LAPORAN PENELITIAN ABORTUS

advertisement
LAPORAN PENELITIAN
ABORTUS PROVOCATUS PADA KORBAN
PERKOSAAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA
(Suatu Kajian Normatif)
Oleh:
Subaidah Ratna Juita, S.H., M.H.
B. Rini Heryanti, S.H., M.H
Proyek Penelitian ini Dibiayai oleh Universitas Semarang dengan Surat Perjanjian
Nomor: 89/ USM. H8/L/ 2010
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEMARANG
SEMARANG
Agustus, 2010
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Penelitian
Abortus provocatus yang dikenal di Indonesia dengan istilah aborsi
berasal dari bahasa latin yang berarti pengguguran kandungan karena
kesengajaan. Abortus Provocatus merupakan salah satu dari berbagai macam
jenis abortus. Dalam kamus Latin - Indonesia sendiri, abortus diartikan sebagai
wiladah sebelum waktunya atau keguguran. Pengertian aborsi atau Abortus
Provocatus adalah penghentian atau pengeluaran hasil kehamilan dari rahim
sebelum waktunya.1 Dengan kata lain “pengeluaran” itu dimaksudkan bahwa
keluarnya janin disengaja dengan campur tangan manusia, baik melalui cara
mekanik, obat atau cara lainnya.
Abortus provokatus atau yang lebih popular di Indonesia disebut
aborsi adalah suatu kejahatan dengan fenomena gunung es. Kasus-kasus
pengguguran kandungan banyak ditemukan di masyarakat, namun yang
diproses di tingkat Pengadilan hanya sedikit sekali, antara lain disebabkan
sulitnya para penegak hukum dalam mengumpulkan bukti-bukti yang dapat
menyeret pelaku abortus provokatus ke meja hijau.2 Realitas seperti ini dapat
1
Kusmaryanto, SCJ., Kontroversi Aborsi. (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
2002), halaman 203.
2
Suryono Ekotama, dkk., Abortus Provokatus Bagi Korban Perkosaan Perspektif
Viktimologi, Kriminologi dan Hukum Pidana, (Yogyakarta: Universitas Atma Jaya, 2001),
halaman 18.
2
dipahami, karena aborsi tidak memberikan dampak yang nyata sebagaimana
tindak pidana pembunuhan yang secara riil dapat diketahui akibatnya. Aborsi
baik proses dan hasilnya lebih bersifat pribadi, sehingga sulit dideteksi.
Dampak kasus Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD) khususnya
korban perkosaan, pada dasarnya membawa akibat buruk, selain korban
mengalami trauma yang panjang bahkan seumur hidup, dia tidak dapat
melanjutkan pendidikan, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungannya.
Begitu juga jika anaknya lahir, masyarakat tidak siap menerima kehadirannya
bahkan mendapat stigma sebagai anak haram yang tidak boleh bergaul dengan
anak-anak lain di lingkungannya serta menerima perlakuan negatif lainnya.
Sementara jika digugurkan (aborsi), selain tidak ada tempat pelayanan yang
aman dan secara hukum dianggap sebagai tindakan kriminal, pelanggaran
norma agama, susila dan sosial.
Kasus Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD) yang berakhir dengan
aborsi tidak aman, hanyalah salah satu kasus yang terjadi di Indonesia. Pusat
Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia menemukan, pertahun rata-rata
terjadi sekitar 2 juta kasus aborsi tidak aman. 3 Sementara WHO
memperkirakan 10-50% dari kasus aborsi tidak aman berakhir dengan
kematian ibu.4 Angka aborsi tak aman (unsafe abortion) memang tergolong
tinggi, diperkirakan setiap tahun di dunia terjadi sekitar 20 juta aborsi tak
3
Budi utomo dkk., Angka Aborsi dan Aspek Psiko-sosial di Indonesia: Studi di 10 kota
Besar dan 6 kabupaten. (Jakarta: Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, 2002),
halaman 7.
4
WHO dalam Gulardi Wignyosastro. Masalah Kesehatan Perempuan Akibat Reproduksi.
Makalah Seminar Penguatan Hak Reproduksi Perempuan, diselenggarakan PP Fatayat NU, pada 1
September 2001.
3
aman, 26% dari jumlah tersebut tergolong legal dan lebih 70.000 aborsi tak
aman di negara berkembang berakhir dengan kematian ibu.5
Muhajir Darwin dari Pusat Penelitian Kependudukan UGM dalam
Round Table Discussion, tentang Aborsi, Usia Kawin dan Pengaruhnya
terhadap Fertilisasi yang diadakan BKKBN, mengatakan: “... ketika hukum
tidak memberi tempat bagi pelayanan aborsi yang aman, maka para perempuan
yang mengalami kehamilan tanpa dikehendaki terpaksa pergi ke bidan atau
dukun aborsi yang tak kompeten. Akibatnya, komplikasi kesehatan atau
bahkan kematian mengancamnya. 6 Selanjutnya menurut Muhajir Darwin,
bahwa angka kematian maternal di Indoonesia adalah tertinggi di Asia yaitu
sekitar 11% di antaranya karena pertolongan aborsi yang tidak aman.7
Membahas persoalan aborsi sudah bukan merupakan rahasia umum
dan hal yang tabu untuk dibicarakan. Hal ini dikarenakan aborsi yang terjadi
dewasa ini sudah menjadi hal yang aktual dan peristiwanya dapat terjadi
dimana-mana dan bisa saja dilakukan oleh berbagai kalangan, baik itu
dilakukan secara legal ataupun ilegal. Dalam memandang bagaimana
kedudukan hukum aborsi di Indonesia sangat perlu dilihat kembali apa yang
5
A.Widanti S., “Aborsi dan Perlindungan Hak Reproduksi Perempuan”, Makalah,
disampaikan dalam Diskusi Publik “Aborsi dan Perlindungan Hak Reproduksi Perempuan”,
diselenggarakan atas Kerjasama antara Magister Hukum Kesehatan dan PKBI Wilayah Jawa
Tengan, Semarang, 30 Januari 2010, halaman 4.
6
Titik Triwulan Tutik, “Analisis Hukum Islam terhadap Praktik Aborsi bagi Kehamilan
Tidak Diharapkan (KTD) Akibat Perkosaan menurut UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan”,
(http:// www. legalitas.org), diakses 8 Juni 2010.
7
Data tahun 1995 menunjukkan dari 600.000 perempuan meninggal karena kehamilan dan
persalinan. Dari angka itu 66.000 perempuan meninggal karena aborsi. Sementara Zarfel Tafal dari
FKM UI dan aktif di PKBI mencatat dari pengalaman praktiknya di sebuah klinik di Jakarta ada
kecenderungan permintaan aborsi semakin meningkat. Tahun 1999 sekitar 100.000 perempuan,
namun tahun 2000-an sudah menjadi 200.000-an lebih di 8 klinik. Ibid.
4
menjadi tujuan dari perbuatan aborsi tersebut. Sejauh ini, persoalan aborsi pada
umumnya dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai tindak pidana.
Namun, dalam hukum positif di Indonesia, tindakan aborsi pada sejumlah
kasus tertentu dapat dibenarkan apabila merupakan aborsi provokatus
medikalis. Sedangkan aborsi yang digeneralisasi menjadi suatu tindak pidana
lebih dikenal sebagai aborsi provokatus criminalis.
Selama puluhan tahun aborsi telah menjadi permasalahan bagi
perempuan karena menyangkut berbagai aspek kehidupan baik itu moral,
hukum, politik, dan agama. Kemungkinan terbesar timbulnya permasalahan
tersebut berakar dari konflik keyakinan bahwa fetus memiliki hak untuk hidup
dan para perempuan memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, dalam
hal ini melakukan pengguguran kandungan. Perkembangan konflik yang tidak
kunjung mendapatkan titik temu mengakibatkan munculnya penganut paham
pro-life yang berupaya mempertahankan kehidupan dan pro-choice yang
mendukung supaya perempuan mempunyai pilihan untuk menentukan sikap
atas tubuhnya dalam hal ini aborsi.8 Mencuatnya permasalahan aborsi di
Indonesia, agaknya perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak yang
memberikan alternatif solusi yang tepat. Pertentangan moral dan agama
merupakan masalah terbesar yang sampai sekarang masih mempersulit adanya
kesepakatan tentang kebijakan penanggulangan masalah aborsi. Oleh karena
itu, aborsi yang ilegal dan tidak sesuai dengan cara-cara medis masih tetap
berjalan dan tetap merupakan masalah besar yang masih mengancam. Adanya
8
Loebby Loqman, Jurnal Obsetri dan Ginekologi Indonesia, (Yogyakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2003), halaman 232.
5
pertentangan baik secara moral dan kemasyarakatan dengan secara agama dan
hukum membuat aborsi menjadi suatu permasalahan yang mengandung
kontoroversi. Dari sisi moral dan kemasyarakatan, sulit untuk membiarkan
seorang ibu yang harus merawat kehamilan yang tidak diinginkan terutama
karena hasil perkosaan, hasil hubungan seks komersial (dengan pekerja seks
komersial) maupun ibu yang mengetahui bahwa janin yang dikandungnya
mempunyai cacat fisik yang berat. Di samping itu, banyak perempuan merasa
mempunyai hak atas mengontrol tubuhnya sendiri. Di sisi lain, dari segi ajaran
agama, agama manapun tidak akan memperbolehkan manusia melakukan
tindakan penghentian kehamilan dengan alasan apapun.
Istilah aborsi dalam hukum pidana di Indonesia dikenal dengan tindak
pidana “Pengguguran Kandungan”. Dan secara umum pengaturan mengenai
aborsi tersebut terdapat dalam Pasal 299, 346, 347, 348, dan 349 KUHP. Pasalpasal ini secara jelas dan tegas mengatur larangan melakukan aborsi dengan
alasan apapun, termasuk aborsi karena alasan darurat (terpaksa) yaitu sebagai
akibat
perkosaan, baik bagi pelaku ataupun yang membantu melakukan
aborsi.
Bahkan dengan hukuman yang dilipatgandakan, yang membantu
melakukan adalah ahli medis. Ketentuan ini terasa memberatkan terutama bagi
tim medis yang melaksanakan aborsi dengan alasan medis.
Sebelum dilakukan revisi terhadap undang-undang kesehatan masih
banyak perdebatan mengenai aborsi yang dilakukan oleh korban perkosaan
termasuk tenaga medis yang membantu melakukan aborsi tersebut. Hal itu
dikarenakan tidak terdapat pasal yang secara jelas mengatur mengenai aborsi
6
terhadap korban perkosaan. Selama ini banyak pandangan yang menafsirkan
bahwa aborsi terhadap korban perkosaan disamakan dengan indikasi medis
sehingga dapat dilakukan karena gangguan psikis terhadap ibu juga dapat
mengancam nyawa sang ibu. Namum dipihak lain ada juga yang memandang
bahwa aborsi terhadap korban perkosaan adalah aborsi kriminalis karena
memang tidak membahayakan nyawa sang ibu, dan dalam undang-undang
kesehatan yang lama, yaitu UU No. 23 Tahun 1992 tidak termuat secara jelas
di dalam pasalnya.
Keberadaan praktik aborsi kembali mendapat perhatian dengan
disahkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, dan
sebagai pengganti UU No. 23 Tahun 1992. Dengan dikeluarkannya revisi
undang-undang kesehatan maka mengenai legalisasi aborsi terhadap korban
perkosaan telah termuat dengan jelas di dalam Pasal 75 ayat 2 UU No.36
Tahun 2009 tentang kesehatan. Meski demikian UU ini menimbulkan
kontroversi diberbagai lapisan masyarakat karena adanya pasal-pasal yang
mengatur mengenai aborsi dalam praktek medis mengandung berbagai reaksi.
Pasal 75 dan 76 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009, kembali menegaskan
bahwa pada dasarnya undang-undang melarang adanya praktik aborsi (Pasal 75
ayat 1). Meski demikian larangan tersebut dikecualikan apabila ada:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik
yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit
genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki
sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
7
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis
bagi korban perkosaan (Pasal 75 ayat 2).
Terlepas dari hukum formal yang mengatur, aborsi merupakan
fenomena yang terkait erat dengan nilai-nilai sosial budaya agama yang hidup
dalam masyarakat. Dalam konteks Indonesia aborsi lebih condong sebagai aib
sosial daripada manifestasi kehendak bebas tiap individu. Aborsi merupakan
masalah yang sarat dengan nilai-nilai sosial, budaya, agama, dan politik.
Aturan normatif legal formal menolak aborsi meski masih ada ruang untuk
hal-hal khusus. Aturan normatif sosial-hudaya-agama yang "informal" pada
umumnya juga menolak aborsi, meski terdapat variasi dan kelonggaran di
sana-sini. Persoalan aborsi penting untuk dibahas karena fenomena ini
berkaitan erat dengan persoalan kesehatan reproduksi perempuan. Untuk kasus
Indonesia, seperti diketahui, salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu
(MMR) adalah karena praktek aborsi terutama bagi ibu pada usia belia sebagai
akibat salah pergaulan ataupun belum siap memiliki anak, selain persoalan
pelayanan kesehatan yang tidak memadai dan faktor struktural lain yang lebih
luas. Selain keterkaitan dengan nilai-nilai sosial, politik, budaya, dan agama,
secara lebih spesifik fenomena aborsi tersebut terkait erat dengan isu gender.
Berdasar latar belakang penelitian sebagaimana tersebut di atas, satu
persoalan yang perlu
pengaturan
mendapat jawaban
dan penjelasan
dan perlindungan hukum terhadap tindakan
yaitu
tentang
aborsi (abortus
provocatus) khususnya yang dilakukan oleh korban perkosaan menurut Hukum
8
Pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan UU No. 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan.
B.
Perumusan Masalah
Permasalahan merupakan suatu pernyataan yang menunjukkan adanya
jarak antara harapan dengan kenyataan, antara rencana dengan pelaksanaan
dan antara das sollen dengan das sein.
Untuk
memudahkan
pembahasan,
maka
permasalahan
dalam
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaturan Hukum Pidana tentang abortus provocatus yang
dilakukan oleh korban perkosaan?
2. Bagaimana perlindungan hukum pidana terhadap korban perkosaan yang
melakukan abortus provocatus?
C.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui perumusan, dan pengaturan hukum pidana tentang
abortus provocatus yang dilakukan oleh korban perkosaan.
2. Untuk mengetahui bagaimana hukum pidana melalui peraturan perundang-
undangan yang ada memberikan perlindungan terhadap korban perkosaan
yang melakukan abortus provocatus
9
D.
Kontribusi Penelitian
Kontribusi yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara Teoritis:
Secara teoritis
dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam
rangka pengembangan hukum pidana materiil, khususnya yang terkait
dengan abortus provocatus pada korban perkosaan.
2. Secara Praktis:
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
bahan masukan tidak hanya kepada para praktisi hukum yang memiliki
kewenangan dalam penegakkan hukum, tetapi juga kepada para tenaga
medis yang memiliki kewenangan bertindak sesuai dengan sumpah
jabatan dan etika profesi yang diembannya khususnya yang berkaitan
dengan masalah abortus provocatus, dan bagi pihak-pihak yang
berkepentingan lainnya yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai
pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, sehingga
perempuan sebagai korban perkosaan tidak lagi menjadi korban secara
terstruktur (second victimization).
E.
Sistematika Penulisan
Sistimatika ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyimpangan dari
judul dan lebih mudah dalam menelaah uraian yang disajikan secara
keseluruhan. Penulisan laporan penelitian disusun dengan sistimatika sebagai
berikut :
10
BAB I
: PENDAHULUAN
Dalam Bab I sebagai Pendahuluan, terdiri dari lima sub bab yang
membahas mengenai latar belakang penelitian, perumusan
masalah sebagai batasan masalah dalam melakukan penelitian.
Selanjutnya
akan
diuraikan
tujuan
penelitian,
kontribusi
penelitian dan diakhiri dengan sistimatika penulisan.
BAB II
: TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka menguraikan landasan teori untuk menganalisa
permasalahan yang akan diteliti. Tinjauan pustaka ini berisi
kerangka pemikiran atau teori-teori dan asas-asas hukum yang
berkaitan dengan pokok permasalahan. Uraian pertama pada bab
ini berupa tinjauan umum tentang aborsi. Uraian berikutnya akan
menjelaskan tinjauan tentang regulasi aborsi dalam Peraturan
Perundang-undangan Indonesia. Dan uraian ketiga sebagai akhir
dari tinjauan pustaka akan diuraikan mengenai tinjauan tentang
perkosaan sebagai tindak pidana yang menjadikan perempuan
sebagai korban.
BAB III
: METODE PENELITIAN
Metode penelitian menjelaskan mengenai metode yang diuraikan
dalam penelitian ini yaitu metode pendekatan, spesifikasi
penelitian, metode pengumpulan data dan analisa data.
11
BAB IV
: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Sebagai bagian dari penyajian data dan analisis terhadap data
yang diperoleh dari hasil penelitian, yakni data mengenai
“Abortus Provocatus pada Korban Perkosaan dalam Perspektif
Hukum Pidana”. Adapun dalam menganalisa data tersebut,
penulis melakukan suatu kajian yang bersifat normatif
berdasarkan ketentuan hukum pidana positif yang berlaku di
Indonesia, yakni Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP) yang berlaku sebagai hukum pidana umum (lex
generale), dan Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, yang berlaku sebagi hukum pidana khusus (lex
speciale) terkait dengan Abortus Provocatus yang dilakukan
oleh korban perkosaan . Adapun dalam Bab ini data-data hasil
penelitian yang akan disajikan dan dianalisis menyangkut datadata mengenai :
1. Pengaturan Hukum Pidana tentang Abortus Provocatus yang
dilakukan oleh korban perkosaan.
2. Perlindungan hukum pidana terhadap korban perkosaan yang
melakukan abortus provocatus.
Data yang disajikan berupa data sekunder. Dengan demikian,
gambaran mengenai permasalahan dalam penelitian ini
diharapkan telah menjadi jelas.
12
Bab V
: PENUTUP
Berdasarkan proses pembahasan dan penganalisaan permasalahan
yang diuraikan dalam Bab IV mengenai Abortus Provocatus pada
Korban Perkosaan dalam Perspektif Hukum Pidana , maka Bab
V ini menjadi bagian akhir dari penyusunan laporan penelitian ini,
sehingga pada bagian ini dapat ditegaskan beberapa simpulan dan
saran sebagai penutup.
13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum tentang Aborsi
1. Pengertian Aborsi
Dalam pengertian awam istilah aborsi adalah pengguguran
kandungan, keluarnya hasil konsepsi atau pembuahan sebelum waktunya.
Abortion
dalam
kamus
Inggris
Indonesia
diterjemahkan
dengan
pengguguran kandungan.9 Dalam Blaks’s Law Dictionary, kata abortion
yang diterjemahkan menjadi aborsi dalam bahasa Indonesia mengandung
arti: “The spontaneous or articially induced expulsion of an embrio or
featus. As used in illegal context refers to induced abortion. 10 Dengan
demikian, menurut Blaks’s Law Dictionary, keguguran dengan keluarnya
embrio atau fetus tidak semata-mata karena terjadi secara alamiah, akan
tetapi juga disengaja
atau terjadi karena adanya campur tangan
(provokasi) manusia.11
9
Echols, dan Hassan Shaddily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia,1992),
halaman 2.
