1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang “As the planet

advertisement
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
“As the planet globalize, groups tribalize”
-Frank Ogden
K
eberhasilan Uni Eropa dalam mewujudkan diri sebagai suatu
entitas regional yang kuat telah membuat negara-negara di
dunia internasional turut menimbang lebih jauh mengenai
penguatan kerjasama di kawasan dalam upaya menghadapi berbagai tantangan
yang ada. Tantangan dalam dunia internasional ini disebabkan seiring berakhirnya
Perang Dingin, dunia dipenuhi berbagai dinamika dalam arena politik
internasional, baik dalam kompleksitas permasalahan dan pelaku hubungan
internasional.
Sejak berakhirnya Perang Dingin, kompleksitas permasalahan dunia
internasional ditandai dengan semakin mencuatnya isu- isu baru seperti Hak Asasi
Manusia (HAM), lingkungan, kejahatan transnasional, dan isu seputar
demokratisasi yang semakin penting dalam interaksi antar-negara. Sementara itu,
dunia pasca-Perang Dingin juga ditandai dengan hadirnya pelaku-pelaku baru
dalam hubungan internasional. Organisasi-organisasi nonpemerintah (nongovernment organizations, NGOs), masyarakat sipil, dan perusahan multinasional
menjadi semakin berperan penting dalam interaksi global, membuat Negara kini
tidak lagi sebagai aktor tunggal dalam hubungan internasional. Hal- hal ini
kemudian
membuat
negara-negara
di
dunia
internasional
mempunyai
kecenderungan untuk memfokuskan pada upaya memperkuat kerja sama regional
di kawasan. Lebih lanjut, ada sebuah pandangan umum yang muncul setelah
melihat keberhasilan Uni Eropa menciptakan entitas regional yang kuat, yakni
bahwa kerja sama regional pada akhirnya akan menciptakan entitas yang lebih
terintegrasi1 , yakni sebuah bentuk regionalisme.2
1
Alexandra Retno Wulan dan Bantarto Bandoro (ed),
Community, (Jakarta: CSIS, 2007), hlm. 51.
ASEAN Quest for a Full-Fledge
1
Universitas Indonesia
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
2
Melihat perubahan dan perkembangan dalam dunia internasional tersebut,
suatu negara kini dituntut untuk dapat secara terus menerus memperbarui
perumusan dan pelaksanaan politik luar negerinya yang memiliki kemampuan
adaptif, antisipatif, dan efektif dalam arus perubahan politik internasional. Hal ini
mutlak diperlukan agar politik luar negeri suatu negara bisa berfungsi dengan
optimal untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Politik luar negeri
sendiri secara umum adalah suatu perangkat formula, nilai, sikap, arah, serta
sasaran untuk mempertahankan, mengamankan, dan memajukan kepentingan
nasional di dalam percaturan politik internasional.3 Politik luar negeri juga dilihat
sebagai suatu hasil interaksi negara yang bersangkutan dengan lingkungan
internal dan eksternalnya. Sehingga kemudian politik luar negeri tidak bisa
dikatakan sebagai tetap dan abadi. Politik luar negeri selalu terbentuk dari
persepsi yang sedang mencuat pada saat perumusannya, baik di tingkat domestik
maupun internasional. Oleh sebab itu, dalam menghadapi mencuatnya tren
regionalisme dalam dunia internasional, setiap negara juga perlu untuk membuat
desain politik luar negeri yang tetap berlandaskan pada kepentingan nasionalnya.
Upaya membangun desain baru politik luar negeri yang dapat menghadapi
tantangan dunia internasional juga tidak dapat dihindari oleh Indonesia. Masa
depan politik luar negeri Indonesia ditenggarai bukan hanya terletak pada
kemampuannya untuk membangun dirinya sendiri, tetapi juga kemampuanya
untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan kesempatan yang muncul dari
perubahan-perubahan yang terjadi.4 Lebih lanjut, tantangan dan peluang yang
terdepan bagi Indonesia adalah bagaimana mengantisipasi geliat perkembangan
ASEAN yang ingin mewujudkan diri sebagai sebuah entitas yang lebih kuat lewat
visi ASEAN Community-nya. Indonesia kemudian diharapkan dapat berupaya
mengarahkan perkembangan ASEAN ini untuk kemakmuran rakyat Indonesia
2
Regionalisme terjadi ketika pemimpin dari negara-negara yang berdekatan secara wilayah
membangun politik luar negerinya dengan menggunakan kacamata regional. Lihat Graham Evans
dan Jeffrey Newnham, The Penguin Dictionary of International Relations, (London: Penguin
Books, 1998), hlm. 474.
3
DR. A. A Banyu Perwita dan DR. Yanyan Mochamad Yani, Pengantar Ilmu Hubungan
Internasional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 47.
4
Bantarto Bandoro, “The Hassan Initiative dan Desain Baru Politik Luar Negeri Indonesia”, dalam
Bantarto Bandoro, Mencari Desain Baru Politik Luar Negeri Indonesia, (Jakarta: CSIS, 2005),
hlm. 42.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
3
lewat penciptaan desain Politik Luar Negeri yang tetap berorientasi pada
kepentingan nasional Indonesia.
Konsekuensi dari perkembangan dunia internasional dengan segala
kompleksitas isunya dinilai telah menghadirkan sejumlah tantangan dan peluang
bagi negara- negara di wilayah Asia Tenggara yang tergabung ke dalam ASEAN.
Dunia saat ini jauh lebih berbeda dari dunia ketika ASEAN dideklarasikan pada 8
Agustus 1967 yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama politik dan sosial
diantara negara anggota semata. ASEAN kini dituntut untuk dapat menciptakan
suatu kerja sama yang utuh dan holistik dalam menghadapi berbagai tantangan
dunia internasional kontemporer, karena kini kejadian yang menimpa suatu negara
dapat memiliki keterkaitan yang erat dengan kejadian yang terjadi di negara
tetangganya. Krisis finansial yang melanda Asia pada tahun 1997-1998 telah
menjadi bukti tersendiri bagaimana negara- negara di kawasan Asia Tenggara
memiliki keterkaitan yang erat. Diawali dari jatuhnya nilai tukar baht Thailand
terhadap dollar AS, kejadian tersebut tidak hanya memukul perekonomian
domestik Thailand, tapi juga memberi dampak simultan terhadap perekonomian
beberapa negara di kawasan Asia Tenggara sehingga menghadirkan krisis yang
lebih dari sekadar krisis ekonomi.
Oleh karena itu, dengan kesadaran bahwa dunia internasional dewasa ini
adalah dunia yang kompleks dan karenanya memperlukan upaya bersama untuk
memetakan jalan ke masa depan, pada Pertemuan Puncak ASEAN ke-9 tahun
2003, para pemimpin ASEAN berkomitmen untuk mencapai suatu komunitas
ASEAN pada tahun 2020 yang akan berlandaskan pada tiga pilar, yakni
Masyarakat Keamanan ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan Masyarakat
Sosial-Budaya ASEAN. Ketiga pilar ini akan saling terkait secara erat dan saling
memperkuat dalam upaya mencapai perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran.5
Komunitas ASEAN yang akan dibentuk ini adalah sebuah caring societies yang
akan dibangun diatas sebuah identitas bersama, identitas ASEAN. Melalui visi
untuk menjadi sebuah komunitas, ASEAN berjuang untuk mengubah statusnya
dari sekedar “perhimpunan bangsa-bangsa“ menuju ke satu kesatuan “masyarakat
“ yang terdiri atas bangsa-bangsa. Dengan kata lain, ASEAN memulai proses
5
Makarim Wibisono, Tantangan Diplomasi Multilateral, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia,
2006), hlm. 194.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
4
transformasi dari kumpulan negara yang berasosiasi ke arah komunitas kawasan
yang lebih terintegrasi. Lebih lanjut, proses transformasi ASEAN kepada integrasi
kawasan yang lebih kuat tersebut berupaya dipercepat, pada KTT ASEAN ke-12
di Cebu City, Filipina 2006, sepuluh kepala negara ASEAN sepakat untuk
mempercepat terbentuknya Masyarakat Bersama ASEAN dari 2020 menjadi
2015.6
Terlepas dari indahnya cita-cita yang didengungkan oleh para pemimpin
ASEAN pada tahun 2003, masih banyak terdapat beberapa persoalan mendasar.
Realitas yang ada adalah eksistensi ASEAN secara riil kepada masyarakat di
negara-negara anggota ASEAN masih banyak yang mempertanyakan. ASEAN
banyak dikritik sebagai organisasi yang elitis, di mana kebijakan-kebijakan yang
dikeluarkannya di tataran regional belum mampu menyentuh langsung kehidupan
masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Dengan kata lain, selama kurang lebih 41
tahun ASEAN berdiri, ASEAN ternyata masih belum embedded dalam
masyarakat di negara Asia Tenggara. Terlebih lagi, dalam cita-citanya
membangun suatu identitas bersama juga masih merupakan konsep yang abstrak,
masih memerlukan pertanyaan lebih jauh tentang identitas seperti apa yang ingin
ditonjolkan ASEAN di tengah beragamnya identitas di masing negara- negara
anggota sendiri. Membaca identitas negara-negara Asia Tenggara sendiri ibarat
membaca suatu teks yang berjalin kelindan tiada henti hingga akhirnya
kemenyatuan yang menyeluruh dari identitas negara- negara Asia Tenggara itu
tampak tak akan pernah ditemukan untuk diangkat menjadi suatu identitas
ASEAN. Pertanyaan lebih lanjut terkait identitas ini pun muncul, “manakah yang
disebut sebagai identitas ASEAN tersebut?” Apakah identitas tersebut masih perlu
dirumuskan ataukah dibiarkan mengkristal sendiri?”. Secara umum, dalam
mewujudkan visi ASEAN Community 2015, semangat mengintegrasikan ASEAN
saja belum cukup, sehingga harus ada program aksi yang dapat dirasakan oleh
masyarakat di level grassroot ASEAN.
Menyimak berbagai permasalahan mendasar dalam membentuk suatu
Komunitas ASEAN, seperti masih belum terasanya keberadaan dan fungsi
6
“Menhan se-ASEAN ingin ASC terbentuk 2015”, diakses dari
http://www.antara.co.id/arc/2007/3/27/menhan-se-asean-ingin-asc-terbentuk-2015/, pada tanggal
20 Agustus 2008, pukul 19.10 WIB.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
5
ASEAN di level grassroot, serta masih sulitnya mengidentifikasi apa yang disebut
dengan terminologi identitas bersama ASEAN, maka Indonesia, sebagai salah
satu pendiri ASEAN dan juga sebagai penggagas ide mengenai Komunitas
ASEAN, berupaya mengambil momentum untuk menunjukkan kepemimpinan
Indonesia dalam organisasi ASEAN. Keberhasilan dalam menempatkan posisi
instrumental Indonesia dalam ASEAN disadari pemerintah akan dapat menjadi
modal tambahan untuk meningkatkan leverage politik luar negeri Indonesia
terhadap negara di luar kawasan ASEAN.
