BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG CITES DAN PENGATURAN

advertisement
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG CITES DAN PENGATURAN
PERDAGANGAN SATWA LANGKA
1.1
Sejarah Hukum Lingkungan Internasional dan CITES
Segala sesuatu didunia ini erat hubungannya satu dengan lain. Antara
manusia dengan manusia, antara manusia dengan hewan antara manusia dengan
tumbuh-tumbuhan dan bahkan antara manusia dengan benda-benda mati
sekalipun. Manusia sebagai bagian dari ekosistem dan juga sebagai pengelola
sitem. Kerusakan lingkungan adalah pengaruh sampingan dari tindakan manusia
untuk mencapai suatu tujuan yang mempunyai konsekuensi terhadap lingkungan.1
Sehingga kesadaran akan tugas dan kewajiban untuk mengatur adanya
keselarasan dan keseimbangan antara keseluruhan komponen ekosistem baik
ekosistem alamiah maupun ekosistem buatan. Gerakan perlindungan ekosistem
adalah salah satu gerakan yang membebaskan manusia dari ancaman berupa
bahaya-bahaya oleh buatannya sendiri. Salah satu alat yang kuat dan ampuh
dalam melindungi lingkungan hidup adalah hukum yang mengatur perlindungan
lingkungan hidup.2
1
Kusnadi Hardjasoemantri, 1995, Hukum Perlindungan Lingkungan,
University Press, Yogyakarta, h. 1.
2
Ibid, h. 6.
1
Gadjamada
2.1.1 Sejarah Hukum Lingkugan Internasional
Hukum lingkungan Internasional (Huklin) merupakan bidang baru (new
development) dalam Sistem Hukum Internasional (Johnston). Bidang baru ini
dianggap dari Hukla Baru dengan nama Hukum Lingkungan Laut Internasional.3
Selain itu Hukum Lingkungan Internasional adalah keseluruhan kaedah,
asas-asas, lembaga-lembaga dan proses-proses yang mewujudkan kaedah tersebut
dalam kenyataan. Hukum atau keseluruhan kaedah dan asas yang dimaksud
adalah keseluruhan kaedah dan asas yang terkandung didalam perjanjianperjanjian internasional maupun hukum kebiasaan internasional, yang berobjek
lingkungan hidup, yang oleh masyarakat internasional, yaitu masyarakat negaranegara, termasuk subjek-subjek hukum internasional bukan negara, diwujudkan
dalam
kehidupan
bermasyarakat
melalui
lembaga-lembaga
dan
proses
kemasyarakatan internasional.4
Hakikat dan karakter lingkungan hidup membutuhkan sistem hukum yang
mampu menyerap sifat khas lingkungan hidup ke dalam fungsi dari setiap
komponen sistem ekosistem, mengembangkan daya individual setiap komponen
sistem tanpa mengabaikan karakter kolektifnya, sebagai bagian dari suatu
keseluruhan sistem, menjaga stabilitas proses sistem sebagai keseluruhan, dan
meningkatkan kualitas ekosistem dari derajat yang paling rendah ke derajat yang
lebih tinggi, dalam rangka pemeliharaan suatu proses sistem yang berkelanjutan.
3
Daud Silalahi, SH, 2001, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Penegakan Hukum
Lingkungan Indonesia, PT Alumni, Bandung, h. 138.
4
Ida Bagus Wyasa Putra, 2003, Hukum Lingkungan Internasional Persepektif Bisnis
Internasional, PT Refika Aditama, h. 1.
2
Pada
prinsipnya
bahwa
tindakan
pengaturan
hukum
lingkungan
internasional sesuai untuk hal-hal berikut:5
a. Persoalan-persoalan pencemaran dan kontaminasi samuderasamudera dan atmosfer, karena hal ini mungkin merupakan objek
dari pemanfaatan umum, sebagian lagi karena ketidakmungkinan
dalam hal-hal tertentu melokalisir pengaruh-pengaruh dari zat-zat
pencemaran dan kontaminasi.
b. Spesies-spesies yang dilindungi dan suaka-suaka alam, dengan
alasan bahwa hal ini merupakan warisan bersama umat manusia.
Perjanjian-perjanjian
internasional
mungkin
perlu
untuk
mengawasi ekspor, impor, dan jual-beli spesies-spesies yang
terancam punah.
c. Penipisan sumber-sumber daya laut, mengingat ketergantungan
manusia terhadap laut sebagai sumber protein.
d. Pemantauan perubahan-perubahan dalam atmosfer bumi, iklim,
dan kondisi-kondisi musim.
e. Pemantauan standar-standar internasional terhadap baku mutu
lingkungan.
f. Pengawasan timbal balik dan pengendalian atas operasi-operasi
industri tertentu di semua negara, dimana operasi-operasi tersebut
dapat
membahayakan
lingkungan,
untuk
menghilangkan
rangsangan-rangsangan guna memperoleh keuntungan kompetitif
5
J.G. Starke, 1989, Pengantar Hukum Internasional edisi 2, Sinar Grafika, Jakarta, h.
538.
3
dengan mengabaikan akibat-akibat dari proses-proses yang
membahayakan lingkungan. Prosedur-prosedur untuk tindakan
internasional dalam kasus ini telah diberikan oleh konvensikonvensi buruh internasional, yang mana salah satu tujuannya
untuk menjamin bahwa kompetisi ekonomi antar negara-negara
tidak menghalangi realisasi standar-standar yang layak bagi
kondisi-kondisi kerja.
Dalam perkembangannya hukum lingkungan internasional, ditinjau dari
segi hubungan timbal balik antara hukum dan perkembangan kesadaran
lingkungan
internasional
(international
environmental
awareness),
dapat
diklasifikasikan atas tiga tahap:
a. Tahap Pertama
Hukum lingkungan internasional berkembang jauh sebelum kesadaran
lingkungan internasional lahir, yaitu sejak munculnya berbagai kasus
lingkungan yang melibatkan negara-negara sebagai pihak perkara, seperti
dalam Kasus Trail Smailer (1938) dan Kasus Lake Lonux (1975),
sementara kesadaran lingkungan internasional baru berkembang pada
tahun 1960-an, sejak Rachel Carson menuliskan bukunya yang sangat
menyita perhatian dunia, The Silent of Spring (1962).6
b. Tahap Kedua
Tahap ini terjadi bersamaan dengan bangkitnya kesadaran lingkungan
internasional. Rachel Carson pada tahun 1962 telah menulis The Silent of
6
Otto Soearwoto, 1991, Analisis Dampak Lingkungan, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, h. 2.
4
Spring, sebuah buku yang menggambarkan buruknya akibat kerusakan
lingkungan terhadap kehidupan dan berandil besar bagi kebangkitan
kesadaran
lingkungan
hidup
internasional
dalam
kaitan
dengan
perlindungan lingkungan.7
Kesadaran
internasional
yang
kian
meluas
mendorong
PBB
menyelenggarakan konferensi tentang lingkungan hidup (United Nations
Conference on Human Environment), 5 sampai 16 juni 1972, di
Stockholm, Swedia dihadiri 113 negara, 21 organ resmi PBB, 16
organisasi antara pemerintah (NGOs) dan 258 organisasi non pemerintah
NGOs termasuk LSM.8
Konferensi tersebut menghasilkan:
1. Deklarasi tentang Lingkungan Hidup (United Nation Deklaration
on Human Environment), terdiri dari Mukadimah (Preamble) dan
26 asas (Stockholm Declaration); dan
2. Rencana Aksi Lingkungan Hidup Manusia (Action Plan), terdiri
dari 109 rekomendasi.
c. Tahap Ketiga
Perkembangan hukum lingkungan internasional pada tahap ketiga
diwarnai dengan munculnya berbagai ketentuan internasional yang
berorientasi kepada perlindungan lingkungan global seperti Konvensi
Wina 1985, Protokol Montreal 1987, Konvensi Perubahan Iklam 1992,
Konvensi Keragaman Hayati 1992, Konvensi Perlindungan Hutan Tropis
7
8
Ida Bagus Wyasa Putra, Op.cit, h. 19.
