Artikel Tiyono - Fakultas Hukum UNSOED

advertisement
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
Alamat : Jalan Prof. Dr. H.R. Boenyamin No.708 Grendeng Purwokerto 53122
Telp/Fax : (0281) 638339 email : [email protected] website : http: //fh.unsoed.ac.id
ARTIKEL ILMIAH
Judul
: PERUBAHAN PEMILIHAN EKSEKUTIF (Suatu Studi Tentang
Pemilihan Umum Presiden Secara Langsung Berdasarkan UUD 1945
Setelah Amandemen)
Nama
: SUTIYONO
NIM
: EIE008012
Angkatan
: 2008
Pembimbing I : Satrio Saptohadi, S.H. M.H.
Pembimbing II : Tenang Haryanto, SH. MH.
Program Studi : Ilmu Hukum
Bagian
: Hukum Tata Negara
A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan amandemen UUD 1945 ditegaskan bahwa presiden dipilih secara
langsung oleh rakyat. Pasal 6A UUD 1945 dalam hal ini menentukan:
(1) Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh
rakyat.
(2) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau
gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan
pemilihan umum.
(3) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapat suara lebih dari
lima puluh persen dari jumlah suara pemilih dengan sedikitnya dua puluh persen
suara di setiap propinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah propinsi di
Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden.
(4) Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dua
pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam
pemilu dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh
suara terbanyak dilantik sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden.
(5) Tata cara pelaksanaan pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden lebih
lanjut diatur dengan Undang-undang.
Peraturan pelaksanaan dari ketentuan mengenai pemilihan umum eksekutif
sebagaimana ditegaskan pada Pasal 6A UUD 1945 adalah UU No. 42 Tahun 2008
tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
2
Berkaitan dengan pemilihan umum presiden secara langsung, Jimly
Asshiddiqie berpendapat:
Pemilihan umum presiden secara langsung oleh rakyat yang telah diadopsikan
ke dalam rumusan UUD 1945 telah memberi landasan konstitusional yang
kuat. Sesuai prinsip sistem pemerintahan presidentil, calon Presiden dan calon
Wakil Presiden dipilih dalam satu paket, karena kedua jabatan ini dipandang
sebagai satu kesatuan institusi kepresidenan. Tujuan pemilihan umum
presiden secara langsung adalah untuk memilih pemimpin yang memperoleh
dukungan yang kuat dari rakyat dalam rangka tercapainya tujuan nasional
sebagaimana diamanatkan UUD 1945.1
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan, bagaimanakah pemilihan umum Presiden secara langsung
berdasarkan UUD 1945 setelah amandemen ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemilihan umum Presiden secara
langsung berdasarkan UUD 1945 setelah amandemen.
D. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu
hukum, khususnya Hukum Tata Negara..
2. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pemahaman tentang
pemilihan umum perubahan pemilihan presiden secara langsung berdasarkan
Undang-Undang Dasar 1945.
E. Metode Penelitian
1. Metode pendekatan
2. Spesifikasi penelitian
3. Sumber bahan hukum
4. Metode pengumpulan
bahan hukum
: Pendekatan perundang-undangan
: Deskriptif
: Bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder
: Identifikasi kemudian inventarisasi terhadap peraturan
perundang-undangan dan buku kepustakaan.
5. Analisis bahan hukum : Normatif kualitatif
1
Jimly Asshiddiqie. 2002. Konsolidasi Naskah Undang-Undang Dasar 1945 Setelah
Perubahan Keempat. Pusat Studi HTN Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Jakarta. hal. 8
3
F. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Hasil Penelitian
Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden sebagai pencerminan dari
pelaksanaan demokrasi langsung berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 setelah
amandemen diatur dalam Pasal 6A yang menentukan sebagai berikut:
(1) Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh
rakyat.
(2) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau
gabungan partai politik peserta pemilu sebelum pelaksanaan pemilu.
(3) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari
lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya
dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah
jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden.
(4) Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dua
pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam
pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung, dan pasangan yang
memperoleh suara rakyat terbanyak dilanti sebagai Presiden dan Wakil
Presiden.
(5) Tata cara pelaksanaan pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden lebih
lanjut diatur dalam undang-undang.
Undang-undang yang dibentuk sebagai peraturan pelaksanaan Pasal 6A UUD
1945 tersebut adalah UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden
dan Wakil Presiden. Berdasarkan UU No. 42 Tahun 2008 diantaranya mengatur
tentang hal-hal sebagai berikut:
a. Asas, Pelaksanaan, dan Lembaga Penyelenggara Pemilu Presiden dan
Wakil Presiden
Asas pelaksanaan pemilu diatur pada Pasal 2. Pelaksanaan pemilu
dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali di seluruh wilayah negara secara serentak
pada hari libur atau hari yang diliburkan, sebagaimana diatur pada Pasal 3.
