleh diajukan oleh Pemerintah dan
DPR tidak memberikan DIM (Daftar Inventarisasi Masalah).
Pembahasan APBN lebih difokuskan pada substansi dan
konsekuensi bujetnya, sedangkan pembahasan butir-butir
RUU tidak terlalu intensif seperti RUU yang lain.
Jadi secara prosedur dan mekanisme serta substansi
APBN, pasal 8 ayat 2b tidak menyimpang dan tidak salah.
Anggota DPR tidak perlu menggugat dan mencari pihakpihak yang bertanggung jawab atas munculnya pasal ‘siluman’
tersebut. Kemenkeu juga
tidak perlu risau jika ada “Ke depan ada baiknya
Pemerintah dan DPR
gugatan dari pihak DPR.
Pasal Tidak Perlu
teliti dan jernih serta
obyektif melihat
persoalannya. Jangan
sampai perdebatan yang
bertujuan membela
kepentingan rakyat
tersebut sia-sia dan
menjadi panggung yang
menggelikan”
Dari
sisi
kebijakan
kelistrikan
sendiri,
sebenar-benarnya
pasal
8 ayat 2b tersebut tidak
diperlukan.
Mengingat
substansi penyesuaian harga
keekonomian
pelanggan
6600 KvA keatas sudah
ditampung dalam Tarif Daftar Listrik (TDL) tahun 2010
yang baru saja ditetapkan. Dengan memberikan batas
50% kenaikan dari konsumsi tahun 2010 sama saja artinya
pelanggan dalam kelompok tersebut telah membayar harga
keekonomian.
TDL untuk golongan pelanggan 6600 KvA sebesar Rp
1.130/kwh sebenarnya telah ditetapkan tanpa pemberian
subsidi. Jadi ditetapkan atau dihapuskannya pasal 8 ayat 2b
24
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
tersebut tidak berpengaruh apa-apa terhadap penghasilan
PLN atau subsidi pemerintah. Bedanya dalam APBN 2010
batas maksimum tersebut adalah 30%, berarti pelanggan
masih menerima subsidi, sedangkan dalam RAPBN 2011
dengan dinaikkan menjadi 50% berarti tidak lagi menerima
subsidi.
Jadi, sia-sialah perdebatan pencabutan pasal 8 ayat
2b tersebut. Ada atau tidak ada ketentuan tersebut, tidak
merubah postur APBN. Pelanggan 6600 KvA keatas telah
membayar tarif listrik tanpa subsidi dengan atau tanpa pasal
8 ayat 2b.
Ke depan ada baiknya Pemerintah dan DPR teliti dan
jernih serta obyektif melihat persoalannya. Jangan sampai
perdebatan yang bertujuan membela kepentingan rakyat
tersebut sia-sia dan menjadi panggung yang menggelikan.
Namun, apapun yang diputuskan terkait pelanggan 6600
KvA keatas, kita masih punya masalah sangat serius dalam
program kelistrikan nasional kita.
***
25
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Politik Anggaran dana DAPIL
“Dana DAPIL yang diusulkan oleh anggota DPR (2011)
selama ini dipertanyakan. Dana DAPIL ini ditakutkan
nantinya tidak tersalurkan melalui sistem penganggaran.
Penulis sendiri beranggapan bahwa usulan Dana DAPIL
yang merupakan dana transfer dari pusat (APBN) kepada
daerah (APBD) berbasis pada jumlah kursi anggota di
DPR tentu bukanlah sesuatu yang aneh, salah, serta perlu
dipertanyakan.”
P
ada tahun 2010, dana untuk DAPIL (daerah
pemilihan) yang diusulkan oleh anggota DPR dalam
rangka pembicaraan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal
(PPKF) 2011 marak dibicarakan. Dana DAPIL
tersebut merupakan dana transfer dari pusat (APBN) kepada
daerah (APBD) berbasis pada jumlah kursi anggota di DPR.
Usulan tersebut bukanlah sesuatu yang aneh dan salah, karena
sebagai anggota DPR salah satu sumpah jabatannya adalah
memperjuangkan dana kepada daerah pemilihan. Dana
tersebut nantinya tetap disalurkan melalui APBD, dan tentu
bukan untuk keperluan pribadi para anggota. Anggota DPR
juga tidak akan menyalurkan dana tersebut, jadi semuanya
26
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
melalui sistem penganggaran yang ada, baik APBN maupun
APBD. Lalu, mengapa menjadi kontroversi?
Dalam pengamatan penulis, tidak ada yang salah, dan
usulan tersebut tetap sah saja. Meskipun penulis belum
melihat sendiri detil usulan tersebut, tetapi tidak ada sesuatu
ketentuan pun yang dilanggar. Pemerintah pada saat itu
sudah mengusulkan PPKF ke DPR, dan DPR memberikan
jawaban untuk kemudian dibahas dalam proses penyusunan
APBN. Pemerintah mengusulkan transfer ke daerah,
dalam hal ini dana alokasi umum (DAU) dengan formula
kesenjangan fiskal antar daerah, sedang DPR meminta agar
formula DAPIL masuk dalam formula alokasi transfer ke
daerah. Kewenangan eksekusi atau pelaksanaan anggaran
tetap berada di pihak eksekutif, yakni pemerintah pusat dan
pemerintah daerah. DPR dan DPRD kemudian melakukan
fungsi pengawasan atas pelaksanaan anggaran. Mekanisme
ini sudah sesuai dengan UUD 1945 dan UU 17 tahun 2003
mengenai keuangan negara.
Jika proses perencanaan, pembahasan, pelaksanaan
dan pengawasan anggaran tersebut di jalankan dengan
baik oleh eksekutif dan legislatif sesuai dengan tugasnya
masing-masing, maka tidak ada masalah. Pemerintah
tentu akan mempertahankan kebijakannya, yakni transfer
daerah, dalam hal DAU adalah instrumen untuk mengurangi
kesenjangan fiskal antar daerah. Namun, pemerintah, dalam
hal ini kementrian keuangan, juga tidak boleh menutup mata
bahwa seolah-olah formula DAPIL tersebut tidak mungkin
disusun. Alokasi anggaran tetap merupakan keputusan
politik anggaran di DPR. Hal yang terpenting adalah tujuan
yang tetap sama yakni untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
27
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Formula Dana DAPIL
Formula kesenjangan fiskal dan DAPIL sebenarnya dapat
digabung dengan mengakomodasi kedua tujuan tersebut.
Misalnya, alokasi minimum untuk keperluan pemenuhan
kebutuhan dasar di daerah dilakukan dengan formula
kesenjangan fiskal, dan sisa anggarannya dialokasikan
dengan formula DAPIL. Pengkajian perlu segera dilakukan
dan sosialisasipun dapat disebarluaskan secara transparan
supaya mendapat tanggapan luas dan bersifat konstruktif.
Pemerintah tidak perlu menakut-nakuti bahwa DPR
mengambil hak eksekusi anggaran dan telah terjadi benturan
kepentingan. DPR juga harus tahu diri dan introspeksi
bahwa selama ini banyak kasus-kasus korupsi anggaran yang
melibatkan anggota DPR dan DPRD. Fungsi pemerintah
dalam soal angaran jelas, yakni mengusulkan, membahas
dengan DPR dan melaksanakan anggaran yang sudah
disetujui oleh DPR. Tugas DPR dalam anggaran juga jelas,
menerima usulan, kemudian membahas dengan Pemerintah,
menetapkan dalam UU APBN bersama Pemerintah dan
kemudian mengawasi pelaksanaanya. Dalam hal mekanisme
dan cakupan pekerjaan DPR dalam hal anggaran (APBN),
DPR sudah memiliki undang-undang MPR, DPR, DPD dan
DPRD (MD3) dan peraturan DPR.
Undang-Undang MD3 adalah state of the art dari
pengaturan mekanisme dan kewenangan tugas, hak dan
kewajiban DPR termasuk dalam fungsi penganggaran. UU
MD3 adalah penyempurnaan dari UU Susduk (susunan
dan kedudukan) MPR dan DPR. Dalam UU tersebut diatur
mengenai pembagian fungsi alat kelengkapan DPR dalam
anggaran, yakni komisi-komisi dan Badan Anggaran
(Banggar). Disamping itu dicetuskan sebuah alat kelengkapan
28
Bagian I – Masa Depan Ekonomi, Reformasi Birokrasi dan Ekonomi Politik Anggaran
DPR yang baru yakni, BAKN (Badan Akuntabilitas Keuangan
Negara) untuk menindaklajuti temuan-temuan audit BPK.
Fungsi Badan Anggaran dalam UU MD3 sangat sentral
dalam pembahasan dan pengesahan APBN, namun demikian
UU tersebut mewajibkan bahwa semua penetapan pendapatan
dan belanja negara sekarang ini harus sudah disetujui
oleh komisi terkait. Sehingga fungsi Banggar lebih bersifat
koordinator dan sinkronisasi terhadap hasil pembahasan di
semua komisi. Meskipun masih terjadi tarik menarik antara
kewenangan komisi dan Banggar, namun penulis melihat
mekanisme ini jelas lebih teratur, sistematis, rapi dan pasti.
Konsekuensinya Pemerintah, dalam hal ini kementrian
keuangan, sebagai koordinator pemerintah harus bekerja dua
kali, yakni di komisi dan di Badan Anggaran.
Pembahasan atas usulan anggaran DAPIL bisa muncul
di komisi, Banggar ataupun bahkan dua-duanya. Usulan
menambah anggaran di masing-masing DAPIL adalah sah.
Sekarang giliran Pemerintah yang memberikan tanggapan
mengapa formula kesenjangan fiskal (KF) lebih baik dari pada
formula DAPIL. Dengan formula KF berarti daerah miskin
akan mendapat alokasi yang lebih besar dibandingkan dengan
daerah kaya. Sementara formula DAPIL yang sama rata untuk
semua kabupaten berarti tidak mempertimbangkan aspek
kemampuan fiskalnya. Menurut penulis, dalam hal memililih
atau mengkombinasikan formula terbaik tersebut dapat
dipersempit pada masalah teknis alokasi anggaran yang tepat
dan dapat diperdebatkan secara konstruktif.
Hindari Kongkalikong
Beberapa pendapat dari pengamat asing yang sempat
bertemu penulis mendukung adanya pembahasan usulan ini,
29
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
bahkan memuji politik anggaran di Indonesia sudah sangat
maju dan transparan. Di banyak negara yang sudah maju
demokrasinya bahkan masih secara diam-diam melakukan
alokasi anggaran berdasarkan DAPIL. Alokasi DAPIL
dilakukan lewat pintu belakang dan hasil “kongkalikong”
pemerintah dengan DPR nya. Indonesia nyata-nyata sudah
lebih maju dengan mengangkat masalah ini diatas meja
setransparan mungkin. Praktek korupsi anggaran di pihak
eksekutif dan legislatif dibelakang meja harus ditinggalkan.
Hubungan harmonis yang berjarak antara Pemerintah dan
DPR harus dilakukan dengan kejujuran dan saling percaya,
dan penulis yakin bahwa pada saat itu merupakan saat yang
paling tepat untuk melakukannya. hal-hal ini saatnya. Oleh
karena itu, penulis menggaris bawahi bahwa kita janganlah
selalu berprasangka buruk.
Pernah dimuat di Republika, 7 Juni 2010
***
30
Bagian II
Masalah Risiko Fiskal:
Inflasi, Capital Inflow,
Subsidi BBM dan Listrik
31
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
32
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
Pemantauan Dini, Early Warning
dan Hedging
Pengantar :
“Dalam menghadapi kondisi global yang semakin tidak
pasti, dibutuhkan beberapa strategi yang harus canggih,
sophisticated, dan selalu siap sedia mendeteksi segala
perubahan mendadak yang mungkin bisa membahayakan
perekonomian nasional. Maka dari itu, Penulis pernah
membuat, atas gagasan Mantan Menteri Keuangan Sri
Mulyani, sistem deteksi dini untuk memprediksi akan
bahaya perekonomian di depan. Sistem tersebut dimulai
dari generasi pertama yang masih sederhana hingga
kini telah memiliki generasi keempat yang bahkan bisa
diakses melalui ponsel Blackberry anda. Pada waktu
penulis memaparkannya di depan lembaga-lembaga
keuangan internasional, mereka pun kagum dengan
sistem yang mampu dibangun oleh Indonesia. Selain
itu, metode lindung nilai atau Hedging perlu dilakukan
Indonesia apabila terdapat indikasi akan terjadi krisis di
depan. Nilai Hedging ini sejatinya tidak dilihat sebagai
suatu pemborosan paranoid terhadap sesuatu yang belum
tampak, namun perlu diingat bahwa kehati-hatian preemptive perlu dilakukan sebelum datangnya bencana yang
lebih besar di kemudian hari.”
33
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
P
ada waktu kunjungan perdana Menkeu Sri Mulyani
Indrawati (SMI) ke Bali pada tahun 2006, penulis
bersama Hadi Poernomo dan Eddy Abdurachman,
Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai waktu itu
menggagas mengenai model pemantauan dini perekonomian
khususnya sektor riil. Model tersebut dapat menjadi semacam
indikator awal arah perekonomian kedepan dan early warning
jika kecenderungannya memburuk. Menkeu SMI sangat
mendukung dan memberikan beberapa ide tambahan serta
menginstruksikan kepada Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai
untuk mengkonsolidasikan data penerimaan pajak, ekspor
impor. Maka mulai tahun 2007, Badan Kebijakan Fiskal (BKF)
mendapat tugas baru untuk menyajikan pemantauan dini
perekonomian Indonesia dengan prediksi dan early warning
di depan rapat pimpinan Kementrian Keuangan setiap bulan.
Paparan pemantauan dini tersebut di susun bersamasama dan disajikan dalam sebuah dashboard real-time
dengan sinyal kondisi pasar dan global. Sinyal kondisi pasar,
sektor riil dan APBN dapat menjadi basis bagi kementrian
keuangan untuk mengambil langkah berikutnya. Jadilah
sebuah dashboard pemantauan dini generasi pertama,
manual dan sederhana. Hingga pertengahan tahun 2010 telah
di bangun dashboard pemantauan dini generasi ke-IV (keempat) yang memungkinkan melakukan pemantauan secara
mobile melalui penggunaan blackberry. Pemantauan riil time
perekonomian dengan threshold memberikan indikasi arah
pergerakan pasar dan kondisi ekonomi riil.
Penulis sempat memaparkan dashboard tersebut kepada
ketiga lembaga peringkat internasional (S&P, Moodys dan
Fitch) serta lembaga-lembaga internasional seperti IMF,
Bank Dunia dan ADB. Pada umumnya mereka tertarik dan
kagum dengan kemampuan Kementerian Keuangan dalam
memantau perekonomian, kondisi pasar keuangan dan
34
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
melakukan analisis early warning sekaligus. Dashboard
generasi keempat tersebut sebenarnya juga mampu untuk
mendeteksi secara dini probabilitas terjadinya krisis keuangan
dalam jangka waktu dua belas bulan kedepan.
Kondisi Global Semakin Bergejolak
Pergerakan indikator pasar, baik pasar uang, pasar
modal maupun pasar komoditas dunia dalam beberapa tahun
terakhir ini tampak semakin tidak menentu. Kadang-kadang
naik tetapi tiba-tiba jatuh. Apalagi sejak adanya krisis global
tahun 2008 dimulai dari krisis sub-prime kemudian krisis
keuangan, krisis fiskal, krisis utang, dan krisis komoditas,
kecepatan gerakan naik-turun masih belum terlihat ada tandatanda mereda. Para pemodal di negara maju semakin berpikir
short-term dan hanya berpikir untuk mengamankan dana
investasi jangka pendek. Para pemodal sangat oportunistik
pada return jangka pendek. Kenaikan harga emas dan hargaharga komoditas di bursa komoditi dunia tak pelak lagi
terjadi karena reorientasi dari para pemodal di pasar uang
yang ingin menutup kerugian dengan keuntungan dari bursa
komoditas yang mengharapkan kenaikan harga komoditas
terus berlanjut. Kondisi pasar modal di negara berkembang
yang tumbuh positif tetap menjadi incaran dari para pemodal
global. Arus modal masuk ke negara berkembang akan
terus berlanjut karena pelemahan dolar AS dan prospek
pertumbuhan ekonomi di negara berkembang, termasuk
Indonesia yang membaik. Dengan prospek Indonesia
memasuki investment grade yang semakin dekat, bisa jadi
arus modal global masuk akan semakin deras.
Maka Indonesia akan menghadapi dua tantangan
sekaligus, pertama masuknya modal asing (capital inflow)
yang semakin deras dan jika tidak diantisipasi dengan
isntrumen jangka panjang akan terjadi aset bubble dan
35
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
kemungkinan terjadi risiko pembalikan, kedua, kenaikan
harga-harga energi dan pangan karena shortage supply
dunia dan reorientasi pemodal ke bursa komoditas akan
menyebabkan kenaikan harga energi dan pangan dunia dan
inflasi.
Pergerakan kondisi pasar baik keuangan, pasar modal dan
komoditas ini pasti terekam dalam model pemantauan dini
di BKF. Jadi penulis sungguh yakin kementerian keuangan
sangat sadar akan bahaya dan ancaman krisis keuangan,
energi dan pangan. Terus
“Salah satu kebijakan
terang di Indonesia penulis
yang cukup ampuh
belum melihat instrumen
dalam melakukan
pemantauan dini secanggih
pencegahan adalah
yang dimiliki oleh BKF.
hedging atau lindung
Pemantauan
dini
yang
menggabungkan
dengan
nilai.”
kecenderungan pasar di
dunia melalui bloomberg, reuter, CIC dan lain-lain serta
perekonomian domestik yang tercatat dalam angka-angka
perpajakan serta perdagangan internasional. Ditambah
dengan perkembangan pasar modal dari bursa efek Indonesia
dan perdagangan obligasi di pasar sekunder, denyut nadi
perekonomian dapat terekam dengan baik dan akurat. Tindak
lanjut berikutnya adalah formulasi dan antisipasi kebijakan
dari adanya kecenderungan yang negatif yang dipantau lewat
dashboard tersebut.
Kebijakan: Hedging dan Langkah Pencegahan
Sebagai suatu instrumen pemantauan dini dan early
warning, dashboard BKF cukup memadai, apalagi jika fiturfitur dan aplikasi terus diperbaiki dan dikembangkan sesuai
kebutuhan. Akurasi dan kecepatan informasi terus diperbaiki
dengan analisis yang sederhana dan antisipatif. Selanjutnya
36
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
instrumen tersebut harus mampu melakukan antisipasi dan
pencegahan terhadap kondisi pemburukan.
Langkah-langkah lanjut yang harus ditempuh adalah
pertama, mengikuti kebijakan dan komitmen SMI, semua unit
harus mengkosolidasikan data secara kontinu dan konsisten
dengan kualitas yang meningkat serta disalurkan rutin dan
otomatis ke warehouse basis data di BKF, kedua, paparan
pemantauan dini harus diikuti dan didiskusikan secara
intensif diantara para pemimpin di kementrian keuangan
untuk mengetahu gejala, fenomena dan kecenderungan
yang terjadi, ketiga, memantau apakah kecenderungan
tersebut dalam batas threshold yang aman, kurang aman dan
berbahaya, keempat, paparan mengenai early warning system
harus dicermati didiskusikan terbuka tetapi konfidensial.
Fokusnya adalah kebijakan pencegahan dan antisipasi
terjadinya pemburukan.
Salah satu kebijakan yang cukup ampuh dalam melakukan
pencegahan adalah hedging atau lindung nilai. Hedging
dapat dilakukan terhadap gejolak nilai tukar, kenaikan suku
bunga, serta kenaikan harga minyak (dalam kasus Indonesia
sebagai net importir). Kecenderungan perubahan indikatorindikator tersebut terbaca didalam pemantauan dini tersebut.
Lazimnya hedging terkait dengan masalah keuangan, namun
dapat juga hedging dilakukan dengan penyediaan pasokan
(supply) bahan baku atau yang lain dalam keadaan terjadi
shortage dan kenaikan harga tinggi.
Hedging dilakukan dengan biaya, semacam premi
asuransi. Risikonya adalah apabila kecenderungan yang
diperkirakan tidak terjadi maka biaya premi yang sudah
dibayarkan akan hilang begitu saja. Sebaliknya apabila
kejadian, maka kerugian besar akan dapat dihindari.
37
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Dalam situasi yang sangat tidak pasti seperti femomena
global sekarang ini, maka kebijakan hedging perlu untuk
diperkenalkan sebagai upaya pencegahan. Kementerian, BPK
dan DPR harus mulai mengantisipasi adanya biaya hedging
yang mengandung risiko sebagai pengeluaran. Biaya hedging
tidak harus dikategorikan sebagai biaya yang hilang begitu
saja. Namun biaya hedging dapat dikategorikan sebagai biaya
untuk mencegah kerugian negara yang lebih besar. Kuncinya
adalah adanya instrumen pemantauan dan early warning yang
canggih. Jika hal tersebut dipenuhi maka kebijakan hedging
akan menhindarkan negara dari risiko kerugian besar.
Penulis pernah menggagas instrumen pemantauan dini
dengan kredo “Waspada, Antisipastif dan Reaktif (WAR)”.
Waspada terhadap setiap kecenderungan, Antisipasi apabila
kecenderungan memburuk dan mempersiapkan reaksi untuk
melakukan pencegahan. Seperti juga bencana alam dan
tsunami, kita tidak dapat memperkirakan kapan datangnya
dengan pasti, namun apapun situasi ekonominya, kita
(pemerintah) tetap harus selalu dalam sikap WAR.
***
38
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
PENGUNGKAPAN RISIKO FISKAL
Pengantar :
“Definisi risiko keuangan negara memang tidak
diberikan secara eksplisit dalam undang-undang keuangan
negara. Namun demikian, dalam pelaksanaannya terdapat
potensi risiko keuangan negara yang dapat memberikan
dampak negatif terhadap APBN seperti kejadian yang
mengakibatkan bertambahnya belanja negara untuk
mencapai misi Pemerintah. Gagasan penulis berupa
pengungkapan risiko fiskal diperlukan terutama dalam
rangka keterbukaan (transparency) dan kesinambungan
(sustainability) fiskal. Dalam penyusunan APBN, terdapat
beberapa indikator sebagai dasar perhitungan, yaitu
pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, suku bunga SBI 3
bulan, nilai tukar rupiah, dan harga minyak mentah ICP.
Dalam kaitannya dengan utang pemerintah, risiko fiskal
dapat muncul sebagai dampak dari perubahan tingkat
bunga, nilai tukar, dan biaya utang lainnya. Risiko-risiko
diatas dapat dimitigasi dengan perencanaan APBN yang
antisipatif dengan perkembangan kedepan serta apabila
dilakukan disain pembuatan asuransi risiko.”
39
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
S
ejak APBN 2007, Nota Keuangan telah menyajikan
pengungkapan mengenai risiko fiskal. Risiko
fiskal atau risiko keuangan negara disini dapat
diartikan sebagai kejadian yang berdampak pada
penambahan besarnya defisit APBN. Definisi risiko keuangan
negara memang tidak diberikan secara eksplisit dalam
undang-undang keuangan negara. Namun demikian, dalam
pelaksanaannya terdapat potensi risiko keuangan negara yang
dapat memberikan dampak negatif terhadap APBN. Misalnya
adalah (i) kejadian yang mengakibatkan berkurangnya
kemampuan Pemerintah dalam memperoleh penerimaan
negara; (ii) kejadian yang mengakibatkan bertambahnya
belanja negara untuk mencapai misi Pemerintah, (iii)
kejadian yang mengakibatkan Pemerintah harus memenuhi
kewajibanya sebagai akibat dari komitmen Pemerintah yang
terikat perjanjian dan (iv) kejadian yang mengakibatkan
Pemerintah untuk memenuhi kewajiban moral Pemerintah.
Secara umum dapat dikatakan bahwa risiko keuangan negara
adalah penambahan defisit Anggaran karena (i) penerimaan
negara berkurang, atau (ii) belanja negara bertambah, atau
(iii) bertambahnya kewajiban langsung Pemerintah, atau
(iv) bertambahnya kewajiban kontijensi Pemerintah dan
kombinasi dari sebagian atau seluruhnya.
Gagasan penulis berupa pengungkapan risiko
fiskal diperlukan terutama dalam rangka keterbukaan
(transparency) dan kesinambungan (sustainability) fiskal.
Pengungkapan risiko fiskal diperlukan untuk menciptakan
keterbukaan tentang posisi fiskal Pemerintah dan untuk lebih
menjamin terjaganya kesinambungan pendapatan negara,
belanja negara, dan pembiayaan anggaran.
APBN biasanya disusun berdasarkan atas berbagai
asumsi dan estimasi yang tersedia pada saat penyusunan,
40
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
yang mungkin akan berbeda dari realisasinya. Perbedaan
antara asumsi serta estimasi dengan realisasinya perlu
dicermati karena dapat berdampak pada pelaksanaan APBN.
Dengan demikian, Risiko Fiskal memuat beberapa hal yang
berpotensi menimbulkan risiko pada APBN, misalnya: (i)
sensitivitas asumsi ekonomi makro, (ii) utang pemerintah,
(iii) Badan Usaha Milik Negara, (iv) program pensiun dan
Tunjangan Hari Tua Pegawai Negeri Sipil, (v) desentralisasi
fiskal, (vi) Bank Indonesia, (vii) Lembaga Penjamin Simpanan,
(viii) tuntutan hukum kepada Pemerintah, (ix) keanggotaan
organisasi internasional, dan (x) bencana alam.
Sensitivitas asumsi ekonomi makro
Berbagai perkembangan dan perubahan kondisi
perekonomian di masa mendatang dapat menyebabkan tidak
tercapainya asumsi-asumsi makro yang telah ditetapkan.
Perbedaan tersebut, bila terjadi, akan menimbulkan tidak
terpenuhinya besaran-besaran anggaran belanja dan
pendapatan yang telah ditetapkan dalam APBN, termasuk
upaya-upaya pencarian sumber-sumber pembiayaan baru bila
dibutuhkan. Perbedaan antara realisasi dan anggaran butirbutir APBN tentunya akan dapat mengganggu pencapaian
sasaran-sasaran dan kegiatan pembangunan.
Dalam penyusunan APBN, terdapat beberapa indikator
ekonomi makro yang digunakan sebagai dasar perhitungan,
yaitu pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, suku bunga
SBI 3 bulan, nilai tukar rupiah, dan harga minyak mentah
ICP. Indikator-indikator tersebut merupakan asumsi dasar
ekonomi makro yang menjadi acuan bagi perhitungan besaranbesaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam APBN.
Apabila realisasi indikator ekonomi makro berbeda dengan
41
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
yang telah diasumsikan, maka besaran-besaran dalam APBN
juga akan ikut berubah.
Pertumbuhan ekonomi mempengaruhi besaran APBN,
baik pada sisi pendapatan negara maupun sisi belanja
negara. Pada sisi pendapatan negara, pertumbuhan ekonomi
akan mempengaruhi penerimaan pajak terutama PPh dan
PPN. Pada sisi belanja negara, pertumbuhan ekonomi akan
mempengaruhi besaran nilai Dana Perimbangan dalam
anggaran Belanja ke Daerah sebagai akibat perubahan
pada penerimaan pajak. Apabila pencapaian pertumbuhan
ekonomi lebih rendah dari yang diasumsikan, maka defisit
APBN diperkirakan akan meningkat sebagai akibat penurunan
pendapatan negara dan penurunan belanja negara.
Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika
Serikat dapat berakibat pada semua sisi APBN, baik terhadap
pendapatan negara, belanja negara, maupun pembiayaan
anggaran. Pada sisi pendapatan negara, depresiasi nilai
tukar rupiah akan mempengaruhi pendapatan migas yang
didenominasi dalam bentuk dolar Amerika Serikat serta
PPh Migas dan PPN. Pada sisi belanja negara, yang akan
terpengaruh adalah: (i) belanja dalam mata uang asing, (ii)
pembayaran bunga utang luar negeri, (iii) subsidi BBM dan
listrik, dan (iv) belanja ke daerah dalam bentuk dana bagi hasil
migas. Sedangkan pada sisi pembiayaan, yang akan terkena
dampaknya adalah: (i) pinjaman luar negeri baik pinjaman
program maupun pinjaman proyek, (ii) pembayaran cicilan
pokok utang luar negeri, dan (iii) privatisasi dan penjualan
aset program restrukturisasi perbankan yang dilakukan
dalam mata uang asing.
Tingkat suku bunga yang dijadikan dasar dalam asumsi
APBN adalah tingkat suku bunga SBI 3 Bulan. Perubahan
42
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
tingkat suku bunga SBI 3 bulan hanya akan berdampak pada
sisi belanja negara. Dalam hal ini, peningkatan tingkat suku
bunga SBI 3 bulan akan berakibat pada peningkatan belanja
pembayaran bunga utang domestik.
Harga minyak ICP mempengaruhi APBN pada sisi
pendapatan negara dan sisi belanja negara. Pada sisi
pendapatan negara, kenaikan harga minyak ICP akan
mengakibatkan kenaikan pendapatan negara dari kontrak
production sharing (KPS) minyak dan gas melalui PNBP.
Peningkatan harga minyak dunia juga akan meningkatkan
pendapatan dari PPh Migas dan penerimaan lainnya. Pada
sisi belanja negara, peningkatan harga minyak dunia akan
meningkatkan belanja subsidi BBM dan dana bagi hasil ke
Pemerintah Daerah.
“Risiko fiskal dapat
muncul sebagai dampak
Risiko Utang
Salah satu aspek dalam dari perubahan tingkat
bunga, nilai tukar, dan
pengelolaan utang adalah
biaya utang lainnya.”
pengelolaan
terhadap
berbagai risiko yang muncul
dari lingkungan eksternal maupun internal organisasi
pengelola utang. Risiko-risiko dimaksud antara lain: (i) risiko
keuangan yaitu risiko tingkat bunga, risiko nilai tukar, dan
risiko refinancing, serta (ii) risiko operasional. Berbagai jenis
risiko tersebut memiliki dampak langsung terhadap efisiensi
dan efektifitas pengelolaan utang secara keseluruhan.
Dalam kaitan dengan utang pemeritah, risiko fiskal
dapat muncul sebagai dampak negatif dari perubahanperubahan tingkat bunga, nilai tukar, dan biaya-biaya utang
lainnya. Langkah-langkah antisipasi terhadap risiko tersebut
dimaksudkan untuk mengendalikan kenaikan pembayaran
43
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
pokok dan bunga utang dalam APBN. Beberapa risiko yang
terkait dengan pengelolaan utang tersebut antara lain:
risiko pembiayaan kembali yang muncul sebagai dampak
kebijakan debt reprofiling dan penerbitan utang baru dalam
pengelolaan utang negara, risiko nilai tukar yang muncul
sebagai tambahan beban pembayaran pokok dan bunga
akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap valuta asing,
risiko tingkat bunga berupa tambahan pembayaran pokok dan
bunga sebagai akibat fluktuasi tingkat bunga di pasar, risiko
operasional yang mungkin timbul terkait dengan kegagalan
atau tidak memadainya proses operasional internal dalam
unit pengelolaan utang.
Risiko BUMN dan Risiko Keuangan Lainnya
Pengungkapan risiko fiskal APBN yang menyangkut
masalah risiko BUMN, program pensiun, desentralisasi
fiskal dan BI serta LPS menarik untuk disimak besaran dan
magnitudnya.
BUMN dapat membebani APBN apabila Pemerintah
diharuskan menambah PMN, terutama
dalam rangka
memperbaiki struktur permodalan dan/atau meningkatkan
kapasitas usaha BUMN, serta peningkatan subsidi dalam
rangka penugasan khusus untuk menyelenggarakan fungsi
kemanfaatan umum (Public Service Obligation/PSO).
Untuk program pensiun, PNS diwajibkan membayar
iuran sebesar 4,75 persen dari jumlah gaji, tunjangan istri,
dan tunjangan anak per bulan. Dana tersebut kemudian
dititipkan kepada PT Taspen (Persero) tanpa memberi hak
untuk mengelola dana dimaksud. Sampai dengan tahun
1993, pembayaran pensiun kepada para pensiunan menjadi
beban APBN (sistem pay as you go). Mulai tahun 1994, akibat
44
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
kesulitan keuangan negara, pembayaran pensiun dilakukan
dengan sistem sharing antara APBN dan PT Taspen yang
besaran persentasenya ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Beberapa kebijakan Pemerintah, antara lain kenaikan
gaji pokok PNS dan perubahan formula perhitungan manfaat,
menimbulkan risiko pada APBN terkait dengan kekurangan
pendanaan Pemerintah (unfunded liability). Akibat adanya
kenaikan gaji pokok PNS pada tahun 2001, 2003, dan
2007, PT Taspen mencatat adanya kekurangan pendanaan
Pemerintah dalam program THT sebesar Rp1,73 triliun.
Sedangkan sebagai akibat perubahan formula perhitungan
manfaat THT, pada tahun 2004 PT Taspen mencatat adanya
kekurangan pendanaan Pemerintah sebesar Rp1,97 triliun.
Untuk kewajiban yang sebesar. Program pensiun PNS perlu
dicermati karena dapat membebani APBN dalam jumlah yang
signifikan dan mempunyai kecenderungan selalu meningkat.
Kebijakan desentralisasi fiskal juga mempunyai
potensi risiko fiskal yang antara lain bersumber dari
pemekaran daerah. Kebijakan pemekaran daerah yang tidak
memperhatikan kemampuan fiskal daerah yang dimekarkan
menyebabkan porsi DAU daerah yang tidak dimekarkan akan
berkurang, karena dari porsi 100 persen DAU dibagi ke lebih
banyak daerah yang mendapatkannya.
Risiko fiskal lain dari desentralisasi fiskal dapat timbul
bila pengalokasian DAU didasarkan pada realisasi, khususnya
bila realisasi pendapatan dalam negeri bersih lebih kecil dari
yang ditetapkan dalam APBN. Selama ini, sesuai dengan
perundangan yang berlaku, realisasi DAU berdasarkan
penetapan dalam APBN. Dalam pelaksanaan APBN
penerimaan dalam negeri bersih dapat lebih kecil dari yang
direncanakan dalam APBN, antara lain oleh karena perubahan
45
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
asumsi ekonomi makro dan atau tidak tercapainya target
pendapatan negara (perpajakan atau Penerimaan Negara
Bukan Pajak). Di samping itu, risiko dari desentralisasi fiskal
dapat terjadi bila kebijakan penghapusan DAU penyesuaian
(hold harmless) tidak dapat dijalankan dengan konsisten
sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UndangUndang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan antara
Keuangan Pusat dan Daerah.
Risiko Bank Indonesia menyangkut permodalan. Undangundang di atas juga mengatur bahwa modal Bank Indonesia
paling sedikit harus Rp2 triliun. Dalam hal Bank Indonesia
tidak mampu menjaga jumlah modal tersebut, Pemerintah
dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat akan menutup
kekurangan tersebut. Risiko fiskal yang terkait di sini adalah
adanya kewajiban pemerintah dalam menjaga modal awal
Bank Indonesia. Sementara itu untuk modal LPS (Lembaga
Penjamin Simpanan) sekurang-kurangnya Rp4 triliun. Dalam
hal modal LPS kurang dari modal awal, Pemerintah dengan
persetujuan DPR akan menutup kekurangan tersebut.
Risiko fiskal lainnya adalah masalah Tuntutan hukum
kepada Pemerintah jika muncul dan belum dianggarkan
dalam APBN, keanggotaan Indonesia dalam organisasi
Internasional yang pada umumnya menggunakan sistem
callable fund. Risiko tersebut muncul apabila terdapat
tagihan yang muncul dari lembaga internasional tersebut dan
belum terdapat alokasi anggaran. Risiko yang akhir-akhir ini
muncul cukup sering adalah risiko bencana alam.
Risiko-risiko diatas dapat dimitigasi dengan perencanaan
APBN yang antisipatif dengan perkembangan kedepan serta
apabila dilakukan disain pembuatan asuransi risiko. Sayang
skema asuransi risiko atau lindung nilai (hedging) tersebut
46
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
masih belum mudah dicerna dan diterima oleh pengawas
atau auditor.
***
47
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Ancaman Inflasi
Pengantar :
“Pemerintah SBY – Boediono telah mencanangkan
pertumbuhan ekonomi sebesar 7 % pada tahun 2011. Hal
ini tentu membutuhkan kerja keras dan kerja cerdas dari
Presiden dan seluruh staf dan jajarannya. Fungsi-fungsi
pendukung termasuk birokrasi, legislasi dan masalah
hukum harus membantu tercapainya target tersebut.
Permasalahannya adalah, apabila semua elemen telah
bekerja dengan baik dan mendekati optimal apakah target
7 % itu bisa tercapai ? Salah satu tantangan yang dihadapi
oleh Pemerintah dalam tahun 2011 ini adalah ancaman
inflasi. Ancaman ini meliputi kondisi over-heating ekonomi
di dalam negeri dan juga faktor eksternal seperti kenaikan
harga pangan dan minyak dunia.“
T
ahun 2011 perekonomian Indonesia dibuka dengan
ancaman naiknya tingkat inflasi. Meksipun ini
terjadi di seluruh dunia, namun karena basis inflasi
Indonesia sudah tinggi maka dengan ancaman
kenaikan inflasi, tentu akan lebih membebani perekomian
48
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
kita. Inflasi yang tinggi akan mengurangi daya saing dunia
usaha dan menurunkan daya beli pelaku ekonomi.
Naiknya inflasi Indonesia di tahun 2011 berasal dari
ketidakpastian perkembangan global, kenaikan harga beras
dan berbagai komoditas pangan serta respons pada kenaikan
harga minyak dunia. Tahun 2010 inflasi Indonesia berada
pada kisaran 7% dan diperkirakan akan meningkat di tahun
2011. Inflasi akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi,
bahkan jika ditambah dengan terjadi “output gap” karena
tidak lancarnya distribusi suplai dan infrastruktur yang
mencukupi misalnya, dan dalam perekonomian yang terus
dipacu, bisa terjadi kondisi “kepanasan” atau over heating.
Fenomena Global
Di tingkat global, keberlanjutan kebijakan stimulus di
AS memperlemah nilai tukar dolar AS dan meningkatkan
harga komoditas utama, minyak, kepala sawit, batubara dan
lain-lain di pasar internasional akibat adanya pergeseran
motif investasi. Akibat banjir likuiditas dan kenaikan harga
komoditas menyebabkan suku bunga di negara berkembang
atau emerging market cenderung meningkat guna menekan
inflasi dan menjaga daya tarik investasi.
Di sisi lain, derasnya capital inflows sebagai akibat
stimulus AS telah memberikan dampak apresiasi Rupiah
dan menimbulkan kompleksitas kebijakan makroekonomi.
Di satu sisi apresiasi Rupiah membantu dalam pengendalian
inflasi, akan tetapi di sisi lain berdampak pada menurunnya
laju pertumbuhan ekonomi dan semakin cepat terjadinya
defisit transaksi berjalan.
Penguatan rupiah pada tahun 2012 yang berasal dari
meningkatknya pasokan devisa membantu sebetulnya
49
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
menurunkan inflasi atau deflasi. Namun karena rupiah
“ditahan” ditingkat tertentu, yakni 9000 rupiah per dolar AS
dengan intervensi BI di pasar uang, maka dampak deflasinya
akan berkurang. Bahkan jika intervensi BI menarik pasokan
valas untuk “mempertahankan” rupiah berlebih, bisa jadi
kemudian akan terjadi ekses rupiah di pasar dan berakibat
inflasi. Ekspektasi inflasi tersebut menular ke seluruh
sendi pasar uang dan modal Indonesia. Yield Global Bond,
misalnya, meningkat karena dipengaruhi oleh tingginya
tingkat inflasi pada bulan November 2010. Inflasi bahkan
menjadi faktor dominan yang bisa dikendalikan pemerintah
untuk meningkatkan daya saing ekspor dibandingkan nilai
tukar. Maka seyogyanya BI tetap konsisten menjaga inflasi
dan tidak “berlebih-lebihan” menjaga tingkat nilai tukar
rupiah (fungsi tunggal BI, menjaga nilai rupiah ke dalam
(inflasi) dan keluar, yaitu nilai tukar rupiah).
Menyadari hal tersebut, Penulis menilai bahwa kebijakan
BI yang melonggarkan nilai tukar di tahun 2011 hingga batas
bawah Rp 8.600 per dolar AS adalah kebijakan yang benar.
Penguatan rupiah tersebut akan membantu menurunkan
inflasi tanpa mengorbankan daya saing produk ekspor
Indonesia.
Kenaikan harga beras
Disamping masalah terjadinya ekses liquiditas,
perekonomian Indonesia mengalami inflasi dari harga
beras dan pangan lainnya seperti cabai. Kenaikan tahunan
harga beras dalam tahun 2010 telah mencapai hamper 20
persen, dan merupakan yang tertinggi sejak krisis pangan
2006. Disaat harga beras di dunia mengalami penurunan,
beras di Indonesia mengalami kenaikan harga. Harga beras
di Indonesia saat ini 50 persen lebih tinggi daripada harga
50
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
beras di pasar internasional dan tergolong termahal di dunia.
Kenaikan serangkaian harga pangan mengkhawatirkan. Gula
pasir 9%, minyak goreng curah 20%, bawang merah 70%,
cabe antara 20-35%, telur ayam 7% dan daging ayam 9%.
Mengenai beras, pemerintah berdalih bahwa kenaikan
harga tersebut karena ulah spekulan dari terbatasnya
stok beras dalam pengusaan BULOG. Menteri Pertanian
membenarkan kesimpulan tersebut, “Jika Bulog memiliki
simpanan dua juta ton,
tidak ada pedagang yang “Risiko perkembangan
global yang
berani bermain”. Mentan
mencemaskan
tersebut
juga sempat menyinggung
akan terus terjadi di
masalah internal BULOG
sebagai
penyebabnya. 2011 dan jika kita tidak
“Harga naik karena Bulog
siap menghadapinya
terlambat membeli beras
termasuk rencana
petani meski tahu stok beras
kontigensi, risiko
di gudang mulai menepis”
inflasi akan menjadi
kata beliau.
Meksipun
penghambat utama
BULOG membantah adanya
upaya menuju
keterlambatan penyaluran pertumbuhan ekonomi
sebagai
biang
keladi
7% yang sudah
“Harga beras mahal karena
dicanangkan”
suplainya rendah,” tegas
dirut BULOG.
Apapun alasannya, pemerintah harus menyiapkan
cadangan beras BULOG (CBB) yang cukup untuk dapat
mengoptimalisasi fungsi BULOG dalam menstabilkan
harga. Yang lebih penting adanya upaya nyata peningkatan
produksi beras sesuai target (4,3% di 2011) melalui berbagai
perbaikan penyediaan bibit dan pupuk, termasuk pupuk
51
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
organik, penyuluhan serta perbaikan infrastruktur pertanian,
khususnya irigasi dan lahan.
Harga Minyak
Seiring dengan kenaikan harga minyak dunia, Pemerintah
telah merespons dengan recana mengurangi subsidi BBM
untuk kendaraan pribadi. Mulai April 2011 (namun kemudian
diundur kembali), Pemerintah berencana membatasi
pemberian subsidi BBM bagi mobil plat hitam atau mobil
pribadi. Kebijakan ini akan dilakukan secara bertahap mulai
di Jawa dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya ke seluruh
wilayah tanah air. Mobil plat hitam nantinya akan diwajibkan
untuk membeli BBM Pertamax, berarti akan ada kenaikan
harga dari Rp. 4500 (premium) menjadi Rp. 7400 (pertamax)
dengan harga minyak saat ini. Pertanyaan berikutnya yang
belum dijawab adalah jika harga pertamax mencapai batas
psikologis Rp. 8000 rupiah per liter.
“Kalau dari sisi volume, pembatasan pemberikan subsidi
BBM bagi mobil plat hitam pribadi itu berarti bisa menghemat
BBM subsidi 2,11 juta kiloliter atau hemat Anggaran (APBN)
Rp 3,8 Triliun,” kata Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh.
Darwin mengakui, belum seluruh SPBU di Indonesia siap
menjalankan pembatasan BBM subsidi. Menurutnya, SPBU
yang sudah siap adalah SPBU yang dilengkapi dengan tangki
dan dispenser solar, premium, dan pertamax. Dari total
4.667 SPBU, pemerintah menyatakan 1.686 SPBU sudah siap
menjual Pertamax.
Dengan kesiapan yang memadai, Pemerintah bersiapsiap ke DPR lagi untuk meminta persetujuan dan segera
meluncurkannya. Penetapan waktu sangat krusial karena
berkejaran dengan naiknya harga minyak dunia. Semakin
52
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
cepat pelaksanaan akan semakin baik hasilnya pada saat
harga masih terjangkau dan penghematan anggaran bisa
optimal. Apabila harga minyak dunia naik, maka harga
pertamax juga ikut naik dari harga sekarang. Kenaikan harga
minyak dunia juga akan menambah subsidi BBM “Dari
angka subsidi Rp 95,5 triliun, bila ada kenaikan harga minyak
mentah Indonesia US$ 1 akan menaikkan subsidi sebesar Rp
2,6 triliun,” jelas Menteri Keuangan.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa
mengatakan, opsi pengaturan subsidi BBM sudah disiapkan
untuk mengatasi harga minyak dunia yang bertahan tinggi.
Opsi berikutnya adalah membatasi konsumsi BBM bersusidi
secara bertahap. Pentahapan tersebut sangat penting untuk
mengurangi tekanan inflasi yang berlebih jika dilakukan
sekaligus dan mendadak. Kebijakan kenaikan harga bertahap
keseluruhan BBM subsidi adalah lebih baik daripada parsial
seperti pembatasan BBM subsidi untuk mobil pribadi,
sayangnya kebijakan tersebut merupakan pilihan tabu bagi
pemerintahan saat ini.
***
53
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Fenomena Capital Inflow
Pengantar :
“Tulisan ini dibuat pada akhir tahun 2010, tepatnya
ketika kondisi ekonomi global masih belum pulih hingga
menjelang berakhirnya tahun 2010 dan akan dimulainya
tahun baru 2011. Krisis dunia yang awalnya dipicu oleh
krisis sektor perumahan di AS kini telah mengglobal
dengan menjangkit berbagai negara, terutama negara
barat (AS dan Eropa). Hal ini disebabkan oleh besarnya
rasio utang terhadap PDB mereka dan ketidakefisienan
ekonomi ketika menghadapi situasi krisis. Namun, di
tengah badai krisis tersebut tiba-tiba angin segar bertiup
ke arah negara-negara Emerging Market termasuk
Indonesia di dalamnya. “Angin” tersebut adalah masuknya
aliran dana panas atau hotmoney yang memang membuat
perekonomian dalam negeri menjadi lebih bergairah.
Nilai tukar menguat, cadangan devisa tinggi dan harga
saham melonjak. Namun, di balik “kesegaran” angin
segar hotmoney ini, perlu diwaspadai pula ekses-ekses
negatifnya. Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran
dalam tulisan ini. “
54
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
C
adangan devisa Indonesia pada akhir tahun 2010
menembus 100 miliar dolar AS, jumlah yang
dianggap sangat aman dan bahkan lebih dari
memadai untuk kebutuhan jaga diri perekonomian
dan menjaga stabilitas rupiah. Kenaikan cadangan devisa
sebesar 25 miliar dolar AS tahun 2010 disebabkan karena
surplus neraca pembayaran yang cukup besar dan mayoritas
berasal dari aliran modal asing dalam bentuk portofolio.
Derasnya arus modal portofolio global ke Indonesia jelas
membawa manfaat, tetapi juga risiko. Dengan meningkatknya
pasokan devisa, maka rupiah menguat dan akan menurunkan
inflasi, sumber pembiayaan anggaran pemerintah lebih
murah, dan tersedianya sumber pembiayaan untuk investasi
di dalam negeri. Risikonya adalah penggelembungan aset
dan overshoothing nilai tukar, mengurangi daya saing, dan
meningkatnya kerentanan terhadap krisis. Arus modal saat
ini juga terlalu besar dibandingkan dengan kemampuan
pasar keuangan domestik untuk dapat menyerapnya. Untuk
itu diperlukan kebijakan di sektor riil, khususnya investasi
dan perdagangan untuk menyerapnya.
