5 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka

advertisement
5
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Tinjauan Pustaka
Dalam buku Jurnal Ilmiah SCRIPTURA, Vol. 2, No. 2 ( Goenawan,
2008:190), media memiliki tuntutan untuk dapat memahami audiensnya. Karena
untuk dapat mempertahankan audiensnya, media harus mengetahui apa yang menjadi
keinginan masyarakat tersebut. Memahami gaya hidup masyarakat dimana media
tersebut berada merupakan cara untuk dapat menyesuaikan diri dengan audiensnya.
VALS ( Value and Lifestyle ) merupakan salah satu cara yang akan memudahkan
media memahami masyarakat. bahkan setelah media memahami VALS audiensnya
saat ini bukan berarti telah berhenti dan menjadi patokan untuk memahami
masyarakat tersebut. Karena gaya hidup masyarakatkan akan berubah dan bersifat
dinamis dari waktu ke waktu.
Dalam buku Jurnal Ilmiah SCRIPTURA, Vol. 2, No.1 (Priyowidodo,
2008:61), keinginan manusia agar bisa dilihat sesamanya, sungguh sudah merupakan
kebutuhan. Bahwa sebuah televisi semestinya harus menyiarkan acara-acara lengkap
yang mencakup, news reporting, talkshow, call-in show, documentair, magazine,
rural program, advertising, education/instructional, art and culture, music, soap
opera/sinetron/drama, TV movies, game show, comedy.
5
6
2.2
Teori Umum
2.2.1 Mendefinisikan Komunikasi
Menurut dalam buku Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi (
West & Turner, 2010 : 5-8), komunikasi adalah proses sosial dimana individuindividu menggunakan simbol-simbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan
makna dalam lingkungan mereka. Sebelum kita mendiskusikan definisi ini lebih
lanjut, kita perlu memperjelas bahwa pandangan kita akan komunikasi juga
mencakup komunikasi tatap muka maupun komunikasi dengan menggunakan media.
Dengan demikian, mari kita mendefinisikan lima istilah kunci dalam perspektif kita
ini: sosial, proses, simbol, makna, dan lingkungan.
Lingkungan
Sosial
Makna
Komunikasi
Simbol
Proses
Gambar 1.1 Istilah Kunci Dalam Perspektif
•
Ketika menginterpretasikan komunikasi secara sosial, maksud yang
disampaikan adalah komunikasi selalu melibatkan manusia secara interaksi.
Artinya, komunikasi selalu melibatkan dua orang, pengirim dan penerima.
Keduanya memainkan peranan yang penting dalam proses komunikasi.
7
Ketika komunikasi dipandang secara sosial, komunikasi selalu melibatkan
dua orang yang berinteraksi dengan berbagai niat, motivasi, dan kemampuan.
•
Kemudian, ketika membicarakan komunikasi sebagai proses, hal ini berarti
komunikasi bersifat berkesinambungan dan tidak memiliki akhir. Komunikasi
juga dinamis, kompleks, dan senantiasa berubah. Melalui pandangan
mengenai komunikasi ini, kami ingin menekankan bahwa menciptakan suatu
makna adalah sesuatu yang dinamis. Oleh karena itu, komunikasi tidak
memiliki awal dan akhir yang jelas. Selain itu, karena komunikasi merupakan
proses, banyak sekali yang dapat terjadi dari awal hingga akhir dari sebuah
pembicaraan. Orang-orang dapat memiliki sifat yang sama sekali berbeda
ketika sebuah diskusi dimulai. Hal ini dapat menjelaskan konflik sering
terjadi di antara teman sekamar, pasangan suami istri, dan saudara. Walaupun
suatu percakapan dimulai dengan bahasa yang kaku dan tidak fleksibel,
konflik tersebut dapat saja diselesaikan melalui kompromi. Semua hal ini
dapat terjadi dalam hitungan menit saja.
•
Istilah ketiga yang diasosiasikan dengan definisi kita mengenai komunikasi
adalah simbol. Simbol adalah sebuah label dari fenomena. Kata adalah
simbol untuk konsep dan benda misalnya, kata cinta mempresentasikan
sebuah ide mengenai cinta; kata kursi mempresentasikan benda yang kita
duduki. Simbol biasanya telah disepakati bersama dalam sebuah kelompok,
tetapi mungkin saja tidak dimengerti di luar lingkup tersebut.
•
Selain proses dan simbol, makna juga memiliki peranan yang penting.
Makna adalah yang diambil orang dari suatu pesan. Dalam episode-episode
komunikasi, pesan dapat memiliki lebih dari satu makna dan bahkan berlapis-
8
lapis makna. Tentu saja, tidak semua makna dapat selalu tersampaikan, dan
orang tidak akan selalu tahu apa yang dimaksudkan oleh orang lainnya.
•
Istilah kunci yang terakhir dalam definisi komunikasi kita adalah lingkungan.
Lingkungan adalah situasi atau konteks dimana komunikasi terjadi.
Lingkungan terdiri atas beberapa elemn, seperti waktu, tempat, periode
sejarah, relasi, dan latar belakang budaya pembicara dan pendengar.
Lingkungan juga dapat dihubungkan. Maksudnya, komunikasi dapat terjadi
dengan adanya bantuan dari teknologi. Sangatlah mungkin bahwa beberapa
dari Anda sekalian telah berkomunikasi dalam lingkungan yang difasilitasi
oleh media; misalkan saja melalui e-mail, chat room, atau internet.
Lingkungan-lingkungan yang terhubung secara elektronis, kita tidak dapat
memperhatikan mata atau prilaku lawan bicara kita, mendengarkan karakter
vokalnya atau memperhatikan gerakan-gerakan tubuhnya. Lingkungan yang
difasilitasi oleh media ini adalah area penting dalam teori komunikasi, namun
juga mempengaruhi proses komunikasi baik secara langsung maupun tidak.
2.2.2 Pengertian Komunikasi Massa
Dalam buku Sosiologi Komunikasi (Bungin, 2006), berikut ini akan
dijelaskan secara lebih sederhana tentang pengertian komunikasi massa yang
dirangkum dari berbagai definisi yang dikemukakan para ahli.
9
Lihatlah gambar di bawah ini :
Saluran Komunikasi
dengan Media
Non Mass
Media
Surat, Telepon,
Telegram, dll
Mass Media
Non Periodik
Poster, Brosur, Pengumuman,
Billboard, dll
Periodik
Surat kabar, majalah, radio,
televisi, film, internet
Gambar 1.2 Saluran Komunikasi dengan Media
Komunikasi dapat dilakukan dengan media dan tanpa media. Komunikasi
yang menggunakan media dapat menggunakan media massa maupun media non
massa. Media non massa contohnya ; surat, telepon, telegram, dan lain-lain.