Daud Silalahi, 1992, Hukum Lingkungan, PT Alumni, Bandung, h. 18.
5
1992, dan berbagai ketentuan lain yang bersifat bilateral maupun
multilateral, regional maupun sub-regional.
Menurut Declaration of The United Nations Conference on the Human
Enviroment ada 26 prinsip tentang perbuatan internasional dan nasional di
bidang lingkungan. Di antara prinsip-prinsip itu terdapat tiga prinsip
hukum internasional lingkungan, yakni:9
1. Negara mempunyai hak kedaulatan untuk mengeksploitasi sumbersumber sendiri sesuai dengan kebijakan lingkungannya.
2. Negara bertanggungjawab untuk menjamin bahwa kegiatankegiatan dalam wilayah
yuridiksi atau pengawasan tidak
menyebabkan kerugian bagi lingkungan negara
lain atau
lingkungan wilayah di luar batas yuridiksi nasionalnya.
3. Negara berkewajiban untuk bekerja sama mengembangkan lebih
lanjut hukum internasional yang mengatur pertanggungjawaban
dan kompensasi bagi korban polusi dan kerugian lingkungan lain
yang disebabkan oleh kegiatan sejenis pada wilayah di luar
yuridiksi nasionalnya.
Sehingga dapat diartikan bahwa Deklarasi Stockholm 1972 merupakan
pilar perkembangan Hukum Lingkungan Internasional Modern, artinya
semenjak saat itu hukum lingkungan berubah sifatnya dari use-oriented
menjadi environtement-oriented. Hukum Lingkungan yang bersifat useoriented maksudnya produk hukum yang selalu mermberikan hak kepada
9
Sugeng Istanto, 1991, Hukum Internasional, Universitas Atma Jaya Yogyakarta,
Yogjayakarta, h.46
6
masyarakat internasional untuk mengekploitasi lingkungan dan sumber
daya alam tanpa membebani kewajiban untuk menjaga, melindungi, dan
melestarikannya.10
Produk hukum yang bersifat environtement-oriented adalah produk
hukum yang tidak saja memberi hak kepada manusia untuk memakai
tetapi juga membebani manusia dengan suatu kewajiban untuk menjaga,
melindungi dan melestarikannya, misalnya Konvensi Hukum Laut 1982,
konvensi ini tidak saja memberikan hak untuk mengekploitasi dan
mengekplorasi sumber daya kelautan, tetapi juga memberikan kewajiban
kepada negara-negara agar menjaga lingkungan laut dari perusakan dan
pencemaran dalam hal tersebut, kewajiban menjaga lingkungan ini diatur
khusus pada Part XII Konvensi Laut 1982.
Jelas bahwa semua hasil dari Konferensi Stockholm bermanfaat dan
berfungsi untuk mengidentifikasi bidang-bidang dimana kaidah-kaidah
hukum lingkungan internasional, yang dapat diterima masyarakat
internasional,
dapat
diterapkan
dan
juga
bidang-bidang
dimana
pembentukan kaidah-kaidah hukum lingkungan harus berhadapan dengan
rintangan-rintangan yang tidak dapat diatasi. Sampai taraf tersebut,
Konferensi
Stockholm
memberikan
landasan-landasan
untuk
pembangunan hukum lingkungan internasional.
10
Sukanda Husin, 2009, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika,
Jakarta, h. 20.
7
1.1.2 Sejarah CITES
CITES adalah sebuah rezim perjanjian internasional yang mengatur
perdagangan spesies tertentu dari flora dan fauna liar, yakni spesies yang termasuk
kategori terancam punah, begitu pula bagian-bagian dari spesiesnya. Konvensi ini
didasari adanya kenyataan banyak terjadi perburuan terhadap spesies yang
terancam punah, yang kemudian ditindaklanjuti dengan maraknya perdagangan
ilegal yang sifatnya mengeksploitasi flora maupun fauna.
CITES merupakan sebuah jawaban atas dua buah usaha yang dilakukan
secara internasional untuk memprotes manejemen kehidupan margasatwa diantara
kekuasaan negara-negara kolonial, yaitu Konvensi London11 tahun 1900 yang
dirancang untuk memastikan konvensi dari seluruh spesies dan hewan liar di
Afrika yang kegunaannya ditujukan untuk manusia, yang kedua adalah konvensi
London Tahun 1933 berkenaan dengan preservasi flora dan fauna di masingmasing negaranya.
Kedua perjanjian ini mengandung elemen penting dari sebuah sistem yang
mengatur masalah eksploitasi kehidupan satwa liar yang dilakukan tanpa
memikirkan kelanjutannya, yakni dilakukan dengan cara-cara pembatasan
perburuan atas spesies terancam yang terdapat di dalam anneks, pembatasan atas
perdagangan gading-gading gajah yang dilakukan secara ilegal dan pemberian ijin
ekspor untuk produk-produk satwa liar tertentu. Pengecualian diberikan untuk
koleksi yang bersifat ilmiah, dan atas spesimen yang diperlukan sebelum
11
Konvensi London tahun 1900 tidak pernah berlaku karena konvensi ini dianggap tidak
mencukupi batasan minimal negara yang mengidentifikasi oleh negara yang menandatanganinya.
Sehingga konvensi ini tidak bertahan lama hanya sampai Perang Dunia I.
8
perjanjian tersebut berlaku dan mengikat. Dalam Konvensi London tahun 1933,
setiap impor atas spesies otoritas dalam teritori darimana spesies itu berasal.
Pembatasan impor dalam konvensi tersebut yang tadinya hanya
diberlakukan di Afrika namun kemudian diperluas oleh Inggris terhadap daerah
koloniah lainnya, yakni India sedangkan Belanda memberlakukannya kepada
Indonesia. Namun sayangnya perjanjian ini gagal membentuk sebuah institusi
pembuat dan pengambil keputusan dan sekretariat. Ketentuan mengenai kontrol
ekspor dan impor atas spesies terancam kemudian dicontoh dalam dua konvensi
regional yaitu The Washington Convention on Nature Protection and Wild Life
Preservation in the Western Hemisphere, dan The 1968 Algiers African
Convention on the Conservation of Nature and Natural Resources.12
Satu lagi konvensi internasional yang menjadi dasar bagi pembentukan
CITES adalah konvensi internasional yang mengatur masalah perburuan dan
penangkapan paus, yang terbentuk pada tahun 1946. Selama tahun 1950-an,
pemerhati masalah konservasi yang dipimpin oleh International Union for
Conservation of Nature (IUCN) mulai khawatir bahwa terjadi peningkatan
perdagangan internasional satwa dan bagian dari tubuhnya akan mengancam
populasi dan berkelangsungan spesies tertentu, dengan mengeluarkan rancanganrancangan resolusi yang menyatakan untuk adanya pembatasan impor dari
spesies-spesies tertentu. Spesies-spesies utama yang menjadi perhatian adalah
macan tutul yang kulitnya diperdagangkan, primata yang dijadikan bahan
eksperimen medis, dan buaya yang kulitnya diperdagangkan.
