Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Stimulansia Termasuk Kafein

advertisement
DianodanMuhammad|GangguanMentaldanPerilakuAkibatStimulansiaTermasukKafein
besar dibandingkan jumlah yang dilaporkan.
Berdasarkan data morbiditas pasien rawat
jalandiRumahSakitdiIndonesiatahun2010,
gangguan mental dan perilaku akibat
penggunaan stimulansia paling banyak
terdapat pada golongan usia produktif, yaitu
25-44 tahun dengan jumlah kasus baru
sebanyak214orang.4
Membedakan antara psikosis akibat
metamfetamin, psikosis primer, maupun
psikosis
yang
dieksaserbasi
oleh
metamfetamin tidaklah mudah. Gejala yang
ditimbulkan dapat sangat mirip. Beberapa
gejala psikosis akibat metamfetamin sangat
khas. Psikosis primer menurut Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders (DSMIV) didiagnosis bila tidak ada bukti
penggunaansubstansiatauwithdrawal,ketika
gejala psikotik terjadi selama setidaknya 4
minggu tanpa penggunaan substansi atau
ketika gejala psikotik mendahului onset
penggunaansubstansidalamjumlahbesar.3
Kasus
Tn. E, laki-laki, 25 tahun, Islam, sudah
menikah, bekerja sebagai pencuci mobil,
pendidikan terakhir Madrasah Tsanawiyah
(MTS),sukuOgan,tinggaldidusunBalakRejo,
BatangHari,masukUnitGawatDarurat(UGD)
RumahSakitJiwa(RSJ)PropinsiLampungpada
tanggal 12 Januari 2016. Pemeriksaan
dilakukan pada tanggal 27Februari 2016 pada
pukul
11.20
WIB.
Autoanamnesis
dilakukandari pasien dan alloanamnesis dari
Tn. S, 48 tahun pendidikan terakhir Sekolah
MenengahPertama(SMP)(orangtuapasien).
Pasien datang ke UGD RSJ Provinsi
Lampung diantar keluarga dengan keluhan
marah tanpa sebab yang jelas hingga hampir
membacok orang tua pasien. Menurut orang
tua pasien, Tn. E biasa berobat jalan di
polikllinik jiwa RSJ Provinsi Lampung karena
sering marah tanpa sebab yang jelas. Orang
tua pasien juga mengatakan bahwa pasien
seringbertingkahlakuanehsepertimenjampijampi motor sebelum berkendara. Hal ini
terjadi pada bulan Februari 2015. Pasien juga
mudah marah dan tidak sabar bila
keinginannya tidak terpenuhi. Bila pasien
marah,diaakanmerusakbarangdanmeninju
tembokrumah.
Orang tua pasien mengatakan bahwa
bibi pasien curiga kalau pasien menggunakan
sabu. Hal ini diungkapkan karena melihat
kondisi pasien waktu itu yang sering panasdingin, mudah marah, mudah tersinggung,
serta berat badan yang rendah. Pasien juga
jarangtidurmalamdantampakgelisah.
Pasien
mengatakan
ada
yang
mengontrol pikiran dan perilaku pasien.
Pasien mengatakan ada makhluk gaib
(genderuwo) yang menyuruh pasien marah.
Pasien terkadang disuruh untuk memukul
orang tua pasien. Namun pasien dapat
menahannya dan melampiaskannya dengan
memukul tembok rumah hingga tangannya
terluka.Semenjakperistiwaini,pasiendibawa
ke RSJ Provinsi Lampung. Pasien mendapat
pengobatan dan keluhan perlahan hilang.
Pasien sempat kontrol dua kali selama dua
bulan semenjak berobat pertama kali
kemudian tidak kontrol kembali karena
keluhanmenghilang.
Dua bulan terakhir sebelum dirawat,
keluhanmudahmarahdantidaksabarmuncul
kembali. 1 hari sebelum dirawat, pasien
mengamuk tanpa sebab dan hampir
membacokorangtuapasien.Menurutpasien,
makhluk gaib yang dulu pernah dilihatnya,
datang dan menyuruhnya untuk membacok
orang tua pasien. Pasien tak dapat
menahannya.