Penyelenggara pemilu adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pengawasan
penyelenggaraan pemilu adalah Bawaslu, hal ini sebagaimana diatur pada Pasal
4.
b. Persyaratan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden dan Tata Cara
Penentuan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden
Persyaratan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden diatur pada Pasal 5
Pasal 6 mengatur tentang keharusan bagi pejabat yang dicalonkan sebagai calon
Presiden atau calon Wakil Presiden untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
4
Pasal 8 selanjutnya menentukan tata cara penentuan pasangan calon Presiden
dan Wakil Presiden. Pasal 9 mengatur tentang partai politik atau gabungan partai
politik yang dapat mengajukan pasangan calon adalah yang memenuhi persyaratan
perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi DPR atau
memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam Pemilu
anggota DPR.
c. Pengusulan Bakal Calon Presiden dan Wakil Presiden dan Penetapan
Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden
Pendaftaran bakal pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden baik oleh
partai politik maupun gabungan partai politik diatur pada Pasal 13. Pasal 14
mengatur tentang persyaratan pendaftaran bakal pasangan calon. Pasal 15 mengatur
tentang persyaraan administratif yang harus diserahkan oleh Partai Politik atau
Gabungan Partai Politik dalam mendaftarkan bakal Pasangan Calon ke KPU
d. Hak Memilih
Ketentuan mengenai hak memilih dari warga negara Indonesia diatur pada
Pasal 27. Hak memilih dapat digunakan dalam pemilihan apabila hak tersebut telah
terdaftar sebagai pemilih, sebagaimana diatur pada Pasal 28
e. Penyusunan Daftar Pemilih
Pasal 29 mengatur tentang Pemutakhiran Daftar Pemilih Sementara.
f. Kampanye
Pelaksanaan kampanye dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip jujur, terbuka,
.dialogis serta bertanggung jawab, sebagaimana diatur pada Pasal 33. Pasal 35 lebih
lanjut mengatur tentang pelaksana kampanye. Pasal 94 mengatur tentang dana
kampanye pemilu Presiden dan Wakil Presiden merupakan tanggung jawab dari
Pasangan Calon, yang dapat berasal dari Pasangan Calon, partai politik dan/atau
gabungan partai politik, serta dari pihak lain. Pasal 95 lebih lanjut mengatur tentang
dana kampanye yang berasal dari pihak lain. Jumlah nominal terbanyak dana
kampanye baik yang berasal dari perseorangan maupun kelompok, perusahaan, atau
badan usaha nonpemerintah dibatasi pada batas maksimal sebagaimana diatur pada
Pasal 96. Pasal 97 lebih lanjut mengatur mengenai pemanfaatan, pembukuan dan
pelaporan dana kampanye berupa uang serta sumbangan dalam bentuk barang
dan/atau jasa. Pasangan Calon dilarang menerima dana kampanye dari pihak asing,
penyumbang yang tidak benar dan tidak jelas identitasnya, hasil tindak pidana,
5
pemerintah, pemerintah daerah, badan usaha milik negara dan badan usaha milik
daerah, serta pemerintah desa dan badan usaha milik desa. Hal ini sebagaimana
diatur pada Pasal 103
g. Pemungutan Suara
Pasal 111 mengatur tentang Pemungutan suara yang dilakukan di TPS.
Pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden paling lama 3 (tiga) bulan
setelah pemilu legislatif diatur pada Pasal 112. Penghitungan suara dilakukan di
TPS/TPSLN setelah pemungutan suara berakhir dan hanya dilakukan dan
diselesaikan di TPS/TPSLN yang bersangkutan pada hari pemungutan suara. Hal ini
sebagaimana diatur pada Pasal 132. Pelaksana penghitungan suara adalah
KPPS/KPPSLN disaksikan oleh saksi Pasangan Calon, Pengawas Pemilu, Pengawas
Pemilu Luar Negeri, Pemantau Pemilu, dan masyarakat. Hal ini sebagaimana diatur
pada Pasal 133. Pasal 137 mengatur tentang dugaan adanya pelanggaran,
penyimpangan, dan/atau kesalahan dalam pelaksanaan penghitungan suara dapat
dilaporkan oleh Pasangan Calon, saksi Pasangan Calon, Pengawas Pemilu, dan
masyarakat. Rekapitulasi penghitungan suara di kecamatan oleh PPK diatur pada
Pasal 141. Pasal 143 lebih lanjut menentukan tentang Rekapitulasi hasil
penghitungan perolehan suara di PPK. Rekapitulasi penghitungan suara di
kabupaten/kota dilakukan oleh KPU kabupaten/kota Pasal 148 mengatur tentang
rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara di KPU kabupaten/kota dituangkan
ke dalam berita acara rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara dan sertifikat
rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara Pasangan Calon dengan
menggunakan format yang ditetapkan dalam peraturan KPU.
Rekapitulasi penghitungan suara di provinsi dilakukan oleh KPU provini, hal
ini sebagaimana diatur pada Pasal 150. Pasal 152 selanjutnya mengatur tentang
Rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara di KPU provinsi dituangkan ke
dalam berita acara rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara dan sertifikat
rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara Pasangan Calon dengan
menggunakan format yang ditetapkan dalam peraturan KPU. Rekapitulasi
penghitungan suara secara nasional dilakukan oleh KPU, sebagaimana diatur pada
Pasal 153. Pasal 154 lebih lanjut mengatur tentang kewajiban Bawaslu untuk
menyampaikan laporan atas dugaan adanya pelanggaran, penyimpangan, dan atau
6
kesalahan dalam pelaksanaan rekapitulasi penghitungan suara Pasangan Calon
kepada KPU. Pasal 155 selanjutnya menegaskan tentang Rekapitulasi hasil
penghitungan perolehan suara di KPU dituangkan ke dalam berita acara rekapitulasi
hasil penghitungan perolehan suara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan
perolehan suara Pasangan Calon dengan menggunakan format yang ditetapkan
dalam peraturan KPU.
h. Penetapan Hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
Pasal 158 menegaskan tentang penetapan hasil rekapitulasi penghitungan
suara dan pengumuman hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dilakukan oleh
KPU dalam sidang pleno terbuka yang dihadiri oleh Pasangan Calon dan Bawaslu
i.
