PRESENTASI KASUS BEDAH TORAKS

advertisement
PRESENTASI KASUS BEDAH TORAKS
DISUSUN OLEH:
Fitriana Nur Rahmawati
0906487796
Kevin
0906554333
NARASUMBER:
dr. Wuryantoro, SpB, SpBTKV
MODUL PRAKTIK KLINIK BEDAH DAN ATLS
DEPARTEMEN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
JANUARI 2014
BAB 1
ILUSTRASI KASUS
Identitas Pasien
Nama
: Tn. GS
Umur
: 50 tahun
Tempat Tanggal Lahir : 18 Januari 1963
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama
: Kristen Protestan
Pekerjaan
: Sopir Travel
Pendidikan
: SD
Alamat
: Kampung Makassar, Jakarta Timur
Status Pernikahan
: Belum Menikah
No. RM
: 388 – 84 – 94
Tanggal Berkunjung : 31 Desember 2013
Tanggal Pemeriksaan : 13 Januari 2014
ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Nyeri pada dada dan panggul pasca kecelakaan 2 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pada dua hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengaku ditabrak oleh mobil dari
sisi kanan. Saat itu, pasien telah menyelesaikan pekerjaan sebagai supir travel di Lampung
dan waktu kurang lebih tengah malam. Pasien mengaku mengantuk dan tidak begitu awas,
tetapi menyanggal berada dalam kondisi mabuk. Ketika hendak turun dari mobil, tiba-tiba
datang mobil dari arah belakang dengan kecepatan tinggi dan menabrak pasien dari sisi
kanan. Pasien mengaku terbentur pintu, terlempar dan sempat terguling di jalan aspal, sempat
meminta tolong dan kemudian tidak sadarkan diri (pingsan) hingga tiba di RS setempat.
Durasi pingsan tidak diketahui, kejang disangkal, sakit kepala disangkal, pandangan ganda
disangkal, keluar cairan dari telinga disangkal. Pasien menyangkal terlindas mobil. Karena
alasan keterbatasan alat, pasien meminta langsung dirujuk ke RSCM.
Saat pertama kali datang di IGD RSCM, pasien mengeluhkan nyeri pada tengah dada
dan panggul dengan VAS 3, memberat saat bernapas dalam, batuk, atau bergerak, dan sedikit
membaik bila mengonsumsi obat pereda nyeri. Nyeri dada tidak menjalar. Keluhan lain yang
dirasakan adalah dada yang terasa berat dan sesak, nyeri pada perut, dan muntah. Kuku biru
disangkal, ujung-ujung jari kaki masih dapat digerakkan. Pasien sudah diberikan tatalaksana
awal obat anti nyeri dari RS sebelumnya dan dilakukan pemasangan traksi tulang di RSCM.
Selama perawatan di RSCM, pasien mengalami demam, diare kurang lebih lima kali
sehari, warna coklat kehijauan, berampas, tidak ada darah dan lendir, tidak ada mual dan
muntah, terdapat nyeri perut yang tidak dapat ditunjuk. Saat ini demam sudah tidak ada, diare
masih ada, lebih dari kali 5 per hari, warna coklat, tidak ada darah dan lendir. Jumlah