Sedangkan media massa dapat dibagi lagi menjadi media massa yang periodik (
waktu perbandingannya teratur) dan media massa yang non periodik (waktu
perbandingannya tidak teratur)
Media massa yang periodik dibagi menjadi dua jenis yaitu :
•
Media cetak, contohnya ; surat kabar, majalah, buku
•
Media non cetak ( elektronik ) contohnya ; televisi, radio, film, dan media
baru (internet).
Dari penjelasan-penjelasan tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
yang disebut komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media
massa yang periodik. Atau secara sederhana dapat pula dikatakan bahwa
10
komunikasi massa adalah suatu bentuk komunikasi yang menggunakan media massa,
baik itu media cetak maupun media elektronik dalam menyampaikan pesan-pesan
tertentu kepada khalayak/masyarakat luas yang tersebar diseluruh penjuru dunia.
Jadi pada dasarnya Komunikasi massa adalah proses dimana pesan sampai ke
khalayak melalui media massa, sedangkan media massa adalah alat yang digunakan
dalam menyampaikan pesan-pesan dalam komunikasi massa.
Dengan demikian unsur-unsur penting dalam komunikasi massa (media
massa) adalah :
-
Komunikator
-
Media massa
-
Informasi (pesan) massa
-
Penjaga gawang (gatekeeper)
-
Khalayak (public)
-
Umpan balik
2.2.3 Tingkatan dalam Komunikasi
Dalam buku Pengantar Komunikasi Massa (Nawiroh Vera, 2010 : 9-10),
komunikasi mempunyai tingkatan yang dilihat berdasarkan seberapa banyak jumlah
orang yang terlibat dalam proses komunikasi.
1. Intrapersonal Communication ( komunikasi dengan diri sendiri )
Komunikasi intrapersonal mempunyai elemen-elemen sebagai syarat
minimal terjadinya proses komunikasi, yaitu komunikator-pesankomunikan, tetapi dalam komunikasi intrapersonal, komunikator dan
komunikannya adalah dirinya sendiri. Seseorang melakukan komunikasi
intrapersonal apabila berbicara dengan diri sendiri untuk mengembangkan
11
ide-idenya sendiri. Komunikasi intrapersonal tersebut mendahului ucapan
atau tindakan seseorang. (Vivian, 2008)
2. Interpersonal Communication ( komunikasi antar pribadi )
Komunikasi antar pribadi melibatkan dua atau tiga orang dalam
proses komunikasinya, ada noise, dan komunikan bertindak juga sebagai
komunikator selama proses komunikasi berlangsung. Dalam bentuknya
yang paling sederhana komunikasi interpersonal adalah komunikasi
antara dua orang secara fisik berada pada lokasi yang sama. (Nawiroh
Vera, 2010)
3. Group Communication ( komunikasi kelompok )
Didalam komunikasi kelompok ciri utamanya adalah dimana sejumlah
orang mengurangi keintiman dalam proses komunikasi. Contohnya,
pertemuan klub atau pidato ke audien di auditorium. Komunikasi
kelompok dibagi menjadi dua yaitu, komunikasi kelompok kecil dan
komunikasi kelompok besar, tergantung jumlah orang yang terlibat dalam
komunikasi tersebut. (Vivian, 2008)
4. Mass Communication ( komunikasi massa )
Komunikasi massa merupakan komunikasi yang kompleks karena
melibatkan jumlah orang yang relatif sangat banyak baik komunikator
maupun komunikannya. Komunikasi massa ciri utamanya adalah mampu
menjangkau ribuan atau bahkan jutaan orang yang dilakukan melalui
media massa baik cetak maupun elektronik. (Nawiroh Vera, 2010)
12
2.2.4 Ciri-ciri Komunikasi Massa
Dalam buku Pengantar Komunikasi Massa (Nawiroh Vera, 2010 :12-16),
untuk membedakan antara jenis komunikasi yang satu dengan yang lainnya maka
masing-masing memiliki ciri-ciri tersendiri. Adapun ciri-ciri komunikasi massa
adalah sebagai berikut :
•
Komunikatornya Terlembaga
Menurut Wright, komunikator dalam komunikasi massa bergerak
dalam organisasi yang kompleks, yang terdiri dari banyak orang yang terlibat
didalamnya dari mulai wartawan , editor , pemimpin redaksi, pemilik media,
dll. Karena dalam organisasi yang kompleks maka memerlukan modal yang
besar untuk menunjang kinerjanya.
•
Khalayak Sasaran
Khalayak sasarannya luas, heterogen, anonym. Disebut luas karena
jumlahnya banyak dan tersebar, tidak di batasi oleh jarak dan geografis.
Disebut heterogen karena khalayak komunikasi massa sangat beragam, terdiri
dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda, baik dari segi pendidikan,
jenis kelamin, agama, status sosial, dan sebagainya.
•
Isi Pesan
Bersifat umum, bukan perorangan atau pribadi untuk kepentingan
orang banyak. Komunikasi massa itu ditujukan kepada semua orang bukan
untuk sekelompok orang tertentu.
•
Waktu Penyampaian
Dalam komunikasi massa waktu penyampaiannya cepat dan mampu
menjangkau khalayak luas tidak terbatas secara geografis dan kultural.
13
•
Komunikasi massa bersifat satu arah
Dalam beberapa definisi dan pengertian tentang komunikasi massa
disebutkan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan
atau melalui media massa. Karena ciri tersebut maka komunikator dan
komunikannya tidak bertemu secara langsung seperti yang terjadi pada
komunikasi interpersonal (tatap muka), akibatnya respon tidak dapat
diberikan secara langsung maka sifat komunikasi massa adalah satu arah (one
way traffic communication).
•
Mengutamakan unsur isi dari pada hubungan
Setiap komunikasi melibatkan unsur isi dan unsur hubungan. Pada
komunikasi massa lebih mementingkan unsur isi, sedangkan dalam
komunikasi antar pribadi lebih mengutamakan unsur hubungan.
•
Feedback dalam komunikasi massa
Karena komunikasi massa bersifat satu arah maka feedback (umpan
balik) nya bersifat tertunda (delayed feddback). Maksudnya adalah
komunikan dalam komunikasi massa tidak bisa memberikan respon langsung
pada komunikator tidak seperti dalam komunikasi antar pribadi, karena dalam
komunikasi massa pesan disampaikan lewat media massa tidak secara
langsung (tatap muka). Umpan balik biasanya berupa surat pembaca, melalui
fax, telepon, e-mail, dsb.
•
Stimulasi Alat Indera yang Terbatas
Dalam komunikasi massa, stimulasi alat indera bergantung pada jenis
media massa. Pada surat kabar dan majalah, pembaca hanya melihat. Pada
siaran radio dan rekaman auditif, khalayak hanya mendengar, sedangkan pada
14
media televisi dan film, kita menggunakan indra penglihatan dan
pendengaran.
