19 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Komunikasi Istilah

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication berasal dari kata
latin communicatio, dan sumber dari kata communis yang berarti sama. Sama
disini maksudnya adalah sama makna. Untuk memahami pengertian komunikasi
sehingga dapat dilancarkan secara efektif, para peminat komunikasi sering kali
mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karya, The
structur and Function of Communication In Society. Lasswell mengatakan bahwa
cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai
berikut : Who Say What In which Channel To Whom With What Effect? (Onong,
9:1997). Paradigma Lasswell di atas menunjukan bahwa komunikasi meliputi
lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni:
a. Komunikator (communicator, source, sender)
b. Pesan (message)
c. Media (channel, media)
d. Komunikan (communicant, communicatee, receiver, recipient)
e. Efek (effect, impact, influence)
Jadi, berdasarkan paradigma lasswell tersebut, komunikasi adalah proses
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang
menimbulkan efek tertentu.(Onong, 10:1997).
19
1. Proses Komunikasi
Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yakni secara primer dan
secara sekunder :
a. Proses komunikasi secara primer
Menurut Onong (11-16, 1997) proses penyampaian pikiran dan atau
perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang
(symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses
komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain
sebagainya yang secara langsung mampu ‘menerjemahkan’ pikiran dan
atau perasaan komunikator kepada komunikan.
b. Proses komunikasi secara sekunder
Proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan
menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai
lambang sebagai media pertama. Komunikator menggunakan media kedua
dalam
melancarakan
komunikasinya
karena
komunikan
sebagai
sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak.
Surat telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan banyak
lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi.
Komunikasi dianggap sebagai proses menciptakan suatu kesamaan atau suatu
kesatuan pemikiran antara pengirim dengan penerima. Kunci utama dari definisi
ini adalah diperlukan kesamaan pemikiran yang dikembangkan antara pengirim
dan penerima jika saling berbagai (sharing) antara pengirim (pemerintah) dengan
20
penerima (khalayak masyarakat). Menurut Shimp 2000 (dalam Morissan,
2009:17) semua aktivitas komunikasi akan melibatkan delapan elemen berikut :
1) Sumber (Source)
Adalah orang atau kelompok orang (misalnya pemerintahan) yang
memiliki pemikiran (ide, rencana program, dll) untuk disampaikan kepada
orang atau kelompok orang yang lain.
2) Penerjemahan (encoding)
Merupakan suatu proses menerjemahkan pemikiran ke dalam bentukbentuk simbolis. Sumber tersebut memilih tanda-tanda spesifik dari
berbagai kata, struktur kalimat, simbol, dan unsur nonverbal lainnya.
3) Pesan (message)
Merupakan suatu ekspresi simbolis dari pemikiran sang pengirim. Dalam
komunikasi pemasaran, pesan dapat berbentuk sebuah iklan, sebuah
presentasi program kerja. Sebuah rancangan kemasan, berbagai petunjuk
ditempat-tempat pembelian (point of purchase), dsb.
4) Saluran penyampaian pesan (message channel)
Suatu saluran yang dilalui pesan dari pihak pengirim, untuk disampaikan
kepada pihak penerima. Pemerintah menggunakan media elektronik dan
media cetak sebagai saluran untuk menyampaikan pesan iklan kepada
khalayak masyarakat atau calon khalayak. Pesan-pesan juga disampaikan
kepada pelanggan secara langsung melalui wiraniaga, melalui telepon,
brosur, surat langsung, dan secara tidak langsung melalui berita dari
mulut ke mulut.
21
5) Penerima (receiver)
Merupakan orang atau kelompok orang yang dengan mereka pihak
pengirim berusaha untuk menyampaikan ide-idenya. Dalam komunikasi
pemasaran, penerima adalah khalayak atau calon khalayak suatu produk
program pemerintah. Pesan yang diterima adakalanya sempurna, namun
tidak jarang hanya sebagian kecil saja.
6) Interpretasi (decoding)
Melibatkan
aktivitas
yang
dilakukan
pihak
penerima
dalam
menginterpretasikan atau mengatirkan pesan pemasaran. Suatu pesan
yang disampaikan pengirim harus mudah dimengerti dan tersimpan di
dalam benak si penerima pesan. Selanjutnya, suatu pesan baru dapat
ditafsirkan secara benar bila penerima pesan telah memahami isi pesan
sebagaimana yang dimaksud oleh pengirim pesan.
7) Gangguan (noise)
Sebuah pesan yang melintas dalam suatu saluran dipengaruhi oleh
stimulus-stimulus eksternal yang mengganggu. Stimulus ini mengganggu
penerimaan pesan dalam bentuk yang murni dan orisinil. Gangguan atau
distorsi ini dinamakan noise, yang dapat terjadi pada tahap mana pun
dalam proses komunikasi.
8) Umpan ( feedback)
Memungkinkan sumber pesan memonitor seberapa akurat pesan yang
disampaikan dapat diterima. Umpan balik memegang peran penting
dalam proses komunikasi, karena itu memberi kemungkinan bagi
22
pengirim untuk menilai efektivitas suatu pesan. Pengiklan sering kali
menemukan bahwa target pasar mereka tidak menginterpretasikan tema
kampanye seperti yang mereka inginkan. Dengan menggunakan
penelitian yang berdasarkan umpan balik (research-based feedback) dari
pasar, manajemen dapat melakukan pengujian ulang dan seringkali dapat
memperbaiki pesan iklan yang tidak efektif atau yang salah arah.
Source
Encoding
Decoding
Receiver
Message
Message
Channel
Noise
Feedback
Feedback
Gambar 2.1 Unsur-unsur dalam proses komunikasi menurut Shimp (2000)7
2. Tujuan Komunikasi
Menurut Onong Uchjana Effendy dalam bukunya “Ilmu Komunikasi: Teori
Dan Praktek” (Effendy, 1984:33), tujuan komunikasi adalah:
a. Mengubah sikap (to change the attitude)
b. Mengubah opini / pendapat / pandangan (to change the opinion)
c. Mengubah perilaku (to change the behaviour)
d. Mengubah masyarakat (to change the society)
7
Shimp, Terence A. 2003. Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi
Pemasaran Terpadu Edisi 5 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
23
3.
