kebijakan asean dalam menangani masalah drugs

advertisement
KEBIJAKAN ASEAN DALAM MENANGANI
MASALAH DRUGS TRAFFICKING DI INDONESIA
PERIODE 2003-2008
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
untuk Memenuhi Syarat-Syarat Mencapai Gelar
Sarjana Sosial
Oleh
NATIQOH
NIM. 106083003631
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAK ULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UIN SYARIF H IDAYATULLAH
JAK ARTA
2011
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Nege i (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 18 Maret 2011
Natiqoh
ABSTRAK
Dengan semakin maraknya arus globalisasi dan merebaknya dampak sosial
dari krisis ekonomi dan moneter di Kawasan Asia Tenggara, telah menyebabkan
semakin meningkatnya aksi-aksi kejahatan yang melintas batas. Bentuk dan aksi
kejahatan ini salah satunya adalah masalah drugs trafficking. Dengan kondisi
seperti ini, maka perdagangan dan peredaran narkotika
obat-obatan terlarang
bukan saja menjadi ancaman keamanan masing-masing negara anggota ASEAN.
Dari sisi yang sama, ia telah menjadi suatu ancaman keamanan bagi ketahanan
regional ASEAN secara keseluruhan, baik untuk saat ini maupun pada masa yang
akan datang. Hal ini mengingat sasaran dari pengguna narkotika dan obat-obatan
terlarang adalah generasi muda yang merupakan generasi penerus bangsa di masa
depan dan mengancam human security. Mengingat kondisi tersebut, maka dalam
skripsi ini penulis menganalisis kebijakan ASEAN dalam menangani masalah
drugs trafficking di Indonesia pada periode 2003-2008.
Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana kebijakan
dalam
menangani masalah drugs trafficking di Indonesia, serta melihat bagaimana
implementasi dari hasil kerjasama ASEAN tersebut untuk direalisasikan di negara
ASEAN khususnya Indonesia. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
penulis menemukan hasil dari kebijakan ASEAN itu adalah mengadakan
kerjasama dengan anggota ASEAN menyangkut masalah drugs trafficking.
Kerjasama tersebut dengan melihat perkembangan kebijakan yang dilakukan
ASEAN serta program aksi dan strategi ASOD (ASEAN Senior Officials on Drugs
Matters) sebagai institusi ASEAN. Sementara kelemahan dari kerjasama ASEAN
yang paling mendasar dalam up aya mengatasi masalah drugs trafficking ini adalah
kurangnya sumberdaya manusia yang memadai dan sumber dana yang
mencukupi.
Pendekatan konsep penelitian ini dengan menggunakan tiga teori yang
pertama kerjasama regional dimana ASEAN ini adalah sekumpulan negara yang
memiliki kedekatan geografis karena berada dalam satu wilayah tertentu, yang
kedua keamanan dimana masalah keamanan ini cenderung bersifat laten, dinamis
dan multidimensial, yang implikasinya tidak hanya terbatas pada suatu negara,
tetapi lintas negara. Yang ketiga human security dimana dampak dari drugs
trafficking ini mengancam keamanan manusia itu sendiri.
Kata Kunci: Drugs Trafficking , Human Security, Transnational Crime,
Security, Non-Konvensional
KATA PENGANTAR
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
kemudahan yang diberikan oleh -Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercuarah dan terlimpah kepada
Nabi Muhammad saw.
Selama penyusunan skripsi ini penulis banyak menerima
dan
saran dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima
kasih yang tak terhingga kepada:
1.
Prof.Dr.Bachtiar Effendy selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2.
Dina Afrianty, Ph.D., selaku Ketua Jurusan Hubungan Internasional,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.
Agus Nilmada Azmi, M.Si., sebagai Sekertaris Jurusan Hubungan
Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
4.
Ali Munhanif, Ph.D selaku pembimbing akademik Jurusan
ungan
Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
5.
Bapak Drs.Armein daulay M.Si., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang
penuh dengan rasa sabar dalam memberikan arahan, saran serta motivasi
selama penulisan skripsi ini. “Terimakasih banyak pak, semoga segala
kebaikan dan ketulusan yang Bapak berikan menjadi amal shaleh dan juga
ilmu yang diberikan menjadi ilmu yang bermanfaat.”
6.
Seluruh Bapak/Ibu Dosen Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Nazaruddin
Nasution, SH, MA., Kiky Rizky MSi., Adian Firnas, MSi., Rahmi Fitriyanti
MSi., yang telah mengajarkan berbagai ilmu dan telah membant penulis
dalam meyelesaikan tugasnya sebagai mahasisw i. Kenangan belajar bersama
dosen -dosen tsb akan selalu terpatri dalam hati penulis selamanya.
7.
Segenap pihak Kementrian Luar Negeri RI Direktorat Jendral Kerjasama
Fungsional ASEAN dan segenap Sekertariat Badan Narkotika Nasional RI
yang telah membantu penulis dalam penyediaan data-data yang berkaitan
dengan skripsi ini.
8.
Kedua orang tua ku tercinta Ayahanda H.Madsyukra dan Ibunda Hj.Siti
Hamrah yang tanpa pernah lelah selalu memberikan senyuman serta tetesan
air mata do’a untuk kesuksesan anak-anaknya.
9.
Kakak -kakaku tercinta Ulumuddin, zein Qursayni, Fahrurrozi, Siti Hanah,
Jamaluddin, Ja’far Sidiq, Ubaydillah. yang selalu memberikan semangat
dalam selimut cinta dan kasih. keponakan -keponakanku, Lia, Ebah, Zaky,
Fauziah, Mu2s, Fadil, Ubad, Abi, Alif, Ziska yang menghibur dan
penyemangat penulis.
10.
Tuk seorang yang sangat berarti “Ma’mun Ibni Khidir S.HI” yang selalu
setia mendampingi dan menghibur penulis, serta penyemangat, yang telah
menjadi cinta yang setia, serta menghiburku dikala penulis mengalami
kesulitan dalam menyelesaikan skripsi ini.
11.
Sahabat-sahabatku Crista MC Auliffe, Dian Erlita Aristya, Murni Habibah
yang telah memberikan arti sebuah ketulusan dalam bingkai persahabatan,
juga buat Neni Herdiyani, Hastri Nurdiyanti, Nayla Hidayah, Lina Herlina,
Musyrifah, Aldi Wandra Terima kasih tuk semua canda tawa serta tempat
dalam berbagi suka dan duka.
12.
Teman-temanku, Anne Normadiah, Ita Fatimah, Hazrina, Dzuriah Tiara
Hany, Ayu Yukhairoh, Astrid Ismulyanti, Izun Nahdliya, Dwi Wahyuni,
Umi Kulsum, Shinta Octalia, Insan Maulidy, Agus Firmansyah, Khairul
Umam, Eko Fernanda, Bernardy Ferdiansyah. Kalian adalah keluarga
kecilku yang penuh kehangatan, terima kasih tuk sekotak senyuman yang
diberikan bagi penulis ketika penulis menghadapi masa-masa sulit.
13.
Teman-teman Mahasiswa/Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional kelas
A dan B angkatan 2006, 2007, 2008, 2009 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
14.
Saudara dan sahabat-sahabatku di Banjaran-Bandung, yang telah banyak
mengajarkan diri ini untuk menjadi pribadi yang ramah dan sederhana.
15.
Serta Besar harapan penulis bahwa skripsi ini dapat menambah khazanah
keilmuan dan bermanfaat bagi banyak pihak. Penulis sadar bahwa masih
banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, sehingga penulis berharap
peneliti-peneliti selanjutnya dapat melakukan p erbaikan.
Akhir kata penulis ucapkan. Jazakumullah Khairan Katsirin
Jakarta, 18 Maret 2010
Natiqoh
DAFTAR ISI
ABSTRAK ......................................................................................................
iv
KATA PENGANTAR ...................................................................................
v
DAFTAR ISI...................................................................................................
viii
DAFTAR SINGKATAN ...............................................................................
xi
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
xiii
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
xiv
DAFTAR GRAFIK........................................................................................
xv
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang .............................................................................
1
I.2 Rumusan Masalah........................................................................
9
I.3 Tujuan Penelitian .........................................................................
10
I.4 Tinjauan Pustaka..........................................................................
10
I.5 Kerangka Pemikiran ....................................................................
12
1.5.1 Konsep Kerjasama Regional .............................................
12
1.5.2 Konsep Keamanan .............................................................
14
1.5.3 Kon sep Human Security.....................................................
19
I.6 Metode Penelitian ........................................................................
24
I.7 Sistematika Penulisan ..................................................................
26
BAB II PERMASALAHAN DRUGS TRAFFICKING DAN DAMPAKNYA
TERHADAP HUMAN SECURITY
II.1 Gambaran Umum Masalah Drugs Trafficking ........................
28
II.1. 1 Masalah Drugs Trafficking di Segi Tiga Emas (Golden
Triangle)...........................................................................
32
II.1.2 Produksi dan Jalur Peredaran Drugs Trafficking di Segitiga
Emas (Golden Triangle)..................................................
37
II.2 Dampak dari Masalah Drugs Trafficking Terhadap Human
Security.......................................................................................
41
II.2.1 Dampak terhadap Dimensi Politik ...............................
42
II.2.2 Dampak terhadap Dimensi Ekonomi...........................
44
II.2.3 Dampak terhadap Dimensi Sosial................................
47
II.2.4 Dampak terhadap Dimensi Budaya .............................
50
II.2.5 Dampak terhadap Dimensi Kesehatan .......................
50
II.2.6 Dampak terhadap Dimensi Penegak Hukum ..............
51
II.2.7 Dampak terhadap Dimensi Keamanan Nasional ........
53
BAB III GAMBARAN UMUM MASALAH DRUGS TRAFFICKING DI
INDONESIA
III.1 Masalah Drugs Trafficking di Indonesia .............................
55
III.2 Jenis Narkotika dan Obat-obatan Terlarang di Indonesia ..
56
III.3 Produksi Narkotika dan Obat-obatan Terlarang di
Indonesia ..............................................................................
63
III.4 Jalur Peredaran Narkotika dan Obat-obatan Terlarang di
Indonesia .............................................................................
BAB IV
ANALISIS
KEBIJAKAN
ASEAN
DALAM
65
MENANGANI
MASALAH DRUGS TRAFFICKING DI INDONESIA
IV.1 Kebijakan ASEAN dalam Menangani Masalah Narkotika
dan Obat-obatan terlarang....................................................
73
IV.1.1 Perkembangan Kerjasama ASEAN ...........................
79
IV.1.2 Program Perkembangan Aksi ASEAN ......................
88
IV.1.3 Perkembangan Strategi Kerjasama ASEAN .............
91
IV.2 Implementasi Kerjasama ASEAN dalam Menangani Masalah
Narkotika dan Obat-obatan Terlarang di Indonesia ...........
97
IV.3 Hambatan Kerjasama ASEAN dalam Menangani Masalah
Narkotika dan Obat-obatan Terlarang .................................
101
IV.3.1 Kurangnya komitmen dari Negara -negara Anggota .
102
IV.3.2 Permasalahan Dana ( Fund ) ........................................
104
IV.3.3 Hambatan dari Faktor Geografis ASEAN .................
104
BAB V PENUTUP
V.1 Kesimpulan dan Saran ...............................................................
108
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................
xvi
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR SINGKATAN
ACCORD
ASEAN-China Cooperative Operations in Response to
Dangerous Drugs
ACOT
ASEAN Centre on Transnational Crime
AD
Alternative Development
AFMM
ASEAN Financial Ministers Meeting
AMM
ASEAN Ministerial Meeting
AMMTC
ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime
ASEANAPOL
ASEAN Chiefs of National Police
ASOD
ASEAN Senior Official on Drugs Matters
ATS
Amphetamine Type Stimulant
BERSAMA
Badan Kerjasama Pembinaan Warga Tama
BNN
Badan Narkotika Nasional
CBT
Computer Based Training
CMO
Comprehensive Multidisciplinary Outline
COSD
Cmmitte on Social Development
DEA
Drug Enforcement Administration
ICDAIT
International Conference on Drug Abuse and Illicit
Trafficking
IFNGO
International Federation of Non -Government Organizations
for Drugs and Substance Abuses
IMF
International Monetary Fund
INCB
International Narcotic Colombo Plan Bureau
KTT
Konferensi Tingkat Tinggi
MoU
Momerondum of Understanding
NDBC
National Drug Abuse Prevention Center
TAC
Treaty of Amity and Cooperation
TOC
Transnational Organization Crime
UNDCP
United Nation Drug Control Program
UNDP
United Nation Development Program
UNODC
United Nation Office on Drugs and Crime
VAP
Vientiane Action Programme
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.3.1.2
Jalur Drugs Trafficking di The Golden Triangle ...........
Gambar II.3.2.1
Jalur Lalu Lintas Obat-Obatan Terlarang yang Masuk
Gambar II.3.2.2
48
ke Indonesia .....................................................................
52
Jalur peredaran ganja di Indonesia .................................
54
DAFTAR TABEL
Tabel II.3.2.3
Kasus Narkoba di Indonesia Tahun 2003-2008 .............
Tabel IV.1.3.1
Perkembangan Kebijakan kerjasama ASEAN dalam
menangani masalah Drugs Trafficking...........................
56
92
DAFTAR GRAFIK
Grafik II.3.1.1
Total seziure of methamphetamines pills in Myanmar
and Thailand 1998 - 2006 ..............................................
47
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perubahan akibat dari globalisasi yang dilandasi oleh
sistem informasi dan teknologi yang sangat cepat menja
negara-negara
“seolah -olah” tanpa batas, serta dampak sosial dari krisis ekonomi dan
keuangan yang melanda kawasan Asia Tenggara telah mendorong munculnya
masalah gangguan keamanan baru berupa aksi-aksi kejahatan yang melintasi
batas wilayah negara. Persoalan batas negara yang belum dikelola dengan
baik bahkan juga menjadi salah satu indikator bahwa negara tersebut sangat
lemah. Oleh karenanya, batas dan luas teritorial memainkan peran yang
sangat signifikan dalam menentukan eksistensi suatu negara. 1 Lebih lanjut
dengan mengutip pendapat George Sorensen (1996) 2 , Anak Agung Banyu
Perwita menyatakan gagasan utama dari penentuan batas
untuk membedakan negara secara fisik. Selain dari itu
menjadi alat untuk mengontrol aliran barang, gagasan,
Selain
itu,
apabila
suatu
negara
tidak
dapat
l adalah
negara juga
bahkan ideologi.
melindungi
wilayah
perbatasannya akan menghadapi berbagai persoalan ketidakamanan wilayah
1
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Deplu RI, Kerjasama ASEAN dalam Menaggulangi
Kejahatan Lintas Negara . 2000. h. 1.
2
Anak Agung Banyu Perwita “Problematika Hubungan TNI dan POLRI dalam Menangani
Terorisme dan Kejahatan Lintas Batas” makalah disampaikan dalam seminar Nasional
“Memperkuat Hubungan TNI-POLRI dalam Kerangka Keamanan Nasional” Bandung, 10
September 2007. h 7-10 .
perbatasannya yang muncul dari aktor non negara seperti kejahatan
transnasional seperti perdagangan narkotika.
Bentuk dan aksi kejahatan transnasional di atas antaranya meliputi
perdagangan dan penyelundupan manusia, (khususnya wanita dan anakanak); pencegahan dan penanggulangan bahaya narkotika
obat-obatan
terlarang; pembajakan kapal di perairan Asia Tenggara; masalah pencucian
uang serta perdagangan gelap persenjataan ringan (small arms).3 Aksi-aksi
kejahatan
di atas dimanfaatkan oleh
kelompok teroris yang kerap
menggunakanya karena lemahnya kontrol wilayah perbatasan, diawali dengan
merencanakan, mempersiapkan dan menggalang semua aksi kejahatan
tersebut akan terus diupayakan untuk dicari pencegahan dan penyelesaian nya.
Misalnya, di Indonesia untuk masalah pencegahan dan pemberantasan
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, dan bahan
adiktif lainya di upayakan pencegahan dan penanggulangannya. Dalam hal
ini, diadakan koordinasi dengan instansi pemerintah terkait untuk menyusun
dan melaksanakan kebijakan di bidang ketersediaan, mengoprasikan satuan
tugas melalui komunikasi, informasi dan edukasi, pengendalian dan
pengawasan, penegakan hukum, treatment dan rehabilitas
masyarakat bebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. 4
Salah satu bentuk kejahatan transnasional yang diangkat penulis ialah
masalah drugs trafficking yang sedang mendapat sorotan, baik dari
masyarakat internasional maupun nasional. Dapat dikatakan bahwa akhir3
Ibid h. 11.
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, ADVOKASI Pencegahan Penyalahgunaan
Narkoba . 2009. h. 107.
4
akhir ini di negara anggota ASEAN5 menunjukkan peningkatan baik dari segi
kualitas maupun kuantitas dalam kerjasama tersebut. Data statistik di mas ingmasing negara anggota menunjukkan bahwa kasus-kasus penyalahgunaan
narkotika dan obat-obatan terlarang dan para pecandunya semakin meningkat.
Antara lain di Brun ei Darussalam pada tahun 1988 ditemui dari 15 kasus,
meningkat menjadi 423 kasus pada tahun 1998. Kemudian di Thailand dari
122.119 pada tahun (1994) menjadi 167.039 pada tahun (1998). Dan
Kamboja dari 32 pada tahun (1994) menjadi 78 pada tahun (1998). Di
Malaysia pada tahun 1994 terdapat 11.672 pecandu meningkat menjadi
21.073. 6 Bahkan di Indonesia jumlah perkara penyalahgunaan narkotika dan
obat-obatan terlarang dari tahun 1998 sampai dengan tahun 1999 telah
meningkat hingga hampir 90%. Jenis narkotika dan obat-obatan terlarang
yang beredar juga bervariasi dari Methamphetamine, Amphetamine, Heroin,
Zat -zat Psikotropika, Opium, Mariyuana .7
Asia Tenggara merupakan salah satu dari tiga kawasan penghasil obatobatan terlarang terbesar di dunia, bersama-sama dengan wilayah “Bulan
Sabit Emas” atau “ Golden Crescent ” (Afganistan -Pakistan -Iran). Secara
khusus Asia Tenggara tersebut yakni ASEAN keberadaan “Segitiga Emas”
(Golden Triangle) di perbatasan Thailand, Myanmar dan Laos, menghasilkan
60% produksi opium dan heroin di dunia. Produksi narkoba di kawasan
5
ASEAN ( Association of Southeast Asian Nation ) merupakan suatu organisasi regional di
Asia Tenggara yang dibentuk pada tanggal 8 Agustus1967 di Bangkok, Thailand, oleh lima negara
Asia Tenggara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Pembentukan
ASEAN ditandai dengan penandatanganan deklarasi Bangkok. Pada saat ini ASEAN
beranggotakan sepuluh negara dengan masuknya Brunei Darussalam (1984), Vietnam (1995),
Laos (1997), Myanmar (1997), dan Kamboja (1998).
6
Data dihimpun dari hasil Workshop on ASEAN Community
ness: The Drug Problem
in the Region , Bandung, 24 -27 Oktober 1999 yang diselenggarakan oleh Departemen Penerangan
RI. Jakarta, 6 -8 April 1999.
7
ibid
tersebut termasuk dalam kategori narkotika dan potential addictive yang
terbuat dari jenis-jenis tumbuhan opium poppy dan papaver somniferum yang
menghasilkan heroin. Wilayah Segi Tiga Emas ini memberikan sumbangan
pada industri heroin yang bernilai US$ 160 milyar pertahun.8 Dari sisi yang
sama, produksi yang paling populer di Indonesia adalah ganja yang di
hasilkan dari propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi transportasi dan
komunikasi memungkinkan pergerakan barang, jasa, manusia secara cepat
dan mudah, termasuk perdagangan narkoba. Jaringan perdagangan narkoba
kini memiliki berbagai jalan alternatif ke berbagai negara sasaran, termasuk
jalur untuk memasukkan komoditi narkoba ke Indonesia.
ini semakin
banyak tempat yang menjadi sasaran maupun transit lalu lintas perdagangan
narkoba. Tempat-tempat seperti pelabuhan Belawan (Medan), perairan
Tanjung Balai, dan Pulau Nias di Sumatra Utara menjadi pintu masuk
peredaran obat-obatan terlarang tersebut.9 Propinsi tersebut dekat dengan
kawasan The Golden Triangle dan bertetangga dengan daerah “penghasil”
ganja di Nanggro e Aceh Darussalam (NAD) keadaan ini memang sangat
rawan, bukan hanya sebagai wilayah transit tetapi juga sentra penyebarannya.
Di samping melalui pelabuhan-pelabuhan besar, tidak dipungkiri pasokan
obat-obatan tersebut dapat dilakukan melalui pelabuhan -pelabuhan kecil yang
terdapat di pinggiran pantai. 10
8
Fredy B. L. Tobing, “Aktifitas Drugs Trafficking Sebagai Isu Keamanan yang Mengancam
Stabilitas Negara” , dalam Jurnal Global Politik Internasional, Vol 5 No1 November 2002 h. 83.
9
Ibid h. 62.
10
Ibid
Tidak mengherankan, bila melihat secara demografi, jumlah penduduk
ASEAN hampir mencapai 500 juta jiwa, 11 menjadikan kawasan tersebut
bukan saja sebagai wilayah produksi terbesar obat-obatan terlarang, namun
juga sebagai wilayah dan pasar yang cukup potensial bagi para pengedar
narkotika dan obat-obatan berbahaya.
Dengan kondisi seperti ini, maka perdagangan dan peredaran narkotika
serta obat-obatan terlarang bukan saja menjadi ancaman keamanan masingmasing negara anggota ASEAN. Dari sisi yang sama, ia telah menjadi suatu
ancaman keamanan bagi ketahanan regional ASEAN secara
untuk saat ini maupun pada masa yang akan datang. Hal
luruhan, baik
mengingat
sasaran dari pengguna narkotika dan obat-obatan terlarang adalah generasi
muda yang merupakan generasi penerus bangsa di masa depan. Disamping
itu, dampak yang ditimbulkan dari pengguna obat-obatan ini telah terbukti
selain membahayakan kesehatan, ia juga mengubah pergeseran nilai dan
perubahan gaya hidup dengan kemampuan daya beli (purchasing power)
generasi muda yang meningkat. 12
Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya
penggunaan dan pemasokan narkoba ke Asia Tenggara. Bagaimanapun, yang
paling menghawatirkan yaitu pada kenyataannya kawasan
Tenggara
dewasa ini termasuk sebagai salah satu pasar potensial bagi obat-obatan
terlarang.
11
12
Ibid h. 78.
Ibid h. 80.
Dampaknya,
masalah
peredaran
dan
penggunaan
narkoba
diperkirakan terus meningkat dapat mengancam kehidupan generasi muda
ASEAN di masa mendatang.
Perubahan gaya hidup sebagian generasi muda diakibatkan oleh
narkoba sangat berdampak buruk, baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang. Ketergantungan yang ditimbulkan oleh zat kandungan narkoba
menjadikan generasi muda hidup dalam alam khayalan, berfi iran pendek dan
tidak memikirkan masa depannya. Pada tingkat kecanduan yang sudah akut,
mereka akan melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuha
ya. Untuk
membiayai ketergantungan kepada narkoba, seseorang memerlukan banyak
biaya untuk membelinya. Akibatnya, para pecandu ini menghalalkan segala
cara dengan mencuri, merampok, menipu, mengedarkan narkoba bahkan bisa
membunuh
untuk
mendapatkan
uang
kesemuanya
ini
merugikan
masyarakat.1 3 Inilah fenomena ketergantungan atas narkoba dan sederetan
kasus-kasus kejahatan sebagai efek dari konsumsi narkoba. Masalah inilah
yang perlu dipelajari dan untuk dicari pula bagaimana pemecahan nya.
Sejauh ini ASEAN memang bersikap aktif dalam menghadapi
fenomena meluasnya tantangan keamanan non konvensional. Kesiapan
ASEAN dalam menghadapi tantangan keamanan non konvensional relatif
masih rendah. Hal ini dikarenakan belum mampu memberikan prediksi-
13
Lihat dalam Visi, Misi. Badan Koordinasi Narkotika Nasional dan kebijaksanaan Serta
Strategi Nasional Jakarta 2000. hal 4 -5. Perhatikan juga kasus warga di Kashmir, dalam
menghadapi tekanan psikologis dan emosional cenderung
diri dengan penggunaan obat
terlarang atau narkotika yang semakin meningkat yakni
kejadian per 100.000 orang. Namun
pasca pemberontakan yang meletus pada tahun 1989 menjadi 13 kejadian per 100.000 orang.
Kompas, 16 Agustus 2010.
prediksi yang akurat sehingga dapat memperkecil kemungkinan makin
merebaknya tantangan keamanan non konvensional. 14
Sebagai wadah kerjasama regional, ASEAN memegang peranan besar
dalam mengatasi fenomena makin maraknya lalu -lintas perdagangan narkoba
di kawasan Asia Tenggara. Pada sidang ASEAN Ministerial Meeting (AMM)
di Manila pada 26 juni 1976 telah ditandatangani ASEAN Declaration of
Principles to Combat the Abuse of Narcotic Drugs ini adalah langkah awal
ASEAN untuk menghadapi kasus narkoba.15
Selanjutnya pada tahun 1981 dibentuk ASEAN Drugs Experts sebagai
subkomite dibawah Committee on Social Development (COSD) dan Narcotic
Desk di Sekertariat ASEAN. Kemudian pada tahun 1984 dalam sidang
tahunannya yang ke-8 di Jakarta, nama ASEAN Drugs Experts berubah
menjadi ASEAN Senior Officials on Drug Matters (ASOD). Tugas ASOD
adalah
menyelaraskan
pandangan,
pendekatan
dan
strategi
dalam
menanggulangi masalah narkoba, melalui konsolidasi. Selain dari pada itu,
memperkuat upaya bersama di bidang penegakan hukum, pe
undang-undang,
peningkatan
upaya-upaya
partisipasi
preventife,
kerjasama
organisasi-organisasi
usunan
internasional dan
non -pemerintah,
seperti
melibatkan LSM-LSM terkait yang memiliki akar yang kuat dalam
14
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Deplu RI, Kerjasama
Menaggulangi Kejahatan Lintas Negara . 2000. h. 17.