Sedangkan komunikasi antarpersonal yang bersifat tatap muka, maka
seluruh alat indera pelaku komunikasi, komunikator dan komunikan, dapat
digunakan secara maksimal. Kedua belah pihak dapat melihat, mendengar
secara langsung, bahkan mungkin merasakan.
2.2.5 Karakteristik Isi Pesan Komunikasi Massa
Dalam buku Pengantar Komunikasi Massa (Nawiroh Vera, 2010 :17-19), isi
pesan dalam setiap jenis komunikasi juga dibedakan oleh ciri-ciri tertentu, demikian
halnya dengan komunikasi massa. Adapun karakteristik isi pesan komunikasi massa
antara lain yaitu :
1. Novelty (sesuatu yang baru)
Berkaitan dengan aktualitas, bahwa suatu berita akan menarik
khalayak jika merupakan hal-hal yang baru. Baru bukan berarti selalu baru
terjadi, melainkan sesuatu yang belum diketahui khalayak atau khalayak
untuk pertama kalinya mengetahui adanya fakta baru.
2. Proximity (kedekatan/jarak)
Proximity artinya kedekatan atau jarak terjadinya suatu peristiwa
dengan tempat dipublikasikannya peristiwa itu mempunyai arti penting.
Khalayak akan teratrik untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan langsung
dengan kehidupan dan lingkungannya.
15
3. Popularitas
Peliputan tentang tokoh, organisasi, tempat dan waktu yang penting
dan terkenal selalu menarik perhatian khalayak. Semakin seseorang popular
maka ia selalu menjadi bahan berita yang menarik.
4. Pertentangan/konflik
Hal-hal yang mengungkapkan pertentangan selalu menjadi bahan
berita, peristiwa perang, pemilu, konflik perorangan, konflik antar organisasi,
dan lain-lain. Konflik ini memiliki nilai berita yang tinggi karena konflik
selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia dan berita merupakan
peristiwa tentang kehidupan.
5. Komedi/humor
Acara-acara lawak sangan disukai terutama untuk menghilangkan
kejenuhan.
6. Seks dan Keindahan
Kedua unsur ini bersifat universal dan menarik perhatian khalayak.
7. Bencana dan Kriminal
Hal-hal yang berkaitan dan menyentuh kebutuhan dasar manusia
seringkali bisa menimbulkan emosi dan simpati khalayak, misalnya; berita
bencana alam, pembantaian, kelaparan, dan lain-lain.
8. Nostalgia
Hal-hal yang mengungkapkan pengalaman masa lalu. Kenangan
seseorang baik yang berkesan atau yang tidak menyenangkan di masa lalu
biasanya selalu diingat.
16
9. Human Interest
Menyangkut kehidupan orang lain terutama yang menyentuh
perasaan, peristiwa yang membangkitkan emosi manusia seperti sedih, lucu,
dramatis, hal-hal yang aneh semuanya menarik jika dilihat dari segi human
interest.
2.2.6 Kekuatan Media Massa
Dalam buku Teori Komunikasi Massa McQuail ( McQuail, 2011 :56-57),
menyatakan bahwa keyakinan terhadap kekuatan media massa awalnya berdasarkan
penelitian atas jangkauan sertas dampak media yang besar, terutama yang berkaitan
dengan pers surat kabar (newspaper) yang baru dan popular. Pers popular
umumnya didanai oleh iklan (advertising) komersial. Kontennya dicirikan dengan
kisah berita (news) sensasinal dan kontrolnya sering kali terkonsentrasi di tangan
para pers yang berkuasa.
Penunjukkan media berita dan hiburan (entertainment) oleh para sekutu di
Perang Duia II menghilangkan semua keraguan mengenai nilai propaganda mereka.
Kondisi kekuatan media yang efektif secara umum termasuk pada kemampuan
industri media nasional dalam menjangkau sebagian besar populasi, tingkat
kesepahaman dalam pesan yang disebarkan (ke manapun arahnya), dan penilaian atas
kredibilitas dan kepercayaan media oleh khalayak.
Sementara pada saat ini, terdapat lebih banyak pengetahuan dan skeptisisme
mengenai kekuatan komunikasi massa yang langsung, tidak adanya keraguan
terhadap media massa dalam periklanan, public relation, dan kampanye (campaign)
politik. Politik secara rutin dilakukan (dan juga diketahui) berdasarkan asumsi bahwa
17
presentasi media yang baik merupakan hal yang sangat vital bagi kesuksesan di
semua kondisi normal.
2.2.7 Televisi
Dalam buku Pengantar Komunikasi Massa (Nawiroh Vera, 2010 : 76-79),
televisi berasal dari kata tele (bahasa Yunani) yang berarti “jarak” dan visi (bahasa
Latin) yang berarti “citra atau gambar”. Jadi, kata televisi berarti suatu sistem
penyajian gambar berikut suaranya dari suatu tempat yang berjarak jauh. Dari semua
media massa, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Televisi
dijejali hiburan, berita dan iklan. Mereka menghabiskan waktu menonton televisi
sekitar tujuh jam dalam sehari.
1. Siaran Televisi di Indonesia
Siaran televisi pertama di Indonesia ditayangkan pada tanggal 17
Agustus 1962 bertepatan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia
yang ke tujuh belas merupakan hari bersejarah pertelevisian di Indoensia.
Saat itulah TVRI mulai mengadakan siaran percobaan dengan pemancar
cadangan berkekuatan 100 watt, berlangsung mulai pukul 07.30-11.02
WIB untuk meliput upacara peringatan hari Proklamasi di Istana Negara.
Televisi Republik Indonesia (TVRI) baru melaksanakan siaran secara
kontiniu 24 Agustus 1962. Liputan perdana nya adalah upacara
pembukaan Asian Games ke IV di Stadion Utama Senayan Jakarta. Saat
ini siaran televisi di Indonesia telah dapat menjangkau seluruh provinsi di
Indonesia berkat pemanfaatan satelit Palapa (yang mampu pula
menjangkau wilayah Asean).
18
Tahun 1989 dimulai era televisi swasta di Indonesia. RCTI mulai
mengudara pada tanggal 13 November 1988, tetapi baru diresmikan pada
tanggal 24 Agustus 1989. Pada waktu itu, siaran RCTI hanya dapat
ditangkap oleh pelanggan yang memiliki dekoder dan membayar iuran
setiap bulannya, walaupun pada akhirnya RCTI mencabut penggunaan
dekoder. Pada tahun 1991 RCTI mulai melakukan siaran secara Nasional.
