keganasan pada lidah - E

advertisement
KEGANASAN PADA LIDAH
(Tinjauan Pustaka)
Oleh :
dr. Marthin Panggabean
Pembimbing :
dr. Widyanti Soewoto,Sp.B(K)Onk
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I ILMU BEDAH
FK.UNS / RSUD. DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2016
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keganasan rongga mulut merupakan 2 % daripada semua keganasan yang mengenai
manusia. Ruang lingkup rongga mulut salah satunya adalah 2/3 lidah bagian anterior,
dimana keganasan sering terjadi didaerah tersebut dengan angka kejadian 76.800
kasus di asia selatan dan tenggara l .
Keganasan lidah adalah tumor agresif dengan prognosis buruk. Karsinoma sel
skuamosa di kepala, rongga mulut dan leher sering dianggap serupa karena banyak
kesamaan antara angka kejadian, jenis sel kanker, faktor predisposisi, fitur patologis,
pengobatan dan prognosis.`
Angka kejadian keganasan lidah ini relatif umum, dengan 3% dari seluruh
penyakit berbahaya yang timbul dalam rongga mulut. Keganasan lidah lebih sering
terjadi dibandingkan jenis kanker rongga mulut lain dan angka kejadian meningkat
seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini jarang terjadi sebelum usia 40 dan insiden
tertinggi penyakit ini dalam dekade-dekade 6 dan 7 dengan perbandingan pria dan wanita
3 : 1. Secara geografis, tumor ditemukan di seluruh dunia, tetapi ada variasi yang
signifikan dalam insiden. Penyakit ini terjadi dengan kejadian tertinggi pada populasi
India.3
Di RS dr. Sardjito Yogyakarta, kasus keganasan lidah tahun 2005-2010
dilaporkan 32 pasien dengan kelompok terbesar 50-60 thn; 37 % laki-laki faktor resiko
terbesar merokok; 44%, penegakan diagnosis lebih disukai biopsy daripada AJH, dan
dengan tehnik operasi hemiglosektomi, dengan hasil patologi anatomi terbanyak
karsinoma sel skuamosa differensiasi baik sebanyak 47 % 4. Untuk angka kejadian di
Surakarta belum dilakukan penelitian sebelumnya.
TINJAUAN PUSTAKA
2 .1 Definisi
Tumor ganas lidah adalah keganasan yang terdapat pada lidah. Bentuk yang
paling banyak ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa lidah. Karsinoma sel
skuamosa lidah merupakan salah satu bentuk karsinoma rongga mulut yang mempunyai
presentase paling banyak dari seluruh keganasan rongga mulut (90-97%). 3
ANATOMI DAN FISIOLOGI LIDAH
Rongga mulut adalah bagian dari saluran cerna dimulai dari vermillion sampai
perbatasan soft dengan hard palate dan papilla circumvallate lidah.Atap dari rongga mulut
adalah palatum, yang memisahkan dengan rongga hidung. Bagian depan yang berupa tulang
dilapisi mukosa adalah palatum durum (hard palate), bagian belakang yang tersusun oleh
jaringan lunak disebut soft palate (palatum mole).(10)
Dari sudut onkologi lidah dibedakan basis lidah yaitu bagian yang letaknya dorsal dari
deretan papillae circumvallatae dan bagian 2/3 depan yang terletak ventral dari deretan ini.
Yang terakhir ini juga disebut bagian lidah yang mobil atau oral.Ujung lidah, pinggir –
pinggir lidah dan punggung lidah merupakan bagian dari bagian yang mobil sebagaimana
