7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kebersihan Lingkungan 1

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kebersihan Lingkungan
1. Lingkungan untuk belajar Anak Usia Dini
Lingkungan yang bersih merupakan salah satu sumber belajar bagi
anak. Lingkungan sebagai sumber belajar dapat berupa lingkungan alam,
lingkungan
sosial,
dan
lingkungan
budaya.
Lingkungan
yang
menyenangkan adalah lingkungan yang indah, rapi bersih dan terdapat
tanaman yang tumbuh (Seefeldt & Wasik, 2008: 180). Lingkungan yang
menyenangkan dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap proses
pembelajaran pada anak.
Tio Alexander mengungkapkan hubungan antara lingkungan
sekolah yang nyaman dengan prestasi anak di sekolah. Dalam proses
belajar mengajar diperlukan ruang dan lingkungan pendukung untuk
membantu anak dan guru agar dapat berkonsentrasi dalam proses belajar
mengajar (http://un2kmu.wordpress.com/2010/03/11/lingkungan-sekolahyangnyaman-memacu-siswa-untuk-berprestasi/).
Belajar
memerlukan
kondisi psikologi yang mendukung. Jika anak belajar dalam kondisi yang
menyenangkan dengan kelas yang bersih, udara yang bersih, dan sedikit
polusi suara, niscaya tingkat prestasi anak juga akan naik.
7
8
2. Kebersihan
Kebersihan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
keadaan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya, debu, sampah, dan
bau. Manusia perlu menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri
agar sehat supaya tidak menyebarkan kotoran, atau menularkan kuman
penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain (http://id.wikipedia.
org/wiki/kebersihan). Kebersihan diri meliputi kebersihan badan, seperti
mandi, menyikat gigi, mencuci tangan, dan memakai pakaian yang bersih.
Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat bekerja,
dan berbagai sarana umum. Kebersihan tempat tinggal dilakukan dengan
cara melap jendela dan perabot rumah tangga, menyapu dan mengepel
lantai, mencuci peralatan masak dan peralatan makan, membersihkan
kamar mandi dan jamban, serta membuang sampah.
Kebersihan lingkungan dimulai dari lingkungan yaang paling dekat
dengan kita daan setiap saat kita temui yaitu lingkungan ruangan yang
selalu kita gunakan untuk melakukan aktivitas. Kemudian setelah itu
kebersihan halaman dan selokan, dan membersihkan jalan dari sampah.
Tingkat kebersihan berbeda-beda menurut tempat dan kegiatan yang
dilakukan manusia, tingkat kebersihan dirumah dan sekolah berbeda
dengaan tingkat kebersihan di rumah sakit atau di pasar.
Kebersihan sebuah cerminan bagi setiap individu dalam menjaga
kesehatan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan
manusia sendiri tidak bisa dipisahkan baik lingkungan alam maupun
9
lingkungan sosial. Maka sebagai individu yang berhubungan langsung
dengan segala aspek yang ada dalam masyarakat harus dapat memelihara
kebersihan lingkungan. Karena tanpa lingkungan yang bersih setiap
individu maupun masyarakat akan menderita disebabkan sebuah faktor
yang merugikan seperti kesehatan.
3. Pentingnya Kebersihan Lingkungan untuk Anak Usia Dini
Menurut Retno Mardhiati Adhiwiryono, salah satu pesan kesehatan
dalam rangka pembinaan hidup sehat bagi anak usia dini adalah menjaga
kebersihan lingkungan sekolah dengan membuang sampah pada tempat
sampah yang tersedia dan mengupayakan kebersihan di ruangan kelas dan
sekitar halaman. (www.uhamka.ac.id/?page=download_artikel&id=26).
Dalam hal ini menurut Padmonodewo, (2003: 153) setiap guru harus
menyadari perlunya mengajar dan mengorganisasikan lingkungan belajar
anak dengan tujuan agar anak selalu tertarik dan terstimulasi untuk mau
belajar.
Berperan serta dalam menjaga kebersihan lingkungan, merupakan
salah satu tanggung jawab sosial anak usia dini. Menurut Kostelnik,
Soderman, dan Waren (Slamet Suyanto, 2005: 70), tanggung jawab sosial
anak usia dini yang ditunjukkan antara lain dengan komitmen anak
terhadap tugas-tugasnya, menghargai perbedaan individu, memperhatikan
lingkungan, dan mampu menjalankan fungsinya sebagai warga negara
yang baik. Menurut Hurlock (1978: 153), Anak Usia Dini perlu
mengembangkan keterampilan motorik bantu sosial yang berfungsi untuk
10
berpartisipasi aktif sebagai anggota sosial baik di sekolah maupun dalam
masyarakat. Keterampilan bantu sosial antara lain mengerjakan tugas
menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
B. Taman Kanak-kanak
1. Pengertian Taman Kanak-kanak
Taman Kanak-kanak adalah salah satu bentuk satuan pendidikan
anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan
program pendidikan bagi anak usia empat sampai enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan, stimulasi dan bimbingan,
diharapkan akan meningkatkan perkembangan perilaku dan sikap melalui
pembiasaan yang baik, sehingga akan menjadi dasar utama dalam
pembentukan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai yang ada di
masyarakat (Departemen Pendidikan Nasional, 2004: 1).