Efek Komunikasi
Efek yang diharapkan dari suatu komunikasi ditentukan dari tujuan
komunikasinya, bisa saja tujuannya hanya untuk mengubah pengetahuan saja,
atau perilaku saja. Namun bisa saja tujuan komunikasi berawal dari perubahan
pengetahuan kemudian diikuti perubahan sikap dan diikuti lagi dengan perubahan
perilaku. Menurut Kotler (1989), untuk mengatasi masalah sosial yang ada di
masyarakat seperti masalah kesehatan, lingkungan hidup, pendidikan dan
sebagainya tidak cukup hanya menyadarkan atau memberikan pengetahuan saja
karena hal tersebut tidak bisa mengatasi masalah sosial yang ada. Jadi, harus
sampai pada perubahan sikap dan perilaku agar kehidupan sasaran menjadi lebih
baik. Komunikasi yang dibutuhkan di sini adalah komunikasi yang berefek pada
perubahan khalayak sasaran.
B. Strategi
Johnson dan Scholes (1993:47) mendefinisikan strategi sebagai arah dan
ruang lingkup sebuah organisasi dalam jangka panjang, yang idealnya
mencocokkan dengan sumber daya dalam perusahaan tersebut dengan lingkungan
yang terus berubah-ubah. Mintzberg (1987:89) menunjukkan bahwa istilah
strategi
berakar
dari
kata
Yunani
strategos
yang berarti
kejendralan
(kepemimpinan). Pengertian ini menunjukkan bahwa suatu pengaruh penting pada
kinerja perusahaan adalah kuat atau lemahnya kepemimpinan pada perusahaan
tersebut, di luar dari sumber daya internal dan lingkungan eksternalnya. Strategi
pada dasarnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management)
jangka panjang untuk mencapai suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut,
24
strategi berfungsi sebagai pedoman yang menunjukkan arah serta taktik
operasionalnya dalam jangka pendek.
C. Strategi Komunikasi
Strategi komunikasi yang akan ditelaah dalam penelitian adalah strategi
yang didasarkan pada teori komunikasi yang dikemukakan oleh Everett M.
Rogers dan W. Floyd Shoemaker dalam bukunya yang berjudul Communication
of Innovation. Dalam buku tersebut, dinyatakan bahwa sebuah model umum dari
proses komunikasi adalah sumber, pesan, saluran, penerima dan efek (Ruslan,
2003:17). Proses ini juga dikenal dengan formula S-M-C-R-E, seperti yang
sudah dijelaskan dalam bagian sebelumnya.
D. Komunikasi Pemasaran atau Promosi8
Komunikasi merupakan sebuah proses sosial yang terjadi antara paling
sedikit dua orang dimana seseorang mengirimkan sejumlah simbol tertentu
kepada orang lain (Kennedy dan Soemanagara, 2006:4). Sedangkan pengertian
pemasaran adalah proses pemberian kepuasan kepada konsumen untuk
mendapatkan laba.(Kotler, 2004:5). Dari kedua defenisi di atas, dapat disimpulkan
bahwa pengertian komunikasi pemasaran adalah kegiatan komunikasi yang
ditujukan untuk menyampaikan pesan kepada konsumen dan pelanggan dengan
menggunakan sejumlah media dan berbagai saluran yang dapat dipergunakan
dengan harapan terjadinya tiga tahap perubahan, yaitu: perubahan pengetahuan,
perubahan sikap, dan perubahan tindakan yang dikehendaki.
8
Agus Hermawan. 2012. Komunikasi Pemasaran. Jakarta. Erlangga. Hal: 12
25
1.
Model Komunikasi Pemasaran
Ada
lima
model
komunikasi
dalam
pemasaran
(Kennedy
dan
Soemanagara, 1:2006) yaitu :
a. Iklan (Advertising)
Iklan (Advertising) adalah komunikasi massa melalui media surat kabar,
majalah, radio, televisi, dan media lain atau komunikasi langsung yang
didesain khusus untuk pelanggan antar bisnis (bussiness-to-bussiness)
maupun pemakai akhir.
b. Promosi Penjualan (Sales Promotion)
Promosi penjualan terdiri dari semua kegiatan pemasaran yang mencoba
merangsang terjadinya aksi pembelian suatu produk yang cepat atau
terjadinya pembelian dalam waktu yang singkat.
c. Hubungan Masyarakat (Public Relation)
Hubungan masyarakat yaitu sesuatu yang merangkum keseluruhan
komunikasi yang terencana, baik itu kedalam maupun keluar antara suatu
organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuantujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian.
26
d. Penjualan Perorangan (Personal Selling)
Penjualan perorangan yaitu suatu bentuk komunikasi langsung antara
seorang
penjual
dengan
calon
pembelinya
(person-to-person
communication). Dalam hal ini, penjual berupaya untuk membantu atau
membujuk calon pembeli untuk membeli produk yang ditawarkan.
e. Penjualan Langsung (Direct Selling)
Penjualan langsung adalah upaya perusahaan atau organisasi untuk
berkomunikasi secara langsung dengan calonpelanggan sasaran dengan
maksud untuk menimbulkan tanggapan dan atau transaksi penjualan.
2.
Tujuan Komunikasi Pemasaran
Kennedy dan Soemanagara (2006: 63) mengatakan komunikasi
pemasaran bertujuan untuk mencapai tiga tahap perubahan yang ditujukan
kepada konsumen, yaitu:
a. Tahap Perubahan Pengetahuan
Perubahan pengetahuan menunjukkan bahwa konsumen mengetahui
adanya keberadaan sebuah produk, untuk apa produk itu diciptakan, dan
ditujukan kepada siapa produk tersebut, dengan demikian pesan yang
disampaikan tidak lebih menunjukkan informasi penting dari produk.
