kepuasan seksual sebagai prediktor intensi

advertisement
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
KEPUASAN SEKSUAL SEBAGAI PREDIKTOR INTENSI
BERSELINGKUH PADA SUAMI
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh:
Merlinda Guntoro
NIM: 139114146
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2017
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
You can’t get much done in life if you only work on the days
when you feel good. — Jerry West
Sleep is the best meditation. — Dalai Lama
Dipersembahkan untuk:
Kedua orangtuaku,
Saudaraku,
Sahabat-sahabatku,
Teman-teman seperjuanganku,
Dan semua yang tidak bisa kusebutkan satu per satu.
iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
KEPUASAN SEKSUAL SEBAGAI PREDIKTOR INTENSI BERSELINGKUH
PADA SUAMI
Merlinda Guntoro
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan dan prediksi pada kepuasan
seksual dan intensi berselingkuh pada suami. Penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif dengan metode analisis regresi sederhana yang
dikalkulasi dengan program SPSS for Windows 21. Hipotesis dari penelitian
ini adalah kepuasan seksual dapat memprediksi intensi berselingkuh pada
suami dan terdapat hubungan negatif signifikan antara kepuasan seksual dan
intensi berselingkuh pada suami. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 242
orang pria yang sudah menikah. Kepuasan seksual dan intensi berselingkuh
diukur dengan skala New Sexual Satisfaction Scale (NSSS) dan Intentions
Towards Infidelity Scale (IT IS) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa
Indonesia. Skala NSSS memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0.976 dan
skala ITIS memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0.782. Penelitian ini
menggunakan teknik purposive dan convenience sampling sebagai metode
pengambilan data. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kepuasan seksual
memberikan sumbangan efektif sebesar 0.153 (15.3%) dalam memprediksi
intensi berselingkuh pada suami (β = -0.391, p = 0.000, p<0.05).
Kata kunci: intensi berselingkuh, kepuasan seksual, suami
vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
SEXUAL SATISFACTION AS PREDICTOR OF INTENDED INFIDELITY
ON HUSBANDS
Merlinda Guntoro
ABSTRACT
The aim of current study was to examined the correlation between sexual
satisfaction and intended infidelity on husbands. This research was
quantitative research using linear regression as analysis method which
calculated by SPSS for Windows 21. There are two hypotheses for this
study. First, sexual satisfaction can predict intended infidelity on husbands.
Second, there was a strong negative correlation between sexual satisfaction
and intended infidelity on husbands. There were 242 subjects who were
male and currently married. Sexual satisfaction and intended infidelity were
measured by New Sexual Satisfaction Scale (NSSS) and Intentions Toward
Infidelity Scale (ITIS). Both scales were adapted to Bahasa Indonesia. The
reliability coefficients for NSSS and ITIS were 0.976 and 0.782. Subjects
were selected using purposive and convenience sampling technique. The
result showed that sexual satisfaction can predict intended infidelity on
husbands by 15.3% (β = -0.391, p = 0.000, p<0.05).
Keywords: husbands, intended infidelity, sexual satisfaction
vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
KATA PENGANTAR
Penelitian dan penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik berkat
dukungan, bimbingan, dan bantuan dari berbagai pihak. Maka dari itu, penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak tersebut.
Ucapan terima kasih sebesar-besarnya saya berikan kepada keluarga saya,
khusus papa dan mama tercinta. Terima kasih untuk dukungan moral, mental dan
finansial yang telah dicurahkan. Terima kasih untuk kesabaran yang luar biasa.
Terima kasih sudah menjadi orangtua yang hebat untuk anak-anak kalian. Terima
kasih juga kepada adik saya satu-satunya. Terima kasih untuk kepercayaan dan
persahabatan ini. Tidak ada yang dapat mengantikan peran kalian dalam hidup ini.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran dekanat,
Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M. Si, selaku dekan Fakultas Psikologi dan Bapak P.
Eddy Suhartanto, M. Si., selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi.
Terima kasih kepada Bapak C. Siswa Widyatmoko, M. Psi yang telah
bersedia menjadi dosen pembimbing skripsi ini. Terima kasih untuk nasehat dan
bimbingan yang diberikan dalam proses penelitian ini. Saya juga ingin berterima
kasih kepada Mbak Haksi Mayawati yang juga membantu saya dalam proses
penelitian ini. Terima kasih karena sudah mendorong saya untuk menjadi lebih baik.
Ucapan terima kasih juga ingin saya sampaikan kepada Dosen Pembimbing
Akademik saya, Bapak R. Landung Eko Prihatmoko, M. Psi., yang selalu
memberikan arahan dan saran yang diberikan kepada saya ketika pergantian
semester.
ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN .............................................. iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... v
ABSTRAK ....................................................................................................... vi
ABSTRACT ....................................................................................................... vii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................... viii
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ix
DAFTAR ISI .................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 7
C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 7
D. Manfaat Penelitian .............................................................................. 8
BAB II LANDASAN TEORI ......................................................................... 9
A. Intensi Berselingkuh ............................................................................ 9
1. Intensi ............................................................................................. 9
a. Definisi Intensi ......................................................................... 9
xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
b. Aspek dari Intensi .................................................................... 10
c. Faktor yang Memengaruhi Intensi ........................................... 11
2. Berselingkuh .................................................................................. 13
a. Definisi Berselingkuh............................................................... 13
b. Faktor yang Memengaruhi Perilaku Berselingkuh .................. 14
3. Intensi Berselingkuh....................................................................... 17
a. Definisi Intensi Berselingkuh ................................................... 17
4. Pengukuran dalam Intensi Berselingkuh ........................................ 17
B. Kepuasan Seksual................................................................................. 19
1. Definisi Kepuasan Seksual ............................................................. 19
2. Aspek dari Kepuasan Seksual ........................................................ 20
3. Faktor yang Memengaruhi Kepuasan Seksual ............................... 22
4. Dampak dari Kepuasan Seksual ..................................................... 24
5. Pengukuran dalam Kepuasan Seksual ............................................ 25
C. Suami ................................................................................................... 26
1. Definisi Suami................................................................................ 26
2. Seksualitas pada Pria ...................................................................... 27
D. Dinamika Psikologis Hubungan Kepuasan Seksual Terhadap Intensi
Berselingkuh Pada Suami ................................................................... 27
E. Kerangka Berpikir ................................................................................ 32
F. Hipotesis............................................................................................... 33
BAB III METODE PENELITIAN................................................................... 34
A. Jenis Penelitian ..................................................................................... 34
xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
B. Identifikasi Variabel ............................................................................. 34
C. Definisi Operasional............................................................................. 34
D. Subjek Penelitian.................................................................................. 35
E. Prosedur Penelitian............................................................................... 36
F. Metode dan Alat Pengumpulan Data ................................................... 37
G. Validitas dan Reliabilitas ..................................................................... 42
1. Validitas Skala ............................................................................... 42
2. Reliabilitas Skala ........................................................................... 44
H. Metode Analisis Data ........................................................................... 45
I. Teknik Analisis Data ............................................................................ 46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. 47
A. Pelaksanaan Penelitian ......................................................................... 47
B. Deskripsi Data Penelitian ..................................................................... 48
C. Hasil Penelitian .................................................................................... 49
D. Pembahasan .......................................................................................... 54
E. Keterbatasan Penelitian ........................................................................ 58
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 59
A. Kesimpulan .......................................................................................... 59
B. Saran ..................................................................................................... 59
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 62
LAMPIRAN ..................................................................................................... 70
xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Statistik Perselingkuhan dalam Pernikahan ............................ 2
Tabel 2.1 Nilai Korelasi antara Intensi dan Perilaku ...................................... 10
Tabel 3.1 Pembagian Item Berdasarkan Sub-skala Ego-centered dan
Partner/Sexual Activity Centered ................................................... 41
Tabel 3.2 Sebaran Item Skala NSSS ............................................................... 41
Tabel 4.1 Usia Subjek Penelitian ..................................................................... 48
Tabel 4.2 Data Teoritis dan Empiris ............................................................... 49
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas ....................................................................... 50
Tabel 4.4 Hasil Uji Linearitas ......................................................................... 50
Tabel 4.5 Hasil Uji Heterokedastisitas ............................................................ 51
Tabel 4.6 Nilai Standardized Coefficients (β) ................................................. 52
Tabel 4.7 Nilai Koefisien Determinasi............................................................. 52
xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Kerangka Berpikir .......................................................................... 2
xv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pernikahan adalah salah satu peristiwa penting dalam kehidupan seseorang.
Kehidupan setelah pernikahan terkadang digambarkan sebagai suatu hal yang
indah dan romantis sehingga tidak jarang seseorang mengharapkan kebahagiaan
tersebut bisa bertahan selama-lamanya (Winarsih, 2010). Namun di balik semua
itu, tidak dapat dipungkiri bahwa tidak ada pernikahan yang sempurna. Setiap
pernikahan
memiliki
permasalahannya
masing-masing,
seperti
masalah
finansial, pembagian peran suami istri, pertengkaran, sampai ketidaksetiaan dan
perselingkuhan (Siahaan, 2016).
Perselingkuhan kini bukan merupakan hal asing lagi. Meski dianggap
perbuatan yang salah, perselingkuhan kerap dilakukan oleh pasangan yang telah
menikah.
Shackelford,
Besser,
&
Goetz
(2008)
menyatakan
bahwa
perselingkuhan merupakan salah satu alasan utama perceraian dan masalah
dalam pernikahan.
Keretakan rumah tanggaku dimulai ketika aku secara tidak sengaja
membaca sms suamiku di hp-nya. Yang salah sebenarnya siapa? Aku yang
kurang perhatian, suami yang tidak setia atau X yang jelas-jelas sudah
tahu siapa aku tetapi masih tetap masuk ke rumah tanggaku? Bahkan di
malam hari, X berani-beraninya menelpon atau mengirim sms ke suamiku.
(Admin, 2011)
Kutipan di atas adalah salah satu contoh kasus perselingkuhan yang
mengakibatkan permasalahan dalam suatu hubungan pernikahan. Selain kutipan
tersebut, terdapat fenomena bocornya data situs internasional yang memfasilitasi
1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2
perselingkuhan di 46 negara bernama Ashley Madison juga membuktikan bahwa
perselingkuhan bukan merupakan hal yang jarang terjadi (CBSNews, 2015).
Situs dengan slogan ‘Life is short. Have an affair.’ tersebut diretas oleh
sekelompok hacker dan berhasil membocorkan data pribadi dari 37 juta
penggunanya (Marotta, 2017). Angka tersebut tentu tidak bisa dianggap kecil.
Selanjutnya, McClintock (2016) memperkirakan bahwa terdapat sekitar 10-25%
pasangan suami-istri di Amerika Serikat pernah terlibat dalam perselingkuhan
setidaknya
sekali.
Sebagai
tambahan,
berikut
adalah
data
statistik
perselingkuhan yang dikumpulkan oleh Statistic Brain pada tahun 2016.
Tabel 1.1
Data Statistik Perselingkuhan dalam Pernikahan
Statistik perselingkuhan dalam pernikahan
Pernikahan di mana salah satu atau kedua orang dari pasangan
mengakui perselingkuhannya
Pria yang mengakui perselingkuhannya
Wanita yang mengakui perselingkuhannya
Suami yang pernah berselingkuh setelah menikah
Istri yang pernah berselingkuh setelah menikah
Pria dan wanita yang berselingkuh dengan rekan kerja
Pria dan wanita yang berselingkuh pada saat business trip
Pria dan wanita yang berselingkuh dengan saudara iparnya
Pria yang mengatakan bahwa mereka akan berselingkuh jika tidak
akan ketahuan
Wanita yang mengatakan bahwa mereka akan berselingkuh jika
tidak akan ketahuan
Data
41%
57%
54%
22%
14%
36%
35%
17%
74%
68%
Sumber: Infidelity Statistics, www.statisticbrain.com
Maraknya kasus perselingkuhan tidak hanya terjadi di dunia barat.
Perselingkuhan juga menjadi suatu fenomena di Indonesia. Pada tahun 2011,
perselingkuhan merupakan penyebab perceraian kedua tertinggi di Indonesia
(Takariawan, 2015). Perselingkuhan menjadi salah satu penyumbang tertinggi
angka perceraian di kota besar seperti Jakarta (Kusuma, 2016). Humas
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3
Pengadilan Agama Kota Makassar juga mengungkapkan bahwa 90% kasus
perceraian disebabkan oleh perselingkuhan (Tribun Timur, 2016). Di lain sisi,
Kepala Pusat Litbang Kemenag mengungkapkan bahwa terdapat 25.340 kasus
perselingkuhan yang menjadi penyebab perceraian (Handayani, 2016).
Jumlah kasus perselingkuhan yang semakin meningkat terjadi menjadi
sangat mengkhawatirkan karena terdapat banyak dampak negatif yang dapat
merugikan pasangan suami-istri. Perselingkuhan dapat menjadi pemicu konflik
keluarga, bahkan perceraian, pembunuhan, dan mutilasi (Takariawan, 2015).
Selain perceraian, perselingkuhan juga mengakibatkan hal negatif lainnya,
seperti perasaan marah, hilangnya rasa percaya pada pasangan, menurunnya
kepercayaan diri dan harga diri yang terluka (Charny & Parnass dalam Zare,
2011). Charny dan Parnass juga menyebutkan bahwa hanya sebagian kecil dari
pasangan suami-istri yang mengalami perselingkuhan dapat menyelamatkan
pernikahan mereka. Selain berdampak buruk pada hubungan suami-istri,
perselingkuhan juga dapat memengaruhi anak dari pasangan tersebut. Nogales
dalam Larson (2015) mengemukakan bahwa dirinya tidak ingin mengeneralisasi,
tetapi 55% dari anak yang berasal dari keluarga di mana salah satu orangtuanya
pernah berselingkuh, kelak akan terlibat dalam perselingkuhan.
Seperti yang dipaparkan di atas, perselingkuhan tidak hanya memberikan
dampak yang buruk pada individu terkait, tetapi juga memengaruhi hubungan
pasangan suami istri, bahkan anak. Oleh karena itu, peneliti ingin mencoba
mendalami antesenden dari perilaku selingkuh, yaitu intensi berselingkuh, untuk
mencegah dampak-dampak tersebut. Intensi sendiri merupakan faktor utama
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4
dalam setiap perilaku (Jackman, 2014). Jackman menyimpulkan intensi sebagai
indikator dari tingkat di mana individu bersedia untuk mencoba dan berusaha
agar dapat menunjukkan perilaku tertentu. Dengan demikian, intensi dipandang
sebagai antesenden terbaik dari perilaku sebenarnya. Intensi berselingkuh dapat
diartikan sebagai indikator dari tingkat di mana individu bersedia untuk
mencoba dan berusaha untuk berselingkuh.