Pasien juga mengatakan memiliki indra
keenam yang diwariskan dari almarhum
pamannya. Suatu malam, pasien bermimpi
bertemu dengan almarhum pamannya yang
mengatakan bahwa dia mewariskan indra
keenam dan batu merah delima kepadanya.
Dalam mimpi tersebut juga dikatakan bahwa
batu merah delima tersebut harus diambil
olehnyapadamalamharidikebunmilikorang
tua pasien. Pasien pun menuruti apa yang
dikatakan mimpi tersebut dan pergi
mengambil batu merah delima pada malam
hari. Dia melihat batu merah delima tersebut
berpijar terang. Dalam perjalanan menuju
kebun, pasien berulang kali melihat sosok
makhluk halus seperti kuntilanak, pocong,
genderuwo, tuyul, dan jin menghalanginya
danmengatakan“jangandiambil”kepadanya.
Namun pasien tetap mengambil batu merah
delima
tersebut.
Kemudian,
pasien
mengatakan menelan batu tersebut. Setelah
menelan batu tersebut, pasien jadi bisa
menyembuhkan segala penyakit dan dapat
berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Pasienjugamengatakandapatberkomunikasi
dengan alam gaib melalui meditasi. Lebih
JMedulaUnila|Volume6|Nomor1|Desember2016|29
DianodanMuhammad|GangguanMentaldanPerilakuAkibatStimulansiaTermasukKafein
lanjut pasien mengatakan dapat melihat
makhluk-makhluk tersebut di dunia nyata.
Terkadang,pasiendapatmerasakanmakhlukmakhluktersebutmenyentuhkulitnya. Pasien
tidak terganggu dengan hal tersebut karena
menurutnyamakhluktersebuttidakberusaha
mencelakainya.
Pasien
mengatakan
pernah
menggunakan sabu-sabu selama satu tahun
tiap harinya. Sabu-sabu didapatkan dari
temannya yang seorang oknum penegak
hukum. Pasien awalnya coba-coba. Namun
lama kelamaan menjadi konsumsi harian.
Pasien merasa semangat bila menggunakan
sabu-sabu. Sebaliknya, pasien merasa tidak
nyaman dan mudah lelah bila tidak
menggunakan
sabu-sabu.
Pasien
menggunakan sabu-sabu dengan cara dihisap
langsung ke hidung. Makin lama penggunaan
sabu-sabu makin banyak karena menurutnya
jumlah yang biasa dikonsumsi tidak berefek
lagi. Pasien kemudian berhenti setelah
berobat ke RSJ Provinsi Lampung untuk
pertama kalinya. Pasien juga merokok dan
mengkonsumsi alkohol yang dibarengi
penggunaan sabu-sabu. Tidak ada riwayat
traumakepala/penurunankesadaran,riwayat
kejangdantumor.
Riwayat tumbuh kembang pasien
menurutorangtuapasienyaitupada periode
prenatal dan perinatal (0-1 tahun), ia lahir
secara normal, cukup bulan, dibantu oleh
bidan, tidak ada kecacatan waktu lahir.
Selamahamil,orangtuapasientidakmemiliki
hendaya apapun. Periode sebelum masa
kanak (1-6 tahun) tidak didapatkan
penyakit/kelainan selama sebelum masa
kanak. Selama masa balita, pasien bisa
berjalan lebih cepat dibandingkan saudara
kandung lainnya. Pasien tidak belajar
merangkak.Periodemasakanakawal-akhir(612 tahun), selama masa kanak-kanak pasien
merupakan anak yang aktif dan cenderung
nakal. Pasien pernah tinggal kelas pada saat
SD. Periode masa remaja awal-akhir (12-18
tahun), masa remaja pasien dihabiskan pada
Madrasah Tsanawiyah. Pasien memiliki
banyak teman, mudah bergaul, dan tidak
pernahtinggalkelas.
Riwayat pendidikan, pasien tidak
melanjutkankejenjangpendidikanyanglebih
tinggi lantaran masalah biaya. Pendidikan
terakhirMTSdalamkurunwaktu3tahun.