Penetapan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Terpilih
Ketentuan mengenai Pasangan Calon yang memenangkan pemilu dan
ketentuan mengenai pemilihan putaran kedua, diatur pada Pasal 159. Pasal 160 lebih
lanjut menentukan bahwa Pasangan Calon terpilih ditetapkan dalam sidang pleno
KPU dan dituangkan dalam berita acara hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
j. Pelantikan
Pasangan Calon yang terpilih dalam pemilihan umum dan telah ditetapkan
oleh KPU dalam sidang pleno, selanjutnya dilantik oleh MPR menjadi Presiden dan
Wakil Presiden. Pada Pasal 161
k. Penyelesaian Pelanggaran Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan
Penyelesaian Perselisihan Hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
Laporan pelanggaran pemilu Presiden dan Wakil Presiden dapat disampaikan
oleh warga Negara Indonesia yang mempunyai hak pilih, Pemantau Pemilu Presiden
dan Wakil Presiden, atau Pasangan calon/tim kampanye kepada Bawaslu, Panwaslu
provinsi, Panwaslu kabupaten/kota, Panwaslu kecamatan, Pengawas Pemilu
Lapangan, dan Pengawas Pemilu Luar Negeri. hal ini diatur pada Pasal 190.
Pelanggaran pidana pemilu Presiden dan Wakil Presiden diselesaikan melalui
pengadilan dalam lingkup pengadilan umum diatur pada Pasal 195. Penyidikan atas
dugaan tindak pidana pemilu dilakukan oleh Penyidik Kepolisian, sebagaimana
diatur pada Pasal 196. Pasal 198 mengtatur tentang kewenangan memeriksa,
mengadili, dan memutus perkara pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden adalah
Pengadilan Negeri. Pasal 199 lebih lanjut mengatur tentang putusan pengadilan atas
dugaan tindak pidana pemilu. Masa waktu penyelesaian perkara tindak pidana
7
pemilu adalah paling lama 5 (lima) hari sebelum KPU menetapkan hasil pemilu. Hal
ini sebagaimana diatur pada Pasal 200. Pasal 201 selanjutnya mengatur tentang
pengajuan keberatan penetapah hasil pemilu hanya dapat diajukan oleh Pasangan
Calon kepada Mahkamah Konstitusi.
l.
Ketentuan Pidana
Ketentuan pidana pemilu dan sanksi yang dijatuhkan atas tindak pidana
pemilu dimaksud, diatur pada Pasal 202. Pasal 203 lebih lanjut mengatur tentang
ancaman pidana penjara dan denda. Kekerasan atau ancaman kekerasan yang
dilakukan seseorang untuk menghalang-halangi orang lain agar terdaftar sebagai
pemilih pidana sebagaimana ditentukan pada Pasal 204. Ketentuan pidana bagi
anggota KPU yang tidak menindaklanjuti temuan Bawaslu dalam melaksanakan
verifikasi kebenaran dan kelengkapan administrasi Pasangan Calon diatur pada
Pasal 205. Masukan dari masyarakat dan Pasangan Calon mengenai Daftar Pemilih
Sementara namun tidak ditanggapi anggota KPU, KPU provinsi, KPU
kabupaten/kota, dan PPS atau dengan sengaja tidak mengumumkan dan/atau tidak
memperbaiki Daftar Pemilih Sementara, mendapatkan ancaman pidana sebagaimana
diatur pada Pasal 206
Temuan Bawaslu, Panwaslu provinsi, Panwaslu kabupaten/kota, Panwaslu
kecamatan, Pengawas Pemilu Lapangan, dan Pengawas Pemilu Luar Negeri tentang
penyusunan dan pengumuman Daftar Pemilih Sementara, perbaikan Daftar Pemilih
Sementara, penetapan Daftar Pemilih Tetap, yang merugikan Warga Negara
Indonesia yang memiliki hak pilih, namun tidak ditindaklanjuti oleh anggota KPU,
KPU provinsi, KPU kabupaten/kota, PPK, PPS, dan PPLN, mendapatkan ancaman
hukuman pidana sebagaimana diatur pada Pasal 207
2. Pembahasan
a. Sistem Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia Sebagai
Wujud Demokrasi Perwakilan
Sistem demokrasi yang ada di Indonesia salah satunya adalah yang berkaitan
dengan partisipasi rakyat secara langsung dalam mekanisme pemerintahan. Dalam
prosesnya, sistem kedaulatan rakyat ini diimplementasikan melalui sistem yang
langsung
(direct
democracy)
dan
sistem
perwakilan
(indirect
2
democracy/representative democracy).
