perbandingan kata bahasa indonesia

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
BAHASA INDONESIA
POKOK BAHASAN :
Pilihan Kata (Diksi)
Fakultas
Program Studi
Ilmu Komunikasi
Penyiaran
2015
1
Tatap Muka
09
Kode MK
Disusun Oleh
900008
Sudrajat, S.Pd. M.Pd.
Abstract
Kompetensi
Diksi (pilihan kata) adalah
keasanggupan sebuah kata
untuk menimbulkan gagasangagasan yang tepat pada
imajinasi pembaca atau
pendengar, seperti apa yang
dipikirkan atau dirasakan penulis
atau pembicara.
Mahasiswa dapat memahami dan
menggunakan diksi (pilihan kata)
serta berbagai jenis makna dengan
baik dan benar.
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
1.
Standar Kompetensi
Setelah mempelajari materi pada modul ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami
dan menggunakan diksi (pilihan kata) serta berbagai jenis makna dengan baik dan benar.
2.
Kompetensi Dasar
1. Mampu memahami syarat-syarat diksi
2. Mampu memahami proses pembentukan kata.
3. Mampu memahami berbagai jenis makna.
3.
Indikator
1. Mampu menjelaskan pengertian diksi.
2. Mampu menjelaskan syarat-syarat diksi.
3. Mampu menjelaskan proses pembentukan kata.
4. Mampu menjelaskan berbagai macam makna.
4.
Pengertian Diksi
Pilihan kata (diksi) pada dasarnya adalah hasil dari upaya memilih kata tertentu untuk
dipakai dalam kalimat, alinea, atau wacana. Pemilihan kata akan dapat dilakukan bila
tersedia sejumlah kata yang artinya hampir sama atau bermiripan. Ketepatan pilihan kata
mempersoalkan kesanggupan sebuah kata yang dapat menimbulkan gagasan-gagasan
yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar. Untuk itu, agar gagasan-gagasan
tersebut dapat dengan tepat ada pada imajinasi pembaca atau pendengar, ketersediaan
kata yang dimiliki seorang penulis mutlak diperlukan yaitu berupa pembendaharaan kata
yang memadai, seakan-akan ia memiliki daftar kata. Persoalan ketepatan pilihan mkata
dari daftar kata itu akan menyangkut pula masalah makna kata dan kosa kata seseorang,
sehingga dari daftar kata itu dipilih satu kata yang paling tepat untuk mengungkapkan suatu
pengertian. Tanpa menguasai sediaan kata yang cukup banyak, tidak mungkin seseorang
dapat melakukan pemilihan atau seleksi kata.
Pemilihan kata bukanlah sekadar kegiatan memilih kata yang tepat, melainkan juga
memilih kata yangcocok. Cocok dalam hal ini berarti sesuai dengan konteks di mana kata
itu berada, dan maknanya tidak bertentangan dengan nilai rasa masyarakat pemakainya.
Untuk itu, dalam memilih kata diperlukan analisis dan pertimbangan tertentu. Hal-hal yang
perlu diperhatikan berkenaan dengan pilihan kata adalah diantaranya penulis/pengarang
mampu membedakan secara cermat denotasi dan konotasi kata, mampu mengetahui kata
2015
2
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
kerja yang menggunakan kata depan yang harus digunakan secara ideomatis, mampu
membedakan kata-kata yang mirip ejaannya, menghindari kata-kata ciptaannya sendiri,
waspada terhadap penggunaaan kata asing, dan mmampu membedakan dengan cermat
kata-kata yang hampir bersinonim. Kata-kata yang bersinonim tidak selalu memiliki
distribusi yang saling melengkapi. Oleh karena itu, penulis atau pembicara harus berhatihati memilih kata dari sekian sinonom yang ada untuk menyampaikan apa yang
diinginkannya, sehuingga tidak timbul interpretasi yang berlainan. Sebagaoi contoh, kata
mati bersinonim dengan mampus, meninggal, wafat, mangkat, tewas, gugur, berpulang,
kem,bali keharibaan tuhan, akan tetapi, tidak dapat bebas digunakan. Mengapa? Ada nilai
rasa dan nuansa makna yang membedakannya. Kita dapat mengatakan Kucing
kesayanganku wafat tadi malam. Sebaliknya kurang tepat pula jika kita mengatakan
Menteri Fulan mati tadi malam. Itulah contoh hasil analisis dan pertimbangan tertentu. Jadi
ketepatan makna menuntut pula kesadaran penulis atau pembicara untuk mengetahui
bagaimana hubungan antara bentuk kata dengan referensinya. Demikian pula masalah
makna kata yang tepat meminta pula perhatian penulis atau pembicara untuk tetap
mengikuti perkembangan makna kata dari waktu ke waktu.