10
Henry Campbell Black’s, Black’s Law Dictionary, Sixth Edition, St. Paul Min West
Publising Co, halaman 1.
11
Terjemahan abortion menurut Black’s Law Dictionary, diambil dari Suryono
Ekototama, dkk., Abortus Prookatus bagi Korban Perkosaan Perspektif iktimologi, Kriminologi
dan Hukum Pidana, (Yogyakarta: Uniersitas Admajaya, 2001), halaman 31.
14
Ensiklopedi Indonesia memberikan penjelasan bahwa
abortus
diartikan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu
atau sebelum janin mencapai berat 1.000 gram.12
Untuk lebih memperjelas maka berikut ini akan penulis
kemukakan defenisi para ahli tentang aborsi, yaitu:13
a. Eastman: Aborsi adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana
fetus belum sanggup berdiri sendiri di luar uterus. Belum sanggup
diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400 – 1000 gr atau
kehamilan kurang dari 28 minggu;
b. Jeffcoat: Aborsi yaitu pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum 28
minggu, yaitu fetus belum viable by llaous;
c. Holmer: Aborsi yaitu terputusnya kehamilan sebelum minggu ke-16
dimana plasentasi belum selesai.
Dalam pengertian medis, aborsi adalah terhentinya kehamilan
dengan kematian dan pengeluaran janin pada usia kurang dari 20 minggu
dengan berat janin kurang dari 500 gram, yaitu sebelum janin dapat hidup
di luar kandungan secara mandiri. 14 Menggugurkan kandungan atau dalam
dunia kedokteran dikenal dengan istilah ”aborsi”, berarti pengeluaran hasil
konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup
12
Ensiklopedi Indonesia, Abortus (Jakarta: Ikhtiar Baru an Hoeve, 1998), I : 22.
Rustam Mochtar, Sinopsis Obsetetri, (Jakarta: EGC, 1998), halaman 209.
14
Lilien Eka Chandra, “Tanpa Indikasi Medis Ibu, Aborsi sama dengan Kriminal”, Lifestyle,
Mei 2006, halaman 10.
13
15
diluar kandungan. Dalam kaitanya dengan hal ini, Suryono Ekotama, dkk
mengemukakan pendapat sebagai berikut:
Dari segi medis, tidak ada batasan pasti kapan kandungan bisa
digugurkan. Kandungan perempuan bisa digugurkan kapan saja
sepanjang ada indikasi medis untuk menggugurkn kandungan itu.
Misalnya jika diketahui anak yang akan lahir mengalami cacat
berat atau si ibu menderita penyakit jantung yang akan sangat
berbahaya sekali untuk keselamatan jiwanya pada saat melahirkan
nanti. Sekalipun janin itu sudah berusia lima bulan atau enam
bulan, pertimbangan medis masih membolehkan dilakukan
abortus provocatus.15
Abortus provocatus yang dikenal di Indonesia dengan istilah
aborsi berasal dari bahasa latin yang berarti pengguguran kandungan
karena kesengajaan. Abortus Provocatus merupakan salah satu dari
berbagai macam jenis abortus. Dalam kamus Latin - Indonesia sendiri,
abortus diartikan sebagai wiladah sebelum waktunya atau keguguran.
Pengertian aborsi atau Abortus Provocatus adalah penghentian atau
pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum waktunya.16 Dengan kata
lain “pengeluaran” itu dimaksudkan bahwa keluarnya janin disengaja
dengan campur tangan manusia, baik melalui cara mekanik, obat atau cara
lainnya.
Demikian antara lain pengertian aborsi atau pengguguran
kandungan, baik pengertian menurut ilmu kedokteran, pengertian umum,
maupun pengertian menurut ilmu hukum, bahwa pengguguran kandungan
15
Suryono Ekototama, dkk.,Op.Cit., halaman 35.
Kusmaryanto, SCJ., Kontroversi Aborsi. (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
2002), halaman 203.
16
16
itu adalah suatu perbuatan yang sengaja dilakukan atau dilakukan sebelum
waktunya.
2. Jenis-jenis Aborsi
Proses abortus dapat berlangsung dengan cara:
1. Spontan/alamiah (terjadi secara alami, tanpa tindakan apapun);
2. Buatan/sengaja (aborsi yang dilakukan secara sengaja);
3. Terapeutik/medis (aborsi yang dilakukan atas indikasi medis karena
terdapatnya suatu permasalahan/komplikasi).17
Abortus
Abortus spontaneus
Abortus provokatus
Abortus provocatus
medicinalis
Abortus provocatus
criminalis
Gbr. 1. Kategorisasi Abortus
Abortus secara medis dapat dibagi menjadi dua macam:
17
Lilien Eka Chandra, Loc.Cit.
17
1. Abortus spontaneous, adalah aborsi yang terjadi dengan tidak didahului
faktor-faktor mekanis ataupun medicinalis semata-mata disebabkan
oleh faktor alamiah. Rustam Mochtar dalam Muhdiono menyebutkan
macam-macam aborsi spontan: 18
a. Abortus completes, (keguguran lengkap) artinya seluruh hasil
konsepsi dikeluarkan sehingga rongga rahim kosong.
b. Abortus inkopletus, (keguguran bersisa) artinya hanya ada sebagian
dari hasil konsepsi yang dikeluarkan yang tertinggal adalah deci
dua dan plasenta
c. Abortus iminen, yaitu keguguran yang membakat dan akan terjadi
dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan
memberikan obat-obat hormonal dan anti pasmodica
d. Missed abortion, keadan di mana janin sudah mati tetapi tetap
berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama dua bulan atau
lebih.
e. Abortus habitulis atau keguguran berulang adalah keadaan dimana
penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih.
f. Abortus infeksious dan abortus septic, adalah abortus yang disertai
infeksi genital.
18
Rustam Muchtar dalam Muhdiono, “Aborsi Menurut Hukum Islam (Perbandingan
Madzab Syafi’i dan Hanafi)”, Skripsi, (Yogyakarta: UIN, 2002), halaman 211.
18
Abortus
completes
Abortus
infeksious dan
abortus septic
Abortus
inkopletus
Abortus
Spontaneus
Abortus
habitulis
Abortus
iminen
Missed
abortion
Gbr.2. Macam-macam abortus spontaneus
Kehilangan janin tidak disengaja biasanya terjadi pada kehamilan
usia muda (satu sampai dengan tiga bulan). Ini dapat terjadi karena
penyakit antara lain: demam; panas tinggi; ginjal TBC, Sipilis atau karena
kesalahan genetik. Pada aborsi sepontan tidak jarang janin keluar dalam
keadaan utuh.19
Kadangkala kehamilan seorang wanita dapat gugur
dengan sendirinya tanpa adanya suatu tindakan ataupun perbuatan yang
disengaja. Hal ini sering disebut dengan “keguguran” atau aborsi spontan.
Ini sering terjadi pada ibu-ibu yang masih hamil muda, dikarenakan suatu
akibat yang tidak disengaja dan diinginkan atupun karena suatu penyakit
yang dideritanya. Dalam usia yang sangat muda keguguran dapatsaja
terjadi, misalnya karena aktivitas ibu yang mengandung terlalu berlebihan,
19
Yayasan Pengembangan Pedesaan, Kesehatan Reproduksi, cet. 1 (Malang: Danar Wijaya,
1997), halaman 141.
19
stress berat, berolahraga yang membahayakan keselamatan janin seperti
bersepeda dan sebagainya.
2. Abortus provokatus, adalah aborsi yang disengaja baik dengan
memakai obat-obatan maupun alat-alat.
Aborsi provocatus merupakan istilah lain yang secara resmi
dipakai dalam kalangan kedokteran dan hukum. Ini adalah suatu
proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk
bertumbuh. Menurut Fact Abortion, Info Kit on Women’s Health oleh
Institute For Social, Studies anda Action, Maret 1991, dalam istilah
kesehatan” aborsi didefenisikan sebagai penghentian kehamilan
setelah tertanamnya telur (ovum) yang telah dibuahi rahim (uterus),
sebelum janin (fetus) mencapai 20 minggu.”20 Di Indonesia belum ada
batasan resmi mengenai pengguguran kandungan (aborsi). ”aborsi
didefenisikan sebagai terjadinya keguguran janin; melakukan aborsi
sebagai melakukan pengguguran (dengan sengaja karena tidak
mengiginkan bakal bayi yang dikandung itu)”21
Ada beberapa istilah untuk menyebut keluarnya konsepsi
atau pembuahan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang biasa
disebut aborsi (abortion), di antaranya: Abortion criminalis, yaitu
pengguguran kandungan secara bertentangan dengan hukum; Abortion
20
http//:www.lbh-apik.or.id/fact-32.htm, Aborsi Dan Hak Atas Pelayanan Kesehatan,
diakses Tanggal 22 April 2010.
21
Js, Badudu, dan Sultan Mohamad Zair, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1996), halaman 15.
20
Eugenic, yaitu pengguguran kandungan untuk mendapat keturunan
yang
baik;
Abortion
induced/
provoked/
provocatus,
yaitu
pengguguran kandungan karena disengaja; Abortion Natural, yaitu
pengguguran kandungan secara alamiah; Abortion Spontaneous, yaitu
pengguguran kandungan secara tidak disengaja; dan Abortion
Therapeutic, yaitu pengguguran kandungan dengan tujuan untuk
menjaga kesehatan sang ibu.22
Aborsi yang dilakukan secara sengaja (abortus provocatus)
ini terbagi menjadi dua:
a. Abortus provocatus medicinalis, adalah aborsi yang dilakukan oleh
dokter atas dasar indikasi medis, yaitu apabila tindakan aborsi tidak
diambil akan membahayakan jiwa ibu.
Abortus provokatus medisinalis/artificialis/therapeuticus
adalah aborsi yang dilakukan dengan disertai indikasi medis. Di
Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medis adalah demi
menyelamatkan nyawa ibu. Adapun syarat-syarat yang ditentukan
sebagai indikasi medis adalah:
1. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki
keahlian dan kewenangan untuk melakukannya (yaitu
seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan)
sesuai dengan tanggung jawab profesi.
2. Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain,
agama, hukum, psikologi).
22
Lukman Hakim Nainggolan, “Aspek Hukum terhadap Abortus Provocatus dalam
Perundang-undangan di Indonesia”, Jurnal Equality, Vol.11 No. 2, Agustus 2006,halaman 96-97.
21
3. Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau
suaminya atau keluarga terdekat.
4. Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki
tenaga/peralatan yang memadai, yang ditunjuk oleh
pemerintah.
5. Prosedur tidak dirahasiakan.
6. Dokumen medik harus lengkap.23
Dalam praktek di dunia kedokteran, abortus provocatus
medicinalis juga dapat dilakukan jika anak yang akan lahir
diperkirakan mengalami cacat berat dan harapan hidupnya tipis,
misalnya janin menderita kelainan ectopia kordis (janin akan
dilahirkan tanpa dinding dada, sehingga terlihat jantungnya),
rakiskisis (janin akan dilahirkan dengan tulang punggung terbuka
tanpa ditutupi kulit kulit maupun anensefalus (janin akan dilahirkan
tanpa otak besar). 24
b. Abortus provocatus criminalis, adalah aborsi yang terjadi oleh
karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan
indikasi medis, sebagai contoh aborsi yang dilakukan dalam rangka
melenyapkan janin sebagai akibat hubungan seksual di luar
perkawinan.
Secara umum pengertian abortus provokatus kriminalis
adalah suatu kelahiran dini sebelum bayi itu pada waktunya dapat
23
Aspek Hukum dan Medikolegal Abortus Povocatus Criminalis, http://situs.kerespro.info,
diakses tanggal 12 Apil 2010.
24
Njowito Hamdani, Ilmu Kedokteran Kehakiman, Edisi Kedua, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama: 1992), halaman 215.
22
hidup sendiri di luar kandungan. Pada umumnya janin yang keluar
itu sudah tidak bernyawa lagi.
25
Sedangkan secara yuridis abortus
provokatus kriminalis adalah setiap penghentian kehamilan
sebelum hasil konsepsi dilahirkan, tanpa memperhitungkan umur
bayi dalam kandungan dan janin dilahirkan dalam keadaan mati
atau hidup.
Bertolak pada pengertian di atas, dapatlah diketahui bahwa
pada abortus provocatus ini ada unsur kesengajaan. Artinya, suatu
perbuatan atau tindakan yang dilakukan agar kandungan lahir
sebelum tiba waktunya. Menurut kebiasaan maka bayi dalam
kandungan seorang wanita akan lahir setelah jangka waktu 9 bulan
10 hari. Hanya dalam hal tertentu saja seorang bayi dalam
kandungan dapat lahir pada saat usia kandungan baru mencapai 7
bulan atupun 8 bulan. Dalam hal ini perbuatan aborsi ini biasanya
dilakukan sebelum kandungan berusia 7 bulan. Menurut pengertian
kedokteran yang dikemukakan oleh Lilien Eka Chandra, aborsi
(baik
keguguran
maupun
pengguguran
kandungan)
berarti
terhentinya kehamilan yang terjadi di antara saat tertanamnya sel
telur yang sudah (blastosit) dirahim sampai kehamilan 28 minggu.
Batas 28 minggu dihitung sejak haid terakhir itu diambil karena
25
Sri Setyowati, Masalah Abortus Kriminalis di Indonesia dan Hubungannya dengan
Keluarga Berencana Ditinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, (Jakarta: TP, 2002),
halaman 99 dan 22.
23
sebelum 28 minggu, janin belum dapat hidup (viable di luar
rahim).26
Frekuensi terjadinya aborsi di Indonesia sangat sulit
dihitung
secara
akurat
karena
banyaknya
kasus
aborsi
buatan/sengaja yang tidak dilaporkan. Berdasarkan perkiraan dari
BKBN, ada sekitar 2 juta kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya.
Pada penelitian di Amerika Serikat terdapat 1,2 – 1,6 juta aborsi
yang disengaja dalam 10 tahun terakhir dan merupakan pilihan
wanita Amerika untuk kehamilan yang tidak diinginkan. Secara
keseluruhan, di seluruh dunia, aborsi adalah penyebab kematian
yang paling utama dibandingkan kanker maupun penyakit
jantung.27
3. Metode Aborsi
Tindakan aborsi mengandung risiko yang cukup tinggi, apabila
dilakukan tidak sesuai standar profesi medis. Berikut ini berbagai cara
melakukan aborsi yang sering dilakukan:
(1) Manipulasi fisik, yaitu dengan cara melakukan pijatan pada
rahim agar janin terlepas dari rahim. Biasanya akan terasa
sakit sekali karena pijatan yang dilakukan dipaksakan dan
berbahaya bagi oragan dalam tubuh;
26
27
Lilien Eka Chandra, Loc.Cit.
http://www.rajawana.com/artikel.html/227-aborsi.pdf.htm, diakses 1 Maret 2010.
24
(2) Menggunakan berbagai ramuan dengan tujuan panas pada
rahim. Ramuan tersebut seperti nanas muda yang dicampur
dengan merica atau obatobatan keras lainnya;
(3) Menggunakan alat bantu tradisional yang tidak steril yang
dapat mengakibatkan infeksi. Tindakan ini juga
membahayakan organ dalam tubuh.28
Gbr. 2 Beberapa metode aborsi (Sumber: Utomo, B., 2000)
Adapun alasan mereka melakukan tindakan aborsi tanpa
rekomendasi medis adalah:
(1) Ingin terus melanjutkan sekolah atau kuliah. Perlu dipikirkan
oleh pihak sekolah bagaimana supaya tetap dipertahankan
sekolah meski sedang hamil kalau terlanjur;(2) Belum siap
menghadapi orang tua atau memalukan orang tua dan
keluarga. Hal ini juga perlu legawa orang tua karena
psikologis anak sangat besar;
(3) Malu pada lingkungan sosial dan sekitarnya;
(4) Belum siap baik mental maupun ekonomi untuk menikah dan
mempunyai anak;
(5) Adanya aturan dari kantor bahwa tidak boleh hamil atau
menikah sebelum waktu tertentu karena terikat kontrak; dan
28
Ibid.
25
(6) Tidak senang pasangannya karena korban perkosaan. 29
Aborsi
yang
dilakukan
secara
sembarangan
sangat
membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil bahkan sampai
berakibat pada kematian. Perdarahan yang terus menerus serta infeksi yang
terjadi setelah tindakan aborsi merupakan sebab utama kematian wanita
yang melakukan aborsi. Selain itu aborsi berdampak pada kondisi
psikologis dan mental seseorang dengan adanya perasaan bersalah yang
menghantui mereka. Perasaan berdosa dan ketakutan merupakan tanda
gangguan psikologis.
Beberapa akibat yang dapat timbul akibat perbuatan aborsi, yaitu:
(1) Pendarahan sampai menimbulkan shock dan gangguan
neurologis/syaraf di kemudian hari, akibat lanjut perdarahan
adalah kematian;
(2) Infeksi alat reproduksi yang dilakukan secara tidak steril.
Akibat dari tindakan ini adalah kemungkinan remaja
mengalami kemandulan di kemudian hari setelah menikah;
(3) Risiko terjadinya ruptur uterus (robek rahim) besar dan
penipisan dinding rahim akibat kuretasi. Akibatnya dapat
juga kemandulan karena rahim yang robek harus diangkat
seluruhnya;
(4) Terjadinya fistula genital traumatis, yaitu timbulnya suatu
saluran yang secara normal tidak ada yaitu saluran antara
genital dan saluran kencing atau saluran pencernaan.30
29
30
Ibid.
Ibid.
26
Resiko komplikasi atau kematian setelah aborsi legal sangat kecil
dibandingkan dengan aborsi ilegal yang dilakukan oleh tenaga yang tak
terlatih. Beberapa penyebab utama resiko tersebut antara lain: Pertama,
sepsis yang disebabkan oleh aborsi yang tidak lengkap, sebagain atau
seluruh produk pembuahan masih tertahan dalam rahim. Jika infeksi ini
tidak segera ditangani akan terjadi infeksi yang menyeluruh sehingga
menimbulkan aborsi septik, yang merupakan komplikasi aborsi ilegal yang
fatal. Kedua, perdarahan. Hal ini sebebakan oleh aborsi yang tidak
lengkap, atau cedera organ panggul atau usus. Ketiga, efek samping telur)
yang menyebabkan kemandulan.31
Gbr. 3. Bebarapa faktor penyebab kematian Ibu (sbr., Out Look, 1999)
Menurut Sofwan Dahwan dalam Muhdiono, ada beberapa metode
abortus provokatus kriminalis yang dapat dilakukan sendiri atau dilakukan
oleh orang lain, dengan cara sebagai berikut:
31
Erica Royston dan Sue Arnstrong (Eds), Preventing Maternal Deaths, Terj. RF Maulany,
1994, Pencegahan Kematian Ibu Hamil, (Jakarta: Binaputra Aksara), halaman 122-123.
27
1. Menggunakan kekerasan umum (general violence). yaitu
dengan melakukan keggiatan fisik yang berlebihan , misalnya
lari-lari.
2. Menggunakan kekerasan lokal (local violence), yaitu
dilakukan tanpa menggunakan alat, misalnya memijat perut
bagian bawah; dengan menggunakan alat medis , misalnya
tang kuret; menggunakan alat-alat non medis, misalnya kawat;
menggunakan zat-zat kimia, misalnya larutan zink chloride.
