Karakteristik Pedagang Ikan Hias Grosiran Berdagang Di Pasar Ikan

advertisement
Karakteristik Pedagang Ikan Hias Grosiran Berdagang Di Pasar Ikan Hias Gunungsari Surabaya
Karakteristik Pedagang Ikan Hias Grosiran Berdagang Di Pasar Ikan Hias Gunungsari
Surabaya
Miftah Alfian Rizky
Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, [email protected]
Dra. Sri Murtini M.Si.
Dosen Pembimbing Mahasiswa
Abstrak
Surabaya memiliki potensi perdagangan ikan hias yang besar di Jl irian barat. Pedagang ikan hias di Jl irian
barat merupakan PKL yang sudah berdagang secara turun temurun. Relokasi ke Pasar ikan hias Gunungsari dilakukan
untuk memperbaiki kualitas lokasi dan juga meminimalisasi kemacetan akibat dari lokasi sebelumnya. Pemerintah
Surabaya membuat kebijakan berupa stan dalam gedung diperuntukkan pedagang asli Surabaya sedangkan pedagang
dari luar Surabaya hanya boleh menempati stan luar gedung terbatas beraktifitas pada hari Rabu dan Sabtu. Pedagang di
luar gedung disebut pedagang grosiran.
Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan karakteristik pedagang ikan hias grosiran di pasar ikan hias
Gunungsari Surabaya menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan
dengan cara wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan tiga
tahapan yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Kemudian untuk teknik keabsahan data menggunakan
empat tahapan yaitu kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik sosial tingkat pendidikan pedagang grosiran mayoritas
SMA/SMK, keterampilan mereka termasuk minim sehingga hanya berdagang yang bisa dilakukan. Usaha berdagang
ikan hias sudah ada sejak tahun 1985 menjadikan berdagang ikan hias tradisi keluarga secara turun temurun. Ikan hias
mudah didapat dari daerah asal dan posisi pasar ikan hias Gunungsari sebagai pasar ikan hias terbesar di Jawa Timur.
Keterkaitan anggota menjadi solusi tenaga kerja/rekan usaha terpercaya karena ikut berkecimpung dalam usaha
berdagang ikan hias. karakteristik ekonomi pendapatan adalah alasan utama memilih berdagang ikan hias. Beban
tanggungan keluarga adalah pengeluaran utama dalam berdagang ikan hias. Modal usaha didapat dari dana sendiri
fasilitas pinjaman bank atau pinjaman dari petani/pengepul ikan untuk membawa ikan hias terlebih dahulu dan dibayar
setelah terjual. Faktor pendorong motif berdagang menunjukkan Banyaknya penduduk sekitar juga berdagang ikan hias
dan pekerjaan turun temurun. adanya petani/pengepul ikan hias di lokasi tempat tinggal. Relokasi yang dibuat
pemerintah menjadikan tidak ada pilihan lain selain berdagang di pasar ikan hias Gunungsari Surabaya. Harga yang
ditawarkan lebih murah dari pedagang stan gedung menjadikan pedagang ikan hias grosiran membuat konsumen
tertarik membeli dalam jumlah besar atau reseller. Koperasi dibentuk dengan tujuan menyelaraskan harga dan
membentuk kerjasama dalam menjual diantara pedagang grosiran menjadi faktor pendorong mereka tetap berdagang di
pasar ikan hias Gunungsari
Kata Kunci : Karakteristik pedagang ikan hias, pedagang ikan hias grosiran
Abstract
Surabaya have a Great potential aquarium fish market on West irian street. Merchant in West irian street also a
street vendor and trade as family tradition for generations. Relocation to Gunungsari aquarium fish market is done to
improve the quality of the location and also minimize traffic jams. Surabaya’s goverment made a policy which native
merchant may use intended both inside the main building while traders from outside Surabaya may only occupy a booth
outside the limited activity on Wednesdays and Saturdays. Outside traders also called merchant wholesale.
The purpose of this study is to describe the characteristics of aquarium fish wholesale traders in aquarium fish
market Gunungsari Surabaya using qualitative method with phenomenological approach. Data collection using indepth
interview, observation and study documentation. Data analysis techniques uses three stages namely, reduction, data
display and conclusion. Data validity techniques uses four stages namely, credibility, transferability, dependability and
confirmability.
The results showed that the social characteristics of educational level wholesalers majority of SMA / SMK,
they possesed minimal skills so that only tradeis the only thing the possibly done. Aquarium fish trade effort has been
around since 1985 making aquarium fish trade family tradition for generations. Aquarium fish easily obtained from the
area of origin and Gunungsari aquarium fish market position as the largest aquarium fish market in East Java. The close
ties beetwen member to be the solution of labor / business partners reliable for participating in the business of aquarium
fish trade. economic characteristics of income is the main reason for choosing the aquarium fish trade. The burden of
family responsibilities is a major expense in the aquarium fish trade. Venture capital derived from its own funds or loan
bank loan facilities of farmers / fish collectors to bring the fish in advance and paid after selling. Factors driving motive
trade shows number of people around also trade of aquarium fish and jobs hereditary. There farmer / collector of
aquarium fish in the location of residence. Relocation which made the government makes no other choice but to trade in
aquarium fish market Gunungsari Surabaya. The price is cheaper than building a booth traders make aquarium fish
wholesale traders make consumers interested in buying in bulk or resellers. Cooperative was formed with the aim of
aligning prices and establish cooperation between the wholesaler in selling the driving factor they still trade in aquarium
fish market Gunungsari
Keywords: Characteristics of aquarium fish merchant, merchant wholesale aquarium fish
84
Karakteristik Pedagang Ikan Hias Grosiran Berdagang Di Pasar Ikan Hias Gunungsari Surabaya
harus diangkut ke tempat produksi untuk menghasilkan
satu-satuan output ditambah berat output yang akan
dibawa ke pasar.
Pasar ikan hias Gunungsari adalah relokasi
PKL ikan hias yang berasal dari Irba, Patua, dan
Singgasana. Sebagai pasar ikan hias terbesar di
Surabaya, Pasar ikan hias ini memegang peranan
penting sebagai sarana rekreasi maupun mata
pencaharian pedagang ikan hias yang berasal dari luar
Surabaya disebut pedagang grosiran
Secara astronomis, pasar ikan hias Gunungsari
terletak di antara 7º 18’ 21.85”S dan 112º 43’27.42”E.
