perilaku komunikasi, persepsi dan adopsi program

advertisement
7
TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi
Pengertian komunikasi secara etimologis berasal dari perkataan latin
“communicatio.” Istilah ini bersumber dari perkataan “communis” yang berarti
sama; sama di sini maksudnya sama makna atau sama arti. Jadi komunikasi terjadi
apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh
komunikator dan diterima oleh komunikan (Effendy, 2003). Komunikasi dalam
hal ini bisa berupa tindakan satu arah, bisa pula sebagai interaksi dan komunikasi
sebagai transaksi. Sebagai tindakan satu-arah, suatu pemahaman populer
mengenai
komunikasi
manusia
ialah
komunikasi
yang
mengisyaratkan
penyampaian pesan searah dari seseorang (atau suatu lembaga) kepada seseorang
(sekelompok orang) lainnya, baik secara langsung (tatapmuka) ataupun melalui
media, seperti surat (selebaran), suratkabar, majalah, radio atau televisi.
Sementara Rogers dan Shoemaker (1995), mengartikan komunikasi adalah
sebagai suatu proses dimana semua partisipan atau pihak-pihak yang
berkomunikasi saling menciptakan, membagi, menyampaikan dan bertukar
informasi, antara satu dengan lainnya dalam rangka mencapai suatu pengertian
bersama.
Proses komunikasi pada hakikatnya adalah cara penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan. Proses komunikasi dikategorikan dalam dua
perspektif yaitu proses komunikasi dalam perspektif psikologis dan mekanistik.
Proses komunikasi dalam perspektif psikologis merupakan suatu proses yang
terjadi dalam diri komunikator ketika berniat akan menyampaikan suatu pesan
kepada komunikan. Adapun pesan komunikasi yang disampaikan terdiri dari dua
aspek yaitu isi pesan berupa pikiran dan lambang berupa bahasa. Dengan kata
lain, proses pengemasan pikiran dengan bahasa yang dilakukan komunikator
dalam bahasa komunikasi, kemudian disampaikan kepada komunikan sebagai
penerima (Effendy, 2003)
Bagian terpenting dalam komunikasi ialah bagaimana cara agar suatu
pesan yang disampaikan komunikator itu menimbulkan dampak atau efek tertentu
pada komunikan. Dampak yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan, yaitu :
8
a. Dampak kognitif yaitu dampak yang timbul yang menyebabkan menjadi tahu
atau meningkatkan intelektualitasnya.
b. Dampak afektif yaitu supaya komunikan tahu dan tergerak hatinya dan
menimbulkan perasaan tertentu.
c. Dampak behavioral atau konatif yaitu dampak yang timbul dalam bentuk
perilaku, tindakan atau kegiatan (Effendy, 2003; Rakhmat, 2007).
Tujuan komunikasi menurut Levis (1996) antara lain adalah (1) informasi,
yaitu untuk memberikan informasi yang menggunakan pendekatan dengan
pemikiran, (2) persuasif, yaitu untuk menggugah perasaan penerima, (3)
mengubah perilaku, yaitu perubahan sikap terhadap pelaku pembangunan, (4)
meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan usaha secara efisien di bidang
usaha yang dapat memberi manfaat dalam batas waktu yang tidak tertentu, (5)
mewujudkan partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan.
Definisi komunikasi dalam penelitian ini adalah suatu proses pengiriman
pesan yang dilakukan oleh instansi pertamina sebagai sumber kepada ibu rumah
tangga sebagai komunikan.
Berbicara mengenai komunikasi tentu tidak lepas kaitannya dengan
pembangunan. Pembangunan pada dasarnya merupakan upaya untuk melakukan
suatu perubahan demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Dengan demikian
pembangunan menuntut semua pihak dalam masyarakat untuk ikut berpartisipasi
baik dalam pemberian input, pelaksanaan dan pemanfaatan hasil yang akan
diperoleh, maka komunikasi antar pihak-pihak yang terlibat di dalamnya sangat
diperlukan. Astrid Susanto dalam Mardikanto (1993) menyatakan bahwa
komunikasi pembangunan merupakan proses yang mengajak masyarakat untuk
berani meninggalkan sesuatu (yang telah diketahui kebaikan dan keburukannya)
untuk menggantikannya dengan sesuatu yang baru (yang belum secara pasti
diketahui kebaikannya).
Pengertian yang dikemukakan oleh Astrid seperti itu tentu saja tidak
berarti bahwa komunikasi pembangunan hanya bertujuan untuk menyampaikan
pesan-pesan pembangunan atau memasyarakatkan program pembangunan, tetapi
yang lebih penting adalah menumbuhkan partisipasi semua pihak (sesuai
kedudukan dan fungsinya masing-masing) untuk melibatkan diri secara aktif
9
dalam proses pembangunan. Ditambahkan oleh Mardikanto (1993), komunikasi
pembangunan adalah proses komunikasi yang memiliki karakteristik:
a) Menyampaikan atau menginformasikan kepada masyarakat tentang adanya
kegiatan pembangunan yang sedang diupayakan oleh pemerintah.
b) Menumbuhkan
kesadaran
masyarakat
tentang
pentingnya
kegiatan
pembangunan bagi perbaikan mutu hidup atau peningkatan kesejahteraan
seluruh lapisan masyarakat.
c) Menumbuhkan kesadaran dan menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi
dalam proses pembangunan yang sedang diupayakan pemerintah.
d) Mengajak dan mendidik masyarakat untuk berperilaku dan menerapkan ide-ide
serta teknologi yang sudah terpilih guna tercapainya tujuan pembangunan yang
telah ditetapkan.
e) Memelihara partisipasi masyarakat tersebut secara berkelanjutan demi
perbaikan mutu hidup yang lebih baik di masa-masa mendatang.