15
ASEAN Sekretariat. ASEAN Plan of Action , Jakarta : 1994, h. 7.
ASEAN dalam
masyarakat, seperti yang termuat dalam ASEAN Declaration of Principles to
Combat the Abuse of Narcotic Drugs.16
Walaupun demikian, upaya kerjasama yang selama ini terus dilakukan
dengan meningkatkan upaya-upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba
melalui kerjasama antar negara dan non negara sekalipun. Namun , dalam
kenyataannya, kasus-kasus kejahatan narkoba tersebut dari tahun ke tahun
terus meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. Di Indonesia
misalnya, bila dilihat dari segi geografis jumlah pend
uknya sekitar 231 juta
jiwa lebih, dengan luas daratan kurang lebih 1,9 juta
persegi dan 7,9 juta
km persegi lautan (perbandingan daratan dan lautan adalah 1:4). 17 Dengan
begitu Indonesia merupakan wilayah yang rawan bagi berkembangnya
masalah penyalahgunaan narkoba, termasuk Ibukota Jakarta juga merupakan
pusat lalu lintas bagi transaksi barang haram ini. Maraknya
lu lintas
perdagangan narkoba dan psikotropika di Indonesia juga bermuara pada
posisi Indonesia yang terletak diantara dua benua dan
ua samudera yang
mengelilinginya, hingga membuat lalu lintas perdaganganpun menjadi rawan.
Bumi Indonesia juga subur untuk kultivasi gelap tanaman ganja.
Lalu lintas perdagangan narkoba di Indonesia juga dapat diidentifikasi
dari data kejahatan narkoba yang ditangani Polri selama tiga tahun terakhir.
Dalam kurun waktu tersebut, diketahui bahwa pada tahun 2005 terjadi 16,252
perkara, kemudian meningkat menjadi 17,355 perkara pada tahun 2006
16
k
Direktorat Jendral kerjasama ASEAN, Deplu RI, ASEAN Selayang Pandang , Jakarta 2000,
h. 173.
17
ASEAN Selayang Pandang Edisi Ke-19, Tahun 2010, Direktorat Jenderal Kerjasama
ASEAN Departemen Luar Negeri, Jakarta: 2010. h. 245.
6,8%), dan pada tahun 2007 sebanyak 22,630 perkara (na
30,4%). Pelaku
kejahatan narkoba yang ditangkap selama tiga tahun terakhir cukup banyak,
pada tahun 2005 sebanyak 22,780 orang, tahun 2006 meningkat menjadi
31,635 orang (naik 91,31%) dan tahun 2007 sebanyak 36,
9 orang (turun
0,63%). 18 Dengan demikian di Indonesia kasus-kasus penyalahgunaan
narkoba cenderung meningkat dari tahun ke tahun, dari
iode tahun 2005-
2009. Dalam tulisan ini Penulis membatasi masalah drugs trafficking tersebut
dengan melihat data kasus narkoba dari pusat Badan Narkotika Nasional
(BNN). Berangkat dari permasalahan di atas penulis termotivasi untuk
menulis skripsi ini dengan judul ”Kebijakan ASEAN dalam Menangani
Masalah Drugs Trafficking di Indonesia Periode 200 3-2008”
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah dideskripsikan
tersebut, tentunya akan sangat luas pembahasannya. Oleh sebab itu guna
mencapai sasaran pembahasan dan ruang lingkup yang jelas, dalam penulisan
skripsi ini penulis ingin merumuskan pembahasan tentang “Kebijakan
ASEAN dalam Menangani Masalah Drugs Trafficking di Indonesia”.
Perumusan masalah pokoknya dapat diuraikan sebagai ber
:
1. Bagaimana Kebijakan ASEAN dalam Menangani Masalah Drugs
Trafficking ?
18
Badan Narotika Nasional Republik Indonesia, “Kebijakan dan Strategi Badan Narkotika
Nasional dalam Pencegahan dan pemberantasan Penyalahgu an dan peredaran Gelap
Narkoba ”, 2002, h. 5.
2.
Bagaimana Implementasi kebijakan ASEAN dalam Menangani Masalah
Drugs Trafficking di Indonesia?
3. Apa saja yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan Kebijakan ASEAN
dalam Menangani Masalah Drugs Trafficking ?
I.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui bagaimana kebijakan ASEAN sebagai organisasi regional
antar negara anggotanya dalam mengatasi masalah drugs trafficking.
2. Melihat sejauh mana implementasi dari kebijakan ASEAN dalam
menangani masalah drugs trafficking khususnya di Indonesia.
3. Selain itu juga mengidentifikasikan hambatan-hambatan apa saja yang
terjadi dalam pelaksanaan kebijakan ASEAN dalam menangani masalah
drugs trafficking.
I.4 Tinjauan Pustaka
Beberapa ahli telah membuat tulisan yang berhubungan dengan
permasalahan drugs trafficking salah satunya adalah penelitian yang
dilakukan oleh Zarina Othman dalam penelitiannya yang
dul “ Myanmar,
Illicit Drug and Security Implication ”,19 secara umum tulisan ini juga
membahas peredaran narkoba di kawasan Asia Tenggara salah satunya adalah
Myanmar sebagai negara produsen opium terbesar. Hasil
penelitiannya
menunjukkan bahwa perdagangan gelap narkoba di Myanmar berkembang
19
27.
Zarina Othman, Illicit Drug Trafficking and Security Implication . Akademika 65 : 2004 h.
sangat pesat dan mengancam keamanan negara, meskipun ancaman
transnasional ini menyebar tanpa memperhatikan batas negara, akan tetapi
Myanmar terus melakukan strategi keamanan dengan cara
ional. Hal ini
bahwa ancama terhadap manusia selalu memiliki potensi
mengancam
stabilitas negara. pada tahun 1998 ASEAN sebagai organisasi regional di
kawasan Asia Tenggara telah menjadikan masalah perdagangan serta
peredaran narkoba sebagai ancaman keamanan regional dan setabilitas
kawasan.
Selanjutnya Yunus Husein
meneliti tentang Major Laundering
Countries.20 Indonesia bersama 53 negara lainnya masuk dalam kategori ini,
predikat major laundering countries diberikan kepada negara yang lembaga
dan system keuanganya dinilai terkontaminasi bisnis narkotika internasional
yang diasumsikan melibatkan uang dalam jumlah yang sangat besar.
Menurut Yunus Husein selanjutnya, sejarah mencatat bahwa kelahiran
rejim hukum internasional yang memerangi kejahatan pencucian uang
dimulai pada saat masyarakat internasional merasa frustasi dengan upaya
memberantas kejahatan perdagangan gelap narkoba.21 Pada saat itu, rezim
anti pencucian uang dianggap sebagai paradigma baru dalam memberantas
kejahatan yang tidak lagi difokuskan pada upaya penangkapan pelakunya,
melainkan lebih diarahkan pada penyitaan dan perampasan harta kekayaan
yang dihasilkan. Logika dari memfokuskan pada hasil kejahatan ini adalah
bahwa motivasi pelaku kejahatan akan menjadi hilang apabila pelaku
20
Yunus Husein, Hubungan Antara Peredaran Gelap Narkoba dan Tindak Pidana
Pencucian Uang . Artikel Hukum Pidana, 3 Maret 2006.
21
Ibid
dihalang-halangi untuk menikmati hasil kejahatannya. Melihat kolerasi yang
erat antara kejahatan peredaran gelap narkoba sebagai predicate crime dan
kejahatan pencucian uang sebagai derivative-nya, maka Yunus Husein
berasumsi bahwa keberhasilan perang melawan kejahatan
gelap
narkoba disuatu negara sangat ditentukan oleh efektifitas rezim anti
pencucian uang di negara itu. 2 2
Dalam skripsi ini penulis ingin memfokuskan lebih dalam tentang
fenomena perdagangan narkoba di kawasan regional ASEAN khususnya
Indonesia, dilihat dari kasus penyalahgunaan narkoba yang semakin
meningkat dan faktor yang melatarbelakangi semakin berkembangnya
kerjasama antara negara anggota ASEAN. Hal ini melahirkan kebijakan
ASEAN
dalam
upaya
mengurangi
perdagangan
narkoba,
untuk
mengembangkan kebijakan tersebut disusun dan disepakati arah kerjasama,
aksi, dan strategi dalam menangani masalah narkoba. Serta bagaimana
mengimplementasikan kerjasama tersebut khususnya di Indonesia dan upaya
mengatasi berbagai hambatan yang muncul dalam perjalanan kerjasama
tersebut.
I.5 Kerangka Pemikiran
I.5.1 Konsep kerjasama Regional
Kerjasama dapat diartikan dalam rangka hubungan bilate l yang
hanya menyangkut masalah dua negara, dan dapat juga diadakan dalam
22
Ibid
rangka hubungan multilateral yang menyangkut masalah banyak
negara. Kemudian kerjasama multilateral dibagi pula dalam kerjasama
regional yang terbatas pada beberapa negara-negara kawasan.23
Sedangkan menurut K.J Hans J. Morgenthau, region atau kawasan
diartikan sebagai sekumpulan negara yang memiliki kedekatan
geografis karena berada dalam satu wilayah tertentu.24
Dalam Tulisan ini penulis menggunakan konsep regionalism,
regionalism merupakan tatanan dunia yang tidak asing sejak Perang
Dingin, bahkan mencapai puncaknya dipertengahan tahun 1980-an.25
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika dan Eropa, namun juga di
Asia, khususnya Asia Tenggara yang salah satunya ditunjukkan dengan
adanya ASEAN. Kesadaran regional ini mencerminkan keinginan
bersama negara-negara dalam satu kawasan tertentu untuk menciptakan
yang terbaik bagi kawasannya. Berkaitan dengan itu Josep S Nye, Jr.
mendefinisikan kawasan regional sebagai sejumlah negara yang saling
berkait karena hubungan geografis dan derajad interdependensi yang
pembentukannya saling menguntungkan.2 6
Menurut Michael Leifer, 27 Regionalisme muncul karena berbagai
hal, seperti adanya persamaan tempat tinggal dan identitas atau karena
23
24
M, Sabir. ASEAN Harapan dan Kenyataan , Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1992. h. 15.
Craig A Snyder. Contemporary Security and Strategy. Palgrave: Little Brown & CO, 1968.
h. 228.
25
Joseph S. Nye, Jr (ed.), International Regionalism. Boston: Little Brown & Co, 1968. h.
26
Ibid
Michael Leifer, Regionalism, Global Balance and South East Asia , Jakarta : CSIS, 1997, h.
12.
27
55.
adanya prospek keuntungan timbal balik bila saling berkerjasama, atau
karena adanya kesamaan persepsi mengenai ancaman eksternal. Sama
halnya dengan Joseph S Nye dan Leifer juga melihat bahwa istilah
regionalism bisa mengacu pada suatu bentuk kerjasama negara yang
berada dalam satu kawasan.28 Kerjasama tersebut dibangun untuk
mencapai berbagai tujuan. Di satu sisi berguna sebagai wadah untuk
melakukan respon terhadap tantangan dari luar kawasan
untuk
mengkordinasikan posisi regional dalam institusi internasional atau
dalam forum negosiasi. Disisi lain, berguna sebagai wadah untuk
mencapai kesejahteraan untuk mempromosikan nilai-nilai bersama dan
untuk memecahkan masalah bersama terutama yang muncul
semakin meningkatnya interdependensi regional. Dari sinilah lahir
sebuah keinginan bersama negara-negara dalam satu region untuk dapat
menyelesaikan
permasalahan
yang dapat mengganggu
stabi itas
kawasan.
I.5.2 Konsep Keamanan
Terjadinya peningkatan perdagangan narkotika dan obat-obatan
terlarang di kawasan Asia Tenggara ini telah menjadi suatu ancaman
baru, terutama bagi generasi mendatang. Ancaman ini di dalam studi
politik
keamanan
keamanan
28
Ibid
internasional
non -konvensional.
dikategorikan
Istilah
sebagai
keamanan
bukan
masalah
dalam
pengertian keamanan militer saja, melainkan suatu upaya untuk
membangun tatanan regional yang berujung pada integras ekonomi
melalui konsepsi komunitas ekonomi, dari sisi politik
keamanan
menjadi satu konsep komunitas keamanan ASEAN. Masalah
akan
menjadi tantangan besar bagi perkembangan ASEAN di masa
mendatang, oleh karena beberapa faktor. 29
Faktor pertama adalah bahwa hakekat dari masalah keamanan
nonkonvensional itu sendiri, yaitu sukar untuk dirumuskan, bahkan
sering muncul sebagai masalah “baru”. Beberapa masalah keamanan
nonkonvensional seperti misalnya migrasi gelap (illegal migration )
ataupun perdagangan narkotika dan obat-obatan terlarang seyogyanya
sudah mendapatkan perhatian baik oleh pengamat maupun pemerintah.
Disamping itu, terdapat tantangan lain, seperti ancaman terhadap
lingkungan hidup dan terorisme internasional, dengan masing-masing
karakter dan akar permasalahanya yang terus berkembang. Selain dari
itu
sumber
dan
ragam
dari
masalah
tantangan
keamanan
nonkonvensional tersebut juga diperkirakan akan terus
bang
seiring dengan tren yang sedang dan akan terus berlangsung di dunia
internasional, seperti pelaksanaaan demokrasi, hak asasi manusia serta
sistem perdagangan dan moneter yang bebas dan terbuka.30
Faktor kedua yang merumitkan penanganan ialah masalah
keamanan nonkonvensial adalah kecenderungannya sebagai isu lintas
29
A.K.P Mochtar. “ASEAN dan Agenda Keamanan Nonkonvensional”, CSIS Jakarta, 1999.
h. 46.
30
Ibid
negara (inter state). Misalnya kasus-kasus migran gelap, perdagangan
narkotika, ancaman terhadap lingkungan hidup atau menipisnya
sumber energi yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable energy
resources).
Dampak
yang
ditimbulkan
oleh
permasalahan
nonkonvensional tersebut pada umumnya tidak terbatas pada satu
negara, tetapi cenderung melibatkan negara lain.3 1
Sementara itu, menurut Barry Buzan (1998) dalam penelitiannya
ia membagi keamanan ke dalam lima dimensi atau sektor, yaitu politik,
militer, ekonomi, societal, dan lingkungan. 32
Tiap -tiap
sektor
keamanan tersebut memiliki unit keamanan, nilai (value), dan
karakteristik survival dan ancaman yang berbeda-beda. Secara umum,
penelitian yang dilakukan oleh Buzan hanya memfokuskan pada empat
dimensi atau sektor keamanan saja, yaitu politik, militer, ekonomi, dan
sosial (societal). 3 3
Berkaitan dengan keempat dimensi keamanan tersebut, masalah
peredaran obat-obatan terlarang sebagai bagian dari kejahatan
transnasional (transnational crime) dilihat sebagai isu keamanan.
Menurut Alan Dupont,34 hal ini didasarkan atas empat proposisi
diantaranya: Pertama , kegiatan -kegiatan kejahatan transnasional dapat
menjadi ancaman langsung terhadap kedaulatan politik suatu negara
31
Ibid
Barry Buzan dan Ole Waever, and Jaap de Wilde. Security: A New Frmaework for
Analysis, London: Boulder, 1998. h. 21.
33
Ibid
34
Alan Dupont, “Transnational Crime, Drugs And Security in East Asia ”. dalam Jurnal
Asian Survey Vol.XXXIX No.3 May/june, 1999. h. 440 .
32
karena kapasitas dari kegiatan-kegiatan tersebut mampu melemahkan
otoritas dan legitimasi pemerintahan di suatu negara. Kedua, adalah
menurutnya legitimasi dan otoritas negara tersebut akan menyebabkan
maraknya tindakan korupsi yang merupakan bagian dari strategi aktor -
aktor kejahatan transnasional untuk mempertahankan bisnis ilegal
mereka. Hal ini pada giliranya menimbulkan ancaman di bidang
ekonomi. Ketiga , meningkatnya kekuatan koersif dari sindikat
kejahatan tersebut, pada tingkat internasional, dapat
mengancam
norma-norma dan berbagai institusi yang berperan untuk menjaga
tatanan global. Keempat , kejahatan transnational tersebut juga dapat
menghadirkan ancaman yang bersifat militer terutama jika berkaitan
dengan kegiatan -kegiatan dari berbagai kelompok pemberontakan
internal di dalam negara.
Bagi banyak negara berkembang seperti Indonesia misalnya, isu
perbatasan negara dan keamanan nasional kerap menjadi
yang sangat dilematis. Aspek pertahanan yang merujuk kepada
kemampuan untuk mengatasi berbagai ancaman militer yang berasal
dari lingkungan internasional akan berbaur dengan aspek ancaman non
militer. Tidak seperti negara maju lainya, negara-negara berkembang
harus menghadapi sekaligus berbagai isu pembangunan ekonomi,
sosial budaya dan politik yang begitu rumit dan terkait erat dengan
stabilitas internal serta kemampuan aspek pertahanan negara untuk
melindunginya dari berbagai kemungkinan ancaman militer yang
berasal dari lingkungan eksternal. Sedangkan tindakan
liter dalam
menumpas perdagangan narkotika dan obat-obatan terlarang bukan
merupakan sarana yang efektif dalam menanggulangi masalah ini.35
Dengan demikian kerjasama internasional antara lembaga-lembaga
terkait di masing-masing negara perlu lebih dikedepankan dalam
mencegah perdagangan narkotika dan obat-obatan terlarang.
Konsep keamanan telah didefinisikan dalam kerangka geopolitik, yang mencakup berbagai aspek seperti “ deterrence, power
balancing dan military strategy”.3 6 Digunakannya istilah “ security”
dalam masalah ancaman ini dengan tujuan agar supaya masalah ini
mendapatkan perhatian serius dari negara -negara lain khususnya yang
tergabung dalam ASEAN. Bahaya terhadap ancaman keamanan ini
pada hakekatnya cenderung bersifat transnasional yang
bahaya alam, ekonomi, pembangunan dan so sial-politik. Misalnya,
masalah perdagangan gelap narkoba.37
Apabila meninjau keadaan ASEAN pada saat ini, dapat dilihat
bahwa baik sebelum terjadinya krisis ekonomi maupun sesudahnya,
pembangunan politik dan ekonomi di masing-masing negara tidak
merata, bahkan sebagai akibat krisis, masing -masing negara masih
berada pada tahap yang cukup rentan dalam proses pemba
35
n
Anak Agung Banyu Perwita “Problematika Hubungan TNI dan POLRI dalam Menangani
Terorisme dan Kejahatan Lintas Batas” makalah disampaikan dalam seminar Nasional
“Memperkuat Hubungan TNI-POLRI dalam Kerangka Keamanan Nasional” Bandung, 10
September 2007. h. 9
36
Muladi “Problematika Hubungan TNI dan POLRI dalam Menangani Terorisme dan
Kejahatan Lintas Batas” Ibid, h. 15.
37
Ibid
bangsa. Oleh karenanya ketahanan masyarakat terhadap proses
globalisasi masih sangat lemah. Sebaliknya dengan adanya kemajuan
ekonomi akan mendorong terjadinya pergeseran nilai-nilai hidup di
dalam masyarakat, sehingga dapat menimbulkan dampak negatif dari
modernisasi.
Dengan demikian tantangan keamanan pada umumnya bersifat
tidak
langsung
dan
cenderung
berawal
dari
keadaan
atau
perkembangan di dalam negeri, yang arah dan perkembanganya tidak
terlepas dari kecenderungan -kecenderungan globalisasi. Dengan kata
lain, masalah keamanan non -konvensional cenderung bersifat laten,
dinamis dan multidimensial, yang implikasinya tidak hanya terbatas
pada suatu negara, tetapi lintas negara. 3 8
I.5.3 Konsep Human Security
Konsep human security sudah berkembang sejak didirikannya
Palang Merah Internasional (International Red Cross) pada tahun
1896. 39 kemudian dalam perkembangan waktu, konsep ini disahka
melalui Piagam PBB pada tahun 1945 yang disusul oleh Deklarasi
Universal Hak-hak Asazi Manusia pada tahun 1948. Sedangkan istilah
human security untuk pertama kalinya diperkenalkan dalam Human
38
A.K.P Mochtar, Loc.Cit. h. 47-50.
Human Scurity: Safety For People in a Changing World (April 1999) dalam
http://www.summit-americas-org/Canada/Humansecurity-english.html, diakses pada tanggal 28
juni 2010.
39
Development Report tahun 1994, yang dikeluarkan oleh United Nation
Deveopment Program (UNDP). 40
Sebagaimana yang dijelaskan dalam laporan tersebut, ba
konsep dari human security menekankan pada pentingnya empat
karakteristik utama. Pertama, yaitu bahwa konsep keamanan manusia
itu haruslah universal artinya relevan untuk semua orang baik di
negara kaya maupun miskin. Kedua, adalah interdependent . Ketiga,
human security yang akan lebih terjamin melalui pencegahan daripada
intervensi dan keempat, berbasis pada rakyat (people contered ). Hal ini
berhubungan
dengan
bagaimana orang dapat hidup bebas di
masyarakat dilain pihak. Bila dijabarkan lebih lanjut, berdasarkan
identifikasi UNDP pada tahun 1994 terdapat tujuh komponen human
security
yaitu
keamanan
pangan
security),
keamanan
keamanan
ekonomi
(economic
security),
(food security), keamanan kesehatan (health
lingkungan
hidup,
keamanan
pribadi
(personal security), keamanan komunitas (community security),
keamanan politik (political security).41
Mengingat masalah keamanan manusia merupakan suatu konsep
yang problematis, khususnya bila ia dijadikan sebagai
ian dari
analisis atas keamanan internasional, maka bentuk keamanan inipun
memiliki agenda yang berbeda. Biasanya ia menjadi isu
internasional maupun keamanan yang hanya ditafsirkan sebagai
40
Ibid
United Nation Development Program, Human Development Report 1993. Oxford
University Perss, New York, 1993. h. 2.
41
pemahaman
dalam
konsep
keamanan
militer.
Namun
dalam
pemahaman ini, keamanan bagi suatu negara tidak hanya
paut kepada keamanan militer belaka tetapi hal ini memiliki makna
untuk
kelangsungan
hidup
manusia.
Sementara
itu,
identitas
merupakan kunci dari pemahaman keamanan bagi suatu bangsa.
Dengan demikian ruang lingkup human security lebih luas daripada
national security karena tidak terjamin nya keamanan manusia, pada
dasarnya dapat memberi dampak
ancaman terhadap seluru
umat
manusia yang bersifat global. Hal ini dapat dikatakan bahwa national
security merupakan salah satu bagian dari human security.4 2
Masalah keamanan tradisional ini sudah tidak terlalu dominan,
karena hal ini disebabkan terjadinya pergeseran dari isu -isu keamanan
konvensional menuju isu non konvensional. 43 Artinya konsep -konsep
keamanan seperti tersebut diatas perlu diredefinisikan kembali, karena
mencakup semua aspek kehidupan manusia. Konsep keamana
manusia inipun semakin mendapat perhatian sebagai salah satu cara
pendekatan keamanan. Konsep ini juga berusaha menggeser pemikiran
keamanan dari dominasi kedaulatan negara ke arah keamanan manusia
yang mencakup masalah kesejahteraan sosial, perlindungan hak-hak
kelompok masyarakat, kelompok minoritas, anak-anak, wanita dari
kekerasan fisik, masalah -masalah sosial, ekonomi dan politik.
42
Muladi, Problematika Hubungan TNI dan POLRI dalam Menangani Terorisme dan
Kejahatan Lintas Batas, Makalah disampaikan dalam seminar Nasional dalam Memperkuat
Hubungan TNI-POLRI dalam Kerangka Keamanan Nasional, Bandung: 11 September 2007.
43
Landry Haryo Subianto, “Konsep Human Security: Tinjauan dan Prospek ” dalam Analisis
CSIS, Isu -isu Non-Tradisional: Bentuk Baru Ancaman Keamanan . Jakarta 1999. h. 106.
Salah satu masalah yang termasuk ke dalam kategori ancaman
keamanan non tradisional yang terjadi di kawasan Asia
enggara
khususnya Indonesia adalah perdagangan narkoba. Meski pada
awalnya Indonesia hanya dijadikan daerah transit perdagangan narkoba
oleh para aktor peredaran narkoba, namun pada akhirnya Indonesia
pun dijadikan sasaran perdagangan narkoba. Dengan kata lain, masalah
perdagangan narkoba ini terus berkembang di kawasan Asia Tenggara.
Ancaman serius ini tentu tidak hanya terjadi dalam negara
satu
kesatuan kawasan, namun sudah menjadi ancaman serius bagi
keamanan manusia (human security), terutama sumber daya generasi
muda.
