MASALAH KESEHATAN YG LAZIM PADA ANAK

advertisement
MASALAH
KESEHATAN YG LAZIM
PADA ANAK
By: Winda Darpianur, S.Kep,Ns
 Anak
dengan peningkatan suhu tubuh
 Anak dengan gangguan cairan dan elektrolit
 Anak –anak yang menjalani pembedahan
ANAK DENGAN PENINGKATAN SUHU TUBUH



Tubuh kita diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi mekanisme
pengaturan yang canggih, termasuk mekanisme pengaturan suhu.
Di otak kita terdapat termostat bernama hipotalamus yang
mengatur mekanisme ini. Tepatnya terdapat pusat pengaturan suhu
disebut juga SET POINT. Pengatur suhu tubuh ini akan memastikan
tubuh kita senantiasa pada suhu konstan (sekitar 37C) .
Demam adalah kondisi dimana otak (melalui Set Point) memasang
suhu diatas setting normal yaitu > 38C. Namun demikian demam
yang sesungguhnya adalah bila suhu >38.5C. Akibat kenaikan
setting suhu tubuh tsb, maka tubuh akan memproduksi panas melalui
tahapan : menggigil hingga mencapai suhu puncaknya suhu demam
stabilnya suhu mulai turun.
Bagaimana dan mengapa timbul demam ?
 Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya molekul
kecil dalam tubuh, yaitu PIROGEN – suatu zat pencetus panas.
Apa yang menyebabkan terjadinya peningkatan pirogen ?
 Penyebabnya antara lain : infeksi, radang, keganasan, alergi. Pada
saat terserang infeksi, sistem imun tubuh kita akan membasmi infeksi
tsb dengan serangan leukosit (sel darah putih).
 Agar tugas leukosit tsb efektif dan tepat sasaran, dibutuhkan
dukungan banyak pihak termasuk pirogen, yang bertugas :
1. Mengerahkan sel darah putih (leukosit)
2. Menimbulkan demam yang akan membunuh virus. Karena virus
tidak dapat hidup di suhu tinggi. Sementara itu virus akan tumbuh
subur di suhu rendah.
Point-point utama yang harus diperhatikan
selama merawat anak demam adalah :
1. Mencari penyebab demam dan memperhatikan pola perilaku anak.

Amati tingkah laku anak. Jika perilaku anak hampir sama seperti biasanya, maka kita tidak
perlu khawatir. Karena pada dasarnya demam itu bukan hal yang membahayakan.
2. Cegah dehidrasi.

Demam akan meningkatkan penguapan cairan tubuh. Karenanya bayi dan anak beresiko
mengalami dehidrasi. Berikan cairan lebih banyak.

Bila muntah atau diare, berikan minuman elektrolit : oralit.
3. Ruangan dijaga agar tidak panas, anak memakai baju yang tipis.
4. Kompres air hangat atau berendam di air hangat.
5. Biarkan anak memakan apa yang diinginkan. Jangan dipaksa. Hindarkan makanan berlemak,
karena sulit dicerna oleh tubuh.
6. Meskipun anak dianjurkan untuk tidak masuk sekolah, bukan berarti ia harus berada di tempat
tidur seharian.
7. Pemberian obat penurun panas mengikuti aturan berikut :
<102F (<38.3C)
: Tidak perlu obat penurun panas, ekstra cairan (minum banyak)
>102F (38.3C), uncomfortable
: Beri obat penurun panas, kompres
>104 (>40C) : Beri obat penurun panas, hubungi dokter.