Indonesia mempunyai kepentingan untuk menciptakan kawasan Asia
Tenggara yang aman dan damai, karena hal ini dilihat akan dapat menciptakan
stabilitas dan keamanan domestik, yang lebih lanjut akan menunjang proses
pembangunan di Indonesia.7 Tidaklah mengherankan jika kemudian, ASEAN
tetap dicanangkan sebagai “pilar” Politik Luar Negeri Indonesia, menjadi inti atau
dasar politik luar negeri yang bebas dan aktif.8 Oleh karena itu, dalam beberapa
pernyataan resmi pemerintah Indonesia kerap kali ditemui keyakinan yang
optimis bahwa akan terbentuk suatu komunitas ASEAN yang berdiri berdasarkan
suatu identitas bersama. Seperti misalnya pernyataan yang dikeluarkan Presiden
SBY dalam pidatonya di forum- forum ASEAN selalu menyinggung mengenai
pentingnya political cohesiveness diantara negara anggota ASEAN.9
Peran Kepemimpinan yang diambil Indonesia untuk memajukan visi
Komunitas ASEAN serta langkah Indonesia untuk lebih mementingkan kerja
sama ASEAN dalam penyelenggaraan hubungan luar negerinya dan pelaksanaan
politik luar negeri sebenarnya merupakan aktualisasi dari pendekatan ASEAN
sebagai concentric circle (lingkaran konsentrik) utama Politik Luar Negeri
Indonesia.10 Indonesia menempatkan ASEAN sebagai lingkaran utama Politik
Luar Negerinya disebabkan adanya persepsi bahwasanya masalah- masalah yang
muncul di Indonesia itu dominan berasal dari lingkungan kawasan Asia Tenggara,
7
Leo Suryadinata, Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Soeharto, (Jakarta: LP3ES, 1998),
hlm. 83.
8
C.P.F. Luhulima, “Ketahanan Regional dan Nasional: Dasar untuk Diplomasi Regional
Indonesia”, dalam Bantarto Bandoro, Op.Cit, hlm. 53.
9
Lihat Pidato Presiden SBY, “Rethinking ASEAN Towards the ASEAN Community 2015” dan
“On
Buiding
the
ASEAN
Community:
the
Democratic
Aspect”,d i a k s e s d a r i
http://www.aseansec.org/17655.htm, pada tanggal 20 Agustus 2008, pukul 19.15 WIB.
10
Ganewati Wuryandari (ed). Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik Domestik.
(Jakarta: Pustaka Pelajar dan P2P- LIPI, 2008), hlm. 39-40..
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
6
sehingga Indonesia perlu memainkan peran yang lebih besar dan aktif di dalam
ASEAN.
Masalah- masalah yang umum muncul dari kawasan Asia Tenggara
contohnya adalah masalah tenaga kerja migran Indonesia, masalah polusi asap,
dan masalah keamanan Laut Cina Selatan. Permasalahan-permasalahan ini tidak
hanya berdampak pada satu dimensi saja, seperti misalnya dalam masalah Laut
Cina Selatan, kerugian yang dirasakan Indonesia tidak hanya dari sisi keamanan
semata, namun secara perdagangan pun Indonesia menjadi dirugikan. Dengan
tidak amannya kawasan Laut Cina Selatan, maka lalu lalang kapal akan semakin
minim dan hal ini akan menurunkan volume perdagangan di kawasan, yang
tentunya akan berdampak pada pemberian kesejahteraan dari negara kepada
masyarakatnya. Dengan melihat dampak yang bisa timbul dari kawasan Asia
Tenggara ini, maka Indonesia berkepentingan untuk menciptakan ASEAN sebagai
organisasi regional yang lebih kuat guna dapat secara efektif menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang timbul di kawasan. Inilah yang membuat
Indonesia memandang penting ASEAN dengan menempatkannya sebagai
lingkaran konsentrik utama Politik Luar Negerinya, yang melihat posisi ASEAN
lebih strategis secara geopolitik dan geoekonomi bagi Indonesia dibandingkan
kawasan-kawasan lainnya semisal Amerika dan Eropa.
Dengan melihat signifikansi ASEAN bagi Indonesia dan juga dengan
melihat perkembangan yang terjadi di ASEAN dengan visi ASEAN Community
2015-nya, maka menjadi relevan untuk menganalisa efektivitas peran yang telah
dimainkan Indonesia di ASEAN selama ini. Hal ini juga dapat memperlihatkan
sejauh mana keseriusan Indonesia dalam menempatkan ASEAN sebagai lingkaran
konsentrik utama Politik Luar Negerinya, yang akan memberikan manfaat bagi
masyarakat Indonesia.
1.2 Rumusan Permasalahan
“Bagaimana peran Indonesia dalam mendorong terciptanya regionalisme
ASEAN sebagai upaya mewujudkan visi ASEAN Community 2015, pada
periode Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2008)?”
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
7
Pertanyaan ini muncul karena sebagaimana telah dipaparkan diatas
Pemerintah Indonesia, khususnya Deplu RI menempatkan ASEAN sebagai
lingkaran konsentrik yang pertama dari Politik Luar Negeri Indonesia. ASEAN
pun dipandang sebagai sokoguru Politik Luar Negeri Indonesia yang dipandang
akan memberikan banyak manfaat bagi Indonesia, baik untuk menyelesaikan
masalah- masalah yang ada di Indonesia serta juga untuk memberikan
kemakmuran bagi masyarakatnya. Dengan demikian perlu dilihat sejauh mana
efektivitas peran yang dimainkan Indonesia di ASEAN, khususnya dalam
mendorong ASEAN melangkah maju untuk menjadi sebuah entitas regional yang
lebih kuat. Lebih lanjut, efektivitas peran Indonesia di ASEAN tersebut akan
dilihat berdasarkan kerangka ‘New Regionalism’ Bjorn Hettne, yang akan
memberikan gambaran mengenai pembangunan regionalisme secara lebih
komprehensif.
Dalam analisa makalah, penulis akan mengambil rentang waktu kebijakan
pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yaitu dari tahun
2004-2008. Rentang waktu yang diambil pada masa Pemerintahan SBY untuk
melihat kesinambungan kebijakan yang diambil Pemerintah Indonesia dalam
memainkan peranannya di ASEAN. Tahun 2004 diambil sebagai rentang waktu
awal analisa disebabkan pada tahun tersebut juga telah hadir tiga Rencana Aksi
(Plan of Action / PoA ) untuk masing- masing pilar dalam ASEAN Community
serta Vientianne Action Program yang akan dapat mempercepat proses integrasi
ASEAN. Sehingga dengan demikian bisa dilihat bagaimana peranan Indonesia
dalam mengimplementasikan butir-butir yang terdapat dalam PoA ASEAN
Community tersebut. Sementara itu, tahun 2008 diambil sebagai rentang waktu
akhir analisa untuk membatasi penelitian.
1.3 Tinjauan Pustaka
Secara umum, literature review ini mencoba menelaah formulasi Politik
Luar Negeri Indonesia dalam konteks perubahan dan perkembangan yang terjadi
di ASEAN. Argumen yang berupaya diangkat adalah bahwa desain Politik Luar
Negeri Indonesia di ASEAN tidak boleh merubah komitmen Indonesia untuk
tetap menjadi bagian dari kolaborasi internasional untuk menciptakan lingkungan
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
8
regional yang lebih stabil dan aman, dan tentunya tanpa harus mengorbankan
kepentingan nasional dasar Indonesia. Bagian awal studi ini akan berupaya
meninjau peran kepemimpinan Indonesia secara historis di ASEAN, untuk
menunjukkan signifikansi ASEAN sebagai bagian dari lingkaran konsentrik
pertama Politik Luar Negeri Indonesia. Selanjutnya, dalam mewujudkan peran
yang lebih aktif di ASEAN, perlu tetap ditujukan untuk memajukan kepentingan
nasional Indonesia, dengan memperhatikan keadaan domestik. Oleh sebab itu,
bagian berikutnya akan mengeksplor beberapa faktor domestik yang harus
menjadi landasan berpijak Politik Luar Negeri Indonesia di ASEAN. Lebih lanjut,
studi ini kemudian berupaya menegaskan argumen bahwa Indonesia harus
memainkan peran kepemimpinan yang kuat dalam mendorong regionalisme
ASEAN, dengan mengangkat suatu pandangan bahwa pembentukan regionalisme
di suatu wilayah memerlukan visi dan kepemimpinan dari suatu aktor atau grup
yang memiliki shared ideas untuk dibangun bersama, bahwa regionalisme bisa
dilihat sebagai state-driven regionalization process. Diharapkan, literature review
ini dapat menjadi sebuah context review yang menempatkan proyek spesifik
penelitian dalam sebuah gambaran besar.
1.3.1 Indonesia dan Kepemimpinannya di ASEAN: Tinjauan Historis
Meninjau peran kepemimpinan Indonesia, khususnya di level ASEAN
tidak bisa lepas dari prinsip Politik Luar Negeri ‘Bebas Aktif’ yang dianut
Indonesia. Adalah Mohammad Hatta dalam pidatonya pada tahun 1947, yang
pertama kali menyinggung bagaimana Indonesia seharusnya berperan di dunia
internasional, yakni Indonesia harus dapat ‘Mendayung diantara dua karang’.
Adagium yang diucapkan Moh. Hatta diatas mencerminkan sebuah keinginan
akan kemandirian di dalam pergaulan dunia internasional dari suatu bangsa yang
baru merdeka saat itu, yakni Indonesia. Dari pemikirannya pula, prinsip dari
Politik Luar Negeri Indonesia yang ‘bebas dan aktif’ dikonsepsikan. Wakil
Presiden RI yang pertama ini tidak ingin Indonesia menjadi obyek dalam
percaturan internasional. Indonesia harus dapat menjadi subyek yang dapat
menentukan kebijakannya sendiri. Prinsip bebas dan aktif sendiri (dalam konteks
Perang Dingin) mengartikan bahwa Indonesia tidak terikat pada salah satu blok
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
9
manapun di dunia ini, bebas dalam menentukan kebijakannya dan turut aktif
dalam politik internasional.11 Politik luar negeri bebas-aktif Indonesia kemudian
bisa dianggap sebagai varietas dalam sistem internasional bipolaritas.
Presiden Soekarno dan kemudian juga Presiden Soeharto pun mempunyai
pandangan yang sama bagaimana seharusnya Indonesia berperan di dunia
internasional, yakni dengan berperan lebih luas lagi di level regional sehingga
akan memberikan dampak bagi peran Indonesia secara global. Namun dalam
meraih tujuannya tersebut, kedua pemimpin Indonesia ini berbeda cara. Pada
masa Soekarno arah kebijakan luar negeri Indonesia cenderung dekat dengan
negara-negara komunis seperti Cina, dan “memusuhi” negara-negara imperialis
Barat. ‘Bebas dan Aktif’ pada masa Soekarno diartikan Indonesia harus
memimpin negara-negara berkembang dalam melawan imperialis Barat. Tidak
jarang, dalam pelaksanaan kebijkan luar negerinya, Indonesia kerap bergesekan
dengan negara lain semisal Malaysia dan Singapura. Sikap Indonesia yang
cenderung memusuhi dunia Barat pun membuat Indonesia terjerembab dalam
krisis ekonomi dengan inflasi ekonomi yang cukup tinggi.