JMedulaUnila|Volume6|Nomor1|Desember2016|30
Selama di MTS pasien tampak seperti
anaklainyangbersekolah.Riwayatpekerjaan,
setelah lulus MTS, pasien mulai bekerja
serabutan. Pasien ikut mengolah kebun milik
orang tuanya dan kadang bekerja di bengkel
untuk tambahan penghasilan. Pada umur 19
tahun, pasien ikut bekerja pada usaha
neneknya di Metro. Riwayat hukum, pasien
tidakpernahterjeratmasalahhukum.Riwayat
perkawinan, pasien sudah menikah 1 kali
dengan wanita pilihannya, dan sudah
berlangsung selama 3 tahun hingga sekarang.
Pasiensudahdikarunia1oranganakberumur
3 tahun. Riwayat kehidupan beragama,
pasien beragama Islam dan kadang
mengerjakanibadahsholat5waktu.
Riwayat keluarga, pasien merupakan
anak kedua dari empat bersaudara. Saat ini
pasien tinggal dengan istri dan anak pasien.
Adik pasien yang kedua meninggal karena
kecelakaan motor. Dalam keluarga, tidak ada
yangmemilikikeluhansepertipasien.Anggota
keluargarukunsatusamalain.
Keterangan
Gambar1.SkemaPedigree
Riwayat sosial ekonomi keluarga,
pasien tinggal bersama istri dan anak. Biaya
hidup keluarga ditanggung oleh dirinya dan
istri yang keduanya bekerja pada usaha milik
neneknya di Metro. Penghasilan keduanya
perharisekitar100.000rupiah.Merekatinggal
di mess milik neneknya bersama pegawaipegawai lainnya. Pasien mudah bergaul dan
disenangi oleh teman-temannya. Persepsi
DianodanMuhammad|GangguanMentaldanPerilakuAkibatStimulansiaTermasukKafein
pasien tentang dirinya, pasien merasa dirinya
sakit atau mengalami gangguan jiwa, namun
tidak mengerti sebabnya. Pasien sedikit
mengertidanmemahamitentangpenyakitnya
yang membutuhkan pengobatan. Pasien
merasaoptimisuntuksembuh.
Status mental : pasien seorang laki-laki
sesuai dengan usia, berperawakan tinggi
dengantinggisekitar170cm,kesangizicukup,
kulit sawo matang, kuku rapi, perawatan diri
cukup.
Sikap
terhadap
pemeriksaan
kooperatif.Kesadaranjernih(composmentis).
Perilaku dan aktivitas psikomotor selama
wawancara pasien dalam keadaan tenang,
kontak mata cukup. Pembicaraan spontan,
lancar, intonasi normal, volume cukup,
kualitas kurang, artikulasi jelas, kuantitas
cukup,amplitudobaik.Keadaanafektif:mood
hipotimia, afek menyempit. Keserasian
appropriate. Halusinasi: auditorik (+), visual
(+), taktil (+). Ilusi tidak ditemukan.
Depersonalisasi tidak ditemukan. Derealisasi
tidak
ditemukan.
Proses
berpikir:
produktivitascukup,kontinuitaskoheren,arus
pikiran normal, waham bizar (+), waham
kebesaran (+), riwayat waham dikendalikan
(+).Tarafpendidikan,pengetahuanumumdan
kecerdasan sesuai dengan taraf pendidikan
pasien, daya konsentrasi kurang, orientasi
(waktu, tempat, dan orang) baik, daya ingat
jangka panjang, jangka menengah, jangka
pendekdanjangkasegerabaik.Pikiranabstrak
kurang,kalkulasikurang,visuospasialbaik.
Norma sosial baik, uji daya nilai baik,
penilaian realitas terganggu. Tilikan 2 (dua)
yaitu mengakui dan menyangkal pada saat
yang bersamaan terhadap penyakitnya. Taraf
dapatdipercayadapatdipercaya.Pemeriksaan
tandavitaldankondisiumumdalamkeadaan
baik.
Berdasarkandiagnosismultiaksial,maka
didapatkan:
• AksisI : Gangguan mental dan perilaku
akibat stimulansia lain termasuk
kafein(F15.2),gangguanpsikotik
residual atau onset lambat
(F1x.7).
• AksisII :Belumdapatditentukan
• AksisIII:Belumdapatditentukan
• AksisIV:
o Masalahdengan“primarysupportgroup”
(keluarga)danteman–temannya.
o Masalah ekonomi dan pekerjaan karena
pasien saat ini tidak dapat bekerja
sehingga mengandalkan pendapatan
orangtuayangsudahlanjutusia.
o Masalah
hukum/kriminal
tetap
mengancam jika pasien kemudian
mengulangipemakaianNAPZA.