juga akar lidah. Tumor yang terjadi di dasar mulut, kadang – kadang meluas ke akar lidah dan
menyebabkan gangguan mobilitas lidah.(11)
Lidah secara anatomi terbagi atas 3 bagian, yakni :
1. Apex lingua (ujung lidah)
2.
Corpus lingua (badan lidah)
3.
Radix lingua (akar lidah)(12)
a. Struktur superfisial lidah
Pada membrana mukosa yang melapisi lidah yaitu di punggung lidah, di pinggir kanan
dan kiri dan di bagian depan terdapat tonjolan – tonjolan yang kecil disebut dengan papilla.
Pada dasar papilla ini terdapat kuncup – kuncup pengecap, sehingga kita dapat menerima /
merasa cita rasa. Ada empat macam papilla, yaitu : papilla filiformis, papilla fungiformis,
papilla vallata dan papilla foliata. (12,13)
Gambar 1. Struktur Superfisial Lidah
Area di bawah lidah disebut dasar mulut.Membran mukosanya bersifat licin, elastis,
dan banyak terdapat pembuluh darah yang menyebabkan lidah mudah bergerak, serta pada
mukosa dasar mulut tidak terdapat papilla.Dasar mulut dibatasi oleh otot – otot lidah dan otot
– otot dasar mulut yang insertionya di sebelah dalam mandibula.Di sebelah dalam mandibula
ini terdapat kelenjar – kelenjar ludah sublingualis dan submandibularis. (12,13)
Gambar 2. Struktur Jaringan Lidah
a.
Otot – otot pada lidah
Lidah adalah suatu organ dengan kekenyalan yang sangat baik saat bergerak, hal ini dapat
dilihat pada saat mengunyah. (12)
Otot – otot Intrinsik:
-
M. longitudinalis superior
-
M. longitudinalis inferior
-
M. transversus
-
M. verticalis
Gambar 3. Otot – otot intrinsik lidah
Otot – otot Extrinsik :
-
M. genioglossus
-
M. hyoglossus
-
M. styloglossus
-
M. palatoglossus
Gambar 4. Otot – otot extrinsik lidah
b.
Persarafan pada lidah
Persarafan pada lidah dibagi atas 2 bagian yaitu :
1.
Persarafan motoris
2.
Persarafan sensoris
Ad. 1 Persarafan Motoris
Semua otot – otot pada lidah baik yang intrinsik maupun yang extrinsik dipersarafi oleh
nervus hypoglossus (N. craniales XII), kecuali M. palatoglossus yang dipersarafi oleh nervus
vagus (N. craniales X).(13)
Ad. 2 Persarafan Sensoris
Dua pertiga bagian anterior lidah dipersarafi oleh n. lingualis (cabang n. mandibularis)
untuk sensasi umum, dan chorda timpani (cabang n. fasialis yang menuju ke lidah) untuk
gustasi (pengecap).
Dua pertiga bagian posterior lidah dan papillae vallata dipersarafi oleh r. lingualis n.
glossopharyngeus untuk sensasi umum dan gustasi, saraf lainnya yang ikut mempersarafi
lidah berasal dari r. lingualis n. fasialis (gustasi) dan dekat epiglottis dari r. laryngeus internus
n. vagus (sensasi umum dan gustasi).(13)
c.
Vaskularisasi pada lidah
Arteri utama ke lidah ialah a. lingualis yang merupakan cabang dari a. carotis externa.
Cabang – cabang yang menyuplai aliran darah lidah terutama rr. Dorsale linguale (menuju ke
pars pharyngealis) dan a. profunda linguae.
Darah dari lidah dialirkan oleh (1) vv. lingualis sebagai vv. comintates untuk a.
lingualis dan menerima beberapa vv. dorsal linguae : (2) v. profunda linguae, yang berjalan
ke belakang disebelah menyilangi permukaan lateral m. hyoglossus bersatu dengan v.