12
Peter H. Sand, “Whither CITES? The Evolution of a Treaty Regime in the Border Land
of Trade and Environment” URL: http://www.etil.org/journal/vo118/No1/art2-03.html. Diakses
pada tanggal 12 November 2015 12.00 wita.
9
Tahun 1960-an muncul dorongan internasional untuk lebih memperhatikan
masalah perdagangan satwa ini dengan mengeluarkan seruan yang mengatakan
bahwa perdagangan internasional satwa adalah perdagangan ilegal. IUCN yang
pertama mengatakan perlu diadakan resolusi untuk pembentukan suatu konvensi
internasional untuk meregulasi kegiatan ekspor, transit, dan impor dari spesiesspesies dan bagian tubuhnya yang langka dan terancam akan kepunahan dalam
sidang majelisnya pada tahun 1963 di Nairobi, Kenya. Komite Legislasi dan
Administrasi IUCN yang terdiri dari 125 negara mulai melakukan persiapan
pertama untuk merancang konvensi pada tahun 1964 bersama dengan PBB dan
GATT. Keberhasilan IUCN ditunjukan dengan adanya Animal Restriction of
Importation Act di Inggris. Undang-undang ini mempunyai tiga objektif utama,
yaitu:13
1. Untuk membantu memelihara binatang dari bahaya kepunahan dengan
mengendalikan impor;
2. Untuk memberi contoh kepada negara lain; dan
3. Untuk mendukung undang-undang yang melindungi negara asal
dengan pemindahan pasar untuk penangkapan ilegal/penyelundupan
binatang.
Ditahun sama juga Majelis Umum PBB meminta untuk membentuk
International Convention on Regulation of Export, Transit, and Import of Rase or
Threatened Wildlife Species or Their Skins and Thophies. Sehingga dirancang,
dipersiapkan dan disirkulasikan setelah tahun 1967 oleh IUCN Enviromental Law
13
Ibid
10
Center di Bonn, Jerman Barat. Revisi rancangan tersebut dilakukan pada tahun
1961 dan 1971 berdasarkan pendapat-pendapat yang diberikan oleh 31 pemerintah
negara-negara berorganisasi non pemerintah (NGO) dimana peran para NGO
dalam pembentukan CITES lebih besar dibanding negara. Rancangan selanjutnya
adalah untuk membicarakan masalah dalam perbedaan pendekatan nasional yang
diambil oleh setiap negara untuk mengurangi perdagangan dan eksploitasi satwa
liar, juga perbedaan pandangan mengenai konsep “endangered spesies”. Sehingga
akhirnya disirkulasikan lagi rancangan baru ke negara-negara pada Agustus 1969
dan Maret 1971. Akan tetapi banyak negara yang tidak puas dengan rancangan
Maret 1971 termasuk yang sudah banyak terlibat dalam proses pembuatan
rancangan. Mereka percaya bahwa rancangan rakyat sangat lemah untuk
menghasilkan tujuan konvensi spesies, adanya pemikiran bahwa rancangan ini
lebih mencerminkan pandangan dari negara-negara pengimpor satwa dari Eropa,
khususnya Eropa Barat.
Konferensi Stockholm 1972 merupakan titik balik dari perkembangan
pembentukan CITES. Konferensi Stockholm juga menghasilkan terbentuknya
United Nations Environment Programme (UNEP) yang kemudian mendorong
pembentukan CITES. Berdasarkan tekanan dari konferensi tersebut dengan
didasari premis bahwa perdagangan satwa harus dikontrol atau dilarang
berdasarkan daftar spesies terancam yang bersifat global, IUCN meresponnya
dalam General Assembly membentuk CITES. 14
14
Conway W.Henderson, 2010, Understanding International Law, Ho Printing Singapore
Pte Ltd, h. 342
11
Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna
and Flora (CITES) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa
langka spesies terancam punah adalah perjanjian internasional antar negara yang
disusun berdasarkan resolusi disidang anggota World Conservation Union
(IUCN) tahun 1963. CITES dibentuk pada tanggal 3 Maret 1973, pada pertemuan
para wakil 80 negara di Washington, D.C dan mulai diberlakukan pada tanggal 1
Juli 1975, yang berkantor di Jenewa, Swiss dengan menyediakan dokumendokumen asli dalam bahasa Inggris, Perancis, dan Spanyol.15
Konvensi ini bertujuan untuk melindungi tumbuhan dan satwa liar
terhadap perdagangan internasional spesimen tumbuhan dan satwa liar yang
mengakibatkan kelestarian spesies tersebut terancam. Jika diuraikan, maka
didapati ada 4 hal pokok yang menjadi dasar terbentuknya konvensi CITES,
yaitu:16
a. Perlunya perlindungan jangka panjang terhadap tumbuhan dan satwa liar
bagi manusia;
b. Meningktnya nilai sumber tumbuhan dan satwa liar bagi manusia;
c. Peran dari masyarakat dan negara dalam usaha perlindungan tumbuhan
dan satwa liar sangat tinggi;
d. Makin mendesaknya kebutuhan suatu kerjasama internasional untuk
melindungi jenis-jenis tersebut dari over ekspoitasi melalui kontrol
perdagangan internasional.
15
Anonim, “CITES” URL: http://www.CITES.org/eng/disc/structure2.shtml. Diakses
pada tanggal 14 November 2015 22.36 wita.
16
Konservasi Sumber Daya Alam Bali, “Cites Konvensi Internasional Perdagangan
TSL” URL: http://www.ksda-bali.go.id/?p=314. diakses pada tanggal 14 November 2015 23.00
wita.
12
Jika dilihat dari 80 negara yang menghadiri konvensi di Washington, 21
negara pada saat itu langsung menandatangani Konvensi CITES. Negara-negara
tersebut adalah Argentina, Belgia, Kosta Rika, Cyprus, Denmark, Perancis,
Guatemala, Jerman Barat, Iran, Italia, Luxemburg, Mauritius, Panama, Filipina,
Vietnam, Afrika Selatan, Thailand, Inggris, Amerika Serikat dan Venezuela.17
Negara-negara yang menandatangani konvensi CITES disebut sebagai
Parties dengan meratifikasi, menerima, dan menerapkan Konvensi CITES. Pada
akhir tahun 2003, semua negara penandatangan menjadi Parties. Negara-negara
yang tidak menandatangani Konvensi tersebut dapat menjadi Parties dengan
acceding konvensi. Pada tanggal 21 Januari 2009, 175 negara telah bergabung
menjadi anggota Kovensi dimana Bosnia dan Herzegovina sebagai negara terakhir
yang bergabung. Sebanyak 18 negara anggota PBB tidak menjadi anggota CITES,
yaitu Andorra, Angola, Bahrain, East Timor, Haiti, Irak, Kiribati, Lebanon,
Maldives, Pulau Marshall, Micronesia, Nauru, Korea Utara, Sudan Selatan,
Tajikistan, Tonga, Turkmenistan, dan Tuvalu. Konvensi CITES tidak berlaku di
Pulau Faroe.