Seefeldt & Wasik (2007: 6) berpendapat bahwa pengertian Taman
Kanak-kanak adalah program bagi anak usia tiga dan lima tahun yang
disponsori oleh Negara setempat atau asosiasi swasta, gereja, organisasi
sipil dan pusat-pusat peduli anak yang berbentuk badan usaha.
Taman Kanak-kanak menurut Mayke Sugianto (1995: 1) adalah
suatu lembaga pendidikan yang ditujukan kepada anak usia empat sampai
enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan
untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
11
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Taman
Kanak-kanak adalah merupakan penyelenggaraan pendidikan yang
diberikan kepada anak usia empat sampai enam tahun menjadi dasar utama
dalam pembentukan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai yang ada di
masyarakat dan untuk mempersiapkan diri memasuki pendidikan lebih
lanjut.
2. Tujuan Taman Kanak-kanak
Tujuan Taman Kanak-kanak adalah membantu anak didik
mengembangkan potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan
nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik,
kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. Aspek-aspek
perkembangan tersebut dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh
mencakup: bidang pengembangan pembiasaan dan bidang pengembangan
kemampuan dasar (Departemen Pendidikan Nasional, 2004: 1).
Tujuan Taman Kanak-kanak menurut Seefeldt & Wasik (2007: 52)
adalah mempersiapkan program dan kurikulum yang terencana dengan
baik agar memenuhi kebutuhan semua anak di dalam lingkungan yang
sangat sedikit hambatan sehingga memampukan setiap anak mencapai
potensinya secara penuh.
Tujuan Taman Kanak-kanak menurut Soemiarti Padmonodewo
(2003: 58) adalah membentuk manusia Pancasila sejati, yang bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang cakap, sehat dan terampil, serta
bertanggungjawab terhadap Tuhan, masyarakat dan Negara.
12
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahawa tujuan Taman
Kanak-kanak adalah membantu anak didik mencapai potensinya secara
penuh untuk bekal memasuki pendidikan selanjutnya.
3. Fungsi Taman Kanak-kanak
Fungsi Taman Kanak-kanak antara lain yaitu:
a. Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak.
b. Mengenalkan anak dengan dunia sekitar.
c. Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.
d. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.
e. Mengembangkan keterampilan, kreativitas dan kemampuan
yang dimiliki anak.
f. Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar.
(Departemen Pendidikan Nasional, 2004: 2).
Soemiarti Padmonodewo (2003: 59) mengungkapkan bahwa
Taman Kanak-kanak berfungsi sebagai usaha mengembangkan seluruh
segi kepribadian anak didik dalam rangka menjembatani pendidikan
keluarga ke pendidikan sekolah.
Taman Kanak-kanak adalah lingkungan kedua yang berfungsi juga
sebagai tempat pendidikan di luar keluarga. Di sini anak akan bergaul
dengan orang lain sehingga baik secara langsung atau tidak langsung akan
saling mempengaruhi pembentukan perilaku anak. Pendidikan Taman
Kanak-kanak dikatakan lingkungan sekolah formal telah terstruktur dan
mempunyai
program
yang
baku.
Fungsi
Taman
Kanak-kanak
mempersiapkan layanan pendidikan bagi anak usia dini secara terencana
untuk mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki oleh masing-masing
anak (Depdiknas, 2008: 1-2).
13
C. Karakteristik Anak Taman Kanak-kanak
Anak Taman Kanak-kanak berusia antara empat sampai enam tahun,
dan setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda, yang harus dipahami
oleh para guru, sehingga kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan minat,
kebutuhan dan tingkat pemahaman anak. Hal itu sesuai dalam Pedoman
Pelaksanaan Kurikulum Raudhatul Athfal 2005, Departemen Agama RI.
Pengertian karakteristik anak itu sendiri menurut Oemar Hamalik
(2002: 40-41) adalah perilaku awal sebagai tingkah laku yang harus diperoleh
anak sebelum memperoleh tingkah laku terminal yang baru. Perilaku awal
tersebut
meliputi
kesiapan,
kematangan,
perbedaan individual, dan
kepribadian. Menurut Sunarto & Hartono (2002: 11-16), setiap manusia
memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga muncul perbedaan
individu yang meliputi berbagai bidang yaitu:
a. Perbedaan kognitif.
b. Perbedaan dalam kecakapan bahasa.
c. Perbedaan dalam kecakapan motorik.
d. Perbedaan latar belakang.
e. Perbedaan bakat.
f. Perbedaan kesiapan belajar.
