BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori Setiap penelitian

advertisement
BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1
Kerangka Teori
Setiap penelitian memiliki kejelasan titik tolak atau landasan berpikir
dalam memecahkan dan menyoroti masalahnya. Untuk itu, perlu disusun kerangka
teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana
masalah penelitian akan disoroti (Nawawi, 1995: 39). Kerlinger menyebutkan
teori adalah himpunan konstruk (konsep), defenisi, dan proposisi yang
mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi
pada variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat,
2004: 6). Teori-teori yang digunakan adalah Komunikasi Massa, Perkembangan
Teknologi Komunikasi, Media Massa, Televisi, Motivasi, Pengembangan Diri,
dan teori Jarum Hipodermik.
2.1.1 Komunikasi Massa
Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa.
Komunikasi massa berasala dari istilah bahasa Inggris, mass communication,
sebagai kependekan dari mass media communiaction. Artinya, komunikasi yang
menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated. Istilah mass
communication atau communications diartikan sebagai salurannya, yaitu media
massa. Massa mengandung pengertian orang banyak, mereka tidak harus berada
di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai
lokasi, yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh
pesan- pesan komunikasi yang sama. Berlo (dalam Wiryanto, 2005) mengartikan
massa sebagai meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi
massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran.
Komunikasi Massa bisa didefenisikan dalam tiga ciri:
1. Komunikasi Massa diarahkan kepada audiens yang relatif besar,
heterogen, dan anonim.
Universitas Sumatera Utara
2. Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa
mencapai sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak dan
sifatnya sementara.
3. Komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah organisasi
yang kompleks, yang mungkin membutuhkan biaya yang besar (Severin,
Warner J & James W. Tankard, 2005: 4).
Sedangkan menurut Joseph A. Devito (dalam Ardianto, 2004: 11)
merumuskan komunikasi Massa yakni pertama, Komunikasi Massa adalah
komunikasi yang ditujukan kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini
berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang
membaca atau semua orang yang menonton televisi. Kedua, Komunikasi Massa
adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio atau
visual. Komunikasi Massa barangkali akan lebih logis bila didefenisikan menurut
bentuknya: televisi, radio, surat kabar, majalah, film, dan buku.
Komunikasi Massa merupakan sejenis kekuatan sosial yang dapat
menggerakkan proses sosial kearah satu tujuan yang telah ditetapkan terlebih
dahulu. Akan tetapi untuk mengetahui secara tepat dan rinci mengenai kekuatan
sosial yang dimiliki Komunikasi Massa dan hasil yang dicapainya dalam
menggerakkan proses sosial tidaklah mudah, oleh karena itu efek atau hasil yang
dapat dicapai oleh komunikasi yang dilaksanakan melalui berbagai media perlu
dikaji melalui metode tertentu yang bersifat analisis psikologi dan analisis sosial
(Ardianto, 2004: 48).
Efek Media Massa sebagai benda fisik, meliputi:
1. Efek ekonomi: adanya pertumbuhan dalam bidang ekonomi dengan
hadirnya media massa.
2. Efek sosial: berkaitan dengan perubahan struktur atau ineraksi sosial
masyarakat pengguna media massa.
3. Penjadwalan kegiatan sehari-hari: khalayak menyediakan waktu untuk
menikmati media yang ingin dikonsumsinya.
Universitas Sumatera Utara
4. Efek hilangnya perasaan tidak nyaman: untuk memenuhi kebutuhan
psikologis dengan tujuan menghilangkan perasaan tidak nyaman.
5. Efek menumbuhkan perasaan tertentu: media dapat menimbulkan perasaan
positif atau negatif terhadap media tertentu. (Ardianto, 2004: 39).
Sedangkan efek pesan Media Massa, yaitu:
1. Efek Kognitif: berhubungan dengan pikiran atau penalaran sehingga
khalayak yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya bingung
menjadi jelas.
2. Efek Afektif: berkaitan dengan perasaan, akibat menyaksikan tayangan
tertentu dapat menimbulkan perasaan tertentu pada khalayak.
3. Efek Behavioral: berkaitan dengan niat, tekad, usaha yang cenderung
melakukan suatu tindakan atau kegiatan, yang sebelumnya didahului oleh
efek kognitif dan afektif. (Ardianto, 2004: 40)
Untuk memahami proses komunikasi massa perlu dilakukan pemahaman
dengan bentuk analisis makro dan analisis mikro, walaupun pada akhirnya
memiliki hasil yang sama dengan alasan khalayak menggunakan media. Ada
beberapa motif memilih media, yaitu:
1. Coginition (Pengamatan)
Media digunakan sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan masyarakat
terhadap pengetahuan dan wawasan bahkan beberapa masyarakat
menggunakan media untuk membangkitkan ide.
2. Diversion (Diversi)
Media digunakan sebagai sarana untuk relax dan memeuaskan kebutuhan
secara emosional bahkan bisa membangkitkan semangat setelah begitu
jenuh dari rutinitas hidup sehari-hari.
3. Social Utility (Kegunaan Sosial)
Media digunakan sebagai alat untuk mempererat kontak atau hubungan
dengan teman, keluarga, dan masyarakat, misalnya membahas cerita
hangat yang sedang terjadi dengan keluarga.
Universitas Sumatera Utara
4. Withdraw (Menarik)
Media juga digunakan sebagai alasan untuk melakukan tugas dan untuk
menjaga privacy agar tidak diganggu orang lain.
5. Linkage (Pertalian)
Media massa dapat menyatukan khalayak yang beragam sehingga
membentuk suatu pertalian yang berdasarkan minat dan kepentingan yang
sama. (Dominick, 2002: 43)
Sumber utama dalam komunikasi massa adalah lembaga atau organisasi
atau orang yang bekerja dengan fasilitas lembaga atau organisasi (institutionalized
person). Yang dimaksud dengan lembaga dalam hal ini adalah perusahaan surat
kabar, stasiun radio, televisi, majalah, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud
institutionalized person adalah redaktur surat kabar (sebagai contoh). Melalui
tajuk rencana menyatakan pendapatnya dengan fasilitas lembaga. Oleh karena itu,
ia memiliki kelebihan dalam suara atau wibawa dibandingkan berbicara tanpa
fasilitas lembaga.
Pers adalah suatu lembaga sosial. Dalam UU RI no 40 tahun 1999 tentang
pers, pasal 1 ayat (1) menyatakan: “Pers adalah lembaga sosial dan wahana
komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari,
memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi
baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, serta data dan grafik maupun dalam
bentuk lainnya.dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala
jenis saluran yang tersedia”. Bentuk institusi media massa dipertegas lagi pada
pasal 1 ayat (2) yang menyatakan: “Perusahaan pers adalah badan hukum
Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak,
media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan lainnya yang secara khusus
menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi”.
McQuail, 1987 (dalam Nurudin, 2003) menyatakan bahwa komunikator
dalam proses komunikasi massa selain merupakan sumber pesan, mereka juga
berperan sebagai gate keeper yaitu berperan untuk menambah, mengurangi,
Universitas Sumatera Utara
menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah
dipahami oleh audiennya.
Harold D.Laswell (dalam Wiryanto, 2005) memformulasikan unsur-unsur
komunikasi dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Unsur who (sumber atau komunikator). Sumber utamanya dalam
komunikasi massa adalah lembaga. Organisasi atau orang yang bekerja
dengan fasilitas lembaga atau organisasi. Yang dimaksud lembaga atau
organisasi adalah perusahaan surat kabar, stasiun radio atau televisi,
studio film, penerbit buku atau majalah.
2. Unsur says what (pesan). Pesan-pesan komunikasi massa dapat
diproduksi dalam jumlah yang sangat besar dan dapat menjangkau
audien yang sangat banyak. Pesan-pesan itu berupa berita, pendapat,
lagu, iklan, dan sebagainya.
3. Unsur in which channel (saluran atau media). Unsur ini menyangkut
semua peralatan yang digunakan untuk menyebarluaskan pesan-pesan
komunikasi massa. Media yang mempunyai kemampuan tersebut
adalah surat kabar, televisi, majalah, radio, internet, dan sebagainya.
4. Unsur to whom (penerima, khalayak, audien). Penerima pesan-pesan
komunikasi massa biasanya disebut audien atau khalayak. Orang yang
membaca surat kabar, menonton televisi, mendengarkan radio,
browsing internet merupakan beberapa contoh dari audien.
5. Unsur with what effect (dampak). Dampak dalam hal ini adalah
perubahan-perubahan yang terjadi di dalam diri audien sebagai akibat
dari terpaan pesan media. Perubahan ini biasanya berlangsung secara
berurutan.
2.1.2 Perkembangan Teknologi Komunikasi
Penemuan teknologi dimulai sejak lebih dari satu abad yang lalu.
Teknologi berkembang dari riset ilmiah yang dilakukan banyak ilmuwan. Dewasa
ini, penemuan teknologi banyak dilakukan oleh tim riset ilmiah yang berasal dari
beberapa organisasi bisnis, Universitas-Universitas, Organisasi Nirlaba, dan lainlain. Setiap teknologi yang baru biasanya menggantikan teknologi yang sudah tua.
Universitas Sumatera Utara
Penemuan di bidang teknologi dapat memberikan kemudahan-kemudahan bagi
kita, misalnya dalam melakukan pertukaran informasi, transaksi, maupun
transportasi. Perkembangan teknologi juga meningkatkan standar hidup manusia,
meningkatkan
mutu
informasi,
hiburan
dan
pendidikan.