2.2
Perjanjian Internasional Terkait CITES
Perjanjian internasional dalam bahasa Indonesia disebut juga persetujuan,
traktat, ataupun konvensi, adalah: kata sepakat antara dua atau lebih subjek
hukum internasional mengenai suatu objek atau masalah tertentu dengan maksud
17
Tonny Soehartono dan Ani Mardiastuti, 2003, Pelaksanaan Konvensi CITES di
Indonesia, Japan International Cooperation Agency, Jakarta, h. 9.
13
untuk membentuk hubungan hukum atau melahirkan hak dan kewajiban yang
diatur oleh hukum internasional.18
Beberapa istilah yang digunakan untuk menyebut suatu perjanjian
internasional antara lain: traktat yang merupakan pengambil alihan dari istilah
tractaat dalam bahasa Belanda atau istilah treaty dalam bahasa Inggris, Konvensi
yang berasal dari kata convention dalam bahasa Inggris, deklarasi yang berasal
dari kata declaration, statuta yang berasal dari kata statute, pakta yang berasal
dari kata pact, protokol yang berasal dari kata protocol, piagam yang merupakan
terjemahan dari kata charter, persetujuan yang merupakan terjemahan dari kata
agreement, dan istilah perjanjian yang merupakan istilah generik untuk menyebut
segala macam dan bentuk perjanjian.19 Proses perumusan perjanjian internasional
dilakukan dengan penunjukkan masing-masing pihak yang diberikan tugas dan
kewenangan untuk melakukan perundingan.
Setelah melakukan proses perundingan antara wakil-wakil para pihak,
maka tahap kedua yaitu penerimaan atau pengadopsian naskah perjanjian dimana
hal ini menunjukan bahwa para pihak yang melakukan perundingan telah berhasil
mencapai kesepakatan atas naskah perjanjian. Dalam Konvensi Wina 1969
dijelaskan bahwa: “The adoption of the text of a treaty at an international
conference takes place by the vote of two thirds of the States present and voting,
unless by the same majority they shall decide to apply a different rule”20. Sesuai
18
I Wayan Parthiana, Op.cit, h. 12.
Ibid, h. 26-27
20
Article 9 point 2 Konvensi Wina 1969
19
14
dengan hal tersebut ketentuan pengadopsian naskah perjanjian CITES21 dilakukan
melalui konferensi internasional dengan persetujuan dari dua per tiga negaranegara yang hadir dan memberikan suaranya, berbagai usulan amandemen yang
dari semua peserta disampaikan ke sekretariat sekurang-kurangnya 90 hari
sebelum rapat, amandemen memiliki kekuatan bagi anggota ketika telah disetujui
selama 60 hari setelah dua per tiga peserta setuju mengamandemen instrumen ini.
Tahap lanjutan dari penerimaan atau pengadopsian naskah perjanjian
adalah pengontentikan atau pengesahan yang akan meningkatkan status dari
naskah perjanjian sehingga naskah tersebut menjadi final dan definitif.
“The text of a treaty is established as authentic and definitive:
a) by such procedure as may be provided for in the text or agreed
upon by the States participating in its drawing up; or”22
dalam Convention on International Trade in Engdangered of Wild Fauna and
Flora (CITES), instrumen perjanjian internasional tersebut terdapat didalam
Article XX Ratification, acception, approval dan Article XXI Accesion. Bahwa
negara peserta diberikan kebebasan memlilih cara apa yang akan dilakukan untuk
mengesahkan CITES ini. Article XXI dijelaskan konvensi memberikan jangka
waktu yang tidak terbatas untuk negara yang melakukan pengesahan dengan cara
aksesi.
Setelah secara resmi diterima, naskah yang otentik perjanjian tersebut
belum mengikat para pihak, maka untuk terikat pada perjanjian suatu negara perlu
menyatakan persetujuannya untuk terikat ataupun menolak secara tegas untuk
21
Article XVII Convention on International Trade in Endangered of Spesies Wild Fauna
and Flora (CITES)
22
Article 10 point (a) Konvensi Wina 1969
15
tidak terikat. Karena persetujuan ataupun penolakan untuk terikat pada suatu
perjanjian adalah manifestasi dari kedaulatan negara. Sebagai negara berdaulat,
dia tidak bisa dipaksa oleh kekuatan apapun untuk menerima sesuatu yang tidak
dikehendakinya, seperti menyatakan terikat pada suatu perjanjian internasional.
Dijelaskan dalam Konvensi Wina 1969 bahwa:23
“The consent of a state to be bound by a treaty is expressed by the
signature of its representative when:
a) the treaty provides that signature shall have that effect;
b) it is otherwise established that the negotiating States were agreed that
signature shoukd have that effect; or
c) the intention of the States to give that effect to the signature appears
from the full powers of its representative or was expressed during the
negotiation.”
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sebagai parties dalam merumuskan
CITES yang merupakan perjanjian internasional dilakukan dengan cara signature
(penandatanganan), untuk mengikat anggotanya. Hal ini diatur didalam Article
XIX CITES bahwa: “The present Convention shall be open for signature at
Washington until 30th April 1973 and thereafter at Berne until 31st December
1974”24. Oleh Indonesia CITES ditandatangani di Washington pada bulan Maret
1973.25
Setelah penandatanganan, persetujuan untuk terikat pada perjanjian
dinyatakan salah satunya dengan aksesi, dalam Konvensi Wina 1969 dijelaskan
bahwa:26
“The consent of a State to be bound by treaty is expressed by accesion
when:
23
Article 12 point 1Konvensi Wina 1969
Article XIX Convention on International Trade in Endangered of Spesies Wild Fauna
and Flora (CITES)
25
Lampiran 1 Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1978
26
Article 15 Konvensi Wina 1969
24
16
a) the treaty provides that such consent may be expressed by that State by
means of accession;
b) it is otherwise established that the negotiating States were agreed that
such consent may be expressed by that State by means of accession; or
c) all the parties have subsequently agreed that such consent may be
expressed by that State by means of accession.”
Aksesi atau pengesahan perjanjian internasional dalam hukum nasional
diatur dalam Pasal 10 Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 memberikan acuan
bahwa Pengesahan Perjanjian Internasional dengan undang-undang bila tentang:27
1) Masalah politik, perdamaian, pertahanan dan keamanan negara;
2) Perubahan wilayah/penetapan batas wilayah negara RI;
3) Kedaulatan/hak berdaulat negara;
4) HAM & lingkungan hidup;
5) Pembentukan kaidah hukum baru;
6) Pinjaman/ hibah luar negeri.
Terhadap Pasal 10 ini Undang-Undang No.24 Tahun 2000 yang berkaitan
dengan Keppres No.43 Tahun 1978 tentang Aksesi CITES menjelaskan bahwa
Pengesahan Perjanjian melalui keputusan presiden dilakukan atas perjanjian yang
mensyaratkan adanya pengesahan sebelum memulai berlakunya perjanjian, tetapi
memiliki materi yang bersifat prosedural dan memerlukan penerapan dalam waktu
singkat tanpa mempengaruhi peraturan perundang-undangan nasional. Jenis-jenis
perjanjian yang termasuk dalam kategori ini, diantaranya adalah perjanjian induk
yang menyangkut kerjasama dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi,
teknik, perdagangan, kebudayaan, pelayaran niaga, penghindaran pajak berganda
27
Sefriani, 2011, Suatu Pengantar Hukum Internasional, Rajawali Press, Jakarta, h.37.