2
Rosa Ristawati. 2009. Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden Indonesia Dalam
Kerangka Sistem Pemerintahan Presidensiil. Jurnal Konstitusi Volume II Nomor 1 Juni 2009.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. hal. 13
8
Mekanisme ini terwujud dalam suatu sistem pemilu langsung yang disebutkan
dalam ketentuan Pasal 22E (2) UUD 1945 yang menegaskan sebagai berikut:
Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan
Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.
Sedangkan representative democracy diimplementasikan melalui DPR dan DPD.
Representative democracy dimaknakan sebagai mekanisme perwakilan representation.3
Proses pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia dipandang sebagai
suatu proses yang berbeda dan dibedakan secara tegas dari proses pemilihan umum
untuk mengisi keanggotaan lembaga perwakilan rakyat (DPR). Secara konsep
pemilihan umum (general election) dan pemilihan presiden (presidential election)
merupakan hal yang berbeda. Pemilihan presiden merupakan perwujudan dianutnya
kedaulatan rakyat (demokrasi) untuk memilih pemimpin secara langsung (direct
democracy), sementara itu, untuk pemilihan umum legislatif adalah sebuah mekanisme
untuk memilih wakil-wakil rakyat sebagai perwujudan kedaulatan rakyat untuk
mengendalikan dan mengawasi jalannya pemerintahan melalui sistem perwakilan
(indirect democracy).
Mekanisme pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung oleh rakyat
dalam jangka waktu yang pasti memberikan konsekuensi terhadap kedudukan lembaga
eksekutif tersebut untuk tidak tergantung pada dinamika lembaga-lembaga negara yang
lain. Hubungan ini juga memungkinkan terciptanya stabilitas kelembagaan yang
berimplikasi terhadap kemungkinan tercapainya pemerintahan yang kuat dan stabil.
Sementara itu makna presiden terpilih dalam jangka waktu yang pasti diharapkan
mampu untuk melaksanakan kebijakan publik secara terencana dan responsif atau
dengan kata lain secara efektif.4
b. Mekanisme Pemilihan Presiden Menurut UU No. 42 Tahun 2008 tentang
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden
Sistem pemilihan umum dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di
Indonesia, dasar hukumnya adalah Pasal 6A ayat (3) UUD 1945, yang menegaskan
bahwa:
Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari
lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya
dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah
jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden.
3
4
Ibid. hal. 13
Ibid. hal. 14.
9
Apabila tidak tercapai persentase yang dimaksud, Pasal 6A ayat (4) UUD 1945
memberikan kemungkinan adanya pemilihan umum presiden putaran kedua, sebagai
berikut:
Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dua
pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam
pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang
memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka pemilihan presiden dan wakil presiden di
Indonesia dilakukan dengan mengadopsi prinsip demokrasi berdasarkan prinsip
mayoritas absolut (absolute majority) dan mayoritas sederhana (simple majority).
Prinsip mayoritas absolut diterapkan apabila telah diperoleh pasangan calon yang
memperoleh suara lebih dari 50% yang kemudian akan dilantik menjadi presiden dan
wakil presiden.5
Lebih lanjut hal ini diatur dalam pasal 159 ayat (1) UU No. 42 Tahun 2008 yang
menyebutkan bahwa:
Pasangan Calon terpilih adalah Pasangan Calon yang memperoleh suara lebih dari
50% (lima puluh persen) dari jumlah suara dalam Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen) suara di setiap provinsi yang
tersebar di lebih dari ½ (setengah) jumlah provinsi di Indonesia.
Ketentuan Pasal tersebut menyiratkan bahwa pemilihan presiden dan wakil
presiden dapat diidentikkan sebagai absolute majority system. Dalam sebuah absolute
majority system, maka disyaratkan adanya perolehan suara mayoritas melebih 50%.
Ewin H. dalam kaitan ini berpendapat bahwa:
Sistem pemilihan presiden pasca amandemen UUD 1945 tidak lagi ada campur
tangan parlemen, bukan hanya melalui pemungutan pendapat pemilih secara
langsung, melainkan juga dirancang dalam dua putaran (FPTP/first past the post
in two round and direct presidential election). Sistem ini akan menghasilkan
presiden yang kuat jika pada putaran pertama calon presiden dan wapres dapat
meraih suara 50 % plus 1. Artinya, pilpres hanya diadakan satu kali putaran.6
Terkait dengan pemilihan presiden dan wakil presiden pada putaran pertama tidak
menghasilkan perolehan prosentase suara lebih dari 50%, maka ketentuan Pasal 159
ayat (2) sampai dengan ayat (4) UU No. 42 Tahun 2008 menentukan bahwa:
5
Hendra Nurtjahjo. 2005. Filsafat Demokrasi. Pusat Studi Hukum Tata negara FHUI. Jakarta.
hal. 131.
6
Ewin H. 2004. Presiden Dan Parlemen Dalam Hubungan Ketatanegaraan (Implikasi Pemilihan
Presiden Secara Langsung). Diakses melalui http://www.ewinoflaw.blogspot.com/ pada tanggal 10 Mei
2012 tanpa halaman
10
(1) Pasangan Calon terpilih adalah Pasangan Calon yang memperoleh suara lebih dari
50% (lima puluh persen) dari jumlah suara dalam Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen) suara di setiap provinsi yang
tersebar di lebih dari ½ (setengah) jumlah provinsi di Indonesia.