Semenjak itu bertahap mulai muncul stasiu-stasiun televisi swasta lainnya
seperti SCTV, TRANS TV, GLOBAL TV, INDOSIAR, METRO TV, TV
ONE, TPI, TV 7 yang berubah nama menjadi TRANS 7.
Selain TV swasta di Indonesia saat ini banyak terdapat stasiun televisi
lokal dan komunitas yang tersebar di berbagai daerah
di seluruh
nusantara.
2. Fungsi Televisi
Tiga fungsi utama dari media televisi yaitu : hiburan, penyebaran
informasi, dan pendidikan. Ketiga fungsi tersebut saling tumpang tindih
satu dengan yang lainnya sehingga batas-batasnya tidak dapat dijelaskan
secara tajam.
3. Karakteristik Televisi
Ciri utama televisi adalah sifatnya yang audio visual, dimana
stimulasi alat indera bukan hanya satu seperti dalam radio siaran, surat
kabar dan majalah. Televisi dapat didengar sekaligus dapat dilihat.
Secara lebih khusus karakteristik televisi adalah sebagai berikut :
1. Memiliki jangkauan yang luas dan segera dapat menyentuh
rangsang penglihatan dan pendengaran manusia.
19
2. Dapat menghadirkan obyek yang amat kecil/besar, berbahaya,
atau yang langka.
3. Menyajikan pengalaman langsung pada penonton.
4. Dapat dikatakan “meniadakan” perbedaan jarak dan waktu.
5. Mampu menyajikan unsur warna, gerakan, bunyi, dan proses
dengan baik.
6. Dapat mengkoordinasikan pemanfaatan berbagai media lain,
seperti film, foto, dan gambar dengan baik.
7. Dapat menyimpan berbagai data, informasi, dan serentak
menyebarluaskannya dengan cepat ke berbagai tempat yang
berjauhan.
8. Mudah ditonton tanpa perlu menggelapkan ruangan.
9. Membangkitkan rasa intim atau media personal
2.2.8 Klasifikasi Teori Komunikasi
Dalam buku Teori Komunikasi ( Morissan & Wardhany,2009 :8-16), dalam
perkembangannya, para ahli ilmu komunikasi telah melahirkan banyak teori. Namun,
diantara berbagai teori komunikasi yang banyak itu, ternyata tidak ada teori yang
persis sama menjelaskan komunikasi. Teori-teori itu berbeda karena, antara lain
memiliki perspektif yang berbeda dalam melihat komunikasi. Berbagai teori itu
sendiri dapat diorganisasi atau dikelompokkan berdasarkan apan yang menjadi fokus
perhatian para ahli yang mengemukakan teori itu.
Menurut Stephen Littlejohn (2008), dalam bukunya Theories of Human
Communication, teori-teori komunikasi dapat diklasifikasikan atau diorganisasikan
ke dalam empat kelompok :
20
-
Teori komunikasi berdasarkan jenis
-
Teori komunikasi berdasarkan tingkatan
-
Teori komunikasi inti
-
Teori komunikasi struktur intelektual
1. Teori Komunikasi Berdasarkan Jenis
Ditinjau dari jenisnya, maka teori komunikasi dapat dibagi ke dalam
lima jenis. Pembagian berdasarkan jenis ini disebut juga dengan pendekatan
filosofis. Pembagian berdasarkan cara ini dapat membatu kita melihat
persamaan dan perbedaan di antara berbagai teori komunikasi. Pembagian
teori berdasarkan jenis ini dengan nama ‘wilayah teori konvensional’ yang
terdiri atas :
-
Teori Struktural dan Fungsional
Para ahli komunikasi yang masuk dalam kategori ini melihat
komunikasi sebagai suatu proses dimana individu menggunakan bahasa
sebagai alat untuk menyampaikan makna kepada orang lain. Mereka menilai
bahwa proses komunikasi yang baik sangat tergantung pada penggunaan
bahasa atau simbol secara baik dan tepat. Walaupun paham mengenai
struktural dan paham fungsional sering dianggap sebagai satu kesatuan,
namun kedua pandangan ini memiliki fokus perhatian yang berbeda.
Teori struktural-fungsional lebih menekankan pada akibat dari
tindakan yang tidak disengaja daripada hasil atau akibat yang disengaja.
Kalangan strukturalis tidak percaya pada konsep-konsep seperti subjektivitas
dan kesadaran serta berupaya mencari faktor-faktor yang berada di luar
control dan kesadaran dari orang yang terlibat. Karena alasan inilah, teori
struktural dan fungsional sering disebut sebagai antihumanis.
21
-
Teori Kognitif dan Tingkah Laku
Jika teori struktural dan fungsional cenderung lebih memusatkan pada
struktural sosial dan kebudayaan, maka teori kognitif dan tingkah laku
cenderung memusatkan perhatiannya pada individu dan karenanya, ilmu
psikologi menjadi sumber utama teori ini. Teori kognitif memberikan
penjelasan mengenai aspek-aspek umum bagaimana orang berpikir.
Teori-teori yang berada dalam kelompok teori kognitif memberikan
penjelasan panjang lebar mengenai psikologi individu, namun tidak banyak
memberikan penjelasan mengenai dinamika yang terjadi pada kelompokkelompok masyarakat. teori kognitif dirancang untuk menunjukkan secara
umum bagaimana orang berpikir, namun teori ini tidak cocok untuk
menjelaskan bagaimana sekelompok orang dapat melakukan tindakan secara
bersama-sama.
Misalnya teori kognitif yang membahas bagaimana seseorang
mengolah pesan dapat menjelaskan bagaimana seseorang menimbangnimbang atau memilih informasi untuk kemudian membentuk sikap atas
suatu topik tertentu, namun teori ini tidak dapat mengungkapkan bagaimana
suatu makna atau arti diciptakan melalui interaksi dalam kelompok atau
bagaimana sikap dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya.
-
Teori Interaksi
Teori komunikasi yang masuk dalam kelompok teori interaksi
memandang kehidupan sosial sebagai suatu proses interaksi. Dengan
demikian, komunikasi merupakan bentuk interaksi.komunikasi adalah
kendaraan atau alat yang digunakan untuk bertingkah laku dan untuk
memahami serta member makna terhadap segala sesuatu di sekitar kita.
22
Kelompok teori interaksi merupakan salah satu teori penting dalam ilmu
komunikasi karena teori ini membuat komunikasi sebagai kekuatan yang
sangat penting dalam kehidupan sosial.
Teori interaksi dirancang untuk menjelaskan proses sosial dan
menunjukkan bagaimana tingkah laku orang dipengaruhi oleh aturan atau
norma-norma kelompok. Teori ini juga menunjukkan bagaimana komunikasi
dapat mengubah aturan atau ketentuan yang berlaku pada masyarakat
-
Teori Interpretasi
Teori interpretasi menjelaskan proses dimana pemahaman terjadi.