Kesimpulan dari uraian di atas adalah bahwa karakteristik anak usia
dini meliputi kesiapan, kematangan, perbedaan individual, dan kepribadian
yang yang dilihat dari aspek fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional.
14
1) Fisik Motorik
Perkembangn motorik dibagi dua yaitu motorik halus dan motorik
kasar. Motorik kasar merupakan gerakan yang terjadi karena adanya
koordinasi otot-otot besar, seperti: berjalan, melompat, berlari, melempar
dan memanjat, dan lain sebagainya. Sedangkan motorik halus adalah
gerakan
yang
menggunakan
otot
halus,
seperti:
menggambar,
menggunting, melipat kertas, meronce, dan lain sebagainya.
Menurut
Hurlock
(1978:
151-153)
perkembangan
motorik
tergantung pada:
a.
Perkembangan syaraf dan otot.
b.
Kematangan fisik.
c.
Mengikuti pola yang dapat diramalkan.
d.
Dimungkinkan menentukan norma perkembangan motorik.
e.
Perbedaan individu dalam laju perkembangan motorik.
Mempelajari keterampilan motorik perlu di perhatikan pula kesiapan
dan kesempatan belajar, kesempatan berpraktek, bimbingan, model yang
baik serta motivasi (Hurlock, 1978: 157-158) dengan cara trial and error,
meniru dan pelatihan.
Anak usia TK memiliki sejumlah ciri fisik sebagai berikut:
a. Sangat aktif. Anak usia ini sangat menyukai kegiatan yang dilakukan
atas kemauan sendiri.
b. Memerlukan istirahat yang cukup. Setelah melakukan banyak aktivitas,
meskipun sering tidak disadari anak memerlukan istirahat.
15
c. Otot-otot besar besar lebih berkembang daripada kontrol terhadap jari
dan tangan. Sehingga anak belum dapat melakukan aktivitas yang
rumit.
d. Koordinasi tangan dan matanya kurang sempurna karena anak sulit
mengalami kesulitan dalam memfokuskan pandangannya pada objekobjek yang kecil ukurannya.
e. Tulang tengkorak masih lunak, sehingga berbahaya jika terjadi
benturan.
f. Motorik halus anak perempuan lebih terampil daripada anak laki-laki.
Snowman (Patmonodewo, 2003: 32).
2) Kognitif
Piaget (Santrock, 2007: 246) mendiskripsikan perkembangan
kognitif anak dalam beberapa tahapan, dan anak usia TK berada pada
tahap pra operasioanal yaitu: anak mulai menggunakan gambarangambaran mental untuk memahami dunianya. Pemikiran-pemikiran
simbolik, yang direfleksikan dalam penggunaan kata-kata dan gambargambar mulai digunakan dalam penggambaran mental, yang melampaui
hubungan informasi sensorik dengan tindakan fisik. Akan tetapi, ada
beberapa hambatan dalam pemikiran anak pada tahapan ini seperti
egosentrisme dan sentralisasi.
Hal yang berperan penting dalam perkembangan kognitif menurut
Vygotsky (Santrock, 2007: 264) adalah orang lain dan bahasa. Vygotsky
berpendapat bahwa anak mengembangkan konsep-konsep lebih sistematis,
16
logis, dan rasional dengan cara berinteraksi. Perkembangan kognitif
berhubungan dengan konteks sosial. Menurut Bandura (Crain, 2007: 307),
sosialisasi merupakan proses inklusif yang mempengaruhi hampir tiap
jenis perilaku, termasuk kemampuan-kemampuan yang bersifat teknis.
3) Bahasa
Anak usia tiga sampai lima tahun oleh Seefeldt & Wasik (2008: 7376) merupakan masa dahsyat di bidang bahasa. Anak usia empat tahun
terjadi peledakan perbendaharaan kata mencapai 4000 sampai 6000 kata.
Akan tetapi sering terjadi pemakaian salah kata dan salah nama benda
karena begitu banyak kata-kata baru yang dipelajari. Bercakap-cakap
merupakan kegiatan favorit pada usia ini. Perbendaharaan kata anak
meluas sampai 5000 ke 8000 kata pada usia lima tahun. Pada usia ini
struktur kalimat yang digunakan anak menjadi lebih rumit.
Anak prasekolah menurut Santrock (2007: 361) mengalami
kemajuan dalam pragmatik. Mereka lebih pandai dalam bercakap-cakap
dan muncul pendekatan analitis. Pendekatan analitis ini muncul jika anak
diminta mengatakan sesuatu yang pertama kali muncul dalam benak
mereka ketika mereka mendengar suatu kata.