sublingualis membentuk v. comunitants n. hypoglossi, yang terakhir ini berakhir v. fasialis, v.
lingualis atau v. jugularis interna.(12)
d.
Aliran limfe pada lidah
Aliran limfe di sini penting oleh karena berhubungan dengan penyebaran dini carcinoma
lidah. Aliran menuju ke n. submentalis, n. submandibularis dan n. l. cervicales profunda
(termasuk n. l. juguludigastricus dan n. l. juguloomohyoideus).(12)
Lidah merupakan organ muskular yang sangat fleksibel dalam rongga mulut berperan untuk
proses pengunyahan, pengecapan dan menelan makanan serta untuk berbicara. Organ ini
melekat ke dasar mulut dengan permukaan atas dilapisi papillae yang memberikan tekstur
permukaan yang kasar. Papillae mengandung pori – pori kecil yang terdapat reseptor
pengecapan (taste bud). Terdapat 4 jenis reseptor pengecapan (manis, asin, asam, pahit) yang
berada pada lokasi tertentu di permukaan lidah.(10)
2.2 Etiologi
Faktor risiko untuk pengembangan dasar karsinoma lidah termasuk alkohol kronis
dan penggunaan tembakau, usia lebih tua, lokasi geografis, dan sejarah keluarga atas kanker
saluran aerodigestive. Paparan Lingkungan untuk polisiklik hidrokarbon aromatik, asbes,
dan asap pengelasan dapat meningkatkan resiko kanker faring. Kekurangan gizi dan agen
infeksi (terutarna papilloma virus dan jarnur) juga mungkin memainkan peran penting.:"
2.3 Patofisiologi
Unsur-unsur penyebab kanker (onkogen) dapat digolongkan ke dalam tiga
kelompok besar, yaitu energi radiasi, senyawa kimia dan virus. 9
1. Energi radiasi
Sinar ultraviolet, sinar-x dan sinar gamma merupakan unsur mutagenik dan
karsinogenik. Radiasi ultraviolet dapat menyebabkan terbentuknya dimmer
pirimidin. Kerusakan pada DNA diperkirakan menjadi mekanisme dasar
timbulnya karsinogenisitas akibat energi radiasi. Selain itu, s inar radiasi
menyebabkan terbentuknya radikal bebas di dalam jaringan. Radikal bebas
yang terbentuk dapat berinteraksi dengan DNA dan makromolekul lainnya
sehingga terjadi kerusakan molekular. 5 ' 6
2. Senyawa kimia
Sejumlah besar senyawa kimia bersifat karsino genik. Kontak dengan
senyawa kimia dapat terjadi akibat pekerjaan seseorang, makanan, atau
gaya hidup. Adanya interaksi senyawa kimia karsinogen dengan DNA
dapat mengakibatkan kerusakan pada DNA. Kerusakan ini ada yang masih
dapat diperbaiki dan ada yang tidak. Kerusakan pada DNA yang tidak
dapat
diperbaiki
dianggap
sebagai
penyebab
timbulnya
proses
karsinogenesis.
3. Virus
Virus onkogenik mengandung DNA atau RNA sebagai genomnya. Adanya
infeksi virus pada suatu sel dapat mengakibatkan transformasi maligna,
hanya saja bagaiamana protein virus dapat menyebabkan transformasi masi h
belum diketahui secara pasti. Rokok telah terbukti sebagai karsinogen pada
percobaan terhadap binatang karena mengandung banyak radikal bebas dan
epoxides yang berbahaya. Pengaruh yang ditimbulkan oleh rokok berupa perubahan
mukosa saluran aerodigestivus. Hal ini berhubungan dengan kerusakan gen p53,
dimana jika terjadi mutasi, hilang atau rusaknya gen p53 maka resiko untuk
terjadinya kanker akibat rokok akan meningkat. Peningkatan angka kejadian