27
b. Tahap Perubahan Sikap
Sikap (attitude) menggambarkan penilaian, perasaan, dan kecenderungan
yang relatif konsisten dari seseorang atas sebuah objek atau gagasan.
Adapun tahap perubahan sikap yang dimaksud berkaitan dengan pengaruh
komunikasi pemasaran terhadap penilaian konsumen atas suatu produk.
Dalam faktor sikap terdapat tiga komponen, yaitu (1) cognitive
component (kepercayaan terhadap merek): kepercayaan konsumen dan
pengetahuan tentang obyek, (2) affective component: emosional yang
merefleksikan perasaan seseorang terhadap suatu obyek (evaluasi merek),
apakah obyek tersebut diinginkan atau disukai, (3) behavioral component
(maksud untuk membeli): merefleksikan kecenderungan dan perilaku
aktual terhadap suatu obyek, yang mana komponen ini menunjukkan
kecenderungan melakukan suatu tindakan (Simamora, 2002: 14). Tahap
perubahan sikap dapat digambarkan sebagaimana berikut.
Gambar 2.2 Hubungan antar Tiga komponen sikap9
9
Ruslan, Rosady. 2010. Metode Penelitian: Public Relations dan Komunikasi. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
28
Perubahan sikap ini ditentukan oleh tiga unsur yang disebut sebagai
tricomponent attitude changes yang menunjukkan bahwa tahapan
perubahan sikap ditentukan oleh tiga komponen yaitu Cognition
(pengetahuan), Affection (perasaan), dan Conation (perilaku). Jika ketiga
komponen ini menunjukkan adanya kecenderungan terhadap sebuah
perubahan (kognitif, affektif, dan konatif) maka memungkinkan sekali
akan terjadi sebuah perubahan sikap.
c. Tahap Perubahan Perilaku
Perubahan Perilaku ditujukan agar konsumen tidak beralih kepada produk
lain, dan terbiasa untuk menggunakannya.
E. Regional Branding
Regional branding bertujuan membentuk citra (image) dan merefleksikan
perubahan identitas. Dorongan atas Regional branding adalah untuk mengirimkan
sinyal kepada pasar, mengkomunikasikan kepada stakeholder dalam memajukan
kesejahteraan masyarakat yang ada didalam wilayah tersebut.(arzia, 2007:7).
Regional branding adalah suatu upaya atau usaha yang dilakukan oleh kebijakan
pemerintah daerah untuk memberikan merek ke semua sumber daya yang ada agar
dimaksimalkan menjadi nilai jual kepada investor, turis, talent, ataupun event.
Dengan kata lain, ketika melakukan regional branding maka yang berubah ialah
nilai-nilai dalam merek itu sendiri.
1. Citra
Merupakan tujuan pokok sebuah perusahaan/tempat (corporate/place
image)
yang
baik
dimata
khalayak
29
atau
publiknya
akan
banyak
menguntungkan. Pengertian citra itu sendiri abstrak atau intangible, tetapi
wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian, penerimaan kesadaran dan
pengertian, baik semacam respek dari publik sekelilingnya atau dari
masyarakat luas terhadap tempat sebagai sebuah pemerintahan ataupun
terhadap personelnya (dipercaya, profesional dan dapat diandalkan dalam
pemberian pelayanan baik.) ( Ruslan, 2003:50). Citra wilayah terbentuk oleh
banyak hal. Hal-hal positif yang dapat meningkatkan citra sebuah instuisi
anatara lain:
a. Sejarah atau riwayat hidup wilayah yang gemilang.
b. Keberhasilan dibidang kemajuan yang pernah diraihnya.
c. Keberhasilan program kerja atau kebijakan pemerintahan yang dibuat.
d. Hubungan antar investor yang baik.
e. Reputasi sebagai pencipta lapangan kerja dalam jumlah besar.
f. Kesediaan turut memikul tanggung jawab sosial.
g. Komitmen mengadakan riset.
Citra wilayah yang baik dan kuat mempunyai manfaat-manfaat antara lain (1)
Daya saing jangka menengah dan panjang yang mantap,(2) menjadi perisai
selama masa kritis,(3) menjadi daya tarik eksekitif handal,(4) meningkatkan
efektifitas strategi pemasaran,(5) penghematan biaya operasional.
2. Brand
Adalah suatu kesan yang dirasakan oleh konsumen mengenai suatu produk atau
jasa. Brand adalah keseluruhan dari nilai-nilai tangible maupun intangible
yang menjadi keunikan pada suatu produk atau jasa. Brand bukan hanya
30
sebuah simbol yang membedakan produk satu sama lainnya, namun brand
adalah segala atribut yang datang kedalam pikiran konsumen saat memikirkan
produk tertentu. (Moilanen & Rainisto, 2009:6). Brand diciptakan dan dibentuk
didalam pikiran seseorang. Suatu brand dapat tercipta ketika sekumpulan orang
dalam kelompok tertentu memiliki pikiran yang sama akan kepribadian dari
suatu brand. Brand tidak diciptakan oleh desainer ataupun jajaran managerial
suatu perusahaan, melainkan dibentuk didalam pikiran konsumen. (Moilanen &
Rainisto, 2009:7).
Masyarakat secara konstan mengamati lingkungan di sekitarnya. Jika
pengamatan tersebut berhubungan dengan suatu brand, hal tersebut dinamakan
brand contacts. Untuk mengklasifikasikan sumber dari brand contacts, maka
dibagi 4 kategori yaitu :
a. Planned messages (advertising, brochures).
b. Product messages (physical settings, features).
c. Service messages (contacts in the service process).
d. Unplanned messages (word-of-mouth, news papers articles)
Sebuah brand tentu dibentuk dan diciptakan untuk memberikan manfaat, dimana
manfaat tersebut adalah sebagai berikut :
a. Sebuah brand merupakan suatu pembeda antara produk atau dengan
produk (pesaing) lainnya.
b. Sebuah brand menciptakan suatu emotional benefits untuk konsumen.
c. Sebuah brand dapat menjadi faktor penentu keputusan dari konsumen.