• AksisV:GAF50–41(current)
GAF90–81(HLPY)
Rencana terapi pada pasien adalah
sebagaiberikut
a. Psikofarmaka:
• Antipsikotik atypical (Risperidone 2x2 mg)
Risperidone 2x2 mg diberikan selama 5
hari, dipertimbangkan peningkatan dosis
berdasarkan tanda dan gejala yang
ditemukan.
b. Psikoterapi
• Ventilasi yaitu memberikan kesempatan
kepada pasien untuk menceritakan
keluhan dan isi hati serta pikiran sehingga
mengurangibebanpasien.
• Konseling dengan cara memberikan
pengertian kepada pasien tentang
penyakitnya dan memahami kondisinya
lebih baik dan menganjurkan untuk
berobatteratur.
• Psikoedukasi:
Pasien
• Membina hubungan dengan pasien dan
membuatpasiennyamansehinggapasien
merasa diperhatikan dan dipedulikan
sesuaidenganterapiyangkomprehensif.
• Memberikan informasi penting kepada
pasien untuk meminum obatnya secara
teratur serta menghentikan sama sekali
penggunaanzatterlarang.
Keluarga
• Memberikanperhatiankepadapasiendan
menciptakan suasana yang nyaman agar
pasiennyamandandapatterbukakepada
keluarga tentang masalah yang sedang
dihadapi.
• Diberikankegiatanbermanfaatdirumah
yang tidak berisko membahayakan
pasienmaupunoranglain.
• Memberikan penjelasan pada keluarga
pasien dan orang sekitar pasien untuk
memberikan dorongan dan menciptakan
lingkunganyangkondusif.
Pembahasan
Pada pasien ini ditemukan adanya
gangguan afektif, persepsi dan isi pikir yang
bermakna serta menimbulkan suatu distress
JMedulaUnila|Volume6|Nomor1|Desember2016|31
DianodanMuhammad|GangguanMentaldanPerilakuAkibatStimulansiaTermasukKafein
(penderitaan) dan disability (hendaya) dalam
pekerjaan dan kehidupan sosial sehingga
dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami
gangguan jiwa. Berdasarkan data-data yang
didapat memelalui anamnesis, pemeriksaan
fisik dan rekam medik tidak ditemukan
riwayat trauma kepala, demam tinggi atau
kejang sebelumnya ataupun kelainan organik.
Hal ini dapat menjadi dasar untuk
menyingkirkan diagnosis gangguan mental
organik(F.0).
Dari anamnesa didapatkan riwayat
penyalahgunaan obat berupa penggunaan
NAPZA jenis sabu sejak tahun 2014 dan
terakhir pemakaian adalah bulan Februari
2015 ketika berobat pertama kali. Hal ini
dapat menegakkan diagnosis gangguan
mental dan perilaku akibat penggunaan zat
psikoaktif (F.1). Selain itu, psikosis primer
menurut DSM-IV didiagnosis bila tidak ada
bukti penggunaan substansi atau withdrawal,
ketika gejala psikotik terjadi selama
setidaknya 4 minggu tanpa penggunaan
substansi atau ketika gejala psikotik
mendahului onset penggunaan substansi
dalamjumlahbesar.3
PasienmenggunakanNAPZAsabu-sabu.
Sabu-sabu merupakan NAPZA golongan
amphetamine-type stimulants atau ATS.
Penggunaan sabu-sabu selama hampir
setahun dengan taraf dependent serta gejala
psikotik yang muncul sebelumnya tidak ada.
Halinidapatmenegakkandiagnosisgangguan
mental dan perilaku akibat stimulansia lain
termasukkafein(F15).
Pasien
kemudian
berhenti
menggunakan sabu selama 11 bulan. Namun
gejala psikotik muncul kembali melampaui
jangka waktu khasiat psikoaktifnya. Gejala
atau gangguan tersebut memperlihatkan
suatu perubahan atau kelebihan dari fungsi
yang sebelumnya normal. Hal ini dapat
menjadi dasar diagnosa gangguan psikotik
residualatauonsetlambat(F1x.7)
Pasien
dapat
menyelesaikan
pendidikanhinggakelas3setaraSMP,pernah
tinggal kelas saat SD namun bukan karena
masalah akademis dan tidak mengalami
kesulitan dalam mengikuti proses pendidikan.