makanan yang masuk kurang lebih 5 sendok makan, minum baik, BAK baik.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat hipertensi, penyakit paru, jantung, ginjal, hati, keganasan, gangguan pembekuan
darah, dan alergi disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat hipertensi, penyakit paru, jantung, ginjal, hati, dan alergi disangkal.
Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi, Kebiasaan :
Pasien belum menikah dan bekerja sebagai sopir travel. Pasien tidak memiliki jaminan
kesehatan, selain itu KTP pasien juga hilang sehingga tidak bisa mengurus jaminan. Saat ini
pasien membiayai pengobatan sendiri dan dibantu oleh keluarga.
PEMERIKSAAN
(Awal masuk-31 Desember 2013)
Survei Primer :
Airway
: Tidak ada sumbatan jalan nafas, tidak ada kecurigaan cedera servikal
Breathing
: simetris saat inspirasi dan ekspirasi, tidak tampak sesak, penggunaan otot
bantu napas (-), retraksi dada (-), bunyi napas tambahan (-), suara napas sama di kedua paru
Circulation
: Sianosis (-), pucat (-), akral hangat, CRT < 2 detik, nadi teraba kuat, regular, isi
cukup, perdarahan (-)
Disability
: GCS 15 (E4M6V5)
Exposure
: Vulnus excoriatum regio hemithoraks detra dan abdomen, deformitas sternum,
deformitas pelvis kanan
Survei Sekunder :
Evaluasi Tanda Vital :
TD : 124/58 mmHg
N : 107 x/menit
Kepala
: Tidak ada deformitas
Mata
: Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik
Leher
: Tidak tampak jejas
Thoraks
: I : terdapat deformitas sternum dan jejas
RR : 22 x/menit
T : 36,9˚C
P : Fremitus kanan = kiri
P : Sonor/sonor
A : Vesikuler, tidak ada ronki dan mengi, BJ I dan II normal, murmur (-),
gallop (–)
Abdomen
: I : datar, terdapat vulnus excoriatum multipel
P : Lemas, nyeri tekan (+), hati/limpa tidak teraba membesar
P : Timpani, pekak hati (+)
A : Bising usus (+)
Ekstremitas
: Akral hangat, tidak ada edema, CRT < 2”
Status Lokalis :
Dada : deformitas sternum (+),vulnus excoriatum regio hemithoraks dextra
Pelvis : deformitas pevis dextra (+) , rotasi eksterna (+), ROM terbatas, NVD distal (+)
(9 Januari 2014)
Pemeriksaan Umum :
Kesadaran
: kompos mentis
Tekanan Darah
: 130/90 mmHg
Nadi
: 88x/menit
Suhu
: 37ᵒC
Pernapasan
: 20 x/menit
Keadaan Umum
: tampak sakit sedang
Keadaan Gizi
: IMT 23,4 kg/m2 (obese)
Tinggi Badan
: 160 cm
Berat Badan
: 60 kg
Pemeriksaan Fisik :
Kepala
: normosefal, rambut hitam tidak mudah dicabut
Mata
: konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik +/+
Telinga
: tidak ada deformitas, kedua liang telinga lapang
Hidung
: tidak ada deformitas, tidak ada deviasi septum, mukosa tidak hiperemis,
tidak tampak sekret ataupun bekuan darah
Mulut
: OH cukup, mukosa tidak hiperemis, arkus faring simetris, uvula di
tengah, tonsil T1/T1, segmen posterior tenang
Leher
: KGB tidak teraba, kelenjar tiroid tidak teraba membesar, JVP 5-2