Fenomena dan Respons Global
Pasca krisis global 2008-2009, aliran modal masuk atau
capital inflows negara berkembang (emerging markets atau
EM) meningkat sangat besar. Hal ini didorong oleh beberapa
faktor, yaitu oleh ekses likuiditas global dan lambatnya
pemulihan ekonomi negara maju maupun laju pertumbuhan
ekonomi di negara berkembang, perbedaan suku bunga yang
besar, dan ekspektasi apresiasi nilai tukar. Derasnya capital
inflows didorong juga oleh langkah lanjutan pelonggaran
Bank Sentral AS atau the Fed dan Bank Sentral Jepang, Bank
of Japan (BOJ) yang menambah likuiditas global.
55
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Selama 2010, capital inflows ke EM sangat besar dan
diperkirakan berlanjut pada 2011. Jumlah capital inflows
swasta ke EM diperkirakan meningkat dari $581,4 miliar
pada 2009 mencapai $825.0 miliar dan $833.5 miliar pd
2010 dan 2011.
Beberapa negara melakukan respons terhadap derasnya
aliran modal asing dengan berbagai kebijakan. Pemerintah
Brazil menaikkan pajak transaksi finansial terhadap
pembelian obligasi lokal oleh pelaku asing dari 2% menjadi
4% (5 Okt 2010), kemudian dari 4% ke 6% (18 Okt 2010).
Kenaikan tersebut tidak berlaku untuk saham. Pemerintah
Thailand mengenakan pajak 15% atas bunga dan capital gain
dari kepemilikan asing dalam obligasi pemerintah, berlaku
efektif 13 Oktober 2010. Bank Sentral Korea, Bank of Korea
(BoK) mengetatkan limit kontrak derivatif, untuk bank
domestik menjadi 50% dan untuk asing diturunkan menjadi
250% dari 300%; Transaksi valuta asing untuk korporasi
yang menggunakan transaksi derivatif juga dibatasi menjadi
100% dari 125% dari nilai traksaksi. Pinjaman dalam valuta
asing hanya diperkenankan untuk korporasi yang beroperasi
di luar negeri.
Bank Sentral Cina, People Bank of China (PBoC) kembali
menaikkan reserve ratio (RR, cadangan di bank sentral),
sebesar 50 bps (basis points) menjadi 17,5% untuk 6 bank
terbesar di Cina. Kenaikan tersebut diberlakukan sementara
(2 bulan) untuk kemudian akan dikembalikan ke level
semula; Sepanjang 2010, PBoC telah menaikkan RR sebanyak
4 kali mulai Januari 2010. Sementara itu, Bank Sentral
Peru, BCRP menaikkan RR baik untuk mata uang domestik
maupun asing. Ketentuan ini berlaku bulan Oktober 2010.
Berdasarkan kebijakan tersebut, RR untuk simpanan dalam
mata uang domestik dan asing dinaikkan dari 8.5% menjadi
56
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
9.0%; BCRP juga menaikkan Marginal Requirement (MR)
untuk simpanan dalam mata uang lokal menjadi 25% dari
15%, sementara simpanan valas dinaikkan 55% dari 50%.
Kebijakan pengendalian capital inflow dengan penerapan
pajak, meskipun dipergunakan di beberapa negara, namun
secara empiris hasilnya tidak sesuai dengan tujuannya.
Gillingham and Greenlees (1992), Burman dan O’Hara (1994)
meneliti dampak perubahan tingkat pajak (tax rate) atas
capital gains dalam jangka panjang. Dengan menggunakan
data time series dan data mikro di AS, studi ini menunjukkan
bahwa kenaikan tingkat pajak atas capital gains justru
mengakibatkan pembalikan aliran modal dan penurunan
penerimaan pajak. Saham korporat jauh lebih responsif
terhadap kebijakan perpajakan dibandingkan dengan aset
lain yang memiliki biaya transaksi tinggi. Meskipun demikian,
jika ada pilihan instrumen pajak untuk mengendalikan
capital inflow, Burman dan Randolph (1994) menemukan
penggunakan kebijakan pajak secara sementara (transitory)
memberikan efek yang lebih baik daripada yang bersifat
permanen.
Respons Kebijakan di Indonesia
Selama 2010, arus masuk modal portofolio sebagian besar
masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Meningkatnya capital
inflows ke SBN memberi manfaat, pertama, sebagai sumber
penting pembiayaan fiskal. Kedua, menurunkan biaya bunga
bagi penerbitan obligasi swasta. Namun meningkatnya pangsa
asing di SBN menimbulkan risiko kerentanan pasar domestik
terhadap shock eksternal dan pembalikan “kepercayaan”
terhadap prospek ekonomi makro. Dibandingkan dengan
negara-negara di tingkat regional, pangsa kepemilikan asing
tehadap total SBN di Indonesia merupakan yang tertinggi
57
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
(28.3%). Meningkatnya arus modal ke SBN dapat berlanjut
karena masih menarik dibandingkan dengan obligasi negara
lain. Dilain pihak, apabila yield SBN terus menurun (di
bawah 7%) akan berpotensi mendorong perbankan melepas
SBN dan meningkatkan penanaman modal ke Sertifikat Bank
Indonesia (SBI).
Dalam menghadapi capital flows, BI dan Pemerintah
perlu menempuh bauran kebijakan (policy mix) yang
lebih terkoordinatif. Mengakomodasi nilai tukar yang
fleksibel dengan menjaga apresiasi dan volatilitas Rupiah
adalah benar. Namun demikian, menjaga rupiah pada level
sekarang
membutuhkan
biaya moneter yang terlalu
“Secara empris
besar, saya lebih cenderung ditemukan bahwa setiap
intervensi BI dapat di
terjadi pertumbuhan
kurangi. Dengan apresiasi
ekonomi, tambahan
kurs tahun 2010 mencapai
impor melebihi
5%, masih dibawah ratatambahan ekspor,
rata negara regional sekitar
ini yang masih
7%, jadi nilai tukar rupiah
memprihatinkan”
masih tergolong kompetitif.
Bahkan apabila dibiarkan
apresiasi setara dengan negara tetangga, kita tidak akan
kehilangan daya saing nilai tukar. Penulis memperkirakan
bahwa rupiah pada tingkat Rp 8700 per dolar AS masih
konservatif.
Memupuk cadangan devisa, sangat diperlukan sebagai
upaya untuk memperkuat
daya tahan perekonomian.
Menurut perhitungan saya, nilai cadangan devisa 100 miliar
dolar AS sudah dianggap “extra insurance”, maka perlu
dipikirkan penggunakan cadangan devisa kita ke sektor
58
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
produktif, misalnya pooling dana infrastruktur nasional
ataupun dengan negara-negara ASEAN yang lain.
Menempuh pengelolaan likuiditas secara selektif sudah
benar, misalnya memperpanjang waktu kepemilikan SBI,
menaikkan GWM sementara dan memperkecil peluang pihak
asing mengkumulasi SBI. Kebijakan “pengaturan terhadap
lalu lintas modal asing” dan secara ketat terus melakukan
“monitoring” terhadap arus modal asing, agar stabilitas
moneter dan sistem keuangan tetap terjaga tetap diperlukan.
Saya setuju dengan langkah-langkah tersebut, meskipun
harus ada komunikasi yang baik dengan pelaku pasar dan
perbankan sehingga tidak ada kesan dilakukan kontrol devisa
dan menghalangi bank untuk ekspansi.
Di sisi fiskal, pre-financing obligasi pemerintah sesuai
dengan UU APBN seharusnya dapat dilakukan untuk
pemenuhan target pembiayaan tahun depan. Peningkatan
IPO Saham yang sebagian besar ditujukan untuk investasi
terus didorong. Persiapan dan proses IPO saham BUMN
supaya diperbaiki sehingga kasus kontroversi IPO Krakatau
Steel tidak terulang lagi. Penerbitan obligasi korporasi perlu
diperluas, saat ini masih didominasi oleh emiten sektor
keuangan. Penerbitan seri baru obligasi dan saham diperlukan
untuk menambah pasokan instrumen pasar modal sehingga
dapat menghindari terjadinya “bubble” di pasar modal.
Pengendalian capital inflow tanpa dibarengi dengan
perbaikan di sektor riil akan saja tetap sia-sia. Dengan
tersedianya aliran modal masuk yang cukup deras,
Pemerintah harus terus berupaya memperbaiki kebijakan
menarik investasi, dalam hal ini PMA. Dalam Neraca
Pembayaran, aliran modal masuk dalam bentuk PMA tahun
2010 diperkirakan mencapai USD 13,0 miliar, meskipun
59
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
meningkat pesat dari USD 4,4 miliar pada 2009, masih belum
mampu menampung derasnya capital inflow. Disamping
Pertumbuhan ekspor terus didorong dan pengendalian
impor barang konsumsi harus dilakukan. Surplus neraca
perdagangan Indonesia cederung menurun dari waktu ke
waktu, terutama karena melonjaknya impor. Secara empris
ditemukan bahwa setiap terjadi pertumbuhan ekonomi,
tambahan impor melebihi tambahan ekspor, ini yang masih
memprihatinkan.
Masuknya arus modal asing tampaknya akan terus
terjadi di 2011 dan jika kita tidak siap menghadapinya
termasuk rencana kontigensi, risiko pembalikan modal akan
menghadang.
***
60
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
Ketidakpastian Harga Minyak Dunia
Pengantar:
“Ketidakpastian minyak dunia harus dihadapi dengan
upaya yang signifikan untuk mengendalikan dampak
kenaikan harga minyak dunia, sayangnya Indonesia
belum. Meskipun telah diberikan mandat untuk melakukan
penghematan konsumsi dan penyesuaian harga BBM
dalam keadaan kenaikan harga 10% diatas asumsi harga
minyak di dalam APBN 2011, desain kebijakannya masih
terus saja diperdebatkan. Yang tak kalah pentingnya
adalah terjadinya flight to comodity. Tetapi upaya harus
tetap dilakukan, karena jika tidak melakukan tindakan
apa-apa, biaya ekonomi yang harus dibayar akan lebih
mahal daripada melakukan sesuatu meskipun terdapat
risiko kesalahan antisipasi. Maka pemerintah membentuk
tim kajian dan penulis termasuk didalamnya. Tim tidak
hanya menyampaikan opsi, tetapi juga kemutakhiran
metodologi, manfaat, dan biaya dari opsi-opsi tersebut.
Apapun yang terjadi dengan kenaikan harga minyak dan
pasokan minyak dunia, kita harus mempersiapkan diri
dengan kebijakan dan tindakan yang tepat, cepat dan
pasti.”
61
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
P
ada tahun 2009, Mexico mendapatkan windfall
sebesar 8 milyar dollar AS dari kontrak hedging
(lindung nilai) minyak yang dibelinya pada tahun
2008 sebagai perlindungan terhadap melemahnya
permintaan energi dan harga minyak. Pertengahan tahun
2008, harga minyak menurun dari 140 dolar ke 50 dolar AS
per barel sehingga bagi negara dengan status net exporter,
jatuhnya harga minyak tersebut, jika tidak diamankan,
akan menyebabkan merosotnya pendapatan negara. Mexico
melakukan perlindungan pendapatan Negara terhadap
kemerosotan harga minyak dengan strategi yang tepat dan
dapat menghindarkan dari defisit APBN-nya. Dan langkah
tersebut diakui sangat tepat dan bermanfaat.
Sebelumnya, tahun 2008, ketika harga minyak dunia
meningkat tajam dari 70 dolar ke 140 dolar per barel,
berbagai cara dilakukan oleh negara-negara di dunia untuk
mengatasi dampak negatif bagi perekonomian. Indonesia
tidak terkecuali. Dua kali dilakukan kenaikan harga BBM
dalam negeri dan disertai kompensasi kepada rumah tangga
sasaran seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai), Raskin
(Beras Miskin), dan JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan
Masyarakat). Meskipun dampaknya buruk bagi inflasi dan
pertumbuhan ekonomi, namun dengan strategi kompensasi
memadai maka Indonesia terbebas dari kehancuran fiscal
dan kemiskinan yang berkelanjutan.
Pada tahun 2011, ketika harga minyak dunia mulai
merangkak naik, negara-negara yang melakukan subsidi
terhadap harga BBM dalam negeri, seperti China, India,
Malaysia, Thailand dan Afrika Selatan serta beberapa negara
timur tengah sudah merencanakan kenaikan harga BBM.
Beberapa negara-negara yang memiliki sumber daya energi
juga telah menggunakan dana cadangan minyak untuk
62
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
menambah subsidi BBM dengan tujuan melindungi daya beli.
Ada juga yang sudah membuat sistem penjatahan konsumsi
BBM dengan target subsidi kepada pengguna tertentu.
Sementara itu, beberapa negara yang memberlakukan
penyesuaian harga BBM pada tingkat harga keekonomian
secara otomatis telah mengurangi beban pajak atau cukai
atas konsumen BBM. Banyak juga negara lain, negara maju
khususnya, sangat giat melakukan diversifikasi energi dari
BBM ke sumber lain yang lebih murah dan ramah lingkungan
seperti gas dan LPG. Saat ini, Indonesia belum melakukan
upaya signifikan untuk mengendalikan dampak kenaikan
harga minyak dunia. Meskipun telah diberikan mandat untuk
melakukan penghematan konsumsi dan penyesuaian harga
BBM dalam keadaan kenaikan harga 10% diatas asumsi harga
minyak di dalam APBN 2011, desain kebijakannya masih
terus saja diperdebatkan.
Net Importer Minyak
Dalam 10 tahun terakhir, fluktuasi naik turunnya harga
minyak dunia adalah suatu fenomena yang lazim terjadi.
Disamping karena masalah kebutuhan melampaui jumlah
ketersediaan, faktor konflik timur tengah juga menjadi alasan
hambatan pasokan atau menjadi sasaran spekulasi. Namun
yang tak kalah pentingnya adalah terjadinya reorientasi
para pelaku pasar modal yang mengalihkan investasi bursa
keuangan ke bursa komoditas atau yang lazim disebut flight
to commodity. Situasi gejolak di pasar keuangan juga menjadi
alasan yang kuat harga komoditas baik spot maupun future
bergejolak dengan motivasi untuk mendapatkan profit taking
atau melindungi investor dari kerugian yang lebih besar di
pasar keuangan.
63
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Maka negara konsumen maupun penghasil sumber daya
energi harus terus beputar otak dan menggunakan cara-cara
untuk dapat melindungi gejolak perekonomiannya. Dan
karena ada unsur ketidakpastian, bisa saja respons kebijakan
yang dilakukan melenceng. Tetapi bagaimanapun, upaya
harus tetap dilakukan, karena jika tidak melakukan tindakan
apa-apa, biaya ekonomi yang harus dibayar akan lebih mahal
daripada melakukan sesuatu meskipun terdapat risiko
kesalahan antisipasi.
Situasi perminyaakan
“ .... yang tak kalah
di Indonesia sudah terbalik
pentingnya adalah
dari 10 tahun yang lalu.
terjadinya reorientasi
Indonesia
dikategorikan
para
pelaku pasar modal
sebagai
net
importer
yang mengalihkan
minyak. Sehingga yang
investasi bursa
menjadi risiko ekonomi dan
keuangan ke bursa
fiscal adalah apabila harga
minyak dunia naik akan
komoditas atau yang
merugikan perekonomian
lazim disebut flight to
dan APBN. Sejak itu harga
commodity.”
minyak naik selalu menjadi
sandera bagi perekonomian Indonesia. Berbagai upaya
sudah dilakukan mulai dari upaya peningkatan produksi
minyak, konversi BBM dengan LPG, penggunaan nonBBM sebagai bahan bakar pembangkit listrik dan lain-lain.
Namun kesemua kebijakan tersebut belum cukup untuk
menghindarkan Indonesia sebagai net importer minyak.
Strategi hedging juga sempat mencuat beberapa tahun yang
lalu, namun sistem penganggaran belum memungkinkan
mengakomodir transaksi yang mengandung risiko kerugian
tersebut dilakukan.
64
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
APBN kita saat ini masih rentan terhadap volatilitas
harga komoditas, khususnya minyak. Indonesia melakukan
impor minyak dalam jumlah yang signifikan untuk kebutuhan
konsumsi dalam negeri dan harga minyak tersebut disubsidi.
Pada batas tertentu, volatilitas harga minyak tersebut masih
bisa ditanggung oleh APBN. Namun ada keterbatasan
kemampuan APBN untuk menanggung kenaikan harga
minyak tersebut. Sementara terdapat keterbatasan untuk
dilakukan “pass through” selisih harga minyak kepada
konsumen. Hal ini berisiko mengganggu kondisi APBN.
Dengan harga diatas 110 dolar per barel akhir-akhir
ini tentu sudah mengganggu APBN. Meskipun pendapatan
negara dari pajak dan PNBP atas migas bertambah, namun
subsidi energi, bagi hasil minyak dan konsekuensinya pada
anggaran pendidikan bertambah lebih banyak. Akibatnya
setiap kenaikan rata-rata per tahun harga minyak 1 dolar
AS, APBN rugi sekitar 700 milyar rupiah. Jadi jika harga
minyak dunia mengalami kenaikan sepanjang tahun 10 dolar
diatas rata-rata asumsi APBN yakni 80 dolar per barel akan
terjadi kerugian 7 triliun rupiah. Ini belum termasuk apabila
konsumsi BBM bersubsidi melebihi kuota serta dibatalkannya
kebijakan pembebasan capping listrik PLN serta penurunan
produksi minyak kita.
Hasil Tim Kajian BBM
Pemerintah sendiri belum menentukan sikap. Tim
Kajian pengaturan BBM dari konsorsium peneliti tiga
perguruan tinggi ITB, UGM, dan UI sudah menyampaikan
hasil dan rekomendasi dari ketiga opsi yang diajukan minggu
lalu. Untuk diketahui, Tim tidak hanya menyampaikan opsi,
tetapi juga kemutakhiran metodologi, manfaat dan biaya
dari opsi-opsi tersebut, serta urutan pelaksanaan kebijakan.
65
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Ada rekomendasi yang sifatnya segera (1-2 bulan) dan
jangka menengah (6 bulan). Kalau rekomendasi tersebut
dipertimbangkan, niscaya sebagian masalah subsidi BBM
dapat terpecahkan. Tim mememberikan rekomendasi atas
dasar berbagai macam pertimbangan, yakni ekonomi, politik,
sosial dan teknis perminyakan dan dengan diskusi pihakpihak terkait dengan pelaksanaan dan pengawasan di pusat
dan derah secara mendalam, serta dengan pengumpulan data
lapangan yang cukup akurat. Waktu yang diberikan untuk
penelitian ini sebetulnya sangat tidak memadai yakni hanya
dua bulan efektif.
Pemerintah sejak awal sudah mengatakan tidak
akan menaikkan harga BBM, meskipun tetap menunggu
pembahasan dengan DPR. “Kami akan membahas dengan
DPR terlebih dahulu mengenai opsi kebijakan pengaturan
BBM bersubdi” kata Menteri ESDM Darwin Saleh. Tim
tetap berpendapat kenaikan harga BBM untuk kendaraan
pribadi dengan pengembalian subsidi (cashback) kepada
angkutan umum, seperti pendapat kepala BPS minggu lalu,
adalah kebijakan yang paling masuk akal. Angkutan umum
tetap perlu disubsidi karena mereka melakukan pelayanan
masyarakat dan tarifnya di atur oleh pemerintah. Tanpa
penyesuaian harga untuk kendaraan pribadi maka akan terjadi
disparitas harga yang melebar berakibat pada konsumsi yang
membengkak dan migrasi dari konsumen pengguna pertamax
ke premium. Pertimbangan-pertimbangan sosial, konflik,
daya beli, risiko demonstrasi dan politik tetap menjadi bahan
tim dalam memberikan rekomendasi.
Ide penghematan dan pengawasan konsumsi BBM
bersubsidi bukan hal yang baru. Zaman pemerintahan
Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I, pernah dilontarkan
gagasan penggunaan kartu pintar (smart card), klasterisasi,
66
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
pengawasan distribusi, dan kampanye hemat BBM. Waktu itu
dirasa persiapannya sangat minim sehingga urung dilakukan.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa pada akhir tahun 2010
menyampaikan dana optimis bahwa kebijakan penghematan
konsumsi BBM tersebut akan mulai dilaksanakan tahun 2011.
Untuk tambahan informasi, jika tidak dilakukan kebijakan
apapun, alokasi BBM subsidi tahun ini sebanyak 38,5 juta
kiloliter dan diperkirakan akan bertambah setidaknya 2 juta
kiloliter. Tahun 2010 realisasi konsumsi BBM telah berada
diatas perhitungan awal yang berarti menambah anggaran
subsidi. Menteri Keuangan Agus Martowardoyo buru-buru
memberikan peringatan untuk tetap mempertahankan
konsumsi 38,5 juta KL. Jika tidak, maka kenaikan anggaran
subsidi BBM akan menambah defisit anggaran. Meskipun
terdapat penghematan dari nilai tukar berada dibawah
asumsi, tetap saja tidak mampu mengatasi pembengkaan
defisit. Maka sebaiknya pemerintah mengambil tindakan
untuk mengamankan perekonomian kita, tidak menambah
defisit APBN, meskipun dengan kebijakan sesulit apapun,
demi keberlanjutan pembangunan di masa yang akan datang.
Ancaman inflasi memang nyata. BI dan BPS sudah
memberikan peringatan akan dampak kebijakan pengaturan
BBM pada inflasi di tahun 2011. Bagaimanapun kenaikan
inflasi akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi dan
menurunkan daya beli. Perhitungan tim menunjukkan
bahwa dampak inflasi lebih kecil daripada manfaat fiskal
dan perekonomian secara keseluruhan yang dihasilkan.
Memang terkesan hasil kajian mengenai pengaturan BBM
begitu sederhana. Namun setelah kajian dipaparkan, pada
akhirnya terpulang pada pemerintah dan DPR sebagai
otoritas pengambil keputusan. Menurut tim kajian, persoalan
BBM tahun 2011 lebih sederhana dibandingkan dengan
67
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
persoalan serupa pada tahun 2008, namun kalau ragu dan
terlambat mengantisipasi, maka dampaknya akan lebih besar
dan berpotensi dapat merugikan perekonomian nasional.
Kita tidak pernah tahu sampai kapan dan seberapa serius
masalah kenaikan harga minyak dunia dari krisis timur
tengah. Apapun yang terjadi dengan kenaikan harga minyak
dan pasokan minyak dunia, kita harus mempersiapkan diri
dengan kebijakan dan tindakan yang tepat, cepat dan pasti.
Pernah dimuat di Kompas, 14 Maret 2011
***
68
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
Kelangkaan BBM
Pengantar:
“Isu kelangkaan BBM yang beredar akhir-akhir
ini apabila diartikan secara benar, sebenarnya bukan
kelangkaan, namun pemakaian BBM subsidi telah
melampaui kuota yang disepakati dengan komisi VII DPR
RI. Sepengetahuan penulis, tidak ada suatu ketentuan yang
mewajibkan persetujuan DPR untuk menambah volume
konsumsi BBM, ini adalah konvensi baru. Ada baiknya
ketentuan yang mengikat volume konsumsi di tangan
DPR dihapuskan karena akan mempersulit penghitungan
subsidi BBM dan korban langsungnya adalah rakyat yang
membutuhkan BBM.”
P
ertengahan November 2010, selama beberapa hari
ini bersamaan dengan berita mengenai bencana
Merapi dan plesiran Gayus ke Bali, melalui media
masa disinyalir adanya kelangkaan BBM (Bahan
Bakar Minyak). Stok BBM yang semakin kering ini telah
menimbulkan kelangkaan BBM subsidi di sejumlah daerah.
Banyak daerah yang belum menerima kucuran BBM subsidi.
69
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Kementrian ESDM membenarkan telah terjadi kelangkaan
BBM subsidi. Kelangkaan bahan bakar terjadi di daerah
Jawa Timur. Disisi lain, diakui oleh Pertamina sendiri bahwa
persediaan stok BBM bersubsidi masih cukup.
Yang terjadi sejatinya bukan kelangkaan. Tetapi
pemakaian bahan bakar minyak (BBM) subsidi telah
melampaui kuota yang disepakati dengan komisi VII DPR RI
tahun ini. Pertamina mengatakan, jatah solar bersubsidi telah
habis pada pertengahan November ini, sedangkan premium
habis pada awal November lalu.
Karena itu, Pertamina meminta pemerintah segera
menentukan sikap untuk
“Yang terjadi sejatinya
menambah jatah atau tidak.
bukan kelangkaan.
Sikap itu perlu lantaran
Tetapi pemakaian bahan
Pertamina tak ingin seperti
bakar minyak (BBM)
tahun lalu. Ketika itu,
subsidi
telah melampaui
perusahaan minyak dan
kuota yang disepakati
gas nasional ini menderita
dengan komisi VII
kerugian sebesar Rp 6,9
DPR RI.”
triliun akibat ketidakjelasan
sikap pemerintah.
Pemerintah sendiri belum menentukan sikap. BPH
Migas mengatakan, pihaknya baru akan membahas masalah
ini dengan DPR. “Kami akan membahas dengan DPR
mengenai penambahan kuota BBM bersubdi di lingkungan
masyarakat,” terangnya.
Selain itu, pemerintah tetap melakukan penghematan dan
pengawasan konsumsi BBM bersubsidi. Dia mencontohkan
seperti penggunaan kartu pintar (smart card), klasterisasi,
pengawasan distribusi, dan kampanye hemat BBM. Ide ini
sudah lama dilontarkan oleh Pemerintah sejak KIB I tetapi
70
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
persiapannya sangat minim sehingga urung dilakukan waktu
itu. Menko Perekonomian Hatta Rajasa optimis kebijakan
penghematan konsumsi BBM tersebut mulai dilaksanakan
pada tahun 2011.
Untuk
tambahan informasi, alokasi BBM subsidi
tahun ini sebanyak 36,5 juta kiloliter dan diperkirakan akan
bertambah setidaknya 2 juta kiloliter. Namun, jatah tersebut
habis karena konsumsi naik seiring dengan perkembangan
ekonomi yang membaik dan faktor lain. Apapun itu, tahun ini
realisasi konsumsi BBM berada diatas perhitungan awal yang
berarti akan menambah anggaran subsidi. Namun, Menteri
Keuangan Agus Martowardoyo dilain pihak menyatakan
bahwa anggaran subsidi BBM masih sisa, jadi tidak terlalu
khawatir tidak tersedia anggarannya dalam APBN-P 2010.
Dia berdalih bahwa harga minyak dunia dan nilai tukar
berada dibawah asumsi telah menghemat alokasi subsidi
BBM 2010. Namun Menkeu tidak menyebutkan berapa
penurunan Penerimaan Migas yang disebabkan dari turunnya
harga minyak dan penguatan nilai tukar rupiah. Jadi yang
seharusnya diperhitungkan adalah selisih dari penghematan
subsidi BBM dengan penurunan penerimaan migas. Jika
positif maka berarti tidak menambah beban anggaran,
namun jika sebaliknya maka tambahan kuota tersebut akan
menambah anggaran.
Memang terkesan perhitungan subsidi BBM begitu
njlimet. Disamping rumit, penambahan batasan volume
konsumsi BBM harus minta izin DPR. Tidak ada suatu
ketentuanpun yang mewajibkan persetujuan DPR untuk
menambah volume konsumsi BBM. Seingat penulis ini
adalah konvensi baru. Konvensi baru yang mempersulit dan
mengorbankan mereka-mereka yang membutuhkan BBM.
71
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Ada baiknya ketentuan yang mengikat volume konsumsi
BBM di tangan DPR dihapuskan. Atau minimal ada klausa
pengecualian berupa penambahan kuota dalam batasan
tertentu adalah kewenangan Pemerintah untuk memenuhinya.
Apalagi penambahan volume BBM tersebut tidak melampui
anggaran yang sudah tersersedia. Toh pembayaran subsidi
BBM akan dipenuhi setelah dilakukan oleh audit BPK.
Masalahnya begitu sederhana namun dipersulit sendiri,
sayangnya korban langsungnya adalah rakyat.
Pernah dimuat di Republika 23 November 2010
***
72
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
Pengaturan BBM
Bukan Sekedar Memilih Opsi
Pengantar :
“Ketika harga minyak dunia semakin tinggi yang
salah satunya disebabkan oleh destabilisasi politik di
Timur Tengah, Pemerintah Indonesia pun ikut-ikutan
merasakan efek destabilisasi tersebut, namun yang terjadi
di sini bukan destabilisasi politik melainkan ekonomi. Hal
ini bukan disebabkan oleh efek langsung seperti adanya
revolusi di jalanan seperti yang terjadi di dunia Arab,
tetapi karena kekacauan di semenanjung Arab dan Afrika
Utara ikut menaikan harga minyak dunia. Indonesia
sebagai salah satu negara yang memberikan subsidi
minyak tahunan yang besar kepada rakyatnya terimbas
ekses negatif ini. Maklum, semenjak menjadi negara netimportir minyak beberapa tahun yang lalu setiap kenaikan
harga minyak dunia harus diikuti dengan kenaikan harga
BBM, yang mana tentu kenaikan tersebut (pengurangan
subsidi) tidak bisa instan mengikuti respon pasar. Salah
satu metode yang sedang dikembangkan dan dipelajari
Pemerintah adalah adanya pembatasan BBM bersubsidi,
yang mana nantinya bensin subsidi (Premium) tidak bisa
73
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dibeli bebas lagi oleh masyarakat hingga berangsur-angsur
diharapkan tidak ada subsidi sama sekali ke depannya.
Namun setiap kebijakan menaikan harga BBM merupakan
keputusan yang tidak hanya berdasarkan kajian ekonomis
saja, tapi juga politis dan populis. Baru-baru ini tim
kajian opsi pembatasan BBM dibentuk pemerintah, yang
melibatkan 3 universitas terkemuka ITB, UGM dan UI.
Hasil kajian tim tersebut diharapkan merupakan kajian
ilmiah yang komprehensif mengenai ketepatan dan timing
penerapan pembatasan BBM bersubsidi ini.”
P
ada minggu pertama bulan Maret 2011, Penulis
dan Tim Kajian Pengaturan BBM (selanjutnya
ditulis Tim saja) yang terdiri dari para peneliti
lembaga penelitian LAPI-ITB, P2EB-FEB UGM dan
LPEM-FE UI telah menyelesaikan tugas dan menyampaikan
rekomendasi kebijakan kepada Pemerintah. Rekomendasi
belum sempat disampaikan oleh Tim secara terbuka karena
masih menjadi bahan telaahan di DPR dan pemerintah.
Intinya adalah, rekomendasi tersebut berasal dari tiga
opsi yang telah dikutip oleh berbagai media. Seyogyanya
rekomendasi Tim akan dipaparkan dalam rapat kerja antara
Komisi VII DPR dengan Menteri ESDM minggu lalu, namun
urung karena belum ada kesepakatan mengenai mekanisme
penyampaian hasil kajian.
Tim kajian dibentuk atas dasar pasal 7 ayat 2 UU No.
10 Tahun 2010 tentang APBN 2011 yang mengamanatkan
Pemerintah untuk melakukan pengaturan BBM bersubsidi
secara bertahap agar alokasi dapat terlaksana dengan
tepat, volume dan sasaran. Namun demikian, Pemerintah
diamanatkan untuk melakukan kajian terlebih dahulu. Karena
74
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
belum puas dengan hasil kajian pemerintah, maka muncul
kesepakatan baru dari kesimpulan rapat kerja Komisi VII
dengan Menko Perekonomian, Menteri ESDM dan Menteri
Keuangan tanggal 13 desember 2010 intinya meminta kepada
pemerintah untuk melengkapi kajian terhadap kebijakan
pengaturan BBM.
Atas dasar hal tersebut oleh menteri ESDM dibentuk
konsorsium Tim kajian dari lembaga penelitian tiga
universitas yakni ITB, UGM dan UI dengan mandat dan tugas
yang jelas sesuai dengan terms of reference (TOR) yang dibuat
oleh kementrian ESDM.
Target Pengaturan BBM
Dari TOR yang disusun oleh kementrian ESDM, Tim
diminta untuk membuat opsi pengaturan BBM agar pada
tahun 2011 volume konsumsi BBM yakni 38,5 juta kilo liter
(KL) dapat dicapai sesuai rencana dalam APBN. Jika tidak
ada pengaturan, maka konsumsi BBM khususnya Premium
akan bertambah sebesar 3,2 juta KL sehingga dibutuhkan
tambahan subsidi sebesar Rp 5,5 triliun. Dalam rencana
jangka menengah telah pula ditargetkan target pengaturan
volume BBM yakni 6,7 juta KL tahun 2012 dan 9,3 Juta KL
2013. Jadi disamping membuat perencanaan pengaturan
dalam tahun 2011, perlu ada roadmap terhadap pengaturan
konsumsi BBM hingga tahun 2014.
Dengan dasar target tersebut, maka Tim mulai
bekerja mengenai cara pengaturan yang baik agar terjadi
penghematan. Konsentrasi Tim pertama adalah agar mobil
pribadi sebagai golongan konsumen dengan tingkat ekonomi
yang relatif mampu dapat membeli BBM tanpa subsidi.
Sementara pengguna sepeda motor dan angkutan umum tetap
75
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
mendapat subsidi lebih. Dengan demikian, dampak fiskal
atau penghematan anggaran subsidi BBM sudah memadai,
dan dampak inflasi terkendali, namun kesiapan dan metoda
pengawasan masih harus di cek di lapangan.
Terus terang, pada awalnya, kenaikan harga BBM belum
menjadi opsi, karena harga minyak dunia masih cukup stabil
hingga pertengahan Februari. Setelah harga minyak dunia
mulai naik sebagai akibat dari krisis di Timur Tengah, maka
dirasa perlu mengkaji opsi kenaikan harga untuk mengurangi
adanya disparitas harga dan mencapai target penghematan
anggaran. Namun Tim berpendapat bahwa opsi kenaikan harga
tetap harus disertai dengan perlindungan bagi kendaraan
angkutan umum sebagai
“Prinsipnya semakin
obyek pengaturan. Opsi-opsi
lainnya adalah opsi yang cepat pelaksanaan akan
semakin baik hasilnya
didisain berdasarkan diskusi
pada saat harga
dengan para pemangku
masih terjangkau dan
kepentingan, yakni jajaran
eksekutif
dan
legislatif penghematan anggaran
Komisi VII DPR. Maka
bisa optimal”
munculah opsi pengaturan
perpindahan mobil pribadi dari Premium ke Pertamax dan
penjatahan konsumsi Premium dengan suatu alat kendali.
Kemudian, yang tak kalah menarik adalah bagaimana
memilih opsi yang menjadi prioritas bersama dari jajaran
eksekutif dan para anggota Komisi VII. Kami menggunakan
suatu metoda matematis, yakni Analytical Hierarchy Process
(AHP) untuk dapat membandingkan pilihan-pilihan opsi
dengan kriteria dan sub kriteria tertentu yang diprioritaskan
oleh jajaran eksekutif dan anggota perwakilan Komisi VII.
Dari hasil analisis AHP disimpulkan ternyata prioritas
pilihan opsi kebijakan dan persepsi masalah yang dipilih
76
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
oleh kelompok eksekutif dan Komisi VII berbeda. Metode
kemudian adalah melakukan kajian manfaat dan biaya dari
ke tiga opsi tersebut.
Tiga opsi yang disampaikan kepada media massa minggu
yang lalu sebenarnya hanya sebagian kecil dari seluruh
laporan kajian lengkap. Analisis manfaat dan biaya opsi yang
disampaikan, meliputi disain kebijakan, pelaksanaan teknis
dan metoda pengawasan adalah bagian yang paling padat dari
laporan kami. Perhitungan manfaat meliputi penghematan
anggaran dan manfaat ekonomi lainnya, sementara biaya
meliputi inflasi, biaya investasi dan operasional serta
pengawasan dan sosialisasi. Keduanya dibandingkan secara
kualitatif dan kelayakan dan mendapatkan pilihan yang lebih
baik.
Kredibilitas Tim Kajian
Laporan kajian pada dasarnya memuat penyampaian
opsi yang realistis, analisis manfaat dan biaya opsi serta
rekomendasi atas opsi yang ada dalam jangka pendek dan
jangka panjang. Situasi pasar minyak global, perkembangan
harga minyak dunia, konsiderasi politik, kemungkinan
Timbulnya konflik di tingkat kebijakan hingga SPBU serta
dampak inflasi dan sosial menjadi perTimbangan dan factor
penting dalam setiap analisis yang dilakukan dan diskusi
dengan berbagai kelompok kepentingan. Kami menyebar
kuesioner kepada anggota Komisi VII dan berdialog dengan
mereka, menemui dan berdialog dengan pejabat-pejabat
eselon I pemerintah, Hiswana migas, Pertamina daerah,
BP Migas, Kepolisian, Kejaksaan, Dinas Perhubungan
Daerah sampai dengan pemilik dan operator SPBU di 5
pulau se-Indonesia. Kami juga mewawancarai wakil-wakil
konsumen, pengurus Kadin, Organda serta para ahli-ahli
77
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
transportasi. Tim kami juga terlibat dalam pertemuan
dengan kelompok kerja-kelompok kerja pengaturan BBM di
pemerintahan. Maka rasanya lengkap sudah pihak-pihak yang
berkepentingan mengenai BBM di tanah air. Yang menjadi
hambatan bagi kami dalam melakukan kegiatan penelitian
ini adalah soal waktu. Waktu yang tersedia hanya dua bulan
efektif. Disamping itu, banyak pihak yang ingin tahu proses
dan hasil penelitian, terutama media menambah dinamika
kegiatan penelitian itu sendiri.
Pada akhirnya, Penulis dan Tim kajian hanya
melakukan kajian yakni membuat opsi, menyusun saran dan
rekomendasi kepada Pemerintah. Rekomendasi kami jelas
sangat bisa dipertanggungjawabkan dari sisi substansi. Kami
bekerja cukup all-out dan dengan waktu dan pikiran penuh
mengingat isu ini menarik perhatian publik luas. Kami tidak
mau mengecewakan pihak pemerintah dan DPR, sehingga
kami melakukan riset ini serius, prefesional dan bertanggung
jawab serta independen. Tentunya pula keterlibatan Penulis
dan teman-teman ITB, UGM dan UI menyangkut kualitas
individu peneliti dan pada saat bersamaan kami juga harus
menjaga reputasi dan kredibilitas universitas masing-masing.
Tim kajian pada akhirnya disamping menyimpulkan
rekomendasi kebijakan jangka pendek dan jangka menengah
juga memberikan asesmen mengenai tingkat kesiapan
pelaksanaan kebijakan.
Rekomendasi mengenai waktu juga disampaikan oleh
Tim. Penetapan waktu sangat krusial karena berkejaran
dengan naiknya harga minyak dunia. Saran Tim kebijakan
ini dapat dilaksanakan paling lambat bulan Mei 2011, bulan
dimana beban konsumen belum terlalu tinggi. Prinsipnya
semakin cepat pelaksanaan akan semakin baik hasilnya pada
78
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
saat harga masih terjangkau dan penghematan anggaran
bisa optimal. Apabila harga minyak dunia naik, maka harga
Pertamax juga ikut naik dari harga sekarang. Kenaikan harga
minyak dunia juga akan menambah subsidi BBM “Dari
angka subsidi Rp 95,5 triliun, bila ada kenaikan harga minyak
mentah sebesar US$ 1 akan menaikkan subsidi pemerintah
Rp 2,6 triliun,” jelas Menteri Keuangan.
Pilihan Tabu
Menteri Koordinator Perekonomian Kabinet Indonesia
Bersatu II, Hatta Rajasa mengatakan bahwa opsi pengaturan
subsidi BBM sudah disiapkan untuk mengatasi harga
minyak dunia yang bertahan tinggi. Opsi berikutnya adalah
membatasi konsumsi BBM bersusidi secara bertahap.
Pentahapan tersebut sangat penting untuk mengurangi
tekanan inflasi yang berlebih jika dilakukan sekaligus dan
mendadak. Menurut kepala BPS, Kebijakan kenaikan harga
bertahap keseluruhan BBM subsidi dengan target subsidi
pada sektor produktif adalah lebih baik daripada parsial
seperti pembatasan BBM subsidi untuk mobil pribadi
ataupun pengalihan konsumen Premium ke Pertamax,
sayangnya kebijakan tersebut merupakan pilihan tabu bagi
pemerintahan saat ini.
Tulisan ini pernah dimuat di Republika 14 Maret 2011
***
79
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Listrik Untuk Siapa?
Pengantar :
“Kenaikan harga TDL akhirnya telah dilakukan oleh
Pemerintah pada 1 Juli 2010. Seperti kebijakan-kebijakan
lainnya dalam masa pemerintahan SBY yang penuh
kebimbangan dan keragu-raguan, kebijakan ini pun
sempat maju-mundur dan tidak jelas pelaksanaannya
hingga menimbulkan polemik di masyarakat. Namun
yang perlu ditelisik lebih jauh adalah atas dasar apa
Pemerintah mengambil keputusan ini dan atas dasar
keharusan apa sehingga opsi menaikan harga listrik
yang tentu membebani masyarakat tak bisa dihindarkan.
Listrik merupakan industri yang vital, selalu menjadi
tulang punggung input segala macam produksi lainnya,
oleh karena itu kedaulatan dalam keberlangsungan
pasokan listrik di dalam negeri mutlak diperlukan.
Pertanyaannya adalah tepatkah manajemen kelistrikan di
Indonesia, termasuk penetapan harga dan roadmap jangka
panjangnya ?”
80
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
T
erhitung mulai tanggal 1 Juli 2010 lalu, Tarif Daftar
Listrik atau TDL untuk pelanggan diatas 900 KvA
(Kilo Volt Ampere) mengalami kenaikan antara 1015 persen. Dihitung dari jumlah pelanggan, memang
hanya 5 juta dari 45 juta pelanggan PLN yang terkena dampak
tersebut. Namun demikian, kebijakan tersebut tetap saja
menuai protes dari pelanggan, khususnya kalangan dunia
usaha (menengah ke atas). Bahkan Menteri Perindustrian
(Menperin) ikut membela pengusaha dan seolah-olah
mengamini bahwa kenaikan TDL kali ini (lebih dari 15%)
telah memperhitungkan tarif bussiness to bussiness (B to
B) seperti nilai multiguna dan daya maksimum pembangkit
listrik. Rasanya aneh jika Menperin sampai ikut-ikutan
berada di pihak pengusaha padahal penjelasan pihak-pihak
yang memang terkait langsung dengan masalah ini, yaitu
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (MESDM) dan
Dirut PLN, sudah jelas dan gamblang.
Kenaikan TDL sesungguhnya punya dua tujuan.
Pertama, untuk menghemat anggaran pemerintah (APBN),
dan yang kedua untuk melakukan efisiensi penggunaan
listrik. Penghematan APBN sekitar Rp 5 triliun tahun 2010
telah dialokasikan untuk program elektrifikasi dan belanja
pemerintah pusat untuk infrastruktur dan kegiatan sosial,
yang mana hal ini harus segera dilaksanakan mengingat
pentingnya program-program tersebut. Adapun subsidi
listrik tahun 2010 meningkat menjadi Rp 55,1 triliun rupiah
karena selisih TDL dengan BPP (biaya pokok produksi) PLN
semakin melebar. Penyesuaian TDL terakhir terjadi di tahun
2004 sehingga sudah 5 tahun tidak terjadi perubahan apapun.
Hanya saja dalam beberapa tahun terakhir PLN melakukan
aksi korporasi dengan menggunakan penyesuaian tarif B
81
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
to B yang lebih tinggi kepada industri dengan kompensasi
kehandalan pasokan listrik.
Efisiensi atau penghematan penggunaan listrik sangat
dibutuhkan. Sekarang ini kecuali pelanggan dengan daya
6600 KvA, semua jenis pelanggan telah disubsidi oleh
APBN, jadi setiap kenaikan konsumsi listrik berarti akan
membutuhkan subsidi yang lebih banyak. Maka pelanggan
harus diberikan disinsentif apabila menggunakan listrik
secara berlebihan. Kenaikan TDL 10-15% saat ini memang
belum berarti PLN sudah mampu menutupi biaya mereka
(BPP), namun diharapkan
akan mendorong pelanggan
“Listrik harus dapat
untuk lebih hemat listrik.
dimanfaatkan untuk
sebesar-besar
Dewasa ini ada dua
kemakmuran rakyat
masalah besar yang dihadapi
Indonesia, bukan
oleh kelistrikan Indonesia
sebagian rakyat atau
dan PLN pada khususnya.
pengusaha besar dan
Pertama,
ketersediaan
energi primer non-BBM bukan juga konsumen di
luar negeri”
untuk pembangkit listrik,
khususnya batubara dan
gas. Ini menyangkut sikap
ambivalensi Pemerintah terhadap pemanfaatan energi
primer yang tidak memberikan jaminan pasokan dan harga
pada PLN. Kedua, besarnya kebutuhan dana investasi PLN
untuk membangun pembangkit listrik gas dan batubara
maupun dengan energi terbarukan. Termasuk diantaranya
investasi dalam bentuk jaringan distribusi, transmisi, serta
program listrik masuk desa. Jika tidak dibangun sendiri oleh
Pemerintah, dalam hal ini PLN, maka hal yang diperlukan
adalah perlunya kebijakan yang mendorong pembangunan
listrik dengan pola IPP atau kemitraan swasta.
82
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
Masalah pendanaan PLN baik melalui pola sendiri
atau kemitraan merupakan masalah pelik, karena situasi
keuangan PLN yang tidak sehat dan bahkan terjadi
penggerusan modal. Untuk menarik pendanaan PLN atau
investor melalui kemitraan diperlukan jaminan pemerintah.
Jaminan pemerintah berarti akan menjadi beban kontinjen
manakala jaminan tersebut tereksekusi. Jaminan tersebut
juga akan mempengaruhi peringkat pinjaman RI dan biaya
peminjaman perbankan pada umumnya. Kalaupun sejak
tahun 2009 PLN memperoleh laba, karena semata-mata
berasal dari keuntungan valuta asing dan pemberian margin
untuk memenuhi persyaratan pinjaman. Jadi sama sekali
tidak benar jika kinerja keuangan positif dari PLN di tahun
2009 dan 2010 membuat kenaikan TDL tidak diperlukan.
Kenaikan TDL sama sekali tidak terkait dengan masalah
keuntungan PLN, karena tanpa kenaikan TDL sekalipun PLN
akan mendapatkan subsidi dari APBN. Bagi PLN, masalah
kenaikan TDL akan memperlancar arus kas dan sebagai upaya
penghematan oleh pelanggan. Bagi APBN masalah TDL yang
tidak sesuai dengan BPP lebih besar lagi, yakni terjadinya
pembengkaan subsidi yang berlangsung terus menerus dari
tahun ke tahun.
Jadi, kenaikan TDL sejatinya tidak langsung terkait
dengan masalah utama PLN. Kanaikan TDL juga bisa dikatakan
bukan urusan PLN tetapi identik dengan penghematan subsidi
APBN. Masalah terbesar yang dihadapi oleh dunia kelistrikan
Indonesia adalah masalah supply pasokan energi primer
gas dan batubara, serta kebijakan ke depan terhadap energi
terbarukan seperti panas bumi, air, matahari dan termasuk
energi alternatif yang mengandung resiko tinggi, nuklir.
Tanpa kebijakan percepatan pembangunan pembangkit
listrik dan jaminan pasokan gas dan batubara yang memadai
83
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
untuk pembangkit PLN maupun IPP, maka biaya pasokan
listrik akan mahal, subsidi listrik akan naik, menyebabkan
TDL pun ikut naik, sehingga akhirnya pelanggan lah yang
menjadi korban. Pemerintah harus berpihak kepada hak
dasar rakyat yakni ketersediaan listrik dengan biaya yang
paling murah. Batubara dan gas tidak seharusnya dijual ke
luar negeri dengan mengabaikan kebutuhan dalam negeri,
dan kegiatan ini hanya menguntungkan pengusaha dan
investor batubara ataupun gas selang sesaat. Listrik harus
dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat
Indonesia, bukan sebagian rakyat atau pengusaha besar dan
bukan juga konsumen di luar negeri. Ingat itu.