Selain itu konsep human security menekankan pada hakekat
manusia sebagai individu maupun kelompok dalam keseluruhan
kerangka keamanan. Persoalan human security apabila diabaikan akan
melemahkan sumber daya manusia. Terutama di negara-negara
berkembang yang masih berada dalam masa transisi polit
diliputi
berbagai masalah disintegrasi bangsa, krisis ekonomi berkepanjangan,
konflik etnis, serta merebaknya korupsi diantara para pejabat
pemerintahan dan aparat penegak hukum. Berbagai persoalan domestik
ini juga meningkatkan berbagai ancaman terhadap human security.44
Karena perkembangan isu -isu global yang terkait dengan human
security bersifat transnasional (lintas-batas), maka berbagai ancaman
44
Ibid h. 107.
terhadap human security tidak hanya menjadi persoalan domestik suatu
negara. Akan tetapi, ancaman ini juga merupakan masalah dalam
hubungan internasional. Tidak ada satu negarapun yang membatasi diri
terhadap persoalan yang mengancam human security, mengingat
ancaman ini tidak mengenal batas-batas teritorial (transnasionalisasi
ancaman). Oleh sebab itu dalam upaya menangani ancaman ini, perlu
ditingkatkan kerjasama antar negara dan antar aparat negara maupun
aktor non -negara. Misalnya ia meliputi sumber daya manusia,
organisasi non -pemerintah, akademisi, serta organisasi regional dan
internasional dalam merumuskan strategi keamanan secara gelobal
baik itu
di lingkup
domestik, regional, maupun
di ling
internasional. Dengan demikian, berdasarkan sifat-sifatnya isu -isu
global
yang
diperlukan
lintas-batas
kerjasama
teritorial
Internasional
(transnasional/antarnegara)
yang
dilandasi
dengan
pembentukan global governance berdasarkan pada perluasan peran
masyarakat (civil sosiety), dari berbagai aturan diciptakan secara
bersama melalui hubungan antarpemerintah dan antar masyarakat.45
Dalam
perkembangan
selanjutnya,
human
security
juga
dituangkan dalam Hanoi Plan of Action yang menjadi konsep program
kerja ASEAN dalam mengoperasionalkan “ ASEAN Plan of Action on
Drug Abuse Control by 2004 ”.4 6 Program ini mengembangkan serta
45
Caballero -Anthony, Mely. “Human Security and Comprehensive Security in ASEAN ” The
Indonesian Quarterly, Vol.XXVIII, No.4. 2000. h. 1-3.
46
http://www.aseansec.org/5804.htm, The 21st Meeting of The ASEAN Senior Officials on
Drug Matter, Jakarta, 6-8 April 1998, di akses pada tanggal 30 juni 2010.
mengimplementasikan berbagai program strategis dalam menangani
masalah narkotika dan obat-batan terlarang. Tujuan tersebut ialah
untuk meningkatkan kegiatan pencegahan penyalahgunaan
ba
dengan community-based (berbasiskan masyarakat), pemberdayaan
generasi muda untuk melawan penyalahgunaan obat-obatan terlarang
seperti narkoba dan zat psikotropika. Selain itu, diadakan Training of
Trainers
dalam
interpersonal
konseling
melalui
untuk
pendidikan
meningkatkan
mengenai
kemampuan
masalah
penyuluhan, pencegahan, sosialisasi, pelayanan terapi
narkoba,
rehabilitasi
bagi para pengguna narkoba.
I.6 Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif di mana suatu metode dalam meneliti
status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem
pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari
penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran secara
sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta -fakta yang ada.47 Sedangkan
menurut Whitney (1960) yang dikutip Mohammad Nazir, mengatakan bahwa
penelitian deskriptif yaitu mempelajari masalah -masalah dalam masyarakat,
serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi tertentu, termasuk
tantangan hubungan, kegiatan, serta proses-proses yang sedang berlangsung
47
Nazir Mohammad, Metode Penelitian , Ghalia Indonesia : Jakarta 1988. h. 63.
dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.4 8 Selanjutnya penelitian penulis
tentang kebijakan ASEAN dalam menangani masalah dugs trafficking
merupakan penelitian deskriptif kualitatif, bertujuan
ntuk memberikan
deskripsi secara kompherensip, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena
yang ada diselidiki dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif.
Analisis ini memaparkan penjelasan data dan berbagai informasi
lainnya untuk menjawab pertanyaan permasalahan penelitian ini. Hal yang
akan dipaparkan kemudian dalam penelitian ini adalah yang berkaitan dengan
masalah drugs trafficking di Asia Tenggara, dan kebijakan yang dilakukan
oleh ASEAN dengan merujuk kepada kebijakan lain yang telah dilakukan
oleh
masing-masing
negara
anggota
ASEAN
khususnya
Indonesia.
Selanjutnya akan dilihat sejauhmana keberhasilan kebijakan -kebijakan
tersebut yang sudah diterapkan.
Dengan
penekanan
pada
kejadian -kejadian
penting
selama
perjalanannya, penelitian ini sementara menemukan data mengenai drugs
trafficking
di Indonesia yaitu
dalam
bentuk data statistik.
Teknik
pengumpulan data yang dipakai adalah studi pustaka yang merujuk pada data
skunder yaitu berupa buku -buku, jurnal, artikel, makalah, skripsi, tesis dan
situs internet yang relevan dengan masalah yang akan dibahas. Sedangkan
data primer, peneliti melakukan serangkaian wawancara kepada pihak yang
mendalami masalah kerjasama ASEAN dalam menangani dugs trafficking
tersebut.
48
Ibid h. 63-65.
I.7 Sistematika Penulisan
Bab I
Merupakan bagian pendahuluan yang berisikan latar bela
rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka
pemikiran, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II
Membahas permasalahan drugs trafficking di kawasan regional
ASEAN khususnya di segitiga emas dan dampaknya terhada
human security yang mengancam keamanan manusia itu sendiri
dampak dari human security ini juga dilihat dari berbagai
dimensi yaitu seperti dimensi politik, ekonomi, sosial, budaya,
kesehatan, keamanan, penegak hukum.
Bab III
Berisikan
gambaran
umum
masalah
drugs trafficking di
Indonesia. Diantaranya yaitu melihat sejauh mana masalah drugs
trafficking di Indonesia, jenis-jenis narkotika dan obat-obatan
terlarang di Indonesia, produksi dan jalur peredaran drugs
trafficking di Indonesia.
BAB IV
Kebijakan ASEAN dalam menangani masalah narkotika dan
obat-obatan terlarang. Bab ini pula menjelaskan kebijakan
ASEAN serta realisasi dan perkembanganya. Selain itu juga
dijelaskan tentang implementasi kebijakan ASEAN dalam
menangani masalah narkoba khususnya di Indonesia. Dan
mengidentifikasikan hambatan dalam pelaksanaan kerjasama
dalam menangani masalah drugs trafficking tersebut.
Bab V
Merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran
berdasarkan hasil penelitian.
BAB II
PERMASALAHAN DRUGS TRAFFICKING DAN DAMPAKNYA
TERHADAP HUMAN SECURITY
II.1 Gambaran Umum Masalah Drugs Trafficking
Maraknya
terlarang
telah
masalah
ada
peredaran
sejak
ratusan
dan
tahun
penyalahgunaan
lalu .
obat-obatan
Obat-obatan
seperti
psychoactive49 telah digunakan sebagai keperluan pengobatan. Pada akhir
abad ke 19 dengan semakin berkembangnya ilmu kimia dan farmakologi,
masyarakat mensintesiskan berbagai zat yang sangat kuat dan bersifat amat
addictive yang dapat mengakibatkan kecanduan yang sangat akut misalnya
coccain dan heroin. Semakin berkembangnya zaman terdapat pula penemuan
alat suntik (hypodermic syringe) yang disalahgunakan masyarakat untuk
menyuntikkan obat-obatan tersebut sehingga mengakibatkan efek yang lebih
kuat dan semakin meningkatkan resiko ketergantungan obat-obatan tersebut
yang lebih serius. 50
Masalah narkotika dan obat-obatan terlarang telah menjadi sebuah
fenomena global, dampaknya telah merambah kehampir semua negara di
belahan bumi, meskipun tingkat ancaman dan karakterist
berbeda-beda
antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Masalah yang termasuk kedalam
kategori ancaman keamanan non tradisional terhadap keamanan di kawasan
49
Psychoactive adalah segala macam zat yang dikonsumsi masyarakat untuk mengubah cara
mereka merasakan, berfikir ataupun bertingkahlaku.
50
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Deplu RI “Kerjasama ASEAN dalam
Menanggulangi Kejahatan Transnational” 2000. h. 21.
Asia Tenggara, khususnya keamanan di kawasan Indonesia dalam bentuk
drugs trafficking . Meskipun pada awalnya Indonesia hanyalah dijadikan
daerah transit perdagangan narkoba oleh para aktor pengedar narkoba.
Secara umum, masalah narkotika dan obat-obatan terlarang pada
itan:51 pertama
dasarnya dapat dibagi menjadi tiga bagian yang saling
masalah produksi obat secara illegal, kedua perdagangan secara illegal, ketiga
penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Produksi obat-obatan secara illegal itu
melalui proses pembudidayaan dimana tanaman yang menjadi bahan baku
utama untuk pembuatan obat-obatan berbahaya seperti tanaman coca sebagai
bahan baku coccain , opium poppies sebagai bahan baku heroin dan cannabis
(ganja) yang diolah menjadi hashish maupun marijuana dan proses
pengolahan
(manyfacture)
bahan
baku
tersebut
hingga
siap
untuk
diperdagangkan dan dikonsumsi. Perdagangan illegal merupakan segala
kegiatan pasca panen maupun paca pengolahan hingga sampai ke tangan para
pengguna (customers) yang meliputi aktifitas pengangkutan, penyelundupan,
dan perdagangan obat-batan terlarang tersebut. Sedangkan Drugs Abus
merupakan mata rantai terakhir dari masalah narkoba, yaitu penggunaan obatobatan berbahaya oleh konsumen yang tidak sesuai dengan kaidah kesehatan
yang berdampak serius diakibatkan oleh penyalahgunaan
seperti
meningkatnya tingkat kejahatan dan tindak kekerasan, serta memburuknya
kondisi kesehatan sehingga rentan terhadap berbagai penyakit seperti
HIV/AIDS dan hepatitis.
51
Ibid
Masalah narkotika dan obat-obatan terlarang di Indonesia merupakan
masalah serius yang harus ditangani dan dicarikan jalan penyelesaian nya
dengan segera. Banyak kasus yang diakibatkan dari masalah ini sehingga
menyebabkan banyak kerugian, baik materi maupun non -materi. Maraknya
lalulintas perdagangan narkotika dan obat-obatan terlarang di Indonesia
bermuara pada posisi Indonesia yang terletak diantara
benua dan dua
samudera. Dua samudera inilah justru membuat lalulintas perdagangan
barang haram ini menjadi rawan.
Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di Indonesia
secara umum disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu:52 pertama,
ketersediaan obat-obatan dan narkotika secara luas dan bebas di pasaran
dalam masa krisis sekarang ini, narkotika merupakan komoditi yang diperjual
belikan karena menghasilkan keuntungan yang sangat besar sehingga
peredaranya meluas kehampir semua lapisan masyarakat. Kedua, dampak
krisis ekonomi dan moneter yang melanda negara-negara di kawasan Asia
Tenggara khususnya Indonesia menyebabkan banyaknya permasalahan baik
itu dalam lingkungan keluarga, masyarakat, ataupun negara. Social-Cost
sebagai dampak krisis ternyata tidak lebih ringan dari pada faktor
ekonominya. Meningkatnya pengangguran, maraknya tindak kekerasan dan
kejahatan. Sebagian dari hal ini disebabkan oleh semakin maraknya bisnis
obat-obatan terlarang. Perdagangan narkotika dan obat-obatan terlarang dapat
menghasilkan uang dengan cepat. Faktor ketiga , adalah semakin banyak dan
52
Ibid
beragamnya kesempatan dan pilihan untuk menggunakan dan memakai
narkotika dan obat-obatan. Faktor keempat, konsumsi narkoba telah
cenderung menjadi gaya hidup pada sebagian orang, terutama para
professional dalam kaum selebritis, telah menjadikan penyalahgunaan obat-
obatan terlarang sebagi bagian dari gaya hidup mereka. Hal
disebabkan
oleh semakin menipisnya penghayatan agama dan peran para tokoh agama
serta derasnya arus informasi.
Pada awal tahun 2000 menurut data dari United Nation Office On
Drugs and Crime (UNODC) 53 menyatakan, bahwa lebih dari 200 juta orang
di seluruh dunia telah menyalahgunakan narkoba. Kalau
ini setiap negara
menyatakan bahwa orang-orang yang telah menyalahgunakan narkoba
semakin meningkat, maka data 200 juta kini tentu sudah terlampaui.
Perkiraan ini mungkin saja terjadi mengingat indikator maraknya peredaran
dan produsen gelap narkoba sering terbongkar dengan ju
uang sangat
mencengangkan. Indikator terbongkarnya peredaran dan produsen gelap
narkoba dalam jumlah yang sangat besar itu menunjukan bahwa konsumen
terus bertambah. Sebagaimana hukum pasar mengatakan ada demand ada
supply artinya semakin banyak permintaan maka semakin meningkat
pasokan.
Tahun 2006 merupakan tahun campuran bagi pengawasan narkoba
internasional. Kabar baiknya adalah kesuksesan negara-negara Segitiga Emas,
khususnya Laos yang berhasil memotong produksi opium gelap hampir ke
53
Badan Narotika Nasional Republik Indonesia, ADVOKASI Pencegahan Penyalahgunaan
Narkoba . 2009. h. 23.
tingkat yang biasa dikatakan tidak ada. Namun pencapaian tersebut
dibalikkan lagi oleh kabar buruk dari Afghanistan. Produksi opium
Afghanistan yang diperkirakan menyumbang 92% dari total supplay dunia,
naik hingga 49% dengan rekor 6.100 ton.54 UNODC telah memperingatkan
negara-negara Barat untuk bersiap -siap menghadapi peningkatan kasus-kasus
over dosis sebagai akibat dari peningkatan kemurnian h eroin.
II.1.1 Masalah Narkotika dan Obat -obatan Terlarang di Segi Tiga Emas
(Golden Triangle)
The golden triangle atau segi tiga emas adalah sebuah kawasan
yang terletak di Asia Tenggara. Segi tiga emas ini terdiri dari daerah
Thaiand utara, Laos bagian Barat, dan Myanmar bagian Timur. Di
kawasan inilah narkotika, heroin, dan amphetamine diproduksi dan
disebarkan keseluruh penjuru dunia.55 Bisnis dengan keuntungan
berlipat-lipat ini membuat pelaku -pelaku utamanya, khususnya di
kawasan Myanmar sangat sulit ditaklukkan. Junta militer Myanmar
bahkan cenderung mengambil garis lunak dan memberi otonomi bagi
etnis Wa yang dikenal sebagai produsen utama amphetamine. Dari
kawasan segitiga emas ini obat-obatan terlarang kemudian disalurkan
ke Thailand. Jalur lain nya ialah melalui Yunan, Guang Dong,
Hongkong, dan Macao di China. Jalur transit lain adalah Vietnam,
Kamboja, dan Philipina dan dari kawasan ini obat-obatan terlarang
54
Ibid
Bambang Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara “Teropong Terh dap
Dinamika, Kondisi Riil dan Masa Depan” : Yogyakarta, Pustaka Pelajar 2007. h. 228.
55
tersebut akan diedarkan ke seluruh dunia termasuk ke Asia, yang mulai
meningkat daya serapnya terhadap amphetamine.56 Di bawah ini
adalah negara yang termasuk dalam kawasan golden triangle:
II.1.1.1 Laos
Laos yang tadinya Negara produsen opium nomor tiga terbesar
di dunia, telah melakukan pencapaian besar di tahun 2006, dimana
dapat dikatakan menjadi bebas opium dengan penurunan jumlah
penanaman opium hingga 93% melalui upaya yang dilakukan sejak
tahun 1998. UNODC berkerjasama dengan pemerintah Laos
merencanakan strategi nasional yang baru “Pendekatan Seimbang
untuk Mempertahankan Penghapusan Opium di Laos PDR (2006 2009)” yang difokuskan pada kegiatan alternative development ,
peningkatan kesadaran masyarakat dan penegakan hukum.
dan pemerintah Laos juga terus melanjutkan dukungan bagi program
terapi dan rehabilitasi para pecandu opium di 10 Propinsi di Wilayah
Utara. Dalam tahun 2005 -2006. lebih dari 8.250 orang mendapatkan
perawatan dengan angka relapse yang relatif rendah.
II.1.1.2 Myanmar
Myanmar yang merupakan negara produsen opium nomor dua
di Dunia, dengan melihat kondisi geografis, iklim dan situasi politik di
Myanmar telah memotivasi perkembangan penanaman opium, sebagai
salah satu jenis tanaman yang diandalkan oleh kaum mil
56
Ibid
separatis
untuk membiayai perjuangan militer dan politik mereka. Fenomena ini
terjadi pada dekade 1970-an dan kawasan perbukitan Shan di
Myanmar dijadikan episentrum penanaman opium, karena mampu
memproduksi 90 persen heroin yang beredar di kawasan the golden
triangle. Pada periode 10 tahun selanjutnya, yaitu tahun 1987 sampai
tahun 1997, telah terjadi peningkatan produksi heroin yang cukup
signifikan di Myanmar, dari yang semula hanya 835 ton
87)
menjadi 2.365 ton (1997). 5 7
Selanjutnya, dengan melihat fenomena di atas Myanmar
berusaha untuk mengikuti program pengurangan penanaman opium di
tahun 2006. UNODC meluncurkan proyek dukungan masyarakat,
memperkenalkan inisiatif pengurangan permintaan atas narkoba dan
membantu untuk menyediakan program terapi dan rehabilitasi bagi
para pecandu opium di negeri tersebut. Di Myanmar penanaman opium
turun hingga 34% dari sebelumnya 130.000 ha di tahun 1998 menjadi
21.500 ha. Program UNODC dalam pengurangan permintaan
memberikan program perawatan dan detoksifikasi bagi para pecandu
narkoba di lima wilayah kota Mong Pawk dan Distrik Wein Kao.
Antara tahun 2004 hingga Juli 2006 telah dilakukan perawatan kepada
lebih dari ratusan pecandu dan memberikan bantuan konseling bagi
57
Fredy B. L. Tobing, “Aktifitas Drugs Trafficking Sebagai Isu Keamanan yang Mengancam
Stabilitas Negara” , dalam Jurnal Global Politik Internasional, Vol 5 No1 November 2002. h. 79.
keluarga. Selain itu juga UNODC juga menjadi badan yang memberi
dukungan bagi permasalahan HIV/AIDS. 58
II.1.1.3 Thailand
Kawasan Segitiga Emas, yang terletak antara perbatasan
Thailand, Laos, dan Myanmar, dikenal luas sebagai pusat narkotik di
kawasan Asia Tenggara. Kaum mafioso menanam opium dan
mengolahnya menjadi heroin di kawasan sulit, yang jauh dari
jangkauan operasi aparat keamanan. Juga tak terelakkan, Thailand
masuk dalam jangkauan jaringan mafia narkotik internasional.
Kemajuan
teknologi
telekomunikasi
dan
transportasi
telah
dimanfaatkan kaum mafioso untuk memperluas jaringan ke iatannya
pada skala global. 5 9
Ancaman narkotika telah menimbulkan kerisauan luas karena
menjadi salah satu bahaya terbesar dunia, terutama bagi generasi
muda. Tidak mudah pula menghancurkan jaringan produksi dan
pengedaran narkotika. Perdagangan narkotika memang termasuk bisnis
menggiurkan. Operasi pemberantasan
jaringan
mafia narkotik a
bertambah sulit karena adakalanya pejabat pemerintah dan aparat
keamanan sering tergoda oleh penyuapan. Keprihatinan tentang bahaya
narkotika cenderung meluas. Korban narkotika tidak pandang bulu.
Thailand juga termasuk negara yang paling dekat dengan
kawasan segitiga emas. Tahun 2003 Perdana Menteri Thaksin
58
http://www.myanmar-narcotic.net/eradication/coop7.htm. diakses tgl 25 -09 -2010.
H Sumarmo Ma’sum, Penanggulangan Bahaya Narkotika dan Ketergantungan Obat.
Jakarta: CV Haji Masagung 1987 . h. 36-40.
59
Sinawarta giat melancarkan perang terbuka terhadap jaringan obatoatan terlarang di negerinya. Pemerintah Thailand menetapkan target
bahwa dalam kurun waktu tiga bulan sejak awal Pebruari 2003 perang
ini
akan
berakhir
dengan
kemenangan
dipihak
pemerintah.
Pelaksanaan kebijakan ini ternyata menuai protes publi
karena
penangkapan dan pelaksanaaan eksekusi terhadap mereka
dituduh terlibat dalam jaringan obat-obatan terlarang mengakibatkan
terjadinya pelanggaran hak azasi manusia. 60
Salah satu program UNODC di Thailand, CBT (Computer
Based Training ), meraih UN21 Award untuk kategori proyek PBB
terbaik di tahun 2006. dengan mempromosikan standarisasi pendataan
laboratorium sebagai sumber referensi utama, UNODC memberikan
bantuan untuk memperkuat pengawasan prekursor dan peningkatan
kemampuan mereka dalam mengenali narkoba. Safrol, cairan ekstrasi
dari tumbuhan, adalah prekursor yang digunakan di laboratorium
gelap
untuk
memproduksi
narkoba.
UNODC
memungkinkan
penelitian pertama di Thailand atas kandungan yang sangat kaya dalam
safrol hingga
dilaksanakannya
operasi
internasional
mengenai
prekursor ATS oleh INCB. hasil dari penelitian ini akan membant
negara-negara dalam mengembangkan mekanisme untuk mencegah
60
Ibid
penyebarluasan bahan ini untuk kepentingan pembuatan gelap
narkoba.61
II.1.2 Produksi dan Jalur Peredaran Narkotika dan Obat-obatan
Terlarang di Segitiga Emas (The Golden Triangle)
Sebagian telah disebutkan dalam bab terdahulu, The Golden
Triangle adalah daerah yang dikenal sebagai pusat produksi,
penyelundupan, serta perdagangan narkotika di kawasan
Tenggara. Daerah tersebut meliputi Thailand, Myanmar,
Laos.
Ketiga negara ini menjadi salah satu pusat produksi serta pemaso k
ATS ( Amphetamine Type Stimulant ), heroin maupun opium terbesar
di dunia pada dekade terakhir ini. Hal yang paling dikhawatirkan dari
keberadaan The Golden Triangle ini adalah dampaknya bagi negaranegara di kawasan Asia Tenggara, negara-negara tersebut bias saja
akan
menjadi seperti negara-negara
Amerika
Latin
misalnya
Columbia dan Mexico. Masyarakat di negara tersebut percaya bahwa
the
drugs
lords62
lebih
kuat
dari
negara
bahkan
mampu
mengendalikan sebuah negara sekalipun.6 3
61
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, Pedoman Pencegahan Penyalahgunaan
Narkoba Bagi Pemuda 2002. h. 39
62
The drug lords merupakan sebutan untuk orang, kelompok, dan organisasi yang mempu
menguasai aktifitas produksi, peredaran, serta perdagangan narkotika dan memiliki jaringan
internasional bahkan cenderung tidak tersentuh oleh hukum sekalipun. Di negara Colombia, mafia
ataupun organisasi kejahatan yang memegang kendali dalam aktifitas drugs trafficking memiliki
otoritas yang sngat besar bahkan dalam level negara s
dimana mereka dengan mudahnya
lepas dari jeratan hukum serta mampu mengendalikan hukum tersebut.
63
Zarina Othman, “Myanmar, Illicit Drug Trafficking and Security Implication ” Akademika
65: 2004. h. 33.
Untuk tahun 2000 pemerintah AS memperkirakan
produksi
heroin total di seluruh dunia sebesar 627,8 ton dengan 92% berasal
dari afganistan. Sementara UNODC memperkirakan potensi produksi
heroin di seluruh dunia adalah sebesar 472 ton dengan afganistan
menyumbang sebanyak 87%. Meskipun, wilayah di perbatasan antara
tiga negara, Myanmar, Thailand, Laos, merupakan penghasil heroin
terbesar di kawasan Asia Tenggara, jumlah heroin yang
produksi di
wilayah ini menurun sebanyak kira-kira 70% selama kurun waktu
1999-2004. 64 Pada tahun 2004, Myanmar dan Laos merupakan
penghasil seuluruh heroin yang di produksi di wilayah
i. Usaha
pemberantasan dan pemberlakuan kawasan bebas tanaman p
py
berhasil untuk mengurangi tingkat panen selama kurun waktu 20002004. meskipun terdapat penurunan pada produksi heroin, terjadi
peningkatan dari produksi methamphetamine.65 Grafik dibawah ini
menunjukkan produksi ATS khususnya di Myanmar dan Thailand
sebagai berikut.
64
http://www.unodc.org/unodc/en/frontpage/drug-trafficking-in-the-golden-triangle.html di
akses tanggal 17 Februari 2011.
65
Pierre-arnaud chouvy dan joel meissonnier, “yaa baa: Production, Traffic, and
Consumption of Methamphetamine in Mainland Southeast Asia ”. www.geopium.org, di akses pada
tanggal 5 Januari 2011.
Grafik II.3.1.1
Sumber: “Drug-free ASEAN 2015: Status and Recommendation” United Nation Office on Drugs
and Crime Regional Centre for East Asia and The Pacific 2008.
Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa di kawasan As
Tenggara, yakni Maynmar adalah salah satu negara penghasil opium
terbesar di dunia. Sementara itu Laos juga menjadi negara penghasil
terbesar kedua, dan Thailand adalah negara yang mendominasi dalam
hal produksi ATS di kawasan Asia Tenggara. Fakta inilah yang
menjadi faktor utama mengapa Thailand pernah menjadi negara
dengan tingkat pengguna narkoba tertingi didunia. Sedangkan Phnom
Penh, Kamboja merupakan pusat pencucian uang (money laundering )
dari keuntungan drugs trafficking dan kejahatan transnasional lainnya
seperti penyelundupan senjata illegal, perdagangan manusia, cyber
crime, dan lain sebagainya. 66 Di bawah ini digambarkan peta jalur
drugs trafficking di Golden Triangle:
66
Drug-free ASEAN 2015: “Status and Recommendation” United Nation Office on Dru
and Crime Regional Centre for East Asia and The Pacific 2008.