(http://digilib.itb.ac.id/gdl.php)
Teknologi adalah aplikasi praktis suatu pengetahuan, khususnya dalam
satu bidang tertentu. Teknologi berkembang semakin cepat dari waktu ke waktu
karena penemuan suatu teknologi baru dapat mempercepat penemuan teknologi
berikutnya. Dalam sejarah peradaban manusia, terdapat banyak penemuan yang
dapat berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia.
( http://www.itb.ac.id/focus/focus_file/PidatoIlmiahpadaSidangTerbukaPMB.pdf )
Istilah teknologi komunikasi seringkali diucapkan dalam nafas yang sama
dengan istilah teknologi informasi, karena pengertian yang terkandung pada
masing-masing istilah tersebut memang saling berkaitan satu sama lain. Namun,
istilah teknologi komunikasi mencakup pengertian yang lebih luas, termasuk
sistem, saluran, perangkat keras, dan perangkat lunak dari komunikasi modern,
dimana teknologi informasi merupakan bagian dari padanya.
Rogers, 1986 (dalam Lubis, 1997: 42), mendefenisikan teknologi
komunikasi sebagai “alat perangkat keras, struktur organisasi dan nilai-nilai sosial
yang digunakan, untuk mengumpulkan, memproses, dan mempertukarkan
informasi dengan orang lain”.
Perkembangan teknologi komunikasi dewasa ini berlangsung demikian
pesatnya sehingga para ahli menyebut gejala ini sebagai suatu revolusi. Sekalipun
kemajuan tersebut masih dalam perjalanannya, tapi sejak sekarang sudah dapat
diperkirakan terjadinya berbagai perubahan dibidang komunikasi maupun
dibidang-bidang kehidupan lain yang berhubungan, sebagai implikasi dari
perkembangan keadaan yang dimaksud. Perubahan-perubahan yang kelak terjadi,
terutama disebabkan berbagai kemampuan dan potensi teknologi komunikasi
tersebut, yang memungkinkan manusia untuk saling berhubungan satu sama
lainnya, seperti faktor jarak, waktu, jumlah, kapasitas, kecepatan, dan lain-lain,
Universitas Sumatera Utara
kini dapat diatasi dengan berkembangnya berbagai sarana komunikasi mutakhir.
Dengan penggunaan satelit misalnya, hampir tidak ada lagi batas jarak dan waktu
untuk menjangkau khalayak yang dituju dimanapun dan kapan saja diperlukan.
(Nasution, 1989: 6)
Perubahan terbesar di bidang komunikasi sejak munculnya televisi adalah
penemuan dan pertumbuhan internet. Internet merupakan bagian dari komunikasi
digital. Komunikasi digital juga mencakup elemen yang tidak ada pada internet,
seperti CD-ROM, multimedia, atau perangkat lunak computer VR/ Virtual Reality
yaitu gambar tiga dimensi yang seperti nyata. (Severin dan Tankard, 2005: 443)
Sementara itu Haag dkk, 2000 (dalam Bungin, 2006: 113) membagi
teknologi komunikasi informasi menjadi 6 kelompok yaitu:
a. Teknologi Masukan (input technology)
b. Teknologi Keluaran (output technology)
c. Teknologi Perangkat Lunak (software technology)
d. Teknologi Penyimpanan (stroge technology)
e. Teknologi Telekomunikasi (telecommunication technology)
f. Mesin Pemroses (processing machine) atau lebih dikenal dengan istilah
CPU.
Bell, 1979 (dalam Nasution, 1989:11), menyebutkan beberapa wujud
sistem komunikasi yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi, yaitu:
1. Jaringan pengolahan data yang kelak memungkinkan orang berbelanja
cukup dengan menekan tombol-tombol computer dirumah masingmasing.
2. Jaringan pengolahan data yang kelak memungkinkan orang berbelanja
cukup dengan menekan tombol-tombol computer dirumah masingmasing.
3. Jaringan pengolahan data yang kelak memungkinkan orang berbelanja
cukup dengan menekan tombol-tombol computer dirumah masingmasing.
Universitas Sumatera Utara
4. Sistem faksimil, yang memungkinkan pengiriman dokumen secara
elektronik.
5. Jaringan komputer interaktif, yang memungkinkan pihak-pihak
berkomunikasi mendiskusikan informasi melalui komputer.
Menurut Ploman (dalam Nasution, 1989: 1), kemajuan teknologi
komunikasi tersebut ditandai oleh tiga karakteristik berikut ini:
1. Tersedianya keluwesan dan kesempatan memilih diantara berbagai
metode dan alat
untuk melayani kebutuhan manusia dalam
komunikasi. Bila pada masa lalu hanya ada alat peralatan “berat”, yang
professional, dan mahal, maka kini tersedia bermacam sarana yang
lebih “ringan”, metode yang hanya memerlukan keterampilan minimal,
serta murah. Dengan kata lain, ki ni kita bisa memilih sendiri tingkat
teknologi yang kita perlukan.
2. Kemungkinan mengkombinasikan teknologi, metode, dan sistemsistem yang berbeda dan terpisah selama ini. Berbagai bentuk baru
transfer komunikasi dan informasi telah dimungkinkan dengan
pengkombinasian tersebut.
3. Kecenderungan kearah desentralisasi, individualisasi dalam konsep
dan pola pemakaian teknologi komunikasi.
Berdasarkan karakteristik serta bentuk-bentuk wujud fisik teknologi
komunikasi tersebut, dapat diperkirakan betapa luasnya potensi teknologi
komunikasi sehingga penerapannya pun akan meliputi berbagai bidang kehidupan
manusia.
Ciri utama dari perkembangan teknologi komunikasi adalah terjadinya
perkawinan antar beberapa jenis media dan teknolgi, yang kemudian
menghasilkan bentuk-bentuk baru yang memiliki kemampuan berlipat ganda dan
menciptakan aneka pelayanan komunikasi yang lengkap dan unik, yang bahkan
tidak terbayangkan sebelumnya. (Nasution, 1989 : 6).
Universitas Sumatera Utara
2.1.3 Media Massa
Media massa adalah media komunikasi yang mampu menimbulkan
keserempakan, dalam arti khalayak dalam jumlah yang relatif sangat banyak serta
memperhatikan pesan yang dikomunikasikan melalui media tersebut, misalnya
surat kabar, radio, televisi siaran dan film teatrikal yang ditayangkan digedung
bioskop (Kuswandi, 1996: 15).
Media massa dibagi menjadi dua yakni media cetak dan media elektronik.
Media massa cetak yakni surat kabar, majalah dan lain-lain merupakan media
komunikasi yang pertama kali muncul dan digunakan. Sebelum kemunculan
media elekronik, media cetak menjadi sarana masyarakat untuk mendapatkan
informasi. Namun, setelah teknologi berkembang pesat, media cetak mulai
berkurang jumlah penggunaannya karena mereka beralih ke media elektronik
yang dirasa cukup memberikan kemudahan. Media massa elektronik yaitu televisi
sebagai bagian dari media komunikasi saat ini tidak bisa dihilangkan
keberadaanya. Media ini sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia terutama
dalam mengisi aktivitas kesehariannya. Bahkan dibandingkan dengan media cetak
seperti surat kabar, majalah, maka media elektronik ini jauh lebih banyak
penggunaannya. Beberapa alasan orang menggunakan media elektronik dalam hal
ini televisi, karena media ini , memberikan informasi secara cepat, sifatnya yang
audio-visual memudahkan orang untuk memahami informasi yang diberikan baik
secara langsung disaat kejadian maupun mengerjakan aktivitas lainnya.
Kemudahannya inilah, maka pengguna media elektronik semakin banyak.
Media massa memiliki lima fungsi yakni, menyiarkan informasi yang
dibutuhkan masyarakat, mendidik dengan menyajikan informasi-informasi yang
dapat menambah pengetahuan, menghibur dengan menyajikan tayangan yang
dapat menghibur khalayak, dan membujuk atau mempersuasi khalayak untuk
melakukan suatu tindakan serta sebagai media advertising/iklan. (Kuswandi,
1996: 17).
Universitas Sumatera Utara
Sementara itu Robert K. Avery. 1980 (dalam Wahyudi: 45) berpendapat
bahwa, individu dalam menerima pesan-pesan dari media massa apakah itu
berbentuk berita, pendidikan, hiburan ataupun iklan akan memberikan reaksi
terhadap pesan-pesan itu, berupa:
1. Selective attention, masing-masing hanya kan memilih program atau
berita yang menarik minatnya.
2. Selective perception, individu akan menafsirkan sendiri pesan-pesan
yang diterima melalui media massa.
3. Selective Retention, individu hanya mengingat hal-hal yang ingin dia
ingat.
Dalam kaitannya dengan televisi, maka yang dimaksud dengan media
massa disini ialah media massa periodik seperti surat kabar, majalah (media massa
cetak), radio, televisi, dan film (media massa elektronika). Media massa sendiri
mempunyai pengertian saluran/ media yang dipergunakan untuk mengadakan
komunikasi dengan massa. Ini perlu diingat karena massa pada media massa non
periodik manusia (rapat umum) dan massa pada tatap muka (face to face
communication), dimana satu komunikator menghadapi massa komunikan
misalnya pada rapat umum, maka massa disini berada disuatu tempat yang sama
dan dapat memberikan reaksi secara langsung (two way trafic communication)
sesuai dengan sifat komunikasi tatap muka (Wahyudi, 1986: 43).