Tidak terdapat ciri kepribadian retardasi
mental. Penilaian terhadap ciri kepribadian
belumdapatdinilai.PadaaksisIIbelumdapat
ditentukan.
JMedulaUnila|Volume6|Nomor1|Desember2016|32
Pada anamnesis tidak terdapat keluhan
medis, pemeriksaan fisik dan hasil
laboratorium darah lengkap didapatkan hasil
dalam keadaan normal. Meskipun demikian,
kondisi medis umum belum dapat dipastikan
karena hasil pemeriksaan kimia darah belum
dilakukan sehingga aksis III belum dapat
ditentukan.
Aksis
IV
didapatkan
bahwa
penyalahgunaan obat mengganggu hubungan
(relationship) pasien dengan keluarga dan
teman–temannya. Masalah ekonomi dan
pekerjaan karena pasien saat ini tidak dapat
bekerja sehingga mengandalkan pendapatan
orang tua yang sudah lanjut usia. Masalah
hukum/kriminaltetapmengancamjikapasien
kemudianmengulangipemakaianNAPZA.
Penilaian terhadap kemampuan pasien
untuk berfungsi dalam kehidupannya
menggunakan skala GAF (Global Assessment
ofFunctioning)menurutPPDGJ-IIIpadaaksisV
didapatkan GAF saat dirawat (GAF current)
adalah50-41,yaitugejalaberatdandisabilitas
beratdalam menjalani aktivitas sehari-hari.
GAFHLPY(HighestLevelPastYear)adalah9081, yaitu tidak ada gejala atau ada gejala
minimal,berfungsibaikdisemuaarea,tertarik
dan terlibat dalam berbagai aktivitas, efektif
secara sosial, secara umum puas dengan
kehidupannya. Penilaian GAF ini didasarkan
padariwayatyangpernahhidupnormaltanpa
gejala psikotik atau disabilitas berat, pernah
berfungsi seperti orang normal dan pernah
bekerjasebelumnya.
Terapi farmakologis pada pasien ini
menggunakan antipsikotik atipikal risperidone
2x2 mg diberikan selama 5 hari,
dipertimbangkan
peningkatan
dosis
berdasarkan tanda dan gejala yang
ditemukan. Risperidon merupakan salah satu
obat antipsikotik atipikal. Antipsikotik atipikal
memiliki efek samping yang kecil untuk
terjadinya Sindrom Ekstrapiramidal dan efek
sedatif serta tidak berpengaruh terhadap
fungsi kognitif pasien. Obat golongan ini juga
tidak memerlukan pemantauan jumlah sel
darahputihsetiapminggu.5
Psikoterapi terhadap pasien dan
keluarga juga penting dalam menangani
pasien dengan gangguan mental dan perilaku
akibat penggunaan stimulansia. Psikoterapi
pada pasien ini terdiri dari ventiliasi,
konseling, dan psikoedukasi terhadap pasien
dan keluarga. Psikoterapi ventilasi dengan
DianodanMuhammad|GangguanMentaldanPerilakuAkibatStimulansiaTermasukKafein
cara memberikan kesempatan pada pasien
untuk menceritakan keluhan dan isi hatinya
sehinggadiharapkandapatmengurangibeban
pikiran pasien. Psikoterapi konseling dengan
cara memberikan pengertian kepada pasien
tentang penyakitnya serta kondisinya yang
membutuhkan pengobatan teratur dapat
membantu kepatuhan terhadap pengobatan.
Psikoterapi psikoedukasi terhadap pasien dan
keluarganya penting dalam menjaga rasa
amansertanyamandalamlingkungannya.
Berdasarkan Kepmenkes RI No. 420
tentang Pedoman Layanan Terapi dan
Rehabilitasi Komprehensif pada Gangguan
Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit,
tindakan penanganan pada pasien dengan
penyalahgunaan zat meliputi Gawat darurat
NAPZA, Detoksifikasi, Rehabilitasi, Rawat
jalan/Rumatan. Apabila kondisi pasien
memungkinkan, pasien penyalahgunaan
NAPZA dapat langsung menjalani rawat
jalan/rumatan.