cmH2O, trakea di tengah
Dada
: vulnus ekskoriatum regio hemitoraks dekstra, deformitas os sternum
Jantung
I
: iktus kordis tidak terlihat
Palpasi dan perkusi tidak dilakukan
A
: bunyi jantung I dan II normal, tidak ada murmur, tidak ada gallop
I
: ekspansi dada simetris saat statis dan dinamis
Paru
Palpasi dan perkusi tidak dilakukan
A
: vesikular/vesikular, tidak ada ronki, tidak ada wheezing
I
: perut datar, lemas, vunus excoriatum (+)
P
: nyeri tekan epigastrik, hati dan limpa tidak teraba, shifting dullness tidak
ada, ballotement tidak ada, nyeri tekan pada titik McBurney tidak ada
A
: suara bising usus ada, meningkat
Abdomen
Ekstremitas
: akral hangat, edema -/-, a. Dorsalis pedis +/+ kuat, a. Tibialis posterior
+/+ kuat, sensasi distal +/+
Status Lokalis
Dada : deformitas sternum (+), vulnus excoriatum regio hemithoraks dextra
Gambar 1.1 Deformitas sternum
Pelvis : Look : terpasang traksi skeletal distal femur kanan, beban 7 kg, posisi baik
Feel : Nyeri tekan ada
Move : Immobilisasi
Pemeriksaan Penunjang:
EKG
SR, QRS rate 120 bpm, normoaksis, LAD (-), RAD (-), p wave normal, PR int 0,16s, QRS
dur 0,06s, Q patologis (-), QT int 0,32 s, ST changes (-) T inv pada lead V1-3, LBBB (-),
RBBB (-)
Pemeriksaan Laboratorium
Item
Darah rutin
Hb
Ht
MCV
MCH
MCHC
Leukosit
Diff. count
Trombosit
LED
PT
INR
aPTT
Na
K
Cl
Ureum
Kreatinin
eGFR (CKD-EPI)
SGOT
SGPT
D-dimer
Fibrinogen
Glukosa sewaktu
Albumin
Asam laktat
Anti-HIV
pH
pCO2
pO2
HCO3
Total CO2
BE
O2 sat
Std HCO3
Std BE
Urinalisis
31/12/2013
5/1/2014
7/1/2014
8/1/2014
9/1/2014
9.13
26.0
86.4
30.3
35.0
25900
245000
-
6.7
20.1
87.4
29.1
33.3
33500
389000
-
10.6
30.6
83.6
29.0
31.6
25170
366000
115
10.4
29.9
93.5
29.1
34.8
24390
10.7
30.0
84.0
30.0
35.7
21650
384000
-
380000
83
10.5
0.89
37.0
135
4.2
101
54.6
0.867
100.8
107
131
123
-
124
3.55
86.5
-
13.1
1.17
34.9
133
2.80
100.2
33
0.60
119.7
70
42
2500
72
1.66
2.3
7.464
29.90
80.80
21.70
22.60
-0.60
96.20
23.9
-2.3
135
3.46
96.2
417.2
7.437
32.10
77.30
21.80
22.80
-1.00
95.40
23.5
-2.6
13.6
1.21
40.6
134
3.15
96.5
31
0.60
119.7
78
38
1.66
-
Makros: Kuning,
agak keruh, BJ
1.020, pH 5.5,
Makros: Kuning,
keruh, BJ 1.010,
pH 6.5, protein
10/1/2014
9.5
27.6
84.4
29.1
34.4
20400
1.0/2.3/85.9/4.8/6.
0
357000
110
non reaktif
Nilai normal
13.0 – 17.0 g/dL
40 – 50 %
80.0 – 95.0 pg
27.0 – 31.0 fL
32.0 – 36.0 g/dL
3
5000 -10000/mm
0.5-1.0/1-4/55.0-70.0/2040/2-6
3
150000 – 400000/mm
<10
11.0 – 12.6 s
31.0 – 47.0 s
132 – 147 mEq/L
3.30 – 5.40 mEq/L
94.0 – 111.0 mEq/L
<50.0 mg/dL
0.80 – 1.30 mg/dL
79.90 – 117.00 mL/min/1.73m2
<33 U/l
<50 U/l
0 – 300 g/L
136.0 – 384.0 mg/dL
3.4 – 4.8 g/dL
0.9 – 1.7 mmol/L
Non-reaktif
7.350 – 7.450
35.00 – 45.00 mmHg
75.00 – 100.00 mmHg