3. Menggunakan obet-obatan obortifisien, seperti obat emetika
dan obat omenagoga atau obat pelancar haid.
4. Menggunakan obat-obat echolica atau perangsang otot-otot
rahim, seperti kinina.32
Ditinjau dari segi usia kehamilan, abortus provocatus medicinalis
dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:33
1. Aborsi pada triwulan pertama
sampai dengan 12 minggu. Pada
kehamilan sampai batas 7 minggu pengeluaran isi rahim dilakukan
dengan kuret tajam, agar ovum kecil tidak tertinggal, maka ovum uteri
dikerok seluruhnya. Apabila kehamilan melebihi 6 sampai 7 minggu
digunakan kuret tumpul sebesar yang dapat dimasukkan. Setelah hasil
konsepsi sebagian besar lepas dari dinding uterus maka hasil tersebut
dapat dikeluarkan dengan cunam abortuis dan kemudian dilakukan
kerokan hati-hati dengan kuret tajam yang cukup besar, apabila
diperlukan dimasukkan tampon kedalam uteri dan vagina yang akan
dikeluarkan esok harinya.
32
Muhdiono, “Aborsi Menurut Hukum Islam (Perbandingan Madzab Syafi’i dan Hanafi)”,
Skripsi, Yogyakarta, 2002, halaman 23.
33
Yayasan Pengembangan Pedesaan, Kesehatan…, Op. Cit., halaman 142-143.
28
2. Abortus pada kehamilan 12 sampai 16 minggu. Aborsi dilakukan
dengan menggunakan perpaduan antara dilatasi, kuret dan pengisapan.
Bahaya dari cara ini adalah terbentuknya luka-luka yang menimbulkan
pendarahan.
3. Abortus pada triwulan kedua (Kehamilan sampai 16 minggu), dilakukan
dengan menimbulkan kontraksi-kontraksi uterus supaya janin
dan
plasenta dapat dilahirkan secara spontan. Cara yang dilakukan adalah
dengan melakukan esantasi (pembiusan lokal).
4. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Abortus Provocatus
Meski demikian, secara kritis bisa ditarik generalisasai bahwa
aborsi dilakukan tidak hanya dikarenakan kehamilan di luar perkawinan
(kehamilan pranikah, dilakukan gadis), tetapi juga terjadi di dalam
perkawinan, oleh perempuan yang berstatus istri. Baik abortus dikarenakan
kehamilan di luar perkawinan ataupun dalam perkawinan keduanya
memiliki beberapa alasan yang berbeda, dan keduanya merupakan
fenomena terselubung yang cenderung ditutupi oleh pelakunya. Tabel 1
berikut memberikan gambaran beberapa alasan aborsi.34
Tabel. Jenis/Alasan Aborsi
34
Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2003, Hartono Hadisaputro, “Aborsi dan
Perlindungan Hak Reproduksi Perempuan”, Makalah, disampaikan dalam Diskusi Publik “Aborsi
dan Perlindungan Hak Reproduksi Perempuan”, diselenggarakan atas Kerjasama antara Magister
Hukum Kesehatan dan PKBI Wilayah Jawa Tengah, (Semarang, 30 Januari 2010), halaman 2.
29
Jenis/Alasan Melakukan Abortus
Abortus Spontaneous
%
25
Abortus Provokatus Terapikus
Abortus Spontaneous Kriminalis
Malu, takut
Sudah memiliki anak, tidak ingin hamil lagi
Belum ingin memiliki anak
Disuruh suami
10
15
40
5
1
Abortus provocatus berkembang sangat pesat dalam masyarakat
Indonesia, hal ini disebabkan banyaknya factor yang memaksa pelaku
dalam masyarakat untuk melakukan hal tersebut. Pelaku merasa tidak
mempunyai pilihan lain yang lebih baik selain melakukan tindakan yang
tidak sesuai dengan hukum dan moral yaitu melakukan aborsi. Berikut ini
disebutkan beberapa faktor yang mendorong pelaku dalam melakukan
tindakan abortus provocatus menurut Ekotama, yaitu:
a) Kehamilan sebagai akibat hubungan kelamin di luar perkawinan.
Pergaulan bebas dikalangan anak muda menyisakan satu problem yang
cukup besar. Angka kehamilan di luar nikah meningakat tajam. Hal ini
disebabkan karena anak muda Indonesia belum begitu mengenal arti
pergaulan bebas yang aman, kesadaran yang amat rendah tentang
kesehatan. Minimnya pengetahuan tentang reproduksi dan kontrasepsi
maupun hilangnya jati diri akibat terlalu berhaluan bebas seperti
negara-negara barat tanpa dasar yang kuat (sekedar tiru-tiru saja).
Hamil di luar nikah jelas merupakan suatu aib bagi wanita yang
bersangkutan, keluarganya maupun masyarakat pada umumnya.
30
Masyarakat tidak menghendaki kehadiran anak haram seperti itu di
dunia. Akibat adanya tekanan psikis yang diderita wanita hamil
maupun keluarganya, membuat mereka mengambil jalan pintas untuk
menghilangkan sumber/penyebab aib tadi, yakni dengan cara
menggugurkan kandungan.
b) Alasan-alasan sosio ekonomis. Kondisi masyarakat yang miskin
(jasmani maupun rohani) biasanya menimbulkan permasalahan yang
cukup kompleks. Karena terhimpit kemiskinan itulah mereka tidak
sempat memperhatikan hal-hal lain dalam kehidupan mereka yang
bersifat sekunder, kecuali kebutuhan utamanya mencari nafkah. Banyak
pasangan usia subur miskin kurang memperhatikan masalah-masalah
reproduksi.
Mereka
tidak
menyadari
kalau
usia
subur
juga
menimbulkan problem lain tanpa alat-alat bukti kontrasepsi. Kehamilan
yang terjadi kemudian tidak diinginkan oleh pasangan yang
bersangkutan dan diusahakan untuk digugurkan dengan alasan mereka
sudah tidak mampu lagi membiayai seandainya anggota mereka
bertambah banyak.
c) Alasan anak sudah cukup banyak. Alasan ini sebenarnya berkaitan juga
dengan sosio-ekonomi di atas. Terlalu banyak anak sering kali
memusingkan orang tua. Apalagi jika kondisi ekonomi keluarga mereka
pas-pasan. Ada kalanya jika terlanjur hamil mereka sepakat untuk
menggugurkan kandungannya dengan alasan sudah tidak mampu
mengurusi anak yang sedemikian banyaknya. Dari pada si anak yang
31
akan dilahirkan nanti terlantar dan hanya menyusahkan keluarga
maupun orang lain, lebih baik digugurkan saja.
d) Alasan belum mampu punya anak. Banyak pasangan-pasangan muda
yang tergesa-gesa menikah tanpa persiapan terlebih dahulu. Akibatnya,
hidup mereka pas-pasan, hidip menumpang mertua, dsb. Padahal salah
satu konsekuensi dari perkawinan adalah lahirnya anak. Lahirnya anak
tentu saja akan memperberat tanggung jawab orang tua yang masih
kerepotan mengurusinya hidupnya sendiri. Oleh karena itu, mereka
biasanya mengadakan kesepakatan untuk tidak mempunyai anak
terlebih dahulu dalam jangka waktu tertentu. Jika terlanjur hamil dan
betul-betul tidak ada persiapan untuk menyambut kelahiran sang anak,
mereka dapat menempuh jalan pintas dengan cara menggugurkan
kandungannya. Harapannya, dengan hilangnya embrio/janin tersebut,
dimasa-masa mendatang mereka tak akan terbebani oleh kehadiran anak
yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk
merawatnya sampai besar dan menjadi orang.
e) Kehamilan akibat perkosaan. Perkosaan adalah pemaksaan hubungan
kelamin
(persetubuhan)
seorang
pria
kepada
seorang
wanita.
Konsekuensi logis dari adanya perkosaan adalah terjadinya kehamilan.
Kehamilan pada korban ini oleh seorang wanita korban perkosaan yang
bersangkutan maupun keluarganya jelas tidak diinginkan. Pada kasus
seperti ini, selain trauma pada perkosaan itu sendiri, korban perkosaan
juga mengalami trauma terhadap kehamilan yang tidak diinginkan.hal
32
inilah yang menyebabkan si korban menolak keberadaan janin yang
tumbuh di rahimnya. Janin dianggap sebagai objek mati, yang pantas
dibuang karena membawa sial saja. Janin tidak diangap sebagai bakal
manusia yang mempunyai hak-hak hidup. (Ekotama, 2001).
Pengguguran kandungan yang terjadi dewasa ini lebih banyak
didasarkan pada alasan sosiologis dibandingkan dengan alasan-alasan
medis. Alasan-alasan sosiologis ini dilarang
pidana
dan termasuk perbuatan
yaitu abortus provokatus kriminalis yang diancam hukuman
pidana.
Apabila dijabarkan, ada beberapa alasan yang digunakan oleh
wanita dalam menggugurkan kandungannya baik legal maupun illegal
yang disebabkan karena tidak menginginkan untuk meneruskan kehamilan
sampai
melahirkan. Alasan-alasan tersebut sebagaimana tulisan Dewi
Novita dalam bukunya Aborsi menurut Petugas Kesehatan dan tulisan
Yayah Chisbiyah, dkk, dalam bukunya Kehamilan yang tidak dikehendaki,
sebagai berikut: 35
1. Alasan kesehatan, yaitu apabila ada indikasi vital yang terjadi pada
masa
kehamilan,
apabila
diteruskan
akan
mengancam
dan
membahayakan jiwa si Ibu dan indikasi medis non vital yang terjadi
pada masa kehamilan dan berdasar perkiraan dokter, apabila diteruskan
akan memperburuk kesehatan fisik dan psikologis ibu. Selain itu juga
35
Dewi Novita, Aborsi menurut Petugas Kesehatan (Yogyakarta: PPPK-UGM, 1997),
halaman 16-20. Lihat juga dalam Yayah Chisbiyah, dkk, Kehamilan Yang Tidak Dikehendaki,
(Yogyakarta: PPPK-UGM, 1997), halaman 47.
33
didasarkan pada alasan kesehatan janin uyaitu untuk menghindari
kemungkina melahirkan bayi cacat fisik maupun mental, walaupun
alasan ini belum bisa diterima sebagai dasar pertimbangan medis.
2. Alasan sosial, tidak seluruhnya kehamilan perempuan
kehamilan yang dikehendaki,
dikehendaki
merupakan
artinya ada kehamilan yang tidak
dengan alasan anak sudah banyak, hamil diluar nikah
sebagai akibat pergaulan bebas, hamil akibat perkosaan atau incest,
perselingkuhan dan sebagainya. Perempuan yang mengalami kehamilan
yang tidak dikehendaki berusaha agar kehamilannya gugur baik melalui
perantara medis (dokter) maupun abortir gelap meskipun dengan resiko
tinggi. Hasil penelitian tentang kehamilan yang tidak dikehendaki
didasarkan pada alasan-alasan melakukan aborsi dari alasan yang
terkuat sampai terlemah yaitu: ingin terus melanjutkan sekolah atau
kuliah, takut pada kemarahan orang tua, belum siap secara mental dan
ekonomi untuk menikah dan mempunyai anak , malu pada lingkungan
sosial bila ketahuan hamil sebelum menikah, tidak mencintai pacar
yang menghamili, hubungan seks terjadi karena iseng, tidak tahu status
anak nantinya karena kehamilan terjadi akibat perkosaan apalagi
apabila pemerkosa tidak dikenal.
3. Alasan ekonomi, peningkatan kesempatan kereja terutama bagi kaum
perempuan juga dianggap faktor
yang akan mempengaruhi
peningkatan aborsi, perkembangan ekonomi menuju ekonomi industri
melalui ekonomi manufacur akan secara cepat meningkatkan jumlah
34
perempuan muda diserap sebagai tenaga kerja, juga mengikuti
pendidikan lebih tinggi. Konsekuensinya penundaan perkawinan
terjadi, padahal secara biologis mereka sudah beranjak pada masa
seksual aktif. Hubungan seks di luar nikah akan meningkat, terutama
karena dipicu oleh sarana hioburan, media film yang menawarkan
kehidupan seks secara vulgar. Aborsi juga dianggap sebagai pilihan
yang tepat karena adanya kontrak kerja untuk tidak hamil selama dua
tahun pertama kerja dan apabila tidak aborsi resikonya adalah dipecat
dari pekerjaan. Alasan ketidaksiapan ekonomi juga seringkali menjadi
pertimbangan bagi perempuan berkeluarga yang tidak menghendaki
kehamilannya untuk melakukan aborsi, seperti kegagalan KB,
pendapatan rendah yang tidak mencukupi untuk menanggung biaya
hidup.
4. Alasan keadaan darurat (memaksa), kehamilan akibat perkosaan.
Kehamilan yang terjadi sebagai akibat pemaksaan (perkosaan)
hubungan
kelamin
(persetubuhan)
seorang
laki-laki
terhadap
perempuan.
Adapun alasan yang terakhir ini, yaitu alasan keadaan darurat
(memaksa) berupa kehamilan akibat perkosaan sebagai alasan untuk
melakukan aborsi adalah merupakan fokus dan objek dalam penelitian ini,
dan akan dianalisa lebih lanjut dalam bab hasil penelitian dan pembahasan.
35
B. Regulasi Abortus Provocatus dalam Peraturan Perundang-undangan
Indonesia
Pengaturan tentang abortus provocatus terdapat dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yang berlaku sebagai hukum pidana umum
(Lex Generale), dan juga dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan yang menggantikan Undang-Undang No. 23 Tahun 1992, dan
berlaku sebagai hukum pidana khusus (Lex Speciale). Berikut ini adalah
pengaturan tentang abortus provocatus yang terdapat dalam kedua peraturan
perundang-undangan tersebut.
1. Regulasi Abortus Provocatus dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP)
Dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) tindakan
pengguguran kandungan yang disengaja (abortus provocatus) diatur dalam
Buku kedua Bab XIV tentang Kejahatan Kesusilaan khususnya Pasal 299,
dan Bab XIX Pasal 346 sampai dengan Pasal 349, dan digolongkan ke
dalam kejahatan terhadap nyawa. Berikut ini adalah uraian tentang
pengaturan abortus provocatus yang terdapat dalam pasal-pasal tersebut: 36
− Bab XIV KUHP:
36
Moeljatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, (Jakarta: Bina Aksara, 1990),
halaman 148-149.
36
Pasal 229
(1). Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau
menyuruhnya
supaya
diobati,
dengan
diberitahukan
atau
ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat
digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun atau denda palig banyak tiga ribu rupiah.
(2). Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan,
atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau
kebiasaan, atau jika dia seorang dokter, bidan atau juru obat,
pidananya dapat ditambah sepertiga.
(3). Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam
menjalankan pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk
melakukan pencarian itu.
Dari rumusan Pasal 299 KUHP tersebut, dapat diuraikan unsurunsur tindak pidana adalah sebagai berikut :
1. Setiap orang
yang sengaja mengobati seorang wanita atau
menyuruhnya supaya diobati dengan harapan dari pengobatan
tersebut kehamilannya dapat digugurkan, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling
banyak tiga ribu rupiah.
37
2. Seseorang yang sengaja menjadikan perbuatan mengobati
seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati dengan
harapan
dari
pengobatan
tersebut
kehamilannya
dapat
digugurkan dengan mencari keuntungan dari perbuatan tersebut
atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau
kebiasaan, maka pidananya dapat ditambah sepertiga.
3. Jika perbuatan mengobati seorang wanita atau menyuruhnya
supaya diobati dengan harapan dari pengobatan tersebut
kehamilannya dapat digugurkan itu dilakukan oleh seorang
dokter, bidan atau juru obat maka hak untuk berpraktek dapat
dicabut.
− Bab XIV KUHP:
a. Pasal 346 KUHP :
“Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun”.
b. Pasal 347 KUHP :
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
38
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
c. Pasal 348 KUHP:
(1) Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan
kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,
diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
d. Pasal 349 KUHP :
“Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan
kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan
salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang
ditentukan dalam pasal itu dapat dditambah dengan sepertiga dan
dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana
kejahatan dilakukan”.
Dari rumusan pasal-pasal tersebut di atas dapat diuraikan unsurunsur tindak pidana adalah sebagai berikut :
1. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia
menyuruh orang lain, diancam hukuman empat tahun penjara.
39
2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil,
dengan tanpa persetujuan ibu hamil tersebut, diancam hukuman
penjara 12 tahun, dan jika ibu hamil tersebut mati, diancam 15
tahun penjara.
3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5
tahun penjara dan bila ibu hamilnya mati diancam hukuman 7
tahun penjara.
4. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus
tersebut seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan)
ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan hak untuk
berpraktek dapat dicabut.
P.A.F. Lamintang memberi penjelasan terhadap pasal-pasal
tersebut sebagai berikut:37
a. Pengguguran anak dari kandungan hanyalah dapat dihukum, jika anak
yang berada dalam kandungan itu selama dilakukan usaha
pengguguran berada dalam keadaan hidup. Undang-undang tidak
mengenal anggapan hukum yang dapat memberi kesimpulan bahwa
anak yang berada di dalam kandungan itu berada dalam keadaan hidup
ataupun mempunyai kemungkinan tetap hidup. (H.R. 1 Nopember
1897. W.7038).
b. Untuk pengguguran yang dapat dihukum, disyaratkan bahwa anak yang
berada dalam kandungan itu selama dilakukan usaha pengguguran
kandungan berada dalam keadaan hidup. Tidak perlu bahwa anak itu
menjadi mati karena usaha pengguguran tersebut. Kenyataan bahwa
anak itu dilahirkan dalam keadaan selamat, tidaklah menghapus bahwa
kejahatan itu selesai dilakukan. Undang-undang tidak membedakan
37
P.A.F. Lamintang, Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Sinar Baru, 1990), halaman 206.
40
antara berkurang atau lebih lancarnya pertumbuhan anak yang hidup
didalam kandungan melainkan menetapkan pemisahan dari tubuh si ibu
yang tidak pada waktunya sebagai perbuatan yang dapat dihukum.
(H.R. 12 April 1898. W. 7113).
c. Disyaratkan bahwa anak yang berada di dalam kandungan itu hidup dan
si pelaku mempunyai kesengajaan untuk menggugurkan anak yang
berada di dalam keadaan hidup itu. Dianggap bahwa kesengajaan itu
ada, apabila selama proses kelahiran anak itu berada dalam keadaan
hidup dan si pelaku diliputi oleh anggapan bahwa demikianlah halnya.
(H.R. 29 Juli 1907. W. 8580).
d. Alat-alat pembuktian yang disebutkan oleh hakim didalam putusannya
haruslah dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa wanita itu hamil dan
mengandung anak yang hidup dan bahwa tertuduh mempunyai maksud
untuk dengan sengaja menyebabkan gugur atau meninggalnya anak
tersebut. (H.R. 20 Desember 1943, 1994 No. 232).