Gambar II.3.1.2
Jalur Drugs Trafficking di The Golden Triangle
Sumber: Drug-free ASEAN 2015: “Status and Recommendations” United Nation
Office on Drugs and Crime Regional Center for East Asia and The
Pacific 2008.
Dari peta di atas dapat diketahui bahwa Myanmar merupakan
exit point dari The Golden Triangle dalam mendistribusikan opium
keseluruhan dunia. Myanmar bukan lagi hanya drug -transiting
country, tapi a major drug -producing country
Berbeda dengan Columbia atau kawasan Amerika Latin seperti
Mexico yang didominasi oleh peredaran dan perdagangan
Asia Tenggara merupakan kawasan pusat produksi heroin, opium dan
sejenisnya yang merupakan olahan dari tanaman opium poppy.
Dikawasan The Goden Triangle, heroin didistribusikan ke Thailand
melalui jalur kasus perdagangan gelap narkoba. Narkotika lainnya
masuk ke provinsi Yunnan, Cina dan tujuan akhirnya adalah
Guangdong, Hongkong, dan Makau. Disamping itu Ho Chi Minh City
(Myanmar), Manila (Philipina) dan Phnom Pen (Kamboja) juga
menjadi komponen penting dalam hal distribusi drugs ke pasar
internasional, karena tujuan distribusi yang berbeda membuat drugs
tersebut harus melewati tempat atau negara transit untuk memberikan
supplay terhadap pasar domestik dan pasar internasional.
II.2 Dampak dari Masalah Drugs Trafficking Terhadap Human Security
Secara umum fenomena peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang
terbagi menjadi tiga bagian yang saling terkait yaitu: Adanya produksi secara
gelap, adanya perdagangan gelap narkoba, adanya penyalahgunaan narkoba.
Hal
ini
disinyalir
merupakan
ancaman
keamanan
terhadap
sistem
internasional diantara negara-negara yang terkait dalam proses produksi,
perdagangan, dan penyalahgunaan. Ancaman tersebut sesungguhnya bersifat
multidimensial artinya dilihat dari berbagai dimensi.
Sebagai catatan bahwa pada tahun 2001 PBB yang mempunyai
perhatian terhadap permasalahan narkoba yakni United Nation Drug Control
Program (UNDCP) mencatat bahwa hampir 200 juta penduduk dunia terlibat
dalam
penyalahgunaan
narkoba
dengan
berbagai
penyalahgunaan dan jenis narkoba yang disalahgunakan.
bentuk
da
cara
dari
permasalahan narkoba yang bersifat multidimensial dapat dilihat dari
berbagai dimensi. 6 7
II.2.1 Dampak Terhadap Dimensi Politik
Ancaman dimensi politik ini terjadi terhadap kedaulatan
pemerintah negara-negara produsen narkoba seperti di negara
anggota ASEAN. Disisi lain ancaman ini juga dapat terjadi karena
proses perpindahan dari hasil produksi narkoba yang disalurkan
melewati batas negara-negara produsen narkoba lainnya, atau
negara lain yang belum tersentuh narkoba sekalipun tanpa adanya
kontrol
dari
pemerintah
negara-negara
yang
bersangkutan.
kenyataannya hal ini merupakan ancaman terhadap kedaulatan
teritorial dari negara-negara tersebut. Ancaman dalam bidang
politik misalnya dapat terjadi karena adanya kelemahan internal
negara-negara produsen narkoba dan dalam kondisi ini negaranegara produsen narkoba secara umum termasuk dalam kategori
negara-negara berkembang (developeding countries), hal ini
disebabkan adanya anggapan bahwa sistem politik, ekonomi, dan
sosial negara-negara produsen narkoba tersebut yang sangat
lemah.68
67
Badan Narotika Nasional Republik Indonesia, ADVOKASI Pencegahan Penyalahgunaan
Narkoba . 2009. h. 99.
68
Fredy B. L. Tobing, “Aktifitas Drugs Trafficking Sebagai Isu Keamanan yang Mengancam
Stabilitas Negara” , dalam Jurnal Global Politik Internasional, Vol 5 No1 november 2002 . h. 80.
Fenomena tersebut menunjukan bahwa legitimasi pemerintah
di negara-negara produsen narkoba sering kali masih didorong oleh
adanya konflik -konflik internal didalam negara itu sendiri. Kondisi
inilah yang dimanfaatkan oleh para produsen dan pengedar untuk
memproduksi dan mengedarkan narkoba dengan cara-cara yang
terorganisir, mempunyai jaringan yang luas, dan sulit untuk
memberantasnya.
Lemahnya sistem negara-negara produsen narkoba sebagian
dipengaruhi oleh besarnya kekuatan dan otoritas yang dimiliki para
produsen dan pengedar narkoba di negara-negara tersebut. Hal ini
dikarenakan kekuatan dan otoritas yang dibentuk dari keuntungan
finansial yang diperoleh dari bisnis narkoba, memungkinkan
pemilik power dan otoritas itu dapat memainkan peran politiknya
secara dominan. Misalnya dalam suatu pilkada yang dibiayai
langsung oleh bandar narkoba. Fenomena ini dapat terjadi karena
keuntungan finansial dari bisnis narkoba dipakai juga
membentuk, mempengaruhi, dan memperoleh eksistensi power
politik dalam bentuk kekuatan paramiliter. 69 Adanya otoritas dan
kapabilitas paramiliter tersebut memungkinkan para produsen dan
pengedar tersebut membentuk suatu “negara dalam negara” (state
within state) yang paralel dan independen terhadap institusi negara,
dimana para produsen dan pengedar tersebut berada.
69
Ibid, h. 80.
Kesulitan untuk memperoleh akses ke wilayah pedalaman
serta keterbelakangan ekonomi yang dirasakan oleh penduduk
setempat, menjadikan wilayah tersebut oleh para drugs traffickers
menjadi tempat yang ideal bagi berkembangnya produksi obatobatan terlarang tanpa mendapat pengawasan yang berarti dari
aparat pemerintahan. Ketidak mampuan pemerintah pusat
pun
daerah secara efektif menangani masalah produksi obat-obatan
terlarang serta penerapan prosedur hukum yang berlaku
ah
menyebabkan semakin menurunya kreadibilitas dan legitimasi
politik pemerintahan pusat.
Rendahnya kinerja dari pemerintah pusat di negara-negara
yang menyangkut masalah narkoba tersebut untuk memerangi
produksi obat-obatan terlarang selalu dihadapkan pada kegagalan.
Keadaan ini terkait dengan besarnya pengaruh kekuatan finansial
dan aparat bersenjata yang dimiliki oleh para produsen dan
pengedar obat-obatan terlarang. Sejumlah
keuntungan
hasil
penjualan
obat-obatan
besar uang dari
terlarang
tersebut
digunakan untuk melakukan infiltrasi dan menciptakan budaya
korupsi dalam institusi-institusi publik pada semua tingkat dengan
cara menyuap para pejabat politik, aparat penegak hukum seperti
polisi dan jaksa agung, bahkan hal tersebut juga disinyalir
melibatkan aparat militer. Budaya korupsi yang tercipta tersebut
sulit untuk dihapuskan, karena rendahnya tingkat penghasilan dari
para pejabat negara termasuk para aparat penegak hukum antara
lain juga lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah.
II.2.2 Dampak terhadap Dimensi Ekonomi
Dalam dimensi ekonomi, produksi dan peredaran obat-obatan
terlarang dapat juga menciptakan ancaman. Pertama, terciptanya
ketergantungan yang sangat besar dari aspek perekonomian negaranegara produsen terhadap penghasilan ekspor dan pendapatan
devisa yang diperoleh dari penjualan obat-obatan terlarang. Kedua,
bisnis obat-obatan terlarang tersebut dapat menciptakan distorsi
dalam perekonomian negara-negara produsen itu sendiri.
Perkembangan perdagangan regional bukan saja hanya
memicu perdagangan obat-obatan terlarang, kenyataanya krisis
ekonomi pun telah memicu hal yang sama. Salah satu dampak dari
Krisis ekonomi adalah meningkatnya jumlah angka pengangguran,
dan hal ini telah membuka kesempatan kepada para produsen obatobatan terlarang untuk mempekerjakan para pengangguran ini
sebagai tenaga pengedarn ya.
Di Indonesia sendiri misalnya berdasarkan studi tentang
biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba yaitu jumlah
penyalahgunaan sebesar 1,5% dari populasi 3,2 juta orang, dengan
kisaran 2,9 sampai 3,6 juta orang, yang terdiri dari 6
kelompk
teratur pemakai dan 31% kelompok pecandu. Dari para kelompok
teratur pemakai ini terdiri dari penyalahgunan ganja (71%), shabu
(50%), ekstasi (42%), penenang (22%). Dari kelompok pecandu
terdiri dari penyalahgunaan ganja (75%), heroin/putau
shabu (57%), ekstasi (34%), penenang (25%). 70
Sedangkan biaya ekonomi dan sosial dari penyalahgunaan
narkoba yang terjadi diperkirakan sebesar Rp, 23,6 tri iun, Biaya
ekonomi terbesar adalah untuk pembelian atau konsumsi narkoba
yaitu sebesar Rp, 11,3 triliun, dan angka kematian pecandu
narkoba dan obat-obatan terlarang yaitu 1,5% per tahun (15 ribu
orang mati/tahun) atau 40 orang per hari. 71
Dampak lain dari Penyalahgunaan narkoba selain merusak
kesehatan manusia juga meningkatkan biaya kesehatan yang harus
dikeluarkan oleh keluarga, masyarakat dan Negara. Bahkan
masyarakat pun juga menanggung beban dan kerugian akibat
menurunnya produktivitas sumberdaya manusia, biaya pengobatan
medis.
Sisi lain dari kejahatan narkoba yaitu timbulnya pencucian
uang
(money
laundering ).
Menurut
laporan
Internasional
Monetary Fund (IMF) implikasi makro eknomi dari money
laundering bahwa tingkat ini sangat signifikan dalam menentukan
keseimbangan mata uang dan bisa mempunyai pengaruh yang
nampak pada pertumbuhan ekonomi.
70
71
Badan Narotika Nasional Republik Indonesia, Loc. Cit, h. 99.
Ibid
Selanjutnya menurut IMF konsekuensi makro ekonomi dari
money laundering adalah:72
a.
kesalahan kebijakan ekonomi, karena kesalahan ukuran atau
statistik makro ekonomi yang timbul dari money laundering .
b.
Perubahan yang mudah terjadi dalam nilai tukar uang dan
tingkat suku bunga karena cross border transfer dari dana
yang tidak bias diantisipasi.
c.
Berkembeangnya suatu dasar jaminan yang tidak setabil dan
struktur asset yang tidak sehat dari lembaga-lembaga
keuangan yang menciptakan resiko atas terjadinya systemic
crisis dan instabilitas moneter.
d.
Akibat buruk kepada pengumpulan
pengeluaran
umum
karena
laporan
pajak dan
tidak
alokasi
benar
dari
penghasilan.
e.
Mis-alokasi dari resources karena distorsi dalam nilai asset
dan komoditi yang timbul dari money laundering .
f.
Efek
kontaminasi pada transaksi legal karena adanya
kemungkinan keterkaitan dengan kejahatan.
Konsekuensi yang disebutkan di atas yaitu implikasi
ekonomi yang disebabkan oleh adanya money laundering dimana
hal ini akan menggangu pertumbuhan perekonomian negara-negara
tersebut.
72
Ibid
II.2.3 Dampak terhadap Dimensi Sosial
Ancaman dalam dimensi sosial ini umumnya dihadapi oleh
negara-negara konsumen, namun pada kenyataannya negara-negara
produsen juga menghadapi ancaman
serupa. Negara-negara
produsen ini pada tingkat tertentu juga sekaligus menjadi
konsumen. Hal ini antara lain disebabkan oleh ketersed
obat-
obatan terlarang, dan lemahnya peraturan di negara-negara tersebut
mengenai penggunaan obat-obatan terlarang. Di samping itu
adanya upaya dari para pengedar obat-obatan terlarang itu sendiri
untuk mengembngkan pasarnya di dalam negeri.
Di Indonesia, ancaman dalam dimensi sosial ini dimana
penyalahgunaan narkoba sangat berpengaruh dan memperburuk
kondisi keluarga yang pada umumnya juga sudah tidak harmonis.
Keluarga-keluarga yang sudah penuh masalah dalam kehidupannya
ia
akan
mempengaruhi
masyarakatnya,
dengan
ketergantungan
kepada
kehidupan
upaya
narkoba
lain
lain
di
lingkungan
untuk
membiayai
seseorang
dari
anggota
keluarganya memerlukan banyak uang untuk membeli narkoba,
disisi lain para pecandu tersebut mencuri, merampok, menipu,
mengedarkan narkoba bahkan bisa membunuh untuk mendapatkan
uang, Kesemuanya ini merugikan masyarakat.
Para pecandu narkoba pada umumnya menjadi orang yang
anti sosial dan menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban
pada lingkungannya. Kerugian dibidang pendidikan juga
dengan presentasi yang cukup tinggi, yaitu prestasi sekolah
merosot 96%. Para siswa penyalahgunaan narkoba sering merusak
atau mendorong teman -temanya untuk memakai narkoba bahkan
mereka juga menjadi pengedar narkoba di sekolah, karena
pengaruh teman terhadap penyalahgunaan narkoba pada pelajar
dan mahasiswa perlu diwaspadi. Dari hasil survey tahun 2006 dan
2009 telah menunjukkan teman adalah orang yang paling banyak
menawakan narkoba, teman diluar sekolah lebih banyak yang
menawarkan narkotika dibanding teman diluar sekolah. 73
Rumah teman di luar sekolah menjadi tempat yang paling
banyak digunakan untuk menawarkan narkoba. Dengan demikian
pergaulan dengan teman bisa menjadi faktor risiko yang cukup
rawan terhadap pintu masuk utama bagi penyalahgunaan narkoba
pada kelompok pelajar dan mahasiswa, terutama pergaulan dengan
teman luar sekolah. Semakin tinggi jenjang sekolah, semakin tinggi
juga jumlah pelajar yang ditawari narkoba oleh teman. Dalam
kondisi yang demikian bisa diasumsikan bahwa semakin tinggi
jenjang sekolah, tingkat pergaulan semakin
luas, sehingga
pengaruh teman juga semakin besar, hal ini sangat merugikan
generasi muda.74
73
Himpunan Hasil Penelitian Penyalahgunaan dan Peredara Gelap Narkotika Tahun 2009,
Badan Narkotika Nasional 201 0. h. 3-4.
74
Ibid
Berdasarkan temuan National Drug Abuse Prevention Center
(NDBC) terdapat sekitar 4 juta pecandu narkoba di Indonesia dan
sekitar 70% diantaranya tercatat sebagai anak usia sekolah antara
14 sampai 20 tahun.75
II.2.4 Dampak terhadap Dimensi Budaya
Jika
penyalahgunaan
dan
maka
jumlah
akan berkembang menjadi pecandu -pecandu
penyalahgunaan
narkoba
dibiarkan,
akan
meliputi semua
lapisan
dan
golongan
masyarakat. Tingkah laku, prilaku dan norma-norma mereka, lamakelamaan
akan
membudaya
sebagai
sub
kultur
yang
membahayakan. Jika sudah menjadi sub kultur maka sudah berakar
disebagian masyarakat dan bisa saja suatu saat orang menerima
bahwa pemimpinya, Bupatinya, kepala Polisinya adalah pecandu.
Hal tersebut di atas adalah sangat berbahaya bagi kelangsungan
hidup bangsa dan negara.
II.2.5
Dampak terhadap Dimensi Kesehatan
Dalam
dimensi
kesehatan
sudah
barang
tentu
penyalahgunaan narkoba merusak atau menghancurkan kesehatan
manusia baik secara jasmani, mental, emosional, dan kejiwaan
seseorang. Penyalahgunaaan narkoba dapat merusak susunan saraf
75
Ibid
pusat otak, organ -organ lainnya seperti hati, jantung, paru -paru,
usus dan penyakit komplikasi lainnya. Penyalahgunaan narkoba
juga menimbulkan gangguan psikis pada perkembangan normal
remaja, daya ingat, perasaan, presepsi dan kendali dir
Narkoba
dapat merusak sistem reproduksi, seperti produksi sperma
menurun, penurunan hormon testosterone, kerusakan kromosom,
kelainan sex, keguguran dalam kandungan dan lain-lain.
Penyalahgunaan narkoba dapat menimbulkan penyakit AIDS
melalui pemakaian bersama jarum suntik, jika yang bersangkutan
mengidap penyakit AIDS. Bahkan pengguna narkoba memilik
resiko empat kali lebih besar terinfeksi HIV bila dibandingkan
dengan pelaku hubungan seks bebas. Para ahli tingkat nasional
memprediksi jumlah orang yang hidup dengan HIV di Indonesia
pada tahun 2002 melaporkan estimasi jumlah tersebut sebesar
110.800 diantranya terdapat 42.749 (38,6%) penyalahguna narkoba
dengan jarum suntik.76
II.2.6
Dampak terhadap Dimensi Penegakan Hukum
Untuk mencegah dan memberantas penyelundupan narkoba
ke Indonesia tidak mudah mengingat panjangnya garis pantai dan
ribuan pulau -pulau. Dengan terbukanya jalur transportasi dari luar
76
Badan Narotika Nasional Republik Indonesia, Loc. Cit, h. 99-100.
negeri langsung ke beberapa kota di Indonesia baik melalui udara
maupun laut.
Sejak beberapa tahun lalu, methamphetamine, ectasy, dan
psiktropika lainnya sudah diproduksi di laboratorium gelap, dengan
kemampuan dan kapasitas produksi yang semakin meningkat.
Mendeteksi laboratorium gelap tidak mudah, karena sebuah
laboratorium gelap tidak memerlukan bangunan yang besar dan
peralatan yang canggih. Untuk memproduksi narkotika tertentu dan
psikotropika, digunakan bahan dasar kimia (precursor) yan
biasanya digunakan untuk keperluan industri atau farmasi. Hal ini
sangat menyulitkan untuk pengawasan dan pencegahan karena
bahan-bahan kimia tersebut dipakai secara umum, apalagi lokasi
dan tempat memproduksinya hanya berupa kamar dalam satu
apartemen atau dalam ruko sekalipun.
Sistem distribusi gelap dari sindikat narkoba, sangat
dan luas, memakai sistem sel, berjenjang, dan dengan pengamanan
yang ketat sehingga sangat sulit untuk mengetahui apalagi akan
memperkarakan orang-orang penting adakalanya menggunakan
satuan pengawasan tersembunyi yang dilengkapi dengan keamanan
pengintai dari sindikat tersebut, mengingat system pembuktian
yang dianut dalam system hukum di Indonesia. Sedangkan dalam
system
distribusi
legal
obat-obatan
ini
digunakan
untuk
kepentingan kesehatan, tetapi didalamnya terdapat kebocoran atau
penyelewengan karena terdapat kelemahan dalam pengendalian
dan pengawasannya.
Walaupun penyalahgunaan narkoba ini tidak dipandang
sebagai tindak kejahatan, namun perbuatan menyalahgunakan
narkoba diklasifikasikan dalam Undang-undang sebagai kejahatan
dengan ancaman hukuman penjara. Tentu saja hukuman penjara ini
bukan untuk menyiksa yang bersangkutan, melainkan untuk
memaksakan penyalahguna untuk menjalani
pengobatan dan
rehabilitasi, jika mereka tidak dapat disembuhkan, ini dapat
menyeret remaja, pemuda, termasuk para selebriti dan orang lain
untuk ikut dalam menyalahgunakan narkoba, sehingga jumlah
penyalahguna dan pecandu semakin banyak.
Disisi lain kemampuan pemerintah dan masyarakat untuk
membangun tempat-tempat treatment dan rehabilitasi sangat
terbatas. Upaya untuk menangani penyalahgunaan dan pemakai
narkoba merupakan tugas aparat penegak hukum, disamping itu
pihak orang tua maupun masyarakat dapat berperan serta. Dalam
kaitannya dengan penegak hukum tersebut berlaku hukum supplay
dan demand. Semakin besar demand maka akan meningkatkan
usaha-usaha supplay narkoba, dan penyalahgunaan itu sendiri
adalah pelanggar Undang-undang narkoba yang tidak dapat
diabaikan begitu saja.
II.2.7
Dampak terhadap Dimensi Keamanan Nasional
Karena perdagangan gelap narkoba menghasilkan banyak
uang, maka hal ini juga digunakan oleh para gerakan sparatis yang
akan melakukan pemberontakan untuk membiyai tujuan mereka.
Dengan dana yang diperoleh tersebut, mereka bisa membeli antara
lain senjata api, amunisi, bahan baku peledak untuk membuat bom
dan juga membiayai operasi-operasi destruksi mereka.
Hasil perdagangan narkoba seperi perdagangan gelap di
Aceh pada saat itu digunakan untuk membiayai gerakan sparatis
Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bukan hanya di Indonesia, di
Myanmar pun hasil kejahatan narkoba dipergunakan untuk
membiayai pemberontakan Shan Army di bawah pimpinan
Jenderal Khun Sa. Demikian juga di Afganistan, patut dicurigai
terorisme. 7 7
Di Amerika Latin sindikat atau kartel narkoba karena
mempunyai banyak uang, mampu mempunyai tentara sendiri
(private army) yang dipersenjatai dengan senjata canggih dan
mampu
melawan
kekuatan
senjata militer negara tersebut
contohnya, kasus penangkapan tokoh dibalik perdagangan obat
bius di Colombia, Palbo Eskuador, sehingg terpaksa pemerintah
Columbia minta bantuan dari AS untuk menghancurkanya.
77
Peter Chalk, Grey Area Phenomena in Shoutheast Asia: Piracy, Drugs
Political Terorism. The Australian National University, Canberra. 1997 h. 43.
ficking and
Dengan demikian diperoleh gambaran bahwa dampak lalu
lintas perdagangan narkoba begitu luas terhadap human security,
karena menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan individu,
keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, bahkan hubungan antar
negara.
BAB III
GAMBARAN UMUM MASALAH DRUGS TRAFFICKING DI
INDONESIA
III.1 Masalah Drugs Trafficking di Indonesia
Sejarah narkoba di Indonesia dilihat dari banyaknya candu yang dipakai
oleh keturunan Cina pada tahun 1617. Namun sebenarnya
pribumi
juga banyak yang kecanduan, baik para bangsawan maupun rakyat biasa.
Dalam perkembangannya, candu di Jawa telah menjadi kom
ekonomi
yang dikuasai oleh bandar narkoba. Karenanya VOC banyak melakukan
kerjasama perjanjian monopoli dengan penguasa setempat, seperti dengan
Sultan Amangkurat II (1677). Baru kemudian Sultan Banten (1681), Sultan
Cirebon (1682) dan Sultan Palembang (1777). Pemerinah
Belanda
secara resmi mendirikan perkebunan candu di Jawa dan Sumatera pada tahun
1862. 78
Dengan mengutip james R.Rush dalam opium to java Syaefurrahman
mengatakan bahwa opium tidak ditanam di Jawa. Pada abad ke -19 tampaknya
semua opium resmi yang dikonsumsi di Jawa berasal dari Turki dan Persia
atau British Bengal. Dari jalur tersebut lalu di alurkan dalam waktu yang
beraturan kepada bandar opium di Jawa dan di simpan melalui gudanggudang di Batavia, Semarang dan Surabaya.79
78
Syaefurrahman Al-banjary, Hitam Putih Polisi dalam Mengungkap Jaringan Narkoba .
Jakarta: Restu Agung dan PTIK Press, 2005. h. 5.
79
Ibid
Jenis narkoba yang beredar saat ini juga bervariasi seperti: opium,
heroin, ganja, methamphetamine, amphetamine, dan lain-lain. Sementara itu
berbagai bahan atau zat kimia yang dijadikan sebagai bahan dasar atau
katalisator pembuat narkotika dan psikotropika yang kita sebut prekursor,
sangat mudah didapat dipasaran. prekursor tersebut disamping bermanfaat
dalam rangka proses industri seperti kosmetika, pabrik cat. Sering
disalahgunakan atau penggunaanya dan peredaranya kurang control karena
belum diatur dalam undang-undang tentang pengawasan, sangsi dan
peredaranya.
Dengan melihat fenomena tersebut diatas, sangat jelas
jaringan
peredaran gelap narkoba internasional sangat kuat, yang setiap saat mampu
menerobos celah yang tidak kita duga sebelumnya. seperti lembaga
pemasyarakatan yang seharusnya steril mampu diterobos oleh penjahat,
terbongkarnya berbagai penyelundupan narkoba di pelabuhan udara juga
mengindikasikan kemungkinan lolosnya barang haram tersebut, serta adanya
berbagai pelabuhan laut yang tersebar dimana-mana sangat sulit dikontrol.
III.2 Jenis Narkotika dan Obat -obatan Terlarang di Indonesia
Narkoba adalah istilah yang merupakan singkatan dari Narkotika,
Psikotropika dan Bahan Adiktif lainya. Narkoba termasuk golongan bahan
atau zat yang jika masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi-fungsi
yang dapat merusak tubuh termasuk otak. Istilah narkotika sering dikaitkan
kepada candu, morfin, heroin, kokain, ganja serta beberapa obat bius lainya
yang dapat mengakibatkan kecanduan bagi manusia. Sedangkan beberapa
psikotropika juga dikaitkan dengan jenis shabu -shabu serta ekstasi. 80
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintesis maupun semi sintesis, yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, sampai menghilangkan
rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan atau kecanduan. Narkotika
tergolong menjadi tiga golongan. Golongan pertama, narkotika yang hanya
dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan
tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi
mengakibatkan sindrom ketergantungan. Golongan kedua,
kuat
narkotika
yang berkhasiat untuk pengobatan yang digunakan sebagai pilihan terakhir
dan dapat digunakan dalam terapi dan tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Sedangkan
narkotika golongan tiga adalah narkotika yang berkhasi
pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi dan untuk bertujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.81 Sedangkan di
Indonesia terdapat jenis-jenis narkoba diantaranya:82
III.2.1 Heroin
Heroin merupakan jenis opioda semi sintetik yang berupa serbuk
putih, butiran dan cairan, rasanya pahit, memiliki sifat menghilangkan
80
http://www.bknn.or.id/pengertian/narkoba-salah.html, Narkoba yang sering disalah
gunakan. di akses pada tanggal 13 -1-2011.
