Model Pengendalian Lingkungan Dalam Pembangunan Kota Baru

advertisement
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan penduduk merupakan fenomena yang menjadi potensi sekaligus
permasalahan dalam pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut terkait dengan
kebutuhan ruang untuk penduduk yang terus menerus bertambah setiap tahunnya
(George, 2006). Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran terutama bagi pertumbuhan
wilayah dan kota. Kota dengan kepadatan tinggi akan membawa banyak masalah
terutama berkaitan dengan permasalahan keberlanjutan kawasan perkotaan (Ng, 2010).
Hal yang sama juga terjadi pada kota-kota yang sudah mencapai titik jenuh, perlu
adanya sebuah solusi yang relevan sehingga permasalahan penduduk tidak semakin
meluas ke sektor lainnya.
Hal lain yang akan terjadi dari tingginya tingkat hunian akibat pertumbuhan
penduduk di wilayah kota adalah tumbuhnya wilayah terbangun secara sporadis (urban
sprawl) di pinggiran kota dan di tempat lain, sehingga pertumbuhan kota menjadi tak
terkendali (primacy) dan tidak efisien (Soule, 2006; Squires, 2002; Bruegmann, 2006).
Tingginya tingkat hunian di wilayah perkotaan juga bukan hanya menyebabkan
terjadinya ketidak-seimbangan pertumbuhan kota-desa dan kota besar-kota kecil, namun
juga dapat menimbulkan ketimpangan kawasan, yang berakibat pada terjadinya
polarisasi ekonomi. Terjadinya ketimpangan kawasan juga mengakibatkan terjadinya
perubahan fisik wilayah perkotaan yang pada akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya
kesenjangan yang cukup tinggi1.
Salah satu bentuk pembangunan kawasan perkotaan yang diperkirakan akan
merefleksikan visi pengembangan perkotaan adalah pembangunan dan pengembangan
kota baru.
Hal ini sesuai dengan definisi yang dibuat oleh Golany (1976) yang
mengatakan bahwa kota baru adalah kota yang sama sekali baru, direncanakan dan
dikembangkan dan dibangun pada suatu wilayah baru yang di dalamnya terkandung
unsur-unsur tempat tinggal yang lengkap dengan berbagai prasarana dan sarana
1
Dalam rangka mengatasi masalah tersebut, Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
494/PRT/M/2005 telah menetapkan Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Perkotaan (KSNPK) yang salah
satu kebijakannya adalah memantapkan peran dan fungsi kota dalam pembangunan nasional. Salah satu strategi yang
dilakukan adalah menyiapkan dan mengembangkan panduan bagi daerah untuk melakukan pembangunan perkotaan
yang berkelanjutan (sustainable cities).
1
2
pelayanannya, tempat berkarya, tempat rekreasi, serta prasarana penggerakan dan sarana
perhubungan.
Konsep kota baru dirancang untuk dapat menunjang aktivitas pada kota yang
menjadi pusat kegiatan dengan tujuan utama mengatasi masalah kependudukan
(Simmonds dan Hack, 2000). Beberapa kota baru yang dapat diambil contoh dari best
practice negara-negara yang sedang menjalankan konsep yang sama yaitu Kota Baru
Putra Jaya dan Cyberjaya di Malaysia yang dikonsep untuk memecah konsentrasi
permukiman di Kuala Lumpur yang sudah terlalu padat dan Cyberjaya yang dikonsep
khusus sebagai kota baru yang fokus utamanya diperuntukkan sebagai kota industri.
Kota baru telah dikembangkan dan dibangun di beberapa kabupaten/kota yang ada
di Indonesia, diantaranya di Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan
sebagainya. Dalam pembangunan kota baru, idealnya termasuk pada kategori sebagai
berikut, yakni (i) kota yang lengkap, yang ditentukan, direncanakan dan dibangun di
suatu wilayah yang belum terdapat konsentrasi penduduk, (ii) kota yang dibangun
lengkap dalam rangka meningkatkan kemampuan dan fungsi permukiman atau kota
kecil yang telah ada di sekitar kota besar utama untuk membantu pengembangan dan
mengurangi kota induk, (iii) kota yang mandiri, mampu memenuhi pelayanan
kebutuhan serta kegiatan usahanya sendiri atau sebagian besar penduduknya (self
contained new town), (iv) lingkungan permukiman skala besar untuk mengatasi
kekurangan perumahan di suatu kota besar secara fungsional umumnya masih
bergantung pada kota induknya (dependent town), sehingga dapat disamakan dengan
kota satelit dari kota utama/kota inti.