Dari ketentuan Pasal 346-349 KUHP dapat diketahui, bahwa
aborsi menurut konstruksi yuridis peraturan perundang-undangan di
Indonesia yang terdapat dalam KUHP adalah tindakan menggugurkan atau
mematikan kandungan yang dilakukan oleh seorang wanita atau orang
yang disuruh melakukan itu. Wanita dalam hal ini adalah wanita hamil
yang atas kehendaknya ingin menggugurkan kandungannya, sedangkan
tindakan yang menurut KUHP dapat disuruh lakukan untuk itu adalah
dokter, bidan atau juru obat.
2. Regulasi Abortus Provocatus dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan
41
Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
tentang
Kesehatan
yang
menggantikan
undang-undang
kesehatan
sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992, maka
permasalahan aborsi memperoleh legitimasi dan penegasan. Secara
eksplisit, dalam undang-undang ini terdapat pasal-pasal yang mengatur
mengenai aborsi, meskipun dalam praktek medis mengandung berbagai
reaksi dan menimbulkan kontroversi diberbagai lapisan masyarakat.
Meskipun, undang-undang melarang praktik aborsi, tetapi dalam keadaan
tertentu terdapat kebolehan. Ketentuan pengaturan aborsi dalam UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 dituangkan dalam Pasal 75, 76 , 77, dan
Pasal 194 . Berikut ini adalah uraian lengkap mengenai pengaturan aborsi
yang terdapat dalam pasal-pasal tersebut:
− Pasal 75:
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini
kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin,
yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan,
maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi
tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat
dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra
tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang
dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
42
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi dihitung dari hari pertama
haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis kedaruratan
medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan
ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
− Pasal 76:
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu;
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan
yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan
oleh Menteri.
− Pasal 77:
“Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak
bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan
dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan”.
− Pasal 194
“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai
dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.
43
Penjelasan Pasal 75 ayat (3) UU No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, menyatakan:
Yang dimaksud dengan “konselor” dalam ketentuan ini adalah
setiap orang yang telah memiliki sertifikat sebagai konselor
melalui pendidikan dan pelatihan. Yang dapat menjadi konselor
adalah dokter, psikolog, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan
setiap orang yang mempunyai minat dan memiliki keterampilan
untuk itu.38
Selanjutnya penjelasan Pasal 77 memberikan penjelasan sebagai berikut:
Yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak
aman, dan tidak bertanggung jawab adalah aborsi yang
dilakukan dengan paksaan dan tanpa persetujuan perempuan
yang bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
tidak profesional, tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan
yang berlaku, diskriminatif, atau lebih mengutamakan imbalan
materi dari pada indikasi medis.39
Pengguguran kandungan yang disengaja dengan melanggar
berbagai ketentuan hukum (abortus provocatus criminalis) yang terdapat
dalam KUHP menganut prinsip “illegal tanpa kecuali” dinilai sangat
memberatkan paramedis dalam melakukan tugasnya. Pasal tentang aborsi
yang
diatur
dalam
Kitab
Undang-Undang
Hukum
Pidana
juga
bertentangan dengan Pasal 75 ayat (2) UU No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, di mana pada prinsipnya tindakan pengguguran kandungan
atau aborsi dilarang (Pasal 75 ayat (1)), namun Larangan tersebut dapat
dikecualikan berdasarkan:
38
39
Penjelasan Pasal 75 ayat (3) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Penjelasan Pasal 77 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
44
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan,
baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita
penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat
diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan;
atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban perkosaan.
Menurut
Kusumo
yang
dikutip
dalam
buku
Ekotama,
menyatakan disini berlaku asas lex posteriori derogate legi priori. Asas ini
beranggapan bahwa jika diundangkan peraturan baru dengan tidak
mencabut peraturan lama yang mengatur materi yang sama dan keduanya
saling bertentangan satu sama lain, maka peraturan yang baru ini
mengalahkan atau melumpuhkan peraturan yang lama.40
Dengan demikian, Pasal 75 ayat (2) Undang-Undang No. 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan yang mengatur tentang abortus provocatus
medicinalis tetap dapat berlaku di Indonesia meskipun sebenarnya aturan
itu bertentangan dengan rumusan abortus provocatus criminalis menurut
KUHP.
C. Tinjauan tentang Tindak Pidana Perkosaan
1. Perumusan dan Pengaturan Tindak Pidana Perkosaan
40
Suryono Ekotama, dkk., Op.Cit., halaman 77.
45
Salah satu kejahatan terhadap kesusilaan yang ada pada akhirakhir ini, banyak mendapat sorotan, adalah tindak pidana perkosaan.
Masalah perkosaan telah menjadi bahan pembicaraan, baik dikalangan
para ahli hukum, maupun di dalam masyarakat, atau di lingkungan para
wanita. Perhatian masyarakat mungkin, disebabkan karena tindak
kejahatan tersebut dilakukan dengan cara-cara yang keji, di luar
perikemanusiaan dan tidak berdiri sendiri. Tindak pidana perkosaan
tersebut, tidak hanya ditujukan pada remaja atau wanita dewasa saja,
melainkan juga ditujukan terhadap anak-anak.
Tindak pidana perkosaan walaupun sudah sejak lama ada, namun
hingga sekarang
ini
masih
menimbulkan
pro dan
kontra atas
pengertiannya, serta cara penanggulangannya, terutama di negara-negara
maju. Sementara itu, kasus-kasus perkosaan akhir-akhir ini telah
menimbulkan reaksi sebagian masyarakat bahkan ketidakpuasan terhadap
sanksi pidana yang dijatuhkan. Dalam kata “perkosaan” tentu terbayang
kengerian, dan begitu kata perkosaan didengar, seketika itu pula timbul
rasa jijik dan benci disamping kasihan. Benci kepada ulah pelaku dan
kasihan kepada nasib derita korban.
Ada beberapa aspek yang menyebabkan perkosaan itu memiliki
arti yang mengerikan. Aspek-aspek tersebut bisa ditinjau dari segi yuridis
formal, segi teologis maupun dari segi sosiologis. Ketiga aspek tersebut
46
sangat
mempengaruhi
persepsi
(pandangan)
masyarakat
terhadap
perbuatan yang dinamakan “perkosaan” itu.
Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechtsstaat)
dan bukan negara yang berdasar atas kekuasaan belaka (machtsstaat).
Demikian bunyi butir pertama dari tuju sistem pemerintahan negara yang
terdapat dalam penjelasan umum UUD 1945. Konsekuensi logis dari
adanya prinsip di atas adalah segala sesuatu di muka bumi Indonesia harus
di atur oleh seperangkat peraturan perundang-undangan. Tujuannya
sebenarnya baik, yakni demi terwujudnya ketertiban umum untuk menuju
masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.
Peraturan perundang-undangan mengatur mengenai hak dan
kewajiban individu sebagai warga negara. Kewajiban adalah segala
sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap individu dalam kehidupan seharihari dan kedudukannya sebagai warga negara. Adapun kewajiban utama
warga negara di sini adalah mentaati peraturan perundang-undangan yang
ada, tidak melakukan pelanggaran atas larangan-larangan yang ditetapkan
oleh negara. Dalam kaitannya dengan hak warga negara, peraturan
perundang-undangan memberikan berbagai batasan atau pelaksanaan hakhak pribadi warga negara agar tidak melanggar hak-hak pribadi orang lain.
Oleh karena itu, peraturan perundang-undangan biasanya berisi aturanaturan yang bersifat umum. larangan-larangan maupun aturan-aturan yang
bersifat anjuran, yang harus ditaati oleh setiap penduduk Indonesia.
47
Kitab Undang-Undang Hukum pidana (KUHP) termasuk salah
satu peraturan perundang-undangan yang bersifat imperatif, yaitu isinya
berupa larangan-larangan yang bersifat umum dan siapapun yang
melanggar aturan-aturan tersebut diancam dengan sanksi pidana yang
tegas dan nyata. Yakni berupa pidana badan (pidana penjara) dan dalam
hal ini adalah pelaku perbuatan pidana perkosaan.
Rumusan perbuatan pidana perkosaan terdapat dalam Buku ke II
Bab XIV KUHP tentang kejahatan terhadap kesusilaan, khususnya pasal
285. Adapun rumusan selengkapnya pasal 285 KUHP adalah sebagai
berikut : “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar pernikahan,
diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama
dua belas tahun”.41
Menurut Arif Gosita yang seringkali menjadi korban perkosaan
adalah wanita-wanita lemah mental, fisik, dan sosial dalam arti luassud . 42
Yang dimaksud dengan lemah mental adalah kurang mampu berpikir,
membuat penilaian, pemilihan secara tepat dalam menghadapi persoalan
tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan lemah fisik adalah kurang
mampu
melawan
karena
keadaan
tubuhnya,
tidak
mempunyai
keterampilan membela diri, tidak punya sarana melindungi diri, dan
mempenyai kecenderungan tertentu yang dapat menyebabkan perkosaan.
41
42
Moeljatno, Kitab…., Op.Cit., halaman 105.
Arif Gosita, Masalah Korban Kejahatan, (Jakarta: Akademika Pressindo, 1993), halaman
13.
48
Selanjutnya masih menurut Arif Gosita, korban perkosaan dapat dibagi
dalam tiga bagian, yaitu:
1. Korban murni : a. Korban pekosaan yang belum pernah berhubungan (kenal) dengan para pelaku.
b. Korban
perkosaan
yang
berhubungan dengan pelaku.
pernah
2. Korban ganda, yaitu korban perkosaan yang mengalami
penderitaan selama perkosaan, penderitaan mental, fisik, dan
sosial.
3.
Korban semu, yaitu korban perkosaan yang secara materil
menghendaki perbuatan itu dilakukan terhadap dirinya, baik
karena keinginannya sendiri maupun karena suruhan orang
lain.43
2. Unsur-unsur Tindak Pidana Perkosaan
Berdasarkan rumusan Pasal 285 KUHP tentang tindak pidana
perkosaan seperti tersebut di atas, Abdul Wahid membagi secara rinci
mengenai unsur-unsur obyektif dari perbuatan pidana perkosaan sebagai
berikut :
1).
2).
3).
4).
5).
6).
Barang siapa ;
Dengan kekerasan ;
Dengan ancaman kekerasan ;
Memaksa ;
Seorang wanita (di luar perkawinan) ; dan
Bersetubuh.44
Berikut ini adalah uraian tentang unsur-unsur tindak pidana
perkosaan:
Ad. 1. Barang siapa
43
Ibid.
Abdul Wahid, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual (Advokasi Atas Hak
Asasi Perempuan), (Bandung : Refika Aditama,2001), halaman 109.
44
49
Menurut Abdul wahid, “Yang dimaksud dengan barang siapa
atau subjek di sini adalah orang atau manusia”.45 Jadi, unsur ini merupakan
unsur utama perbuatan pidana perkosaan yang menunjuk pada subyek
kejahatan atau pelaku kejahatan perkosaan.
perkosaan umumnya adalah pria. Namun tidak setiap pria dapat
dituduh melakukan perbuatan pidana perkosaan terhadap seorang wanita.
Oleh karena itu pengertian barang siapa di sini adalah pria yang
melakukan perbuatan yang memenuhi unsur-unsur pasal 285 KUHP, yakni
dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita
bersetubuh dengan dia di luar pernikahan. Hanya pria dengan kualifikasi
seperti tersebut di atas, dapat dituduh sebagai pemerkosa.
Ad. 2. Dengan Kekerasan
Menurut Abdul Wahid, “Yang dimaksud dengan kekerasan
adalah kekuatan fisik atau perbuatan fisik yang menyebabkan orang lain
secara fisik tidak berdaya, tidak mampu melakukan perlawanan atau
pembelaan”.46
Undang-undang dalam hal ini KUHP tidak memberikan
pengertian secara terperinci mengenai apa yang dimaksud dengan
“kekerasan”. Para hakim dalam prakteknya untuk memberikan pengertian
tentang kekerasan merujuk pada pengertian yang tercantum dalam pasal 89
45
46
Ibid., halaman 15.
Ibid., halaman 110.
50
KUHP. Di dalam pasal 89 KUHP, disebutkan bahwa yang dimaksud
dengan kekerasan adalah “membuat orang pingsan atau tidak berdaya
disamakan dengan menggunakan kekerasan”.47
Meskipun demikian, kekerasan bisa dilakukan dengan cara
menganiaya korban dengan tangan kosong, seperti membenturkan kepala
korban ke lantai atau tembok, menampar pipi korban atau meninju
(memukul)
bagian
tubuh
korban
yang
lain
untuk
meniadakan
pemberontakan dari korban. Bisa juga dengan mengikat kaki korban
sebelum diperkosa atau melukai korban dengan senjata tajam.
Ad. 3. Dengan Ancaman Kekerasan
Abdul Wahid berpendapat bahwa, “Ancaman kekerasan adalah
serangan psikis yang menyebabkan orang menjadi ketakutan sehingga
tidak mampu melakukan pembelaan atau perlawanan atau kekerasan yang
belum diwujudkan, tapi yang menyebabkan orang yang terkena tidak
mempunyai pilihan selain mengikuti kehendak orang yang mengancam
dengan kekerasan”.48
Mengenai unsur ini disyaratkan :
a). Bahwa ancaman itu harus diungkapkan dalam suatu keadaan
sedemikian rupa, sehingga dapat menimbulkan kesan pada orang yang
47
48
Moeljatno, Kitab…., Op. Cit., halaman 36.
Abdul Wahid, Op.Cit., halaman 111.
51
diancam bahwa yang diancamkan itu benar-benar akan dapat merugikan
kebebasan pribadinya.
b). Bahwa maksud pelaku memang sengaja ditujukan untuk ancaman itu.
Ancaman kekerasan biasanya ditujukan lewat kata-kata atau bahasa
tubuh pelaku pemerkosaan. Misalnya pemerkosa mengeluarkan katakata “Diam Kamu”!, atau kalau melawan akan saya bunuh !” sambil
melotot dan mengeluarlan sebilah pisau untuk menakut-nakuti korban.
Ancaman seperti itu biasanya gampang meruntuhkan mental korban,
sekalipun mungkin pelaku perkosaan hanya main gertak saja.
Ad. 4. Memaksa
Menurut
Abdul
Wahid,
“Memaksa
dalam
perkosaan
menunjukkan adanya pertentangan kehendak antara pelaku dengan korban.
Pelaku mau atau ingin bersetubuh sementara korban tidak mau atau tidak
ingin”.49
Unsur terpenting terjadinya perbuatan pidana perkosaan adalah
terjadinya pemaksaan hubungan kelamin (persetubuhan) antara seorang
laki-laki (pelaku) dengan seorang perempuan (korban perkosaan).
Tindakan memaksa itu dapat diwujudkan dengan perbuatan maupun
ucapan. Perbuatan membuat perempuan menjadi terpaksa bersedia
mengadakan hubungan kelamin. keterpaksaan seorang perempuan untuk
berhubungan kelamin dengan laki-laki yang bukan suaminya (pemerkosa)
49
Ibid., hlm. 112.
52
ini erat hubungannya dengan perbuatan kekerasan atau ancaman dari
pelaku. Sebab jika tidak ada kekerasan atau ancaman kekerasan, mustahil
seorang wanita mau berhungan kelamin dengan sembarang laki-laki yang
tidak dikehendakinya. Tetapi karena ia menerima perlakuan kasar dari
pelaku maupun ancaman yang bertubi-tubi, mau tidak mau, dengan
terpaksa ia harus menuruti kehendak pemerkosa.
Unsur “memaksa” ini dapat dipakai untuk membuktikan oleh
jaksa dan hakim yang memeriksa bahwa dalam suatu perbuatan pidana
perkosaan, pelaku melakukan perbuatan tersebut dengan “kesengajan”,
yaitu membuktikan adanya :
a). Kehendak atau maksud pelaku memakai kekerasan;
b). Kehendak atau maksud pelaku untuk mengancam dengan kekerasan;
dan
c). Kehendak atau maksud pelaku untuk memaksa dengan kekerasan.
Jika dalam pembuktian tersebut tidak terbukti adanya salah satu
maksud pelaku seperti tersebut di atas, maka tidak ada alasan untuk
menyatakan bahwa terdakwa terbukti mempunyai “kesengajaan” dalam
melakukan perbuatan pidana yang didakwakan kepadanya.
Perlu ditekankan di sini bahwa tiadanya unsur terpaksa bagi
seorang perempuan untuk berhubungan kelamin dengan seorang laki-laki,
dapat menggugurkan tuduhan telah terjadi perbuatan pidana perkosaan.
“Tiadanya unsur keterpaksaan tersebut dapat dianggap sebagai perbuatan
53
suka sama suka atau kerelaan dari perempuan yang tidak dilarang oleh
undang-undang”. 50
Ad. 5. Seorang Wanita (di luar perkawinan )
Mengenai hal ini Abdul Wahid berpendapat bahwa:
Unsur utama yang dipaksa bersetubuh adalah wanita di luar
perkawinan dengan pelaku. Dari adanya unsur ini dapat
disimpulkan bahwa:
a) Perkosaan hanya terjadi oleh laki-laki terhadap wanita;
b) Tidak ada perkosaan untuk bersetubuh oleh wanita
terhadap laki-laki atau wanita terhadap wanita;
c)
Tidak ada perkosaan untuk bersetubuh bila dilakukan oleh
laki-laki yang terikat perkawinan dengan wanita yang
menjadi korban. Atau tidak ada perkosaan untuk
bersetubuh oleh suami terhadap isteri.51
Istilah perkosaan hanya berlaku bagi wanita. Hal ini berkaitan
erat dengan pengertian persetubuhan. Persetubuhan berarti hubungan
kelamin yang terjadi antara seorang laki-laki dan wanita, dimana alat
kelamin laki-laki tadi dimasukkan
ke dalam vagina wanita yang
bersangkutan dan terjadi ejakulasi di dalam vagina wanita tersebut.
Pengertian seorang wanita menurut hemat penulis dalam hal ini
adalah orang yang memiliki ciri-ciri kelamin perempuan, diantaranya
50
Suryono Ekotama, Abortus Provokatus Bagi Korban Perkosaan, (Yogyakarta : UAJ,
2001), halaman 155.
51
Abdul Wahid, Loc.Cit.
54
memiliki vagina dan payudara. Pasal 285 KUHP tidak menyebutkan
pengertian seorang wanita ataupun kategori usia tertentu. Oleh karena itu
tindak pidana perkosaan bisa berlaku bagi siapapun yang berkelamin
perempuan tanpa memandang usianya. Artinya perkosaan bisa saja
menimpa seorang perempuan yang berusia balita, belasan tahun,
perempuan separuh baya atau bahkan manula (manusia usia lanjut).
Ad.6. Bersetubuh
“Untuk selesainya tindak pidana perkosaan untuk bersetubuh,
maka harus terjadi persetubuhan antara pelaku dengan korban, dalam arti
tidak
ada
perbuatan
untuk
bersetubuh
manakala
tidak
terjadi
persetubuhan”.52 Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa unsur
terpenting perkosaan selain pemaksaan adalah persetubuhan antara pelaku
perkosaan dengan wanita yang menjadi korbannya. Persetubuhan atau
mengadakan hubungan kelamin disini diartikan sebagai masuknya penis
pelaku perkosaan ke dalam vagina wanita yang menjadi korbannya dan
terjadi ejakulasi di dalam vagina tersebut. Namun demikia, perlu dicatat
bahwa Van Bemmelen Van Hattum berpendapat:
Met Noyon-Langemeijer ben ik van oordeel dat ejaculatio
seminis niet vereist is voor vleselijke gemeenschap. Het brengen
van het mannelijk, geslachtsdeel in het vrouwelijke is
voldoende. Artinya saya berpendapat dengan NoyonLangemeijer bahwa bagi adanya suatu perbuatan mengadakan
52
Ibid.