Secara administrasi, pasar Ikan hias Gunungsari
merupakan salah satu pasar ikan terbesar di Surabaya
lokasinya sangat strategis karena berada tepat di
jantung kota Surabaya tepatnya di Jl. Gunungsari no.74
Pasar ikan ini menampung 150 stan kios dan 29 kios
merupakan tenda khusus untuk pedagang grosiran
pedagang grosiran yang berasal dari luar kota
Surabaya berkumpul hanya hari pasaran yaitu hari
Rabu dan hari Sabtu. Pasar ikan hias Gunungsari yang
dibuka mulai pukul 06.00 – 23.00 pada hari biasa dan
24 jam untuk hari pasaran yang jatuh pada hari Rabu
dan Sabtu
August losch (1954) menyatakan bahwa lokasi
industri harus dekat dengan pasar. Semakin jauh dari
lokasi pasar, pembeli enggan membelinya karena
beban biaya transportasi yang mahal.Di pasar ikan hias
ini terdapat fenomena pedagang ikan hias grosiran
yang berasal dari lokasi yang jauh dari lokasi pasar di
Surabaya. Pedagang grosiran berasal dari Kediri,
Tulungagung, Mojokerto, Gresik, Blitar dan lokasi
lainnya. Ada tradisi untuk berdagang setiap hari Rabu
dan Sabtu bagi pedagang grosiran disebut hari
pasaran. faktanya mayoritas pedagang sudah
menjalankan usaha ini secara turun temurun sejak
berdagang sebagai PKL di Irba, Patua, atau
Singgasana. Di pasar ini sendiri terdapat suatu
fenomena unik mayoritas pedagangnya telah
menjalankan usaha turun temurun dari orang tua
Fokus penelitian ini untuk mengungkap
fenomena pedagang ikan hias grosiran yang sudah
berjalan turun temurun dan terdapatnya tradisi hari
pasaran.
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan
karakteristik pedagang ikan hias grosiran
yang
meliputi karakteristik sosial, karakteristik ekonomi dan
faktor pendorong motif berdagang ikan hias
PENDAHULUAN
Secara naluri manusia mempunyai kebutuhan
dan keinginan. Kebutuhan adalah hasrat yang harus
dipenuhi untuk mempertahankan hidupnya, sedangkan
keinginan dapat dipenuhi untuk pemuasan hasrat atau
seleranya. dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan,
manusia melakukan kegiatan sosial dan kegiatan
ekonomi (Jayadinata, 1999: 54). Kegiatan sosial
dikategorikan kegiatan dalam berkeluarga, kesehatan,
pendidikan, agama, rekreasi dan sebagainya.
Sedangkan kegiatan ekonomi dikategorikan kegiatan
dalam mata pencaharian, cara berkonsumsi, pertukaran
barang, jasa dan sebagainya. Tersedianya kebutuhan
pokok tidak terlepas dari adanya pusat pelayanan kecil
berupa pasar.
Pasar terbentuk sebagai akibat dari pola
kehidupan manusia yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya sendiri. Untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, manusia melakukan sistem
pertukaran barang dan jasa yang dilakukan pada suatu
tempat yang dilakukan pada suatu tempat yang disebut
pasar. kebutuhan menjadi kompleksitas jumlah baik
orang, cara pertukaran, jenis barang, dan tempat yang
semakin luas. Kemajuan teknologi juga membuat
definisi pasar berubah dimana pasar tidak lagi hanya
sebagai tempat dimana terjadi kontak langsung antara
pedagang dan pembeli. Dalam sebuah transaksi jual
beli paradigma baru pasar lebih berorientasi kepada
transaksi antara pembeli dan pejual tanpa perlunya
kontak langsung antara pedagang dan pembeli.
walaupun definisinya bertambah luas, definisi pasar
sebagai tempat fisik bertemunya pedagang dan pembeli
tetap masih bertahan (Kotler, 2003).
Menurut Pratjihno (1985), pasar adalah suatu
bidang tanah atau kompleks bangunan tempat orang
berjual beli barang, tetapi dalam perdagangan yang
lebih luas. Secara umum pasar merupakan pertemuan
antara penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi
dalam rangka memindahkan hak atas barang atau jasa
yang dijual belikan objek jual-beli (Prawirosentono,
1997).
pasar merupakan faktor penting dalam
keberlangsungan industri, karena muara dari sebuah
industri merupakan hasil produksi yang akan diminati
oleh konsumen. Robinson menyatakan bahwa tujuan
dari perindustrian adalah memproduksi barang-barang
untuk dijual dan karena itu pasaran penting
kedudukannya (Daldjoeni, 1992:60).
Weber (1909) menjelaskan bahwa biaya
transportasi adalah faktor pertama dalam menentukan
lokasi industri. Menurutnya biaya transportasi
bertambah secara proporsional dengan jarak. Jadi, titik
terendah biaya transportasi adalah titik yang
menunjukkan biaya minimum untuk angkutan bahan
baku dan distribusi hasil produksi, sedangkan biaya
transportasi dipengaruhi oleh berat lokasional
Menurut Tarigan (2005: 141) berat lokasional
adalah berat total semua barang berupa input yang
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah
penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi,
data yang dikumpulkan merupakan hasil dari
wawancara, dokumen pribadi, catatan, catatan
lapangan, memo, dan dokumen resmi lainnya. Lokasi
yang menjadi obyek penelitian adalah pasar ikan hias
Gunungsari kota Surabaya. Informan dalam penelitian
ini adalah pedagang ikan hias grosiran
85
Karakteristik Pedagang Ikan Hias Grosiran Berdagang Di Pasar Ikan Hias Gunungsari Surabaya
Sumber data dalam penelitian ini menggunakan
data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari
hasil wawancara terhadap informan mengenai
karakteristik pedagang ikan hias grosiran berdagang di
pasar ikan hias Gunungsari kota Surabaya. Sedangkan
data sekunder dalam hal ini adalah arsip data yang
diperoleh melalui kantor pasar ikan hias Gunungsari
Surabaya
Teknik pengumpulan yang digunakan adalah
wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.
