gugatan citizen lawsuit model penyelesaian sengketa secara

advertisement
HENIYATUN, SH. MHum
NURUL MAGHFIROH, SH,LLM
BAMBANG TJATUR ISWANTO, SH. MH
hukum  bermula dari
kebijakan
pemerintah
yang
merugikan kepentingan umum.
 Penyelesaian sengketa hukum 
litigasi & non litigai.
 Non litigasi  ADR  Alternative
Dispute Resolution.
 Litigasi  pengadilan.
 Sengketa
gugatan  individu or kelompok.
 Gugatan secara kelompok/ perwakilan 
Class action, Action popularis, Citizen
lawsuit.
 Pengaturan
pengajuan gugatan perdata
diatur dalam HIR (Het Herziene Indonesisch
Reglement) untuk Jawa dan Madura dan Rbg
(Rechtsreglement Buitengewesten) untuk
luar Jawa dan Madura.
 PERMA Nomor 1 Tahun 2002 tentang acara
gugatan perwakilan kelompok.
 Pengajuan
gugatan Citizen lawsuit  bentuk
gugatan
yang
mengatas
namakan
kepentingan umum.
 Gugatan citizen lawsuit  hasil adopsi dari
sistem hukum Common law.
 Dasar:
1. Undang – undang Nomor 4 tahun 2004
tentang
Pokok-pokok
Kekuasaan
Kehakiman: kewajiban bagi hakim untuk
menggali, dan menemukan hukumnya dan
2. PERMA Nomor 1 Tahun 2002 yang mengatur
acara gugatan perwakilan kelompok.
 model
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 
gugatan citizen lawsuit  27 Mei 2007 
yaitu bahwa Pemerintah cq Departemen
Pendidikan Nasional dinilai telah lalai dalam
memberi pemenuhan dan perlindungan HAM
(khususnya hak atas pendidikan dan hak
anak) terhadap warga negara yang menjadi
korban ujian nasional.
 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat juga minta
agar Pemerintah meningkatkan kualitas guru,
kelengkapan sarana dan prasarana sekolah,
serta akses informasi yang lengkap sebelum
melaksanakan ujian nasional.
 Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini
dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta
dan kasasi di Mahkamah Agung.
 Putusan
 Putusan
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Nomor 251/ Pdt/ G/ 1998/ PN Jkt Pst, fakta
permasalahan hukum yang dialami oleh
penggugat dan orang – orang yang
diwakilinya adalah mereka sama – sama
warga DKI yang menderita demam berdarah.
 Putusan
Pengadilan Negeri Yogyakarta
No.73/Pdt.G/2006/PN.YK. tanggal 3 Mei
2007, gugatan ini berawal dari kejadian
bencana alam gempa bumi yang menimpa
wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan
sekitarnya yang mengakibatkan kerugian bagi
masyarakat, baik kerugian materiil maupun
kerugian immateriil sebagai akibat dari
kelambanan serta ketidak responsifan
negara/ pemerintah.
 kasus
yang telah diputus oleh hakim
Mahkamah Agung dengan Nomor Perkara 2947
K/Pdt/1988 tanggal 28 November 1990 dalam
kasus lubang Riool. Pada kasus tersebut
terungkap fakta bahwa pemerintah Kota
Madia Medan dianggap telah melakukan
perbuatan melawan hukum.
gugatan perwakilan kelompok 
menguntungkan pengadilan maupun para
pihak, karena menghemat waktu, biaya, dan
tenaga.
 Lahirnya
PERMA Nomor 1 Tahun 2002
merupakan langkah untuk mengantisipasi
apabila ada pihak yang mengajukan gugatan
perwakilan
kelompok,
sehingga
dapat
mewujudkan penyelenggaraan peradilan yang
sederhana, cepat, biaya ringan dan
transparan.
 upaya
1.
2.
3.
Bagaimana prosedur pengajuan gugatan
citizen lawsuit di pengadilan ?
Apa kendala dan hambatan yang dihadapi
dalam pengajuan gugatan citizen lawsuit?
Upaya hukum apa yang ditempuh untuk
mengatasi hambatan tersebut?
