138 PENDAHULUAN Di dalam GBHN 1999-2004

advertisement
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENETAPKAN
KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM) MELALUI LOKAKARYA DI
SMP NEGERI 8 TEBING TINGGI
SARWONO
Guru SMPN 8 Tebing Tinggi
Email: [email protected]
ABSTRAK
Masalah dalam penelitian ini adalah guru dalam menetapkan KKM tidak
berdasarkan analisis dan tidak memperhatikan prinsip serta langkah-langkah penetapan,
oleh karena itu perlu ada kegiatan pada awal tahun pelajaran yang dapat memberikan
informasi kepada Guru yang dijadikan pedoman dalam penetapan KKM. Lokakarya
merupakan proses perbantuan (facilitating) Guru untuk mendapatkan keefektivan dalam
tugas-tugas mereka sekarang dan masa yang akan datang melalui pengembangan
kebiasaan berfikir, bertindak, keterampilan, pengetahuan dan sikap yang sesuai
Kata kunci: Kemampuan guru, Lokakarya.
PENDAHULUAN
Di dalam GBHN 1999-2004
telah dikemukakan mengenai visi
dan misi pembangunan nasional. Visi
pembangunan tersebut dapat disebut
sebagai agenda reformasi. Sebagai
agenda reformasi yang menentukan
visi haluan Negara di dalamnya
terdapat
dua
hal
penting.
Pertama,khusus
dalam
bidang
pendidikan
dinyatakan
bahwa
pendidikan
yang
bermakna
diperlukan
bagi
pengembangan
pribadi dan watak bagi hidup
kebersamaan
dan
toleransi.
Kedua,diperlukan
pembangunan
suatu
masyarakat
yang
demokratis,damai,berkeadilan,dan
berdaya saing.kedua visi tersebut
mempunyai implikasi yang sangat
jauh dalam membenahi pendidikan
nasional.
Dunia Pendidikan Nasional
Indonesia saat ini berada dalam
situasi “kritis” baik dilihat dari sudut
internal kepentingan pembangunan
bangsa, maupun secara eksternal
dalam kaitan dengan kompetisi antar
bangsa (Surya, 2002).Oleh sebab itu
perlu segera diatasi masalah-masalah
pendidikan termasuk yang berkaitan
langsung dengan guru. Guru
merupakan faktor penting yang besar
pengaruhnya terhadap proses dari
hasil
belajar,
bahkan
sangat
menentukan
berhasil
tidaknya
peserta didik dalam belajar.
Menurut Djamarah (2000),
tugas guru sebagai suatu profesi
menuntut kepada guru untuk
mengembangkan profesionalitas diri
sesuai
perkembangan
ilmu
pengetahuan
dan
teknologi.
Mendidik, melatih anak didik adalah
tugas guru sebagai suatu profesi.
Tugas guru sebagai pendidik berarti
meneruskan dan mengembangkan
nilai-nilai hidup kepada anak didik.
Tugas guru sebagai pengajar berarti
meneruskan dan mengembangkan
138
ilmu pengetahuan dan teknologi
kepada anak didik. Tugas guru
sebagai
pelatih
berarti
mengembangkan keterampilan dan
menerapkan dalam kehidupan demi
masa depan anak didik.
Untuk melaksanakan tugas
guru tersebut di atas seorang guru
harus memiliki semangat kerja yang
baik dan diwujudkan dalam sikap
prilakunya. Oleh karena itu, tugas
guru tidak hanya menyampaikan
informasi kepada peserta didik, tetapi
juga
sebagai fasilitator yang
bertugas memberikan kemudahan
belajar (facilitate of learning) kepada
seluruh peserta didik, agar mereka
dapat belajar dalam suasana yang
menyenangkan, gembira, penuh
semangat, tidak cemas, dan berani
mengemukakan pendapat secara
terbuka. Rasa gembira, penuh
semangat, tidak cemas, dan berani
mengemukakan pendapat secara
terbuka merupakan modal dasar bagi
peserta didik untuk berkembang
menjadi
manusia
yang
siap
beradaptasi, menghadapi berbagai
kemungkinan, dan memasuki era
globalisasi yang sarat tantangan dan
persaingan.
Berdasarkan
surat
Dirjendikdasmen
No.1321/c4/MN/2004
tentang
Pengkajian
Standar
Ketuntasan
Belajar Minimal (SKBM)), atau
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Kurikulum 2004 dan sesuai dengan
pelaksanaan Standar Isi, yang
menyangkut
masalah Standar
Kompetensi (SK) dan Kompetensi
dasar (KD ) maka berdasarkan
petunjuk dari Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP) tahun
2006,
dipandang perlu setiap
sekolah-sekolah untuk menentukan
Standar Ketuntasan Minimal (KKM)
nya masing-masing sesuai dengan
keadaan sekolah dimana sekolah itu
berada. Artinya antara sekolah A
dengan sekolah B bisa KKM-nya
berbeda satu sama lainnya.
Sesuai dengan petunjuk yang
ditetapkan oleh BSNP maka ada
beberapa rambu-rambu yang harus
diamati sebelum ditetapkan KKM di
sekolah. Adapun rambu-rambu yang
dimaksud adalah :
1. KKM ditetapkan pada awal tahun
pelajaran.
2. KKM ditetapkan oleh forum
MGMP sekolah.
3. KKM dinyatakan dalam bentuk
persentase berkisar antara 0-100,
atau rentang nilai yang sudah
ditetapkan.
4. Kriteria ditetapkan untuk masingmasing
indikator
idealnya
berkisar 75 %.
5. Sekolah dapat menetapkan KKM
dibawah kriteria ideal (sesuai
kondisi sekolah).
6. Dalam
menentukan
KKM
haruslah
mempertimbangkan
tingkat kemampuan rata-rata
peserta
didik,
kompleksitas
indikator, serta kemampuan
sumber daya pendukung.
7. KKM dapat dicantumkan dalam
LHBS sesuai model yang
ditetapkan atau dipilih sekolah.
Selanjutnya dari rambu-rambu
tersebut
melalui
kegiatan
Musyawarah Guru Bidang Studi
139
(MGMP) maka akan dapat diperoleh
berapa nilai nominal KKM dari
masing-masing bidang studi.
Ada beberapa kriteria penetapan
KKM yang dapat dilaksanakan,
diantaranya :
1. Kompleksitas indikator ( kesulitan
dan kerumitan).
2. Daya dukung ( sarana dan
prasarana yang ada, kemampuan
Guru, lingkungan, dan
juga
masalah biaya)
3. Intake
siswa
(
masukan
kemampuan siswa )
Permasalahannya
sekarang
adalah dalam penetapan KKM ini
masih ada beberapa sekolah atau
Guru bidang studi yang belum
memahaminya. Akibatnya, banyak
Guru mengalami kesulitan untuk
menetapkan KKM pada Laporan
Hasil Belajar Siswa (LHBS) atau
dulu kita kenal dengan Rapor.
Melalui Lokakarya ini, Guru
diajak untuk menemukan
konsepkonsep
dan pengetahuan tentang
KKM yang dapat diterapkannya
dalam bidang studi yang diasuhnya.