21.00 – 25.00 mmol/L
21.00 – 27.00 mmol/L
-2.50 - +2.50 mmol/L
95.00 – 98.00 %
22.0 – 24.0 mmol/L
protein (1+),
glukosa (-), keton
(1+), darah (+2),
bilirubin (-),
urobilinogen (16
umol/L), nitrit (-),
leukosit esterase
(trace)
Mikros: epitel
(1+), leu 4-5/LPB,
eri 8-10/LPB,
silinder granular 23/LPK, kristal (-),
bakteri (+)
Analisis Tinja
(trace), glukosa (). Keton (-) darah
(trace), bilirubin (). Urobilinogen
3.2, nitrit (-),
leukosit esterase
(-)
Mikros: leu 67/LPB, eri 12/LPB, silinder (-),
kristal (-), bakteri
(-), sel ragi (+),
hifa (-)
Cokelat, lembek,
lendir (-), darah (-),
pus (-), leu 3-4, eri
6-9, telur cacing (), amoeba (-),
lemak (-), serat
tumbuhan (+),
serat otot (-),
darah samar tinja
(+)
Hijau, cair, lendir
(+), darah (-), pus
(-), leu 6-8, eri 45, telur cacing (-),
amoeba (-), lemak
(-), serat
tumbuhan (+),
serat otot (-),
darah samar
tinja (+)
Pemeriksaan Radiologi (31 Desember 2013)
Pemeriksaan radiografi toraks proyeksi AP
-
Jantung kesan membesar
Aorta dan mediastinum superior tidak melebar
Trakea di tengah, kedua hilus tidak menebal
Tampak infiltrat di perikardial kanan
Kedua hemidiafragma licin, kedua sinus kostofrenikus lancip
Jaringan lunak dinding dada terlihat baik
Tampak fraktur costae 7 lateral kanan
Pemeriksaan Schaedel proyeksi AP/lateral
-
Tidak tampak diskontinuitas pada tabula interna, diploe, dan tabula eksterna
Tidak tampak tanda-tanda fraktur pada os kalvaria
Sella tursika baik dan dorsum sella baik
Jaringan lunak sekitar kalvaria baik
Kesan: tidak tampak tanda fraktur tulang-tulang kalvaria
Pemeriksaan radiografi servikal proyeksi AP dan lateral
-
Kelengkungan vertebra servikal melurus
Kedudukan vertebra servikal baik, tidak tampak listesis
Pedikel intak, tidak tampak tanda-tanda fraktur
Tampak spur formation di sisi anterior korpus vertebra C3-6
Tidak tampak penyempitan celah diskus intervertebralis
Sendi-sendi vertebra servikal terlihat baik
Jaringan lunak sekitar vertebra servikal baik
Kesan: tidak tampak fraktur pada vertebra servikal, straight cervical, spondylosis
servikalis
Pemeriksaan radiografi pelvis proyeksi AP
-
Tampak diskontinuitas pada iliac wing kanan, ramus pubis superior dan inferior
bilateral, dan os ischium kiri
Celah sendi dan permukaan sendi sakroiliakan bilateral masih baik
Tampak endorotasi caput femur kanan terhadap acetabulum
Kesan: fraktur multipel di iliac wing kanan, ramus pubis superior dan inferior
bilateral, dan os ischium kiri
FAST (31 Desember 2013)
Tidak ada cairan bebas
Daftar Masalah
1. Sepsis perbaikan ec GEA
2. Fraktur tertutup sternum
3. Fraktur tertutup pelvis MTC 1 dalam traksi skeletal
4. Hipoalbuminemia
5. Anemia normositik normokrom
6. Hipertensi grade I
Terapi