Ingat: DO NOT TREAT LOW GRADE FEVER (< 38.3C)
KEJANG DEMAM


Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron
secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan
kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat
sementara (Hudak and Gallo,1996).
kejang demam adalah bangkitan
kejang yang terjadi karena
peningkatan suhu tubuh yang sering
di jumpai pada usia anak
dibawah lima tahun.
ETIOLOGI
1) Intrakranial
Asfiksia : Ensefolopati hipoksik – iskemik
Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular
Infeksi : Bakteri, virus, parasit
Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith –
Lemli – Opitz.
2) Ekstra kranial
Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan
elektrolit (Na dan K)
Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.
Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan dan
kekurangan produksi kernikterus.
3) Idiopatik
Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)
KLASIFIKASI KEJANG
a. Kejang Tonik
 Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa
kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat.Bentuk klinis
kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan
ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah.
b. Kejang Klonik
 Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan permulaan fokal dan
multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3detik,
terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidakdiikuti oleh
fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada
bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.
c. Kejang Mioklonik
 Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat
anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflekmoro.
Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat.Gambaran
EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.
PATOFISIOLOGI


Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang terdiri dari
permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar
yaitu tonik. Dalam keadaan normal membran sel neuron
dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya,
kecuali ion clorida.
Konsentrasi K+ luar sel neuron tinggi dan konsentrasi
NA+ rendah. Sedangkan didalam sel neuron terdapat
keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis dan
konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat
perbedaan membran yang disebut potensial nmembran
dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA,
K, ATP yang terdapat pada permukaan sel.

Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan
konsentrasi ion diruang extra selular, rangsangan yang datangnya
mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya.
Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena
penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari
seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena itu pada
anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron
dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+ melalui membran
tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik.
Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas
keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang
disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang.
Kejang yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya
dan tidak meninggalkan gejala sisa.
Diagnosis kejang demam sederhana

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.
3. Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th
tidak > 4 kali
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu
normal tidak menunjukkan kelainan.
PENATALAKSANAAN
a. Mengawasi bayi dengan teliti dan hati-hati
b. Memonitor pernafasan dan denyut jantung
c. Usahakan suhu tetap stabil
d. Perlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan
obat lain
e. Pemeriksaan EEG, terutama pada pemberian
pridoksin intravena
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
observasi kejang dan gambarkan kejadiannya.
2. Riwayat penyakit
 Aktivitas / istirahat : keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus /
kekuatan otot. Gerakan involunter
 Sirkulasi : peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau depresi
dengan penurunan nadi dan pernafasan
 Eliminasi : inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih dan
tonus spinkter
 Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang
berhubungan dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak / gigi
 Neurosensor : aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala dan infeksi
serebra
 Riwayat jatuh / trauma
Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan,
perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot.
2. Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan
nafas b/d kerusakan neoromuskular
3. Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu
tubuh
4. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi,
penurunan kekuatan
5. Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya
informasi
Intervensi

Diagnosa 1
Tujuan
Cidera / trauma tidak terjadi
Kriteria hasil
Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan pengobatan, meningkatkan
keamanan lingkungan
Intervensi
Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang. Observasi keadaan umum,
sebelum, selama, dan sesudah kejang. Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa
kali terjadi. Lakukan penilaian neurology, tanda-tanda vital setelah kejang. Lindungi
klien dari trauma atau kejang.
Berikan kenyamanan bagi klien. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi
anti compulsan
Diagnosa 2
Tujuan
Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi
Kriteria hasil
Jalan napas bersih dari sumbatan, suara napas
vesikuler, sekresi mukosa tidak ada, RR dalam batas
normal
Intervensi
Observasi tanda-tanda vital, atur posisi tidur klien
fowler atau semi fowler. Lakukan penghisapan lendir,
kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi
Diagnosa 3
Aktivitas kejang tidak berulang
Kriteria hasil
Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal
Intervensi
Kaji factor pencetus kejang. Libatkan keluarga dalam
pemberian tindakan pada klien. Observasi tandatanda vital. Lindungi anak dari trauma. Berikan
kompres dingin pda daerah dahi dan ketiak.
Diagnosa 4

Tujuan
Kerusakan mobilisasi fisik teratasi
Kriteria hasil
Mobilisasi fisik klien aktif , kejang tidak ada, kebutuhan
klien teratasi
Intervensi
Kaji tingkat mobilisasi klien. Kaji tingkat kerusakan mobilsasi
klien. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan. Latih klien
dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien. Libatkan
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien.
Diagnosa 5