Melalui
Lokakarya ini, hasil
pembelajaran kepada Guru dapat
lebih bermakna dan dipahami.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Teori Prestasi Belajar
Prestasi belajar secara teoritis
dari
berbagai
sumber
dapat
disimpulkan adalah kemampuan
siswa dalam menyerap materi yang
disampaikan oleh Guru selama dalam
proses belajar mengajar (PBM).
Pembelajaran dikatakan berhasil
apabila
siswa
mengalami
peningkatan
pengetahuan,
kemampuan dan keterampilan sesuai
dengan
pengetahuan
yang
diperolehnya tersebut.
Tingkat
keberhasilan siswa tersebut dalam
menyerap pengetahuan dinyatakan
dalam bentuk Skor atau angka yang
diberi nilai atau bobot tertentu.
Apabila jumlah/persentase siswa
dalam
satu
kelas
mayoritas
memperoleh angka atau bobot yang
tinggi terhadap mata pelajaran
tersebut maka proses pembelajaran
tersebut dapat dikatakan berhasil.
Namun akan terjadi sebaliknya, yaitu
jika sebagian besar siswa di kelas
tersebut tidak mampu memperoleh
nilai/bobot yang tinggi terhadap mata
pelajaran tersebut maka proses
pembelajaran tidak berhasil.
2. Pengukuran Prestasi Belajar
Prestasi
belajar
atau
keberhasilan dalam mencapai tujuan
belajar perlu diukur agar Guru dan
siswa mengetahui penguasaan dan
pemahaman materi yang telah
diajarkan sebelumnya. Penilaian
prestasi belajar menekankan pada
informasi tentang seberapa jauh
siswa telah mencapai kompetensi
yang telah ditetapkan. Banyak alat
ukur yang dapat digunakan untuk
mengukur
prestasi
belajar,
diantaranya berupa test atau test
prestasi.
Menurut Azwar (1996), Test
Prestasi Belajar merupakan bentuk
instrumen pengukuran berupa test
yang disusun secara terencana untuk
mengungkap performansi maksimal
subjek dalam menguasai bahan-
140
bahan atau materi yang telah
diajarkan. Fungsi utama test prestasi
di kelas adalah mengukur prestasi
belajar siswa. Prosedur test dalam
mengukur prestasi mengandung
nilai-nilai pendidikan yang sangat
penting. Test membantu para Guru
dalam memberikan nilai yang lebih
akurat dan lebih dapat dipercaya.
3. Teori Belajar
Menurut Sardiman ( 2001:93)
bahwa : ” Pada prinsipnya belajar
adalah berbuat, berbuat untuk
mengubah tingkah laku, jadi
melakukan kegiatan. Proses Belajar
tidak ada kalau tidak ada aktivitas.
Itulah sebabnya aktivitas merupakan
prinsip atau azas yang sangat penting
di dalam interaksi belajar mengajar”.
Selanjutnya menurut pandangan ilmu
jiwa modern Sardiman (2001:97)
menerjemahkan bahwa :” Jiwa
manusia itu sebagai sesuatu yang
dinamis, memiliki potensi dan energi
sendiri. Oleh karena itu secara alami
siswa juga bisa menjadi aktif, karena
adanya motivasi dan didorong oleh
bermacam-macam kebutuhan.
Adapun jenis-jenis aktivitas
dalam belajar menurut Paul B.
Diedricch dalam Sardiman (2001:
99) dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
a. Visual activites, yang termasuk
didalamnya misalnya: membaca,
memperhatikan
gambar
demonstrasi,
percobaan,
pekerjaan orang lain.
b. Oral
activities,
seperti:
menyatakan,
merumuskan,
bertanya,
memberi
saran,
mengeluarkan
pendapat,
mengadakan wawancara, diskusi,
interupsi.
c. Listening
activities,
seperti
mendengarkan:
uraian,
percakapan
diskusi,
musik,
pidato.
d. Writing activities, seperti menulis
: cerita, karangan, laporan,
menyalin, angket.
e. Drawing
activities,
seperti;
menggambar, membuat grafik,
peta, diagram.
f. Motor
activities,
seperti:
melakukan percobaan, membuat
konstruksi, model, mereparasi,
bermain, berkebun, berternak.
g. Mental
activities,
seperti:
menanggap,
mengingat,
memecahkan soal, menganalisis,
melihat hubungan, mengambil
keputusan.
h. Emotional activities, seperti:
menaruh minat, merasa bosan,
gembira, bersemangat, bergairah,
berani, tenang, gugup.
Belajar
adalah
perubahan
tingkah laku yang relatif menetap
yang diakibatkan oleh pengalaman
dan latihan. Clifford T. Morgan
(1988) mengartikan belajar sebagai
perubahan tingkah laku yang relatif
tetap
yang merupakan hasil
pengalaman yang telah berlalu.
Menurut Slameto (2002) belajar
adalah suatu proses usaha yang
dilakukan
individu
untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan
sebagai hasil pengalaman individu
itu sendiri dalam berinteraksi dengan
lingkungannya. Sedangkan Ngalim
141
Purwanto (1992) mengemukakan
belajar adalah setiap perubahan yang
relatif menetap dalam tingkah laku
yang terjadi sebagai suatu hasil dari
latihan atau pengalaman.
4. Pengertian Belajar Menurut
Aliran Psikologi
Ilmu
Psikologi
yang
mempelajari tentang jiwa manusia
memiliki pengertian dan pandangan
yang berbeda tentang belajar.
Menurut
aliran
Psikologi
Behavioristik dengan tokohnya Ivan
Petrovitch
Patlov
berpendapat,
kemampuan seorang individu dalam
belajar dipengaruhi oleh
faktorfaktor kondisional yang disebabkan
oleh lingkungan. Dengan kata lain,
belajar dapat dianggap sebagai salah
satu cara membentuk
kebiasaan
individu
dengan
jalan
menghubungkan suatu rangsangan
yang kuat dalam pikiran dan yang
lemah secara serempak (simultan).
Sedangkan menurut Psikologi
Kognitif, belajar sebagai suatu usaha
(kreatifitas)
untuk
mengetahui
tentang
sesuatu
secara
aktif.
Keaktifan tersebut dapat berupa
mencari
pengalaman,
mencari
informasi, memecahkan masalah,
mencermati
lingkungan,
mempraktekkan dan lainnya guna
mencapai tujuan.
Berdasarkan uraian diatas,
dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri
belajar adalah sebagai berikut:
a. suatu kesadaran atau disengaja.
b. adanya suatu aktifitas.
c. perubahan terhadap perilaku.
d. hasilnya relatif menetap.
5. Guru dan Prestasi Belajar
Menurut Barlow, kompetensi
adalah 'the ability of a teacher to
responsibly perform his or her duties
appropriately'
(Muhibin
Syah,1995:230) atau “ kemampuan
seorang Guru untuk menunjukkan
secara bertanggung jawab tugastugasnya dengan tepat”
Dalam
hal
standar
kompetensi Guru, Pearson (1980)
telah mengidentifikasi Guru yang
kompeten dengan tiga masalah
pokok, yakni:
(1) what standards must a teacher
meet to teach satisfactorily rather
than minimally,
(2) what skills are required in general
for a person to perform at this level,
(3) does the person in question have
these requisite skills.