Pada kenyataannya, kota baru yang ada di Indonesia tidak sepenuhnya mengikuti
kategori tersebut di atas. Bahkan bukan hanya itu, pada pembangunan kota baru juga
kerap terjadi penyimpangan mulai dari tahap perencanaan, tahap implementasi, dan
kebijakan pengembangannya. Selain itu juga seringkali terjadi ketidak-sesuaian pada
aspek regulasi, misalnya terkait dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah)
kabupaten/kota maupun RTRW provinsi beserta rencana rincinya. Dalam prakteknya,
pembangunan kota baru di suatu wilayah kabupaten/kota induk sangat ditentukan oleh
perusahaan pengembang yang memperoleh ijin prinsip untuk pembebasan tanah.
Lokasi kota baru yang akan dikembangkan tergantung kepada lokasi tanah yang
3
berhasil dibebaskan pengembang, yang tidak harus sama dengan rencana lokasi semula
yang tercantum dalam dokumen ijin prinsip.
Hal lain yang juga sering terjadi adalah masih minimnya peran pemerintah pusat
serta belum diimplementasikannya kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah. Pada
prakteknya, pemerintah pusat tidak terlibat dalam proses pembangunan kota baru di
Indonesia.
Penentuan lokasi suatu rencana kota baru, misalnya, selayaknya
mempertimbangkan lokasi relatif dari kota-kota yang sudah ada, karena kota-kota
tersebut membentuk suatu jaringan kota-kota dalam suatu sistem yang mendukung
jaringan kegiatan sosial ekonomi, distribusi barang dan jasa, serta kegiatan sosial
budaya penduduk. Sebagai suatu sistem kota, dan mencakup beberapa ukuran kota
dengan fungsi masing-masing yang saling tergantung, keberadaan kota-kota tersebut
terletak pada suatu wilayah yang cukup luas, yang melebihi batas-batas wilayah
provinsi untuk ukuran di Indonesia atau bahkan antar pulau.
Dengan demikian,
minimnya keterlibatan pemerintah pusat dalam proses pengembangan kota-kota baru di
Indonesia, akan dibayar mahal oleh masyarakat di kawasan kota baru maupun kawasan
di sekitarnya.
Permasalahan lingkungan, misalnya berupa bencana banjir yang
frekuensinya makin sering, pencemaran udara dan pencemaran air, penurunan muka air
tanah dan intrusi air laut, adalah beberapa permasalahan lingkungan yang akan dihadapi.
Permasalahannya adalah bahwa bencana lingkungan tersebut akan terjadi dalam suatu
kurun waktu yang cukup panjang, yang memungkinkan para pengambil keputusan tidak
segera menyadarinya.
Model-model kota baru yang ada di Indonesia, diantaranya terdapat di Batam
(Batam Centre), Jakarta (Bumi Serpong Damai), dan Semarang (Bukit Semarang Baru).
Dari berbagai kota baru yang sudah terbangun dan menurut pengamatan telah
dikembangkan dengan relatif baik dan menarik untuk dikaji adalah kota baru Bumi
Serpong Damai (BSD) yang berlokasi di Provinsi Banten.
BSD terletak sekitar 30 km (18,6 mil) ke arah barat daya Jakarta dan telah
diresmikan pada 16 Januari 1989. Pembangunan BSD belum seluruhnya selesai, dari
luas kawasan yang direncanakan 6.000 Ha, baru 25%-nya yang telah dibangun untuk
perumahan, perdagangan, fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum).
Dari
600.000 jiwa orang yang direncanakan bertempat tinggal di BSD, saat ini baru dihuni
oleh 80.000 jiwa. Dari rencana pembangunan rumah sebanyak 140.000 unit, hingga
4
tahun 2004 baru sebanyak 14.338 unit rumah dengan berbagai tipe yang telah dibangun.
Pembangunan Kota Baru BSD ini direncanakan akan selesai pada tahun 2020 dari target
semula tahun 2014 (Arifin dan Dillon, 2005).