Inti dari setiap upaya pembangunan adalah tercapainya perbaikan mutu
hidup segenap warga masyarakat melalui proses perubahan dalam berbagai aspek
kehidupan yang mencakup ekonomi, politik dan sosial budaya. Oleh karena itu
pesan yang harus dikomunikasikan di dalam proses komunikasi pembangunan
haruslah
sesuatu yang mampu mendorong atau yang diperlukan untuk
berlangsungnya perubahan-perubahan, sekaligus memiliki sifat-sifat pembaharuan
yang disebut dengan sifat inovatif (Mardikanto, 1993).
Rogers dan Shoemaker (1995) menyebutkan An innovation is an idea,
practice, or object that is perceived as a new by an individual or other unit of
adoption. Sedangkan Lionberger dan Gwin (1982) mengartikan inovasi tidak
sekedar sebagai suatu yang baru yang dirasakan oleh seseorang atau individu saja,
tetapi lebih luas dari itu, yakni sesuatu yang dinilai baru oleh sekelompok
masyarakat atau sesuatu yang baru menurut lokalitas tertentu.
Pengertian baru di sini, mengandung makna bukan sekedar baru diketahui
dalam artian pikiran, akan tetapi karena belum dapat diterima secara luas dalam
artian sikap, dan juga baru dalam artian diputuskan untuk dilaksanakan atau
digunakan. Dalam hal ini pengertian inovasi tidak hanya terbatas pengertian
benda atau barang hasil produksi, tetapi mencakup ideologi, kepercayaan, sikap
10
hidup, informasi dan perilaku atau gerakan-gerakan menuju kepada proses
perubahan di dalam kehidupan masyarakat. (Maryam, 2008).
Persepsi dan Pembentukan Persepsi
Zanden dalam Suryadi (2000)
mengemukakan bahwa persepsi adalah
proses pengumpulan dan penafsiran dari informasi Hal ini sejalan dengan
pendapat van den Ban dan Hawkins (2007) yang menyatakan bahwa persepsi
adalah proses menerima informasi atau stimuli dari lingkungan dan mengubahnya
ke dalam kesadaran psikologis. Menurut Rakhmat (2007), persepsi adalah
pengalaman seseorang tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang
diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, dengan kata
lain persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi. Hal ini sejalan
dengan pendapat Sudiana (1986) yang menyatakan bahwa persepsi ialah suatu
proses penerimaan rangsangan inderawi dan penafsirannya. Rangsangan tersebut
dapat berasal dari benda atau pengalaman.
Menurut Myers (2003) tiap orang berbeda kebutuhan, motif, minat dan
lain-lainnya karena itu persepsi seseorang terhadap sesuatu cenderung menurut
kebutuhan, minat dan latar belakang masing-masing. Dengan demikian persepsi
dua orang mengenai suatu obyek yang sama dapat berbeda, yaitu seseorang
mungkin memiliki persepsi yang baik, sedang yang lainnya mungkin sebaliknya.
Hal itu sejalan dengan pendapat Littlejohn dan Foss (2008) yang menyatakan
bahwa persepsi seseorang terhadap suatu obyek bisa tepat, dan bisa pula keliru,
atau mendua. Faktor terpenting untuk mengatasi kekeliruan persepsi ialah
kemampuan untuk mendapatkan pengertian yang tepat mengenai obyek persepsi.
Uraian tersebut di atas, menyarikan bahwa persepsi ialah tanggapan atau
gambaran yang ada dalam pikiran seseorang mengenai suatu obyek atau informasi
yang diterimanya. Khusus dalam penelitian ini, pengertian persepsi masyarakat
RW 08 Lenteng Agung, Jagakarsa Jakarta Selatan dibatasi sebagai tanggapan
mereka tentang penggunaan kompor LPG 3 kg (penggunaan, pemeliharaan, dan
pembelian).
Pengertian-pengertian persepsi yang dikemukakan di atas, diperkuat oleh
Atkinson dan Hilgard (1991) yang menjelaskan bahwa persepsi adalah proses
pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Dengan demikian
11
persepsi mempunyai implikasi penting untuk tingkah laku seseorang, dan akan
menentukan cara orang tersebut akan bersikap dan berinteraksi dengan obyek
(benda lain, orang maupun peristiwa) yang dipersepsinya. Secara skematis,
ditunjukkan dalam Gambar 1.
Pembentukan persepsi
pengalaman masa silam
Mekanisme
Pembentukan persepsi
Interpretation
Persepsi
Informasi sampai ke
Individu
Selectivity
Closure
Perilaku
Gambar 1. Pembentukan persepsi (Sumber: Asngari, 1984)
Asngari (1984) menyatakan bahwa orang bertindak sebagian dilandasi
oleh persepsinya terhadap suatu situasi. Hal ini karena manusia ada keinginan atas
kebutuhannya untuk mengetahui dan mengerti dunia tempat ia hidup, dan
mengetahui makna dari informasi yang diterimanya, demikian kata Litterer dalam
Asngari (1984). Pembentukan persepsi, menurut Litterer (Asngari,1984) melalui
tiga mekanisme, yakni selectivity, closure dan interpretation.
Persepsi orang dipengaruhi oleh pandangan seseorang pada suatu keadaan,
fakta atau tindakan. Meskipun orang hanya mendapat bagian-bagian informasi, ia
dengan cepat menyusunnya menjadi suatu gambaran yang menyeluruh. Orang itu
akan menggunakan informasi yang diperolehnya untuk menyusun gambaran
menyeluruh akan obyek tersebut.