Berbagai kondisi yang mandasari
gangguan
penggunaan
NAPZA
akan
mempengaruhi jenis pengobatan yang akan
diberikan kepada pasien, kebijakan untuk
merawatdanmemulangkanpasien,hasilyang
diharapkan, sumber daya manusia yang akan
memberikan pelayanan, dan sikap terhadap
perilaku pasien. Di bawah ini akan diuraikan
beberapa model yang popular dilaksanakan
padamasalahgangguanpenggunaanNAPZA:
1. Therapeutic Community-TC Model, model
ini merujuk pada keyakinan bahwa
gangguan penggunaan NAPZA adalah
gangguan pada seseorang secara
menyeluruh. Dalam hal ini norma-norma
perilakuditerapkansecaranyatadanketat
yang diyakinkan dan diperkuat dengan
memberikan reward dan sangsi yang
spesifik
secara
langsung
untuk
mengembangkan
kemampuan
mengontrol diri dan sosial/komunitas.
Pendekatan yang dilakukan meliputi
terapi individual dan kelompok, sesi
encounteryangintensifdengankelompok
sebaya dan partisipasi dari lingkungan
terapeutik dengan peran yang hirarki,
diberikan juga keistimewaan dan
tanggung jawab. Pendekatan lain dalam
program termasuk tutorial, pendidikan
formaldanpekerjaansehari-hari.6
2. Model Medik, model ini berbasis pada
biologikdangenetikataufisiologiksebagai
penyebab adiksi yang membutuhkan
pengobatan dokter danmemerlukan
farmakoterapi untuk menurunkan gejalagejala serta perubahan perilaku. Program
inidirancangberbasisrumahsakitdengan
programrawatinapsampaikondisibebas
dari rawat inap atau kembali ke fasilitas
dimasyarakat.7
3. Model
Minnesota,
model
ini
dikembangkan dari Hazelden Foundation
and Johnson Institute. Model ini fokus
pada abstinen atau bebas NAPZA sebagai
tujuan
utama
pengobatan.
Fase
perawatan rawat inap termasuk terapi
kelompok,terapikeluargauntukkebaikan
pasien dan anggota keluarga lain,
pendidikanadiksi,pemulihandanprogram
12 langkah. Diperlukan pula staf
profesional seperti dokter, psikolog,
pekerja sosial, mantan pengguna sebagai
addictcounselor.7
4. Model Eklektik, model ini menerapkan
pendekatansecaraholistikdalamprogram
rehabilitasi. Pendekatan spiritual dan
kognitif melalui penerapan program 12
langkah merupakan pelengkap program
TC yang menggunakan pendekatan
perilaku,halinisesuaidenganjumlahdan
variasi masalah yang ada pada setiap
pasienadiksi.7
5. Model Multi Disiplin, program ini
merupakan pendekatan yang lebih
komprehensif dengan menggunakan
komponen disiplin yang terkait termasuk
reintegrasi dan kolaborasi dengan
keluargadanpasien.7
6. Model Tradisional, tergantung pada
kondisi setempat dan terinpirasi darihalhal praktis dan keyakinan yang selama ini
sudahdijalankan.Programbersifatjangka
pendek dengan aftercare singkat atau
tidak sama sekali.Komponen dasar terdiri
dari: medikasi, pengobatan alternatif,
ritual dan keyakinan yang dimiliki oleh
sistem lokal, contoh: pondok pesantren,
pengobatantradisionalatauherbal.7
7. Faith Based Model, sama dengan model
tradisional hanya pengobatan tidak
menggunakanfarmakoterapi.7
Keluarga juga berperan penting dalam
kesembuhan pasien.8 Pengetahuan keluarga
mengenai kesehatan mental merupakan awal
usahadalammemberikaniklimyangkondusif
JMedulaUnila|Volume6|Nomor1|Desember2016|33
DianodanMuhammad|GangguanMentaldanPerilakuAkibatStimulansiaTermasukKafein
bagi anggota keluarganya. Keluarga selain
dapat meningkatkan dan mempertahankan
kesehatan mental anggota keluarga, juga
dapat menjadi sumber problem bagi anggota
keluarga yang mengalami persoalan kejiwaan
keluarganya.9
Berdasarkan penelitian dari bahan
National Mental Health Assosiation (NMHA),
diperoleh bahwa banyak ketidakmengertian
ataupun kesalahpahaman keluarga mengenai
gangguan jiwa, keluarga menganggap bahwa
seseorang yang mengalami gangguan jiwa
tidak akan pernah sembuh lagi. Namun
faktanya,NHMAmengemukakanbahwaorang
yangmengalamigangguanjiwadapatsembuh
dan dapat mulai kembali melakukan
aktivitasnya.10
NMHA mengemukakan hal-hal yang
perlu diketahui oleh keluarga agar dapat
menyikapi dan mengontrol emosi dalam
menghadapi
anggota
keluarga
yang
mengalamigangguanjiwa,yaitu:10
• Membangun harapan yang realistis
dalam keluarga dan kepada penderita
gangguan jiwa sehingga keluarga
memiliki kesabaran dan tetap
mendukunganggotakeluarganyayang
mengalamigangguanjiwa.