Tulisan ini pernah dimuat di Republika 16 Juli 2010
***
84
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
Konsistensi Kebijakan TDL
Pengantar :
“Masalah kenaikan harga listrik bagi konsumen,
atau dalam istilah ke-Indonesia-an adalah Tarif Dasar
Listrik (TDL) selalu menjadi dilema. Kalangan kontra
berdasarkan argumen klasik yaitu beban kenaikan
TDL tidak mampu atau belum mampu ditanggung oleh
konsumen, khususnya rumah tangga kecil. Sebaliknya,
kalangan Pro kenaikan justru bersandarkan pada kajiankajian ekonomi dan teoritis mengenai ketidakefisienan
pasar dalam derajat yang berbahaya ketika subsidi terus
menerus diberikan kepada sektor yang tidak tepat. Dua
pandangan yang berbeda juga termasuk dalam siapakah
yang paling menikmati subsidi tersebut, orang kaya, atau
golongan miskinkah? Dalam tulisan ini dibahas mengenai
kajian teoritis atas dasar-dasar argumen mengapa TDL
perlu dinaikkan. Kajian ini juga merupakan hasil analisis
intern Penulis yang sebagaimana diketahui, juga sebagai
mantan orang dalam pemerintahan.”
85
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
D
alam RAPBN 2011 pemerintah merencanakan
menaikkan Tarif Daftar Listrik (TDL) sebesar
15% sejak awal Januari 2011. Pada saat itu kita
mendengar bahwa Komisi VII DPR menolak
rencana tersebut. Pemerintah dalam hal ini Kementrian
ESDM tampaknya melunak. Pemerintah sendiri sebenarnya
sejak awal cukup gamang untuk melaksanakan kebijakan
tersebut. Terbukti dari perbedaan pendapat yang cukup
mencolok di media antara satu pejabat dengan pejabat lain
di Pemerintah. Menteri Keuangan Agus Martowardoyo
tetap pada pendiriannya agar TDL dinaikkan sesuai
rencana sehingga tidak ada tambahan beban subsidi yang
harus dibayarkan oleh APBN. Sedangkan beberapa unsur
pemerintah lain, menyatakan ketidaksetujuannya walaupun
dalam pernyataan tersurat.
Kenaikan TDL sejatinya adalah kebijakan yang tepat
untuk menyehatkan APBN dan sekaligus merasionalkan tarif
listrik serta memberikan insentif pada investasi listrik IPP
(Independent Power Producer). Namun demikian, karena
penghematan dananya cukup signifikan dan tidak disediakan
anggaran pengganti, maka apabila kebijakan tersebut di tolak
oleh DPR, maka APBN 2011 memiliki risiko tambahan defisit
APBN. Apabila ditolak, Pemerintah cenderung mengambil
jalan pintas dengan memotong belanja kementerian dan
lembaga.
Sejak awal banyak yang sudah menyangsikan bahwa
Pemerintah bisa menggolkan rencana tersebut di depan
DPR. Dan sayangnya pemerintah juga tidak mempersiapkan
skenario lain apabila rencana tersebut kandas di Senayan.
Tidak tersedianya fiscal space atau dana pengganti yang
86
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
memadai sungguh menyulitkan. Pemerintah juga cenderung
konservatif untuk menambah defisit APBN. Volume BBM
bersubsidi dari hasil kesepakatan menteri ESDM dengan
Komisi VII justru mengalami peningkatan. Ada juga wacana
agar rencana Kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk
pupuk dibatalkan.
Pemotongan Anggaran tidak cukup
Banyak yang setuju dengan Menkeu Agus bahwa belanja
pegawai dan barang di berbagai Kementrian dan Lembaga
(K&L) pemerintah masih bisa dihemat. Belanja perjalanan
dinas, belanja informasi teknologi, panitia-panitia, seminar,
perkantoran, pelatihan dan rapat kerja masih terlalu besar.
Kita juga melihat bahwa belanja barang juga masih lebih
tinggi dibandingkan belanja modal. Namun demikian usulan
pemotongan anggaran tersebut juga tidak akan mudah untuk
didukung oleh DPR, karena pembahasan kementerian dengan
semua Komisi mengenai belanja K&L sudah dan sedang
berlangsung. Spirit pembahasan di Komisi adalah menambah
anggaran, tidak untuk mengurangi anggaran, termasuk di
Kementerian Keuangan sendiri. Jumlah yang bisa dipotong
pun juga belum tentu dapat menutup tambahan subsidi listrik
yang dibutuhkan akibat batalnya kenaikan TDL.
Atas dasar tersebut, kepada Pemerintah dan DPR, Penulis
berpendapat beberapa hal sebagai berikut:
Pertama, kenaikan TDL sebaiknya tetap dilakukan dengan
besaran dan waktu yang mempertimbangkan momentum
pertumbuhan ekonomi dan daya saing industri. Tingkat
TDL yang berada dibawah biaya pokok penjualan (BPP) PLN
membuat subsidi dan inefisiensi ekonomi terus terjadi. Upaya
87
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
penurunan BPP melalui tambahan energi primer dari batubara
dan gas dengan adanya jaminan kebutuhan domestik (DMO)
harus menjadi prioritas utama sehingga tekanan kenaikan
TDL akan berkurang. Kenaikan TDL rata-rata 5-10% mulai
bulan April 2011 cukup rasional dengan konsekuensi masih
harus disediakan tambahan subsidi minimal Rp. 5-7 triliun.
Kenaikan tersebut juga memberikan sinyal positif bagi
investasi IPP untuk membangun listrik dengan dana swasta.
Kedua, volume BBM
bersubsidi
harus
tetap “Sekali lagi konsistensi
Pemerintah pada peta
dipertahankan
sesuai
dengan rencana. Kebijakan jalan (roadmap) sektor
pembatasan BBM bersubsidi ketenagalistrikan jangka
menengah mulai dari
khususnya untuk kendaraan
tahap perencanaan,
pribadi yang dibatalkan
pembahasan dan
tahun ini perlu dipersiapkan
perumusan dengan
untuk dilaksanakan pada
DPR, hingga eksekusi
awal tahun 2011 secara luas
kebijakan harus
dengan sosialisasi yang baik.
ditegakkan, sesulit
Kenaikan HET pupuk tetap
apapun”
harus dilaksanakan dengan
maksud
penghematan
anggaran dan rasionalisasi harga pupuk.
Ketiga dan sebagai yang terakhir, adalah menambah
defisit APBN dengan pembiayaan melalui penerbitan SBN.
Defisit 1,7% dari PDB masih tergolong konservatif untuk
ukuran beban utang dan perbandingan dengan negara lainnya.
Upaya tersebuk tidak untuk menambah pinjaman program
bilateral atau multilateral, tetapi melalui penerbitan SBN
(Surat Berharga Negara). Seperti kita tahu bahwa fungsi SBN
88
Bagian II – Masalah Risiko Fiskal: Inflasi, Capital Inflow, Subsidi BBM dan Listrik
tidak hanya membiayai defisit APBN, tetapi dapat membuat
pasar SBN menjadi lebih likuid dan aktif diperdagangan
serta menjadi alternative portofolio bagi investor, khususnya
investor dalam negeri. Penerbitan SBN masih dapat ditambah
terutama dari SBN konvensional dan SBSN (Surat Berharga
Syariah Negara), khususnya dikelompok investor ritel dan
domestik. Potensi pasar SBN dari domestik, baik bank maupun
bukan bank serta ritel (ORI) masih terbuka. Seri penerbitan
SBSN ritel (SUKRI) yang masih sedikit, masih terbuka untuk
ditambah. Maka tambahan penerbitan SBN sebesar 0,1% dari
PDB atau sekitar Rp. 7 triliun masih realistis.
Konsistensi Kebijakan adalah Taruhan
Tentu masih ada beberapa cara lain yang bisa dilakukan
untuk menutup tambahan subsidi listrik akibat batalnya
kenaikan TDL. Tetapi sungguh sayang apabila upaya
optimalisasi dan penghematan APBN tersebut hanya dipakai
untuk membayar subsidi yang kurang produktif. Konsistensi
Pemerintah sangat dituntut untuk kembali ke tujuan awal
yakni penyehatan perekonomian. Kenaikan TDL adalah salah
satu caranya. Jika ada konsumen, khususnya kelompok dunia
usaha yang jadi korban karena kenaikan TDL, maka dapat
dialokasikan subsidi langsung ataupun kompensasi yang lain
dari APBN.
Keberlangsungan APBN sangatlah penting untuk
menciptakan stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi
serta mencipkan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.
Kredibilitas APBN 2011 terletak pada pendirian dan kemauan
politik Pemerintah untuk merumuskannya bersama-sama
dengan DPR untuk menyusun APBN yang sehat dan berlanjut.
89
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Sekali lagi konsistensi Pemerintah pada peta jalan (roadmap)
sektor ketenagalistrikan jangka menengah mulai dari tahap
perencanaan, pembahasan dan perumusan dengan DPR,
hingga eksekusi kebijakan harus ditegakkan, sesulit apapun.
Konsistensi kebijakan adalah pertaruhan masa depan bagi
kredibilitas sebuah pemerintahan.
Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia, 5 Oktober 2010
***
90
Bagian III
Dukungan Sektor Riil
dan Perpajakan
91
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
92
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
Tantangan Pajak
“Reformasi perpajakan yang sudah mulai dilakukan
sejak lama tampaknya masih harus terus dilakukan.
Munculnya beberapa masalah seperti kasus mafia
pajak dan Gayus serta masalah lain seperti rendahnya
penerimaan PPh orang pribadi membuat kebutuhan untuk
meneruskan reformasi perpajakan menjadi isu penting.
Selain itu, tantangan terbesar untuk mengembalikan
reputasi dan kepercayaan masyarakat kepada institusi
perpajakan juga masih belum terpenuhi. Dalam tulisan
ini, penulis memaparkan beberapa tantangan yang
akan dihadapi oleh direktorat perpajakan kedepannya
dan beberapa saran mengenai langkah apa yang harus
diambil.”
P
ergantian Dirjen Pajak dari M Tjiptardjo (periode
2009 – 2011) ke Fuad Rachmany (periode 2011)
dinilai sangat tepat. Fuad adalah sosok yang
berpendidikan memadai, pekerja keras, dan
berpengalaman di Kementerian Keuangan. Semasa menjadi
kepala Bapepam, Fuad juga dikenal tegas, jujur, patuh, dan
lurus. Kelemahannya adalah dia belum pernah mengurusi
93
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
fiskal dan APBN. Untungnya, Fuad telah diwarisi oleh fondasi
kebijakan fiskal kita yang bagus dan kuat, bahkan jika perlu
dapat mempercepat, khususnya di bidang perpajakan dan
pengelolaan utang.
Reformasi perpajakan juga telah dimulai sejak zaman
Dirjen Hadi Purnomo dan dipercepat pada masa Darmin
Nasution serta Tjiptardjo sehingga Fuad tinggal melanjutkan
saja. Munculnya kasus mafia pajak dan Gayus memang telah
menimbulkan masalah citra dan kredibilitas pada sistem serta
tata kelola di direktorat jenderal pajak sendiri. Tantangan
terbesar dari Fuad adalah untuk mengembalikan reputasi dan
kepercayaan masyarakat kepada institusi perpajakan.
Indonesia
memiliki
“Tantangan terbesar
kondisi fiskal yang bagus dan
dari Fuad adalah untuk
pruden. Hal ini dapat dilihat
mengembalikan reputasi
dari rasio defisit APBN
dan kepercayaan
dan utang Indonesia yang
masyarakat kepada
berada dalam kondisi aman,
institusi
perpajakan.”
penerimaan pajak yang terus
dipacu dengan menaikkan
tax base dan kepatuhan pajak, risiko fiskal yang dipaparkan
serta disediakan anggaran apabila meleset dari perkiraan,
Alokasi subsidi yang dibatasi dan mulai diarahkan secara
tepat, pembiayaan infrastruktur langsung maupun melalui
swasta dengan penjaminan yang dirancang secara baik dan
agresif untuk mendorong iklim investasi, dan tersedianya
pembiayaan siaga dari lembaga donor yang setiap waktu
dapat dimanfaatkan dalam keadaan krisis keuangan. Selain
itu, yield surat utang Indonesia juga semakin turun, tanpa
dipaksa, dengan pengelolaan utang yang meminimalkan
biaya dan risiko peminjaman, ORI dan Sukuk Ritel Indonesia
(Sukri) yang menjadi instrumen alternatif bagi pemodal kecil
94
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
dan menengah yang andal, desentralisasi fiskal yang tetap
dijaga dalam kerangka NKRI dengan tujuan mengurangi
kesenjangan fiskal antar daerah, dan program-program
kemiskinan yang dirancang dengan tepat sasaran pada
kantung-kantung kemiskinan dengan sasaran menurunkan
jumlah RT miskin di bawah 10 persen juga menunjukkan
bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini bagus dan pruden.
Rasio pajak belum memadai
Penerimaan pajak kita saat ini memang belum memenuhi
harapan meskipun penulis yakin ini bukan sesuatu hal yang
perlu dirisaukan. Mengapa? Dalam dua tahun ini terakhir
ini, tarif pajak PPh (Pajak Penghasilan) kita baru saja turun
5 persen dan saat yang bersamaan banyak insentif pajak
kepada sektor riil yang diberikan yang tentu menggerus laju
penerimaan pajak dalam jangka pendek. Penulis percaya
pertumbuhan penerimaan pajak kita dalam lima tahun
mendatang akan dapat mencapai 15 persen yang berarti 1,5
kali pertumbuhan PDB nominal kita. Bahkan, penulis yakin
bisa mencapai 20 persen dengan kebijakan terobosan seperti
pengampunan pajak (tax amnesty).
Rasio perpajakan (Tax ratio) bisa mencapai 13 persen
dan apabila ditambah dengan pajak daerah, tax rasio kita
secara nasional bisa mencapai 15 persen. Jika dihitung dengan
pajak atas sumber daya alam, tax rasio hampir sejajar dengan
negara berkembang lainnya. Kuncinya adalah apabila kita
sabar dan konsisten dengan reformasi perpajakan, termasuk
memiliki SDM yang tangguh mulai dari pimpinan.
Pak Anwar Supriyadi, Ketua Pengawas Perpajakan
(2011), pernah mensinyalir bahwa masalah di DJP (Direktorat
Jederal Pajak) adalah kurangnya jiwa kepemimpinan yang
95
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
tegas, jujur, dan konsisten di jajaran pimpinan di DJP pusat
dan Kanwil. Namun demikian, penulis cukup yakin DJP
memiliki kader-kader pemimpin masa depan yang mumpuni.
Tantangan penerimaan pajak dan insentif
Di samping penuntasan masalah mafia pajak dan kasus
Gayus, Fuad dan jajaran DJP memiliki sejumlah tantangan
peningkatan penerimaan pajak. Pertama, meningkatkan
penerimaan pajak PPh Orang Pribadi (PPh OP). Rasio PPh
OP dibandingkan PPh Badan adalah sekitar 30:70 persen. Di
banyak negara, justru sebaliknya, di mana penerimaan PPh
Badan lebih tinggi daripada PPh OP. Kedua, peningkatan PPh
Badan melalui sektor-sektor yang undertax dan harmonisasi
kebijakan PNBP, cukai, dan bea keluar dengan PPh badan.
Masih banyak beban-beban non-pajak yang menjadi biaya
operasi perusahaan sehingga mengurangi laba dan setoran
pajaknya. Ketiga, perbaikan perpajakan pada perusahaan
asing, joint venture, dan MNC (Multinational Corporation)
disesuaikan dengan praktik perpajakan internasional yang
lazim, khususnya terkait dengan penghindaran pajak dan tax
treaty. Keempat, mendorong perusahaan masuk bursa dan
sektor formal, perbaikan pengawasan, restitusi, dan prosedur
keberatan dan banding.
Dalam menarik pajak, perlu dipertimbangkan beberapa
hal agar sesuai dengan tujuan lain yakni tetap mendorong
investasi. Meskipun banyak studi yang menyimpulkan
bahwa pajak bukan faktor penting dalam investasi, namun
penarikan pajak yang tinggi dan eksesif akan mengurangi
kemampuan untuk melakukan investasi. Dibanyak negara,
tarif pajak badan diupayakan semakin menurun sehingga
perusahaan punya dana investasi yang meningkat. Dalam
96
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
upaya mendorong investasi, Pemerintah telah mengeluarkan
Peraturan Pemerintah (PP) nomor 62 tahun 2009 mengenai
insentif pajak. Namun insentif pajak melalui PP 62 tersebut
kurang diminati karena selain pajak bukan faktor utama,
prosedur melalui dua pintu (BKPM dan DJP) serta lamanya
perubahan lampiran sector menjadi alasan. Pemerintah
juga telah menerbitkan PP 94 tahun 2010 yang diantaranya
terdapat satu pasal mengenai pembebasan pajak (tax holiday)
untuk industri pionir yang juga dikhawatirkan kurang
menarik karena secara perhitungan, fasilitas tersebut kurang
lebih sama dengan fasilitas pajak dalam PP 62.
Masalah yang dikeluhkan oleh wajib pajak, khususnya
badan usaha bukanlah masalah tingginya tarif nominal dan
insentif pajak, melainkan tingginya tarif efektif pajak di mana
wajib pajak ternyata membayar lebih dari besaran tarifnya
karena berbagai beban administrasi perpajakan. Maka, PR
dari Fuad dan jajaran pajak adalah meningkatkan penerimaan
pajak melalui intensifikasi dan harmonisasi serta perbaikan
administrasi perpajakan, seperti yang telah disebutkan di
depan tanpa menggangu iklim investasi dan dunia usaha.
Penulis yakin dalam 3 tahun ke depan sasaran tersebut akan
tercapai.
Pernah dimuat di Republika, 14 Feb 2011
***
97
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Wajib Pajak (Belum) Patuh
Pengantar :
“Pengenalan status wajib pajak (WP) patuh dalam
lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dilakukan
pada bulan Februari 2004. Status tersebut sepatutnya
menjadi contoh bagi WP badan lainnya agar berlombalomba memenuhi kualifikasi untuk menjadi WP patuh.
Status WP patuh ini sesungguhnya bukan saja menjadi
keuntungan bagi DJP, tapi juga bagi WP itu sendiri.
Berbagai kemudahan dan fasilitas menjadi insentif yang
baik bagi perusahaan untuk mendaftarkan dirinya menjadi
anggota WP patuh. Proses ini tidak memakan waktu dan
tidak menelan biaya. Dengan mendaftarkan diri menjadi
WP patuh maka sesungguhnya, proses pembayaran pajak
menjadi lebih cepat, mudah, dan menyenangkan.”
P
ada tanggal 25 Februari 2004, predikat wajib pajak
patuh diberikan kepada sejumlah wajib pajak (WP)
yang telah memenuhi kriteria kepatuhan. Ini berarti
sudah ada 262 WP badan yang dikategorikan patuh
(dan taat serta disiplin). Predikat WP patuh ini jelas berbeda
dengan penghargaan kepada 100 pembayar pajak terbesar
98
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
pada zaman Orde Baru. WP patuh tidak ada hubungannya
dengan jumlah nominal setoran pajak, tetapi dinilai dari
sisi kepatuhannya. Sebanyak 100 pembayar pajak terbesar
belum tentu memenuhi kriteria tersebut. Bisa jadi, meskipun
memberikan kontribusi besar pada negara, WP memiliki
sejumlah tunggakan sehingga tidak bisa diberi predikat WP
patuh.
Wajib pajak badan dapat ditetapkan sebagai WP patuh
apabila memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Tepat waktu dalam menyampaikan surat pemberitahuan
(SPT) tahunan dalam dua tahun terakhir,
b) Dalam tahun terakhir penyampaian SPT masa yang
terlambat tidak lebih dari tiga masa pajak untuk setiap
jenis pajak dan tidak berturut-turut,
c) SPT Masa yang terlambat sebagaimana dimaksud dalam
huruf b telah disampaikan tidak lewat dari batas waktu
penyampaian SPT masa pajak berikutnya,
d) Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis
pajak, kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur
atau menunda. Tunggakan ini tidak termasuk tunggakan
pajak sehubungan dengan SPT yang diterbitkan untuk
dua masa pajak terakhir,
e) Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan
tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu
10 tahun terakhir, dan
f) Dalam hal laporan keuangan diaudit oleh akuntan publik
atau Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
(BPKP), pendapat harus WTS (wajar tanpa syarat) atau
99
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
wajar dengan pengecualian, sepanjang pengecualian
tersebut tidak mempengaruhi laba-rugi fiskal.
Manfaat predikat WP patuh
WP patuh mendapat fasilitas, kemudahan, dan pelayanan
yang lebih dibandingkan dengan WP biasa atau belum/tidak
patuh. Pada mulanya, fasilitas terhadap WP patuh telah
diatur berupa batas waktu penerbitan Surat Keputusan
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP) atas
permohonan kelebihan pembayaran pajak yang diajukan oleh
WP dengan kriteria tertentu, paling lambat tiga bulan sejak
permohonan diterima untuk Pajak Penghasilan (PPh) dan
satu bulan sejak diterima untuk Pajak Pertambahan Nilai
(PPN), tanpa melalui penelitian dan pemeriksaan.
Kemudian, mengingat adanya keinginan agar diberikan
pelayanan yang lebih baik kepada WP patuh, maka tahun
2003 dikeluarkan kebijakan tentang percepatan penerbitan
SKPPKP menjadi paling lambat dua bulan untuk PPh dan
tujuh hari untuk PPN. Adapun jika WP belum atau tidak
patuh, penerbitan SKPPKP harus menunggu penelitian dan
pemeriksaan yang terkadang memakan waktu, biaya, dan
menjadi sumber terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme
(KKN).
Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier dalam
tulisannya di buku “Kebijakan Fiskal : Pemikiran, Konsep dan
Implementasi” (2004) yang diterbitkan oleh Badan Analisa
Keuangan (BAK) halaman 217 mensinyalir masalah restitusi
(pengembalian) PPN menjadi sumber masalah serius karena
sering salah alamat, sumber KKN, menimbulkan biaya tinggi
(high cost economy), keluhan investor, dan kebocoran tinggi.
100
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
Fuad mengusulkan agar sistem PPN diganti dengan
pajak penjualan. Terhadap rekomendasi ini, hingga kini
pemerintah masih beranggapan bahwa sistem PPN lebih baik
daripada Pajak Penjualan, dan terhadap berbagai masalah
dalam restitusi PPN sedang diupayakan percepatan proses
restitusi, dan pemberian predikat WP patuh adalah salah
satu jawabannya. WP patuh merupakan WP teladan dalam
pengumpulan pajak karena di samping taat dia juga mengisi
SPT dengan benar, lengkap, dan jelas sehingga tidak lagi
diperlukan penelitian dan pemeriksaan.
Diharapkan, WP patuh di masa yang akan datang lebih
banyak lagi. Dengan demikian, akan membantu kepatuhan,
mengurangi biaya, baik bagi WP maupun bagi pemerintah,
dan akhirnya meningkatkan penerimaan pajak bagi negara.
Di samping upaya mempercepat restitusi melalui WP patuh,
beberapa tahun terakhir pemerintah secara konsisten
melakukan reformasi perpajakan.
Dalam bidang kebijakan, reformasi perpajakan dilakukan
dengan melakukan penyempurnaan dalam Undang-Undang
(UU) KUP, UU PPh, dan UU PPN. Semangat yang hendak
dicapai dalam reformasi UU ini adalah untuk meningkatkan
daya saing sistem perpajakan Indonesia, menyederhanakan
prosedur, memberikan kepastian hukum, dan meningkatkan
keadilan.
Dalam bidang reformasi administrasi, program yang
lebih luas yang sedang dilaksanakan mencakup semua
segi administrasi perpajakan, termasuk penyederhanaan
prosedur perpajakan, peningkatan kesadaran dan kepedulian
masyarakat melalui kampanye sadar dan peduli pajak,
penegakan hukum melalui pemeriksaan dan penagihan aktif,
101
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
serta pembenahan sumber daya manusia melalui reformasi
moral dan etika.
Reformasi ini diharapkan mampu menjawab tantangan
pelaksanaan tata organisasi dan tata kerja yang baik di
lingkungan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pajak, Kementerian
Keuangan (dahulu bernama Departemen Keuangan). Untuk
kantor pelayanan perpajakan juga dilakukan reformasi
dengan menerapkan administrasi perpajakan modern dengan
memanfaatkan teknologi terkini, seperti on-line payment,
electronic filing, dan sistem informasi terpadu sehingga
transparansi pekerjaan, efisiensi pelaksanaan tugas, dan
pelayanan ke masyarakat dapat ditingkatkan.
Sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di lingkungan
kantor pelayanan perpajakan adalah SDM yang terpilih
dan dilatih secara khusus. Pelaksanaan pekerjaan akan
dimonitor oleh banyak pihak, seperti Komite Kode Etik dari
Depkeu, Inspektorat Jenderal Depkeu, dan juga oleh Komisi
Ombudsman Nasional.
Dengan reformasi ini diharapkan pemerintah mampu
menjawab tantangan pelaksanaan tata kelola yang baik
(good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean
government) di lingkungan Dirjen Pajak.
Pencapaian tahun 2003
Kinerja kebijakan perpajakan dapat dilihat dari hasil
pada tahun 2003. Di samping ada perbaikan dari sisi kondisi
perekonomian makro, perkembangan ekonomi tahun
2003 ditunjang dengan kemampuan menggalang sumber
pengeluaran rutin dan pembangunan APBN dari sumber
102
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
dana sektor perpajakan yang peranannya mencapai lebih dari
75 persen, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.
Demikian juga dengan sisi nominal penerimaan
perpajakan. Penerimaan negara dari sektor perpajakan
selama periode tahun 1969-1993 sebesar Rp 149,46 triliun,
kemudian periode tahun 1994- 2000 sebesar Rp 520,65
triliun, sedangkan periode tahun 2001-2004 sebesar Rp
778,112 triliun. Dengan kata lain, penerimaan negara dari
sektor perpajakan periode 1969-2000 besarnya Rp 670,113
triliun. Jika dibandingkan penerimaan selama 32 tahun
sebesar Rp 670,113 triliun, masih jauh di bawah penerimaan
sektor perpajakan selama empat tahun periode tahun 20012004 sebesar Rp 778,112 triliun.
Gambaran tersebut menunjukkan sistem manajemen
pemerintahan yang baik dengan pembiayaan negara sebagian
besar dibiayai dari penerimaan pajak karena keberhasilan kita
dalam melaksanakan konsolidasi perpajakan. Oleh karenanya,
akan dilanjutkan agar dapat meningkatkan penerimaan dan
rasio perpajakan. Di samping itu, hal tersebut menunjukkan
bahwa dalam periode tahun 2001-2004-di mana kita belum
pulih seluruhnya dari krisis, dengan pertumbuhan ekonomi
tahun 2004 ditargetkan 4,8 persen-kita dapat mengumpulkan
tambahan penerimaan negara yang lebih besar.
Selama dua tahun terakhir penerimaan perpajakan
telah melebihi kewajiban pemerintah untuk membiayai
pengeluaran rutin, yakni gaji pegawai, dan khususnya subsidi
dan bunga utang, yang membengkak sebagai dampak dari
krisis ekonomi.
Pertambahan penerimaan negara dan peningkatan
kepatuhan dari sektor perpajakan tersebut juga
103
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
mencerminkan secara tidak langsung adanya upaya serius
memberantas korupsi dengan menarik sebesar-besarnya
dana dari tambahan kemampuan ekonomi masyarakat
kepada negara melalui pajak.
Paska Penetapan Status WP Patuh :
Tantangan tahun 2004
Penerimaan negara dari
“Dengan kata
sektor perpajakan tahun
lain, penerimaan
2004 ditargetkan Rp 271
negara
dari sektor
triliun atau meningkat 6,6
perpajakan periode
persen dari APBN 2003. Dari
1969-2000 besarnya
keseluruhan
penerimaan
Rp 670,113 triliun.
perpajakan tersebut, sebesar
Jika dibandingkan
49,1 persen diperkirakan
penerimaan
selama
bersumber dari PPh; 31,8
32 tahun sebesar
persen dari PPN dan Pajak
Rp 670,113 triliun,
Penjualan untuk Barang
masih
jauh di bawah
Mewah (PPnBM); dan 3,9
penerimaan sektor
persen dari Pajak Bumi
perpajakan
selama
Bangunan (PBB) serta Bea
empat tahun periode
Perolehan Hak atas Tanah
tahun 2001-2004 sebesar
dan Bangunan (BPHTB).
Rp 778,112 triliun”
Di luar itu, 15,2 persen
dari penerimaan perpajakan
tersebut bersumber dari bea masuk, cukai, pajak/pungutan
ekspor, serta pajak lainnya. Rasio perpajakan diperkirakan
akan meningkat menjadi 13,5 persen dari Produk Domestik
Bruto (PDB) dibanding 13,4 persen pada realisasi APBN
104
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
2003. Jika ditambah dengan rasio pajak daerah (0,7 persen),
total rasio perpajakan tahun 2003 adalah sekitar 14,2 persen.
Untuk itu kita semua mempunyai tanggung jawab
agar target pengumpulan penerimaan negara dari sektor
pajak dapat kita realisasikan dan kepada masyarakat WP
diingatkan untuk meningkatkan kepedulian dan pemahaman
dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Khusus kepada
para WP yang termasuk dalam kelompok WP patuh, Penulis
mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya atas prestasi
yang telah diukir.
Sekalipun telah terjadi peningkatan jumlah WP patuh
dari tahun lalu, jumlah tersebut masih sangat sedikit. Dari
jumlah WP badan sebanyak 80.000 WP dengan asumsi 10
persen bisa dikategorikan sebagai WP patuh, maka jumlah
262 tersebut jauh dari memadai. Predikat WP belum patuh
jauh lebih banyak dibandingkan dengan WP patuh. Kriteria
untuk menjadi WP patuh tidaklah sulit dan tanpa biaya, tetapi
manfaatnya jauh lebih banyak bagi WP maupun petugas.
Para WP yang termasuk dalam kriteria WP patuh ini, di
samping pada dasarnya adalah WP yang telah sadar pajak
(paham akan hak dan kewajiban perpajakannya), diharapkan
juga peduli pajak (yaitu melaksanakan hak dan kewajiban
perpajakannya dengan benar).
Pemberian penghargaan kepada para WP patuh ini akan
menjadi motivasi serta menimbulkan deterrent effect positif
bagi WP lainnya untuk menjadi WP patuh sehingga akan
mengurangi beban biaya dan memberikan kemudahan bagi
WP sendiri serta meningkatkan penerimaan negara dari
sektor pajak untuk mencukupi kebutuhan pembangunan
bangsa.
105
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Slogan lewat papan iklan dan videotron, yakni “membayar
pajak membangun bangsa” adalah benar. Jika membayar
dengan benar, tepat, dan jujur, dialah pahlawan bangsa.
Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan membangun
dan mengisi kemerdekaan bangsa ini.
Pernah dimuat di Republika, 14 Feb 2011
***
106
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
Menyoal Kembali Zakat sebagai
Pengurang Pajak
“Ide mengenai zakat sebagai pengurang pajak telah
cukup lama berkembang di Negara ini. Pemerintah mulai
kembali melirik zakat dikarenakan potensi zakat yang
cukup besar untuk mengentaskan kemiskinan. Namun, ide
ini menuai banyak pro dan kontra dari berbagai kalangan
masyarakat. Dalam tulisan ini akan dibahas lebih
mendalam mengenai ide zakat sebagai pengurang pajak,
pro kontra yang terjadi serta bagaimana pandangan
penulis mengenai ide tersebut.”
S
alah satu kewajiban umat Islam adalah membayar
zakat bagi mereka yang memenuhi persyaratan
sebagai wajib zakat. Zakat dikumpulkan oleh badan
amil zakat (BAZ) di berbagai tingkat kewilayahan dari
kecamatan hingga nasional. Pemerintah juga mengukuhkan
pengumpulan zakat oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang
dibentuk secara swadaya oleh masyarakat.
Karena jumlah pengumpulan zakat melalui BAZ dan
LAZ di tanah air masih sangat kecil, akhir-akhir ini kembali
muncul wacana untuk mengefektifkan pengumpulan zakat
107
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dengan menjadikan zakat sebagai pengurang pembayaran
pajak penghasilan atau tax credit.
Zakat dan Pajak
Meskipun pajak dan zakat memiliki titik singgung yang
sama, yaitu kewajiban yang mengikat dan kekuasaan yang
menekan, di antara dua hal itu terdapat perbedaan penting.
Pertama, zakat adalah ibadah yang merupakan kewajiban
kepada tuhan sedangkan pajak merupakan kewajiban kepada
negara. Kedua, nisab dan persentase zakat ditetapkan oleh
syariat, sedangkan pajak ditentukan oleh ulil amri, serta
merekalah yang menentukan. Ketiga, pajak berkaitan
dengan hubungan antara warga dan negara. Sedangkan zakat
berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan.
Lalu, keempat, sasaran pajak terbatas, hanya target materi.
Sedangkan zakat merupakan ibadah yang sekaligus pungutan.
Dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh) Nomor
25 Tahun 2010 disebutkan, untuk menentukan besarnya
penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan
bentuk usaha tetap, boleh dikurangkan terhadap zakat atas
penghasilan, yang nyata-nyata dibayar wajib pajak pribadi
pemeluk agama Islam dan atau wajib pajak badan dalam
negeri yang dimiliki pemeluk agama Islam kepada BAZ atau
LAZ yang dibentuk atau disahkan pemerintah.
Meskipun sudah dituangkan dalam UU PPh terhadap
pajak sebagai pengurang penghasilan bruto, yakni unsur yang
dapat dibiayakan (deductible items), banyak kalangan yang
menghendaki zakat menjadi faktor pengurang kewajiban
pajak orang pribadi/ badan usaha atau tax credit.
108
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
Zakat sebagai Pengurang Penghasilan Bruto
atau Bagian dari Pajak?
Ide zakat sebagai pengurang pajak diusung Kementerian
Agama dan beberapa organisasi massa Islam untuk
dimasukkan ke RUU Zakat. Di Indonesia, dengan rumusan
tersebut, bisa jadi potensi zakat mencapai puluhan triliun
rupiah. Namun, jika ide itu diterapkan, penerimaan pajak
negara berkurang dalam jumlah yang hampir sama dan
menimbulkan potensi restitusi (pengembalian pajak).
Lahirnya UU Nomor 38 Tahun 1999, tepatnya pada 23
September 1999, tentang Pengelolaan Zakat memang sedikit
melegakan napas umat Islam di negeri ini. UU tersebut
merupakan langkah maju,
sebab sejak republik ini “Zakat memiliki potensi
berdiri, sejak itu pula zakat yang begitu besar, tapi
terabaikan dalam konstitusi
hingga saat ini belum
kenegaraan.
Sebagai
punya kekuatan apa
lembaga yang paling sah
pun dalam menangani
dan resmi mengelola zakat,
masalah kemiskinan di
pemerintah sadar bahwa
negeri ini”
selama ini telah menyianyiakan kesempatan.
Zakat memiliki potensi yang begitu besar, tapi hingga
saat ini belum punya kekuatan apa pun dalam menangani
masalah kemiskinan di negeri ini. Karena itu, sebagian
kalangan mengatakan bahwa klausul zakat mengurangi pajak
begitu penting.
Saat diundangkan, terdapat kendala dalam pelaksanaan
UU No 38 Tahun 1999. Disebutkan dalam UU itu, zakat yang
telah dibayarkan kepada badan amil zakat atau lembaga
amil zakat dikurangkan dari laba/pendapatan sisa kena
pajak dari wajib pajak yang bersangkutan, sesuai dengan
109
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
peraturan perundang-undangan yang berlaku, padahal pajak
Penghasilan yang berlaku saat itu belum mencantumkan
ketentuan yang mengatur perihal zakat dan baru ditetapkan
oleh UU Nomor 17 Tahun 2000 (sekarang telah diamandemen
menjadi UU Nomor 25 Tahun 2010) tentang Pajak Penghasilan
yang diberlakukan mulai 2001.
Mengurangkan zakat dari penghasilan bruto wajib
pajak tidak dipermasalahkan oleh Direktorat Jenderal Pajak
Kementerian Keuangan, namun kewajiban pajak yang disetor
dikurangi dengan zakat jelas-jelas punya pengertian dasar
dan fiskal yang sangat berbeda.
Mantan direktur Jenderal Pajak periode 2009 – 2010, M.
Tjiptardjo (Tempo Interaktif, 27 Agustus 2010) berkeberatan
atas ide menjadikan zakat sebagai pengurang kewajiban pajak
yang diusung sebagian kalangan dalam pembahasan RUU
Pengelolaan Zakat. Dia menyebut dua alasan penolakan.
Pertama, Undang-Undang Perpajakan sudah mengakomodasi
kewajiban membayar zakat di kalangan umat Islam. Dalam
UU tersebut, zakat digunakan sebagai faktor pengurang
penghasilan bruto wajib pajak. Nilai kewajiban pajak, lanjut
dia, dihitung dari penghasilan bersih yang telah dikurangi
dengan faktor pengurang, termasuk zakat. Alasan kedua,
zakat dianggap sebagai kewajiban religius, bukan kewajiban
bernegara. Implikasinya, zakat dan pajak merupakan dua
entitas yang berbeda sehingga harus ditarik secara terpisah.
“Zakat itu urusan manusia dengan Tuhan,” ujarnya. Pada
prinsipnya, penulis setuju dengan pendapat Direktorat
Jenderal Pajak, yakni zakat menjadi pengurang penghasilan
bruto orang pribadi dan badan usaha, bukan pengurang pajak.
Alasan pertama, yang menjadi basis perhitungan zakat adalah
penghasilan, bukan setoran pajak. Jadi, pembayaran zakat
dihitung dari besarnya penghasilan bruto. Sementara itu,
sisanya adalah pajak penghasilan bagi orang pribadi di atas
110
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
PTKP (pendapatan tidak kena pajak) dan PKP (pengusaha
kena pajak) untuk badan usaha. Prinsipnya, zakat merupakan
bagian dari penghasilan bruto (deductible items), bukan
pembayaran pajak (tax credit).
Kedua, pemberlakuan zakat penghasilan sebagai
pengurang setoran pajak jelas akan berpengaruh langsung
terhadap penerimaan pemerintah dari sektor pajak. Ditambah
lagi, apabila diterapkan, tax credit bisa menimbulkan restitusi,
yang proses administrasinya cukup rumit dan rawan. Dari
struktur APBN alokasi dana bantuan sosial, yakni PNPM,
BOS. raskin, subsidi, PKR jamkesmas, dan lain-lain yang
sebagian besar untuk umat, pada tiga tahun terakhir sudah
mencapai Rp 80 triliun-Rp 90 triliun. Dana tersebut berasal
dari penarikan pajak penghasilan orang pribadi maupun
badan usaha. Meskipun belum memadai, apabila dikelola
dengan benar jumlah itu bisa mengentaskan kemiskinan dan
menjadi jaminan sosial bagi rumah tangga sasaran. UU Zakat
Perlu Disempurnakan Di samping menegaskan lagi kebijakan
zakat sebagai pengurang penghasilan bruto seperti amanah
UU PPh dan UU Zakat, pengelolaan zakat, khususnya RUU
Zakat, perlu menegaskan beberapa hal penting. Alasannya,
pertama, UU No 17/2000 dan UU No 38/ 1999 belum
konsisten dalam menampung seluruh aspek zakat. Dalam
UU No 17/2000, dinyatakan yang dapat dikurangkan atas
penghasilan kena pajak hanyalah zakat penghasilan. Padahal,
pada saat yang sama, UU No 38/1999 menyebutkan bahwa
zakat (tanpa embel-embel atas penghasilan) bisa dikurangkan
atas penghasilan kena pajak. Selain itu, sangat jelas, yang
dimaksud zakat dalam UU No 38/ 1999 adalah semua harta
yang wajib disisihkan oleh kaum muslimin sesuai dengan
ketentuan agama. Antara lain, emas, perak, dan uang.
Perdagangan dan perusahaan juga wajib dizakati. Begitu pula
hasil pertanian, perkebunan, pertambangan, dan peternakan.
111
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Untuk pendapatan, jasa, serta rikaz. juga wajib dikeluarkan
zakat.
Kedua, UU Zakat tidak menetapkan sanksi yang seimbang
antara pengelola dan muzaki. Dikatakan dalam UU No 3
8/1999. pengelola zakat yang terbukti lalai tidak mencatat
atau mencatat secara tidak benar harta zakat, infak, sedekah,
hibah, wasiat, waris, dan kafarat diancam hukuman kurungan
selama-lamanya tiga bulan dan atau denda sebanyakbanyaknya Rp 30 juta. Idealnya, sanksi hukum tidak hanya
dikenakan kepada pengelola zakat, tapi juga muzaki yang
tidak melaksanakan kewajiban. Pemerintah juga perlu tetap
mengukuhkan dan mengawasi LAZ yang dibentuk secara
swadaya oleh masyarakat. Tujuannya, pengelolaan dana
zakat bisa lebih profesional.
Penulis pribadi tetap yakin atas potensi zakat yang
cukup besar jika digunakan sebagai pengurang penghasilan
bruto dan sumber harta yang disisihkan serta penerapan
sanksi yang memadai. Ditambah dengan profesionalitas
BAZ dan LAZ, potensi penerimaan zakat kita akan bisa
membantu mengentaskan kemiskinan. Penulis juga yakin
bahwa penerimaan pajak bisa ikut naik karena pada saat
yang bersamaan dihitung dengan zakat. Dengan begitu, dua
hal itu bakal memiliki sasaran ruhiyah, akhlak, dan insaniyah
(kemanusiaan) sekaligus.
Pernah dimuat di Jawapos, 14 september 2010
***
112
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
Pajak untuk mendorong
perfilman nasional
“Diberlakukannya kebijakan baru mengenai insentif
bea masuk import film mulai menuai banyak protes dari
para importir. Mereka merasa dirugikan karena dengan
diberlakukannya kebijakan tersebut biaya yang mereka
keluarkan akan semakin meningkat. Namun, apakah
benar kebijakan tersebut merugikan para importir? Dalam
tulisan ini, penulis akan membedah lebih dalam mengenai
kebijakan tersebut dan dampaknya baik bagi para importir
dan pelaku industri perfilman lokal.”
P
ada awal tahun 2010, penulis ingat di gedung BKFDepartemen Keuangan, insan perfilman nasional
termasuk di dalamnya aktor ternama Deddy Mizwar
datang dan membicarakan mengenai kebijakan
fiskal, khususnya beban pajak perfilman.
Kebijakan fiskal yang diimplimentasikan oleh pemerintah
dalam praktik pemungutan pajak dan bea masuk pada saat
itu dinilai tidak mendukung pertumbuhan sektor perfilman
di Tanah Air. Sesungguhnya waktu itu, Badan Kebijakan
Fiskal (BKF) sudah mendisain kebijakan fiskal dan sistem
113
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
pemungutan perpajakan guna mendukung tumbuhnya
perfilman nasional. Kebijakan itu meliputi insentif bea masuk
impor bahan baku dan modal pembuatan film dengan tarif
bebas, mengenakan bea masuk untuk produk film impor agar
kompetitif, dan memperbaiki penetapan nilai pabean yang
adil bagi importir film maupun produsen dalam negeri. Entah
mengapa begitu berhati-hatinya pemerintah mengeluarkan
ketentuan kebijakan dan ketentuan administratifnya,
menyebabkan prosesnya berlarut-larut.
Pemerintah sendiri sering terbagi-bagi dalam mengambil
putusan. Kementerian kebudayaan dan pariwisata yang
seharusnya berperan sebagai leading sector kurang memainkan
perannya. Kementerian Perindustrian membela kepentingan
industri nasional penghasil peralatan film sehingga lebih
bersikap inward looking, sedangkan kementerian keuangan
bergerak jika ada ketentuannya dan lebih bersikap menunggu.
Pada awal 2011, kebijakan-kebijakan insentif bea masuk
(BM) tersebut telah keluar dalam bentuk harmonisasi tarif
bea masuk dengan menurunkan BM peralatan produksi film
dan menetapkan tarif BM impor film 10%.
Ketentuan mengenai penetapan nilai kepabeanan masih
dalam proses finalisasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Pada tanggal 3 Januari 2011, Direktorat Jenderal Pajak
mengeluarkan Surat Edaran (SE) Dirjen Pajak No. 3 yang
menegaskan agar importir film membayar pajak secara benar
dan wajar sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan
(UU pajak dan UU Kepabeanan). Meskpun bersifat normatif,
SE itu mengandung indikasi bahwa terjadi ketidakbenaran
atau ketidakwajaran dalam pembayaran pajak dari para
importir film.
114
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
Importir dirugikan?
Kemudian kita dikejutkan adanya berita melalui TV,
Radio, Koran, dan di Twitter bahwa Hollywood akan
menghentikan pengiriman film ke Indonesia dengan alasan
ada peraturan atau regulasi baru yang menyebabkan mereka
akan dikenakan pajak yang tinggi dan membuat impor film
menjadi tidak kompetitif. Benarkah hal itu? Sekali lagi penulis
masih ingat dan ada kajiannya yang menunjukkan bahwa
beban pajak untuk pembuatan 1 judul film nasional jauh lebih
besar dibandingkan dengan untuk pengimporan satu judul
film asing (film impor).
Mengutip kata-kata aktor Deddy Mizwar baru-baru ini,
film nasional dengan anggaran Rp5 miliar, beban pajaknya
mencapai Rp500 juta, sekitar 10 kali lipat lebih besar
dibandingkan dengan pajak (BM + PPN) yang dibayar untuk
impor satu judul film sebanyak 25 kopi (hanya + Rp50 juta).
Perthitungan tersebut kurang lebih seperti yang ada dalam
kajian waktu itu di BKF.
Sementara itu, membandingkan besaran pajak impor
film dan produksi film tidaklah sulit. Pajak untuk mengimpor
film dilakukan dengan cara dua cara. Pertama, beli putus
(membayar US$100,000 atau lebih untuk memperoleh hak
edar), dan kedua, bagi hasil (membayar sebagian hasil edar ke
pemilik film di luar negeri). Beban pajak (BM 10% dan PPN
10%) untuk film impor hanya dikenakan atas impor copy film,
yaitu 21% dari nilai pabean (NP).
Sementara itu, beban pajak untuk memproduksi film
nasional dibagi menjadi beberapa kewajiban pajak. Pertama,
bea masuk dan PPN atas pengimporan bahan baku dan
peralatan produksi film. Kedua, PPN atas semua material dan
jasa yang digunakan proses produksi seperti PPN material
115
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dan PPN atas penggunaan jasa teknik film nasional (termasuk
penyewaan alat, studio/ lokasi shooting, editing dan color
grading, rekaman suara serta processing dan penggandaan
film, dll). Ketiga, PPh atas artis, crew teknis dan karyawan film
(karena umumnya mereka ingin terima bersih, PPh menjadi
beban yang harus ditanggung oleh produser film). Keempat,
pajak-pajak lain yang dipungut selama kegiatan shooting.
Dengan melihat perhitungan kasar berdasarkan kondisi itu,
jelas beban pajak atas film impor lebih murah dibandingkan
dengan pajak atas film produksi nasional. Bisa dimengerti
alasan film nasional memble dan tidak pernah menjadi tuan
rumah di negeri sendiri.
Kebijakan Pajak Yang
Adil
“Dengan melihat
perhitungan kasar
berdasarkan kondisi itu,
jelas beban pajak atas
film impor lebih murah
dibandingkan dengan
pajak atas film produksi
nasional.
Perlakuan/kebijakan
pajak yang kurang adil
tersebut
mengakibatkan
munculnya
persaingan
yang tidak sehat antara film
nasional dan film impor yang
pada akhirnya menyebabkan perkembangan film nasional
tidak optimal. Film nasional sangat berfluktuasi, beberapa
kali mati suri, kurang feasible, kualitas kurang baik, dan
jumlah produksinya rendah. Hal-hal tersebut menyebabkan
investasi bidang usaha perfilman nasional menjadi kurang
menarik.