 Pengertian
gugatan perwakilan/kelompok
 Perma Nomor 1 Tahun 2002  suatu tata
cara pengajuan gugatan, dalam mana satu
orang atau lebih yang mewakili kelompok
mengajukan gugatan untuk diri atau diri
mereka sendiri dan sekaligus mewakili
sekelompok orang yang jumlahnya banyak
yang memiliki kesamaan fakta atau dasar
hukum antara wakil kelompok dan anggota
kelompok dimaksud.
Salah satu gugatan perwakilan secara
kelompok disebut gugatan Citizen Lawsuit
(CLS).
Bentuk gugatan CLS ini sangat bermanfaat
untuk mengefisiensikan dan mengefektifkan
penyelesaian perkara, mengingat dalam
gugatan Citizen Lawsuit ini berkaitan dengan
bentuk gugatan yang mengatasnamakan
kepentingan umum.
Istilah Citizen Lawsuit  dikenal dalam
sistem hukum Common law.
Citizen Lawsuit (CLS)  salah satu gugatan
yang dilakukan oleh warga negara terhadap
penyelenggara negara.
Jika ada penyelenggara negara yang melakukan
kesalahan dalam menyelenggarakan negara
maka warga negara punya hak untuk
menggugat penyelenggara negara, yaitu para
pejabat yang berkedudukan sesuai dengan
wilayah kerjanya.
Jika kebijakan terdapat di daerah maka Kepala
Daerah dapat menjadi tergugat. Adapun
kebijakan tingkat nasional maka gugatan
ditujukan ke level penyelenggara negara
yang paling tinggi, seperti Presiden, wakil
presiden, menteri atau kepala BUMN dan
kepala instansi negara tingkat pusat .
1. Ada sejumlah besar penggugat (numerosity)
biasanya dilakukan oleh orang-orang yang
merasa dirugikan karena perbuatan melawan
hukum; penggugat tidak harus merupakan
kelompok warga Negara yang dirugikan
secara langsung oleh Negara. Penggugat tidak
harus membuktikan kerugian materiil apa
yang dideritanya sebagai dasar gugatan;
penggugat
secara
keseluruhan
adalah
mewakili warga negara Indonesia.
2.
Adanya
kesamaan
kepentingan
(commonality)  Kepentingan yang
diperjuangkan adalah kepentingan umum.
3. Kesamaan tuntutan (typicaly)  Gugatan
Citizen lawsuit, pada umumnya tuntutan
berupa tindakan tertentu, pelaksanaan
kewajiban hukum.
4. Mekanisme gugatan citizen lawsuit tidak
perlu mensyaratkan hubungan hukum
antara penggugat dengan pihak yang
kepentingannya diwakili.
Petitum dalam Citizen lawsuit  petitum
atau tuntutan yang dimohonkan bukan berisi
tuntutan ganti rugi secara material,
melainkan berisi permohonan agar negara
mengeluarkan
suatu
kebijakan
yang
mengatur
untuk
kepentingan
umum
(regeling), agar perbuatan melawan hukum
berupa kelalaian dalam pemenuhan hak-hak
warga negara yang dilakukan oleh negara
tersebut tidak akan terulang lagi dimasa yang
akan datang.
Metode Pendekatan
 Metode pendekatan  yuridis normatif suatu
penelitian yang menekankan pada ilmu hukum
atau berpedoman pada segi yuridis  berusaha
menelaah kaedah-kaedah hukum / peraturanperaturan hukum yang berlaku.
 Tujuannya  mengidentifikasi terhadap suatu
masalah hukum untuk dikaji dan diteliti dengan
menggunakan dasar-dasar teori yang didapat dari
berbagai
kepustakaan:
dokumen-dokumen,
peraturan
perundang-undangan,
putusan
pengadilan, serta buku-buku yang berkaitan
dengan masalah yang diteliti  berkaitan
dengan pelaksanaan dalam praktek gugatan
Citizen lawsuit terhadap perbuatan melawan
hukum.
Bahan Penelitian  penelitian lapangan yang nantinya
diharapkan dapat mendukung penelitian kepustakaan.