17
dan kerja sama perlindungan penanaman modal serta pengesahan yang bersifat
teknis.28
Adapun pengaturan perlindungan satwa langka di tingkat internasional
yang berkaitan dengan CITES, salah satunya pengaturan hukum lunak di tingkat
internasional ialah semua produk hukum internasional yang tidak mempunyai
kekuatan mengikat (binding power) tapi digunakan sebagai dasar pembentukan
hukum masa yang akan datang.29 Yang menjadi hukum lunak tersebut antara lain:
a. Deklarasi Stockholm 1972
Deklarasi ini merupakan sejarah yang penting dalam perkembangan
hukum lingkungan, sehingga perkembangan lingkungan telah memperoleh
dorongan
yang
kuat,
baik
bertaraf
nasional,
regional,
maupun
internasional. Dengan dikeluarkannya konferensi tentang penanganan
lingkungan hidup, ini berhasil melahirkan sebuah konsep atau pola
pembangunan yang disebut dengan pola pembangunan yang berkelanjutan
(sustainable development) dengan wawasan lingkungan yaitu suatu konsep
yang mengatur pola pembangunan dengan memperhatikan lingkungan
supaya kelestarian lingkungan tersebut dapat terus terjaga sehingga dapat
dinikmati oleh generasi yang selanjutnya. Dalam suatu resolusi khusus,
konferensi menetapkan tanggal 5 Juni sebagai “Hari Lingkungan Hidup
Sedunia”
28
Ibid, h. 38
Sukanda Husin, 2006, Pengaturan Perlindungan Kenekaragaman Hayati dalam
Lingkungan Internasional edisi XV, Jurnal Hukum Universitas Andalas, Sumatera Utara, h. 38.
29
18
b. Deklarasi Rio 1992
Deklarasi ini diadakan dalam rangka memperingati Deklarasi Stockholm
1972 yang ke-20, dengan nama konferensi United Nation Conference on
Environment and Development (UNCED). Deklarasi Rio ini merupakan
penegasan kembali terhadap deklarasi Stockholm mengenai pentingnya
perlindungan terhadap lingkungan secara global. Meskipun prinsip-prinsip
yang termuat dalam Deklarasi Rio ini tidak mengatur secara tegas
mengenai perlindungan terhadap tumbuhan dan satwa langka, namun
terdapat prinsip-prinsip yang menyinggung mengenai teori pembangunan
berkelanjutan (sustainable development).30
Meskipun Deklarasi Stockholm dan Deklarasi Rio tidak menyinggung
secara langsung mengenai perlindungan terhadap tumbuhan dan satwa
langka, namun berdasarkan dua deklarasi inilah lahir konvensi-konvensi
internasional maupun peraturan perundang-undangan nasional mengenai
perlindungan terhadap keanekaragaman hayati yang didalamnya termasuk
jenis tumbuhan dan satwa.
Sedangkan bentuk pengaturan terhadap satwa langka yang berbentuk
hukum keras yaitu suatu produk hukum yang proses pembuatannya melalui 3
tahap yakni negosiasi, penandatangan, dan ratifikas/aksesi, diantaranya:
a. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna
and Flora (CITES) merupakan perjanjian dengan fokus pada perlindungan
spesies tumbuhan dan satwa liar terhadap perdagangan internasional serta
30
Koesndi Hardjasoemantri, 2012, Hukum Tata Lingkungan, GadjaMada University
Press, Yogyakarta, h. 6
19
tindakan eksploitasi yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.31
Hal ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi
permasalahan ini. Meskipun CITES mengikat para pihak, CITES
menyediakan kerangka kerja yang harus dihormati oleh para pihak. Para
pihak harus mengadopsi peraturan domestiknya sendiri untuk memastikan
bahwa CITES diimplementasikan di tingkat nasional. Sampai dengan
tanggal 21 Januari 2009 CITES telah memiliki 176 party.32
Indonesia telah mengaksesi Convention on International Trade in
Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), melalui
Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1978. Ini merupakan transformasi
hukum internasional ke hukum nasional. Dengan diaksesinya CITES maka
konvensi tersebut mengikat bagi Indonesia, serta berkewajiban untuk
melindungi spesies langka dari perdagangan internasional. Selain itu setiap
pihak dalam konvensi harus menunjuk satu atau lebih otoritas pengelola
yang bertanggung jawab dalam mengelola sistem perizinan dan menunjuk
satu atau lebih otoritas ilimiah yang menilai dampak perdagangan terhadap
kelestarian spesies tersebut.33
b. Convention on Biological Diversity 1992
Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati ini ditandatangai oleh 159
negara dan Uni Eropa dan mulai berlaku pada tanggal 29 Desember 1993
31
Roby Yolis Pata’dungan, 2013, “Implementasi CITES (Convention on International
Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Dalam Upaya Konservasi Penyu di
Indonesia”, Ejournal Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mulawarman, Kalimantan
Timur h. 921.
32
“CITES” Loc.cit.
33
Ibid
20
dan Indonesia telah meratifikasi Konvensi Kenekaragaman Hayati (KKH)
melalui Undang-Undang No. 5 Tahun 1994, yang merupakan hasil dari
konferensi Rio 1992 sebagai keberhasilan masyarakat internasional dalam
mengupayakan perlindungan keanekaragaman hayati34. Konvensi ini
adalah konvensi pertama yang mengatur seluruh aspek keanekaragaman
hayati termasuk habitat dan ekosistem dari tumbuhan dan satwa langka
tersebut.
Tujuan dari CBD ini tercantum dalam Pasal 1 menyatakan:
“Tujuan Konvensi ini, seperti yang tertuang dalam ketetapanketetapannya, ialah konservasi keanekaragaman hayati, pemanfaatan
komponen-komponennya secara berkelanjutan dan membagi keuntungan
yang dihasilkan dari pendayagunaan sumber daya genetic secara adil dan
merata, termasuk melalui akses yang memadai terhadap sumber daya
genetik dan dengan alih teknologi yang tepat guna, dan dengan
memperhatikan semua hak atas sumber-sumber daya dan teknologi itum
maupun dengan pendanaan yang memadai.”35
c. Protocol Cartagena
Protocol Cartagena adalah kesepakatan antara para pihak mengatur tata
cara gerakan lintas batas negara yang secara sengaja (termasuk
penanganan dan pemanfaatan) suatu organisme hidup yang dihasilkan oleh
bioteknologi modern dari suatu negara ke negara lain oleh seseorang atau
badan hukum. Indonesia telah meratifikasi protokol ini melalui UndangUndang No. 21 Tahun 2004 tentang Pengesahan Protokol Cartagena
tentang Keanekaragaman Hayati atas Konservasi tentang Keanekaragaman
34
35
Sukanda Husin, Jurnal Loc.cit
Pasal 1 Convention on Biological Divesity 1992 terjemahan bahasa Indonesia
21
Hayati pada tanggal 16 Agustus 2004, dan jumlah negara yang telah
menandatangani dan meratifikasi ini sebanyak 134 negara.
2.3
Pengertian Perdagangan Satwa Langka
Bidang perdagangan telah mengalami kemajuan perkembangan yang
semakin pesat dari waktu ke waktu. Perkembangannya itu sendiri tentu tidak lepas
dari pengaruh teknologi dan ilmu pengetahuan. Seiring dengan perkembangan
itulah dunia perdagangan pun mengalami perluasan dalam penerapannya.