Laswell, 1948 (dalam Wahyudi, 1986: 43- 44) melihat tiga fungsi utama
media massa, yaitu:
a. Fungsi pengamatan lingkungan atau dalam bahasa yang sederhana
pemberi informasi dan penyampaian berita.
b. Menekankan pada seleksi, evaluasi dan interpretasi dari media massa.
Peranan media massa adalah melakukan seleksi mengenai apa yang perlu
dan apa yang tidak perlu disiarkan. Pemilihan dilakukan oleh editor,
redaktur, dan pengelola media massa.
Universitas Sumatera Utara
c. Sebagai sarana untuk memindahkan nilai dan warisan budaya dari generasi
ke generasi.
Ahli komunikasi lain menambahkan fungsi utama media massa adalah
sebagai media hiburan. Sedangkan Wilbur Schramm menambahkan fungsi kelima
dari media massa adalah sebagai media advertising /iklan. Dengan demikian
kelima fungsi utama dari media massa adalah pemberi informasi, seleksi berita/
informasi, pendidikan, hiburan, dan iklan/ advertising.
Ditinjau dari sasaran/ komunikan dari media massa maka setiap manusia
menerima pesan dari media massa apakah itu surat kabar, majalah, radio, film,
maupun televisi akan mengadakan reaksi yang berbeda-beda karena setiap
manusia mempunyai karakter dan kepentingan yang berbeda pula.
Robert K. Avery, 1980 (dalam Wahyudi, 1986: 45-46), memberikan
karakteristik media massa dibandingkan dengan komunikasi tatap muka/face to
face communication/ interpersonal communication yang digolongkan enam
macam, yaitu:
a. Komunikator tidak dapat berhubungan langsung dengan massa
komunikan, karena saluran yang dipakai adalah media eletronik atau
media cetak. Komunikasi tatap muka antara komunikator dan
komunikan dapat berhubungan langsung.
b. Sistem komunikasi massa sangat kompleks dibandingkan dengan
komunikasi tatap muka.
c. Komunikasi pada komunikasi tatap muka dapat berlangsung dua arah,
atau komunikan dapat memberikan feedback secara langsung.
d. Pesan singkat dari komunikator melalui media massa dapat diterima
olehmassa komunikan, dengan demikian media massa sangat efektif
biladigunakan untuk media iklan.
e. Komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen, anonim, dan
luwes tersebar luas, meskipun pada umumnya komunikan mempunyai
persamaan perhatian, kepentingan dan orientasi.
Universitas Sumatera Utara
f. Media massa dapat mengirimkan pesan kepada komunikan yang
berbeda tempat diseluruh dunia secara mendadak dan berurutan.
McQuail, 1987 (dalam Wahyudi, 1986: 47-48), menyebutkan ciri-ciri
khusus lembaga media massa adalah sebagai berikut:
a. Memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan dalam wujud informasi,
pandangan, dan budaya. Upaya tersebut merupakan respon terhadap
kebutuhan sosial kolektif dan permintaan individu.
b. Menyediakan saluran untuk menghubungkan orang tertentu dengan orang
lain, dari pengirim ke penerima, dari anggota audien ke anggota audien
lainnya, dari seseorang ke masyarakat dan institusi masyarakat terkait.
Semua itu bukan sekedar saluran fisik jaringan komunikasi, melainkan
juga merupakan saluran tata cara dan pengetahuan yang menentukan
siapakah sebenarnyayang patut atau berkemungkinan untuk mendengar
sesuatu dan kepada siapa ia harus mendengarnya.
c. Media menyelenggarakan sebagian besar kegiatannya dalam lingkungan
publik, dan merupak intitusi terbuka bagi semua orang untuk peran serta
sebagai penerima (atau dalam kondisi tertentu sebagai pengirim). Institusi
media juga mewakili kondisi publik, seperti yang tampak bila mana media
massa menghadapi masalah yang berkaitan dengan pendapat publik (opini
publik) dan ikut berperan membentuknya (bukan masalah pribadi,
pandangan ahli, atau penilaian ilmiah).
d. Partisipasi anggota audien dalam institusi
pada hakikatnya bersifat
sukarela, tanpa adanya keharusan atau kewajiban sosial. Bahkan lebih
bersifat sukarela daripada beberapa institusi lainnya, misalnya pendidikan,
agama atau politik. Partisipasi anggota audien lebih mengacu pada mengisi
waktu senggang dan satai, bukannya berkenaan dengan pekerjaan dan
tugas. Hal tersebut dikaitkan juga dengan ketidakberdayaan formal
institusi media: media tidak dapat mengandalkan otoritasnya sendiri dalam
masyarakat, serta tidak mempunyaiorganisasi yang menghubungkan
pemeran-serta “lapisan atas” (produsen pesan) dan pemeran-serta “lapisan
bawah” (audien).
Universitas Sumatera Utara
e. Industri
media
dikaitkan
dengan
industri
dan
pasar
karena
ketergantungannya pada imbalan kerja, teknologi, dan kebutuhan
pembiayaan.
f. Meskipun institusi media itu sendiri tidak memiliki kekuasaan, namun
institusi ini selalu berkaitan dengan kekuasaan negara karena adanya
kesinambungan pemakaian media, mekanisme hukum, dan pandangapandangan menentukan yang berbeda antara negara yang satu dengan
lainnya.
2.1.4 Televisi
Televisi sudah tidak terdengar asing dalam kehidupan masyarakat. Televisi
dapat dikatakan sebagai suatu hal yang mampu melengkapi kehidupan masyarakat
dalam memperoleh informasi. Namun walaupun dianggap penting, banyak
masyarakat yang tidak mengetahui apakah sebenarnya arti televisi itu sendiri.
Istilah televisi terdiri dari dua suku kata, yaitu “tele” yang berarti jauh dan
“vision” yang berarti penglihatan. Televisi adalah salah satu bentuk media massa
yang selain mempunyai daya tarik yang kuat, disebabkan unsur- unsur kata, musik
dan sound effect, juga memiliki keunggulan yang lain yaitu unsur visual berupa
gambar hidup yang menimbulkan pesan yang mendalam bagi pemirsanya
(Effendy, 2004: 192).
Istilah television sendiri baru dicetuskan pada tanggal 25 Agustus 1900 di
kota Paris, yang saat itu di kota tersebut berlangsung pertemuan para ahli bidang
elektronika dari berbagai negara. Dengan demikian kata televisi disini diartikan
dengan televisi siaran yang dapat dilakukan melalui transmisi atau pancaran dan
dapat juga disalurkan melalui kabel (televisi kabel). Dalam sistem transmisi atau
pancara, gambar dan suara yang dihasilkan oleh kamera elektronik diubah
menjadi gelombang elektromagnetik dan selanjutnya ditransmisikan melalui
pemancar. Gelombang elektromagnetik ini diterima oleh sistem antena yang
menyalurkan ke pesawat penerima (pesawat televisi). Di pesawat televisi
gelombang elektromagnetik itu diubah menjadi gambar dan suara yang kita
nikmati di televisi.
Universitas Sumatera Utara
Pada hakikatnya, media televisi terlahir karena perkembangan teknologi.
Berawal dari ditemukannya electrische teleskop sebagai perwujudan dari gagasan
seorang mahasiswa dari Berlin (Jerman Timur) yang bernama Paul Nipkov, untuk
mengirim gambar melalui udara dari suatu tempat ke tempat yang lain. Hal ini
terjadi sekitar tahun 1883 sampai 1884. Atas perwujudan dari gagasan Nipkov,
maka ia diakui sebagai “Bapak” televisi sampai sekarang. Televisi sendiri mulai
dinikmati oleh masyarakat Amerika Serikat pada tahun 1939 yaitu, ketika
berlangsungnya “World Fair” di Kota New York hingga saat ini. Televisi
memberikan banyak pengaruh pada kehidupan manusia. Pengaruh itu bisa berupa
pengaruh sosial, politik, ekonomi, budaya dan pertahanan suatu keamanan negara
(Kuswandi, 1996:6).
Televisi adalah produk dari teknologi canggih dan kemajuaannya sendiri
sangat tergantung dari kemajuan-kemajuan di bidang teknologi, khususnya
teknologi elektronika. Wajarlah bila pengadaan dan pengelolaannya memerlukan
biaya yang sangat mahal dan melibatkan banyak tenaga yang memiliki keahlian
yang berbeda-beda. Landasan tunggal, dari pengelola siaran televisi yang
memiliki keahlian yang berbeda ini ialah kreatifitas perorangan. Tanpa kreatifitas
siaran televisi akan monoton dan sangat menjemukan penontonnya (Wahyudi,
1986: 49-51).
Dengan kehadiran televisi di dunia merupakan perkembangan teknologi
khususnya teknologi elekronika sejak abad 19 dan berlanjut pada abad 20, dan
nampaknya
akan terus berlanjut
pada
abad-abad
berikutnya,
sehingga
perkembangan televisi juga juga kan ditentukan oleh perkembangan teknologi
elektronik itu sendiri. Kehadiran televisi ini juga mampu mengubah peradaban
dunia. Di Indonesia “televisi” secara tidak formal disebut TV. Televisi merupakan
salah satu sumber informasi yang bersifat satu arah, linear communication.