Meskipun dapat memprediksi perilaku berselingkuh, intensi berselingkuh
masih jarang dipelajari (Steen, 2015). Dari penelitian Steen, terlihat bahwa
terdapat
korelasi
signifikan
antara
intensi
berselingkuh
dan
perilaku
berselingkuh sebenarnya, terutama jika terdapat kesempatan. Dalam review
literatur yang telah dilakukan, peneliti mendapatkan bahwa penelitian mengenai
intensi berselingkuh pernah dihubungkan dengan beberapa variabel, seperti
kekuasaan (Lammers, Stoker, Jordan, Pollman, & Stapel, 2011), keterbukaan
untuk melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang sedang berada dalam
suatu relasi (Steen, 2015), model kepribadian big five (Jayanti, 2013), dan mate
value (Starratt, Weekes-Shackelford, & Shackelford, 2017).
Lammers et al. (2011) menemukan bahwa kekuasaan diasosiasikan dengan
intensi untuk terlibat dalam perselingkuhan. Sedangkan dalam penelitian Steen
(2015) melaporkan bahwa keterbukaan untuk melakukan hubungan seksual
dengan seseorang yang sedang berada dalam suatu relasi dapat memprediksi
intensi berselingkuh. Selain itu, Jayanti (2013) menemukan korelasi negatif pada
aspek emotional stability dalam model kepribadian big five dengan intensi
berselingkuh, yang artinya semakin rendah emotional stability, maka intensi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
5
berselingkuh akan semakin tinggi. Selanjutnya, mate value atau nilai dari sifatsifat yang dianggap menarik untuk dijadikan calon pasangan, dapat memprediksi
intensi berselingkuh, sehingga individu dengan mate value yang lebih tinggi dari
pasangannya memiliki intensi berselingkuh yang lebih tinggi (Starratt, WeekesShackelford, & Shackelford, 2017).
Dari review literatur yang telah dilakukan, peneliti belum berhasil
menemukan penelitian intensi berselingkuh yang dihubungkan dengan variabel
yang berkaitan dengan seksualitas, khususnya kepuasan seksual. Padahal
kepuasan seksual merupakan aspek penting dalam suatu hubungan, bahkan dapat
menjadi faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan dari hubungan
tersebut (Barrientos & Paez; Litzinger & Gordon; Santtila dkk dalam Ashdown,
Hackathorn, & Clark, 2011). Sexual Health and Overall Wellness Survey
(SHOW) juga mengindikasikan bahwa kepuasan seksual yang tinggi sangat
berhubungan dengan kepuasan pada aspek kehidupan yang lain, seperti
kesehatan fisik secara umum, kehidupan rumah tangga, dan kesejahteraan
finansial (Dean, Shechter, Vertkin, Weiss, Yaman, Hodik, & Ginovker, 2013).
Selain itu, mereka yang merasa puas dengan relasi seksualnya cenderung merasa
puas dan bahagia dengan pernikahannya, sehingga hubungan pernikahannya
menjadi lebih stabil (Yeh, Lorenz, Wickrama, Conger, & Elder, 2006). Dengan
kata lain, kepuasan seksual dapat meningkatkan kepuasan pernikahan (Zulaikah,
2008) dan menurunkan kecenderungan untuk berselingkuh (Winarsih, 2010).
Sebaliknya, ketidakpuasan seksual memiliki dampak negatif terhadap
individu dan relasinya dengan pasangannya. Kepuasan seksual yang rendah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6
dapat membuat pernikahan menjadi tidak stabil dan memiliki kualitas yang
rendah sehingga kepuasan pernikahan dapat terganggu (Yeh dkk, 2006; Yurni
dalam Chandrasari, 2009). Selain itu, ketidakpuasan seksual juga berhubungan
dengan konflik seksual yang terjadi dalam relasi berpasangan (Lewandowski &
Schrage, 2010). Mendukung penelitian Winarsih (2010), Buss dan Shackelford
(1997) menemukan bahwa kecenderungan untuk berselingkuh memiliki
hubungan yang kuat dengan ketidakpuasan seksual.
Agar dapat memperoleh data yang lebih akurat, penelitian seputar
ketidaksetiaan atau perselingkuhan telah disarankan untuk berfokus pada variasi
yang spesifik (Blow & Hartnett, 2005). Dengan alasan tersebut, peneliti ingin
membatasi penelitian ini pada pria dewasa yang sudah menikah. Pembatasan ini
dilakukan mengingat pria dan wanita memiliki karakteristik yang berbeda,
terutama dalam menjalani relasi (Petersen & Hyde, 2010). Selain itu, ditemukan
bahwa pria yang sudah menikah menjadikan alasan yang bersifat seksual sebagai
justifikasi untuk melakukan perselingkuhan (Glass & Wright, 1992). Mereka
juga menemukan bahwa 54% dari subjek pria dalam penelitiannya
menjustifikasi
perselingkuhannya
dengan
alasan
sexual
deprivation.
Selanjutnya, pria ditemukan memiliki sifat permisif terhadap perselingkuhan
yang dapat menyebabkan mereka lebih mudah untuk berselingkuh (Treas &
Giesen, 2000; Petersen & Hyde, 2010). Sedangkan pemilihan karakteristik
dewasa dan berada dalam hubungan pernikahan dilakukan karena peneliti
berasumsi individu yang memiliki karakteristik tersebut dapat merepresentasikan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
7
individu yang memiliki kehidupan seksual dengan pasangannya sehingga
memiliki pertimbangan terhadap kepuasan seksualnya.
Berdasarkan beberapa fakta dan asumsi yang terkumpul mengenai intensi
berselingkuh dan kepuasan seksual pada pria yang telah dipaparkan sebelumnya,
peneliti ingin meneliti hubungan kepuasan seksual terhadap intensi berselingkuh
pada suami.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti
merumuskan pertanyaan dari penelitian ini, yaitu:
1. Apakah terdapat hubungan antara kepuasan seksual dan intensi berselingkuh
pada suami?
2. Apakah kepuasan seksual dapat memprediksi intensi berselingkuh pada
suami?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Melihat hubungan antara kepuasan seksual dan intensi berselingkuh pada
suami
2. Melihat apakah kepuasan seksual dapat memprediksi intensi berselingkuh
pada suami.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
8
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan
pada bidang psikologi, khususnya psikologi klinis dan sosial, mengenai
kepuasan seksual dan intensi berselingkuh pada suami. Penelitian ini juga
dapat menambah pemahaman mengenai hubungan kepuasan seksual
terhadap intensi untuk berselingkuh pada suami.
2. Manfaat Praktis
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi pasangan suamiistri untuk lebih menyadari dan memperhatikan pentingnya kepuasan seksual
dalam relasi pernikahan karena hal tersebut dapat memicu intensi
berselingkuh, terutama pada suami. Pemahaman lebih akan hal ini
diharapkan mencegah perselingkuhan pada pasangan suami-istri. Selain itu,
penelitian ini dapat memberikan informasi tambahan kepada para praktisi
atau konselor pasangan dan keluarga dalam konseling, intervensi dan
penyusunan program prevensi perselingkuhan untuk para klien.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Intensi Berselingkuh
1. Intensi
a. Definisi intensi
Intensi diasumsikan untuk menangkap faktor-faktor motivasional
yang memiliki dampak terhadap perilaku; merupakan indikasi dari
seberapa keras seseorang mencoba dan berusaha untuk menunjukkan
perilaku (Ajzen, 1991). Jackman (2014) menyimpulkan bahwa intensi
merupakan indikator dari tingkat keinginan seseorang untuk mencoba
dan seberapa banyak usaha yang rela dikerahkan untuk melakukan
perilaku tertentu. Oleh karena itu, intensi dipandang sebagai antesenden
terbaik dari perilaku yang sesungguhnya. Intensi juga dapat
memprediksi perilaku dengan akurat (Ajzen, 2005).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa intensi
merupakan indikator dari keinginan individu untuk mencoba dan
berusaha untuk menunjukkan perilaku.
9
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
10
Berikut adalah beberapa penelitian yang membuktikan kekuatan
hubungan intensi dengan perilaku:
Tabel 2.1
Nilai Korelasi antara Intensi dan Perilaku (Ajzen, 2005)
Perilaku
Mengambil bagian dalam perusahaan
tertentu
Menggunakan pil KB
Beribadah di gereja
Melakukan aborsi
Hubungan antara intensi dan perilaku
0.82
0.85
0.90
0.96
b. Aspek dari Intensi
Menurut Ajzen dan Fishbein (2005), intensi dipengaruhi oleh tiga
aspek, yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif dan kontrol
tingkah laku yang dipersepsikan. Dalam Ajzen (1991), sikap terhadap
perilaku mengacu pada penilaian positif atau negatif seseorang terhadap
perilaku tertentu yang tampak. Selanjutnya, norma subjektif merujuk
tekanan sosial yang dipersepsikan untuk menampilkan perilaku atau
tidak. Terakhir, kontrol tingkah laku yang dipersepsikan mengarah pada
tingkat kesulitan atau kemudahan yang dipersepsikan untuk melakukan
perilaku. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa jika individu
memiliki penilaian yang positif dan norma subjektif yang mendukung
perilaku, serta keyakinan bahwa tingkat kemudahan untuk melakukan
perilaku
tinggi,
maka
menampilkan perilaku.
semakin
besar
intensi
individu
untuk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
11
c. Faktor yang memengaruhi intensi
Menurut Ajzen (2005), terdapat beberapa faktor yang memengaruhi
perwujudan intensi menjadi perilaku, antara lain:
1) Faktor internal
Terdapat beberapa faktor internal yang dapat memengaruhi
kesuksesan perwujudan intensi menjadi perilaku. Salah satu dari
faktor ini dapat diubah dengan latihan dan pengalaman, sedangkan
yang lain lebih sulit diubah.
a) Informasi, ketrampilan, dan kemampuan
Ketidakcukupan informasi, ketrampilan dan kemampuan
dapat menyebabkan kegagalan perwujudan intensi menjadi
tindakan nyata. Oleh karena itu, dengan menambah pengalaman
dan pengetahuan akan perilaku tersebut, maka kegagalan tersebut
dapat dicegah.
b) Emosi dan tekanan
Informasi, ketrampilan, dan kemampuan
yang tidak
memadai dapat menjadi halangan dalam kontrol perilaku, tetapi
hal tersebut diasumsikan dapat diatasi dengan usaha dari dalam
diri. Di lain sisi, terdapat beberapa perilaku tidak dapat kita
kontrol. Terkadang individu tidak dapat bertanggungjawab atas
munculnya perilaku yang ditunjukkan pada saat di bawah tekanan
atau dilatarbelakangi emosi yang kuat. Kontrol perilaku yang
lemah pada individu disebut ‘dikuasai oleh emosi’. Biasanya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
12
tindakan kasar dan perbuatan yang buruk terjadi di dalam kondisi
tersebut, dan tidak banyak yang dapat kita lakukan untuk
mengubah hal tersebut.
2) Faktor eksternal
Selain faktor internal, terdapat faktor dari situasi atau
lingkungan yang dapat memfasilitasi atau menghalangi perwujudan
perilaku.
a) Kesempatan
Faktor kebetulan atau kesempatan merupakan hal penting
untuk eksekusi yang sukses dari sebuah intensi. Sebagai contoh,
intensi
untuk
menonton
suatu
pertunjukkan
tidak
dapat
diwujudkan jika tiket sudah habis terjual. Kesempatan dapat
menentukan keberhasilan dari perwujudan intensi menjadi
perilaku, tetapi kesempatan tidak selalu dapat mengubah intensi
seseorang. Dengan kata lain, meskipun intensi tidak dapat
diwujudkan, intensi mungkin tidak berubah.
b) Ketergantungan pada orang lain
Ketika perwujudan intensi tergantung pada tindakan orang
lain, maka terdapat kemungkinan untuk tidak dapat mengontrol
perilaku sepenuhnya. Ketidakmampuan untuk mewujudkan
intensi yang disebabkan oleh ketergantungan pada orang lain
tidak selalu memengaruhi motivasi dari intensi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
13
Berdasarkan beberapa faktor yang telah dipaparkan di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa faktor yang memengaruhi intensi adalah:
i) Faktor internal
ii) Faktor eksternal
2. Berselingkuh
a. Definisi Berselingkuh
Perselingkuhan merupakan kondisi di mana anggota pasangan yang
terikat dalam pernikahan menyalurkan sumber emosional seperti cinta
romantis, waktu, dan perhatian pada orang lain atau bahkan melakukan
aktivitas seksual dengan orang lain selain pasangan sahnya (Buss &
Shackelford, 1997). Sedangkan Bernard (dalam Campbell, 2009) memiliki
pemahaman yang lebih sederhana mengenai perselingkuhan, yaitu
pelanggaran terhadap sumpah pernikahan. Menurut Khoiriyah (2015),
perselingkuhan tidak selalu berarti hubungan yang melibatkan kontak
seksual. Sekalipun tidak ada kontak seksual, tetapi kalau sudah ada saling
ketertarikan, saling ketergantungan dan saling memenuhi di luar
pernikahan, hubungan semacam itu sudah bisa kategorikan sebagai
perselingkuhan.
KBBI
menyimpulkan
selingkuh
sebagai
perilaku
menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, tidak berterus terang,
dan tidak jujur.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa berselingkuh
adalah kondisi di mana individu melanggar sumpah pernikahannya dengan
menyembunyikan sesuatu, berbohong dan tidak berterus terang untuk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
14
menyalurkan cinta, waktu dan perhatian kepada individu lain yang bukan
pasangan sahnya atau dengan melakukan kontak seksual dengan orang lain
di luar pernikahannya.
b. Faktor yang memengaruhi perilaku berselingkuh
1) Demografik
Gender adalah salah satu faktor demografik yang sering
dipelajari. Survei yang dilakukan oleh Smith (2006) menemukan
bahwa angka hubungan di luar pernikahan pada suami dua kali lebih
tinggi dibandingkan pada istri. Sedangkan dalam hal pendidikan,
individu dengan pendidikan yang lebih tinggi dilaporkan memiliki
kecenderungan untuk terlibat dalam perselingkuhan daripada individu
dengan pendidikan yang lebih rendah (Treas & Giesen, 2000). Atkins,
Baucom, dan Jacobson (2001) menemukan bahwa penghasilan dan
jabatan pekerjaan memiliki hubungan yang signifikan dengan
perselingkuhan. Individu dengan penghasilan dan jabatan pekerjaan
yang tinggi mungkin dipersepsikan sebagai individu yang menarik
sehingga memicu perselingkuhan.
2) Interpersonal
a) Kepuasan relasi
Meskipun terdapat beberapa studi yang gagal menemukan
hubungan yang signifikan, kebanyakan penelitian menemukan
bahwa kepuasan relasi yang rendah dapat diasosiasikan dengan
perselingkuhan. (Choi et al.; Spanier & Margolis dalam Mark,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
15
Janssen, & Milhausen, 2011). Ketidakpuasan pada primary
relationship juga dapat meningkatkan keinginan untuk terlibat
dalam perselingkuhan (Prins et al. dalam Blow & Hartnett, 2005).