Berdasarkan Gambar 1 informasi yang sampai kepada seseorang
menyebabkan individu yang bersangkutan membentuk persepsi, dimulai dari
pemilihan atau penyaringan, kemudian informasi yang masuk tersebut disusun
menjadi kesatuan yang bermakna, dan akhirnya terjadilah interpretasi mengenai
fakta keseluruhan informasi tersebut. Pada fase interpretasi, pengalaman yang lalu
memegang peran yang penting. Pengalaman di masa lalu atau pengalaman yang
12
dimiliki sebelumnya akan mempengaruhi interpretasi terhadap obyek yang
dipersepsi tersebut, sehingga akan mempengaruhi sikap dan perilakunya.
Proses seleksi terjadi pada saat seseorang memperoleh informasi, maka
akan berlangsung proses penyeleksian pesan tentang mana pesan yang dianggap
penting dan tidak penting. Proses closure terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan
disusun menjadi satu kesatuan yang berurutan dan bermakna, sedangkan
interpretasi berlangsung ketika yang bersangkutan memberi tafsiran atau makna
terhadap informasi tersebut secara menyeluruh. Menurut Asngari (1984) pada fase
interpretasi ini, pengalaman masa silam atau dahulu, memegang peranan yang
penting.
Menurut Gibson (Sarwono,1992) proses pembentukan persepsi juga bisa
dijelaskan melalui pendekatan “ekologis.” Menurut pendekatan ini individu tidak
menciptakan makna-makna dari obyek yang diinderanya, karena makna itu telah
terkandung dalam obyek itu, dan tersedia bagi organisme yang siap menyerapnya.
Persepsi terjadi secara spontan dan langsung (holistic). Spontanitas terjadi karena
setiap organisme selalu menjajagi (mengeksplotasi) lingkungannya. Dalam
penjajagan ini ia melibatkan setiap obyek yang ada di lingkungan, dan setiap
obyek menonjolkan sifat-sifatnya yang khas. Sebuah sungai dengan airnya yang
jernih dan mengalir perlahan misalnya menampilkan makna bagi manusia sebagai
tempat yang nyaman untuk mandi dan berenang, dan menampilkan makanan
sebagai habitat yang nyaman bagi sejumlah satwa air. Sifat-sifat yang
menampilkan makna seperti itu disebut affordances (afford = memberikan,
menghasilkan, bermanfaat). Dengan kata lain, obyek-obyek atau stimuli itu aktif
berinteraksi dengan organisme yang menginderanya sehingga timbullah maknamakna spontan.
Dilihat dari pendekatan ini, manusia merupakan makhluk yang dapat
mengubah kemanfaatan suatu stimulus sesuai dengan keinginannya sehingga lebih
memenuhi keperluannya (sendiri). Masalah akan timbul jika manusia terlalu
banyak mengubah lingkungan, sehingga keseimbangan ekosistem akan terganggu.
Proses pembentukan persepsi menurut pendekatan ini dapat dilihat pada Gambar 2
berikut ini.
13
Obyek
fisik
Dalam
batas
Homeostasis
optimal
adaptasi
Persepsi
individu
Di luar
batas
optimal
Stres
Efek
lanjutan
coping
s
Stres
berlanjut
Efek
lanjutan
Gambar 2. Skema proses terjadinya persepsi menurut Paul A. Belt et al. (1978)
Pada Gambar 2 terlihat bahwa dalam proses terbentuknya persepsi, proses
paling awal adalah kontak fisik manusia dengan obyek lingkungan. Obyek tampil
dengan kemanfaatannya, manusia datang dengan sifat-sifat individualnya seperti
pengalaman, bakat, minat, sikap dan berbagai ciri kepribadiannya. Hasil interaksi
ini menimbulkan persepsi individu atas obyek. Jika persepsi itu ada dalam batas
optimal, maka individu dalam keadaan homeostasis, yang biasanya ingin
dipertahankan karena menimbulkan perasaan senang. Sebaliknya, jika persepsi
ada di luar batas optimal (terlalu kotor, terlalu keruh, terlalu berbau, dan
sebagainya), maka individu akan mengalami stress. Tekanan energi dalam dirinya
meningkat, sehingga harus melakukan coping untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan atau menyesuaikan lingkungan dengan kondisi dirinya. Orang dari
daerah pegunungan yang biasa melihat dan mandi di sungai yang airnya jernih
mempersepsikan air sungai itu dalam batas optimal. Akan tetapi ketika ia datang
ke permukiman kumuh di pinggir sungai di kota-kota besar dan melihat sungai
yang airnya keruh, kotor, penuh sampah, persepsinya terhadap air sungai itu di
luar batas optimal, sehingga mengalami stres yang tampil dalam bentuk terkejut,
heran dan semacamnya. Selanjutnya ia melakukan penyesuaian diri (coping
behavior), misalnya memilih untuk tidak mandi dari pada harus mandi di sungai
yang airnya kotor.
14
Hasil perilaku coping ini ada dua. Pertama, tidak membawa hasil seperti
yang diharapkan. Kegagalan ini menyebabkan stres berlanjut dan bisa berdampak
pada kondisi individu maupun persepsinya. Kegagalan yang berulang-ulang akan
meningkatkan kewaspadaan. Akan tetapi pada suatu titik akan terjadi gangguan
mental yang serius, seperti putus asa, bosan, perasaan tidak berdaya dan
menurunnya prestasi. Kedua, perilaku coping berhasil. Terjadi penyesuaian antara
individu dengan lingkungannya (adaptasi), atau penyesuaian keadaan lingkungan
dengan diri individu (adjusment). Keberhasilan yang berulang-ulang dapat
menurunkan tingkat
toleransi terhadap kegagalan atau kejenuhan, dan
meningkatkan kemampuan untuk menghadapi stimulus berikutnya.
Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi seseorang berasal dari
kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain termasuk yang kita sebut
sebagai faktor-faktor personal (Rakhmat, 2007). Penjelasan lebih detil dari faktorfaktor yang mempengaruhi persepsi versi Rakhmat (2007) ini adalah sebagai
berikut:
1. Faktor personal: faktor yang menentukan persepsi seseorang bukan jenis atau
bentuk stimuli, tetapi karakteristik individu yang memberikan respons pada
stimuli. Faktor fungsional yang disebut kerangka rujukan, berkaitan dengan
persepsi obyek, sehingga psikolog sosial menerapkan konsep ini untuk
menjelaskan persepsi sosial. Dalam kegiatan komunikasi, faktor fungsional
mempengaruhi cara seseorang memberi makna pada pesan yang diterimanya.
Dalam hal ini, psikolog menganggap bahwa kerangka rujukan ini amat berguna
untuk menganalisis interpretasi faktor personal dari peristiwa yang dialami.
2. Faktor situasional: faktor ini terkadang disebut sebagai determinan perhatian
yang bersifat eksternal atau penarik perhatian, stimuli diperhatikan karena
mempunyai sifat yang menonjol seperti gerakan, intensitas stimuli, kebaruan
dan perulangan.
Penelitian Saleh (1988) menjabarkan karakteristik personal mempengaruhi
penerimaan individu terhadap peubah pendidikan, tempat tinggal, kedudukan
orang tua, kemampuan mengelola, kesehatan, umur dan sikap. Karakteristik ini
turut mempengaruhi persepsi seseorang, kemudian mempengaruhi perilakunya.
15
Teori tentang hubungan antara persepsi dan perilaku, sebagaimana
dijelaskan oleh Rakhmat (2007) adalah suatu proses memahami apa yang tampak
dan tidak tampak pada alat indera. Perilaku seseorang merupakan tindakan yang
dipengaruhi persepsi, sehingga persepsi bukan saja suatu proses pemahaman
tentang tindakan seseorang tetapi juga memahami motif tindakannya. Dengan
demikian pengaruh persepsi bukan saja pada komunikasi interpersonal tetapi juga
pada pola hubungan interpersonal.
Perilaku Komunikasi
Perilaku pada dasarnya berorientasi pada tujuan dalam arti perilaku
seseorang pada umumnya dimotivasi dengan keinginan untuk memperoleh tujuan
tertentu (Ichwanudin, 1998).
Menurut Gould dan Kolb dalam Ichwanudin (1998), perilaku komunikasi
adalah tindakan atau respons dari sesuatu atau sistem apapun dalam berhubungan
dengan lingkungan atau situasi. Indikator dari peubah perilaku komunikasi antara
lain: keterpaan terhadap saluran komunikasi interpersonal, keterpaan terhadap
media massa dan partisipasi sosial, keterhubungan dengan sistem sosial,
kosmopolit, kontak dengan pembaru, mencari informasi tentang inovasi,
pengetahuan dan pemuka pendapat.
Lavidge-Steiner dalam Ichwanudin (1998) menyatakan bahwa model tipetipe efek (perilaku) sebagai akibat dari dikenainya pesan tertentu, terbagi ke
dalam: (1) kognitif, (2) afektif (3) konatif. Selanjutnya Ardianto dan Erdinaya
(2004) mengatakan efek yang ditimbulkannya adalah sebagai berikut:
1. Efek kognitif
Efek kognitif ialah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya
informatif bagi dirinya. Di sini pesan yang disampaikan oleh komunikator
ditujukan kepada pikiran komunikan, dengan kata lain tujuan komunikator
hanya berkisar pada upaya untuk memberitahu saja. Dampak yang
ditimbulkan pada komunikan yang menyebabkan dia menjadi tahu atau
meningkat intelektualitasnya.
2. Efek afektif
Efek ini kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif. Tujuan dari komunikasi
bukan sekedar memberi tahu khalayak tentang sesuatu tetapi lebih dari itu,
16
komunikan diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih,
gembira, marah dan sebagainya.
3. Efek behavioral/konatif
Efek behavioral atau konatif merupakan akibat yang timbul dalam diri
komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan.
Dengan mengambil konsep information seeker (Rogers & Shoemaker,
1995) dan uraian Ichwanudin (1998) di atas, maka perilaku komunikasi terhadap
inovasi teknologi kompor dan tabung gas tiga kilogram adalah keterpaan pada
media massa, pada saluran komunikasi interpersonal, interaksi dalam komunikasi
kelompok, dan partisipasi sosial.
Keterpaan terhadap Media Massa
Sumber informasi sangat berpengaruh terhadap proses adopsi inovasi,
sumber yang dimaksud dapat berasal dari media massa maupun media
interpersonal, penyuluh, aparat desa dan lain sebagainya (Soekartawi, 2005).
Media massa memiliki peranan memberikan informasi untuk memperluas
cakrawala, memusatkan perhatian, menumbuhkan aspirasi dan sebagainya
(Schramm, 1982), tetapi tergantung pada keterpaan khalayaknya di media massa.
Keterpaan pada media massa akan memberikan kontribusi terhadap perbedaan
perilaku (Jahi,1988).
Kincaid dan Schramm (1985) mengatakan perubahan perilaku khalayak
tidak saja dipengaruhi oleh keterpaan pada satu saluran media massa, tetapi juga
memerlukan lebih dari satu saluran komunikasi massa lainnya seperti televisi,
radio, film dan bahan-bahan cetakan.