Sumber data dan informasi:
1. Data primer  diperoleh secara langsung dari hasil
penelitian di lapangan, melalui wawancara dengan
responden  Hakim dan Pengacara di kota Magelang dan
Yogyakarta.
2. Data Sekunder  data-data yang memberikan penjelasan
terhadap data primer. Data sekunder ini terdiri dari :
a.Bahan hukum primair, meliputi peraturan perundangundangan, antara lain :
1). HIR (Het Herziene Indonesisch Reglement)
2). Kitab Undang-undang hukum perdata
3). Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004
4). PERMA Nomor 1 Tahun 2002
b. Bahan hukum sekunder, meliputi: Buku-buku, hasil
penelitian, internet dan lain sebagainya.
c. Bahan hukum tersier yang terdiri dari kamus hukum, kamus
bahasa Indonesia dan lain sebagainya.
Spesifikasi penelitian  deskriptif-analitis 
bersifat deskriptif artinya dari hasil penelitian ini
diharapkan
dapat
mendeskripsikan
atau
memberikan gambaran secara menyeluruh dan
sistematis.
Kemudian dari hasil penelitian akan dilakukan
analisa.
Populasi dan sampling
Populasi dalam penelitian ini adalah gugatan
perwakilan kelompok dan sampel yang diambil
adalah Gugatan citizen lawsuit.
Teknik
sampling
atau
penetapan
sampel
menggunakan purposive sampling yaitu penentuan
sampel dilakukan secara acak (nonrandom) yang
dipilih berdasarkan pertimbangan atau penilaian
subyektif dari peneliti, sehingga dalam hal ini
peneliti menentukan sendiri responden mana yang
dianggap dapat mewakili populasi.
Alat penelitian
Alat yang digunakan untuk memperoleh data
adalah sebagai berikut:
1) Wawancara (Interview)  cara untuk
memperoleh informasi dengan bertanya langsung
responden dan atau narasumber.
Metode yang digunakan adalah metode
wawancara terarah yaitu: directive interview,
dengan menggunakan daftar pertanyaan (bersifat
terbuka) sehingga diharapkan dapat memperoleh
data yang akurat karena topik bahasan telah
ditentukan sebelumnya sehingga tidak akan
melebar/meluas.
2) Pustaka atau dokumen (Library research) 
dengan cara mempelajari buku-buku yang
berkaitan dengan permasalahan yang diteliti,
berupa undang-undang, hasil penelitian, hasil
karya dari kalangan hukum, internet dan lain
sebagainya.
A. Prosedur pengajuan gugatan Citizen lawsuit
1.penggugat harus memenuhi persyaratanpersyaratan formal surat gugatan yang diatur
dalam hukum acara perdata yang berlaku, yaitu
harus mencantumkan identitas para pihak, dalildalil konkrit tentang adanya hubungan hukum
yang merupakan dasar serta alasan-alasan dari
pada tuntutan (Fundamentum petendi) serta
tuntutan (petitum).
2.Persyaratan lain yang diatur dalam Pasal 3 PERMA
Nomor 1 Tahun 2002 tentang Acara Gugatan
Perwakilan Kelompok, yang memuat antara lain :
Identitas lengkap dan jelas wakil kelompok,
meliputi nama, alamat atau tempat tinggal, umur,
status kawin atau tidak, pekerjaan dan agama
 Definisi kelompok secara rinci dan spesifik,
walaupun tanpa menyebut nama anggota kelompok
satu per satu.
 Keterangan
tentang anggota kelompok yang
diperlukan dalam kaitannya dengan kewajiban
melakukan
pemberitahuan.
Ketentuan
ini
diperlukan sebab yang tampil secara nyata dalam
proses perkara hanya wakil kelompok, sedangkan
identitas anggota kelompok tersebut tersembunyi
atau in absentee di balik identitas wakil kelompok
dan tidak hadir di forum persidangan. Oleh karena
itu, apabila suatu saat diperlukan pemberitahuan
kepada anggota kelompok, perlu diterangkan
keberadaan mereka dalam surat gugatan sehingga
langkah tindakan pemberitahuan itu dapat
terlaksana dengan efektif.