31
d. Sebuah brand melindungi sektor pemasaran dari suatu perusahaan dan
memberikan keuntungan stategis jangka panjang.
Istilah merek (brand) mempunyai pengertian yang luas. The American
Marketing Association dalam Basu Swastha merumuskan sebagai berikut:10
a. Brand adalah nama, istilah, symbol, atau desain atau kombinasi yang
dimaksudkan untuk memberi tanda barang atau jasa dari seseorang
penjual atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari barangbarang yang dihasilkan oleh pesaing.
b. Brand name terdiri atas kata-kata, huruf, dan atau angka-angka yang
dapat diucapkan.
c. Brand mark adalah bagian dari merek yang dinyatakan dalam bentuk
symbol,desain, atau warna atau huruf tertentu.
d. Trade mark adalah merek yang dilindungi oleh undang-undang karena
sudah didaftarkan kepada pemerintah dan perusahaan mempunyai hak
tunggal untuk menggunakannya (1984:135). Merek menurut Fandy
Tjiptono memilki beberapa tujuan, yaitu: (1) Identitas. Merek bermanfaat
untuk membedakan produk suatu perusahaan dengan produk pesaingnya.
Merek juga bermanfaat untuk memudahkan konsumen mengenali produk
saat berbelanja dan saat melakukan pembelian ulang. (2) Alat promosi.
Merek bermanfaat sebagai alat daya tarik produk. (3) Membina citra,
yaitu dengan memberikan keyakinan, jaminan kualitas serta prestise
tertentu kepada konsumen. (4) Mengendalikan pasar (1999:106).
10
Ibid hal: 13
32
Merek yang digunakan oleh suatu perusahaan tidak bisa sembarangan, karena
merek dapat menentukan persepsi konsumen terhadap produk. Merek yang
baik menurut Fandy Tjiptono harus memenuhi beberapa syarat sebagai
berikut:
1) Merek harus khas atau antik.
2) Merek harus menggambarkan sesuatu mengenai manfaat produk dan
pemakaiannya.
3) Merek harus menggambarkan kualitas produk.
4) Merek harus mudah diucapkan, dikenali dan diingat.
5) Merek harus dapat menyesuaikan diri (adaptable) dengan produk-produk
baru yang mungkin ditambahkan ke dalam lini produk (1998:108).
Merek adalah sebuah tanda (Jawa: ciri atau tengger) dengan mana
dipribadikan sebuah barang tertentu, dimana perlu juga dipribadikan asalnya
barang atau menjamin kualitetnya barang dalam perbandingan dengan barangbarang sejenis yang dibuat atau diperdagangkan oleh orangorang atau badanbadan perusahaan lain.(Soekardono,1983:149).11
Tanda dalam hal ini adalah tanda pengenal yang membedakan milik
seseorang dengan milik orang lain. Tanda pengenal ini telah digunakan sejak lama
untuk menandai produk dengan tujuan menunjukkan asal-usul barang.(Endang,
2005:7). Kemudian seiring dengan kemajuan perdagangan dunia, maka
perlindungan tanda pengenal mulai meningkat, tanda pengenal tersebut pada saat
ini lebih dikenal dengan merek. Merek sebagai tanda pengenal dapat
11
Ahmadi Miru, 2005, Hukum Merek Cara Mudah Mempelajari Undang-Undang Merek, PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 13.
33
menggambarkan jaminan kepribadian (individuality) dan reputasi barang dan jasa
hasil usahanya sewaktu diperdagangkan. Apabila dilihat dari sudut produsen,
merek digunakan sebagai jaminan hasil produksi, khususnya mengenai kualitas, di
samping untuk promosi barang-barang dagangannya guna mencari dan meluaskan
pasar. Selanjutnya, dari sisi konsumen, merek diperlukan untuk melakukan
pilihan-pilihan barang yang akan dibeli.(Wiratno, 1997:34).
Ada beberapa hal yang dapat di-branding-kan (diberi merek). Pemberian merek
tidak saja berlaku pada suatu produk atau layanan saja tetapi juga bisa terhadap
sebagai berikut :12
1. Retailer dan distributor
Retailer dan distributor bisa di-branding-kan, contohnya melalui produkproduk private label seperti tisu, gula, sampai pembersih lantai bermerek
Alfamart. Akibatnya banyak Retailer dan distributor semakin memiliki
power tinggi.
2. Orang
Orang dapat mem-branding-kan dirinya. Contohnya Syahrini sampai
Parris Hilton dapat mem-branding-kan dirinya dalam sebuah produk
pribadi seperti parfum sampai bulu mata. Hal tersebut dapat disebut
personal branding.
3. Organisasi
Contohnya Palang Merah Indonesia (PMI), Lembaga Bantuan Hukum
(LBH).
12
Jackie Ambadar, dkk., Mengelola Merek (Jakarta : Yayasan Bina Karsa Mandiri, 2007), hlm. 7-
8.
34
4. Perusahaan (Corporate Branding)
Contohnya Astra International, Unilever.
5. Berbagai Event Olahraga
Contohnya Piala Dunia, All England, NBA, PON dapat di-brandingkan
tujuannya untuk meningkatkan value-nya ke stakeholder. Piala Dunia
memiliki ekuitas merek yang sangat kuat sehingga selalu menarik
perhatian penonton di seluruh dunia dan mendatangkan “sponsor iklan”
miliaran dollar atau rupiah.
6. Karya Seni
Contohnya karya seni Van Gogh atau Affandi adalah sebuah merek yang
nilainya bisa mencapai jutaan dollar.
7. Tempat, Daerah, atau Daerah Wisata di Negara Tertentu
Contohnya D.I.Yogyakarta melakukan branding “ Jogja Istimewa “
Regional Branding (Merek Wilayah) “ Bela Beli Kulon Progo ” dalam hal
ini termasuk dalam kategori Tempat, Daerah, atau Daerah Wisata di
Negara Tertentu yang dapat di-branding-kan (diberi merek).