Dari uraian di atas, ada tiga hal yang dapat kita simpulkan, yaitu (1) kemampual mamilih
kata hanya dimungkinkan bila seseorang menguasai banyak kosa kata, (2) pilihan kata
mengandung pengertian upaya atau kemampuan membedakan secara tepat kata-kata
yang memiliki nuansa makna yang bersinonim, (3) pilihan kata menyangkut kemampuan
untuk memilih kata yang tepat dan cocok untuk situasi atau konteks tgertentu. Dengan
demikian bahwa pilihan kata sebwenarnya berhubungan dengan tutur dan tata tulis untruk
mewadahi pikiran. Untuk memilih kata dengan tepat, diperlukan penguasaan kosa kata
yang memadai. Kata yang dipilih harus dapat memberi mketepatan makna karena pada
masyarakat tertentu sebuah kata sering mempunyai makna yang baik, dan pada
masyarakat yang lain memberikan makna yang kurang baik. Penggunaan kata harus
sesuai
dengan norma kebahasaan masyarakat. Agar tidak salah, gunakanlah kamus
sebagai pedoman dalam pemilihan kata. Karena dengan menggunakan kamus, kata-kata
yang disajikan tidak hanya sebatas kata, tetapi juga beserta contoh kalimatnya, sehingga
kita bisa melihat dengan tepat konteks kata tersebut.
Jasdi, yang dimaksud dengan pilihan kata adalah kesanggupan sebuah kata untuk
menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pendengar atau pembaca
sesuai dengan apa yang dipikirkan atau dirasakanoleh penulis atau pembicara. Agar
maksud dan tujuan pilihan kata dapat tercapai seperti apa yang telah dituliskan pada
2015
3
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
definisi tersebut diperlukan semacam indikator bahwa si pendengar atau pembaca dapat
memiliki gambaran atau perasaan yang sama layaknya penulis atau pembicara, yaitu (1)
dapat mengomunikasikan gagasan dan seasuai berdasarkan kaidah suatu bahasa, dalam
hal ini adalah kaidah bahasa Indonesia, (2) menghasilkan komunikasi puncak (yang paling
efektif) tanpa salah penafsiranau slah makna, (3) menghasilkan respon pembaca atau
pendengar sesuai dengan harapan penjulis atau pembicara, dan (4) menghasilkan target
komunikasi yang diharapkan. Untuk itu, diperlukan sesuatu yang disebut dengan
kesesuaian pilihan kata dan ketepatan pilihan kata walaupun kedua kata tersebut memiliki
kata yang berbeda. Ketepatan pilihan kata berkenaan dengan apakah kata yang digunakan
sudah setepat tepatnya, sehingga tidak menimbulkan anggapan yang lain antara
pembiocara dan pendengar atau penulis dengan pembaca. Adapun yang berkenaan
dengan kesesuaian pilihan kata, apakah kata yang digunakan tersebut tidak merusak
suasana atau meninggung perasaan orang nyang diajak berbahasa.