3.Dasar gugatan (Fundamentum petendi/Posita)  seluruh
kelompok baik wakil kelompok maupun anggota kelompok,
baik yang teridentifikasi maupun yang tidak teridentifikasi
dan dikemukakan secara jelas/rinci.
Posita  memuat rincian tentang kejadian/peristiwa
(factual grounds), dan menguraikan tentang hukum, yaitu
adanya hak dan hubungan hukum pihak-pihak yang
berperkara (penggugat/tergugat) yang menjadi dasar
yuridis dari tuntutan.
apabila peristiwa-peristiwa yang dijadikan sebagai dasar
tuntutan tersebut tidak membenarkan tuntutan  gugatan
tersebut tidak berdasarkan hukum, sehingga gugatan akan
dinyatakan tidak diterima (Niet ontvankelijk verklaard).
apabila peristiwa-peristiwa yang membenarkan tuntutan
tersebut tidak diajukan, maka dapat dikatakan bahwa
gugatan tersebut tidak beralasan sehingga gugatan akan
ditolak.
 Gugatan perwakilan kelompok dapat dikelompokkan
menjadi beberapa bagian kelompok atau sub kelompok,
jika tuntutan tidak sama karena sifat dan kerugian yang
berbeda.
4.Tuntutan (petitum). Perihal tuntutan yang diajukan
dalam gugatan Citizen lawsuit, para responden yaitu
hakim dan pengacara menyimpulkan bahwa secara
teoritis gugatan Citizen lawsuit tidak menuntut ganti
rugi secara material dan financial, melainkan berisi
permohonan agar negara mengeluarkan suatu
kebijakan yang mengatur kepentingan umum
(Regeling) agar perbuatan melawan hukum berupa
kelalaian dalam pemenuhan hak-hak warga negara
yang dilakukan oleh negara tersebut tidak akan
terulang lagi dimasa yang akan datang.
Setelah persyaratan gugatan terpenuhi  hakim
akan memeriksa dan mempertimbangkan apakah
telah sesuai dengan kriteria gugatan Citizen law
suit.
 apabila hakim memutuskan bahwa tata cara
gugatan perwakilan kelompok dinyatakan tidak sah
maka pemeriksaan gugatan selanjutnya akan
dihentikan melalui suatu putusan hakim (Pasal 5
PERMA Nomor 1 Tahun 2002).
 akan tetapi jika hakim menyatakan sah, maka
pihak penggugat diminta untuk membayar panjer
(vorskot) biaya perkara, sebab apabila penggugat
belum membayar panjer biaya perkara, maka
panitera tidak akan memasukkan perkara tersebut
ke dalam daftar perkara, kecuali jika penggugat
tidak mampu untuk membayar biaya perkara dan
mengajukan untuk dapat beracara secara cumacuma atau prodeo (Pasal 237 HIR) .

membayar panjer perkara  maka
gugatan didaftar dalam daftar perkara oleh
panitera dan selanjutnya Ketua Pengadilan
Negeri akan menunjuk majelis hakim untuk
memeriksa perkara tersebut.
 Hakim kemudian akan menentukan hari dan
jamnya
sidang
dan
memerintahkan
memanggil kedua belah pihak agar hadir pada
waktu yang telah ditentukan disertai saksisaksi dan bukti surat yang akan dipergunakan
(Pasal 121 ayat 1 HIR).
 Setelah
Hakim juga akan memerintahkan kepada
penggugat untuk mengajukan usulan model
pemberitahuan kepada anggota kelompok
sebagaimana telah ditentukan dalam Pasal 7
PERMA Nomor 1 Tahun 2002, yaitu :
a. Pemberitahuan melalui media massa, baik cetak
maupun elektronik
b. Pemberitahuan melalui pengumuman baik yang
ditempel di papan pengumuman maupun
selebaran di kantor-kantor pemerintah seperti
kantor kelurahan, kantor kecamatan/desa dan di
kantor Pengadilan.
c. Pemberitahuan yang disampaikan secara
langsung kepada tiap individu anggota kelompok,
sepanjang yang dapat diidentifikasi berdasarkan
persetujuan hakim dan sedapat mungkin praktis,
efisien, dan efektif.