Wawancara
mendalam menggunakan panduan
lapangan untuk memperoleh data lebih mendalam
mengenai karakteristik pedagang ikan hias grosiran
pasar ikan hias Gunungsari Surabaya. Observasi
dilakukan untuk mengetahui validitas informasi yang
diungkapkan informan. Dokumentasi dilakukan untuk
melengkapi dan mendukung hasil penelitian di
lapangan. Teknik analisis data dalam penelitian ini
melalui tiga langkah seperti disarankan Miles dan
Huberman (1992) dan Mantja (1997) dalam Widodo
(2012) yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data dan
(3) kesimpulan (kesimpulan sementara, verifikasi dan
kesimpulan akhir).
pedagang grosiran berpendidikan terakhir hingga
jenjang SLTA/SMA.
Abah Hasan mengungkapkan bahwa walaupun
mayoritas tingkat pendidikan pedagang ikan hias
grosiran memiliki tingkat pendidikan mumpuni untuk
mencari pekerjaan. Namun mereka tetap memilih
berdagang ikan hias karena mencari pekerjaan saat ini
sulit, akses mudah mencari ikan hias untuk dijual dari
lokasi tempat tinggal dan usaha berdagang sudah
menjadi tradisi. Seluruh pedagang ikan hias grosiran
mengatakan pendidikan penting, namun untuk saat ini
dana pendidikan digunakan untuk keluarga seperti
saudara atau anak karena faktor usia sudah tidak muda
lagi.
Tabel 1.3 Komposisi pedagang grosiran menurut
pendidikan terakhir
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
Data informan kunci
Informan kunci dalam penelitian ini adalah Abah
Hasan. Subyek merupakan pengelola pasar sejak pasar
ikan hias Gunungsari didirikan. subyek juga
merupakan mantan seorang pedagang ikan hias yang
dulu berdagang di irba sebelum di relokasi ke tempat
baru yaitu pasar ikan hias Gunungsari saat ini, sehingga
peneliti mendapatkan gambaran informasi umum
seputar pedagang ikan hias grosiran yang akan
dijadikan subyek penelitian untuk mendapatkan data
informan yang tepat.
Menurut informan kunci yang peneliti
wawancarai, semua pedagang pedagang ikan hias
sudah lama berdagang. Sebelum pasar ikan hias
Gunungsari ditempati, mereka sudah berdagang di
tempat lain. Pedagang ada yang berasal dari Irba, jalan
Patua, jalan Singgasana. Karena ada gagasan dari
pemerintah kota Surabaya pada saat itu untuk
merelokasi semua pedagang ikan hias untuk diberikan
fasilitas berupa sentra dagang, maka semua pedagang
ikan hias dipindahkan ketempat yang disediakan, yaitu
pasar ikan hias Gunungsari seperti sekarang. Dengan
alasan untuk menata kembali para pedagang kaki yang
mengganggu aktivitas lalu lintas. Para pedagang ikan
hias ini tidak hanya berasal dari Surabaya, sebagian
merupakan pedagang ber KTP Surabaya tetapi
sebagian lagi berasal dari luar kota Surabaya. Untuk
pedagang yang tidak ber KTP Surabaya otomatis
menjadi pedagang grosiran lokasi asal mereka
bervariasi mulai dari Kediri, Tulungagung, Pare, Blitar
dan tengkulak dari Madura.
Menurut Abah Hasan harga setiap ikan hias
berkisar dari Rp. 1000 sebagai contoh ikan guppy
hingga Rp.4000.000,- sebagai contoh ikan arwana.
Para pedagang di pasar ikan hias Gunungsari rata-rata
berpendidikan SD dan SLTA. tidak ada yang
bersekolah hingga ke perguruan tinggi. Mayoritas
No
Pendidikan
Jumlah
(Jiwa)
Persentase (%)
1
Perguruan Tinggi
0
0
2
SMA/SLTA/SMK
14
48,2
3
SMP/SLTP
7
24,1
4
SD
8
27,5
5
Lain-lain (Belum
/ Tidak Sekolah/
Tidak tamat SD)
0
0
Jumlah
29
100
Sumber : data primer yang diolah
Data informan kunci
Informan dalam penelitian adalah orang atau
pelaku yang benar-benar tahu dan menguasai masalah,
serta terlibat langsung dengan masalah penelitian.
Dengan mengunakan metode penelitian kualitatif,
maka peneliti dapat mencari sebanyak mungkin
informasi dari berbagai sumber
Tabel 4.1 Deksripsi informan pasar ikan hias
Gunungsari
No
1
Nama
informan
Abah
Hasan
Status
informan
Kepala
koperasi
Sekretaris
pasar ikan
hias
Gunungsari
Informan kunci
Informan
(tidak
dicantumkan, data
sama
dengan
informan kunci)
2
Deni
3
Mariyem
Pedagang
grosiran
Informan 1
4
Joyo
Pedagang
grosiran
Informan 2
5
Sutrisno
Pedagang
grosiran
Informan 3
6
Ahmad
Sugianto
Pedagang
grosiran
Informan 4
7
Suheri
Pedagang
grosiran
Informan
(tidak
dicantumkan, data
jenuh)
Sumber : data primer yang diolah
Ibu Mariyem
86
Peran informan
Karakteristik Pedagang Ikan Hias Grosiran Berdagang Di Pasar Ikan Hias Gunungsari Surabaya
Subyek merupakan pedagang ikan hias di pasar
ikan hias Gunungsari yang berasal dari Kediri. Subyek
dibantu oleh menantunya yang juga membuka stan ikan
hias sendiri. Dengan latar belakang berdagang ikan
hias secara turun temurun subyek memiliki 6 orang
anak yang hampir semuanya sudah dewasa, 5 anak dari
6 bersaudara sudah berumah tangga, sedangkan anak
terakhir yaitu anak ke 6 adalah sarjana dari IKIP
Nusantara Kediri. Suami subyek sudah 12 tahun yang
lalu meninggal dunia. Sehingga posisi kepala keluarga
penggerak bisnis ini dikerjakan oleh bu mariyem
Subyek menjelaskan bahwa kala itu pelanggannya
sangat ramai, sebelum malam hari ikan hias yang di
jual sudah hampir habis, kalau di pasar ikan hias
Gunungsari Subyek merasakan kalau pedagangan ikan
tidak seperti waktu di Irba, terkadang sepi, terkadang
ramai, bahkan ikan yang tidak terjual bisa mati.
berdagang di Irba selama beberapa tahun, subyek
akhirnya dipindahkan ke pasar ikan hias Gunungsari.