Tujuan
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil
Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam,
keluarga klien tidak bertanya lagi tentang penyakit, perawatan dan
kondisi klien.
Intervensi
Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan
keluarga klien. Jelaskan pada keluarga klien tentang penyakit
kejang demam melalui penkes. Beri kesempatan pada keluarga
untuk menanyakan hal yang belum dimengerti. Libatkan keluarga
dalam setiap tindakan pada klien.
Evaluasi
1. Cidera / trauma tidak terjadi
2. Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi
3. Aktivitas kejang tidak berulang
4. Kerusakan mobilisasi fisik teratasi
5. Pengetahuan keluarga meningkat
ANAK DENGAN GANGGUAN CAIRAN DAN
ELEKTROLIT

DIARE
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan
tinja berbentuk cairan atau setengah cairan,
dengan demikian kandungan air pada tinja lebih
banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml
sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).
Defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau
tanpa darah dan atau lendir dalam tinja
(Suharyono 1999:51)
KLASIFIKASI
Menurut pedoman MTBS (2000) diare dapat
dikelompokan atau diklasifikan menjadi :
1. Diare akut terbagi atas
a. Diare dengan dehidrasi berat
b. Diare dengan dehidrasi ringan / sedang
c. Diare tanpa dehidrasi
2. Diare persisten bila diare berlangsung 14 hari atau
lebih, terbagi atas :
a. Diare persisten dengan dehidrasi
b. Diare persisten tanpa dehidrasi
3. Disentri apabila diare berlangsung disertai dengan
darah
PENYEBAB





Faktor infeksi
a. Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan
penyebab utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli,
Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb),
infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi
parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
b. Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan
yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis,
bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.
Faktor Malabsorbsi
Faktor Makanan
Faktor Psikologis
PATOFISIOLOGIS

1. Gangguan osmotik
Terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik di dalam rongga usus meningkat sehingga
terjadi penggeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan
selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
2. Gangguan sirkulasi
Akibat rangsangan tertentu misalnya toksin pada dinding usus dan
selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motalitas usus
Hyperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibakan bakteri tumbuh berlebihan, sehingga
selanjutnya timbul diare pula.
GEJALA KLINIK
1. Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh
meningkat, nafsu makan berkurang
2. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau
setelah diare
3. Bila penderita sudah banyak kehilangan cairan
dan elektrolit maka timbul dehidrasi
ASUHAN KEPERATAN PADA ANAK
DENGAN DIARE
Pengkajian
 Keluhan utama
Buang air besar (BAB) lebih dari 3 kali sehari, BAB
< 4 kali sehari dan cair (diare tanpa dehidrasi),
BAB 4-10 kali dan cair (dehidrasi ringan/sedang).
Atau BAB > 10 kali (dehidrasi berat), apabila
diare berlangsung <14 hari maka diare tersebut
adalah diare akut, sementara apabila berlangsung
selama 14 hari atau lebih adalah diare persisten.
Riwayat kesehatan
1. Riwayat imunisasi
2. Riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan (antiboitik)
3. Riwayat penyakit yang sering terjadi pada anak usia di bawah 2
tahun biasanya batuk, panas, pilek, dan kejang yang terjadi
sebelum, selama atau setelah diare.
4. Riwayat nutrisi
Riwayat pemberian makanan sebelum sakit diare meliputi :
Pemberian ASI penuh pada anak umur 4-6 bulan sangat
mengurangi terjadinya diare dan infeksi yang serius.
Pemberian susu formula, apakah dibuat menggunakan air masak
dan diberikan dengan botol atau dot.
Perasaan haus. Anak yang diare tanpa dehidrasi tidak merasa
haus (minum biasa). Pada dehidrasi ringan/sedang anak merasa
haus ingin minum banyak sedangkan pada dehidrasi berat anak
malas minum atau tidak bisa minum.
PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan umum :
Baik, sadar (tanpa dehidrasi)
Gelisah, rewel, (dehidrasi ringan/sedang)
Lesu lunglai, atau tidak sadar (dehisrasi berat)
2. Berat badan
Menurut S. Partono (1999) anak yang diare dengan dehidrasi bisa mengalami
penurunan berat badan.
3. Kulit
Untuk mengetahui elastisitas kulit dapat dilakukan pemeriksaan turgor yaitu dengan
cara mancubit daerah perut menggunakan kedua ujung jari.
Apabila turgor kembali dengan cepat (kurng dari 2 detik) berarti diare tersebut
tanpa dehidrasi. Apabila turgor kembali dengan lambat (cubitan kembali dalam
waktu 2 detik) berarti diare dengan dehidrasi ringan / sedang, apabila turgor
kembali sangat lambat (cubitan kembali lebih dari 2 detik) termasuk dehisrasi
berat.
4. Kepala
Anak berusia di bawah 2 tahun yang mengalami dehidrasi ubun-ubunnya biasanya
cekung.