Teori ini membuat perbedaan yang tajam antara pemahaman dan penjelasan
ilmiah. Tujuan dari interpretasi bukanlah untuk menemukan aturan-aturan
yang mengatur peristiwa, namun untuk mengungkapkan bagaimana orang
memahami pengalamannya sendiri. Para teoritisi dalam kelompok ini
menjelaskan proses dimana pikiran mengungkapkan makna dari berbagai
pengalaman yang dilalui. Terkadang pemahaman melibatkan upaya untuk
memberikan interpretasi terhadap suatu budaya hingga interpretasi atas
tulisan kuno atau berbagai benda sejarah.
-
Teori Kritis
Teori kritis merupakan sekumpulan gagasan
yang disatukan oleh
kepentinggian bersama untuk memajukan atau meningkatkan kualitas
komunikasi dan kualitas kehidupan manusia. Teori ini memberikan fokus
perhatian pada isu-isu seputar ketidakadilan dan penindasan yang terjadi di
masyarakat. Para penganut teori kritis tidak hanya meneliti atau mengamati,
tetapi ,mereka juga melancarkan kritik. Kebanyakan pendukung teori kritis
mengkhawatirkan adanya konflik kepentingan dalam masyarakat dan cara-
23
cara komunikasi yang melanggengkan dominasi satu kelompok atas
kelompok lainnya.
2. Teori Komunikasi Berdasarkan Tingkatan
Cara lain untuk mengelompokkan atau melakukan klasifikasi terhadap
berbagai teori komunikasi adalah dengan cara menentukan level atau
tingkatan komunikasi. Level komunikasi disebut juga dengan konteks
komunikasi. Disebut demikian karena komunikasi selalu terjadi dalam suatu
konteks, setting atau situasi tertentu. Konteks komunikasi secara teoritis dapat
dibagi ke dalam berbagai cara, misalnya kita dapat membagi konteks
komunikasi berdasarkan bidang pekerjaan yang ditekuni, seperti komunikasi
kesehatan,
komunikasi
bisnis
dan
professional,
atau
komunikasi
instruktusional.
Komunikasi interpersonal terkait dengan komunikasi antara orang,
biasanya secara tatap muka dalam situasi yang pribadi. Komunikasi
kelompok terkait dengan interaksi manusia dalam kelompok kecil.
Komunikasi kelompok melibatkan juga hubungan interpersonal. Kebanyakan
teori komunikasi interpersonal berlaku juga pada tingkatan kelompok.
Komunikasi organisasi terjadi pada jaringan kerja sama yang besar,
yang meliputi seluruh aspek, baik komunikasi interpersonal dan komunikasi
kelompok. Komunikasi kelompok membahas topik-topik, seperti struktur dan
fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi, serta proses
organisasi dan budaya organisasi.
3. Teori Komunikasi Inti
Banyak teori komunikasi yang dikemukakan para ahli memberikan
perhatian pada aspek-aspek tertentu atau hal-hal yang bersifat khusus dalam
24
komunikasi. Teori ini sangat penting bagi kita karena dapat membantu
memahami komunikasi secara umum. Teori inti memberikan pengertian dan
wawasan kepada kita mengenai proses yang berjalan ketika komunikasi
berlangsung. Kita akan melihat bahwa teori komunikasi inti memiliki unsurunsur yang mencakup pembentukkan pesan, pembentukan makna, struktur
pesan, dinamika interaksi, dan dinamika sosial.
a. Pembentukan Pesan
Hal pertama yang dapat kita lihat pada teori komunikasi inti adalah
pembentukan pesan atau development of messages. Bagaimana kita
menciptakan sesuatu yang akan kita tulis ? Apa yang kita katakana atau
ungkapkan pada orang lain? Proses kejiwaan atau mental seperti apa yang
terlibat? Seberapa jauh dan dengan cara bagaimana pesan-pesan itu
diciptakan dalam hubungannya dengan pihak lainnya? Bagaimana proses
pembentukan pesan berbeda pada satu budaya dengan budaya lainnya,
dan bagaimana budaya memberikan pengaruh pada proses pembentukan
pesan?
b. Pembentukan Makna
Teori komunikasi inti sering kali membahas interpretasi dan
pembentukan makna atau arti, seperti bagaimana manusia memahami
pesan dan bagaimana makna terbentuk melalui berbagai proses interaksi?
Bagaimana pikiran mengolah informasi dan menafsirkan pengalaman ?
Seberapa dan dengan cara bagaimana makna dan pemahaman telah
menjadi produk budaya ?
25
c. Struktur Pesan
Teori komunikasi inti sering kali membahas sturktur pesan yang
terdiri atas unsur-unsur pesan dalam bentuk tulisan, kata-kata yang
diucapkan, dan bentuk komunikasi nonverbal. Misalnya, bagaimana
pesan disusun dan bagaimana pesan itu diorganisir. Dengan cara
bagaimana pesan dari komunikator disusun dalam suatu dialog dan
bagaimana peserta komunikasi saling memahami satu sama lainnya?
d. Dinamika Interaksi
Dinamika interaksi menjelaskan hubungan dan adanya saling
ketergantungan di antara peserta komunikasi serta penciptaan makna
secara bersama-sama. Dinamika interaksi membahas hubungan timbale
balik, penciptaan dan penerimaan pesan di antara pihak-pihak dalam
suatu transaksi komunikasi, tanpa memandang bahwa pihak itu
perorangan atau kelompok.
e. Dinamika Sosial
Teori komunikasi inti dapat membantu kita untuk memahami
dinamika sosial dan institusional, atau bagaimana kekuasaan dan sumbersumber ekonomi didistribusikan di masyarakat, bagaimana kebudayaan
terbentuk serta interaksi di antara segmen masyarakat.
4. Teori Komunikasi Struktur Intelektual
Dalam upayanya untuk menyatukan berbagai teori komunikasi yang
berbeda-beda itu, Menurut John Powers dalam buku Teori Komunikasi
(Morissan & Wardhany, 2009), membuat suatu model struktur komunikasi,
yang berupaya menggabungkan seluruh teori komunikasi yang sudah dibahas,
mulai dari teori komunikasi berdasarkan jenis, berdarsarkan level, dan teori
26
komunikasi inti. Model yang diajukan Powers terdiri atas empat tingkat, yang
dapat dirangkum sebagai berikut :
Tingkat 1
- Isi dan bentuk pesan
Tingkat 2
- Komunikator sebagai :
a. Individu
b. Peserta dalam hubungan sosial
c. Anggota masyarakat budaya
Tingkat 3
- Level komunikasi, termasuk :
a. Komunikasi publik
b. Komunikasi kelompok kecil
c. Komunikasi interpersonal
Tingkat 4
- Konteks dan situasi komunikasi berlangsung seperti bidang
kesehatan, organisai, agama, pengadilan dan masih banyak lainnya.