Pada masa Presiden Soeharto, kebijakan luar negeri Indonesia lebih
bersifat pragmatis, berorientasi pada pembangunan ekonomi dan berkeinginan
kuat untuk berperan di kawasan.12 Kebijakan luar negeri Indonesia dengan
diplomasi pembangunannya, memiliki tujuan ganda, yakni demi melakukan
rehabilitasi ekonomi dalam negeri dan juga untuk repositioning Indonesia di level
regional dan global. Disebutkan Anthony Smith dalam tulisannya, bahwa pada
masa Soeharto, kebijakan luar negeri Indonesia memiliki tiga pilar pengaruh13 ,
yakni pertama berupaya memprioritaskan hubungannya dengan Amerika Serikat
dan Jepang daripada dengan Cina dan Uni Soviet. Hal ini tidaklah mengherankan,
karena Indonesia berupaya untuk mendapatkan bantuan dari Amerika Serikat dan
Jepang guna membayar semua hutang- hutangnya. Pilar berikutnya adalah
11
Leo Suryadinata, Op.Cit., hlm. 28.
A. Agus Sriyono, “Politik Luar Negeri Indonesia dalam Zaman yang Berubah”, dalam A. Agus
Sriyono dan Darmansjah Djumala, Hubungan Internasional: Percikan Pemikiran Diplomat
Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 13.
13
Anthony Smith, “Indonesia Role in ASEAN: the End of Leadership?”, Contempory Southeast
Asia, August 1999, diakses dari
http://findarticles.com/p/articles/mi_hb6479/is_2_21/ai_n28737296, pada tanggal 16 Februari
2009, pukul 20.00 WIB.
12
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
10
Aktifnya Indonesia diantara kelompok negara-negara berkembang, yakni Gerakan
Non Blok (GNB), sebagai upaya untuk melakukan repositioning dan rehabilitasi
ekonomi domestik, serta menjadi “pemain penting” di dunia internasional.
Terakhir, adalah pilar kerja sama regional, yakni menguatkan kerja sama negaranegara Asia Tenggara dalam wadah ASEAN. Hal ini demi revitalisasi hubungan
bilateral Indonesia dengan negara-negara di kawasan yang sempat memburuk
pada era Soekarno.
Terkait peran aktif Indonesia di ASEAN pada masa Soeharto, ada tiga hal
besar yang ingin dicapai Indonesia, yakni (1) keinginan untuk menormalisasi
hubungan Indonesia dengan negara nonkomunis di Asia tenggara, (2) keinginan
untuk memperoleh stabilitas domestik, dan (3) keinginan agar keamanan wilayah
tidak terlalu bergantung pada kekuatan eksternal kawasan.14 Oleh sebab inilah,
Indonesia pada masa Soeharto dikenal sebagai negara yang mempunyai komitmen
tinggi terhadap ASEAN, terutama terlihat ketika menghadapi kasus kamboja,
dimana Indonesia mempelopori upaya penyelesaian masalah Kamboja dengan
mengadakan Jakarta Informal Meeting (JIM). Sejak tahun 1990, Indonesia juga
berupaya mencari pendekatan ke arah penyelesaian konflik teritorial di Laut Cina
Selatan, dengan mempertemukan pihak-pihak yang bertikai di dalam negeri
Filipina.
Dari paparan diatas, terlihat bahwa arti penting ASEAN bagi Indonesia
yang utama adalah dengan kuatnya ASEAN, maka akan tercipta aspek psikologis
perasaan aman dan mengurangi rasa curiga diantara negara-negara anggota,
sehingga tercapai rekonsiliasi antara sesama negara anggota yang sebelumnya
terlibat konflik.15 Keberhasilan ASEAN dalam menggalang kerja sama politik dan
keamanan akan memberi peluang kepada negara-negara anggota untuk
mengupayakan stabilitas domestik dan memberi prioritas kepada pembangunan
ekonomi. Nilai penting ASEAN inilah yang membuat Indonesia tidak mengubah
komitmennya terhadap ASEAN. Hal ini terlihat dari ditempatkannya ASEAN
sebagai lingkaran konsentrik pertama dari Politik Luar Negeri Indonesia.
14
Ibid.
Edy Prasetyono, “Peran Indonesia dalam Satu Asia Tenggara”, dalam Analisis CSIS Tahun XXV,
No. 5, September-Oktober 1996 Refleksi Masa Depan ASEAN: Tinjauan oleh Generasi Muda,
(Jakarta: CSIS, 1996), hlm. 398.
15
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
11
Namun, seiring krisis ekonomi yang melanda Indonesia di penghujung
dekade 1990-an,
yang
menjatuhkan
pemerintahan
Presiden
Soeharto,
kepemimpinan Indonesia di wilayah ASEAN pun memudar. Kebijakan luar negeri
Indonesia pada masa awal reformasi lebih diarahkan bagaimana memulihkan
kondisi domestik yang chaos. Implikasi dari kebijakan luar negeri ini adalah
perhatian dalam menyelesaikan masalah yang muncul di tingkat regional menjadi
berkurang, Indonesia dianggap tidak bisa bisa menyelesaikan masalah kasus
polusi asap akibat kebakaran hutan dan juga masalah tenaga kerja migran. Padahal
peran Indonesia dianggap sentral dan ditempatkan negara- negara lain untuk dapat
mengambil inisiatif tentang apa yang baik dan buruk bagi ASEAN.
Lebih lanjut, seperti apa yang telah dipaparkan diatas, relevansi ASEAN di
abad 21 ini semakin meningkat dalam menghadapi tantangan-tantangan dunia
internasional yang memerlukan reaksi dengan timing yang tepat. Dengan
digagasnya visi ASEAN Community 2015, Indonesia seharusnya tertantang untuk
mengembalikan peran kepemimpinannya di kawasan regional. Relevansi dan
kredibilitas ASEAN pun kemudian menjadi tergantung dari bagaimana hadirnya
visi yang kuat dan munculnya peran kepemimpinan dalam mendorong terciptanya
integrasi regional yang kuat.
1.3.2 Faktor Domestik sebagai Landasan Berpijak Politik Luar Negeri
Indonesia di ASEAN
“Foreign Policy Begins at Home”
Hadirnya keinginan Indonesia untuk memainkan peranan internasional
yang lebih aktif di wilayah ASEAN hendaknya tidak dijalankan berdasarkan
keinginan para elit pembuat keputusan belaka, akan tetapi harus memperitungkan
keadaan dan perubahan dalam konteks domestik. Rizal Sukma menyatakan bahwa
desain baru politik luar negeri seharusnya tidak lagi terpenjara dalam romantisme
masa lalu, namun lebih mencerminkan kebutuhan masa sekarang dan masa
depan.16 Lebih lanjut, Rizal Sukma dalam tulisannya memaparkan beberapa faktor
16
Rizal Sukma, “Dimensi Domestik Politik Luar Negeri Indonesia”, dalam Bantarto Bandoro,
Op.Cit., hlm. 85.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
12
internal yang harus diperhitungkan pemerintah dalam merumuskan politik luar
negerinya.17
Faktor pertama adalah bahwa politik luar negeri harus selalu diabdikan
untuk kepentingan nasional. Dalam hal ini, kepentingan nasional Indonesia yang
paling utama adalah bagaimana mempercepat proses pemulihan ekonomi,
sehingga cita-cita untuk memakmurkan masyarakat dapat terwujud. Hal ini dapat
dicapai diantaranya dengan menciptakan lapangan kerja, menjamin akses
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan, serta menegakkan
keadilan sosial. Faktor yang berikutnya yakni bahwa perumusan politik luar
negeri kini harus dapat lebih memperhatikan opini publik. Sebagai
konsekuensinya, pemerintah kini harus dapat mengambil keputusan dengan lebih
melibatkan peran masyarakat (civil society). Faktor selanjutnya adalah bahwa
politik luar negeri seharusnya mencerminkan adanya nilai- nilai yang berkembang
di dalam negeri. Dalam hal ini, demokrasi dan penghormatan atas hak- hak asasi
manusia (HAM) merupakan dua nilai terpenting yang memberi nilai tambah bagi
Indonesia di mata dunia internasional, selain tentunya peran Islam dalam politik
dalam negeri. Berkaitan dengan nilai demokrasi dan HAM ini, disebutkan Philips
J. Vermonte18 , menciptakan kawasan Asia Tenggara yang dihuni negara-negara
yang demokratis seharusnya menjadi tujuan Politik Luar Negeri Indonesia saat
ini, karena hal tersebut akan memberikan sumbangsih dalam peningkatan citra
Indonesia sebagai negara demokratis di luar negeri yang kemudian dapat turut
memperkuat proses konsolidasi demokrasi di dalam negeri. Faktor domestik
terakhir yang disebutkan Rizal Sukma adalah adanya kapasitas nasional yang
berguna untuk menyusun agenda prioritas dalam menjalankan keinginankeinginan di bidang luar negeri.
Setelah memaparkan beberapa faktor domestik tersebut, Rizal Sukma
menyebutkan bahwa politik luar negeri sebaiknya diarahkan terlebih dahulu untuk
memperbaiki dan meningkatkan vitalitas nasional. Namun, fokus melakukan
revitalisasi kapasitas nasional ini tidak berarti Indonesia harus menjadi inward-
17
Ibid., hlm. 84-88.
Lihat tulisan Philips J. Vermonte, “Demokratisasi dan Politik Luar Negeri Inonesia:
Membangun Citra Diri”, dalam Ibid., hlm. 27-40.
18
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
13
looking.19 Lingkungan Asia Tenggara, dapat menjadi theater dimana Indonesia
berpeluang besar untuk memanfaatkan dinamika kawasan bagi kepentingan
nasionalnya. Lebih lanjut, Indonesia dalam hal ini tidak dapat memungkiri
perannya dalam diplomasi dan tata regional Asia Tenggara akan lebih besar
daripada negara-negara ASEAN lain. Letak geografis, jumlah penduduk, jalurjalur penting internasional, pertumbuhan ekonomi, serta faktor historis
menempatkan Indonesia dalam posisi penting dan strategis untuk memainkan
leadership di ASEAN.20
Selain hal tersebut, Indonesia juga mempunyai kekuatan yang dapat
menjadi dasar dalam mencapai kesuksessan pembentukan komunitas ASEAN
2015. Tri Astuti dalam tulisannya “Menuju Komunitas ASEAN 2015: Indonesia
dan Tiga Pilar Integrasi”21 , setidaknya menyebutkan tiga kekuatan Indonesia
tersebut. Pertama, dari segi keamanan internal, Indonesia tergolong cukup aman.