5. Mata
Anak yang diare tanpa dehidrasi, bentuk kelopak matanya normal,
apabila mengalami dehidrasi ringan/sedang kelopak matanya
cekung (cowong), sedangkan apabila mengalami dehidrasi berat
kelopak matanya sangat cekung.
6. Mulut dan lidah
• Mulut dan lidah basah (tanpa dehidrasi)
• Mulut dan lidah kering (dehidrasi ringan sedang)
• Mulut dan lidah sangat kering (dehidrasi berat)
7. Abdomen kemungkinan mengalami distensi, kram, bising usus
yang meningkat.
8. Anus, apakah ada iritasi di kulitnya
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
berlebihan diare dan muntah, penurunan pemasukkan.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penuruna pemasukkan, gangguan malabsorbsi
nutrisi.
3. Perubahan integritas kulit, kerusakan berhubungan dengan
seringnya defekasi.
4. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kondisi,
prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
pemaparan informasi terbatas, salah inerpretasi informasi.
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan berlebihan diare dan muntah,
penurunan pemasukkan.
Intervensi :
a. Berikan cairan oral dan parenteral sesuai
dengan program rehidrasi
b. Pantau masukan dan keluaran yang meliputi
frekuensi, warna, dan konsistensi
c. Kaji tanda-tanda vital (suhu, nadi)
d. Timbang BB setiap hari

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan penurunan pemasukan,
gangguan malabsorbsi nutrisi
Intervensi :
a. Observasi muntah dan berak tiap 4 jam
b. Berikan makanan secara bertahap dengan
menaikan dari diit lunak ke diit biasa
c. Timbang berat badan tiap hari
d. Kolaborasi dengan ahli gizi
3. Perubahan integritas kulit, kerusakan berhubungan
dengan seringnya defekasi
Intervensi :
a. Jagalah agar daerah popok bersih dan kering
b. Periksa dan ganti popok tiap jam/basah
c. Bersihkan daerah perineal dengan air dan sabun
yang tiap BAB
d. Bubuhi krim/salep/lotion pada daerah ruam di
bokong
4. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kondisi,
prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan pemaparan informasi terbatas salah
interpretasi informasi
Intervensi :
a. Bahas proses penyakit dengan istilah yang dapat
dipahami, jelaskan tentang agen penyakit. Tindakan
pencegahan dan pentingnya cuci tangan sampai bersih
b. Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukan sikap
ramah dan tulus dalam membantu pasien
c. Jelaskan tentang pentingnya mempertahankan
keseimbangan antara pemasukan dan haluaran cairan
ANAK –ANAK YANG MENJALANI
PEMBEDAHAN