Ikan hias yang dimiliki subyek bukan dari hasil
beternak sendiri melainkan kulakan dari para petani
ikan yang ada di daerah Kediri. Alasan subyek tidak
bisa memiliki peternakan ikan sendiri karena tempat di
rumah yang sangat terbatas, sehingga hanya
mempunyai kolam kecil yang hanya berfungsi untuk
menampung ikan yang akan di jual ke pasar ikan hias
Gunungsari Surabaya
Subyek membawa ikan hias yang mau dijual dari
tempatnya yaitu Kediri ke pasar ikan hias Gunungsari
Surabaya dengan menyewa sebuah mobil box/ pick up.
biaya sewa mobil box biasanya didapat dari hasil
patungan dengan menantunya yang juga berdagang di
pasar ikan hias Gunungsari. Biaya sewa berkisar Rp.
300.000,- hingga Rp. 400.000,-. Hasil dari berdagang
ikan menurut subyek tidak menentu atau tidak pasti,
jika ikannya tidak terjual alias kembali, kebanyakan
dagangan ikan hias mati dalam perjalanan. Namun jika
ikannya terjual, subyek bisa mendapat untung sekitar
Rp. 200.000, hingga Rp. 600.000,- setiap hari pasaran.
Sedangkan biaya untuk kulakan ikan berkisar Rp.
500.000,- atau lebih
Gunungsari yang sekarang hampir sama dengan subyek
yang pertama yaitu kemacetan yang ada dijalan Irba
bila bertepatan dengan hari Rabu dan Sabtu. Akibat
berkumpulnya pedagang grosiran di hari tersebut
Rata rata pedagang yang berdagang di pasar ikan
hias Gunungsari merupakan orang orang lama menurut
subyek. Meskipun ada pedagang baru, usaha tersebut
merupakan penerus dari pedagang lama. sehingga
lapak yang dipakai berdagang berasal dari pedagang
lama. Sebagai penerus, pedagang yang baru biasanya
adalah anggota keluarga/paguyuban dari pedagang
lama.
Menurut penuturan subyek, penduduk desa karang
waru merupakan masyarakat pebisnis. Mayoritas
penduduknya memilih untuk beternak/berdagang ikan
hias. subyek menuturkan alasan memilih berdagang
ikan hias karena sudah memiliki jiwa dagang sedari
kecil (lewat aktivitas masyarakat). Semua pedagang
disini saling mengenali satu sama lain, meskipun bukan
saudara kandung, nuansa persaudaraan antara
pedagang sangat kental.
Subyek mendapatkan ikan hias yang dijual dari
pengepul ikan yang berada di daerahnya, yaitu Karang
Waru. meskipun subyek mempunyai ternak ikan
sendiri, hanya sebagian saja yang siap dijual sedangkan
sebagian lagi disimpan sebagai stok mendatang. Ikan
yang paling banyak dijual merupakan ikan yang
diambil dari pengepul. Sedangkan pengepul sendiri
mengambil ikan tersebut dari petani ikan, jadi terdapat
semacam pengelolaan ikan yang terorganisasi, mulai
dari petani ikan, sesudah itu ikan yang siap dijual
dikumpulkan di pengepul, sesudah itu para pedagang
ikan akan mengambil sendiri di pengepul. petani ikan
memiliki kolam yang sangat banyak, beternak dalam
skala besar yang mencapai ribuan hingga ratusan ribu
ekor ikan. Kuantiti yang diminta sangat tinggi sehingga
kurang memungkinkan pedagang membeli langsung
dari petani ikan dalam skala besar. Dari situ pengepul
ikan mendapatkan tempat dari jaringan bisnis ikan hias.
Pengepul ikan adalah usaha dagang yang
memungkinkan untuk menjadi penghubung antara
petani ikan dengan pedagang. Pengepul mengambil
ikan dalam jumlah banyak yang disepakati oleh petani
ikan yang kemudian dijual kembali kepada pedagang
ikan hias dalam kuantitas yang lebih kecil. Dengan
begitu mempermudah proses kulakan pedagang ikan
hias dan lebih banyak mendapat variasi ikan yang akan
dijual
modal didapat dari meminjam uang dari bank.
dahulu jumlah pedagangnya belum sebanyak sekarang
dan profit yang didapat masih kecil. Untuk sekarang
modal yang dimiliki subyek merupakan hasil dari
keuntungan sendiri yang artinya sudah hasil modal
pribadi. hasil yang didapatkan dari pedagangan ikan
hias ini tidak dapat dijadikan patokan, karena tidak
selalu profit dalam berdagang. dalam satu Minggu
terdapat dua kali hari pasaran yaitu hari Rabu dan
Sabtu. Terkadang saat hari Rabu defisit, namun di hari
Sabtu bisa memperoleh profit. Subyek menuturkan bisa
dikatakan surplus bila dalam satu hari pada hari
pasaran mendapatkan keuntungan bersih Rp.
1.000.000,- atau lebih.
Pak Joyo
subyek merupakan pedagang ikan hias dari
Tulungagung tepatnya dari desa Karangwaru. Subyek
merupakan lulusan STM, dan subyek mempunyai lima
anggota keluarga dirumah, yaitu seorang ibu, seorang
kakak yang baru saja meninggal, subyek dan 2 orang
adik yang masih sekolah. Subyek memiliki usaha
berdagang ikan hias ini karena sejak kecil sudah
memelihara ikan dirumah untuk Membantu kakaknya
yang berdagang ikan hias. Kala itu sang kakaklah yang
pertama berdagang ikan hias dalam keluarga
sedangkan subyek hanya membantu. tetapi karena
kakak subyek meninggal dunia maka subyek yang
meneruskan untuk melanjutkan berdagang ikan hias.