Agar sweseorang dapat mendayagunakan bahasa secara maksimal diperlukan
kesadaran betapa pentingnya penguasaan kosa kata. Penguasaan kosa kata tidak akan
pernah lepas dari kemampuan menggunakan pilihan kata secara tepat. Memilih kata yang
tepat untuk dapat menyampaikan gagasan ilmiah menuntut pednguasaan, seperti (1)
keterampilan yang tinggi terhadap bahasa yang digunakan, (2) wawasan bidang ilmu yang
ditulis, (3) konsistensi penggunaan sudut pandang, istilahn, baik dalam makna maupun
bentuk agar tidak menimbulkan salah penafsiran,(4) syarat ketepatan kata, dan (5) syarat
kesesuaian kata. Oleh karena itu, ketepoatan pilihan kata terkait dengan konsep , logika,
dan gagasan yang hendak ditulis dalam karangan. Ketepatan tersebut akan dapat
menghasilkan kepastian makna, sedangkan kesesuaian kata menyangkut kecocokan
antara kata yang dipakai dedngan situasi yang hendak diciptakan, sehingga tidak
mengganggu suasana btin, emosi, atau psikis antara penulis dan pembacanya, pembicara
dan pendengarnya. Oleh karena itu, untuk menghasilkan karangan berkualitas penulis
harus memperhatikan ketepatan dan kesesuaian kata. Agar dapat memiliki ketepatan dan
kesesuaian kata dalam pemilihan kata, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.
.
5.
Syarat-syarat Pemilihan Kata
Kemahiran memilih kata oleh seorang pengarang/penulis berkaitan erat dengan
penguasaan kosa kata. Seorang pengarang/penujlis yang menguasai kosa katra, selain
mengetahui makna sebuah kata, tentu juga memahami perubahan makna. Di samping itu,
agar dapat memilih kata yang akurat seorang penulis/pengarang harus menguasai
2015
4
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
sejumlah persyaratan. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seorang penulis
/pengarang dapat menghasilkan sebuah tulisan/karangan dengan baIk, yaitu dapat
membedakan denotasi dan konotasi, dapatmembedakan membedakan kata-kata yang
hampir bersinonim, dapat membedakan kata-kata yang hampir mirip ejaannya, dan
memahami dengan tepat makna kata-kata abnstrak, dapat memakai kata penghubung
yang berpasangan dengan tepat, dapat membedakan kata umum dan kata khusus dengan
tepat. Perhatikan uraian berikut berupa contoh-contoh sekaligus untuk melatih ketajaman
pemahaman.
1. Dapat membedakan denotasi dan konotasi.
Contoh:
a. Hari Minggu lalu, Saras jatuh ketika sedang naik sepeda bersama teman-temannya.
b. Syarat utama seseorang bisa naik haji adalah dia tergolong orang yang mampu, baik
secara materil maupun spiritual.
2. Dapat membedakan kata-kata yang hampir bersinonim.
Contoh:
a. Selama tiga bulan ini, rencana kami masih dalam rangka memberolahragakan
karyawan.
b. Setiap Sabtu pagi, Wanda bersama kedua orang tuanya selalu mengolahragakan
bada mereka agar selalu sehat.
3. Dapat membedakan kata-kata yang hampir mirip dalam ejaannya.
Contoh:
Intensif – insentif
preposisi – proposisi
Interferensi – inferensi
korporasi – koperasi
Karton – kartun
sarat – syarat
4. Dapat memahami makna kata-kata abstrak.
Contoh:
Kesejahteraan, keadilan, kemakmuran, keamanan, kerukunan, kebersamaan.
5. Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapat sendiri jika
pemahaman belum dapat dipastikan. Maka, pemakai kata harus menemukan makna
2015
5
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
yang tepat dalam kamus, misalnya kata modern sering diartikan secara subjektif
canggih, padahal menurut kamus, kata modern berarti terbaru atau mutakhir; canggih
berarti banyak cakap, suka mengganggu, banyak mengetahui, dan bergaya intelektual.