Hal ini ditunjukkan dengan keberhasilan secara umum pemerintah dalam
menyelesaikan masalah- masalah keamanan yang ada di Indonesia dengan cara
yang demokratis dan tetap menjunjung HAM. Hal ini dilihat akan memberikan
sumbangan positif dengan menjadi contoh bagi terciptanya keamanan regional.
Kedua, dari segi perekonomian, Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dan
agraris yang memiliki sumber daya alam melimpah dan lingkungan yang asri. Hal
ini dinilai akan menunjang perkembangan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN
sebagai salah satu pilar dari komunitas ASEAN 2015. Ketiga, dari segi sosial
budaya, Indonesia kaya akan keragaman budaya. Sehingga hal ini dapat menjadi
soft power untuk mengimbangi kekuatan militer yang ada, serta menjadi arahan
dalam menciptakan unity in diversity ASEAN.
Dari ketiga kekuatan ini, kemudian dapat dilihat bahwa Indonesia telah
memiliki modal yang cukup dalam mendorong kesuksesan terciptanya ASEAN
Community 2015. Akan tetapi, modal kekuatan ini akan menjadi tidak efektif
apabila Indonesia tidak mempunyai visi dan strategi terarah dalam bidang
keamanan, ekonomi, dan sosial budaya yang diikuti dengan komitmen semua
19
Rizal Sukma, Ibid., hlm. 88.
Ibid., hlm. 399.
21
Tri Astuti, “Menuju Komunitas ASEAN 2015: Indonesia dan Tiga Pilar Integrasi”, dalam
Sekdilu 32 Deplu RI, Indonesia dan Dunia: Refleksi Pemikiran Diplomat Muda Indonesia,
(Jakarta: Deplu RI, 2007), hlm. 246-247.
20
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
14
pihak. Tentunya, hal ini juga harus ditunjang oleh kepemimpinan yang kuat serta
tata kelola pemerintahan yang baik. Oleh sebab itu, dalam mendorong terciptanya
regionalisme ASEAN yang kuat, Indonesia harus dapat menjadi state driven
regionalization process. Bagian selanjutnya akan mencoba menelaah apa yang
disebut dengan state driven regionalization process tersebut.
1.3.3 State Driven Regionalization Process
Telah disebutkan pada bagian awal bahwa banyak negara kini terlibat
dalam regional project, mulai dari kerja sama perdagangan hingga kerja sama
dalam menciptakan komitmen politik untuk terintegrasi lebih mendalam. Kashima
Masahiro dan Benny Teh Cheng Guan dalam tulisannya “New Regionalism in
Comparison: the Emerging Regions of East Asia and the Arab Middle East”22 ,
berupaya melihat perkembangan dari regionalisme yang diantaranya didorong
oleh hadirnya peran kepemimpinan suatu aktor. Masahiro dan Cheng Guan
melihat regionalisme hadir sebagai hasil dari proses globalisasi yang
menyeruakkan kecenderungan homogenisasi. Bagaimana pengaruh globalisasi
telah memberikan efek terhadap terciptanya respon regional. Lebih lanjut,
Masahiro dan Cheng Guan menyebutkan bahwa regionalisme jangan hanya
dipandang sebagai sebuah a priori, tetapi lebih kepada pembentukkan secara
sosial. Hal ini disebabkan dalam perkembangan pembentukkan regionalisme,
aspek sosial dalam menciptakan identitas bersama di kawasan menjadi penting
artinya dalam mengupayakan terciptanya entitas regional yang kuat, selain
tentunya aspek ekonomi dan politik. Masahiro dan Cheng kemudian memaparkan
bahwa regionalisme adalah sebuah konsep yang multidimensional, dengan proses
pembentukkannya yang kompleks dan melibatkan banyak aktor.23 Definisinya
mengenai regionalisme mengacu pada konsepsi N e w R egionalism yang
diungkapkan Bjorn Hettne, yaitu sebuah konsep regionalisme yang mengeksplor
kerja sama dan integrasi cross border berdasarkan pemahaman komparatif,
historis, dan multilevel perspective.
22
Kashima Masahiro dan Benny Teh Cheng Guan,”New Regionalism in Comparison: The
Emerging Regions of East Asia and the Arab Middle East”, diakses dari
http://dspace.lib.kanazawa-u.ac.jp/dsapce/bitstream/2297/4464/1/KJ00004371022.pdf. p a d a
tanggal 16 Februari 2009, pukul 20.05 Wib, hlm. 67-90.
23
Ibid., hlm. 72.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
15
Namun,
dalam
tulisannya
Masahiro
dan
Cheng
Ghuan
tidak
mengelaborasi lebih jauh konsepsi New Regionalism, argumen utama yang
berupaya diungkapkan kedua penulis tersebut adalah mengenai perlu adanya
peran leadership dari aktor atau grup aktor dalam membangun regionalisme yang
kuat. Hal ini disebabkan proses regionalisasi yang terbentuk secara sosial adalah
sebuah proses intersubjektif yang memerlukan agen untuk mengkonstitusikan
struktur secara mutual lewat knowledgeble practices. Sebagaimana pemahaman
perspektif konstruktivis, struktur normatif dan ideasional memang membentuk
identitas dan kepentingan dari aktor, namun struktur tersebut tidak akan ada
apabila bukan dengan adanya knowledgeble practices dari aktor tersebut.24 Inilah
yang kemudian disebut Masahiro dan Cheng Guan sebagai state driven
regionalization process. Dalam tulisannya, kedua penulis mengambil kasus dari
upaya regionalisme di wilayah Arab.
1.3.3.1 Regionalisme Arab: Upaya Dominan Mesir Menyatukan Arab
Wilayah Arab sebenarnya merupakan sebuah wilayah yang seragam secara
identitas. Negara-negara di kawasan ini umumnya memiliki sebuah shared
identity y a n g k uat, sehingga walau terdiri dari banyak negara, umumnya
masyarakat di kawasan ini memaknai diri mereka sebagai orang Arab. Hal ini
disebabkan wilayah Arab mempunyai karakteristik yang hampir sama, yakni
memiliki bahasa dan tulisan Arab, mayoritas Agama yang dianut adalah agama
Islam, serta negara-negara di kawasan ini secara umum pernah berada di bawah
dominasi Ottoman Turki serta dikolonialisasi bangsa Eropa. Lebih lanjut, hal yang
membuat negara-negara Arab memiliki identitas yang sama adalah sikap negaranegara Arab yang cenderung tidak suka dengan adanya kehadiran Israel di
kawasan Arab.25 Menilik hal ini seharusnya proses regionalisme di wilayah Arab
adalah hal yang relatif lebih mudah untuk diperkuat, namun pada kenyataannya,
regionalisme di wilayah Arab hingga kini masih menjadi persoalan. Dalam
menjelaskan hal ini, Masahiro dan Cheng Guan berupaya menelaahnya lewat
tinjauan historis.
24
Christian Reus-Smith, “Constructivism”, dalam Scott Burchill, et.al., Theories of International
Relations 2nd Edition, (New York: Palgrave, 2001), hlm. 215-221.
25
Masahiro dan Ceng Ghuan, Ibid., hlm. 80-81.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
16
Timbulnya rasa nasionalis sebagai bangsa Arab di wilayah ini baru muncul
sejak berakhirnya Perang Dunia II. Munculnya Liga Arab sebagai sebuah respon
terhadap kemerdekaan Israel pada 1948 adalah titik tolaknya. Dengan dipimpin
oleh Mesir, negara-negara Arab berupaya menyuarakan perlawanan terhadap
Israel dan kolonialisme. Pada era ini, peran kepemimpinan Mesir dalam
mendorong terciptanya unifikasi negara-negara Arab sangatlah kuat. Gamal Abdul
Nasser saat itu dianggap sebagai tokoh sentral dalam kebangkitan nasionalisme
Arab. Terciptanya unifikasi Arab sebenarnya hampir terwujud dengan hadirnya
United Arab Republic (UAR) pada tahun 1958, namun karena tidak adanya satu
visi bersama mengenai integrasi wilayah Arab, hadirnya UAR ini malah
ditakutkan beberapa negara akan dimanfaatkan Mesir untuk mendominasi wilayah
Arab. Hingga akhirnya, UAR ini pun pecah dan mulai timbul perpecahan di
negara Arab terutama antara kalangan konservatif dan revolusionernya. Puncak
dari perpecahan wilayah Arab adalah dengan kekalahan negara-negara Arab dari
perang melawan Israel tahun 1967. Sejak itu, Mesir pun mulai menarik diri dari
kawasan Arab.
Sejak Mesir menarik diri dari upaya unifikasi wilayah Arab, hingga saat
ini belum ada lagi aktor yang menjadi pemimpin dalam mendorong integrasi
kawasan. Sejak 1970-an wilayah ini diwarnai oleh berbagai ‘perang saudara’ dan
berbagai konflik lainnya. Lebih lanjut, walaupun memiliki identitas bersama,
wilayah Arab ternyata dalam perkembangannya memiliki perbedaan ideologi
yang membuatnya sulit bersatu. Ada negara- negara konservatif, negara- negara
yang pro terhadap hadirnya Amerika Serikat di kawasan, dan negara- negara
radikal yang menolak kehadiran Amerika Serikat di wilayah Arab. Ditambah
dengan belum adanya lagi negara di kawasan yang mengambil inisiatif untuk
mengupayakan unifikasi wilayah Arab, akhirnya hingga saat ini perkembangan
Liga Arab pun hanya jalan di tempat dan integrasi regional wilayah Arab pun
merupakan jalan panjang untuk dilalui.
Dari paparan diatas, terlihat bahwa pada kasus regionalisme Arab,
hadirnya sebuah identitas bersama dan kerja sama antarnegara saja tidaklah cukup
dalam membangun regionalisme yang kuat. Harus ada aktor yang berupaya
mengkonstitusikan struktur secara mutual. Awalnya Mesir memang mengambil
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
17
peran kepemimpinan di wilayah Arab, namun Mesir gagal mendorong negaranegara lain di kawasan untuk memiliki visi yang sama mengenai unifikasi wilayah
Arab. Sejak mundurnya peran Mesir di kawasan, belum ada aktor yang berupaya
kembali mengangkat nasionalisme Arab, sehingga akhirnya proses regionalisme
di wilayah Arab tidak berjalan.
Pada bagian selanjutnya dalam tulisan Masahiro dan Ceng Ghun,
disinggung juga mengenai kasus regionalisasi yang terjadi di wilayah Asia Timur,
khususnya dengan adanya kerja sama ASEAN Plus Three (APT). Disebutkan
kedua penulis, apa yang terjadi di wilayah Asia Timur dengan hadirnya kerjasama
APT sebenarnya adalah sebuah respon dari negara- negara di Asia Tenggara
terhadap krisis yang melanda wilayah tersebut di akhir 1990-an. Negara-negara di
kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN merasa perlu
mengikatkan diri lebih kuat dan juga berupaya menginisiasi kerja sama yang lebih
intensif agar bisa lebih siap apabila terjadi krisis ekonomi kembali di kawasan.