Subyek berdagang ikan hias pertama kali berada di
Irba, karena keadaan yang sama dengan subyek
pertama yaitu direlokasi pemerintah kota untuk pindah
ke pasar yang telah disediakan, maka subyek berpindah
ke pasar ikan hias Gunungsari seperti sekarang. Alasan
mengapa dipindahkan dari Irba ke Pasar ikan hias
87
Karakteristik Pedagang Ikan Hias Grosiran Berdagang Di Pasar Ikan Hias Gunungsari Surabaya
Pengeluaran keluarga menurut subyek juga tidak
menentu, kurang lebih sekitar Rp. 500.000,- per bulan
untuk biaya keluarga. Hal itu belum termasuk
kebutuhan sekolah adik adiknya.. untuk kulakan,
subyek menganggarkan sekitar Rp. 4.000.000
Menurut subyek pendidikan itu sangatlah penting,
subyek merupakan lulusan STM jurusan mekanik
listrik. Menurut subyek pendidikan membantunya
untuk mencari solusi-solusi masalah yang dihadapi,
dan juga untuk pengalaman hidup. Subyek memiliki
pekerjaan sampingan memperbaiki alat-alat elektronik.
Berbekal pengalaman subyek sebagai lulusan STM
untuk mendapat penghasilan tambahan. menurut
subyek pendidikan sangat penting, tetapi subyek tidak
mau lagi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi dikarenakan subyek memiliki tanggungan
keluarga dirumah, dan adik-adik yang masih
bersekolah. Dengan umur yang sudah berkepala tiga,
subyek belum dikaruniai seorang anak dari istrinya.
Bila mempunyai anak nanti subyek tidak akan
menekan anaknya untuk melanjutkan usahannya,
karena
setiap
orang
memiliki
hak
untuk
mengembangkan kemampuan dibidangnya masingmasing.
Subyek juga mengatakan bahwa tidak ada yang
paling kaya diantara pedagang ikan hias di pasar ikan
hias Gunungsari. Semuannya hampir sama, walaupun
penghasilannya tinggi namun pengeluaran juga tinggi.
Didalam mengurus ikan diperlukan kecepatan, tidak
bisa dilakukan secara santai karena bila tidak segera
dirawat pasca tiba di lokasi pasar, maka kebanyakan
ikan akan loyo, atau lemas yang bisa berdampak
kematian. setiap pedagang yang memiliki ikan dalam
jumlah banyak, biasannya memiliki pekerja sendiri
untuk membantu mengurusnya. Subyek sendiri
mengaku memiliki 3 pekerja, sehari digaji sekitar Rp.
50.000,- pekerja berasal dari saudara sendiri. jika
membantu berdagang dan mengangkut sampai ke
Surabaya, akan mendapat bonus diluar gaji.
sehingga berkembang seperti sekarang ini. ikan yang
dijual pun semakin bervariasi. Penghasilan subyek
setiap hari Rabu atau Sabtu itu kurang lebih sekitar Rp.
500.000,- . ikan yang dijual subyek kebanyakan berasal
dari beternak sendiri, hanya sebagian kecil yang berasal
dari membeli di pengepul. Subyek juga melakukan
pembesaran ikan. ikan yang dibeli subyek dari kecil
dipelihara untuk dibesarkan kemudian dijual dengan
harga yang lebih tinggi. Dengan beternak sendiri,
subyek mendapat keuntungan yang lebih banyak.
Subyek kedua dan subyek ketiga mempunyai
kendaraan sendiri untuk mengangkut ikan hias
dagangan mereka dari tempat asal, sehingga subyek
tidak perlu mengeluarkan biaya sewa kendaraan atau
sewa mobil untuk mengangkut ikan ke Surabaya.
Alasan subyek mengapa memilih berdagang di
Surabaya karena Surabaya sudah terkenal sebagai
sentra pasar ikan hias, sejak di Irba sampai ditempat
yang sekarang ini yaitu di Pasar ikan hias Gunungsari.
Dari subyek kedua dan subyek ketiga, mereka
berdagang sendiri di pasar ikan hias Gunungsari,
artinya tidak ada anggota keluarga yang ikut
berdagang, hanya pekerjanya yang membantunya.
Beban tanggungan subyek yang ketiga terdapat 6
anggota keluarga, setiap bulannya pengeluaran untuk
keluarga kurang lebihnya sekitar Rp. 2.000.000,-.
Untuk modal pertama subyek memperoleh dari
meminjam kepada saudaranya, hingga akhirnya bisa
mandiri seperti sekarang ini.
Pak Ahmad Sugianto
Subyek yang keempat ini memiliki cerita berbeda
untuk menjadi pedagang grosiran pasar ikan hias
Gunungsari. Pak Ahmad Sugianto yang memiliki nama
panggilan Totok, umur 34 tahun dan berlatar belakang
pendidikan
SMK.
Melihat
latar
belakang
pendidikannya subyek merupakan pedagang yang
berkecukupan. Subyek mempunyai seorang istri dan 2
orang anak, saat ini sang istri sedang mengandung anak
ketiga. Dahulu subyek tinggal di Surabaya daerah
Kalibokor, dan sekarang bertempat tinggal di Kediri.
Subyek menjelaskan bahwa memilih sebagai pedagang
ikan hias ini karena inisiatif sendiri, pada tahun 2001
subyek mengawali berdagang ikan, karena pada saat itu
tren ikan louhan terkenal di kalangan penghobi ikan
hias.
Subyek tidak memiliki modal dalam berdagang,
sistem yang digunakan subyek keempat adalah
membawa barang atau ikannya terlebih dahulu untuk
dijual, dan hasilnnya baru diberikan kepada pengepul
(sistem bagi hasil). Dengan sistem seperti ini subyek
mudah dalam menjalankan usaha serta membangun
kepercayaan terhadap supplier ikan hias. selama ini
subyek hanya pernah sekali meminjam di bank, dan
modal tersebut digunakan untuk membeli alat
transportasi berupa mobil pick up. Subyek bekerja
sendiri dan tidak melibatkan keluarga dalam berdagang
ikan hias. alasan berdagang di Surabaya karena
pasarnya sudah berdiri di Surabaya sejak lama, sejak di
Irba sampai di pasar ikan hias Gunungsari ini.