Colostomi adalah suatu operasi untuk membentuk
suatu hubungan buatan antara colon dengan
permukaan kulit pada dinding perut. Hubungan ini
dapat bersifat sementara atau menetap selamanya
Colostomi pada bayi dan anak hampir selalu
merupakan tindakan gawat darurat, sedang pada
orang dewasa merupakan keadaan yang
pathologis. Colostomy pada bayi dan anak
biasanya bersifat sementara.
Berdasarkan lubang kolostomi dapat
dibedakan menjadi 3, yaitu:
•Single barreled stoma, yaitu dibuat dari bagian
proksimal usus. Segmen distal dapat dibuang atau
ditutup.
•Double barreled, biasanya meliputi kolon
transversum. Kedua ujung dari kolon yang direksesi
dikeluarkan melalui dinding abdominal
mengakibatkan dua stoma. Stoma distal hanya
mengalirkan mukus dan stoma proksimal mengalirkan
feses.
•Kolostomi lop-lop, yaitu kolon transversum
dikeluarkan melalui dinding abdomen dan diikat
ditempat dengan glass rod. Kemudian 5-10 hari usus
membentuk adesi pada dinding abdomen, lubang
dibuat di permukaan terpajan dari usus dengan
menggunakan pemotong.
HAL-HAL YANG PERLU DIKAJI PADA
PASIEN KOLOSTOMI
Keadaan stoma :
 Warna stoma (normal warna kemerahan)
 Tanda2 perdarahan (perdarahan luka operasi)
 Tanda-tanda peradangan (tumor, rubor, color, dolor, fungsi laese)
 Posisi stoma
Apakah ada perubahan eliminasi tinja :
 Konsistensi, bau, warna feces
 Apakah ada konstipasi / diare
 Apakah feces tertampung dengan baik
 Apakah pasien dapat mengurus feces sendiri
Apakah ada gangguan rasa nyeri :
 Keluhan nyeri ada/tidak
Hal-hal yang menyebabkan nyeri
 Kualitas nyeri
 Kapan nyeri timbul (terus menerus / berulang)
 Apakah pasien gelisah atau tidak
Apakah kebutuhan istirahat dan tidur terpenuhi
Apakah ada gangguan nutrisi :
 Bagaimana nafsu makan klien
 BB normal atau tidak
Bagaimana kebiasaan makan pasien





Nyeri b.d gangguan mekans kulit akibat tindakan
operasi, ditandai dengan ….
Gangguan istirahat dan tidur b.d adanya rasa
takut pada keadaan stoma, ditandai dengan ….
Potensial ggn integritas kulit b.d terkontaminasinya
kulit dengan feces, ditandai dengan ….
Potensial terjadinya infeksi b.d adanya kontaminasi
luka dengan feces, yang ditandai dengan ….
Cemas b.d takut terisolasi dari orang lain ….
TUJUAN DAN INTERVENSI
Agar rasa nyeri dapat berkurang :
 Catat pemberian medikasi pada saat intra operatif
 Evaluasi rasa nyeri dan karakteristiknya
 Beri pengertian pada klien agar rasa nyeri diterima
sebagai suatu yang wajar dlm batas tertentu
 Berikan analgetik sebagai tindakan kolaborasi
Agar klien dapat tidur/istirahat yang cukup :
 Jelaskan, stoma tidak akan terbuka pada saat tidur
 Amati faktor lingkungan yang mempersulit tidur
 Amati faktor psikologis yang mempersulit tidur
Agar tidak terjadi gangguan integritas kulit :
 Lakukan teknik perawatan baik (bersih)
 Lindungi kulit dengan pelindung kulit (vaselin / skin
barier) disekitar stoma
 Letakan alas (kasa) yang dapat menyerap aliran feces
Untuk menghindari infeksi sekunder :
 Lakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada stoma
 Ajarkan klien tentang personal hygiene dan perawatan
stoma
EVALUASI







Kebersihan stoma dan sekitarnya terjaga dengan baik :
Tidak ada tanda-tanda infeksi
Tidak tampak tanda-tanda gangguan integritas kulit
lnfeksi tidak terjadi
Pola BAB teratur
Kebutuhan istirahat dan tidur terpenuhi :
–>KIien dapat tidur tenang (6-8 jam sehari)
Tidak ada faktor lingkungan dan psikologis yang mempersulit tidur
Klien kelihatan segar (tidak mengantuk)
Rasa nyeri dapat diantisipasi oleh klien sendiri
a.Tidak ada keluhan rasa nyeri
b. Wajah tampak ceria
BAYI SEHAT,,TIDUR PUN NYENYAK
Download
Study collections