Perluasaan bidang perdagangan yang dirasakan cukup berarti bagi berbagai
kalangan dunia yaitu semakin meluasnya kesempatan atau peluang, serta jaringan
negara-negara di dunia untuk menjalin suatu hubungan dalam hal perdagangan.
Negara-negara di dunia dapat dengan lebih mudah meraih kesempatan yang
seluas-luasnya didalam arus perdagangan, baik dibidang barang maupun jasa dan
juga dapat lebih mudah menembus batas-batas antar negara.
“Pada zaman yang modern ini perdagangan adalah pemberian perantaraan
kepada produsen dan konsumen untuk membelikan dan menjualkan barangbarang yang memudahkan dan memajukan pembelian dan penjualan itu.”36
Perdagangan saat ini tidak hanya berkutat dalam lokal, regional, namun
telah mengglobal melewati lintas batas negara. Perubahan tersebutlah yang
merupakan timbulnya perdagangan melibatkan partisipasi atau keikutsertaan
36
C.S.T. Kansil, dan Christine S.T. Kansil, 2013, Pokok-Pokok Pengetahuan Hukum
Dagang Indonesia Edisi 2, Sinar Grafika, Jakarta, h. 13
22
negara-negara di dunia untuk saling berkompetisi serta terlibat didalam kegiatan
perdagangan internasional.37
Hal inilah yang menjadi pemicu suatu negara berinteraksi dengan negara
lain yaitu karena adanya keinginan atau harsat untuk memenuhi kebutuhannya
dengan cara melengkapi kekurangannya itu melalui kerjasama dengan lain di
bidang
perdagangan.
Adanya
interdependensi
kebutuhan
itulah
yang
menyebabkan timbulnya perdagangan internasional.38
Perdagangan
satwa
langka
menyebabkan
menurunnya
tingkat
keanekaragaman hayati di dunia. Perdagangan satwa langka tanpa izin ini juga
memegang posisi yang signifikan terhadap keberadaan sebuah spesies. Dan pada
dasarnya segala kegiatan yang dilakukan oleh manusia membawa pengaruh
terhadap lingkungan tidak selalu dapat diprediksi.39
Satwa merupakan sebagian sumber daya alam yang tidak ternilai harganya,
sehingga kelestariannya perlu dijaga agar tidak punah baik karena faktor alam,
maupun perbuatan manusia seperti perburuan, dan kepemilihan satwa yang tidak
sah.
Sesuai dengan Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya mengatakan “Satwa
adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup didarat, dan atau udara,
dan atau air.”
37
Tumpal Rumpea, 2000, Kamus Lengkap Perdagangan Internasional Cetakan Pertama,
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, h. 211.
38
Ibid.
39
Muhamad Iqbal, 2014, “Tinjauan Yuridis Terhadap Kepemilikan dan Penjualan Satwa
Langka Tanpa Izin di Indonesia”, Jurnal Fakuktas Hukum Universitas Mulawarman Kalimantan
Timur, h. 8.
23
Satwa langka dapat diklarifikasikan menjadi 3 kategori yaitu sebagai
berikut:40
a. Nyaris punah
Tingkat kritis atau habitatnya telah menjadi sempit sehingga jumlahnya
dalam keadaan kritis
b. Mengarah kepunahan
Yakni populasinya merosot akibat eksploitasi yang berlebihan dan
kerusakan habitatnya
c. Jarang
Populasinya berkurang akibat faktor alam ataupun manusia.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa menurut TRAFFIC perdagangan
terhadap satwa liar didefinisikan sebagai:
“The sale and exchange of animal and plant resources. This includes
ornamental animal products such as corals for aquria, reptile skins for the
leather industry, tortoishell, as well as ornamental plants such orchids and
cacti. It also, includestimber products, medicinal and aromatic products such
as taxol, agarwood, adn musk, fisheries products, and live animals for the pet
trade including parrots, raptors, primates, and a wide variety of reptiles and
ornamental fish”41
Melalui perdagangan, baik perdagangan komersial maupun non-komersial,
lingkungan hidup dapat tetap terselamatkan dan menghasilkan keuntungan secara
finansial. Namun pembatasan-pembatasan melalui peraturan yang ada haruslah
sesuai dan dijalankan dengan prinsip good governance yang baik dengan diawasi
oleh pihak luar. Kontribusi perdagangan spesies langka di beberapa negara tidak
40
Laden Marpaung, 1995, Tindak Pidana Terhadap Hasil Hutan dan Satwa, Erlangga
Press, Surabaya, h. 49.
41
Broad, S.,Mulliken T. And Roe D, 2003 The Nature and Extent of Legal and Ilegal
Trade in Wildlife (Flora dan Fauna International Resource Africa and TRAFFIC International),
London
24
dapat dikatakan sedikit, misalnya dapat menyediakan kesempatan kerja dan
meningkatkan pendapatan lokal. Faktanya disisi lain terdapat indikasi terhadap
penurunan populasi berbagai spesies langka akibat perdagangan internasional.
Selanjutnya menurut resolusi sidang umum PBB No. 2102/XX/Tanggal 20
Desember 1965, yang dimaksudkan dengan istilah hukum dagang internasional
adalah:
“The bidy of rules governing commercial relationship of a private law nature
involving different countries”. (keseluruhan kaidah-kaidah yang mengatur
hubungan-hubungan dagang bersifat hukum perdata dan mencakup berbagai
negara).42
Dalam hukum perdagangan internasional yang merupakan bidang hukum
yang berkembang cepat. Dimana hubungan-hubungan dagang yang bersifat lintas
batas negara dapat mencakup banyak jenis, dari bentuk yang sederhana yaitu
barter, jual beli barang atau komoditi (produk-produk pertanian, perkebunan, dan
sejenis) hingga hubungan atau transaksi dagang yang kompleks (khususnya
teknologi informasi). Bahkan saat ini para pelaku dagang tidak perlu mengetahui
atau mengenal rekan dagangnya yang berada dibelahan bumi lain. Hal ini terlihat
dengan lahirnya transaksi-transaksi yang disebut dengan e-commerce.
Ada berbagai motif atau alasan mengapa negara atau subjek hukum
(pelaku dalam perdagangan) melakukan transaksi dagang internasional. Fakta
yang sekarang ini terjadi adalah perdagangan internasional sudah menjadi tulang
punggung bagi negara untuk menjadi makmur, sejahtera, dan kuat. Karena besar
42
Sudargo Gautama, 1997, Hukum Dagang Internasional Edisi Kedua Cetakan Pertama,
Penerbit Alumni, Bandung, h 24.
25
dan jayanya negara-negara di dunia tidak terlepas dari keberhasilan dan aktivitas
negara-negara tersebut di dalam perdagangan internasional.43
Secara empiris kita dapat mengatakan bahwa dalam satu fase ada
peningkatan polusi, ada juga deplesi sumber daya alam untuk satu periode. Tetapi
fakta empiris juga menunjukan bahwa ketika tingkat perdagangan semakin
diperluas, kebutuhan barang-barang ramah lingkungan juga akan semakin tinggi.
Jadi ada dorongan dari konsumen memaksa penduduk setempat untuk bersikap
ramah terhadap lingkungan.