Pak Sutrisno
Subyek yang ketiga ini adalah rekomendasi dari
pak joyo (subyek kedua) karena menurut pak joyo, pak
Tris ini sudah termasuk lama berdagang ikan hias.
Latar belakang pendidikan pak Tris adalah lulusan SD,
dahulu keluarga subyek termasuk ke dalam keluarga
miskin. artinya keluarga yang berpenghasilan rendah.
Subyek berasal dari Tulungagung desa Karangrejo,
mempunyai satu istri dan satu orang anak laki-laki.
Subyek memiliki pengalaman berdagang ikan selama
20 tahun, sejak berdagang di Irba hingga sekarang di
pasar ikan hias Gunungsari. Subyek mempunyai satu
orang anak dan sudah bekerja. tetapi pekerjaan sang
anak tidak sama dengan ayahnya yang berdagang ikan
hias, anaknya bekerja sebagai karyawan di sebuah
pabrik. Subyek memilih bekerja sebagai pedagang ikan
hias ini untuk mencukupi kebutuhan ekonominya.
Faktor lain adalah karena usia yang tidak
memungkinkan subyek bekerja berat.
Subyek yang ketiga ini memiliki latar belakang
pendidikan SD, Subyek hanya berbekal pengalaman
menekuni pekerjaan menjual ikan ini dengan baik
ANALISIS DATA
88
Karakteristik Pedagang Ikan Hias Grosiran Berdagang Di Pasar Ikan Hias Gunungsari Surabaya
Jarak tempat tinggal
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa
pedagang ikan hias grosiran memiliki jarak tempat
tinggal dengan lokasi petani/pengepul ikan hias yang
dekat. Meskipun jarak lokasi penjualan yang relatif
jauh dari tempat tinggal pedagang, faktor harga jual
dan jumlah konsumen yang tinggi menyebabkan
pedagang ikan hias grosiran dating ke Surabaya untuk
berdagang. Fasilitas berupa stan yang dikhususkan
untuk pedagang grosiran di pasar ikan hias Gunungsari
Surabaya memberi kemudahan bagi pedagang ikan hias
untuk berdagang. Jika melihat teori yang diungkapkan
menurut August Losch yang menyatakan bahwa lokasi
industri harus berada di dekat pasar, maka tidak
demikian yang terjadi pada para pedagang pasar ikan
hias Gunungsari. Dari hasil penelitian, didapatkan
bahwa para pedagang berasal dari lokasi yang berjarak
50 hingga 300 Kilometer. sebagai contoh jarak kota
Surabaya dengan Blitar sejauh 130 Kilometer. Jarak
kota Surabaya Dengan Tulungagung sejauh 145
Kilometer. Dengan demikian teori yang diungkapkan
oleh August Losch bertentangan dengan fakta yang
terjadi di lapangan.
Karakteristik Sosial
Pendidikan
Dari data di atas dapat diketahui bahwa
pendidikan terakhir pedagang ikan hias grosiran
Gunungsari
Surabaya
mayoritas
setingkat
SMA/SLTA/SMK. Dengan Mayoritas Pendidikan
SMA seharusnya dapat memperoleh pekerjaan. Namun
karena faktor tingginya persaingan kerja dan
melanjutkan usaha turun temurun, maka pedagang
grosiran pasar ikan hias Gunungsari lebih memilih
berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup
ketimbang bekerja di sebuah perusahaan. Faktor
pendukung lain adalah kemudahan akses mendapat
barang dagangan. Banyak pedagang ikan hias yang
berasal dari satu desa dan dari desa tempat tinggalnya
terdapat petani ikan /pengepul yang memudahkan
pedagang mendapat barang dagangan untuk dijual
kembali di pasar ikan hias Gunungsari.
Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan
bahwa pendidikan dengan pekerjaan seseorang terdapat
korelasi / hubungan. Semakin rendah tingkat
pendidikan sesorang maka akan semakin tinggi
resikonya dalam bekerja.
Subri menyatakan (2006) pendidikan memberikan
sumbangan langsung kepada pertumbuhan pendapatan
nasional melalui peningkatan keterampilan dan
produktivitas kerja. Pendidikan juga diharapkan
mampu mengatasi keterbelakangan ekonomi lewat
peningkatan kemampuan manusia dan motivasi untuk
berprestasi
Keterkaitan Anggota Keluarga
Data di lapangan menunjukkan bahwa ada
keterkaitan anggota keluarga dalam usaha berdagang
ikan hias grosiran di Gunungsari Surabaya. Salah satu
informan mengungkapkan tenaga kerja yang
dimilikinya masih sanak keluarga. Dirinya menjelaskan
lebih mempercayai keluarga sendiri untuk ikut bekerja
dengannya. Anggota keluarga yang terlibat akan
memudahkan proses bekerja. Informan lain
menuturkan dengan berdagang bersama maka biaya
transportasi dari kota asal dapat ditanggung bersama
Tidak jauh berbeda dengan pekerjaan turun
temurun. Narwoko dan Suyanto (2006) menyatakan
Adanya fungsi ekonomi keluarga maka hubungan di
antara anggota keluarga tidak hanya sekedar hubungan
yang dilandasi kepentingan untuk melanjutkan
keturunan, akan tetapi juga memandang keluarga
sebagai sistem hubungan kerja. (Narwoko, Dwi &
Bagong Suyanto, 2006: 236).
Keterampilan (skill)
Dari pemaparan yang diberikan informan
keterampilan memberi modal bagi seseorang untuk
bekerja. Dengan mengembangkan keterampilan
mengelola ikan hias baik baik saat pengiriman maupun
saat dibawa kembali ke lokasi asal, maka pedagang
ikan hias grosiran dapat memperbaiki kualitas ikan
hias yang dijual.