Televisi selain dapat digunakan sebagai media edukasi, informasi,juga dapat
berperan sebagi media entertainment bagi para pemirsanya. Peran televisi sebagai
media massa adalah hal yang melekat, dan yang merupakan media massa yang
dapat dipublikasikan secara cepat. Sama juga seperti radio, pada awalnya
mendapakan gelombang siaran, televisi juga juga membutuhkan antena karena
Universitas Sumatera Utara
harus melakukan proses encoding dari gelombang yang ditransmisikan oleh
stasiun televisi. Awalnya untuk mencari siaran televisi juga dilakukan secara
manual layaknya frekuensi radio (masih analog), kemudian mulai dikembangkan
teknologi yang lebih digital maka tercipta remote dan untuk melakukan tuning
siaran televisi cukup dengan menekan tombol dari remote pada masa ini hanya
stasiun local dan nasional yang dapat dinikmati.
Apalagi televisi yang ada sekarang ini, batas-batas negara pun bukan lagi
hal yang sulit untuk diterjang melainkan begitu mudah untuk diterobos. Karena
itu, bila informasi media televisi dari berbagai belahan dunia tidak terkontrol
maka akan menimbulkan efek yang cukup besar, misalnya penjajahan negara
dalam hal informasi.
Posisi dan peran media televisi dalam operasionalisasinya di masyarakat,
tidak berbeda dengan media cetak dan radio. Robert K. Afery dalam bukunya
“Communication and The Media” dan Stanford B. Weinberg dalam “Message-A
Reader in Human Communication’ Random House, New York 1980,
mengungkapkan tiga fungsi media yaitu:
a.
The surveillance of the environment yaitu mengamati lingkungan.
b.
The corelation of the part of society in responding the environment
yaitu mengadakan korelasi antara informasi data yang diperoleh
dengan kebutuhan khalayak sasaran, karena komunikator lebih
menekankan pada seleksi evaluasi dan interpretasi.
c.
The transmition of the social heritage from one generation to he
next, maksudnya ialah menyalurkan nilai-nilai budaya sari suatu
generasi ke generasi berikutnya.
Ketiga fungsi diatas pada dasarnya memberikan satu penilaian pada media
massa sebagai alat atau sarana secara sosiologis menjadi perantara untuk
menyambung atau menyampaikan nilai-nilai tertentu kepada masyarakat. Itulah
media televisi dengan berbagai kelebihan serta kekurangan nya. Melihat posisi
dan peranannya, bukan tidak mungkin pada suatu saat media televisi akan
Universitas Sumatera Utara
memberikan kemajuan bagi manusia sebagai aset informasi dan komunikasi
(Kuswandi, 1996: 24-25).
Karakteristik Televisi
Ditinjau dari stimulasi alat indera, dalam radio siaran, surat kabar, dan
majalah hanya ada satu indera yang mendapat stimulus. Radio siaran dengan
indera pendengaran, Surat Kabar dan majalah dengan indera penglihatan.
1.
Audiovisual
Televisi memiliki kelebihan, yakni dapat didengar sekaligus dapat dilihat
(audiovisual). Jadi, apabila khalayak radio siaran hanya mendengar katakata, musik dan efek suara, maka khalayak televisi dapat melihat
gambardan suara. Keduanya harus ada kesesuaian secara harmonis. Betapa
menjengkelkan bila acara televisi hanya terlihat gambarnya tanpa suara,
ataupun suara tanpa gambar. Karena sifatnya audiovisual, maka acara
siaran berita harus dilengkapi dengan gambar diam seperti foto, gambar
peta (still picture), maupun film berita, yakni rekaman peristiwa yang
menjadi topik berita. Apabila siaran berita televisi tidak dilengkapi dengan
unsur visual, sama saja dengan berita siaran radio.
2.
Berpikir dalam gambar
Pihak yang bertanggung jawab atas kelancaran acara televisi adalah
pengarah acara. Bila ia membuat naskah acara atau membaca naskah
acara, ia harus berpikir dalam gambar (think in picture). Begitu pula bagi
seorang komunikator yang akan menyampaikan informasi, pendidikan atau
persuasi, sebaiknya ia tidak membuat naskah, ia dapat menyampaikan
keinginannya
pada
pengarah
acara
tentang
penggambaran
atau
visualisasidari acara tersebut. Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses
berpikir dalam gambar. Pertama, adalah visualisasi (visualization), yakni
menerjemahkan kata-kata yang mengandung gagasan yang menjadi
gambar secara individual. Dalam proses visualisasi, pengarah acara harus
berusaha menunjukkan objek-objek tertentu menjadi gambar yang jelas
Universitas Sumatera Utara
dan menyajikannya sedemikian rupa, sehingga mengandung suatu makna.
Objek tersebut bisa manusia, benda, kegiatan dan lain sebagainya.
3.
Pengoperasian lebih kompleks
Dibandingkan radio siaran, pengoperasian televisi siaran lebih komplek
dan lebih banyak melibatkan orang untuk menayangkan acara siaran berita
yang dibawakan oleh dua orang pembaca berita. Peralatan yang digunakan
pun lebih banyak dan untuk pengoperasiannya lebih rumit dan harus
dilakukan oleh orang-orang yang terampil dan terlatih. Dengan demikian
media televisi lebih mahal daripada surat kabar, majalah, atau radio siaran.
Beberapa kelebihan televisi diantaranya: (Wahyudi, 1986: 55)
a. Televisi yang bersifat audiovisual, telah membuat siapa saja baik yang
berpendidikan maupun yang buta huruf dapat menikmati acara yang
disajikan. Gabungan dari media dengar dan gambar dalam penyampaian
pesannya seolah-olah komunikator dan komunikan berinteraksi secara
langsung sehingga pesan yang disampaikan oleh televisi lebih mudah
untuk dimengerti karena terdengar jelas secara audio dan terlihat secara
visual.
b. Televisi
merupakan
media
yang
persuasif
dan
tangguh
dalam
mendemonstrasikan penggunaan suatu barang.
c. Kombinasi suara, gerak, dan warna dapat memberikan creative advantages
dibanding media lainnya, sehingga dapat mengkreasikan Brand Images
lebih dramatis.
d. Dapat menyaksikan kejadian di tempat jauh tanpa harus pergi ke tempat
tersebut. Hal ini dapat dinikmati dalam siaran langsung pertandingan
olahraga atau konser musik.
e. Dapat menikmati beragam tayangan hiburan dengan gratis. Tak perlu pergi
ke movie theater untuk menyaksikan film yang bermutu.
f. Dapat menikmati beragam tayangan hiburan dengan gratis. Tak perlu pergi
ke movie theater untuk menyaksikan film yang bermutu.
Universitas Sumatera Utara
g. Banyaknya
channel
dalam televisi membuat semua orang dapat
menyaksikan program favorit masing-masing.
Walaupun demikian, televisi juga memiliki kelemahan, antara lain:
(Wahyudi, 1986: 56)
a. Dibatasi oleh durasi program dan panjangnya visualisasi, media televisi
memakan biaya yang besar.
b. Tidak bisa didengarkan sambil lalu. Orang yang keranjingan televisi
biasanya suka melupakan aktifitasnya.
c. Sifatnya yang transitority mengakibatkan isi pesan tidak dapat dimemori
oleh pemirsa seperti halnya media cetak misalnya Koran, majalah yang
dapat dikliping.
d. Sebagai media elektronik, pesan yang disampaikan bersifat selintas (tidak
dapat disimpan).
e. Televisi tidak dapt melakukan kritik sosial dan pengawasan sosial secara
langsung seperti halnya media cetak. Hal ini disebabkan karena faktor
penyebaran siaran televisi begitu luas kepada massa yang heterogen.
Pengaruh televisi cenderung menyentuh aspek psikologis massa sedangkan
media cetak lebih mengandalkan efek rasionalitas.
Menurut Prof. DR. R. Mar’at, (dalam Effendy, 2006: 122), acara televisi
ada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan menonton,
sebab salah satu pengaruh psikologis dari televisi seakan-akan menghipnotis
penonton sehingga terhanyut atas sajian-sajian televisi.
Ada tiga dampak yang ditimbulkan dalam setiap tayangan televisi terhadap
pemirsanya, yaitu: (Wahyudi, 1986: 57)
1. Dampak kognitif, berhubungan dengan pikiran atau pemahaman yaitu
kemampuan seseorang atau pemirsa untuk menyerap dan memahami acara
yang ditayangkan oleh televisi yang melahirkan pengetahuan bagi
pemirsanya.
2. Dampak afektif yang berkaitan dengan perasaan yaitu pemirsa dihadapkan
pada trendi aktual yang ditayangkan di televisi yang mempengaruhi
Universitas Sumatera Utara
pemirsa untuk menyerap pesan sehingga timbul perasaan tertentu, berupa
perasaan suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, mendukung atau
tidak mendukung hingga sadar atau tidak sadar.
3. Dampak konatif yang berhubungan dengan perilaku yaitu proses
tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang ditayangkan di televisi yang
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
2.1.5 Motivasi
Motivasi adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak.
Orang yang tidak mau bertindak sering kali disebut tidak memiliki motivasi.
Alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar maupun dari dalam diri.
Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu datang dari dalam diri, faktor luar
hanyalah pemicu munculnya motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah motivasi
yang pemicunya datang dari luar diri kita. Sementara motivasi dari dalam adalah
motivasi yang munculnya dari inisiatif diri kita. (Siagian, 1995: 41).