Pembangunan kota baru pada umumnya dan Kota Baru BSD pada khususnya,
mempunyai tujuan utama untuk membangun ekonomi nasional melalui pengembangan
ekonomi lokal. Pembangunan ini juga telah memberi kontribusi dari sisi pertumbuhan
ekonomi nasional dan pertumbuhan penduduk. Namun dilain pihak, aspek lingkungan
(ekologi) belum mendapat perhatian yang lebih serius. Hal ini terlihat dari menurunnya
daya dukung lingkungan yang terjadi di wilayah perkotaan, terjadinya musibah banjir
dengan frekuensi yang lebih sering, terjadinya konflik sosial baik secara vertikal
maupun horizontal, dan permasalahan-permasalahan lainnya.
Untuk itu maka
pembangunan kota baru di masa yang akan datang, tidak boleh hanya memperhatikan
aspek ekonomi, namun juga harus memperhatikan aspek ekologi dan aspek sosialbudaya, sehingga kota baru yang dibangun akan menjadi kota baru yang berkelanjutan.
Dalam rangka menciptakan kota baru yang berkelanjutan, sebenarnya pemerintah
sudah membuat komitmen terhadap kesepakatan internasional Millenium Development
Goals (MDG) 2015, Habitat, serta Protocol Kyoto.
Namun demikian, implementasi
kebijakan tersebut sangat sulit dilakukan. Selain itu juga disinyalir ada indikasi salah
memaknai dalam mengartikan lingkungan pada pembangunan perkotaan yang
berkelanjutan, mengingat lingkungan lebih diartikan dalam arti sempit. Oleh karena itu,
maka pembangunan berkelanjutan hingga saat ini masih merupakan slogan yang sudah
dikenal namun maknanya masih belum dimengerti secara baik dan benar. Kondisi yang
sama juga terjadi pada pembangunan dan pengembangan kota-kota baru yang justru
tidak fokus pada permasalahan
yang sedang dihadapi,
yaitu
permasalahan
kependudukan dan keterbatasan lahan untuk permukiman. Kota-kota baru yang sedang
berkembang ini justru malah menimbulkan permasalahan-permasalahan baru, terutama
terkait dengan masalah lingkungan, masalah banjir, permasalahan penyediaan
infrastruktur, pencemaran air dan udara, dsb. Namun yang paling mengkhawatirkan
dari pembangunan kota baru adalah timbulnya pencemaran air dan udara.
Ada berbagai kemungkinan sulitnya mengimplementasikan kebijakan yang ada
dan sulitnya mencegah terjadinya pencemaran air dan udara akibat dari pembangunan
kota baru, diantaranya adalah kebijakan tersebut dibuat dengan tanpa melihat kondisi
5
eksisting di lapangan, dan dibuat dengan tanpa melibatkan masyarakat dan stakeholders
yang berkepentingan, serta kebijakan yang dibuat tidak bersifat terpadu (lintas sektoral)
dan belum bersifat holistik. Atas dasar itu, maka dalam rangka menciptakan kota baru
yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta dalam rangka mencegah terjadinya
pencemaran air dan udara serta kerusakan lingkungan akibat dibangunnya kota baru,
maka perlu dicari alternatif kebijakan yang paling ideal untuk kota baru dan parameter
kunci apa yang ada pada pengelolaan kota baru. Perlu dirumuskan model pengendalian
lingkungan dalam pembangunan kota baru yang berkelanjutan, sehingga pembangunan
kota baru akan bermanfaat dari aspek ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, dengan
melibatkan pendapat dan keinginan masyarakat serta pendapat dan keinginan para
stakeholders (lintas departemen terkait) sehingga lebih mudah diimplementasikan.
1.2. Perumusan Masalah
Menurut Golany (1976), yang dimaksud dengan kota baru adalah suatu kota yang
direncanakan, didirikan dan kemudian dikembangkan secara lengkap di atas suatu
wilayah yang sama sekali baru setelah ada kota atau kota-kota lainnya yang telah
tumbuh dan berkembang terlebih dahulu. Idealnya, kota baru merupakan permukiman
yang dibangun di atas lahan dalam skala besar, sehingga memungkinkan untuk
menunjang kebutuhan berbagai jenis dan harga tempat tinggal serta kegiatan kerja bagi
masyarakat di dalam lingkungan kota itu sendiri. Salah satu contoh kota baru yang
hingga saat ini diharapkan akan mendekati definisi tersebut di atas adalah Kota Baru
Bumi Serpong Damai (BSD).