81
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, ADVOKASI Pencegahan Penyalahgunaan
Narkoba . 2009, h. 51.
82
Ibid h. 53-66 .
rasa nyeri. Heroin murni berupa bubuk putih tetapi yang umumnya
beredar dipasar gelap berwarna kecoklatan karena telah dicampur oleh
bahan-bahan lain. Sehingga setiap kandungan heroin memiliki
yang berbeda-beda. Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali lebih
kuat dari morfin dan merupakan jenis opiad yang paling sering
disalahgunakan orang di Indonesia pada akhir-akhir ini.
Heroin
selain
menyebabkan
ketergantungan
fisik
maupun
psikologis, juga dapat menyebabkan badan terasa sakit, mual dan
muntah, miosis, mengantuk, mulut kering, berkeringat,
i
pernapasan, hipotermia, tekanan darah turun, konstipasi, kejang saluran
empedu, sukar buang air kecil, kematian biasanya terjadi apabila dosis
yang digunakan berlebihan. Pemakai yang sudah menjadi pemadat
cenderung untuk menggunakan obat dengan dosis berlebihan. Hal ini
disebabkan oleh terjadinya batas toleransi tubuh yang semakin
meninggi. Jika pemakaian heroin tiba-tiba dihentikan atau dosisnya di
kurangi, maka terjadi gejala putus zat (sakauw) seperti kejang otot,
mencret, tremor (anggota tubuh bergetar tanpa kendali), panik, hidung
dan mata berair, dan rasa nyeri ke seluruh tubuh.
III.2.2 Morfin
Morfin adalah suatu zat aktif yang berasal dari candu (opium)
setelah mengalami proses kimiawi. Pada dasarnya morfin merupakan
bahan analgesic atau penghilang rasa sakit yang sangat kuat untu
seseorang yang mengalami luka atau sakit yang sangat berat terutama
jika dirawat di ruang ICU. Namun yang digunakan oleh dokter ke
pasien, dosisnya sesuai dengan kebutuhan si pasien, sehingga tidak
akan menimbulkan ketergantungan.
Morfin berbentuk seperti bubuk kristal berwarna putih seperti
jarum -jarum lembut atau prisma yang berkilauan dan tidak berbau. Jika
dipegang oleh jari-jari kita terasa seperti memegang bubuk kapur.
warna morfin bermacam-macam, dari yang putih, kuning gading sampai
cokelat atau cokelat kopi. Malah ada juga morfin yang
seperti kapas. Morfin bubuk biasanya dibungkus dalam b
uknya
atau
kantong plastik. Ada dua jenis morfin yaitu jenis Banna dan jenis Snow
White yang berbentuk seperti bedak.
Pada tahun 1805 seorang Apoteker Jerman bernama Sertuerner
berhasil mengisolasi morfin, Morfin berasal dari bahasa yunani yang
berarti Morpheus dan kata lain adalah dewa mimpi . Kandungan morfin
dari candu sampai 10%. Pada tahun 1874, pabrik Bayer berhasil
mensisntesiskan heroin (diasetilmorfin atau diamorfin) dari bahan baku
morfin menggunakan asam asetat atau cuka anhidrat, nama heroin
diambil dari bahasa jerman, yakni heroic yang artinya pahlawan.
Heroin yang pertama kali dibuat ini dicoba untuk obat
batuk.
Namun, baru tahun 1898 diuji manfaat dan bahayanya pada hewan dan
manusia. Ternyata bahaya heroin jauh lebih besar daripada manfaatnya
karena itu pada tahun 1924 di Amerika Serikat dilarang produksi dan
digunakan. Dulu heroin dibuat oleh pabrik resmi, namun sejak adanya
larangan produksi tersebut heroin dibuat oleh industri gelap. Industri
gelap ini sering mengambil lokasi di kebun candu, misalnya di daerah
segi tiga emas (Myanmar, Thailand dan Laos), dan Bulan Sabut Emas
(Afghanistan, Iran dan Pakistan). Hal ini terlihat, dari setiap oprasi
aparat kepolisian atau militer ditemukan asam cuka dalam jumlah besar.
Heroin harganya lebuh mahal daripada morfin dan efek dari kecanduan
dan halusinasinya lebih kuat daripada morfin.
III.2.3 Kokain
Kokain adalah narkotika yang terbuat dari daun tumbuha
Erytroxylon coca yaitu sejenis tumbuhan yang tumbuh di lereng
pegunungan Andes di Amerika Selatan. Kokain termasuk golongan
obat perangsang atau stimulan, kokain sangat berbahaya karena dampak
ketergantungan sangat kuat. Hal ini ditunjukan dari hasil percobaan di
laboratorium, yang hasilnya ternyata binatang percobaan yang diberikan
kokain terus menerus lebih memilih kokain daripada makananya.
Begitu terus hingga akhirnya binatang tersebut mati akibat kelaparan
atau over dosis.
Kokain ini berbentuk kristal halus berwarna putih bersih, juga ada
yang berbentuk seperti kepingan -kepingan salju, kapur barus, gula
ataupun garam. Saat ini kokain masih digunakan sebagai anestetik
local, khususnya untuk pembedahan mata, hudung, dan tenggorokan.
Kokain diklasifikasikan sebagai suatu narkotik, bersama dengan morfin
dan heroin karena afek merugikanya telah dikenali. Menyebabkan
paranoid dan halusinasi serta kurangnya percaya diri.
kesehatan
akan memperburuk system pernapasan dan gangguan pada otak.
III.2.4 Ganja
Ganja atau kanabis mempunyai beberapa bentuk, ganja bisanya
berbentuk dedaunan seperti daun ketela pohon dan berwarna hijau.
Cairan yang lengket, minyak dammar ganja. Ganja yaitu
tanaman
yang dikeringkan dengan efek yang dapat membuat pemakainya
menjadi teler “sakaw” atau flay. Menimbulkan ketergantungan psikis
yang diikuti oleh kecanduan fisik dalam waktu yang lama, terutama
bagi mereka yang telah rutin menggunakanya.
Ganja dapat tumbuh hampir di semua tempat di seluruh penjuru
dunia, ganja berasal dari tumbuhan perdu liar yaitu Cannabis saliva
ataupun Cannabis indica yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan
subtropik seperti Indonesia, India, Nepal, Thailand, Laos, kambodja.
Beberapa jenis tanaman cannabis mempunyai efek rasa yang sama,
karena tergantung pada iklim, keadaan tanah dan waktu
ya.
Marijuana daun dan bunga kering tanaman cannabis biasanya dihisap
dalam rokok yang digulung dengan tangan atau memakai pipa. Di
antara variasi ganja yang lain, marijuana yang dmpaknya paling ringan.
Penggunaan ganja akan memberikan pengaruh yang menjadikan
pemakainya merasa rileks, kadang-kadang merasa nyaman dan
gembira. Pemakainya juga dapat mengalami sensasi palsu dalam
penglihatan, penciuman dan pendengaran yang disebut halusinasi.
Gangguan dalam dimensi penglihatan, misalnya jarak pandang tidak
normal, sesuatu nampak jauh padahal dekat Gangguan lain adalah tidak
wajarnya kemampuan berfikir secara logis.
Bahaya penyalahgunaan ganja pada tahap jangka pendek
pemakaian ganja dapat meningkatkan selera makan denyut nadi juga
meningkat. Dalam dosis besar, pemakai merasa terjadi perubahan dalam
persepsi suara dan warna yang menjadi lebih tajam. Sedangkan daya
pikirnya melambat dan terjadi kebingungan. Jika dosisnya sangat besar,
pengaruhnya sama dengan halusinogen lain, dan dapat menyebabkan
cemas, panik, bahkan gangguan jiwa.
III.2.5 Ekstasi
Ekstasi adalah bahan psikoaktif yang bersifat stimulcin (memacu
kerja otak). Biasanya dibuat oleh pabrik gelap, sehing
sebutan ekstasi
tak lagi mengacu pada satu bahan tertentu, melainkan terdiri dari
beberapa bahan yang mempunyai pengaruh sama pada pemakainya.
Seperti kebanyakan obat terlarang, tidak ada kontrol yang mengatur
kekuatan dan kemurnian salah satu jenis narkoba ini. Bahkan tidak ada
jaminan bahwa sebutir ekstasi sepenuhnya berisi ekstas
Seringkali
ekstasi dicampur dengan bahan -bahan berbahaya lainya. Bentuk ekstasi
ini berupa tablet warna-warni dan sering juga disebut dengan inex. XTC
mulai bereaksi setelah 20 sampai 60 menit diminum. Daya rangsang
ekstasi sangat tinggi karena mengandung zat psikotropika yang
biasanya diproduksi secara illegal dalam bentuk tablet atau kapsul.
Pengaruh pada pemakai ekstasi adalah mendorong tubuh
melakukan aktivitas melampaui batas maksimum, meningkatkan rasa
empati dan keakraban terhadap orang-orang lain. Pemakai merasa
menjadi lebih mudah bergaul dan bersemangat, sehingga memiliki rasa
empati yang sangat berlebihan termasuk kepada orang ya
baru
dikenalnya. Bahaya bagi pemakai obat ini adalah aktivitas mental
emosional meningkat karena terjadi perubahan fungsi faal tubuh.
Terjadi dehidrasi atau tubuh kepanasan dan kekurangan cairan, pusing,
dan lelah. System organik dalam tubuh tidak dapat mengendalikan suhu
tubuh. Ekstasi juga merusak organ -organ tubuh, seperti hati dan ginjal.
Dapat mengakibatkan kejang dan gagal jantung. Bila pemakaian dengan
dosis besar ekstasi akan menyebabkan gelisah, tidak dap at diam, cemas,
dan halusinasi, Pemakaian ekstasi jangka panjang dapat merusak otak,
bahkan menimbulkan depresi, gangguan daya ingat, dan psikosis atau
gangguan jiwa.
III.3. Produksi Narkotika dan Obat-obatan Terlarang di Indonesia
Indonesia menurut analisis Badan Narkotika Nasional (BNN) hasilnya
menunjukkan sistem produksi narkotika di Indonesia telah mengalami
perubahan dari sistem produksi pabrik menjadi produksi rumahan yang
terkenal dengan istilah “ Kitchen Lab”.8 3
Perubahan sistem ini terlihat dari hasil penggrebekan terhadap beberapa
tempat produksi narkotika yang rata -rata merupakan rumah pribadi maupun
kamar sebuah apartemen dengan pekerja antara 3 -5 orang. Misalnya yang
terlihat dalam kasus digerebeknya Pabrik narkoba di apartemen Marina Ancol
Jakarta Utara Rabu 24 Maret 2010. 84 dari penggerebekan ini, petugas
mengamankan dua tersangka warga negara asing asal Taiwan, yang diduga
kuat sebagai ahli peraciknya. Produksi narkotika dengan sistem “ Kitchen lab”
tersebut kini telah mulai merebak di tanah air, termasuk kemungkinan di
daerah-daerah terpencil. Dimana sebuah “ Kitchen lab” mampu memproduksi
ratusan narkotika dalam satu hari dengan target pasar lokal dan tidak tertutup
kemungkinan perdagangan antar Provinsi dan internasional.
Perkembangan globalisasi dan kemajuan transportasi dan komunikasi
memungkinkan pergerakan barang, jasa, dan manusia secara cepat dan
mudah, termasuk komoditi illegal seperti obat-obatan terlarang. Bandar obatobatan terlarang kini memiliki berbagai alternatif jalan untuk memasukkan
komoditi itu ke Indonesia, selain melalui jalur tradis
lewat bandara
internasional Soekarno Hatta atau melalui bandara internasional Ngurah Rai
Bali. Daerah ini semakin banyak tempat yang menjadi sasaran maupun transit
dari perdagangan obat-obatan telarang tersebut. Tempat-tempat seperti
83
http://www.bnn.or.id-produksi-narkoba- di-indonesia-berganti-sistem.html di Akses pada
Taggal 10 Desember 2010.
84
http://www.interpol.go.id/id/kejahatan-transn asional/narkoba di Akses pada tanggal 2
Februari 2011.
pelabuhan Belawan (Medan), perairan Tanjung Balai, bahkan Pulau Nias
telah menjadi pintu masuk perdagangan obat-ob atan terlarang. 8 5
III.4. Jalur Peredaran Narkotika dan Obat -obatan Terlarang di Indonesia
Berdasarkan informasi dari (BNN), jalur peredaran narkotika secara
ilegal ke Indonesia itu berasal dari tiga tempat yang
segitiga emas diantaranya Thailand, Myanmar dan Laos.
disebut daerah
ga negara ini
dideteksi memiliki ladang tanaman opium sejak jaman dulu. Pemasok opium
lainnya yang terekam dari data BNN adalah Iran, Pakistan, dan Afganistan
yang produksinya mencapai 4 ribu ton pertahun. Sementara didalam negeri,
ganja dari Aceh yang dikenal berkualitas paling baik,
banyak beredar,
barang-barang illegal itu akhirnya masuk ke Bali melalui jalur darat hingga ke
Lampung untuk dibawa ke Jakarta dan cukup bervariatif
ra membawanya
baik melalui jalur darat (bus, kereta api), jalur laut melalui yacht (kapal pesiar
ukuran kecil) dan juga jalur udara.8 6
85
Fredy B. L. Tobing, “Aktifitas Drugs Trafficking Sebagai Isu Keamanan yang Mengancam
Stabilitas Negara” , dalam Jurnal Global Politik Internasional, Vol 5 No1 November 2002. h. 83.
86
Database Badan Narkotika Nasional http://www.bknn.or.id di akses pada tanggal 8
Desember 2010
Gambar II.3.2.1
Jalur Lalu Lintas Obat-Obatan Terlarang Yang Masuk ke
Indonesia
Sumber: Badan Narkotika Nasional http://www.bknn.or.id di akses pada tanggal 8
Desember 201087
Dari gambar peta di atas terlihat, bahwa obat-obatan terlarang yang
masuk ke Indonesia khususnya Jakarta seperti Heroin, Morphin, Hasis dan
Cocain berasal dari negara-negara yang sering disebut Golden Crescent atau
negara-negara di daerah Bulan Sabit (Iran -Pakistan -Afganistan) dan negaranegara di daerah Segi Tiga Emas atau Golden Triangle (Myanmar-ThailandLaos).demikian juga halnya dengan ganja yang berasal dari Aceh. Dari semua
obat-obatan terlarang yang masuk Indonesia kemudian di distribusikan atau
diedarkan secara gelap ke seluruh wilayah Indonesia dan ke negara tetangga
seperti Malaysia dan Singapura.
Modus operandi penyebaran obat-obat terlarang di Indonesia memang
banyak melalui kawasan wisata internasional. Bisnis kargo di kawasan wisata
87
Ibid.
sering kali dimanfaatkan oleh jaringan kartel internasional. Para drug
trafficker yang berasal selain dari Indonesia memilih pulau Bali, untuk
menghindari ketatnya pengamanan di laut Karibia, wilayah teluk Meksiko
atau teluk Panama. Para pengedar rela untuk menempuh perjalanan yang
lebih jauh hanya untuk menghindari kawasan -kawasan yang memiliki tingkat
pengawasan bea cukai yang lebih ketat. Bali juga menjadi wilayah transit
pengiriman narkoba dan Thailand menuju Eropa karena ketatnya pengawasan
di Eropa untuk barang impor asal Thailand. Dampaknya ialah banyak
pengedar internasional kelas kakap tertangkap di Bali. Menurut data
Kejaksaan Tinggi di Bali, pulau ini telah menjadi surga bagi para drug
trafficker. Sebagai contoh, gembong narkoba Kid Mikie, seorang buronan
Drug Enforcement Administration (DEA) AS atas kasus penyelundupan obat
terlarang di kawasan segitiga emas. 88
Wilayah lain yang juga sangat rawan adalah Propinsi Su
Utara.
Propinsi yang dekat dengan kawasan the Golgen Triangle dan bertetangga
dengan NAD yang memeasok ganja memang sangat rawan, bukan hanya
sebagai wilayah transit tetapi juga sebagai sentra penyebarannya. Bahkan data
dari Poltabes Medan memperlihatkan bahwa daerah ini sekarang mampu
memproduksi ecstasy dengan kandungan amphetamine yang lebih rendah
dibanding produk impor. Untuk produksi ganja, Sumatera Utara juga telah
88
Fredy B. L. Tobing, “Aktifitas Drugs Trafficking Sebagai Isu Keamanan yang Mengancam
Stabilitas Negara” , dalam Jurnal Global Politik Internasional, Vol 5 No1 November 2002. h. 83.
menyaingi Aceh dengan sentra penanaman di empat kabupaten: Deli Serdang,
Simalungun, Tanah Karo dan Tobassa.89
Penanaman gelap ganja juga terlihat pada tanah dan iklim yang
memungkinkan ia tumbuh. Di seluruh wilayah Indonesia apalagi tumbuhan
ganja dapat juga tumbuh di Kawasan yang membentang amat luas yaitu
daerah tropis dan daerah sub tropis. Daerah NAD adalah sentra penanaman
ganja yang terkenal di Indonesi, sejak zaman dahulu kala sudah mengenal,
menanam dan mengkonsumsi ganja baik di rokok maupun digunakan sebagai
bumbu masak.
Sebagian besar ganja dari NAD diedarkan didalam negeri meliputi
keseluruh propinsi. Lihat gambar dibawah ini yang menerangkan mengenai
jalur peredaran ganja di Indonesia.9 0
Gambar II.3.2.2
Jalur peredaran ganja di Indonesia
Sumber: Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, Pedoman Pencegahan Penyalahgunaan
Narkoba Bagi Pemuda 2002
Dari gambar di atas menunju kkan betapa strategisnya Wilayah
Indonesia dan sekitarnya untuk dijadikan kawasan lalu lintas peredaran dan
89
Ibid h. 84.
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, Pedoman
Narkoba Bagi Pemuda 2002.
90
egahan Penyalahgunaan
perdagangan
narkoba.
Dengan
demikian,
perkembangan
lalulintas
perdagangan narkoba yang berlangsung di Kawasan Asia Tenggara semakin
memperjelas posisi Indonesia dalam perkembangan lalulintas p erdagangan
narkoba, ia juga bukan lagi hanya sebagai tempat transit perdagangan dan
peredarannya. Bahkan, Indonesia telah menjadi transit daerah pemasaran dan
menjadi produsen narkoba. Pintu masuknya narkoba secara gelap ke
Indonesia semakin banyak sehubungan dengan terbukanya jalur transporasi
dari luar negeri Iangsung ke kota-kota di Indonesia, baik melalui udara
maupun laut.
Tidak mengherankan bila sindikat narkoba internasional mempunyai
jaringan di banyak negara termasuk Indonesia. Misalnya, Nigerian Crime
Enterprise telah mempengaruhi sebagian masyarakat untuk membantu
mengembangkan kegiatan sindikat tersebut. Bahkan beberapa areal telah
menjadi daerah basis kegiatan mereka seperti Kampung Bali, Mangga Besar,
Tanah Abang dan beberapa tempat lainnya. Warga di wilayah tersebut telah
dijadikan
peredaran
dan
perdagangan
gelap
narkoba
sebagai mata
pencaharian pokok mereka.91 Pada tabel di bawah ini terdapat jumlah kasus
narkoba di Indonesia dari tahun 2003-2008. 92
91
Ibid
Badan Narotika Nasional Republik Indonesia, ADVOKASI Pencegahan Penyalahgunaan
Narkoba . 2009. h. 107.
92
Tabel II.3.2.3
Kasus Narkoba di Indonesia Tahun 2003-2008
Kasus
No
Tahun
1.
2.
3.
4.
5.
6.
2003
2004
2005
2006
2007
2008
Jumlah
%
Narkotika
3.929
3.874
8.171
9.422
11.380
10.006
46.782
46,36
Psikotropika
2.590
3.887
6.733
5.658
9.289
9.780
37.937
37,5
Bahan
Adiktif
Lainnya
621
648
1.348
2.275
1.961
9.573
16.426
16,2
Sumber : Badan Narkotika Nasional, ADVOKASI Pencegahan dan Peny
hal 32
Jumlah
7.140
8.409
16.252
17.355
22.630
29.359
101.145
100
an Narkoba 2009
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa perkembangan kasus narkotika,
psikotropika dan bahan adiktif dari tahun 2003 hingga
2008 cenderung
semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat bahwa pada tahun 2003 kasus
narkotika mencapai 3.929 kasus, pada tahun 2004 kasus
ka menurun
menjadi 3.874 kasus dan pada tahun 2008 sangat meningkat menjadi 10.006
kasus. Untuk kasus psikotropika pada tahun 2003 sebanyak 2.590 kasus dan
pada tahun 2004 meningkat menjadi 6.733 kasus dan tahu 2008 meningkat
hingga 9.780 kasus. Demikian pula dengan kasus bahan a
if, yakni pada
tahun 2003 mencapai 621 kasus, hingga tahun 2008 terus meningkat sampai
9.573 kasus. Dengan demikian diperoleh gambaran faktual bahwa di
Indonesia kasus-kasus penyalahgunaan narkoba cenderung meningkat.
Kegiatan penyediaan, perdagangan dan peredaran narkoba lega l yang
semakin meningkat tersebut, disebabkan semakin terbukanya kegiatan
perdagangan dunia. Kegiatan ini sangat rentan terhadap penyalahgunaan
usaha perdagangan dan peredaran narkoba legal, yang dapat menimbulkan
dampak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba semakin meningkat.
Fenomena ini dapat terjadi karena perubahan gaya hidup masyarakat
Indonesia terutama para remaja dan pemuda yang semakin konsumtif
terhadap
narkoba,
merupakan
salah
satu
faktor
meningkatnya
penyalahgunaan dan peredaran gelap di Indonesia. Pemahaman tentang
bahaya penyalahgunaan narkoba semakin kurang diperhatikan dan bahkan
tertutup,
oleh
sebab
mengkonsumsinya.
itu
banyak
orang
yang
terjerumus
uk
BAB IV
ANALISIS KEBIJAKAN ASEAN DALAM MENANGANI MASALAH
DRUGS T RAFFICKING
IV.1 Kebijakan ASEAN dalam Menangani Masalah Narkotika dan obatobatan terlarang
Rangkaian perkembangan kerjasama ASEAN dalam menangani
masalah narkoba dan obat-obatan terlarang yang tertuang dalam ASEAN
Declaration of Principles to Combat The abuse of Narcotic Drugs pada
sidang AMM pada tgl 26 Juni 1976 di Manila, Philipina. Hal ini dapat
dipandang sebagai langkah awal kerjasama ASEAN. 93 Namun sejauh itu
pula ternyata kerjasama ini memerlukan arah kebijakan yang lebih jelas dan
terpadu dimana dengan adanya komitmen yang lebih kuat dalam
mengarahkan kerjasama ASEAN dalam menangani narkotika
obat-
obatan terlarang diharapkan ia akan semakin efektif dan menghasilkan
kerjasama yang jelas hingga tercapainya ASEAN Bebas Narkoba 2015.
Kerjasama negara-negara di Asia Tenggara semakin memperkuat
komitmennya untuk memberantas dan menanggulangi masalah kejahatan
transnasional di kawasan Asia Tenggara. Hal ini menjadi arah kebijakan
kerjasama ASEAN dalam menangani masalah narkoba adalah dengan
adanya kehendak bersama untuk memperkuat komitmen negara anggota
dalam menangani masalah narkoba dan obat-obatan terlarang. Dengan
93
ASEAN Declaration on Transnational Crime, The First ASEAN Conference on
Transnational Crime Manila o n 18-20 December 1997.
komitmen tersebut maka arah kebijakan kerjasama tidak hanya semakin jelas
dan mempunyai landasan komitmen yang kuat.
Kerjasama dalam menangani masalah narkoba dan obat-obatan
terlarang
akan terealisasikan jika terdapat komitmen
memberantas
kejahatan
transnasional
yang
bersifat
kuat dalam
kompleks
dan
terorganisasi dan mustahil bangsa-bangsa di Asia Tenggara mampu secara
efektif dalam menangani masalah narkoba tanpa adanya komitmen yang
kuat.
Dengan didirikannya ASEAN Centre on Transnational Crime (ACOT)
yang akan mangkoordinir upaya regional melawan kejahatan transnasional
melalui penyelidikan bersama, harmonisasi kebijakan dan koord inasi
operasi. Kebijakan ini jelas terarah untuk kepentingan bersama yang
memerlukan dukungan organisasi dan manajemen operasional. Dengan kata
lain arah kebijakan kerjasama ASEAN telah mengisyaratkan peluang
dukungan teknis kelembagaan dan manajemen yang lebih kongkrit.94
Paling tidak sekali dalam
dua tahun negara-negara ASEAN
mengadakan pertemuan AMMTC dengan tujuan untuk mengkoordinasikan
kegiatan lembaga-lembaga ASEAN yang berkenaan dalam masalah
transnational crime seperti ASOD dan ASEANAPOL, ini merupakan salah
satu
indikator untuk diperlukannya kinerja manajerial
dapat
memperkuat dan sekaligus memperlancar administrasi kerjasama. Hal ini
tentu sangat dibutuhkan dalam mengidentifikasikan permasalahan dan
94
Ibid
dalam mengembangkan berbagai metode pendekatan yang lebih tepat dan
terpadu dalam menangani permasalahan.