Mitchell 1982, dalam Winardi (2002: 28-29) menjelaskan, motivas
memiliki sejumlah sifat yang mendasarinya, yaitu:
a. Ia merupakan fenomena individual, artinya masing-masing individu
bersifat unik, dan fakta tersebut harus diingat pada riset motivasi,
b. Motivasi bersifat intensional, maksudnya apabila seseorang karyawan
melaksankan suatu tindakan, maka hal tersebut disebabkan karena orang
tersebut secara sadar, telah memilih tindakan tersebut,
c. Motivasi memiliki macam-macam fase. Para ahli telah menganalisis
berbagai macam aspek motivasi, dan termasuk di dalamnya bagaimana
motivasi tersebut ditimbulkan, bagaimana ia diarahkan, dan pengaruh apa
menyebabkan timbulnya persistensinya, dan bagaimana motivasi dapat
dihentikan.
Berendoom dan Stainer (dalam Sedarmayanti, 2000:45), mendefinisikan
motivasi sebagai kondisi mental yang mendorong aktivitas dan memberi energi
yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan member kepuasan atau mengurangi
Universitas Sumatera Utara
ketidak seimbangan. Hasibuan (2003: 95) mendefinisikan motivasi adalah
pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar
mereka mau bekerja sama, efektif dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk
mencapai kepuasan. Wahjosumidjo (1984: 50) mengemukakan motivasi dapat
diartikan sebagai suatu proses psikologi yang mencerminkan interaksi antara
sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang.
Proses psikologi timbul diakibatkan oleh faktor di dalam diri seseorang itu
sendiri yang disebut intrinsic dan extrinsic. Faktor di dalam diri seseorang bisa
berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan,
cita-cita yang menjangkau ke masa depan sedang faktor dari luar diri dapat
ditimbulkan oleh berbagi faktor-faktor lain yang sangat kompleks. Tetapi baik
faktor ekstrinsik maupun faktor intrinsik motivasi timbul karena adanya
rangsangan.
Memperhatikan uraian di atas, Gibson (dalam Winardi, 2002: 4)
menjelaskan bahwa apabila kita mempelajari berbagai macam pandangan dan
pendapat mengenai motivasi, dapat ditarik sejumlah kesimpulan:
a. Para teoritisi menyajikan penafsiran-penafsiran yang sedikit berbeda
tentang motivasi dan mereka menitikberatkan faktor-faktor yang berbedabeda.
b. Motivasi berkaitan dengan perilaku dan kinerja.
c. Motivasi mencakup pengarahan ke arah tujuan.
d. Dalam hal mempertimbangkan motivasi, perlu memperhatikan faktorfaktor fsiologikal, psikologikal, dan lingkungan sebagai faktor-faktor
penting.
Motivasi seseorang tergantung kepada kekuatan motifnya. Berdasarkan hal
tersebut diskusi mengenai motivasi tidak bisa lepas dari konsep motif. Pada
intinya dapat dikatakan bahwa motif merupakan penyebab terjadinya tindakan.
Steiner (dalam Hasibuan, 2003: 95) mengemukakan motif adalah “suatu
pendorong dari dalam untuk beraktivitas atau bergerak dan secara langsung atau
mengarah kepada sasaran akhir”.
Universitas Sumatera Utara
Motif kadang-kadang dinyatakan orang sebagai kebutuhan, keinginan,
dorongan yang muncul dalam diri seseorang. Motif diarahkan ke arah tujuan
tujuan yang dapat muncul dalam kondisi sadar atau dalam kondisi di bawah sadar.
Motif-motif merupakan “mengapa” dari perilaku. Mereka muncul dan
mempertahankan aktivitas, dan mendeterminasi arah umum perilaku seorang
individu. (Winardi, 2002: 33)
Hubungan antara motif, tujuan, dan aktivitas dapat ditunjukan pada
gambar berikut ini:
Gambar 2.1
Sebuah Situasi yang Memotivasi
Motif
Aktifitas yang
diarahkan kepada
Perilaku
Tujuan
Aktivitas Tujuan
Sumber: Winardi, 2002: 41
Gambar 1 menunjukkan sebuah situasi yang memotivasi, di mana motifmotif seorang individu, diarahkan ke arah pencapaian tujuan. Motif terkuat,
menimbulkan perilaku, yang bersifat diarahkan kepada tujuan atau aktivitas
tujuan. Mengingat bahwa tidak semua tujuan dapat dicapai, maka para individu
tidak selalu mencapai aktivitas tujuan, terlepas dari kekuatan motif yang ada. Jadi
dengan demikian aktivitas tujuan dinyatakan dalam gambar berupa garis putusputus.
Berdasarkan uraian di atas, dalam konsep motif terkandung makna:
a. motif merupakan daya pendorong dari dalam diri individu.
b. motif merupakan daya pendorong dari dalam diri individu.
c. motif diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian motif
dapat didefinisikan sebagai daya pendorong dari dalam diri individu
Universitas Sumatera Utara
sebagai penyebab terjadinya aktivitas, yang diarahkan untuk mencapai
tujuan tertentu.
Proses motivasi:
a. Tujuan
Tujuan merupakan alasan utama mengapa seseorang memiliki motivasi.
Motivasi itu muncul karena seseorang tersebut ingin mencapai tujuan
dalam hidupnya.
b. Mengetahui Kepentingan
Untuk mendapatkan sebuah motivasi seseorang tersebut harus mengetahui
serta menyadari kepentingan apa yang menjadi tujuan untuk mencapai
sesuatu.
c. Komunikasi Efektif
Motivasi itu muncul apabila kita mempunyai komunikasi yang efektif
dengan orang lain. Dengan komunikasi yang efektif akan membantu kita
dalam mendapatkan motivasi dari orang lain.
d. Integritas Tujuan
Dalam memotivasi diri, selain kita perlu mengetahui tujuan yang akan kita
capai, kita juga perlu mengintegrasikan tujuan kita tersebut agar kita
mudah dalam mencapainya.
e. Fasilitas
Fasilitas yang baik dan lengkap menjadi faktor pendorong yang ampuh
dalam memotivasi seseorang. Dengan fasilitas yang tersedia, maka
seseorang itu akan semangat serta termotivasi. (Siagian: 1995: 46)
Atas dasar sumber dan proses perkembangan, terjadi penggunaan berbagai
macam istilah yang sering dipertukarkan.untuk keperluan studi psikologi telah
diadakan penertiban dengan diadakannya penggolongannya. Antara lain sebagai
berikut ini. (Siagian, 1995)
1.
Motif Primer
Universitas Sumatera Utara
Menunjuk kepada motif yang tidak dipelajari untuk itu sering juga digunakan
istilah dorongan. Golongan motif ini pun dibedakan lagi ke dalam:
(a) Dorongan fisiologis yang bersumber pada kebutuhan organis yang
mencakup antara lain lapar, haus, pernapasan, seks, kegiatan, dan
istirahat. Untuk menjamin kelangsungan hidup organis diperlukan
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut sehingga mencapai keadaan
fisik yang seimbang.
(b) Dorongan umum dan motif darurat, termasuk didalamnya dorongan
takut, kasih sayang, kegiatan, kekaguman dan ingin tahu, dalam
hubungannya dengan rangsangan dari luar, termasuk dalam golongan
melarikan
diri,
menyerang,
berusaha
dan
mengejar
untuk
menyelamatkan diri.
2.
Motif Sekunder
Menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam diri individu karena
pengalaman, dan dipelajari kedalam golongan sebagai berikut :
(a) Takut yang dipelajari (learned fears)
(b) Motif Sosial (ingin diterima, ingin dihargai, konformitas, afiliasi dll)
(c) Motif-motif Obyektif (eksplorasi, manipulasi, dan minat)
(d) Maksud (purpose) dan aspirasi
(e) Motif berprestasi (Achievement Motive)
Dari pengertian serta penggolongan, motifasi tersebut, motivasi jika
dihubungkan dengan proses pengembangan diri seseorang berarti segala alasan
dan pendorong dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang tersebut
mengembangkan dirinya sehingga bisa lebih baik dari sebelumnya.
2.1.6 Pengembangan Diri
Universitas Sumatera Utara
Menurut Kartono (1995: 39), defenisi dari pengembangan diri adalah
“Individu-individu yang mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan
kemampuan-kemampuan mereka melalui usaha-usaha yang diarahkan oleh diri
mereka sendiri”. Dari definisi diatas jelas bahwa cara pendekatan tersebut
merefleksikan prinsip-prinsip keikutsertaan dan kemandirian. Cara pendekatan
pengembangan diri secara implisit memasukkan ciri penting otonomi belajar yang
terkandung dalam penciptaan kemandirian, tanggung jawab, dan keberanian
mengambil resiko.
Bagi jiwa yang selalu ingin maju, pengembangan diri merupakan salah
satu syarat utama yang tidak bisa dilewati. Dalam pengembangan diri sendiri
sering kali kita dituntut untuk rela berkorban, menginvestasikan materi ataupun
waktu sendiri. Bisa berupa mengikuti seminar-seminar dalam bidang yang ingin
dikembangkan. Atau membeli buku-buku sebagai bahan referensi pengembangan
diri.
Hal-hal
tersebut
yang
berhubungan
dengan
pengorbanan
untuk
mengembangkan diri, sering disebut self-infestment. Pengorbanan tersebut
sebetulnya adalah wujud sebuah investasi, ada harapan meraup sebuah
keuntungan yang lebih besar tentunya. Karena memang seperti itu wujud sesuatu
yang namanya investasi. Namun banyak orang, terutama di negara-negara
berkembang menuju miskin yang tidak menyadari semua itu. Padahal, individu
yang sadar dan bisa melakukan self-investment ini sudah pasti akan berkembang,
atau
minimal
bisa
mengakselarasi
perkembangan
dirinya.