Model yang dikemukakan Powers ini dapat digunakan untuk
mengorganisir seluruh bidang dalam disiplin ilmu komunikasi termasuk teori,
penelitian dan penerapan praktis ilmu komunikasi. Model ini menunjukkan
cara lain untuk memahami persamaan dan perbedaan di antara berbagai teori
komunikasi.
2.2.9 Membuat Perencanaan
Dalam buku Manajemen Media Penyiaran Strategi Mengelola Radio &
Televisi (Morrisan, 2008:247), perencanaan siaran secara umum melahirkan
kebijakan umum tentang bagaimana mengatur alokasi waktu dan materi siaran dalam
sehari, seminggu, hingga setahun. Bagian program bertanggung jawab untuk
mendapatkan program serta menentukan waktu atau jam tayangan program.
27
Pengelola program harus memahami dan mematuhi segala ketentuan
peraturan yang berlaku dalam menjalankan tugasnya. Terdapat sejumlah hal yang
harus diputuskan dalam perencanaan program yang mencakup dua hal, yaitu: 1.
Keputusan mengenai target audiens; dan 2. Keputusan mengenai target pendapatan.
Target Audiens. Perencanaan program televisi diarahkan untuk dapat
memilih dan menjadwalkan penayangan suatu program yang dapat menarik sebanyak
mungkin penonton dari jumlah audiens yang ada pada waktu tertentu. Dalam
menjalankan tugasnya, bagian program harus mampu melakukan penelitian terhadap
selera audiens sebelum membeli suatu program. Pengelola program siaran yang baik
harus mengetahui apa yang menarik untuk kelompok-kelompok yang berbeda-beda
di kalangan masyarakat.
Target Pendapatan. Dalam merencanakan dan memilih program, maka
bagian program biasanya akan berkonsultasi dahulu dengan bagian pemasaran. Hal
ini mutlak dilakukan karena bagian pemasaranlah yang akan memasarkan program
bersangkutan kepada para pemasang iklan. Dalam hal ini bagian program dan bagian
pemasaran harus bekerja sama dengan baik.
2.2.10 Perencanaan Program
Dalam buku Manajemen Media Penyiaran Strategi Mengelola Radio &
Televisi
(Morrisan,
2008:232),
perencanaan
program
mencakup
pekerjaan
mempersiapkan rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang yang
memungkinkan stasiun penyiaran untuk mendapatkan tujuan program dan tujuan
keuangannya. Pada stasiun televisi, perencanaan program diarahkan pada produksi
program yaitu program apa yang akan diproduksi, pemilihan program yang akan
28
dibeli (akusisi), dan penjadwalan program untuk menarik sebanyak mungkin audiens
yang tersedia pada waktu tertentu.
Dalam pengelolaan program stasiun televisi komersial, pengelola akan
mengarahkan programnya untuk menarik perhatian audiens spesifik di antara
sejumlah besar audiens umum. Dengan demikian, pengelola program stasiun televisi
harus mengarahkan programnya kepada segmen audiens tertentu yang tersedia pada
waktu siaran tertentu. Dalam merencanakan dan memilih program, maka bagian
program biasanya akan berkonsultasi lebih dahulu pada bagian pemasaran. Hal ini
mutlak dilakukan karena bagian pemasaranlah yang akan memasarkan program
bersangkutan kepada para pemasang iklan. Dalam hal ini bagian program dan bagian
pemasaran harus bekerja sama dengan baik.
Merencanakan dan memilih program merupakan keputusan bersama antara
departemen program dan departemen pemasaran. Kedua bagian ini harus bahumembahu menyusun strategi program terbaik, sekaligus bisa memasarkan iklan
sebanyak-banyaknya. Jika tidak terdapat kesepakatan antara kedua bagian ini, maka
pimpinan tertinggi stasiun penyiaran harus menengahi dan bertugas mencari jalan
keluar.
2.2.11 Teori Produksi
Dalam buku Dasar-Dasar Produksi Televisi (Fachruddin, 2012:10), Gerald
Millerson menjabarkan konsep standar operasional prosedur produksi televisi dalam
arti luas sebagai berikut:
1.
Pra Produksi
Pra produksi adalah tahap paling penting dalam sebuah produksi televisi yaitu
merupakan tahapan persiapan sebelum sebuah produksi dimulai. Makin baik sebuah
29
prencanaan produksi, maka akan memudahkan proses produksi televisi. Millerson
memulai tahapan pra produksi dengan production planning meeting (konsep
program, tujuan, dan sasaran yang ingin dicapai). Script untuk program dialog,
variety show, kuis, hanya menggunakan outline script yang mencakup apa yang
harus dilakukan talent/pengisi acara, fasilitas yang digunakan, dan video tape.
2.
Produksi
a.
Rehearsal merupakan bagian dari tahap produksi menurut Gerald Millerson,
karena perspektif produksi non berita membutuhkan persiapan yang sangat detail
beberapa jam sebelum produksi. Hal ini tidak berlaku untuk program live dengan kru
yang besar, rehearsal harus dilakukan minimal sekitar 15 jam sebelum live
production. Pada produksi televisi yang kompleks melibatkan jumlah talent, kru dan
peralatan yang besar harus melakukan pre-studio rehearsal.
Pre rehearsal dimulai dengan rapat (briefing) kru, serta reading para pengisi
acara yang terlibat dipimpin langsung oleh program director atau sutradara.
Sehingga kru dan pengisi acara akan familier denga skrip yang diberikan serta akan
memahami karakter masing-masing sesuai dengan keinginan sutradara.
Pada saat briefing, sutradara mengarahkan pengisi acara, blocking dan
pengadegan, sesuai dengan treatment yang telah dibuat. Rehearsal dapat dilakukan
beberapa kali sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan produser sehingga
keseluruhan acara diharapkan dapat berjalan lancar.
b.
Studio Rehearsal
Studio rehearsal sudah siap dilaksanakan apabila seluruh persiapan studio
sudah selesai. Pengecekan dimulai dari set design yang menjadi tanggung jawab set
designer apkah unsur-unsur set sudah sesuai floor plan. Memastikan tata
pencahayaan yang disiapkan lighting director sudah bisa terpenuhi dengan baik,
30
termasuk tata suara beserta penempatan peralatan pendukungnya harus sudah pada
posisi yang benar.
c.
Recording.
3.
Pasca Produksi
a.