(2) Dalam hal tidak ada Pasangan Calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1), 2
(dua) Pasangan Calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dipilih
kembali oleh rakyat secara langsung dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
(3) Dalam hal perolehan suara terbanyak dengan jumlah yang sama diperoleh oleh 2
(dua) Pasangan Calon, kedua Pasangan Calon tersebut dipilih kembali oleh rakyat
secara langsung dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
(4) Dalam hal perolehan suara terbanyak dengan jumlah yang sama diperoleh oleh 3
(tiga) Pasangan Calon atau lebih, penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan
berdasarkan persebaran wilayah perolehan suara yang lebih luas secara berjenjang.
Pemilihan presiden secara langsung pada dasarnya akan memberikan legitimasi
yang kuat pada kedudukan presiden. Pemilihan presiden dan wakil presiden dengan dua
putaran dijalankan dengan tujuan pokoknya membangun dukungan luas bagi presiden,
legislatif maupun masyarakat, sehingga legitimasi politik lebih kokoh dan stabilitas
pemerintahan lebih terjamin. Paling tidak ada lima kelebihan dengan memakai sistem
ini, menurut Notosusanto, sebagaimana dikutip oleh Ewin H., adalah:
1) Memiliki mandat dan legitmasi yang sangat kuat karena didukung oleh suara rakyat
secara langsung;
2) Tidak perlu terikat pada konsensi partai-partai atau faksi-faksi politik yang telah
memilihnya;
3) Lebih akuntabel dibandingkan sistem lain. Karena rakyat tidak harus menitipkan
suaranya kepada legislatif atau ‘electoral college’ secara sebagian atau sepenuhnya;
4) Check and balances antara lembaga legislatif dan eksekutif dapat lebih seimbang;
5) Kriteria calon proses dapat dinilai secara langsung oleh rakyat yang akan
memberikan suaranya.7
c. Syarat Perolehan Kursi di DPR dan Perolehan Suara Nasional Pemilu Legislatif
Dalam Pengusulan Calon Presiden dan Wakil Presiden
Ketentuan dalam UU No. 42 Tahun 2008 mengenai persentase ambang batas
partai politik dan gabungan partai politik dalam mengusulkan pasangan calon presiden
dan wakil presiden mengalami peningkatan persentase, yaitu sebanyak 5%. Pasal 9 UU
No. 42 Tahun 2008, menentukan bahwa:
Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik peserta
pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh
persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari
suara sah nasional dalam Pemilu anggota DPR, sebelum pelaksanaan Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden.
7
Ibid. tanpa halaman
11
Ketentuan persentase ambang batas perolehan kursi DPR 20% dan 25% suara sah
nasional dalam pemilu legislatif 2009, membawa konsekuensi pengurangan jumlah
pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh partai politik dan
gabungannya.
Mekanisme koalisi partai politik dalam mengusung pasangan calon presiden dan
wakil presiden lebih lanjut diatur dalam Pasal 10 UU No. 42 Tahun 2008, yang
menentukan bahwa:
(1) Penentuan calon Presiden dan/atau calon Wakil Presiden dilakukan secara
demokratis dan terbuka sesuai dengan mekanisme internal Partai Politik
bersangkutan.
(2) Partai Politik dapat melakukan kesepakatan dengan Partai Politik lain untuk
melakukan penggabungan dalam mengusulkan Pasangan Calon.
(3) Partai Politik atau Gabungan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
hanya dapat mencalonkan 1 (satu) Pasangan Calon sesuai dengan mekanisme
internal Partai Politik dan/atau musyawarah Gabungan Partai Politik yang dilakukan
secara demokratis dan terbuka.
(4) Calon Presiden dan/atau calon Wakil Presiden yang telah diusulkan dalam satu
pasangan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) tidak boleh dicalonkan lagi oleh Partai Politik atau Gabungan Partai
Politik lainnya.