55
hubungan kelamin itu tidak disyaratkan telah terjadinya suatu
“ejaculatio seminis” melainkan cukup jika orang telah
memasukkan penisnya ke dalam vagina.53
Suatu persetubuhan dikatakan sempurna jika si pemerkosa sudah
mencapai ejakulasi (mengeluarkan cairan sperma) di dalam vagina seorang
wanita. Masuknya penis ke dalam vagina saja belum cukup sebab
pemerkosaan bukanlah persetubuhan biasa. Menurut Suryono Ekotama,
mungkin pada hubungan suami isteri, ketika penis suami sudah masuk ke
vagina isteri sudah dapat dikatakan mereka melakukan persetubuhan.
Sebab bisa saja si isteri sudah mencapai orgasme dulu dan suami tidak
melakukan aksinya lebih lanjut, atau bisa saja pasangan suami isteri
tersebut melakukan coitus interuptus (senggama terputus), dimana suami
mengeluarkan cairan mani di luar kemaluan si isteri.54
Lain halnya dengan perkosaan. Perkosaan adalah suatu kejahatan.
Kejahatan itu sendiri dilakukan atas dasar niat pelaku untuk melakukan
perbuatan yang dilarang undang-undang. Dan pemerkosa memiliki niat
untuk menyetubuhi seorang wanita serta mencapai kepuasan dari
persetubuhan itu (ejakulasi). Jika penis baru masuk dan ejakulasi belum
terjadi berarti , itu berarti niat pelaku semula belum sepenuhnya tercapai.
Sebab yang diharapkan adalah kepuasan dari persetubuhan itu. Sehingga
perkosaan dikatakan telah terjadi jika seorang pria memasukkan penisnya
secara paksa ke dalam vagina seorang wanita dan mencapai ejakulasi
dalam vagina tersebut.
53
54
Suryono Ekotama, Op.Cit., halaman 114-115.
Ibid., halaman 157.
56
Selanjutnya masih menurut Suryono Ekotama, adapun jika
seorang pria sudah memasukkan penisnya ke dalam vagina namun belum
sempat ejakulasi, perbuatan tersebut terhenti karena diketahui orang lain,
maka perbuatan itu dianggap sebagai suatu percobaan perkosaan yang
melanggar Pasal 53 ayat (1) jo. Pasal 285 KUHP. Adapun Pasal 53 ayat
(1) KUHP menyatakan: “Mencoba melakukan kejahatan dipidana jika niat
untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak
selesainya pelaksanaan itu bukan semata-mata dikarenakan kehendaknya
sendiri.”55
Jika mengacu pada rumusan Pasal 53 ayat (1) KUHP tersebut di
atas, maka perbuatan pria yang memasukkan penisnya secara paksa ke
dalam vagina seorang wanita adalah suatu permulaan pelaksanaan dari
tindak pidana perkosaan. Namun karena tidak selesainya pelaksanaan
perkosaan itu (pelaku belum mencapai ejakulasi) semata-mata bukan
karena kehendaknya sendiri, maka perbuatan itu dianggap sebagai
percobaan perkosaan. Meskipun akibat percobaan perkosaan tersebut, alat
kelamin korban mengalami luka misalnya lecet-lecet atau pecahnya
selaput dara.
55
Moeljatno, Kitab..., Op.Cit., halaman 24-25.
57
BAB III
METODE PENELITIAN
Perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan, mensyaratkan dan
memutlakkan adanya suatu kegiatan penelitian. Tanpa penelitian itu ilmu
pengetahuan tidak dapat hidup dan tidak dapat diyakini kebenarannya. Tetapi
lebih dinamis lagi penelitian juga berfungsi dan bertujuan inventif, yakni secara
terus-menerus memperbaharui lagi kesimpulan dari teori yang telah diterima
berdasarkan fakta-fakta. Tanpa penelitian ilmu pengetahuan akan berhenti, bahkan
akan surut kebelakang.56 Oleh karena itu di dalam setiap penelitian diperlukan
suatu tata cara yang nantinya akan digunakan untuk meneliti objek penelitian.
Proses yang demikian inilah yang disebut dengan Metodologi Penelitian.
Dengan demikian, metodologi merupakan perencanaan penelitian
terhadap objek yang diteliti. Biasanya objek tersebut adalah berupa fakta empiris
yang terjadi dalam masyarakat, yang kemudian akan dikaji secara metodis dan
disusun secara sistematis kemudian diuraikan secara logis dan analitis. Dari semua
penelitian ini akan mendapatkan suatu pemecahan masalah atau mendapatkan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tertentu, sehingga hasil yang diharapkan
56
Anton Bakker dan Ahmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat (Yogyakarta:
Kanisius, 1990), halaman 11.
58
dapat benar-benar terwujud dalam suatu penyusunan karya ilmiah atas dasar hasil
penelitian.
Adapun metode-metode yang digunakan oleh peneliti dalam melakukan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Metode Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
yuridis-normatif, yaitu metode pengkajian yang didasarkan pada data
sekunder yang berupa bahan-bahan hukum, terutama bahan hukum primer
(dalam hal ini peraturan-perundangan hukum pidana positif yang relevan
dengan permasalahan yang ada) dan bahan hukum sekunder (rancangan
undang-undang
hukum pidana atau Konsep KUHP), serta pendapat para
sarjana, para ahli dari berbagai literatur yang terdapat dalam buku-buku,
majalah, surat kabar, dokumentasi data, dan keterangan lainnya yang
mendukung dan melengkapi obyek kajian penulis. Pendekatan tersebut dipilih
karena objek penelitian ini berpijak pada norma-norma hukum yaitu untuk
mengetahui pengaturan Hukum Pidana tentang abortus provocatus yang
dilakukan oleh korban perkosaan.
2. Spesifikasi Penelitian
Bertitik-tolak dari judul dan permasalahan yang mendasari penelitian
ini, maka penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif- analitis, yaitu
menggambarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku / hukum positif
dikaitkan dengan teori hukum dan praktek pelaksanaan hukum positif dalam
59
masyarakat. Penelitian deskriptif
merupakan penelitian untuk memecahkan
masalah yang ada pada masa sekarang (masalah aktual) dengan
mengumpulkan data, menyusun, mengklasifikasikan, menganalisis dan
mengintepretasikannya.57 Dengan demikian, dari penelitian ini dapat
memberikan gambaran mengenai pengaturan abortus provocatus, khususnya
pada korban perkosaan dalam hukum pidana.
3. Metode Penentuan Sampel
Oleh karena penelitian ini lebih menitik-beratkan pada pendekatan
yuridis-normatif, maka penentuan populasi, sample dan teknik sampling
bukan merupakan suatu keharusan.58 Penelitian ini lebih difokuskan pada
peraturan perundangan yang mengatur tentang abortus provocatus, yang
lebih spesifik lagi tentang pengaturan abortus provocatus yang dilakukan
oleh korban perkosaan, yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
yang berlaku sebagai hukum pidana umum (Lex Generale) dan UndangUndang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yang berlaku sebagai hukum
pidana khusus (Lex Speciale).
4.
Metode Pengumpulan Data
Berdasarkan pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini,
maka
metode
pengumpulan
data
57
yang
dipergunakan
adalah
studi
Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2002), halaman 36.
58
Philipus M. Hadjon, “Pengkajian Ilmu Hukum”, Makalah, ‘Penataran dan Lokakarya
Sehari Menggagas Usulan dan Laporan Penelitian Hukum Normatif’, Fakultas Hukum Brawijaya,
Malang, 22 Februari, 1997, halaman 2-3.
60
kepustakaan. Data yang dikumpulkan dalam hal ini adalah data sekunder.
Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung
berdasarkan pengalaman yang mendalam dari pihak lain sebagai sumber data
atau diperoleh berdasarkan studi pustaka, penelitian pihak lain atau studi
dokumen. Adapun data sekunder yang diperoleh dari bahan-bahan tertulis
terdiri dari bahan-bahan hukum primer dan sekunder serta tersier. Disamping
itu juga dipergunakan dokumen-dokumen (berkas perkara, kertas kerja dll),
monografi dan artikel media massa.
5. Metode Analisa Data
Analisa data dilakukan secara kualitatif, kemudian diidentifikasi serta
dilakukan kategorisasi. Analisis kualitatif yaitu metode analisis yang pada
dasarnya mempergunakan pemikiran logis, analisis dengan logika, dengan
induksi, deduksi, analogi/intepretasi, komparasi dan sejenis itu. 59 Data
kuantitatif akan disajikan dalam bentuk tabel untuk mendukung analisis
kualitatif. Metode berpikir yang dipergunakan adalah metode deduktif, yaitu
dengan berdasarkan pada dasar-dasar pengetahuan yang bersifat umum untuk
mengkaji persoalan-persoalan yang bersifat khusus. Dari hasil analisis
tersebut
kemudian
akan
ditarik
permasalahan yang ada.
59
Ibid, halaman 38.
61
kesimpulan
sebagai
jawaban
atas
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Pengaturan tentang Abortus Provocatus pada Korban Perkosaan dalam
Perspektif Hukum Pidana
Pengaturan tentang abortus provocatus dalam perspektif hukum
pidana Indonesia (ius constitutum) terdapat dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP) yang berlaku sebagai hukum pidana umum (Lex
Generale), dan juga dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan yang menggantikan Undang-Undang No. 23 Tahun 1992, dan
berlaku sebagai hukum pidana khusus (Lex Speciale).
Dari hasil penelitian yang dilakukan, berikut ini penulis
menguraikan hasil analisa data terkait dengan bagaimana pengaturan hukum
pidana, dalam hal ini adalah hukum pidana yang berlaku di Indonesia (ius
constitutum) baik yang terdapat dalam KUHP maupun dalam UU No. 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan, dalam kaitannya dengan abortus provocatus
yang dilakukan oleh korban perkosaan sebagai obyek permasalahan yang
terdapat dalam penelitian ini. Adapun analisa yang dilakukan terkait dengan
permasalahan tersebut dimulai dari pengaturan hukum pidana umum (KUHP)
dan kemudian dilanjutkan dengan analisa berdasarkan pengaturan yang
62
terdapat dalam hukum pidana khusus (UU No. 36 Tahun 2009 tetang
Kesehatan).
1. Pengaturan Abortus Provocatus pada Korban Perkosaan dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Dalam bab sebelumya sudah diuraikan tentang regulasi tindakan
pengguguran kandungan yang disengaja (abortus provocatus) dalam Kitab
Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) diatur dalam Buku kedua Bab
XIV tentang Kejahatan Kesusilaan khususnya Pasal 299, dan Bab XIX
Pasal 346 sampai dengan Pasal 349, dan digolongkan ke dalam kejahatan
terhadap nyawa. Berdasarkan ketentuan tersebut, berikut ini adalah uraian
analisa tentang pengaturan abortus provocatus pada korban perkosaan
yang terdapat dalam masing-masing pasal tersebut:
Dalam Bab XIV KUHP khususnya Pasal 229, mengatur tentang:
(1). Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau
menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan
harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda
paling banyak tiga ribu rupiah.
(2). Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau
63
jika dia seorang dokter, bidan atau juru obat, pidananya dapat
ditambah sepertiga.
(3). Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalankan
pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Dari rumusan Pasal 299 KUHP tersebut, dapat diuraikan unsurunsur tindak pidana adalah sebagai berikut :
1. Setiap orang
yang sengaja mengobati seorang wanita atau
menyuruhnya supaya diobati dengan harapan dari pengobatan tersebut
kehamilannya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
2. Seseorang yang sengaja menjadikan perbuatan mengobati seorang
wanita atau menyuruhnya supaya diobati dengan harapan dari
pengobatan tersebut kehamilannya dapat digugurkan dengan mencari
keuntungan dari perbuatan tersebut atau menjadikan perbuatan
tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, maka pidananya dapat
ditambah sepertiga.
3. Jika perbuatan mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya
diobati dengan harapan dari pengobatan tersebut kehamilannya dapat
digugurkan itu dilakukan oleh seorang dokter, bidan atau juru obat
maka hak untuk berpraktek dapat dicabut.
64
Pasal 299 KUHP dimasukkan dalam titel XIV KUHP, adapun
semua titel XIV KUHP adalah dikualifikasikan sebagai kejahatan
kesusilaan. Dan semua kejahatan kesusilaan jika ditinjau dari sudut
perumusan delik, dikualifikasikan sebagai delik aduan. Artinya barang
siapa yang melakukan pelanggaran terhadap pasal-pasal delik kesusilaan
maka terhadap pelakunya hanya dapat dituntut melalui proses peradilan
pidana apabila ada aduan (pengaduan) dari pihak korban (orang yang
dirugikan) dari perbuatan tersebut. Dengan demikian, perbuatan mengobati
seorang wanita yang sedang hamil atau menyuruhnya supaya diobati
dengan harapan dari pengobatan tersebut kehamilannya dapat digugurkan,
seperti yang dirumuskan dalam Pasal 299 KUHP juga merupakan delik
aduan.
Yang dimaksud dengan pelaku seperti yang dirumuskan dalam
Pasal 299 KUHP hanya ditujukan terhadap siapa saja dalam hal ini adalah
setiap orang yang melakukan perbuatan mengobati seorang wanita yang
sedang hamil atau menyuruhnya supaya diobati dengan harapan dari
pengobatan tersebut kehamilan dari wanita tersebut dapat digugurkan.
Dengan demikian, menurut ketentuan yang terdapat dalam Pasal 299
KUHP tersebut sepanjang menyangkut pelaku, maka seorang wanita yang
sedang hamil, dan kehamilan tersebut adalah sebagai akibat tindakan
perkosaan yang dialami sebelumnya, dan kemudian menerima penawaran
dari seseorang yang mengobati dirinya atau menyuruhnya supaya diobati
dengan harapan dari pengobatan tersebut kehamilannya dapat digugurkan,
65
tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana. Terhadap wanita yang
sedang hamil, dimana kehamilannya disebabkan karena tindakan
perkosaan yang pernah dialaminya berdasarkan pengaturan Pasal 299
KUHP hanyalah sebagai korban dari perbuatan pengobatan yang dilakukan
oleh pelaku, yakni setiap orang yang melakukan perbuatan mengobati
seorang wanita yang sedang hamil atau menyuruhnya supaya diobati
dengan harapan dari pengobatan tersebut kehamilan dari wanita tersebut
dapat digugurkan. Adapun setiap orang menurut Pasal 299 KUHP
termasuk dokter, bidan, atau juru obat.
Dengan demikian, berdasarkan perumusan dan pengaturan yang
terdapat dalam ketentuan Pasal 299 KUHP, perbuatan yang diatur sebagai
tindak pidana yang memiliki korelasi dengan perbuatan pengguguran
kandungan adalah lebih menitikberatkan pada perbuatan mengobati
seorang wanita yang sedang hamil atau perbuatan menyuruh wanita
tersebut supaya diobati dengan harapan dari pengobatan tersebut
kehamilannya dapat digugurkan. Sedangkan pelaku dalam hal ini adalah
setiap orang yang melakukan perbuatan mengobati seorang wanita yang
sedang hamil atau menyuruhnya supaya diobati dengan harapan dari
pengobatan tersebut kehamilan dari wanita tersebut dapat digugurkan.
Sementara sanksi pidana terhadap pelaku yang terbukti melakukan
perbuatan mengobati seorang wanita yang sedang hamil atau menyuruhnya
supaya diobati dengan harapan dari pengobatan tersebut kehamilannya
dapat digugurkan adalah berupa sanksi pidana penjara paling lama empat
66
tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah. Adapun jika pelaku
adalah tenaga medis (dokter, bidan, atau juru obat), maka sanksi pidananya
ditambah sepertiga dari sanksi pidana maksimal dan dicabut haknya untuk
melakukan praktek.
Selanjutnya adalah analisa tentang abortus provocatus pada
korban perkosaan berdasarkan Bab XIV KUHP, khususnya yang terdapat
dalam Pasal 346, 347, 348, dan 349 KUHP.
a. Pasal 346 KUHP :
“Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun”.
Dari pengertian yang dimaksud dalam Pasal 346 KUHP
tersebut, maka yang diancam pidana adalah:
1) Wanita yang dengan sengaja menyebabkan kandungannya menjadi
gugur atau mati; atau
2) Wanita yang dengan sengaja menyuruh orang lain menyebabkan
kandungannya menjadi gugur atau mati; atau
3) Orang lain yang disuruh untuk melakukan itu.
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, maka dalam Pasal
346 KUHP dapat ditemukan beberapa unsur antara lain:
1) wanita hamil atau orang yang disuruh untuk lakukan itu,
2) dengan sengaja,
67
3) menyebabkan gugur atau matinya kandungan.
Seseorang dikatakan telah melakukan kejahatan aborsi,
apabila orang tersebut telah memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam
Pasal 346 KUHP tersebut. Meskipun demikian dalam Pasal 347 ayat (1)
KUHP yang menyebutkan “Barang siapa dengan sengaja menyebabkan
gugur atau matinya kandungan seorang wanita tidak dengan izin wanita
tersebut, dipidana dengan penjara maksimal dua belas tahun. Jadi dari
bunyi pasal tersebut di atas ditambahkan pelaku aborsi tidak hanya
wanita hamil atau orang yang disuruh lakukan itu, tetapi juga oleh
orang yang tanpa izin wanita hamil tersebut telah melakukan tindak
pidana aborsi.
Berikut ini adalah uraian analisa berdasarkan unsur-unsur
yang terdapat dalam Pasal 346 KUHP. Unsur pertama tindak pidana
aborsi yang diatur dalam Pasal 346 KUHP ialah unsur “wanita atau
orang lain yang disuruh lakukan untuk itu” (subjek tindak pidana).
Dalam KUHP memang tidak ada penjelasan yang jelas tentang hal ini,
namun wanita hamil dapat diartikan yang sel telurnya telah dibuahi oleh
sel sperma sehingga tidak mengalami menstruasi hingga melahirkan
kandungannya atau dengan kata lain wanita hamil adalah wanita yang
dikandungannya terdapat janin dari hari pertama setelah pembuahan
sampai melahirkan. Sedangkan orang yang disuruh lakukan untuk itu
adalah orang yang dengan persetujuan wanita hamil tersebut melakukan
68
tindak pidana aborsi, misalnya: dokter, bidan, juru obat, dukun, atau
orang yang mempunyai kemampuan untuk itu.
Unsur kedua dari tindak pidana yang diatur dalam Pasal 346
adalah unsur “dengan sengaja”. Yang dimaksud dengan “sengaja”
adalah mempunyai niat atau keinginan untuk melakukan sesuatu.
Wujud dengan sengaja dalam tindak pidana aborsi bisa berupa
meminum obat peluruh haid degan dosis yang tinggi, memasukkan
benda tajam kedalam alat kelaminnya untuk menggugurkan kandungan.