Capturing. Proses capture gambar terjadi pada editing non linier, yaitu
mentransfer audio visual dari kaset digital ke dalam hard disk komputer sehingga
materi editing sudah dalam bentuk file. Apabila menggunakan editing linier langsung
proses logging gambar.
b.
Logging. Logging gambar adalah membuat susunan daftar gambar dari kaset
hasil shooting secara detail, disertai dengan mencatat time code-nya serta di kaset
berapa atau nama file apa gambar itu berada. Hal ini akan memudahkan proses
editing selanjutnya.
c.
Editing pictures. Editing adalah kunci dalam proses ini. Pada tahap ini semua
footage telah dikumpulkan selama produksi, selanjutnya disusun dan dirangkai
menjadi produk final.
d.
Editing sound. Penyuntingan suara disinkronkan dengan gambar, serta
menghidupkan suasana melalui ilustrasi musik. Bila membutuhkan sound effect
tentunya akan memperjelas atmosfer yang dominan atau ingin ditonjolkan.
e.
Final cut. Sekarang peralatan yang digunakan dan kompleksitas ilustrasi
musik, menentukan bahwa materi program sudah membaur dengan suara pada tahap
online. Dibutuhkan studio audio untuk mengerjakan bauran suara final. Program
yang sudah lengkap sekarang disebut master.
4.
Transmission dan Evaluasi
o
Marketing. Stasiun televisi dalam persaingan industri media, ketika
menjalankan usahanya perlu memikirkan strategi dan perkembangan sistem
31
pemasarannya, yaitu meraih perhatian, pikiran dan hati konsumen. Disinilah peran
departemen marketing sangat kuat dalam menentukan program yang akan on air,
bertahan atau tidak layak dipertahankan.
o
Trails (audience evaluation/program rating, informal audience feedback)
preview sudah dapat dilakukan evaluasi awal terhadap program yang sudah selesai
diproduksi.
o
Transmission.
2.2.12 Strategi Program
Analisis dan Strategi Program
Dalam buku Manajemen Media Penyiaran ( Morissan, 2008 :236-237),
perencanaan program pada dasarnya bertujuan memproduksi atau membeli program
yang akan ditawarkan kepada pasar audien. Dengan demikian, audien atau penonton
adalah pasar karenanya setiap media penyiaran yang ingin berhasil harus terlebih
dahulu memiliki suatu rencana pemasaran strategis yang berfungai sebagai
panduan dalam menggunakan sumber daya yang dimiliki.
Strategi pemasaran ditentukan berdasarkanm analisis situasi, yaitu suatu studi
terinci mengenai kondisi pasar audien yang dihadapi stasiun penyiaran beserta
kondisi program yang tersedia. Berdasarkan analisis situasi ini, media penyiaran
mencoba memahami pasar audien yang mencakup segmentasi audien dan tingkat
persaingan yang ada. Analisis situasi ini terdiri atas : analisis peluang dan analisis
konpetitif.
Analisis peluang adalah analisis yang cermat terhadap pasar audien akan
memberikan peluang bagi setiap penayangan program untuk diterima para penonton
dan pendengar. Sedangkan analisis kompetitif adalah dalam mempersiapkan strategi
32
dan rencana program, pengelola program harus melakuukan analisis secara cermat
gterhadap persaingan stasiun penyiaran dan persaingan program yang ada pada suatu
segmen pasar audien. Suatu persaingan terdiri atas persaingan langsung ( termasuk
persaingan di antara sejumlah program yang dimiliki sendiri ) dan persaingan tidak
langsung, misalnya oleh media non penyiaran.
Salah satu aspek penting dalam perencanaan strategi program adalah meneliti
keuntungan kompetitif, yaitu suatu hal khusus yang dimiliki atau dilakukan stasiun
penyiaran yang memberikannya keunggulan dibandingkan competitor. Contoh
keuntungan kompetitif ini misalnya antara lain adalah kemampuan stasiun penyiaran
untuk memproduksi program berkualitas dengan ongkos rendah sehingga harga
program menjadi murah.
2.3
Teori Khusus
2.3.1 Teori Agenda Setting
Dalam buku Pengantar Komunikasi Massa (Nawiroh Vera, 2010 : 113-114),
teori ini diperkenalkan pertama kali oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw
1972, dalam artikel yang berjudul “The Agenda Setting Function of Mass Media”
yang dipublikasikan di jurnal “Public Opinion Quaterly”.
Pengertian; Jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka
media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Dengan kata
lain, apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula oleh
masyarakat. Apa yang dilupakan media, akan luput juga dari perhatian masyarakat.
Pengaruh media massa terasa lebih kuat lagi, karena pada masyarakat modern, orang
memperoleh banyak informasi tentang dunia dari media massa. Pada saat yang sama
mereka sukar mengecek kebenaran yang disajikan media.
33
Penelitian awal pada tahun 1968 dalam suasana pemilihan presiden Amerika
Serikat. Ditemukan hubungan yang tinggi antara penekanan berita dan bagaimana
berita itu dinilai tingkatannya oleh pemilih. Meningkatnya nilai penting suatu topik
berita pada media massa menyebabkan meningkatnya nilai penting topik tersebut
bagi khalayaknya.
Secara singkat teori agenda setting ini mengatakan media khususnya media
berita tidak selalu berhasil memberitahu apa yang kita pikir, tetapi media tersebut
benar-benar berhasil memberitahu kita berpikir tentang apa. Media massa selalu
mengarahkan pada kita apa yang harus kita lakukan. Media memberikan agendaagenda lewat pemberitaannya, sedangkan masyarakat akan mengikutinya. Dengan
kata lain, agenda media akan menjadi agenda masyarakatnya. Jika agenda media
adalah pemberitaan tentang kenaikan harga BBM, maka yang menjadi bahan
pembicaraan masyarakat juga tentang kenaikan harga BBM.
Jika media selalu mengarahkan untuk mendukung tokoh politik tertentu,
bukan tidak mustahil khalayak akan ikut terpengaruh mendukung tokoh tertentu yang
didukung media massa tersebut. Dan masih banyak contoh lainnya.
A.
Asumsi-asumsi dasar teori Agenda Setting
-
Khalayak tidak hanya mempelajari isu-isu pemberitaan, tetapi juga
mempelajari seberapa besar arti penting diberikan pada suatu isu atau topik
berdasarkan cara media massa memberikan penekanan terhadap isu atau topik
tersebut.
-
Media massa mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan
perhatian perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu.
34
B.
Dimensi-dimensi Agenda Setting
Dalam buku Pengantar Komunikasi Massa (Nawiroh Vera, 2010 :115-116) ,
dikemukakan oleh Mannhem ( Severin dan Tankard, Jr : 1992 ).