Konsep kerjasama ASEAN dalam menangani masalah narkoti
dan
obat-obatan terlarang yang semakin nyata, dengan kesepakatan untuk
mengadakan diskusi dalam upaya penandatanganan persetujuan bantuan
hukum, perjanjian bilateral, MoU ataupun persetujuan lainya diantara
negara anggota. Dapat diartikan sebagai sesuatu konsep saling pengertian
bahwa penanggulangan kejahatan transnasional seringkal dihadapkan pada
perbedaan aturan, kepentingan dan kebijakan yang hanya biasa diatasi
dengan saling pengertian oleh para anggota ASEAN.
Adanya kesepakatan untuk memberikan dukungan teknis manajerial
dengan mengadakan pertemuan panitia ad -hoc Expert Group dalam waktu
satu tahun untuk menyelesaikan tugas sekertariat ASEAN yang meliputi
penyusunan ASEAN Plan of Action on Transnational Crime, kerangka kerja
lembaga untuk ASEAN Cooperation on Transnational Crime dan studi
kelayakan dalam penelitian ACOT dengan kesepakatan ini maka arah
kebijakan kerjasama ASEAN dalam menangani masalah narkoba dan obatobatan terlarang semakin terpadu dan terpola.
Dalam melakukan Law Emporcement terhadap pelaku kejahatan
internasioanal diperlukan tindakan -tindakan kepolisian yang efektif, maka
adanya kesepakatan yang dapat mendorong negara anggota untuk
menandatangani Police Attaches dan Police Liason Officers di masing-
masing Ibu Kota negara untuk memfasilitasi kerjasama dalam menangani
masalah narkoba dan obat-obatan terlarang.
Penguatan
komitmen
dan
memperjelas
arah
kebijakan
yang
disebutkan di atas maka kepala negara sepakat menandatangani deklarasi
bersama The first ASEAN Conference on Transnational Crime pada 20
Desember 1997 di Manila Philippina.
Arah kebijakan yang tertuang dalam Deklarasi ASEAN tersebut adalah
sebagai berikut : 9 5
Telah memutuskan untuk menangani masalah kejahatan transnasional
melalui cara sebagai berikut :
1.
Menguatkan komitmen negara anggota untuk kerjasama pada
tingkat regional dalam memerangi kejahatan transnasional.
2.
Mengadakan paling tidak sekali dalam dua pertemuan AMMTC
dengan tujuan untuk mengkoordinasikan kegiatan lembagalembaga ASEAN yang berkenaan dalam masalah TOC , seperti
ASOD dan ASEANAPOL.
3.
Mengadakan diskusi dalam upaya penandatanganan persetujuan
bantuan hukum, perjanjian bilateral, MoU ataupun persetujuan
lainnya diantara negara anggota.
4.
Mempertimbangkan pendirian ASEAN Centre on Transnational
Crime (ACOT) yang akan mengkoordinir upaya regional melawan
kejahatan
95
Ibid
transnasional
melalui
ASEAN
Declaration
on
Transnational
Crime,
The
first
Transnational
Crime
Manila
on
ASEAN
18 -20
Conference
December
on
1997.
penyelidikan bersama, harmionisasi kebijakan dan koordinasi
operasi.
5.
Mengadakan pertemuan panitia ad -hoc Expert Group dalam waktu
satu tahun untuk menyelesaikan tugas sekretariat ASEAN sebagai
berikut :
a. ASEAN Plan of Action on Transnational Crime
b. Kerangka kerja lembaga untuk ASEAN Cooperation on
Transnational Crime
c. Study kelayakan dalam penelitian ACOT
6.
Mendorong negara anggota untuk menandatangani Police
7.
Attaches dan Police Liason Officers di masing-masing ibukota
negara untuk memfasilitas kerjasama dalam menangani kejahatan
transnasional.
8.
Mendorong kerjasama antar lembaga negara yang berkaitan atau
organisasi
di
negara
anggota
untuk
mengatasi kejahatan
transnasional untuk lebih meningkatkan pertukaran informasi.
9.
Meluaskan ruang
lingkup
upaya negara anggota melawan
kejahatan transnasional seperti terorisme, perdagangan narkoba,
perdagangan senjata, pencucian uang, perdagangan manusia, dan
pembajakan di laut, dan meminta Sekretariat ASEAN General
untuk memasukan masalah ini ke dalam program kerja sekretariat
ASEAN.
10. Meluaskan jalan dimana negara anggota d apat bekerja lebih dekat
dengan lembaga dan organisasi yang relevan dalam dialogue
partner negara internasional lainnya, termasuk PBB dan lembaga
khususnya Colombo Plan Bureau , Interpol dan lembaga lainnya,
untuk memerangi kejahatan transnasional.
11. Kerjasama dan koordinasi lebih dekat dengan Badan -badan
ASEAN lainnya seperti ASEAN Law Ministers and AttorneysGeneral, ASEAN Chiefs of National Police, ASEAN Finance
Ministers, Director-General of Imigration dan Director-General
of Customs, dalam penyelidikan, penangkapan dan rehabilitasi.
12. Meningkatkan kapasitas Sekretariat ASEAN membantu negara
anggota dalam menyusun, merencanakan, dan mengkoordinasi
kegiatan , strategi, program
dan
proyek untuk memerangi
kejahatan transnasional.
Visi dan misi kerjasama ASEAN dalam menangani kejahatan
transnasional khususnya dalam menangani masalah narkoba dan obatobatan terlarang, yang mengancam masing-masing negara anggota menjadi
lebih jelas. Dalam knteks hubungan internasional, arah kebijakan yang
demikian itu merupakan refleksi solidaritas di antara
anggota, yang tidak hanya berupaya mengharmonisasikan
negara
an
politik, ekonomi dan sosial masing-masing anggota, tetapi yang lebih
penting lagi adalah
bahwa komitmen untuk memerangi kejahatan
transnasional dinyatakan sebagai musuh bersama, sebagaimana yang sedang
disosialisasikan oleh Amerika dalam memerangi terorisme.
Dari kebijakan ASEAN dalam menangani masalah narkoba di atas dapat di
jabarkan perkembangan kerjasama dalam menangani masala narkoba di bawah
ini.
IV.1.1. Perkembangan Kerjasama ASEAN
Kerjasama ASEAN dalam menangani masalah narkotika dan
obat-obatan terlarang dapat diartikan sebagai salah satu konsep dan
proses dalam kegiatan antar anggota. Menurut K.J Hans J.
Morgenthau, region atau kawasan diartikan sebagai sekumpulan
negara yang memiliki kedekatan geografis karena berada dalam satu
wilayah tertentu.9 6 Dari sinilah lahir sebuah keinginan bersama
negara-negara dalam
satu
region
untuk
dapat menyelesaikan
permasalahan yang dapat mengganggu stabilitas kawasan yaitu
dengan melakukan kerjasama. Kerjasama ASEAN ini dapat dipandang
sebagai suatu proses pelaksanaan kekuatan bersama bangsa-bangsa di
Asia Tenggara dalam hal ini kebijakan bersama tersebut telah
berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Tujuan utama dari kerjasama ASEAN tersebut dalam memerangi
masalah
narkotika
dan
obat-obatan
terlarang
adalah
untuk
menciptakan ASEAN sebagai kawasan bebas narkotika (A Drug -Free
96
h. 228.
Craig A Snyder. Contemporary Security and Strategy. Palgrave: Little Brown & CO, 1968.
ASEAN ) pada tahun 2020 dan komitmen ASEAN ini juga tercermin
dari dicantumkanya masalah narkotika tersebut di dalam “ ASEAN
Vision 2020” dan “ Hanoi Plan of Action ”.9 7
Kerjasama ASEAN dalam menangani masalah narkoba dan
obat-obatan terlarang tercakup didalam wadah ASEAN Senior Officials
on Drug Matters (ASOD). Kerjasama ini dimulai pada saat ASEAN
Ministerial Meeting (AMM) di Manila , Philipina, 26 Juni 1976, dengan
ditandatanganinya ASEAN Declaration of Principles to Combat the
Abuse of Narcotics Drugs.9 8
Pada tahun 1981 dibentuk ASEAN Drugs Experts, sebagai
subkomite di bawah Committee on Social Development (COSD) dan
Narcotic Desk di Sekretariat ASEAN. Pada sidang tahunannya yang
ke-8 di Jakarta tahun 1984, ASEAN Drug Experts mengubah namanya
menjadi ASEAN Senior Officials on Drug Matters (ASOD) sebagai suatu
wadah bagi negara-negara ASEAN untuk bekerjasama dalam
menangani masalah narkoba dan obat-obatan terlarang.99
ASOD secara resmi didirikan pada tahun 1984 dan berbagai
prakarsa yang berkaitan dengan masalah obat-obatan terlarang
berdasarkan pada ASEAN Plan of Action on Drug Abuse Control yang
dihasilkan pada pertemuan ASOD yang ke-17 pada bulan Oktober
1994. Rencana kegiatan
97
itu meliputi empat bidang prioritas;
C.P.F Luhulima, Dewi Fortuna Anwar, Dkk. Masyarakat Asia Tenggara Menuju
Comunitas ASEAN 2015. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2008. h. 3-4.
98
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Deplu RI “Kerjasama ASEAN dalam
menanggulangi kejahatan transnational” 2000. h. 173.
99
Ibid
pendidikan untuk pencegahan penyalahgunaan narkoba, perawatan
dan rehabilitasi, pemberdayaan dan penelitian.100
Dibidang pendidikan dan informasi pencegahan, beberapa
workshop tentang pendidikan mengenai obat-obatan terlarang bagi
para guru dan penyusun kurikulum serta riset komparatif mengenai
pendidikan pencegahan. Hal ini telah diselenggarakan kegiatan
kerjasama dalam pemberdayaan hukum mencakup pertukaran personel
pemberdayaan hukum, penyelenggaraan program training dengan
bantuan lembaga internasional dan pertukaran informasi mengenai
trends, modus operandi dan jalur perdagangan obat-obatan terlarang.
Negara -negara anggota ASEAN telah melakukan pertukaran secara
regular personel termasuk dalam hal perawatan dan rehabilitasi pada
tingkat operasional.
Pelaksanaan program -program tersebut diaatas juga ditunjang
oleh empat pusat training yang terdapat di negara-negara ASEAN
masing-masing adalah : ASEAN Training Centre for Narcotics Law
Enforcement (Bangkok), ASEAN Training Centre for Preventive Drug
Education (Manila), ASEAN Training Centre for Treatment and
Rehabilitation (Kualalumpur), dan ASEAN Training Centre for the
Detection of Drugs in Body Fluids (Singapore). 10 1
100
Ibid
ASEAN Drug Abuse Control, medium-term programme 1996-1998, ASEAN Secertariat
November 1995. h. 3.
101
ASOD memiliki tugas antara lain adalah:102
a. Menyelaraskan
pandangan, pendekatan
dan
strategi dalam
menangani masalah narkotika dan obat-obatan terlarang dan cara
memberantas peredarannya di wilayah ASEAN
b. Mengkonsolidasikan serta memperkuat upaya bersama, terutama
dalam masalah penegakan hukum, penyusun undang-undang,
upaya-upaya preventif melalui pendidilkan, penerangan kepada
masyarakat.
c. Melaksanakan ASEAN policy and Strategies on Drug Abuse
Control sebagaimana telah disetujui dalam pertemuan ASEAN
Drug Experts Ke-8 di Jakarta tahun 1984.
d. Melaksanakan pedoman mengenai bahaya narkotika yang telah
ditetapkan oleh “International Conference on Drug Abuse and
Illicit Trafficking” dimana negara-negara anggota ASEAN telah
berpartisipasi secara aktif.
e. Merancang, melaksanakan, memonitor serta mengevaluasi semua
program dalam menanggulangi masalah narkotika ASEAN.
f.
Mendorong partisipasi dan kerjasama dengan pihak ke tiga dalam
usaha pemberantasan peredaran gelap narkotika.
g. Meningkatkan upaya kearah tercapainya ratifikasi, aksesi dan
pelaksanaan semua ketentuan PBB yang berkaitan dengan masalah
bahaya narkotika.
Diantara sejumlah tujuan yang di utarakan terdapat penetapan
kawasan Asia Tenggara yang bebas narkoba. Ukuran kerjasama untuk
mengatasi masalah yang hanya dapat dipecahkan secara regional
termasuk kejahatan internasional untuk merealisasikan
isi tersebut.
Sejumlah badan dalam ASEAN terlibat baik secara langsung maupun
102
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Deplu RI. Loc.cit h. 173-174.
tidak langsung, melakukan perumusan kebijakan dan inisiatif melawan
kejahatan internasional tersebut. Kebijakan ini meliputi ASEAN
ministerial meeting on Transnational Crime (AMMTC), ASEAN
Finance Ministers Meeting (AFMM), ASEAN Chiefs of National
Police (ASEANAPOL), dan ASEAN Senior Officials on Drugs
Matters (ASOD).
Realisaasi kerjasama ASEAN di bidang penanggulangan
transnational crime dimulai pada saat diselenggarakanya sidang ke-1
para Menteri Dalam negeri ASEAN yang bertanggungjawab terhadap
masalah kejahatan transnational (The First meeting of ASEAN
Ministers of Interior/Home Affairs on Transnatinal Crime) pada
Desember 1997 di Manila. Pertemuan tersebut menghasilkan the
ASEAN Declaration on Transnational Crime yang menegaskan tekad
ASEAN untuk mengadopsi suatu pendekatan komprehensif guna
memerangi kejahatan lintas batas melalui kolaborasi regional yang
lebih baik dan dengan meningkatkan kerjasama internasional. 10 3
Selanjutnya pada sidang yang ke-2 AMMTC, Juni 1999 di
Myanmar, mesahkan ASEAN Plan of Action to Combat Transnational
Crime. Rencana aksi tersebut antaralain berisi mekanisme dan
berbagai kegiatan guna memperluas upaya negara-negara anggota
ASEAN untuk memberantas kejahatan transnational pada level
nasional, bilateral hingga dimensi regional, serta memperkuat
103
ASEAN Declaration on Transnational Crime, The First ASEAN Conference on
Transnational Crime Manila on 18 -12 December 1997
komitmen dan kapasitas regional guna melaksanakan upaya yang telah
diperluas tersebut. Plan of Action ini meletakan suatu strategi regional
yang kohesif untuk memberantas kejahatan transnasional dan meliputi
pertukaran informasi, kerjasama dalam bidang pemberdayaan hukum
dan undang-undang, kapasitas lembaga, pelatihan dan kerjasama
ekstra regional sebagai kunci kegiatan. Upaya regional ini akan
melengkapi dan mendukung upaya bilateral yang dilaksanakan oleh
negara anggota ASEAN. 10 4
Pada sidang ASEAN Finance Ministers pertama, pada tanggal 1
Maret 1997 di Thailand, telah ditandatanganinya ASEAN Agreement
on
Customs.
Persetujuan
ini
merupakan
bagian
dari
upaya
peningkatan kerjasama ASEAN guna menghadapi realisasi AFTA,
bertujuan
meningkatkan
kerjasama
dalam
menangani masalah
narkotika dan obat-obatan terlarang, dan akan memfalisitasi dana
sebagai upaya bersama untuk menangkal penyelundupan dan
pengawasan masyarakat.105
Dibentuknya ASEAN Chiefs of National Police (ASEANAPOL)
yang merupakan forum kepala kepolisian dan berbagai negara
ASEAN patut untuk bekerja dalam hal pencegahan, pemberdayaan
dan aspek operasional kerjasama melawan kejahatan transnasional.
ASEANAPOL
telah
secara
aktif
terlibat
dalam
pertukaran
pengetahuan dan kemampuan dalam hal kebijakan pemberdayaan,
104
105
ASEAN Plan of Action on Drugs Abuse Cntrol, ASEAN Secretariat, January, 1995 h. 21.
Direktorat Jendra Kerjasama ASEAN, Deplu RI. Loc.Cit h 11
hukum, pengadilan penjahat, dan kejahatan transnasional atau
internasional. Badan ini telah menetapkan tiga komisi ad -hoc dalam
menangani perdagangan narkoba, perdagangan senjata, kejahatan
ekonomi dan finansial, kejahatan kartu kredit, ekstradisi dan
penyerahan tersangka pelaku kriminal. Badan ini juga telah mengambil
inisiatif untuk memerangi bentuk baru kejahatan transnasional, seperti
pemalsuan dokumen perjalanan, pemalsuan pengiriman barang, dan
bajak laut. Institusi yang merupakan forum kerjasama antar kepolisian
nasional dari negara-negara ASEAN telah mengembangkan suatu
sistem database yang memungkinkan negara-negara anggotanya untuk
saling bertukar informasi secara cepat dan aman. Disamping itu
diharapkan dapat pula menyediakan berbagai sarana lebih lanjut guna
mengakses sistem komputer pada Sekertariat Jenderal IN ERPOL. 10 6
ASEAN
pengembangan
telah
dalam
mengupayakan
pencegahan
dan
kegiatan
rehabilitasi
kerjasama
narkoba,
pemberdayaan wanita dan mengatasi kekerasan terhadap wanita dan
kejahatan eksploitasi seksual terhadap wanita dan anak-anak. Dengan
perluasan jenis kejahatan transnasional sebagai akses
krisis
finansial, ASEAN harus lebih mengintensifkan upaya dalam melawan
jenis kejahatan transnasional tersebut di atas. Upaya yang sedang
dilakukan untuk membangun rencana kerjasama program kerja dan
proyek kegiatan untuk mengatasi kejahatan transnasional diharapkan
106
Ibid
akan menekan pertumbuhannya di wilayah regional. ASEAN pula
harus meningkatkan kerjasama dengan Dialogue Partners yang telah
berperan secara signifikan dalam arena internasional melawan
kejahatan transnasional.107
Dalam rangka pelaksanaan tugasnya, ASOD mengadakan
pertemuan tiap tahunnya guna membahas strategi kerjasama dalam
menangani kasus narkoba. Luasnya jaringan perdagangan narkoba
yang meliputi jalur produksi, jalur distribusi, dan konsumen
memerlukan kerjasama yang efektif dan data yang akurat, dalam
upaya penanggulangannya. Para pemimpin ASEAN telah menyadari
pentingnya kerjasama dengan negara-negara diluar ASEAN dan
kerjasama dengan masyarakat, dalam hal ini adalah organisasi non
pemerintah dan sektor pribadi. 108
Pada pertemuan ASOD ke-31 yang diadakan di Jakarta ini
dihadiri oleh 103 utusan delegasi yang berasal dari 10 negara, yaitu:
Indonesia,
Brunei Darussalam,
Singapura,
Malaysia,
Myanmar,
Filipina, Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam. Dalam
ini
Indonesia menjadi tuan rumah dan dipilihnya kepala Badan Narkotika
Nasional sebagai Chairman untuk masa jabatan 2009-2010. 1 09
107
Report of The Twenty Third Meeting of The ASEAN Senior Officials on Drugs Matter
(ASOD). Kualalumpur, Malaysia 14 -15 October 2002.
108
Organisasi non-pemerintah yang secara internasional bergerak dalam penceghan,
penyalahgunaan narkoba adalah International Federation of non -Government Organizations for
Drugs and Substancer Abuses (IFNGO).Sedangkan organisasi non-pemerintah atau lembaga
suadaya masyarakat di Indonesia adalah organisasi BERS
A (Badan Kerjasama Pembinaan
Warga Tama).
109
Laporan pertemuan ASEAN Senior Official on Drug Matters (ASO) ke 31, tgl 13-15
Oktober 2010 di Jakarta.
Tema ASOD pada tahun ini adalah The Spirit of Partnership is
the Key to Achieve a Drug -Free ASEAN 2015 , atau dapat diartikan:
semangat kebersamaan merupakan kunci dalam mewujudkan ASEAN
Bebas Narkoba Tahun 2015. Agenda pertemuan akan diawal dengan
pemilihan Chairman dan Vice-Chairman untuk periode 2010 -2011.
Selanjutnya para peserta akan memberikan laporan mengenai hasilhasil
kegiatan
yang
telah
dicapai,
terkait
dengan
rekomendasi pertemuan ASOD ke-30 tahun lalu. Kemudian dalam
working group sessions, para peserta akan saling berdiskusi
dan berbagi pengalaman di negara masing-masing, sesuai dengan
empat bidang prioritas yang ada. 110
Dalam pertemuan ASOD kali ini, pihak Indonesia juga
mendapatkan
kesempatan
untuk
berbagi
pengalaman mengenai
pelaksanaan program Alternative Development (AD) di propinsi Aceh.
Alternative development atau pembangunan alternatif bertujuan untuk
menekan laju peredaran gelap narkoba, khususnya ganja. Pohon ganja
yang banyak ditanam oleh masyarakat, diganti dengan jenis sayursayuran, umb i-umbian serta peternakan kambing, yang dianggap
memiliki nilai ekonomis dan produktif. Melalui program yang telah
dimulai sejak tahun 2006 ini diharapkan masyarakat Aceh tidak lagi
bertanam dan memperdagangkan ganja secara gelap, sehingga dapat
membantu
110
Ibid.
akselerasi
program
Pencegahan,
Pemberantasan
Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba dalam mewujudkan
Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015. 111
Dari uraian di atas diketahui bahwa perkembangan kerjasama
ASEAN dalam menanggulangi lalu lintas perdagangan narkob a,
sebagai salah
satu
aksi kerjasama penanggulangan
transnasional telah berlangsung cukup lama, dan telah
perluasan
arah
kebijakan
yang
lebih
terpola
kejahatan
lui proses
dan
terpadu.
Perkembangan kerjasama ini terjalin melalui berbagai pertemuan
tingk at Kepala Negara Kepala Pemerintahan, pertemuan tingkat
Menteri dan pertemuan tingkat senior official serta pelaksanaan
berbagai program aksi yang melibatkan instansi atau lembaga dan
pakar terkait dari masing -rnasing negara anggota ASEAN.
Dari dimensi perkembangan
kerjasama ASEAN di atas
diperoleh gambaran tentang program aksi dan strategi ASEAN dalam
menangani masalah narkotika dan obat-obatan terlarang.
IV.1.2 Program Perkembangan Aksi ASEAN
Pada sidang ke-17 ASOD tahun 1994 yang berhasil disahkan
melalui ASEAN Plan of Action on Drug Abuse Control yang dijadikan
sebagai landasan terhadap berbagai perkara maupun kegiatan ASEAN
dalam mengatasi masalah lalulintas perdagangan narkoba. Secara
umum, tujuan dan rencana aksi ini adalah untuk menciptakan
111
Ibid
kesadaran mengenai penyebab dan dampak dari penyalahgunaan
narkotika
dan
obat-batan
terlarang.
Sehingga
hal
ini
dapat
menggerakkan keterlibatan individu , kelompok dan masyarakat untuk
mengimplementasikan berbagai program aksi ini yang bertujuan untuk
memberantas pengguna dan permintaan illegal narkotika dan obat-
obatan terlarang.
Tujuan dari rencana aksi diatas dapat dijabarkan sebagai
berikut:11 2
1.
Meningkatkan pengembangan sumberdaya manusia di bidang
penanggulangan masalah narkoba;
2.
Mengembangkan mekanisme untuk meningkatkan peluang
memperoleh pendanaan bagi proyek-proyek terkait;
3.
Meningkatkan
berbagai
program
dan
aktivitas
yang
terintegrasi secara efektif dengan berbagai badan atau institusi
yang relevan di ASEAN;
4.
Mereview kebutuhan data regional tentang penyalahgunaan
dan perdagangan gelap narkoba;
5.
Mengintensifkan kerjasama dengan berbagai negara (di luar
ASEAN) serta organisasi internasional dalam menanggulangi
masalah narkoba;
6.
Memfasilitasi Ratifikasi Awal (Early Ratification ) dan
implementasi semua konvensi PBB yang relevan dalam
menanggulangi masalah narkotika dan zat-zat psikotropika;
7.
Meningkatkan kapasitas riset , monitoring dan evaluasi drug
control programmes di kawasan Asia Tenggara;
112
ASEAN Plan of Action on Drug Abuse Control, ASEAN Secretariat Website:
www.aseansec.org/function/paasod1.htm di akses pada tanggal 22 Desember 2010.
8.
Meningkatkan
peranan
LSM
dalam
pencegahan
dan
penanggulangan masalah narkoba;
Sementara itu program dan prioritas utama dari kerjasama
ASEAN yang digariskan dalam rencana aksi tersebut meliputi empat
kegiatan: Pendidikan pencegahan penyalahgunaan narkoba, perawatan
dan rehabilitasi, pemberdayaan dan penelitian. Dalam pendidikan
pencegahan dan informasi, berbagai workshop mengenai pendidikan
narkoba untuk para guru dan penyusun kurikulum dan penelitian
komparatis mengenai pendidikan dan pencegahan telah diadakan.
Kegiatan
kerjasama
dalam
pemberdayaan
hukum
mencakup
pertukaran informasi mengenai trends, modus operandi dan jalur
perdagangan narkoba.
Negara -negara anggota ASEAN juga secara regular telah
melaksanakan program pertukaran personil yang berkaitan dengan
perawatan dan rehabilitasi pada tingkat operasional, hal ini terdapat
empat training centre dalam pelaksanaan program-program yang
disebutkan di atas yaitu: ASEAN Training Centre for Narcotics Law
Enforcement (Bangkok), ASEAN Training Centre for Preventive Drug
Education (Manila), ASEAN Training Centre for Treatment and
Rehabilitation (Kuala Lumpur), ASEAN Training Centre for the
Detection of Drugs in Body Fluids (Singapore).1 13
113
ASEAN Drug Abuse Control, Medium-term Programme 1996 -1998 dalam ASEAN
Secretariat website: www.aseansec.org. diakses pada tanggal 22 Desember 2010.