2.4
Pengaturan Perdagangan Satwa Langka
Keanekaragaman kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, salah satunya
memiliki beragam satwa, yang tersebar diseluruh pulau-pulau di Indonesia. Satwa
yang ada di habitat wilayah Indonesia merupakan ciri khas dari pulau tersebut.
Dan di Indonesia sendiri satwa-satwa tersebut kian hari kian memprihatinkan,
sudah jarang ditemukan dan sangat langka dihabitatnya sendiri. Seperti Trulek
Jawa, Jalak Bali, Tokhtor Sumatera, Kakatua Kecil Jambul Kuning, Merpati
Hutan Perak, Perkici Buru, Celepuk Siau, Anis-Betet Sangihe, Elang Flores,
Gagak Bangai.
Satwa-satwa ini sudah jarang ditemukan dihabitat aslinya karena
populasinya yang semakin punah. Melihat hal tersbeut maka pemerintah
menerbitkan peraturan perundang-undangan. Untuk melindungi satwa langka ini
dari kepunahaan. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 5
43
Huala Adolf, 2011, Hukum Perdagangan Internasional, PT RajaGrafindo Persada,
Jakarta, h. 1-2
26
Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Dimana undang-undang ini menentukan pula kategori atau kawasan suaka alam
dengan ciri khas tertentu, baik didarat maupun diperairan yang mempunyai fungsi
pokok sebagai kawasan pengamanan keanekaragaman satwa langka serta
ekosistemnya.
2.4.1 Ketentuan Nasional Tentang Perdagangan Satwa Langka
Peraturan-peraturan lainnya yang berhubungan dengan satwa selain
Undang-Undang No.5 Tahun 1990 adalah:
1. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis
Tumbuhan dan Satwa Liar.
2. Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1999 tentang Pemanfataan Jenis
Tumbuhan dan Satwa Liar.
3. Peraturan Menteri Kehutanan No. P.447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha
Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar.
4. Peraturan
Menteri
Kehutanan
No.
P.19/Menhut-II/2005
tentang
Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar.
5. Peraturan Menteri Kehutanan No. P.02/Menhut-II/2007 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam.
Peraturan-peraturan tersebut diatas mengatur semua jenis satwa langka
yang dilindungi oleh negara, baik yang dimiliki masyarakat maupun yang tidak
dapat dimiliki oleh masyarakat, dikarenakan satwa tersebut sudah hampir punah,
dihabitat aslinya sudah jarang ditemui. Sehingga dengan adanya Undang-Undang
27
No.5 Tahun 1990 membatasi dan menetapkan mana yang disebut satwa langka
yang boleh diperlihara dan tidak boleh dipelihara oleh manusia.
Selain itu dengan mengkonservasi satwa liar pemerintah menekankan pada
tindakan kerjasama dengan industri, pemerintah lain (Provinsi), organisasi atau
lintas sektor swasta untuk mengendalikan bahaya dari ancaman punah dan
perdagangan gelap. Pengawasan lalu lintas peredaran satwa yang menjadi objek
komoditas perdagangan, sesuai dengan penetapan jatah penangkapan dan
pengambilan di alam, dilakukan dengan cara menerbitkan Surat Angkut Satwa,
baik didalam negeri maupun diluar negeri. Secara tegas diatur dalam Keputusan
Menteri Kehutanan No.447/Kpt-II/2003. Banyaknya satwa langka
yang
dipelihara, diperdagangkan yang sering ditemui di pasar hewan merupakan satwa
yang tergolong yang dilindungi atau yang termasuk hampir punah.
Pada hakekatnya konservasi merupakan berbagai usaha perlindungan,
pemeliharaan dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya.
1. UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) menyatakan “bumi dan air dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”44 Kemakmuran yang dimaksud
adalah harus dapat dinikmati baik oleh generasi sekarang maupun generasi
yang akan datang.
Dalam pasal 33 UUD 1945, juga ditekankan bahwa pembangunan
ekonomi nasional harus selaras dengan masalah sosial dan lingkungan,
44
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945.
28
dinyatakan dalam
Pasal 33 ayat (4) bahwa “perekonomian nasional
diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan,
efesiensi
berkeadilan,
berkelanjutan,
berwawasan
lingkungan, kemandirian, serta dengan menajaga keseimbangan kemajuan
dan kesatuan ekonomi nasional.” 45
2. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Pasal 2 “Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam
hayati dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang.”
Pasal 3 “Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan
mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta
keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.”46
3. Untuk kegiatan konservasi terhadap satwa yang ada di
dalam hutan
konservasi terdapat didalam Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999
tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Pasal 4 ayat (1) berbunyi
“Jenis tumbuhan dan satwa ditetapkan atas dasar golongan:
a. Tumbuhan dan satwa yang dilindungi; dan
b. Tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi.”47
45
Pasal 33 ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945.
Pasal 2 dan 3 Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya.
47
Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis
Tumbuhan dan Satwa
46
29
4. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis
Tumbuhan dan Satwa Liar Pasal 3 berbunyi: “Pemanfaatan jenis tumbuhan
dan satwa liar dilaksanakan dalam bentuk:
a. Pengkajian, penelitian, dan pengembangan;
b. Penangkaran;
c. Perburuan;
d. Perdagangan;
e. Peragaan;
f. Pertukaran;
g. Budidaya tanaman obat-obatan; dan
h. Pemeliharaan untuk kesenangan.
Pasal 18 ayat (1) berbunyi “tumbuhan dan satwa liar yang dapat
diperdagangkan adalah jenis satwa liar yang tidak dilindungi.”
Ayat (2) berbunyi “tumbuhan dan satwa liar untuk keperluan perdagangan
diperoleh dari:
a. Hasil penangkaran;
b. Pengambilan atau penangkaran dari alam.”
Pasal 19 ayat (1) berbunyi “perdagangan jenis tumbuhan dan satwa liar
hanya dapat dilakukan oleh Badan Usaha yang didirikan menurut Hukum
Indonesia setelah mendapat rekomendasi Menteri.”48
5. Keputusan Presiden No. 43 tahun 1973 tentang Pengesahan CITES
48
Pasal 3, 18 ayat (1) dan (2), serta Pasal 19 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun
1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
30
6. Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2005, melalui
peraturan tersebut memberikan tata cara atau prosedur49 untuk dapat
meminimal perdagangan yang terjadi terhadap tumbuhan dan satwa liar.
7. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.02/Menhut-II/2007,
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setiap daerah diberikan
tanggungjwab oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam sebagai pelaksana50 untuk melakukan penyidikan dibidang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati.
Peraturan tersebutlah menjadi hukum positif di Indonesia sebagai dasar dalam
penegakan perlindungan terhadap satwa-satwa yang dilindungi.
2.4.2 Ketentuan CITES Tentang Perdagangan Satwa Langka
Indonesia adalah negara kesatuan yang berdaulat dan akan selalu menjaga
komitmen berbagai kesepakatan terhadap perjanjian hukum internasional, salah
satunya dalam bidang perdagangan tumbuhan dan satwa liar. Konvensi
pengendalian perdagangan spesies yang terancam punah yang digunakan adalah
CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna
and Flora), dimana CITES adalah konvensi mengenai perdagangan internasional
jenis satwa dan tumbuhan yang terancam punah. Dengan tujuan bahwa untuk
memastikan perdagangan internasional jenis satwa dan tumbuhan liar (atau bagian
49
Pasal 76 Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran
Tumbuhan dan Satwa Liar
50
Pasal 3 Peraturan Menteri Kehutanan No. P.02/Menhut-II/2007 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam.