1) Agenda Media
a) Visibility (visibilitas), jumlah dan tingkat menonjolnya berita.
b) Audience Salience (tingkat menonjol bagi khalayak), relevansi isi
berita dengan kebutuhan khalayak.
c) Valence (valensi), menyenangkan atau tidak menyenangkan cara
pemberitaan bagi suatu peristiwa.
2) Agenda Khalayak
a) Familiarty (keakraban), derajat kesadaran khalayak akan topik
tertentu.
b) Personal Saliance (penonjolan pribadi), relevansi kepentingan
individu dengan ciri pribadi.
c) Favorability (kesenangan), pertimbangan senang atau tidak senang
akan topik berita.
3) Agenda Kebijakan
a) Support (dukungan), kegiatan menyenangkan bagi posisi berita
tertentu
b) Likehood of action (kemungkinan kegiatan), kemungkinan pemerintah
melaksanakan apa yang diibaratkan.
c) Freedom of action (kebebasan bertindak), nilai kegiatan yang
mungkin dilakukan pemerintah.
35
Agenda setting juga berhubungan dengan apa yang disebut dengan framing
dan priming.
•
Framing
Menurut Rubin dan Haridakis dalam buku Pengantar Komunikasi
Massa (Nawiroh Vera, 2010 :117-119), framing adalah satu aspek penting
dalam agenda setting. Bagaimana media mengemas event-event dan isu-isu
berkaitan erat dengan (memengaruhi) bagaimana pembaca atau audien
mengerti dan merespon event-event tersebut.
Dua aspek dalam framing :
-
Memilih Fakta
~ Wartawan tidak mungkin melihat berita tanpa perspektif
~ Dalam proses ini selalu terkandung dua kemungkinan, yaitu apa yang
dipilih dan apa yang dibuang. Bagian mana yang ditekankan dalam realitas,
dan yang tidak.
~ Memilih angle tertentu, faktor tertentu, melupakan fakta yang lain,
menyampaikan aspek tertentu dan melupakan aspek lainnya.
-
Menuliskan Fakta
~ Bagaimana fakta yang dipilih itu disajikan kepada khalayak dengan
menggunakan kata, kalimat, dan proposisi dengan bantuan foto, dan gambar
dan sebagainya.
~ Fakta ditekankan dengan pemakaian kerangka tertentu seperti penemapatan
yang mencolok, pengulangan, penggunaan grafis untuk memperkuat
penonjolan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan seseorang atau
peristiwa, dan sebagainya.
36
•
Priming
Menurut Rubin dan Haridakis, priming merupakan proses kognitif.
Priming merupakan proses dimana media berfokus pada sebagian isu dan
tidak pada isu lainnya, dan dengan demikian mengubah standar yang
digunakan orang untuk “mengevaluasi” sesuatu yang sedang dinilainya. Basis
psikologis priming adalah perhatian selektif publik. Umumnya orang tidak
bisa dan jarang member perhatian pada berbagai hal sekaligus (hanya akan
fokus pada satu atau beberapa hal saja).
Dalam buku Pengantar Komunikasi Massa
(Nawiroh Vera,
2010:119), jadi kesimpulannya priming adalah proses dimana suatu isu yang
dibicarakan di dalam media mengingatkan publik tentang informasi
sebelumnya yang mereka miliki tentang isu tersebut, yang menyebabkan
pemikiran dan diskusi lebih lanjut, sedangkan framing adalah menjelaskan
bahwa media mempunyai kemampuan untuk merubah kontek dalam sebuah
isu yang ditampilkan dengan menekankan beberapa aspek dari isu dan
mengabaikan yang lainnya.
2.3.2 Tim Kreatif
Dalam buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Mulyana, 2007:310), di
dalam suatu organisasi khususnya di stasiun televisi, tim kreatif merupakan
sekelompok individu yang mengeksplorasi ide kreatif mereka yang dapat dituangkan
dqan diproduksi secara bagus dan menarik. Peranan tim kreatif cukup besar dan
penting dalam mengelola suatu informasi atau tayangan-tayangan dalam media
elektronik agar dapat menarik untuk dinikmati oleh penontonnya, dan menghasilkan
37
suatu program acara yang menarik sehingga dapat tampil beda dan mampu bersaing
dengan acara atau program lainnya.
Tim merupakan sekelompok orang dalam pekerjaan atau organisasi yang
bertanggung jawab atas pembentukan produk atau menangani suatu proses dalam
organisasi. Sedangkan definisi kreatif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan. Maka apabila
digabungkan, tim kreatif merupakan sekelompok individu yang memiliki daya cipta
yang bertanggungjawab terhadap pembentukan produk, apabila dalam dunia
pertelevisian maka produk itu adalah sebuah tayangan atau program acara. Tim
kreatif secara jelas bisa dikatakan terbagi dua, yaitu tim kreatif pada program
entertainment dan dokumenter. Perbedaan keduanya terletak pada cara kerja masingmasing.
Pada program entertainment kerja tim kreatifnya jauh lebih jelas dan cepat,
misalnya membuat konsep program dan menyelesaikannya pada produksi setelah itu
pekerjaannya beres. Berbeda dengan tim kreatif di dokumenter yang memiliki
banyak peran yang harus dikerjakannya. Tim kreatif di dokumenter mencakup
banyak hal seperti membuat konsep alur ceritanya, treatment dan segmentasi,
menjadi reporter, menulis naskah hingga terkadang harus membantu pula pada
proses editing. Pada penilaian ini tim kreatif merupakan bagian yang cukup menarik
untuk dianalisis. Hal ini dikarenakan keberadaan tim kreatif pada program ini
memiliki peranan yang sangat penting dari mulai proses pra produksi, produksi
hingga pasca produksi.
Pada program dokumenter sendiri sebutan tim kreatif memang dirasa kurang
pas mengingat tim kreatif adalah tim yang mengkreasikan suatu acara, memiliki ide
baru atau membuat program baru sedangkan di dokumenter tidak. Tim kreatif pada
38
dokumenter lebih mencakup ke dalam banyak hal yang dapat dikerjakannya dan
itulah yang menjadikan tim kreatif menjadi suatu bagian terpenting di sini dan beda
dengan tim kreatif pada umumnya.
Pada Program Ngulik sendiri, pengertian dalam tim kreatif termasuk dalam
program dokumenter. Dimana tim kreatif dalam program Ngulik banyak berperan
aktif dalam pra produksi, produksi sampai pasca produksi.
2.4
Kerangka Berpikir
Producer Program
Produksi Program
Penggunaan
Agenda Setting
Framing : Menentukan Tema dan Konsep Program
Priming : Lebih fokus membahas ke satu konten
cerita. Misal : perayaan Imlek. Membahas tentang
imlek semua.
Program
Penonton
Gambar 1.3 Kerangka Berpikir
Download