Untuk menjelaskan tentang
pengertian tentang kompetensi itulah
maka Gronczi (1997) dan Hager
(1995) menjelaskan bahwa “An
integrated view sees competence as a
complex combination of knowledge,
attitudes, skills, and values displayed
in the context of task performance “
Dengan kata lain secara
singkat dapat diartikan bahwa
kompetensi
Guru
merupakan
kombinasi
kompleks
dari
pengetahuan, sikap, keterampilan,
dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh
Guru dalam konteks kinerja tugas
yang diberikan kepadanya.
6. Kemampuan Guru
Kompetensi tersebut akan
diwujudkan
dalam
bentuk
penguasaan
pengetahuan
dari
142
perbuatan secara profesional dalam
menjalankan fungsi sebagai Guru.
a. Indikator kemampuan Guru
Untuk memperoleh gambaran
yang terukur pada pemberian nilai
untuk setiap kemampuan , maka
perlu ditetapkan kinerja setiap
kemampuan. Kinerja kemampuan /
kompetensi terlihat dalam bentuk
indikator ( Anonim , 2003 : 12 ).
Tabel 01
Komponen Pengelolaan
Pembelajaran Khusus
pada Kompetensi Penilaian
Prestasi Belajar Peserta Didik.
Kompetensi
Penilaian
Prestasi
Belajar
Peserta
Didik
Indikator
1. Mampu memilih soal
berdasarkan
tingkat
kesukaran.
2. Mampu memilih soal
berdasarkan
tingkat
pembeda
3. Mampu memperbaiki
soal yang tidak valid
4. Mampu memeriksa
jawaban
5.
Mampu
mengklasifikasikan
hasil – hasil penilaian
6. Mampu mengolah
dan menganalisis hasil
penilaian
7. Mampu menyusun
laporan hasil penilaian
8. Mampu membuat
interpretasi
kecendrungan
hasil
penilaian
9.Mampu menentukan
korelasi antar soal
berdasarkan
hasil
penilaian
10.
Mengidentifikasi
tingkat variasi hasil tes
11.
Mampu
menyimpulkan
dari
hasil penilaian secara
jelas dan
Logis.
b. Profesionalisme Guru dan
komitmen Guru
1). Profesionalisme Guru
Guru
adalah
tenaga
fungsional yang bertugas khusus
untuk mengajar, mendidik , melatih ,
dan
menilai hasil pembelajaran
peserta didik serta efektifitas
mengajar Guru. Tugas Guru adalah
profesi maka dari itu diharapkan
dapat melaksanakan tugas dengan
baik.
Karena profesi menurut
Sikun Pribadi dalam bukunya Etty
menyatakan bahwa : “ Profesi itu
pada hakekatnya suatu pernyataan
atau janji terbuka, bahwa seseorang
akan mengabdikan dirinya pada
suatu jabatan atau pekerjaan dalam
arti biasa “. ( Etty , 2003 : 2 ).
Profesional
Guru
sesuai
dengan tugas pokok dan fungsinya
adalah :
1. Mampu
menyusun
Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran.
2. Mampu mengkonstruksi tes hasil
belajar yang berkualitas.
3. Terampil menyajikan bahan ajar
di kelas dan di luar kelas,
profesional dalam mengevaluasi
hasil belajar.
2). Komitmen Guru
Kewajiban
Guru
dalam
melaksanakan tugas hendaknya
disiplin, obyektif, jujur, bertanggung
jawab,
kreatif,
inovatif
serta
berkinerja.
Profesional
dan
komitmen Guru menurut Flanangan
143
dalam hand out
oleh Maba
menyebutkan ada empat dimensi
antara lain : Dimensi 1 , dimensi 2 ,
dimensi 3, dimensi 4 (Maba:2007 :2)
Keterangan :
Dimensi 1 ( P : + dan K : - ) adalah
Guru mampu mempersiapkan bahan
ajar ( RPP ) , pintar menyajikan
bahan ajar sehingga siswa mengerti,
tetapi kurang disiplin ( suka
terlambat , malas , subyektif , sore
memberi les, malam hari tidak jelas
pekerjaannya ).
Dimensi 2 ( P : + dan K : + ) adalah
Guru mampu menyusun RPP dan
terampil menyajikan bahan ajar.
Guru ideal (pintar mengajar,
sistematis, rajin, disiplin, obyektif ,
Guru selalu ada di hati siswa. Bila
tidak mengajar doa siswa baik (
semoga selamat, semoga dilindungi
Tuhan , dimurahkan rejekinya oleh
Tuhan dan lain-lain ).
Dimensi 3 ( P : - dan K : - )
adalah
Guru
kurang
mampu
menyusun RPP, kurang terampil
menyajikan bahan ajar, siswa jadi
bingung , Guru malas, subyektif,
kurang pas jadi Guru, lebih cocok
alih profesi. Guru hanya dihina
siswa, bila tidak masuk doa siswa
yang tidak baik.
Dimensi 4 ( P : - dan K : + ) adalah
Guru kurang mampu menyusun RPP,
kurang terampil menyajikan bahan
ajar, Guru rajin, disiplin dan obyektif
serta
selalu
mengutamakan
kepentingan
siswa
(kombinasi
matreo sentrisme dengan paedo
sentrisme ).
7. Konstruksi Tes Hasil Belajar .
Kontruksi adalah langkah
menyusun tes hasil belajar. Tes
adalah prosedur yang sistematis
untuk mewujudkan sampel perilaku
sebagai
pencerminan
tingkat
ketuntasan belajar siswa . ( Maba ,
2007 : 1 ) . Guru memiliki
kompetensi di dalam mengkontruksi
tes karena tes dipakai sebagai alat
untuk
mengukur
ketercapaian
pembelajaran.
Hasil
belajar
merupakan prestasi yang dapat
ditunjukkan dalam bentuk simbol
angka oleh siswa setelah mengikuti
proses pembelajaran. Jenis hasil tes
belajar seperti : post tes , formatif
tes, diagnostik tes dan sumatif tes .
Konstruksi tes hasil belajar
melibatkan tiga keahlian : Ahli bahan
ajar , ahli konstruksi dan ahli bahasa
yang baik dan benar. Untuk
mendapatkan hasil tes yang baik
diuji dengan kalibrasi / validasi
secara teoritik, dalam satu panel yang
terdiri dari ahli kontruksi , konten
ajar dan bahasa. Kalibrasi / validasi
emperik , dalam satu uji coba
lapangan untuk memperoleh respon
verbal dari responden. Kalibrasi
empirik bertujuan : Menentukan
validasi butir reliabelitas tes , tingkat
kesukaran butir tes , dan daya beda
tes ( Maba , 2007 : 3 ) . Karena
pelaksanaan tes yang profesional
siswa dengan mudah memahami hal
yang
ditanyakan
sebab
penyampaiannya secara sistemasis
dan bahasa yang dipergunakan cukup
jelas.
Evaluasi
proses adalah
evaluasi
selama
pembelajaran
144
berlangsung meliputi ; pre tes , tugas,
post tes, formatif dan diagnostik .
Evaluasi produk adalah evaluasi
akhir semester , tahun pelajaran atau
jenjang pendidikan , sebaiknya
dilakukan oleh Guru secara individu
atau kelompok MGMP.