Diet 1900 kkal

IVFD asering 500 cc/6 jam

Albumin IV 20% selama 3 hari

Pro ORIF sternum elektif

Toleransi operasi : konsultasi anestesi dan IPD, cek DPL, PT/APTT, SGOT, SGPT,
Ur/Cr, elektrolit, GDS

Atasi Infeksi : Ciprofoloxacin 2x500 mg IV, Metronidazole 3x500 mg PO

Atasi Nyeri

Atasi stress ulcer : omeprazole 2x40 mg, sukralfat 4xCI

Atasi diare

Atasi perdarahan : Asam traneksamat 3x500 mg, vit K 3x10 mg, vit c 2x200 mg
: paracetamol 3x1 g IV
: activated attapulgit 2 tab/diare max 12 tab/hari, Smecta 3 x 1
Prognosis

Ad vitam: dubia ad bonam

Ad functionam: dubia ad bonam

Ad sanationam: dubia ad bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Fraktur dapat didefinisikan sebagai terputusnya kontinuitas struktural jaringan baik pada
tulang, lempeng epifisis, ataupun kartilago.1 Fraktur sternum merupakan diskontinuitas
korteks sternum akibat trauma langsung ataupun proses patologis pada sternum. Fraktur ini
dapat terjadi secara tunggal (isolated sternal fracture/ ISF) ataupun bersamaan dengan cedera
lain, seperti fraktur costae, pneumotoraks, atau hematotoraks.2,3
2.2. Insidensi dan Penyebab
Fraktur sternum didiagnosis pada 3,7% korban kecelakaan lalu lintas yang datang ke rumah
sakit.2 Walaupun fraktur ini tergolong fraktur yang jarang terjadi namun insidensnya
meningkat setelah adanya peraturan penggunaan sabuk pengaman.4 Mekanisme trauma
diklasifikasikan menjadi trauma langsung dan tidak langsung. Trauma langsung umumnya
disebabkan trauma deselerasi dan trauma tumpul pada dada yang terjadi akibat kecelakaan
lalu lintas (83%). Fraktur sternum lebih sering terjadi pada pengemudi mobil atau penumpang
yang duduk di kursi depan karena mereka tertahan oleh sabuk pengaman ketika terjadi
benturan. Pengemudi juga bisa membentur setir mobil walaupun tidak memakai sabuk
pengaman. Insidens untuk pengemudi 4,1%, penumpang kursi depan 6,3%, dan penumpang
lainnya 0,8%.2 Penyebab lain seperti benturan kendaraan dan pejalan kaki, jatuh, serta
penganiayaan juga dapat terjadi. Trauma tidak langsung disebabkan oleh fraktur insufisiensi,
fraktur stres, dan fraktur patologis. Fraktur insufisiens terjadi spontan pada kifosis toraks
berat dan pada osteoporosis. Pasien tua, post menopause, dan pasien dengan terapi steroid
jangka panjang memiliki risiko lebih tinggi. Fraktur stres juga sering terjadi pada atlet yang
melakukan latihan tubuh bagian atas secara rutin walaupun tanpa adanya riwayat trauma
akut.4
2.3. Gejala Klinis
Fraktur sternum dapat terjadi secara terisolasi tanpa adanya cedera yang lain. Nyeri dada
merupakan gejala yang paling dominan dan terjadi selama kurang lebih 8-12 minggu). Nyeri
dada yang terlokalisasi ini lebih berat pada saat pasien menarik napas dalam dan batuk
dikarenakan sternum terlibat pada semua gerakan dinding dada terutama bernapas dan
batuk.2,4 Nyeri dada ini terutama terjadi pada pasien fraktur sternum terisolasi dan 2/3 pasien
hanya membutuhkan analgesik saja. Namun nyeri ini juga tidak bisa diremehkan karena
dapat menyebabkan gangguan ventilasi yang merupakan predisposisi terjadinya infeksi dada.
Apabila fraktur sternum disertai dengan cedera lainnya maka pasien bisa datang dengan sesak
napas, memar pada dinding dada, dan gangguan jantung.2
Cedera yang menyertai fraktur sternum dapat dibagi menjadi tiga yaitu :4
1. Cedera Jaringan Lunak
Pneumothoraks, hematothoraks, tamponade jantung, kontusio miokard (6-12%) dan
pulmoner, injuri abdomen dan diafragma
2. Cedera Dinding Dada
Fraktur iga, flail chest, dislokasi sternoklavikular
3. Cedera Vertebra dan Kranium