Untuk menciptakan rasa keadilan sekaligus untuk
mengamankan perfilman nasional, pemerintah mengeluarkan
sejumlah kebijakan dengan mempertimbangkan berbagai
hal, Pertama, dasar nilai pabean yang wajar. Pertimbangan
kedua adalah harmonized system, sehingga tarif BM untuk
116
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
bahan dan peralatan film nasional yang belum diproduksi di
dalam negeri bebas bea dan film impor dikenakan bea masuk
untuk sementara. Pertimbangan ketiga, PPN untuk kegiatan
produksi film (termasuk untuk pengimporan bahan baku dan
peralatan produksi film) harus diharmonisasikan dengan
pajak tontonan di daerah, mengingat PPN yang dibayar itu
tidak dapat dikreditkan karena pada saat pemutaran film
di bioskop tidak dikenakan PPN. Keempat, PPh atas royalti
sebesar 15% yang dipungut ketika film nasional dibeli TV
atau perusahaan rekaman video. Kebijakan ini dapat juga
diberlakukan untuk film impor supaya setara dengan film
lokal.
Untuk meningkatkan efektivitas program pemerintah
dalam mendukung peningkatan perfilman nasional dan
menilai harga wajar atas film impor maka perlu tindakan
pengawasan atau audit kepada para importir film. Kewajaran
besarnya pembayaran pajak untuk mengimpor film dan pajak
impor film yang lebih besar dari pada untuk film nasional,
akan berguna untuk memberikan rasa keadilan, menciptakan
persaingan yang sehat, mengendalikan jumlah judul film
asing yang diimpor, dan menciptakan peluang lebih besar
pemutaran film nasional di bioskop. Beban pajak yang
tinggi ketika mengimpor film akan membuat modal untuk
mengimpor naik, risiko rugi meningkat, gairah mengimpor
film menurun, sehingga yang diimpor hanya film-film yang
diprediksi sangat sukses dalam peredarannya di lndonesia.
Kondisi ini akan menyebabkan jumlah film impor akan turun.
Pemerintah juga berupaya menjaga kesinambungan
perkembangan perfilman nasional yang berkualitas dan
yang lebih berguna bagi bangsa dan negara. Kebijakan fiskal
dan perpajakan perfiman adalah suatu alat untuk mencapai
tujuan, yakni tumbuhnya perfilman nasional. Perfilman
117
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
nasional membutuhkan film impor karena di dibutuhkan
oleh konsumen dan sebagai pembanding bagi film produksi
nasional.
Di sisi lain, kebijakan perpajakan juga harus adil dan tidak
boleh diskriminatif, termasuk kepada film impor. Memberikan
insentif pada produsen film adalah wajar mengingat sektor
perfilman Indonesia sedang terpuruk. Produsen nasional
sebaiknya juga tidak manja dan meminta proteksi berlebihlebihan. Namun demikian, apabila importir film asing
melakukan aksi boikot terhadap importasi film asing, maka
saatnya RI bersatu membangkitkan rasa nasionalisme film
nasional dan jangan menyerah kepada asing.
Pernah dimuat di Bisnis Indonesia, 23 Februari 2011
***
118
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
APBN, Pajak, dan Utang
Pengantar :
“Defisit pembiayaan APBN selalu menjadi isu sensitif di
kalangan pemerintahan, termasuk dalam arti luas anggota
DPR. Masyarakat pun mengikuti perkembangan defisit
anggaran kita, khususnya kalangan mahasiswa, pebisnis
dan para pelaku ekonomi. Ketidakmampuan membayar
defisit anggaran ini yang memicu kolapsnya pemerintahan
di negara-negara lain. Sumber pembiayaan defisit bisa
melalui dua hal, yaitu menaikan pendapatan dalam negeri
secara paksa, misalkan melalui kenaikan pajak, atau cara
yang lebih instan, melalui pinjaman utang. Pinjaman atau
utang ini juga merupakan hal sensitif, dimana banyak
kalangan yang tidak menyukainya dan termasuk trauma
utang pada krisis 1998. Perlu diberikan penjelasan kepada
masyarakat bahwa pinjaman merupakan cara yang lebih
baik dalam jangka pendek untuk membiayai anggaran
defisit dengan tujuan ekspansi pertumbuhan ekonomi
dalam negeri sehingga pajak pun akan meningkat tanpa
perlu menaikan pajak itu sendiri yang akan membebankan
masyarakat dan malah membuat perekonomian mandeg.”
119
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
S
etiap tahunnya, banyak kalangan pelaku ekonomi
memperbincangkan masalah APBN, Pajak dan Utang.
Pemerintah telah menyiapkan dan menyampaikan
Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) 2011 dengan
rasio pajak 12% dari PDB dan defisit 1,6% dari PDB, dan
defisit tersebut dibiayai dengan utang. Seperti yang kita
dengar di berita, sebagian besar fraksi-fraksi di DPR menolak.
DPR menghendaki penurunan defisit anggaran, dengan cara
menaikkan penerimaan pajak dan bukan dari utang. Menurut
Penulis, pendapat itu sangat wajar apalagi saat ini kita semua
dihantui dengan krisis fiskal dan utang yang melanda Yunani
dan beberapa negara Eropa lainnya.
Negara-negara eropa tersebut kemudian mengalami
krisis, karena rasio utang terhadap PDB mereka sudah diatas
100% dan terlalu banyak belanja-belanja yang berlebihlebihan dan bersifat mengikat. Resep bailout fiscal oleh IMF
dan ECB (Bank Sentral Eropa) belum dianggap kredibel
di mata pelaku ekonomi karena membutuhkan dukungan
penuh dari AS dan Eropa sebagai pemegang saham terbesar
dari kedua lembaga tersebut. Program reformasi besarbesaran di bidang fiskal juga harus dilakukan. Banyak
yang menyangsikan resep ini akan jalan mulus. Pertama,
perlu pengorbanan negara pemegang saham IMF dan ECB,
diantaranya AS dan Uni Eropa, dan kedua, reformasi fiskal
selalu berujung pada penghematan besar-besaran belanja
yang sulit diterima oleh rakyatnya. Kedua hal tersebut yang
mengakibatkan krisis Yunani dan sebagai akibatnya akan
terus menjadikan sumber ketidak-pastian bagi pemulihan
dunia. Jerman, misalnya, sangat enggan untuk berkorban
karena mereka sendiri menghadapi masalah fiskal di dalam
negeri. Persetujuan AS untuk bailout IMF juga mendapat
120
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
peringatan keras dari kongresnya. Dana investasi portofolio
juga akan tersedot untuk upaya membiayai defsiti di eropa
sehingga akan menggerus arus dana ke negara berkembang
(emerging market).
Kebijakan Fiskal Pruden
Indonesia memiliki kondisi fiskal yang bagus dan
pruden. Rasio defisit APBN dan utang dalam kondisi yang
aman. Penerimaan Pajak terus dipacu dengan menaikkan
tax base dan kepatuhan pajak. Risiko fiskal di paparkan dan
disediakan anggaran apabila meleset dari perkiraan. Alokasi
subsidi harga dibatasi dan mulai diarahkan subsidi secara
tepat. Pembiayaan infrastruktur langsung maupun melalui
swasta dengan penjaminan dirancang secara baik dan agresif
untuk mendorong iklim investasi. Tersedia pembiayaan
kontingensi dari lembaga donor yang setiap waktu dapat
dimanfaatkan jika terjadi krisis keuangan. Imbal hasil obligasi
negara semakin turun, biaya dan risiko peminjaman yang
juga menurun. Tersedia instrumen alternatif bagi pemodal
kecil dan menengah yang dapat dipercaya. Desentralisasi
fiskal tetap dijaga dalam kerangka negara kesatuan dengan
tujuan mengurangi kesenjangan fiskal antar daerah. Programprogram kemiskinan dirancang dengan sasaran menurunkan
jumlah rumah tangga miskin dibawah 10%.
Secara umum, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari
keadaan fiskal kita. Nominal utang kita memang naik, dan
rasio pajak kita masih rendah. Naiknya nominal utang kita
karena kebutuhan ekspansi anggaran untuk mendorong
sektor riil pada saat mandeg. Jika penerimaan pajak nantinya
bisa menutup defisit, maka penarikan utang akan turun,
121
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dan semata-mata ditujukan untuk refinancing saja sesuai
kebutuhan. Penerimaan Pajak kita saat ini memang belum
memenuhi harapan. Meskipun Penulis yakin ini bukan
sesuatu hal yang dirisaukan. Mengapa? Dalam dua tahun
ini terakhir ini tarif pajak PPh kita baru saja turun 5%, dan
saat yang bersamaan banyak insentif pajak kepada sektor riil
yang diberikan yang tentu menggerus laju penerimaan pajak
dalam jangka pendek.
Penulis
percaya
“Penulis percaya
pertumbuhan penerimaan
pertumbuhan
pajak kita dalam lima tahun
penerimaan pajak
mendatang
akan
dapat
kita dalam lima tahun
mencapai 15%, yang berarti
mendatang akan
1,5 kali pertumbuhan PDB
dapat mencapai 15%,
nominal kita. Bahkan Penulis
yang berarti 1,5 kali
yakin bisa mencapai 20%
pertumbuhan PDB
dengan kebijakan terobosan
nominal kita. Bahkan
seperti pengampunan pajak.
Penulis yakin bisa
Tax ratio bisa mencapai
mencapai 20% dengan
13%, dan apabila ditambah
kebijakan terobosan
dengan pajak daerah, maka
seperti pengampunan
tax ratio kita secara nasional
pajak”
bisa mencapai 15%. Jika
dihitung dengan pajak atas
sumber daya alam, maka tax ratio kita sudah sejajar dengan
negara berkembang lainnya. Kuncinya adalah apabila kita
sabar dan konsisten dengan reformasi perpajakan, termasuk
memberdayakan SDM yang tangguh mulai dari pimpinan.
Pak Anwar Supriyadi, Ketua Pengawas Perpajakan pernah
mensinyalir bahwa masalah di DJP adalah kurangnya jiwa
kepemimpinan yang tegas, jujur, dan konsisten di jajaran
122
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
pimpinan di DJP pusat dan Kanwil. Namun demikian Penulis
cukup yakin DJP memiliki kader-kader pemimpin masa
depan yang visioner, jujur dan berdedikasi.
Sumber Pembiayaan
Masalah utang dan pajak adalah dua sumber pembiayaan
anggaran yang saling melengkapi. Dua-duanya dibutuhkan.
Penarikan pajak yang tinggi dan eksesif akan mengurangi
kemampuan wajib pajak untuk melakukan investasi. Dan
kemampuan Wajib Pajak untuk membayar kewajiban pajak
akan tergantung pada kondisi perekonomian, pendapatan
riil masyarakat dan dunia usaha serta upaya-upaya internal
DJP untuk menjaring uang pajak. Sementara dalam keadaan
krisis dan kelesuan sektor riil, dimana dana pajak masih
kurang, penarikan utang adalah alternatif pembiayaan APBN.
Namun penarikan utang yang terlalu besar akan mendorong
kenaikan biaya bunga dan beban utang di masa mendapatang.
Disinilah letak dari kebijakan fiskal dengan strategi untuk
menyeimbangkan antara pendanaan dari pajak sebagai
sumber utama dan utang apabila dibutuhkan.
Keinginan DPR untuk memperbesar penerimaan pajak,
apalagi tax ratio pusat 15%, dan mengurangi penarikan
utang, sulit dipenuhi sekarang. Tujuan itu akan tercapai
dalam jangka menengah. Namun demikian upaya tersebut
harus tetap dikawal, termasuk disisi belanja. Keinginan DPR
untuk menambah belanja melalui transfer ke daerah melalui
dana aspirasi daerah adalah langkah yang tidak salah. Hanya
saja harus tetap dicari formula yang transparan, efisien dan
bertahap jumlahnya serta jelas penggunaannya. Penulis
sungguh sangat menghormati dan mengerti permintaan DPR
123
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
untuk menaikkan penerimaan pajak dan mengurangi utang,
serta alokasi dana aspirasi tersebut. Biarlah isu-isu seputar
kebijakan fiskal ini menjadi wacana dan perdebatan publik
terlebih dahulu yang sehat dan konstruktif.
***
124
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
Tidak Perlu Renegosiasi ACFTA
“Keuntungan dan kerugian adanya suatu perjanjian
perdagangan, misalnya ACFTA tidak bisa hanya diukur
dari kinerja perdagangan bilateral atau regional tetapi
hasil lain dari manfaat multilateral dan dampaknya pada
produksi industri. Meskipun perdagangan Indonesia
dengan China defisit namun terjadi surplus dengan
kawasan yang lain. Sayangnya Indonesia belum dapat
memanfaatkan jaringan produksi (production network)
mesin, asembling, dan eletronik di kawasan Asia. Mengenai
desakan renegosiasi ACFTA, penulis berpendapat tidak
layak dilakukan dan sebaiknya dilakukan pembicaraan
khusus dengan China apabila terjadi ketidakseimbagan
perdagangan.”
P
erjanjian ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area)
dimulai efektif tahun 2005 dan pada 2010 adalah
awal dimulainya perdagangan bebas ASEAN-China
dengan penetapan tarif bea masuk (BM) 0%. Pada
waktu itu, kalangan pengusaha yang mengalami dampak
perdagangan bebas tersebut mulai meminta penundaan
pelaksanaan penetapan tarif BM 0%. Alasannya adalah
pengusaha baru saja pulih dari krisis 2008/2009 dan
125
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
terjadinya lonjakan impor barang-barang dari China sampai
ke tingkat retail.
Atas dasar tersebut, kami dan beberapa perwakilan
kementrian terkait (khususnya industri dan perdagangan)
membahas keluhan pengusaha tersebut dan terindektifikasi
beberapa sektor yang mengalami defisit perdagangan dengan
China. Namun demikian, keluhan tersebut belum dapat
diteruskan ke meja perundingan dengan ASEAN dan China
alasannya, pertama, harus mengikutsertakan negara ASEAN
yang lain, dan kedua, menurut hasil analisis, belum adalah
injuri dan dampak negatif langsung terhadap produksi dalam
negeri.
Awal tahun 2011 desakan agar pemerintah menegosiasi
ulang terkait perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China
kembali menguat. Tak hanya dari kalangan industri, desakan
juga datang dari lembaga swadaya masyarakat. Indonesia
seharusnya meminta berhenti untuk sementara dari
kesepakatan ACFTA sampai industri nasional siap.
Pemerintah menjawab permintaan tersebut secara
normatif terhadap desakan renegosiasi ACFTA. Menko
Perekonomian Hatta Rajasa hanya mengatakan Indonesia
akan berupaya menjaga neraca perdagangannya dengan
China agar tidak terjadi defisit dan industri domestik tetap
terjaga akibat perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA).
Faktanya hingga tahun 2010 Indonesia masih mengalami
defisit 5,7 milyar dolar AS dengan China.
“Kita tidak ingin defisit kita melebar, kita tetap meminta
komitmen China untuk menjaga neraca perdagangan dan
jangan sampai terjadi pukulan bagi industri kita,” kata Menko
Perekonomian.
126
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
Jika terjadi defisit neraca perdagangan yang terlalu
dalam dengan China dan merugikan industri domestik, maka
Menteri Perdagangan kedua negara akan berunding sampai
tidak ada yang merasa dirugikan. “Kita
semangatnya
adalah
balance
of
trade
(keseimbangan perdagangan), kalau ada terjadi defisit pada
kita, kita berunding dan akan bicara komitmen antar Menteri
Perdagangan,” kata Hatta.
Renegosiasi Sulit dan Mahal
Menteri Perdagangan Mari E Pangestu mengatakan
perundingan ulang (renegosiasi) kesepakatan perdagangan
bebas ASEAN-China (ACFTA) membutuhkan kompensasi
yang besar dan harus melibatkan negara anggota ASEAN
lainnya, sehingga pemerintah memilih opsi pembicaran
khusus dengan China.
Meskipun demikian diakui sejumlah 228 pos tarif
produk Indonesia jika tidak di renegosiasi dikhawatirkan
akan mengalami kerugian, karena kalah bersaing dengan
produk China. “Namun akhirnya, opsi yang dipilih adalah
melakukan pembicaraan khusus dengan pemerintah China,
karena renegosiasi, selain biayanya mahal karena Indonesia
harus memberikan kompensasi yang besar, opsi itu juga sulit
dilakukan karena harus melibatkan negara ASEAN lainnya,”
kata Mendag.
Jika pemerintah tetap memilih opsi renegosiasi, maka
perundingan ulang itu harus dilakukan sesuai dengan pasalpasal dalam dokumen ACFTA. Sesuai dengan Article 6 ACFTA,
sebagai konsekuensi perundingan ulang itu, Indonesia harus
meningkatkan nilai kompensasi mendekati nilai modifikasi.
Nilai 228 pos tarif yang rencananya direnegosiasi sebesar
127
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
1,2 miliar dolar AS, bandingkan dengan nilai 105 pos tarif
yang hanya 43 juta.
Di samping itu, opsi renegosiasi mengharuskan
Indonesia untuk lebih dahulu melakukan notifikasi kepada
semua “parties with supplying interest” dalam hal itu seluruh
ASEAN dan China). Hal tersebut dapat menyebabkan negara
ASEAN lain dapat ikut meminta kompensasi dari Indonesia.
Jangka waktu penyelesaian juga menjadi lebih lama
karena karena harus melihat setiap pos tarif yang diminta.
Selain itu, opsi renegosiasi dapat mengganggu citra Indonesia
di berbagai forum internasional, karena menunjukkan
ketidakpastian kebijakan yang akan berdampak ke sektor
lain, seperti investasi.
Menteri Perdagangan Indonesia pernah melakukan
pembicaraan bilateral dengan mendag China Chen Deming
membicarakan masalah AFCTA di Yogyakarta awal tahun
yang lalu. Hasilnya memang ada, yakni tujuh kesepakatan
umum, namun tidak spesifik mengenai langkah renegosiasi,
yang terkait dengan ACFTA, yakni pertama, sepakat untuk
melaksanakan ACFTA yang diimplementasikan secara
menyeluruh dan saling menguntungkan; kedua, apabila
terjadi ketidakseimbangan neraca perdagangan, maka pihak
yang surplus wajib melaksanakan langkah-langkah untuk
meningkatkan impor dan memberikan dukungan yang
diperlukan kepada mitranya;keempat, dibentuk kelompok
kerja selambat-lambatnya dalam waktu 2 bulan yang akan
melakukan analisis data dan informasi perdagangan dua arah
dan merekomendasikan langkah-langkah yang diperlukan,
dengan prioritas diberikan kepada sektor-sektor yang akan
ditentukan kemudian, utamanya besi dan baja, tekstil dan
produk tekstil, serta sepatu (catatan: tarif lines dari besi dan
128
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
baja, tekstil dan produk tekstil serta sepatu mencakup hampir
80% dari 228 tarif lines yang menjadi keprihatinan sektorsektor di Indonesia);
Konteks Multilateral dan Pendekatan Bilateral
China mengalami suprlus perdagangan dengan AS sebesar
150 milyar dan dengan EU sebesar 100 milyar dolar AS tahun
2009. Namun pada saat yang sama, China mengalami defisit
neraca perdagangan dengan Taiwan, Korea, Jepang dan
ASEAN total sebesar 185 milyar dolar AS. Jadi dalam melihat
adanya ketidakseimbangan harus dianalisis terhadap neraca
perdagangan secara multilateral.
Jadi sebaiknya Indonesia juga tidak memusatkan
perhatian hanya dengan China karena meskipun Indonesia
mengalami defisit perdagangan dengan China, namun
surplus dengan negara lain. Jadi meskipun dengan China kita
mengalami defisit sebesar 5,7 milyar dolar AS, namun total
neraca perdagangan non-migas Indonesia 2010 mengalami
surplus sebesar 21,5 milyar. Indonesia mempunyai suprlus
perdagangan yang meningkat dengan ASEAN, India, AS,
EU, Jepang dan lain-lain. Dengan ACFTA Indonesia juga
telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan dan industri
(production network) dengan China. Investasi masuk dari
China juga terus meningkat dan diikuti dengan bantuan
teknis. Hubungan bisnis antara pengusaha Indonesia dengan
China terus meningkat.
Profesor ekonomi terkenal Prema-chandra (2011) dari
Australian National University (ANU)-Canberra mensinyalir
kelemahan Indonesia dalam skema perdagangan bebas
ACFTA karena ketidakmampuan Indonesia untuk menerobos
dalam production network khususnya dalam sektor mesin,
129
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
komponen dan elektronik serta produk tekonologi informasi.
Dan bukan terjadi karena keterlibatan Indonesia dalam
AFCTA.
Dalam obervasi saya, masalah yang dihadapi Indonesia
dapat timbul dalam AFCTA adalah sebagai berikut; pertama,
terjadi lonjakan impor dari China yang membuat industri
dalam negeri terpuruk, dan kedua, terjadinya kecurangan
oleh pihak China seperti yang selama ini disinyalir oleh AS
dan EU misalnya dalam soal intelectual property right (IPR),
subsidi dan proteksi kepada produk China, diskriminasi
dalam
tender
proyek
…… sebaiknya
pemerintah dan lain-lainnya.
Indonesia tidak
Masalah ketidakmampuan
memusatkan
perhatian
Indonesia terlibat dalam
hanya dengan China
jaringan produksi China
dan dunia adalah masalah
karena meskipun
internal Indonesia sehingga
Indonesia mengalami
sulit untuk menjadi alasan
defisit perdagangan
renegosiasi.
dengan China, namun
Saat ini menurut saya surplus dengan negara
lain.
tidak
perlu
dilakukan
renegosiasi baik di ACFTA
karena kurang bermanfaat dan biayanya mahal sekali. Saya
mendukung upaya pembicaraan bilateral khusus dengan
pihak China yang menguntungkan kedua pihak sesuai
kesepakatan. Jika terjadi injuri dan kecurangan (unfair trade)
maka sudah ada intrumen seperti bea masuk anti dumping,
imbalan dan lain-lain serta saluran untuk menyelesaikan
masalahnya melalui ACFTA bahkan sampai ke WTO (Word
Trade Oragnization). Awal tahun 2010 saya pernah mendisain
model penditeksian dini impor yang menghubungkan lonjakan
impor dan produksi dalam negeri. Model itu oleh pemerintah
130
Bagian III – Dukungan Sektor Riil dan Perpajakan
dapat dimanfaatkan sebagai basis untuk membicaraan khusus
dengan pihak China jika ada bukti merugikan Indonesia.
Namun sebaiknya Indonesia tidak hanya melihat persoalan
perdagangan dari sisi bilateral dengan China, tetapi secara
multilateral dan dampak pada sektor industri dalam negeri.
Jika dengan langkah-langlah itupun kita masih tidak mampu
bersaing, maka hal itu merupakan kelalaian dan PR dari
usahawan dan pemerintah untuk meningkatkan daya saing
kita.
***
131
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
132
Bagian IV
Anggaran dan
Pemberantasan Korupsi
133
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
134
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
RAPBN yang Realistis
Pengantar :
“Di tengah skeptisme masyarakat Indonesia dan
publikasi pengamat yang meragukan RAPBN 2004 pada
saat itu (pertengahan-akhir tahun 2003), sesungguhnya
asumsi-asumsi yang dipakai dalam RAPN tersebut
adalah logis dan realistis. Walaupun memang, beberapa
menyatakan skeptis, tapi mungkin lebih tepat disebut
konservatif. Di tengah tekanan untuk membuat suatu
terobosan dalam perekonomian Indonesia, khususnya
APBN yang mana merupakan tanggung jawab Pemerintah
sebagai penyelenggara negara untuk mensejahterakan
rakyatnya, APBN 2004 tidak bisa di-setting untuk
menjadi radikal. Asumsi-asumsi logis harus tetap menjadi
pegangan, dan yang menentukan berikutnya adalah
apakah akan menjadi lebih ekspansif, atau konservatif.
Perlu diingat pada tahun 2004 akan diadakan Pemilu
serentak yang tidak sedikit menyedot anggaran negara
dan adanya faktor ketidakpastian yang tinggi. Hal ini
perlu dijadikan catatan dalam membuat APBN yang logis,
rasional, realistis dan dapat dipercaya.”
135
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
M
araknya isu soal RAPBN 2004 adalah bukti
betapa banyak harapan pada pemulihan
ekonomi yang ditumpukan pada RAPBN 2004.
Para pengamat dan pelaku ekonomi, serta
anggota legislatif menghendaki agar RAPBN lebih realistis,
tidak terlalu konservatif, serta berperan cukup signifikan
dalam mendorong pemulihan ekonomi. Sesungguhnya,
Pemerintah berkeinginan mengusulkan RAPBN yang bisa
mendorong pemulihan ekonomi dan menstimulir kegiatan
usaha.
Alasannya adalah karena beberapa hal. Pertama,
asumsi makro yang menjadi dasar perhitungan RAPBN
2004 memberi peluang yang lebih besar bagi inflasi rendah
dan pulihnya fungsi intermediasi bank. Kedua, kenaikan
penerimaan pajak yang tidak berasal dari kenaikan tarif pajak
tidak akan membebani pelaku ekonomi. Ketiga, subsidi BBM
dan Non-BBM (listrik, pangan, pupuk, kredit program) masih
tetap tersedia dalam jumlah yang hampir sama dengan tahun
2003. Tidak ada kenaikan harga minyak tanah rumah tangga,
sedang BBM yang lain masih dalam pengkajian.
Kemudian, keempat, pembayaran bunga utang menurun
sehingga bisa mengurangi beban RAPBN. Defisit (1,2 persen
dari PDB) dan rasio utang dengan PDB diproyeksikan pada
batas yang aman (sekitar 60 persen). Kelima, mengandalkan
kemampuan dalam negeri untuk membiayai defisit anggaran
dan bukan diutamakan dari sumber luar negeri. RAPBN 2004
mulai menampakkan kemandiriannya. Keenam, 50 persen
dari belanja RAPBN dialokasikan ke daerah dan program
pembangunan yang berdampak langsung kepada masyarakat.
136
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
Tantangan
Dalam penyusunan RAPBN 2004, pemerintah melihat
adanya empat tantangan utama di tahun 2004. Pertama,
melaksanakan pemilihan umum untuk memilih anggota DPR,
DPD, dan memilih Presiden dan Wakil Presiden langsung
secara jujur, lancar, dan aman. Kedua, menyelesaikan kontrak
kerja sama dengan IMF tanpa menimbulkan guncangan
ekonomi. Ketiga, menjaga keutuhan negara kesatuan
Republik Indonesia. Keempat, meningkatkan daya saing
dalam persaingan global yang kian ketat.
Keempat faktor itu merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dan berpengaruh secara langsung maupun tidak.
Masing-masing tantangan memiliki resiko positif dan negatif.
Untuk itulah berbagai asumsi dan perhitungan dalam RAPBN
2004 terkesan konservatif bahkan pesimistis. Padahal,
tidak. Tentunya, asumsi-asumsi tersebut bisa diubah dalam
pembahasan dengan DPR sesuai perkembangan mutakhir.
Asumsi konservatif, penting untuk mengamankan
pelaksanaan APBN apabila ada resiko negatif di kemudian
hari, namun asumsi optimisme juga perlu dikemukakan agar
ada kepercayaan pelaku. Penting juga bagi eksekutif untuk
menetapkan target tinggi agar berupaya secara maksimal.
Untuk itulah disusun asumsi makro serealistis mungkin.
Di samping melihat perkembangan ke depan, penyusunan
RAPBN 2004 didasarkan pada kecenderungan yang ada
tahun ini dan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi dari tahun
ke tahun menunjukkan arah pemulihan secara bertahap
meskipun harus disadari perlunya terus mengupayakan
pertumbuhan yang lebih tinggi untuk menanggulangi
kemiskinan dan mengurangi tingkat pengangguran yang
terus meningkat. Tingkat inflasi tinggi yang sebelumnya
137
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
melemahkan daya beli masyarakat, kini telah dapat
diturunkan hingga cukup rendah. Posisi cadangan devisa juga
terus menunjukkan kondisi yang semakin menguat, bahkan
jauh di atas posisi periode sebelum krisis. Nilai tukar rupiah
yang sebelumnya terpuruk juga telah mengalami penguatan
secara bertahap. Tingkat suku bunga juga terus menunjukkan
arah yang semakin menurun sehingga diharapkan dapat
menggerakkan kembali kegiatan sektor riil.
Asumsi Makro Realistis
Pemerintah memproyeksikan perkembangan ekonomi
nasional yang positif di tahun 2004. Hal itu tercermin dari
asumsi makro yang menjadi dasar penyusunan RAPBN 2004.
Pada tahun 2004, perekonomian nasional diperkirakan
tumbuh sebesar 4,5 persen, meningkat dari 4 persen tahun
2003. Pada semester I tahun 2003 perekonomian tumbuh
dengan 3,6 persen. Proyeksi pertumbuhan 4 persen di tahun
2003 berdasarkan prognosa semester II yang lazimnya
tumbuh lebih tinggi dari semester I karena faktor pengeluaran
pembangunan mulai kuartal III, kenaikan konsumsi
masyarakat kuartal IV dan sedikit kenaikan dari ekspor dan
investasi.
Proyeksi nilai ekspor 2003 sedikit lebih baik dari yang
diperkirakan, yakni rata-rata sekitar 5 miliar dollar AS per
bulan. Sementara itu, selama semester I 2003 sudah mulai
tampak adanya peningkatan impor bahan baku dan barang
modal yang akan dipergunakan untuk mendayagunakan
kapasitas produksi industri yang lebih tinggi dari tahun
sebelumnya.
Kalau kecenderungan tersebut berlanjut, meskipun ada
resiko fiskal di tahun 2004, maka pertumbuhan ekonomi
138
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
4,5 persen sangat mungkin dicapai. Bahkan dalam pidato
presiden tampak jelas adanya keinginan untuk bisa tumbuh
lebih tinggi sehingga bisa mengurangi beban pengangguran.
Kecenderungan global dan pertumbuhan perdagangan dunia
diperkirakan meningkat di tahun 2004.
Penetapan laju inflasi sekitar tujuh persen, nilai tukar
rupiah rata-rata Rp 8.700 per dollar, dan tingkat suku bunga
SBI-3 bulan sekitar 9 persen menunjukkan sikap kehatihatian. Laju inflasi rendah pada tahun ini (sekitar 6 persen)
diharapkan akan berlanjut, sehingga suku bunga SBI akan
bisa tetap rendah, yakni pada kisaran 9 persen. Meskipun
diharapkan bisa lebih rendah dari 9 persen, tetapi suku bunga
SBI perlu diberi ruang terhadap resiko fiskal yang harus
diperhitungkan dalam tahun 2004 agar aman.
Menetapkan asumsi harga minyak mentah merupakan
pekerjaan yang paling sulit karena ketidakpastiannya sangat
tinggi. Perlu diingat, dengan tingkat produksi minyak
Indonesia saat ini berkisar pada tingkat 1,1 juta barrel per
hari, sehingga setiap kenaikan harga minyak mentah akan
menambah defisit anggaran dari faktor impor untuk BBM
dalam negeri. Dengan kata lain, dengan harga minyak yang
lebih tinggi, tambahan penerimaan neto APBN pemerintah
pusat (penerimaan pajak dan PNBP migas dikurangi dengan
dana bagi hasil migas dan subsidi BBM) menurun. Jadi,
jangan berharap kenaikan asumsi harga minyak mentah akan
memperbaiki kinerja APBN secara keseluruhan. Kecuali ada
kebijakan harga BBM yang mengurangi alokasi subsidi BBM,
maka penetapan asumsi harga minyak mentah lebih tinggi
akan merugikan APBN.
139
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Perpajakan
Berdasarkan asumsi-asumsi itu, pendapatan negara dan
hibah dalam RAPBN 2004 ditargetkan mencapai Rp 343,9
triliun (17,2 % PDB), dan belanja negara Rp 368,8 triliun (18,4
% PDB). Dengan demikian, defisit anggaran diperkirakan
Rp 24,9 triliun (1,2 % PDB). Target defisit itu menurun
dari APBN 2003 1,8 persen dari PDB. Pemerintah bisa saja
mengusulkan RAPBN 2004 dengan defisit yang lebih rendah
dan mendekati nol persen. Namun, karena ada kebutuhan
agar RAPBN memberikan stimulasi dari sisi belanja lebih
longgar, diusulkan defisit 1,2 persen.
Bentuk stimulus fiskal lain juga bisa dilihat dalam RAPBN
2004 adalah dari penetapan asumsi makro dan penetapan
target penerimaan perpajakan maupun efisiensi belanja yang
moderat dan tidak memberikan beban tambahan kepada
pelaku ekonomi.
Dalam RAPBN 2004, direncanakan penerimaan dalam
negeri Rp 343,2 triliun, dan hibah Rp 0,6 triliun. Dari
keseluruhan penerimaan dalam negeri tersebut, sekitar 79 %
merupakan penerimaan dari sektor perpajakan, sedangkan
21 % lainnya penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Rasio penerimaan perpajakan terhadap PDB dalam
RAPBN 2004 meningkat menjadi 13,5 % dari sebelumnya
13,1% dalam APBN 2003. Banyak pengamat dan anggota
legislatif menghendaki angka ini lebih tinggi. Kalau
diperhatikan, jelas rasio perpajakan nonmigas meningkat
cukup besar; 0,6% PDB dibandingkan dengan tahun 2003,
sebaliknya rasio perpajakan migas menurun.
Secara nominal, penerimaan perpajakan naik Rp 17
triliun atau 0,4% PDB, bersumber dari kenaikan penerimaan
140
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
perpajakan nonmigas Rp 20 triliun, penurunan penerimaan
pajak migas 0,2 persen dari PDB (Rp 2,5 triliun) serta
penurunan penerimaan bea dan cukai Rp 1 triliun.
Penurunan target penerimaan pajak migas terutama
karena asumsi harga dan produksi minyak, sedangkan bea
masuk karena asumsi kurs serta proyeksi impor. Penurunan
penerimaan cukai karena penurunan proyeksi produksi
rokok.
Untuk mencapai target penerimaan perpajakan,
khususnya PPH nonmigas, PPN dan PBB, pemerintah
bermaksud melaksanakan serangkaian tindakan. Beberapa di
antaranya, pertama, menambah sekitar 250 wajib pajak (WP)
patuh. Kedua, meningkatkan upaya penagihan tunggakan.
Ketiga, penambahan sekitar 60.000 WP di tahun 2003 dan
jumlah yang hampir sama untuk tahun 2004. Keempat,
tambahan sekitar 100 WP besar dan mengembangkan kantor
WP menengah dan WP kecil.
Berbagai pihak mengusulkan adanya penyesuaian tarif
perpajakan dan hal ini sudah beberapa saat dalam area kajian
tim kebijakan perpajakan. Bukan hanya menyangkut tarif
agar setara dengan negara tetangga saja, tim juga mengkaji
aspek yang berhubungan dengan penyederhanaan, subyek,
obyek, jenis pajak, dan berbagai isu di bidang kebijakan
perpajakan untuk meningkatkan daya saing ekonomi. Usulan
mengenai pengampunan perpajakan juga menjadi bahan
kajian. Isu ini sangat kompleks dan berdampak luas. Jika
akan dilaksanakan berbagai perubahan kebijakan perpajakan
tersebut, dapat berdampak pada penerimaan perpajakan
sebagian besar belum akan terjadi dalam RAPBN 2004.
141
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Efisiensi belanja negara
Di sisi belanja negara, dalam RAPBN 2004 direncanakan
dialokasikan sebesar Rp 368,8 triliun (18,4 persen dari
PDB). Bagian terbesar (70%) dari alokasi belanja negara
dipergunakan untuk belanja daerah (31,2 %), pegawai (20,2%)
dan pembangunan (18,5%). Sementara itu, pembayaran
bunga utang Rp 68,5 triliun (18,5%) menurun dari Rp 82
triliun tahun 2003 (22,5%). Penurunan beban bunga utang
pemerintah terjadi karena kecenderungan penurunan suku
bunga SBI, kurs, dan inflasi.
Di samping itu, pemerintah telah menurunkan stok
utang melalui program pelunasan, pembelian kembali,
dan pertukaran obligasi dengan aset. Di samping itu, solusi
penyelesaian BLBI telah meringankan kewajiban RAPBN
2004 untuk membayar pokok dan bunga surat utang dalam
rangka BLBI.
Dalam RAPBN 2004, subsidi direncanakan Rp 23,3
triliun atau turun 8,6 persen dari anggarannya dalam APBN
2003. Kebijakan umum subsidi adalah mengalihkan subsidi
harga menjadi subsidi langsung kepada masyarakat kurang
mampu serta subsidi bahan dan kebutuhan pokok tertentu.
Subsidi tersebut dialokasikan untuk subsidi bahan bakar
minyak (BBM) Rp 12,7 triliun dan subsidi non-BBM Rp 10,6
triliun.
Kenaikan anggaran belanja pegawai direncanakan dipakai
untuk memberikan insentif berupa pemberian gaji ke-13
kepada PNS, di samping kenaikan gaji otomatis PNS. Selain
itu, ada tambahan uang makan dan lauk pauk untuk anggota
TNI dan Polri. Pilihan terhadap pemberian insentif gaji ke13 bagi PNS adalah pilihan terbaik dengan keterbatasan dana
yang ada.
142
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
Di samping itu, dengan tidak adanya tambahan beban
yang signifikan bagi rumah tangga, maka tanpa kenaikan gaji
nominal secara riil penghasilan PNS tidak berkurang banyak.
Dampak inflasi dan beban kemudian pada belanja untuk
pensiun PNS relatif kecil.
Pengeluaran pembangunan direncanakan Rp 68,1 triliun,
yang 69,8 persen di antaranya untuk pembiayaan rupiah
dan 30,2 persen untuk pembiayaan proyek. Alokasi belanja
pembangunan naik Rp 3 triliun dari tahun 2003. Tahun 2003,
diperkirakan realisasi alokasi pengeluaran pembangunan
berada di bawah rencana (Rp 65 triliun), sehingga rencana
2004 sebesar Rp 68 triliun cukup realistis.
Pemerintah juga berkehendak agar semakin besar porsi
pembiayaan rupiah untuk pembangunan dan mengurangi
pembiayaan luar negeri. Bisa saja memperbesar pembiayaan
pembangunan dengan menarik jumlah yang lebih besar dari
CGI, namun hal tersebut berarti mengurangi cita-cita untuk
segera dalam kemandirian pembangunan.
Anggaran belanja untuk daerah direncanakan Rp 114,9
triliun, turun sekitar Rp 2 triliun dari APBN 2003 karena
menurunnya dana bagi hasil SDA. Hal ini terkait dengan
penurunan perhitungan penerimaan PNBP SDA, khususnya
migas. Dalam RAPBN 2004 besarnya Dana Alokasi Umum
(DAU) yang akan ditransfer ke daerah adalah Rp 79,1 triliun
atau 25 persen dari total penerimaan dalam negeri bersih.
Jumlah ini naik 2,7 persen dari DAU tahun 2003. Asumsi
bahwa tidak ada daerah yang mendapat DAU lebih kecil
dari tahun sebelumnya masih berlaku untuk memberikan
kelonggaran bagi daerah.
143
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Defisit dan Kemandirian
Dengan demikian, dalam tahun 2004, RAPBN
direncanakan akan defisit sebesar Rp 24,9 triliun atau 1,2
persen dari PDB. Dalam keadaan normal, defisit anggaran
sebesar ini tidak terlalu sulit untuk ditutupi. Tetapi, dalam
kondisi tahun 2004, pembiayaan defisit tersebut menjadi
kompleks dan berat karena dua hal. Pertama, fasilitas
penjadwalan utang melalui Paris Club (saat itu sekitar 3
miliar dollar atau sekitar Rp 27 triliun pembayaran utang
yang ditunda), tidak lagi tersedia. Kedua, surat utang negara
dalam jumlah yang signifikan jatuh tempo antara tahun 20042009. Dalam tahun 2004, sebesar Rp 19,9 triliun surat utang
negara akan jatuh tempo dan harus dilunasi. Perlu kreativitas
mengatasinya.
Dalam mengatasi pembiayaan dan kebutuhan tambahan
pembiayaan, dipergunakan berbagai sumber yang tersedia
dengan memikirkan keberlanjutannya. Pemerintah berusaha
agar lebih banyak menggunakan sumber yang tersedia di
dalam negeri dengan alasan menuju kemandirian.
Kemandirian RAPBN 2004 tampak dari sisi sumber
pembiayaan. Dari jumlah kebutuhan pembiayaan RAPBN
2004 sekitar Rp 94,2 triliun (berasal dari defisit Rp 24,9 triliun,
pokok utang dalam negeri jatuh tempo plus pembayaran
kembali Rp 24,5 triliun dan utang luar negeri jatuh tempo Rp
44,8 triliun), akan dibiayai dari sumber dalam negeri Rp 64,3
triliun (berasal dari privatisasi Rp 5 triliun, penjualan aset
Rp 5 triliun, penerbitan obligasi domestik Rp 28 triliun dan
penarikan rekening pemerintah Rp 26,3 triliun). Sisanya, Rp
29,9 triliun dari penarikan pinjaman luar negeri (pinjaman
program Rp 6,5 triliun, pinjaman proyek Rp 19,9 triliun dan
obligasi internasional Rp 3,5 triliun).
144
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
Perhitungan awal menunjukkan bahwa masalah
pembiayaan bagi RAPBN 2004 akan berat, tetapi bukan tidak
mungkin diatasi.
***
145
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Format Anggaran Terpadu
Menghilangkan Tumpang Tindih
Pengantar:
“Pada penyusunan RAPBN 2005 pemerintah
menggunakan format baru yaitu anggaran belanja terpadu
(unified budget) yang merupakan reformasi besar-besaran
di bidang anggaran negara dengan tujuan penghematan
dan pemberantasan KKN. Sistem ini dirubah karena
sistem anggaran yang lama dinilai memiliki banyak
kelemahan. Dalam melaksanakan perubahan format dan
struktur belanja negara telah dilakukan dengan melakukan
penyesuaian, namun tetap mengacu GFS Manual 2001 dan
UU No. 17 Tahun 2003. Kedepan akan diterapkan secara
penuh anggaran berbasis kinerja di sektor publik agar
penggunaan anggaran tersebut bisa dinilai kemanfaatan
dan kegunaannya bagi masyarakat.”
M
inggu yang lalu, Pemerintah telah mengusulkan
penyusunan RAPBN 2005 dengan menggunakan
format baru, yakni anggaran belanja terpadu
(unified budget). Ini merupakan reformasi
besar-besaran di bidang anggaran negara dengan tujuan agar
146
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
ada penghematan belanja negara dan memberantas KKN.
Selama lebih dari 32 tahun, Pemerintah melaksanakan sistem
anggaran yang dikenal dengan “dual budgeting,” dimana
anggaran belanja negara dipisahkan antara anggaran belanja
rutin dan anggaran pembangunan. Pemisahan anggaran rutin
dan anggaran pembangunan tersebut semula dimaksudkan
untuk menekankan arti pentingnya pembangunan, namun
dalam pelaksanaannya telah menunjukan banyak kelemahan.
Pertama, duplikasi antara belanja rutin dan belanja
pembangunan oleh karena kurang tegasnya pemisahan
antara kegiatan operasional organisasi dan proyek,
khususnya
proyek-proyek
non-fisik. Dengan demikian,
“Pemisahan anggaran
kinerja sulit diukur karena
rutin dan anggaran
alokasi dana yang ada tidak pembangunan tersebut
mencerminkan kondisi yang
semula dimaksudkan
sesungguhnya.
untuk menekankan
arti pentingnya
Kedua,
penggunaan
“dual budgeting” mendorong pembangunan, namun
dualisme dalam penyusunan dalam pelaksanaannya
telah menunjukan
daftar
perkiraan
mata
banyak kelemahan.”
anggaran keluaran (MAK)
karena untuk satu jenis
belanja, ada MAK yang diciptakan untuk belanja rutin dan
ada MAK lain yang ditetapkan untuk belanja pembangunan.
Ketiga, analisis belanja dan biaya program sulit dilakukan
karena anggaran belanja rutin tidak dibatasi pada pengeluaran
untuk operasional dan belanja anggaran pembangunan tidak
dibatasi pada pengeluaran untuk investasi.
Keempat, proyek yang menerima anggaran pembangunan
diperlakukan sama dengan satuan kerja, yaitu sebagai entitas
147
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
akuntansi, walaupun proyek hanya bersifat sementara.
Jika proyek sudah selesai atau dihentikan, tidak ada
kesinambungan dalam pertanggungjawaban terhadap asset
dan kewajiban yang dimiliki proyek tersebut. Hal ini selain
menimbulkan ketidakefisienan dalam pembiayaan kegiatan
pemerintahan, juga menyebabkan ketidakjelasan keterkaitan
antara output/outcome yang dicapai dengan penganggaran
organisasi.
T-Account ke I-Account
Sebelum tahun 2001, prinsip APBN adalah anggaran
berimbang dinamis, dimana jumlah penerimaan negara
selalu sama dengan pengeluaran negara, dan jumlahnya
diupayakan meningkat dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2001
hingga sekarang, prinsip anggaran yang digunakan adalah
anggaran surplus/defisit. Sejalan dengan itu, format dan
struktur APBN berubah dari T-Account menjadi I-Account.
Format dan struktur I-account yang berlaku saat ini terdiri
atas (i) pendapatan negara dan hibah, (ii) belanja negara, dan
(iii) pembiayaan.
Pendapatan negara dan hibah menampung seluruh
pendapatan negara yang bersumber dari (1) penerimaan
perpajakan, (2) penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan
(3) hibah. Sedangkan belanja negara menampung seluruh
pengeluaran negara, yang terdiri dari (1) belanja pemerintah
pusat, yang meliputi pengeluaran rutin dan pengeluaran
pembangunan, dan (2) belanja untuk daerah, yang
meliputi dana perimbangan dan dana otonomi khusus dan
penyeimbang/penyesuaian. Selisih antara pendapatan negara
dan hibah dengan belanja negara akan berupa surplus/defisit
anggaran. Guna menutup defisit anggaran maka diperlukan
pembiayaan yang bersumber dari luar pendapatan negara
148
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
dan hibah, yang antara lain bersumber dari (1) pembiayaan
dalam negeri, dan (2) pembiayaan luar negeri.
Dalam sistem dual budgeting, pengeluaran rutin
dimaksudkan sebagai pengeluaran-pengeluaran pemerintah
yang dialokasikan untuk membiayai kegiatan rutin
pemerintahan, yang terdiri dari (i) belanja pegawai, (ii) belanja
barang, (iii) pembayaran bunga utang, (iv) subsidi, dan
(v) pengeluaran rutin lainnya. Sementara itu, pengeluaran
pembangunan merupakan pengeluaran negara yang
dialokasikan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan
yang dibebankan pada anggaran belanja pemerintah pusat
dalam rangka pelaksanaan sasaran pembangunan nasional,
baik berupa sasaran fisik maupun nonfisik. Dalam hal ini,
pengeluaran pembangunan terdiri dari (i) pengeluaran
pembangunan dalam bentuk pembiayaan rupiah, yang
pendanaannya bersumber dari dalam negeri dan dari luar
negeri dalam bentuk pinjaman program, dan (ii) pengeluaran
pembangunan dalam bentuk pembiayaan proyek, yang
pendanaannya bersumber dari luar negeri dalam bentuk
pinjaman proyek.
Selanjutnya, sebagaimana diamanatkan oleh UU No.17
Tahun 2003, maka sistem penganggaran mengacu pada
praktik-praktik yang berlaku secara internasional. Menurut
GFS (Government Financial Statistics) Manual 2001, sistem
penganggaran belanja negara secara implisit menggunakan
sistem unified budget, dimana tidak ada pemisahan antara
pengeluaran rutin dan pembangunan, sehingga klasifikasi
menurut ekonomi akan berbeda dari klasifikasi sebelumnya.