Permasalahan dari pembangunan kota-kota baru adalah relatif belum adanya
konsep yang jelas dan terintegrasi antara kebutuhan perumahan, pengaturan aktivitas
dan fungsi kawasan, serta keseimbangan alam dan adanya kerusakan lingkungan dan
pencemaran akibat terbangunnya kota baru. Sesuai prinsip kota berkelanjutan yang
dikemukakan Fauzi (2004), bahwa keberlanjutan memuat tiga hal yang harus seimbang
yaitu antara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Begitu`pula menurut Munasinghe (1993),
pembangunan kota berkelanjutan mempunyai tiga tujuan utama, yaitu: tujuan ekonomi,
tujuan ekologi dan tujuan sosial. Tujuan ekonomi terkait dengan masalah efisiensi dan
pertumbuhan. Tujuan ekologi terkait dengan masalah konservasi sumberdaya alam.
Tujuan sosial terkait dengan masalah pengurangan kemiskinan dan pemerataan. Dengan
6
demikian, tujuan pembangunan berkelanjutan pada dasarnya terletak pada adanya
harmonisasi antara tujuan ekonomi, tujuan ekologi dan tujuan sosial. Dalam hal ini ada
indikasi bahwa terdapat sebuah benang merah yang relatif masih terputus karena
pembangunan kota-kota baru justru melanggar beberapa hal yang terkait dengan
keseimbangan alam dan lingkungan serta mengakibatkan terjadinya pencemaran,
adanya ketidak jelasan fungsi kawasan yang ada pada kota baru tersebut serta orientasi
yang masih lebih menekankan pada profit, dan masih belum menekankan pada prinsip
keberlanjutan kota baru tersebut.
Sesuai dengan tujuan pembangunan ideal, maka pembangunan kota baru mandiri,
diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan pengembangan wilayah, mampu
menampung kelebihan penduduk, menahan arus migrasi yang mengarah ke Jakarta, dan
diharapkan mampu meningkatkan taraf ekonomi kawasan. Namun demikian sejalan
dengan pembangunan kota baru mandiri ini seperti yang terjadi di Kota Baru BSD,
muncul berbagai permasalahan, diantaranya muncul berbagai dampak negatif terhadap
lingkungan yang akan merugikan, baik ditinjau dari skala lokal, regional maupun skala
nasional.
Selain itu juga muncul kesenjangan sosial antara penghuni BSD dan
masyarakat sekitarnya, muncul berbagai konflik baik konflik horizontal maupun konflik
yang vertikal, serta muncul berbagai permasalahan lainnya seperti adanya bencana
banjir di lokasi sekitar, terjadi pencemaran air dan udara serta berbagai kerusakan
lingkungan lainnya. Untuk lebih jelasnya kerangka permasalahan penelitian tersebut
disajikan pada Gambar 1.
Dengan demikian, berdasarkan informasi dan uraian
sebelumnya, maka muncul pertanyaan penelitian pada pembangunan kota baru mandiri
antara lain adalah:
1. Bagaimana kondisi lingkungan di kawasan Kota Baru BSD dan sekitarnya
berdasarkan kondisi (kualitas) air dan udara di kota baru?
2. Bagaimana status keberlanjutan pengelolaan lingkungan di Kota Baru BSD?
3. Faktor apa yang perlu diperhatikan dalam pengendalian lingkungan di Kota Baru
BSD secara berkelanjutan?
4. Bagaimana model pengendalian lingkungan dalam pembangunan Kota Baru BSD
yang berkelanjutan?