Hal yang serupa juga diungkapkan oleh (Atkins, Baucom, &
Jacobson, 2001), ketika hubungan pernikahan tidak memuaskan,
perhatian dari orang lain mungkin dapat memberikan rasa nyaman
dan berujung pada perselingkuhan. Selain itu, rendahnya tingkat
kepuasan relasi yang dirasakan mungkin dapat memunculkan
justifikasi untuk melakukan perselingkuhan (Tsapelas, Fisher, &
Aron, 2010).
b) Kepuasan seksual
Campbell (2009) berpendapat bahwa individu menikah yang
memiliki ketidakpuasan seksual memiliki kemungkinan untuk
mencari pasangan seksual di luar hubungan pernikahannya untuk
mengompensasi ketidakpuasan seksual tersebut. Thompson (dalam
Campbell, 2009) menemukan bahwa kuantitas dan kualitas
hubungan
seksual
yang
menurun
berasosiasi
dengan
kecenderungan hubungan seksual di luar hubungan pernikahan. Liu
(2000) juga menemukan hal yang serupa, ia mengatakan bahwa
frekuensi aktivitas yang menurun berperan dalam kecenderungan
seseorang untuk berselingkuh, terutama pada pria. Liu juga
menambahkan bahwa kualitas hubungan seksual pasangan juga
dapat memengaruhi kecenderungan untuk berselingkuh. Greene
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
16
(dalam Campbell, 2009) melaporkan bahwa ketidakpuasan seksual
merupakan prediktor perselingkuhan, terutama pada pria.
c) Intrapersonal
i) Sikap permisif
Sikap
permisif
terhadap
perselingkuhan
ditemukan
memiliki hubungan yang signifikan dengan kecenderungan
untuk terlibat dalam perselingkuhan. Sikap permisif ini mungkin
dipengaruhi oleh variabel lain, seperti tingkat pendidikan yang
tinggi, berasal dari kota metropolitan, dan memiliki sikap
permisif terhadap seks pranikah (Weis & Jurich dalam Blow &
Hartnett, 2005).
ii) Kepribadian big five
Barta & Kiene (dalam Mark, Janssen, & Milhausen, 2011)
mengemukakan bahwa kepribadian extroversion memiliki
kecenderungan
untuk
berselingkuh.
Agreeableness
dan
conscientiousness yang rendah juga ditemukan berasosiasi
dengan
kecenderungan
Sedangkan
neuroticism
untuk
melakukan
dan
psychoticism
perselingkuhan.
yang
tinggi
berkontribusi dalam kecenderungan untuk terlibat dalam
perselingkuhan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
17
Berdasarkan beberapa faktor yang telah dipaparkan di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa faktor yang memengaruhi perilaku berselingkuh
adalah:
a. Faktor demografik
b. Faktor interpersonal
c. Faktor intrapersonal
3. Intensi berselingkuh
a. Definisi Intensi Berselingkuh
Intensi berselingkuh adalah indikator dari tingkat keinginan seseorang
untuk mencoba dan berusaha agar dapat menyembunyikan sesuatu,
berbohong dan tidak berterus terang untuk menyalurkan cinta, waktu dan
perhatian, dan/atau melakukan kontak seksual dengan individu lain yang
bukan merupakan pasangannya.
4. Pengukuran dalam Intensi Berselingkuh
Berdasarkan review literatur yang telah dilakukan, peneliti menemukan
bahwa penelitian mengenai intensi berselingkuh menggunakan skala ITIS
(Intentions Towards Infidelity Scale). Skala ITIS dianggap memiliki
reliabilitas dan validitas yang baik. Selain itu, pengisian skala ITIS juga dapat
diselesaikan dalam waktu yang singkat (Jones, Olderbak, & Figueredo, 2011).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
18
Menurut Jones, Olderbak dan Figueredo (2011), terdapat beberapa
faktor yang menentukan intensi berselingkuh pada individu, yaitu:
a. Kemungkinan untuk berselingkuh jika tidak akan ketahuan
Faktor
ini
menjelaskan
kemungkinan
individu
untuk
berselingkuh dalam situasi tanpa ancaman, yaitu tidak akan ketahuan.
Faktor ini merujuk pada jika tidak ada hukuman dari orang sekitarnya,
seberapa besar kemungkinan perilaku berselingkuh akan muncul.
b. Kemungkinan untuk berbohong atau berterus terang pada pasangan
mengenai perselingkuhan yang dilakukan
Faktor ini menjelaskan kemungkinan seseorang untuk bersikap
jujur pada pasangannya, sehingga semakin tidak jujur seseorang pada
pasangannya, maka semakin besar pula kemungkinan orang tersebut
untuk berselingkuh.
c. Kemungkinan berselingkuh jika terdapat kesempatan dan tidak akan
mendapatkan sanksi.
Faktor
ini
menjelaskan
kemungkinan
individu
untuk
berselingkuh dalam situasi tanpa ancaman, yaitu tidak akan ketahuan
dan memiliki kesempatan. Faktor ini merujuk pada jika tidak ada
hukuman dari orang sekitarnya, seberapa besar kemungkinan perilaku
berselingkuh akan muncul.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
19
d. Kemungkinan untuk menutupi ketertarikan pada lawan jenis dari
pasangan.
Faktor ini menjelaskan kemungkinan seseorang untuk bersikap
jujur pada pasangannya, sehingga semakin tidak jujur seseorang pada
pasangannya, maka semakin besar pula kemungkinan orang tersebut
untuk berselingkuh.
e. Kemungkinan untuk berselingkuh dari pacar atau suami/istri anda.
Faktor ini menjelaskan kemungkinan seseorang untuk
berselingkuh menurut dirinya sendiri. Faktor ini juga dapat melihat
pemaknaan seseorang terhadap hubungan pacaran dan pernikahan.
B. Kepuasan Seksual
1. Definisi kepuasan seksual
Offman dan Matheson (2005) mendefinisikan kepuasan seksual
sebagai respon afektif yang berasal dari evaluasi seseorang atas hubungan
seksualnya, termasuk persepsi mengenai pemenuhan kebutuhan seksual
sendiri dan pasangan, serta evaluasi positif dari kepuasan seksual secara
umum. Lawrance dan Byers (1995) mendeskripsikan kepuasan seksual
sebagai respon afektif yang berasal dari evaluasi positif dan negatif subjektif
individu yang berasosiasi dengan relasi seksual individu.
Byers (1999) mengatakan bahwa kepuasan seksual tidak hanya terdiri
dari kepuasan secara fisik. Hal ini disetujui oleh Abadjian-Mozian (2005).
Menurutnya, kepuasan seksual adalah pengalaman subjektif dengan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
20
komponen fisik dan psikologis untuk setiap individu. Sedangkan Sprecher,
Cate, Harvey, dan Wenzel (2004) mendefinisikan kepuasan seksual sebagai
tingkat di mana individu merasa puas atau senang dengan aspek seksual dari
relasinya. Selain itu, Davidson, Darling, dan Norton (1995) membatasi
kepuasan seksual sebagai perasaan senang atau puas terhadap kehidupan
seksual individu yang berhubungan dengan pengalaman seksual, ekspektasi,
dan aspirasi di masa yang akan datang terkait dengan relasi seksualnya.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa
kepuasan seksual merupakan respon afektif yang berasal dari evaluasi
subjektif individu mengenai pengalaman seksual, ekspektasi, dan aspirasi atas
pemenuhan kebutuhan seksual sendiri dan pasangan.
2. Aspek dari kepuasan seksual
Stulhofer, Busko dan Brouillard (2010) menggunakan 3 aspek dari
kepuasan seksual untuk membentuk New Sexual Satisfaction Scale (NSSS).
Masing-masing aspek ini memiliki dimensi sebagai berikut:
a. Aspek Individual
1) Sexual sensations
Sensasi seksual yang menyenangkan merupakan dasar dari
‘trance’ seksual dan juga merupakan motivasi utama dalam repetisi
kontak seksual sehingga kepuasan seksual memiliki hubungan yang
erat dengan sensasi seksual yang bervariasi dan menyenangkan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
21
2) Sexual presence/awareness
Kemampuan untuk fokus pada sensasi seksual merupakan hal
yang esensi untuk merasakan sensai seksual yang menyenangkan.
Kurangnya kesadaran seksual dapat menjadi konsekuensi dari
monitoring diri yang berlebihan.
b. Aspek Interpersonal
1) Sexual Exchange
Aspek ini menekankan pada pentingnya hubungan timbal balik
dalam kontak seksual. Perbedaan radikal di antara peran memberi
dan menerima perhatian seksual dapat memengaruhi kepuasan
seksual seseorang dengan negatif.
2) Emotional closeness
Kedekatan atau koneksi emosional memiliki hubungan yang
positif dengan kepuasan seksual. Hal ini membuktikan bahwa ikatan
emosional yang kuat dapat menghasilkan ketertarikan seksual jangka
panjang.
c. Aspek Behavioral atau Sexual Activity
Aspek ini menekankan pentingnya frekuensi, durasi, variasi,
dan intensitas dari aktivitas seksual. Meskipun kualitas dari kontak
seksual dinilai lebih penting daripada kuantitas, asosiasi antara
frekuensi antara aktivitas seksual telah dilaporkan dari beberapa
studi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
22
3. Faktor yang memengaruhi kepuasan seksual
a. Demografik
Dalam survei yang dilakukan oleh Salazar-Molina, Klijn, dan
Delgado (2015), pria ditemukan merasakan kepuasan seksual yang
lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Selain itu, pria juga menilai
kepuasan seksual pasangannya lebih tinggi daripada kenyataannya.
Selain gender, aspek penting dalam hidup seperti kesehatan fisik,
kesejahteraan keluarga, dan kelancaran finansial, juga memiliki
asosiasi positif yang kuat dengan kepuasan seksual (Dean, Shechter,
Vertkin, Weiss, Yaman, Hodik & Ginovker, 2013).
b. Interpersonal
1) Kepuasan relasi
Kepuasan komunikasi dan pernikahan memiliki hubungan
yang positif dengan kepuasan seksual (Santtila dkk dalam
Ashdown, Hackathorn, & Clark, 2011). Keasertifan dalam hal
seksual dan komunikasi yang efektif juga diasosiasikan dengan
kepuasan seksual yang lebih tinggi (Haavio-Mannila & Kontula,
1997). Kedua hal tersebut membuat pasangan menjadi lebih tahu
mengenai perilaku seksual yang favorable dan tidak favorable
pada pasangannya sehingga dapat mencapai kepuasan seksual
yang lebih tinggi. Ketika suami atau istri memiliki interaksi yang
harmonis, maka akan lebih mudah untuk menciptakan suasana
yang
mendukung
hubungan
seksual
yang
menyenangkan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
23
(Jackson, 2014). Selain itu, beberapa studi telah menunjukkan
hubungan yang positif antara kepuasan seksual dan kedekatan atau
kualitas hubungan (Newcomb & Bentler dalam Young, Denny,
Luquis, & Young, 1998).
2) Perilaku seksual
Frekuensi hubungan seksual memiliki korelasi yang positif
dengan kepuasan seksual (Pinney, Gerrard, & Denney, 1987).
Selanjutnya, Heiman, Long, Smith, Fisher, Sand, dan Rosen
(2011) menemukan bahwa jumlah pasangan seksual yang lebih
sedikit memiliki hubungan yang positif dengan kepuasan seksual.
c. Intrapersonal
1) Religiusitas
Nilai religiusitas yang kaku memiliki korelasi negatif dengan
kenikmatan yang didapatkan dari hubungan seksual. Selain itu,
nilai religiusitas yang kaku juga dihubungkan perasaan bersalah,
cemas, malu, dan jijik terhadap hal seksual (Purcell, 1984).
2) Kondisi fisik
Heiman, Long, Smith, Fisher, Sand, dan Rosen (2011)
melaporkan bahwa kepuasan seksual pria memiliki hubungan
yang positif dengan kesehatan yang baik. Selain kondisi fisik
secara umum, fungsi seksual juga dapat memengaruhi kepuasan
seksual. Fungsi seksual yang baik juga dapat memprediksi
kepuasaan
seksual.
Sedangkan
kurangnya
gairah,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
24
ketidakmampuan untuk mencapai orgasme, disfungsi erektil, dan
ejakulasi dini diasosiasikan dengan kepuasan seksual yang rendah
(Smith dkk dalam Sanchez-Fuentes, Santos-Iglesias, & Sierra,
2014).
4. Dampak dari kepuasan seksual
Kepuasan seksual sebagai salah satu aspek vital dalam kehidupan
individu, memiliki berbagai dampak terhadap berbagai aspek kehidupan.
Kepuasan terhadap relasi seksual berasosiasi dengan pandangan positif
terhadap kehidupan dan merupakan unsur penting dari relasi yang intim dan
penuh cinta (Dean, Shechter, Vertkin, Weiss, Yaman, Hodik & Ginovker,
2013). Selain itu, Yuliana dan Valentina (2016) mengatakan bahwa kualitas
relasi seksual memiliki pengaruh yang kuat terhadap kebahagiaan pasangan.
Hal yang serupa dilaporkan oleh Yeh, Lorenz, Wickrama, Conger, & Glen H.
Elder (2006), kepuasan seksual memiliki korelasi positif dengan kestabilan
dan kualitas pernikahan. Dengan kata lain, individu dengan kepuasan seksual
yang tinggi cenderung memiliki pernikahan yang stabil dan berkualitas.
Begitu
juga
sebaliknya.
Kepuasan
seksual
juga
ditemukan
dapat
memengaruhi kepuasan pernikahan. Yurni dalam Chandrasari (2009)
menyatakan bahwa kepuasan memiliki hubungan negatif dengan kepuasan
pernikahan sehingga jika individu memiliki kepuasan seksual yang rendah,
maka kepuasan pernikahan dapat terganggu. Przybyla dan Byrne (dalam
Young, Denny, Luquis, & Young, 1998) menemukan bahwa kepuasan
seksual merupakan determinan penting dalam menentukan kepuasan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
25
pernikahan secara keseluruhan, terutama pada pria.
Sebaliknya, tingkat
kepuasan seksual yang rendah ditemukan dapat memicu konflik seksual pada
pasangan suami-istri (Lewandowski & Schrage, 2010). Selain itu, kerentanan
terhadap perselingkuhan ditemukan memiliki korelasi negatif yang signifikan
dengan kepuasan seksual (Buss & Shackelford, 1997).
5. Pengukuran dalam Kepuasan Seksual
Kepuasan seksual sering diukur dengan skala yang hanya berisi satu
atau dua item, seperti “Seberapa puaskah Anda dengan kehidupan seksual
anda?” atau tingkat kepuasan fisik dan emosional dari relasi seksual subjek
(Barrientos, & Paez; Carpenter, Nathanson, & Kim; Laumann et al.; Lewin et
al.; Liu; Stulhofer et al. dalam Stulhofer, Busko, & Brouillard, 2010). Tetapi
pengukuran seperti ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu hanya
memberikan informasi yang terbatas dan tidak dapat mengetahui aspek dari
hubungan seksual yang secara spesifik berpengaruh pada kepuasan seksual
(Sprecher & Mckinney, 1993). Oleh karena itu, pada penelitian ini, peneliti
akan menggunakan NSSS (New Sexual Satisfaction Scale) karena skala ini
mencakup tiga aspek dari kepuasan seksual, yaitu aspek individual,
interpersonal dan behavioral, di mana aspek individual mencakup dimensi
sexual exchange dan emotional closeness; aspek interpersonal mencakup
dimensi sexual sensation dan sexual presense/awareness; dan aspek
behavioral mencakup dimensi sexual activity. Selain itu, NSSS juga telah
terbukti dapat mengukur kepuasan seksual pada budaya, gender, orientasi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
26
seksual, dan status hubungan yang bervariasi (Stulhofer, Busko, & Brouillard,
2010).