Keterpaan pada Saluran Komunikasi Interpersonal
Rogers (2003) menjelaskan meningkatnya pengaruh pada seseorang untuk
mengadopsi atau menolak inovasi, merupakan suatu hasil aktivitas dalam jaringan
komunikasi dengan individu lain yang dianggap dekat dan akrab serta memiliki
pengaruh terhadap dirinya. Individu lain yang dianggap memiliki pengaruh dalam
sistem jaringan komunikasi adalah tokoh masyarakat, namun demikian hal ini
tergantung sebagian pada norma-norma yang berlaku, apakah mendukung atau
menolak perubahan.
17
Tokoh masyarakat sekitarnya atau orang yang memiliki kompetensi teknis
dapat memberikan fungsi legitimasi terhadap keputusan yang akan dibuat
(Sastropoetro,1988). Havelock et al. (1971) berpendapat bahwa tokoh masyarakat
memiliki peranan di dalamnya sebagai pendorong dan legitimator (pengukuhan
dari tahap adopsi).
Rogers (2003) menyebutkan bahwa seseorang akan lebih cepat
mengadopsi inovasi, apabila ia lebih banyak melakukan kontak komunikasi
interpersonal dengan agen pembaru dan tokoh masyarakat. Kincaid dan Schramm
(1985) menjelaskan bahwa proses mengetahui (kognitif), memahami (afektif)
sampai dengan perilaku (konatif) pada diri seseorang dipengaruhi oleh hubungan
interpersonal.
Intensitas Interaksi dalam Kelompok Komunikasi
Proses adopsi inovasi tidak terlepas dari pengaruh interaksi antar individu,
anggota masyarakat atau kelompok masyarakat, juga pengaruh dari interaksi antar
kelompok
dalam
suatu
masyarakat.
Hasil
penelitian
Maksum
(1994)
menyimpulkan bahwa interaksi antar anggota dalam pertemuan ternyata mampu
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan menerapkan informasi atau
teknologi yang dianjurkan. Sebanyak 97,3 persen petani mampu melaksanakan
anjuran-anjuran yang diperoleh dari pertemuan kelompok, 42,6 persen di
antaranya mampu mengkomunikasikan hasil pertemuan yang mereka peroleh dari
orang lain.
Keterlibatan dalam Pengambilan Keputusan Kelompok
Penerimaan anggota terhadap keputusan inovasi kolektif berhubungan
positif dengan tingkat partisipasi mereka, semakin banyak mereka berpartisipasi
dalam proses pembuatan keputusan kolektif, semakin besar penerimaan mereka
terhadap keputusan (Rogers, 2003).
Pengaruh kelompok dalam pengambilan keputusan menunjukkan bahwa
persoalan yang dikemukakan dan didiskusikan dalam kelompok, memiliki
pengaruh yang lebih besar dalam mendorong pengambilan keputusan oleh para
anggotanya (Djuarsa, 1993).
Makin tinggi partisipasi anggota dalam proses pengambilan keputusan,
semakin besar tingkat kepuasan mereka terhadap keputusan (Soekartawi, 2005).
18
Adopsi Inovasi
Inovasi menurut van den Ban dan Hawkin (1999) adalah suatu gagasan,
metode, atau obyek yang dianggap sebagai sesuatu yang baru atau relatif baru,
tetapi tidak selalu merupakan hasil dari penelitian mutakhir, Mardikanto (1993)
mengatakan bahwa pengertian baru di sini mengandung makna bukan sekedar
baru diketahui oleh pikiran (cognitive) akan tetapi juga baru karena belum dapat
diterima secara luas oleh masyarakat dalam arti sikap (attitude) dan juga baru
dalam pengertian belum diterima dan diterapkan oleh masyarakat setempat.
Adopsi adalah proses perubahan perilaku, baik pengetahuan, sikap
maupun keterampilan pada seseorang setelah menerima inovasi yang disampaikan
oleh penyuluh (Mardikanto, 1993). Menerima di sini artinya tidak sekedar tahu
tetapi sampai benar-benar dapat melaksanakan atau menerapkannya dengan benar
serta menghayatinya dalam kegiatan.
Dikemukakan oleh Soekartawi (1988) bahwa proses adopsi inovasi
mengandung pengertian yang komplek dan dinamis, karena menyangkut proses
pengambilan keputusan dan dalam proses tersebut terdapat banyak faktor yang
mempengaruhinya. Dikatakan oleh Rogers (2003), bahwa untuk sampai pada
tahap keputusan adopsi inovasi tersebut merupakan proses mental sejak seseorang
mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan untuk menerima atau
menolaknya, kemudian mengukuhkannya. Dengan kata lain, sebelum sampai pada
tahap adopsi, masyarakat sasaran selalu dihadapkan pada beberapa kali proses
pengambilan keputusan. Dengan demikian maka keputusan seseorang menerima
atau menolak suatu inovsi bukanlah tindakan yang sekali jadi, tetapi merupakan
suatu proses yang terdiri dari serangkaian tindakan (tahapan) dalam jangka waktu
tertentu.
Tahapan Proses Keputusan Adopsi Inovasi
Menurut Soekartawi (2005) adopsi inovasi adalah merupakan sebuah
proses perubahan sosial dengan adanya penemuan baru yang dikomunikasikan
kepada pihak lain, kemudian diadopsi oleh masyarakat atau sistem sosial.
Rogers dan Shoemaker (1995) memberi definisi tentang proses
pengambilan keputusan untuk melakukan adopsi inovasi sebagai keputusan
menerima atau menolak sebuah inovasi dan konfirmasi tentang keputusan tersebut
19
merupakan suatu proses mental. Proses adopsi memerlukan sikap mental dan
konfirmasi dari setiap keputusan yang diambil oleh seseorang sebagai adopter.