6. Dapat memakai kata penghubung yang berpasangan secara tepat.
Contoh:
a. Antara karyawan dengan atasan harus selalu saling bekerja sama.
b. Nurdiana tidak mau menerima hadiah berbentuk barang, tetapi berupa uang.
c. Baik anak maupun orang tua ikut menyaksikan pertandingan itu.
d. Bukan Imron yang tidak bersalah, melainkan Husin yang telah melakukannya.
7. Dapat membedakan kata umum dan kata khusus dengan benar.
Kata ikan merupakan kata umum yang merujuk pada acuan yang lebih luas daripada
kata mujair, atau gurame. Ikan tidak hanya mujair atau gurame, tetapi terdiri atas
beberapa macam. Dalam hal ini yang acuannya lebih luas disebut kata umum, seperti
ikan. Sedangkan kata yang acuan maknanya lebih khusus disesut kata khusus, seperti
mujair dan gurame. Kata umum disebut dengan superordinat, sedangkan kata umum
disebut hiponim.
8. Jika seorang pengarang/penulis menggunakan imbuhan asing, ia harus memahami
maknanya secara tepat, misalnya,
dilegalisir seharusnya dilegalisasi koordinir
seharusnya koordinasi.
9. Menggunakan kata-kata idiomatik berdasarkan susunan (pasangan) yang benar,
misalnya, berdasarkan pada seharusnya berdasar pada.
10. Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat, misalnya, kata issue yang
berasal dari bahasa Inggris yang berarti publikasi, kesudahan, perkara, sedangkan isu
dalam bahasa Indonesia berarti kabar yanmg tidak jelas asal-usulnya, kabar angin, atau
desas-desus.
Untuk mempertajam pemahaman makna, terkadang kita memerlukan terjemahan asing,
terutama bahasa Inggris sebagai pembanding, sebab perbedaan nuansa makna antarkata
yang bermiripan itu terkadang begitu tipis. Dengan memahami makna yang tepat akan
2015
6
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
dapat pemilihan kata yang akurat. Bandingkan dengan cermat tatanan kata-kata bahasa
Indonesia dalam bahasa Inggris pada tabel berikut.
PERBANDINGAN KATA BAHASA INDONESIA – INGGRIS DALAM UPAYA
MENDAPATKAN PILIHAN KATA YANG TEPAT
Bahasa Indonesia
Bahasa Inggris
Perencanaan
Planning
Rencana
Plan
Jadwal
Schedule
Program
Program
Agenda, acara
Agenda
Rancangan, desain
Desain
Hampa, vakum
Vacuum
Kompong
Void
Kosong
Empty
Blanko
Blank
Luang
Free
Lowong, Lowongan
Vacant, Vacancy
nihil
Nil, Nought
Pemakaian pewatas yang berlebih juga dapat mengurangi kekuatan dan mkecermatan
pilihan kata. Jika kata benda dan kata kerja masing-masing tidak tidak dapat memperjelas
keterangan. Kata atau ungkapan yang banyak disalahgunakan antara lain; cukup, relatif,
pasti, sering, sangat, banyak, selalu, sama sekali, misalnya, cukup memuaskan, relatif lebih
murah, pasti menang, sering menyalah gunakan kekuasaan, sangat meyakinkan, banyak
pejabat yang tidak mau bertanggung jawab, selalu datang terlambat, sama sekali belum
makan.
5.1 Gaya Bahasa
Kata dan ungkapan sering ditafsirkan menurut arti harfiah dan menurut arti majasnya.
Arti harfiah sama dengan denotasi atau makna sebenarnya. Arti majasi diperoleh jika
denotasi kata atau ungkapan dialihkan dan mewncakupi denotasi lain bersamaan dengan
tautan pikiran lain. Gaya bahasa atau langgam bahasa (majas) adalah cara penutur
mengungkapkan masudnya. Banyak cara yang dapat dipakai untuk mengungkapkan
2015
7
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
maksud. Ada cara yang memakai perlambang (metafora, personifikasi), ada cara yang
menekankan kehalusan (eufemisme, litotes), dan masih banyak lagi majas yang lainnya.