C. Suami
1. Definisi suami
Subjek dalam penelitian ini merupakan pria dewasa yang sudah
menikah, atau sederhananya dapat disebut dengan suami. Orang dewasa
adalah individu yang berusia di atas 20 tahun (Berk, 2007). Dalam tahap
perkembangannya, orang dewasa biasanya akan belajar untuk tinggal sendiri
dan membangun rumah tangganya sendiri dengan cara menjalani kehidupan
pernikahan. Dewasa ini, masih banyak orang yang beranggapan bahwa
pernikahan merupakan cara untuk mengesahkan hubungan seksual (Rathus,
Nevid, & Fichner-Rathus, 2008). Dalam pernikahan tradisional, suami adalah
seseorang yang memiliki peran dominan dalam rumah tangga dan merupakan
kepala rumah tangga dari keluarga tersebut (Lemme, 1995). Tanggung jawab
utama seorang suami adalah kesejahteraan ekonomi dari keluarganya (Berk,
2007). Sedangkan dalam pernikahan yang lebih modern, suami dan istri
memiliki derajat yang sama, berbagi kekuasaan dan otoritas. Kebanyakan
individu yang memiliki pendidikan tinggi dan berkarir menginginkan
pernikahan seperti ini. Menurut KBBI, suami merupakan pria yang menjadi
pasangan hidup resmi seorang istri. Sedangkan dalam teori peran sosial,
suami bertugas untuk mencari nafkah, serta menunjukkan ambisi dan dedikasi
pada karirnya (Taylor, Peplau, & Sears, 2009).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
27
Dari beberapa definisi suami di atas, dapat disimpulkan bahwa suami
adalah seorang pasangan hidup dan secara tradisional menjadi kepala rumah
tangga yang bertanggungjawab atas perekonomian dalam suatu keluarga.
2. Seksualitas pada pria
Pria dan wanita memiliki pemikiran yang berbeda mengenai relasi
romantis (Petersen & Hyde, 2010). Selain itu, terdapat keyakinan bahwa
terdapat perbedaan gender dalam seksualitas, terutama dalam perilaku seksual
dan sikap terhadap hal yang berkaitan dengan seksual (Oliver & Hyde, 1993).
Pria ditemukan memiliki dorongan seksual yang lebih kuat daripada wanita
sehingga menyebabkan keinginan untuk melakukan aktivitas seksual yang
lebih kuat dan memiliki fantasi seksual dengan frekuensi yang lebih tinggi
(Regan & Atkins, 2006; Steen, 2015). Pria juga memiliki ketertarikan yang
lebih besar terhadap relasi seksual tanpa komitmen daripada wanita (Bailey et
al.; Buss & Schmitt; Ellis & Symons; Kinsey et al.; Schmitt, Shackelford, &
Buss; Symons; Trivers dalam Steen, 2015). Hal yang serupa juga dilaporkan
oleh penelitian yang dilakukan Oliver & Hyde (1993), ditemukan perbedaan
gender dalam sikap permisif terhadap casual sex, di mana pria dilaporkan
memiliki sikap yang lebih permisif terhadap casual sex.
D. Dinamika Psikologis Hubungan Kepuasan Seksual Terhadap Intensi
Berselingkuh pada Suami
Pernikahan merupakan salah satu milestone dalam kehidupan seseorang
(Berk, 2009). Survei membuktikan bahwa kebanyakan orang masih beranggapan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
28
bahwa pernikahan adalah tahapan penting untuk orang-orang yang ingin tinggal
bersama dan membangun keluarga (Jayson, 2006). Meskipun terdapat banyak
tantangan dalam suatu hubungan pernikahan, pernikahan masih merupakan salah
satu gaya hidup yang umum. Kebanyakan orang menganggap pernikahan
sebagai cara untuk mengesahkan hubungan seksual (Rathus et al., 2008).
Hubungan seksual adalah salah satu hal unik yang hanya dilakukan
bersama pasangan, sehingga bisa diasusmsikan hubungan seksual merupakan hal
khusus yang membedakan hubungan seseorang dengan pasangannya dan orang
lain (Anderson, ----). Hubungan seksual yang ideal adalah hubungan seksual
yang sehat untuk kedua belah pihak, di mana hubungan seksual tersebut dapat
merepresentasikan keterkaitan afeksi, kelembutan, dan persahabatan dari
pasangan.
Kehidupan seksual yang sehat merupakan unsur penting dari kesejahteraan
individu dan berpotensi untuk menjadi kenikmatan, kebahagiaan dan kepuasaan
dari individu tersebut (Firestone, Firestone, & Catlett, 2006). Meskipun
hubungan seksual bukan merupakan hal yang utama, namun cukup menentukan
langgengnya hubungan pernikahan (Zulaikah, 2008). Hubungan seksual yang
baik dapat termanifestasi sebagai rasa menghargai dan mendukung pasangannya.
Hubungan seksual yang ideal dalam pernikahan terdiri dari berbagai macam hal,
mulai dari keasertifan dalam komunikasi seksual dan perasaan cinta hingga
frekuensi hubungan seksual yang tinggi (Haavio-Mannila & Kontula, 1997). Jika
hubungan seksual yang ideal tercapai, tentu kepuasan seksual akan muncul
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
29
dalam hubungan suami-istri. Akan tetapi, kondisi ideal pada hubungan seksual
tidak selalu hadir dalam pernikahan.
Permasalahan seperti kecemburuan dan kompetisi merupakan hal yang
tidak dapat dihindari dalam hubungan seksual pernikahan (Firestone, Firestone,
& Catlett, 2006). Selain perasaan cemburu yang sering muncul dalam kehidupan
berpasangan, komunikasi juga sering menjadi isu dalam relasi suami-istri,
terutama komunikasi mengenai hal seksual. Padahal keasertifan dalam hubungan
seksual sangat dibutuhkan untuk mencegah konflik sehingga dapat tercipta
suasana yang menyenangkan untuk berhubungan seksual (Jackson, 2014).
Kurangnya keasertifan dalam hubungan dapat mengakibatkan konflik karena
pasangan tidak dapat mengetahui apa yang diinginkan atau diharapkan oleh
pasangannya. Jika dihadapi dengan cara yang tepat, konflik yang terjadi dalam
hubungan seksual dapat menjadi sarana untuk lebih memahami pasangan
(Stritof, 2017). Akan tetapi tidak semua pasangan dapat mengatasi permasalahan
mereka dengan baik. Pasangan yang tidak mampu mengatasi konflik dalam
hubungan pernikahan, terutama konflik dalam relasi seksual, cenderung
memiliki tingkat kepuasan seksual yang rendah (Lewandowski & Schrage,
2010).
Kepuasan seksual memiliki berbagai dampak terhadap aspek kehidupan.
Mulai dari pandangan terhadap kehidupan (Dean et al., 2013), kebahagiaan
pasangan (Yuliana & Valentina, 2016), kestabilan dan kualitas pernikahan (Yeh
et al., 2006), kepuasan pernikahan (Yurni dalam Chandrasari, 2009). Kepuasan
seksual merupakan unsur penting yang tidak bisa dilewatkan dalam relasi yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
30
intim dan penuh cinta (Dean et al., 2013). Ketidakpuasan seksual juga memiliki
korelasi signifikan dengan kerentanan terhadap perselingkuhan (Buss &
Shackelford, 1997).
Kepuasan seksual terdiri dari tiga aspek, yaitu aspek individual, aspek
interpersonal dan aspek behavioral (Stulhofer, Busko, & Brouillard, 2010).
Aspek individual berkaitan dengan sensasi dan kesadaran seksual. Kedua hal ini
mencakup kenikmatan fisik yang dibawa oleh hubungan seksual, di mana
ditemukan bahwa individu yang tertarik dengan hal tersebut memiliki keinginan
yang lebih besar untuk terlibat dalam perselingkuhan (Steen, 2015). Sedangkan
aspek interpersonal mencakup timbal balik dalam kontak seksual dan koneksi
emosional. Keintiman emosional dapat menjadi alasan seseorang untuk memiliki
keinginan untuk terlibat dalam perselingkuhan (Glass & Wright, 1992).
Selanjutnya, aspek behavioral yang merupakan aktivitas seksual atau aspek
kuantitas dari kepuasan seksual ditemukan memiliki kaitan dengan kualitas
hubungan seksual (Dean et al., 2013). Secara spesifik, Liu (2000) menemukan
bahwa frekuensi aktivitas seksual yang menurun memiliki sumbangan pada
kecenderungan seseorang untuk berselingkuh. Pemenuhan masing-masing aspek
kepuasan seksual dalam hubungan pernikahan sangat penting karena peneliti
berasumsi bahwa rendahnya masing-masing aspek tersebut dapat menjadi
motivasi individu untuk mencari pemuasan di luar hubungan pernikahannya.
Individu yang merasa tidak puas secara seksual memiliki kemungkinan
untuk mencari pasangan seksual di luar hubungan pernikahannya untuk
mengompensasi ketidakpuasan seksual tersebut (Campbell, 2009). Przybyla dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
31
Byrne (dalam Young, Denny, Luquis, & Young, 1998) menemukan bahwa
kepuasan seksual yang rendah memiliki pengaruh yang lebih besar pada pria
dibandingkan pada wanita. Meskipun seks merupakan dorongan yang kuat
dalam manusia (Bernard, 2016), ditemukan bahwa pria memiliki dorongan
seksual yang lebih kuat daripada wanita (Reagan & Atkins, 2006), sehingga
sangat memungkinkan jika pasangan dengan kepuasan seksual yang rendah
berusaha mencari sumber kepuasan seksual di luar hubungan pernikahannya atau
berselingkuh. Pemuasan kebutuhan seksual di luar hubungan pernikahan juga
dipicu ketertarikan yang lebih besar terhadap relasi seksual tanpa komitmen
yang dimiliki oleh pria (Bailey et al.; Buss & Schmitt; Ellis & Symons; Kinsey
et al.; Schmitt, Shackelford, & Buss; Symons; Trivers dalam Steen, 2015). Oleh
sebab itu, kecenderungan untuk berselingkuh dengan alasan ketidakpuasan
seksual lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan pada wanita (Leeker &
Carlozzi, 2014). Glass dan Wright (1992) juga menemukan bahwa sexual
deprivation sering dijadikan alasan dari perselingkuhan oleh pria. Selain itu,
kepuasan seksual yang rendah juga menjadi alasan pria untuk menggoda dan
berselingkuh dengan wanita lain (Buss & Shackelford, 1997).
Berdasarkan teori dan hasil penelitian terdahulu yang terkumpul, peneliti
berasumsi bahwa terdapat hubungan signifikan antara kepuasan seksual dan
intensi untuk berselingkuh pada suami. Selain itu, peneliti juga menduga bahwa
kepuasan seksual dapat memprediksi intensi berselingkuh pada suami.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
32
Hubungan Pernikahan
Relasi seksual dalam hubungan
pernikahan
Permasalahan pada relasi seksual
dalam hubungan pernikahan
Karakteristik seksualitas pria:
 Dorongan seksual yang kuat
 Keinginan yang kuat untuk
melakukan aktivitas seksual
 Ketertarikan
yang
besar
Tidak dapat mengatasi permasalahan
dalam relasi seksual
terhadap relasi seksual tanpa
komitmen
 Memiliki
sikap
permisif
Kepuasan seksual yang rendah
terhadap casual sex
Ingin mencari kepuasan seksual
di luar hubungan pernikahan
Intensi berselingkuh
Gambar 1: Kerangka Berpikir
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
33
E. Hipotesis
Berdasarkan pernyataan yang telah dijelaskan, hipotesis yang diajukan
dalam penelitian ini adalah:
1.
Terdapat hubungan negatif signifikan antara kepuasan seksual dan intensi
berselingkuh pada suami.
2.
Kepuasan seksual dapat memprediksi intensi berselingkuh pada suami.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Dalam penelitian
kuantitatif, data dikumpulkan dan dipresentasikan dalam bentuk angka
(Goodwin, 2010). Pada penelitian ini, analisis yang digunakan adalah analisis
regresi. Peneliti memilih analisis regresi karena dapat memprediksi dan
memperoleh informasi mengenai seberapa baik prediksi tersebut dari garis
regresi (Santoso, 2010).
B. Identifikasi Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel dependen: Intensi berselingkuh
2. Variabel independen: Kepuasan seksual
C. Definisi Operasional
1. Intensi berselingkuh
Intensi berselingkuh adalah indikator dari tingkat di mana individu
bersedia untuk mencoba dan berusaha untuk berselingkuh. Dalam penelitian
ini, intensi berselingkuh diukur dengan skala ITIS (Intention Toward
Infidelity Scale).
34
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
35
2. Kepuasan seksual
Kepuasan seksual adalah perasaan senang atau puas yang dirasakan
individu mengenai sensasi seksual, kesadaran secara seksual, pertukaran
seksual, kedekatan emosional dan aktivitas seksual (Stulhofer, Busko, &
Brouillard, 2010). Dalam penelitian ini, tingkat kepuasan seksual diukur
dengan skala NSSS (New Sexual Satisfaction Scale). Semakin tinggi skor
NSSS, maka semakin tinggi kepuasan seksual seseorang (Stulhofer, Busko,
& Brouillard, 2010).
D. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah bagian dari populasi (Goodwin, 2010), sedangkan
populasi adalah kumpulan seluruh unit pengamatan yang menjadi objek
penelitian dalam suatu penelitian (Asra & Prasetyo, 2015). Oleh karena itu,
dapat dikatakan bahwa subjek merupakan bagian dari unit objek penelitian
dalam suatu penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah pria yang sudah
menikah. Peneliti memilih subjek dengan kriteria tersebut dengan alasan
individu yang menikah dapat merepresentasikan individu yang melakukan
aktivitas seksual dengan pasangannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa
subjek pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik purposive dan
convenience sampling. Dalam teknik purposive sampling, sampel diambil
berdasarkan tujuan tertentu sehingga sampel dipilih secara objektif oleh peneliti,
sedangkan
convenience
sampling
adalah
pengambilan
sampel
mengambil anggota populasi yang ditemui (Asra & Prasetyo, 2015).
dengan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
36
Peneliti memperkirakan jumlah sampel yang sesuai dengan ukuran
populasi dengan rumus berikut:
n = estimasi sampel
𝑛=
4
𝑑2
p = proporsi sampel pada populasi
q=1–p
d = presisi absolut
Berdasarkan data kependudukan Yogyakarta, Kota Yogyakarta memiliki
190.258 penduduk yang sudah menikah dan 97.492 di antaranya merupakan
laki-laki, maka didapatkan nilai p adalah 0.51. Dengan presisi absolut sebesar
0.05 maka didapatkan estimasi sampel sebesar 399.84 atau dibulatkan menjadi
400.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian payung yang dilakukan bersama
beberapa rekan serta dosen yang memiliki ketertarikan yang sama. Oleh karena
itu, prosedur penelitian ini dilaksanakan bersama beberapa rekan peneliti
lainnya. Penelitian ini menggunakan skala yang disebar pada pria dan wanita
berada dalam hubungan pernikahan di beberapa instansi dan institusi yang
terletak di Kota Yogyakarta, yang bersedia mengisi angket. Peneliti bersama
beberapa rekan membagikan angket yang berisi skala penelitian, kuesioner
mengenai data diri subjek, dan surat pengantar yang dikemas dalam sebuah
amplop. Pembagian angket umumnya dititipkan ke seorang key person dari
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
37
masing-masing instansi atau institusi. Selanjutnya, tim peneliti menjelaskan
prosedur pengisian angket kepada key person tersebut, seperti pengisian angket
dapat dilakukan di rumah agar subjek merasa lebih nyaman dan santai,
kemudian angket yang terisi dapat dimasukkan kembali ke dalam amplop dan
dimasukkan ke kotak yang telah disediakan dan dititipkan pada key person oleh
peneliti. Tetapi prosedur yang berbeda dilakukan di salah satu institusi karena
key person memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menyampaikan
prosedur pengisian angket secara klasikal. Meskipun demikian, pengisian angket
tetap dapat dilakukan di luar jam kantor subjek, pengembalian angket juga
mengikuti prosedur yang sudah dijelaskan sebelumnya. Setelah angket
terkumpul dalam kotak yang telah disediakan, key person akan mengabarkan
bahwa angket-angket sudah terisi dan dapat diambil kembali. Angket yang
kembali akan diperiksa oleh tim peneliti. Jika angket terisi dengan baik dan
lengkap, maka tim peneliti akan memberikan reward berupa pulsa sejumlah Rp.
10.000,00 kepada subjek yang bersangkutan.
F. Metode dan Alat Pengumpulan Data
1. Metode
Metode pengumpulan data menggunakan metode skala. Skala adalah
alat ukur psikologi berupa pertanyaan atau pernyataan yang dirancang untuk
menangkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan sehingga dapat
diberi skor dan diinterpretasikan (Azwar, 2009). Peneliti menyebarkan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
38
angket dengan cara menitipkan angket pada key person untuk disebar pada
subjek.
2. Alat pengumpulan data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua skala, yaitu:
a. Intensi berselingkuh
ITIS (Intentions Towards Infidelity Scale) dibuat oleh Daniel
Nelson Jones, Sally Gayle Olderbak dan Aurelio Jose Figuredo pada
tahun 2011. Skala ini dibuat karena skala sebelumnya dianggap terlalu
panjang sehingga para peneliti membuat skala singkat yang mengukur
intensi perilaku agar dapat menilai kemungkinan individu untuk
melakukan perilaku berselingkuh. Skala ITIS terdiri dari tujuh item,
tetapi peneliti hanya menggunakan enam dari tujuh item tersebut karena
salah satu item tersebut menanyakan intensi berselingkuh pada saat
menjalani hubungan berpacaran. Skala ini merupakan skala Likert. Skala
likert selalu memiliki rentang skor dengan angka ganjil agar terdapat
nilai tengah yang menjadi pilihan ‘netral’ (Goodwin, 2010). Rentang
jawaban terdiri dari lima kontinum respon, dimulai dari sangat tidak
mungkin, tidak mungkin, seimbang antara mungkin atau tidak mungkin,
mungkin, hingga sangat mungkin. Skala ini dinilai dengan method of
summated rating atau metode penilaian terjumlahkan, yaitu dengan
menjumlahkan skor setiap item untuk mendapatkan pengukuran tentang
sikap subjek terhadap atribut psikologis tertentu (Supratiknya, 2014).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
39
Skala ITIS terdiri dari item yang menunjukkan intensi perilaku
dengan spesifik (Item no. 1: Seberapa besar kemungkinan Anda
berselingkuh dari istri Anda?) dan item-item yang bersifat situasional.
Item situasional ini berfungsi untuk menunjukkan kontrol terhadap
perilaku yang dimiliki subjek pada perilaku yang ingin dilakukannya.
Selain itu, penambahan item yang bersifat situasional juga dilakukan agar
konsistensi internal dari skala ITIS dapat diukur. (Hensel, Leshner, &
Logan, ----). Berikut adalah contoh item yang bersifat situasional dari
skala ITIS:
1) Seberapa besar kemungkinan Anda berselingkuh jika Anda tahu
tidak akan ketahuan?
2) Seberapa besar kemungkinan Anda berselingkuh jika Anda
memiliki kesempatan dan tidak akan mendapat sanksi negatif
atau hukuman dari perselingkuhan tersebut?
Dalam skala yang dipakai oleh peneliti kali ini terdapat lima item
favorable dan satu item unfavorable. Item favorable adalah item yang
mendukung indikator tingkah laku yang menjadi sasaran pengukuran,
sedangkan item unfavorable adalah item yang menyangkal atau
mengingkari indikator tingkah laku yang menjadi sasaran pengukuran
(Supratiknya, 2014) sehingga pemberian nilai pada item unfavorable
akan dibalik. Berikut adalah skor untuk item favorable dan unfavorable:
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
40
i.
ii.
Skor untuk item favorable
Sangat tidak mungkin
=1
Tidak mungkin
=2
Seimbang antara mungkin atau tidak mungkin
=3
Mungkin
=4
Sangat Mungkin
=5
Skor untuk item unfavorable
Sangat tidak mungkin
=5
Tidak mungkin
=4
Seimbang antara mungkin atau tidak mungkin
=3
Mungkin
=2
Sangat Mungkin
=1
b. Kepuasan seksual
Skala NSSS (New Sexual Satisfaction Scale) dikembangkan oleh
Aleksandar Stulhofer, Vesna Busko, dan Pamela Brouillard pada tahun
2010. Skala ini bertujuan untuk mengukur kepuasan seksual seseorang
tanpa memperdulikan jenis kelamin, status relasi, dan orientasi seksual
individu tersebut. Skala NSSS terdiri dari dua sub-skala, yaitu egocentered subscale dan partner/sexual activity dan masing-masing
komponen terdiri dari 10 item, sehingga skala NSSS terdiri dari 20 item.
Sub-skala ego-centered mengukur kepuasan seksual yang berasal dari
pengalaman atau sensasi personal, sedangkan sub-skala partner/sexual
activity centered mengukur kepuasan seksual yang berasal dari perilaku
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
41
atau reaksi seksual pasangan serta perbedaan dan/atau frekuensi dari
aktivitas seksual. Berikut adalah pembagian sub-skala ego-centered dan
partner/sexual activity centered dan blue print dari skala NSSS :
Tabel 3.1
Pembagian item berdasarkan sub-skala ego-centered dan partner/sexual
activity centered
Sub-skala
Ego-centered
No. item
1, 3, 5, 7, 9, 11, 13,
15, 17, 19
Partner/sexual activity 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14,
centered
16, 18, 20
Total
Total
10
10
20
Tabel 3.2
Sebaran item skala NSSS
Aspek
No. item
Total
Sexual sensations
3, 17
2
Sexual
5, 7, 9, 10, 11
5
presence/awareness
Sexual exchange
2, 6, 8, 12, 14, 16, 19
7
Emotional closeness
4, 13, 15
3
Sexual activity
1, 18, 20
3
Total
20
Skala NSSS merupakan skala Likert. Rentang jawaban mulai dari
sama sekali tidak puas, sedikit puas, cukup puas, sangat puas hingga
amat sangat puas. Skala ini juga dinilai dengan method of summated
rating. Berikut adalah skor untuk item pada skala NSSS:
Sama sekali tidak puas
=1
Sedikit Puas
=2
Cukup Puas
=3
Sangat Puas
=4
Amat Sangat Puas
=5
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
42
G. Validitas dan Reliabilitas
1. Validitas skala
Validitas adalah derajat kesesuaian antara data hasil penelitian dengan
keadaan sebenarnya; sejauh mana hasil penelitian mencerminkan keadaan
yang sebenarnya (Suryabrata, 1999). Validitas melihat sejauh mana
ketepatan alat ukur melakukan fungsi pengukurannya (Periantalo, 2015).
a. Skala ITIS (Intention towards infidelity scale)
Pada penelitian sebelumnya, skala ini telah diuji validitasnya
dengan metode validitas konvergen dan kriteria. Validitas konvergen
akan tercapai jika skala mengungkap hal yang sama jika dikorelasikan
dengan teori yang mendasari konstruk tersebut (Periantalo, 2015). Skala
ITIS menunjukkan korelasi yang kuat dengan frekuensi perilaku
berselingkuh yang pernah dan sedang dilakukan, dengan nilai korelasi
dimulai dari 0.50 sampai 0.60 (Jones dalam Jones, Olderbak, &
Figueredo, 2011). Selain itu, Jones juga menghubungkan ITIS dengan
variabel hubungan romantis. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa
ITIS berkorelasi positif dengan kelekatan tidak aman dan avoidant, tetapi
tidak berkorelasi dengan kelekatan cemas. ITIS juga memiliki korelasi
positif dengan kepribadian big five, khususnya openness to experience.
Validasi yang kedua adalah validasi kriteria. Validitas kriteria
membandingkan skala dengan suatu kriteria yang relevan. Kriteria dapat
berasal dari teori, hasil penelitian maupun analisis rasional (Periantalo,
2015). Skala ITIS berkorelasi negatif dengan kuesioner kepuasan relasi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
43
yang telah divalidasi. Skala ITIS juga memiliki hubungan yang tinggi
pada individu yang pernah berselingkuh sebelumnya dan individu yang
mengalami perceraian pada saat penelitian dilakukan.
Terakhir, pada penelitian kali ini, skala ITIS divalidasi dengan
metode validitas isi. Validitas isi adalah kesesuaian isi skala dengan
konstruk yang diukur oleh skala yang bersangkutan (Supratiknya, 2014).
Pada penelitian ini, kesesuaian isi dan konstruk skala dikaji dengan
professional judgement yang dilakukan oleh dosen pembimbing.
Penilaian ini dilakukan agar skala yang diadaptasi memiliki maksud dan
tujuan yang sama dengan skala asli sehingga maksud dan tujuan dari
skala asli dapat dipertahankan. Sebelum melakukan professional
judgement, skala ini diadaptasikan ke bahasa Indonesia. Proses
penerjemahan dilakukan oleh dosen pembimbing dan kelompok peneliti
melalui diskusi. Setelah proses penerjemahan selesai, tim peneliti, dosen
pembimbing beserta beberapa orang yang memenuhi karakteristik subjek
penelitian melakukan diskusi untuk memastikan bahwa bahasa yang
dipakai dalam skala mudah dimengerti dan dipahami oleh orang awam.
b. Skala NSSS (New Sexual Satisfaction Scale)
Pada penelitian sebelumnya, skala NSSS divalidasi dengan metode
validitas konstruk. Validitas konstruk adalah kecukupan dari definisi
operasional dari variabel dependen dan independen untuk dipakai dalam
penelitian tersebut (Goodwin, 2010). Korelasi zero-order antara NSSS
dan pengukuran konstruk yang berhubungan dengan kepuasan seksual
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
44
dianalisis. Skala NSSS memiliki hubungan positif singnifikan dengan
kepuasan hidup secara umum, sebaliknya skala NSSS memiliki korelasi
negatif dengan skor kebosanan seksual dan korelasi positif dengan
keintiman, komunikasi seksual dengan pasangan, dan status relasi pada
pria dan wanita. Selain itu, validitas konvergen dari NSSS juga diuji dan
menunjukkan asosiasi signifikan antara kepuasan seksual secara umum
dan skor NSSS pada sampel (r = 0.44 – 0.67).
Kemudian, pada penelitian kali ini, skala NSSS melewati proses
validasi isi yang serupa dengan skala ITIS, yaitu dimulai dengan proses
penerjemahan ke Bahasa Indonesia, dilanjutkan dengan professional
judgement dari dosen pembimbing, serta proses diskusi mengenai
penggunaan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh orang
awam.
2. Reliabilitas skala
Reliabilitas mengacu pada konsistensi atau keakuratan hasil ukur
(Periantalo, 2015). Reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran
sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya
(Suryabrata, 1999).
a. Skala ITIS (Intentions Towards Infidelity Scale)
Selama ini, reliabilitas skala ITIS diuji dengan konsistensi internal
(Cronbach’s alpha) dan ditemukan hasil reliabilitas yang konsisten dari
semua sampel. Nilai reliabilitas yang didapatkan mulai dari 0.70 sampai
0.81 (Jones, Olderbak, & Figueredo, 2011). Berdasarkan analisis yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
45
dibantu dengan program SPSS for windows versi 21, diperoleh koefisien
reliabilitas sebesar 0.782. Urbina dalam Periantalo (2015) menekankan
bahwa skala dengan skor 0.7 merupakan skor yang baik untuk keperluan
penelitian.
b. Skala NSSS (New Sexual Satisfaction Scale)
Koefisien cronbach’s alpha yang didapatkan dari skala NSSS
dimulai dari 0.87 sampai 0.96. Koefisien reliabilitas yang didapatkan dari
penelitian ini sebesar 0.97. Selain itu, reliabilitas tes-retest juga
menunjukkan hasil yang memuaskan, koefisien korelasi dimulai dari
0.72 sampai 0.84 (Stulhofer, Busko, & Brouillard, 2010).
H. Metode Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi dengan menggunakan
program SPSS for windows versi 21. Alasan peneliti menggunakan teknik
tersebut adalah keingintahuan peneliti terhadap hubungan dan kekuatan prediksi
antara variabel bebas dan variabel tergantung. Analisis regresi memungkinkan
peneliti untuk melakukan prediksi terhadap variabel tergantung. Oleh karena itu,
peneliti akan melakukan regresi pada variabel intensi berselingkuh pada suami
dengan intensi berselingkuh.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
46
I. Teknik Analisis Data
1. Uji Asumsi
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa jenis uji asumsi,
yaitu uji normalitas, uji linearitas dan uji homokedastisitas. Uji normalitas
adalah uji yang dilakukan untuk mengecek apakah data penelitian kita
bearasal dari populasi yang sebarannya normal (Santoso, 2010). Selanjutnya,
uji linearitas adalah uji yang dilakukan untuk menyatakan bahwa hubungan
antar variabel yang hendak dianalisis itu mengikuti garis lurus (Santoso,
2010). Terakhir, uji heterokedastisitas digunakan untuk mengetahui apakah
dalam sebuah model regresi, terjadi ketidaksamaan varians residual dari satu
pengamatan ke pengamatan yang lain (Santoso, 2015).
2. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis menggunakan regresi dengan program SPSS for
windows versi 21.0. Analisis ini bertujuan agar peneliti dapat mengetahui
kekuatan hubungan antar variabel dan arah hubungan dari kedua variabel
tersebut.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian payung yang dilakukan bersama
beberapa rekan serta dosen yang memiliki ketertarikan yang sama. Oleh karena
itu, pelaksanaan penelitian ini dilakukan bersama rekan peneliti yang lain.