ASEAN juga telah mengupayakan pengembangan program aksi
pencegahan dan rehabilitasi korban narkoba melalui peningkatan dan
perluasan
kerjasama
di antara
organisasi pemerintah
dengan
organisasi non-pemerintah dan kerjasama diantara sesama organisasi
non-pemerintah di masing-masing negara. Pengembangan program
aksi pencegahan dan rehabilitasi korban narkoba di Indonesia
dikoordinasikan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN).
IV.1.3 Perkembangan Strategi Kerjasama ASEAN
Dari deskripsi Arah Perkembangan Kebijakan ASEAN dan
Perkembangan Program Aksi ASEAN dalam menangani masalah
narkoba dan obat-obatan terlarang di atas diketahui bahwa strategi
pendekatan
yang
digunakan
adalah
strategi
Comprehensive Multidisciplinary Outline (CMO).114
pendekatan
Dimana pada
tahun 1985, ASEAN turut mensponsori resolusi PBB no. 4
2
mengenai perlunya untuk mengadakan suatu konferensi Dunia pada
tingkat Menteri mengenai penyalahgunaan narkoba dan peredaran
ilegalnya, International Conference on Drug Abuse and Illicit
Trafficking (ICDAIT) pada akhirnya berhasil diselenggarakan di
Wina, Austria pada tahun 1987 dan menghasilkan salah satu
kesepakatan penting yaitu Comprehensive Multidisciplinary Outline
(CMO) kesepakatan tersebut menekankan pentingnya pendekatan
114
ASEAN Plan of Action on Drugs Abuse Control, ASEAN Secretariat, January, 1995
dalam ASEAN Secretariat website: www.aseansec.org. diakses pada tanggal 22 Desember 2010.
yang berimbang antara faktor pencegahan, perawatan dan rehabilitasi
para
pecandu
kebijaksanaan
obat-obatan
terlarang.
Baik
maupun tindakannya dengan
dalam
pembuatan
upaya mengu rangi
persediaan atau pasokan narkoba dan perdagangan gelapnya. Disisi
yang lain, strategi pendekatan ini dapat dikatakan sebagai strategi
pendekatan yang menyeluruh menggunakan berbagai cara sumberdaya
dan diselenggarakan dengan pola kerjasama yang terarah.11 5
Strategi ini juga sebagai suatu konsep pendekatan teknis
operasional
yang
dilakukan
berdasarkan
analisis
sumber
permasalahan, fenomena dan dampak permasalahan serta analisa
solusi permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai tampaknya
menjadi penting untuk dikedepankan. Dengan demikian
arah
kebijakan yang ditetapkan menjadi lebih jelas untuk ditempuh. Serta
kerjasama ASEAN dalam penanggulangan lalu lintas perdagangan
narkoba akan menjadi efektif bila diselenggarakan dengan strategi
pendekatan yang tepat, cermat dan terintegrasi ke seluruh sektor dan
tingkatan.
Strategi yang demikian itu teridentifikasi dari arah kebijakan
yang memperluas jalan dimana negara anggota dapat bekerja lebih
dekat dengan lembaga dan organisasi yang relevan dalam dialogue
partner negara-negara dan negara internasional lainnya. Termasuk
115
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Deplu RI “Kerjasama ASEAN dalam
menanggulangi kejahatan transnational” 2000. h. 181.
PBB dan lembaga khususnya Colombo Plan Bureau , Interpol dan
lembaga lainnya untuk mem erangi kejahatan transnasional.
Disamping itu, dipandang perlu kerjasama dan koordinasi lebih
dekat dengan Badan -badan ASEAN lainnya seperti ASEAN Law
Ministers and Attorneys-General, ASEAN Chiefs of National Police,
ASEAN Finance Ministers, Director-General of lmigration dan
Director-General of Customs dalam penyelidikan, penangkapan dan
rehabilitasi. Dan yang lebih penting lagi, ASEAN memandang penting
peranan organisasi non -pemerintah dalam kerjasama pencegahan
penyalahgunaan narkoba serta kerjasama rehabilitasi terhadap korban
penyalahgunaan narkoba. Organisasi non-pemerintah yang secara
internasional bergerak dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba
antara
lain
International
Federation
of
Non -Government
Organizations for Drugs and Substances Abuses (IFNGO). 11 6
Keberadaan organisasi non-pemerintah atau lembaga swadaya
masyarakat Indonesia di dalam federasi ini diwakili oleh organisasi
BERSAMA (Badan Kerjasama Pembinaan Warga Tama). Organisasi
ini berfungsi sebagai forum kerjasama bagi seluruh organisasi atau
lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pencegahan
penyalahgunaan narkotika serta organisasi atau lembaga yang
bergerak
dalam
bidang
penyembuhan
korban
penyalahgunaan
narkoba. Dari kebijakan ASEAN dalam melakukan kerjasama tersebut
116
Ibid h. 8.
yang telah di terangkan di atas dapat di gambarkan dalam tabel di
bawah ini:
Tabel IV.1.3.1
Pekembangan Kebijakan kerjasama ASEAN dalam
menangani masalah Drugs Trafficking
No. Pertemuan
1. Manila, Philipina 26
Juni 1976
Kerjasama
Hasil Kerjasama
ASEAN Ministerial Meeting Di tandatanganinya
ASEAN Declaration of
Principles to Combat the
Abuse of Narcotic Drugs
2. Pada tahun 1981
ASEAN Ministerial Meeting Di bentuk ASEAN Drugs
Experts
3. Pada sidang tahunan ASEAN Drugs Experts
yang ke-8 di Jakarta mengubah namanya
tahun 1984
Menjadi ASEAN Senior
Officials on Drug Matters
(ASOD)
4. Pada sidang ASOD
yang ke-17 Oktob er
1994
ASEAN Plan of Action
Drugs Abuse Control
Menghasilkan rencana
kegiatan meliputi empat
kegiatan utama:
pendidikan pencegahan
penyalahgunaan narkoba,
perawatan dan rehabilitasi,
pemberdayaan dan
penelitian.
5. Pada pertemuan
AMM Juli 1998
Join Declaration for A
Drug -Free ASEAN
Kerjasama ASEAN ini
difokuskan pada empat
bidang kegiatan:
- preventif education
- treatmen and
rehabilitation,
- law enforcement,and
- research
6. Pada tanggal 1 Maret ASEAN Finance Ministerial Persetujuan ini merupakan
1997
meeting
bagian dari upaya
peningkatan kerjasama
menand atangani
ASEAN guna menghadapi
realisasi AFTA, tujuannya
ASEAN Agreement on
untuk meningkatkan
Custom
kerjasama dalam
memerangi perdagangan
narkoba.
7. Pada tanggal 20
Desember 1997
The ASEAN Minister of
Interior/Home Affairs
Di tandatanganinya
ASEAN Declaration on
Transnational Crime dan
Untuk memperjelas arah
menghasilkan keputusan
kebijakan dalam
ASEAN berupa
merealisasikan visi ASEAN. pendekatan komprehensif
untuk melawan kejahatan
transnasional.
8. Pada sidang AMMTC ASEAN Plan Of Action to
ke 2 Juni 1999 di
Combat Transnational
Myanmar
Crime
9. Pada tanggal 24-25
Juli di Manila 1998
Joint Cmmunique the 31st
ASEAN Ministerial
Meeting (AMM)
Menetapkan mekanisme
dan kegiatan untuk
menambah upaya Negara
anggota ASEAN untuk
memerangi kejahatan
transnasional pada level
nasional.
Ditandatanganinya Treaty
of Amity and Cooperation
(TAC)
Penerapan prinsip non
intervensi.
10. KTT IX ASEAN di
Bali 2003.
Menciptakan komunitas
keamanan yang terintegrasi
dimana tidak ada lagi
hubungan kekerasan
berskala besar diantara
anggotanya
Deklarasi Bali Concord II
2003
- ASEAN Security
Community
- ASEAN Sosio Cultural
Community
- ASEAN Economic
Community
11. Pada KTT ASEAN
ke-10 di Laos tahun
2004
Disepakati Vientiane Action Salah satu intinya
Programme (VAP)
menegaskan kembali
tekad negra-negara anggta
ASEAN untuk
mewujudkan Kawasan
ASEAN Bebas Narkoba
2015.
12. KTT XIII ASEAN di Merupakan transformasi
Singapura 2007.
ASEAN untuk dapat
menjadi organisasi yang
lebih efektif dan dinamis
serta lebih mengakar ke
bawah (people center
organization ).
-Dita ndatanganinya
Piagam ASEAN yang
terdiri dari : Pembukaan,
13 Bab dan 55 Pasal
13. Pada sidang ke-30
ASOD, tanggal 30
Oktober 2009 Phnom
Penh, Kamboja
Indonesia dengan negara
Worl Plan tersebut
anggota ASEAN
merupakan suatu
mengesahkan ASOD Work komitmen kuat ASEAN
Plan on Combating Illicit dalam memerangi bahaya
Drug Manufacturing
Narkoba dan merupakan
Trafficking and Abuse (2009 wujud implementasi
-2015)
ASEAN Socio Cultural
Blueprint Element B6.
Ensuring a drug -free serta
merupakan indikator
kualitatif ASEAN Drugs
Free 2015.
14. Pada sidang ke-31
ASOD, tanggal 13
Oktober 2010 di
Jakarta
Pertemuan telah
menyepakati tiga hal dasar
sebagai priority benchmark
pelaksanaan ASOD Work
Plan
-illicit manufacturing and
trafficking of drugs and
drug -relate crime
-the prevalence of illicit
drug use, dan
-illicit crop cultivation
Pertemuan ASOD ini juga
telah menyepakati untuk
meneruskan kerjasama
ASEAN -China
Cooperative Operations in
Response to Dangerous
Drugs (ACCORD)
Sumber: Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Nindasari Utomo Direktorat
Kerjasama Fungsional ASEAN Kementrian Luar Negeri Indonesia 25 Januari 2011
IV.2 Implementasi Kerjasama dalam Menangani Masalah Narkotika dan
Obat -obatan Terlarang di Indonesia
Implementasi kerjasama dalam menangani masalah narkoti
dan
obat-obatan terlarang khususnya di Indonesia ini sangat penting untuk
diketahui, karena dari implementasi ini dapat diketahui bagaimana upaya
Indonesia
dalam
menangani
masalah
obat-obatan
terlarang.
Dari
implementasi kerjasama ini juga akan diketahui sejauhmana efektifitas
kerjasama ASEAN dalam mengurangi drugs trafficking di Indonesia. Salah
satu solusi yang efektif untuk mengatasi masalah narkotika dan obat-obatan
terlarang di Indonesia adalah dengan ditingkatkanya penegakan hukum (law
enforcement ) secara tegas dan konsisten.
Situasi narkoba di Indonesia yang semakin memperihatinkan membuat
pemerintah berusaha keras untuk mewujudkan Indonesia Bebas Narkoba
2015 dengan berbagai langkah dan tindak pencegahan dengan program
pedoman pencegahan pemberantasan dan peredaran gelap narkoba.
Kemudian BNN telah menetapkan visi “Terwujudnya Masyarakat Indonesia
Bebas dari Penyalahgunaan Narkoba dan Peredaran Gelap Narkoba Tahun
2015” visi ini selaras atau sebagai wujud komitmen dari negara-negara
ASEAN yaitu “ASEAN Bebas Narkoba 2015”. 117
Badan yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No.17 tahun
2002, Badan Narkotika Nasional mempunyai misi dan tugas pokok serta
fungsinya yaitu dengan mengkoordinasikan instansi pemerintah terkait
117
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, ADVOKASI Pencegahan Penyalahgunaan
Narkoba. 2009. h. 107 .
dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan dibidang ketersediaan,
pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap
narkotika,
psikotropika,
precursor
dan
bahan
adiktif
lainya
serta
mengoprasionalkan satuan tugas-tugas melalui komunikasi, informasi dan
edukasi, pengadilan dan pengawasan, penegakan hukum, treatment dan
rehabilitasi untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang bebas dari
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba tahun 2015. 118
Implementasi dalam mewujudkan pemberantasan penyalahgunaan dan
peredaran gelap narkoba, diarahkan pada prioritas kegiatan:
a. Dalam pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran
gelap
narkoba
dilakukan
dengan
pendekatan
komprehensif
multidimensial.
b. Membangkitkan dan memberdayakan segala potensi masyarakat,
bangsa dan negara untuk bersatu padu membangun komitme
menyatakan perang terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap
narkoba.
c. Pelibatan segenap potensi masyarakat, bangsa dan negara diarahkan
untuk membangun daya tangkal dan daya cegah berbasiskan
masyarakat.
d. Menghilangkan
pandangan
bahwa
penyalahgunaan
narkoba
merupakan aib keluarga dan menjadikan konsep sebagai musibah yang
harus dicegah dan disembuhkan melalui proses treatment dan
rehabilitasi.
e. Pelibatan media massa, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
sangat dibutuhkan dalam upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
118
Ibid. h. 108 .
f.
Pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia, sarana dan
prasarana
sangat
diperlukan
dlam
upaya
meningkatkan
profesionalisme.
g. Pelaksanaan penegakan hokum harus dilakukan secara tegas sungguhsungguh konsisten sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan
peraturan-peraturan yang berlaku.
h. Melakukan penelitian dan pengembangan sebagai basis pelaksanaan
program
pemberantasan, penyalahgunaan, dan
peredaran
gelap
narkoba (P4GN) serta pembangunan system pelayanan informasi
berbasiskan teknologi.
i.
Melaksanakan kerjasama internasional baik bilateral dan multilateral
dalam upaya-upaya pencegahan pemberantasan maupun treatment dan
rehabilitasi.
Khusus untuk masalah hubungan dan kerjasama di kawasan ASEAN
sudah terjalin sangat baik, dimana dalam forum seperti ASOD (ASEAN
Senior Officials On Drugs Matters), ACCORD (ASEAN-China Cooperative
Operations in Response to Dangerous Drugs) dan forum -forum lainya telah
menunjukkan komitmen dan upaya yang kuat untuk mewujudkan “ASEAN
Bebas Narkoba Tahun 2015”.
Peran serta masyarakat ini sangat penting seperti keterlibatan
masyarakat yaitu organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dan keluarga.
hal ini sudah cukup baik, akan tetapi masih terbatas di kota-kota besar,
sementara itu berbagai fakta menunjukkan narkoba sudah masuk pedesaan,
oleh karena itu sosialisasi tentang bahaya narkoba harus menyentuh ke
lapisan masyarakat bawah.
Bidang penegakan Hukum juga tidak kalah penting, hal ini masih
terdpat berbagai kelemahan, dari aspek regulasi belum
iki UU tentang
prekursor dimana masih terbatasnya pada peraturan menteri dengan berbagai
kelemahan, dari aspek implementasi penegakan hukum masih dirasakan
kelambanan proses waktu yang cukup lama, dan aspek moral para penegak
hukum yang masih banyak kurang serius dalam proses penegakan hukum.
Aspek sarana prasarana sumber dana, teknologi, dan juga sumber daya
manusia masih terbatas. Sebagai contoh masih sulitnya
melaksanakan
Alternative Development ganja di Nanggroe Aceh Darussalam. Aspek
kelembagaan kualitas organisasi BNN masih perlu ditingkatkan dalam artian
BNN masih bersifat lembaga forum, bahkan komitmen dari sebagian pejabat
anggota BNN masih sulit untuk melakukan koordinasi, dan sering samasama bekerja akan tetapi sulit untuk berkerjasama.
Hal yang sedang dilakukan untuk mengefektifkan kerjasama dalam
memberantas
narkoba yaitu
dalam
aspek
kelembagaan.
Berdirinya
kelembagaan BNN dari Keppres 17/2002 telah berubah menjadi Perpes
83/2007, aspek regulasi telah dilakukan Amandemen Undang-undang
No.22/1997 tentang narkotika draft ini sedang dibahas
pensus DPR,
aspek sosialisasi berbagai nota kerja sama MoU dengan berbagai lemen
Bangsa seperti PLN, Pertamina, Kowani, Seniman. Hal in diharapkan dapat
membantu untuk menggelorakan kepedulian semua lapisan masyarakat
untuk
menyatakan
perang
terhadap
narkoba.
Program
Alternative
Development juga telah melakukan perancangan untuk melaksanakan
program Alternative Development tanaman ganja di Aceh dengan meminta
bantuan UNODC dan juga pengajuan anggaran ke DPR. 119
Hasil dari analisis wawancara penulis dengan maya ia mengatakan
bahwa implementasi kerjasama ASEAN dalam menangani masalah
narkotika dan obat-obatan terlarang jelas tidak akan efektif bila tidak
didukung oleh kebijakan dan strategi penanggulangan oleh negara yang
menjadi negara anggota ASEAN khususnya Indonesia. Dengan demikian
Indonesia perlu suatu Badan Nasional yang bertugas dan mempunyai fungsi
untuk merumuskan arah kebijakan, program aksi dan strategi dalam
menangani masalah obat-obatan terlarang di Indonesia. Hal ini dapat
dijadikan panduan oleh seluruh instansi dan lembaga pemerintahan serta
organisasi non -pemerintah yang berperan dan terkait dalam upaya
menangani masalah obat-obatan terlarang yang sangat kompleks, berkolerasi
dengan banyak faktor, dan menyentuh berbagai aspek kehidupan, terutama
aspek-aspek kehidupan generasi muda selanjutnya.
IV.3 Hambatan Kerjasama ASEAN dalam Menangani masalah Narko
dan Obat-obatan terlarang
Isu drugs trafficking di Kawasan Asia Tenggara merupakan ancaman
yang harus diselesaikan oleh ASEAN sebagai organisasi tertinggi
i
kawasan. Akan tetapi, sebagai organisasi yang beranggotakan negara-negara
di Kawasan Asia Tenggara tentunya ASEAN masih mengalam beberapa
119
Wawancara KASUBDIT Kerjasama Regional dan Internasional, Badan Narkotika
Nasional, 9 Februari 2011.
hambatan dan tantangan seperti, kurangnya komitmen dari negara-negara
anggota ASEAN sendiri dalam hal penanggulangan masalah drugs
trafficking , lalu permasalahan dana yang menghambat proyek ASEAN
dalam memberantas drugs trafficking , serta faktor-faktor lainnya seperti
faktor geografis Asia Tenggara sendiri.
IV.3.1 Kurangnya komitmen dari Negara -negara Anggota
Meskipun dalam berbagai KTT dan pertemuan -pertemuan
ASEAN lainny, isu drugs trafficking sudah menjadi agenda prioritas,
akan tetapi dalam perkembangannya masih terdapat beberapa negara
yang
cenderung
belum
sepenuhnya
berkomitmen
terhadap
penyelesaian serta penanggulangan isu ini. Sebagi contoh misalnya,
saat negara-negara Asia Tenggara lainnya mendeklarasikan diri
untuk menjadikan isu drugs trafficking sebagai ancaman negara dan
ancaman kawasan, Myanmar sebagai negara utama penghasil opium
tidak pernah menganggap isu ini sebagai sebuah ancaman.1 20
Terkait dengan pandangan Myanmar yang berbeda dengan
negara-negara ASEAN lainnya, tentu kita harus menganalisa kondisi
internal negara tersebut. Myanmar merupaka salah satu
yang
jika dilihat pertumbuhan ekonominya jauh dibawah negara-negara
120
lain di Asia Tenggara seperti malysia, Singapura, Thai
dan
Indonesia sendiri. Kemudian setatus Myanmar sebagai sa
satu
Hasil wawancara dengan, Nindasari Utomo. Direktorat Jendral Kerjasama Fungsional
ASEAN, Kementrian Luar Negeri Indonesia 25 Januari 2011.
negara penghasil opium terbesar di dunia secara tidak langsung
mengindikasikan bahwa hasil dari produksi dan penjualan opium
tersebut menjadi pemasukan negara. Selain itu, mayoritas warga
Myanmar yang bekerja sebagai petani bisa jadi memilih
opium karena memberikan keuntungan lebih. Dengan kata
fenomena yang terjadi di Myanmar dipengaruhi oleh faktor politik
internal Myanmar dan hal ini tentunya juga memberikan
ikasi
terhdap stabilitas kawasan secara keseluruhan. Oleh ka
itu,
ASEAN sebagai organisasi tertinggi di Asia Tenggara bagaimanapun
juga harus berperan lebih intensif guna mengatasi permasalahan ini.
Kurangnya komitmen dari negara-negara ASEAN lainnya juga
tercermin dalam hal kontribusi dana pada beberapa kerjasama
eksternal ASEAN yang ada. Misalnya, Malaysia dan Laos. Saat
semua negara ASEAN memberikan sumbangan dana untuk proyekproyek yang akan dijalankan, kedua negara ini tidak memberikan
sedikitpun kontribusi dana. Hal ini tentu saja memberi dampak bagi
ekspektasi serta postur kerjasama itu sendiri karena j
terdapat
beberapa negara yang tidak menunjukkan komitmennya terhadap
suatu permasalahan tentunya berimplikasi pada totalitas negaranegara lain yang ada dalam suatu kerjasama tersebut. Sehingga,
progress yang diharapkan tentunya juga akan terhambat.
IV.3.2 Permasalahan Dana (Fund)
Permasalahan klasik lainnya yang menjadi penghambat dalam
kelancaran proyek-proyek maupun program -prgram ASEAN terkait
dalam penanggulangan drugs trafficking adalah kurangnya dana.
Meskipun ASEAN telah memiliki ASEAN Fondation dan skema cost
sharing sebagai alternative pendanaan, akan tetapi banyaknya
program dan proyek ASEAN terkait berbagai ancaman pembenahan
membuat dana yang didapat untuk program penanggulangan drugs
trafficking masih terbilang minim. Oleh karena itu, ASEAN masih
sangat mengandalkan bantuan dana dari mitra wicara ASEAN. 121
Permasalahan dana ini semakin menjadi beban, alasanya adalah
ASEAN sebagai organisasi tertinggi dikawasan Asia Teng
dianggap semakin tidak memiiki kapabilitas dalam menanggulangi
suatu permasalahan. Terlebih lagi banyaknya draft proyek yang
dirumuskan dari setiap pertemuan baik ditingkat mentri maupun
hingga di level pejabat senior semakin mengasumsikan bahwa
penggunaan dana ASEAN terkesan jauh dari efektifitas dan efisiensi.
IV.3.3 Hambatan dari Faktor Geografis ASEAN
Dalam
permasalahan
drugs trafficking di kawasn Asia
Tenggara, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan permasalahan
ini semakin kompleks dan berkembang menjadi permasalahan baru.
121
Ibid
Pada dasarnya, letak geografis kawasan Asia Tenggara yang strategis
dan mudah mencapai kawasan lain meelalui jalur laut seperti
Ketimur Tengah, Jepang dan Australia. Kondisi geografis ini
menyebabkan kawasan Asia Tenggara menjadi wilayah transit yang
strategis terkait peredaran illegal narkotika. Tidak hanya itu, adanya
kawasan sub regional seperti halnya Greater Mekong Sub -region
telah menjadi jalur maupun tujuan perdagangan obat-obatan illegal
itu sendiri dan jalur ini memberi jalan bagi drug trafficker untuk
memasarkannya ke pasar internasional. 122
Dalam dimensi regional, lemahnya manajemen perbatasan ntar
negara-negara Asia Tenggara juga dimanfaatkan oleh para drug
trafficker untuk menyelundupkan serta mendistribusikan drugs
tersebut. Seperti yang kita ketahui, konflik perbatasan merupakan
ciri dari dinamika keamanan Asia Tenggara. Kondisi ini tentunya
akan menunjang aktifitas drugs trafficking karena situasi konflik
yang cenderung dimaksimalkan
oleh
para pelaku
kejahatan
transnasional.
Masalah lain juga timbul karena kebanyakan negara-negara
Asia Tenggara mengadopsi konsep keamanan tradisional untuk
menyelesaikan masalah drugs trafficking seperti memberantas
sumber produksi dan peredaran hingga melewati batas kedaulatan
sebuah negara atau melewati perbatasan antar negara. Kondisi ini
122
Yasmin sungkar, dkk. Isu -isu keamanan Strategis Dalam Kawasan ASEAN , Jakarta: LIPI
Press, 2008. h. 83.
menyebabkan munculnya permasalahan baru karena negara yang
teritorialnya diganggu cenderung akan merespon pihak yang
mengganggu kedaulatan batas wilayah mereka. Karena masalah
peredaran obat-obatan terlarang sebagai bagian dari kejahatan
transnasional (transnational crime) dilihat sebagai isu keamanan.