5. Apa strategi kebijakan kota baru yang berkelanjutan?
7
Ketidakjelasan Konsep
Kota Baru Secara Aktifitas
dengan Fungsi Kawasan
Ketidaksinkronan Kebijakan
Rencana Pembangunan
Kota Baru dan Rencana Tata
Ruang Wilayah dan Kota
Kota Baru Masih
Berorientasi Profit Belum
Memikirkan Keberlanjutan
Lingkungan dan Alam
Kota baru yang tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan
dan sumber daya alam (keberlanjutan dari sisi ekologi dan sosial)
Kerusakan lingkungan
dan kerentanan
terhadap bencana
banjir dan kekeringan
Pencemaran air dan
udara
Terganggunya aktivitas
ekonomi masyarakat
Gambar 1. Kerangka permasalahan penelitian
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model pengendalian lingkungan
pada pembangunan kota baru berkelanjutan, sehingga dari sini akan dapat ditemukan
benang merah antara kebutuhan lahan permukiman, pengaturan aktivitas dan fungsi
kawasan, serta keseimbangan lingkungan dan alam. Dalam rangka mencapai tujuan
tersebut secara spesifik, maka tujuan khusus penelitian ini mencakup:
1. Mengkaji kualitas lingkungan di kawasan kota baru dan sekitarnya dengan
menganalisis kualitas lingkungan di kawasan Kota Baru BSD dan sekitarnya
2. Melakukan analisis terhadap status keberlanjutan pengelolaan lingkungan di
Kota Baru BSD
3. Melakukan analisis terhadap faktor yang perlu diperhatikan dalam pengendalian
lingkungan di Kota Baru BSD agar berkelanjutan
4. Merancang model pengendalian lingkungan dalam pembangunan Kota Baru
BSD berkelanjutan
5. Merumuskan prioritas kebijakan Kota Baru BSD berkelanjutan
8
Manfaat dari penelitian ini adalah:
•
Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini akan menambah pengetahuan bagi ilmu
lingkungan terutama dalam penerapan aplikasi cara berfikir sistem, dalam
merumuskan pengendalian lingkungan pada pembangunan kota baru berkelanjutan
dan pada penerapan metode simulasi dinamika sistem untuk analisis kebijakan,
sehingga akan memperkaya metodologi ilmu lingkungan sekaligus akan menjadi
salah satu alternatif pilihan model strategi kebijakan pembangunan kota baru
mandiri yang berkelanjutan.
•
Bagi pemerintah, penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu masukan dalam
menyusun kebijakan rencana pembangunan dan pengelolaan kotabaru yang
berkelanjutan.
•
Bagi pengembang, penelitian ini bermanfaat untuk memahami strategi dan prospek
pengembangan usaha, sehingga terbangun kemitraan (partnership) dengan berbagai
pihak terkait, atas dasar prinsip saling menguntungkan.
•
Bagi penduduk setempat dan sekitarnya, penelitian ini bermanfaat untuk membantu
memahami proses perencanaan pembangunan wilayah kota baru, sehingga
masyarakat bisa ikut berpartisipasi aktif dalam pengelolaannya, terutama dalam
mencegah terjadinya kerusakan lingkungan dan pencemaran.
1.4. Kerangka Pemikiran
Meningkatnya jumlah penduduk dan ketidak mampuan sektor pertanian dalam
menyediakan lapangan pekerjaan di perdesaan, telah mendorong masyarakat desa
melakukan urbanisasi, sehingga pertumbuhan penduduk di wilayah perkotaan
meningkat dan telah mengakibatkan tingginya kebutuhan akan lahan hunian dan
merupakan faktor-faktor penggerak utama terjadinya perkembangan wilayah pinggiran
kota yang tidak terkendali yang disebut dengan urban sprawl (tumbuhnya wilayah
terbangun secara sporadis di pinggiran kota dan di tempat lain). Adapun penyebab
terjadinya urban sprawl diantaranya adalah karena lambatnya langkah-langkah
antisipatif perencanaan dan masih terbatasnya kemampuan pemerintah dalam
menyediakan pelayanan prasarana dan sarana, masih belum ketatnya pemerintah dalam
melakukan pengendalian tata ruang dan tata guna lahan, khususnya untuk mendukung
fungsi optimum pelayanan kepada masyarakat perkotaan. Akibat adanya urban sprawl
9
ini seringkali muncul berbagai permasalahan, diantaranya menurunnya kualitas
lingkungan hidup dan kualitas hunian, tidak tertatanya fisik kota, terbatasnya kapasitas
penyediaan pelayanan prasarana dan sarana dasar, serta munculnya berbagai
permasalahan sosial ekonomi perkotaan seperti terjadinya kesenjangan, munculnya
berbagai masalah sosial, merebaknya masalah kriminalitas, tingginya tingkat
pengangguran, dan sebagainya.