Hal penting dalam belajar bicara menurut Hurlock (1978: 185)
adalah sebagai berikut:
a. Persiapan fisik untuk berbicara. Kematangan mekanisme bicara
merupakan
kematangan syaraf dan otot mekanisme suara yang
meliputi saluran suara kecil, langit-langit mulut datar, dan lidah.
17
b. Kesiapan mental untuk berbicara. Kesiapan mental berhubungan
dengan kematangan otak khususnya pada bagian-bagian asosiasi otak.
Kesiapan ini berkembang pada usia 12 dan 18 bulan.
c. Model yang baik untuk ditiru. Model ini diperlukan anak untuk
mengucapkan kata dengan benar, dan menggabungkan kata menjadi
kalimat yang benar. Jika model yang baik ini kurang maka anak sulit
belajar bicara dan hasilnya berada di bawah kemampuan mereka.
d. Kesempatan untuk berpraktek. Motivasi anak untuk berbicara menjadi
berkurang tatkala kesempatan berbicara dihilangkan, dan orang lain
tidak mengerti, sehingga anak akan merasa marah dan putus asa.
e. Motivasi. Jika isyarat dan tangis bisa menjadi pengganti bicara untuk
memperoleh keinginannya, maka dorongan untuk belajar akan
melemah.
f. Bimbingan. Bimbingan yang baik adalah dengan cara: menyediakan
model yang baik, mengatakan kata-kata dengan perlahan dan jelas
sehingga bisa dipahami, dan memberikan bantuan mengikuti model
tersebut dengan membetulkan setiap kesalahan yang mungkin dibuat
anak dalam meniru model tersebut.
4) Sosio emosional
Menurut Seefeldt & Wasik (2008: 69-73), anak usia tiga-lima
tahun mengungkapkan sederetan emosi dan mampu menggunakan secara
serasi ungkapan seperti sedih, marah, dan bahagia. Situasi emosi mereka
cepat berubah dan sangat bergantung pada kegiatan. Mereka juga sulit
18
memisahkan perasaan dari tindakan. Bagi mereka mengendalikan perasaan
hati sering merupakan tantangan. Mengajarkan anak tentang cara yang
sesuai untuk mengungkapkan emosi mereka merupakan tonggak yang
penting dalam perkembangan mereka.
Anak usia empat tahun mulai memahami bahwa pengungkapan
emosi secara ekstrim bisa mempengaruhi orang di sekitarnya. Mereka
mulai memahami bahwa orang lain itu mempunyai perasaan juga.
Sehingga pada saat anak menginjak usia lima tahun, mereka mulai
mengatur emosi dan mengungkapkan perasaan dengan cara yang secara
sosial lebih diterima.
Yasin Musthofa (2007: 69) mengungkapkan bahwa ciri-ciri
perkembangan sosial masa kanak-kanak awal adalah:
a. Anak mulai mengetahui aturan-aturan di lingkungan keluarga dan
lingkungan bermain.
b. Anak sudah mulai mengikuti peraturan.
c. Anak mulai menyadari hak dan kepentingan orang lain, walaupun
masih kecenderungan egosentris.
d. Anak mulai dapat bermain bersama anak-anak lain.
e. Anak mulai memiliki sikap simpati, empati dan altruisme, yaitu
kepedulian terhadap orang lain.
Perilaku sosial anak usia empat tahun menurut Seefeldt & Wasik
(2008: 83-86) mulai membedakan antara anak-anak yang mereka sukai
untuk bermain dan anak-anak yang mereka tidak sukai. Tetapi mereka
19
semakin tertarik untuk bermain dengan anak-anak yang lain dalam sebuah
kelompok. Ketika menginjak usia lima tahun mereka menjadi sangat sosial
dengan mengembangkan keterampilan kerjasama yang efektif. Pada usia
tiga sampai lima tahun, menurut Seefeldt & Wasik (2008: 86), hubungan
sosial bisa mempengaruhi perkembangan kognitif dan emosi anak. Anakanak yang ditolak secara sosial akan menjadi anak yang tidak bahagia di
sekolah.
Pola perilaku dalam situasi sosial pada masa kanak-kanak awal
(Hurlock, 1978: 263) meliputi pola perilaku sosial dan pola perilaku
asosial. Pola perilaku sosial meliputi:
a. Kerja sama. Sampai anak berumur 4 tahun mereka belajar bermain
atau bekerjasama dengan anak lain. Semakin banyak kesempatan yang
diberikan untuk melakukan sesuatu bersama, maka semakin cepat
mereka belajar kerja sama.
b. Persaingan. Akan menambah sosialisasi anak jika persaingan
dijadikan
dorongan
bagi
anak
untuk
berusaha.