Merek bagi suatu daerah/kota di era otonomi daerah dapat meningkatkan
daya saing suatu wilayah menjadi sangat penting, wilayah yang tidak memiliki
daya saing tinggi akan tertinggal dari wilayah lain. Dalam konteks marketing,
wilayah yang ingin maju dan memenangi persaingan harus berhasil menerapkan
standar global, memiliki perspektif regional dan menjadi juara di tingkat lokal.
Salah satu konsep yang ditawarkan oleh para pakar marketing seperti Jack Trout
adalah diferensiasi. Porter juga merumuskan strategi bersaing yang dikenal
35
dengan strategi generic salah satunya adalah diferensiasi di samping strategi low
cost dan focus.(Porter, 1993:32).
Pada era otonomi daerah sekarang ini penataan percitraan sebuah daerah/kota
menjadi sangat penting. Merek Wilayah (Regional Branding) akan menjadi dasar
dan peluang pengembangan wilayah di masa depan. Pengembangan Merek
Wilayah (Regional Branding) menjadi langkah awal untuk mengarahkan wilayah
tersebut di masa depan. Maka, disinilah pentingnya merencanakan regional
branding bagi setiap daerah.
Konseptualisasi dan proses membangun Merek Kota/Daerah dalam dunia
pemasaran, brand digambarkan sebagai aset tidak berwujud (intangible assets).
Proses membentuk brand disebut branding. Menurut Philip K. dan Waldemar P,
Branding adalah tentang membawa hal yang biasa dan meningkatkanya dengan
cara-cara yang membuatnya menjadi lebih berharga dan berarti. Jadi suatu obyek
dengan diberi merek diharapkan dapat memberikan nilai tambah. Kunci utama
proses membangun merek sukses adalah kualitas, layanan, inovasi dan
diferensiasi.13
3. Strategi Regional Branding
Regional branding bukan hanya sebuah permasalahan tentang logo daerah ,
namun regional branding juga meliputi perubahan pesan, perubahan cara
pendekatan pada target pasar, pemberi jasa, atau bahkan perubahan mengenai apa
yang dijanjikan pada target pasar. Namun pada umumnya langkah-langkah teknis
dalam melakukan regional branding adalah sebagai berikut:
13
Philip K. dan Waldemar P., B2B Brand Management (terjemahan Natalia Ruth
Sihandrini) (Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer, 2006), hlm. 14.
36
a. Differentiation
Membedakan branding atau merk sebuah kota dan menonjolkan keunggulan
kota. Branding dan keunggulan kota itu harus berbeda dengan branding yang
sudah ada dan juga menunjukan perbedaan kualitas kota dibanding kota lain.
b. Relevance
Kota sebagai sebuah produk harus di-branding sesuai dengan kualitasnya.
Maksudnya adalah, jika sebuah kota tidak memiliki kualitas teknologi, jangan
melakukan branding kota itu sebagai kota teknologi.
c. Esteem
Dihargai oleh target market karena memiliki konsistensi antara branding
dengan kenyataan kualitas kota yang sebenarnya.
d.
Awareness
Memunculkan kesadaran target market akan sebuah kota. Langkah ini
penting. Jika branding tidak memunculkan kesadaran di dalam diri calon
investor atau wisatawan, maka branding ini dapat dikatakan gagal.
e. Mind
Branding memiliki kemampuan masuk ke dalam alam pikiran dan kesadaran
target market, sehingga sebuah kota selalu diingat, dibayangkan dan
dirindukan.
4. Brand-concept management (Konsep strategi penempatan merek)
Komunikasi pemasaran memiliki peran kunci dalam membentuk citra merek
dan dalam meningkatkan penjualan sebuah merek. Ketatnya situasi persaingan
usaha, perkembangan teknologi, dan perubahan perilaku konsumen membuat
37
pemasar harus menerapkan komunikasi pemasaran terpadu. Strategi penempatan
merek adalah salah satu strategi dalam komunikasi pemasaran terpadu. Strategi ini
dinilai lebih efektif dibandingkan strategi komunikasi program tayangan melalui
media televisi. Konsep strategi penempatan merek sudah ada sejak lama dan terus
berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Dengan
mempelajari, memahami dan mengimplementasikan strategi tersebut, perusahaan
dapat memaksimalkan sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan
komunikasi pemasaran secara efektif dan efisien.
Brand-concept management adalah upaya untuk meningkatkan ekuitas dan
loyalitas konsumen yang berkelanjutan. Dimana manajemen konsep merek ini
dapat didefinisikan sebagai proses perencanaan, implementasi, dan pengendalian
suatu konsep merek sepanjang masa hidup merek tersebut. Menyusun suatu
konsep atau arti merek yang spesifik dapat dicapai melalui pemenuhan salah satu
dati tiga kategori kebutuhan konsumen, yaitu kebutuhan fungsional, kebutuhan
simbolik, atau experiential. Konsumen mempunyai kebutuhan, sedangkan merek
mepunyai atribut dan cirri yang dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Oleh karena itu, manfaat merek adalah kemampuannya dalam memuaskan
kebutuhan konsumen.
Manajemen konsep merek yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
fungsional (functional needs) berusaha untuk menyediakan solusi bagi masalahmasalah konsumsi atau potensi permasalahan yang dapat dihadapi oleh konsumen.
Pemenuhan kebutuhan fungsional adalah bentuk yang paling nyata dari
manajemen konsep merek. Secara berkala, pemasar consumer goods juga
38
berusaha untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan kenyamanan, keamanan,
kesehatan, kebersihan, dan lain-lain. Keseluruhan itu merupakan kebutuhan
fungsional yang dapat dipenuhi oleh manfaat merek. Pemenuhan kebutuhan
simbolis (symbolic needs) diarahkan pada keinginan konsumen dalam upaya
memperbaiki diri, dihargai sebagai anggota dari suatu kelompok, afiliasi, dan rasa
memiliki. Manajemen konsep merek yang ditujukan bagi pemenuhan kebutuhan
simbolis ini berupaya mengasosiasikan kegunaan merek dengan kelompok, peran,
atau citra diri yang diinginkan. Pemenuhan kebutuhan experiential (experiential
needs) merupakan representasi dari keinginan mereka akan produk yang dapat
memberikan rasa senang, keanekaragaman, dan stimulasi kognitif. Manajemen
konsep merek ini diarahkan pada kebutuhan experiential mempromosikan merek
sebagai sesuatu yang istimewa dan mempunyai cita rasa yang tinggi atau kaya
dengan potensi stimulais kognitif.