Hakim wajib memeriksa dan mempertimbangkan
gugatan perwakilan kelompok, antara lain :
a. Memiliki unsur kesamaan fakta, hukum, dan
tuntutan
b. Memiliki bukti yang kuat dan meyakinkan.
c. Terpercaya (trushtwaorthy) dan dihormati.
d. Tidak mendahulukan kepentingan pribadi di
depan kepentingan anggota kelas
e. Mengakar dan mewakili pada masyarakat .
 Prosedur
pengajuan gugatan Citizen lawsuit,
semua responden  prosedur dan tahapan
persidangan tetap mengikuti peraturan yang
termuat dalam HIR/Rbg dan PERMA Nomor 1
Tahun 2002.
 Hal ini karena sampai saat ini peraturan
perundang-undangan
yang
mengatur
mengenai gugatan Citizen lawsuit belum
ada, sehingga untuk menghindari kevacuman
hukum.
 Tetap mengikuti aturan yang ada dalam
hukum acara perdata yang berlaku yaitu
HIR/Rbg serta PERMA Nomor 1 Tahun 2002
tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok.
Kendala dan hambatan dalam pengajuan gugatan
Citizen lawsuit
1.Banyaknya penggugat yang akan maju ke muka
pengadilan  sulit mengelola gugatan tersebut.
Pengadilan menghadapi kendala pada masalah
administrasi & lamanya waktu yang dibutuhkan
untuk memeriksa perkara yang diajukan secara
gugatan Citizen lawsuit.
Pengadilan dalam memeriksa perkara perdata pada
umumnya membutuhkan waktu maksimal 6 bulan,
tetapi karena banyaknya penggugat, berarti waktu
yang dibutuhkan semakin lama.
Lamanya waktu tersebut terkadang sering
disebabkan oleh para pihak yang tidak hadir dalam
sidang, sehingga sidang sering ditunda.
Akibatnya asas peradilan yang murah, cepat dan
efisien tidak dapat tercapai.
2.Model gugatan Citizen lawsuit  sebagian
besar tidak diterima (Niet onvtvankelijk
verklaard) oleh Pengadilan.
Pertimbangan hakim pada kasus-kasus yang
melibatkan kepentingan umum seringkali
menolak gugatan dengan alasan belum ada
ketentuan secara positif dalam peraturan
perundang-undangan.
 Salah
satu contoh di dalam pertimbangan hukum
majelis hakim pada kasus “demam berdarah” yang
telah In Kracht Van Gewijsde dalam putusan
Pengadilan
Negeri
Jakarta
Pusat
Nomor
251/Pdt/G/1998/PN.Jkt.Pst.
 Fakta dan permasalahan hukum yang dialami oleh
penggugat dan oranng-orang yang diwakilinya
adalah mereka sama-sama warga DKI Jakarta yang
menderita demam berdarah.
 pada saat berjangkitnya penyakit tersebut di
wilayah DKI Jakarta tahun 1988 dan harus dirawat
di rumah sakit, bahkan banyak diantaranya yang
meninggal dunia.
3. Perbedaan persepsi  di kalangan Hakim 
penggugat
tidak
dapat
begitu
saja
mengatasnamakan kepentingan orang lain tanpa
adanya surat kuasa dari orang yang diwakilinya.
Hakim yang telah moderat mungkin tidak
mengharuskan adanya surat kuasa tersebut.
Perbedaan penafsiran inilah yang sering
menjadikan kendala bagi hakim dalam
menyelesaikan suatu perkara yang berkaitan
dengan gugatan Citizen lawsuit dan
menyebabkan keengganan bagi para pencari
keadilan untuk mengajukan tuntutan hak
yang melibatkan sejumlah besar orang.
4.Ketidaksamaan tuntutan diantara pihak-pihak
yang berperkara.