Proses pengambilan data pada penelitian ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap
pertama pengambilan data dilakukan dari bulan September hingga Desember
2016, sedangkan tahap kedua dilakukan dari bulan Maret hingga Mei 2017.
Pengambilan data dilakukan di berbagai tempat. Secara spesifik, tim peneliti
menyebarkan skala di 15 sekolah, 14 kantor kecamatan, lima hotel, empat bank
swasta, dua bengkel, sebuah percetakan surat kabar dan sebuah industri
manufaktur dan sebuah department store. Hal ini dilakukan agar peneliti
mendapatkan subjek yang representatif. Sebelum menyebarkan angket, peneliti
bersama beberapa rekan terlebih dahulu mengurus perizinan di pihak yang
berwenang agar dapat menyebarkan angket ke beberapa instansi dan institusi di
Kota Yogyakarta. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 242 subjek.
Usia responden mulai dari 22 hingga 68 tahun.
47
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
48
B. Deskripsi Data Penelitian
1. Deskripsi subjek penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah 242 subjek yang berjenis kelamin
laki-laki. Usia subjek dalam penelitian ini berkisar dari 22 sampai 68 tahun,
dengan rata-rata 40.2 tahun. Berikut adalah rangkuman data usia subjek:
Tabel 4.1
Usia subjek penelitian
Usia
20-29 tahun
30-39 tahun
40-49 tahun
Lebih dari 50 tahun
Tidak diketahui
Total
Jumlah
29
36
114
46
17
242
Persentase (%)
12%
15%
47%
19%
7%
100%
Berdasarkan tabel 4.1, subjek dalam penelitian didominasi oleh subjek
dengan rentang usia 40 sampai 49 tahun dengan persentase 47%. Kemudian,
subjek dengan rentang usia 20 hingga 29 tahun, 30 hingga 39 tahun, dan lebih
dari 50 tahun berturut-turut adalah 12%, 15% dan 19%. Selanjutnya, juga
terdapat 7% subjek yang tidak diketahui usianya. Hal ini disebabkan oleh
terdapat subjek yang tidak mengisikan usianya pada lembar identitas.
2. Deskripsi data variabel intensi berselingkuh dan kepuasan seksual
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti memperoleh data
hasil penelitian yang dapat digunakan untuk mencari mean empiris dan
teoretis. Perbandingan antara mean empiris dan teoretis dilakukan untuk
mengetahui kesesuaian antara masing-masing variabel dan konstruknya.
Berikut adalah tabel rincian yang berisi data empiris dan teoretis:
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
49
Tabel 4.2
Data Teoretis dan Empiris
Min
Intensi
Berselingkuh
Kepuasan
Seksual
Teoretis
Max Mean
Min
Empiris
Max Mean
Sig
6
30
18
6
28
15.50
.000
20
100
60
40
100
73.15
.000
Dari tabel 4.2, terlihat hasil perbandingan antara mean teoretis dan
empiris pada variabel intensi berselingkuh dan kepuasan seksual. Pada
variabel intensi berselingkuh, mean teoretis terlihat lebih tinggi daripada
mean empiris. Hal ini menunjukkan bahwa subjek pada penelitian ini
memiliki intensi berselingkuh yang rendah. Pernyataan ini didukung oleh
signifikansi yang diperoleh melalui uji t, yaitu bernilai 0.000 dengan p<0.05.
Sedangkan pada variabel kepuasan seksual, terlihat bahwa mean empiris lebih
tinggi daripada mean teoretis. Hal ini menunjukkan bahwa subjek penelitian
memiliki kepuasan seksual yang tinggi. Pernyataan ini juga didukung oleh
signifikansi yang diperoleh melalui uji t, yaitu bernilai 0.000 dengan p<0.05.
C. Hasil Penelitian
Semua data yang didapatkan dalam penelitian ini diuji dengan
menggunakan program SPSS for windows versi 21. Tahap pertama yang
dilakukan peneliti adalah melakukan uji asumsi. Sedangkan uji hipotesis akan
dilakukan setelah uji asumsi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
50
1. Uji asumsi
a. Uji normalitas
Tabel 4.3
Hasil Uji Normalitas
Kolmogorov-Smirnov
Statistic
Unstandarized Residual
df
.046
Sig
242
.200
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah data penelitian
memiliki sebaran yang normal (Santoso, 2010). Berdasarkan tabel 4.3,
terlihat bahwa data penelitian memiliki sebaran yang normal. Hal ini
dibuktikan dengan nilai signifikansi yang diperoleh, yaitu sejumlah 0.200
dengan p > 0.05.
b. Uji linearitas
Tabel 4.4
Hasil Uji Linearitas
df
Between
Groups
IB*KS)*
(Combined)
Linearity
Deviation from
Linearity
Within
3197.980
Groups
Total
4624.496
)* Intensi Berselingkuh*Kepuasan Seksual
Uji
linearitas
dilakukan
untuk
51
1
F
1.662
41.923
Sig
.008
.000
50
.857
.737
16.831
melihat
apakah
hubungan
antarvariabel mengikuti garis lurus (Santoso, 2010). Dari tabel 4.4,
diketahui bahwa uji linearitas dalam penelitian ini mendapatkan nilai
signifikansi sebesar 0.737 dengan p > 0.05, sehingga dapat disimpulkan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
51
bahwa hubungan antarvariabel pada penelitian ini memiliki sifat yang
linear.
c. Uji heterokedastisitas
Tabel 4.5
Hasil Uji Heterokedastisitas
Model
(Constant)
Kepuasan
Seksual
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error
Beta
4.366
.887
-.015
.012
-.083
t
Sig.
4.923
-1.288
.000
.199
Uji heterokedastisitas dilakukan untuk melihat apakah model regresi
pada penelitian memiliki ketidaksamaan varians residual dari pengamatan
yang berbeda (Santoso, 2015). Oleh karena itu, heterokedastisitas harus
dihindari. Berdasarkan tabel 4.5, diketahui bahwa uji heterokedastisitas
pada penelitian ini mendapatkan nilai signifikansi sebesar 0,199 dengan p
> 0.05, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas
pada penelitian ini.
Berdasarkan uji asumsi yang telah dilakukan, data pada penelitian ini
memenuhi keseluruhan uji asumsi. Data penelitian ini bersifat normal, linear
dan memiliki homokedastisitas. Oleh sebab itu, pengujian hipotesis dengan
metode regresi sederhana dapat dilakukan dengan statistik parametrik.
2. Uji hipotesis
Uji hipotesis dilakukan dengan analisis regresi menggunakan program
SPSS for Windows versi 21. Analisis ini dilakukan untuk menguji hipotesis
yang telah ditentukan sebelumnya. Penelitian ini memiliki dua hipotesis, yaitu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
52
(1) Kepuasan seksual dapat memprediksi intensi berselingkuh pada suami,
dan (2) Terdapat hubungan negatif signifikan antara kepuasan seksual dan
intensi berselingkuh pada suami.
Berikut adalah hasil pengujian dari hipotesis pertama:
Tabel 4.6
Nilai Standardized Coefficients (β)
Unstandardized Coefficients
Model
B
Std. Error
(Constant)
25.226
1.502
Kepuasan
-0.133
0.020
seksual
Variabel dependen: Intensi berselingkuh
Standardized Coefficients
Beta
t
Sig
16.800 .000
-0.391 -6.574 .000
Tabel 4.6 merupakan hasil uji regresi antara variabel kepuasan seksual
antara variabel intensi berselingkuh. Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh
rumus persamaan regresi Y = 25.226 + (-0.133)X dengan nilai signifikansi
sebesar 0.000 (p < 0.05). Dalam persamaan regresi tersebut, Y adalah intensi
berselingkuh dan X adalah kepuasan berselingkuh. Dari tabel 4.6 juga
diperoleh koefisien regresi sebesar -0.133. Hal ini menunjukkan bahwa setiap
penambahan satu nilai pada kepuasan seksual dapat mengurangi nilai intensi
berselingkuh sebesar 0.133 dan begitu juga sebaliknya.
Tabel 4.7
Nilai Koefisien Determinasi
Model
1
R
R Square
.391a
.153
a. Prediktor: Kepuasan seksual
b. Variabel dependen: Intensi berselingkuh
Adjusted R
Square
.149
Std. Error
of the
Estimate
4.041
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
53
Dari tabel 4.7, dapat diketahui seberapa besar sumbangan efektif yang
dapat diberikan oleh variabel kepuasan seksual untuk memprediksi intensi
berselingkuh pada suami. Besarnya sumbangan efektif dapat dilihat dari nilai
R Square. Besarnya nilai R Square pada tabel X adalah 0.153. Angka tersebut
menyatakan bahwa intensi berselingkuh mampu memprediksi kepuasan
seksual dengan persentase 15.3% sehingga dapat dikatakan bahwa 84.7%
sisanya diprediksi oleh faktor lain. Selanjutnya, berikut adalah hasil pengujian
dari hipotesis kedua:
Dari tabel 4.6 juga dapat diketahui nilai korelasi antara variabel
kepuasan seksual dan intensi berselingkuh dengan melihat nilai standardized
coefficients (β). Pada tabel tersebut, nilai standardized coefficients (β) adalah
-0.391 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 (p < 0.05). Dari koefisien
korelasi tersebut, diketahui bahwa hubungan antar variabel bersifat tidak
searah atau berlawanan. Hubungan tersebut bersifat signifikan karena nilai
signifikansi 0.000 atau lebih kecil dari 0.05. Oleh karena itu, bisa disimpulkan
bahwa kepuasan seksual memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan
intensi berselingkuh pada suami. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi
kepuasan seksual yang dirasakan oleh suami, semakin rendah intensi
berselingkuh yang dimiliki. Sebaliknya, semakin rendah kepuasan seksual
yang dirasakan oleh suami, semakin tinggi pula intensi berselingkuh yang
dimiliki.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
54
D. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kepuasan seksual
dan intensi berselingkuh pada suami. Selain itu, penelitian ini juga ingin melihat
arah dan kekuatan hubungan antara kepuasan seksual dan intensi berselingkuh
pada suami. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan program
SPSS for Windows versi 21 untuk melakukan analisis regresi pada kedua
variabel tersebut.
Berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan, hasil penelitian
menunjukkan bahwa hipotesis pertama diterima. Hasil analisis regresi
menunjukkan koefisien regresi melalui nilai R Square sebesar 15.3. Hasil
tersebut mengindikasikan bahwa sumbangan efektif kepuasan seksual pada
intensi berselingkuh pada suami adalah sebesar 15.3%, sedangkan 84.7%
sisanya diprediksi oleh variabel lain. Oleh sebab itu, peneliti berasumsi bahwa
kepuasan seksual dapat memprediksi intensi berselingkuh pada pria.
Selanjutnya, berdasarkan uji hipotesis, hipotesis kedua pada penelitian ini
juga diterima. Hal ini tampak dari nilai standardized coefficients (β) yang
merupakan nilai koefisien korelasi. Dari hasil analisis, didapatkan bahwa nilai
koefisien korelasi antara kepuasan seksual dan intensi berselingkuh pada suami
adalah -0.391 dengan nilai signifikansi sebensar 0.000 (p < 0.05), menunjukkan
adanya hubungan negatif antara kepuasan seksual dan intensi berselingkuh pada
suami. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kepuasan seksual yang
dirasakan, maka intensi berselingkuh yang dimiliki akan semakin rendah.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
55
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang memiliki
topik serupa. Penelitian oleh Campbell (2009) mengindikasikan bahwa tingkat
kepuasan seksual yang rendah memiliki hubungan yang signifikan dengan
kecenderungan untuk berselingkuh. Hasil penelitian ini juga selaras dengan
penemuan Buss & Shackelford (1997) yang mengatakan bahwa ketidakpuasan
dengan hubungan seksual dalam pernikahan merupakan prediktor dari
kerentanan terhadap perselingkuhan. Penelitian juga sesuai dengan penelitian
yang menemukan bahwa individu yang merasa hubungan seksual dalam
pernikahannya kurang memuaskan cenderung untuk melakukan perselingkuhan
(Liu, 2000). Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Greene (dalam
Campbell, 2009) melaporkan bahwa ketidakpuasan seksual merupakan prediktor
perselingkuhan, terutama pada pria. Banyaknya penelitian yang membuktikan
bahwa terdapat hubungan signifikan antara kepuasan seksual dan intensi
berselingkuh membuktikan bahwa kepuasan seksual merupakan salah satu
variabel penting dalam memprediksi perselingkuhan pada hubungan pernikahan.
Meskipun hubungan seksual bukan merupakan aspek satu-satunya,
kualitasnya perlu dipertahankan karena ketidakpuasan seksual merupakan salah
satu
faktor yang dapat menyebabkan ketidaksetiaan pada pasangan (Mark,
Janssen, & Milhausen, 2011). Intensi berselingkuh muncul sebagai salah satu
indikator dari ketidakpuasan seksual. Hal ini dikarenakan individu yang
memiliki kepuasan seksual rendah mengompensasi kebutuhannya dengan
mencari pasangan seksual di luar hubungan pernikahannya (Campbell, 2009).
Ketidakpuasan seksual juga dipicu oleh gairah seksual yang disebabkan oleh
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
56
pasangan yang tidak mampu memenuhi kebutuhan seksual pasangannya
sehingga pasangannya mengatasi rasa frustasinya dengan melibatkan orang
ketiga dalam hubungannya (Hawari dalam Sari, 2006).
Penelitian ini juga menemukan bahwa kepuasan seksual memberikan
sumbangan efektif terhadap intensi berselingkuh pada suami. Hasil penelitian ini
searah dengan penelitian yang dilakukan oleh Leeker dan Carlozzi (2014)
menemukan
bahwa
ketidakpuasan
seksual
sering
dijadikan
alasan
perselingkuhan oleh pria. Tingkat kepuasan seksual yang rendah juga dijadikan
alasan oleh pria untuk menggoda dan berselingkuh dengan wanita lain (Buss &
Shackelford, 1997). Hasil penelitian ini juga didukung oleh Glass dan Wright
(1992) yang melaporkan bahwa sexual deprivation merupakan alasan yang
sering dipakai oleh pria ketika melakukan perselingkuhan. Mereka juga
menemukan bahwa alasan yang bersifat seksual dijadikan justifikasi untuk
melakukan perselingkuhan pada pria. Keinginan untuk mencoba variasi barru
dalam hubungan seksual juga merupakan alasan pada pria untuk terlibat dalam
hubungan perselingkuhan (Kinsey dkk dalam Steen, 2015). Hal ini juga
mungkin disebabkan oleh dorongan seksual yang kuat pada pria dan atau rasa
bosan yang disebabkan oleh habituasi (Baumeister dalam Steen, 2015;
Sternberg, 1986). Selain itu, Baswardono (2007) menyatakan alasan pria
melakukan perselingkuhan dan beberapa di antaranya adalah ketidakmampuan
untuk menahan godaan serta suasana baru dalam hubungan seksual.