Unsur ketiga yang diatur dalam Pasal 346 KUHP adalah
unsur “menyebabkan gugur atau matinya kandungan” maksudnya janin
yang berada di dalam kandungan wanita tersebut keluar sebelum
waktunya tiba akibat paksaan atau tindakan yang dilakukan dengan
sengaja, sehingga janin tersebut gugur atau mati. Aborsi yang diatur
dalam Pasal 346 KUHP berbeda diatur dalam Pasal 341 KUHP yang
berbunyi “Seorang ibu yang, karena takut akan ketahuan melahirkan
anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan
sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak
sendiri, dengan pidana penjara
paling lama tujuh tahun”. Menurut
penjelasan Pasal tersebut, yang diancam hukuman dalam Pasal ini
adalah seorang ibu yang membunuh anaknya sendiri, ketika anak itu
dilahirkan atau beberapa saat kemudian setelah anak itu dilahirkan,
kerana takut akan ketahuan oleh orang lain.
69
b. Pasal 347 KUHP :
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
c. Pasal 348 KUHP:
(1) Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan
kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,
diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
d. Pasal 349 KUHP :
“Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan
kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan
salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang
70
ditentukan dalam pasal itu dapat dditambah dengan sepertiga dan
dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana
kejahatan dilakukan”.
Dari rumusan pasal-pasal tersebut di atas dapat diuraikan unsurunsur tindak pidana adalah sebagai berikut :
1. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia
menyuruh orang lain, diancam hukuman empat tahun penjara.
2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil,
dengan tanpa persetujuan ibu hamil tersebut, diancam hukuman
penjara 12 tahun, dan jika ibu hamil tersebut mati, diancam 15
tahun penjara.
3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5
tahun penjara dan bila ibu hamilnya mati diancam hukuman 7
tahun penjara.
4. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus
tersebut seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan)
ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan hak untuk
berpraktek dapat dicabut.
Secara keseluruhan, dari hasil analisa yang dilakukan terhadap
ketentuan Pasal 346-349 KUHP dapat diketahui, bahwa aborsi menurut
konstruksi yuridis peraturan perundang-undangan di Indonesia yang
71
terdapat dalam KUHP adalah tindakan menggugurkan atau mematikan
kandungan yang dilakukan oleh seorang wanita atau orang yang disuruh
melakukan itu. Wanita dalam hal ini adalah wanita hamil yang atas
kehendaknya ingin menggugurkan kandungannya, sedangkan tindakan
yang menurut KUHP dapat disuruh lakukan untuk itu adalah dokter, bidan
atau juru obat.
Penguguran kandungan yang terjadi secara alamiah tanpa ada
usaha dari luar atau campur tangan manusia menurut Kitab UndangUndang Hukum Pidana tidak dapat dipidana karena tidak mengandung
unsur kesengajaan. Dalam usia yang sangat muda keguguran dapat saja
terjadi, misalnya karena aktivitas ibu yang mengandung terlalu berlebihan,
stress berat, berolahraga yang membahayakan keselamatan janin seperti
bersepeda dan sebagainya. Walaupun keguguran menimbulkan korban
dalam hal ini disebut janin tetapi tidak dapat dipidana karena tidak ada
unsur kesengajaan.
Dengan demikian, aborsi yang dimaksud dalam Pasal 346 KUHP
hanya mencakup mengguguran kandungan karena kesengajaan saja
(abortus provocatus), sedangkan pengguguran kandungan secara alamiah
atau keguguran tidak dapat dimaksud sebagai salah satu tindak pidana
karena tidak mencakup unsur yang terdapat dalam KUHP yaitu unsur
kesengajaan.
72
Berdasarkan
perumusan
dan
pengaturan
tentang
abortus
provokatus seperti yang terdapat dalam Pasal 346 sampai dengan 349
KUHP, maka kualifikasi aborsi dalam KUHP termasuk dalam jenis
abortus provokatus criminalis. Pasal-pasal tentang abortus provocatus
tersebut di atas, mengancam siapapun yang dengan senjaga menyebabkan
aborsi (pengguguran kandungan) baik bagi si pelaku maupun bagi
penolong aborsi seperti dokter, bidan, ahli obat, dukun dan ahli medis
lainnya dengan hukuman dilipatgandakan,
alasan apapun.
tanpa pengecualian dengan
Adapun unsur-unsur perbuatan
abortus provokatus
criminalis adalah:
1. Adanya embrio (janin) atau ibu yang mengandung. Ibu yang
mengandung janin merupakan obyek yang harus ada dalam perbuatan
pidana, karena tidak akan ada perbuatan pidana tanpa ada obyeknya.
Hal ini penting dalam rangka penjatuhan pidana.60
2. Adanya unsur kesengajaan dari pelaku. Sengaja menurut Memorie van
Toelichting dalam bukunya Moelyatno berarti melakukan perbuatan
yang dilarang, dengan dikehendaki dan diketahui artinya si pelaku
perbuatan pidana mengetahui dengan betul bahwa perbuatan yang
dilakukan adalah perbuatan yang dilarang oleh undang-undang.
3. Keguguran itu terjadi sebelum waktunya artinya sebelum masa
kelahiran alami tiba.61 Hal ini berarti perbuatan pengguguran harus
60
Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), halaman 40-43.
Chuzaimah T. Yanggo dan Hafiz Anshary AZ, Problematika Hukum Islam Kontemporer,
(Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004), halaman 115.
61
73
dapat dibuktikan bahwa keguguran itu terjadi ketika anak yang ada
dalam kandungan itu hidup dan belum masanya untuk dilahirkan.
Untuk kepentingan unsur yang ketiga ini bisa dilakukan oleh dokter
melalui ilmu kedokteran agar bisa memberi keterangan mengenai janin
yang ada dalam kandungan seorang wanita tersebut berada dalam
keadaan hidup atau mati. Karena dala hukum anak yang belum lahir
kedunia bila dapat dibuktikan dalam kandungan bahwa bayi tersebut
mati belum mempunyai hak dan kewajiban di depan hukum. 62
4. Adanya jalan untuk melakukan perbuatan tersebut. Jalan yang
dimaksud adalah adanya alat-alat yang digunakan unuk melakukan
aborsi. Misalnya dengan bantuan dokter, dukun atau bidan yang
memberi bantuan supaya aborsi dapat terjadi dengan suntik atau diberi
obat yang dapat membunuh janin yang ada dalam tubuh si ibu, bisa
juga dengan memasukkan alat-alat tertentu ke anggota tubuh.63
Pada saat ini, aturan tersebut sudah tidak relevan untuk diterapkan
karena bertentangan dengan politik hukum Indonesia yang melindungi
dan mensejahterakan segenap bangsa Indonesia. Sebagaimana diketahui,
latar belakang pemikiran dari pasal-pasal tentang pengguguran kandungan
berasal dari Negara Belanda pada pertengahan abad ke- 19 yang berasal
dari Code Penal Perancis abad ke-18, sudah barang tentu hal ini kurang
sesuai dengan perkembangan masyarakat Indonesia saat ini,
yang
62
63
menyangkut
kepentingan-kepentingan
darurat
(pengguguran
P.A.F. Lamintang, Op.Cit. halaman 206.
Chuzaimah T. Yanggo dan H.A. Hafiz Anshary AZ, Op. Cit., halaman116.
74
terutama
kandungan yang bersifat memaksa karena adanya perkosaan), tapi pasalpasal ini sampai saat ini tetap diterapkan. Pasal 349 KUHP merupakan
salah satu pasal yang dilematis apabila diterapkan secara mutlak. Para
dokter, bidan dan perawat serta tenaga medis lainnya dapat diancam
pidanan penjara. Padahal alasan melakukan abortus adalah demi
melindungi jiwa si ibu.
Jika kita menelaah pasal-pasal dalam KUHP tersebut, tampaklah
KUHP tidak membolehkan suatu abortus provocatus di Indonesia. KUHP
tidak melegalkan abortus provocatus tanpa kecuali. Bahkan abortus
provocatus medicalis atau abortus provocatus therapeuticus pun dilarang,
termasuk di dalamnya adalah abortus provocatus yang dilakukan oleh
perempuan korban perkosaan. Oleh karena sudah dirumuskan demikian,
maka dalam kasus abortus provocatus yang dilakukan oleh korban
perkosaan, minimal ada dua orang yang terkena ancaman sanksi pidana
sesuai dengan ketentuan yang terdpat dalam KUHP, yakni si perempuan
sendiri yang hamil karena perkosaan serta barangsiapa yang sengaja
membantu si perempuan tersebut menggugurkan kandungannya. Seorang
perempuan yang hamil karena perkosaan dapat terkena ancaman sanksi
pidana kalau ia sengaja menggugurkan kandungan tanpa bantuan orang
lain. Ia juga dapat terkena ancaman sanksi pidana kalau ia meminta orang
lain dengan cara menyuruh orang itu untuk menggugurkan kandungannya.
Khususnya untuk orang lain yang disuruh untuk menggugurkan kandungan
dan ia benar-benar melakukannya, maka baginya berlaku rumusan pasal
75
347 dan 348 KUHP sebagai berikut : “…barangsiapa dengan sengaja
menggugurkan…”Jika terbukti bersalah di muka pengadilan, ia turut
dipidana sebagaimana si perempuan hamil yang melakukan abortus
provocatus tersebut.
2. Pengaturan Abortus Provocatus pada Korban Perkosaan dalam
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Ketentuan tentang abortus provocatus di dalam hukum pidana
positif Indonesia diatur di dalam KUHP (Lex Generalis) dan UndangUndang Kesehatan (Lex Spesialis). Menurut Supriyadi64, KUHP tidak
membolehkan aborsi dengan alasan apa pun juga dan oleh siapapun juga. 65
Ketentuan ini sejalan dengan diundangkannya di zaman pemerintahan
Hindia Belanda sampai dengan sekarang ini tidak pernah berubah, dan
ketentuan ini berlaku umum bagi siapa pun yang melakukan, bahkan bagi
dokter dan tenaga medis lainnya yang melakukan aborsi akan dikenakan
pemberatan pidana. Namun berdasarkan ketentuan yang terdapat UndangUndang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, apabila terdapat indikasi
kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik
berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga
64
Supriyadi, ”Politik Hukum Kesehatan terhadap Pengguguran Kandungan”, Makalah
disampaikan dalam Diskusi Ilmiah, 2001,”Aborsi Dari kajian Ilmu Politik Hukum” (Hukum
Kesehatan dan Hukum Pidana), (Yogyakarta, 2 Juli 2002), halaman 12.
65
Lihat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 283, 299, 346, 348, 349, 535.
76
menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau kehamilan akibat
perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan.66
Walaupun secara jelas dan tegas aborsi dilarang oleh undangundang, dalam realita kehidupan sehari-hari, hal tersebut banyak sekali
terjadi atau dilakukan karena berbagai alasan sebagaimana dikemukakan
oleh Ekotama, dkk.67 dan Tafal, dkk.68 Bahkan Dewi69 mengatakan, bahwa
jumlah aborsi di dalam kehidupan masyarakat cenderung meningkat
karena berbagai faktor sehingga dia menyimpulkan bahwa motivasi
perempuan melakukan aborsi berkaitan erat dengan akseptor KB dan
kehamilan di luar nikah.
Berbeda dengan pendapat di atas, menurut Indraswari, kasus
aborsi tidak menunjukkan karakteristik khusus terutama bila dilihat dari
segi pendidikan dan status pernikahan. Ada kecenderungan, aborsi adalah
suatu fenomena yang menimpa masyarakat lintas strata sosial ekonomi,
pendidikan, budaya, dan agama.70
Selanjutnya Indraswati mengatakan: “... terdapat kecenderungan
peningkatan praktik aborsi yang dilakukan oleh pelajar SMP dan SMA,
alumnus SMA (pekerja), dan mahasiswa. Hal ini sejalan dengan perubahan
66
Lihat Pasal 75 ayat (2) a dan b Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Suryono Ekotama, dkk., Op.Cit., halaman 26.
68
Tafal, dkk., eds., Keguguran, (Jakarta: ITF Netherlands, IPPF, dan PKBI, 1999), halaman
67
34.
69
Dewi, Aborsi: Pro dan Kontra di Kalangan Petugas Kesehatan, (Yogyakarta: Pusat
penelitian Kependudukan UGM dan Ford Foundation,1997), halaman 40.
70
Indraswati, Fenomena Kawin Muda dan Aborsi: Gambaran Kasus, dalam Hasyim, S.,
Menakar ’Harga’ Perempuan”, (Jakarta: Mizan, 1999) halaman 150.
77
pola interaksi dan pola gaya hidup yang melanda kalangan remaja dan
dewasa muda.71
Apa yang dikemukan tersebut cukup beralasan, di wilayah
perkotaan dan semi perkotaan hubungan antar individu secara pelan
namun
pasti
bertransformasi
dari
hubungan
berpola
paguyuban
(gemeinschaft) ke hubungan berpola patembayan (gesselschaft).72 Pola
hubungan paguyuban yang berciri kebersamaan dan saling peduli pada
masalah sesama anggota komunitas mulai digeser oleh pola patembayan
yang berciri hubungan transaksional. Dalam derajat tertentu, pola
patembayan diikuti dengan lemahnya kontrol sosial masyarakat terhadap
sesama. Dengan pola interaksi seperti ini yang diikuti perubahan pola gaya
hidup yang cenderung "serba permisif" mengakibatkan meningkatnya
kasus kehamilan pranikah. Di satu sisi, pola "serba permisif" banyak pula
dipengaruhi oleh stimulasi seksual dari lingkungan berupa tayangan media
rnassa dan hiburan komersial dengan beragam bentuk dan intensitas.
Secara umum budaya pop dan komersialisasi hiburan secara gencar lebih
mengkampanyekan aspek kenikmatan seks daripada aspek tanggung
jawabnya.73 Dalam kondisi ini dalam derajat tertentu dapat dipahami
"runtuhnya" daya tahan remaja dalam menghadapi kebanjiran stimulasi
seksual yang mengakibatkan kehamilan pranikah dan selanjutnya diikuti
oleh tindakan aborsi.
71
Ibid.
Ibid.
73
Ibid., halama 34.
72
78
Dengan disyahkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan menggantikan undang-undang kesehatan sebelumnya
yaitu Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992. Dalam Undang-Undang No.
36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, permasalahan aborsi memperoleh
legitimasi dan penegasan. Secara eksplisit, dalam undang-undang ini
terdapat pasal-pasal yang mengatur mengenai aborsi, meskipun dalam
praktek medis mengandung berbagai reaksi dan menimbulkan kontroversi
diberbagai lapisan masyarakat. Meskipun, undang-undang melarang
praktik aborsi, tetapi dalam keadaan tertentu terdapat kebolehan.
Ketentuan pengaturan aborsi dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2009 dituangkan dalam Pasal 75, Pasal 76 dan Pasal 77. Berikut ini adalah
uraian lengkap mengenai pengaturan aborsi yang terdapat dalam pasalpasal tersebut:
Pasal 75:
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini
kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang
menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun
yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut
hidup di luar kandungan; atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan
setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan
diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh
konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi dihitung dari hari pertama
haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis kedaruratan medis
79
dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 76:
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu;
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan
yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh
Menteri.
Pasal 77:
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak
bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan
dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pengguguran kandungan yang disengaja dengan melanggar
berbagai ketentuan hukum (abortus provocatus criminalis) yang terdapat
dalam KUHP menganut prinsip “illegal tanpa kecuali” dinilai sangat
memberatkan paramedis dalam melakukan tugasnya. Pasal tentang aborsi
yang
diatur
dalam
Kitab
Undang-Undang
Hukum
Pidana
juga
bertentangan dengan Pasal 75 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,
di mana dalam satu sisi melarang dilakukannya aborsi dalam segala alasan
dan di sisi lain memperbolehkan tetapi atas indikasi medis untuk
menyelamatkan ibu hamil dan atau janin. Menurut Kusumo yang dikutip
80
dalam buku Ekotama, menyatakan disini berlaku asas lex posteriori
derogate legi priori. Asas ini beranggapan bahwa jika diundangkan
peraturan baru dengan tidak mencabut peraturan lama yang mengatur
materi yang sama dan keduanya saling bertentangan satu sama lain, maka
peraturan yang baru ini mengalahkan atau melumpuhkan peraturan yang
lama.74
Dengan demikian, Pasal 75 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan yang mengatur tentang abortus provocatus medicinalis
tetap dapat berlaku di Indonesia meskipun sebenarnya aturan itu
bertentangan dengan rumusan abortus provocatus criminalis menurut
KUHP.
Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 36 Tahun
tersebut jika kita kaitkan dengan aborsi karena kehamilan tidak
dikehendaki (KTD) akibat perkosaan, maka dapat disimpulkan: Pertama,
secara umum paraktik aborsi dilarang; Kedua, larangan terhadap praktik
dikecualikan pada beberapa keadaan, kehamilan akibat perkosaan yang
dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. Selain itu
tindakan medis terhadap aborsi KTD akibat perkosaan hanya dapat
dilakukan apabila:
(1) setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan
dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan
oleh konselor yang kompeten dan berwenang;
74
Suryono Ekotama, dkk., Op.Cit., halaman 77.
81
(2) dilakukan sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu
dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal
kedaruratan medis;
(3) oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan
kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh
menteri;
(4) dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; dan
(5) penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang
ditetapkan oleh Menteri.
Hukum pidana dengan jelas menyebutkan sanksi pidana bagi
pelaku dan orang yang turut serta melakukan aborsi. Pengecualian
diberikan
apabila ada alasan-alasan
pembenar yang terdapat dalam
undang-undang (Pasal 44, 48, 50 dan 51) KUHP dan alasan medis
(kesehatan) yang terdapat dalam Pasal 75 Undang-undang No. 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan. Dengan demikian alasan ekonomis, alasan sosial
dan alasan darurat (pemaksa) tidak dapat dijadikan sebagai legalisasi dari
perbuatan abortus provocatus.
Apabila dihubungkan dengan aborsi karena kehamilan tidak
dikehendaki (KTD) akibat perkosaan , dimana kehamilan akibat perkosaan
yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan dapat
dijadikan sebagai alasan darurat (pemaksa)
untuk melakukan aborsi
sebenarnya perlu menjadi pertimbangan dalam menerapkan sanksi pidana,
khususnya bagi para penegak hukum (Hakim). Karena janin yang
82
diaborsi adalah sebagai akibat pemaksaan hubungan (perkosaan) dengan
ancaman kekerasan. Perkosaan sendiri
merupakan tindak pidana yang
pelakunya harus dijatuhi sanksi pidana penjara maksimal 12 (dua belas)
tahun sesuai Pasal 285 KUHP. Sedangkan korbannya harus mendapat
perlindungan hukum yang salah satu caranya adalah mengembalikan
kondisi jiwanya akibat tekanan daya paksa dari pihak lain (tekanan
psikologis). Alasan tekanan psikologis akibat perkosaan inilah yang
seharusnya dapat dijadikan pertimbangan untuk menentukan bahwa aborsi
akibat perkosaan
sebagai suatu pengecualian, sehingga seharusnya legal
dilakukan.