Tetapi
jika
diekspresikan dalam bentuk pertengkaran atau kesombongan maka
akan megakibatkan sosialisasi yang buruk.
c. Kemurahan hati. Anak belajar jika kemurahan hati dengan berbagai
akan menghasilkan penerimaan sosial.
d. Hasrat akan penerimaan sosial. Keinginan untuk diterima oleh orang
dewasa timbul lebih awal kemudian baru timbul diterima oleh anak
20
sebaya. Keinginan ini akan mendorong anak menyesuaikan diri
dengan tuntutan sosial.
e. Simpati. Anak baru mulai berperilaku simpatik sampai mereka
mengalami situasi yang mirip dengan duka. Anak mengekspresikan
simpati dengan berusaha menolong teman atau menghibur seseorang
yang sedang sedih.
f. Empati. Empati hanya berkembang jika anak dapat memahami
ekspresi wajah atau maksud pembicaraan orang lain.
g. Ketergantungan. Ketergantungan akan mendorong anak untuk
berperilaku dalam cara yang diterima secara sosial. Ketergantungan
kepada orang lain ini dalam bentuk bantuan, perhatian, dan kasih
sayang.
h. Sikap ramah. Anak bersedia bersama atau melakukan sesuatu untuk
orang atau anak lain untuk mengekspresikan sikap ramah dan kasih
sayang anak.
i. Sikap tidak mementingkan diri sendiri. Sikap ini muncul jika anak
diberi kesempatan dan dorongan untuk berbagi, belajar memikirkan
orang lain, dan berbuat untuk orang lain.
j. Meniru. Anak mengembangkan sifat yang menambah penerimaan
sosial dari meniru seseorang yang diterima baik oleh kelompok sosial.
k. Perilaku kelekatan (attachment behavior). Ketika bayi
anak
mengembangkan kelekatan pada ibu atau pengasuh, perilaku ini
21
kemudian pada saat menginjak masa kanak-kanak awal dialihkan
kepada anak lain dan membina persahabatan dengan mereka.
Menurut Steinberg, Hughes, dan Piaget (Anggani Sudono, 2004:
45-51) ciri-ciri perkembangan sosio-emosional anak usia 4 tahun antara
lain yaitu: sangat antusias, lebih menyukai bekerja dengan dua atau tiga
teman yang dipilih sendiri, dapat membereskan alat permainannya, tidak
menyukai bila dipegang tangannya, ada kecenderungan berlari lepas di
halaman sekolah, ada keinginan untuk membawa pulang barang-barang
milik sekolah, dan menyukai hasil pekerjaannya dan selalu ingin
membawanya pulang.
D. Kerja Kelompok Sebagai Bentuk Belajar Anak Usia Dini
Kerja kelompok merupakan salah satu metode pembelajaran bagi anak
usia dini. Berikut ini adalah pembahasan tentang kerja kelompok sebagai
metode pembelajaran anak usia dini.
1. Belajar untuk Anak Usia Dini
Belajar adalah suatu aktivitas dimana terdapat sebuah proses dari
tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa
menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal. Hal tersebut ditunjukkan
dengan adanya perubahan perilaku yang bersifat relatif tetap. Belajar tidak
hanya terbatas pada penambahan pengetahuan saja namun mencakup
berbagai ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. (http://id.wikipedia
.org/wiki/Belajar). Sesuai dengan pengertian tersebut menurut Hilgard
22
(1981) dalam Soekamto dan Winataputra (1997: 13), belajar adalah dapat
melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukaan sebelum ia belajar atau
bila kelakuannya berubah sehingga bisa menggunakan cara lain dalam
menghadapi suatu situasi.
Menurut Nana Sudjana (1998: 28), belajar adalah proses yang
aktif, belajar adalah proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada
disekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan,
berbuat melalui berbagai pengalaman, melihat, mengamati, memahami
sesuatu. Inilah hakikat belajar sebagai inti proses pengajaran.
Winkel (2004: 59) berpendapat bahwa belajar adalah suatu
aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan, yang menghasilakn perubahan-perubahan dalam pengetahuan,
pemahaman,
ketrampilan,
dan
sikap-sikap.
Perubahan
tersebut
ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah
laku. Belajar selain terjadi secara alami juga terjadi melalui proses
pembelajaran yang dilakukkan secara lebih terkonsep, pembelajaran
merupakan proses pengembangan sikap dan kepribadian anak melalui
berbagai tahap dan pengalaman. Proses pembelajaran ini berlangsung
melalui berbagai metode sebagai cara dan alat menjelaskan, menganalisis,
menyimpulkan, mengembangkan, menilai dan menguasai pokok bahasan
sebagai perwujudan pencapaian sasaran/tujuan.
Metode pembelajaran adalah bagian utuh atau terpadu dari proses
pembelajaran. Metode pembelajaran ialah cara guru menjelaskan suatu
23
pokok bahasan atau tema, sebagai bagian kurikulum atau materi
pembelajaran, dalam upaya mencapai sasaran dan tujuan pembelajaran.