Dalam hal ini, belanja negara menurut klasifikasi ekonomi
dikelompokkan ke dalam (1) kompensasi untuk pegawai;
(2) penggunaan barang dan jasa; (3) kompensasi dari modal
tetap berkaitan dengan biaya produksi yang dilaksanakan
149
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
sendiri oleh unit organisasi pemerintah; (4) bunga hutang;
(5) subsidi; (6) hibah; (7) tunjangan sosial (social benefits);
dan (8) pengeluaran-pengeluaran lain dalam rangka transfer
dalam bentuk uang atau barang, dan pembelian barang dan
jasa dari pihak ketiga untuk dikirim kepada unit lainnya.
Dalam melaksanakan perubahan format dan struktur
belanja negara, telah dilakukan dengan melakukan
penyesuaian-penyesuaian, namun tetap mengacu GFS
Manual 2001 dan UU No. 17 Tahun 2003. Beberapa catatan
penting berkaitan dengan perubahan dan penyesuaian format
dan struktur belanja negara yang baru antara lain :
Pertama, dalam format dan struktur I-account yang baru,
belanja negara tetap dipisahkan antara belanja pemerintah
pusat dan belanja untuk daerah, karena pos belanja untuk
daerah yang berlaku selama ini tidak dapat diklasifikasikan
ke dalam salah satu pos belanja negara sebagaimana diatur
dalam UU No.17 Tahun 2003;
Kedua, semua pengeluaran negara yang sifatnya bantuan/
subsidi dalam format dan struktur baru diklasifikasikan
sebagai subsidi; dan
Ketiga, semua pengeluaran negara yang selama ini
‘mengandung’ nama lain-lain yang tersebar di hampir
semua pos belanja negara, dalam format dan struktur baru
diklasifikasikan sebagai belanja lain-lain.
Tumpang Tindih Belanja
Dengan berbagai perubahan dan penyesuaian tersebut,
belanja negara menurut klasifikasi ekonomi (jenis belanja)
terdiri dari (i) belanja pegawai, (ii) belanja barang, (iii) belanja
modal, (iv) pembayaran bunga utang, (v) subsidi, (vi) hibah,
150
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
(vii) bantuan sosial, dan (viii) belanja lain-lain. Sedangkan
belanja untuk daerah, sebagaimana yang berlaku selama
ini terdiri dari (i) dana perimbangan, dan (ii) dana otonomi
khusus dan penyesuaian. Dengan adanya perubahan format
dan struktur belanja negara menurut jenis belanja maka
secara otomatis tidak ada lagi pemisahan antara belanja rutin
dan belanja pembangunan (unified budget).
Beberapa pengertian dasar terhadap komponenkomponen penting dalam belanja tersebut, antara lain;
Belanja pegawai menampung seluruh pengeluaran
negara yang digunakan untuk membayar gaji pegawai,
termasuk berbagai tunjangan yang menjadi haknya, dan
membayar honorarium, lembur, vakasi, tunjangan khusus
dan belanja pegawai transito, serta membayar pensiun dan
asuransi kesehatan (kontribusi sosial). Dalam klasifikasi
tersebut termasuk pula belanja gaji/upah proyek yang selama
ini diklasifikasikan sebagai pengeluaran pembangunan.
Dengan format ini, maka akan terlihat pos yang tumpang
tindih antara belanja pegawai yang diklasifikasikan sebagai
rutin dan pembangunan. Disinilah nantinya efisiensi akan
bisa diraih. Demikian juga dengan belanja barang yang
seharusnya digunakan untuk membiayai kegiatan operasional
pemerintahan untuk pengadaan barang dan jasa, dan biaya
pemeliharaan aset negara. Demikian juga sebaliknya sering
diklasifikasikan sebagai pengeluaran pembangunan.
Belanja modal menampung seluruh pengeluaran negara
yang dialokasikan untuk pembelian barang-barang kebutuhan
investasi (dalam bentuk aset tetap dan aset lainnya). Pos
belanja modal dirinci atas (i) belanja modal aset tetap/fisik, dan
(ii) belanja modal aset lainnya/non-fisik. Dalam prakteknya
selama ini belanja lainnya non-fisik secara mayoritas terdiri
151
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dari belanja pegawai, bunga dan perjalanan yang tidak terkait
langsung dengan investasi untuk pembangunan.
Subsidi menampung seluruh pengeluaran negara yang
dialokasikan untuk membayar beban subsidi atas komoditas
vital dan strategis tertentu yang menguasai hajat hidup
orang banyak, dalam rangka menjaga stabilitas harga agar
dapat terjangkau oleh sebagian besar golongan masyarakat.
Subsidi tersebut dialokasikan melalui perusahaan negara
dan perusahaan swasta. Sementara itu, selama ini ada jenis
subsidi yang sebetulnya tidak ada unsur subsidinya, maka
belanja tersebut akan dikelompokkan sebagai bantuan sosial.
Bantuan sosial menampung seluruh pengeluaran negara yang
dialokasikan sebagai transfer uang/barang yang diberikan
kepada penduduk, guna melindungi dari kemungkinan
terjadinya risiko sosial, misalnya transfer untuk pembayaran
dana kompensasi sosial.
Sementara itu, belanja untuk daerah menampung seluruh
pengeluaran pemerintah pusat yang dialokasikan ke daerah,
yang pemanfaatannya diserahkan sepenuhnya kepada daerah.
Pemberantasan KKN
Kedepan, sejalan dengan amanat UU No.17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara akan pula diterapkan secara
penuh anggaran berbasis kinerja di sektor publik, agar
penggunaan anggaran tersebut bisa dinilai kemanfaatan dan
kegunaannya bagi masyarakat. Jelas ada keinginan yang kuat
dari Pemerintah bahwa mulai tahun depan pengelompokkan
atas anggaran belanja rutin dan anggaran belanja
pembangunan tidak boleh dipergunakan lagi, karena telah
menimbulkan peluang terjadinya duplikasi, penumpukan,
dan penyimpangan anggaran.
152
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
Sejalan dengan rencana jangka menengah sebagai
penunjang penerapan perubahan format baru dan anggaran
berbasis kinerja, beberapa langkah penting yang akan
ditempuh, yakni pertama penyempurnaan format anggaran,
dan kedua, penyelesaian standar akuntansi pemerintah dan
penyusunan neraca dan kekayaan negara.
Jelas, pemerintah saat ini sedang giat-giatnya melakukan
reformasi yang siginifikan di bidang keuangan negara
dalam upaya untuk memberantas KKN, dan dimulai dari
rumah tangganya sendiri. Upaya ini akan menjadi kado bagi
pemerintah yang akan datang yang sangat berharga untuk
menciptakan pemerintah yang bersih dan transparan.
Pernah dimuat di Kompas 13 Mei 2004
***
153
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Bisakah Ekonomi Bebas Korupsi?
Pengantar :
“Reformasi birokrasi.. Reformasi birokrasi.. Reformasi
birokrasi ! Kata itu telah lama menjadi kata kunci yang
didengungkan oleh banyak kalangan untuk memulai
transformasi perekonomian ke arah yang lebih baik
dan tentunya lebih akuntabel, efisien, bebas korupsi dan
transparan. Namun masalahnya adalah: reformasi
birokrasi seperti apa yang diperlukan oleh Pemerintah?
Sistem kah, atau penggantian pejabat publik? Hal ini
perlu ditelusur lebih lanjut untuk mengambil langkahlangkah reformasi birokrasi yang tepat dan terukur, serta
mendapatkan hasil akhir yang diharapkan: akuntabel,
efisien, bebas korupsi dan transparan.”
A
khir tahun 2010 BEM (Badan Eksekutif
Mahasiswa) Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM
menyelenggarakan seminar dengan tema Ekonomi
Bebas Korupsi di kampus UGM. Para pembicara
adalah mereka yang kompeten dari sisi keilmuan, penegakan
hukum, pengamat dan praktisi di bidang korupsi. Ada
pembicara dari KPK, ICW, LSM, Pemerintah, swasta, politisi
154
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
dan dari kalangan kampus sendiri. Seperti lazimnya, diskusi
berlangsung hangat, penuh dengan kegelisahan, kritik dan
secercah harapan agar ekonomi dapat segera dibersihkan dari
penyakit korupsi.
Pertanyaan mendasar yang dilontarkan adalah “apakah
perekonomian dapat bebas dari korupsi tanpa perubahan
politik dan hukum?” Jawabannya tidak, perekonomian bebas
korupsi tidak bisa terjadi tanpa perubahan sistem, tatanan
dan kelembagaan politik dan penegakan hukum yang juga
bebas korupsi. Apa artinya? Institusi politik dan hukum harus
ditata sedemikian rupa sehingga tidak ada celah terjadinya
money politics jabatan publik dan anggaran, intervensi politik
dalam kebijakan ekonomi, kesewenang-wenangan hukum
serta politisasi kebijakan ekonomi. Kalau politik dan hukum
tidak bersih, niscaya ekonomi pun tidak bisa terhindar dari
korupsi sebagai imbasnya.
Dalam seminar tersebut diperbicangkan kasus-kasus
korupsi yang terjadi pada masa KIB I dan 1 tahun KIB
II, political will dan upaya-upaya pemberantasannya.
Reformasi birokrasi di bicarakan panjang lebar. Sayangnya,
para pembicara dalam seminar tersebut sepakat bahwa
upaya pemberantasan korupsi melalui institusi KPK hingga
reformasi birokrasi di tingkat eksekutif akhir2 ini mengalami
kemandekan.
Reformasi Birokrasi Kunci
Menteri Keuangan beberapa waktu sebelumnya
memberikan indikasi terjadinya keterlambatan dalam
pelaksanaan program reformasi birokrasi di tubuh
pemerintah. Aparat keamaanan dan penegakan hukum
seperti Kepolisian, Kejaksanaan, dan Kementerian Hukum
155
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dan HAM yang seharusnya menuntaskan reformasi birokrasi
di tahun 2010 mengalami keterlambatan. Anggaran reformasi
birokrasi tahun 2010 masih menganggur.
Pemerintah KIB I sudah meluncurkan program reformasi
birokrasi, mulai dari bidang keuangan Kemenkeu, BPK,
MA, Sekneg, Menko; bidang keamanan dan penengakan
hukum meliputi Polri, TNI, Kejaksaan, Kemenhuk,
Kemenpan
dan
bidang
lainnya.
Pelaksanaannya “Ekonomi bebas korupsi
ternyata
mengalami
harus dimulai dari
hambatan kepemimpinan,
perubahan mindset
khususnya selama KIB II.
para pejabat negara
Praktis hingga kini, hanya
dengan teladan
BPK dan Kemenkeu yang
kepemimpinannya.
sudah memiliki cetak biru
Bukan kepemimpinan
dan
pelaksanaan
yang
orang ke orang yang
jelas mengenai reformasi
lebih penting, meskipun
birokrasi.
Kemenkeu
harus diakui bahwa
memulai reformasi birokrasi
membangun
sistem
dari penataan organisasi,
yang baik harus
menyusun
penilaian
dimpimpin
oleh orang.
organisasi dengan metoda
balanced scorecard (BSC), Pembangun sistem jauh
rekrutmen pegawai baru lebih penting siapapun
pemimpinnya”
(CPNS) secara professional
dan transparan, penetapan
indikator kinerja utama, mutasi dengan sistem open bid
(terbuka) hingga penetapan renumerasi berdasarkan
peringkat pekerjaan. Kemenkeu bahkan selalu menyampaikan
ke publik hasil evaluasi pihak independen untuk dikritisi
dan mendapat masukan serta evaluasi, khususnya terhadap
institusi yang bersentuhan dengan publik seperti pajak, bea
156
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
cukai dan penganggaran. Meskipun belum bebas dari korupsi,
namun demikian reformasi birokrasi di Kemenkeu sudah
mampu membuat sebagian besar pejabat dan karyawan
menghindar, bahkan memerangi korupsi di lingkungannya
sendiri. Sayangnya, karena kemenkeu melayani instansi
lainnya yang belum melakukan reformasi birokrasi, dampak
nasionalnya belum signifikan. Apalagi karena reformasi
birokrasi belum menyentuh DPR, maka perbaikan proses
penganggaran belum menyentuh akar masalahnya.
Mulai dari Pejabat Negara
Tiga tahun yang lalu, sebenarnya sudah dimulai upaya
Reformasi Pejabat Negara yang berujung pada standar
renumerasi. Rencananya dimulai secara serentak pada
pejabat negara dilingkungan eksekutif, legislatif dan
yudikatif. Namun, reformasi pejabat negara tidak kunjung
mendapatkan titik temu dan kandas ditengah jalan. Bisa
dibayangkan reformasi pejabat negara sampai di tingkat
menteri kabinet saja tidak kunjung tuntas, maka reformasi
di kementrian akan terlanda budaya “ewuh pekewuh”. UKP4
sudah memulai dengan penilaian IKU (indikator kinerja
utama) tetapi hanya sebatas penilaian pencapaian kuantitatif
pada diri menteri atau kementerian. IKU hanyalah sebagian
dari pelaksanaan reformasi birokrasi.
Pengaturan hubungan keuangan antara eksekutif,
legislatif dan yudikatif, termasuk aparat pengawas di tingkat
pusat dan daerah belum diatur secara tegas sehingga sering
menimbulkan masalah ‘tata kelola’ dan juga benturan
serta ketidakseimbangan hubungan kerja. Penyelewengan
perencanaan dan penggunaan anggaran sering terjadi karena
hubungan mereka yang terlalu ‘cozy’ dan nyaman, jauh dari
fungsi saling mengontrol.
157
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Ekonomi bebas korupsi harus dimulai dari
perubahan mindset para pejabat negara dengan teladan
kepemimpinannya. Bukan kepemimpinan orang ke orang
yang lebih penting, meskipun harus diakui bahwa membangun
sistem yang baik harus dimpimpin oleh orang. Pembangun
sistem jauh lebih penting siapapun pemimpinnya. Setelah
65 tahun merdeka, masih banyak orang meragukan bahwa
ekonomi Indonesia dapat membebaskan dari korupsi. Sekecil
apapun, saat ini sudah ada beberapa instansi di pusat dan
daerah yang sukses dalam menjalankan reformasi birokrasi
dan membebaskan diri dari korupsi. Tidak ada salahnya
mencontoh mereka yang telah berhasil merancang dan
melaksanakannya.
***
158
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
Kerjasama Pembiayaan infrastruktur
Pengantar :
“Kabinet Indonesia bersatu (KIB) I dan II mempunyai
mega proyek untuk membangun infrastruktur yang ada di
Indonesia guna meningkatkan percepatan perekonomian
yang ada. Banyak hambatan-hambatan yang menghalangi
berjalannya mega proyek ini. Namun pemerintah mencoba
untuk mengatasi masalah ini dengan melakukan Public
Private Partnerships (PPPs). Dukungan pemerintah
diberikan juga melalui pemberian jaminan untuk menutup
kekurangan (shortfall) dan pemberian dana pembelian
tanah dan risiko harga tanah atau land capping. Namun
skema yang lebih sistematis adalah pembentukan PT.
Penjamin Infrastruktur Indonesia (PII) dan membentuk
perusahaan pembiayaan infrastruktur yakni PT. SMI
(Sarana Multi Infrastruktur). Dengan koordinasi yang baik
antara kementrian dan daerah, masalah-masalah yang
ada seharusnya bisa diatasi. Dan masalah pembiayaan
jangka panjang bukan masalah krusial mengingat
instrumen pasar modal dan APBN cukup memadai.”
159
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
K
abinet Indonesia Bersatu (KIB) I dan II punya
rencana besar membangun mega proyek
infrastruktur dikerjasamakan dengan pihak
swasta. Mulai dari pembangunan jalan tol Trans
Java 1000 km, tol Bandung-Jakarta, trans Sumatera dan trans
Kalimantan, jalan rel dobel trek Cirebon-Kroya, tol lingkar
luar Jakarta (JORR), Listrik 10 ribu MW, Monorel dan MRT
di Jakarta, Bandara Kualanamu Medan, Jembatan Suramadu
dan lain-lain. Sampai awal tahun 2011 baru dua proyek
yang tuntas, yakni tol Cipularang dan jembatan Suramadu,
sementara yang lain masih tertinggal. Beberapa ruas jalan
lingkar luar Jakarta dan Trans Java sudah selesai, tetapi
masih belum signifikan dan lambat. Wakil Presiden Boediono
menginginkan tahun 2010 dan 2011 dapat dilakukan debottlenecking atas hambatan-hambatan bagi pembangunan
infrastruktur tersebut. Nyatanya masalah pembebasan tanah,
tumpang tindih lahan masih terjadi dalam proyek jalan tol,
bandara dan pelabuhan. Masalah sulitnya penyediaan energi
primer, khususnya batubara dan gas masih terjadi di proyek
listrik. Proyek air minum terganjal dengan tumpukan utang
lama bagi sebagian PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum)
dan penyesuaian tarif air minum yang merupakan kewenangan
Pemda, sulit dipastikan. Yang merupakan masalah bagi
semua proyek infrastruktur adalah sulitnya mendapatkan
pendanaan jangka panjang dan jaminan keberlanjutan proyek
serta adanya penyesuaian tarif yang menarik bagi investor.
Dukungan pemerintah melalui APBN, APBD, jaminan bagi
kemampuan keuangan BUMN penyelenggaran layanan
publik (PSO) seperti PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan
KAI (Kereta Api Indonesia), maupun jaminan Pemerintah
mengenai pembiayaan dan utang oleh beberapa penyedia
dana sangat dibutuhkan.
160
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
Pola Kerjasama Swasta
Ketersediaan infrastruktur yang memadai dan
berkesinambungan merupakan salah satu kebutuhan yang
mendesak dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi.
Guna mendukung percepatan pembangunan infrastruktur
tersebut, Pemerintah antara lain memberikan penugasan
kepada BUMN dan melakukan kerjasama dengan badan
usaha atau biasa dikenal dengan Public Private Partnerships
(PPPs).
Proyek pembangunan
“Guna mendukung
infrastruktur
yang
percepatan
merupakan
penugasan
pembangunan
Pemerintah kepada BUMN
infrastruktur
tersebut,
antara lain adalah Proyek
Percepatan Pembangunan Pemerintah antara lain
Pembangkit
Tenaga memberikan penugasan
kepada BUMN dan
Listrik 10.000 MW. Di sini
melakukan kerjasama
Pemerintah
memberikan
dengan badan usaha
penugasan dan dukungan
atau biasa dikenal
bagi proyek percepatan
dengan Public Private
pembangunan pembangkit
Partnerships (PPPs).”
tenaga
listrik
yang
menggunakan batubara oleh
PLN, termasuk pembangunan transmisi terkait.
Sedangkan proyek pembangunan infrastruktur dalam
kerangka PPPs antara lain adalah Proyek Pembangunan Jalan
Tol Trans Jawa, Proyek Pembangunan Jalan Tol Jakarta
Outer Ring Road II (JORR II), dan Proyek Pembangunan
Monorail. Pelaksanaan PPP diatur dengan Peraturan Presiden
Nomor 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah
dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur dan
161
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38/PMK.01/2006
tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengendalian dan Pengelolaan
Risiko atas Penyediaan Infrastruktur. Proyek jalan tol Trans
Jawa sepanjang kurang lebih 1000 km merupakan prioritas
dari seluruh rencana target pembangunan jalan tol sepanjang
1600 km. Proyek ini dimaksudkan sebagai pengembangan
jalur utama Pulau Jawa (main trunk) yang menghubungkan
wilayah barat dan timur yang merupakan bagian dari
program pemerintah untuk mendukung pusat pertumbuhan
ekonomi, menghubungkan antar kawasan, dan meningkatkan
mobilitas serta aksesibilitas orang dan barang antar wilayah.
Selain pemberian dukungan pemerintah atas beberapa jenis
risiko yang mungkin akan terjadi dari pembangunan proyek
jalan tol, dalam rangka mempercepat proyek pembangunan
jalan tol, Pemerintah juga telah menyiapkan dana bergulir
yang dikelola oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) untuk
membantu dalam hal pendanaan untuk pembebasan lahan
yang akan digunakan bagi pembangunan jalan tol.
Proyek lain yang pernah direncanakan mendapat
dukungan pemerintah adalah Proyek Pembangunan Monorail.
Dukungan pemerintah diberikan dalam bentuk pemberian
jaminan untuk menutup kekurangan (shortfall) atas batas
minimum penumpang sebesar 160.000 penumpang per
hari, dengan nilai maksimal jaminan sebesar US$11,25 juta
per tahun selama 5 tahun, terhitung sejak Proyek Monorail
Jakarta (green line dan blue line) beroperasi komersial
dengan kemampuan angkut sebesar 270.000 penumpang
per hari. Sayangnya proyek ini terkatung-katung karena tidak
ditangani dengan baik sejak awal dan ternyata proyek ini
tidak layak secara keuangan. Padahal beberapa konstruksi
bangunan sudah dilaksanakan dan tentu menjadi kerugian
pihak kontraktor.
162
Bagian IV – Anggaran dan Pemberantasan Korupsi
Penjaminan Pemerintah, Landcaping dan PII
Atas keberanian dari wapres Jusuf Kalla waktu itu,
sebetulnya beberapa proyek infrastruktur mulai berjalan
karena dukungan Pemerintah. P. JK berkeyakinan bahwa
tanpa dukungan Pemerintah proyek tidak akan jalan dan
tidak ada investor yang berminat. Sejak itulah didisain
dukungan Pemerintah yang nyata. Penulis ikut menyusun
desain dukungan tersebut. Kepada penyedia dana proyek
listrik, dukungan Pemerintah yang diberikan adalah dalam
bentuk pemberian jaminan atas kewajiban pembayaran
utang PLN kepada kreditur yang memberikan kredit ekspor,
sepanjang ketidakmampuan PLN membayar kewajiban
tersebut disebabkan oleh perubahan kebijakan Pemerintah
terhadap harga jual listrik, subsidi listrik dalam rangka
kompensasi fungsi kemanfaatan umum, pasokan dan harga
batubara, serta penghentian atau penundaan pelaksanaan/
pembangunan proyek yang telah berjalan.
Sementara untuk proyek tol, dukungan diberikan
dalam bentuk dana pembelian tanah dan risiko harga tanah
atau land capping atas selisih harga tanah yang ditetapkan
pemerintah dengan harga pasar. Proses pembuatan skema
dana pembelian tanah dan landcapping tersebut berjalan
lama dan melelahkan. Banyak teman-teman di Kementrian
Keuangan tidak setuju dengan skema tersebut, dan jika
setuju dapat dilakukan dengan skema pinjaman komersial.
Dana landcapping didisian untuk multiyears dengan maksud
adanya kepastian dan fleksibilitas. Meskipun tidak mulus toh
akhirnya skema dukungan pemerintah tersebut jadi juga.
Dialokasikan dana pembelian tanah dan landcapping melalui
proses APBN dan DPR memberikan dukungan dengan
beberapa catatan.
163
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Skema yang lebih sistematis adalah pembentukan PT.
Penjaminan Infrastruktur Indonesia atau PII. Penulis ikut
melahirkan perusahaan ini. PT. PII adalah perusahaan yang
dibentuk untuk melakukan penjaminan pemerintah atas
proyek dalam skema PPP. PT. PII mendapat suntikan modal
yang cukup untuk dapat melakukan penjaminan sehingga
mengurangi biaya ketidakpastian proyek tersebut. Disamping
itu pemerintah juga membentuk perusahaan pembiayaan
infrastruktur yakni PT. SMI (Sarana Multi Infrastruktur)
untuk kebutuhan dana jangka panjang proyek infrastruktur.
Masalah infrastruktur adalah prioritas bagi perekonomian
Indonesia. Hambatan-hambatan pembangunan infrastruktur
sudah teridentifikasi dan sekarang masalahnya adalah
mengatasi dengan langkah kongkrit. Tumpang tindih
lahan, ketersediaan energi primer seharusnya dapat diatasi
dengan koordinasi yang baik antar kementrian dan dengan
daerah. RUU Tanah yang sudah lama dibicarakan harusnya
diprioritaskan pemerintah bersama dengan DPR. Masalah
pembiayaan jangka panjang bukan masalah krusial mengingat
instrumen pasar modal dan APBN cukup memadai.
Pernah dimuat di Republika 16/4/2011
***
164
Bagian V
Sektor Keuangan,
Privatisasi dan Utang
165
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
166
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
Delapan Pertanyaan Kesuksesan
Penerbitan Obligasi Global RI
Pengantar :
“Penerbitan obligasi internasional pertama yang
dilakukan oleh Pemerintah Indonesia telah menyita banyak
perhatian di berbagai pihak investor dunia. Berbagai
pertanyaan pun muncul seputar peluncuran tersebut,
seperti pertanyaan mengenai persoalan apa, mengapa,
dan bagaimana duduk soal seputar suksesnya penerbitan
obligasi internasional yang akhirnya dilakukan oleh
Indonesia. Penulis mencoba menjabarkan secara rinci
mengenai penjelasan atas pertanyaan-pertanyan seputar
prestasi Indonesia dalam penerbitan obligasi internasional“
P
ada 4 Maret 2004, Pemerintah Indonesia telah
menerbitkan
obligasi
internasional
dalam
denominasi dollar Amerika Serikat sebesar 1 miliar
dollar AS berjangka waktu 10 tahun dengan imbal
hasil (yield) sebesar 6,85 persen dengan kupon 6,75 persen,
jadi pada tingkat harga 99,285 persen. “It could well be that
three years from now, we’ll look back and (say) ’when on
earth were credit condition such that Indonesia could issue a
167
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
bond’ with a 6.75 percent coupon?” (Tiga tahun mendatang,
kita mungkin akan selalu ingat bagaimana Indonesia dengan
kondisi perekonomian saat itu dapat menerbitkan obligasi
dengan kupon serendah 6.75 persen?), demikian pernyataan
kekaguman Stephen Hope, seorang fund manager di Dalton
Investment, San Francisco, (Asia Wall Street Journal, 4 Maret
2004).
Keputusan Indonesia untuk menerbitkan obligasi 1 miliar
dollar AS itu diambil setelah mempertimbangkan tiga hal.
Pertama adanya delapan kali kelebihan permintaan (4 miliar
dollar AS) dari indikasi jumlah awal, yakni 500 juta dollar
AS. Kedua, imbal hasil (yield) yang relatif rendah, antara
lain karena rendahnya suku
“Tiga tahun mendatang,
bunga di AS dan persepsi
kita mungkin akan
positif investor terhadap
selalu ingat bagaimana
Indonesia. Ketiga, investor
Indonesia dapat
berkualitas menginginkan
menerbitkan obligasi
adanya
jumlah
yang
dengan kupon serendah
memadai, minimal 1 miliar
6.75 persen?”
dollar AS, untuk menjamin
adanya alokasi dan likuiditas
di pasar.
Banyak pertanyaan mengenai persoalan apa, mengapa,
dan bagaimana duduk soal seputar kesuksesan penerbitan
obligasi internasional tersebut. Berikut ini beberapa di
antaranya. Pertama, untuk apa hasil penerbitan obligasi
tersebut. Hasil langsung dari penerbitan obligasi internasional
berupa dana masuk.
Dana atas penerbitan obligasi tersebut, yakni sekitar
1 miliar dollar AS x Rp 8.600 (asumsi APBN 2004) = Rp
8,6 triliun bruto setelah nantinya dikurangi dengan biaya
168
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
administrasi, dipakai dalam rangka pelaksanaan APBN 2004.
Seperti diketahui, APBN 2004 merencanakan penerbitan
obligasi dalam dan luar negeri Rp 32,5 triliun untuk menutup
kebutuhan pembiayaan.
Pada tahun ini pemerintah telah mendapatkan dana
penerbitan obligasi dalam negeri pada Februari 2004 sebesar
Rp 2,5 triliun dan obligasi internasional yang baru saja
diterbitkan, yakni sedikit di bawah Rp 8,6 triliun. Sebagaimana
direncanakan, sisanya, yakni Rp 21,4 triliun, akan diperoleh
dari penerbitan secara reguler obligasi dalam negeri. Tak ada
rencana untuk menerbitkan obligasi internasional lagi pada
tahun ini.
Di samping manfaat langsung berupa setoran ke APBN,
dengan adanya alokasi lebih dari 90 persen dalam bentuk
mata uang asing (dollar), maka akan diperoleh pula manfaat
terhadap tambahan cadangan devisa dari aliran modal asing
masuk kepada negara yang dikelola oleh Bank Indonesia.
Pertanyaan kedua mengenai alasan mengapa begitu
banyak permintaan para investor pada obligasi Indonesia
sehingga terjadi delapan kali kelebihan permintaan. Dari hasil
pertemuan penjajakan mengikat (deal roadshow) maupun
penjajakan tak mengikat (nondeal roadshow) di beberapa
kota, memberikan indikasi bahwa meskipun peringkat
Indonesia B2/B/B+ atau empat tingkat di bawah peringkat
investment grade (BBB), pandangan ekonomi politik banyak
yang mengakui level itu seharusnya bisa satu atau dua tingkat
lebih tinggi.
Di samping itu, Indonesia merupakan pemain baru
setelah lebih kurang delapan tahun hilang dari radar pasar
modal dan perekonomian dunia. Faktor ini juga dianggap
169
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
menjadi daya tarik sendiri bagi investor yang selalu ingin
melakukan diversifikasi portofolio investasinya.
Kombinasi antara adanya unsur kelangkaan (sebagai
pemain baru) dan prospek ekonomi yang baik serta didukung
dengan respons positif dari hasil roadshow dan strategi
pemasaran yang baik oleh lead manager, yakni JP Morgan
dan Deutsche Bank, merupakan kunci terjadinya kelebihan
permintaan. Reputasi kedua, lead manager dengan
jaringannya yang luas memungkinkan mereka untuk bisa
mengakses dan meyakinkan para calon investor.
Faktor pemilihan waktu penerbitan (timing) juga sangat
penting, yakni pada waktu suku bunga AS masih rendah dan
sebelum kampanye pemilihan umum (pemilu) langsung di
Tanah Air dilaksanakan. Pada saat yang sama kebetulan tidak
banyak (bahkan tidak ada) negara yang melakukan penerbitan
obligasi sehingga tidak terjadi persaingan di pasar.
Di samping adanya kelebihan permintaan sampai delapan
kali dan jumlah transaksi (account) yang masuk hingga 270,
memungkinkan adanya price tension untuk mendorong
yield ke bawah hingga tingkat yang sangat ketat 6,85 persen.
Beberapa investor sempat hengkang dari pedoman harga
tersebut karena kisaran yang wajar adalah 7 persen. Namun,
toh sebagian besar investor yang berkualitas tetap dan tidak
beranjak dari partisipasinya.
Pertanyaan ketiga mengenai alasan diterbitkan obligasi 1
miliar dollar AS dan tidak 500 juta dollar. Semula pemerintah
mengusulkan dalam RAPBN 2004 penerbitan obligasi 400
juta dollar AS di pasar internasional. Namun, kemudian
diindikasikan naik hingga 500 juta dollar AS sebagai nilai
minimum agar tercatat dalam indeks. Awalnya, terus terang
170
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
belum terpikir dan terbayang bahwa pasar internasional
menyambut dengan sangat antusias.
Peningkatan jumlah penerbitan menjadi 1 miliar dollar
AS dilakukan karena beberapa faktor, yakni: a) Kebutuhan
likuiditas perdagangan pasar sekunder yang lebih tinggi. Jika
alokasi dianggap terlalu kecil, ada dua kemungkinan, investor
berkualitas tak akan berpartisipasi dan investor berkualitas
yang membeli akan langsung menjual di pasar sekunder, b)
Mengurangi persepsi pasar atas kemungkinan pemerintah
menerbitkan obligasi internasional lagi tahun ini, c) Langsung
masuk ke indeks seperti EMBI di akhir bulan (jadi tidak
menunggu tiga bulan setelah penerbitan), d) Karena order
yang masuk banyak (delapan kali kelebihan), maka pedoman
yield bisa lebih rendah dari penawaran yang diberikan
investor, dan e) Adanya kebutuhan pembiayaan APBN 2004
dan mengurangi tekanan pada penerbitan obligasi dalam
negeri.
Pertanyaan keempat mengenai investor mau membeli
pada tingkat imbal hasil 6,85 persen. Tingkat imbal hasil 6,85
persen untuk obligasi negara 10 tahun pada peringkat B2/B/
B+ adalah sangat murah bila dibandingkan obligasi serupa
di beberapa negara. Dengan tingkat suku bunga obligasi AS
10 tahun saat ini 4,08 persen, berarti spread-nya 277 basis
poin (bps). Para analis pasar modal internasional sebelumnya
memperkirakan spread-nya berada pada tingkat 300-400
bps.
Persepsi Positif
Rendahnya spread dan imbal hasil tersebut mencerminkan
persepsi investor yang sangat positif pada kondisi ekonomi
politik Indonesia saat ini dan masa mendatang. Risiko politik
171
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dengan adanya pemilu langsung yang memakan waktu sangat
panjang, meskipun masih penuh ketidakpastian, oleh para
investor dianggap bukan suatu yang perlu dikhawatirkan.
Demikian juga adanya anggapan bahwa siapa pun yang akan
menjadi presiden ideologi ekonomi tidak akan berubah.
Persepsi investor terhadap imbal hasil berbeda satu sama
lain. Investor Asia dan Indonesia kurang sensitif pada tingkat
imbal hasil, sementara investor Eropa dan AS mempunyai
sensitivitas atas imbal hasil di sekitar 7 persen. Kemungkinan
besar permintaan dari investor-investor tersebut akan
berkurang di imbal hasil kurang dari 6,875 persen. Ini
disebabkan karena yield ini dianggap jauh lebih rendah
dibandingkan dengan negara-negara dengan peringkat yang
sama.
Pertanyaan kelima mengenai kualitas pembeli
obligasi Indonesia. Dari hasil metode pengumpulan order
(bookbuilding) dari jumlah permintaan mencapai lebih dari
4 miliar dollar AS di dalamnya termasuk permintaan dari
investor-investor berkualitas tinggi dari Eropa dan AS, selain
juga investor Asia (seperti Alliance, GIC, New World, Goldman
Sachs, Putnam, Fidelity, Prudential), yang merupakan
investor bereputasi tinggi dan berwawasan jangka panjang
(buy-and-hold).
Dilihat dari sisi geografis sumber dana, investor dari AS
menempati proporsi tertinggi, yakni 35 persen, disusul Eropa
30 persen, Asia non-Indonesia 23 persen, dan Indonesia
8 persen. Dilihat dari sisi institusinya, proporsi pembelian
oleh perusahaan pengelola aset adalah 55 persen, bank 24
persen, perusahaan asuransi dan dana pensiun 8 persen, dan
perorangan 13 persen.
172
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
Pertanyaan keenam mengenai pandangan investor
mengenai Indonesia. Perkembangan ekonomi makro dan
prospek pemilu dianggap sangat positif. Disiplin dalam
pengelolaan APBN dan utang pemerintah merupakan kunci
dalam pandangan investor. Di balik itu, diakui pertumbuhan
ekonomi masih didorong konsumsi, tetapi juga didukung
ekspor sehingga mulai memperkuat fondasi ekonomi. Arah
reformasi perpajakan dan anggaran serta pengelolaan utang
banyak dipuji. Neraca pembayaran dan cadangan devisa
cukup, ketahanan sektor keuangan membaik. Namun,
dikeluhkan rendahnya rasio pinjaman.
Iklim investasi, meski belum sepenuhnya pulih, dinilai
memiliki kemajuan. Yang selalu dikeluhkan adalah buruknya
reformasi hukum dan kepastian hukum, dan yang paling
mengemuka adalah masalah-masalah putusan peradilan
di daerah yang dinilai tak adil dan tak profesional. Para
pengacara terkenal di Indonesia dianggap merajalela dan
sering bisa mengatur jalannya proses peradilan, terutama di
daerah, sekaligus memanfaatkan lemahnya kualitas jaksa dan
hakim di daerah.
Pertanyaan ketujuh mengenai penerbitan obligasi yang
berarti utang Indonesia bertambah. Jawaban atas pertanyaan
ini adalah benar. Namun, secara keseluruhan stok utang akan
turun sekitar Rp 5 triliun dengan perincian stok utang dalam
negeri naik Rp 11,4 triliun dan stok utang luar negeri turun
Rp 16,1 triliun. Jika dibandingkan dengan produk domestik
bruto (PDB) nominal, tahun 2004 rasio utang dengan PDB
adalah 60 persen, turun dari sekitar 68 persen pada 2003.
173
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Tidak ada ikatan
Dibandingkan dengan utang kepada anggota Consultative
Group on Indonesia (CGI), penerbitan obligasi internasional
mempunyai kelebihan, yakni tidak terikat oleh aturan pemberi
atau pembeli obligasi, dan penerbit (issuer) memiliki posisi
tawar cukup kuat. Metode yang dilakukan dalam rangka
penerbitan dapat bervariasi.
Kelemahan obligasi internasional dibandingkan dengan
utang dari CGI adalah secara finansial bunganya lebih mahal.
Pinjaman luar negeri dalam bentuk Oficial Development
Assistant (ODA) bisa mendapatkan bunga sekitar 3 persen.
Namun, penggunaannya ada ikatan dengan kegiatan proyek
tertentu, persyaratan pinjaman, dan jika tak ditarik sesuai
jadwal terkena biaya komitmen (commitment fee). Jumlah
penerbitan obligasi internasional biasanya tak terlalu
besar dan karena diterbitkan dalam mata uang asing akan
terpengaruh terhadap volatilitas kurs mata uang.
Pertanyaan kedelapan mengenai makna keseluruhan
dari penerbitan obligasi itu. Penerbitan obligasi internasional
1 miliar dollar AS dilakukan bukan semata-mata untuk
keperluan pemenuhan pembiayaan APBN, masuknya
modal asing, dan cadangan devisa. Yang lebih penting
adalah kembalinya Indonesia di dalam peta pasar modal
internasional. Banyaknya minat investor terhadap Indonesia
juga bisa dikatakan meningkatnya kepercayaan terhadap
terjadinya pemulihan ekonomi.
Sumber pembiayaan di pasar modal internasional sangat
luas dan besar jumlahnya. Menurut data, delapan pemodal
obligasi (pendapatan tetap) terbesar di AS memiliki aset lebih
dari 100 miliar dollar AS, hampir separuh PDB Indonesia.
174
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
Pada saat ini mereka mencari tujuan investasi yang menarik
dan berisiko rendah di negara berkembang.
Jika kita bisa menjadi daerah tujuan investasi menarik
tersebut, niscaya akan masuk lagi investasi yang bukan hanya
dalam obligasi atau saham, tetapi juga investasi fisik dalam
bentuk penanaman modal asing (PMA) atau foreign direct
investment (FDI).
Strategi pembiayaan APBN kita memang menuju pada
pembiayaan yang beragam, murah, dan fleksibel. Proses
menerbitkan obligasi internasional ini rumit, dan melelahkan.
Namun, yang membanggakan adalah tidak seperti halnya
perundingan di forum CGI maupun Paris Club, posisi tawar
Indonesia cukup baik.
Untuk ke depannya, agar lebih meningkatkan posisi
tawar di mata dunia, urusan-urusan yang menghambat
investasi, hambatan di dalam reformasi hukum dan peradilan
harus segera dieliminasi. Sektor swasta juga harus berperan
aktif dan mengambil porsi investasi dalam pembiayaan
pembangunan yang lebih besar. Hal ini merupakan jalan
keluar bagi Indonesia, termasuk pula obligasi, agar bisa
semakin dipercaya.
Pernah dimuat di Kompas, Senin, 8 Maret 2004
***
175
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Kewajaran IPO KS
Pengantar:
“Penerbitan saham perdana KS pada akhir tahun 2010,
merupakan sebuah langkah pemerintah, sebagai pemegang
saham tunggal KS, untuk mencari dana dari pasar
modal. Setelah melakukan analisis dan pertimbangan
dari beberapa pendekata, penulis berpendapat bahwa
penerbitan saham ini terbukti telah sesuai dengan proses
dan prosedur yang ditetapkan.”
B
adan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. Krakatau
Steel (KS) bermaksud untuk melakukan ekspansi
kapasitas produksi pabrik baja lembaran dan
meningkatkan modal kerja dalam bentuk pembelian
bahan baku. Di samping itu, badan usaha milik negara ini
merencanakan pematangan lahan seluas kurang-lebih 388
hektare, dan meningkatkan penyertaan modal pada anak
perusahaan. Untuk itulah pemerintah, sebagai pemegang
saham tunggal KS mencari dana dari pasar modal melalui
penawaran perdana (Initial Public Offering atau IPO) saham
pemerintah di bursa.
176
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
Proses dan prosedur serta persetujuan IPO KS di Komite
Privatisasi dan di Dewan Perwakilan Rakyat sesuai dengan
amanat UU Nomor 19 tahun 2004 tentang BUMN dan Pasal
12 Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata
Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). Setelah
mengantongi dukungan dari Komite Privatisasi pemerintah
dan izin IPO oleh DPR pada September 2009, Pemerintah dan
KS melakukan pemasaran tahap awal (pre-marketing) dan
roadwshow didampingi oleh Penjamin Pelaksana Emisi (PPE)
dan juga International Selling Agents (ISA). Tujuannya adalah
mengoptimalkan nilai IPO KS melalui program penjajagan
minat dan investor education yang intensif kepada investor,
baik dalam dan luar negeri (termasuk Amerika Serikat).
Penjajagan minat tersebut dilakukan dalam waktu yang
sangat tepat. Situasi pasar modal dan minat investor portofolio
pada Indonesia sedang berada di puncak. Kondisi makro
ekonomi Indonesia yang stabil, tumbuh dan situasi tahan
krisis menjadikan investor asing percaya untuk mengalirkan
dananya ke Indonesia. Untuk itu, di samping faktor harga
wajar yang dituju, IPO KS juga bertujuan mendapatkan
investor yang berkualitas dengan komitmen jangka panjang,
bukan investor jangka pendek yang hanya membawa uang
panas (hot money), dan menginginkan keuantungan sesaat,
serta bukan investor spekulan.
Berdasarkan persetujuan dari DPR pada 16 September
2009, privatisasi KS disetujui dengan ketentuan, dilakukan
melalui metode IPO secara bertahap maksimum 30 persen,
menyertakan manajemen atau opsi saham karyawan
(employee stock option) sebagai program retensi dan
meningkatkan motivasi bagi manajemen dan karyawan
KS dan pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada
Pemerintah dengan memperhatikan situasi dan kondisi pasar
177
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
yang tepat, harga dan jumlah lembar saham yang dilepas
sesuai dengan tahapan yang dipilih, sehingga diperoleh nilai
penjualan saham yang optimal.
Pemerintah meminta KS untuk memenuhi potensi
pertumbuhan baja nasional yang mencapai 8% pertahun dan
tetap mempertahankan sebagai pemimpin pasar domestik
(domestic market leader). Oleh karena itu, KS berencana
untuk melakukan program revitalisasi dan peningkatan
kapasitas produksi. Beberapa proyek strategis yang telah
direncanakan adalah proyek Ironmaking – Kalimantan
Selatan (Joint venture dengan PT Antam Tbk), revitalisasi
fasilitas produksi dan penghematan energi, proyek Blast
Furnace dan modernisasi steelmaking, Joint venture dengan
Posco, peningkatan kapasitas pabrik HSM dan peningkatan
kapasitas pelabuhan dan pembangkit listrik. Berbagai proyek
strategis tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing
KS dalam memanfaatkan potensi pertumbuhan baja nasional.
Total kebutuhan dana untuk mendanai proyek-proyek
strategis tersebut sekitar Rp 14 triliun. Salah satu sumber
pembiayaan program revitalisasi dan peningkatan kapasitas
produksi adalah melalui IPO dengan menerbitkan saham
baru sekitar 20% (dari 30% yang disetujui DPR), dengan
target perolehan dana sekitar Rp 3 triliun – Rp 4 triliun. Oleh
karena itu, KS masih membutuhkan tambahan dana investasi
sekitar Rp. 10 triliun untuk menjadikannya perusahaan baja
berkelas dunia.
Ukuran Kewajaran
Awalnya kisaran harga IPO KS adalah sebesar Rp750 –
1.150 / lembar saham. Berdasarkan laporan feedback dari para
investor calon peminat saham KS disepakati dan diputuskan
bahwa kisaran harga untuk IPO KS diperketat menjadi Rp
178
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
800 – 1.150,00 / lembar saham, dimana harga tersebut akan
diumumkan pertama kalinya pada Public Expose IPO KS.
Menteri BUMN kemudian memutuskan menetapkan harga
Rp 850,00 /saham. Harga tersebut menurut Menteri adalah
harga yang tidak murah tetapi juga tidak mahal, alias wajar.
Kewajaran harga tersebut dapat diukur dari perhitungan
Price Earning Ration (“PER”) yakni harga dibandingkan
dengan laba bersih perusahaan per saham. Pada harga Rp850
/ lembar saham, KS dinilai sebesar 9,9 kali PER, sedangkan
untuk pembanding di industri sejenis penulis berpendapat
bahwa POSCO dan Tata Steel merupakan perusahaan
pembanding yang cocok, PER dari masing-masing perusahaan
tersebut adalah sebesar 8,2 kali dan 8,1 kali. Jadi menurut
valuasi PER, harga Rp
850,00 /saham sudah wajar ”Harga tersebut menurut
Menteri adalah harga
bahkan sedikit diatas harga
saham perusahaan serupa yang tidak murah tetapi
di regional. Tidak heran, juga tidak mahal, alias
sebelumnya sesuai hasil riset
wajar.”
PPE dan ISA, valuasi saham
berkisar antara Rp500 – Rp1.100 / lembar saham.
Investor calon pembeli selalu mempertimbangkan
masalah valuasi terhadap harga saham dan risiko keuangan
sebagai faktor penentu harga wajar. Jika penetapan harga
diatas perkiraannya maka investor tersebut dapat mengambil
keputusan untuk mundur sama sekali atau mengurangi
permintaannya. Jika investor tersebut memiliki reputasi
bagus dan pemegang dana besar, maka penjual biasanya
akan mendengarkan permintaan mereka. Dugaan penulis
mengenai alasan pemerintah bersikukuh menetapkan pada
harga Rp 850,00 /lembar saham adalah adanya investorinvestor kualitas yang akan mundur (drop-off) apabila
179
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
diminta untuk menaikkan harga. Yang lebih gawat lagi apabila
investor terpaksa membeli pada harga diatas wajar dan
keesok harinya langsung menjual (sell-off) untuk mengurangi
kerugian karena takut harga terlalu tinggi.
Kelebihan Permintaan
Pemerintah tentu juga ingin agar jumlah minat investor
yang masuk pada saat pengumpulan order (bookbuilding)
banyak, khususnya investor kualitas dan investor ritel, yang
seimbang dari sisi geografis investor, dan faktor lainnya.
Konsekuensi dari tujuan tersebut adalah perolehan harga
yang tidak dapat optimal. Faktor-faktor penentu harga: yakni
pertama, komposisi dan distribusi antara investor retail
dan institusi, investor lokal dan asing, serta yang terpenting
adalah pemesanan dari investor berkualitas, kedua valuasi
dari perusahaan pembanding regional sejenis seperti Posco
dan Tata, dan lain-lain. Berdasarkan data perbandingan
yang ada, penulis yakin harga yang ditetapkan relatif optimal.
Ketiga, penetapan harga yang atraktif sehingga kinerja di
pasar sekunder dapat berjalan baik mengingat dalam IPO ini
tidak ada program stabilisasi harga (green shoe). Keempat,
mengupayakan terciptanya momentum yang positif sehingga
diharapkan program-program privatisasi BUMN selanjutnya
yang sedang dipersiapkan tetap diminati oleh investor.
Kelebihan permintaan akan membawa pembentukan
harga yang wajar dan penjatahan yang adil sesuai dengan
aturan serta jumlah permintaan dan kualifikasi investor.