Evaluasi
produk
yang
berbentuk UN disusun oleh pusat (
bukan oleh Guru pengajar ) untuk
beberapa mata pelajaran seperti :
Matematika , Bahasa Indonesia dan
Bahasa Inggris , untuk mewujudkan
standarisasi proses internalisasinya
sangat jauh berbeda baik tigkat
provinsi, kabupaten , sekolah negeri
maupun
swasta
,
sehingga
menimbulkan pro kontra .
8. Kriteria Ketuntasan Minimal
Penetapan
Kriteria
Ketuntasan Minimal ( KKM )
merupakan
tahapan
awal
pelaksanaan penilaian hasil belajar
sebagai
bagian
dari
langkah
pengembangan Kurikulum Tingkat
Satuan
Pendidikan.
Kurikulum
berbasis
kompetensi
yang
menggunakan acuan kriteria dalam
penilaian, mengharuskan pendidik
dan satuan pendidikan menetapkan
KKM
dengan
analisis
dan
memperhatikan mekanisme, yaitu
prinsip
dan
langkah-langkah
penetapan.
Berdasarkan
surat
Dirjendikdasmen
No.1321/c37/MN/20037
tentang
Pengkajian
Standar
Ketuntasan
Belajar Minimal (SKBM)), atau
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Kurikulum 20037 dan
sesuai
dengan pelaksanaan Standar Isi, yang
menyangkut
masalah Standar
Kompetensi (SK) dan Kompetensi
dasar (KD ) maka berdasarkan
petunjuk dari Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP) tahun
2006,
dipandang perlu setiap
sekolah-sekolah untuk menentukan
Standar Ketuntasan Minimal (KKM)
nya masing-masing sesuai dengan
keadaan sekolah dimana sekolah itu
berada. Artinya antara sekolah A
dengan sekolah B bisa KKM-nya
berbeda satu sama lainnya.
9.
Usaha
Meningkatkan
Kemampuan
Guru
Menetapkan KKM
Banyak cara yang dapat
digunakan dan dilakukan
untuk
meningkatkan kemampuan Guru
dalam menetapkan KKM . Dalam
kaitan ini penulis menggunakan
Lokakarya/Workshop.
Penulis
berkeyakinan jika Guru diberi materi
pengetahuan dan informasi yang
relevan dengan penetapan KKM
dapat memotivasi dan menambah
keterampilan
Guru
untuk
menetapkan
KKM
berdasarkan
analisis dan kondisi siswa serta
sekolah yang sebenarnya.
Lokakarya ini akan dilaksanakan
selama sehari penuh dengan peserta :
para Guru di SMP Negeri 8 Tebing
Tinggi .
10. Tinjauan Tentang Lokakarya
(Workshop)
Pengetahuan, keterampilan,
dan
kecakapan
manusia
dikembangkan
melalui
belajar.
145
Banyak cara yang dapat dilakukan
untuk memperoleh ketiga aspek
tersebut seperti belajar di dalam
sekolah, luar sekolah, tempat
bekerja, sewaktu bekerja, melalui
pengalaman, dan melalui Lokakarya.
Lokakarya adalah suatu pertemuan
ilmiah
dalam
bidang
sejenis
(pendidikan) untuk menghasilkan
karya
nyata.(Badudu,1988:3703).
Lebih lanjut (Harbinson,1973:52)
mengemukakan bahwa pendidikan
dan pelatihan secara umum diartikan
sebagai
proses
pengalihan
keterampilan dan pengetahuan yang
terjadi di luar sistem persekolahan
yang sifatnya lebih heterogen dan
kurang terbakukan dan tidak
berkaitan satu sama lainya karena
memiliki tujuan yang berbeda.
Nadler
(1970:370-371)
membedakannya dengan pendidikan
dan pelatihan. Latihan merupakan
kegiatan yang dirancang untuk
memperbaiki
unjuk
kerja
(perfomance) dalam tugas yang
dihadapi ataupun di kerjakan.
Lokakarya
umumnya
mempunyai
masalah
mengenai
prestasi penatar dalam mengajar,
yaitu masalah evaluasi dan validasi
kelangsungannya. Jika pelajaran
telah diajarkan dengan baik dan
penatar telah belajar pelajaran
tersebut sesuai dengan ukuran
penatarnya
maka
efektivitas
Lokakarya sudah dianggap valid.
Lokakarya
merupakan
proses
perbantuan
(facilitating)
Guru
untuk mendapatkan keefektivan
dalam tugas-tugas mereka sekarang
dan masa yang akan datang melalui
pengembangan kebiasaan berfikir,
bertindak, keterampilan, pengetahuan
dan sikap yang sesuai (Dahana and
Bhatnagar,1980: 672).
Procton
dan
Thornton
(1983:9) mengemukakan bahwa
kalangan
manajemen
terlalu
membebankan
harapan
besar
terhadap
Lokakarya,
sementara
Lokakarya
itu
sendiri
diselenggarakan kurang mengarah
kepada
kebutuhan
sebenarnya.
Demikian juga Feldman dan Arnold
(1983:83) mengemukakan bahwa
sering kali program Lokakarya
diselenggarakan
begitu
banyak
persoalan sehingga malah tidak
mampu
memberikan
informasi
memadai dan penting sesuai dengan
kebutuhan dan harapan peserta
Lokakaryanya.
Peter
Drucker
(dalam
Bambang Kusrianto, 1993:118)
menunjukkan bahwa justru dengan
Lokakarya yang terus meneruslah
orang Jepang merasa makin besar
tanggung
jawabnya
terhadap
pekerjaan
dan
alat-alat
yang
digunakannya. Pelatihan membuat
orang semakin mengerti akan
prestasinya,
prestasi
peserta
didiknya, serta prestasi sekolah dan
berusaha
untuk
meningkatkan
prestasi-prestasi itu.
11. Temuan Hasil Penelitian yang
Relevan
Penelitian
yang berkaitan
dengan
pelaksanaan
Lokakarya
sebagai salah satu kegiatan yang
dapat meningkatkan kemampuan
Guru yang telah dilakukan oleh
146
beberapa peneliti seperti : Agus
Salim
(2006)
meneliti tentang
upaya meningkatkan kemampuan
Guru dalam menyusun RPP di SD
Negeri 078898 Surabaya melalui
kegiatan Lokakarya. Berdasarkan
analisis dapat disimpulkan bahwa
terjadi peningkatan aktivitas peserta
dalam kegiatan Lokakarya di SD
Negeri 078898 Surabaya
Di
samping itu juga, terjadi peningkatan
kompetensi Guru dalam menyusun
RPP melalui pembinaan berupa
Lokakarya di SD Negeri 078898
Surabaya dari siklus I ke siklus II
dan mencapai target minimal yang
telah ditetapkan yakni 80%, artinya
80% Guru telah efektif dalam
menyusun RPP pada masing-masing
aspek. Dengan demikian dapat
disimpulkan
bahwa
melalui
Lokakarya dapat
meningkatkan
kompetensi Guru dalam menyusun
RPP di SD Negeri 078898 Surabaya.
Berdasarkan hasil analisis
pada
masing-masing
siklus
menunjukkan
peningkatan
kemampuan Guru dalam membuat
alat evaluasi, yakni peningkatan
banyak Guru yang mampu membuat
pre tes 4 butir, postes 8 butir,
ulangan harian sebanyak 30 dan tes
blok 45 butir dari siklus I ke siklus II
dan dari siklus II ke siklus III.
Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa melalui kegiatan Lokakarya
dapat meningkatkan kemampuan
Guru dalam mengevaluasi hasil
belajar pada Guru SD
Negeri
078898 Surabaya.
METODE PENELITIAN
Peneliti melakukan kegiatan
penelitian ini dalam dua siklus.
Setiap Siklus terdiri
dari
:
Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi
dan Refleksi. Secara rinci prosedur
penelitian ini akan
mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut :
Siklus I
1. Perencanaan
Beberapa kegiatan yang
dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Mengundang Guru yang akan
mengikuti Lokakarya
b. Menyusun Instrumen Penelitian
c. Merencanakan dan menyusun
Jadwal Lokakarya
d. Menyiapkan materi Lokakarya.
e. Menghimbau
Guru untuk
membawa: Kurikulum, Silabus,
RPP
f. Menyiapkan konsumsi untuk
Lokakarya.
g. Menghimbau
Guru yang
mengikuti Lokakarya untuk
membawa Laptop
2. Pelaksanaan
a. Hari Pertama
- Pengarahan dari Kepala
Sekolah dan Narasumber
(Pengawas Sekolah)
- Pemaparan tentang Arti dan
Isi Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM)
b. Hari Ke Dua
- Menetapkan
Kriteria
Ketuntasan
Minimal
masing-masing
Mata
Pelajaran
- Diskusi
antara
peserta
Lokakarya
147
- Presentasi
hasil diskusi
dalam kelompok kecil
- Revisi hasil presentasi
c. Hari ketiga
- Presentasi secara Visual
tentang Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM)
- Revisi hasil presentasi
3. Observasi
Aspek-aspek yang diamati
dan
diperhatikan
dalam
fase
Observasi ini antara lain adalah :
a. Kesiapan mental dan fisik Guru
untuk mengikuti Lokakarya
b. Kesiapan
bahan-bahan yang
dibawa
Guru
pada
saat
Lokakarya.
c. Kehadiran
Guru
dalam
Lokakarya dari awal pertemuan
sampai akhir pertemuan.
d. Kesiapan
Guru
membawa
Laptop.
e. Hasil sementara
- Proses
pelaksanaan
Lokakarya.
- Kualitas KKM.
- Respon atau Sikap Guru.
4. Refleksi
Untuk
menentukan
keberhasilan
suatu
tindakan
digunakan norma / kriteria sebagai
berikut :
a. Analisis
kompleksitas,
daya
dukung, dan intake per indikator.
b. Penetapan KKM indikator yang
terdapat pada KD.
c. Penetapan KKM KD, rata-rata
dari indikator yang terdapat pada
KD.
d. Penetapan KKM SK rata-rata dari
KD yang terdapat pada SK.
e. Penetapan KKM mata pelajaran
rata-rata dari SK yang terdapat
pada mata pelajaran.
f. Penetapan KKM oleh Guru,
disahkan oleh Kepala Sekolah.
g. KKM disosialisasikan
kepada
peserta didik, orang tua, dan
Dinas Pendidikan.
h. KKM dicantumkan dalam LHB.
b. Hasil Pelaksanaan Lokakarya
- 85 % Guru menetapkan
KKM sesuai dengan kriteria diatas.
- 85 % Guru memperoleh
nilai Baik dan Sangat Baik.
Apabila kurang dari 85 %
Guru tidak memenuhi indikator
keberhasilan yang telah ditetapkan,
berarti tindakan melalui Lokakarya
dianggap belum berhasil. Oleh sebab
itu maka perlu dilakukan perbaikan
dan dilaksanakan pada siklus II.
Siklus II
Pada dasarnya siklus II
memiliki
prosedur yang sama
dengan siklus I, hanya saja diadakan
perbaikan pada hal-hal yang dilihat
ada kelemahan serta memperhatikan
hal-hal yang sudah berjalan dengan
baik. Selain itu tidak menutup
kemungkinan
juga
peneliti
melakukan modifikasi terhadap halhal yang sudah baik supaya tindakan
yang diberikan tidak menimbulkan
kejenuhan bagi peserta.
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
1. Deskripsi Kondisi Awal
Gambaran hasil yang didapat
berdasarkan rekaman fakta dan
observasi dilapangan, para Guru di
148
SMP Negeri 8 Tebing Tinggi pada
sekaligus bertugas sebagai Kepala
awalnya
pemahaman
terhadap
Sekolah di SMP Negeri 8 Tebing
Kriteria Ketuntasan Minimal masih
Tinggi ingin melihat secara spesifik
Sangat Kurang, hal ini dikarenakan
apakah melalui kegiatan Lokakarya
persepsi Guru menganggap bahwa
dapat meningkatkan kemampuan
Kriteria Ketuntasan Minimal tidak
Guru untuk menetapkan KKM sesuai
terlalu penting, disamping itu acuan,
dengan ketentuan yang berlaku.
referensi, pelatihan, atau sosialisasi
2. Deskripsi siklus I ( Pertama )
KKM
juga
jarang
sekali
Berdasarkan
hasil
dilaksanakan.
pengamatan peneliti
terhadap
Berdasarkan kondisi awal
aktivitas peserta Lokakarya di SMP
seperti inilah perlu adanya tindakan
Negeri 8 Tebing Tinggi
yang
nyata yang diharapkan mampu
berjumlah
10
orang
dengan
meningkatkan kemampuan Guru
menggunakan
lembar observasi
dalam
menetapkan
Kriteria
yang telah disiapkan, diperoleh data
Ketuntasan
Minimal
berupa
sebagai berikut :
Lokakarya. Peneliti
yang juga
Tabel 02. Rangkuman Hasil Observasi Tentang Kesiapan Guru
Mengikuti Lokakarya Pada Siklus I
Aspek Yang Diamati
Kesiapan
Kesiapan
Kehadir
Kesiapan
Mental dan
Bahan
an Guru
Laptop
Fisik Guru
S
TS
S
TS
H TH
S
TS
5
5
5
5
10
0
2
8
Persentase (%) 50 % 50 % 50 % 50 % 100 0
20 % 80 %
Pencapaian
Belum
Belum
Sudah
Belum
Indikator
Tercapai
Tercapai
Tercapai
Tercapai
Keberhasilan
Dari tabel
4.1. diatas ,
ditetapkan Indikator Keberhasilan
terlihat bahwa pada bagian aspek
dari aspek kesiapan secara Mental
Kesiapan Mental dan Fisik , Guru di
dan Fisik harus mencapai 85 % dari
SMP Negeri 8 Tebing Tinggi yang
Jumlah Guru yang mengikuti
mengikuti Lokakarya
hanya
Lokakarya. Oleh sebab itu dapat
sebahagian yaitu 5 orang yang siap
disimpulkan bahwa dari aspek
secara Mental dan Fisik untuk
kesiapan secara Mental dan Fisik,
mengikuti
Lokakarya
KKM
Belum Tercapai.
sedangkan sejumlah 5 orang Guru (
Aspek Kesiapan Bahan yang
dibawa peserta dalam Lokakarya
50 %) tidak siap secara Mental
terlihat sebanyak 5 orang (50 %)
dan Fisik untuk mengikuti
Lokakarya ini.