F. Media Massa
Secara umum media massa dimengerti sebagai sumber berita dan hiburan.
Media massa juga memuat banyak pesan-pesan penting, serta pesan-pesan yang
bersifat persuasif untuk membawa audience-nya kepada pemahaman dan opini
yang berbeda mengenai suatu issue.
Melihat peranan media massa yang cukup signifikan dalam proses
komunikasi massa ini, maka penulis mencoba memaparkan apa saja yang
membuat media massa menjadi alat yang paling populer dalam hubungannya
dengan komunikasi massa. Berikut adalah hal - hal yang menjadikan media sangat
penting menurut John Vivian (2002:30) :
39
1.
Melalui media massa kita dapat mempelajari hampir segala sesuatu yang kita
ketahui tentang dunia ini dengan lebih dalam secara cepat dan tanpa batas
waktu. Apa yang kita lihat, rasakan, lakukan, atau alami selama ini, menjadi
suatu pelajaran lebih ketika sudah diberitakan atau ditayangkan melalui media
massa.
2.
Masyarakat yang berpengaruh dan maju baru akan tercapai di massa
demokrasi ini jika media massanya bekerja dengan baik. Salah satu tanggung
jawab media massa adalah memastikan bahwa “The public must be well
informated”.
3.
Masyarakat membutuhkan media massa sebagai penyalur ide, wawasan dan
aspirasi secara lebih luas dan menyebar. Biar bagaimanapun, masyarakatpun,
butuh eksistensi dengan menjadi partisipan dalam kinerja media massa.
4.
Pihak yang lebih berkuasa dapat memanfaatkan media massa secara lebih
fungsional untuk mempengaruhi audience dengan ideoligi atau kebijakan
yang mereka perbuat baik untuk kepentingan bersama maupun kepentingan
komersial.
Media massa, sebagai media yang menunjang komunikasi pemasaran terbagi atas
2 jenis, yaitu :
1.) Media Elektronik
Media elektronik meruapakan media komunikasi atau media massa yang
menggunakan alat-alat elektronik (mekanis), media elektronik kini terdiri dari
(Deddy Iskandar, 2005:4) :
40
a.
Radio
b.
Film
c.
Televisi
d.
Internet
2.) Media Cetak
Media cetak adalah suatu media statis yang mengutamakan fungsinya sebagai
media penyampaian informasi, maka media cetak terdiri dari lembaran
dengan sejumlah kata.
G. Televisi
Televisi merupakan barisan yang paling belakang yang hadir sebagai
kekuatan bisnis di Indonesia. Tetapi kemampuan media televisi tidak bisa
diragukan lagi, televisi merupakan salah satu media yang mempunyai kekuatan
terbesar dalam membuat agenda setting bagi permisanya.
Televisi sebagai bagian dari kebudayaan audio-visual baru merupakan satu
media massa yang paling kuat pengaruhnya dalam pembentukkan sikap dan
kepribadian seseorang secara luas. Televisi mampu menekan pesan secara
efektif dengan memusatkan pandangan pemirsa melalui ilustrasi visual, tata
gerak, warna, dan berbagai bunyi atau suara. Tidak mengherankan televisi
memiliki daya tarik luar biasa jika sajian program acara tersebut menyesuaikan
dengan karakter televisi dan pemirsa yang terpengaruh oleh televisi (Wibowo,
1997:1).
Perkembangan teknologi televisi memang banyak berakar di Amerika
Serikat, namun demikian buka berarti di negara-negara lain, terutama eropa
41
barat, teknologi pertelevisian tidak dikembangkan. Pemerintah Jerman
mengawali menyiarkan layanan siaran televisi non eksperimental pada tahun
1935. Di Inggris, siaran British Broadcasting Corporation (BBC) diawali
beberapa tahun kemudian. Di Amerika Serikat sendiri, siaran komersial dari
stasiun televisi dimulai pada tahun 1941 ketika WCBW (yang kemudian
berganti nama menjadi WCBS-TV) dan WNBT (yang selanjutnya berubah
menjadi WNBC-TV) mengawali siaran di New York.(Schement,2002:1024).
1. Karakteristik Televisi
Televisi mempunyai karakternya sendiri yang kuat. Televisi adalah media
massa yang dihadirkan dengan tampilan suara dan gambar yang benar-benar
bersifat untuk menghibur dan cara cepat untuk mengetahui berita atau
informasi yang ingin kita dapatkan. Karakteristik televisi antara lain (Elvinaro
dan Erdinaya, 2004:127) :
a) Audiovisual
Televisi memiliki kelebihan dibandingkan media penyiaran lainnya yaitu
dapat didengar sekaligus dilihat, disebut juga audiovisual.
b) Berpikir dalam gambar
Kita dapat menerjemahkan kata-kata yang mengandung gagasan yang
menjadi gambar secara individual dan merangkai gambar-gambar
individual sedemikian rupa, sehingga mengandung makna tertentu.
c) Pengoperasian lebih kompleks
Dibandingkan dengan radio siaran, pengoperasian televisi jauh lebih
kompleks, dan lebih banyak melibatkan orang. Peralatan yang
42
digunakanpun lebih banyak dan untuk mengoperasikannya lebih rumit
dan harus dilakukan oleh orang-orang yang terampil dan terlatih.