Ada enam faktor yang mempengaruhi tampilan bahasa seorang komunikator dalam
berkomunikasi dengan mitranya, yaitu :
a.
Cara dan media komunikasi, apakah secara lisan atau tulisan, langsung atau tidak
langsung, media cetak atau media elektronik.
b.
Bidang ilmu, apakah filsafat, sastra, hukum, teknik, atau kedokteran;
c.
Situasi, apakah resmi, tidak resmi, atau setengah resmi;
d.
Ruang atau konteks, apakah seminar, kuliah, ceramah, atau pidato;
e.
khalayak, apakah dibedakan b erdasarkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan
status sosial;
f.
Tujuan, apakah membandingkan emosi, diplomasi, humor, atau informasi;
5.2 Idiom
Ungkapan idiomatik adalah ungkapan yang khas pada suatu bahasa yang salah satu
unsurnya tidak dapat dihilangkanm atau diganti. Ungkapan idiomatik adalah kata-kata yang
mempunyai sifat idiom yang tidak terkena kaidah ekonomi bahasa. Oleh karena itu, setiap
kata yang membentuk idiom berarti di dalamnya sudah ada kesatuan bentuk dan makna.
Setiap idiom sudah terpatri sedemikian rupa sehingga para pemakai bahasa mau tidak
mau harus tunduk pada aturan pemakaiannya. Sebagian besar idiom yang berupa
kelompok kata , misalnya, gulung tikar, adu domba, muka tembok tidak boleh dipertukarkan
susunannya menjadi “tikar gulung, domba adu, tembok muka” karena ketiga kelompok kata
yang terakhir bukan idiom.
Di bawah tingkatan idiom ada pasangan kata yang selalu muncul bersamaan sebagai
frase. Kelompok kata bertemu dengan, dibacakan oleh, misalnya. Bukan idiom, tetapi
berperilaku idiom. Pasangan kelompok kata semacam ini pantas disebut ungkapan
idiomatik. Kedua contoh kata di bawah ini belum beraroma idiomatis karena tidak berisi
ungkapan idiomatik.
1) Presiden Rusia, Vladimir Putin, bertemu Presiden RI, SBY.
2) Berita selengkapnya dibacakan Putra Nababan.
Dengan alasan ekonomi bahasa pun contoh (1) dan (2) tetap salah karena timpang.
Pembetulannya tidak lain adalah dengan cara menempatkan pasangan serasi bagi kata
bertemu, yaitu dengan; dan pasangan serasi bagi kata dibacakan, yaitu oleh.
2015
8
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
3) Presiden Rusia, Vladimir Putin, bertemu dengan Presiden RI, SBY.
4) Berita selengkapnya dibnacakan oleh Putra Nababan.
5.3 Bahasa Artifisial
Bahasa Artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni. Bahasa yang artifisial tidak
terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi dalam pemakaiannya untuk menyatakan
suatu maksud.fakta-fakta yng sederhana dapat diungkapkan dengan sederhana dan
langsung tak perlu disembunyikan. Dalam karya sastra memang perlu ditampilkan bahasa
artifisial. Dalam bahasa umum atau bahasa ilmiah, bahasa artifisial perlu dihindari. Dalam
menyampaikan sdesuatu secara tertulis, setiap penulis harus memperhatikan bagaimana
dan apa yang ditulis. Namun, bila konmsentrasi ditekankan kepada bagaimana ia harus
menulis tanpa memperhatikan apa yang ditulis, tulisannya akan cenderung mengarah ke
tulisan yang artifisial.
Sebagai contoh bahasa artifisial adalah sebagai berikut:
a. Ia mendengar kepak sayap kelelawar dan gusyuran sisa hujan dari dedaunan, karena
angin pada kemuning.
b. Ia mendengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali
menampakan bimasakti yang jauh.
Kalimat-kalimat tersebut di atas dapat diubah menjadi bahasa biasa, adalah sebagai
berikut:
c. Ia mendengar bunyi sayap kelelawar dan sisa hujan yang ditiup angin di daun.
d. Ia mendengar derap kuda dan pedati ketika langit mulai terang.