Dari hasil regresi yang didapatkan pada uji hipotesis, memang terdapat
hubungan yang signifikan antara kepuasan seksual dan intensi berselingkuh, di
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
57
mana hasil uji regresi mengindikasikan bahwa sumbangan efektif kepuasan
seksual pada intensi berselingkuh pada suami sebesar 15.3%. Angka ini
menunjukkan bahwa meskipun kepuasan seksual merupakan aspek penting
dalam hubungan pernikahan, kepuasan seksual hanya merupakan sebagian kecil
dari hal yang dapat memprediksi kesetiaan seseorang dalam pernikahan,
terutama pada suami. Selain faktor seksual, faktor emosional (konflik
pernikahan dan krisis kehidupan) dan faktor eksternal (kekuasaan, kesempatan
dan rasa percaya diri) juga dapat memengaruhi kecenderungan suami untuk
berselingkuh (Oladi, Etemadi, Ahmadi, & Fatehizade, 2016). Mark et al. (2011)
menemukan bahwa kepuasan relasi dalam pernikahan juga merupakan salah satu
hal yang memengaruhi kecenderungan seseorang untuk berselingkuh. Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Jayanti (2013), ditemukan bahwa ketidakstabilan
emosional dalam model kepribadian big five memiliki korelasi negatif dengan
intensi
berselingkuh,
menunjukkan
bahwa
individu
yang
memiliki
ketidakstabilan emosional memiliki kemungkinan lebih besar untuk memiliki
intensi berselingkuh.
Sampel yang berhasil didapatkan dalam penelitian ini berjumlah 242
subjek, sedangkan berdasarkan perhitungan estimasi sampel yang sudah
dilakukan sebelumnya, jumlah sampel yang sesuai dengan ukuran populasi
adalah sebanyak 400 subjek. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah subjek dalam
penelitian lebih kecil daripada estimasi sampel. Selanjutnya, berdasarkan hasil
analisis deskriptif, nilai mean teoretis pada variabel intensi berselingkuh terlihat
lebih tinggi daripada mean empiris. Hal ini menunjukkan bahwa subjek pada
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
58
penelitian ini memiliki intensi berselingkuh yang cenderung rendah. Sebaliknya,
pada variabel kepuasan seksual ditemukan bahwa nilai mean empiris lebih tinggi
daripada mean teoretis. Hal ini menunjukkan bahwa subjek pada penelitian ini
memiliki kepuasan seksual yang tinggi.
E. Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini jauh dari sempurna dan memiliki
keterbatasan. Pertama, penelitian ini hanya menggunakan satu variabel
independen (kepuasan seksual) untuk memprediksi variabel dependen (intensi
berselingkuh) sehingga tidak bisa menganalisis dan menjelaskan hubungan
dengan variabel lain. Kedua, kebanyakan subjek penelitian berada dalam tahap
dewasa madya sehingga penelitian ini kurang dapat merepresentasikan subjek
pada tahapan dewasa awal dan akhir. Terakhir, peneliti merasa kesulitan
mendapatkan subjek penelitian karena topik seksualitas merupakan topik yang
bersifat sensitif dan masih tabu untuk didiskusikan di Indonesia sehingga
kebanyakan orang menolak untuk mengisi angket dalam penelitian ini.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, maka dapat disimpulkan
bahwa:
1.
Hipotesis pertama diterima. Terdapat hubungan negatif signifikan antara
kepuasan seksual dan intensi berselingkuh pada suami.
2.
Hipotesis kedua diterima. Kepuasan seksual dapat memprediksi intensi
berselingkuh pada suami.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan keterbatasan dalam penelitian ini, berikut
adalah beberapa saran bagi pasangan suami-istri, praktisi dan peneliti
selanjutnya:
1.
Bagi suami
Dari penelitian ini diketahui bahwa kepuasan seksual merupakan salah
satu faktor penting yang dapat memprediksi intensi berselingkuh pada
suami. Oleh karena itu, suami disarankan untuk meningkatkan kepuaan
seksualnya dengan cara lebih terbuka dan asertif dalam hubungan
pernikahannya, terutama mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan
seksual agar dapat menghindari intensi berselingkuh.
59
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
60
2.
Bagi praktisi
Penelitian ini membuktikan bahwa kepuasan seksual merupakan salah
satu prediktor pada intensi berselingkuh pada suami. Oleh karena itu,
peneliti menyarankan praktisi untuk mengajak pasangan suami-istri untuk
meningkatkan kepuasan seksualnya. Salah satu cara yang dapat ditawarkan
adalah dengan lebih terbuka satu sama lain mengenai hubungan seksualnya,
khususnya mengenai permasalahan seksual dalam pernikahan. Tindakan ini
dapat
dilakukan
agar
praktisi
dapat
membantu
pasangan
untuk
menyelesaikan permasalahan seksualnya agar kepuasan seksual pasangan
suami-istri dapat meningkat dan terhindar dari perselingkuhan.
3.
Bagi peneliti selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya yang berminat menggunakan topik yang
serupa, disarankan untuk memperhatikan beberapa hal. Penelitian ini
berfokus pada kepuasan seksual sebagai prediktor intensi berselingkuh.
Oleh karena itu, peneliti selanjutnya dapat menggunakan variabel lain untuk
menjelaskan
intensi
berselingkuh
dan
kepuasan
seksual.
Peneliti
menyarankan peneliti selanjutnya untuk menggunakan analisis multivariat
agar variabel dependen tidak hanya dijelaskan dari satu variabel independen
saja. Selanjutnya, peneliti juga menyarankan peneliti selanjutnya untuk
membahas kedua gender dalam penelitian yang sama agar dapat melihat
dampak perbedaan gender dalam memengaruhi kepuasan seksual dan intensi
berselingkuh. Kemudian, pengambilan subjek data disarankan dilakukan
dengan cara yang berbeda agar bisa mendapatkan subjek yang lebih
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
61
representatif dalam berbagai rentang umur. Terakhir, peneliti menyarankan
peneliti selanjutnya untuk mengambil data di populasi yang lebih terbuka
mengenai topik seksual sehingga pengambilan data dapat dilakukan dengan
lebih mudah.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR PUSTAKA
Abadjian-Mozian, L. R. (2005). Sexual satisfaction and self-esteem of married
women (Disertasi Doktoral). Wright Institute, Berkeley, California. Diunduh
dari https://elibrary.ru/item.asp?id=9395406
Admin. (2011, January 12). Suamiku berselingkuh dengan sahabatku.
www.ceritacurhat.com. Diunduh dari http://www.ceritacurhat.com/suamikuberselingkuh-dengan-sahabatku.htm
Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and
Human Decision Processes, 179-211.
Ajzen, I. (2005). Attitudes, personality, and behavior. UK: McGraw-Hill Education.
Ajzen, I., & Fishbein, M. (2005). The influence of attitudes on behavior. In D.
Albarracin, B. T. Johnson, & M. P. Zanna, The Handbook of Attitudes (pp.
173-221). Psychology Press.
Anderson, A. (----). Is sex necessary for a happy marriage? Diunduh 12 Mei 2017,
dari Family Share: https://familyshare.com/2662/is-sex-necessary-for-ahappy-marriage
Ashdown, B. K., Hackathorn, J., & Clark, E. M. (2011). In and out of the bedroom:
Sexual satisfaction in the marital relationship. Journal of Integrated Social
Sciences,
2(1),
40-57.
Diunduh
dari
http://www.jiss.org/documents/volume_2/issue_1/JISS_2011_Sexual_Satisfa
ction_in_Marriage.pdf
Asra, A., & Prasetyo, A. (2015). Pengambilan Sampel dalam Penelitian Survei.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Atkins, D. C., Baucom, D. H., & Jacobson, N. S. (2001). Understanding infidelity:
Correlates in a national random sample. Journal of Family Psychology, 735749.
Diunduh
dari
https://www.researchgate.net/profile/David_Atkins2/publication/11588320_
Understanding_Infidelity_Correlates_in_a_National_Random_Sample/links/
561fb4a008ae70315b550ca0/Understanding-Infidelity-Correlates-in-aNational-Random-Sample.pdf
Azwar, S. (2009). Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baswardono, D. (2007, September 4). After The Affair. Diunduh 26 Mei 2017, dari
Cinta,
seks
dan
dusta:
http://konsultasicintadanseks.blogspot.co.id/2007/09/after-affair.html
Berk, L. E. (2007). Development through the lifespan. Boston: Pearson Education,
Inc.
62
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
63
Berk, L. E. (2009). Development through the lifespan. Boston: Pearson Education,
Inc..
Bernard, M. (2016, February 14). 7 things sigmund freud "Nailed" about love & sex.
Diunduh
14
Mei
2017,
dari
PsychCentral:
https://blogs.psychcentral.com/practical-psychoanalysis/2016/02/7-thingssigmund-freud-nailed-about-love-sex/
Blow, A. J., & Hartnett, K. (2005). Infidelity in committed relationships I: A
methodological review. Journal of Marital and Family Therapy, 183-216.
doi: 10.1111/j.1752-0606.2005.tb01555.x
Blow, A. J., & Hartnett, K. (2005). Infidelity in committed relationships II: A
substantive review. Journal of Marital and Family Therapy, 217-233. doi:
10.1111/j.1752-0606.2005.tb01556.x
Buss, D. M., & Shackelford, T. K. (1997). Susceptibility to infidelity in the first year
of marriage. Journal of Research in Personality, 193-221. doi:
10.1006/jrpe.1997.2175
Byers, E. S. (1999). The interpersonal exchange model of sexual satisfaction:
implications for sex therapy with couples. Canadian Journal of Counselling,
95-111. Diunduh dari http://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ590818.pdf
Campbell, A. M. (2009). How selected personality factors affect the relationship
between marital satisfaction, sexual satisfaction, and infidelity. Louisiana
Tech University.
CBSNews. (2015, July 20). Ashley Madison hacked, users threatened with exposure.
Diunduh
20
April
2017,
dari
CBS
News:
http://www.cbsnews.com/news/ashley-madison-hacked-users-threatenedwith-exposure/
Chandrasari, R. E. (2009). Hubungan antara kualitas komunikasi dengan kepuasan
pernikahan (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Surakarta, Solo, Indonesia.
Diundah dari http://eprints.ums.ac.id/3755/1/F100040022.pdf
Davidson, J. K., Darling, C. A., & Norton, L. (1995). Religiosity and the sexuality of
women: Sexual behavior and sexual satisfaction revisited. The journal of sex
research, 235-243. doi: 10.1080/00224499509551794
Dean, J., Shechter, A., Vertkin, A., Weiss, P., Yaman, O., Hodik, M., et al. (2013).
Sexual Health and Overall Wellness (SHOW) survey in men and women in
selected European and Middle Eastern countries. Journal of International
Medical Research, 482-492. doi: 10.1177/0300060513476429
Firestone, R. W., Firestone, L. A., & Catlett, J. (2006). Sex and love. Washington:
American Psychological Association.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
64
Glass, S. P., & Wright, T. L. (1992). Justifications for extramarital relationships: The
association between attitudes, behaviors, and gender. The Journal of Sex
Research. doi: 10.1080/00224499209551654
Goodwin, C. J. (2010). Research psychology methods and design. New Jersey: John
Wiley & Son, Inc.
Haavio-Mannila, E., & Kontula, O. (1997). Correlates of increased sexual
satisfaction.
Archives
of
sexual
behavior,
399-419.
doi:
https://helda.helsinki.fi/bitstream/handle/10138/152693/Correlates_of_Increa
sed_Sexual_Satisfaction.pdf
Handayani, S. (2016, January 8). Lebih dari 25 ribu pasutri di Indonesia selingkuh.
Diunduh
20
April
2017,
dari
Khazanah:
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islamnusantara/16/01/08/o0mosd394-lebih-dari-25-ribu-pasutri-di-indonesiaselingkuh
Heiman, J. R., Long, J. S., Smith, S. N., Fisher, W. A., Sand, M. S., & Rosen, R. C.
(2011). Sexual satisfaction and relationship happiness in midlife and older
couples
in
five
countries.
Arch
Sex
Behav,
741-753.
https://www.kinseyinstitute.org/pdf/heiman-couples-midlife-and-older-5countries.pdf
Hensel, B. K., Leshner, G., & Logan, R. A. (----). Behavioral intention. Retrieved
May 30, 2017, from Consumer health informatics research resource:
https://chirr.nlm.nih.gov/behavioral-intention.php
Jackman, M. (2014). Understanding the cheating heart: what determines infidelity
intentions? Sexuality & Culture. doi: 10.1007/s12119-014-9248-z
Jackson, A. N. (2014). Associations among marital satisfaction, sexual satisfaction,
conflict frequency, and divorce risk from 1980 to 2000 (Disertasi Doktoral).
Auburn
University,
Alabama,
US.
Diunduh
dari
https://etd.auburn.edu/handle/10415/4326
Jayanti, T. N. (2013). Uji korelasi intensi berselingkuh dengan big five personality.
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. Diunduh dari
http://repository.ubaya.ac.id/15025/
Jayson, S. (2006, Mei 29). Poll: Boomers go easy on marriage. Diunduh 12 Mei
2017, dari USA Today: https://usatoday30.usatoday.com/news/health/200605-29-marriage-poll_x.htm
Jones, D. N., Olderbak, S. G., & Figueredo, A. J. (2011). The intentions towards
infidelity scale. In T. D. Fisher, C. Davis, W. L. Yarber, & S. Davis,
Handbook of Sexuality-Related Measures (pp. 251-253). New York:
Routledge.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
65
Khoiriyah, S. (2015). Konflik perselingkuhan dalam novel The Sax karya Sujiwo
Tejo: Kajian psikososial sastra (Skripsi). Universitas Negeri Semarang,
Semarang, Indonesia
King, R., Marumo, K., J-S. Paick, K. Z., Shah, R., Pangkahila, W., Yip, A.-C., et al.
(2011). Satisfaction with sex and erection hardness: results of the AsiaPacific sexual health and overall wellness survey. International Journal of
Impotence
Research,
135-141.
https://www.researchgate.net/profile/Moh_Lim_Ong/publication/51223417_
Satisfaction_with_sex_and_erection_hardness_Results_of_the_AsiaPacific_Sexual_Health_and_Overall_Wellness_survey/links/56c343fb08aeea
f199f8c8b4/Satisfaction-with-sex-and-erection-hardness-Results-of-the-AsiaPacific-Sexual-Health-and-Overall-Wellness-survey.pdf
Kusuma, E. F. (2016, November 18). Perselingkuhan tetap jadi tren alasan tinggi
angka perceraian di Jakarta. Diunduh 1 Maret 2017, dari Detik News:
https://news.detik.com/berita/d-3348971/perselingkuhan-tetap-jadi-trenalasan-tingginya-angka-perceraian-di-jakarta
Lammers, J., Stoker, J. I., Jordan, J., Pollman, M., & Stapel, D. A. (2011). Power
increases infidelity among men and woman. Psychological Science, 1-7. doi:
10.1177/0956797611416252
Larson, V. (2015, February 26). How a parent's infidelity can hurt a child. Diunduh
1
Maret
2017,
dari
The
Huffington
Post:
http://www.huffingtonpost.com/vicki-larson/how-a-parents-infidelity-canhurt-a-child_b_6751696.html
Lawrance, K.-A., & Byers, E. S. (1995). Sexual satisfaction in long-term
heterosexual relationships: The interpersonal exchange model of sexual
satisfaction. Personal Relationship, 267-285. doi: 10.1111/j.14756811.1995.tb00092.x
Leeker, O., & Carlozzi, A. (2014). Effects of sex, sexual orientation, infidelity
expectations, and love on distress related to emotional and sexual infidelity.