Melakukan
pengembangan diri adalah satu-satunya jalan untuk memberikan nilai beda
dibanding orang-orang sekeliling.
Tujuan Pengembangan Diri
Tujuan kita mengembangkan diri, yaitu: (Kartono, 1995: 53)
1. Mendapatkan Rasa Aman
Keamanan merupakan salah satu kebutuhan manusia. Di dunia kerja,
keamanan meliputi kondisi kerja, asuransi kesehatan, gaji pada waktu
berhalangan kerja, dan dana pension. Akan tetapi, keamanan dan rasa
aman yang kita cari dengan pengembangan diri bukanlah keamanan dari
Universitas Sumatera Utara
luar seperti itu, melainkan keamanan dari dalam, yaitu keamanan batin.
Keamanan seperti itu kita dasarkan atas kemampuan untuk memberi
sumbangan di dalam hidup, kecakapan dalam kerja, watak, dan
kepribadian yang sudah berkembang secara lengkap dan utuh: lahir-batin,
jasmani-rohani, material-spiritual. Kita merasa aman karena kita telah
berhasil memodifikasi sikap dan perilaku kita menjadi lebih baik,
menambah kemampuan dan kecakapan kita, serta meningkatkan prestasi
kerja kita.
2. Kemantapan Hidup
Kemantapan hidup adalah keadaan hidup dimana kita tidak mudah goyah
dan digoyahkan, baik oleh faktor-faktor yang ada di dalam diri.
Upaya Pengembangan Diri
Dalam melakukan pengembangan diri, kita memerlukan tolak ukur yang
nyata dan aplikatif untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan yang telah kita
capai. Konsep Sharpening Our Concept and Tools (SHOCT) yang dikembangkan
oleh Lembaga Manajemen Terapan Trustco berikut ini dapat kita jadikan sebagai
contoh daftar aktivitas pengembangan diri.
1. Memperluas pengetahuan mengenai fakta situasional. Jangan bersikap
acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar.
2. Menjalin hubungan dengan orang lain.
3. Mengelola waktu secara efektif
4. Menjaga keaktualan pengetahuan agar tidak tertinggal dan relevan. Jangan
malas mencari pengetahuan baru.
5. Berlatih untuk mengumpulkan fakta dan membuat asumsi.
6. Membuat jurnal pribadi dengan menggunakancatatan harian agar jadwal
kita menjadi teratur.
Proses Pengembangan Diri
Proses pengembangan diri adalah sebuah cara untuk mengembangkan
bakat yang dimiliki, mewujudkan impian-impian, meningkatkan rasa percaya diri,
Universitas Sumatera Utara
menjadi kuat dalam menghadapi percobaan dan menjalani hubungan yang baik
dengan sesamanya. (http://www.jendelailmu.com/daftar-buku/pid-25697/proses
pengembangan-diri.html)
1. Pancarkan Antusiasme Anda
Menerapkan prinsip-prinsip bertindak ke dalam kehidupan nyata akan
mempertinggi jiwa Anda dan mengangkat semangat Anda. Anda akan
menjalani hari-hari yang penuh dan lebih baik. Hal ini terjadi karena Anda
telah
memanfaatkan
saat-saat
hening
anda
untuk
berpikir,
mengorganisasikan dan memprioritaskan hidup anda. Anda akan
mencintai banyak hal dan hal-hal tersebut akan menjadi bagian dari harihari Anda. Anda akan selalu berada dibawah kendali. Setiap hari Anda
akan melakukan hal-hal baik untuk diri Anda sendiri maupun orang lain.
2. Master Sukses
Ada master di dalam diri Anda yang menjadi panutan. Master tersebut
adalah Anda dalam kondisi yang terbaik. Teruslah berusaha. Anda tenang,
tenggang rasa, sabar dan percaya diri. Anda jujur, dapat dipercaya,
bertanggung jawab, dan dapat diandalkan. Anda loyal dan menarik. Anda
rendah hati dan menghormati orang lain. Anda tangguh, tekun, dan pekerja
keras. Anda selalu ingin tahu dan mau diajar. Anda sehat, bersemangat,
dan entusiastik.
3. Berani Mengambil Resiko Gagal
Bersiap-siaplah. Saat ini adalah saat yang paling baik bagi Anda untuk
memulai tindakan-tindakan positif. Anda selalu berlatih dan anda punya
kepercayaan diri dalam mempersiapkan tindakan Anda. Jangan biarkan
diri Anda dikalahkan oleh keraguan. Anda menyadari bahwa saatnya akan
datang dimana Anda harus bertindak. Jika Anda ragu terlalu lama,
keraguan tersebut akan selalu menyelimuti dan berubah menjadi
ketakutan. Ya, Anda bisa tersandung. Ya, Anda bisa ditolak. Ya, Anda
mungkin gagal. Inilah hidup. Para penakluk kehidupan setuju bahwa
dalam berusaha mereka mungkin harus menyesuaikan dirinya, bahkan
memulainya kembali berkali-kali. Perbedaan antara orang sukses dengan
yang lainnya bukan pada apakah anda melakukan kesalahan atau bahkan
Universitas Sumatera Utara
gagal untuk sementara waktu, tetapi perbedaannya pada bagaimana respon
Anda. Kebanyakan orang mencari jaminan sebelum mengambil tindakan.
Namun, dalam usaha pencarian jaminan tersebut, mereka sering menerima
peringatan yang dapat dengan mudah digunakan sebagai alasan untuk
tidak bertindak.
4. Ciptakan Perubahan
Status quo mungkin kondisi yang menyenangkan, namun karena harus
terjadi perkembangan, maka harus ada perubahan. Karena Anda mencari
perkembangan, maka Anda harus mencari perubahan. Jangan Anda lihat
lingkungan Anda sebagaimana adanya, namun bagaimana seharusnya
Anda mencari perubahan karena Anda perlu mencari jati diri yang lebih
baik sehingga Anda dapat memainkan peran Anda dalam menciptakan
dunia yang lebih baik.
5. Terimalah Perbedaan
Lihatlah setiap orang sebagai individu dan bukan sebagai bagian
sebuah kelompok. Seluruh manusia dari seluruh negara dan budaya pada
dasarnya adalah sama tanpa memandang ras, warna, keyakinan atau jenis
kelamin. Tolaklah kebijakan yang bersifat stereotip, memecah belah dan
merendahkan diri
serta mengelompokkan orang kedalam kategori-
kategori. Jadilah orang pertama yang membangun jembatan toleransi dan
kesepahama.
Beberapa Metode Pengembangan Diri
Selain metode-metode formal seperti misalnya kursus-kursus dan
program-program pelatihan, ada berbagai macam metode yang dapat digunakan
dan diatur oleh individu itu sendiri. Metode yang paling umum digunakan adalah :
(Dariyo, 2004: 5)
• Observasi
Seseorang dapat memulai belajar banyak hanya dari mengamati perilaku
orang lain. Sebagai contoh adalah seorang siswa SMP yang mengamati
Universitas Sumatera Utara
kemampuan seseorang melalui tayangan di televisi. Pengamatan ini sangat
membantu proses pengembangan diri siswa tersebut.
• Refleksi
Metode ini mengacu pada memikirkan dan menganalisis hasil observasi.
Ini juga mencakup refleksi pada prilaku, kinerja dan alasan-alasan utama dari
individu itu sendiri. Ini merupakan aspek penting pengembangan diri.
• Bacaan Penuntun
Membaca buku-buku teks, jurnal-jurnal, dan artikel-artikel merupakan
cara yang mudah untuk meningkatkan pengetahuan. Meminta saran dari orang
yang lebih berpengalaman akan sangat bermanfaat dalam proses pengembangan
diri.
• Mencari Umpan Balik
Mencari umpan balik merupakan hal yang penting dalam proses belajar
dan pengembangan diri, khususnya dalam pengembangan keterampilan walaupun
metode ini sedikit lebih beresiko. Umpan balik juga dapat digunakan untuk
memonitor kemajuan individu. Satu hal yang penting dalam metode ini adalah
memilih target-target umpan balik dengan hati-hati.
• Paket-paket Siap Pakai
Saat ini sudah banyak dijual paket-paket belajar otodidak siap pakai yang
dapat digunakan untuk meningkatkan pengembangan diri. Kesadaran dan
kemauan dari dalam diri sendiri sangat dibutuhkan dalam memakai metode ini.
Oleh karena itu, pengembangan diri menuntut seseorang untuk lebih belajar
sendiri, mencari secara mandiri tentang kualitas diri yang bisa diandalkan,
terutama dalam dunia kerja dan memasuki kehidupan nyata. Pengembangan diri
dapat dilakukan melalui pengembangan bakat, perwujudan impian-impian,
peningkatan rasa percaya diri, komunikasi yang baik dengan lingkungan, mencoba
Universitas Sumatera Utara
menjadi kuat dalam menghadapi percobaan, peka terhadap diri sendiri dan peka
terhadap orang lain.
2.1.7 Bakat
Bakat atau aptitude merupakan kecakapan potensial yang bersifat khusus,
yaitu khusus dalam suatu bidang atau kemampuan tertentu, seorang lebih berbakat
dalam bidang bahasa sedangkan yang lain dalam matematika, yang lain lagi lebih
menunjukkan bakatnya dalam sejarah dsb. Seperti halnya kecerdasan, maka pada
bakat pun beberapa ahli memberikan rumusan yang tidak selalu sama tentang
bakat. (Nana Syaodaih Skmadinata, 2005: 101)
W.B. Michel (1960) merumuskan bakat sebagai “pattern of behavior
involved in the performance of a task respect to which the individual has had or
no previous trainin”. Berarti bahwa bakat merupakan suatu kapasitas atau potensi
yang belum dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar, bakat berkenaan dengan
kemungkinan menguasai suatu pola tingkah laku dalam aspek kehidupan tertentu.