Subri menyatakan (2006) pendidikan memberikan
sumbangan langsung kepada pertumbuhan pendapatan
nasional melalui peningkatan keterampilan dan
produktivitas kerja. Pendidikan juga diharapkan
mampu mengatasi keterbelakangan ekonomi lewat
peningkatan kemampuan manusia dan motivasi untuk
berprestasi
Karakteristik Ekonomi
Pendapatan
Dari pernyataan informan yang berhasil peneliti
dapatkan, pendapatan yang dihasilkan dari berdagang
ikan hias grosiran di pasar ikan hias Gunungsari cukup
besar Berkisar 300.000 hingga 1.000.000 di hari
pasaran. jika dibandingkan UMR kota masing masing
maka hasil yang didapat cukup menjanjikan, terdapat
kerjasama dengan pedagang ikan hias stan gedung
yang ikut mengambil ikan dalam partai untuk dijual
kembali dari pedagang ikan hias grosiran. Permintaan
tetap dari pedagang stan gedung menjadi pendapatan
tetap jika berdagang di hari pasaran
Pekerjaan turun temurun
Penuturan
informan
menunjukkan
bahwa
pekerjaan turun temurun ikut menentukan jenis
pekerjaan. Pekerjaan turun temurun memberi kepastian
pekerjaan tetap dan kemudahan dalam menjalankan
usaha karena usaha yang sudah berjalan sebelumnya,
sehingga keturunan hanya perlu meneruskan usaha
yang sudah berjalan.
Narwoko dan Suyanto (2006) menyatakan Adanya
fungsi ekonomi keluarga maka hubungan di antara
anggota keluarga tidak hanya sekedar hubungan yang
dilandasi kepentingan untuk melanjutkan keturunan,
akan tetapi juga memandang keluarga sebagai sistem
hubungan kerja. (Narwoko, Dwi & Bagong Suyanto,
2006: 236).
Pengeluaran
kebutuhan keluarga menjadi pengeluaran utama
bagi pelaku usaha ikan hias grosiran di Gunungsari
Surabaya. Biaya kulakan dan transportasi. Walaupun
89
Karakteristik Pedagang Ikan Hias Grosiran Berdagang Di Pasar Ikan Hias Gunungsari Surabaya
keuntungan yang didapat cukup besar, beban
pengeluaran untuk kulakan cukup tinggi, pedagang
mengalokasikan biaya kulakan berkisar 500.000 hingga
2.000.000
untuk
membeli
ikan
hias
dari
petani/pengepul ikan hias untuk dijual kembali. Resiko
lain adalah ikan hias yang mati dalam perjalanan yang
menambah beban pengeluaran terutama bagi pedagang
ikan hias yang bekerjasama bagi hasil menjualkan ikan
hias dari petani ikan
tidak langsung menyarankan lokasi industri tidaklah
terlalu jauh dengan bahan baku, agar dapat
memperoleh lokasi yang menghasilkan biaya minimum
dalam transportasi (Tarigan, 2005)
Alasan memilih berdagang ikan hias di Gunungsari
Karena
pasar
dalam
kota/desa
kurang
menguntungkan maka para pedagang memilih
berdagang di Surabaya sebagai kota metropolitan di
jawa timur. Harga jual yang tinggi di Surabaya
membuat banyak pedagang ikan hias berbondong
bondong berdagang sebagai pedagang kaki lima di
beberapa lokasi seperti Irba dan patua. Namun
penataan yang semrawut akhirnya membuat
Pemerintah kota Surabaya membangun sentra pasar
ikan hias Gunungsari dan merelokasi pedagang
tersebut menuju pasar ikan hias Gunungsari. Jika
melihat teori yang diungkapkan menurut August Losch
yang menyatakan bahwa lokasi industri harus berada di
dekat pasar, maka tidak demikian yang terjadi pada
para pedagang pasar ikan hias Gunungsari. Dari hasil
penelitian, didapatkan bahwa para pedagang berasal
dari lokasi yang berjarak 50 hingga 300 Kilometer.
sebagai contoh jarak kota Surabaya dengan Blitar
sejauh 130 Kilometer. Jarak kota Surabaya Dengan
Tulungagung sejauh 145 Kilometer. Dengan demikian
teori yang diungkapkan oleh August Losch
bertentangan dengan fakta yang terjadi di lapangan
Modal
Pengamatan di lapangan menunjukkan jika modal
yang didapat pedagang ikan hias grosiran berasal dari
berbagai sumber seperti bank, pinjaman keluarga/rekan
maupun kepercayaan dari petani ikan hias. Kegiatan
Jual beli di pasar ikan hias Gunungsari berjalan lancar
dan masalah dana tersendat terjadi jika ikan yang
dibawa banyak yang mati dalam perjalanan. Menurut
informan kunci yang sekaligus sebagai kepala koperasi.
Sebagian pedagang pasar ikan hias Gunungsari diberi
kemudahan dari petani ikan/pengepul dari daerah asal
mereka yaitu dengan membawa terlebih dahulu ikan
hias dan baru menyetorkan hasilnya sekembalinya
pulang dari Surabaya. Ikan yang mati akan dihitung
sebagai kerugian. Dari hasil kerugian ini, para
pedagang mengupayakan cara terbaik untuk menjaga
ikan tetap hidup selama perjalanan. Namun beberapa
pedagang yang nakal akan menjual ikan hias mereka
dengan harga modal untuk menghindari kerugian jika
ikan mati di jalan. Hal tersebut biasanya
merenggangkan hubungan pedagang tersebut kepada
sesamanya.
Motif konsumen membeli di pedagang ikan hias
Gunungsari
Harga yang murah dalam kuantiti yang banyak
menjadi alas an konsumen membeli di pedagang ikan
hias grosiran pasar ikan hias Gunungsari Surabaya.
Hari pasaran menjadi daya tarik tersendiri bagi
konsumen karena pada hari pasaran jumlah pedagang
yang berdagang ikan hias lebih banyak dari hari biasa
Karena kehadiran pedagang grosiran. Adanya hari
pasaran, lokasi yang sentral serta pilihan lebih banyak
dan lebih murah, ikan hias yang dijual pedagang
grosiran menjadi tujuan konsumen yang membeli
untuk tujuan dijual kembali / reseller. Menurut Kotler
(2003) menjelaskan bahwa keputusan konsumen dalam
pembelian dipengaruhi oleh rangsangan berupa produk,
harga, tempat dan promosi.