Menurut Alan Dupont,123 hal di atas didasarkan atas empat
proposisi
diantaranya:
Pertama ,
kegiatan -kegiatan
kejahatan
transnasional dapat menjadi ancaman langsung terhadap
politik suatu negara karena kapasitas dari kegiatan -kegiatan tersebut
mampu melemahkan otoritas dan legitimasi pemerintahan di suatu
negara. Kedua , adalah menurutnya legitimasi dan otoritas negara
tersebut akan menyebabkan maraknya tindakan korupsi yang
merupakan bagian dari strategi aktor-aktor kejahatan transnasional
untuk mempertahankan bisnis ilegal mereka. Hal ini pada giliranya
menimbulkan ancaman di bidang ekonomi. Ketiga , meningkatnya
kekuatan koersif dari sindikat kejahatan tersebut, pada tingkat
internasional, dapat juga mengancam norma-norma dan berbagai
institusi yang berperan untuk menjaga tatanan global. Keempat ,
kejahatan transnational tersebut juga dapat menghadirkan ancaman
yang bersifat militer terutama jika berkaitan dengan kegiatankegiatan dari berbagai kelompok pemberontakan internal di dalam
negara. Tidak hanya itu, permasalahan drugs trafficking sebenarnya
123
Alan Dupont, “Transnational Crime, Drugs and Security in East Asia ”. dalam Jurnal
Asian Survey, Vol.XXXIX No.3 May/june. 1999, h. 440 .
merupakan isu yang bersifat jangka panjang bagi kawasan Asia
Tenggara. Dilihat dari sejarahnya, ancaman serta peredaran
narkotika terus meningkat dan masih menjadi permasalahan bersama
sejak berakhirnya perang dingin hingga sekarang dan akan terus
berlanjut.12 4
124
Ibid h. 434.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan dan Saran
Dari uraian yang terdapat dalam bab -bab sebelumnya mengenai
kebjakan ASEAN dalam menangani masalah drugs trafficking di Indonesia
periode 2003 -2008 dapat ditarik suatu kesimpulan antara lain:
Masalah perdagangan, peredaran dan penyalahgunaan narkoba sebagai
salah satu bentuk kejahatan transnasional yang sedang
dapat sorotan baik
dari masyarakat internasional maupun nasional, hal ini tidak terlepas dari
kenyataan bahwa the goden triangle merupakan salah satu penghasil narkoba
terbesar di Asia Tenggara. Dengan keberadaan golden triangle di perbatasan
Thailand, Myanmar, Laos. Segitiga emas menghasilkan 60 persen opium dan
heroin di dunia, dengan jumlah penduduk ASEAN mencapai 500 juta jiwa
menjadikan wilayah ini bukan saja sebagai wilayah produksi terbesar namun
juga sebagai wilayah dan pasar yang cukup potensial bagi para pengguna
narkoba.
Penulis
menemukan
pemahaman
tentang
permasalahan
drugs
trafficking . Pada dasarnya masalah drugs trafficking ini dapat dibagi menjadi
tiga bagian yang saling berkaitan: pertama masalah produksi obat secara
illegal, kedua perdagangan secara illegal, ketiga penyalahgunaan obat-obatan
terlarang.
Produksi
obat-obatan
secara
illegal
itu
melalui
proses
pembudidayaan dimana tanaman yang menjadi bahan baku utama untuk
pembuatan obat-obatan berbahaya hingga bahan baku tersebut siap untuk
diperdagangkan dan dikonsumsi. Perdagangan illegal merupakan segala
kegiatan pasca panen maupun paca pengolahan hingga sampai ke tangan para
pengguna (customers) yang meliputi aktifitas pengangkutan, penyelundupan,
dan perdagangan obat-batan terlarang tersebut. Sedangkan Drugs Abus
merupakan mata rantai terakhir dari masalah narkoba, yaitu penggunaan obatobatan berbahaya oleh konsumen yang tidak sesuai dengan kaidah kesehatan
yang berdampak serius diakibatkan oleh penyalahgunaan
seperti
meningkatnya tingkat kejahatan dan tindak kekerasan, serta memburuknya
kondisi kesehatan sehingga rentan terhadap berbagai penyakit seperti
HIV/AIDS dan hepatitis.
Secara umum fenomena peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang
terbagi menjadi tiga bagian yang di sebutkan di atas. Hal ini disinyalir
merupakan ancaman keamanan terhadap sistem internasional diantara negaranegara
yang
terkait
dalam
proses
produksi,
perdagangan,
dan
penyalahgunaan. Ancaman tersebut sesungguhnya bersifat multidimensial
artinya dilihat dari berbagai dimensi yaitu: dimensi politik, dimensi ekonomi,
dimensi sosial, dimensi budaya, dimensi kesehatan, dimensi penegak hukum,
dan dimensi keamanan nasional.
Fenomena kejahatan transnasional yang kian meningkat merupakan
ancaman non konvensional, pada saat ini telah menjadi
ian utama
negara-negara ASEAN. Hal ini adalah wajar karena jenis kejahatan ini tidak
mengenal batas-batas kedaulatan.
Selanjutnya dalam analisis, penulis menyimpulkan bahwa Kerjasama
ASEAN dalam menangani masalah drugs trafficking dapat dipandang sebagai
suatu proses pelaksanaan kebijakan bersama bangsa-bangsa di Asia Tenggara.
Kebijakan tersebut adalah:
Pada tahun 1981 dibentuk ASEAN Drug Experts sebagai subkomite
dibawah Cominttee On Social Development (COSD) dan Narcotic Desk
Disekertariat ASEAN. ASEAN Drug Experts berubah menjadi ASEAN
Senior Official on Drug Matters (ASOD). Tugas ASOD antara lain adalah
menyelaraskan pandangan, pendekatan dan strategi dalam menangani
masalah drugs trafficking .
ASEAN Plan of Action Drugs Abuse Control meliputi empat kegiatan
utama: pendidikan, pencegahan penyalahgunaan narkoba, perawatan dan
rehabilitasi, pemberdayaan dan penelitian.
Guna merealisasikan visi ASEAN 2020, maka melalui The ASEAN
minister of interior/home Affairs pada tanggal 20 Desember 1997 dan
dihasilkan ASEAN Declaration on Transnational Crime, yang menghasilkan
keputusan ASEAN berupa pendekatan komperhensif untuk melawan
kejahatan
transnasional
melalui
kolaborasi
regional
dan
kerjasama
internasional.
Khusus untuk melakukan tindakan -tindakan kepolisian yang dianggap
penting dalam memerangi kejahatan transnasional di bentuk ASEAN Chiefs of
National
Police
(ASEANAPOL)
bekerja
dalam
hal
pencegahan,
pemberdayaan
dan
aspek
operasional kerjasama
melawan
kejahatan
transnasional.
Impementasi kerjasama dalam menangani masalah drugs trafficking di
Indonesia pada umumnya berbasiskan pada tindakan penegakan hukum
terhadap para pengedar narkoba yang menggunakan jalur darat, laut dan
udara serta terhadap penyalahgunaan narkoba. Untuk penegakan hukum ini
Indonesia mempunyai perundang-undangan sendiri. Bukan hanya itu
implementasi kerjasama ini juga difokuskan pada upaya
mbasm ian
terhadap penanaman ganja di Aceh.
Fokus implementasi kerjasama dalam menangani drugs trafficking ini
dilakukan dengan cara mengadakan kegiatan pendidikan pencegahan,
penyembuhan dan rehabilitasi terhadap para penyalahguna narkoba, terutama
dikalangan remaja dan pelajar. Untuk mengefektifkan
kegiatan
ini,
pemerintah di Indonesia harus melibatkan peran serta masyarakat, terutama
lembaga-lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan dan lingkungan
kerja. Di Indonesia juga terdapat suatu badan atau lembaga nasional yang
secara fungsional bertugas merumuskan kebijakan nasionalnya. Kerjasama
bilateral, regional, dan internasional dilakukan oleh
nesia guna
memperluas penggalangan sumber daya plitik, sumber daya ekonomi, dan
sumber daya teknologi untuk meningkatkan afektifitas dalam menangani
masalah narkoba dan obat-obatan terlarang.
ASEAN sebagai organisasi tertinggi di kawasan Asia Tenggara
tentunya masih mengalami beberapa hambatan dan tantangan
dalam
menangani masalah drugs trafficking seperti, kurangnya komitmen dari
negara-negara anggota ASEAN sendiri dalam hal penanggulangan
drugs trafficking , lalu permasalahan dana yang menghambat proyek ASEAN
dalam memberantas drugs trafficking , serta faktor-faktor lainnya seperti
faktor geografis Asia Tenggara sendiri.
Singkatnya, penulis menyarankan bahwa bahaya penyalahgunaan
narkotika dan obat-obatan terlarang yang sudah banyak meracuni ini.
Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk mengambil langkah-langkah
pencegahan, penyalahgunaan narkotika dan ob at-obatan terlarang. Bukan
hanya pemerintah, tapi juga sektor swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat,
kalangan masyarakat seperti tokoh -tokoh masyarakat, pemuka agama
diharapkan juga ikut dalam upaya menangani masalah narkotika dan obatobatan terlarang. Dengan demikian upaya-upaya yang telah dilakukan
pemerintah
penyuluhan,
Indonesia
tapi
tidak
juga
saja
mencakup
hanya
bersekala
kerjasama
domestik
regional
dan
seperti
bahkan
internasional. Tujun utamanya adalah untuk menangani masalah narkotika
dan obat-obatan terlarang.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
ASEAN Selayang Pandang 2000, Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN
Departemen Luar Negeri, Jakarta 2000.
ASEAN Selayang Pandang Edisi Ke-19, Tahun 2010, Direktorat Jenderal
Kerjasama ASEAN Departemen Luar Negeri, jakarta 2010.
Al-Banjary, Syaefurrahman. Hitam Putih Polisi dalam Mengungkap Jaringan
Narkoba . Jakarta: Restu Agung dan PTIK Press, 2005.
Buzan, Barry, Ole Waever, and Jaap de Wilde. Security: A New Frmaework for
Analysis, London: Boulder, 1998
Bandoro, bantarto. Agenda dan Penataan Keamanan di Asia Pasifik. Jakarta,
CSIS, 1996.
Bandoro, bantarto. “ ASEAN dan Tantangan Suatu Asia Tenggara” Jakarta, CSIS,
1997.
Craig A Snyder. Contemporary Security and Strategy. Palgrave: Little Brown &
CO, 1968.
Cipto, Bambang. Hubungan Internasional di Asia Tenggara “Teropong Terhadap
Dinamika, Kondisi Riil dan Masa Depan” Yogyakarta: Pustaka Pelajar
2007.
Chalk, Peter. Grey Area Phenomena in Shoutheast Asia: Piracy, Drugs
Trafficking and Political Terorism. The Australian National University,
Canberra. 1997.
Dam,
Sjamsumar dan Riswandi. Kerjasama ASEAN: Latar Belakang,
Perkembangan dan Masa Depan. Jakarta: Ghalia Indonesia 1995.
Direktorat Jendral Kerjasama ASEAN, Deplu RI, Kerjasama ASEAN dalam
Menanggulangi Kejahatan Lintas Negara, 2001.
Hamzah, A dan RM Surakhman, Rm. Kejahatan Narkotika dan Psikotropika .
Jakarta: Sinar Grafika 1994.
Sabir, M. ASEAN Harapan dan Kenyataan, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1992
S. Nye, Joseph Jr (ed.), International Regionalism.Boston: Little Brown & Co,
1968.
Leifer, Michael. Regionalism, Global Balance and South East Asia . Jakarta :
CSIS, 1997.
Luhulima, C.P.F. ASEAN Menuju Postur Baru, Jakarta: Center for Strategic and
Internacional Studies, 1997.
Luhulima, C.P.F, Anwar, Dewi Fortuna, Dkk. Masyarakat Asia Tenggara Menuju
Comunitas ASEAN 2015. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2008.
Ma’sum, Sumarmo. Penanggulngan Bahaya Narkotika dan Ketergantungan
Obat . CV Haji Masagung : Jakarta 1987.
Mochtan, A.K.P. “ ASEAN dan Agenda Keamanan Nonkonvensional”, CSIS
Yakarta, 1999.
Nazir, Mohammad. Metode Penelitian , Ghalia Indonesia : Jakarta 1988.
Wresniwiro, M. Masalah Narkotika dan Obat Berbahaya , Kol. Pol. Drs. Yayasan
Mitra Bintibmas, Jakarta 2000.
Yasmin Sungkar, Dewi Fortuna anwar, Lidya Cristin S, Ratna Shofi, dan Tri Nuke
Pudjiastuti ”Isu -isu Keamanan Strategis dalam kawasan ASEAN ”,
Jakarta: LIPI Press, 2008.
Zarina, Othman, Myanmar Illicit Drug Trafficking and Security Implicat on .
Akademika 65, 2004.
ARTIKEL DAN JURNAL
ASEAN Political Security Community Blueprint, Direktorat Jenderal kerjasama
ASEAN Kementrian Luar Negeri RI. 2010.
ASEAN Sosio -Cultural Community Blueprint, Direktorat Jenderal kerjasama
ASEAN Kementrian Luar Negeri RI. 2010.
Badan Narkotika Nasional RI, Pedoman Pencega han Penyalahgunaan Narkoba
Bagi Pemuda. 2003.
Badan Narkotika Nasional RI, Advokasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba
2009.
Badan Kerjasama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama, Pengawasan Serta
Peran Aktif Orang Tua dan Aparat dalam Menanggulangan
n
penyalahgunaan Narkoba.
Caballero -Anthony, Mely. “ Human Security and Comprehensive Security in
ASEAN ” The Indonesian Quarterly, Vol.XXVIII, No.4. 2000.
Dupont, Alan. Asian Survey, “ Transnational Crime, Drugs And Security in East
Asia ”. Vol.XXXIX, No.3 May/june, 1999.
Fredy B. L. Tobing, “Aktifitas Drugs Trafficking Sebagai Isu Keamanan yang
Mengancam Stabilitas Negara”, dalam Jurnal Global Politik
Internasional, Vol 5 No1 november 2002
Muladi, Problematika Hubungan TNI dan POLRI dalam Menangani Terorisme
dan Kejahatan Lintas Batas, Makalah disampaikan dalam
Nasional dalam Memperkuat Hubungan TNI-POLRI dalam Kerangka
Keamanan Nasional, Bandung: 11 September 2007.
Perwita, Anak Agung Banyu. “ Human Security dalam Konteks Global dan
Relevansinya Bagi Indonesia” dalam Analisis CSIS, Terorisme dan
Keamanan Manusia, CSIS Tahun XXXII/2003/No.1.
Subianto, Landry Haryo. “Konsep Human Security: Tinjauan dan Prospek” dalam
Analisis CSIS, Isu-isu Non -Tradisional: Bentuk Baru Ancaman
Keamanan. Jakarta 1999.
Yunus Husein, Hubungan Antara Peredaran Gelap Narkoba dan Tindak Pidana
Pencucian Uang. Artikel Hukum Pidana, 3 Maret 2006.
United Nation Development Program, Human Development Report 1993. Oxford
University Perss, New York, 1993.
INTERNET
ASEAN secretariat Website, http://www.aseansec.org
Database Badan Narkotika Nasional, http://www.bknn.or.id
UNDCP
Website,
http://www.undcp.un.or.th/Congress/press_release_13_oct_2000.htm di
akses pada tgl 25 Agustus 2010
Joint Communique The 31st ASEAN Ministerial Meeting (AMM) Manila,
Philippines, 24 -45 July 1998, http://www.aseansec.org/5804.htm, di
akses tgl 25 juni 2010
Human Scurity: Safety For People in a Changing World (April 1999) dalam
http://www.summit-americas-org/Canada/Humansecurity -english.html,
diakses pada tanggal 28juni 2010
The 21st Meeting of The ASEAN Senior Officials on Drug Matter, Jakarta, 6 -8
April 1998, http://www.aseansec.org/5804.htm, di akses pada tanggal 30
juni 2010.
Lampiran 1
Wawancara dengan Nindasari Utomo, Direktorat Jendral Kerjasama
Fungsional ASEAN Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia
Tanggal 25 Januari 2011
Q: Skripsi ini meneliti tentang Kebijakan ASEAN dalam Menangani
masalah Drugs Trafficking di Indonesia. Yang ingin saya tanyakan
menyangkut masalah skripsi saya adalah, bagaimana Kebijakan ASEAN
dalam Menangani Masalah Drugs Trafficking?
A: Kerjasama negara-negara di Asia Tenggara semakin memperkuat
komitmennya untuk memberantas dan menanggulangi masalah kejahatan
transnasional di kawasan Asia Tenggara. Hal ini menjadi arah kebijakan
ASEAN dalam menangani masalah narkoba adalah dengan adanya kehendak
bersama untuk memperkuat komitmen negara anggota dalam menangani
masalah narkoba dan obat-obatan terlarang. Dengan komitmen tersebut maka
arah kebijakan kerjasama tidak hanya semakin jelas dan mempunyai landasan
komitmen yang kuat.
Kerjasama dalam menangani masalah narkoba dan obat-obatan terlarang
akan terealisasikan jika terdapat komitmen yang kuat dalam memberantas
kejahatan transnasional yang bersifat kompleks dan terorganisasi dan
mustahil bangsa-bangsa di Asia Tenggara mampu secara efektif dalam
menangani masalah narkoba tanpa adanya komitmen yang kuat.
Q: Tujuan dari kerjasama ini untuk apa?
A: Tujuan dari kerjasama ini adalah untuk mencegah, mengurangi dan
memberantas narkoba. Diharapkan kerjasama ini akan semakin efektif dan
menghasilkan kerjasama yang jelas hingga tercapainya ASEAN Bebas
Narkoba 2015.
Q: Dalam bentuk apa Kerjasama ASEAN dalam Menangani Masalah
Narkoba dan Obat-obatan Terlarang khususnya di Indonesia?
A: kerjasama ASEAN dalam menangani masalah narkoba dan obat-obatan
terlarang ini tercakup dalam wadah ASEAN Senior Officials on Drugs
Matters (ASOD). Dimana ASOD ini mempunyai rencana aksi yaitu meliputi
4 bidang yakni: pendidikan untuk pencegahan penyalahgunaan narkoba,
perawatan dan rehabilitasi pemberdayaan dan penelitian.
Di bidang pendidikan dan informasi pencegahan, beberapa workshop tentang
pendidikan mengenai ob at-obatan terlarang bagi para guru dan penyusun
kurikulum serta riset komparatif mengenai pendidikan pencegahan. Hal ini
telah diselenggarakan kegiatan kerjasama dalam pemberdayaan hukum
mencakup pertukaran personel pemberdayaan hukum, penyelenggaraan
program training dengan bantuan lembaga internasional dan
informasi mengenai trends, modus operandi dan jalur perdagangan obatobatan terlarang. Negara-negara anggota ASEAN telah melakukan
pertukaran secara regular personel termasuk dalam hal perawatan dan
rehabilitasi pada tingkat operasional.
Bukan hanya ASOD, ASEANAPOL (ASEAN Chiefs of National Police) juga
dibentuk guna menangani aspek-aspek preventif, penegakan (enforcement)
dan operasional dari kerjasama ASEAN dalam menangani k jahatan
transnational. ASEANAPOL telah secara aktif terlibat kerjasa a di bidang
pengetahuan dan keahlian dalam penegakan hukum (policing), pelaksanaan
(enforcement), hukum (law), criminal justice, serta penanggulangan kejahatan
transnational dan international.
Q: Sejauh ini bagaimana perkembangan kerjasama ASEAN dalam
Menangani Masalah Narkoba dan Obat-obatan Terlarang?
A: Pertemuan ASOD ke-21 tahun 1999 di Jakarta telah mencatat perkembangan
penting dengan dilaksanakannya beberapa proyek kerjasama ASEAN yang
tercakup dalam “ ASEAN -EU three years plan of action on preventive drug
education ”. Disamping itu, sebagai akibat dari krisis ekonomi dan keuangan,
ASEAN telah menspesifikasikan beberapa proyek kerjasamanya dengan
tujuan untuk lebih menjangkau kelompok masyarakat yang rentan terhadap
narkotika dan obat-obatan terlarang. Dalam pertemuan tersebut, juga telah
diundang para wakil dari UNDCP (United Nation Drug Control Programme).
Perkembangan kerjasama tersebut juga bukan hanya sampai disitu, sampai
sekarang perkembangan kerjasama tersebut masih berjalan dengan baik.
contohnya terlihat dalam lampiran 3 dan 4 terdapat laporan kerjasama
ASEAN dalam menangani masalah narkoba yang di sebut dengan pertemuan
ASOD yang ke 30 – ke 31 di Jakarta.
Komitmen ASEAN dalam menangani masalah narkoba dan obat-batan
terlarang juga tercermin dalam “ASEAN Vision 2020” dan “ Hanoi Plan of
Action ” (HPA). Hal ini merupakan pandangan ASEAN mengenai masa depan
kerjasama ASEAN dalam berbagai bidang, khususnya bidang politik dan
keamanan, ekonomi, fungsional dan kerjasama eksternal ASEAN. Sementara
HPA yang disepakati pada KTT ASEAN ke -6 tahun 1998 di Hanoi,
merupakan serangkaian rencana aksi enam tahunan untuk
ujudkan
“ASEAN Vision 2020”. Kedua dokumen ini merupakan dokumen strategis
ASEAN dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Q: Apa yang menjadi Kendala atau Hambatan dalam Perjalan
Kerjasama ASEAN dalam Menangani Masalah Narkoba dan Obatobatan Terlarang?
A: Hambatan dalam menangani masalah narkoba dan obat-obatan terlarang yang
dihadapi oleh negara-negara anggota ASEAN diantaranya yaitu: adanya
kecenderungan global yang berpengaruh terhadap hampir
faktor
kehidupan di semua negara tidak terkecuali, apakah negara maju ataupun
negara berkembang sekalipun. Hambatan yang terjadi di kawasan regional ini
adalah masalah kemiskinan, terlebih lagi setelah terimbas oleh krisis ekonomi
dan moneter, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat,
informasi
mengenai bahaya narkoba. Bukan hanya itu hambatan yang bersekala
nasional yaitu setiap negara memiliki karakteristik tersendiri yang berbedabeda antara negara satu dengan negara lain dalam menangani masalah
narkoba, seperti keterbatasan sumberdaya manusia.
Lampiran 2
Wawancara Ibu Maya KASUBDIT Kerjasama Regional dan Internasional,
Badan Narkotika Nasional (BNN)
Tanggal 9 Februari 2011
Q: Menurut Ibu bagaimana gambaran umum masalah narkoba di
Indonesia ini ? menyangkut masalah peredaran, perdagangan, dan
penyalahgunaan narkoba dan obat -obatan terlarang?
A: Masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia memang
sudah menjadi persoalan yang krusial. Menurut hasil survey (BNN) pada
tahun 2008 dampak sosial dalam masalah perdagangan dan penyalahgunaan
narkoba sangat menghawatirkan, hampir semua generasi juga sudah banyak
yang menjadi pengguna. Sedangkan dari sisi profesi ada Polisi, Jaksa, Hakim,
Profesional Muda, Anggota Dewan, dan kalangan Selebrit yang rentan
sebagai pengguna narkoba.
Q: Terlihat dari fenomena drugs trafficking tersebut, apa saja dampak yang
terjadi akibat perdagangan narkoba dan obat-obatan terlarang yang
mengancam keamanan manusia itu sendiri?
A: Dampak yang terjadi akibat perdagangan narkoba ini diantaranya adalah
masalah ekonomi, dimana orang akan mengeluarkan biaya
sangat besar
dimulai dari membeli narkoba, hingga membiayai untuk menyembuhkan
pecandu tersebut. Bukan hanya itu dari dimensi politik, sosial, budaya,
kesehatan, keamanan nasional, dan dimensi penegak hukum juga tidak
menutup kemungkinan karena dampak dari masalah drugs trafficking ini
menyangkut masalah keamanan manusia itu sendiri.
Q: Dilihat dari data kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada
tahun 2003 -2008 setiap tahunnya meningkat? Apakah kerjasama ini
tidak efektif ?
A: Jadi sebuah kerjasama ataupun institusi seharusnya tidak secara eksplisit
dikatakan dapat secara efektif atau tidak efektif, melainkan harus dilihat dari
bagaimana dari komponen -komponen dari kerjasama mampu menjalankan
fungsinya masing-masing. Pada dasarnya setiap institusi pasti memiliki
beberapa tujuan yang merupakan akumulasi dari kepentingan para aktor yang
menjadi anggota institusi kerjasama tersebut. Oleh karena itu, jika tujuan
pertama institusi sudah tercapai, namun tujuan kedua dan ketiga belum juga
tercapai, maka tidak dapat secara pasti dinilai apakah institusi tersebut gagal
atau tidak efektif. Paling tidak dari kerjasama tersebut negara-negara ASEAN
kususnya Indonesia sendiri sudah berperan aktif dalam
pencegahan
penyalahgunaan narkoba, karena dari kerjasama ini juga terdapat hambatan
yang memungkinkan kejahatan narkoba ini sangat meluas. Sekarang adalah
waktu yang paling tepat untuk mengambil langkah -langkah untuk
pencegahan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, bukan
hanya pemerintah saja melainkan sektor suwasta, Lembaga Swadaya
Q:
A:
Q:
A:
Masyarakat, kaangan masyarakat seperti tokoh -tokoh masyarakat, juga
pemuka agama diharapkan ikut dalam upaya penanggulangan
penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya.
Bagaimana Implementasi Kerjasama ASEAN dalam Menangani
Masalah Narkoba dan Obat -batan Terlarang di Indonesia?
khususnya untuk Indonesia sendiri implementasi dari ke
tersebut
hanya diprioritaskan kepada pedoman pencegahan pemberantasan dan
peredaran gelap narkoba P4GN. Indonesia sendiri diperlukan suatu badan
nasional yang bertugas dan berfungsi merumuskan arah kebijakan, strategi
dan program aksi penanggulangan penyalahgunaan narkoba, yang dapat di
jadikan panduan oleh seluruh instansi dan lembaga pemerintah serta
organisasi non -pemerintah yang berperan dan terkait dalam upaya
penanggulangan penyalahgunaan narkoba. Badan ini sangat diperlukan
karena penanggulangan perdagangan dan penyalahgunaan narkoba yang
bersifat kompleks, berkorelasi dengan banyak faktor, dan menyentuh
berbagai aspek kehidupan, terutama aspek-aspek kehidupan generasi muda.
Sejauh mana efektifitas dari implementasi kerjasama tersebut dalam
menangani masalah narkoba dan obat-obatan terlarang khususnya
implementasi di Indonesia?
Implementasi kerjasama ASEAN dalam menangani masalah narkoba dan
obat-obatan terlarang jelas tidak akan efektif bila tidak didukung oleh
kebijakan dan strategi penanggulangan oleh masing-masing negara anggota
ASEAN khususnya Indonesia.
Download