Metoda IPO melalui penawaran umum di dalam dan luar
negeri juga dapat menghindarkan adanya ketidak adilan
dalam penjatahan. Metode IPO yang dilakukan adalah melalui
Penawaran Umum di Indonesia dan Penawaran Terbatas
dengan format Rule - 144 A SEC untuk pasar internasional,
180
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
termasuk Amerika Serikat. Tata kelola dalam penebitan yang
ketat dan rigid tersebut dimaksudkan untuk melindungi
investor public. Kecil sekali kemungkinan adanya manipulasi
penjatahan.
IPO KS masih berjalan dan distribusi pembeli baru akan
terlihat setelah penjatahan nanti pada tanggal 8 November
2010 dan sesuai dengan ketentuan Bapepam dan LK, akan
dilakukan audit penjatahan oleh Kantor Akuntan Independen.
Oleh karena itu, kita sebaiknya menunggu proses dan
hasil IPO KS tersebut. Berdasarkan pengalaman praktek
menjual saham dan obligasi negara di dalam dan luar negeri
yang dimiliki oleh penulis, penulis cukup yakin akan adanya
aturan yang disiplin dan ketat di pasar modal. Sulit sekali
terjadi manipulasi harga dan penjatahan yang bias pada satu
atau beberapa investor tertentu. Sebaiknya kita percayakan
kepada otoritas yang bertanggung jawab, yakni Pemerintah,
KS, Bapepam, DPR dan auditor untuk menjalankan tugas
dengan fungsi masing-masing. Kedisiplinan dan kepercayaan
terhadap sistem dan proses tersebut diperlukan pada saat kita
akan membangun institusi pasar modal yang kredibel dan
profesional.
Tulisan ini pernah dipublikasikan di Tempo 8 November 2010
***
181
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
(Tidak Ada) Kontroversi IPO KS
Pengantar :
“Proses penjualan saham di pasar perdana atau initial
public offering (IPO) saham pemerintah di PT. Krakatau
Steel (KS) telah memicu perdebatan di berbagai kalangan.
IPO KS tersebut dianggap dan telah merugikan perseroan.
Berawal dari adanya polemik yang terjadi di berbagai
pihak atas peristiwa IPO KS, penulis kemudian mencoba
menjawab simpang-siur yang telah terjadi, dengan
membeberkan beberapa fakta yang didasari oleh faktor,
seperti feedback dari para investor, kondisi pasar modal,
perkiraan ke depan, kondisi perusahaan pembanding
regional sejenis, beserta perhitungan harga saham yang
sebenarnya”
P
eristiwa IPO Krakatau Steel akhir tahun 2010 telah
memasuki babak baru. Ketika banyak pengamat
dan anggota legislatif mempertanyakan rendahnya
harga saham per lembar dan penjatahan yang tidak
transparan, ketua Bappepam LK Fuad Rachmany waktu itu
secara lugas dan tepat menjawab semua keraguan.
182
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
Pengamat semakin yakin bahwa keputusan pemerintah
memasang harga saham perdana (IPO) PT Krakatau Steel
(KS) Rp 850,00 per lembar terlalu murah. Faktanya, hanya
beberapa menit setelah pasar dibuka pada Rabu (10/11/2010),
harganya langsung melejit hingga menyentuh batas auto
rejection (penolakan atas pergerakan saham yang melebihi
batas kenaikan atau penurunan) 49,41 persen ke Rp 1.270,00
per lembar.
Hal ini tentu membalikkan argumen pemerintah dan
penjamin emisi KS yang semula mengklaim bahwa harga
saham itu sudah ditetapkan pada harga wajar. Padahal,
harga saham KS seharusnya dapat dilepas langsung di harga
Rp 1.250,00 , seperti saat pembukaan bursa yang langsung
melejit di Rp 1.250,00.
Dengan demikian, terdapat
“Fuad balik menuduh
selisih harga Rp 400,00
kalangan yang secara
per lembar. Jika dikalikan
nyata kontra dengan
dengan jumlah saham yang
proses IPO KS buta
dilepas sebanyak Rp 3,15
dengan realitas pasar.”
miliar lembar saham, maka
total selisihnya sekitar Rp
1,26 triliun.
Fuad Rachmany, Kepala Badan Pengawas Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) waktu itu,
menanggapi dingin tuntutan sejumlah ekonom terkait peran
dan fungsi wasit pasar modal tersebut.
Mekanisme pasar secara jelas tidak dipahami dan
diketahui secara detail oleh para inisiator penolak IPO KS
go public. “Jelas mereka tidak mengerti mekanisme pasar.
Regulasi sudah jelas mengatur tata cara dan mekanisme go
public. Buktinya, saham KS menjadi buruan investor. Hal itu
183
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
berarti masyarakat senang karena dapat melakukan koleksi
terhadap saham perseroan,” tukas Fuad.
Tuduhan ini juga dapat dipatahkan dengan argumentasi
teknis pasar modal, bahwa kisaran harga lazimnya dihitung
dengan perbandingan PER dan minat pembeli yang diperoleh
dari masukan para calon investor melalui penjajagan investor.
Pilihan investor kualitas bisa jadi menurunkan kisaran harga.
Disamping itu, jika dilihat data perdagangan saham di
Bursa Efek Indonesia (BEI), semua penjualan saham yang
terjadi di tahun 2010 mengalami kelebihan permintaan. Pada
hari pertama perdagangan di pasar sekunder kecuali ROTI,
mengalami lonjakan kenaikan harga yang fantastis. Sebagai
contoh, BIPI Boehringer Ingelheim Pharmaceuticals Inc
(kenaikan 36%), TOWR Tower International Inc. (automotive)
(49%), ROTI Sari Roti, (17%), GOLD Golden Retailindo,
(48%), GREN Evergreen Invesco, (69%), BJBR Bank Jabar,
(50%) dan KRAS (Krakatau Steel), 49%. Jadi, KS bukan satusatunya saham yang mengalami kenaikan harga spektakuler
di hari pertama setelah pembukaan di pasar perdana.
Para pengamat juga meminta pembatalan transaksi KS
di bursa. Usai bertemu Fuad saat itu, Achmad Daniri, praktisi
pasar modal menegaskan empat hal. Pertama, IPO KS tidak
bisa dibatalkan, karena merupakan suatu hal yang tidak
mungkin dilakukan. Jika IPO dibatalkan, maka akan sangat
berisiko pada kepercayaan investor dan masyarakat secara
umum, dan perekonomian secara lebih jauh, serta di sisi
emiten (KS), rencana pertumbuhan usahanya bisa tertunda.
Kedua, investor juga akan merugi jika IPO dibatalkan,
karena sebelum meminta jatah saham KS, mereka mungkin
sudah terikat berbagai perjanjian. Jika hal ini terjadi,
Indonesia akan kehilangan kepercayaan terhadap pasar
modalnya dan sektor riil.
184
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
Ketiga, untuk ke depannya, tim diharuskan untuk
mengamankan proses IPO pada saham-saham BUMN lain
agar tidak digonjang-ganjing. Keempat, masalah sosialisasi
kepada masyarakat awam menjadi penting, termasuk
sosialisasi tentang harga saham, penentuan harga sejak awal
dilakukan, hingga proses ketika menganalisis perkiraan harga
jual saham perdana. ” Hasil laporan analis itu digunakan
oleh investor institusi dan ritel, dan inilah yang menjadi
dasar pembentukan harga. Penjamin emisi itu punya strategi
dalam melakukan proses go public atau listing itu. Dia itu
mempunyai kewenangan untuk menentukan nasib IPO,” ujar
Daniri.
Proses penjualan saham di pasar perdana atau initial
public offering (IPO) saham pemerintah di PT. Krakatau
Steel (KS) telah memicu perdebatan di berbagai kalangan.
Penetapan harga saham KS berdasarkan bookbuilding pada
tingkat Rp. 850/lembar oleh Meneg BUMN pada saat itu
dianggap terlalu murah dan telah merugikan perseroan.
Penjatahan (allotment) kepada investor juga dianggap tidak
transparan dan akan menguntungkan sekelompok investor
tertentu. Pendeknya, proses IPO KS dianggap tidak sah dan
hasilnya berpotensi merugikan negara.
Harga Wajar dan investor kualitas
Dalam IPO KS, Penjamin Pelaksana Emisi (PPE) dan
juga International Selling Agents (ISA) tentu mengupayakan
optimalisasi nilai IPO KS melalui program penjajagan minat
dan investor education yang intensif kepada investor, baik
dalam dan luar negeri (termasuk Amerikan Serikat). Pilihan
pada jenis investor berkualitas (quality investor), emerging
market funds specialist, country funds, atau industry
specialist fund turut mempengaruhi pembentukan harga
yang bisa jadi lebih rendah daripada investor spekulan
185
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
jangka pendek. Penentuan jenis dan proporsi investor ritel
dan industri, serta keseimbangan geografis dimana investor
berasal juga dapat mempengaruhi harga yang lebih rendah
tetapi punya tujuan lain yakni keadilan dan loyalitas.
Dengan mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain:
feedback dari para investor, kondisi pasar modal saat itu dan
perkiraan ke depannya, serta kondisi perusahaan pembanding
regional sejenis, PPE dan ISA telah mengusulkan kisaran
harga IPO adalah sebesar Rp750 – 1.150,00 / lembar saham.
Laporan feedback tersebut tentu dilaporkan dan didiskusikan
bersama dengan KS dan Kementerian BUMN, dimana hasil
dari pertemuan tersebut disepakati dan diputuskan bahwa
kisaran harga untuk IPO KS diperketat (tightening) menjadi
Rp 800 – 1.150,00 / lembar saham dan harga tersebut akan
diumumkan pertama kalinya pada Public Expose IPO KS.
Feedback yang didapatkan dari roadshow dan juga proses
bookbuiding, relatif baik dengan permintaan yang relatif kuat
dari investor dalam maupun luar negeri di seluruh kisaran
harga. Namun demikian jika minat investor institusi mulai
menurun bahkan akan dropoff pada harga diatas Rp850,00/
lembar saham, maka penjual tentu akan menetapkan harga
pada tingkat yang aman dengan menampung investor institusi
tersebut. Apabila dipaksakan menetapkan harga diatas Rp.
850/lembar tentu dapat memenuhi target nominal, namun
karena membayar harga yang terlalu mahal biasanya investor
tersebut akan melakukan sell-off setelah penerbitan di pasar
perdana dan akan menjatuhkan harga di pasar sekunder.
Jadi penetapan harga tersebut juga harus memperhatikan
pemesanan dari kualitas investor yaitu investor jangka
panjang yang mengharapkan dapat tumbuh bersama dengan
KS. Kualitas investor bukan merupakan spekulan (hedge
fund).
186
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
Penulis memperkirakan Jumlah minat yang masuk pada
saat bookbuilding mencapai lebih dari 150 investor. Dari sisi
minat jumlah, tentu merupakan hal yang menggembirakan
sehingga dapat menghindarkan ada dominasi investor
tertentu, dan harga yang terbentuk bisa cukup optimal
karena permintaan dapat mendongkrak harga naik. Namun
demikian, dalam hal penentuan harga selain dari jumlah
minat yang masuk, perlu diperhatikan hal-hal penting antara
lain; Pertama, komposisi dan distribusi antara investor retail
dan institusi, investor lokal dan asing, serta pemesanan
dari investor berkualitas. Kedua, valuasi dari perusahaan
pembanding regional sejenis seperti Posco dan Tata, dan
lain-lain. Berdasarkan data-data perbandingan yang ada,
penulis yakin harga yang ditetapkan relatif optimal. Ketiga,
penetapan harga yang atraktif, sehingga kinerja di pasar
sekunder dapat berjalan baik mengingat dalam IPO ini
tidak ada program stabilisasi harga (green shoe). Keempat,
mengupayakan terciptanya momentum yang positif sehingga
diharapkan program-program privatisasi BUMN selanjutnya
yang sedang dipersiapkan tetap diminati oleh investor.
Sudah Setara
Pada harga Rp 850,00 / lembar saham, KS dinilai sebesar
9,9 kali Price Earning Ratio (PER) (harga dibandingkan
dengan laba bersih perusahaan per saham). Sedangkan untuk
pembanding di industri sejenis, seperti POSCO dan Tata Steel
yang merupakan perusahaan pembanding yang cocok, PER
dari masing-masing perusahaan tersebut adalah sebesar 8,2
kali dan 8,1 kali. Jadi, dapat disimpulkan bahwa PER KS
sudah termasuk tinggi.
Seperti yang penulis sampaikan di depan, dari kisaran
harga Rp 750 – 1.150,00 / lembar saham kemudian diputuskan
kisaran harga diperkecil menjadi Rp 800 – 1.150,00 / lembar
187
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
saham serta berdasarkan hasil bookbuilding, diusulkan harga
Rp 850,00 / lembar saham yang disetujui oleh PTKS dan
ditetapkan oleh Menteri Negara BUMN, Mustafa Abubakar,
pada saat itu. Metoda kisaran harga dengan price tension
dan memperkecil kisaran pada waktu penawaran tersebut
serta diikuti penetapan harga sudah merupakan metoda yang
standar. Kuncinya terletak pada kelihaian dan kepiawaian dari
para penjamin emisi yang juga mempertarohkan reputasinya.
Metode IPO yang dilakukan adalah melalui Penawaran
Umum di Indonesia dengan regulasi Bapepam dan
Penawaran Terbatas dengan format SEC (Securities Exchange
Commission) Rule - 144 A untuk pasar internasional, termasuk
Amerika Serikat. Format tersebut mensyaratkan prosedur
tata kelola yang berstandar internasional untuk melindungi
investor publik.
“Sulit rasanya menuduh
Seperti lazimnya dan
proses IPO KS tidak
sudah ditentukan sebuah
transparan.”
SOP (standar operating
procesdure),
semua
program pemasaran yang dilakukan oleh PPE dan ISA
dilaporkan dan didiskusikan bersama dengan KS dan pihak
penjual, yakni Kantor Meneg BUMN. Laporan hasil premarketing atau investor education digunakan sebagai dasar
untuk menetapkan kisaran harga sedangkan hasil roadshow
digunakan sebagai dasar untuk menetapkan harga final.
Penjatahan Yang Adil
Penilaian bahwa penjatahan akan tidak adil juga belum
terbukti. Setelah masa penawaran umum akan dilaksanakan
pada tanggal 2 – 4 November 2010, baru akan dilanjutkan
dengan alokasi pada tanggal 8 November 2010 dan Listing
pada tanggal 10 November 2010. IPO KS masih berjalan dan
188
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
distribusi pembeli baru akan terlihat setelah penjatahan nanti
pada tanggal 8 November 2010 dan sesuai dengan ketentuan
Bapepam dan LK, akan dilakukan audit penjatahan oleh
Kantor Akuntan Independen. Dalam situasi kelebihan
permintaan (atau over subscription) seperti yang dialami oleh
KS, lebih dari 5 kali, maka sudah barang tentu tidak semua
permintaan dapat dipenuhi. Banyaknya jumlah investor
peminat juga menghilangkan kemungkinan munculnya
ketidakadilan, terlebih seperti yang dituduhkan bahwa
adanya investor besar yang notabene dari Parpol tertentu
akan mendominasi penjatahan, sehingga dapat mendikte
harga. Metoda penjatahan sudah ditetapkan dalam aturan
mainnya. Bahkan penulis ingat penjatahan tersebut biasanya
dilakukan secara hati-hati dengan formula dan kesepakatan
penjual dan pembeli pada masa penawaran. Sungguh aneh
jika terdengar ada investor sampai protes secara terbuka
karena tidak mendapat jatah sesuai keinginannya.
Pada akhirnya, jika terjadi manipulasi harga
penyimpangan penjatahan pasti akan dapat diketahui oleh
BAPEPAM sebagai regulator, jadi sebaiknya kita tidak perlu
punya kecurigaan yang berlebihan pada proses dan hasil IPO
KS. Tahun 2010, dan tahun-tahun selanjutnya akan semakin
banyak lagi program IPO untuk ekspansi usaha BUMN dan
korporasi kita., dan kita semua harus menjaga kredibilitas
pasar modal agar tetap dipercaya oleh investor dalam dan
luar negeri.
Pernah dimuat di Bisnis Indonesia, 7 Desember 2010
***
189
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Kasus Bank Century,
Dampak Sistemik dan OJK
Pengantar :
“Kegagalan Bank Century, ditafsirkan karena
adanya gagal produk Antaboga yang ditawarkan.
Namun, permasalahan pada Bank Century sebenarnya
telah lama ada, khususnya semenjak peristiwa merger
3 bank (Bank Pikko, CIC dan Danpac). Selain, itu faktor
keadaan prekonomian global, serta Indonesia yang sedang
terpuruk, pada tahun saat itu (2009), juga turut memicu
adanya kegagaln Century ini.”
M
unculnya kasus Bank Century (BC) ke
permukaan (2009) berawal dari gagal bayar
produk Antaboga yang dipasarkan melalui Bank
Century. Produk yang dijual Antaboga tersebut
bukanlah produk reksa dana, melainkan discretionary fund.
Penjualan produk investasi oleh Antaboga Delta Sekuritas
melalui Bank Century bukan merupakan tanggung jawab
pengawasan otoritas pasar modal dan Bank Indonesia.
Pasalnya, produk tersebut diperjualbelikan di Bank Century
dan bukan Antaboga. “Jadi ini bukan tanggung jawab
190
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
Bapepam-LK,” kata mantan ketua Bapepam, Fuad Rachmany
waktu itu. Miranda Gultom, mantan deputi senior Bank
Indonesia juga angkat tangan soal antaboga karena bukan
produk perbankan. Produk investasi yang telah menampung
dana nasabah sebesar Rp 1,4 triliun dan diperjuabelikan di
Bank Century merupakan produk palsu.
Jauh sebelum itu, Bank Century sudah bermasalah.
Mulai dari proses merger 3 bank (Bank Pikko, CIC dan
Danpac) menjadi Bank Century pada bulan Desember tahun
2004, kemudian BC dalam pengawasan intensif (desember
2005) dan ketika BC kalah kliring kemudian meminta FPJP
(Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek) ke BI pada bulan
Oktober 2008.
CAR (kecukupan modal) Bank Century per 28 Februari
2005 (2 bulan setelah merger) bernilai minus -132.5%.
Seharusnya Bank Century ditetapkan sebagai bank “dalam
pengawasan khusus” bahkan sudah ditutup, tetapi BI hanya
menetapkan sebagai bank “dalam pengawasan intensif”, hal
tersebut bertentangan dengan peraturan Bank Indonesia
sendiri. BC ditempatkan “dalam pengawasan intensif” karena
permasalahan surat-surat berharga (SSB) valas bodong dan
tidak bernilai serta penyaluran kredit yang bermasalah.
Maka ketika pada tanggal 21 November 2008 oleh KSSK
(Komite Stabilitas Sistem Keuangan), BC dianggap sebagai
bank gagal tidaklah mengherankan. Masalahnya, mengapa
bank yang relatif kecil dari sisi aset, modal dan pendanaan
serta telah bermasalah kemudian melakukan praktek ilegal
dan merugikan nasabah harus diselamatkan oleh pemerintah.
Yang jelas kondisi keuangan Bank Century pada tanggal
tersebut sudah memburuk dan harus segera ditalangi untuk
191
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
menghindari rush karena dapat menyebabkan dampak yang
lebih besar dan sistemik pada perekonomian.
Kondisi Ekonomi Keuangan Sistemik?
Kondisi perekonomian global dan Indonesia serta
sektor keuangan juga sedang dalam kondisi krisis. Pada
bulan November 2008, nilai tukar terdepresiasi hingga
Rp. 12.000 per dolar AS, imbal hasil (yield) obligasi 10
tahun diperdagangkan meningkat pada level sangat tinggi
14%, IHSG (indeks harga saham gabungan) mencapai titik
sangat rendah 1200 dan credit default swap (CDS) yang
menreferensikan biaya asuransi keuangan meningkat hingga
1000 bps. Cadangan devisa
di Bank Indonesia sudah “Kesimpulan BI bahwa
Bank Century adalah
terkuras lebih dari 10 milyar
bank gagal tidak
dolar AS untuk menjaga dari
kejatuhan rupiah yang lebih kontroversi, meskipun
parah. Kondisi tersebut kegagalan Bank Century
menurut penilaian penulis
karena aspek kriminal
sudah dapat dikategorikan
dan salah urus. “
sebagai krisis keuangan yang
cukup mendalam. Faktor penyebabnya berasal dari eksternal
bukan dari dalam negeri.
Pada tanggal 21 November 2008 tersebut, BI bukan
hanya telah menyatakan bahwa BC adalah bank gagal tetapi
juga berdampak sistemik pada perekonomian. Kesimpulan
BI bahwa BC adalah bank gagal tidak kontroversi, meskipun
kegagalan BC karena aspek kriminal dan salah urus.
Namun kesimpulan berdampak sistemik oleh banyak
kalangan termasuk wapres waktu itu Jusuf Kala dan mantan
gubernur BI Burhanudin Abdullah dianggap keliru. Analisis
192
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
dampak sistemik yang digunakan untuk kasus BC oleh BI
berdasarkan pada MoU Uni Eropa terkait dengan “cross
border financial stability”, ditambah pula aspek psikologi
pasar. Aspek lain yang digunakan pada analisis dampak
sistemik adalah aspek institusi keuangan, pasar keuangan,
sistem pembayaran, sektor riil, dan psikologi pasar. Dari
aspek2 tersebut, maka BC dinyatakan sebagai bank gagal dan
berdampak sistemik.
Dalam rapat pendahuluan KSSK pada tanggal 21
November 2008 sore hingga larut malam bahkan menjelang
subuh, beberapa eselon I yang pada waktu itu yang hadir,
diantaranya Dirjen Pajak Darmin Nasution, Kepala Bapepam
Fuad Rachmany dan penulis sendiri sebagai kepala BKF
bersikap kritis untk menguji analisis dan pendapat yang
disampaikan BI mengenai situasi yang menimpa BC
dan kondisi sistemik serta biaya penyelamatan. Rapat
pendahuluan KSSK tersebut dilanjutkan dengan rapat
resmi KSSK yang dihadiri oleh ketua (Menkeu) dan wakil
(Gubernur BI) serta sekretaris KSSK. Bentuk format KSSK
dan kemudian KK (Komite Koordinasi) adalah format institusi
koordinasi kebijakan keuangan menurut Perpu JPSK (Jaring
Pengaman Sistem Keuangan) yang diterbitkan dan masih
sah keberadaannya pada waktu keputusan penyelamatan
dilakukan.
Dalam pengambilan keputusan, Menkeu sebagai ketua
KSSK tentu telah pula mempertimbangkan pendapat dari
para Eselon I. Meskipun keputusan akhir ada di Menkeu
selaku ketua KSSK memilih untuk menyelamatkan BC guna
mencegah krisis pada perekonomian nasional. Dugaan
penulis pertimbangan Menkeu selaku Ketua KKSK melakukan
penyelamatan pada BC adalah biaya BC diselamatkan
lebih murah daripada ditutup. Bila ditutup dibutuhkan
193
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dana penjaminan DPK kurang dari 2 milliar sebesar Rp 6
triliun. Meskipun biaya penyelamatan dan penyehatan BC
adalah akhirnya adalah Rp. 6,7 triliun namun biaya tersebut
dapat ditarik kembali pada waktu divestasi. Disamping
itu pertimbangan lain adalah bahwa kondisi psikologis
pasar global, keuangan dan makro sangat buruk, sehingga
dikhawatirkan jika ditutup akan ada rush ke BC dan akan
menular pada bank yang lain.
Penulis sungguh yakin bahwa para eselon 1 termasuk
penulis sangat memahami keputusan tersebut dan bahkan
mendukung. Segera setelah itu penulis dan tim melakukan
sosialisasi ke berbagai stakeholder. Tak kurang dari 10
pemimpin bahkan pemilik media masa ditemui (Metro, TVOne, Trans, SCTV, RCTI, Kompas, Media, Bisnis Indonesia,
Republika dll), para pemimpin Universitas terbesar (UGM, UI,
ITB, Unair, Unpad) juga ajak dialog. Para aktivis mahasiswa,
politisi, pemimpin Ormas seperti NU dan Muhamadiyah
dan LSM bahkan anggota Pansus Century diajak dialog
untuk diyakinkan bahwa keputusan menyelamatkan BC
dalam rangka pencegahan krisis keuangan adalah kebijakan
yang benar pada saat itu. Perdebatan mengenai keabsahan
penyelamatan BC dan dugaan terjadinya kerugian negara
akan segera berakhir pada waktu dilakukannya divestasi bank
Mutiara (nama baru dari bank Century).
Perlu OJK
Peristiwa Bank Century tersebut telah meyakinkan
rekan-rekan di Kementrian Keuangan bahwa solusi untuk
memperbaiki pengawasan perbankan dan produk sektor
keuangan adalah dengan membentuk Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) yang unified dan independen. Dengan OJK yang
menggabungkan regulasi/pengawasan produk perbankan
194
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
dan lembaga keuangan bukan bank akan dapat mengurangi
celah pengawasan jenis-jenis produk derivatif seperti
discretionary fund antaboga. Serta, tidak dipungkiri bahwa
dewasa ini sudah banyak bank yang mengeluarkan produkproduk berjenis “bukan-bank” yang lazim seperti reksadana
dan produk-produk pembiayaan lainnya. Produk semacam
ini bisa jadi luput dari pengawasan BI dan Bapepam. Dengan
penyatuan fungsi, berdiri secara independen terhadap bank
Indonesia dan Kementrian Keuangan, adanya OJK dapat
menghindarkan diri dari benturan kepentingan antara
otoritas kebijakan moneter, fiskal dan regulasi/pengawasan
perbankan disisi lain di dalam tubuh internal Bank Indonesia
serta Bapepam. Sayangnya pembahasan UU OJK di DPR
berlangsung alot dan dikhawatirkan akan muncul OJK yang
belopotan karena terlalu banyak substansi hasil kompromi
antara Kementrian Keuangan dengan DPR.
***
195
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
“Exit Strategy” dari IMF
dan Kepercayaan Pasar
Pengantar :
“Keberadaan kerja sama dengan Dana Moneter
Internasional (IMF) pada negara-negara yang mengalami
krisis keuangan, menjadi salah satu kunci dari perilaku
pasar keputusan investasi mereka. Menurut penulis, sudah
saatnya bagi negara-negara terlepas dari kerjasama
dengan IMF dan bangkit dengan memfokus pada
kestabilan market confidence (kepercayaan pasar), dan
pelaku ekonomi. Menurut pengalaman, masa transisi
pascaprogram IMF sangat rawan. Kerawanan itu bukan
hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga menyangkut
rasa kepercayaan pasar.
P
eneliti Graham Bird dan Dane Rowland dalam survei
yang mereka lakukan terhadap beberapa manajer
investasi (fund manager), lembaga peringkat
(rating agencies), dan CEO bank-bank (bankers),
yang ditulis dalam paper berjudul Do IMF Program Have a
Catalytic Effect on Other International Capital Flows? (Apakah
Program IMF mempunyai efek yang katalis pada aliran modal
196
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
internasional?) dan diterbitkan oleh Oxford Development
Studies pada tahun 2002, menyimpulkan bahwa para
investor dalam beberapa hal memang memperhatikan peran
IMF. Namun, mereka lebih memperhatikan kebijakan yang
diambil oleh negara yang bersangkutan dan komitmen negara
tersebut untuk melakukan reformasi.
Kesimpulan Bird dan Rowland tersebut didukung oleh
studi lain yang menggunakan
“Berangkat dari
metode ekonometri utang.
hasil riset yang telah
Hasil riset Mody dan Savaria
(2003)
menyimpulkan dilakukan oleh beberapa
bahwa di negara-negara kalangan terkait dengan
program IMF, dan
terkena krisis keuangan,
belajar
dari pengalaman
keberadaan kerja sama
negara-negara krisis
dengan
Dana
Moneter
Internasional (IMF) adalah yang sudah mengakhiri
salah satu kunci dari perilaku
program IMF, sudah
pasar keputusan investasi saatnya bagi kita untuk
mereka. Semakin besar menfokuskan perhatian
program yang dijalankan pada konsekuensi dari
oleh sebuah negara akan berakhirnya kontrak IMF
meningkatkan kemungkinan serta program-program
minat investor terhadap
strategis yang perlu
penerbitan
surat
utang
diambil.”
negara.
Berangkat dari hasil riset yang telah dilakukan oleh
beberapa kalangan terkait dengan program IMF, dan belajar
dari pengalaman negara-negara krisis yang sudah mengakhiri
program IMF, sudah saatnya bagi kita untuk menfokuskan
perhatian pada konsekuensi dari berakhirnya kontrak IMF
serta program-program strategis yang perlu diambil.
197
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Kepercayaan Pasar Dijaga
Hal yang cukup penting untuk diperhatikan dalam
masa pascaprogram kerja sama IMF adalah bagaimana
mempertahankan kepercayaan pasar (market confidence)
dan pelaku ekonomi. Membangun dan mempertahankan
kepercayaan pelaku ekonomi merupakan pekerjaan besar
yang harus dilakukan pemerintah, khususnya pada masa
transisi ini. Seperti yang disampaikan oleh mantan Menteri
Keuangan, Boediono, dalam pembukaan rapat koordinasi
pembangunan tingkat pusat (2003) bahwa masa transisi
pascaprogram IMF sangat rawan. Kerawanan itu bukan
hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga menyangkut
rasa kepercayaan pasar.
Memupuk Cadangan Devisa yang Cukup
Membaiknya beberapa indikator ekonomi makro
Indonesia, seperti apresiasi nilai tukar, penurunan suku bunga
dan inflasi, serta penguatan cadangan devisa sekitar 34 miliar
dollar AS), tidak terlepas dari meningkatnya kepercayaan
pasar terhadap kebijakan fiskal maupun moneter yang telah
ditempuh.
Para pelaku pada dasarnya akan memberikan tanggapan
yang positif terhadap kebijakan yang kredibel dan konsisten.
Pasar juga melihat kesediaan pemerintah untuk melakukan
reformasi. Kredibilitas suatu kebijakan ditentukan oleh
bagaimana pemerintah dapat menetapkan dan melaksanakan
kebijakan. Penetapan target yang terlalu optimistis, misalnya
dikhawatirkan dapat menghancurkan kredibilitas dari
kebijakan itu sendiri bila target yang ditetapkan pada akhirnya
tidak tercapai.
198
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
Pemerintah sebaiknya menetapkan target yang rasional
dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan saran dari
berbagai pihak. Kebijakan yang konsisten dan kredibel,
misalnya keputusan yang tidak berubah-ubah setiap saat,
merupakan salah satu hal penting dalam meningkatkan
kepercayaan para pelaku.
Pernah dimuat di Kompas, 24 Juni 2003
***
199
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Belajar Dari Korea dan Thailand
Keluar Dari IMF
Pengantar :
“Krisis 1998 seolah tidak memiliki ujung penyelesaian
yang jelas. Setelah lebih dari 10 tahun terkadang orang
masih melihat ke belakang terhadap kejadian tersebut.
Krisis yang menyebabkan kejatuhan rezim yang berkuasa
saat itu, mantan Presiden Soeharto, disinyalir dipercepat
dengan penandatanganan nota kesepahaman antara
Pemerintah dan IMF. IMF dituding sering memberikan
resep yang salah terhadap pemulihan ekonomi Indonesia.
Atas desakan masyarakat dan pembelajaran pemerintah,
maka Pemerintah menyiapkan strategi-strategi yang
matang untuk persiapan keluar dari kerjasama dengan
IMF. Mekanisme pengawasan domestik diperlukan untuk
menggantikan peran pengawasan asing. Tentunya ini
memberikan tantangan sekaligus keuntungan apabila kita
mampu melaksanakan prinsip financial prudence. Kita
juga perlu melihat keberhasilan Pemerintah Korea Selatan
dan Thailand dalam mengatasi masalah krisis dan keluar
dari kerjasama IMF”
200
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
B
eberapa negara telah keluar dari program pemulihan
krisis IMF. Dalam rangka mempersiapkan langkahlangkah konkrit dalam rangka exit dari program
IMF, kita dapat belajar dari pengalaman negaranegara krisis yang telah sukses, seperti Korea Selatan dan
Thailand.
Berdasarkan pengalaman, setelah mengakhiri kontrak
kerja sama dengan IMF, negara-negara krisis tersebut
selanjutnya memasuki tahap post-program monitoring
(PPM). Makna dari tahap ini adalah mengangsur sisa
pinjaman (outstanding) IMF sampai dengan batas kuota 100
persen, tanpa adanya pencairan pinjaman (purchases) baru.
Dalam masa PPM, diadakan diskusi antara staf IMF
dan pengambil kebijakan mengenai perkembangan kondisi
ekonomi makro serta kebijakan yang diambil oleh negara
bersangkutan. Selanjutnya hasil diskusi tersebut disampaikan
kepada Direktur (board of) IMF. Diskusi tersebut merupakan
mekanisme IMF untuk memastikan agar proses pemulihan
ekonomi dapat berjalan dengan baik. Namun, yang lebih
utama adalah mereka ingin memastikan bahwa negara
yang bersangkutan dapat menyelesaikan pembayaran sisa
pinjamannya ke IMF.
Pengalaman Korsel dan Thailand
Korea Selatan yang menandatangani kontrak tiga tahun
dengan IMF pada Desember 1997 mampu mengakhiri
kontrak tersebut sebelum batas waktu yang telah ditetapkan.
Keberhasilan itu tidak terlepas dari usaha keras Pemerintah
Korea Selatan dalam melakukan perbaikan di berbagai sektor.
Perbaikan itu antara lain melaksanakan kebijakan makro201
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
ekonomi yang mendukung dan menciptakan nilai tukar mata
uang won yang kompetitif, serta reformasi struktural. Selain
itu, Pemerintah Korea Selatan juga berhasil meningkatkan
orientasi dan kepercayaan pasar, yang merupakan hasil dari
implementasi kebijakan ekonomi makro yang kuat, serta
perbaikan dan peningkatan posisi cadangan devisa.
Hasil dari beberapa perbaikan yang terjadi perbaikan
fundamental ekonomi makro Korea Selatan, yaitu
pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang sustainable,
tingkat inflasi yang cukup terkendali, serta meningkatnya
cadangan devisa bruto dari 20 miliar dollar AS pada tahun
1997 (awal krisis, yang turun 14 miliar dollar AS dibandingkan
tahun sebelumnya) menjadi 96 miliar dollar AS pada tahun
2000.
Demikian pula dengan Thailand. Meski tidak secepat
Korea Selatan, negeri ini telah mengakhiri 34 bulan stand-by
arrangement (SBA) dengan IMF pada bulan Juni 2000 dan
post-monitoring program pada bulan Agustus 2002. Tingkat
pertumbuhan PDB-nya tahun 2002 telah setara dengan
pertumbuhan PDB sebelum krisis tahun 1997.
Faktor utama yang mendorong pertumbuhan PDB yang
cukup baik antara lain adalah adanya kerangka kebijakan
ekonomi makro yang suportif, termasuk di dalamnya adalah
stimulus fiskal di tahun 2001-2002 dan kondisi eksternal
yang cukup mendukung.
Kebijakan moneter yang akomodatif diambil dengan tetap
menjaga agar tidak terjadi gejolak inflasi yang berlebihan. Hal
tersebut antara lain dilakukan dengan menetapkan kisaran
target inflasi. Selanjutnya, penambahan cadangan devisa dan
pembayaran sebagian besar utang luar negeri, khususnya
202
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
utang jangka pendek, telah menurunkan ketidakpastian
eksternal. Perbaikan sektor eksternal ditunjukkan antara lain
dengan berkurangnya arus modal keluar (capital outflow),
serta surplus transaksi berjalan.
Sentimen pasar yang positif juga terbukti menguat. Hal
ini ditunjukkan dengan adanya keuntungan di bursa saham,
rendahnya bond yield, serta meningkatnya kepercayaan
konsumen.
Langkah-langkah yang perlu diambil Indonesia
pasca-IMF
“... pengawasan di
Dua contoh konkret di
dalam negeri hendaknya
atas memberikan pelajaran
perlu lebih ditekankan
kepada kita bahwa kebijakan
mengingat pengawasan
ekonomi
makro
yang
dalam negeri yang
kredibel
dan
konsisten
komprehensif dapat
merupakan salah satu faktor
diartikan sebagai
penting bagi peningkatan
berkurangnya
kepercayaan pasar. Aspek
pengawasan luar
utama dari kebijakan yang
negeri”
kredibel adalah kebijakan
yang
diambil
harus
transparan, koheren dalam pelaksanaan programnya, serta
konsisten (tidak berubah setiap saat). Selanjutnya, untuk
mendukung terciptanya kebijakan yang kredibel, pemerintah
perlu melakukan penetapan target, reformasi struktural,
pengawasan, dan penegakan disiplin.
Dua hal yang perlu diperhatikan pemerintah dalam
penetapan target adalah pengendalian target yang telah
ditentukan dan penetapan kerangka waktu yang jelas,
203
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
misalnya meliputi target jangka pendek, menengah, atau
jangka panjang.
Dalam kerangka exit strategy, Pemerintah Indonesia dan
Bank Indonesia pada tahun 2004 mempersiapkan program
pascakerja sama dengan IMF, khususnya program spesifik
yang menjadi perhatian pelaku ekonomi. Payung program itu
telah ada, yakni Rencana Pembangunan Tahunan (Repeta).
Secara garis besar, program tersebut meliputi;
Pertama, dalam kerangka ekonomi makro, program
yang perlu ditetapkan antara lain meliputi pencapaian
pertumbuhan ekonomi yang memadai, pengendalian laju
inflasi, penurunan suku bunga, dan menciptakan surplus
APBN, serta memupuk cadangan devisa.
Kedua, ketahanan dan reformasi sektor keuangan,
meliputi penyehatan perbankan dan lembaga keuangan
lainnya (asuransi, pasar modal, dana pensiun, dan lainlain), pembentukan lembaga penjamin simpanan (LPS),
pengawasan jasa keuangan (OJK), jaring pengaman keuangan
(financial safety nets), dan lain-lain.
Ketiga, pemerintah perlu melakukan reformasi struktural
untuk menghilangkan hambatan-hambatan bagi investasi dan
ekspor, serta penciptaan lapangan pekerjaan yang meliputi
aspek legal, peraturan, perubahan institusional menyangkut
kepentingan sektoral, seperti perpajakan, penyelundupan,
ketenagakerjaan, keamanan, otonomi daerah, dan lain-lain.
Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah
menciptakan sistem pengawasan kinerja yang kredibel.
Pengawasan dapat dilakukan secara institusi dalam negeri
maupun luar negeri. Namun, pengawasan di dalam negeri
204
Bagian V – Sektor Keuangan, Privatisasi dan Utang
hendaknya perlu lebih ditekankan mengingat pengawasan
dalam negeri yang komprehensif dapat diartikan sebagai
berkurangnya pengawasan luar negeri. Pengawasan di dalam
negeri dilakukan oleh DPR, BPK, maupun institusi privat
(pasar) dan publik, seperti LSM dan media massa.
Pihak luar negeri bisa dilakukan antara lain oleh
lembaga donor, seperti CGI maupun multilateral, serta pasar
internasional. Di samping adanya pengawasan, pemerintah
sendiri harus menetapkan regulasi dan aturan main demi
terciptanya penegakan disiplin. Demi tercapainya penegakan
disiplin, pemerintah seharusnya membuat daftar tanggung
jawab tiap institusi yang terkait secara jelas, mengulas
kebijakan yang telah diambil, terutama yang terkait
dengan kegagalan pencapaian target yang telah ditetapkan,
memperbaiki rencana kerja, berkonsultasi mengenai hasilhasil kegiatannya, baik dengan DPR maupun lembaga donor
dan multilateral, serta secara inter-intern mendiskusikan dan
merumuskan langkah selanjutnya yang perlu diambil.
Dengan agenda kegiatan yang terstruktur dengan baik,
setidaknya kita akan lebih optimistis dalam menghadapi
masa-masa pascaprogram IMF, yang diperkirakan oleh
banyak kalangan sebagai masa-masa yang berat bagi bangsa
Indonesia.
Tahun 2004 adalah tahun yang penuh dengan
tantangan sekaligus potensi ketidakpastian, karena meliputi
pelaksanaan program pemulihan pascakerja sama dengan
IMF, pelaksanaan pemilu yang lebih demokratis, dan
penjagaan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kewaspadaan pemerintah dalam memilih opsi yang akan
diambil harus dilakukan, namun yang terpenting adalah
205
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
merencanakan program-program yang menjadi perhatian
pelaku ekonomi. Hal ini merupakan sesuatu yang bersiftat
mutlak untuk dikaji. Pemerintah dan Bank Indonesia tidak
dapat bekerja sendiri tanpa partisipasi masyarakat karena
pada akhirnya pemulihan ekonomi merupakan buah karya
masyarakat.
***
206
Bagian VI
Ekonomi Global dan
Integrasi Keuangan
207
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
208
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
Gagasan Indonesia dalam G-20
Pengantar :
“G-20, sebagai forum untuk membahas isu-isu
ekonomi dan keuangan, mulai diragukan kemampuannya
untuk memberantas krisis global. Hal ini disebabkan
besarnya jangkauan isu yang dihadapi dan isu kohesivitas
didalamnya. Walaupun begitu, G-20 merupakan forum
yang penting bagi Indonesia. Manfaat G-20 sangat
besar bagi Indonesia tidak hanya untuk mengungkil
posisi Indonesia di antara negara berkembang lainnya,
tetapi terlebih karena Indonesia bisa secara langsung
berpartisipasi dalam membentuk arsitektur ekonomi dan
finansial global sesuai kepentingan.”
P
enulis beruntung karena terlibat aktif sebagai ketua
wakil Indonesia dalam pertemuan bidang ekonomi
dan keuangan G-20 dari 2007 hingga 2010.
Konferensi Tingkat Tinggi G-20 Kedua di London
(London Summit) dilaksanakan pada tanggal 1 dan 2 April
2009, di tengah situasi perekonomian global yang pada waktu
itu masih tidak menentu. Pertumbuhan ekonomi global
tahun 2009 diperkirakan negatif yang berpengaruh terhadap
209
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
penurunan demand ekspor negara berkembang. Stimulus
fiskal dari sejumlah negara diragukan keefektifannya akibat
munculnya isu proteksionisme dan isu supply financing bagi
program stimulus di negara berkembang.
Selain itu, sistem keuangan global secara praktis masih
belum berfungsi secara normal akibat proses deleveraging
di negara maju yang mengakibatkan langkanya likuiditas
internasional dan turunnya net capital inflow di negara
berkembang secara drastis. Sistem keuangan, khususnya di
negara maju, masih dihantui potensi kerugian yang belum
sepenuhnya terungkap terkait toxic assets sistem perbankan
akibat krisis mortgage di AS. Lembaga-lembaga keuangan
internasional yang diharapkan menjadi katalisator dalam
periode krisis ternyata efektivitasnya dibebani oleh masalah
kredibilitas dan legitimasi akibat kurangnya keterwakilan
negara berkembang dalam proses governance-nya.
Akibat besarnya jangkauan isu yang dihadapi itu,
banyak pihak mempertanyakan kemampuan G-20 mengatasi
krisis. Lebih jauh lagi, terdapat pula keraguan mengenai
kohesivitas di G-20 mengingat setiap anggota tentunya
akan memperjuangkan isu yang terkait paling erat dengan
kepentingannya dan hal itu akan berdampak pada respons,
prioritas, dan pendekatan krisis yang berbeda. Bagi publik
domestik, hal tersebut memunculkan pertanyaan mengenai
manfaat yang akan diperoleh Indonesia dari partisipasinya
di forum G-20 akibat kekhawatiran mengenai kooptasi isu di
G-20 oleh negara maju.
Respons G-20
Terlepas dari banyaknya isu yang harus dibahas,
London Summit sendiri sebetulnya merupakan puncak dari
210
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
suatu siklus kerja di G-20. Di tingkat teknis, G-20 telah
membagi isu ke dalam berbagai tingkat pembahasan yang
beranggotakan otoritas finansial dan moneter negara anggota
yang melakukan koordinasi intensif selama 7 x 24 jam.
Terkait dengan instrumen krisis, regulasi, dan arsitektur
keuangan internasional, G-20 membentuk empat kelompok
kerja (working group/WG): (i) Enhancing sound regulation
and transparency, (ii) Promoting integrity in the financial
markets, (iii) IMF reform, dan (iv) Multilateral development
banks (MDBs) reform. Selain itu, terdapat juga forum
koordinasi di tingkat deputi menteri keuangan dan gubernur
bank sentral G-20 guna membahas kebijakan makro (fiskal
dan moneter), serta forum sherpa yang bertugas membahas
isu-isu ekonomi nonkeuangan dan moneter (seperti isu
perdagangan, dan tenaga kerja).
Walaupun terdapat kekhawatiran bahwa perbedaan
kepentingan di antara anggota G-20 akan menyebabkan
friksi, keanggotaan G-20 yang terbatas dan format pertemuan
yang stabil selama satu dasawarsa terakhir berkontribusi bagi
terbentuknya tingkat kepercayaan di antara anggota G-20
dalam rangka mencapai konsensus.
Secara umum terdapat konvergensi di G-20 bahwa (i)
krisis saat ini disebabkan oleh ketidaksepadanan antara
kepentingan global dan nasional (sovereign policy) sehingga
respons kebijakan domestik haruslah mempertimbangkan
dampak di luar batas negara dan perlunya koordinasi respons
secara global; (ii) krisis menimpa baik negara maju maupun
berkembang melalui mekanisme yang berbeda sehingga
membutuhkan respons yang berbeda pula; dan (iii) krisis
juga diakibatkan oleh tidak memadainya arsitektur keuangan
global (termasuk lembaga keuangan multilateral) dalam
211
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
merespons krisis secara efektif akibat masalah kredibilitas
dan legitimasi sehingga perlu dilakukan reformasi terhadap
sistem keuangan internasional.
Berdasarkan kesadaran tersebut, G-20 membagi prioritas
respons menjadi tindakan segera dan jangka menengah
berdasarkan perbedaan urgensi dari setiap isu.
G-20 bagi Indonesia
Secara umum, di G-20 Indonesia memiliki posisi unik
yang menyuarakan tidak hanya kepentingan Indonesia
sebagai emerging market, tetapi juga kepentingan ASEAN dan
negara berkembang lainnya termasuk Low Income Countries.
Manfaat G-20 sangat besar bagi Indonesia tidak hanya
untuk mengungkil posisi kita di antara negara berkembang
lainnya, tetapi terlebih karena Indonesia bisa secara langsung
berpartisipasi dalam membentuk arsitektur ekonomi dan
finansial global sesuai dengan kepentingan kita, G-20
diarahkan untuk menggantikan fungsi dari G-8 sebagai
pemerintahan bayangan dari sistem ekonomi dan finansial
global.
Fokus Indonesia sendiri di G-20 adalah untuk: (i)
memitigasi dampak krisis terhadap Indonesia dan negara
berkembang yang telah secara tidak adil terkena dampak
dari krisis yang bermula di negara maju melalui penurunan
aliran modal ke negara berkembang yang menghambat
proses pembangunan dan pencapaian tujuan pembangunan
milenium (MDGs); (ii) mengamankan posisi Indonesia dan
negara berkembang di dalam sistem ekonomi dan finansial
global yang baru dengan mencegah terbentuknya standar
regulasi yang berpotensi merugikan perkembangan sektor
keuangan dan sebaliknya justru mengupayakan agar sistem
212
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
yang baru mendukung pengembangannya; (iii) mendorong
dilakukannya reformasi lembaga keuangan internasional
melalui peningkatan keterwakilan negara berkembang dalam
proses governance.
Sebagai implementasi, Indonesia secara konsisten
memperjuangkan dibentuknya instrumen pendanaan yang
murah, bersifat tanpa persyaratan dan percepatan pencairan
yang diperuntukkan bagi
negara berkembang dengan “Sebagai implementasi,
kerangka kebijakan dan
Indonesia secara
fundamental
yang
baik
konsisten
seperti Indonesia.
Hasil konkrit
memperjuangkan
dibentuknya instrumen
pendanaan yang
murah, bersifat tanpa
persyaratan dan
percepatan pencairan
yang diperuntukkan
bagi negara
berkembang dengan
kerangka kebijakan dan
fundamental yang baik
seperti Indonesia.”