Moeslichatoen, (2004: 6) berpendapat bahwa metode pembelajaran yang
digunakan untuk mencapai tujuan di Taman Kanak-kanak harus sesuai
dengan dimensi perkembangan anak. Berikut ini adalah metode-metode
yang sesuai dengan karakteristik anak:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
Bermain
Merupakan bermacam bentuk kegiatan yang memberikan
kepuasan pada diri anak yang bersifat non serius, lentur, dan
bahan mainannya terkandung dalam kegiatan dan yang secara
imajinatif ditransformasi sepadan dengan dunia orang dewasa.
Karyawisata
Karya wisata berarti membawa anak ke obyek-obyek tertentu
sebagai pengayaan pengajaran, pemberian pengalaman belajar
yang tidak mungkin diperoleh anak di dalam kelas (Welton &
Mallon).
Bercakap-cakap
Bercakap-cakap berarti saling mengkomunikasikan pikiran dan
perasaan secara verbal (Hildebrand) atau mewujudkan
kemampuan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Bercakapcakap dapat pula diartikan sebagai dialog atau sebagai
perwujudan bahasa reseptif dan ekspresif dalam suatu situasi
(Gordon & Browne).
Berceritera
Berceritera merupakan cara untuk meneruskan warisan budaya
dari generasi ke generasiberikutnya (Gordon & Browne).
Bercerita juga dapat media untuk menyampaikan nilai-nilai
yang berlaku di masyarakat.
Demonstrasi
Demonstrasi berarti menunjukkan, mengerjakan, dan
menjelaskan. Jadi dalam demonstrasi kita menunjukkan dan
menjelaskan cara-cara mengerjakan sesuatu. Melalui
demonstrasi diharapkan anak dapat mengenal langkah-langkah
pelaksanaan.
Proyek
Metode proyek adalah salah satu metode yang digunakan
untuk melatih kemampuan anak memecahkan masalah yang
dialami anak dalam kehidupan sehari-hari. Cara ini juga dapat
menggerakkan anak untuk melakukan kerja sama sepenuh hati.
24
g.
Kerja sama dilakukan secara terpadu untuk mencapai tujuan
bersama.
Pemberian tugas
Pemberian tugas merupakan pekerjaan tertentu yang dengan
sengaja harus dikerjakan oleh anak yang mendapat tugas. Di
taman kanak-kanak tugas diberikan dalam bentuk kesempatan
melaksanakan kegiatan sesuai dengan petunjuk langsung dari
guru. Pemberian tugas merupakan salah satu metode
pengajaran yang memungkinkan anak untuk mengembangkan
kemampuan bahasa reseptif, kemampuan mendengar dan
menangkap arti, kemampuan kognitif, memperhatikan,
kemauan bekerja sampai tuntas.
Berbeda dengan pendapat Slamet Suyanto (2005: 144), yang
mengungkapkan bahwa metode pembelajaran untuk anak usia dini
hendaknya menantang dan menyenangkan, melibatkan unsur bermain,
bergerak, bernyanyi, dan belajar. Beberapa metode yang memenuhi unsurunsur tersebut antara lain adalah:
a. Lingkari kalender
Pembelajaran dihubungkan dengan kalender dan waktu. Guru
menandai tanggal-tanggal pada kalender yang terkait dengan
berbagai kegiatan. Selanjutnya, guru mendisain kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan tema-tema dasar sesuai
dengan hari tersebut.
b. Presentasi dan cerita
Metode ini baik digunakan untuk mengungkapkan kemampuan,
perasaan, dan keinginana anak.setiap hari guru dapat menyuruh
dua atau tiga orang anak untuk bercerita apa saja yang ingin
diungkapkan. Saat anak bercerita, guru dapat melakukan
asesmen pada anak tersebut. Guru dapat melanjutkan topik yang
dibicarakan anak sebagai pembelajaran.
c. Proyek sederhana
Metode ini melatih anak bekerjasama dalam kelompok kecil 3-4
orang. Setiap kelompok diberi proyek kecil, misalnya
menemukan berbagai jenis daun dan mengecapnya dengan
berbagai warna pada sehelai kertas manila. Anak-anak dalam
satu kelompok menghasilakan satu hasil karya. Begitu pula
proyek-proyek kecil seperti pengamatan dan percobaan dapat
dikerjakan anak. Metode ini melatih anak bekerjasama dalam
mengembangkan kemampuan sosial.
25
d. Kerja kelompok besar
Metode ini menggunakan kelompok besar, yaitu satu kelas
penuh untuk membuat sesuatu. Misalnya untuk mendirikan
tenda yang besar di dalam kelas, semua anak memegang peran,
guru bertugas memberi aba-aba.
e. Kunjungan
anak sangat senang melihat langsung berbagai kenyataan yang
ada di masyarakat melalui kunjungan. Berbagai kunjungan
seperti ke Museum Perjuangan, Museum Dirgantara,
perpustakaan, kepolisian dan dinas pemadam kebakaran menjadi
inspirasi anak untuk mengembangkan cita-citanya (learning to
be).