Proses keputusan inovasi yang disebut dengan ”proses adopsi” menurut
pandangan tradisional yang dikemukakan oleh komisi ahli-ahli sosiologi tahun
1955 terdiri atas lima tahap, yaitu: (1) tahap kesadaran (awareness) dimana
seseorang mengetahui/menyadari adanya inovasi; (2) tahap tumbuhnya minat
(interest), dimana seseorang mulai menaruk minat terhadap inovasi dan mencari
informasi lebih banyak mengenai inovasi itu; (3) tahap penilaian (evaluation),
dimana seseorang menilai baik/buruk atau manfaat dari inovsi tersebut dan
menghubungkannya dengan situasi dirinya sendiri, baik saat ini maupun masa
mendatang dan menentukan mencobanya atau tidak; (4) tahap mencoba (trial)
dimana seseorang menerapkan inovasi dalam skala kecil untuk lebih menyakinkan
penilaiannya; (5) tahap penerimaan (adoption), dimana seseorang menggunakan
ide baru itu secara tetap dalam skala yang lebih luas (Rogers dan Shoemaker,
1995).
Belakangan diketahui bahwa konsep proses adopsi tersebut mengandung
beberapa kelemahan, antara lain bahwa proses adopsi tidak selalu berakhir dengan
mengadopsi mungkin terjadi proses penolakan atau mencari informasi lebih lanjut
untuk memperkuat keputusannya. Kelima tahapan tersebut juga tidak selalu
terjadi tetapi mungkin beberapa di antaranya dilewatkan, misalnya tahap
percobaan. Penilaian biasanya juga tidak terjadi pada salah satu tahap saja tetapi
terjadi pada keseluruhan proses. Oleh karena itu Rogers dan Shoemaker (1995)
menyempurnakan konsep tersebut dengan membagi proses keputusan inovasi
menjadi empat tahap, yaitu: (1) tahap pengenalan, (2) tahap persuasi, (3) tahap
keputusan dan (4) tahap konfirmasi. Teori ini disebutnya dengan ”teori tahapan
proses keputusan inovasi”
Proses adopsi gagasan dan teknologi, pada model Rogers (2003) ada lima
tahap penting: tahap pertama pengetahuan inovasi itu sendiri, dan gagasan apapun
yang dipandang baru oleh khalayak sasaran (informasi). Tahap kedua adalah
mempersuasi penerima untuk mengadopsinya. Tahap ketiga, ialah adopsi/
penolakan dari inovasi oleh penerima (proses pembuatan keputusan), tahap
keempat implementasi dan tahap kelima konfirmasi inovasi oleh penerima.
20
Model tahapan dalam proses keputusan adopsi yang diungkapkan Rogers
(2003) ini dapat dijelaskan seperti pada Gambar 3 berikut ini.
TERUS ADOPSI
SUMBER INFORMASI
Variabel Penerima
1. Sifat-sifat pribadi
2. Sifat-sifat sosial
3. Kebutuhan nyata
thd inovasi
4. d.s.b.
DISKONTINUITAS
- ganti baru
- kecewa
ADOPSI
SALURAN
PENGENALAN
PERSUASI
KEPUTUSAN
IMPLEMENTASI
KONFIRMASI
PENGADOPSIAN
TERLAMBAT
Sistem Sosial
1. Norma-norma sistem
2. Nilai, adat, belief, dll
3. Toleransi terhadap
penyimpangan
4. Kesatuan komunikasi
CIRI-CIRI INOVASI
1. Keuntungan
relatif
2. Kompatabilitas
3. Kompleksitas
4.Trialabilitas
5. observabilitas
REJEKSI
TETAP REJEKSI
Perjalanan Waktu
Gambar 3. Model tahapan dalam proses keputusan inovasi
Teori adopsi inovasi pada dasarnya menyandar pada teori modernisasi
(Panell, 1999). Dalam kaitan dengan introduksi teknologi baru, Rogers (2003)
memandang pembangunan (modernisasi) sebagai: jenis perubahan sosial dimana
gagasan baru diintroduksikan ke dalam sistem sosial dalam rangka menghasilkan
pendapatan per kapita dan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi melalui metode
produksi dan organisasi sosial.
Model yang diadopsi paling luas adalah model Rogers, yang tahaptahapnya dijabarkan sebagai berikut:
Pengetahuan: Tahap pengetahuan atau pengenalan dimulai ketika
individu menerima stimulus fisik atau sosial yang memberikan pemaparan dan
perhatian pada produk baru dan cara kerjanya. Dalam tahap ini individu sadar
akan produk yang bersangkutan, tetapi tidak membuat keputusan apapun
sehubungan dengan relevansi produk dengan suatu masalah atau kebutuhan yang
dikenali. Pengetahuan tentang produk baru biasanya dianggap sebagai hasil dari
persepsi selektif. Ini lebih mungkin terjadi melalui media massa daripada dalam
tahap-tahap belakangan, yang lebih dipengaruhi oleh pemimpin opini.
21
Persuasi: Persuasi dalam paradigma Rogers, merujuk pada pembentukan
sikap menyokong atau tidak menyokong terhadap inovasi. Individu mungkin
secara mental membayangkan betapa memuaskannya produk baru tersebut dalam
mengantisipasi situasi pemakaian di masa datang.