Koalisi partai merupakan kunci penting bagi proses Pemerintahan. Koalisi partai
dalam pencalonan presiden dan wakil presiden diharapkan memberikan dampak yang
baik bagi keberlangsungan pemerintahan yang akan dibentuk. Setidaknya ada tiga hal
yang diharapkan dalam mekanisme koalisi partai politik dalam pemilihan presiden dan
wakil presiden, yaitu:
1) dengan koalisi partai politik diharapkan memberikan dampak bagi komposisi
pemerintahan dan kebijakan;
2) dengan koalisi partai politik diharapkan memberikan implikasi normatif untuk
sebuah bentuk pemerintahan yang berdasarkan sistem perwakilan;
3) bentuk koalisi partai merupakan sebuah bentuk yang sering ditemui negara-negara.8
Koalisi dalam rangkaian pemilu presiden adalah akibat dari adanya unsur partai
politik yang mengusung pasangan kandidat. Ewin H. berpendapat bahwa:
Sistem multipartai yang dianut di Indonesia berimplikasi pada adanya koalisi
partai-partai politik. Koalisi pemerintahan dapat dibagi tiga: koalisi pas-terbatas
(minimal winning coalition), koalisi kekecilan (undersized coalition) dan koalisi
kebesaran (oversized coalition). Koalisi pas-terbatas adalah koalisi yang
mendapatkan dukungan mayoritas sederhana di parlemen. Jumlah partai yang
berkoalisi dibatasi hanya untuk mencapai dukungan mayoritas sederhana. Koalisi
kekecilan adalah koalisi yang tidak mendapatkan dukungan mayoritas sederhana
di parlemen. Sedangkan, koalisi kebesaran adalah bentuk pemerintahan yang
sebagian besar mengikutsertakan semua partai ke dalam kabinetnya. Koalisi
8
Rosa Ristawati. 2009. Op. Cit. hal. 21
12
pemerintahan yang kekecilan memunculkan presiden yang sial, dan sering
dimakzulkan. Sebaliknya, koalisi kebesaran telah menghasilkan pemerintahan
yang terlalu gemuk dan sulit disatu-padukan. Karenanya, untuk menuju
pemerintahan yang efektif, bentuk aliansi politik ke depan sebaiknya diupayakan
menjadi koalisi pas-terbatas. Koalisi kekecilan mengarah pada kabinet yang
miskin dukungan politik di parlemen; Koalisi kebesaran menuju kabinet yang
terlalu gemuk dan lamban. Yang ideal adalah dibentuknya Koalisi pas-terbatas,
susunan kabinet yang mengakomodasi kepentingan politik sekaligus tidak
mengorbankan pertimbangan kapasitas dan profesionalitas, selain itu juga
melahirkan interaksi yang konstruktif antara presiden dan parlemen. Koalisi dan
kabinet kekecilan dihindari karena melahirkan relasi presiden dan parlemen yang
destruktif; sama halnya koalisi dan kabinet yang kebesaran tidak menjadi pilihan
karena menghadirkan hubungan presiden dan parlemen yang kolutif. Presiden
minoritas, itulah produk yang dihasilkan dari sistem pilpres putaran kedua jika
suara mutlak 50% plus satu. Hal ini merupakan implikasi konfigurasi politik
(multi-partai dan fragmentasi) dalam sistem pemilihan umum. Presiden minoritas
ini bukan karena pasangan calon presiden/wapres tersebut tidak dapat
memperoleh banyak suara, melainkan ketika paket presiden/wapres yang
dihasilkan melalui Pilpres Putaran Kedua harus berhadapan dengan mayoritas
partai di DPR dari kubu non-presiden. Artinya, sangat dimungkinkan terjadinya
koalisi partai-partai politik yang tidak memiliki basis suara yang mayoritas,
sehingga terdapat “pasangan minoritas” menjadi presiden/wapres melalui Pilpres
Putaran kedua. Kondisi semacam ini mengharuskan presiden terpilih
memperhatikan kehendak parlemen karena kebijakannya (dan janji-janji Pemilu)
diwujudkan melalui pengangkatan menteri dari salah satu partai, proses legislasi
dan APBN. Implikasinya adalah praktek politik dagang sapi dan politik uang
dalam pengambilan kebijakan yang kasat mata. Dampak berikutnya adalah
ketegangan terus-menerus antara Presiden dan DPR, dua kekuasaan negara yang
memiliki legitimasi yang kuat dan langsung dari rakyat . Namun, hal ini juga akan
dapat memunculkan mekanisme cheks and balances antara kekuasaan presiden
dan kekuasaan legislatif yang memungkinkan adanya kontrol dan keseimbangan
antara kekuasaan presiden dan legislatif, sehingga akan terbangun konsep dan
kultur oposisi dalam pemerintahan di Indonesia.9
Persoalan koalisi partai politik ditujukan untuk pembentukan kekuatan politik
pendukung presiden. Benni Inayatullah mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:
Koalisi partai politik dalam rangka pembentukan kekuatan politik pendukung
presiden, secara teoritik dapat dilanjutkan melalui cara formalisasi koalisi antara
kekuatan-kekuatan pengusung presiden dan partai yang duduk di dalam legislatif.
Selain hal ini juga akan mencegah polarisasi dan fragmentasi berlebihan di antara
berbagai kekuatan yang ada, sehingga keberlanjutan koalisi antarpartai sebelum
dan setelah pemilihan presiden merupakan suatu hal yang harus dijaga
kesinambungannya. Koalisi partai tersebut dimaksudkan untuk membentuk
sebuah pemerintahan yang kuat, mandiri dan stabil (bertahan lama).10
9
Ewin H. 2004. Op. Cit. tanpa halaman
Benni Inayatullah. 2008. Koalisi untuk Pemerintahan yang Kuat. Harian Jurnal Nasiona. Kamis
11 September 2008. hal. 60
10
13
d. Relevansi Penetapan Persentase Ambang Batas Suara Sah Nasional Pemilu
Legislatif Terhadap Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden
Pasal 202 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota
DPR, DPRD, dan DPD, menyebutkan bahwa:
Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara
sekurang-kurangnya 2,5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah
secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR.