• Pendekatan
secara
spiritual
membantu
keluarga
dalam
menghadapipenderitagangguanjiwa.
• Mencari bantuan dari petugas
kesehatan ataupun sumber media
lainnyadalammendapatkaninformasi
yangbenartentanggangguanjiwa.
• Komunikasi sangat penting untuk
membangun kepercayaan antara
keluarga dengan penderita gangguan
jiwa. Komunikasi yang baik secara
tidak langsung dapat membuat
penderita gangguan jiwa dapat
mengungkapkan perasaan yang
dirasakannya dan kelurga diharapkan
mengerti bahwa kondisi yang mereka
alami.
Keluarga mempunyai tugas di bidang
kesehatanyangmeliputi:11
§ Mengetahui kemampuan keluarga untuk
mengenal masalah kesehatan keluarga
pasien dengan perilaku kekerasan,
keluarga perlu mengetahui penyebab
tanda-tanda pasien kambuh dan perilaku
maladaftifnya meliputi keluarga perlu
mengetahui pengertian prilaku kekerasan,
JMedulaUnila|Volume6|Nomor1|Desember2016|34
tanda dan gejalanya, cara mengontrol
prilakukekerasaannyadengancaraminum
obatdancaraspiritual.
§ Mengetahui kemampuan keluarga dalam
mengambil keputusan mengenai tindakan
keperawatan yang tepat dalam mengatasi
anggota
keluarga
dengan
prilaku
kekerasan, menanyakan kepada orang
yang lebih tahu, misalnya membawa
kepelayanan kesehatan atau membawa
untukdirawatkerumahsakitjiwa.
§ Mengetahui sejauh mana kemampuan
keluargadalammerawatanggotakeluarga
dengan riwayat prilaku kekerasan yang
perlu dikaji pengetahuan tentang akibat
lanjut perilaku kekerasan yang dilakukan,
pemahaman keluarga tentang cara
merawatanggotakeluargadenganriwayat
perilaku kekerasan yang perlu dilakukan
oleh keluarga, pengetahuan keluarga
tentangalat-alatyangmembahayakanbagi
anggota keluarga dengan riwayat prilaku
kekerasan, pengetahuan keluarga tentang
sumber yang dimiliki keluarga dalam
merawatanggotakeluargadenganriwayat
perilaku kekerasan, bagaimana keluarga
dalam merawat anggota keluarga dengan
riwayat
perilaku
kekerasan
yang
membutuhkanbantuan.
§ Mengetahui kemampuan keluarga dalam
memodifikasi lingkungan, yang perlu dikaji
: pengetahuan keluarga tentang sumbersumber yang dimiliki keluarga dalam
memodifikasi lingkungan khususnya dalam
merawatanggotakeluargadenganriwayat
perilaku kekerasan, kemampuan keluarga
dalam memanfaatkan lingkungan yang
asertif.
§ Mengetahui
kemampuan
keluarga
menggunakan
fasilitas
pelayanan
kesehatan yang berada di masyarakat,
yang perlu dikaji pengetahuan keluarga
tentang fasilitas keberadaan pelayanan
kesehatan dalam mengatasi perilaku
kekerasannya. Pemahaman keluarga
tentang manfaat fasilitas pelayanan yang
beradadimasyarakat,tingkatkepercayaan
keluarga terhadap fasilitas pelayanan
kesehatan, apakah keluarga mempunyai
pengalaman yang kurang tentang fasilitas
pelayanan kesehatan, apakah keluarga
dapat menjangkau pelayanan kesehatan
yangadadimasyarakat.