Keputusan: Tahap keputusan melibatkan aktivitas yang menghasilkan
suatu pilihan antara mengadopsi atau menolak inovasi. Adopsi dapat didefinisikan
sebagai keputusan untuk memanfaatkan sepenuhnya suatu inovasi sebagai arah
tindakan terbaik. Adopsi melibatkan komitmen psikologis maupun perilaku pada
suatu produk sepanjang waktu. Biasanya ini berarti pemakaian produk secara
terus-menerus kecuali jika peubah situasional (tidak tersedianya produk)
menghambat pemakaian. Penolakan adalah keputusan untuk tidak mengadopsi
suatu inovasi. Penolakan aktif terdiri atas pertimbangan untuk mengadopsi suatu
inovasi, barangkali bahkan mencoba, tetapi kemudian memutuskan untuk tidak
mengadopsinya. Penolakan pasif diartikan sebagai tidak pernah benar-benar
mempertimbangkan untuk menggunakan inovasi yang bersangkutan.
Pelaksanaan: Pelaksanaan terjadi ketika individu menggunakan inovasi.
Konfirmasi: Konfirmasi adalah proses yang digunakan individu untuk
mencari pengukuhan untuk keputusan mengenai inovasi. Individu kadang
membalik keputusan sebelumnya, khususnya ketika disodori pesan yang
bertentangan tentang inovasi (Rogers, 2003)
Berkaitan dengan pengalihan minyak tanah ke gas dapat dikatakan bahwa
individu menerima rangsangan fisik dan sosial mengenai tabung dan kompor gas
serta cara kerjanya. Dalam hal ini, individu belum membuat keputusan akan
memakai atau tidak dan biasanya individu mendapat terpaan melalui media massa
dan pemimpin pendapat.
Di samping itu, daya persuasi berhubungan dengan resiko yang dirasakan
dalam pengalihan minyak tanah ke gas atau evaluasi mengenai konsekuensi
pemakaian gas. Ketika individu mempertimbangkan menggunakan gas, ia pasti
menimbang keuntungan dari gas tersebut dibandingkan dengan kerugian yang
timbul karena beralih dari minyak tanah. Individu juga membandingkan faktor
biaya yang mungkin lebih besar dibandingkan manfaat tambahan dari penggunaan
gas, dalam hal ini individu bisa saja menunda pembelian dan mencari informasi
22
tambahan melalui iklan tentang penilaian gas, berbicara dengan orang yang sudah
mencobanya atau bisa juga mencobanya sendiri. Pada tahapan adopsi program
penggunaan kompor dan tabung gas tiga kilogram, saat sekarang ini individu
bukan lagi pada tahap pengetahuan dan persuasi tapi individu sudah digiring pada
tahap keputusan, yaitu dimana individu mengunakan gas elpiji, menunda
menggunakannya atau menolak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rogers dan
Shoemaker (1995) yang mengkritisi tahapan adopsi inovasi yang menurut beliau
tidak harus berlangsung tahap pertahap, yang dimulai dengan dengan pengenalan
(knowledge), interest, nilai (value), coba (trial), dan adopt.
Dalam kasus
komunikasi inovasi di negara terbelakang dan baru berkembang, lebih lanjut
diutarakan oleh Rogers (2003) bahwa setelah melewati tahapan pengenalan, bisa
saja seseorang dipaksa atau terpaksa langsung mengadopsi (menerima) inovasi
yang direkomendasikan oleh change agent (agen pembangunan).
Dalam tahap keputusan ini individu bisa saja menolak atau mengadopsi
gas elpiji. Individu bisa memutuskan untuk menggunakan gas elpiji secara terusmenerus kecuali tidak tersedianya pasokan gas elpiji juga bisa individu menolak
untuk menggunakan gas elpiji. Dalam hal ini ada penolakan aktif dan pasif,
penolakan aktif, individu mempertimbangkan untuk menggunakan atau mungkin
akan mencoba gas elpiji suatu saat. Penolakan pasif, individu benar-benar
mempertimbangkan untuk tidak pernah menggunakan gas elpiji.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa adopsi inovasi adalah
proses perubahan sosial dengan adanya penemuan baru yang dikomunikasikan
kepada masyarakat dan kemudian masyarakat/sistem sosial mengadopsinya.
Kaitan dengan permasalahan pengalihan minyak tanah ke gas yaitu proses
perubahan dalam masyarakat dengan adanya pengalihan minyak tanah yang
dikomunikasikan kepada masyarakat dan diharapkan masyarakat mengadopsi gas.
Adapun tahapan proses adopsi inovasi meliputi: tahap pengetahuan/pengenalan,
tahap persuasi, tahap keputusan, tahap implementasi, dan tahap konfirmasi.
Proses adopsi inovasi merupakan pengalihan gagasan lama ke gagasan
baru yang memiliki lima atribut atau ciri yaitu: ciri pertama yaitu keuntungan
relatif, ciri kedua yaitu keserasian, ciri ketiga yaitu kerumitan (complexity), ciri
23
keempat dapat dicoba (trialbility), ciri kelima dapat dilihat langsung secara
konkrit.
Dikatakan pula oleh Roger (2003) bahwa dalam suatu sistem sosial, tidak
semua orang mengadopsi suatu inovasi secara bersamaan, melainkan dalam kurun
waktu yang berbeda-beda. Berdasarkan perbedaan kecepatan pengadopsian
tersebut,
pengadopsi
diklasifikasikan
menjadi
lima
kategori,
yaitu
inovator(innovator), pelopor (early adopter), pengikut dini (early majority),
pengikut akhir (late majority), dan kelompok lamban/kolot (laggard). Inovator
adalah orang yang langsung mencoba menerapkan inovasi sebelum orang lainnya
mencoba bahkan sebelum penyuluh merekomendasikannya; umumnya adalah
orang-orang yang tergolong muda dengan sumber keuangan yang cukup. Pelopor
adalah orang yang mencoba menerapkan inovasi setelah mengamati dan berusaha
menyebarkannya kepada orang lain. Pengikut dini adalah orang yang mencoba
menerapkan inovasi setelah mempertimbangkan berulang kali dan melihat tokoh
sudah menerapkannya. Pengikut akhir adalah orang yang mau mencoba
menerapkan inovasi bila telah melihat sebagian besar menerapkannya dan berhasil
atau menerapkannya karena segan dengan teman. Orang kolot adalah orang yang
menolak atau menentang inovasi.