Ketentuan pasal tersebut banyak menimbulkan kontroversi terkait dengan adanya
pembatasan. Menurut Benni Inayatullah:
Persentase ambang batas minimal perolehan suara partai politik untuk duduk di
DPR, selama ini dimaknai sebagai konsep ”parliamentary threshold”. Menurut
teori, ambang batas minimal dalam sebuah election system, disebut sebagai
”threshold” yang sejatinya ditujukan untuk penyederhanaan jumlah partai politik
peserta pemilihan umum. Ketentuan Pasal 202 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2008
dipikirkan sebagai sebuah solusi untuk menciptakan sistem multi partai sederhana.
Adanya penetapan persentase ambang batas 2,5% tersebut adalah juga
dimaksudkan untuk mencegah terjadinya framentasi partai politik yang berujung
pada ketidakstabilan pemerintahan hasil pemilu tersebut.11
Apabila dikaji lebih lanjut, penetapan ambang batas suara perolehan partai politik
untuk bisa duduk di kursi DPR tersebut, lebih tepat bila disebut sebagai ”legal
thresholds”, yaitu penetapan ambang batas dalam pemilihan umum yang dilakukan
melalui undang-undang. Legal threshold juga dapat diidentifikasikan sebagai artificial
atau formal threshold yang dimaknai sebagai minimum perolehan suara yang ditentukan
melalui undang-undang. Sebagaimana dijelaskan dalam Penjelasan Umum Paragraf 7
UU No. 10 Tahun 2008 sebagai berikut:
Ketentuan ambang batas perolehan partai suara sah nasional partai politik dalam
pemilu legislatif ditujukan untuk memperkuat lembaga perwakilan rakyat melalui
langkah mewujudkan sistem multipartai sederhana yang selanjutnya akan
menguatkan pula sistem pemerintahan presidensiil sebagaimana dimaksudkan di
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Umumnya, negara dengan sistem pemerintahan presidensiil, memiliki lebih dari
dua partai politik, sistem multi partai dianggap sebagai sistem yang akan menyulitkan
dalam negara demokrasi penganut sistem presidensiil. Untuk mengatasi hal tersebut,
pemikiran sistem multipartai yang ada di Indonesia dipikirkan untuk mulai diubah ke
dalam sebuah format multipartai sederhana, dalam Penjelasan UU No. 42 Tahun 2008
ditegaskan sebagai berikut:
11
Ibid. hal. 23
14
Dalam Undang-Undang ini penyelenggaraan Pemilu Presiden dilaksanakan
dengan tujuan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang memperoleh
dukungan kuat dari rakyat sehingga mampu menjalankan fungsi kekuasaan
pemerintahan negara dalam rangka tercapainya tujuan nasional sebagaimana
diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Di samping itu pengaturan terhadap Pemilu Presiden dan
Wakil Presiden dalam Undang-Undang ini juga dimaksudkan untuk menegaskan
sistem presidensiil yang kuat dan efektif, dimana Presiden dan Wakil Presiden
terpilih tidak hanya memperoleh legitimasi yang kuat dari rakyat, namun dalam
rangka mewujudkan efektivitas pemerintahan juga diperlukan basis dukungan dari
Dewan Perwakilan Rakyat.
Ketentuan Pasal 202 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2008 mempunyai relevansi yang
cukup kuat dalam sistem pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Dampak kuat
yang dapat dilihat adalah semakin sulitnya pemenuhan persyaratan persentase ambang
batas partai politik dan gabungan partai politik dalam mengusulkan pasangan calon
presiden dan wakil presiden, mengingat menurut aturan dalam Pasal 202 ayat (1)
tersebut, hanya partai politik yang mempunyai perolehan suara minimal 2,5% yang
menduduki kursi DPR, sementara itu persentase ambang batas partai politik atau
gabungan partai politik untuk dapat mengusulkan calon presiden dan wakil presiden
adalah 20% yang menduduki kursi DPR, artinya, bahwa terdapat dua kemungkinan
partai politik dan gabungan partai politik untuk mengusulkan pasangan calon presiden
dan wakilnya. Kemungkinan tersebut adalah pasangan calon presiden dan wakil
presiden dapat diajukan oleh partai politik tunggal yang telah mempunyai minimal 20%
kursi di DPR dalam pemilu legislatif sebelumnya, atau dapat diajukan melalui
mekanisme koalisi partai bagi partai politik yang telah memperoleh minimal 2,5% suara
sah nasional untuk duduk di kursi DPR, gabungan partai atau koalisi tersebut harus
mencapai minimal 20% jumlah kursi DPR.
Sementara, untuk partai politik yang tidak memperoleh 2,5% suara sah nasional,
yang artinya tidak mendapat kursi di DPR, masih dimungkinkan untuk mengajukan
pasangan calon presiden dan wakilnya, dengan melalui sistem koalisi partai atau
gabungan partai sehingga mencapai 25% syarat pengajuan pasangan calon presiden dan
wakilnya.