Namun dalam
yang siap membawa bahan-bahan
Penelitian Tindakan Sekolah ini telah
dalam Lokakarya seperti buku,
149
modul, RPP dan Sillabus sedangkan
sejumlah 5 orang (50 %) lainnya
belum siap membawa bahan-bahan
Lokakarya. Berdasarkan Indikator
Keberhasilan dalam penelitian ini,
maka kondisi dari aspek Kesiapan
Bahan, peserta Belum Tercapai.
Berdasarkan Daftar Hadir,
Peserta Lokakarya yang berjumlah
10 orang Guru hadir semua, sehingga
dari aspek Kehadiran berdasarkan
Indikator
Keberhasilan
Sudah
Tercapai. Data ini memperlihatkan
bahwa Guru di SMP Negeri 8 Tebing
Tinggi sangat bersemangat untuk
mengikuti Lokakarya KKM ini. Hal
ini terbukti semua Guru turut serta
dalam Lokakarya ini. Data ini juga
relevan dengan kondisi awal yang
memperlihatkan bahwa mayoritas
Guru di SMP Negeri 8 Tebing Tinggi
menetapkan KKM tanpa analisis,
karena belum pernah mengikuti
pelatihan KKM yaitu sejumlah 10
orang (100 % ).
Untuk
persiapan
sarana
mengikuti
Lokakarya
yaitu
membawa Laptop (Note Book) , para
peserta yang membawanya hanya 2
orang ( 20 %), sedangkan yang
lainnya sejumlah 8 orang (80 %)
tidak membawa Laptop. Sehingga
dapat disimpulkan
dari aspek
persiapan sarana yaitu membawa
Laptop Belum Tercapai.
Berdasarkan deskripsi hasil
observasi ini terlihat bahwa hanya
satu indikator keberhasilan saja yang
sudah dapat dinyatakan Sudah
Tercapai
yaitu
dari
aspek
Kehadiran.
Sedangkan tiga
indikator lainnya yaitu dari aspek
kesiapan secara Mental dan Fisik,
Kesiapan Bahan, dan Kesiapan
membawa Laptop masih
dapat
dikategorikan Belum Tercapai.
3.
Hasil Lokakarya tentang
Penetapan KKM
Berdasarkan hasil observasi
dan evaluasi
terhadap penetapan
KKM yang dibuat oleh 10 orang
Guru yang mengikuti Lokakarya
pada siklus I dapat dilihat pada
Tabel 4.2. berikut ini.
Penetapan KKM ditinjau dari
aspek Penetapan KKM mata
pelajaran
memperhatikan
Kompleksitas, Daya Dukung dan
Intake
berdasarkan
Indikator
Keberhasilan
termasuk dalam
kategori Baik dengan pencapaian
nilai rata-rata yaitu 83,62.
Sedangkan langkah-langkah
Penetapan KKM ditinjau dari aspek
KKM dibuat per indikator, kemudian
KD, SK, dan terakhir mata pelajaran
berdasarkan Indikator Keberhasilan
termasuk dalam kategori Cukup
dengan pencapaian nilai rata-rata dari
70 orang Guru
sebagai peserta
Lokakarya yaitu 60,71.
Namun demikian, pada aspek
yang ketiga dan ke empat yaitu Hasil
penetapan KKM oleh Guru mata
pelajaran disahkan oleh Kepala
Sekolah dan KKM yang ditetapkan
disosialisasikan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan, yaitu Peserta
Didik, Orang Tua, dan Dinas
Pendidikan pelajaran berdasarkan
Indikator Keberhasilan termasuk
dalam kategori Baik dengan
pencapaian nilai rata-rata dari 10
150
orang Guru
sebagai peserta
Lokakarya yaitu 84,61 dan aspek ke
empat termasuk dalam kategori
Sangat Baik dengan pencapaian
nilai rata-rata 90.
Untuk aspek yang ke lima
yaitu penetapan KKM dicantumkan
dalam Lembaran
Hasil Belajar
(Rapor), berdasarkan
Indikator
Keberhasilan juga mencapai kategori
yang Sangat Baik yaitu dengan nilai
rata-rata 88.
Berdasarkan fakta dan data
yang terlihat pada tabel 4.1. dan 4.2.
dapat diambil kesimpulan bahwa
kemampuan Guru dalam menetapkan
Kriteria Ketuntasan Minimal di SMP
Negeri 8 Tebing Tinggi
belum
memenuhi Indikator Keberhasilan
yang telah ditetapkan. Hanya dua
aspek saja yang sudah mencapai
Indikator Keberhasilan yaitu hanya
pada aspek KKM yang ditetapkan
disosialisasikan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan, yaitu Peserta
Didik, Orang Tua, dan Dinas
Pendidikan dan penetapan KKM
dicantumkan dalam Lembaran Hasil
Belajar (Rapor). Kedua aspek ini
dapat dikatakan sudah memenuhi
Indikator Keberhasilan karena telah
mencapai nilai di atas 85 yaitu 90
dan 88.
Dengan
demikian
berdasarkan
masalah
yang
ditemukan tersebut maka diambil
keputusan
untuk memperbaiki
langkah-langkah perbaikan dalam
siklus I, yakni memfokuskan
penyampaian materi dan melatih
Guru tentang penetapan KKM
per indikator, mencari solusi
mengatasi kendala bagi peserta
yang belum menyerahkan hasil
tugasnya, dan peningkatan atau
menyediakan sarana serta bahanbahan yang lebih lengkap tentang
KKM pada siklus ke II.
4. Deskripsi Hasil Siklus II (kedua)
Pada Siklus II, langkahlangkah yang diambil disesuaikan
dengan hasil refleksi pada Siklus I,
dengan memfokuskan narasumber
menyampaikan penjelasan aspekaspek yang belum dipahami Guru
dalam
menetapkan
Kriteria
Ketuntasan Minimal, lebih menitik
beratkan pada aspek pembimbingan
secara individu.
Pada Siklus ke dua ini sudah
mulai terlihat ada peningkatan dari
keadaan pada Siklus Pertama. Pada
aspek kesiapan mental dan fisik
sebanyak 10 orang atau 100 % %
Siap dan tidak ada yang Tidak Siap.
Data ini memperlihatkan adanya
kenaikan persentase jumlah Guru
yang siap secara Mental dan Fisik
untuk mengikuti Lokakarya KKM ini
dari sebelumnya yang siap hanya
sejumlah 50 % (
pada Siklus
Pertama). Dapat disimpulkan pada
Siklus Kedua ini aspek Kesiapan
Mental dan Fisik sudah memenuhi
Indikator
Keberhasilan
yaitu
termasuk dalam kategori Sudah
Tercapai.
Demikian juga halnya pada
aspek Kesiapan Bahan : tampak
bahwa 10 orang atau 100 % siap
dan tidak ada yang tidak siap.
Berdasarkan Indikator Keberhasilan
maka aspek Kesiapan Bahan
151
termasuk dalam kategori Sudah
Tercapai.
Pada aspek Kehadiran masih
sama dengan Siklus pertama yaitu
seluruh peserta sejumlah 10 orang
Guru tetap hadir pada Siklus ke dua.