Oleh sebab itulah, kemudian negara-negara di Asia Tenggara, dalam wadah
ASEAN, berupaya menjadi driving factor dalam proses terciptanya open
regionalism. Namun, upaya ini kemudian menemui berbagai hambatan akibat
tidak adanya visi besar yang ingin dibangun di kawasan. ASEAN pun mengalami
sebuah dilema regionalisme. Penjabaran berikut, akan diperlihatkan bahwa
ASEAN sepertinya tengah terjebak dalam sebuah dilema regionalisme, yakni
apakah proses widening integrasi regional Asia Timur yang diutamakan ataukah
proses deepening dalam menciptakan identitas regional ASEAN yang kuat
terlebih dahulu dilakukan.
1.3.3.2 ASEAN dan Kemunculan Open Regionalism
ASEAN dalam upayanya untuk menciptakan sebuah kerja sama regional
yang kuat dalam mengantisipasi berbagai tantangan dalam dunia global kerap
menggalakkan kerjasama terhadap negara-negara di luar ASEAN. Semakin
intensnya ASEAN external co-operation disebut sebagai Low sebagai sebuah
bentuk dari kehadiran open regionalism. 26 Dalam beberapa hal, kerjasama open
regionalism jauh lebih menguntungkan dari pada kerjasama intra ASEAN sendiri.
26
Linda Low, ASEAN Economic Co-operation and Chalenges, (Singapore: ISEAS Publication,
2004), hlm. 45-80.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
18
Low sendiri tidak secara eksplisit menyebutkan apakah ini berdampak positif atau
negatif terhadap peningkatan kerja sama ASEAN sendiri. Namun menurut hemat
penulis, intensnya hubungan negara-negara ASEAN terhadap negara- negara di
luar ASEAN bisa menjadi ancaman bagi kerja sama ASEAN sendiri. Dengan kata
lain open regionalism dapat menjadi angin segar bagi ASEAN namun sebenarnya
juga dapat menjadi ancaman bagi keberadaan ASEAN.
Proses perkembangan regionalisme di wilayah Asia Timur sendiri27
selanjutnya bisa ditilik dari tahun 1980-an, dimana saat itu Mahatir Muhammad
memunculkan konsep East Asia Economic Caucust. Akan tetapi berbagai
pemaknaan terhadap Asia Timur tersebut belum dapat menciptakan regionalisme
Asia Timur. Hal ini dikarenakan belum ada lembaga konkret untuk
menginstitusionalisasikan Asia Timur. Baru pada tahun 1997, saat ada krisis
finansial yang melanda Asia Timur mulai dari Korea Selatan hingga Indonesia,
muncul pemikiran dan kesadaran untuk memperkuat kerjasama regional. Tidak
adanya lembaga internasional yang membantu menyelesaikan krisis tersebut,
kecuali IMF melatarbelakangi kesadaran tersebut. Sejak itu, kerjasama regional
Asia Timur pun berusaha diimplementasikan, yaitu lewat munculnya kerjasama
ASEAN +3 pada November 1997, yang merupakan kerjasama negara anggota
ASEAN ditambah dengan Jepang, Cina, dan Republik Korea (Korea Selatan).
Pertemuan ASEAN +3 ini dapat dikatakan sebagai tonggak sejarah yang
membuka jalan bagi proses kerjasama regional Asia Timur selanjutnya, yang
mana didasarkan pada kepentingan regional dan suatu identitas regional yang
baru, yaitu Asia Timur.
Lebih lanjut, kerja sama wilayah Asia Timur juga ditandai dengan
kemunculan ASEAN Regional Forum dimana anggotanya adalah negara- negara
ASEAN plus Mongolia, Canada, China, Papua Nugini, AS, Rusia, Jepang, Korea,
Australia, dan Uni Eropa, kerjasama eksternal ASEAN semakin menjamur.
Namun ARF cenderung membahas permasalahan seputar politik dan strategi
militer dalam menghadapi kondisi dunia pasca Perang Dingin. Beberapa tahun
sebelumnya, Malaysia menginisiasi terciptanya East Asian Economic Caucus
(EAEC) yang bertujuan untuk mempersatukan negara- negara Asia Tenggara
27
Istilah Asia Timur di sini mencakup pada wilayah Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, dan Cina)
dan juga wilayah Asia Tenggara.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
19
dengan negara- negara Asia Timur dalam hal kerjasama perekonomian. Alasan
dari inisiatif EAEC merupakan sebagai langkah strategis dalam berhadapan
dengan Uni Eropa dan NAFTA yang telah menjadi pasar tunggal yang besar di
dunia serta sebagai skema umum bagi kerjasama negara-negara Asia Tenggara
dengan negara- negara Asia Timur yang semakin lama semakin meningkat.
Namun karena intervensi AS yang merasa terganggu dengan adanya skema kerja
sama ini, maka EAEC belum mampu menjadi skema kerja sama di Asia Timur.28
Low melihat ASEAN merupakan sebuah skema kerja sama yang fleksibel
dalam praksis kerjanya. Ia tidak melihat ideologi sebagai sesuatu yang berarti. Hal
inilah yang membuat ASEAN menjadi contoh sukses skema kerja sama regional.
Namun, menurut hemat penulis, fleksibilitas ASEAN ini membuat ASEAN tidak
memiliki perasaan unik yang membuatnya kokoh menjadi satu regionalisme
sebagaimana yang ada pada Uni Eropa ataupun NAFTA. ASEAN sebagai sebuah
aktor menjadi bagian dari Asia Pacific Economic Co-operation (APEC), AsiaEurope Meeting (ASEM), dan Forum for East Asia-Latin America Co-operation
(FEALAC). Menurut Low, keikutsertaan ASEAN dalam forum- forum ini
menunjukkan bahwa ASEAN berusaha untuk terus membuka hubungan ekonomi
terhadap negara-negara di luar region Asia Tenggara sendiri. Upaya-upaya
ASEAN untuk membuka dialog ekonomi dengan wilayah-wilayah lain juga
merupakan sebuah reaksi dari kegagalan liberalisasi perdagangan multilateral
yang dalam hal ini diwakili oleh kebuntuan rezim WTO.
L o w m e l i h a t open regionalism
ASEAN yang ditandai dengan
memperbesar wilayah cakupan kerjasama negara ASEAN sebagai suatu hal yang
positif. Namun penulis melihat, open regionalism merupakan sebuah ancaman
bagi ASEAN. Pada saat ASEAN Free Trade Area belum juga terlaksana pada
tahun 2002, kerja sama ekonomi negara ASEAN dengan negara-negara Asia
Timur seperti China, Jepang, dan Korea dalam skema kerja sama ASEAN Plus
Three semakin menjanjikan. Jika ASEAN Plus Three berlanjut pada pembahasan
liberalisasi perdagangan, maka dapat dipastikan ASEAN Free Trade Area akan
semakin termarjinalkan. Angka statistik pun menunjukkan bahwa negara- negara
28
Hadi Soesastro (ed), One Southeast Asia: in a New Regional and International Setting, (Jakarta:
CSIS), hlm. 46.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
20
ASEAN jauh lebih untung jika bekerja sama dalam skema ASEAN Plus Three
dibandingkan ASEAN sendiri.
Menurut Michalel Leifer, akan menjadi semakin susah bagi ASEAN untuk
bersikeras menjadi identitas yang unik sebagaimana uniknya Uni Eropa terutama
pasca Perang Dingin.29 Dilema yang menghampiri ASEAN adalah apakah proses
widening atau proses deepeining yang harus dilakukan oleh ASEAN.
Open regionalism bagi ASEAN berarti persoalan untuk memperbesar
cakupan kerjasama ASEAN itu sendiri. ARF adalah contoh dari memperbesar
cakupan kerja sama. Namun seperti yang dikatakan Micheal Leifer, proses
menciptakan widening juga harus diikuti dengan deepening. 30 Menurut penulis,
proses deepening ini pun harus menjadi fokus utama ASEAN. Jika Low sudah
menyebutkan berbagai macam usaha untuk menciptakan kerja sama yang semakin
erat antar sesama negara ASEAN, namun faktanya, usaha-usaha tersebut belum
dirasakan oleh masyarakat secara umum. Bagi beberapa aktor tertentu seperti
private sector, usaha-usaha tersebut sangat terasa dampaknya, namun bagi
masyarakat luas, tentu usaha-usaha tersebut masih jauh dari harapan. Penulis
khawatir tatkala ASEAN mencoba melirik keluar, maka fokus terhadap kerja
sama internal menjadi kurang diperhatikan. Contoh konkretnya adalah AFTA
yang semakin tidak jelas nasibnya tatkala ASEAN Plus Three lebih menjanjikan.
Belum lagi kemunculan Bilateral Free Trade Agreements seperti yang ditawarkan
Jepang melalui skema Comprehensive Economic Partnership, China, maupun
Amerika Serikat.
Kesimpulan yang bisa ditarik adalah bahwa ASEAN sebagai driving
factor dari open regionalism di Asia Timur. ASEAN adalah penggagas utama
dalam mempromosikan integrasi dan kerjasama regional di Asia Timur. Namun
ASEAN sebagai driving factor ini bukanlah by design, tapi by default sebagai
akibat sulitnya tercipta regionalisme di wilayah Asia Timur Laut (Jepang, Korea
Selatan, dan Cina). Hal yang menarik kemudian adalah ASEAN sendiri
sebenarnya belum siap untuk mempunyai identitas tunggal Asia Timur. Hal ini
dikarenakan dalam internal ASEAN sendiri belum menjadi suatu entitas regional
29
Michael Leifer, “International Dynamics of One Southeast Asia: Political and Security
Context”, dalam Ibid., hlm. 194.
30
Ibid., hlm. 196.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
21
yang satu di Asia Tenggara. Lebih lanjut, ASEAN khawatir bahwa jika tercipta
suatu kerjasama regional Asia Timur yang lebih mendalam lagi akan
menyebabkan ASEAN “dimakan” oleh tiga negara tersebut. Hal ini dikarenakan
dari sisi kekuatan ekonomi, negara-negara ASEAN sudah jauh tertinggal dari
negara-negara di kawasan Asia Timur Laut tersebut.
Berdasarkan paparan diatas, kemudian terlihat apabila ASEAN
mengutamakan proses widening terlebih dahulu dengan menggunakan kerangka
open regionalism tanpa adanya kesiapan identitas ASEAN yang kuat, maka
ASEAN bisa saja akan “termakan” oleh Negara-negara besar di kawasan Asia
Timur. Dari bahasan ini kemudian juga dapat dilihat bahwa peran kepemimpinan
yang diambil oleh suatu aktor dalam mendorong regionalisme haruslah peran
kepemimpinan yang mempunyai visi besar dan jelas, bukan peran kepemimpinan
by default sebagaimana yang terjadi pada kasus open regionalism Asia Timur.