keganasan berhubungan erat dengan penggunaan alkohol dan rokok. Resiko untuk
terjadinya kanker kepala dan leher pada orang perokok dan peminum alkohol 17
kali lebih besar daripada yang tidak perokok atau peminum alkohol..'
Menurut Hanh dkk, terdapat 6 faktor yang menyebabkan perkembangan untuk sel :
1.
Berproliferasi autonom
2.
Menghambat sinyal growth inhibition
3.
Kemampuan menghindari apoptosis
4.
Immortal
5.
Angiogenesis
6.
Menginvasi jaringan lain dan metastasis
Perubahan genetik pada karsinoma sel skuamosa kepala dan leher belum diketahui
secara pasti. Califano dkk mengemukakan hilangnya kromosom 9p21 atau 3p
menyebabkan perubahan dini pada mukosa kepala dan leher sehingga mengakibatkan
munculnya karsinoma sel skuamosa. Namun, teori lain menyatakan bahwa hilangnya
kromosom 17p pada gen supresor tumor juga turut berperan tethadap keganasan kepala
dan leher. Selain itu, hilangnya kromosom 3p21 menyebabkan perubahan hyperplasia
dan displasia, sedangkan hilangnya kromosom 6p, 8p, 11q, 14q, dan 4q26-28
menyebabkan terjadinya invasi ke jaringan sekitar. 6'7
2.4 Manifestasi Minis
Gejala-gejala kanker lidah antara lain adalah timbulnya ulkus (luka) seperti
sariawan yang tidak sembuh dengan pengobatan adekuat, mudah berdarah. Bagian tengah
ulkus relatif lembut dan mudah berdarah. Perdarahan terjadi ketika tekanan diberikan pada
tempat kanker, scat mengunyah, minum atau menelan.
Fokus kanker adalah sangat lembut dan tidak tahan tekanan dalam bentuk apapun,
sehingga mengakibatkan pendarahan. Perdarahan merupakan indikasi penting dan gejala
kanker lidah. Sakit tenggorokan terns-menerus adalah gejala kanker lidah yang utama dan
sering terjadinya mati rasa di lidah dan mulut. Selain itu, perubahan suara, lidah kaku
dengan gerakan berkurang, dan bau mulut adalah gejala kanker lidah lain yang terkait
serta benjolan di bagian belakang tenggorokan, pembesaran kelenjar getah bening leher,
yang tak dapat dijelaskan dan penurunan berat badan yang berlebihan. Pasien juga
mengeluh kesulitan dalam membuka mulut dan kehadiran massa di leher.
Gambar 2.2 : Karsinoma Sel Skuamous pada lidah
Pada stadium dini, kanker lidah tidak menimbulkan nyeri dan biasanya ditemukan
pada pemeriksaan rutin pada gigi dan mulut. Kanker biasanya timbul di bagian pinggir
lidah, hampir tidak pernah ditemukan kanker pada pangkal lidah kecuali pada seseorang
yang pemah menderita sinus yang tidak pernah mendapatkan pengobatan selama beberapa
tahun. Karsinoma sel skuamosa pada sel lidah seringkali tampak seperti luka terbuka
(borok) dan cenderung tumbuh ke dalam jaringan di bawahnya. Bintik kecoklatan
mendatar seperti bercak sering ditemukan pada perokok yaitu di sisi biasanya rokok atau
pipa diletakkan pada bibir.5
Gambar 2.3. Karsinoma Sel Skuamous pada lidah perokok kronik
2.5 Diagnosis
2.6.1 Biopsi langsung
Merupakan metode baku untuk memperoleh jaringan dari lesi dirongga mulut dan
orofaring.
2.6.2 Sitologi
Pemeriksaan sitologi eksfoliatifa dari spesimen kerokan atau inprint dari tumor
primer dikerjakan pada lesi yang berupa bercak/superficial. Bila hasilnya :