Sebenarnya telah dilakukan penelitian pada kota baru mandiri BSD, namun
penelitian tersebut masih bersifat parsial, yakni lebih terfokus pada aspek sosial saja,
aspek ekonomi saja, serta penelitian pada aspek teknis saja; sedangkan penelitian yang
bersifat holistik yang menggabungkan aspek ekonomi, sosial, dan ekologi yang dikemas
menjadi Model Pengendalian Lingkungan dalam Pembangunan Kota Baru
Berkelanjutan masih belum dilakukan. Oleh karena itu, dalam rangka menjawab
permasalahan tersebut di atas maka diperlukan kebijakan yang bersifat holistik
(berdasarkan penglihatan secara menyeluruh) dengan melibatkan berbagai departemen
(lintas sektoral), masyarakat dan semua stakeholders, serta para pakar yang terkait di
dalamnya. Selain itu juga diperlukan adanya skenario yang optimal dalam memprediksi
semua kemungkinan keadaan yang akan terjadi di masa yang akan datang serta
pengelolaannya, sehingga akan meminimalkan terjadinya kerusakan lingkungan. Untuk
lebih jelasnya kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.
1.5. Kebaruan Penelitian
Kebaruan (novelty) penelitian ini dapat dilihat dari aspek pendekatan (research
approach) yang digunakan.
Pendekatan sistem dinamik untuk merancang model
interaksi di antara berbagai variabel dalam subsistem ekologi, ekonomi dan sosial di
wilayah kotabaru dalam rangka melakukan pengendalian terhadap terjadinya kerusakan
lingkungan dan pencemaran, dan akan menghasilkan formulasi strategi kebijakan
pengelolaan kotabaru mandiri yang terintegrasi dalam suatu sistem perkotaan di
sekitarnya, dan berkelanjutan yang applicable sesuai kebutuhan stakeholders dan
masyarakat di masa yang akan datang. Oleh karena itu maka hasil penelitian ini dapat
membantu mengidentifikasi berbagai permasalahan yang akan menjadi bahan
pertimbangan untuk mencari solusi agar suatu kota baru dapat berkelanjutan.
10
Pertumbuhan penduduk
Angka pertumbuhan ekonomi yang
tak sebanding dengan pertumbuhan
penduduk
Angka pengangguran yang
cukup tinggi di daerah
pedesaan
Meningkatnya angka
kemiskinan, pengangguran
dan gangguan kamtibmas
Meningkatnya migrasi penduduk
menuju kota
Kepadatan lalulintas,
meningkatnya kemacetan
penurunan kualitas
lingkungan
Over urbanisasi
Terbatasnya pelayanan kebutuhan
masyarakat kota
Aglomerasi aktivitas
Kebutuhan rumah, sarana prasarana,
daya dukung lingkungan yang
meningkat cukup tinggi
Maraknya bangunan liar dan
menurunnya sanitasi lingkungan
Ketimpangan kawasan
Penurunan kesejahteraan
Pembangunan kota baru
Permen PU No. 494/PRT/M/2005
Kota baru Bumi Serpong Damai (BSD)
Kota baru Bumi Serpong Damai yang mandiri dan berkelanjutan
Model pengendalian lingkungan dalam pembangunan kota baru berkelanjutan
Kajian kondisi eksisting
kota baru BSD
Potret kondisi eksisting dari
aspek ekologi, ekonomi dan
sosial
Rancangan model pengendalian
lingkungan variabel dalam
subsistem ekologi, ekonomi&sosial
Analisis model dinamis
Kualitas air dan kualitas
udara
Konsep pengendalian
lingkungan kota baru
Analisis sosial
Simulasi model dinamis
Analisis kondisi ekonomi
Analisis kondisi ekologi
Analisis kondisi transportasi
Tidak
valid
Uji validasi dan sensitifitas
model
Skenario pengendalian
lingkungan kota baru
Valid
Analisis keberlanjutan
Alternatif pengendalian
lingkungan
Analisis prospektif
Strategi kebijakan pembangunan kota baru yang berkelanjutan
Gambar 2. Kerangka pemikiran penelitian
Download