Oleh sebab itu, dalam menciptakan entitas regional yang kuat, ASEAN perlu
terlebih dahulu menciptakan identitas bersama di kawasan Asia Tenggara dengan
memperhatikan dimesi ekonomi, politik, dan sosial budaya.
Sebagai penutup, berkaca dari paparan diatas, penulis melihat bahwa
kelemahan ASEAN s a a t i n i terletak pada tidak adanya strong political
commitment untuk menjadikan ASEAN sebagai kawasan dimana integrasi
ekonomi, politik, dan sosial begitu kuatnya sehingga ikatan antarnegara pun
menjadi kuat. Benar bahwa ASEAN kini memiliki visi untuk membentuk ASEAN
Community pada tahun 2015. Namun, visi ASEAN Community 2015 saja tidak
cukup. Dua hal yang penting hilang dari proses integrasi ASEAN dalam konteks
hubungannya antarnegara ASEAN yakni leadership dan clear vision. Oleh sebab
itu, Indonesia pun perlu memainkan peran kepemimpinannya dalam rangka
mendorong integrasi regional ASEAN yang lebih kuat lagi.
1.4 Kerangka Teori
“….Pikiran tanpa isi adalah kosong,
dan intuisi tanpa konsep adalah buta…”
Immanuel Kant
Penelitian
ini
berupaya mengelaborasi lebih jauh mengenai peran
Indonesia pada masa pemerintahan SBY dalam mendorong terciptanya visi
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
22
ASEAN Community 2015, dengan menggunakan kerangka berpikir New
Regionalism Hettne yang berpijak pada perspektif konstruktivisme. Sehingga
dengan demikian akan terlihat apakah peran yang selama ini dijalankan
pemerintah Indonesia telah berada dalam track yang benar, dalam membawa
Indonesia sebagai “pemain kunci” diantara negara-negara ASEAN, yang pada
akhirnya dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia di dalam usahanya
memberikan kemakmuran bagi masyarakat Indonesia.
Namun, sebelum memahami bagaimana peran yang dijalankan Indonesia
dalam mendorong terciptanya regionalisme ASEAN, haruslah dimengerti terlebih
dahulu mengenai konsep regionalisme. Secara umum, regionalisme menurut R.
Stubbs dan G. Underhill mempunyai tiga elemen utama, yaitu (1) adanya
pengalaman kesejarahan masalah- masalah bersama yang dihadapi sekelompok
negara dalam sebuah lingkungan geografis, (2) adanya sebuah keterkaitan yang
sangat ereat di antara negara-negara tersebut, atau dengan kata lain ada sebuah
batasan kawasan dalam interaksi di antara mereka, dan (3) terdapatnya kebutuhan
bagi mereka untuk menciptakan organisasi yang dapat membentuk kerangka legal
dan institusional untuk mengatur interaksi di antara mereka dan menyediakan
‘aturan main’ dalam kawasan.31
Dasar dari adanya konsepsi regionalisme sebenarnya berpijak dari
pendekatan fungsionalis yang diungkapkan oleh David Mitrany.32 Visi Mitrany
adalah membentuk sebuah dunia dimana pengaturan fungsi- fungsi dari kehidupan
sosial sehari- hari seperti transportasi, kesehatan, komunikasi, agrikultur,
pembangunan industri, dan lainnya tidak lagi terlalu dibebankan kepada tiap-tiap
negara berdaulat, tetapi juga telah ditanggulangi oleh badan-badan yang bersifat
regional, benua, dan universal. Oleh sebab itu, kemudian Mitrany menjelaskan
bahwa dalam organisasi internasional yang berskala global haruslah mempunyai
badan-badan yang menanggulangi masalah- masalah khusus, sehingga badan
tersebut akan bersifat fungsional.
Dengan terbentuknya badan-badan yang fungsional tersebut, maka akan
terbentuk suatu kerjasama yang selanjutnya dapat menyelesaikan masalah31
Banyu Perwita dan Mochamad Yani, Op.Cit., hlm. 107-108.
Untuk lebih jelas mengenai pandangan fungsionalis ini. Lihat, Clive Archer, International
Organization 2nd edition, (London: Routledge, 2000), hlm. 88-94.
32
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
23
masalah yang dihadapi oleh setiap badan fungsional tersebut. Pendekatan
fungsional ini lebih lanjut tidak hanya fokus pada organisasi internasional
antarpemerintah (IGO) saja, tetapi juga kepada jaringan agen-agen terspesialisasi,
dimana sebagian besar bisa berbentuk Non-Governmental Organizations (NGOs).
Akan tetapi kemudian muncul kritikan terhadap pandangan fungsionalis ini, yakni
mengenai asumsinya bahwa integrasi adalah sebuah proses yang gradual dan
linear berdasarkan kemampuan setiap orang atau pemerintah untuk mengambil
keputusan yang rasional. Lebih lanjut, kesalahan yang sering mengiringi teoretisi
regionalisme ortodox adalah bahwa pemahaman yang terlalu berdasarkan
pendekatan state centric.
Untuk
menghindari
kesalahan
yang
sering
mengiringi
teoretisi
regionalisme lama, kemudian teoretisi hubungan internasional kemudian
memunculkan konsepsi New Regionalism atau open regionalism, yang sering
m e n g a c u p a d a pemahaman regionalisme yang lebih menekankan pada
governance; fokusnya pada pembentukkan entitas regional, bukan hanya pada
penguatan kerja sama antarnegara; memaknai boundaries secara terbuka dan ,
fuzzy,elastis; fokusnya pada kolaborasi kesepakatan secara sukarela dan sejajar;
dan juga penekanannya pada penguasaan power dengan cara melakukan
empowerment pada masyarakat.33
Mengacu pada hal tersebut, pembahasan mengenai peran Indonesia dalam
mendorong terciptanya regionalisme ASEAN akan berpijak pada konseptualisasi
New Regionalism. Lebih lanjut, untuk memfokuskan analisa, maka penulis akan
berupaya
menggunakan
kerangka regionalisme yang lebih komprehensif,
sebagaimana yang terdapat dalam tulisan Bjorn Hettne, “Towards a More
Comprehensive Conseptualisation of Regions: The New Regionalism Revisited”34 ,
sebuah konsepsi yang disebut New Regionalism. Pendekatan New Regionalism
Bjorn Hettne mengeksplor kerjasama dan integrasi cross border berdasarkan
pemahaman komparatif, historis, dan multilevel perspective. Selain itu juga aspekaspek sosio-kultural juga diperhitungkan dalam rangka menciptakan suatu
33
Allan Wallis, “The New Regionalism”, diakses dari
http://www.munimall.net/eos/2002/wallis_regionalism.nclk, pada tanggal 14 Juni 2009, pukul
19.00 WIB.
34
Bjorn Hettne, Towards a More Comprehensive Conseptualisation of Regions: The New
Regionalism Revisited, hlm. 2-32
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
24
kerjasama yang utuh dan kuat. Regionalisasi kemudian dilihat tidak hanya sebagai
suatu proses kerjasama ekonomi semata tetapi melingkupi juga isu- isu seperti
kebijakan sosial dan isu-isu keamanan. Secara umum fondasi teoretis dari
kerangka New Regionalism adalah pemahaman sosial konstruktivis, multi-level
approaches, dan studi pendekatan global seperti globalisasi dan international
order.
Sebelum dapat memahami kerangka New Regionalism, penulis terlebih
dahulu harus mengetahui apa itu pendekatan sosial konstruktivis, pendekatan
multi- level, dan studi pendekatan global. Konstruktivisme adalah sebuah
pandangan yang melihat bahwa dunia sosial merupakan suatu hasil konstruksi
manusia- manusia yang ada di dalamnya. Dan begitupun dengan manusia yang ada
didalamnya, terbentuk dari hubungan sosial yang terjalin diantara mereka. Jadi
dengan kata lain, manusia membentuk masyarakat dan masyarakat pun
membentuk
manusia,
sebuah
proses
yang
kontinu
dan
dua
arah.35
Konstruktivisme juga merupakan suatu konsepsi intersubjektif terhadap proses
dimana identitas dan interest (kepentingan) adalah endogenous terhadap interaksi,
dengan begitu pandangan ini berusaha mendebat pandangan rasionalisme yang
menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang given dan exogenous.36 Dengan
demikian, dunia sosial diartikan bukan sebagai sesuatu yang given, melainkan
juga termasuk ke dalam wilayah intersubjektif. Intersubjektif sendiri diartikan
sebagai bagaimana mereka membangun dalam konteks situasi mereka, dan
implikasi terhadap sikap agen dan pembangunan institusi dalam politik
internasional.37
Dari penjelasan diatas kemudian dapat disimpulkan bahwa pandangan
konstruktivisme melihat aktor sangat sosial yang identitasnya dibentuk oleh
norma, nilai, dan ide yang terinstitusionalisasi oleh lingkungan sosial mereka.
Konstruktivis juga berpandangan bahwa kepentingan aktor ditentukan secara
endogenous oleh interaksi sosial. Lebih lanjut lagi, perspektif ini melihat
35
Nicholas Onuf, “Constructivism: A User Manual”, dalam Vendulka Kubakolva, et.al.,
International Relations in a Constructed World, (London: M. E. Sharpe, 1998), hlm. 59.
36
Alexander Wendt, “Anarchy is What States Make of It: the Social Construction of Power
Politics”, dalam Freidich Kratochwil dan Edward Mansfield, International Organization: A
Reader, (US: Harper Collins College Publishers, 1994).
37
Audie Klotz dan Cecelia Lynch, Conflicted Constructivism: Positivist Leaning vs Interpretivist
Meanings, 1998, hlm. 1-26.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
25
masyarakat sebagai ranah konstitutif yang memunculkan aktor-aktor sebagai agen
sosial dan politik. Proposisi ontologis konstruktivis, yakni hadirnya norma yang
lantas membentuk identitas aktor yang selanjutnya menciptakan kepentingan dari
aktor-aktor adalah sentral dari pemahaman akan New Regionalism. Singkatnya
konstruktivis menekankan pentingnya faktor-faktor intersubjektif seperti identitas,
norma, ide, dan hal- hal sosio-kultural lainnya dalam pembentukkan proses
regionalisasi.
Berkenaan dengan multi-level approaches, pendekatan ini dapat dilihat
sebagai sebuah jaringan yang secara horizontal dan vertikal menghubungkan
antara lokal, regional, dan sentral pemerintahan. Pendekatan ini juga menegaskan
konsep jaringan sebagai suatu hubungan yang stabil dengan tidak adanya hierarki
dan saling interdependensi. Lewat pemahaman akan multi-level approaches,
regionalisasi dapat dilihat sebagai proses multi-faceted multi-actor dimana agenagen dalam ranah ekonomi, sosial dan politik saling berinteraksi satu dengan yang
lain dalam level lokal, regional, dan internasional.
Sementara itu, regionalisme dipandang secara pendekatan studi global,
dapat dilihat lewat dua konsep yakni international order dan globalisasi.