Proposal tersebut yang
dikenal
sebagai
Global
Expenditure
Support
Financing (GESF) telah
disampaikan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dalam
Washington Summit tahun
2008.
Penulis
menjadi
salah satu pencetus gagasan
tersebut dan Indonesia
bersama dengan Perancis
ditunjuk oleh G-20 untuk mengetuai WG4 mengenai
reformasi MDBs, salah satu pembahasannya adalah mengenai
instrumen GESF.
Terkait dengan reformasi IMF, Indonesia juga memegang
peranan penting di G-20 karena Menteri Keuangan RI sebagai
salah satu figur internasional yang kerap menyuarakan
213
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
urgensi reformasi IMF merupakan anggota independent
panel of experts on IMF reform (yang dikenal sebagai Manuel
Commission) yang hasil rekomendasinya menjadi salah satu
acuan bagi pembahasan di G-20.
Sebagai hasil partisipasi aktif di G-20, Indonesia telah
berhasil memetik beberapa manfaat konkret, antara lain: (i)
Indonesia masuk sebagai anggota baru Financial Stability
Forum (FSF) yang merupakan standard setting body
bagi sistem keuangan; (ii) Indonesia telah mendapatkan
Deferred Drawdown Option (DDO) dari Bank Dunia, Bank
Pembangunan Asia (ADB), Jepang, dan Australia bagi
program pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan
infrastruktur yang kemudian menjadi model bagi GESF; (iii)
G-20 yang merupakan pemegang saham terbesar di ADB atas
inisiatif Indonesia berhasil meningkatkan permodalan ADB
guna mendorong pembangunan di kawasan Asia; dan (iv)
negara maju berkomitmen untuk memberikan peningkatan
kapasitas bagi pengembangan sektor keuangan di negara
berkembang. Terdapat juga manfaat nonkeuangan, seperti
komitmen G-20 untuk menjamin dan melindungi hak pekerja
migran.
Pernah dimuat di Kompas, 31 Maret 2009
***
214
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
Kontribusi Pertemuan G-20 Bagi
Pemulihan Ekonomi
Pengantar :
“Forum G-20 yang merupakan forum pertemuan
utama dan tertinggi para pemimpin dunia untuk
mendesain tindakan global menangani krisis keuangan
global. Forum ini menjadi semakin penting karena
munculnya beberapa krisis seperti krisis yunani yang
berpotensi untuk menular ke negara lain. Negara-negara
berkembang termasuk Indonesia akan menjadi korban
apabila tidak ada upaya global mengatasi masalah krisis
di Yunani. Banyak pihak berharap dengan adanya forum
tersebut pemulihan pasca krisis global dapat berjalan
dengan baik.”
P
ara menteri keuangan dan gubernur bank sentral
G-20 bertemu di Busan, Korea Selatan, 3-5 Juni
2010. Pertemuan ini sangat penting sebagai
jembatan pertemuan para kepala negara G-20 di
Toronto, Kanada, 26-27 Juni 2010. Pertemuan yang dahulu
diadakan setiap tahun sekali untuk membahas isu-isu ekonomi
dan keuangan reguler, kini menjadi forum pertemuan utama
215
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dan tertinggi menggantikan pertemuan G-8. Dalam periode
2009-2010 , forum G-20 diadakan dua kali dalam 1 tahun
untuk mendesain tindakan global menangani krisis keuangan
global. Maka, Para pemimpin negara, menteri keuangan dan
gubernur bank sentral anggota G-20, termasuk Indonesia,
selalu menyempatkan hadir. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur BI
Boediono pada waktu itu bahkan tidak pernah absen dalam
setiap pertemuan G-20.
Indonesia memiliki peran cukup sentral dalam
reformasi arsitektur keuangan global. Indonesia adalah
ketua working group reformasi Bank Dunia dan lembagalembaga multilateral lainnya. Indonesia mengajukan konsep
mengenai fiscal safety nets dan turut mendesain perbaikan
governance di Dana Moneter Internasional (IMF). Indonesia
adalah anggota baru FSB (Financial Stability Board) dan
mendukung desain exit strategy dan pertumbuhan ekonomi
yang seimbang (balance growth). Indonesia menjadi
champion dalam masalah perubahan iklim (climate change).
Menteri Keuangan kabinet Indonesia bersatu jilid dua,
Agus Martowardojo perlu mengikuti jejak pendahulunya
berperan aktif di forum G-20, apalagi Indonesia adalah wakil
negara-negara anggota Asean serta negara berkembang
lainnya. Forum G-20 harus mampu menyuarakan kepentingan
pemulihan ekonomi di negara berkembang dan tidak bias
kepada kepentingan negara maju semata.
Forum Utama
Forum G-20 sering dianggap sebagai premier forum
dari arsitektur sistem ekonomi dan keuangan dunia di
mana keanggotaannya bersifat eksklusif. Anggotanya adalah
216
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
negara-negara yang paling penting secara sistemik ekonomi
dan keuangan yang mewakili lebih dari 80% GDP global, 2/3
populasi dunia serta lebih dari 80% kepemilikan saham dari
World Bank dan IMF, serta secara geografis merepresentasikan
seluruh belahan dunia. Hal ini memberikan leverage bagi
peran kepemimpinan G-20 dalam isu-isu ekonomi dan
keuangan global dan membantu mempromosikan saling
pengertian dan pemahaman atas pendekatan nasional yang
berbeda-beda terhadap isu-isu ekonomi dan keuangan.
Keanggotaan G-20 yang terbatas pada negara-negara
yang penting secara sistemik keuangan dan ekonomi
memungkinkan forum ini untuk melakukan pertukaran
pandangan dan pengalaman secara langsung dan terbuka
(open and frank discussion), sehingga dapat mengidentifikasi
secara jelas tantangan kebijakan utama yang dihadapi
komunitas internasional. Hal ini juga memudahkan G-20
untuk mencapai konsensus dalam isu-isu yang membutuhkan
respons kebijakan internasional yang segera dan sebaliknya
mengidentifikasi faktor-faktor yang berpotensi menghambat
konsensus internasional di forum yang lebih luas. Selain itu
secara historis G-20 juga telah berkontribusi sangat penting
dalam memperbaiki sistem keuangan global pascakrisis
keuangan Asia 1997. Kesepakatan dalam forum G-20
dilakukan hingga tingkat pemimpin negara dan dilaksanakan
melalui lembaga-lembaga keuangan global seperti IMF, Bank
Dunia, FSB, WTO, dan sebagainya.
Pertemuan di Busan dan Totonro memfokuskan pada
tindak lanjut dari mandat pertemuan pemimpin G-20 di
Pittsburgh tahun 2009. Pemimpin G-20, para Menteri
Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G-20 pada waktu
itu telah sepakat untuk melakukan exit strategy terhadap
kebijakan stimulus, menuntaskan reformasi World Bank dan
217
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
IMF terkait dengan masalah proses seleksi pimpinan dan
manajer senior, pembagian kursi, surveilance dan membuat
desain instrumen yang dapat mencegah dampak krisis
keuangan.
Forum G-20 sekarang telah melebarkan sayapnya ke
isu yang terkait dengan penyelesaian putaran doha, masalah
perdagangan, pembiayaan perubahan iklim, transparansi
dan pengurangan subsidi energi sehingga kehadiran Menteri
Keuangan nantinya juga akan mewakili pemerintah di
masing-masing negara terhadap isu-isu terkait tersebut.
Pada pertemuan sebelumnya di London dan Pittsburgh,
para pemimpin negara memfokuskan pertemuan pada upaya
pemulihan krisis keuangan global yang dipicu oleh krisis
mortgage di AS.
Para pemimpin Negara sepakat bahwa forum G-20
merupakan wadah yang tepat untuk mengambil langkahlangkah respons global yang terkoordinasi secara cepat dan
tanpa mengorbankan kepentingan negara lainnya. Beberapa
keputusan yang diambil untuk pemulihan krisis meliputi
stimulus global, pembentukan FSB, perbaikan governance
dan regulasi di sektor keuangan, reformasi IFI (International
Financial Institutions) dan menjadwalkan exit strategy serta
mendesain pertumbuhan global yang seimbang.
Lemahnya pengawasan sistem keuangan global sekarang
ini menjadi titik lemah dari proses pemulihan global.
Pendeteksian dini masih mengandung kelemahan di sana
sini. Surveilance IMF sering dilecehkan di negara-negara
maju. Banyak negara yang belum melaksanakan asesmen
sektor keuangannya yang dilakukan oleh IMF.
218
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
Peristiwa bangkrutnya Lehman Brothers, lembagalembaga investasi keuangan dan sekarang krisis fiskal di
Yunani menunjukkan lemahnya pengawasan oleh lembaga
keuangan regional seperti European Community dan IMF.
Meskipun negara tersebut memiliki rekam jejak fiskal yang
buruk, lembaga peringkat tetap memberikan predikat AAA
untuk peringkat utang mereka. Sungguh sangat tidak adil.
Sementara Indonesia yang melakukan pengelolaan utang
dan fiskal bagus tidak dihargai sepadan dengan prestasinya,
sehingga pertingkat utang kita masih dalam batas BB+ atau
dua tahap di bawah investment grade.
Masalah Yunani dan reformasi keuangan, surveilance
dan lembaga pemeringkat
“Negara-negara
menjadi satu agenda yang
penting dalam forum G-20 berkembang termasuk
Indonesia menjadi
di Busan dan Toronto.
Apalagi
dampak
krisis korban apabila tidak ada
Yunani berpotensi menular upaya global mengatasi
ke negara lainnya. Negaramasalah krisis di
negara
berkembang
Yunani.”
termasuk Indonesia menjadi
korban apabila tidak ada upaya global mengatasi masalah
krisis di Yunani.
Menunggu hasil
Pada masa depan, keefektivan kerja forum G-20 akan
dituntut lebih tinggi dalam mengelola risiko ekonomi global:
pertama, komitmen untuk meningkatkan kerja sama respons
kebijakan terhadap resiko keuangan/ekonomi global melalui
Financial Stability Board dan BIS. Kedua, memperkuat
stabilitas dan keefektivan sektor keuangan domestik melalui
regulasi keuangan global yang adaptif dengan keadaan
219
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
domestik. Ketiga, Mengelola arsitektur keuangan global
melalui reformasi IFIs. Keempat, menguji mandat dan
akuntabilitas organisasi-organisasi seperti IMF, Bank Dunia,
OPEC, UNFCCC, ILO, FSB, dan BIS.
Pelaku ekonomi menunggu hasil pertemuan G-20 di
Busan dan Toronto untuk menyikapi beberapa hal penting
yang menjadi perhatian, yakni respons pada krisis Yunani,
waktu dan tahapan exit strategy, desain financial safety
nets dan arah dari reformasi sektor keuangan dan prospek
pemulihan global melalui tindakan global.
Penulis yakin Menteri Keuangan Agus Martowardoyo
dan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution tidak akan
menyia-nyiakan kehadirannya di forum G-20 ini, dan para
pelaku ekonomi di Tanah Air tentu juga tidak sabar menunggu
kontribusi mereka dalam pemulihan ekonomi yang pasti.
Pernah dimuat di Bisnis Indonesia, Minggu, 06 Juni 2010
***
220
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
Pembentukan Fiscal Safety di G-20
Pengantar :
“Pengalaman krisis keuangan global terdahulu
menunjukkan betapa cepatnya suatu krisis dapat menular
ke negara lain. Apabila suatu negara tidak memiliki
instrumen dan upaya bersama untuk mengatasi masalah,
maka krisis keuangan di negara bersangkutan dapat
berpotensi menjadi krisis keuangan global. Berdasarkan
permasalahan tersebut, isu penggunaan global financial
safety nets (GFSN) sebagai upaya preventif pencegahan
krisis keuangan global menjadi krusial bagi beberapa
negara, salah satunya bagi Indonesia. Dengan GFSN, akan
semakin pruden dan dapat memiliki resiko yang lebih
rendah saat menghadapi volatilitas, aliran dana jangka
pendek dan ketidakpastiaan keuangan global.”
P
ertemuan menteri keuangan dan gubernur bank
sentral G-20 di Busan, Korea Selatan pada 5 Juni
2010 menghasilkan komunike yang layak disimak.
Sebagai tindak lanjut instruksi para pemimpin dunia
G-20 di Pittsburgh, Amerika Serikat akhir 2009, komunike
tersebut akan menjadi dasar bagi para pemimpin dunia G-20
221
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
untuk menetapkan komitmen baru dalam KTT di Toronto 2627 Juni 2010.
Komunike menkeu dan gubernur bank sentral tersebut
berisi 10 butir kesepakatan yang dapat dibagi dalam empat
kategori. Pertama, perbaikan prospek ekonomi global, respons
pada krisis di Eropa, exit strategy dan kerangka pertumbuhan
yang kuat dan seimbang; kedua, progres reformasi sektor
keuangan, transparansi dan regulasi sektor keuangan,
transparansi perpajakan, dan pencucian uang; ketiga, adalah
reformasi lembaga multilateral dunia, IMF dan Bank Dunia
dan keempat, terkait dengan rencana pembentukan global
financial safety nets (GFSN). Dalam komunike tersebut juga
disinggung mengenai pembiayaan UMKM, pengurangan
subsidi energi dan penghapusan utang kepada Haiti. Penulis
menyayangkan beberapa topik penting seperti komitmen
liberalisasi perdagangan dan pembiayaan perubahan iklim
yang merupakan agenda pokok bagi Indonesia sama sekali
tidak dicantumkan.
Global Financial Safety Nets
Salah satu topik hangat yang muncul dalam diskusi
tersebut adalah mengenai pembentukan global financial
safety nets. GFSN adalah suatu upaya global untuk
membentuk dana cadangan sebagai jaring pengaman sektor
keuangan terhadap krisis global. Ide GFSN yang digagas oleh
Inggris dan Korea Selatan tersebut sebenarnya bukan hal
baru. Walapun sempat meredup, tetapi dengan adanya krisis
Yunani dan Eropa, ide tersebut muncul kembali dan menjadi
sangat relevan.
Seperti kita ketahui, pengalaman krisis keuangan
global dan sekarang terjadi di zona Eropa menunjukkan
222
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
betapa cepatnya efek menular krisis tersebut dari satu
negara ke negara lain. Krisis yang berawal dari satu negara
dapat menular ke negara lain dengan sangat cepat. Apabila
suatu negara tidak memiliki instrumen dan upaya bersama
untuk mengatasi masalah, maka krisis keuangan di negara
bersangkutan dapat berpotensi menjadi krisis keuangan
global. GFSN adalah suatu upaya preventif pencegahan krisis
keuangan global.
Untuk mencegah terjadinya krisis keuangan, pemerintah,
otoritas moneter di negara maju dan negara berkembang
harus memiliki sejumlah instrumen sendiri pencegahan krisis,
baik fiskal maupun moneter, memiliki cadangan devisa yang
memadai, melakukan koordinasi regional dan internasional
dalam stimulus dan membentuk jaring pengaman sektor
keuangan. G-20 telah mengidentifikasi berbagai instrumen
antarnegara dalam pencegahan krisis, misalnya fasilitas
bilateral swap, regional survellence dan instrumen seperti
Chiang Mai, dan fasilitas IMF berupa new arrangement of
borrowing (NAB), standby arrangement (SBA) dan Flexible
Credit Line (FCL).
Namun demikian, pertahanan pertama yang diperlukan
dalam pencegahan dan mengurangi dampak dari shock
eksternal adalah pengelolaan dan kebijakan ekonomi makro
yang baik dan pruden. Tanpa itu, sebaik apapun instrumen
krisis global tersebut akan tetap saja tidak memadai. Kebijakan
makro ekonomi tersebut meliputi pertumbuhan ekonomi
tinggi, inflasi rendah, stabilitas nilai tukar, penurunan
risiko utang dan pembiayaan, defisit fiskal yang aman, dan
perbaikan iklim investasi.
Indonesia dinilai oleh lembaga pemeringkat dan
multilateral lainnya memiliki rekam jejak kebijakan
223
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
makro yang cukup pruden. Ditambah juga dengan regulasi
perbankan pruden, kebijakan fiskal yang konsisten dan
pengelolaan utang yang berhati-hati. Namun, kebijakan fiskal
di Indonesia sering terimbas oleh volatilitas, aliran dana
jangka pendek, dan ketidakpastian keuangan global, sehingga
masih saja berisiko. Dalam hal kebutuhan ekspansi fiskal
untuk pembiayaan infrastruktur, ketidakpastian pembiayaan
dari pasar global sering kali menjadi penghambat. Untuk itu,
Indonesia dan beberapa negara harus memiliki kepastian
pembiayaan APBN-nya atau semacam fiscal safety.
Sayangnya, GFSN yang dimaksud dalam komunike
tersebut hanya menyangkut jaring pengaman terhadap
anjloknya cadangan devisa. Padahal yang dibutuhkan oleh
Indonesia di samping kecukupan cadangan devisa juga
ketidakpastian terhadap pembiayaan APBN. Indonesia sudah
memiliki pola pembiayaan siaga dengan Bank Dunia, ADB,
Jepang, dan Australia, akan tetapi pembiayaan tersebut
bersifat semi permanen saja.
Padahal jika APBN kita dapat dipayungi dengan dana
siaga fiscal safety yang baku, maka ketersediaan dan biaya
serta risiko peminjaman proyek dari pasar dapat turun secara
signifikan. Pada masa Menkeu Sri Mulyani (Kabinet Indonesia
bersatu jilid satu), Indonesia sudah mengajukan ide tersebut
dan sudah menyampaikannnya dalam forum resmi deputi
G-20 maupun kepada lembaga-lembaga multilateral untuk
dapat diakomodasi sebagai instrumen pendanaan resmi.
Indonesia juga sudah mendiskusikan hal tersebut dengan
negara penggagas GFSN yakni Korsel dan Kanada, dan sejauh
ini responsnya cukup positif.
Ada baiknya usulan tersebut ditindak lanjuti hingga
ke tingkat pimpinan negara G-20. Fiscal safety memang
224
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
unik untuk beberapa negara berkembang yang memiliki
ruang untuk melakukan ekspansi fiskal tetapi dibatasi oleh
situasi pasar keuangan global yang tidak menentu. Dengan
instrumen fiscal safety yang baku di lembaga multilateral
yang dimandatkan oleh G-20, maka Indonesia dan beberapa
negara berkembang yang memiliki rekam jejak kebijakan
ekonomi pruden akan memiliki kemampuan ekspansi yang
lebih besar dalam mendorong pertumbuhan global.
GFSN harus didukung dengan kecukupan modal dari
lembaga-lembaga multilateral, khususnya IMF dan Bank
Dunia. IMF memiliki modal cukup, sementara Bank Dunia
masih kekurangan. Sayangnya G-20 tidak menyetujui usulan
Indonesia untuk menambah modal sebesar US$5 miliar.
Dengan tambahan modal tunai Bank Dunia sebesar US$3,5
miliar, maka alokasi pembiayaan Bank Dunia untuk program
kemiskinan, infrastruktur dan perubahan iklim serta terutama
dana siaga (fiscal safety) menjadi sangat terbatas.
Padahal tambahan modal tunai US$5 miliar bukanlah
jumlah yang signifikan untuk negara-negara besar yang
memiliki saham besar di Bank Dunia. Indonesia memang
tidak mengutamakan pinjaman dari Bank Dunia, akan tetapi
Bank Dunia tetap sebagai pelengkap pembiayaan rupiah. Di
samping itu, Bank Dunia dibutuhkan untuk dapat memberikan
fasilitas-fasilitas jaminan sehinggadapat menurunkan biaya
peminjaman perbankan.
Agenda Indonesia
Pertemuan pemimpin G-20 di Toronto nantinya akan
sangat penting. Indonesia harus berpartisipasi secara penuh,
khususnya dalam topik terkait seperti reformasi sektor
keuangan, masalah pajak, GFSN dan reformasi lembaga
225
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
multilateral. Jangan lupa, Indonesia adalah champion untuk
masalah pembiayaan perubahan iklim. Masalah kepastian
dari Putaran Doha, komitmen pengurangan subsidi BBM dan
isu-isu lain juga harus dibicarakan secara terbuka dengan
melihat hambatan dan kesulitan di setiap negara dalam
implementasinya.
Apabila Indonesia dapat menuntaskan pembentukan
pendanaan fiscal safety, sudah barang tentu hal ini akan
menjadi keberhasilan tersendiri. Isu ini sama sekali tidak
se-kontroversial dan sesulit isu perubahan iklim atau
perdagangan. Agenda Indonesia mengenai pendanaan fiscal
safety dalam GSFN akan memberikan dampak positif di
Tanah Air dan kepercayaan kepada pelaku pasar keuangan.
Pada KTT G-20 di London, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono pernah mengajukan dana global untuk mitigasi
krisis, Global Expenditure Support Fund (CESF) tetapi ide
tersebut mentah di tengah jalan. Ide pembentukan CFSN
sudah berjalan namun perlu disempurnakan. Usaha tersebut
harus dimulai dengan melakukan lobi mulai dari tingkat
deputi, menteri dan akhirnya di tingkat kepala negara. Mari,
menantikan hasil upaya delegasi Indonesia tersebut dengan
rasa optimistis.
Pernah dimuat di Bisnis Indonesia, 21 Juni 2010
***
226
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
Manfaat dan Risiko
Integrasi Keuangan Global
Pengantar:
“Tahun 2008 yang diawali dengan runtuhnya Lehman
Brothers telah menggambarkan krisis keuangan global
dan berimbas pada jatuhnya trade finance. Hal ini tentu
menyebabkan hilangnya kepercayaan pasar. Negara
berkembang yang memiliki cadangan devisa terbatas
seringkali mengalami kesulitan untuk menetapkan
langkah counter-cyclical. Maka dari itu masalah Jaring
Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) harus disikapi secara
nasional, regional, dan global. Di bidang anggaran,
negara berkembang sering melakukan pinjaman pasar,
namun pada saat krisis, hal ini tidak cost effective. Maka
dari itu diperlukan sejumlah tindakan yang diambil untuk
memperkuat jaring internal dan eksternal pengaman
keuangan.“
227
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
I
ntegrasi perekonomian dunia telah membawa
manfaat besar dalam hal pertumbuhan dan
kemakmuran. Namun, itu juga berarti bahwa masingmasing negara rentan terhadap guncangan eksternal
yang serius, ditularkan baik melalui saluran ekonomi dan
keuangan. Guncangan tersebut bisa secara cepat terjadi pada
suatu negara yang menghadapi krisis likuiditas valuta asing,
dengan potensi konsekuensi serius bagi stabilitas ekonomi
domestik. Tahun 2008-2009 krisis keuangan global telah
menggambarkan ini, secara kuat. Dari asalnya di default US
sub-prime, krisis menyebar dengan cepat di seluruh ekonomi
pasar yang maju dan berkembang, terutama setelah runtuhnya
Lehman Brothers pada bulan September 2008. Negara
yang terkena dampak melalui berbagai saluran, termasuk
kekurangan likuiditas valuta asing di pasar antar-bank,
arus keluar modal berbasis luas, trade finance mengalami
kekeringan dan kemerosotan kepercayaan pasar. Pengalaman penulis menangani masalah ini khususnya
menunjukkan bahwa gangguan dan ketidakstabilan di
sektor keuangan dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan
yang parah. Namun, situasi di negara-negara berkembang
sering lebih buruk karena mereka hanya memiliki pilihan
terbatas untuk melakukan respons secara tepat waktu dan
efektif. Negara-negara berkembang seringkali memiliki
cadangan devisa yang terbatas untuk menopang setiap
pembalikan modal tiba-tiba. Kurangnya ruang fiskal untuk
menetapkan langkah-langkah counter-cyclical anggaran
mungkin juga menimbulkanrendahnya kepercayaan pasar
untuk mengatasi risiko pembalikan modal lebih lanjut. Oleh
228
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
karena itu masalah jaring pengaman keuangan (JPSK) harus
disikapi segera secara nasional, regional dan global. Dan
dari perspektif Indonesia, jaring pengaman juga harus
mempertimbangkan kedua neraca pembayaran dan masalah
keamanan anggaran, karena ini saling terkait. Akumulasi cadangan devisa yang cukup dan memadai
dapat membantu mengurangi dampak dari arus modal
keluar yang cepat dan menyediakan likuiditas kepada bank
domestik. Indonesia di antara negara yang terjadi kejatuhan
yang signifikan dalam cadangan devisa pada periode antara
Juni 2008 dan Maret 2009. Di bidang anggaran, untuk mendapatkan pembiayaan
tambahan, negara berkem­
“Negara berkembang
bang
dapat
melakukan
sering melakukan
pinjaman
pasar.
Tapi
pinjaman
pasar, namun
meminjam dalam situasi
pada saat krisis, hal ini
krisis keuangan biasanya
tidak cost effective.”
tidak cost-effective atau
mahal. Hal ini juga dapat
meningkatkan risiko posisi fiskal yang tidak berkelanjutan,
menyebabkan distorsi pasar modal, dan mengakibatkan
ketidakmampuan untuk membayar hutang pemerintah dan,
untuk beberapa negara, memungkinkan peningkatan inflasi.
Kerjasama Regional
Secara global, ada upaya yang dilakukan untuk
memperkuat cadangan devisa suatu negara terhadap krisis
likuiditas global. Pencegahan keuangan dari IMF dalam
bentuk yang baru dikembangkan Fleksibel Credit Line (FCL)
telah diperkenalkan. Namun, bahkan dengan pengenalan
229
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
FCL, banyak negara kurang tertarik untuk memanfaatkan
itu karena stigma yang tak terelakkan dari berurusan dengan
IMF, baik dari politik domestik dan pasar. Pengaturan regional seperti integrasi pasar modal
ASEAN dan CMI telah berkembang sejak awal tahun
2000. Hal ini telah diperluas ke CMIM (Chiang Mai Initiative
Multilateralization) dengan efek dari bulan Maret tahun
2010. Nilai total CMIM adalah 120 miliar dolar AS dibentuk
dengan tujuan mengatasi kesulitan likuiditas jangka pendek
dan/atau kesulitan-kesulitan neraca pembayaran. Dalam
inisiatif ini negara-negara anggota bisa mengakses 20%
pinjaman tanpa keterlibatan program IMF, sementara akses
sisanya tergantung dalam mengadopsi program dukungan
dana. Meskipun CMIM adalah self-manage tetapi memiliki
keterbatasan dalam hal ukuran dan persyaratan, termasuk
dalam kaitannya dengan program IMF. Sebuah negara yang mengandalkan pasar modal
internasional perlu dorongan dukungan kredibilitas dari kedua
kerjasama regional dan pengaturan global. Sayangnya, selama
krisis, bahkan di saat normal, negara-negara berkembang
dipersepsikan memiliki risiko yang lebih tinggi, tanpa dasar
yang kuat dan meskipun terus berpacu dengan perbaikan
dan melakukan restrukturisasi reformasi ekonomi. Sebagai
contoh, meskipun Indonesia telah melaksanakan reformasi
yang signifikan, diberlakukan kebijakan makroekonomi dan
fiskal yang sehat, subsidi dikurangi, mengelola desentralisasi
fiskal, mengembangkan kelembagaan, dan menunjukkan
pertumbuhan ekonomidi saat krisis ini, lembaga pemeringkat
sangat lambat secara signifikan mengevaluasi kembali
peringkat utang di Indonesia. Di sisi lain, negara-negara maju
230
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
yang mengalami kontraksi ekonomi, justru tidak mengalami
penurunan peringkat. Hal ini menciptakan perasaan bahwa
lembaga pemeringkat tidak menggunakan pendekatan yang
sehat bahkan menghukum negara-negara berkembang yang
melakukan reformasi. IMF Pengawasan Lemah
Hal yang juga disayangkan bahwa pengawasan IMF tidak
membantu meningkatkan rating dan persepsi pasar dimana
perbaikan sungguh-sungguh telah dilakukan. Penilaian
terkait dengan pengawasan IMF harus tidak memihak dan
se-objektif mungkin dan harus menangkap semua perbaikan
baik di negara maju dan berkembang. Perlu ada apresiasi
yang penuh dengan perbaikan negara berkembang dan
mereka harus tercermin dalam kenaikan peringkat kredit
secepat mungkin. Setiap keterlambatan dalam peningkatan
credit rating memiliki implikasi keuangan yang signifikan bagi
negara-negara berkembang. Ada persepsi dari negara-negara
berkembang bahwa pekerjaan pengawasan IMF sering tidak
seimbang. Sebagai contoh, IMF sering memberikan tekanan
kuat ketika memberikan analisis mereka pada negara-negara
berkembang, sebaliknya mereka tidak memperlakukan
negara-negara maju dengan cara yang sama. Melihat kemajuan sejauh ini, IMF perlu melanjutkan
pekerjaan mereka. IMF, misalnya, bagaimana memenuhi
mandatnya, termasuk dengan kerangka kerja koordinasi yang
luas dan jelas dengan FSB(Financial System Board). IMF
juga harus mampun membangun pengawasan keuangan
yang lebih kuat dengan melakukan FSAP (Financial Sector
Assessment Process) di negara maju. Inisiatif-inisiatif ini akan
231
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
memungkinkan mereka untuk melakukan berbagai kebijakan
pruden di sektor makro ekonomi dan keuangan. Oleh karena
itu penulis ingin melihat proses yang lebih evenhanded dan
pengawasan lebih kuat terutama di negara-negara sistemik. Terhadap latar belakang seperti itu, maka tidak bisa
dihindari bahwa negara-negara berkembang ditekan untuk
mengejar jalan asuransi mandiri seperti mengumpulkan
cadangan devisa besar atau bahkan mengurangi keterbukaan
mereka untuk perdagangan global dan pergerakan
modal. Strategi akumulasi cadangan devisa di masingmasing negara bukan merupakan solusi optimal baik untuk
perekonomian domestik dan global. Financial Safetynets Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk
mendiskusikan cara efektif menghadapai volatilitas
mendadak. Pertama, mengembangkan instrumen pembiayaan
fleksibel dan kontingensi selama masa gangguan
pasar. Sebagai contoh adalah Deferred Drawdown Option
(DDO) mekanisme yang dinegosiasikan Indonesia
bekerjasama dengan Bank Pembangunan Asia (ADB), Bank
Dunia, Australia, dan Jepang. Inisiatif ini telah membantu
untuk mengurangi persepsi pasar pada kerentanan ekonomi
dan meningkatkan harapan di masa depan. Oleh karena itu,
membantu mengurangi arus keluar modal. Namun, DDO
memiliki keterbatasan dalam sifat ad-hoc dan sementara.
Akan bermanfaat untuk menggali kemungkinan memiliki
fasilitas darurat untuk pembiayaan anggaran sebagai dasar
232
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
permanen atau membuat ini sebagai instrumen permanen
baru untuk negara yang membutuhkan.
Kedua, IMF harus mengembangkan pengawasan yang
kredibel dan dihormati, instrumen pinjaman pencegahan
dan mekanisme yang bisa menjawab kekhawatiran anggota
mereka pada masalah stigma. IMF perlu mulai menilai
posisinya vis-à-vis munculnya multilateralisasi cadangan
devisa dan swap bilateral. Hal ini harus dilakukan tidak dari
perspektif bahwa fenomena seperti itu akan meminggirkan
peran IMF dalam urusan cadangan devisa, tetapi bahwa
IMF dapat memainkan peranan penting dalam merancang
dan memperkuat ‘pertahanan lini kedua’ untuk berbagai
krisis yang dapat ditambahkan untuk membangun market
confidence. Ketiga, garis pertama pertahanan untuk mengurangi
kerentanan negara pada guncangan eksternal adalah
mengembangkan kebijakan ekonomi dan kebijakan
keuangan yang pruden. Krisis global menunjukkan bahwa
sejumlah negara, dan khususnya beberapa pasar negara
berkembang, lebih tahan terhadap krisis keuangan global
sebagai hasil perbaikan sebelumnya dalam manajemen
ekonomi. Akibatnya, negara-negara ini mampu menyediakan
lingkungan makroekonomi yang lebih mendukung dengan
melonggarkan kebijakan moneter dan fiskal, memungkinkan
nilai tukar untuk menyesuaikan serta menyediakan dukungan
sektor keuangan mereka. Asuransi diri sendiri, akumulasi
cadangan devisa memberikan bantalan penting terhadap
dampak dari kekurangan likuiditas global pada aktivitas
domestik di beberapa negara. 233
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Akhirnya, walaupun perbaikan ini, tindakan kebijakan
domestik hanya sebagian terbukti efektif, jaring pengaman
keuangan secara keseluruhan dan banyak negara perlu
bergantung pada mekanisme lain, termasuk jalur swap
yang disediakan oleh sejumlah bank sentral, memperkuat
pengelolaan keuangan daerah seperti CMIM, dukungan
lembaga multilateral untuk anggaran keamanan, dan
pencegahan pembiayaan negara yang dimodifikasi dari
IMF. Berdasarkan pengalaman, sejumlah tindakan dapat
diambil untuk memperkuat jaring internal dan eksternal
pengaman keuangan. Tanpa upaya langsung tentang masalah
ini, integrasi keuangan dapat menimbulkan risiko yang sangat
serius. Pernah dimuat di Jakarta Post 23 Juni 2010
***
234
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
Perlu (Segera) UU JPSK
Pengantar :
“Pelajaran krisis global, krisis Yunani, dan
penyelamatan Bank Century telah membuka mata kita
bahwa krisis tidak bisa diperkirakan dengan akurat, baik
besaran, dampak, efek ketularan, maupun kecepatannya.
Belajar dari pengalaman tersebut, isu mengenai
manajemen krisis menjadi krusial untuk diterapkan.
Pemerintah, BI, dan DPR perlu segera memprioritaskan
pembentukan JPSK dan protokol manajemen krisis.
Dengan terbentuknya JPKS dan protocol manajemen krisis
yang baik, diharapkan Negara ini dapat mempersiapkan
diri saat badai krisis tiba dan tidak menyesal di kemudian
hari.”
I
ntegrasi perekonomian dunia telah membawa manfaat
bagi laju pertumbuhan ekonomi, transaksi keuangan,
dan perdagangan. Namun, konsekuensi integrasi
tersebut adalah rentannya suatu negara terhadap
kejutan dari luar (external shock) melalui perdagangan
dan investasi ataupun sektor keuangan. Shock atau kejutan
eksternal dapat mengakibatkan suatu negara menghadapi
235
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
krisis likuiditas dan berpotensi menimbulkan gangguan
destabilisasi perekonomian nasional.
Krisis keuangan global telah menggambarkan betapa
dahsyat dan cepatnya transmisi. Bermula dari gagal bayar
kredit perumahan kelas dua (sub-prime mortgage), krisis
segera menjalar ke negara maju dan negara berkembang,
khususnya setelah bangkrutnya Lehman Brothers. Negaranegara terimbas krisis keuangan melalui berbagai macam
sumber, termasuk kekeringan likuiditas di perbankan, pelarian
modal portofolio, keterbatasan pembiayaan perdagangan,
penurunan permintaan global, dan secara umum penggerusan
kepercayaan
di
sektor
keuangan.
“Untuk melakukan
Pengalaman berharga manajemen krisis yang
baik, pemerintah dan
krisis
keuangan
global
akhir-akhir ini mengajarkan otoritas moneter harus
kepada kita akan perlunya mampu mendesain cara,
manajemen krisis, baik di mekanisme, pendanaan,
dan pengadaan biaya
tingkat nasional, regional,
maupun global. Manajemen
penyelamatan.”
krisis tersebut meliputi
upaya pencegahan, mitigasi, dan penyelamatannya. Untuk
melakukan manajemen krisis yang baik, pemerintah dan
otoritas moneter harus mampu mendesain cara, mekanisme,
pendanaan, dan pengadaan biaya penyelamatan.
Dalam pendanaan karena DPR lembaga yang berwenang
dalam penetapan penganggaran, lembaga ini harus terlibat
sejak awal. Maka di banyak negara, pencegahan dan
penyelamatan krisis tersebut harus dituangkan dalam UU
sehingga memiliki kekuatan hukum dan hasil kesepakatan
bersama antara pihak eksekutif dan legislatif.
236
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
Pencegahan global
KTT G-20 26-27 Juni 2010 di Toronto membahas
manajemen krisis di tingkat global. Anggota G-20 menggagas
pembentukan Global Financial Safety Nets (JPSK) dengan
dana yang dikumpulkan melalui berbagai macam inisiatif.
Di tingkat bilateral telah banyak negara melakukan
perjanjian swap bilateral. Tahun 2007, Indonesia melakukan
swap bilateral dengan China dan Jepang dalam mata uang
lokal dan dollar AS senilai setara 30 miliar dollar AS. Di
tingkat regional, pada tahun 2009 ASEAN+3 telah secara
resmi membentuk dana pooling cadangan devisa sebesar
120 miliar dollar AS untuk mencegah krisis likuiditas jangka
pendek. Skema ini dikenal dengan sebutan Chiang Mai
Initiative Multilateralization (CMIM). Mekanisme CMIM
juga dilengkapi AMRO (ASEAN+3 Regional Macroeconomic
Office) dalam rangka pengawasan atau surveilence. Namun,
swap bilateral dan CMIM mempunyai keterbatasan dalam
jumlah dan persyaratan penarikannya.
IMF juga memiliki instrumen bernama Flexible Credit
Line (FCL). Instrumen ini untuk berjaga-jaga (precautionary)
apabila terjadi krisis likuiditas bagi negara yang mempunyai
rekam jejak baik dan dapat dipinjamkan tanpa persyaratan.
Meskipun dana pinjaman berasal dari negara-negara G-20,
banyak negara berkembang masih memiliki trauma terhadap
IMF atas kesalahan resep dan persyaratan pinjaman di waktu
krisis 1998. Indonesia sudah menyatakan tak berminat untuk
menarik dana pinjaman IMF.
Keterbatasan pilihan pendanaan global untuk antisipasi
krisis merupakan dilema tersendiri bagi negara yang
membutuhkan instrumen pencegahan krisis. KTT G-20 di
Toronto sedang menggodok pendirian dana Jaring Pengaman
237
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Sektor Keuangan (JPSK) yang menggabungkan JPSK dalam
negeri, regional, dan global. Indonesia mengusulkan agar
JPSK global dapat dimanfaatkan untuk pencegahan krisis
global dan pencegahan kemerosotan cadangan devisa dan
pembiayaan defisit APBN.
Upaya Internal
Secara teoretis instrumen pencegahan krisis harus
dimulai dari penguatan kebijakan ekonomi makro dan
sektor keuangan dalam negeri yang baik dan berhati-hati.
Pertumbuhan harus berbasis investasi dengan inflasi rendah,
rasio utang aman, cadangan devisa cukup, kesehatan sektor
perbankan dijaga, pembangunan infrastruktur berjalan, dan
subsidi tepat sasaran serta risiko termitigasi dengan baik.
Pengelolaan ekonomi makro yang baik dan berhati-hati
merupakan lini pertahanan pertama melawan krisis. Meskipun
kita telah memiliki rekam jejak dalam kebijakan makro yang
baik, protokol manajemen krisis tetap harus dipersiapkan.
Manajemen krisis meliputi tata cara penanganan dan
pencegahan krisis, baik krisis ringan maupun krisis sistemik.
Ini melibatkan otoritas pemerintah, mulai dari Presiden,
Menkeu dan BI, dan karena menyangkut penggunaan
anggaran, DPR juga terlibat. Bahkan, BPK, Kepolisian, KPK,
dan Kejaksaan juga harus mempunyai kesamaan pendapat
mengenai masalah hukum manajemen krisis. Manajemen
krisis memerlukan penanganan profesional, cepat, dan
terukur. Masalah kecepatan dan prioritas menjadi penting
karena krisis keuangan mempunyai daya tular yang sangat
cepat dan tidak terduga.
Manajemen pencegahan dan penanganan krisis harus
mengandung langkah-langkah sebagai berikut; pertama,
tersedianya model pendeteksian dini makro dan sensitivitas
238
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
sektor keuangan bank dan non-bank untuk mengestimasi
probabilitas terjadinya krisis dan dampak krisis. Kedua,
fleksibilitas kebijakan makro dan moneter. Pada kebijakan
moneter dan perbankan pada umumnya dapat dilakukan
penyesuaian oleh otoritas, segera sesuai keadaan. Namun,
kebijakan fiskal memiliki rigiditas dan non-diskresi yang
tinggi dan terkait dengan persetujuan DPR. Untuk itu, dalam
setiap UU APBN perlu didesain ketentuan bersama dengan
DPR yang selalu mengantisipasi krisis global, baik melalui
alokasi risiko fiskal yang cukup, maupun fleksibilitas dalam
pendapat dan belanja maupun pembiayaan defisit. Ketiga,
penyusunan protokol krisis meliputi pembagian tugas antara
pemerintah dan BI dalam keterangan publik, kebijakan yang
tepat, urutan eksekusi, pembiayaan krisis sampai mekanisme
penganggaran dengan DPR. Keempat, pembentukan lembaga
penyehatan bank/non-bank dan penanganan utang-piutang
krisis. Kelima, perlindungan hukum terhadap pengambil
kebijakan dan penanganan hukum terhadap pelaku kejahatan.
JPSK prioritas segera
Perpu JPSK penah ditolak oleh DPR. UU JPSK juga
masih kandas di DPR pada masa pemerintahan KIB I
karena dilakukan dalam masa krisis global sehingga
pembahasan sering dilandasi kecurigaan tinggi, terutama
dalam rangka penyelamatan Bank Century. Saat ini, situasi
global dan pasar keuangan jauh lebih tenang dibandingkan
dengan tahun sebelumnya. Pemerintah, BI, dan DPR perlu
segera memprioritaskan pembentukan JPSK dan protokol
manajemen krisis. MoU antara BI dan pemerintah yang telah
ditandatangani sangat tidak memadai apabila terjadi krisis
global yang berdampak sistemik di dalam negeri.
239
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Pelajaran krisis global, krisis Yunani, dan penyelamatan
Bank Century harus membuka mata kita bahwa krisis tidak
bisa diperkirakan dengan akurat, baik besaran, dampak,
efek ketularan, maupun kecepatannya. Dalam situasi tenang
seperti sekarang, tak ada pilihan kecuali mempersiapkan dan
mengesahkan UU JPSK dan protokol krisis sesegera mungkin
sebelum badai krisis tiba dan kita menyesal di kemudian hari.
Pernah dimuat di Kompas, 28 Juni 2010
***
240
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
Risiko Ekonomi Global
dan Upaya Mitigasi
Pengantar :
“Resesi global yang terjadi sejak tahun 2008, hingga
tahun 2010 masih dapat dirasakan dirasakan dampaknya.
Menurunnya indeks produksi manufaktur global di AS dan
China serta melambatnya aktivitas perdagangan dunia
merupakan indikator yang membuktikan pernyataan
tersebut. Isu upaya pencegahan krisis keuangan dengan
global financial safety nets menjadi prioritas bersama
apabila tidak mau mengulangi kejadian krisis 2008.
Pada akhirnya, harus disadari bahwa dalam situasi
perekonomian global yang volatile dan labil seperti
sekarang dan kedepannya, mau tidak mau kita harus
mempersiapkan sedini mungkin. Pemantauan dini, early
warning system (EWS) perekonomian, stress-test pada
perbankan harus setiap saat tersedia dan manajemen
protokol risiko krisis disiapkan.”
241
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
D
ata perkembangan ekonomi dunia hingga
pertengahan 2010 menunjukkan bahwa dampak
resesi global sejak 2008 belum seluruhnya pulih.
Ada indikasi awal krisis utang di Eropa mulai
memberikan sentimen di sektor riil. Terlihat dari indeks
produksi manufaktur global di AS dan China menurun sejak
April 2010.
Aktivitas perdagangan dunia juga cenderung melambat
akhir-akhir ini. Aktivitas perdagangan luar negeri yang
tecermin dari Baltic Dry lndex menurun cukup tajam. Di
samping itu tentu yang sudah diperkirakan sebelumnya
pemberian stimulus fiskal membuat defisit anggaran di
hampir semua negara di
“Upaya pencegahan
dunia
mengakibatkan
utang
naik
secara krisis keuangan global
financial safety nets
signifikan.
Keadaan
ini
menjadi prioritas
memicu krisis kepercayaan
bersama apabila tidak
terhadap keadaan fiskal
negara-negara
Eropa
mau mengulangi
dan mengganggu proses
kejadian krisis 2008.”
pemulihan ekonomi global.
G-20 masih melakukan perhitungan mengenai perlu tidaknya
exit strategy saat ini. Yang jelas, upaya pencegahan krisis
keuangan global financial safety nets menjadi prioritas
bersama apabila tidak mau mengulangi kejadian krisis 2008.
Apa implikasinya bagi Indonesia?
Meskipun terdapat risiko perlambatan pertumbuhan
ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap
mengalami pertumbuhan sesuai dengan rencana, bahkan
lebih tinggi. Tahun 2010 pertumbuhan ekonomi Indonesia
mencapai 6,1% di atas sasaran awal 5,8%. Tahun 2011
242
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
diperkirakan mencapai 6,3%. Prospek ekonomi yang cerah
direspons positif oleh investor termasuk investor asing.
Rupiah menguat di kisaran 9000 rupiah per dolar AS dan
IHSG menguat di atas level 3000. Minat investor terhadap
Surat Utang Negara (SUN) juga meningkat. Akibatnya nilai
transaksi SUN meningkat signifikan dan yield SUN 5 tahun
turun di bawah 8%. Beban bunga utang baru menjadi lebih
rendah. Cadangan devisa diperkirakan mencapai Rp80 miliar
tahun ini didukung oleh masuknya modal portofolio yang
deras.
Risiko pembalikan
Di balik semua perbaikan fondasi perekonomian
Indonesia, risiko terjadi pembalikan tetap ada, bahkan
meningkat. Fenomena akhir-akhir ini, seperti meningkatnya
arus modal jangka pendek, kepemilikan surat utang dan
saham oleh asing, jumlah utang jangka pendek khususnya
swasta memberikan indikasi bahwa perekonomian Indonesia
memiliki risiko shock external yang meningkat. Apalagi
kebutuhan pembiayaan APBN 2010 adan 2011 meningkat
dan kenaikan inflasi akibat kenaikan harga-harga kebutuhan
pokok sangat serius.
RAPBN 2011 juga tidak memberikan suatu “bantalan”
yang mencukupi apabila terjadi shock external yang tiba-tiba
dan dapat mengganggu kelangsungan APBN kita. Apabila
pemerintah membatalkan dan DPR menolak kenaikan harga
BBM, tarif dasar listrik (TDL) dan harga eceran tertinggi
(HET) pupuk, penolakan tersebut akan menambah risiko
pembiayaan APBN 2011.
243
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Apa yang harus dilakukan?
Gejala perlambatan global yang diperlukan memerlukan
upaya nasional, regional, dan global. Di sisi kebijakan
nasional, pemerintah dapat melakukan beberapa hal. Pertama
stabilitas makro, khususnya Inflasi harus dijaga. Pasokan
beras juga harus ditambah dan impor beras jika terpaksa
harus dilakukan untuk mengurangi spekulasi harga beras
di pasar. Penguatan rupiah harus dilihat sebagai fenomena
regional jangan ada upaya dari otoritas (BI) untuk melakukan
intervensi (pelemahan) terhadap nilai rupiah yang tidak
perlu.
Kedua, pelaksanaan APBN-P 2010 sesuai dengan sasaran
dan penyelesaian pembahasan RAPBN 2011 diupayakan
benar-benar dengan mengingat risiko ekonomi global tersebut.
Pembatalan penaikan TDL dan HET akan berisiko pada krisis
fiskal. Selain itu, perpanjangan dana pinjaman siaga hingga
2011 perlu dilakukan untuk berjaga-jaga dan menjadi sumber
kepercayaan investor. Penerbitan SUN secara reguler juga
tetap harus dilakukan untuk menjaga risiko pembalikan.
Apabila terjadi kelebihan pembiayaan dari SUN, maka dapat
menjadi sumber pre-financing tahun berikutnya. Kemudian,
eksekusi belanja APBN dan infrastruktur juga harus terus
dipacu jika tidak menghendaki adanya ekonomi overrheating.