Klas I- III : lakukan ulangan sitologi 3 bulan lagi.Bila 2x ulangan sitologi tetap
klas I-III maka perlu dibiopsi

Klas IV-V : lakukan biopsi 9
2.6.3 Panendoskopi
Dilakukan untuk menentukan perluasan lesi yang besar dan terletak disebelah
posterior dan untuk menyingkirkan adanya tumor primer simultan.
2.6.4 Biru toluidine
Sebuah zat pewarna yang dibubuhkan in situ' sebagai salah satu cara diagnostik
tambahan dalam mendeteksi karsinoma sel skuamosa yang akan memberi warna biru pada
sel kanker. Jaringan normal tidak mengisap warna, sedang lesi pra-ganas atau non
neoplasma tidak konstan mengisap warna.Menurut Mashberg tehnik memberi warna
rongga mulut sebagai berikut:
1. Kumur dengan larutan asam asetat 1% : 20 detik
2. Kumur dengan air : 20 detik, 2 x
3. Kumur dengan larutan toluidine blue 1% 5-10 cc
4. Kumur lagi dengan larutan asam asetat 1% : 1 menit
5. Kumur dengan air.
Pembacaan hasil pemeriksaan dilakukan 24 jam kemudian, pemeriksaan ini memiliki
sensitivitas dan spesifisitas sebesar 90%. Adapun larutan toluidine biru terdiri dari :
1.Toluidine chloride : 1 gr
2. Asam asetat : 10 cc
3. Alkohol absolut : 4,2 cc
4. Aquadest: 100 cc
2.6.5 PET (Positron Emission Tomography)
Pemeriksan imaging dengan PET Pemeriksaan Positron Emission Tomography
menggunakan tirosin sebagai tracer memiliki sensitivitas dan spesifisitas cukup
tinggi untuk karsinoma. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi tumor <4mm. Untuk
staging memiliki sensitivitas 71% dan spesifisitas 99%, sedangkan untuk dteksi
kekambuhan memiliki sensitivias 920/0dan spesifisitas 810/0 9.
2.7 Penatalaksanaan
Penanganan kanker lidah ini sebaiknya dilakukan secara multidisipliner yang melibatkan
beberapa bidang spesialis yaitu:

oncologic surgeon

plastic & reconstructive surgeon

radiation oncologist

medical oncologist

dentists

rehabilitation specialists
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penanganan kanker lidah ini ialah
eradikasi dari tumor, pengembalian fungsi dari rongga mulut, serta aspek kosmetik
/penampilan penderita. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan
macam terapi ialah : I
a) Umur penderita
b) Keadaan umum penderita
c) Fasilitas yang tersedia
d) Kemampuan dokternya
e) Pilihan penderita.
Penatalaksanaan pasien tumor ganas lidha dilakukan dengan operasi, radiasi,
kemoterapi, atau kombinasi dua atau ketiganya, tergantung dari jenis tumor dan
durasinya. Keputusan tentang tindakan terbaik yang dapat dilakukan harus dibuat oleh
seseorang yang mempunyai keahlian khusus tentang keganasan leher dan kepala. 1,2)
Untuk lesi yang kecil (T1 dan T2), tindakan operasi atau radioterapi saja
dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi, dengan catatan bahwa
radioterapi saja pada T2 memberikan angka kekambuhan yang lebih tinggi daripada
tindakan operasi.
Untuk T3 dan T4, terapi kombinasi operasi dan radioterapi memberikan
hasil yang paling baik. Pemberian neo-adjuvant radioterapi dan atau kemoterapi
sebelum tindakan operasi dapat diberikan pada kanker rongga locally advanced
(T3,T4). Radioterapi dapat diberikan secara interstisial atau eksternal, tumor yang
eksofitik dengan ukuran kecil akan lebih banyak berhasil daripada tumor yang
endofitik dengan ukuran besar.
I
Peran kemoterapi pada penanganan kanker lidah masih belum banyak, dalam tahap
penelitian kemoterapi hanya digunakan sebagai neo-adjuvant pre-operatif atau adjuvan
post- operatif untuk sterilisasi kemungkinan adanya mikro metastasis.
Sebagai pedoman terapi untuk kanker rongga mulut dianjurkan seperti berikut:
T1,2 : eksisi lilac atau radioterapi
T3,4 : eksisi luas + deseksi supraomohioid + radioterapi pasca bedah
Untuk tumor lidah T3 dan T4, penanganan NO dapat dilakukan deseksi leher
selektif atau radioterapi regional pasca bedah. Sedangkan N1 yang didapatkan pada
setiap T hams dilakukan deseksi leher radikal. Bila memungkinkan, eksisi luas
tumor primer dan deseksi leher tersebut harus dilakukan secara en-block.
Pemberian radioterapi regional pasca bedah tergantung hasil dari pemeriksaan
patologis metastase pada kelenjar getah bening tersebut (jumlah kelenjar ge tah
bening yang positif metastase, penembusan kapsul kelenjar getah bening/ ektra
kelenjar getah bening).
I
A. Terapi Kuratif
Terapi kuratif diberikan pada tumor lidah stadium I, II, dan III.
1. Terapi utama
Terapi utama untuk stadium 1 dan 11 ialah operasi atau radioterapi yang masingmasing mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sedangkan untuk stadium
III dan IV yang masih operabel ialah kombinasi operasi dan radioterapi pasca bedah. I
Pada terapi kuratif haruslah diperhatikan:
a)
Menurut prosedur yang benar, karena kalau salah hasilnya tidak menjadi
kuratif.
b)
Fungsi mulut untuk bicara, makan, minum, menelan, bernafas, tetap baik.
c)
Kosmetis cukup dapat diterima.
a. Operasi
Indikasi operasi:
1) Kasus operable
2) Umur relatif muda
3) Keadaan umum baik
4) Tidak terdapat ko-morbiditas yang berat
b. Radioterapi
Indikasi radioterapi :
1) Kasus inoperable
2) T1,2 tempat tertentu (lihat diatas)
3) Kanker pangkal lidah
4) Umur relatif tua
5) Menolak operasi
6) Ada ko-morbiditas yang berat
2. Terapi tambahan
a. Radioterapi
Radioterapi tambahan diberikan pada kasus yang terapi utamanya operasi. I
(1) Radioterapi pasca-hedah
Diberikan pada T3 dan T4a setelah operasi, kasus yang tidak dapat dikerjakan
eksisi radikal, radikalitasnya diragukan, atau terjadi kontaminasi Iapangan operasi
oleh sel kanker.
(2) Radioterapi pra-bedah
Radioterapi pra-bedah diberikan pada kasus yang operabilitasnya diragukan atau
yang inoperabel.
b. Operasi
Operasi dikerjakan pada kasus yang terapi utamanya radioterapi yang
setelah radioterapi menjadi operabel atau timbul residif setelah radioterapi.
c. Kemoterapi
Kemoterapi diberikan pada kasus yang terjadi kontaminasi lapangan operasi oleh
sel kanker, kanker stadium III atau IV atau timbul residif setelah operasi dan atau
radioterapi.
3. Terapi Komplikasi
Pada umumnya stadium I sampai 11 belum ada komplikasi penyakit, tetapi dapat
terjadi komplikasi karena terapi. Terapinya tergantung dan komplikasi yang ada, misalnya: I

Nyeri: analgetika

Infeksi: antibiotika

Anemia: hematinik
4. Terapi bantuan
Dapat diberikan nutrisi yang balk, vitamin, dsb. I
Terapi sekunder
Kalau ada penyakit sekunder diberi terapi sesuai dengan jenis penyakitnya.
B. Terapi Paliatif
Terapi paliatif ialah untuk memperbaiki kwalitas hidup penderita dan mengurangi keluhannya
terutama untuk penderita yang sudah tidak dapat disembuhkan lagi.
Terapi paliatif diberikan pada penderita kanker lidah yang: 9
1. Stadium IV yang telah menunjukkan metastase jauh
2. Terdapat ko-morbiditas yang berat dengan harapan hidup yang pendek
3. Terapi kuratif gagal
4. Usia sangat lanjut
Keluhan yang perlu dipaliasi antara lain:
1. Loko regional :

Ulkus di mulut/leher

Nyeri

Sukar makan, minum, menelan

Mulut berbau

Anoreksia

Fistula oro-kutan
2. Sistemik:

Nyeri

Sesak nafas

Sukar bicara
 Batuk-batuk
 Badan mengurus
 Badan lemah
2.8 Komplikasi
Tumor ganas pada lidah yang tidak ditangani segera akan melakukan penyebaran
ke jaringan di dalam rongga mulut dan leher yang lebih dalam. Akhirnya,
menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya. Pada tingkat lanjutan ini,
penderita akan mengalami komplikasi akibat dari penyebaran itu.
Komplikasi-komplikasi yang bisa timbul termasuk :7
1.
Sulit menelan
2.
Nyeri tenggorok
3.
Perdarahan
4.
Sumbatan jalan nafas
5.
Gangguan fonasi suara
6.
Glossitis
7.
Mulut kering
8.
Penurunan berat badan akibat kurangnya nafsu makan
9.
Kekambuhan
2.9 Prognosis
Seperti pada kasus-kasus tumor lainnya, deteksi dini dan pengobatan yang tepat
serta adeku at m enu nj ukkan pro gnosi s ya n g bai k. Nam un ada beb erap a
fakt or yan g bi as mempengaruhi prognosis yaitu :8
1. Ukuran massa tumor
Ukuran yang kecil dari massa bisa dieksisi dan ditangani dengan mudah justru
menurunkan angka kematian berbanding massa yang lebih besar.
2. Metastasis
Tumor ganas lidah menyebar ke organ-organ sekitar seperti mulut, tenggorokan,
leher, mandibula, dan kelenjar getah bening dengan cepat jika tidak sekitar
segera ditangani. Akibatnya, gejala-gejala lain akan timbul dari komplikasi
tersebut. Penderita dengan keadaan ini menunjukkan prognosis yang buruk.
3. Gaya hidup
Mengkonsumsi alkohol dan merokok merupakan falctor predisposisi untuk
terjadinya tumor ganas pada lidah. Kebiasaan mengambil bahan-bahan ini dalam
kehidupan sehari-hari memperburuk prognosis penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
1. American Cancer Oral. Tounge Cancer. 2007. Diunduh dari: http://american cancer
oral.blowt.com 2011 05/tumor-ganas-ronuo.a-multit.html.
2. Yohannes, S. Tongue Carcinoma. Diunduh dari : www.emedicine.com. Last update 10
Sept 2010.
3. Feig BW. The MD Anderson Surgical Oncology Handbook.
Lippincott
Williarns&Wilkins. Texas. 2006
4. Setiaji, S. Nola Karsinoma Lidah dr RS dr. Sardjito 2005-2010; PIT IKABI
XVIII. . Jakarta 2011.
5. Sjamsuhidajat, R 2004. Neoplasma dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC
pp 131-2
6. Brunicardi FC. Schwartz 's Principles of Surgery. McGraw hills. 2004
7. deVita VT. Cancer ; Principles and Practice Oncology. Lippincott Williams&Wilkins.
Texas. 2008
8. Murray, K Robert. Kanker, Gen Kanker dan Faktor Pertumbuhan dalam Biokimia
Harper. Edisi 24. Jakarta. EGC. 1999. 779-98
9. Manuaba TW. Panduan Penatalaksanaan Kanker Solid PERABOI 2010.
Sagung Seto. 2010
10. Suyatno, Pasaribu, Emir Taris. Kanker Rongga Mulut, dalam: Bedah Onkologi Diagnosis
dan Terapi. CV Sagung Seto. Jakarta : 2010. hal 99-119
11. Van de Velde, CJH, Bosman, FT. Wagner, DJ th. Onkologi Edisi ke-5. Panitia Kanker
RSUP Dr. Sardjito. Gajah Mada University Press. Yogyakarta : 1999. hal277-83
12. Luhulima JW. Lingua, dalam :Systema Digestorium. Bagian Anatomi Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin. Makassar : 2005. hal 3-8.
13. Graaff VD. Gustatory Sense, in : Human Anatomy. Mc-Graw Hill Companies. USA :
2001. p 496-9
Download