Berdasarkan Indikator Keberhasilan
maka aspek Kehadiran termasuk
dalam kategori Sudah Tercapai
Dari
ke
empat
aspek
Kesiapan
Proses
Pelaksanaan
Lokakarya maka semua aspek sudah
tercapai
yaitu
aspek Kesiapan
menyediakan Laptop. Berdasarkan
hasil observasi pada Siklus ke dua ini
terlihat tampak 10 orang atau 100 %
sudah membawa.
Berdasarkan
pengamatan dan analisis peneliti hal
ini terjadi karena sarana tersebut
sudah dianggap benda yang biasa
saja dalam aktivitas keseharian
mereka.
Dari hasil evaluasi terhadap
penetapan
Kriteria
Ketuntasan
Minimal oleh Guru yang ikut
Lokakarya pada siklus II diperoleh
hasil seperti pada tabel 4.4. berikut.
Tabel 03.
Rangkuman Hasil Penilaian Guru Dalam
Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal pada siklus II
No.
1.
2.
3.
4.
5.
Aspek
Penetapan KKM mata pelajaran
memperhatikan
tiga
aspek;
kompleksitas, daya dukung, dan
intake.
KKM
dibuat
per
indikator,
kemudian KD, SK, dan terakhir
mata pelajaran
Hasil penetapan KKM oleh Guru
mata pelajaran disahkan oleh kepala
sekolah
KKM
yang
ditetapkan
disosialisasikan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan, yaitu peserta
didik, orang tua, dan Dinas
Pendidikan
KKM dicantumkan dalam LHB
Jumlah
Rata - rata
Dari tabel 4.4. diatas, bila
dilihat dari rata-rata secara umum
dalam penetapan Kriteria Ketuntasan
Minimal pada siklus 2 berdasarkan
kepada
Indikator
Keberhasilan
termasuk berada
dalam kategori
Sangat Baik ( rata-rata 88,38 ),
Jumlah
Nilai
4965,38
Rata-rata
Nilai
85,61
Persentase
85,61
5007,14
86,33
86,33
5349,34
5220
92,23
90
92,23
90
5104
88
88
25645,86
88,38
Jika kita lihat dari nilai atau
persentase Guru di SMP Negeri 8
Tebing Tinggi
yang dapat
menetapkan KKM dengan memenuhi
mekanisme dan ketentuan yang
berlaku dimulai dari Kondisi Awal
hanya 4,93 %, Siklus I mengalami
peningkatan yaitu rata-rata 82,72 % ,
152
dan
Siklus 2 terus mengalami
peningkatan yaitu 85,61 %. Apabila
dilihat dari tingkat kenaikan maka
ini menunjukkan peningkatan yang
sangat berarti.
Demikian juga halnya dengan
langkah-langkah Penetapan KKM
ditinjau dari aspek KKM dibuat per
indikator, kemudian KD, SK, dan
terakhir mata pelajaran berdasarkan
Indikator Keberhasilan termasuk
dalam kategori Cukup
dengan
pencapaian nilai rata-rata dari 10
orang Guru
sebagai peserta
Lokakarya yaitu 60,71. Pada Siklus
ke Dua, nilainya bertambah menjadi
86,33, sehingga dapat dikategorikan
sebagai Sangat Baik.
Namun demikian, pada aspek
yang ketiga dan ke empat yaitu Hasil
penetapan KKM oleh Guru mata
pelajaran disahkan oleh Kepala
Sekolah dan KKM yang ditetapkan
disosialisasikan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan, yaitu Peserta
Didik, Orang Tua, dan Dinas
Pendidikan pelajaran berdasarkan
Indikator Keberhasilan termasuk
dalam kategori Baik dengan
pencapaian nilai rata-rata dari 10
orang Guru
sebagai peserta
Lokakarya yaitu 84,61 (Siklus
Pertama)
dan aspek ke empat
termasuk dalam kategori Sangat
Baik dengan pencapaian nilai ratarata 90 (Siklus Kedua ).
Untuk aspek yang ke lima
yaitu penetapan KKM dicantumkan
dalam Lembaran
Hasil Belajar
(Rapor), berdasarkan
Indikator
Keberhasilan juga mencapai kategori
yang Sangat Baik yaitu dengan nilai
rata-rata 88 (Siklus Pertama).
Sedangkan pada Siklus Kedua tidak
mengalami kenaikan .
5. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan analisis dan
pembahasan
seperti yang telah
dipaparkan
pada
bagian
sebelumnya, maka dapat disimpulkan
bahwa terjadi peningkatan aktifitas
peserta dalam kegiatan Lokakarya
tentang Peningkatan Kemampuan
Guru dalam Menetapkan Kriteria
Ketuntasan Minimal bagi Guru di
SMP Negeri 8 Tebing Tinggi .
Disamping itu juga terjadi
peningkatan
kemampuan
Guru
dalam
menetapkan
Kriteria
Ketuntasan
Minimal
melalui
Lokakarya di SMP Negeri 8 Tebing
Tinggi dari Siklus I ke Siklus II
pada masing-masing aspek dengan
target ketercapaian sesuai dengan
Indikator
Keberhasilan
yang
ditetapkan. Dengan demikian dapat
disimpulkan
bahwa
melalui
Lokakarya dapat meningkatkan
kemampuan Guru dalam menetapkan
Kriteria Ketuntasan Minimal di SMP
Negeri 8 Tebing Tinggi .
Dalam kaitannya dengan
pembinaan melalui Lokakarya, maka
penelitian ini juga sesuai dengan apa
yang dikatakan Amstrong (1990 :
209)
bahwa tujuan Lokakarya
ádalah untuk memperoleh tingkat
kemampuan yang diperlukan dalam
pekerjaan mereka dengan cepat dan
ekonomis dan mengembangkan
kemampuan-kemampuan yang ada
sehingga prestasi mereka pada tugas
yang sekarang ditingkatkan dan
153
mereka
dipersiapkan
untuk
menerima tanggung jawab yang lebih
besar di masa yang akan datang.
Siswanto ( 1989 : 139 )
mengatakan Lokakarya
bertujuan
untuk memperoleh nilai tambah
seseorang
yang
bersangkutan,
terutama yang berhubungan dengan
meningkatnya dan berkembangnya
pengetahuan,
sikap,
dan
keterampilan yang bersangkutan.
Lokakarya
dimaksudkan untuk
mempertinggi kemampuan dengan
mengembangkan cara-cara berpikir
dan
bertindak yang tepat serta
pengetahuan tentang tugas pekerjaan
termasuk tugas dalam melaksanakan
evaluasi diri ( As’ ad,1987: 637 )
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan analisis
dan
pembahasan seperti yang telah
dipaparkan sebelumnya, maka dapat
disimpulkan bahwa :
Penelitian tentang upaya
meningkatkan kemampuan Guru
dalam menetapkan KKM melalui
Lokakarya dimulai dari supervisi
awal. Supervisi awal dilakukan untuk
mengidentifikasi masalah yang ada
dalam
penetapan
Kriteria
Ketuntasan
Minimal.
Langkah
selanjutnya adalah menganalisis hasil
supervisi kemudian ditindak lanjuti
dengan mengadakan Lokakarya.
Penyelenggaraan
Lokakarya
dilakukan dengan melalui tahapantahapan yang lebih menekankan
kepada pengetahuan praktis sehingga
mudah
dipahami
oleh
Guru.