Ketiga, BI harus melakukan sesuatu (lagi) dengan
masalah masuknya dana portofolio jangka pendek agar dapat
berinvestasi lebih panjang. Meskipun ada ancaman inflasi,
sebaiknya BI tidak menaikkan suku bunga BI Rate karena
bisa menurunkan momentum pertumbuhan sektor riil.
Keempat, selesaikan RUU Jaring Pengaman Sektor
Keuangan segera. RUU JPSK . lebih penting daripada RUU
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK yang terpisah dan
244
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
independen dari BI sangat diperlukan, sehingga Kemenkeu
dan BI harus sepakat terhadap hal tersebut dan tidak
menghabiskan waktu untuk perbedaan pendapat yang tidak
perlu.
Dalam forum regional dan global, maka upaya aktivasi
berbagai inisiatif pencegahan krisis seperti Chiang May
Initiative dan Fiscal Safety dalam kerangka G-20 adalah
prioritas tinggi bagi partisipasi Indonesia. Kerja sama global
diperlukan karena potensi krisis sudah berskala global dan
datangnya tidak bisa diperkirakan serta punya daya tular
(contangion) yang sangat cepat.
Pada akhirnya, harus disadari bahwa dalam situasi
perekonomian global yang volatile dan labil seperti sekarang
dan kedepannya, mau tidak mau kita harus mempersiapkan
sedini mungkin. Pemantauan dini, early warning system
(EWS) perekonomian, stress-test pada perbankan harus setiap
saat tersedia dan manajemen protokol risiko krisis disiapkan.
Instrumen, regulasi dan teknologi sangat memungkinkan
dilakukannya pada saat ini untuk dibangun dan dipersiapkan.
Akhirnya semua bergantung pada kemauan politik dari DPR
dan pemerintah untuk menjalankannya bersama-sama. Tidak
ada yang tidak mungkin.
Pernah dimuat di Bisnis Indonesia, 30 Agustus 2010
***
245
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Pesan Davos Merespons
Ketidakseimbangan
Pengantar :
“Pertemuan Davos, forum pertemuan internasional
tahunan yang bersifat independen dan non-formal untuk
bertukar pikiran dan memperbaiki keadaan dunia, pada
tahun 2011 membicarakan tiga isu penting yaitu masalah
pangan, energi, dan ketidakseimbangan global. Sebagai
forum non-formal, Pertemuan Davos selalu mengajarkan
pentingnya koordinasi kebijakan, dialog, dan kerja
sama internasional sebagai kunci mengatasi kebuntuan
masalah. Pesan yang ingin disampaikan pertemuan Davos
adalah agar tidak ada lagi egosektoral dan tidak ada satu
negara super power ekonomi di muka Bumi sehingga
keseimbangan global dapat tercapai.”
W
orld Economic Forum (WEF) 2011 yang digelar
pada tanggal 26-31 Januari 2011 di Davos,
Swiss adalah forum pertemuan internasional
tahunan yang bersifat independen dan nonformal untuk bertukar pikiran dan memperbaiki keadaan
246
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
dunia dengan melibatkan pemimpin bisnis guna membentuk
agenda global, regional, dan industri.
Pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di DavosKlosters ini dikenal dengan julukan Pertemuan Davos.
Pertemuan ini juga mempertemukan bersama para
pemimpin global dengan politisi, akademisi, dan pemimpin
dunia usaha dari berbagai bidang di resor ski Swiss tersebut.
Dalam pertemuan tahunan ini biasanya disampaikan
berbagai pemikiran baru, gagasan, dan arus utama sistem
perekonomian dan eksplorasi strategi dan solusi yang
memiliki implikasi transformasi global. Penekanan khusus
dalam penyampaian ide adalah untuk menjawab pertanyaan
“bagaimana”, dengan berbagai analisis dan menguraikan
gagasan inovatif dan solusi tantangan global utama.
Selama lebih dari 4 dekade, pertemuan tahunan Davos
telah memberi kesempatan para pemimpin dari industri,
pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, dan media untuk
menyampaikan platform ekonomi baru yang penting pada
tingkat agenda global. Pertemuan Davos selama ini menjadi
referensi utama dalam solusi global, meskipun tidak ada
kesepakatan formal dan legal yang dituangkan.
Keragaman dan semangat Davos yang informal dan
kolaboratif serta dengan melibatkan pemimpin yang dikenal,
diharapkan peserta pertemuan memiliki kesempatan untuk
berkomunikasi secara bebas dan bahkan dengan mereka yang
mempunyai pandangan, cara berpikir, dan bertindak yang
bertolak belakang sama sekali.
Tantangan 2011
Tiga isu yang sangat menonjol dibicarakan dalam WEF
2011 adalah masalah pangan, energi, dan ketidakseimbangan
247
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
global. Meskipun difokuskan pada tiga isu utama tersebut,
keterkaitan ketiganya pada masalah kemiskinan, keresahaan
sosial, keamanan, dan stabilitas politik yang sangat erat
menjadi bahan penyampaian gagasan di Davos.
Seperti kita pahami dalam berbagai prognosis outlook
ekonomi dunia 2010 dan 2011, pertumbuhan perekonomian
dunia meningkat secara tidak seimbang. Pertumbuhan
ekonomi di AS dan Eropa tidak memiliki laju secepat di
negara-negara Asia, bahkan cenderung stagnan. Bahkan
keadaan ekonomi di AS dan Eropa masih melakukan
konsolidasi dan restrukturisasi utangnya. Dolar AS dan Euro
mengalami pelemahan nilai yang berkelanjutan. AS juga
masih akan melanjutkan kebijakan moneter ekspansif atau
quantitative easing untuk mendorong perekonomiannya.
Namun, China menentang penyesuaian mata uang remimbi
dengan dalih akan menggerus daya saing mereka. Arus
modal asing masih terus deras masuk ke negara berkembang
sehingga menimbulkan masalah baru yakni ekses likuiditas
valuta asing.
Ketidakseimbangan tersebut diperkirakan akan terus
terjadi selama AS dan China belum sepaham soal tujuan
bersama yang akan dicapai. Korbannya adalah negara-negara
berkembang yang tidak memiliki sumber daya memadai
untuk mengurangi volatilitas yang secara langsung dan tidak
langsung memengaruhinya. Hampir semua negara di Davos
mengimbau AS dan China untuk menghentikan perang kurs
demi tujuan global bersama.
Masalah pangan dan energi juga menjadi sorotan
yang cukup tajam oleh banyak pemimpin dunia di Davos.
Masalah kenaikan harga pangan dan energi terjadi karena
produksi tidak mencukupi memenuhi kebutuhan kenaikan
248
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
per-mintaan global. Diperkirakan, kebutuhan di masa depan
akan semakin besar, tetapi risiko kegagalan produksi sebagai
akibat perubahan iklim justru semakin tinggi. Kenaikan harga
pangan dan energi dunia juga disebabkan oleh re-orientasi
para pemodal pasar uang ke pasar komoditas seperti pangan
dan energi. Investasi portofolio pasar uang tidak lagi menarik
karena pelemahan dolar AS dan modal bermigrasi ke investasi
di bursa komoditas yang harganya terus meningkat.
Risiko terbesar yang dihadapi dunia pada tahun ini
adalah kenaikan inflasi yang berasal dari masalah likuiditas
dari ketidakseimbangan global dan kenaikan harga pangan
dan energi. Kenaikan inflasi global, jika tidak ditanggulangi,
akan menurunkan daya beli dan daya saing perekonomian.
Tidak heran saat ini banyak negara telah merespons dengan
berbagai kebijakan untuk memerangi inflasi. Banyak negara
yang mulai menaikkan suku bunga kebijakan (policy rate)
atau berbagai kebijakan lain untuk mengelola terjadinya
ekses likuiditas melalui pajak, giro wajib minimum, atau
memberi disinsentif bagi pemodal jangka pendek. Tentu saja
kebijakan-kebijakan tersebut, meskipun efektif menurunkan
inflasi, mempunyai dampak negatif bagi keseimbangan nilai
tukar ataupun dapat menghambat ekspansi ekonomi.
Seruan Davos
Inflasi yang tinggi akan menambah jumlah penduduk
miskin dan menimbulkan kerawanan sosial. Pertemuan
Davos mengimbau agar memimpin dunia duduk bersama
dan berkoordinasi melawan inflasi. Pertemuan G-20 adalah
forum tertinggi yang tentunya akan membahas masalah upaya
global menurunkan inflasi. Para pemimpin dunia harus bisa
menghentikan laju ketidakseimbangan global yang semakin
249
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
buruk tidak hanya bagi kesejahteraan dunia, tetapi juga bagi
kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang.
Bahaya yang terbesar adalah apabila dunia tidak mampu
memenuhi kebutuhan akan energi dan pangan dengan
peningkatan nyata produksi dunia. Jika inovasi serta teknologi
untuk meghasilkan altematif dan upaya penghematan
mengalami kegagalan, keadaan menjadi Iebih serius.
Pemimpin Davos mengimbau agar negara maju melakukan
transfer teknologi, investasi langsung, dan melakukan
production network untuk produk energi dan pangan.
Yang tak kalah garang
adalah seruan dari para
“Bagi Indonesia,
pemimpin dunia bagi negara
masalah keuangan,
produsen untuk melakukan
energi, dan pangan
transparansi data produksi adalah jantung masalah
dan pasar, dan bagi para kesejahteraan. Ditambah
investor pasar modal untuk
dengan pentingnya
tidak melakukan spekulasi
mitigasi dan adaptasi
mengerek kenaikan harga
perubahan iklim,
energi dan pangan. Akhirnya
dan pengentasan
penyelesaian krisis energi kemiskinan adalah inti
dan pangan harus dimulai masalah perekonomian
dari kebijakan nasional di
nasional.”
masing-masing negara.
Pertemuan Davos juga menyerukan penghentian krisis
politik. Krisis politik di beberapa negara akhir-akhir ini telah
mengurangi fokus prioritas masalah utama, dan bahkan
menambah masalah krisis.
Kerja sama regional harus terus ditingkatkan dalam
berbagai bidang secara komprehensif dan multisektoral,
misalnya dalam menyelesaikan masalah energi, pangan, dan
250
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
keuangan secara tidak terpisah. Agenda pertemuan pemimpin
negara di tingkat G-20 di Paris nantinya tampaknya masih
diperlukan, dengan agenda konkret menyangkut masalahmasalah yang menjadi perhatian di Davos.
Bagi Indonesia, masalah keuangan, energi, dan pangan
adalah jantung masalah kesejahteraan. Ditambah dengan
pentingnya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, dan
pengentasan kemiskinan adalah inti masalah perekonomian
nasional. Di sisi pasokan, kenaikan produksi adalah yang
paling utama untuk diupayakan dengan biaya yang seefisien
mungkin. Iklim investasi juga harus diperbaiki untuk menarik
investor. Di sisi permintaan, upaya peningkatan daya beli
dan daya saing adalah esensial. Pemerintah melalui bauran
kebijakan fiskal dan moneter dapat menjaga agar pangan dan
energi terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pertemuan Davos selalu mengajarkan pentingnya
koordinasi kebijakan, dialog, dan kerja sama internasional
sebagai kunci mengatasi kebuntuan masalah. Tidak ada lagi
egosektoral dan tidak ada satu negara super power ekonomi
di muka Bumi. Itulah pesan Davos.
Pernah dimuat di Bisnis Indonesia, 31 Jan 2011
***
251
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Dilema dan Relevansi AMRO
Pengantar:
AMRO didirikan untuk melakukan studi apabila
negara anggota ASEAN plus tiga (China, Jepang, dan
Korsel) membutuhkan dana cadangan dalam jangka
pendek. Namun operasionalisasi AMRO saat ini masih
menimbulkan dilema, seperti dana terkumpul yang disebut
CMIM terlalu sedikit dan penarikan diatas 20% harus
melewati IMF dan selain itu, fungsi CMIM juga sangat
terbatas. Dengan kontribusi dana, AMRO dikendalikan oleh
China dan Jepang. Bulan Maret yang lalu penulis sempat
memberikan masukan ke deputi ASEAN plus tiga untuk
memaksimalkan fungsi CMIM dan pemutusan hubungan
dengan IMF. Dengan pemutusan itu, AMRO akan diperkuat
oleh ahi makro dan keuangan yang sejajar dengan ahli
di IMF. Masalah utama negara ASEAN plus tiga dalam
dua tahun terakhir adalah derasnya aliran arus modal
masuk. Seperti di Indonesia, cadangan devisa meniingkat
dari 20 milyar menjadi 100 milyar, jadi tampaknya
Indonesia tidak memerlukan dana CMIM. Dengan dana
terbatas, mandat terbatas dan keterkaitan dengan IMF,
pembentukan AMRO dirasa sangat dilematis dan kurang
relevan dengan masalah sekarang ini.
252
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
D
alam pertemuan ke 15 para Menteri Keuangan
ASEAN 7-8 April 2011 di Bali, telah diputuskan
mengenai operasionalisasi AMRO (ASEAN+3
Macroeconomic Research Office) mulai 1 Mei
2011. AMRO didirikan untuk melakukan studi apabila
negara anggota ASEAN plus tiga (China, Jepang dan Korsel)
membutuhkan dana pinjaman untuk mengatasi masalah
penurunan cadangan devisa dalam jangka pendek. Saat ini,
operasionalisasi AMRO menimbulkan dilema. Pertama,
masalah yang dihadapi negara-negara ASEAN plus tiga
dewasa ini adalah kenaikan cadangan devisa dari derasnya
arus modal masuk bukan arus modal keluar, kedua, dana
terkumpul yang dikenal dengan CMIM yakni sebesar 120
milyar terlalu sedikit dan penarikan diatas 20% dari kuota
tetap harus melalui program IMF (International Monetary
Fund).
AMRO yang berpusat di Singapore secara umum dibentuk
oleh negara-negara ASEAN plus tiga untuk memonitor dan
menganalisis serta melakukan penditeksian dini terhadap
risiko keuangan di kawasan ASEAN+3. AMRO memberikan
rekomendasi kepada otoritas keuangan di ASEAN plus tiga
apabila ada negara anggota yang membutuhkan CMIM
tersebut. Jumlah dana CMIM pooling fund yang merupakan
self-manage (pengelolaan mandiri) dan berasal dari cadangan
devisa di masing-masing negara semata-mata untuk
mengatasi kebutuhan valas jangka pendek negara anggota.
Jumlah dana yang dikumpulkan adalah 120 milyar dolar
AS bersumber 80% dari negara plus tiga (China, Jepang
dan Korea) dan 20% dari negara-negara ASEAN-10. Dalam
melakukan pengelolaan dana CMIM, AMRO berpegangan
pada tata kelola sesuai dengan kontribusi dana masingmasing negara. Dengan komposisi kontribusi dana, AMRO
dikendalikan oleh China dan Jepang yang masing-masing
253
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
menguasai 32 persen dana dan 28,4 persen dari total suara.
Masing-masing negara mendapat kuota pinjaman sesuai
dengan kontribusinya. Misalnya, Thailand dan Indonesia
dapat menarik kuota pinjaman CMIM sebesar masing-masing
11,4 Milyar dolar. Dengan maksimum pinjaman adalah 20%
dari kuota, maka kedua negara tersebut hanya dapat menarik
tanpa keterlibatan IMF sebesar 2,3 miliar dolar AS. Sebagai
catatan, pada tahun 1998 pinjaman dari IMF bagi Thailand
dan Indonesia untuk pemulihan ekonomi masing-masing
adalah 16 milyar dan 20 milyar dolar AS. Pada tahun 2008,
Indonesia menguras dana cadangan devisa sebesar 10 milyar
dolar untuk menstabilkan rupiah akibat terjadinya kekeringan
dana global. Dilihat dari kebutuhan tersebut, jumlah kuota
2,3 milyar dolar, pinjaman dari CMIM sungguh sangat tidak
memadai. Apalagi dengan adanya CMIM berbagai bentuk
pertukaran pinjaman likuiditas bilateral (Bilateral Swap)
antara negara ASEAN dengan negara-negara plus tiga akan
dihapuskan.
Fungsi CMIM juga sangat terbatas yakni hanya melakukan
pinjaman terhadap anggota yang kesulitan likuiditas jangka
pendek yang mengganggu kecukupan cadangan devisa
dan stabilitas nilai tukar. Pinjaman jangka pendek tersebut
dapat diperpanjang sampai dua kali dan apabila masih
mengalami kesulitan dan tetap terjadi arus modal keluar,
maka penyelesaiannya dengan dana pinjaman dari IMF.
Itu berarti negara tersebut menghadapi masalah struktural
bukan likuiditas semata-mata.
Tidak Perlu IMF
Bulan Maret yang lalu, kami dan beberapa ekonom dari
kawasan ASEAN plus tiga diundang ke Seoul, Korsel oleh para
deputi menteri keuangan negara plus tiga untuk memberikan
254
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
masukan mengenai peningkatan kerjasama atau integrasi
keuangan dikawasan ASEAN plus tiga.
Dalam kesempatan tersebut, Kami memberikan masukan
kepada para deputi plus tiga mengenai dana CMIM sebagai
berikut; (1) Jumlah dana CMIM dinaikkan dua kali lipat untuk
memenuhi kebutuhan minimum apabila terjadi penurunan
cadangan devisa dalam jangka pendek, (2) keterkaitan antara
dana CMIM dengan IMF (link portion) agar dihapuskan
karena kedua instrumen tersebut berbeda tujuannya, (3)
persyaratan yang memberatkan pinjaman dana CMIM
dihapuskan sehingga dapat dilakukan pencairan dana cepat
jika dibutuhkan dan (4) kelebihan dana cadangan devisa
yang dikuasasi oleh negaranegara ASEAN saat ini
“Keterkaitan antara
supaya dapat di manfaatkan
dana CMIM dengan
untuk menambah modal
IMF (link portion) agar
pembentukan atau jaminan
dihapuskan karena
bagi pendanaan investasi
kedua instrumen
bersama, misalnya untuk
tersebut berbeda
ASEAN Infrastructure Fund
tujuannya.”
(AIF).
Jelas bahwa keterlibatan IMF dalam pengelolaan dana
CMIM tidak relevan. Dana CMIM dipergunakan untuk
mengatasi masalah likuiditas jangka pendek, sementara dana
pinjaman IMF untuk mengatasi masalah struktural keuangan
dan perekonomian. Disamping itu IMF juga mengembangkan
instrumen untuk pencegahan krisis yang disebut dengan
Precautionary Credit Line (PCL). Dengan dibatasinya 20%
dari kuota pinjaman maka CMIM menjadi sangat tergantung
pada IMF, padahal keduanya punya fungsi yang berbeda.
Dengan menggantungkan diri pada IMF, beberapa negara
ASEAN plus tiga juga akan kesulitan untuk melakukan
akses pinjaman karena masih menghadapi masalah stigma
255
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dalam bekerjasama dengan IMF. Idealnya 100 persen dana
CMIM dipergunakan untuk mengatasi masalah kebutuhan
dana likuiditas dana jangka pendek, sedangkan jika suatu
negara mengalami masalah struktural perkonomian yang
menyebabkan menurunnya cadangan devisa, maka dia dapat
mencari pinjaman ke IMF.
Dalam masalah tugas studi dan pengawasan keuangan,
AMRO akan diperkuat oleh para ahli makro dan keuangan
sejajar dengan para ahli di IMF, jadi saya yakin AMRO dapat
melakukannya sendiri tanpa bantuan IMF. IMF juga terbukti
sering salah dalam melakukan asesmen bahkan sering tidak
berdaya terhadap klien-klien besar seperti AS, Inggris,
China dan Jepang. Pengawasan ASEAN plus tiga sebaiknya
diserahkan kepada AMRO, dan IMF melakukan pengawasan
perekonomian dan keuangan global.
Masalah Capital Inflow
Seperti diketahui bahwa masalah yang dihadapi oleh
Indonesia dan negara-negara di kawasan ASEAN plus tiga
dalam dua tahun terakhir adalah derasnya arus modal masuk.
Cadangan Devisa Indonesia meningkat lebih dari 20 milyar di
tahun 2010 dan kini telah mencapai angka diatas 100 milyar
dolar AS. Dengan jumlah tersebut, Indonesia sudah memiliki
jaminan yang tangguh untuk memperkuat dan menstabilkan
nilai tukar rupiah. Cadangan Devisa Indonesia sudah lebih
dari cukup untuk mengatasi masalah aliran modal keluar
dalam jangka pendek. Jadi tampaknya Indonesia tidak
memerlukan dana CMIM apalagi dibatasi maksimum 2,3
milyar dolar.
Yang dibutuhkan dalam menghadapi masalah capital
inflow adalah pertama, BI membiarkan terdinya penguatan
rupiah yang membantu penurunan inflasi dengan tetap
256
Bagian VI – Ekonomi Global dan Integrasi Keuangan
mempertahankan rupiah kompetitif. Menurut kami, Rupiah
pada kisaran Rp 8600 hingga 8900 per dolar AS masih dalam
batas yang wajar, kedua, memperpanjang jangka waktu jatuh
tempo SBI (holding period) dan penerbitan obligasi berjangka
menengah (10-15 tahun) secara reguler dan aktif, ketiga,
memperbanyak Initial public offering (IPO) baik BUMN
maupun korporasi.
Kerjasama ASEAN melalui pembentukan ASEAN
Infrastructure Fund (AIF) akan membantu menampung danadana jangka pendek menjadi dana investasi jangka panjang.
Sejak awal pembentukan Indonesia dan Malaysia adalah
champion skema pembiayaan tersebut. Sayang kedudukan
AIF akan berpusat di Kuala Lumpur, seharusnya di Jakarta,
mengingat Indonesia merupakan tujuan pembangunan
infrastruktur terbesar di ASEAN. Negara-negara plus tiga
juga dapat berpartisipasi dalam pendanaan tersebut.
Kelebihan dana cadangan devisa di ASEAN plus tiga juga
dapat dimanfaatkan untuk menambah dana pooling CMIM
sehingga jumlahnya bertambah serta diperluas mandat dari
AMRO untuk tidak hanya akan mengatasi arus modal keluar
tetapi juga sebaliknya. Dengan dana terbatas, mandat terbatas
dan keterkaitan dengan IMF, menempatkan pembentukan
AMRO menjadi sangat dilematis dan kurang relevan dengan
masalah yang kita hadapi saat ini.
Pernah dimuat di Kompas, Rabu 13 April 2011
***
257
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
258
Epilog
259
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
260
Epilog
10 Tahun Bersama 6 Menkeu
dan 2,5 Periode DPR
L
ima hari setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan
periode 1999-2004, Menteri Keuangan Bambang
Soedibyo menelpon penulis dan minta supaya ke
Jakarta untuk bertemu. Saat bertemu beliau meminta
penulis untuk menjadi Staf Ahli Menkeu. Terus terang
penulis tidak tahu apa itu staf ahli, tugas dan kedudukannya.
Waktu ditanya oleh sekretaris jenderal waktu itu P. Noor Fuad
mengenai apa pangkatnya, jawabannya tegas IIIA, sebenarnya
masih jauh dari persyaratan kepangkatan minimum. Entah
mengapa proses mutasi jabatan dari pengajar UGM ke staf ahli
menkeu akhirnya selesai meskipun memakan waktu 8 bulan.
Jadilah penulis sebagai staf ahli Ib dari menteri keuangan
pertama yang memiliki pangkat dan golongan PNS IIIb jauh
dibawah persyaratan minimum yang seharusnya yakni IVb
dan dalam usia relatif muda yakni 36 tahun. Namun baru
satu bulan membantu Menkeu Bambang, tiba-tiba beliau
dilengserkan oleh presiden (alm) Gus Dur dari hasil reshuffle
kabinet. Disamping diberi tugas memantau keadaan makro,
261
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
waktu itu penulis diberi tugas untuk mendisain desentralisasi
fiskal. Penulis juga berkesempatan menjadi wakil pemerintah
di Bank Internasional Indonesia (BII) dan Bank Lippo melalui
program rekapitalisasi perbankan.
Menkeu yang ditunjuk setelah P Bambang adalah seorang
bankir dari direksi BRI yakni P. Prijadi Praptosuhardjo
berlatar belakang insinyur perikanan. Entah mengapa beliau
sangat percaya sehingga kemanapun beliau pergi selalu
mengajak penulis. Banyak tugas yang beliau berikan kepada
penulis, dari soal substansi makro, APBN, internasional
sampai pertemuan informal dengan DPR hingga menulis
pidato beliau. Pengalaman yang tidak pernah terlupakan
waktu bersama beliau adalah pertamakali datang ke DPR dan
langsung diusir oleh salah satu anggota DPR. Namun beliau
tidak bergeming dan dengan penuh kesabaran melayani
DPR. Tidak hanya DPR, dengan segala keterbatasan dan
kesabarannya, staf IMF dilayani, pengusaha di ajak bicara,
perjalanan ke luar negeri dijalankan. Tugas-tugas berlajan
lancar meskipun sangat berat. Sayangnya kondisi politik
waktu itu sangat labil karena konflik terbuka antara presiden
Gus Dur dengan DPR yang berakhir dengan pemakzulan
presiden.
Satu bulan sebelum Gus Dur lengser atau tepatnya 10
bulan menjabat, menkeu Prijadi digantikan oleh Dr. Rizal
Ramli, ekonom partikelir kritis dan handal yang sebelumnya
menjabat Menko Perekonomian. Sikapnya yang tegas dan
konfrontatif dengan IMF serta DPR menyulitkan gerak
langkah pemerintah. Presiden Megawati waktu itu lebih
cenderung memilih menteri keuangan yang kalem dan
berwibawa sekaliber Dr. Boediono.
262
Epilog
Era Pemulihan Ekonomi
Dibawah P. Boediono, kinerja pemerintah mulai
menujukkan stabilitas dan pemulihan ekonomi yang nyata.
Hubungan dengan IMF dipulihkan, pertumbuhan ekonomi
memasuki zona 6% dan inflasi menurun, rasio utang turun
dari 100% ke 60% dari PDB, Indonesia pertama kalinya masuk
ke pasar obligasi internasional dan melakukan reskejuling
utang pemerintah. P. Boediono juga mengawal tugas-tugas
penyehatan perbankan dan fiskal desentralisasi. Tahun 2003,
beliau mengangkat penulis sebagai Pjs kepala Badan Analisa
Fiskal (BAF). Jabatan struktural pertama yang dijabat penulis
dengan status “sementara”. Direktoral Jenderal Pajak dan Bea
Cukai mulai dibenahi, organisasi departemen keuangan di
reformasi secara perlahan. UU Keuangan Negara dituntaskan.
Hubungan BI dan Pemerintah dipulihkan. Penulis bersama
dengan Dirjen Pajak dan Dirjen Bea dan Cukai sering diberi
tugas khusus untuk berkomunikasi dengan DPR, dan lancar.
Banyak UU krusial yang tuntas pada jaman beliau, misalnya
UU BI, UU Surat Utang Negara dan UU Keuangan Negara.
Banyak masalah-masalah besar yang selesai bersama DPR,
misalnya dana penjaminan perbankan, merger bank, rekap
bank, BLBI dan lain sebagainya. Sayangnya dalam banyak
urusan substansi, beliau tidak mengandalkan kemampuan
dari staf sendiri tetapi lebih sering menggunakan konsultan
asing untuk menangani berbagai macam persoalan yang
sebenarnya tidak terlalu pelik.
Pada masa duet presiden dan wapres SBY-JK, menteri
keuangan bergeser ke Menkeu Jusuf Anwar, pejabat kawakan
dari Departemen Keuangan. Menkeu JA tidak sepiawai P.
Boediono, namun beliau tahu luar dan dalamnya Departemen
Keuangan. Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan yang
tinggal berisi unit lembaga keuangan non-bank digabung
263
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
dengan Bapepam menjadi Bapepam dan Lembaga Keuangan
sebagai mini otoritas jasa keuangan (OJK). Menkeu JA
mempercayai penulis dalam berbagai tugas, baik menyangkut
tugas substansi dan ke DPR. Bersama dengan Menko Aburizal
Bakrie, menkeu JA menyelamatkan APBN dengan tindakan
berani menaikkan harga BBM pada tahun 2005 dan 2008.
Ditengah perjalanan kabinet SBY-JK, Menkeu berpindah
ketangan Sri Mulyani Indrawati (SMI). Menkeu SMI sangat
tangkas, tegas, visioner dan piawai memimpin Departemen
Keuangan. Penulis dipercaya memimpin unit baru yang
sering beliau sebut sebagai otak dan syarafnya Departemen,
yakni Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Oleh SMI semua
pihak dirangkul dengan baik, internal, IMF, Bank Dunia,
G20, ASEAN, Jepang, China, AS, kabinet, DPR, pangamat,
pengusaha, pasar keuangan, akademisi, LSM hingga media.
Reputasi SMI sangat bagus dan terpuji di dalam dan luar
negeri. Sungguh sayang akhirnya beliau terpental gara-gara
kasus Century. Banyak gagasan dan ide-ide penulis yang
muncul di jaman beliau karena SMI selalu memberikan
kesempatan untuk berkreasi dan menuclkan ide-ide baru,
seekstrim apapun. Gagasan-gagasan tersebut membuat
Departemen Keuangan menjadi unit yang memiliki reputasi
dan kualitas birokrasi yang diandalkan.
Hubungan Mutual dan Kordial DPR
Selama 2,5 periode atau 4+4+2 tahun penulis
bekerjasama dengan DPR secara mutual, menghargai, kordial
dan saling percaya. Perkenalan penulis degan pimpinan dan
anggota Panitia (sekarang Badan) Anggaran dan komisi
XI adalah suatu aset yang tak ternilai harganya. Selama
perjalanan 10 tahun berhubungan dengan DPR secara umum
tidak menemukan kesulitan berarti dalam berkomunikasi
264
Epilog
dengan DPR. Sebagain besar anggota DPR yang penulis
temui memiliki kualitas yang memadai dan memberikan
kontribusi berarti bagi pemerintahan. Selama berinteraksi,
Penulis banyak belajar dari anggota dan eks anggota DPR
dan berkualitas seperti Endin Soefihara, Suharso Monoarfa
(PPP sekarang Menpera), Abdullah Zaini (alm), Hafiz
Zawawi, Enggartiasto Lukito, Melky Mekeng dan Harry
Azis (Golkar), Benny Pasaribu, Didik Supriyanto, Ara Sirait,
Hasto Kristianto, Arief Budimanta (PDIP), Tjatur Sapto Edy,
Drajad Wibowo, (PAN, sekarang pengamat), Andi Rachmat,
Zulkiflimansyah, Kemal Stamboel dan Rama Pratama (PKS,
sekarang BSBI), Anas Urbaningrum dan Achsanul Qosasi
(Demokrat), Ishartanto dan Ali Masykur Musa (PKB sekarang
BPK) serta Akbar Faisal (Hanura). Kualitas DPR di bidang
ekonomi di komisi IX (dulu) dan XI sekarang serta di Badan
Anggaran secara umum tidak perlu diragukan.
Selama 10 tahun berkarier di Kementrian Keuangan,
Penulis merasa tidak ada ganjalan yang berarti baik di
pemerintahan ataupun dengan DPR serta tidak pernah
terlibat dalam praktek transaksi korupsi. Allhamdullillah
penulis telah diberi perlindungan hingga tidak terjerumus
dalam praktek-praktek yang dikenal di masyarakat seperti
jual beli pasal, membeli suara DPR, mendapat kickback dari
pengusaha, memberi iming-iming ataupun bentuk-bentuk
transaksi lainnya.
Bagi penulis, bekerja di lingkungan pemerintahan dahulu
ataupun sekarang di lingkungan pendidikan tinggi samasama memiliki tanggungjawab yang besar kepada rakyat.
Pengalaman lebih dari 10 tahun bekerja di pemerintahan
adalah suatu pengalaman yang menyenangkan dan sangat
berharga karena dapat langsung melakukan perubahan.
Bekerja dibawah pimpinan enam menteri keuangan dan
265
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
berinteraksi langsung dengan ratusan anggota DPR dalam
2,5 periode adalah suatu keunikan tersendiri dengan berbagai
perbedaan gaya kepemimpinan, pergaulan dan dinamika.
Mengabdi di perguruan tinggi dengan reputasi tinggi seperti
UGM sangatlah terhormat karena menjadi tumpuan harapan
para ribuan remaja yang kelak akan menjadi pemimpin
generasi mendatang. Kalau keduanya dilakukan dengan
penuh keikhlasan dan kesesungguhan akan bermakna dalam
mengaruhi perjalanan hidup pribadi, bangsa dan negara
di dunia dan di akherat kelak. Dimanapun berkerja sama
saja, setelah meninggalkan satu tempat, tidak perlu ada
penyesalan, terus beramal dan berkarya.........
***
266
Epilog
Hilangnya Kehangatan di Jakarta
S
ingkat saja waktunya. Selain karena Anggito sibuk
dan saya harus menyelesaikan tugas di kantor,
tidak enak pastinya berlama-lama untuk pertemuan
pertama. Apalagi di pertemuan pertama itu, saya
cuma mau bilang nebeng untuk acara yang akan digelar
esok harinya: Kompasiana Monthly Discussion atau biasa
disingkat Kompasiana Modis.
Anggito datang tepat waktu Jumat malam itu. Dengan
kemeja lengan panjang yang digulung sampai di bawah siku,
Anggito tidak berbeda dengan tampilannya yang kerap di
layar hampir semua televisi. Dua bulan terakhir sebelum
kami bertemu, Anggito memang tampil di mana-mana. Tidak
hanya di televisi, tetapi juga di hampir semua media. Semua
orang membicarakannya.
Keputusan mundur dari Kementerian Keuangan yang 10
tahun lamanya dilibati membuatnya jadi bahan pembicaraan.
Anggito jadi bahan pembicaraan tentu saja karena aneh.
Di tengah kecenderungan orang mencari jabatan, Anggito
memilih meninggalkannya ketika tawaran datang. Karena
267
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
kekecewaan sudah singgah, janji-janji jabatan baru yang
disampaikan tidak menarik perhatiannya.
Saya tidak mencari jabatan. Ini soal pertaruhan harga
diri profesional saya yang terusik dan saya tidak bermaksud
untuk mendapatkan jabatan lain, ujar Anggito.
Tidak diperhitungkannya harga diri oleh pihak pemberi
janji jabatan membuat Anggito kecewa. Pihak pemberi
janji jabatan seolah-olah hanya memandang semua orang
butuh jabatan meskipun harga diri terkorbankan. Anggito
menegaskan dirinya tidak demikian. Maaf untuk penolakan
yang saya sampaikan! ujarnya tenang sambil mengatupkan
bibir rapat-rapat.
Tersiratnya perasaan kecewa kepada pihak pemberi
janji membuat perasaan saya kacau. Kekacauan perasaan
itu terutama karena buku yang saya pegang dan hendak saya
berikan. Sudah saya duga, begitu buku berjudul Pak Beye dan
Istananya saya berikan, raut wajah Anggito berubah. Untuk
meredam perubahan raut wajahnya, saya perlahan memberi
penjelasan umum soal isi buku itu agar tidak salah sangka.
Setelah raut wajahnya kembali normal, saya minta
Anggito meluangkan waktu sejenak untuk membaca buku
itu. Setelah sedikit merasa nyaman kembali, Anggito justru
banyak bercerita tentang hubungan dan persinggungannya
dengan tokoh yang saya tulis sisi tidak pentingnya dalam
buku Pak Beye dan Istananya. Kami kemudian tertawa
bersama karena mendapati pengalaman yang kurang lebih
sama terkait tokoh itu.
Setelah pertemuan singkat itu, Anggito menuju aula
di Plasa Telkom Yogyakarta yang akan menjadi tempat
Kompasiana Modis. Malam itu, Anggito yang membawa
268
Epilog
flute kesayangannya hendak mencoba sistem suara bersama
grup band Koala. Bersama Koala yang hingga kini diasuhnya,
Anggito tampil membawakan dua lagu sebagai pembuka
Kompasiana Modis. Salah satu lagu yang memberinya
banyak ruang untuk meniup flute-nya adalah lagu berjudul
Cinderamata.
Kepada Koala yang anggotanya satu almamater dengan
dirinya di SMA 3 Yogyakarta, Anggito mengungkapan
perasaannya untuk turut mengambil tanggung jawab. Menemukan mereka yang berbakat, saya merasa turut
bertangung jawab membesarkan dengan cara yang baik agar
tidak tersesat, ujarnya.
Kami kemudian bertemu keesokan harinya, tepat di ujung
Juli 2010. Meskipun saya nebeng acara dan dijadwalkan lima
menit sebelum acara selesai, saya datang 20 menit sebelum
acara dimulai. Bersamaan dengan panitia yang sedang
menyiapkan segala keperluan, saya masuk aula bersama
dengan sekitar 100 kompasianer (sebutan untuk blogger
Kompasiana).
Mereka yang datang, Sabtu, 31 Juli 2010 itu antusias
ingin mendengar langsung dari Anggito. Kemelut yang terjadi
terkait dirinya yang akhirnya memilih pergi dan kembali ke
Yogyakarta yang dicintainya jadi topik utama.
Kemelut itu berawal dari Istana, Selasa, 5 Januari 2010.
Saat itu, Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha
menjelaskan jadwal pelantikan Sekretaris Kabinet dan lima
wakil menteri untuk memperkuat Kabinet Indonesia Bersatu
II. Lima wakil menteri yang akan dilantik adalah Wakil
Menteri Keuangan, Wakil Menteri Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional, Wakil Menteri Pendidikan Nasional,
Wakil Menteri Kesehatan, dan Wakil Menteri Pertahanan.
269
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Namun, pada hari pelantikan di Istana Negara oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Anggito batal dilantik
sebagai Wakil Menteri Keuangan. Panggilan ke Puri Cikeas
Indah dan kontrak politik yang sudah diteken Anggito
diabaikan. Saat kemudian tidak jadi dilantik pun, tidak ada
pembicaraan atau pembatalan untuknya.
Sudi Silalahi yang dicopot dari jabatan Sekretaris Kabinet
untuk menjadi Menteri Sekretaris Negara menjelaskan
kepada media. Pelantikan Anggito ditunda karena syarat
administratif belum terpenuhi. Agak janggal untuk urusan
sepenting ini.
Daftar riwayat hidupnya, kan, baru diterima. Setelah
dilihat dan dicocokkan dengan persyaratan bahwa seorang
wakil menteri harus sudah berada pada posisi structural eselon
I-A, itu belum dipenuhi, tentu kita tak bisa memaksakan, kata
Sudi.
Lebih lanjut Sudi mengemukakan, pemanggilan kandidat
oleh Presiden untuk menandatangani kontrak kinerja dan
pakta integritas bukanlah jaminan bakal dilantik. Pemenang
dan pemegang kuasa memang bisa melakukan apa saja.
Pada hari pelantikan, Anggito yang masih menjabat
sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen
Keuangan tidak hadir di Istana Negara. Fahmi Idris, mantan
Ketua Umum Pengurus Besar Ikadan Dokter Indonesia hadir
dalam kebingungan. Fahmi diberitahu beberapa jam sebelum
pelantikan di Istana Negara bahwa pelantikannya ditunda di
gelombang berikutnya.
Berdasarkan peraturan yang dibuat Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono yaitu Perpres No 47 Tahun 2009
tentang Pembentukan dan Organisasi Kementrian Negara,
270
Epilog
wakil menteri adalah jabatan karier, pegawai negeri sipil
yang menduduki jabatan struktural eselon I-A. Anggito tidak
memenuhi syarat administratif meskipun sudah dipanggil ke
Istana dan diminta menandatangani kontrak kinerja. Cikeas
adalah tempat tinggal pembuat dan penandatangan Perpres
No 47/2009.
Jabatan Anggito yang ada keputusan presidennya
adalah eselon I-B. Sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal
Departemen Keuangan (eselon I-A), kepresnya masih dalam
proses di Sekretariat Kabinet. Padahal, jabatan itu sudah
melekat pada Anggito sejak 2006. Empat tahun mungkin
belum cukup untuk proses di Sekretariat Kabinet dimana
Presidennya kerap mengemukakan tentang one day service
untuk urusan surat menyurat.
Kasus Anggito dan Fahmi yang terkendala soal
administratif bukan kasus pertama. Sebelumnya, kalau
ingatan kita tidak terlalu pendek, kita akan ingat dengan kasus
Nila Djuwita Moeloek. Nila telah mengikuti uji kelayakan
sebagai Menteri Kesehatan batal dilantik dan diganti calon
lain. Agak janggal memang mendapati cara kerja seperti ini.
Kelengkapan administratif diabaikan untuk urusan sepenting
ini. Tidak heran jika kemudian muncul prasangka politik
terkait pembatalan-pembatalan ini.
Ketika kemelut ini terjadi, Departemen Keuangan
sedang diserang politisi di DPR. Kasus Bank Century adalah
pintu masuknya. Dalam kemelut panjang itu, mundurnya
Menteri Keuangan Sri Mulyani pada awal Mei adalah pintu
keluarnya. Diakui oleh Ketua Fraksi Partai Demokrat yang
saat ini Menjadi Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas
Urbaningrum, mundurnya Sri Mulyani menjadi faktor
271
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
penyejuk politik nasional yang panas dan syarat kepentingan
saat itu.
Selang beberapa minggu setelah mundurnya Sri
Mulyani untuk menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia dan
dilantiknya Agus Martowardoyo sebagai Menteri Keuangan
dan Anny Ratnawati sebagai Wakil Menteri Keuangan,
Anggito menyampaikan surat pengunduran diri. Saya
berbicara dengan Pak Menteri (Agus), tanggal 24 Mei 2010
saya mundur. Sopan-sopannya saya minta izin, ujar Anggito.
Setelah izin dikabulkan, Anggito yang bercita-cita
menjadi pemusik sejak remaja kembali ke kota tempatnya
menumbuhkan cita-cita sebagai remaja. Ya, Yogyakarta. Meskipun tanpa jabatan mentereng dengan sejumlah fasilitas
yang menyertainya, Anggito tidak kekurangan kebahagiaan
saat kembali ke Yogyakarta. Kerinduannya yang terwujud
untuk mengajar di almamaternya di Universitas Gadjah Mada
membahagiakannya.
Dengan flute yang dibelinya saat hijrah ke Jakarta
10 tahun lalu, Anggito juga kerap kembali ke SMA Negeri
3 Yogyakarta. Grup band Koala adalah salah satu yang
ditemuinya untuk berlatih bersama. Meskipun banyak pihak
menyayangkan keputusannya mundur, Anggito merasa lega
dan mengucap syukur. Tidak ada kebencian meskipun kecewa
tetap dirasakannya. Seperti kerap saya sampaikan, harga diri,
martabat, dan profesionalitas adalah tiga hal yang tidak bisa
dikompromikan, ujarnya.
Meskipun kembali ke Yogyakarta selepas mundur, Anggito
tetap bolak-balik Jakarta-Yogyakarta karena isterinya, Arma
Latief, sedang menyelesaikan studi S-2. Selain mengajar,
aktivitas Anggito adalah menulis artikel di berbagai media,
menulis buku, membantu UGM mendesain program riset,
272
Epilog
latihan musik, mendukung kegiatan mahasiswa, marching
band, bola basket, dan lain-lain. Terakhir, Anggito secara
mengejutkan terpilih menjadi Ketua Umum Persatuan Bola
Basket Seluruh Indonesia (2010-2014). Sebuah amanah yang
sesuai dengan hobinya.
Ketika dalam Kompasiana Modis ditanyakan alasannya
mundur, Anggito menjelaskan semata-mata demi martabat
dan harga diri. Semua itu saya lakukan agar menjadi
pembelajaran bagi semua pihak untuk dapat menghargai hak
seseorang, siapa pun dia. Sekarang saya kembali ke UGM,
saya akan tetap mengabdi kepada bangsa dan negara tercinta,
ujarnya.
Kembali ke Yogyakarta membuat Anggito meninggalkan
rumah dinas dan semua fasilitas yang menyertainya selama
10 tahun. Di Yogyakarta, Anggito menempati rumah dinas
mertuanya di Jalan Banteng Utama, Sleman, DI Yogyakarta.
Selama hidup, Anggito tidak punya rumah pribadi.
Rumah dinas yang ditempati orang tuanya di Bulaksumur
C-21 sudah diserahkan ke UGM. Di rumah yang ditempati
ayahnya, dosen Teknologi Pertanian UGM, Anggito tumbuh
menjadi remaja. Setelah menikah, Anggito tinggal bersama
isteri, dan anak-anak di rumah mertua di kawasan Kotabaru,
Yogyakarta. Sepulang studi S-2 di dan S-3 di University of
Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat, Anggito kembali
ke rumah mertuanya. Selama 10 tahun membangun karier di
pemerintahan, Anggito berpindah-pindah rumah dinas.
Saya tidak pernah punya rumah pribadi. Maunya memang
punya rumah pribadi, tetapi kami tidak pernah menetap, ujar
Anggito.
273
Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal
Anggito berpendapat, rumah tidak harus berwujud
bangunan. Di mana pun, asalkan kehangatan keluarga
dirasakan, ia merasa telah menemukan rumah.
Kehangatan itu kini hadir bersamaan dengan mewujudnya
kerinduan Anggito kembali ke UGM dengan orang-orang
tercinta ada di sekitarnya. Anak pertamanya, Mahditya Putra
Mahardika kuliah di UGM. Anak bungsunya, Nadia Rahma
Pratiwi tinggal di asrama SMA Taruna Nusantara, Magelang,
Jawa Tengah.
Apalagi, di salah satu sudut taman rumah mertuanya
berdiri tiang untuk berlatih bola bakset bersama putra
sulungnya. Kalau tidak puas bermain basket di UGM, Anggito
dan Mahdiyta bermain bola basket bersama di halaman
rumah dinas barunya. Tidak terlalu istimewa untuk banyak
orang, tetapi kehangatan hadir di sana.
Wisnu Nugroho, Wartawan Kompas
Penulis Buku Tetralogi Sisi Lain SBY (Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan
Politiknya, Pak Beye dan Kerabatnya, dan Pak Beye dan Keluarganya) dan Pak
Kalla dan Presidennya.
***
274
275
276
DR. Anggito Abimanyu
P
enulis merupakan salah seorang dosen Fakultas
Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.
Dilahirkan di Bogor, pada tanggal 19 Februari1963.
Saat ini penulis juga menjabat sebagai Direktur
Penelitian dan Pelatihan Ekonomika dan Bisnis (P2EB)
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, setelah berkarir di
dalam pemerintahan, sebagai anggota Dewan Ekonomi
Nasional (1999-2000) Staf Ahli Menteri Keuangan Republik
Indonesia (2000-2005), Kepala Badan Pengkajian Ekonomi
Keuangan dan Kerja Sama Internasional (2005-2007),
dan puncaknya sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal,
Kementerian Keuangan Republik Indonesia (2007– 2010).
Penulis memperoleh gelar S.E. dari Fakultas Ekonomi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, M.S. (Drs.) dari
Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,
gelar M.Sc. dari University of Pennsylvania, Philadelphia,
USA, dan gelar Ph.D. dari University of Pennsylvania,
Philadelphia, USA. Pada tahun 1983, penulis mendapatkan
penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada tahun 1997 penulis
menerima penghargaan sebagai Peneliti Muda Terbaik
Tingkat Nasional, LIPI-BPPT, serta pada tahun 2000, penulis
277
mendapatkan pula penghargaan sebagai Dosen Teladan,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pernah aktif sebagai
deputi pemneri keuangan RI di berbagai forum internasional,
ASEAN, ASEAN+3, APEC dan G20. Penulis sekarang masih
aktif dalam forum internasional sebagai konsultan di ADBI/
ADB Studies on ASEAN dan berbagai forum-forum ekonomi
internasional.
Penulis menjabat sebagai Sekretaris Umum Ikatan
Sarjana Ekonomi Indonensia (ISEI) pusat periode 2009
hingga 2012. Aktif di kegiatan kesenian dan olahraga. Mampu
memainkan beberapa instrumen musik dan mencipta
beberapa lagu populer untuk lagu tema (themesong) nasional
dan internasional, dan menjadi ketua umum persatuan bola
basket nasional (Perbasi), tahun 2010 hingga 2014.
***
278
279
Download