DianodanMuhammad|GangguanMentaldanPerilakuAkibatStimulansiaTermasukKafein
Fungsi dasar keluarga adalah untuk
memenuhi kebutuhan anggota keluarganya
danmasyarakatyanglebihluas,meliputi:11
• Fungsi
afektif
adalah
fungsi
mempertahankan kepribadian dengan
memfasilitasi
kepribadian
orang
dewasa,
memenuhi
kebutuhan
psikologis anggota keluarga, peran
keluarga dilaksanakan dengan baik
denganpenuhkasihsayang.
• Fungsi sosial adalah memfasilitasi
sosialisasiprimeranggotakeluargayang
bertujuan untuk menjadikan anggota
keluarga
yang
produktif
dan
memberikan status pada anggota
keluarga,
keluarga
tempat
melaksanakan sosialisasi dan interakasi
dengananggotanya.
• Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk
mempertahankangenerasidanmenjaga
kelangsungan hidup keluarga, dan
menambahsumberdayamanusia.
• Fungsi ekonomi adalah keluarga
berfungsi untuk memenuhi kebutuhan
keluarga
secara
ekonomi
dan
mengembangkan untuk meningkatkan
penghasilan
dalam
memenuhi
kebutuhankeluarganya.
• Fungsi perawatan mempertahankan
keadaan kesehatan anggota keluarga
agar memiliki produktivitas yang tinggi,
fungsi ini dikembangkan menjadi tugas
keluargadibidangkesehatan.
Simpulan
Diagnosa kasus ini adalah gangguan
mental dan perilaku akibat stimulansia
termasuk kafein dan gangguan psikotik
residual atau onset lambat. Pengobatan pada
pasien dengan penyalahgunaan NAPZA
disertaigangguanpsikotiktidakhanyaberupa
psikofarmaka melainkan psikososial yang
berpusatpadapasiensertakeluarganya.
DaftarPustaka
1. RusdiM.Diagnosisgangguanjiwarujukan
ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: Bagian
IlmuKedokteranJiwaFKUnikaAtmajaya.
2007.
2. Ghaffari N, Ziaddini H, Saffari ZS,
Kheradman A, Pouya F. A study of the
phenomenology of psychosis induced by
metamfetamin: a preliminary research.
AddictHealth.2014;6(3-4):105-11.
3. Grant KM, Levan TD, Wells SM, dkk.
Metamfetamin-associated psychosis. J
Neuroimmune
Pharmacol.
2012;
7(1):113-9.
4. Kementrian Kesehatan RI. Data dan
informasi
kesehatan.
Kementrian
Kesehatan RI; 2014. [diakses tanggal 30
Agustus
2016].
Tersedia
dari:
www.depkes.go.id
5. Kaplan dan Sadock. Buku ajar psikiatri
klinis.Edisike-2.Jakarta:EGC;2013.
6. Cakunani A. Mengenal therapeutic
community untuk rehabilitasi pasien
narkoba. 2015. [diakses tanggal 29
Agustus
2016].
Tersedia
dari:
www.mirifica.net
7. Anonim. Model terapi dan tahapantahapan rehabilitasi. 2012. [diakses
tanggal 29 Agustus 2016]. Tersedia dari:
www.gepenta.com
8. Keliat, B.A. Peran serta keluarga dalam
perawatan klien gangguan jiwa. Jakarta:
EGC;2003.
9. Notosoedirdjo & Latipun. Kesehatan
mental, konsep dan penerapan. Malang:
UMMPress;2005.
10. National
Mental
Health
Assosiation/NHMA. A literature review
report.2001.[diaksestanggal29Agustus
2016]Tersediadi:www.nmha.org
11. Friedman MM, Bowden O, Jonas M.
Keperawatankeluarga:teoridanpraktek.
Achir YS, Hamid, editors. Edisi ke-5.
Jakarta:EGC.2010.
JMedulaUnila|Volume6|Nomor1|Desember2016|35
Download