5.4 Peranti-peranti Diksi
Agar tercipta pilihan kata yang tepat dan sesuai dengan konteks kalimat, sehingga apa
yang dirasakan dan dibayangkan oleh si penulis dan pembicara dapat dirasakan dan
dibayangkan pula oleh si pembaca dan pendengar. Jika hal itu dapat tercapai tentunya
akan dapat tercipta suatu komunikasi yang efektif dan efisien. Selain hal-hal terswebut di
atas masih ada yang perlu diperhatikan, yaitu:
1) Bernilai rasa : kata wanita dan perempuan
2) Ragam baku dan ragam tidak baku: kata mengubah (baku) dan merubah (tidak baku).
3) Masalah penyempitan dan perluasan makan: berlayar (meluas) dan ulama (menyempit).
2015
9
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
4) Ragam sosiolek dan fungsiolek:
-
Kata-kata seperti golf, film, folio, dan ekstra (bentukan ucapan sosiolek bagi yang
berpendidikan)
-
Kata-kata seperti golep, filkem, polio, dan estra ( bentukan ucapan sosiolek bagi
yang tidak berpendidikan).
5) Keaktifan kata dan kepasifan kata. Yitu kata-kata yang banyak digunakan oleh tokoh
masyarakat sehingga kata yang semula pasif yaitu jarang digunakan, menjadi aktif lagi
yaitu siap digunakan. Contoh kata mantan, canggih, terkinidll.
6) Kata yang berhubungan dengan indra/sinestesia yaityu istilah yang menyatakan
pengalaman yang diserap panca indra, seperti penglihatan, pendengaran, peraba,
perasa, dan penciuman. Hubungan satu indra dengan indra yang lain begitu rapat,
sehingga kata yang sebenarnya hanya dikenakan pada satu indra dikenakan pada indra
yang lain. Contoh kata sedap dan manis, pada kalimat:
-
Sedap betul kedengarannya kata-katanya itu.
-
Gadis manis berkepang dua itu adik saya.
7) Kelugasan kata yaitu kata-kata yang sekaligus juga ringkas, tidak merupakan fakta
panjang, tidak mendayu-dayu, dan juga tidak berbelit-belit. Contoh kata-kata yang
berhubungan dengan hal yang tabu, seperti kata penis lebih lugas daripada zakar, dan
senggama lebih lugas daripada berhubungan badan atau koitus.
6.
Pembentukan Kata
Salah satu cara untuk memperluas perbendaharaan kata adalah dengan menganalisis
sebuah kata. Namun yang khusus akan dibicarakan di sini adalah analisis terhadap bagianbagian kata yang selalu muncul dalam bentuk-bentuk gabungan, sehingga dengan
mengingat dasr katanya, semua kata yang mempergunakan dasar tadi, dapat diduga
maknanya secara tepat. Bagian-bagian kata yang selalu muncul dalam bentuk gabungan
itu, dapat berupa akar kata, dapat pula berbentuk imbuhan-imbuihan. Ada dua cara
pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa
Indonesia berbentuk kosa kata baru melalui unsur serapan. Bahasa Indonesia mengenal
pula konsep akar kata. Namun, agak berbeda bila dibandingkan dengan bahasa-bahasa
yang lain, seperti sansakerta, latin, dan yunani. Akar kata dalam bahasa Indonesia
merupakan hasil dari sebuah analisis hipotesis klarena tidak produktif lagi. Contohnya
terdapat pada akar kata kit yang diperkirakan bermakna naik, misalnya, rakit, sakit, ungkit,
2015
10
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
bukit, bangkit. Namun, akar kata tersebut tidak dapat dipakai seenaknya untuk membentuk
kata-kata baru.