Belajar dalam kelompok untuk anak Taman Kanak-kanak meliputi:
kelompok kecil, kelompok sedang dan kelompok besar. Kelompok kecil
biasanya terdiri dari dua anak (pair). Hal ini dimaksudkan agar tidak
terlalu sulit mengaturnya. Kelompok sedang terdiri dari empat anak,
biasanya untuk tugas yng lebih kompleks. Sedangkan kelompok besar
terdiri dari seluruh kelas, hal ini juga penting untuk menyatukan anak
dalam kelas sebagai suatu tim (Slamet Suyanto: 2005,150).
2. Kerja Kelompok
Kerja kelompok adalah kegiatan belajar-mengajar dimana anak
dalam suatu kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi atas
kelompok-kelompok kecil untuk mencapai suatu tujuan pengajaran
(http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/metode-kerja-
tertentu
kelompok.html). Sebagai bentuk pembelajaran, kerja kelompok dapat
dipakai
untuk
mencapai
bermacam-macam
tujuan
pengajaran.
Pelaksanaannya tergantung pada beberapa faktor misalnya tujuan khusus
yang akan dicapai, umur, kemampuan anak, serta fasilitas pengajaran di
dalam keIas.
26
Kerja kelompok yang dilaksanakan pada anak usia dini, guru harus
lebih banyak memberikan pengertian dan pemahaman pada anak, sehingga
anak mampu menggunakan keterampilan yang mereka miliki untuk
berhasil dalam kelompok. Banyak anak yang belum pernah bekerja dalam
kelompok dan mungkin perlu latihan dalam keterampilan seperti
mendengarkan secara aktif dan toleran, membantu satu sama lain dalam
menguasai
materi
pembelajaran,
memberi
dan
menerima
kritik
membangun, dan mengelola perbedaan pendapat (http://teaching.berkeley
.edu/bgd/collaborative.html).
Bekerja kelompok mempunyai pengertian, di mana anak didik dalam
suatu kelompok di pandang sebagai satu kesatuan tersendiri, untuk
mencapai suatu tujuan tertentu dengan bergotong-royong. Cara ini juga
dapat menggerakkan anak untuk melakukan kerja sama sepenuh hati
dalam kelompok (Sabri, 2005: 60),.
Kerja sama dilakukan secara terpadu untuk mencapai tujuan
bersama. Kerja kelompok harus hati-hati direncanakan dan sering
membutuhkan fasilitator untuk memastikan kemajuan kelompok. Fungsi
kelompok dan pembelajaran yang terjadi perlu dinilai dan dievaluasi.
Bahan belajar sama pentingnya dengan kemampuan kelompok untuk
mencapai tujuan bersama. Guru sebagai fasilitator sangat penting untuk
memastikan bahwa tugas yang diberikan dapat terlaksana dengan baik dan
fungsi kelompok untuk dapat bekerjasama dan mengembangkan
27
kemampuan
sosial
tetap
terjaga
(wikipedia.org/wiki/Small_group_
learning).
Kerja kelompok memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat
besar dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk lebih
mengembangkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini
dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kelompok anak dituntut untuk
aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok. Menurut
Karli dan Yuliariatiningsih (2002: 72), pembelajaran kelompok memiliki
banyak kelebihan diantaranya adalah:
1.
Dalam suasana belajar mengajar yang bersifat terbuka dan demokratis,
dapat
melibatkan
anak
secara
aktif
dalam
mengembangkan
pengetahuan, sikap, dan keterampilannya terlebih lagi keterampilan
sosial untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat.
2.
Dapat mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri.
3.
Anak berperan sebagai subyek belajar karena anak dapat menjadi tutor
sebaya bagi anak lainnya.
4.
Anak dilatih untuk bekerjasama, bagi kesuksesan kelompoknya.
5.
Memberi kesempatan kepada anak untuk belajar memperoleh dan
memahami pengetahuan yang dibutuhkan secara langsung, sehingga
apa yang dipelajarinya lebih bermakna bagi dirinya.
28
Kerja kelompok yang diharapkan dapat menanamkan kerja sama
pada
anak,
menggunakan
langkah-langkah
sebagai
berikut
(http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/metode-kerja-kelompok.html):
1.
Menjelaskan tujuan dari tugas yang harus dikerjakan anak.
2.
Membagi anak menurut jenis dan sifat tugas.
3.
Mengawasi jalannya kerja kelompok.
4.
Menyimpulkan kemajuan kelompok.