Seorang inovator atau seseorang yang lebih awal mengadopsi suatu
inovasi menurut Rogers (2003) mempunyai beberapa karakteristik yang antara
lain adalah : (1) memiliki pendidikan formal yang lebih tinggi, (2) memiliki status
sosial ekonomi yang lebih tinggi, (3) lebih banyak berhubungan dengan agen
pembaharu (penyuluh), (4) lebih terbuka terhadap saluran komunikasi melalui
media massa, (5) lebih terbuka terhadap saluran komunikasi interpersonal, (6)
partisipasi sosial lebih tinggi, dan (7) lebih kosmopolitan.
Berdasarkan tipe pengambilan keputusannya, Rogers (2003) membagi
keputusan inovasi dalam tiga kategori, yaitu (1) keputusan individual (optional),
yaitu keputusan yang dibuat oleh individu dengan mengabaikan keputusan orang
lain dalam masyarakatnya,
(2) kolektif, yaitu keputusan yang dibuat oleh
individu-individu dalam suaatu masyarakat melalui suatu konsensus, dan (3)
keputusan otoritas, yaitu keputusan yang dipaksakan terhadap individu oleh orang
24
yang mempunyai kekuasaan yang lebih tinggi. Adopsi inovasi akan cepat terjadi
jika keputusan diambil secara optional.
Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan terkait dengan perilaku
komunikasi dan tingkat adopsi antara lain oleh Jokopusphito (2006) dengan judul
“Hubungan antara Perilaku Komunikasi dengan Tingkat Adopsi Teknologi
Diversifikasi Pangan dan Gizi pada Kelompok Wanita Tani (Studi Kasus pada
Kelompok Wanita Tani di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta). Adapun hasil penelitian menyebutkan bahwa
keragaan perilaku komunikasi berdasarkan (1) hubungan komunikasi diketahui
bahwa semua anggota mempunyai pilihan hubungan komunikasi (82,5 persen),
(2) arah hubungan komunikasi, diketahui bahwa sebagian besar (93,32 persen
anggota melakukan hubungan komunikasi dua arah, hanya sedikit (6,68 persen)
yang melakukan komunikasi searah.
Peranan individu dalam jaringan komunikasi, mereka yang dianggap
sebagai pemuka pendapat ternyata mempunyai kekosmopolitan dan status sosial
yang lebih tinggi, lebih aktif mencari informasi ke luar sistem, lebih intensif
berhubungan dengan penyuluh maupun sumber informasi lainnya. Indikatorindikator struktur komunikasi: (1) derajat keterhubungan individu, dapat diketahui
bahwa sebagian besar (70 persen ) anggota mempunyai derajat keterhubungan
individu yang tinggi, artinya bahwa komunikasi tentang DPG berlangsung
intensif; (2) derajat kekompakan individu diketahui sebagian besar (72,5 persen)
anggota mempunyai derajat kekompakan individu yang tinggi, artinya bahwa
kelompok sudah kuat di mana kelompok sekaligus sebagai klik, konfigurasi
jarinnya adalah tipe semua saluran; (3) Derajat keragaman individu anggota KWT
adalah sedang, artinya anggota kelompok yang bertukar informasi tentang DPG
dengan orang di luar kelompok adalah sedang.
Keragaan Adopsi Teknologi DPG menyebutkan sebagai berikut: (1)
tingkat adopsi teknologi DPG, diketahui bahwa tingkat adopsi yang tinggi hanya
untuk unsur teknik mengairi tanaman dan memberi minuman ternak. Tingkat
adopsi yang rendah adalah untuk unsur teknis perbenihan atau pembibitan,
pemupukan, pemakaian pestisida untuk tanaman dan obat-obatan untuk ternak; (2)
25
karakteristik adopter, karakteristik adopter paket teknologi tanaman sayuran,
karakteristik adopter paket teknologi peternakan, karakteristik adopter paket
teknologi perikanan diketahui karakteristik adopter pada umumnya yaitu: a)
berusia 54 tahun, b) semua berpendidikan atau bisa membaca dan menulis, dan c)
menjadi pengurus kelompok.
Analisis hubungan antar peubah penelitian, menunjukkan: (1) hubungan
antara tingkat kekosmopolitan dengan perilaku komunikasi, diketahui bahwa
kekosmopolitan anggota KWT mempunyai hubungan yang positif nyata dengan
jaringan komunikasinya; (2) hubungan antara kedudukan dalam kelompok dengan
perilaku komunikasi, diketahui bahwa kedudukan anggota dalam kelompok
mempunyai hubungan yang positif sangat nyata dengan jaringan komunikasi; (3)
hubungan antara perilaku komunikasi dengan tingkat adopsi teknologi DPG oleh
anggota KWT, diketahui bahwa korelasi antara indeks keterhubungan dengan
tingkat adopsi teknologi DPG oleh anggota KWT adalah positif sangat nyata.
Dengan
demikian
keterhubungan.
tingginya
tingkat
adopsi
berkorelasi
dengan
indeks
Download