Guilford (1959) memberikan defenisi yang sedikit berbeda, menurut dia:
“aptitude pertains to abilities to perform. There are actually as many ability as
there are actions to be performe, hence traits of this kind are very numerous”.
Menurut Guilford bakat itu banyak sekali, sebanyak perbuatan atau kreatifitas
individu. Ada tiga komponen dari bakat menurut Guilford yaitu komponen
Intelektual, perceptual, dan psikomotor. Komponen intelak tual terdiri atas
beberapa aspek yaitu aspek pengenalan, ingatan, berpikir konvergen, berfikir
divergen dan evaluasi. Komponen perceptual juga meliputi beberapa aspek yaitu
pemusatan perhatian, ketajaman indera, orientasi ruang dan waktu. Keluasan dan
kecepatan mempersepsi. Komponen psikomotor terdiri atas aspek-aspek
rangsangan, kekuatan dan kecepatan gerak, ketepatan, koordinasi gerak dan
kelenturan.(Nana Syaodih Sukmadinata, 2005: 101-102)
Bakat pernah didefenisikan hampir seluruhnya dari segi IQ atau
kemampuan yang lebih unggul yang diperlihatkan seperti kinerja yang luar biasa
Universitas Sumatera Utara
dalam matematika atau catur, tetapi defenisi itu sekarang meliputi siswa yang
mempunyai kemampuan yang unggul dalam berbagai kenis kegiatan, termasuk
seni.(Robert E. Slavin, 2011: 125)
Ada dua kelompok bakat yang dimiliki individu yaitu bakat sekolah dan
bakat pekerjaan. Bakat sekolah atau scholastic aptitude, merupakan bakat yang
dimiliki seseorang yang mendukung penyelesaian tugas-tugas atau perkembangan
sekolah atau pendidikan. Bakat ini terutama berkenaan dengan kapasitas dasra
menguasai pelajaran atau perkuliahan. Bakat pekerjaan vocational aptitude
merupakan bakat yang dimiliki seseorang berkenaan bidang pekerjaan atau
jabatan tertentu, seperti bakat di bidang pertanian, ekonomi, hukum, dsb.
Sesungguhnya sekolah merupakan persiapan kearah bekerja. Dengan demikian
bakat sekolah juga tidak secara langsung merupakan bagian dari bakat pekerjaan.
(Nana Syaodih Sukmadinata, 2005: 102)
Alat untuk mengukur bakat disebut tes bakat (aptitude test). Tes baku atau
tes standar pada umumnya hanya bisa dilaksanakan pada pengembangan tes bakat.
Tes bakat umumnya disusun oleh para ahli pengukuran (Psichometrist). Ada
beberapa tes bakat yang terkenal diantaranya adalah DAT, MAT, FCAT, MT.
DAT atau Differential Aptitude test disusun oleh Benet, terdiri atas tujuh sub test
yaitu bakat verbal atau verbal reasoning, kecepatan dan ketelitian atau clerical
speed and accuary dan bakat menggunakan bahasa atau language usage. MAT
atu Multiplle uptitude Test terdiri atas sepuluh sub tes, yaitu pengetahuan umum,
perbendaharaan kata, berhitung, deret bilangan, pemahaman mekanis, memahami
huruf, memahami kata, kecepatan-ketelitian dan tilikan ruang. Kombinasi tes
kesatu sampai kelima menunjukkan kecerdasan seseorang. (Nana Syaodih
Sukmadinata, 2005: 103-104)
Konsep atau defenisi keterbakatan yang saat ini dianut di banyak Negara
dan juga diadopsi di Indonesia dalam Proyek Pendidikan Anak Berbakat ialah
defenisi USOE dan defenisi Renzulli. Manfaat dari defenisi USOE adalah
mengakui adanya enam bidang keterbakatan (bakat intelektual umum, bakat
akademis khusus, bakat kreati-produktif, bakat dalam salah satu bidang seni, seni
Universitas Sumatera Utara
bakat dalam bidang psikologi atau bakat memimpin, dan bidang psikomotor).
Defenisi ini juga membedakan antara bakat sebagai potensi dan bakat yang sudah
tampak dari prestasi, tetapi keduanya memerlukan pelayanan pendidikan
khusus.(Utami Munandar, 199: 27-28).
Anak berbakat
Anak berbakat menurut defenisi dari U.S. Office of Education (1971),
adalah anak-anak yang didefenisikan oleh orang-orang professional, yang karena
kemampuannya yang sangat menonjol, dapat memberikan prestasi yang tinggi.
Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang berdiferensiasi dan atau
pelayan di luar jangkauan program sekolah yang biasa, untuk mewujudkan
sumbangannya terhadap diri sendiri maupun terhadap masyarakat (Alex Shobur,
2011: 181-182). Sedangkan menurut Utami Munandar, anak berbakat adalah
mereka yang oleh orang-orang professional diidentifikasi sebagai anak yang
mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuankemampuan yang unggul. Kemampuan-kemampuan tersebut, kemampuan
akademik khusus, kemampuan berpikir kreatif-produktif, kemampuan memimpin,
kemampuan dalam salah satu bidang seni dan kemampuan psikomotor seperti
dalam olah raga.(Utami Munandar, 1999: 23)
Anak berbakat (Gifted) punya kecerdasan diatas rata-rata (biasanya punya
IQ diatas 130) dan atau punya bakat unggul di beberapa bidang,seperti seni, music
atau matematika. Program untuk anak berbakat di sekolah biasanya didasarkan
pada kecerdasan dan prestasi akademik. Kriteria ini diperluas dengan
memasukkan faktor-faktor seperti kreativitas dan komitmen. (John W. Santrock,
1999:24)
Beberapa implikasi dari defenisi anak berbakat ini bagi identifikasi dan
pengembangan anak berbakat ialah pertama, bahwa harus dibedakan antara bakat
sebagai potensi yang mungkin belim terwujud dan bakat yang sudah terwujud dan
nyata dalam prestasi yang unggul. Kedua, tuntutan bahwa anak berbakat
memerlukan pelayanan dan program pendidikan khusus sesuai dengan potensi
Universitas Sumatera Utara
minat dan kemampuannya, hal ini sesuai dengan UU No.2 Pasal 24 Ayat (1).
(Utami Munandar, 1999:24)
Ellen Winner, seorang ahli di bidang kretivitas dan anak berbakat,
mendeskripsikan tiga criteria yang menjadi ciri anak berbakat:
1. Dewasa lebih dini (Precocity)
Anak berbakat adalah anak dewasasebelum waktunya apabila diberi
kesempatan untuk menggunakan bakat atau talenta mereka. Dalam banyak
kasus, anak bebakat dewasa lebih dini karena mereka dilahirkan dengan
membawa kemampuan di domain tertentu, walaupunbakat-bakat sejak
lahir ini tetap harus dipelihara dan di pupuk.
2. Belajar menuruti kemauan mereka sendiri
Anak berbakat belajar secara berbeda dengan anak lain yang tidak
berbakat. Mereka tidak membutuhkan banyak dukungan atau scaffolding
dari orang dewasa. Mereka juga kerap membuat penemuan dan
memecahkan masalah sendiri dengan cara yang unik di bidang menjadi
bakat mereka. Tapi kemampuan mereka di bidang lain boleh jadi normal
atau bisa juga di atas normal.
3. Semangat untuk menguasai.
Anak yang berbakat tertarik untuk memahami bidang yang menjadi bakat
mereka. Mereka memperlihatkan minat besar dan obsesif dan kemampuan
kuat fokus. Mereka tidak perlu didorong oleh orang tuanya. Mereka punya
motivasi internal yang kuat. Para peneliti telah menemukan bahwa anak
berbakat belajar lebih cepat, memproses informasi yang lebih baik,
menggunakan penalaran dengan lebih baik, menggunakan strategi yang
lebih baik, dan memantau pemahaman mereka dengan lebih baik
ketimbang anak yang tidak berbakat. (John. W. Sntrock, 2010: 251-252)
Universitas Sumatera Utara
R. A. Martinson dalam bukunya “The Identification the gifted and
talented” (1974) merincikan cirri-ciri anak berbakat:
1. Membaca pada usia yang relatif lebih muda.
2. Membaca lebih cepat dan lebih banyak.
3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas.
4. Mempunyai minat yang luas, juga pada persoalan “dewasa”
5. Memiliki rasa ingin tahu yang kuat.
6. Mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri.
7. Memberi berbagai jawaban yang baik.
8. Biasa memberikan gagasan yang baik
9. Luwes dalam berfikir
10. Terbuka pada rangsangan-rangsangan dari luar lingkungan.
11. Memiliki pengamatan yang tajam.
12. Bisa berkosentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas
atau bidang yang diminati.