Meskipun anak bekerja dalam kelompok dan melaksanakan
tugasnya masing-masing, namun mereka harus memusatkan perhatian
pada tujuan yang akan dicapai, dan menjaga agar jangan sampai keluar
dan persoalan pokok.
a.
Kelebihan
1) Dapat memupuk rasa kerjasama.
2) Suatu tugas yang luas dapat segera diselesaikan.
3) Adanya persaingan yang hebat.
b.
Kelemahan
1) Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau
sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung
kepada orang lain.
2) Bila kecakapan tiap anggota tidak seimbang, akan rnenghambat
kelancaran tugas, atau didominasi oleh seseorang.
Pendapat lain yang mengungkapkan, manfaat pembelajaran
kelompok adalah memberikan motivasi kepada para peserta didik yang
29
memiliki kemampuan belajar yang berbeda-beda untuk saling membantu,
membuatuhkan toleransi yang tinggi terhadap orang yang berbeda ras,
budaya, kelas sosial bahkan anak yang berkebutuhan khusus. Selain itu
juga mengajarkan kerja sama dan kolaborasi kepada anak didik
(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/ tmp /PPM.Salman.pdf).
Kelebihan Kelompok
a.
Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima
informasi & pendapat anggota yang lain.
b.
Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan
kelompoknya dengan menekan kepentingan pribadi demi tercapainya
tujuan kelompok.
c.
Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan
norma yang telah disepakati kelompok.
Dari berbagai uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa kerja
kelompok merupakan metode pembelajaran yang dapat diterapkan pada
pembelajaran anak usia dini karena anak berinteraksi dengan lingkungaan
secara holistik yang melibatkan aspek kognitif, afektif, maupun
psikomotor dalam pelaksanaannya yang menghasilkan pengalaman
sehingga anak memperoleh pengetahuan, keterampilan dan dengan
berinteraksi dengan anak lain dapat mendorong anak mulai mengenal
adanya perbedaan pola pikir dan keinginan anak lain, sehingga
mengembangkan rasa empati dan melatih kerja sama.
30
E. Kerangka Pikir
Kehidupan sosial anak Taman Kanak-kanak berada pada masa
transisi, sesuai dengan lingkungan hidup yang mulai berubah dari berada
pada lingkungan keluarga ke lingkungan masyarakat yang lebih luas. Anak
mulai berinteraksi dengan orang lain untuk mengembangkan kemampuan
berkomunikasi dan bersosialisasi. Anak harus mengikuti nilai-nilai universal
yang ada dalam masyarakat, supaya mendapatkan kepercayaan dan dapat
diandalkan oleh lingkungan. Dalam kehidupan bermasyarakat diperlukan
sikap, perilaku, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta untuk dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan baik.
Penyesuaian diri anak terhadap lingkungan yang meliputi lingkungan
alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya berhubungan erat dengan
kebersihan lingkungan. Keadaan lingkungan yang bersih, rapi, sehat dan
menyenangkan akan memberikan ketenangan bagi anak. Dalam menciptakan
kebersihan lingkungan itu dibutuhkan kerja sama dengan orang lain. Untuk
menumbuhkan sikap kerja sama diperlukan suatu metode pembelajaran yang
sesuai dengan karakteristik anak usia dini, salah satu metode yang sesuai
untuk mengembangkan perilaku kerja sama tersebut adalah metode kerja
kelompok.
Metode kerja kelompok memiliki fungsi diantaranya menumbuhkan
sikap sosial dan kerja sama, anak diajak untuk menghubungkan sebanyakbanyaknya pengetahuan yang diperolehnya dengan masalah-masalah atau
aspek kehidupan yang dihadapi. Metode kerja kelompok yang menuntut
31
adanya kerja sama digunakan untuk memantapkan pengetahuan yang telah
diajarkan dengan menerapkannya kedalam kehidupan, sehingga membentuk
anak dinamis dan ilmiah dalam berbuat/berkarya.
Metode kerja kelompok yang dalam pelaksanaannya menggunakan
langkah persiapan dan memiliki peraturan, membantu anak mengenali
masalah dan menyelesaikannya sesuai dengan kemampuan masing-masing
individu dalam suatu kelompok. Anak secara aktif terbimbing terlibat
langsung dalam pelaksanaan penyelesaian masalah dalam suatu kelompok
kerja, berinteraksi dan saling bekerjasama dalam kelompok maupun antar
kelompok mengikuti peraturan yang telah ditetapkan. Kesimpulan dari
perilaku kebiasaan memelihara kebersihan lingkungan yang dipelajari anak
dalam kerja kelompok dapat dilihat dari proses pelaksanaan kegiatan dan
hasil kerja anak.
F. Hipotesis Penelitian
Hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah penerapan kerja
kelompok dapat membiasakan anak untuk memelihara kebersihan lingkungan
di Raudhatul Athfal Bligo 1 Ngluwar.
Download