Arif Gosita dalam bukunya Masalah Korban Kejahatan
Kumpulan Karangan mengatakan bahwa:
Dalam kasus abortus, janin ditolak sebagai makhluk hidup dan
dianggap sebagai obyek mati. Oleh karena diformulasikan
seperti itu maka penghancurannya saat itu tidak dianggap
sebagai sutu pembunuhan dan tidak menimbulkan kemarahan
moral atau pertentangan moral seperti pada kasus pembunuhan
lain.75
Sudah menjadi opini publik bahwa salah satu latar belakang
abortus dilarang undang-undang adalah karena bertentangan dengan moral
masyarakat dan atau moral agama. Apabila dihubungkan dengan pendapat
tersebut,
sebenarnya yang menentang moral adalah pemerkosannya
bukan orang yang melakukan aborsi. Aborsi hanyalah merupakan akibat
75
Arif Gosita, Masalah Korban Kejahatan (Kumpulan Karangan), (Jakarta: Akademika
Presindo, 1985), halaman 88.
83
tindakan
orang
perempuan tersebut
biadab yang memperkosa perempuan, sehingga
menjadi hamil. Perempuan dalam hal ini adalah
sebagai korban dari rentetan tindak pidana perkosaan, sehingga apabila
tindak pidana perkosaan yang dilakukan terhadapnya berakibat hamil
maka janin yang dikandungnya adalah dianggap sebagai obyek yang
mati/tidak hidup. Oleh karena dianggap sebagai obyek yang mati maka
penggugurannya, dianggap legal untuk dilakukan.
Apabila dihubungkan dengan Pasal 48 KUHP tentang daya
paksa (overmacht), sebenarnya Pasal 75 ayat (2) huruf b UU No. 36
Tahun 2009 yang mengatur tentang pengecualian melakukan aborsi
terhadap kehamilan akibat perkosaan, mengakui adanya daya paksa bagi
barang siapa yang melakukan aborsi.
Ketentuan tentang overmacht atau daya paksa yang terdapat
dalam pasal 48 KUHP, yaitu : “Barangsiapa melakukan perbuatan karena
pengaruh daya paksa tidak dipidana”.76Dari ketentuan pasal 48 KUHP
tersebut dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan daya paksa
adalah suatu paksaan atau tekanan yang tidak dapat dihindarkan. Adapun
paksaan itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain dengan suatu
ancaman yang membahayakan diri dan jiwanya. Tentu saja dalam hal ini,
orang yang diancam tersebut mempunyai dugaan kuat bahwa ancama itu
benar-benar akan dilaksanakan apabila ia menolak mengerjakan sesuatu
yang dikehendaki pemaksa (pengancam).
76
Ibid., hlm. 23.
84
Daya paksa (overmacht) ini merupakan alasan pemaaf. Dalam
alasan pemaaf ini, seseorang yang melakukan perbuatan pidana tidak dapat
dijatuhi pidana karena tidak adanya kesalahan. Artinya perbuatan yang
dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukum, jadi tetap
merupakan perbuatan pidana. Tetapi ia tidak dipidana, karena tidak adanya
kesalahan. Dengan demikian, alasan pemaaf adalah alasan yang
menghapuskan kesalahan terdakwa. Karena overmacht sebagaimana yang
tercantum dalam pasal 48 KUHP hanya memuat alasan pemaaf, artinya
perbuatan yang dilakukan tetap bersifat melawan hukum, tetapi
kesalahannya bisa dimaafkan karena pengaruh daya paksa tadi.
Seseorang yang melakukan perbuatan pidana, sedangkan ia
berada di bawah pengaruh daya paksa sehingga ia terpaksa melakukan
perbuatan tersebut tidak dapat dijatuhi pidana. Hal ini merupakan hal yang
tepat dan mencerminkan rasa keadilan, sebab orang tersebut melakukan
perbuatan pidana karena dorongan yang tidak mampu dilawannya,
misalnya karena mengancam keselamatan jiwanya.
Dalam teori hukum pidana, Moejatno membagi daya paksa
menjadi 2 (dua),yaitu daya paksa dalam arti sempit atau overmacht dan
daya paksa karena keadaan darurat atau noodtoestand yang terdiri dari 3
kemungkinan yaitu:
a.
Orang terjepit antara dua kepentingan dalam hal adanya
konflik diantara dua kepentingan,
b.
Orang terjepit antara kepentingan dan kewajiban,
85
Orang terjepit antara dua kewajiban. 77
c.
Dihubungkan dengan teori tersebut, dalam kasus abortus
provokatus pada korban perkosaan terjadi konflik antara 2 (dua) hak, yakni
hak perempuan yang hamil bertentangan dengan hak janin. Dengan
demikian untuk menentukan apakah perempuan yang melakukan abortus
provokatus atas kandungannya dapat dipidana atau tidak dapat dinilai dari
kepentingan manakah yang lebih utama.78 Hak janin untuk tetap hidup atau
hak perempuan untuk tetap menjalankan hidupnya tanpa tekanan
psikologis dan sosial.
Mencermati
ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang
No. 36 Tahun 2009 khususnya Pasal 75 ayat (2) huruf b yang mengatur
tentang aborsi karena alasan darurat (pemaksa) dalam hal ini adalah
adanya trauma psikologis yang dialami oleh wanita hamil sebagai akibat
tindak pidana perkosaan yang dialaminya. Pada akhirnya penyelesaian
kasus tersebut sangat tergantung pada para penegak hukum untuk
menegakkan
keadilan
terutama
bagi
perempuan
yang
jelas-jelas
berkedudukan sebagai korban perkosaan. Pendapat ahli hukum masa kini,
sudah seharusnya menjadi pertimbangan dalam rangka menjatuhkan
pidana, jadi tidak semata-mata didasarkan pada bunyi undang-undang,
akan tetapi juga memperhatikan latar belakang perbuatan dilakukan. Hal
inipun dalam proses pembuktiannya juga tidak mudah, karena harus
dibuktikan lebih dahulu perkosaannya.
77
78
Moljatno, Op. Cit, halaman140.
Suryono Ekotama, dkk, Op. Cit, halaman 194.
86
Dengan demikian alasan psikologis tidak cukup dijadikan alasan
aborsi apabila tindakan perkosaannya tidak dapat dibuktikan atau tidak
terbukti. Mengingat dewasa ini perkosaan tidak hanya murni dilakukan
oleh orang yang benar-benar belum pernah dikenal oleh korban, tapi juga
telah dikenal sebelumnya bahkan memiliki hubungan dekat dengan korban
(sebagai pacar pisalnya).
Apabila aborsi karena perkosaan
dijadikan pengecualian
sebagaimana alasan medis, maka kriteria yang dijadikan pengecualian
harus benar-benar jelas dan tegas, sehingga tidak disalahgunakan oleh
oknum yang tidak bertanggungjawab, akibatnya aborsi marak dilakukan.
Dengan demikian. Undang-Undang Nomor 36 Tahun memperbolehkan
praktik aborsi terhadap kehamilan akibat perkosaan dengan persyaratan
dilakukan oleh tenaga yang kompeten, dan memenuhi ketentuan agama
dan perundang-undangan yang berlaku.
Sebagai bagian akhir dari analisa mengenai pengaturan hukum
pidana tentang abortus provocatus khususnya pada korban perkosaan,
berikut ini penulis akan menguraikan tentang pengaturan mengenai sanksi
pidana terhadap pelaku abortus provocatus, yang secara spesifik lebih
ditekankan terhadap korban perkosaan berdasarkan pengaturan yang
terdapat baik dalam KUHP maupun dalam Undang-Undang No. 36 Tahun
2009 tentang kesehatan.
87
Suatu aturan hukum diadakan pasti diikuti dengan sanksi
hukumnya, sehingga peraturan hukum tidak hanya mengatur akan tetapi
juga bersifat
memaksa bagi anggota masyarakat yang melanggar
peraturan tersebut. Hukum pidana diadakan pada prinsipnya adalah dalam
rangka memberikan ketertiban dan kepastian hukum agar hak-hak manusia
terlindungi. Oleh karena itu barangsiapa yang melanggar ketentuan yang
ada dalam hukum pidana dalam hal ini Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP) dan memenuhi unsur-unsur yang ditetapkan dalam
ketentuan tersebut maka dikenakan sanksi pidana. Dalam hukum pidana
terdapat berbagai jenis sanksi pidana mulai yang terberat yaitu sanksi
pidana mati sampai teringan yaitu sanksi pidana denda. Kecuali ada alasan
pembenar yang dapat dijadikan legalisasi dari perbuatan pidana yang
dilakukan, sebagaimana tertuang dalam Pasal 44 (karena jiwanya cacat),
Pasal
48 (adanya pengaruh daya paksa), Pasal 50 (melaksanakan
ketentuan UU) dan Pasal 51 KUHP (melaksanakan perintah jabatan).
Menanggapi alasan pembenar yang terdapat dalam Pasal 44, 48, 50
dan 51 KUHP, Oemar Seno Adji mengatakan, bahwa ada alasan-alasan
yang dapat dibenarkan yang
bukan didasarkan pada alasan-alasan
pembenar yang terdapat dalam undang-undang yaitu yang berada di luar
undang-undang yang dikembangkan oleh ilmu hukum dan Yurisprudensi.79
Dengan demikian, dari hasil analisa yang dilakukan terhadap
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam kaitannya
79
Oemar Seno Adji, Hukum Pidana, (Jakarta, Erlangga, 1980), halaman 194.
88
dengan abortus provocatus pada korban perkosaan, dapat penulis
simpulkan, bahwa pada prinsipnya UU No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan yang berlaku sebagai lex speciale melarang tindakan aborsi
(Pasal 75 ayat (1)), kecuali abortus provocatus terhadap kehamilan akibat
perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan (Pasal 75 ayat (2) huruf b), disamping tindakan abortus
provocatus medicinalis/therapeuticus, yakni aborsi yang dilakukan secara
sengaja karena terdapat indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak
usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin
(Pasal 75 ayat (2) huruf a).
Pengecualian yang diberikan oleh UU No.36 Tahun 2009 sebagai
legalisasi terhadap abortus provocatus pada korban perkosaan dapat
dilakukan dengan beberapa persyaratan sebagai berikut:
(1) setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan
diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh
konselor yang kompeten dan berwenang (Psl.75 ayat (3));
(2) dilakukan sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari
hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
(3) oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan
yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
(4) dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; dan
89
(5) penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan
oleh Menteri.(Psl.76).
Sanksi pidana bagi pelaku abortus provokatus baru dapat diberikan
apabila memenuhi unsur-unsur perbuatan pidana yaitu unsur-unsur
perbuatan abortus provocatus kriminalis, seperti halnya yang tertuang
dalam Pasal 299, 346, 347, 348 dan 349 KUHP. Sanksi pidana berupa
pidana pidana penjara maksimal, yaitu:
a. Paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah
bagi setiap orang yang melakukan perbuatan mengobati seorang wanita
yang sedang hamil atau menyuruhnya supaya diobati dengan harapan
dari pengobatan tersebut kehamilan dari wanita tersebut dapat
digugurkan .
b. 4 (empat tahun) bagi wanita yang dengan sengaja mematikan janinnya
(Pasal 346 KUHP);
c. 12 (dua belas tahun) bagi seseorang yang menggugurkan kandungan
wanita tanpa persetujuan (Pasal 347 ayat (1) KUHP);
d. Maksimal 15 (lima belas tahun) bagi pengguguran kandungan tanpa
persetujuan wanita yang berakibat matinya wanita tersebut, dan juga
yang dengan persetujuan (Pasal 347 ayat (2) KUHP);
e. 5 (lima tahun) 6 (enam bulan)
bagi pengguguran yang disengaja
dengan kesepakatan wanita (Pasal 348 ayat (1));
f.
7 (tujuh tahun) pengguguran disengaja dengan kesepakatan yang
berakibat mati (Pasal 348 ayat (2);
90
g. Ditambah
1/3 (sepertiga) lebih tinggi bagi ahli medis dibanding
selain ahli medis. Bahkan ditambah dengan pencabutan izin praktek
yang digunakan untuk melakukan perbuatan pidana (Pasal 299 jo.
Pasal 349 KUHP).
Sedangkan dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, menerapkan sanksi pidana penjara paling lama 10 (sepuluh)
tahun, dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
terhadap setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai
dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) undangundang tersebut.
Terhadap orang lain yang ikut melakukan perbuatan abortus baik
melakukan atau membantu melakukan, dapat digolongkan pada turut serta
terhadap perbuatan pidana. Dalam hukum pidana, turut serta digolongkan
menjadi lima macam sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 55 dan 56
KUHP, yaitu:80
a.
Orang yang melakukan (Pleger),
b.
Orang yang menyuruh melakukan (Doen Plegen),
c.
Orang yang turut melakukan (Medepleger),
d.
Orang yang membujuk untuk melakukan (Uitlokker)
e.
Orang yang membantu melakukan (Medeplichtige).
80
Utrecht, Hukum Pidana (Surabaya: Pustaka Tinta Mas, 1987), II, halaman 8. Bandingan
dengan R. Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-komentarnya
Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Politeia, 1991), halaman 72-74.
91
B.
Perlindungan Hukum Pidana terhadap Korban Perkosaan yang
Melakukan Abortus Provocatus
Perlindungan hukum berarti melindungi hak setiap orang untuk
mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang sama oleh hukum dan
undang-undang, maka oleh karena itu untuk setiap pelanggaran hukum yang
dituduhkan padanya serta dampak yang diderita olehnya ia berhak pula untuk
mendapat perlindungan dari hukum yang diperlukan sesuai dengan asas
hukum. Tetapi perlu kita ketahui bahwa dalam kasus perkosaan pihak korban
telah terabaikan dari jangkauan hukum. Ini terbukti dari banyaknya kasus
dengan korban perempuan yang tidak mampu terselesaikan secara adil dan
memuaskan.81
Persoalan yang menyangkut korban kejahatan ternyata kurang
begitu menarik perhatian orang, sehingga jarang sekali ada kegiatan-kegiatan
keilmuan yang bertujuan untuk membahasnya. Padahal dalam kejahatan pada
umumnya kita tidak dapat memikirkan suatu kejahatan tanpa adanya korban.
Jadi, korban merupakan komponen penting dari kejahatan pada umumnya
yang sering dilupakan orang. Apabila dikaji, dilupakannya persoalan korban
tersebut disebabkan antara lain :
− Masalah kejahatan tidak dilihat, dipahami menurut proporsi yang
sebenarnya secara multidimensional;
81
Erwin Yuliatiningsih, “Kebutuhan Perlindungan Hukum bagi Perempuan Korban Tindak
Pidana Perkosaan di Indonesia”, http://www.google.com, diakses 12 Februari 2010.
92
− Kebijakan penanggulangan kejahatan (criminal policy) yang tidak
didasarkan pada konsep yang integral dengan etiologi kriminal;
− Kurangnya pemahan bahwa masalah kejahatan merupakan masalah
kemanusiaan, demikian pula masalah korban.
Terjadinya korban pada umumnya tidak dapat dilepaskan dari
terjadinya kejahatan itu sendiri. Dengan kata lain, korban selalu mempunyai
kedudukan fungsional dalam terjadinya kejahatan. Khusus mengenai peranan
pihak korban, seringkali dikatakan bahwa korban dan pelaku mempunyai
hubungan fungsional. Bahkan dalam kondisi-kondisi tertentu, korban
termasuk yang bertanggung jawab. Artinya, dalam kejahatan-kejahatan
tertentu keberadaan korban merupakan syarat mutlak agar kejahatan tersebut
terjadi. Peranan korban dalam terjadinya kejahatan tersebut dapat disadari
atau tidak disadari.
Perkosaan yang dialami oleh seorang wanita akan menimbulkan
derita fisik, psikis dan sosial pada dirinya. Penderitaan tersebut akan terus
berlanjut apabila korban ternyata mengalami kehamilan. Berbeda dengan
kehamilan yang tidak dikehendaki lainnya, misalnya karena kegagalan dalam
pemakaian alat kontrasepsi dalam keluarga berencana (KB) atau karena
dalam hubungan seks pranikah. Kehamilan karena perkosaan lebih sulit dan
berat diterima oleh perempuan atau keluarganya.
Sebenarnya korban perkosaan yang hamil dapat memilih satu dari
dua alternatif untuk menyikapi kondisinya tersebut, meneruskan kehamilan
yang tidak dikehendaki atau melakukan abortus provocatus, tentu dengan
93
masing-masing resiko. Apabila memilih untuk meneruskan kehamilannya, ia
harus siap menjadi orang tua tunggal tanpa suami, disamping itu secara
sosiologis hal tersebut merupakan pilihan yang berat mengingat kondisi
sosiokultural masyarakat kita yang masih memandang rendah, bahkan
menabukan seorang perempuan yang hamil tanpa suami sah. Sedangkan jika
alternatif kedua yang dipilih, resiko keselamatan jiwa bisa mengancam.
Kalaupun abortus provocatus dapat dilakukan dengan selamat, ancaman
sanksi pidana sudah menghadang, apabila terbukti abortus provocatus yang
dilakukan tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditentukan dalam
undang-undang.
Mengenai ancaman sanksi pidana bagi pelaku abortus provocatus,
dalam hukum pidana (KUHP) dirumuskan adanya ancaman pidana bagi
mereka
yang
melakukan
pengguguran
kandungan.
KUHP
tidak
memperdulikan latar belakang atau alasan dilakukannya pengguguran
kandungan itu. Dengan demikian, apabila abortus provocatus adalah pilihan
yang harus diambil dan dilakukan oleh perempuan korban perkosaan, baik
atas permintaan diri sendiri maupun melalui bantuan orang lain atas
persetujuan ataupun tanpa persetujuan perempuan korban perkosaan, maka
dengan menggunakan ketentuan KUHP, perempuan korban perkosaan tidak
dapat lepas dari jeratan hukum, sehingga KUHP tidak memberikan
perlindungan hukum terhadap perempuan korban perkosaan yang melakukan
abortus provocatus.
94
Sedangkan dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, perlindungan hukum yang diberikan terhadap perempuan korban
perkosaan yang melakukan pengguguran kandungan (abortus provocatus)
menjadi hak dari perempuan tersebut. Artinya pengguguran kandungan
(abortus provocatus) yang dilakukan oleh perempuan korban perkosaan
diperbolehkan. Seperti yang disebutkan dalam Pasal 75 ayat (2) UndangUndang No. 36 Tahun 2009, salah satu pengecualian terhadap perempuan
untuk melakukan aborsi adalah kehamilan akibat perkosaan yang dapat
menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan tersebut. Tekanan
psikologis yang dialami oleh perempuan yang mengandung karena perkosaan,
dapat dimasukkan sebagai indikasi medis untuk melakukan pengguguran
kandungan asalkan memenuhi syarat-sayarat sebagaimana yang ditentukan
oleh Undang-Undang No. 36 Tahun 2009, sebagai dasar hukum untuk
melegalkan tindakan pengguguran kandungan yang dilakukan oleh korban
perkosaan, termasuk mereka dalam hal ini adalah tenaga kesehatan yang
berkompeten dan memiliki kewenangan yang diberikan oleh undang-undang
untuk melakukan pengguguran kandungan. Syarat-syarat tersebut adalah:
− melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan
konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten
dan berwenang (Pasal 75 ayat (3));
− Aborsi tersebut dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu;
95
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan
yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan. (Pasal 76)
Karena tekanan psikologis yang dialami oleh perempuan yang
mengandung akibat perkosaan dapat dimasukkan sebagai indikasi medis
untuk melakukan pengguguran kandungan, maka perempuan yang menjadi
korban perkosaan yang kemudian melakukan aborsi dengan memperhatikan
beberapa syarat seperti yang sudah disebutkan di atas mendapatkan
perlindungan hukum, dan tidak dapat dituntut secara pidana karena telah
melakukan abortus provocatus. Dengan demikian, alasan psikologis yang
dialami oleh perempuan korban perkosaan yang melakukan aborsi adalah
merupakan alasan penghapus pidana, oleh karenanya pula menjadi
pertimbangan dalam hukum pidana khususnya melalui Undang-Undang No.