Faktor Pendorong Motif Berdagang Ikan Hias
Latar belakang usaha
Latar belakang dari karakteristik sosial dan faktor
usaha turun temurun menjadi pengaruh besar yang
mempengaruhi pedagang ikan hias grosiran berdagang
di pasar ikan hias Gunung sari Surabaya. Kemudahan
mendapatkan ikan hias serta sudah tersedianya sentra
ikan hias di Gunungsari mempermudah pedagang
dalam aktivitas jual beli. Narwoko dan Suyanto (2006)
menyatakan Adanya fungsi ekonomi keluarga maka
hubungan di antara anggota keluarga tidak hanya
sekedar hubungan yang dilandasi kepentingan untuk
melanjutkan keturunan, akan tetapi juga memandang
keluarga sebagai sistem hubungan kerja. (Narwoko,
Dwi & Bagong Suyanto, 2006: 236).
Peran koperasi di pasar ikan hias Gunungsari
Surabaya
Koperasi di pasar ikan hias Gunungsari
Surabaya didirikan untuk menjaga hubungan sesame
pedagang. Dengan persaingan memperebutkan
konsumen yang tinggi, maka diperlukan kestabilan
harga agar setiap penjual memiliki kesempatan menjual
yang sama. Dalam dunia dagang seringkali perbedaan
harga yang jauh berbeda menimbulkan kerenggangan
bahkan konflik diantara pedagang. Jika pedagang satu
tidak memiliki jenis ikan hias yang diminta konsumen,
maka pedagang tersebut dapat mengambil ikan hias
dari pedagang lain kemudian dijual kepada konsumen
dan membagi keuntungan sesuai kesepakatan. Hal ini
sesuai dengan yang dikemukakan munkner (1997)
Koperasi adalah organisasi tolong menolong yang
Asal ikan hias
Ikan hias yang dijual mayoritas berasal dari
sekitar lingkungan rumah mereka. Karena hasilnya
yang menguntungkan maka munculnya kegiatan petani
ikan yang diikuti para pedagang yang memanfaatkan
keberadaan mereka untuk mencari rezeki. Dalam
kuantiti petani yang dirasa memberatkan, muncul
profesi pengepul ikan yang memudahkan untuk
menyuplai stok ikan hias para pedagang. Dengan
demikian pedagang memperoleh bahan baku dari
tempat terdekat yang cocok dengan teori yang
diungkapkan oleh Weber mengenai teori lokasi biaya
minimum. dalam biaya transportasi tersebut secara
90
Karakteristik Pedagang Ikan Hias Grosiran Berdagang Di Pasar Ikan Hias Gunungsari Surabaya
menjalankan urusan secara kumpulan dan aktivitas
niaga semata mata bertujuan ekonomi bukan sosial
seperti dalam gotong royong.
Subri, Mulyadi 2006. Ekonomi Sumber daya manusia.
Jakarta : Raja Grafindo Persada
Tarigan, Robinson. 2005. Perencanaan Pembangunan
Wilayah. Jakarta: Bumi Aksara
PENUTUP
Simpulan
Pedagang ikan hias grosiran Gunungsari kota
Surabaya adalah Pedagang kaki lima yang direlokasi
menuju pasar ikan hias Gunungsari Surabaya.
Mayoritas pedagang adalah pengusaha turun temurun
sejak menjadi PKL hingga berdagang resmi di pasar
ikan hias Gunungsari Surabaya. Pedagang grosiran
menjaga tradisi hari Rabu dan Sabtu supaya mudah
diingat konsumen mereka dan menambah daya tarik
bagi pasar ikan hias Gunung sari Surabaya
Weber, A. 1909. Theory of Location of Industries.
Chicago: University of Chicago Press.
Widodo, Bambang Sigit. 2012. Analisis Kapasitas
Perencanaan Pendidikan dalam Penentuan
Lokasi Sekolah dan Pengaturan Fungsi
Bangunan di SMK (Studi Multikasus di SMKN
1 Geger Kabupaten Madiun, SMKN 1
Dlanggu Kabupaten Mojokerto dan SMKN 10
Kota Malang). Disertasi, Program Studi
Manajemen
Pendidikan,
Program
Pascasarjana Universitas Negeri Malang, tidak
dipublikasikan.
Saran
Kepada kepala pasar ikan hias Gunungsari
Surabaya perlunya penambahan lahan parkir
dikarenakan pada hari pasaran tempat parkir selalu
penuh hingga menempati sisi jalan raya. Perlunya
pelatihan beternak ikan hias agar ikan hias bagi
pedagang grosiran agar ikan hias yang dijual pedagang
lebih bervariatif dan meminimalisasi kerugian akibat
harga rendah. pemerintah kota Surabaya segera
merealisasikan untuk memperluas pasar ikan hias
Gunungsari.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Daldjoeni, N. 1992 Seluk beluk masyarakat kota
(Puspagram sosiologi kota dan ekologi
sosial). Bandung : Alumni
Jayadinata, Johara T. 1999. Tata Guna Tanah Dalam
Perencanaan Pedesaan Perkotaan Dan
Wilayah. Bandung: ITB .
Kotler, Philip. 2003. Manajemen Pemasaran. Edisi
Kesebelas. Jilid 2.Terjemahan
oleh
Benyamin Molan. 2005. Jakarta: PT Indeks
Kelompok Gramedia.
Losch, August. 1954. Economics of location. London
Munkner, 1997. Pengantar hukum koperasi. Bandung :
Unpad
Narwoko, Dwi & Bagong Suyanto. 2006. Sosiologi
Teks Pengantar dan Terapan (edisi kedua).
Jakarta: Kencana
Pratjihno. 1985. Garis Besar tata-niaga umum di
Indonesia. Jakarta : Djambatan
Prawirosentono, Suyadi. 1997. Kebijakan kinerja
karyawan. Yogyakarta : BPFE
91
Download