Kita sadari bahwa kosa kata bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh bahasa asing,
bentuk kontak bahasa memang tidak dapat dielakan karena kita berhubungan dengan
bangsa lain. Oleh karena itu, pengaruh-mempengaruhi dalam hal kosa kata pasti akan
selalu ada. Pemungutan kata-kata asing yang bersifat internasional sangat kita perlukan,
karena kita memerlukan suatu komunikasi dalam dun ia dan teknologi modern, kita
memerlukan komunikasi yang lancar dalam segala macam segi kehidupan. Kata-kata
pungut yang sudah disesuaikan dengan bahasa Indonesia disebut bentuk serapan.
Bentuk-bentuk serapan itu ada empat macam, yaitu:
(1) Mengambil kata yang sudah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia, seperti: bank,
opname, golf.
(2) Mengambil kata dan menyesuaikan kata tersebut dengan ejaan bahasa Indonesia,
seperti: subjeck menjadi subjek; apotheek menjadi apotek; standard menjadi standar;
dan university menjadi universitas.
(3) Menerjemahkan dan memadankan istilah-istilah asing ke dalam bahasa Indonesia,
seperti: starting point menjadi titik tolak; meet the press menjadi jumpa pres; up to date
menjadi mutakhir, briefing menjadi taklimat; dan hearing dengar pendapat.
(4) Mengambil istilah yang tetap seperti aslinya karena sifat keuniversalannya, seperti: de
fakto, status quo, cum laude, dan ad hok.
(5) Menyerap dari bahasa daerah.
(6) Berikut didaptarkan beberapa kata serapan, seperti: configuration menjadi konfigurasi;
list menjadi senarai; mpavilion menjadi anjungan; airport menjadi bandara; editing
menjadi penyuntingan; establised menjdi mapan; general reherseal menjadi geladi
bersih; image menjadi citra; sophisticated menjadi mutakhir; gap menjadi kesenjangan;
customer menjadi pelanggan atau nasabah; ambiguos menjadi taksa; supervision
menjadi penyelia; full time menjadi purnawaktu, drain menjadi salir, dan domain menjadi
ranah.
Ketika menggunakan kata terutama dalam situasi resmi, kita perlu memperhatikan
beberapa ukuran, yaitu:
2015
11
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
1. Kata yang lazim dipakai dalam bahasa tutur atau bahasa setempat sebaiknya dihindari
dan kata-kata tersebut dapat digunakan bila sudah menjadi milik umum. Contoh kata
nongkrong dan raun, sedangkanmkata-kata yang sudah dianggap milik umum, seperti
ganyang, lugas, heboh, santai anjangsana, kelola, dan pamrih.
2. Kata-kata yang mengandung nilai rasa hendaknya dipakai secara cermat dan hati hati
agar sesuai dengan tempat dan suasana pembicaraan. Yaitu kata-kata seperti:
tunanetra dengan buta; tunarungu dengan tuli; dan tunawicara dengan bisu.
3. Kata yang tidak lazim dipakai seharusnya dihindari, kecuali jika sudah dipakai oleh
masyarakat. Kata seperti: konon, bayu, laskar, puspa, lepau, dan didaulat.
Daf tar Pustaka
Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional 2006. RambuRambu Pelaksanaan Keelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
di Perguruan Tinggi . Jakarta
2015
12
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
Rahayu,Minto.2009.
Bahasa
Pengembangan
Indonesia
di
Perguruan
Kepribadian .Jakarta.PT
Tinggi:Mata
Gramedia
Kuliah
W idiasarana
Indonesia.
Satata,Sri.
2007.
Modul
Bahasa
Indonesia
Universitas
Mercu
Buana .
http://pksm.mercubuana.ac.id
Tarigan,Henry Guntur.1986. Menyimak Sebagai Satu Keterampilan Berbahasa .
Bandung:Angkasa
--------.1986.Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa .Bandung:Angkasa.
--------.1990.Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa .Bandung:angkasa.
--------.1993.Membaca
Sebagai
Suatu
Aspek
Keterampilan
Bandung:Angkasa
2015
13
Bahasa Indonesia
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Sudrajat, S.Pd. M.Pd..
http://www.mercubuana.ac.id
Berbahasa .
Download