Fraktur kompresi vertebra toraks, trauma kepala, leher, dan ekstremitas
Cedera pulmoner, efusi perikardium, fraktur vertebra dan iga lebih sering terjadi pada fraktur
displaced dan tidak stabil.
Gambar 2.1. Insidensi cedera lain yang terjadi bersama dengan fraktur sternum4
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya takipnea, sianosis, dan penggunaan otot
bantu napas. Dari inspeksi dinding dada dapat ditemukan ekimosis atau kontusi dengan atau
tanpa deformitas. Pada palpasi dapat dirasakan adanya krepitus.
Gambar 2.2. Tanda yang ditemukan pada cedera lain yang terjadi pada fraktur sternum4
Derajat fraktur sternum diklasifikasikan menurut Johnson-Branfoot yang membaginya ke
dalam empat tingkatan, yaitu5
Tabel 2.1. Derajat fraktur Johnson-Branfoot5
Grade
Penjelasan
I
Fraktur melibatkan korteks anterior
II
Fraktur melibatkan korteks anterior dan posterior
III
Grade II + <50% pergeseran segmen posterior salah satu elemen fraktur
IV
Grade II + >50% pergeseran segmen posterior salah satu elemen fraktur
Gambar 2.3. Derajat fraktur Johnson-Branfoot5
2. 4. Pemeriksaan
Pada kondisi akut pasien harus diresusitasi sesuai dengan guideline ATLS yaitu memastikan
jalur napas yang paten disertai kontrol c-spine, pemeriksaan napas dan sirkulasi, serta kondisi
membahayakan nyawa lainnya yang harus segera diidentifikasi dan ditangani saat survei
primer seperti tension pneumothorax, massive hemothorax, open pneumothorax, tamponade
jantung, dan flail chest. GCS pasien serta status neurovaskular ekstremitas atas juga harus
dinilai. Pakaian pasien juga harus dibuka untuk melihat adanya lebam, perdarahan atau injuri
di tempat lain. Survei sekunder mencakup anamnesis lengkap, pemeriksaan kepala, vertebra,
punggung, dan ekstremitas. Injuri dada yang diidentifikasi pada survei sekunder adalah
fraktur iga, kontusi pulmoner, pneumotoraks sederhana, hemotoraks sederhana, cedera aorta
tumpul, cedera miokard tumpul.4
Foto polos dada lateral merupakan baku emas dalam mendiagnosis fraktur sternum karena
fraktur dan pergerakan fragmen fraktur (displacement) atau dislokasi terjadi pada bidang
sagital. Foto polos dada AP bermanfaat untuk mendeteksi adanya cedera lainnya termasuk
fraktur iga, kontusio pulmoner, dan hematothoraks atau pneumothoraks serta pelebaran
mediastinum. CT axial dianggap lebih inferior dalam mendiagnosis fraktur sternum
dikarenakan potongan CT dapat melewatkan adanya fraktur sternum transversal. USG
sebenarnya memiliki sensitivitas yang sebanding dengan foto polos bahkan dianggap lebih
superior. Akan tetapi sifat USG yang operator-dependen membuat foto polos tetap menjadi
lini pertama modalitas radiografi, selain itu USG juga tidak bisa melihat derajat pergeseran
fragmen fraktur. Walaupun demikian USG lebih superior dalam mendeteksi fraktur iga dan
efusi pleura. Bone scintigraphy sebenernya sangat superior dalam diagnosis fraktur sternum
bahkan fraktur yang terlewatkan pada foto polos namun modalitas ini jarang dipakai karena
ketidaktersediaan dan cost effectivenya.4
Pemeriksaan dengan pulse oksimetri, EKG, observasi adanya kontusio miokard harus selalu
dilakukan pada semua kasus. Jika dicurigai adanya kontusio miokard perlu dilakukan
pemeriksaan biomarker seperti CK-MB dan troponin serta echocardiografi. Apabila
konsentrasi troponin I atau T normal pada saat pasien masuk ke rumah sakit, pengukuran
kedua dilakukan 4-6 jam setelahnya untuk mengekslusi adanya injuri miokard.4
Gambar 2.3. Temuan ekokardiografi pada cedera miokard4
2.5. Tatalaksana