31
dan produk olahannya yakni produk yang terbuat dari bagiannya) tidak
mengancam kelestariannya.51
Mekanisme penggolongan perlindungan berdasarkan Appendiks, dimana
satwa dan tumbuhan yang dianggap harus dilindungi dan diatur ke dalam tiga
jenis Appendiks:52
1. Appendiks I
Appendiks I yang memuat daftar dan melindungi seluruh spesies
tumbuhan dan satwa liar yang terancam punah dari segala bentuk perdagangan
internasional secara komersial. Jumlahnya sekitar 800 spesies yang terancam
punah apabila perdagangan tidak dihentikan. Perdagangan spesimen dari
spesies yang termasuk Appendiks I yang ditangkap di alam bebas adalah
ilegal dan hanya diizinkan hanya dalam keadaan luar biasa, misal untuk
penelitian, dan penangkaran. Satwa dan tumbuhan yang termasuk dalam daftar
Apendiks I, namun merupakan hasil penangkaran atau budidaya dianggap
sebagai spesimen dari Appendiks II dengan beberapan persyaratan. Otoritas
pengelola dari negara pengekspor harus melaporkan non detriment finding.
Berupa bukti bahwa ekspor spesimen dari spesies tersebut tidak merugikan
populasi di alam bebas. Setiap perdagangan spesies dalam Appendiks I
memerlukan izin ekspor impor. Otoritas pengelola dari negara pengekspor
diharuskan memeriksa izin impor yang dimiliki pedagang, dan memastikan
negara pengimpor dapat memelihara spesimen tersebut dengan layak.
51
Lampiran Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1978 tentang Aksesi CITES.
Haryo Limanseto, 2015, “Jaga Alam, Lindungi Flora dan Fauna Indonesia” Majalah
Warta Bea dan Cukai Nomor 01331/SK/DIRDJEN-PG/SIT/1972, 20 Juni 1970, h 6-7.
52
32
Tumbuhan dan satwa liar yang termasuk ke dalam Appendiks I CITES di
Indonesia ialah: Mamalia 37 jenis, Aves 15 jenis, Reptil 9 jenis, Pisces 2
jenis, total 63 jenis satwa dan 23 tumbuhan. Jenis aves misalnya Anis Bentet
Sangihe (Colluricincla
sanghirensis), Celepuk Siau (Otus siaoensis),
Cikalang Christmas (Fregata andrewsi), Dara Laut China (Sterna bernsteini),
Gagak Banggai (Corvus unicolor), Ibis Karau (Pseudibis davisoni), Kacamata
Sangihe (Zosterops nehrkorni), Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua
sulphurea), Kehicap Boano (Monarcha boanensis), Merpati Hutan Perak
(Columba argentina),
(Treron psittaceus),
Perkici Buru (Charmosyna toxopei), Punai Timor
Seriwang Sangihen (Eutrichomyias rowleyi), Sikatan
Aceh (Cyornis ruckii), Tokhtor Sumatera (Carpococcy viridis), Maleo
Sekanwor (Macrocephalon maleo), Curik Balik (Leucopsar rotschildi).
Ada beberapa spesies yang masuk ke dalam Appendiks I namun jika
spesies tersebut berasal dari negara tertentu akan menjadi Appendiks II,
Appendix III atau bahkan Non Appendix. Misalnya buaya muara (Crocodylus
porosus) masuk dalam Appendiks I kecuali populasi dari Indonesia, Australia
dan Papua New Guinea termasuk dalam Appendiks II.
2. Appendiks II
Appendiks II memuat daftar dari spesies yang tidak terancam
kepunahannya, tetapi mungkin akan terancam apabila perdagangan terus
berlanjut tanpa adanya pengaturan. Jumlahnya sekitar 32.500 spesies. Selain
itu, Appendiks II juga berisi spesies yang terlihat mirip dan mudah keliru
dengan spesies yang didaftar dalam Appendiks I. Otoritas pengelola dari
33
negara pengekspor harus melaporkan bukti bahwa ekspor spesimen dari
spesies tersebut tidak merugikan populasi di alam bebas.
Spesies di Indonesia yang termasuk dalam Appendiks II yaitu Mamalia 96
jenis, Aves 239 jenis, Reptil 27 jenis, Insekta 26 jenis, Bivalvia 7 jenis,
Anthozoa 152 jenis, total 546 jenis satwa dan 1002 jenis tumbuhan (dan
beberapa jenis yang termasuk dalam CoP 13). Satwa jenis aves yang masuk
dalam Appendiks, misalnya: Beo Nias/Tiong emas (Gracula religiosa), Angsa
Batu Christmas (Papasula abbotti), Bangau Storm (Ciconia stormi), Berkik
Gunung Maluku (Scolopax rochussenii), Burung Madu Sangihe (Aethopyga
duyvenbodei), Celepuk Flores (Otus alfredi), Celepuk Biak (Otus beccarii),
Delimukan Wetar (Gallicolumba hoedtti), Gagak Flores (Corvus florensis),
Jalak Putih (Sturnus melanopterus), Kasturi Ternate (Lorius garrulus),
Kehicap Biak (Monarcha brehmii), Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum),
Kehicap Tanah Jampea (Monarcha everetti), Kuau Kerdil Kalimantan
(Polyplectron schleiermacheri), Kowak Jepang (Gorsachius goisagi), Luntur
Gunung
(Apalharpactes
reinwardtii),
Mandar
Talaud
(Gymnocrex
talaudensis), Nuri Talaud (Eos histrio), Opior Buru (Madanga ruficollis),
Pergam Timor (Ducula cineracea), Punai Timor (Treron psittaceus), Trinil
Nordmann (Tringa guttifer), Sikatan Matinan (Cyornis sanfordi), Sikatan
Lompobattang (Ficedula bonthaina), Serindit Flores (Loriculus flosculus),
Serindit Sangihe (Loriculus catamene).
Dalam daftar kouta ekspor TSL alam Tahun 2009 yang dikeluarkan oleh
Dirjen PHKA, jenis satwa yang masuk dalam Appendiks II dan tidak
34
dilindungi undang-undang yang diperbolehkan untuk diekspor sebanyak 104
spesies. Beberapa jenis, walaupun tidak dilindungi namun tidak ada kouta
tangkap dari alam untuk ekspor karena sedang diusulkan untuk dilindungi
maupun karena populasinya sudah semakin menurun.
3. Appendiks III
Appendiks III yang memuat daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang
telah dilindungi di suatu negara tertentu dalam batas-batas kawasan
habitatnya, dan memberikan pilihan (option) bagi negara-negara anggota
CITES bila suatu saat akan dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam
Appendiks II, bahkan Appendiks I. Jumlah yang masuk ke dalam Appendiks
II sekitas 300 spesies. Spesies yang dimasukkan ke dalam Appendiks III
adalah spesies yang dimasukkan ke dalam salah satu anggota meminta
bantuan para pihak CITES dalam mengatur perdagangan suatu spesies.
Spesies tidak terancam punah dan semua anggota CITES hanya boleh
melakukan perdagangan dengan izin ekspor yang sesuai dan Surat Keterangan
Asal (SKA) atau Certificate of Origin (COO). Di Indonesia tidak ada spesies
yang masuk ke dalam Appendiks III ini.
35
Download