Upaya mengatasi kendala-kendala dalam
pengajuan gugatan Citizen lawsuit
1.hakim harus mampu menemukan hukum
(rechtsvinding) dalam menghadapi kasus
yang diajukan padanya  Hakim dituntut
untuk menggali, mengikuti, dan memahami
nilai-nilai hukum yang berkembang di
masyarakat
dan
selalu
menegakkan
kebenaran dan keadilan berdasarkan amanat
yang dijalankan sebagai negara hukum
dengan tetap menerima, memeriksa, dan
memutus setiap perkara dengan berpegang
pada landasan yuridis yang telah ada seperti
UU No 4 tahun 2004; HIR/Rbg & PERMA
Nomor 1 Tahun 2002.
2.Hakim harus bertindak lebih bijaksana serta
hakim dituntut untuk lebih cermat di dalam
menafsirkan kejujuran dan kesungguhan dari
wakil kelompok, agar tidak merugikan para
pencari keadilan.
3.Penggugat harus berusaha sendiri untuk lebih
pro aktif, artinya keefektifan penyelesaian
perkara perdata di pengadilan harus
diusahakan dari penggugat sendiri.
4.Penggugat harus lebih bisa bermusyawarah
demi
tercapainya
tujuan
kepentingan
bersama, sehingga dihasilkan tuntutan yang
sama guna diperjuangkan di Pengadilan.
KESIMPULAN
1. Pada dasarnya yang dimaksud dengan gugatan Citizen
lawsuit adalah sebuah gugatan yang diajukan oleh
setiap warga negara kepada pemerintah/negara yang
melakukan suatu perbuatan melawan hukum yang
secara nyata telah merugikan kepentingan umum dan
masyarakat luas.
2. Pihak penggugat tidak harus pihak yang mengalami
kerugian langsung, akan tetapi dalam prakteknya
lebih tepat jika warga negara tersebut ikut
merasakan
kerugian
baik
material
maupun
immaterial.
3. Tuntutan (petitum) yang dimohonkan oleh pihak
penggugat ada yang memohon ganti kerugian secara
material, meskipun secara teoritis sebenarnya tidak
diperbolehkan, karena tuntutan tersebut semestinya
memohon agar negara mengeluarkan suatu kebijakan
untuk mengatur kepentingan umum (regeling) agar
perbuatan melawan hukum berupa kelalaian dalam
pemenuhan hak-hak warga negara yang dilakukan
oleh pemerintah/negara tidak terulang di masa yang
akan datang.
4.Penggugat
yang
ingin
mengajukan
gugatannya dalam bentuk Citizen lawsuit,
maka harus memenuhi persyaratan formal
dan mengikuti prosedur yang telah diatur
dalam peraturan hukum acara perdata yang
berlaku, yaitu tunduk pada ketentuan HIR
(Het Herzeine Indonesisch Reglement) dan
Rbg (Rechtglement Buitengewesten) serta
aturan
perundang-undangan
yang
di
keluarkan oleh Mahkamah Agung, yaitu
PERMA Nomor 1 Tahun 2002 tentang Acara
Gugatan Perwakilan Kelompok.
5.Kendala yang dihadapi dalam pengajuan
gugatan, dapat timbul dari para pihak dan
Pengadilan sendiri.
Pihak Pengadilan, kendala yang ditemui lebih
bersifat administratif serta perbedaan penafsiran
bagi hakim dalam memeriksa dan memutus
perkara yang diajukan dengan gugatan Citizen
lawsuit.
Pihak yang berperkara  ketidaksamaan tuntutan
diantara pihak-pihak yang berperkara.
Kendala lain dikarenakan belum ada aturan hukum
positif yang mengatur secara khusus mengenai
gugatan Citizen lawsuit serta kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang gugatan
Citizen
lawsuit
sehingga
menyebabkan
keengganan bagi pencari keadilan untuk
menggugat menggunakan mekanisme gugatan
Citizen lawsuit.
5.Untuk mengatasi kendala yang terjadi di dalam
gugatan Citizen lawsuit, tetap harus diupayakan
oleh semua pihak, baik oleh Pengadilan maupun
para pihak yang berperkara demi tercapainya
kepastian hukum.