Umumnya fraktur sternum berupa fraktur yang sederhana, tidak bergeser, dan tidak
membutuhkan tindakan operasi. Tatalaksana konservatif menggunakan NSAID untuk
mengatasi nyeri sudah cukup untuk kebanyakan kasus. Terlebih lagi dari penelitian terbukti
bahwa pasien dengan fraktur sternum tanpa pergeseran fragmen yang berat, membutuhkan
analgesik kompleks, dan komorbiditas yang bermakna tidak perlu dirawat di rumah sakit.
Ketika nyeri tidak bisa diatasi dengan obat anti nyeri dan terdapat kondisi lain seperti alasan
kosmetik, mal union, nonunion, kompresi jantung maka dibutuhkan operasi.6
Terdapat beberapa cara untuk memperbaiki sternum yaitu menggunakan steel wire, suture
materials, plat alumunium dengan tujuh lubang, plat Sternolock X dengan delapan lubang,
plat sternum-ostesynthesis, plat berbentuk t. Tidak ada konsensus yang menyatakan metode
mana yang paling baik. Pemilihan metode mempertimbangkan biaya operasi dan tatalaksana
yang sukses tanpa infeksi ataupun revisi. Metode yang paling efektif dalam segi biaya adalah
suture materials atau steel wire namun ternyata metode ini kurang begitu sukses dan
membutuhkan revisi sehingga memakan biaya lebih. Penelitian lain juga menyatakan bahwa
dalam menggunakan plat sebaiknya hanya memakai satu plat dan memilih plat yang tidak
perlu dikeluarkan lagi untuk mengurangi morbiditas pasien.6
2. 6. Prognosis dan Komplikasi
Prognosis pada fraktur sternum terisolasi sangat bagus dan umumnya sembuh secara
komplit dalam beberapa minggu (kurang lebih 10.4 minggu).2 Pasien dengan fraktur sternum
terisolasi dan tidak ada kelainan pada EKG serta pemeriksaan enzim jantung pada beberapa
jam setelah trauma dikategorikan sebagai kasus yang tidak membahayakan dan dapat
dipulangkan dari IGD dalam waktu 24 jam.1 Mortalitas pada fraktur sternum hanya 0,7%,
akan tetapi 2/3 fraktur disertai dengan cedera lainnya dan meningkatkan mortalitas menjadi
25-45% (bergantung pada seberapa jauh keterlibatan organ lain dalam dada).4
Gambar 2.4. Mortalitas pada fraktur sternum dengan cedera lain4
Komplikasi yang terjadi meliputi non-union dan pseudoarthrosis yang nyeri serta
membutuhkan suatu intervensi bedah. Faktor predisposisi terjadinya gangguan penyatuan
atau penyatuan yang tertunda antara lain faktor mekanik dan anatomis seperti instabilitas dan
kontak antar tulang yang buruk. Abnormalitas kalsium, vitamin D, dan hormon paratiroid
juga berpengaruh dalam penyembuhan. Osteomielitis, abses sternum, mediastinitis, ruptur
aorta juga dapat terjadi walaupun jarang. Faktor risiko terjadinya abses mediastinum post
trauma antara lain hematoma, penyalahgunaan obat suntik, dan sumber infeksi
stafilokokkus.4
Permasalahan lain yang dapat timbul akibat fraktur sternum adalah trauma parenkim
paru dan trauma tumpul jantung (blunt cardiac injury/ BCI). Risiko ini semakin meningkat
apabila disertai dengan fraktur costae. Tanda terjadinya BCI dapat dinilai dari EKG dan
echokardiografi. Perubahan yang dapat terlihat pada EKG baik pada saat pertama kali datang
atau dalam perawatan 24 jam pertama, antara lain perubahan segmen ST, blok sinus
atrioventrikular derajat I, bundle branch block, fibrilasi atrium, sinus takikardia persisten, dan
ekstrasistol ventrikel. Temuan pada echokardiografi pada jantung adalah efusi perikardium
dan gangguan motilitas regional.7
Gambar 2.5. Protokol perawatan pada fraktur sternum7
BAB III
PEMBAHASAN
Pasien laki-laki 50 tahun, datang dengan keluhan utama nyeri pada dada dan panggul
pasca kecelakaan lalu lintas 2 hari SMRS. Berdasarkan anamnesis didapatkan riwayat
trauma pada pasien yaitu :