Selanjutnya adalah memberikan
latihan
menetapkan
Kriteria
Ketuntasan Minimal sesuai dengan
langkah-langkah
yang
telah
ditentukan. Untuk meyakinkan Guru
membuat
Kriteria
Ketuntasan
Minimal
dilaksanakan presentasi
pada masing-masing kelompok Guru
mata pelajaran. Selanjutnya, Peneliti
mengamati (Observasi) dan menilai
Kriteria Ketuntasan Minimal yang
telah ditetapkan Guru. Dari penilaian
tersebut kemudian dievaluasi aspek
materi yang belum sesuai dengan
Kriteria Penetapan KKM, kemudian
dilanjutkan dengan perbaikan dengan
memberi masukan dan revisi dari
hasil presentasi tersebut. Melalui
tahapan tersebut kemampuan Guru
dalam
menetapkan
Kriteria
Ketuntasan Minimal meningkat.
Peserta Lokakarya yaitu Guru di
SMP Negeri 8 Tebing Tinggi
memberikan respon dan tanggapan
positif terhadap kegiatan penetapan
Kriteria Ketuntasan Minimal melalui
Lokakarya.
Dengan
demikian
kegiatan Lokakarya memberikan
dampak positif terhadap kemampuan
Guru dalam menetapkan Kriteria
Ketuntasan Minimal.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian
yang diperoleh, dapat disarankan
beberapa hal, antara lain :
1. Kegiatan
Lokakarya
untuk
meningkatkan kemampuan Guru
dalam
menetapkan
KKM
hendaknya dapat dilakukan secara
periodik agar kualitas dan
keterampilannya dapat terjaga
dengan baik.
154
2. Melalui
pengetahuan
dan
keterampilan yang
diperoleh
Guru melalui kegiatan Lokakarya
sebaiknya para Guru dapat
menetapkan Kriteria Ketuntasan
Minimal dengan memperhatikan
mekanisme yang sebenarnya yaitu
prinsip
dan
langkah-langkah
penetapan.
3. Dalam kegiatan Lokakarya ini
sebaiknya semua Guru harus
mampu bekerja sama dengan
peserta lain yang bersifat
kolaboratif konsultatif, sehingga
hasil Lokakarya dapat berjalan
dengan effektif.
4. Pihak sekolah sebaiknya secara
rutin
dapat
memfasilitasi
Lokakarya
peningkatan
kemampuan
Guru
dalam
penetapan Kriteria Ketuntasan
Minimal agar kemampuan dan
keterampilan
Guru
dalam
menetapkan KKM dapat terjaga
dengan baik.
5. Pemerintah dalam hal ini
Departemen
Pendidikan
Nasional di Pusat dan Dinas
Pendidikan di Propinsi serta di
Kabupaten/ Kota hendaknya
senantiasa memfasilitasi semua
kegiatan
dalam
rangka
meningkatkan kemampuan Guru
menetapkan Kriteria Ketuntasan
Minimal.
6. Lokakarya dapat menjadi sarana
yang
effektif
untuk
meningkatkan kompetensi Guru
dalam pengembangan proses
belajar
mengajar
dan
menetapkan Kriteria Ketuntasan
Minimal.
RUJUKAN
Abdullah, A,E. 1989. Pokok-pokok
Layanan Bimbingan Belajar.
Ujung Pandang; Fakultas
Ilmu Pendidikan IKIP Ujung
Pandang.
Abdurrahman, H. 1990. Pengelolaan
pengajaran. Bandung Tarsito.
Anonim, 1998. Garis-garis Besar
Haluan Negara. Jakarta:
Departemen Pendidikan
Nasional.
Arikunto, S. 1993. Prosedur
Penelitian dan Penilaian
Hasil Belajar. Jakarta : Bina
Aksara.
--------, 1993. Dasar-dasar Evaluasi
dan pendekatan Praktek.
Jakarta :Bina Aksara.
Ahmadi, Abu. Didaktik Metodik.
Cet.II; Semarang: CV. Toha
Putra. 1998
Ali, M. Guru dan Proses Belajar
Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algesindo. 1993.
Boediono,
1998.
Pembinaan
Profesi Guru dan Psikologi
Pembinaan
Personalia,
Jakarta
;
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Bahri, D.S. 19937. Prestasi Belajar
dan Kompetensi Guru.
Surabaya: Usaha nasional.
Edward., J.D. 1995.Statistik
Matematika Modern. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Gie. Cara Belajar yang Efisien.
Yogyakarta: Liberti. 1995.
155
Hardjana. Kiat Sukses di Perguruan
Tinggi. Yogyakarta: Kanisius.
1994.
Hudoyo,
H.
Pengembangan
Kurikulum. Surabaya: Usaha
Nasional. 1984.
Loekmono. Belajar Bagaimana
Belajar.
Jakarta:
BPK
Gunung Mulia. 1994.
Mappa, S, 1970. Psikologi
Pendidikan . Ujung pandang:
Fakultas Ilmu pendidikan
IKIP Ujung pandang.
Mardanu , 1997 Peranan Orang Tua
dalam Upaya meningkatkan
Mutu Pendidikan anak.
Jakarta: Cakrawala
Pendidikan.
Muhtar, Pedoman Bimbingan Guru
dalam
Proses
Belajar
Mengajar. Jakarta: PGK &
PTK Dep.Dikbud. 1992
Mathis dan Jackson . 2002.
Manajemen Sumber Daya
Manusia. Jakarta : Salemba
Empat.
Nasution, S. Berbagai Pendekatan
dalam
Proses
Belajar
Mengajar. Cet. IV; Jakarta.
PT. Bina Aksara. 1988
Nurkancana, W.J.S. 19837. Kamus
Umum Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Sardiman, A.M. 1992. Interaksi dan
Motivasi belajar mengajar.
Jakarta: CV Rajawali Press.
Slameto. 1995. Belajar dan faktorfaktor yang mempengaruhi,
Jakarta : Rineka Cipta.
Sardiman, A.M. Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar.
Cet. IV; Jakarta: Rajawali
Pers. 1992.
Slameto. Belajar dan Faktor-faktor
yang Mempengaruhinya. Cet.
II; Jakarta: Rineka Cipta.
1995.
Sudarmono. Tuntunan Metodologi
Belajar. Jakarta: Grasindo.
1994.
Syah,
Muhibbin.
Psikologi
Pendidikan Suatu Pendekatan
Baru. Cet.I; Jakarta: Logos
Wacana Ilmu.
Sudibyo, Bambang. Model dan
Teknik
Penilaian
pada
Tingkat Satuan Pendidikan
Dasar
dan
Menengah.
Jakarta :
Departemen
Pendidikan Nasional, 2002
Sungkowo M, Perangkat Penilaian
Kurikulum Tingkat satuan
Pendidikan
Sekolah
Menengah Atas. Jakarta :
Departemen
Pendidikan
Nasional, 2003
Usman, H. Pengelolaan Kegiatan
Belajar
Mengajar.
Ujungpandang: FIP IKIP
Ujungpandang. 1994
Utuh, Harun. Proses Belajar
Mengajar. Cet. I; Surabaya:
Usaha Nasional. 1987
156
Download