International order atau tatanan internasional maksudnya adalah sekumpulan
norma, perjanjian, rejim, dan institusi dalam skala internasional yang mengatur
hubungan antaraktor dan kerap juga mempengaruhi perumusan kebijakan suatu
negara. Perlu ditekankan lebih lagi bahwa tatanan internasional ini tidaklah statis
saja dikuasai suatu negara atau pola, tetapi ini merupakan sebuah proses historis
dan dinamis yang selalu dibentuk dan bertransformasi secara konstan. Poin
berikutnya untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai
regionalisme adalah pemahaman yang kuat akan globalisasi. Globalisasi
merupakan sebuah contested consept, oleh karenanya, proses regionalisasi dan
integrasi yang ada dapat dilihat sebagai salah satu cara untuk “menegosiasikan”
globalisasi agar tidak menenggelamkan konsep nation states.
Setelah menjabarkan fondasi das a r d a r i kerangka new regionalism
tersebut, untuk memudahkan, maka ilustrasinya adalah:
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
26
Tabel 1.1 Ilustrasi Fondasi Dasar New Regionalism
Teori Hubungan Internasional
Perspektif sosial-
Dimensi / Aktor
Global approaches
Pendekatan multilevel
konstruktivis
KONSEP NEW REGIONALISM
Lebih lanjut, setelah memaparkan mengenai fondasi normatif dari
kerangka new regionalism, Hettne memaparkan bahwa sebuah region dapat
diidentifikasi dengan adanya data mengenai interaksi yang mutual, kesamaan
atribut dari aktor-aktor, dan adanya shared values and experinces.38 Setelah dapat
mengidentifikasi sebuah region kemudian dapat dikategorikan kembali tingkatan
dari region yang terbentuk. Hettne memaparkan ada lima degrees dari regioness,
yakni:39 (1) region adalah sebuah unit geografis, (2) region adalah sebuah sistem
sosial, (3) regions dapat dikarakteristikan ke dalam kerjasama ekonomi, politik,
sosial,
atau
bidang
keamanan,
(4) region sebagai civil society dapat
mempromosikan komunikasi sosial dan nilai ke seluruh region, dan (5) regions
dapat muncul sebagai aktor internasional dengan segala kewenangan yang
diberikan
terhadapnya.
Secara
umum,
pemahaman
regionalisme
yang
diungkapkan Hettne ini telah membuka paradigma baru dalam melihat
regionalisme yang sebelumnya hanya didominasi pandangan state-centric dan
teori fungsionalisnya.
38
39
Hettne, Op.Cit., hlm. 28.
Ibid., hlm. 28-29.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
27
Tabel 1.2 Operasionalisasi New Regionalism
No. Dimensi
1.
Variabel
Perspektif Sosial The notion of identity
Indikator
Terbentuknya/hadirnya
beberapa
40
Konstruktivis
pengikat identitas, seperti:
elemen
common culture,
common ethnic background, shared linguistic
similarities, common experiences, common
heritage, shared norms, principles and
values. Dalam Penelitian ini akan dilihat
bagaimana Indonesia:
·
Melakukan
penjunjungan
terhadap
s h a r e d v a l u e s (nilai bersama
ASEAN), yakni nilai demokrasi dan
penegakkan HAM
·
Menggalakkan kegiatan sosial-budaya
untuk
meningkatkan
kepekaan
masyarakat terhadap ASEAN.
Sosialisasi norms and Norms and rules dapat disebutkan sebagai
rules
sebuah ekspektasi kolektif untuk menciptakan
proper behaviour
dalam situasi/kondisi
tertentu.41 Dalam penelitian ini akan dilihat
bagaimana
mengangkat
peran
Piagam
Indonesia
ASEAN
dalam
yang
diharapkan akan menjadi norms and rules di
kawasan.
40
41
Ibid., hlm. 11.
Ibid., hlm. 12.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
28
2.
Pendekatan
Multilevel
Keterkaitan
dan networks
Multilevel
governance/ actors
merupakan faktor yang menentukan dalam
transnasional
dinamika proses regionalisasi. Indikator yang
akan
digunakan
dalam
penelitian
ini
kemudian adalah bagaimana Indonesia:
· mendorong keterlibatan aktor non-negara
(kalangan NGOs, Pebisnis, dan kalangan
epistemik) dalam ASEAN policy making
procedur
· Menjalin hubungan G to G dengan
negara anggota ASEAN lainnya dalam
mendorong terbuka ruang partisipasi bagi
masyarakat sipil di ASEAN
Multilevel dimensions
Indikator yang digunakan adalah bagaimana
Indonesia memainkan peran di ketiga pilar
ASEAN
Community
menunjukkan
perhatian
yang sudah
pada
berbagai
dimensi isu di kawasan Asia Tenggara.
3.
Global
International order
Approaches
Indikator yang kemudian akan dilihat dalam
penelitian ini adalah bagaimana Indonesia
menunjukkan peran kepemimpinannya di
forum- forum ASEAN dan di luar forum
ASEAN
untuk
menekankan
pentingnya
mempunyai sebuah entitas regional Asia
Tenggara yang kuat, sehingga akan tercipta
sebuah pemahaman intersubjektif mengenai
perlunya memperkokoh proses regionalisasi
ASEAN.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
29
1.5 Hipotesa
Adapun hipotesa penelitian ini adalah: ”Peran Pemerintah Indonesia tidak
maksimal dalam mendorong terciptanya regionalisme ASEAN”. Sehingga dengan
demikian,
seharusnya
Indonesia
memahami
variabel- variabel penguat
regionalisme sebagaimana yang diungkapkan Hettne dalam konsepsi New
Regionalismnya, dan kemudian menjalankan perannya dalam tiap-tiap variabel
tersebut.
Hipotesis operasional:
· H 0 = Peran Pemerintah Indonesia sudah maksimal dalam
mendorong terciptanya regionalisme ASEAN
· H 1 = Peran Pemerintah Indonesia tidak maksimal dalam
mendorong terciptanya regionalisme ASEAN.
1.6 Asumsi
Asumsi dalam penelitian ini adalah :
·
Konsepsi ASEAN Community dengan tiga pilarnya, yaitu ASEAN
Security Community ASEAN Economic Community, dan ASEAN SocioCultural Community telah menampakkan konsepsi New Regionalism yang
multidimensi. Akan tetapi, konsep tersebut harus dapat diinternalisasi ke
dalam masyarakat negara-negara di ASEAN untuk dapat menciptakan
entitas regional yang kuat.
·
Peran Indonesia dalam diplomasi dan tata regional Asia Tenggara akan
lebih besar daripada negara-negara ASEAN lain, dilihat dari faktor historis
Indonesia
serta konteks Indonesia sebagai negara besar di kawasan
ASEAN. Sehingga peran yang maksimal di ASEAN akan mendatangkan
stabilitas domestik dan benefits bagi Indonesia dalam memberikan
kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Oleh sebab itu, penting bagi Indonesia
untuk mempunyai arahan Politik Luar Negeri Indonesia di wilayah
ASEAN.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
30
1.7 Logic of Thinking
Logic of thinking dalam penelitian secara sederhana digambarkan melalui
skema di bawah ini:
Gambar 1.1 Logic of Thinking Penelitian
Pemimpin negara- negara Intersubjectivity
ASEAN mencanangkan
Discourse
Peran yang dijalankan Tanpa Konsep
Indonesia dalam
new regionalism
Regionalisme
gagal
mendorong
visi ASEAN Community
terbangun
regionalisme ASEAN
2015
Konsep new
Identitas bersama
ASEAN
Peran dijalankan dalam
community building lewat
berbagai dimensi isu dan aktor
regionalism Bjorn
Hettne
1.8 Model Analisa
Dalam penelitian ini, peran Indonesia dalam mendorong terciptanya ASEAN
Community 2015, berdasarkan kerangka New Regionalism Bjorn Hettne akan
menjadi variabel independen. Sementara terbentuknya regionalisme ASEAN yang
komprehensif dan kuat akan menjadi variabel dependen, dengan mengacu pada
efektivitas peran yang dijalankan Indonesia di ASEAN. Penelitian ini akan
mencoba menganalisa sejauh mana peran yang dijalankan Indonesia dalam
memunculkan identitas bersama ASEAN yang akan membangun konsepsi
regionalisme yang komprehensif di wilayah Asia Tenggara. Model analisa secara
sederhana digambarkan melalui skema di bawah ini:
Gambar 1.2 Model Analisa Penelitian
Peran Indonesia dalam mendorongEfektivitas Peran
terciptanya ASEAN Community 2015,
berdasarkan kerangka New
Regionalisme ASEAN
yang komprehensif dan
kuat muncul
Regionalism Bjorn Hettne
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
31
1.9 Metode Penelitian
Pada dasarnya sebuah penelitian harus memenuhi beberapa syarat42 .
Pertama penelitian harus mengikuti metode yang ketat, rigorous, berpegang teguh
pada aturan tertentu untuk mencapai hasil yang objektif. Kedua, meminimalisir
kesalahan yang dapat terjadi dalam pengumpulan data dan penafsirannya. Ketiga,
harus dipublikasikan untuk membuka kritik untuk ditolak atau dibantah. Dalam
penelitian, diperlukan sebuah alat yang disebut metode penelitian untuk dapat
membuat penelitian tersebut menjadi sebuah prosedur yang sistematis. Metode
penelitian sendiri ada yang disebut metode penelitian kuantitatif dan kualitatif.
Lebih lanjut, peneliti harus mengerti kedua metode yang berbeda dengan baik dan
benar agar dapat mengantisipasi kemungkinan munculnya kesalahan yang
menyebabkan hilangnya validitas hasil penelitian.43
Untuk tujuan tersebut, penelitian ini akan menggunakan metode penelitian
kuantitatif.
Tujuannya adalah untuk melihat peran-peran yang dijalankan
Indonesia dalam mendorong terciptanya visi ASEAN Community 2015 pada masa
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan metode penelitian kuantitatif,
peneliti akan berusaha untuk membuktikan teori yang telah dirumuskan
sebelumya, yaitu new regionalism yang diungkapkan Bjorn Hettne. Pemilihan
metode kuantitatif didasarkan pada pemikiran bahwa penelitian ini membutuhkan
suatu kerangka yang membatasi sekaligus mengarahkan penelitian untuk
membuktikan hipotesa penelitian. Metode ini akan membantu dalam penjelasan
kausalitas (hubungan sebab-akibat) antara dua atau lebih variabel.
Adapun model metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah model
penelitian deskriptif-analitis. Model deskriptif-analitis adalah suatu model
dalam meneliti kasus sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu
sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.44 Dengan
kata lain model deskriptif-analitis merupakan model pencarian fakta dengan
interpretasi yang tepat, yang mempelajari masalah- masalah dalam masyarakat,
tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk
42
Prof. Dr. S. Nasution, M.A., Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung: Penerbit
Tarsito, 1996), hlm. 3.
43
Jonathan Sarwono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2006), hlm. 272-273.