2. Program Televisi
Program televisi merupakan acara-acara yang ditayangkan oleh stasiun
televisi. Program televisi adalah sebagai penjadwalan atau perencanaan siaran
televisi dari hari ke hari (horizontal prorgamming) dan dari jam ke jam
(vertical programming) setiap harinya. Media televisi hanya mengistilahkan
programming atau pemprograman (soenarto, 2007:1). Sedangkan menurut
rukmanda (2004: 213), programming adalah teknik penyusunan program
televisi yang ditayangkan secara berurutan. Stasiun televisi setiap harinya
menyajikan berbagai jenis program acara yang jumlahnya sangat banyak dan
jenisnya sangat beragam. Pada dasarnya apa saja bisa dijadikan program untuk
ditayangkan di televisi selama program itu menarik dan disukai audience dan
selama tidak bertentangan dengan kesuliaan, hukum dan peraturan yang
berlaku. Penciptaan program baru harus terus dilakukan karena manusia yang
mempunyai sifat bosan. Sikap kreatif menjadi faktor yang paling penting
dalam memproduksi program televisi.
3. Jenis – Jenis Program Televisi
Secara garis besar, program TV dibagi menjadi dua berdasarkan dari isi
dari program tersebut, yakni program informasi atau berita dan program
hiburan atau non-berita. Sebuah program siaran mempunyai karakteristik
tertentu yang dapat memengaruhi, memprovokasi dalam hal positif maupun
negatif dan mampu mengubah sikap seseorang dari pendiam menjadi agresif.
43
a. Program berita (news)
Program berita (news) adalah segala informasi penting dan daya tarik yang
harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena sifatnya yang harus
segera ditayangkan agar dapat diketahui oleh khalayak secepatnya.
Program berita ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Berita keras (hardnews)
Merupakan segala informasi yang penting yang harus segera
disiarkan oleh media massa agar dapat diketahui khalayak
secepatnya. Hardnews dapat dibagi lagi menjadi tiga,yakni straight
news, features dan infotaiment.
2) Berita lunak (softnews)
Segala informasi yang penting dan menarik yang disampaikan secara
mendalam, namun tidak bersifat harus segera ditayangkan. Program
softnews merupakan kombinasi dari fakta dan opini.
b. Program non – berita (hiburan)
Program hiburan merupakan segala bentuk siaran yang bertujuan untuk
menghibur audience dalam bentuk musik, lagu,cerita, dan permainan.
Program yang temasuk dalam ketegori hiburan adalah drama, musik, dan
permainan (game). Dibagi menjadi 2 acara program non-berita :
1) Acara Drama
Format program siaran televisi yang di produksi dalam bentuk drama,
dengan menitik beratkan pada pendekatan cerita fiksi. Macammacam acara drama televisi : (1) Drama Seri format program siaran
44
televisi yang ditayangkan dalam bentuk serial bersambung. (2)
Drama Percintaan format program siaran televisi yang diproduksi
dengan mengutamakan esensi cerita tentang percintaan dalam
kehidupan manusia. (3) Drama Legenda format siaran televisi yang
mengutamakan esensi cerita tentang legenda yang terjadi pada masa
yang telah lampau. (4) Drama Horor format siaran televisi yang
diproduksi mengutamakan esensi cerita tentang supra natural
bersuasana horor, biasanya disajikan dalam bentuk cerita mistik. (5)
Drama Aksi format siaran drama televisi yang diproduksi
mengutamakan unsur laga (action) dlm setiap bagian cerita, biasanya
disajikan dengan menggunakan teknik trik-trik, efek audio visual. (6)
Drama Komedi format siaran drama televisi yang diproduksi dengan
mengutamakan cerita dalam bentuk komedi. (7) Drama Musikal
perpaduan antara format program siaran drama dan non-drama
dengan menampilkan cerita drama yang disajikan dalam bentuk
musical. (8) Dokudrama format program siaran drama televisi yang
merupakan perpaduan antara unsur dokumentasi dan drama, biasanya
diangkat dari kisah-kisah faktual yang diceritakan kembali sesuai
dengan kisah-kisah tersebut.
2) Acara Non Drama
Format program siaran televisi yang diproduksi dalam bentuk acara
non-drama dengan menitikberatkan pada pendekatan cerita non fiksi.
Macam-macam acara televisi non drama : (a) Talk Show format
45
program siaran non-drama televisi yang diproduksi dan disajikan
dalam bentuk bincang-bincang dengan mengutamakan esensi kepada
isi masalah pembicaraan. (b) Variety Show format program siaran
non-drama televisi dengan memadukan atau memvisualkan berbagai
format acara dalam satu produksi dikemas dalam bentuk hiburan. (c)
Magazine Show format program siaran non-drama televisi yang
dikemas dalam sebuah majalah udara dengan berbagai macam jenis
rubrik didalamnya, dalam bentuk informasi. (d) Music Consert
format program siaran non-drama televisi dengan mengutamakan
penampilan permainan musik dari sebuah grup musik atau kombinasi
berbagai jenis music. (e) Kuis, Game Show format program siaran
televisi dengan mengandalkan permainan dalam bentuk keahlian
wawasan pengetahuan dari peserta, dikemas dalam bentuk hiburan
dan informasi. (f) Feature format program siaran dengan bentuk
laporan tentang kisah-kisah nyata yang terjadi di masyarakat dengan
tidak mengenal batasan waktu kejadian. (g) Olah Raga (Sport)
format program siaran yang menyajikan tayangan faktual Olah Raga
dengan berbagai informasi yang membantu pemirsa menikmati
pertandingan.14
H. Televisi Sebagai Media Komunikasi Pemasaran
Media penyampaian pesan memegang peranan penting dalam proses
komunikasi. Tanpa media, pesan tidak akan sampai pada khalayak/audiens yang
Sumber presentasi “ desain program Tv dan produksi audio visiual “ fadeyanto Prabowo dosen universitas
mercu buana Yogyakarta tanggal 6 April 2015.
14
46
diinginkan. Oleh karena itu, pemelihan media yang tepat akan sangat menentukan
apakah pesan yang diinginkan disampaikan pada audiens sasaran akan sampai
atau tidak.(Sutisna,2002:283).