13. Berpikir kritis, juga pada diri sendiri.
14. Senang mencoba hal-hal baru.
15. Mempunyai daya ingat yang kuat.
16. Mempunyai banyak hobi.
17. Berperilaku terarah pada tujuan.
18. Mempunyai daya abstraksi, konseptualitas, dan sintesis yang tinggi.
Universitas Sumatera Utara
19. Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah
20. Cepat menanggapi hubungan (sebab akibat).
21. Tidak cepat puas dengan prestasinya.
22. Sensitive dan menggunakan intuisi.
23. Mempunyai daya imajinasi yang kuat.
2.1.8 Teori jarum hipodermik
Teori ini juga di kenal dengan istilah Hypodermic Needle Theory
(Scramm, 1971), teori ” jarum suntik” atau teori “Stimulus-Respon” (De Fleur
dan Ball-Rokeach, 1989: 163-165). Teori ini mengatakan bahwa rakyat benarbenar rentan terhadap pesan-pesan komunikasi massa. Ia menyebutkan bahwa
apabila pesan-pesan tersebut tepat sasaran, ia akan mendapatkan efek yang
diinginkan.
Model jarum suntik pada dasarnya adalah aliran satu tahap (one step flow),
yaitu media massa langsung kepada khalayak sebagai mass audience. Model ini
mengasumsi media massa secara langsung, cepat, dan mempunyai efek yang amat
kuat atas mass audience. Media massa ini sepadan dengan teori StimulusResponse (S-R) yang mekanistis dan sering digunakan pada penelitian psikologi.
Teori peluru atau jarum hipodermik mengasumsikan bahwa media
memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak
tahu apa-apa. Teori ini mengasumsikan bahwa seorang komunikator dapat
menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang tidak
berdaya (pasif). Menurut Elihu Katz dalam bukunya, “The Diffusion Of New Ideas
and Practise” menunjukkan aspek-aspek yang menarik dari model hypodermic
needle ini, yaitu :
•
Media massa memiliki kekuatan yang luar biasa, sanggup menginjeksi
secara mendalam ide-ide kedalam benak orang yang tidak berdaya
Universitas Sumatera Utara
•
Mass audience dianggap seperti atom-atom yang terpisah satu sama lain,
tidak saling berhubungan dan hanya berhubungan dengan media massa.
Kalau individu-individu mass audiance berpendapat sam tentang suatu
persoalan, hal ini bukan karena mereka berhubungan atau berkomunikasi
satu dengan yang lain, melainkan karena mereka karena memperoleh
pesan-pesan yang sama dari satu media (Schramm, 1963).
Model hypodermic needle cenderung sangat melebihkan peranan
komunikasi massa dengan media massany. Para ilmuwan sosial mulai berminat
terhadap gejala-gejala tersebut berusaha memperoleh bukti-bukti yang valid
melalui penelitian ilmiah.
2.2
Kerangka Konsep
Kerangka sebagai hasil pemikiran yang rasional merupakan uraian yang
bersifat kritis dan memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dicapai dan
dapat mengantarkan pada perumusan hipotesa (Nawawi, 1995: 40). Konsep
adalah penggambaran secara tepat fenomena yang hendak diteliti yakni istilah dan
definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan,
kelompok, atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial (Singarimbun,
1995: 57). Jadi kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang rasional dalam
menguraikan rumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari masalah
yang diuji kebenarannya. Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, maka
harus dioperasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel.
Gambar 2.2
Model Toritis
Variabel Bebas (X)
Program Super Boy
Indonesia di SCTV
Variabel Terikat (Y)
Konsep Pengembangan Bakat
siswa SD Negeri 164518 Kota
Tebing Tinggi
Karakteristik
Responden
Universitas Sumatera Utara
2.3 Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel Bebas (X)
Variabel bebas adalah sejumlah gejala atau faktor atau unsur yang
menentukan atau mempengaruhi ada atau munculnya gejala atau faktor atau unsur
lain (Nawawi, 1995: 56). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Program
Tayangan “Super Boy Indonesia” di SCTV.
2. Variabel Terikat (Y)
Variabel terikat adalah suatu variabel yang merupakan akibat atau yang
dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya (Rakhmat, 2004: 12). Variabel
terikat dalam penelitian ini adalah Motivasi Pengembangan bakat siswa SD
Negeri 164518 Kota Tebing Tinggi.
Tabel 2.1
Operasional Variabel
No
Variabel Teoritis
Variabel Operasional
Universitas Sumatera Utara
1.
1. Durasi acara
2. Tema Acara
3. Materi Acara
Variabel bebas (X)
Program Super Boy Indonesia
Di SCTV
4. Waktu Penayangan
5. Kejelasan Materi Acara
6. Penampilan Pembawa Acara
7. Penampilan Peserta
8. Komentar Para Juri
9. Konsep Acara
• Lebih suka untuk membaca
2.
Variabel Terikat (Y)
Indikator Pengembangan bakat
• Membaca lebih banyak
• Lebih pintar untuk berbicara
Siswa SD Negeri 164518
• Mempunyai cita-cita
kmemota Tebing Tinggi
• Memiliki rasa ingin tahu yang
tinggi
• Berusaha mengerjakan
tugasnya sendiri
• Lebih suka memberikan jawaban yang baik
• Lebih suka memberikan pemikiran yang baik
• Lebih mudah berfikir
• Lebih peduli pada lingkungan
• Memiliki
pengamatan
yang
tinggi
• Lebih berkosentrasi pada pekerjaan
• Berfikir kritis
• Lebih suka mencoba hal-hal
baru
• Daya ingat yang kuat
Universitas Sumatera Utara
• Mempunyai banyak hobi
• Berperilaku lebih fokus
• Lebih senang terhadap kegiatan sekolah
• Cepat menanggapi hubungan
antar sahabat
• Tidak
cepat
puas
dengan
prestasinya
• Selalu menggunakan insting
• Daya imajinasi yang kuat
3.
Karakteristrik Responden
1. Jenis kelamin
2. Kelas
2.4 Defenisi Operasional
•
Variabel Bebas (tayangan Super Boy Indonesia di SCTV), meliputi :
1. Durasi acara: untuk mengetahui lamanya waktu penayangan program
Super Boy Indonesia di SCTV.
2. Tema acara: untuk mengetahui tema yang ada di dalam program Super
Boy Indonesia di SCTV.
3. Materi acara: untuk mengetahui materi yang disiapkan dalam
programSuper Boy Indonesia di SCTV.
4. Waktu
penayangan:
Informasi
yang
memuat
tentang
jadwal
penayangan suatu acara. Waktu penayangan program tayangan Super
Boy Indonesia di SCTV.
5. Kejelasan materi acara: Untuk mengetahui apakah materi acara yang
disampaikan dalam program Tayangan Super Boy Indonesia di SCTV
dapat dipahami dengan baik atau tidak oleh para responden saat
menontonnya.
Universitas Sumatera Utara
6. Penampilan
pembawa
acara:
untuk
mengetahui
bagaimana
kemampuan si pembawa acara program Tayangan Super Boy
Indonesia di SCTV. Sehingga penampilan pembawa acara tersebut
dapat membuat acara menjadi lebih menarik.
7. Penampilan peserta: untuk mengetahui bagaimana kemampuan atau
bakat dari seluruh peserta yang ditampilkan dalam program Super Boy
Indonesia di SCTV.
8. Komentar para juri: untuk mengetahui apa saja komentar yang
dikeluarkan oleh para juri untuk penampilan seluruh peserta Super Boy
Indonesia di SCTV
9. Konsep acara: untuk mengetahui apakah konsep atau bentuk dari
program Super Boy Indonesia di SCTV.
b.
Variabel Terikat Y (Pengembangan bakat Siswa SD negeri 164518 Kota
Tebing Tingg) meliputi:
•
Lebih suka untuk membaca
•
Membaca lebih banyak
•
Lebih pintar untuk berbicara
•
Mempunyai cita-cita
•
Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
•
Berusaha mengerjakan tugasnya sendiri
•
Lebih suka memberikan jawaban yang baik
•
Lebih suka memberikan pemi-kiran yang baik
•
Lebih mudah berfikir
•
Lebih peduli pada lingkungan
•
Memiliki pengamatan yang tinggi
•
Lebih berkosentrasi pada pe-kerjaan
•
Berfikir kritis
Universitas Sumatera Utara
•
Lebih suka mencoba hal-hal baru
•
Daya ingat yang kuat
•
Mempunyai banyak hobi
•
Berperilaku lebih fokus
•
Lebih senang terhadap kegiatan sekolah
•
Cepat menanggapi hubungan antar sahabat
•
Tidak cepat puas dengan prestasinya
•
Selalu menggunakan insting
•
Daya imajinasi yang kuat
c. Karakteristik Responden, meliputi :
•
Jenis kelamin : Perempuan / laki-laki
•
Kelas
: Kelas berapakah responden saat mengisi
kuesioner.
•
2.5
Umur
: Dari usia 8-11tahun
Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu fenomena dan atau
pertanyaan peneliti yang dirumuskan setelah mengkaji suatu teori. Penelitian
terhadap suatu objek hendaknya dilakukan dengan berpedoman pada suatu
hipotesis sebagai pegangan atau jawaban sementara yang masih harus dibuktikan
kebenarannya
dalam
kenyataan
(empirical
verification),
percobaan
(experimentation), atau praktek (implementation). Oleh karena itu, hipotesis harus
dalam bentuk pertanyaan ilmiah atau proposisi, yaitu mengandung hubungan dua
variabel atau lebih (Sudjana, 2000: 11). Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ho: Tidak terdapat hubungan antara program “Super Boy Indonesia” dengan
pengembangan bakat siswa SD negeri 164518 Kota Tebing Tinggi.
Ha: Terdapat hubungan antara program “Super Boy Indonesia” dengan motivasi
pengembangan diri siswa SD Negeri 164518 Kota Tebing Tinggi.
Universitas Sumatera Utara
Download