44
Moh. Nazir, Ph. D., Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988), hlm. 63.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
32
tentang hubungan kegiatan-kegiatan, sikap serta pandangan-pandangan.45 Secara
harfiah model deskriptif-analitis adalah model penelitian untuk membuat
gambaran mengenai situasi atau kejadian sehingga model ini berkehendak
mengadakan akumulasi data dasar belaka.46
Untuk
melengkapi
penelitan, data yang digunakan adalah data
kuantitatif serta kualitatif. Data kuantitatif akan disajikan dalam bentuk tabel,
grafik, dan lainnya. Penyajian tersebut dimaksudkan untuk memperkuat
penjelasan mengenai fakta yang ada. Data kualitatif seperti pendapat dari sudut
pandang ahli tertentu, akan digunakan untuk mempertajam analisa. Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer,
yakni data-data kualitatif yang diperoleh dari sumber langsung seperti dokumendokumen penting mengenai peran Indonesia di level ASEAN yang dibuat oleh
peemerintah Indonesia dan data-data mengenai laporan- laporan hasil pertemuan
Indonesia di forum- forum internasional dalam mengupayakan terciptanya visi
ASEAN Community 2015. Sementara itu, data sekunder dapat berupa existing
statistic, atau terbitan bebas dan literatur. Sumber data diperoleh dari buku-buku,
majalah, jurnal, artikel, surat kabar, terbitan bebas, situs dan homepage internet,
serta dari sumber tertulis lainnya. Lebih lanjut, teknik pengumpulan data dengan
wawancara, baik dengan pejabat pemerintah maupun kalangan nonpemerintah pun
akan dilakukan guna mengetahui sejauh mana peran yang dijalankan Indonesia
untuk mewujudkan visi ASEAN Community 2015.
Adapun pihak-pihak yang ingin penulis wawancarai adalah sebagai
berikut:
a. Bapak George Lantu dari Direktorat Kerjasama ASEAN, Deplu RI
Dalam rangka melihat peran Indonesia di ASEAN, tentunya tidak bisa
melepaskan dari peran yang dilakukan Departemen Luar Negeri Republik
Indonesia (Deplu RI). Hal ini dikarenakan peran Deplu RI sebagai focal point
pemerintah Indonesia di ASEAN. Oleh karena itu, Deplu RI penting adanya untuk
menjadi sumber informasi mengenai peran pemerintah Indonesia di ASEAN. Dan,
Bapak George Lantu, sebagai deputi direktur Dirjen Kerjasama ASEAN Deplu RI
kemudian juga menjadi signifikan perannya dalam menyediakan data bagi
45
46
Ibid,. hlm. 54.
Ibid,. hlm. 64.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
33
penelitian penulis karena kedudukan dan pengalamannya dalam forum- forum
ASEAN.
b. Bapak Rafendi Djamin dan Bapak Alexander Chandra, selaku
Aktor Civil Society Indonesia di ASEAN
Dalam penelitian penulis yang menggunakan kerangka New Regionalism
Bjorn Hettne, peran aktor civil society penting adanya dalam membangun
regionalisme secara komprehensif. Sebagai aktor masyarakat sipil Indonesia di
ASEAN (Bapak Rafendi Djamin melalui ASEAN People Center-nya dan Bapak
Alexander Chandra melalui ASEAN-Oxfamnya), Bapak Rafendi Djamin dan
Bapak Alexander Chandra telah banyak memberikan masukan- masukan yang
konstruktif bagi posisi yang diambil oleh Indonesia di ASEAN. Informasi yang
diharapkan didapatkan dari kedua aktor masyarakat sipil ini adalah informasi
mengenai sejauh apa mekanisme yang tercipta dalam pemerintah Indonesia untuk
melibatkan aktor-aktor dari masyarakat sipil dalam perumusan posisi Indonesia di
ASEAN, dan juga dalam mengangkat identitas ASEAN di level masyarakat.
c. Bapak C.P.F. Luhulima dan Ibu Dewi Fortuna Anwar, selaku
Peneliti Senior LIPI
Sebagai peneliti senior LIPI yang kerap menjadi think-thank Pemerintah
Indonesia, penulis mengharapkan akan mendapatkan informasi mengenai konteks
historis perkembangan ASEAN. Selain itu juga informasi yang ingin didapat
adalah konteks hubungan Indonesia dengan kalangan think-thank dan kalangan
epistemik dalam kerangka ASEAN. Sejauh mana ruang-ruang pemikiran teoretis
juga diterapkan dalam peran yang dijalankan pemerintah Indonesia dalam
membangun regionalisme ASEAN.
e. Bapak Rizal Sukma, selaku Direktur Eksekutif CSIS dan
Penggagas Komunitas Politik-Keamanan ASEAN
Pandangan Bapak Rizal Sukma mengenai peran Indonesia di ASEAN
kemudian juga menjadi penting untuk menjadi acuan dalam penelitian penulis.
Hal ini disebabkan Bapak Rizal Sukma adalah salah satu aktor yang menggagas
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
34
terbentuknya pilar Politik-Keamanan ASEAN. Selain itu, Bapak Rizal Sukma
juga aktif menyuarakan pandangannya mengenai pelaksanaan Politik Luar Negeri
Indonesia, khususnya dalam arena ASEAN. Oleh sebab itu, pandangan Bapak
Rizal Sukma diperlukan sebagai bahan informasi mengenai evaluasi peran
Indonesia di ASEAN dalam kacamata seorang akademisi.
1.10.Tujuan dan Signifikansi Penelitian
1.10.1. Tujuan Penelitian
Penelitian
ini
bertujuan untuk menganalisa efektivitas peran yang
dijalankan Indonesia, khususnya pada masa Pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY), dalam mendorong terciptanya regionalisme ASEAN. Peran
yang dijalankan oleh Indonesia sendiri di ASEAN selama ini dianggap tidak
mempunyai arah yang jelas. Oleh sebab itu, dengan menggunakan kerangka
berpikir New Regionalism
yang menjabarkan beberapa fondasi dalam
menciptakan regionalisme yang kuat diharapkan dapat memberikan arah bagi
pemerintah Indonesia dalam memaksimalkan perannya di ASEAN.
Dalam proses akhirnya, peneliti ingin melih a t a p a k a h peran yang
dijalankan Indonesia selama ini dalam mendorong regionalisme ASEAN sudah
maksimal atau belum. Untuk melihat efektivitas perannya kemudian akan
digunakan konsepsi regionalisme yang lebih komprehensif, yakni new
regionalism. New Regionalism ini sendiri terwujud dalam tiga fondasi teoretis,
yakni perspektif sosial konstruktivis, pendekatan global, dan multilevel perspektif.
Selama penelitian akan dianalisa peran Indonesia dalam ketiga fondasi tersebut
dengan menggunakan
indikator- indikator yang mengkatalis terbentuknya
regionalisme ASEAN.
1.10.2. Signifikansi Penelitian
Untuk
tataran
akademis,
penelitian
ini
dimaksudkan
untuk
memperlihatkan signifikansi pembentukkan regionalisme melalui kerangka
berpikir New Regionalism. Konsepsi regionalisme yang selama ini didominasi
oleh pendekatan state centric dan kerja sama fungsional kemudian berupaya
didobrak dengan menghadirkan konsepsi regionalisme yang lebih komprehensif.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
35
Analisa pembentukkan regionalisme ASEAN dengan menggunakan kerangka
berpikir New Regionalism Bjorn Hettne akan memberikan sumbangan pada dunia
akademis bahwa pembentukkan regionalisme yang kuat juga bekerja melalui
interaksi sosial yang konstitutif dengan menciptakan pemahaman identitas
bersama. Sehingga titik tolaknya pun tidak hanya dalam mengembangkan kerja
sama fungsional di bidang ekonomi, politik, dan keamanan semata, tetapi juga
pengembangan kerja sama di bidang sosial budaya dalam menciptakan ‘we
feeling’ di level grassroot.
Untuk tataran praktis, peneliti berharap penelitian ini akan memberikan
sumbangan bagi pemerintah Indonesia dalam memainkan perannya di ASEAN.
Sehingga Indonesia akan dapat dianggap sebagai “pemain kunci” di ASEAN yang
lebih lanjut akan memberikan kemakmuran bagi rakyat Indonesia dengan peran
kepemimpinan Indonesia di level regional. Lebih lanjut, penelitian ini juga
diharapkan memberikan sumbangan bagi arahan dan platform Politik Luar Negeri
Indonesia, khususnya di wilayah ASEAN ke depannya.
1.11 Sistematika Penulisan
Peneliti membagi penulisannya dalam lima bab yang akan membahas halhal sebagai berikut:
B a b I : Merupakan bagian pendahuluan yang berisi latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan masalah, metode penelitian, dan sistematika
penulisan.
Bab II:
Pada bagian pertama akan diberikan penggambaran secara jelas
mengenai ASEAN Community, latar belakang perumusannya dan pentingnya
mempunyai suatu entitas regional Asia Tenggara yang kuat. Selain itu dalam Bab
ini pun terdapat pemaparan mengenai blueprint dari tiga pilar yang membentuk
ASEAN Community, yaitu ASEAN Security Community, ASEAN Economic
Community, dan ASEAN Sosio-Cultural Community.
Bab III: Bagian ini akan berisi analisa peran yang dijalankan Indonesia pada
masa pemerintahan SBY dalam mendorong terciptanya regionalisme ASEAN.
Analisa yang peneliti lakukan akan berdasar kepada ketiga fondasi New
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
This watermark does not appear in the registered version - http://www.clicktoconvert.com
36
Regionalism Hettne, dengan mengacu pada indikator-indikator yang telah
dijabarkan.
Bab IV: Bahasan pada bab IV ini akan berupaya menganalisa peran Indonesia
dalam mendorong regionalisme ASEAN dengan melihat hubungan antarvariabel
New Regionalism yang telah dijabarkan pada Bab sebelumnya. Sehingga dengan
demikian dapat ditarik benang merah mengenai efektivitas peran Indonesia di
ASEAN secara keseluruhan, berdasarkan kerangka New Regionalism Bjorn
Hettne.
Bab V: Terakhir, peneliti akan mencoba untuk menyimpulkan hal-hal yang telah
dijabarkan pada bab-bab sebelumnya. Dengan sudah dilakukannya penelitian,
peneliti berharap dapat juga memberikan suatu rekomendasi. Pertama,
rekomendasi
itu
dapat berupa kebijakan atau solusi mengenai peran
kepemimpinan yang dapat dijalankan dan dimaksimalkan Indonesia dalam
mendorong terciptanya regionalisme ASEAN.
Kedua,
rekomendasi/saran
mengenai pelaksanaan penelitian dimasa depan kepada pembaca yang berpikir
untuk melakukan penelitian dalam topik serupa ataupun peneliti yang sudah akan
memulai penelitiannya.
Politik Luar Negeri, Pandu Utama Manggala, FISIP UI, 2009
Universitas Indonesia
Download