Mechanism of injury : Tertabrak mobil dari arah belakang dengan kecepatan tinggi,
tubuh sisi kanan tertabrak dan bagian depan tubuh terbentur pintu sebelum akhirnya
terlempar dan sempat terguling di jalan aspal

Injuries Sustained: adanya fraktur tertutup pada pertengahan sternum komplit dengan
pergeseran fragmen fraktur, fraktur costae 7 lateral kanan, fraktur tertutup pelvis
multipel.
Pasien dicurigai mengalami perdarahan pada rongga pelvis. Tidak
ditemukan adanya trauma pada parenkim jantung dan paru-paru.

Signs :
o Tekanan darah : 124/58 mmHg
o Nadi
: 107 x/menit
o Suhu
: 36ᵒC
o Pernapasan
: 22 x/menit
o Airway – Breathing - Circulation baik

Treatment : Pasien dilakukan stabilisasi di Lampung sebelum dirujuk ke RSCM.
Selama perawatan, pasien sudah diberikan obat anti nyeri dan traksi skeletal pada
distal femur dextra
Berdasarkan survei primer, tidak didapatkan adanya tanda kegawatdaruratan di bidang
toraks pada pasien. Observasi pada survei sekunder didapatkan salah satunya adalah fraktur
sternum. Berdasarkan kriteria Johnson-Branfoot, fraktur sternum pada pasien ini termasuk ke
dalam derajat III. Selain itu, pada gambaran foto toraks AP, ditemukan adanya fraktur costae
7 lateral kanan. Gambaran EKG pada pasien ini masih dalam batas normal. Untuk memeriksa
ada tidaknya trauma tumpul pada jantung, seharusnya dilakukan EKG ulangan dan
echokardiografi untuk menilai ada tidaknya perubahan pada pasien. Fraktur sternum
umumnya diobservasi dalam 24 jam dan apabila kondisi pasien stabil dapat segera
dipulangkan. Akan tetapi, pasien ini memiliki faktor penyulit lain di mana mengalami fraktur
pelvis multipel yang cukup berat dan diduga mengalami perdarahan masif yang ditandai
dengan kadar Hb yang rendah saat datang (anemia normositik normokrom).
Walaupun nyeri pada pasien dapat dikontrol dengan obat anti nyeri namun fraktur
sternum pada pasien merupakan fraktur displaced dengan adanya cedera lain berupa fraktur
iga yang berisiko mengakibatkan cedera lain pada sistem kardiopulmoner sehingga
diindikasikan untuk operasi. Operasi yang direncanakan berupa open reduction internal
fixation (ORIF), namun bersifat elektif. Saat ini, pembiayaan kesehatan pasien masih mandiri
dan menunggu jaminan. Tujuan fiksasi sternum adalah untuk mengurangi nyeri dan
mencegah terjadinya komplikasi lanjutan pada struktur sekitar, seperti parenkim jantung dan
paru-paru.
DAFTAR PUSTAKA
1. Salter RB. Textbook of disorders and injuries of the musculoskeletal system. 3rd Ed.
Pensylvania: Lippincott Williams & Wilkins; 1999. P 417-35
2. Kouritas VK, Zisis C, Vahlas K, Roussakis AG, Bellenis I. Isolated sternal fractures
treated on an outpatient basis. Am J Emerg Med 2013;31:227-30
3. Jeyam M, Wallace PW, Tibrewal S. Sternal fractures. Nottingham : Queen’s Medical
Care. 2008 September. P. 1-6
4. Khoriati A, Rajakulasingam R, Shah R. Sternal fractures and their management. J
Emerg Trauma Shock. 2013 Apr-Junn: 6(2):113-116
5. Johnson I, Branfoot T. Sternal fracture – a modern review. Arch Emerg Med
1992;10:24-8
6. Yoldas B, Esms H, Calik M. Stenal fractures: “operative treatment” should be kept in
mind. J Res Med Sci. 2012 August; 17(8):814-5
7. Waele JJD, Calle PAA, Blondeel L, Vermassen FEG. Blunt cardiac injury in patients
with isolated sternal fractures: the importance of fracture grading. Eur J Trauma
2002;28:178-82
Download