Upaya tersebut meliputi usaha dari hakim untuk
bisa
menggali
dan
menemukan
hukum
(rechvinding) guna menghindari kekosongan
hukum atau hukum yang tidak jelas akibat dari
belum adanya suatu aturan positif yang
mengatur secara khusus mengenai gugatan
Citizen lawsuit. Usaha lain yang ditempuh hakim
adalah berusaha untuk lebih cermat dan
bijaksana dalam menafsirkan kejujuran dari
wakil kelompok.
Selain hakim, para pihak yang berperkara
khususnya penggugat berupaya untuk lebih aktif
supaya penyelesaian perkara di Pengadilan dapat
tercapai.
 Kepada
pihak Pemerintah melalui badan
Peradilannya agar dapat mengakomodir
gugatan Citizen lawsuit demi terwujudnya
tuntutan perkembangan masyarakat modern,
dengan mulai menyusun peraturan-peraturan
tentang gugatan Citizen lawsuit, guna
memberikan aturan hukum yang pasti
mengenai prosedur, tata cara dan ketentuan
formal yang harus dipenuhi oleh penggugat,
apabila timbul suatu permasalahan yang
berkaitan dengan surat kuasa dari anggota
kelompok kepada wakil kelompok yang akan
maju ke Pengadilan
 Kepada
para hakim, alangkah baiknya jika
dapat lebih aktif memimpin sidang dan
mengupayakan penyelesaian perkara-perkara
yang diajukan dengan gugatan Citizen
lawsuit;
 hakim diharapkan mempunyai pengetahuan
yang luas dan tidak menggunakan penafsiran
yang sempit sehingga dapat mengatasi
hambatan di dalam memeriksa perkara yang
berkaitan dengan gugatan berbentuk Citizen
lawsuit.
 penggugat
harus meneliti secara cermat dan
seksama persyaratan-persyaratan formal yang
harus dipenuhi sebelum gugatan tersebut diajukan
serta diharapkan bagi para pihak yang berperkara
untuk dapat lebih konsisten dan proaktif dalam
upaya penyelesaian perkara di Pengadilan.
 Kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya
lawyer/pengacara
seyogyanya
dapat
lebih
meningkatkan pengetahuannya, berkaitan dengan
gugatan Citizen lawsuit, baik melalui media
elektronik maupun media cetak, berupa bukubuku, surat kabar maupun majalah, sebab
dirasakan masih banyak masyarakat yang belum
mengerti tentang gugatan Citizen law suit.
DAFTAR PUSTAKA
Buku-buku
Burhan Ashshofa, 2004, Metode penelitian hukum.
Jakarta, Rineka Cipta
E, Sundari, 2002, Pengajuan Gugatan Secara Class
Action, Yogyakarta,
Universitas Atma Jaya Press
Heniyatun, 2007, Hasil penelitian tentang tanggung
gugat resiko dalam tindakan medis pada Rumah
sakit di Magelang
Lilik Mulyadi, 1999, Hukum acara perdata menurut
teori dan praktik peradila Indonesia, Jakarta,
Djambatan
M. Taufik Makarao, 2004, Pokok-pokok Hukum Acara
Perdata, Jakarta, Rineka Cipta.
M.Yahya Harahap, 2005, Hukum Acara Perdata,
Jakarta, Sinar Grafika
Munir Fuadi, 2005, Perbuatan melawan hukum
pendekatan kontemporer, Bandung, Citra Aditya
Bakti
Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata,
1997, Hukum Acara Perdata dalam teori dan
praktek Bandung, Mandar Maju.
Ronny Hanitijo Soemitro, 1990, Metodologi
Penelitian Hukum dan Jurimetri, Jakarta, Ghalia.
R. Wiryono Prodjodikoro, 2000, Perbuatan melawan
hukum dipandang dari sudut hukum perdata,
Bandung, Mandar maju
Supranto, 2003, Metode Penelitian Hukum dan
Statistik, Jakarta, Rineka Cipta
Soerjono Soekanto, 1984, Pengantar Penelitian
Hukum. Jakarta, UI –PRESS
Perundang-undangan
PERMA NO.1 Tahun 2002 Tentang Acara Gugatan
Perwakilan Kelompok
RIB/HIR
Kitab Undang-undang Hukum Perdata
Download