36 Tahun 2009 tentang kesehatan untuk memberikan perlindungan hukum
terhadap perempuan korban perkosaan yang kemudian hamil, dan memilih
abortus provocatus sebagai cara untuk mengakhiri kehamilannya.
Dalam KUHP juga diakui adanya alasan-alasan tekanan psikologis
tertentu sebagai alasan penghapus pidana. Apabila hal tersebut dikaitkan
dengan korban perkosaan, pertanyaannya adalah apakah tekanan psikologis
yang dialami korban perkosaan (yang hamil) dapat juga dinilai sebagi suatu
alasan pnghapus pidana? Hal itu perlu dipertimbangkan dengan landasan
96
berfikir ilmiah mengingat kenyatannya hampir semua korban perkosaan juga
mengalami tekanan psikologis.
Pasal 48 KUHP mengakui adanya daya paksa yang dapat
menghapuskan pemidanaan bagi barangsiapa yang melakukan tindak pidana.
Korban perkosaan dihadapkan pada dua pilihan antara menggugurkan
kandungan atau meneruskan kehamilannya. Dalam teori hukum pidana,
Moeljatno membagi daya paksa menjadi dua yaitu daya paksa dalam arti
sempit atau overmacht dan keadaan darurat atau noodtoestand. Sedangkan
noodtoestand sendiri ada 3 kemungkinan, yakni :
1. Orang terjepit antara 2 (dua) kepentingan, dalam hal ini ada konflik antara
dua kepentingan;
2. Orang terjepit antara kepentingan dan kewajiban;
3. Orang terjepit antara 2 (dua) kepentingan.82
Dengan mendasarkan pada perkembangan keadaan di masyarakat,
pasal ini harus ditafsirkan secara luas. Makna “pengaruh daya paksa” disini
termasuk pula opini publik yang mengancam kesehatan psikis korban
perkosaan yang hamil. Niat korban perkosaan untuk menggugurkan
kandungannya belum tentu hanya berasal dari nuraninya saja, karena ia sadar
bahwa embrio/janin tersebut tidak berdosa. Namun ketakutan akan persepsi
masyarakat bahwa anak yang ia lahirkan adalah anak di luar nikah,
melahirkan anak tanpa suami, anaknya nanti akan dicap sebagai anak haram
dan pandangan-pandangan yang bersifat minor lainnya cenderung memicu
niat korban perkosaan untuk menggugurkan kandungannya.
82
Moeljatno, Asas....,Op.Cit.,halaman 54.
97
Opini masyarakat tersebut dapat dikategorikan sebagai “daya
paksa” (overmacht) yang berasal dari luar diri korban perkosaan dan secara
sosiologis memaksa korban perkosaan untuk menggugurkan kandungannya
agar dapat terhindar dari stigma-stigma buruk di masyarakat. Aspek ini harus
diperhatikan dalam proses pemidanaan oleh hakim. Apabila hal ini diabaikan
ada kemungkinan korban perkosaan akan mengalami tekanan psikis bertubitubi tanpa ada kepedulian sama sekali dari masyarakat, aparat penegak hukum
maupun pemerintah.
Dengan demikian, seorang hakim dalam proses peradilan pidana
khususnya dalam kasus abortus provocatus pada korban perkosaan tidak
hanya berkedudukan sebagai pelaksana undang-undang saja. Namun lebih
dari itu, hakim harus mampu menafsirkan hukum agar pemberlakuannya
sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini. Lebih jauh lagi, hakim harus
mampu menemukan hukum (rechtsvinding) dalam menangani kasus-kasus
yang spesifikasinya ada di luar undang-undang. Dengan demikian, hakim
sebagai praktisi hukum juga harus berperan serta dalam mengembangkan
hukum yang mengandung aspek-aspek keadilan dan kemanfaatan hukum
sebagaimana ditegaskan dalam UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman tidak hanya bagi para pihak yang bersangkutan namun juga bagi
masyarakat luas.
Perumusan delik abortus provocatus tidak terlepas dari proses dan
konteks sosial pada waktu KUHP itu dibuat. Seperti diketahui, KUHP yang
merupakan induk dari hukum pidana (tertulis) di Indonesia itu merupakan
98
hasil konkordansi dari WvS Belanda. Dari perumusan delik yang berkitan
dengan perempuan sebagai korbannya dapat disimpulkan, bahwa eksistensi
perempuan sebagai manusia utuh belum diakui. Hal ini secara gamblang
dapat dilihat dari pereduksian hakekat perempuan sebagai manusia hanya
terbatas pada alat kelaminnya, seperti yang dapat dilihat pada pasal tentang
perkosaan. Menurut KUHP dikatakan ada perkosaan apabila seorang laki-laki
dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksakan persetubuhan dengan
perempuan di luar perkawinan. Sedangkan menurut batasan medis, dikatakan
ada persetubuhan jika ada penetrasi penis ke dalam vagina. Dengan demikian
seorang laki-laki yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksakan oral seks atau anal seks, atau bahkan memasukkan benda-benda
lain ke dalam vagina seorang perempuan tidak dapat dijerat dengan pasal
perkosaan ini. Demikian juga jika yang melakukan pemaksaan persetubuhan
adalah suami dari perempuan tersebut.
Aborsi memang mengundang banyak kontroversi, misalnya
mengenai hak janin dan hak ibu hamil, atau mengenai konsep awal
kehidupan, apakah sejak terjadinya konsepsi atau beberapa minggu/bulan
setelah itu. Perbedaaan pandangan inilah yang menyebabkan timbulnya dua
aliran yang memperdebatkan masalah aborsi. Menurut K. Bertens dalam
Lukman Hakim Nainggolan, Gerakan Pro Life menekankan hak janin untuk
hidup. Bagi mereka mengaborsi janin sama dengan pembunuhan (murder)
gerakan Pro Choice mengedepankan pilihan si perempuan mau melanjutkan
kehamilannya atau mengakhirinya dengan aborsi. Bagi mereka perempuan
99
mempunyai hak untuk memilih antara dua kemungkinan itu, orang lain dalam
masalah ini tidak dapat ikut campur.83
Pereduksian eksistensi perempuan sebagai manusia utuh tersebut
sekaligus menunjukkan kurang diakuinya atau tidak adanya perlindungan
terhadap hak-hak perempuan atas tubuh dan jiwanya. Dalam kasus abortus
provocatus ada hak dari perempuan atas tubuh dan jiwanya (karena abortus
provocatus seringkali juga mengancam jiwa perempuan yang mengandung ).
Soal apakah ada hak dari janin atas tubuh dan jiwanya amat tergantung pada
batasan kapan janin dikatakn mempunyai bentuk tubuh seorang manusia serta
kapan janin dikatakan mempunai jiwa/nyawa. Apabila janin dianggap
mempunyai hak, tanpa mempersoalkan kapan hak itu muncul atau diakui,
maka sebenarnya pada kasus abortus provocatus terjadi konflik antara dua
hak, yaitu hak perempuan yang hamil bertentangan dengan hak janin. Dengan
demikian untuk menentukan apakah perempuan (korban perkosaan) yang
melakukan abortus provocatus atas kandungannya dapat dipidana atau tidak
dapat dinilai dari kepentingan manakah yang lebih utama.
Pertentangan antara kedua pandangan tersebut memang masih
dirasakan sampai sekarang. Oleh karena itu melalui legalisasi abortus
provocatus pada korban perkosaan dengan memenuhi beberapa syarat seperti
yang diatur melalui Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,
diharapkan selain memberikan perlindungan hukum terhadap perempuan
korban perkosaan yang kemudian hamil dan memilih abortus provocatus
83
Lukman Hakim Nainggolan, “Aspek Hukum.....”, Op.Cit., halaman 98.
100
sebagai cara untuk mengakhiri kehamilannya, juga menjadi alternatif
pemecahan masalah yang objektif yang dipilih oleh masyarakat khususnya
bagi mereka yang mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki sebagai akiat
dari tindak pidana perkosaan. Sebenarnya, beberapa Negara yang telah
melegalkan aborsi memberi pilihan yang layak bagi ibu-ibu yang memiliki
anak di luar nikah. Selain tersedianya klinik aborsi di mana-mana, jika
perempuan memutuskan menyimpan janin yang dia kandung, biasanya
tersedia dua alternatif: sebagai single mother, atau pengaturan adopsi untuk
bayi tersebut. Sebagai single mother dia beserta bayinya akan mendapatkan
dukungan material, seperti tunjangan makanan, kesehatan, biaya hidup
bahkan sekolah bagi anak dari pemerintah. Tetapi pemerintah Indonesia tidak
akan mampu melakukan hal tersebut melihat perekonomian Negara yang
sedang mengalami krisis, jangankan mengharapkan tunjangan, perlakuan
manusiawi pun sulit di dapat bagi perempuan yang bernasib seperti ini.
Perdebatan antara pandangan pro life dan pro choice memang tidak
akan pernah selesai dan merupakan pilihan sulit bagi masyarakat yang
mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki. Pokok dari permasalahan
abortus provocatus ini adalah karena adanya kehamilan yang tidak
dikehendaki, dan untuk mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki tersebut
harus ada upaya-upaya dari pemerintah dan masyarakat dalam mencegah
permasalahan ini. Dan salah satu upaya yang sudah dilakukan adalah
melakukan perubahan yang lebih progresif melalui legalisasi Undang-Undang
101
No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan terhadap abortus provocatus pada
korban perkosaan.
Oleh karena itu, perlu segera disosialisasikan kepada masyarakat
bahwa korban perkosaan adalah tetap manusia yang mempunyai hak sama
dengan manusia lainnya. Mereka patut mendapat perlakuan sama dengan
manusia
lainnya,
termasuk
penghargaan
dan
penghormatan
serta
perlindungan atas haknya untuk melakukan abortus provocatus. Keputusan
untuk melakukan abortus provocatus oleh korban perkosaan yang hamil tidak
menimbulkan kerugian bagi orang lain. Satu-satunya akibat yang dirasa
mengganjal adalah karena keputusan itu menimbulkan gesekan-gesekan
dengan norma-norma masyarakat. Tapi sepenjang tidak merugikan orang lain,
keputusan untuk melakukan abortus provocatus tetap harus dihormati. Hal ini
juga demi kebaikan si korban sendiri daripada meneruskan kehamilannya
tetapi menimbulkan banyak dampak buruk jangka panjang baik bagi dirinya
sendiri, anak hasil perkosaan tersebut maupun masyarakat luas.
Berdasarkan uraian hasil penelitian di atas, berikut ini melalui
ilustrasi bagan yang disajikan, penulis mengharapkan dapat memudahkan di
dalam memahami objek permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini:
102
Hasil
Penelitian
Perlindungan
Hukum Pidana
terhadap Korban
Perkosaan yang
Melakukan Abortus
Provocatus
Pengaturan Abortus
Provocatus pada
Korban Perkosaan
dalam Perspektif
Hukum Pidana
Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP)
KUHP tidak melegalkan
abortus provocatus tanpa
kecuali, maka abortus
provocatus yang dilakukan
korban perkosaan, dan
mereka yang turut
melakukan pengguguran
kandungan berdasarkan
pengaturan KUHP dapat
dikenakan sanksi pidana.
Undang-Undang No. 36
Tahun 2009 tentang
Kesehatan
Aborsi karena perkosaan
adalah merupakan
pengecualian, dan tidak
merupakan tindak pidana
apabila dilakukan
berdasarkan beberapa
persyaratan sebagai alasan
medis seperti yang diatur
dalam Pasal 75 ayat (3)
dan Pasal 76
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
103
KUHP tidak
memberikan
perlindungan hukum
terhadap perempuan
korban perkosaan
yang melakukan
abortus provocatus.
Undang-Undang No. 36
Tahun 2009 tentang
Kesehatan memberikan
perlindungan hukum
terhadap abortus
provocatus pada korban
perkosaan dengan
beberapa persyaratan
sebagai alasan medis
seperti yang diatur
dalam Pasal 75 ayat (3)
dan Pasal 76 UU No. 36
Tahun 2009.
1. Pengaturan Hukum Pidana tentang pengguguran kandungan (abortus
provocatus) terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP) yang berlaku sebagai hukum pidana umum (Lex Generale), dan
juga dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang
menggantikan Undang-Undang No. 23 Tahun 1992, dan berlaku sebagai
hukum pidana khusus (Lex Speciale). KUHP memberikan status hukum
ilegal
terhadap
aborsi
karena
tidak
membolehkan
aborsi
tanpa
pengecualian dengan alasan apapun juga dan oleh siapapun juga. Dengan
kata lain, KUHP tidak membedakan antara abortus provocatus
medicinalis/therapeuticus dan abortus provocatus crimnalis Ketentuan ini
sejak diundangkannya di zaman pemerintahan Hindia Belanda sampai
dengan sekarang ini tidak pernah berubah, dan ketentuan ini berlaku
umum bagi siapapun yang melakukan, bahkan bagi dokter yang
melakukan dapat dikenakan pemberatan pidana. Sedangkan dalam
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, permasalahan
aborsi memperoleh legitimasi dan penegasan. Secara eksplisit, dalam
undang-undang ini terdapat pasal-pasal yang mengatur mengenai aborsi,
meskipun dalam praktek medis mengandung berbagai reaksi dan
menimbulkan kontroversi diberbagai lapisan masyarakat. Meskipun,
undang-undang melarang praktik aborsi, tetapi dalam keadaan tertentu
terdapat kebolehan, yakni membolehkan aborsi berdasarkan indikasi medis
untuk menyeamatkan jiwa ibu dalam keadaan darurat.
104
2.
Perempuan
sebagai
korban
perkosaan
yang
kemudian
diketahui
mengandung janin sebagai akibat perkosaan yang pernah dialaminya, yang
pada akhirnya memilih untuk melakukan aborsi (abortus provocatus),
dalam ketentuan hukum pidana khususnya melalui Undang-Undang No.
36 Tahun 2009 tetap mendapatkan perlindungan hukum sebagaimana yang
diatur dalam undang-undang tersebut. Dalam pengertian lain, hukum
pidana melalui ketentuan Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan memberikan perlindungan hukum terhadap tindakan abortus
provocatus pada korban perkosaan dengan beberapa persyaratan sebagai
alasan medis seperti yang diatur dalam Pasal 75 ayat (3) dan Pasal 76 UU
No. 36 Tahun 2009.
B. Saran
1. Seyogjanya “pedoman atau prinsip-prinsip pelaksanaan aborsi terhadap
janin hasil perkosaan” perlu dirumuskan secara eksplisit di dalam
Peraturan Pemerintah. Untuk itu perlu segera diterbitkannya Peraturan
Pemerintah (PP) sebagai peraturan pelaksana dari UU No. 36 Tahun 2009
yang mengatur tentang tata cara pelaksanaan aborsi bagi korban
perkosaan. Yang menjadi pertimbangan penting sehingga penulis
menganggap perlu untuk segera diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP)
tersebut yaitu, bahwa Peraturan Pemerintah tentang tata cara pelaksanaan
aborsi terhadap janin hasil perkosaan, tidak sembarangan bisa dilakukan
sebagai jalan keluar bagi pelaku aborsi akibat perkosaan. Selain itu agar
105
Pasal 75 ayat (2) sebagai aturan pengecualian
terhadap aborsi tidak
dijadikan justifikasi sebagaian orang untuk mempermudah terjadinya
aborsi. Dengan demikian sebagai pelaksana lapangan dari UU No. 36
Tahun 2009 ini benar-benar mengetahui kebutuhan nyata masyarakat.
Sehingga, UU No. 36 Tahun 2009 menjadi undang-undang yang lahir
karena respon kebutuhan sebagai jawaban atas persoalan dan bukan
menambah persoalan yang baru. Keberadaan aturan yang dimaksud harus
betul memperhatikan segi positif dan negatifnya, karena berkaitan dengan
pembentukan moral bangsa secara keseluruhan.
2. Perlu melakukan revisi terhadap UU No. 36 Tahun 2009, khususnya
beberapa pasal yang terkait dengan penentuan usia maksimal janin sebagai
akibat perkosaan yang boleh diaborsi. Menurut Pasal 76 huruf a UU No.
36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, seorang perempuan korban
pemerkosaan hanya boleh mengakses aborsi yang sah jika kehamilannya
kurang dari enam minggu. Kerangka waktu yang pendek ini akan
membuat tidak mungkin bagi sebagian besar perempuan yang memerlukan
layanan aborsi untuk mengakses layanan semacam itu secara legal. Banyak
perempuan tidak menyadari bahwa mereka hamil dalam waktu sesingkat
itu, dan korban pemerkosaan karena trauma yang mereka derita mungkin
baru mengetahui atau dapat mengakui kehamilan mereka setelah periode
enam minggu berakhir. Menurut penulis, pembatasan kehamilan enam
minggu yang bersifat mutlak merupakan pembatasan atas akses perempuan
106
terhadap layanan aborsi. Di samping itu, UU Kesehatan mensyaratkan para
korban pemerkosaan untuk mendapat konseling sebelum dan sesudah
tindakan aborsi oleh konselor guna mengakses layanan aborsi yang sah
(Pasal 75 ayat (3)), tapi tidak merinci prosedur bagi seorang perempuan
yang hamil karena tindakan pemerkosaan untuk bisa membahas hal ini
dengan
konselor
dengan
tujuan
mendapatkan
aborsi.
Kegagalan
memperjelas proses ini mendudukkan baik perempuan maupun konselor
dalam posisi di mana hak mereka masing-masing untuk mengakses
layanan medis, dan tanggung jawab untuk menyediakan akses ke layanan
aborsi, tidaklah jelas. Karena ketidakjelasan ini perempuan mungkin
mengalami trauma lagi karena harus menceritakan perincian pemerkosaan,
atau karena tidak memperoleh akses ke aborsi yang berhak mereka
dapatkan, karena konselor tidak tahu kapan boleh secara sah memberikan
aborsi dengan alasan pemerkosaan. Keadaan ini khususnya sulit bagi
kelompok tertentu yang rentan seperti para perempuan dan gadis yang
menjadi pekerja rumah tangga.
3. Perlu kerjasama dari berbagai pihak yang terkait dalam hal memastikan,
bahwa proses pelaksanaan aborsi secara sah tidak memberikan trauma
kedua kalinya kepada para korban perkosaan, dan tidak membebankan
sehingga mungkin mencegah sebagian besar korban, terutama mereka
yang tinggal di komunitas miskin, termarginalisasi dan terpencil, untuk
mengakses pelaksanaan layanan-layanan aborsi yang aman. Disamping
107
itu, juga memastikan bahwa program-program khusus dengan konselor,
penyedia layanan dan pemangku kepentingan lainnya diadakan sehingga
para korban perkosaan memiliki akses terhadap layanan-layanan untuk
melakukan aborsi yang aman, dan diizinkan menurut undang-undang.
108
Download