Media massa seperti televisi dapat meliputi segala cakupan yang memuat atau
membawa pesan-pesan tujuan yang ingin dicapai kepada para audiens. Pemilihan
media yang tepat untuk mempromosikan sebuah program atau gerakan dari
sebuah instansi dalam rangka membuat para audiens menjadi tahu, paham,
menentukan sikap, hingga melakukan tindakan adalah suatu langkah yang penting
dalam kegiatan regional branding. Dalam promosi, komunikator (Pemerintah)
dapat memilih satu maupun dua media untuk menyampaikan pesan yang ingin
disampaikan. Media-media tersebut ialah media lini atas (above-the-line) maupun
media lini bawah (below-the-line). Media lini atas (above-the-line) adalah bentuk
promosi atau iklan yang menggunakan media primer sperti media elektronik
maupun cetak. Penggunaan media lini atas memliki kelebihan dalam menjangkau
jumlah audiens yang besar, namun hal ini juga membuat biaya yang harus
dikeluarkan sebuah instansi/perusahaan untuk promosi/iklan menjadi bertambah.
Sedangkan media lainnya adalah media lini bawah (below-the-line), media ini
adalah media-media minor yang digunakan untuk mempromosikan produk.
Meskipun dianggap menjadi media minor, namun beriklan/promosi pada media
lini bawah juga memiliki peranan penting dalam suatu program promosi. Hal ini
disebabkan karena media lini bawah dalam hal-hal tertentu bisa menjadi lebih
efektif, tergantung bentuk promosi dan program yang akan dilakukan oleh
pengiklan.(Jefkins, 1995:88).
47
Televisi merupakan media komunikasi yang menyediakan berbagai informasi
yang update, dan menyebarkannya kepada khalayak umum. Baksin (2006 : 16)
mendefisinikan bahwa televisi merupakan hasil produksi teknologi tinggi (hi-tech)
yang menyampaikan isi pesan dalam bentuk audiovisual gerak. Isi pesan
audiovisual gerak memiliki kekuatan yang sangat tinggi untuk mempengaruhi
mental, pola pikir, dan tindakan individual.
Lebih luas lagi dinyatakn bahwa televisi adalah sistem pengambilan gambar,
penyampaian, dan penyuguhan kembali gambar melalui tenaga listrik. Gambar
tersebut ditangkap dengan kamera televisi, diubah menjadi sinyal listrik, dan
dikirim langsung lewat kabel listrik kepada pesawat penerima.15
Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa televisi adalah
sistem elektronik yang menyampaikan suatu isi pesan dalam bentuk audiovisual
gerak dan merupakan sistem pengambilan gambar, penyampaian, dan penyuguhan
kembali gambar melalui tenaga listrik. Dengan demikian, televisi sangat berperan
dalam mempengaruhi mental, pola pikir khalayak umum karena sifatnya yang
audiovisual merupakan media yang dianggap paling efektif dalam menyebarkan
nilai-nilai yang konsumtif dan permisif.
Disamping memiliki kelebihan-kelebihan, media televisi juga memiliki
kelemahan-kelemahan sebagai media pemasaran. Menguraikan kelebihan dan
kelemahan tersebut sebagaimana.
15
Sumber : Ensiklopedia Indonesia (dalam Parwadi, 2004: 28)
48
1. Kelebihan media televisi :
a) Mampu menjangkau khalayak sasaran yang luas.
b) Mempunyai dampak yang sangat kuat terhadap konsumen dan target,
karena menekankan pada dua indera sekaligus, yaitu pengelihatan dan
pendengaran.
2. Kelemahan media televisi :
a) Biaya yang dikeluar besar, termasuk biaya untuk melakukan perubahan
program acara.
b) Sulit melakukan segmeentasi, karena khalayak yang dijangkau tidak
selektif, sebab acara televisi disaksikan oleh semua lapisan masyarakat
yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
I.
Penelitian Terdahulu
Beberapa peneletian terdahulu yang berkaitan dengan skripsi ini dapat
diuraikan dalam Tabel :
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No
1.
Peneliti dan
Judul
Penelitian
Dewi Udhany
(2009)
Judul :
Efektifitas
Branding dalam
Pencitraan Kota
(Studi
Korelasi antara
Efektivitas
Branding Solo
The Spirit of
Permasalahan
Kesimpulan
1. Kesan dan manfaat
1. 46% mengenal brand
menurut masyarakat
pada tahun 2006, 48%
Kota Surakarta dari
mengenalnya setelah
brand SSOJ.
tahun 2007
2. Kesadaran merek,
2. 70% mengaku paham
segmentasi, target,
akan brand SSOJ, 24%
diferensiasi, promosi dan
kurang paham dan 6%
pelayanan.
tidak tahu
3. 61% menganggap
sudah sesuai, 34%
kurang sesuai, 5%
49
Java dengan
Pencitraan Kota
Solo menurut
Masyarakat
Kota Surakarta
Tahun 2009 di
Surakarta)
2.
Zakia Wardani
(2011)
Judul :
Persepsi Pelaku
Bisnis
Pariwisata
terhadap
Regional
Branding Solo,
The Spirit of
Java.
1. Keragaman persepsirespon para pelaku
bisnis; identifikasi
faktor-faktor pembentuk
persepsi pelaku bisnis
terhadap regional
branding SSOJ.
50
tidak tahu
4. 60% menganggap
penggunaan brand
kurang efektif, 35%
efektif dan 5% tidak
tahu. Penelitian ini
juga memberikan
rekomendasi agar
segmentasi konsumen
dalam brand SSOJ
perlu difokuskan lagi.
1. Adanya persepsi
terhadap Solo Raya
82% tinggi, 18%
sedang.
2. sikap terhadap brand
70% mendukung, 26%
netral, 4% menolak
3. Harapan berupa
penambahan even
budaya (58%),
pembatasan
modernisasi
pembangunan (32%),
dan pelestarian cagar
budaya (16%).
4. Sementara itu,
ditemukan pula adanya
faktor-faktor yang
berkorelasi positif
terhadap pembentukan
persepsi, yakni:
pendapatan, usia,
tingkat pendidikan, dan
status di perusahaan.
Download