Journal of Marital and Family Therapy, 68-91. doi: 10.1111/j.17520606.2012.00331.x
Lemme, B. H. (1995). Development in Adulthood. Massachusetts: Ally & Bacon.
Lewandowski, K., & Schrage, T. (2010). A comparison of relationship satisfaction
and sexual satisfaction short-term and long-term relationship. Journal of
Undergraduate Research XIII. Diunduh dari https://www.uwlax.edu/urc/juronline/PDF/2010/lewandowski-schrage.PSY.pdf
Lippa, R. A. (2009). Sex differences in sex drive, sociosexuality, and height across
53 nations: Testing evolutionary and social structural theories. Arch Sex
Behav, 631-651. Diunduh dari https://pdfs.semanticscholar.org/4683/
9ca1e591ceea2ca07ed483fecfacf812fee4.pdf
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
66
Liu, C. (2000). A theory of marital sexual life. Journal of Marriage and the Family.
doi: 10.1111/j.1741-3737.2000.00363.x
Mark, K. P., Janssen, E., & Milhausen, R. R. (2011). Infidelity in heterosexual
couples: Demographic, interpersonal, and personality-related predictors of
extradyadic sex. Arch Sex Behav, 971-982. doi: 10.1007/s10508-011-9771-z
Marotta, J. (2017, February 2). 'Ashley Madison: Sex, lies and cyber attacks' explores
the aftermath of the infamous hacking scandal. Diunduh 1 Maret 2017, dari
Decider: http://decider.com/2017/02/02/ashley-madison-sex-lies-and-cyberattacks-netflix-review/
McClintock, E. A. (2016, March 20). The real Reasons why people cheat. Diunduh 1
Maret
2017,
dari
Psychology
Today:
https://www.psychologytoday.com/blog/it-s-man-s-and-woman-sworld/201603/the-real-reasons-why-people-cheat
Offman, A., & Matheson, K. (2005). Sexual compatibility and sexual functioning in
intimate relationships. The Canadian Journal of Human Sexuality, 31-39.
Diunduh dari http://www.biomedsearch.com/article/Sexual-compatibilitysexual-functioning-in/138441440.html
Oladi, S. B., Etemadi, O., Ahmadi, S. A., & Fatehizade, M. (2016). Qualitative
evaluation of men vulnerability to extramarital relations. Asian Social
Science. doi: 10.5539/ass.v12n7p202
Oliver, M. B., & Hyde, J. S. (1993). Gender Differences in Sexuality: A MetaAnalysis.
Psychological
Bulletin,
29-51.
Diunduh
dari
http://www.secretintelligenceservice.org/wpcontent/uploads/2017/02/d413531b566ab3b9eed0fd4ced1e80ef3663.pdf
Periantalo, J. (2015). Penyusunan Skala Psikologi: Asyik, Mudah & Bermanfaat.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Petersen, J. L., & Hyde, J. S. (2010). A meta-analytic review of research on gender
differences in sexuality. Psychological Bulletin , 21-38. Diunduh dari
https://wmich.edu/sites/default/files/attachments/u58/2015/Sex_Differences1.
pdf
Pinney, E., Gerrard, M., & Denney, N. W. (1987). The Pinney sexual satisfaction
inventory.
Journal
of
Sex
Research,
233-251.
doi:
10.1080/00224498709551359
Purcell, S. L. (1984). An empirical study of the relationship between religious
orthodoxy (Defined as religious rigidity and religious close-mindedness) and
marital sexual functioning (Disertasi Doktoral). Andrews University, Berrien
Spring,
Michigan.
Diunduh
dari
http://digitalcommons.andrews.edu/dissertations/643/
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
67
Rathus, S. A., Nevid, J. S., & Fichner-Rathus, L. (2008). Human sexuality in a world
of diversity. Boston: Pearson Education, Inc.
Salazar-Molina, A., Klijn, T. P., & Delgado, J. B. (2015). Sexual satisfaction in
couples in the male and female climacteric stage. Cad. Saude Publica, 311320. doi: 10.1590/0102-311X00051214
Sanchez-Fuentes, M. d., Santos-Iglesias, P., & Sierra, J. C. (2014). A systematic
review of sexual satisfaction. International Journal of Clinical and Health
Psychology,
67-75.
Diunduh
dari:
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1697260014700389
Santoso, A. (2010). Statistik untuk psikologi dari blog menjadi buku. Yogyakarta:
Penerbit Universitas Sanata Dharma.
Santoso, S. (2015). Menguasai statistik parametrik. Jakarta: PT Gramedia.
Sari, N., & Wahyuningsih, H. (2006). Hubungan antara kepuasan seksual terhadap
perselingkuhan pada pasangan suami-istri (Skripsi). Universitas Islam
Indonesia,
Yogyakarta,
Indonesia.
Diunduh
dari
psychology.uii.ac.id/images/stories/jadwal_kuliah/naskah-publikasi01320199.pdf
Selingkuh [Def. 1]. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. Diunduh 10 Juni
2017 dari http://kbbi.web.id/selingkuh
Shackelford, T. K., Besser, A., & Goetz, A. T. (2008). Personality, marital
satisfaction, and probability of marital infidelity. Individual Differences
Research,
13-25.
Diunduh
dari:
http://www.toddkshackelford.com/downloads/Shackelford-Besser-GoetzIDR-2008.pdf
Siahaan, A. (2016, April 21). 8 permasalahan umum dalam perkawinan dan cara
mengatasinya.
Diunduh
1
Maret
2017,
dari
Liputan
6:
http://lifestyle.liputan6.com/read/2488950/8-permasalahan-umum-dalamperkawinan-dan-cara-mengatasinya
Smith, T. W. (2006). Americal sexual behavior: Trends, socio-demographic
differences, and risk behavior. National Opinion Research Center.
Sprecher, S., Cate, R. M., Harvey, J. H., & Wenzel, A. (2004). Sexual satisfaction
and sexual expression as predictors of relationship satisfaction and stability.
The handbook of sexuality in close relationships, 235-256.
Sprecher, S., & McKinney, K. (1993). Sexuality. California: Sage Publication.
Starratt, V. G., Weekes-Shackelford, V., & Shackelford, T. K. (2017). Mate value
both positively and negatively predicts intentions to commit an infidelity.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
68
Personality
and
Individual
10.1016/j.paid.2016.07.028
Differences,
18-22.
doi:
Statistic Brain. (2016, September 7). Statistic Brain. Diunduh 10 Juni 2017, dari
Infidelity Statistic: http://www.statisticbrain.com/infidelity-statistics/
Steen, R. v. (2015). Intended infidelity: Male-female differences in intentionbehavior congruence and the relative prediction power of gender, relationship
and individual difference variable (Disertasi Doktorat). California State
University,
Long
Beach,
California.
Diunduh
dari
http://pqdtopen.proquest.com/doc/1678097297.html?FMT=ABS
Sternberg, R. J. (1986). A triangular theory of love. Psychological Review, 119-135.
Stritof, S. (2017, 1 21). Overcoming jealousy in your marriage. Diunduh 1 Mei 2017,
dari The Spruce: https://www.thespruce.com/overcome-jealousy-in-yourmarriage-2303979
Stulhofer, A., Busko, V., & Brouillard, P. (2010). Development and bi-cultural
validation of the new sexual satisfaction scale. J Sex Res. doi:
10.1080/00224490903100561
Suami [Def. 1]. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. Diunduh 10 Juni
2017 dari http://kbbi.web.id/suami
Supratiknya, A. (2014). Pengukuran psikologis. Yogyakarta: Penerbit Universitas
Sanata Dharma.
Suryabrata, S. (1999). Pengembangan alat ukur psikologis. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Takariawan, C. (2015, February 8). Di Indonesia, 40 perceraian setiap jam! Diunduh
1 Maret 2017, dari Kompasiana: http://www.kompasiana.com/pakcah/diindonesia-40-perceraian-setiap-jam_54f357c07455137a2b6c7115
Taylor, S. E., Peplau, L. A., & Sears, D. O. (2009). Psikolgi Sosial. Jakarta:
Kencana.
Treas, J., & Giesen, D. (2000). Sexual infidelity among married and cohabiting
americans. Journal of Marriage and the Family. doi: 10.1111/j.17413737.2000.00048.x
Tribun Timur. (2016, November 7). Istri gugat cerai suami lagi ngetrend di
Makassar.
Diunduh
1
Maret
2017,
dari
Tribun
Timur:
http://makassar.tribunnews.com/2014/11/07/istri-gugat-cerai-suami-lagingetrend-di-makassar?page=2
Tribun Jogja. (2017, January 12). Operasi pertama di 2017, Satpol PP DIY amankan
sejumlah pasangan selingkuh. Diunduh 10 Juni 2017, dari Tribun Jogja:
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
69
http://jogja.tribunnews.com/2017/01/17/operasi-pertama-di-2017-satpol-ppdiy-amankan-sejumlah-pasangan-selingkuh
Tspaleas, I., Fisher, H. E., & Aron, A. (2010). Infidelity: when, where, why. The
Dark
Side
of
Close
Relationship
II,
175-196.
doi:
http://www.talmudology.com/s/Infidelity-when-where-why.pdf
Winarsih, W. (2010). Hubungan antara kepuasan perkawinan dan kecenderungan
berselingkuh pada pria sunda yang sudah menikah (Skripsi). Universitas
Sanata
Dharma,
Yogyakarta,
Indonesia.
Diunduh
dari
http://www.library.usd.ac.id/
Wylie, K. (2009). A global survey of sexual behaviors. Journal of Family and
Reproductive
Health.
Diunduh
dari:
http://www.arca.fiocruz.br/bitstream/icict/9824/2/Laumann%20EU%20Sexua
l....pdf
Yeh, H.-C., Lorenz, F. O., Wickrama, A. K., Conger, R. D., & Glen, H. E. (2006).
Relationships among sexual satisfaction, marital quality, and marital
instability at midlife. Journal of Family Psychology, 339-343. Diunduh dari
https://public.psych.iastate.edu/ccutrona/psych592a/articles/Sexual%20satisfa
ction%20and%20marital%20satisfaction.pdf
Young, M., Denny, G., Luquis, R., & Young, T. (1998). Correlates of sexual
satisfaction in marriage. The Canadian Journal of Human Sexuality. Diunduh
dari
https://www.researchgate.net/profile/Raffy_Luquis/publication/
281691542_Correlates_of_sexual_satisfaction_in_marriage/links/5693e45d0
8ae3ad8e33b3f5d/Correlates-of-sexual-satisfaction-in-marriage.pdf
Yuliana, I. A., & Valentina, T. D. (2016). Dyadic coping dan kepuasan pernikahan
pasangan suami istri dengan suami diabetes melitus tipe II. Jurnal Psikologi
Udayana,
324-331.
doi:
https://ojs.unud.ac.id/index.php/psikologi/article/view/25246
Zare, B. (2011). Review of studies on infidelity. 2011 3rd International Conference
on
Advanced
Management
Science,
182-186.
Diunduh
dari
http://www.ipedr.com/vol19/34-ICAMS2011-A10054.pdf
Zulaikah, N. (2008). Hubungan antara kepuasan seksual dengan kepuasan
pernikahan (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Surakarta, Solo, Indonesia.
Diunduh dari http://eprints.ums.ac.id/5563/
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
LAMPIRAN
70
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
71
Lampiran 1: Reliabilitas Skala
a. Reliabilitas Intention Towards Infidelity Scale (ITIS)
Reliability Statistics
Cronbach's
N of Items
Alpha
.782
6
b. Reliabilitas New Sexual Satisfaction Scale (NSSS)
Reliability Statistics
Cronbach's
N of Items
Alpha
.976
20
Lampiran 2: Uji One Sample T-test
a. Uji One Sample T-test Intention Towards Infidelity Scale (ITIS) dan New Sexual
Satisfaction Scale (NSSS)
One-Sample Test
Test Value = 0
t
df
Sig. (2-
Mean
95% Confidence Interval of
tailed)
Difference
the Difference
Lower
INTENSI
Upper
55.059
241
.000
15.504
14.95
16.06
88.383
241
.000
73.153
71.52
74.78
BERSELINGKUH
KEPUASAN
SEKSUAL
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
72
Descriptive Statistics
N
Minimum
Maximum
Mean
Std.
Deviation
INTENSI BERSELINGKUH
242
6
28
15.50
4.380
KEPUASAN SEKSUAL
242
40
100
73.15
12.876
Valid N (listwise)
242
Lampiran 3: Uji Normalitas Data
Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov
Statistic
Unstandardized Residual
df
.046
Shapiro-Wilk
Sig.
242
.200
Statistic
*
df
.988
Sig.
242
.042
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
Lampiran 4: Uji Linearitas
ANOVA Table
Sum of
df
Mean
Squares
(Combined)
51
Linearity
705.633
1
BERSELINGKUH Groups
Deviation
720.882
50
14.418
* KEPUASAN
from Linearity
Within Groups
3197.980
190
16.831
Total
4624.496
241
SEKSUAL
Between
Sig.
Square
1426.516
INTENSI
F
27.971
1.662
.008
705.633 41.923
.000
.857
.737
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
73
Lampiran 5: Uji Homokedastisitas
Coefficients
Model
a
Unstandardized Coefficients
Standardized
t
Sig.
Coefficients
B
1
Std. Error
Beta
(Constant)
4.366
.887
KEPUASAN
-.015
.012
-.083
4.923
.000
-1.288
.199
SEKSUAL
a. Dependent Variable: abs_res
Lampiran 6: Uji Hipotesis
a. Uji Regresi Kepuasan Seksual terhadap Intensi Berselingkuh pada Suami
Coefficients
Model
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
(Constant)
1
KEPUASAN
a
Std. Error
25.226
1.502
-.133
.020
-.391
a. Dependent Variable: INTENSI BERSELINGKUH
b
Model Summary
1
R
.391
R Square
a
.153
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.149
a. Predictors: (Constant), KEPUASAN SEKSUAL
b. Dependent Variable: INTENSI BERSELINGKUH
Sig.
Beta
SEKSUAL
Model
t
4.041
16.800
.000
-6.574
.000
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
74
b. Uji Korelasi Kepuasan Seksual terhadap Intensi Berselingkuh pada Suami
Correlations
INTENSI
KEPUASAN
BERSELINGKU
SEKSUAL
H
Pearson Correlation
INTENSI BERSELINGKUH
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
KEPUASAN SEKSUAL
1
242
242
**
1
-.391
.000
N
242
Lampiran 7: Skala Penelitian
**
.000
Sig. (2-tailed)
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
-.391
242
Download