Koalisi partai dalam sistem presidensiil, biasanya dilakukan sebelum pemilihan
umum. Terkadang hal tersebut tidak dilanjutkan dengan formalisasi koalisi menjadi
sebuah gabungan partai-partai yang memerintah yang bersinergi. Hal ini dapat
menimbulkan ketidakjelasan hubungan, hak, dan kewajiban antar-lembaga negara
(legislatif dan eksekutif). Meskipun dalam pemerintahan presidensiil penyelenggaraan
15
pemerintahan adalah hak dari presiden, dalam kenyataanya ketidakpastian kekuatan
pendukung presiden untuk memerintah menjadi tidak jelas. Sehingga sistem presidensiil
yang efektif dan kokoh tergantung pula dengan adanya kesinergian dalam
menyelesaikan masalah yang akan timbul dari personalisasi kepemimpinan eksekutif,
partai politik dan koalisi partai politik serta hubungannya dengan penyelenggaraan
pemerintahan,
serta
hubungan
kelembagaan.
Sehubungan
dengan
masalah
kecenderungan suatu personalisasi lembaga kepresidenan, perlu diciptakan hubungan
kelembagaan secara detail yang memungkinkan munculnya lembaga kepresidenan yang
kuat dengan dukungan partai politik dan koalisi partai politik.
Melalui koalisi yang umumnya dilakukan sebelum pemilihan umum presiden dan
wakil presiden itu berlangsung, diharapkan konsep hubungan lembaga eksekutiflegislatif dalam kerangka pembentukan dan pelaksanaan kebijakan publik untuk
menerjemahkan aspirasi dan keinginan rakyat sebagai wujud dari demokrasi
perwakilan, dapat terjalin sinergi. Suatu sistem pemerintahan yang kuat dan efektif,
akan memberikan sebuah kondisi dimana aktivitas pemerintahan menjadi cepat dan
tanggap, sehingga akan lebih cepat menerjemahkan keinginan rakyat menjadi kebijakan.
Dalam hal ini pemilihan umum presiden dan wakil presiden yang mewakili segenap
rakyat
Indonesia,
dianggap
sebagai
awal
terbentuknya
awal
pemerintahan
mekanismenya harus dibuat dalam ukuran yang sangat selektif dalam konteks
demokrasi.
G. Penutup
1. Kesimpulan
a. Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan Undang-Undang
Dasar 1945 setelah amandemen diatur dalam Pasal 6A dan sebagai peraturan
pelaksanaannya diatur dalam Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
b. Pemilihan umum Presiden dilakukan secara langsung dan dalam satu paket
dengan pemilihan Wakil Presiden. Pengajuan calon Presiden dan Wakil
Presiden yang diselenggarakan secara langsung dibatasi hanya dari partai politik
atau gabungan partai politik. Terhadap pengajuan pasangan calon Presiden dan
Wakil Presiden ditetapkan adanya syarat persentase ambang batas pengajuan
pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, yaitu 20% dari perolehan jumlah
kursi di DPR dan 25% perolehan suara sah nasional partai politik dalam pemilu
legislatif.
16
c. Mekanisme pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan melalui sistem
mayoritas absolut (absolute majority) dan mayoritas sederhana (simple
majority). Prinsip mayoritas absolut diterapkan apabila telah diperoleh pasangan
calon yang memperoleh suara lebih dari 50% yang kemudian akan dilantik
menjadi presiden dan wakil presiden. Sedangkan apabila tidak terpenuhi suara
lebih dari 50% maka diterapkan mayoritas sederhana (simple majority) melalui
putaran kedua atau dikenal juga dengan istilah “first past the post election”
2. Saran
a. Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden secara langsung berdasarkan
Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen hendaknya dapat memberikan
manfaat terhadap pertumbuhan demokrasi yang lebih berkualitas terutama
terhadap akuntabilitas dan kredibiltas pejabat publik, dalam hal ini partai politik
dapat lebih selektif dalam menentukan pasangan calon Presiden dan Wakil
Presiden yang hendak diajukan.
b. Hendaknya perlu dipertimbangkan adanya calon independen seperti di Amerika
Serikat.
17
DAFTAR PUSTAKA
Buku Teks:
Asshiddiqie, Jimly. 2002. Konsolidasi Naskah Undang-Undang Dasar 1945 Setelah
Perubahan Keempat. Pusat Studi HTN Fakultas Hukum Universitas
Indonesia. Jakarta.
Nurtjahjo, Hendra. 2005. Filsafat Demokrasi. Pusat Studi Hukum Tata negara FHUI.
Jakarta.
Peraturan perundang-undangan:
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden.
Karya Ilmiah/Jurnal/Harian Umum:
Inayatullah, Benni. 2008. Koalisi untuk Pemerintahan yang Kuat. Harian Jurnal
Nasiona. Kamis 11 September 2008.
Ristawati, Rosa. 2009. Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden Indonesia
Dalam Kerangka Sistem Pemerintahan Presidensiil. Jurnal Konstitusi
Volume II Nomor 1 Juni 2009. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Jakarta
Website:
H. Ewin. 2004. Presiden Dan Parlemen Dalam Hubungan Ketatanegaraan (Implikasi
Pemilihan
Presiden
Secara
Langsung).
Diakses
melalui
http://www.ewinoflaw.blogspot.com/ pada tanggal 10 Mei 2012
18
PERUBAHAN PEMILIHAN EKSEKUTIF
(Suatu Studi Tentang Pemilihan Umum Presiden Secara Langsung
Berdasarkan UUD 1945 Setelah Amandemen)
ARTIKEL ILMIAH
Oleh :
SUTIYONO
EIE008012
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2012
Download